Filsafat Berfikir

FILSAFAT ANTROPOLOGI

Agustus 1, 2009
4 Komentar

FILSAFAT ANTROPLOGI
Oleh: Ading Nashrulloh

A. Pengertian Antropologi
Salah satu cabang Ontologi adalah Antropologi. Antropologi merupakan filsafat yang membahas tentang manusia. Antropologi mempersoalkan siapakah manusia itu? Apa hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya denga alam dan sesamanya ?

B. Pendapat Filsuf tentang Manusia

1. Pytagoras
Pytagoras mengajarkan keabadian jiw amansuia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jiwa hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya.

2. Demokritus (460-370 SM)

Demokritus mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwapun adalah materi yang terdiri atas atom-atom.

3. Plato (428-348)

Plato mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Tubuh penuh dengan berbagai kejahatan. Jiwa berada dalam tubuh yang demikian itu, sehingga tubuh merupakan penjara bagi jiwa.

4. Aritoteles (384-322)

Aritoteles menyatakan bahwa manusia meruakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, mati.

5. Descartes (1596-1650)
Descartes menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagian yang kompleks. Dan jiwa adalah sesuatu yang tidak berbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Jiwa ditandai oleh berfkir.

6. George Berkeley (1685-1753)
Ia berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Ia menolak materi, ia seorang spiritualis.

7. Feuerbach
Kata dia, dibalik alam tidak ada Allah. Di balik tubuh tidak ada jiwa. Ia bukan materialisme tapi organisme.

C. Ulasan
Para Filsuf telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya bertentangan. Namun, ini bermanfaat. Manfaatnya: saling mengoreksi sepanjang abad. Sampai ditemukan kebenaran yang hakiki.

D. Kebenaran Yang Hakiki
Kita mesti menghargai pemikiran manusia, sesuai dengan proporsinya. Memberikan sangkalan dan bantahan dengan logis. Atau dukungan sewajarnya. Yang kita hargai, bukan isi dari pemikirannya. Tapi aktivitas berfikirnya itulah yang kita hargai. Sebab, kalau berbicara isi, maka tidaklah akan ada pemikiran manusia yang menyamai firman Alloh. Firman Allah itulah yang final dan hakiki atas penjelasannya tentang manusia.

Referensi : Manusia dalam wacana filosofis, Juneman, S.Psi.,C.W.P. Mercu Buana, 2000.


Ditulis dalam filsafat Islam

EPISTEMOLOGI ISLAM

Juli 29, 2009
1 Komentar

EPISTEMOLOGI ISLAM
Oleh: Ading Nashrulloh

A. Arti epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan epistemologi yang paling pokok ialah tentang sumber-sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran.

B. Sumber dan kriteria kebenaran menurut Islam
Dalam suatu pembahasannya Prof. Syed Naquib Al-Atas, mengatakan sumber dan kriteria kebenaran dalam pandangan Islam terbagi atas dua bagian besar, yakni yang bersifat relative dan yang bersifat absolut. Yang termasuk sumber pengetahuan relatif adalah indra dan persepsi. Sumber yang absolut, tiada lain al-Quran dan Sunnah.

C. Konsekuensi Epistemologi Islam
Kebenaran adalah apa-apa yang dikandung dan didasarkan kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Apa saja yang berasal dari luar Al-Quran dan As-Sunnah, harus diletakkan dalam kerangka kebenaran kedua-duanya. Pengetahuan yang berasal dari luar Islam harus dilihat dan diteropong dari kacamata epistemologi Islam. Pengetahuan harus dibangun di atas landasan Al-Quran dan Sunnah. Jangan khawatir, bahwa hanya karena al-Quran dan hadits dibawa-bawa, pengetahuan dan sains menjadi terkekang. Sehebat-hebatnya hasil pemikiran manusia statusnya dibawah al-Quran, dan menuju kebenaran sebagaimana yang diinformasikan al-Quran.

D. Epistemologi Barat
Manusia dan alam semesta merupakan ayat-ayat pendamping Al-Quran yang saling menguatkan. Penciptaan manusia sama dengan penciptaan Islam. Penciptaan alam semesta dengan segenap atributnya sama dengan informasi yang ada dalam Al-Quran.
Hal ini tidak diakui oleh Filsafat Barat yang berinduk kepada filsafat Matrealisme. Menurut mereka, sumber epistemologi adalah akal (rasionalisme) dan fakta (empirisme) itu pun didasarkan lagi kepada pragmatisme. Kriteria kebenaran adalah apa-apa yang dibatasi oleh metode ilmiah. Sebenarnya Metode Ilmiah tidak bermaksud mencapai suatu pengetahuan yang absolut. Tetapi mereka telah mengabsolutkan metode ilmiah sebagai satu-satunya jalan menuju pengetahuan yang benar.
Dalam batas-batas tertentu secara pragmatis, metode ilmiah telah membantu manusia mengembangkan sains dan teknologi. Namun karena dasar filsafat hidup yang mendasari metode ilmiah itu adalah matrealisme, akibatnya sains dan teknologi mejadi tunggangan untuk menyebarkan filsafat matrealisme, yang menyebabkan manusia buta kepada hatinuraninya sendiri. Yang artinya, buta kepada Tuhannya, dan buta kepada makna hidup yang hakiki.

E. Yakin pada Al-Quran
Tetapi beriman, dan meyakini kebenaran Al-Quran tidak kemudian membuat manusia menjadi otomatis mulia. Buktinya hari ini umat Islam dihinakan dan direndahkan di mana-mana, tanpa ada kekuatan untuk membela diri. Padahal jumlahnya lebih dari satu miliar. Keberadaannya seperti makanan yang dihidangkan di atas meja. Mari mencari jawabnya.


Ditulis dalam filsafat Islam
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.