Filsafat Berfikir

PERANG SALIB | Juli 30, 2011

Sebab-sebab Terjadinya Perang Salib

Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap.kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M. dikenal sebagai perang salib. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan, selain itu mereka menggunakan simbol salib. Namun jika dicermati lebih mehdalam akan terlihat adanya beberapa kepentingan individu yang turut mewarnai perang salib ini. Berikut ini adalah beberapa penyebab yang turut melatarbelakangi terjadinya perang salib.

Gambar diambil dari: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/31/Map_of_First_Crusade_-_Roads_of_main_armies-fi.png

Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.

Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis. padahal yang terjadi adalah bahwa pihak Kristen bebas saja melaksanakan haji secara berbondong-bondong. pihak Kristen menyebarkan desas-desus perlakuan kejam Turki Saljuk terhadap jemaah haji Kristen. Desas-desus ini membakar amarah umat Kristen-Eropa.

Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”

Keernpat, propaganda Alexius Comnenus kepada )aus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.

Tujuan utama Paus saat itu adalah memperluas pengaruhnya sehingga gereja-gereja Romawi akan bernaung di bawah otoritasnya. Dalam propagandanya, sang Paus Urbanus ll menjanjikan ampunan atas segala dosa bagi mereka yang bersedia bergabung dalam peperangan ini. Maka isu persatuan umat Kristen segera bergema menyatukan negeri-negeri Kristen memenuhi seruan sang Paus ini. Dalam waktu yang singkat sekitar 150.000 pasukan Kristen berbondong-bondong memenuhi seruangsang Paus, mereka berkumpul di Konstantinopel. Sebagian besar pasukan ini adalah bangsa Perancis dan bangsa Normandia.

Jalannya Peperangan

Perang salib yang berlangsung dalam kurun waktu hampir dua abad, yakni antara tahun 1095 – 1291 M., terjadi dalam serangkaian peperangan.

Diambil dari: http://www.hist.umn.edu/courses/hist3613/calendar/1stCrusade/images/First%20Crusade%20Map.jpg

Perang Salib 1

Pada tahun 490 H/1096 M. sebuah pasukan salib yang dipimpin oleh komandan Walter dapat ditundukkan oleh kekuatan Kristen Bulgaria. Kemudian Peter yang mengkomandoi kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hungaria dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiap kekuatan yang menghalanginya. Seorang sultan negeri Nice berhasil menghadapinya bahkan sebagian pimpinan salib berkenan memeluk lslam dan sebagian pasukan mereka terbunuh dalam peperangan ini.

Setahun kemudian yakni pada tahun 491 H/1097 M. pasukan Kristen di bawah komandan Coldfrey bergerak dari Konstantinopel menyeberangi selat Bosporus dan berhasil menaklukkan Antioch (Antakia) setelah mengepungnya selama 9 bulan. Pada pengepungan ini pasukan salib melakukan pembantaian secara kejam tanpa prikemanusiaan.

Setelah berhasil menundukkan Antioch, pasukan salib bergerak ke Ma’arrat al-Nu’ man, sebuah kota termegah di Syria. Di kota ini pasukan Salib juga melakukan pembantaian ribuan orang. Pasukan salib selanjutnya menuju ke Yerusalem dan dapat menaklukkannya dengan mudah. Ribuan jiwa muslirn menjadi kurban pembantaian dalam penaklukan kota Yerusalern ini. “Tumpukan kepala, tangan dan kaki terdapat disegala penjuru jalan dan sudur kota”. Sejarah telah menyaksikan sebuah tragedi manusia yang memilukan. Goldfrey selanjutnya menjabat sebagai penguasa atas negeri Yerusalem. Ia adalah penguasa yang cakap, dan komandan yang bersemangat dan agresif.

Pada tahun 503 H/1109 M., pasukan salib menaklukkan Tripoli. Mereka selain membantai masyarakat Tripoli juga membakar perpustakaan, perguruan dan sarana industri hingga menjadi abu.

Selama terjadi penyerangan di atas, kesultanan Saljuk sedang dalam kemunduran. Perselisihan antara sultan-sultan Saljuk memudahkan pasukan salib merebut wilayah-wilayah kekuasaan islam. Dalam kondisi seperti ini muncullah seorang sultan Damaskus yang bernama Muhammad yang berusaha mengabaikan konflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan Saljuk untuk mengusir pasukan salib. Baldwin, penguasa Yerusalem pengganti Goldfrey, dapat dikalahkan oleh pasukan Saljuk ketika ia sedang menyerang kota Damaskus. Baldwin segera dapat merebut kembali wilayah-wilayah yang lepas setelah datang bantuan pasukan dari Eropa.

Sepeninggal Sultan Mahmud, tampillah seorang perwira muslirn yang cakap dan gagah pemberani. Ia adalah Imaduddin Zangki, seorang anak dari pejabattinggi Sultan Malik Syah. Atas kecakapannya, ia menerima kepercayaan berkuasa atas kota Wasit dari Sultan Mahmud. Belakangan penguasa Mosul dan Mesopotamia juga berlindung kepadanya. la menerima gelar Attabek dari khalifah di Bagdad. Ia telah mencurahkan kemampuannya dalam upaya mengembalikan kekuatan pemerintahan Saljuk dan menyusun kekuatan militer, sebelum ia mengabdikan diri di kancah peperangan salib.

Masyarakat Aleppo dan Hammah yang menderita di bawah kekuasaan pasukan salib berhasil diselamatkan oleh Imaduddin Zangki setelah berhasil mengalahkan pasukan salib. Tahun berikutnya ia juga berhasil mengusir pasukan salib dari al- Asyarib. Satu-persatu Zangki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Edessa pada tahun 539 H/1144 M. Dalam pada itu, bangsa Romawi menjalin kekuatan gabungan dengan pasukan Perancis menyerang Buzza. Mereka menangkap dan membunuh perernpuan dan anak-anak yang tidak berdosa. Dari sini mereka melancarkan serangan ke Caesarea. Penguasa negeri ini yakni Abu Asakir nneminta bantuan pasukan Imaduddin Zangki. Zangki segera mengerahkan pasukannya dan ia berhasil mengusir kekuatan Perancis dan Romawi secara memalukan. Wilayah perbatasan di Akra berhasil digrebek hingga menyerah, demikian pula kota Balbek segera ditaklukkan, untuk selanjutnya pendudukan kota Balbek ini dipercayakan kepada komandan Najamuddin, ayah Salahuddin.

Penaklukan Edesa merupakan keberhasilan Zangki yang terhebat. Oleh umat Kristen Edessa merupakan kota yang termulya, karenanya kota ini dijadikan sebagai pusat kepuasan. Dalam penaklukan Edessa, Zangki tidak berlaku kejam terhadap penduduk sebagaimana tindakan pasukan salib. Tidak seorang pun merasakan tajamnya mata pedang Zangki, kecuali pasukan salib yang sedang bertempur yang sebagian besar adalah pasukan Perancis.

Dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir, Zangki terbunuh oleh tentaranya sendiri. Selama ini Zangki adalah seorang patriot sejati yang telah berjuang demi membela tanah airnya. Baginya, “pelana kuda lebih nyaman dan lebih dicintainya dari pada kasur sutra, dan juga suara hiruk-pikuk di medan peperangan terdengar lebih merdu dan lebih dicintainya daripada alunan musik”.

Kepemimpinan Imaduddin Zangki digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin Mahmud. Ia bukan hanya seorang prajurit yang cakap, sekaligus juga ahli hukum, dan juga seorang ilmuan. Pada saat itu umat Kristen Edessa dengan bantuan pasukan Perancis herhasil mengalah pasukan muslim yang bertugas di kota ini dan sekal i gus membanta i nya. N uruddi n segera mengerahkan pasukannya ke Edessa dan berhasil merebutnya kembali Sejumlah pasukan Edessa dan para pengkhianat dihukum dengan mata pedang, sedangkan bangsa Armenia yang bersekutu dengan pasukan salib diusir ke luar negeri Edesa.

Perang Salib 2

Dengan jatuhnya kembali kota Edesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St Bernard segera menyerukan kembali perang salib melawan kekuatan muslim. Seruan tersebut membuka gerakan perang salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa menanggapi poiitif seruan perang suci ini. Kaisar jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar perancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya keAsia. Namun kedua paiukan ini iapat dihancurkan ketika sedang dalam perjalanan menuju Syiria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sisi mereka menuju ke Damaskus.

Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin tiba di kota ini. Karena terdesak oleh pasukan Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa. Dengan demikian beiakhirlah babak ke dua perang salib.

Nuruddin segera rnulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil rnenduduki benteng Xareirna, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/1149 M., dan kota Joscelin. Pendek kata, kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. la segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan koia damaskus membuat sang khalifah di Bagdad brerkenan rnemberinya gelar kehormatan “al-Malik al- ’Adil”.

Ketika itu Mesir sedang dilanda perselisihan intern dinasti Fatimiyah. Shawar, seorang perdana menteri Fatimiyah., dilepaskan dari jabatannya oleh gerakan rahasia. Nuruddin mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan komandan Syirkuh. Namun ternyata Shawar justru memerangi Syirkuh berkat bantuan pasukan perancis hingga berhasil rnenduduki Mesir.

Pada tahun 563 H/1167 M. Syirkuh berusaha datang kembali ke Mesir. Shawar pun segera rneminta bantuan raja Yerusalem yang bernama Amauri. Gabungan pasukan Shawar dan Amauri ditaklukkan secara mutlak oleh pasukan Syirkuh dalam peperangan di Balbain. Antara mereka terjadi perundingan yang melahirkan beberapa kesepakatan: bahwa Syirkuh bersedia kembali ke Damaskus dengan imbalan 50.000 keping emas, Amauri harus menarik pasukannya dari Mesir. Namun Amauri tidak bersedia meninggalkan Kairo, sehingga perjanjian tersebut batal secara otomatis. Bahkan mereka menindas rakyat.

Atas permintaan khalifah Mesir Syirkuh diperintahkan oleh Nuruddin agar segera menuju ke Mesir. Masyarakat Mesir dan sang khalifah menyambut hangat kedatangan Syirkuh dan pasukannya, dan akhirnya Syirkuh ditunjuk sebagai perdana menteri. Dua bulan sesudah penundukan ini, Syirkuh meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh kemenakannya yang bernama Salahuddin. Ketika kondisi politik dinasti Fatimiyah semakin melemah, Salahuddin al-Ayyubi segera memulihkan otoritas Khalifah Abbasiyah di Mesir, dan setelah dinasti Fatimiyah hancur Salahuddin menjadi penguasa Mesir (570-590 H/1174-1193 M).

Salahuddin, putra Najamuddin Ayyub, lahir di Takrit pada tahun 432 H/1137 M. Ayahnya adalah pejabat kepercayaan pada masa lmaduddin Zangki dan masa Nuruddin. Salahuddin adalah seorang letnan pada masa Nuruddin, dan telah berhasil mengkonsolidasikan masyarakat Mesir, Nubia, Hijaz dan Yaman.

Sultan Malik Syah yang menggantikan Nuruddin adalah raja yang masih berusia belia, sehingga amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis poiitik internal. Kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan salib untuk menyerang Damaskus dan menundukkannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan salib.

Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin. Kekuatan Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh pasukan Salahuddin. Merasa.tidak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah rneminta bantuan pasukan salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan salib di Aleppo ini, terbukalah jalan lernpang bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di masa-masa mendatang hingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 575H/1182M, kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai sultan atas seluruh wilayah Asia Barat.

Sementara itu Baldwin III menggantikan kedudukan ayahnya, Amaury. Baldwin III mengkhianati perjanjian genjatan senjata antara kekuatan muslim dengan pasukan Salib-Kristen. Bahkan pada tahun 582H/11 86 M. Penguasa wilayah Kara yang bernama Reginald mengadakan penyerbuan terhadap kabilah muslim yang sedang melintasi benteng pertahanannya. Salahuddin segera mengerahkan pasukannya di bawah pimpinan Ali untuk mengepung Kara dan selanjutnya menuju Galilee untuk menghadapi pasukan Perancis. Pada tanggal 3 Juli 1187 M. kedua pasukan bertempur di daerah Hittin, di mana pihak pasukan Kristen mengalami kekalahan. Ribuan pasukan mereka terbunuh, sedang tokoh-tokoh militer mereka ditawan. Sultan Salahuddin selanjutnya merebut benteng pertahanan Tiberia. Kota Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Caesarea, Asrul Jaffra, Beyrut, dan sejumlah kota-kota lainnya satu persatu jatuh dalanr kekuasaan Sultan Salahuddin.

Selanjutnya Salahudin memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem, di mana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen. Setelah mendekati kota ini, Salahuddin segera menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib-Kristen Yerusalem menyerah. Perintah tersebut sama sekali tidak dihiraukan, sehingga Salahuddin bersumpah untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah beberapa larna terjadi pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon kemurahan hati sang sultan. Jiwa sang sultan terlalu lembut dan penyayang untuk melaksanakan sumpah dan dendamnya, sehingga ia pun memaafkan mereka. Bangsa Romawi dan warga Syria-Kristen diberi hidup dan diizinkan tinggal di Yerusalem dengan hak-hak warga negara secara penuh. Bangsa Perancis dan bangsa-bangsa Latin diberi hak meninggalkan Palestina dengan membayar uang tebusan 10 dinar setiap orang dewasa, dan 1 dinar untuk setiap anak-anak. Jika tidak bersedia mereka dijadikan sebagai budak. Namun peraturan seperti ini tidak diterapkan oleh sang sultan secara kaku. Salahuddin berkenan melepaskan ribuan tawanan tanpa tebusan sepeser pun, bahkan ia mengeluarkan hartanya sendiri untuk menrbantu menebus sejumlah tawanan. Salahuddin juga membagi-bagikan sedekah kepada ribuan masyarakat Kristen yang miskin dan lemah sebagai bekal perjalanan mereka pulang. Ia menyadari betapa pasukan Salib-Kristen telah membantai ribuan rnasyarakat muslim yang tidak berdosa, namun suara hatinya yang lembut tidak tega untuk melampiaskan dendam terhadap pasukan Kristen.

Pada sisi lainnya Salahuddin juga membina ikatan persaudaraan antara warga Kristen dengan warga muslim, dengan memberikan hak-hak warga Kristen sama persis dengan hak-hak warga muslim di Yerusalem. Sikap Salahuddin demikian ini membuat umat Kristen di negeri-negeri lain ingin sekali tinggal di wilayah kekuasaan sang sultan ini. “sejumlah warga Kristen yang meninggalkan Yerusalem menuju Antioch ditolak dan bahkan dicaci maki oleh raja Bahemond. Mereka lalu menuju ke negeri Arab di mana kedatangan mereka disambut dengan baik”, kata Mill. Perlakuan baik pasukan muslim terhadap umat Kristen ini sungguh tidak ada bandingannya sepanjang sejarah dunia. Padahal sebelumnya, pasukan Salib-Kristen telah berbuat kejam, menyiksa dan menyakiti warga muslim.

Perang Salib 3

Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Salahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan prestis kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, maka kaisar Jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar Perancis yang bernama Richard, beberapa pembesar kristen rnembentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan lar.rtnya. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan salib. Ia menetapkan strategi bertahan di dalam negeri dengan mengabaikan saran para Amir untuk melakukan pertahanan di luar wilayah Acre. ”Demikianlah Salahuddin mengambil sikap yang kurang tepat dengan memutuskan pandangannya sendiri’” ungkap salah seorang ahli sejarah. Jadi Salahuddin mestilah berperang untuk menyelamatkan wilayahnya setelah pasukan Perancis tiba di Acre.

Pada tanggal 14 September 1189 M. Salahuddin terdesak oleh pasukan salib, namun kemenakannya yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Dalam hal ini Ibn al-Athir menyatakan, “pasukan muslim mesti melanjutkan peperangan hingga malam hari sehingga mereka berhasil mencapai sasaran penyerangan. Namun setelah mendesak separuh kekuatan Perancis, pasukan muslim kembali dilemahkan pada hari berikutnya.

Kota Acre kembali terkepung selama hampir dua tahun. Sekalipun pasukan rnuslim menghadapi situasi yang serba sulit selama pengepungan ini, namun mereka tidak patah semangat. Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak membawa hasil, bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha besar. Sultan Salahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Masytub, seorang komandan Salauhuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang pernah diberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikit pun tidak memberi belas kasih terhadap ummat muslim. la membantai pasukan muslirn secara kejam.

Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba d i fucalon I e6l h awil. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerirna tawaran damai tersebut. ”Antar pihak Muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak rnenyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa, gangguan apa pun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang salib ke tiga.

Setelah keberangkatan Jenderal Richard, Salahuddin masih tetap tinggal di Yerusalem dalam beberapa lama. Ia kemudian kembali ke Damaskus untuk menghabiskan sisa hidupnya. Perjalanan panjang yang meletihkan ini mengganggu kesehatan sultan dan akhirnya ia meninggal enam bulan setelah tercapai perdamaian, yakni pada tahun 1193 M. Seorang penulis berkata, “Hari kematian Salahuddin merupakan musibah bagi islam dan ummat lslam, sungguh tidak ada duka yang melanda mereka setelah kematian empat khalifah pertarna yang melebihi duka atas kematian Sultan Salahuddin”.

Salahuddin bukan hanya seorang Prajurit, ia juga seorang yang mahir dalam bidang pendidikan dan pengetahuan. Berbagai penulis berkarya di istananya” Penulis yang ternama di antara mereka adalah Imaduddin, sedang hakim yang termasyhur adalah al-Hakkari. Sultan Salahuddin mendirikan berbagai lembaga pendidikan seperti madrasah, perguruan, dan juga mendirikan sejumiah rumah sakit di wilayah kekuasaannya.

Perang Salib 4

Dua tahun setelah kematian Salahuddin berkobar perang salib keempat atas inisiatif Paus Celestine III. Namun sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usianya perang salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak dikenal. Pada tahun 1195 M. pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi dua kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan kristen ini mendarat di pantai Phoenecia dan menduduki Beirut. Anak Salahuddin yang bernama al-Adil segera rnenghalau pasukan salib. la selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan ke Tibinim, lantaran semakin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai. Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.

Perang Salib 5

Belum genap mencapai tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya perang salib ke lima setelah berhasil rnenyusun kekuatan miliier. Jenderal Richard di lnggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas penguasa Eropa lainnya menyarnbut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syria tiba-tiba mereka membelokkan geiakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba di kota ini, mereka membantai ribuan bangsa romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. pembantai ini berlangsung dalam beberapa hari. Jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa ini.

Perang Salib 6

Pada tahun 613 H/1216M, Innocent III mengobarkan propaganda perang salib ke enam. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3.000 pasukan yang tahan dari serangkaian wabah penyakit. Bersamaan dengin ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari perancis yang bergerak menuju Kairo. Narnun akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka men jadi terdesak dan terpaksa rnenempuh jalan damai. Antara keduanya tercapai kesepakatan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.

Perang Salib 7

Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerja sarna dengan seorang jenderal Jerman yang bernarna Frederick. Frederick bersedia membantunya rnenghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di yerusalem. Yerusalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M., setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik al-shalih Najamuddi al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil meiarikan diri dari kekuasaan Jenghis Khan.

Perang Salib 8

Dengan direbutnya kota Yerusalern oleh Malik al- Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah lslam. Kali ini Louis IX, kaisar perancis, yang memimpin pasukan salib kedelapan. Mereka mendarat di Dirnyat dengan mudah tanpa perlawanan yang beranti. Karena pada saat itu Sultan Malikal-shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit, sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah, putra Ayyub.

Setelah berakhir perang salib ke delapan ini, pasukan Salib-Kristen berkali-kali berusaha mernbalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.

Akibat Perang Salib

Perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa beberapa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Perang salib ini menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali dunia lslam secara lebih dekau yang berarti kontak hubungan antara barat dan timur semakin dekat. Kontak hubungan barat-timur ini mengawali terjadinya pertukaran ide antara kedua wilayah tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat timur yang”maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa barat, yakni Eropa. Hal ini sangat-besar andil dan peranannya dalam meahirkan era renaissance di Eropa.

Pasukan salib merupakan penyebar hasrat bangsa Eropa dalam bidang perdagangan dan perniagaan terhadap bangsa-bangsa timur. Selama ini bangsa barat tidak mengenal kemajuan pemikiran bangsa timur. Maka perang salib ini juga membawa akibat timbulnya kegiatan penyelidikan bangsa Eropa mengenai berbagai seni dan pengetahuan penting dan berbagai penemuan yang teiah dikenali ditimur. Misalnya, kompas kelautan, kincir angin, dan lain-lain, Mereka juga menyelidiki sistem pertanian, dan yang lebih penting adalah mereka rnengenali sistem industri timur yang telah maju. Ketika kembali ke negerinya, Eropa, mereka lantas mendirikan sistem pemasaran barang-barang produk timur. Masyarakat barat semakin menyadari betapa pentingnya produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan sernakin pesatnya pertumbuhan kegiatan perdagangan antara timur dan barat. Kegiatan perdagangan ini semakin berkembang pesat seiring dengan kemajuan pelayaran di laut tengah. Namun, pihak muslim yang semula menguasai jalur pelayaran di laut tengah kehilangan supremasinya ketika bangsa-bangsa Eropa menempuh rute pelayaran laut tengah secara bebas.

Runtuhnya DINASTI ABBASIYAH

Ketika itu, selama periode perang salib, panglima dan pasukan muslim telah menunjukkan sikap mereka yang sangat menawan dan bijaksana. Mereka penuh kesabaran dalam berjuang dan gigih dalam pertahanan, pemaaf dan ksatria.

Sementara itu bersamaan dengan periode ini, kekhilafahan Abbasiyah di Bagdad tengah dilanda konflik politik internal. Bahkan ketika kekuasaannya terancam oleh serangan pasukan salib, mereka sama sekali tidak mengambil sikap peduli. Mereka tenang saja di istana Bagdad bermalas-malasan dan boros. Pola kehidupan sang khalifah yang demikian ini berlangsung terus-menerus sampai Bagdad ditundukkan oleh Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan. Hulagu dengan sangat mudah menghancurkan kota Bagdad dan membunuh Khalifah Abbasiyah yang terakhir, yakni al-Musta’sim. peristiwa ini terjadi pada tahun 1258 M. yang menandai akhir masa kekuasaan dinasti Abbasiyah.

Sumber: Prof. K Ali, A study of Islamic History, versi terjemahan “Sejarah Islam (Tarikh Pramodern)”, PT RajaGrafindo Persada, 1996, Jakarta.

http://orgawam.wordpress.com/2010/02/02/sejarah-perang-salib/#comment-5485

Perang Salib itu sejarahnya cukup panjang luas dan rumit. However, karena topik ini tampaknya tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indo ataupun Kristen (dan muslim) pada umumnya. Aku akan terjemahkan artikel dari James Akin tentang Perang Salib yang bisa ditemukan disini

Seperti yang telah diketahui, Perang Salib terderi dari 8 ekspedisi ke Timur yang terjadi selama dua abad, dari 1095 sampai 1270. Sejak itu, istilah “crusade,” yang arti sebenarnya adalah Perang Salib, di pakai untuk berbagai macam situasi seperti perang-perang lain (terutama yang berkaitan dengan agama) ataupun hal hal lain yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama.. Disini kita akan memfokuskan diri atas 8 Perang Salib dalam tradisi.

Latar Belakang
Untuk mengerti Perang Salib kita perlu menilai peristiwa yang menyebabkannya. Sejak legalisasi Kristianitas di awal tahun 300, Kristen Eropa mulai melakukan ziarah ke Palestina untuk mengunjungi situs kudus yang berhubungan dengan hidup Tuhan kita. Ziarah ini adalah bentuk kesalehan yang besar karena pada jaman tersebut perjalanan ke Tanah Suci adalah sulit, memakan waktu lama, mahal dan berbahaya. Beberapa ziarah membutuhkan bertahun-tahun untuk selesai.

Jemaat Kristen juga pergi ke Syria, Palestina dan Mesir untuk hidup seperti pertapa. Ini adalah jaman dimana kehidupan membiara berbuah banyak, dan banyak jemaat Kristen yang ingin pergi ke Tanah Kudus untuk hidup sebagai pertapa. Mereka juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam perjalanan mereka. Bagi para peziarah dan mereka yang ingin menjadi pertapa ada satu faktior yang membikin mudah perjalanan: Jalan menuju Palestina membentang melalui wilayah Kristen.

Pada tahun 612, Mohammad orang Arab, anak dari Abdallah, dilaporkan menerima panggilan kenabian dari Allah melalui malaikat Gabriel. Pada awalnya dia mendapatkan beberapa pengikut. Namun, setelah diusir dari tempat kelahirannya, yaitu Mekah, dia berlindung di Kota Medina dimana saat itu pengikutnya bertambah. Mengibarkan kampanye militer, Mohammad menaklukkan beberapa suku kafir, Yahudi dan Kristen dan dia juga berhasil mengambil alih tempat kelahirannya, Mekkah, dan juga Arabia. Dia meninggal pada tahun 632.

Seiring dengan matinya Muhammad, penerus Muhammad, para kalifah, meneruskan kampanye ekspansi yang agresif. Kurang dari satu abad mereka telah mengambil alih, antara lain, Siria, Palestina dan Afrika Utara. Meskipun sekarang kita menganggap daerah tersebut adalah daerah Muslim, pada waktu itu daerah daerah tersebut adalah Kristen. Dikatakan bahwa kerajaan Muslim yang berekspansi telah mencaplok setengah dari peradaban Kristen. Bahkan Eropa sendiri terancam. Muslem mengambil alih Spanyol Selatan, meng-invasi Prancis dan bahkan mengancam untuk meng-invasi Roma. Namun ekspansi mereka ditaklukkan oleh Charles Mantel pada pertempuran Poiters di 732.

Saat itu adalah masa-masa sulit

Setelah ekspansi Muslim di Eropa Barat telah tertahan untuk beberapa saat, perhatian mereka teralih ke tempat lain, dan dalam dua abad selanjutnya mereka menaklukkan Persia (Iran), Afghanistan, Pakistan dan sebagian India. Mereka lalu maju melawan negara Kristen dan menaklukkan Kekaisaran Byzantine pada 1453 dan berekspansi sampai Vienna, Austria pada 1683.

Perang Salib terjadi di pertengahan peperangan ini. Persiapan secepatnya dilakukan pada abad 11 dengan meningkatnya ketegangan antara Kristen dan Muslim di Tanah Kudus.

Palestina telah berada dalam kendali Muslim selama beberapa waktu, meskipun itu didapat dengan persetujuan (walaupun enggan) oleh pihak Kristen yang hidup di Palestina. Namun, pada 1009, Kalifah Fatimite dari Mesir memerintahkan penghancuran Kuburan Kristus di Yerusalem, yang merupakan tujuan utama peziarah Kristen. Kubur ini kemudian dibangun kembali.

Meningkatnya bahaya bagi jemaat Kristen dalam melakukan ziarah ke Tanah Kudus hanya menambah antusiasme untuk melakukan perjalanan tersebut, karena sekarang ziarah menjadi tindakan kesalehan yang lebih besar. Selama abad ke 11, ribuan jemaat Kristen mengarungi dengan berani, sering dikawal oleh pengawal-pengawal Kristen yang kadang kadang mengawal dua belas ribu peziarah dalam waktu yang sama.

Bangsa Turki Seljug yang telah menganut Islam pada abad ke 10, mulai menaklukkan bagian-bagian dunia Muslim> Dan ini membuat ziarah semakin berbahaya, kalaupun tidak mungkin. Kaum Seljug mengambil alih Yerusalem pada 1070 dan mulai mengancam Kekaisaran Byzantine. Kaisar Byzantine, Romanus IV Diogenes ditangkap oleh kaum Seljuq pada perang Manzikert di 1071. Penerusnya, Michael VII Ducas, meminta bantuan Paus Gregory VII, yang juga berpikiran untuk memimpin ekspedisi militer untuk memukul balik bangsa Turki tersebut. memperbaiki Kuburan Kristus, dan mengembalikan keutuhan Kristen setelah perpecahan de facto Kristen Timur pada 1054. Namun “Konflik Pengangkatan” (ini ceritanya panjang dan akan diceritakan lain kali) menambah beban untuk pelaksanaan rencana ini.

Kaum Seljug terus berekspansi, pada 1084 menaklukkan kota Antioka dan pada 1092 kota Nicea, dimana dua konsili ekumenis diadakan berabad-abad sebelumnya. Pada 1090, Tahta Gembala metropolitan historis di Asia sudah berada di tangan Muslim, yang pada saat itu sudah sangat dekat dengan ibukota Byzantine di Konstantinopel. Sang Kaisar, Alexius I Comnenus, meminta Paus Urban II bantuan.

Perang Salib pertama (1095-1101)

Tidak seperti Gregory VII, Paus Urban II berada dalam posisi untuk menjawab permintaan Timur. Pada November 1095, dia memanggil Konsili Clermont di Prancis Selatan dimana dia meminta dengan sangat pada hadirin -yang terdiri dari bukan hanya Uskup dan Kepala Biara, tapi juga kaum bangsawan, ksatria dan rakyat sipil- untuk memberikan bantuan kepada Kekristenan Timur.

Telah terjadi banyak peperangan antar sesama Bangsa Eropa dan pada pertemuan yang diadakan di tempat terbuka tersebut, Paus mendorong mereka untuk berdamai satu sama lain dan memusatkan kekuatan militer mereka untuk tujuan yang konstruktif -membela Kekristenan dari aggresi Muslim, membantu Kristen Timur, dan mengambil alih kembali Kubur Kristus. Dia juga menekankan perlunya pertobatan dan motif spiritual dalam melakukan kampanye ini, menawarkan indulgensi total bagi mereka yang berkaul untuk melakukan tugas ini. Jawaban dari para hadirin sangat antusias, para hadirin berteriak “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

Dalam Kosnili Clermont juga ditetapkan bahwa mereka yang pergi untuk melaksanakan tugas akan memakai Salib Merah (Latin:Crux). yang kemudian membuat kampanye ini disebut Perang Salib.

Persiapan dimulai di seluruh Eropa. Kebanyakan tidak terorganisasi ataupun tidak mempunyai semangat seperti yang didengungkan Paus. Beberapa prajurit begitu kurang persiapan sehingga mereka menjarah untuk memenuhi kebutuhan. Beberapa orang German membantai orang Yahudi. Beberapa tidak pernah sampai di Konstantinopel. Beberapa anggota dari “People’s crusade” yang tidak terorganisasi dan begitu tidak disiplin dan dikirim oleh Kaisar pada Agustus 1096 menuju ke Bosphorus, lebih dulu dari pasukan utama Perang Salib, mereka dibantai oleh tentara Turki.

Prajurit Salib utama terdiri dari empat pasukan yang berasal dari Perancis, German dan Normandia, dibawah pimpinan Godfrey dari Boullion, Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), Raymond dari Saint-Giles, dan Robert dari Flanders. Namun, Kaisar Byzantin Alexius tidak ingin tentara yang begitu banyak berada di Konstantinopel dan kemudian dikirimnya mereka ke Asia Minor sesuai dengan urutan kedatangan mereka. Sang Kaisar juga mensyaratkan agar kepala Pasukan bersumpah bahwa mereka akan mengembalikan tanah yang mereka rebut dari pihak Muslim yang dulunya adalah daerah Byzantine.

Pada Juni 1097, Nicea diambil alih oleh Byzantine dan para Prajurit Salib. Bulan berikutnya Prajurit Salib dan Byzantine mendapatkan kemenangan besar melawan Turki ketika mereka diserang di Dorylaeum. Kemajuan lebih lanjut cukup sulit dan nampaknya beberapa orang menjadi putus semangat. Salah satunya adalah Alexius, yang berjanji untuk membantu kota Antioka yang terkepung. Ketika sang Kaisar berhenti untuk berusaha, para Prajurit Salib merasa bahwa kewajiban untuk menyerahkan Dorylaeum kembali ke Kaisar, telah hilang karena sang Kaisar sendiri tidak mampu mempertahankannya (Alexus telah hilang semangat). Karena itu, saat Dorylaeum diambil alih pada Juni 1099, kota tersebut jatuh ke tangan orang Normandia.

Bulan berikutnya Fatimid Muslim dari Mesir mengambil alih kembali Yerusalem dari kaum Seljug Turky, jadi para Prajurit Salib melakukan serangan bukan kepada bangsa Turky. Ini terjadi pada 1099. Selama sebulan para Prajurit Salib, yang telah berkurang separuh dari kekuatan awal, mendirikan kemah disekeliling Yerusalem sementara Gubernur Fatimid menunggu bantuan tentara dari Mesir. Disisi lain Prajurit Salib mendapatkan persediaan makanan dan kebutuhan dari pelabuhan Jaffa dan memulai gerkan mereka.

Pada 8 Juli Prajurit Salib berpuasa dan berjalan dengan telanjang kaki mengelilingi kota menuju ke Gunung Zaitun (tempat Yesus mengalami Sakral Maut), dan pada tanggal 13, mereka mengepung tembok kota. Pada tanggal 15, beberapa prajurit berhasil melewati tembok dan membuka salah satu gerbang kota yang membuat pasukan utama mampu menyerbu kedalam. Di Menara Daud, Gubernur Fatimid menyerah dan diantar keluar dari kota. Dari dalam Mesjid Al-Agsa dekat Bukit Kuil (Temple Mount), Tacred, salah satu pimpinan Prajurit Salib, menjanjikan perlindungan bagi warga Muslim dan Yahudi di kota tersebut. Sayangnya, meskipun ada upaya tersebut, pembantaian tetap terjadi.

Bulan selanjutnya Prajurit Salib mengejutkan dan memukul balik pasukan bantuan dari Mesir yang dinanti-nanti Gubernur Fatimid. Prajurit Salib mengkokohkan kendali warga Kristen di Yerusalem, meskipun banyak kota pelabuhan masih berada dalam kendali Muslim. Kebanyakan Prajurit Salib kemudian pergi kembali ke rumah setelah merasa bahwa tujuan dan kaul mereka telah tercapai.

Sebagai hasil dari Perang Salib pertama, telah terbentuk empat negara bagian Kristen dari wilayah yang telah direbut Prajurit Salib: Kerajaan Jerusalem terdahulu, Principality Antioka (Prinsipality = daerah yang dikuasai pangeran/prince), Countship Edessa (Countship = daerah dalam kekuasaan Count. Count = semacam bangsawan) dan Countship Tripoli. Negara-negara bagian ini, yang menggunakan sistem feodal dalam konteks yang terlepas dari permusuhan lokal seperti yang terjadi di Eropa, telah disebut-sebut sebagai model administrasi Medieval. Namun, hubungan antara negara bagian, kekaisaran Byzantine dan daerah Muslim disekitarnya sering rumit.

Untuk mempertahankan negara-negara bagian baru ini, sebuah pasukan baru terbentuk –ordo-ordo Ksatria, seperti Hospitaleer oleh St John dari Yerusalem dan Templars. Ini adalah kelompok ksatria yang berkaul religius dan melakukan aturan-aturan religious.

Untuk suatu saat negara-negara bagian akibat Perang Salib berkembang. Seiring dengan waktu, negara-negara bagian tersebut membesar meliputi kota-kota pelabuhan yang ditinggal dan tidak diakui oleh siapapun sebagai daerah kekuasaan. Meskipun begitu, negara-negara bagian tersebut masih lemah. Pada 1144 negara bagian utara Edessa ditawan oleh Pasukan Muslim.

Untuk suatu saat negara-negara bagian akibat Perang Salib berkembang. Seiring dengan waktu, negara-negara bagian tersebut membesar meliputi kota-kota pelabuhan yang ditinggal dan tidak diakui oleh siapapun sebagai daerah kekuasaan. Meskipun begitu, negara-negara bagian tersebut masih lemah. Pada 1144 negara bagian utara Edessa ditawan oleh Pasukan Muslim.

Perang Salib Kedua (1146-1148)
Sebagai respon, Paus Eugenus III memanggil Perang Salib baru, yang diserukan di Prancis dan Jerman oleh St. Bernard dari Clairvux. Raja Perancis, Louis VIII, dan istrinya, Eleanor dari Aquitaine, segera merespon, meskipun Kaisar Jerman, Conrad III, harus dibujuk. Kaisar Byzantine saat itu, Manuel Comnenus, juga mendukung Perang Salib, meskipun dia tidak menyumbangkan pasukannya.

Meskipun pada suatu waktu Perang Salib ini melibatkan pasukan terbesar, Perang Salib kedua ini tidak diikuti oleh antusiasme seperti antusiasme pada Perang Salib yang pertama, karena pada saat itu Yerusalem masih dikuasai Kristen. Jalannya kampanye kedua ini juga dipenuhi kepentengan-kepentingan dari pihak yang terlibat, yang kesemuanya menghambat kemajuan. Kesulitan perjalananjuga semakin menambah kesulitan. Ketika tidak mampu untuk sampai ke Edessa, para Prajurit Salib berkonsentrasi untuk mengambil alih Damaskus. Tapi konlik intern membuat mereka mengundurkan diri.

Kegagalan dari Perang Salib kedua begitu mematahkan semangat, dan banyak di Eropa merasa bahwa Kekaisaran Byzantine merupakan halangan dalam mencapai kesuksesan. Kegagalan ini juga merupakan tiupan moral yang kuat bagi Pasukan Muslim yang telah berhasil secara sebagian mengurangi kekalahan mereka di Perang Salib pertama

Posisi dari negara bagian para Prajurit Salib saat itu lemah, dan di tahun tahun selanjutnya mereka dikelilingi oleh kekuatan Muslim yang telah berkonsolidasi yang diikuti oleh hancurnya Kalifah Fatimid di Mesir.

Meskipun saat itu ada gencatan senjata dengan Komandan Muslim, Saladin, gencatan tersebut pecah pada 1887. Pada saat krisis suksesi di kerajaan Yerusalem, sebuah karavan Muslim diserang, dan Saladin me-respon dengan menyatakan Jihad.

Pasukan Latin mengalami kekalahan yang memalukan pada Tanduk Hattin (Sebuah formasi geologis yang menyerupai dua tanduk di perbukitan), dan Saladin kemudian meneruskan dan mengambil alih Tiberias dan kota pelabuhan Acre sebelum menyerang Yerusalem, yang jatuh pada 2 Oktober. Pada 1189, hanya ada beberapa negara bagian yang masih dikuasai kaum Kristen.

Perang Salib Ketiga (1188-92)
Seiring dengan jatuhnya Yerusalem, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib ketiga. Sayang waktunya bersamaan dengan matinya raja-raja yang pertama kali menjawab panggilan.

Raja pertama yang menjawab seruan tersebut adalah William II dari Sisilia. Dia mengirimkan armada ke Timur tapi kemudian mati pada 1189. Henry II dari Inggris setuju untuk berpartisipasi, tapi juga mati di tahun yang sama. Kaisar Jerman, Frederick Barbarossa, yang telah ber-rekonsiliasi dengan Gereja (setelah sebelumnya sempat di ekskomunikasi), berpartisipasi dengan memimpin tentara yang besar yang mengalahkan Pasukan Seljug pada 1190. Tapi bulan berikutnya, Kaisar yang sudah lanjut ini mati tenggelam saat dia berusaha berenang untuk mengintai.

Dua raja yang akhirnya memimpin Perang Salib ini adalah Richard I (“Si Hati Singa, Lion-Hearted) yang gagah tapi falmboyan, keturunan Henry II dan penerusnya. Dan RajaPhilip II Agustus dari Prancis.

Dalam perjalanan ke Tanah Kudus, Richard I berhenti di Cyprus dan saat itu dia diserang oleh Pangeran Byzantine Isaac Comnenus. Ricahrd I kemudian mengalahkan sang Pangeran dan mengambil alih pulau tersebut sebelum berlayar ke kota pelabuhan Acre yang diserang oleh Prajurit Salib.

Denagn datangnya bala bantuan, kota pelabuhan Acre akhirnya bisa direbut dan pasukan Muslim akhirnya menyerah. Philip II kemudian merasa kaul Perang Salibnya terpenuhi dan kembali ke Prancis

Saladin kemudian setuju untuk menukarkan tawanan dengan relikui dari Salib yang asli. Persetujuan ini kemudian pecah ketika Richard memasalahkan pemilihan tawanan yang akan dikembalikan dan kemudian memerintahkan untuk menghukum mati tawanan Muslim dan keluarganya.

Richard berkehendak untuk menekan ke Yerusalem dan berhasil mendapatkan beberapa kota, termasuk Jaffa, tapi pada akhirnya tidak mampu mencapai Kota Suci. Hubungannya dengan Saladin akrab. Keduanya sepertinya saling menghormati. Pada akhir 1192 keduanya menandatangani perjanjian damai 5 tahun yang mengijinkan Umat Kristen memiliki akses ke temapt kudus. Daerah kekuasaan Kristen di Tanah Kudus saat itu telah berkurang menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri dari kota pelabuhan besar.

Perang Salib Keempat(1204)
Perang Salib keempat adalah bencana yang tidak terhindarkan. Perang Salib keempat adalah episode yang hanya menyebabkan kerusakan internal dalam Kekristenan.

Pada 1198 Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat. Seperti biasa, Prancis menjawab seruan tersebut. Target baru saat itu adalah Mesir, wilayah yang dulunya Kristen namun sekarang menjadi kekuatan Muslim.

Prajurit Salib berpaling ke bangsa Venetia untuk transportasi, tapi ketika dana yang dikumpulkan tidak cukup, warga Venetian menyarankan agar mereka menyerang dan menangkap Zara, kota Hungaria yang Kristen. Banyak yang menolak dengan keras, termasuk Paus. Tapi perintah Paus diabaikan dan Prajurit Salib mengambil alih Zara atas permintaan warga Venetia.

Masalah berubah dari buruk menjadi lebih buruk ketika Alexius, anak dari bekas Kaisar Byzantin Isaac Angelus, meminta bantuan Prajurit Salib untuk mengembalikan tahta ayahnya. Dengan menjanjikan hadiah, Alexius meyakinkan para Prajurit Salib untuk mencoba melakukannya. Surat Paus yang melarang ekspedisi tersebut datang lambat dan Prajurit Salib telah mengambil Konstantinopel, mengembalikan tahta Isaac sebakai Kaisar dan menyatakan anaknya sebagai Kaisar-bersama (Co-emperor)

Paus Innocent III memperingatkan dengan keras para pemimpin dan memerintahkan mereka untuk terus menuju Tanah Kudus, tapi hanya beberapa yang melakukannya. Kebanyakan menunggu hadiah yang dijanjikan Alexius.

Pihak byzantin yang kurang suka terhadap janji Alexius trhadap Prajurit Salib kemudian membunuh Alexius yang kemudian diikuti oleh pengambil alihan Byzantin dan kekaisarannya oleh Prajurit Salib dan pihak Venetia, Konstantinopel kemudian jatuh ke tangan mereka pada 13 April 1204 yang membuat dimulainya penjarahan dan pembunuhan. Kemudian Kaisar Latin untuk Konstantinopel diangkat oleh sebuah konsili yang terdiri dari Prajurit Salib dan warga Venetia. Pemerintahan Byzantin kemudian di re-lokasikan ke Nicaea dan memerintah hanya sebagain dari daerah sebelumnya sampai 1261 saat Konstantinopel di taklukkan oleh Michael VIII Paleologous.

Perang Salib ini adalah perjalanan bodoh. Tidak hanya tidak sempat untuk berhadapan dengan pasukan Muslim yang menguasai Tanah Kudus, peristiwa ini lebih memisahkan Kekristenan Barat dan Timur disamping merusak secara permanen Kekaisaran Byzantine yang berfungsi sebagai pembatas antara agresi Muslim dengan jantung daerah Kristen.

Di tahun-tahun setelah Perang Salib Keempat, ada beberapa Perang Salib kecil (perang dimana pesertanya bersumpah) dengan penganut bidat (ajaran sesat) dan lainnya. salah satu yang menjadi fokus adalah “Prajurit Salib anak-anak” (1212) dimana ribuan anak diberangkatkan untuk menaklukkan Muslim dengan cinta dan bukan dengan senjata. Seorang anak dari Prancis yang punya visi ini memimpin satu bagian gerakan, sementara satu anak dari Jerman memimpin yang lain. Kebanyakan anak sampai ke Italy. Namun gerakan ini tidak pernah sampai ke Tanah Kudus dan kebanyakan anak mati lapar atau atau mati ellah atau dijual orang jahat dari Italy sebagai budak Muslim. Meskipun begitu gerekan ini menimbulkan simpati yang mengarah ke Perang Salib Kelima.

Perang Salib Kelima (1217-1221)
Ini adalah Perang Salib terakhir dimana Gereja berperan Perang salib ini diserukan oleh Paus yang menyerukan Perang Salib sebelumnya, Innocent III, dan juga oleh Konsili Ekumenis ke 12, Lateran !V. Dan sepeerti upaya sebelumnya, target dari perang Salib ini bukanlah Palestina tapi Mesir, basis dari kekuatan Muslim, yang diharapkan oleh para Prajurit Salib untuk dijadikan bahan tawaran untuk pembebasan Yerusalem.

bersambung…

Valkyrie
Lupa Diri
Lupa Diri

Posts: 1106
Joined: Thu Sep 28, 2006 9:59 am

Top

Postby Valkyrie » Wed Oct 04, 2006 9:03 am
Tidak seperti Perang Salib sebelumnya (Keempat) yang menjadi tidak terkendali ditangan awam, upaya kali ini diletakkan dalam otoritas wakil kepausan, Cardinal Pelagius. Dia mempunyai pengetahuan militer dan secara rutin berperan dalam keputusan militer.

Usaha kali ini mengalami kesuksesan awal, dan Pasukan Muslim yang terkejut menawarkan syarat damai yang sangat menguntungkan, termasuk pengembalian Yerusalem. Tapi, Prajurit Salib, dianjurkan oleh Kardinal Pelagius, menolak ini. Sebuah blunder militer mengakibatkan Prajurit Salib kehilangan Damietta yang mereka dapat di awal kampanya ini. Pada 1221, Pasukan Kristen menerima perjanjian gencatan senjata dengan syarat yang jauh kurang menguntungkan dari yang pertama. Banyak yang menyalahkan Pelagius, beberapa menyalahkan Paus. Banyak juga yang menyalalahkan Kaisar German Frederick II yang tidak tampil di Perang Salib kali ini tapi yang akan tampil utama di Perang Salib berikutnya.

Perang Salib Keenam (1228-29)
Innocent III telah mengijinkan Frederick II untuk menunda partisipasinya di Perang Salib supaya dia bisa mengatasi masalah di Jerman. Penerus Innocent III, Gregory IX, kesal terhadap penundaan terus menerus Frederick memperingatkan Frederick untuk memenuhi kaulnya. Saat sang Kaisar menunda lagi dengan alasan sakit Paus langsung meng-ekskomunikasi dia. Saat Frederick akhirnya berangkat, dia berperang dalam kondisi ter-ekskomunikasi.

Situasi aneh ini mengawali suatu Perang Salib yang aneh. Sebagain karena ekskomunikasi dari Frederick sedikit orang yang mendukung dia sehingga dia tidak mampu menggalang kekuatan militer yang besar. KArena itu dia memakai diplomasi dan mengambil kesempatan atas terjadinya perpecahan didalam Muslim. Dia melakukan perjanjian dengan Sultan Al-Kamil dari Mesir pada 1229. Menurut perjanjian tersebut Yerusalem (Kecuali Kubah Batu dan Mesjid Al-Aqsa), Betlehem, Nazareth dan beberapa daerah tambahan, akan dikembalikan ke Kerajaan Yerusalem

Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi, kemudian dimahkotai sebagai Raja Yerusalem di Gereja Kuburan Kristus dalam suatu upacara non-religius (Karena Yerusalem dilarang oleh Gereja untuk melakuakn upacara religious akibat status Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi). Tahun selanjutnya Frederick II diterima kembali ke Gereja. Namun dia tidak mampu memerintah dengan sukses Kerajaan Yerusalem dari jauh karena baron lokal menolak untuk bekerja sama dengan wakil dia.

Tahun 1239 dan 1241 ada dua Perang Salib kecil yang dilakukan oleh Thibaud IV dari Champagne dan Roger dari Cornwall. Dua upaya si Syria dan melawan Ascalon tidak sukses.

Perang Salib Ketujuh (1249-52)
Inisiatif untuk Perang Salib ini diambil oleh Raja Louis IX dari Prancis. sekali lagi, strateginya adalah untuk menyerang Mesir dan dijadikan tawaran untuk Palestina. Prajurit Salib dengan cepat mampu mengambil alih Damietta tapi harus membayar mahal ketika mengambil alih Kairo. Serangan balasan Muslim berhasil menangkap Louis IX. Dia kemudian dibebaskan setelah setuju untuk mengembalikan Damietta dan membayar uang tebusan. Setelah itu Louis IX tetap di Timur beberapa tahun untuk bernegosiasi mengenai pelepasan tawanan dan mengkokohkan kekristenan di wilayah tersebut

Perang Salib Kedelapan (1270)
Perang Salib terakhir juag dipimpin oleh Louis IX. Di tahun-tahun kemudian, perubahan di dunia Muslim mengakibatkan munculnya sejumlah serangan baru ke wilayah Kristen di Tanah Kudus. Warga lokal meminta bantuan militer pada Barat, tapi cuma sedikit bangsa Eropa yang tertarik untuk melakukan kampanye besar. Satu orang yang sekali lagi mau memanggul beban adalah Louis IX. Namun kampanye yang dia lakukan kali ini mencapai kurang dari apa yang dicapai sebelumnya bagi Kerajaan Yerusalem.

Tidak diketahui mengapa, tapi Tunisia di Afrika Utara dijadikan saran awal. Setelah disana, wabah mengambil nyawa banyak orang, termasuk Louis yang saleh. Saudaranya, Charles Anjou, tiba dengan kapal-kapal Sisilia dan berhasil mengungsikan sisa tentara.

Meskipun ini adalah Perang Salib terakhir, ini bukanlah ekspidisi militer terakhir yang bisa disebut sebagai Perang Salib. Kampanya terus diserukan atas berbagai sasaran (bukan hanya Muslim) oleh Prajurit Salib-orang yang berkaul untuk melakukan perang.

Umat Kristen di Palestina ditinggalkan tanpa bantuan lebih lanjut. Meskipun mengalami kekalahan terus menerus, Kerajaan Yerusalem tetap bertahan sampai 1291, ketika akhirnya musnah. Umat Kristen masih tetap hidup di daerah tersebut bahkan setelah kejatuhan Kerajaan Yerusalem.

Penilaian
Banyak sekarang di dunia barat memandang Perang Salib adalah agressi yang tidak bisa dibenarkan terhadap pendudk damai di Timur dan Tanah Kudus. Namun, bahkan dengan sedikit pengetahuan atas abad yang lalu membuat pemikiran tersebut tidak bisa diyakini.

Ini bisa dilihat jelas, sebagai contoh, dengan memutar balik peran dari kekuatan yang bertikai. Jika Perang terjadi di tengah-tengah masa dimana Kristen mengambil alih SEPARUH dari wilayah yang secara historis merupakan milik Muslim. Maka orang tidak akan menyalahkan Muslim yang berusaha untuk mengambil kembali daerahnya yang diambil Kristen yang didaerah tersebut terdapat banyak saudara seiman. (Note: tentu saja yang terjadi adalah sebaliknya. Islamlah yang melakukan kampanye besar-besaran dan mencaplok daerah yang awalnya Kristen).

Sedikit yang akan berpikir bahwa Muslim seharusnya tetap diam ketika Kristen mengambil kontrol dan menghalangi akses Muslim di Kabah Mekah dan Kubah Batu dan Mesjid Al-Agsa di Yerusalem. Kita akan meng-ekspektasikan kalau Muslim akan menyerang balik dan mengambil kendali tempat Kudus mereka. (Note: sekali lagi ini adalah pembalikan/transposisi. Yang terjadi adalah Muslim menguasai situs Kudus Kristen dan menghalangi peziarah Kristen ke tempat Kudus yang sudah sejak dulu milik mereka).

Akal sehat mengajarkan pelajaran yang didapat dari Perang Salib, “Jangan menaklukkan setengah dari peradaban kelompok lain tanpa berpikir untuk menerima balasannya” dan “Jangan menyentuh situs kudus orang lain tanpa berpikir akan pembalasan”

Dan bukannya merasa malu terhadapa apa yang dilakukan Prajurit Salib. Umat Kristen kontemporer seharusnya BANGGA bahwa -terlepas dari pertikaian dari dalam mereka sendiri pada saat itu- umat Kristen jaman dulu akan melakukan apa yang dilakukan umat Muslim sendiri kalo mereka diposisikan (ditranspose) dalam posisi umat Kristen (Note: Maksudnya, baik Muslim maupun Kristen, kalo separuh peradabannya dijajah dan situs kudusnya dikuasai dan ditutup akses umum, maka mereka akan melawan. dan inilah yang terjapi kepada Kaum Kristen yang separo peradabannya dicaplok dan akses mereka ke tempat kudus dihalangi).

Kristensaat ini tentu saja harus mengutuk tindakan jahat yang dilakukan selama Perang Salib, seperti pembantaian warga Muslim dan Yahudi tak bersalah yang terjadi secara periodik, dan juga episode Perang Salib keempat yang menyedihkan. Meskipun begitu Perang Salib sendiri mempunyai dua tujuan pokok sebagai intinya: Pembelaan terhadap peradaban Kristen atas agresi dari luar (sehingga Perang Salib secara keseluruhan adalah perang bela diri) dan menjaga akses ke situs kudus tempat terjadinya peristiwa penting dalam sejarah Kekristenan (Kubur Kristus etc).

Juga akan sulit untuk menilai Perang Salib tanpa berpikir tentangnya dalam terang kejadian saat ini. Khususnya, orang akan berpikir apakah generasi Muslim masa depan akan melihat masa ini dan berpikir apakah tindakan kampanye terorisme Islam adalah seperti apa adanya? Apakah suatu serangan terhadap mereka yang tidak bersalah, warga sipil bisa dibenarkan? Apkah warga Muslim masa depan akan menganggap Jihad milenium baru sebagai “Perang Salib” yang tidak dibenarkan? dan apakah dunia Muslim akan melakukan introspeksi dan menganggap Perang Salib sebagai respon yang bisa terprediksi atas agresi Muslim jaman dulu?

tamat

Ini adalah Perang Salib yang pertama dan banyak yang lain. Silahkan baca versi bahasa Inggris yang lengkap untuk mengetahui cerita lebih lanjut. Kalau ada waktu (dan harap-harap ada yang membantu) akan diteruskan penerjemahan artikel tersebut

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sejarah-perang-salib-terjemahan-yang-tidak-diketahui-islam-t5960/

Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.

Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)

http://agungsulistyo.wordpress.com/2008/03/01/dracula-pembantai-umat-islam-dalam-perang-salib/

Menelusuri Sejarah Perang Salib
27 09 2007
Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Simak akhlaq Salahuddin al-Ayyubi
“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

Sepak Terjang Tentara Salib
Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim-yang menguasai Palestina saat itu-menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan-terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil-untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tahun 1145-1147 pecah Perang Salib II. Namun perang besar-besaran terjadi pada Perang Salib III. Di pihak Kristen dipimpin Phillip Augustus dari Prancis dan Richard “Si Hati Singa” dari Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi.
Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.
Pria keturunan Seljuk ini kebetulan mempunyai paman yang menjadi petinggi Dinasti Fathimiyyah. Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai.
Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.
Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel). Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187).
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.
Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib-tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.
Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”.
Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.
Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya.
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.*
Sumber: Majalah Hidayatullah edisi Desember 2004

http://wahyoe.wordpress.com/2007/09/27/menelusuri-sejarah-perang-salib/

Sejarah Perang Salib: Benci tapi Rindu
Abdul Hadi W. M.
PERANG SALIBCATATAN RETROSPEKSI
Perang besar bernuansa keagamaan yang pernah terjadi dalam sejarah ialah Perang Salib. Sebutan tersebut merupakan terjemahan dari perkataan Crusade, penamaan yang diberikan orang Barat sendiri karena tujuan peperangan ini ialah merebut kota suci Yerusalem tempat Salib Suci disimpan. Perang ini terjadi bukan satu dua kali, tetapi secara beruntun dalam enam gelombang. Rentang masa peperangan pun sangat lama, hampir dua abad, antara tahun 1096 hingga 1270 M. Perang-perang kecil sering terjadi menyelingi jeda enam perang besar yang terjadi secara bergelombang itu.
Dampak Persang Salib luar biasa, baik bagi bangsa Eropa maupun terhadap kaum Muslimin. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi dan politik ketika perang berkecamuk, perang ini selama berabad-abad sangat mempengaruhi corak hubungan Dunia Barat dan Dunia Islam, yang dianggap merupakan “dunia yang selebihnya’ atau “yang lain” dilihat dari sudut pandang Barat. Penyair Jabra Ibrahim Jabra menggambarkan hubungan Barat dan Islam sebagai hubungan “cinta bercampur benci” yang tumpang tindih dan silang menyilang dari waktu ke waktu.
Dampak lain yang terus mempengaruhi pandangan Barat terhadap Islam ialah seperti dikemukakan G. H. Jansen dalam bukunya Militant Islam (1979): “Sungguh menjemukan dan menyakitkan apabila kita harus mengulangi setiap argumen licik para penulis polemis Kristen dan Barat, yang sama sekali tidak kristiani, terhadap Islam terutama terhadap pribadi Nabi Muhammad. Menurut mereka pada hakikatnya Muhammad adalah seorang pelbegu (penyembah berhala) yang rendah, namun dengan pandainya memperoleh kekuasaan, menjaganya dengan cara berpura-pura menerima wahyu da menyebarkan agamanya dengan kekerasan dan mengizinkan pengikutnya melakukan praktik-praktik cabul seperti dilakukannya sendiri.” (h. 60).
Perang Salib I terjadi antara tahun 1096-1099 dengan kekalahan di pihak tentara Muslim, yang terutama diwakili oleh pasukan Bani Saljug, dinasti Turk yang baru saja menguasai Persia dan Asia Barat. Kekalahan tersebut menyebabkan tentara Salib dapat menduduki Yerusalem. Orang-orang Islam dan Yahudi yang menjadi penduduk Palestina kala itu digiring ke tempat penyembelihan dan yang selamat melarikan diri serta berpencaran ke banyak negeri di sekitarnya. Pasukan Salib ketika itu didukung oleh 300.000 tentara reguler yang direkrut dari seluruh Eropa.
Perang Salib II terjadi antara 1147-1149, dan Perang Salib III antara 1189-1192. Perang Salib II tidak begitu seru karena kurang didukung oleh negara-negara lain di Eropa kecuali Perancis. Ketika Perang Salib III meletus, Damaskus (Syria sekarang) berada di bawah pemerintahan Bani Mamalik, sebuah dinasti Turk lain yang menyingkirkan Bani Saljug. Bukan mudah bagi pasukan Mamalik menghadapi pasukan Salib yang jumlahnya besar, sebab dia harus menyingkirkan lebih dulu pasukan Bani Fatimiyah yang juga ingin merebut Yerusalem dan berkeinginan menjadi pusat penyebaran ajaran Ismailiyah. Tetapi di bawah pimpingan Salahuddin al-Ayubi, dokter dan panglima perang keturunan suku Kurdi, tentara Fatimiyah dapat dihancurkan. Baru dia dapat menghadapi pasukan Salib.
Perang Salib IV terjadi antara 1195-1198. Perang Salib V antara 1201-1204. Perang Salib VI antara 1217-1228. Namun secara resmi perang ini dihentikan pada tahun 1270 dengan gencatan senjata menyeluruh dan perjanjian damai. Perang Salib VI berkobar di wilayah Syria dan Libanon. Pada waktu yang sama, negeri Islam lain di sebelah timur, yaitu wilayah Iraq, Iran, Azerbaijan. Turkmenistan dan Uzbeskitan sekarang (dulu dua yang terakhir ini disebut Khwarizmi dan Transoxiana) diharu-biru oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan anak cucunya seperti Ogotai, Hulagu Khan, dan lain sebagainya. Tak mengherankan betapa beratnya perjuangan kaum Muslimin ketika itu. Dalam kenyataan kemudian terjalin konspirasi antara penguasa Mongol dan pasukan Salib untuk secara sistematis menghancurkan agama Islam.
Mengenai Perang Salib I, William K. Langer mengatakan bahwa salah satu sebab timbulnya Perang Salib I ialah: “Permintaan kaisar Byzantium untuk membalas kekalahannya dari tentara Saljug dalam Perang Manzikert pada tahun 1071 di Armenia, yang menyebabkan ditaklukkannya sebagian wilayah Anatolia/Asia Kecil oleh pasukan Muslimin. Permintaan itu ditujukan kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, sebanyak 300.000 tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer itu menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam, yang dianggapnya kafir (Encyclopaedia of World History 1956:255).
Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahan dalam Perang Manzikert itu ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen ke Yerusalem setelah mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka menyebarkan berita bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa oleh pasukan Daulah Saljug. Ini menimbulkan kemarahan kaisar Byzantium di Konstantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pada masa itu pula terjadi pergolakan internal dalam tubuh gereja Kristen/Katholik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing dalam merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius (1075-1085) di Roma berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen.
Sementara itu tentara Salib sedang digodog, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Paus Victor II segera diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II naik tahta, muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Perancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100 M). Kaisar Alexius dari Byzantium sementara meminta bantuan kepada Paus di Roma, juga menghimbau kepada seluruh pemeluk agama Kristen di Eropa. Di antara imbauannya itu berbunyi sbb. Bahwa barang siapa yang berani bergabung dengan tentara Salib, sebagai balas jasanya kelak akan dilimpahi kekayaan dan memperoleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita.
Imbauan itu disampaikan melalaui tahta suci Paus di Roma dan melalui gereja-gereja di seluruh Eropa. Namun semangat tentara Salib berkobar-kobar terutama disebabkan khotbah keliling seorang rahib, Peter the Hermit. Seraya menyampaikan pesan dari Paus Urbanus II, bahwa mereka yang bersedia menuju medan perang, akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya dia seorang penyamun dan penjahat.
Penetapan keberangkatan tentara Salib I diputuskan pada tanggal 15 Agustus 1095. Segera pada permulaan tahun 1096 terjadi pertempuran besar-besaran di Anatolia dan Armenia. Mula-mula pertempuran dahsyat meletus di Nicae, sebuah kota di Selat Bosporus, kemudian merembet ke Dorylinea, Edessa dan Antiokia (dalam wilayah Armenia. Dari serbuan dilanjutkan ke Yerusalem, setelah pasukan Islam berhasil diluluhlantakkan.
Namun sebelum tentara Salib mencapai Yerusalem, terdengar kabar bahwa pasukan Daulah Fathimiyah dari Mesir menyerbu Yerusalem dan berhasil merebutnya dari tangan pasukan Saljug. Ini membuat ciut pasukan Salib. Sampai musim semi dan musim panas tahun 1098 tidak ada gerakan dari pasukan Salib. Gerakan menyerbu Yerusalem baru diputuskan pada bulan Mei 1099 atas kebijaksanaan Count Raymond. Dengan kekuatan 1500 pasukan berkuda dan 10. 000 pasukan jalan kaki, mereka menyerbu Yerusalem. Melalui pertempuran yang sengit pada akhirnya Yerusalem dapat direbut dari pasukan Fathimiyah, yaitu pada bulan Juli 1099. Selama 40 hari kota itu dikepung pasukan Salib. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.
Dalam buku Historian’s History (h. 352) misalnya ditulis: “Korban yang berlumuran darah dipersembahkan seakan binatang korban kepada Tuhan; perlawanan kecil sekalipun dari orang Islam, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, menimbulkan kemarahan mereka yang luar biasa berang; tiga hari lamanya mereka hanyut dalam pembunuhan massal; dan tubuh-tubuh mayat yang terkapar itu menimbulkan penyakit menular. Setelah tujuh puluh ribu orang Islam ditebas dengan pedang, dan orang-orang Yahudi yang malang dibakar dalam rumah-rumah ibadahnya, maka masih ada lagi kumpulan tawanan yang besar jumlahnya, yang karena kepentingan tertentu maupun karena kelelahan, pada akhirnya dibiarkan saja. Dari sekian banyak pahlawan Perang Salib yang ganas itu, hanya tinggal Tancred saja yang masih memperlihatkan sedikit rasa kasihan.”
Setelah peristiwa itu status Yerusalem lantas dirubah menjadi kerajaan otonom yang diperintah oleh raja Baldwin I (1100-1118) dan dia digantikan oleh Baldwin II (1118-1131). Selama pemerintahan kedua raja ini terjadi beberapa peperangan susulan dalam skala terbatas antara tentara Salib dan tentara Islam. Khususnya di wilayah-wilayah berdekatan dengan Yerusalem seperti Syria, Libanon, Armenia, Anatolia dan Georgia.
Di antara perang susulan ini terjadi pada tahun 1112 M, bertepatan dengan kesibukan pasukan Islam menghadapi pertempuran melawan suku-suku Kirgh yang ingin menaklukkan Armenia dan Kaukasus. Pasukan Salib menganggap bahwa pada saat itu sangat tepat untuk menundukkan pasukan Islam yang telah kembali menguasai Armenia. Tetapi perkiraan Raja Baldwin II keliru. Di bawah pimpinan Amir Toghrukhin (1103-1128) pasukan Islam menggagalkan serangan pasukan Salib yang memasuki Antiokia. Malahan raja Baldwin II berhasil ditawan dan hanya dapat dibebaskan dengan uang tebusan dalam jumlah besar. Setelah peristiwa itu terjadi beberapa peperangan lain di wilayah Syria dan Anatolia antara pasukan Islam melawan pasukan Byzantium. Pada waktu itu pasukan Islam diserang lagi oleh pasukan Salib yang dipimpin raja Baldwin II. Serangan ditujukan ke Aleppo dan Damaskus, namun sekali lagi pasukan Salib dikalahkan.
Perang Salib II berlangsung antara tahun 1147-1149 M. Berbeda dengan Perang Salib I yang timbul secara spontan dan mendapat dukungan rakyat banyak, Perang Salib II hanya didukung oleh raja-raja dan pangeran-pangeran. Kebanyakan pasukan yang dikirim berasal dari tentara kerajan Perancis di bawah pimpinan Raja Louis VII (1137-1180) dan tentara kerajaan Jerman di bawah pimpinan Raja Conrad III (1138-1152 M). Rencana perang itu sendiri datang dari Paus Eugenius II (1145-1153 M).
Pasukan Perancis dan Jerman mengalami kekalahan telak di tangan pasukan Amir Mas`ud I. Sebagian pasukan Conrad III memang telah mencapai Damaskus, tetapi gagal menembus pertahanan tentara Muslim. Conrad III sendiri jatuh sakit dan akhirnya dipulangkan ke Jerman setelah dirawat di Konstantinopel. Sedangkan Pasukan Louis VII dipukul mundur oleh pasukan Nuruddin Zanki di Antiokia. Sebagian pasukannya turut berperang di Damaskus, tetapi mengalami kekalahan dan pada akhirnya Raja Louis VII dan tentaranya kembali ke Perancis melalui jalan laut.
Perang Salib III (1189-1192) timbul disebabkan didudukinya kembali Yerusalem oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Sultan Salahuddin al-Ayubi , jenderal keturunan suku Kurdi yang legendaris. Uskup Agung William di Tyre, Paus Clement III (1187-1191) menyerukan raja-raja Eropa dan orang Kristen merebut kembali Yerusalem. Dalam perang kali ini tentara Salib tidak berhasil merekrut tentara dalam jumlah besar dan mengalami kekalahan besar. Genjatan senjata diumumkan pada tahun 1192 dan raja Richard I yang memimpin pasukan Inggeris mengusulkan agar Amir Turan Syah, saudara Salahuddin al-Ayubi, menikahi saudarinya Putri Joanna.
Perang Salib IV (1195-1198) terjadi setelah wafatnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193 dalam usia 80 tahun. Pergantian pimpinan pemerintahan di Syria, Palestina dan Mesir lebih jauh menghidupkan harapan Paus Calestine II (1191-1198) untuk merebut kembali Yerusalem. Dia memerintahkan Ordo St John mengorganisasikan angkatan Perang Salib IV. Dalam perang ini kekalahan telak kembali menimpa pasukan Salib.
Perang Salib V (1201-1204) timbul atas rencana Paus Innocent III (1198-1216) untuk menyatukan Gereja Yunani Ortodoks ke dalam Gereja Romawi. Karena keuangan tidak cukup, Paus tidak dapat mengirim tentara dalam jumlah besar. Bahkan sebelum bertempur melawan pasukan Islam, pasukan Salib yang dipimpin oleh raja Venezia harus berperang melawan pasukan Hongaria dan juga dengan pasukan Kristen Byzantium di Konstantinopel. Perang Salib V memang tidak dimaksudkan untuk merebut Yerusalem, tetapi membasmi raja-raja Kristen yang dianggap menyebarkan bid’ah di kalangan penganut Nasrani.
Perang Salib VI terjadi antara tahun 1217 dan 1221 M. Sasaran utamanya ialah untuk menaklukkan Mesir. Mengapa? Sebab jika Mesir dapat ditaklukkan maka penaklukan Yerusalem akan menjadi lebih mudah. Namun sekali lagi tentara Salib gagal menghancurkan pasukan Islam. Pada tahun 1211 M kedua pihak yang berperang menandatangani perjanjian damai yang dikenal dengan nama Treaty of 1221 AD. Tetapi sayang perjanjian ini dilanggar tidak lama kemudian, sehingga beberapa peperangan skala kecil meletus secara berkala sampai akhirnya padam pada tahun 1270 M. Ketika itu seluruh wilayah kekhalifatan Abbasiyah, yang meliputi Iran, Iraq, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan sekitarnya telah dikuasai oleh penguasa Mongol keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan. Terhentinya Perang Salib itu dimanfaatkan oleh penguasa Kristen untuk membangun konspirasi dengan penguasa Mongol dalam rangka menghancurkan dunia Islam. Mereka menginginkan penguasa Mongol memeluk agama Kristen. Upaya ini pada mulanya berhasil, tetapi menjelang akhir abad ke-13 M penguasa dan bangsa Mongol memeluk agama Islam dan berbalik menjadi pelindung kebudayaan Islam.
Di lain hal kendati pasukan Salib mengalami kekalahan, mereka berhasil membawa pulang banyak khazanah Islam yang sangat berharga ke Eropa. Di antara khazanah itu ialah naskah dan buku-buku ilmu pengetahuan, filsafat, kesusastraan, dan kitab-kitab agama. Kitab-kitab itu dikaji dengan cermat dan yang dianggap penting diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Kegiatan tersebut dua abad kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai Renaissance. Di lain hal justru pasca Perang Salib dan penaklukan bangsa Mongol itulah agama Islam kian tersebar menjangkau wilayah-wilayah yang jauh lebih luas yang pernah dicapai sebelumnya. Misalnya ke Afrika Barat dan pedalaman benua itu, serta India, kepulauan Nusantara dan Cina Selatan yaitu Yunan di Timur.

http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/009/18.html

Tahukah Kau?
1. Pembentukan Tentara Salib bukanlah tindakan Agresi tanpa sebab yang dilakukan oleh penguasa Eropa melawan dunia Islam, tapi ini adalah penundaan selama berabad-abad atas Agresi Muslim yang semakin ganas, jauh lebih dari sebelumnya di Abad ke 11.
2. Perang Salib adalah perang untuk merampas kembali tanah Kristen dan juga untuk membela masyarakat Kristen, dan bukannya untuk mendirikan imperialisme Kristen.
3. Tentara Salib tidak dipanggil untuk memaksa Muslim atau non-Kristen masuk Kristen.

Pandangan Politically Correct (Myth PC): Perang Salib adalah Serangan Tanpa Alasan Bangsa Eropa terhadap Dunia Islam
(Adadeh: Politically Correct atau disingkat jadi PC adalah pendapat yang salah yang sengaja diucapkan agar tidak menimbulkan keresahan umum atau golongan masyarakat)

Salah. Penaklukan Yerusalem di tahun 638 adalah reaksi dari penyerangan yang dilakukan tentara2 Islam selama berabad-abad terhadap non-Muslim, terutama Kristen. Alasan lain adalah masyarakat Kristen di Tanah Suci mengalami penindasan yang semakin berat. Beberapa contohnya: Di Awal Abad ke 8, enampuluh peziarah Kristen dari Amorium disalib; sekitar waktu yang sama, gubernur Muslim Caesarea menangkap peziarah Kristen dari Ikonium dan membunuh mereka semua dengan tuduhan mata2 – tapi yang mau memeluk Islam dibebaskan; dan Muslim menuntut uang dari para peziarah, mengancam menghancurkan gereja jika umat Kristen tidak mau bayar. Kemudian di Akhir Abad ke 8, seorang ketua Muslim melarang tanda salib di seluruh Yerusalem. Dia juga meningkatkan uang Jizya bagi masyarakat Kristen dan melarang masyarakat Kristen menyampaikan pesan agama Kristen kepada siapapun, bahkan Anak mereka sendiri. [5]
[5] Dikutip dari buku Bat Y�eor, The Decline of Eastern Christianity Under Islam (Madison, NJ: Fairleigh Dickinson University Press, 1996), hal. 44.

Muhammad vs. Yesus
�Diberkatilah mereka yang berhati kudus, karena mereka akan melihat Tuhan. Diberkatilah mereka yang membuat perdamaian, karena merekalah yang akan disebut sebagai anak2 Allah. Diberkatilah mereka yang disesah karena tujuan2 mulia karena merekalah yang mewarisi kerajaan surga.�
Yesus (Matius 5:8-10)

Allah menugaskan Muslim untuk melakukan perang Suci di jalan Allah dan tiada Alasan lain untuk melakukannya selain percaya pada Allah dan RasulNya, bahwa dia akan diberi imbalan oleh Allah dengan anugrah atau Barang jarahan (jika dia hidup) atau masuk surga (jika dia mati)
Hadis Sahih Bukhari, vol. 1, buku 2, no. 36

Muslim memperlakukan masyarakat Kristen secara brutal dan penuh kekerasan di Tanah Suci. Di tahun 772, Kalifah al-Mansur memerintahkan semua tangan2 orang Kristen dan Yahudi diberi cap dengan simbol tertentu. Muslim yang berani ganti agama ke Kristen diperlakukan dengan kejam. Di tahun 789, pemerintah Muslim memancung seorang paderi yang meninggalkan Islam dan masuk Kristen. Tentara Muslim juga menghancurkan monastri Saint Theodosius di Bethlehem dan membunuhi banyak paderi. Monastri2 Kristen di daerah sekitar juga bernasib sama. Di Awal Abad ke 9, penindasan semakin sengit sehingga banyak masyarakat Kristen yang meninggalkan Yerusalem dan mengungsi ke Konstatinopel dan kota2 Kristen lainnya. Di tahun 923, gereja2 dihancurkan, dan di tahun 937, Muslim mengacaukan perayaan Paskah di Yerusalem, merampok dan menghancurkan Gereja Kavalri dan Gereja Kebangkitan Kembali (Resurrection). [7]
[7] Moshe Gil, A History of Palestine 634-1099 (Cambridge: Cambridge University Press, 1992), 473-76. Kalifah al-Muqtadir tidak setuju dengan penindasan tahun 923 dan memerintahkan gereja dibangun kembali.

Atas penindasan terhadap masyarakat Kristen, kerajaan Bizantium mengganti politik negara yang awalnya bersikap bertahan melawan Muslim dan jadi menyerang untuk merebut kembali tanah2 Kristen yang dirampas Muslim. Di tahun 960-an, Jendral Nicephorus Phocas (yang nantinya akan jadi Kaisar Bizantium berikut) berhasil menang perang melawan tentara Muslim dan merebut kembali Kreta, Sisilia, dan Siprus, dan bahkan sebagian dari Siria. Di tahun 969, dia merampas kembali kota kuno Kristen bernama Antiokhia. Di tahun 970-an, kerajaan Bizantium memperluas penyerangan sampai masuk ke Siria. [8]
[8] Steven Runciman, A History of the Crusaders, Volume I (Cambridge: Cambridge University Press, 1951), 30-32

Dalam theologi Islam, jika suatu daerah tadinya telah dirampas oleh Kekuasaan Islam, maka daerah itu selamanya milik Islam – dan Muslim harus berperang untuk merebut kembali tanah itu. Di tahun 974, karena terus-menerus kalah melawan Bizantium, Kalifah Abbasid (Sunni) di Baghdad menyerukan perang Jihad. Kampanye Jihad melawan Bizantium terus dilakukan setiap tahun oleh Saif al-Dawla yang adalah penguasa Dinasti Hamdanid Shia di Aleppo dari tahun 944-967. Saif al-Dawla meminta masyarakat Muslim untuk berperang melawan Bizantium dengan Alasan mereka merampasi tanah milik Islam. Kampanye ini demikian sukses sehingga tentara2 Muslim berdatangan bahkan dari daerah jaudi di Asia Tengah untuk bergabung melakukan Jihad. [9]
[9] Carole Hillenbrand, The Crusaders: Islamic Perspective (Oxford: Routledge, 2000), hal 101.

Akan tetapi, permusuhan antar Shia dan Sunni menggagalkan usaha Jihad itu, dan di tahun 1001 Kaisar Bizantium Basil II membuat perjanjian damai 10 tahun dengan Kalifah Shia Fatimid. [10]
[10] Runciman, hal. 33.

Tak lama kemudian, Basil melihat bahwa perjanjian damai itu tak ada gunanya. Di tahun 1004, Kalifah Fatimid ke-6 yakni Abu �Ali al-Mansur al-Hakim (985-1021) menyerang ganas kepercayaan ibu dan pamannya yang Kristen, dan memerintahkan perampasan Harta benda dan pembakaran gereja2. Dia pun melakukan hal yang sama terhadap masyarakat Yahudi. Sepanjang 10 tahun berikutnya, 30.000 gereja dihancurkan dan banyak orang2 Kristen yang masuk Islam agar nyawa mereka selamat. Di tahun 1009, al-Hakim mengeluarkan perintah anti-Kristen yang paling terkenal: dia memerintahkan Gereja Makam Suci (Holy Sepulcher) di Yerusalem dihancurkan, juga gereja2 lain (termasuk Gereja Resurrection). Gereja Makam Suci didirikan oleh orang2 Bizantium di Abad ke 7 setelah Persia membakar gereja sebelumnya, dan gereja ini dipercayai sebagai kubur Yesus; juga dipakai sebagai model bagi mesjid Al-Aqsa. Al-Hakim memerintahkan kuburan dihancurkan semua sampai pada altar. Dia memerintahkan semua masyarakat Kristen memakai salib berat di leher mereka (dan bagi orang Yahudi adalah Balok kayu berat di pundak berbentuk Anak sapi). Dia terus menambah Aturan yang semakin menindas agar para Yahudi dan Kristen itu akhirnya masuk Islam. [11]
[11] Gil, hal. 376.

Kalifah kejam ini akhirnya meringankan hukum2 penindasan atas non-Muslim dan bahkan mengembalikan harta rampasan dari Gereja. [12] Sebagian Alasan perubahan sikap al-Hakim mungkin karena dia semakin mempelajari Islam orthodoks. Di tahun 1021, dia menghilang secara misterius; beberapa pengikutnya menganggap dia orang suci dan mereka membentuk kelompok agama berkenaan dengan misteri ini dan juga karena Ajaran imam bernama Muhammad ibn Isma�il al-Darazi (dari nama inilah Islam Druze dibentuk). [13] Karena perubahan hukum Kalifah al-Hakim dan kematiannya, orang2 Bizantium diijinkan kembali membangun Gereja Makam Suci di tahun 1027. [14]
[12] Runciman, 35-36; Hillenbrand, 16-17; Jonathan Riley-Smith, The Crusaders: A Short History (New Haven, CT: Yale University Press, 1987), hal. 44.
[13] Bernard Lewis, The Assassins (New York: Basic Books, 2002), hal. 33.
[14] Runciman, hal. 36.

Meskipun begitu, nasib umat Kristen dalam keadaan riskan dan peziarah Kristen tetap saja ditindas. Di tahun 1056, penguasa Muslim mengusir 300 orang Kristen dari Yerusalem dan melarang peziarah Kristen Eropa memasuki Gereja Makam Suci. [15] Ketika penguasa Turki Seljuk berkuasa di Asia Tengah, mereka menerapkan hukum Islam secara lebih ketat dan ini membuat keadaan masyarakat dan peziarah Kristen jadi sulit (dilarang berziarah). Setelah tentara Muslim mengalahkan Bizantium di Manzikert tahun 1071 dan menawan Kaisar Bizantium bernama Romanus IV, semua daerah Asia Kecil ditaklukan Muslim. Di tahun 1076, Muslim Turki Seljuk mengalahkan Siria; di tahun 1077, Yerusalem. Emir Seljuk bernama Atsiz bin Uwaq berjanji tidak akan melukai penduduk Yerusalem, tapi begitu sudah masuk kota, tentara Muslim membunuh 3.000 orang. [16] Pemerintah Seljuk mendirikan kesultanan Rum di Nisea yang terletak dengan Konstantinopel. Dari sinilah mereka terus-menerus menyerang Bizantium dan menindas masyarakat Kristen di seluruh daerah kekuasaan mereka.
[15] Ibid, hal. 49.
[16] Gil, hal. 412.

Kekaisaran Kristen Bizantium yang sebelum kalah perang lawan Islam berkuasa dari bagian selatan Italia, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Arabia, sekarang kekuasaannya hanya lebih besar sedikit dibandingkan Yunani. Tampaknya memang kejatuhannya dari Turki Seljuk hanya tunggu waktu lagi. Gereja Konstantinopel tidak mengakui kekuasaan Paus dan bermusuhan selama berabad-abad, tapi Kaisar Bizantium yang baru yakni Alexius I Comnenus (1081-1118) merendahkan diri dan meminta pertolongan. Inilah Awal terjadinya Perang Salib pertama: Kaisar Bizantium minta tolong.

Pandangan PC: Tentara Salib adalah Contoh Awal Imperialisme Ganas Barat
Imperialis ganas? Salah. Paus Urban II mengumumkan Perang Salib Pertama di Konsul Clermont tahun 1095 sebagai usaha bela diri – dan ini telah lama sekali tertunda. Dia meminta dibentuknya tentara Salib karena tanpa bela diri, maka �kepercayaan akan Tuhan akan lebih diserang � oleh Turki dan kekuatan Islam lainnya. Setelah menasehatkan pengikutnya untuk berdamai satu sama lain, dia mengalihkan perhatian mereka ke masalah Timur:
Bagi saudara kalian yang hidup di daerah Timur yang sangat butuh pertolonganmu, dan kalian harus segera memberi pertolongan kepada mereka seperti yang telah dijanjikan. Karena, seperti yang telah didengar sebagian besar dari kalian, tentara2 Turki dan Arab telah menyerang mereka dan menaklukkan daerah Romania sejauh pantai Barat Mediterania dan Hellespont, yang disebut sebagai Lengan Saint George. Mereka merampas lebih banyak lagi tanah2 Kristen, dan telah mengalahkan tentara Kristen di tujuh perang terakhir. Mereka telah membunuh dan menawan banyak orang, telah menghancurkan gereja2 dan kekaisaran2. Jika kau mengijinkan mereka terus melakukan hal itu, agama Tuhan akan lebih banyak diserang lagi oleh mereka. Karena inilah, aku atau tepatnya Tuhan, memerintahkan kalian sebagai pejuang2 Kristus untuk mengumumkan hal ini di mana2 dan mengajak semua orang berbagai golongan, tentara jalan kaki atau berkuda, kaya atau miskin, untuk membantu masyarakat Kristen dan mengenyahkan Bangsa jahat itu dari tanah rekan2 kita� Lebih dari itu, Kristus memerintahkannya. [17]
[17] Paus Urban II, �Speech at Council of Clermont, 1095, according to Fulcher of Charters,� dikutip oleh Bongars, Gesta Dei per Francos, 1, 382 ff., diterjemahkan oleh Oliver J. Thatcher dan Edgar Holmes McNeal, editor, A Source Book for Medieval History (New York: Scribners, 1905), hal. 513-17. Dicetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/sourc…2-fulcher.html

Perhatikan bahwa Paus tidak mengatakan apa2 tentang paksaan masuk Kristen atau menaklukkan tanah Islam. Panggilan untuk �mengenyahkan Bangsa jahat itu dari tanah rekan2 kita� memang terdengar seram untuk telinga orang modern; akan tetapi, ini bukan perintah pembunuhan massal, tapi perintah menyingkirkan kekuasaan Islam dari tanah yang dulu dimiliki masyarakat Kristen. Intisari lain dari khotbah Paus di Clermont menyatakan Paus Urban berkata tentang �ancaman nyata bagi dirimu dan semua agamamu.�
Dari kota Yerusalem dan Konstantinopel telah terdengar berita sedih terus-menerus yang sampai ke telinga kami; contohnya, Bangsa dari kerajaan Persia, Bangsa yang terkutuk, Bangsa yang jauh dari Tuhan, �bangsa yang berhati jahat dan tidak mengenal Tuhan,� secara bengis menyerang tanah2 Kristen dan mengusir mereka dengan melakukan penjarahan dan pembakaran tempat tinggal. Mereka membawa sebagian tawanan ke negara mereka dan sebagian dibunuh dengan siksaan kejam. Mereka telah menghancurkan gereja2 Tuhan atau apapun yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Mereka menghancurkan altar2, setelah mengotorinya � Kerajaan Romawi sekarang tercerai-berai karena mereka dan sebagian besar kekuasaan yang bisa dilampaui dalam perjalanan dua bulan lenyap sudah� Kota Bangsawan (Konstantinopel) ini yang terletak di pusat dunia, sekarang disandera oleh musuh2 Kristus dan ditindas oleh mereka yang tidak mengenal Tuhan, penyembah berhala. Mereka mencari Bantuan karena ingin merdeka dan memohon padamu untuk membantu mereka. Kepada dirimulah mereka khusus memohon Bantuan karena, seperti yang telah kita katakan sebelumnya, Tuhan telah menganugerahkan padamu kemampuan militer yang unggul di atas segala Bangsa lainnya. [26]James Harvey Robinson, editor, Readings in European History: Vol. I (Boston, MA: Ginn and Co., 1904), 312-16. Cetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/urban2a.html

Perkataan Paus tentang perbuatan Muslim menghancurkan Gereja Makam Suci:
�Biarlah makam suci Tuhan dan Juru Selamat kita yang saat ini dikuasai negara2 kotor, terutama membangkitkan semangat juangmu, dan tempat2 suci yang saat ini dipermalukan dan dinodai oleh sampah Bangsa yang kotor.� [27]
[27]Ibid.

Tentara Salib maju ke tanah Palestina dengan tujuan sama seperti para peziarah Kristen. Mereka bertekad membela diri jika jalan mereka dihalangi dan diserang. Banyak yang melalukan sumpah agama. Pada awalnya, banyak tentara Salib yang dibunuhi tentara Turki di Asia Kecil Barat di bulan Agustus 1096.

Sama Seperti Sekarang: Islam Membela Diri?
Dalam Sharia Islam, Jihad wajib hukumnya jika daerah Muslim diserang: �Jika non-Muslim menyerang negara Muslim atau dekat negara Muslim, � Jihad adalah kewajiban pribadi bagi masyarakat negara itu, yang harus mengenyahkan non-Muslim dengan segala cara.� [18]
[18] �Umdat al-Salik, o9.1.

Panggilan Jihad telah berkumandang di sepanjang sejarah Islam. Ketika ketua Hamdanid Seyf al-Dawla mengumumkan Jihad terhadap Bizantium di pertengahan Abad ke 10, para Muslim pun datang dari berbagai penjuru untuk berpartisipasi. Mereka datang karena menganggap Bizantium menyerang tanah2 Islam. Sewaktu Perang Salib I terjadi, Muslim menulis puisi sebagai berikut: �Apakah bukan kewajibanmu pada Tuhan dan Islam untuk membela masyarakat tua dan muda? Lakukan perintah Tuhan! Wahai kalian semua! Lakukan!� [19] Imam Muslim yang paling disukai Jihadis jaman modern yakni Ibn Taymiyya (Taqi al-Din Ahmad Ibn Taymiyya, 1263-1328) menganggap Jihad adalah perintah mutlak: �Jika musuh menyerang Muslim, maka menyingkirkan musuh merupakan kewajiban agama dan Muslim lainnya harus membantu.� [20]
[19] Dikutip dari Hillenbrand, hal. 71.
[20] Ibn Taymiyya, �The Religious and Moral Doctrine of Jihad,� di buku Rudolph Peters, Jihad in Classical dan Modern Islam: A Reader[i] (Princeton, NJ: Markus Wiener Publishers, 1996), hal. 53.

Contoh lain panggilan Jihad di ratusan tahun terakhir dapat dilihat di tahun 1914 ketika Kalifah Ottoman Sultan Mehmet V mengeluarkan fatwa berhubungan dengan pecahnya Perang Dunia I; di tahun 2003, kelompok Jihadis Chechnya mengumumkan: �Ketika musuh masuk daerah, kota atau desa tempat Muslim tinggal, maka semua Muslim wajib berperang;� [21] di tahun 2003, Pusat Riset Islam di Universitas Al-Azhar di Kairo mengumumkan: �Sesuai dengan Akal sehat dan hukum Islam bahwa jika musuh menyerang tanah Muslim, maka Jihad jadi kewajiban pribadi, berlaku bagi setiap Muslim dan Muslimah, karena negara Muslim kita sekarang diserang tentara Salib baru yang bertujuan mengambil tempat tinggal, kehormatan, kepercayaan, dan tanah air;� [22] dan Sheikh Omar Bakri Muhammad, imam Jihadis London yang penuh kebencian, berkata di Akhir tahun 2002, �ketika musuh masuk tanah Islam seperti Palestina, Chechnya, Kosovo atau Kashmir,� �semua Muslim yang tinggal tak jauh dari daerah itu harus berperang dan semua Muslim di dunia harus membantunya dengan segala cara.� [23]
[21] Shariah Council of State Defense Council �Majlis al-Shura� dari Republik Chechen di Ichkeria, �Jihad and Its Solution Today,� [i] Jihad Today, no. 7. Dicetak ulang http:wwkavkazcenter.com/eng/content/2003/11/26/2028.shtml, November 26, 2003
[22] Middle East Media Research Institute (MEMRI), �Jihad Against the US: Al-Azhar�s Conflicting Fatwas,� MEMRI Special Dispatch No. 480, March 16, 2003. http://www.memri.org
[23] Middle East Media Research Institute (MEMRI), �Islamist Leader in London: No Universal Jihad As Long As There Is No Caliphate,� MEMRI Special Dispatch No. 435, October 30, 2002. http://www.memri.org

Sama Seperti Sekarang: Jihadis di Segala Tempat
Seperti yang telah terjadi di sepanjang sejarah, tentara Muslim melakukan perjalanan jauh untuk ikut perang2 Jihad. Di tahun 1990-an, daerah Balkan jadi tempat favorit Jihadis Afghanistan dan Chechnya. Komandan Jihadis Bosnia bernama Abu Abdel Aziz menjelaskan bahwa dia pergi ke Balkan setelah bertemu dengan beberapa petinggi negara Saudi Arabia. Mereka semua �mendukungku�, katanya, �paham agama adalah �perang di Bosnia adalah perang bagi kepentingan Allah dan untuk melindungi Muslim.� Hal ini karena Allah berkata (dalam Al-Qur�an 8:72)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan Harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan yang lain.

Sebelum, selama dan setelah perang Irak tahun 2003, para Jihadis dari seluruh penjur dunia datang membanjiri negara itu – termasuk tempat2 yang tidak diduga sebelumnya; polisi Jerman mencatat bahwa di Akhir tahun 2003 �sejak Akhir perang, terdapat banyak orang datang dari Jerman dan bagian Eropa lainnya yang tertarik oleh gerakan ekstrimis Islam di Irak.� [25]
[25] Stephen Graham, � Muslim Militants From Europe Drawn to Iraq,� Associated Press, November 3, 2003.

Pandangan PC: Perang Salib dilakukan Pihak Barat yang Haus Harta
Tentu saja tidak semua tentara Salib bertujuan murni. Terjadi lebih dari sekali kejadian di mana tentara Salib tidak bersikap sebagai peziarah teladan Kristen. Tapi pendapat bahwa tentara Salib melakukan penjajahan tanpa Alasan melawan masyarakat Muslim yang damai dan rukun dengan masyarakat non-Muslim tidak benar berdasarkan fakta sejarah. Pendapat ini hanya menunjukan kebencian terhadap budaya Barat dan bukannya hasil dari penelaahan sejarah yang murni.

Paus Urban tidak berencana melakukan Perang Salib untuk menimbun harta. Dia bertekad untuk mengembalikan tanah2 milik Kaisar Alexius Comnesus dan Kekaisaran Bizantium yang dirampas Muslim. Paus memandang perang Salib sebagai pengorbanan dan bukannya untuk memperkaya diri sendiri. [28]
[28] James Harvey Robinson, editor, Readings in European History: Vol. I (Boston, MA: Ginn and Co., 1904), 312-16. Cetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/urban2a.html

Pengiriman tentara Salib ternyata mahal biayanya. Para tentara Salib menjual kekayaannya untuk mengumpulkan uang bagi perjalanan jauh mereka ke Tanah Suci, dan mereka tahu ada kemungkinan besar mereka mati dan tidak akan kembali.

Contoh yang jelas bisa dilihat pada Godfrey dari Bouillon, yang adalah Duke dari Lower Lorraine. Dia adalah salah satu Bangsawan Eropa terkemuka yang �memanggul salib� (begitulah istilah yang dipakai bagi mereka yang berpartisipasi dalam Perang Salib). Dia menjual banyak rumahnya untuk membiayai perjalannya, tapi jelas dia berencana pulang dan tidak mau tinggal di Timur Tengah karena dia tidak mau menyerahkan gelar kebangsawanannya dan seluruh harta miliknya. [29]
[29] Thomas Madden, The New Concise History of the Crusaders (Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2005), 19-20.

Penyelidikan sejarah Akhir menunjukkan bahwa sebagian besar tentara Salib bukanlah anak2 keturunan tentara Salib Eropa yang mencari untung dan tanah jajahan di Timur Tengah. Kebanyakan tentara Salib adalah seperti Godfrey yang adalah Bangsawan pemilik tanah sendiri, rakyat sendiri, dan banyak harta. [30] Memang beberapa tentara Salib jadi makmur setelah keberhasilan Perang Salib I dan ini ditulis oleh Fulcher dari Chartres sebagai berikut: �Mereka yang dulu miskin, Tuhan membuat mereka kaya. Mereka yang dulu hanya memiliki beberapa keping, sekarang punya banyak harta; dan mereka yang dulu tidak punya villa, sekarang, karena anugrah Tuhan, punya sebuah kota.� [31] Tapi mereka yang masih hidup dan dapat kembali ke Eropa tidak membawa harta apapun dari perang tersebut.
[30] Ibid., hal. 12
[31] Dikutip dari buku August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eyewitnesses and Participants, (Princeton, NJ: 1921), 280-81. Dicetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/fulcher-cde.html

Pandangan PC: Tentara Salib Berperang untuk Memaksa Muslim Memeluk Kristen
Pendapat PC menyatakan bahwa tentara Salib menyerbu Timur Tengah dengan pedang di tangan dan membunuhi semua non-Kristen yang mereka temui, kecuali non-Kristen yang lalu memeluk Kristen. Pendapat ini hanyalah khayalan tanpa bukti saja. Yang tidak disebut dalam setiap penelaahan sejarah PC adalah tujuan Perang Salib yang ditekankan Paus Urban di Konsul Claremount dan dia sama sekali tidak menyebut tentang pemaksaan agama Kristen kepada Muslim. Tujuan Paus hanyalah untuk membela peziarah Kristen dan merebut kembali tanah Kristen. Baru setelah seratus tahun setelah terjadinya Perang Salib I di Abad ke 13, mulailah ada usaha tentara Kristen Eropa untuk mengKristenkan Muslim yang hidup di tanah yang dikuasai tentara Salib. Usaha ini sebagian besar tidak berhasil.

Ketika tentara Salib menang perang dan mendirikan kerajaan2 di Timur Tengah, mereka pada umumnya membiarkan para Muslim hidup damai, boleh bebas beribadah, boleh membangun mesjid2 dan sekolah2, dan boleh tetap jadi Muslim. Beberapa penulis sejarah membandingkan para Muslim di tanah Kristen ini seperti para dhimmi di tanah Islam karena para Muslim ini pun harus bayar pajak. Tampaknya penguasa Salib menerapkan Sistem pajak pada masyarakat Muslim tapi mereka tidak meminta Muslim untuk memakai Baju tertentu seperti yang dilakukan penguasa Muslim terhadap masyarakat Kristen dan Yahudi yang hidup di daerah mereka. Karenanya Muslim dan Yahudi yang hidup di tanah Kristen tidak mengalami diskriminasi dan penindasan setiap hari. [32] Ini tidak terjadi pada perlakukan penguasa Muslim pada non-Muslim. Kunci perbedaan adalah pungutan pajak dhimma tidak pernah merupakan bagian dari doktrin Ajaran Kristen tapi Jizya merupakan bagian dari Islam.
[32] Jonathan Riley-Smith, The Oxford Illustrated History of the Crusaders (Oxford: Oxford University Press, 1995), hal. 116

Selain itu, penguasa Muslim Spanyol bernama Ibn Jubayr (1145-1217) yang datang ke Mediterania dalam perjalanannya ke Mekah Awal tahun 1180-an menyatakan Muslim yang tinggal di tanah yang dikuasai tentara Salib lebih baik nasibnya daripada Muslim yang tinggal di daerah Islam. Ini karena penguasa Kristen mengolah tanah lebih teratur dan lebih baik daripada penguasa Muslim. Inilah sebabnya mengapa Muslim lebih memilih tinggal di Bawah pemerintahan Kristen:
Ketika meninggalkan Tibnin (dekat Tyre), kami melalui lahan2 pertanian yang berkesinambungan dan desa2 yang semuanya sangat terawat dengan baik. Semua penduduknya adalah Muslim, tapi mereka hidup makmur di Bawah kekuasaan Franj (Franks (Perancis) atau Penguasa Salib) – semoga Allah menjaga mereka dari cobaan! Rumah2 mereka adalah milik mereka sendiri dan semua harta kekayaan tidak ada yang dirampas. Semua daerah yang dikuasai Franj di Siria diperlakukan sama: semua tanah, desa, dan pertanian tetap dimiliki Muslim. Maka itu, keraguan muncul di benak mereka ketika membandingkan hidup mereka dengan hidup para saudara mereka di tanah Muslim. Memang, masyarakat Muslim yang tinggal di tanah diperlakukan tidak adil oleh pemimpinnya, sedangkan Muslim yang tinggal di Bawah kekuasaan Franj diperlakukan adil. [33]
[33] Dikutip dari buku Maalouf, The Crusaders Through Arab Eyes, hal. 263.

Jadi tidak benar bahwa semua tentara Salib melakukan perang barbar terhadap kebudayaan yang dikira lebih unggul dan beradab.

Buku yang Tidak Boleh Dibaca:
�The New Concise History of the Crusaders� (Sejarah Singkat Tentara Salib) oleh Thomas F. Madden; Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2005 adalah buku yang menarik yang membantah berbagai pendapat PC tentang mengapa tentara Salib berperang, siapa yang mereka lawan, dan apa yang terjadi pada setiap Perang Salib.

Dari buku: POLITICALLY INCORRECT GUIDE OF ISLAM

http://www.indonesiaindonesia.com/f/19480-perang-salib-crusades-salah/

Perang Salib

(Kontak Islam dan Barat Dalam Peradaban Abad Pertengahan)
Oleh : Munir S.Ag

I. Pendahuluan

Perang Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 sampai meletusnya Perang Salib sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Disebut Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam (Dewan Redaksi, 1997:240)

.

Untuk lebih terfokus dalam penyajian tema ini, maka penulis akan membahas pada pokok permasalahan dibawah ini, yaitu :

1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya Perang salib ? 2. Bagaimana Perang Salib dimulai ?

3. Bagaimana dampak Perang Salib terhadap peradaban Islam ?

4. Bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah ?

Untuk membahas rumusan permasalahan tersebut, penulis mencoba menggunakan metode historis analisis dengan bersumber dari berbagai literatur yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.

II. Faktor Penyebab Terjadinya Perang Salib

Adapun yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Salib adalah faktor agama, politik, dan sosial ekonomi (Dewan Redaksi, 1997:240). Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas dari faktor-faktor tersebut, penulis berusaha menjelaskan satu persatu dari setiap faktor itu.

1. Faktor Agama

Sejak Dinasti Seljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1070 M bertepatan pada tahun 471 H, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi memunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya (Dewan Redaksi, 1997:240).

Perlu diketahui, bahwa Dinasti Seljuk ialah dinasti yang pernah memerintah Kekhilafahan Abbasiyah setelah Dinasti Buwaih pada tahun 1055 M-1194 M (Yatim, 2003:50). Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxiana dan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu, dan dipersatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq, karenanya mereka disebut orang-orang Seljuk (Yatim, 2003:73)

Termasuk juga faktor agama yaitu, adanya perasaan keagamaan yang kuat dikalangan umat Kristen. Mereka meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walaupun dosa itu setinggi langit (Al-Wakil,1998:165.

2. Faktor Politik

Kekalahan Bizantium -sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)- di Manzikart (Malazkird atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 M dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk, telah mendorong Kaisar Alexius I Commenus (Kaisar Konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II (1035-1099; menjadi Paus dari 1088 sampai 1099) dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk. Paus Urbanus II bersedia membantu Bizantium karena janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani dan Roma (Dewan Redaksi, 1997:240). Oleh karena itu Paus Urbanus II berpidato kepada seluruh umat Kristen Eropa di Clermont pada tahun 1095 M untuk melakukan perang suci. Dia juga mengetahui berbagai kesuksesan Kristen di Spanyol, yang mencapai puncaknya dengan direbutnya Toledo, dan penaklukan di Sisilia (Watt, 1990:255).

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti dinasti-dinasti kecil di Edessa (ar-Ruha’) dan Baitul Maqdis (Dewan Redaksi, 1997:240).

3. Faktor Sosial Ekonomi

Pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada dikota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambungt dengan rute-rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut

Di samping itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serat kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas di dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina, mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-semena dan mereka dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Oleh karena itu, ketika mareka dimobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik bila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan berduyun-duyun melibatkan diri dalam perang tersebut.

III. Bagaimana Perang Salib Dimulai ?

Paus Urbanus II bersemangat terhadap gagasan memerangi kaum Muslimin, apalagi kondisinya katika itu sangat tepat bagi Sri Paus untuk memompa semangat dan menuruti bisikan hatinya yang penuh dengan kedengkian dan kebencian itu. Kondisi ketika itu teringkas dalam poin-poin berikut:

1. Kelemahan Dinasti Seljuk pasca wafatnya Malik Syah, akibatnya negara Seljuk terpecah-pecah.

2. Tidak adanya pemimpin yang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam dan membentuk pasukan yang tangguh guna mengusir setiap lawan yang bermaksud jahat kepadanya.

3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen, ini berarti membuka jalan antara Eropa dan negara-negara Timur

4. Penaklukan Qarsinah di laut tengah dan berdirinya republik-republik kuat dan kaya raya di Italia seperti Januh dan Bunduqiyah. Republik-republik tersebut memiliki angkatan laut yang kuat untuk melindungi keselamatan bisnisnya.

5. Kemenangan Sri Paus dalam mengendalikan para raja dan para gubernur di Eropa.

Karena kondisi-kondisi di atas, Sri Paus berani mengumumkan terang-terangan permusuhannya dan kebenciannya kepada kaum Muslimin. Ia menyerukan diselenggarakannya kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh sekte agama Kristen di Eropa Barat. Seruan Sri Paus disambut sebagian besar umat Kristiani yang dihadiri 225 uskup gereja-gereja Eropa. Sri Paus berpidato di hadapan mereka dan membakar sentimentil para hadirin. Ia jelaskan kondisi terakhir Baitul Maqdis dan mengusulkan pembebasannya dari tangan kaum Muslimin. Para peserta kongres menjawab dengan bodohnya: “Itulah sebenarnya yang dikehendaki Allah!”. Sri Paus puas dengan jawaban para peserta kongres kemudian ia pasang salib di atas lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah suci (Al-Wakil, 1998:171).

Maka mulai saat itulah genderang perang ditabuh, dan perjalanan perang ini memakan waktu yang cukup lama dengan tiga periodesasi.

A. Periode Pertama atau Periode penaklukan (1096-1144)

Jalinan kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont pada tanggal 26 November 1095 M. Pidatonya ini bergema ke seluruh penjuru Eropa yang mengakibatkan seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat. Gerakan ini dipimpin oleh Pierre I’Ermite, Sepanjang jalan menuju Kontanstantinopel, mereka membuat keonaran, melakukan perampokan, dan bahkan terjadi bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium, akhirnya dengan mudah pasukan Salib dapat dikalahkan oleh pasukan Dinasti Seljuk (Dewan Redaksi, 1997:241)

Pasukan Salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond. Gerakan kali ini merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi dan rapi, dan mereka memperoleh kemenangan yang besar dengan menaklukan Nicea pada tanggal 18 Juni 1097 M, dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur dengan Bohemond sebagai raja. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya, Godfrey. Selanjutnya mereka berturut-turut menguasai kota Akka pada tahun 1104 M, Tripoli tahun 1109 M dengan mendirikan kerajaan Latin IV dan rajanya Raymond, kemudian kota Tyre pada tahun 1124 M(Yatim, 2003:77) .

B. Periode Kedua atau Periode Reaksi Umat Islam (1144-1192)

Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum salib membangkitkan Dibwah kepemimpinannya, ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk membebaskan negara-negara Islam di Timur dari cengkeraman kaum salib. Termasuk kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zanki, penguasa Moshul dan Irak, berhasil menaklukan kembali Aleppo, Haminah, dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M, dan digantikan oleh putranya Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 1147, Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali (Yatim, 2003:78). juga ia berhasil membebaskan Mesir pada tahun 1169 M (Dewan Redaksi, 1997:242).
Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus, dan Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Pada tahun 1 174 M Nuruddib wafat, dan pimpinan perang dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Akhirnya Shalah al-Din dapat merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian kerajaan Latin di Yerusalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir(Yatim,2003:78).

Jatuhnya Yerusalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis, yang bergerak pada tahun 1189 M.

Ekspedisi militer salib kali ini dibagi dalam beberapa divisi. Sebagian menempuh jalan darat dan yang lainnya menempuh jalur laut. Frederick yang memimpin divisi darat tewas tenggelam dalam penyeberangannya di sungai Armenia, dekat kota ar-Ruha’. Sebagian tentaranya kembali, kecuali beberapa orang yang terus melanjutkan perjalannya di bawah pimpinan putra Frederick. Adapun kedua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sicilia. Karena terjadi kesalahpahaman, akhirnya mereka meninggalkan Sicilia secara terpisah, Richard menuju Cyprus dan mendudukinya dan selanjutnya menuju Syam (Suriah). Adapun Philip langsung menuju Acre (Akka) dan berhasil merebutnya yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka tidak berhasil memasuki Palestina.

Pada tanggal 2 Nofember 1192 M, dibuat perjanjian damai atau gencatan senjata antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shulh al-Ramlah (Yatim,2003:78). Inti perjanjian damai tersebut adalah : daerah pedalaman akan menjadi milik umat Islam, dan umat Kristen yang akan ziarah ke Baitul Maqdis akan terjamin keamanannya, sedangkan daerah pesisir utara, Acre dan Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara salib (Dewan Redaksi,1997:242).

C. Periode Ketiga atau Periode Kehancuran Pasukan Salib (1193-1291 M)

Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum Palestina, dengan harapan dapat bantuan orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick, yang isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, dengan syarat Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria.

Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun1247 M, di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai dinasti Mamalik -yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah- pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qolawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1291 M(Yatim,2003:79).

Dalam buku Ensiklopedi Islam dinyatakan bahwa Perang Salib ketiga ini dikenal sebagai periode kehancuran pasukan Salib, hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemangati ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan material, bukan motivasi karena agama. Tujuan utama mereka untuk membebaskan Baitul Maqdis mereka lupakan. Hal ini dapat dilihat katika pasukan Salib yang semula dipersiapkan menyerang Mesir ternyata membelokkan haluan menuju Konstantinopel. Kota ini dapat direbut dan dikuasai dengan Baldwin sebagai rajanya. Dia adalah raja Roma-Latin pertama yang berkuasa di Konstantinopel (Dewan Redaksi,1997:242).

IV. Dampak Perang Salib Terhadap Peradaban Islam

Akibat adanya perang Salib ini, walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan ini terjadi di wilayah Islam. Di antaranya adalah kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad (Yatim,2003:79).
Meskipun pihak Kristen Eropa menderita kekalahan dalam Perang Salib, namun mereka telah mendapatkan hikmah yang tidak ternilai harganya karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah sedemikian majunya. Bahkan kebudayaan dan peradaban yang mereka peroleh dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di Barat. Kebudayaan yang mereka bawa ke Barat terutama dalam bidang militer, seni, perindustian, perdagangan, pertanian, astronomi, kesehatan, dan kepribadian.

Dalam bidang militer, dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang yang belum pernah mereka temui sebelumnya di negerinya, seperti penggunaan bahan-bahan peledak untuk melontarkan peluru, pertarungan senjata dengan menunggang kuda, teknik melatih burung merpati untuk kepentingan informasi militer, dan penggunaan alat-alat rebana dan gendang untuk memberi semangat kepada pasukan militer di medan perang.

Dalam bidang perindustrian, mereka menemukan kain tenun dan peralatannya di dunia Islam, kemudian mereka bawa ke negerinya, seperti kain muslin, satin, dan damas. Mereka juga menemukan berbagai jenis parfum, kemenyan, dan getah Arab yang dapat mengharumkan ruangan.

Sistem pertanian yang sama sekali baru di dunia Barat mereka temukan di Timur-Islam, seperti model irigasi yang praktis dan jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka macam, termasuk penemuan gula.

Hubungan perniagaan dengan Timur-Islam menyebabkan mereka menggunakan mata uang sebagai alat tukar barang, yang sebelumnya mereka menggunakan sistem barter. Ilmu astronomi berkembang pada abad ke-9 di dunia Islam telah pula mempengaruhi lahirnya berbagai observatorium di dunia Barat. Selain itu juga mereka meniru rumah sakit dan tempat pemandian. Yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa sikap dan kepribadian umat Islam di Timur pada waktu itu telah memberikan pengaruh positif terhadap nilai-nilai kemanusiaan di Eropa yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.

V. Pengaruh Perang Salib Terhadap Kekhilafahan Bani Abbasiyah

Perang salib yang berlangsung selama tiga abad itu ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah. Di samping faktor-faktor internal, Perang Salib menjadi faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Kekuatan politik umat Islam saat itu menjadi lemah, sehingga banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad (Yatim,2003:79).
Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut andil berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib ini juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam (Yatim,2003:85).

Pengaruh Perang Salib juga terlihat dalam penyerangan tentara Mongol. Hulagu Khan panglima tentara Mongol sangat membenci Islam karena dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Tentara Mongol setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, mereka ikut memperbaiki Yerusalem (Yatim,2003:85).

V. Kesimpulan

Dari berbagai uraian dan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu :

Perang Salib adalah perang antara umat Islam dan umat Kristen dengan disebabkan beberapa faktor seperti, faktor agama, politik dan sosial ekonomi.

Perang Salib berlangsung sejak tahun 1096 sampai tahun 1291 M dengan tiga periode, periode pertama adalah periode penaklukan (1096-1144 M), periode kedua adalah periode reaksi umat Islam (1144-1192 M), dan periode ketiga adalah periode kehancuran pasukan Salib (1193-1291 M).

Perang Salib ini berdampak negatif kepada peradaban Islam, dengan kata lain menguntungkan pihak Kristen. Di antaranya, kekuatan politik umat Islam menjadi lemah, sementara pihak Kristen dengan adanya Perang Salib itu dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang saat itu sudah maju. Seperti, bidang militer, perindustrian, pertanian, perdagangan atau perniagaan, dan termasuk juga dalam ilmu astronomi dan kesehatan.

Perang Salib termasuk faktor eksternal kelemahan dan kehancuran kekhilafahan Bani Abbasiyah. Karena terjadinya Perang Salib yang berlangsung selama tiga abad itu menyebabkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah.

VI. Daftar Pustaka

Al-Wakil, Muhammad Sayyid (1998).Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern. Jakarta:Pustaka Al Kautsar.

Armstrong, Karen (2002). Islam Sejarah Singkat. Yogyakarta:Penerbit Jendela.

Lapidus, Ira.M.(1999).Sejarah Sosial Umat Islam.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Redaksi, Dewan (1997).Ensikplopedi Islam. Jakarta:PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Sodiqin, Ali dkk (2003).Sejarah Peradaban Islam.Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga.

Watt, W.Montgomery (1990).Kejayaan Islam Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis. Yogyakarta:PT Tiara Wacana.

Yatim, Badri (2003).Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Perang Salib dan Pengaruhnya pada Hubungan Islam-Kristen di Indonesia
Filed under: Wacana — noviz @ 1:34 pm
Ditulis oleh Efron Dwi Poyo
Wacana Pembuka
Orang Kristen di Indonesia, pada umumnya, memandang orang Islam dengan tafsiran
sempit tentang Ismael dalam Kej 16:12. Di sini orang Islam diperikan sebagai
orang yang lakunya seperti keledai liar dan tangannya melawan setiap orang.
Perusakan dan pembakaran gedung-gedung gereja semakin memperkuat pandangan ini
terhadap orang Islam bahwa ayat tersebut adalah kutukan dan bukan janji berkat
[1].
Tony Lane, seorang lektor dalam bidang Ajaran Kristen pada London Bible
College, pernah menyatakan bahwa orang yang tidak menguasai sejarah adalah
bagaikan orang yang lupa ingatan. Pernyataannya mengandung kebenaran. Seperti
yang disebutkan di atas bahwa banyak orang Kristen menuduh bahwa sebab-musabab
ketidakharmonisan umat beragama (Kristen dan Islam) adalah pihak Islam. Mereka
lupa bahwa orang Kristen pernah melakukan perbuatan keji, biadab, sekaligus
memalukan dalam peristiwa yang disebut Perang Salib pada abad pertengahan.
Ada banyak sumber informasi untuk memahami seluk-beluk Perang Salib. Adalah
mustahil untuk menampungnya secara rinci ke dalam makalah yang dibatasi jumlah
halamannya. Namun demikian ada beberapa hal yang dapat diungkapkan dalam
peristiwa Perang Salib tersebut agar orang Kristen dapat berefleksi diri demi
kesaksian yang baik bagi kehidupan mereka di Indonesia. Setidaknya orang
Kristen tidak berat sebelah dalam melakukan pelayanan.
Latar Belakang dan Faktor-faktor Penyebab Perang Salib
Sebagian besar pengaruh kebudayaan Islam atas Eropa terjadi akibat pendudukan
kaum Muslim di Spanyol dan Sisilia. Berasal dari sekelompok tentara pengintai
Islam menyeberang dari Afrika Utara ke ujung paling selatan Spanyol pada Juli
710. Laporan kegiatan mata-mata ini menimbulkan minat baru untuk menyerang [2].
Pada tahun 711 pasukan penyerang yang berjumlah 700 orang [3] yang dipimpin
oleh Tariq dari Bani Umayyah menyerbu Spanyol berhasil mengalahkan Roderick,
raja Visigoth. Setelah menambah sekitar 500 orang lagi tentara Arab berhasil
menaklukkan hampir seluruh semenanjung Iberia [4].
Pada tahun 750 kekaisaran Islam di bawah kendali Bani Umayyah jatuh di tangan
Bani Abbasiyah. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Oleh
karena berpusat di timur, maka mereka kesukaran mengendalikan provinsi di
sebelah barat. Seorang pangeran muda dari Bani Umayyah berhasil melarikan diri
dari Maroko ke Spanyol. Di sana ia bergabung dengan salah satu faksi yang
tengah bentrok, dan atas kepemimpinannya mereka menggapai kemenangan. Pada
tahun 756 ia bergelar Khalifah Abd al-Rahman I dengan pusat pemerintahan di
Cordoba.
Spanyol Islam dianggap mencapai puncak kekuasaan dan kemakmurannya pada masa
kekhalifahan Abd al-Rahman III (912 – 961) [5]. Keberadaan negara atau wilayah
tidak lepas dari gerakan-gerakan politik di dalamnya. Gerakan politik pertama
muncul pada akhir pemerintahan Ustman bin Affar yang ditandai dengan kemunculan
Abdullah bin Saba [6]. Gerakan politik ini selalu melekat pada pemerintahan
Islam di sepanjang sejarah, termasuk di Spanyol Islam. Intrik-intrik ini
membuat Spanyol Islam mengalami pasang surut.
Dunia Kristen Latin juga merasakan pengaruh Islam melalui Sisilia. Serangan
pertama ke Sisilia terjadi pada tahun 652 di kota Sisacusa. Akan tetapi
pendudukan orang-orang Arab di Sisilia tidak berlangsung lama. Kebangkitan
kembali Kerajaan Byzantium mengakibatkan berakhirnya semua pendudukan atas
wilayah-wilayah penting [7].
Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran
Byzantium dan Siria. Mereka juga menguasai Yerusalem pada tahun 1070. Dengan
demikian daerah yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orang Islam
militan. Orang-orang Kristen yang dahulu dapat berziarah ke Yerusalem secara
bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada abad 11 orang-orang yang
hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan perlindungan
militer.
Setelah pengaruh Romawi lenyap dari Eropa Barat pada abad 5 wilayah ini ditimpa
kekacauan. Suku-suku German yang merebut daerah yang dahulu dikuasai Romawi
mempunyai kebudayaan yang jauh lebih rendah ketimbang kebudayaan Romawi dan
Arab. Kehidupan gereja pun terpengaruh. Mulailah senjata masuk gereja.
Misi pekabaran Injil dihubungkan dengan ekspedisi militer. Memasuki abad 11
gereja mulai melibatkan para bangsawan yang gemar berperang untuk menyerang
musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini adalah orang Islam dan para bidat. Dengan
demikian gereja mengatur peperangan dan menjamin kedamaian, ketenteraman, serta
keadilan. Politik ini disebut gerakan damai Allah. Para bangsawan diberi etos
khusus agar memakai keahliannya demi iman dan gereja. Mereka menjadi tentara
Kristen atau ksatria Kristen [8]. Paus mengobarkan semangat mereka dan memberi
jaminan pengampunan dosa. Paus berambisi untuk menggabungkan gereja timur ke
dalam kekuasaannya dan mengusir orang Islam dari Baitul Maqdis [9]. Menurut van
den End & de Jonge (2001) semangat iman, semangat berperang, dan semangat
politik bersatupadu sehingga sukar menentukan sisi mana yang paling menonjol.
Pada tahun 1050 dikenallah gerakan perang suci, yang juga disebut Perang Salib.
Disebut Perang Salib karena para ksatria menggunakan lambang salib dari kain
merah pada bahu dan dada sebagai tanda.
Perang-perang Salib
Perang Salib I
Berawal di Sisilia pada tahun 1050 ketika orang-orang Islam diusir. Hal yang
sama terjadi juga di Spanyol. Pada tahun 1063 para tentara Salib Perancis dan
Spanyol sepakat untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Islam. Paus
merestui mereka. Pada tahun 1085 raja-raja Kristen di Spanyol Utara merebut
Spanyol dari tangan orang Islam .
Dalam pada itu Byzantium yang terjepit oleh Turki meminta bantuan kepada Gereja
Barat. Hal ini dimanfaatkan oleh Paus nuntuk memperluas pengaruhnya di Timur.
Pada tahun 1094 Paus Urbanus II mengimbau orang Kristen barat untuk menolong
Byzantium. Melalui Sungai Rhein dan Donau para tentara Salib dari Jerman menuju
Konstantinopel sambil membunuhi dan menyiksa orang-orang Yahudi.
Kaisar Byzantium akhirnya terpaksa tunduk kepada Paus dan Gereja Barat. Padahal
pandangan Gereja Timur terhadap perang ini berbeda dengan Gereja Barat. Bagi
mereka ini bukanlah perang suci.
Di Asia Kecil tentara Salib beberapa kali mengalahkan orang-orang Turki,
sehingga Kaisar Alexios sempat merebut kembali sebagian daerah yang hilang
setelah tahun 1071. Lalu pada tahun 1097 tentara Salib berhasil menguasai
Antiokhia dengan perjuangan berbulan-bulan dan menelan korban sangat banyak.
Tentara Salib meneruskan perjalanan ke Yerusalem dan tiba di sana pada Juni
1099. Orang-orang Kristen yang merupakan mayoritas diusir dari Yerusalem.
Mereka mengepung kota. Yerusalem berhasil direbut oleh tentara Salib. Orang
Yahudi dan Islam dibunuhi.
Para pemimpin tentara Salib mendirikan Kerajaan Yerusalem (1099 – 1187) yang
juga meliputi Antiokhia, Edesssa, dan Tripoli. Secara pemerintahan daerah ini
di bawah Konstantinopel, namun gerejanya di bawah Paus di Roma [10].
Keberhasilan tentara Salib bukanlah karena keunggulan strategi militer.
Keberhasilan mereka banyak ditentukan oleh kelemahan orang-orang Saljuk (Turki)
akibat meninggalnya Malik Syah. Orang-orang Turki terpecah belah. Ciri khas
tentara Salib ialah merusak apa saja yang ditemuinya dan membakarnya [11].
Perang Salib II (1147 – 1149)
Malik Syah digantikan oleh Imaduddin Zanki. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan
Saljuk. Namun tak lama kemudian ia meninggal. Ia digantikan oleh anaknya,
Nuruddin Zanki. Ia berhasil menumpas pemberontakan orang-orang Armenia.
Kemenangan ini membuat orang-orang Eropa Barat bangkit lagi hasratnya untuk
kembali ke dunia Timur [12].
Seorang rahib termasyur pada zaman itu, Bernard dari Clairvux, menghasut dan
mengobarkan semangat Perang Salib kepada orang-orang Eropa Barat. Yang memimpin
tentara Salib adalah raja Perancis, Louis VII dan kaisar Jerman, Konrad III. Di
sini jelas sekali faktor dan motif politik semakin menonjol [13]. Namun usaha
mereka gagal untuk menguasai Damaskus dan Askalon, karena dipatahkan oleh
pasukan Nuruddin Zanki [14].
Perang Salib III (1189 – 1192)
Perang ini berawal dari kekalahan tentara Salib di Palestina dekat Tiberias
(1187) dan penaklukan Yerusalem oleh Sultan Saladin dari Mesir. Tentara Salib
dipimpin oleh kaisar Jerman, Friedrich III, Barbarossa, bersama dengan raja
Inggris, Richard, dan raja Perancis, Philippe II. Raja Richard berhasil merebut
kota Akko dan ia juga mengikat perjanjian dengan Sultan Saladin. Isi
perjanjiannya ialah orang-orang Kristen diperbolehkan tinggal di daerah pesisir
antara Tyrus dan Jaffa, serta para peziarah diperbolehkan mengunjungi Yerusalem
secara bebas [15].
Perang Salib IV (1202 – 1204)
Paus Innocentius III (1198 – 1216) ingin menguasai Mesir dan mengirim tentara
Eropa Barat untuk menyerang Mesir. Ekspedisi ini dibiayai oleh pemerintah
Venesia. Pasukan ini ternyata tidak pernah tiba di Palestina. Kekuatannya
dipergunakan untuk menghancurkan pesaing perdagangan Venesia, yaitu
Konstantinopel. Tentara Salib akhirnya menduduki dan menjarah kota
Konstantinopel, lalu dijadikan kekaisaran yang takluk pada Gereja Roma [16].
Perang Salib V (1218 – 1221)
Perang Salib ini cukup singkat. Sebelumnya Paus Innocentinus III mendorong
usaha serangan militer ke Mesir. Paus penggantinya, Honorius III, meneruskan
usaha ini.
Tentara Salib berhasil menguasai kota Damietta di pantai Mesir (1219). Akan
tetapi pada tahun 1221 kota terpaksa terlepas lagi. Pada masa inilah Fransiskus
dari Asisi memulai usahanya untuk mengabarkan Injil kepada sultan Mesir,
Al-Kamil [17].
Perang Salib VI (1248 – 1254)
Pada tahun 1244 Yerusalem diduduki kembali oleh tentara Islam. Raja Louis IX
melakukan Perang Salib dan menyerang Mesir. Pada tahun 1249 kota Damietta
diserbu, namun Louis IX gagal, dan bahkan menjadi tawanan perang. Ia berhasil
dilepaskan setelah ditebus dengan banyak uang. Ia pulang ke Perancis pada tahun
1254 [18].

Perang Salib VII (1270)
Antara tahun 1250 dan 1254 Raja Louis IX tinggal di Tanah Suci untuk membangun
ulang kubu dan kekuasaan lewat usaha diplomasi, karena merasa gagal lewat
perang. Berkat status dan wewenangnya ia berhasil menjadi penguasa di Kerajaan
Yerusalem [19]. Sebelumnya ia sempat merebut kota Damietta di Mesir pada tahun
1249 (Perang Salib VI). Namun ketika menuju Kairo pasukannya dipukul mundur dan
terserang penyakit pes. Ia sempat ditawan dan dibebaskan sebulan kemudian. Pada
tahun 1270 Louis IX kembali memimpin penyerangan ke Tunisia. Namun ia meninggal
karena terserang penyakit pes [20].
Sultan Baybars merupakan orang pertama di antara para sultan yang berhasil
menghancurkan kekuatan tentara Salib. Ia adalah keturunan Mameluk dari Mesir.
Pada tahun 1262 ia membangkitkan massa Saladin untuk kembali ke Asia Barat.
Sebuah kota dan benteng yang dikuasai oleh tentara Salib direbutnya kembali,
sehingga pada tahun 1286 kota Jaffa dapat juga ditaklukkan. Penyerangan
berikutnya diteruskan ke Utara untuk merebut Antiokhia. Pada tahun 1289 Tripoli
di Lebanon direbutnya juga. Pada tahun 1291 Akko, sebuah kota terpenting
kekuatan tentara Salib, dapat ditaklukkannya. Sejak saat itu masa tentara Salib
habis di seluruh benua Timur [21].
Akibat Perang Salib pada Gereja dan Islam di Eropa dan Timur Tengah
Nyatalah bahwa tentara Salib tidak membawa damai, tetapi pedang; pedang itu
adalah untuk memotong-motong dunia Kristen. Ketidaksetujuan doktrinal yang
telah berlangsung lama dipaksakan kepada Gereja Timur oleh kebencian nasional
yang mendalam [22]. Perang Salib memang tidak memberikan maslahat apapun bagi
orang-orang Kristen di Timur Tengah. Di mata tentara Salib orang-orang Yakobit,
Koptik, Melkit, dan Nestorian merupakan orang-orang yang menyimpang dari ajaran
yang benar [23].
Setiap terjadi Perang Salib orang-orang Kristen asli Timur Tengah didera
penderitaan. Terjadi pembunuhan besar-besaran, baik atas orang-orang Islam
maupun orang-orang Kristen asli, seperti yang terjadi di Antiokhia (1098 &
1268), Yerusalem (1099 & 1244), Caesarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146),
Tripoli (1289), Akha (1291), dan Aleksandria (1365). Setelah pengusiran
orang-orang Kristen Barat, orang-orang Kristen asli di Mesir, Siria, dan
Armenia terkena getahnya. Orang-orang Kristen tidak lagi dipercaya oleh
penguasa-penguasa Islam. Sikap toleran terhadap orang-orang Kristen juga
meluntur dan jurang antara kaum Kristen dan Islam diperdalam. Perang Salib
mempercepat kemunduran Gereja Timur [24].
Bagi dunia Islam Perang Salib berakibat memantapkan penguasaannya terhadap
wilayah-wilayah yang telah didudukinya dan mengusir tentara Salib. Namun
demikian dapat dikatakan mudarat yang didapatkan justru lebih banyak, karena
bagi kaum Islam wilayah-wilayah tersebut memang sudah lama mereka kuasai. Tidak
ada yang baru dalam hal ini. Tidak ada hal yang baik pada tentara Salib yang
dapat dipetik oleh orang Islam. Moral mereka bejat. Mereka memeras kawan dan
lawan serta menyembelih keduanya tanpa ampun. Menurut Gustav Lebon yang dikutip
oleh Al-Wakil fakta tersebut tidak dapat dipungkiri oleh siapapun dari bangsa
Eropa. Hal ini masuk di akal karena pada umumnya tentara Salib berasal dari
pengangguran, penjahat, dan rakyat jelata. Tidak ada yang dapat diharapkan dari
tentara Salib selain pembunuhan manusia tak berdosa, perampokan, dan
pelanggaran kehormatan [25].
Citra orang Kristen Barat berbeda sekali dengan citra orang Kristen Timur di
mata orang Islam. Orang Kristen Timur dihormati sebagai orang-orang
berkebudayaan tinggi, sedang orang-orang Kristen Barat dianggap biadab.
Ironisnya penyerangan tentara Salib dilakukan dalam nama Kristus, Raja Damai.
Sejak zaman itu agama Kristen dihubungkan dengan kekerasan. Sejak zaman itu
juga kata salib bagi orang yang berbahasa Arab menimbulkan emosi peperangan.
Kesan yang ditimbulkan orang-orang Kristen pada zaman itu tidak pernah
dilupakan. Bagi orang Kristen tahun 1100 – 1300 merupakan masa yang sudah
lewat. Akan tetapi bagi orang Islam, yang mempunyai pandangan tentang sejarah
menurut Timur [26], zaman itu bukanlah zaman yang telah lewat, namun masa yang
mengerikan yang selalu dapat muncul kembali [27].
Pertikaian antara Gereja Barat dan Timur menciptakan rumpang (gap) antara
keduanya. Sikap Paus dan tentara Salib terhadap Gereja Timur sangat menyakiti
perasaan. Perasaan ini diperkuat ketika tentara Salib menduduki Konstantinopel
pada Perang Salib IV. Peristiwa itu juga mempercepat kemunduran kekaisaran
Byzantium dan mengakibatkan penaklukan kota ini oleh tentara Otoman pada tahun
1453 [28]. Tentara Islam menguasai Konstantinopel justru karena mendapat
maslahat dari kebijakan Gereja Barat terhadap Gereja Timur [29].
Dalam pada itu bagi Eropa Barat dan gerejanya secara politik-militer Perang
Salib tidak bermaslahat sama sekali. Tidak ada satu daerah pun yang pernah
dikuasai dapat dipertahankan. Dengan demikian tujuan Perang Salib untuk merebut
Tanah Suci dari orang-orang Islam gagal dicapai.
Namun demikian raja-raja dan penduduk kota-kota di Eropa Barat memetik maslahat
dari Perang Salib. Kedudukan raja makin kuat dan tidak sekadar bangsawan.
Penduduk kota merasa lebih bebas, karena para bangsawan sibuk berperang
sehingga tidak sempat menjalankan pemerintahan kota. Hubungan dagang dengan
dunia timur menjadi lebih intensif.
Pada bidang kebudayaan Perang Salib berarti perjumpaan antara dunia yang biadab
dan dunia yang berkebudayaan tinggi. Orang-orang Islam tidak belajar suatu
apapun dari tentara buas. Sebaliknya yang diterima oleh Barat makin banyak.
Orang Barat memperoleh ilmu filsafat dari orang-orang Arab, yang sebenarnya
dipengaruhi oleh filsafat Yunani.
Bagi gereja sendiri Perang Salib membawa perkembangan baru dengan terbentuknya
ordo-ordo baru rohani. Ordo pertama yang lahir ialah ordo-ordo ksatria rohani
yang didirikan di Tanah Suci untuk melayani orang-orang yang menderita luka
atau penyakit dan untuk melindungi orang-orang yang berziarah. Ordo-ordo ini
menggabungkan cita-cita militer dengan cita-cita rohani. Sebagai akibatnya
kekerasan masuk dalam gereja. Senjata diterima sebagai alat untuk
mempropagandakan iman dan memberantas orang-orang yang mempunyai ajaran yang
berbeda dengan ukuran ajaran Gereja Roma. Dalam pada itu semangat iman juga
tumbuh pada orang-orang yang tidak terlibat dalam Perang Salib. Masyarakat
Eropa Barat banyak mendapat-kan cerita ajaib dari orang yang pulang dari ziarah
ke Tanah Suci.
Selain semangat melawan orang-orang Islam dengan pedang semangat untuk melawan
mereka dengan firman mulai muncul juga. Orang mulai mempelajari bahasa Arab dan
ajaran Islam untuk melawan Islam dengan jitu. Di sini terletak akar-akar
pekabaran Injil dengan cara baru, yang dilakukan oleh Ordo Dominikan, Ordo
Fransiskan, kemudian juga Serikat Jesuit dengan mendirikan biara di daerah
pedesaan.
Sejajar dengan perkembangan ini orang-orang Kristen mulai tertarik pada Yesus
sebagai manusia, seperti misalnya mistik Bernard dari Clairvux dan Fransiskus
dari Assisi. Mistik diarahkan kepada Kristus yang hina dan menderita. Namun
demikian ada juga orang yang mulai menisbikan iman Kristen. Mereka ternyata
mengetahui adanya agama lain dengan kebudayaan tinggi. Penganutnya tidak hanya
sanggup berperang dengan baik, tetapi juga menghormati orang lain. Beberapa
kali mereka melepaskan raja atau bangsawan yang tertangkap. Menurut kebiasaan
waktu itu seorang tawanan harus membayar sejumlah uang tebusan. Akan tetapi
selama dalam masa tawanan mereka diperlakukan dengan baik dan dengan segala
hormat [30].
Pengaruh Islam pada ilmu dan teknologi terhadap bangsa Eropa sangat murad
(significant). Dari teknologi pelayaran, pertanian, sampai pada matematika,
astronomi, kedokteran, logika, dan metafisika [31]. Akibat pengaruh itu
orang-orang Eropa terdorong untuk mencari jalan lain ke Timur Jauh, daerah
penghasil rempah-rempah dan kain sutra. Hal ini mereka lakukan supaya tidak
bergantung lagi pada dunia Islam.
Pengaruh Perang Salib pada Hubungan Kristen-Islam di Indonesia
Ketika agama Kristen masuk ke Nusantara pada abad 16 sudah banyak penduduk yang
memeluk agama Islam. Islam sendiri datang pada abad 9 – 10 melalui para
pedagang Muslim India, Arab, dan Persia. F. L. Cooley, yang pada tahun memimpin
penelitian hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, mengatakan sejak awal
kedatangannya kedua agama itu sudah diwarnai oleh suasana kurang baik. Sebelum
masuk ke Nusantara kedua agama itu telah terlibat persaingan, konfrontasi, dan
konflik di Asia Barat, Afrika Utara, dan Eropa Barat. Pengalaman konflik dan
persaingan antara masyarakat kedua agama tersebut memerikan (describe) sikap
dan perasaan negatif satu sama lain, sehingga hal itu terbawa juga ketika kedua
agama itu masuk ke Nusantara [32].
Sebenarnya sikap pemerintah Hindia-Belanda terhadap agama Kristen bermuka dua.
Pada satu pihak pemerintah seringkali mempersulit atau melarang pekabaran
Injil, sedang pada pihak lain, terutama sesudah tahun 1900, pekabaran Injil
disokongnya. [33] Oleh karena eratnya hubungan antara pemerintah kolonial dan
kegiatan penginjilan, maka pelaksanaan misi mendapat banyak kendala di kalangan
umat Islam. Kristen dipandang sebagai agama penjajah Barat yang menindas. Citra
orang Barat dalam Perang Salib masih menghantui umat Islam, yang memang
diwartakan demikian oleh penyebar agama Islam.
Setelah berakhirnya pemerintahan kolonial ketegangan hubungan umat Islam dan
Kristen mencuat lagi. Ini terjadi pada saat pembahasan UUD 1945 dan pada sidang
Konstituante hasil Pemilu 1955. Pada tahun 1971 pemeluk agama Kristen melejit
menjadi 7,4%, jika dibandingkan tahun 1931 yang hanya 2,8%. Hal ini terjadi
karena pemerintah orde baru mewajibkan penduduk untuk memeluk salah satu agama
yang diakui negara. Banyak orang bekas anggota PKI yang memilih Kristen
ketimbang Islam. Sebagian kalangan menduga jumlah itu mencapai dua juta orang.
Peristiwa ini mengundang kecurigaan tokoh Islam dengan menuduh pemerintah orde
baru memberikan keleluasaan bagi penyebaran agama Kristen. Kalangan Islam juga
sangat berkeberatan dengan cara-cara misionaris menyebarkan agama Kristen yang
dianggap mengintervensi keimanan umat Islam. Cara mereka ialah mendatangi dari
rumah ke rumah dan membangun banyak gereja di kawasan Muslim. Bahkan ada yang
mendatangi H.M. Rasjidi, menteri agama waktu itu. [34]
Pekabar Injil yang bertugas di Indonesia tidak saja dari Indonesia sendiri,
namun juga dari Eropa dan Amerika Serikat. Pekabar Injil asing datang ke
Indonesia dalam jumlah besar pada awal pemerintahan orde baru, ketika
pemerintah menganjurkan para simpatisan PKI memilih agama yang sah dan diakui.
Bagian terbesar memang memilih Kristen.
Bantuan dari luar negeri bukan saja dalam bentuk tenaga, tetapi juga dalam
bentuk dana yang besar. Banyak dari mereka berasal dari kalangan Injili dan
fundamentalis. Mereka sangat agresif dalam melakukan penginjilan, yang bahkan
tidak empan papan. Dengan bantuan dana yang besar itu mereka membangun banyak
gereja di tempat-tempat strategis. Selain itu mereka melakukan kegiatan sosial
kepada masyarakat miskin, yang tujuan utamanya agar orang miskin tersebut
berpindah agama. Suasana ini diperparah lagi dengan banyaknya warga keturunan
Tionghoa yang masuk Kristen aliran Injili dan fundamentalisme. Di sinilah
konflik keagamaan bercampur dengan konflik etnis. Konflik keagamaan timbul
akibat kegiatan misi yang dilakukan secara agresif tanpa mempertimbangkan
perasaan umat Islam. Tidaklah heran jika terjadi konflik antar umat beragama,
maka dampaknya terjadi juga perusakan toko-toko milik keturunan Tionghoa.
Semangat tentara Salib yang berperang demi agama masih banyak mewarnai para
pekabar Injil. Bagi mereka kebenaran mutlak hanya ditemukan dalam agama
Kristen, sedang agama lainnya sesat. Pada suatu acara Pengajian Injil (Bible
Study) yang diselenggarakan oleh Institute for Syriac Christian Study (ISCS)
pada tanggal 7 Desember 2001 di Jakarta penulis sempat berdebat dengan peserta
dari kalangan fundamentalis. Salah satu pokok yang diperdebatkan bahwa Allah
orang Kristen berbeda dengan Allah orang Islam. Menurutnya Allah orang Kristen
adalah YHWH. Penulis hanya menjawab, pertama, bahwa jika Allah orang Kristen
dan orang Islam berbeda, maka orang itu suka tidak suka menganut politheis,
karena ada dua Allah di sana. Kedua, Yesus Kristus dan para rasul sendiri tidak
mempertahankan nama YHWH dalam pengajarannya. Menurut penulis orang seperti itu
tidak sedikit jumlahnya di Indonesia. Jika gerakan mereka tidak dibendung, maka
akan menjadi batu sandungan bagi kerukunan umat beragama di Indonesia, dan
tentu saja mereka malah akan menghambat penyampaian Kabar Baik.
Perenungan
Walaupun Indonesia sudah merdeka lebih daripada setengah abad, ternyata
kerukunan umat Kristen dan Islam masih merupakan cita-cita. Memang di sana-sini
sudah dilakukan upaya pembenahan, namun belum menyentuh lapisan terbawah dan
yang pasti masih belum dapat menghilangkan trauma Perang Salib.
Beberapa tahun terakhir ini gencar dilakukan dialog antara umat Kristen dan
Islam. Hasilnya cukup menggembirakan, karena pelaku dialog sudah dapat memahami
iman yang berbeda. Kendati demikian dialog ini sangat terbatas di lingkungan
intelektual (teolog).
Pembenahan diri untuk meningkatkan kerukunan umat Kristen dan Islam memang
seyogyanya dilakukan oleh kedua belah pihak. Akan tetapi umat Kristen tidak
patut menuntut terlalu banyak umat Islam, karena sudah sepatutnya umat Kristen
/ gereja menggagas pembenahan dirinya sendiri. Salah satu yang perlu dibenahi
adalah paradigma pelayanan.
Istilah pelayanan atau melayani paling banyak digunakan gereja di samping
istilah mengasihi. Orang pada umumnya mengartikan pelayanan adalah pelayanan
kepada Tuhan, yang kemudian berkonotasi ibadah, kebaktian, dan doa. Dengan kata
lain pelayanan bersifat kerohanian. Namun demikian pelayanan juga bukan melulu
ke arah horisontal yang meliputi etika. Melayani yang benar adalah melayani
seperti Yesus melayani.
Banyak sekali contoh di dalam Alkitab tentang pelayanan Yesus. Yang disoroti
dalam tulisan ini ialah pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10. Perikop tersebut
seringkali tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang
terdapat dalam Mat 14:13-21, Markus 6:30-44, Luk 9:10-17, dan Yoh 6:1-13.
Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop
tersebut di atas. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis.
Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di
Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Markus 8:1-10) terjadi di
luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang
Yunani perantauan.
Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000
orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap
saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena
orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru.
Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan
sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkanNya. Jelas sekali di sini Yesus
melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi
pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang
(ay. 9).
Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja bercermin pada ini. Melayani
melewati batas golongan sendiri mestilah tanpa strategi untuk menjadikan mereka
anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup (comprehensive). Pelayanan
serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama. Jika tidak, itu
bukanlah alkitabiah; suatu istilah yang justru acapkali ditekankan di kalangan
gereja tertentu.
Orang-orang Kristen masih berpikiran bahwa pewartaan Kabar Baik berarti
meluaskan atau menambah anggota jemaat. Memang itu ada benarnya. Namun bukan
itu hakikatnya. Gairah untuk menambah anggota jemaat menyebabkan orang Kristen
banyak melakukan berbagai usaha untuk menarik perhatian masyarakat. Usaha ini
bukanlah pengungkapan kasih, karena bagaimanapun juga ada pamrihnya, karena
agar orang lain tertarik menjadi Kristen. Tidaklah heran jika pihak Islam
menuduh itu kristenisasi dengan iming-iming.
Kita dapat saja melayani secara nyata dengan melakukan berbagai kebajikan dalam
rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, tanpa perlu mengorbankan prinsip
kesaksian Kristen. Umat Islam merupakan kelompok terbesar di Indonesia.
Peningkatan taraf hidup dan pengentasan kemiskinan tentunya dapat dilaksanakan
jika kelompok terbesar itu ikut terlibat. Jika orang Kristen memang benar-benar
melayani tanpa pamrih dalam rangka hal itu, lalu memang terjadi peningkatan
taraf hidup masyarakat lokal, tentunya dengan kehendak sendiri mereka akan
bertanya-tanya mengapa orang Kristen melayani mereka tanpa pamrih. Dengan
demikian kita sudah memberi tempat bagi Roh Kudus untuk bekerja.
Kita mesti membuat agama (Kristen) lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat,
yang tidak hanya terampil ngeyel dan ngotot mengenai doktrin, yang saking
militannya tanpa sadar menempatkan doktrin itu di atas Alkitab, bahkan Allah.
Kita mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih
manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama
bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra (aspect) ritual dan
kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata
untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan,
keadilan, demokrasi, dan lain sebagainya.

http://noviz.wordpress.com/2006/11/01/perang-salib-dan-pengaruhnya-pada-hubungan-islam-kristen-di-indonesia/

PERANG SALIB DAN DAMPAK YANG DITIMBULKANNYA
Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
PENDAHULUAN
Perang Salib adalah merupakan satu sejarah yang tidak dapat dilupakan oleh agama-agama Samawi yang pernah hidup dan berkembang di dunia ini, sebab perang ini berjalan dalam waktu yang cukup lama, memakan korban yang cukup banyak, menghabiskan dana yang tidak terhitungkan, mendatangkan kerugian yang tak dapat dinilai dengan uang dan bahkan mengakibatkan dampak yang negatif dan destruktif bagi hubungan ummat beragama, namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya Perang Salib telah membawa perubahan peradaban yang signifikan khususnya bagi peradaban Barat yang nota bene beragama Kristen.
Namun demikian perang salib ini adalah merupakan peristiwa bersejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja dan bahkan perang salib ini adalah merupakan salah satu bentuk rangkaian interaksi sosial ummat manusia di abad pertengahan dalam rangka membangun peradaban modern. Charles H. Haskin menyatakan bahwa, Zaman pertengahan adalah merupakan sejarah yang penting dan kompleks. Dalam kurun waktu seribu tahun, saling berinteraksilah berbagai suku, institusi dan kebudayaan. Semuanya itu merupakan suatu proses perkembangan sejarah yang menjadi basis dari peradaban modern.
Perang Salib adalah merupakan sebuah peristiwa sejarah yang dialami ummat manusia dan bahkan tidak dapat dilupakan oleh siapapun yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan ummat manusia. Para ahli menyebutkan bahwa ada tiga teori tentang sejarah, yaitu :
1. Teori Siklus. Teori ini menyebutkan bahwa perkembangan sejarah berjalan secara melingkar yang berjalan antara zaman keemasan dan kehancuran. Dengan demikian teori ini menganggap bahwa pengulangan masa lalu pada masa kini atau masa depan adalah merupakan sesuatu yang lumrah.
2. Teori Linier. Teori ini menganggap bahwa pengulangan sejarah tidak pernah terjadi. Proseses sejarah berjalan lurus mengikuti babak baru yang tidak pernah dikenal pada masa lalu.
3. Teori Gabungan. Teori ini menggabungkan kedua teori tersebut di atas, yaitu menyatakan bahwa pengulangan sejarah akan terulang, namun bukan dalam bentuk yang sama.
Berdasarkan teori ketiga tersebut di atas, terdapat beberapa unsur-unsur utama yang melekat pada setiap babakan sejarah, yaitu sebab, proses dan dampak yang ditimbulannya. Oleh karena itulah maka tulisan ini akan menggambarkan Perang Salib sebagai sebuah proses interaksi yang meliputi sebab-sebab, mekanisme dan dampak yang ditimbulkannya.
SEBAB TERJADINYA
Ada satu kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, bahwa setiap berdirinya sebuah kerajaan Islam dimana sajapun tempatnya, maka pastilah orang-orang Kristen ataupun penganut agama yang lainnya diberikan keleluasaan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Bukan hanya itu para ummat beragama yang non Islam tersebut diberikan juga peluang untuk memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dimana-mana kerajaan Islam berdiri, atau ummat Islamnya mayoritas dalam suatu negeri, maka ummat beragama lainnya memiliki kebebasan yang sangat luas untuk menjalankan ajaran agamanya dan bahkan memegang tampuk pemerintahan.
Berbeda halnya dengan kerajaan-kerajaan lainnya ataupun mayoritas penduduknya beragama Kristen ataupun non Islam, maka ummat Islam hampir tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar, apalagi untuk memegang tampuk pemerintahan. Yang terakhir ini menjadi sesuatu yang mustahil untuk diberikan. Hampir pada semua negara yang penduduknya mayoritas ummat Kristen, maka ummat Islamnya akan menjadi masyarakat yang terpinggirkan, kalau bukan disebut sebagai masyarakat kelas dua. Hal ini sebagaimana terlihat dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti di Philifina dan lain sebagainya.
Kebebasan yang diberikan oleh ummat Islam terhadap orang Kristen ini sering dimanfaatkan oleh ummat Kristen untuk melakukan tindakan sebaliknya. Hal inilah yang terjadi ketika Jerusalem dan Syria di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah dari Mesir. Penguasa Mesir mendorong perniagaan dan perdagangan Kristen. Akan tetapi sebagaimana disebutkan oleh Ajid Thohir dalam bukunya, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Segala keistimewaan dan toleransi yang diberikan ummat Islam tersebut tidak menentramkan hati orang Kristen yang menganggap bahwa kehadiran orang Islam di Yerusalem sebagai suatu hal yang tidak disukai. Dan hal inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab utama terjadinya perang salib.
Amir K. Ali dalam bukunya, Study of Islamic History, sebagaimana dikutif oleh Ajid Thohir menyebutkan bahwa yang menjadi penyebab-penyebab terjadinya perang salib itu adalah sebagai berikut :
1. Perang salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen, untuk saling menguasai. Pemunculan Islam yang cepat menimbulkan suatu goncangan bagi seluruh Eropa Kristen sehingga pada abad XI pasukan orang Kristen Barat diarahkan untuk melawan Islam.
2. Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem semakin bergairah pada abad XI dibanding dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Jerusalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, tidak jarang para Jamaah Kristen mendapat perlakuan yang tidak baik dan dirampok. Informasi mengenai perlakuan demikian cenderung berkembang dan secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi keras orang Kristen di seluruh dunia. W. gomery Watt menyatakan penyebab perang Salib ini didorong oleh praktek ziarah keagamaan. Khususnya ke tanah suci, yaitu Jerusalem.
3. Pada masa itu, Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan Pangeran terlibat perang satu sama lain. Sehubungan dengan itu, orang Kristen dengan dukungan Paus berusaha memanfaatkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.
Namun demikian Dr. Badri Yatim, MA. menyebutkan bahwa terjadinya Perang Salib adalah disebabkan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan yang dikenal dengan peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Perancis dan Armenia.
Peristiwa besar ini menurutnya menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap ummat Islam. Yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian ini bertambah setelah Dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah yang berkedudukan di Mesir. Menurutnya penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi ummat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan bagi mereka. Oleh karena itu maka untuk memudahkan dan memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada ummat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.
Sementara itu Dr. Yusuf Qordhowi menyatakan bahwa Perang Salib adalah perang yang dilakukan oleh orang Eropa dengan dorongan para Paus dan pemuka agama Eropa seperti Petrus Nesk. Mereka datang memerangi Timur Islam dengan beberapa alasan. Luarnya agama tetapi dalamnya adalah penjajahan. Oleh karena itulah maka para sejarawan muslim menyebut peperangan tersebut dengan nama �Perang Bangsa Eropa�. Sebagai isyarat bahwa peperangan tersebut adalah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa untuk memerangi negeri-negeri Islam, serta merampas dan menguasainya.
Namun demikian bangsa Eropa menyebut peperangan tersebut dengan nama Perang Salib, karena mereka menggunakan salib dalam peperangan tersebut sebagai tanda. Mereka mengklaim bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyelamatkan �Kuburan Al-Masih� dari tangan ummat Islam. Padahal kuburan, gereja-gereja, dan hal-hal lainnya yang dianggap suci oleh ummat Nasrani dijaga dan dipelihara dengan baik oleh kaum muslimin. Tempat-tempat tersebut tidak pernah diganggu, sebab orang yang melakukan hal tersebut berhak mendapatkan hukuman dari khalifah dan mendapat cercaan orang banyak. Islam memandang bahwa menjaga tempat-tempat suci Al-Masih dan ummat Nasrani adalah termasuk dalam perjanjian dengan Ahli Dzimmah. Memenuhi perjanjian tersebut adalah termasuk kewajiban yang harus dilakukan oleh ummat Islam, baik pemimpin maupun rakyatnya.
PRIODISASI PERANG SALIB
Perang Salib yang terjadi dengan latar belakang sebagaimana tersebut di atas berlangsung dalam beberapa priode. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menetapkan priodisasi dari Perang Salib ini. Dr. Yusuf Qardhowi menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung sembilan priode atau sembilan kali. Berbeda dengan ini, Dr. Badri Yatim, MA. menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode. Pendapat Badri Yatim ini senada dengan Philip K. Hitti yang menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode, yaitu pertama, masa penaklukan yang berjalan sampai dengan tahun 1144 M. Masa kedua, masa timbulnya reaksi Islam terhadap penaklukan itu, ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan dan berakhir pada 1291 M. Sedangkan Ajid Thohir dengan mengutip pendapat Amir K. Ali, berpendapat bahwa Perang Salib itu berlangsung selama delapan priode. Sebagai berikut :
1. Perang Salib I
Pada musim semi tahun 1095 M., 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bahemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan Kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai rajanya. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Baitul Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka pada tahun 1104 M, Tripoli pada tahun 1109 M dan kota Tyre pada tahun 1124 M. Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV dengan rajanya adalah Raymond. Dari pihak Islam, Imanuddin Zangi (1123-1146 M) memainkan peran penting dalam sejarah Perang Salib. Zangi berhasil membebaskan Aleppo dan Hammah dari tangan tentara Salib. Penaklukan terbesar dari Zangi adalah merebut Edessa (salah satu kota keuskupan yang paling mulia) bagi orang Kristen.
2. Perang Salib II
Jatuhnya Edessa menimbulkan berbagai ketegangan di seluruh Eropa. Hal ini menyebabkan munculnya Perang Salib II (1147-1149 M) di bawah pimpinan Raja Jerman, Conrad III dan Raja Perancis, Louis VII. Namun kekuatan gabungan militer ini tidak membuahkan hasil. Bahkan akhirnya, Sultan Salahuddin mampu menguasai kembali Damaskus, Jerusalem dan Acre (Pos utama tentara Kristen).
3. Perang Salib III
Kegagalan di atas membangkitkan protes orang Kristen. Selanjutnya, Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard I dari Inggris menyusun kembali tentara gabungan untuk menyerang Jerusalem. Setelah berperang selama tiga tahun (1189-1192 M), akhirnya tentara Kristen mengajukan perdamaian. Dasar perjanjian tersebut antara lain bahwa daerah pesisir akan menjadi milik orang-orang latin, daerah pedalaman menjadi milik orang-orang muslim, dan bahwa rakyat dari kedua belah pihak boleh saling memasuki wilayah tanpa diganggu.
4. Perang Salib IV
Dua tahun setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi wafat, Perang Salib keempat dibuka kembali atas anjuran Paus Colestine III. Pada tahun 1195 M, tentara Salib merebut Sycilia dan Beirut. Akan tetapi Aadil (Anak Shalahuddin) berhasil mengalahkan tentara Salib. Selanjutnya diadakan gencatan senjata selama tiga tahun.
5. Perang Salib V
Perang Salib lima (1201 M) terjadi di bawah pimpinan Innocent III. Pada perang Salib lima ini tentara Salib berhasil menguasai Konstantinopel.
6. Perang Salib VI
Perang Salib enam berlangsung pada tahun 1216 M, pasukan Salib terdesak oleh tentara Islam. Akhirnya terjadi perjanjian perdamaian di antara kedua belah pihak.
7. Perang Salib VII
Perang Salib tujuh dimulai pada tahun 1238 M, pasukan Kristen di bawah pimpinan Gregory IX berusaha merebut kembali Jerusalem, akan tetapi digagalkan oleh Abu Nasar Daud.
8. Perang Salib VIII
Perang Salib delapan terjadi pada tahun 1244 M di bawah pimpinan Louis IX dari Perancis. Pada perang inipun Louis mengalami kegagalan.
Adapun tokoh-tokoh ataupun Panglima Perang Islam dalam Perang Salib yang berlangsung sebagaimana tersebut di atas secara ringkas dapat digambarkan adalah Imaduddin Az-Zanki dari Turki yang memulai jihad melawan pasukan Salib, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nuruddin Muhammad yang bergelar �Asy-Syahid�, dan setelah itu dilanjutkan oleh muridnya Shalahuddin Yusuf bin Ayub atau yang lebih terkenal dengan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang di dunia Barat dikenal dengan Sultan Saladin. Di tangan Salahuddin inilah puncak kemenangan ummat Islam melawan tentara Salib, termasuk membebaskan Palestina setelah sembilan puluh tahun di bawah kerajaan tentara Salib. Selain itu di Mesirpun, peperangan melawan bangsa Eropa terus berlanjut, yang terkenal adalah peperangan Al-Manshuroh yang menyebabkan ditawannya Raja Perancis, Louis IX. Para panglima perang Mamalik di Mesir dan Syam terus menerus selalu berhasil menghalau pasukan Salib, hingga akhirnya mereka semua bisa diusir dan tidak tersisa sedikitpun di negeri Islam.
Penjelasan tersebut di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya pasukan Salib hampir tidak pernah berhasil menguasai dunia Islam kecuali hanya sementara. Hal itupun sebagaimana diungkapkan oleh W. Montgomery Watt, tingkat keberhasilan yang diraih itu adalah lebih disebabkan oleh perpecahan di kalangan kaum muslimin sendiri. Perpecahan itu terjadi di seluruh wilayah, karena para pemmpin mereka saling baku hantam satu sama lain.
DAMPAK PERANG SALIB
Apabila diperhatikan dampak daripada Perang Salib itu adalah lebih banyak menguntungkan dunia Barat apalagi dibandingkan dengan dunia Timur khususnya ummat Islam. Ummat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo. Secara umum bagi ummat Islam sebagaimana disebutkan oleh Yusuf Qardhowi, Perang Salib adalah merupakan fitnah bagi ummat Islam. Sedangkan bagi orang Kristen yang dalam hal ini dunia Barat, bisa disebut sebuah �rahmat� sebab dengan Perang Salib ini telah membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan dunia Barat pada umumnya. Dan bahkan Perang Salib ini mengantarkan renaissance di Perancis.
Perang Salib telah menimbulkan dampak-dampak penting dalam sejarah perkembangan dunia karena telah membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam yang telah lebih dahulu maju dan berperadaban, sementara Eropa / Barat berada dalam abad kegelapan. Melalui inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin. Kemajuan orang Tumur yang progresif dan maju pada saat itu menjadi daya dorong yang besar bagi pertumbuhan intelektual Eropa / Barat. Hal itu memerankan bagian yang penting bagi timbulnya renaissance di Eropa.
Dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya Perang Salib itu bagi dunia Barat dapat dilihat dalam kenyataan berikut ini :
1. Secara kultural, pasukan Perang Salib di Timur menjumpai beberapa aspek yang menarik dari kehidupan Islam. Ketika pasukan tersebut kembali ke tempat asal mereka, mereka berusaha untuk menirunya. Sejumlah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Latin dikerjakan di wilayah-wilayah di mana Perang Salib berlangsung.
2. Gagasan Perang Salib memberi kontribusi kepada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika oleh Colombus dan ditemukannya rute perjalanan laut ke India dengan mengelilingi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope). Akibatnya orang Barat menyadari bahwa selain adanya negara-negara Islam dan Barat, ada juga negara-negara lain yang bukan negara Islam dan bukan negara Barat.
Adapun dampak positif lainnya bagi dunia barat dengan adanya Perang Salib adalah menambah keuntungan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Prang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasaikan beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam pada masa sebelumnya. Hal ini lebih banyak terutama berkaitan dengan masalah-masalah seni, industri, perdagangan dan pertanian.
Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sesungguhnya dunia Barat berhutang budi pada ummat Islam, hanya saja utang budi ini tidak pernah diakui oleh dunia Barat secara terbuka kepada ummat Islam. Sikap ini berbeda dengan sikap ummat Islam yang secara terbuka dari dulu mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dipinjam dari India, kimia dipinjam dari Cina, dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.
Ketidak mauan mengakui utang ini pada ummat Islam menurut Max Dimont, sebagaimana disebutkan oleh Nur Cholis Madjid, orang Barat menderita narcisime, artinya mereka mengagumi diri sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi. Padahal sesungguhnya dalam kajian yang lebih objektif dan luas, utang orang Barat kepada Islam luas biasa besarnya.
KESIMPULAN
1. Perang Salib adalah perang yang diprakarsai dan dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Islam yang berlangsung sebanyak delapan priode yang dimulai sejak tahun 1095 sampai dengan 1244 M.
2. Perang Salib terjadi dilatar belakangi oleh berbagai faktor, antara lain adalah disebabkan adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen; Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem yang semakin bergairah dan terkadang mendapat rintangan dari penduduk lokal; dan mengalihkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.
3. Perang Salib telah mendorong orang Eropa / Barat untuk melakukan renaissance di Eropa, untuk selanjutnya membangun dunia Eropa / Barat sesuai dengan apa yang mereka lihat dan pelajari di dunia Islam. Eropa / Barat banyak berutang budi pada dunia Islam dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan.
P E N U T U P
Demikianlah makalah ini kami sampaikan sebagai pengantar awal bagi kita untuk berdiskusi lebih lanjut, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dalam rangka mengantarkan kita untuk mengetahui lebih jauh dan secara mendalam tentang Perang Salib yang terkenal itu.***

http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=439

I. Periode pertama
Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemand, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M mengusai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di timur. Bohemand dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 Juli 1099 M). dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M), dan kota Tyre (1124 M). di Tropoli mereka mendirikan kerajaan latin IV, rajanya adalah Raymmond.

II. Periode kedua
Imaduddin Zanki, penguasa Moshul, dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 M. namun, ia wafat tahun 1146 M. tugasnya dilanjutkan oleh puteranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Anthiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Prancis Lois VII dan raja Jerman Conrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Conrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1174 M. pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah Al-Din Al-Ayyubi yang beerhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. hasil peperangan Shalah Al-Din yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah alDin, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shul al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebut bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.

III. Periode ketiga
Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristenn Qitbhi. Pada tahun 1219 M, mereka beerhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari Dinasti Ayyubiah waktu itu, Al Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Frederick, isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al malik Al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin di sana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 m, di masa pemerintahan Al-Malik Al-Shalih, penguasa mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiah, pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M.
Demikianlah, perang salib yang berkobar di timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.

Walupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak Dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.

http://edigunawan-perangsalib.blogspot.com/

“Salahudin Al Ayubi” Jenderal Muslim Pada Perang Salib

Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai “Saladin” di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.

Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : ” Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki “. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.

Sejarah Hidup Salahudin
Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat “Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.

Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin). Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama. Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.

Terlibat dalam Perang Salib
Dalam dua kesempatan, tahun 1171 dan 1173, Saladin diinvasi Kerajaan Kristen Jerusalem. Nur ad Din saat ini berniat membalas serangan. Namun Saladin berpendapat bahwa mereka harus kuat terlebih dulu. Sepeninggal Nur ad Din, Saladin menjadi penguasa Damaskus. Ia menikahi janda Nur ad Din dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul yang dulu selalu gagal ditaklukkan Nuraddin. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Saat menaklukkan Aleppo, 22 Mei 1176, nyawanya nyaris melayang karena usaha pembunuhan. Ia melakukan konsolidasi di Suriah sambil sebisa mungkin menjaga agar jangan sampai tumpah perang dengan pasukan salib sebesar apapun provokasi dari pasukan salib. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Puncaknya adalah saat penyerangan terhadap rombongan karavan jamaah haji tahun 1185. Saladin meradang.

Juli 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Berbagai medan pertempuran dilaluinya, dengan satu pesan yang sama kepada pasukannya; minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak. Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Inggris mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah ‘Saladin Tithe’ (Zakat melawan Saladin). Dalam satu pertempuran, ia berhadap-hadapan dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf tahun 1191. Di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan King Richard I saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain. Bahkan saat tahu pimpinan pasukan musuhnya itu sakit, Saladin menawarkan bantuan seorang dokter terbaik yang dimiliki Damaskus. Begitu juga saat tahu Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya. Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.

Tak lama setelah kepergian Richard, Saladin wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Saat kotak penyimpanan harta Saladin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya: ia selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah. Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah: ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.

Sultan Saladin
1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Ayub.
1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nureddin.
1164: Mulai menunjukkan pekiawaiannya dalam bidang strategi militer dan dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.
1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Ia menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi puas kekuatan Dinasti Ayyub.
1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nureddin yang ingin sesegera menggempur pasukan Kristen, ia cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.
1174: Nureddin meninggal. Saladin menyususn kekuatan.
1175: The Syrian Assassin leader Rashideddin’ s men made two attempts on the life of Saladin, the leader of the Ayyubids. The second time, the Assassin came so close that wounds were infliceted upon Saladin.
1176: Saladin besieges the fortress of Masyaf, the stronghold of Rashideddin. After some weeks, Saladin suddenly withdraws, and leaves the Assassins in peace for the rest of his life. It is believed that he was exposed to a threat of having his entire family murdered.
1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.
1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.
1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.
1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin. (Lihat Film Versi Hollywood : Kingdom of Heaven)
1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.
4 Maret 1193: Meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit.

Salahudin lahir disebuah kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahudin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik didalam kastil. Di Mosul , keluarga Najm bertemu dan membantu Zangi, seorang penguasa arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.

Zangi berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zangi bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zangi bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahudin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santu serta penuh belas kasih. Zangi meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahudin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai. Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahudin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.

Salahudin yang masih muda dan dinggap “hijau” ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahudin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Salahudin dalam memimpin mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahudin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya banyak disambut dan dielu-elukan. Salahudin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Salahudin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.

Salahudin dan Perang Salib

Saat Salahudin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahudin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusignan.

Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah muslim dari Damaskus. Penyerangan ini dipimpin oleh Reginald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahudin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan benteng-benteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahudin terjadi di Perang Hattin.

Perang Hattin terjadi di bulan Juli yang kering. Pasukan muslim dengan jumlah 25000 orang mengepung tentara salib didaerah Hattin yang menyerupai tanduk. Pasukan muslim terdiri atas 12000 orang pasukan berkuda (kavaleri) sisanya adalah pasukan jalan kaki (infanteri). Kavaleri pasukan muslim menunggangi kuda yaman yang gesit dengan pakaian dari katun ringan (kazaghand) untuk meminimalisir panas terik di padang pasir. Mereka terorganisir dengan baik, berkomunikasi dengan bahasa arab. Pasukan dibagi menjadi beberapa skuadron kecil dengan menggunakan taktik hit and run.

Pasukan salib terdiri atas tiga bagian. Bagian depan pasukan adalah pasukan Hospitaler, bagian tengah adalah batalyon kerajaan yang dipimpin Guy de Lusignan yang juga membawa Salib besar sebagai lambang kerajaan. Bagian belakang adalah pasukan ordo Knight Templar yang dipimpin Balian dari Ibelin. Bahasa yang mereka gunakan bercampur antara bahasa Inggris, Perancis dan beberapa bahasa eropa lainnya. Seperti umumnya tentara Eropa mereka menggunakan baju zirah dari besi yang berat, yang sebetulnya tidak cocok digunakan di perang padang pasir.

Salahudin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya pasukan muslimin membakar rumput kering disekeliling pasukan Salib yang sudah sangat kepanasan dan kehausan. Besok paginya Salahudin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavalerinya untuk membabat habis kuda tunggangan musuh. Tanpa kuda dan payah kepanasan, pasukan salib menjadi jauh berkurang kekuatannya. Saat peperangan berlangsung dengan kondisi suhu yang panas hampir semua pasukan salib tewas. Raja Yerussalem Guy de Lusignan berhasil ditawan sedangkan Reginald de Chattilon yang pernah membantai khalifah kaum muslimin langsung dipancung. Kepada Raja Guy, Salahudin memperlakukan dengan baik dan dibebaskan dengan tebusan beberapa tahun kemudian.

Menuju Yerussalem

Dari Hattin, Salahudin bergerak menuju kota-kota Acre, Beirut dan Sidon untuk dibebaskan. Selanjutnya Salahudin bergerak menuju Yerussalem. Dalam pembebasan kota-kota ataupun benteng Salahudin selalu mengutamakan jalur diplomasi dan penyerahan daripada langsung melakukan penyerbuan militer. Pasukan Salahudin mengepung Kota Yerussalem , pasukan salib di Yerussalem dipimpin oleh Balian dari Obelin. Empat hari kemudian Salahudin menerima penawaran menyerah dari Balian. Yerussalem diserahkan ketangan kaum muslimin. Salahuddin menjamin kebebasan dan keamanan kaum Kristen dan Yahudi. Fragmen ini di abadikan dalam film “Kingdom Of Heaven” besutan sutradara Ridley Scott. Tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah atau bertepatan dengan Isra Mi’raj Rasulullah SAW, Salahudin memasuki kota Yerussalem

Di Yerussalem, Salahudin kembali menampilkan kebijakan dan sikap yang adil sebagai pemimpin yang shalih. Mesjid Al-Aqsa dan Mesjid Umar bin Khattab dibersihkan tetapi untuk Gereja Makam Suci tetap dibuka serta umat Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah didalamnya. Salahudin berkata :” Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain”. Sangat kontras dengan yang dilakukan para pasukan Salib di awal penaklukan kota Yerussalem (awal perang salib), sejarah mencatat kota Yerussalem digenangi darah dan mayat dari penduduk muslimin yang dibantai. Sikap Salahudin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan adalah contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam.

Salahudin Al-Ayubi tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di mesjid kecil bernama Al-Khanagah di Dolorossa. Ruangan yang dimilikinya luasnya hanya bisa menampung kurang dari 6 orang.Walaupun sebagai raja besar dan pemenang perang, Salahudin sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan serta korupsi.

Salahudin berhasil mempertahankan Yerussalem dari serangan musuh besarnya Richard The Lion Heart, Raja Inggris. Richard menyerang dan mengepung Yerussalem Desember 1191 dan Juli 1192. Namun penyerangan-penyerangannya dapat digagalkan oleh Salahudin. Kepada musuhnya pun Salahudin berlaku penuh murah hati. Saat Richard sakit dan terluka, Salahudin menghentikan pertempuran serta mengirimkan hadiah serta tim pengobatan kepada Richard. Richard pun kembali ke Inggris tanpa berhasil mengalahkan Salahudin.

Sepanjang sejarah Yerussalem sebagai kota suci bagi tiga agama, sejak ditaklukan Salahudin, Yerussalem belum pernah jatuh ketangan pihak lain. Baru setelah Perang Dunia I, Yerussalem jatuh ketangan Inggris yang kemudian diserahkan ke tangan Israel.

Semasa hidupnya Salahudin lebih banyak tinggal di barak militer bersama para prajuritnya dibandingkan hidup dalam lingkungan istana. Salahudin wafat 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazah sempat terkaget-kaget karena ternyata Salahudin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki selembar kain kafan yang selalu di bawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang Suriah waktu itu).

Sampai sekarang Salahudin Al-Ayubi tetap dikenang sebagai pahlawan besar yang penuh sikap murah hati.

http://kabar-aneh.blogspot.com/2011/07/salahudin-al-ayubi-jenderal-muslim-pada.html

FAKTA UNIK DI SEKITAR PERANG SALIB

1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan konyolnya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.
2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai ” The Absent King
3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : “Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi “

4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.

5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran

6. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, “Aku tidak ingin orang ini mengacaukan “permainan” kecil kita”. Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.

7. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya

8. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?

9. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.

10. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu

11. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.

12. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).

13. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir

14. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya ‘berbahaya’.

15. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.

16. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack

17. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.

18. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

19. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus

20. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 – 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full – time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.

21. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.

22. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin

23. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko

24. Kalau selama ini kita mendengar bahwa Saladin itu komandan yg santun, maka salah satu panglima mamluk yaitu Baybar adalah komandan yang garang. Tidak kalah garangnya dalam soal bunuh-membunuh seperti crusaders. Kalau crusaders dibawah pimpinan Richard pernah menghukum mati seluruh tawanan muslim di Aacre, pasukan Baybar juga membunuh semua orang kristen di Acre, termasuk pendeta dan perempuan. bahkan dia berkirim surat ke komandan crusaders untuk menceritakan detil pembantaian di dalam suratnya. Baybar bahkan sampai membuat lingkungan acre jadi gurun agar di masa depan sulit untuk jadi pangkalan crusaders lagi.

25. Saat pengepungan kota Acre, Baybars menggunakan siege weaponnya selain sebagai senjata penghancur berat jarak jauh, juga sebagai senjata psikologi dan biologi. Senjata katapel-nya tidak hanya melontarkan batu ke arah kota, tapi juga mayat pasukan musuh, tawanan anak-anak yang masih hidup serta bangkai binatang spt kuda, unta dll. Di abad pertengahan hal itu kerap disebut sbg ‘humor pasukan artileri’. Namun Baybars melakukannya lebih intensif dan mengerikan.

26. Akibat dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Maka.Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

http://dunia-konyol.blogspot.com/2011/07/fakta-fakta-unik-dibalik-perang-salib.html

About these ads

Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

4 Komentar »

  1. hidup seperti yang kita tinggali(bumi) kadang gelap samar2 kemudian terang…. tinggal menunggu kapan bumi berhenti… hanya iman dan takwalah bekal terakhir.

    Komentar oleh ivaelli — Februari 8, 2012 @ 2:49 am

  2. makasi ia :)
    ilmu ini sangat berguna, sya jadi bisa ngerjain tugas dengan ampang,, hehe :)

    Komentar oleh yansa maritsa — Februari 15, 2012 @ 9:34 am

  3. ,,mksh yaCh…

    Komentar oleh NISA — Mei 9, 2012 @ 11:37 am

  4. salam damai untuk semua, tetap pada prinsip masing2 agama. saling toleransi dan menghormati itu yang utama untuk mencapai kesejahteraan bersama. semoga damai dibumi Jerussalem dan diseluruh dunia. Amen……………….by smarthb

    Komentar oleh said adam — Juni 28, 2012 @ 1:30 am


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: