Filsafat Berfikir

MEMULIAKAN AGAMA DAN HIDUP

MEMULIAKAN AGAMA DAN HIDUP
Ading Nashrullah
Agama memilki peranan yang besar dalam kehidupan manusia. Peranan paling besar dari agama bagi manusia adalah peranannya terhadap pemeluknya sendiri. Tidak ada manusia yang akan mengambil manfaat dari agama kecuali orang yang memeluknya.
Manusia yang paling besar peranannya di panggung kehidupan dunia ini adalah manusia yang beragama. Peran manusia yang paling besar lagi di dunia ini adalah yang mengembangkan agama, medakwahkannya dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Karena itu jika dipandang agama penting bagi manusia maka jauh lebih penting lagi manusia yang beragama. Umat yang beragama keadaanya lebih baik daripada yang tidak beragama. Islam sudah besar, meskipun manusia mendustakannya, tetapi untuk menjadi manusia besar memang banyak yang harus dipahami, dilakukan, dijalani, dituju di bawah naungan cahaya Islam.
Dan karena demikian pentingya manusia yang beragama, maka sudah selayaknya setiap komponen umat ini mulai memikirkan bagaimana mencetak generasi selanjutnya yang imannnya kokoh, ibadahnya lekat, ilmunya tinggi, ekonominya kuat, fisiknya kuat, cita-citanya tinggi, dan struktur kekuasaannya luas. Mentalnya, keberaniannya, kecerdasannya unggul, kebaikan akhlak dan budi pekertinya baik dan cemerlang ide dan kreatifitasnya.
Karena demikian pentingnya agama, maka manusia sudah selayaknya mengenal agama lebih lekat. Salah satunya adalah dengan mengenal pokok-pokok agama. Demikian pula betapa pentingnya manusia yang beragama sehingga manusia perlu tahu sikap keagaan yang benar, lurus dan baik. Tanpa mengenal pokok agama, bagaimana manusia bisa beragama dengan baik. Tanpa beragama dengan baik bagaimana pula manusia sampai pada kemuliaan hidup dan kedamaian di muka bumi ini.

Agama itu penting maka tidak boleh ada manusia yang jahil terhadap agama ini. Kekuatan apa saja yang mendistorsikan ajaran Islam harus ditentang. Siapa saja yang menghalangi umat memahami Al-Quran dan Sunah sert dasar-dasar agama harus diasingkan. Agar manusia tidak bodoh terhadap sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki manusia yakni agama dan agar manusia tidak meninggalkan agama lantaran tipudaya filsafat, sains, dunia, hawa nafsu dan syetan.
Manusia dengan sumber dayanya tidak boleh dibiarkan ia berada dalam kemiskinan, kejahilan, keterpurukan, dominasi syahwat dan syetan, tipudaya dunia dan sulap serta sihir. Manusia harus diselamatkan , karena agama punya hak atas mereka agar mereka bisa menikmati hidup indah bersama agama, dan supaya agama dijaga oleh mereka pula dari serangan musuh-musuhnya. Ini agar manusia memiliki martabat yang tinggi yakni dengan beragama, dan agar manusia tidak menyalahgunakan agama untuk kepentingan yang lebih rendah dari manusia dan agama itu sendiri.
Agama adalah penuntun Filsafat, ilmu, intuisi, pengalaman dan fitrah manusia agar semua itu berjalan di atas jalan yang benar menuju tujuan penciptaan manusia dan mengarah ke arah jalan Tuhan yang menciptakannya. Beragama berarti aktif berkprah di segala bidang kehidupan dengan memuarakan semuanya untuk menjadi catatan kebaikan di sisi Tuhan untuk bekal di akhirat. Dan menjadikan ibadah, doa, mengharapkan pertolongan Tuhan sebagai poros gerak dan berputarnya roda kehidupan di zaman ia dihidupkan sampai kematian datang menghampirinya.
Akan tetapi manusia harus sadar dan mengakui bahwa tidak setiap apa yang dinamakan agama itu benar hakikatnya. Agama yang benar itu hanyalah Islam. Manusia yang terbaik di dunia ini adalah Muslim. Cara untuk mengenal hakikat ini adalah dengan mengadakan perbandingan atas pokok-pokoknya dengan agama-agama yang lain dan dengan mengkaji pokok-pokok yang ada dalam Islam.
Tuhan yang disembah oleh Islam adalah Alloh. Tuhan yang hak untuk disembah oleh manusia seluruhnya. Kitab sucinya adalah wahyu ilahi yang otentik sepanjang masa. Ajaran mengenai ketuhanan, iman dan hal-hal yang ghaib mudah dicerna akal fikiran manusia. Ajaran-ajarannya tentang moral dan kehidupan yang baik lengkap diaturnya. Peribadatan yang dianjurkannya mudah untuk dilaksanakan, tidak memberatkan, tidak menyusahkan. Itulah Islam, sederhana, tapi sempurna lengkap serta sesuai dengan kemajuan berfikir manusia atas ilmu dan teknologinya.
Siapapun yang menentang Islam adalah keliru dan akan hancur dengan logika yang dibangunnya sendiri. Siapa yang melawan kaum muslimin akan kalah oleh kekuatannya sendiri. Karena argumentasi mereka lemah, dan kekuatan mereka hanya tipuan belaka. Muslimin hakikatnya adalah pemberani sepanjang ia lurus dalam beragamanya, dan kafirin itu ketakutan, sepanjang ia tidak mendapat hidayah untuk memeluk Islam. Karena para pelindung orang-orang kafir itu lemah : dunia, syetan, teknologi, ilmu, agama, berhala mereka semuanya lemah. Sedangkan pelindung Muslim itu Maha Kuat, Maha Kuasa. Karena Dia Tuhan.
Pemimpin orang kafir membawa mereka ke dalam kegelapan hidup, betapapun gemerlapnya dunia dan ilmu serta teknologi meraka. Apa yang ada pada mereka hakikatnya milik Alloh, dalam genggaman Kekuasaan Alloh, dalam pengaturan Alloh. Sedang pemimpin Muslimiin dan Mukminin yakni Alloh membawa manusia kepada cahaya kehidupan dan pencerahan serta kemajuan spiritual dan rohani, betapapun saat ini keadaan kaum muslimin tertinggal jauh akan ilmu dan teknologinya. Hal ini janganlah membuat kecil hati karena dahulu pun di tengah umat Islam ada masa di mana mereka tidak memiliki kecanggihan di bidang sains, filsfat dan teknologi. Seperti yang dialami masa awal Islam yang merupakan masa terbaik dari umat Islam. Ketiadaan sains dan teknologi yang tinggi tidak mengurangi tingginya kedudukan Rosululloh dan para sahabat, padahal di belahan dunia lain seperti Cina, India, Persia dan Romawi berada dalam tingkat sains dan teknologi yang tinggi.
Dalam pandangan manusia, manusia yang besar adalah para pemimpin. Dan pemimpin besar itu dikenal karena kemuliaannya, pengaruhnya bagi kehidupan manusia, banyak pengikutnya, mampu memberikan kehidupan yang baik bagi para pengikutnya, membawa misi kemanusiaan dan mengajarkan nilai-nilai yang berguna. Pemimpin terbesar di dunia ini yang banyak diakui oleh para ilmuwan, dan para pemimpin, dialah Nabi Muhammad Saw, Nabinya umat Islam, yang hakikat sebenarnya Nabi bagi semua manusia di akhir zaman ini.
Tapi manusia itu memang aneh. Mereka mengakui kehebatan Nabi Muhammad Saw tapi tidak mau menerima risalah yang dibawanya. Yang lebih aneh manusia menolak yakin adanya Tuhan padahal bukti sudah begitu nyata dan logis-logis saja.
Akhirnya siapapun diseru untuk kembali belajar Agama, membaca Al-Quran dan maknanya, Mendirikan Sholat, Menjadi pembela kaum muslimin, dan mengelola pribadi, keluarga, masyarakat dan negara berdasar syariat Islam.

Memahami Hidup dan Agama.

A. Mengenal hakikat manusia, hidup dan dunia.
Islam memiliki konsep-konsep yang jelas tentang hakikat hidup, dunia, manusia dan alam semesta. Konsep-konsep Islam mengenai manusia dan kenyataan-kenyataan di muka bumi ini merupakan konsep yang dijelaskan Alloh Penciptanya. Sehingga kualitasnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun yang menggunakan konsep-konsep sebagaimana yang dijelaskan oleh AL-Quran maka ia akan merasa puas dan tenang batinnya. Akan terarah tindakannya dan cara menyikapinya.
Hakikat Manusia
Dalam satu artikelnya, Jalaludin Rahmat mengungkapkan manusia yang diungkap dalam Al-Quran, terkandung dalam tiga kata penting. Yakni basyar, insan dan al-nas.
Kata beliau:”Dalam al-Qur’an, ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar, insan, dan al-Nas”. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam kata basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan, minum, seks, berjalan di pasar.

Selanjutnya tentang Insan beliau menguraikan. Pertama, Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. kedua, Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Kecuali kategori ketiga, semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.

Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur’an. An-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial.

Selanjutnya beliau menyimpulkan. Bahwa al-Qur’an memandang manusia sebagai
makhluk biologis, psikologis dan sosial. Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus, menurut al-Qur’an, kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. Dalam pandangan al-Qur’an, sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. Sedikit orang yang beriman, sedikit orang yang berilmu, dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu.

Hakikat manusia sebagaimana diuraikan di atas paling tidak kita bisa menyimpulkannya bahwa :
Kemuliaan manusia terletak pada bagaimana kedudukannya sebagai basyar, secara biologis, mengikuti aturan Alloh dalam hal halal dan haramnya.
Kemuliaan manusia, sebagai insan terletak pada ilmu, bertanggungjawab atas amanah, beramal sholeh, dan tetap tegar dan ikhlas dalam ibadah bagaimanapun keadaan lingkungannya.
Kemuliaan manusia, sebagai An-Nas, terletak pada keimanannya. Yakni menjadi kelompok orang-orang yang beriman dan rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah.
Bila kita kumpulkan dari ketiganya maka letak kemuliaan manusia terletak pada ilmu dan imannya, yang dengan kedua modal itulah ia mengatur hidupnya dan mengisinya dengan usaha yang halal, amal yang sholeh, sikap yang bertanggungjawab, ibadah yang ikhlas dan kerelaan berkorban untuk meraih ridlo Alloh Swt.

Hakikat Kehidupan Dunia.
Kehidupan dunia ini di dalamnya mengandung beberpa realitas termasuk manusia sendiri. Karena itu untuk mengkaji hakikat kehidupan dunia kita membaginya menjadi tiga bagian utama. Pertama, kehidupan manusia. Kedua, keberadaan alam semesta. Ketiga, sifat kehidupan dunia.
Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari hakikat manusia. Manusia dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari kepentingannya dalam memenuhi kebutuhan jasmani berupa makan, minum, berkeluarga dan lain sebagainya. Selama ia hidup selama itu pula ia membutuhkan hal-hal tersebut. Sifat-sifat yang mengitari kehidupan manusia dalam hal jasmaninya, pertama dibatasi oleh rasa puas dan dan tidak puas. Makan dibatasi oleh rasa kenyang, tapi di sisi lain ia tidak puas jika yang dimakannya itu melulu. Kedua, pemenuhan kebutuhan tergantung ikhtiarnya. Rezeki itu ditanggung oleh Alloh bagi segenap makhluk yang hidup. Dan manusia diberi kesempatan untuk berikhtiar menjemput rezeki itu dengan cara halal atau haram. Malas berikhtiar, sedikit rezekinya. Intinya kehidupan manusia di muka bumi ini ada batasnya baik dalam hal soal kenikmatannya maupun dalam jumlahnya. Merugilah manusia yang hidupnya dihabiskan hanya untuk memikirkan pemenuhan jasmani ini. Kemuliaan hidup bagi manusia dalam urusan jasmani ialah ketika ia menyadari bahwa semua nikmat itu Alloh yang menyediakan, kemudian ia bersyukur. Dan menyadari bahwa kenikmatan dunia itu ada batas-batasnya, kemudian ia tidak bersifat lobak, tamak dan kikir bahkan ia membelanjakan sebagian dari karunia itu di jalan Alloh untuk menjadi bekal kehidupanya di akhirat kelak.

Kehidupan manusia jika ia ingin bahagia, terhormat, terjaga, dan terlindung dari kehinaan hidup maka ia harus berilmu dan bertanggungjawab atas amanah, beramal sholeh, dan tetap tegar dan ikhlas dalam ibadah bagaimanapun keadaan lingkungannya. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari kebutuhannya terhadap ilmu, terhadap amanah dan perbuatannya. Ilmu akan menjadikannya mampu mengantarkan apa yang diinginkan dan memudahkan meriah
apa yang dibutuhkan dalam hidupnya. Tetapi sifat ilmu yang dimiliki manusia sifatnya terbatas. Baik ilmu agama, filasafat, sains, teknologi, seni dan lain sebagainya dibatasi oleh sifat manusiawinya. Manusia itu pelupa, kadang bodoh, kadang melampoi batas, mengikuti hawa nafsu. Panca indranya, akalnya dan hatinya ditakdirkan oleh Alloh memiliki kelebihan beserta kekurangnnya. Sebab itu kemuliaan hidup manusia dalam hal berilmunya ia tidak merasa sebagai yang serba tahu. Tidak sombong. Ilmu manusia seluas dan setinggi apapun tidak akan menyamai ilmu Alloh, kalau begitu ketika Alloh memberitahu tentang hakikat segala sesuatu lewat Al-Quran logikanya manusia harus rela membenarkan. Jika ada manusia yang bersegera menerima keterangan-keterangan berupa ilmu dari Al-Quran, memang itulah sikap orang yang dijamin kemuliaannya dalam berilmunya, orang-orang beriman, mereka itu.

Selanjutnya jika manusia ingin hidup bahagia, milikilah iman. Kemuliaan manusia yang akan menjaga kemuliaan amal dan ilmunya adalah iman. Kehidupan di dunia menuntut manusia untuk beriman. Iman adalah percaya adanya Alloh, mempercayai Alloh dan menaruh kepercayaan kepada Alloh. Iman tidak sekedar percaya adanya Alloh. Iman harus diikuti oleh tauhid dan melaksanakan agama. Tuntutan iman adalah tuntutan hidup sebagaimana tuntutan untuk beramal dan berilmu. Tauhid dan beragama adalah nafas-nafas kehidupan yang sebenarnya. Di atas pondasi tauhid dan agama hidup dipandang sebagai kesatuan yang utuh dalam hal duniwinya maupun ukhrowinya, dalam hal ilmu agamanya maupun ilmu umumnya, dalam imannya maupun rasionya, dalam pribadinya maupun masyarakatnya, semuanya memiliki arah dan tujuan yang sama, hidup berasal dari Alloh dan akan kembali kepada Alloh. Hidup ini jalan Alloh. Keluar dari jalan-Nya adalah kematian. Jalan Alloh, itu jalan bagi kemuliaan hidup, kemuliaan ilmu, dan kemuliaan amal. Kehidupan yang tiada di dalamnya iman, sama artinya dengan kehinaan dan kematian.

Kedua, keberadaan alam semesta. Setiap pribadi manusia setelah hidup pasti akan mati. Setiap hewan dan tumbuhan yang hidup pada masanya pasti akan mati. Demikian pula alam semesta ini, pada saatnya nanti akan hancur, yakni dengan adanya hari kiamat. Alam semesta ini hakikatnya diciptakan oleh Alloh. Keberadaannya adalah untuk membantu manusia hidup di muka bumi. Nanti setelah terjadi hari kiamat akan ada alam lain di mana manusia dibangkitkan kembali.

Setelah kehidupan dunia ini akan ada kehidupan selanjutnya yakni kehidupan di alam barzakh dan kehidupan di hari akhirat.
Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan duniawi
dibandingkan dengan nilai kehidupan) di akhirat
hanyalah sedikit (QS At-Tawbah [9]: 38).
Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa
hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.

“Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu
daripada dunia” (QS Al-Dhuha [93]: 4).
Permohonan itu juga berarti upaya untuk
menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam
kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia,
tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa,
menurut Al-Quran, manusia secara fitri adalah makhluk sosial
dan hidup bermasyarakat merupakan satu keniscayaan bagi
mereka.

Tingkat kecerdasan, kemampuan, dan status sosial manusia
menurut Al-Quran berbeda-beda:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami
yang membagi antara mereka penghidupan mereka dalam
kehidupan dunia ini. Dan Kami telah meninggikan
sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa
tingkat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari
apa yang mereka kumpulkan (0S Al-Zukhruf [43]: 32).
Musyawarah hanya dilakukan pada
hal-hal yang belum ditentukan petunjuknya, serta
persoalan-persoalan kehidupan duniawi, baik yang petunjuknya
bersifat global maupun tanpa petunjuk dan yang mengalami
perkembangan dan perubahan.
Menang, kehidupan dunia tidak akan berakhir kecuali apabila
dunia ini telah sempurna keindahannya, dan manusia telah
mengenakan semua hiasannya.

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia ini adalah
seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit,
lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu
tanaman-tanaman di bumi di antaranya ada yang dimakan
manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi
telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, serta pemilik-pemiliknya merasa yakin
berkuasa atasnya, ketika itu serta merta datang siksa
Kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan
tanaman-tanamannya laksana tanaman yang telah
disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan
Kami kepada orang-orang yang berpikir (QS Yunus [10]:
24).
Disamping itu, Dia Ta’ala juga melarang mereka untuk berkompensasi dengan sesuatu yang berupa perhiasan kehidupan duniawi yang tidak berharga sama sekali dalam menjelaskan kebenaran perihal keimanan terhadap kerasulan Muhammad.

Dalam konsep Islam, kehidupan dunia adalah ujian bagi manusia. Untuk menguji manusia mana yang perbuatannya baik dan mana yang perbuatannya jelek. Mana manusia yang bersyukur dan mana manusia yang kufur. Hidup ini adalah ujian untuk kemudian manusia menerima balasannya di akhirat kelak. Kehidupan ini yang terdiri atas dunia bagian besar, yakni manusia dan alam semesta beserta isinya, hakikatnya adalah manusia diciptakan untuk beribadah kepada Alloh dan alam semesta adalah pelayan manusia. Baik manusia maupun alam adalah ciptaan Alloh Swt. Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah berkat kekuasaan Alloh. Alloh yang menyediakan untuknya rezeki, yang memberinya akal, perasaan dan tubuh yang sempurna. Semua itu adalah sarana agar manusia beribadah kepada Alloh. Alloh turunkan wahyu sebagai petunjuk beribadah kepada-Nya lewat para rosul-Nya, maka manusia harus beriman kepada wahyu itu dan mengikuti wahyu itu sebagai pedoman dalam hidup selama di dunia ini.
Makna penting dari konsep ini adalah hidup dikatakan hidup menurut takaran agama jika manusia menjalankan agama. Menjalankan agama itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang mengingkari agama sama saja dengan mati atau hidup dirundung penyakit. Esensi agama dalam kaitannya dengan hidup ini adalah beriman kepada Alloh dan hari yaumul akhir. Beriman kepada Alloh adalah modal untuk menjalankan hidup sesuai apa yang dikehendaki-Nya. Sedangkan iman kepada hari kiamat adalah pendorong bagi manusia untuk beramal sebanyak-banyaknya karena setelah mati, nanti akan dihidupkan kembali dan bertemu dengan Alloh kemudian akan diminta pertanggungjawaban atas tingkah lakunya selama hidup di dunia. Orang yang percaya bahwa Alloh itu ada sedangkan ia tidak beriman kepada hari kiamat, akan bebas bertingkah laku di dunia ini. Ia berkeyakinan, berfikir bahwa setelah mati sudahlah selesai urusan. Tidak akan ada pertanggungjawaban, maka ia bebas bebas berbuat apa saja. Ia mencari rezeki tak peduli lagi halal dan haram. Ia memiliki pandangna hidup tak peduli berlawanan dengan Al-Quran atau tidak.
Jika kita lebih banyak mengetahui tentang hakikat manusia, hidup dan dunia ini dari Al-Quran maka akan semakin jelaslah arah, tujuan, sikap hidup yang harus kita lakukan. Betapa manusia yang keliru mengenal dirinya, dunia dan hidup ini, senantiasa gagal dalam mencapai kebahagiaan di dunia ini.Ketika mereka tidak merujuk sumber informasinya dari Al-Quran. Apalagi di akhirat kelak. Dunia ini adalah ujian. Banyak duri dan ranjau yang bisa menjebak manusia, menggiringnya ke jurang kehinaan. Tidak ada cara terbaik untuk melihat dan mengenal hakikat manusia selain dengan menggunakan apa yang dijelaskan Alloh dalam kitab-Nya Al-Quranul Kariim.
b. Mengetahui pokok agama beserta ajaran-ajarannya dari sumbernya yakni Al-Quran dan Sunnah Nabinya.
Dalam Islam konsep agama begitu jelas. Agama adalah ketundukan dan penyerahan diri kepada sesuatu menurut sebuah aturan yang menjadi keyakinan, ibadah dan pegangan hidup. Ketundukan dan penyerahan diri kepada Alloh menurut aturan wahyu yang berangkat dari keyakinan, menjadi peribadatan dan pegangan hidupnya itulah yang disebut dengan Islam. Tidak terlalu rumit untuk memhami hakikat agama seperti ini. Sehingga memang selain Islam ada agama yang lainnya. Tetapi semuanya adalah palsu. Siapa saja dari manusia yang mencari agama selain Islam, maka amal-amalnya tidak akan diterima Alloh. Di akhirat ia akan termasuk golongan yang merugi. Agama selain Islam dikatakan palsu dikarenakan apa yang mereka sembah bukanlah Tuhan tapi berhala. Aturan yang mereka gunakan untuk peribadatan tidak berasal dari wahyu Alloh. Manusia tidak akan bisa mencapai kepada hakikat peribadatan yang benar tanpa wahyu. Jadi kepalsuan agama selain Islam dapat ditelaah dari dua sisi saja sudah cukup : Pertama yang mereka sembah bukanlah tuhan dan aturan untuk menyembah bukanlah wahyu.
Demikian pula halnya dalam mengenal pokok-pokok dari Islam konsep yang harus digunakan adalah konsep Islam. Memahami Islam dengan cara pandang Islam. Tidak bisa seseorang mengenal hakikat Islam, menilai dan mengambil kesimpulan tentang Islam menurut konsep diluar cara Islam. Cara-cara di luar Islam bisa digunakan sebatas pengantar saja. Atau penambah untuk lebih meyakinkan. Meskipun tanpanya juga sudah cukup meyakinkan.
Sesungguhnya pokok dari Islam harus dikenal dari sumbernya yang terjaga. Itulah AL-Quranul Kariim. Pokok Islam itu, pertama mengenai tauhid, yakni keyakinan akan adanya Alloh dan Alloh itu Esa. Manusia wajib beribadah kepada-nya dengan tidak mempersekutukan-Nya. Tidak menyembah-Nya adalah kesalahan besar. Menyembah-Nya disamping yang lain juga kesalahan besar. Pokok Islam berikutnya adalah Syariat Nabi Muhammad Saw. Pokok Islam adalah sunah Nabi dalam menajalankan ibadah kepada Alloh. Ini mengingat bahwa sebelum Nabi Muhammad telah ada syariat yang mendahulinya, meskipun konsep tauhidnya sama. Seseorang yang hendak beribadah kepada Alloh, tidak boleh keluar dari syariat dan sunah Nabi Muhammad Saw. Apalagi dalam ibadah ritual. Ketiga, wahyunya adalah Al-Quran. Bahwa wahyu itu adalah AL-Quran merujuk Al-Quran bukanlah hal yang tidak logis. Karena Al-Quran dengan sendirinya dapat membuktikan bahwa ia adalah wahyu, meskipun manusia tidak mengenal sejarah penulisan dan pemeliharaannya.
Selanjutnya apa yang dituntut Islam dari manusia ? Hakikat manusia adalah untuk beribadah kepada Alloh. Hakikat Islam adalah aturan beribadah kepada Alloh. Jadi yang dituntut Islam atas manusia adalah hendaklah manusia beribadah kepada Alloh sesuai aturannya. Dengan kalimat yang lain yang dituntut Alloh atas manusia adalah beribadah kepada-Nya sesuai aturan Islam. Sekarang yang harus diperjelas adalah makna ibadah itu sendiri apa ? Ibadah itu artinya tunduk dan menyerahkan diri kepada Alloh. Jika kita mengambil bentuk umumnya ibadah itu adalah pertama, tunduk. Tunduk berarti taat pada aturan. Tunduk dalam Islam berarti taat pada aturan Islam. Aturan Islam mengenai dua hal utama dalam kaitannya dengan konsep tunduk ini, pertama tunduk dalam beragama dan kedua tunduk dalam menjalani hidup. Tunduk dalam beragama berarti aturan-aturan pokok dalam beragama dilaksanakan. Seperti tentang keimanan kepada Alloh dan hari kiamat. Ibadah sholat, zakat, shaum, ibadah haji dan lain sebagainya. Kedua tunduk dalam kehidupan berarti urusan apapun dalam hidup rela berada dalam aturan Islam. Seperti bagiamana cara berkeluarga, cara berpakaian, cara berpolitik dan seterusnya. Hal-hal semacam ini adalah persoalan kehidupan. Islam menuntut umatnya menyerahkan aturan ini kepada aturan Islam. Sekalipun manusia menganggap dirinya mampu untuk mengaturnya tanpa bimbingan wahyu. Islam menghendaki persoalan ini tunduk dibawah aturannya, jika dipenuhi maka semuanya menjadi bernilai ibadah. Kedua tentang persoalan menyerahkan diri. Konsepnya hampir mirip dengan yang pertama, tunduk. Menyerahkan diri lebih kepada rasa pengorbanan. Apapun yang dimiliki diri segalanya untuk Islam. Punya harta untuk Islam. Punya tenaga untuk Islam. Punya ilmu untuk Islam. Hal yang mendasari kepasrahan semacam ini adalah keimanan. Bahwa segalanya adalah milik Alloh. Yang akan dimilikinya adalah amal kebajikannya atas hidup dan kehidupannya yang mengacu kepada Islam untuk mencapai ridlo Alloh Swt.
Ini dapat kita pahami dari perjalanan generasi pertama dari umat Islam. Pada tahap awal mereka rela meninggalkan keyakinan lamanya yang didasarkan pada kejahilihan dan kemusyrikan. Dengan warna hidup yang sedemikian rendahnya. Mereka menggantinya dengan keyakinan yang baru. Mereka menundukan diri di hadapan wahyu. Mereka kerjakan apa yang diperintahkan wahyu dengan segenap ketaatan. Kehidupan mereka berganti dari jahiliah kepada Islam. Dari berkorban untuk berhala sekarang berkorban untuk Alloh.
d. Pokok hidup pada manusia tiga diantaranya adalah berfikir, merasa dan memenuhi kebutuhan fisik.
Telah jelas dalam uraian sebelumnya bahwa Islam menuntut dari mukminin untuk tunduk dan menyerahkan diri mereka. Tentu saja tidak boleh seorang mukmin hidupnya di satu sisi ia beribadah kepada Alloh sedangkan ia berkorban untuk membantai umat Islam. Logika mana yang bisa membenarkannya ? Tidak boleh seorang muslim mulutnya mengaku beriman kepada Alloh dan hari kiamat sementara pola pikir, hati dan perasaannya sama sekali tidak bersentuhan apalagi diisi oleh nilai-nilai Islam, konsep-konsep Islam.
Cara mengelola pikiran kita, hati kita dan makanan kita harus tunduk dalam aturan agama. Bagimana agama mengatur pikiran kita ? Agama mengarahkan agar pikiran kita dipergunakan untuk memikirkan minimal dua perkara penting. Pertama tentang tanda-tanda kebesaran Alloh yang ada di alam. Kedua berpikir tentang persiapan untuk hari berbangkit. Kedua hal ini sesugguhnya amat berdekatan dan berkaitan sekali. Letak keterkaitannya adalah yang satu mengantarkan manusia agar sujud kepada Alloh. Yang satu lagi mengokohkan manusia agar benar-benar dalam sujudnya, lantaran di hari kiamat nanti sujud itulah yang akan menjadi kebaikan di alam sana. Yang satu mendorong manusia untuk banyak bersyukur, yang satunya lagi mengokohkan agar manusia banyak-banyak bersykur karena sikap syukurlah yang akan membahagiakan dirinya di akhirat kelak. Jadi berfikir ang hidup ini hakikatnya adalah bagaimana kita menangkap hikmah dari segala yang ada, yang semakin meyakinkan kita untuk tunduk kepada Alloh. Alam ini hikmah terbesarnya adalah mengingatkan pada manusia akan karunia Alloh yang sedemikian besarnya. Hari kiamat itu hikmah terbesarnya adalah mengingatkan pada manusia bahwa di ujung kehidupan nanti ia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawabannya atas perlakuan dirinya kepada nikmat-nikmat Alloh itu baik yang ada di alam ataupun yang ada pada dirinya. Pikiran berkaitan dengan kecerdasan, semakin cerdas seseorang dalam berpikir semakin besar rasa sykurnya kepada Alloh lantaran perhatinnya kepada dua hal utama : alam ini dan alam nanti.
Bagaiamana kita mengelola hati seharusnya agar ia sejalan dengan pengharapan Islam atas umatnya ? Hati kita harus dekat dengan dua hal utama pertama Alloh. Kedua, diri kita sendiri. Hati harus banyak mengingat Alloh dan menimbang setiap kejadian yang menimpa diri sebagai karunia dari Alloh. Apakah keadaan dan kejadian itu secara fisik membawa kebaikan atau kejelekan. Hati harus banyak merenungi diri, dan menimbang apakah selama in kita sudah berbuat benar atau belum dalam hidup ini. Agama meskipun kandungannya benar, lurus dan ilmunya telah mengisi relung-relung pengetahuan kita di kepala, tetapi semuanya tergantung hati. Hati yang memutuskan untuk taat atau tidak. Karena hati tempat bersemayamnya iman. Ilmu dan indra kita hanyalah alat semata yang diam seribu bahasa jika tidak mendapat perintah dari hati ini. Bertanyalah kepada diri kita sendiri sudahkah kita menjadi pribadi yang baik dan lurus ? Pribadi yang tunduk kepada agama, pribadi yang menerapkan kaidah agama ? Agar hati kita senantias cerdas dan bergairah, maka ia harus banyak mengingat nama Alloh. Sebab ini adalah kunci ketenangan hati, ketenangan hidup.
“Ingat, dengan dzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra’du: 28)
Hati bisa menjadi kotor gara-gara ulah indra atau tubuh yang memasukan sembarang barang haram. Juga bisa menjadi kotor bila pembawaan hati berupa keingkaran tidak pernah dibersihkan.
Fisik kita pun harus tunduk kepada aturan Alloh. Fisik kita dalam rentangan yang amat luas semuanya berkaitan dengan hukum halal dan haram. Makanan, pakaian dan perhiasan, rumah, pekerjaan dan lain sebagainya akan senantiasa menghadapi tiga pilihan halal, haram dan syubhat. Ketundukan kepada Alloh dibuktikan dengan mengambil, mengusahakan, memilih yang halal dan meninggalkan yang haram dan syubhat.
e. Jika Umat bodoh terhadap agamanya,Maka ia bodoh pula dalam hidupnya.
Ketidaktahuan tentang tujuan hidup ini dianggap sebagai kejahilan. Kejahilan termasuk di dalamnya ketidaktahuan tentang Alloh, Rosul dan dasar-dasar dari agama. Bagaimana mungkin seorang mukmin dan muslim dapat menjalankan agamanya dan hidup di bawah naungannya jika dia tidak tahu siapa Alloh, siapa Rosululloh dan bagaimana sikap beragama yang benar ini. Barangkali dia memiliki konsep tentang semua itu. Tapi apakah sudah benar konsep-konsepnya, sudah benar sumber informasinya, sudah benar cara mempergunakannya ? Terkadang orang berdoa kepada Alloh bersama-sama berdoa kepada selain Alloh. Minta tolong kepada-Nya dan juga kepada Jin. Ini kan jahiliah namanya. Ada lagi orang yang mengambil pemahaman agamanya diambil dari kitab-kitab yang banyak berisi hadits palsu, isinya tidak menggambarkan Islam yang sesungguhnya. Bidah dianggap sunah, sunah ditinggalkan. Hal kecil dibesar-besarkan, hal besar dianggap sepele. Ketidak tahuan manusia tentang agama menyebabkan mereka berlaku dhalim dalam agamanya. Al-Quran dianggap sakral, tapi informasi yang ada di dalamnya tentang hakikat segala sesuatu, tentang kaidah Islam, tentang ajaran moral dan norma tidak pernah mereka pelajari. Terlebih lagi agama di tengah manusia yang tidak tahu untuk apa dia beragama, tentu agama menjadi sesuatu yang lucu dan menggelikan. Dan tidak tahu mengapa ia harus menyebah Alloh.
Alloh adalah Tuhan yang Hak. Setiap mukmin wajib beriman kepada Alloh secara Tauhid. Kalimat La ilaha ilallooh adalah kalimat tauhid. Konsekuensi tauhid adalah tidak mencari Tuhan lain selain Alloh. Kepada Alloh saja kita menyembah dan tidak menyembah kepada lainnya di samping Alloh. Berikutnya, tidak mencari pelindung selain Alloh. Kepada Alloh saja kita layak bertawakal dan meminta pertolongan serta memanjatkan doa-doa kita. Selanjutnya, Tidak mencari Hakim selain Alloh. Hanya hukum Alloh saja yang berhak untuk dijadikan sebagai pedoman untuk mengarungi hidup yang luas ini. Ciri dari kebanyakan manusia yang menyimpang dari tauhid, diantaranya mereka menyembah kepada selain Alloh. Ada juga yang beranggapan bahwa Alloh tidak campur tangan dengan kehidupan dunia. Sebagiannya lagi berfikir bahwa wahyu yang hakikatnya dari Alloh hanyalah kumpulan cerita dari masa lalu, kumpulan mithos. Sebagiannya lagi menolak hukum Alloh dan meyakini hukum Alloh itu tidak ada.
Tauhid kepada Alloh dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rosul adalah pondasi pertama dari keimanan dan keislaman seseorang. Kalimat syahadat merupakan pondasi bagi ibadah dan keimanan yang lainnya. Bagaimana mungkin seseorang beres dalam sholatnya dan rukun-rukun Islam lainnya juga dalam cabang-cabang keimanan yang lainnya, jika keimanannya kepada Alloh dan Rosul-Nya belum kokoh di hati. Bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah Rosul berkonsekuensi pada bagaimana cara kita beragama. Tidak ada Islam tanpa Sunah Nabi. Karena ibadah-ibadah praktek dalam Islam mendasarkan pada sunah Rosululloh. Dan Rosululloh memberikan pula contoh-contoh kehidupan nyata yang di dalamnya mengandung dasar-dasar ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Beliau adalah Rosul, juga pemimpin, juga kepala keluarga, seorang lak-laki, dan dari setiap kedudukannya di tengah umat manusia menunjukan keluhuran Islam pada dirinya. Meskipun sebelum Muhammad saw diangkat jadi Nabi diakui memiliki kecerdasan luar biasa, ketinggian akhlak dalam pergaulan, kekuatan fisik dan pengetahuannya yang luas tentang masyarakat, beliau tetap dibimbing Alloh bagaimana cara hidup dan berdakwah, cara berkeluarga dan berperang, cara menata persahabatan dan ketatanegaraan. Semuanya dalam asuhan wahyu dari Alloh Swt. Karena itu Islam dibangun dengan dasar tauhid dan syariat yang dicontohkan Rosululloh SAW.
Yang sering kita saksikan adalah betapa banyaknya umat yang tidak memahami Islam secara benar. Atau kalaupun mereka memahami hanya sebagian kecil dari segudang keilmuan Islam. Kurangnya pemahaman yang luas tentang Islam bisa jadi sebab kurangnya umat Islam menerapkan Islam dalam kehidupan. Demikian pula memahami Islam dari bukan sumbernya telah menyebabkan umat ini keliru dalam melaksanakan Islam. Bukannya wajah Islam yang muncul tetapi kerancuan, bidah atau khurofat. Pesan-pesan Islam yang luhur, indah, bersih dan suci tidak nampak dalam kenyataan sehari-hari di tengah umat ini kebanyakannya. Bahkan kerusakan yang paling parah terjadi pada umat yang dianggap paling tahu tentang agama, tapi sesungguhnya ia ahli syirik, bidah, thoghut dan andad.
Bagaimana solusinya ? Pertama, setiap ilmu harus dilanjutkan dengan bukti pengamalan. Amal apapun yang kita perbuat hendaknya mendasarkan diri pada ilmu, dimulai dan diiringi dengan ikhlas. Demikian pula halnya agar Islam dilaksanakan secara kaffah, disamping kita mempersiapkan ilmu yang luas tentang Islam, kitapun harus mempersiapkan fasilitas yang akan memudahkan atau mendukung semuanya. Mengingat luasnya ajaran Islam mencakup semua lapangan kehidupan manusia, maka lapangan hidup macam apapun harus serta merta menerima kehadiran aturan Islam.
f. Pengetahuan kita tentang hidup dan ibadah menurut Islam.
Telah diuraikan di atas bahwa hakikat hidup manusia adalah sarana untuk beribadah kepada Alloh. Hakikat Islam adalah cara untuk beribadah kepada Alloh. Bagi seorang mukmin dan muslim hidupnya adalah Islam, Islamnya adalah hidupnya. Kematian buat dirinya lebih baik daripada melepaskan Islam dari hidupnya. Hidup dalam Islam berarti hidup dalam mengabdi kepada Alloh. Mengabdi kepada Alloh itulah yang merupakan tujuan utama hidup manusia. Tetapi tidak kemudian membuat manusia hanya sekedar shalat, zakat, shaum dan haji saja dalam hidupnya. Lantaran ibadah kepada Alloh itu cara-caranya mencakup seluruh apa yang dikandung dalam ajaran Islam. Sedangkan ajaran Islam bukan hanya teriri dari yang sedemikian itu. Ajaran Islam mengandung pula ajaran tentang ekonomi, berarti ketika kita bergerak di bidang ekonomi yang mendasari pada ajaran Islam, maka hal itu hakikatnya adalah beribadah kepada Alloh. Demikian halnya ketika kita berperang, itu juga ibadah, dengan syarat tentunya perang kita didasarkan pada ajaran agama pula.
Seluruh manusia wajib melakukan hal ini, yakni beribadah kepada Alloh dengan cara menerapkan seluruh ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Baik dari sudut agama itu sendiri maupun dari sudut hidup manusia. Manusia yang menunaikan kewajibannya ini memperoleh ampunan dan kehidupan yang baik. Kehidupan yang tidak akan bisa diperoleh dengan cara hidu yang berbasis non-agama, non-Islam, non-tauhid, non-dzikir. Ketika proses ibadah kepada Alloh dijadikan poros utama atas segenap amal perbuatan manusia maka perbuatan manusia itu akan berisi kebaikan, dicatat seagai kabaikan, dan dibalasi dengan kebaikan pula. Ibadah kepada Alloh adalah wajib lantaran Dialah pencipta dan tempat kembali manusia. Menjalankan Islam wajib karena Alloh telah memilih Islam sebagai jalan yang lurus bagi manusia untuk sampai pada keridoan Alloh Swt.
Beribadah kepada Alloh merupakan jalan yang lurus. Satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain untuk manusia menuju selamat kehidupannya di dunia dan akhirat. Agar ia beroleh kebahagiaan di dunia dan beroleh pahala di akhirat kelak. Sedangkan menyembah syetan atau berhala adalah jalan yang sesat. Syetan dan berhala tidaklah bisa menolong manusia, tidak bisa mendatangkan kecelakaan. Menolak seruan untuk menyembah Allah dan mengikuti tipu daya syetan adalah penyebab datangnya bencana diduna dan diakhirat kelak. Jalan yang lurus itu adalah Islam, yang berpegang kepada wahyu, sesuai akal, hati nurani dan mengandung ajaran yang memuliakan manusia, memuliakan hidup ini.
Islam berpegang kepada wahyu. Ibadah kita berpegang kepada wahyu. Wahyu adalah petunjuk Alloh. Alloh adalah Pencipta manusia dan alam semesta. Hidup yang berbasis Islam adalah hidup bebasis petunjuk Pencipta manusia. Tetapi wahyu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki iman dan takut kepada Allah. Wahyu membimbing manusia mengenal Allah lebih dekat, menghindarkan manusia dari kejahiliyahan, dan mengingatkan manusia dari kelalaian. Fungsinya akan seperti ini bagi mereka yang mengakui Alloh sebagai pencipta-Nya. Wahyu membantu menusia mengenal lebih banyak nikmat dari Allah. Bagaimana menyusun sikap yang terbaik atas nikmat itu, dan mengenal negri akhirat adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman manusia. Wahyu membukakan pikiran, hati, pengalaman dan akal manusia tentang hal itu dan tentang kepalsuan tuhan-tuhan selain Allah.
Dengan demikian kesimpulan yang dapat di ambil adalah manusia wajib mengenal Allah lebih dekat, agar semakin besar rasa keimanan, kecintaan, takut dan harapan kepadaNya. Manusia wajib mengenal Islam lebih dekat, karena Islam jaminan agama yang hak disisi Allah, sempurna, dan sesuai dengan fitrah manusia. Manusia wajib mengenal lebih dekat akan Al-qur’an dan Nabi Muhammad Saw. karena keduanya penuntun utama benar lurusnya ibadah kita kepada Allah SWT. Kurang lebih seperti itulah pengetahuan kita tentang Islam, dengan mengkaji salah satu surat dalam Al-Quran, yakni surat Yassin.
Cara agar hidup lebih hidup itu tiada lain adalah dengan ibadah kepada Alloh. Ibadah yang diterima Alloh, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Hidup yang bermakna. Agar ibadah kita diterima Alloh Swt, menurut uraian di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut : beriman kepada pokok-pokok Aqidah islam (iman), mengikuti petunjuk, arahan, bimbingan, dari wahyu dan Rasulullah. (ilmu), melaksanakan ibadah itu dengan penuh keikhlasan, diiringi ketabahan, kontinyuitas, koreksi, kesungguhan, melengkapi dengan sesama dan kemudahan. (ihsan), menghias diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan untuk lebih mengenal Allah, agama, Rosulullah, menjadikan ibadah tersebut sebagai poros bagi amal perbuatan atau amal shalih ditengan umat manusia dalam kerangka melaksanakan syari’at Islam, agar semuanya berjalan lancar dan tuntas kuncinya, kaffah, dan berwibawa harus di sokong oleh kekuatan negara, mesyarakat, keluarga dan pribadi.
g. Jika manusia tidak beribadah kepada Allah dan hari kiamat
Apabila manusia tidak beribadah kepada Alloh, apapun alasannya maka dapat kita berfikir tentang hakikat ini.
a manusia menyalahi akal, nurani, dan pengalamannya.
b. maka segenap amal perbuatannya semau mempertanggungjawab kannya
c. menggantinya dengan beribadah kepada berhala, hawa nafsu atau syetan.
d. ketetapan yang yang berlaku atasnya adalah datangnya bencana dan kerugian hidup di Akhirat kelak.
e. prilakunya mencerminkan kejahilian, kekacauan berfikir, putus asa, senantiasa memiliki rasa permusuhan
f. senantiasa memiliki rasa permusuhan kepada islam, dan berdaya upaya untuk menghancurkannya dari berbagai jurusan dengan berbagai cara.
g. ciri utamanya mencintai kehidupan dunia memandang logis, baik, indah, akan tingkah lakunya yang buruk.
h. tak henti-hentinya dirunding masalah problema, bencana, kesusahan, kesempata.
i. kasus filsafat metrealisme, evalusi dan fremansory, pki dll.
Kenapa manusia bisa menyembah selain Alloh, padahal agama yang mula-mula adalah Islam ?
1. Akibat tipu daya Iblis ( 34: 20 ). karena mereka ragu-ragu kepada negri akhirat ( 34 :21).
Karena sifat sombong. (34: 31). Lantaran kemewahan, anak buah dan pengikut ( 34 : 34-35) Karena bersifat lemah di hadapan orang-orang yang sombong ( 34:32-33).Karena mereka menyembah jin ( 34 : 41) Karena keserakahan terhadap dunia dan ketidakpedulian terhadap sesama manusia. Yang menumpuk-numpuk.harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. orang-orang
yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan
orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang
membohongkan agama. Surah
al-Takatsur, memberikan peringatan keras terhadap orang-orang
yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10
diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan
sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan
ke-11, menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan
kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan
kesengsaraan.

h. Logika orang-orang kafir
1. mustahil badan yang sudah hancur sehancur-hancurnya atau telah menjadi tulang belulang bisa dikembalikan lagi menjadi makhluk yang baru. (34 : 7). Hakikatnya mereka ini tidak beriman kepada hari akhirat. ( 34 8 ). Nyata-nyata mereka mengatakan bahwa hari berbangkit itu tidak akan datang. ( 34 : 3 ).
Jika ada manusia yang datang kepada orang yang memiliki logika ini dan mengatakan bahwa hari akhirat itu benar-benar akan ada, maka dengan mengikuti alur logika mereka sendiri, mereka akan segera membatahnya dengan mengatakan bahwa orang tersebut pembual ( tidak sesuai data ilmiah ) atau gila ( irrasional ).Mereka mengatakan bahwa mereka mengingkari wahyu (34:34). Wahyu itu hanya menghalang-halangi ibadah, dan isinya hanyalah dusta belaka. Dan jika cukup bukti tentang benarnya wahyu mererka mengatakan wahyu itu sihir. (34 : 43). Kalau sudah demikian maka bagaimana mungkin mereka melakukan ibadah kepada Alloh.
2. apa yang mereka peroleh dari harta dan kehidupan duniawi dipercaya sebagai hasil usaha dan ilmu mereka tanpa ada campur tangan Alloh. Sehingga tatkala mereka disuruh untuk bersyukur kepada Alloh, tentu saja mereka menolaknya. Apalagi untuk beribadah kepada Alloh.
Manusia umumnya :
1. Percaya bahwa Alloh ada
2. Menolak kedatangan Rosul dan wahyu.

Dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas, kita dapat
menyimpulkan, sebagian besar manusia mempunyai kwalitas
rendah, baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. Menurut
al-Qur’an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187; 12:21;
28,68; 30:6, 30; 45:26; 34:28,36; 40:57), tidak bersyukur
(40:61; 2:243; 12:38), tidak beriman (11:17; 12:103; 13:1),
fasiq (5:49), melalaikan ayat-ayat Allah (10:92), kafir
(17:89; 25:50), dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18).

Memuliakan Hidup dan Agama
Memahami Hidup dan Agama.
Letak kemuliaan hidup dan kemuliaan agama terutama dalam panggung sejarah dan kenyataan-kenyataan sosial terletak pada pemahaman umat yang lurus terhadap agamanya. Dengan.pemahaman itu mereka menjalankan, mengamalkan, dan melaksanakan agama dengan semua pokok dan cabang-cabangnya. Mereka tidak meninggalkan dan meningkari satupun perkara atau bagian dari agama. Dalam hal ini kaidah melaksanakan Islam secara kaffah berlaku pada umatnya. Mereka memahami Islam dan tidak berhenti hanya sebatas pengetahuan saja, mereka pun dengan segera mempersiapkan diri dan berbuat untuk melaksanakan apa yang diperintahkan agama. Dan sesegera pula meninggalkan apa yang dilarang oleh agama.
Memuliakan hidup itu hanyalah dengan agama. Orang yang tidak pernah mengenal agama secara benar dan tidak pernah menjalankan agama sebagaimana yang seharusnya, tidak akan pernah mencapai kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Untuk memuliakan hidup dengan agama, pertama kita harus mengenal hakikat hidup, dunia dan manusia dari sudut agama, kedua kita harus mengetahui hakikat agama beserta ajaran-ajarannya dari sumbernya yakni Al-Quran dan Sunnah Nabinya. Ketiga, pokok agama adalah keyakinan kepada Alloh. Iman kepada Alloh. Sehingga kadar agama kita diukur dari seberapa besar perhatian kita kepada Alloh, baik dalam kadar ilmu kita, kadar akhlak kita kepada-Nya, dan kadar pengharapan kita atas pertolongan-Nya. Keempat, pokok hidup pada manusia tiga diantaranya adalah berfikir, merasa dan memenuhi kebutuhan fisik. Cara mengelola fikiran kita, hati kita dan makanan kita harus tunduk dalam aturan agama.
a. Mengenal hakikat hidup, dunia dan manusia.
Islam memiliki konsep-konsep yang jelas tentang hakikat hidup, dunia, manusia dan alam semesta. Konsep-konsep Islam mengenai manusia dan kenyataan-kenyataan di muka bumi ini merupakan konsep yang dijelaskan Alloh Penciptanya. Sehingga kualitasnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun yang menggunakan konsep-konsep sebagaimana yang dijelaskan oleh AL-Quran maka ia akan merasa puas dan tenang batinnya. Akan terarah tindakannya dan cara menyikapinya.
Dalam konsep Islam, kehidupan dunia adalah ujian bagi manusia. Untuk menguji manusia mana yang perbuatannya baik dan mana yang perbuatannya jelek. Mana manusia yang bersyukur dan mana manusia yang kufur. Hidup ini adalah ujian untuk kemudian manusia menerima balasannya di akhirat kelak. Kehidupan ini yang terdiri atas dunia bagian besar, yakni manusia dan alam semesta beserta isinya, hakikatnya adalah manusia diciptakan untuk beribadah kepada Alloh dan alam semesta adalah pelayan manusia. Baik manusia maupun alam adalah ciptaan Alloh Swt. Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah berkat kekuasaan Alloh. Alloh yang menyediakan untuknya rezeki, yang memberinya akal, perasaan dan tubuh yang sempurna. Semua itu adalah sarana agar manusia beribadah kepada Alloh. Alloh turunkan wahyu sebagai petunjuk beribadah kepada-Nya lewat para rosul-Nya, maka manusia harus beriman kepada wahyu itu dan mengikuti wahyu itu sebagai pedoman dalam hidup selama di dunia ini.
Makna penting dari konsep ini adalah hidup dikatakan hidup menurut takaran agama jika manusia menjalankan agama. Menjalankan agama itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang mengingkari agama sama saja dengan mati atau hidup dirundung penyakit. Esensi agama dalam kaitannya dengan hidup ini adalah beriman kepada Alloh dan hari yaumul akhir. Beriman kepada Alloh adalah modal untuk menjalankan hidup sesuai apa yang dikehendaki-Nya. Sedangkan iman kepada hari kiamat adalah pendorong bagi manusia untuk beramal sebanyak-banyaknya karena setelah mati, nanti akan dihidupkan kembali dan bertemu dengan Alloh kemudian akan diminta pertanggungjawaban atas tingkah lakunya selama hidup di dunia. Orang yang percaya bahwa Alloh itu ada sedangkan ia tidak beriman kepada hari kiamat, akan bebas bertingkah laku di dunia ini. Ia berkeyakinan, berfikir bahwa setelah mati sudahlah selesai urusan. Tidak akan ada pertanggungjawaban, maka ia bebas bebas berbuat apa saja. Ia mencari rezeki tak peduli lagi halal dan haram. Ia memiliki pandangna hidup tak peduli berlawanan dengan Al-Quran atau tidak.
Jika kita lebih banyak mengetahui tentang hakikat manusia, hidup dan dunia ini dari Al-Quran maka akan semakin jelaslah arah, tujuan, sikap hidup yang harus kita lakukan. Betapa manusia yang keliru mengenal dirinya, dunia dan hidup ini, senantiasa gagal dalam mencapai kebahagiaan di dunia ini.Ketika mereka tidak merujuk sumber informasinya dari Al-Quran. Apalagi di akhirat kelak. Dunia ini adalah ujian. Banyak duri dan ranjau yang bisa menjebak manusia, menggiringnya ke jurang kehinaan. Tidak ada cara terbaik untuk melihat dan mengenal hakikat manusia selain dengan menggunakan apa yang dijelaskan Alloh dalam kitab-Nya Al-Quranul Kariim.
b. Mengetahui pokok agama beserta ajaran-ajarannya dari sumbernya yakni Al-Quran dan Sunnah Nabinya.
Dalam Islam konsep agama begitu jelas. Agama adalah ketundukan dan penyerahan diri kepada sesuatu menurut sebuah aturan yang menjadi keyakinan, ibadah dan pegangan hidup. Ketundukan dan penyerahan diri kepada Alloh menurut aturan wahyu yang berangkat dari keyakinan, menjadi peribadatan dan pegangan hidupnya itulah yang disebut dengan Islam. Tidak terlalu rumit untuk memhami hakikat agama seperti ini. Sehingga memang selain Islam ada agama yang lainnya. Tetapi semuanya adalah palsu. Siapa saja dari manusia yang mencari agama selain Islam, maka amal-amalnya tidak akan diterima Alloh. Di akhirat ia akan termasuk golongan yang merugi. Agama selain Islam dikatakan palsu dikarenakan apa yang mereka sembah bukanlah Tuhan tapi berhala. Aturan yang mereka gunakan untuk peribadatan tidak berasal dari wahyu Alloh. Manusia tidak akan bisa mencapai kepada hakikat peribadatan yang benar tanpa wahyu. Jadi kepalsuan agama selain Islam dapat ditelaah dari dua sisi saja sudah cukup : Pertama yang mereka sembah bukanlah tuhan dan aturan untuk menyembah bukanlah wahyu.
Demikian pula halnya dalam mengenal pokok-pokok dari Islam konsep yang harus digunakan adalah konsep Islam. Memahami Islam dengan cara pandang Islam. Tidak bisa seseorang mengenal hakikat Islam, menilai dan mengambil kesimpulan tentang Islam menurut konsep diluar cara Islam. Cara-cara di luar Islam bisa digunakan sebatas pengantar saja. Atau penambah untuk lebih meyakinkan. Meskipun tanpanya juga sudah cukup meyakinkan.
Sesungguhnya pokok dari Islam harus dikenal dari sumbernya yang terjaga. Itulah AL-Quranul Kariim. Pokok Islam itu, pertama mengenai tauhid, yakni keyakinan akan adanya Alloh dan Alloh itu Esa. Manusia wajib beribadah kepada-nya dengan tidak mempersekutukan-Nya. Tidak menyembah-Nya adalah kesalahan besar. Menyembah-Nya disamping yang lain juga kesalahan besar. Pokok Islam berikutnya adalah Syariat Nabi Muhammad Saw. Pokok Islam adalah sunah Nabi dalam menajalankan ibadah kepada Alloh. Ini mengingat bahwa sebelum Nabi Muhammad telah ada syariat yang mendahulinya, meskipun konsep tauhidnya sama. Seseorang yang hendak beribadah kepada Alloh, tidak boleh keluar dari syariat dan sunah Nabi Muhammad Saw. Apalagi dalam ibadah ritual. Ketiga, wahyunya adalah Al-Quran. Bahwa wahyu itu adalah AL-Quran merujuk Al-Quran bukanlah hal yang tidak logis. Karena Al-Quran dengan sendirinya dapat membuktikan bahwa ia adalah wahyu, meskipun manusia tidak mengenal sejarah penulisan dan pemeliharaannya.
Selanjutnya apa yang dituntut Islam dari manusia ? Hakikat manusia adalah untuk beribadah kepada Alloh. Hakikat Islam adalah aturan beribadah kepada Alloh. Jadi yang dituntut Islam atas manusia adalah hendaklah manusia beribadah kepada Alloh sesuai aturannya. Dengan kalimat yang lain yang dituntut Alloh atas manusia adalah beribadah kepada-Nya sesuai aturan Islam. Sekarang yang harus diperjelas adalah makna ibadah itu sendiri apa ? Ibadah itu artinya tunduk dan menyerahkan diri kepada Alloh. Jika kita mengambil bentuk umumnya ibadah itu adalah pertama, tunduk. Tunduk berarti taat pada aturan. Tunduk dalam Islam berarti taat pada aturan Islam. Aturan Islam mengenai dua hal utama dalam kaitannya dengan konsep tunduk ini, pertama tunduk dalam beragama dan kedua tunduk dalam menjalani hidup. Tunduk dalam beragama berarti aturan-aturan pokok dalam beragama dilaksanakan. Seperti tentang keimanan kepada Alloh dan hari kiamat. Ibadah sholat, zakat, shaum, ibadah haji dan lain sebagainya. Kedua tunduk dalam kehidupan berarti urusan apapun dalam hidup rela berada dalam aturan Islam. Seperti bagiamana cara berkeluarga, cara berpakaian, cara berpolitik dan seterusnya. Hal-hal semacam ini adalah persoalan kehidupan. Islam menuntut umatnya menyerahkan aturan ini kepada aturan Islam. Sekalipun manusia menganggap dirinya mampu untuk mengaturnya tanpa bimbingan wahyu. Islam menghendaki persoalan ini tunduk dibawah aturannya, jika dipenuhi maka semuanya menjadi bernilai ibadah. Kedua tentang persoalan menyerahkan diri. Konsepnya hampir mirip dengan yang pertama, tunduk. Menyerahkan diri lebih kepada rasa pengorbanan. Apapun yang dimiliki diri segalanya untuk Islam. Punya harta untuk Islam. Punya tenaga untuk Islam. Punya ilmu untuk Islam. Hal yang mendasari kepasrahan semacam ini adalah keimanan. Bahwa segalanya adalah milik Alloh. Yang akan dimilikinya adalah amal kebajikannya atas hidup dan kehidupannya yang mengacu kepada Islam untuk mencapai ridlo Alloh Swt.
Ini dapat kita pahami dari perjalanan generasi pertama dari umat Islam. Pada tahap awal mereka rela meninggalkan keyakinan lamanya yang didasarkan pada kejahilihan dan kemusyrikan. Dengan warna hidup yang sedemikian rendahnya. Mereka menggantinya dengan keyakinan yang baru. Mereka menundukan diri di hadapan wahyu. Mereka kerjakan apa yang diperintahkan wahyu dengan segenap ketaatan. Kehidupan mereka berganti dari jahiliah kepada Islam. Dari berkorban untuk berhala sekarang berkorban untuk Alloh.
c. Pokok hidup pada manusia tiga diantaranya adalah berfikir, merasa dan memenuhi kebutuhan fisik.
Telah jelas dalam uraian sebelumnya bahwa Islam menuntut dari mukminin untuk tunduk dan menyerahkan diri mereka. Tentu saja tidak boleh seorang mukmin hidupnya di satu sisi ia beribadah kepada Alloh sedangkan ia berkorban untuk membantai umat Islam. Logika mana yang bisa membenarkannya ? Tidak boleh seorang muslim mulutnya mengaku beriman kepada Alloh dan hari kiamat sementara pola pikir, hati dan perasaannya sama sekali tidak bersentuhan apalagi diisi oleh nilai-nilai Islam, konsep-konsep Islam.
Cara mengelola pikiran kita, hati kita dan makanan kita harus tunduk dalam aturan agama. Bagimana agama mengatur pikiran kita ? Agama mengarahkan agar pikiran kita dipergunakan untuk memikirkan minimal dua perkara penting. Pertama tentang tanda-tanda kebesaran Alloh yang ada di alam. Kedua berpikir tentang persiapan untuk hari berbangkit. Kedua hal ini sesugguhnya amat berdekatan dan berkaitan sekali. Letak keterkaitannya adalah yang satu mengantarkan manusia agar sujud kepada Alloh. Yang satu lagi mengokohkan manusia agar benar-benar dalam sujudnya, lantaran di hari kiamat nanti sujud itulah yang akan menjadi kebaikan di alam sana. Yang satu mendorong manusia untuk banyak bersyukur, yang satunya lagi mengokohkan agar manusia banyak-banyak bersykur karena sikap syukurlah yang akan membahagiakan dirinya di akhirat kelak. Jadi berfikir ang hidup ini hakikatnya adalah bagaimana kita menangkap hikmah dari segala yang ada, yang semakin meyakinkan kita untuk tunduk kepada Alloh. Alam ini hikmah terbesarnya adalah mengingatkan pada manusia akan karunia Alloh yang sedemikian besarnya. Hari kiamat itu hikmah terbesarnya adalah mengingatkan pada manusia bahwa di ujung kehidupan nanti ia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawabannya atas perlakuan dirinya kepada nikmat-nikmat Alloh itu baik yang ada di alam ataupun yang ada pada dirinya. Pikiran berkaitan dengan kecerdasan, semakin cerdas seseorang dalam berpikir semakin besar rasa sykurnya kepada Alloh lantaran perhatinnya kepada dua hal utama : alam ini dan alam nanti.
Bagaiamana kita mengelola hati seharusnya agar ia sejalan dengan pengharapan Islam atas umatnya ? Hati kita harus dekat dengan dua hal utama pertama Alloh. Kedua, diri kita sendiri. Hati harus banyak mengingat Alloh dan menimbang setiap kejadian yang menimpa diri sebagai karunia dari Alloh. Apakah keadaan dan kejadian itu secara fisik membawa kebaikan atau kejelekan. Hati harus banyak merenungi diri, dan menimbang apakah selama in kita sudah berbuat benar atau belum dalam hidup ini. Agama meskipun kandungannya benar, lurus dan ilmunya telah mengisi relung-relung pengetahuan kita di kepala, tetapi semuanya tergantung hati. Hati yang memutuskan untuk taat atau tidak. Karena hati tempat bersemayamnya iman. Ilmu dan indra kita hanyalah alat semata yang diam seribu bahasa jika tidak mendapat perintah dari hati ini. Bertanyalah kepada diri kita sendiri sudahkah kita menjadi pribadi yang baik dan lurus ? Pribadi yang tunduk kepada agama, pribadi yang menerapkan kaidah agama ? Agar hati kita senantias cerdas dan bergairah, maka ia harus banyak mengingat nama Alloh. Sebab ini adalah kunci ketenangan hati, ketenangan hidup.
“Ingat, dengan dzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra’du: 28)
Hati bisa menjadi kotor gara-gara ulah indra atau tubuh yang memasukan sembarang barang haram. Juga bisa menjadi kotor bila pembawaan hati berupa keingkaran tidak pernah dibersihkan.
Fisik kita pun harus tunduk kepada aturan Alloh. Fisik kita dalam rentangan yang amat luas semuanya berkaitan dengan hukum halal dan haram. Makanan, pakaian dan perhiasan, rumah, pekerjaan dan lain sebagainya akan senantiasa menghadapi tiga pilihan halal, haram dan syubhat. Ketundukan kepada Alloh dibuktikan dengan mengambil, mengusahakan, memilih yang halal dan meninggalkan yang haram dan syubhat.
d. Jika Umat bodoh terhadap agamanya,Maka ia bodoh pula dalam hidupnya.
Ketidaktahuan tentang tujuan hidup ini dianggap sebagai kejahilan. Kejahilan termasuk di dalamnya ketidaktahuan tentang Alloh, Rosul dan dasar-dasar dari agama. Bagaimana mungkin seorang mukmin dan muslim dapat menjalankan agamanya dan hidup di bawah naungannya jika dia tidak tahu siapa Alloh, siapa Rosululloh dan bagaimana sikap beragama yang benar ini. Barangkali dia memiliki konsep tentang semua itu. Tapi apakah sudah benar konsep-konsepnya, sudah benar sumber informasinya, sudah benar cara mempergunakannya ? Terkadang orang berdoa kepada Alloh bersama-sama berdoa kepada selain Alloh. Minta tolong kepada-Nya dan juga kepada Jin. Ini kan jahiliah namanya. Ada lagi orang yang mengambil pemahaman agamanya diambil dari kitab-kitab yang banyak berisi hadits palsu, isinya tidak menggambarkan Islam yang sesungguhnya. Bidah dianggap sunah, sunah ditinggalkan. Hal kecil dibesar-besarkan, hal besar dianggap sepele. Ketidak tahuan manusia tentang agama menyebabkan mereka berlaku dhalim dalam agamanya. Al-Quran dianggap sakral, tapi informasi yang ada di dalamnya tentang hakikat segala sesuatu, tentang kaidah Islam, tentang ajaran moral dan norma tidak pernah mereka pelajari. Terlebih lagi agama di tengah manusia yang tidak tahu untuk apa dia beragama, tentu agama menjadi sesuatu yang lucu dan menggelikan. Dan tidak tahu mengapa ia harus menyebah Alloh.
Alloh adalah Tuhan yang Hak. Setiap mukmin wajib beriman kepada Alloh secara Tauhid. Kalimat La ilaha ilallooh adalah kalimat tauhid. Konsekuensi tauhid adalah tidak mencari Tuhan lain selain Alloh. Kepada Alloh saja kita menyembah dan tidak menyembah kepada lainnya di samping Alloh. Berikutnya, tidak mencari pelindung selain Alloh. Kepada Alloh saja kita layak bertawakal dan meminta pertolongan serta memanjatkan doa-doa kita. Selanjutnya, Tidak mencari Hakim selain Alloh. Hanya hukum Alloh saja yang berhak untuk dijadikan sebagai pedoman untuk mengarungi hidup yang luas ini. Ciri dari kebanyakan manusia yang menyimpang dari tauhid, diantaranya mereka menyembah kepada selain Alloh. Ada juga yang beranggapan bahwa Alloh tidak campur tangan dengan kehidupan dunia. Sebagiannya lagi berfikir bahwa wahyu yang hakikatnya dari Alloh hanyalah kumpulan cerita dari masa lalu, kumpulan mithos. Sebagiannya lagi menolak hukum Alloh dan meyakini hukum Alloh itu tidak ada.
Tauhid kepada Alloh dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rosul adalah pondasi pertama dari keimanan dan keislaman seseorang. Kalimat syahadat merupakan pondasi bagi ibadah dan keimanan yang lainnya. Bagaimana mungkin seseorang beres dalam sholatnya dan rukun-rukun Islam lainnya juga dalam cabang-cabang keimanan yang lainnya, jika keimanannya kepada Alloh dan Rosul-Nya belum kokoh di hati. Bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah Rosul berkonsekuensi pada bagaimana cara kita beragama. Tidak ada Islam tanpa Sunah Nabi. Karena ibadah-ibadah praktek dalam Islam mendasarkan pada sunah Rosululloh. Dan Rosululloh memberikan pula contoh-contoh kehidupan nyata yang di dalamnya mengandung dasar-dasar ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Beliau adalah Rosul, juga pemimpin, juga kepala keluarga, seorang lak-laki, dan dari setiap kedudukannya di tengah umat manusia menunjukan keluhuran Islam pada dirinya. Meskipun sebelum Muhammad saw diangkat jadi Nabi diakui memiliki kecerdasan luar biasa, ketinggian akhlak dalam pergaulan, kekuatan fisik dan pengetahuannya yang luas tentang masyarakat, beliau tetap dibimbing Alloh bagaimana cara hidup dan berdakwah, cara berkeluarga dan berperang, cara menata persahabatan dan ketatanegaraan. Semuanya dalam asuhan wahyu dari Alloh Swt. Karena itu Islam dibangun dengan dasar tauhid dan syariat yang dicontohkan Rosululloh SAW.
Yang sering kita saksikan adalah betapa banyaknya umat yang tidak memahami Islam secara benar. Atau kalaupun mereka memahami hanya sebagian kecil dari segudang keilmuan Islam. Kurangnya pemahaman yang luas tentang Islam bisa jadi sebab kurangnya umat Islam menerapkan Islam dalam kehidupan. Demikian pula memahami Islam dari bukan sumbernya telah menyebabkan umat ini keliru dalam melaksanakan Islam. Bukannya wajah Islam yang muncul tetapi kerancuan, bidah atau khurofat. Pesan-pesan Islam yang luhur, indah, bersih dan suci tidak nampak dalam kenyataan sehari-hari di tengah umat ini kebanyakannya. Bahkan kerusakan yang paling parah terjadi pada umat yang dianggap paling tahu tentang agama, tapi sesungguhnya ia ahli syirik, bidah, thoghut dan andad.
Bagaimana solusinya ? Pertama, setiap ilmu harus dilanjutkan dengan bukti pengamalan. Amal apapun yang kita perbuat hendaknya mendasarkan diri pada ilmu, dimulai dan diiringi dengan ikhlas. Demikian pula halnya agar Islam dilaksanakan secara kaffah, disamping kita mempersiapkan ilmu yang luas tentang Islam, kitapun harus mempersiapkan fasilitas yang akan memudahkan atau mendukung semuanya. Mengingat luasnya ajaran Islam mencakup semua lapangan kehidupan manusia, maka lapangan hidup macam apapun harus serta merta menerima kehadiran aturan Islam.
e. Pengetahuan kita tentang hidup dan ibadah menurut Islam.
Telah diuraikan di atas bahwa hakikat hidup manusia adalah sarana untuk beribadah kepada Alloh. Hakikat Islam adalah cara untuk beribadah kepada Alloh. Bagi seorang mukmin dan muslim hidupnya adalah Islam, Islamnya adalah hidupnya. Kematian buat dirinya lebih baik daripada melepaskan Islam dari hidupnya. Hidup dalam Islam berarti hidup dalam mengabdi kepada Alloh. Mengabdi kepada Alloh itulah yang merupakan tujuan utama hidup manusia. Tetapi tidak kemudian membuat manusia hanya sekedar shalat, zakat, shaum dan haji saja dalam hidupnya. Lantaran ibadah kepada Alloh itu cara-caranya mencakup seluruh apa yang dikandung dalam ajaran Islam. Sedangkan ajaran Islam bukan hanya teriri dari yang sedemikian itu. Ajaran Islam mengandung pula ajaran tentang ekonomi, berarti ketika kita bergerak di bidang ekonomi yang mendasari pada ajaran Islam, maka hal itu hakikatnya adalah beribadah kepada Alloh. Demikian halnya ketika kita berperang, itu juga ibadah, dengan syarat tentunya perang kita didasarkan pada ajaran agama pula.
Seluruh manusia wajib melakukan hal ini, yakni beribadah kepada Alloh dengan cara menerapkan seluruh ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Baik dari sudut agama itu sendiri maupun dari sudut hidup manusia. Manusia yang menunaikan kewajibannya ini memperoleh ampunan dan kehidupan yang baik. Kehidupan yang tidak akan bisa diperoleh dengan cara hidu yang berbasis non-agama, non-Islam, non-tauhid, non-dzikir. Ketika proses ibadah kepada Alloh dijadikan poros utama atas segenap amal perbuatan manusia maka perbuatan manusia itu akan berisi kebaikan, dicatat seagai kabaikan, dan dibalasi dengan kebaikan pula. Ibadah kepada Alloh adalah wajib lantaran Dialah pencipta dan tempat kembali manusia. Menjalankan Islam wajib karena Alloh telah memilih Islam sebagai jalan yang lurus bagi manusia untuk sampai pada keridoan Alloh Swt.
Beribadah kepada Alloh merupakan jalan yang lurus. Satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain untuk manusia menuju selamat kehidupannya di dunia dan akhirat. Agar ia beroleh kebahagiaan di dunia dan beroleh pahala di akhirat kelak. Sedangkan menyembah syetan atau berhala adalah jalan yang sesat. Syetan dan berhala tidaklah bisa menolong manusia, tidak bisa mendatangkan kecelakaan. Menolak seruan untuk menyembah Allah dan mengikuti tipu daya syetan adalah penyebab datangnya bencana diduna dan diakhirat kelak. Jalan yang lurus itu adalah Islam, yang berpegang kepada wahyu, sesuai akal, hati nurani dan mengandung ajaran yang memuliakan manusia, memuliakan hidup ini.
Islam berpegang kepada wahyu. Ibadah kita berpegang kepada wahyu. Wahyu adalah petunjuk Alloh. Alloh adalah Pencipta manusia dan alam semesta. Hidup yang berbasis Islam adalah hidup bebasis petunjuk Pencipta manusia. Tetapi wahyu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki iman dan takut kepada Allah. Wahyu membimbing manusia mengenal Allah lebih dekat, menghindarkan manusia dari kejahiliyahan, dan mengingatkan manusia dari kelalaian. Fungsinya akan seperti ini bagi mereka yang mengakui Alloh sebagai pencipta-Nya. Wahyu membantu menusia mengenal lebih banyak nikmat dari Allah. Bagaimana menyusun sikap yang terbaik atas nikmat itu, dan mengenal negri akhirat adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman manusia. Wahyu membukakan pikiran, hati, pengalaman dan akal manusia tentang hal itu dan tentang kepalsuan tuhan-tuhan selain Allah.
Dengan demikian kesimpulan yang dapat di ambil adalah manusia wajib mengenal Allah lebih dekat, agar semakin besar rasa keimanan, kecintaan, takut dan harapan kepadaNya. Manusia wajib mengenal Islam lebih dekat, karena Islam jaminan agama yang hak disisi Allah, sempurna, dan sesuai dengan fitrah manusia. Manusia wajib mengenal lebih dekat akan Al-qur’an dan Nabi Muhammad Saw. karena keduanya penuntun utama benar lurusnya ibadah kita kepada Allah SWT. Kurang lebih seperti itulah pengetahuan kita tentang Islam, dengan mengkaji salah satu surat dalam Al-Quran, yakni surat Yassin.
Cara agar hidup lebih hidup itu tiada lain adalah dengan ibadah kepada Alloh. Ibadah yang diterima Alloh, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Hidup yang bermakna. Agar ibadah kita diterima Alloh Swt, menurut uraian di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut : beriman kepada pokok-pokok Aqidah islam (iman), mengikuti petunjuk, arahan, bimbingan, dari wahyu dan Rasulullah. (ilmu), melaksanakan ibadah itu dengan penuh keikhlasan, diiringi ketabahan, kontinyuitas, koreksi, kesungguhan, melengkapi dengan sesama dan kemudahan. (ihsan), menghias diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan untuk lebih mengenal Allah, agama, Rosulullah, menjadikan ibadah tersebut sebagai poros bagi amal perbuatan atau amal shalih ditengan umat manusia dalam kerangka melaksanakan syari’at Islam, agar semuanya berjalan lancar dan tuntas kuncinya, kaffah, dan berwibawa harus di sokong oleh kekuatan negara, mesyarakat, keluarga dan pribadi.
f. Jika manusia tidak beribadah kepada Allah dan hari kiamat
Apabila manusia tidak beribadah kepada Alloh, apapun alasannya maka dapat kita berfikir tentang hakikat ini. Manusia menyalahi akal, nurani, dan pengalamannya. Maka segenap amal perbuatannya didasarkan pada kebodohan dan hawa nafsunya. Menggantinya dengan beribadah kepada berhala, hawa nafsu atau syetan. Ketetapan yang berlaku atasnya adalah datangnya bencana dan kerugian hidup di Akhirat kelak. Perilakunya mencerminkan kejahilian, kekacauan berfikir, putus asa, senantiasa memiliki rasa permusuhan. Senantiasa memiliki rasa permusuhan kepada Islam, dan berdaya upaya untuk menghancurkannya dari berbagai jurusan dengan berbagai cara. Ciri utamanya mencintai kehidupan dunia memandang logis, baik, indah, akan tingkah lakunya yang buruk. Tak henti-hentinya dirundung masalah problema, bencana, kesusahan, kesempiran. Kasus filsafat metrealisme, evalusi dan premasonsri dan kemunisme adalah bukti nyata kehancuran peradaban manusia.
g. Kenapa manusia bisa menyembah selain Alloh, padahal agama yang mula-mula adalah Islam ?
Akibat tipu daya Iblis ( 34: 20 ). karena mereka ragu-ragu kepada negri akhirat ( 34 :21).
Karena sifat sombong. (34: 31). Lantaran kemewahan, anak buah dan pengikut ( 34 : 34-35) Karena bersifat lemah di hadapan orang-orang yang sombong ( 34:32-33).Karena mereka menyembah jin ( 34 : 41) Karena keserakahan terhadap dunia dan ketidakpedulian terhadap sesama manusia. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Surah
al-Takatsur, memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11, menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan.
h. Logika orang-orang kafir
Mustahil badan yang sudah hancur sehancur-hancurnya atau telah menjadi tulang belulang bisa dikembalikan lagi menjadi makhluk yang baru. (34 : 7). Hakikatnya mereka ini tidak beriman kepada hari akhirat. ( 34 8 ). Nyata-nyata mereka mengatakan bahwa hari berbangkit itu tidak akan datang. ( 34 : 3 ). Jika ada manusia yang datang kepada orang yang memiliki logika ini dan mengatakan bahwa hari akhirat itu benar-benar akan ada, maka dengan mengikuti alur logika mereka sendiri, mereka akan segera membatahnya dengan mengatakan bahwa orang tersebut pembual ( tidak sesuai data ilmiah ) atau gila (irrasional). Mereka mengatakan bahwa mereka mengingkari wahyu (34:34). Wahyu itu hanya menghalang-halangi ibadah, dan isinya hanyalah dusta belaka. Dan jika cukup bukti tentang benarnya wahyu mererka mengatakan wahyu itu sihir. (34 : 43). Kalau sudah demikian maka bagaimana mungkin mereka melakukan ibadah kepada Alloh. Apa yang mereka peroleh dari harta dan kehidupan duniawi dipercaya sebagai hasil usaha dan ilmu mereka tanpa ada campur tangan Alloh. Sehingga tatkala mereka disuruh untuk bersyukur kepada Alloh, tentu saja mereka menolaknya. Apalagi untuk beribadah kepada Alloh.
i. Manusia umumnya
Percaya bahwa Alloh ada. Tapi mereka tidak mempercayai Alloh dan menaruh keimanan kepada-Nya. Berilmu tapi tak beriman. Beriman tapi kurang ilmunya. Menolak kedatangan Rosul dan wahyu. Dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas, kita dapat menyimpulkan, sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah, baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. Menurut al-Qur’an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187; 12:21;, tidak bersyukur (40:61; 2:243; 12:38), tidak beriman (11:17; 12:103; 13:1),
fasiq (5:49), melalaikan ayat-ayat Allah (10:92), kafir (17:89; 25:50), dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18).

Bab 2. Menjalankan Islam secara Kaffah.
Kenapa Islam harus dijalankan secara kaffah ?
Apa Esensi dan proses menuju Islam Kaffah ?
Bagaimana kehidupan Islam kaffa ?
Apa resikonya menjalankan Islam secara kaffah ?
Bagaimana sikap kita terhadap Orang yang memecah belah agama ?

Tahap Pertama
Agama ini akan memiliki kemuliaan di tengah-tengah kehidupan manusia, jika umatnya melaksanakan ajaran-ajarannya. Dan setiap cabang dari kehidupan umatnya dibawah aturan agama ini. Dengan demikian jika kita ingin memuliakan Islam pelajari semua pokok dan cabang-cabang agama. Kenali Alloh, Rosulnya, akidahnya, ibadahnya, dan aturan-aturannya. Setelah itu berakhlaklah kepada Alloh dengan mengabdi kepada-Nya, berakhlaklah kepada Rosululloh dengan mengambil teladan darinya. Milikilah akidah yang kokoh di hati. Tingkatkan iman dengan cara beriman yang diajarkan oleh Rosululloh dan para sahabatnya. Berkahlaklah kepada sesama manusia, kepada bumi, tumbuhan dan binatang sebagaimana cara pandang Islam atas mereka. Jika kita memang mengumumkan diri pada dunia bahwa kita adalah muslim dan mukmin. Yang berilmu, berakal, berdaya upaya dan memiliki keteguhan dalam melaksanakannya.
Tahap Kedua
Menyerahkan semua segi dari kehidupan mereka, lahir batinnya, dunia akhiratnya, urusan harta dan ekonominya, tatanan keluarga dan masyarakatnya dan lain sebagainya berada dalam aturan dan kaidah-kaidah Islam. Karena memang Islam mempunyai aturan-aturan pada semua bidang kehidupan manusia. Karena itu umat Islam pantang membuat Andad dalam agama dan kehidupannya. Mereka tidak membuat tandingan bagi Alloh, Rosul, Kitabnya, pembelaannya, rasa takut, kecintaan dan pengorbanan. Tidak ada yang mereka perbuat kecuali hanya untuk Islam.
Kaidah Islam, yang pertama bahwa tujuan dari kehidupan ini adalah ibadah kepada Alloh. Kaidah kedua dalam beribadah itu perlu mengikuti penjelasan Rosululloh. Ketiga, penjelasan Rosululloh itu didasarkan pada wahyu, yakni Al-Quran dan Sunahnya. Keempat dalam pelaksanaannya harus berangkat dari kepahaman, kesadaran, keikhlasan, dan kejelasan arah dan tujuan. Kelima, memperhatikan aspek kemanusiaan, kemashlahatan dan zaman. Artinya jika kita berniat untuk berkeluarga. Perhatikan bahwa niat kita dengan beribadah itu adalah untuk lebih meningkatkan ibadah kepada Alloh, untuk lebih mewujudkan sunah Rosululloh, untuk lebih meluaskan amalan-amalan Qurani dan Sunah Rosul-Nya, untuk menambah amal yang berkualitas ikhlas, jelas dan terarah terhadap bagian-bagian yang menyertainya. Dan tentunya untuk menambah kesejahteraan hidup manusia lainnya.
Hidup ini hanya untuk ibadah. Orang yang tidak beribadah layak disebut mati. Dan kematian baginya memang merupakan keamanan bagi orang-orang yang hidup. Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Alloh tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya Alloh tidak menciptakan manusia untuk menghapus ibadah dari amalan kehidupannya. Juga tidak membentuk manusia untuk menyembah syetan jin, malaikat, batu, pohon, bintang dan segenap makhluk lainnya. Dalam diri manusia ada berbagai macam potensi untuk beribadah kepada Alloh. Pertama, manusia memiliki fitrah, modal untuk mengenali agama dan adanya Alloh. Kedua, manusia mempunyai akal yang bisa digunakan untuk merenungi jagat raya ini., Jika dipadukan dengan fitrah akan sampai akal ini pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Bagaimana mungkin alam yang begitu rumit desainnya ini tidak ada yang membuat dan mengaturnya. Tuhan itu pasti ada. Ketiga, manusia memiliki warisan budaya dan agama dari nenek moyangnya. Bagaimana pun kenyataan bahwa manusia mewairis budaya dari pendahulunya tak bisa dipungkiri. Tak ada manusia tiba-tiba muncul di tengah hutan. Ia mesti dari suatu kelompok sosial yang berbudaya. Dalam budaya ada nilai agama. Nilai agama ini adalah modal manusia untuk mengenal Alloh. Jika Alloh ada, lalu mau diapakan ? Manusia punya dorongan untuk menyembah sesuatu yang memiliki kekuatan atas dirinya dan alam semesta ini. Manusia memiliki kepentingan batiniah untuk melakukan ibadah. Seorang mukmin itu hidupnya adalah ibadah. Ibadahnya adalah sepanjang hidupnya sampai ajal datang meraihnya.
Bidang-bidang kehidupan itu menurut Islam,pertama bidang kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, kehidupan duniawi, kehidupan ukhrowi, bidang berfikir, bidang beramal, dan pengharapan, bidang keluarga, bidang pekerjaan, bidang pendidikan, bidang politik, bidang kemakmuran, bidang penelitian dan observasi, bidang perang, bidang toleransi, bidang hukum dan hukuman, bidang ilmu, dan lain sebagainya. Semua itu disamping harus mengambil konsep, aturannya, kaidahnya dari agama, juga tidak boleh keluar dari kaidah-kadiah di atas. Berperang itu ada aturannya dalam Islam. Dalam konsep dan pelaksanaannya perang harus dalam kerangka ibadah kepada Alloh, mengikuti sunah Rosululloh, mendasarkan penjelasan perang itu dari Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi. Perang dilakukan dengan tidak melupakan unsur-unsur keikhlasan, kejelasan tujuan dan kemanusiaan serta kemaslahatan umat manusia seluruhnya.
Bagaimana seorang mukmin menata kehidupan pribadinya ? Pertama, ia memaksimalkan potensi dari pendengaran, akal dan hatinya dalam menangkap ayat-ayat Alloh. Dalam setiap waktu, tempat, kejadian memiliki hikmah yang berharga bagi manusia yang mampu menangkapnya. Pengamatan terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya jika dipola menurut dasar keyakinan kepada Alloh, niscaya akan membawa dirinya kepada kecintaan, kekaguman, rasa takut kepada Alloh. Apalagi jika semua potensi ini diarahkan pada Al-Quran, maka akan jelas bagaimana Alloh sedemikian menyayangi manusia. Dalam setiap firman-Nya senantiasa mengandung hikmah yang besar bagi kehidupan manusia. Manusia akan merasa nyaman dengan hukum, aturan dan moral yang datang dari Alloh. Memaksimalkan potensi indra, akal dan hati tujuannya adalah untuk diarahkan kepada perenungan akan pentingnya hidup di bawah aturan Islam. Karena Islam itulah aturan yang dikehendaki Alloh Swt. Seseorang yang semakin besar perhatiannya kepada Islam karena belajarnya, karena imannya, karena ibadahnya, karena hikmahnya, maka akan semakin besar rasa cintanya keapda Islam dan akan semakin besar rasa kebutuhannya kepada Islam. Akan semakin terasa indahnya dalam Islam. Andaikan hidup tanpa Islam, maka hidup ini adalah kegelapan. Itulah yang tersirat dalam pikirannya. Kedua ia memaksimalkan ilmu, harta, pemikiran, dan posisinya di tengah umat manusia untuk lebih mengejawantahkan nilai-nilai Islam. Karena kesadarannya yang tinggi terhadap islam seorang akan senantiasa tergerak mengamalkan dan mewujudkan ajaran-ajaran islam dalam hidupnya karna iya yakin karena islamlah hidup ini akan penuh makna berarti dan bahagia sehingga dia akan berdaya upaya walaupun harus mengorbankan hartanya dan waktu-waktunya. Bahkan dalam tingkat tertentu takni tingkatan shiddik lepasnya harta tenaga dan waktu untuk proses perjuangan dalam islam, dipandang sebagai tabungan untuk akhirat kelak. Dari sisi lain dia menyadari pula bahwa apa yang dia miliki ditangannya baik berupa harta dan tenaga atau waktu hakekatnya adalah milik Allah. Ada kerinduan yang bersatu dalam dadanya akan wajud kehidupan dibawah cahaya islam yang akan menyebarkan kedamaian, ketulusan, kehalusan.
Yang mengherankan dari kehidupan umat Islam kebanyakan adalah mereka mengambil dari Islam ini adalah ibadah ritualnya, ibadah yang bisa mendatangkan uang sebanyak-banyaknya, yang bisa mengantarkan dirinya ke puncak-puncak kekayaan, jabatan dan nama. Jika semua telah dicapai sudahlah ia beragama sampai batas itu. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah tahu isi AL-Quran. Ada yang memiliki Kitab Al-Quran tapi tidak dengan kitab Haditsnya. Bagi mereka mengira beragama itu cukup dengan sholat, zakat, shaum dan hajji. Sementara hidup ini teramat luas cabang-cabang dan aspeknya. Mendidik anak, berkeluarga, berfikir, berilmu, berakhlak, berekonomi, berpolitik. Menggunakan apa mereka menjalankan semua itu ? Kaidah apa yang diterapkan mereka untuk mengantarkan diri mereka mencapai semua itu ? Ibadahnya Islam, ekonominya kapitalis, akhlaknya Yahudi, keluarganya kebarat-baratan. Apa seperti ini yang dikehendaki Islam menurut mereka ? Jika ini yang diperbuat, mana mungkin manusia sejenis ini bisa diambil orang-orang yang mau berjuang untuk Islam ?
Maka bermula dari mengajarkan tentang akidah secara benar, hendaklah dari setiap muslim itu mengetahui tentang hukum halal dan haram, mengetahui hukum-hukum dalam bidang keluarga, masyarakat dan bernegara. Selanjutnya mererapkan semua itu dalam bukti nyata. Jika belum memungkinkan maka dicarilah jalan untuk mencapaikan kita ke arah sana, ke tujuan semacam itu.
Bab 3 . Bertangung Jawab atas Akidah dan Syariat Islam.
Yang paling utama dari sekian banyaknya tugas dalam hidup dan beragama, yang menggambarkan pokok dari melaksanakan Islam secara kaffah adalah memelihara, menjaga dan memperkuat akidah, melaksanakan sholat, zakat, shaum, haji, menegakan amar ma’ruf nahyi munkar dan jihad fie sabilillah dan membereskan pemikiran dan pemahaman tentang konsep-konsep tentang agama, Islam, manusia, hidup dan dunia. Sebab itu menjadi umat yang akan menjadi ciri dari kemuliaan agama adalah umat yang terus belajar, terus meningkatkan diri, dan meningkatkan rasa tanggungjawabnya terhadap hidup dan agama.
Menjaga akidah Islam itu dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, dalam memperoleh dan menempatkannya. Akidah Islam hanya diperoleh lewat keimanan dan diperoleh dari sumbernya berupa AL-Quran dan Sunnah. Akidah tidak bisa diperoleh hanya dengan menggunakan rasional dan hal yang bersifat empiris. Menjaga Akidah berarti menjaga keimanan dan kedekatan kita dengan AL-Quran dan Sunah. Kedekatan berarti kepahaman dan pengkajian. Karena AL-Quran itu kitab yang harus dibaca, diambil infomasinya dan digali konsep-konsepnya. Menjaga akidah berarti menjaga iman. Menjaga iman berarti menjaga ibadah dan hati. Karena orang yang tidak beribadah dan kotor hatinya tidak bisa berlama-lama merangkul iman. Agar akidah tetap kuat di hati, di jiwa, perlu dijaga ibadah-ibadah kita dan perlu dibersihkan hati kita dari perkara-perkara yang mengotorinya. Kedua, dalam menghadapi musuh dan tantangannya. Musuh akidah adalah serangan dari agama-agama yang lain, sekte sesat dan bidah. Akidah Islam yang tertanam di jiwa kita harus dijaga dari bercampurnya pemahaman akidah, konsep akidah, pelaksanaan akidah dari akidah-akidah agama luar, dari pemikiran sesat dan dari nafsu ahli bidah.
Umat Islam, ulamanya, dan para pemimpinnya memiliki kewajiban untuk menjaga akidah ini. Sikap menyepelekan akidah adalah perbuatan dosa. Menjadikan akidah hanya sebagai hiasan agama, akan menimbulkan kaburnya tujuan beragama. Dan hilangnya arti hidup beragama. Yang akan terjadi kemudian ialah hilangnya harga diri umat Islam, hilangnya keberanian untuk berjihad, timbulnya cinta dunia dan takut mati. Kedudukan umat Islam yang seharusnya menjadi pelita bagi umat manusia yang kehilangan arah hidupnya di dunia, justru mereka sendiri bingung dan linglung. Ketika akidahnya rusak. Demikian halnya dengan keadaan ketika umat Islam jauh dari Al-Quran, tidak tahu isi Al-Quran, tidak dekat dengan ulamanya, akan mengakibatkan dangkalnya pemahaman umat terhadap agama. Ditambah dengan sikap mencampurkan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara yang sudah jelas aturannya dengan sikap ragu-ragu, suka berbuat dosa dan maksiat. Muaranya adalah agama dipandang hina tak berguna oleh manusia. Untuk mencegahnya jadilah kita orang yang paham agama dan berkata tentang agama sesuai hakikatnya yang terkandung dalam kitab-kitabnya dan keterangan para ulamanya, danj adilah pula kita sebagai pelakunya yang palin awal. Tak usah mencari teladan dari orang zaman sekarang, cukuplah diri kita saja sebagai teladannya, mengambil teladan dari Rosululloh dan para sahabat dalam beragama. Jangan menyembunyikan ayat, jangan menukarnya dengan iming-iming kedudukan dan uang, jangan berharap orang lain yang memulai.
Untuk menopang iman, ibadah dan pemikiran agar tetap terjaga dari kekeruhan, dari penyimpangan dan dari penyakit putur dan berbagai penyakit lainnya, maka berkumpul dengan para ulama sholeh, membaca kitab, menggali hikmah, banyak berdzikir, mensucikan jiwa, mendengarkan ceramah, belajar ilmu-ilmu, meneliti dan mengkaji merupakan aktifitas yang harus terus menerus digelorakan disemangati dan difasilitasi. Kedekatan kita dengan oang-orang memiliki kebersihan akidah, yang tidak pernah mengenal berhenti belajar agama, merupakan langkah utama. Jika orang yang kita berkumpul dengannya adalah orang-orang yang ahli di bidang agama, juga memiliki semangat untuk memurnikan akidah umat Islam, serta jelas sikapnya dihadapan ahli syirik, ahli bidah, ahli matrealisme, dan ahli sufi yang sesat, tentu merupakan menyertai mereka adalah kewajiban dan keutamaan. Yang akan menjadi pondasi gerakan dakwah, pendidikan, dan perbaikan umat.
Untuk menopang keimanan dibutuhkan dua hal yang tak kalah pentingnya. Pertama, ilmu dan yang kedua, hati yang bersih. Hati akan menjadi bersih apabila sholat kita, shaum kita, zakat kita, telah diamalkan dengan benar. Banyak mengingat Allah dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, dendam, pemarah. Juga menjaga prilaku kita dari perbuatan maksiat. Orang yang merasa ilmunya telah tinggi dan merasa hatinya tidak pernah keliru umumnya kadar keimanannya rendah. Maka sikap sikap tawadlu dan takut kepada Allah adalah jaminan kita akan terus belajar dan menghindari dari berbagai kesalahan baik dalam berfikir, berbuat ataupun bersikap
Masih banyak sekali paham-paham yang beredar di sekeliling umat Islam, masuk ke dalam pemikiran agama mereka, menjadi semacam keimanan, tetapi sesungguhnya racun yang mematikan. Itulah sikap menyepelekan akidah, mengambil konsep akidah dari sembarang orang dan pemikirannya. Tidak ada kemauan mereka untuk menata ulang konsep akidah dan keimanannya menurut dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah. Tidak ada kehendak pada mereka untuk berakidah seperti akidahnya para Rosul, para sahabat Nabi, dan ulama-ulama terdahulu. Umat ini lebih senang membiarkan kejahatan dan kemungkaran berada di sekelilingya. Mereka lemah, tak punya pemimpin. Tidak mau berorganisasi. Jihad malah dianggap sebagai sikap teroris. Dunia lebih dicintai, kematian begitu ditakuti. Inilah yang ada di jiwa-jiwa umat ini, yang kita baca lewat perilaku mereka yang tiada henti-hentinya berburu dunia dan melupakan persiapan untuk menyongsong kematian. Bukan kematian lewat menunggu umur tua.
Setiap mukmin hendaklah memerikasa dua hal utama, akidah yang benar dan keadaan hatinya. Hati adalah tampat bersemayamnya akidah. Hanya hati yang besih,suci dan lapang yang akan menerima kehadiran akidah Islam. Demikian pula tidak sembarang sumber ilmu, agama dan pengetahuan yang dapat dijadikan rujukan untuk menemukan konsep yang benar tentang akidah Islam. Apalah artinya hati yang bersih, jika akidah yang brsemayam di dalamnya penuh dengan kekeliruan dan kesesatan. Sumber dari akidah Islam adalah AL-Quran dan Sunnah. Hendaknya hati diarahkanuntuk lebih mencintai apa yang diajarkan akidahm syariat dan pemikiran yang bersumber dari agama.

Bab 4. Jihad Fi Sabilillah
Puncak dari beragama, sekaligus puncak kemuliaan hidup, puncak ketakwaan dan keshalehan, puncak dari iman dan membenarkan agama adalah Jihad fi sabilillah. Menjalankan agama tidak sekedar meraih kebahagiaan di dunia dengan mengambil menfaat dari kaidah-kaidah agama, tetapi juga meninggikan agama itu agar agama dimenangkan di atas agama-agama yang lain. Untuk menjadi mujahid dan terbentangnya jalan jihad, tak dapat dipisahkan dari upaya-upaya dakwah, pendidikan, membentuk negara berdasar Islam dan persiapan pribadi-pribadi mujahid yang tangguh.
Seorang mukmin selaku manusia, tidak bisa lepas dari dosa, kekurangan, kesenangan terhadap nafsu dan sahwat, terkadang juga dari sifat riya dan meremehkan orang lain. Dalam kadar tertentu semua sifat negatif ini membahayakan. Tetapi jika ia seorang yang dekat dengan agama dan berjiwa mujahid, maka semua itu bukan masalah. Sebab dalam dirinya telah tertanam untuk tidak berbuat dosa. Jika suatu masanya ia terpeleset tingkah dan perbuatan, melakukan dosa, segeralah ia bertaubat. Adapun kekurangan entah itu ilmu, fisik, ekonomi, ibadah, akhlak, itu juga bisa diatasi dengan cara meningkatkan kualitas diri. Demikian pula halnya sifat terpedaya nafsu tergantikan oleh keteguhannya beragama, sifat riyanya tergantikan oleh ikhlas. Daripada berbuat riya, ingin dipuji manusia ketika berbuat, lebih baik ikhlas saja. Daripada sombong lebih baik tawadlu saja. Darai pada biasa-biasa saja dalam beragama sebagaimana umumnya umat ini, lebih baik menjadi pembela agama , menjadi mujahid saja.
Dosa itu akibat dua hal utama. Pertama ketidaktahuan, kedua kelalaian. Bersikap diam dalam ketidaktahuan, artinya tidak berupaya untuk menambah ilmu tentang Islam, itu adalah dosa. Bersikap lalai, artinya tidak bersegera untuk beramal padahal potensi dan kesempatan begitu berlimpah di hadapan kita, juga dosa. Bertaubat artinya, jangan mengulangi kesalahan yang sudah dilakukan. Segera belajar kembali agama, karena masih banyak segi-seginya yang kita tidak mengetahuinya. Datangi para ulama, miliki kitab-kitab penting dan bersih dari hawa nafsu. Segera mencari proyek amal agar kehidupan kita bagi agama ini berarti. Belajar dan bersegera beramal itulah makna bertaubat. Sebab untuk meninggalkan dosa orang mesti menggantinya dengan hal yang baru. Dari bertaubat baru kita melangkah ke upaya perbaikan kualitas diri. Waktu, sarana, dan kesempatan, jika tersedia di hadapan kita, mengapa kita tak memanfaatkanya untuk menambah ilmu kita, kontribusi kita, memperbaiki akhlak dan ibadah kepada Alloh. Mutu pribadi kita masih bisa terus ditingkatkan dengan berbagai cara dan jalan sesuai kaidah iman, amal sholeh, bersabar dan saling menashihatkan. Dengan perbaikan diri berarti telah tertancap, telah tercanang bagi siapapun yang melewati semua ini untuk menjadi mukmin yang teguh pendiriannya dalam beragama. Ia tidak mudah digoda, tidak mudah dibodohi, tidak mudah ditipu, tidak mudah dibawa-bawa hawa nafsu, bisikan syetan dan godaan duniawi. Teguh beragama, berarti serius dirinya beragama. Serius dalam akhlaknya kepada Alloh. Besar rasa cinta dan kagumnya pada Rosululloh. Takut sekali jika dirnya kembali terperosok ke dalam kubangan dosa. Ia tampil sebagai orang yang istoqomah dalam beragamanya. Pergerakan pikiran dan hatinya tak pernah lepas dari kedekatannya dengan agama. Alloh senantiasa disebutnya, Rosululloh selalu diteladaninya, Al-Quran selalu dibaca dan dikajinya. Dan ia taat atas aturan-aturannya. Dan semua ini hanya bisa dilewati oleh orang yang mau meningkatkan kualitas dirinya terus menerus. Ini baru awal bagaimana manusia ikhlas dalam beragama. Awal untuk menjadi seorang pembela agama dan kaum muslimin. Orang semacam ini pantang berbuat dosa, pantang untuk merencanakan dosa kembali.
Puncak beragama adalah berjihad dan puncak persiapan untuk berjihad adalah menjadi pembela kaum muslimin dan itu hanya bisa dilakukan orang-orang yang hati dan perbuatannya bersih, kualitas dirinya baik, berpegang teguh pada syariat dan agama Alloh dan ikhlas dalam setiap amal ibadahnya. Merekalah yang lebih layak untuk menjadi mujahid bagi Islam ini.
Jihad fisabilillah yang pernah dilakukan Rosul, para sahabat, umat Islam generasi pertama, tidak lepas dari upaya untuk menyebarkan dakwah Islam, untuk membuktikan keagungan Islam. Orang yang berjihad dari mereka adalah orang-orang yang bersih suci hati dan pikirannya. Yang akidahnya kokoh. Yang memiliki semangat amar makruf nahyi munkar dalam skala luas. Amar makruf dalam skala besarnya adalah mengajak manusia kepada Islam. Dan nahyi munkar dalam skala yang sama adalah mencegah manusia dari jalan yang sesat dan jalan yang menyebabkan datangnya murka Alloh. Jihad adalah amar makruf dan nahyi munkar dalam skala ini.
Tujuan yang ingin dicapai dari jihad adalah meninggikan agama Alloh. Agama akan memiliki kedudukan yang tiinggi dalam kehidupan manusia, jika agama ini mampu mengungguli agama yang lain. Agama yang bisa membuktikan akan perannya di tengah umat manusia, yakni sebagai pemberi petunjuk ke arah kehidupan yang suci, fitrah, makmur, logis, dan membawa ketenangan bagi hati, kehidupan dan dunia. Jihad membutuhkan banyak sekali persiapan baik bathin maupun lahir. Butuh persiapan strategi, perkakas, kekuatan dan sasaran yang jelas. Orang yang hendak berjihad dipilih dari umat mukmin yang ikhlas, berakidah lurus dan memiliki kriteria tertentu lainnya. Sehingga jihad itu pada dasarnya tidak lepas dari nilai-nilai ilahi dan manusiawi. Terlepas dari konsep jihad, peristiwa peledakan gedung di Amerika lebih manusiawi ketimbang perlakuan Amerika terhadap rakyat dan tawanan Afganistan, begitulah kajian seorang penulis di majalah Percikan iman.
Wahai umat manusia. Beragama itu bukanlah kita Cuma duduk di mesjid dan berdoa, setelah itu kita pulang ke tengah keluarga dan tidurlah di atas ranjang. Sementara umat yang masih bodoh dalam agamanya kita biarkan. Anak-anak yatim dan kaum dhuafa yang mencari penghidupan layak tak pernah mengusik hati dan pikiran kita. Pemurtadan terus berlangsung tanpa ada sedikitpun usaha kita untuk mencegahnya. Sementara masih banyak umat manusia yang tersesat jalannya lantaran tidak mengenal Islam. AL-Quran yang suci hanya tinggal tulisan tanpa ada yang berusaha untuk menjadikannya sebagai jalan petunjuk hidup ini. Sunah Nabi tidak lagi menjadi panutan orang tua, pemuda dan anak-anak. Tingkah laku, pola hidup dan pakaian mereka telah digantikan oleh gaya hidup materialistis, hedonis, dan tampilan-tampilan yang tidak bisa dimengerti oleh logika keimanan dari umat ini.
Setiap dari kita mari kita memperlas pelaksanaan ajaran Islam. Memperdalam bidang yang sedang kita amalkan. Memperluas bidang dan memperdalam bidang yang sudah digarap adalah penitng agar kita biosa lebih menghayati aama dan memuliakan aama dan hidup ini sekaligus. Jika di waktu-waktu sebelumnya ekonomi kita masih menggunakan sistem kufur, maka mulailah hari ini untuk beralih ke sistem Islam. Jika di waktu waktu sebelumnya yang k ita ketahui dari Islam itu Cuma soal akidah saja,maka mulaialah hari ini untuk mengkaji Islam bidang sosianya,ekonominya, dan politiknya.

Bab 5. Memaksimalkan potensi, membela agama dan melawan musuh.
Meninggikan agama berarti membela setiap bagian dari agama yang terhinakan, menyerahkan segala potensi yang ada dalam hidup selaku manusia, mencapai target agar Islam kembali jaya, mengembalikan umat Islam kepada kedudukan yang tinggi di muka bumi sebagai khalifah dan mengantarkan setiap mukmin untuk mencintai agama dan mencintai mati syahid. Di tengah kehidupan yang serba matrealistis, di mana umat Islam tertindas, namun sekaligus ditakuti. Musuh apapun bentuknya, dari mana pun datangnya, kapan pun dan di mana pun yang datang menyerbu Islam dan umatnya, harus dilawan dengan segenap kekuatan yang seimbang, itulah makna sebuah upaya meninggikan agama.
Adakalanya yang dihina oleh manusia dari Islam ini adalah Nabinya. Yakni Muhammad Saw. Kasus pembuatan karikatur itu adalah peristiwa penghinaan. Terlepas dari penyebabnya, dan latar belakang pemikiran yang menggerakannya. Adakalanya seluruhnya dari Islam ini dihina, mulai dari Alloh, Nabi Muhammad, Al-Qurannya dan umatnya, dihina tanpa tedeng aling-aling seperti yang ditulis oleh Morrey. Adakalanya hanya fokus Al-Quran saja. Jika hinaan dan celaan itu datang dari orang kafir maka itu wajar dan wajar juga harus dilawan dan jikalau ada kekuatan mereka perlu dimusnahkan dari muka bumi ini. Yang luar biasa adalah ternyata hinaan dan celaan itu datang dari orang-orang yang secara formal mengatakan dirinya muslim. Kita ambil contoh, para ahli bidah, mereka adalah yang mengambil agama dari orang-orang yang menyimpanga dari akidah dan syariat Islam. Ahli matrealisme, mereka adalah yang mengambil filsafat matrealisme sebagai alat ukur kebenaran dan menjadikan matrealisme itu sebagai jalan kehidupan mereka. Ahli Pluralisme, mereka yang menjadiakan keyakinan semua agama adalah sama. Ahli sekularisme, mereka yang punya agama bahwa soal-soal agama harus dipisahkan dari soal-soal kehidupan duniawi terutama negara. Umat ini banyak sekali yang terperosok ke arah itu.
Baiklah kita soroti saja diri kita. Pertama kita punya musuh besar, syetan namanya. Apa yang disukai syetan adalah yang dibenci Alloh. Apa yang dibenci Alloh adalah disukai Syetan. Boleh juga kita mengambil rumus ini. Yang mengherankan dari kita, adalah senang memenuhi panggilan syetan. Yang dibenci Alloh kita kerjakan, yang disukai Syetan kita balapan. Mengherankan. Kedua, kita yakin akan adanya alam kubur dan hari hisab di yaumul qiyamah nanti. Logikanya orang mestinya banyak berbuat amal kebaikan dan meninggalkan seluruh perbuatan maksiat. Nah kita lain. Budaya kejelekan kita tiru, budaya kebaikan kita sepelekan. Kita isi laptop amalan kita dengan rekaman tulisan, ucapan dan adegan yang seram-seram, yang kotor-kotor, yang haram-haram. Jadi nanti kalau dibuka di yaumul kiamah dengan apa kita harus menebusnya kalau bukan dengan masuk ke dalam neraka. Katanya ingin ke surga. Tapi makanan yang kita makan kebanyakan syubhat. Tapi perlakuan bukanya menjadi pembela agama tapi mengkeruhkan agama di tengah kehidupan sosial. Lihat berapa besar uang yang kita miliki yang kita peroleh secara halal tapi tidak mau memberikan manfaat bagi anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Jadi memang kita perlu meluruskan pemahaman kita tentang musuh dan alam kubur ini. Ini baru dua persoalan. Belum dari persoalan lainnya. Andaikan pemahaan kita berisi konsep-konsep yang keliru,keliru pulaah kita memperlakukan agama ini. Terkadang konsep yang sudah terang benderangpun, kita tidak konsisten untuk menerapkannya di dalam hidup ini. Kecerobohan kita adalah musuh. Juga termasuk musuh kita itu syetan, dan manusia-manusia yang ubun-ubunnya dibawah kendali syetan dan nafsunya.
Dengan apa kita meluruskan pemahaman umat, melawan musuh, menegakan Islam, menyumbangkan diri untuk kembangkitan Islam ? Kiranya kita semua butuh pendidikan, butuh belajar ekstra, butuh ibadah yang benar-benar berkualitas ahli zuhud, butuh kekuatan yang seimbang untuk menghadapi mereka. Untuk mengingatkan, meluruskan yang lupa, dan memupus yang murtad dari agama ini.
Ketika kehormatan umat Islam dihina,dilecehkan oleh musuh. Apa yang bisa kita perbuat ? Ternyata harta kita lebih mengalir begitu saja ke kantong-kantong kafirin. Umur dan tenaga kita habis untuk rukuk di hadapan dunia ini. Kenapa dan kemana kekuatan kita selaku umat Islam ? Sampai kita di hari ini bumi Indonesia, bumi Barat, Bumi Timur, Bumi Selatan, Bumi Utara, berada dalam tangan-tangan perusak hutan dan kandungannya.
Penting hari ini kita merubah cara berfikir, memilih teman, menyiapkan agenda, dan terus belajar tentang Islam dan dunia ini. Meninggikan cita-cita dan meluaskan ilmu adalah hal utama untuk meraih kejayaan Islam. Doa dan ikhtiar di berbagai lapangan kehidupan itulah yang mesti kita lakukan.


Posted in Uncategorized

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA (2)

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA (2)

Oleh: Ading Nashrulloh

PENGARUH IBADAH BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

1.51. IBADAH ADALAH SATU PAKET DENGAN KEHIDUPAN
Ibarat badan dengan jiwanya, maka kehidupan menjadi ada. badan tanpa jiwa, atau jiwa tanpa badan adalah kematian bagi manusia.sesungguhnya kehidupan manusia dengan kewajibanya untuk ibadah kepada Tuhan adalah satu paket yang utuh. manusia jelas pada umumnya lebih memperhatikan segi hidupnya ketimbang ibadahnya. Tetapi ini tidak berlaku bagi orang yang beriman. ia lebih memperhatikan ibadah sebab ibadah itulah jiwa bagi kehidupannya.
1.52. Kehidupan manusia tanpa ibadah
Setiap peradaban manusia rupanya menyadari akan pentingnya ibadah. Selalu ditemukan dalam setiap peradaban manusia, hal yang berupa ibadah, agama, atau keyakinan kepadanya adanya Tuhan. Kesimpulan yang dapat diambil. Kehidupan manusia tanpa ibadah tidak akan banyak menghasilkan peradaban, atau karya nyata. Ini merupakan suatu potensi yang mendukung bagi upaya mengembalikan manusia kepada agamanya yang sebenarnya yaitu Islam. Tatkala dakwah Islam telah sampai pada mereka tetapi dalam non islamnya, maka mereka pantas mendapat kehampaan hidup dan siksa.
1.53. MASALAH HIDUP YANG SEMAKIN RUMIT
Ada dua hal yang perlu kita renugkan tentang fenomena ibadah dan hidup manusia dari waktu ke waktu semakin maju dari sisi teknologi hasil ilmu dan sains, di samping juga semakin kompleks permasalahan yang datang kepadanya.Sementara agama atau ibadah hanya tetap berkedudukan sebagai pemberi solusi dan inspirasi bagi hasil teknologi dan teratasinya masalah-masalah yang rumit itu. Artinya bahwa manusia memerlukan 2 hal: 1.agama yang kompitibel dengan perkembagan zaman. 2.Keseriusan mereka untuk menerapkan agama.
1.54. MANUSIA HANYA BUTUH ISLAM SEBAGAI JALAN KEHIDUPAN
Manusia selalu menginginkan dua hal vital dalam hidupnya. Pertama, terhindar dari musibah atau teratasinya suatu musibah. Kedua, meraih ketenangan hidup. Bagaimana mereka dapat meraih kedua hal tersebut? Tentu membutuhkan suatu metode. Di atas semua itu terlebih dahulu ia harus merumuskan apa yang dimaksud dengan musibah itu. Musibah terjadi apabila manusia kehilangan tiga hal yang utama pemberian dari ALLOH. Pertama, kehidupan. Kedua, kebebasan, Ketiga, hidayah. Ketika manusia kehilangan ketiganya atau salah satu darinya, maka itulah musibah. Ketenangan hidup terjadi ketika kehidupan berjalan sebagaimana biasanya, kebebasan pun tak mengalami hambatan dan hidayah dari sisi-Nya datang membimbing kehidupan ini. Kebalikan dari situasi tenang adalah kacau, dan kacau itu timbul dari suatu musibah yang menimpa salah satu dari ketiganya atau ketiga-tiganya. Agar ketenangan dicapai dan musibah dapat dihindari maka perlu suatu metode. Metode apakah yang dapat menyelamatkan manusia akan kehidupan, kebebasan dan hidayahnya? Jawabnya adalah Islam. Sebab itu Islam menentukan wujud kehidupan manusia dengan wujud yang paling mentereng. Boleh dikatakan dan dapat dibuktikan manusia tanpa Islam hakikatnya ia mati, terpenjara dan sesat.
1.55. IBADAH YANG BATIL MEMBAWA KERUSAKAN PADA KEHIDUPAN
Pada bagian yang lalu telah diungkap bahwa ibadah adalah belahan jiwa bagi kehidupan manusia. Artinya kehidupan manusia akan berjalan dengan penuh dinamika dengan adanya aktiitas ibadah yang mereka lakukan. Namun haruslah kita sadari bahwa tidak semua ibadah berdampak pada kebaikan, kemuliaan, kebahagiaan, yang hakiki dunia dan akhirat. Banyak fakta-fakta agama-agama justru membawa pada kehancuran pada hati, akal, badan, keluarga, masyarakat, negara dan memupus harapan di negeri akhirat. Hal ini bisa terjadi karena agama yang dianut manusia itu bukan agama yang turun dari Pencipta diri mereka. Hal ini terjadi secara nyata dikarenakan konsep ibadah yang mereka jalankan bukan diambil dari Islam. Agama dan ibadah apapun selain dari Islam, tidaklah mendatangkan keuntungan apapun bagi manusia. Kalau demikian manusia itu memang sangat rugi atas keseluruhan waktu-waktunya ketika mereka tidak mau menerima Islam dan tidak mau beramal untuk ibadah kepada-Nya.

1.56. BILA KEHIDUPAN INGIN DAMAI, MAKMUR DAN TENTRAM
Alloh ciptakan manusia dengan tugasnya sebagai hamba. Alloh turunkan Islam pula untuk manusia sebagai jalan ibadah kepada-Nya. Islam bertujuan memelihara kepentingan dan kemuliaan manusia di dunia dan di akhirat. Mereka akan mulia lahir batin, dunia akhirat, jika Islam menjadi jalan kehidupan mereka. Perjalanan waktu menunjukkan masalah-masalah yang dihadapi manusia semakin banyak, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk bumi dan perubahan suasana psikologis manusia dengan beragam kebutuhannya yang semakin banyak serta kompleks. Suasana makmur, damai dan tentram seakan sulit lagi untuk diraih. Berbagai upaya dilakukan untuk menaklukan permasalahan demi permasalahan. Ternyata yang timbul adalah, hilang satu masalah timbul lebih banyak masalah baru. Adakah rumus universal bagi manusia untuk keluar dari berbagai krisis itu ? Jawabnya ada, Itulah Islam. Sesungguhnya Islam merupakan metode dari sisi ALLOH yang dapat dilaksanakan secara manusiawi untuk mengatasi berbagai masalah-masalah itu. Manusia sudah ada, Islam juga sudah turun. Selama ini, di akhir-akhir perjalanan kehidupan manusia, manusia semakin jauh dari Islam, dan Islam semakin hanya tinggal tulisan, nama dan simbol-simbolnya saja. Apabila manusia dengan Islam telah menyatu, maka kehidupan akan damai, tentram dan makmur.

1.57. MANUSIA TIDAK BUTUH AGAMA SELAIN ISLAM
Alloh yang tidak menurunkan agama selain Islam. Dan di muka bumi tidak ada manusia yang bukan ciptaan Alloh. Pencipta manusia dan alam semesta ini hanya Alloh semata. Dia tidak punya sekutu. Karena itu manusia di sepanjang hidupnya sama sekali tidak membutuhkan sesembahahan lain selain penciptanya sendiri. Karena itu manusia tidak membutuhkan agama selain dari agama Islam. Agama selain Islam tidak dibutuhkan manusia untuk sampai pada kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Agama-agama selain Islam apabila tetap dianut oleh manusia, maka manusia yang menganutnya itu tidak akan meraih apapun kecuali kerugian yang besar. Oleh karena itu sudah sewajarnya dan sudah waktunya manusia kembali kepada Islam. Agamanya yang sejati sejak ia masih ada di alam rahim dan alam di bawah usia akil baligh. Bila manusia kembali pada Islam, berarti menyatukan dua kekuatan muka bumi, yaitu manusia dan Islam, untuk menggerakkan roda kehidupan yang penuh kedamaian. JIwa manusia dan jiwa Islam semestinya menyatu.Hanya jiwa manusia yang bisa memahami Islam, dan hanya Islam yang bisa memahami jiwa manusia.

BAB 8 IBADAH SEBAGAI KEWAJIBAN MANUSIA

1.58. ARTI KEWAJIBAN

Kewajiban senantiasa berkaitan dengan hati nurani, kebutuhan, aturan dan tujuan serta bersifat transendental. Kewajiban terbesar manusia dalam hidupnya adalah ibadah kepada Tuhan. Dengan ibadahlah hidup akan menjadi bermakna, berarti dan bertujuan hingga sampai pada suatu kebahagiaan di akhirat kelak.

1.59. KEWAJIBAN IBADAH

Ibadah itu wajib, maka akan tersiksalah lahir batin manusia yang meniggalkan ibadah, mengabaikan Islam, dan tidak mengindahkan tauhid. Di dunia hidup akan selalu dirundung malang. Kecuali ia bertaubat dan kembali kepada Islam. Dan manusia jika tidak beribadah sampai ajal datang maka rugilah dia di akhirat. Kewajiban itu bisa dipandang suatu beban, tetapi jika rasa cinta telah tertanam di hati pada Tuhan, maka kewajiban itu bukan lagi beban, bukan lagi kebutuhan, tetapi suatu yang menyenangkan dan dirindukan, suatu yang didamba, dinanti, diimpikan, dicari, dan bila ibadah demi ibadah telah di tunaikan dan dilakukan di sepanjang masa, maka buahnya akan menghiasi hidup kita sendiri, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

1.60. IBADAH NYAWANYA KEHIDUPAN

Pernah menyaksikan jenazah? Tubuh kasar nya masih utuh berupa manusia. Tetapi ia mati, tidak berfungsi tubuhnya, matanya, telinganya, kakinya. Dahulu ketika masih hidup, jenazah itu masih masih bisa ke pasar, ke masjid, berteriak menulis, kini ia terbujur kaku, dan siap di benamkan ke liang lahat. Tak seorangpun ingin melihatnya berada di muka bumi terus menerus, meski sanak saudaranya. Bila kita arahkan pandangan kita terhadap orang-orang yang meninggalkan ibadah, keadaannya dan sifatnya persis seperti jenazah. Sebab itu ibadah memberi hidup dan nyawa atau jiwa atas kehidupan.

1.61. MENYIKAPI KEWAJIBAN IBADAH

Betapa pentingnya ibadah masihkah sempat-sempatnya manusia menjadikan agama sebagai buah ejekan, permainan dan senda gurau? Itu sama dengan bermain-main dengan perkara yang membahayakan nyawa, ibarat seperti itu. Seyogyanya manusia lebih memfokuskan perhatian kepada agama, hal ini sama sekali tidak akan merugikan perniagaan duniawi, tidak akan berkurang kemakmuran yang telah ada, tidak akan kacau etika dan hukum manusia bahkan agama ini semakin mengkokohkan apa-apa yang baik dan berguna bagi hidup manusia. Sikap mengabaikan hukum, bimbingan, ajaran agama sama dengan menjerumuskan diri pada aturan yang kacau balau.

1.62. MELEMBAGAKAN DAN MENGORGANISASIKAN IBADAH

Haruskah dalam beribadah kita mengorganisasikan hal-hal yang berkaitan dengannya? Jawabnya adalah harus. Islam menganjurkan adanya jamaah. Jamaah dalam pandangan Islam merupakan suatu kekuatan untuk mendukung lancarnya ibadah dan dakwah. Pada intinya segenap orang-orang yang beriman harus berupaya membuat hal yang mendukung bagi lancarnya ibadah dan dakwah. Organisasi itu merupakan wadah yang nantinya akan menampung potensi umat.

1.63. MELURUSKAN IBADAH-IBADAH KITA
Pernahakn kita merasakan atau memperhatikan orang yang sakit? Kenapa orang bisa jatuh sakit? Bila ibadah dan kehidupan telah menyatu, tidak menutup kemungkinan kehidupan itu sakit pula. Lantaran suatu praktek ibadah yang masih keliru. Kapankah kehidupan sakit? Ketika manusia tidak serius, tidak ikhlas, dan tidak istiqomah dalammenjalankan ibadahnya. Akan tampak nyata sakit itu pada umat Islam yang ditimpa penyakit whn. Mereka tidak beribadah tetapi tidak kaafah. Mereka masih sholat, zakat, shaum, haji, meninggalkan maksiat dan syirik. Akan tetapi undang-undang Islam yang lainnya mereka abaikan, mereka lebih memilih aaturan jahiliah, andad dan thoghut, akal, syubhat dan nafsu.

1.64. BALASAN IBADAH YANG SESUAI SUNNAH DAN IKHLAS
Ada tiga balasan yang akan diterima manusia apabila mereka menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas. Ibadah yang benar adalah yang sesuai sunnah. Balasan itu adalah kebaikan di dunia dn kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka. Intisari ibadah adalah iman, amal, menjauhi syirik dan menjauhi maksiat. Keempat perkara ini telah jelas penerangannya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Nanti kalau ada manusia gemar melakukan maksiat, tetap berbuat syirik maka keimanan dan amal sholehnya gugur, sekalipun dia secara formal mengaku muslim.

1.65. TIADA BEKAL MENEMUI TUHAN TANPA IBADAH
Manusia suatu hari nanti akan menemui Tuhan yang telah menciptakannya, di akhirat kelak. Tidak akan ada yang bisa dibawa dari dunia ini ketika menemui-Nya melainkan amal. Dan amal yang akan menyelamatkan adalah amal sholeh . Karena itu betapa bodohnya manusia yang memilih amal jahiliah selama hidupnya di dunia. Hendak kemana mereka dengan amal jahiliahnya? Bukankah mereka tidak kuasa sedikitpun menahan siksa api neraka. Tanpa ibadah, harta, wanita, tahta, ilmu tak akan dibawa ke akhirat kelak.

(66,67,68 tidak ada)

BAB 9 KETIKA MANUSIA TIDAK MENGENAL TUHANNYA

1.69. ANUGRAH AKAL, INDRA, HATI DAN ALAM SEMESTA
Pernahkan kita tafakuri tentang akal, indra, hati, dan alam semesta yang menyediakan bagi kita segala kebutuhan bagi berjalannya kehidupan? Siapakah yang telah mengadakan semuanya itu? Mengapa langkah kita untuk mencari tahu tentang Tuhan harus terhenti? Sesungguhnya bila manusia tidak tahu pencipta dan Rabbnya maka ia termasuk makhluk yang paling bodoh. Dan diantara mereka yang demikian ialah orang-orang kafir, non-muslim, enggan beribadah dan berkiblat kepada kejahiliahan dan terus menerus berbuat kesyirikan dan kemaksiatan, ketika dakwah Islam telah datang kepada mereka.

1.70. CARI, TAMBAH KUKUHKAN DAN BELA
Sesungguhnya informasi terpercaya yang dapat kita akses untuk mengetahui siapa Tuhan kita terbuka lebar. Mengapa akal, indra, hati kita tidak difokuskan untuk mengenal Tuhan lebih jauh? Carilah terus informasi tentang Tuhan, tambahkan perbendaharaan pengetahuan tentang-Nya. Kukuhkan keimanan pada-Nya pada jiwa dan hati. Serta belalah Islam yang merupakan syariat-Nya. Nanti Tuhan akan membela kita. Ini merupakan dasar kehidupan demi meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

1.71. KECERDASAN, KEPAKARAN, KEKAYAAN, KEKUATAN DAN JABATAN UNTUK APA?
Umumnya manusia bersungguh-sungguh dalam hal kecerdasan, kepahaman, kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan. Juga dalam hal kesenangan, kemakmuran, keindahan, kewibawaan, dan keberanian. Semua ini pada dasarnya adalah penting dan menunjukkan suatu dinamika kehidupan. Tetapi adakah manfaatnya jika semua itu tidak disertai dengan suatu kedekatan dengan Tuhan? Akan ke mana muara seluruh apa yang kita cari itu? Letakanlah semua hal itu sebagai cabang kehidupan yang berakar dan bermuara pada keimanan pada Tuhan. Niscaya kesejatian dalam semua ranah itu akan menentramkan hati dan batin.

1.72. DI DUNIA GELAP DI AKHIRAT BUTA NERAKA MENUNGGU
Untuk mengenal Tuhan, harus mengetahui wahyu. Harus memahami wahyu. Untuk memahami wahyu butuh kacamata iman. Wahyu ibarat cahaya. Cahaya bermanfaat bagi yang melihat. Iman adalah penglihatan untuk melihat cahaya wahyu. Maka orang yang tidak mengenal Tuhan, tidak membenarkan Islam, tidak bertauhid, tidak beriman, tidak akan mendapatkan penjelasan apapun dari Al-Quran. Jadi hidupnya orang-orang yang tidak mengenal Tuhan itu di dunia dia berada dalam kegelapan, di akhirat buta dan neraka menunggunya. Di neraka mereka akan tinggal. Banyak jalan untuk mengenal Tuhan, dan konsekuensi dari mengenal Tuhan berupa ibadah merupakan jalan tersendiri dan terbaik. Ibadah itu pun makin mengenalkan Tuhan.

1.73. MENGENALKAN TUHAN, HARUSKAH ?
Mari kita amati, bukankah manusia itu lebih banyak yang tidak beribadah atau melalaikan ibadahnya pada Tuhan? Itu tandanya bahwa kebanyakan manusia kurang menyadari akan eksistensi dirinya dan Tuhannya. Lalu perlukan kita mengenalkan Tuhan pada mereka yang suka mengabaikan Islam? Maka dakwah sebagai upaya mengajak manusia mengenal dan mengabdi pada Tuhan itulah adalah kewajiban. Manusia harus mengenal Tuhan dan yang telah mengenal-Nya harus memperkenalkan agar ada peluang mereka mau tunduk kepada-Nya. Sehingga jalan keselamatan dan kedamaian terbentang untuk mereka.

1.74. AL-QURAN, MANUSIA DAN ALAM SEMESTA TIGA TANDA-TANDA-NYA
Tak usah ragu membaca al-Quran. Tak usah risau mentafakuri diri dan alam semesta. Kita akan mendapatkan informasi yang banyak untuk mengenal siapa Tuhan kita itu. Mengenal Tuhan, memperbaiki ibadah kepada-Nya berarti memperbaiki nyawa dan kehidupan kita. Adapun bila kita tidak tertarik kepada al-Quran, enggan bertafakur dan ibadah ditinggal. Maka akibatnya hidup pasti akan kacau dan berantakan. Tiada manfaat hidup yang jauh dari Tuhan. Anggapan bahwa Tuhan tak peduli diri kita adalah keliru. Bukankah sampai detik ini pun kita masih bernafas, berjalan, makan, bergembira. Siapakah yang menjaga semua itu pada diri kita? Tuhanlah yang selalu menjaga dan menyanagi kita. Tidak ada zat yang lebih sayang pada diri kita selain Tuhan. Hanya saja hati-hatilah Tuhan Yang Maha Pemurah itu adalah Tuhan yang Maha keras pula Azab-Nya. Jadi kehati-hatian kita harus berdampak semakin taat pada-Nya.

1.75. SIAPA YANG KITA KENALI SELAMA INI?
Apa yang selalu kita focus memperhatikannya? Uang? Bisnis? Teman? Adakah waktu yang kita sisihkan untk lebih mengenal dan dekat dengan Tuhan , untuk memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan? Lihatlah orang-orang kufur yang menolak Islam, tauhid, dan ibadah, hari-hari mereka lebih memfokuskan fikiran dan jiwa serta perbuatan mereka untuk mengejar kebahagiaan duniawi. Akankah kita pun seperti itu? Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, jika demikian. Jalankeluarnya tiada lain iman, amal, nashihat, kesabaran dan kebenaran. Semua hal ini berawal dan bermuara pada pengenalan kita terhdaap Tuhan kita.

1.76. LANGKAH MENUJU KEHANCURAN DAN KERUGIAN
Peradaban manapun, siapapun orangnya, apabila tidak mengenal Tuhan yanghak, maka mereka sedang menuju kehancuran dan kerugian. Lihatlah bagaimana nasib bangsa-bangsa terdahulu yang dihancurkan Alloh. Bangsa-bangsa sekarang pun bila mereka tidak mengubah haluan hidupnya untuk tunduk pada Tuhan atas undang-undang-Nya, pasti kehancuran yang akan mereka alami. Manusia yang paling bodoh adalah manusia yang sudah tahu petunjuk agama, tetapi ia mengabaikannya. Ia mengetahu kebenaran dan wahyu, namun tidakmau melaksanakan kandungannya. Sikap semacam ini adalah cara tercepat menuju kehinaan, siksaan dan laknat.

BAB 10 KEHIDUPAN YANG GERSANG DARI IBADAH

1.77. Lima Perintah dalan Islam
Lima perintah itu adalah syahadat, shalat, zakat, shaum dan haji. Ini adalah lima pondasi bangunan Islam yang sempurna. Adakah kita meningkatkan kualitas ilmu dan amal atasnya dari tahun ke tahun? Marilah kita lihat fakta atas manusia yang berbuat syirik, bidah, melalaikan perintah agama, tidak mau melaksanakan shalat, zakat, shaum dan ibadah haji. Maka yang akan kita temukan atas mereka sebagai akibatnya adalah suatu kehidupan yang kering dari spiritualitas dan nilai-nilai religi. Kehidupan mereka ketika ditinjau dari sisi keimanan, tampak penuh dengan keganjilan, kepiluan, dan kegersangan. Hidup menjadi tidak jelas arah dan tujuannya. Segala hal menjadi memperbudak dan ditakuti. Segalanya menjadikan manusia tampak lemah, bodoh dan putus asa. Beruntunglah orang yang mampu mengamalkan lima perintah itu.

1.78. LACUR KEJAHATAN, KORUPSI, TERTIPU, HAMPA PAHALA.
Mari kita buktikan bahwa tanpa Islam, Ibadah dan Tauhid, hidup manusia menjadi kacau. Diantara kacaunya kehidupan manusia adalah merajelanya lacur, kejahatan, korupsi, tertipu dan kegersangan spiritualitas. Siapa pelakunya? Tentu orang-orang yang jauh dari ALLOH, jauh dari ibadah, jauh dari ihsan. Orang yang meninggalkan ketauhidan disibukkan oleh amalan-amalan yang mereka anggap mendatangkan kebaikan dan menolak bencana. Padahal Alloh pemegang kekuasaan atas alam semesta ini, mana mungkin amalan yang jauh dari rido-Nya dapat mendatangkan kebaikan.
Orang yang meninggalkan sholat berarti memberi kesempatan pada akal untuk berlaku pongah, sombong. Yang bersisian secara langsung dengan putus asa serta keluh kesah. Yang meninggalkan shaum akan terus diperbudak nafsu syahwatnya. Yang meninggalkan zakat akan diperbudak harta. Yang meninggalkan haji akan diperbudak kehidupan dunia. Yang demikian ini merupakan wujud kehidupanyang sejajar dengan tindakah-tindakah lacur, jahat, korup, tertipu dan tentunya tidak mendatangkan apa-apa kecuali dosa dan siksa.

1.79. TIDAK ADA KETENTRAMAN, KEMULIAAN DAN KEGEMBIRAAN
Orang yang telah mengenal Tuhan tidak serta merta mau beribadah. Tetapi orang yang mau beribadah mesti terus menerus mengenal Tuhannya dan menambah pengetahuannya. Sebagai cara untuk memperbaiki ibadahnya. Adakalanya orang yang telah mengenal Tuhan dan Islam, tidak menjadi seorang yang taat dalam ibadah. Hal ini terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani yang telah mengetahui ALLOH dan wahyu namun mereka tidak melakukan peribadatan yang benar kepada-Nya. Sebab ibadah yang benar adalah menegakkan agama. Menegakkan agama berarti menegakkan hukum-hukum syariat-Nya sebagaimana yang terdapat pada wahyu atau yang kita kenal sebagai kitab suci. Yahudi, Nasrani dan orang-orang yang meninggalkan ibadah padahal mereka mengerti akan kitab wahyu, tidaklah mereka akan menemukan keadaan hidup yang diliputi oleh ketenangan, kedamaian dan ketentraman.

1.80. KEPEDIHAN, KEHINAAN, PENDERITAAN, KEKALAHAN DAN KERUGIAN
Bila manusia meninggalkan ibadah, meninggalkan perintah Tuhan, jangan salahkan siapa-siapa bila hidupnya diliputi kepedihan, kehinaan, penderitaan, kekalahan dan kerugian. Disebabkan mereka tunduk kepada sesuatu yang lebih rendah dari martabatnya sendiri. Padahal mereka tahu kepada siapa seharusnya memberikan ketundukan, kecintaan, pengharapan dan rasa takut. Yang jelas kegelisahan akan terus menerus menghantui orang yang jauh dari ibadah. Mukanya akan menjadi hitam, tidak sedap dipandang mata.

1.81. SIRAMI HARI-HARIMU DENGAN IBADAH
Hari-hari yang tidak diisi oleh ibadah perlu dihentikan. Karena selalu orang itu merindukan kedamaian, dan kesucian sekaligus. Sebab itu orang yang beriman akan senantiasa pula kembali kepada ketaatan. Karena sadar kegersangan dan kepedihan pada hati nurani amat terasa. Adapun mereka yang terlanjur jauh dari agam dan dan enggan sadar untuk kembali kepada Islam, ibdah dan tauhid, barangkali kita hanya mampu mengingatkannya. Ibadah adalah penyejuk jiwa dan kehidupan kita. Jangan sampai ada hari tanpa ibadah pada Tuhan sebagaimana yang diperintahkan.

1.82. JADIKAN SEMUA AKTIITAS HIDUPMU SEBAGAI BERNILAI IBADAH
Hidup di dunia ini amatlan singkat. Maka harus benar-benar dimanfaatkan. Untuk apa? Untuk hal yang berisi upaya mengejar tujuan hidup dan keberadaan kita, yakni ibadah kepada Tuhan. Banyak amalan ibadah yang dapat kita lakukan dalam sehari semalam dan mengulangnya kembli di hari-hari esok. Kita pun bisa menjadikan aktiitas kita seluruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari bernilai ibadah, seperti makan, tidur, bekerja, berpakaian asalkan syaratnya berniat ikhlas dan menunaikan tuntunan syariat.

1.83. DENGAN APA KITA ISI HIDUP KALAU BUKAN DENGAN IBADAH
Bila manusia tidak mengisi hidup dengan ibadah maka yang akan diisikannya adalah suatu amalan buruk dan kedurhakaan pada Tuhan. Boleh jadi orang tidak jahat dalam pandangan manusia, menjaga moralitas diri dan mengerjakan tanggungjawab kemanusiaan, padahal ia bukan ahli ibadah. Namun tetap saja ia telah keliru dan merugikan diri sendiri. Ia telah mengisi waktu demi waktu dengan pembangkangan terhadap Tuhan. Karena itu jika kita sadar bahwa hidup harus bermakna secara paripurna, maka tidak ada yang lain yang harus kita isikan pada hidup ini melainkan ibadah. Letak kebermaknaan hidup ini sepenuhnya tergantung seberapa besar perhatian kita atas ibadah kita kepada Tuhan.

BAB 11 BILA ISLAM DIABAIKAN

1.84. TANGGGUNGJAWAB MANUSIA PADA ISLAM
Setiap manusia adalah diciptakan Alloh, dipelihara dan diberi rizki Alloh, tidak tergantung apakah diantara mereka ada yang beribadah atau tidak kepada-Nya. Semuanya mendapat perhatian dengan sebaik-baiknya dari sisi Alloh. Betapa Maha sabar Allh itu. Meski diantara manusia banyak yang membantah ayat-ayat-Nya. Dia tetap memberi mereka makan dan kehidupan. Begitulah Tuhan memperhatikan manusia karena sifat Ar- rahman. Sebaliknya bagaimanakah seharusnya manusia menyikapi Tuhannya dengan sebaik-baiknya sikap? Alloh meminta pada manusia untuk memperhatikan islam, alam, dan kehidupan, untuk kebaikkan manusia itu sendiri.
1.85. FENOMENA ISLAM DIABAIKAN
Marilah kita bicara tentang umat Islam terhadap islam. Secara global umat isalm terbagi tiga golongan, yaitu yang bersegera, yang pertengahan dan yang mengabaikan. Pertengahan dan yang mengabaikan merupakan ancaman serius bagi umat Islam kerelaan yang datang dari dalam, terkadang mereka menyerang ulama, Alquran bahkan menghujat rosul. Inilah golongan munafik dan fasik dari umat islam. Merupakan tantangan yang berat bagi golongan pertama yang dai, dan mujahid.
1.86. ISLAM TIDAK AKAN RUSAK OLEH PERILAKU SIAPAPUN
Sering kita dengar pendapat orang, bahwa ada beberapa perilaku umat Islam yang merusak citra Islam di mata dunia internasionl. Contohnya teroris. Saya sendiri secara tegas pendapat itu tidak benar. Islam sendiri tidak akan pernah rusak citra ataupun asas-asasnya. Yang rusak itu umatnya, terrgantung pilihan mereka sendiri apakah mau berjuang untuk Islam ataukah mundur. Adapun soal pandangan dunia internasional pada Islam itu tergantung tanggung jawab muslim terhadap dunia Islam dan obyektivitas dunia internasional terhadap Islam dan umatnya.
1.87. DUNIA ISLAM TANGGUNG JAWAB MUSLIM
Dunia Islam adalah syari’at dan umat. Siapakah yang bertanggung jawab penuh atas nasib umat Islam.? Umat Islam, ulama dan para pemimpinnya. Bila terjadi suatu usaha pengrusakan oleh non muslim atau yang munafiq dn pembangkan, maka, ulama dan pemimpin harus bangkit melawan. Wajib hukumnya. Dosa apabila hanya berdiam diri. Karena berdiam berarti lemah iman dan memihak kemungkaran.
1.88. KEHANCURAN BESAR TELAH TERJADI
Kehancuran, kerusakan, musibah adalah akibat dari suatu langkah hidup yang salah. Memang diakui dibail peristiwa apapun apakah itu berupa kebajikan atau keburukan yang meruntuhkan, selalu mengandung hikmah, ilmu,pelajaran, dan pendidikan bagi jiwa dan peradabanmanusia, selama mereka masih mau terus berfikir. Tetapi tentunya kita pun harus memikirkan sebab-sebab terjadinya kehancuran untuk untuk mengambil solusi dan antisipasi yang tepat. Sebab kehancuran pada dimensi apapun adalah akibat dari diabaikannya Islam, Ihasan, dan Iman. Marilah kita perhatikan sungguh-sungguh, bahwa manusia saat ini, sedang digiring pada kehancuran yang amat parah. Berbagai penyimpangan pada perilaku dan pemikiran yang menentang kodrat hidup, manusiawi dan risalah Ilahiah semakin menyalak hampir di semua segmen kehidupan manusia. Bahkan demikian juga yang terjadi pada sebagian umat Islam sendiri.
1.89. MERENGKUH QURANI, KAUNI DAN NURANI
Solusi pertama menghadapi, membendung, mencegah kehancuran itu adalah dengan kembali merungkuh Al-Quran untuk diikuti ,merengkuh nurani untuk didengarkan dan merengkuh alam untuk diberdayakan. Hal demikian itu sejalan dengan pokok ajaran Islam sebagai nyawa kehidupan manusia. mulailah membaca Al-quran, hati nurani dan alam. Nanti kita akan menemukan banyak inspirasi untuk membela dan memperbaiki manusia, kehidupan dan Islam.

1.90. ALLOH AMANAHKAN UMUR, AKAL, WAHYU DAN ALAM
ALLOH menjadikan umur, akl, wahyu dan alam bagi manusia sebagai modal untuk menikmati hidup, dan mengumpulkan bekal untuk akhirat. Karena itu ketika kita menyaksikan Islam diabaikan, maka pergunakanlah itu semua untuk menjadi sarana dan kekuatan untuk membela Islam, yang berarti juga membela hidup dan kehidupan kita. Tugas manusia, yaitu kita, yang utama adalah berserah diri, membangun inspirasi dan berjuang membela kebenaran inilah makna iman, hijrah dan jihad. Ketiga perkara ini mustahil dapat dilakukan tanpa upaya mengupayakan modal umur, akal dan harta kita dibawah petunjuk wahyu untuk membelanya. sebab itu marilah kita berdayakan umur, akal, wahyu dan alam hingga Islam dijadikan tuntunan hidup bagi segenap manusia di muka bumi.

BAB 12 POTENSI MANUSIA UNTUK MELAKUKAN IBADAH KEPADANYA

1.91. EMPAT MODAL UTAMA MANUSIA
Pertama adalah umur manusia dapat merencanakan kapan ia akan mati, dalam arti dalam keadaan apa ia akan mati. Karena itu umur kita harus di rancang sedemikian rupa agar detik demi detik yang akan di lewatinya penuh dengan kebajikan tanpa kejelekan.
Kedua adalah akal. Manusia dapat merancang apa saja hal yang boleh merasuki akalnya, dan hal yang tak boleh merasukinya. Yang harus memasukinya agar mendukung prigram umur kita tentu saja bener sip[at tawalu, optimis, yakin berani dan lai sebagainya.
Ketiga adalah wahyu manusia dapat merancang keimanan dan hati nurani mau sebatas apa, setinggi apa dengan cara mengikuti wahyu yang Alloh berikan lewat perantara para Rosul-Nya, wahyu merupakan penuntun akal dalam menentukan program akal, apa mau di sikapi pada umur dan perjalanan hidup kita. Wahyu adalah penentu hidup yang menuju Al-Haq.
Keempat alam semesta. Manusia merancang program akalnya, umur dan ilmunya atas alam ini.
Alam adalah sumber harta yang juga merupakan sumber kekuatan bagi peningkatan kualitas hidup, kualitas akal dan iman kita.
Empat modal ini merupakan modal kehidupan manusiawi yang dapat dipergunakan untuk mengenal Tuhan dan melakukan ibadah kepada-Nya.
1.91. TUBUH DAPAT TENANG DENGAN IBADAH
Setiap oang berharap memiliki tubuh yang sehat, nafas yang teratur, awet muda, nampak segar, berakal cerdas, dan berhati tentram. Apakah kunci untuk semua itu? Jawabnya adalah dzikrullah. Artinya mengingat ALLOH, dengan mensucikan-Nya, membesarkan nama-Nya dan memuji-Nya. Serta menyatakan bahwa tiada ilah selain Alloh. Dalam konteks yang lebih luasdan warna penerapannya dalam hidup adalah taat pada aturan Islam. Taat pada Islam artinya taat beribadah. Inilah kunci untuk beroleh ketenangan tubuh kita, jasmaninya dan rohaninya. Kita cukup punya bukti bahwa orang yang jauh dari ALLOH, mereka sering sakit baik jiwanya ataupun badannya.
1.92. KERINDUAN UNTUK BERJUMPA TUHAN
Jiwa manusia senantiasa merindukan suatu kedamaian yang sebenar-benarnya. Untuk itu bertanya tentang darimana ia berasal merupakan hal yang mendasar dalam hidup demi kedamaian jiwa. Jika telah tahu semua itu, maka timbul kerinduan berikutnya yaitu ingin kembali ke tempat asalnya itu. Lahir dalam keadaan suci, mati pun harus dalam keadaan serupa itu pula. Ibadah merupakan terowongan untuk menyampaikan manusia ketika mati ia dalam keadaan suci. Tanpa ibadah nanti pas seseorang keluar dari dunia ini, keadaannya menjadi pekat penuh dengan kotoran dosa. Siapakah yang menginginkan hal demikian itu? Adapun orang-orang yang berakal itu mereka pastilah merindukan Tuhan seraya memenuhi detik demi detiknya dengan ibadah. Tanda merindukan Tuhan adalah mempererat ibadah kepada-Nya.
1.93. KEHAMPAAN HIDUP YANG MATREALISTIK DAN TAKHAYUL
Pola hidup yang matrealistik dan spiritualistik tahayul tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan suatu kehampaan hidup, kegersangan hidup, kedahagaan jiwa dan fikiran serta hati. Maka jika kesadaran akan pentingnya hidup yang bermakna, orang akan kembali ke jalan Tuhannya, yang diawali oleh koreksi dirinya atas pemahamannya selama ini, dilanjutkan dengan pencarian kebenaran yang dapat diterima akal, nurani, kehidupan dan fakta-fakta. Hal ini akan menggiring manusia untuk mempelajari apa saja termasuk agama. Dan jika Alloh memberikan hidayah untuknya, maka ia akan sampai pada Tuhannya yang sebenarnya dan menempuh jalan-jalannya.
1.94. MANUSIA CINTA DAN KEBENARAN
Ada dua potensi pada manusia yang saling berlawanan yaitu takwa dan fujuro. Fujuro adalah tarikan yang mengajak manusia pada kebatilan dan kehinaan hidup. Sedangkan takwa adalah tarikan yang mengajak manusia pada kebenaran dan kesucian. Lewat potensi takwa itulah manusia selalu menginginkan mengenal Tuhan yang sebenarnya sebagai suatu kebenaran yang tertinggi dan beribadah kepada-Nya sebagai kesucian paling luhur dalam hidup manusia.
1.95. TERUSLAH KENALI DIRI DAN TUHANMU.
Belajar, membaca, beribadah merupakan kunci-kunci untuk menambah ilmu, hikmah, dan kepahaman. Itu adalah kewajiban sepanjang hidup manusia. Maka bila mengenal Tuhan merupakan hal yang fundamental dalam hidup kita, seyogyanyalah waktu-waktu kita senantiasa diisi dengan menggali informasi tentang Tuhan. Caranya yaitu membaca Al-Quran, mendalami asmaul husna, mentafakuri alam dan seterusnya.
Kita juga perlu terus mengenali diri kita yang penuh kelemahan ini, sehingga sifat tawadlu semakin tertanam di hati dan sifat optimis pada janji Tuhan kian menguat. Menggali potensi diri untuk melakukan berbagai perbaharuan diri harus disertai sikap tawadlu. Tawadlu adalah tunduk pada kebenaran. Konsisten itulah sebenarnya tawadlu. Jadi orang yang tidak konsisten pada kebenaran, pantas cepat putus asa ketika lemah dan ia selalu sombong ketika kuat.

Cisarua, 22 november 2009


Posted in Uncategorized

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA TERHADAP TUHANNYA

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA TERHADAP TUHANNYA

Oleh: Ading Nashrulloh
Orang yang beriman memiliki suatu pandangan yang pasti tentang hakikat keberadaan. Pandangan yang ada pada orang-orang yang bertakwa sepenuhnya didasarkan pada keimanan. Inti pandangan dunia orang-orang bertakwa ialah bahwa alam semesta dan manusia seluruhnya adalah diciptakan Allah. Allah itu adalah Tuhan yang berhak disembah oleh seluruh manusia. Inilah inti dari pandangan umat Islam tentang Tuhan dan segenap yang ada di hadapan matanya.
1. Pandangan terhadap Tuhan
Dalam pandangan orang-orang yang bertakwa, konsep Tuhan dengan Ibadah tidak dapat dipisahkan. Karena itu mengenal Tuhan mesti dibarengi dengan mengenal konsep ibadah kepada-Nya.
Cara Mengenal Tuhan
1.1. Membaca Al-Quran
1.2. Mendalami Asmaul-Husna
1.3. Mentafakuri Alam Semesta
1.4. Meningkatkan ibadah
1.5. Memperhatikan kejadian manusia
1.6. Mempelajari Keindahan Islam
1.7. Mempelajari Peradaban Manusia
1.8. Mentafakuri Pengalaman Diri
1.9. Membangkitkan intuisi.

Tuhan dan Ibadah
1.10. Antara Tuhan dan Ibadah kepada-Nya
Jika suatu kaum mengenal konsep Tuhan, maka kaum itu memiliki suatu sistem peribadatan. Dan sebaliknya apabila ada sekelompok orang melakukan serangkaian pola ibadah, pastilah mereka menuhankan sesuatu. Disimpulkan demikian karena antara Tuhan dengan ibadah tidak dapat dipisahkan.
Dalam suatu kondisi tertentu boleh jadi manusia mengenal Tuhan dan mengakui keberadaannya, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya. Atau ada yang melakukan ibadah, tanpa mengenal atau memiliki pengetahuan yang benar tentang-Nya.
Contoh umat yang mengenal Tuhan, tetapi tidak melakukan ibadah kepada-Nya adalah Yahudi. Sedangkan Umat yang sering melakukan ibadah tetapi tidak mengenal-Nya dalah Nasrani. Ada lagi umat yang tidak mengenal ibadah dan tidak pula mengenal pada-Nya , itulah orang-orang kafir di luar golongan Yahudi dan Nasrani.
1.11. Hak Tuhan atas Manusia
Hak Tuhan atas manusia adalah ibadah. Dalam ibadah itu tercakup empat perkara yaitu syukur, mengabdi, taat dan meniru sifat-Nya. Bersyukur pada-Nya karena Allah adalah Rabb. Mengabdi pada-Nya karena Dia adalah Ilah. Taat pada-Nya karena Dia adalah Malik (Raja). Dan Meniru sifat-Nya karena Dia pemilik Asmaul-Husna.
1.12. Manusia dan Tuhan dihubungkan dengan Ibadah
Jika manusia ingin merajut hubungan dengan Tuhan, maka ia harus melakukan suatu aktivitas yang disebut ibadah. Ibadah merupakan sarana bagi manusia untuk dekat dan berhubungan dengan Tuhan. Siapa yang meninggalkan ibadah berarti terputus hubungannya dengan Tuhan. Akibatnya ia akan menemukan suatu kehidupan yang sempit di dunia ataupun di akhirat.
1.13. Ibadah kepada-Nya
Pertanyaan sekarang ialah bagaimanakah praktek ibadah-ibadah itu sendiri? Bagaimanakah seharusnya manusia menunaikan ibadah kepada Tuhan? Jawabnya adalah dengan mengikuti suatu aturan yang diturunkan Tuhan sendiri. Dan aturan itu adalah Agama. Allah telah menurunkan Islam sebagai aturan untuk mengatur mekanisme syukur, mengabdi, taat dan meneladani sifat-sifat-Nya. Terkait dengan mekanisme ini, maka keberadaan wahyu dan Rasul tidak mungkin diabaikan.
1.14. Ibadah kepada Tuhan tugas sejati manusia.
Tuhan Menciptakan, menghidupkan, menumbuhkembangkan manusia adalah dengan tujuan agar manusia itu beribadah kepada-Nya. Hidup manusia, lahir dan batinnya, dirancang Alloh sesuai dengan Islam, sebagai cara beribadah, agar manusia itu sadar secara hakiki bahwa ia dirancang untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhan yang telah menjadikan dirinya. Tatkala manusia memutuskan untuk tidak menyembah Allah, tidak tunduk kepada Islam, ia hakikatnya sedang merusak, menentang, menghancurkan, diri dan kehidupannya. Alloh dan Islam tidak akan rusak hanya karena manusia enggan tunduk. Manusia butuh Islam, karena dengannya hidup menjadi lengkap dan sempurna.
1.15. Pentingnya Memahami Agama
Dua perkara yang amat penting dalam hidup manusia: 1. Mengenal kewajiban yang utama, 2. Mengenal Tuhan yang wajib diibadahi. Kedua perkara ini hanya dapat diperoleh informasinya, jawabannya, penyelesaiannya dari agama. Karena itulah kita harus paham agama.
Memahami agama adalah dalam kerangka kita memperbaiki, memperteguh dan memperkokoh ma’rifat kita kepada Tuhan sekaligus memperkaya lapangan amal yang berbaris dan berbingkai ibadah. Selain kita perdalam pemahaman kita atas agama, maka hidup kita sebagai manusia akan semakin penuh makna.
1.16. Kemuliaan dan Kebahagiaan Manusia tergantung Ibadah.
Manusia apabila mendedikasikan seluruh eksistensi dirinya untuk beribadah kepada-Nya, maka kemuliaan dan kebahagiaan akan diraihnya. Setiap orang pasti ingin kehidupan yang mulia, bukan hina; dan bahagia, bukan susah. Mustahil ada manusia bercita-cita ingin hidup hina dan susah. Maka dari itu seyogyanya manusia sadar bahwa jalan menuju kemuliaan dan kebahagiaan itu tidak lain adalah mengabdi kepada Tuhan, bukan mengabdi kepada manusia atau harta kekayaan.
1.17. Penyimpangan dalam Mengenal Tuhan
Sesungguhnya konsep atas Tuhan telah jelas, tetapi ada saja manusia yang menyimpang dalam mengenal Tuhannya yang hak. Di antara manusia ada yang keliru dalam memandang Tuhan. Sebagiannya ada yang meyakini Tuhan itu adalah bulan atau matahari, api, gunung dan lain sebagainya. Penyimpangan semacam ini menyebabkan mansia keliru pula melakukan suatu peribadatan. Salah satu umat yang diberi kitab, namun kemudian mereka menyimpang dalam mengenal dan mengkonsepsikan Tuhan adalah kaum Nasrani. Menurut mereka Tuhan itu ada tiga, ini merupakan suatu penyimpangan yang besar.
1.18. Penyimpangan dalam Beribadah
Konsep Ibadah pun sesungguhnya sudah jelas. Ibadah adalah keimanan dan ketundukan kepada Tuhan. Ibadah bisa rusak oleh dua hal. Pertama, tiadanya keimanan dan ketundukan. Kedua, yang dituju bukan Tuhan. Tetapi dalam kehidupan manusia, kita menjumpai suatu kerusakan tersebut. Salah satu umat manusia yang menerima Kitab tetapi melakukan penyimpangan dalam beribadah disamping Umat Nasrani adalah umat Yahudi. Mereka melakukan peribadatan yang tidak merujuk kepada kitab itu. Penyimpangan ini telah terjadi semenjak di tengah mereka terdapat para Nabi yang diutus untuk meluruskan mereka.
1.19. Kedatangan Islam sebagai Jalan Ibadah yang benar
Umat Yahudi dan Nasrani adalah dua umat yang menerima kitab. Kedua kitab itu adalah kitab Injil dan kita Taurat yang dialamatkan kepada Bani Israel. Kedua kitab itu telah mengalami perubahan kandungannya. Dan kedua umat itu telah menyimpang akan konsepsinya tentang Tuhan dan ibadah. Sehingga seluruh keyakinan dan keberadaan mereka telah menyimpang dari ibadah kepada Alloh. Sebab itulah maka Islam turun untuk meluruskan konsep Tuhan dan Ibadah yang benar.
Alloh, Tuhan yang Berhak Disembah
1.20. Alloh, Tuhan yang Hak
Ada dua syarat yang harus dipenuhi sesuatu, jika sesuatu itu ingin dikatakan sebagai Tuhan yang sebenarnya. Pertama, ia tidak membutuhkan apapun atau siapapun. Kedua, ia dibutuhkan oleh segala yang ada. Hanya Alloh-lah yang memiliki dua syarat ini. Sebab itu Dialah Tuhan yang berhak disembah oleh manusia.
Alloh adalah satu-satunya Rabb manusia dan alam semesta.
Alloh adalah Pencipta, Pengatur, Penjaga, Pemelihara, dan Pembentuk manusia dan alam semesta. Itulah sebabnya Allah dikenal sebagai Rabb. Dia adalah Pencipta manusia dan Pembentuk bumi dan langit. Berkaitan dengan Allah sebagai Pencipta, maka kewajiban manusia yang paling mendasar kepada-Nya adalah berterimakasih, atau bersyukur kepada-Nya. Bagaimana cara bersyukur itu? Jawabnya adalah dengan melakukan ibadah kepada-Nya.
Allah sebagai Rabb manusia, telah memberikan nikmat yang sangat banyak pada manusia. Diantara nikmat yang dianugrahkan pada manusia tiga diantaranya adalah nikmat kehidupan, nikmat akal, dan nikmat hidayah. Termasuk nikmat kehidupan adalah alam semesta. Termasuk nikmat akal adalah kebebasan dan ilmu. Sedangkan yang termasuk nikmat hidayah adalah nikmat iman dan ibadah.
Alloh adalah satu-satunya Ilah yang hak bagi Manusia.
Manusia memiliki suatu kecenderungan untuk mengabdikan diri dan meminta pertolongan untuk kemudahan hidupnya. Mengabdi dan meminta adalah suatu dimensi kehidupan manusiawi. Memberikan suatu kesetiaan dan meminta imbalan yang dibutuhkan merupakan suatu kenyataan yang menyatu dengan jati diri manusia. Gabungan antara dua kenyataan ini apabila dialamatkan kepada Tuhan, maka ia adalah ibadah.
Ibadah adalah suatu perbuatan yang amat istimewa dan amat menentukan derajat manusia. Apabila ia dilakukan maka ia akan memposisikan manusia pada level atau martabat yang tinggi. Tetapi apabila ditinggalkan maka manusia diposisikan pada level terendah. Inilah keistimewaan perbuatan yang bernama ibadah.
Sehingga jika manusia ingin mulia, mau tidak mau syaratnya ia harus melakukan ibadah, yakni menyerahkan pengabdian dan permohonan kepada Tuhan. Dan jika manusia tidak demikian, maka ia merupakan manusia yang sombong dan mudah sekali berputus asa, ini merupakan level manusia paling rendah.
Ibadah merupakan ikatan atas pengabdian dan permohonan manusia pada penciptanya. Maka seyogyanya ibadah hanya dilakukan manusia kepada Rabbnya semata, bukan kepada selain Rabbnya. Bagaimana mungkin dibenarkan manusia melakukan ibadah kepada yang bukan Rabbnya?
Allah adalah Rabb manusia. Maka Dialah yang patut dijadikan Ilah bagi manusia, yaitu sesuatu yang disembah manusia. Allah adalah satu-satunya Ilah yang berhak disembah oleh manusia. Manusia yang melakukan ibadah kepada selain Allah maka, ibadahnya tertolak.
Alloh adalah satu-satunya Malik
Rabb adalah tempat kita menyanjungkan segala pujian. Ilah adalah tempat kita memberikan segala pengabdian dan permohonan. Maka Malik adalah tempat kita meminta nashihat dan petunjuk hidup agar hidup tidak sesat dan tidak dimurkai-Nya. Alloh dikenal karena ia adalah pencipta. Alloh dikenal karena ia nama yang selalu disebut tatakala manusia mengabdi dan memohon perlindungaan-Nya. Allah dikenal karena Dialah yang menurukan Islam sebagai nasihat dan petunjuk hidup bagi manusia. Allah yang demikian itu tiada duanya. Dialah yang Esa itu.
Alloh pemilik Asmaul-Husna
Manusia memiliki kecenderungan untuk menerima dan memberi. Salah satu peranan yang paling mulia dalam hal memberi, adalah memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan wujud pemberian yang paling utama adalah akhlak. Jadi akhlak hakikatnya adalah pemberian terbaik manusia kepada sesamanya. Bagaimana manusia sampai pada akhlak yang terbaik? Maka jawabnya adalah ia harus melewati tahapan-tahapan pengakuan terhadap Allah sebagai Rabb yang mengantarkannya pada sikap syukur. Lalu tahapan pengakuan bahwa Allah adalah Ilah, sehingga ia benar-benar jadi ahli ibadah dan senantiasa bertaqorub pada-Nya. Tahapan berikutnya adalah pengakuan bahwa Allah adalah pembuat undang-undang hingga ia mengikuti dan taat pada undang-undang-Nya. Baru setelah tahapan semua ini dilakukannya, ia bisa berbuat akhlak yang baik pada sesama manusia. Dalam rangkaian akhlak itu pun, manusia masih bisa tetap menghubungkannya dengan Tuhan, yakni lewat meniru asmaul-husna-Nya, yaitu nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang baik bagi-Nya.
Rangkaian syukur, mengabdi, taat dan meneladani sifat-sifat-Nya adalah ibadah.
1.21. Tiada Ilah selain Alloh
Dalam urusan beribadah, pengabdian dan meminta pertolongan manusia hendaklah hanya menunjukannya kepada Alloh semata. Tidak boleh manusia beribadah kepada selain-Nya. Bahkan manusia dalam hal bersyukur dan taat kepada selain-Nya. Adapun misalnya kita berterimakasih kepda orang tua dan taat kepada Rasul atau pemimpin itu adalah dalam kerangka kita bersyukur dan taat kepada Alloh. Alloh adalah Ilah yang wajib atas manusia untuk menyembah-Nya. Tiada Ilah selain Allah yang memiliki hak semacam ini. Sehingga siapapun yang melakukan penyembahan kepada selain Allah, ibadahnya itu tidak akan memiliki balasan pahala.
1.22 Alloh adalah Pembuat Undang-Undang untuk Manusia
Alloh yang menciptkan dan berhak disembah, tentu berhak pula membuat undang-undang untuk manusia agar manusia itu selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Islam merupakan suatu wujud undang-undang yang Allah turunkan dan Alloh wajibkan atas manusia untuk menegakkannya. Ketika manusia hendak beribadah kepada Tuhaannya pada saat yang sama ia mesti mentaati dan menegakkan undang-undang-Nya.
1.23. Allah, Tuhan yang Maha Esa
Alloh adalah Rabb, Ilah, Malik dan pemilik Asmaul-Husna, Dia Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya dalam segala hal. Semua yang ada bergantung pada-Nya. Manusia adalah salah satu dari sekian banyak makhluk-Nya bergantung pula pada-Nya. Atas manusia dibebankan kewajiban beribadah kepada-Nya dengan tidak membuat suatu sekutu dalam ibadahnya itu.
1.24. Selain Allah adalah Makhluk
Apapun selain Alloh adalah makhluk yang tidak patut disembah. Jika ada suatu umat yang menyembah selain Alloh, maka umat itu sedang menempuh suatu jalan yang sesat.
1.25. Islam merupakan bentuk ibadah yang benar
Konsep Ibadah merupakan hal yang tak terpisahkan dari konsep Tuhan. Dalam praktek kehidupan manusia, seseorang dikatakan memiliki keyakinan kepada Tuhan, jika dia melakukan ibadah kepada-Nya. Ibadah-ibadah yang dilakukan manusia banyak sekali ragamnya. Namun bentuk ibadah yang diakui oleh Allah hanyalah Islam. Sebabnya Islam adalah agama yang diturunkan dari sisi-Nya.
Dasar atau pondasi dari Islam adalah tauhid, yakni konsep bahwa Tuhan itu adalah Esa, tidak memiliki sekutu bagi-Nya. Di atas pondasi itulah ibadah-ibadah kepada-Nya didirikan.
1.26. Tidak ada agama yang Hak di sisi Alloh selain Islam
Alloh tidak menurunkan agama lain selain Islam kepada umat manusia. Hanya Islam yang merupakan jalan lurus dalam mengenal dan mengabdi kepada-Nya. Agama-agama lain selain Islam, tetap diberi nama sebagai agama. Agama-agama itu adalah agama yang tertolak dan tidak diterima amalan para penganutnya. Umat Islam sebagai pengikut Islam, dilarang secara tegas mengikuti agama selain Islam atau menyembah apa yang disembah oleh umat selain Islam.
1.27. Selain Islam bukan peribadatan yang lurus
Alloh hanya menurunkan Islam sebagai jalan yang lurus bagi manusia untuk menata hidup dan ibadah-ibadahnya. Kenyataan dalam hidup manusia, agama bukan cuma Islam. Terdapat berbagai agama. Agama-agama apapun namanya selain Islam, bukanlah merupakan suatu cara ibadah yang dibenarkan oleh Allah. Dan apa saja yang disembah oleh mereka yang beragama selain Islam, bukanlah Tuhan yang hak, melainkan suatu makhluk yang disebut-sebut sebagai tuhan oleh mereka.
1.28. Islam adalah peribadatan yang wajib diikuti manusia
Islam membawa suatu sistem syariat yang lengkap dan diakui oleh Alloh SWT, sebagai jalan yang lurus, yang wajib ditempuh oleh segenap manusia. Disertakannya dalam Islam itu kitab al-Quran dan teladan dari Nabi Muhammad SAW. Tetapi yang dapat mengikutinya terbatas, yaitu orang-orang yang telah beroleh hidayah dari sisi Alloh berupa Iman.

1.29. Aturan Islam dibawakan oleh Rasul
Jika seseorang hendak beribadah kepada Alloh, maka ia harus mengikuti Rasul. Dan tidaklah yang diajarkan oleh Rasul itu, melainkan agama, yakni Islam. Ibadah dalam pandangan Islam adalah apa-apa yang diperintahkan Alloh dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Selain itu bukanlah ibadah. Mengikuti Rasul itu merupakaan suatu jalan yang wajib ditempuh untuk sampai pada ibadah yang benar.
1.30. Pondasi Agama Islam
Pondasi ajaran Islam ada dua yang tersimpul dalam kalimat syahadat: Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Kalimat pertama adalah kalimat tauhid, yang juga merupakan pondasi dari aqidah atau konsep keimanan dalam Islam. Sedangkan kalimat kedua merupakan kalimat nabawiyah, yaitu pengakuan bahwa ajaran Islam dalam prakteknya hanya mengikuti petunjuk dan teladan Nabi Muhammad. Ini merupakan pondasi dari syariat. Seluruh ajaran Islam bertumpu pada dua pondasi ini. Maka siapa yang ingin benar dalam ibadahnya kepada Tuhan, harus menajamkan pemahaman dan amalan atas dua dasar ini.
1.31. Apakah Allah disembah oleh para pengikut selain agama Islam?
Allah hanya menurunkan Islam sebagai suatu cara untuk menyembah Allah. Agama selain Islam menyembah apa-apa yang umat Islam tidak boleh menyembahnya. Ini di jelaskan dalam surat Al-kafirun. Jadi pengikut agama selain Islam tidak menyembah Allah, Tuhan yang di sembah umat Islam. Jika demikian, maka orang-orang non muslim itu hanya menyembah mahluk saja atau hawa nafsunya saja.
1.32. Jaminan Lurusnya Islam sebagai Agama yang haq
Untuk memahami agama Islam secara lengkap dan menyeluruh, manusia hendaknya merujuk kepada sumber hukumnya. Sumber hukum Islam adalah Al-quran. Maka Al-quran dan juga Hadits, tempat untuk mengetahui hakikat Islam. Untuk memahami kandungan Al-quran dan Hadits diperlukan suatu metode yang di sebut dengan tafsir. Ilmu tafsir itu adanya di tangan para ulama. Ulama itu adalah orang-orang Islam yang yang terpercaya dalam pemahamannya terhadap kandungan Al-Quran dan Hadits. Al-Quran, Hadits dan para ulama itulah jaminan lurusnya Islam sejauh yang dapat ditelusuri oleh akal manusia. Kebenaran al-Quran dan Hadits dapat ditelusuri dalam atas-batas kemampuan akal manusia. Namun demikian sikap penerimaan seseorang kepada Islam tergantung kepada keimanannya.
1.33. Beribadah itu berpedoman kepada al-Quran dan Hadits serta bimbingan para Ulama.
Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan yang diwariskan para Nabi tiada lain adalah agama. Maka umat mengetahui agama itu dari para ulamanya. Karena itu janganlah kita meremehkan peranan dan jasa para ulama terhadap Islam dan umatnya, sekalipun mereka hakikatnya adalah manusia biasa yang tidak memiliki otoritas apapun atas ajaran agama. Ulama diamanahi tugas untuk terus menerus mempelajari dan mengajarkan agama, sehingga agama dan umat ini terpelihara dari fitnah dan kepunahan. Bagaimananpun umat Islam memerlukan suatu penjelasan, pengarahan, motivasi, pendampingan dan kebersamaan dalam melaksanakan agama. Jika menjalankan agama tanpa bimbingan para ulama, tanpa petunjuk dari al-Quran dan Hadits, maka kesesatan yang akan mereka temui.
Manusia yang Paling Mulia
1.34. Kemuliaan, Hal Yang Paling dicari Manusia
Manusia selalu mencari kebenaran, ketentraman, kenikmatan, kedamaian dan kemuliaan. Semua hal ini merupakan keadaan-keadaan yang mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan. Pada masing-masing ada keindahan, kesenangan yang amat disukai oleh manusia. Bagaimanakah manusia dapat meraih apa yang selalu dicarinya itu dan siapakah yang dapat benar-benar meraihnya? Tentu saja orang dapat meraihnya adalah nanti merupakan orang-orang yang mulia, besar, makmur dan damai.
1.35. Jalan menuju kemuliaan
Ada dua jalan menuju kemuliaan, pertama: mengetahui jalannya yang benar secara benar. Kedua, mengikuti jalan-jalan itu dengan benar. Sesungguhnya jalan yang benar ialah Islam dan untuk mengetahui Islam yang sebenarnya ialah dengan merujuk pada sumber hukumnya, yaitu al-Quran Sunnah dan para ulama. Manusia tidak akan pernah menemukan kemuliaan sekecil apapun tanpa iman. Sekalipun harta, kekuasaan, perempuan berada di tangannya. Dan mengikuti Islam dengan benar caranya iklas dan sabar. Orang yang berada di jalan benar ia bersikap benar. Sia-sia amalan ibadah jika tidak di sertai sabar dan ikhlas.
1.36. Manusia yang Paling Taat
Boleh jadi dimata manusia, orang yang memegang kekuasaan harta dan keindahan, martabatnya tinggi dan terhormat. Namun hendaklah kita belajar dari sejarah tentang raja-raja dan pemimpin dunia atau negara-negara besar zaman dahulu yang akhirnya dihancurkan, dihinakan dan dimusnahkan. Padahal mereka amat kuat, kaya, cerdas dan tampan dikelilingi gadis-gadis cantik. Kemuliaan dan ketinggian derajat sesungguhnya milik mereka yang tidak tunduk pada nafsu dan dunia. Mereka adalah orang-orang yang tunduk kepada undang-undang Alloh. Dan itulah manusia yang mulia sesungguhnya. Mereka yang taat boleh jadi pada saat yang bersamaan adalah juga kaya, cerdas, kuasa dan tampan.
1.37. Mendedikasikan Diri untuk Kemuliaan Islam
Konsep memberi dan menerima merupakan konsep yang bernilai amat penting dalam hidup manusia. Orang-orng yang taat menerpakan konsep ini secara tepat terhadap Islam. Mula-mula ia menerima banyak hal dari Islam sehingga tertatalah fikiran, hati, jiwa, badan, keluarga, masyarakat dan negaranya. Sehinga dengan penataan Islam, seluruh denyut kehidupan menjadi luas, tentram, makmur, damai, dan mulia. Nanti pada gilirannya ia sadar akan memberikan suatu pengorbanan bagi Islam. Ia akan berkorban harta, tenaga, fikiran keluarga bahkan nyawanya untuk Islam. Karena ia telah berjanji untuk menyerahkan hidupnya, matinya dan baktinya untuk Alloh. Pengorbanan itu hakikatnya adalah didasarkan atas rasa cinta pada Islam, rasa ikhlas dan sabar. Serta untuk suatu kebaikan yang lebih besar yakni demi meraih keridoan Allah dan surga-Nya kelak di akhirat.
1.38. Mulia sampai ajal Datang
Hidup mulia adalah dambaan setiap orang yang beriman. Namun janganlah keliru kalau mencari kemuliaan itu adalah tidak hanya sekedar sementara waktu. Mencari kemuliaan dan hidup dalam tangga-tangga kemuliaan harus terus berlanjut tiada henti sampai Allah mencabut nyawa kita. Karena itu selama nafas masih ada, jangan dulu bergembira hati, sebab syetan masih menggoda. Ini artinya kita harus selalu waspada selamanya.
1.39. Pentingnya Mati dalam keadaan sebagai Muslim
Bila seseorang tetap istiqomah menjalankan agama hingga kematiannya tiba, maka ia merupakan orang yang beruntung. Allah pun mengharap dan memerintahkan umat-Nya untuk tidak meninggal kecuali dalam keadaan sebagai muslim, yakni yang sedang menjalankan Islam, yang sedang menegakkan tauhid. Maka siapapun yang meyakini akan pertemuan dengan Allah, harus merancang jalan kehidupannya. Karena jalan kehidupan yang sedang ditempuh adalah juga jalan kematian. Betapa pentingnya kematian dalam keadaan sebagai seorang muslim, kita mesti menjadi muslim di sepanjang waktu yang sedang dijalani.
1.40. Alloh Pemilik Kemuliaan Tentukan Kriterianya.
Menjadi muslim adalah jalan menuju kemuliaan. Allah adalah sumber kemuliaan. Maka Dia berhak menentukan kriteria apa saja yang harus dipenuhi manusia, jika manusia menghendaki kemuliaan itu. Kriteria global yang dibebankan atas manusia yang ingin meraih kemuliaan adalah kemauannya untuk ibadah. Ibadahlah syarat dan ketentuan yang dapat diusahakan dengan segenap ikhtiar. Maka penuhilah apa yang Alloh serukan pada kita, jika benar-benar ingin meraih kemuliaan.
1.41. Kemuliaan Dunia Akhirat
Manusia harus mengejar kemuliaan lewat ibadah, bukan dengan selainnya. Kemuliaan yang dikejar lewat ibadah akan berdampak positif tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Ibadah itu orientasi utamanya adalah akhirat, namun dalam Islam, ibadah yang dilaksanakan membawa kebaikan semenjak di dunia ini.

Karakter Orang yang Mengenal Tuhan
1.42. Pengetahuan sebagai Dasar Perbuatan
Perbuatan seseorang amat tergantung pada pengetahuan dan pengalamannya. Memang banyak faktor yang membentuk suatu perbuatan. Namun rupanya pengetahuanlah yang besar peranannya. Ketika manusia telah mengenal Tuhan dengan mendalam, benar dan sebaik-baiknya, maka akan tampak pengaruhnya pada amal perbuatan, sikap dan cara berbicaranya. Mengenal Tuhan dengan baik adalah lewat agama. Dan bersikap yang baik kepada Tuhan adalah dengan Iman. Mengenal Tuhan lewat agama itu adalah melalui tadabur terhadap al-Quran dan melakukan ibadah-ibadah.
1.43. Karakter Dasar: takut, taat, bersih hati dan cinta
Orang yang mengenal Alloh bahwa Dia adalah Rabb, maka akan tumbuh rasa takut dan cinta; bahwa Dia adalah Ilah, maka akan tumbuh rasa Tawadlu dan bersih hati; bahwa Dia adalah Malik akan tumbuh rasa taat, dan bahwa Dia adalah pemilik asmaul husna maka akan tumbuh rasa cinta. Timbulnya rasa cinta karena disadari Dialah yang memberi segala nikmat dan fasilitas hidup. Bersih hati ialah bersih dari sifat-sifat syirik, riya, hasud, maksiat dan cinta dunia. Taat ialah taat pada undang-undang-Nya. Takut kepada-Nya karena Dia Maha Cermat dalam meneliti seluruh amal perbuatan manusia dan Dia Maha Adil serta Amat keras Azab-Nya. Dari masing-masing sifat ini akhirnya akan membentuk sifat-sifat dan perbuatan-pebuatan yang baik pada manusia.
1.44. Taubat, Harap, Rido, Tawwakal
Betapapun tekad untuk taat, cinta, takut dan bersih hati dicanangkan dan diusahakan dengan tekad yang kuat setinggi langit, sifat manusia sejatinya tetap saja sewaktu-waktu bisa terjatuh pada suatu hal yang menyebabkan dirinya berdosa. Perbedaan antara orang yang mengenal Tuhan dengan yang tidak adalah pada sifat-sifat Taubat, Harap, Rido, Tawwakal. Orang yang mengenal Tuhan ketika ia terjatuh pada perbuatan dosa ia akan segera bertaubat, penuh harap atas rahmat-Nya, rido atas takdir-Nya dan bertawwakal pada-Nya dalam setiap upayanya.

1.45. Tanda Manusia yang Lalai pada Tuhannya
Manusia yang lupa, lalai, mengabaikan Tuhannya akan ditandai oleh sifat putus asa dan sombong. Ia putus asa tatkala lemah dan sombong tatkala kuat. Ia juga cepat berkeluhkesah dan mencari-cari kesalahan orang lain atas bencana yang menimpa dirinya. Hal ini disebabkan karena ia jauh dari ibadah dan tuntunan agama. Sebab itu untuk menghindari sifat-sifat buruk itu dan untuk meraih sifat-sifat mulia, seseorang harus serius mendekati Tuhannya dengan memperbaiki ibadah-ibadahnya dan memperdalam agamanya.
1.46. Sifat-sifat Turunan di bidang Sosial
Syukur akan menurunkan sifat pandai berterimakasih. Sifat cinta menurunkan sifat kasih sayang. Sifat takut menurunkan sifat hati-hati dan berani. Sifat bersih hati menurunkan sifat tulus dan rela dalam menolong serta dalam menyikapi ketidakadilan sesamanya. Semua sifat-sifat ini amat diperlukan dalam kehidupan sosial. Sifat-sifat ini hanya ada pada orang-orang yang dekat dengan Tuhan, ahli ibadah dan memahami agama dengan baik dan mendalam
1.47. Virtualisme mudah diciptakan orang yang Beragama.
Kemuliaan, kedamaian, kemakmuran, dan ketenangan mudah diciptakan oleh orang-orang yang beragama. Orang yang mengenal Tuhan dengan baik dan aktif serta serius dalam melaksanakan ibadah akan mudah baginya mencapai virtualisme semacam itu pada semua segmen dan level kehidupan. Semua ini disebabkan oleh adanya sifat-sifat baik yang menyatu dengan diri orang-orang yang taat dan juga oleh adanya sistem agama yang sempurna dalam menata sifat dan kinerja manusia. Timbulnya kekacauan dalam kehidupan manusia hakikatnya disebabkan oleh ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap tujuan penciptaan dirinya. Sesungguhnya agama itulah jalan yang paling sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.
1.48. Ketika Manusia Lari dari Tuhannya
Banyak sekali pelajaran yang terdapat dalam sejarah dan peristiwa kontemporer. Bahwa orang yang tetap dekat dengan agama seraya terus mengabdi kepada-Nya, dapat meraih kunci-kunci kemuliaan dan ketentraman. Sebaliknya orang-orang yang menjauh dari Tuhannya, dan mengabaikan kewajibannya untuk ibadah, selalu ditimpa musibah dan kepedihan di akhir hidupnya. Begitulah pelajaran dan peristiwa, tinggal pelajaran dan peristiwa yang banyak manusia memandangnya dengan sebelah mata. Kita perlu tetap menegaskan bahwa ketika manusia meninggalkan Tuhan, mengabaikan agama, melalaikan ibadah dan sibuk dengan urusan dunia; mereka tidak akan meraih kebahagiaan dan ketentraman dalam hidupnya, kecuali sedikit saja. Mereka akan dijauhkan dari kemuliaan dan kemakmuran.
1.49. Membangun Citra Diri sebagai Orang Sholeh.
Bila mata kita diarahkan kepada fakta sosial global saat sekarang, maka akan tampak dimana-mana banyak manusia yang telah meninggalkan Tuhan dan ibadah karena sibuk dan ditipu dengan urusan dunia. Tampil dengan citra diri sebagai orang sholeh merupakan sesuatu yang asing, aneh dan ganjil. OLeh karena itu upaya menjadi orang sholeh merupakan suatu hal yang berat, memerlukan suatu tekad dan perjuangan yang tidak ringan. Tetapi inilah yang harus kita lakukan. Caranya tiada lain dengan suatu metode terbiyah dan jamaah.
1.50. Menambah Pengetahuan tentang Tuhan dan Ibadah
Pengetahuan kita tentang Tuhan dan ibadah mesti terus ditambah dari waktu ke waktu. Sumber pengetahuan kita tentang Tuhan ada pada Kitab Al-Quran. Dan sumber pengetahuan kita tentang ibadah ada pada kitab-kitab Hadits. Upaya memperdalam pengetahuan atas kedua kitab itu merupakan titian untuk membangun citra diri sebagai orang sholeh dan untuk memperbaiki kualitas pengabdian kita kepada Allah. Pada saatnya nanti, semua akan bermuara pada dicapainya kebahagiaan lahir dan batin. Tentramnya kehidupan, kemakmuran dan kemuliaan. Alloh telah berjanji akan membahagiakan orang yang berilmu dengan diangkatnya mereka beberapa derajat.

Pengaruh Ibadah bagi Kehidupan manusia di Muka Bumi
1.51. Ibadah adalah satu paket dengan kehidupan
Ibarat badan dengan jiwanya, maka kehidupan menjadi ada. badan tanpa jiwa, atau jiwa tanpa badan adalah kematian bagi manusia.sesungguhnya kehidupan manusia dengan kewajibanya untuk ibadah kepada Tuhan adalah satu paket yang utuh. manusia jelas pada umumnya lebih memperhatikan segi hidupnya ketimbang ibadahnya. Tetapi ini tidak berlaku bagi orang yang beriman. ia lebih memperhatikan ibadah sebab ibadah itulah jiwa bagi kehidupannya.
1.52. Kehidupan manusia tanpa ibadah
Setiap peradaban manusia rupanya menyadari akan pentingnya ibadah. Selalu ditemukan dalam setiap peradaban manusia, hal yang berupa ibadah, agama, atau keyakinan kepadanya adanya Tuhan. Kesimpulan yang dapat diambil. Kehidupan manusia tanpa ibadah tidak akan banyak menghasilkan peradaban, atau karya nyata. Ini merupakan suatu potensi yang mendukung bagi upaya mengembalikan manusia kepada agamanya yang sebenarnya yaitu Islam. Tatkala dakwah islam telah sampai pada mereka tetapi dalam non islamnya, maka mereka pantas mendapat kehampaan hidup dan siksa.
1.53. Masalah hidup yang semakin rumit
Ada dua hal yang perlu kita renugkan tentang fenomena ibadah dan hidup manusia dari waktu ke waktu semakin maju dari sisi teknologi hasil ilmu dan sains, di samping juga semakin kompleks permasalahan yang datang kepadanya.Sementara agama atau ibadah hanya tetap berkedudukan sebagai pemberi solusi dan inspirasi bagi hasil teknologi dan teratasinya masalah-masalah yang rumit itu. Artinya bahwa manusia memerlukan 2 hal: 1.agama yang kompitibel dengan perkembagan zaman. 2.Keseriusan mereka untuk menerapkan agama.

Cisarua, 8 November 2009


Posted in Uncategorized

FILSAFAT SUAMI (BAGIAN 1)

FILSAFAT SUAMI (BAGIAN 1)
Oleh : Ading Nashrulloh
a. Arti Filsafat dan Peranannya
1. Filsafat adalah sistem berfikir yang mendalam, menyeluruh, universal dan juga spekulatif. Filsafat mengandalkan akal fikiran sebagai alat kerjanya. Tetapi sumber pengetahuan yang digunakan untuk mendukung argumentasi suatu filsafat bisa dari berbagai sumbar yang terpercaya.
2. Siapapun bisa berfilsafat sebab ranah filsafat mencakup segala hal termasuk bagian-bagian dari hal keseluruhan.
3. Manfaat dari filsafat ialah bahwa dengan berfikir filsafat kita meneliti dan mempertanyakan segala sesuatu hingga ke akar-akar permasalahannya. Jadi tidak sambil lalu. Dalam hal ini, memang diakui bahwa untuk berfilsafat menuntut seseorang itu memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam.
4. Karena filsafat merupakan hasil dari pemikiran dan kinerja akal, maka kebenaran yang ada dalam filsafat hanyalah suatu ikhtiar manusiawi untuk mengapai suatu kebenaran mutlak. Sehinga hasil suatu filsafat bisa benar bisa saja salah.
5. Bila berbicara filsafat yang disandingkan dengan agama, sementara agama itu sumber rujukannya adalah kitab wahyu, maka ada benarnya orang yang mengatakan bahwa jika sudah ada kitab buat apa filsafat. Filsafat itu tidak ada gunanya. Jika filsafat itu sesuai, cukuplah yang dipegang itu Kitab. Jika filsafat itu bertentangan, maka apatah lagi tiada guna itu.
6. Kemudian ada pula orang yang mengatakan bahwa filsafat ada manfaatnya juga bagi dan dalam memupuk keimanan. Filsafat mendekati kebenaran agama dari sisi keaktifan akal yang secara kodrati suka bertanya, mempertanyakan dan mencari kepuasan secara meyakinkan dan argumentatif.
7. Kedua pernyataan itu sekalipun memang sekilas bertentangan, kedua-duanya adalah benar asal kita melihat pada suatu waktu dan sudut pandang yang pas. Filsafat itu berguna, betul. Filsafat tidak berguna juga betul.
8. Sesunggunya akal, indra dan memiliki kewenangan dalam menentukan suatu kriteria kebenaran dengan batas-batas yang dimilikinya. Dalam-batas itu, maka manusia boleh mencari kebenaran dan menetapkan suatu kebenaran. Nanti pada gilirannya akal itu terbagi dua, ada akal yang tunduk kepada dogma dan akal yang tunduk kepada argumentasi yang benar.
9. Apa manfaatnya filsafat bagi hidup ini? Jawabnya banyak sekali. Diantaranya adalah memberikan pandangan menyeluruh atas sesuatu. Menyeluruh itu maksudnya sebanyak-banyaknya sudut pandang. Bukan semua sudut pandang atau semua hakikat sesuatu atau segala sesuatu.
10. Manusia bisa mengetahui tentang sesuatu sebanyak-banyaknya dengan banyak cara dan metode. Tetapi tidak semuanya. Selalu ada hal yang tersembunyi dan luput dari perhatian manusia. Filsafat mencoba memberikan suatu metode memandang sesuatu dari suatu sudut pandang yang banyak, luas, mendalam dan holistik.
11. Filsafat bermanfaat di dalam memberikan panduan hidup, baik praktis maupun psikologis dalam memandang realitas, alam semesta dan manusia, sekaligus memuaskan akal dan hati. Memuaskan akal karena diskusi-diskusi tentang realitas hakiki, alam semesta dan manusia selalu didasarkan kepada fakta-fakta dan argumen-argumen yang logis rasional serta intuitif.
12. Memuaskan hati, karena pandangan-pandangan filsafat bernilai normatif dan bermaksud mencari dan menggambarkan wujud kehidupan yang baik yang dapat dicapai oleh manusia. Dan juga karena filsafat mencoba menerangkan dan mewujudkan nilai. Baik nilai secara moral, iman, hukum dan adat.
13. Berdasarkan uraian diatas maka filsafat telah menjadi bagian dari upaya dan ikhtiar manusia dalam merumuskan, membuat pola dan mewujudkan kehidupan yang baik. Sehingga filsafat dapat kita gunakan sebagai wahana dalam mengkaji, salah satunya, mengenai rumah tangga.
14. Adapun secara umum peranan filsafat adalah : pendobrak, pembimbing dan Pembebas.
15. Pendobrak, berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Keadaan tersebut berlangsung cukup lama dan kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi yang begitu sakral yang selama itu tidak boleh digugat.
16. Pembebas, Filsafat bukan hanya sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite itu melainkan juga merenggut manusia keluar dari penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula filsafat membebaskan manusia dari belenggu
17. Pembimbing, Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistik mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membbimbing untuk berpikir lebih luas dan mendalam.

b. Arti Rumah Tangga dan Perananya bagi kehidupan manusia.
1. Sepasang suami istri adalah seorang lelaki dan seorang perempuan yang terikat tali pernikahan. Pernikahan adalah ikatan resmi yang sah secara hukum, moral, agama dan adat kebiasaan. Pernikahan dibangun untuk banyak tujuan mulia. Muara dari semua tujuan-tujuan sekaligus merupakan landasan bagi terwujudnya rumah tangga yang ideal adalah: cinta. Dari cinta itu menebarlah aroma kehidupan yang penuh hiasan-hiasan seperti kasih sayang, ketentraman, dan kebahagiaan, sakinnah, mawaddah, warohmah.
2. Sepasang suami istri yang telah terikat tali pernikahan selanjutnya akan lahirlah darinya keluarga. Dari kelurga itu akan lahir pula generasi penerus. Sehingga keluarga merupakan institusi masyarakat yang berfungsi melahirkan generasi untuk melanjutkan kehidupan manusia di muka bumi. Tetapi ini bukan satu-satunya fungsi keluarga.
3. Fungsi lainya adalah pengaturan seksual, sosialisasi, afeksi, penentuan status, perlindungan dan ekonomi. pengaturan seksual: Keluarga merupakan wahana bagi masyarakat untuk mengatur dan mengorganisasikan keinginan seksual; sosialisasi: Perkembangan biologis dan psikologis anak yang dilahirkan memerlukan proses sosialisasi dari orang-orang terdekatnya sebagai pondasi kepribadian; afeksi: Cinta adalah salah satu kebutuhan hidup dan sosial kita, jauh lebih penting dari misalnya seks. Keluarga adlah tempat seseorang mendapat curahan cinta dan kasih saying; penentuan status: Status keluarga seorang anak sangat menentukan peluang, harapan, prestasi dan imbalan yang akan di terimanya; perlindungan: Keluarga adalah pemberi perlindungan fisik ekonomi dan psikologis.
4. Disamping itu fungsi keluarga ada yang lainnya yaitu sebagai institusi masyarakat yang pertama kali menanamkan norma dan nilai-nilai agama, moral, hokum dan adat istiadat kesopanan. Jadi keluarga merupakan peletak pertama pondasi keimanan, tanggung jawab, kepatuhan dan kesopanan. Dari keluargaitulah individu terbentuk terbentuk dengan segala dimensi eksistensinya sebagai cikal bakal keluarga baru dan masyarakat.
5. Menyatunya sepasang suami istri hingga terbentuknya keluarga dan keturunan bukanlah hanya sekedar hasil rekayasa budaya manusia saja. Tetapi telah menjadi kodrat alam semesta sejak pertama kali diciptakan. Kalau demikian berarti keluarga yang di bentuk itu bersifat spiritualisme dan transcendental. Bersifat sacral, suci dan imani. Singkat kata keluarga merupakan repleksi dari tanda-tanda kebesaran tuhan.
6. Keluarga merupakan, tidak hanya sebagai pencetak secara biologis tetapi juga secara psikologis. Kita ingat bahwa suatu masyarakat di wujudkan oleh peranan-peranan orang dewasa yang bebas dan bertanggung jawab, beretika dan berdedikasi. Keluarga adalah tempat pertama kali tumbuhnya orang-orang yang berkarakter demikian. Disitulah oletak peranan keluarga yang sangat tinggi kualitasnya. Atas adanyaperanan keluargalah institusi dan norma kemasyarakatan yang lainnya terwujud

c. Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Rumah Tangga.
1. Pembina keluarga adalah suami istri. Sumi istri adalah dua insane yang terikat oleh rasa cinta satu sama lain yang disahkan oleh tali pernikahan. Cinta adalah landasan pertama yang membangun hubungan suami istri dan landasan terkokoh suatu rumah tangga. Cinta di awal perjumpaan dan masa sebelum pernikahan adalah suatu yang indah, fitrah penuh harapan dan cita-cita, motivasi. Banyak inspirasi dan dan harapan besar yang tumbuh darinya. Maka ketika telah terjadi ijab qobul pernijahan, keindahan cinta harus bertambah-tambah dan harus semakin menghiasai kehidupan suami istri dan rumah tangga. Maka dari itu berbagai upaya harus difikirkan dan diformulasikan serta dikonsultasikan dengan orang yang berilmu. Sementara berbagai hal yang dapat mengurangi dan memalingkan diri dari cinta terhadap pasangan harus dihindari sekuat tenaga. Ini merupakan landasan moral dan etika yang mesti kita hidupkan.
2. Cinta seorang suami kepada istrinya haruslah seutuhnya, tulus dan keluar dari hati secara fitrah, kodrati dan dan murni sebagaimana mata air yang keluar dari sela-sela batu di pegunungan. Ia ada karena kodrat dari sisi Allah, sebagai suatu ketetapan-Nya. Cinta yang demikian akan mampu mewujudkan kasih sayang dan perhatian serta pengertian dan pengenalan dari sisi yang terbaik dalam memandang seorang istri. Yang akhirnya melahirkan rasa tanggungjawab yang sebesar-besarnya kepadanya. Seorang suami harus memberikan rasa sayang, membuat suasana tentram dan bahagai pada istrinya. Upaya-upaya memenuhi kebutuhan, kepuasan, keinginan, kesenangan, harapan dan cita-citanya adalah bagian penting dari semua tanggung jawab itu.
3. Suami yang baik adalah suami yang memiliki sejumlah kriteria dan karakter pendukung, yang semuanya dilandaskan pada cinta dan kesadaran tanggunjawab. Cinta arahnya lebih kepada motivasi, penggandeng, penghias, dan muara rumah tangga, jadi muatannya lebih kepada psikologis. Sedangkan tanggung jawab merupakan releksi cinta dalam wujud sikap, tingkah laku, perbuatan dan karya nyata yang mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan.
4. Diantara kriteria dan karakter suami yang baik adalah mencintai setulus hati. Cinta sungguh kata yang indah. Kata inilah yang dalam refleksinya pada jiwa manusia mampu melahirkan berjuta keindahan dalam hidup ini. Cintalah yang melahirkan keturunan, peradaban, kecanggihan,perdamaian, kerjasama dan sifat-sifat mulia. Beruntunglah mnusia yang memiliki cinta. Dunianya menjadi luas, lpang, cerah, bercahaya dan memuat banyak maaf, banyak kebaikan, dan meredam semua sumpah serapah, dendam dan kebencian. Orang yang punya cinta, patut punya harapan, patut melanjutkan kehidupan.
5. Jangan bertanya untuk apa saya mencintai. Tetapi bertanyalah apa yang telah dan akan saya korbankan untuk mengatakan, menunjukkan cintaku. Karena cinta adalah seni hidup dan seni berkorban. Cinta itu adalah kehidupan itu sendiri. Cinta itu adalah seluruh landasan dan muara pergerakan hidup kita. Maka tanpa cinta, hidup tidak ada. Hidup ini tanpa pengharapan dan penantian. Itulah cinta.
6. Seorang suami adalah seorang lelaki dalam hubungannya dengan istri, perempuan yang terikat dengannya oleh tali pernikahan. Seyogyanya ia selalu sadar bahwa cinta merupakan dasar dari terjadinya ikatan itu. Oleh karenanya seorang suami harus selalu merefleksikan diri pada istrinya sebagai seorang yang mencintainya setulus hati. Istri adalah orang lain yang terikat dengan kita begitu dekat, lebih dekat dari siapapun, yang kita cintai. Kebaikan,penghargaan, keluasan fikiran dan rasa harus tertumpah padanya, bukankepada yang lain. Sopan santun kita, perhatian kita, pemberian kita harus terbaik ketika dialamatkan kepadanya.
7. Di atas landasan cinta dan konsekuensi dari adanya rumah tangga, maka kita memiliki sejumlah kewajiban, tanggung jawab baik secara moral, agama, hukum atau pun adat kita. Salah satu perkara dalam kategori adalah memberikan nafkah. Nafkah adalah energy fisik bagi kehidupan manusia. Bagaimanapun manusia adalah makhluk bumi yang tergantung kepada lingkungan fisik geografis dan alamnya. Manusia harus mengupayakan makanannya, tempat tinggalnya, dan segala kebutuhannya seprti kesehatan, pendidikan, rekreasi dan lain sebagainya. Orang yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya. Dan orang apabila berputus asa maka ia telah gagal sejak awal melangkah. Dalam hubungannya dengan keluarga, ditinjau sudut tanggung jawab, suami adalah sosok yang harus secara moral, agama, hokum dan adat untuk mengupayakan segala kebutuahn itu bagi keluarganya. Seorang suami harus mempunyai pekerjaan halal dan terhormat yang dapat memberikan pada istrinya suatu kecukupan hidup secara material sebagai salah satu pilar penyokong kebahagiaan dan penguat cinta. Memenuhi kebutuhan material ini merupakan salah satu fungsi keluarga. Bukan merupakan tujuan, tetapi sarana bagi suatu tugas yang lebih besar bagi eksistensi manusia dan masyarakat.
8. Ada lima kaidah mendasar dalam menata keluarga mencapai kebahagiaan dan kemuliaan. Pertama adalah orientasi, kedua persiapan, ketiga langkah nyata atau proses, penerapan hukum (juga moral, agama, dan adat istiadat) dan harapan akhir. Dalam mencari nafkah, hal yang sedang kita bahas ini, jika kita terapkan lima kaidah di atas maka nafkah yang kita berikan bernilai secara kualitatif dan kuanitatif. Marilah kita bahas sedikit saja. Nafkah haruslah jelas orientasinya. Pada bagian di atas telah kita singgung tentang orientasinya yaitu penyokong kebahagiaan dan penguat cinta, dan penuntasan rasa tanggung jawab atau kewajiban sebagai suami atas istri dan keluarganya. Setelah jelas orientasinya selanjutnya adalah mengadakan persiapan baik awal, tengah ataupun akhir dari sirkulasi nafkah itu. Ini artinya kita harus menetapkan dari mana kita akan memperolehnya, alokasi penggunaannya dan sikap akhir yang harus dimiliki. Selanjutnya adalah proses bekerja dan menggunakan harta. Pada bagian ini, kita bekerja harus berkriteria pofesional dan prophetional. Profesional artinya sesuai dengan keahlian yang dimilik; prophetional artinya pekerjaan kita harus melindungi diri kita dari suatu hal yang haram dan munkar. Jangan sampai lingkungan kerja kita penuh dengan kecurangan dan hal-hal yang dapat melunturkan iman. Selanjutnya, bagaimana pun kualitas pekerjaan kita di satu sisi harus meningkat agar imbalan yang kita terima makin besar, di sisi lain bila terjadi suatu pelanggaran semuanya harus kembali kepada prinsip moral, agama, hokum dan adat yang berlaku di negri masing-masing. Terakhir harta sebagai salah satu wujud nafkah itu harus dialokasikan pada perkara yang benar-benar mampu mendatangkan kebahagiaan di masa sekarang, masa depan dan akhirat kita.
9. Seorang suami mesti menafkahi keluarganya. Selanjutnya adalah Berpenampilan dan berkata-kata yang baik. Seorang suami harus tampil selalu rapih di hadapan istrinya. Sikap sopan, santun, lembut, penuh kepedulian tetap merupakan kebutuhan y ang harus dihadirkan di hadapan orang yang kita cintai. Kata-kata, sikap dan fikiran, canda tawa harus didesain untuk selalu membuat hati dan perasaan istri tersanjung, senang, tenram, sehingga ia betah hidup mendampingi kita sampai ajal datang menjemput. Seorang yang baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Dan yang paling baik akhlaknya. Orang lain yang pertama-tama harus diperlakukan demikian adalah istri sendiri. Seorang suami harus berupaya keras untuk senantiasa meningkatkan kualitas manfaat diri dan akhlaknya bagi istrinya.
10. Seorang suami harus sadar bahwa istri yang menjadi pasangan hidup dalam mengarungi kehidupan yang penuh liku-liku ini telah menyadarkan jiwa raganya kepada dirinya. Ia telah merelakan seluruh sisa hidupnya untuk mengikuti dan diatur oleh kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, sekalipun besar cinta kita kepada istri, dan tinggi pula kesetiaan istri kepada kita, biduk rumah tangga tak urung diterjang masalah. Seorang suami harus sadar bahwa dalam rumah tangga terdapat keindahan yang sangat banyak justru karena ia tak lepas dari masalah. Masalah adalah suatu dinamika hidup yang harus dihadapi dengan suatu sudut pandang yang luas. Bagaimanapun suatu masalah jika dilihat dari sisi positifnya maka ia adalah perkara yang mendewasakan kita, hal yang membuat kita jadi pembelajar, sarana berfikir dan kehati-hatian. Masalah merupakan suatu kodrat alam dan telah menjadi bagian dari suatu kebutuan yang special, karena ia membut kita menjadi berfikir secara kritis untuk mencari silusi. Masalah itu menimpa semua makhluk agar hidupnya berfikir untuk mencapai harapan-harapan atau keadaan-keadaan yang diinginkan. Masalah harus berani dihadapi. Maslah yang terjadi di dalam rumah tang, sumbernya bisa dari dalam bisa pula dari luar. Yang harus diperkokoh adalah kekuatan cinta, tanggung jawab, kesadaran dan rasa pengertian yang dalam. Sehingga badai masalah itu dapat ditanggulangi dengan segera. Ketika suatu masalah telah muncul dan dianggap dapat mengancam keutuhan rumah tangga dan cinta mereka, maka sumi harus segera tampil untuk segera menyelesaikan masalah tersebut sebagai suatu pengayoman dan perlindungan kepada istri dan keluarganya. Tidak boleh ia membiarkan masalah itu menggerogoti kehidupan rumah tangga apalagi sampai merusak dan menghancurkanya.
11. Seorang suami harus pula memberikan orientasi hidup, pendidikan, dan kelapangan dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga yang kita bina adalah sarana untuk kebaikan dan perbaikan hidup dalam semua dimensinya. Memang keluarga bukan satu-satunya institusi social di muka bumi yang memliki fungsi semacam itu. Namun ketika keluafga hendak menjalankan fungsinya yang demikian itu, peranan seorang suami menjadi pilar utama bagi istri dan kelurganya untuk mengarakahkan, menggerakkan dan mengendalikan kebaikan serta perbaikan hidup. Seorang suami mesti mengarahkan orinentasi hidup ke arah yang benar, baik, indah dan menyenangkan serta menentramkan, patut menjadi sumber harapan. Untuk menopang upaya pencapai apa yang telah menjadi orientasi, maka perlu suatu pendidikan, pelatihan, keterampilan, dan kecakapan. Dan untuk kelancaran di bidang pendidikan ini, perlu dukungan yang sifatnya harian, yakni kelapanganhidup baik dari sisi ekonomi, sikap, lingkngan dan suasana kehidupan social yang damai dan kondusif. Ini bersifat teknis baik fisik atau pun psikis.
12. Seorang suami harus mampu menciptakan suasana yang harmonis di tengah keluarganya. Semua upaya yang dilakukan di atas adalah demi terwujudnya jalinan dan suasana yang harmonis di tengah keluarga kita. Suasana yang harmonis harus menjadi bagian terbesar dari keadaan dan sifat keluarga kita. Sebab keluarga merupakan tempat di mana hati, fikiran dan raga berlabuh dengan damai dan tentram. Seorang suami adalah penentu orientasi dan Pembina serta pencipta utama suasana yang harmonis itu. Sementasa sumber utama keharmonisan itu sebenarnya amat tergantung kepada kedekatan seluruh anggota keluarga kepada Allah. Sehingga suami harus senantiasa mengusahakan agar keluarganya bertaqorub kepada Alloh. Keluarga yang dipenuhi dengan aktiitas ibadah kepada Tuhan, itulah keluarga yang akan senantiasa merasakan ketentraman yang banyak sekali.
Cisarua, 31 Oktober 2009


Posted in Uncategorized

filsafat cinta

Filsafat Cinta
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,”Apa itu perkawinan?Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”
Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang . Allah berfirman:dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
mengatakan: dalam haditsnya dari shahabat Tsauban Rasulullah ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang menjawab:dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allahmengikuti Rasulullah maka kecintaankepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas binRasulullah :Malik
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah .
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
adalah hadits Anas yang telahAdapun dalil dari hadits Rasulullah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
berfirman:Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf:
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Buah cinta
mengatakan: “Ketahuilah bahwa yangSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
menyatakan: “Dasar tauhid danAsy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Ketika seseorang seringsekali bercerita tentang kebenciannya pada sesuatu, apakah itu benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak cinta?

salah seorang tokoh besar, Fariduddin al Attar pernah bercerita, bahwa ada seorang tokoh (?) yang berkunjung ke tempat Robi’ah al adawiyah, ulama besar ahli mahabbah,
si tamu tersebut selama berada di tempat robiah yang diceritakan adalah betapa jeleknya dunia itu, betapa buruknya dunia itu, betapa menipunya dunia itu, dan betapa ia bencinya dunia itu.
Robi’ah tersenyum…
dan ketika si tamu itu berlalu, Sofyan At Tsauri, sahabat Robiah yang juga sedang berkunjung ke situ bertanya pada Robiah,”Benarkah orang itu benci kepada dunia?”
Robiah tersenyum dan berkata,”Bagaimana mungkin dia membenci dunia? yang ada di pikiran dan perasaannya hanyalah terisi dengan dunia dan urusannya”

Dzunnun al Mishri, satu waktu di datangi salah seorang muridnya,”ya Guru, kata muridnya, aku sudah beribadah kepada Tuhan selama 30 tahun yang menurutku aku juga sungguh2. Siang puasa, malah tahajud dan selain amalan wajib, yang sunnah2 juga aku kerjakan. tapi bukannya aku tidak puas dengan keadaanku, tetapi mengapakah tidak ada sedikitpun tanda2 yang datang dari Tuhan tentang apa yang telah aku lakukan ini?”
Dzunnun menjawab,”kalau begitu, nanti malam kamu makan yang banyak, dan jangan sholat isya”
Si murid agak heran juga mendengar saran gurunya, tapi ia mengangguk dan pulang.
Keesokan harinya, ia datang ke Dzunnun dan bercerita,
“Alhamdulillah guru, semalem saya mendapatkan tanda itu dari Allah swt, aku sudah menuruti saran guru untuk makan yang banyak, tetapi aku tidak tega untuk meninggalkan sholat wajib isya. Kemudian malam harinya, aku bermimpi di datangi oleh Rosulullah saw dan beliau bersabda,”wahai fulan, tenangkan hatimu, Allah mendengar, melihat dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. Bersabarlah dan ikhlaslah.” dalam mimpi itu saya mengangguk, kemudian Rosulullah saw bersabda lagi,”Dan sampaikan pada Dzunnun Al Mishri bahwa Allah berpesan agar ia jangan menyarankan muridnya untuk tidak sholat isya”

Mendengar itu Dzunnun tertawa sampai keluar air matanya..
kemudian ia berkata,
“Jika kamu tidak bisa mendekatiNya melalui Kasih SayangNya, maka dekatilah ia melalui rasa marahNya”

Dan baru saja kemaren saya tertegun ketika membaca buku “Secret of Power Negotiating”, di dalam buku itu, Roger Dawson menulis,”apakah lawan CINTA itu adalah BENCI ??” , Tidak !! katanya, Lawan CINTA itu adalah KETIDAKPEDULIAN…

Bagi seorang Pecinta, kebencian dari sang kekasih itu lebih berharga dari pada KETIDAKPEDULIAN dari yang dicintainya…

Seseorang bersyair..
“ya kekasih…dari pada engkau memalingkan wajahmu dariku, lebih baik, sakiti aku dan marahi aku dan bencilah aku…itu lebih baik..sebab kemarahanmu, dan kebencianmu, itu adalah salah satu bentuk kepedulianmu kepadaku”

hati seorang pecinta..
lebih memerlukan kepedulian dari yang dicintai..
dari pada ketidak peduliannya..
baikpun kepedulian itu berwujud kasih sayang yang dicintainya…
ataupun kepedulian itu berwujud amarah dan bencinya…
Wallahu a’lam.

Sumber:

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=128

http://robbyalfarisi.blogspot.com/2008/06/filsafat-cinta.html

www.huttaqi.com


Posted in Uncategorized

FILSAFAT HIDUP NYATA

FILSAFAT
Hidup antara Nyata dan Tak Nyata
Oleh: Ading Nashrulloh

Saudaraku….
Hidup di satu sisi adalah begitu tak nyata, karena tidak terasa. Hari kemarin dengan segala kenangan nikmat dan sakit sudah terlupakan lagi. Hari esok yang indah dan penuh harapan hanyalah bayangan yang entah kita sampai padanya ataukah tidak. Sedangkan detik-detik yang saat ini sedang kita jalani, yang berlalu tak dapat kita raih kembali, dan yang di depan datang begitu cepatnya, tak sedikit pun kita memiliki kekuasaan untuk mengendalikannya. Bahkan hakikatnya kita sedang berjalan menuju kematian dan ketiadaan di muka bumi secepat berjalannya detik itu.

Saudaraku…
Tetapi juga, mestilah kita ingat. Sekalipun demikian. Hidup adalah kenyataan. Setiap detik adalah suatu kenyataan. Suatu kenyataan yang amat pasti. Apakah itu yang sudah berlalu, apakah itu yang sedang kita nikmati saat mengetik atau membaca tulisan ini. Ataupun detik-detik yang akan datang sampai detik yang terakhir yang telah dijatahkan untuk kita. Semua detik-detik itu merekam. Merekam setiap pandangan mata kita, desahan nafas, lintasan hati dan fikiran, gerak dan tingkah laku kita, tanpa satu hal kecil pun yang dlewatkan. Merekam apapun dari dan tentang diri kita.

Saudaraku…..
Hidup ini adalah kenyataan senyata-nyatanya, karena satu alasan saja. Di mana alasan itu apabila kita telah hadir di waktunya, tak ada lagi kata untuk memungkiri. Alasan itu adalah tanggung jawab atas perbuatan kita di dunia ini, atas waktu, harta, ilmu,…Alloh akan membukakan, membacakan, menampakkan segala apa yang pernah kita tulis, kita ucapkan, kita perbuat. Peristiwa itu adalah kenyataan akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi perkaranya, kepastiannya, lebih pasti ketimbang apakah esok sahabat akan FB-an lagi apa tidak. Sekalipun telah diniatkan dan pulsa HP pun masih banyak.

Saudaraku….
Itu artinya jika engkau berfikir saat buka File ini begitu nyata di dalam detik ini. Ingat senyata itulah al-mashir. Tempat kita akan pulang. Negri akhirat. Negri akhirat itu lebih nyata dari sekedar nyatanya engkau membaca tulisan ini. Detik ini engkau sadar bahwa engkau sedang membaca tulisan ini. Tetapi esok lusa engkau pasti sudah terlupa lagi. Karena sibuk dengan urusan dunia yang amat banyak aneka ragamnya ini. Sedangkan tak ada satu hal pun nanti di akhirat yang tidak lagi sebagai masa lalu ataupun masa depan. Sebagai kenangan ataupun bayangan.

Saudaraku….
Kembalilah kepada pangkuan Rabbmu yang telah menciptakan dirimu. Yang telah berikan pada kamu banyak perkara yang tiada dapat di beli di dunia ini. Pertama adalah penciptaan dirimu yang demikian agung. Kedua, adalah akal fikiran dan kemerdekaan. Ketiga adalah hidayah di dalam hati sanubarimu. Keempat adalah ibumu yang begitu sayang padamu. Kelima adalah dunia dengan segenap isinya. Keenam adalah sahabat-sahabatmu. Dan ketujuh adalah janji balasan dari sisi Allah berupa surga jika engkau mengikuti hidayahNya. Itu hanyalah sekedar gambaran umum saja dari tiada terkira banyaknya nikmat Alloh yang kau nikmati.

Saudaraku….
Kembali kepada Rabbmu, bukan untuk keperluan Dia yang Esa. Tetapi untuk kita sendiri. Agar engkau menjadi orang yang bertakwa. Tahukan engkau siapa yang orang yang bertakwa itu ? Itulah orang yang Allah alamatkan Al-Quran diturunkan ke muka bumi. Tidak ada yang lain alamat yang dituju oleh Al-Quran selain orang yang bertakwa. Ketika engkau bertakwa maka engkau menjadi hamba yang paling mulia di sisi-Nya. Dan ketika engkau berpaling dari Al-Quran maka engkau menjadi hamba yang paling hina di sisi-Nya. Karena itu luangkan waktu, luangkan detik-detikmu sahabat untuk kembali kepada Rabbmu dengan membaca Al-Quran. Kau kuatkan dirimu FB-an hingga 4 jam, 7 jam, 14 jam…..dalam sekali duduk…..sekarang saatnya duduk di hadapan Rabb penciptamu dengan membaca Al-Quran 4 jam, 7 jam, 14 jam……..sekali duduk.

Saudaraku…
Aku yang menulis file ini, tidak membenci FB. Karena ia memberiku angin segar yang mengingatkan kepada malaikat Roqin dan Atid. Malaikat yang mencatat segala perbuatan baik atau jelek kita untuk dilaporkan pada Alloh di al-Mashir nanti. Maka aku hitung setiap nikmat Tuhan yang aku peroleh. Betapa banyak sekali. Maka aku hitung amal-amalanku, aduhai betapa tiada makna yang bisa mengimbangi besarnya nikmat yang kuterima itu. Agar aku sadar bahwa jika di FB apapun yang kita tulis ada rekamannya, jauh lebih canggih lagi pencatatan dua malaikat utusan Alloh itu atas apapun yang aku perbuat dan aku lakukan. Dan ini bukti bahwa hidup adalah suatu kenyataan, bukan kenangan atau bayangan, karena semua ada catatannya yang akan jadi suatu kenyataan senyata-nyatanya di al-mashir.

Saudaraku…

Yang jelas Rabb yang kita diperintahkan untuk beribadah kepadanya dan bertakwa kepadanya adalah Rabb yang telah pasti, Dia adalah Alloh. Dia yang membikinkan untuk kamu bumi yang rata, dan langit yang menaungi kita dari sejuta bencana. Dia pulalah yang menurukan air hujan dari langit itu, sehingga dari bumi tumbuh berbagai buah-buahan yang dapat kita makan. Menjadi rejeki. Hingga kamu bisa membeli HP yang bisa buka FB.

Saudaraku…
Hidup adalah kenyataan. Dan senyata-nyata hidup kita adalah kita ini tidak bijaksana. Kita tahu tetapi tidak kita amalkan. Kita tahu bahwa sesuatu itu benar, tetapi kita lemah kekuatan lemah kemauan untuk membela, mengangkat, menghidupkannya untuk kematian kita. Kita tahu sesuatu itu salah tetapi kita lemah kemauan dan kekuatan untuk menghantamnya sehingga ia merasuki setiap jiwa yang awalnya bersih putih. Itulah kita, kenyataan kita, tidak bijaksana. Sampai Alloh berujar : falaa taj’alu lillahi andad waantum ta’lamuun! Betapa kita selama ini terlampau terpukau dengan akal fikiran kita, ilmu kita, filsafat kita, sampai-sampai Al-Quran yang Alloh turunkan sebagai petunjuk hidup untuk mengukir dunia lebih indah dan untuk agar nasib kita di al-Mashir nanti baik-baik saja, kita abaikan, kita dustakan…..astaghfirullohalazhiim.

Saudaraku……
Ucapan kita yang keluar adalah aku beriman kepada Al-Quran. Tetapi sebenarnya yang terjadi adalah….kita ragu. Mana buktinya? Pertama: sudahkah engkau penuhi syaratnya, yaitu menjadi Mutaqin? Sudahkan engkau tegakkan kandungan Al-Quran dalam hidupmu? Kedua: jika Alloh masih bertanya hingga sekarang: jika kamu ragu tentang al-Quran buat yang serupa dengan al-Quran dan mintakan tolong pada saudara-saudaramu jika kamu benar. Ini kan kerjaan kita suka bikin berjuta alasan yang kita pandang benar 100%, yang dengan pongah pula diutarakan, bahwa tidak perlu semua hukum al-Quran diikuti. Lebih wibawa jika kita ikuti saja yang semua yang datang dari Barat…..

Saudaraku…
Barat dengan peradabannya yang memukau manusia saat ini, memang suatu kenyataan. Tetapi jangan lupa ia akan tinggal jadi kenangan.

Saudaraku…..
Dan Peradaban Islam akan memegang kembali tampuk kekuasaan atas muka bumi. Apa engkau tidak percaya?

Saudaraku…..
Hati-hati dengan neraka, bahan bakarnya batu dan manusia….(dan dintaranya siapa saja yang berkiblat ke Barat).

Saudaraku…..
Berikan kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa: beriman dan beramal sholeh bahwa bagi mereka adalah Surga…….


Posted in Uncategorized
Tags:

FILSUF MUSLIM

FILSUF ABAD PERTENGAHAN

I. PENDAHULUAN Seorang filosof yang lahir dan di besarkan dalam keluarga muslim akan dinamakan seorang muslim, akan tetapi pandangan dan kepercayaannya mungkin saja Bid’ah, inilah yang disebut dengan “Filusuf Muslim”. Filusuf Islam adalah orang yang mengambil inspirasinya dari al-Qur’an dan Sunnah, serta pandangan-pandangan filsafatnya sesuai sepenuhnya dengan pandangan-pandangan yang diuraikan didalam al-Qur’an dan Sunnah tersebut. Filusuf Muslim lahir berkat masuknya pemikiran Yunani ke dalam permikiran Arab, hanya melalui penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa kaum muslim dirangsang dan dipaksa untuk berfikir. Oleh karena itu banyak ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui karya-karya itu. Adapun karya-karya itu bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam. Para filusuf muslim membedakan antara ilmu yang berguna dan ilmu yang tak berguna dan kedalam ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu-ilmu duniawi. Adapun tujuan para filusuf muslim adalah untuk memberikan kepada dunia suatu teori lengkap mengenai kesatuan kosmos yang tidak hanya memuaskan akal pikiran, akan tetapi juga perasaan keagamaan.[1] II. PEMBAHASAN Adapun para filusuf muslim itu adalah : pada pemaparan makalah ini kami akan membahas beberapa para filusuf muslim abad pertengahan. a. Al-Ghazali Nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di Thus tahun 450 H / 1058 M.[2] Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna. Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral.[3] b. Ibnu Khaldun Nama lengkapnya Abdurrahman Abu Zain Waliuddin bin Muhammad bin Khaldun al-Maliki, dilahirkan di kota Tunnisia pada awal Ramadhan tahun 732 H / 27 Mei 1333 M.[4] Dasar sejarah filsafatnya adalah : 1. Hukum sebab akibat yang menyatakan bawa semua peristiwa, termasuk peristiwa sejarah, berkaitan satu sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab akibat. 2. Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita saja akan tetapi juga kepada tabiat zaman. Karena hal ini para cendekiawan memberinya gelar dan titel berdasarkan tugas dan karyanya serta keaktifannya di bidang ilmiah, yaitu :[5] 1. Sarjana dan filosof besar 6. Ahli Hukum 2. Ulama Islam 7. Politikus 3. Sosiolog 8. Sastrawan Arab 4. Pedagang 9. Administrator dan organisator 5. Ahli sejarah c. Sayyid Ahmad Khan Dia adalah seorang pendekar besar nasionalisme dan ia berpendapat bahwa Islam adalah agama akal. Ia menolak segala hal dalam agama yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya.[6] Pada waktu itu golongan muslim menolak belajar bahasa Inggris, dan mereka menganggap sebagai murtad untuk belajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang didirikan oleh bangsa Inggris. Sehingga pendidikan mereka jauh tertinggal dari golongan Hindu yang memenuhi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Inggris dan mengejar pengetahuan modern dengan penuh semangat. Maka dengan adanya hal itu Ahmad Khan punya tugas yang sulit yaitu : 1. Ia harus meyakinkan bangsa Inggris bahwa golongan muslim itu tidak loyal 2. Ia harus membujuk golongan muslim agar belajar bahasa Inggris dan melengkapi dirinya dengan pengetahuan modern Dengan tugas ini maka ia berusaha menghilangkan antipati golongan muslim terhadap bahasa Inggris dan pengetahuan modern melalui pidatonya dan dengan jalan mendirikan Aligarh School yang menjadi Aligarh University. d. Al-Kindi Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash‘ats bin Qais al-Kindi. Ia seorang filosof muslim yang pertama. Kindah adalah salah satu suku Arab yang besar pra-Islam. Kakeknya Al-Ash’ats ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW. Al-Ash’ats bersama beberapa perintis muslim pergi ke kufah, tempat ia dan keturunannya mukim. Ayahnya adalah Ishaq al-Sabbah menjadi gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Basyid. Kemungkinan besar al-Kindi lahir pada tahun 185 H / 801 M.[7] Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berderajat tinggi, kaya akan kebudayaan dan terhormat. Ia tidak tertarik unutk menjadi politikus dam prajurit – meneruskan jejak ayahnya – tetapi panggilan ilmu pengetahuan menyedotnya hingga ia pindah ke Kufah dan Basrah – pusat ilmu pengetahuan – dan Baghdad. Menurut al-Kindi filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam, oleh karena itu para sejarawan Arab awal menyebutnya “filosof Arab”. Menurutnya batasan filsafat yang ia tuangkan dalam risalahnya tentang filsafat awal adalah “filsafat” adalah pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran dan dalam prakteknya ialah menyesuaikan dengan kebenaran. e. Al-Farabi Nama lengkapnya Abu Nash al-Farabi, lahir pada tahun 258 H / 870 M di Farab, meninggal pada tahun 339 H / 950 M. Sejarah mencatatnya sebagai pembangun agung sistem filsafat, dimana ia telah membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat.[8] Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskosi, keterangan dan penalarannya. Unsur-unsur penting filsafatnya adalah : 1. Logika 2. Kesatuan filsafat 3. Teori sepuluh kecerdasan 4. Teori tentang akal 5. Teori tentang kenabian 6. Penafsiran atas al-Qur’an. f. Ibnu Sina Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370/980 – 428/1037), dalam banyak hal unik sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci – suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama beberapa abad.[9] Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Huseyn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Siena. Ia lahir didalam masa kekacauan pada bulan Safar 370 H / Agustus 910 M didesa Afshanah dekat kota Kharmaitan, kabupaten baikh, wilayah Afghanistan Propinsi Bukhara (Rusia) ibunya bernama Asfarah, ayahnya Abdullah seorang gubernur dari suatu distrik di Bukhara pada masa Samaniyyah – Nuh II bin Mansur.[10] III. ANALISIS Dari pemaparan makalah diatas, saya sedikit dapat menganalisa tentang berbagai pemikiran-pemikiran para filusuf muslim. Sebenarnya pemikiran dari beberapa filusuf muslim yang saya contohkan diatas kebanyakan dari mereka membahas mengenai ilmu pengetahuan. Memang ketika kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan pasti tidak lepas dari akal, karena melalui akal pikiranlah suatu ilmu pengetahuan itu dimunculkan, akan tetapi semua itu tidak terlepas dari faktor lingkungan tempat dimana dia berada. Masing-masing pemikirannya berbeda-bedaantara filusuf yang satu dengan filusuf yang lainnya. Akan tetapi pada intinya adalah satu yaitu menuju ke arah perkembangan ilmu pengetahuan. IV. KESIMPULAN Setelah melihat uraian yang ada diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang tidak luput dari ilmu pengetahuan yang tumbuh melalui akal pikiran, sehingga tercapai sesuatu yang diinginkan dan tidak mengandalkan dari keturunannya untuk dapat meraih cita-citanya. Dengan pemikirannya itu misalnya Ibnu Sina menemukan ilmu kedokterannya. DAFTAR PUSTAKA Akhyar Dasoeki, Thawil, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993. Chabib Thoha, M. dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996. Ibnu Rush, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998. Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993. Qadir, C. A., filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991. Syarif, M. M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996. [1] C. A Qadir, filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, hlm 15. [2] Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993, hlm 95. [3] Abidin ibn Rush, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm 53. [4] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993, hlm 97. [5] Ibid, hlm 99. [6] M. Chabib Thoha, dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996. [7] M. M Syarif, Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996, hlm 11. [8] Ibid, hlm 15. [9] Ibid, hlm 43. [10] Thawil Akhyar Dasoeki, Op.Cit., hlm 34. sumber : http://www.kampusislam.com


Posted in Uncategorized

FILSAFAT ANTROPOLOGI (Bag.2)

FILSAFAT ANTROPOLOGI (Bag.2)

Filsafat Manusia secara umum bertujuan menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies). Adapun secara spesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi manusia. Jadi, mempelajari filsafat manusia sejatinya adalah upaya untuk mencari dan menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu?

Obyek kajiannya tidak terbatas pada gejala empiris yang bersifat observasional dan atau eksperimental, tetapi menerobos lebih jauh hingga kepada gejala apapun tentang manusia selama bisa atau memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional.

Metodenya: (1) Sintesis, yakni mensintesakan pengetahuan dan pengalaman kedalam satu visi yang menyeluruh tentang manusia; (2) Refleksi, yakni mempertanyakan esensi sesuatu hal yang tengah direnungkan sekaligus menjadikannya landasan bagi proses untuk memahami diri sendiri (self understanding).

Cirinya: (1) Ekstensif, yakni mencakup segala aspek dan ekspresi manusia, lepas dari kontekstualitas ruang dan waktu. Jadi merupakan gambaran menyeluruh (universal) tidak fragmentaris tentang realitas manusia; (2) Intensif, yakni bersifat mendasar dengan mencari inti, esensi atau akar yang melandasi suatu kenyataan; dan (3) Kritis, atau tidak puas pada pengetahuan yang sempit, dangkal dan simplistis tentang manusia. Orientasi telaahnya tidak berhenti pada “kenyataan sebagaimana adanya” (das Sein) tetapi juga berpretensi untuk mempertimbangkan “kenyataan yang seharusnya atau yang ideal) (das Sollen).

Manfaatnya, secara: (1) Praktis, mengetahui tentang apa atau siapa manusia dalam keutuhannya, serta mengetahui tentang apa dan siapa diri kita ini dalam pemahaman tentang manusia tersebut; dan (2) secara Teoritis, untuk meninjau secara kritis beragam asumsi-asumsi yang berada di balik teori-teori dalam ilmu-ilmu tentang manusia.

Diharapkan dengan mempelajari filsafat manusia, seseorang akan menyadari dan memahami tentang kompleksitas manusia yang takkan pernah ada habisnya untuk senantiasa dipertanyakan tentang makna dan hakikatnya. Sejauh “misteri” dan “ambiguitas” manusia ini disadari dan dipahami, seseorang akan menghindari sikap sempit dan tinggi hati.

http://peziarah.wordpress.com/2007/02/02/pengantar-filsafat-manusia/

Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan hak istimewa dari sampai batas tertentu memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam. Manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia.

Kesulitan Bagi Suatu Filsafat Manusia
Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia. Para filsuf mangatakan dan menimbulkan berbagai pendapat. Bagi Platon dan Platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicura dan Lekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Descartes mengambarkan manusia sebagai terbetuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa.

Apakah manusia itu, dan darimana datangnya manusia, tempat apakah yang didudukinya dalam alam semesta yang luas, darimana manusia datang dan untuk apakah ia ditakdirkan.

Manusia mampu mengetahui dirinya dengan kemampuan berpikir yang ada pada dirinya. Manusia menghasilkan pertanyaan tentang segala sesuatu. Filsafat lahir karena berbagai pertanyaan yang diajukan oleh manusia. Ketika Manusia mulai menanyakan keberadaan dirinya, filsafat manusia lahir dan mempertanyakan, “siapakah Kamu Manusia?” Manusia bisa memikirkan dirinya, tapi apakah tujuan pertanyaan yang diajukannya. Keberadaan dirinya diantara yang lain yang membuat menusia perlu mendefinisikan keberadaan dirinya.

Apabila pernyataan bahwa manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia. Hakikat diri manusia tidak akan muncul ketika tidak terdapat pembanding diluar dirinya. Sesuatu yang baik dan buruk pada manusia menunjukkan dirinya ada dinilai diantara keberadaan yang lain.

http://phadli23.multiply.com/journal/item/10/filsuf

Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak
mempunyai kesadaran. Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.

Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di dalam badan – itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung
pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara “roh” dan “materi”. Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah.

Namun pikiran dapat bekerja tanpa tergantung pada badan (jika aku
merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada
badan.

Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan. Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif – termasuk agama – harus mendarah daging dalam si individu. Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku.

http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/1910

Menurut tinjauan kefilsafatan manusia adalah makhluk yang bertanya, dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang mempertanyakan dirinya sendiri dan keberadaannya. Dalam hal ini manusia mulai tahu keberadaannya dan menyadari bahwa dirinya adalah penanya.

Apabila ditinjau dari segi dayanya, maka jelaslah manusia memiliki dua macam daya. Disatu pihak manusia memiliki daya untuk mengenal dunia rohani, yang nous, suatu daya intuitip, yang kerena kerjasama dengan akal menjadikan manusia dapat memikirkan serta membicarakan hal-hal yang rohani. Di lain pihak manusia memiliki daya pengamatan (aisthesis), yang karena pengamatan yang langsung yang disertai dengan daya penggambaran atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pengamatan.

Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh, yang keduanya dapat berdiri sendiri-sendiri. Jiwa berada dalam tubuh seperti terkurung dalam penjara dan hanya kematian yang dapat melepaskan belenggu tersebut.

Tujuan kefilsafatan manusia diatas menitik beratkan pada dayanya, manusia sebagai idea, yaitu sebagai manusia yang tak bertubuh. Telah ada kekal sejak logos, jiwa dibedakan antara jiwa sebagai kekuatan hidup (psuke) dan jiwa sebagai kekuatan akali (nous, dianoia, psuke logike). Jiwa sebagai kekuatan hidup berada dalam darah dan tidak dapat binasa. Jiwa yang besifat akali ayau nous lebih tinggi tingkatannya karena merupakan jiwa yang bersifat ilahi. Sebelum manusia dilahirkan jiwa ini sudah ada jiwa ini tidak dapat binasa. Ia memasuki tubuh dari luar. Di dalam tubuh jiwa itu dipenjara. Karena itu hidup di dunia ini adalah kejahatan. Kematian merupakan wujud suatu kebebasan, dimana manusia orang dibangkitkan kepada hidup yang sejati dan kepada kebebasan.

Menurut Fichte manusia secara prinsipil adalah makhluk yang bersifat moral yang di dalamnya mengandung suatu usaha. Di sinilah manusia perlu menerima dunia di luar dirinya. Sikap seperti ini dapat menjadikan manusia menyadari dirinya sendiri dan usaha untuk membatasi dirinya sendiri dari masyarakat luas.

Hakikat pemikiran para filsuf tentang manusia pada umumnya mengacu kepada hakikat manusia itu sendiri. Menurut Kierkegaard, pertama-tama yang penting bagi manusia adalah keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Akan tetapi eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” melainkan suatu “menjadi”, yang mengandung di dalamnya suatu perpindahan, yaitu perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan.

Materialisme telah diawali sejak filsafat Yunani yakni sejak munculnya filsuf alam Yunani, kemudian kaum Stoa dan Epikurisme. Paham ini mulai memuncak pada abad ke-19 di Eropa. Materialisme ekstrim memandang bahwa manusia terdiri dari materi belaka.

Seorang tokoh filsafat alam (Anaximandros) memberikan pandangan tentang manusia. Anaximandros mengatakan tidak mungkin manusia pertama timbul dari air dalam rupa anak bayi. Anaximandros beranggapan bahwa manusia-manusia pertama tubuh di dalam badan seekor ikan, kemudian bilamana manusia-manusia pertama mampu memelihara hidupnya sendiri, mereka dilemparkan di atas daratan. Ia mendasari anggapannya atas observasi (walaupun tidak tepat) pada seekor ikan hiu (gaelus levis) di laut Yunani.

Pandangan Lemettrie (1709-1751) sebagai pelopor materialisme menyebutkan bahwa manusia tidak lain adalah binatang, binatang tak berjiwa, material belaka, jadi manusia pun material belaka. Kesimpulannya : bahan bergerak sendiri, adapun yang disebut orang sebagai pikiran itupun merupakan sifat material, terutama kerja atau tindakan otak. Dalam gerak-geriknya manusia itu sungguh-sungguh seperti mesin. Materialisme ini dalam antropologia disebut materialisme ekstrim, karena aliran ini mengingkari kerohanian dalam bentuk apapun juga, malahan mengingkari adanya pendorong hidup.

Kebalikan dari meterialisme adalah idealisme. Dalam pandangan ini semuanya membedakan manusia dari binatang ; bukanlah manusia itu material belaka. Meskipun diakui juga, bahwa manusia ada samanya juga dengan binatang jadi manusia pun mempunyai kebinatangan tetapi dalam pada itu adalah bedanya yang mengkhususkan dia, yang sama sekali melainkan dia dari binatang. Kelainan ini bukanlah perbedaan tingkatan saja, melainkan mengenai jenisnya istimewa: kemanusiaannya.

Dalam idealisme terdapat beberapa corak, yaitu : idealisme etis, idealisme estetik ; dan idealisme hegel.

Adapun paham rasionalisme dan irrasionalisme bukanlah paham yang saling bertentangan seperti paham materalisme dan idealisme. Pelopor rasionalisme adalah Rene Descartes yang menyatakan bahwa manusia terdiri dari jasmaninya dengan keluasannya (extensio) serta budidan kesadarannya. Sedangkan yang dimaksud dengan pandangan manusia yang irrasionalistis ialah pandangan-pandangan :

a. Yang mengingkari adanya rasio;

b. Yang kurang menggunakan rasio walaupun tidak mengingkarinya

c. Terutama pandangan yang mencoba mendekati manusia dari lain pihak serta, kalau dapat dari keseluruhan pribadinya.

Teranglah bahwa penggolongan filsafat manusia dalam rasionalisme-irrasionalisme bukanlah penggolongannya yang lain sekali dari penggolongan : idealisme-materialisme : ini hanya pandangan dari sudut lain. Dengan demikian semua aliran materialisme harus dimasukkan kedalam aliran irrasionalisme.

Al-Quran Al-Karim dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu dan filsafat manusia, dapat disimpulkan mengandung tiga hal pokok:

Pertama, tujuan.

1. Akidah atau kepercayaan, yang mencakup kepercayaan kepada (a) Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya; (b) Wahyu, dan segala kaitannya dengan, antara lain, Kitab-kitab Suci, Malaikat, dan para Nabi; serta (c) Hari Kemudian bersama dengan balasan dan ganjaran Tuhan.
2. Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan keserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk antara lain gotong-royong, amanat, kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lain.
3. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan alam sekitarnya.

Kedua, cara.

Ketiga hal tersebut diusahakan pencapaiannya oleh Al-Quran melalui empat cara:

1. Menganjurkan manusia untuk memperhatikan alam raya, langit, bumi, bintang-bintang, udara, darat, lautan dan sebagainya, agar manusia –melalui perhatiannya tersebut– mendapat manfaat berganda: (a) menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan; dan (b) memanfaatkan segala sesuatu untuk membangun dan memakmurkan bumi di mana ia hidup.
2. Menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah untuk memetik pelajaran dari pengalaman masa lalu.
3. Membangkitkan rasa yang terpendam dalam jiwa, yang dapat mendorong manusia untuk mempertanyakan dari mana ia datang, bagaimana unsur-unsur dirinya, apa arti hidupnya dan ke mana akhir hayatnya (yang jawaban-jawabannya diberikan oleh Al-Quran).
4. Janji dan ancaman baik di dunia (yakni kepuasan batin dan kebahagiaan hidup bahkan kekuasaan bagi yang taat, dan sebaliknya bagi yang durhaka) maupun di akhirat dengan surga atau neraka.

Ketiga, pembuktian.

Untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh Al-Quran seperti yang disebut di atas, maka di celah-celah redaksi mengenai butir-butir tersebut, ditemukan mukjizat Al-Quran seperti yang pada garis besarnya dapat terlihat dalam tiga hal pokok:

1. Susunan redaksinya yang mencapai puncak tertinggi dari sastra bahasa Arab.
2. Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkannya.
3. Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya.

Melihat kandungan Al-Quran seperti yang dikemukakan secara selayang pandang tersebut, tidak diragukan lagi bahwa Al-Quran berbicara tentang ilmu pengetahuan. Kitab Suci itu juga berbicara tentang filsafat dalam segala bidang pembahasan, dengan memberikan jawaban-jawaban yang konkret menyangkut hal-hal yang dibicarakan itu, sesuai dengan fungsinya: memberi petunjuk bagi umat manusia (QS 2:2) dan memberi jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan (QS 2:213).
Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu

Sebelum berbicara tentang masalah tersebut, terlebih dahulu perlu diperjelas pengertian ilmu yang dimaksud dalam tulisan ini.

Al-Quran menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan” (QS 2:31-32). Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya.

Sementara ini, ahli keislaman berpendapat bahwa ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika.

Berbeda dengan klasifikasi ilmu yang digunakan oleh para filosof –Muslim atau non-Muslim– pada masa-masa silam, atau klasifikasi yang belakangan ini dikenal seperti, antara lain, ilmu-ilmu sosial, maka pemikir Islam abad XX, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua katagori:

1. Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang dapat diambil dari keduanya.
2. Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antarbudaya selama tidak bertentangan dengan Syari’ah sebagai sumber nilai.

Dewasa ini diakui oleh ahli-ahli sejarah dan ahli-ahli filsafat sains bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji oleh komunitas ilmuwan sebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap realitas atau kebenaran yang telah diterima oleh komunitas tersebut. Dalam hal ini, satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.

Di sinilah terletak salah satu perbedaan antara ajaran Al-Quran dengan sains tersebut. Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu meliputi batas-batas alam materi (physical world), karena itu dapat dipahami mengapa Al-Quran di samping menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen (QS 29:20), juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS 16:78).

Hal ini terbukti karena, menurut Al-Quran, ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, sehingga terhadapnya tidak dapat dilakukan observasi atau eksperimen seperti yang ditegaskan oleh firman-Nya: Maka Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat (QS 69:38-39). Dan, Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang tidak dapat kamu melihat mereka (QS 7:27).

Dalam definisi ini kita lihat bahwa konsep tentang “tempat yang tepat” berhubungan dengan dua wilayah penerapan. Di satu pihak, ia mengacu kepada wilayah ontologis yang mencakup manusia dan benda-benda empiris, dan di pihak lain kepada wilayah teologis yang mencakup aspek-aspek keagamaan dan etis.

Beberapa tahun lalu di Italia diadakan suatu permusyawaratan ilmiah tentang “cultural relations for the future” (hubungan kebudayaan di kemudian hari) dan ditemukan dalam laporannya tentang “reconstituting the human community” yang kesimpulannya, antara lain, sebagai berikut: “Untuk menetralkan pengaruh teknologi yang menghilangkan kepribadian, kita harus menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual.”

Apa yang diungkapkan ini sebelumnya telah diungkapkan oleh filosof Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Beliau menulis: “Kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual.”

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa salah satu pembuktian tentang kebenaran Al-Quran adalah ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti:

Dari sini ungkapan “agama dimulai dari sikap percaya dan iman”, oleh Al-Quran, tidak diterima secara penuh. Bukan saja karena ia selalu menganjurkan untuk berpikir, bukan pula hanya disebabkan karena ada dari ajaran-ajaran agama yang tidak dapat diyakini kecuali dengan pembuktian logika atau bukan pula disebabkan oleh keyakinan seseorang yang berdasarkan “taqlid” tidak luput dari kekurangan, tapi juga karena Al-Quran memberi kesempatan kepada siapa saja secara sendirian atau bersama-sama dan kapan saja, untuk membuktikan kekeliruan Al-Quran dengan menandinginya walaupun hanya semisal satu surah sekalipun (QS 2:23).

Bertrand Russel menjelaskan bahwa filsafat merupakan jenis pengetahuan yang memberikan kesatuan dan sistem ilmu pengetahuan melalui pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan, prasangka-prasangka dan kepercayaan. Hal ini disebabkan karena pemikiran filsafat bersifat mengakar (radikal) yang mencoba memberikan jawaban menyeluruh dari A-Z, mencari yang sedalam-dalamnya sehingga melintasi dimensi fisik dan teknik.

Objek penelitiannya ialah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik “ada yang umum” (ontologi ‘ilm al-kainat) maupun “ada yang khusus atau mutlak” (Tuhan). Atau, dengan kata lain, objek penelitian filsafat mencakup pembahasan-pembahasan logika, estetika, etika, politik dan metafisika.

Eksistensialisme mulai berbicara lagi: “Sebenarnya tak ada arah yang harus dituju, pergilah ke mana engkau sukai. Engkau mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu. Mari kita berpegang erat-eras pada kebebasan kita. Sosialisme telah merebut segala-galanya dan menyerahkan kepada negara. Agama juga mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan, sedangkan Tuhan di luar esensi manusia. Jadi agama juga menghalangi kebebasan manusia. Agama menipu para pengecut sehingga ia –demi mengalihkan manusia dari eksistensinya– menciptakan surga yang kekal di langit, dan –untuk memberikan rasa takut– neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Demikian antara lain pandangan Sartre, salah satu tokoh aliran ini.

Alexis Carrel, seorang ahli bedah dan fisika, kelahiran Prancis yang mendapat hadiah Nobel. Beliau menulis dalam buku kenamaannya, Man the Unknown, antara lain: “Pengetahuan manusia tentang makhluk hidup dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Manusia adalah makhluk yang kompleks, sehingga tidaklah mudah untuk mendapatkan satu gambaran untuknya, tidak ada satu cara untuk memahami makhluk ini dalam keadaan secara utuh, maupun dalam bagian-bagiannya, tidak juga dalam memahami hubungannya dengan alam sekitarnya.”

Selanjutnya, ia mengatakan: “Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ahli yang mempelajari manusia hingga kini masih tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-daerah yang tidak terbatas dalam diri (batin) kita yang tidak diketahui”.

Keterbatasan pengetahuan, menurutnya, disebabkan karena keterlambatan pembahasan tentang manusia, sifat akal manusia dan kompleksnya hakikat manusia. Kedua faktor terakhir adalah faktor permanen, sehingga tidaklah berlebihan menurutnya “jika kita mengambil kesimpulan bahwa setiap orang dari kita terdiri dari iring-iringan bayangan yang berjalan di tengah-tengah hakikat yang tidak diketahui.”

Dari segi pandangan seorang beragama, kiranya dapat dikatakan bahwa untuk mengetahui hal tersebut dibutuhkan pengetahuan dari pencipta Yang Maha Mengetahui melalui wahyu-wahyu-Nya, karena memang manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan atas peta gambaran Tuhan dan yang dihembuskan kepadanya Ruh ciptaanNya.

Al-Quran menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, Tuhan menghembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya (QS 38:71-72). Dengan “tanah” manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya, dan dengan “Ruh” ia diantar ke arah tujuan non-materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal oleh alam material.

Dimensi spiritual inilah yang mengantar mereka untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan sebagainya. Ia mengantarkan mereka kepada suatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas dan tanpa Akhir: wa anna ila rabbika Al-Muntaha — dan sesungguhnya kepada Tuhan-Mu-lah berakhirnya segala sesuatu (QS 53:42). Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan penuh kesungguhan menuju Tuhanmu dan pasti akan kamu menemui-Nya” (QS 84:6).

Dengan berpegang kepada pandangan ini, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup, bermakna, serta tak terbatas, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi “tanah”, dimensi material itu.

Filsafat materialisme dengan aneka ragam panoramanya berbicara tentang manusia. Dan demikian pula Al-Quran. Keduanya telah menjelaskan pandangannya. Keduanya telah mengajak manusia untuk menemukan dirinya, tapi yang pertama berusaha untuk menyeretnya ke debu tanah dari Ruh Tuhan, sedangkan Al-Quran mengajaknya untuk meningkat dari debu tanah menuju Tuhan Yang Mahaesa.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=99229334794

http://fuf-library.uinjkt.ac.id/artikel_detail.php?no=7


Posted in Uncategorized

MENGENAL IMMANUEL KANT

MENGENAL IMMANUEL KANT

Nama: Immanuel Kant
Lahir: April 22, 1724

Pada 1770, dia diangkat jadi Guru Besar Logika dam Metafisika di Konigsberg, dan pada 1781 dia menerbitkan karya terpentingnya, Critique of Pure Reason. Karya ini membuka bidang-bidang studi dan masalah-masalah baru pada zaman ketika kebanyakan orang bersiap-siap untuk pension. Namun bagi Kant, masa dua puluh tahun itu merupakan masa kerja keras tak kenal lelah disertai prestasi yang tak tertandingi.

Prestasinya yang laik dicatat adalah karya-karya terpentingnya berikut in: Prolegomena to Any Future Metaphysics (1783), Idea for a Universal Histosy (1784), Fundamental Principles of the Metaphysics of Morals (1785), Metaphisical Foundation of Natural Science (1986), edisi kedua Critique of Pure Reason (1787), dsb.

Kant meninggal pada 12 Februari 1804 di Konigsberg. Kepibadian Kant, atau setidaknya cukup terkenal .Kebanyakan orang yang tidak mengenal Kant tahu bahwa orang-orang di Konigsberg selalu melihatnya berjalan-jalan setiap sore pada jam yang sama.

Ia adalah seorang filsuf Jerman. Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:

* Apakah yang bisa kuketahui?
* Apakah yang harus kulakukan?
* Apakah yang bisa kuharapkan?

Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:

* Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indria. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
* Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
* Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.

Ketiga pertanyaan di atas ini bisa digabung dan ditambahkan menjadi pertanyaan keempat: “Apakah itu manusia?”

Sebagian besar bagian dari Kant’s bekerja alamat pertanyaan “Apa yang dapat kita tahu?” Jawabannya, jika hanya dapat menyatakan, bahwa kami adalah pengetahuan yang terpaksa untuk matematika dan ilmu alam, dunia empiris. Adalah mustahil, Kant berpendapat, untuk memperluas pengetahuan ke supersensible bidang spekulatif metafisika. Alasan yang memiliki pengetahuan kendala tersebut, Kant berpendapat, adalah bahwa pikiran berperan aktif sebagai salah satu fitur yang merupakan pengalaman yang menakjubkan dan membatasi akses ke dunia empiris ruang dan waktu.

Dalam rangka untuk memahami posisi Kant, kita harus memahami bahwa latar belakang filosofis dia untuk bertindak. Ada dua utama sejarah pergerakan pada awal periode modern filosofi yang memiliki dampak signifikan pada Kant: empirisme dan Rasionalisme. Sebuah pusat epistemik masalah untuk philosophers dalam pergerakan kedua adalah bagaimana kita dapat menentukan jalan keluar dari dalam perbatasan dari pikiran manusia dan segera diketahui isi pikiran kita sendiri untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia di luar kami. Empiricists yang berusaha untuk melakukannya melalui indera dan posteriori alasan. Rationalists yang berusaha untuk memperoleh menggunakan alasan yang diperlukan untuk membangun jembatan. Pemikiran tergantung pada pengalaman atau terjadi di dunia untuk memberikan informasi dengan kami.

Konon, kehidupan Kant sangat teratu seperti teraturnya kata kerja beraturan. Namun, seorang penulis Jerman, Johann Gottfried Herder memberikan gambaran kepribadian Kant yang lebih mendekati kebenaran, tidak suka menonjolkan keilmuannya, Prussian, dan Puritan.

referensi : http://watudhakon.info
dan id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant


Posted in Uncategorized

HEDONISME DAN KEHANCURAN UMAT

HEDONISME DAN KEHANCURAN UMAT

Sabda Rasulullah SAW, penyebab rusaknya umat ini berakar dari rasa cinta umat ini pada harta teramat besar. Karena ambisinya mengejar kesenangan dunia, umat Islam lupa pada tujuan hidup dan kehormatan yang diberikan oleh pencipta jagat raya, Allah SWT kepada umat ini. Kehormatan sebagai umat terbaik yang keluarkan ditengah-tengah manusia. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” Demikian Allah menyebutkan ‘khairu ummah’ dalam Surah Ali Imron (3) ayat 110.

Namun kini ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada. Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah? (http://lbipikaltim.org/index.php?option=com_content&view=article&id=55:edisi-10-tahun-ke-21430h&catid=34:buletin&Itemid=53)

Dalam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. “Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS an-Nahl:36)

Sebagai misal, Kaum ‘Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tiada siapa saja yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (QS Fusshhilat:15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS at-Taubah:25).

Dalam pandangan Islam, merajalelanya kemaksiatan, keangkuhan, dan kezaliman ada kaitannya dengan kondisi masyarakat, apakah Allah akan menurunkan rahmat atau azab kepada masyarakat tertentu. Inilah pandangan hidup setiap muslim, yang semestinya menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan para pejabat, tokoh-tokoh, dan pimpinan kaum Muslim.( http://www.adianhusaini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53:tanda-tanda-kehancuran-bangsa&catid=34:cap&Itemid=53)

Globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam. Kapitalisme global mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Paham-paham itu jelas langsung menusuk jantung ajaran Islam.

Pasca Perang Dingin, menurut Idris, satu-satunya kekuatan yang tersisa yang diharapkan mampu memberikan tantangan terhadap proyek globalisasi adalah dunia Islam. Ironisnya, sejak dulu, hingga kini, di kalangan Muslim, ada saja yang terpesona dengan pandangan dan jalan hidup Barat. Abdullah Cevdet, seorang tokoh sekuler Gerakan Turki Muda menyatakan: “Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya mau pun durinya sekaligus.” Banyak hal yang dapat dicontoh dari Barat. Tetapi bukan jalan sekular-liberal yang telah mengantarkan Barat pada relativisme dan skeptisisme kepada kebenaran agama. (http://www.hayatulislam.net/8216-jalan-kematian-8217-peradaban-barat.html)


Posted in Uncategorized
Halaman Berikutnya »