Filsafat Berfikir

HEDONISME DALAM PANDANGAN ISLAM | Agustus 16, 2009

HEDONISME DALAM PANDANGAN ISLAM

Ali Syariati, seorang ulama terkemuka timur tengah pernah berkata bahwa tantangan terbesar bagi remaja muslim saat ini adalah budaya hedonisme (kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup) yang seolah sudah mengurat nadi. Budaya yang bertentangan dengan ajaran islam ini digemari dan dijadikan sebagai gaya hidup (life style) kawula muda masa kini, kaya atau miskin, ningrat atau jelata, sarjana atau kaum proletar, di desa ataupun di kota seolah sepakat menjadikan hedonisme yang sejatinya kebiasaan hidup orang barat ini sebagai “tauladan” dalam pergaulannya. Firman Allah SWT, “…dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Huud: 116). Bahkan yang lebih meresahkan lagi budaya hedonisme seolah telah menjadi ideologi bagi kaum muda yang tidak tabu lagi untuk dilakukan. (http://www.banjar-jabar.go.id/redesign/cetak.php?id=1087)

Namun, ketika ada di ranah hubungan “bisnis” antarmanusia (hablumminannas), dirinya harus pula bisa bersikap hedonis, sosok manusia yang bernafsu menyukai kepentingan dunia dan gemar memburu kesenangan biologis. Dua peran itulah yang sebenarnya mencerminkan berlakunya prinsip religius yes, hedonis yes, atau agama tetap diperankan sebagai cermin dirinya yang berasal dan dibesarkan di lingkungan beragama, sementara ketika dirinya masuk di lingkaran pergaulan dunia selebriti, agama tak lagi harus diperankan sebagai kekuatan suci yang mengawalnya. Agama saat masuk dunia hedonis ini berhak dikalahkan atau dipinggirkan dan digantikan oleh gaya hidup berbingkaikan hedonisme. Prinsip tersebut tampaknya sedang memperoleh tempat tertinggi dalam tayangan televisi dewasa ini. Kata religius yes, hedonis yes seolah sudah melekat erat dalam konstruksi manajemen pertelevisian kita.(http://fh.unisma.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=85&Itemid=5)

Remaja saat ini masih banyak yang terpengaruh gaya hidup liberal dan hedonis. Ini menjauhkan dan mengeluarkan mereka dari gaya hidup yang beradab, yaitu dari hukum Allah yang menciptakan manusia.
Remaja sekarang ini tergilas arus hedonisme dan sulit keluar dari kondisi itu. Karena itu kami ingin mengajak para remaja muslimah untuk membebaskan diri mereka dengan Islam. Atas nama kebebasan, banyak remaja terjebak dalam pergaulan bebas, narkoba, aborsi, dan silau dengan gemerlapnya demokrasi liberalisme. Remaja sebagai generasi penerus bangsa harus diselamatkan, ujarnya. (http://hizbut-tahrir.or.id/2009/02/22/surabaya-kecam-hedonisme-remaja-ratusan-muslimah-hti-turun-ke-jalan/)

Sampai hari ini masih kita tememukan jejak-jejak kerajaan Demak. Wujud kebudayaan fisik yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini adalah Masjid Agung Demak dan makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Demak sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam masih tampak dengan keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru wilayah kabupaten Demak. Jama’ah-jama’ah pengajian juga hampir ada di setiap kampung. Kesenian bernuansa Islam masih sangat kental di wilayah kabupaten Demak, seperti rebana, kentrung, zipin, kaligrafi, seni baca Al-Qur’an dan lain-lain. Tapi Demak sekarang adalah Demak yang bingung memilih kebudayaannya. Antara budaya pesantren dengan budaya hedonis yang sedang mengejala. Generasinya adalah generasi yang resah antara kukuh dengan peninggalan masa lalu, berdiam diri bersedeku dalam pondok, atau ikut berjirak bersama alunan musik rock di lapangan Tembiring.Peci-peci itu telah dilepas, digantikan potongan rambut punk, baju koko dan sarung dilepas digantikan celana dan baju junkis. Jilbab pada kaum perempuannya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Generasi Demak saat ini adalah generasi yang resah dan gamang. Dulu, tempat ini menjadi salah satu pusat intelektualitas pesantren yang mengancam intelektualitas kejawen dan priyayi Majapahit. Sekarang Intelektualitas pesantren mendapat ancaman. Hedonisme, dan gaya hidup ‘gaul’ merebut sedikit demi sedikit namun pasti perhatian sebagian warga Demak. Pemindahan panitia penyelengara grebeg besar terakhir ini dari Pemkab menjadi swasta dengan tujuan pemenuhan target pendapatan agar lebih tingg membuktikan hal itui. Bintang tamu yang dihadirkan seperti dangdutan, Dara AFI, Didi Kempot tampak jelas bahwa unsur hiburan dan untung belaka yang ingin dicapai. Mengapa kesenian Demak asli, seperti kentrung, rebana, zipin, seni baca Al Qur’an, dan lomba kaligrafi tidak di munculkan? (http://citizennews.suaramerdeka.com/?option=com_content&task=view&id=597)

About these ads

Ditulis dalam Uncategorized

9 Komentar »

  1. mang kita harus waspada!!! terutama generasi muda kita, tulisan yang berguna bro… Lam kenal ja

    Komentar oleh peduli santri — Agustus 16, 2009 @ 12:06 pm

    • Betul kita musti waspada. Terimakasih atas kunjungannya. Sama-sama salamkenal lagi.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 16, 2009 @ 10:21 pm

      • ya mari kita jaga bersama para remaja kita ini.

        Komentar oleh Irwan Alfaruq — April 21, 2012 @ 7:43 am

  2. Islam adalah sebuah sistem hidup yang lengkap dan sempurna dari Allah bagi umat manusia seluruhnya.

    Dan diantara umat manusia ada yang beriman, dan ada yang kafir kepadanya.

    “Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

    Oleh karena itu, maka sudah pastilah terjadinya ketetapan itu atas umat manusia, bahwa mereka akan saling bermusuhan hingga hari kiamat.

    Oleh karena itu sudah pastilah berlaku diantaranya permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya hingga hari kiamat.

    Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.

    Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

    demikian pula orang kafir, tidak akan berhenti berusaha memadamkan cahaya Allah dimuka bumi.

    “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

    Komentar oleh Hamba Allah — Oktober 23, 2009 @ 4:54 am

    • Setuju. Kekuatan harus dicanangkan.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Oktober 31, 2009 @ 10:18 am

  3. Oleh karena itu tidak akan kita temui orang-orang yang beriman akan saling berkaih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.

    Komentar oleh Hamba Allah — Oktober 23, 2009 @ 5:25 am

  4. bla la…booo islam

    Komentar oleh songsang — Maret 19, 2011 @ 7:03 am

  5. Assalamualaikum, boleh saya minta izin guna bahan ini untuk tugasan pengajian..

    Komentar oleh Lily — Oktober 27, 2011 @ 10:37 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: