Filsafat Berfikir

perang pemikiran | Juli 29, 2011

Istilah perang pemikiran (ghazwul fikri) di berbagai media termasuk media online mencuat deras. Dengan menggunakan dalih kebebasan mengemukakan pendapat mereka mencoba mematahkan dan menerobos sendi-sendi Islam yang mana bila ajaran Islam tak dipahami betul oleh umat Islam akan menjadi mudah terbawa arus pola pikir mereka hingga membenarkan anggapan mereka. Dalam al quran, geliat kaum seperti ini telah dijelaskan sebagaimana potongan ayat : “….Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (Al Baqarah [2] : 217). Empat belas abad yang lalu, di saat Islam mencapai puncaknya, Rasulullah SAW telah memprediksikan tentang nasib ummat Islam di masa yang akan datang, sebagai tanda nubuwwah beliau. Nasib ummat Islam pada masa itu digambarkan oleh Rasulullah seperti seonggok makanan yang diperebutkan oleh sekelompok manusia yang lapar lagi rakus. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits: “Beberapa kelompok manusia akan memperebutkan kalian seperti halnya orang-orang rakus yang memperebutkan hidangan.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, ya Rasulullah?”. Jawab Rasul : “Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian waktu itu seperti buih lautan. Dan sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn”. Kemudian sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan penyakit wahn itu ya Rasulullah?”. Jawab beliau : “Cinta dunia dan takut mati”. Kita bisa membayangkan bagaimana nasib seonggok makanan yang menjadi sasaran perebutan dari orang-orang kelaparan yang rakus. Tentu saja dalam sekejap mata makanan yang tadinya begitu menarik menjadi hancur berantakan tak berbekas, lumat ditelan para pemangsanya. Demikian pula dengan kondisi ummat Islam saat ini. Ummat Islam menjadi bahan perebutan dari sekian banyak kepentingan yang apabila kita kaji lebih jauh ternyata tujuan akhirnya adalah sama, kehancuran ummat Islam ! Banyak pihak yang memusuhi kaum muslimin. Allah memberikan informasi kepada kita siapa saja musuh-musuh kaum muslimin. Ada beberapa kelompok besar manusia yang dalam perjalanan sejarah selalu mengibarkan bendera permusuhan dan perang terhadap kaum muslimin. Adapun kelompok-kelompok tersebut adalah: 1. Orang-Orang Yahudi dan Nashrani “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela terhadap kalian, sehingga kalian mengikuti jejak mereka…” (Al Baqarah [2] :120). 2. Orang-orang Musyrik “Sesungguhnya telah kalian dapati orang-orang yang paling besar permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik….” (Al Maidah [5] :82). 3. Orang-orang Munafik “Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa kamu benar-benar Rasulullah’. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya’, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta” (Al Munafiqun [63] : 1). “Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang yang ma’ruf dan menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasik” (At Taubah [9]: 67). Meskipun mereka (musuh-musuh Islam) itu nampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya di dalam memerangi kaum muslimin mereka bersatu padu melakukan konspirasi (persekongkolan) yang berskala Internasional. Mereka berusaha tanpa mengenal lelah dan berputus asa. “Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu….” (Al Baqarah [2] : 217). Ada dua jenis peperangan yang selalu mereka lancarkan terhadap ummat Islam, yaitu perang secara fisik (militer) dan perang secara non fisik (pemikiran), yang lebih dikenal dengan istilah ghazwul fikri. Metode Jitu Ketika cahaya Islam mulai menyebar luas meliputi wilayah Persi, Syiria, Palestina, Mesir dan menyeberang daratan Eropa sampai Spanyol, maka kaum Salibis, Yahudi dan orang-orang Paganis segera membendung laju kebenaran Islam. Mereka khawatir kalau cahaya Islam akan menerangi seluruh belahan dunia. Maka kemudian digelarlah peperangan yang panjang yang kita kenal dengan nama perang Salib. Selama perang salib yang berlangsung delapan periode itu, tak sekalipun ummat Islam dapat dikalahkan. Mereka berpikir keras bagaimana cara mengalahkan ummat Islam. Setelah melalui pemikiran yang panjang akhirnya mereka mengambil kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Gladstone, salah seorang perdana menteri Inggris, “Selama Al Qur’an ini ada di tangan ummat Islam, tidak mungkin Eropa akan menguasai dunia Timur”. Mereka selanjutnya menyusun langkah-langkah untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Dengan metode yang sistematis mereka memulai melancarkan serangan pemikiran yang berujud program-program yang dikemas dengan menarik. Sehingga tanpa disadari, ummat Islam sudah mengikuti mereka bahkan menjadi pendukung program-program yang mereka adakan. Di samping tipu daya yang berbentuk perang pemikiran, perusakan akhlaq, sekulerisasi sistem pendidikan serta penjajahan di negeri-negeri kaum muslimin yang telah dikuasai, mereka juga mengeruk seluruh kekayaan kaum muslimin. Hal itu berhasil mereka lakukan setelah melalui perjalanan panjang. Baca selengkapnya. Dibandingkan dengan perang fisik atau militer, maka perang pemikiran atau ghazwul fikri ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain: 1. Dana yang dibutuhkan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk perang fisik. 2. Sasaran tidak terbatas. 3. Serangannnya dapat mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. 4. Tidak ada korban dari pihak penyerang. 5. Sasaran yang diserang tidak merasakan bahwa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang. 6. Dampak yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang. 7. Efektif dan efisien. Sasaran Perang Pemikiran Yang menjadi sasaran perang pemikiran adalah pola pikir dan akhlaq. Apabila seseorang sering menerima pola pikir sekuler, maka iapun akan berpikir ala sekuler. Bila sesorang sering dicekoki paham komunis , materialis, fasis, marksis, liberalis, kapitalis atau yang lainnya, maka merekapun akan berpikir dari sudut pandang paham tersebut. Sementara itu dalam hal akhlak, boleh jadi pada awalnya seseorang menolak terhadap suatu tata cara kehidupan tertentu, namun karena tiap kali ia selalu mengkonsumsi tata cara tersebut, maka lama kelamaan akan timbul perubahan dalam dirinya. Yang semula menolak, akan berubah menjadi menerima. Dari yang sekedar menerima itu akan berubah menjadi suka. Selanjutnya akan timbul dalan dirinya tata sikap yang sama persis dengan mereka. Bahkan pada akhirnya ia akan menjadi pendukung setia tata hidup jahiliyah tersebut. Seperti contohnya adanya pergaulan bebas antara wanita dan pria yang bukan muhrim, seperti kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah bahaya perang pemikiran. Ia akan menyeret seseorang ke dalam jurang kesesatan dan kekafiran tanpa terasa. Ibaratnya seutas rambut yang dicelupkan ke dalam adonan roti, kemudian ditarik dari adonan tersebut. Tak akan ada sedikitpun adonan roti yang menempel pada rambut. Rambut itu keluar dari adonan dengan halus sekali tanpa terasa. Demikianlah, seseorang hanya tahu bahwa ternyata dirinya sudah berada dalam kesesatan, tanpa terasa! Ada beberapa jenis perang pemikiran, di antaranya : 1. Perusakan Akhlaq Dengan berbagai media musuh-musuh Islam melancarkan program-program yang bertujuan merusak akhlaq generasi muslim. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang tua renta sekalipun. Di antara bentuk perusakan itu adalah lewat majalah-majalah, televisi, serta musik. Dalam media-media tersebut selalu saja disuguhkan penampilan tokoh-tokoh terkenal yang pola hidupnya jelas-jelas jauh dari nilai-nilai Islam. Mulai dari cara berpakaian, gaya hidup dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan. Dengan cara itu, mereka telah berhasil membuat idola-idola baru yang gaya hidupnya jauh dari adab Islam. Hasilnya betul-betul luar biasa, banyak generasi muda kita yang tergiur dan mengidolakan mereka. Na’udzubillahi min dzalik! 2. Perusakan Pola Pikir Dengan memanfaatkan media-media tersebut di atas, mereka juga sengaja menyajikan berita yang tidak jelas kebenarannya, terutama yang berkenaan dengan kaum muslimin. Seringkali mereka memojokkan posisi kaum muslim tanpa alasan yang jelas. Mereka selalu memakai kata-kata; teroris, fundamentalis untuk mengatakan para pejuang kaum muslimin yang gigih mempertahankan kemerdekaan negeri mereka dari penguasaan penjajah yang zhalim dan melampui batas. Sementara itu di sisi lain mereka mendiamkan setiap aksi para perusak, penindas, serta penjajah yang sejalan dengan mereka; seperti Israel, Atheis Rusia, Fundamentalis Hindu India, Serbia, serta yang lain-lainnya. Apa-apa yang sampai kepada kaum muslimin di negeri-negeri lain adalah sesuatu yang benar-benar jauh dari realitas. Bahkan, sengaja diputarbalikkan dari kenyataan yang sesungguhnya. 3. Sekulerisasi Pendidikan Hampir di seluruh negeri muslim telah berdiri model pendidikan sekolah yang lepas dari nilai-nilai keagamaan. Mereka sengaja memisahkan antara agama dengan ilmu pengetahuan di sekolah. Sehingga muncullah generasi-generasi terdidik yang jauh dari agamanya. Sekolah macam inilah yang mereka dirikan di bumi Islam pada masa penjajahan (imperialisme), untuk menghancurkan Islam dari dalam tubuhnya sendiri. 4. Pemurtadan Ini adalah program yang paling jelas kita saksikan. Secara terang-terangan orang-orang non muslim menawarkan “bantuan” ekonomi; mulai dari bahan makanan, rumah, jabatan, sekolah, dan lain-lainnya untuk menggoyahkan iman orang-orang Islam. Bermain Tipu Muslihat Pastor Takly berkata: “Kita harus mendorong pembangunan sekolah-sekolah ala Barat yang sekuler. Karena ternyata banyak orang Islam yang goyah aqidahnya dengan Islam dan Al Qur’an setelah mempelajari buku-buku pelajaran Barat dan belajar bahasa asing”. Samuel Zwemer dalam konferensi Al Quds untuk para pastor pada tahun 1935 mengatakan: “Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang- orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah- belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian”. Jadi, Berhati-hatilah! Begitu banyak perang pemikiran yang ada seharusnya tak membuat kita lengah. Banyak-banyaklah kita menambah wawasan dan keilmuan tentang Islam (baca selengkapnya) karena mereka sendiri juga menyerang dari segi ilmu Islam dengan pengertian mereka sendiri. Jangan pedulikan anggapan dan pemikiran fiktif mereka. Pemikiran mereka sebenarnya adalah pemikiran yang lemah dan tak berarti apa-apa jika landasan iman dan pengetahuan kita tentang Islam telah kuat. Karena sesungguhnya akal manusia selamanya tak akan mungkin mampu mengalahkan wahyu yang datang dari Tuhan semesta alam, yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam bish showab.*** http://firmanazka.blogspot.com/2010/11/waspada-perang-pemikiran-ghazwul-fikri.html Banyak orang Islam yang mengambil teori2 orang non Islam untuk mengatasi stres, padahal Islam sudah memberikan solusi TERBAIK untuk menghindari dan ‘mengatasi’ (me-manage) stres. Ditengarai, kurangnya pemahaman ttg Islam, yg mengakibatkan mereka mengambil cara non Islam untuk mengatasi masalah yg mereka hadapi. Ada yg mendefinisikan GF = sebuah gerakan yg dilakukan oleh kaum kuffar (orang kafir, orang di luar Islam) sebagai upaya untuk menyerang Islam dengan menghancurkan pikiran umat. Tindakan-tindakan yg dilakukan berupa: – Tasywih = memalsukan ajaran Islam – Tadhlil = menyesatkan umat Islam – Tasykik = menebarkan keraguan terhadap ajaran Islam Ketiga tindakan ini dilakukan tidak lain untuk memadamkan cahaya agama Islam. Beberapa tindakan nyata yg telah mereka lakukan dan propagandakan: – Tidak mau menerapkan syariat (hukum) Islam, dg berbagai alasan. Semestinya mereka membaca dulu apa itu syariat Islam. – Al Qur’an = kitab porno – Jilbab = budaya Arab Jika kita perhatikan, kemunduran umat Islam terjadi karena faktor-faktor berikut: – Pertentangan politik. Gontok2an sesama pemimpin Islam mengakibatkan politik diambil alih/dikuasai oleh non Islam. Ujung2nya, umat Islam menderita (lagi). – Pertentangan mazhab akibat fanatisme (berlebihan), kebodohan (pengikut) dan hawa nafsu (pemimpin2nya). – Pengaruh agama2 terdahulu. Sebagai contoh, umat Islam di Indonesia begitu kental ‘warnanya’ (dalam cara beribadah) akibat pengaruh Hindu. – Serangan asing (non muslim), berupa gerakan militer dan perlawanan pemikiran. GF dilakukan oleh orang2 kafir dengan tujuan: – menghambat kemajuan umat Islam. Umat Islam cukup jadi pengekor barat…jangan sampai jadi pemimpin (dunia). – menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah. – mengeluarkan umat Islam dari ajaran Islam (yg telah dipelajarinya). – (upaya terakhir adalah) membuat murtad kaum Islam (umat Islam keluar dari agama Islam). Fenomena terbaru GF adalah: 1. Pemalsuan Islam, dilakukan dg cara: – memalsukan Al Qur’an. Artikel lain ada di sini. – memalsukan As Sunnah (termasuk di dalamnya hadits2) – memalsukan pribadi Rasululloh SAW (termasuk dg menghina, melecehkan, membuat gambar kartun/karikatur Rasululloh SAW) – memalsukan sejarah Islam (dg mengabaikan ilmuwan2 Islam atau mengaburkan fakta2) – memalsukan sistem kehidupan Islam (tidak mementingkan syariat Islam) 2. Pembaratan Islam (mengajak kaum Muslim bergaya hidup seperti orang barat) – penetapan dan perubahan kurikulum pendidikan – penyebaran kehidupan sosial ala barat Sendi-sendi yang menjadi akar GF: – Zionisme – Kristenisasi – Kolonialisme (bekerjasama dg zionisme, kristenisasi, orientalisme) GF menggunakan beberapa sarana berikut sebagai upaya untuk menyebarluaskan paham mereka: – Pendidikan – Sosial – Media cetak dan elektronik – Pusat kebudayaan – (masih banyak lagi sarana2 lain) GF juga menggunakan: – Demokrasi – Komunisme + sosialisme – Nasionalisme – Kesetaraan gender sebagai tameng dan isu untuk menjatuhkan ajaran Islam. Bagaimana cara menangkal GF? Banyak cara untuk menangkal dan ‘memukul balik’ GF ini, diantaranya: 1. Mencari alternatif pendidikan, pemikiran, ekonomi, dst, yg sesuai dg ajaran Islam 2. Memberi pengetahuan ttg GF, sehingga umat Islam tidak terkecoh 3. Para penulis Muslim perlu melakukan counter (serangan balik) terhadap tulisan2 yg menyerang Islam. Salah satu penulis yg cukup getol melakukan counter adalah Adian Husaini, beberapa artikelnya pernah aku muat di sini. 4. Mengingatkan lembaga pendidikan + lembaga dakwah Islam agar mewaspadai terhadap pemikiran yg sesat 5. (bagi yg merasa ilmunya tidak cukup memadai) Menjauhi pengaruh GF. Bagi yg ilmunya dirasa mumpuni, justru HARUS banyak mengenal GF, agar bisa melakukan counter (lihat poin 3). Umat Islam sendiri hendaknya: 1. Hanya mengerjakan yg bermanfaat (dunia-akhirat) 2. Mencoba kembali kepada ALLOH SWT (apabila tertimpa musibah, dst) 3. Jangan minder. Yakinlah bahwa kita setara dg orang2 barat…tapi tentunya tidak sekedar ucapan belaka 4. Jika ada musibah, jangan cari kambing hitam…tapi hendaklah berserah pada ALLOH SWT. Pandang optimis ke masa depan, jangan terpaku ke masa lalu. http://tausyiah275.blogsome.com/2006/06/30/ghazwul-fikri-perang-pemikiran/ Perang Pemikiran Istilah “ghazwul fikri” sangat populer di kalangan kelompok pergerakan Islam. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti “perang pemikiran.” Tak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya. Karya-karya Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Said Hawwa, dan para ideolog Ikhwanul Muslimin kerap menggunakan istilah ini dengan semangat “perang salib.” Para pengguna istilah ini meyakini bahwa pemikiran-pemikiran yang datang dari Barat cenderung bersifat menyerang dan memberikan dampak buruk bagi kaum Muslim. Pemikiran-pemikiran itu dapat meracuni dan menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam. “Karenanya,” tulis Muhammad Qutb, “perang pemikiran lebih berbahaya daripada perang fisik.” Mereka juga meyakini adanya “teori pengaruh.” Yakni bila orang-orang Islam banyak membaca karya-karya orang Barat dan kaum orientalis, maka ia telah terpengaruh dan terperangkap dalam jaring Zionisme dan Salibis. Saya kira, “ghazwul fikri,” “teori pengaruh,” atau apapun namanya, haruslah dipandang dengan kritis. Karena setiap pemikiran, apapun dan dari manapun sumbernya, adalah sebuah bentuk “peperangan” dan pasti punya pengaruh terhadap seseorang yang menggelutinya. Tidak ada dalam sejarah, kaum Muslim yang mengkaji dan menggeluti pemikiran Barat, menjadi perusak di muka bumi ini. Malah sebaliknya, mereka menjadi para pembaru yang namanya tercatat harum dalam sejarah pemikiran Islam modern. Sebutlah Rif’at Tahtawi, Muhammad Abduh, Al-Kawakibi, Taha Hussein, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr, Hassan Hanafi, dan Nurcholish Madjid. Mereka semua dianggap para pembaru yang punya kontribusi besar bagi pemikiran Islam. Tapi sebaliknya, bagi orang-orang yang membaca karya-karya para pendukung “ghazwul fikri” dan teori pengaruh, telah jelas-jelas pernah melakukan perusakan dan kekerasan di muka bumi ini. Contohnya saja Usamah bin Laden dan ke-19 teroris yang meledakkan gedung WTC pada 9 September 2001. Orang-orang ini akrab dengan buku-buku Sayyid Qutb. Dalam sebuah wawancaranya jauh sebelum peristiwa 9/11, Usamah mengakui bahwa Fi Dhilal al-Qur’an karya Sayyid Qutb adalah buku yang paling berpengaruh dalam dirinya. Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim sekarang adalah melawan pemikiran-pemikiran simplistis dan bodoh, yang kerap mengajak umat Islam terus-menerus mencurigai, membenci, dan mencaci “musuh” mereka, padahal musuh sesungguhnya adalah diri mereka sendiri. Sudah saatnya kaum Muslim berpikir positif, terbuka, kritis, dan berani mengambil posisinya sendiri tanpa dikuasai oleh pemikiran-pemikiran otoriter yang mengatasnamakan agama. Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim adalah melawan pemikiran-pemikiran rasis, tak toleran, dan selalu membenci kelompok lain. Sebagian pemikiran-pemikiran itu adalah warisan dari masa silam, dan sebagian lainnya adalah ciptaan mereka sendiri karena mengidap sizofrenia anti-Barat dan orientalisme. http://www.assyaukanie.com/articles/perang-pemikiran Ghazwul Fikri Senin, 02 Agustus 04 Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai. Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, “Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, “Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” Dalam konteks ini, al-Qur’an mengatakan, artinya, “Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka.” (QS.Faathir : 6). Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An’aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da’wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam ‘tangan’ mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional. Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup. Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada. Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam. Al-Qur’an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda’wahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da’wah sederhana antara Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda’wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini. Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da’i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu’min serta melecehkan al-Qur’an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na’udzu billaah min dzaalik! Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau ‘aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana. Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara. Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na’udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda’wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin (M.Hanafi Maksum) http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=290 TAHAP-TAHAP AL GHAZWUL FIKRI Tidak dapat diterima dengan mudah jika ada orang mengatakan keujudan imprialis dan pengaruh barat di dunia Islam sebagai kebetulan. Keujudan ini telah didorong oleh sebab-sebab tertentu. Ia bermula dari keujudan ketenteraan, keujudan ala Istishraq ( bercambahnya usaha mengasaskan bahagian kajian ketimuran ) , lantas keujudan missionary. Kemudian berulang semula keujudan tentera di negara Islam ( dengan penaklukkan dan usaha-usaha menghancurkan sistem khilafah Islamiah yang berpusat di Turkey ). Kemudian penaburan faham yang memisah agama dari negara ( secularisme ). Selepas itu disebar luaskan pula faham kebangsaan. Diikuti dengan usaha terakhir melebur musnahkan sistem Khilafah Islamiah. Penjajah tidak cukup dengan usaha yang demikian sahaja, tetapi malah ditinggalkan pula golongan-golongan penjajah dari kaym peribumi itu sendiri yang dimandatkan untuk memainkan peranan merubah seluruh tatacara hidup, nilai akhlak dan sistem pemerintahan serta sosial umat kearah yang diredhai oleh tuan-tuan mereka; kaum penjajah. Peringkat atau priode ini, atau apa yang dinamakan orang sebagai Al Ghazwul terbahagi kepada tiga. 1. Peringkat sebelum kejatuhan Khilafah Islamiah. 2. Peringkat pengganyangan sistem khilafah. 3. peringkat setelah Runtuhnya Negara Khilafah. i. Peringkat sebelum kejatuhan Khilafah Islamiah i. Perang Salib Ada pihak yang mengatakan bahwa motif asas beerlakunya perang salib ialah kerana hasrat mencari sumber kekayaan ekonomi. Tetapi dari penelitian sejarah ternyata andaian itu meleset. Yang mendorong orang-orang kristian melancarkan perang salib adalah perasaan fanatik terhadap agama mereka dan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap Islam dan pengikutnya. Mengikut Lorthop Stodard orang yang mula-mula menyeru supaya dilancarkan perang salib ialah Pope Salvester V tahun 1002 M, Tetapi saruannya tidak mendapat sahutan. Selepas itu ialah Pope Grigorious tahun 1075 M. Dalam buku sejarah Pope oleh Ferdenand Haifward menerangkan bagaimana golongan Pope Dan pendeta kristian ini berusaha mengapi-apikan raja-raja Eropah agar melancarkan perang suci ( menurut mereka ) terhadap orang Islam . Akhirnya pada tahun 1097 bermulalah peperangan salib. Satu demi satu serangan dilancarkan. Tiap serangan menghadapi serangan balas yang sengit dan seru dari pejuang-pejuang Islam. Kalah menang silih berganti dibeberapa kawasan. Tapi kekalahan Luis Raja Perancis yang memimpin arus serangan salib yang ke lapan di Manshurah, Mesir membawa banyak perubahan dalam taktik menyarang negara-negara Islam. Luis telah menebus dirinya dari tawanan dengan bayaran yang cukup mahal. Sekembalinya dari tawanan beliau berkesimpulan bahawa amat sukar sekali untuk menang dalam pertarungan menghadapi Islam dan umatnya secara fizikal. Roh jihad yang dipancarkan oleh ajaran Al-Quran begitu hebat melahirkan keberanian, kecekalan dan kepahlawanan yang sukar ditandingi. Akidah Islam yang menjadi base yang pejal terhadap tentera islam itu amat bahaya. Sebab itu mesti dicari jalan lain. Jalan yang menghancurkan base itu. Jalan itu ialah dengan Al ghazwul Fikri. ii. Peringkat Istishraq Orang-orang Eropah haruslah mengkaji segenap aspek tamadun Islam; aspek akidah dan syariahnya. Kemudian pengetahuan itu digunakan sebaik-baiknya menghancurkan umat Islam itu sendiri dengan memadamkan roh jihad dan cinta syahid. Berikutan dengan itu lahirlah penulis-penulis dari Barat yang menghuraikan analisa-analisa mengelirikan tentang Islam dengan lebel ilmiah. Quran buatan Muhammad. Sahabat-sahabatnya yang mudah tertipu telah menerimanya sebagi wahyu Tuhan. Baik Quran atau Qias telah dianggap sama sahaja statusnya dan dicampur baurkan atas dasar ianya ciotaan insan. Ajakan supaya mengamalkan tasawur Islam dalam bentuk dan cara yang tidak sihat dilaungkan untuk dapat memalingkan umat dari jihad dalam seluruh menifestasinya. Kajian-kajian ketimuran ( Istishraq ) bermula di Sepanyol dalam kurun ke lapan hijrah. Alfons, raja Qishtale meminta jasa baik Maichial Scot untuk memikul tanggungjawab ini. Michail Scot pun mengumpulkan beberapa orang pendita Nasrani untuk menterjemahkan beberapa kitab bahasa Arab ke bahasa Perancis. Kian lama usaha ini semakin luas skopnya sehingga diterjemahkan kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Bahkan dalam zaman mula dicipta mesin cetak ada diperuntukkan mesin cetak Arab untuk mencetak buku-buku Arab yang menjadi teks book di pusat-pusat Pengajian Tinggi Eropah. Golongan-golongan musuh Islam telah berjaya sedikit sebanyak mengelirukan akidah Islam, melumpuhkan semangat jihad dengan memisahkan secara negetif antara akidah dan perlaksanaan syariah, antara kerohanian Islam dan kebatinan jahiliah. Mereka bekerja keras untuk menggambarkan bahawa Islam itu suatu agama yang fokusnya sama seperti kristian iaitu untuk ibadah dalam erti sempit. Akhirnya tersebar luaslah faham memisahkan agama daru negara atau pemerintahan secularisme. Bagi mereka Islam yang tulen dan lengkap menjadikan umatnya mempunyai ‘sosial political power’ dan menghalang kerja-kerja penjajah . Sebab itu Islam harus ditetas atau digelapkan sebahagiannya seberapa dapat. Tulisan para orientalis di zaman itu dan mungkin juga sekarang bukan hanya untuk menyerang orang-orang islam tetapi juga untuk menjadi benteng tahanan agar orang barat itu sendiri tidak dapat melihat Islam sebagaimana hakikatnya. Sebab gambaran baik yang dibawa oleh sebahagian tentera salib yang kembali dari medan perang tenteng Islam dan umatnya telah menarik beberapa kalangan memeluk Islam. Pada awal kurun ke tiga belas hijrah kajian ketimuran cuba membayangkan sikap objektifnya dan mendakwa bahawa kajian-kajianya bersandarkan Scientific Mathod dan demi ilmu semata-mata. Dikota-kota Eropah mula dibuka department bahasa-bahasa Timur, Arab, Parsi, Turkey, Urdu, Melayu dan seteruanya. Tujuan utamanya ialah untuk melahirkan pakar-pakar hal ehwal keislaman untuk membantu penjajah memainkan peranannya memaju dan memakmurkan negara-negara itu dengan dengan menghisap kekeyaannya. Kemudian anak-anak jajahan berduyun-duyun datang mempelajari ilmu-ilmu yang diajar oleh pakar-pakar mereka lalu meninggalkan kesan pemikiran yang buruk. Dari pusat-pusat kajian ketimuran ini orientalis barat dapat masuk menyelinap ke pusat-pusat pengajian tinggi Islam yang penting. Kajian ketimuran juga bertujuan menyokong serta membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. Di samping memisahkan umat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Ini akan menimbulkan rasa menyerah kalah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat. Banyak dari golongan yang terpelajar dan setengah terpelajar dari anak peribumi yang telah menjadi mangsa Ghazwul Fikri ini. Kalau di Mesir boleh kita sebutkan seperti Taha Husin, Kasim Amin pelopor women, lib, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan seterusnya. Golongan-golongan ini telah menelan mentah-mentah method orientalis dan meniru segenap perasaan dan laku guru mereka. Sikap mereka ketara benar bertentangan dengan Islam dan adab Islamiah. Penentangan pena dengan fikiran mereka terhadap golongan cendiakawan seagama dan sebangsa lebih ganas dan panas dari orientalis itu sendiri. Ringkasnya orientalis telah memainkan peranan dan menghasilkan kesan berikut:- 1. Hampir setiap isu besar yang mengelirukan dan boleh memalingkan umat dari ajaran Islam yang lurus pasti di belakangnya ada bercokol orang-orang tersebut. Golongan orientalis itu kadangkala melemparkan isu tertentu lalu disambut oleh anak didik mereka dan penulis-penulis yang yang telah diibaratkan fikiran dan menjadi pengikut setia mereka. Seruan mempopularkan penggunaan bahasa Arab pasaran umpamanya telah ditaja oleh Willmor dan disambut oleh Selamah Musa dan Ahmad Luthfi Sayyid. Seruan kedaerahan atau kebangsaan sempit yang ditaja oleh Cromer disambut oleh Thaha Husin dan sebagainya. 2. Melentur teks-teks authentic mengikut kemahuan fikiran yang dipimpin oleh nafsu mereka. Mereka sewenang-wenangnya menolak atau menerima teks-teks yang mereka senangi. kadangkala mereka menyalah ertikan dan menyelewengkan teks-teks nukilan itu sendiri. 3. Sumber rujukan, mereka olah dan ambil ikut suka. Untuk mencari kepastian tentang sejarah Hadis Nabi mereka rujuk kepada buku rujukan kesusasteraan. Untuk mencari tentang kepastian dalam soal tarikh fiqh mereka merujuk kitab sejarah. Mereka menerima bulat tulisan Addumairi dalam kitabnya “Al Hayawan” dan menolak riwayat Imam Malik dalam kitabnya “Al muwaththa”. 4. Beberapa kekaburan mereka jalin dan kaitkan sehingga seolah suatu gambaran lenkap tentang sesuatu yang dianggap benar seperti yang dibuat oleh seorang orientalis German, apabila ia mencetak kitab “Ariddah” secara demikian. Kemudian ia mendakwa bahawa buku itu adalah karya Al Hafiz Ibnu Hajar. 5. Para orientalis menunjul-nunjulkan dalam tulisan mereka tentang kebaikan, kejujuran golongan . Sedangkan golongan itu bukan sahaja tidak dapat membuktikan dakwaan itu semasa mereka memegang kuasa pada kurun ke empat hijrah bahkan sudah jelas dan ketara tembeleng mereka menjadi alat golongan anti Islam, alat Yahudi, bersama-sama dengan yahudi tersebut menghancurkan negara Islam. 6. Mereka berusaha menghidupkan semula pusaka kebatinan majusi dan hindu untuk mencemarkan kemurnian agama Islam. Ini jelas dapat dikesan bila kita melihat usaha mereka yang gigih mentahqiq Makhthuthat lama tentang aliran-aliran itu yang mengandungi unsur ilhad, ibahiah, wehdatu wujud,hulul dan kitab-kitab syair yang liar. 7. Kesan yang paling bahaya ditinggalkan oleh mereka ialah kecenderongan menganggap karangan dan kajian orientalis itu sebagai bahan rujukan asa dalam bidang sejarah, bahasa, sirah, fiqh, akidah dan sebagainya. Mereka telah menghasilkan karya-karya rujukan yang mengandungi pengeliruan dan pengkaburan seperti”Dasiratul Ma’aruf Al Islamiah , Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu’ah’Arabiah Al ‘Muyassarah. Sebab itu pengkaji muslim yang menggunakan sumber-sumber ini haruslah teliti dan hati-hati. Di samping orientalis yang berniat buruk ada juga orientalis yang agak objektif yang memberikan penghargaan yang tinggi kepada Islam dan ajarannya, seperti Thomas Carlil, Tolostoy dan lain-lain. iii. Utusan Mubaligh Atau Missionary Kristian Gerakan missionary kristian di samping menjalankan pendekatan secara peribadi juga mengambil langkah berikut:- 1. Membuka institut dan sekolah-sekolah Convent di seluruh negara Islam termasuk negara Khilafah Islamiah sendiri. Sekolah-sekolah tersebut mengasuh anak dan jenerasi baru umat Islam mengikut secara tersendiri. Jika ia gagal memesongkan akidah anak itu maka cukuplah ia telah dapat menanamkan benih prasangka dan ragu terhadap beberapa aspek agama mereka. 2. Biasiswa yang diperuntukan untuk anak-anak jajahan melanjutkan pelajaran mereka di barat telah digunakan juga untuk membentuk perwatakan anak-anak itu sebagaimana yang mereka kehendaki. Contoh yang cukup terang ialah seperti yang telah terjadi kepada Ra’faah Thahthawi dan banyak lagi yang lain-lain. 3. Usaha-usaha kebajikan yang disadurkan dengan pengaruh dan dakwah kristian seperi hospital, pertolongan cemas dan lain-lain. 4. Ceramah-ceramah agama, buku-buku, majalah, akhbar dan siaran berkala juga menjadi salah satu cara mengembangkan faham dan sudut pandangan kristian. 5. Beberapa siri konggeris ketua-ketua pengembang agama kristian telah diadakan juga. Tidak banyak yang diketahui tentang resolusi konggeris-konggeris kristian itu. Sedikit sekali butir-butir yang sampai ke pengetahuan kita. Tapi dalam satu pertemuan yang diadakan di dalam rumah salah seorang pemimpin Mesir Ahmad ‘Urabi konggeris telah membincangkan:- 1. cara-cara mengkristiankan orang-orang Islam. 2. Menimbulkan kemusykilan luasnya peluang belajar untuk semua orang ( di Mesir ) Azhar mempunyai harta wakaf yang banyak. Ini membolehkan pengajian bebas dari yuran atau apa bayaran. Untuk menghadapi gejala ini sekreteriat konggeris telah mengesyorkan agar didirikan satu institut agama kristian untuk mengkristian anak-anak kaum muslimin tempatan. Pendita Zuwaimee menyarankan perlunya kristian dikembangkan oleh anak bangsa itu sendiri atau dari kalangan mereka kerana pohon itu patutlah ditetas oleh salah satu dari rumpunnya juga. Pada akhirnya para peserta konggeris optimis akan mendapat kejayaan kerana tanda-tanda menunjukkan bahawa orang-orang Islam telah begitu kagum dan terpesona menghirup ilmi-ilmu barat tanpa reservation. Mereka semakin cenderong melepas bebaskan wanita-wanita mereka untuk bersosial. Dalam konggeris yang diadakan di Lucknow India tahun 1329 H/1911 M, antara lain ketetapannya ialah sebagai berikut :- “Perlu dan mendesak sekali diwujudkan sekolah yang khusus untuk tujuan missionary di Mesir”. “Perlunya golongan wanita disertakan dalam usaha mengkristiankan wanita-wanita Islam dan anak-anak mereka”. Usaha-usaha mereka kini tidak lagi terpusat kepada mengajak orang-orang Islam memeluk agama kristian tetapi malah cuba mencacatkan Islam dan mengurangkan nilainya di mata ramai. iv. Usaha-usaha Merobohkan Negara Khilafah Gerakan missionary telah berjaya sedikit sebanyak menimbulkan kerosakan jiwa dan kekeliruan fikiran. Tetapi itupun belum cukup. Harus ditokok dengan pukulan ketenteraan dan politik. Dua negara besar ketika itu berbakat untuk membolot daerah-daerah di bawah kekuasaan kerajaan khilafah Islamiah Turkey. Di pertengahan kurun ke sembilan belas ( 1875 M ) bersamaan tahun 1274 Hijrah Inggeris berjaya menjajah India maka kekuasaan berpindah daripada milik syarikat India Timur kepada kerajaan Inggeris. Dengan nemikian tamatlah riwayat salah satu kerajaan terbesar Islam yang lahir di awal kurun ke enam belas. Iaitu kerajaan Moghol atau Taimuriah. Dalam tahun yang sama tentera Perancis merempuh masuk ke Sahara Barat Utara Afrika menawan Al Jeria pada tahun 1630 M/1246 H. Berikutan dengan itu Inggeris berjaya menduduki Mesir, iaitu pada tahun 1882/1300. Syria dan Lebanon dapat dikuasai oleh Perancis selepas Perang Dunia Pertama tahun 1920/1338. Di samping armada-armada bersenjata dibawa bersama sebuah kapal yang sarat berisi pelacur. Apabila kapten kapal tersebut ditanya, beliau menjawab dengan licik; Armada-armada bersenjata itu mungkin akan hilang kesannya. Adapun armada jenis ini maka kesannya tidak akan hilang sama sekali. ii.Peringkat Pengganyangan Sistem Khilafah Peringkat ini di dahului dengan didirikan negara Yahudi di Palestin. Tetapi sebelum itu umat Islam harus dibius dengan faham Secularisme. Fahaman yang memisahkan agama dari urusan dan pentadbiran negara. Membenamkan ayat-ayat yang jelas memerintahkan kaum muslimin supaya memerintah dengan sistem perundangan Islam, sistem politik Islam, sistem ekonomi Islam dan seterusnya. Posted by Yudhi http://yudhim.blogspot.com/2008/01/tahap-tahap-al-ghazwul-fikri.html Ghazwul Fikri di Pelupuk Mata Dec 11, ’07 12:15 AM untuk semuanya assalaamu’alaikum wr. wb. Kuman di seberang lautan jelas kelihatan. Ghazwul fikri di pelupuk mata, kelihatan nggak ya? Sungguh sangat memalukan jika sekarang ini ada Muslim yang menganggap dirinya tidak sedang dikepung oleh kekuatan-kekuatan yang hendak melumatkan Islam di seluruh muka bumi ini. Yang hendak dimusnahkan bukan populasi manusianya, melainkan aqidah-nya. Tanda-tandanya sudah terlalu jelas kelihatan. Di Poso, umat Islam dibantai habis. Ada yang diikat, kemudian disiksa sampai mati. Ada juga yang ‘lebih beruntung’ sehingga langsung dibunuh setelah ditangkap. Setelah serangkaian tragedi yang demikian menyedihkan itu, kini pemerintah malah asyik mengobrak-abrik pesantren-pesantren yang diduga sebagai ‘sarang ekstremis’. Hal yang sama juga pernah terjadi di Maluku dengan modus operandi kurang lebih sama. Dibantai, dibiarkan, dibekuk dan dilucuti ketika melakukan perlawanan, setelah itu diberi cap ekstremis. Mungkin banyak yang lupa bahwa “ekstremis” adalah sebutan yang diberikan pemerintah kolonial Belanda dahulu kala kepada para pejuang kemerdekaan dan pembela kebenaran di negeri ini. Barat habis-habisan mengucurkan dana untuk membiayai mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ingin belajar Islam kepada dosen-dosen Yahudi dan Nasrani. Jangan heran, karena beginilah kenyataannya. Semua orang akan tertawa melihat lulusan SMA berbaris mendaftarkan diri untuk belajar kedokteran kepada masinis kereta, tapi entah mengapa program studi Islam yang dikelola oleh umat Non-Muslim tidak dianggap menggelikan. Hasilnya cukup mengagumkan. Nurcholis Madjid berangkat ke Chicago dengan gelar ‘Natsir Muda’, dan pulang dengan ideologi sekuler murni, bahkan banyak pula yang menganggapnya telah murtad mutlak, sehingga ia dianggap lebih pantas mendapatkan gelar ‘mendiang’ daripada ‘almarhum’. Kucuran dana dari negeri-negeri Barat untuk ikut campur dalam urusan umat Islam memang seolah tak ada habis-habisnya. Ulil Abshar Abdalla tak malu-malu mengakui bahwa JIL menerima dana begitu banyak setiap tahunnya dari The Asia Foundation dan donatur-donatur lainnya. Dengan dana yang kuat, mereka mampu mencengkeram beberapa siaran radio untuk menyebarkan propagandanya, mencetak majalah Syir’ah, bahkan hegemoninya nampak jelas terlihat pada MetroTV yang akhir-akhir ini lebih rajin menyuarakan ‘voice of America’ daripada suara bangsanya sendiri. Jauh dari hari raya umat Kristiani, disiarkanlah film-film para Nabi dengan konsep yang sangat rancu. Entah dalam rangka apa, tiba-tiba film tentang Abraham dan Noah disiarkan di televisi. Tidak ada penjelasan yang memadai untuk menerangkan kepada masyarakat awam bahwa kedua film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Nuh as. dalam ajaran Islam. Kebetulan? Kelihatannya tidak. Muncullah aliran sesat, dan untuk segala hal yang sesat, kaum liberalis pasang badan untuk membelanya. Mereka buat opini seolah-olah MUI telah memprovokasi warga untuk main hakim sendiri, seolah-olah ulama di negeri ini jumud semuanya, dan seolah-olah aliran-aliran sesat itu tidak berdosa sama sekali. Disembunyikanlah fakta-fakta mengerikan dari publik. Tidak ada diantara mereka yang membahas betapa kejinya cara aliran-aliran sesat itu mengumpulkan dana, yaitu dengan merampok dari siapa pun yang dianggapnya kafir. Masyarakat diarahkan untuk lupa bahwa aliran-aliran sesat itulah yang telah duluan menuduh orang lain sebagai kafir, bukan sebaliknya. Orang-orang yang mengikuti ulama pasti menjadi anak-anak yang baik, sedangkan para pengikut aliran sesat dijamin durhaka. Ini adalah rumus yang pasti dan terbukti secara empiris, namun tak pernah dibahas oleh orang-orang liberalis, termasuk dalam dialog-dialog yang disiarkan di televisi. Ketidakjujuran adalah prosedur standar bagi mereka. Charles Kurzman mencatut nama Mohammad Natsir dan Yusuf al-Qaradhawi, Cak Nur mencatut nama Ibnu Taimiyah, Jalaluddin Rahmat mencatut nama Rasyid Ridha, Ulil Abshar Abdalla mencatut nama Al-Ghazali dan beberapa ulama lainnya, dan seterusnya. Operasi spionase pun mereka lakukan dengan cukup rapi. Abdul Munir Mulkhan dan Dawam Rahardjo dulu rajin sekali bicara dengan mencatut nama Muhammadiyah, sebagaimana Masdar F. Mas’udi dan Ulil pun sering menggunakan nama NU. Pada jamannya Syafii Maarif, berdirilah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang kentara benar kedekatannya dengan JIL, namun alhamdulillaah ujung-ujungnya tidak diakui oleh Muhammadiyah sendiri. Tempo hari, diadakan acara tahunan konferensi studi Islam di Riau. Lucunya, pembicara utamanya nyaris tak ada yang Muslim. Yang ada malah Nasr Hamid Abu Zayd, yang telah divonis murtad oleh lebih dari dua ribu ulama di Mesir. Orang yang satu ini bisa dianggap ‘nabi’ di kalangan liberalis, bahkan lebih. Orang-orang liberalis telah terbiasa mengkritisi (bahkan mencurigai) Rasulullah saw., namun tak pernah terdengar kabar yang menyebutkan bahwa mereka mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd. Tokoh ‘ajaib’ yang satu ini adalah penyebar hermeneutika di kalangan umat Islam, anti-syariat Islam, anti Imam Syafii, dan konon pernah mengecap ‘masa-masa indah’ dengan kaum homoseksual di AS (hal ini diucapkannya sendiri dalam buku memoarnya, namun tak pernah ada penjelasan mengenai ‘masa-masa indah’ tersebut). Dengan kuasa Allah, para ulama cepat bertindak. Kedatangan Nasr Hamid Abu Zayd segera dilaporkan ke kepolisian, dan masalah hermeneutika serta berbagai pelecehan yang telah dilakukan Abu Zayd terhadap ajaran Islam diperesentasikan. Alhamdulillaah, kepolisian yang mayoritas Muslim pun tergerak hatinya dan akhirnya melarang kehadiran sang penghina Al-Qur’an ke konferensi tersebut. Abu Zayd pun beralih ke Malang. Di Malang, para ulama pun bertindak sigap. Berita disebar, dan masyarakat merespon balik. Lagi-lagi Abu Zayd ditolak. Maka ia pun mencari tempat yang paling aman bagi para pembenci syariat, yaitu The Wahid Institute. Dengan berlindung di balik Gus Dur, ia pun bebas berbicara begini-begitu. Langkah-langkahnya ini – termasuk pelariannya ke The Wahid Institute – sudah dapat diprediksi sejak lama. Belum lama ini, salah satu organisasi kaum liberalis yang diberi nama LibForAll (dari namanya Anda bisa langsung menebak misinya) mengadakan acara kunjungan ke pemerintahan Zionis. Mereka beramah tamah dengan sangat mesranya dengan Shimon Peres dan para pembantai lainnya. Seperti biasanya, mereka catut nama Muhammadiyah dan NU. Syafiq Mughni mereka sebut-sebut sebagai cendekiawan Muslim dari Muhammadiyah, sedangkan Abdul A’la disebut-sebut sebagai wakil dari NU. Selain bermesra-mesraan dengan Shimon Peres dan para penjahat perang lainnya, mereka pun berpartisipasi dalam perayaan Hanukkah (salah satu perayaan umat Yahudi) dan ikut menari-nari bersama mereka. Mereka ini hendak meneruskan para pendahulu mereka yang tahun 1994 dahulu telah lebih dulu mampir untuk bermesraan dengan para pembesar Zionis. Para pendahulu mereka itu cukup dikenal kedekatannya dengan pola pikir Zionis, yaitu Gus Dur, Habib Chirzin, dan Djohan Effendi. Din Syamsuddin selaku Ketua PP Muhammadiyah kemudian menyangkal keberangkatan Syafiq Mughni sebagai wakil Muhammadiyah, dan PBNU pun menyangkal status Abdul A’la sebagai wakil NU. Kedua ormas besar itu nampaknya juga cukup terguncang dengan kemesraan yang dipertontonkan oleh kader-kadernya dengan pihak Zionis. Sekarang, di milis-milis dan via SMS juga tersebar berita akan adanya acara kristenisasi masal di sejumlah stasiun televisi swasta pada tanggal 15 Desember 2007. Masihkah ada alasan untuk mengatakan bahwa ghazwul fikri itu jauh di seberang lautan? Tentang Ghazwul Fikri secara umum : • Gus Dur Ajak Bela Holocaust • Orientalis, Penasehat Penjajahan di Negara Muslim • Faham Liberal Masih “Bercokol” di NU • Matikan TV Pada Sabtu, 15 Desember 2007 Sore ! • “Al-Qur’an Edisi Kritis” • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Pertama) • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Kedua) • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Ketiga) Tentang Aliran Sesat : • Mengimani Nabi Palsu • Membedah Anatomi Aliran Sesat • “Al-Qiyadah Islamiyah dan Kaum Liberal” • Fatwa MUI dan Pandangan Fuqaha Tentang Nabi Palsu • Fatwa MUI untuk Luruskan Penyimpangan • “Penyesatan” Fatwa Sesat • Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel • Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel [2] • Yang Sembrono dari Ulil Abshar Tentang Nasr Hamid Abu Zayd : • Al-Qur’an Dihujat • Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd, Pengusung Tafsir Hermeneutika • “Abu Zayd Ditolak Umat Islam Riau” • MUI Riau Tolak Kehadiran Nasr Abu Zayd • MUI Jatim : Sudah Benar Abu Zayd Ditolak ! • Nasr Hamid Batal Hadir di Malang • Martin Bruinessen : Di MUI Masuk juga Kelompok Keras • KH Kholil Ridwan “Nasr Hamid Masuk dalam Jaringan ‘Anti Islam’ Internasional” • “Abu Zayd pun Gagal ke Malang” • Liberalisasi Studi Islam dan Agenda Barat Tentang LibForAll dan Shimon Peres : • Mereka Membawa Aspirasi Zionis • Cendekiawan Muslim Indonesia Menari dengan Zionis Israel • Sekjen KISPA: Usut Mereka yang Dukung Zionis Mengatasnamakan Indonesia • NU dan Muhammadiyah Tolak Klaim Sepihak Anggota LibForAll yang ke Israel • Lima Anggota LibForAll Indonesia Temui Shimon Peres di Yerusalem wassalaamu’alaikum wr. wb. http://akmal.multiply.com/journal/item/637/Ghazwul_Fikri_di_Pelupuk_Mata perang pemikiran Konspirasi Kristen dengan Yahudi Menghancurkan Islam Berkali-kali mereka bersekongkol, hingga kini. Makin canggih dan licik. oleh Cholis Akbar* “Mengapa Islam kerap menghadapi banyak cobaan dan serangan dari musuh yang tiada henti-hentinya? Tapi mengapa pula Islam selalu terjaga dari segala cobaan dibanding agama lain yang banyak berakhir dengan menyedihkan?” Mungkin jawaban kita bisa beragam. Ulama besar Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, menyimpulkan dua hal penting; Pertama, Islam memiliki kekuatan yang dinamis dan serasi dengan situasi zaman sehingga mampu memberikan alternatif terhadap segala persoalan. Kedua, karena Allah swt telah menjamin dan akan menjaga Islam dengan cara melahirkan kader dakwah yang tangguh. Karenanya, seberat apapun serangan yang ditujukan kepada Islam, ummat ini tidak akan pernah mengalami kekosongan mujadid (pejuang agama). Benar, sejak kehadirannya 1400 tahun lalu, agama ini telah mengalami serangkaian cobaan berat. Sejak awal, Islam selalu menghadapi serangan-serangan dari segala penjuru di mana agama lain tidak pernah menghadapinya. Menurut istilah Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, andaikata bukan Islam, belum tentu agama lain sanggup menghadapinya. Serangan dengan bentuk kekerasan fisik, kudeta, revolusi, sampai dengan bentuk upaya pencampuran ideologi oleh para konspirator untuk merusak Islam telah banyak dicobakan. Bahkan terus berlangsung hingga hari ini. Tahun 1917, dengan sangat tidak elegan kaum milisi Kristen bersekongkol dengan negara Barat dan Eropa mengeroyok Islam secara beramai-ramai untuk merebut kota Baitul Maqdis. Persekongkolan itu merupakan usaha yang kesekian kali, setelah selama kurang lebih 90 tahun selalu dipatahkan tentara Islam. Tidaklah heran, saat Baitul Maqdis jatuh atas konspirasi jahat, dengan bangganya Jenderal Gouron, seorang pemimpin panglima pasukan Perancis berteriak sambil menginjak-injak pusara pahlawan Islam dalam perang Salib, Salahuddin Al-Ayyubi. “Kami telah kembali, wahai Saladin”, ucapnya. “Dan sejak saat ini, Perang Salib (crusade) sudah selesai,” tambah Lord Allenby, komandan gabungan milisi pasukan sekutu Inggris, Perancis, Italia, Rumania dan Amerika. Itulah kekalahan Islam di Yerusalem atas konspirasi jahat kaum Kristen, bangsa Barat dan Eropa. Semenjak itu, Palestina dan Baitul Maqdis selalu menjadi obyek keserakahan sebagian negara Barat, Eropa dan Yahudi. Pernyataan Lord Allenby yang banyak menjadi headline koran-koran Inggris ketika itu memang telah menandai berakhirnya istilah Perang Salib (crusade). Tapi dalam kenyataannya, semangat Perang Salib terus menandai Kristen, bangsa Barat dan Eropa untuk melakukan penjajahan atas negeri-negeri lain di dunia ketiga. Utamanya negeri-negeri yang jelas mayoritas penduduknya Muslim. Seperti yang telah banyak ditorehkan dalam tinta sejarah, bagaimana missi Kristen masuk ke Nusantara pada abad 15-16 bersamaan dengan misi penjajah Eropa (Portugis) ke dunia Timur. Dengan jelas, missi penjajah itu selain melakukan ekspansi wilayah juga mengembangkan agama Kristen. Semboyannya yang terkenal yaitu “Tiga-G”: gold, glory, gospel (emas, kejayaan, missi Kristen). Sejarawan Dr Aqib Suminto dalam bukunya, “Politik Islam Hindia Belanda” menulis bahwa agama Kristen mulai diperkenalkan oleh para pelaut Portugis yang datang ke dunia Timur pada abad ke-16, sambil membawa semangat Perang Timur. Ekpansi itu dimulai oleh perserikatan dagang Belanda yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mencari rempah-rempah. Sambil berdagang, VOC tidak melupakan misi penyebaran agama Kristen dalam setiap ekspedisinya. Setelah berhasil mengatasi Katolik, pemerintah Belanda memusatkan perhatian menghadapi kelompok pribumi yang beragama Islam. Sebab, menurut Aqib Suminto, bagi Belanda penghalang utama kekuasaan kolonialnya adalah agama Islam dan pemeluknya. “Pidato tahunan raja bulan September 1901 —yang menggambarkan jiwa Kristen— menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggungjawab moral kepada rakyat Hindia Belanda, yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen,” tulis Aqib. Adalah ucapan yang menarik dari D’albuquerqe saat menduduki Malaka, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (sebutan untuk orang Muslim) dari negara ini dan memadamkan api sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini”. Ucapan ini mirip dengan pidato petinggi militer Spanyol, Figueroa di depan pasukannya saat menjajah wilayah Muslim Mindanao, “Kita berdiri di atas tanah bangsa Spanyol yang baru. Menaklukkan hutan yang gelap ini dan menguasai tanah kafir-Muslim adalah misi kita. Mereka menyerah sebagai budak dan murtad atau jatuh di bawah pedang bangsa Spanyol. Majulah untuk misi kita demi Raja dan Negara.” Missi Kristen, meski tidak menjadi prioritas utama —seperti halnya masa lalu— sering berjalan seiring dengan semangat penjajahan (kolonialisme). Gereja, Barat, dan bangsa Eropa tahu betul, hanya dengan mengganti agama Islam dengan agama lain, missi penjajahan bisa terlaksana di negeri-negeri Islam. Sebab Islam tak ubahnya sebuah keyakinan yang hanya melahirkan orang-orang kuat dengan kepatuhan agama. Tidaklah berlebihan bila mantan Perdana Menteri Inggris, yang sangat berkuasa di tahun 1882, Gladstone. Sambil membawa kopian al-Qur’an, penganut gereja Anglikan ini bicara di depan ratusan anggota Parlemen Inggris kala itu. “Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur’an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur’an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka,” ucapnya. Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya, termasuk terhadap Mesir. Menuju Perang Peradaban Interaksinya selama berabad-abad dengan peradaban Islam, penjajah tahu betul betapa Islam adalah agama yang memiliki peradaban modern. Ideologinya tidak hanya mampu mengungguli kekuatan militer Barat, namun juga mengungguli peradaban dan intelektualitas mereka sekaligus. Karena itu, ancaman peradaban Islam seperti ucapan jujur Prof Dr Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) adalah suatu yang rasional. Atas pengalaman berharga itu, penjajah kemudian mengganti strateginya. Strategi baru pasca Perang Salib itu adalah melalui jalan perang peradaban dan pemikiran (ghazwul fikri). Penjajahan berwajah baru ini tak kalah liciknya dengan penjajah konvensional. Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, dalam bukunya Asalibu Ghazwil Fikri lil `alamil Islami (Metode-metode Perang Pemikiran Terhadap Islam) mengatakan, salah satu tahapan penjajah pemikiran tersebut diantaranya adalah membangun pusat kajian-kaijan Ke-Islaman di Barat (Orientalisme). Lalu, menyebarkan missi Kristen dengan mengirim misionaris untuk menyingkirkan khilafah Islam di negeri-negeri muslim. Menurutnya, Kajian Ketimuran (orientalisme) itu bertujuan mendukung dan membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. “Kajian-kajian seperti itu secara disengaja untuk memisahkan ummat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Dan menimbulkan rasa menyerah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat.” Repotnya, kajian seperti itu telah melahirkan banyak tokoh dan bahkan dikagumi oleh pakar-pakar di dunia Islam sendiri. Di Mesir diantaranya muncul Taha Husin, Kasim Amin (pelopor women liberalism, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan banyak lagi. Ini sama persis dengan Indonesia. Secara sengaja, mereka melakukan pengkajian dan penerbitan buku-buku yang berbahaya bagi ajaran Islam. Beberapa karya kaum oreintalis yang dianggapnya mengandungi banyak kekeliruan dan mengaburkan ajaran Islam adalah Dasiratul Ma’aruf Al Islamiah, Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu’ah `Arabiah Al `Muyassarah. Cara-cara yang dipakai oleh gereja dalam menyebarkan missi, dikutip Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, termasuk diantaranya adalah membuka sekolah teologi dan biarawati. Gereja juga secara sengaja mengirim beasiswa kepada anak-anak jajahan yang jelas beragama Islam untuk melanjutkan pelajaran mereka di Barat. Dengan begitu anak-anak itu bakal berpola pikir Kristen dan mendukung missi. Kepala Jabatan Akidah Dan Filsafat, Kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, Prof. Taha Abd al-Salam Khudhair dan Prof. Dr. Hasan Muharram al-Sayyid al-Huwaini, pernah menelusuri kelicikan penjajahan ideologis kaum Kristen dan Barat itu. Menurutnya, mereka biasa mengirim pelajar Islam ke negara-negara bukan Islam untuk belajar. Kelak setelah lulus, kebanyakan mahasiswa ini tumbuh menjadi orang jahil pada agamanya. “Mereka membangga-banggakan budaya Barat dan menghilangkan ajaran agama,” begitu kutipnya. Dr. Abdurrahman Mas’ud mengatakan, kajian keislaman di Barat (orientalisme) adalah hasil persekongkolan gereja dengan penjajah. “Kajian Islam di Barat pada mulanya sarat dengan kepentingan missionaris dan kolonialisme, sekaligus sebagai ajang pencarian “kelemahan” Timur dan Islam serta pengukuhan hegemoni Barat atas dunia Timur dan Islam,” terang dosen pascasarjana IAIN Wali Songo itu dalam tulisannya di sebuah koran harian. Ungkapan senada datang dari Edward Said. Dalam bukunya Orientalism ia mengatakan, kajian orientalisme adalah gerakan kolonial dan missionar yang dibungkus keilmuan. Dengan demikian tidaklah terlalu penting kontrol militer untuk menjajah. Sebab, dengan devide et empera, kekuatan terjajah akan lemah dan saling bermusuhan sendiri. Tidaklah mengherankan, bila saat menghancurkan Aceh, penjajah Belanda mengirimkan seorang bernama Snouck Hourgronje. Snoucklah peletak dasar strategi menghancurkan Islam oleh Belanda. Snouck secara sengaja belajar Islam bahkan sampai mengaku masuk Islam. Ia belajar ke Makkah Al-Mukarramah selama enam tahun dengan memakai nama samaran Abdul Ghaffar. Walau sikap kepura-puraan Snouck akhirnya terbongkar, tapi pola penjajahan dengan cara ghazwul fikri seperti itu terus berkembang hingga kini. Madzhab Selebritis Wajah baru penjajahan juga berbentuk budaya. Misalnya, penyebaran film-film, iklan, majalah, video klip, internet termasuk gaya hidup (life style). Jangan heran bila musik-musik Barat seperti; ska, rock, underground, metal, R&B secara pelan-pelan menggeser musik-musik Islam. Melalui budaya, Amerika memaksakan kehendak. Kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam. Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup Barat dan Hollywood menjadi peradaban baru. Dengan dalih globalisasi, seolah-olah apa yang kita tonton, dan yang kita makan dan apa yang kita pakai atau dikenal dengan semboyan 3 F (food, fashion, and fun), haruslah memakai standar Barat dan Hollywood. Dalam bukunya Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan, apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi). MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa termasuk dalam TV kita. Hampir semua media yang membanjir dewasa ini mengeksploitasi derajat rendah kaum hawa. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibading rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas. Terhadap mereka yang menerima gaya hidup Barat, mereka memberi julukan Islam yang moderat, akomodatif, modernis, toleran, dan demokrat. Yang menolaknya disebut Islam radikal, fundamentalis atau Islam literal. Akibatnya begitu dahsyat. Dekadensi moral melanda generasi muda. Seks bebas, dan narkoba sudah menjadi sesuatu yang biasa di mata para remaja. Entah bagaimana nasib ummat ini ke depan bila tunas-tunas mudanya terus seperti itu.• http://abiridha.multiply.com/journal/item/4 Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) Februari 22, 2010 — Eza reza Ghazwul Fikri secara bahasa berarti perang pemikiran, secara lebih khusus bisa diartikan sebagai serbuan pemikiran, sebab ghazwul fikri lebih merupakan serangan sepihak. Dengan ghazwul fikri seorang muslim tidak perlu keluar dari agamanya, tapi mengikuti pandangan dan prinsip hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pada akhirnya tujuan akhir ghazwul fikri adalah melenyapkan Islam sampai ke akar-akarnya. Demikian yang disampaikan oleh KH. Cholil Ridwan dalam seminar “Menyiapkan Mental Menghadapi Ghazwul Fikri” di SMA Pesantren Unggul Al-Bayan. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2009, pukul 10.00 – 12.00 WIB ini difasilitasi oleh OSIS SMA PU Al-Bayan dengan tujuan untuk membekali generasi muda dari serbuan pemikiran yang demikian gencar dilakukan oleh musuh-musuh Islam. KH. Cholil Ridwan merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin. Beliau memegang beberapa jabatan strategis yang berkaitan dengan kepentingan umat, diantaranya sebagai Ketua MUI Pusat, Ketua Dewan Dakwah Pusat, dan Wakil Ketua BKSPPI (Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia). Nama beliau sering muncul di media massa sebagai penentang pemikiran-pemikiran dan aliran-aliran yang menyimpang, seperti Ahmadiyah, JIL, Lia Eden, dll. Menurut beliau, peperangan antara kebenaran dan kebatilan merupakan peperangan yang purba, sudah berlangsung ketika jumlah manusia masih sedikit, yaitu ketika terjadi konflik antara Qobil dan Habil. Perang ini terus berlangsung sampai sekarang. Ghazwul fikri hadir untuk mengaburkan nilai-nilai kebenaran, baik dengan menebarkan keragu-raguan maupun dengan menebarkan kesesatan. Metode ini bisa hadir dalam berbagai bentuk, diantaranya dalam bentuk invasi budaya, seperti dansa-dansi antara laki-laki dan perempuan, penggantian papan nama berbahasa arab dengan bahasa inggris pada pesantren-pesantren dan penggantian kalender hijriyah dengan kalender masehi oleh penjajah Belanda. Yang tak kalah dahsyatnya adalah penyebaran paham sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme yang disebarkan oleh kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal. Beberapa langkah yang sudah ditempuh dalam ghazwul fikri ini diantaranya: 1. Menyebut seorang muslim yang menjalankan agamanya (muslim kaffah) dengan sebutan fundamentalis. Fundamentalis identik dengan anarkis. Anarkis identik dengan teroris, sehingga pada akhirnya seorang muslim kaffah sama dengan teroris. 2. Mushaf Utsmani bukanlah Al-Qur’an yang otentik, tapi hasil rekayasa khalifah Utsman bin Affan untuk mendukung kepentingan politiknya. 3. Hukum Islam adalah produk budaya arab dan tidak sesuai diterapkan dalam konsteks masyarakat hari ini. Seperti misalnya hukum tentang jilbab yang lebih merupakan budaya arab. 4. Menghalalkan nikah beda agama. Dalam menangkal ghazwul fikri ini KH Cholil Ridwan menyarankan kepada generasi muda untuk berdoa dengan khusyu kepada Allah agar selalu ditunjukkan oleh-Nya kepada jalan yang lurus. Selain itu perlu juga untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang menyimpang beserta tokoh-tokoh yang mendukung dan menyebarkannya. http://ezazx.wordpress.com/2010/02/22/ghazwul-fikri-perang-pemikiran/ A. Pengertian Ghazwul Fikri (GF)  Secara Bahasa Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata yaitu Ghazwah dan Fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan Fikr berarti pemikiran. Jadi, menurut bahasa Ghazwul Fikri adalah serangan atau serbuan didalam qital (perang) atau Ghazwul Fikri secara bahasa diartikan sebagai invansi pemikiran.  Secara Istilah Secara istilah, Ghazwul Fikri adalah penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal – hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal – hal yang tidak islami. B. Makna Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Invansi / serangan pemikiran atau dalam bahasa arab dinamakan ghazwul fikri dan dalam bahasa inggris disebut dengan brain washing, thought control, menticide adalah istilah yang menunjukkan kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur oleh musuh – musuh islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin. Hal ini mereka lakukan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk menjajah / mengeksploitasi sumber daya milik kaum muslimin. C. Kelebihan – Kelebihan Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Invansi pemikiran atau ghazwul fikri (GF) dilakukan oleh para musuh islam dengan pertimbangan – pertimbangan bahwa dibandingkan dengan melakukan peperangan militer atau fisik, maka ghazwul fikri (GF) memiliki kelebihan – kelebihan sebagai berikut : Aspek Perang Fisik Ghazwul Fikri Biaya Sangat mahal Murah dan dikembalikan Jangkauan Terbatas di front Sampai ke rumah – rumah Obyek Obyek merasakan Sama sekali tidak merasa Dampak Mengadakan perlawanan Menjadikan idola Persenjataan Senjata berat Slogan, teori, iklan D. Sejarah Ghazwul Fikri (GF) Sejarah Ghazwul Fikri (GF) sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah iblis laknatullah ketika berkata kepada Adam as., “ Sesungguhnya Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi. “ (Q.S.Al – A’Raaf:20) Dalam perkataannya ini iblis tidak menyatakan bahwa Allah tidak melarang kalian…karena itu akan bertentangan dengan informasi yang telah diterima oleh Adam as., tetapi iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah SWT. Sesuai dengan keinginannya, yaitu dengan menambahkan alas an pelarangan Allah yang dibuat sendiri. Iblis tahu bahwa Adam as tidak punya pengetahuan tentang sebab tersebut. Demikianlah para murid – murid iblis dimasa kini selalu berusaha melakukan ghazwul fikri dengan menyimpangkan fakta dan informasi yang ada sesuai dengan maksud jahatnya. Setan melakukannya dengan cara yang sangat halus dan licin. Akibatnya, hanya orang – orang yang dirahmati Allah SWT yang mampu mengetahuinya. E. Bidang – Bidang Yang di serang 1. Pendidikan Pendidikan adalah aspek penting yang menentukan maju atau mundurnya suatu bangsa. Oleh sebab itu, bidang pendidikan merupakan target utama dari ghazwul fikri (GF). Ghazwul fikri (GF) yang dilakukan dibidang pendidikan, diantaranya dengan membuat sedikitnya porsi pendidikan agama di sekolah – sekolah umum (hanya 2 jam sepekan). Hal ini berdampak fatal pada fondasi agama yang dimiliki oleh para siswa. Dengan lemahnya basis agama mereka, maka terjadilah tawuran, seks bebas pelajar yang meningkatkan AIDS, penyalahgunaan narkoba, vandalism, dan sebagaimananya. Ini adalah dampak jangka pendek. Sedangkan dampak jangka panjangnya lebih berbahaya, yaitu rendahnya kualitas pemahaman agama para calon pemimpin bangsa dimasa depan. Ghazwul fikri (GF) lainnya dibidang ini adalah pada teknis belajarnya yang campur baur antara pria dan wanita yang jelas tidak sesuai dan banyak menimbulkan pelanggaran terhadap syariat. 2. Sejarah Sejarah yang diajarkan perlu ditinjau ulang dan disesuaikan dengan semangat islam. Materi tentang sejarah dunia dan ilmu pengetahuan telah ghazwul fikri (GF) habis – habisan sehingga hamper tidak ditemui sama sekali pemaparan tentang sejarah para ilmuan islam dan sumbangannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah yang dibahas hanyalah ilmuan kafir yang pada akhirnya membuat generasi muda menjadi silau dengan tokoh – tokoh kafir dan minder terhadap sejarahnya sendiri. Ketika berbicara tentang sejarah islam, di benak mereka hanyalah terbayang sejarah peperangan dengan pedang dan darah sebagaimana yang selalu digambarkan dalam kaca mata barat. Hal ini lebih diperparah dengan sejarah nasional dan penamaan perguruan tinggi, gedung – gedung, perlambangan, penghargaan dan pusat ilmu lainnya dengan bahasa Hindu Sanksekerta, sehinga semakin hilanglah mutiara kegemilangan islam dihati para generasi muda. 3. Ekonomi Ghazwul fikri (GF) yang terjadi dibidang ekonomi adalah konsekuensi dari motto ekonomi yaitu, mencari keuntungan sebesar – besarnya dengan pengorbanan sekecil – kecilnya. Ketika motto ini ditelan habis – habisan tanpa dilakukan filterisasi, maka tidak lagi memperhatikan halal atau haram, yang penting adalah bagaimana supaya untung sebesar – besarnya. Hal lain yang perlu dicermati dalam system ekonomi kapitalisme, yaitu monopoli, riba dan pemihakan elit kepada para konglomerat. Mengenai monopoli sudah tidak perlu dibahas lagi, cukup jika dikatakan bahwa Amerika Serikat sendiri telah diberlakukan UU anti – trust (bagaimana di Indonesia?). Tentang riba dan haramnya bunga bank rasanya bukan pada tempatnya jika dibahas disini, cukup dikatakan bahwa munculnya dan berkembangnya bank tanpa bunga (bagi hasil), fatwa MUI, fatwa Universita Al Azhar Mesir, kesepakatan para ulama islam dunia membuktikan bahaya bunga bank dan haramnya dalam islam. Tentang keberpihakan kepada para konglomerat, semoga dengan perkembangan era reformasi saat ini dapat diperbaiki. 4. Ilmu Alam dan Sosial Pada bidang ilmu – ilmu alam, ghazwul fikrii terbesar yang dilakukan adlah dengan dilakukannya sekularisasi antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Bahaya lainnya adalah penisbatan teori – teori ilmu pengetahuan kepada para ilmuan tanpa mengembalikannya kepada sang pemberi dan pemilik ilmu, sehingga mengakibatkan kekaguman dan pujian hanya berhenti pada diri para ilmuwan dan tidak bermuara kepada Allah SWT. Hal lain adalah berkembangnya berbagai teori – teori sesaat yang sebenarnya belum diterima secara ilmiah, tetapi disebarkan secara besar – besaran oleh kelompok – kelompok tertentu untuk menimbulkan keraguan pada agama. Misalnya, teori tentang asal usul makhluk hidup (the origins of species) dari Darwin (yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari penemuan Herbert Spencer) yang sebenarnya masih ada the missing link yang belum dapat menghubungkan antara manusia dank era, tapi sudah “ diindoktrinasikan “ kemana – mana. Atau, teori Libido seksualnya Freud, yang menyatakan bahwa jika manusia tidak dibebaskan sebebas – bebasnya keinginan seksualnya akan mengakibatkan terjadinya gangguan kejiwaan. Teori ini sudah dibantah secara ilmiah dan pencetusnya sendiri (Freud) yang terus menggembar – gemborkan kebebasan seksual, ternyata mati karena menderita penyakit kejiwaan (psikopath). 5. Bahasa Ghazwul fikri (GF) dibidang bahasa adalah dengantidak diajarkannya bahasa Al – Qur’an di sekolah – sekolah karena menganggapnya tidak perlu. Hal yang nampaknya remeh ini sebenarnya sanagt besar akibatnya dan menjadi bencana bagi kaum muslimin Indonesia secara umum. Dengan tidak memahami Al – Qur’an, mayoritas kaum muslimin menjadi tidak mengerti apa kandungan Al – Qur’an, seperti firman Allah dalam surah Al Baqarah:78 artinya “ Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al – Kitab (taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga – duga “. Akibatnya, Al – Qur’an menjadi sekedar bacaan tanpa arti (Al – Qur’an hanya dinikmati iramanya seperti layaknya lagu – lagu dan nyayian belaka, yang akhirnya ditinggalkan seperti yang disebutkan dalam surah Al Furqaan:30 yang artinya “ Berkata Rasul : Ya tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al – Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan “ dan surah Al Furqaan:31 yang artinya “ Dan seperti itulah, setelah kami adakan bagi tiap – tiap nabi, musuh dari orang – orang yang berdosa dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. “) Dampak lain dari kebodohan terhadap bahasa Al – Qur’an adalah terputusnya hubungan kaum muslimin dengan perbendaharaan ilmu – ilmu keislaman yang telah disusun dan dibukukan selama hamper 1000 tahun oleh para pakar dan ilmuwan islam terdahulu yang jumlahnya mencapai jutaan judul buku, mencakup bidang – bidang akidah, tafsir, hadist, fiqih, sirah, tarikh, ulumul qur’an, tazkiyyah dan sebagainya. 6. Hukum Ghazwul fikri (GF) pada aspek hukum adalah penggunaan acuan hukum warisan kolonial yang masih dipertahankan sebagai hukum yang berlaku, reduksi, dan penghapusan hukum Allah SWT dan Rasul – Nya. Rasa takut dan alergi terhadap segala yang berbau syariat islam merupakan keberhasilan ghazwul fikri (GF) dibidang ini. Penggambaran potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi penzina selalu ditonjolkan saat pembicaraan – pembicaraan tentang kemungkinan adopsi terhadap beberapa hukum islam. Mereka melupakan bahwa hukum islam berpihak (melindungi) korban kejahatan, sehingga hukuman keras dijatuhkan kepada pelaku kejahatan agar perbuatannya tidak terulang dan orang lain takut untuk berbuat yang sama. Sebaliknya, hukum barat berpihak (melindungi) pelaku kejahatan, sehingga dengan hukuman tersebut memungkinkannya untuk mengulang lagi kejahatannya karena ringannya hukuman tersebut. Laporan menunjukkan bahwa tingkat perkosaan yang terjadi di Kanada selama sehari sama dengan kejahatan yang sama di Kuwait selama 12 tahun, bahkan pooling yang dilakukan di masyarakat Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari 3 masyarakat Amerika Serikat menyetujui dijatuhkannya hukuman mati untuk pemerkosa. 7. Pengiriman pelajar dan mahasiswa ke Luar Negeri Ghazwul fikri (GF) dibidang ini terjadi dalam dua aspek, yaitu : Brain drain dan Brain Washing. Brain drain adalah pelarian para intelektual dari negara – negara islam ke negara – negara maju karena insentif yang lebih besar dan fasilitas hidup yang lebih mewah bagi para pekerja disana. Hal ini menyebabkan lambatnya pembangunan di negara – negara islam dan semakin cepatnya kemajuan di negara – negara barat. Data penelitian tahun 1996 menyebutkan bahwa perbandingan SDM bergelar doctor (S3) di Indonesia baru 60 per sejuta penduduk, di Amerika Serikat dan Eropa antara 2500 – 3000 orang per sejuta, dan di Israel mencapai 16.000 per sejuta penduduk. Sementara brain washing (cuci otak) dialami oleh para intelektual yang sebagian besar berangkat ke negara – negara barat tanpa dibekali dengan dasar – dasar keislaman yang cukup. Akibatnya, mereka pulang dengan membawa pola piker dan perilaku yang bertentangan dengan nilai – nilai islam. Bahkan secara sadar atau tidak, mereka ikut andil dalam membantu melanggengkan kepentingan barat dinegara mereka. 8. Media massa Berbicara mengenai ghazwul fikri (GF) yang terjadi dalam media massa, maka dapat dipilah pada aspek – aspek sebagai berikut : • Aspek kehadirannya Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari – hari dalam keluarga muslim, missal TV. Dulu selepas maghrib, anak – anak biasanya mengaji dan belajar agama. Sekarang, selepas maghrib anak – anak menonton acara – acara TV yang kebanyakan merusak dan tidak bermanfaat. Sementara bagi para remaja dan orang tua dibandingkan dating ke pengajian dan majlis – majlis taklim, mereka lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi srana dakwah yang luar biasa (sesuai dengan teori komunikasi yang menyatkan bahwa media audio – visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian baik pada tingkat individu maupun masyarakat) asal dikemas dan dirancang sesuai dengan nilai – nilai islam. • Aspek isinya Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa yang merupakan produk ghazwul fikri (GF) diantaranya adalah mengenai penokohan – penokohan atau orang – orang yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama, ilmuwan, dan orang – orang yang dapat mendorong membangun bangsa agar mencapai kemajuan IMTAK dan IPTEK sebagaimana yang digembar – gemborkan. Tetapi sebaliknya, justru tokoh yang terus menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur – hamburkan uang (tabdzir), jauh dari memiliki IPTEK apalagi nilai – nilai agama. Hal ini jelas besar dampaknya pada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup, cita – citanya dan tentunya pada kualitas bangsa dan Negara. Rpoduk lain dari ghazwul fikri (GF) yang menonjol dalam media TV, misalnya porsi film – film islami yang dapat dikatakan tidak ada. Film yang diputar 90% adalah film bergaya barat, sisanya adalah film nasional (yang juga bergaya barat), film – film mandarin, dan film – film india. F. Sasaran dilakukannya Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Sasaran dari ghazwul fikri (GF) adalah sebagai berikut : 1. Agar kaum muslimin menjadi condong sedikit terhadap gaya, perilaku dan pola pikir barat, seperti dalam Q.S. Al Israa:73 yang artinya “ Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. “ Q.S. Al Israa:74 yang artinya “ Dan kalau kami tidak memperkuatkan (hati)mu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka.” Q.S. Al Israa:75 yang artinya “ Kalau terjadi demikian, benar – benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat – lipat ganda didunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.” Dan Q.S.Al Israa:76 yang artinya “ Dan sesungguhnya benar – benar mereka hamper membuatmu gelisah di negeri (mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal sebentar saja.” 2. Setelah kaum muslimin condong sedikit, tahapan selanjutnya adalah agar kaum muslimin mengikuti sebagian dari gaya, perilaku dan pola pikir mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S.Ad Dukhan:25 yang artinya “ Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan.” Dan Q.S.Ad Dukhan:26 yang artinya “ Dan kebun – kebun serta tempat – tempat yang indah – indah.” 3. Pada tahap ini diharapkan kaum muslimin beriman pada sebagiannya ayat – ayat Al – Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW, tetapi kafir terhadap sebagian yang lainnya. Sebagaimana dalam Q.S.Al Baqarah:85 yang artinya “ Kemudian kamu (bani israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan dari pada kamu dari kampong halaman. Kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan tetapi jika mereka dating kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka. Padahal mengusir itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman pada sebagian Al Kitab(taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” 4. Pada tahap akhir, mereka menginginkan agar generasi kaum muslimin mengikuti syahwat dan meninggalkan shalat. Sebagaimana dalam Q.S.Maryam:59 yang artinya “ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia – nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan.” G. Tujuan Ghazwul Fikri (GF) 1. Menghambat kemajuan umat islam agar tetap menjadi pengekor barat. Berbagai macam pendapat nyeleneh yang ditebarkan para orientalis lewat media cetak dan elektronik berhasil menyita perhatian umat islam dan mengetuk sebagian besar potensinya,baik untuk melakukan kajian, bantahan dan pelurusan. 2. Menjauhkan umat islam dari Al – Qur’an dan As Sunnah serta ajaran – ajarannya. Dengan keraguan – raguan dan penyesatan terhadap umat islam, ghazwul fikri (GF) menyeret orang – orang awam ke jurang yang memisahkan mereka dari keislaman – Nya. Bahkan ada sebagian yang keluar dari islam dan berpindah ke agama lain. 3. Memurtadkan umat islam. Inilah yang digambarkan Al – Qur’an dalam Surah Al Baqarah:217 yang artinya “ Mereka tidak henti – hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah sia – sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” H. Dampak Positif dan Negatif Gahzwul Fikri (GF)  Dampak Positif dari Ghazwul Fikri (GF) Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempermudah memberikan pekerjaan pada manusia yang ada di Negara ini.  Dampak Negatif dari Ghazwul Fikri (GF) – Perusakan akhlak umat islam terutama yang masih berusia muda. – Berusaha menggiring umat islam kepada kekafiran, khususnya umat islam yang tipis pemahaman keislamannya. – Menjauhkan umat islam dari agamanya dan mendekatkannya pada kekafiran. http://dianerzteinstein.blogspot.com/ Ghazwul Fikri Pengertiannya: Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai. Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, “Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, “Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” Dalam konteks ini, al-Qur’an mengatakan, artinya, “Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka.” (QS. Faathir : 6). Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An’aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da’wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam ‘tangan’ mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional. Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup. Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada. Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam. Al-Qur’an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda’wahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da’wah sederhana antara Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda’wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini. Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da’i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu’min serta melecehkan al-Qur’an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na’udzu billaah min dzaalik! Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau ‘aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana. Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara. Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na’udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda’wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin Sasarannya adalah: a. Menggiring orang yang tipis pemahaman Islamnya hingga menuju kepada ke Kafiran. b. Agar umat Islam mengikuti agama kafir. c. Memadamkan cahaya Allah. Metode yang digunakannya: 1. Membatasi penyebaran agama Islam: a. Tasykik (Pendangkalan) atau keragu-raguan. b. Tasywih (Pencemaran atau Pelecehan). c. Tadhil (Penyesalan). d. Taghrib (Pembaratan atau Westernisasi). 2. Menyerang Islam dari dalam: a. Penyebaran paham sekularisme. b. Penyebaran paham nasionalisme. c. Pengrusakan akhlak umat Islam. d. Penyusupan paham-paham sekte animisme dan dinamisme. e. Pemutarbalikan pemahaman Islam yang lurus. Sarananya: a. Media massa (cetak dan elektronik). Hasil dari Ghazwul Fikri : 1. Umat Islam menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. 2. Minder dan rendah diri. 3. Jadi ikut-ikutan. 4. Berpecah-belah. http://hanyakomar.wordpress.com/2009/08/18/ghazwul-fikri/ Ghazwul Fikri (Invasi Pemikiran) “Kita sebelum ini adalah serendah-rendah kaum, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita menuntut kehormatan dengan selainnya, Allah pasti kembali merendahkan kita…” (Umar bin Khattab al-Faruq) Semenjak dihentikannya perang fisik berupa invasi militer di seluruh dunia, kolonialisme baru menggunakan berbagai saluran selain fisik, seperti ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), budaya (tsaqafah) dan terutama adalah pemikiran (fikrah). Seluruhnya menjadi sarana invasi bagi Barat—sebagai simbol kolonial dan imperialis—ke dunia Islam. Sejalan dengan itu, usaha Barat untuk melakukan invasi pemikiran—sebagai sarana fundamental konstruksi budaya masyarakat—ke dalam dunia Islam tidak akan pernah berhenti. Untuk itu, kita harus mengenal tahapan dan strategi mereka dalam melakukan Ghazwul Fikri ini. Pengertian Ghazwul Fikri Secara bahasa, ghazwah adalah serangan, serbuan atau invasi. Fikri berarti pemikiran atau pemahaman. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang). Qital Ghazwah Saling mengetahui siapa lawannya Sepihak, yang lain tidak menyadari kalau sedang diserang. Banyak korban jiwa Relatif tidak ada Membutuhkan dana yang besar Relatif membutuhkan dana sedikit Hasilnya belum tentu ada. Hasilnya nyata terlihat dan berhasil Efeknya terbatas. Efeknya dalam dan luas Secara istilah, Ghazwul Fikri berarti penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tidak islami. Sasaran Ghazwul Fikri Setidaknya ada tiga sasaran dalam Ghazwul Fikri ini, 1. Menjauhkan umat Islam dari agama (dien)nya. “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu berbuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu, tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (al-Isra’[17]: 73). “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (al-Maidah [5]: 49) 2. Berusaha memasukkan yang sudah kosong Islamnya ke dalam agama kafir. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)” (al-Baqarah [2]: 217. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah [2]: 120). 3. Memadamkan cahaya Allah. “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang kafir benci” (al-Shaff [61]: Metode Ghazwul Fikri 1. Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas. Paling tidak menggunakan tiga tahapan: a. Tasykik, yaitu proses pendangkalan atau membuat ragu-ragu dari kaum muslimin terhadap agamanya. b. Tasywih, yaitu pencemaran dan pelecehan. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk. c. Tadhlil (penyesatan), yaitu upaya orang kafir menyesatkan umat mulai dari cara halus sampai cara yang kasar. d. Taghrib (pembaratan/westernisasi), yaitu gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin agar mau menerima seluruh pemikiran dan perilaku Barat. 2. Menyerang Islam dari dalam, setidaknya tiga metode yang ditempuh: a. Penyebaran faham sekulerisme, yaitu usaha memisahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. b. Penyebaran faham nasionalisme sempit, yang akan membunuh ukhuwah islamiyah yang merupakan azas kekuatan umat Islam. c. Pengrusakan akhlaq para generasi muda Islam. Hasil Ghazwul Fikri Secara kasat mata, sebagaimana disinyalir oleh Allah dalam al-Quran, ghazwul fikri akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi umat Islam, diantaranya adalah: 1. Umat Islam menyimpang dari al-Quran dan Sunnah. “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.” (al-Furqon [25]: 30). 2. Minder dan rendah diri. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 139). 3. Ikut-ikutan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’ [17]: 36). 4. Terpecah belah. “…yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (al-Ruum [30]: 32) http://zakigerilyawan.wordpress.com/2009/11/22/ghazwul-fikri-invasi-pemikiran/ 31 May Praktek-praktek Ghazwul Fikri admin | Artikel Islam Sebetulnya praktek-praktek ghazwul fikri jelas ada di depan mata kaum muslimin setiap hari dan hampir di seluruh aspek kehidupan, praktek-praktek tersebut sudah mereka lakukan. Pola-pola yang mereka gunakan sangat beragam dan semuanya dilakukan secara halus dan cantik. Sasaran mereka juga menyeluruh dari anak-anak sampai orang dewasa, dari kalangan awam sampai dengan kalangan intelektual. tujuan mereka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak lagi untuk memurtadkan ummat Islam secara status, tetapi bagaimana menjadikan karakter, pola pikir, dan sikap memusuhi Islam itu sendiri. Cara ini lebih srategis akrena korban-korban tersebut secara tidak langsung tidak akan dianggap sebagai musuh Islam. inilah yang disebut pembusukan dari dalam dan sebetulnya hal ini lebih berbahaya. Di bidang pendidikan, praktek-praktek ghazwul fikri sudah sangat meluas. Bisa dijumpai saat ini di sekolah-sekolah milik mereka sangat menjamur. Dengan kelebihan dana yang mereka miliki, mereka mampu menciptakan sekolah-sekolah yang secara akademis unggul. Mereka bisa membayar guru-guru yang berkualitas, membeli sistem kurikulum yang baik, serta menyediakan lingkungan dan fasilitas yang sangat mendukung. Dalam kenyataannya, kondisi ini mampu menggiring para orang tua muslim yang kurang kuat keimanannya untuk merelakan anak-anaknya bersekolah di sana. Di dalam interaksi belajar, banyak sekali hal-hal yang secara jelas-jelas melanggar aqidah dan syariat Islam, misalnya yang pertama, kewajiban berdo’a dengan cara mereka. Yang lebih mengerikan lagi adalah fakta adanya usaha-usaha memutarbalikkan ajaran Islam. Seorang dosen pernah ngobrol dengan saya dan mengatakan bahwa Muhammad itu melarang memakan babi karena sebetulnya ia sangat gemar makan babi. Informasi seperti itu ternyata ia dapatkan sewaktu di bangku sekolah yang kebetulan milik yayasan kristen. Informasi-informasi slaha seperti itu senagaja mereka sampaikan untuk mengacaukan pemahaman ummat Islam. Yang kedua adalah program pertukaran pelajar. Beberapa tujuannya adalah meluaskan wawasan dan saling mengenal budaya lain. Tujuan tersebut seolah-olah tidak salah, tapi bukan berarti mereka punya maksud lain. Yang mereka sebut budaya itu sangat luas dan dengan kelihaiannya, mereka mampu mengemas sesuatu yang jelas tidak baik dalam bungkus budaya. Target mereka adalah kalaupelajar-pelajar tersebut tidak meniru secara fisik, paling tidak pola pikir mereka sudah berubah untuk mentolelir, menerima, mensahkan hal-hal yang jelas-jelas salah. Yang berikutnya adalah program pengiriman mahasiswa berprestasi ke luar negeri. Keberadaan mahasiswa muslim di luar negeri merupakan kesempatan besar bagi mereka untuk lebih menggarap. Jauh dari kondisi yang Islami, interaksi yang terbatas membuat mereka berusaha sedemikian hingga untuk memfasilitasi mereka. Disinilah peluang mereka. Ada kasus di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung yang sangat luar biasa. Seorang mahasiswa yang pada mulanya adalah muslim yang taat, tiba-tiba meninggalkan agamanya. Setelah ditelusuri, ternyata berawal dari kemampuan membaca Al Qur’an yang minim yang akhirnya menyebabkan kegagalan ujian mata kuliah agama Islam. Mahasiswa tersebut merasa sangat tertekan dan berat sampai akhirnya dia tahu bahwa ujian agama kristen sangatlah mudah. Berangkat dari keinginan untuk segera lulus, akhirnya ia nekat memutuskan ikut ujian agama kristen (pura-pura pindah agama). Tanpa disadari, setelah itu ternyata ia semakin tertarik sampai akhirnya memutuskan untuk murtad. Jadi, sampai ke masalah kurikulum mereka sangat jeli untuk menangkap peluang-peluang. Untuk mata kuliah/pelajaran tertentu, mereka memberikan kemudahan yang sangat luar biasa. Kasus lain, di sebuah universitas Khatolik Bandung, seorang calon mahasiswi mengungkapkan bahwa karena statusnya muslimah maka ia harus menggunakan kerudung, dan jika menolak maka ia harus rela mengikuti ritual-ritual keagamaan. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG SOSIAL Dalam bidang sosial, pola-pola yang mereka gunakan juga tidak kalah hebat. Hampir seluruh LSM yang mereka pegang bisa dikatakan profesional dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka dengan cepat dapat menangkap problematika-problematika nyata yang ada di masyarakat kita dan selanjutnya segera memberikan solusi yang dibutuhkan. Cara mereka memang cepat menarik simpati orang banyak yang akan dibantu. Banyak sekali kasus-kasus nyata seperti itu. Suatu contoh, pernah suatu saat kami datang di sebuah kelurahan di kota Bandung untuk memberikan santunan/beasiswa. Ternyata mereka sudah lebih dulu memberikan bantuan kepada penduduk setempat. Ini berarti gerak mereka tidak hanya cepat tetapi juga terus menerus. Berbeda dengan kita yang selama ini masih dengan sistem hit and run. Maksudnya, kebanyakan kita datang sekali dua kali kemudian langsung memberikan ceramah dan setelah itu ditinggalkan. Pada tahun 1985-an, beberapa da’i kita datang ke pedalaman Kalimantan kepada suku-suku Dayak. Ternyata di sana sudah terbentuk sistem perkampungan yang sangat rapi. Yang tak kalah menariknya lagi, di sana ada seorang dokter dan seorang pastur yang menangani khusus masalah kesehatan dan spiritual mereka. Sekali lagi mereka jauh lebih cepat. Banyak sekali kasus serupa yang sebenarnya di sana terdapat muatan ghazwul fikri-nya. Ada sebuah kasus lagi yang menimbulkan fenomena yang sangat menarik. Beberapa waktu yang lalu, kami mendapatkan informasi praktek sejenis di sebuah perkampungan di pinggiran kota Jakarta. Segera saja kami dengan beberapa lembaga Islam melakukan survey ke tempat itu. Kampung tersebut ternyata memang sebuah kampung kumuh yang penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai pemulung. Akan tetapi pola hidup mereka cenderung konsumtif. Akhirnya, dengan kesepakatan beberapa lembaga, kami memutuskan untuk melakukan aksi sosial dan tabligh akbar di sana untuk memulai serangkaian rencana yang lainnya. Ternyata aksi tersebut tidak mendapatkan respon yang baik dari masyarakat sekitar. Sungguh berbeda dengan yang biasanya. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, beberapa di antara mereka kemudian berkomentar sederhana : “Ngapain capek=capek hanya sekadar untuk mendapat beras beberapa kilo gram? Tanpa keluar dari rumah saja, kami sudah mendapatkan yang kami butuhkan.” Jadi nampaklah pola gerak mereka menimbulkan dampak yang luar biasa, yaitu melemahkan etos kerja orang yang mereka bantu. Dan ini tidak dapat dipungkiri menjadi peluarng tersendiri untuk menggarap mereka. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG BUDAYA Suatu sore, tidak sengaja saya melihat sebuah acara debat mahasiswa di sebuah stasiun TV. Temanya mengenai pornografi dan kekerasan terhadap perempuan. Awalnya yang mereka sampaikan normatif-normatif saja, bahwa pada intinya mereka menolak. Tetapi saat timbul pertanyaan apakah ada hubungannya antara gaya busana (terutama perempuan) dengan kekerasan, mulai timbul pro dan kontra. Yang menarik saat itu, sangat ironis ternyata peserta yang perempuanlah yang menolak. Menurutnya, tidak ada hubungan antara gaya busana dengan munculnya kekerasan. Gaya busana adalah hak azasi dan merupakan sebuah budaya. Dia mengambil contoh kasus Bali. Tidak menjadi masalah dalam artian tidak akan diganggu, perempuan-perempuan di sana berjalan-jalan dengan busana yang sangat minim. Dia meyakinkan lagi bahwa hal ini terjadi karena menurut masyarakat di sana keadaan seperti ini sudah biasa. Itulah budaya. Paginya, sebuah artikel di sebuah harian terkenal mengupas tema yang sama. Kali ini nara sumbernya seorang laki-laki. Kesimpulannya tidak jauh beda dengan mahasiswa perempuan di atas, bahkan lebih mengagetkan. Dia menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan adalah karena ia adalah perempuan dan tidak ada hubungannya dengan gaya busana yang dikenakan sang perempuan. Benarkah faktanya demikian? Jelas kesimpulan tadi sangat menyesatkan. Sama saja dengan menyatakan bahwa perempuan hanya ditempatkan kepada konteks eksistensi biologid, tak lebih dari itu. Apa artinya semua ini? Itulah ghazwul fikri. Dalam bidang budaya, praktek-praktek ini tumbuh dengan subur. Obyeknya tak hanya perempuan, tetapi kalau dicermati sepertinya perempuan lebih rentan terhadap interfensi budaya. Kita lihat saja mode baju, sepatu, atau rambut. Sangat cepat dan mudah booming, kenapa demikian? Karena budaya memang sangat erat dengan nilai seni dan keindahan. Yang menjadi masalah adalah jika nilai seni dan keindahan yang diangkat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah letak jebakan itu. Bagi orang yang memang tak punya prinsip, langsung dikonsumsi. Praktek-praktek tersebut selalu dibungkus dengan kemasan yang menarik. Media adalah penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran ini. Segala produk budaya jahil ditayangkan di sana secara bebas. Contoh yang jelas misalnya film Baverly Hills. Ada yang pernah menyampaikan kepada saya dalam sebuah diskusi, di sebuah episode film tersbut diceritakan seorang gadis yang sangat masih gadis, belum pernah berkencan (zina). Sangat mengerikan, pesan sesat yang mereka sampaikan betul-betul terkemas dengan rapi. Buktinya film tersebut sangat disenangi oleh anak muda. Bagaimana dengan budaya kita (budaya timur)? Alhamdulillah memang kebayakan budaya kita masih mengindahkan nilai-nilai moral. Tapi juga bukan berarti semuanya aman dan terbebas dari usaha ghazwul fikri. Contoh sederhananya mungkin baju adat atau baju pengantin daerah-daerah tertentu termasuk tata riasnya yang menurut Islam jelas bertentangan. Tetapi oleh sebagian kalangan tertentu produk tersebut dikatakan sebagai budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Jika masyarakat tidak peka, yang terjadi adalah sekadar mengekor dengan dalih karena budaya sendiri. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG TEKNOLOGI DAN INFORMASI Disebutkan sebelumnya, bahwa media informasi merupakan penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran. Salah satu metode perang pemikiran yang dilakukan adalah dengan cara pengkaburan istilah. Pengkaburan istilah ini dinilai sangat efektif sehingga akan berakhir dengan anggapan yang benar ketika sebuah istilah diungkapkan secara terus menerus. Sebagai contoh misalnya, istilah pasukan Taliban akan memiliki makna yang positif dan perjuangannya akan mendapatkan dukungan yang besar dan kuat dari umat Islam jika istilah tersebut diungkapkan dengan Mujahidin Taliban. Tapi sebaliknya, umat Islam tidak akan simpatik bahkan akan cenderung memusuhi umat Islam yang lainnya jika istilah tersebut diungkapkan dengan Talibanisme atau rezim Taliban. Dan yang terjadi saat ini adalah, media mulai mengistilahkan Mujahidin Taliban dengan Talibanisme. Bahkan beberapa media di Indonesia ada yang menyebutkan rezim Taliban. Mengapa ini terjadi? Kejadian tersebut di atas sesungguhnya dikarenakan penguasaan musuh-musuh Islam akan teknologi informasi dan jaringannya. Ada sebuah kasus yang menarik. Beberapa saat setelah gedung WTC hancur, CNN yang mempunyai jaringan hampir di seluruh dunia dan memiliki kemampuan teknologi canggih dengan kecepatan akses yang tinggi, langsung mengekspos gambar masyarakat Arab yang bersorak sorai baik di televisi maupun di internet. Mereka hendak mengarahkan opini publik bahwa masyarakat Muslim ternyata sangat gembira atas peristiwa tersebut. Maksud dari semua itu tidak lain karena mereka ingin memperlihatkan bahwa kaum Muslimin adalah terorisnya. Selanjutnya apa yang akan terjadi? Bisa saja umat Islam tidak lagi memberikan dukungan terhadap perjuangan Umat Islam dan Islam, bahkan yang lebih buruk lagi mereka malah memusuhi Islam. Inilah yang mereka inginkan dari umat Islam. Walaupun akhirnya maksud jahat mereka terbongkar dengan terbuktinya bahwa gambar yang ditayangkan tersebut, sebenarnya rekaman kejadian yang sudah terjadi jauh sebelum peristiwa hancurnya gedung WTC. CNN sangat malu hingga sempat minta maaf atas penayangannya itu. Ada kasus yang lebih menari berkenaan dengan kasus hancurnya gedung WTC. Tidak lama setelah hancurnya gedung pencakar langit tersebut, media mereka langsung mengekspos tersangka pelaku. Pertama kali yang mereka curigai adalah seorang laki-laki keturunan Arab. Lagi-lagi mereka ingin mengarahkan bahwa pelakunya adalah Muslim. Tapi usaha mereka ternyata gagal, karena akhirnya terbukti bahwa tersangka yang mereka maksud telah meninggal dunia sebelum hancurnya gedung itu. Sebaliknya ada fakta-fakta aktual yang mereka ketahui namun kemudian mereka tutup-tutupi. Misalnya fakta tentang cuti massalnya sejumlah 4000 karyawan berkebangsaan Yahudi yang bekerja di gedung nomor empat tertinggi di dunia itu, ketika gedung tersebut hancur. Fakta ini sama sekali tidak mereka angkat, karena mereka takut rencana jahat mereka terbongkar. Penghilangan fakta ini menyebabkan banyak sekali umat Islam yang tidak tahu fakta aktual yang sesungguhnya terjadi tersebut. Jadi kalau umat Islam tidak jeli dan tidak berusaha mencari informasi pembanding, maka yang terjadi adalah seperti yang mereka harapkan, status Muslim namun berperilaku memusuhi umat Islam dan Islam. Di sepanjang sejarah, media mereka memang terbukti tidak pernah obyektif dalam menginformasikan apapun. Dan hal itu mereka lakukan secara sengaja. Banyak lagi hal yang telah mereka lakukan untuk meragukan umat Islam terhadap umat Islam yang lain dan Islam. Hasilnya adalah, banyak sekali kesalahan yang kemudian dilakukan oleh umat Islam kepada umat Islam yang lain dan Islam sendiri. Hal ini dapat dilihat dari umat Islam dalam mensikapi hal-hal yang sidah jelas kedudukannya. Kasus Palestina misalnya, ternyata masih banyak umat Islam yang menganggap bangsa Palestina sebagai agresor, atau usaha rakyat Bosnia dan Cechnya yang dicap sebagai usaha separatis. Dan masih banyak lagi sesungguhnya kasus yang serupa. Semua ini tidak lain adalah hasilk ghazwul fikri yang mereka mainkan. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG EKONOMI Masih segar dalam ingatan kita pada tahun 1997, awal dari yang disebut orang sebagai krisis ekonomi. Peristiwa tersebut sangat mungkin tidak pernah terbayang oleh kebanyakan masyarakat. Suatu saat saya pernah mendengar pertanyaan seorang anak yang masih duduk di bangku SMP, bukankah bangsa Indonesia merupakan negara yang berkembang, kok tiba-tiba dikatakan krisis ekonomi? Pertanyaan seperti ini bisa jadi tidak hanya timbul dari seorang bocah SMP, orang-orang tua kita, teman-teman kita mungkin juga sangat bingung. Sejak saat itu biasa kita lihat atau kita dengar barang-barang kebutuhan pokok tiba-tiba menghilang dari pasar. Memburu beras, gula, susu, minyak, menjadi pekerjaan baru bagi ibu-ibu. Semua orang menjadi panik. Sampai saat ini ekonomi bangsa ini semakin terpuruk. Perrgantian tim penyelamat ekonomi yang dibentuk oleh pemerintahan selalu bubar dan berujung dengan sebuah kebingungan dan keputusasaan. Tidak heran, jika akhirnya negara kita saat ini dikatakan sebagai bangsa yang miskin. Tetapi itulah fakta, meski sangat tragis. Di sebuah negara yang sangat berlimpah dengan kekayaan alam, ternyata sebagian besar penduduknya harus hidup dalam kemiskinan. Saya masih ingat ketika belajar Geografi ketika SD dan SMP. Di mana-mana bumi Indonesia penuh dengan kekayaan alam. Ada minyak bumi, timah, tembaga, emas, dan hutan yang berlimpah. Kemanakah semua kekayaan tadi?. Suatu saat saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Kalimantan di perusahaan UNOCAL. Di sana saya melihat lima anjungan besar. Jangan ditanya berapa uang yang dapat dihasilkan dari sana, yang pasti sangat besar. Apakah masyarakat di sana hidup berkecukupan? Tidak juga, karena kekayaan alam yang luar biasa besar itu belum bisa dinikmati oleh mereka. Kita lihat di daerah lain, Irian Jaya dengan tembaganya, Aceh dengan gas Arun, atau Buton dengan timahnya. Nasib masyarakat di sana tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Apa yang terjadi? Sebetulnya, itu merupakan salah satu dampak dari praktek Ghazwul Fikri yang mereka lakukan. Hampir tiga abad bangsa kita dijajah, tidak hanya harta benda kita yang dirampas, yang lebih menyakitkan adalah bangsa ini sengaja dirusak, diracuni mental dan psikologisnya. Bagaimana mereka secara sengaja selalu menekankan kepada bangsa kita saat itu, bahwa kelas bangsa kita adalah nomor tiga yang tidak mempunyai harga di mata mereka. Dan usaha mereka bukannya tidak berhasil. Sampai sekarang ini kita masih bisa merasakan dan melihat karakter bangsa kita yang selalu merasa rendah diri terhadap bangsa lain, selalu ingin mengekor kepada bangsa lain atau merasa gagap dan kagum terhadap setiap kemajuan yang mereka ciptakan. Bagaimana orang tua kita lebih mengabdikan kepada mereka hanya karena lebih bangga jika anak-anaknya menjadi pegawai walaupun harus berpenghasilan sangat kecil. Sampai sekarang hal-hal tersebut masih melekat di sebagian masyarakat kita. Coba kita tanyakan kepada anak-anak kita tentang cita-cita mereka. Kebanyakan dari mereka akan mengatakan ingin menjadi dokter, hakim, politisi, atau profesi yang lain. Akan sangat jarang kita mendengar mereka ingin menjadi pedagang atau pengusaha yang sukses. Tidak salah, bahkan cita-cita tersebut sangat mulia. Tapi masalahnya, bangsa ini menjadi kehilangan jiwa-jiwa, karakter-karakter yang seharusnya menggerakkan roda ekonomi yang riil. Inilah yang terjadi sekarang. Pembangunan ekonomi yang disebut-sebut mengalami perkembangan yang cepat ternyata hanya kamuflase. Di dalamnya sangat kropos karena memang perekonomian yang dijalankan bukanlah sektor riil yang diharapkan mampu memberi topangan yang sangat kuat. Karakter bangsa kita yang sedemikian sangat rentan terseret kepada permainan ekonomi yang mereka (Amerika/Yahudi) segaja ciptakan guna keuntungan mereka sendiri. Kita tahu sekali siapa Rasulullah. Beliau adalah figur pengusaha yang sukses. Begitu juga dengan para sahabat. Ada Abdurrahman bin auf yang tidak takut sama sekali karena harus memulai usahanya dari nol demi mengikuti hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Ada juga Utsman bin Affan yang lebih memilih menghibahkan perniagaannya kepada masyarakat banyak yang saat itu sangat membutuhkan dibanding mendapatkan keuntungan besar yang ditawarkan pedagang-pedagang lainnya, sehingga krisis yang saat itu hampir terjadi dapat diselesaikan dengan sangat indah.. Karakter-karakter kuat itulah yang akhirnya mampu bertahan saat menghadapi pemboikotan ekonomi oleh musyrikin saat itu. Mereka memilih hidup menderita sementara dibanding mendapatkan tawaran yang sepertinya menguntungkan tetapi sesungguhnya membawa bencana besar yang tiada berujung.*** Link lain : Ghazwul Fikri (Perang Peradaban) http://www.tawakal.or.id/2003/05/praktek-praktek-ghazwul-fikri/ Ghazwul Fikri Lebih Dahsyat dari Bom Rabu, 12 Agustus 2009 13:29 Ibarat musim, hujan lebat selalu dimulai dengan gerimis terlebih dulu. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam tak pernah kendor. Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh. Cara ini dipandang lebih efektif dan murah. Líhatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton. Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam. Buku ini menyerang Islam politik. Buku tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute. Buku itu merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation. Yang menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli. Buku berjudul lengkap Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional. PKS membantah dan mengatakan, para penulis buku itu merupakan antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush. Dalam kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah. “Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush. Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya. Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme,” ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah. Menurut Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. “Padahal kan framework dunia sudah berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu. Saat ini dunia sudah mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush sebagai penjahat perang,” katanya. Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang. Menurut Ismail Yusanto, Jurubicara HTI, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. “Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini,” tegas Ismail Yusanto. Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam. Setelah pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta, Jumat (17/7), berhasil diungkap Kepolisian. Kontroversi teror bom masih mengganggu benak umat muslim Indonesia. Kedekatan pelaku dengan Noordin M Top dan Jamaah Islamiyah (JI) seolah-olah kembali menggiring opini publik jika Islam di Indonesia identik dengan kekerasan meski tanpa bukti dan fakta yang nyata. Sehingga menyebabkan antipati publik terhadap Islam. Padahal, selama ini Islam selalu hidup damai, terbuka dan toleran. Yang menarik adalah kesimpulan AM Hendropriyono. Mantan Kepala BIN ini mengatakan bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. Statemen AM Hendropriyono mengundang protes keras dari kalangan tertentu. “Terorisme ada di Indonesia karena suasana kondusif untuk benih-benih terorisme. Selama anasir-anasir tsb tidak dibersihkan dari bumi nusantara maka terorisme tidak akan hilang,” katanya pada Sabili yang mewawancarai Hendropriyono di Yogyakarta. Siapakah Wahabi? Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syekh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah, di antaranya terdapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan. Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, sebagai ajaran akidah tauhid, apa yang disampaikan Muhammad bin Abdul Wahab menyebar ke seluruh dunia Islam melalui jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Menguatnya persatuan akidah ini ternyata membawa dampak lain pada kekuatan kolonial yang saat itu berkuasa di dunia Islam. Akhirnya, Inggris ajaran akidah tauhid ini sebagai bentuk baru persatuan dunia Islam yang akan melahirkan ancaman pada kolonial. Berikutnya, kekuatan kolonial membentuk kelompok Murtaziqah (orang-orang bayaran) untuk mencemarkan nama baik dakwah. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid, para penyeru tauhid, dengan kata Wahabi. Pasca 9/11, sebuah buku diterbitkan oleh di AS dengan judul Wahabi Islam, ditulis seorang orientalis yang merupakan mahasiswa S3 John Esposito. Penulisnya mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti Wahabisme ketika saat mengambil kuliah Islamologi dan membaca tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, namun tidak menemukan elemen-elemen yang menganjurkan kekerasan. Dalam salah satu babnya, ia mengatakan bahwa pengidentikan Wahabi dengan kekerasan dimulai oleh Inggris di India tahun 1800-an saat terjadi revolusi Muslim. Sejarah menyatakan tidak ada kaitan antara gerakan tersebut dan Wahabisme. Wahabi sendiri sebenarnya suatu yang kontroversial. Orang awam cenderung mengaitkan Wahabi dengan Islam yang “bertentangan” dengan arus besar (mainstream). Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah. Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama). “Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya. Terminologi Wahabi yang sering dilontarkan seringkali menambah kisruh suasana. Ulama-ulama Saudi yang selalu dicap Wahabi oleh sebagian orang, dalam sejarahnya selalu mengecam dan mengritik al-Qaidah, bahkan sebelum pemboman Tanzania. Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme. Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi. Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram. Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram. Mereka tidak suka mencaci maki pemerintah. Kritikan akan dilakukan secara tertutup (kalau bisa empat mata) dengan penguasa. Ulama mengharamkan melakukan pemberontakan (bughat) selama penguasa masih Muslim. Suasana semakin kisruh ketika Ikhwanul Muslimin (IM) juga disatukan dalam barisan. IM didirikan untuk untuk mengembalikan kekhalifahan setelah runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki lepas Perang Dunia I. Ikhwanul Muslimin sendiri tidak terlepas dari proses radikalisasi. Ada beberapa faktor. Salah satu faktor bersifat internal, karena ada beberapa elemen yang memang memilih jalur keras. Di IM, pemikiran radikal ini diwakili oleh misalnya Sayyid Quthb. Faktor eksternal, suatu faktor yang lebih dominan, adalah reaksi politik dari pemerintah yang cenderung menutup akses politik lawan mereka, termasuk IM. Faktor ini sebenarnya lebih mendorong radikalisasi. Kasus populer adalah Aljazair. Kekerasan muncul saat hasil pemilu tahun 1990an yang dimenangkan secara mutlak oleh partai Islam (FIS) dibatalkan oleh pemerintah berkuasa dan didukung oleh Barat, dan partai tersebut dinyatakan ilegal. Demikian juga di Iran saat Shah Iran. Faktor penting yang tak bisa dikesampingkan adalah, Afghanistan. Negara ini ketika berperang dengan Komunis Soviet dijadikan sebagai laboratorium jihad oleh berbagai elemen Islam. Apalagi Amerika berada di pihak yang membantu mujahidin. Namun setelah kemenangan itu diraih, mujahidin banyak yang secara psikologis masih merasa berada di medan jihad. Suasana tempur tak bisa hilang begitu saja. Apalagi negara Barat berbalik menganggap Islam sebagai ancaman. Provokasi dan kezaliman muncul di negeri-negeri Islam. Maka radikalisme itu seolah mendapatkan tempat dan pupuk yang maksimal. Dan setelah itu, target dialihkan pada umat Islam yang dinyatakan radikal. Padahal, sejarah menceritakan pada dunia bahwa radikalisme nampaknya selalu dipelihara, demi kepentingan kolonial yang selalu berganti pemainnya. Jadi lontaran statemen Wahabi memang lebih dahsyat dari bom itu sendiri. (Eman Mulyatman) http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/ghazwul-fikri-lebih-dahsyat-dari-bom

About these ads

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: