<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Filsafat Berfikir</title>
	<atom:link href="http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com</link>
	<description>Berfikir untuk lebih mengerti</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Nov 2011 07:59:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='filsafatindonesia1001.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Filsafat Berfikir</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/osd.xml" title="Filsafat Berfikir" />
	<atom:link rel='hub' href='http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>sesat</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/14/sesat/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/14/sesat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 12:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[FAHAM SESAT Definisi SESAT Sesat atau kesesatan bahasa Arabnya adalah dhalâl atau dhalâlah. Ia merupakan mashdar (gerund) dari dhalla–yadhillu–dhalâl[an] wa dhalâlat[an]; maknanya di antaranya: ghâba wa khâfa (tersembunyi), dzahaba (pergi/lenyap), dhâ’a (sia-sia), halaka (rusak), nasiya (lupa), al-hayrah (bingung), dan khatha’a (keliru).1 Pendapat Para Ahli Abu Amru seperti dikutip al-Azhari dan Ibn Manzhur, Abu Manshur yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=172&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FAHAM SESAT<br />
Definisi SESAT<br />
Sesat atau kesesatan bahasa Arabnya adalah dhalâl atau dhalâlah. Ia merupakan mashdar (gerund) dari dhalla–yadhillu–dhalâl[an] wa dhalâlat[an]; maknanya di antaranya: ghâba wa khâfa (tersembunyi), dzahaba (pergi/lenyap), dhâ’a (sia-sia), halaka (rusak), nasiya (lupa), al-hayrah (bingung), dan khatha’a (keliru).1<br />
Pendapat Para Ahli<br />
Abu Amru seperti dikutip al-Azhari dan Ibn Manzhur, Abu Manshur yang dikutip Ibn Manzhur, dan Ibn al-‘Arabi yang dikutip al-Qurthubi, menyatakan bahwa asal dari dhalâl adalah al-ghaybûbah (tersembunyi/gaib).2 Menurut al-Alusi dan Abu Hilal al-‘Askari, asal dari dhalâl adalah al-halâk (rusak).3 Kemudian al-Baghawi menggabungkan keduanya bahwa asal dari dhalâl adalah al-halâk wa al-ghaybûbah (rusak dan tersembunyi).4<br />
Kata dhalla dan bentukannya banyak sekali terdapat di dalam al-Quran dan hadis. Al-Quran menyatakan kata dhalla dan bentukannya minimal sebanyak 191 kali di 105 ayat. Di antaranya juga menggunakan makna bahasa di atas (Lihat, misalnya: QS Thaha [20]: 52; QS asy-Syuara’ [26]: 20; QS al-Baqarah [2]: 282; QS ar-Ra’d [13]: 14; QS al-An’am [6]: 94; QS al-Qamar [54]: 47).<br />
Dhalâl juga berarti dhiddu al-hudâ wa ar-rasyâd (lawan dari petunjuk dan bimbingan). Ibn al-Kamal dan al-Jurjani menyatakan bahwa dhalâl adalah ketiadaan sesuatu yang mengantarkan pada apa yang dituntut; atau jalan yang tidak mengantarkan kepada yang dicari/tujuan.5 Al-Qurthubi mengatakan bahwa dhalâl hakikatnya adalah pergi meninggalkan kebenaran, diambil dari tersesatnya jalan, yaitu menyimpang dari jalan yang seharusnya. Ibn ‘Arafah berkata, “Adh-Dhalâl, menurut orang Arab, adalah berjalan di jalan yang bukan jalan yang dimaksud (bukan jalan yang mengantarkan pada maksud dan tujuan).”6<br />
Abu Ja’far, seperti dinukil oleh ath-Thabari, mengatakan, “Jadi, setiap orang yang menyimpang dari jalan yang dimaksudkan, dan menempuh selain jalan yang lurus, menurut orang Arab, ia sesat, karena ketersesatannya dari arah jalan yang seharusnya.”7<br />
Walhasil, dhalâl secara tradisi tidak lain adalah penyimpangan dari jalan yang bisa mengantarkan pada tujuan yang diinginkan, atau penyimpangan dari jalan yang seharusnya.<br />
Pandangan Secara Syar&#8217;i<br />
Secara syar’i, jalan yang dimaksud tentu saja jalan kebenaran (tharîq al-haqq) atau jalan yang lurus (tharîq al-mustaqim), yang tidak lain adalah Islam itu sendiri. Prof. Rawas Qal’ah Ji menjelaskan bahwa adh-dhalâl adalah tidak tertunjuki pada kebenaran (‘adam al-ihtidâ’ ilâ al-haqq).8 Menurut ar-Raghib al-Asfahani, adh-dhalâl adalah penyimpangan dari jalan yang lurus (al-‘udûl ‘an ath-tharîq al-mustaqîm). Al-Qurthubi, ketika menafsirkan surat al-A’raf ayat 60, menyatakan bahwa adh-dhalâl adalah penyimpangan dari jalan kebenaran dan pergi darinya (al-‘udûl ‘an tharîq al-haqq wa adz-dzihâb ‘anhu).<br />
Adh-Dhalâl bisa terjadi dalam masalah akidah maupun hukum syariah. Murtadha az-Zabidi di dalam Tâj al-’Urûs (1/7250) menyatakan, “Adh-Dhalâl (dilihat) dari sisi lain ada dua bentuk: dhalâl pada al-’ulûm an-nazhariyyah seperti dhalâl dalam ma’rifah akan wahdaniyah Allah, kenabian, dsb yang ditunjukkan dalam QS an-Nisa’ [4]: 136; dan dhalâl dalam al-’ulûm al-’amaliyyah seperti ma’rifah tentang hukum-hukum syariah, yang merupakan ibadah.”9</p>
<p>Al-Quran<br />
Al-Quran menjelaskan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah (QS an-Nisa’ [4]: 116); orang kafir (QS an-Nisa’ [4]: 136); orang murtad alias menjadi kafir setelah beriman (QS Ali Imran [3]: 90); orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah berikan kepada mereka semata-mata demi mendustakan Allah (QS al-An’am [6]:140); berputus asa dari rahmat Tuhannya (QS al-Hijr [15]: 56); orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya (QS al-Mu’minun [23]:106); mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, yaitu memilih yang lain dalam suatu perkara, padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan dalam perkara tersebut (QS al-Ahzab [33]: 36); orang kafir, yaitu orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat serta menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok (QS Ibrahim [14]: 2-3). Termasuk bagian dari kesesatan (adh-dhalâlah) adalah perilaku berhukum kepada thaghut (QS an-Nisa’ [4]: 60) serta mengambil musuh Allah dan musuh kaum Muslim sebagai wali, karena rasa kasih sayang (QS Mumtahanah [60]: 28), dan sebagainya.<br />
Berdasarkan semua itu, secara syar’i, adh-dhalâl bisa didefinisikan sebagai penyimpangan dari Islam dan kufur terhadap Islam (inhirâf ’an al-islâm wa kufr bihi). Dengan demikian, semua bentuk penyimpangan dari Islam merupakan bagian dari kesesatan. Akan tetapi, tidak semua bentuk penyimpangan dari Islam itu menjadikan pelakunya bisa divonis sesat. Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa perbuatan berhukum pada hukum thaghut (hukum selain dari yang diturunkan oleh Allah) merupakan perbuatan kufur. Namun, tidak semua pelakunya divonis kafir, tetapi ada juga yang dinilai fasik atau zalim.<br />
Penyimpangan dari Islam itu bisa berupa kesalahan, yaitu kekeliruan pemahanan dan praktik yang terkait dengan perkara syariah yang konsekuensinya adalah maksiat. Namun, penyimpangan bisa juga dalam bentuk kesalahan pemahaman yang terkait dengan perkara akidah atau syariah, tetapi diyakini kebenarannya, yaitu yang merupakan perkara qath’i atau bagian dari perkara yang ma’lûm min ad-dîn bi adh-dharûrah, yang konsekuensinya adalah kekufuran. Hal yang sama berlaku juga dalam hal pengingkaran.<br />
Dengan demikian, penyimpangan dan pengingkaran yang berkonsekuensi penganut atau pelakunya bisa dinilai sesat adalah penyimpangan atau pengingkaran dalam perkara ushul, bukan dalam perkara furu’. Perkara ushul adalah perkara yang berkaitan dengan akidah.<br />
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)<br />
Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia telah memberikan kriteria suatu paham atau aliran bisa dinilai sesat, yaitu apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut10:<br />
1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhirat, Qadha dan Qadar; serta Rukun Islam yang 5 (lima), yakni: mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji.<br />
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syariah (Al-Quran dan as-Sunah)<br />
3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran.<br />
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Quran<br />
5. Melakukan penafsiran al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.<br />
6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam<br />
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.<br />
8. Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul terakhir.<br />
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardhu tidak 5 waktu.<br />
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.<br />
Pandangan para Ulama Terdahulu<br />
Kriteria-kriteria ini bukan hal baru. Para ulama sejak dulu telah membahasnya. Meski demikian, siapapun tidak boleh gampang mengatakan orang lain sesat. Penilaian sesat itu serupa dengan penilaian kafir. Abu Hurairah dan Ibn Umar menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda:<br />
أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ<br />
Siapa saja yang berkata kepada saudaranya (yang Muslim), “Hai kafir,” maka sungguh tuduhan itu berlaku kepada salah seorang dari keduanya, jika memang tuduhan itu benar; jika tidak, tuduhan itu kembali ke pihak penuduh. (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).<br />
Justifikasi sesat itu harus dilakukan melalui proses pembuktian (bayyinah). Jika sudah terbukti sesat dengan bukti-bukti yang meyakinkan, maka harus dikatakan sesat, seperti Ahmadiyah. Kemudian penganutnya didakwahi agar bertobat dan kembali pada yang haq, yaitu Islam. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.<br />
Sufiks -isme berasal dari Yunani -ismos, Latin -ismus, Perancis Kuna -isme, dan Inggris -ism. Akhiran ini menandakan suatu faham atau ajaran atau kepercayaan. Beberapa agama yang bersumber kepada kepercayaan tertentu memiliki sufiks -isme.<br />
Hal-hal yang memiliki akhiran -isme:<br />
•	Agama (Buddhisme, Yudaisme, Mormonisme, selengkapnya lihat: Daftar agama)<br />
•	Doktrin atau filosofi (pasifisme, olimpisme, nihilisme, dll)<br />
•	Teori yang dikembangkan oleh orang tertentu (Marxisme, Maoisme, Leninisme, selengkapnya lihat: Ideologi yang berasal dari nama orang)<br />
•	Gerakan politis (feminisme, egalitarianisme, dll)<br />
•	Gerakan artistik (kubisme, anamorfisme, dll)<br />
•	Karakteristik, kualitas, atau bersumber dari (nasionalisme, heroisme, dll)<br />
•	Tindakan, proses, atau pekerjaan (voyeurisme, eksorsisme, dll)<br />
•	Keadaan atau kondisi (pauperisme, dll)<br />
•	Kelebihan atau penyakit (botulisme, dll)<br />
•	Bias atau diskriminasi (rasisme, seksisme, spesiesisme, dll)<br />
•	Karakteristik atau cara berbicara (Yogiisme, Bushisme)<br />
•	Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo&#8217;a kepada selain Allah disamping berdo&#8217;a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo&#8217;a dan sebagainya kepada selainNya.<br />
•	Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar.<br />
•	Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman. &#8220;Artinya : Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar&#8221;[ Luqman: 13]<br />
•	Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman. &#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar&#8221;.[An-Nisaa': 48]<br />
•	Surga-pun Diharamkan Atas Orang Musyrik. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.<br />
•	Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun&#8221;[ Al-Maa'idah: 72]<br />
•	Syirik Menghapuskan Pahala Segala Amal Kebaikan. Allah Azza wa Jalla berfirman.<br />
•	Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan&#8221;[Al-An'aam: 88]<br />
•	Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. &#8220;Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi&#8221;[Az-Zumar: 65]<br />
•	Orang Musyrik Itu Halal Darah Dan Hartanya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.<br />
•	&#8220;Artinya : &#8230;Maka bunuhlah orang-orang musyirikin dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian&#8230;&#8221;[At-Taubah: 5]<br />
•	Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
•	&#8220;Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan harta mereka aku lindungi kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka ada pada Allah Azza wa jalla&#8221;[2]<br />
•	Syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim dan kemungkaran yang paling mungkar.<br />
•	JENIS-JENIS SYIRIK<br />
•	Syirik Ada Dua Jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil.<br />
•	1. Syirik Besar Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya.<br />
•	Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo&#8217;a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.<br />
•	Syirik Besar Itu Ada Empat Macam.<br />
•	[a]. Syirik Do&#8217;a, yaitu di samping dia berdo&#8217;a kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, ia juga berdo&#8217;a kepada selainNya. [3]<br />
•	[b]. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala [4]<br />
•	[c]. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah [5]<br />
•	[d]. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan. [6]<br />
•	2. Syirik Kecil. Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar.<br />
•	Syirik Kecil Ada Dua Macam.<br />
•	[a]. Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.<br />
•	Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
•	&#8220;Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik&#8221;[7]<br />
•	Qutailah Radhiyallahuma menuturkan bahwa ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan berkata: &#8220;Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan: &#8220;Atas kehendak Allah dan kehendakmu&#8221; dan mengucapkan: &#8220;Demi Ka&#8217;bah&#8221;. Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan para Shahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, &#8220;Demi Allah Pemilik Ka&#8217;bah&#8221; dan mengucapkan: &#8220;Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu&#8221;[8]<br />
•	Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan. &#8220;Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan&#8221; Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah. &#8220;Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan&#8221;<br />
•	Kata (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.[9]<br />
•	[b]. Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya&#8217; (ingin dipuji orang) dan sum&#8217;ah (ingin didengar orang) dan lainnya.<br />
•	Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.<br />
•	&#8220;Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. &#8220;Mereka (para Shahabat) bertanya: &#8220;Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?&#8221; .Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab: &#8220;Yaitu riya&#8217;&#8221;[10]<br />
Kāfir (bahasa Arab: كافر kāfir; plural كفّار kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).[1]<br />
Etimologi<br />
Kāfir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup.<br />
Pada zaman sebelum Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi &#8220;seseorang yang bersembunyi atau menutup diri&#8221;.<br />
Jadi menurut syariat Islam, manusia kāfir terdiri dari beberapa makna, yaitu:<br />
•	Orang yang tidak mau membaca syahadat.<br />
•	Orang Islam yang tidak mau salat.<br />
•	Orang Islam yang tidak mau puasa.<br />
•	Orang Islam yang tidak mau berzakat.<br />
Kata kāfir dalam Al-Qur&#8217;an<br />
Di dalam Al-Qur&#8217;an, kitab suci agama Islam, kata kafir dan variasinya digunakan dalam beberapa penggunaan yang berbeda:<br />
•	Kufur at-tauhid (Menolak tauhid): Dialamatkan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu.<br />
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)<br />
•	Kufur al-ni`mah (mengingkari nikmat): Dialamatkan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan<br />
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun). (Al-Baqarah ayat 152)<br />
•	Kufur at-tabarri (melepaskan diri)<br />
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: &#8220;Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu (kafarna bikum)&#8230;&#8221; (Al-Mumtahanah ayat 4)<br />
•	Kufur al-juhud: Mengingkari sesuatu<br />
..maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya. (Al-Baqarah ayat 89)<br />
•	Kufur at-taghtiyah: (menanam/mengubur sesuatu)<br />
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20)<br />
Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya.<br />
Terminologi munafik dalam Al Qur&#8217;an<br />
Dalam Al Qur&#8217;an terminologi ini merujuk pada mereka yang tidak beriman namun berpura-pura beriman.<br />
“	(1)Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: &#8220;Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah&#8221;. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (2)Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (3)Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Surah Al-Munafiqun 63:1-3)<br />
”<br />
Ciri-ciri orang munafik<br />
Berdasarkan hadits, Nabi Muhammad SAW mengatakan:<br />
“	&#8220;Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Gereja Setan (bahasa Inggris: Church of Satan), seperti yang diungkapkan pada buku The Satanic Bible yang ditulis pada tahun 1969 oleh Anton LaVey, adalah sebuah organisasi yang berdedikasi pada penerimaan jasmaniah manusia (Man&#8217;s carnal self).<br />
Sejarah<br />
 	Wikinews bahasa Inggris memberitakan: Satanism: An interview with Church of Satan High Priest Peter Gilmore</p>
<p>Gereja Setan didirikan di San Fransisco, California, pada malam Walpurgis 30 April 1966 oleh Anton Szandor LaVey. Anton LaVey menjadi Pendeta Tinggi gereja ini sampai kematiannya pada tahun 1997.[1]<br />
Pada tahun 1950-an, Anton LaVey membentuk sebuah kelompok yang dinamakan The Order of the Trapezoid, yang kemudian berubah menjadi badan pengurus Gereja Setan. Orang-orang yang terlibat dalam aktivitas LaVey meliputi Carin de Plessen (yang tumbuh di Istana Kerajaan Denmark), Dr. Cecil Nixon (ahli sulap, eksentris, and penemu automaton), sutradara Kenneth Anger, Asesor kota Russell Wolden, Donald Werby, antropolog Michael Harner, dan penulis Shana Alexander. Kolega LaVey lainnya pada saat itu meliputi penulis fiksi horor dan fiksi ilmiah Anthony Boucher, August Derleth, Robert Barbour Johnson, Reginald Bretnor, Emil Petaja, Stuart Palmer, Clark Ashton Smith, Forrest J. Ackerman, dan Fritz Leiber Jr.<br />
Pada tahun pertama pembentukannya, Anton LaVey dan Gereja Setan mendapatkan perhatian media yang besar dengan secara publik melakukan upacara pernikahan Setan antara Judith Case dengan wartawan radikal John Raymond. Upacara pernikahan ini difoto oleh Joe Rosenthal, yang terkenal oleh fotonya Raising the Flag on Iwo Jima selama Perang Dunia II. Acara lainnya yang juga menarik perhatian adalah upacara pemakaman anggota Gereja Setan, Edward Olson yang juga merupakan perwira Angkatan Laut oleh permintaan istrinya.<br />
Gereja Setan disebut-sebut dalam banyak buku dan merupakan topik artikel majalah dan surat kabar semasa tahun 1960-an dan 1970-an. Ia juga merupakan subjek utama film dokumenter Satanis (1970). LaVey juga muncul dalam film Kenneth Anger, Invocation of my Demon Brother, dan berperan sebagai penasehat teknis dalam film The Devil&#8217;s Rain (dibintangi oleh Ernest Borgnine, William Shatner, dan John Travolta).<br />
Pada tahun 1975, LaVey menciptakan kontroversi dalam Gereja Setan itu sendiri dengan menghilangkan sistem &#8220;Grotto&#8221; Gereja dan mengeluarkan orang-orang yang dia anggap menggunakan Gereja ini sebagai prestasi di dunia luar. Pada saat yang sama, LaVey menjadi lebih selektif dalam menerima wawancara. Aktivitas yang &#8220;tertutup&#8221; ini kemudian menyebabkan rumor bahwa Gereja ini telah tutup atau LaVey telah mati.<br />
Pada tahun 1980-an, umat Kristen, para ahli terapi yang terspesialisasi dalam pemulihan ingatan, dan media massa mengungkit-ungkit kembali konspirasi kejahatan yang berhubungan dengan Gereja Setan. Anggota-anggota Gereja Setan seperti Peter H. Gilmore, Peggy Nadramia, Boyd Rice, Adam Parfrey, Diabolos Rex, dan King Diamond, aktif dalam media massa untuk membantah tuduhan atas aktivitas kriminal tersebut. FBI kemudian mengeluarkan laporan resmi yang membantah teori konspirasi kriminal itu. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai “The Satanic Panic”.<br />
Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Gereja Setan dan para anggotanya sangat aktif dalam memproduksi film-film, musik, dan majalah-majalah yang berhubungan dengan Setanisme.<br />
Setelah kematian Anton Szandor LaVey, posisinya sebagai kepala Gereja Setan diteruskan oleh istrinya, Blanche Barton. Barton tetap terlibat dalam aktivitas Gereja ini; namun pada tahun 2001 ia menyerahkan posisinya kepada Peter H. Gilmore dan Peggy Nadramia. Kantor pusat Gereja Setan juga dipindahkan dari San Fransisco ke New York City. Gereja Setan tidak mengakui organisasi-organisasi lainnya sebagai pemegang sah setanisme, namun mengakui bahwa seseorang tidaklah harus menjadi anggota Gereja Setan untuk menjadi seorang Satanis.<br />
Banyak figur-figur publik yang secara publik menjadi anggota Gereja Setan, meliputi Kenneth Anger, King Diamond, Teresa Hidy, David Vincent, Marilyn Manson, Aaron Joehlin, Boyd Rice, Marc Almond, gitaris Alkaline Trio Matt Skiba dan drummer Derek Grant, pegulat profesional Balls Mahoney, Sterling James Keenan, jurnalis Michael Moynihan, pianis Liberace, gitaris Matthew McRaith, dan Sammy Davis Jr.[2] Oleh karena Gereja Setan tidak pernah membeberkan informasi keanggotaannya secara publik, tidak diketahui berapa banyak anggota Gereja ini.<br />
Pada Oktober 2004, Angkatan Laut Britania Raya secara resmi mengakui pendaftaran anggota angkatannya sebagai seorang Satanis<br />
Dalam teologi Kristen, Antikristus adalah pemimpin yang dinubuatkan Alkitab yang akan menjadi musuh Kristus, yang akan menyesatkan banyak orang. Dalam ajaran Islam, kisah AntiKristus disamakan dengan tokoh Dajjal, karena dalam eskatologi Islam, Dajjal akan bertarung dengan Isa (Kristus).<br />
Referensi Alkitabiah<br />
[sunting] Terminologi<br />
Kata &#8220;antikristus&#8221; berasal dari bahasa asli Yunani Koine &#8220;ἀντίχριστος&#8221; antikristos. Dimana kata tersebut terdiri dari dua akar kata αντί + Χριστός (anti + Kristos). &#8220;αντί&#8221; (anti) berarti mengganti, melawan atau mengambil tempat orang lain,[1] dan &#8220;Χριστός&#8221; (Kristos) berarti Kristus, yang dalam bahasa Yunani sama dengan &#8220;Mesias&#8221; yang berarti &#8220;yang diurapi&#8221;, dan mengacu kepada Yesus dari Nazaret[2] dalam teologi Kristen. Jadi antikristus berarti melawan, mengganti, atau mengambil tempat Kristus. Bisa juga berarti Kristus palsu atau Kristus gadungan.<br />
[sunting] Perjanjian Baru<br />
Kata &#8220;antikristus&#8221; hanya ditemukan empat kali, semuanya dalam tulisan Rasul Yohanes<br />
•	1 Yohanes 2:18-19 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.<br />
•	1 Yohanes 2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.<br />
•	1 Yohanes 4:3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.<br />
•	2 Yohanes 1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.<br />
Menurut Yohanes maka Antikristus adalah :<br />
1.	Seolah-olah berasal dari kekristenan sendiri, namun sesungguhnya tidak (Yohanes memakai kalimat &#8220;memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita&#8221; pada 1 Yoh 2:19)<br />
2.	Menyangkal Yesus sebagai Kristus. (arti Kristus adalah &#8220;yang diurapi&#8221; atau Mesias dan juga menyangkal Allah yang mengutusnya.<br />
3.	Tidak berasal dari Allah atau tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan tidak menuruti perintah-Nya (1 Yoh. 3:23-24)<br />
4.	Tidak mengakui Yesus telah datang sebagai manusia (2 Yohanes 1:7 ).<br />
[sunting] Dua Binatang dalam Wahyu 13<br />
Wahyu 13 menyebutkan tentang dua binatang yang keluar dari laut dan bumi. Binatang I (1-10) menunjuk pada antikristus yang akan muncul sebagai pemimpin dari gabungan bangsa-bangsa di akhir zaman untuk melawan Allah.<br />
Sementara Binatang II (11-18) menunjuk pada &#8220;asisten&#8221; dari antikristus. Binatang kedua inilah yang akan mengadakan tanda-tanda mujizat untuk melancarkan penyembahan bagi binatang I (antikristus). Ia akan memberikan perintah membuat patung dari binatang I serta memberikan &#8220;hidup&#8221; bagi patung tersebut dan menuntut penyembahan dari semua penduduk dunia pada waktu itu.<br />
Wahyu 13:18 menjelaskan identitas binatang buas itu, Barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah ialah enam ratus enam puluh enam. Manusia yang bilangannya 666 ini akan menguasai 3 sistem dunia<br />
•	Pemerintahan dunia &#8221; … dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa&#8221; (Wahyu 13:7, Dan 7:23)<br />
•	Ekonomi dunia &#8221; Dan ia menyebabkan sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau besar, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya (Wahyu 13:16-17).<br />
•	Agama dunia &#8220;… seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu&#8221; (Wahyu 13:3-4,8).<br />
Dengan kekuasaan seperti ini, maka mereka yang menolak untuk menyembah antikritus itu, tidaklah akan dapat hidup. Dalam kondisi seperti ini akan muncul banyak martir. Lalu siapakah 666 itu? Sepanjang sejarah, telah mucul orang-orang yang &#8220;disebut&#8221; sebagai antikristus. Mulai dari Kaisar Nero, Martin Luther, Paus, Adolf Hitler, Henry Kissinger, Stalin, Roosevelt, Mussolini, Karl Von Habsburg, Saddam Hussein, Mikhail Gorbachev, dan Paus. Tetapi ternyata toh hal ini tidaklah terbukti. Demikian juga dengan perkiraan-perkiraan yang baru seperti Bill Gates ataupun Omen, George W Bush, Barrack Obama, sepertinya toh akan berlalu begitu juga. Siapapun juga nantinya antikritus itu, sebenarnya tidaklah perlu dikuatirkan. Karena pada akhirnya antikristus itu akan dikalahkan oleh Kristus sendiri dalam peperangan besar di armageddon, di akhir masa 7 tahun kesengsaraan besar itu.</p>
<p>Dajal (bahasa Arab: al-dajjāl) adalah seorang tokoh kafir yang jahat dalam Eskatologi Islam, ia akan muncul menjelang Kiamat. Dajjal pembawa fitnah di akhir zaman, menurut Al-hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “&#8221;Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam a.s. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal&#8221;[1].</p>
<p>Etimologi<br />
Dajal adalah kata Arab yang lazim digunakan untuk istilah &#8220;nabi palsu&#8221;. Namun istilah Ad-Dajjal, merujuk pada sosok &#8220;Penyamar&#8221; atau &#8220;Pembohong&#8221; yang muncul menjelang kiamat. Istilahnya adalah Al-Masih Ad-Dajjal (Bahasa Arab untuk &#8220;Al Masih Palsu&#8221;) adalah terjemahan dari istilah Syria Meshiha Deghala yang telah menjadi kosa kata umum dari Timur Tengah selama lebih dari 400 tahun sebelum Al-Quran diturunkan.<br />
Biografi<br />
Dajal tidak disebut dalam Al Quran, tetapi terdapat dalam hadis dan Sunah yang menguraikan sifat-sifat Dajal. Berdasarkan kepercayaan yang telah umum dalam kalangan muslim, karakteristik ad-Dajjal adalah sebagai berikut:<br />
•	Dajal memiliki cacat fisik berupa mata kiri yang buta, dan mata kanan yang dapat melihat tetapi berwarna gelap (hitam). Dalam beberapa hadis menjelaskan ia hanya memiliki sebuah mata. Ia akan menunggangi keledai putih yang satu langkahnya sama dengan satu mil jaraknya. Keledai tersebut memakan api dan menghembus asap, dapat terbang di atas daratan dan menyeberangi lautan.<br />
•	Dajal seorang pemuda posturnya gemuk, kulitnya kemerah-merahan, berambut keriting, matanya sebelah kanan buta, dan matanya itu seperti buah anggur yang masak’ (tak bersinar), serupa dengan Abdul Uzza bin Qathan (lelaki Quraisy dari Khuza’ah yang hidup di zaman Jahiliyah).[2]<br />
•	Dia akan menipu para umat muslim dengan mengajari mereka tentang surga, tapi ajaran tersebut adalah sebaliknya (Neraka).<br />
•	Huruf Arab Kaf Faa Raa (kafir, bermakna kufur) akan muncul pada dahinya dan akan mudah dilihat oleh orang muslim yang bisa membaca maupun yang buta huruf.<br />
•	Dia dapat melihat dan mendengar di banyak tempat pada waktu bersamaan.<br />
•	Dia mempunyai keahlian untuk menipu manusia.<br />
•	Dia akan coba meletakkan manusia pada tingkatan Tuhan.<br />
•	Dia akan menyatakan dirinya adalah Tuhan dan akan menipu manusia dalam berpikir. Ia mengatakan bahwa ia telah bangun dari kematian. Salah satu orang penting akan ia bunuh dan kemudian ia akan menghidupkannya. Sesudah itu Allah akan menghidupkan apa yang ia bunuh tersebut, setelah itu ia tidak memiliki kekuatan ini lagi. Berdasarkan sumber lain tentang akhirat yang ditulis Anwar al-Awlaki), seorang lelaki beriman akan datang dari Madinah terus ke Dajjal, berdiri pada atas Uhud, dan dengan beraninya mengatakan bahwa Dajjal adalah Dajjal. Kemudian ia akan bertanya, &#8220;Apakah kamu percaya bahwa aku adalah Tuhan jika aku membunuhmu dan kemudian menghidupkan kamu?&#8221; Lalu Dajjal membunuh lelaki beriman tersebut, setelah itu menghidupkannya kembali, namun lelaki itu akan berkata bahwa dia semakin tidak percaya bahwa Dajjal adalah Tuhan.<br />
•	Siapa saja yang menolak dan tidak percaya dengannya, mereka akan menderita kemarau dan kelaparan. Siapa saja yang menerimanya akan hidup dalam kehidupan senang.<br />
•	Sebagian besar ajaran Islam mempercayai bahwa ia muncul di Kota Isfahan<br />
•	Dia tidak bisa memasuki Makkah atau Madinah karena dijaga para malaikat.<br />
•	Imam Mahdi akan melawannya atas nama Islam.<br />
•	Dia akan dibunuh oleh Nabi Isa dekat pintu gerbang Lud yang merupakan wilayah Israel saat ini.<br />
Dajal membawa air dan api<br />
Bedasarkan sebuah hadis yang menceritakan tentang Dajal. Hadis tersebut menceritakan suatu hari pada musim kemarau, Dajal akan bertanya, &#8220;Apakah kamu menginginkan api atau air?&#8221; Jika menjawab air, itu bermakna api yang diberikannya, Jika jawabannya api, ia akan memberi air. Kamu akan diberikan air jika kamu mengakui Dajal adalah Tuhan dan bila kamu murtad dari agama Allah. Apabila kamu lebih memilih api tetapi tetap berada di jalan Allah, maka kamu akan dibunuhnya.<br />
Dajal membawa api dan air; Rasulullah Muhammad SAW. bersabda: &#8220;Sesungguhnya Dajjal itu akan keluar dengan membawa air dan api, maka apa yang dilihat manusia sebagai air, sebenarnya itu adalah api yang membakar. Sedang apa yang dilihat oleh manusia sebagai api, maka itu sebenarnya adalah air yang dingin dan tawar. Maka barangsiapa yang menjumpainya, hendaklah menjatuhkan dirinya ke dalam apa yang dilihatnya sebagai api, kerana ia sesungguhnya adalah air tawar yang nyaman.&#8221; [3]<br />
Dajal membawa sesuatu yang menyerupai syurga dan neraka; Dari Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: &#8220;Sukakah aku ceritakan kepadamu tentang Dajjal, yang belum diberitakan oleh Nabi kepada kaumnya. Sungguh Dajjal itu buta mata sebelahnya dan ia akan datang membawa sesuatu yang menyerupai syurga dan neraka, adapun yang dikatakan syurga, maka itu adalah neraka. Dan aku memperingatkan kalian sebagaimana Nabi Nuh a.s memperingatkan kepada kaumnya.&#8221;<br />
Dajal membawa sungai air dan sungai api; Dari Abu Hudzaifah berkata bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya aku lebih tahu dari Dajjal itu sendiri tentang apa padanya. Dia mempunyai dua 2 sungai mengalir. Yang satu menurut pandangan mata adalah air yang putih bersih. Yang satu lagi menurut mata adalah api yang bergelojak. Sebab itu, kalau seorang mendapatinya hendaklah mendekati sungai yang kelihatan api. Hendaklah dipejamkan matanya, kemudian ditekurkan kepalanya, lalu diminumnya air sungai itu kerana itu adalah air sungai yang sejuk. Sesungguhnya Dajjal itu buta matanya sebelah ditutupi oleh daging yang tebal, tertulis antara dua 2 matanya (di keningnya) perkataan kafir yang dapat dibaca oleh setiap orang beriman pandai baca atau tidak.[4]<br />
Perlindungan dari Dajal<br />
Nabi Muhammad SAW mengingatkan para pengikutnya untuk membaca dan menghapal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal, dan kalau bisa berlindung di kota Madinah dan Mekkah, karena Dajjal tidak akan pernah bisa masuk kota tersebut yang dijaga oleh para malaikat. Rasulullah juga mengingatkan para pengikutnya untuk berdoa, &#8220;Ya Allah! Aku berlindung dengan-Mu dari bencana Dajjal.&#8221; Dia juga menyatakan tidak ada musibah yang lebih hebat daripada bencana yang ditimbulkan Dajjal sejak penciptaan Nabi Adam hingga Hari Kebangkitan.<br />
Iblis menurut pandangan Islam<br />
Asal Mula<br />
Sejak penciptaan manusia Adam, iblis diperintahkan Allah untuk bersujud kepadanya, namun iblis tidak mau sujud kepadanya. Oleh karena itu, Iblis di keluarkan oleh Tuhan dari Surga dan menjadi mahluk yang terkutuk.<br />
Ia meminta kepada Tuhan untuk menangguhkan kematiannya hingga hari kiamat. Iblis dendam kepada manusia, keturunan Adam karena lantaran kehadiran Adam, obsesinya jadi makhluk nomor satu jadi buyar. Iblis juga disebut Setan dan seluruh jin dan manusia yang menjadi pengikutnya juga disebut Setan.<br />
Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali disebutkan bahwa Iblis sebelum dilaknat oleh Allah, bernama asli Azazil dan sesungguhnya ia memiliki banyak nama/julukan, yaitu:<br />
•	Langit pertama al-Abid (ahli ibadah, selalu mengabdi luar biasa kepada Allah)<br />
•	Langit kedua ar-Raki (ahli ruku)<br />
•	Langit ketiga as-Saajid (ahli sujud)<br />
•	Langit keempat al-Khaasyi (selalu merendah dan takluk kepada Allah)<br />
•	Langit kelima al-Qaanit (selalu ta&#8217;at)<br />
•	Langit keenam al-Mujtahid (bersungguh-sungguh dalam beribadah)<br />
•	Langit ketujuh az-Zahid (sederhana dalam menggunakan sarana hidup)<br />
Tempat Tinggal Iblis<br />
Iblis dan anak cucunya tinggal di kamar mandi, WC, tempat yang bernajis dan kotor serta tempat maksiat. Berdasarkan Anas bin Malik r.a.,<br />
Iblis telah bertanya pada Allah, katanya : &#8220;Wahai Tuhanku! Engkau telah memberikan anak Adam tempat kediaman untuk mereka berteduh dan berzikir kepada-Mu, oleh itu tunjukkanlah padaku tempat kediaman untukku.&#8221;<br />
Firman Allah: &#8220;Tempat kediamanmu adalah di dalam tandas.&#8221;<br />
Iblis di Neraka<br />
Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa ketika para penghuni Neraka sudah sampai di neraka, di situ disediakan sebuah mimbar, pakaian, mahkota dan tali untuk mengikat Iblis, yang kesemuanya itu terbuat dari api.<br />
Kemudian ada suara yang memerintahkan Iblis untuk naik kemimbar: “Wahai Iblis, naiklah kamu ke atas mimbar dan berbicaralah kamu kepada penghuni neraka.”<br />
Maka dia pun naik ke mimbar dan berkata: “Wahai para penghuni neraka.”<br />
Semua orang yang berada dalam neraka mendengar ucapannya dan memandang ke arah pemimpin mereka itu.<br />
“Wahai orang-orang yang kafir dan orang-orang munafiq, sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan kepadamu dengan janji yang benar bahwa kamu semua mati lalu akan dihimpun dan dihisab menjadi dua kumpulan. Satu kumpulan ke Surga dan satu kumpulan ke Neraka Sa’ir.”<br />
Iblis berkata lagi: “Kalian semua menyangka bahwa kalian semua tidak akan meninggalkan dunia bahkan kamu semua menyangka akan tetap berada di dunia. Tidaklah ada bagiku kekuasaan di atasmu melainkan aku hanya mengganggu kalian semua.”<br />
“Akhirnya kalian semua mengikuti aku, maka dosa itu untuk kamu. Oleh itu janganlah kamu mengumpat aku, mencaci aku, sebaliknya umpatlah dari kamu sendiri, karena sesungguhnya kamu sendirilah yang lebih berhak mengumpat daripada aku yang mengumpat&#8230;”<br />
“Mengapakah kamu tidak mau menyembah Allah SWT? Sedangkan Dia yang menciptakan segala sesuatunya&#8230;”<br />
“Hari ini aku tidak dapat menyelamatkan kamu semua dari siksa Allah, dan kamu juga tidak akan dapat menyelamatkan aku. Sesungguhnya pada hari aku telah terlepas dari apa yang telah aku katakan kepada kamu, sesungguhnya aku diusir dan ditolak dari keharibaan Tuhan.”<br />
Setelah ahli neraka mendengar kata-kata Iblis itu, lalu mereka melaknati Iblis. Setelah itu Iblis dipukul oleh Malaikat Zabaniah dengan tombak yang terbuat dari api dan jatuhlah dia ke dasar Neraka yang paling bawah, dia kekal selama-lamanya bersama-sama dengan orang-orang yang menjadi pengikutnya.<br />
Malaikat Zabaniah lalu berkata kepada Iblis dan pengikutnya: “Tidak ada kematian bagi kamu semua dan tidak ada pula bagimu kesenangan, kamu kekal di Neraka untuk selama-lamanya.”<br />
Penyembahan berhala adalah istilah merendahkan untuk pemujaan berhala, benda fisik seperti gambar kultus, sebagai dewa,[1] atau praktik diyakini hampir pada ibadah, seperti memberikan kehormatan yang tidak semestinya dan memperhatikan bentuk membuat selain Tuhan.[2] Dalam agama Abrahamik semua penyembahan berhala adalah sangat dilarang, meskipun dilihat sebagai apa yang merupakan penyembahan berhala mungkin berbeda di dalam dan di antara mereka. Dalam agama-agama lain penggunaan gambar kultus diterima, meskipun istilah &#8220;penyembahan berhala&#8221; tidak mungkin digunakan dalam agama, yang pada dasarnya tidak setuju. Gambar, ide, dan objek merupakan penyembahan berhala seringkali menjadi masalah perdebatan yang cukup besar, dan di dalam semua agama Abrahamik istilah ini dapat digunakan dalam pengertian yang sangat luas, dengan tidak ada implikasi bahwa perilaku menentang untuk benar-benar merupakan dari penyembahan religius dari objek fisik.<br />
Setanisme, satanic, saetanism secara singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya sebagai tuhan. Selain menolak Allah, dan semua agama dan nilai keagamaan, gerakan jahat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Setanisme juga menerima setan, lambang kejahatan, sebagai pemimpin dan pembimbing.<br />
Sejarah Satanisme<br />
Kaum Setanis, yakni para pengikut ajaran setanisme, sudah ada dan melaksanakan kegiatan mereka di setiap tahap sejarah dan dalam setiap peradaban, dari Mesir kuno sampai Yunani kuno, serta sejak Abad Pertengahan sampai hari ini.<br />
Di antara abad ke-14 dan ke-16, para tukang sihir dan orang yang menolak agama sama-sama memuja setan. Setelah tahun 1880-an, di Prancis, Inggris, Jerman, dan sekaligus di berbagai negara lain di Eropa dan Amerika, Setanisme diatur dalam perkumpulan dan tersebar di kalangan orang yang mencari keyakinan dan agama lain.<br />
Penyembahan setan terus berlanjut sejak abad ke-19, mula-mula sebagai Setanisme tradisional, lalu dalam aliran sesat yang lebih kecil yang merupakan pecahannya. Upacara kejam yang dilakukan oleh tukang sihir dan orang-orang tak bertuhan, pengorbanan anak dan orang dewasa kepada setan, perayaan Misa Hitam dan upacara Setanisme tradisional lainnya telah diwariskan diam-diam secara turun temurun.<br />
Lambang Setanisme tradisional yang terpenting adalah dewa Romawi kuno Baphomet. Pada waktu itu, Baphomet menjadi lambang bagi orang yang memuja setan. Para ahli sejarah yang menelusuri asal-usul sosok berkepala kambing ini telah menemukan beberapa petunjuk penting tentang kegiatan Setanis.<br />
Lambang Setanis terpenting kedua adalah pentagram, yaitu bintang bersegi lima di dalam lingkaran. Yang menarik, ada dua perkumpulan rahasia lainnya di samping para Setanis yang menggunakan Baphomet dan pentagram sebagai lambang. Yang pertama adalah perkumpulan Kesatria Biara Yerusalem (Knight Templars), yaitu perkumpulan yang dituduh oleh Gereja Katolik sebagai penyembah setan, dan dibubarkan pada tahun 1311. Perkumpulan lainnya adalah perkumpulan Mason yang telah bertahun-tahun lamanya menimbulkan rasa penasaran karena kerahasiaan dan upacaranya yang aneh.<br />
Banyak ahli sejarah, yang telah menyelidiki masalah itu, percaya bahwa terdapat hubungan antara Kesatria Biara Yerusalem dengan perkumpulan Mason. Menurut mereka, kedua kelompok itu saling melanjutkan satu sama lain. Sesudah Kesatria Biara Yerusalem dilarang oleh Gereja, perkumpulan itu melanjutkan keberadaannya secara rahasia dan akhirnya berubah menjadi paham Mason. Yang pasti tentang Freemasonry adalah, perkumpulan ini bersifat amat rahasia, punya susunan organisasi, dengan anggota di seluruh pelosok dunia.<br />
Uraian yang diberikan para ahli seperti Leo Taxil, yang pernah menjadi seorang Mason, namun telah keluar dari perkumpulan itu, mengatakan bahwa para Mason amat menghormati Baphomet dan melangsungkan upacara yang menyerupai tata-cara penyembahan setan. Kenyataan lain yang menimbulkan kecurigaan adalah bahwa banyak pengikut Setanisme yang kemudian menjadi anggota organisasi Masonis atau Free Mason.<br />
Kini, para setanis telah meninggalkan upacara dan markasnya yang rahasia itu, untuk keluar ke jalan-jalan. Para Setanis dengan giat menyebarkan ajarannya di setiap negara. Baik melalui buku-buku, terbitan berkala, dan Internet sebagai usaha untuk mereka merekrut anggota baru.<br />
Tak peduli di negara mana pun mereka berada, para Setanis menampilkan citra yang sama. Cara berpakaian berwarna hitam, asesoris, tata cara penyembahan, kesamaan surat yang mereka tinggalkan sebelum melakukan bunuh diri dan ciri lainnya menunjukkan bahwa Setanisme bukanlah gerakan biasa yang isinya penganggur, melainkan sebuah organisasi yang sengaja bersandar pada landasan pemikiran.<br />
Ideologi Setanisme<br />
Setan adalah sebutan, bagi makhluk-makhluk yang berusaha merusak kehidupan manusia. Setan bisa dalam bentuk jin dan manusia. Mereka bekerja siang dan malam tanpa kenal lelah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, agar umat manusia menjadi pengikutnya, sehingga menjadi teman mereka untuk hidup di neraka nanti, itulah inti tujuan sebenarnya.<br />
Pada dasarnya aliran Setanisme dibagi menjadi dua macam, yaitu Teistik dan Atheistik. Aliran teistik atau biasa disebut juga Setanisme Tradisional,adalah suatu bentuk kepercayaan yang menganggap bahwa Setan sebagai dewa, sedangkan aliran Atheistik (Ateis) adalah suatu aliran kepercayaan yang tidak mengakui adanya Tuhan ataupun Dewa untuk disembah. Bahkan kaum setanisme tidak percaya adaya setan sebagai makhluk yang nyata. Meskipun disebut sebagai penyembah setan, tapi mereka tidak mengakui adanya setan. Bagi kaum setanis, setan hanyalah lambang yang menyatakan permusuhan terhadap agama dan prinsip kekerasan hati mereka.<br />
Salah satu Aliran Setanisme Atheistik yang terkenal adalah Gereja Setan (the Church of Satan) yang didirikan oleh Anton Szandor LaVey (Anton LaVey),karena namanya aliran ini disebut dengan aliran LaVeyan.<br />
Namun ciri utama dari para pengikut setanisme adalah, mereka Ateis (tidak mengakui adanya Tuhan), sekaligus materialis (hanya mengakui keberadaan benda belaka), mereka mengingkari adanya Tuhan dan semua makhluk ghaib.<br />
Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengantar Setan” yang diterbitkan gereja setan, para setanis sebenarnya adalah ateis.<br />
Setanisme adalah agama yang tidak mengenal tuhan, mirip ajaran budha. Tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat tindakan mereka sendiri. Kaum setanisme tidak percaya adanya Allah, malaikat, surga, atau neraka, iblis, setan, ruh jahat, ruh baik, peri atau makhluk ghaib lainnya. Setanisme bersifat ateis dan Otodeis : “Kami menyembah diri kami sendiri. &#8230;Setanisme adalah materialis &#8230; setanisme adalah lawan agama”. (Vexen Crabtree “A Description of Satanism”)<br />
Jadi pada intinya, ini adalah pemikiran dan keyakinan dari filsafat kebendaan. Dalam buku Satanism : The Feared Religion (agama yang ditakuti), yang diterbitkan oleh gereja setan, pengertian setan bagi para penganut setanisme adalah “Setan adalah lambang manusia yang hidup seperti dituntun keangkuhan dan sifat jasmaniyahnya”. (peter H Gilmore, Satanism : The Feared Religion, marrimac book, 1992)<br />
Adapun ungkapan sifat jasmaniah manusia sebenarnya menggabarkan inti setanisme. Para setanis percaya bahwa pada dasarnya manusia dalah binatang liar. Perinsip keyakinan ini amat ditekankan pada berbagai naskah setanis. Misal gereja setan sering menggunakan istilah “hewan jasmaniah” untuk menggambarkan manusia.<br />
Sudut pandang ini terletak pada dasar kecenderungan periliaku ganas setanisme. Contohnya, para setanis menganggap serangan, pertumpahan darah, pemerkosaan adalah benar. Karena bagi mereka inilah perilaku alamiah binatang liar.<br />
Bagi para setanis, seorang manusia adalah binatang buas yang hidup menurut nafsunya. Yang merupakan hal yang harus dia lakukan.<br />
Dokumen yang berjudul “A Description of setanism”(Sebuah gambaran tentang setanisme), terbitan gereja setan, berkata tentang hal ini : “Semua manusia dan binatang berasal dari sumber yang sama dalam ilmu biologi murni. Setanisme adalah keyakinan bahwa manusia tidak lebih dari binatang tingkat yang lebih tinggi : kita tidak punya tempat khusus dalam penciptaan, selain telah beruntung karena telah berevolusi dan bertahan.” (Vexen Crabtree “A Description of Satanism)<br />
Menurut Roald E Kristiansen yang menulis tesisnya tentang setanisme, menyatakan bahwa “Setanisme dapat dianggap sebagai sebuah agama Darwinistis sosial yang berupaya membela hak-hak golongan terkuat untuk menguasai yang lemah, karena itulah cara manusia untuk maju sebagai sejenis makhluk biologis, sehingga tetap memelihara perannya sebagai ujung tombak evolusi sosial dan alami” (Roald E Kristiansen, A study of Satanism on the internet in the 1990’s)<br />
Pelopor Satanisme Modern<br />
Aleister Crowley, adalah pelopor satanisme modern, yang memiliki julukan “The Beast”. Aleister lahir di Worwickshire. Semenjak kecil dia meninggalkan sekolah danmenjadi anggota “Secret Order of The Golden Dawn”.<br />
Crowley telah mulai mencoba untuk menghubungi setan semenjak tahun 1898, saat ia menjadi anggota Order of the golden dawn. Kemudia pada tahun 1900, Crowley bergaul dengan masyarakat elit Inggris, sambil menyebarkan pengetahuannya tentang pemujaan setan, kepada para pemimpin politik Mason, Bangsawan dan Keluarga kerajaan.<br />
Crowley adalah Okultis sejati, yang tidak memiliki pekerjaan lain. Ia sangat tertarik pada ideologi setanisme dan Free Masonry. Dalam bukunya yang berjudul “Pengakuan”, ia mengaku menjadi anggota freemason di Loji Anglo Saxon, di Paris. Dia juga menambahkan tentang bagaimana dia menjadi master di Loji tertua itu, dan paling dihormati di London.<br />
Loji Studholme (1591), yang dikabarkan Tony Blair (mantan perdana mentri Inggris) juga sebagai salah satu anggotanya saat ini. Crowley bersama dengan Albert Pike, memiliki gairah yang besar terhadap Idelogi setansime. Dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Sihir”, Crowley menulis : “Sang Iblis adalah ular ini, Setan, dia hidup da dicintai, dia adalah cahaya dan gambaran zodiaknya adalah Capricornus, kambing melompat, kepala kambing”.<br />
Setelah mengalami konflik dengan ketua The Golden Dawn, dia keluar dan mulai melakukan perjalanan keliling dunia bersama istrinya Rose. Hingga ia tiba di Mesir, Kairo pada tahun 1904. Mereka sering melakukan ritual bersama, bahkan sampai ke Piramida. Pada suatu saat ketika Rose dalam kondis kesurupan, dia menyampaikan pesan kepada Crowley :<br />
&#8220;“dia menunggu mu ..”&#8221; &#8220;“dia .. dewa perang .. anak osiris .. Horus !! ..”&#8221;<br />
Pada masa itu, sebelum isu tentag alien (makhluk luar angkasa) dan UFO, serta mengenai bentuk dan rupa alien, Crowley telah menggambar sketsa makhluk yang telah menghubunginya. Namanya “Lam” utusan Horus.<br />
Dimana Lam memberi instruksi kepada Crowley untuk duduk di hadapan meja selama tiga hari berturut-turut. Ketika crowley melakukannya, tubuhnya diambil alih dan tangannya mulai menulis secara otomatis, pesan-pesan dari setan. Kemudian tulisan tersebut menjadi sebuah buku yang berjudul “The Book Of The Law” (Buku Hukum) tahun 1904. &#8220;“era baru horus akan segera dimulai, tapi sebelumnya bumi harus bermandikan darah” “biarkan pelayanku hanya sedikit dan tersembunyi, mereka akan berkuasa atas orang banyak dan yang terlihan” (Lam, utusan horus). Buku ini meletakan undang-undang tingkah laku yang sederhana, yaitu : “Lakukan apa kehendak mu” akan menjadi keseluruhan hukum. “Cinta adalah hukum.. Cinta dengan kehendak..” tidak ada hukum yang melebihi “Lakukan apa kehendak mu !”. “Satan, Cry aloud!, Thou exalted most high!, oh my father satan! The eye!” “Setan menangis keras ! .. engkau mulia! .. yang paling tinggi .. oh ayahku setan !, mata satu !”&#8221; (Alesiter Crowley : Magnum Opus – buku 4).<br />
Di dalam agama Thelema yang diajarkan Crowley, dia menyembah dewa bernama “heru-ra-ha“ yang berarti “Horus di Horizon”. Kemudian Crowley mendirikan Loji heru-ra-ha atau dikenal juga sebagai O.T.O &#8211; Ordo Templi Orientis.<br />
O.T.O adalah perkumpulan pemuja setan hard core. Crowley melengkapinya dengan ritual inisiasinya dalam perayaan 33 degree Scottish Rite Freemasonry. Pada tahun 1912, crowley menjadi pemimpin O.T.O Inggris, yang merupakan keturunan langsung Iluminati Bavaria yang asli.<br />
Bahkan crowley mengklaim, bahwa pembentukan O.T.O adalah untuk membangun kembali free masonry, kepada akar iluminati Jerman-nya. Crowley benar-benar menginginkan untuk bergabung dengan Iblis. Pengetahuan yang menyesatkan itu, secara langsung diberikan oleh setan kepada crowley, yang kemudian dilanjutkan dan disebarkan oleh para pengikutnya, untuk menyesatkan umat manusia. Seperti yang telah di uraikan diatas, bahwasannya ajaran crowley adalah “Lakukan apa kehendak mu !!”. Ideologi ini adalah, agar setan bisa merusak tatanan aturan agama, sehingga manusia benar-benar sesat tanpa aturan. Adapun tujuan nya adalah, untuk menguasai manusia dan menjadi pemimpin yang menyesatkan manusia.<br />
Crowley mengajarkan, bahwa seseorang bisa menjadi jenius dalam musik, bila mereka mau memperaktekan dan mempropagandakan ajaran setanisme. Banyak pemusik dan bintang Rock menjadi terkenal, setelah memperaktekan ajaran setanisme aleister crowley.<br />
Salah satunya adalah Ozzy Osbourne, ia menyebarkan ajaran crowley (setanisme) melalui lagu dan musik kepada kaum muda. Bahkan Osbourne membuat sebuah lagu yang berjudul “Mr.Crowley”, karena ia benar-benar mengaguminya. Pada bab selanjutnya, Insyaallah akan dibahas mengenai sepak terjang mereka di dunia industri musik.<br />
Adapun rencana besar yang lain, sebagai bagian rencana setan untuk menyesatkan manusia melalui crowley adalah membawa revolusi obat bius, membukakan pintu untuk masyarakat untuk menggiringnya pada roh jahat.<br />
Dalam “Buku Hukum”, roh setan yang terhubung melalui aleister crowley, terus menggemakan rayuan satanis dari taman Eden, selama bertahun-tahun. Dia menyatakan “aku adalah ular yang memberikan pengetahuan, kesenangan dan keagungan yang mulia, yang mengendalikan hati manusia dengan kemabukan. Untuk menyembah ku.. minumlah anggur dan obat-obat bius aneh, sesuatu seperti heroin dan alkohol mungkin dan harus digunakan untuk tujuan penyembahan, yaitu masuk ke dalam perjamuan suci bersama “ular” yang memberikan pengetahuan, kesenangan dan keagungan yang mulia. ” Robert anton wilson yang memainkan peraan penting dalam revolusi kebudayaan di tahun 60-an, mengatakan dalam bukunya “Seks &amp; Drugs”, menyatakan bahwa : “Crowley memainkan peranan yang enentukan dalam mengembangkan filosofi ataupun mistik, pada revolusi obat bius”.<br />
Musik dan Film Satanisme.<br />
Satanisme muncul dalam banyak hal salah satunya adalah film dan musik. Banyak film yang menceritakan dengan terbuka idiom satanisme serta kisah kuasa gelap (dark forces). Film populer seperti : Friday The 13th, The Crow, Devils Advocate, Interview With The Vampire, bahkan serial The X-Files mengandung alur cerita dimana setan, satanisme atau black magic menjadi bagian penting dari film. Konon tahun 1968, Anton Szandor La Vey pernah menjadi penasehat teknis sekaligus pemeran film Rosemarys Baby, film Omen 1976 disebut telah memopulerkan satanisme.<br />
Dalam musik ada banyak sekali contoh musik yang berisi satanisme, contoh :<br />
•	Lagu dari Ozzy Osbourne &#8220;Anggur baik tapi Wiski lebih cepat, bunuh dirilah satu-satunya jalan keluar&#8221;<br />
•	Lagu dari David Bowie (majalah Rolling Stone) mengatakan Rock akan selalu menjadi musik setan<br />
•	Lagu dari Stairway to Heaven jika di putar terbalik akan memunculkan syair pemujaan setan.<br />
•	Lagu dari Metallica dalam The Prince melantunkan Bida.dari dari bawah, Aku ingin menjual jiwaku. Setan ambil jiwaku.<br />
•	Pink Floyd menulis lagu Lucifer Sam dengan lirik : Lucifer Sam selalu duduk di sisimu..selalu dekat denganmu.<br />
•	Thn 1992, Red Hot Chilli Peppers saat penerimaan anugreah MTV Awards berucap. Pertama-tama kami ingin berterima kasih pada Setan.<br />
•	Marilyin Manson, salah satu umat GS pada majalah Spin edisi Agustus 1996. Saya berharap dikenang sebagai sosok yang mengakhiri sejarah Kekristenan, Manson tak ragu merobek Injil dan meneriakkan penghinaan terhadap Yesus Kristus.<br />
Di Indonesia : &#8211; Group Black Metal(4 tahunlalu) Sebelum naik panggung, mereka menyembelih marmut hidup dan meminum darahnya, kadang mereka membawa salib terbalik ke atas panggung.<br />
Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Setan dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Setan sebelum ia diusir dari surga.<br />
Dalam bahasa Latin, kata &#8220;Lucifer&#8221; yang berarti &#8220;Pembawa Cahaya&#8221; (dari lux, lucis, &#8220;cahaya&#8221;, dan &#8220;ferre&#8221;, &#8220;membawa&#8221;), adalah sebuah nama untuk &#8220;Bintang Fajar&#8221; (planet Venus ketika muncul pada dini hari). Versi Vulgata Alkitab dalam bahasa Lain menggunakan kata ini dua kali untuk merujuk kepada Bintang Fajar: sekali dalam 2 Petrus 1:19 untuk menerjemahkan kata bahasa Yunani &#8220;Φωσφόρος&#8221; (Fosforos), yang mempunyai arti harafiah yang persis sama dengan &#8220;Pembawa Cahaya&#8221; yang dimiliki &#8220;Lucifer&#8221; dalam bahasa Lain; dan sekali dalam Yesaya 14:12 untuk menerjemahkan &#8220;הילל&#8221; (Hêlēl), yang juga berarti &#8220;Bintang Fajar&#8221;. Dalam ayat yang belakangan nama &#8220;Bintang Fajar&#8221; diberikan kepada raja Babilonia yang tirani, yang dikatakan oleh nabi akan jatuh. Ayat ini belakangan diberikan kepada raja iblis, dan dengan demikian nama &#8220;Lucifer&#8221; kemudian digunakan untuk Setan, dan dipopulerkan dalam karya-karya seperti &#8220;Inferno&#8221; oleh Dante dan Paradise Lost oleh Milton, tetapi bagi para pengguna bahasa Inggris, pengaruhnya yang terbesar disebabkan karena nama ini digunakan dalam Alkitab Versi Raja James, sementara versi-versi bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya dengan &#8220;Bintang Fajar&#8221; atau &#8220;Bintang Siang&#8221;.<br />
Sebuah nas serupa dalam Kitab Yehezkiel 28:11-19 mengenai raja Tirus juga diberikan kepada Setan, sehingga menambahkan gambaran lain kepada gambaran Setan dan kejatuhannya yang tradisional.<br />
Materialisme<br />
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.<br />
Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti: roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.<br />
Definisi Materialisme<br />
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Materi dapat dipahami sebagai bahan; benda; segala sesuatu yang tampak. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta,uang,dsb).<br />
Tokoh-tokoh dan Karya-karya Materialisme</p>
<p>Ludwig Feuerbach:Filsuf dari Jerman yang Mendukung Materialisme<br />
Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah Epikuros. Ia merupakan salah satu filsuf terkemuka pada masa filsafat kuno. Selain Epikuros, filsuf lain yang juga turut mengembangakan aliran filsafat ini adalah Demokritos dan Lucretius Carus. Pendapat mereka tentang materialisme, dapat kita samakan dengan materialisme yang berkembang di Prancis pada masa pencerahan. Dua karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal mewakili paham ini adalah L&#8217;homme machine (manusia mesin) dan L&#8217;homme plante (manusia tumbuhan).<br />
Dalam waktu yang sama, di tempat lain muncul seorang Baron von Holbach yang mengemukakan suatu materialisme ateisme. Materialisme ateisme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang tidak mengakui adanya Tuhan secara mutlak. Jiwa sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak. Pada Abad 19, muncul filsuf-filsuf materialisme asal Jerman seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan Haeckel. Merekalah yang kemudian meneruskan keberadaan materialisme.<br />
Ciri-ciri paham materialisme<br />
Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:<br />
•	Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi (ma’dah).<br />
•	Tidak meyakini adanya alam ghaib.<br />
•	Menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.<br />
•	Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.<br />
•	Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.<br />
•	adalah sebuah paham garis pemikiran, dimana manusia sebagai nara sumber dan juga sebagai resolusi dari tindakan yang sudah ada dengan jalan dialetis.<br />
Kritik terhadap Materialisme<br />
Salah satu kritik terhadap paham materialisme dikemukakan oleh aliran filsafat eksistensialisme. Materialisme mengajarkan bahwa manusia pada akhirnya adalah thing, benda, sama seperti benda-benda lainnya. Bukan berarti bahwa manusia sama dengan pohon, kerbau, atau meja, sebab manusia dipandang lebih unggul. Akan tetapi, secara mendasar manusia dipandang hanya sebagai materi, yakni hasil dari proses-proses unsur kimia. Filsafat eksistensialisme memberikan kritik terhadap pandangan seperti ini. Cara pandang paham materialisme seperti ini mereduksi totalitas manusia. Manusia dilihat hanya menurut hukum-hukum alam, kimia, dan biologi, sehingga seolah sama seperti hewan, tumbuhan, dan benda lain. Padahal manusia memiliki kompleksitas dirinya yang tak dapat diukur, misalnya saja ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial seperti pengambilan keputusan, kecemasan, takut, dan sebagainya.</p>
<p>PLURALISME<br />
Etimologi<br />
plural + -ism<br />
Secara bahasa Pluralisme (pluralism.ing) diserap dari bahasa inggris, terdiri dari dua kata plural (beragam,id) dan isme(faham, id, yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam faham, Untuk itu kata ini termasuk kata yang ambigu. Berdasarkan Webster&#8217;s Revised Unabridged Dictionary (1913 + 1828) arti pluralism adalah:<br />
•	hasil atau keadaan menjadi plural.<br />
•	keadaan seorang pluralis; memiliki lebih dari satu tentang keyakinan gerejawi.<br />
Pluralisme Sosial<br />
Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi.<br />
Pluralisme dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.<br />
Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan politik dan keputusan dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam masyarakat pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan kekuasaan) lebih tersebar.<br />
Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas dan menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat, dan oleh karena itu hasil yang lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-situasi di mana pluralisme adalah penting ialah: perusahaan, badan-badan politik dan ekonomi, perhimpunan ilmiah.<br />
Pluralisme Ilmu Pengetahuan<br />
Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme proses ilmiah adalah faktor utama dalam pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, pertumbuhan pengetahuan dapat dikatakan menyebabkan kesejahteraan manusiawi bertambah, karena, misalnya, lebih besar kinerja dan pertumbuhan ekonomi dan lebih baiklah teknologi kedokteran.<br />
Pluralisme juga menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran universalnya masing-masing.<br />
Pluralisme Agama<br />
Pluralisme  Agama  (Religious  Pluralism)  adalah  istilah  khusus  dalam  kajian agama¬ agama. Sebagai  ‘terminologi  khusus’,  istilah  ini  tidak  dapat  dimaknai sembarangan,  misalnya  disamakan  dengan  makna  istilah  ‘toleransi’,  ‘saling menghormati’  (mutual  respect),  dan  sebagainya.  Sebagai  satu  paham  (isme),  yang membahas  cara  pandang  terhadap  agama-agama  yang  ada,  istilah  ‘Pluralisme  Agama’ telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama¬ agama (religious studies)</p>
<p>Pandangan Kristen<br />
Paus  Yohannes  Paulus  II,  tahun  2000,  mengeluarkan  Dekrit Dominus  Jesus[1]’ Penjelasan  ini, selain menolak paham Pluralisme Agama,juga menegaskan kembali  bahwa Yesus Kristus adalah satu¬-satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus.<br />
 *  Pluralisme adalah suatu tantangan sekaligus bahaya yang sangat serius bagi kekristenan. (Pdt. Dr. Stevri Lumintang).<br />
 *  Pluralisme Agama hanya di permukaan saja kelihatan lebih rendah hati dan toleran dariupada sikap inklusif yang tetap meyakini imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima dituntut agar masing¬-masing melepaskan apa yang mereka yakini. (Franz Magnis Suseno).<br />
Pluralisme Agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen¬-Barat disebabkan setidaknya oleh tiga hal: yaitu<br />
1.	 Trauma sejarah kekuasaan Gereja di Zaman Pertengahan dan konflik Katolik¬-Protestan,<br />
2.	Problema teologis Kristen dan<br />
3.	 Problema Teks Bibel.<br />
Ketika Gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap klaim kebenaran satu agama tertentu.<br />
Dalam  tradisi  Kristen,  dikenal  ada  tiga  cara  pendekatan  atau  cara  pandang teologis  terhadap  agama  lain.<br />
•	eksklusivisme,  yang  memandang  hanya  orang- orang yang mendengar dan menerima Bibel Kristen yang akan diselamatkan. Di luar itu<br />
tidak  selamat.<br />
•	inklusivisme,  yang  berpandangan,  meskipun  Kristen  merupakan agama  yang  benar,  tetapi  keselamatan  juga  mungkin  terdapat  pada  agama  lain.<br />
•	pluralisme, yang memandang semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju inti<br />
dari  realitas  agama.  Dalam  pandangan  Pluralisme  Agama,  tidak  ada  agama  yang dipandang  lebih  superior  dari  agama  lainnya.  Semuanya  dianggap  sebagai  jalan  yang sama¬-sama sah menuju Tuhan [2]<br />
Pandangan Islam<br />
Paham Sekularisme, Pluralisme (Agama) dan Liberalisme bertentangan dengan Islam  dan haram bagi umat Islam untuk memeluknya. (Fatwa MUI, 2005). [3]<br />
Ummat Islam di Indonesia sepakat dengan memberi fatwa faham Pluralisme agama adalah haram<br />
Pandangan Hindu<br />
Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa “semua agama adalah sama”, dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai. (Dr. Frank Gaetano Morales, cendekiawan Hindu).<br />
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.<br />
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.<br />
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya &#8220;human is condemned to be free&#8221;, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau &#8220;dalam istilah orde baru&#8221;, apakah eksistensialisme mengenal &#8220;kebebasan yang bertanggung jawab&#8221;? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.<br />
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.<br />
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji. Baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.<br />
Søren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813-11 November 1855) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektik Hegel.<br />
Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard &#8220;sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19&#8243;<br />
Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme.Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L&#8217;existence précède l&#8217;essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L&#8217;homme est condamné à être libre).<br />
Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel Sastra, namun Jean-Paul Sartre menolak. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang.<br />
Pasangannya adalah seorang filsuf wanita bernama Simone de Beauvoir. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan.</p>
<p>ZIONISME<br />
Zionisme adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini semula ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di Afrika kemudian berubah di tanah Palestina yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khalifah Ustmaniah) Turki.<br />
Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya &#8220;Der Judenstaat&#8221; (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.<br />
Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975, yang menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi tersebut dicabut kembali.<br />
Negara Israel (bahasa Ibrani: מדינת ישראל, Medinat Yisrael) didirikan pada 14 Mei 1948 setelah hampir dua ribu tahun bangsa Yahudi berada dalam diaspora. 63 tahun sejak kemerdekaan Israel telah ditandai dengan konflik dengan negara-negara Arab dan Palestina. Berbagai negosiasi telah dilakukan, dan perdamaian telah terwujud dengan Mesir dan Yordania.<br />
Yahudiah (Yudaisme) adalah kepercayaan yang unik untuk orang/bangsa Yahudi (penduduk negara Israel maupun orang Israel yang bermukim di luar negeri). Inti kepercayaan penganut agama Yahudi adalah wujudnya Tuhan yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, menurunkan undang-undang Tuhan (Torah) kepada mereka dan memilih mereka sebagai cahaya kepada manusia sedunia.<br />
Kitab Suci agama Yahudi menuliskan Tuhan telah membuat perjanjian dengan Abraham bahwa beliau dan cucu-cicitnya akan diberi rahmat apabila mereka selalu beriman kepada Tuhan. Perjanjian ini kemudian diulangi oleh Ishak dan Yakub. Dan karena Ishak dan Yakub menurunkan bangsa Yahudi, maka mereka meyakini bahwa merekalah bangsa yang terpilih. Penganut Yahudi dipilih untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab khusus, seperti mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan beriman kepada Tuhan. Sebagai balasannya, mereka akan menerima cinta serta perlindungan Tuhan. Tuhan kemudian menganugerahkan mereka Sepuluh Perintah Allah melalui pemimpin mereka, Musa.<br />
Sinagoga merupakan pusat masyarakat serta keagamaan yang utama dalam agama Yahudi, dan Rabi adalah sebutan bagi mereka yang pakar dalam hal-hal keagamaan.<br />
Kata Yahudi diambil menurut salah satu marga dari dua belas leluhur Suku Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda. Pada akhirnya keseluruh bangsa Israel, tanpa memandang warga negara atau tanah airnya, disebut juga sebagai orang-orang Yahudi dan begitupula dengan keseluruh penganut ajarannya disebut dengan nama yang sama pula.<br />
 Keluarga merupakan hal yang utama dalam agama ini dan penganutnya yang setia akan bersembahyang setiap hari. Hari Sabtu merupakan hari utama yang biasa disebut hari Sabat. Antara Jumat sore sampai Sabtu sore mereka akan menyalakan lilin dan meminum anggur serta roti yang telah diberkati. Di samping Sabat, hari besar yang lain termasuk Rosh Hashanah (Tahun Baru) dan Yom Kippur (Hari Penerimaan Tobat).<br />
Kitab dan teks utama<br />
Kitab Ibrani disebut Tanakh dan terdiri dari 24 buku yang dihimpun dari 3 kumpulan:<br />
•	Torah atau Taurat (Pentateuch)<br />
•	Nevi’im (Para Nabi)<br />
•	Ketubim (Tulisan)<br />
Selain itu terdapat juga Talmud yang merupakan terjemahan serta komentar mengenai Torah dari para rabi dan cendekiawan undang-undang. Ini termasuk Mishnah dan Halakah (kode undang-undang masyarakat utama penganut agama Yahudi), Gemara, Midrash dan Aggadah (legenda dan kisah-kisah lama).<br />
Kabballah pula ialah teks lama yang berunsur mistik, dan menceritakan zat-zat Tuhan.<br />
Adat-adat dan undang-undang penganut Yahudi<br />
Kebanyakan penganut Yahudi mengikuti peraturan dalam memilih makanan yang tertulis di dalam Taurat yang melarang campuran susu dengan daging. Daging babi juga dilarang dalam agama Yahudi. Makanan yang disediakan harus menuruti undang-undang tersebut, dan daging harus disembelih oleh kaum Rabi, dinamakan kosyer.<br />
Anak laki-laki juga diharapkan untuk disunat (sewaktu masih bayi) seperti perjanjian nabi ibrahim dengan Tuhan. Apabila seorang anak laki-laki mencapai kematangan dia akan dirayakan karena menjadi anggota masyarakat Yahudi dalam upacara yang dinamakan Bar Mitzvah. Setelah kematian seseorang, orang-orang Yahudi akan mengadakan satu minggu berkabung di mana mereka membaca Kaddish. Agama dan kemasyarakatan saling berkaitan di dalam masyarakat Yahudi. Misalnya pengambilan riba/ bunga dianggap berdosa sesama kaum Yahudi, tetapi dibenarkan dengan mereka yang bukan Yahudi.<br />
Talmud (bahasa Ibrani: תלמוד) adalah catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud mempunyai dua komponen: Mishnah, yang merupakan kumpulan Hukum Lisan Yudaisme pertama yang ditulis; dan Gemara, diskusi mengenai Mishnah dan tulisan-tulisan yang terkait dengan Tannaim yang sering membahas topik-topik lain dan secara luas menguraikan Tanakh. Istilah Talmud dan Gemara seringkali digunakan bergantian. Gemara adalah dasar dari semua aturan dari hukum rabinik dan banyak dikutip dalam literatur rabinik yang lain. Keseluruhan Talmud biasanya juga dirujuk sebagai (singkatan bahasa Ibrani untuk shishah sedarim, atau &#8220;enam tatanan&#8221; Mishnah).<br />
Asal-usul<br />
Studi keyahudian pada mulanya tidak terulis (lisan). Para rabi menguraikan dan memperdebatkan hukum serta membahas Alkitab Ibrani tanpa bantuan karya-karya tertulis (selain dari kitab-kitab di dalam Kitab Suci sendiri.) Namun, situasi ini berubah secara drastis terutama sebagai akibat penghancuran komunitas Yahudi pada tahun 70 M, dan pergolakan norma-norma sosial dan hukum Yahudi yang ditimbulkannya. Karena para rabi dituntut menghadapi realitas yang baru—yang utamanya Yudaisme tanpa Bait Suci dan Yudea tanpa otonomi—membanjirlah wacana hukum dan sistem studi oral yang lama tidak dapat lagi dipertahankan. Pada masa inilah wacana rabinik mulai dicatat secara tertulis.<br />
Hukum lisan tertua yang dicatat kemungkinan dalam bentuk midrashi. Di sini diskusi halakhik disusun sebagai tafsiran eksegetis terhadap Pentateukh. Tetapi sebuah bentuk alternatifnya, yang disusun menurut topiknya dan bukan menurut ayat-ayat Alkitab, menjadi dominan pada sekitar tahun 200 M., ketika Rabi Judah haNasi meredaksi Mishnah (משנה).<br />
[sunting] Mishnah<br />
Mishnah (משנה) adalah kompilasi pandangan dan perdebatan hukum. Namanya sendiri berarti &#8220;redaksi&#8221;, dari kata kerja shanah שנה, yang berarti &#8220;mengulangi&#8221; atau &#8220;meninjau&#8221;. Nama ini mungkin merupakan petunjuk pada metode studi wacana rabinik dengan cara mengulang-ulang secara lisan.<br />
Pernyataan-pernyataan dalam Mishnah biasanya singkat dan padat, mencatat pandangan-pandangan singkat dari para rabi yang memperdebatkan sebuah topic, atau mencatat sebuah peraturan yang tidak disebutkan sumbernya, yang tampaknya mewakili sebuah pandangan consensus. Para rabi Mishnah dikenal sebagai Tannaim (tunggal: Tanna תנא).<br />
Berbeda dengan Midrash, Mishna hanyalah sebuah catatan dari kumpulan halakha (yang lainnya adalah Tosefta), namun demikian, penataannya menurut topic menjadi kerangka bagi Talmud secara keseluruhan.<br />
[sunting] Struktur dan isi<br />
Mishna terdiri atas enam tatanan (sedarim, tunggal: seder סדר). Masing-masing dari tatanannya mengandung antara 7 dan 12 traktat, yang disebut masechtot (tunggal: masechet מסכת; harafiah: &#8220;jaringan&#8221;). Masing-masing masechet dibagi menjadi bab-bab (peraqim) yang terdiri dari unit-unit yang lebih kecil yang disebut mishnayot (tunggal: mishnah). Tidak setiap traktat dalam Mishnah mempunyai padanan Gemaranya. Selain itu, tatanan traktat dalam Talmud berbeda dalam kasus-kasus tertentu dengan tatanan di dalam Mishnah; lih. diskusi pada masing-masing Seder.<br />
•	Tatanan Pertama: Zeraim (&#8220;Benih&#8221;). 11 traktat. MEmbahas doa dan berkat, tithes, dan hukum-hukum pertanian .<br />
•	Tatanan Kedua: Moed (&#8220;Hari-hari Raya&#8221;). 12 traktat. Berkaitan dengan hukum-hukum Sabat dan Hari-hari Raya.<br />
•	Tatanan Ketiga: Nashim (&#8220;Perempuan&#8221;). 7 traktat. Berkaitan dengan pernikahan dan perceraian, beberapa bentuk sumpah dan hukum-hukum tentang orang Nazir.<br />
•	Tatanan Keempat: Nezikin (&#8220;Ganti rugi&#8221;). 10 traktat. Berkaitan dengan hukum sipil dan kriminal, cara kerja pengadilan dan sumpah.<br />
•	Tatanan Kelima: Kodashim (&#8220;Hal-hal yang suci&#8221;). 11 traktat. Berkaitan dengan ritus-ritus korban, Bait Suci, dan hukum-hukum yang mengatur apa yang boleh dan tak boleh dimakan .<br />
•	Tatanan Keenam: Tohorot (&#8220;Kesucian&#8221;). 12 traktat. Berkaitan dengan hukum-hukum ritual kesucian.<br />
Beraita<br />
Selain Mishnah, karya-karya Tannaim lainnya dicatat pada kira-kira waktu yang bersamaan atau tak lama sesudah itu. Gemara seringkali merujuk kepada pernyataan-pernyataan Tannaim untuk membandingkannya dengan apa yang terdapat di dalam Mishna dan mendukung atau membantah proposisi-proposisi dari Amoraim. Semua sumber Tannaim non-Mishna disebut beraitot (harafiah: bahan-bahan luar, &#8220;Karya-karya di luar Mishna&#8221;; tunggal: beraita ברייתא).<br />
Beraita mencakup Tosefta, sebuah kumpulan Tannaim dari halakha yang sejajar dengan Mishna; dan Midrash Halakha, khususnya Mekhilta, Sifra dan Sifre.<br />
Gemara<br />
Lihat Gemara untuk diskusi lebih lanjut.<br />
Dalam tiga abad setelah peredaksian Mishna, para rabi di seluruh Palestina dan Babilonia menganalisis, memperdebatkan, dan mendiskusikan karya itu. Diskusi-diskusi ini membentuk Gemara (גמרא). Gemara terutama terpusat pada upaya menjelaskan dan menguraikan pandangan-pandangan dari Tannaim. Para rabi Gemara dikenal sebagai Amoraim (tunggal: Amora אמורא). Gemara berarti “kesempurnaan,” dari gamar גמר : bahasa Ibrani menyelesaikan, menyempurnakan; bahasa Aram mempelajari.<br />
Metodologi<br />
Banyak dari Gemara terdiri atas analisis hukum. Titik tolak untuk analisis ini biasanya adalah suatu pernyataan legal yang ditemukan di dalam sebuah Mishna. Pernyataan ini kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan lain dalam dialog dialektis di antara kedua pihak yang bertikai (yang seringkali anonim dan kadang-kadang metaforik), yang diistilahkan sebagai makshan (penanya) dan tartzan (penjawab).<br />
Tanya jawb ini membentuk &#8220;bangunan&#8221; gemara; nama dari sebuah paragraf gemara adalah sugya (סוגיא; jamak:: sugyot). Sugya biasanya terdiri atas sebuah uraian yang terinci dan didasarkan bukti tentang sebuah pernyataan mishnah.<br />
Dalam sebuah sugya tertentu, pernyataan-pernyataan Kitab Suci, Tannaim dan Amoraim diangkat untuk mendukung berbagai pandangan. Dengan demikian, gemara akan menghasilkan ketidaksepakatan semantik antara Tannaim dan Amoraim (yang seringkali menyebutkan bahwa suatu pandangan dikeluarkan oleh seseorang yang berwibawa dan tentang bagaimana ia mestinya akan menjawab suatu pertanyaan), dan membandingkan padnangan-pandangan Mishna dengan bagian-bagian dari beraita. Jarang sekali perdebatan-perdebatan itu ditutup dengan resmi. Dalam banyak kasus, kata yang terakhir menentukan hukum praktisnya, meskipun ada banyak pengecualian terhadap prinsip ini. Lihat Gemara untuk pembahasan lebih lanjut.<br />
Halakha dan Haggadah<br />
Talmud terdiri dari banyak sekali bahan dan menyinggung banyak sekali topik. secara tradisional pernyataan-pernyataan talmudik dapat digolongkan ke dalam dua kategori besar, pernyataan-pernyataan Halakha dan Hagaddah. Pernyataan-pernyataan Halakha adalah yang berkaitan langsung dengan soal-soal hukum dan praktik Yahudi (Halakha). Pernyataan-pernyataan Haggadah adalah yang tidak terkait secara legal, melainkan yang bersifat eksegetis, homiletis, etis, atau historis. Lihat Haggadah untuk pembahasan lebih lanjut.<br />
Talmud<br />
Proses &#8220;Gemara&#8221; berlangsung di dua pusat Studi Yahudi yang utama, Israel dan Babilonia. Sejalan dengan itu, dua kumpulan analisis berkembang, dan dua karya Talmud pun terbentuk. Kompilasi yang lebih tua disebut Talmud Palestina atau Talmud Yerushalmi. Talmud ini dikompilasi sekitar abad keempat di Palestina. Talmud Babilonia disusun sekitar tahun 500 M., meskipun ia terus disunting di kemudian hari. Kata &#8220;Talmud&#8221;, ketika digunakan tanpa keterangan, biasanya merujuk kepada Talmud Babilonia.<br />
Talmud Yerushalmi (Talmud Yerusalem)<br />
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Talmud Yerusalem<br />
Gemara di sini adalah sinopsis dari hampir 200 tahun analisis atas Mishna di Akademi-akademi di Israel (terutama Tiberias dan Kaisaria.) Karena lokasi Akademi-akademi ini, hukum-hukum agrikultur Tanah Israel dibahas secara sangat terinci. Menurut tradisi, Gemara diredaksi pada tahun 350M oleh Rav Muna dan Rav Yossi di Israel. Gemara dirujuk secara tradisional sebagai Talmud Yerushalmi (Talmud Yerusalem). Namun nama ini sebetulnya keliru, karena Gemara tidak ditulis di Yerusalem. Karena itu Gemara juga dikenal secara lebih akurat sebagai Talmud negeri Israel.<br />
Gemara ditulis dalam bahasa Ibrani dan dialek Aram barat yang berbeda dengan padanan Babilonianya.<br />
Talmud Bavli (Talmud Babilonia)<br />
Sebuah salinan lengkap Talmud Babilonia.<br />
Talmud Bavli (&#8220;Talmud Babilonia&#8221;) terdiri dari Mishnah dan Gemara Babilonia. Gemara ini adalah sinopsis dari analisis selama 300 tahun lebih atas Mishna di Akademi-akademi Babilonia. Menurut tradisi, Talmud ini diedit oleh dua orang bijak Babilonia, Rav Ashi dan Ravina.<br />
Pertanyaan tentang kapan Gemara akhirnya muncul dalam bentuknya yang sekarang belum terjawab oleh para ilmuwan modern. Sebagian dari teksnya baru mencapai bentuk finalnya setelah sekitar tahun 700. Menurut tradisi, para rabi yang menyunting talmud setelah akhir periode Amora disebut Saboraim atau Rabanan Saborai. Para sarjana modern juga menggunakan istilah Stammaim (bahasa Ibrani = sumber tertutup, kabur atau tidak disebutkan) untuk para pengarang pernyataan-pernyataan yang tidak disebutkan sumbernya dalam Gemara. (Lihat era dalam hukum Yahudi.)<br />
AHMADIYAH<br />
Ahmadiyyah (Urdu: احمدیہ Ahmadiyyah) atau sering pula ditulis Ahmadiyah, adalah sebuah gerakan keagamaan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) pada tahun 1889, di sebuah kota kecil yang bernama Qadian di negara bagian Punjab, India. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Mujaddid, al Masih dan al Mahdi.[1]<br />
Para pengikut Ahmadiyah, yang disebut sebagai Ahmadi atau Muslim Ahmadi, terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ialah &#8220;Ahmadiyya Muslim Jama&#8217;at&#8221; (atau Ahmadiyah Qadian). Pengikut kelompok ini di Indonesia membentuk organisasi bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang telah berbadan hukum sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953).[2] Kelompok kedua ialah &#8220;Ahmadiyya Anjuman Isha&#8217;at-e-Islam Lahore&#8221; (atau Ahmadiyah Lahore). Di Indonesia, pengikut kelompok ini membentuk organisasi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia, yang mendapat Badan Hukum Nomor I x tanggal 30 April 1930. Anggaran Dasar organisasi diumumkan Berita Negara tanggal 28 November 1986 Nomor 95 Lampiran Nomor 35.[3]<br />
Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung Indonesia pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam.[4]<br />
Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia[5]. Pergerakan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. [6] Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan al Quran ke dalam bahasa-bahasa besar di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan al Quran ke dalam 100 bahasa di dunia. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia telah menerjemahkan al Quran dalam bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa.<br />
Ahmadiyah Qadian dan Lahore<br />
Mirza Ghulam Ahmad, pendiri aliran Ahmadiyyah.<br />
Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:<br />
•	Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor[7]), yakni kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.<br />
Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah Qadian sebagai berikut:<br />
1.	Mengimani dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki kelahiran India yang mengaku menjadi nabi, adalah nabinya.<br />
2.	Mengimani dan meyakini bahwa &#8220;Tadzkirah&#8221; yang merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad adalah kitab sucinya. Mereka menganggap bahwa wahyu adalah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.<br />
3.	Mengimani dan meyakini bahwa kitab &#8220;Tadzkirah&#8221; derajatnya sama dengan Alquran.<br />
4.	Mengimani dan meyakini bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian terus berlanjut sampai hari kiamat.<br />
5.	Mengimani dan meyakini bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci sebagaimana Mekah dan Madinah.<br />
6.	Mengimani dan meyakini bahwa surga berada di Qadian dan Rabwah. Mereka menganggap bahwa keduanya sebagai tempat turunnya wahyu.<br />
7.	Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki di luar Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.<br />
8.	Haram hukumnya salat bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah.<br />
•	Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam [8].<br />
Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:<br />
1.	Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama&#8217;ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.<br />
2.	Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.<br />
3.	Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.<br />
4.	Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.<br />
5.	Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.<br />
6.	Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.<br />
7.	Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.<br />
8.	Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.<br />
9.	Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.<br />
10.	Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.[9]<br />
Kontroversi ajaran Ahmadiyah<br />
Menurut sudut pandang umum umat Islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian) dianggap melenceng dari ajaran Islam sebenarnya karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi yaitu Isa al Masih dan Imam Mahdi, hal yang bertentangan dengan pandangan umumnya kaum muslim yang mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir walaupun juga mempercayai kedatangan Isa al Masih dan Imam Mahdi setelah Beliau saw(Isa al Masih dan Imam Mahdi akan menjadi umat Nabi Muhammad SAW) [20].<br />
Perbedaan Ahmadiyah dengan kaum Muslim pada umumnya adalah karena Ahmadiyah menganggap bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi telah datang ke dunia ini seperti yang telah dinubuwwatkan Nabi Muhammad SAW. Namun umat Islam pada umumnya mempercayai bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi belum turun ke dunia. Sedangkan permasalahan-permasalahan selain itu adalah perbedaan penafsiran ayat-ayat al Quran saja.[rujukan?]<br />
Ahmadiyah sering dikait-kaitkan dengan adanya kitab Tazkirah. Sebenarnya kitab tersebut bukanlah satu kitab suci bagi warga Ahmadiyah, namun hanya merupakan satu buku yang berisi kumpulan pengalaman ruhani pendiri Jemaat Ahmadiyah, layaknya diary. Tidak semua anggota Ahmadiyah memilikinya, karena yang digunakan sebagai pegangan dan pedoman hidup adalah Al Quran-ul-Karim saja. [21]<br />
Ada pula yang menyebutkan bahwa Kota suci Jemaat Ahmadiyah adalah Qadian dan Rabwah. Namun tidak demikian adanya, kota suci Jemaat Ahmadiyah adalah sama dengan kota suci umat Islam lainnya, yakni Mekkah dan Madinah.[22]<br />
Sedangkan Ahmadiyah Lahore mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah mujaddid dan tidak disetarakan dengan posisi nabi, sesuai keterangan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) untuk Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.<br />
Kendatipun demikian, masih banyak kontroversi dan hitam putih persepsi yang tidak bisa disamakan antara Jemaat Ahmadiyah dan umat muslim.<br />
ZOROASTER<br />
Zoroastrianisme adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang berasal dari daerah Persia Kuno atau kini dikenal dengan Iran. Di Iran, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Mazdayasna yaitu kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau &#8220;Tuhan yang bijaksana&#8221;.<br />
Latar Belakang Munculnya Zoroastrianisme<br />
Zarathustra atau Zoroaster adalah pelopor berdirinya Zoroastrianisme di Iran (Persia). Ia hidup sekitar abad ke-6 SM. Zarathustra berasal dari keturunan suku Media. Ia adalah seorang imam yang dididik dalam tradisi Indo-Iran. Sebelumnya, agama yang ada di Iran (Persia) bersumber pada macam-macam ajaran seperti politeisme, paganisme, dan animisme. Zarathustra yang merasa tidak puas dengan ajaran-ajaran yang berkembang di Iran pada waktu itu berusaha membawa pembaruan. Oleh sebab itu, oleh para ahli ia kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh pembaru agama tradisional. Zarathustra dikenal sebagai nabi yang mempunyai karunia untuk menyembuhkan dan sanggup melakukan berbagai mujizat. Selama bertahun-tahun ia berusaha menemukan penyingkapan-penyingkapan dari kebenaran spiritual.<br />
Zarathustra ingin memperbaiki sistem kepercayaan dan cara penyembahan kepada dewa-dewa yang berkembang di Persia saat itu. Pada usia tiga puluh tahun, Zarathustra menerima sebuah penglihatan. Menurut legenda, ia melihat cahaya besar yang kemudian membawanya masuk dalam hadirat Ahura Mazda. Sejak perjumpaannya dengan Ahura Mazda, Zarathustra menjadi semakin giat menyebarkan ajaran bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Ahura Mazda. Ajarannya yang sangat berbeda dengan kepercayaan yang ada pada waktu itu menyebabkan Zarathustra mendapat tekanan.<br />
Ia pun akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dan pergi ke Chorasma atau (Qarazm). Pada tahun 618 SM Raja Chorasma yaitu Vitaspa dan menterinya Yasasp yang menikahi Pauron Chista kemudian menjadi penganut Zoroastrianisme. Barulah Zoroastrianisme mengalami perkembangan dan semakin bertambah banyak yang menjadi pengikutnya. Zarathustra meninggal di usia 77 tahun. Ketika Islam berkuasa di Persia tahun 636-637 Masehi, Zoroastrianisme sempat mengalami kemunduran. Banyak penduduk Persia yang lebih tertarik kepada agama Islam. Sekelompok pemeluk Zoroastrianisme kemudian pergi ke India dan menetap di Bombay Di sana mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Parsi.<br />
Ajaran-ajarannya<br />
Konsep Ketuhanan<br />
Di dalam ajaran Zoroastrianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa, yaitu Ahura Mazda. Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya kepadanya. Pengakuan ini adalah bentuk penegasan bahwa hanya Ahura Mazda yang harus disembah di tengah konteks kepercayaan tradisional masyarakat Iran yang kuat dengan pengaruh politeisme.<br />
Zoroastrianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu yakni kekuatan kebaikan dan kejahatan. Dalam tradisi Zoroastrianisme, yang jahat diwakili oleh Angra Mainyu atau Ahriman, sedangkan yang baik diwakili oleh Spenta Mainyu. Manusia harus selalu memilih akan berpihak pada kebaikan atau kejahatan selama hidupnya. Akan tetapi, dengan paham dualisme ini tidak berarti bahwa Zoroastrianisme tidak mengakui monoteisme karena Ahura Mazdalah satu-satunya Tuhan yang disembah. Ahura Mazda, pada saatnya akan mengalahkan kekuatan yang jahat dan berkuasa penuh. Ahriman dan para pengikutnya akan dimusnahkan untuk selamanya. Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada lima yaitu:<br />
1.	Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api<br />
2.	Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik<br />
3.	Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam<br />
4.	Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah<br />
5.	Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan<br />
Konsep mengenai Penciptaan<br />
Alam semesta dalam ajaran Zoroastrianisme berusia 12000 tahun. Setelah masa 12000 tahun berakhir barulah akan terjadi kiamat. Masa 12000 tahun ini terbagi menjadi beberapa periode:<br />
1.	Periode 3000 tahun pertama, yaitu masa ketika Ahura Mazda menciptakan alam semesta. Ahriman kemudian berusaha menyerang dan menghancurkan alam yang diciptakan Ahura Mazda. Hal ini disebabkan karena kehendak Ahriman adalah menyakiti dan merusak alam ciptaan.<br />
2.	Periode 3000 tahun kedua, yaitu periode Ahura Mazda dan Angra Mainyu beradu kekuatan, keduanya berusaha saling kalah mengalahkan. Dalam peristiwa inilah terjadi terang dan gelap serta siang dan malam<br />
3.	Periode 3000 tahun ketiga, yaitu masa ketika nabi Zarathustra lahir dan menerima penglihatan dari Ahura Mazda. Selanjutnya, penglihatan ini kemudian disebarkannya kepada umat manusia.<br />
4.	Periode 3000 tahun terakhir, yaitu masa munculnya seorang Saoshayant setiap seribu tahun, yang diyakini sebagai penyelamat yang akan memerintah dan memelihara bumi. Ketiga Saoshayant yang akan datang itu adalah keturunan Zarathustra yang pada akhirnya akan memimpin manusia untuk melawan dan menghancurkan Ahriman serta para pengikutnya. Barulah setelah itu perdamaian dunia akan terwujud.<br />
Konsep Eskatologi: Kehidupan Setelah Kematian<br />
Dalam pemahaman Zoroastrianisme, setiap orang akan mengalami penghakiman setelah meninggal. Penganut Zoroaster meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia harus dapat membuktikan dirinya telah melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. Mereka percaya setiap roh manusia yang telah meninggal harus melewati Jembatan Cinvat yaitu jembatan yang menuju ke sorga. Jiwa manusia sesudah meninggal akan tetap tinggal selama tiga hari di dalam tubuhnya dan baru pada hari ke empat dibawa menuju penghakiman di Jembatan Cinvat.<br />
Setelah berhasil melewati jembatan ini maka seseorang akan hidup bahagia dengan rahmat Ahura Mazda. Semakin banyak kebaikan yang dibuat seseorang maka akan semakin lebarlah jembatan itu dan sebaliknya, semakin besar kejahatannya maka semakin sempitlah jembatan itu hingga rohnya tidak dapat melewatinya dan jatuh dari Jembatan Cinvat. Di bawah jembatan inilah terdapat neraka yang penuh api, sebuah tempat yang suram dan penuh kesedihan. Menurut ajaran Zoroastrianisme, dunia akan mengalami pembaruan menuju kesempuranaan dan jiwa-jiwa baik yang masih hidup dan sudah mati akan dibebaskan selamanya dari kuasa jahat. Pembaruan dunia dan kebangkitan kembali seluruh ciptaan disebut Frashokeveti<br />
Konsep mengenai Etika Hidup<br />
Dalam pandangannya mengenai etika hidup yang ideal, ada tiga hal utama yang ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme memberikan kebebasan bagi setiap penganutnya untuk memilih hidup yang baik atau jahat bagi dirinya sendiri. Menurut mereka dunia yang akan datang akan mengalami pembaruan. Pembaruan dunia ini tidak dapat dapat dikerjakan oleh satu orang saja tetapi membutuhkan keterlibatan banyak orang. Oleh karena itu, Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan bertapa karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan berarti menolak Sang Pencipta.<br />
Ritus Kematian dalam Zoroastrianisme<br />
Zoroastrianisme tidak mengizinkan penguburan dan pembakaran tubuh orang yang telah meninggal karena dianggap akan menodai air, udara, bumi dan api. Mereka menyelenggarakan ritus kematian dengan menempatkan mayat di atas Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence). Di sana terdapat pembagian tempat yang jelas bagi kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak. Adapun tahap-tahap yang dilakukan saat upacara kematian adalah sebagai berikut:<br />
1.	Mayat dibiarkan di dalam sebuah ruangan di rumah selama tiga hari sebelum dibawa ke Dakhma, tempat untuk melaksanakan upacara kematian.<br />
2.	Sesudah itu, mayat lalu dibawa ke Dakhma atau Menara Ketenangan.<br />
3.	Di sana mayat akan ditelanjangi dan ditidurkan di atas menara yang terbuka dan dibiarkan agar dimakan oleh burung-burung.<br />
4.	Sisa-sisa tulang kemudian dibuang ke dalam sumur.</p>
<p>KAPITALISME<br />
Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.<br />
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.<br />
 Perspektif filosofi kapitalisme<br />
Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitalis sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin melenyapkannya, seperti komunisme.<br />
Kaum klasik kapitalis<br />
Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah memunculkan ketimpangan ekonomi. Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat. Beberapa ahli ini antara lain:<br />
Adam Smith<br />
Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.</p>
<p>ATEISME<br />
Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.<br />
Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (atheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai &#8220;ateis&#8221; muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis. Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).<br />
Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah.<br />
Pada kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius). Beberapa aliran Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah &#8216;Tuhan&#8217; dalam berbagai upacara ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.]<br />
Asal Istilah<br />
Kata Yunani αθεοι (atheoi), seperti yang tampak pada Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus di papirus abad ke-3<br />
Pada zaman Yunani Kuno, kata sifat atheos (ἄθεος, berasal dari awalan ἀ- + θεός &#8220;tuhan&#8221;) berarti &#8220;tak bertuhan&#8221;. Kata ini mulai merujuk pada penolakan tuhan yang disengajakan dan aktif pada abad ke-5 SM, dengan definisi &#8220;memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa&#8221; atau &#8220;menolak tuhan/dewa&#8221;. Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan atheos sebagai &#8220;ateistik&#8221;. Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ἀθεότης (atheotēs ), yang berarti &#8220;ateisme&#8221;. Cicero mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam bahasa Latin atheos. Istilah ini sering digunakan pada perdebatan antara umat Kristen awal dengan para pengikut agama Yunani Kuno (Helenis), yang mana masing-masing pihak menyebut satu sama lainnya sebagai ateis secara peyoratif.[14]<br />
Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada &#8220;kepercayaan tersendiri&#8221; pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis.[15] Pada abad ke-20, globalisasi memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada &#8220;ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa&#8221;, walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai &#8220;ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)&#8221;.[16] Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai &#8220;ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi&#8221;, daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.[16][17][18]<br />
Definisi dan Pembedaan</p>
<p>Suatu gambaran yang menunjukkan hubungan antara definisi ateisme kuat/lemah dengan ateisme implisit/eksplisit. Ateis implisit tidak memiliki pemikiran akan kepercayaan pada tuhan; individu seperti itu dikatakan secara implisit tanpa kepercayaan pada tuhan. Ateis eksplisit mengambil posisi terhadap kepercayaan pada tuhan; individu tersebut dapat menghindari untuk percaya pada tuhan (ateisme lemah), ataupun mengambil posisi bahwa tuhan tidak ada (ateisme kuat).<br />
Para penulis berbeda-beda dalam mendefinisikan dan mengklasifikasi ateisme,[19] yakni apakah ateisme merupakan suatu kepercayaan tersendiri ataukah hanyalah ketiadaan pada kepercayaan, dan apakah ateisme memerlukan penolakan yang secara sadar dan eksplisit dilakukan. Berbagai kategori telah diajukan untuk mencoba membedakan jenis-jenis bentuk ateisme.<br />
Ruang lingkup<br />
Beberapa ambiguitas dan kontroversi yang terlibat dalam pendefinisian ateisme terletak pada sulitnya mencapai konsensus dalam mendefinisikan kata-kata seperti dewa dan tuhan. Pluralitas dalam konsep ketuhanan dan dewa menyebabkan perbedaan pemikiran akan penerapan kata ateisme. Dalam konteks teisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada Tuhan monoteis, orang-orang yang percaya pada dewa-dewi lainnya akan diklasifikasikan sebagai ateis. Sebaliknya pula, orang-orang Romawi kuno juga menuduh umat Kristen sebagai ateis karena tidak menyembah dewa-dewi paganisme. Pada abad ke-20, pandangan ini mulai ditinggalkan seiring dengan dianggapnya teisme meliputi keseluruhan kepercayaan pada dewa/tuhan.[20]<br />
Bergantung pada apa yang para ateis tolak, penolakan ateisme dapat berkisar dari penolakan akan keberadaan tuhan/dewa sampai dengan keberadaan konsep-konsep spiritual dan paranormal seperti yang ada pada agama Hindu dan Buddha.[21]<br />
Implisit dan eksplisit<br />
Definisi ateisme juga bervariasi dalam halnya sejauh mana seseorang harus mengambil posisi mengenai gagasan keberadaan tuhan untuk dianggap sebagai ateis. Ateisme kadang-kadang didefinisikan secara luas untuk meliputi ketiadaan kepercayaan akan keberadaan tuhan/dewa. Definisi yang luas ini akan memasukkan orang-orang yang tidak memiliki konsep teisme sebagai ateis. Pada tahun 1772, Baron d&#8217;Holbach mengatakan bahwa &#8220;Semua anak-anak dilahirkan sebagai ateis, karena mereka tidak tahu akan Tuhan.&#8221;[22] George H. Smith (1979) juga menyugestikan bahwa: &#8220;Orang yang tidak kenal dengan teisme adalah ateis karena ia tidak percaya pada tuhan. Kategori ini juga akan memasukkan anak dengan kapasitas konseptual untuk mengerti isu-isu yang terlibat, tapi masih tidak sadar akan isu-isu tersebut (sebagai ateis). Fakta bahwa anak ini tidak percaya pada tuhan membuatnya pantas disebut ateis.&#8221;[23] Smith menciptakan istilah ateisme implisit untuk merujuk pada &#8220;ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan&#8221; dan ateisme eksplisit untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.<br />
Dalam kebudayaan Barat, pandangan bahwa anak-anak dilahirkan sebagai ateis merupakan pemikiran yang baru. Sebelum abad ke-18, keberadaan Tuhan diterima secara sangat luas sedemikiannya keberadaan ateisme yang benar-benar tidak percaya akan Tuhan itu dipertanyakan keberadaannya. Hal ini disebut theistic innatism (pembawaan lahir teistik), yakni suatu nosi bahwa semua orang percaya pada Tuhan dari lahir. Pandangan ini memiliki konotasi bahwa para ateis hanyalah menyangkal diri sendiri.[24] Terdapat pula sebuah posisi yang mengklaim bahwa ateis akan dengan cepat percaya pada Tuhan pada saat krisis, bahwa ateis percaya pada tuhan pada saat meninggal dunia, ataupun bahwa &#8220;tidak ada ateis dalam lubang perlindungan perang (no atheists in foxholes).&#8221;[25] Beberapa pendukung pandangan ini mengklaim bahwa keuntungan antropologis agama membuat manusia dapat mengatasi keadaan susah lebih baik. Beberapa ateis menitikberatkan fakta bahwa terdapat banyak contoh yang membuktikan sebaliknya, di antaranya contoh-contoh &#8220;ateis yang benar-benar berada di lubang perlindungan perang.&#8221;[26]<br />
Kuat dan lemah<br />
Para filsuf seperti Antony Flew,[27] Michael Martin,[16] dan William L. Rowe[28] membedakan antara ateisme kuat (positif) dengan ateisme lemah (negatif). Ateisme kuat adalah penegasan bahwa tuhan tidak ada, sedangkan ateisme lemah meliputi seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya. Menurut kategorisasi ini, siapapun yang bukan teis dapatlah ateis yang lemah ataupun kuat.[29] Istilah lemah dan kuat ini merupakan istilah baru; namun istilah yang setara seperti ateisme negatif dan positif telah digunakan dalam berbagai literatur-literatur filosofi[27] dan apologetika Katolik (dalam artian yang sedikit berbeda).[30] Menggunakan batasan ateisme ini, kebanyakan agnostik adalah ateis lemah.<br />
Manakala Martin, menegaskan bahwa agnostisisme memiliki bawaan ateisme lemah,[16] kebanyakan agnostik memandang pandangan mereka berbeda dari ateisme, yang mereka liat ateisme sama saja tidak benarnya dengan teisme.[31] Ketidaktercapaian pengetahuan yang diperlukan untuk membuktikan atau membantah keberadaan tuhan/dewa kadang-kadang dilihat sebagai indikasi bahwa ateisme memerlukan sebuah lompatan kepercayaan. Respon ateis terhadap argumen ini adalah bahwa dalil-dalil keagamaan yang tak terbukti seharusnyalah pantas mendapatkan ketidakpercayaan yang sama sebagaimana ketidakpercayaan pada dalil-dalil tak terbukti lainnya,[32] dan bahwa ketidakterbuktian keberadaan tuhan tidak mengimplikasikan bahwa probabilitas keberadaan tuhan sama dengan probabilitas ketiadaan tuhan.[33] Filsuf Skotlandia J. J. C. Smart bahkan berargumen bahwa &#8220;kadang-kadang seseorang yang benar-benar ateis dapat menyebut dirinya sebagai seorang agnostik karena generalisasi skeptisisme filosofis tak beralasan yang akan menghalangi kita dari berkata kita tahu apapun, kecuali mungkin kebenaran matematika dan logika formal.&#8221;[34] Karenanya, beberapa penulis ateis populer seperti Richard Dawkins memilih untuk membedakan posisi teis, agnostik, dan ateis sebagai spektrum probabilitas terhadap pernyataan &#8220;Tuhan ada&#8221; (spektrum probabilitas teistik).[35]<br />
Dasar pemikiran</p>
<p>&#8220;Salah satu anak dari gerombolan orang pernah menanyai seorang ahli astronomi siapa ayah yang membawanya ke dalam dunia ini. Cendekiawan tersebut menunjuk langit dan seorang tua yang sedang duduk, dan berkata:<br />
&#8216;Yang di sana adalah ayah tubuhmu, dan yang itu adalah ayah jiwamu.&#8217;<br />
Anak lelaki tersebut membalas:<br />
&#8216;Apa yang di atas kita bukanlah urusan kita, dan saya malu menjadi anak dari orang setua itu!&#8217;<br />
&#8216;Oh sangatlah tidak berbudi, tidak ingin mengenali ayahmu, dan tidak berpikir bahwa Tuhan adalah penciptamu!&#8217; [36] Ilustrasi ateisme praktis dan asosiasi historisnya dengan amoralitas, judul &#8220;Supreme Impiety: Atheist and Charlatan&#8221;, dari Picta poesis, oleh Barthélémy Aneau, 1552.<br />
Batasan dasar pemikiran ateistik yang paling luas adalah antara ateisme praktis dengan ateisme teoretis. Bentuk-bentuk ateisme teoretis yang berbeda-beda berasal dari argumen filosofis dan dasar pemikiran yang berbeda-beda pula. Sebaliknya, ateisme praktis tidaklah memerlukan argumen yang spesifik dan dapat meliputi pengabaian dan ketidaktahuan akan pemikiran tentang tuhan/dewa.<br />
Ateisme praktis<br />
Dalam ateisme praktis atau pragmatis, yang juga dikenal sebagai apateisme, individu hidup tanpa tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan paranormal. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna; tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun memengaruhi kehidupan sehari-hari.[37] Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya dalam komunitas ilmiah adalah naturalisme metodologis, yaitu pengambilan asumsi naturalisme filosofis dalam metode ilmiah yang tidak diucapkan dengan ataupun tanpa secara penuh menerima atau memercayainya.&#8221;[38]<br />
Ateisme praktis dapat berupa:<br />
•	Ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada tuhan tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya;<br />
•	Pengesampingan masalah tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis;<br />
•	Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan tuhan dan agama; dan<br />
•	Ketidaktahuan akan konsep tuhan dan dewa.[39]<br />
Ateisme teoretis<br />
Ateisme teoretis secara eksplisit memberikan argumen menentang keberadaan tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen teistik mengenai keberadaan tuhan, seperti misalnya argumen dari rancangan dan taruhan Pascal. Terdapat berbagai alasan-alasan teoretis untuk menolak keberadaan tuhan, utamanya secara ontologis, gnoseologis, dan epistemologis. Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis.<br />
Argumen epistemologis dan ontologis<br />
Ateisme epistemologis berargumen bahwa orang tidak dapat mengetahui Tuhan ataupun menentukan keberadaan Tuhan. Dasar epistemologis ateisme adalah agnostisisme. Dalam filosofi imanensi, ketuhanan tidak dapat dipisahkan dari dunia itu sendiri, termasuk pula pikiran seseorang, dan kesadaran tiap-tiap orang terkunci pada subjek. Menurut bentuk agnostisisme ini, keterbatasan pada perspektif ini menghalangi kesimpulan objektif apapun mengenai kepercayaan pada tuhan dan keberadaannya. Agnostisisme rasionalistik Kant dan Pencerahan hanya menerima ilmu yang dideduksi dari rasionalitas manusia. Bentuk ateisme ini memiliki posisi bahwa tuhan tidak dapat dilihat sebagai suatu materi secara prinsipnya, sehingga tidak dapat diketahui apakah ia ada atau tidak. Skeptisisme, yang didasarkan pada pemikiran Hume, menegaskan bahwa kepastian akan segala sesuatunya adalah tidak mungkin, sehingga seseorang tidak akan pernah mengetahui keberadaan tentang Tuhan. Alokasi agnostisisme terhadap ateisme adalah dipertentangkan; ia juga dapat dianggap sebagai pandangan dunia dasar yang independen.[37]<br />
Argumen lainnya yang mendukung ateisme yang dapat diklasifikasikan sebagai epistemologis ataupun ontologis meliputi positivisme logis dan ignostisisme, yang menegaskan ketidakberartian ataupun ketidakterpahaman istilah-istilah dasar seperti &#8220;Tuhan&#8221; dan pernyataan seperti &#8220;Tuhan adalah mahakuasa.&#8221; Nonkognitivisme teologis memiliki posisi bahwa pernyataan &#8220;Tuhan ada&#8221; bukanlah suatu dalil, namun adalah omong kosong ataupun secara kognitif tidak berarti.</p>
<p>Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.<br />
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luas sebagai pihak yang superior dalam wilayah ekonomi, politik dan administratif (baik pada ranah publik maupun privat).<br />
Etimologi<br />
Anarkisme berasal dari kata dasar &#8220;anarki&#8221; dengan imbuhan -isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang berakar dari kata bahasa Yunani, anarchos/anarchein. Ini merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi /n/ dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas &#8211; secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani); maka, anarchos/anarchein berarti &#8220;tanpa pemerintahan&#8221; atau &#8220;pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya&#8221;. Bentuk kata &#8220;anarkis&#8221; berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki, sedangkan akhiran -isme sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.<br />
“	&#8220;Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia&#8221; (Peter Kropotkin)<br />
”<br />
“	&#8220;Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas&#8221; (Errico Malatesta)<br />
”<br />
Teori politik<br />
Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal:<br />
“	&#8220;kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan&#8221;[1]<br />
”<br />
Anarkisme dan kekerasan<br />
Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi:<br />
“	Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan	”<br />
Yang sangat sarat akan penggunaan kekerasan dalam sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama hal tersebut ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara.<br />
Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat untuk menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dalam bukunya What is Communist Anarchist, pemikir anarkis Alexander Berkman menulis:<br />
“	&#8220;Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan.&#8221; (Alexander Berkman, What is Communist Anarchist 1870 &#8211; 1936)<br />
”<br />
Dari berbagai selisih paham antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode, kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.<br />
Sejarah dan dinamika filsafat anarkisme<br />
Anarkisme sebagai sebuah ide yang dalam perkembangannya juga menjadi sebuah filsafat yang juga memiliki perkembangan serta dinamika yang cukup menarik.<br />
[sunting] Anarkisme dan Marxisme<br />
Lihat pula: Anarkisme dan Marxisme<br />
Marxisme dalam perkembangannya setelah Marx dan Engels berkembang menjadi 3 kekuatan besar ideologi dunia yang menyandarkan dirinya pada pemikiran-pemikiran Marx. Ketiga ideologi itu adalah : (1) Komunisme, yang kemudian dikembangkan oleh Lenin menjadi ideologi Marxisme-Leninisme yang saat ini menjadi pegangan mayoritas kaum komunis sedunia; (2) Sosialisme Demokrat, yang pertama kali dikembangkan oleh Eduard Bernstein dan berkembang di Jerman dan kemudian berkembang menjadi sosialis yang berciri khas Eropa; (3) Neomarxisme dan Gerakan Kiri Baru, yang berkembang sekitar tahun 1965-1975 di universitas-universitas di Eropa.<br />
Walaupun demikian, ajaran Marx tidak hanya berkutat pada ketiga aliran besar itu karena banyak sekali sempalan-sempalan yang memakai ajaran Marx sebagai basis ideologi dan perjuangan mereka. Aliran lain yang berkembang serta juga memakai Marx sebagai tolak pikirnya adalah Anarkisme.<br />
Walaupun demikian anarkisme dan Marxisme berada dipersimpangan jalan dalam memandang masalah-masalah tertentu. Pertentangan mereka yang paling kelihatan adalah persepsi terhadap negara. Anarkisme percaya bahwa negara mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang monopoli kekuasaan yang bersifat memaksa. Negara hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok elit secara politik dan ekonomi, dan kekuatan elit itu bisa siapa saja dan apa saja termasuk kelas proletar seperti yang diimpikan kaum Marxis. Dan oleh karena itu kekuasaan negara (dengan alasan apapun) harus dihapuskan. Di sisi lain, Marxisme memandang negara sebagai suatu organ represif yang merupakan perwujudan kediktatoran salah satu kelas terhadap kelas yang lain. Negara dibutuhkan dalam konteks persiapan revolusi kaum proletar, sehingga negara harus eksis agar masyarakat tanpa kelas dapat diwujudkan. Lagipula, cita-cita kaum Marxis adalah suatu bentuk negara sosialis yang bebas pengkotakan berdasarkan kelas.<br />
Selain itu juga, perbedaan kentara antara anarkisme dengan Marxisme dapat dilihat atas penyikapan keduanya dalam seputar isu kelas serta seputar metoda materialisme historis<br />
Sinisisme (bahasa Yunani: κυνισμός) dalam bentuk aslinya adalah paham yang dianut oleh mazhab Sinis (bahasa Yunani: Κυνικοί, bahasa Latin: Cynici). Mereka menekankan bahwa kebahagiaan sejati merupakan ketidaktergantungan kepada sesuatu yang acak atau mengambang. Maka kaum Sinis menolak kebahagiaan dari kekayaan, kekuatan, kesehatan, dan kepamoran.<br />
Aliran filsafat Sinis pertama kali didirikan oleh Antisthenes, yang merupakan salah seorang murid Socrates. Kaum sinis yang juga terkenal adalah Diogenes dari Sinope, yang tinggal di dalam sebuah tong.<br />
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.<br />
Egalitarianisme (berasal dari bahasa Perancis égal yang berarti &#8220;sama&#8221;), adalah kecenderungan cara berpikir bahwa penikmatan atas kesetaraan dari beberapa macam premis umum misalkan bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya. Dalam pengertian doktrin Egalitas ini mempertahankan bahwa pada hakikatnya semua orang manusia adalah sama dalam status nilai atau moral secara fundamental[1] Sebagian besar, pengertian ini merupakan respon terhadap pelanggaran pembangunan statis dan memiliki dua definisi yang berbeda dalam bahasa Inggris modern[2] dapat didefinisikan secara baik sebagai doktrin politik yang menyatakan bahwa semua orang harus diperlakukan secara setara dan memiliki hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan sipil yang sama[3] atau dalam pengertian filsafat sosial penganjurk penghapusan kesenjangan ekonomi antara orang-orang atau adanya semacam redistribusi/desentralisasi kekuasaan.<br />
Dalam hal demikian ini dianggap oleh beberapa pihak dianggap sebagai keadaan alami dari sebuah masyarakat.[4][5][6]<br />
Adanya studi yang menunjukkan bahwa kesenjangan sosial sebagai penyebabkan adanya banyak masalah sosial. Sebuah studi komprehensif ekonomi utama dunia bahkan mengungkapkan adanya hubungan antara ketimpangan sosial seperti masalah pembunuhan, kematian bayi, obesitas, kehamilan remaja, depresi emosional dan populasi sampai pada pemenjaraan.[7] oleh karena itu egalitarianisme merupakan subjek utama yang merujuk pada politik,<br />
Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.<br />
Timbulnya Kata Imperialisme<br />
Perkataan Imperialisme muncul pertama kali davmn akjgnjangv&#8217;akmvnav vadjgfjervnklnmvesjfask&#8217;lnvbsbgvjrs&#8217;dfbn nfrmb dlsb;&#8217;s;bgmfkjbnfiobmsmb sjkbvsklbvsfbnsi Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu &#8220;imheheheheheeheheheeheheheheehehehehehehehehehehepire&#8221; yang meliputi seluruh dunia. Politik Disraeli ini mendapat opisisi yang kuat. Golongan oposisi takut kalau-kjjbnjalau politik Disraeli itu akan menimbulkan krisis-krisis internasional. Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian pemerintah pada pembangunan dalam negeri dari pada berkecipuhan dalam sola-soal luar negeri. Golongan oposisi ini disebut golongan &#8220;Little BITCHES !!!!!!!!&#8221; dan golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil Rhodes) disebut golongan &#8220;Empire&#8221; atau golongan &#8220;Imperialisme&#8221;. Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golangan Disraeli dari golongan oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita kenal sekarang.<br />
Asal Mula Kata Imperialisme<br />
Perkataan imperialisme berasal dari kata Latin &#8220;imperare&#8221; yang artinya &#8220;memerintah&#8221;. Hak untuk memerintah (imperare) disebut &#8220;imperium&#8221;. Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut &#8220;imperator&#8221;. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini.<br />
Arti Kata Imperialisme<br />
Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. &#8220;Menguasai&#8221; disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda antara imperialisme dan kolonialisme ? Imperialisme ialah politik yang dijalankan mengenai seluruh imperium. Kolonialisme ialah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, sesuatu bagian dari imperium jika imperium itu merupakan gabungan jajahan-jajahan.<br />
Macam Imperialisme<br />
Lazimnya imperialisme dibagi menjadi dua:<br />
1.	Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.<br />
2.	Imperialisme Modern (Modern Imperialism). Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi industri. Industri besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri, kemudian juga sebgai tempat penanaman modal bagi kapital surplus.<br />
Pembagian imperialisme dalam imperialisme kuno dan imperialisme modern ini didasakan pada soal untuk apa si imperialis merebut orang lain.<br />
Jika mendasarkan pendangan kita pada sektor apa yang ingin direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:<br />
1.	Imperialisme politik. Si imperialis hendak mengusai segala-galnya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya itu merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik ini tidak umum ditemui di zaman modern karena pada zaman modern paham nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme politik ini biasanya bersembunyi dalam bentuk protectorate dan mandate.<br />
2.	Imperialisme Ekonomi. Si imperialis hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu negara tidak mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka negara itu masih dapat dikuasai juga jika ekonomi negara itu dapat dikuasai si imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat disukai oleh negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik.<br />
3.	Imperialisme Kebudayaan. Si imperialis hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galnya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.<br />
4.	Imperialisme Militer (Military Imperialism). Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu negara. Ini dijalankan untuk menjamin keselamatan si imperialis untuk kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki sebagai jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti menguasai pula seluruh negara dengan ancaman militer.<br />
Sebab-sebab Imperialisme<br />
1.	Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh dunia (ambition, eerzucht). Tiap bangsa ingin menjadi jaya. Tetapi sampai dimanakah batas-batas kejayaan itu ? Jika suatu bangsa tidak dapat mengendalikan keinginan ini, mudah bangsa itu menjadi bangsa imperialis. Karena itu dapat dikatakan, bahwa tiap bangsa itu mengandung benih imperialisme.<br />
2.	Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini (racial superiority). Tiap bangsa mempunyai harga diri. Jika harga diri ini menebal, mudah menjadi kecongkakan untuk kemudian menimbulakan anggapan, bahwa merekalah bangsa teristimewa di dunia ini, dan berhak menguasai, atau mengatur atau memimpin bangsa-bangsa lainnya.<br />
3.	Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi dapat menimbulkan imperialisme. Tujuannya bukan imperialisme, tetapi agama atau ideologi. Imperialisme di sini dapat timbul sebagai &#8220;bij-product&#8221; saja. Tetapi jika penyebaran agama itu didukung oleh pemerintah negara, maka sering tujuan pertama terdesak dan merosot menjadi alasan untuk membenarkan tindakan imperialisme.<br />
4.	Letak suatu negara yang diangap geografis tidak menguntungkan. Perbatasan suatu negara mempunyai arti yang sangat penting bagi politik negara.<br />
5.	Sebab-sebab ekonomi. Sebab-sebab ekonomi inilah yang merupakan sebab yang terpenting dari timbulnya imperialisme, teistimewa imperialisme modern.<br />
1.	Keinginan untuk mendapatkan kekayaan dari suatu negara<br />
2.	Ingin ikut dalam perdagangan dunia<br />
3.	Ingin menguasai perdagangan<br />
4.	Keinginan untuk menjamin suburnya industri<br />
Akibat Imperialisme<br />
1.	Akibat politik<br />
1.	Terciptanya tanah-tanah jajahan<br />
2.	Politik pemerasan<br />
3.	Berkorbarnya perang kolonial<br />
4.	Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)<br />
5.	Timbulnya nasionalisme<br />
1.	Akibat Ekonomis<br />
1.	Negara imperislis merupakan pusat kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan<br />
2.	Industri si imperialis menjadi besar, perniagaan bangsa jajahan lenyap<br />
3.	Perdagangan dunia meluas<br />
4.	Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)<br />
5.	Kapital surplus dan penanamna modal di tanah jajahan<br />
6.	Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah jajahan lenyap<br />
2.	Akibat sosial<br />
1.	Si imperialis hidup mewah sementara yang dijajah serba kekurangan<br />
2.	Si imperialis maju, yang dijajah mundur<br />
3.	Rasa harga diri lebih pada bangsa penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah<br />
4.	Segala hak ada pada si imperialis, orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa<br />
5.	Munculnya gerakan Eropa-isasi.<br />
3.	Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.[1]<br />
4.	Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. [2] Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.[2]<br />
5.	Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan [3].<br />
Pokok-pokok Liberalisme<br />
Ada tiga hal yang mendasar dari Ideologi Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property).[2] Dibawah ini, adalah nilai-nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi:<br />
•	Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being). Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. [2] Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.[2]<br />
•	Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the Others Reason Equally.)[2]<br />
•	Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or The Governed)[2]<br />
•	Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial.[2]<br />
•	Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual)[2]<br />
•	Negara hanyalah alat (The State is Instrument). [2] Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. [2] Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.[2]<br />
•	Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogatism).[2] Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.[2]<br />
[sunting] Dua Masa Liberalisme<br />
Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mengagungkan kebebasan. [2] Ada dua macam Liberalisme, yakni Liberalisme Klasik dan Liberallisme Modern. [2] Liberalisme Klasik timbul pada awal abad ke 16. [2] Sedangkan Liberalisme Modern mulai muncul sejak abad ke-20. [2] Namun, bukan berarti setelah ada Liberalisme Modern, Liberalisme Klasik akan hilang begitu saja atau tergantikan oleh Liberalisme Modern, karena hingga kini, nilai-nilai dari Liberalisme Klasik itu masih ada. [2] Liberalisme Modern tidak mengubah hal-hal yang mendasar ; hanya mengubah hal-hal lainnya atau dengan kata lain, nilai intinya (core values) tidak berubah hanya ada tambahan-tanbahan saja dalam versi yang baru. [2] Jadi sesungguhnya, masa Liberalisme Klasik itu tidak pernah berakhir.[2]<br />
Dalam Liberalisme Klasik, keberadaan individu dan kebebasannya sangatlah diagungkan. [2] Setiap individu memiliki kebebasan berpikir masing-masing – yang akan menghasilkan paham baru. Ada dua paham, yakni demokrasi (politik) dan kapitalisme (ekonomi). [2] Meskipun begitu, bukan berarti kebebasan yang dimiliki individu itu adalah kebebasan yang mutlak, karena kebebasan itu adalah kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan. [2] Jadi, tetap ada keteraturan di dalam ideologi ini, atau dengan kata lain, bukan bebas yang sebebas-bebasnya.[4]<br />
[sunting] Pemikiran Tokoh Klasik dalam Kelahiran dan Perkembangan Liberalisme Klasik<br />
Tokoh yang memengaruhi paham Liberalisme Klasik cukup banyak – baik itu dari awal maupun sampai taraf perkembangannya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pandangan yang relevan dari tokoh-tokoh terkait mengenai Liberalisme Klasik.<br />
Marthin Luther dalam Reformasi Agama<br />
Gerakan Reformasi Gereja pada awalnya hanyalah serangkaian protes kaum bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katolik Roma. [5]. Pada saat itu keberadaan agama sangat mengekang individu. [5] Tidak ada kebebasan, yang ada hanyalah dogma-dogma agama serta dominasi gereja. [5] Pada perkembangan berikutnya, dominasi gereja dirasa sangat menyimpang dari otoritasnya semula. [5] Individu menjadi tidak berkembang, kerena mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang oleh Gereja bahkan dalam mencari penemuan ilmu pengetahuan sekalipun. [5] Kemudian timbullah kritik dari beberapa pihak – misalnya saja kritik oleh Marthin Luther; seperti : adanya komersialisasi agama dan ketergantungan umat terhadap para pemuka agama, sehingga menyebabkan manusia menjadi tidak berkembang; yang berdampak luas, sehingga pada puncaknya timbul sebuah reformasi gereja (1517) yang menyulut kebebasan dari para individu yang tadinya “terkekang”.[5]<br />
John Locke dan Hobbes; konsep State of Nature yang berbeda<br />
Kedua tokoh ini berangkat dari sebuah konsep sama. Yakni sebuah konsep yang dinamakan konsep negara alamaiah&#8221; atau yang lebih dikenal dengan konsep State of Nature. [6] Namun dalam perkembangannya, kedua pemikir ini memiliki pemikiran yang sama sekali bertolak belakang satu sama lainnya. [6] Jika ditinjau dari awal, konsepsi State of Nature yang mereka pahami itu sesungguhnya berbeda. [6] Hobbes (1588 – 1679) berpandangan bahwa dalam ‘’State of Nature’’, individu itu pada dasarnya jelek (egois) – sesuai dengan fitrahnya. [6] Namun, manusia ingin hidup damai. [6] Oleh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru – suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi melindungi hak-haknya dari individu lain dimana perjanjian ini memerlukan pihak ketiga (penguasa). [6] Sedangkan John Locke (1632 – 1704) berpendapat bahwa individu pada State of Nature adalah baik, namun karena adanya kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’. [6] Sehingga, mereka memiliki bentuk akhir dari sebuah penguasa/ pihak ketiga (Negara), dimana Hobbes berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute sedangkan Locke, Monarkhi Konstitusional. [6] Bertolak dari kesemua hal tersebut, kedua pemikir ini sama-sama menyumbangkan pemikiran mereka dalam konsepsi individualisme. [6] Inti dari terbentuknya Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum (masing-masing individu) meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya tergantung pemimpin negara. [6] Sedangkan Locke berpendapat, keberadaan Negara itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas – hanya sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik. [6]<br />
Adam Smith<br />
Para ahli ekonomi dunia menilai bahwa pemikiran mahzab ekonomi klasik merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis. Menurut Sumitro Djojohadikusumo, haluan pandangan yang mendasari seluruh pemikiran mahzab klasik mengenai masalah ekonomi dan politik bersumber pada falsafah tentang tata susunan masyarakat yang sebaiknya dan seyogyanya didasarkan atas hukum alam yang secara wajar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemikir ekonomi klasik adalah Adam Smith (1723-1790). Pemikiran Adam Smith mengenai politik dan ekonomi yang sangat luas, oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi tiga kelompok pemikiran. Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas dari falsafah politik, kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang faktor-faktor apa dan kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai dan harga barang. Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang mendukung kegiatan ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat. Singkatnya, segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar dimana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.<br />
[sunting] Relevansi kekuatan Individu Liberalisme Klasik dalam Demokrasi dan Kapitalisme<br />
Telah dikatakan bahwa setidaknya ada dua paham yang relevan atau menyangkut Liberalisme Klasik. Dua paham itu adalah paham mengenai Demokrasi dan Kapitalisme.<br />
* Demokrasi dan Kebebasan Dalam pengertian Demokrasi, termuat nilai-nilai hak asasi manusia, karena demokrasi dan Hak-hak asasi manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Sebuah negara yang mengaku dirinya demokratis mestilah mempraktekkan dengan konsisten mengenai penghormatan pada hak-hak asasi manusia, karena demokrasi tanpa penghormatan terhadap hak-hak asasi setiap anggota masyarakat, bukanlah demokrasi melainkan hanyalah fasisme atau negara totalitarian yang menindas.<br />
Jelaslah bahwa demokrasi berlandaskan nilai hak kebebasan manusia. Kebebasan yang melandasi demokrasi haruslah kebebasan yang positif – yang bertanggungjawab, dan bukan kebebasan yang anarkhis. Kebebasan atau kemerdekaan di dalam demokrasi harus menopang dan melindungi demokrasi itu dengan semua hak-hak asasi manusia yang terkandung di dalamnya. Kemerdekaan dalam demokrasi mendukung dan memiliki kekuatan untuk melindungi demokrasi dari ancaman-ancaman yang dapat menghancurkan demokrasi itu sendiri. Demokrasi juga mengisyaratkan penghormatan yang setinggi-tingginya pada kedaulatan Rakyat.[7]<br />
* Kapitalisme dan Kebebasan Tatanan ekonomi memainkan peranan rangkap dalam memajukan masyarakat yang bebas. Di satu pihak, kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas ; jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan. Di pihak lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah juga cara yang sangat yang diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Pada dasarnya, hanya ada dua cara untuk mengkoordinasikan aktivitas jutaan orang di bidang ekonomi. Cara pertama ialah bimbingan terpusat yang melibatkan penggunaan paksaan – tekniknya tentara dan negara dan negara totaliter yang modern. Cara lain adalah kerjasama individual secara sukarela – tekniknya sebuah sistem pasaran. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasaran adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain. Jadi terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal.[8]</p>
<p>Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.<br />
Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Mereka menunjuk ke bekas koloni seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong dan Singapura sebagai contoh sukses pasca-kolonialisme.<br />
Peneori ketergantungan seperti Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.<br />
Pengkritik post-kolonialisme seperti Franz Fanon berpendapat bahwa kolonialisme merusak politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi.<br />
Penulis dan politikus India Arundhati Roy berkata bahwa perdebatan antara pro dan kontra dari kolonialisme/ imperialisme adalah seperti &#8220;mendebatkan pro dan kontra pemerkosaan&#8221;.<br />
Lihat juga neokolonialisme sebagai kelanjutan dari dominasi dan eksploitasi dari negara yang sama dengan cara yang berbeda (dan sering kali dengan tujuan yang sama).</p>
<p>Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.<br />
Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.<br />
Ide dasar<br />
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut &#8220;Marxisme-Leninisme&#8221;.<br />
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [1]), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi &#8220;tumpul&#8221; dan tidak lagi diminati karena korupsi yang dilakukan oleh para pemimpinnya.<br />
Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.<br />
Secara umum komunisme berlandasan pada teori Dialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa &#8220;agama dianggap candu&#8221; yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).<br />
Komunis Internasional<br />
Komunis internasional sebagai teori ideologi mulai diterapkan setelah meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Komunis internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marxis.</p>
<p>Kebinekaan atau multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.<br />
Definisi<br />
Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu. [1]<br />
•	“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)[2]<br />
•	Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).[3]<br />
•	Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174)[4]<br />
•	Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000)[5]<br />
•	Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).[6]<br />
[sunting] Sejarah Multikulturalisme<br />
Multikulturalisme bertentangan dengan monokulturalisme dan asimilasi yang telah menjadi norma dalam paradigma negara-bangsa (nation-state) sejak awal abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara normatif (istilah &#8216;monokultural&#8217; juga dapat digunakan untuk menggambarkan homogenitas yang belum terwujud (pre-existing homogeneity). Sementara itu, asimilasi adalah timbulnya keinginan untuk bersatu antara dua atau lebih kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan sehingga tercipta sebuah kebudayaan baru.<br />
Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa-Inggris (English-speaking countries), yang dimulai di Kanada pada tahun 1971.[7] Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit.[rujukan?] Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Belanda dan Denmark, mulai mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan monokulturalisme.[8] Pengubahan kebijakan tersebut juga mulai menjadi subyek debat di Britania Raya dam Jerman, dan beberapa negara lainnya?<br />
[sunting] Jenis Multikulturalisme<br />
Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):<br />
1.	Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.<br />
2.	Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.<br />
3.	Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.<br />
4.	Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.<br />
5.	Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing. [9]</p>
<p>Naturisme atau nudisme adalah suatu gerakan kultural dan politik yang mempraktikkan, menganjurkan, dan mempertahankan pergaulan telanjang baik dalam lingkungan pribadi maupun umum. Istilah itu juga dapat merujuk kepada gaya hidup berdasarkan nudisme pribadi, keluarga, maupun sosial.[1]<br />
Beberapa istilah lainnya (social nudity [pergaulan telanjang], public nudity [telanjang di muka umum], dan clothes-free [bebas pakaian]) diusulkan sebagai istilah alternatif terhadap naturisme, namun tidak satu pun yang diterima oleh masyarakat luas, tidak seperti istilah terdahulu, naturisme dan nudisme (kebanyakan di wilayah Amerika Serikat).<br />
Filsafat naturisme berasal dari berbagai sumber, banyak di antaranya mengikuti jejak filsafat kebugaran dan kesehatan di Jerman pada awal abad ke-20, meskipun konsep kembali ke alam dan menciptakan kesetaraan juga dikutip sebagai inspirasi. Dari Jerman, gagasan tersebut menyebar ke Britania Raya, Kanada, Amerika Serikat, dan melalui jaringan perkumpulan yang telah dikembangkan.<br />
Naturisme dapat mengandung aspek-aspek dari erotisisme bagi sebagian orang, meskipun banyak organisasi naturis masa kini menganggapnya tidak mesti demikian. Orang awam dan media massa seringkali menyamakan hubungan kedua hal tersebut</p>
<p>Paganisme adalah sebuah kepercayaan/praktik spiritual penyembahan terhadap berhala yang pengikutnya disebut Pagan. Pagan pada zaman kuno percaya bahwa terdapat lebih dari satu dewa dan dewi dan untuk menyembahnya mereka menyembah patung, contoh Mesir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan lain-lain. Istilah ini telah meluas, meliputi semua Agama Abrahamik, Yahudi, Kristen, dan Islam.<br />
Pada zaman sekarang, Pagan percaya bahwa semua di sekitar mereka suci karena merupakan bagian dari dewa dan dewi. Contohnya, mereka percaya bahwa batu dan pohon adalah bagian dari dewa dan dewi, sehingga keramat, tetapi tidak menyembah pohon itu. Kebanyakan orang pagan percaya bumi memunculkan dewi.<br />
Panteisme atau pantheisme (Yunani: πάν ( &#8216;pan&#8217; ) = semua dan θεός ( &#8216;theos&#8217; ) = Tuhan) secara harafiah artinya adalah &#8220;Tuhan adalah Semuanya&#8221; dan &#8220;Semua adalah Tuhan&#8221;. Ini merupakan sebuah pendapat bahwa segala barang merupakan Tuhan abstrak imanen yang mencakup semuanya; atau bahwa Alam Semesta, atau alam, dan Tuhan adalah sama. Definisi yang lebih mendetail cenderung menekankan gagasan bahwa hukum alam, Keadaan, dan Alam Semesta (jumlah total dari semuanya adalah dan akan selalu) diwakili atau dipersonifikasikan dalam prinsip teologis &#8216;Tuhan&#8217; atau &#8216;Dewa&#8217; yang abstrak. Walau begitu, perlu dimengerti bahwa kaum panteis niet percaya terhadap seorang Dewa atau Dewa-Dewa yang pribadi dan kreatif dalam segala bentuk, yaitu merupakan ciri khas utama yang membedakan mereka dari kaum panenteis dan pandeis. Dengan begiru, meskipun banyak agama mungkin mengklaim memiliki unsur-unsur panteis, mereka biasanya sebenarnya sejatinya panenteis atau pandeistik.<br />
Sejarah<br />
Istilah panteis – yang diturunkan dari kata panteisme – pertama kali digunakan secara langsung oleh penulis Irlandia John Toland dalam karyanya yang berasal dari tahun 1705, &#8220;Sosinianisme Benar-Benar Dicanangkan oleh seorang panteis&#8221;. Namun konsep ini telah dibicarakan jauh sebelumnya pada zaman filsuf Yunani Kuna, oleh Thales, Parmenides dan Heraklitus. Latar belakang Yahudi untuk panteisme bahkan mencapai zaman ketika kitab Taurat diturunkan dalam ceritanya mengenai penciptaan dalam kitab Kejadian dan bahan-bahan yang lebih awal berbentuk nubuat di mana secara nyata dikatakan bahwa kejadian alam&#8221; [seperti banjir, badai, letusan gunung dst.] semuanya diidentifikasikan sebagai &#8220;Tangan Tuhan&#8221; melalui idioma personifikasi, dan jadi menjelaskan rujukan terbuka terhadap konsep ini di dalam baik Perjanjian Baru maupun sastra Kabbalistik.<br />
Pada tahun 1785, ada sebuah kontroversi besar yang muncul antara Friedrich Jacobi dan Moses Mendelssohn, yang akhirnya menyangkut banyak orang penting kala itu. Jacobi mengklaim bahwa pantheisme Lessing bersifat materialistik. Maksudnya ialah bahwa seluruh Alam dan Tuhan sebagai sebuah substansi yang luas. Untuk Jacobi, ini adalah hasil dari berbaktinya Zaman Pencerahan untuk mencari logika dan akhirnya ini akan berakhir kepada ateisme. Mendelssohn tidak setuju dengan menyatakan bahwa panteisme adalah sama dengan teisme.<br />
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.[1] Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.[2]<br />
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain.[1][2] Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.[2] Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum.[2] Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.[2] Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.[2]<br />
Awal mula</p>
<p>Aliran ini terutama berkembang di Amerika Serikat, walau pada awal perkembangannya sempat juga berkembang ke Inggris, Perancis, dan Jerman.[1] William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan dari aliran ini ke seluruh dunia.[1] William James dikenal juga secara luas dalam bidang psikologi.[1] Filsuf awal lain yang terkemuka dari pragmatisme adalah John Dewey.[1] Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.[3]<br />
Secara etimologis, kata &#8216;pragmatisme&#8217; berasal dari kata bahasa Yunani pragmatikos yang berarti cakap dan berpengalaman dalam urusan hukum, dagang, dan perkara negara.[4] Istilah pragmatisme disampaikan pertama kali oleh Charles Peirce pada bulan Januari 1878 dalam artikelnya yang berjudul How to Make Our Ideas Clear.[2]<br />
Teori tentang kebenaran<br />
Menurut teori klasik tentang kebenaran, dikenal dua posisi yang berbeda, yakni teori korespondensi dan teori koherensi.[2] Teori korespondensi menekankan persesuaian antara si pengamat dengan apa yang diamati sehingga kebenaran yang ditemukan adalah kebenaran empiris,[2][5] sedangkan teori koherensi menekankan pada peneguhan terhadap ide-ide a priori atau kebenaran logis, yakni jika proposisi-proposisi yang diajukan koheren satu sama lain.[2][5] Selain itu, dikenal lagi satu posisi lain yang berbeda dengan dua posisi sebelumnya, yakni teori pragmatis.[2][5] Teori pragmatis menyatakan bahwa &#8216;apa yang benar adalah apa yang berfungsi.&#8217;[5] Bayangkan sebuah mobil dengan segala kerumitan mesin yang membuatnya bekerja, namun yang sesungguhnya menjadi dasar adalah jika mobil itu dapat bekerja atau berfungsi dengan baik.[5]<br />
Perkembangan pragmatisme<br />
Apa yang disebut dengan neo-pragmatisme juga berkembang di Amerika Serikat dengan tokoh utamanya, Richard Rorty.[2] Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah bagaimana bahasa menentukan pengetahuan.[6] Karena bahasa hadir dalam bentuk jamak, demikianlah pengetahuan pun tidak hanya satu dan tidak dapat dipandang universal, atau dengan kata lain, tidak ada pola yang rasional terhadap pengetahuan.[6] Budaya atau nilai-nilai yang ada dilihat secara fungsinya terhadap manusia.[6]</p>
<p>Relativisme berasal dari kata Latin, relativus, yang berarti nisbi atau relatif.[1][2][3] Sejalan dengan arti katanya, secara umum relativisme berpendapat bahwa perbedaan manusia, budaya, etika, moral, agama, bukanlah perbedaan dalam hakikat, melainkan perbedaan karena faktor-faktor di luarnya.[3][4] Sebagai paham dan pandangan etis, relativisme berpendapat bahwa yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya.[3][2] Ajaran seperti ini dianut oleh Protagras, Pyrrho, dan pengikut-pengikutnya, maupun oleh kaum Skeptik.[2][5]<br />
Relativisme etis<br />
Relativisme etis yang berpendapat bahwa penilaian baik-buruk dan benar-salah tergantung pada masing-masing orang disebut relativisme etis subjektif atau analitis.[3][6] Adapun relativisme etis yang berpendapat bahwa penilaian etis tidak sama, karena tidak ada kesamaan masyarakat dan budaya disebut relativisme etis kultural.[3]<br />
Menurut relativisme etis subjektif, dalam masalah etis, emosi dan perasaan berperan penting.[3] Karena itu, pengaruh emosi dan perasaan dalam keputusan moral harus diperhitungkan.[3] Yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah tidak dapat dilepaskan dari orang yang tersangkut dan menilainya.[3] Relativisme etis berpendapat bahwa tidak terdapat kriteria absolut bagi putusan-putusan moral.[2] Westermarck memeluk relativisme etis yang menghubungkan kriteria putusan dengan kebudayaan individual, yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan individual.[2] Etika situasi dari Joseph Fletcher menganggap moralitas suatu tindakan relatif terhadap kebaikan tujuan tindakan itu.[2][7]<br />
Kekuatan relativisme etis<br />
Kekuatan relativisme etis subjektif adalah kesadarannya bahwa manusia itu unik dan berbeda satu sama lain.[3] Karena itu, orang hidup menanggapi lika-liku hidup dan menjatuhkan penilaian etis atas hidup secara berbeda.[3] Dengan cara itulah manusia dapat hidup sesuai dengan tuntutan situasinya.[3] Ia dapat menanggapi hidupnya sejalan dengan data dan fakta yang ada.[3] Ia dapat menetapkan apa yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah, menurut pertimbangan dan pemikirannya sendiri.[3] Demikian manusia tidak hanya berbeda dan unik, tetapi berbeda dan unik pula dalam hidup etisnya.[3]<br />
Kelemahan relativisme etis<br />
Walaupun sangat menekankan keunikan manusia dalam hal pengambilan keputusan etis, para penganut relativisme etis subjektif dapat menjadi khilaf untuk membedakan antara norma etis dan penerapannya, serta antara norma etis dan prinsip etisnya.[3] Bila orang berbeda dalam hidup dan pemikiran etisnya, bukan berarti tidak ada norma etis yang sama.[3] Bisa saja norma etis objektif itu sama, tetapi perwujudannya berbeda karena situasi hidup yang berbeda.[3]<br />
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.<br />
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (&#8220;teroris&#8221;) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.<br />
Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan &#8220;teroris&#8221; dan &#8220;terorisme&#8221;, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : &#8220;Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang&#8221;. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.<br />
Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.<br />
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon.<br />
Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam waktu dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh, terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, menurut Dana Yatim-Piatu Twin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke World Trade Center merupakan penyerangan terhadap &#8220;Simbol Amerika&#8221;. Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia[1]. Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku penyerangan tersebut.<br />
Kejadian ini merupakan isu global yang memengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan Terorisme Internasional[2]. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali, tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia[3], yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perang terhadap Terorisme yang dipimpin oleh Amerika, mula-mula mendapat sambutan dari sekutunya di Eropa. Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Anti Terrorism, Crime and Security Act, December 2001, diikuti tindakan-tindakan dari negara-negara lain yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia, seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill[4].<br />
Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme, satu di antaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear[5].” Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror[6]. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.<br />
Sejauh ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif[7], hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu.<br />
Belum tercapainya kesepakatan mengenai apa pengertian terorisme tersebut, tidak menjadikan terorisme dibiarkan lepas dari jangkauan hukum. Usaha memberantas Terorisme tersebut telah dilakukan sejak menjelang pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism), dimana Konvensi ini mengartikan terorisme sebagai Crimes against State. Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa, makna Terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma, yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya), menjadi Crimes against Humanity, dimana yang menjadi korban adalah masyarakat sipil[8]. Crimes against Humanity masuk kategori Gross Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat) yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik yang diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent), sebagaimana terjadi di Bali[9].<br />
Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind)[10]. Menurut Muladi, Tindak Pidana Terorisme dapat dikategorikan sebagai mala per se atau mala in se[11] , tergolong kejahatan terhadap hati nurani (Crimes against conscience), menjadi sesuatu yang jahat bukan karena diatur atau dilarang oleh Undang-Undang, melainkan karena pada dasarnya tergolong sebagai natural wrong atau acts wrong in themselves bukan mala prohibita yang tergolong kejahatan karena diatur demikian oleh Undang-Undang[12].<br />
Dalam rangka mencegah dan memerangi Terorisme tersebut, sejak jauh sebelum maraknya kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk Terorisme terjadi di dunia, masyarakat internasional maupun regional serta pelbagai negara telah berusaha melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai Terorisme[13].<br />
Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak Terorisme, serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia sebagai akibat dari Tragedi Bali, merupakan kewajiban pemerintah untuk secepatnya mengusut tuntas Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. Hal ini menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum. Untuk melakukan pengusutan, diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana Terorisme[14], Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002, yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Keberadaan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping KUHP dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), merupakan Hukum Pidana Khusus. Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus, dapat tercipta karena[15]:<br />
1.	Adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat. Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana, karena perubahan pandangan dan norma di masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana.<br />
2.	Undang-Undang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat, sedangkan untuk perubahan undang-undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu.<br />
3.	Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya.<br />
4.	Adanya suatu perbuatan yang khusus dimana apabila dipergunakan proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian.<br />
Sebagai Undang-Undang khusus, berarti Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus, sehingga terdapat pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)/Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) &#8221;(lex specialis derogat lex generalis)&#8221;. Keberlakuan lex specialis derogat lex generalis, harus memenuhi kriteria[16]:<br />
1.	bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum, dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya, yaitu Undang-Undang.<br />
2.	bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalam Undang-Undang khusus tersebut, sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan Undang-Undang khusus tersebut.<br />
Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti[17]:<br />
1.	Melalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KUHP.<br />
2.	Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KUHP termasuk kekhususan hukum acaranya.<br />
3.	Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang kejahatan terorisme.<br />
Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap keamanan negara, akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dilindungi. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Selain ketentuan tersebut, pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku pula bagi peraturan pidana di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selama peraturan di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut tidak mengatur lain[18].<br />
Hukum Pidana khusus, bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya saja, akan tetapi juga hukum acaranya, oleh karena itu harus diperhatikan bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bagi hukum pidana materielnya sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP)[19].<br />
Sebagaimana pengertian tersebut di atas, maka pengaturan pasal 25 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme, hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP). Artinya pelaksanaan Undang-Undang khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana yang telah ada. Namun, pada kenyataannya, terdapat isi ketentuan beberapa pasal dalam Undang-Undang tersebut yang merupakan penyimpangan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana. Penyimpangan tersebut mengurangi Hak Asasi Manusia, apabila dibandingkan asas-asas yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Apabila memang diperlukan suatu penyimpangan, harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut, karena setiap perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia[20]. Atau mungkin karena sifatnya sebagai Undang-Undang yang khusus, maka bukan penyimpangan asas yang terjadi di sini, melainkan pengkhususan asas yang sebenarnya menggunakan dasar asas umum, namun dikhususkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh Undang-Undang Khusus tersebut.<br />
Sesuai pengaturan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP), penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap beracara di pengadilan, dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan, diikuti dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut Umum. Pasal 17 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti Permulaan yang cukup. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 berbunyi[21]:<br />
1.	Untuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap Laporan Intelijen.<br />
2.	Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri.<br />
3.	Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.<br />
4.	Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan.<br />
Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan, termasuk pula Laporan Intelijen, apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Selanjutnya, menurut pasal 26 ayat 2, 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan (Hearing) secara tertutup. Hal itu mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan suatu Tindak Pidana Terorisme, tanpa adanya pengawasan masyarakat atau pihak lain mana pun. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti perlindungan terhadap hak-hak setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi, tidak dapat diganggu gugat.<br />
Oleh karena itu, untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian hukum, diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen, apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen, serta bagaimana sebenarnya hakekat Laporan Intelijen, sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan, terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme, maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat, dalam hal ini penyidik.<br />
Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan, cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya, oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar, karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat, dimana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa, akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror[22].<br />
Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusia demi pemberlakuan Undang-Undang Antiterorisme, termasuk hak-hak yang digolongkan kedalam non-derogable rights, yakni hak-hak yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya dalam keadaan apapun[23]. Undang-Undang Antiterorisme kini diberlakukan di banyak negara untuk mensahkan kesewenang-wenangan (arbitrary detention) pengingkaran terhadap prinsip free and fair trial. Laporan terbaru dari Amnesty Internasional menyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderung meningkat[24]. Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia. Demikian menurut Munir, bahwa memang secara nasional harus ada Undang-Undang yang mengatur soal Terorisme, tapi dengan definisi yang jelas, tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia. Melawan Terorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia, bukan sebaliknya membatasi dan melawan Hak Asasi Manusia. Dan yang penting juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan kekuasaan[25].<br />
ORANG SESAT AKAN DI AZAB Allah<br />
Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya, sebagai akibat dari kesalahan yang pernah atau sedang dilakukan, dalam filsafat Islam. Dalam perspektif sunnatullah, keadilan akan mengantar pada kesejahteraan, siapapun yang melakukan.<br />
Penggolongan azab<br />
Azab dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:<br />
•	Azab dunia,<br />
•	Azab kubur,<br />
•	Azab akhirat.<br />
Menurut ajaran Islam, azab dunia biasanya terjadi dengan adanya beberapa mukjizat yang telah disampaikan oleh para nabi dan rasul, sehingga para umat menyangkal semua mukjizat itu. Biasanya berupa bencana alam, kelaparan, kekeringan dan lainnya. Azab kubur terjadi selama dalam alam barzakh selama makhluk berada di dalam masa penantian untuk kehidupan kedua. Azab akhirat ada setelah adanya penghisaban di Padang Mahsyar, bagi mereka yang didunia tidak pernah melakukan kebaikan akan mendapat azab yang kekal selamanya.<br />
Azab dan ujian<br />
Ada sebuah kata yang erat kaitannya dengan azab, yaitu ujian. Baik ujian maupun azab, keduanya berwujud kesulitan.<br />
Ujian adalah satu proses seleksi untuk naik kelas. Kesulitan yang dihadapi oleh orang adalah kesulitan yang memang diprogram untuk mengukur tingkat kemampuannya mengatasi masalah dalam dunia realitas. Boleh jadi kesulitan dalam ujian lebih berat dibanding realitasnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=172&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/14/sesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/259a08adcc487361d0dc80fe6adc56af?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsafatindonesia1001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JAHILIYAH</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/09/jahiliyah/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/09/jahiliyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 14:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[JAHILIAH Sebab-sebab Jahiliyah • Sebab-sebab kejahiliyahan: • • Prasangka buruk kepada Allah (QS.48:6 , 24:50 ) • Merasa cukup, tak perlu hidayah (QS.96:6 – 7 , 5:104 , 31:21 ) • Sombong (QS. 7:12 , 38:75 -76 , 11:27 ) • Pendeta yang mengajak bid’ah (QS. 6:31 ,9:31 ) • Mengikuti hawa nafsu (QS. 45:23 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=170&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAHILIAH<br />
Sebab-sebab Jahiliyah<br />
•  Sebab-sebab kejahiliyahan:<br />
•<br />
•	Prasangka buruk kepada Allah (QS.48:6 , 24:50 )<br />
•	Merasa cukup, tak perlu hidayah (QS.96:6 – 7 , 5:104 , 31:21 )<br />
•	Sombong (QS. 7:12 , 38:75 -76 , 11:27 )<br />
•	Pendeta yang mengajak bid’ah (QS. 6:31 ,9:31 )<br />
•	Mengikuti hawa nafsu (QS. 45:23 )<br />
•	Taklid buta (QS. 17:36 )<br />
1.	Jahil terhadap kebenaran<br />
•<br />
•	Persangkaan jahiliyah (QS. 48:6 , 3:154 )<br />
•	Hukum jahiliyah (QS. 5:51 , 4:60 )<br />
•	Ibadah /pengabdian jahiliyah (QS.39:64 )<br />
•	Kebanggan jahiliyah (QS.48:26 )<br />
•	Tradisi jahiliyah (QS. 28:55 , 25:63 )<br />
•	Tingkahlaku /perhiasan jahiliyah (QS. 33:33 )<br />
1.	Akibat berada di dalam kegelapan jahiliyah (QS. 2:257 , 24:39 -40 )<br />
2.	Fenomena Jahiliyah</p>
<p>http://oasetarbiyah.com/materitarbiyah/?p=142</p>
<p>Gambaran Secara Umum Zaman Jahiliah Yang Pertama</p>
<p>Gejala sosial serta kerosakan akhlak bukan sahaja berlaku pada zaman ini, tetapi ia telah pun berlaku sejak zaman jahiliah sebelum kelahiran Rasulullah SAW lagi. Baginda dibesarkan dan menyaksikan sendiri betapa rosak kaumnya di waktu itu.Ketika itu empayar Rom dan Parsi mempunyai tamadun yang begitu tinggi. Dua buah empayar yang besar ini merupakan bapa penjajah yang sentiasa menguasai negara serta bangsa lain yang lemah. Bangsa Rom dan Parsi sudah mempunyai sistem hidup yang teratur, tentera yang besar dan kuat serta sudah maju di bidang binaan dan pembangunan. </p>
<p>Pada waktu yang sama, bangsa Arab merupakan bangsa yang paling mundur. Kehidupan mereka masih primitif. Walau bagaimanapun, mereka sering mengadakan sayembara sastera yang telah begitu lama diwarisi sejak turun-temurun. Mereka mengadakan pertandingan sastera, dan hasil karya akan digantung di Kaabah supaya semua pengunjung Kaabah tahu siapa pemenangnya. Kehebatan hasil karya sastera di zaman itu masih dapat dibaca hingga ke hari ini. Selain itu ada pesta yang dinamakan Pesta Ukaz. Di situ diadakan peraduan ratu cantik, peraduan angkat berat, peraduan menari serta peraduan lawan pedang. </p>
<p>Di antara kerosakan lain yang dilakukan oleh masyarakat Arab ketika itu adalah seperti berikut: </p>
<p>1. Manusia sudah putus hubungan dengan Tuhan .<br />
Mereka langsung tidak kenal Tuhan pencipta dan penjaga. Mereka sekadar percaya Tuhan itu wujud. Tapi ramai juga yang tidak percayakan Tuhan lagi. Ertinya manusia tidak lagi merasakan Tuhan ada peranan dalam hidup mereka. Mereka yakin semua masalah hidup mereka boleh selesaikan sendiri. Akibatnya jiwa mereka kosong dari keimanan dan ketuhanan. Bila berhadapan dengan masalah hidup, ramai yang kecewa, putus asa dan membunuh diri. Ramai yang membunuh diri akibat tidak tahan dengan masalah yang dihadapi. </p>
<p>Pemujaan terhadap berhala begitu menebal sekali. Contohnya, Sayidina Umar r.a. sebelum memeluk Islam merupakan seorang yang sangat memuja berhala. Beliau bukan sahaja menyembah 360 berhala yang ada di Kaabah ketika itu, bahkan beliau sendiri membuat `tuhan` dan kemudian menyembah `tuhan` yang dibuatnya itu. </p>
<p>Cerita Sayidina Umar r.a. setelah dia Islam, &#8220;Kadang-kadang `tuhan` itu diperbuat daripada kuih. `Tuhan` itu akan kubawa ke mana-mana di masa aman damai, di masa perang,mengembara atau musafir. Apabila keletihan, ia akan kuletakkan di hadapan dan aku puja. Tetapi kalau lapar, ia akan kumakan, kemudian aku buat tuhan yang baru pula.&#8221; Begitulah fanatiknya beliau kepada tuhannya itu. </p>
<p>2. Berlaku sengketa dan dendam-mendendam di kalangan manusia .<br />
Maka berperanglah bangsa dengan bangsa, puak dengan puak, etnik dengan etnik, kabilah dengan kabilah, agama dengan agama, hngga keamanan tidak wujud lagi. </p>
<p>3. Orang yang kuat menjatuhkan yang lemah .<br />
Orang lemah menjadi mangsa. Keadilan dan pembelaan tidak berlaku. Ini menjadikan golongan bawahan semakin tertindas dan menderita. </p>
<p>4. Perempuan tidak ada tempat di dalam masyarakat .<br />
Perempuan hanya dijadikan alat pemuas nafsu lelaki terutama lelaki kaya dan penguasa-penguasa negara di waktu itu. Mereka akan ambil saja secara paksa mana-mana wanita yang mereka berkenan tanpa peduli anak atau isteri orang. Ini menjadikan mana-mana keluarga yang ada anak perempuan hidup tertekan. Anak-anak gadis akan diambil dan dirogol oleh panglima-panglima dan pemain-pemain senjata yang handal-handal di hadapan mata ibu bapa secara paksa. Inilah yang amat memalukan ibu bapa hingga akhirnya sesetengah daripada mereka mengambil keputusan untuk membunuh sahaja anak-anak perempuan apabila dilahirkan kerana tidak mahu menanggung malu. </p>
<p>5. Sistem ekonomi riba yang membolehkan orang kaya menekan orang miskin menjadi budaya dalam ekonomi .<br />
Orang miskin dicekik dengan hutang. Apabila tidak terbayar hutang kerana terlalu banyak, orang miskin diambil jadi hamba sahaya. Kebebasan dan kemerdekaan mereka diragut. </p>
<p>6. Hidup mereka nafsi-nafsi .<br />
Susah tanggung sendiri dan senang pun untuk diri sendiri. Ini menjadikan masyarakat ditimpa bermacam-macam bentuk kesusahan, hidup tanpa ada yang menolong dan membantu. Manusia hidup bagaikan berendam dalam ketakutan. Kebahagiaan dan ketenangan tidak wujud. </p>
<p>7. Kejadian rompak, samun dan bunuh bermaharajalela .<br />
Tinggal dalam rumah sendiri pun rasa tak selamat. Apa lagi kalau pergi bermusafir atau mengembara. </p>
<p>8. Kemanusiaan dan keturunan menjadi rosak akibat penyakit- penyakit sosial seperti zina, rogol, liwat, lesbian, sumbang mahram dan lain-lain lagi. Gelombang jahat ini melanda bagaikan banjir besar hingga tidak dapat dibendung dan dikawal lagi. </p>
<p>9. Manusia benar-benar bertuhankan nafsu .<br />
Hormat-menghormati antara satu sama lain tidak wujud. Rakyat tidak hormat pemimpin. Pemimpin tidak memberi kaslh sayang pada rakyat. Orang kaya tidak berperikemanusiaan. Perompak, penyamun dan pembunuh tumbuh meliar akibat hasad dan dendam. </p>
<p>10. Allah SWT datangkan peringatan yang banyak dengan bencana alam, gempa bumi, banjir, belalang memusnahkan tanaman, ribut taufan dan penyakit berjangkit yang tidak ada ubat .<br />
Manusia bertambah derita dan melarat. Yang kaya berpoya-poya, sombong, membuang masa, membazir dan hidup sendiri-sendiri. Di zaman itu mereka terlalu ketagihkan arak. Walaupun di zaman ini pun ada yang minum arak tetapi tidak sehebat zaman Rasulullah. Arak kini disimpan di dalam botol-botol yang cantik tetapi dulu ia disimpan di dalam tempayan-tempayan yang terletak di sekeliling rumah. Bahkan menjadi kemegahan di kalangan masyarakat waktu itu untuk membawa pulang serta menyimpan kepala manusia yang telah dipenggal dari tubuh. Tengkorak ini akan disangkut dan dijadikan hiasan di rumah. Ada juga tengkorak yang dijadikan bekas untuk meminum arak. Begitu hebat ketagihan mereka kepada arak. </p>
<p>Begitulah gambaran masyarakat jahiliah dahulu, begitu kusut dan porak-peranda. Tidak ada Tuhan, tidak ada kasih sayang, tidak ada keamanan, kedamaian dan keharmonian, tidak ada keselamatan, tidak ada saling bantu-membantu dan tolong-menolong. Masyarakat dipenuhi dengan penindasan, penzaliman, tekanan, ketidakadilan, keganasan, kejahilan,pergaduhan, peperangan dan kesumbangan. Manusia ketika itu berada di kemuncak kerosakan. Kehidupan mereka hampir- hampir setaraf dengan kehidupan haiwan.<br />
Rasulullah SAW membawa kaedah bagaimana membaiki masyarakat tersebut. Sebenarnya pada waktu dan kesempatan inilah Allah mendatangi manusia melalui wakil-Nya iaitu Rasulullah SAW. Rasulullah diutuskan kepada umatnya dengan membawa 3 cara untuk mengubat penyakit masyarakat yang sudah begitu kronik. Rasulullah SAW dididik, diajar, dipelihara, dibantu, disokong, diselamatkan dan diberi kemenangan dalam perjuangannya oleh Allah SWT. </p>
<p>Orientalis Barat sehingga kini mash tertanya-tanya formula apakah yang digunakan oleh Rasulullah SAW sehingga berjaya merubah kehidupan masyarakatnya di waktu itu. Perubahan ini menjadi tanda tanya kepada mereka. Apakah rahsianya sehingga manusia yang pada mulanya begitu jahat dan jahil tetapi selepas dididik oleh Rasulullah, mereka sudah tidak mahu lagi meminum arak, sudah tidak mahu lagi menerima serta memberi riba, sudah tidak mahu lagi berzina dan wanita yang pada mulanya hanya untuk memuaskan nafsu kaum lelaki, mendapat pembelaan hingga mereka diletakkan sebagai golongan yang dijaga dan dihormati. Wanita dijaga, dibela, dihormati dan maruah mereka dipertahankan habis-habisan. </p>
<p>Dari sebuah masyarakat yang menjadi pemuja berhala tiba-tiba berubah kepada masyarakat yang terlalu memuja Tuhan. Tuhan dibesarkan dan diagungkan. Begitu juga dari masyarakat yang suka bergaduh dan berperang antara satu sama lain akhirnya menjadi masyarakat yang begitu berkaslh sayang yang sangat luar biasa sekali. </p>
<p>Bahkan lahir juga peribadi yang menyerah diri untuk dihukum. Kalau ada yang mencuri, datang bertemu Rasulullah minta dipotong tangannya; yang membunuh menyerah diri minta dibunuh; yang minum arak minta dirotan sementara yang berzina minta agar dihukum rejam. Tetapi disebabkan hukuman zina itu berat, Rasulullah sering mengelak-elak untuk tidak menghukum dan merejam. Namun mereka bersungguh- sungguh mengaku dan melahirkan buktinya. </p>
<p>Yang menjadi tanda tanya kepada kita, kenapakah mereka begitu sekali takut sehingga rela menyerah diri sedangkan ketika itu polis tidak ada dan undang-undang masih belum begitu ketat lagi. Apakah yang menyebabkan perkara ini boleh berlaku? Apakah faktor yang merubah dan membaiki masyarakat di zaman Rasulullah yang pada mulanya serba berpenyakit? </p>
<p>Mengikut pendapat tokoh-tokoh Islam terutamanya ulama-ulama di bidang Tasawuf, timbulnya penyakit masyarakat atau kemungkaran itu disebabkan tiga perkara yang terbesar:<br />
a. Disebabkan keyakinan manusia terhadap Tuhan sudah nipis ataupun dalam erti kata yang lain, perasaan tauhid sudah berkurangan.<br />
Apabila seseorang itu sudah nipis rasa tauhidnya, sudah nipis keyakinan terhadap Tuhan, atau mempercayai bahawa adanya Tuhan dan tidak adanya Tuhan sudah sama banyak, maka di waktu itu manusia tidak takut kepada sesiapa lagi. Sudah tidak ada lagi kuasa ghaib yang ditakuti. Dia akan menjadi manusia yang sanggup berbuat apa sahaja asalkan kehendaknya tercapai. Dia sanggup mencuri, merompak, membunuh, berzina, merogol atau melakukan apa sahaja. Dengan itu maka merebaklah penyakit masyarakat. </p>
<p>b. Oleh kerana manusia sudah tidak yakin lagi dengan adanya Akhirat ataupun sekiranya masih ada keyakinan, namun keyakinan itu sudah nipis.<br />
Apabila manusia sudah tidak yakin lagi dengan hari Akhirat ataupun dia mempunyai keyakinan tetapi keyakinannya itu sudah nipis, maka Akhirat itu sudah tidak lagi menjadi idaman atau cita-citanya. Dengan itu hilanglah sifat mahu berjuang atau berjihad untuk Akhirat kerana fikirannya sudah tertumpu untuk dunia semata-mata. Dia mencari wang untuk dunia, mencari pangkat untuk dunia dan mencari segala-galanya untuk dunia. Kadang-kadang urusan Akhirat pun dijadikan untuk dunia. Dunia menjadi matlamat hidupnya. Dia sanggup berbuat apa sahaja untuk dunianya tidak kira haram atau halal, baik atau jahat, betul ataupun salah. </p>
<p>c. Disebabkan manusia terlalu sayang dan cinta pada diri mereka sendiri .<br />
Apabila manusia itu telah terlalu cinta dengan diri sendiri maka timbullah usaha bagaimana mahu senang sendiri, mahu senang keluarga sendiri, mahu senang kawan-kawan sendiri. Dalam usaha mahu membela nasib untuk kepentingan diri sendiri maka adakalanya terpaksa melanggar hak asasi orang lain, terpaksa merosakkan kepentingan orang lain, kadang-kadang terpaksa memijak kepala orang lain dan terpaksa merugikan orang lain. Akhirnya tercetuslah pergaduhan, perbalahan, peperangan, kekacauan, tindas-menindas dan lahirlah perasaan hasad dengki dan dendam kesumat yang berpanjangan.<br />
Setelah mengenal pasti masalah kaumnya, Rasulullah SAW mengubati masyarakatnya yang sudah teruk itu berpandukan pimpinan dari Tuhan. Di antara yang dilakukan oleh baginda adalah seperti berikut:<br />
1. Rasulullah SAW menanamkan rasa tauhid.<br />
Rasulullah membina dan menanam kembali rasa tauhid yang sudah begitu nipis di kalangan masyarakat jahiliah ketika itu. </p>
<p>Rasulullah mengenalkan kembali Tuhan kepada manusia supaya manusia terasa akan kebesaran Tuhan, kehebatan Tuhan dan keperkasaan Tuhan. Rasulullah membacakan ayat-ayat yang menunjukkan bahawa Allah itu Maha Perkasa, Maha Agung, Maha Pencipta. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dialah yang memberi nikrnat kepada orang yang baik dan Dialah yang akan mengazab orang yang jahat. </p>
<p>Hasilnya manusia kembali kenal dan takut kepada Tuhan. Mereka rasa gerun dengan kekuasaan Tuhan. Mereka merasai kehebatan Tuhan. Ramai di kalangan para Sahabat yang gementar apabila mendengar nama Allah atau apabila mendengar orang menyebut-nyebut tentang kekuasaan dan kehebatan Allah. </p>
<p>2. Rasulullah menanamkan rasa cintakan Akhirat.<br />
Selepas itu Rasulullah menanamkan pula rasa cinta kepada Akhirat. Beliau tekankan bahawa Akhirat itu ada dan pasti. Beliau ceritakan tentang kedatangan hari Qiamat. Tentang kehebatan Akhirat. Beliau memperkatakan tentang Syurga dan Neraka. Beliau membacakan ayat-ayat tentang Akhirat, antaranya firman Allah SWT:<br />
Maksudnya: &#8220;Katakan sesungguhnya kebendaan duniawi ini kecil (sedikit) dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa. &#8221; (Surah An-Nisa`: 77) </p>
<p>Rasulullah berjaya melahirkan manusia yang jiwanya terpaut dengan Akhirat, rindu dengan Akhirat dan seronok dengan Akhirat. Bahkan sesetengahnya menjadi terlalu ingin agar cepat balik ke Akhirat. Bukan sahaja harta dihabiskan untuk Akhirat bahkan nyawa sendiri dikorbankan untuk Akhirat. Mereka mahu cepat-cepat kembali ke Akhirat. Mereka mahu mati syahid dan menjadi para syuhada. </p>
<p>Ada yang berlumba-lumba dan berkejar-kejaran untuk ke Akhirat. Sebolehnya apa sahaja yang ada pada mereka hendak diberikan kepada orang lain sebagai bekalan mereka di Akhirat nanti. Begitulah hebatnya perasaan rindu mereka kepada negara yang kekal abadi di Akhirat itu hingga apa sahaja usaha ikhtiar mereka lakukan demi untuk mendapat nilai di sisi Allah sebagai bekalan di Akhirat. </p>
<p>3. Rasulullah menanam kasih sayang sesama manusia<br />
Rasulullah kemudian menanam semangat dan perasaan cinta terhadap sesama manusia terutamanya terhadap sesama umat Islam. Ini semata-mata untuk mengikis sikap terlalu cintakan diri sendiri iaitu perasaan dan kecenderungan untuk membela diri sendiri, keluarga sendiri dan kawan-kawan sendiri sahaja. </p>
<p>Mari kita lihat beberapa contoh Hadis yang menggalakkan manusia supaya mencintai dan mendahulukan orang lain lebih dari diri sendiri:<br />
a. &#8220;Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. &#8220;<br />
b. &#8220;Sebaik-baik manusia ialah manusia yang banyak berkhidmat kepada manusia lain.&#8221;<br />
c. &#8220;Barangsiapa yang menunaikan sesuatu hajat saudaranya, Tuhan akan menunaikan untuknya 70 hajat.&#8221; </p>
<p>Dengan cara beginilah maka tumbuh di hati-hati para Sahabat perasaan bahawa kesenangan orang lain seperti kesenangan diri sendiri. Lahir perasaan kasih sayang pada orang lain. Mereka dapat merasai nasib orang lain seperti nasib mereka sendiri, kesenangan orang lain seperti kesenangan sendiri, kesusahan orang lain seperti kesusahan sendiri, tubuh orang lain seperti tubuh mereka sendiri, darah orang lain seperti darah sendiri dan nyawa orang lain seperti nyawa sendiri. </p>
<p>Rasulullah menimbulkan unsur-unsur yang boleh mendatangkan ukhwah. Rasulullah sendiri mempraktikkan apa yang terkandung di dalam Quran hingga tercetus perasaan kasih sayang sesama umat Islam. Beliau duduk bersama manusia, bersembahyang bersama-sama, jalan bersama, baring bersama, makan bersama, bahkan boleh menegur kesalahan orang tanpa ada rasa sakit hati atau rasa tersinggung. Ditanamkan di dalam hati para Sahabat betapa perlu dan pentingnya ukhwah dan kasih sayang di antara mereka. </p>
<p>Rasulullah berjaya mendidik kaumnya sehingga lahir peribadi yang sangat mengkagumkan kita. Dalam sejarah diceritakan bagaimana Sayidina Ali dan Siti Fatimah yang terkenal hidup dalam keadaan miskin dan melarat tetapi masih dapat memikirkan hal orang lain dan dapat membela nasib orang lain. Mereka membela fakir miskin, janda-janda dan anak-anak yatim di sekeliling rumah mereka. Mereka yang terbela itu tidak menyangka Sayidina Ali dan isterinyalah yang menghantar barang-barang makanan ke beranda-beranda rumah mereka di waktu malam, ketika mereka sedang nyenyak tidur. Setiap pagi ada sahaja makanan diletakkan di situ.</p>
<p>Mereka sangka tentulah itu kerja orang seperti Sayidina Abdul Rahman Bin Auf yang terkenal kaya-raya. Atau mungkin juga perbuatan Saidina Abu Bakar atau Sayidina Umar.Sekali-kali tidak terlintas pada mereka bahawa Sayidina Alilah yang membela mereka. Akhirnya apabila meninggalnya Sayidina Ali, bekalan makanan terputus. Barulah mereka sedar bahawa selama ini Sayidina Alilah yang memberi makanan tersebut kepada mereka. </p>
<p>Apakah yang mendorong Sayidina Ali dan Siti Fatimah membela orang lain walaupun mereka sendiri terlalu miskin? Pasti ada sesuatu yang menggerakkan hati-hati mereka sehngga mereka dapat melahirkan rasa kasih sayang, simpati, ingin membela orang lain dan dapat merasai kesusahan yang ditanggung oleh orang lain itu seperti kesusahan mereka sendiri sehingga terdorong untuk membantu mereka. Inilah hasil mukjizat pimpinan Rasulullah SAW yang mampu memimpin kaumnya. Rasulullah berjaya membawa mesej kasih sayang kepada para Sahabat sehingga mereka terdorong untuk berkorban berhabis-habisan untuk orang lain. </p>
<p>Kesimpulannya, kita boleh lihat kejayaan yang dibawa oleh Rasulullah dalam kehidupan masyarakatnya, dalam berbagai aspek.<br />
Antaranya:<br />
1. Di sudut aqidah , Rasulullah seolah-olah telah memberikan satu hadiah yang paling besar nilainya kepada masyarakat jahliah iaitu Tuhan. Baginda berjuang bermati-matian untuk memastikan setiap manusia mendapat Tuhannya. Bermula dengan menerangkan bahawa Tuhan itu sebenarnya wujud. Kemudian meyakinkan manusia bahawa Tuhanlah yang menciptakan manusia dan mahkluk lain. Kemudian diyakinkan manusia bahawa Tuhan mengirimkan kitab-kitab. Di dalarnnya dijelaskan peranan Tuhan kepada manusia dan makhluk-makhluk lain. Tuhan Maha Berkuasa, Maha Mencipta, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Tuhan mengadakan dan meniadakan, menghukum sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Tuhan penjaga, pengawal, pendidik, pemelihara, penyelamat. </p>
<p>Rasulullah menghubungkan manusia dengan Tuhan dengan menonjolkan sifat maha kasih sayangnya Tuhan kepada manusia. Contohnya, Tuhan meminta memulakan apa-apa yang baik yang hendak kita buat itu dengan menyebut Bismillahir Rahmanir Rahim (Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Bila manusia kenal Allah sebegitu rupa, maka manusia akan terasa sangat bahawa dalam hidupnya ada pelindung, ada penyelamat, ada tempat berkasih sayang, ada tempat rujuk, ada tempat meminta, ada tempat bermanja dan ada tempat mengadu. Dengan itu Rasulullah telah berjaya membebaskan manusia dari penyakit kecewa dan putus asa bilamana mereka berhadapan dengan apa sahaja kesusahan hidup. Bila manusia dapat Tuhan, sungguh manusia mendapat segala-galanya. Inilah pemberian terbesar dari seorang Rasul kepada umatnya. </p>
<p>2. Di sudut perpaduan , Rasulullah mencipta formula untuk mencapai perpaduan sejagat. Inilah satu kejayaan yang kedua terbesar selepas aqidah. Sesudah 13 tahun memperjuangkan aqidah di Mekah sehingga para Sahabatnya jadi begitu cinta dan takut kepada Allah, dan manusia tidak sanggup lagi bergaduh dan berkrisis. Mereka tahu dan mampu berkasih sayang sesama mereka. Lahirlah masyarakat yang bertolak ansur, berukhwah, bekerjasama, maaf bermaafan, mengutamakan orang lain lebih dari diri sendiri, saling merendah diri dan sebagainya. Peri kemanusiaan subur semula dalam diri-diri manusia. Perpaduan yang erat pun berlaku. Sombong, pemarah, hasad dengki dan dendam kesumat kian pupus. </p>
<p>Kehidupan jadi begitu aman, damai, harmoni dan bersih dari segala ketakutan atau kebimbangan yang melanda sebelumnya. Masyarakat yang asalnya kronik terubah sistemnya kepada sebuah masyarakat yang sungguh indah. Rakyat menghormati pemimpin, pemimpin mengasihi rakyat,murid-murid hormat guru-guru, guru-guru sayangkan murid-murid, anak-anak menghormati dan mentaati ibu ayah, ibu ayah memberi kasih sayang dan bertanggungjawab terhadap anak-anak. Suami isteri cinta-mencintai dan berperanan di tempat mereka masing-masing. Jiran menghormati jiran bahkan dianggap seperti keluarga sendiri, djjaga maruah, kehormatan dan keselamatan jiran, hatta waktu jiran tidak ada di rumah, rumahnya itu di jaga. </p>
<p>3. Di sudut pergaulan , Rasulullah mengajarkan satu sistem pergaulan yang selamat. Tanpa sistem yang selamat yang diajar oleh Rasulullah itu, manusia akan jatuh martabatnya ke peringkat haiwan. Rasulullah berjaya membendung gejala-gejala zina, rogol, lesbian, homoseks dan lain-lain. Rasulullah datang mengajarkan masyarakatnya tentang satu sistem pergaulan yang selamat dan menyelamatkan serta mampu memelihara mereka dari kehinaan. </p>
<p>4. Di sudut hak asasi , Rasulullah ialah orang pertama yang mempertimbangkan keperluan-keperluan asasi setiap individu. Walhal sebelumnya manusia sudah tidak menghormati hak-hak orang lain. Maka Rasulullah menghalakan manusia kepada satu cara hidup di mana setiap manusia diberi hak kebebasan belajar, kebebasan beragama, kebebasan memiliki, kebebasan mencari rezeki, hak tempat tinggal, hak kebebasan bercakap, berfikir dan lain-lain lagi. </p>
<p>5. Di sudut kemajuan , Rasulullah membawa Islam yang cukup praktikal. Baginda mendorong, menganjurkan, menggalakkan, bahkan mewajibkan manusia belajar dan mempraktikkan ilmu hingga terbinanya satu tamadun lahiriah. Kehidupan yang mundur telah jadi maju. Hidup senang dan selesa. Kalau sebelumnya Rom dan Parsi menjadi kiblat manusia, tetapi selepas kedatangan Rasulullah, Islam menjadi alternatifnya. Bagindalah bapa pembangunan tamadun fizikal dan roh. Rom dan Parsi dapat ditakluki oleh Rasulullah, kemudian disambung oleh para Sahabatnya hingga tiga suku dunia tunduk kepada Islam. </p>
<p>6. Di sudut keamanan , dunia seolah-olah putus asa dalam menyelesaikan krisis dan peperangan sesama manusia, tetapi Rasulullah ada kaedah bagaimana mengelakkan darah manusia dari tumpah di medan perang. Rasulullah mampu mengalihkan suasana perang kepada suasana kedamaian. Sedangkan tidak ada orang yang boleh lakukan ini. Tidak juga badan dunia seperti PBB. </p>
<p>7. Di sudut martabat wanita , kaum wanita sepatutnya merasa terhutang budi kepada Rasulullah. Usaha bagindalah yang telah mengangkat da rjat wanita serta memberi mereka hak yang sama dengan kaum lelaki dalam bidang-bidang yang sesuai. Walhal sebelumnya wanita tidak ada tempat dalam masyarakat. Hanya jadi alat memuaskan nafsu kaum lelaki. Tidak dihormati, tidak dijaga maruah dan kehormatan mereka serta tidak mendapat tempat di tengah masyarakat. Sebagai isteri dan ibu, wanita mendapat layanan dan kasih sayang yang istimewa dari Islam. </p>
<p>Rasulullah sanggup menemani janda-janda, balu-balu dan anak-anak yatim. Bijaknya Rasulullah memperlakukan hamba-hamba yang lemah ini hingga mereka menjadi cukup berperanan tapi bersopan santun. Tidaklah sama dengan apa yang dilakukan oleh orang jahiliah yang mempergunakan kecantikan dan keistimewaan yang dikurniakan Allah kepada kaum wanita hanya untuk kepentingan nafsu mereka sahaja. Apakah agaknya hadiah atau bayaran yang kaum wanita sanggup berikan kepada Rasulullah yang telah menghadiahkan kemuliaan seperti ini kepada mereka? </p>
<p>8. Kita tidak akan mampu menghitung nikmat dan rahmat Allah yang dibawa oleh Rasulullah kepada kita. Ianya terlalu besar dan banyak. Rasakanlah betapa rahmatnya bila Rasulullah dapat lahirkan pemimpin-pemimpin yang berlaku adil dan melindungi rakyat, orang kaya sangat pemurah sehingga menjadi bank kepada rakyat, orang miskin yang redha, ulama yang menjadi obor, perempuan-perempuan yang pemalu dan pemuda yang berjuang. Orang bersalah yang sanggup meminta maaf, yang tidak bersalah sanggup memberi maaf. Para musafir tidak diganggu perjalanannya. Barangan yang hilang dipulangkan semula. </p>
<p>Orang musafir dijadikan tetamu istimewa, orang berebutrebut mengajak mereka ke rumah dan diberi berbagai-bagai keperluan. Rumah musafir khana yang percuma banyak di bangunkan. Sistem pendidikan, ekonomi, sosial, kesihatan, perhubungan, politik dan lain-lain, semuanya terubah bilamana hati-hati dan jiwa-jiwa manusia dibina kukuh dengan bertunjangkan tauhid. </p>
<p>Inilah kejayaan-kejayaan besar yang telah dicetuskan oleh Rasulullah SAW dalam mengubat penyakit masyarakatnya. Baginda umpama penyelamat yang telah membawa masyarakat manusia sejagat dari lembah yang hina kepada suatu martabat yang tinggi iaitu sebuah masyarakat yang berakhlak dan terpuji, aman damai dan harmoni. Inilah masyarakat yang kita idam-idamkan iaitu sebuah masyarakat yang aman makmur serta mendapat keampunan Tuhan.</p>
<p>http://kawansejati.ee.itb.ac.id/kumpulan-kuliah</p>
<p>Hakikat Jahiliyah<br />
Posted on Juni 16, 2010 by hasmijaksel<br />
oleh : DR. Muhammad Sarbini MHI<br />
Jahiliyah berasal dari kata Al Jahlu (الجهل ) yang berarti bodoh. Ketika menerangkan arti bahasa dari Al Jahlu,<br />
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan :<br />
هُوَ عَدَمُ اْلعِلْمِ أَوْ عَدَمُ اِتِّبَاعِ اْلعِلْمِ فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَعْلَمِ اْلحَقَّ فَهُوَ جَاهِلٌ جَهْلاً بَسِيْطاً. فَإِنْ اِعْتَقَدَ خِلاَفَهُ فَهُوَ جَاهِلٌ جَهْلاً مُرَكَّبًا..وَ كَذَلِكَ مَنْ عَمِلَ بِخِلاَفِ اْلحَقِّ فَهُوَ جَاهِلٌ وَ إِنْ عَلِمَ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ<br />
“Al Jahlu adalah tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu. Barangsiapa yang tidak mengetahui Al Haq(kebenaran), maka orang itu Jahil Basith (sederhana), sedangkan jika berkeyakinan menyalahi Al Haq(kebenaran) maka orang itu Jahil Murakkab (bertingkat). Demikian pula orang yang beramal menyalahi Al Haq (kebenaran), maka diapun jahil, sekalipun dia mengetahui bahwa dirinya menyalahi kebenaran.”<br />
(Baca : Kitab “Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim Mukhalifah Ashhab Al Jahim, Tahqiq : Asy Syeikh Muhammad Hamid Al Faqi, Hal : 77-78)</p>
<p>Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan bahwa Jahiliyah adalah :<br />
هِيَ اْلحَالُ اَّلتِي كَانَتْ عَلَيْهَا اْلعَرَبُ قَبْلَ اْلإِسْلاَمِ مِنَ اْلجَهْلِ بِاللهِ وَ شَرَائِعِ الدِّيْنِ وَ اْلمُفَاخَرَةِ بِاْلأَنْسَابِ وَ اْلكِبْرِ وَ التَّجَبُّرِ وَ غَيْرِ ذَلِكَ نِسْبَةً إِلَى اْلجَهْلِ الَّذِي هُوَ عَدَمُ اْلعِلْمِ أَوْ عَدَمُ اِتِّبَاعِ اْلعِلْمِ<br />
“Kondisi yang dialami bangsa Arab sebelum Islam berupa kejahilan kepada Allah, Rasul-rasulNya, Syari`at Ad Dien, berbangga-bangga dengan keturunan, takabbur, sombong dan lain-lain yang dikaitkan dengan kejahilan yang berarti tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu”.<br />
(Baca ” Kitab At Tauhid”, Hal : 23)<br />
Dari perkataan beliau Jahiliyah dapat dikaitkan dari 2 sisi, yaitu :<br />
1. Sisi Masa / zaman yaitu kondisi bangsa Arab pra Islam, tentu saja, jika demikian masa ini telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah Saw. Akan tetapi, perlu difahami bahwa masa atau zaman mengandung karakteristik atau peristiwa yang terkandung di dalamnya yang bisa menjadi ukuran bagi zaman atau masa yang lain. Untuk itu sisi Jahiliyah yang kedua adalah :<br />
2. Sisi Karakteristik (Sifat-sifat atau peristiwa yang terjadi di dalamnya). Sisi ini tidak akan berakhir dengan berakhirnya bangsa Arab atau setelah diutusnya Rasulullah Saw, karena dia bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh zaman manapun, bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh bangsa manapun atau pribadi manapun, termasuk siapa saja di antara kita yang mengaku muslim.<br />
Sisi karakteristik inilah yang dijelaskan oleh Muhammad Quthb tentang arti Jahiliyah dalam Al Qur`an Al Karim. Beliau mengungkapkan “Di dalam Al Qur`an Al Karim lafadz Jahiliyah memiliki makna khusus atau secara hakiki memiliki 2 makna terbatas yaitu :<br />
إِمَّا اْلجَهْلُ بِحَقِيْقَةِ اْلأُلُوْهِيَّةِ وَ خَصَائِصِهَا وَ إِمَّا السُّلُوْكُ غَيْرُ اْلمُنْضَبِطِ بِالضَّوَابِطِ الرَّبَّانِيَّةِ أَوْ بِعِبَارَةٍ أُخْرَى : عَدَمُ اِتِّبَاعِ مَا اَنْزَلَ اللهُ<br />
1. Jahil terhadap hakekat dan karakteristik Uluhiyah, dan<br />
2. Bersikap hidup tanpa memiliki ikatan Rabbani atau dengan kata lain tidak mengikuti ajaran yang diturunkan oleh Allah.”<br />
Kata-kata Dr. Shalih Fauzan “kejahilan kepada Allah…” hingga akhirnya merupakan gambaran karakteristik jahiliyah yang tidak dapat lepas dari 2 unsur pokok yang disebutkan oleh Muhammad Quthb tersebut. Terlebih lagi beliau memberikan sejumlah bukti dalam Al Qur`an dan As Sunnah yang menjelaskan hal itu, di antaranya beliau mengutip firman Allah Swt :<br />
وَجَاوَزْنَا بِبَنِى إِسْرَاءِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَل لَّنَآ إِلَهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ<br />
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:”Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab<br />
“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil (terhadap sifat-sifat Ilah)”. (Qs. 6:103)<br />
Jahil yang dimaksud dalam ayat ini adalah tidak mengetahui hakekat Uluhiyyah. Karena, seandainya mereka mengetahui bahwa Allah Ta`ala<br />
( tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (QS. 6:103),<br />
( Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (QS. 42:11),<br />
(Pencipta segala sesuatu (QS. 6:102) dan bukan makhluk<br />
serta sifatNya tidak serupa dengan sifat makhlukNya, niscaya mereka tidak meminta hal tersebut yang menandakan kejahilan mereka terhadap hakekat Uluhiyyah.<br />
وَطَآئِفَةُُ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ اْلأَمْرِ مِن شَىْءٍ<br />
“sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata:”Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini”.(Qs. 3:154)<br />
Yang dicela oleh Allah terhadap kelompok tersebut adalah aqidah tertentu (tashawwur mu`ayyan) yang berkaitan dengan hakekat uluhiyyah. Yaitu aqidah mereka bahwa ada pihak lain yang ikut campurtangan bersama Allah dalam segala<br />
urusan serta kejahilan (ketidaktahuan) mereka bahwa yang menyempurnakan perbuatan hanyalah kehendak dan aturan Allah Yang Esa.<br />
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ<br />
Yusuf berkata:”Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk ( memenuhi keinginan mereka ) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. 12:33)<br />
Makna ayat ini berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani yaitu cenderung untuk (memenuhi keinginan) wanita, melanggar perintah Allah dan terjerumus dalam urusan yang diharamkan Allah. Itulah sesuatu yang oleh Yusuf `Alaihis Salam dikhawatirkan terjatuh ke dalamnya serta dimintakan perlindungannya kepada Allah.<br />
وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى<br />
“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS. 33:33)<br />
Makna ayat inipun berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani dan mengikuti aturan yang tidak diturunkan oleh Allah seperti wajibnya menjaga diri dan tidak menampakkan perhiasan wanita kecuali terhadap para mahramnya.<br />
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ<br />
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. 5:50)<br />
(Baca : Kitab “Ru`yah Islamiyyah Lii Ahwal Al `Alam Al Mu`ashir, Hal : 15-17)<br />
2 karaktersitik inilah yang dapat saja terjadi pada perorangan atau suatu negara. Seorang yang tidak mengenal hakekat Uluhiyyah yang benar atau bersikap hidup tanpa ikatan Rabbani tentu disebut memiliki sifat jahiliyyah, walaupun dia mengaku Islam. Begitu pula sebuah negara yang system hukum, norma dan tata nilainya bertentangan dengan hakekat Uluhiyyah atau tidak terikat dengan ikatan Rabbani dapat digolongkan sebagai negara jahiliyyah, walaupun mayoritas penduduknya atau pemimpinnya kaum muslimin</p>
<p>http://hasmijaksel.wordpress.com/2010/06/16/hakikat-jahiliyah/</p>
<p>Karakteristik Masyarakat Jahiliah dalam Al-Qur’an</p>
<p>Dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa Rasulullah diturunkan oleh Allah ke dalam suatu komunitas masyarakat yang dikenal dengan istilah masyarakat Arab Jahiliah. Secara lingustik istilah jahiliah berasal dari kata Bahasa Arab jahala yang berarti bodoh dan tidak mengetahui atau tidak mempunyai pengetahuan. Namun dalam realitas yang sesungguhnya, secara faktual saat itu masyarakat Arab yang dihadapi oleh Rasulullah bukanlah masyarakat yang bodoh atau tidak mempunyai pengetahuan. Buktinya pada saat itu sastra dan syair berkembang dengan pesat di kalangan mereka. Setiap tahun diadakan festival-festival pembacaan puisi dan syair, ini membuktikan bahwa orang-orang Arab ketika itu sudah banyak yang mengetahui baca dan tulis. Selain itu mereka juga mampu membuat tata kota dan tata niaga yang sangat baik. Hal ini semakin menguatkan bahwa mereka kaum Quraisy bukanlah orang-orang bodoh dan tidak berpengetahuan. Dapat dipahami, bahwa sebenarnya mereka adalah masyarakat yang sedang berkembang peradabannya.<br />
Dari berbagai kajian yang pernah penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad diistilahkan dengan jahiliah bukan karena bodoh atau tidak berpengetahuan, atau dalam istilah lain lemah dalam aspek intelektualnya.<br />
Penulis berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan ”kejahilan” (ketidaktahuan) mereka ada pada dua aspek utama, pertama aspek akidah. Pada saat Rasulullah diutus oleh Allah, khurafat dan mitos-mitos yang berkembang pada saat itu telah menyeret manusia untuk menjauh dari kehidupan yang alami dan manusiawi. Dalam kondisi seperti itulah, Allah mengutus duta terakhirnya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau membawa agama Islam sebagai hadiah bagi umat manusia sedunia serta memberikan penafsiran baru terhadap kehidupan manusia, selain itu beliau juga datang dengan membawa misi untuk memberantas akar kebodohan dalam masyarakat, yakni syirik kepada Allah.<br />
Sedangkan yang kedua adalah aspek akhlak. Pada masa itu, akhlak atau moral sama sekali tidak mendapat tempat dalam masyarakat jahiliah. Pada saat itu mereka melakukan berbagai perbuatan keji tanpa merasa takut atau bersalah, di antaranya kebiasaan mengubur bayi perempuan hidup-hidup, minum-minuman keras, berzina, membunuh, dan lain sebagainya. Rasulullah diturunkan oleh Allah untuk memperbaiki akhlak. Beliau menyeru masyarakat agar berpegang teguh kepada nilai-nilai moral. Selain itu beliau juga mengajarkan kepada mereka akhlak yang mulia.<br />
Jadi dapat dikatakan bahwa masyarakat jahiliah yang dimaksud di sini adalah masyarakat yang jahil dalam segi akidah dan akhlak. Kejahilan yang terjadi ribuan tahun itu ternyata juga kembali terjadi di zaman sekarang, sehingga zaman globalisasi ini sering pula disebut dengan istilah jahiliah modern. Terjadinya berbagai dekadensi moral di berbagai bidang merupakan karakteristik utama yang menjadikan masyarakat modern ini kembali ke kehidupan jahiliah. Untuk lebih memahami apa yang disebut masyarakat jahiliah ini perlu kiranya kita mengkaji lebih dalam apa saja karakteristik dan perilaku dari masyarakat tersebut. Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia telah memberikan tuntunan bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Al-Qur’an juga telah menjelaskan 4 karakteristik utama dari masyarakat jahiliah. 4 Karakteristik itu adalah :<br />
1. Hukmul Jahiliah (Hukum Jahiliah)<br />
Masyarakat jahiliah menggunakan hukum jahiliah sebagai undang-undang dan peraturan dalam kehidupan mereka. Yang dimaksud dengan hukum jahiliah adalah hukum yang memihak kepada yang lebih kuat. Para pengambilan keputusan hukum lebih memihak kepada pihak yang bisa membayar dengan mahal, sementara kaum miskin semakin tertindas dengan berlakunya hukum jahiliah ini. Hukum begitu mudah dibeli dengan uang dan berbagai iming-iming materi. Wajar kiranya jika kiranya sekarang pun di sebut dengan zaman jahiliah modern, sebab supremasi hukum juga sudah tidak ada. Para koruptor, pengeruk harta kekayaan negara dengan mudahnya membebaskan dirinya dari jeratan hukum. Mereka mampu membeli para hakim dan jaksa. Para punggawa peradilan menjadi sangat mandul karena mereka sudah disuap dan disogok dengan duit jutaan bahkan milyaran. Inilah yang diisyaratkan Allah dalam sinyalemennya : ”Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah : 50). Karakteristik demikian ternyata juga muncul di zaman sekarang, hukum begitu mudah dibeli. Supremasi hukum hanya slogan belaka, sebab dalam kenyataannya siapa yang kuat, yang berkuasa, yang punya uang, maka dialah yang berhak ”memiliki” hukum.<br />
2. Dzhonnul Jahiliah (Prasangka Jahiliah)<br />
Orang-orang musyrik jahiliah berakidah syirik (menyekutukan Allah). Mereka merasakan Tuhan itu jauh dari mereka karena tidak nampak (immateri) hingga mereka mangambil patung-patung orang suci dari kalangan mereka untuk dijadikan wasilah beribadah kepada Tuhan. Mereka pada hakekatnya tahu Tuhan mereka adalah Allah SWT. terbukti nama ayah Rasulullah sendiri bernama Abdullah (hamba Allah). Itulah prasangka jahiliah, sangkaan yang tidak benar tentang eksistensi Tuhannya. Allah SWT berfirman : ” &#8230;&#8230;.mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah&#8230;&#8230; ” (Ali Imran : 154). Sikap demikian ternyata juga ada di masyarakat modern sekarang ini, banyak di antara mereka yang syirik kepada Allah. Di antara mereka ada yang menjadikan harta, jabatan, ilmu pengetahuan, keelokan wajah sebagai Tuhan mereka. Waktu yang berikan oleh Allah telah mereka habiskan untuk ”menyembah” Tuhan-tuhan mereka. Prasangka yang tidak benar lainnya dari masyarakat jahiliiah adalah menganggap bahwa kehidupan ini akan kekal selamanya, bahkan sebagian lainnya mempercayai bahwa hidup ini tidak akan pernah berakhir, mereka tidak percaya dengan adanya hari kiamat. Prasangka demikian juga terjadi di dmasyarakat modern ini, bahkan kebanyakan dari mereka mempercayai konsep ”reinkarnasi”, naudzu billlahi min dzalik.<br />
3. Hamiyatul Jahiliyah (Kesombongan Jahiliah)<br />
Allah SWT berfirman : ”Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa &#8230;&#8230;.” (Al-Fath : 26) ). Allah SWT. mempersamakan perilaku sombong sebagai penyakit jahiliah. Mengapa? Sebab kesombongan senantiasa melupakan eksistensi Tuhan sebagai penentu segalanya. Sebagai seorang Muslim, banyaknya musibah di negara ini jangan sekadar hanya disikapi sebagai fenomena alam biasa, tapi coba lihat dalam konteks Al-Qur’an yang berbicara tentang penyebab musibah. Sikap kesombongan kita kepada Allah SWT. yang menyebabkan bencana silih berganti datang kepada kita karena tidak bersyukur dengan nikmat Allah yang banyak kita peroleh. Orang yang sombong akhirnya akan terjerumus menjadi manusia yang berani melanggar dan menentang perintah Allah SWT. Iblis saja terusir dari surga karena tidak taat pada perintah Allah. Dengan demikian, Jika ada masyarakat Muslim kita yang tidak taat pada perintah Allah dalam skup sempit misalnya ingkar melaksanakan ibadah sholat dan zakat, maka diapun sebenarnya telah mengidap penyakit kesombongan jahiliah.<br />
4. Tabarrujul Jahiliah (Hiasan/Dandanan Jahiliah)<br />
Allah SWT berfirman : ”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu” (Al-Ahzab : 33) Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa budaya mengekspoitasi kemolekan tubuh wanita menjadi karakteristik utama masyarakat jahiliah. Arti tabarruj yang sebenarnya ialah: ”membuka dan menampakkan sesuatu untuk dilihat mata”. Az-Zamakhsyari berkata: &#8220;Bahwa tabarruj itu ialah memaksa diri untuk membuka sesuatu yang seharusnya disembunyikan.&#8221; Namun tabarruj dalam ayat di atas adalah khusus untuk perempuan terhadap laki-laki lain, yaitu mereka nampakkan perhiasannya dan kecantikannya.<br />
Dalam mengartikan tabarruj ini, Az-Zamakhsyari menggunakan unsur baru, yaitu: takalluf (memaksa) dan qashad (sengaja) untuk menampakkan sesuatu perhiasan yang seharusnya disembunyikan. Sesuatu yang harus disembunyikan itu ada kalanya suatu tempat di badan, atau gerakan anggota, atau cara berkata dan berjalan, atau perhiasan yang biasa dipakai berhias oleh orang-orang perempuan dan lain-lain. Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.<br />
Karakteristik kehidupan tabarruj tampak jelas dalam keseharian kita. Maraknya ekploitasi kemolekan tubuh wanita terjadi dimana-mana, dan makin hari ini semakin parah. Di berbagai media hal ini sudah biasa kita saksikan. Sayangnya hal ini diperparah dengan adanya penyakit eksibisionisme (Suka pamer aurat) di antara kita, terlebih lagi kalangan selebritis. Banyaknya acara infotainment tentang selebritis menyebabkan banyak sensasi yang dilakukan walau harus menjual harga dirinya. Gampang saja, kalau mau terkenal dan ingin dikejar-kejar media agar rating bayaran berlipat-lipat, terkadang mereka berpose seronok dan disebarluaskan melalui internet dan hand phone. Kebiasaan ini akhirnya banyak diikuti generasi muda mudi kita dikarenakan selebritis adalah publik figur yang dididolakan. Akhirnya budaya malu menjadi barang langka di negeri ini. Dalam hadis Rasulullah Saw. Bersabda, ”jika Allah hendak menghancurkan suatu negeri, maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu” (HR.Bukhari Muslim). </p>
<p>Demikianlah empat karakteristik utama kehidupan jahiliah yang secara rinci dan gamblang telah Allah jelaskaan di dalam kitab suci-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat dari cengkraman ”budaya” kehidupan jahiliah, amin.<br />
-Mardias Gufron-</p>
<p>http://diaz2000.multiply.com/journal/item/54/54?&#038;show_interstitial=1&#038;u=%2Fjournal%2Fitem</p>
<p>Masyarakat Jahiliah<br />
Diantara pembaca mungkin telah banyak yang pernah mendengar dan membaca istilah itu, dan banyak pula yang telah mengerti bahwa yang dimaksud dengan istilah jahiliah adalah keadaan bangsa arab yang hidup pada masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Jika kita kembali membuka kitab-kitab lughat (kamus) bahasa arab, istilah jahiliyah berarti &#8216;kebodohan&#8217; yaitu golongan penyembahan patung dan mengikuti hawa nafsu yang sesat ditanah arab pada masa sebelum islam; dan dalam arti yang lebih luas adalah hal ikhwal bangsa arab pada masa sebelum islam datang kepada mereka. Akan tetapi , menurut ensiklopedia bahasa arab, yang dimaksud dengan jahiliyah itu adalah &#8216;keadaan manusia sebelum dibangkitkannya Muhamad Rasulullah saw, jelasnya golongan manusia yang hidup pada masa sebelum kedatangan Nabi Muhamad saw, sementara mereka itu sudah tidak mengikuti syariat para nabi Allah yang pernah datang kepada mereka masing-masing.</p>
<p>berdasarkan keterangan tersebut, yang dinamakan bangsa jahiliah pada masa itu bukannya bangsa Arab saja, melainkan sekalian bangsa yang ada dimuka bumi ini, termasuk bangsa arab juga. Dan perkataan jahiliah itu bukan menjadi nama bagi masa (zaman), sebagaimana banyak orang mengatakan : Zaman jahilah, tetapi sebuah sebutan bagi umat manusia yang hidup dan berprilaku seperti yang disebutkan tadi Dan masyarakat mereka dinamakan masyarakat jahiliah.</p>
<p>Mengapa umat manusia pada masa itu terutama bangsa arab di Jazirah Arab disebut jahiliah dan masyarakat mereka dinamakan dengan masyarakat jahiliah? apakah mereka itu memang sungguh-sungguh dalam &#8220;kebodohan&#8221; dan &#8220;kegelapan&#8221;?</p>
<p>Istilah jahiliah itu sekalipun dari bahasa Arab, tetapi timbul dalam masyarakat umat manusia sesudah datangnya Dienul Islam yang dibawa oleh Nabi Muhamad saw, Dan lebih tegas istilah jahilah itu menyangkut perkataan yang dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya yang diturunkan atas Nabi Muhamad saw di dalam beberapa ayat Al-Quran :</p>
<p>Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS.33:33)</p>
<p>Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48:26)</p>
<p>Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS.5:50)</p>
<p>Jadi, meskipun perkataann jahiliah itu asalnya berarti bangsa yang berada dalam kebodohan, tetapi yang dimaksudkan oleh islam bukan kebodohan yang berarti tidak mempunyai pengetahuan dan kepandaian atau tidak mempunyai kecerdasan berfikir dan kecakapan bekerja, melainkan &#8220;kebodohan&#8221; yang berkaitan dengan ketauhidan Allah, yang berarti juga kebodohan dan kedunguan tentang undang-undang Allah yang harus berlaku di alam semesta yang luas ini, dan kebodohan tentang hukum-hukum-Nya yang telah diturunkan kepada umat manusia, yang seharusnya oleh mereka itu diikuti, ditaati dan dilaksanakan.</p>
<p>Sebagaimana yang telah kami uraikan di atas, bangsa Arab pada beberapa abad sebelum Nabi muhamad saw dilahirkan dan sebelum Al-Quran diturunkan ke dunia ini, telah mencapai kemajuan dalam segala lapangan. Sebagian diantara mereka telah mempunyai kepandaian dalam urusan perekonomian, seperti pertanian, perusahaan, perniagaan, bahkan pada masa jahiliyah itu semangat perekonomian mereka hidup dengan suburnya. Sebagian diantara mereka telah ada yang mempunyai kepandaian dalam soal teknik atau pertukangan, seperti membangun gedung-gedung, rumah yang besar-besar, benteng-benteng, dan sebagainya. Sebagian ada yang telah mempunyai kepandaian tentang soal perindustrian, seperti membuat obat-obatn dan sebagainya. Sebagian ada yang telah mempunyai kepandaian dalam soal ketentaraan atau kemilitera. Terbukti diantara mereka banyak yang pandai berperang., menjadi pahlawan perang, pandai memainkan senjata dimedan pertempuran, dan sebagainya. Sebagian ada yang mahir dalam urusan politik atau ketatanegaraan. Terbukti diantara mereka ada yang cukup mengatur pemerintahaan, pandai merencanakan dan menyusun undang-undang, bahkan sebagian ada pula yang pandai dan telah dapat mengatur pemerintahaan secara demokratis, parlementer dsb.</p>
<p>Alhasil bangsa Arab dan masyarakat Arab pada masa yang dikatakan jahilah itu bukan berada dalam kebodohan atau kedunguan, tidak mempunyai kecerdasan dan sebagainya, sebagaimana banyak orang menyangka, melainkan mereka pada umumnya sudah mempunyai taraf kepandaian, kecerdesan, kemahiran, kecerdikan, dan kecakapan yang tinggi. Dengan perkataan lain, mereka sudah berkemajuan bahkan dapat dikatakan lebih maju jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain pada masa itu. Akan tetapi, karena umumnya dari mereka itu buta pada Dien Yang benar karena telah meninggalkan Syariat yang dibawa oleh para nabi yang datang kepada mereka masing-masing.</p>
<p>Iqraku / Ydth<br />
Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw1</p>
<p>http://iqraku.blogspot.com/2010/04/masyarakat-jahiliah.html</p>
<p>Potret Kehidupan Zaman Jahiliyah<br />
Posted by Admin pada 29/09/2009<br />
Inilah Kehidupan Zaman Jahiliyah<br />
Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.<br />
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya masa itu dari para pembawa risalah dikarenakan Allah murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :<br />
Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arab atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab. (HR Muslim)<br />
Saat itu, memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah dan/atau dihapus, atau dengan agama yang punah, baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang yang umi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat beribadah namun dengan apa yang ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang, berhala, kubur, benda keramat, atau yang lainnya.<br />
Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathal Mustaqim 1/74-75)<br />
Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama.<br />
Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).<br />
Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtasor Sirah Rasul hal. 23 &amp; 73).<br />
Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya dan juga menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj dan qabilah dari Madinah. Juga ada Latta di Thaif dan Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtasor Siroh Rasul 75-76 Rahiqul Makhtar :35).<br />
Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai agama Ibrahim ‘alaihis salam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.<br />
Dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang perbuatan Amr ini: “Saya melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam)” (HR Bukhari)<br />
Diantara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya karena diyakini dapat memberi manfaat, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini bahwa itu akan mendekatkan kepada Allah dan memberi syafaat sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an. Mereka mengatakan:<br />
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)<br />
“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kenmudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’”. (Yunus: 18)<br />
Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.<br />
Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.<br />
Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.<br />
Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.<br />
Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.<br />
Dikutip dari: http://www.asysyariah.com Penulis : Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam<br />
Mewaspadai Budaya-budaya Jahiliyah<br />
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai hari kiamat.<br />
Di masa jahiliyah orang arab memiliki berbagai macam budaya dan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehiduapan mereka sehari-hari. Kebudayaan itu ada yang berbentuk keyakinan, ibadah, akhlak dan hukum-hukum kemasyarakatan. Tujuan kita mengenal persoalan ini adalah agar kita tidak terjerumus kedalam kebudayaan-kebudayaan jahiliyah tersebut. Pada abad globalisasi ini betapa cepatnya pertukaran peradaban namun sebagian kita tidak memiliki filter untuk menyaring kebudayaan dan peradaban tersebut. Sehingga sebagian kita terjerumus dan jatuh ke dalam berbagai jurang kesesatan umat-umat yang lain. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,<br />
((لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في جحر ضب لاتبعتموهم قلنا يا رسول الله آليهود والنصارى ؟ قال فمن ؟)) (متفق عليه).<br />
“Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereke masuk lubang Dhab (sejenis kadal) niscaya akan kalian ikuti, para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?’  (jawab Rasulullah), ‘Siapa lagi.’” (HR. Bukhari &amp; Muslim).<br />
Jika kita melihat ketengah masyarakat kita, tentu kita akan mendapati bahwa sebagian besar dari mereka sudah terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban umat-umat lain.<br />
Baik dengan sengaja meniru-niru mereka dengan alasan model dan gaya, atau karena kebodohan tentang ajaran agama kita sendiri, tidak menyadari bahwa kebiasaan dan gaya tersebut adalah gaya dan model umat jahiliyah dulu.<br />
Allah telah menjelaskan dalam banyak ayat begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits-hadits beliau tentang budaya dan kebiasaan orang-orang jahiliyah, agar umat ini terhindar dari menyerupai kebiasaan mereka yang menyimpang dari kebenaran yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Baik yang berbentuk keyakinan, ibadah, akhlak dan hukum-hukum kemasyarakatan.<br />
Sebagaimana firman Allah,<br />
{وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ} [الأنعام: 55]<br />
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa”. (QS. Al-An’am: 55)<br />
Allah menjelaskan jalan orang-orang yang berdosa agar kita menghindari dan menjauhinya, agar kita tidak terjerumus kedalam dosa, sekaligus menjauhi jalan dan sebab-sebab yang menimbulkan dosa. Diantara jalan-jalan dosa adalah meniru budaya dan peradaban orang-orang jahiliyah serta jalan umat yang dilaknat dan disesatkan Allah.<br />
Karena kebodohan terhadap sebab-sebab kebatilan bisa membawa seseorang kepada kebatilan itu sendiri. Sebaliknya jika seseorang mengetahui jalan dan sebab kebinasaan ia akan selalu mawas diri. Disamping itu ia akan memberitahu orang lain untuk menghindari sebab-sebab dan jalan kebinasaan tersebut.<br />
Hal inilah yang diungkapkan Sahabat Nabi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,<br />
“كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني” (صحيح البخاري برقم (7084) ، وصحيح مسلم برقم (1847).<br />
“Adalah para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tentang hal yang baik-baik saja, namun saya bertanya kepada beliau tentang hal yang jelek, karena takut saya akan terjerumus kedalamnya.” (HR. Bukhari &amp; Muslim).<br />
Sahabat Hudzaifah mengambarkan kepada kita bahwa diantara sebab yang menjerumuskan seseorang kedalam kejelekkan adalah karena tidak tahu akan hal yang jelek itu sendiri.<br />
Hal ini ditegaskan lagi oleh khalifah yang kedua Umar bin khatab radhiallahu ‘anhu dalam ungkapanya,<br />
” إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية “.<br />
“Sesungguhnya putusnya tali Islam itu sedikit demi sedikit apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak kenal jahiliyah.”</p>
<p>Karena bila seseorang yang tidak mengetahui kebatilan, ia tidak akan mengingkari kebatilan tersebut. Bila demikian halnya tentu kebatilah itu hari demi hari akan semakin tersebar sehingga akan diangap sebuah kebenaran. Yang pada akhirnya bila ada yang mengingkarinya ia akan dianggap mengingkari kebenaran. Sehingga terjadi penilaian yang amat keliru, yang batil dianggap benar, yang benar dianggap batil.<br />
Gejala ini sudah mulai tampak dalam kehidupan kita, ketika ada perhatian sebagian orang untuk menanggulangi berbagai bentuk penyimpangan moral dalam masyarakat. Datang gerombolan yang menamakan diri pembela hak asasi dan kebebasan. Seoalah-olah yang memiliki kebebasan dan hak asasi adalah orang yang melanggar. Adapun orang yang patuh dan manut kemana hak asasi dan kebebasan mereka? Semestinya yang mendapatkan hukuman adalah orang yang menyimpang, tetapi justru malah mereka yang mendapat pembelaan! Sebaliknya orang yang berjalan diatas kebenaran dianggap tidak berwawasan, tidak toleransi, tidak bisa beda pendapat, fanatik, mau menang sendiri dan seterusnya dari berbagai celaan kepada mereka.<br />
Segala perkara jahiliyah dikubur di bawah telapak kaki Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam, sebagai bentuk peringatan kepada umat Islam untuk tidak menggali kembali perkara-perkara jahiliyah tersebut, apalagi melestarikannya.<br />
Sebagaimana beliau nyatakan dalam sabda beliau,<br />
((ألا كل شيء من أمر الجاهلية تحت قدمي موضوع)) رواه مسلم.<br />
“Katahuilah segala sesuatu dari urusan jahiliah di bawah telapak kakiku terkubur.” (H.R. Muslim)<br />
Berkata syeikhul Islam Ibnu Taimiyah,  ”Sabda Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam, ‘Seluruh perkara-perkara jahiliyah berada dibawah telapak kakiku.’” Termasuk kedalam hal tersebut segala hal yang mereka lakukan dari berbagai macam ibadah dan budaya … seperti hari-hari besar mereka dan lain-lain dari kebiasaan mereka, … tidak termasuk kedalam hal itu budaya mereka yang diakui dalam Islam, seperti manasik dan diyat orang yang terbunuh, dan lain lain. Karena yang difahami dari ungkapan budaya-budaya jahiliyah ialah hal-hal yang tidak diakui oleh Islam, dan termasuk juga kedalamnya, kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang tidak dilarang secara khusus”. (Al Istiqomah:111).<br />
Dalam sabda yang lain beliau tegaskan,<br />
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((أبغض الناس إلى الله ثلاثة ملحد في الحرم ومبتغ في الإسلام سنة الجاهلية ومطلب دم امرئ بغير حق ليريق دمه)). رواه مسلم.<br />
“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Manusia yang paling dimarahi Allah ada tiga; orang melakukan dosa di tanah haram, orang yang mencari kebiasaan jahiliyah dalam Islam dan orang yang mengincar darah seseorang tanpa hak untuk ia tumpahkan (membunuhnya).’” (HR. Muslim)<br />
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang berkeinginan melakukan sesuatu dari sunnah jahiliyah termasuk kedalam hadits ini. Sunnah jahiliyah adalah segala kebiasaan (adat-budaya) yang mereka lakukan. Karena sunnah ialah adat yaitu kebiasaan yang berulang agar bisa melingkupi semua orang. Yaitu hah-hal yang mereka anggap ibadah ataupun yang tidak mereka anggap ibadah. Maka barangsiapa yang melakukan sesuatu dari adat-adat mereka, maka sesungguhnya ia telah menginginkan sunnah jahiliyah. Hadits ini umum mewajibkan diharamkannya mengikuti segala sesuatu dari kebiasaan-kebiasaan jahiliyah, dalam hal perayaan hari-hari besar dan juga diluar perayaan hari-hari besar”. (Al Iqthidha’: 76-77).<br />
Beliau ungkapkan lagi pada kitab lain, “Sabda Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam:   ‘Yang mencari dalam Islam sunnah jahiliyah,’ termasuk kedalamnya segala kejahiliyahan secara mutlak; agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Shaibah, agama penyembah berhala, agama syirik, atau adopsi dari sebagian ajaran-ajaran agama-agama jahiliyah tersebut. Maka seluruh bentuk-bentuk bid’ah dan ajaran yang telah mansukh telah menjadi jahiliyah dengan diutusnya Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Sekalipun kalimat jahiliyah lebih dominan penggunaannya kepada orang-orang Arab, maka maknanya sama. (Al-Istiqomah: 78-79).<br />
Di antara bentuk-bentuk budaya jahiliyah yang berhubungan dengan keyakinan:<br />
Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabda beliau,<br />
عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا عدوى ، ولا طيرة ، ولا هامة ، ولا صفر » . أخرجاه<br />
Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan bulan safar adalah bulan sial.” (HR. Bukhari dan  Muslim).<br />
زاد مسلم :  ولا نوء ، ولا غول<br />
Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan, “Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula mempercayai hantu.”<br />
Dalam untaian sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam diatas ada beberapa kebiasaan orang jahiliyah sebagaimana penjelasan para ulama dalam mengomentari maksud hadits tersebut.<br />
Pertama: Al-’Adwaa yaitu berkeyakinan bahwa suatu penyakit dapat berpindah kepada orang lain dengan sendirinya tanpa ada takdir dari Allah.<br />
Di antara budaya keyakinan orang-orang jahiliyah mempercayai bahwa penyakit dapat berpindah dengan sendirinya kepada orang lain, tanpa ada takdir dari Allah. Hal ini dapat mengurangi atau membatalkan kemurnian tauhid seseorang kepada Allah. Karena yang dapat menimpakan penyakit dan musibah hanya Allah semata.<br />
Sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya,<br />
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ<br />
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid : 22- 23) .<br />
Namun, bukan berarti bahwa kita tidak boleh menghindari sebab-sebab yang dapat mencelakakan ataupun yang membahayakan. Tapi ketika dalam melakukan sebab, kita tidak boleh meyakini bahwa sebab itu sendiri dapat menyelamat kita. Jika Allah berkendak, bisa saja Allah berbuat sesuatu pada kita tanpa ada sebab. Berkata sebagian ulama,  “Meninggalkan melakukan sebab adalah menyalahi akal sehat, bergantung kepada sebab adalah kesyirikan.”<br />
Contoh: Untuk mendapatkan anak kita harus menikah, namun tidak berarti setiap orang yang menikah mesti mendapatkan anak. Karena ada orang yang beristeri empat tidak punya anak.<br />
Oleh sebab itu dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam katakan,<br />
(لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد. ( رواه البخاري<br />
“Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah (sendiri), tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan bulan safar adalah bulan sial, dan hindarilah orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu menghindar dari singga.”  (HR. Bukhari).<br />
Penggalan terakhir dari hadits “dan hindarilah orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu menghindar dari singga” telah dibuktikan oleh ilmu medis modern akan kebenarannya. Tapi Islam telah jauh lebih maju sebelum ahli medis membuktikannya. Ini merupakan salah satu bukti dari berjuta bukti atas kebenaran Islam dan keagungannya.<br />
Dalam hadits diatas terdapat keterangan tentang hukum mengambil sebab keselamatan dari penyakit menular.<br />
Dalam sabda lain Beliau katakan,<br />
(لا يورد ممرض على مصح. (رواه مسلم<br />
“Jangan campurkan onta yang sakit kedalam onta yang sehat.” (HR. Muslim).<br />
Sebagaian ulama berpendapat bahwa dua koteks diatas tidak saling bertentangan. Konteks pertama ditujukan pada orang yang kuat iman dan tawakalnya pada Allah, terutama bila ada masalah yang lebih besar, seperti petugas kesehatan dan regu penyelamat. Maka hendaknya memantapkan keimanan dan tawakalnya pada Allah jika situasi mengharuskan dia untuk berkorban. Konteks hadits kedua bagi orang yang kurang iman dan tawakalnya pada Allah. Wallahu a’lam. (Lihat Taisiir Al ‘Aziiz, 371-374, Ma’arijul Qabuul, 1/985).<br />
Kedua: At-Thiyarah yaitu menebak apa yang akan terjadi dengan perantara burung. Atau mengundi nasib dengan gerak-gerik binatang seperti burung dan lainnya. Adakalanya disebut (At-Tathayyur) namun maksudnya tetap sama.<br />
Di antara budaya orang-orang jahiliyah adalah apabila mereka akan berpergian atau melakukan sesuatu, ketika keluar dari rumah mereka memperhatikan binatang yang melintas di hadapan mereka. Binatang yang sering mereka jadikan ukuran adalah burung. Jika binatang tersebut melintas dari arah kiri ke kanan mereka, menurut mereka hal itu pertanda perjalanan dan rencananya akan sukses, maka mereka melanjutkan perjalanan dan rencananya. Dan jika binatang tersebut melintas dari arah kanan ke kiri maka ini pertanda sial atau malapetaka akan merintangi mereka. Maka mereka tidak jadi melanjutkan perjalanan dan rencananya. (Lihat Miftah Darus Sa’adah, 2/234).<br />
Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan akal sehat apalagi dengan akidah Islam. Karena binatang tersebut bergerak tanpa pertimbangan akal, dan tidak pula ditugaskan Allah untuk memberitahukan hal-hal yang ghaib kepada manusia. Melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan karena gerak-gerik binatang sebagai ukuran baik dan buruk adalah syirik. Karena telah menggantungkan harapan kepada selain Allah. Hal tersebut hanyalah semata-mata prasangka yang dibisikan setan untuk mejerumuskan manusia kelembah kesyirikan. Maka oleh sebab itu hal tersebut dilarang dalam Islam.<br />
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam,<br />
عن معاوية بن الحكم السلمي  قال قلت ( يا رسول الله إني حديث عهد بجاهلية وقد جاء الله بالإسلام وإن منا رجالا يأتون الكهان قال فلا تأتهم قال ومنا رجال يتطيرون قال ذاك شيء يجدونه في صدورهم فلا يصدنكم ).  رواه مسلم.<br />
Dari sahabat Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamy radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, ‘Ya Rasulullah saya baru saja meninggalkan kejahiliyahan, sesunguhnya Allah telah mendatangkan Islam, dan sebagian kami (pada masa jahiliyah) ada yang mendatangi tukang tenung (dukun).’ Beliau menjawab, ‘Jangan engkau mendatangi mereka’. ‘Dan diantara kami ada yang mengundi nasib dengan burung.’ Beliau menjawab, ‘Yang demikian adalah sesuatu yang terbayang dalam dada kalian, maka janganlah hal itu menghambat kalian (dari melakukan sesuatu).’” (HR. Muslim).<br />
Dalam sabda beliau yang lain disebutkan,<br />
من حديث ابن مسعود مرفوعا : « الطيرة شرك ، الطيرة شرك ، وما منا إلا . . . ولكن الله يذهبه بالتوكل » . رواه أبو داود والترمذي وصححه . وجعل آخره من قول ابن مسعود<br />
Dari sahabat Ibnu Mas’ud secara marfu‘ (langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam), “Mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik, mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik (beliau mengulanginya dua kali), tiada diantara kita kecuali (pernah terlintas dalam ingatannya), tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakal kepada Allah.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi, dan At Tirmizi men-shahih-kannya, dan menganggap akhir hadits tersebut dari ungkapan Ibnu Mas’ud).<br />
Dalam dua hadits ini disebutkan bahwa perasaan pesimis yang timbul berdasarkan pada gerak-gerik burung adalah keraguan belaka, dan cara untuk menghilangkan perasaan tersebut adalah dengan bertawakal pada Allah. Karena Allah tidak menjadikan gerak-gerik binatang atau burung sebagai dalil dan tanda-tanda untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi.<br />
Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam lebih senang kepada sikap optimis dari sikap pesimis, sebagaimana sabda Beliau,<br />
عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لا عدوى ، ولا طيرة ، ويعجبني الفأل ” ، قالوا : وما الفأل ؟ قال :  الكلمة الطيبة<br />
Dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam telah bersabda, “Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, dan aku lebih suka kepada sikap optimis, para sahabat bertanya apa sikap optimis itu? Beliau menjawab: yaitu kalimat yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
ولأبي داود بسند صحيح ، عن عقبة بن عامر ، قال : « ذكرت الطيرة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : ” أحسنها الفأل ، ولا ترد مسلما ، فإذا رأى أحدكم ما يكره ، فليقل : اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت ، ولا يدفع السيئات إلا أنت ، ولا حول ولا قوة إلا بك<br />
Imam Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Seseorang menyebut dihapan Rasulullah tentang mempercayai gerak-gerik burung, beliau menyanggah, yang terbaik adalah sikap optimis, jangan sampai hal itu mengembalikan seorang muslim (dari tujuannya), jika salah seorang kalian melihat sesuatu yang tidak ia senangi, maka hendaklah ia berkata, ‘Ya Allah tiada yang mamapu mendatangkan kebaikan kecuali engkau, dan tiada yang mampu menolak kejelekkan kecuali engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) engkau.’”<br />
Dalam sabda lain Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menyebutkan barang siapa yang melakukan ath-thiyarah, maka ia telah melakukan kesyirikan dan sebagai kafarat adalah membaca doa yang beliau sebutkan dalam hadits ini,<br />
عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من ردته الطيرة عن حاجته فقد أشرك قالوا يا رسول الله وما كفارة ذلك قال :<br />
( قال يقول : ” اللهم لا طير إلا طيرك ولا خير إلا خيرك ولا إله غيرك ) رواه أحمد، وصححه الأباني في “إصلاح المساجد”: 116.<br />
Dari sahabat Ibnu Umar ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, “Barang siapa yang dikembalikan ath-thiyarah dari keperluannya maka ia telah berbuat syirik.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa kafarat untuk itu ya Rasulullah?’  Jawab RasululIah, ‘Ia mengucapkan, “Ya Allah tiada ketentuan nasib kecuali ketentuan Engkau. Dan tiada (yang dapat memberi) kabaikan kecuali Engkau. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.”‘ (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam kitab Islaahul Masajid, 116).<br />
Ketiga: Al-Haamah yaitu meyakini bahwa burung hantu adalah jelmaan dari seseorang yang dibunuh yang tidak dibalas dengan pembunuhan pula.<br />
Diantara budaya keyakinan kaum jahiliyah lagi, barang siapa yang mati terbunuh lalu tidak dibalas dengan pembunuhan juga. Maka ia akan menjadi burung hantu yang senantiasa meminta tolong dan menundukkan wajahnya sampai dibalas atas pembunuhannya. (lihat Al-Bad’u Wattariikh, 2/118-119).<br />
Keyakinan ini mirip dengan reinkarnasi yang diyakini oleh orang-orang Hindu, yaitu bila seseorang mati apabila amalannya baik maka rohnya akan berpindah pada tubuh baru yang lebih baik. Sebaliknya jika amalannya jelek maka rohnya akan berpindah pada tubuh binatang. Tanpa adanya hari berbangkit dan berhisab karena mereka tidak mempercayai adanya hari akhirat. (lihat Al-Bad’u Wattariikh: 4/33, dan Taisiir Al-’Aziiz: 379, Taisiir Al-’Aziiz: 379).<br />
Hal ini banyak pula diyakini oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam. Mereka tidak sadar bahwa ini betentangan dengan akidah Islam. Dalam agama Islam seseorang yang sudah meninggal rohnya tidak akan pernah kembali lagi ke dunia, tapi rohnya berada di alam barzah. Keyakinan sebagian orang bahwa adanya orang yang jadi-jadian. Seperti jadi ular, babi, harimau, pocong dan seterusnya. Ini adalah keyakinan yang batil dan kufur. Sebetulnya yang menyerupai mayat atau yang jadi-jadian tersebur adalah qarin orang tersebut. Qarin artinya malaikat atau jin yang senantiasa bersama manusia semasa ia hidup. Setiap manusia memiliki dua qarin; satu dari malaikat dan satu lagi dari jin. Semasa hidup di dunia qarin dari malaikat senantiasa memotifasi manusia kearah yang baik. Qarin dari Jin senantiasa memotifasi ke arah yang buruk. Maka yang menyerupai si mayat atau kadangkala berbentuk binatang adalah qarin dari jin tersebut. Ia dapat menyerupai si mayat dalam bentuk dan suara.<br />
Hal ini disebutkan Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya,<br />
عن عبدالله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الجن قالوا وإياك ؟ يا رسول الله قال وإياي إلا أن الله أعانني عليه فأسلم فلا يأمرني إلا بخير)) رواه مسلم.<br />
Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, ‘Tidak seorang pun diantara kalian kecuali bersamanya ada qarinnya dari Jin.’ Para sahabat bertanya, ‘Engkau juga Rasulullah?’  jawab Rasulullah, ‘Termasuk saya, tetapi Allah telah menolong saya di atasnya, maka saya selamat, maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik.’” (HR. Muslim).<br />
Kata-kata فأسلم dalam hadits di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya; ada yang berpendapat bahwa Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam selamat darinya berkat bantuan Allah. Dan sebagian ulama memahaminya bahwa qarin tersebut masuk Islam. Wallahu A’lam.<br />
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa qarin itu dua; satu dari Jin dan satu lagi Malaikat,<br />
(وقد وكل به قرينه من الجن وقرينه من الملائكة ( رواه مسلم.<br />
“Dan sesungguhnya bersamanya ada qarin dari Jin dan qarin dari Malaikat.” (HR. Muslim).<br />
Jadi tidak benar anggapan sebagaian orang bahwa orang yang sudah mati bila roh tidak diterima Allah ia akan gentayangan dimuka bumi. Akan tetapi ,roh yang tidak dibukakan pintu langit untuknya akan ditempatkan di sijjiin salah satu bagian alam barzah. Sijjiin adalah tempat roh orang-orang kafir.  (lihat Tafsir Ath-Thabary: 24/282, Tafsir Al-Baghawy, dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/413).<br />
Adapun roh para syuhada berada dalam perut burung surga, ia makan dan minum dari buah-buahan dan sungai-sungai surga, sampai kembali lagi kepada jasadnya yang asli setelah hari berbangkit tiba.<br />
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,<br />
عن مسروق قال سألنا عبدالله ( هو ابن مسعود ) عن هذه الآية { ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون } قال أما إنا سألنا عن ذلك فقال ( أرواحهم في جوف طير خضر لها قناديل معلقة بالعرش تسرح من الجنة حيث شاءت)) رواه مسلم.<br />
Dari Masruq ia berkata aku bertanya kepada Abullah bin Mas’ud tentang ayat, “Janganlah kalian kira orang-orang yang mati (berjihad) di jalan Allah dalam keadaan mati, tetapi mereka dalam keadaan hidup di beri rezeki di sisi Tuhan mereka”. Ibnu Mas’ud menjawab kami telah menanyakan akan hal itu (pada Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam) beliau bersabda, “Roh-roh mereka dalam perut burung hijau, baginya lentera yang digantungkan dengan ‘Arasy, ia berpergian dalam surga kemana saja ia suka.” (HR. Muslim). (Lihat pembahasan ini pada Majmu’ Al-Fatawa, 4/224, 9/289, Ar-Ruuh, 39, dan  Hadiy Al-Arwaah, 17).<br />
Keempat: Shafar yaitu meyakini bulan shafar sebagai bulan sial.<br />
Orang-orang jahiliyah memiliki budaya keyakinan bahwa sebagian hari atau bulan membawa kesialan dan malapetaka. Sebagaimana keyakinan mereka terhadap bulan Shafar dan Syawal. Di bulan tersebut mereka meninggalkan urusan-urusan yang penting atau besar seperti pernikahan, perniagaan dan perjalanan. Keyakinan ini juga ditiru oleh sebagian orang-orang sekarang, seperti meyakini jumat kliwon adalah hari sial dan berbahaya jika pergi ke laut untuk menangkap ikan pada malam tersebut. Begitu pula meyakini hari selasa adalah hari api, maka tidak boleh berpergian pada hari tersebut. Dan masih banyak lagi keyakinan-keyakinan lain yang dihubungkan dengan hari, bulan dan tahun. Seperti keyakinan orang-orang cina dalam menyebut nama-nama tahun. Tahun naga adalah tahun yang kurang menguntungkan, tahun kuda adalah tahun yang menguntungkan dan seterusnya. Hal ini meyakini bahwa ada yang dapat mendatangkan mudharat selain Allah. Pada hal hari dan bulan hanyalah sekedar tempat waktu melakukan aktivitas bagi manusia tidak ada hubungan dengan bencana dan malapetaka, semua itu sesuai dengan kehendak Allah dan ketentuan-Nya kapan ia kehendaki terjadinya sesuatu di muka bumi ini. Tanpa ada campur tangan makhluk sedikitpun dalam mengatur alam jagat raya ini. Siapa yang meyakini seperti kepercayaan orang jahiliyah tersebut di atas maka telah melakukan syirik dalam Tauhid Rububiyah.<br />
Karena kebatilan keyakinan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengingkari hal tersebut, sebagaimana terdapat dalam hadits yang sedang kita bicarakan ini.<br />
Kelima: An-Nau’ yaitu mempercayai bintang.<br />
Diantara kebiasaan orang-orang jahiliyah adalah mempercayai bintang-bintang. Bahkan diantara mereka ada yang menyembah bintang. Mereka meyakini ada bintang-bintang tertentu membawa keberkahan dan ada pula bintang-bintang tertentu membawa kesialan dan bencana. Hal ini sangat mendominasi kehidupan oarng-orang jahiliyah. Sebagimana pula masih diyakini oleh sebagian umat kita tentang bintang-bintang kelahiran. Mereka menggantungkan harapan dengan bintang-bintang tersebut sepeti mencari jodoh, menetukan pekerjaan yang cocok, dan seterusnya. Demikian pula halnya orang yang mengkait-kaitkan hari kelahiran presiden dengan musibah yang melanda indonesia. Juga diantara keyakinan mereka bila ada bintang jatuh (meteor) hal itu pertanda adanya orang penting yang lahir atau meninggal.<br />
عن عبدالله بن عباس قال : أخبرني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم من الأنصار أنهم بينما هم جلوس ليلة مع رسول الله صلى الله عليه و سلم رمي بنجم فاستنار فقال لهم رسول الله صلى الله عليه و سلم ماذا كنتم تقولون في الجاهلية إذا رمي بمثل هذا ؟ قالوا الله ورسوله أعلم كنا نقول ولد الليلة رجل عظيم ومات رجل عظيم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم فإنها لا يرمى بها لموت أحد ولا لحياته ولكن ربنا تبارك وتعالى اسمه إذا قضى أمرا سبح حملة العرش ثم سبح أهل السماء الذين يلونهم حتى يبلغ التسبيح أهل هذه السماء الدنيا ثم قال الذين يلون حملة العرش لحملة العرش ماذا قال ربكم ؟ فيخبرونهم ماذا قال قال فيستخبر بعض أهل السماوات بعضا حتى يبلغ الخبر هذه السماء الدنيا فتخطف الجن السمع فيقذفون إلى أوليائهم ويرمون به فما جاءوا به على وجهه فهو حق ولكنهم يقرفون فيه ويزيدون.<br />
Dari sahabat Abdullah bin Abbas ia berkata, “Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dari kaum Anshar menceritakan padaku. Ketika mereka duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pada suatu malam ada bintang (meteor) jatuh memancarkan cahaya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepada mereka, ‘Apa ucapan kalian dimasa jahiliyah ketika ada lemparan (meteor) seperti ini?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang tahu, dulu kami katakan, ‘Dilahirkan pada malam ini seorang yang terhormat dan telah mati seorang yang terhormat.’ Lalu Rasulullah menerangkan, ‘Maka sesunguhnya bintang tersebut tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Akan tetapi Tuhan kita Tabaaraka wata’ala apabila telah memutuskan sebuah perkara, bertasbihlah para malaikat yang membawa ‘Arasy. Kemudian diikuti oleh para malaikat penghuni langit yang di bawah mereka, sampai tasbih itu kepada para malaikat penghuni langit dunia. Kemudian para malaikat yang dibawah para malaikat pembawa ‘Arasy bertanya kepada para malaikat pembawa ‘Arasy, Apa yang dikatakan Tuhan kita? Lalu mereka memberitahu apa yang dikatakan Tuhan mereka. Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula diantara sesama mereka, sehingga sampai berita tersebut ke langit dunia. Maka para Jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walinya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh yaitu sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambah”. (HR. Muslim).<br />
Melalui hadits diatas dapat kita ketahui beberapa hal, diantaranya:<br />
1.	Menerangkan keyakinan orang-orang jahiliyah terhadap bintang-bintang.<br />
2.	Menerangkan kebatilan keyakinan tersebut.<br />
3.	Diantara kegunaan bintang adalah untuk mengusir setan/jin yang berusaha mencuri berita-berita langit.<br />
4.	Tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung adalah wali-wali setan/jin.<br />
5.	Menerangkan bahwa tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung tidak mengetahui yang ghaib tetapi atas pemberitahuan setan atau jin.<br />
6.	Haramnya mempercayai tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung.<br />
7.	Menerangkan bahwa setan atau jin mencampur berita tersebut dengan kebohongan.<br />
Disamping itu orang-orang jahiliyah juga meminta hujan dengan perantara bintang-bintang. Semua hal tersebut diharamkan bagi setiap muslim karena merupakan kesyirikan yang nyata.<br />
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,<br />
عن زيد بن خالد الجهني أنه قال : صلى لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاة الصبح بالحديبية في إثر سماء كانت من الليل فلما انصرف أقبل على الناس فقال ” هل تدرون ماذا قال ربكم ؟ ” قالوا الله ورسوله أعلم قال ” قال أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر فأما من قال مطرنا بفضل الله وبرحمته فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب وأما من قال مطرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب “. رؤاه أبو داود، وقال الشيخ الألباني: صحيح.<br />
Dari Zaid bin Khalid Al Juhany ia berkata, “Kami diimami Rasulullah shalat subuh di Hudaibiyah pada bekas hujan yang turun di malam hari. Tatkala Rasulullah selesai, beliau menghadap kepada para jama’ah, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian apa yang telah dikatakan Tuhan kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.’ Kata beliau, ‘Tuhan kalian berkata, ‘Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman dengan-Ku dan ada pula yang kafir. Orang yang mengatakan: ‘Kita diturunkan hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya. Maka orang itu beriman dengan-Ku, kafir dengan bintang.’ Adapun Orang yang mengatakan: ‘Kita diturunkan hujan berkat bintang ini dan ini. Maka orang itu kafir dengan-Ku, beriman dengan bintang.’” (HR. Abu Daud, Syeikh Al-Albani menganggap hadits ini shahih).<br />
Dalam sabda beliau yang lain disebutkan,<br />
عن أبي مالك الأشعري أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ((أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر في الأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة)) رواه مسلم<br />
Dari Abu Malik Al Asy’ari bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Ada empat hal di tengah umatku dari perkara jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan perantaraan bintang-bintang dan meratapi mayat.” (HR. Muslim).<br />
Dalam hadits ini jelas dinyatakan beberapa kebudayaan jahiliyah diantaranya meminta hujan dengan perantara bintang-bintang. Adapun kebudayaan lain yang disebutkan dalam hadits tersebut akan kita jelaskan secara rinci dalam pembahasan berikutnya pada poin ketujuh, kedelapan dan kesembilan.<br />
Oleh sebab itu disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa siapa yang mempelajari ilmu bintang maka sungguhnya ia mempelajari salah satu cabang dari ilmu sihir,<br />
عن ابن عباس رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم ” من اقتبس علما من النجوم اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد “. قال الشيخ الألباني : حسن<br />
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu ia berkata: telah bersabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam : “Barang siapa yang mempelajari ilmu nujum, berarti ia telah mempelajari satu cabang dari sihir, senantiasa bertambah selama ia tetap mempelajarinya”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, menurut Syeikh Al Albany hadits ini hasan).<br />
Yang dimaksud ilmu nujum disini adalah ilmu ramal dengan perantara bintang-bintang. Karena bintang memiliki kegunaan dalam hal lain yaitu sebagai penunjuk arah ketika nelayan di laut atau ketika musafir di tengah gurun pasir.<br />
Sebagaimana Allah katakan dalam kitab suci Alqur’an,<br />
{ وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ} [النحل/16]<br />
“Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan) dan dengan bintang-bintang mereka peroleh petunjuk (dimalam hari).”<br />
Imam Qatadah menerangkan, “Tujuan diciptakan bintang-bintang ada tiga; untuk hiasan bagi langit, sebagai penunjuk arah ketika di malam hari, untuk mengusir setan yang mencuri berita-berita langit. Barangsiapa yang melewati selain itu, maka ia telah berdusta, telah menghilangkan bagiannya, dan telah berlebih-lebihan untuk mengetahui sesuatau yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya”. (lihat Tafsir At Thabary, 17/185).<br />
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menerangkan bahwa bintang yang dijadikan untuk pelempar setan tidak sama dengan bintang yang menjadi penunjuk arah bagi pelaut atau bagi orang yang dalam perjalanan di gurun pasir. Karena bintang yang dijadikan pelempar setan pindah dari tempatnya, tetapi bintang yang menjadi penunjuk arah tetap di tempatnya, Sekalipun semuanya disebut bintang. Sebagaimana penamaan hewan dan binatang yang melata termasuk kedalamnya manusia, binatang ternak, serangga dan lain-lain. (Lihat Majmu’ Al Fatwa, 35/168).<br />
Barangkali bintang yang jadi pelempar setan, biasa kita kenal di negeri kita dengan sebutan meteor. Wallahu A’lam.<br />
Keharaman ilmu nujum yaitu ilmu ramal, mempercayai bintang sebagai dalil untuk kejadian-kejadian di bumi tidak diragukan.<br />
Disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,<br />
من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة. رواه مسلم<br />
“Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung (peramal) untuk menanyakan tentang sesuatau, tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).<br />
Tukang ramal atau tukang tenung mencakup setiap orang mengaku mengetahui hal-hal ghaib yang akan terjadi. Termasuk didalamnya; dukun, ahli bintang, peramal dan lain-lain. (lihat Majmu’ Al Fatwa, 35/173).<br />
Yang anehnya ditengah masyarakat kita mereka digelari dengan orang pintar, untuk mengelabui orang-orang awam. Ini sama dengan menamakan maling dengan polisi.<br />
Keenam: Al Ghuul yaitu mempercayai adanya hantu yang dapat menyesatkan dan mencelakakan manusia dalam perjalannya.<br />
Menurut mereka hantu itu muncul dalam bentuk yang berbeda-beda ketika mereka melewati padang pasir lalu menyesatkan dan mencelakakan mereka. Maka Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menafikan perasangkaan tersebut bukan menafikan keberadaannya. Dimana orang-orang jahiliyah menyakini ia bisa berubah-rubah bentuk dan mencelakakan manusia. Ini termasuk syirik karena takut terhadap sesuatu yang ghaib selain Allah dan mempercayai bisa mendatangkan kemudaratan. (lihat Taisiir Al ‘Aziiz 380, dan Syarah Qashidah Ibnul Qayyim, 2/321).<br />
Oleh sebab itu diantara kebiasaan mereka apabila berhenti atau turun di suatu tempat, mereka mengatakan, “Aku berlindung dari jin penjaga tempat ini dari kenakalan orang-orang bodoh mereka. Maka diantara setan ada yang mencuri barang bawaan mereka. Maka mereka memohon kepada jin di tempat tersebut: kami adalah tetanggamu, maka jin tersebut menyahut dan mengembalikan barang-barang mereka. (lihat Ma’arijul Qabuul, 3/995).<br />
Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan kepada kita, jika kita berhenti pada suatau tempat dalam perjalanan hendaklah membaca doa berikut,<br />
((إذا نزل أحدكم منزلا فليقل أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ فإنه لا يضره شيء حتى يرتحل منه)) رواه مسلم<br />
“Apabila salah seorang kalian berhenti pada suatu tempat hendaklah dia membaca: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa yang telah Dia ciptakan. Maka sesungguhnya ia tidak akan diganggu oleh sesuatupun sampai ia meninggalkan tempat tersebut”. (HR. Muslim)<br />
عن أبي مالك الأشعري أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ((أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر في الأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة)) رواه مسلم<br />
Dari Abu Malik Al Asy’ary bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Ada empat hal di tengah umatku dari perkara jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan perantaraan bintang-bintang dan meratapi mayat”. (HR. Muslim)<br />
Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di atas ada empat kebiasaan jahiliyah yang amat sulit ditinggalkan oleh sebagian umat ini.<br />
Untuk lebih tertib kita lanjutkan nomor diatas, agar lebih mudah untuk memahaminya dan menghitung kebiasaan orang-orang jahiliah yang bisa dikupas dalam bahasan kita kali ini. Maka nomor urut berikut adalah:<br />
Ketujuh: Membanggakan keturunan.<br />
Diantara kebiasaan orang-orang jahiliyah lagi adalah membanggakan kebaikan dan kelebihan bapak-bapak mereka. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang mulia ini. Karena ukuran kemulian dalam Islam bukanlah dengan bentuk yang tampan, wajah yang cantik, harta yang banyak, jabatan yang tinggi, gelar yang melingkar, akan tetapi kemulian seseorang diukur dengan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.<br />
Sebagaimana firman Allah,<br />
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير} [الحجرات/13]<br />
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”. (QS. Al-Hujurat : 13)<br />
Agaknya barometer ini sudah mulai semu dalam pandangan sebagian kita, sehingga sebagian kita memacu kemuliaan di luar jalur ketakwaan. Ketika pandangan masyarakat kita mulai keliru dalam menilai, saat itu tujuan dan haluan hidup mereka mulai berputar. Sehingga berbagai penyelewengan terjadi dalam berbagai lini kehidupan kita. Ada orang yang menggapai kemulian dengan kegantengan dan kecantikan sekalipun mempertontonkan aurat di hadapan manusia. Ada pula yang menggapainya dengan harta sekalipun mendapatkannya dengan cara yang haram. Ada pula yang menggapainya dengan pangkat dan jabatan sekalipun memalsukan dokumen dan menyogok disana-sini. Ada lagi yang menggapainya dengan gelar sekalipun dibeli. Na’udzubllah min dzalik.<br />
Mudah-mudahan dengan adanya saling mengingatkan diantara kita, pandangan tersebut dapat diluruskan kembali. Mari kita capai kemulian dengan ketakwaan kepada Allah. Harta bisa mengantarkan kepada ketaqwaan jika dihasilkan dari jalan yang halal dan diinfaqkan pada yang halal. Begitu pula profesi-profesi yang lainnya hendaknya dijadikan sebagai fasilitas untuk mencapai ketakwaan dan keridhaan Allah subhaanahu wata’ala.<br />
Sebagian manusia demi untuk mencari kemulian, ada yang mengaku sebagai keturunan nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Dan yang lebih mengkhatirkan lagi adalah apabila pengakuan tersebut menjadi legilitimasi untuk melakukan bid’ah dan kesesatan dalam agama. Sekalipun seseorang tersebut benar-benar dari keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, selama dia tidak benar-benar mengikuti Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Hubungan keturunan tidaklah bernilai disisi Allah.<br />
Hal ini disampaikan oleh nabi dalam sabda beliau,<br />
((ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه)) رواه مسلم.<br />
“Dan orang yang dilambatkan amalnya, tidak bisa dipercepat oleh hubungan keturunnya”.<br />
Beliau katakan kepada kedua paman dan putri beliau sendiri bahwa beliau tidak bisa memjaga mereka dari azab Allah sedikitpun.<br />
قال النبي صلى الله عليه وسلم : يا عباس بن عبدالمطلب لا أغني عنك من الله شيئا يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا يا فاطمة بنت رسول الله سليني بما شئت لا أغني عنك من الله شيئا . متفق عليه<br />
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Wahai Abbas bin Abdul Muthalib aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah aku tidak menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Fathimah binti Rasulullah mintalah harta kepadaku apa saja yang kau mau aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun”. (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Oleh sebab itu, bila seseorang benar-benar dari keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jangan bergantung kepada hubungan keturunan semata. Tapi hubungan keturunan akan menjadikan lebih mulia bila diiringi dengan amal shalih. Maka keluarga Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dicintai melebihi dari yang lainnya bukan karena hubungan keturunan semata. Namun jika keluarga Nabi tersebut adalah seorang mukmin yang shaleh maka wajib kita cintai melebihi dari yang lainnya karena dua hal; karena ketaqwaanya dan karena hubungan keturunannya dengan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Jadi tidak benar kalau ada sebagian orang menilai bahwa Ahlus Sunnah tidak mencintai keluarga Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Mencintai mereka bukanlah berarti memberikan kedudukan kepada mereka melebihi dari hak yang diberikan Allah kepada mereka. Seperti mengkultuskan mereka dan menganggap mereka maksum dari kesalahan.<br />
Kedelapan: Mencela keturunan orang lain.<br />
Diantara kebiasaan orang-orang jahiliyah lagi suka mencela keturunan orang lain. Barang kali ini akibat dari saling berbangga dengan keturunan. Sehingga untuk membela bahwa keturunnya lebih mulia ia mencela keturunan orang lain. seprti mengingkari keturunan seseorang, atau mengingkari orang yang mengaku sebagai keturunan suku tertentu. Atau menebarkan aib dan kejelekan keturnan seseorang atau suku tertentu. Hal ini semua adalah kebudayaan jahiliyah yang mesti dihindari oleh seorang muslim.<br />
Dimasa sekarang sering terjadi seorang orang tua mengingkari anaknya, maka ini termasuk kedalam larangan hadits ini. Sebaliknya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam juga melarang untuk mengaku sebagai keturunan dari suku tertentu pada hal ia bukan dari mereka. Seperti orang yang mengaku dari keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pada hal ia bukan dari keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.<br />
Sebagaimana sabda beliau,<br />
إن من أعظم الفرى أن يدعي الرجل إلى غير أبيه أو يري عينه ما لم تره أو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل. رواه البخاري<br />
“Sesungguhnya kebohongan yang amat besar di sisi Allah adalah sesorang yang mengaku kepada selain bapaknya. Atau mengaku matanya melihat apa yang tidak ia lihat. Atau mengatakan terhadap Rasulullah sesuatu yang tidak beliau katakan”. (HR. Bukhari)<br />
Dalam riwayat lain beliau bersabda,<br />
(( من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام )) متفق عليه<br />
“Barangsiapa yang mengaku kepada selain bapaknya sedangkan ia tau bahwa dia bukan bapaknya, maka diharamkan surga baginya”. (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Kesembilan: Niyahah yaitu meratapi mayat.<br />
Diantara kebudayaan jahiliyah yang lain adalah meratapi mayat. Hal ini diharamkan dalam Islam karena seolah-olah ia menentang keputusan dan ketetapan Allah. Dimasa jahiliyah jika salah seorang dari anggota keluarga mereka meninggal dunia mereka ratapi dengan memukul-mukul muka dan merobek-robek pakaian. Bahkan ada pula yang mengurung diri dirumahnya dan senantiasa berpakaian kumuh sampai akhir hayatnya.<br />
Oleh sebab itu datang ancaman bagi orang yang meratapi mayat di akhir hadits tersebut,<br />
((وقال النائة إذا لم تتب قبل موتها تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران ودرع من جرب)) رواه مسلم<br />
Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Wanita yang meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibangkitkan pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal panas”. (HR. Muslim)<br />
Dalam hadits lain disebutkan,<br />
عن عبد الله رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم (( ليس منا من لطم الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية)) متفق عليه<br />
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, ‘Tidak termasuk golongan kami siapa yang memukul-mukul muka dan merobek-robek baju serta menyeru dengan seruan jahiliyah.’” (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Kebiasaan ini masih di tiru oleh sebagian kecil umat ini. Dan yang lebih sesat lagi adalah menjadikan hal tersebut sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang syi’ah rafidhah pada setiap tahun pada tanggal sepuluh Muharam di Padang Karbala. Ini jelas-jelas suatu penentang nyata kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.<br />
Ditengah pesatnya kemajuan tegnologi dan informasi sebagian manusia menilai bahwa kemajuan itu dicapai dengan mengabaikan norma-norma agama. Dan ada pula yang beranggapan bahwa agama menjadi penghambat kemajuan, apalagi menjalankan ajaran agama dengan konsekwen dan istiqamah. Kebutuhan ekonomi harus menjadi prioritas utama untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Demi untuk mengeruk income yang besar dari pariwisata kita harus menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan kuno kita. Serta sekaligus melestarikan segala budaya-budaya kuno, kebiasaan suku asmat yang tidak berpakaian harus dilestariakan, perayaan pemberian sesajian kegunung dan kelaut serta ketempat-tempat yang dianggap angker atau sakti harus senantiasa dilakukan.<br />
Bukankah ini suatu keteledoran dalam berpikir dan beragama, secara akal tindakan ini adalah bertentangan dengan mitos kehidupan bahwa hidup ini arus maju dalam segala segi. Begitu pula ditinjau dari sudut pandang agama tindakan ini sangat bertentangan dengan tugas Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam, karena beliau diutus untuk memerangi segala kejahiliyahan. Gerakan seperti akan merobohkan pondasi tauhid dan tiang-tiang agama, maka dari itu mari kita waspada dan siaga dalam menjaga iman kita. Jangan tertipu dengan berbagai slogan-slogan yang menggiurkan sekaligus menyesatkan. Wallahu A’lam, Washalallahu ‘Ala Nabiyina Muhammad wa “ala alihi washahbihi ajma’iin.</p>
<p>Penulis : DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A.<br />
Artikel www.dzikra.com<br />
KASUS JAHILIYAH MODERN </p>
<p>KASUS JAHILIYAH MODERN &#8211; Banyak orang menyangka bahwa masa jahiliyyah telah berlalu dan tak akan kembali lagi. Dalam benak mereka, yang disebut jahiliyah adalah paganisme primitif yang dilakukan orang-orang Arab sebelum datangnya Al-Islam.</p>
<p>Pemahaman mereka itu jelas-jelas salah. Paganisme orang-orang Arab hanyalah salah satu bentuk di antara bentuk-bentuk jahiliyah. Yang disebut jahiliyah pada hakekatnya adalah sikap keengganan untuk mengabdi kepada Allah semata, atau sikap penolakan untuk tunduk secara mutlak kepada-Nya. Jahiliyah tersebut, apapun bentuknya, memiliki beberapa ciri yang semuanya tidak lain muncul dari sikap di atas. Ciri pertama adalah pengabdian kepada selain Allah (syirik); ciri ini timbul sebagai akibat yang pasti dari keengganan untuk mengabdi kepada Allah semata. Ciri kedua adalah adanya thaghut, yaitu sesuatu yang diabdi selain Allah. Ciri ketiga adalah kepengikutan kepada hawa hafsu; ciri ini timbul karena hawa nafsulah yang bermain, tatkala manusia terlepas dari sikap tunduk dan mengabdi kepada Allah semata. Ciri keempat adalah tenggelamnya manusia jahiliyah ke dalam lumpur syahwat hewani.</p>
<p>Mari kita lihat masyarakat dunia modern saat ini!</p>
<p>Masyarakat di hampir seluruh dunia, termasuk di daerah yang disebut ‘dunia Islam’ sekarang ini, sedang dalam pengabdian kepada selain Allah (syirik)!, meskipun kadang dalam bentuk yang berbeda dengan kaum paganis arab di zaman Rasulullah sas. Kesyirikan yang paling menonjol dan banyak di puji-puji sekarang ini, baik di Barat maupun di Timur, adalah pengabdian kepada bangsa dan negara (fanatisme kedaerahan) dalam ajaran yang disebut nasionalisme. Pengabdian kepada manusia, baik yang duduk di dewan legistatif, pejabat pemerintah, para hakim, pencetus isme, pemikir maupun para pembesar suku, dalam wujud tunduk serta berhukum kepada undang-undang ciptaan mereka, menganut isme hasil imajinasi mereka atau mengikuti tradisi yang bersumber dari hawa nafsu mereka, adalah kesyirikan besar lain yang dilakukan mayoritas manusia saat ini.</p>
<p>Soal thaghut, tentu saja masyarakat tersebut tidak mungkin berlepas diri darinya, karena ia memang ada bersamaan dengan adanya pengabdian kepada selain Allah. Pengusung nasionalisme adalah thoghut. Pencipta isme pancasila dan undang-undang ‘45 serta orang-orang yang memberlakukannya adalah thaghut. Penyeru demokrasi, komunisme dan kapitalisme adalah thoghut. Para penguasa yang memerintah bukan di atas sistem ilahi adalah thoghut. Para anggota legistatif yang menciptakan undang-undang dari diri mereka adalah thaghut. Para pengawal tradisi jahiliyah adalah thaghut. Aparat penegak hukum jahiliyah juga thoghut. Ringkasnya, seluruh yang diabdi selain Allah, apapun bentuk pengabdian itu, termasuk dalam wujud ditaatinya hukum yang ia ciptakan, adalah thaghut, sama saja berasal dari orang-orang yang terang-terang mengaku kafir, maupun yang ber-KTP Islam atau mengaku-ngaku sebagai bagian dari umat Islam.</p>
<p>Orang-orang yang secara suka rela tunduk dan taat kepada para thoghut itu dalam wujud mengikuti apa yang mereka syari’atkan dan tunduk kepada hukum yang mereka buat disebut sebagai orang-orang musyrik kafir!</p>
<p>Tentang kepengikutan kepada hawa nafsu, tentu saja hal ini tidak akan terlepas sepanjang manusia enggan tunduk dan mengabdi secara mutlak kepada Allah. Kalau kita perhatikan, sepanjang sejarah belum ada pengumbaran hawa nafsu sedahsyat yang terjadi pada abad kita ini. Tidak ada seorang pun yang menyangkal bahwa kerusakan menyeluruh yang sangat parah saat ini, baik di Barat maupun di Timur, tidak lain karena faktor tersebut!</p>
<p>Adapun syahwat hewani, kita saksikan fenomena menjamurnya rumah-rumah pelacuran, seks bebas, pergaulan tanpa batas antara laki-laki dan wanita, dekadensi moral serta kemerosotan akhlak, pornoaksi serta pornografi, romantisme yang menyesatkan, cinta murahan, musik-musik gombal berkedok seni, kesibukan dalam bermain api asmara dan aktivitas-aktivitas syahwati lainnya di kalangan generasi muda, bahkan kadang didapati pada golongan tua. Itu semua adalah pertanda tenggelamnya masyarakat sekarang dalam lumpur nafsu syahwat yang kotor.</p>
<p>Memang, pada asalnya, syahwat merupakan naluri manusia yang memang diperlukan untuk pembangunan dunia, namun ia menjadi senjata yang sangat merusak apabila manusia tidak mengaturnya dengan hukum Allah.</p>
<p>Dari sini dapat kita simpulkan bahwa masyarakat sekarang ini adalah masyarakat jahiliyah, meskipun dalam bentuk yang kurang lebih berbeda dengan jahiliyah Arab sebelum datangnya Al-Islam, bahkan, dalam beberapa kasus, malah persis sama dengannya; pemujaan kepada benda-benda mati: kuburan, pohon, keris, dll, masih bertebaran di sana-sini.</p>
<p>Ada faktor-faktor yang membuat jahiliyah modern saat ini lebih jahat, ganas, kejam dan dahsyat daripada jahiliyah kuno!</p>
<p>Jahiliyah modern didasarkan oleh para pencetusnya atas apa yang mereka sebut ‘teori ilmiah’ yang memukau banyak orang! Darwinisme dan marxisme di antara contoh-contohnya.</p>
<p>Jahiliyah modern dilahirkan dari apa yang disebut sebagai ‘penelitian’, ‘studi’ dan berbagai macam pandangan teori! JIL adalah satu di antara ribuan pelakunya!</p>
<p>Jahiliyah modern timbul dari ‘kemajuan material’ yang sangat pesat, membuat orang takjub dan berbangga-bangga! Pengumbaran hawa nafsu dan syahwat hewani semakin dahsyat seiring majunya teknologi-teknologi canggih!</p>
<p>Jahiliyah modern muncul dengan slogan-slogan yang menyilaukan banyak orang: ‘HAM’, ‘kebebasan’, ‘kemajuan’, ‘perkembangan zaman’, dan ‘peradapan’,</p>
<p>Akibatnya, siapa saja yang tidak menyeburkan diri ke dalam arus jahiliyah modern, dianggap jumud, terbelakang, picik, bahkan malah disebut orang jahiliyah!</p>
<p>Itulah jahiliyah modern! Sungguh merupakan tugas yang maha berat bagi gerakan Islam untuk menghancurkannya!</p>
<p>ISLAM DAN<br />
JAHILIAH<br />
OLEH:<br />
ABUL A’LA MAUDUDI<br />
Terjemahan:<br />
ABU AMRAH<br />
- 2 -Isi Kandungan Muka surat<br />
Perhubungan antara pendirian dan tinndak-laku 5<br />
Masalah-masalah pokok dalam kehidupan manusia 7<br />
Asas-asas akhlaq individu dan masyarakat adalah sama 9<br />
Berbagai penyelesaian bagi masalah-masalah hidup 10<br />
Penyelesaian 1: Al-Jahiliah Al-Mahdah 11<br />
Penyelesaian 2: 16<br />
Penyelesaian 3: 22<br />
Pandangan para rasul tentang manusia dan alam ini 24<br />
Penelitian terhadap pandangan Islam 27<br />
Kesan cara hidup Islam 29<br />
- 3 -Sepatah Kata Dan Penterjemah.<br />
Alhamdulillah  Syukur  kepada  Allah  SWT  yang  telah  mengizinkan  saya<br />
menyiapkan  terjemahan  buku  kecil  ini.  Semoga  ianya  dapat  menambahkan<br />
kefahaman  para  duat  khususnya  dan  umat  Islam  di  Malaysia  amnya  tentang<br />
perbezaan  di  antara  Islam  dan  Jahiliah,  dan  membantu  mereka  menyampaikan<br />
dakwah Islamiah dengan sejelas-jelasnya.<br />
Terjemahan  ini  dibuat  berdasarkan  kepada  ceramah  Maududi<br />
(rahimahullah)  yang  telah  dialihkan  ke  dalam bahasa  Inggeris  iaitu  ‘Islam  and<br />
Ignorance’.  Naskah Arabnya,  ‘al  Islam  wal  Jahiliah’  juga  telah  dirujuk  untuk<br />
memastikan penggunaan beberapa istilah yang terdapat di dalam buku ini.<br />
Saya  menyedari  tentang  wujudnya  kelemahan  dan  kekurangan  dalam<br />
terjemahan ini, oleh itu nasihat dan teguran ikhlas dari saudara-saudara selslam<br />
sangat-sangatlah diharapkan.<br />
Semoga  Allah  memberikan  ganjaran  yang  baik  kepada  sesiapa  sahaja<br />
yang  telah  menghabiskan  masa  dan tenaganya  dalam  menyiapkan  buku  kecil<br />
ini.<br />
Wabilahit taufiq wal Hidayah.<br />
Abu Amrah<br />
Fakulti Kejuruteraan Awam<br />
UTM.<br />
April 1984.<br />
- 4 -ISLAM DAN JAHILIYYAH<br />
(Kertas-kerja  ini  telah  disampaikan  dalam  suatu  perjumpaan  pada  23  Feb.  1941,<br />
atas jemputan Majlis Islamiah, di Kolej Islamiah, Peshawar.)<br />
- 5 -PERHUBUNGAN ANTARA PFND1R1AN DAN TINDAK-LAKU<br />
Manusia menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupannya, tetapi<br />
ia  tidak  dapat  menguasai  permasalahan-permasalahan  tersebut  dengan  baik<br />
kecuali setelah  ia  membuat  suatu  pendirian  terhadap  tabiat  atau keadaan<br />
sebenar  permasalahan  itu  dan  hubungannya dengan  permasalahan  itu.  Sama<br />
ada  benar  atau  salah, suatu  pendirian  mesti  dibuat  terhadap  semua<br />
permasalahan.  Selagi  pendirian  ini  belum  dibuat,  tidak  ada  seorang  manusia<br />
pun boleh membuat keputusan tentang tindak laku yang ia patut ambil terhadap<br />
sesuatu  permasalahan.  Ini  adalah  suatu  pengalaman  yang  menjadi  sebahagian<br />
dari  kehidupan  seharian  anda.  Apabila  anda  bertemu dengan  seseorang,  anda<br />
perlu  mengetahui:  Siapakah  dia? Apakah  kedudukan  dan  statusnya  dalam<br />
kehidupan? Apakah  ciri-ciri  peribadinya?  Apakah  bentuk  perhubungan  yang<br />
wujud  di  antara  dia  dan  anda?  Anda tidak  dapat  tentukan  bagaimana  hendak<br />
mengendalikan perhubungan  dengan  orang  itu  tanpa  sebarang  keterangan<br />
berhubung  dengan  soalan-soalan  tadi.  Walaubagaimanapun,  anda  perlu<br />
membuat  suatu  pendirian berlandaskan  apa  yang  zahir,  dan  apa  juga  tindakan<br />
anda  terhadapnya  dibatasi  serta  ditentukan  oleh  pendirian  yang  telah  dibuat.<br />
Anda  makan  benda-benda  yang menurut  pengetahuan  atau  anggapan  anda<br />
ianya  mengandungi  nilai  makanan.  Benda-benda  yang  anda  buang  atau<br />
gunakan,  benda-benda  yang  anda  pelihara,  suka  atau  benci  dan  benda-benda<br />
yang  anda  takuti  atau  sayangi  sikap  serta  pendirian  anda  yang  berbeza-beza<br />
terhadap semua perkara tadi ditentukan oleh pendirian yang anda buat tentang<br />
keadaan  semulajadinya,  keistimewaan-keistimewaanya  dan  hubungan  anda<br />
dengan perkara-perkara tersebut.<br />
Sama  ada  sesuai  atau  tidak  tindak-laku  anda  terhadap  perkara-perkara<br />
tadi,  bergantung  kepada  benar  atau  salahnya  pendirian-pendirian  yang  telah<br />
anda  buat  terhadap  perkara-perkara  tersebut.  Sah  atau  salahnya  bergantung<br />
kepada  sama  ada  anda  telah  membuat  pendirian  berdasarkan  pengetahuan,<br />
tekaan,  sangkaan  atau  melalui  tinjauan  pancaindera.  Seorang  kanak-kanak  kecil<br />
sebagai  contoh,  melihat  api  dan  melalui  tinjauan  pancainderanya  membuat<br />
suatu  tanggapan  bahawa  ianya  suatu  mainan  yang  cantik  serta  berkilauan.<br />
Tanggapan  ini  seterusnya  mendorongnya  kepada  tindakan  menghulurkan<br />
tangan untuk menyentuh api itu. Seorang lelaki lain melihat api yang sama dan<br />
melalui  anggapan  atau  sangkaannya,  ia  membuat  kesimpulan  bahawa  api  itu<br />
memiiki  suatu  sifat  ketuhanan  atau  sekurang-kurangnya,  ia  suatu  simbol<br />
ketuhanan.  Berdasarkan  kepada  kesimpulan  ini,  ia  membuat  ketetapan<br />
menundukkan  kepala  menyembah  api  itu,  sebagai  tanda  perhubungannya<br />
dengan  api  itu.  Orang  yang  ketiga  melihat  api  itu,  dan  mula  mengkaji  keadaan<br />
semulajadi  api  itu  serta  sifat-sifatnya.  Melalui  ilmu  pengetahuan  serta  kajian  ia<br />
sampai  kepada  kesimpulan  bahawa  api  itu  boleh  memasak,  membakar  serta<br />
- 6 -memanaskan  benda-benda.  Selanjutnya  ia  membuat  tanggapan  bahawa<br />
perhubungan dengan  api  itu  adalah  laksana  tuan  dan  hambanya.  Api,  menurut<br />
tanggapannya,  bukanlah  suatu  mainan  ataupun  bersifat  ketuhanan.  Malahan  ia<br />
merupakan  suatu  benda  yang  boleh  digunakan  untuk  tujuan  memasak,<br />
membakar  atau  memanaskan,  bila-bila  masa  sahaja  keperluan  timbul.  Kalau<br />
dibandingkan ketiga sikap yang berbeza itu, jelaslah bahawa sikap kanak-kanak<br />
dan  si  penyembah  api  itu  adalah  berdasarkan  kejahilan  mereka.  Pengalaman,<br />
menidakkan  tanggapan  kanak-kanak  tersebut  bahawa  api  itu  adalah  mainan.<br />
Tanggapan  si  penyembah  api  bahawa  api  itu  adalah  tuhan  atau  simbol<br />
ketuhanan  adalah  berdasarkan  kepada  sangkaan  atau  tekaan  semata-mata  dan<br />
bukan atas dasar apa-apa bukti dan ilmu pengetahuan yang sebenar. Sebaliknya<br />
sikap  lelaki  yang  menganggap  api  sebagai  suatu  agen  yang  berguna  untuk<br />
manusia,  yang  jauh  berbeza  dari  kedua-dua  tanggapan  di  atas,  adalah  suatu<br />
sikap saintifik kerana ia didasarkan kepada ilmu pengetahuan.<br />
- 7 -MASALAH-MASALAH POKOK DALAM KEHIDUPAN MANUSIA<br />
Pendirian dan sikap manusia terhadap kehidupan duniawi.<br />
Dengan  meletakkan  landasan  ini  di  dalam  pemikiran  kita,  marilah  kita<br />
alihkan pandangan kita daripada perkara-perkara detail kepada perkara-perkara<br />
pokok. Manusia mendapati dirinya hidup di atas muka bumi ini. Ia mempunyai<br />
tubuh  badan  yang  dikurniakan  dengan  berbagai  potensi.  Bumi  dan  langit  yang<br />
indah  terhampar  di  hadapannya.  Alam  semesta  ini  mengandungi  bermacam<br />
jenis  benda,  dan  manusia  mempunyai  keupayaan  untuk  memanfaatkan<br />
keseluruhan  benda-benda  tadi  untuk  kegunaannya.  Ia  dikelilingi  oleh  berjuta-juta  manusia-manusia  lain,  binatang-binatang,  tumbuh-tumbuhan  serta  bahan-bahan  galian.  Semua  ini  berkait-rapat  dengan  kehidupannya.  Adakah  mungkin<br />
untuk anda fikirkan bahawa seorang manusia itu boleh mengambil suatu bentuk<br />
perhubungan  dengan  benda-benda  tadi,  tanpa  terlebih  dahulu  membuat  suatu<br />
pendirian  tentang  dirinya  sendiri,  tabiat  benda-benda  di  sekelilingnya  dan<br />
kedudukan  perhubungannya  dengan  benda-benda  tadi?  Mungkinkah  bagi<br />
seseorang  itu  mengambil  suatu  cara  hidup  tanpa  menentukan:  Siapakah  saya?<br />
Apakah  kedudukan saya?  Adakah  saya  seorang  yang  bertanggungjawab  atau<br />
tidak?  Adakah  saya  seorang  yang  bebas  atau  tunduk  kepada  orang  lain?  Jika<br />
saya  tertakluk  di  bawah  seseorang,  siapakah  tuan  saya  dan  jika  saya  seorang<br />
yang  bertanggungjawab,  kepada  siapakah  tanggungjawab  saya  itu?  Apakah<br />
akan  berakhir  kewujudan  saya  di  dunia  ini?  Jika  ia  akan  berakhir,  apakah<br />
kesudahannya?  Di  masa  yang  sama,  bolehkah  seseorang  itu  bercadang<br />
menggunakan kekuasaan yang ada padanya tanpa terlebih dahulu memutuskan<br />
persoalan-persoalan  berikut:  Adakah  kekuasaanya  itu  miliknya  atau<br />
dikurniakan  oleh  orang  lain?  Adakah  ia  akan  dipanggil  untuk<br />
bertanggungjawab  ke  atas  kuasa  yang  telah  ia  gunakan?  Adakah  penggunaan<br />
kuasa-kuasa  yang  ada  padanya  ditentukan  oleh  dirinya  sendiri  atau  oleh  orang<br />
lain?  Berdasarkan  cara  yang  sama,  adakah  mungkin  bagi  seseorang  itu<br />
mengambil  suatu  bentuk  tindakan  terhadap  benda-benda  yang  menjadi<br />
sebahagian dari alam sekelilingnya tanpa memastikan bahawa: Adakah dia tuan<br />
kepada  benda-benda  tadi  atau  orang  lainkah  tuannya?  Adakah  ia  berkuasa<br />
penuh  ke  atas  benda-benda tadi  atau  kekuasaannya  terbatas?  Jika  kuasa  yang<br />
ada  padanya  dibatasi  oleh  had-had  tertentu,  siapakah  yang  membatasinya?<br />
Bolehkah  seseorang  itu  merekai  suatu  corak  tindak-laku  terhadap  rakan-rakannya  tanpa  terlebih  dahulu  membuat  pendirian  yang  tetap  tentang  apakah<br />
dia  ideal-ideal  manusia  keseluruhannya?  Apakah  dia  asas  ketinggian  dan<br />
perbezaan di antara sesama manusia? Apakah dia daya-daya pendorong kepada<br />
persahabatan  dan  permusuhan,  kepada  ikatan  dan  perselisihan,  serta  kepada<br />
tolong-menolong  dan  tidak  bekerjasama?  Begitu  juga,  bolehkah  seseorang  itu<br />
mengambil  suatu  sikap  terhadap  alam  semesta  ini  sebelum  ia  sampai kepada<br />
- 8 -beberapa  kesimpulan  muktamad  tentang  tabiat  sistem  ‘alam  semesta  ini  dan<br />
kedudukannya  sebagai  sebahagian  daripada  sistem  ini?  Berdasarkan  kepada<br />
landasan yang telah saya bincangkan, bolehlah dinyatakan tanpa ragu-ragu lagi<br />
bahawa  adalah  mustahil  untuk  seseorang  itu  mengambil  suatu  sikap  tanpa<br />
terlebih dahulu membuat pendirian tentang semua perkara-perkara ini. Bahkan,<br />
setiap insan yang bernyawa sama ada secara sedar atau tidak, berpegang kepada<br />
pendirian-pendjrjan  tertentu  terhadap  soalan-soalan  tentang  hidup  ini;  kerana<br />
tanpa  pendirian  ini  ia  tidak  dapat  berjalan  walaupun  selangkah  dalam  alam<br />
semesta  ini.  Tidak  semestinya  setiap  manusia  memikirkan  secara  falsafah<br />
terhadap setiap perkara setelah membuat kajian yang mendalam. Tidak, bahkan<br />
kebanyakan manusia tidak menghiraukan langsung persoalan-persoalan ini, dan<br />
tidak  pula  mereka  cuba  berfikir  serta  merenung  persoalan-persoalan  tersebut.<br />
Walaupun begitu, setiap orang ada membuat sesuatu pendirian sama ada positif<br />
atau  negatif  terhadap  semua  perkara,  dan  sikap  setiap  orang  terhadap<br />
kehidupan  itu  tidak  dapat  dielakkan  daripada  ditentukan  oleh  pendirian  yang<br />
telah dibuatnya.<br />
- 9 -ASAS-ASAS AKHLAQ INDIVIDU DAN MASYARAKAT ADALAH SAMA<br />
Oleh kerana kaedah ini berlaku secara tepat bagi kes individu-individu, ia<br />
juga  adalah  benar  bagi  perkumpulan-perkumpulan.  Persoalan-persoalan  ini<br />
adalah  masalah  asasi  bagi  kehidupan  manusia  dan  selagi  hal-hal  yang<br />
berhubung dengannya belum ditentukan sejelas-jelasnya, adalah mustahil untuk<br />
kita  rangkakan  program  untuk  perkumpulan  politik  dan  membangunkan  suatu<br />
kebudayaan  dan  tamadun.  Tatacara  akhlaq  sesebuah  masyarakat  itu  akan<br />
memcerminkan  rumusan-rumusan  yang  telah  dibuat  terhadap  persoalan-persoalan  penting  itu  tadi,  dan  konsep  moralitinya  akan  ditentukan  selari<br />
dengannya.  Setiap  institusi  kehidupan  akan  dimodelkan  di  atas  rumusan-rumusan  yang  sama,  bahkan  keseluruhan  rangka  masyarakat  akan  dibentuk<br />
oleh  rumusan  dan  kesimpulan  ini.  Adalah  menjadi  suatu  hakikat  bahawa  tidak<br />
wujud  pandangan  yang  lain  tentang  hal  ini.  Sikap  seseorang  individu  ataupun<br />
sesebuah  masyarakat  akan  ditentukan  oleh  tabiat  rumusan-rumusan  yang  telah<br />
dicapai  dalam  menjawab  persoalan-persoalan  ini.  Jika  anda  mahu,  anda  boleh<br />
analisiskan  sikap  seorang  individu  atau  satu  masyarakat  dan  dengan  mudah<br />
memastikan  apakah  rumusan-rumusan  tentang  persoalan-persoalan  asasi<br />
kehidupan  yang  menjadi  daya  pendorong  kewujudan  individu  ataupun<br />
masyarakat  tadi.  Adalah  mustahil  hagi  tabiat  individu  atau  pun  akhlaq<br />
masyarakat  bercanggah  dengan  tabiat  rumusan-rumusan  yang  telah  dibuat<br />
dalam  menjawab  persoalan-persoalan  ini.  Perkataan  dan  perbuatan  mungkin<br />
bercanggah  tetapi  tabiat  jawapan  bagi  persoalan-persoalan  ini  yang terpendam<br />
di  dalam  sanubari  seorang  insan  tidak  bertentangan  dalam  apa  jua  hal  dengan<br />
tabiat akhlaqnya.<br />
- 10 -BERBAGAI PENYELESAIAN BAGI MASALAH-MASALAH HIDUP<br />
Setiap  permasalahan  pokok  dalam  kehidupan,  yang  mana<br />
penyelesaiannya  amat  diperlukan  untuk  kewujudan  yang  aktif  bagi  umat<br />
manusia,  adalah  pada  hakikatnya  berbentuk  metafizikal.  Jawapan  bagi<br />
persoalan-persoalan  ini  tidak  tertulis  di  ufuk  utuk  setiap  insan  yang  lahir  ke<br />
dunia  ini  membacanya,  dan  tidak  pula  jawapannya  jelas  dengan  tersendirinya<br />
untuk  setiap  orang  memahaminya.  Inilah  di  antara  beberapa  sebab  mengapa<br />
tidak  ada  satu-satunya  penyelesaian  yang  dapat  diterima  dan  disetujui  oleh<br />
semua  manusia.  Manusia  sememangnya  mempunyai  pendirian-pendirian  yang<br />
berbeza  terhadap  persoalan-persoalan  ini,  dan  pelbagai  manusia  telah  bertemu<br />
dengan  berbagai-bagai  penyelesaian  terhadapnya.  Persoalannya  sekarang  ialah:<br />
apakah  penyelesaian-penyelesaian  yang  pemah  wujud  terhadap  masalah-masalah  ini,  apakah  cara  yang  telah  diambil  untuk  menyelesaikannya  dan<br />
apakah  penyelesaian-penyelesaian  yang  pernah  wujud  terhadap  masalah-masalah  ini,  apakah  cara  yang  telah  diambil  untuk  menyelesaikannya  dan<br />
apakah penyelesaian-penyelesaian yang telah timbul dari cara-cara ini.<br />
Satu  jalan  untuk  menyelesaikan  masalah  ini  ialah dengan  bergantung  kepada<br />
pancaindera  seseorang  itu,  dan  pendirian-pendirian  terhadap  setiap  hal  dibuat<br />
berdasarkan kepada pencapaian dan penglihatan indera.<br />
Jalan  yang  kedua  ialah  dengan  membuat  suatu  rumusan  melalui  pencapaian<br />
indera yang dibantu oleh spekulasi.<br />
Alternatif  yang  ketiga  pula  ialah  dengan  meletakkan  keyakinan  seseorang  itu<br />
kepada  penyelesaian-penyelesaian  terhadap  masalah-masalah  ini  yang  telah<br />
dibawa  oleh  Rasul-rasul  Allah,  yang  mendakwa  mereka  membawa  ilmu<br />
pengetahuan tentang Al Haq.<br />
Setakat  ini  hanya  ketiga-tiga  cara  di  atas  telah  digunakan  untuk  sampai<br />
kepada  penyelesaian  terhadap  masalah-masalah  ini.  Besar  kemungkinan  inilah<br />
sahaja  di  antara  cara-cara  yang  boleh  digunakan.  Dalam  setiap  kes  di  atas,<br />
penyelesaian-penyelesaian  yang  berbeza  telah  didapati  melalui  beberapa  cara.<br />
Setiap  penyelesaian  telah  menimbulkan  suatu  sikap  tertentu  dan  suatu  corak<br />
akhlaq  dan  kebudayaan  tertentu,  yang  pada  ciri-ciri  dasarnya  adalah  berbeza<br />
sama  sekali  daripada  sikap-sikap  yang  dihasilkan  oleh  kategori-kategori<br />
penyelesaian  yang  lain.  Sekarang  saya  ajukan  kepada  anda  penyelesaian  yang<br />
berbeza  terhadap  masalah-masalah  ini  yang  dicapai  melalui  cara-cara  yang<br />
berlainan, serta sikap yang dihasilkan oleh setiap penyelesaian itu.<br />
- 11 -PENYELESAIAN PERTAMA: AL JAHILIAH AL MAHDHAH<br />
(Jahiliah setulen-tulennya)<br />
Dengan  bergantung  kepada  pancainderanya  semata-mata,  seseorang  itu<br />
akan  sampai  kepada  suatu  pendirian  berhubung  dengan  masalah-masalah  di<br />
atas  melalui  cara  yang  tabi’e  bagi  sistem  berfikir  ini,  dan  terus  merumuskan<br />
bahawa  keseluruhan  sistem  alam  ini  terjadi  dengan  kebetulan  sahaja  dan  tidak<br />
ada  sesuatu  sebab  atau  tujuan  di  sebalik  penciptaan  alam  ini.  Ia  telah  wujud<br />
dengan  tersendirinya;  ia  berjalan  secara  automatis;  ia  akan  menemui<br />
kesudahannya  tanpa  menghasilkan  apa-apa  natijah.  Tidak  kelihatan  seorang<br />
tuan  empunya  yang  menguasai  alam  ini.  Oleh  itu  tidak  wujud  tuan  empunya<br />
alam  ini,  dan  jika  ada  pun  hubungannya  dengan  kehidupan  manusia  tidak<br />
wujud  langsung.  Manusia  itu  hanya  satu  jenis  dari  haiwan-haiwan,  yang<br />
kelahirannya  adalah  secara  tidak  sengaja.  Tidak  diketahui  sama  ada  yang<br />
mencipta dirinya atau ia dilahirkan dengan tersendirinya. Walau bagaimanapun,<br />
persoalan-persoalan ini tidak ada kaitan dengan perbincangannya. Ia hanya tahu<br />
bahawa  manusia  itu  wujud  di  atas  cakerawala  yang  dinamakan  bumi.  Ia<br />
melayani keinginan tertentu dan ada beberapa desakan dalam yang memaksa ia<br />
memenuhi keinginan-keinginan ini.<br />
Manusia  itu  dibekalkan  dengan  anggota-anggota  yang ia  gunakan  untuk<br />
memuaskan kehendak-kehendaknya. Di sekelilingnya, terdapat bekalan-bekalan<br />
yang  tidak  terhingga  banyaknya,  dan  menggunakan  anggota-anggotanya<br />
seseorang itu dapat memuaskan diri sepenuhnya dengan benda-benda tadi. Oleh<br />
itu  kekuasaan  yang  ada  pada  manusia  ditujukan  semata-mata  untuk<br />
memuaskan nafsu  and  memenuhi  kehendak-kehendaknya  sebanyak  mungkin.<br />
Dunia  ini  tidak  lebih  dari  suatu  talam  yang  di  atasnya  terletak  barang-barang<br />
rampasan  (booty)  untuk  diambil  oleh  manusia.  Tidak  ada  kuasa  tertinggi  yang<br />
akan  mempertanggungjawabkannya;  tidak  ada  punca  ilmu  pengetahuan,  dan<br />
tidak  ada  sumber  hidayah  yang  darinya  manusia  dapat  memperolehi  undang-undang untuk mengatur kehidupannya. Oleh itu manusia adalah zat yang boleh<br />
berbuat sewenangwenangnya, dan tidak bertanggungjawab kepada sesiapa pun.<br />
Manusia  mempunyai  hak  untuk  membuat  undang-undang  dan  peraturan-peraturannya  sendiri,  untuk  memikirkan  cara-cara  bagi  menggunakan<br />
kekuasaannya  dan  menentukan  tingkah-lakunya  terhadap  benda-benda  yang<br />
wujud di sekelilingnya. Jika manusia itu memerlukan kepada apa-apa petunjuk,<br />
ia  patut  rujuk  kepada  undang-undang  tentang  kehidupan  haiwan,  kajian-kajian<br />
geologi  dan  pengalaman  sejarahnya.  Manusia  itu  hanya  bertanggungjawab<br />
kepada dirinya sendiri atau kepada pihak yang berkuasa yang telah diwujudkan<br />
oleh  masyarakat  manusia  itu  sendiri.  Kehidupan  dunia  ini  hanyalah  satu-satunya kehidupan dan natijah-natijah setiap amalan hanya berlaku di dunia ini<br />
sahaja.  Dengan  itu  keputusan  tentang  sesuatu  itu  benar  atau  salah;  bermanfaat<br />
- 12 -atau  merbahaya  dan  sama  ada  baik  atau  merosakkan,  dan  yang  mana  patut<br />
diambil  atau  dibuang,  didasarkan  kepada  kesan-kesan  amalan  yang  dihasilkan<br />
di dunia ini sahaja.<br />
Ini  adalah  suatu  ideologi  (sistem  hidup)  yang  lengkap,  yang  menyentuh<br />
masalah-masalah  asas  dalam  kehidupan  berdasarkan  kepada  pencapaian<br />
pancaindera. Di sana terdapat suatu perhubungan logikal dan penyesuaian sejati<br />
di antara setiap arus pemikiran yang terkandung di dalam ideologi ini. Oleh itu<br />
seseorang  yang  percaya  kepada  dogma  ini  boleh  mengambil  suatu  sikap  hidup<br />
yang  hampir  tenang  dan  konsisten  tanpa  mempedulikan  benar  atau  salahnya<br />
dogma ini dan sikap yang ia hasilkan itu.<br />
Sekarang  marilah  kita  lihat  kepada  akhlaq  yang  diambil  oleh  seseorang<br />
itu berdasarkan kepada penyelesaian ini.<br />
Akhlaq yang berdasarkan kepada pengalaman indera semata-mata<br />
Suatu  natijah  yang  tidak  dapat  dielakkan  hasil  dari  titik  pandangan  ini<br />
dalam  kehidupan  individu  ialah  bahawa  keseluruhan  ruang  lingkup  akhlaq<br />
manusia  mestilah  bebas  dan  kosong  daripada  sebarang  perasaan<br />
tanggungjawab.  Manusia  akan  menganggap  dirinya  sendiri  sebagai  yang<br />
berkuasa penuh ke atas badannya dan kekuatan-kekuatan fizikalnya. Oleh itu, ia<br />
akan  menggunakan  kekuatan-kekuatan  fizikalnya  dan  kualiti-kualiti  akal  dan<br />
hatinya  menurut  kehendak  nafsu  dan  ragamnya.  Ia  akan  menganggap  bahawa<br />
semua  benda-benda  dan  seluruh  manusia  yang  telah  diletakkan  di  bawahnya<br />
secara  kebetulan  sebagai  barang  kepunyaannya  dan  dirinya  scbagai  tuan<br />
mereka.  Hanya  batasan-batasan  undang-undang  tabi’e  dan  had-had  yang<br />
terpaksa  dikenakan  oleh  kehidupan  secara  kolektif,  yang  meletakkan  batasan<br />
terhadap kekuasaanya.<br />
Dirinya  sendiri  akan  kosong  daripada  apa-apa  perasaan  moral  —  suatu<br />
perasaan  bertanggungjawab  dan  takutkan  penghisaban  dan  tidak  ada  kuasa<br />
moral  yang  akan  mengawal  tindakan  kerasnya.  Jika  penahan-penahan  luar  ke<br />
atas  tindakan  nya  tidak  ada  atau  jika  ia  boleh  mengelak  dari  kawalan-kawalan<br />
ini,  kecenderungan  tabi’e  kepercayaannya  akan  mendorongnya  untuk  menjadi<br />
zalim,  tidak  amanah,  kejam  dan  ganas.  Ia  mudah  dibawa  oleh  perasaan  untuk<br />
mementingkan  diri  sendiri,  menjadi  seorang  materialis  dan  seorang  yang<br />
bertindak menurut edaran masa. Memuaskan nafsu dan keperluan kebinatangan<br />
akan  menjadi  matlamat  utama  kehidupannya.  Perkara-perkara  yang  berfaedah<br />
kepadanya  dalam  pandangannya  hanyalah  perkara-perkara  yang  berfaedah<br />
kepadanya  dalam  pencapaian  matlamat  hidupnya  itu  tadi.  Adalah  tabi’e  dan<br />
logik  bahawasanya  mereka-mereka  yang  berpegang  kepada  dogma  ini  akan<br />
berkelakuan  dan  mempunyai  keperibadian  sedemikian  rupa.  Walau<br />
- 13 -bagaimanapun,  tidak  dapat  disangkal  bahawa  kemungkinan  wujud  individu<br />
yang mempunyai sifat-sifat seperti simpati dan tidak mementingkan diri sendiri<br />
hasil  dari  pandangannya  yang  jauh  terhadap  masa  depannya  dan  juga  sifat<br />
expedient  yang  dipunyainya.  Ia  mungkin  bekerja  tanpa  mengenal  penat  lelah<br />
dalam  mencapai  kebajikan  nasional  dan  kemajuan.  Ia  mungkin  secara<br />
keseluruhannya  mempamerkan  sedikit  perasaan  tanggungjawab  dan  hormat<br />
terhadap  prinsip-prinsip  moral.  Tetapi  jika  dikaji  secara  mendalam  terhadap<br />
akhlaqnya,  anda  akan  mendapati  bahawa  setiap  “kebaikan”  yang  kelihatan  itu<br />
adalah  lanjutan  dari  motif-motif  yang  mementingkan  diri  sendiri  dan  hawa<br />
nafsunya.  Ia  melihat  kesejahteraan  dan  kebaikan  tanahair  atau  negaranya  dari<br />
kacamata  peribadi  semata-mata.  Ia  mencari  kebaikan  dan  kesejahteraan  untuk<br />
dirinya  melalui  pembaikan  tanahair  dan  negaranya.  Oleh  yang  demikian,<br />
mereka hanya boleh digelar sebagai seorang nasionalis sahaja.<br />
Ciri-ciri masyarakat yang didirikan di atas akhlaq ini.<br />
Ciri-ciri  yang  menonjol  bagi  sesuatu  masyarakat  yang  dibentuk  oleh<br />
individu-individu  yang  mempunyai  akhlaq  dan  keperibadian  yang  telah<br />
disebutkan itu adalah seperti berikut:<br />
Prinsip  asas  dalam  siasah  ialah  bahawasanya  hak  wewinangan<br />
menentukan  sesuatu  itu  (sovereignty)  diberi  kepada  beberapa  orang  manusia,<br />
individu,  suatu  keluarga,  suatu  kelas  atau  kepada  orang  awam.  Ideal  kolektif<br />
yang  paling  luhur  yang  dianggap  dapat  dilakukan  ialah  dengan  membentuk<br />
suatu  komenwel.  Negara  ini  akan  diperintah  oleh  undang-undang  buatan<br />
manusia.  Setiap  undang-undang  akan  dibuat  atau  dipinda  menurut  nafsu  dan<br />
pengalaman-penglaman  manusia.  Polisi-polisi  juga  akan  dirumus  dan  diubah<br />
mengikut  kemahuan  atau  faedah  peribadi.  Dalam  negara  ini,  mereka-mereka<br />
yang kuat  dan  melebihi  yang  lain  dari  segi  kecerdasan,  kepintaran  menipu,<br />
berdusta,  khianat,  sikap  tak  ambil  peduli  dan  kekejaman  akan  meningkat<br />
melalui  kekuatan. Pimpinan masyarakat dan tampuk  kekuasaan akan berada di<br />
dalam tangan manusia-manusia seperti ini. Di dalam perlembagaan mereka akan<br />
termaktub  prinsip:  “Kekuatan  itulah  yang  benar  dan  yang  lemah  itu  sentiasa<br />
salah.”<br />
Keseluruhan binaan masyarakat dan peradabannya akan didirikan di atas<br />
dasar  mementingkan  diri  sendiri.  Pembenaran  (pemissiveness)  dalam  soal<br />
memenuhi  nafsu  syahwat  seseorang  akan  bertambah  serta  meningkat,  dan<br />
ukuran  moralnya  akan  dibentuk  supaya  kebebasan  sepenuhnya  untuk<br />
memenuhi nafsu syahawat terjamin untuk semua orang. Seni budaya dan sastera<br />
akan  dipengaruhi  oleh  falsafah  hidup  ini  yang  mana  lama  kelamaan  akan<br />
menjurus kepada kelucahan dan aliran-aliran pomografi.<br />
- 14 -Dalam  bidang  ekonomi  pula,  kadang-kadang  kaum  pekerja  akan<br />
menubuhkan  kerajaan  diktator  proletariat  melalui  cara  kekerasan.  Walau<br />
bagaimanapun, keadilan tidak akan menjadi sebahagian daripada system-sistem<br />
ekonomi ini. Akhlaq setiap individu dalam masyarakat ini akan ditetapkan oleh<br />
pegangan asasnya yang mengatakan bahawa dunia ini dan segala kejayaan yang<br />
ada  di  dalamnya  merupakan  suatu  hasil  rampasan  perang  (booty)  dan  setiap<br />
manusia bebas untuk mengambil semahunya dan bila masa peluang itu wujud.<br />
Sistem  pendidikan  yang  dirangka  untuk  melatih  serta  mendidik  ahli-ahli<br />
masyarakat  ini  akan  didasarkan  kepada  falsafah  hidup  ini  dan  mencerminkan<br />
sikap  yang  sama.  Sistem  pendidikan  ini  akan  menerapkan  di  dalam  generasi<br />
selanjutnya  tentang  pandangan  yang  sama  terhadap  dunia  dan  kedudukan<br />
manusia  di  dalamnya  yang telah  diterangkan  sebelum  ini.  Dalam  setiap  bidang<br />
ilmu  pengetahuan  maklumat  serta  penerangan  akan  disusun  dan  disampaikan<br />
secara sistematik untuk menanamkan di dalam pemikiran generasi baru tentang<br />
teori-teori  kehidupan  yang  sama.  Keseluruhan  program  latihan  akan<br />
direkabentuk  untuk  melahirkan  individu-individu  yang  mengambil  sikap  yang<br />
sama dalam kehidupan, dan akan diserapkan sepenuhnya ke dalam masyarakat<br />
ini.  Saya  tidak  perlu  berkata  lebih  panjang  kepada  anda  tentang  ciri-ciri  sistem<br />
pendidikan  jenis  ini  kerana  anda  sendiri  pernah  melalui  sistem  tersebut.  Anda<br />
sedang belajar di institusi-institusi yang telah ditubuhkan di bawah sistem yang<br />
sama, sungguhpun mereka mempunyai nama-nama seperti ‘Kolej Islamiah’ atau<br />
‘Universiti Muslim’ dan sebagainya.<br />
Sikap  dan  pemikiran  yang  telah  saya  analisiskan  itu  muncul  daripada<br />
sikap  jahiliah  setulen-tulennya.  Sikap  dan  pemikiran  ini  sama  dengan  keadaan<br />
pemikiran  seorang  kanak-kanak  yang  bergantung  semata-mata  kepada<br />
pandangan  inderanya  dan  menganggap  api  itu  sebagai  mainan  yang  menarik.<br />
Walau  bagaimanapun,  di  sana  terdapat  suatu  perbezaan.  Ketidakbenaran<br />
pandangan  kanak-kanak  itu  tadi  akan  jelas  terbukti  melalui  pengalaman.  Api<br />
yang  dianggap  oleh  kanak-kanak  itu  sebagai  barang  mainan  merupakan  suatu<br />
bahan  yang  panas.  Oleh  itu  apabila  dia menyentuhnya  dengan  tangan,  akan<br />
ketaralah  bahawa  api  itu  bukan  barang  mainan.  Di  sebaliknya  pula,  dalam  kes<br />
yang  sebelum  ini,  pandangan  yang  salah  itu  hanya  menjadi  ketara  selepas<br />
berlalunya  waktu  yang  panjang.  Sesungguhnya  kebanyakan  manusia  akan<br />
berada  dalam  kejahilan  terhadap  kesilapan  pandangan  dan  penglihatannya.<br />
‘Api’  yang  dipegang oleh  mereka  ini  mempunyai  kepanasan  yang  rendah.  Ia<br />
tidak  terbakar  dengan  serta  merta.  Ia  terus  membakar  berabad-abad  lamanya.<br />
Walau  bagaimanapun  jika  seseorang  itu  berhasrat  untuk  belajar  dari<br />
pengalaman-pengalaman  hariannya  ia  patut  memikirkan  kembali  bahawa<br />
disebabkan  gaya  berfikir  beginilah,  individu-individu  sering  melakukan<br />
penipuan,  pemerintah-pemerintah  melakukan  penindasan  dan  kezaliman,<br />
hakim-hakim  berlaku  tidak  adil,  yang  kaya  menginginkan  hak-hak  orang  lain,<br />
- 15 -dan  orang-orang  biasa  menjadi  sesat.  Sesungguhnya  pengalaman  hariannya<br />
yang  sedemikian  rupa,  banyak  pengajarannya.  Lebih  dasyat  lagi  ialah<br />
pengalaman-penglaman  seperti  api-api  nasionalisma,  materialisma,  peperangan<br />
yang membara dan konfrantasi, serangan-serangan serta kejadian-kejadian hebat<br />
dan  keterlaluan  yang  timbul  dan  gaya  berfikir  yang  sama,  yang  mungkin<br />
memaksanya  untuk  membuat  kesimpulan  bahawa  gaya  berfikir  ini  didasarkan<br />
kepada jahiliah daripada didasarkan kepada pengetahuan yang sebenar tentang<br />
Al  Haq  (kebenaran).  Pandangan  manusia  terhadap  sistem  alam  dan<br />
kedudukannya  dalam  alam  yang  didasarkan  di  atas  dogma  jahiliah  ini  tidak<br />
selaras  dengan  Al  Haq,  sebagaimana  terbukti  jelas  dengan  natijah-natijah<br />
dahsyat yang lahir darinya.<br />
- 16 -PENYELESAIAN KEDUA<br />
Sekarang  marilah  kita  meneliti  jalan  penyelesaian  kedua.  Jalan  kedua<br />
untuk  menyelesaikan  masalah-masalah  asasi  tentang  hidup  ini  adalah  dengan<br />
menggabungkan  pandangan  dan  andaian  serta  spekulasi,  dan  merumuskan<br />
pendirian-pendirian  tentang  masalah-masalah  hidup  melalui  cara-cara  ini.  Tiga<br />
aliran  pemikiran  yang  berbeza  timbul  dari  jalan  ini  dan  setiap  aliran  itu<br />
menghasilkan suatu bentuk akhlaq tertentu.<br />
1) SYIRIK<br />
Suatu  aliran  pemikiran  yang  percaya  bahawa  alam  ini  sudah  tentunya<br />
tertakluk  di  bawah  kuasa  Tuhan,  tetapi  di  sana  bukan  hanya  ada  satu  Tuhan,<br />
bahkan  banyak.  Kekuasaan  yang  berbeza-beza  di  alam  ini  dikendalikan  oleh<br />
Tuhan-tuhan  yang  berbeza.  Kemakmuran  atau  kecelakaan  manusia,  kejayaan<br />
atau  kegagalan,  keuntungan  atau  kerugian  bergantung  kepada  kemurahan  hati<br />
atau  kemarahan  Tuhan-tuhan  tadi.  Berdasarkan  kepada  andaian-andaian  serta<br />
spekulasi-spekulasi  mereka  untuk  mengenal  kuasa-kuasa  ketuhanan  ini,  para<br />
pelopor  pendapat  ini  cuba  untuk  mengenal-pasti  kuasa-kuasa  tersebut  dan<br />
kepada  siapa  kuasa  tersebut  diserahkan. Lantaran  itu  mereka  telah  mengambil<br />
benda-benda yang menarik hati mereka sebagai tuhan-tuhan mereka.<br />
Ciri-ciri Akhlaq Musyrik.<br />
Ciri-ciri  utama  akhlaq  manusia  yang  lahir  dari  pandangan  hidup  ini<br />
adalah seperti berikut:<br />
a) Kehidupan yang penuh dengan karut-marut dan tahyul.<br />
Mula-mula  sekali,  keseluruhan  kehidupan  manusia  menjadi  sasaran<br />
kepercayaan  karut-marut.  Ia  percaya  bahawa  terdapat  banyak  benda-benda<br />
yang  mempengaruhi  baik  atau  buruk  nasib  seseorang  itu  melalui  cara-cara<br />
ghaib. Ia sampai kepada kesimpulan ini berdasarkan kepada pemikiran subjektif<br />
semata-mata; kepercayaanya tidak disokong oleh mana-mana bukti ilmiah. Oleh<br />
itu,  orang  yang  menumpukan  perhatian  penuh  kepada  kepercayaan  ini<br />
menghabiskan  kebanyakan  tenaganya  melayani  harapan-harapan  palsu  tentang<br />
untung  nasibnya  atau  melayani  perasaan  takutkan  nasib  yang  tidak  menimpa<br />
dirinya.  Kadang-kala,  ia  memusatkan  harapannya  kepada  setengah-setengah<br />
kubur demi  mencapai  hasratnya. Ada  kalanya ia menaruh kepercayaan bahawa<br />
sesuatu  patung  berhala  itu  akan  memutarkan  roda  untung  nasibnya  kepada<br />
kesudahan  yang  lebih  baik;  ada  kalanya  ia  bersusah-payah  untuk<br />
menghindarkan  kemarahan  sesuatu  Tuhan  khayalannya;  ia  merasa  kecewa<br />
- 17 -tatkala melihat sesuatu perkara buruk; dan ada kalanya ia mula berangan-angan<br />
kosong  tatkala  kelihatan  apa  yang  ia  sangkakan  suatu  petanda  baik.<br />
Kesemuanya  ini  menyimpangkan  segala  pemikiran dan  usahanya  daripada<br />
landasan  yang  tabi’e  kepada  suatu  landasan  yang  tidak  secocok  dengan<br />
fitrahnya.<br />
b) Pusingan-pusingan upacara ibadat yang tiada kesudahannya.<br />
Keduanya.  pandangan  hidup  ini  mengakibatkan  suatu  talian  campur-aduk  upacara  ibadat,  penyembahan,  persembahan-persembahan,  doa-doa  serta<br />
upacara-upacara lain; dan terjerat di dalam jaringan yang kompleks ini, menjadi<br />
sia-sialah sebahagian besar daripada usaha-usaha dan aktiviti-aktiviti manusia.<br />
c) Penipuan-penipuan yang dilakukan oleh para penipu.<br />
Ketiganya,  para  pelopor  falsafah  syirik  dan  kepercayaan  karut-marut  ini<br />
dengan mudah menjadi mangsa kepada tipu muslihat manusia-manusia penipu.<br />
Seorang  lelaki  mengangkat  dirinya  sebagai  raja  dan  mendakwa  berketurunan<br />
matahari, bulan dan lain-lain ‘Tuhan’.  Dengan itu ia  membuat manusia percaya<br />
bahawa  ia  adalah  Tuhan  dan  manusia  sekalian  adalah  hamba-hambanya.<br />
Seorang lagi menjadi penjaga di suatu tempat keramat atau kuil dan mengangkat<br />
dirinya sebagai orang tengah di antara manusia dengan suatu kuasa ghaib yang<br />
menentukan takdir serta untung nasib manusia. Seorang yang lain pula menjadi<br />
seorang  ‘Pundit  atau  Pir’  (orang  keramat),  dan  melalui  strategi  yang<br />
menggunakan  tangkal,  jampi-jampi,  ilmu  sihir  dan  ilmu  silap mata,  menipu<br />
orang  ramai  supaya  percaya  bahawa  melalui  cara-cara  ghaib  inilah  setiap<br />
kemahuan  mereka  dapat  diperolehi.  Anak-cucu  para  penipu  ini  kemudian<br />
membentuk kumpulan-kumpulan keluarga dan kelas-kelas yang turun-temurun<br />
di  mana  hak-hak,  keistimewaan  dan  pengaruh  mereka  terus  berkembang  dan<br />
menjadi  kukuh  serta  berakar-umbi  menurut  peredaran  masa.  Oleh  itu,<br />
kepercayaan  ini  meletakkan  ke  atas  leher  orang  ramai  belenggu  perhambaan<br />
kepada  keluarga-keluarga  diraja,  petugas  agama  dan  pembimbing-pembimbing<br />
kerohanian.  Tuhan-tuhan  ciptaan  sendiri  ini  memperhambakan  negara  yang<br />
penuh dengan “binatang-binatang tenusu” dan “haiwan pengangkut beban”.<br />
d) Kehidupan yang penuh kesalahan dan kesilapan.<br />
Keempatnya, doktrin ini tidak menyediakan asas yang kukuh untuk ilmu<br />
dan  seni,  falsafah  dan  sastera  serta  budaya  dan  politik,  dan  manusia  tidak  juga<br />
menerima  dari  Tuhan-tuhan  bayangan  ini  apa-apa  garis-panduan  yang  boleh<br />
diikuti  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Hubungan  manusia  dengan  Tuhan-tuhan<br />
ini  terhad  kepada  pelaksanaan  beberapa  upacara  penyembahan  dengan<br />
matlamat  untuk  mendapatkan  belas-kasihan  dan  pertolongan  dari  Tuhan-tuhan<br />
- 18 -ini. Berhubung dengan urusan-urusan hidup, manusia dibiarkan kepada dirinya<br />
sendiri  untuk  merangkakan  undang-undang,  peraturan-peraturan  dan  tatacara<br />
akhlaq mereka.<br />
Oleh  itu  sesuatu  masyarakat  yang  percaya  akan  banyaknya  Tuhan,  pada<br />
hakikatnya  mengikut  jalan-jalan  yang  sama  yang  telah  saya  terangkan  sebelum<br />
ini  berhubung  dengan  masyarakat  yang  dipimpin  oleh  suatu  kepercayaan<br />
jahiliah  semata-mata.  Peraturan-peraturan  moral,  tatacara  akhlaq,  kebudayaan<br />
politik, sistem ekonomi, ilmu pengetahuan dan sastera adalah lebih kurang sama<br />
bagi  kedua-dua  masyarakat  tersebut.  Oleh  itu  tidak  ada  perbezaan  pada<br />
prinsipnya di antara kedua-dua doktrin tersebut.<br />
2) AL-RUHBANIYYAH (Cara hidup rahib-rahib)<br />
Doktrin kedua yang dihasilkan dengan menggabungkan penglihatan dan<br />
andaian serta spekulasi menetapkan bahawa dunia ini adalah tempat penyiksaan<br />
dan  kewujudan  fizikal  sering  dikenakan  dengan  kesakitan  dan  kesengsaraan.<br />
Roh  itu  dipenjarakan  di  dalam  badan  manusia  laksana  tawaran  yang  terkutuk.<br />
Segala  perasaan  keseronokan,  keinginan-keinginan  dan  keperluan-keperluan<br />
fizikal  yang  merupakan  natijah-natijah  tabi’e  kewujudan  di  dunia  ini  adalah<br />
pada  hakikatnya  belenggu-belenggu  dan  rantai-rantai  yang  mengikat  manusia.<br />
Dengan  bertambahnya  keinginan  manusia  terhadap  dunia  dan  segala  isinya,<br />
akan  bertambah  ketatlah  ikatan  rantai-rantai  ini,  dan  suatu  siksaan  yang  amat<br />
dasyat  akan  menimpanya.  Kejayaan  dan  keselamatan  bergantung  kepada<br />
keupayaan  meninggalkan  semua  hubungan  dengan  urusan-urusan  duniawi,<br />
menahan  segala  keinginan,  menjauhkan  diri  dari  segala  keseronokan,<br />
menidakkan  kesemua  keperluan-keperluan  fizikal  dan  kehendak-kehendak<br />
hawa  nafsu,  membersihkan  hati  dan  segala  perasaan  kasih  sayang  yang  lahir<br />
daripada  pertalian  darah  daging  dan  meletakkan  musuh  ini  (iaitu  tubuh  badan<br />
dan  hawa  nafsu)  menjalani  satu  ujian  penyiksaan  dan  kepayahan  yang  hebat<br />
supaya  roh  itu  dibebaskan  dari  kuasa  pengaruh  tubuh  badan.  Dengan  cara  ini,<br />
roh  itu  akan  menjadi  ringan  serta  murni  dan  akan  mendapat  kekuatan  yang<br />
diperlukan  untuk  terbang  tinggi  ke  tingkat  ‘Nirwana’  sehingga  sampai  ke<br />
puncak kejayaan yang menguntungkan.<br />
Kesan-kesan cara hidup Ruhbaniah<br />
Ciri-ciri utama akhlaq yang dihasilkan oleh doktrin ini ialah:<br />
- 19 -a) Individualisma sebagai ganti hidup secara kolektif.<br />
Pada  mulanya,  doktrin  ini  menukarkan  kesemua  cenderungan  manusia:<br />
dari  hidup  secara  kolektif  (collectivism)  kepada  individualisma,  dan  daripada<br />
hidup  berbudaya  kepada  hidup  dalam  kekeliruan.  Manusia  memalingkan<br />
mukanya  dari  kehidupan  dunia  dan  lari  daripada  segala  tanggungjawab.  Sikap<br />
tidak mahu bekerjasama serta meninggalkan segala hubungan peribadi menjadi<br />
ciri utama kehidupannya. Singkatnya, ia mengambil nilai-nilai moral negatif.<br />
b) Manusia-manusia yang baik menjadi orang-orang pertapaan.<br />
Keduanya,  doktrin  mi  mendorong  manusia-manusia  yang  baik<br />
meninggalkan  kehidupan  duniawi  dan  pergi  mengasingkan  din  untuk<br />
mendapat  kejayaan.  Ini  membuka  jalan  kepada  manusia-manusia  zalim  untuk<br />
mengambil alih tampuk pemerintahan dalam setiap urusan duniawi.<br />
c) ‘Makanan yang mudah’ untuk setiap penzalim.<br />
Ketiganya,  dengan  terserapnya  doktrin  ini  ke  dalam  masyarakat,  orang<br />
ramai  akan  mula  mengambil  nilai-nilai  moral  yang  negatif.  Mereka  akan<br />
mempamerkan kecenderungan-kecenderungan  yang  tidak  sosial  dan<br />
individualistik,  dan  menjadi  orang-orang  yang  tidak  siuman.  Daya-daya  kreatif<br />
mereka  akan  menjadi  lemah.  Mereka  menjadi  ‘makanan-makanan  yang  lembut’<br />
kepada penzalim-penzalim dan menjadi mudah bagi setiap kerajaan yang zalim<br />
untuk  memaksa  mereka  memberikan  ketaatan.  Bahkan,  doktrin  ini  bekerja<br />
laksana ilmu sihir dalam menjinakkan orang-orang awam untuk menjadi hamba-hamba yang rela kepada penzalim-penzalim.<br />
d) Pertentangan dengan tabiat manusia.<br />
Keempatnya,  suatu  pertentangan  sengit  yang  benterusan  berlaku  di<br />
antara  tabiat  manusia  dan  doktrin  ruhbaniah  ini,  yang  mana  doktrin  ruhbaniah<br />
terpaksa  menyerah  diri.  Apabila  ia  menerima  halangan,  doktrin  ruhbaniah  ini<br />
berselindung  di  sebalik  kepura-puraan.  Sebagai  akibatnya,  upacara  ‘Penebusan<br />
Dosa’  (Penance)  diadakan;  strategi  ‘Cinta  Kiasan’  (Allegorical  Love)  digunakan<br />
dan  akhirnya,  berselindug  di  sebalik  konsep  menidakkan  sesuatu  (renuciation).<br />
Para  pelopor  kepercayaan  ini  menunjukkan  suatu  bentuk  kecintaan  terhadap<br />
dunia ini yang boleh memalukan mereka-mereka yang sangat cintakan dunia ini.<br />
- 20 -3) AL WUJUDIAH (Kepercayaan semuanya Tuhan)<br />
Pandangan  yang  ketiga  yang  lahir  dari  penggabungan penglihatan  dan<br />
andaian  menganggap  bahawa  manusia  dan  alam  ini  tidak  benar  (unreal).<br />
Mereka  tidak  mempunyai  kewujudan  sebenar  secara  tensendirinya.  Bahkan, di<br />
sana  ada  suatu  Zat  yang  menciptakan  kesemua  benda-benda  tadi  sebagai  bukti<br />
yang  jelas  tentang  kewujudan  dirinya  dan  Zat  yang  sama  itu  bekerja  dalam  din<br />
mereka.  Jika  kita  pergi  kepada  perinciannya,  kita  akan  dapati  banyak  cabang-cabang  dan  aspek-aspek  yang  berbagai  rupa  tentang  doktrin  ini.  Walau<br />
bagaimanapun, ada suatu jalan pemikiran yang sama bagi setiap cabang tersebut<br />
iaitu: setiap benda adalah bayang-bayang  kepada suatu Zat; hanya Zat ini  yang<br />
wujud, yang lain semuanya khayalan (illusory).<br />
Doktrin  ini  menanam  dalam  din  manusia  sikap  meragui  kebenaran<br />
kewujudannya  sendiri;  ia  hilang  segala  inisiatif;  ia  menganggap  dirinya  hanya<br />
sebagai  patung  yang  bertindak  atas  arahan  orang  lain  atau  kemungkinan  suatu<br />
kuasa  ghaib  bertindak  di  dalamnya.  Dalam  keadaan  mabuk  dengan  khayalan-khayalannya, ia lupa akan dirinya sendiri; hidupnya tidak berkemudi dan tidak<br />
mempunyai  landasan  atau  tujuan  yang  tetap.  Aliran  pemikirannya  adalah<br />
seperti  ini:  aku  hanya  suatu  bayang-bayang,  tidak  ada  kerja  yang  telah  di<br />
tugaskan  kepadaku;  dan  aku  tidak  dapat  membuat  sesuatu  dengan  sendirinya.<br />
Zat  yang  menyerap  ke  dalam  setiap  sesuatu  itu,  yang  telah  menjadikan<br />
keseluruhan  alam  sebagai  bayang-bayang  melalui  diriku,  dan  yang  akan<br />
berkuasa penuh dari awal hingga berakhirnya dunia ini adalah Penggerak setiap<br />
sesuatu.  Segala-galanya  terlaksana  hanya  oleh  Zat  itu.  Jika  Zat  itu  berusaha  ke<br />
arah kesermpurnaan dan menuju ke arah puncaknya dengan mermbawa seluruh<br />
alarm  ini  dalam  perjalanannya,  aku  sebagai  bayang-bayang,  akan  bergerak<br />
bersamanya  secara  automatis.  Aku  hanya  satu  bahagian  sahaja;  bukanlah<br />
tanggungjawab  aku  untuk  mengetahui  ke  mana  seluruhnya  bergerak  atau  ke<br />
mana id berhajat untuk pergi.<br />
Natijah-natijah  praktikal  ini  lebih  kurang  sama  dengan  apa  yang  telah<br />
saya  terangkan  ketika  membincangkan  Doktrin  Ruhbaniah.  Dalam  sudut-sudut<br />
tertentu sikap para penganut kepercayaan ini adalah sama dengan para pelopor<br />
Doktrin  Jahiliah.  Orang  yang  mempercayai  bahawa  dirinya  hanya  bayang-bayang  tunduk  kepada  hawa  nafsunya;  ia  memberikan  hawa  nafsunya<br />
kebebasan untuk bertindak dan tidak memperdulikan arah mana mereka ambil,<br />
kerana  menurut  pemikirannya,  hanya  benda  (substance)  yang  menjadi<br />
penggerak  utama  kepada  hawa  nafsunya,  manakala  beliau  sendiri  hanyalah<br />
suatu patung.<br />
- 21 -Ketiga-tiga  konsep  ini,  seperti  yang  pertama  dahulu,  adalah  berdasarkan<br />
Jahiliah,  dan  bentuk  akhlaq  manusia  yang  lahir  dari  konsep-konsep  ini  juga<br />
bercirikan  Jahiliah  setulen-tulennya.  Tidak  ada  satu  pun  di  antara  konsep-konsep  di  atas  yang  dikuatkan  dengan  bukti-bukti  ilmiah.  Bahkan,  pelbagai<br />
konsep telah direkabentuk berasaskan  khayalan dan andaian. Pengalaman telah<br />
menidakkan  konsep-konsep  ini.  Jika  salah  satu  dari  doktrin-doktrin  ini  benar,<br />
pelaksanaanya  sudah  tentu  tidak  menghasilkan  natijah-natijah  yang  buruk.  Jika<br />
kamu  lihat  sesuatu  itu  menyebabkan  rasa  sakit  dalam  perut,  bila  dan  di  mana<br />
sahaja ia dimakan, kamu akan membuat kesimpulan yang benar dan percubaan<br />
mi  bahawa  benda  mi  tidak  selaras  dengan  anatomi  dan  tabiat  sistem<br />
penghadaman makanan manusia. Dengan cara yang sama. apabila telah menjadi<br />
fakta  yang  sah  bahawa  doktrin-doktrin  syirik,  ruhbaniah  dan  wujudiah  telah<br />
banyak menyebabkan kerosakkan manusia pada keseluruhannya, ia merupakan<br />
bukti yang positif bahawa tidak ada satu pun dari doktrin-doktrin fakta ini juga,<br />
kesemuanya tidak sah.<br />
- 22 -PENYELESAIAN KElIGA: AL ISLAM<br />
Sekarang  marilah  kita  pergi  kepada  jalan  yang  ketiga  yang  menjadi  jalan<br />
yang  terakhir  dalam  membentuk  sesuatu  pandangan  tentang  masalah-masalah<br />
asas  kehidupan  manusia.  Jalan  ini  ialah  dengan  meletakkan  keyakinan  kita<br />
kepada  penyelesaian  yang  telah  dibawa  oleh  Rasul-rasul  Allah.  Hal  ini  dapat<br />
dijelaskan  dengan  mengambil  contoh  seorang  lelaki  yang  mendapati  dirinya<br />
berada  di  suatu  tempat  yang  asing.  Ia  tidak  mempunyai  pengetahuan  tentang<br />
tempat  itu  langsung.  Ia  meminta  keterangan  dari  seorang  lelaki  dan  pergi  ke<br />
merata  tempat  di  situ  di  bawah  bimbingan  lelaki  tersebut.  Apabila  anda<br />
berdepan  dengan  sesuatu  masalah  seumpama  ini,  usaha  pertama  yang  anda<br />
akan  buat  ialah  mencari  seorang  yang  mendakwa  ia  tahu  jalan  selanjutnya.<br />
Urusan  anda  yang  kedua  ialah  untuk  menaruh  keyakinan  tentang  kebolehan  si<br />
penunjuk jalan tersebut berdasarkan bukti-bukti yang ada. Akhir sekali, dengan<br />
mengambil  ia  sebagai  penunjuk  jalan,  anda  terus  memulakan  penjalanan.<br />
Apabila  telah  terbukti  melalui  pengalaman  bahawa  keterangan  yang  diberikan<br />
olehnya  tidak  menyesatkan  anda,  anda  akan  merasa  yakin  keterangan  yang  ia<br />
berikan  tentang  tempat  itu  adalah  benar.  Ini  adalah  satu  metod  yang  saintifik.<br />
Apabila  tidak  terdapat  metod  saintifik  yang  lain,  sudah  pasti  metod  ini  sahaja<br />
yang benar dalam membentuk pandangan seseorang itu.<br />
Lihatlah sekarang! Dunia ini menjadi tempat yang asing bagi anda. Anda<br />
tidak  mempunyai  pengetahuan  tentang  hakikat  yang  sebenar.  Anda  tidak  tahu<br />
bagaimana  dunia  ini  diuruskan?  Anda  tidak  sedar  di  bawah  peraturan  apakah<br />
‘bengkel’ yang besar ini dikelolakan. Apakah kedudukan anda di dunia ini? Dan<br />
apakah  sikap  sebenar  yang  anda  patut  ambil  terhadap  dunia  ini?  Inilah  soalan-soalan  yang  menjadi  tandatanya  kita.  Pada  mulanya  anda  berpendapat  bahawa<br />
apa yang dilihat adalah benar-benar wujud (real). Lalu anda bertindak menurut<br />
pandangan  tadi,  tetapi  hasilnya  adalah  suatu  kegagalan.  Selanjutnya,  anda<br />
membentuk berbagai pendapat berdasarkan kepada andaian serta sangkaan dan<br />
bertindak  menurut  pendapat  tadi’,  tetapi  pengalaman  anda  setiap  kali  adalah<br />
negatif.  Selepas  kesemua  ini,  jalan  terakhir  yang  tinggal  untuk  mendapat<br />
petunjuk  sebenar  ialah  dengan  mengalihkan  pandangan  kepada  Rasul-rasul<br />
Allah.  Para  Rasul  mendakwa  bahawa  mereka  mempunyai  ilmu  pengetahuan<br />
yang  sahih.  Setelah  suatu  penelitian  yang  dalam  dibuat  terhadap  cara-cara<br />
kehidupan  mereka,  ternyata  mereka  itu  sangat  benar,  amanah,  alim,  tidak<br />
mementingkan  diri  sendiri  dan  berfikiran  waras  tanpa  sebarang  keraguan.<br />
Ternyata  sekali  bahawa  di  sana  wujud  asas  yang  kuat  untuk  mempercayai<br />
kebenaran  dakwaan  mereka.  Walau  bagaimanapun,  yang  masih  perlu<br />
ditentukan  ialah  sejauh  mana  keterangan  berhubung  dengan  dunia  ini  dan<br />
kedudukan  manusia  di  dalamnya  itu  benar  dan  samada  wujud  apa-apa  bukti<br />
yang  praktikal  yang  boleh  menidakkan  dakwaan  mereka?  Seterusnya,  sejauh<br />
- 23 -manakah keterangan yang mereka berikan berjaya di dalam pengalaman sehari-hari?  Jika  selepas  suatu  pemeriksaan  yang  teliti,  natijah  daripada  penelitian-penelitjan  ini  condong  kepada  pengiktirafan  kebenaran  para  Rasul,  kita<br />
sepatutnya  meletakkan  kepercayaan  kepada  petunjuk  mereka  dan  hanya<br />
mengambil jalan hidup yang selaras dengan ajaran-ajaran mereka.<br />
Seperti  yang  telah  saya  katakan  dahulu,  berbeza  sekali  dengan  metod-metod  lain  yang  berdasarkan  Jahiliah,  asas  metod  ini  adalah  saintifik.  Jika<br />
seorang lelaki menundukkan kepalanya bersetuju dengan ilmu pengetahuan ini,<br />
dan  ia  buangkan  kedegilan  serta  kesombongannya  dan  beramal  menurut  ilmu<br />
pengetahuan  ini,  dan  jika  ia  hadkan  tindakan-tindakan  dalam  sempadan-sempadan  yang  telah  ditetapkan  oleh  ilmu  pengetahuan  tadi,  maka  inilah  yang<br />
dinamakan sebagai tarikul-Isiami, yakni metod Islam.<br />
- 24 &#8211; PANDANGAN PARA RASUL TENTANG MANUSIA DAN ALAM INI<br />
Para Rasul berpegang kepada konsep-konsep. berikut tentang manusia dan áiam<br />
semesta ini:<br />
Hak wewinangan melakukan sesuatu terletak di tangan Allah.<br />
Seluruh  alam  yang  terhampar  di  hadapan  manusia,  yang  ia  sendiri<br />
merupakan  sebahagian  darinya,  bukanlah  suatu  fenomena  yang  berlaku  secara<br />
kebetulan. Ia merupakan suatu wilayah besar yang tersusun dan terurus dengan<br />
baik.  Allah  swt.  telah  menciptakan  alam  ini.  Ia  sahajalah  Tuan  empunya  dan<br />
Pemerintahnya. Alam ini adalah suatu nidzam muhaimin (totalitarian system) di<br />
mana  seluruh  kekuasaan  terletak  di  bawah  satu  sultah  markaziah  (central<br />
authority).  Tidak  ada  sesiapa  pun  yang  berkongsi  dengan  Kuasa  tertinggi  ini  di<br />
dalam  pemerintahannya.  Tidak  ada  suatu  apa  pun  dalam  alam  ini  yang<br />
mengingkari  perintahnya  atau  bertindak  secara  bersendirian  tanpa<br />
kebenarannya.  Tidak  ada  suatu  bahagian  dari  sistem  yang  meliputi  segala-galanya  ini  yang  dapat  mencapai  autonomi  atau  bertindak  tanpa  perasaan<br />
tanggungjawab;  dan  memang  pada  tabi’enya  ia  tidak  sepatutnya  berbuat<br />
demikian.<br />
Pengabdian Manusia.<br />
Manusia  adalah  hamba  bagi  mamlakah  rabbaniyah  ini.  Ia  tidak  diangkat<br />
menjadi  hamba  mamlakah  (kingdom)  ini  dalam  bentuk  fizikalnya,  bahkan  ia<br />
dilahirkan  sebagai  hamba  dan  tidak  ada  padanya  kekuasaan  untuk  memegang<br />
apa-apa kedudukan lain selain daripada seorang hamba. Oleh itu, manusia tidak<br />
mempunyai  hak  untuk  membuat  sesuatu  cara  hidup  atau  untuk  menentukan<br />
tanggungjawab-tanggungjawabnya.  Manusia  tidak  memiiki  suatu  apa  pun<br />
dalam  dunia  ini  dan  ia  tidak  berhak  mencipta  undang-undang  untuk<br />
menggunakan  hartabenda yang  bukan  hakmiliknya. Tubuh badan  manusia dan<br />
setiap kekuasaannya adalah milik Allah dan pemberianNya. Oleh itu, hak untuk<br />
menggunakan  badannya  atau  kekuatan  fizikalnya  menurut  kehendaknya  tidak<br />
dimiliki  oleh  manusia.  Malah,  ia  sepatutnya  menggunakan  pemberian-pemberian Tuhan ini menurut kehendak Yang Maha Perkasa.<br />
Samalah  juga  keadaannya  bagi  setiap  benda  seperti  tanah,  haiwan,  air,<br />
tanam-tanaman,  bahan-bahan  galian,  yang  menjadi  alam  sekeliling  manusia,<br />
adalah  hakmilik  Allah  SWT.  Mereka  tidak  dimiliki  oleh  manusia.  Oleh  itu  ia<br />
tidak  berhak  untuk  mengambil  benda-benda  ini  menurut  peraturan-peraturan<br />
yang telah ditentukan oleh Pemilik sebenarnya.<br />
- 25 -Begitu juga setiap manusia yang menduduki bumi ini, di mana kehidupan<br />
mereka  terikat  di  antara  satu  sama  lain,  adalah  hamba-hamba  Allah  juga.  Oleh<br />
itu,  mereka  tidak  berhak  untuk  membentuk  undang-undang  dan  peraturan-peraturan  untuk  mengatur  hubungan  di antara  mereka.  Setiap  perhubungan<br />
mereka mestilah diperintah oleh undang-undang ciptaan Tuhan.<br />
Berhubung  dengan  persoalan  ‘apakah  undang-undang  Tuhan’  itu,  para<br />
Rasul  a.s.  telah  memberitahu  kita  bahawa  sumber  yang  sama  yang  kita  terima<br />
ilmu pengetahuan tentang hakikat dunia ini dan diri-diri kita daripadanya, telah<br />
menyampaikan  kepada  mereka  ilmu  pengetahuan  tentang  undang-undang<br />
Rabbani.  ‘Allah  SWT  sendiri  telah  mewahyukan  ilmu  pengetahuan  ini  kepada<br />
kami  dan  mengangkat  kami  (sebagai  RasulNya)  untuk  menyampaikannya<br />
kepada kamu. Percayalah kepada kami; kenalilah kami sebagai perutusan Malik<br />
kamu  dan  terimalah  daripada  kami  undang-undang  yang  sebenar  daripada<br />
Malikmu.’<br />
Batas-Batas ‘Amal<br />
Para  Rasul  a.s.  selanjutnya  menerangkan  kepada  kita:  “Kamu  lihat<br />
bahawa  seluruh  urusan  alam  ini  berjalan  menurut  suatu  sistem;  padahal<br />
Maliknya  tidak  kelihatan,  dan  tidak  pula  kita  lihat  pekerja-pekerjanya  bekerja.<br />
Kamu  merasa  bebas  untuk  bertindak  sesuka  hatimu;  kamu  boleh  berkelakuan<br />
seolah-olah  kamu  pemilik  sebenar  harta-benda  kamu;  kamu  boleh  tunduk<br />
memperhambakan  dari  dan  taat  kepada  mereka-mereka  yang  berlagak  sebagai<br />
Tuan;  Kamu  terima  rezeki  dalam  apa  keadaan  pun;  kamu  diberi  peluang  dan<br />
jalan  untuk  bekerja;  mengingkari  undang-undang  Ilahi  tidak  mendatangkan<br />
hukuman  dengan  serta-merta.  Semuanya  ini  bertujuan  untuk  menguji  kamu.<br />
Tuan  kamu  (yakni  Allah  SWT)  telah  memberi  kamu  kebijaksanaan,  keupayaan<br />
membuat  rumusan  dan  berkebolehan  untuk  memilih  di  antara  yang  benar  atau<br />
salah.  Oleh  sebab  itu,  Tuan  kamu  telah  mencampakkan  hijab  di  antara  ZatNya,<br />
sistem  kerajaanNya  dari  mata  kamu.  Ia  mahu  kamu  menjalani  suatu  ujian  dan<br />
melihat  bagaimana  kamu  menggunakan  kekuasaan  yang  dikurnianya  kepada<br />
kamu. Ia telah  memberkati  kamu dengan aqal, kebebasan memilih, serta sedikit<br />
autonomi  dan  membiarkan  kamu bertindak  menurut  kemahuan  kamu.  Jika<br />
kamu  sedar  akan  kedudukan  kamu  selaku  hamba  dan  mengambil  jalan  ini<br />
dengan  hati  yang  terbuka  tanpa  paksaan,  kamu  akan  keluar  dengan  kejayaan<br />
dan  ujian  Tuanmu.  Jika  kamu  gagal  mengenali  kedudukan  kamu  selaku  hamba<br />
Allah  atau  setelah  mengenal  kedudukan  kamu  selaku  hamba,  kamu  mengikut<br />
jalan  pemberontakan,  kamu  akan  gagal  di  dalam  ujian  ini.  Kamu  telah  diberi<br />
sedikit  kekuasaan  di  dunia  ini  untuk  tujuan  meletakkan  kamu  di  bawah  suatu<br />
ujian. Kamu telah diberi hak mengawal dan memerintah ke atas banyak perkara<br />
di  dunia  ini  dan  telah  diberi  seumur  hidupmu  untuk  membuktikan  nilai  dan<br />
hargamu”.<br />
- 26 -Dunia Adalah Tempat Ujian.<br />
Para  Rasul  a.s.  kemudiannya  memberitahu  kita  bahawa  kehidupan<br />
duniawi  ini  adalah  suatu  jangka  masa  ujian;  dengan  itu  tidak  ada  penghisaban<br />
dan tidak pula ganjaran baik atau hukuman diberi di dunia ini (l). Apa-apa yang<br />
diberi di sini tidak semestinya suatu balasan bagi sesuatu kebaikan; ia juga tidak<br />
menandakan bahawa Tuhan redha dengan kamu atau Ia bersetuju dengan amal<br />
perbuatan  kamu  sekarang.  Semuanya  ini  pada  hakikatnya,  diberikan  kepada<br />
kamu  sebagai  suatu ujian.  Barang-barang,  harta-benda,  anak-anak,  pangkat  dan<br />
kedudukan  dalam  kerajaan,  sumber  nafkah  hidup,  semuanya  adalah<br />
dikurniakan  kepada  kamu  untuk  menguji  amal  perbuatan  kamu  dan  untuk<br />
membolehkan  kamu  menggunakan  qualiti-qualiti  baik  atau  buruk  kamu.  Setiap<br />
kesusahan,  kehilangan  dan  malapetaka  yang  menimpa  kamu  juga  tidak<br />
menandakan  datangnya  hukuman  Tuhan  ke  atas  kamu  disebabkan  sesuatu<br />
perbuatan  buruk.  Sebahagian  dari  musibah-musibah  ini  adalah  daripada<br />
fenomena  tabi’e  tertentu  (2)  Dan  sebahagian  dari  kesusahan-kesusahan  ini<br />
termasuk  di  bawah  kategori  ujian-ujian.  (3) Dan  setengah  nasib  malang  berlaku<br />
apabila seseorang itu berkelakuan menurut pandangan yang bercanggah dengan<br />
Al  Haq.  Dalam  hal  sedemikian  rupa,  seseorang  itu  mengalami  kejutan  kasar<br />
yang tidak dapat dielakkan (4).<br />
Walaubagaimanapun,  dunia  ini  bukan  Tempat  Balasan  Baik  atau<br />
Hukuman,  tetapi  ia  adalah  ‘Tempat  Ujian’,  Natijah-natijah  amalan  yang  timbul<br />
di  dunia  ini  tidak  boleh  diambil  sebagai  asas  untuk  menentukan  sama  ada<br />
sesuatu metod atau ‘amal itu ‘adil, kejam, baik atau buruk dan sama ada haram<br />
atau  halal.  Natijah  amalan  duniawi  yang  akan  ditetapkan  kedudukannya  di<br />
akhirat  kelak  akan  menjadi  asas  sebenar  sesuatu  penilaian.  Apabila  tempoh<br />
tangguhan (kehidupan dunia ini) berakhir, kehidupan yang kedua akan bermula<br />
di  mana  segala  amalan  kamu  akan  dinilai  dan  keputusan  akan  diberi  sama  ada<br />
kamu  menghabiskan  masa  dengan  baik  atau  dengan  cara  yang  keji  dan  hina<br />
ketika  hidup  di  dunia  ini.  Satu-satunya  asas  yang  dengannya  kamu  diputuskan<br />
sama ada bersalah atau tidak di akhirat kelak, adalah:<br />
• Pertamanya,  sama  ada  kamu  telah  menggunakan  fakulti-fakulti<br />
penglihatan  dan  berfikir  menurut  jalan  yang  benar  dan  mengaku  akan<br />
Uluhiah Allah swt. dan kesucian Perintah-perintahnya;<br />
• Keduanya,  sama  ada  kamu  setelah  membuat  pengakuan  terhadap<br />
kebenaran  di  atas,  di  samping  mempunyai  kebebasan  memiih,  tunduk<br />
kepada  Allah  swt  yang  Maha  Agung  dan  beramal  menurut  Perintah-perintahNya tanpa sebarang paksaan dan di atas kehendakmu sendiri.<br />
- 27 -PENELITIAN TERHADAP PANDANGAN ISLAM<br />
Suatu Konsep yang saintifik.<br />
Konsep  terhadap  dunia  dan  manusia  yang  disampaikan  oleh  para  Rasul<br />
adalah lengkap dan sempurna. Setiap bahagian pandangan yang menyeluruh itu<br />
tersusun  secara  logikal;  tidak  terdapat  pertentangan  di  dalamnya.  Ia<br />
mengandungi  intepretasi  yang  paling  sempurna  terhadap  peristiwa-peristiwa<br />
seluruh dunia dan menjelaskan sepenuhnya segala fenomena alam ini. Tidak ada<br />
sesuatu  pun  yang  berhubung  dengan  penglihatan  atau  pengalaman  manusia<br />
yang  tidak  dapat  diberi  intepretasi  menurut  konsep  ini.  Oleh  itu  ianya  adalah<br />
suatu  doktrin  saintifik  dan  ia  adalah  sah  menurut  setiap  definisi  perkataan<br />
‘saintifik’.  Lagi  sekali  ditegaskan,  tidak  ada  penglihatan  atau  pengalaman  yang<br />
telah  menidakkan  sahnya  doktrin  ini.  Oleh  itu  ia  tetap  benar.  Ia  tidak  dapat<br />
digolongkan  di  dalam  kumpulan  metos  yang  dibuktikan  salah.  (exploded<br />
myths) (5). Penelitian kita terhadap sistem alam ini juga menjadikan pandangan<br />
ini  kelihatan  sebagai  yang  paling  besar  kemungkinan  kebenarannya.  Fenomena<br />
alam  yang  tersusun  hebatnya  ini  memaksa  kita  merumuskan  bahawa  adalah<br />
lebih  rasional  untuk  kita  mengimani  kewujudan  suatu  Pentakbir  Yang  Agung,<br />
daripada kita menidakkan kewujudannya. Di atas bukti yang sama juga, adalah<br />
lebih  munasabah untuk  kita  membuat  kesimpulan  bahawa  ianya  suatu  nidzam<br />
markazi  (a  centralised  system)  dan  satu  Pemerintah  Yang  Maha  Berkuasa<br />
mengawal  sistem  ini,  daripada  kita  memikirkan  bahawa  alam  ini  suatu  nidzam<br />
lamarkazi  (a  decentralised  system)  yang  diperintah  oleh  beberapa  pemerintah.<br />
Dengan  cara  yang  sama  juga,  setelah  melihat  akan  kebijaksanaan  yang  tinggi<br />
yang  bekerja  di  sebalik  pentadbiran  yang  hebat  terhadap  alam  ini  adalah<br />
rasional  untuk  rumusan  bahawa  sistem  alam  ini  didirikan  menurut  rekabentuk<br />
dan  tujuan  yang  penuh  hikmah,  dan  berdasarkan  bukti  yang  sama,  adalah  jauh<br />
dari  kebenaran  untuk  kita  mempercayai  ianya  hanya  suatu  permainan  kanak-kanak. Apabila kita sekali lagi memikirkan sebaik-baiknya tentang fakta bahawa<br />
sistem alam ini terdiri dari suatu mamlakah di mana manusia adalah sebahagian<br />
daripada  mamlakah  ini,  keithatan  lebih  munasabah  untuk  dipercayai  bahawa<br />
manusia  tidak  sepatutnya  dilepaskan  tanpa  dipertanggungjawabkan  dan  tidak<br />
seharusnya  ada  peruntukan  untuk  kebebasan  sepenuhnya  dalam  sistem  ini.<br />
Kedudukan  sebenar  manusia  adalah  sebagai  hamba.  Di  atas  asas-asas  inilah<br />
pandangan ini kelihatan lebih munasabah bagi kita.<br />
Satu Sistem Kepercayaan Yang Pratikal.<br />
Dilihat dari sudut praktikalnya, pandangan ini dapat diterima juga. Suatu<br />
skima  hidup  yang  menyeluruh,yang  lengkap  dengan  setiap  perinciannya,  terbit<br />
daripada  sistem  kepercayaan  ini.  Falsafah  dan  Ilmu  Kesusilaan,  Sains  dan<br />
- 28 -Pertukangan,  Kesusasteraan  dan  Kesenian,  Politik  dan  Sistem  Pemerintahan,<br />
Kedamaian  dan  peperangan,  dan  Hubungan  Internasional  —  bahkan  sistem<br />
kepercayaan  ini  melengkapi  dengan  asas-asas  yang  abadi  untuk  setiap  aspek<br />
keperluan  hidup!  Tidak  ada  satu  bidang  hidup  di  mana  seseorang  itu  perlu<br />
melihat di luar daripada sistem  kepercayaan ini untuk  mendapatkan garis-garis<br />
panduan.<br />
- 29 -KESAN CARA HIDUP ISLAM<br />
Sekarang  kita  perlu  lihat  kepada  apakah  jenis  sikap terhadap  kehidupan<br />
yang dibentuk oleh Islam dan apakah natijah-natijah yang lahir daripadanya.<br />
Kesan terhadap kehidupan individu.<br />
Berbeza  sekali  dengan  doktrin-doktrin  lain  yang  berdasarkan  Jahiliah<br />
semata-mata,  Al  Islam  membentuk  serta  membina  suatu  sikap  yang<br />
bertanggungjawab  dan  berdisiplin  terhadap  hidup  di  kalangan  individu-individu.  Keyakinan  terhadap  doktrin  Islam  membawa  erti  bahawa  manusia<br />
tidak  sepatutnya  menganggap  dirinya  sebagai  tuan  empunya  tubuh-badannya,<br />
kekuatan-kekuatan fizikalnya atau apa saja di dunia ini, dan tidak sepatutnya ia<br />
menganggap  dirinya  bebas  untuk  menggunakannya  sesuka  hati.  Manusia<br />
sepatutnya  melihat  akan  benda-benda  ini  sebagai  hakmilik  Allah  dan<br />
mempergunakan mereka itu selaras dengan undang-undang Ilahi. Ia sepatutnya<br />
mengambil  hakmilikNya  sebagai  amanah  dari  Allah  dan  sewaktu<br />
menggunakannya,  ia  tidak  sepatutnya  lupa  bahawa  ia  mesti  memberikan  butir-butir  lengkap  mengenai  penggunaannya  kepada  Pemenntah  Yang  Agung,  yang<br />
tidak ada suatu amalan individu pun tersembunyi darinya dan tidak pula ia lalai<br />
dari apa yang berlaku dalam diri manusia. Jelaslah kepada kita bahawa seorang<br />
yang memberi ketaatannya kepada Islam, akan mengikut suatu sistem peraturan<br />
dalam  keadaan  apa  sekalipun.  Ia  tidak  akan  membiarkan  nafsunya  mengamuk<br />
laksana  seekor  haiwan  yang  liar.  Ia  tidak  akan  menjadi  seorang  penzalim  atau<br />
seorang  yang  rosak  dirinya.  Kewibawaannya  lebih  dari  yang  ditetapkan  dan  ia<br />
seorang  yang  amanah.  Tidak  perlu  lagi  suatu  tekanan  dari  luar  untuk<br />
memaksanya  mentaati  undang-undang  itu.  Jiwanya  tunduk  kepada  suatu<br />
disiplin moral yang tinggi, yang menetapkannya di atas jalan yang saleh dan adil<br />
walaupun ia di dalam keadaan-keadaan di mana tidak wujud risiko hukuman di<br />
tangan  mana-mana  kuasa  dunia.  Adalah  mustahil  untuk  kita  fikirkan  cara-cara<br />
lain yang dapat melahirkan individu-individu dalam sesebuah masyarakat yang<br />
sempurna  dan  mempunyai  akhlaq  yang  boleh  dipercayai  sedemikian  rupa,<br />
selain  daripada  penanaman  sifat  takutkan  balasan  Ilahi  dan  kesedaran  bahawa<br />
setiap  benda-benda  yang  dimiliki  oleh  manusia  adalah  amanah  daripada  Allah.<br />
Lagi  pun,  pandangan  ini  bukan  saja  merubah  individu  itu  sehingga  menjadi<br />
seorang  yang  beramal  tetapi  juga,  mengalih  usaha-usahanya  daripada<br />
matalamat  yang  berbentuk  kepentingan  individu,  hawa  nafsu  atau  asabiah,<br />
kepada  pencapaian  matalamat-matlamat  keadilan  dan  moraliti  yang  luhur.<br />
Adalah mustahil untuk kita berjumpa dengan seorang yang lebih dinamik, lebih<br />
produktif  dan  lebih  saleh  dalam  amalnya  daripada  orang  yang  mempunyai<br />
pandangan-pandangan berikut terhadap dirinya:<br />
- 30 -“Bahawasanya  aku  tidak  dihantar  ke  dunia  ini  tanpa  sebarang  tujuan;  bahkan<br />
Allah  telah  menciptakan  aku  untuk  melaksanakan  suatu  tugas;  matlamat<br />
hidupku ialah untuk melakukan amal-amal yang diredai Allah dan bukan untuk<br />
menyukakan  diriku  atau  saudaramaraku. Aku  tidak  akan  biarkan  begitu  sahaja<br />
sehingga  aku  telah  menyerahkan  keterangan  yang  lengkap  tentang  bagaimana<br />
dan sejauh mana aku telah habiskan tenaga dan masaku.”<br />
Pandangan  hidup  ini  melahirkan  individu-individu  yang  sangat  baik<br />
sehingga  sukar  untuk  kita  fikirkan  bahawa  ada  pandangan  lain  yang  dapat<br />
menanamkan  nilai-nilai  dan  perasaan  yang  lebih  baik  di  kalangan  penganut-penganutnya.<br />
Kesan Terhadap Kehidupan Ijtimaie.<br />
Sekarang marilah kita analisis kesan pandangan hidup Al Islam terhadap<br />
kehidupan  ijtimaie  manusia  seluruhnya.  Mula-mula  sekali  Al  Islam  merubah<br />
asas-asas  masyarakat  manusia.  Menurut  doktrin  ini,  setiap  orang  adalah  hamba<br />
Allah.  Oleh  itu,  semua  orang  menikmati  hak  yang  sama,  status  dan  peluang<br />
yang  sama.  Tidak  ada  individu,  keluarga,  kelas,  negara  atau  bangsa  yang<br />
mempunyai  hak-hak  yang  lebih,  keutamaan-keutamaan  tertentu  atau  hak-hak<br />
untuk  menguasai  orang  lain.  Dengan  cara  ini  konsep  penguasaan  manusia  atau<br />
ketinggiannya  ke  atas  manusia-manusia  lain  dihapuskan  hingga  ke  akar-umbinya.  Setiap  keburukan  dan  kejahatan  yang  timbul  dari  sistem  Monarki,<br />
Feudalisma,  Aristokrasi,  Brahmanisma,  pemerintahan  Pope  dan  pemerintahan<br />
diktator di hapuskan terus. Doktrin Al Islam juga menghapuskan segala bentuk<br />
prejudis  qabilah,  negara,  bangsa,  daerah  atau  warna  kulit  yang  menjadi  punca<br />
utama  pertumpahan  darah  di  dunia  ini.  Menurut  Al  Islam  seluruh  bumi  ini<br />
adalah  hakmilik  Allah.  Seluruh  umat  manusia  adalah  keturunan  Adam  a.s.  dan<br />
makhluk  Allah  swt.  Kemuliaan  dan  ketinggian  itu  dicapai  melalui  kesucian<br />
moral dan taqwa kepada Allah dan bukan disebabkan bangsa, asal-usul, barang<br />
dagangan,  harta,  atau  disebabkan  putih  atau  merah-jambunya  wama  kulit<br />
seseorang.  Ketinggian  darjat  diberikan  kepada  mereka  yang  paling  bertaqwa<br />
kepada Allah dan mengamalkan amal saleh serta melakukan usaha memurnikan<br />
jiwa-jiwa mereka.<br />
Pandangan  Al  Islam  juga  menukar  secara  menyeluruh  asas-asas  ikatan<br />
sosial,  perhubungan,  perbezaan  atau  ketinggian  darjat  di  antara  sesama<br />
manusia. Prinsip-prinsip ciptaan manusia yang dijadikan dasar kehidupan sosial<br />
atau  pertentangan  sosial,  telah  mewujudkan  berbagai  kumpulan  dan  telah<br />
mendirikan  halangan-halangan  yang  sukar  diatasi  di  antara  kumpulan-kumpulan  ini.  Bangsa,  negara,  kewarganegaraan  atau  warna  kulit  tidak  boleh<br />
diubah  oleh  manusia  dan  tidak  pula  ia  membenarkan  perpindahan  sosial  dari<br />
satu  kumpulan  manusia  kepada  yang  lain.  Sebaliknya,  pandangan  Al  Islam<br />
- 31 -membina  asas  kehidupan  sosial  atau  pertentangannya  di  atas  asas-asas  yang<br />
kukuh  iaitu  keyakinan  yang  mendalam  terhadap  Allah  dan  ketaatan  kepada<br />
perintah-perintahnya.  Mereka  yang  meninggalkan  pergantungan  kepada<br />
makhluk-makhluk  lain  dan  tunduk  patuh  kepada  Khaliq  mereka,  serta<br />
menerima  syariatnya  sebagai  prinsip  yang  mengatur  kehidupan  mereka,  akan<br />
membentuk  suatu  kelompok  masyarkat.  Mereka-mereka  yang  berbuat<br />
sebaliknya  membentuk  suatu  kelompok  masyarakat  yang  lain  (iaitu  selain  dari<br />
Hizbullah).  Dengan  ini,  segala  perbezaan  dapat  dihapuskan  kecuali  satu.  Pada<br />
setiap  waktu  ada  kemungkinan  seseorang  itu  menukar  keyakinan  serta  cara<br />
hidupnya  dan  keluar  dari  satu  kumpulan  untuk  memasuki  kumpulan  lain.  Jika<br />
boleh  dibentuk  suatu  masyarakat  yang  bersatu-padu  daripada  penduduk-penduduk  dunia,  ia  hanya  dapat  dibentuk  berasaskan  prinsip-prinsip  Islam.<br />
Kesemua  doktrin-doktrin  lain  memecah-belahkan  umat  manusia,  tetapi  Islam<br />
mempersatukan mereka di dalam suatu persaudaraan yang padu.<br />
Uluhiyyah Allah SWT.<br />
Berikutan  dari  reformasi-reformasi  ini,  masyarakat  yang  lahir  di  atas<br />
prinsip  Al  Islam  adalah  suatu  masyarakat  di  mana  sikap,  roh  dan  struktur<br />
sosialnya telah mengalami satu perubahan yang menyeluruh. Dalam masyarakat<br />
ini,  prinsip  dasar  yang  di  atasnya  didirikan  Daulah  itu  adalah:  bahawa  hak<br />
wewinangan  menentukan  sesuatu  itu  kepunyaan  Allah  semata-mata,  bukan<br />
kepunyaan  manusia.  (6)  Allah  swt.  adalah  pemerintah  Agung.  Ia  juga<br />
merupakan  sumber  segala  perundangan.  Manusia  berfungsi  sebagai  Khalifah<br />
Allah  di  muka  bumi.  Sebagai  permulaannya,  sistem  politik  ini  menghapuskan<br />
segala  keburukan  dan  kejahatan  yang  lahir  dari  suatu  sistem  di  mana  undang-undang  dirangkakan  oleh  manusia  dan  manusia  sendiri  memerintah  manusia<br />
lain.  Perbezaaan  yang  menonjol  yang  ditunjukkan  oleh  sistem  daulah  ini  ialah<br />
bahawa  roh  ketaqwaan  dan  pengabdian  diri  kepada  Allah  menyerap  ke  dalam<br />
seluruh  sistem  itu.  Pemerintah-pemerintah  dan  yang  diperintah,  sama-sama<br />
memahami  bahawa  mereka  bertanggungjawab  terus  kepada  Allah  swt.,  Yang<br />
Maha  Hadir  dan  Yang  Maha Mengetahui  segala  sesuatu.  Rakyat  membayar<br />
cukai  sebagai  sumbangan  di  jalan  Allah  swt;  pemungut-pemungut  cukai  dan<br />
orang-orang  yang  bertanggungjawab  untuk  menggunakan  wang  cukai<br />
menganggap ianya sebagai harta hakmilik Allah swt. dan mereka sendiri adalah<br />
pemegang-pemegang  amanah.  Dan  seorang  polis  biasa  hingga  kepada  Hakim<br />
dan  Gabenor,  serta  setiap  Pegawai  kerajaan,  melaksanakan  tugas-tugasnya<br />
menurut  rangka  pemikiran  yang  sama,  iaitu  ia  berkhidmat  untuk  Allah  swt.,<br />
kerana kedua-duanya adalah amal ibadat kepadaNya, dan dalam kedua-dua kes<br />
tersebut  roh  ketaqwaan  yang  sama  serta  takutkan  kuasa  Allah  diperlukan.<br />
Kebaikan  yang  dicari  dalam  calon-calon  yang  dipilih  oleh  rakyat  dari  kalangan<br />
mereka, untuk menjadi wakil-wakil Allah di atas muka bumi, adalah taqwallah,<br />
amanah  dan  kewibawaan  akhlaknya.  Dalam  proses  ini  hanya  mereka-mereka<br />
- 32 -yang  melebihi  rakyat  lain  dari  sudut  kebaikan  moralnya  diangkat  memegang<br />
tampuk  kekuasaan  dan  pemerintahan.  Islam  menyerap  ke  dalam  masyarakat<br />
dan  kebudayaannya  dengan  roh  ketaqwaan  dan  kesucian  moral  yang  sama.<br />
Pokok  perbincangan  tamadun  ini  adalah  berkhidmat  kepada  Allah  dan<br />
bukannya  pengabdian  kepada  hawa  nafsu.  Allah  yang  Maha  Kuasa  adalah<br />
Pendamai  di  antara  sesama  manusia;  hubungan-hubangan  di  kalangan  umat<br />
manusia  diaturkan  oleh  hukum-hukum  Allah.  Oleh  kerana  Pemberi  undang-undang  itu  bersih  daripada  segala  pengaruh  hawa  nafsu  dan  kepentingan  diri<br />
sendiri  dan  Maha  Mengetahui  serta  Bijaksana,  hukum-hukumnya  akan<br />
melenyapkan  segala  kemungkinan  timbulnya  kejahatan  atau  kezaliman  dalam<br />
masyarakat  ini  sehingga  bila-bila  masa  sahaja.  Walau  bagaimanapun,  syariat<br />
Allah  membuat  perhitungan  sewajarnya  terhadap  setiap  aspek tabiat  manusia<br />
dan mengadakan peruntukan untuk segala keperluannya.<br />
Masa  tidak  mengizinkan  saya  untuk  menyampaikan  kepada  anda  suatu<br />
gambaran  yang  lengkap  tentang  struktur  masyarakat  yang  boleh  didirikan  di<br />
atas  prinsip-prinsip  Al  Islam.  Walau  bagaimanapun,  anda  boleh  membentuk<br />
suatu  idea  tentang  jenis  sikap,  natijah-natijahnya  dan  kemungkinan-kemungkinan  yang  lahir  dari  pandangan  tentang  manusia  dan  alam  yang<br />
disampaikan  oleh  Para  Rasul  Allah.  Ianya  bukan  suatu  negara  utopia  di  mana<br />
‘blueprint’nya  berada  di  atas  kertas  sahaja.  Wujudnya  suatu  masyarakat  dan<br />
negara  yang  didirikan  di  atas  pandangan  ini  adalah  suatu  kenyataan  sejarah.<br />
Tidak  pernah  wujud  di  muka  bumi  ini  rakyat  dan  negara  berperikemanusiaan<br />
yang lebih baik daripada yang pernah dibentuk oleh konsep Islam tentang alam<br />
di sepanjang sejarah umat manusia. Perasaan tanggungjawab moral di kalangan<br />
rakyat  Daulah  ini  telah  meningkat  ke  suatu  tahap  di  mana  seorang  wanita<br />
padang  pasir  yang  telah  hamil  disebabkan  perhubungan  jenis  yang  haram,<br />
sungguhpun  ia  mengetahui  bahawa  ia  akan  direjam  sehingga  mati  kerana<br />
kesalahannya  itu,  namum  ia  datang  dengan  sendirinya,  mengaku  salah  dan<br />
memohon supaya hukuman itu dijalankan ke atasnya. Ia telah dilepaskan tanpa<br />
sebarang  jaminan  atau  perjanjian  dan  telah  diberitahu  untuk  datang  semula<br />
selepas  melahirkan  anaknya.  Ia  muncul  kembali  dari  padang  pasir  selepas<br />
kelahiran  anaknya  dan  sekali  lagi  memohon  supaya  ia  dihukum.  Kali  ini  ia<br />
diberitahu  supaya  menyusukan  anaknya  dan  datang  kembali  setelah  tamat<br />
tempoh  penyusuan.  Wanita  itu  pulang  ke  padang  pasir  dan  tidak  dikenakan<br />
apa-apa  pemerhatian oleh  pihak  polis.  Selepas  berakhir  tempoh  penyusuan,<br />
wanita itu datang sekali lagi dan meminta Hakim supaya membersihkan dirinya<br />
daripada dosa zina dengan melaksanakan hukum itu ke atasnya. Ia telah direjam<br />
dengan  batu  dan  orang  ramai  berdoa  agar  Allah  memberkatinya.  Apabila<br />
seorang  lelaki  dengan  tidak  sengaja  berkata,  “Alangkah  jahatnya  perempuan<br />
itu!” ia telah ditegur (oleh Nabi Muhammad s.a.w) dengan keras sekali dan telah<br />
dikatakan kepadanya:<br />
- 33 -“Demi  Allah!  Sesungguhnya  wanita  ini  telah  membuat  suatu  taubat,  sekiranya<br />
seorang  pemungut  cukai  yang  tidak  jujur  telah  membuat  taubat  yang  sama,  ia<br />
pasti  akan  diampuni  Allah.”  (Sahih  Muslim,  Kitab  Al  Hudud,  kisah<br />
Ghamidiyyah).<br />
Demikianlah  kalibar  moral  rakyat  Daulah  tersebut.  Dan  bagaimana  pula<br />
dengan  Daulah  itu  sendiri?  Ianya  suatu  Daulah  di  mana  kadar  wang  yang<br />
diterimanya  berjumlah  berjuta-juta  dinar.  Khazanah-khazanah  kerajaan  itu<br />
melimpah  dengan  harta  penghasilan  daripada  Iran,  Syria  dan  Mesir.  Namun<br />
demikian ketua Dualah ini hanya menerima tidak lebih daripada sepuluh junaih<br />
(pound)  sebulan  sebagai  pendapatannya.  Di  kalangan  rakyat  Daulah  ini  pula,<br />
amat sukar untuk kita bertemu dengan seseorang yang layak menerima sedekah.<br />
Jika masih ada lagi individu yang tidak bersedia untuk mempercayai kebenaran<br />
pandangan  para  Rasul  tentang  tabiat  alam  dan  kedudukan  manusia  selepas<br />
tajribah  (pengalaman) sejarah  yang  berjaya  ini  maka  tidak  ada  jalan  lain  lagi  di<br />
mana individu tersebut boleh dipujuk dan diyakinkan. Tuhan, malaikat-malaikat<br />
dan  kehidupan  akhirat  tidak  terbuka  untuk  dilihat  terus  oleh  mana-mana<br />
manusia.  Dalam  keadaan  di  mana  penglihatan  terus  tidak  wujud,  pengalaman<br />
adalah  panduan  terbaik  untuk  menentukan  kebenaran  dan  kewujudan  sesuatu<br />
fenomena.  Ambil  suatu  contoh:  seorang  doktor  selepas  memeriksa  pesakitnya<br />
tidak  mampu  untuk  menentukan  penyakit  yang  sebenar  terdapat  pada  sistem<br />
dalam  badannya.  Dalam  hal  ini  si  doktor  memberikan  berbagai  jenis  ubat  dan<br />
menunggu  untuk  melihat  ubat  manakah  yang  sampai  kesasarannya  di  dalam<br />
penjuru-penjuru  gelap  tubuh  badan  manusia  dan  menghapuskan  penyakit  itu.<br />
Fakta yang menunjukkan bahawa suatu ubat tertentu, terbukti akan mujarabnya<br />
dalam  menyembuh  sesuatu  panyakit,  merupakan  suatu  bukti  positif  bahawa<br />
ubat  ini  adalah  satu-satunya  cara  yang  sesuai  untuk  menghapuskan  sakit  di<br />
dalam sistem tubuh badan manusia. Samalah juga keadaannya jika kekurangan-kekurangan  jentera  kehidupan  manusia  tidak  dapat  dihapuskan  oleh  mana-mana  ideologi  dan  hanya  boleh  dibetulkan  oleh  penyelesaian  yang  diberikan<br />
oleh para Rasul, maka ia merupakan suatu bukti positif bahawa pandangan para<br />
Rasul  sesuai  dengan  realiti  kes  tersebut.  Alam  ini  adalah  miik  Allah  swt.  dan<br />
sudah  pasti  ada  suatu  kehidupan  lain  selepas  kehidupan  ini  di  mana  manusia<br />
akan diminta untuk menyerahkan seluruh keterangan tentang amalnya di dunia<br />
ini.<br />
- 34 -NOTA<br />
1.  Berhubung  dengan  hal  ini,  patut  diingatkan  bahawa  dunia  ini  adalah  ‘Dunia  Fizikal’  (iaitu<br />
yang  berjalan  menurut  undang-undang  sains  fizikal)  dan  bukannya  ‘Dunia  Moral’  (iaitu  yang<br />
berjalan menurut undang-undang moral). Oleh itu, di bawah sistem alam yang wujud sekarang<br />
ini,  natijah-natijah  moral  perbuatan-perbuatan  dan  tindak-tanduk  manusia  tidak  berlaku<br />
sepenuhnya.  Natijah-natijah  ini  boleh  berlaku  setakat  mana  undang-undang  fizikal<br />
membenarkan  ianya  berlaku.  Kalau  tidak,  di  mana  sahaja  undang-undang  fizikal  meletakkan<br />
halangan, adalah mustahil untuk natijah-natijah moral berlaku. Ambil satu contoh: seorang lelaki<br />
membunuh seorang lelaki lain. Natijah-natijah moral suatu pembunuhan akan berlaku sekiranya<br />
undang-undang  fizikal  memberi  bantuan  dalam  penyiasatan  terhadap  kesalahan  itu,<br />
menentukan  dakwaan  dan  kemudiannya  mengenakan  hukuman  ke  atas  pesalah  tadi.  Jika<br />
undang-undang fizikal itu terbukti tidak berjaya, natijah moral sesuatu pembunuhan tidak akan<br />
berlaku  sepenuhnya  di  dunia  ini.  Dengan  mengenakan  hukuman  bunuh  ke  atas  seseorang<br />
sebagai  balasan  terhadap  yang  dibunuh,  belum  lagi  dapat  memenuhi  tuntutan  undang-undang<br />
moraliti.  Oleh  itu,  dunia  ini  bukan  tempat  hukuman  sebenarnya  dan  ia  tidak  akan  jadi  begitu.<br />
Untuk  menjadikan  dunia  ini  suatu  ‘Tempat  Ganjaran’  atau  ‘Hukuman’  kita  perlukan  suatu<br />
sistem alam (yang berbeza dari sistem sekarang ini) yang diperintah oleh undang-undang moral,<br />
di  mana  undang-undang  fizikal  bertugas  sebagai  pembantu-pembantu  dalam  pelaksanaan<br />
undang-undang moral tersebut.<br />
2.  Sebagai  contoh,  apabila  seorang  penzina  mendapat  penyakit  kelamin  (venereal  disease),  ia<br />
menjadi  natijah  fizikal  tindakannya  dan  bukannya  suatu  hukuman  moral  ke  atas  perbuatan<br />
kejinya  itu.  Jika  ia  berjaya  dalam  menghilangkan  penyakit  itu  melalui  rawatan  perubatan,  ia<br />
mungkin  selamat  dari  kesakitan  fizikal  penyakit  itu,  tetapi  ia  tidak  dikecualikan  daripada<br />
hukuman  moralnya.  Jika  ia  bertaubat  dari  dosanya,  ia  akan  bebas  dan  dikenakan  hukuman<br />
moral tetapi ini tidak akan menyembuhkan penyakitnya.<br />
3.  Sebagai  contoh,  apabila  seorang  lelaki  ditimpa  kemiskinan,  ianya  merupakan  suatu  ujian<br />
terhadap ketulusan dan kejujurannya. Adakah ia tendorong untuk menggunakan cara-cara kotor<br />
dan  keji  untuk  mencari  naflah  hidupnya,  atau  ia  tetap  teguh  menggunakan  cara-cara  yang  sah?<br />
Adakah ia tetap teguh dalam ketaqwaannya apabila ditindas oleh berbagai-bagai kesusahan atau<br />
pendiriannya tergoncang dan ia tunduk kepada cara-cara yang keji?<br />
4. Apabila seorang lelaki menidakkan wujudnya Tuhan sekalian alam dan bertindak seolah-olah<br />
ia  bebas  dari  segala  pembatasan,  ia  bertindak  melawan  kebenaran  dan  pasti  ditemui  oleh<br />
kesedihan,  kerana  pada  hakikatnya  Tuhan  itu  wujud  dan  manusia  tidak  bebas  dari  segala<br />
pembatasan.  Tindak-tanduk  orang  yang  begitu,  boleh  disamakan  dengan  contoh  seorang  lelaki<br />
setelah menganggap api itu adalah mainan, ia cuba memegangnya lantas membakar tangannya,<br />
kerana tindakanya itu sudah tentu berlawanan dengan fakta sebenarnya.<br />
5.  Jika  teori-teori  sesuatu  zaman  itu  enggan  mengaku  kebenaran  sesuatu  konsep,  ia  tidak<br />
membuktikan  bahawa  konsep  itu  salah.  Sesuatu  doktrin  saintifik  hanya  boleh  dibuktikan  salah<br />
melalui  fakta-fakta  dan  bukan  melalui  teori-teori  semata-mata.  Oleh  itu,  selagi  belum  disahkan<br />
bahawa konsep alam dan manusia yang diutarakan oleh para Rasul itu salah kerana fakta-fakta<br />
tertentu,  adalah  tidak  saintifik  dan  sebesar-besar  dengki  untuk  menganggap  pandangan  para<br />
Rasul sebagai suatu metos yang dibuktikan salah (exploded myth).<br />
6 Untuk keterangan lanjut, sila rujuk kepada buku ‘The Political Theory of Islam’, A.A. Maududi.</p>
<p>http://www.muslimdiary.com/downloads/islam%20dan%20jahiliyyah%20-%20Sayyid%20Abu%20al-Ala%20al-Mawdudi.pdf</p>
<p>EMPAT TANDA MUSLIM JAHILI<br />
Salah satu konsekuensi seseorang menjadi muslim adalah meninggalkan segala bentuk nilai-nilai yang tidak Islami atau yang jahili. Karena itu setiap mu&#8217;min dituntut untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah atau menyeluruh. Allah berfirman yang artinya: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu&#8221; (QS 2:208).<br />
Ayat tersebut turun dengan sebab; ada sekelompok sahabat yang semula beragama Yahudi meminta kepada Nabi Saw agar dibolehkan merayakan atau memuliakan hari Sabtu dan menjalankan kitab Taurat. Maka turunlah ayat ini yang tidak membolehkan seseorang yang telah mengaku beriman tapi masih berprilaku sebagaimana prilakunya pada masa jahiliyah.<br />
Meskipun demikian, masih banyak dari orang-orang yang mengaku beriman tapi tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang jahiliyah sehingga kepribadiannya masih bercampur dengan kepribadian jahiliyah, karenanya orang seperti itu pantas kita sebut dengan muslim yang jahili. Dari sekian banyak tandanya, Rasulullah Saw menyebutkan dalam satu hadits: &#8220;Empat perkara pada umatku dari perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu: membanggakan derajat keturunan, mencela keturunan, meminta hujan dengan binatang dan maratapi mayat&#8221; (HR. Muslim).<br />
Dari hadits di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dari sekian banyak tanda, ada empat tanda muslim jahiliyah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. Hal ini memang harus kita pahami dengan baik agar model kehidupan jahiliyah itu tidak kita jalani. Sahabat Umar bin Khattab pernah menyatakan: &#8216;Kalau engkau hendak menghindari jahiliyah, kenalilah jahiliyah itu&#8217;.<br />
1. Membanggakan Keturunan.<br />
Kemuliaan dan ketaqwaan seseorang bukanlah diukur dengan keturunan dalam arti secara otomatis. Karena itu, kalau kita ingin membanggakan atau memuliakan seseorang, bukanlah karena keturunan, tapi karena iman dan prestasi amal shalehnya. Namun yang kita saksikan justeru sebaliknya. Tak sedikit orang yang terpilih menjadi pemimpin secara otomatis dengan sebab keturunan. Kalau bapak raja, maka anak secara otomatis akan menjadi raja meskipun sang anak belum tentu mampu menjadi raja, bahkan sebenarnya ada orang lain yang lebih pantas untuk menjadi raja. Begitulah dalam negara yang menggunakan sistim kerajaan.<br />
Disamping itu, membanggakan keturunan juga dalam bentuk tidak menghukum orang-orang keturunan ningrat atau yang “berdarah biru” bila mereka melakukan kesalahan, bahkan kesalahan itu cenderung ditutup-tutupi, sementara bila orang biasa melakukan kesalahan, maka hukuman yang ditimpakan kepadanya jauh lebih berat daripada kesalahan yang dilakukannya. Ketika para sahabat menanyakan soal ini, Rasulullah Saw menegaskan: Seandainya anakku, Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya.<br />
2. Mencela Keturunan.<br />
Karena kemuliaan seseorang harus kita ukur dengan ketaqwaannya kepada Allah Swt, maka seorang muslim tidak dibenarkan mencela orang lain dengan sebab keturunan, misalnya kalau bapak atau ibunya tidak baik, maka kita menganggap anak-anaknya juga tidak baik, lalu kita mencelanya, dan begitulah seterusnya. Memang adakalanya bila orang tua tidak baik, anaknya juga ikut menjadi tidak baik, namun kita tidak bisa menganggap semuanya seperti itu.<br />
Pada masa jahiliyah, mencela keturunan memang biasa terjadi, bahkan seringkali permusuhan seseorang dengan orang lain akan turun-temurun kepada anak cucunya. Islam sangat tidak membenarkan perlakuan mencela orang lain, apalagi hanya karena keturunan, karena bisa jadi yang dicela sebenarnya lebih baik daripada yang mencela. Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS 49:11). 3. Meminta Hujan Dengan Binatang.<br />
Turunnya hujan yang cukup merupakan dambaan manusia dalam kehidupan di dunia ini, karena dengan demikian, disamping akan terpenuhinya kebutuhan air yang memang sangat penting bagi manusia, juga dapat terpenuhinya air bagi pertanian dan peternakan serta lingkungan hidup akan terasa lebih nyaman.<br />
Manakala terjadi kemara panjang, maka akan berakibat pada semakin panasnya suhu udara dan menipisnya persediaan air bagi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena itu, Islam mengajarkan kepada kita untuk meminta hujan kepada Allah Swt dengan melaksanakan shalat istisqa.<br />
Namun dalam kehidupan masyarakat kita, terdapat budaya yang justeru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri dalam kaitan meminta hujan, yakni meminta hujan melalui binatang, misalnya dengan menyiram kucing dengan air dan sebagainya. Perbuatan semacam ini bukan hanya mengganggu binatang, tapi juga dapat merusak keyakinan yang bersih, sesuatu yang harus selalu dipelihara oleh setiap muslim agar keyakinannya tidak bercampur dengan kemusyrikan. Karena itu, apalabila ada seorang muslim meminta hujan dengan perantaraan binatang, maka keyakinan dan prilakunya itu berarti masih bersifat jahiliyah. 4. Meratapi Mayat.<br />
Mati merupakan suatu hal yang biasa. Setiap kita pasti akan mencapai kematian, cepat atau lambat. Ketika ada anggota keluarga kita, orang-orang yang kita cintai atau tokoh masyarakat yang menjadi penutan kita dalam kebaikan meninggal dunia, kesedihan atas kematian mereka merupakan sesuatu yang mungkin saja terjadi. Bahkan Umar bin Khattab ketika dikhabarkan bahwa Rasulullah Saw wafat beliau merasa tidak percaya, karenanya dengan pedang di tangan, beliau menyatakan bahwa kalau ada yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw sudah wafat akan aku tebas batang lehernya. Menghadapi hal itu, maka sabahat Abu Bakar Ash Shidik menenangkan Umar bin Khattab dan menegaskan bahwa Rasulullah memang telah wafat.<br />
Sedih atas kematian seseorang memang boleh saja, tapi kesedihan yang berlebihan sampai meratap dengan memukul-mukul badan, kepala, muka, menarik-narik rambut dan mengucapkan kata-kata yang menggambarkan tidak adanya rasa yakin atau percaya kepada Allah Swt merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, karena itu, dala, kitab hadits Riyadush Shalihin, Rasulullah Saw menganggap orang seperti itu sebagai orang yang bukan umatnya, beliau bersabda yang artinya: &#8220;Bukan dari golonganku orang yang memukul-mukul pipi, merobek saku dan menjerit dengan suara kaum jahiliyah&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Meratapi mayat terjadi karena seseorang tidak menerima kematian orang yang diratapinya itu, akibatnya karena memang kematiannya sudah tidak bisa ditolak lagi, maka diapun diperlakukan seperti layaknya orang yang masih hidup, misalnya dengan membangun kuburannya meskipun harus dengan biaya yang besar, berdo’a dengan meminta bantuan kepada orang yang sudah mati, berandai-andai kalau dia masih hidup hingga tidak berani meninggalkan wasiat-wasiatnya yang tidak benar sekalipun, bahkan ada kuburan yang diberi kelambu dan disediakan air minum di atasnya. Ini semua merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan di dalam Islam. Karenanya bila ada kaum muslimin melakukan hal itu, dia berarti masih melakukan praktek-paktek kejahiliyahan yang sangat tidak dibenarkan.<br />
Dengan demikian, harus kita sadari bahwa sebagai seorang muslim, semestinya kita menjauhi dan meninggalkan segala praktek kehidupan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Bila hal itu tetap saja kita kerjakan, bisa jadi keimanan dan keislaman kita hanya sebatas pengakuan yang belum tentu diakui oleh Allah Swt dan Rasul-Nya </p>
<p>http://www.maqdis.s5.com/artikel9.htm</p>
<p>Hukum Allah Bukan Hukum Jahiliyah<br />
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)</p>
<p>“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)<br />
Sebab turunnya ayat<br />
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, dia berkata: Dua kabilah Yahudi, Quraizhah dan Nadhir. Kabilah Nadhir lebih mulia dibanding kabilah Quraizhah. Apabila ada seseorang dari kabilah Quraizhah membunuh seseorang dari kabilah Nadhir, dia dibunuh pula karenanya. Namun, jika seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah, cukup ditebus dengan 100 wisq kurma (6000 sha’, pen.). Setelah Nabi n diutus, seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah. Kemudian orang-orang Bani Quraizhah berkata, “Serahkan pembunuh itu kepada kami, kami akan membunuhnya.” (Tatkala Bani Nadhir enggan menyerahkannya), Bani Quraizhah berkata, “Antara kami dan kalian ada nabi.” Mereka pun mendatangi beliau. Lalu turunlah firman Allah l:<br />
“Jika engkau berhukum maka berhukumlah diantara mereka dengan adil.” (Al-Maidah: 42)<br />
Keadilan di sini adalah jiwa dibalas dengan jiwa (qishas). Setelah itu turun pula ayat:<br />
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50) [HR. Abu Dawud no. 4494, An-Nasa’i no. 4732, Ibnu Abi Syaibah no. 27970, Ad-Daruquthni 3/198, Ibnu Hibban no. 5057, Al-Hakim 4/407, Al-Baihaqi 8/24, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa no. 772. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud]</p>
<p>Tafsir ayat<br />
Firman Allah l:<br />
“Apakah hukum jahiliah&#8230;”<br />
Hamzah (yang berarti: apakah) yang disebut dalam ayat ini menunjukkan istifham inkari, bentuk pertanyaan namun yang dimaksud adalah pengingkaran dan menjelekkan orang yang melakukannya. (Lihat Fathul Qadir, Asy-Syaukani)<br />
Yang dimaksud hukum jahiliah adalah setiap hukum yang menyelisihi apa yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya, karena  hukum hanya ada dua: hukum Allah l dan Rasul-Nya atau hukum jahiliah. Siapa yang berpaling dari hukum Allah l niscaya dia berhukum dengan hukum jahiliah yang dibangun di atas kejahilan, kezaliman, dan penyimpangan. Oleh karena itu, Allah l menisbahkannya kepada jahiliah. Sementara hukum Allah l dibangun di atas ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, karya As-Sa’di dalam tafsir ayat ini)<br />
Ibnul Qayyim t berkata ketika menjelaskan tentang hukum jahiliah, “Setiap hukum yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul maka itu termasuk jahiliah. Jahiliah adalah nisbah kepada kejahilan. Setiap yang menyelisihi Rasul termasuk dari kejahilan.” (Al-Fawa’id, Ibnul Qayyim hlm. 109)<br />
Ibnu Katsir t berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Allah l mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah k yang adil, yang mencakup segala kebaikan dan mencegah dari setiap kejahatan, beralih kepada hukum lain yang berupa pendapat manusia, hawa nafsu, dan berbagai istilah yang ditetapkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syariat Allah l. Sebagaimana halnya kaum jahiliah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan, yaitu hukum yang mereka tetapkan berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Seperti bangsa Tartar yang berhukum dalam politik kekuasaan mereka yang diambil dari raja mereka yang bernama Jenghis Khan, yang menetapkan undang-undang Ilyasiq; sebuah kitab yang berisi hukum-hukum yang diambil dari syariat yang berbeda-beda; Yahudi, Nasrani, Islam, dan yang lainnya. Di dalamnya juga banyak hukum-hukum yang diambil dari pandangan dan hawa nafsunya semata. Akhirnya undang-undang ini menjadi syariat yang harus diikuti oleh keturunannya. Mereka lebih mengutamakannya daripada berhukum dengan kitab Allah l dan Sunnah Rasul-Nya. Siapa di antara mereka yang melakukan hal itu maka dia kafir, wajib diperangi sampai dia kembali kepada hukum Allah l dan Rasul-Nya, serta dia tidak berhukum dengan yang lainnya baik dalam urusan kecil maupun besar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/68)<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sungguh Allah l telah memerintahkan Nabi-Nya untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah l kepadanya. Allah l juga memperingatkan beliau agar tidak mengikuti hawa nafsu mereka, dan menjelaskan bahwa yang menyelisihi hukum-Nya adalah hukum jahiliah.” (Daqa’iq At-Tafsir, 2/55)<br />
Diriwayatkan dari hadits Jabir z bahwa beliau berkata, “Suatu hari kami dalam satu peperangan. Lalu ada seorang dari kalangan Muhajirin memukul pantat seorang dari kalangan Anshar dengan tangannya. Orang Anshar itu pun berteriak sambil berkata, ‘Wahai kaum Anshar.’ Maka orang Muhajirin itu pun juga berteriak, ‘Wahai kaum Muhajirin.’ Akhirnya teriakan ini didengar oleh Nabi n beliau pun berkata:<br />
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ؟ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ<br />
‘Mengapa ada panggilan jahiliah? Tinggalkan karena sesungguhnya itu buruk (tercela).” (HR. Al-Bukhari no. 4622, Muslim no. 2584)<br />
Muhammad bin Abi Nashr Al-Humaidi berkata dalam menjelaskan makna panggilan jahiliah: “Ucapan mereka ‘Wahai pengikut fulan’, hal ini termasuk fanatisme golongan dan keluar dari hukum Islam.” (Tafsir Gharib Ma fish Shahihain, Al-Humaidi: 85)<br />
“Yang mereka kehendaki.”<br />
Ini adalah bacaan jumhur (mayoritas) ahli qira’ah. Adapun bacaan Ibnu ‘Amir dengan ta’ (تَبْغُونَ) yang berbentuk khithab (artinya: kalian kehendaki). (Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Baghawi)<br />
Maknanya adalah, apakah mereka berpaling dari hukum yang telah Allah l turunkan kepadamu (kepada Muhammad n, pen.) dan meninggalkannya lalu mencari hukum jahiliah? (Fathul Qadir, Asy-Syaukani)<br />
Ayat ini seperti apa yang disebutkan dalam ayat lainnya:<br />
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al-An’am: 114)<br />
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”<br />
Ini juga termasuk istifham inkari, bentuk pertanyaan yang mengandung pengingkaran, yang maknanya adalah: Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah l bagi orang-orang yang memiliki keyakinan, bukan bagi orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu. (Tafsir Fathul Qadir)<br />
As-Sa’di t mengatakan: “Orang yang memiliki keyakinan itulah mengetahui perbedaan antara kedua hukum tersebut. Dengan keyakinannya, dia mampu membedakan apa yang terdapat di dalam hukum Allah l yaitu kebaikan dan keagungan, dan berdasarkan tinjauan akal maupun syariat wajib diikutinya. Al-yaqin adalah keyakinan yang sempurna yang melahirkan amalan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)<br />
Kewajiban berhukum dengan hukum Allah l<br />
Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban setiap hamba untuk berhukum dengan hukum Allah l dalam setiap urusan mereka serta larangan untuk menjadikan selain hukum Allah l sebagai hukum dan aturan dalam kehidupan manusia, sebab hal itu termasuk bentuk berhukum kepada hukum jahiliah.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Adapun orang-orang yang beriman, berislam, berilmu, dan beragama, mereka senantiasa berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah l:<br />
ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ<br />
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65) [Majmu’ Fatawa, 35/386]<br />
Al-‘Allamah As-Sa’di t berkata: “Berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah l merupakan perbuatan orang-orang kafir. Terkadang bentuk kekafirannya dapat mengeluarkan dari Islam, apabila dia meyakini halal dan bolehnya hal itu. Terkadang pula termasuk dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran (namun tidak mengeluarkan dari Islam) yang pelakunya berhak mendapatkan siksaan yang pedih.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)<br />
Begitu banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk berhukum dengan hukum Allah l dan mengharamkan berhukum dengan hawa nafsu yang merupakan hukum jahiliah. Diantaranya adalah:<br />
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48)<br />
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)<br />
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)<br />
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 77); dan yang lainnya.<br />
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas c bahwa Rasulullah n bersabda:<br />
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ: مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ، وَمُبْتَغٍ في الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهْرِيقَ دَمَهُ<br />
“Manusia yang paling dibenci Allah l ada tiga: seorang yang berbuat zalim di negeri haram, orang yang mencari hukum jahiliah dalam Islam, dan keinginan menumpahkan darah seseorang tanpa hak.” (HR. Al-Bukhari no. 6488)<br />
Balasan bagi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah l<br />
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar c, dia berkata: Rasulullah n mendatangi kami lalu bersabda:<br />
يا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إذا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لم تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ في قَوْمٍ قَطُّ حتى يُعْلِنُوا بها إلا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا ولم يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عليهم ولم يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إلا مُنِعُوا الْقَطْرَ من السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لم يُمْطَرُوا ولم يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إلا سَلَّطَ الله عليهم عَدُوًّا من غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ ما في أَيْدِيهِمْ وما لم تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ الله إلا جَعَلَ الله بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ<br />
“Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian diuji dengannya, aku berlindung kepada Allah l jangan sampai kalian: (1) Tidaklah satu perbuatan keji (zina) yang muncul hingga mereka melakukannya secara terang-terangan melainkan akan menyebar penyakit tha’un1 dan berbagai penyakit yang belum pernah muncul di masa sebelum mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan hidup, dan kezaliman penguasa terhadap mereka. (3) Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan pula dari mereka turunnya hujan dari langit. Kalaulah bukan karena hewan ternak, niscaya hujan tidak akan turun kepada mereka. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allah l dan Rasul-Nya melainkan Allah l akan memberi kekuasaan kepada musuh atas mereka lalu merampas sebagian apa yang mereka miliki. (5) Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah l dan memilah-milah hukum yang diturunkan Allah l melainkan Allah l akan menjadikan perselisihan di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/106)<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p>http://www.asysyariah.com/syariah/tafsir/803-hukum-allah-bukan-hukum-jahiliyah-tafsir-edisi-60.html</p>
<p>KITA DAN PENDIDIKAN ANAK KITA DI MASA KINI<br />
Kita, Ummat Islam yang hidup di abad ini terlahir di tengah budaya jahiliyah. Sadar atau tidak sadar, kita tak dapat menghindarinya. Kita memang terlahir sebagai anak muslim karena orangtua kita juga muslim, namun apakah kita sudah ’di-Islam-kan’ dengan baik oleh orangtua kita? Dengan segala hormat kepada mereka yang sangat kita cintai, namun tetap saja harus diakui bahwa kita belum diberikan pengajaran, pemahaman dan pembiasaan sebagai muslim sejati. -Atau mungkin ada sebagian (kecil) diantara kita ada yang telah mendapatkannya dari orangtua mereka namun diperkirakan pastilah jumlahnya tak banyak-. Sejak lahir hingga besar kita sangat dipengaruhi budaya jahiliyah Indonesia dengan segala versinya, ada versi tradisonal Indonesia, versi<br />
Dapat dikatakan budaya Indonesia saat ini sama sekali tidak mencerminkan statistik pemeluk Islam yang mayoritas. Jumlahnya memang banyak (meskipun kini semakin turun rasionya dibandingkan dengan non muslim), namun apa yang di yakini, di jalankan, bahkan dijadikan hukum sama sekali bukan Islam. Kita bahkan tak tahu apa itu Islam lebih dari sekedar definisi rukun Islam yang 5 dan rukun Iman yang 6. Kita hanya mengetahui ”narasi”nya, tanpa pemahaman apalagi internalisasi dan sibghah [1].</p>
<p>Ketika kita sendiri menjadi orangtua dan mulai sadar akan nilai Iman serta ingin memilikinya secara kaafah [2], kita menjadi bingung. Di saat itu kita baru menyadari betapa telah ’berjarak’nya antara kita sebagai muslim/muslimah dengan Islam sebagai jalan hidup. Kita mengaku muslim, namun tidak hidup secara Islami, tidak berpakaian secara Islami, tidak mencari nafkah (baca:berbisnis) secara Islami, bahkan tidak berpandangan yang Islami. Jadi di mana letak ’ke-Islam-an’ kita? Tidak ada, selain di KTP.<br />
Saat tersentak dengan kenyataan ini, barulah kita mulai gelisah dan mulailah tergopoh-gopoh belajar Islam dari nol lagi; bahkan seringkali dengan cara yang serabutan. Tidak heran, sebab selain memang jarak antara kita dan turunnya wahyu terakhir sudah berbilang belasan abad, kitapun sudah kehilangan banyak contoh. Di antara waktu itu, bukan hanya Nabi SAW yang telah wafat, namun para sahabat, tabi’in bahkan tabi’it tabi’in [3] semua sudah tiada. Peninggalan merekapun seringkali hilang karena perang atau disembunyikan atau terlupakan. Kita yang hidup saat ini harus mengais-ngais peninggalan kuno seraya mencoba mengartikannya dengan situasi zaman kita. Belum lagi kendala bahasa dan budaya. Situasi ini menimbulkan berbagai komplikasi penyakit ummat selain wahn, misalnya penyakit isti’jal, tasyaddud, tasahul, jumud dll.<br />
Sebagian dari kesulitan kita juga disebabkan karena sudah ter-kooptasi-nya banyak tokoh yang dianggap ’ulama Islam’, bahkan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah berganti rupa menjadi sistem yang se-pola dangan sistem pendidikan jahiliyah, sehingga kita kehilangan tempat bertanya. Bagaikan anak ayam kehilangan induk.<br />
Ketika seseorang menjadi orangtua, menurut para pakar psikologi ia akan cenderung mengambil pola pendidikan yang sama yang ia terima dari orangtua-nya. Kadang bagaikan copy-paste, sama persis tanpa di edit lagi. Jika si orangtua berpola permisif, si anak cenderung juga permisif terhadap anaknya sendiri. Selain gaya/pola pendidikan, kadang isinya-pun diambil tanpa di-edit lagi, terutama isi/konten moral (baca akhlaq) dan nilai-nilai luhur (agama/jalan hidup). Isi/konten dalam hal pengetahuan/ knowledge mungkin sudah diperbaharui atau ditambah sesuai zamannya, namun perilaku moral maupun nilai-nilai yang dijunjung tinggi diterima dan digunakan tanpa mempertanyakan apapun sama sekali. Jika kebetulan orangtua kita belum mengenal Islam, belum menjadikan Islam sebagai landasan/jalan hidup, maka kita-pun akan terjebak untuk mendidik anak-2 kita sebagaimana kita sendiri dididik dalam budaya jahiliyah.<br />
Banyak sekali orangtua muslim masa kini seolah hanya mengulangi sejarah hidupnya sendiri. Jika ada yang menggugat mengapa demikian maka alasan kuno yang dikemukakan bahkan amat mirip dengan yang ada disindir dalam Al Qur’an: ”Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami”. Pengecualian hanya pada segelintir orang yang di Rahmati Allah dan mendapat petunjuk yang Benar.<br />
Inilah yang kita -para orangtua yang ingin menegakkan Islam kembali dalam diri dan keluarganya- harus hadapi ketika kita harus mencari sekolah yang cocok bagi anak-anak kita, ketika kita coba melakukan riset pola asuh mana yang terbaik dlsb,&#8230;..maka 99% yang akan kita temui adalah metode pendidikan yang layak dianggap sampah dalam khazanah Islam. Pendidikan yang akan tampak baik di kulit luar, namun cepat atau lambat akan segera menunjukkan kebobrokannya sendiri. Sebagian merupakan warisan leluhur, sebagian lagi merupakan budaya impor dari luar dan sebagian lagi merupakan hasil rekayasa baru yang mengada-ada. Memang mungkin ada yang membawa satu atau dua nilai-nilai Islam, namun jika hal-hal yang mendasar (aqidah) tidak dijadikan sebagai landasannya, maka teori pendidikan anak yang manapun pada hakekatnya adalah sampah. Kesulitan mendapatkan sampel yang baik, mendapatkan metode yang tepat dan mendapatkan acuan yang benar&#8230;semua merupakan masalah nyata bagi ummat Islam di seluruh dunia.<br />
Apa yang akan terjadi pada orang-orang seperti kita? Sebagian akan terus mencari sampai dapat ketenangan dengan resep-resep pilihannya yang dipilih dengan hati-hati dan penuh perjuangan, sebagian hanya berpikir sebentar kemudian mengambil jalan pragmatis: yaitu menyerahkan pilihan kepada tokoh yang menurut mereka adalah tokoh Islam teladan dan kemudian mulai memasang ”mode’ JUMUD atau asal ikut (sebuah penyakit yang cukup berbahaya di masa kini). Atau sekedar merasa cukup dengan menyerahkan anak kepada sekolah/lembaga pendidikan yang berlabel ”Islami”. Dan sebagian lagi kemudian salah arah dan terkecoh oleh ”du’at ila abwaabi jahannam” (para da’i yang memanggil ke pintu-pintu neraka) yang menyesatkan kini juga sedang aktif berperan dengan baju dan bahasa yang seolah sama dengan da’i yang jujur namun dengan hasil yang bertolak belakang. Merasa sudah berada di jalan yang benar dengan sangat yakin, padahal sebenarnya sedang terseret ke neraka. Na’udzu billahi min dzalik.<br />
SIFAT/ NATURE DARI PENDIDIKAN SEKARANG DI SINI</p>
<p>Negara ini (Indonesia) dalam peringkat negara-negara di dunia saat ini masih dikatagorikan sebagai ’negara yang sedang berkembang’. Indonesia belum dianggap sebagai negara maju karena dianggap belum dapat menerapkan seluruh sistem jahiliyah secara 100%. Di dunia sekarang ini, kasta negara-negara ditentukan oleh sederet angka sebagai tolok ukur. Angka-angka tersebut sebenarnya merupakan angka-angka mati yang bisa saja berarti baik atau buruk tergantung bagaimana mengartikannya. Namun angka-angka tersebut kemudian dimunculkan untuk menciptakan pencitraan tertentu sebagaimana yang dikehendaki oleh pemakainya. Angka kematian penduduk (salah satu tolok ukur) masih tinggi, angka korupsi masih termasuk ranking sepuluh besar, income per-kapita masih rendah dan perolehan pajak masih kecil dan sejumlah tolok ukur jahiliyah lainnya, baik yang dapat dikatagorikan termasuk ma’ruf atau mungkar secara Islam maupun jelek atau bagus menurut nilai jahiliyah sendiri.</p>
<p>Di negeri ini, dalam masalah pendidikan, kasus kisruh UAN merupakan contoh yang menarik untuk kita analisa baik dengan kacamata Islam maupun tolok ukur jahiliyah. Sebagaimana diketahui, UAN diadakan dengan maksud melakukan standardisasi mutu pendidikan. Karena dilakukan dengan semangat ”terburu-buru karena takut di cap sebagai negera terbelakang”, maka UAN diberlakukan sebelum pembenahan seluruh sekolah di seluruh Indonesia di lakukan. Standardisasi dulu, benahi kemudian&#8230;..Kisruh-pun terjadi. Tidak meratanya kesempatan pendidikan di berbagai daerah dan kota menjadi mencolok pada tahun awal UAN. Ada banyak daerah dan sekolah yang angka gagalnya sangat tinggi&#8230;seolah guru-guru mereka sama sekali tidak mengajarkan apa-apa selama anak didik bersekolah. Para kanwil pendidikan merasa malu karena wilayahnya di cibiri Pusat dan kemudian balik menekan pihak sekolah dan menyalahkan mereka tidak serius mendidik. Pihak sekolah meradang karena selama ini fasilitas amat minim dan problema gaji merupakan masalah kronis. Input dan output sebenarnya sesuai dengan rumus, namun tidak sesuai ”pesanan’ dan ”keinginan” Pusat. Tahun berikutnya sudah dapat dipastikan yang muncul adalah fenomena bocor UAN merebak. Semua pihak, baik itu anak murid, guru, sekolah, kanwil diknas dst ingin mendapatkan atau melihat hasil yang bagus. Oleh karena realitanya belum dapat dicapai dengan jujur, maka bermain curang merupakan keharusan.</p>
<p>Penulis pernah menyekolahkan anak di wilayah luar Jakarta (pesantren). Pada akhir tahun ajaran, setelah pengumuman UAN, pak guru terpaksa ”buka kartu” dihadapan para orangtua bahwa sebelum UAN sekolah mereka diajak oleh diknas setempat untuk gotong royong bersama para guru sekolah lain untuk mendongkrak peringkat wilayah dengan cara para gurulah yang melakukan koreksi (sebelum dikumpulkan ke panitia UAN) kertas UAN anak didik. Para guru memperbaiki jawaban-jawaban yang salah dari para murid berdasarkan kunci jawaban dan berdasarkan pengetahuan si guru. Sekolah pesantren ini menolak, sebagai akibatnya, selain dikucilkan, sejumlah muridpun jatuh di nilai UAN dan bahkan peringkat sekolah mereka jatuh di bawah sekolah lain se-wilayah tsb padahal selama ini pesantren tsb dikenal sebagai sekolah terbaik di sana. Tragis, ketika ada guru yang berusaha berpegang pada nilai-nilai kejujuran, anak murid dan sekolahnya malah menjadi korban. Ini sangat sesuai dengan hadis yang memperediksi keadaan di akhir zaman dimana org baik dijatuhkan dan org jahat dianggap baik. Sampai saat ini sinetron UAN masih berlangsung. Tahun ini bahkan percetakan soal UAN sudah terdeteksi ada yang menjual soal UAN,&#8230;.keuntungan tambahan di luar dari tender mencetak soal UAN. Siapa lagi yang peduli bagaimana mutu pendidikan anak-anak kita?<br />
BEBERAPA PERSOALAN MENDASAR YANG ADA<br />
(1) Pertama adalah soal paradigma pendidikan<br />
Pendidikan jahiliyah berlandaskan paradigma sukses materialisme. Semua yang dianggap sebagai ”achievement” bersifat kuantitatif atau dikuantitatifkan. Anak sukses jika dapat gelar sarjana, anak sukses jika dapat kerja dengan gaji tinggi, rumah mewah, mobil mewah dlsb tolok ukur kebendaan. Anak sholeh dianggap abstrak dan utopia. Berapa nilai pemahamannya terhadap hidup, kedalaman Imannya dan keindahan akhlaqnya tak perlu dipedulikan, selama nilai-nilai kebendaan belum terpenuhi. Benda dulu, baru yang lain. Orang pandai (sarjana) yang kaya dan santun&#8230;.sangat dihormati. Yang pandai tapi kurang ajar-pun di berikan tempat lebih baik daripada yang ’biasa-biasa-saja” namun berakhlaq mulia.<br />
Paradigma mendasar tentang kesuksesan orang beriman melampaui batas hidup dan mati, melampaui batas dunia, rujukannya: 3:185 [1]. Ya, jika kita sudah sampai ’di sana’, maka siapa lagi yang akan membantah kesuksesan kita? Ayah dan ibu barulah dapat merasa sukses tanpa ragu jika telah berhasil mengantarkan anaknya ke sana. Sepintas ini akan dianggap utopia/mimpi, sebab ”hasil”nya tak dapat dilihat sekarang&#8230;.BETUL 100%. Memang hasil pendidikan yang baik bukan untuk dilihat orang lain, namun untuk dinilai Allah SWT. Kapan kita tahu itu berhasil atau tidak? Ya nanti jika sudah di akhirat. Sebelum itu, tak ada orangtua maupun pendidik yang boleh merasa tenang dan puas dan menganggap dirinya telah berhasil. Kita sebagai orangtua maupun guru harus selalu dalam keadaan waspada bahwa kita masih harus terus memperbaiki diri dan metode kita dalam memberikan pendidikan kepada anak. Paradigma sukses di QS 3:185 bukan hanya penting di akhirat dan berarti di dunia kita tidak perlu mendapatkan apa-apa, sebab di atas dunia ini kita juga harus mewujudkan kekuasaan Allah (sebagai khalifah Allah di atas dunia) dan kita ummat Islam harus merangkainya dalam amal-amal bermanfaat.<br />
(2)Persoalan kedua adalah persoalan standar penilaian yang selain mereduksi nilai-nilai yang utuh juga melakukan kompartementalisasi dan sekularisasi.<br />
Cara penilaian sistem pendidikan jahiliyah adalah dengan meredusir nilai- yang utuh menjadi nilai-nilai kuantitatif yang kosong makna. Rangking ke 1 di kelas yang mayoritas bodoh adalah anak terpandai diantara yang bodoh. Rangking terbawah di kelas unggulan adalah anak yang masih di atas rata-rata statistik. Angka hanya menampilkan skala yang kaku dari kemampuan anak, angka sangat dipengaruhi oleh situasi kondisi saat penilaian dengan angka tsb dilakukan (ujian atau ulangan). Apa yang dinilai merupakan sebagian kecil saja dari apa yang keseluruhan. Apakah yang dinilai tsb dapat mewakili kualitas sesungguhnya dari intelektualitas anak? Dengan meredusir penilaian yang utuh tentang seorang anak menjadi sederet angka rapor, kualitas moral, kualitas pemahaman, kualitas interaksi sosial anak tak lagi dapat di’baca’.<br />
Kesenjangan antara penilaian di ruang kelas dengan apresiasi lapangan pekerjaan merupakan bukti nyata problem ini. Sekian banyak angkatan kerja yang S1 tak terserap lapangan pekerjaan. Sementara ada saja yang non sarjana dapat melakukan sesuatu yang bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain ( para enterpreneur). Apalagi jika kita coba menilai hasil pendidikan jahiliyah tsb dengan timbangan nilai moral agama. Berapa banyak para sarjana S1, 2, 3 bahkan profesor malah memberi contoh akhlaq buruk. Profesor selingkuh dengan sesama profesor, doktor yang melakukan plagiat, mengajak kepada dosa dan kemunkaran dlsb. Itu semua merupakan cerita lama. Penilaian intelektualitas yang ada sama sekali tidak melibatkan aspek lain selain kemampuan berpikir di bidang tertentu.<br />
Sudah menjadi anekdot umum bahwa profesor adalah orang yang pelupa dan seringkali bertingkah bodoh. Adakah seorang Ulama mumpuni akan bertingkah ”absent minded?” sebagaimana ”absent minded professors? Sebab setiap proesor mendapat gelarnya yang tertinggi tersebut hanya untuk penilaian atas salah satu dari sejumlah besar cabang ilmu yang ada. Seorang prof yang membacakan pidato pengukuhan di bidang eksakta, isi pidatonya bisa sangat menggelikan ketika ia sedang menyebutkan apa rekomendasi/ kontribusi ilmunya untuk masyarakat luas (bidang sosial kemasyarakatan). Terasa kedangkalan berpikir di bidang yang bukan bidangnya. Ulama bukanlah ulama jika ia hanya mengusai salah satu saja cabang Ilmu Islam. Seorang yang boleh berfatwa hanyalah yang mampu meninjau seluruh aspek yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dibahas.<br />
Pandangan hidup sekularis dan serba terpecah-lah yang telah menyebabkan standar penilaian pendidikan jahiliyah menjadi kosong nilai yang utuh. Bagaimana seseorang hanya dinilai untuk aspek-aspek kecil dari keseluruhan dirinya dan melupakan nilai yang utuh. Persoalan kompartementalisasi dan sekularisasi merasuk ke seluruh bidang kehidupan. Bidang pendidikan kedokteran mencetak para dokter spesialis yang seringkali mereka ”mengeroyok” pasien yang sudah ”komplikasi” dengan sejumlah obat resep masing-masing. sehingga seorang dengan penyakit menjadi konsumen sejumlah obat para spesialis yang saling bertentangan cara kerjanya. Masing-masing dokter spesialis hanya mementingkan bagian tubuh yang merupakan bidang spesialisasinya, padahal yang menjadi obyek adalah SATU orang manusia dengan sistem tubuh yang saling berkaitan. Jika kita merujuk pasien yang sama kepada herbalis yang berdasarkan thibbun Nabawi  [2], maka mungkin segera dapat diketahui bahwa semua penyakit orang tersebut bersumber pada satu organ saja, yaitu perut. Bidang farmasi menghasilkan sejumlah obat kimia hasil ekstrak yang telah meniadakan keseimbangan bahan herbal yang di ekstrak sehingga efek sampingnya menjadi besar. Apa bidang yang tidak di kompertementalisasikan ? Semua bidang dibangun sekat-sekatnya, pembagian-pembagiannya, sehingga keseimbangan dalam harmonisasi keutuhan menghilang. Orang mulai merindukan untuk menjadi ”manusia se-utuhnya” tanpa tahu lagi bagaimana caranya.<br />
Keseimbangan alam telah lama terusik dan kini nyata-nyata telah menjadi korban kebodohan dan kezaliman manusia. Pemanasan global merupakan kisah tragis kemajuan ilmu pengetahuan yang di bangga-banggakan dunia barat. Penemuan brillian atas bahan CFC (freon), plastik, teknologi nuklir dll merupakan bukti nyata zholuman jahula [3]-nya manusia. Masih terlalu banyak contoh yang tak disebutkan di sini, contoh di bidang kemajuan ilmu pertanian, genetika, antariksa dll.<br />
Sebenarnya sejak akhir abad 19 awal abad 20 sudah ada sejumlah manusia dari masyarakat kafir jahiliyah yang mengkritisi kemajuan yang belum seberapa saat itu, yaitu para pem-protes revolusi Industri. Misalnya filsafat eksitensialisme. Meskipun kritikan mereka masih sebatas kulit masalah dan ungkapan keresahan belaka, bahkan sebagian dari mereka jelas-jelas tersesat menjadi ateis nyata, namun kegelisahan jiwa manusia sudah terdeteksi sejak lama. Saat itu, mayoritas umat Islam belum terlalu terpengaruh kemajuan ilmu barat sebab belum terlalu ”modern”.<br />
(3) Persoalan lain dari sistem pendidikan jahiliyah modern adalah masalah proses belajar mengajar secara klasikal massal.<br />
Kelas menjadi ruang-ruang peng-generalisasi individu anak didik. Bekerja sama dengan sistem penilaian kuantitatif, penegakkan dinding ruang kelas telah menghilangkan kemampuan anak didik melihat dunia nyata. Simulasi persoalan yang disederhanakan agar dapat dibungkus dan di bawa ke ruang kelas telah menyebabkan ada jarak antara pengajaran teori dengan pemahaman realita. Khusus Indonesia kita, sistem soal jawab yang sering mengandalkan multiple choice telah memunculkan bisnis bimbel dengan sukses. Cara seperti ini telah dengan amat berhasil membungkus berbagai soal jawab dalam lingkup kurikulum yang melebar (seolah banyak, dan memang banyak topiknya, namun dangkal pemahaman).<br />
Kita, orangtua sangat kagum betapa anak-anak kita telah disuguhkan soal dari topik bahasan matematika yang biasa diberikan di tingkat dua fak teknik justru ketika anak kita masih kelas dua SMA. Seolah ada kemajuan beberapa tahun. Tapi apakah lompatan ini bermanfaat? Itu soal lain, yang penting ketika evaluasi kurikulum dilakukan, para pembuat kurikulum dapat dengan bangga mengatakan bahwa mereka telah ”advance” dalam mendidik murid dengan materi bahasan yang lebih tinggi. Benarlah anak murid dapat menjawab dengan pilihan jawaban yang benar, sebab mereka telah pernah diberikan soal bahasan tsb dalam bentuk bahasan soal multiple choice, bukan dalam konteks topik tsb sebenarnya berada. Anak tinggal menghafalkan apa jawaban yang benar. Seorang anak kelas 3 SMA di sekolah terpadu dalam 3-6 bulan terakhir tak lagi diberikan materi pelajaran yang utuh. 3-6 bulan terakhir mereka hanya bertugas menjawab ribuan soal jawab multiple choice yang terlepas-lepas dari topik bahasan masing-masing. Bahkan ada yang mengadakan program pesantren kilat bimbel, tempat murid dikarantina selama 1 bulan untuk menjawab ribuan soal sambil dipompa motivasi ”belajar”nya dengan berbagai teknik training motivasi layaknya seorang calon manajer kantoran. Saya melihatnya sebagai sebuah kamp konsentrasi untuk cuci otak, dan untuk itu ortu harus bayar jutaan rupiah. Ujilah hasilnya sebagaimana kami pernah menguji anak kami dengan persoalan sederhana berikut ini (;&#8230;..soal phytagoras).<br />
Dengan meredusir setiap topik bahasan kedalam sejumlah soal multiple choce, para pembuat kurikulum telah berhasil mendapatkan evaluasi ”baik” (secara statistik dan kuantitatif) dari pencapaian murid di ruang kelas yang massal. Dalam ruang kelas seperti ini, seorang murid tak perlu berkonsentrasi secara penuh saat belajar, dalam kelas ada waktu untuk main HP, main game, dan bercanda bahkan melamun dan tidur, sebab kesuksesannya dapat dikejar nanti, saat ia habis-habisanan menghafal huruf a.b,c,d yang mewakili jawaban yang benar. Mengapa demikian? Mengapa ketika beban kurikulum ditambah anak murid malah lebih banyak kesempatan bermain dalam kelas? Alasannya karena cara belajar seperti ini pada hakekatnya tidak menambah kecerdasan. Murid tidak dibuat tambah pandai berpikir, dan mereka tak perlu bekerja keras berpikir. Cukup melibatkan proses berbikir sederhana yaitu mix and match antara soal dan huruf (abcd) yang mewakili jawaban yang benar. Ini proses pengenalan sederhana yang anak TK-pun sudah mampu mencapainya dengan kapasitas otak mereka. Sebagaimana soal jawab di buku TK, hanya saja anak SMA bukannya harus melakukan mix and match antara badan ayam dan dan kaki ayam, badan sapi dan kaki sapi, tapi antara soal tsb dengan jawabannya.<br />
Bagaimana jawaban tsb sampai kesana, itu tak lagi penting. Persis anak TK yang tak perlu tahu bahwa sapi adalah mamalia dan ayam adalah aves. Yang penting adalah anak murid harus menghafal sebanyak-banyaknya soal jawab, dan semua itu hanya untuk mengisis angka raport. Setelah nilai-nilai ujian dan raport dibagikan, anak murid-pun tak akan ingat lagi semua soal jawab itu sama sekali. Bagaimana mungkin ingat jika mereka hanya menghafal soal jawab tanpa mengerti apa yang dibicarakan?</p>
<p>http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=111:antara-pendidikan-jahiliyah-modern-dan-pendidikan-islami-bag-3&#038;catid=35:kolom-keluarga&#038;Itemid=62</p>
<p>Kaum jahiliyah menganggap bahwa menentang pemerintah merupakan keuatamaan<br />
Written by Abdurrahman<br />
Sunday, 06 June 2010 06:30<br />
Diantara perkara jahiliyah adalah tidak mau tunduk kepada pemerintah. Orang-orang jahiliyah memandang bahwa taat kepada pemerintah adalah suatu kerendahan. Sedangkan menentang pemerintah, mereka anggap sebagai suatu bentuk keutamaan dan kebebasan. Oleh karena itu, mereka tidak dapat dikumpulkan di atas satu kepemimpinan disebabkan oleh sikap mereka yang tidak mau tunduk (kepada pemimpin) dan kesombongan yang ada pada mereka.</p>
<p>Kemudian datanglah agama Islam untuk menyelisihi mereka. Islam memerintah untuk mendengar dan taat kepada pemerintah yang muslim, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan. Allah swt berfirman<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul serta pemimpin dari kalian” (An-Nisa&#8217;:59)<br />
Di dalam ayat ini diperintahkan untuk menaati pemerintah. Dan Rasulullah memerintahkan untuk taat dalam perkara yang baik. Beliau bersabda:<br />
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق<br />
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khalik” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Shahih Al-Jami&#8217;)</p>
<p>Dan Beliau juga bersabda:<br />
إنما الطاعة في المعروف<br />
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya di dalam perkara yang baik saja” (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Wajib menaati pemerintah di selain perkara yang mengandung kemaksiatan kepada Allah. Jika pemerintah memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak perlu untuk ditaati, akan tetapi tidak boleh menentangnya di dalam perkara-perkara yang lain. Jadi ketidaktaatan ini khusus untuk perkara yang didalamnya mengandung kemaksiatan. Dan tidaklah bai&#8217;at kepada pemerintah digugurkan dengan sebab ini. Maka janganlah menentang pemerintah selama ia (pemerintah) seorang muslim. Sebab dengan menaati pemerintah (muslim), akan terjaga persatuan dan darah (kaum muslimin akan terjaga), serta menjadi sebab munculnya keamanan.</p>
<p>Selain itu juga, orang yang didzalimi dapat meminta keadilan (kepada pemerintah) atas orang yang mendzaliminya, mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan meletakkan hukum di tengah manusia dengan penuh keadilan. Walaupun pemerintah tersebut tidak lurus agamanya, bahkan bila ia seorang yang fasik (ahli maksiat) sekalipun. Dengan catatan, selama kefasikannya itu belum sampai ke tingkat kekufuran, sebagaimana sabda Nabi saw<br />
اسمعوا وأطيعوا، إلا أن تروا كفراً بواحاً عندكم عليه من الله برهان<br />
“Mendengar dan taatlah kalian (kepada pemerintah kalian), kecuali bila kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki buktinya di hadapan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Selama kemaksiatan yang dilakukan bukan kekufuran, maka pemerintah berhak untuk didengar dan ditaati. Adapun kefasikannya, merupakan tanggung jawab dirinya sendiri. Sedangkan loyalitas dan ketaatan kepadanya adalah untuk kebaikan kaum muslimin.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika ditanyakan kepada sebagian imam, “Sesungguhnya si Fulan fasik (ahli maksiat), akan tetapi dia seorang yang mempunyai kekuatan. Dan sesungguhnya si &#8216;Allan itu seorang yang shalih akan tetapi dia lemah. Mana yang diantara keduanya yang layak menjadi penguasa?” Maka mereka menjawab, “Seorang fasik tetapi kuat (lebih layak menjadi penguasa). Sebab kefasikannya akan kembali pada dirinya sendiri, sedangkan kekuatannya akan membawa manfaat untuk kaum muslimin. Adapun seorang yang shalih, sesungguhnya kesalihannya untuk dirinya sendiri, dan kelemahannya akan membawa kejelekan bagi kaum muslimin”</p>
<p>Maka tetap didengar dan ditaati pemimpin itu, walaupun dia seorang yang fasik (ahli maksiat), bahkan walaupun berbuat jahat dan dzalim. Rasulullah saw bersabda<br />
أطع وإن أخذ مالك وضرب ظهرك<br />
“Taatilah (penguasa) itu, walaupun dia merampas hartamu dan memukul punggungmu” (HR. Muslim)<br />
Karena di dalam menaatinya, ada manfaat yang lebih banyak daripada kerusakannya. Dan kerusakannya yang akan ditimbulkan dari sikap penentangan kepada pemerintah lebih besar daripada kerusakan yang timbul akibat taat kepadanya, walaupun dia dalam keadaan sedang berbuat maksiat. Dampak negatif yang akan timbul dari sikap menentang kepada pemerintah adalah tertumpahnya darah, hilangnya keamanan dan bercerai-berainya persatuan.</p>
<p>Dan apa akibat yang diperoleh oleh orang-orang yang keluar dari ketaaan kepada para pemerintah, sebagaimana yang telah dikisahkan dalam sejarah? Apa akibat yang diperoleh tatkala terjadi fitnah dari orang-orang yang menentang Utsman ra?, ketika mereka bangkit dan memberontak serta membunuh Amirul Mukminin Utsman ra? Akibat yang diperoleh oleh mereka adalah kerendahan dan kehinaan, disebabkan mereka memberontak kepada Amirul Mukminin dan membunuhnya. Dan kaum musliminpun (sampai sekarang) senantiasa ditimpa berbagai kerendahan, kehinaan, dan kerusakan.</p>
<p>Dan demikian juga haknya sebagian pemerintah (yang wajib kita tunaikan) adalah kita tetap bersabar dalam menaatinya, walaupun terdapat kerusakan yang sifatnya parsial. Hal ini lebih ringan daripada keluar dari ketaatan kepadanya. Oleh karena itu, Nabi saw mewajibkan untuk menaati para pemerintah, selama belum murtad dari Islam, walaupun ia seorang yang fasik dan dzalim. Kerena bersabar di atas kerusakan yang sifatnya parsial merupakan tindakan preventif terhadap munculnya kerusakan yang lebih besar. Dan mengerjakan yang paling ringan diantara dua perkara yang berbahaya untuk menolak perkara yang paling berat dari keduanya, maka ini adalah perkara yang paling ma&#8217;ruf (baik).</p>
<p>Inilah perbedaan antara orang-orang jahiliyah dan orang-orang Islam di dalam bersikap kepada pemerintah. Orang-orang jahiliyah berprinsip, tidak akan taat kepada pemerintah. Mereka menilai bahwa menaatinya adalah suatu kerendahan dan kehinaan. Sedangkan ajaran Islam memerintahkan untuk menaati pemerintah muslimin, walaupun pada mereka terdapat kefasikan dan kedzaliman. Islam memerintahkan agar kaum muslimin tetap bersabar terhadap sikap mereka, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin.</p>
<p>Adapun keluar dari ketaatan kepadanya, akan mendatangkan kemudharatan bagi kaum muslimin itu sendiri. Bahkan kerusakannya lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh sikap tetap berada diatas ketaatan kepada mereka. Hal ini dengan catatan, penyimpangan yang mereka lakukan tidak mengeluarkan mereka (penguasa) dari Islam. Ini merupakan kaidah yang agung yang dibawa oleh Islam di dalam menyikapi perkara yang besar ini.</p>
<p>Adapun orang-orang jahiliyah, sebagaimana penjelasan yang telah lalu, tidak berpandangan akan wajibnya taat dan patuh serta terikat kepada pemerintah. Contohnya, orang-orang kafir yang menggembor-gemborkan kebebaasan dan demokrasi, apa yang terjadi pada masyarakat mereka saat ini? Di dalam masyarakat mereka terjadi tindakan kebiadaban dan kebinatangan, pembunuhan, perampokan, dekadensi moral, tindak kejahatan dan rawannya keamanan. Padahal mereka ini kategori negara-negara besar yang memiliki kekuatan di bidang senjata penghancur. Akan tatapi keadaan mereka seperti keadaan binatang, wal &#8216;iyyadzu billah&#8217;. Hal ini dikarenakan mereka tetap berada di atas apa yang dipegang dan dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dahulu.</p>
<p>Nabi saw memerintahkan umatnya agar mendengar dan taat kepada pemerintah. Beliau memerintahkan untuk memberikan nasihat kepada mereka dengan cara rahasia, yaitu antara mereka (penguasa) dengan orang yang menasehatinya saja.</p>
<p>Adapun membicarakan kejelekan mereka, mencaci maki mereka dan membicarakan mereka di belakang mereka (ghibah), maka hal ini merupakan perbuatan khianat kepada mereka. Karena hal ini akan membangkitkan kebencian rakyat kepada mereka dan membuat senang orang-orang jahat. Inilah sikap pengkhianatan kepada pemerintah.</p>
<p>Adapun mendoakan kebaikan untuk mereka, tidak menyebutkan kejelekan dan kekurangan mereka di majelis-majelis, maka hal ini merupakan nasihat buat mereka.</p>
<p>Barangsiapa mempunyai keinginan untuk menasehati seorang pemimpin, maka dia bisa menyampaikannya secara pribadi baik dengan lisan maupun tertulis. Atau dengan cara melalui orang yang mempunyai jalur dengan si pemimpin tersebut agar disampaikan kepadanya. Dan jika penyampaian nasihat itu tidak memungkinkan, maka dia dalam hal ini ma&#8217;dzur, memiliki udzur.</p>
<p>Adapun bila ia di majelis-majelis, atau di atas mimbar, atau di depan studio rekaman, lalu ia mencela dan menjelek-jelekkan pemerintah, maka ini bukan nasihat, akan tetapi ini adalah suatu bentuk pengkhianatan kepadanya. Yang dimaksud nasihat untuk mereka meliputi berdoa kebaikan untuk mereka, menutupi aib dan kekurangan yang ada, dan tidak mengungkapkannya di depan umum. Dan termasuk nasihat untuk pemerintah adalah menjalankan pekerjaan yang dibebankan pemerintah kepada para pegawai dan pekerja, serta berjanji untuk menjalankannya dengan baik</p>
<p>Diambil dari Syarh Masail Jahiliyah, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan</p>
<p>http://perpustakaan-islam.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=282:kaum-jahiliyah-menganggap-bahwa-menentang-pemerintah-merupakan-keuatamaan&#038;catid=35:aqidah</p>
<p>Tinggalkan Jahiliyah,Kembalilah ke Jalan Islam</p>
<p>Sebentar lagi memasuki pergantian tahun. Kita akan meninggalkan tahun 1430 hijriyah,dan masuk ke tahun 1431 hijriyah. Kita dapat melakukan muhasabah perjalanan (mereview) hidup kita, selama setahun yang lalu, apakah lebih berat timbangan kebaikannya, atau lebih berat timbangan keburukannya?<br />
Umur kita akan terus bertambah dan semakin mendekati datangnya kematian. Kematian adalah kepastian. Tak ada satupun makhluk di muka bumi yang selamat dari kematian. Dan, manusia harus bersiap-siap menyongsong kehidupan baru, yang lebih lama, lebih panjang, kekal, selama-lamanya, yaitu kehidupan akhirat.<br />
Dalam kehidupan ini kita akan memilih. Kita memilih kebahagian di dunia atau memilih kebahagiaan di akhirat? Atau kita memilih keduanya, seperti dalam doa yang selalu kita ucapkan : “ Ya Rabb anugerahilah aku kehidupan di dunia yang bahagia, dan kehidupan di akhirat yang mulia”. Inilah jalan para anbiya’ (nabi), khulafaur rasyididn, dan para generasi shalaf, yang senantiasa mencintai Rabbnya, dan tidak pernah berpaling selama-lamanya dari-Nya. Generasi ini yang terus menapaki kehidupan dengan segala amal kebaikan.<br />
Mereka senantiasa menolak dengan tegas perbuatan yang bathil dan fasad, yang dapat menjerumuskan diri mereka kedalam bencana. Ghirahnya (kecemburuannya) terus menyala-nyala, tak pernah padam, selalu marah ketika melihat segala penyimpangan, penolakan manusia atas segala ajaran-Nya, dan tidak pernah mau menerima segala bentuk kekafiran, kemusyrikan, dan kemunafikan. Karena, sifat-sifat itu, tak layak dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa bertaqwa kepada Rabbnya. Sifat-sifat itu yang sangat dibenci oleh Allah Azza Wa Jalla.<br />
Tapi, kita memasuki kehidupan modern, yang penuh dengan tarikan dunia, yang senantiasa menggoada manusia menjadi lalai. Manusia tidak ingat akan datangnya kematian. Kehidupannya terus disibukkan dengan berbagai ambisi dan angan-angan, yang tak pernah habis-habis. Sampai datangnya hari tua, dan kematian merenggutnya. Adakah penyesalan? Segalanya menjadi terlambat. Segala penyesalan tak ada gunanya.<br />
Seperti halnya, Fir’aun, yang saat ditenggelamkan di laut Merah, baru menyadari kemahakuasaan Allah Rabbul Jallal. Apakah sifat dan sikap manusia seperti itu? Datangnya kesadaran selalu terlambat. Datangnya penyesalan selalu terlambat. Ketika manusia sudah memasuki kehidupan di akhirat, dan masing-masing harus mempertanggungjawabkan kehadapan sang Khaliq, selalu mereka mengatakan, ketika di dunia belum mendapatkan keterangan tentang hakikat al-haq.<br />
Bagaimana nasib manusia hari ini yang senantiasa menggantungkan hidupnya kepada materi? Ketika krisis datang dan menghampiri mereka, maka mereka banyak yang merasa kehilangan keseimbangan, merasakan kehampaan, dan kehilangan motivasi, serta semangat hidup. Kesalahan yang mendasar manusia modern adalah menjadikan benda sebagai sesembahan, dan makhluk sebagai sesembahan.<br />
Kehidupan modern sekarang ini, tak ubahnya seperti ketika kehidupan di masa lalu, pada masa Nabi Ibrahim alaihis salam, mereka menyembah patung-patung, benda, matahari, rembulan, dan sesama manusia, yang mereka kira dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka. Sama antara jahiliyah di masa lalu dengan kehidupan di zaman sekarang. Mungkin hanya suasananya yang berbeda.<br />
Manusia modern yang sangat berkecenderungan pada kehidupan materialisme, hanya menghabiskan seluruh waktu dan umurnya, mengumpulkan materi dengan bekerja. Waktunya, dari pagi hingga malam, hanya digunakan bekerja. Tujuannya mendapat materi. Lalu, mereka bersenang-senang, mengunjungi tempat-tempat hiburan, cape, hotel, tempat wisata, dan segala yang berbau ‘luxury’, yang dapat memberikan kenikmatan bagi kehidupan mereka.<br />
Manusia betul-betul sebagai pemuja kenikmatan. Kenikmatan kehidupan di dunia, yang sengaja mereka ciptakan sendiri. Seakan mereka berkekalan atas segala kehidupan di dunia, yang tak pernah bakal berakhir. Mereka adalah orang-orang yang memanipulasi kehidupannya sendiri, membodohi kehidupan sendiri, dan akhirnya mereka menjadi korban dari pilihan hidup mereka sendiri. Mereka mengejar fatamorgana, yang mereka sangka sebagai kehidupan yang nyata.<br />
Ketamakan manusia modern dalam menggunakan materi, dipertontonkan dengan telanjang oleh masyarakat Barat. Mereka menghabiskan sumber daya alam dari negara-negara Dunia Ketiga, yang sengaja diekploitasi habis-habisan, harta benda mereka dikeruk di bawa ke Barat, dan mereka menikmati. Mereka membiarkan kehidupan yang sangat menyakitkan bagi rakyat di Dunia Ketiga, yang miskin papa, dan tidak memiliki apa. Bahkan, masyarakat Barat, sengaja melanggengkan kemiskinan dan ketidak adilan, dan hancurnya sendi-sendi kehidpan di dalam masyarakat. Semua itu, tak lain adalah akibat orientasi masyarakat modern yang sangat menuhankan materi.<br />
Seperti dikatakan oleh Sayid Qutb rahimahumullah,yang mengatakan masyarakat modern, nantinya akan menghadapi kehancuran dari akibat budaya jahiliyah yang mereka bangun. Ibn Taimiyah berpendapat, ‘Sebuah negeri dikatakan sebagai daarul kufri, daarul iman atau daaru fasik, bukan karena hakikat yang ada pada negeri itu, tetapi karena sifat para penduduknya’. Maka, bagaimana kehidupan masyarakat itu, yang akan menentukan status sebuah negeri. Apakah negeri itu daarul kufri atau daarul iman? Kalau kehidupan jahiliyah yang mendominasi kehidupan mereka, maka layak sebuah negeri mendapatkan status sebagai : ‘daarul kufri’, meskipun penduduknya sebagian besar adalah muslim.<br />
Marilah kita tinggalkan kehidupan jahiliyah yang penuh dengan dosa dan maksiat, dan kita gantikan dengan kehidupan yang lebih menuju jalan yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla. Mari kita masuki tahun 1431 hijriyah ini dengan memperbaharui tekad dan niat menuju jalan yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala, jalan Islam. Wallahu ‘alam. </p>
<p>http://akhdian.net/2009/12/18/tinggalkan-jahiliyahkembalilah-ke-jalan-islam/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=170&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/10/09/jahiliyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/259a08adcc487361d0dc80fe6adc56af?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsafatindonesia1001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EPISTEMOLOGI: FILSAFAT PENGETAHUAN</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/08/03/epistemologi-filsafat-pengetahuan/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/08/03/epistemologi-filsafat-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 04:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR artikel di bawah ini merupakan kumpulan artikel dari internet. FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU I. ANTARAN Filsafat seringkali disebut oleh sejumlah pakar sebagai induk semang dari ilmu-ilmu . Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai. Filsafat telah mengantarkan pada sebuah fenomena adanya siklus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=167&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENGANTAR<br />
artikel di bawah ini merupakan kumpulan artikel dari internet.</p>
<p>FILSAFAT  DAN  FILSAFAT ILMU</p>
<p>I.   ANTARAN<br />
Filsafat seringkali disebut oleh sejumlah pakar sebagai induk semang dari ilmu-ilmu . Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai.  Filsafat telah mengantarkan pada sebuah fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk sebuah konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur sebagai sebuah fenomena kemanusiaan.  Masing-masing cabang pada tahap selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya  sendiri-sendiri.<br />
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.<br />
Dalam kajian sejarah dapat dijelaskan bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan . Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitip–klasik dan  kuno menuju manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah pemikiran filosofis telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi kehidupan.<br />
Corak dari pemikiran bersifat mitologis (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi pada dekade awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras (532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat kearah kemegahanya diikuti oleh proses  demitologisasi menuju gerakan logosentrisme . Demitologisasi tersebut disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme , empirisme  dan positivisme  yang dipelopori oleh para pakar dan pemikir  kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan  manusia pada tataran era modernitas yang berbasis pada pengetahuan ilmiah.<br />
Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya Ilmu (Pengetahuan). Permasalahan yang akan kita jelajahi dalam penulisan makalah ini difokuskan pada pembahasan tentang: “Filsafat dan Filsafat Ilmu Sebagai upaya konseptualisasi dan identifikasi”. Disini dipaparkan deskripsi awal tentang sejumlah kajian yang menyangkut tentang subbab-subbab yakni : Pengertian Filsafat, Definisi filsafat ilmu, Obyek material dan formal filsafat ilmu, Lingkup filsafat ilmu dan subsatnsi permasalahan problem – problem filsafat ilmu</p>
<p>II. Pengertian Filsafat<br />
Problem identifikasi  untuk memberikan pengertian dalam  khazanah intelektual seringkali melahirkan perdebatan-perdebatan yang cukup rumit dan melelahkan. Hampir dalam setiap diskusi berbagai ilmu seringkali terdapat penjelasan – penjelasan pengertian yang  tidak jarang  memunculkan  pengertian-pengertian yang beragam. Keberagaman pengertian ini disebabkan berbagai  arah sudut pandang dan focus yang berbeda-beda diantara para pakar dalam memberikan identifikasi . Dan ini merupakan sebuah kemakluman sebab kajian ilmu adalah kajian abstraksi konseptual maka sangat dimungkinkan masing-masing  subyek (para pemikir ) memiliki perbedaan dalam menggunakan paradigma identifikasinya atau proses menemukan makna dalam sebuah kajian keilmuan. Peradigma tersebut akan menjadi acuan bagi pemikir untuk menentukan sebuah tolok ukur kebenaran dari asumsi-asumsi pembentuk dari konsepnya tersebut. Termasuk dalam persoalan ini adalah apakah yang dimaksud dengan filsafat? Berbagai jawaban yang sangat beragam dapat ditemukan dalam berbagai literatur. </p>
<p>Arti bahasa<br />
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia.   Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata philia (= persahabatan, cinta dsb.) dan sophia (= “kebijaksanaan”). Sehingga arti lughowinya (semantic) adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”.  Sejajar dengan kata filsafat, kata filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup luas dan sering digunakan oleh semua kalangan..<br />
Ada juga yang  mengurainya dengan kata philare  atau philo yang berarti cinta dalam arti yang luas yaitu “ingin” dan karena itu lalu berusaha untuk mencapai yang diinginkan itu. Kemudian dirangkai dengan kata Sophia artinya kebijakan, pandai dan pengertian yang mendalam. Dengan mengacu pada konsepsi ini maka dipahami bahwa filsafat dapat diartikan sebagai sebuah perwujudan dari keinginan untuk mencapai pandai dan cinta pada kabijakan .<br />
Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”. Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis , mendeteksi  problem secara radikal, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses kerja ilmiah.<br />
Berkaitan dengan konsep filsafat Harun Nasution tanpa keraguan memberikan satu penegasan bahwa filsafat dalam khazanah islam menggunakan rujukan kata yakni falsafah . Istilah filsafat berasal dari bahasa arab oleh karena orang arab lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dibanding dengan bahasa- bahasa lain ke tanah air Indonesia.  Oleh karenanya konsistensi yang patut dibangun adalah penyebutan filsafat  dengan kata falsafat.<br />
Pada sisi yang lain kajian filsafat dalam wacana muslim juga sering menggunakan kalimat padanan Hikmah sehingga ilmu filsafat dipadankan dengan ilmu hikmah. Hikmah  digunakan sebagai bentuk ungkapan untuk menyebut makna kearifan, kebijaksanaan. sehingga dalam berbagai literature kitab-kitab klasik dikatakan bahwa orang yang ahli kearifan disebut Hukama’. Seringkali pula  ketika dikaji dalam berbagai literature kitab-kitab pesantren muncul ungkapan-ungkapan dalam sebuah tema  dengan konsep yang dalam bahasa arabnya misalnya kalimat ‘wa qala min ba’di al hukama….” . dan juga sejajar dengan kata al-hakim yang mengandung arti bijaksana. Misalnya ayat  yang berbunyi<br />
Artinya:  mereka menjawab: &#8220;Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana [al baqarah 2: 32].&#8221;</p>
<p>Artinya:  serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An Nahl:125)</p>
<p>Dalam terjemahan Depag ditafsiri bahwa Hikmah ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil . Sementara  Al Jurjani –sebagaimana dikutip oleh Amsal Bakhtiar—memberikan penjelasan tentang hikmah, yaitu  ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada menurut kadar kemampuan manusia.<br />
Perkataan filsafat dalam bahasa Inggris digunakan istilah philosophy yang juga berarti filsafat yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Unsur pembentuk kata ini adalah kata philos dan sophos. Philos maknanya gemar atau cinta dan sophos artinya bijaksana atau arif (wise).  Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia ternyata luas sekali,sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis yang bertumpu pangkal pada konsep-konsep aktivitas –aktivitas awal yang disebut pseudoilmiah dalam kajian ilmu.<br />
Secara lughowi (semantic) filsafat berarti cinta kebijaksanaan dam kebenaran. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang ada dari kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan. Maka problem pengertian filsafat dalam hakekatnya memang merupakan problem falsafi  yang kaya dengan banyak  konsep dan pengertian.</p>
<p>Arti istilah<br />
Sejumlah literatur mengungkapkan, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Kemudian, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.<br />
Menurut sejarah kelahirannya istilah filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.<br />
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat &#8220;filsafat tentang&#8221; sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, dsb..  Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk: Pertama, filsafat tentang pengetahuan; obyek materialnya,: pengetahuan (&#8220;episteme&#8221;) dan kebenaran, epistemologi; logika; dan kritik ilmu-ilmu; Kedua, filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan, obyek materialnya: eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum (ontologi); metafisika khusus: antropologi (tentang manusia); kosmologi (tentang alam semesta); teologi (tentang tuhan); Ketiga  filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan: obyek material : kebaikan dan keindahan,etika; dan 	estetika; Keempat . sejarah filsafat; menyangkut dimensi ruang dan waktu dalam sebuah kajian .<br />
Jika dikelompokkan secara kerakterisitik cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat.   Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga konsep pokok yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak bersifat empiris, dan menyangkut masalah-masalah asasi.  Kemudian Kattsoff menyatakan karakteristik filsafat  dapat diidentifikasi sebagai berikut.<br />
1)  Filsafat adalah berpikir secara kritis.<br />
2)  Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis.<br />
3)  Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.<br />
4)  Filsafat adalah berpikir secara rasional.<br />
5)  Filsafat bersifat komprehensif.<br />
Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis,tertib,rasional dan komprehensip</p>
<p>III.  Definisi Filsafat Ilmu<br />
Rosenberg menulis “ Philosophy deals with two sets of questions: First, the questions that science – physical, biological, social, behavioral –. Second, the questions about why the sciences cannot answer the ﬁrst lot of questions”.  Dikatakan bahwa  filsafat dibagi  dalam dua buah pertanyaan utama, pertanyaan pertama adalah persoalan tentang ilmu (fisika,biologi, social dan budaya) dan yang kedua adalah persoalan tentang duduk perkara ilmu  yang itu tidak terjawab pada persoalan yang pertama. Dari narasi ini ada dua buah konsep filsafat yang senantiasa dipertanyakan yakni tentang apa dan bagaimana. Apa itu ilmu dan bagaimana ilmu itu disusun dan dikembangkan. Ini hal sangat mendasar dalam kajian dan diskusi ilmiah dan ilmu pengetahuan pada umumnya.yang satu terjawab oleh filsafat dan yang kedua dijawab oleh kajian filsafat ilmu.<br />
Beberapa penjelasan mengenai filsafat tentang  pengetahuan.  Dipertanyakanlah hal-hal misalnya : Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka? Teori pengetahuan menjadi inti diskusi, apa hakekat pengetahuan, apa unsur-unsur pembentuk pengetahuan, bagaimana menyusun dan mengelompokkan pengetahuan, apa batas-batas pengetahuan, dan juga apa saja yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan.  Disinilah filsafat ilmu memfokuskan kajian dan telaahnya.  Yakni pada sebuah kerangka konseptual yang menyangkut  sebuah system pengetahuan yang di dalamnya terdapat  hubungan relasional antara, pengetahu /yang mengetahui (the Knower) dan yang  terketahui /yang diketahui (the known) dan juga antara pengamat (the observer)  dengan yang diamati (the observed).<br />
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan integrative yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.<br />
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. I<br />
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam  sejumlah literatur kajian Filsafat Ilmu.<br />
•	Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.<br />
•	Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)<br />
•	Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)<br />
•	Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)<br />
•	May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.<br />
•	Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan<br />
•	Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).<br />
Dari paparan pendapat para pakar dapat disimpulkan  bahwa pengertian filsafat ilmu itu mengandung konsepsi dasar yang mencakup hal-hal sebagai berikut:<br />
1)	sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah<br />
2)	sikap sitematis berpangkal pada metode ilmiah<br />
3)	sikap analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah<br />
4)	sikap konsisten dalam bangunan teori serta tindakan  ilmiah<br />
Selanjutnya John Losee dalam bukunya yang berjudul,A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition,  mengungkapkan bahwa :  The philosopher of science seeks answers to such questions as:<br />
•	What characteristics distinguish scientiﬁc inquiry from other types of investigation?<br />
•	What procedures should scientists follow in investigating nature?<br />
•	What conditions must be satisﬁed for a scientiﬁc explanation to be correct?<br />
•	What is the cognitive status of scientiﬁc laws and principles? </p>
<p>Dari ungkapan tersebut terdapat sebuah konsep bahwa tugas dari pemikir filsafat ilmu itu  untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan persoalan yang menyangkut: pertama, apa yang menjadi perbedaaan ilmiah karakteristik type masing – masing ilmu ntara satu ilmu dengan ilmu lainnya  melalu penelitian. Kedua  Prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian atas kenyataan yang terjadi di alam?, Ketiga apa yang  mestinya  dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah  untuk melakukan penelitian dan eksperimen itu ? Dan keempat  apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dan prinsip-prinsip ilmiah?.<br />
Sehingga sketsa filsafat ilmu dapat di gambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut:<br />
Level	Disciplin	Subject-matter<br />
2	Philosophy of Science	Analysis of the Procedures and Logic of Scientiﬁc Explanation<br />
1	Science	Explanation of Facts<br />
0		Facts</p>
<p>Dengan memperhatikan tabel diatas secara jelas ditampilkan bahwa filsafat ilmu menempati level ke-2 sedangkan ilmu (science) pada level pertama dan semuanya pada satu pangkal pokok yakni fakta (kenyataan) menjadi basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Kalau ilmu itu menjelaskan Fakta sementara filsafat ilmu itu subyek materinya adalah menganalisa prosedur-prosedur logis dari ilmu (Analysis of the Procedures and Logic of Scientiﬁc Explanation).</p>
<p>IV.  Lingkup Filsafat Ilmu<br />
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :<br />
•	Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)<br />
•	Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)<br />
•	Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).  </p>
<p>Sedangkan di dalam introduction-nya  Stathis Psillos and martin Curd  menjelaskan bahwa filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan – pertanyaan yang meliputi :<br />
•	apa tujuan dari ilmu  dan apa itu metode ? jelasnya apakah ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?<br />
•	bagaimana teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas ? bagaiman konsep teoritik itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan penelitian dan observasi ilmiah?<br />
•	apa saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya  causation(sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model, reduksi dan sejumlah probabilitas-probalitasnya?.<br />
•	apa saja aturan – aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen ? apakah ada kegunaan dan memiliki nilai  (yang mencakup kegunaan epistemic atau pragmatis) dalam kebijakan  dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender?<br />
Dari paparan ini dipertegas bahwa filsafat ilmu itu memiliki lingkup pembahasan yang meliputi: cakupan pembahasan landasan ontologis ilmu, pembahasan mengenai landasan epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu. </p>
<p>V.  Obyek Material dan Obyek Formal Filsafat Ilmu<br />
Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal.  Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.<br />
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat ilmu.<br />
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi  (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.<br />
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. &#8220;Segala manusia ingin mengetahui&#8221;, itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala &#8220;manusia tahu&#8221;.  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali &#8220;kebenaran&#8221; (versus &#8220;kepalsuan&#8221;), &#8220;kepastian&#8221; (versus &#8220;ketidakpastian&#8221;), &#8220;obyektivitas&#8221; (versus &#8220;subyektivitas&#8221;), &#8220;abstraksi&#8221;, &#8220;intuisi&#8221;, dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan.  Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.<br />
Jadi, dapat dikatakan bahwa Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Yang menyangkut asal usul, struktur, metode,  dan validitas ilmu . Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. </p>
<p>VI  Problema Filsafat Ilmu<br />
Problem filsafat Ilmu dibicarakan sejajar dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Untuk Telaah tentang problema substansi Filsafat Ilmu,  yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.<br />
Permasalahan atau problema  filsafat ilmu  mancakup ; pertama Problem  ontologi ilmu;  perkembangan  dan kebenaran ilmu  sesungguhnya  bertumpu  pada  landasan  ontologis  (‘apa  yang  terjadi’ &#8211; eksistensi  suatu  entitas) Kedua, Problem  epistemologi;  adalah  bahasan  tentang  asal  muasal,  sifat  alami,  batasan (konsep),  asumsi,  landasan berfikir,  validitas,  reliabilitas  sampai  soal  kebenaran  (bagaimana  ilmu  diturunkan  &#8211; metoda  untuk  menghasilkan  kebenaran) Ketiga, Problem  aksiologi;  implikasi  etis,  aspek  estetis,  pemaparan  serta  penafsiran  mengenai  peranan (manfaat)  ilmu  dalam  peradaban  manusia. Ketiganya digunakan  sebagai  landasan  penelaahan ilmu </p>
<p>VII. Fungsi dan Manfaat Filsafat Ilmu<br />
Cara kerja filsafat ilmu  memiliki pola dan model-model yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali pengetahuan  melalui sebab musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang kepastian , kebenaran, dan obyektifitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada gejala – gejala  pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu – ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing   disinilah akhirnya kita dapat mengerti fungsi dari  filsafat ilmu.<br />
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :<br />
•	Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.<br />
•	Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.<br />
•	Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.<br />
•	Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan<br />
•	Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.<br />
Jadi, Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah<br />
•	Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual<br />
•	Kritis terhadap aktivitas ilmu/keilmuan<br />
•	Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)<br />
•	Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional<br />
•	Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid<br />
•	Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)</p>
<p>VII. KESIMPULAN<br />
1. Hakekat Filsafat<br />
•	Secara bahasa Philo/philia/philare yang artinya cinta, ingin, senang  dan kata Sophia/sophos yang artinya ilmu, kebijaksanaan atau pengetahuan. Jadi idzofahnya menjadi filsafat/falsafah/filosofi yang artinya mencintai kebijaksanan pengetahuan dan kenginan yang kuat akan ilmu pengetahuan. Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis,tertib,rasional dan komprehensip<br />
2. Hakikat Filsafat Ilmu<br />
a.  Pengertian Filsafat Ilmu<br />
•	merupakan  cabang  dari  filsafat  yang  secara  sistematis  menelaah sifat dasar  ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep- konsep, dan praanggapan-pra-anggapannya, serta letaknya dalam  kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.<br />
•	filsafat ilmu  pada  dasarnya  adalah  ilmu  yang  berbicara  tentang  ilmu pengetahuan  (science  of  sciences)  yang  kedudukannya  di  atas ilmu lainnya. Dalam menyelesaikan kajiannya pada konsep ontologis.  ,secara  epistemologis dan   tinjauan  ilmu  secara aksiologis.<br />
 b.  Karakteristik filsafat ilmu<br />
•	Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.<br />
•	Filsafat  ilmu  berusaha menelaah  ilmu  secara  filosofis  dari berbagai  sudut  pandang dengan sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah, sitematis berpangkal pada metode ilmiah , analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah  dan sikap konsisten dalam membangun teori serta tindakan  ilmiah<br />
3.    Objek filsafat ilmu<br />
•	Objek material filsafat ilmu adalah ilmu dengan segala gejalanya manusia untuk tahu.<br />
•	Objek  formal  filsafat  ilmu adalah  ilmu atas dasar  tinjauan  filosofis,  yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan berbagai gejala dan upaya pendekatannya.   </p>
<p>4.	Lingkup dan problema substansi filsafat ilmu<br />
•	Cakupannya pembahasan tentang problema substansi landasan ontologis ilmu, epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.<br />
5. Manfaat mempelajari filsafat ilmu<br />
•	Semakin kritis  dalam  sikap  ilmiah dan aktivitas ilmu/keilmuan<br />
•	Menambah pemahaman  yang  utuh  mengenai  ilmu  dan mampu menggunakan  pengetahuan  tersebut  sebagai  landasan  dalam  proses  pembelajaran  dan  penelitian  ilmiah.<br />
•	Memecahkan  masalah dan  menganalisis berbagai  hal  yang  berhubungan  dengan masalah  yang  dihadapi.<br />
•	Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual<br />
•	Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)<br />
•	Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional<br />
•	Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid<br />
•	Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)</p>
<p>SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT :<br />
SUATU PENGANTAR KEARAH FILSAFAT ILMU</p>
<p>1.	Sejarah Perkembangan Pemikiran Yunani Kuno: Dari Mitos ke Logos</p>
<p>Secara historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani Kuno(sistem berpikir) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kelahiran dan perkembangan filsafat, dalam hal ini adalah sejarah filsafat. Dalam tradisi sejarah filsafat mengenal  3 (tiga) tradisi besar sejarah, yakni tradisi: (1) Sejarah Filsafat India (sekitar2000 SM – dewasa ini), (2) Sejarah Filsafat Cina (sekitar 600 SM – dewasa ini), dan (3) Sejarah Filsafat Barat (sekitar 600 SM – dewasa ini).</p>
<p>Dari ketiga tradisi sejarah tersebut di atas, tradisi Sejarah Filsafat Barat adalah basis kelahiran dan perkembangan ilmu (scientiae/science/sain) sebagaimana  yang kita kenal sekarang ini. Titik-tolak dan orientasi sejarah filsafat baik yang diperlihatkan dalam tradisi Sejarah Filsafat India maupun Cina disatu pihak dan Sejarah Filsafat Barat dilain pihak, yakni semenjak periodesasi awal sudah memperlihatkan titik-tolak dan orientasi sejarah yang berbeda. Pada tradisi Sejarah Fisafat India dan Cina, lebih memperlihatkan perhatiannya yang besar pada masalah-masalah keagamaan, moral/etika dan cara-cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan sesudah kematian. </p>
<p>Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600 SM – 400 SM), para pemikir pada masa itu sudah mulai  mempermasalahkan dan mencari unsur induk (arché) yang dianggap sebagai asal mula segala sesuatu/semesta alam Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa “air” merupakan arché, sedangkan Anaximander (sekitar 610  -540 SM) berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu. Nama penting lain pada periode ini adalah Herakleitos (± 500 SM) dan Parmenides (515 – 440 SM), Herakleitos mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) bahwa segala sesuatu itu berubah terus-menerus/perubahan sedangkan Parmenides menyatakan bahwa segala sesuatu itu justru sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah). </p>
<p>Lain lagi Pythagoras (sekitar 500 SM) berpendapat bahwa segala sesuatu itu terdiri dari “bilangan-bilangan”: struktur dasar kenyataan itu tidak lain adalah “ritme”, dan Pythagoraslah orang pertama yang menyebut/memperkenalkan dirinya sebagai sorang “filsuf”, yakni seseorang yang selalu bersedia/mencinta untuk menggapai kebenaran melalui berpikir/bermenung secara kritis dan radikal (radix) secara terus-menerus. </p>
<p>Yang hendak dikatakan disini adalah hal upaya mencari unsur induk segala sesuatu (arche), itulah momentum awal sejarah yang telah membongkar periode myte (mythos/mitologi) yang mengungkung pemikiran manusia pada masa itu kearah rasionalitas (logos) dengan suatu metode berpikir untuk mencari sebab awal dari segala sesuatu dengan merunut dari hubungan kausalitasnya (sebab-akibat). </p>
<p>Jadi unsur penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni: rasio dan logika (konsekuensi). Meskipun tentu saja ini arché yang dikemukakan para filsuf tadi masih  bersifat spekulatif dalam arti masih belum dikembangkan lebih lanjut dengan melakukan pembuktian (verifikasi) melalui observasi maupun eksperimen (metode) dalam kenyataan (empiris), tetapi prosedur berpikir untuk menemukannya melalui suatu bentuk berpikir sebab-akibat secara rasional itulah yang patut dicatat sebagai suatu arah baru dalam sejarah pemikiran manusia. Hubungan sebab-akibat inilah yang dalam ilmu pengetahuan disebut sebagai hukum (ilmiah). Singkatnya, hukum ilmiah atau hubungan sebab-akibat merupakan obyek material utama dari ilmu pengetahuan. Demikian pula kelak dengan tradisi melakukan verifikasi melalui observasi dan eksperimen secara berulangkali dihasilkan teori ilmiah.</p>
<p>Zaman keemasan/puncak dari filsafat Yunani Kuno/Klasik, dicapai pada masa Sokrates (± 470 – 400 SM), Plato (428-348 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Sokrates sebagai guru dari Plato maupun tidak meninggalkan karya tulis satupun dari hasil pemikirannya, tetapi pemikiran-pemikirannya secara tidak langsung banyak dikemukakan dalam tulisan-tulisan para pemikir Yunani lainnya tetapi terutama ditemukan dalam karya muridnya Plato. Filsafat Plato dikenal sebagai ideal (isme) dalam hal ajarannya bahwa kenyataan itu tidak lain adalah proyeksi atau bayang-bayang/bayangan dari suatu dunia “ide” yang abadi belaka dan oleh karena itu yang ada nyata adalah “ide” itu sendiri. Filsafat Plato juga merupakan jalan tengah dari ajaran Herakleitos dan Parmenides. Dunia “ide” itulah yang tetap tidak berubah/abadi sedangkan kenyataan yang dapat diobservasi sebagai sesuatu yang senantiasa berubah. Karya-Karya lainnya dari Plato sangat dalam dan luas meliputi logika, epistemologi, antropologi (metafisika), teologi, etika, estetika, politik, ontologi dan filsafat alam.</p>
<p>Sedangkan Aristoteles sebagai murid Plato, dalam banyak hal sering tidak setuju/berlawanan dengan apa yang diperoleh dari gurunya (Plato). Bagi Aristoteles “ide” bukanlah terletak dalam dunia “abadi” sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato, tetapi justru terletak pada kenyataan/benda-benda itu sendiri. Setiap benda mempunyai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi (“hylé”) dan bentuk (“morfé”). Lebih jauh bahkan dikatakan bahwa “ide”  tidak dapat dilepaskan atau dikatakan tanpa materi, sedangkan presentasi materi mestilah dengan bentuk. Dengan demikian maka bentuk-bentuk “bertindak” di dalam materi, artinya bentuk memberikan kenyataan kepada materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis) dari materi.  Aristoteles menulis banyak bidang, meliputi logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pemikiran-pemikirannya yang sistematis tersebut banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan</p>
<p>2.	Jaman Patristik dan Skolastik: Filsafat Dalam dan Untuk Agama</p>
<p>Pada jaman ini dikenal sebagai Abad Pertengahan (400-1500 ). Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik  Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang berlandaskan akal-budi “diabdikan” untuk dogma agama.</p>
<p>Jaman Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh Aristoteles.<br />
Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, terutama melalui Avicena (Ibn. Sina, 980-1037), Averroes (Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai “Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan.. Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt. “scholasticus”, “guru”), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan akal budi. Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu “mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.</p>
<p>Sampai dengan di penghujung Abad Pertengahan sebagai abad yang kurang kondusif terhadap perkembangan ilmu, dapatlah diingat dengan nasib seorang astronom berkebangsaan Polandia  N. Copernicus yang dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus semenjak jaman Yunani yang justru telah mendapat “mandat” dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja.</p>
<p>   3.	Jaman Modern: Lahir dan Berkembangan Tradisi Ilmu Pengetahuan </p>
<p>Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern adalah jaman “Renesanse”, periode sekitar 1400-1600. Filsuf-filsuf penting dari jaman ini adalah N. Macchiavelli (1469-1527), Th. Hobbes (1588-1679), Th. More (1478-1535) dan Frc. Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang sangat bermakna pada jaman ini ((renesanse) adalah “antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada jaman Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad Pertengahan.</p>
<p>Setelah Renesanse mulailah jaman Barok, pada jaman ini tradisi rasionalisme ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf  antara lain; R. Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677) dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam mengembangkan pengetahuan manusia.</p>
<p>Pada abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan baru. Setelah reformasi, renesanse dan setelah rasionalisme jaman Barok, pemikiran manusia mulai dianggap telah “dewasa”. Periode sejarah perkembangan pemikiran filsafat disebut sebagai “Jaman Pencerahan” atau “Fajar Budi” (Ing. “Enlightenment”, Jrm. “Aufklärung”. Filsuf-filsuf pada jaman ini disebut sebagai para “empirikus”, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu pengetahuan adalah mungkin karena adanya pengalaman indrawi manusia (Lt. “empeira”, “pengalaman”). Para empirikus besar Inggris antara lain  J. Locke (1632-1704), G. Berkeley (1684-1753) dan D. Hume (1711-1776). Di Perancis JJ. Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804)</p>
<p>Secara khusus ingin dikemukakan disini adalah peranan filsuf Jerman Immanuel Kant, yang dapat dianggap sebagai inspirator dan sekaligus sebagai peletak dasar fondasi ilmu, yakni dengan “mendamaikan” pertentangan epistemologik pengetahuan antara kaum rasionalisme versus kaum empirisme. Immanuel Kant dalam karyanya utamanya yang terkenal terbit tahun 1781 yang berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure Reason), memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan. </p>
<p>Dalam bukunya itu Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum rasionalisme maupun empirisme, yang salah apabila masing-masing dari keduanya mengkalim secara ekstrim pendapatnya dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain memang pengetahuan dihimpun setelah melalui (aposteriori) sistem penginderaan (sensory system) manusia, tetapi tanpa pikiran murni (a priori) yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanya lah rekaman kesan-kesan (impresi) dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis antara yang apriori (yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia) dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri<br />
4.	Masa Kini: Suatu Peneguhan Ilmu Yang Otonom</p>
<p>Pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas perkembangan pemikiran filsafat pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran besar: rasionalisme, empirisme dan idealisme dengan mempertahankan wilayah-wilayah yang luas. Dibandingkan dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas, filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat tetapi wilayah pengaruhnya lebih tertentu. Akan tetapi justru menemukan bentuknya (format) yang lebih bebas dari corak spekulasi filsafati dan otonom. Aliran-aliran tersebut antara laian: positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neo-kantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi.</p>
<p>Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu tahap: (1) teologis, (2) Metafisis, dan (3) Positif-ilmiah. Bagi era manusia dewasa (modern) ini pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan demikian Comte menolak spekulasi “metafisik”, dan oleh karena itu ilmu sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan “Fisika Sosial” sebelum dikenal sekarang sebagai “Sosiologi”. Bisa dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu alam (Natural sciences) sudah lebih “mantap” dan “mapan”, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam yang diambil-oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang berkembang sesudahnya.</p>
<p>Pada periode terkini (kontemporer) setelah aliran-aliran sebagaimana disebut di atas munculah aliran-aliran filsafat, misalnya : “Strukturalisme” dan “Postmodernisme”.  Strukturalisme dengan tokoh-tokohnya misalnya Cl. Lévi-Strauss, J. Lacan dan M. Faoucault. Tokoh-tokoh Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida. Kini oleh para epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan) dalam perkembangannya kemudian, struktur ilmu pengetahuan semakin lebih sistematik dan lebih lengkap (dilengkapi dengan, teori, logika dan metode sain), sebagaimana yang dikemukakan oleh Walter L.Wallace dalam bukunya The Logic of Science in Sociology. Dari struktur ilmu tersebut tidak lain hendak dikatakan bahwa kegiatan keilmuan/ilmiah itu tidak lain adalah penelitian (search dan research). Demikian pula hal ada dan keberadaan (ontologi/metafisika) suatu ilmu /sain berkaitan dengan watak dan sifat-sifat dari obyek suatu ilmu /sain dan kegunaan/manfaat atau implikasi (aksiologi) ilmu /sain juga menjadi bahasan dalam filsafat ilmu. Setidak-tidaknya hasil pembahasan kefilsafatan tentang ilmu (Filsafat Ilmu) dapat memberikan perspektif kritis bagi ilmu /sain dengan mempersoalkan kembali apa itu:pengetahuan?, kebenaran?, metode ilmiah/keilmuan?, pengujian/verifikasi? dan sebaliknya hasil-hasil terkini dari ilmu /sain dan penerapannya dapat memberikan  umpan-balik bagi Filsafat Ilmu sebagai bahan refleksi kritis dalam pokok bahasannya (survey of sciences) sebagaimana yang dikemukakan oleh Whitehead dalam bukunya Science and the Modern World (dalam Hamersma, 1981:48)<br />
Setiap pemikir mempunyai definisi berbeda tentang makna filsafat karena pengertiannya yang begitu luas dan abstrak. Tetapi secara sederhana filsafat dapat dimaknai bersama sebagai suatu sistim nilai-nilai (systems of values) yang luhur yang dapat menjadi pegangan atau anutan setiap individu, atau keluarga, atau kelompok komunitas dan/atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara tertentu. Pendidikan sebagai upaya terorganisasi, terencana, sistimatis, untuk mentransmisikan kebudayaan dalam arti luas (ilmu pengetahuan, sikap, moral dan nilai-nilai hidup dan kehidupan, ketrampilan, dll.) dari suatu generasi ke generasi lain. Adapun visi, misi dan tujuannya yang ingin dicapai semuanya berlandaskan suatu filsafat tertentu. Bagi kita sebagai bangsa dalam suatu negara bangsa (nation state) yang merdeka, pendidikan kita niscaya dilandasi oleh filsafat hidup yang kita sepakati dan anut bersama.</p>
<p>Dalam sejarah panjang kita sejak pembentukan kita sebagai bangsa (nation formation) sampai kepada terbentuknya negara bangsa (state formation dan nation state) yang merdeka, pada setiap kurun zaman, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari filsafat yang menjadi fondasi utama dari setiap bentuk pendidikan karena menyangkut sistem nilai-nilai (systems of values) yang memberi warna dan menjadi &#8220;semangat zaman&#8221; (zeitgeist) yang dianut oleh setiap individu, keluarga, anggota¬-anggota komunitas atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara nasional. Landasan filsafat ini hanya dapat dirunut melalui kajian sejarah, khususnya Sejarah Pendidikan Indonesia.</p>
<p>Sebagai komparasi, di negara-negara Eropa (dan Amerika) pada abad ke-19 dan ke-20 perhatian kepada Sejarah Pendidikan telah muncul dari dan digunakan untuk maksud-maksud lebih lanjut yang bermacam-macam, a.l. untuk membangkitkan kesadaran berbangsa, kesadaran akan kesatuan kebudayaan, pengembangan profesional guru-guru, atau untuk kebanggaan terhadap lembaga¬-lembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu. (Silver, 1985: 2266).</p>
<p>Substansi dan tekanan dalam Sejarah Pendidikan itu bermacam-macam tergantung kepada maksud dari kajian itu: mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistim pendidikan beserta komponen-komponennya, sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial. Sehubungan dengan MI semua Sejarah Pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial. (Silver, 1985: Talbot, 1972: 193-210)</p>
<p>Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta (estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa. Oleh sebab itu sejarah dari pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri, sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih, sampai kepada pendidikan formal dan non-formal dalam masyarakat agraris maupun industri.</p>
<p>Selama ini Sejarah Pendidikan masih menggunakan pendekatan lama atau &#8220;tradisional&#8221; yang umumnya diakronis yang kajiannya berpusat pada sejarah dari ide¬-ide dan pemikir-pemikir besar dalam pendidikan, atau sejarah dan sistem pendidikan dan lembaga-lembaga, atau sejarah perundang-undangan dan kebijakan umum dalam bidang pendidikan. (Silver, 1985: 2266) Pendekatan yang umumnya diakronis ini dianggap statis, sempit serta terlalu melihat ke dalam. Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan dalam pendidikan beserta segala macam masalah yang timbul atau ditimbulkannya, penanganan serta pendekatan baru dalam Sejarah Pendidikan dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak oleh para sejarawan pendidikan kemudian. (Talbot, 1972: 206-207)</p>
<p>Para sejarawan, khususnya sejarawan pendidikan melihat hubungan timbal balik antara pendidikan dan masyarakat; antara penyelenggara pendidikan dengan pemerintah sebagai representasi bangsa dan negara yang merumuskan kebijakan (policy) umum bagi pendidikan nasional. Produk dari pendidikan menimbulkan mobilitas sosial (vertikal maupun horizontal); masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan yang dampak-dampaknya (positif ataupun negatif) dirasakan terutama oleh masyarakat pemakai, misalnya, timbulnya golongan menengah yang menganggur karena jenis pendidikan tidak sesuai dengan pasar kerja; atau kesenjangan dalam pemerataan dan mutu pendidikan; pendidikan lanjutan yang hanya dapat dinikmati oleh anak-anak orang kaya dengan pendidikan terminal dari anak-¬anak yang orang tuanya tidak mampu; komersialisasi pendidikan dalam bentuk yayasan-yayasan dan sebagainya. Semuanya menuntut peningkatan metodologis penelitian dan penulisan sejarah yang lebih baik danipada sebelumnya untuk menangani semua masalah kependidikan ini.</p>
<p>Sehubungan dengan di atas pendekatan Sejarah Pendidikan baru tidak cukup dengan cara-cara diakronis saja. Perlu ada pendekatan metodologis yang baru yaitu a.l, interdisiplin. Dalam pendekatan interdisiplin dilakukan kombinasi pendekatan diakronis sejarah dengan sinkronis ilmu-ihmu sosial. Sekarang ini ilmu-ilmu sosial tertentu seperti antropologi, sosiologi, dan politik telah memasuki &#8220;perbatasan&#8221; (sejarah) pendidikan dengan &#8220;ilmu-ilmu terapan&#8221; yang disebut antropologi pendidikan, sosiologi pendidikan, dan politik pendidikan. Dalam pendekatan ini dimanfaatkan secara optimal dan maksimal hubungan dialogis &#8220;simbiose mutualistis&#8221; antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial.</p>
<p>Sejarah Pendidikan Indonesia dalam arti nasional termasuk relatif baru. Pada zaman pemerintahan kolonial telah juga menjadi perhatian yang diajarkan secara diakronis sejak dari sistem-sistem pendidikan zaman Hindu, Islam, Portugis, VOC, pemerintahan Hindia-Belanda abad ke-19. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan zaman Jepang dan setelah Indonesia merdeka model diakronis ini masih terus dilanjutkan sampai sekarang.</p>
<p>Perkuliahan dilakukan dengan pendekatan interdisiplm (diakronik dan/atau sinkronik). Untuk Sejarah Pendidikan Indonesia mutakhir, substansinya seluruh spektrum pendidikan yang secara temporal pernah berlaku dan masih berlaku di Indonesia; hubungan antara kebijakan pendidikan dengan politik nasional pemerintah, termasuk kebijakan penyusunan dan perubahan kurikulum dengan segala aspeknya yang menyertainya; lembaga-lembaga pendidikan (pemerintah maupun swasta); pendidikan formal dan non-formal; pendidikan umum, khusus dan agama. Singkatnya segala macam makalah yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia dahulu dan sekarang dan melihat prosepeknya ke masa depan. Sejarah sebagai kajian reflektif dapat dimanfaatkan untuk melihat prosepek ke depan meskipun tidak punya pretensi meramal. Dalam setiap bahasan dicoba dilihat filosofi yang melatarinya.</p>
<p>FILSAFAT ILMU<br />
Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.<br />
A. Konsep dan pernyataan ilmiah<br />
Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat.<br />
1. Empirisme<br />
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.<br />
2. Falsifiabilitas<br />
Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh Karl Popper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut memang benar.<br />
A.	Pengertian Filsafat Ilmu<br />
B.	Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)<br />
•	Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.<br />
•	Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)<br />
•	A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)<br />
•	Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)<br />
•	May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.<br />
•	Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan<br />
•	Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).<br />
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :<br />
•	Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)<br />
•	Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)<br />
•	Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)<br />
B. Fungsi Filsafat Ilmu<br />
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :<br />
•	Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.<br />
•	Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.<br />
•	Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.<br />
•	Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan<br />
•	Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)<br />
Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.<br />
C.Substansi Filsafat Ilmu<br />
Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.<br />
1.Fakta atau kenyataan<br />
Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.<br />
•	Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.<br />
•	Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.<br />
•	Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan<br />
•	Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.<br />
•	Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.<br />
Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.<br />
2. Kebenaran (truth)<br />
Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)<br />
a. Kebenaran koherensi<br />
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.<br />
b.Kebenaran korespondensi<br />
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik<br />
c.Kebenaran performatif<br />
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.<br />
d.Kebenaran pragmatik<br />
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.<br />
e.Kebenaran proposisi<br />
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.<br />
f.Kebenaran struktural paradigmatik<br />
Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.<br />
3.Konfirmasi<br />
Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.<br />
4.Logika inferensi<br />
Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.<br />
Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)<br />
Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.<br />
D. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu<br />
Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:<br />
•	Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.<br />
•	Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.<br />
•	Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.<br />
Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etik dimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan.</p>
<p>http://getuk.wordpress.com/2006/11/16/ruang-lingkup-filsafat-ilmu</p>
<p>PEMBAGIAN PENGETAHUAN<br />
Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah.<br />
Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan.<br />
Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajian yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuan tradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studi Timur Tengah, studi Asia Tenggara, studi-studi keislaman (Islamic studies), studi budaya (cultural studies), dll.<br />
Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu, misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoli ilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi, psikologi, semiotik, bahkan filsafat).<br />
Pendekatan interdisiplin ini pun kini menguat dalam kajian-kajian keislaman, termasuk dalam fikih. Untuk menentukan status hukum terutama dalam permasalahan kontemporer, pemakaian ilmu fikih murni tidak lagi memadai. Apalagi jika fikih dimengerti sebagai fikih warisan zaman mazhab-mazhab. Ilmu-ilmu modern saat ini menuntut untuk lebih banyak dilibatkan dalam penentuan hukum suatu masalah. Sekadar contoh, untuk menentukan hukum pembuatan bayi tabung, diperlukan pemahaman akan biologi dan kedokteran. Untuk menghukumi soal berbisnis di bursa saham, ilmu ekonomi harus dipahami. Dll.<br />
TIGA ASPEK PENGETAHUAN<br />
Ada tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.<br />
Ontologi<br />
Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?<br />
Epistemologi<br />
Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?<br />
Aksiologi<br />
Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional?<br />
Perbedaan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain tidak mesti dicirikan oleh perbedaan dalam ketiga aspek itu sekaligus. Bisa jadi objek dari dua pengetahuan sama, tetapi metode dan penggunaannya berbeda. Filsafat dan agama kerap bersinggungan dalam hal objek (sama-sama membahas hakekat alam, baik-buruk, benar-salah, dsb), tetapi metode keduanya jelas beda. Sementara perbedaan antar sains terutama terletak pada objeknya, sedangkan metodenya sama.<br />
SUMBER PENGETAHUAN<br />
Indera<br />
Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Indera ada bermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan (mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga) yang membuat kita membedakan macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakan bermacam bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.<br />
Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.<br />
Tetapi mengandalkan pengetahuan semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil yang dimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus. Benda yang jauh terlihat lebih kecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.<br />
Akal<br />
Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus mengaitkannya dengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.<br />
Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan.<br />
Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan menipu.<br />
Hati atau Intuisi<br />
Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.<br />
Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang sudah memaksimalkan daya pikirnya dan mengalami kemacetan, lalu ia mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saat itulah intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.<br />
Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.<br />
Kecenderungan akal untuk selalu melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi (meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari kejadian sehari-hari. Hati dapat memahami pengalaman-pengalaman khusus, misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riil manusia seperti yang dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasa cinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu jam di pantai carita adalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat berbeda. Hati juga bisa merasakan pengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan juga pengalaman menyatu dengan alam.<br />
Pengutamaan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnya disebut intuisionisme. Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme), dan diteruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan oleh Henry Bergson.<br />
Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya.<br />
Dalam tradisi filsafat Barat, pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme. Hingga awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya kecenderungan positivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, pertentangan kuat terjadi antara aliran rasionalisme dan intuisionisme (iluminasionisme, ‘irfani), dengan kemenangan pada aliran yang kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai kemenangan intuisionisme. Penilaian positif umumnya para filosof Muslim atas intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikan status ontologis yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada rasio.<br />
LOGIKA<br />
Logika adalah cara berpikir atau penalaran menuju kesimpulan yang benar. Aristoteles (384-322 SM) adalah pembangun logika yang pertama. Logika Aristoteles ini, menurut Immanuel Kant, 21 abad kemudian, tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik penambahan maupun pengurangan.<br />
Aristoteles memerkenalkan dua bentuk logika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh terkenal dari silogisme adalah:<br />
- Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor)<br />
- Isnur manusia (pernyataan antara, premis minor)<br />
- Isnur akan mati (kesimpulan, konklusi)<br />
Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menuju pernyataan umum. Contoh:<br />
- Isnur adalah manusia, dan ia mati (pernyataan khusus)<br />
- Muhammad, Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)<br />
- Semua manusia akan mati (kesimpulan)<br />
TEORI-TEORI KEBENARAN<br />
Korespondensi<br />
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan “bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannya demikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa” adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta). Korespondensi memakai logika induksi.<br />
Koherensi<br />
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan “Asep akan mati” sesuai (koheren) dengan pernyataan sebelumnya bahwa “semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat di sini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.<br />
Pragmatik<br />
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondensi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori kebenaran di atas, maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktikkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama, dengan satu pernyataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik (adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikannya teratur), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.<br />
***<br />
Setelah mengemukakan hal-hal penting yang menjadi dasar pengetahuan, berikutnya kita akan meninjau aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari tiga macam pengetahuan yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia, yakni filsafat, agama, dan sains.<br />
FILSAFAT<br />
Sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu. Pernyataan ini tidak salah karena ilmu-ilmu yang ada sekarang, baik ilmu alam maupun ilmu sosial,  mulanya berada dalam kajian filsafat. Pada zaman dulu tidak dibedakan antara ilmuwan dengan filosof. Isaac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisikanya dalam buku yang berjudul Philosophie Naturalis Principia Mathematica (terbit 1686). Adam Smith (1723-1790) bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dalam kapasitasnya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Kita juga mengenal Ibnu Sina (w.1037) sebagai bapak kedokteran yang menyusun ensiklopedi besar al-Qanun fi al-Thibb sekaligus sebagai filosof yang mengarang Kitab al-Syifa’.<br />
Definisi filsafat tidak akan diberikan karena para ahli sendiri berbeda-beda dalam merumuskannya. Cukup di sini disinggung mengenai ciri-ciri dari filsafat, sebagaimana diuraikan Suriasumantri (1998), yaitu menyeluruh (membahas segala hal atau satu hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain), radikal (meneliti sesuatu secara mendalam, mendasar hingga ke akar-akarnya), dan spekulatif (memulai penyelidikannya dari titik yang ditentukan begitu saja secara apriori). Spekulatif juga bermakna rasional.<br />
Objek kajian filsafat sangat luas, bahkan boleh dikatakan tak terbatas. Filsafat memelajari segala realitas yang ada dan mungkin ada; lebih luas lagi, segala hal yang mungkin dipikirkan oleh akal. Sejauh ini, terdapat tiga realitas besar yang dikaji filsafat, yakni Tuhan (metakosmos), manusia (mikrokosmos), dan alam (makrokosmos). Sebagian objek filsafat telah diambil-alih oleh sains, yakni objek-objek yang bersifat empiris.<br />
Objek-objek kajian filsafat yang luas itu coba dikelompokkan oleh para ahli ke dalam beberapa bidang. Berbeda-beda hasil pembagian mereka. Jujun Suriasumantri (1998) membagi bidang kajian filsafat itu ke dalam empat bagian besar, yakni logika (membahas apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah), etika (membahas perihal baik dan buruk), estetika (membahas perihal indah dan jelek), dan metafisika (membahas perihal hakikat keberadaan zat atau sesuatu di balik yang fisik). Empat bagian ini bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali. Hampir tiap ilmu yang dikenal sekarang ada filsafatnya, misalnya filsafat ilmu, filsafat ekonomi, filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan filsafat sejarah.<br />
Epistemologi filsafat adalah rasional murni (bedakan dengan rasionalisme). Artinya pengetahuan yang disebut filsafat diperoleh semata-mata lewat kerja akal. Sumber pengetahuan filsafat adalah rasio atau akal. Sumber pengetahuan lain yang mungkin memengaruhi pikiran seorang filosof ditekan seminimal mungkin, dan kalau bisa hingga ke titik nol. Atau pengetahuan-pengetahuan itu diverifikasi oleh akalnya, apakah rasional atau tidak. Misalnya seorang filosof yang beragama Islam tentu telah memeroleh pengetahuan dari ajaran agamanya. Dalam hal ini ada dua hal yang bisa ia lakukan: menolak ajaran agama yang menurutnya tidak rasional, atau mencari pembenaran rasional bagi ajaran agama yang tampaknya tidak rasional.<br />
Filsafat bertujuan untuk mencari Kebenaran (dengan K besar), artinya kebenaran yang sungguh-sungguh benar, kebenaran akhir. Sifat aksiologis filsafat ini tampak dari asal katanya philos (cinta) dan sophia (pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran). Seorang filosof tidak akan berhenti pada pengetahuan yang tampak benar, melainkan menyelidiki hingga ke baliknya. Ia tidak akan puas jika dalam pemikirannya masih terdapat kontradiksi-kontradiksi, kesalahan-kesalahan berpikir, meskipun dalam kenyataannya tidak ada seorang filosof pun yang filsafatnya bebas dari kontradiksi. Dengan kata lain, tidak ada filosof yang berhasil sampai pada Kebenaran atau kebenaran akhir itu. Semuanya hanya bisa disebut mendekati Kebenaran.<br />
Kebenaran yang diperoleh dari filsafat itu sebagian ada yang berkembang menjadi ajaran hidup, isme. Filsafat yang sudah menjadi isme ini difungsikan oleh penganutnya sebagai sumber nilai yang menopang kehidupannya. Misalnya ajaran Aristotelianisme banyak dipakai oleh kaum agamawan gereja; ajaran neoplatonisme banyak dipakai oleh kaum mistik; materialisme, komunisme, dan eksistensialisme bahkan sempat menjadi semacam padanan agama (the religion equivalen), yang berfungsi layaknya agama formal.<br />
AGAMA<br />
Agama kerap “berebutan” lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama dengan filsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia, dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikat segala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yang bersifat praktis sehari-hari.<br />
Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuan agama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalan percaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kita boleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain (rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikan agama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan.<br />
Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan dengan jawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jika ia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafat skolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnya berbeda atau bertentangan dengan agama.<br />
Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagai sumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikan orientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akan adanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang paling banyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian).<br />
SAINS<br />
Ontologi<br />
Sains (dalam bahasa Indonesia disebut juga ilmu, ilmu pengetahuan, atau pengetahuan ilmiah) adalah pengetahuan yang tertata (any organized knowledge) secara sistematis dan diperoleh melalui metode ilmiah (scientific method). Sains memelajari segala sesuatu sepanjang masih berada dalam lingkup pengalaman empiris manusia.<br />
Objek sains terbagi dua, objek material dan objek formal. Objek material terbatas jumlahnya dan satu atau lebih sains bisa memiliki objek material yang sama. Sains dibedakan satu sama lain berdasarkan objek formalnya. Sosiologi dan antropologi memiliki objek material yang sama, yakni masyarakat. Namun objek formalnya beda. Sosiologi memelajari struktur dan dinamika masyarakat, antropologi memelajari masyarakat dalam budaya tertentu.<br />
Sains atau ilmu dibedakan secara garis besar menjadi dua kelompok, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Ilmu-ilmu alam memelajari benda-benda fisik, dan secara garis besar dibedakan lagi menjadi dua, yaitu ilmu alam (fisika, kimia, astronomi, geologi, dll) dan ilmu hayat (biologi, anatomi, botani, zoologi, dll). Tiap-tiap cabang ilmu itu bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali. Ilmu kimia saja, menurut Jujun Suriasumantri, memiliki 150 disiplin.<br />
Ilmu-ilmu sosial memelajari manusia dan masyarakat. Perkembangan ilmu sosial tidak sepesat ilmu alam, dikarenakan manusia tidak seempiris benda-benda alam, juga karena benturan antara metodologi dengan norma-norma moral. Namun saat ini pun ilmu-ilmu sosial sudah sangat beragam dan canggih. Yang paling utama adalah sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, dan politik.<br />
Epistemologi<br />
Sains diperoleh melalui metode sains (scientific method) atau biasa diterjemahkan menjadi metode ilmiah. Metode ini menggabungkan keunggulan rasionalisme dan empirisisme, kekuatan logika deduksi dan induksi, serta mencakup teori kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatik. Karena penggabungan ini, sains memenuhi sifat rasional sekaligus empiris. Sains juga bersifat sistematis karena disusun dan diperoleh lewat suatu metode yang jelas. Bagi kaum positivis, sains juga bersifat objektif, artinya berlaku di semua tempat dan bagi setiap pengamat. Namun sejak munculnya teori relativitas Einstein, apalagi pada masa postmodern ini, klaim objektivitas sains tidak bisa lagi dipertahankan.<br />
Secara ringkas, metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut:<br />
•	Menemukan dan merumuskan masalah<br />
•	Menyusun kerangka teoritis<br />
•	Membuat hipotesis<br />
•	Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen, dll).<br />
•	Menarik kesimpulan.<br />
Kesimpulan yang diperoleh itu disebut teori. Untuk benar-benar dianggap sahih dan bisa bertahan, sebuah teori harus diuji lagi berkali-kali dalam serangkaian percobaan, baik oleh penemunya maupun oleh ilmuwan lain. Pengujian ini disebut verifikasi (pembuktian benar). Sebuah teori bisa juga diuji dengan cara sebaliknya, yaitu sebagaimana diusulkan Karl Popper, falsifikasi (pembuktian salah). Dengan falsifikasi, jika untuk sebuah teori dilakukan 1000 percobaan, 1 saja dari 1000 percobaan itu menunjukkan adanya kesalahan, maka teori itu tidak perlu dipertahankan lagi. Contoh, jika dinyatakan kepada kita bahwa semua burung gagak hitam, dan di suatu tempat kita menemukan satu burung gagak yang tidak hitam, berarti pernyataan itu salah.<br />
Namun dalam sebuah teori, sebetulnya yang lebih penting bukanlah ketiadaan salah sama sekali, karena itu sangat berat bahkan tidak mungkin untuk teori ilmu sosial, namun seberapa besar kemungkinan teori itu benar (probabilitas). Probabilitas benar 95 persen dianggap sudah cukup untuk men-sahihkan sebuah teori dan memakainya untuk memecahkan masalah.<br />
Aksiologi<br />
Pengetahuan yang diperoleh lewat metode sains bukanlah terutama untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah sehari-hari. Kegunaan ini diperoleh dengan tiga cara, description (menjelaskan), prediction (meramal, memerkirakan), dan controling (mengontrol). Penjelasan diperoleh dari teori. Dihadapkan pada masalah praktis, teori akan memerkirakan apa yang akan terjadi. Dari perkiraan itu, kita memersiapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengontrol segala hal yang mungkin timbul, entah itu merugikan atau menguntungkan.<br />
Satu sisi yang sering diperdebatkan adalah menyangkut netralitas sains, kaitannya dengan agama atau ideologi tertentu. Pada dasarnya sains itu netral, atau setidaknya bermaksud untuk netral, dalam arti ia hanya bermaksud menjelaskan sesuatu secara apa adanya. Tetapi sains dapat mengilhami suatu pandangan dunia tertentu, dan ini tidak netral. Misalnya teori evolusi Darwin dapat menjadi pandangan dunia yang mekanistik dan ateistik. Dan hal ini sangat mencemaskan bagi kaum agamawan.<br />
Lahirnya suatu teori juga ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks tempat teori itu dilahirkan. Konteks meliputi pandangan dunia yang dianut ilmuwan, latar belakang budaya, bahasa, dll. Pengaruh konteks ini terutama sangat terasa pada sains sosial sehingga suatu sains bisa menghasilkan beragam aliran dan perspektif. []<br />
Referensi pokok:<br />
Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003.<br />
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1998.<br />
Catatan:<br />
Tulisan ini pada awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan penulis ketika sering diundang mengisi materi Filsafat Ilmu di Latihan Kader 1 (Basic Training) HMI.</p>
<p>http://bermenschool.wordpress.com/2008/12/04/epistemologi-filsafat-pengetahuan/</p>
<p>BAB 1<br />
ILMU, FILSAFAT DAN TEOLOGI</p>
<p>“Aku datang &#8211; entah dari mana,<br />
aku ini &#8211; entah siapa,<br />
aku pergi &#8211; entah kemana,<br />
aku akan mati &#8211; entah kapan,<br />
aku heran bahwa aku gembira”.<br />
(Martinus dari Biberach,<br />
tokoh abad pertengahan).</p>
<p>1. Manusia bertanya</p>
<p>Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya.  Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama:</p>
<p>“Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?”  &#8212;  Zaman Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap Agama-agama bukan Kristen, 1965.</p>
<p>Salah satu hasil renungan mengenai hal itu, yang berangkat dari sikap iman yang penuh taqwa kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:</p>
<p>“Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya namaMu diseluruh bumi!<br />
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.<br />
Mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu berbicara bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.<br />
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang yang Kautempatkan;<br />
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?<br />
Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? &#8212; Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.<br />
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segalanya telah Kauletakkan dibawah kakinya:<br />
kambing domba dan lembu sapi sekalian,<br />
juga binatang-binatang di padang;<br />
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,<br />
 dan apa yang melintasi arus lautan.<br />
Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh bumi!”</p>
<p>2.  Manusia berfilsafat</p>
<p>Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu.  Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis,  sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.</p>
<p>Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.</p>
<p>Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas). </p>
<p>Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan).  </p>
<p>Al-Kindi (801 &#8211; 873 M) : &#8220;Kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia &#8230;  Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran&#8221;.</p>
<p>Unsur &#8220;rasional&#8221; (penggunaan akal budi) dalam kegiatan ini merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan &#8220;secara mendasar&#8221; pengembaraan manusia di dunianya menuju akhirat.  Disebut &#8220;secara mendasar&#8221; karena upaya itu dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang dipelajari  (&#8220;obyek material&#8221;), yaitu &#8220;manusia di dunia dalam mengembara menuju akhirat&#8221;. Itulah scientia rerum per causas ultimas &#8212; pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.</p>
<p>Karl Popper (1902-?) menulis &#8220;semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian.  Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir.  Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu  hadir yang membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari hidup&#8221;.  Mengingat berfilsafat adalah berfikir tentang hidup, dan &#8220;berfikir&#8221; = &#8220;to think&#8221; (Inggeris) = &#8220;denken&#8221; (Jerman), maka &#8211; menurut Heidegger (1889-1976 ), dalam &#8220;berfikir&#8221; sebenarnya kita &#8220;berterimakasih&#8221; = &#8220;to thank&#8221; (Inggeris) = &#8220;danken&#8221; (Jerman) kepada Sang Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.</p>
<p>Menarik juga untuk dicatat bahwa kata &#8220;hikmat&#8221; bahasa Inggerisnya adalah &#8220;wisdom&#8221;, dengan akar kata &#8220;wise&#8221; atau &#8220;wissen&#8221; (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah &#8220;viten&#8221;, yang memiliki akar sama dengan kata bahasa Sansekerta &#8220;vidya&#8221; yang diindonesiakan menjadi &#8220;widya&#8221;. Kata itu dekat dengan kata &#8220;widi&#8221; dalam &#8220;Hyang Widi&#8221; =  Tuhan.  Kata &#8220;vidya&#8221; pun dekat dengan kata Yunani &#8220;idea&#8221;, yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.</p>
<p>Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere  = menjauhkan diri dari, mengambil dari).  Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:</p>
<p>Aras abstraksi pertama &#8211; fisika.  Kita mulai berfikir kalau kita mengamati.  Dalam berfikir, akal dan budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).</p>
<p>Aras abstraksi kedua &#8211; matesis. Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan.  Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).</p>
<p>Aras abstraksi ketiga &#8211; teologi atau “filsafat pertama”.  Kita dapat meng-&#8221;abstrahere&#8221; dari semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya, dsb.  Aras fisika dan aras matematika jelas telah kita tinggalkan.  Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat pertama”.  Akan tetapi  karena ilmu pengetahuan ini “datang sesudah” fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.</p>
<p>Secara singkat, filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.</p>
<p>3.  Manusia berteologi</p>
<p>Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman.   Secara sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan Allah, Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam semesta ini.  Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi dapat juga melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga.</p>
<p>Iman adalah sikap batin.  Iman seseorang terwujud dalam sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap lingkungan hidupnya.  Jika iman yang sama (apapun makna kata &#8220;sama&#8221; itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau sekelompok orang, maka yang terjadi adalah proses pelembagaan.  Pelembagaan itu misalnya berupa (1) tatacara bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya dalam doa dan ibadat, (2) tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi penghayatan dan pengamalan iman dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan ajaran atau isi iman untuk dikomunikasikan (disiarkan) dan dilestarikan.  Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena itu agama adalah wujud sosial dari iman.</p>
<p>Catatan.</p>
<p>(1) Proses yang disebut pelembagaan itu adalah usaha yang sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas kenyataan yang berupa kesadaran akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi hidup. Dalam konteks inilah kiranya kata akal (&#8220;&#8216;aql&#8221;) dan kata ilmu (&#8220;&#8216;ilm&#8221;) telah digunakan dalam teks Al Qur&#8217;an.  Kedekatan kata &#8216;ilm dengan kata sifat &#8216;alim kata ulama kiranya juga dapat dimengerti.  Periksalah pula buku Yusuf Qardhawi, &#8220;Al-Qur&#8217;an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan&#8221;, Gema Insani Press, 1998.  Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa kata &#8220;ilmu&#8221; itu dalam pengertian umum dewasa ini meski serupa namun tetap tak sama dengan makna kata &#8220;ilmu&#8221; dalam teks dan konteks Al-Qur&#8217;an itu.<br />
(2) Proses terbentuknya agama sebagaimana diungkapkan disini pantas disebut sebagai pendekatan &#8220;dari bawah&#8221;. Inisiatif seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan &#8220;dari atas&#8221; nyata pada agama-agama samawi:  Allah mengambil inisiatif mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adalah tanggapan manusia atas &#8220;sapaan&#8221; Allah itu.</p>
<p>Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara lebih baik, dan ingin mempertanggungjawabkannya: &#8220;aku tahu kepada siapa  aku percaya&#8221; (2Tim 1:12). Teologi bukan agama dan tidak sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur &#8220;intellectus quaerens fidem&#8221; (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq, yang pada gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini.</p>
<p>4.  Obyek material dan obyek formal</p>
<p>Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal.  Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala &#8220;manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat&#8221;.  Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.  Maka ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi &#8211; filsafat ketuhanan; kata &#8220;akhirat&#8221; dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan).  Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain.  Juga pembicaraan filsafat tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.</p>
<p>Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.</p>
<p>Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi  (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.</p>
<p>Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. &#8220;Segala manusia ingin mengetahui&#8221;, itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala &#8220;manusia tahu&#8221;.  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali &#8220;kebenaran&#8221; (versus &#8220;kepalsuan&#8221;), &#8220;kepastian&#8221; (versus &#8220;ketidakpastian&#8221;), &#8220;obyektivitas&#8221; (versus &#8220;subyektivitas&#8221;), &#8220;abstraksi&#8221;, &#8220;intuisi&#8221;, dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan.  Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.</p>
<p>5.  Cabang-cabang filsafat</p>
<p>5.1.  Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat &#8220;filsafat tentang&#8221; sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang akhirat, tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, &#8230;  Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk:</p>
<p>1. filsafat tentang pengetahuan:<br />
    obyek material : pengetahuan (&#8220;episteme&#8221;) dan kebenaran<br />
	epistemologi;<br />
	logika;<br />
	kritik ilmu-ilmu;<br />
2. filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:<br />
    obyek material : eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat)<br />
	metafisika umum (ontologi);<br />
	metafisika khusus:<br />
		antropologi (tentang manusia);<br />
		kosmologi (tentang alam semesta);<br />
		teodise (tentang tuhan);<br />
3. filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan:<br />
    obyek material : kebaikan dan keindahan<br />
	etika;<br />
	estetika;<br />
4. sejarah filsafat.</p>
<p>5.2.  Beberapa penjelasan diberikan disini khusus mengenai filsafat tentang pengetahuan.  Dipertanyakan: Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka?</p>
<p>Pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, batas-batas pengetahuan, asal dan jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam epistemologi. Logika (&#8220;logikos&#8221;) &#8220;berhubungan dengan pengetahuan&#8221;, &#8220;berhubungan dengan bahasa&#8221;.  Disini bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan dan dinyatakan. Maka logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan sah adanya.</p>
<p>Ada banyak ilmu, ada pohon ilmu-ilmu, yaitu tentang bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu lain.  Disebut pohon karena dimengerti pastilah ada ibu (akar) dari semua ilmu. Kritik ilmu-ilmu mempertanyakan teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam ilmu-ilmu, dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan.  </p>
<p>5.3.  Menurut cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme, materialisme, &#8230; dan sebaginya.</p>
<p> 5.4.  Pastilah ada filsafat tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis, rasional) tentang gejala agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman religius manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Kudus (Numen): adanya kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia.  Yang Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum; kepadaNya manusia hanya beriman, yang dapat diamati (oleh seorang pengamat) dalam perilaku hidup yang penuh dengan sikap &#8220;takut-dan-taqwa&#8221;, wedi-lan-asih ing Panjenengane.  </p>
<p>Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada adalah filsafat dalam agama X, yaitu pemikiran menuju pembentukan infrastruktur rasional bagi ajaran agama X.  Hubungan antara filsafat dengan agama X dapat diibaratkan sebagai hubungan antara jemaah haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji ke Tanah Suci, dan bukan hubungan antara jemaah haji dengan iman yang ada dalam hati jemaah itu.</p>
<p>Catatan lain.  </p>
<p>1. Iman dapat digambarkan mirip dengan gunung es di lautan. Yang tampak hanya sekitar sepersepuluh saja dari keseluruhannya.  Karena iman adalah suasana hati, maka berlakulah peribahasa: &#8220;dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu&#8221;.  Tahukah saudara akan kadar keimanan saya?</p>
<p>2. Sekaligus juga patut ditanyakan &#8220;dimanakah letak hati yang dimaksudkan disini?  Pastilah &#8220;hati&#8221; itu (misalnya dalam kata &#8220;sakit hati&#8221; jika seorang pemudi dibuat kecewa  oleh sang pemuda yang menjadi pacarnya) bukan organ hati (dan kata &#8220;sakit hati&#8221; karena liver anda membengkak) yang diurus oleh para dokter di rumah sakit.  Periksa pula apa yang tersirat dalam kata &#8220;batin&#8221;, &#8220;kalbu&#8221;, &#8220;berhati-hatilah&#8221;, &#8220;jantung hati&#8221;, &#8220;jatuh hati&#8221;, &#8220;hati nurani&#8221;, dan &#8220;suara hati&#8221;.</p>
<p>3.  Menurut Paul A Samuelson tirani kata merupakan gejala umum dalam masyarakat.  Sering ada banyak kata dipakai untuk menyampaikan makna yang sama dan ada pula banyak makna terkait dalam satu kata.  Manusia ditantang untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah (&#8220;clearly and distinctly&#8221;), sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan menegakkan kebenaran. Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan seseorang dalam menghadapi persoalan (termasuk persoalan-persoalan dalam hidupnya) erat hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah tersebut.</p>
<p>6.  Refleksi rasional dan refleksi imani</p>
<p>Ketika bangsa Yunani mulai membuat refleksi atas persoalan-persoalan yang sekarang menjadi obyek material dalam filsafat dan bahkan ketika hasil-hasil refleksi itu dibukukan dalam naskah-naskah yang sekarang menjadi klasik, bangsa Israel telah memiliki sejumlah naskah (yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Alkitab yang disebut Perjanjian Lama). Naskah-naskah itu pada hakekatnya merupakan hasil refleksi juga, oleh para bapa bangsa itu tentang nasib dan keberuntungan bangsa Israel &#8212; bagaimana dalam perjalanan sejarah sebagai &#8220;bangsa terpilih&#8221;,  mereka sungguh dituntun (bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh YHWH (dibaca: Yahwe), Allah mereka.  Ikatan erat dengan tradisi dan ibadat telah menjadikan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama Yahudi).  Pada gilirannya, Kitab Suci itu pun memiliki posisi unik dalam Agama Kristiani.</p>
<p>Catatan.<br />
Bangsa Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana dimaksudkan diatas tidak harus dimengerti sama dengan bangsa Israel yang sekarang ada di wilayah geografis yang sekarang disebut &#8220;negara Israel&#8221;.</p>
<p>Kedua refleksi itu berbeda dalam banyak hal.  Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal Plato dan Aristoteles) mengandalkan akal  dan merupakan  cetusan penolakan mereka atas mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai senantiasa dikuasai oleh para dewa dan dewi).  Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel itu (misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama Perjanjian Lama) merupakan ditopang oleh kalbu karena merupakan cetusan penerimaan bangsa Israel atas peran Sang YHWH dalam keseluruhan nasib dan sejarah bangsa itu.  Refleksi imani itu sungguh merupakan pernyataan universal pengakuan yang tulus, barangkali yang pertama dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah manusia.</p>
<p>Sekarang ada yang berpendirian, bahwa hasil refleksi rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup keagamaan yang monoteistis, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu pengetahuan yang dikenal dewasa ini. Oleh karena itu sering filsafat dikatakan mengatasi setiap ilmu.</p>
<p>Sementara itu, harus dicatat bahwa dalam lingkungan kebudayaan India dan Cina berkembang pula refleksi bernuansa lain: wajah Asia. Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam wujud &#8220;ilmu kedokteran alternatif&#8221; tusuk jarum), dan dalam karya-karya sastra &#8220;kaliber dunia&#8221; dari anak benua India.  Karya-karya sastra itu sering diperlakukan sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab Suci, karena diterima sebagai kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai suci untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari.  </p>
<p>Misalnya saja Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi). Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik Mahabharata, dari posisi sekunder (bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer (sumber segala inspirasi untuk hidup). Pada abad 8 Masehi, Sankara (seorang guru) menginterpretasi Gita bukan sebagai pedoman untuk aksi, tetapi sebagai  pedoman untuk &#8220;mokhsa&#8221;, pembebasan dari keterikatan kepada dunia ini.  Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas kerahiman Tuhan yang hanya bisa dihayati melalui cinta.  Pada masa perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk ber-&#8221;dharma yuddha&#8221;, perang penuh semangat menegakkan kebenaran terhadap penjajah yang tak adil.  Bagi Tilak, Arjuna adalah &#8220;a man of action&#8221; (&#8220;karma yogin&#8221;), dan Gita mendorong seseorang untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi &#8220;mokhsa&#8221; melalui &#8220;perjuangan&#8221; yang ditempuhnya. Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave, Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat komentar yang kurang lebih sama.  Tanpa interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada waktu itu mudah dinilai sebagai bersifat politis murni (atau kriminal murni?), yaitu tanpa  landasan ideal, spiritual, teologis dan etis.</p>
<p>Sesungguhnya, berefleksi merupakan ciri khas manusia sebagai pribadi dan dalam kelompok. Refleksi merupakan sarana untuk mengembangkan spiritualitas dan aktualisasi menjadi manusia yang utuh, dewasa dan mandiri.  Melalui refleksi pula, manusia dan kelompok-kelompok  manusia (yaitu suku dan bangsa) menemukan jati dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam sejarah), serta melaksanakan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa depan.  </p>
<p>Catatan.<br />
Adakah refleksi tentang realitas yang khas Indonesia?  Suatu kajian berdasar naskah-naskah sastra Jawa masa lalu terdapat dalam disertasi doktor P J Zoetmulter SJ: &#8220;Manunggaling Kawula Gusti&#8221; (1935), yang telah diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan oleh PT Gramedia.</p>
<p>Pengertian Epistemologi<br />
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.<br />
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.<br />
Secara historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan juga pada substansi persoalannya.</p>
<p>Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep, meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya, pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).<br />
Demikian pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.</p>
<p>epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32).</p>
<p>Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).</p>
<p>Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.</p>
<p>Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan, sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan, yaitu realisme dan idealisme.</p>
<p>Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut, diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.</p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2082651-pengertian-epistemologi/#ixzz1TvrB2vrp</p>
<p>ARTI EPISTEMOLOGI </p>
<p>Epistemologi adalah teori pengetahuan<br />
1.	Salah satu cabang filsafat yang mempermasalahkan hakikat pengetahuan, sumber-sumbernya, syarat-syarat memperoleh pengetahuan, kebenaran dan kepastian pengetahuan serta hakikat kehendak dan kebebasan manusia dalam pengetahuan.<br />
2.	Cabang filsafat yang khusus menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan.<br />
3.	Suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, dan lingkungan sekitarnya.<br />
4.	Suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif (menilai), normatif (tentukan tolak ukur) dan kritis (mempertanyakan dan menguji) </p>
<p>PEMBAHASAN DALAM EPISTEMOLOGI<br />
1.	Membahas tentang sumber-sumber pengetahaun<br />
2.	Membahas tentang apa yang kelihatan versus hakikatnya<br />
3.	Membahas tentang ke-valid-an pengetahuan.</p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2105449-filsafat-ilmu/#ixzz1TvryqDYS</p>
<p>Berbagai Pengertian Filsafat Ilmu</p>
<p>Filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan. (Robert Ackermann)</p>
<p>Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta menetapkan nilai dan usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. (Lewis White Beck)</p>
<p>Filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, dan praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual. (Cornelius Benjamin)</p>
<p>Filsafat ilmu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu. (May Brodbeck)</p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2090480-pengertian-filsafat-ilmu/#ixzz1TvtDWHFf</p>
<p>PERBANDINGAN FILSAFAT PENGETAHUAN DAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN<br />
1.	Filsafat Pengetahuan, adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya. (Spontan)<br />
2.	Sedangkan<br />
3.	Filsafat Ilmu Pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. (Sistematis dan Reflektif)<br />
DASAR-DASAR PENGETAHUAN<br />
1.	Bahasa, merupakan salah satu hal yang mendasari dan memungkinkan pengetahuan pada manusia. Bahasa Tertulis dan Tidak Tertulis.<br />
2.	Kebutuhan hidup manusia, memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk dapat hidup merupakan suatu bagian dari cara berada manusia. Pengetahuan merupakan suatu alat, strategi dan kebijakan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. </p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2105451-perbandingan-filsafat-pengetahuan-dan-filsafat/#ixzz1TvskBjnT</p>
<p>Epistemologi Ilmu</p>
<p>Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 1. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalsime dan empirisme. Secara ontologis, objek dibahas dari keberadaannya, apakah ia materi atau bukan, guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai¬mana (yang) “Ada”. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan ke¬yakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. 2. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sum-ber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, positivisme, feno¬menologi dan sebagainya. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik be¬serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah), seperti teori ko¬herensi, korespondesi pragmatis, dan teori intersubjektif. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan, cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika dan statistika. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada, dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang. 3. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke¬nyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. </p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1786495-epistemologi-ilmu/#ixzz1TvsATtEd</p>
<p>Filsafat Ilmu Pengetahuan mempelajari esensi<br />
Filsafat Ilmu Pengetahuan mempelajari esensi atau hakikat ilmu pengetahuan tertentu secara rasional, disamping itu Filsafat Ilmu Pengetahuan : Cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu. Untuk memperoleh kebenaran, perlu dipelajari teori-teori kebenaran. Beberapa alat/tools untuk memperoleh atau mengukur kebenaran ilmu pengetahuan adalah sbb. :<br />
Rationalism; Penalaran manusia yang merupakan alat utama untuk mencari kebenaran<br />
Empirism; alat untuk mencari kebenaran dengan mengandalkan pengalaman indera sebagai pemegang peranan utama<br />
Logical Positivism; Menggunakan logika untuk menumbuhkan kesimpulan yang positif benar<br />
Pragmatism; Nilai akhir dari suatu ide atau kebenaran yang disepakati adalah kegunaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis.</p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2105457-filsafat-ilmu-pengetahuan-mempelajari-esensi/#ixzz1TvsvurkY</p>
<p>Apa itu ilmu pengetahuan ? Apa beda ilmu dengan pengetahuan ?<br />
Karena ilmu pengetahuan melahirkan keyakinan filosofis yaitu yang disebut sebagai asumsi, postulat, aksioma.<br />
Filsafat ilmu adalah hal yang mendasari atau makna yang terkandung dalam sebuah ilmu. Pemahaman akan filsafat ilmu disebut epistemologis. Filsafat adalah suatu wacana atau argumentasi mengenai segala hal yang bersifat universal yang dilakukan secara reflektif hingga sampai pada akar masalah yaitu suatu konsekuensi radikal, terakhir, dan sistematis guna mencapai suatu hakikat permasalahan.<br />
Bagian yang dibicarakan dalam filsafat ilmu mengenai ilmu pengetahuan dan kebenaran. Craig (2005) melihat epistemologi adalah inti dari permasalahan filsafat mengenai hakikat, sumber, batas-batas ilmu pengetahuan. Artinya bahwa pengetahuan adalah keyakinan akan kebenaran, tetapi bukan semata-mata keyakinan yang benar. Misalnya keyakinan yang benar berdasarkan terkaan, tidak termasuk pengetahuan.</p>
<p>Bagian utama permasalahan filsafat adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang ada, yaitu :<br />
1. Masalah logika formal yang mendasari wacana ilmu pengetahuan.<br />
2. Epistemologi mencari hubungan antara kebenaran dengan luasnya pengetahuan.<br />
3. Berbeda, sama, serta hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan<br />
4. Klasifikasi ilmu pengetahuan<br />
5. Masalah metodologi<br />
6. Kesatuan ilmu pengetahuan<br />
7. Pengembangan ilmu pengetahuan.<br />
Epistemologis merupakan proses menyusun pendapat mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan mengetahui,<br />
Sumber : Pengantar Filsafat, Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi. PT. Refika Aditama, 2006. </p>
<p>http://kelascmpd.blog.com/2009/12/28/epistemologi-filsafat-ilmu/</p>
<p>BEBERAPA PENGERTIAN PENGETAHUAN (KNOWLADGE)</p>
<p>• Knowledge is relation between object and subject (James K. Feibleman)<br />
• Adapun pengethaun itu ialah kesatuan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Satu kesatuan dalam mana obyek itu dipandang oleh subyek sebagai diketahui (M.J. Langeveld)<br />
• Menurut epistemologi setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari berkontaknya dua macam besaran, yaitu a. benda atau yang diperiksa, diselidiki, dan akhirnya diketahui (obyek), b.manusia yang melakukan pelbagai pemeriksaan, penyelidikan,dan akhirnya mengetahui (mengenal) benda atau hal tadi (Ensiklopedi Indonesia)<br />
• Pengetahuan dapat dirumuskan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa terjadinya modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu, sebaliknya subyek yang mengetahui dipengaruhi (Max Scheler 1874-1928)</p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2090466-pengertian-pengetahuan-knowladge/#ixzz1TvtL6pAo</p>
<p>FUNGSI ILMU PENGETAHUAN </p>
<p>Drs R.B.S. FUDYARTANTA, dosen psikologi universitas gajah mada<br />
menyebutkan 4 tujuan ilmu pengetahuan<br />
(1) Fungsi deskriptif: menggambarkan ,melukiskan dan memaparkan suatu<br />
obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari<br />
(2) Fungsi pengembangan, menemukan hasil ilmu yang baru<br />
(3) Fungsi prediksi, meramalkan kejadian yang besar kemungkinan terjadi<br />
sehingga dapat dicari tindakan percegahannya<br />
(4) Fungsi Kontrol, mengendalikan peristiwa yang tidak dikehendaki.<br />
V. AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN<br />
J.I.G.M DROST S.J Dalam karangannya Agama dan ilmu pengetahuan alam<br />
menulis :”ilmu pengetahuan alam adala ilmu tentang semesta alam sejauh berada dalam<br />
waktu dan ruang, tetapi ruang dan waktu baru ada pada waktu alam ada. Maka titik dan<br />
saat terjadinya terletak di luar sudut pandangan ilmu pengetahuan alam.<br />
Prof Harsojo memperingatkan : tetapi perlu diingatkan bahwa ilmu pengetahuan<br />
yang dimiliki oleh umat manusia dewasa ini belumlah seberapa dibandingkan dengan<br />
rahasia alam semesta yang melindungi amanusi. Ilmuwan besar biasanya diganggu<br />
dengan perasaan agung semacam kegelisahan batin untuk ingin tahu lebih banyak. Bahwa<br />
yang diketahui itu masih meragukan </p>
<p>Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2114500-fungsi-ilmu-pengetahuan/#ixzz1TvrqD31y</p>
<p>EPISTEMOLOGI FILSAFAT AL-GHOZALI </p>
<p>Tidaklah berlebihan ketika Nicholson menyampaikan angan-angannya bahwa seandainya ada seorang nabi setelah Muhammad, maka Al-Ghozali-lah orangnya (R.A Nicholson,1976), pernyataan ini meskipun tak sepenuhnya dapat dibenarkan, tetapi setidaknya jika salah satu sifat seorang nabi itu adalah cinta akan ilmu pengetahuan dan kebenaran, maka keterlibatan Al-Ghozali dalam hampir semua diskursus keilmuan, seperti; ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf, cukup bisa dijadikan sebagai salah satu alasan untuk menguatkan pernyataan tersebut . Sebab, dengan alasan serupa yang membuat Al-Ghozali tak pernah lepas dari pertimbangan siapapun yang berusaha memahami Agama Islam secara luas dan mendalam (Nurcholis Madjid, 1996). </p>
<p>Kendati demikian, ibarat kata pepatah tiada gading yang tak retak, kebesaran reputasi Al Ghozali itu bukan tanpa cacat. Justru keterlibatannya dalam berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman tersebut dipandang oleh sebagian pengamat sejarah sebagai salah satu faktor penyebab hilangnya rasionalisme, yang pada gilirannya nanti menjadi faktor penting bagi kemunduran dunia Islam. Misalnya, pertama, usahanya dalam mempertahankan afiliasi kalamnya (Asy’ariah) sebagai ideologi resmi penguasa Abbasyiah, paling tidak semakin menambah kebencian umat Islam terhadap aliran Mu’tazilah, kalau bukan justru menegasikan sama sekali terhadap aliran teologi Islam yang rasionalis tersebut, sehingga semangat rasional yang terdapat didalamnya dengan sendirinya juga ditinggalkan oleh umat Islam. Kedua, magnum opusnya dibidang filsafat, Tahafut al Falasifah, sering dipahami oleh beberapa pengamat sebagai penyebab hilangnya rasionalisme di dunia Islam, sehingga meskipun perlahan tapi pasti, Islam berangsur-angsur mulai mengalami kemunduran. Ketiga, dua penilaian diatas semakin lengkap dengan lahirnya karya sensasional Al-Ghozali dibidang sufisme, Ihya’ Ulum Al-Din, yang pada kenyataannya memang telah menjadi teman akrab umat Islam dalam melaksanakan praktek-praktek romantisme dengan Tuhan melalui pemberdayaan rasa (Dzauq) dan bukan nalar (akal). Dari sudut pandang ini, bila rasio itu memang dapat dipahami sebagai salah satu kunci kejayaan Islam, maka tak mengherankan bila ada beberapa pengamat seringkali melekatkan nama Al-Ghozali dengan kemunduran dunia Islam. </p>
<p>Walaupun begitu, terlepas dari penilaian kontroversial terhadap hujjatul Islam tersebut, yang pasti dia telah ikut aktif dalam mengisi lembaran sejarah umat ini. Karya-karya besar yang diciptakannya dalam berbagai diskursus ke-Islaman merupakan bukti penting bahwa Al-Ghozali, baik dalam kapasitasnya sebagai teolog , filosof, mapun seorang sufi. Sebab jangan-jangan kemunduran dunia Islam itu bukan semata-mata disebabkan olehnya, tetapi justru dikarenakan umat Islam sendiri yang terlalu fanatik terhadap Al-Ghozali, sehingga yang diwarisi bukan bangunan epistemologinya dan semangat pencariannya akan kebenaran yang hakiki, tetapi sekedar produk pemikirannya secara taken for granterd . </p>
<p>Sekilas tentang Epistemologi </p>
<p>Sebagai derivasi dari kata Yunani Episteme: pengetahuan dan logos: ilmu, maka secara sederhana epistemologi dapat dimaknai dengan teori pengetahuan. Epistemologi, sebagai ditegaskan Amin Abdullah, sedikitnya membahas tiga persoalan mendasar; pertama, sumber pengetahuan; dari mana dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang benar. Kedua, sifat pengetahuan ;apakah segala sesuatu itu bersifat fenomenal (tampak) ataukah essensial (hakiki)?. Ketiga, validitas (kebenaran) suatu pengetahuan; bagaimana pengetahuan yang benar dan yang salah dapat dibedakan. </p>
<p>Sedikitnya ada dua paradigma pemikiran dalam menjawab persoalan epistemlogi tersebut. Pertama, idealisme atau nasionalisme menitikberatkan pada pentingnya peranan ide, kategori atau bentuk-bentuk yang terdapat pada akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Plato ( 427-347 SM), seorang bidan bagi lahirnya janin idealisme ini, menegaskan bahwa hasil pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya yang selalu berubah-ubah (Amin Abdullah;1996). Sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat dipercayai kebenarannya. Karena itu suatu ilmu pengetahuan agar dapat memberikan kebenaran yang kokoh, maka ia mesti bersumber dari hasil pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang seperti ini hanya bisa datang dari suatu alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleh guru Aristoteles itu sebagai &#8220;alam ide&#8221;, suatu alam dimana manusia sebelum ia lahir telah mendapatkan ide bawaannya (S.E Frost;1966). Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami segala sesuatu sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesuatu. Karena itu, bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan alam inderawi bukanlah alam sesungguhnya. </p>
<p>Paradigma selanjutnya adalah empirisme atau realisme, yang lebih memperhatikan arti penting pengamatan inderawi sebagai sumber sekaligus alat pencapaian pengetahuan (Harold H. Titus dkk.;1984). Aristoteles (384-322 SM) yang boleh dikata sebagai bapak empirisme ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide bawaan yang dibawakan oleh gurunya, Plato. Bagi Aristoteles, hukum-hukum dan pemahaman itu dicapai melalui proses panjang pengalaman empirik manusia. (Amin Abdullah;1996). </p>
<p>Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme (Harun Hadiwiyoto;1995). Artinya keberadaan akal di sini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk memperoleh kebenaran kecuali dengan perantaraan indra, kenyataan tidak dapat dipersepsi (Ali Abdul Adzim;1989). Berawal dari sinilah, John Locke berpendapat bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas putih). Di dalam kertas putih inilah kemudian dicatat hasil pengamatan Indrawinya (Louis O. Katsof;1995). </p>
<p>Epistemologi Filsafat Al-Ghazali </p>
<p>Al-Ghazali, seperti telah disinggung sekilas di atas, sering secara tidak adil dituduh sebagai biang keladi kemunduran Islam hanya karena ia lebih mengedepankan afiliasi dalam ‘tradisional’ Asy’ariahnya dibanding aliran ‘nasionalnya’ Mu’tazilah, dan terutama karena serangan terhadap filsafat melalui kitabnya, Tahafut al-Falasifah,serta keberpihakannya terhadap tasawuf yang lebih mengutamakan olah rasa daripada nalar sebagai satu-satunya jalan yang paling absah menuju kebenaran hakiki. </p>
<p>Dengan pola pemahaman yang sangat sederhana, barangkali, Al-Ghazali memang memberikan kesan seperti itu, namun dalam telaah yang lebih luas dan mendalam, Al-Ghazali bukanlah penyebab kemunduran dunia Islam. Orang telah lupa bahwa sesungguhnya Asy’ariah seringkali dinilai sebagai suatu bentuk aliran teologi yang bersifat tradisional, bukan berarti dia menafikan akal atau penalaran dalam berbagai pemahamannya. Sedangkan terkait dengan serangannya terhadap filsafat, kalau kita mengetahui sisi filsafat mana yang diserangnya , maka akan kita dapati bahwa tuduhan di atas sangatlah tidak mendasar. Sebab, Al-Ghazali bukannya menyerang keseluruhan bangunan filsafat, tetapi hanya bagian metafisikanya saja. Itupun, yang diserangnya bukan objek kajiannya, tetapi lebih pada kesalahan struktur argumentasi para filosof. </p>
<p>Kecuali itu, apabila kita lihat apa yang mendorong Al-Ghazali mempelajari falsafah dan kemudian menulis bukunya, Maqodis Al Falasifah dan Tahafut Al Falasifah, maka kita dapati bahwa adanya aliran dan madhab dalam Islam serta pengakuannya masing-masing bahwa pendapatnyalah yang paling benar sedangkan pendapat lain yang salah inilah yang memotivasi Al-Ghazali semenjak muda senantiasa mencari kebenaran yang hakiki. (Harun Nasution, 1996). </p>
<p>Yang dimaksud Al-Ghazali dengan kebenaran hakiki adalah pengetahuan yang diyakini betul kebenarannya; tak terdapat sedikitpun keraguan di dalamnya. Demikian tegas Al-Ghazali : </p>
<p>Jika kuketahui bahwa sepuluh adalah lebih banyak dari tiga, lantas ada orang yang mengatakan sebaliknya dengan bukti tongkat dapat diubah menjadi ular dan hal itu memang terjadi, bahwa memang kusaksikan sendiri, maka kejadian itu tidak akan membuatku ragu terhadap pengetahuanku bahwa sepuluh adalah lebih banyak dari tiga; aku hanya akan merasa kagum terhadap kemampuan orang tersebut. Hal itu sekali-kali tidak akan pernah membuat aku bimbang terhadap pengetahuanku&#8221;. (Al-Ghazali, 1961). </p>
<p>Itulah bentuk kebenaran hakiki sebagai suatu hasil pengetahuan yang meyakinkan, yang oleh Al-Ghazali keyakinan itu disimbolkan sampai ke tingkat yang sangat matematis, sehingga ia tidak akan tergoyahkan lagi oleh bentuk intimidasi apapun. (Dzurkani Jahja, 1996). </p>
<p>Seseorang, demikian Al-Ghazali berpendapat, tidak akan bisa sampai pada pengetahuan yang meyakinkan tersebut bila ia bersumber dari hasil pengamatan indrawi (hissiyat) dan pemikiran yang pasti (dzaruriyat). (Al-Ghazali, 1961). Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Al-Ghazali telah menggabungkan paradigma empirisme dan rasionalisme. Tetapi, bentuk pemaduan itu tetap dilakukan secara hierarkis, bukan dalam rangka melahirkan sintesa diantar keduanya. </p>
<p>Terhadap hasil pengamatan indrawi, Al-Ghazali akhirnya berkesimpulan bahwa : </p>
<p>&#8220;Tentang hal ini aku ragu-ragu, karena hatiku berkata : bagaimana mungkin indra dapat dipercaya, penglihatan mata yang merupakan indera terkuat adakalanya seperti menipu. Engkau misalnya, melihat bayang-bayang seakan diam, padahal setelah lewat sesaat ternyata ia bergerak sedikit demi sedikit, tidak diam saja. Engkau juga melihat bintang tampaknya kecil, padahal bukti-bukti berdasarkan ilmu ukur menunjukkan bahwa bintang lebih besar daripada bumi. Hal-hal seperti itu disertai dengan contoh-contoh yang lain dari pendapat indera menunjukkan bahwa hukum-hukum inderawi dapat dikembangkan oleh akal dengan bukti-bukti yang tidak dapat disangkal lagi&#8221;. (Al-Ghazali,1961). </p>
<p>Dari pernyatan tersebut jelas sekali di mata Al-Ghazali paradigma empirisme yang lebih bertumpu pada hasil penglihatan inderawi, tidak dapat dijadikan sebagai bentuk pengetahuan yang menyakinkan lagi, sebab kebenaran yang ditawarkan bersifat tidak tetap atau berubah-ubah. </p>
<p>Kredibilitas akal, karena itu, juga tidak luput dari kuriositas Al-Ghazali terhadap hakikat yang sedang dicari-carinya. Kredibilitas akal diragukan, karena kekhawatirannya, jangan-jangan pengetahuan aqliyah itu tidak ada bedanya dengan seseorang yang sedang bermimpi, seakan-akan ia mengalami sesuatu yang sesungguhnya, tetapi ketika ia siuman nyatalah bahwa pengalamannya tadi bukanlah yang sesungguhnya terjadi.&#8221; (Al-Ghazali,1961). </p>
<p>Sampai di sini, dikarenakan kebenaran hakiki yang dicari-carinya belum juga ketemu, akhirnya Al-Ghazali dihinggapi oleh sikap skeptis, suatu keadaan dimana hujjatul Islam ini didera oleh keadaan yang luar biasa, sehingga ia tidak mampu lagi untuk mengingat pengetahuan-pengetahuan yang pernah diperolehnya, bahkan untuk sekedar berbicarapun ia tak mampu. Masa-masa kritis bagi pengembangan pengetahuannya ini berlangsung selama dua bulan hingga ia menemukan kesadarannya kembali. Dengan dipenuhi segala rasa aman dan yakin, Al-Ghazali akhirnya dapat menerima pengertian aksiomatis (awalli) dari akal. </p>
<p>&#8220;Mungkin tidak ada yang dapat dipercaya selain pengertian-pengertian aksiomatis (pengetahuan yang bersifat asasi), seperti pengertian bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga; atau </p>
<p>bahwa negasi dan afirmasi tidak akan dapat berkumpul dalam satu perkara; tidak ada yang baru dan pada saat yang sama ia juga dahulu; tidak ada sesuatu yang ada dan pada saat itu juga ia tidak ada; atau sesuatu yang bersifat pasti dan ia juga bersifat mustahil pada saat yang sama.&#8221; (Al-Ghazali, 1961). &#8220;……dengan perasaan sama dan yakin ia dapat menerima kembali segala pengertian aksiomatis dari akal. Semua itu tidak terjadi dengan mengatur alasan ataupun menyusun penjelasan, tetapi dengan nur yang dipancarkan Allah kedalam batinku……kita hendaklah mencari sekuat tenaga apa yang harus dicari sampai pada sesuatu yang tidak usah kita cari lagi, karena ia memang sudah ada. Kalau kita mencari terus sesuatu yang telah ada niscaya ia akan menjadi samar dan membingungkan.&#8221; (Al-Ghazali, 1961). </p>
<p>Dengan berbekal keyakinan aksiomatis inilah Al-Ghazali mencoba meneliti kebenaran hakiki yang ditawarkan melalui jalan kalam, batiniyah, filsafat dan sufisme. Selama pengembaraannya didunia ilmu kalam, batiniyah ataupun filsafat tidak ada yang didapatnya kecuali hanya pengetahuan-pengetahuan yang akan mengantarnya kepada kebenaran yang masih menimbulkan keraguan-keraguan dan pertanyaan-pertanyaan baru. </p>
<p>Akhirnya hanya di jalan sufisme-lah, Al-Ghazali mulai mendapatkan jalan terang menuju pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu seperti yang dicarinya selama ini, yakni dibukakannya rahasia ke-Tuhanan dan aturan-aturan tentang segala yang ada, sehingga tampaklah secara langsung Al-Ghazali sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata ataupun tidak pernah terdengar oleh telinga. </p>
<p>&#8220;……Apa yang dikatakan orang tentang suatu jalan yang dimulai dengan membersihkan hati, sebagai syarat pertama, mengosongkan sama sekali dari segala sesuatu selain Allah, dan kunci pintunya laksana takbirotul ihrom dalam sholat ialah tenggelamnya hati dalam dzikir kepada Allah dan akhirnya fana sama sekali dengan-Nya……Diawal perjalan ini dimulailah peristiwa-peristiwa mukasyafah (terbukanya rahasia-rahasia) dan musyahadah (penyaksian langsung)……&#8221;(Al-Ghazali, 1961). </p>
<p>Pengetahuan terakhir inilah yang Al-Ghazali disebut dengan Al-Kasyf, yang merupakan puncak dari bangunan epistomologis. Hanya melalui Al-Kasyf inilah seseorang akan mencapai hakikat pengetahuan yang kokoh, karena apa yang diperolehnya melalui jalan kasyf ini sekali-kali tidak akan pernah membuatnya bimbang ataupun ragu, sebab pengetahuan ini dilahirkan dari suatu sikap (tingkah laku dan pemahaman yang selalu diterangi oleh cahaya kenabian). </p>
<p>Catatan Akhir </p>
<p>Dari sekilas uraian tentang epistemologis Al-Ghazali diatas, agaknya pengaruh paradigma rasionalisme dan empirisme memiliki ruang yang cukup luas dalam bangunan epistemologis hujjatul Islam tersebut, walaupun akhirnya ia sendiri tetap menempatkan secara hierarkis kedua paradigma pengetahuan Yunani itu, dari yang paling bawah empirisme, menyusul rasionalisme, dan akhirnya kasyf sebagai puncak tangga epistemologinya. </p>
<p>Berbeda halnya dengan Al-Ghazali, Imanuel Kant (1724-1804), meskipun ia juga melakukan beberapa kritik terhadap sikap eksklusif dari kedua arus pemikiran (empirisme dan rasionalisme) yang bersifat antagonis tersebut, Kant mampu memberikan perspektif baru dalam kajian epistemologinya, sehingga melahirkan filsafat ilmu (philosophy of science) yang sangat mempunyai arti penting bagi lahirnya ilmu pengetahuan yang multi dimensional di Barat dewasa ini. </p>
<p>Sementara kajian epistemologi dalam literatur Barat terus berkembang, didunia Islam sendiri, khususnya yang berbasis massa Sunni, kecenderungan arah epistemologinya justeru beringsut lebih tajam kepada batas wilayah idealisme dan kasyf, serta tidak peduli lagi dengan masukan-masukan yang diberikan oleh empirisme, sehingga semangat kritis dan pluralisme yang tersimpan dibalik paradigma empirisme tersebut tidak terwarisi masyarakat muslim. Sebaliknya mereka justru mendapatkan watak idealisme yang monistik. Karena itu, tidak berlebihan kesan yang ditangkap Amin Abdullah dari implikasi paradigma epistemologi yang seperti itu membuat alam pemikiran muslim menjadi terlalu rigid, puritan dan dikotomis dalam memecahkan masalah. </p>
<p>http://www.goodreads.com/story/show/12243-epistemologi-filsafat-al-ghozali</p>
<p>Epistemologi Islam<br />
Kajian epistemologi Islam penting untuk dilakukan mengingat saat ini sudah menyebar apa yang disebut oleh Syamsuddin Arif, “kanker epistemologis”. Kanker jenis ini telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure), yang pada gilirannya mengerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran. Gejala dari orang yang mengidap kanker ini, di antaranya suka berkata: “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan “k” kecil.” “Kebenaran itu relatif.” “Agama itu mutlak, sedang pemikiran keagamaan relatif.” “Semua agama benar dalam posisi dan porsinya masing-masing.” Dll.<br />
Epistemologi secara sederhana bisa dimaknai teori pengetahuan. Mungkinkah mengetahui, apa itu pengetahuan, dan bagaimana mendapatkan pengetahuan, merupakan tema-tema pembahasan epistemologi. Menurut Milton D. Hunnex, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episçmç yang bermakna knowledge, pengetahuan, dan logos yang bermakna teori. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1854 oleh J.F. Ferrier yang membuat perbedaan antara dua cabang filsafat yaitu ontologi (Yunani: on = being, wujud, apa + logos = teori) dan epistemologi. Jika ontologi mengkaji tentang wujud, hakikat, dan metafisika, maka epistemologi membandingkan kajian sistematik terhadap sifat, sumber, dan validitas pengetahuan. Menurut Mulyadhi Kartanegara, ada dua pertanyaan yang tidak bisa dilepaskan dari epistemologi, yaitu: (1) apa yang dapat diketahui dan (2) bagaimana mengetahuinya. Yang pertama mengacu pada teori dan isi ilmu, sedangkan yang kedua pada metodologi.<br />
Mungkinkah Mengetahui?<br />
Pertanyaan itu sudah mengemuka dari sejak zaman Yunani kuno. Pada zaman ini lahir aliran yang bernama sofisme (السوفسطائية). Menurut kaum sofis, semua kebenaran relatif. Ukuran kebenaran itu manusia (man is the measure of all things). Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung manusianya. Menurut anda mungkin benar, tetapi menurut saya tidak, demikian kurang lebih argumentasi kaum sofis. Akibatnya, mudah diterka, terjadi semacam kekacauan kebenaran. Semua teori sains diragukan, semua aqidah dan kaidah agama dicurigai. Manusia menjadi hidup tanpa pegangan “kebenaran”, dan hal seperti itu telah menyebabkan manusia terasing di dunianya sendiri.<br />
Maka kemudian, muncullah Socrates, yang jejaknya diikuti oleh Plato dan Aristoteles. Menurut mereka tidak semua kebenaran relatif, ada kebenaran yang umum, yang mutlak benar bagi siapapun. Kebenaran ini disebut idea oleh Plato, dan definisi oleh Aristoteles.<br />
Sofisme klasik ini kemudian berreinkarnasi (terlahir kembali) pada zaman modern dengan nama skeptisisme. Seseorang yang skeptis akan senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath’i dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap ekstrem dia akan mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari dan didekati, tetapi mustahil ditemukan.<br />
Wujud lain dari sofisme modern adalah relativisme. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan menganggap semuanya benar. Aliran ini yang kemudian berkembang menjadi paham pluralisme agama.<br />
Islam tentu saja menentang paham sofisme dengan segala macam bentuk reinkarnasinya. Dari sejak awal surat, al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada.<br />
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.<br />
Dalam awal surat al-Baqarah, lagi-lagi al-Qur`an menolak paham relativisme:<br />
Alif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.<br />
Nabi Muhammad saw, sebagai insan biasa, yang terkadang ragu dengan propaganda sofisme dari musuh-musuhnya pun diingatkan Allah swt:<br />
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.<br />
Artinya, kebenaran itu ada, sumbernya dari Tuhanmu, yakni yang disampaikannya kepadamu melalui wahyu. Jadi jangan pernah bersikap sofis, karena pegangan kebenaran jelas dan ada, yakni wahyu.<br />
Sebagai bukti lain bahwa Islam memerangi sofisme, Islam mewajibkan pencarian ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad saw menegaskan dalam sebuah hadits yang terkenal:<br />
طلب العلم فريضة على كل مسلم<br />
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.<br />
Hadits-hadits dan ayat-ayat lainnya yang mengutamakan ilmu, semuanya menolak mentah-mentah paham sofisme, skeptisisme, relativisme, dan semua bentuk reinkarnasinya.<br />
Dalam berbagai tempat Allah swt juga suka mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih.<br />
Terkait dengan adanya ikhtilaf di antara ulama yang sering dijadikan pembenar bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, maka tentu harus dibedakan dulu mana yang qath’i dan mana yang zhanni, mana yang ushul dan mana yang furu’. Karena pastinya para ulama tidak mungkin berikhtilaf dalam masalah yang ushul dan qath’i. Kalaupun masih ada juga yang berbeda dalam kedua masalah tersebut, maka itulah orang-orang yang masuk kategori sayyi`ah dan dlalalah. Jika pemikir seperti Socrates, Plato dan Aristotels saja mengakui adanya kebenaran yang bersifat umum, maka sangat aneh jika para ulama yang terbimbing dengan al-Qur`an dan sunnah tidak mengakui adanya kebenaran tersebut. Padahal, al-Qur`an dan sunnah dengan sangat jelas telah memberikan bimbingan dalam masalah tersebut.<br />
Bagaimana Kita Bisa Mengetahui?<br />
Ilmu diperoleh oleh manusia dengan berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Yang pertama disebut paham rasionalisme, dan yang kedua disebut paham empirisme. Pengetahuan jenis pertama disebut logis, dan pengetahuan jenis kedua disebut empiris.<br />
Kerjasama rasionalisme dan empirisme melahirkan metode sains (scientific method), dan dari metode ini lahirlah pengetahuan sains (scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan. Pengetahuan sains ini adalah jenis pengetahuan yang logis dan memiliki bukti empiris. Jadi tidak hanya logis saja yang menjadi andalan kaum rasionalis, tapi juga harus empiris yang menjadi andalan kaum empiris. Kalau ternyata pengetahuan tersebut hanya bersifat logis, tidak empiris, pengetahuan tersebut akan disebut pengetahuan filsafat, bukan pengetahuan sains/ilmiah.<br />
Kerjasama dari rasionalisme-empirisme ini kemudian melahirkan paham positivisme, yakni paham yang menyatakan bahwa segala pengetahuan yang ilmiah harus dan pasti dapat “terukur”. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat diukur dengan timbangan.<br />
Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, menurut Jujun, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.<br />
Sementara wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya di setiap zaman. Menurut Jujun, agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan manusia sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supernatural). Akan tetapi pengetahuan jenis ini banyak tidak diakui oleh para ilmuwan yang kurang berpihak pada agama, seiring dibatasinya pengetahuan ilmiah pada logis-empiris.<br />
Menurut Ahmad Tafsir, terdapat aliran lain yang mirip sekali dengan intuisionisme, yaitu iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama; di dalam Islam disebut teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih, maka ia telah siap dan sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini lebih terfokus pada ilhâm yang diturunkan Allah swt kepada manusia. Menurut Ahmad Tafsir, aliran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran Islam, boleh dikatakan dari sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadra.<br />
Jika kita menilik pemikiran para ulama Islam tentang sumber pengetahuan, akan didapati bahwa di antara mereka tidak ada yang hanya membatasi pada salah satu dari empat saluran pengetahuan sebagaimana dijelaskan Jujun di atas. Tidak seperti halnya di dunia Barat yang membatasi keilmiahan pada logis-empiris saja misalnya, dalam khazanah pemikiran Islam aliran semacam itu hampir tidak ditemukan.<br />
Lihat misalnya pemikiran al-Nasafi yang menyatakan terdapat tiga saluran yang menjadi sumber ilmu, yaitu perspesi indera (idrâk al-hawâs), proses akal sehat (ta’âqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar shâdiq). Oleh al-Attas, penguraian seperti al-Nasafi di atas dihitung empat, dengan memisahkan proses akal sehat dan intuisi hati.<br />
Ibn Taimiyyah sendiri tidak jauh berbeda dalam menjelaskan saluran-saluran pengetahuan ini. Dari tiga yang pokok: khabar, akal dan indera, Ibn Taimiyyah kemudian membagi indera pada indera lahir, yakni panca indera yang kita maklumi, dan indera batin, yakni intuisi hati. Terhadap teori kasyf sebagaimana disinggung oleh Ahmad Tafsir di atas, Ibn Taimiyyah juga memberikan kemungkinannya. Hanya menurutnya pengetahuan yang diperoleh lewat ilhâm tersebut tidak boleh bertentangan dengan khabar yang statusnya lebih kuat. Karena selain sama-sama berasal dari Allah swt, khabar ini juga disampaikan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Nabi. Sehingga jelas apa yang disampaikan Allah swt kepada para Nabi lebih kuat kedudukannya ketika berbenturan dengan ilhâm yang banyak di antaranya hanya berupa lintasan-lintasan hati biasa dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.<br />
Al-Ghazali menyampaikan pendapat yang sama. Menurutnya, hâkim dalam makna pemutus benar tidaknya sesuatu itu ada tiga, yaitu hissî (indera), wahmî (intuisi), dan ‘aqlî (akal). Menurut al-Ghazali, ketika hâkim wahmî itu terkadang bertentangan dengan akal dan indera yang kuat, padahal di sisi lainnya terdapat peringatan tentang adanya yang melintas di dalam hati ini berupa bisikan syetan, maka al-Ghazali hanya mengakui saluran wahmî dari orang yang dikuatkan oleh Allah swt dengan taufiq-Nya, yakni orang yang dimuliakan Allah swt disebabkan orang yang bersangkutan hanya menempuh jalan yang haqq. Tidak menyebutkannya al-Ghazali kedudukan wahyu secara tegas, bukan berarti ia tidak mengakuinya. Karena di dalam berbagai karyanya, termasuk dalam menentang para filosof melalui Tahâfut al-Falâsifah, al-Ghazali melandaskannya pada dalil-dalil wahyu. Itu semua dikarenakan yang menjadi titik tekan al-Ghazali dalam pembahasannya ini adalah hâkim dari diri manusia sendiri, bukan dari luar.<br />
Adapun al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani, dengan konsep yang sama membagi sumber pengetahuan ini ke dalam enam bagian. Lima di antaranya adalah jenis-jenis indera, yaitu hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam’ (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), dan hâssat al-lams (indera merasa dan meraba). Adapun yang keenamnya, al-Baqillani menjelaskan: “Jenis yang keenam adalah sesuatu keharusan yang timbul di dalam jiwa secara langsung tanpa melalui indera-indera yang disebutkan tadi.” Al-Baqillani kemudian menyebutkan contoh-contoh pengetahuan yang diperoleh lewat (1) intuisi, seperti seseorang yang mengenali dirinya sendiri, (2) lewat akal, seperti memahami omongan, dan (3) lewat khabar khususnya yang mutawâtir, seperti tentang kehidupan yang ada di luar negeri. Termasuk tentunya khabar-khabar keagamaan, karena sifatnya yang sama sebagai khabar.<br />
Penjelasan al-Baqillani ini menguatkan kesimpulan bahwa pemahaman para ulama terhadap sumber pengetahuan dalam Islam sama. Tidak ada pemilahan di antara mereka antara yang logis, empiris, dan intuitif. Semuanya diakui asalkan berdasar pada dalil-dalil yang kuat. Baik itu yang revelational/wahyu (naqlî), rasional (‘aqlî) ataupun empirikal (hissî).<br />
Apa Itu Pengetahuan?<br />
Peradaban Barat membedakan pengetahuan ke dalam dua istilah teknis, yaitu science dan knowledge. Istilah yang pertama diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan istilah kedua diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Istilah yang pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ilmu pengetahuan, sementara istilah kedua diterjemahkan dengan pengetahuan saja. Dengan kata lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik dan empiris saja yang bisa dikategorikan ilmu, sementara sisanya, seperti ilmu agama, tidak bisa dikategorikan ilmu (ilmiah).<br />
Fenomena seperti ini baru terjadi pada abad modern. Karena sampai abad pertengahan, pengetahuan belum dibeda-bedakan ke dalam dua istilah teknis di atas, istilah pengetahuan (knowledge) masih mencakup semua jenis ilmu pengetahuan. Baru ketika memasuki abad modern yang ditandakan dengan positivisme, maka pengetahuan yang terukur secara empiris dikhususkan dengan penyebutan scientific knowledge atau science saja.<br />
Islam tentu saja tidak mengenal pemenggalan zaman menjadi abad klasik, pertengahan dan modern. Karena di Islam tidak pernah terjadi tarik-ulur yang dahsyat antara akal dan iman, atau antara kekuasaan dunia dan kekuasaan agama. Islam juga tidak mengenal renaissance yang ditandakan dengan terbebasnya alam pikiran manusia dari kungkungan penguasa agama. Karena dari sejak awal kelahirannya, antara agama, akal dan indera, ketiganya berjalin kelindan dengan sangat baik. Konsekuensinya, tidak akan ditemukan dalam khazanah pemikiran Islam pergeseran definisi ilmu seperti yang terjadi di dunia Barat. Dari sejak awal dan sampai sekarang, ilmu dalam Islam mencakup bidang-bidang fisik juga bidang-bidang nonfisik.<br />
Istilah yang digunakannya pun dari sejak awal tidak berubah, yakni ‘ilm. Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud, penggunaan istilah ‘ilm itu sendiri, sangat terpengaruh oleh pandangan dunia Islam (Islamic worldview):<br />
Pengetahuan dalam bahasa Arab digambarkan dengan istilah al-’ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ûr (kesadaran). Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Tuhan. Julukan-julukan yang dikenakan kepada Tuhan adalah al-’Âlim, al-’Alîm dan al-’Allâm, yang semuanya berarti Maha Mengetahui; tetapi Dia tidak pernah disebut al-’Ârif atau al-Syâ’ir.<br />
Akan tetapi berkaitan dengan pertanyaan apa itu pengetahuan, menurut Wan Daud, sekarang ini umat Islam menyadari bahwa mendefinisikan ilmu (pengetahuan) secara hadd adalah mustahil. al-Attas dalam hal ini menjelaskan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang tidak terbatas (limitless) dan karenanya tidak memiliki ciri-ciri spesifik dan perbedaan khusus yang bisa didefinisikan. Lagi pula, al-Attas menjelaskan, pemahaman mengenai istilah ‘ilm selalu diukur oleh pengetahuan seseorang mengenai ilmu dan oleh sesuatu yang jelas baginya. Ketika medan ilmu pada faktanya sangat luas, maka pengetahuan seseorang terhadapnya sangat terbatas. Oleh karena itu pasti pemahaman ilmu dari masing-masing orang akan terbatas.<br />
Ketika menyadari bahwa mendefinisikan ilmu secara hadd adalah mustahil, maka Al-Attas hanya mengajukan definisi deskriptif (rasm). Dengan premis bahwa ilmu itu datang dari Allah swt dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif, ia membagi pencapaian dan pendefinisian ilmu ke dalam dua bagian. Pertama, sebagai sesuatu yang berasal dari Allah swt, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya (hushûl) makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu; kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa (wushûl) pada makna sesuatu atau objek ilmu.<br />
Yazdi adalah tokoh lainnya yang menyatakan ilmu tidak mungkin didefinisikan. Hal itu disebabkan konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan swanyata (badîhî). Bukan saja tidak membutuhkan definisi, pengetahuan tidak mungkin didefinisikan, lantaran tidak ada kata atau istilah lain yang lebih jelas untuk dipakai mendefinisikannya. Frase atau tuturan yang lazim dipakai dalam buku-buku filsafat dan logika sebagai definisi pengetahuan atau ilmu hanyalah memberikan contoh-contoh (mishdâq/instance) pengetahuan yang ada dalam ilmu atau bidang kajian tertentu, bukan definisi dalam arti sesungguhnya. Contohnya definisi yang disebutkan oleh para ulama dan ahli logika seperti: “penangkapan bentuk (shûrah atau form) sesuatu dalam pikiran”, “hadirnya maujud nonmaterial dalam maujud nonmaterial lainnya”, atau “hadirnya sesuatu pada maujud nonmaterial”.<br />
Yazdi pun kemudian menjelaskan tentang ilmu ini sebagaimana halnya al-Attas. Cuma istilah yang digunakannya ada perbedaan. Untuk ilmu yang datang secara langsung dari Allah swt Yazdi menamakannya al-’ilm al-hudûrî (pengetahuan dengan kehadiran, presentational knowledge, knowledge by presence). Sementara untuk ilmu yang didapatkan lewat usaha manusia Yazdi menyebutnya al-’ilm al-hushûlî (pengetahuan tangkapan atau perolehan, acquired knowledge).<br />
Dr. Rajih ‘Abd al-Hamid al-Kurdi, adalah tokoh lainnya yang menyatakan hal serupa. Dalam karyanya tentang perbandingan epistemologi antara al-Qur`an dan filsafat (nazariyyat al-ma’rifah baina al-Qur`ân wa al-falsafah) ia menguraikan definisi ilmu menurut para pemikir Mu’tazilah, filosof Yunani, dan para ulama Ahl al-Sunnah. Hasilnya, ia menyimpulkan bahwa ilmu cukup jelas untuk tidak didefinisikan. Karena semua definisi yang diajukan oleh masing-masing pakar berbeda-beda dan hanya terfokus pada beberapa aspek yang menjadi titik perhatiannya saja. Sehingga bisa dipastikan tidak ada definisi ilmu yang hadd.<br />
Uraian keempat ulama di atas mengindikasikan dengan jelas bahwa ilmu dalam Islam mencakup dua pengertian; pertama, sampainya ilmu dari Allah ke dalam jiwa manusia, dan kedua, sampainya jiwa manusia terhadap objek ilmu melalui penelitian dan kajian. Dalam hal ini, mutlak disimak firman Allah swt berikut ini:<br />
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-’Alaq [96] : 1-5)<br />
Secara jelas, ayat di atas menginformasikan bahwa ilmu bisa diperoleh dengan aktivitas iqra`, juga bisa diperoleh dengan anugerah Allah swt langsung kepada manusia.<br />
Klasifikasi Pengetahuan, Bukan Dikotomi<br />
Konsekuensinya, Islam tidak mengenal dikotomi ilmu; yang satu diakui, yang lainnya tidak. Yang logis-empiris dikategorikan ilmiah, sedangkan yang berdasarkan pada wahyu tidak dikategorikan ilmiah. Semua jenis pengetahuan, apakah itu yang logis-empiris, apalagi yang sifatnya wahyu (revelational), diakui sebagai sesuatu yang ilmiah. Dalam khazanah pemikiran Islam yang dikenal hanya klasifikasi (pembedaan) atau diferensiasi (perbedaan), bukan dikotomi seperti yang berlaku di Barat.<br />
Al-Ghazali misalnya membagi ilmu dari aspek ghard (tujuan/kegunaan) pada syar’iyyah dan ghair syar’iyyah. Syar’iyyah yang dimaksudkan al-Ghazali adalah yang berasal dari Nabi saw, sedangkan ghair syar’iyyah adalah yang dihasilkan oleh akal seperti ilmu hitung, dihasilkan oleh eksperimen seperti kedokteran, atau yang dihasilkan oleh pendengaran seperti ilmu bahasa.<br />
Ibn Taimiyyah membagi ilmu dari aspek yang sama dengan pola yang sama. Cuma penamaannya, syar’iyyah dan ‘aqliyyah. Syar’iyyah yang dimaksudkan Ibn Taimiyyah adalah yang berurusan dengan persoalan agama dan ketuhanan, adapun ‘aqliyyah adalah yang tidak diperintahkan oleh syara’ dan tidak pula diisyaratkan olehnya.<br />
Sementara syaikh al-’Utsaimin membahasakannya dengan ilmu syar’î dan nazarî. Ilmu syar’î adalah fiqh (pemahaman) terhadap kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw, sementara ilmu nazarî adalah ilmu shinâ’ah (perindustrian) dan yang berkaitan dengannya.<br />
Berkaitan dengan pembagian ilmu dalam Islam seperti di atas, Oliver Leaman menjelaskan, umat Islam membagi ilmu ke dalam model seperti itu disebabkan al-Qur`an menjelaskan bahwa bidang pengetahuan itu ada dua; yang tampak dan yang gaib. Yang tampak dapat diketahui oleh manusia dan juga merupakan objek kajian sains, sedangkan alam gaib, meskipun dapat diketahui dengan cara yang berbeda, merupakan wilayah wahyu. Hal ini dapat dimengerti mengingat tidak adanya bukti fisik yang bisa diterima ihwal alam gaib.<br />
Oliver Leaman menjelaskan lebih lanjut, berdasar pada acuan al-Qur`an inilah maka kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam ada dua jenis: ‘Ilm yang mengungkap ‘âlam syahâdah atau alam yang sudah diakrabi dan terpapar dalam sains alam; dan ma’rifah yang mendedahkan ‘âlam al-ghâ`ib atau alam yang tersembunyi dan karenanya lebih dari sekadar pengetahuan proposisional (propositional knowledge). Cara memperoleh pengetahuan jenis kedua ini adalah melalui wahyu.<br />
Klasifikasi seperti ini penting untuk diterapkan agar tidak terjadi “kekacauan ilmu”. Ketika agama diukur oleh akal dan indera (induktif), maka yang lahir adalah sofisme modern. Sehingga adanya Ahmadiyah dan aliran-aliran sesat tidak dipahami sebagai sebuah “kesalahan”, melainkan sebuah pembenaran bahwa Islam itu warna-warni. Demikian juga, ketika sains dicari-cari pembenarannya dari dalil-dalil agama, maka yang lahir kelak pembajakan dalil-dalil agama. Sehingga langit yang tujuh dipahami sebagai planet yang jumlahnya tujuh, seperti pernah dikemukakan oleh sebagian filosof Muslim di abad pertengahan. Wal-’Llahu a’lam bis-shawab.</p>
<p>http://pemikiranislam.net/2010/04/epistemologi-islam/</p>
<p>Epistemologi Menurut Perspektif Islam : Beberapa Isu Pilihan untuk Diskusi </p>
<p>Osman Bakar, PhD</p>
<p>1. Mana-mana epistemologi &#8211; teori ilmu &#8211; semestinya berkemampuan menghubungkaitkan dengan jelas antara dua perkara, iaitu obiek yang dikethui dan subjek yang mengetahui.Yang membedakan sesuatu epistemology dengan epistemology yang lain adalah tanggapan terhadap ruanglingkup realitas objek dan ruanglingkup realitas subjek yang dapat diterima sebagai meyakinkan. Aliran utama epistemology modern umpamanya yang sebenarnya merupakan ciptaan pemikiran Barat didapati berbeda dengan epistemologi Islam pada umumnya dari segi tanggapan terhadap kedua dua ruanglingkup ini. Di Barat terdapat sebilangan ilmuwan dan pemikir yang berpegang pada epistemologi yang hampir serupa dengan epistemologi Islam. Tetapi mereka ini merupakan golongan minoritas.</p>
<p>2. Adalah jelas bahawa konsep realitas sangat mempengaruhi epistemologi. Bagi ajoritas ilmuwan dan pemikir dalam peradaban Barat modern, yang diakui sebagai ealitas adalah terbatas kepada apa yang dapat disaksikan oleh pancaindera atau yang apat disahkan oleh metode empiris. Yang tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan metode ini disangsikan eksistensinya atau pun ditolak sarna sekali. &#8216;Metode ilmiah dijadikan penentu tunggal eksistensi sesuatu. Isunya, konsep pembuktian kebenaran terbatas kepada penggunasuaian metode ilmiah tetapi makna dan pengertiani lmiah itu sendiri disempitkan kepada pengetahuan empiris. Tegasnya, ruanglingkup realitas objek menurut aliran pemikiran ini adalah terbatas kepada alam fisik.</p>
<p>3. Seperti mana terjadi penyempitan realitas objek yang dapat diketahui oleh manusia epada realitas fisik maka demikian juga terjadinya pengecilan wilayah realitas subyek ang mengetahui kepada diri yang sekadar memiliki fakultas pancaindera dan fakultas<br />
akal yang hanya pandai berfikir secara logika tentang data-data empiris sahaja. Dengan ata lain, diri manusia yang ingin menjadi subyek yang mengetahui mempunyai tahap esadaran yang rendah. Di kalangan ilmuwan modem bukan sedikit yang berpendapat<br />
bahawa akal pikiran manusia itu sendiri adalah konsekuensi proses evolusi yang bersifat fisik.  Maksudnya, akal manusia disamakan sahaja dengan otak. Maka ia dilihat sebagai produk proses fisik yang dapat dipahami dengan hanya perlu merujuk kepada realitas alam materi. Apabila manusia seperti ini merujuk kepada dirinya sebagai &#8220;aku&#8221; maka kesadaran &#8220;aku&#8221;nya itu sekadar kesadaran yang dimiliki oleh ego empirisnya.Ternyata bahawa epistemologi yang dimiliki oleh aliran utama pemikiran ilmiah di Barat moden adalah didasarkan kepada hubungan antara objek dan subyek pada tahap kesadaran manusia yang paling rendah.</p>
<p>4. Berbeda kedudukannya dengan konsep realitas dalam pemikiran Islam. Menurut l-Qur&#8217;an realitas objek yang dapat diketahui mencakupi seluruh alam semesta dan enciptanya yakni Allah s.w.t. Alam semesta yang wujud di luar diri manusia bersifat irarkis. Maksudnya, ia memiliki berbagai tingkat wujud atau eksistensi. Selain alam isik wujud alam bukan fisik yang juga dapat diketahui oleh manusia. Alam semesta atau kosmos yang diperlihatkan oleh al-Qur&#8217;an terbahagi secara kasarnya kepada tiga tingkat wujud dengan sifat realitas masing-masing. Realitas tingkat terendah adalah realitas fisik atau dunia materi. Realitas tingkat teratas adalah realitas spiritual. Dalam al-Qur&#8217;an realitas ini merujuk kepada dunia malaikat yang menurut hadis adalah dicipta daripada cahaya. Realitas tingkat tengah adalah realitas psikis atau animistik yang juga disebut sebagai dunia halus. Dari segi peristilahan keagamaan di dalam al-Qur&#8217;an realitas ini merujuk kepada dunia jinn yang dicipta daripada api yang bukan fisik. </p>
<p>5. Juga menurut al-Qur&#8217;an, realitas subyek yang dapat diketahui mencakupi seluruh apa ang disebut oleh Sayyidina Ali r.a. sebagai alam kecil (al- &#8216;alam al-saghir). Di Barat ia ikenali dengan istilah microcosm. Alam ini merujuk kepada alam diri manusia yang juga terbahagi kepada beberapa tingkat wujud dengan sifat realitas masing-masing. AI-Qur&#8217;an menegaskan: &#8220;Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia enyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia enjadikan bagi kamu (fakultas) pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.&#8221; (32:7-9). Fakultas pengetahuan manusia meliputi pancainderanya, fakultas-fakultas batin (internal) seperti fakultas pengingatan dan daya khayal, fakultas rasional dan spiritualnya, yakni akal dan hati (qalb). Fakultas-fakultas yang membentuk realitas subyek inilah yang memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat wujudnya dalam suatu hirarkis.</p>
<p>6. Epistemologi Islam menegaskan bahawa setiap disiplin ilmu atau sains dicirikan oleh mpat perkara berikut: [1] ada mauduk (&#8220;subject matter&#8221;) yang diberi definisi yang jelas; 2] ada premis-premis( muqadammat) yang diandaikan benar tetapi kebenarannya tidak isa dibuktikan dalam ilmu tersebut; kebenaran premis-premis disiplin ilmu itu perlu ibuktikan dalam displin ilmu yang dikira lebih tinggi kedudukannya dari segi tahap ebenaran yang dibicarakan; [3] ada metode (tariqah) yang khusus baginya; [4] ada bjektif-objektif (ahdaf) khusus bagi disiplin berkenaan.</p>
<p>Dibentangkan pada: Diskusi Pakar “Krisis Epistemologi di Perguruan Tinggi” FUF UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Indonesia, 23 Mei 2008.</p>
<p>http://i-epistemology.net/osman-bakar/32-epistemologi-menurut-perspektif-islam&#8211;beberapa-isu-pilihan-untuk-diskusi.html</p>
<p>Zainal Abidin Bagir<br />
Center for Religious and Cross-cultural Studies<br />
Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia </p>
<p>1. “Islam Yes, Sains Islam No”?<br />
Banyak Muslim kini tak lagi alergi dengan ajakan lama Nurcholish Madjid, “Islam Yes, Partai Islam No”, karena politik nyatanya memang tak perlu dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Urusan pengaturan negara dan politik adalah urusan manajemen, yang mesti ditangani manajer profesional, secara (seharusnya) rasional—lebih-lebih dalam konteks masyarakat yang pluralistik. Tujuan-tujuan universal Islam bisa dicapai tanpa harus membentuk institusi-institusi dengan embel-embel Islam—yang justru kerap menjadi sumber penyalahgunaan. Bagaimana dengan institusi sains? [1] Perlukah slogan semacam itu: “Islam Yes, Sains Islam No”? Analogi ini ditarik karena ada kesamaan penting antara negara dan sains: keduanya adalah institusi sosial (publik) yang hidup dalam komunitas pluralistik. Di akhir makalah ini, saya akan kembali ke analogi ini.<br />
Gagasan “sains Islam” sudah berada di percaturan intelektual Islam selama lebih dari 20 tahun, di berbagai belahan dunia Muslim, termasuk Indonesia. Gagasan ini jugalah yang rupanya sebagiannya mengilhami diadakannya seminar ini pada hari ini. Dalam proposal seminar ini, dinyatakan bahwa salah satu tujuan penciptaan epistemologi Islam adalah untuk “membangun sains yang berdaya guna bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.” Sains Barat modern didasarkan pada epistemologi Barat, maka epistemologi Islam—yang keberadaannya sulit dipungkiri—sudah sewajarnyalah mampu melahirkan sains yang Islami. Di sini, epistemologi dianggap sebagai dasar sains; epistemologi memiliki prioritas (yaitu, keterdahuluan) baik secara konseptual maupun temporal. Namun sejarah sains, baik di Barat mapun Islam, saya kira menunjukkan bahwa kaitan epistemologi dengan sains tak serapi itu. Kaitan yang rapi hanya muncul dalam rekonstruksi rasional atas sejarah, yang tak mesti mewakili gerak sejarah yang sebenarnya. Nyatanya, sains kerap memiliki dinamikanya sendiri. Sains berkembang bukan karena epistemologi yang baik, tapi justru epistemologi kerap dipaksa menyesuaikan diri dengan temuan-temuan—dan kegagalan-kegagalan—sains.<br />
Dengan begitu, anggapan bahwa perumusan epistemologi Islam akan otomatis menghasilkan jenis model sains alternatif yang berbeda pula menjadi patut dipertanyakan. “Jenis sains yang berbeda” ini disebut oleh banyak Muslim sebagai “sains Islam” ( Islamic science ). Dalam makalah ini saya tak akan membahas kaitan epistemologi dengan sains, tapi langsung beranjak dari problematik gagasan “sains Islam”.<br />
Apa itu “sains Islam”? Definisi awal dan paling mudah yang bisa diberikan untuk “sains Islam” adalah bahwa ia adalah sistem sains yang diilhami oleh nilai-nilai Islami, atau manifestasi ajaran-ajaran/nilai-nilai Islam dalam sistem sains. Definisi ini jelas amat luas cakupannya, namun justru karena itu saya kira akan disepakati oleh para penganjur sains Islam seperti dalam kelompok yang dipelopori oleh Seyyed Hossein Nasr, Isma&#8217;il Faruqi, maupun Ziaduddin Sardar. Tanpa menafikan perbedaan-perbedaan yang terkadang cukup radikal, bisa saya katakan bahwa gagasan sains Islam tercakup dalam definisi ini. Perbedaan di antara mereka terutama menyangkut pemahaman mereka atas sains dan Islam, dan strategi pembentukannya. Di luar itu, dapat dikatakan bahwa gagasan mereka tercakup dalam definisi ini.<br />
2. Netralitas religius sains<br />
Salah satu premis terpenting penganjur sains Islam adalah bahwa sains itu tak bebas nilai, karena memiliki asumsi-asumsi metafisis yang mendahului aktifitas sains, sehingga sistem nilai-nilai tertentu (termasuk di dalamnya nilai-nilai religius) bisa mewarnai aktifitas dan hasil (teori-teori) sains. Namun argumen-argumen untuk premis ini seringkali didasarkan pada gambaran usang dan tak akurat tentang sejarah dan filsafat sains, dan kadang-kadang bahkan ditampilkan dalam semacam teori konspirasi.<br />
Di antaranya, yang kerap disebut adalah kisah standar tentang pembentukan pandangan dunia mekanis, yang diajukan secara substantif pertama kali oleh Descartes, lalu diturunkan menjadi alat analisis yang digunakan Boyle sebagai dasar sainsnya, dan konon dijadikan basis kosmologi oleh Newton. Pandangan dunia mekanis inilah yang kemudian menjadi basis sekularisasi peradaban modern, hingga berujung pada peminggiran agama. Namun kisah ini terlalu sederhana.<br />
Seperti terungkap dalam kajian-kajian sejarah sains, kuatnya keberagamaan ketiga tokoh itu tak dapat dipungkiri. Tuhan menempati posisi yang sentral dan esensial dalam sistem yang dibangun ketiga ilmuwan modern awal itu. Yang tampak nyata dalam pemikiran mereka adalah ketegangan yang nyata antara keinginan menampilkan sistem yang naturalistik tapi tetap memberikan tempat yang sentral untuk Tuhan. Ketegangan yang serupa tampak pula dalam sistem-sistem yang dibangun oleh ilmuwan dan filosof Muslim beberapa abad sebelumnya, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Bahwa kemudian sains berkembang ke arah yang menjauh dari semangat religius mereka adalah persoalan lain. Yang jelas, sulit menuduh mereka sebagai agen-agen sekularisme dan marjinalisasi agama.<br />
Argumen lain untuk menunjukkan tak bebas nilainya sains merupakan analisis filosofis struktur sains. Dari sisi ini, sesungguhnya tak sulit diterima bahwa sains itu tak bebas-nilai, bahwa teori-teori sains itu lahir dari proses dimana nilai-nilai atau asumsi metafisis tertentu, dan bukan hanya data-data empiris, juga terlibat. Pertanyaannya adalah: apakah kaum beragama, khususnya Islam, perlu keberatan dengan nilai-nilai tersebut? Yang menjadi keberatan kita sesungguhnya bukanlah adanya nilai-nilai per se , tapi nilai-nilai yang memecah-belah komunitas sains. Yaitu, nilai-nilai yang mungkin tak bisa diterima Muslim atau Kristen, atau juga ateis, sehingga menjadikan mereka tak bisa terlibat dalam komunitas sains tersebut.<br />
Apakah sains memiliki nilai-nilai semacam itu? Menurut saya, tidak. Jika pun ada, biasanya itu akan dikoreksi dalam perkembangan selanjutnya. Misalnya, keyakinan akan keteraturan alam; bahwa alam ini teratur, peristiwa-peristiwa alam terjadi karena adanya hukum-hukum yang pasti. Ini menjadi basis induksi, karena tanpanya kita tak bisa menyimpulkan bahwa eksperimen yang kita lakukan hari ini akan memberikan hasil yang sama jika dilakukan besok. Seorang Muslim atau Kristen bisa saja mengutip ayat-ayat dalam kitab sucinya untuk menunjukkan bahwa keyakinan seperti itu ada dalam agama mereka, tapi seorang ilmuwan tak perlu menjadi Muslim atau Kristen untuk memiliki keyakinan seperti itu. Ini lebih merupakan “keimanan operasional-pragmatis”, yang dipegang secara tentatif untuk tujuan pragmatis merumuskan teori. (Dengan menyatakan ini, saya tak ingin mengingkari bahwa dalam sejarahnya, bisa jadi konteks teistik yang menjadi habitat perkembangan sains itulah yang memungkinkan sains berkembang, seperti diajukan banyak sejarawan sains.)<br />
Bagaimana dengan materialisme, yang konon juga mendasari sains? Materialisme ini pun saya kira hanya merupakan keimanan operasional-pragmatis, yang sifatnya tentatif. Kalaupun seorang materialis meyakini bahwa yang ada hanyalah materi, pertanyaan lanjutannya adalah: apa itu materi? Nyatanya, yang disebut materi dalam sains berubah-ubah. Kalau materi didefinisikan sebagai sesuatu yang menempati ruang dan dapat diindera, maka elektron mesti dianggap tak ada. Elektron yang tak bisa dilihat langsung dianggap sebagai materi hanya karena jejak-jejaknya bisa ditemukan di laboratorium. Elektron sendiri awalnya diajukan sebagai entitas teoretis (yaitu: fiktif), namun kini ilmuwan menerima keberadaannya tanpa ragu-ragu. Bagaimana dengan quark? Adakah quark? Ada banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bisa diajukan. Namun ringkasnya, kandungan materialisme berubah terus, menuruti perkembangan sains. Ia bukanlah doktrin yang kaku, berhadap-hadapan secara langsung dengan agama, tapi berevolusi terus.<br />
Saya percaya, asumsi-asumsi metafisis lain bisa ditunjukkan memiliki karakter serupa. Di sisi lain, dalam sejarah sains dan filsafat modern, kita bisa memberikan banyak contoh asumsi metafisis yang direvisi atau bahkan dibuang, untuk mengakomodasi sains. Contohnya, keyakinan Kant bahwa sistem geometri Euklid adalah sesuatu yang “given”; syarat mutlak bagi pengalaman empiris, yang tanpanya kita tak dapat mengalami alam di luar diri kita. Namun ketika ditunjukkan bahwa ada sistem geometri non-Euklidian yang justru digunakan dalam perumusan teori relatifitas umum Einstein, asumsi itu pun gugur.<br />
Contoh lain adalah perdebatan mengenai karakter ruang antara penganut substantivalisme dan relasionalisme. Dalam sistem Newton ruang dipahami bersifat substantivalis. Dalam perdebatan Newton dengan Leibniz, kedua alternatif ini ramai dibincangkan. Lalu teori relatifitas umum Einstein dianggap menggugurkan substantivalisme. Namun, nyatanya, sampai kini perdebatan itu tak kunjung berakhir, karena teori Einstein itu bisa ditampilkan dengan latar belakang pandangan substantivalisme maupun relasionalisme. Ini contoh pandangan yang bisa memecah-belah. Namun yang kita lihat, ilmuwan tak perlu memiliki komitmen terhadap salah satu dari dua pandangan tentang ruang ini. Teori relatifitas umum bisa diterima kelompok substantivalis maupun relasionalis.<br />
Dalam sejarah sains dalam Islam, ada contoh mirip. Ketika sekelompok astronom Muslim memutuskan untuk membuang asumsi metafisis Ptolemy bahwa bumi tak bergerak dan merupakan pusat alam semesta, mereka mampu mengajukan sistem astronomi yang lebih akurat, mirip dengan yang kelak diajukan Copernicus. Pertimbangan para astronom Muslim itu bukanlah pertimbangan metafisis tapi semata-mata pertimbangan matematis dan empiris. Menurut sejarawan sains Jamil Ragep, salah satu sumbangan terbesar Muslim terletak pada upaya mereka untuk membebaskan astronomi dari filsafat, atau dari asumsi-asumsi metafisis yang tak jelas dasar empirisnya.<br />
Secara umum, gerakan sains sesungguhnya bisa dipahami sebagai gerakan ke arah objektifitas yang lebih tinggi, dengan sebisa mungkin membebaskan sains dari asumsi-asumsi metafisis yang tak diperlukan. Yang ingin saya simpulkan sampai di sini: jika suatu asumsi metafisis diperlukan, ia harus bisa diterima seluruh anggota komunitas sains; dan jika ia memecah belah, maka ia tak diperlukan dalam perumusan teori-teori sains. Sekali lagi, ini karena sifat publik sains yang mementingkan kesepakatan. [2]<br />
Kesimpulan berikutnya: Sains tidak bebas nilai, tapi netral secara religius ( religiously-neutral ), karena nilai-nilai yang terlibat di dalamnya bukanlah nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, tapi lebih berfungsi sebagai asumsi operasional yang dianut secara tentatif. Dengan demikian, urgensi untuk mengajukan “sains Islam” sebagai jawaban atas kelemahan-kelemahan yang dipersepsi ada dalam sains modern (yaitu ketaksesuaiannya dengan agama, atau Islam khususnya) hilang dengan sendirinya.<br />
3. Ambiguitas sains<br />
Sebagai ilustrasi dari kesimpulan ini, saya ingin membahas pandangan Mehdi Golshani, fisikawan Iran (yang sempat popular di sini berkat bukunya Filsafat Sains menurut al-Qur&#8217;an ). Dalam tulisannya “How to Make Sense of Islamic Science” yang diterbitkan belum lama ini ( American Journal of Islamic Social Sciences , v. 17, no. 3, 2002), ia membela gagasan sains Islam, namun mengkritik beberapa versinya. Menurutnya, sains Islam bukanlah usulan untuk melakukan aktifitas sains (eksperimentasi, observasi, teorisasi) dengan cara yang baru, atau “secara Islami”. Namun ia meyakini adanya apa yang disebut “presuposisi metafisis” sains yang dapat didasarkan atau menentang pandangan dunia religius; ruang untuk presuposisi itulah yang baginya mesti diisi dengan premis-premis Islami.<br />
Ada beberapa contoh spesifik yang diajukannya, yang menurut saya justru mendukung kesimpulan di atas bahwa sains itu religiously-neutral . Misalnya, penjelasan untuk prinsip antropik (bahwa hukum-hukum fisika beroperasi sedemikian hingga kehidupan bisa muncul di semesta ini). Dua alternatif penjelasan untuk prinsip ini: ada amat banyak alam semesta, sehingga tak mengherankan jika salah satunya kebetulan memiliki syarat-syarat yang memungkinkan adanya kehidupan; atau, penjelasan lain, hanya ada satu alam semesta, tempat kita hidup ini, yang sengaja dirancang oleh suatu pencipta (yang amat dekat dengan teisme, karena si pencipta itu bisa segera diidentifikasi dengan Tuhan). Ilmuwan ateis seperti Peter Atkins cenderung kepada tafsiran banyak-alam ( many-worlds interpretation ), yang logikanya mirip dengan evolusi makhluk hidup melalui seleksi alam. Namun penjelasan pertama ini pun, seperti ditunjukkan Golshani sendiri, bisa diberikan tafsir teistik: “kewujudan banyak alam dengan konstanta yang amat berbeda sejalan dengan teisme: Tuhan mungkin saja menciptakan banyak alam dengan karakteristik-karakteristik yang berbeda”.<br />
Contoh lain Golshani adalah teori evolusi Darwin. Tafsir yang amat populer, seperti diajukan Richard Dawkins atau Daniel Dennett, adalah bahwa teori ini telah menghilangkan keperluan merujuk kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Namun sebagaimana Dawkins bisa memberi tafsiran ateistik terhadap teori evolusi, ilmuwan Arthur Peacocke yang beragama Kristen dapat pula memanfaatkan teori yang sama untuk mendukung panenteismenya, yang menekankan kontinuitas tanpa henti dalam aktifitas penciptaan Tuhan (melalui evolusi). Filosof Muslim Iqbal juga memiliki pandangan yang mirip tentang aktifitas tanpa henti Tuhan yang terwujud dalam evolusi ini.<br />
Maka contoh-contoh Golshani semuanya sesungguhnya justru menunjukkan ambiguitas sains: ia bisa diberi tafsiran ateistik, bisa pula diberi tafsiran religius. Dengan kata lain, sains itu religiously-neutral. Secara umum, kita bisa menemukan dalam setiap teori ilmiah yang fundamental, yang mungkin memiliki implikasi religius, ambiguitas semacam itu. Lalu mana yang benar dari berbagai penafsiran itu? Sampai di sini sains sendiri tak bisa menjawabnya. Persis sebagaimana mekanika kuantum bisa ditafsirkan sebagai mendukung determinisme (dalam tafsir David Bohm), ia juga bisa dianggap menghancurkannya (penafsiran Kopenhagen), dan secara prinsipil observasi empiris semata tak dapat memutuskan tafsiran mana yang benar. Ketakmampuan sains berpihak pada salah satu dari banyak alternatif, bagi saya, justru menunjukkan bahwa ia bebas-nilai, sejauh menyangkut kepercayaan agama. Karena itu, cukup mengherankan kalau Golshani kemudian membela gagasan “sains Islam”.<br />
Pelajaran yang bisa ditarik di sini adalah pentingnya pembedaan antara teori-teori sains dengan tafsiran filosofisnya. Ini perlu ditegaskan karena beberapa hal. Pertama, di kalangan penganjur maupun penentang gagasan “sains Islam” keduanya kerap jumbuh, sehingga memunculkan gambaran yang keliru tentang sains. Termasuk di dalamnya adalah kesan bahwa sains modern (yaitu satu-satunya jenis sains yang diajarkan di universitas-universitas Indonesia) sifatnya tak Islami. Kalau saja gagasan ini tersebar luas, tak akan mengherankan jika ini menimbulkan problem psikologis yang serius di kalangan pelajar Muslim.<br />
Dalam hal ini, salah satu tantangan terhadap umat Islam dalam bidang sains bukanlah dari (teori-teori atau kandungan) sains itu sendiri, tapi dari tafsiran filosofisnya. Khususnya, ini berkaitan dengan pemahaman yang keliru bahwa sains itu secara inheren bersifat sekular-anti agama (sehingga perlu di-desekularisasi) atau bahwa sains modern itu tidak Islami (sehingga perlu diislamisasikan). Maraknya tafsiran ateistik dari ilmuwan seperti Dawkins dan Dennett atau Peter Atkins tak menunjukkan perlunya kita “memerangi” sains. Upaya-upaya menciptakan sains alternatif justru mengesankan bahwa seolah-olah tafsiran ateistik tersebut adalah satu-satunya tafsiran yang sah, yang identik dengan sains itu sendiri. Religiusitas ilmuwan-ilmuwan seperti Einstein, Schrodinger, Bohm yang begitu kentara lalu menjadi sekadar “sempalan”. Padahal penulis sejarah lain di masa depan bisa saja memandang kecenderungan religius ini, yang tak pernah hilang dalam setiap periode sejarah sains, justru sebagai mainstream .<br />
Lebih jauh, jika memang tafsiran ateistik itu yang merupakan ”musuh” kita, sesungguhnya kita punya sekutu penting yang bisa hilang kalau kita melulu berbicara soal “sains Islam”. Yaitu umat-umat beragama lain yang memiliki keprihatinan yang sama, dan yang, dalam beberapa hal, sudah maju cukup jauh dalam diskursus sains dan agama. Dalam konteks ini, saya melihat gagasan “sains Islam” lebih sebagai upaya penegasan identitas yang tak terlalu perlu. Penegasan identitas adalah proyek ideologis untuk menarik garis yang tegas antara “kita” dan kelompok-kelompok lain—bukan proyek pemberdayaan.<br />
Sejalan dengan aspirasi objektifitas yang disinggung di atas, kalaupun sains dianggap tak objektif karena mengandung ideologi tertentu (positifisme, naturalisme, dan sebagainya), yang kita perlukan adalah de-ideologisasi sains. Sains perlu dibebaskan dari segala ideologi—baik ideologi religius ataupun yang anti-religius. Dalam menjalankan upaya ini kita bisa dengan mudah mendapatkan banyak kawan beragam dari kelompok-kelompok lain<br />
4. De-ideologisasi sains dan objektifikasi Islam<br />
Untuk mengakhiri makalah ini, saya ingin mengajukan gagasan Kuntowijoyo tentang objektifikasi Islam, yang diajukannya sebagai jalan tengah dalam perdebatan antara Islam dan sekularisme politik. ( Selamat Tinggal Mitos, Selamat datang Realitas , Mizan, Juli 2002) Saya melihat, tak hanya dalam politik, dalam sains pun gagasan Kunto itu dapat diberlakukan.<br />
Seperti disinggung di awal makalah ini, analogi negara dengan sains bisa ditarik, karena keduanya memiliki satu karakteristik penting yang sama: keduanya adalah upaya publik. Dalam pemahaman pasca-positifis, sains dipahami terutama sebagai aktifitas sosial. Sains disebut objektif bukan karena ia merepresentasikan objek sebagaimana adanya ( noumena ), namun karena ilmuwan yang satu bersepakat atas hasil-hasil observasi yang dilakukan ilmuwan lain. Data-data empiris adalah sesuatu yang sifatnya publik, karena itu bisa diverifikasi bersama-sama. Kesepakatan komunitas ini jelas tak identik dengan kebenaran, dan karena itulah teori-teori sains bisa jatuh bangun. Jatuh bangunnya teori-teori sains itu merupakan bukti bahwa sistem ini, dengan segala ketaksempurnaannya, bisa bekerja cukup baik.<br />
Dalam tulisan-tulisannya sejak beberapa tahun silam, Kuntowijoyo kerap berbicara tentang peralihan dari periode ideologi ke periode ilmu. Aspirasi negara atau partai Islam adalah indikasi umat Islam berada dalam periode ideologi. Gagasan Nurcholish “Islam Yes, Partai Islam No” 30 tahun yang silam adalah upaya transisi ke periode ilmu (yang tak sepenuhnya berhasil). Peralihan ke periode ilmu, menurut Kunto, ditandai dengan upaya objektifikasi, yang mengandung tiga hal: (a) artikulasi politik dikemukakan melalui kategori-kategori objektif; (b) pengakuan penuh kepada keberadaan segala sesuatu yang ada secara objektif; dan (c) tak lagi berpikir kawan-lawan, tapi perhatian ditujukan pada permasalahan bersama.<br />
Seperti saya singgung di atas, aspirasi “sains Islam” pun tampaknya juga lebih merupakan proyek ideologis. Bagaimana menerapkan gagasan Kunto dalam konteks ini? Point (a): Di atas saya telah menyebutkan bahwa sains tak bebas-nilai, tapi nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai yang disepakati bersama, yang tak memecah belah komunitas sains. Karena itu, nilai-nilai apapun, termasuk nilai-nilai Islam, jika ia ingin dimasukkan sebagai bagian sains, mesti tampil sebagai sesuatu yang objektif, yang bisa disepakati bersama, dan sebagai sesuatu yang memang diperlukan. Caranya adalah dengan menampilkannya sebagai sesuatu yang rasional, yang sumber justifikasinya bukan hanya berasal dari wahyu atau kitab suci secara langsung. Karena komunitas sains adalah suatu komunitas sosial, meyakinkan anggota-anggota lain dalam komunitas dilakukan melalui komunikasi rasional. Membawa label-label Islam dalam komunitas pluralistik (ateis, Kristen, Yahudi, Islam, dan sebagainya) seperti itu tak akan efektif. Komunitas pluralistik inilah yang keberadaannya harus diakui dalam point (b) di atas.<br />
Sebagai penjelasan point (c), Kunto menyarankan untuk, “melepaskan diri dari pikiran ‘kita versus mereka&#8217;”. Penempelan label-label eksklusif seperti “Islami” memang akan mengarah pada identifikasi ‘kita versus mereka&#8217;, dan kerap justru melupakan kita dari persoalan yang sesungguhnya. Khususnya di saat umat Islam tertinggal amat jauh dalam perkembangan sains, eksklusifitas “sains Islam” sungguh tak menguntungkan.<br />
Sesungguhnya, karena keragaman Muslim dan keragaman epistemologi Islam, seperti saya singgung di awal makalah ini, perlu diingatkan bahwa di antara sesama Muslim pun, ada keragaman luar biasa dalam memahami Islam. “Sains Islam” suatu kelompok Muslim bisa berbeda jauh dengan “sains Islam” kelompok Muslim lain. Sementara label Islam tak menjamin kebenarannya (atau kesetiaannya terhdap ajaran Islam yang sesungguhnya), jalan komunikasi satu-satunya adalah melalui objektifikasi, melalui percakapan dalam kategori-kategori objektif, yang bisa disepakati bersama.<br />
Dengan demikian, kembali ke gagasan Kunto, kalau kita perlu slogan, bisa dikatakan yang diperlukan adalah objektifisasi atau rasionalisasi Islam, bukan “Islamisasi sains”. Namun slogan tak perlu, karena ia biasanya lebih efektif sebagai sarana provokasi, dan sekaligus lebih mudah memancing kesalahpahaman. Yang penting adalah inti ajakan itu: Bahwa yang diperlukan Muslim saat ini bukanlah menempatkan diri di luar komunitas sains dunia (seraya mengritiknya habis-habisan), tapi masuk ke dalam komunitas itu. [3]<br />
Sebagaimana saat ini tampaknya sudah disadari banyak Muslim bahwa keislaman kita tak kurang kaaffah tanpa memiliki negara Islam, demikian pula, keislaman kita tak kurang kaaffah tanpa memiliki sains Islam. “Islam adalah rahmat bagi alam semesta” mesti dipahami sebagai prinsip universalitas Islam: Bahwa ajaran-ajaran Islam dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya untuk semua orang. Objektifikasi adalah jalan ke arah itu. </p>
<p>[1] Sebagai disclaimer awal, perlu dikemukakan di sini bahwa ketika “sains” disebut dalam makalah ini, yang terutama dimaksudkan adalah ilmu-ilmu alam. Argumen-argumen yang diajukan di sini sampai tingkat tertentu berlaku pula untuk ilmu-ilmu sosial, namun ada perbedaan-perbedaan penting di antara keduanya, yang tak akan dibahas di sini. Pendeknya, ketika “sains” disebut, yang mesti dibayangkan adalah ilmu-ilmu alam. Untuk keperluan menunjukkan tak bebas nilainya ilmu-ilmu, ilmu alam biasanya dianggap sebagai kasus yang lebih sulit ketimbang ilmu sosial, sehingga jika bisa ditunjukkan bahwa ilmu-ilmu alam pun, khususnya fisika, tak bebas nilai, apalagi ilmu-ilmu sosial, di mana keterlibatan subjek pengamat dengan objeknya lebih intens.<br />
[2] Kasus adanya beberpa penafsiran atas mekanika kuantum merupakan ilustrasi lain untuk kesimpulan ini. Mekanika kuantum diterima fisikawan tanpa mensyaratkan komitmen kepada salah satu penafsirannya.<br />
[3] Dalam konteks ini, amat menarik mencatat pernyataan Munawar Ahmad Anees, yang sempat dikenal sebagai pengajur sains Islam bersama Ziauddin Sardar. Dalam kolomnya di Civilization belum lama ini (February/March 2000), ia menyebut bahwa dilihat dengan lebih teliti, upaya-upaya Islamisasi dan penciptaan sains Islami “tampak setengah matang dan parokial ( cliquish) .” Selanjutnya: “Isyarat jelas untuk kondisi yang patut disesalkan ini [lemahnya gerakan ilmiah Muslim] adalah absennya negara-negara Muslim dalam salah satu upaya ilmiah terbesar umat manusia sepanjang sejarah, Projek Genome Manusia.” </p>
<p>http://www.crcs.ugm.ac.id/staffile/zab/makalah_untuk_seminar_epistemologi_islam.htm</p>
<p>© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights</p>
<p>0901P-EPISTEMOLOGI ISLAM DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PADA<br />
UNIVERSITAS ISLAM: Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum1</p>
<p>Dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan hari Sabtu, tanggal 7 Pebruari 2009, di Universitas<br />
Muhammadiyah Makassar oleh Professor Dr. Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard,<br />
DrPH(Harvard) Professor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor<br />
Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com<br />
ABSTRAK<br />
Makalah ini berdasarkan tesis bahwa reformasi epistemologis sangat penting untuk<br />
pendidikan yang bermutu. Makalah ini dimulai dengan meringkas konsep dasar dan<br />
paradigma epistemologi Islam dan metodologi penelitian. Selanjutnya membahas krisis<br />
terkini menyangkut pengetahuan dan pendidikan umat, yaitu rendahnya motivasi belajar,<br />
serta kurangnya rasa cinta dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Solusi dari krisis<br />
pendidikan akan diawali dengan perbaikan epistemologis dalam setiap disiplin ilmu<br />
pengetahuan. Perbaikan epistemologis didefinisikan sebagai identifikasi bias-bias paradigma<br />
dasar dan metodologi penelitian yang mencerminkan cara pandang dunia yang tidak tauhid.<br />
Hal ini diikuti pula dengan pembentukan kembali konsep dasar epistemologis dan paradigma<br />
dari berbagai disiplin ilmu dari paradigma tauhid yang bercirikan objektivitas, istiqamat al<br />
ma’arifat, dan penyeragaman, ‘aalamiyyat al ma’arifat dari pengetahuan. Makalah ini<br />
mendeskripsikan dengan jelas pendekatan-pendekatan penting dalam setiap disiplin ilmu<br />
pengetahuan. Kesimpulan makalah ini adalah bahwa kualitas belajar dan penelitian akan<br />
tercapai setelah ada perbaikan epistemologis, yang dapat mendorong peserta didik dan<br />
pengajar untuk mengejar pengetahuan dalam bingkai tauhid yang membentuk cara pandang<br />
terhadap dunia dan nilai-nilai dalam diri mereka.<br />
KONSEP EPISTEMOLOGIS DASAR<br />
Apakah yang Dimaksud dengan Epistemologi Islam ?. nadhariyat al ma’arifat al islamiyyat<br />
Epistemologi adalah ilmu pengetahuan, ‘ilm al ‘ilm. Mempelajari asal-usul, hakikat dan<br />
metode sebuah ilmu pengetahuan dengan tujuan mendapatkan keyakinan. Epistemologi<br />
Islam, nadhariyyat ma’rifiyyat Islamiyyat, didasarkan pada paradigma tauhid. Parameter<br />
tetapnya adalah dari wahyu, wahy. Parameter tidak tetapnya disesuaikan oleh keadaan waktutempat<br />
yang bervariasi. Sumbernya adalah wahyu (Al Qur’an dan As Sunnah), observasi dan<br />
percobaan empiris, serta alasan kemanusiaan. Sekarang ini, tantangan utamanya adalah<br />
meraih obyektivitas, al istiqamat, yaitu tetap pada jalan kebenaran dan tidak dapat<br />
digoyahkan oleh tingkah laku dan hawa nafsu. Istiqamat hanya datang setelah iman, seperti<br />
sabda Rasulullah qul amantu bi al laahi thumma istaqim&#8217;.<br />
1.2 Hakikat Ilmu Pengetahuan, tabi’at al ma’arifat al insaniyyat<br />
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay,<br />
dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah<br />
1 Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa<br />
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang,<br />
cp : 081318681994, e‐mail : yusibnuyassin@yahoo.com<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
2<br />
untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan ghalabat al dhann.<br />
Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen, dan haqq al yaqeen.<br />
Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al Qur’an menegaskan<br />
dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan<br />
kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat<br />
terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik<br />
umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk<br />
hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi<br />
abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat<br />
al haqiqat. Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan<br />
pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.<br />
1.3 Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan, masadir al ma’arifat:<br />
Wahyu, wahy, kesimpulan, akal, dan pengamatan empiric dari alam semesta, kaun, adalah<br />
sumber-sumber umum dari pengetahuan yang diterima oleh orang-orang beriman. Dalam<br />
pengertian kuantitas, yang pertama adalah pengetahuan empiric, ‘ilm tajriibi. Dalam<br />
pengertian kualitas, yang pertama adalah ilmu yang diwahyukan ilmu dan wahyu,. Ada<br />
hubungan erat dan ketergantungan antara wahyu, pengamatan empiris, dan kesimpulan. Akal<br />
dibutuhkan untuk memahami wahyu dan mencapai kesimpulan dari pengamatan empiris.<br />
Wahyu melindungi akal dari kesalahan dan menyediakan informasi tentang suatu hal yang<br />
tidak kasat mata. Akal tidak bisa memahami secara penuh dunia yang empiris tanpa bantuan.<br />
1.4 Klasifikasi Ilmu Pengetahuan, tasnif al marifat<br />
Pengetahuan bisa diwariskan atau dipelajari. Bisa aqli atau naqli. Bisa berupa pengetahuan<br />
yang terlihat, ‘ilm al syahadat, dan pengetahuan yang tidak terlihat, ‘ilm al ghaib. Yang tidak<br />
terlihat bisa mutlak, ghaib mutlaq, atau relative, ghaib nisbi. Mempelajari ilmu pengetahuan<br />
bisa berupa kewajiban individu, fard ‘ain, sedangkan yang lain adalah kewajinban kolektif,<br />
fard kifayat. Pengetahuan bisa sangat berguna, ‘ilmu nafiu, menjadi dasar, atau diaplikasikan.<br />
Ada banyak disiplin ilmu yang berbeda. Disiplin-disiplin tersebut terus berubah seiring<br />
dengan pengembangan pemahaman dan ilmu pengetahuan. Sebuah disiplin didefinisikan dan<br />
dibatasi oleh metodologinya.<br />
1.5 Keterbatasan Pengetahuan Manusia, mahdudiyat al marifat al bashariyyat<br />
Al Qur’an dalam banyak ayat telah mengingatkan manusia bahwa pengetahuan mereka dalam<br />
semua lingkungan dan disiplin ilmu sangat terbatas. Akal manusia bisa dengan mudah<br />
diperdaya. Kecerdasan manusia memiliki keterbatasan dalam menginterpretasikan persepsipersepsi<br />
sensorik yang benar. Manusia tidak bisa mengetahui hal-hal tak kasat mata, ghaib.<br />
Manusia bisa berfungsi dalam waktu yang terbatas. Masa lalu dan masa depan diyakini tidak<br />
dapat diketahui. Manusia menjalankan fungsi dalam kecepatan yang terbatas baik pada level<br />
konseptual maupun sensorik. Ide-ide tidak dapat dikeluarkan dan diproses jika mereka<br />
dihasilkan terlalu lambat atau terlalu cepat. Manusia tidak mampu memvisualisasikan<br />
peristiwa-peristiwa yang sangat lambat atau terlalu cepat. Peristiwa yang sangat lambat<br />
seperti revolusi bumi atau rotasi bumi tidak dapat dirasakan kejadiannya. Memori manusia<br />
sangat terbatas. Pengetahuan yang dipelajari bisa saja hilang atau mungkin lenyap secara<br />
keseluruhan. Manusia akan menjadi sangat berpengetahuan jika mereka mempunyai memori<br />
yang sempurna.<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
3<br />
2.0 METODOLOGI ILMU PENGETAHUAN, manhaj al ma’arifat<br />
2.1 Konsep-Konsep<br />
Metodologi dimulai dengan penamaan Adam dan pengklasifikasian semua benda yang diikuti<br />
oleh penemuan hasil percobaan-percobaan dan investigasi metodologis sistematis terkini.<br />
Terinspirasi oleh Al Qur’an, umat Muslim mengembangkan metodologi empiris ilmiah yang<br />
menyebabkan timbulnya reformasi Eropa, Renaissance, serta revolusi ilmiah dan teknologi<br />
yang dimulai pada awal abad 16. Francis Bacon (1561-1626), orang Eropa yang pertama kali<br />
menulis secara sistematis tentang metodologi empiris yang diinspirasi oleh kaum Muslim di<br />
Eropa pada masanya. Orang-orang Eropa meniru metodologi empiris tanpa konteks<br />
ketauhidan, menolak wahyu sebagai sumber pengetahuan, dan nantinya memaksakan hasil<br />
tiruan buruk berupa ilmu pengetahuan sekuler kepada umat Islam di seluruh dunia. Ahli<br />
Muslim kuno telah menunjukkan bahwa wahyu, akal dan pengalaman sangatlah tepat dan<br />
telah menggunakan peralatan metodologis dari Al Qur’an untuk mengoreksi dan<br />
mengembangkan ilmu pengetahuan Yunani sebelum menyebarkannya ke Eropa. Mereka<br />
mengganti logika deduktif Aristoteles dan definisinya dengan sebuah logika induktif Islam<br />
yang diinspirasi oleh Al Qur’an.<br />
2.2 Metodologi dari Al Qur’an, manhaj qur’ani<br />
Al Qur’an menyediakan prinsip-prinsip umum yang membimbing dan bukan pengganti<br />
penelitian empiris. Kitab ini menggabungkan pengamatan empiris; membebaskan pikiran dari<br />
keragu-raguan, taklid buta, ketergantungan intelektual, dan hawa nafsu. Paradigma tauhidnya<br />
menjadi dasar dari hubungan sebab akibat (kausalitas), rasionalitas, perintah, prediksi,<br />
penemuan, obyektivitas, dan hukum alam. Hukum bisa diketahui melalui wahyu, pengamatan<br />
empiris dan eksperimen. Para ahli Qur’an mengajarkan metodologi induktif, pengamatan<br />
empiris, nadhar &amp; tabassur; interpretasi, tadabbur, tafakkur, i’itibaar &amp; tafaquhu; dan<br />
pengetahuan yang terbukti, bayyinat &amp; burhan. Al Qur’an melarang asal ikut-ikutan, taqliid,<br />
prasangka, , dhann; dan keinginan pribadi, hawa nafsu. Konsep Al Qur’an dari istiqomat<br />
menghasilkan kepercayaan dan pengetahuan yang tidak bias. Konsep Al Qur’an dari istikhlaf,<br />
taskhir, dan isti’imar adalah dasar dari teknologi. Konsep dari ‘ilm nafei menggarisbawahi<br />
perintah untuk mengubah pengetahuan dasar menjadi teknologi yang bermanfaat.<br />
2.3 Metodologi dari Sains Islam Klasik<br />
Ilmu pengetahuan klasik beserta konsepnya dapat diaplikasikan ke dalam IPTEK. Tafsir ilmu<br />
dan tafsir mawdhu’e interpretasi data paralel pada penelitian empiris. ‘Ilm al nasakh<br />
menjelaskan bagaimana data-data baru memperbaharui teori-teori yang lama tanpa<br />
membuatnya tidak berguna sama sekali. ‘Ilm al rijaal dapat menguatkan keyakinan para<br />
peneliti. ‘Ilm naqd al hadith menanamkan perilaku ‘membaca kritis’ literatur sains. Qiyaas<br />
adalah analogi alasan-alasan. Istihbaab aplikasi berkelanjutan dari sebuah hipotesis atau<br />
hukum ilmu pengetahuan sampai menemukan bukti. Istihsan dapat dibandingkan dengan<br />
intuisi ilmiah. Istislah adalah penggunaan kepentingan umum untuk membuat keputusan atas<br />
banyak pilihan, contohnya teknologi pengobatan. Ijma adalah kesepakatan yang ditetapkan<br />
oleh para ilmuwan empiris. Maqasid as syari’ah adalah alat konsep untuk menyeimbangakan<br />
penggunaan S&amp;T. Qawaid as syari’ah adalah aksioma yang menyederhanakan operasi logika<br />
kompleks dengan membangun aksioma tanpa melewati derivasi detail.<br />
2.4 Kritik Islami Mengenai Metode Empiris, naqd al manhaj al tajribi<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
4<br />
Dengan alat metodologis berupa Al Qur’an dan Sains Islam klasik, umat Muslim<br />
mengembangkan sebuah metodologi empiris dan induktif baru dalam bentuk qiyaas usuuli<br />
dan juga mengawali metode empiris dengan eksperimen dan pengamatan sistematis, seperti<br />
yang dicontohkan oleh hasil kerja Ibn Hazm tentang mata. Mereka mengkritik metodologi<br />
Yunani Kuno adalah metodologi yang abstrak, hipotetis, meremehkan pengetahuan mudah,<br />
dan berdasarkan logika deduktif. Mereka menerima metode ilmiah Eropa dari pembentukan<br />
dan pengujian hipotesis, tetapi menolak asumsi filosofisnya: materialisme, pragmatisme,<br />
atheisme, penolakan wahyu sebagai sumber pengetahuan, kekurangseimbangan, penolakan<br />
dualitas raga dan jiwa, kurangnya manfaat manusia, kurangnya penyatuan paradigma seperti<br />
tauhid, dan menjadi Euro-centric (condong ke Eropa) dan tidak menyeluruh. Orang-orang<br />
Eropa menyatakan metodologinya akan lebih terbuka, akurat, tepat, objektif, dan netral<br />
secara moral, tetapi hanya sebatas pengamatan dan tidak dipraktekkan. Dengan angkuhnya,<br />
hal tersebut dianggap sebagai kemungkinan absolut dan pengetahuan empiris yang relative<br />
berdasar pada kelemahan pengamatan dan interpretasi manusia.<br />
3.0 KRISIS PENGETAHUAN dan PENDIDIKAN, azmat al ma’arifat wa al ta’aliim<br />
3.1 Manifestasi Krisis<br />
Ada anggapan pemisahan antara uluum al diin dan uluum al dunia . Perhatian terhadap<br />
terhadap beasiswa sangatlah kecil. Kekayaan dan kekuasaan dianggap lebih penting dari<br />
beasiswa. Ada banyak hal yang dilalaikan oleh sains empiris. Terdapat dikotomi dalam<br />
sistem pendidikan: Islam Tradisional vs. Eropa, ulum al diin vs ulum al dunia. Integrasi dari<br />
2 sistem itu sangat sulit atau bahkan telah gagal karena bersifat mekanis bukan konseptual.<br />
Proses sekulerisasi dalam pendidikan telah menggeser dimensi moral dari pendidikan dan<br />
merusak tujuan pendidikan Islami untuk mencipatakan individu yang utuh dan sempurna,<br />
insan kaamil. Kegagalan otak Negara-negara Islam telah bercampur aduk menjadi krisis<br />
pendidikan.<br />
3.2 Ketidakberdayaan Umat karena Krisis Ilmu Pengetahuan<br />
Kurangnya pengetahuan dan kelemahan intelektual adalah wujud nyata yang paling<br />
signifikan dari keterbelakangan ummat. Krisis intelektual ummat diperparah oleh peniruan<br />
dan penggunaan ide-ide serta konsep asing yang disusun secara buruk. Rasulullah<br />
memperingatkan umat tentang fenomena lubang kadal (lizard-hole) di mana ummat nantinya<br />
akan mengikuti / mengekor musuhnya tanpa bertanya, bagai kadal menuju lubangnya.<br />
Contoh-contoh wujud ketidakberdayaan ummat adalah berupa kemiskinan, kelemahan<br />
politik, ketergantungan ekonomi, kelemahan militer, ketergantungan pada iptek, dan<br />
pengikisan identitas keIslaman dalam gaya hidup.<br />
3..3 Latar Belakang Sejarah<br />
Generasi Rasulullah saw adalah generasi yang terbaik. Guru terbaik bertemu dengan murid<br />
terbaik dan menghasilkan kesempurnaan. Para Shahabat memiliki pengetahuan dan<br />
pemahaman yang luar biasa. Benih dari krisis yang sedang terjadi akhir-akhir ini muncul<br />
sejak akhir khilafat rashidat. Serangan sosial dan politik meruntuhkan khilafat rashidat dan<br />
prinsip-prinsip ideal yang merepresentasikannya dihentikan atau bahkan diganti. Kenudian,<br />
ajaran ulama dan opini pemimpin yang melanjutkan perjuangan kebenaran prinsip-prinsip<br />
Islam dibatasi dan dipenjara. Stagnansi intelektual mulai muncul. Proses sekularisasi Negara<br />
Muslim mengalami kemajuan. Kelalaian dan buta huruf yang tersebar luas menjadi hal biasa.<br />
Banyak ide dan fakta dari kaum non-Muslim tanpa bukti yang bisa dipercaya telah<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
5<br />
menemukan jalan mereka merasuki warisan intelektual dan agama ummat, hingga<br />
menciptakan krisis intelektual yang semakin bertambah parah.<br />
4.0 LANGKAH AWAL MENUJU REFORMASI EPISTEMOLOGIS<br />
4.1 Pengetahuan, sebuah Syarat Wajib untuk tajdid<br />
Reformasi dan kebangkitan ummat akan terjadi melalui reformasi pendidikan dan<br />
pengetahuan. Tajdid adalah sebuah fenomena penyelamatan ummat sekaligus menjadi tanda<br />
sehat dan dinamisnya ummat ini. Hal tersebut merupakan karakteristik dasar ummat masa<br />
reformasi/kebangkitan yang menggeser masa kemunduran ke zaman jahiliyah. Tajdid<br />
mensyaratkan pengetahuan, ide-ide dan tindakan yang dirumuskan dengan persamaan<br />
matematika berikut ini: tajdid = ide + tindakan. Tindakan tanpa pengetahuan dan akal yang<br />
dibimbing tidak akan membawa perubahan yang baik. Gagasan tanpa tindakan tidak akan<br />
merubah apapun. Tajdid mensyaratkan dan diikuti oleh sebuah reformasi ilmu pengetahuan<br />
untuk menyediakan gagasan dan motivasi untuk membangun. Semua reformasi sosial yang<br />
sukses dimulai dengan perubahan ilmu pengetahuan. Masyarakat ideal tidak bisa diciptakan<br />
tanpa ada dasar pengetahuan. Dasar pengetahuan harus benar, relevan, dan bermanfaat.<br />
Sejarah pergerakan kebangkitan Muslim yang sukses selalu dipimpin oleh para akademisi.<br />
4.2 Sebuah Strategi Pengetahuan Baru, nahwa istratijiyyat ma’arifiyyat jadiidat<br />
Umat Muslim merupakan aset ekonomi dan politik yang mempunyai potensi besar namun<br />
belum terealisasi. Perkembangan tajdid modern memiliki banyak kelebihan, tetapi juga<br />
mempunyai kekurangan dasar yang harus diperbaiki. Krisis pengetahuan dan intelektual<br />
masih menjadi sebuah penghalang. Pergerakan reformasi yang tidak diarahkan oleh<br />
pengetahuan dan pemahaman yang benar akan lenyap dan gagal atau disingkirkan dari jalan<br />
mereka. Perubahan sosial menuntut adanya perubahan perilaku, nilai, kepercayaan dan<br />
tingkah laku dari sebuah massa kritis dalam populasi. Perilaku, nilai, kepercayaan dan<br />
tingkah laku ditentukan oleh dasar pengetahuan. Visi dari strategi pengetahuan adalah<br />
seorang manusia yang kokoh mengenal Sang Penciptanya, memahami kedudukannya,<br />
perannya, haknya, dan kewajibannya dalam tata alam semesta (cosmic order). Misi dari<br />
strategi pengetahuan adalah transformasi konseptual sistem pendidikan dari TK hingga<br />
pendidikan pasca sarjana yang mencerminkan tauhid, nilai moral yang positif, obyektivitas,<br />
universalitas, dan menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan.<br />
4.3 Menuju ke Arah Metodologi Islam, nahwa manhajiyyat ‘ilmiyyat islamiyyat<br />
Tauhid yang universal, objektif, dan metodologi yang jelas harus menggantikan Eropa-sentris<br />
dan konteks filosofi yang bias/semu, bukan metode praktis experimental. Aturan-aturan dari<br />
ilmu tauhid adalah: persatuan pengetahuan, menyeluruh; hubungan sebab akibat adalah dasar<br />
dari tindakan manusia, pengetahuan manusia yang terbatas, investigasi hubungan sebab<br />
akibat yang didasarkan pada hukum alam yang konstan dan sesuai, harmoni antara yang<br />
terlihat dan tidak terlihat, 3 sumber pengetahuan (wahyu, akal, dan pengamatan empiris);<br />
khilafat; akuntabilitas moral; makhluk dan ciptaanNya mempunyai tujuan, kebenaran adalah<br />
mutlak dan relatif, keinginan bebas manusia adalah dasar dari akuntabilitas, dan tawakal.<br />
5.0 REFORMASI EPISTEMOLOGI : KONSEP &amp; PRAKTEK<br />
5.1 Konsep Reformasi:<br />
Reformasi pengetahuan adalah sebuah proses pemilihan kembali kumpulan pengetahuan<br />
manusia agar sesuai dengan kepercayaan dasar dari ‘aqidat al tauhid. Proses reformasi bukan<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
6<br />
untuk penemuan kembali roda pengetahuan, tetapi untuk perubahan, perbaikan, dan<br />
reorientasi. Hal ini bersifat evolutif, bukan revolutif; serta bersifat korektif dan reformatif.<br />
Ini adalah langkah awal dalam sistem pendidikan sebagai awal untuk memperbaiki<br />
masyarakat.<br />
5.2 Sejarah reformasi<br />
Abad 2-3 H menjadi saksi kegagalan usaha transfer pengetahuan. Pengetahuan ilmiah Yunani<br />
disalurkan kepada kamu Muslim bersamaan dengan filosofi Yunani dan pemikiran yang<br />
menyebabkan kebingungan dalam aqidah. Ilmu Yunani lebih bergantung pada deduksi<br />
filosofikal dari pada induksi yang berdasarkan eksperimen. Hal ini tidak menguatkan tarbiyat<br />
ilmiah dari Al Qur’an yang menegaskan observasi akan hakikat sebagai dasar untuk<br />
mengambil kesimpulan. Pergerakan reformasi pengetahuan yang terbaru pada akhir abad 14<br />
H bertujuan pada pendirian sebuah sitem pendidikan yang berdasarkan tauhid.<br />
5.3 Reformasi Disiplin ilmu:<br />
Reformasi harus mulai dengan menata ulang epistemology, metodologi, dan kumpulan<br />
pengetahuan dari setiap disiplin ilmu. Harus pro-aktif, akademik, metodologis, obyektif dan<br />
praktis. Visinya adalah pengetahuan yang objektif, umum dan bermanfaat dalam konteks<br />
interaksi manusia yang harmonis dengan llingkungan fisik, sosial, dan spiritual. Misi<br />
praktisnya adalah transformasi paradigma, metodologis, dan penggunaan disiplin ilmu<br />
pengetahuan yang sesuai dengan tauhid. Tujuan langsungnya adalah: (a) perbaikan<br />
paradigma disiplin ilmu yang ada untuk merubah mereka dari sebatas ritual sempit menjadi<br />
bertujuan luas (obyektivitas universal) , (b) rekonstruksi paradigma yang menggunakan<br />
pedoman yang objektif dan universal, (c) Klasifikasi kembali disiplin untuk mencerminkan<br />
nilai tauhid yang universal, (d) perbaikan metodologi penelitian agar menjadi objektif,<br />
bermanfaat, dan mudah dipahami (e) pertumbuhan pengetahuan dengan penelitian, dan (f)<br />
menanamkan aplikasi pengetahuan yang benar secara moral. Al Qur’an memberikan prinsip<br />
umum yang membangun objektivitas dan melawanan metodologi penelitian yang tidak jelas.<br />
Hal ini menciptakan cara pandang dunia yang memperkuat penelitian untuk memperpanjang<br />
batas pengetahuan dan pemanfaatannya bagi seluruh alam semesta. Ilmuwan didorong untuk<br />
bekerja dengan parameter Al Qur’an untuk memperluas batas pengetahuan melalui<br />
penelitian, dasar, aplikasi.<br />
5.4 Kesalahpahaman Mengenai Proses Reformasi<br />
Reformasi telah salah dipahami sebagai bentuk penolakan dari sekumpulan pengetahuan dan<br />
disiplin manusia yang sudah ada. Kesalahpahaman ini sebagai wujud sempitnya pengetahuan<br />
kaum Muslim. Anggapan salah tersebut dikarenakan buku-buku teks yang ada ditulis kembali<br />
dengan tema Islami tanpa pemikiran yang mendalam tentang paradigma dan metodologi. Hal<br />
ini juga memenjarakan reformasi spiritual para pelajar, para akademik, dan peneliti.<br />
Pendekatan luar berikut ini telah dicoba untuk reformasi dan gagal: Menyisipkan ayat Al<br />
Qur’an dan Al hadist dalam tulisan orang-orang Eropa dan sebaliknya, pencarian fakta ilmiah<br />
dari Al Qur’an, pencarian bukti Al Qur’an dari fakta ilmiah, memperlihatkan mukjizat Al<br />
Qur’an, pencarian hubungan antara konsep Islam dan Eropa, penggunaan Islam dalam<br />
terminologi / istilah-istilah Eropa, dan penambahan gagasan untuk kumpulan ilmu<br />
pengetahuan Eropa.<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
7<br />
5.5 Langkah-langkah Praktis / Tugas dari Proses Reformasi:<br />
Langkah pertama adalah sebuah membuat pondasi yang baik dalam ilmu Islam metodologis<br />
usul al fiqh, ‘uluum al Qur’an, ulum al hadith, dan &#8216;uluum al llughat. Diikuti dengan<br />
membaca Al Qur’an dan sunnah dengan pemahaman perubahan dimensi ruang dan waktu.<br />
Diikuti dengan klarifikasi masalah-masalah epistemologi dasar dan hubungan-hubungan:<br />
wahyu dan akal, gaib dan shahada, ilmu dan iman. Diikuti oleh sebuah kritik Islami dari<br />
paradigma dasar, asumsi-asumsi dasar, dan konsep dasar dari berbagai disiplin ilmu yang<br />
menggunakan kriteria metodologi dan epistemologi Islami. Penilaian Islami atas buku-buku<br />
teks dan materi pengajaran yang sudah ada, kemudian berusaha mengidentifikasi pahampaham<br />
yang menyimpang dari pengertian dasar tauhid dan metodologi Islami.<br />
Hasil awal dari proses reformasi adalah pengenalan Islam dalam disiplin ilmu, muqaddimat<br />
al ‘uluum, pembangunan prinsip-prinsip dasar Islam dan paradigma yang menentukan dan<br />
mengatur metodologi, isi, dan pengajaran disiplin ilmu. Hal ini berhubungan dengan<br />
‘Introduction to History’ milik Ibn Khaldun, muqaddimat mempresentasikan penyamaan dan<br />
konsep metodologis dalam peristiwa bersejarah. Publikasi dan penilaian buku-buku teks baru<br />
dan pengajaran material lainnya adalah sebuah langkah yang penting dalam reformasi,<br />
dengan menyerahkannya di tangan para pengajar dan pelajar yang telah mengaalami<br />
reformasi. Pengembangan pengetahuan dasar yang teraplikasi dalam IPTEK akan menjadi<br />
tahap terakhir dari proses reformasi, karena pada akhirnya yang jelas-jelas membawa<br />
perubahan dalam masyarakat adalah IPTEK.<br />
6.0 REFORMASI DALAM DISIPLIN-DISIPLIN KHUSUS<br />
6.1 Apa yang Dibutuhkan?<br />
6.1.1 Definisi dan klasifikasi<br />
6.1.2 Pengembangan bersejarah<br />
6.1.3 Metode penelitian<br />
6.1.4 Kritik Epistemologis Islami atas konsep dasar dan paradigma<br />
6.1.5 Pengenalan Epistemologis Islami pada disiplin ilmu<br />
6.2 Reformasi Seni, islaah al funuun<br />
6.2.1 Seni berbahasa.<br />
6.2.2 Fine arts<br />
6.2.3 Musik<br />
6.2.4 Drama<br />
6.2.5 Kerajinan Tangan<br />
6.3 Reformasi Ilmu Pengetahuan yang Menyangkut Kehidupan<br />
6.3.1 Penelitian organisme: biologi, zoologi, botani, ekologi, taksonomi, mikrobiologi, dan<br />
parasitologi<br />
6.3.2 Penelitian struktur: anatomi, histologi, dan embriologi<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
8<br />
6.3.3 Penelitian fungsi: biokimia, biofisika, fisiologi, dan pharmacologi<br />
6.3.5 Penelitian penyakit dan pengobatanya: pathologi, farmasi, pediatrics, pengobatan<br />
dalam, psikiatri, dan ilmu bedah<br />
6.4 Reformasi Ilmu Fisik<br />
6.4.1 Ilmu Matematika<br />
6.4.2 Fisika<br />
6.4.3 Kimia<br />
6.4.4 Astronomi<br />
6.4.5 Ilmu Bumi<br />
6.4.6 Arkeologi<br />
6.4.7 Geografi<br />
6.4..8 Kependudukan<br />
6.4.9 Anthropologi Fisik<br />
6.4.10 Mesin<br />
6.4.11 Arsitektur<br />
6.5 Reformasi Ilmu Sosial, islaah al ‘uluum al ijtima’iyyat<br />
6.5.1 Ekonomi<br />
6.5.2 Ilmu Politik<br />
6.5.3 Hukum<br />
6.5.4 Sosiologi<br />
6.5.5 Psikologi<br />
6.5.6 Antropologi Budaya<br />
6.5.7 Sejarah<br />
6.9 Reformasi Disiplin yang Berhubungan dengan Keuangan<br />
6.9.1 Perbankan<br />
6.9.2 Keuangan<br />
6.9.3 Akuntansi<br />
6.9.4 Administrasi Bisnis<br />
6.9.5 Manajemen<br />
6.10 Reformasi Disiplin yang Berhubungan dengan Kepentingan Umum<br />
© Profesor Omar Hasan Kasule Sr. January 2009 Republished by Unismuh on Kasule`s copyrights<br />
9<br />
6.10.1 Administrasi Publik<br />
6.10..2 Hubungan Internasional<br />
6.10.3 Hukum<br />
6.11 DISIPLIN ISLAM KLASIK<br />
6.1.1 Mungkin tampak mengejutkan bahwa beberapa ilmu Islam klasik yang didasarkan pada<br />
wahyu juga membutuhkan analisis epistemologis. Bentuk ilmu ini di masa mereka telah<br />
dipengaruhi oleh paradigma eksternal dan filosofi yang telah masuk perlahan-lahan ke dalam<br />
mereka dan menciptakan bias-bias epistemologi yang membutuhkan perbaikan. Selain biasbias<br />
itu, kita perlu melakukan formulasi ulang dimensi ruang dan waktu dalam ilmu-ilmu ini<br />
dengan memisahkan komponen tetap (konstan) yang tidak berubah dari komponen tidak tetap<br />
(variabel) sebagaimana membuat formulasi bagaimana komponen tidak tetap (variabel) dapat<br />
menyesuaikan perubahan waktu dan faktor tempat.<br />
6.1.2 Pertimbangan faktor ruang dan waktu dibutuhkan dalam uluum al Qur;an dan‘uluum al<br />
hadiith. Fiqh dan usul al fiqh memiliki masalah sama yang timbul dari pemahaman harfiah<br />
syari’at yang sempit dan perbedaan fiqih telah memecah belah umat pada masa lalu ke dalam<br />
banyak masalah. Jika penyebabnya adalah fiqih, solusinya akan bisa ditemukan dalam fiqih.<br />
Kita perlu meninjau kembali masyarakat dari general bird eye view yang menggunakan<br />
tujuan-tujuan hukum yang lebih tinggi, maqasid as syari’ah, setelah itu kita akan mampu<br />
membuat banyak kemajuan.<br />
BAB I<br />
PENGETAHUAN DENGAN ILMU PENGETAHUAN<br />
TELAAH FILOSOFIS</p>
<p>1. 	FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN<br />
Sebelum Metode Penelitian dengan pendekatan Kualitatif atau Metode Penelitian Kualitatif, akan diuraikan terlebih dahulu apa Perbedaan Ilmu Pengetahuan Ilmiah (Science) dengan Pengetahuan (Knowledge). Mengapa demikian ? Kedua metode Penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif digunakan untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan Ilmiah (Science). Oleh karena itu perlu diketahui terlebih dahulu apa itu Ilmu Pengetahuan Ilmiah dan perbedaanya dengan Pengetahuan. Dengan dipahaminya Ilmu Pengetahuan Ilmiah akan mempermudah memahami Metode Penelitian Ilmiah dan kaitan antara keduanya. Berikut ini akan disinggung sedikit tentang Filsafat dan perbedaannya dengan Filsafat Ilmu Pengetahuan.<br />
Secara singkat dapat dikatakan Filsafat adalah refleksi kritis yang radikal. Refleksi adalah upaya memperoleh pengetahuan yang mendasar atau unsur-unsur yang hakiki atau inti. Apabila ilmu pengetahuan mengumpulkan data empiris atau data fisis melalui observasi atau eksperimen, kemudian dianalisis agar dapat ditemukan hukum-hukumnya yang bersifat universal. Oleh filsafat hukum-hukum yang bersifat universal tersebut direfleksikan atau dipikir secara kritis dengan tujuan untuk mendapatkan unsur-unsur yang hakiki, sehingga dihasilkan pemahaman yang mendalam. Kemudian apa perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Filsafat. Apabila ilmu pengetahuan sifatnya taat fakta, objektif dan ilmiah, maka filsafat sifatnya mempertemukan berbagai aspek kehidupan di samping membuka dan memperdalam pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan objeknya dibatasi, misalnya Psikologi objeknya dibatasi pada perilaku manusia saja, filsafat objeknya tidak dibatasi pada satu bidang kajian saja dan objeknya dibahas secara filosofis atau reflektif rasional, karena filsafat mencari apa yang hakikat. Apabila ilmu pengetahuan tujuannya memperoleh data secara rinci untuk menemukan pola-polanya, maka filsafat tujuannya mencari hakiki, untuk itu perlu pembahasan yang mendalam. Apabila ilmu pengetahuannya datanya mendetail dan akurat tetapi tidak mendalam, maka filsafat datanya tidak perlu mendetail dan akurat, karena yang dicari adalah hakekatnya, yang penting data itu dianalisis secara mendalam.<br />
Persamaan dan perbedaan antara Filsafat dan Agama adalah sebagai berikut. Persamaan antara Filsafat dan Agama adalah semuanya mencari kebenaran. Sedang perbedaannya Filsafat bersifat rasional yaitu sejauh kemampuan akal budi, sehingga kebenaran yang dicapai bersifat relatif. Agama berdasarkan iman atau kepercayaan terhadap kebenaran agama, karena merupakan wahyu dari Tuhan YME, dengan demikian kebenaran agama bersifat mutlak.<br />
Kajian filsafat meliputi ruang lingkup yang disusun berdasarkan pertanyaan filsuf terkenal Immanuel Kant sebagai berikut:<br />
1)	Apa yang dapat saya ketahui (Was kan ich wiesen)<br />
Pertanyaan ini mempunyai makna tentang batas mana yang dapat dan mana yang tidak dapat diketahui. Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah suatu fenomena. Fenomena selalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini menjadi dasar bagi Epistomologi. Eksistensi Tuhan bukan merupakan kajian Epistomologi karena berada di luar jangkauan indera. Bahan kajian Epistomologi adalah yang berada dalam jangkauan indera. Kajian Epistomologi adalah fenomena sedang eksistensi Tuhan merupakan objek kajian Metafisika. Epistomologi meliputi: Logika Pengetahuan (Knowledge), Ilmu Pengetahuan Ilmiah (Science) dan Metodologi.<br />
2)	Apa yang harus saya lakukan (Was soll ich tun)<br />
Pertanyaan ini mempersoalkan nilai (values), dan disebut Axiologi, yaitu nilai-nilai apa yang digunakan sebagai dasar dari perilaku. Kajian Axiologi meliputi Etika atau nilai-nilai keutamaan atau kebaikan dan Estetika atau nilai-nilai keindahan.<br />
3)	Apa yang dapat saya harapkan (Was kan ich hoffen)<br />
Pengetahuan manusia ada batasnya. Apabila manusia sudah sampai batas pengetahuannya, manusia hanya bisa mengharapkan. Hal ini berkaitan dengan being, yaitu hal yang ”ada”, misalnya permasalahan tentang apakah jiwa manusia itu abadi atau tidak, apakah Tuhan itu ada atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab oleh Ilmu Pengetahuan Ilmiah, tetapi oleh Religi. Refleksi tentang Being terbagi lagi menjadi dua, yaitu Ontologi yaitu struktur segala yang ada, realitas, keseluruhan objek-objek yang ada, dan Metafisika yaitu hal-hal yang berada di luar jangkauan indera, misalnya jiwa dan Tuhan.<br />
Bidang-bidang kajian Filsafat, apabila digambarkan adalah sebagaimana bagan berikut:</p>
<p>Selanjutnya akan dibahas salah satu bidang kajian Filsafat, yaitu Filsafat Ilmu Pengetahuan, karena bidang ini membahas hakekat ilmu pengetahuan ilmiah (science). Hakekat ilmu pengetahuan dapat ditelusuri dari 4 (empat) hal, yaitu:<br />
1)	Sumber ilmu pengetahuan itu dari mana.<br />
Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan dari mana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiri atau pengalaman. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley. Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini misalya Spinoza, Rene Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme.</p>
<p>2)	Batas-batas Ilmu Pengetahuan.<br />
Menurut Immanuel Kant apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu hanya terbatas pada gejala atau fenomena, sedang substansi yang ada di dalamnya tidak dapat kita tangkap dengan panca indera disebut nomenon. Apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu adalah penting, pengetahuan tidak sampai disitu saja tetapi harus lebih dari sekedar yang dapat ditangkap panca indera.<br />
Yang dapat kita ketahui atau dengan kata lain dapat kita tangkap dengan panca indera adalah hal-hal yang berada di dalam ruang dan waktu. Yang berada di luar ruang dan waktu adalah di luar jangkauan panca indera kita, itu terdiri dari 3 (tiga) ide regulatif: 1) ide kosmologis yaitu tentang semesta alam (kosmos), yang tidak dapat kita jangkau dengan panca indera, 2) ide psikologis yaitu tentang psiche atau jiwa manusia, yang tidak dapat kita tangkap dengan panca indera, yang dapat kita tangkap dengan panca indera kita adalah manifestasinya misalnya perilakunya, emosinya, kemampuan berpikirnya, dan lain-lain, 3) ide teologis yaitu tentang Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.<br />
3)	Strukturnya.<br />
Yang ingin mengetahui adalah subjek yang memiliki kesadaran. Yang ingin kita ketahui adalah objek, diantara kedua hal tersebut seakan-akan terdapat garis demarkasi yang tajam. Namun demikian sebenarnya dapat dijembatani dengan mengadakan dialektika. Jadi sebenarnya garis demarkasi tidak tajam, karena apabila dikatakan subjek menghadapi objek itu salah, karena objek itu adalah subjek juga, sehingga dapat terjadi dialektika.<br />
4)	Keabsahan.<br />
Keabsahan ilmu pengetahuan membahas tentang kriteria bahwa ilmu pengetahuan itu sah berarti membahas kebenaran. Tetapi kebenaran itu nilai (axiologi), dan kebenaran itu adalah suatu relasi. Kebenaran adalah kesamaan antara gagasan dan kenyataan. Misalnya ada korespondensi yaitu persesuaian antara gagasan yang terlihat dari pernyataan yang diungkapkan dengan realita.<br />
Terdapat 3 (tiga) macam teori untuk mengungkapkan kebenaran, yaitu:<br />
a)	Teori Korespondensi, terdapat persamaan atau persesuaian antara gagasan dengan kenyataan atau realita.<br />
b)	Teori Koherensi, terdapat keterpaduan antara gagasan yang satu dengan yang lain. Tidak boleh terdapat kontradiksi antara rumus yang satu dengan yang lain.<br />
c)	Teori Pragmatis, yang dianggap benar adalah yang berguna. Pragmatisme adalah tradisi dalam pemikiran filsafat yang berhadapan dengan idealisme, dan realisme. Aliran Pragmatisme timbul di Amerika Serikat. Kebenaran diartikan berdasarkan teori kebenaran pragmatisme.<br />
Untuk mengetahui penerapan 3 (tiga) macam teori tersebut pada bidang apa, periksa skema berikut ini.<br />
Ilmu-ilmu Formal	Ilmu-ilmu Empiris Induktif	Ilmu-ilmu Terapan<br />
Deduktif:<br />
Logika<br />
Matematika	Alam<br />
unorganik:<br />
karang, batu, air.	Hayati:<br />
Kehidupan	Sosial:<br />
Manusia ber masyarakat	Budaya:<br />
Manusia dengan ekspresinya<br />
Ukuran kebenaran Koherensi<br />
menghadapi rumusan-rumusan yang tidak boleh kontradiksi satu sama lain<br />
Ukuran kebenaran Korespondensi</p>
<p>kesesuaian antara gagasan dengan realita/antara gagasan dengan fakta.<br />
Pragmatis</p>
<p>apa yang bermanfaat itu benar.<br />
Gambar 4: Penerapan Teori Korespondensi, Koherensi dan Pragmatis.<br />
Sumber: Noerhadi T. H. (1998) Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.<br />
Pascasarjana Universitas Indonesia.</p>
<p>Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah<br />
Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan cabang filsafat yang menelaah baik ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah maupun cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan ilmiah. Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah adalah sebagai berikut:<br />
1)	Sistematis.<br />
Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam upaya menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan bahwa teori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan sehari-hari. Tetapi teori itu sendiri bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida dari susunan tahap-tahap proses mulai dari persepsi sehari-hari/ bahasa sehari-hari, observasi/konsep ilmiah, hipotesis, hukum dan puncaknya adalah teori.<br />
Ciri-ciri yang sistematis dari ilmu pengetahuan ilmiah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p>a)	Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari).<br />
Dari persepsi sehari-hari terhadap fenomena atau fakta yang biasanya disampaikan dalam bahasa sehari-hari diobservasi agar dihasilkan makna. Dari observasi ini akan dihasilkan konsep ilmiah.<br />
b)	Observasi (konsep ilmiah).<br />
Untuk memperoleh konsep ilmiah atau menyusun konsep ilmiah perlu ada definisi. Dalam menyusun definisi perlu diperhatikan bahwa dalam definisi tidak boleh terdapat kata yang didefinisikan. Terdapat 2 (dua) jenis definisi, yaitu: 1) definisi sejati, 2) definisi nir-sejati.<br />
Definisi sejati dapat diklasifikasikan dalam:<br />
1)	Definisi Leksikal. Definisi ini dapat ditemukan dalam kamus, yang biasanya bersifat deskriptif.<br />
2)	Definisi Stipulatif. Definisi ini disusun berkaitan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian tidak dapat dinyatakan apakah definisi tersebut benar atau salah. Benar atau salah tidak menjadi masalah, tetapi yang penting adalah konsisten (taat asas). Contoh adalah pernyataan dalam Akta Notaris: Dalam Perjanjian ini si A disebut sebagai Pihak Pertama, si B disebut sebagai Pihak Kedua.<br />
3)	Definisi Operasional. Definisi ini biasanya berkaitan dengan pengukuran (assessment) yang banyak dipergunakan oleh ilmu pengetahuan ilmiah. Definisi ini memiliki kekurangan karena seringkali apa yang didefinisikan terdapat atau disebut dalam definisi, sehingga terjadi pengulangan. Contoh: ”Yang dimaksud inteligensi dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang yang dinyatakan dengan skor tes inteligensi”.<br />
4)	Definisi Teoritis. Definisi ini menjelaskan sesuatu fakta atau fenomena atau istilah berdasarkan teori tertentu. Contoh: Untuk mendefinisikan Superego, lalu menggunakan teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud.<br />
Definisi nir-sejati dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:<br />
1)	Definisi Ostensif. Definisi ini menjelaskan sesuatu dengan menunjuk barangnya. Contoh: Ini gunting.<br />
2)	Definisi Persuasif. Definisi yang mengandung pada anjuran (persuasif). Dalam definisi ini terkandung anjuran agar orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Contoh: ”Membunuh adalah tindakan menghabisi nyawa secara tidak terpuji”. Dalam definisi tersebut secara implisit terkandung anjuran agar orang tidak membunuh, karena tidak baik (berdosa menurut Agama apapun).<br />
c)	Hipotesis<br />
Dari konsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang mengandung informasi, 2 (dua) pernyataan digabung menjadi proposisi. Proposisi yang perlu diuji kebenarannya disebut hipotesis.<br />
d)	Hukum<br />
Hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil atau hukum.<br />
e)	Teori<br />
Keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukum yang tidak bertentangan satu sama lain serta dapat menjelaskan fenomena disebut teori.</p>
<p>2)	Dapat dipertanggungjawabkan.<br />
Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam sistem, yaitu:<br />
a)	Sistem axiomatis<br />
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau konkret. Atau mulai teori umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal, misalnya matematika.<br />
b)	Sistem empiris<br />
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/ fenomena khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk menghasilkan rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial.<br />
c)	Sistem semantik/linguistik<br />
Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-proposisi secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa (linguistik).</p>
<p>3)	Objektif atau intersubjektif<br />
Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif). Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif) tetapi merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.</p>
<p>Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah<br />
Cara kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah untuk mendapatkan kebenaran oleh Karl Popper disebut Siklus Empiris, yang dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p>Gambar 6: Siklus Empiris<br />
Sumber: Noerhadi T. H. (1998) Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.<br />
Pascasarjana Universitas Indonesia.</p>
<p>Keterangan Gambar:<br />
Gambar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) komponen, yaitu:<br />
1)	Komponen Informasi, yang terdiri dari:<br />
a.	Problem<br />
b.	Teori<br />
c.	Hipotesis<br />
d.	Observasi<br />
e.	Generalisasi Empiris<br />
Komponen Informasi digambarkan dengan kotak.<br />
2)	Komponen langkah-langkah Metodologis, yang terdiri 6 (enam) langkah metodologis, yaitu:<br />
a.	Inferensi logis<br />
b.	Deduksi logis<br />
c.	Interpretasi, instrumentasi, penetapan sampel, penyusun skala.<br />
d.	Pengukuran, penyimpulan sampel, estimasi parameter.<br />
e.	Pengujian hipotesis.<br />
f.	Pembentukan konsep, pembentukan dan penyusunan proposisi.<br />
Langkah Metodologis digambarkan dengan elips.</p>
<p>Penjelasan tentang langkah-langkah Metodologis adalah sebagai berikut:<br />
a.	Langkah pertama. Ada masalah yang harus dipecahkan. Seluruh langkah ini (5 langkah) oleh Popper disebut Epistomology Problem Solving. Untuk pemecahan masalah tersebut diperlukan kajian pustaka (inferensi logis) guna mendapatkan teori-teori yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah.<br />
b.	Langkah kedua. Selanjutnya dari teori disusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis diperlukan metode deduksi logis.<br />
c.	Langkah ketiga. Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis perlu adanya observasi. Sebelum melakukan observasi perlu melakukan interpretasi teori yang digunakan sebagai landasan penyusunan hipotesis dalam penelitian adalah penyusunan kisi-kisi/dimensi-dimensi, kemudian penyusunan instrumen pengumpulan data, penetapan sampel dan penyusunan skala.<br />
d.	Langkah keempat. Setelah observasi, selanjutnya melakukan pengukuran (assessment), penetapan sampel, estimasi kriteria (parameter estimation). Langkah tersebut dilakukan guna mendapatkan generalisasi empiris (empirical generalization).<br />
e.	Langkah kelima. Generalisasi emperis tersebut pada hakekatnya merupakan hasil pembuktian hipotesis. Apabila hipotesis benar akan memperkuat teori (verifikasi). Apabila hipotesis tidak terbukti akan memperlemah teori (falsifikasi).<br />
f.	Langkah keenam. Hasil dari generalisasi empiris tersebut dipergunakan sebagai bahan untuk pembentukan konsep, pembentukan proposisi. Pembentukan atau penyusunan proposisi ini dipergunakan untuk memperkuat atau memantapkan teori, atau menyusun teori baru apabila hipotesis tidak terbukti.</p>
<p>2.	BEDA ILMU PENGETAHUAN DAN PENGETAHUAN<br />
a.	Pendahuluan<br />
Ilmu pengetahuan (science) mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau dapat juga disebut common sense). Orang awam tidak memahami atau tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan mugkin mereka menyamakan dua pengertian tersebut. Tentang perbedaan antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan akan dicoba dibahas disini.<br />
Mempelajari apa itu ilmu pengetahuan itu berarti mempelajari atau membahas esensi atau hakekat ilmu pengetahuan. Demikian pula membahas pengetahuan itu juga berarti membahas hakekat pengetahuan. Untuk itu kita perlu memahami serba sedikit Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dengan mempelajari Filsafat Ilmu Pengetahuan di samping akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga makin menyempit dan eksklusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka perspektif (wawasan) yang luas, sehingga kita dapat menghargai ilmu-ilmu lain, dapat berkomunikasi dengan ilmu-ilmu lain. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara interdisipliner. Sebelum kita membahas hakekat ilmu pengetahuan dan perbedaannya dengan pengetahuan, terlebih dahulu akan dikemukakan serba sedikit tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan.</p>
<p>b.	Perkembangan Ilmu Pengetahuan<br />
Mempelajari sejarah ilmu pengetahuan itu penting, karena dengan mempelajari hal tersebut kita dapat mengetahui tahap-tahap perkembangannya. Ilmu pengetahuan tidak langsung terbentuk begitu saja, tetapi melalui proses, melalui tahap-tahap atau periode-periode perkembangan.<br />
a)	Periode Pertama (abad 4 sebelum Masehi)<br />
Perintisan “Ilmu pengetahuan” dianggap dimulai pada abad 4 sebelum Masehi, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan mulai abad 4 sebelum Masehi. Abad 4 sebelum Masehi merupakan abad terjadinya pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos, dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat rasional. Dalam persepsi mitos, dunia atau kosmos dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan magis, mistis. Atau dengan kata lain, dunia dijelaskan oleh faktor-faktor luar (eksternal). Sedang dalam persepsi rasional, dunia dianalisis dari faktor-faktor dalam (internal). Atau dengan kata lain, dunia dianalisis dengan argumentasi yang dapat diterima secara rasional atau akal sehat. Analisis rasional ini merupakan perintisan analisis secara ilmiah, tetapi belum dapat dikatakan ilmiah.<br />
Pada periode ini tokoh yang terkenal adalah Aristoteles. Persepsi Aristoteles tentang dunia adalah sebagai berikut: dunia adalah ontologis atau ada (eksis). Sebelum Aristoteles dunia dipersepsikan tidak eksis, dunia hanya menumpang keberadaan dewa-dewa. Dunia bukan dunia riil, yang riil adalah dunia ide. Menurut Aristoteles, dunia merupakan substansi, dan ada hirarki substansi-substansi. Substansi adalah sesuatu yang mandiri, dengan demikian dunia itu mandiri. Setiap substansi mempunyai struktur ontologis. Dalam struktur ontologis terdapat 2 prinsip, yaitu: 1) Akt: menunjukkan prinsip kesempurnaan (realis); 2) Potensi: menunjukkan prinsip kemampuannya, kemungkinannya (relatif). Setiap benda sempurna dalam dirinya dan mempunyai kemungkinan untuk mempunyai kesempurnaan. Perubahan terjadi bila potensi berubah, dan perubahan tersebut direalisasikan.</p>
<p>Pandangan Aristoteles yang dapat dikatakan sebagai awal dari perintisan “ilmu pengetahuan” adalah hal-hal sebagai berikut:<br />
1)	Hal Pengenalan<br />
Menurut Aristoteles terdapat dua macam pengenalan, yaitu:                 (1) pengenalan inderawi; (2) pengenalan rasional. Menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberi pengetahuan tentang hal-hal yang kongkrit dari suatu benda. Sedang pengenalan rasional dapat mencapai hakekat sesuatu, melalui jalan abstraksi.<br />
2)	Hal Metode<br />
Selanjutnya, menurut Aristoteles, “ilmu pengetahuan” adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau hukum-hukum bukan objek-objek eksternal atau fakta. Penggunaan prinsip atau hukum berarti berargumentasi (reasoning). Menurut Aristoteles, mengembangkan “ilmu pengetahuan” berarti mengembangkan prinsip-prinsip, mengembangkan “ilmu pengetahuan” (teori) tidak terletak pada akumulasi data tetapi peningkatan kualitas teori dan metode. Selanjutnya, menurut Aristoteles, metode untuk mengembangkan “ilmu pengetahuan” ada dua, yaitu: (1) induksi intuitif yaitu mulai dari fakta untuk menyusun hukum (pengetahuan universal); (2) deduksi (silogisme) yaitu mulai dari pengetahuan universal menuju fakta-fakta.</p>
<p>b)	Periode Kedua (abad 17 sesudah Masehi)<br />
Pada periode yang kedua ini terjadi revolusi ilmu pengetahuan karena adanya perombakan total dalam cara berpikir. Perombakan total tersebut adalah sebagai berikut:<br />
Apabila Aristoteles cara berpikirnya bersifat ontologis rasional, Gallileo Gallilei (tokoh pada awal abad 17 sesudah Masehi) cara berpikirnya bersifat analisis yang dituangkan dalam bentuk kuantitatif atau matematis. Yang dimunculkan dalam berfikir ilmiah Aristoteles adalah berpikir tentang hakekat, jadi berpikir metafisis (apa yang berada di balik yang nampak atau apa yang berada di balik fenomena).</p>
<p>Abad 17 meninggalkan cara berpikir metafisis dan beralih ke elemen-elemen yang terdapat pada sutau benda, jadi tidak mempersoalkan hakikat. Dengan demikian bukan substansi tetapi elemen-elemen yang merupakan kesatuan sistem. Cara berpikir abad 17 mengkonstruksi suatu model yaitu memasukkan unsur makro menjadi mikro, mengkonstruksi suatu model yang dapat diuji coba secara empiris, sehingga memerlukan adanya laboratorium. Uji coba penting, untuk itu harus membuat eksperimen. Ini berarti mempergunakan pendekatan matematis dan pendekatan eksperimental. Selanjutnya apabila pada jaman Aristoteles ilmu pengetahuan bersifat ontologis, maka sejak abad 17, ilmu pengetahuan berpijak pada prinsip-prinsip yang kuat yaitu jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly) serta disatu pihak berpikir pada kesadaran, dan pihak lain berpihak pada materi. Prinsip jelas dan terpilah-pilah dapat dilihat dari pandangan Rene Descartes (1596-1650) dengan ungkapan yang terkenal, yaitu Cogito Ergo Sum, yang artinya karena aku berpikir maka aku ada. Ungkapan Cogito Ergo Sum adalah sesuatu yang pasti, karena berpikir bukan merupakan khayalan. Suatu yang pasti adalah jelas dan terpilah-pilah. Menurut Descartes pengetahuan tentang sesuatu bukan hasil pengamatan melainkan hasil pemeriksaan rasio (dalam Hadiwijono, 1981). Pengamatan merupakan hasil kerja dari indera (mata, telinga, hidung, dan lain sebagainya), oleh karena itu hasilnya kabur, karena ini sama dengan pengamatan binatang. Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Pangkal pemikiran yang pasti menurut Descartes dikemukakan melalui keragu-raguan. Keragu-raguan menimbulkan kesadaran, kesadaran ini berada di samping materi. Prinsip ilmu pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain berpijak pada materi juga dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808). Menurut Immanuel Kant ilmu pengetahuan itu bukan merupakan pangalaman terhadap fakta saja, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh rasio.</p>
<p>Agar dapat memahami pandangan Immanuel Kant tersebut perlu terlebih dahulu mengenal pandangan rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman. Menurut Immanuel Kant, baik rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan keterpaduan atau sintesa antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori (dalam Bertens, 1975). Oleh karena itu Kant berpendapat bahwa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek. Sehingga dapat dikatakan menurut Kant ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman saja, tetapi hasil konstruksi oleh rasio.<br />
Inilah pandangan Rene Descartes dan Immanuel Kant yang menolak pandangan Aristoteles yang bersifat ontologis dan metafisis. Banyak tokoh lain yang meninggalkan pandangan Aristoteles, namun dalam makalah ini cukup mengajukan dua tokoh tersebut, kiranya cukup untuk menggambarkan adanya pemikiran yang revolusioner dalam perkembangan ilmu pengetahuan.</p>
<p>c.	Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Pengetahuan<br />
Terdapat beberapa definisi ilmu pengetahuan, di antaranya adalah:<br />
a)	Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.<br />
Definisi ini tidak diterima karena mencampuradukkan ilmu pengetahuan dan teknologi.<br />
b)	Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia material.<br />
Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat materi.<br />
c)	Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.<br />
Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak hanya hasil/metode eksperimental semata, tetapi juga hasil pengamatan, wawancara. Atau dapat dikatakan definisi ini tidak memberikan tali pengikat yang kuat untuk menyatukan hasil eksperimen dan hasil pengamatan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995).<br />
d)	Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris.<br />
Definisi ini mempergunakan metode induksi yaitu membangun prinsip-prinsip umum berdasarkan berbagai hasil pengamatan. Definisi ini memberikan tempat adanya hipotesa, sebagai ramalan akan hasil pengamatan yang akan datang. Definisi ini juga mengakui pentingnya pemikiran spekulatif atau metafisik selama ada kesesuaian dengan hasil pengamatan. Namun demikian, definisi ini tidak bersifat hitam atau putih. Definisi ini tidak memberi tempat pada pengujian pengamatan dengan penelitian lebih lanjut.<br />
Kebenaran yang disimpulkan dari hasil pengamatan empiris hanya berdasarkan kesimpulan logis berarti hanya berdasarkan kesimpulan akal sehat. Apabila kesimpulan tersebut hanya merupakan akal sehat, walaupun itu berdasarkan pengamatan empiris, tetap belum dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan tetapi masih pada taraf pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukanlah hasil dari kesimpulan logis dari hasil pengamatan, namun haruslah merupakan kerangka konseptual atau teori yang memberi tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian diterima secara universal. Ini berarti terdapat adanya kesepakatan di antara para ahli terhadap kerangka konseptual yang telah dikaji dan diuji secara kritis atau telah dilakukan penelitian atau percobaan terhadap kerangka konseptual tersebut.<br />
Berdasarkan pemahaman tersebut maka pandangan yang bersifat statis ekstrim, maupun yang bersifat dinamis ekstrim harus kita tolak. Pandangan yang bersifat statis ekstrim menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan cara menjelaskan alam semesta di mana kita hidup. Ini berarti ilmu pengetahuan dianggap sebagai pabrik pengetahuan. Sementara pandangan yang bersifat dinamis ekstrim menyatakan ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadi dasar munculnya kegiatan lebih lanjut. Jadi ilmu pengetahuan dapat diibaratkan dengan suatu laboratorium. Bila kedua pandangan ekstrim tersebut diterima, maka ilmu pengetahuan akan hilang musnah, ketika pabrik dan laboratorium tersebut ditutup.<br />
Ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan pengetahuan semesta alam atau kegiatan yang dapat dijadikan dasar bagi kegiatan yang lain, tetapi merupakan teori, prinsip, atau dalil yang berguna bagi pengembangan teori, prinsip, atau dalil lebih lanjut, atau dengan kata lain untuk menemukan teori, prinsip, atau dalil baru. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai berikut:<br />
Ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih lanjut (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). Pengertian percobaan di sini adalah pengkajian atau pengujian terhadap kerangka konseptual, ini dapat dilakukan dengan penelitian (pengamatan dan wawancara) atau dengan percobaan (eksperimen).<br />
Selanjutnya John Ziman menjelaskan bahwa definisi tersebut memberi tekanan pada makna manfaat, mengapa? Kesahihan gagasan baru dan makna penemuan eksperimen baru atau juga penemuan penelitian baru (menurut penulis) akan diukur hasilnya yaitu hasil dalam kaitan dengan gagasan lain dan eksperimen lain. Dengan demikian ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai pencarian kepastian, melainkan sebagai penyelidikan yang berhasil hanya sampai pada tingkat yang bersinambungan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995).<br />
Bila kita analisis lebih lanjut perlu dipertanyakan mengapa definisi ilmu pengetahuan di atas menekankan kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru, berarti juga menghasilkan penelitian baru yang pada gilirannya menghasilkan teori baru dan seterusnya – berlangsung tanpa berhenti. Mengapa ilmu pengetahuan tidak menekankan penerapannya? Seperti yang dilakukan para ahli fisika dan kimia yang hanya menekankan pada penerapannya yaitu dengan mempertanyakan bagaimana alam semesta dibentuk dan berfungsi? Bila hanya itu yang menjadi penekanan ilmu pengetahuan, maka apabila pertanyaan itu sudah terjawab, ilmu pengetahuan itu akan berhenti. Oleh karena itu, definisi ilmu pengetahuan tidak berorientasi pada penerapannya melainkan pada kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru atau penelitian baru, dan pada gilirannya menghasilkan teori baru.<br />
Para ahli fisika dan kimia yang menekankan penerapannya pada hakikatnya bukan merupakan ilmu pengetahuan, tetapi merupakan akal sehat (common sense). Selanjutnya untuk membedakan hasil akal sehat dengan ilmu pengetahuan William James yang menyatakan hasil akal sehat adalah sistem perseptual, sedang hasil ilmu pengetahuan adalah sistem konseptual (Conant J. B. dalam Qadir C. A., 1995). Kemudian bagaimana cara untuk memantapkan atau mengembangkan ilmu pengetahuan? Berdasarkan definisi ilmu pengetahuan tersebut di atas maka pemantapan dilakukan dengan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan.<br />
Perlu dipertanyakan pula bagaimana hubungan antara akal sehat yang menghasilkan perseptual dengan ilmu pengetahuan sebagai konseptual. Jawabannya adalah akal sehat yang menghasilkan pengetahuan merupakan premis bagi pengetahuan eksperimental (Conant, J.B. dalam Qadir C.A., 1995). Ini berarti pengetahuan merupakan masukan bagi ilmu pengetahuan, masukan tersebut selanjutnya diterima sebagai masalah untuk diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian dapat berbentuk teori baru.<br />
Sedangkan Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science).<br />
Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:<br />
1)	Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.<br />
2)	Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik.<br />
Penelitian ilmiah bertujuan untuk mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal. Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data  bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.<br />
3)	Dalam menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan.<br />
Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.<br />
4)	Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.<br />
5)	Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.<br />
6)	Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur.<br />
Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera.</p>
<p>Dari berbagai uraian berdasarkan pandangan tokoh-tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal.<br />
Sedang pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal.</p>
<p>d.	Proses Terbentuknya Ilmu Pengetahuan<br />
a)	Syarat-syarat Ilmu Pengetahuan Ilmiah<br />
Agar dapat diuraikan proses terbentuknya ilmu pengetahuan ilmiah, perlu terlebih dahulu diuraikan syarat-syarat ilmu pengetahuan ilmiah.<br />
Menurut Karlina Supeli Laksono dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan (Epsitomologi) pada Pascasarjana Universitas Indonesia tahun 1998/1999, ilmu pengetahuan ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu:<br />
1)	Sistematik; yaitu merupakan kesatuan teori-teori yang tersusun sebagai suatu sistem.<br />
2)	Objektif; atau dikatakan pula sebagai intersubjektif, yaitu teori tersebut terbuka untuk diteliti oleh orang lain/ahli lain, sehingga hasil penelitian bersifat universal.<br />
3)	Dapat dipertanggungjawabkan; yaitu mengandung kebenaran yang bersifat universal, dengan kata lain dapat diterima oleh orang-orang lain/ahli-ahli lain. Tiga syarat ilmu pengetahuan tersebut telah diuraikan secara lengkap pada sub bab di atas.</p>
<p>Pandangan ini sejalan dengan pandangan Parsudi Suparlan yang menyatakan bahwa Metode Ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Selanjutnya dinyatakan bahwa penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Sedangkan penelitian ilmiah harus dilakukan secara sistematik dan objektif (Suparlan P., 1994). Penelitian ilmiah sebagai pelaksanaan metode ilmiah harus sestematik dan objektif, sedang metode ilmiah merupakan suatu kerangka bagi terciptanya ilmu pengetahuan ilmiah. Maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan juga mempersyaratkan sistematik dan objektif.<br />
Sebuah teori pada dasarnya merupakan bagian utama dari metode ilmiah. Suatu kerangka teori menyajikan cara-cara mengorganisasikan dan menginterpretasi-kan hasil-hasil penelitian, dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya. Jadi peranan metode ilmiah adalah untuk menghubungkan penemuan-penemuan ilmiah dari waktu dan tempat yang berbeda. Ini berarti peranan metode ilmiah melandasi corak pengetahuan ilmiah yang sifatnya akumulatif. Dari uraian tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa proses terbentuknya ilmu pengetahuan ilmiah melalui metode ilmiah yang dilakukan dengan penelitian-penelitian ilmiah.<br />
Pembentukan ilmu pengetahuan ilmiah pada dasarnya merupakan bagian yang penting dari metode ilmiah. Suatu ilmu pengetahuan ilmiah menyajikan cara-cara pengorganisasian dan penginterpretasian hasil-hasil penelitian, dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya oleh peneliti lain. Ini berarti bahwa ilmu pengetahuan ilmiah merupakan suatu proses akumulasi dari pengetahuan. Di sini peranan metode ilmiah penting yaitu menghubungkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah dari waktu dan tempat yang berbeda. Walaupun dalam ilmu pengetahuan alam (sains) metode ilmiah menekankan metode induktif guna mengadakan generalisasi atas fakta-fakta khusus dalam rangka penelitian, penciptaan teori dan verifikasi, tetapi dalam ilmu-ilmu sosial, baik metode induktif maupun deduktif sama-sama penting. Walaupun fakta-fakta empirik itu penting peranannya dalam metode ilmiah namun kumpulan fakta itu sendiri tidak menciptakan teori atau ilmu pengetahuan (Suparlan P., 1994). Jadi jelaslah bahwa ilmu pengetahuan bukan merupakan kumpulan pengetahuan atau kumpulan fakta-fakta empirik. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena fakta-fakta empirik itu sendiri agar mempunyai makna, fakta-fakta tersebut harus ditata, diklasifikasi, dianalisis, digeneralisasi berdasarkan metode yang berlaku serta dikaitkan dengan fakta yang satu dengan yang lain.<br />
Dalam ilmu-ilmu sosial prinsip objektivitas merupakan prinsip utama dalam metode ilmiahnya. Hal ini disebabkan ilmu sosial berhubungan dengan kegiatan manusia sebagai mahluk sosial dan budaya sehingga tidak terlepas adanya hubungan perasaan dan emosional antara peneliti dengan pelaku yang diteliti.<br />
Untuk menjaga objektivitas metode ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial berlaku prinsip-prinsip sebagai berikut:<br />
a)	Ilmuwan harus mendekati sasaran kajiannya dengan penuh keraguan dan skeptis.<br />
b)	Ilmuwan harus objektif yaitu membebaskan dirinya dari sikap, keinginan, kecenderungan untuk menolak, atau menyukai data yang dikumpulkan.<br />
c)	Ilmuwan harus bersikap netral, yaitu dalam melakukan penilaian terhadap hasil penemuannya harus terbebas dari nilai-nilai budayanya sendiri. Demikian pula dalam membuat kesimpulan atas data yang dikumpulkan jangan dianggap sebagai data akhir, mutlak, dan merupakan kebenaran universal (Suparlan P., 1994).<br />
Sedang pelaksanaan penelitian yang berpedoman pada metode ilmiah hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:<br />
a)	Prosedur penelitian harus terbuka untuk diperiksa oleh peneliti lainnya.<br />
b)	Definisi-definisi yang dibuat adalah benar dan berdasarkan konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada/baku.<br />
c)	Pengumpulan data dilakukan secara objektif, yaitu dengan menggunakan metode-metode penelitian ilmiah yang baku.<br />
d)	Hasil-hasil penemuannya akan ditentukan ulang oleh peneliti lain bila sasaran, masalah, pendekatan, dan prosedur penelitiannya sama (Suparlan P., 1994).</p>
<p>b)	Metode Penelitian Ilmiah<br />
Pada dasarnya metode penelitian ilmiah untuk ilmu-ilmu sosial dapat dibedakan menjadi dua golongan pendekatan, yaitu: (1) pendekatan kuantitatif; (2) pendekatan kualitatif.<br />
1)	Pendekatan Kuantitatif<br />
Landasan berpikir dari pendekatan kuantitatif adalah filsafat positivisme yang dikembangkan pertama kali oleh Emile Durkheim (1964). Pandangan dari filsafat positivisme ini yaitu bahwa tindakan-tindakan manusia terwujud dalam gejala-gejala sosial yang disebut fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial tersebut harus dipelajari secara objektif, yaitu dengan memandangnya sebagai benda, seperti benda dalam ilmu pengetahuan alam.</p>
<p>Caranya dengan melakukan observasi atau mengamati sesuatu fakta sosial, untuk melihat kecenderungan-kecenderungannya, menghubungkan dengan fakta-fakta sosial lainnya, dengan demikian kecenderungan-kecenderungan suatu fakta sosial tersebut dapat diidentifikasi. Penggunaan data kuantitatif diperlukan dalam analisa yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya demi tercapainya ketepatan data dan ketepatan penggunaan model hubungan variabel bebas dan variabel tergantung (Suparlan P., 1997).<br />
2)	Pendekatan Kualitatif<br />
Landasan berpikir dalam pendekatan kualitatif adalah pemikiran Max Weber (1997) yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan hanya gejala-gejala sosial, tetapi juga dan terutama makna-makna yang terdapat di balik tindakan-tindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut. Oleh karena itu, metode yang utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah Verstehen atau pemahaman (jadi bukan Erklaren atau penjelasan). Agar dapat memahami makna yang ada dalam suatu gejala sosial, maka seorang peneliti harus dapat berperan sebagai pelaku yang ditelitinya, dan harus dapat memahami para pelaku yang ditelitinya agar dapat mencapai tingkat pemahaman yang sempurna mengenai makna-makna yang terwujud dalam gejala-gejala sosial yang diamatinya (Suparlan P., 1997).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=167&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/08/03/epistemologi-filsafat-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/259a08adcc487361d0dc80fe6adc56af?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsafatindonesia1001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SESATNYA PEMUJA SYAITAN</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/sesatnya-pemuja-syaitan/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/sesatnya-pemuja-syaitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 15:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[SEKTE MISTIK PEMUJA SETAN Kita mengenal banyak aliran mistik pemuja setan yang bisa digolongkan menjadi tiga aliran. Dengan mengetahui apa dan bagaimana praktik keyakinan mereka yang mengerikan, semoga kita tidak menjadi bagian di dalamnya. Di dunia ini, manusia tidak hanya menyembah Tuhan. Namun juga ada yang menyembah kepada selain Tuhan. Misalnya penyembahan kepada setan atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=165&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEKTE MISTIK PEMUJA SETAN<br />
Kita mengenal banyak aliran mistik pemuja setan yang bisa digolongkan menjadi tiga aliran. Dengan mengetahui apa dan bagaimana praktik keyakinan mereka yang mengerikan, semoga kita tidak menjadi bagian di dalamnya.<br />
Di dunia ini, manusia tidak hanya menyembah Tuhan. Namun juga ada yang menyembah kepada selain Tuhan. Misalnya penyembahan kepada setan atau biasa disebut dengan Setanisme. Penyembahan kepada setan ini untuk pertama kalinya dipopulerkan secara sistematis dan terorganisasi oleh Aleister Crowley (1875-1947).<br />
Pengalaman dirinya mempelajari aliran kebatinan, khususnya tradisi mistik kuno Yahudi yang disebut Kabalah telah mengantarkan Crowley menjadi anggota Order of the Golden Dawn, sebuah organisasi yang mempelajari dan mengembangkan ajaran mistik dan ikut mengembangkan organisasi freemason sebagai organisasi “lelaki jantan” yang memilih dan mengembangkannya sebagai organisasi yang sangat ketat untuk membangun lelaki yang kuat, cerdas, dan mempunyai daya pikat. Crowley dianggap sebagai penggagas pertama lahirnya ajaran setanisme dan bertujuan untuk mempersatukan atau melebur semua agama yang ada di dunia.<br />
Ajaran dan pemikiran tentang setanisme ini dituangkan dalam tulisannya yang diberi judul Liber Legis yang intinya mengajarkan kebebasan manusia sebagai inti kehidupan. Dia menekankan bahwa hidup yang sebenarnya harus terbebaskan dari segala ikatan peraturan, sebagaimana ditulisnya: “Tidak ada hukum, kerjakanlah apa yang kau inginkan. Jadilah kuat, sang laki-laki! Nikmati dan reguklah dengan sepuasnya segala kegairahan nafsu, jangan takut dengan Tuhan karena perbuatanmu itu.”<br />
Aleister Crowley adalah orang yang kontroversial dan menjadi simbol kepribadian tokoh dalam era baru sihir modern. Pers dunia menyebut dia sebagai “The Great Beast” dan “Manusia terkeji di dunia”. Diakui oleh banyak kalangan bahwa Crowley adalah seorang penyihir yang kuat yang memiliki kharisma bagi pengikutnya. Crowley tinggal di sebuah komunitas misterius yang kecil namun komunitas itu bisa memahami dirinya sebagai seorang yang jenius.<br />
Crowley lahir dengan nama Edward Alexander Crowley pada 12 Oktober 1875 – 1 Desember 1947. Dia adalah seorang penulis, hedonis, penggemar catur, pemanjat gunung, dan revolusioner seksual dari Inggris. Ia dilahirkan di Clarendon Square di Royal Leamington Spa, Warwickshire nomer 36.<br />
Ayahnya, Edward Crowley dan ibunya, Emily Bertha Bishop, adalah keturunan dari keluarga kaya Devon/Somerset. Keluarga Edward Crowley memiliki usaha pembuatan minuman bir. Mereka juga taat setia pada agama Kristen dan anggota sekte Plymouth Brethren. Crowley muda dibesarkan dalam suasana yang saleh beragama. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 11 tahun.<br />
Setelah kematian ayahnya, Crowley mewarisi kekayaan keluarga dan melanjutkan untuk belajar di Trinity College Cambridge. Di sana ia menulis dan belajar puisi. Dia menyukai pendakian gunung hingga puncak tertinggi di Himalaya. Pada tahun 1898 ia menerbitkan buku puisi pertamanya “Aceldama, A Place to Bury Strangers Dalam”, sebuah puisi filosofis. Dalam kata pengantar dia menggambarkan bagaimana Allah dan setan telah berjuang demi jiwanya dan menyatakan: “Allah menaklukkan dan sekarang saya hanya punya satu keraguan yang tersisa – bahwa setan itu kembaran Allah”.<br />
Ketika berada di Trinity College inilah, Crowley tertarik pada okultisme dari dengan teman sekamarnya Allan Bennett, mereka mulai mempelajari mistisisme. Crowley anehnya gembira saat melihat penyiksaan dan darah. Ia suka mengkhayalkan tentang direndahkan dan dilecehkan oleh ‘Scarlet Perempuan’, salah satu yang dominan, jahat dan mandiri.<br />
Salah satu buku yang dia sukai adalah karya penulis Arthur Edward Waite, yang berjudul “The Book of Black Magic”. Buku ini mengisyaratkan persaudaraan rahasia para okultis dan Crowley tertarik. Dia menulis kepada Waite untuk meminta informasi lebih lanjut. Oleh Waite dia disarankan membaca buku “The Cloud di atas Sanctuary karya Karl von Exkartshausen.<br />
Buku ini menceritakan tentang “Great White Brotherhood” dan Crowley bertekad ia ingin bergabung dengan grup ini dan maju ke tingkat tertinggi. Kemudian tahun pada 18 November 1898, ia dan Bennett bergabung dengan ‘Hermetik Order of the Golden Dawn “.<br />
Crowley pada tahun 1899 juga dilaporkan telah menjadi anggota salah satu dari perkumpulan George Pickingill’s terletak di New Forrest, walaupun tampaknya dia tidak diterima untuk waktu yang lama. Di sana ia memperoleh gelar ‘Kedua Gelar’ sebelum diberhentikan karena ia menghina perempuan, kegagalan untuk menghadiri upacara dengan keteraturan, ego pribadinya dan penyimpangan seksual (Crowley punya kebiasaan aneh, selain homoseksual juga perilaku mengejutkan bahkan di antara para penyihir. Seorang pendeta bahkan pernah menggambarkan dia sebagai raksasa kecil yang ganas, berpikiran kotor dan jahat.<br />
Ia juga dilaporkan dipecat oleh penyihir New Forrest karena dirasa mengganggu kelompok Golden Dawn. Saat itu Crowley pindah dari Trinity Kolase tanpa mendapatkan gelar sarjana, dan mengambil sebuah flat di Chancery Lane, London. Di sana ia mengganti namanya menjadi ‘Count Vladimir’ dan mulai mengajar klenik pada penuh waktu. Crowley memiliki bakat alami untuk sihir dan maju dengan cepat melalui jajaran Golden Dawn, tetapi pemimpin pondok London menganggapnya tidak cocok untuk kemajuan ke urutan kedua.<br />
Crowley pergi ke Paris pada 1899 untuk bertemu S.L. MacGregor Mathers, yang kemudian menjadi kepala Ordo dan bersikeras bahwa dia akan memulai ke Orde kedua. Pada waktu itu Mathers mengalami perpecahan dari aturan mutlak di Pondok London.<br />
Mathers beranggapan Crowley adalah seorang calon yang penyihir kuat dan sangat kompetitif. Mathers mengajarkan pada Crowley sihir yang namanya AbraMelin namun saat diuji, Crowley dianggap belum mencapai nilai A. Mereka akhirnya bertengkar terus-menerus dan diduga terlibat dalam perang supranatural. Mathers mengirim vampir astral untuk menyerang Crowley yang menanggapi dengan pasukan setan yang dipimpin oleh Beelzebub.<br />
Pada April 1900, Mathers karena membuat masalah dalam pondok London, Crowley dikirim kembali ke Inggris sebagai ‘Special Envoy’ di mana ia membuat usaha yang gagal. Tak lama kemudian Mathers juga diusir. Crowley mulai melakukan perjalanan, terutama di Timur Okultisme Timur mempelajari sistem dan ‘Tantra Yoga’; ia juga belajar ‘Buddha’ dan ‘I Ching’. Lalu untuk beberapa waktu, ia tinggal di desa terpencil dekat Loch Ness di Skotlandia.<br />
Pada tahun 1903 ia bertemu dan kemudian menikah dengan Edith Rose Kelly, adik dari artis terkenal Sir Gerald Kelly. Ia melahirkan satu anak. Sementara mereka berlibur di Mesir tahun berikutnya, April 1904, dia dan Rose mengambil bagian dalam ritual magis dan mengaku menerima pesan dari Allah. Sebagai hasil dari komunikasi ini dia menuliskan tiga bab pertama dari bukunya yang paling terkenal “Liber legis, Kitab Undang-Undang”. Buku ini memuat diktum yang sering dikutip: “Lakukan apa yang kamu sekali-kali akan menjadi seluruh Undang-undang. Cinta adalah Hukum, Cinta di bawah Kehendak”. Inilah intisari ajaran Crowley.<br />
Di tahun 1909, Crowley mulai menjelajahi tingkat astral dengan asistennya, seorang penyair yang disebut “Victor Neuberg”. Mereka mengunakan sihir Enochian. Crowley percaya saat itu ia menyeberangi jurang maut dan bersatu kesadarannya dengan kesadaran universal. Dia menggambarkan perjalanan astral dalam “Visi dan suara”, yang pertama kali diterbitkan dalam majalah “The Equinox” pada 1949.<br />
Seakan tak pernah jauh dari kontroversi pada tahun 1909 hingga 1913, Crowley menulis secara berseri ritual rahasia Golden Dawn dalam majalah ‘di Equinox’, yang juga digunakan sebagai media untuk menulis puisi-puisinya.<br />
Crowley cepat menjadi terkenal sebagai penyihir hitam dan setan. Ia terang-terangan mengidentifikasi dirinya dengan angka 666, nomor Alkitabiah yang Antikristus. Ia juga terus bersama melakukan serangkaian acara ritual bersama para Penyihir Perempuan’; di antaranya yaitu Leah Hirsig, yang disebutnya “Ape dari Thoth”. Bersama-sama mereka menikmati sesi minum, obat-obatan dan sihir seksual. Hal ini diyakini bahwa Crowley melakukan beberapa upaya dengan beberapa perempuan ini untuk melahirkan seorang ‘anak sihir’. Upayanya ini ditulis dalam sebuah buku berjudul “Moonchild”, yang diterbitkan pada tahun 1929.<br />
Pada tahun 1912 Croeley terlibat dengan bagian Inggris OTO (Ordo Bait Allah yang Orientis atau Ordo Bait Timur), sebuah tatanan okultisme Jerman yang berlatih sihir. Dia kemudian pindah dan tinggal di Amerika pada 1915-1919 dan bergerak lagi pada tahun 1920 ke Sisilia di mana dia mendirikan Biara Thelema yang terkenal di Cefalu.<br />
Di Sisilia ia melibatkan diri dalam media klenik berbahasa Italia dan pada 1922 menjadi kepala ‘Ordo Bait Allah Orientis’. Namun (seperti yang ia lakukan secara rutin) dia mulai menarik lebih banyak publisitas buruk. Pers mengutuk dirinya sebagai “Manusia Terkeji di Dunia” karena mengajarkan sekte setan di Biara. Efeknya pada tahun 1923, Mussolini penguasa Italia mengusirnya dari Sisilia.<br />
Crowley bertanya-tanya kemana dia harus pergi. Untuk sementara waktu ia mengunjungi tempat-tempat seperti Tunisia dan Jerman sebelum menetap selama beberapa waktu di Prancis. Sementara di Perancis, ia terlibat sebagai sekretaris pesulap Israel Regardie. Regardie mengenalkan Crowley dan memainkan peran penting dalam mengungkap ritual lengkap dari ‘Golden Dawn’ kepada publik. Crowley terus melakukan perjalanan keliling Eropa selama beberapa waktu ia yang semakin kecanduan heroin, sebuah kebiasaan yang membuatnya menderita selama sisa hidupnya. Kembali ke Inggris pada tahun 1929 ia bertemu dan menikah dengan istri keduanya ‘Maria Ferrari de Miramar’. Perkawinan berlangsung di Leipzig, Jerman.<br />
Pada tahun 1932 Crowley bertemu dengan ‘Sybil Leek’ penyihir terkenal dan menjadi sering berkunjung ke rumahnya. Bertemu penyihir Sybil dituliskan dalam otobiografinya “Buku harian seorang penyihir” – (New York: Signet, 1969), dimana Crowley bercerita tentang sihir. Dia mengajarinya mantra, kata-kata kekuasaan, dan menyuruhnya menggunakan kata-kata tertentu untuk mendapai kualitas getaran ketika melakukan tenung.<br />
Sudah terkenal di kalangan pers, Crowley semakin terkenal karena terlibat dalam kasus pencemaran nama baik dan sensasional. Pada 1934 sebelum Mr Justice Swift, ia menggugat Nina Hamnett ahli patung yang menonjol. Nina telah menerbitkan buku “Laughing Torso” (Constable and Co, London, 1932) di mana Crowley mengatakan kepada Nina ia berlatih sihir hitam. Ketika kasus berjalan Crowley kalah dan dipaksa bangkrut.<br />
Tahun 1946, seorang teman Crowley, Arnold Crowther memperkenalkan Crowley dengan Gerald B. Gardner. Pertemuan dengan Gardner kemudian mengakibatkan kontroversi keaslian buku tulisan Gardner ‘Book of Shadows’. Diduga, Crowley telah dibayar Gardner untuk menulis untuknya. Buku itu berisi catatan ritual yang digunakan dalam ‘Old George Pickingill’s’ covens di kawasan Forrest Baru.<br />
Pada saat rapat dengan Gerald Gardner, Crowley telah menjadi laki-laki tua yang lemah yang hidup di sebuah hotel di Hastings. Ia sudah tergantung dengan obat-obatan. Pada tanggal 1 Desember 1947 ia meninggal dunia tanpa pernah tobat dan tidak pernah tunduk pada agama. Dia meninggalkan pesan agar jenazahnya dikremasi dan dilakukan sebuah tradisi ritual ‘Hymn to Pan’. Pesan lainnya, ia meminta agar tulisan-tulisannya harus diwartakan dari mimbar kepada para muridnya. Dan abunya itu harus dikirim kepada murid-muridnya di Amerika.<br />
Dalam banyak hal Aleister Crowley dikatakan sebagai tokoh di era baru sihir modern. Pengetahuannya tentang sihir dan tenung yang mendalam diakui oleh masyarakat saat itu. Kini, banyak buku-buku Crowley telah dicetak ulang dan masyarakat menghargai dia sebagai orang jenius yang aneh. Memang sebagian dari buku-bukunya sekarang memperoleh status klasik. Ini termasuk: Gnostik Misa dan Kitab Undang-Undang (New York: Samuel Weiser, 1977) dari yang bagian yang terkenal “Mengisi Sang Dewi” yang ditulis oleh Doreen Valiente dan Magick in Theory and Practice, 777.<br />
PENERUS AJARAN CROWLEY<br />
Ajaran Crowley dikembangkan lebih modern dan terorganisasi rapi oleh Anto Sandorz LaVey yang mendirikan Church of Satan (Gereja Setan) pada tanggal 30 April 1966 yang dikenal dengan “hari setan” (Walpurgisnacht). Untuk menanamkan keyakinan kepada para pengikutnya, La Vey mengarang beberapa buku di antaranya: The Satanic Bible (1969), The Satanic Ritual (1969), dan The Complete Witch (1972).<br />
Organisasinya dikembangkan dengan sistem manajemen modern. Setiap daerah ditentukan hierarki gereja yang disebut grottos, pylons atau kuil. Ajaran setanisme ini menjungkirbalikkan seluruh tatanan keyakinan agama yang ada khususnya Kristen. Beberapa ajarannya adalah sebagai berikut.<br />
a. “Tuhan diciptakan sendiri oleh manusia dengan berbagai bentuk sesuai imajinasi manusia itu sendiri. Tuhan tidak ada, selama manusia berpikir bahwa Tuhan memang tidak ada”<br />
b. “Surga dan neraka tidak ada (heaven and hell do not exist).”<br />
c. “Setan bukanlah suatu wujud, melainkan sebuah kekuatan alam kosmik.”<br />
d. “Setan mempunyai berbagai nama antara lain Lucifer, Belial, dan Leviathan, disamping simbol-simbol lainnya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran setanisme, seperti Baphomet dan Jahbulon.”<br />
e. “Manusia adalah sentral perhatian, karena manusia merupakan bintang dalam struktur kosmik.”<br />
Ajaran setanisme yang ditawarkan oleh La Vey hanyalah bagian kecil saja dari sebuah konspirasi ideologi global yang menunjukkan kesombongan atau arogansi yang menantang dan sekaligus menafikan sistem iman umat beragama. Ajaran setanisme merupakan bentuk ideologi baru yang secara nyata menantang kaum beragama untuk memperkuat diri dari terpaan atau serangan mereka yang menyerbu dengan dahsyat dan mengguncang hati umat manusia.<br />
Andrea Porcarelli menulis, “Ajaran setan merupakan bentuk pemujaan diri yang dihubungkan dengan caranya yang radikal untuk melawan segala macam bentuk ketuhanan, khususnya gambaran Tuhan sebagaimana tertulis dalam Bibel.” Secara garis besar ajaran setanisme ini dapat dikelompokkan dalam tiga bagian besar, yaitu sebagai berikut:<br />
1. RELIGIOUS SATANISM. Bagi para pengikutnya, setan adalah sumber kehidupan dan kekuatan alam yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan akhirat. Setan memberikan arah dan ajaran untuk menikmati hidup yang nyata sebagai surga dan neraka. Dunia adalah tempat keduanya. Untuk itu, setanisme mengajarkan sekularisme murni dalam pengertian hidup hanya untuk hari ini, dan jangan percaya dengan kehidupan akhirat. Inilah agama setan. Agama yang nyata dan langsung menyentuh kehidupan manusia yang paling eksistensial tanpa diracuni oleh dogma-dogma. Dan, bagi para pangikutnya setanisme adalah benar-benar agama yang bukan dogma. Agama yang mengajarkan cara hidup merdeka, sebagaimana setan yang menunjukkan jati dirinya sebagai jiwa yang bebas merdeka dan demokratis. Setan berani melawan kehendak Tuhan sebagai bukti bahwa setan merupakan sebuah kekuatan natural yang ingin meningkatkan “martabat” manusia untuk berani melawan setiap penindasan. Bagi mereka setan adalah “bapaknya demokrasi” yang memberikan contoh keberanian, kejantanan kepada umat manusia, dengan cara. memprotes Tuhan, walaupun harus mengambil risiko terbuang dari surga.<br />
Agama Setanisme (atau Satanism) meliputi:<br />
* Pengakuan setan Kristen, Setan dalam aslinya.<br />
Bentuk pagan, atau dari Allah Mesir kuno Set, biasanya Asar sebagai prinsip bukan dewa.<br />
* Tidak ada pemujaan dewa yang diakui. Penekanan utama pada<br />
kekuasaan dan otoritas setan individu, bukan pada dewa.<br />
* Keyakinan bahwa “tidak ada penebus yang hidup” – bahwa setiap orang adalah penebus dosa mereka sendiri.<br />
* Orang-setan yang percaya setan atau Set sebagai entitas hidup tidak menyembah atau menunjukkan iman mereka kepada-Nya.<br />
* Keyakinan bahwa seseorang harus menjalani nafsu dan keinginan mereka, dan menjelajahi “tujuh dosa mematikan” dengan antusias.<br />
* Banyak keyakinan, praktik dan aturan-aturan perilaku yang bertentangan dengan doktrin semua agama.<br />
* Sebuah simbol Baphomet, yang merupakan kepala kambing, dibuat dalam suatu pentagram terbalik (5-bintang menunjuk dengan satu titik ke bawah dan dua atas). Sebuah lingkaran sering mengelilinginya.<br />
* Kedua simbol yang merupakan tanda infinity (angka 8 di dalam samping). Sebuah salib Roma ditempatkan di atas dengan kedua, ditambahkan sepotong salib.<br />
* Dua Satanic denominasi, banyak tradisi yang lebih kecil, dan banyak soliter praktisi yang tidak terafiliasi dengan organisasi Setan. Diperkirakan pengikutnya berjumlah total 20.000 orang dewasa di Amerika Utara.<br />
2. GOTHIC SATANISM. Ia merupakan bentuk ajaran setan yang menekankan pada bentuk-bentuk ritual, seperti pengorbanan, ritual mistik; dan sihir yang merupakan bagian dari tata cara ritual penyembahan kepada setan dalam bentuknya yang kuno dan primitif; sebagaimana terjadi pada abad pertengahan. Beberapa aliran dan simbol setan ini diambil atau diterapkan beberapa tata cara sebagaimana ritual atau sakramen yang berlaku di dalam gereja Kristiani. Mereka mengganti salib dengan membuat salib terbalik atau membuat lambang sendiri berupa gambar swastika; pentagram, dan sebagainya. Agama-agama pagan selalu memakai berbagai simbol amulet, sehingga ada beberapa sekte Kristen yang tidak memakai salib, karena dianggapnya salib sebagai bentuk simbolisasi dari agama pagan tersebut. Gothic Satanisme terlahir pada saat umat Kristen memburu kaum bid’ah dan membakar para wanita tukang sihir (the witch burnings).<br />
Kramer dan Sprenger menulis sebuah buku sekitar 1486 The Malleus Maleficarum (The Witches ‘Hammer) yang menjadi referensi utama bagi genosida. Mereka menulis bahwa Gothic pemuja setan:<br />
* Sebagian besar perempuan karena mereka lebih mudah dipengaruhi, lebih berkhianat, lebih bersifat daging, lebih pendendam, dan (secara intelektual)lebih mirip anak-anak. Tuhan, sebagai laki-laki, yang kebanyakan diawetkan orang menjadi bid’ah;<br />
* Membunuh, mempesona dan menyebabkan wabah pada hewan; berhenti memberikan susu sapi.<br />
* Menyebabkan impotensi, kemandulan, aborsi dan keguguran;<br />
* Pada malam hari dilakukan untuk pesta pora seksual;<br />
* Minum darah bayi dan memakan tinja mereka, atau mengubahnya menjadi sup, atau panggang dalam oven; tulang-tulang mereka dibuat menjadi instrumen ritual;<br />
* Menawarkan anak-anak mereka kepada roh-roh jahat;<br />
* Membunuh atau berada di tempat kutukan orang-orang hanya dengan melihat pembunuhan, mengatakan sebuah kalimat, menyebabkan petir untuk menyerang mereka, dengan meniup di wajah mereka, mendorong pin menjadi boneka lilin yang dibuat dalam gambar korban, dan sebagainya;<br />
* Memukul, menghancurkan, menusuk atau langkah pada salib kapan saja mereka bisa.<br />
Referensi kedua teks adalah Guazzo’s Compendium Maleficarum, yang ditulis sekitar tahun 1620. Ia menggambarkan bagaimana hamba-hamba Iblis:<br />
* Perjalanan melalui udara di belakang kambing atau staf<br />
* Mengurapi diri dengan minyak ajaib dan terbang sendiri<br />
* Mengurapi diri dengan krim atau membuat tanda tertentu, dan<br />
segera menghilang;<br />
* Tampaknya berubah bentuk dari manusia ke hewan dan kembali;<br />
* Dapat mengubah orang dan hewan dari laki-laki untuk perempuan dan kembali;<br />
* Bersumpah melakukan penghormatan dan ketaatan kepada Setan, dan tubuh mereka dicap dengan tanda;<br />
* Bersukacita, menari, makan dan minum di hadapan Iblis yang muncul di perayaan ini dalam bentuk yang mengerikan dan kambing cacat hitam;<br />
* Tercekik, menusuk dan membunuh bayi mereka sendiri, memutus kaki mereka dan dimasak.<br />
Kelompok ini dianggap ancaman besar. Di Negara Bagian Utah, sekitar 90% orang dewasa percaya keberadaan kelompok-kelompok setan yang menyalahgunakan dan membunuh bayi. Setan tidak lagi dipercaya sebagai makhluk yang terbang melalui sapu di udara atau seketika lenyap. Tapi bayi pembunuhan, yang menjual jiwa kepada setan, ritual yang melibatkan seekor kambing, melanggar salib bahkan bentuk pergeseran antara hewan dan manusia itulah setan yang sebenarnya.<br />
Kaum agamawan bahkan pernah melakukan tuntutan bahwa kelompok setanisme ini telah membuat 60.000 ritual pembunuhan selama setahun di Amerika Utara, di sebuah peternakan bayi yang dijadikan penjara bagi wanita muda terus-menerus dijaga kehamilannya sehingga bayi mereka dapat diambil dan dikorbankan.<br />
Gothic Satanism sebagai kelompok anti agama benar-benar telah tetap utuh selama berabad-abad. Tidak ada investigasi kriminal di masa lalu. Padahal diperkirakan sudah 300 tahun dikenal memiliki bukti kuat dari Satanic Ritual Abuse (Kecuali kasus di Yunani selama 1995). Namun, di Amerika dan Eropa kelompok ini dipercaya yang sangat terorganisasi, rahasia, dan jaringan dikendalikan secara internasional oleh Gothic Satanic.<br />
Puluhan juta orang Amerika percaya bahwa itu adalah masalah sosial utama yang menjadi ancaman, meskipun bukti fisik keberadaannya belum ditemukan. Petugas hukum yang tak terhitung jumlahnya telah mencari isu selama puluhan tahun tanpa hasil. Diyakini hingga saat ini penganut Gothic Satanic ini sebagian besar didukung oleh ribuan atau puluhan ribu orang dewasa.<br />
Dukungan kedua keyakinan terjadi di tahun 1980-an dan awal 1990-an ketika banyak kasus-kasus pengadilan yang berjuang atas apa yang diyakini menjadi ritual pelecehan di pusat penitipan anak dan bayi, pra-sekolah, sekolah gereja Minggu, dll Anak-anak kecil diungkapkan mengalami kekerasan fisik dan seksual. Sebagian besar itu dikatakan ritual di alam.<br />
Namun, banyak indikator bahwa Gothic Satanisme hanya rekayasa kaum agamawan dengan dasar: * semua keyakinan dan praktik dikaitkan dengan Setanisme dapat dilacak dalam buku Kramer dan Sprenger dan Penyihir Hammer. * Banyak buku yang diduga ditulis oleh mantan pengikut aliran setan terbukti penipuan. * Tidak ada buku dimana keyakinan ritus pernah ditulis. Jika Gothic setan ada di setiap nomor, buku-buku seperti itu akan dicetak. * Bayi kamp peternakan tidak bisa berhasil tersembunyi untuk waktu lama. * Berbagai kajian pemerintah dan ratusan polisi penyelidikan telah gagal membuktikan.<br />
3. SATANIC DABBLERS. Bentuk ajaran ini merupakan sinkretisasi atau gabungan dari berbagai aliran kepercayaan dan memperkaya dirinya dengan aliran sihir (black magic). Aliester Crowley memelopori tata cara gabungan mistik ini dalam ajaran mistiknya yang disebut dengan Thelema. Dalam bentuknya yang modern, ritual isme penyembah setan ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran kriminal, seperti menggali atau merusak kuburan tertentu, serta melakukan vandalisasi pada kuburan dengan tulisan atau gambar dan simbol setan. Kini setidaknya puluhan atau ratusan ribu. Beberapa memandang Satanisme sebagai metode memberontak terhadap keyakinan orangtua mereka.<br />
RITUAL MAGIS<br />
Bentuk upacara gereja setan penuh dengan nuansa magis. Ruangan yang dicat hitam dengan altar yang di kelilingi cahaya lilin yang temaram. Pada bagian kanan altar ditempatkan lilin berwarna putih yang melambangkan sihir putih (white magic) sedangkan di sebelah kiri ditempatkan lilin berwarna hitam sebagai lambang dari kekuatan sihir hitam (black magic) atau sering disebut sebagai “kekuatan kegelapan” (the powers of darkness). Upacara dipimpin pendeta dengan membunyikan bel sembilan kali dan pemimpin berjalan mengelilingi altar berlawanan dengan arah jarum jam.<br />
Beberapa perangkat lain dalam upacara tersebut antara lain: pedang, mangkok, tengkorak, bel kecil yang diletakkan pada meja dekat altar. Pada awal pembentukan gereja setan, biasanya dibaringkan seorang wanita bugil di atas altar, tepat di bawah lambang pentagram. Selesai upacara yang diiringi dengan nyanyian dan mantera-mantera, dilanjutkan dengan hubungan badan massal diantara anggota jemaatnya (orgy), atau melakukan masturbasi. Para jemaat terlibat aktif dalam kegiatan seks secara bebas diantara jemaat yang hadir, sesuai dengan keinginannya masing-masing (engage in sexual activity freely, in accordance with your needs , which may be best realized through monogamy, or by having sex with many others, through heterosexuality, homosexuality, or bisexuality).<br />
Upacara ini dilakukan pada saat tertentu yang ditetapkan, untuk melantik atau melakuan inisiasi anggota baru, penyembuhan, serta instruksi dari pimpinan gereja. La Vey memperkenalkan pula beberapa hari besar yang harus dirayakan pengikut gereja setan antara lain, Walpurgisnacht pada tanggal 30 April. (witch party), Haloween pada malam 31 Oktober (ghost party), Solstices bulan Juni dan Desember (winter party), dan Equinoxes pada bulan Maret dan September (fall/autumn/spring party).<br />
Ajaran setanisme memperkenalkan, bahkan mengakui pula eksistensi Lucifer serta Leviathan yang sering dikaitkan sebagai satu wujud kekuatan kosmik, diambil dari aliran mistik kuno Yahudi yang menghubungkannya dengan kata “Heylei” yang artinya ‘bintang pagi yang cemerlang’. Lucifer dipersonifikasikan pula sebagai anak dari Astra dan Auora atau Eos. Lucifer dipuja karena dianggapnya sebagai “putra cahaya” (the son of light) dan merupakan mitra dari setan sebagai “anak kegelapan” (the son of darkness).<br />
SUMBER REFERENSI:<br />
The Encyclopedia of Witches &amp;Witchcraft – by Rosemary Ellen Guiley.<br />
An ABC of Witchcraft Past and Present – By Doreen Valiente<br />
Encyclopedia of Wicca &amp; Witchcraft – By Raven Grimassi<br />
Witchcraft for Tomorrow – By Doreen Valiente</p>
<p>http://www.faqs.org/faqs/religions/satanism</p>
<p>http://wongalus.wordpress.com/2009/11/30/sekte-mistik-pemuja-setan/</p>
<p>Dunia Dikuasai Oleh Pemuja Setan<br />
Pemuja Setan Yang Menguasai Dunia<br />
(The Satanic Cult That Rules the World)</p>
<p>Oleh: Henry Makow Ph.D</p>
<p>&#8220;How can one chase a thousand, and two put ten thousand to flight unless&#8230;God had delivered them into enemy hands?&#8221; Deuteronomy 32:30</p>
<p>Sarkozy&#8221;Memeluk Islam atau mati.&#8221; Ini adalah pilihan yang ditawarkan oleh Sultan Turki kepada Sabbatai Zevi sebagai hukuman kepada ybs karena memproklamirkan diri sebagai &#8220;Mesias” Yahudi pada tahun 1666.</p>
<p>Dengan berpura-pura pindah agama, Zevi terpaksa melaksanakan ajaran Islam. Tapi Zevi bukanlah seorang Yahudi biasa. Dia pemimpin Yahudi terkenal yang melaksanakan ajaran bid&#8217;ah berdasarkan jenis ajaran setan Cabalisme. Para rabi mengutuk dirinya dan para pengikutnya.</p>
<p>Setelah Zevi &#8220;murtad,&#8221; dari agama Yahudi, lebih dari satu juta pengikutnya yang kemudian termasuk cukong seperti Rothschild meniru apa yang dicontohkan Zevi. Tapi mereka tidak hanya berpura-pura menjadi Muslim atau Kristen. Mereka juga berpura-pura menjadi orang Yahudi.</p>
<p>Pembelot Komunis, Bella Dodd mengungkapkan bahwa selama tahun 1930-an 1100 orang anggota Partai Komunis bergabung dengan Imamat Katholik.. Kemudian mereka menjadi Uskup, Kardinal dan boleh jadi Paus.</p>
<p>Dengan memakai strategi bunglon ini, pemuja setan menyusup dan menumbangkan sebagian besar pemerintah b:</p>
<p>&#8220;Melalui infiltrasi, tipu-daya dan kelicikan, jaringan yang tidak kelihatan ini dan agama, dan mendirikan sebuah tirani yang tak kelihatan tanpa banyak menarik perhatian. Dalam kata-kata peneliti genial Clifford Shack dinyatakan sbdatang untuk memerintah kita semua. Empat puluh satu tahun setelah kematian Shabbatai Zevi, pada 1717, mereka menyusup ke dalam perkumpulan Masonry di Inggris dan membentuk Freemasonry [penerus Zevi] &#8230;. yaitu Jacob Frank yang berpengaruh besar terhadap inti dari perkumpulan Freemasonry yang dikenal sebagai Illuminati, yang dibentuk pada tahun 1776. Freemasonry menjadi kekuatan tersembunyi di balik kejadian-kejadian seperti revolusi [Amerika, Perancis dan Rusia], berdirinya PBB dan negara Zionis Israel, Perang Dunia (termasuk Holokos!), pembunuhan terhadap keluarga Kennedy termasuk ayahnya yang mencoba menggagalkan upaya jaringan Illuminati di tanah Amerika.</p>
<p>Sabbatean /Frankists, juga disebut sebagai &#8220;Cult of the All-Seeing Eye&#8221; (lihat di bagian belakang uang satu dolar Anda untuk mulai memahami pengaruh mereka dalam kehidupan ANDA), mereka adalah bunglon politik dan agama. Mereka ada dimana-mana &#8230; berkuasa. Mereka terdiri dari orang-orang baik DAN orang-orang jahat. Perang Dunia Kedua merupakan contoh utama. Para pemimpin berikut anggota &#8220;Cult of the All-Seeing Eye&#8221; (Sabbatean / Frankists): termasuk Franklin D. Roosevelt, Winston Churchill, Adolph Hitler, Eugenio Pacelli (Pope Pius XII), Francisco Franco, Benito Mussolini, Mao Tse-Tung. dan Hirohito&#8221;</p>
<p>IMPLIKASI</p>
<p>Jika Mr Shack benar, sejarawan, pendidik dan jurnalis berkolaborasi dengan menjunjung tinggi realitas palsu dan menjauhkan kita dari kebenaran. Dunia kita, persepsi kita tentang pengalaman manusia dibentuk oleh okult perkumpulan rahasia. Budaya kita adalah sebuah psy-op yang rumit.</p>
<p>Jelas, Sabbatean dan keturunan mereka akan menghabiskan perhatian kita. Sebaliknya, mereka tersembunyi dari pandangan kita. Mereka yang menentukan dalam apa yang disebut &#8220;Pencerahan,&#8221; “sekularisme &#8220;&#8221; dan &#8220;modernisme,&#8221; yang merupakan langkah kecil awal untuk masuk kedalam Setanisme mereka.</p>
<p>Menurut Rabbi Marvin Antelman, mereka percaya bahwa dosa adalah suci dan harus melakukan dosa untuk kepentingan diri sendiri. Karena Mesias akan datang ketika secara keseluruhan orang menjadi baik atau menjadi orang yang benar-benar jahat, Sabbatean memilih pelacuran: &#8220;Karena kita semua tidak bisa menjadi suci, maka marilah kita semua menjadi orang-orang berdosa.&#8221;</p>
<p>Mereka menghujat berkah &#8220;membolehkan mengerjakan hal-hal yang haram dan terlarang&#8221; kemudian menjadi pengikut Illuminati, &#8220;do as thou wilt&#8221; merupakan ekspresi perasaan &#8220;keagamaan&#8221; mereka. Sepenuhnya a-moral, mereka berdalih dengan &#8220;tujuan menghalalkan segala cara (&#8220;To Eliminate the Opiate,&#8221;Vol. 2 p. 87)</p>
<p>Pada tahun 1756, Jacob Frank dan para pengikutnya dikucilkan oleh para rabi. Antelman mengatakan Sabbatean berada di balik gerakan Reformasi, Liberal dan Revolusioner abad Kedelapan belas. Mereka juga berada di belakang Reformasi Konservatif dan gerakan dalam agama Yahudi, termasuk asimilasi Yahudi yaitu &#8220;Haskalah&#8221;. Dengan kata lain, orang Yahudi telah dipengaruhi oleh Sabbatean namun mereka tidak menyadarinya.</p>
<p>Itulah taktik mereka. Mereka tidak menganjurkan berdirinya kerajaan setan. Mereka dengan halus mengarahkan Anda dengan cara mempertanyakan keberadaan Tuhan, dengan menuntut &#8220;pembebasan seksual,&#8221; &#8220;kemerdekaan&#8221; bagi perempuan, &#8220;internasionalisme,&#8221; &#8220;kebhinekaan&#8221; dan &#8220;toleransi beragama.&#8221; Semua ini mempunyai agenda tersembunyi: &#8220;. Untuk melumpuhkan “semua kekuatan kolektif kecuali kita sendiri&#8221;</p>
<p>Perbuatan Seks Yang Keterlaluan sebagai Sebuah Agama</p>
<p>Kita diberitahu &#8220;seks bebas&#8221; adalah &#8220;progresif dan modern.&#8221; Bahkan, sekte Sabbatean memuaskan diri dengan saling tukar-menukar istri, pesta pora seks, perzinahan dan incest selama lebih dari 350 tahun. Mereka juga mempromosikan hubungan seks antar-ras. Mereka telah memasukkan sebagian dari kita ke dalam pemujaan mereka.</p>
<p>Antelman mengutip proses pengadilan rabbi dimana Shmuel, anak Shlomo sambil menangis mengaku ia menolak Taurat dan telah mendorong istrinya untuk melakukan hubungan seks beberapa kali dengan Hershel. &#8220;Saya bersalah. Dia Tidak mau melakukannya.&#8221; (111)</p>
<p>Pengabaian seksual adalah karakteristik Komunisme yang tumbuh langsung dari Sabbateanisme. Jacob Frank menjadi germo istrinya yang cantik untuk merekrut orang-orang berpengaruh. Anggota Partai Komunis perempuan digunakan dengan cara yang sama. Adam Weiskaupt, pendiri Illuminati, menghamili adik iparnya.</p>
<p>Sebuah anekdot terkait: Dalam bukunya, &#8220;The Other Side of Deception,&#8221; dijelaskan oleh Victor Ostrovsky, seorang pembelot Mossad, bagaimana Mossad bersenang-senang. Di sebuah pesta, para staf, termasuk banyak perempuan muda yang belum menikah, berkumpul di sekitar kolam renang dengan bertelanjang bulat.</p>
<p>Holokos</p>
<p>Pengaruh konspirasi Sabbatean tersembunyi di depan mata kita. Sebagai contoh, istilah &#8220;Holokos&#8221; digunakan tanpa memperhatikan arti yang sebenarnya. Rabbi Antelman menyatakan bahwa sebelum Perang Dunia Kedua, istilah yang benar berarti &#8220;persembahan korban yang di bakar&#8221; seperti dalam pengorbanan. (P.199)</p>
<p>Ia mengutip Bruno Bettleheim &#8220;menyebutnya yang paling tidak mempunyai perasaan, paling brutal, pembunuhan massal yang paling mengerikan, &#8220;persembahan korban yang di bakar&#8221; paling keji, merupakan sebuah penghujatan dan penodaan kepada Tuhan dan manusia.&#8221; (205)</p>
<p>Kepada siapa dikorbankan? Untuk tujuan apa? Jelas, hal itu ada hubungannya dengan praktek okultisme Sabbatean &#8216;. Setiap kali kita menggunakan kata itu (holokos), tanpa disadari kita ikut serta dalam penghujatan mereka.</p>
<p>Menurut Antelman, Sabbatean membenci Yahudi dan mencoba memusnahkan mereka. Dia mengutip peringatan seorang rabi pada tahun 1750-an yang memperingatkan bahwa jika orang Yahudi tidak menghentikan Sabbatean, orang-orang Yahudi akan dihancurkan oleh mereka. (209)</p>
<p>Antelman mengatakan, dan memang ketika beberapa orang Yahudi berusaha menyelamatkan Yahudi Eropa dari genosida, &#8220;masyarakat konservatif dan reformasi [di AS] bersuka-ria dan mengabaikan peringatan kegiatan Sabatean ini serta tidak melakukan sesuatu apapun. Maka berdirilah organisasi seperti Kongres Yahudi Amerika, Komite Yahudi Amerika, dan B &#8216;nai Brith.&#8221; (217)</p>
<p>Perkawinan Antar Sesama Anggota Sekte</p>
<p>Anggota Sabbatean hanya menikah dengan sesama anggota sekte setan mereka. Namun ada pengecualian, mereka berkali-kali menikahi orang kaya bangsa-bangsa Goyim yang berpengaruh. Sebagai contoh ibunya Baron Rothschild Keempat (Jacob) bukanlah seorang Yahudi, demikian pula istrinya.</p>
<p>Contoh lain adalah pernikahan putri Al Gore pada tahun 1997 dengan Andrew Schiff, buyutnya Jacob Schiff. Ayah Gore adalah seorang Senator yang disponsori oleh Armand Hammer (Occidental Petroleum) yang ayahnya adalah seorang pendiri Partai Komunis Amerika. Seperti Hitlery dan Dubya, Al Gore merupakan agen Illuminati.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Manusia dalam cengkeraman pemuja setan kejam yang sangat besar kekuasaannya, mereka dapat membuat perang terhadap kemanusiaan yang tampak normal dan tak terelakkan. Bahkan ketika persekongkolan mereka diungkap, mereka dapat meyakinkan semua orang bahwa hal itu adalah rasis dan merupakan perasaan jahat untuk mempercayainya. Mereka memiliki orang-orang yang memfokuskan kepada porno seraya mendirikan sebuah negara polisi.</p>
<p>Masyarakat Barat bangkrut secara moral. Hal ini menguraikan jaringan rumit okult yang mengendalikan politik, informasi dan budaya. Kebanyakan pemimpin kita penipu atau pengkhianat. &#8220;Kaum terpelajar&#8221; telah disuap sementara masyarakat dibuat bingung dan hidup dalam kebahagiaan semu yang penuh tipuan.</p>
<p>Seperti sebagian besar negara dan agama, Yahudi telah dirusak dari dalam. Zionis adalah bidak dari Sabbatean yang menggunakan &#8220;holokos&#8221; untuk merekayasa penciptaan negara Israel. Jutaan orang Yahudi telah &#8220;dikorbankan&#8221; untuk membuat sebuah Negara Sabbatean, &#8220;persembahan korban yang di bakar&#8221; untuk Setan.</p>
<p>Tuhan memberi manusia Hidup: sebuah Keajaiban penuh drngan Kecantikan yang melekat dan penuh Makna. Dia memberi kita segala yang kita butuhkan untuk berkembang sesuai Rencana-Nya.</p>
<p>Tetapi orang-orang yang berpikir bahwa dengan kekuatan tak terbatas dan kekayaannya lebih baik daripada kasih yang tak terbatas, mereka telah membajak kemanusiaan. Mereka ingin merusak Tempat Pertemuan Indah kita dan sebagai gantinya memperbudak kita. Ini merupakan arti yang sebenarnya dari politik dan generasi kita.<br />
Terkait:</p>
<p>1. Bagaimana Mereka Mengendalikan Dunia<br />
2. Posed for Gay Porn, Schwarzenagger Introduces Homosexuality to CA Schools<br />
3. List of 45 Republican Pedophiles<br />
4. Mengapa Illuminati Membenci Yahudi?</p>
<p>Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info</p>
<p>Sumber: http://www.savethemales.ca/the_satanic_cult_that_rules_th.html </p>
<p>http://danish56.blogspot.com/2010/10/dunia-dikuasai-oleh-pemuja-setan.html</p>
<p>Membedah Blog Kafir (1): Islam Adalah Geng Pemuja Setan dan Pembunuh Manusia?<br />
GENG Walan Tardho semakin ganas dalam melecehkan Islam. Puluhan website dan blog gratisan jadi panggung penghujatan Islam. Tantangan besar bari para blogger dan hacker Muslim. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) harus cepat bertindak. </p>
<p>Orang tak beragama saja jijik membaca kata-kata kotor para penghujat Islam itu. Salah satu blog yang isinya penuh dengan kata-kata tengik adalah blog beridentitas “The Gengster of Mohamed” dengan alamat: http:www.geng####.###.com. Untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan, alamat situs ini sengaja kami samarkan.</p>
<p>Dalam header blog tertulis kalimat yang sangat menantang, terang-terangan menyebut Islam sebagai sebuah geng pemuja setan: “The Gengster of Mohamed, Satanic Cult: Geng Pemuja Setan yang Berpusat di Ka’bah.&#8221;</p>
<p>Sayangnya, pemilik blog gratisan itu sama sekali tidak mencantumkan identitasnya. Ia hanya mencantumkan sebuah email di yahoo dengan account Alisina yang tak jelas batang hidungnya.<br />
..Dalam header blog mereka terang-terangan menyebut Islam sebagai sebuah geng pemuja setan: “The Gengster of Mohamed, Satanic Cult: Geng Pemuja Setan yang Berpusat di Ka’bah&#8230;<br />
Tidak dicantumkannya identitas ini menunjukkan bahwa pemilik blog ini tidak yakin dengan kebenaran materi blog yang ditulisnya. Atau pemilik blog yakin bahwa konten blog tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan secara agama, moral maupun hukum.</p>
<p>Karena pemilik blog tidak mencantumkan nama anggota maupun institusinya, berarti dia mempersilahkan pengunjung blog untuk memberikan nama apa saja. Maka dalam artikel ini, kita sebut saja pemilik blog penghujat Islam itu sebagai ” Geng Walan Tardho.”</p>
<p>Seharusnya, jika Geng Walan Tardho itu jeli, gaya penyiaran agama dengan cara-cara kotor ini sebetulnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya, hanya jadi bumerang terhadap agamanya. Karena dengan cara-cara yang kotor, tak bermoral, dan pengecut, maka otomatis orang  akan menilai bahwa agama yang sedang dianut dan disebarkan oleh pemilik blog penghujatan tersebut adalah agama kotor dan tak bermoral yang mengajarkan kebencian.</p>
<p>TANGGUNGJAWAB MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING</p>
<p>Situs blog anti-Islam di dunia maya ini bukan yang pertama kalinya, tapi sudah berulang-ulang sejak lama. Hal itu tentunya memprovokasi stabilitas keamanan Indonesia, yang mayoritas warganya memeluk agama Islam. Untuk mencegah instabilitas keamanan negara, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, harus bertanggung jawab.</p>
<p>&#8220;Tanggung jawab ada pada Menteri Kominfo. Pak Tifatul Sembiring harus bertanggung jawab,&#8221; kata Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath.</p>
<p>Lebih lanjut, Muhammad mengatakan, pembuat situs provokatif itu harus segera dilacak identitasnya, dan diberi hukuman yang sesuai. </p>
<p>&#8220;Mestinya aparat keamanan segera melacak itu, pembuat situs itu mudah lah dilacak. Saya yakin penegak hukum mampu mengatasi itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Senada dengan itu, Wakil Sekretaris MUI Pusat, Asrorun Niam menyatakan, pemerintah harus memblokir situs blog penghujat Islam, agar tidak dapat diakses. Tidak hanya itu, pemerintah harus menindak siapa pelakunya.<br />
&#8230;Tanggung jawab ada pada Menteri Kominfo. Pak Tifatul Sembiring harus bertanggung jawab. Pemerintah jangan diam saja, harus proaktif mengawasi, mencegah, dan menindak&#8230;<br />
&#8220;Pemerintah jangan diam saja, harus proaktif mengawasi, mencegah, dan menindak hal seperti itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Niam mengaku telah mengetahui dan membaca isi yang ada di blog tersebut. Di samping permasalahan agama, di dalamnya juga ada mengemukakan persoalan sosial. </p>
<p>”Hal seperti inilah yang bisa menimbulkan gesekan di masyarakat,” sambungnya.</p>
<p>Karena itu, tegas Niam, negara harus berperan menjaga situasi, agar tidak terjadi saling fitnah. Selain itu, tidak boleh ada seseorang yang mengatasnamakan kebebasan, malah menyebabkan disharmoni.</p>
<p>&#8220;Tindakan blokir merupakan tindakan preventif yakni mencegah. Tetapi di luar itu, harus ditelusuri siapa yang membuatnya. Harus efek jera, agar tidak terulang kembali,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>ISLAM DITUDING SEBAGAI GENG PEMUJA SETAN</p>
<p>Meski tak dapat dipastikan identitas penulis blog penghujatan, tapi dengan dari persamaan style dengan belasan blog serupa lainnya, dengan mudah kita bisa menebak, bahwa ideologi pemilik blog.  Mereka adalah menganut kitab suci yang mengajarkan slogan ”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah aku harapkan, api itu menyala!” dan slogan “aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pertentangan.” Salah satu api pertentangan yang dilemparkannya adalah tulisan blog sbb:<br />
”Banyak orang mengira Islam adalah sebuah agama.  Tetapi yang benar Islam bukan agama.  Islam adalah sebuah geng, yang pimpinannya bernama Nabi Muhammad SAW. Para pengikutnya&#8230; menganggap Nabi Muhammad SAW adalah makhluk setengah dewa, yang begitu sakral, sangat sempurna dan wajahnya paling ganteng sedunia.</p>
<p>Geng ini dapat terus eksis karena menyamar sebagai agama.  Sang pemimpin geng mengaku diutus oleh ”tuhan” bernama Allah untuk menaklukkan dunia di bawah pemerintahan Islam.  Kita harusnya mengerti, bahwa tidak mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana mengutus seorang bejat moral dan penjahat gila, yang isi otaknya cuma seks, harta dan kekuasaan.  </p>
<p>Di samping itu, Tuhan adalah Penguasa Alam Semesta, Tuhan tidak perlu berambisi  menaklukkan dunia, sebab Alam Semesta ini memang milik-Nya.  Lalu siapakah gerangan sosok yang ingin menguasai dunia ini, yang dengan gaya preman dan nafsu haus darahnya menggebu-gebu ingin mengontrol dunia di bawah 1 kalifah?  Tentu saja ini bukan cita-cita Tuhan, melainkan cita-cita Iblis.  Tuhan sudah menguasai dunia ini, jadi untuk apa Dia ingin menguasainya lagi?  Iblis/Setan-lah yang ingin merebut dunia ini.  Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang.</p>
<p>Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya. </p>
<p>Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”<br />
&#8230;Seluruh tulisan itu tak satu ”iota” pun yang bisa dibenarkan&#8230;<br />
Semua yang diuraikan Geng walan tardho itu bertolak belakang dengan fakta baik fakta hukum (dalil) maupun realita. Seluruh tulisan itu tak satu ”iota” pun yang bisa dibenarkan,  berikut ini bantahannya:</p>
<p>Islam bukan agama tapi sebuah geng? </p>
<p>Tuduhan Alisina bahwa Islam bukan agama tapi geng, sangat tidak berdasar sama sekali. Dalam buku manualnya (Al-Qur’an), jelas disebutkan bahwa Islam adalah agama (din): </p>
<p>“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam” (Qs. Ali Imran 19).</p>
<p>“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Ali Imran 85).</p>
<p>Eksistensi Islam sebagai sebuah agama ini juga diakui oleh para teolog non Kristen, misalnya Pendeta Dr R Soedarmo, pakar dogmatika Kristiani alumnus universitas teologi Belanda. Soedarmo adalah teolog terkemuka di Indonesia. Wawasan teologinya dibesarkan dan dipupuk di mancanegara: kuliah S1 di universitas Vrije Universiteit Belanda tahun 1938-1943 dan S2 di universitas yang sama tahun 1955-1957. Setelah tamat dari kuliah selama 7 tahun di Belanda, Soedarmo pulang ke Indonesia menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salatiga, dosen di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ), dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, anggota Badan Pengurus Dewan Gereja Indonesia (DGI, sekarang diganti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia–PGI), ketua seksi Perjanjian Lama LAI, dan lain-lain.<br />
&#8230;Eksistensi Islam sebagai sebuah agama ini juga diakui oleh para teolog non Kristen, misalnya Pendeta Dr R Soedarmo, pakar dogmatika Kristiani alumnus universitas teologi Belanda&#8230;<br />
Apa kata pendeta terpelajar lulusan Belanda ini tentang Islam? Apakah ia mengatakan bahwa Islam bukan agama tapi geng? Bacalah buku “Ikhtisar Dogmatika” yang ditulisnya. Pendeta Soedarmo justru menyatakan bahwa Islam adalah sebuah agama. Bahkan bukan sebagai agama biasa, melainkan agama yang bercorak rasionalitas akal-budi. Pendeta Soedarmo menulis:</p>
<p>“Agama Islam bercorak rasionalitis, artinya rasio, akal budi, memberi tekanan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, trinitas ditolak, sebab tidak dapat dimengerti bahwa 3 adalah 1 dan bahwa 1 adalah 3. Kita tentu insaf bahwa Trinitas memang tidak dapat dimengerti” (halaman 114).</p>
<p>Jika kitab suci dan para ahli mengakui Islam sebagai agama (din), maka tuduhan Geng Walan Tardho bahwa Islam bukan agama melainkan sebuah geng, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.<br />
Nabi Muhammad manusia setengah dewa?</p>
<p>Tuduhan Geng Walan Tardho bahwa umat Islam memuja Nabi Muhammad sebagai makhluk setengah dewa juga kebohongan besar. Ajaran Islam baik yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun hadits, tak satu ayat pun yang mengajarkan bahwa Muhammad adalah manusia setengah tuhan atau setengah dewa.</p>
<p>Umat Islam hanya meyakini Nabi Muhammad sebagai hamba dan rasul Allah yang terakhir (Qs Al-Ahzab 40) yang risalahnya berlaku untuk seluruh umat manusia (Qs Al-Anbiya 107). Sebagai nabi yang terakhir, beliau adalah manusia pilihan yang patut dijadikan suri tauladan atau ”uswatun hasanah” (Qs. Al-Ahzab 21). Sebagai nabi terakhir, keberadaan Muhammad SAW juga tidak dipisahkan dari para nabi sebelumnya, karena semua nabi memiliki keterkaitan misi (hadits muttafaq ’alaih).</p>
<p>Umat Islam tak ada satu pun yang memuja nabi Muhammad sebagai manusia setengah dewa, karena umat Islam beriman kepada semua nabi tanpa membeda-bedakan antara nabi yang satu dengan nabi yang lainnya.</p>
<p>”Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (Qs Al-Baqarah 285).<br />
&#8230;Keyakinan adanya nabi yang menjadi manusia setengah tuhan  atau setengah dewa (inkarnasi) bukan milik Islam, tapi milik agama lain yang terkontaminasi kepercayaan pagan&#8230;<br />
Nabi Muhammad sendiri seumur hidupnya tidak pernah mengajarkan kepada umatnya bahwa beliau adalah manusia setengah dewa. Mengenai identitas, beliau hanya mengajarkan 4 nama. Dari empat nama itu tidak ada nama manusia setengah dewa. Perhatikan hadits berikut:<br />
Dalam hadits riwayat Jubair bin Muth&#8217;im RA, Nabi SAW bersabda: &#8220;Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran. Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku. Aku adalah Aqib dan Aqib adalah nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya&#8221; (HR Muslim).<br />
Keyakinan adanya nabi yang menjadi manusia setengah tuhan  atau setengah dewa (inkarnasi) bukan milik Islam, tapi milik agama lain yang terkontaminasi kepercayaan pagan. </p>
<p>Islam geng pemuja setan?</p>
<p>Tudingan  Islam sebagai geng pemuja setan pun bertolak belakang dari ajaran Islam. Justru Islam adalah agama yang sangat keras dalam memusuhi syaitan. Salah satu ayat terkenal adalah perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh abadi.</p>
<p>”Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs Al-An’am 142). </p>
<p>Karenanya, umat Islam disyariatkan untuk berta’awudz (minta perlindungan kepada Allah dari godaan setan).</p>
<p>Salah satu tabiat setan adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara sesama umat manusia, dan menghalangi manusia dari mengingat Tuhan (Qs Al-Ma’idah 90-91).</p>
<p>Karena karakter blog milik Geng Walan Tardho adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian, maka menurut ayat di atas, berarti merekalah pengikut setan sejati. Mereka adalah musuh yang nyata semua umat beragama.</p>
<p>Target Islam adalah membunuh sebanyak-banyak manusia?</p>
<p>Tulisan Geng Walan Tardho yang paling keji adalah tuduhan terhadap Islam sebagai geng pemuja setan karena ingin membunuh orang sebanyak-banyaknya, dengan tuduhan sbb:<br />
”Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang. Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”<br />
Tudungan ini tak akan pernah terbukti kebenarannya sampai kapan pun, karena tidak sesuai dengan kenyataan dan ajarannya. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat menjujung tinggi hak hidup manusia. Karena Allah SWT mengajarkan dalam kitab-Nya yang mulia, bahwa “menghilangkan nyawa manusia satu orang saja tanpa alasan yang haq, maka ia seolah-olah telah membinasakan seluruh manusia. Sebaliknya, menjaga kehidupan satu saja jiwa manusia saja seolah-olah ia telah menjaga kehidupan seluruh manusia.</p>
<p>”&#8230;Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi” (Qs. Al-Ma’idah 32).</p>
<p>Untuk mencegah tindak kriminalitas pembunuhan, Islam menetapkan hukuman qishas di dunia, terhadap orang yang melakukan pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan: ”&#8230; Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh&#8230;” (Qs Al-Isra’ 33). </p>
<p>Larangan dan kecaman Islam terhadap pembunuhan, semakin keras dengan ancaman azab Allah Ta’ala bagi pembunuh, yaitu azab Jahannam yang kekal abadi: ”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs An-Nisa’ 93).<br />
&#8230;Islam sama sekali tidak mengajarkan pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya sebagai target keberhasilannya. Sebaliknya, sebuah nyawa manusia yang masih bayi pun sangat dihormati hak hidupnya&#8230;<br />
Sama sekali tidak ada ajaran pembunuhan massal dalam Islam. Bahkan nyawa anak-anak termasuk anak-anak yang masih bayi pun sangat dihormati Islam. Islam melarang membunuh anak-anak dengan alasan apapun, termasuk dengan alasan materi:</p>
<p>”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar” (Qs Al-Isra’ 31). </p>
<p>Dengan ayat yang melarang pembunuhan terhadap anak-anak dan kecaman sebagai dosa besar, secara otomatis tertolaklah tuduhan Geng Walan Tardho bahwa tujuan Islam adalah membunuh manusia sebanyak-banyaknya. Islam sama sekali tidak mengajarkan pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya sebagai target keberhasilannya. Sebaliknya, sebuah nyawa manusia yang masih bayi pun sangat dihormati hak hidupnya.</p>
<p>Geng Setan itu Ajaran Al-Qur’an ataukah Bibel?</p>
<p>Geng Walan Tardho dalam blognya menjadikan pembunuhan manusia sebagai tolok ukur bahwa itu adalah pemuja setan. Lantas mereka menuduh Islam sebagai geng pemuja setan karena target Islam adalah pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya. Perhatikan lagi tudingan Geng Walan Tardho berikut:<br />
”Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang. Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”<br />
Tudingan terhadap Islam sebagai agama yang mengajarkan pembunuhan sebanyak-banyak manusia telah terbantah pada pembahasan sebelumnya.</p>
<p>Sebaliknya, mari kita terapkan tolok ukur Geng Walan Tardho itu terhadap rasul umat Kristiani yaitu Paulus dalam Bibel. Perhatikan apa yang dilakukan oleh Paulus dalam Alkitab (Bibel): </p>
<p>“Sementara itu berkobar-kobar hati Paulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kisah Para Rasul 9: 1-2).</p>
<p>Dengan tolok ukur yang dibuatnya, apakah Geng Walan Tardho itu menuding Paulus, rasulnya umat Kristiani itu sebagai nabi pemuja setan yang sejati?</p>
<p>Bagaimana pula  analisa Geng Walan Tardho terhadap perbuatan Tuhan dalam Bibel, bahwa Tuhan balas dendam dengan memerintahkan untuk membunuh dan menumpas segenap rakyat tanpa rasa belas kasihan, dengan mata pedang, baik laki-laki, perempuan, anak menyusui, maupun binatang ternak (1 Samuel 15:1-11)? Apakah mereka juga menuduh Tuhan dalam Bibel adalah tuhan pemuja setan?<br />
&#8230;Dengan ayat-ayat Bibel tersebut, mengapa Geng Walan Tardho tidak menulis dalam blognya bahwa berdasarkan ayat ini, maka Tuhan dalam Bibel itu pemuja setan karena melakukan pembunuhan masal&#8230;<br />
(2) Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. (3) Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai”&#8230;. (7) Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. (8) Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. (9) Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. (1 Samuel 15:2-9).</p>
<p>Dengan ayat-ayat Bibel tersebut, mengapa Geng Walan Tardho tidak menulis dalam blognya bahwa berdasarkan ayat ini, maka Tuhan dalam Bibel itu pemuja setan karena melakukan pembunuhan masal?</p>
<p>Penutup </p>
<p>Dalam pandangan Islam, tuduhan Geng Walan Tardho bahwa Islam sebuah geng itu tidak hanya menghina umat Nabi Muhammad saja. Tapi juga melecehkan semua nabi Allah. Karena semua nabi adalah  Muslim. Nabi Ibrahim adalah muslim (Qs. Ali Imran 67), Nabi Yakub juga muslim (Qs. Al-Baqarah 132-133), Nabi Luth muslim (Qs. Adz-Dzariyat 36), Nabi Yusuf juga muslim (Qs. Yusuf 101), Nabi Sulaiman muslim (Qs. an-Naml 31). Bahkan Nabi Isa dan para peingikutnya pun Muslim (Qs. Ali Imran 52).</p>
<p>Terhadap Geng Walan Tardho yang membuat blog penghujatan terhadap Islam tersebut, pemerintah khususnya Menkominfo Tifatul Sembiring harus mengambil tindakan tegas dan cepat, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Blokir blognya, usut dan adili pembuat blognya. Jika tidak, maka bisa menimbulkan gesekan antarumat beragama yang berujung pada konflik.</p>
<p>Tindakan pemerintah sangat diperlukan supaya rakyat yang mayoritas Muslim di negeri ini tidak melakukan tindakan antisipasi sendiri-sendiri. Jika pemerintah diam saja, maka selamat berjihad para blogger dan hacker Muslim. Allahu Akbar!! [taz/voa-islam.com]</p>
<p>http://m.voa-islam.com/news/christology/2010/01/18/2679/membedah-blog-kafir-%281%29islam-adalah-geng-pemuja-setan-dan-pembunuh-manusia/</p>
<p>Makna Lambang Para Pemuja Setan </p>
<p>Makna Lambang Para Pemuja Setan. Hakikat makna dari par pemuja setan yang dimaksud dalam postingan ini secara luas berarti pembangkangan terhadap perintah Allah swt dengan kecendrungan terhadap perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan perintah agama dan cendrung untuk melakukan perbutan-perbuatan yang bersifat dosa dan dilarang agama. Sedangkan secara khusus makna dari para pemuja setan ini adalah menjadikan iblis, syetan dan jin sebagai panutan dan dipertuhankan, dipuja-puja, ditaati ajarannya dan diagungkan keberadaannya.</p>
<p>Para pemuja setan ini, dalam melakukan aktivitasnya dan ritualnya, sangat terikat dengan bahasa lambang atau bahasa simbol yang merupakan identitas komunitas atau sekte para pemuja setan tersebut. Beberapa lambang atau simbol yang dipergunakan sebagai bahasa dan sebagai identitas kelompok atau sekte serta sekaligus dijadikan bahasa dan media komunikasi sesama anggota diantaranya :<br />
1. Pentagram. Pentagram adalah bintang bersegi lima dengan gambar kepala kabing dengan dua tanduk ditengahnya. Gambar kepala kambing tersebut dipasang terbalik dan ada juga yang tidak terbalik. Keduanya sama saja. Gambar ini sebelumnya pernah terlihat pada bebarapa acara stasiun televisi Lativi ( sekarang sudah tutup ) yaitu pada acara “ Dedy Corbuzier Show “ serta pada penutupan acara ada terdapat tulisan “ Pentagram school of magic “ dan pada acara “ Dunia Lain “ di Trans TV ( sekarang trans7 )<br />
Makna dari lambang pentagram ini adalah : 1). Sudut bintang yang menggambarkan dua tanduk, bermakna Lucifer yang derajatnya sama tinggi dengan Allah. 2). Tiga sudut bintang yang dibawah bermakna tri tunggal iblis yaitu sudut yang di tengah bermakna Lucifer, sudut yang di kiri bermakna anti kristus dan sudut yang di kanan bermakna nabi-nabi palsu. 3). Disetiap sudut bintang bergambar kepala kambing, ada lima lambang kecil yang mirip rajah menggambarkan lima lambang syetan yaitu : Dracula, Zombie, Were Wolf, Vampire dan Sher Wolf<br />
2. Salip terbalik dan Salip bulat diatasnya. Lambang ini dibuat sebagai penghinaan terhadap agama Kristen, tapi pada hakikatnya para pemuja setan ini menghina seluruh agama. Pemakaian tanda salip sebagai bahasa lambang untuk melakukan penghinaan, semata-mata karena kemunculan kelompok atau sekte para pemuja setan berasal dari negara-negara yang banyak penganut agama kristen, sehingga salip lah yang menjadi sasaran. Sedangkan lambang salip yang bulat diatasnya merupakan penghargaan untuk nazi yang kejam ( mereka juga dikenal dengan neo nazi )<br />
3. Sigil of Baphomet. Adalah emblem spesifik dari Chuch of Satan. Dengan gambar berupa manusia tetapi berkepala seperti kambing dengan dua tanduk dan satu mahkota dan memiliki dua sayap. Lambang ini menggambarkan tradisi ritual magic<br />
4. Angka 666. Angka 666 ini bisanya dilukiskan dikulit tubuh dengan cara tertentu, baik permanent atau pun tidak ( temporer ) di tangan, kaki, paha dan sebagainya. Angka 666 ini dalam ajaran kristen dikenal sebagai simbol kelompok anti kristus, pendosa dan pemuja setan<br />
5. Sedangkan lambang-lambang lain yang sering juga dipergunakan oleh pera pemuja setan adalah gambar otak yang merupakan lama yang dipakai anggotanya untuk menggambarkan kematian yang menjadi bagain dari ritual mereka. Lambang otak ini sekarang dipakai oleh para pemakai narkoba terutama dari jenis heroin dan kokain<br />
6. Gambar Ular yang mengitari bumi dengan ekor dan kepala bertemu melambangkan tekat mereka untuk menguasai bumi dengan aturan dan ajaran mereka<br />
7. Sebagian mereka juga ada yang memakai lambang para penguasa mesir dulu seperti Piramida dan Spinx, terutama piramida yang ujungnya terpotong dan atau ada terdapat mata yang menyebarkan cahaya yang melambangkan bahwa mereka adalah penyebar cahaya untuk alam semesta<br />
Sedangkan salam mereka adalah dengan mengangkat dua jari ( jari telunjuk dan jari kelingking ) dan menggenggam jari-jari lainnya membentuk lingkaran yang bisa diterjemahkan sebagai tanduk setan (?!) dan ada juga yang memakai cara mengangkat tiga jari ( ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking )<br />
Cara penyampaian salam seperti ini sangat terkenal dikalangan anak muda dengan istilah salam metal, sedangkan para pemimpin dunia yang memakai cara ini yang diindikasikan sebagai salah seorang dedengkot para pemuja setan adalah Bill Clinton dan George W Bush sang Predator<br />
Di Indonesia, para pemuja setan ini berkembang melalui ajaran agama, bahkan ada yang secera terang-terangan memproklamirkan agama baru dengan mengangkat dirinya sebagai nabi atau rasul. Seperti Lia Eden, Ahmad Musaadeq dan lain – lain.<br />
Bagaimana perkembangan kelompok atau sekte para pemuja setan ini di Indonesia, dan bagaimana ciri-ciri mereka dan spesifikasi ajaran mereka serta siapa saja yang menjadi sasaran pengembangan ajaran para pemuja setan ini ?. Mungkin akan kita bahas dalam kajian-kajian berikut secara bersambung.<br />
Sebelumnya silahkan menyampaikan saran dan komentar anda melalui kotak komentar yang tersedia tapi jangan spam ya.. karena komentar anda pada postingan ini akan melahirkan semangat dan motivasi tersendiri bagi myrazano dalam menggali inspirasi demi pengembangan blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini. “ Komentar anda adalah kalimat terindah dalam kajian ini “</p>
<p>http://darisanauntuksini.blogspot.com/2010/05/makna-lambang-para-pemuja-setan.html</p>
<p>Sejarah Satanisme (Pemuja Setan)<br />
Posted by adi putra on 23:57, kategori : Sejarah dan Budaya</p>
<p>Satanisme secara singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya sebagai Tuhan. Gerakan sesat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Satanisme juga menerima setan, lambang kejahatan, sebagai pemimpin dan pembimbing.</p>
<p>Kaum Satanis, yakni para pengikut ajaran satanisme, sudah ada dan melaksanakan kegiatan mereka di setiap tahap sejarah dan dalam setiap peradaban, dari Mesir kuno sampai Yunani kuno, serta sejak Abad Pertengahan sampai hari ini.</p>
<p>Di antara abad ke-14 dan ke-16, para tukang sihir dan orang yang menolak agama sama-sama memuja setan. Setelah tahun 1880-an, di Prancis, Inggris, Jerman, dan sekaligus di berbagai negara lain di Eropa dan Amerika, Satanisme diatur dalam perkumpulan dan tersebar di kalangan orang yang mencari keyakinan dan agama lain.</p>
<p>Penyembahan setan terus berlanjut sejak abad ke-19, mula-mula sebagai Satanisme tradisional, lalu dalam aliran sesat yang lebih kecil yang merupakan pecahannya.</p>
<p>Upacara kejam yang dilakukan oleh tukang sihir dan orang-orang tak bertuhan, pengorbanan anak dan orang dewasa kepada setan, perayaan Misa Hitam dan upacara Satanisme tradisional lainnya telah diwariskan diam-diam secara turun temurun.</p>
<p>Lambang Satanisme tradisional yang terpenting adalah dewa Romawi kuno Baphomet. Pada waktu itu, Baphomet menjadi lambang bagi orang yang memuja setan.</p>
<p>Para ahli sejarah yang menelusuri asal-usul sosok berkepala kambing ini telah menemukan beberapa petunjuk penting tentang kegiatan Satanis.</p>
<p>Lambang Satanis terpenting kedua adalah pentagram, yaitu bintang bersegi lima di dalam lingkaran. Yang menarik, ada dua perkumpulan rahasia lainnya di samping para Satanis yang menggunakan Baphomet dan pentagram sebagai lambang.</p>
<p>Yang pertama adalah perkumpulan Kesatria Biara Yerusalem (Knight Templars), yaitu perkumpulan yang dituduh oleh Gereja Katolik sebagai penyembah setan, dan dibubarkan pada tahun 1311.</p>
<p>Perkumpulan lainnya adalah perkumpulan Mason yang telah bertahun-tahun lamanya menimbulkan rasa penasaran karena kerahasiaan dan upacaranya yang aneh.</p>
<p>Banyak ahli sejarah, yang telah menyelidiki masalah itu, percaya bahwa terdapat hubungan antara Kesatria Biara Yerusalem dengan perkumpulan Mason.</p>
<p>Menurut mereka, kedua kelompok itu saling melanjutkan satu sama lain. Sesudah Kesatria Biara Yerusalem dilarang oleh Gereja, perkumpulan itu melanjutkan keberadaannya secara rahasia dan akhirnya berubah menjadi paham Mason.</p>
<p>Yang pasti tentang Freemasonry adalah perkumpulan ini bersifat amat rahasia, punya susunan organisasi, dengan anggota di seluruh pelosok dunia.</p>
<p>Uraian yang diberikan para ahli seperti Leo Taxil, yang pernah menjadi seorang Mason, namun telah keluar dari perkumpulan itu, mengatakan bahwa para Mason amat menghormati Baphomet dan melangsungkan upacara yang menyerupai tata-cara penyembahan setan.</p>
<p>Kenyataan lain yang menimbulkan kecurigaan adalah bahwa banyak pengikut Satanisme yang kemudian menjadi anggota organisasi Masonic.</p>
<p>Kini, para Satanis telah meninggalkan upacara dan markasnya yang rahasia itu, untuk keluar ke jalan-jalan. Para Satanis bergiat di setiap negara untuk menyebarkan ajarannya dengan gigih dalam buku-buku, terbitan berkala, dan terutama di Internet dalam usaha mereka menarik anggota.</p>
<p>Tak peduli di negara mana pun mereka berada, para Satanis menampilkan citra yang sama. Cara berpakaian, tata cara penyembahan, kesamaan surat yang mereka tinggalkan sebelum melakukan bunuh diri dan ciri lainnya menunjukkan bahwa Satanisme bukanlah gerakan biasa yang dipenuhi para penganggur, melainkan sebuah organisasi yang sengaja bersandar pada landasan pemikiran.</p>
<p>Satanisme dan Materialisme</p>
<p>Pada dasarnya aliran Satanisme dibagi menjadi dua macam, yaitu Teistik dan Atheistik. AliranTeistik atau biasa disebut juga Satanisme Tradisional adalah suatu bentuk kepercayaan yang menganggap bahwa Setan sebagai Dewa.</p>
<p>Sedangkan aliran Atheistik adalah suatu aliran kepercayaan yang tidak menganggap adanya Tuhan ataupun Dewa untuk disembah, melainkan mereka menggunakan &#8220;Setan&#8221; sebagai simbol pada diri manusia, sebagai simbol keduniawian dan keserakahan atau dengan kata lain mereka dapat dikatakan menyembah diri mereka sendiri.</p>
<p>Salah satu Aliran Satanisme Atheistik yang terkenal adalah Gereja Setan (the Church of Satan) yang didirikan oleh Anton Szandor LaVey (Anton LaVey), karena namanya aliran ini disebut dengan aliran LaVeyan.</p>
<p>Suatu ciri kaum Satanis masa kini adalah mereka semua atheis (tidak mengakui Tuhan). Mereka juga sekaligus kaum materialis, artinya mereka hanya percaya kepada keberadaan benda belaka.</p>
<p>Mereka mengingkari adanya Tuhan dan semua makhluk gaib. Oleh karena itu, kaum Satanis tidak percaya kepada setan sebagai makhluk yang nyata.</p>
<p>Meskipun disebut sebagai penyembah setan, mereka tidak mengakui adanya setan. Bagi kaum Satanis, setan hanyalah lambang yang menyatakan permusuhan mereka terhadap agama dan kekerasan hati mereka.</p>
<p>Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengantar Setanisme” yang diterbitkan Gereja Setan, dinyatakan bahwa para Satanis sebenarnya adalah Atheis.</p>
<p>Satanisme adalah sebuah agama yang tak mengenal Tuhan dan menganut paham tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat tindakan kita.</p>
<p>Kaum Satanis tidak percaya adanya Allah, malaikat, surga atau neraka, iblis, setan, ruh jahat, ruh baik, peri, atau makhluk gaib yang jahat. Satanisme bersifat Atheis, Otodeis: kami menyembah diri kami sendiri. Satanisme adalah materialis, Satanisme adalah lawan agama. (Vexen Crabtree, “A Description of Satanisme”)</p>
<p>Singkatnya, ini adalah hasil filsafat kebendaan dan tak mengenal Tuhan yang telah tersebar sejak abad ke-19. Seperti filsafat ini, Satanisme menyandarkan diri pada teori yang dianggap ilmiah: Teori Evolusi Darwin.<br />
Musik dan Film Satanisme.</p>
<p>Satanisme muncul dalam banyak hal, salah satunya adalah film dan musik. Banyak film yang menceritakan dengan terbuka idiom satanisme serta kisah kuasa gelap (dark forces).</p>
<p>Film populer seperti : Friday The 13th, The Crow, Devils Advocate, Interview With The Vampire, bahkan serial &#8216;The X-Files&#8217; mengandung alur cerita dimana setan, satanisme atau black magic menjadi bagian penting dari film.</p>
<p>Konon tahun 1968, Anton Szandor La Vey pernah menjadi penasehat teknis sekaligus pemeran film Rosemarys Baby, film Omen 1976 disebut telah memopulerkan satanisme.</p>
<p>Dalam musik ada banyak sekali contoh musik yang berisi satanisme, contoh :</p>
<p>1. Lagu dari Ozzy Osbourne &#8220;Anggur baik tapi Wiski lebih cepat, bunuh dirilah satu-satunya jalan keluar&#8221;</p>
<p>2. Lagu dari David Bowie (majalah Rolling Stone) mengatakan Rock akan selalu menjadi musik setan.</p>
<p>3. Lagu dari Stairway to Heaven jika di putar terbalik akan memunculkan syair pemujaan setan.</p>
<p>4. Lagu dari Metallica dalam The Prince melantunkan Bida dari bawah, Aku ingin menjual jiwaku. Setan ambil jiwaku.</p>
<p>5. Pink Floyd menulis lagu Lucifer Sam dengan lirik : Lucifer Sam selalu duduk di sisimu..selalu dekat denganmu.</p>
<p>6. Tahun 1992, Red Hot Chilli Peppers saat penerimaan anugreah MTV Awards berucap. Pertama-tama kami ingin berterima kasih pada Setan.</p>
<p>Sumber : lintasberita.com</p>
<p>http://www.situsdunia.tk/2011/07/sejarah-satanisme-pemuja-setan.html</p>
<p>Sejarah Satanisme</p>
<p>Kaum Satanisme secara singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya sebagai Tuhan. Gerakan sesat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Satanisme juga menerima setan, lambang kejahatan, sebagai pemimpin dan pembimbing.<br />
 Satanis, yakni para pengikut ajaran satanisme, sudah ada dan melaksanakan kegiatan mereka di setiap tahap sejarah dan dalam setiap peradaban, dari Mesir kuno sampai Yunani kuno, serta sejak Abad Pertengahan sampai hari ini.</p>
<p>Di antara abad ke-14 dan ke-16, para tukang sihir dan orang yang menolak agama sama-sama memuja setan. Setelah tahun 1880-an, di Prancis, Inggris, Jerman, dan sekaligus di berbagai negara lain di Eropa dan Amerika, Satanisme diatur dalam perkumpulan dan tersebar di kalangan orang yang mencari keyakinan dan agama lain.</p>
<p>Penyembahan setan terus berlanjut sejak abad ke-19, mula-mula sebagai Satanisme tradisional, lalu dalam aliran sesat yang lebih kecil yang merupakan pecahannya.</p>
<p>Upacara kejam yang dilakukan oleh tukang sihir dan orang-orang tak bertuhan, pengorbanan anak dan orang dewasa kepada setan, perayaan Misa Hitam dan upacara Satanisme tradisional lainnya telah diwariskan diam-diam secara turun temurun.</p>
<p>Lambang Satanisme tradisional yang terpenting adalah dewa Romawi kuno Baphomet. Pada waktu itu, Baphomet menjadi lambang bagi orang yang memuja setan.</p>
<p>http://blog.templarhistory.com/wp-content/uploads/baphomet-e1270080262176.gif</p>
<p>Para ahli sejarah yang menelusuri asal-usul sosok berkepala kambing ini telah menemukan beberapa petunjuk penting tentang kegiatan Satanis.</p>
<p>Lambang Satanis terpenting kedua adalah pentagram, yaitu bintang bersegi lima di dalam lingkaran. Yang menarik, ada dua perkumpulan rahasia lainnya di samping para Satanis yang menggunakan Baphomet dan pentagram sebagai lambang.</p>
<p>http://2.bp.blogspot.com/_CEoSkenTZr0/TUkHoHsA5BI/AAAAAAAAALM/gx4CR4PUoZA/s1600/Satanisme.gif</p>
<p>Yang pertama adalah perkumpulan Kesatria Biara Yerusalem (Knight Templars), yaitu perkumpulan yang dituduh oleh Gereja Katolik sebagai penyembah setan, dan dibubarkan pada tahun 1311.</p>
<p>Perkumpulan lainnya adalah perkumpulan Mason yang telah bertahun-tahun lamanya menimbulkan rasa penasaran karena kerahasiaan dan upacaranya yang aneh.</p>
<p>Banyak ahli sejarah, yang telah menyelidiki masalah itu, percaya bahwa terdapat hubungan antara Kesatria Biara Yerusalem dengan perkumpulan Mason.</p>
<p>Menurut mereka, kedua kelompok itu saling melanjutkan satu sama lain. Sesudah Kesatria Biara Yerusalem dilarang oleh Gereja, perkumpulan itu melanjutkan keberadaannya secara rahasia dan akhirnya berubah menjadi paham Mason.</p>
<p>Yang pasti tentang Freemasonry adalah perkumpulan ini bersifat amat rahasia, punya susunan organisasi, dengan anggota di seluruh pelosok dunia.</p>
<p>Uraian yang diberikan para ahli seperti Leo Taxil, yang pernah menjadi seorang Mason, namun telah keluar dari perkumpulan itu, mengatakan bahwa para Mason amat menghormati Baphomet dan melangsungkan upacara yang menyerupai tata-cara penyembahan setan.</p>
<p>Kenyataan lain yang menimbulkan kecurigaan adalah bahwa banyak pengikut Satanisme yang kemudian menjadi anggota organisasi Masonic.</p>
<p>Kini, para Satanis telah meninggalkan upacara dan markasnya yang rahasia itu, untuk keluar ke jalan-jalan. Para Satanis bergiat di setiap negara untuk menyebarkan ajarannya dengan gigih dalam buku-buku, terbitan berkala, dan terutama di Internet dalam usaha mereka menarik anggota.</p>
<p>Tak peduli di negara mana pun mereka berada, para Satanis menampilkan citra yang sama. Cara berpakaian, tata cara penyembahan, kesamaan surat yang mereka tinggalkan sebelum melakukan bunuh diri dan ciri lainnya menunjukkan bahwa Satanisme bukanlah gerakan biasa yang dipenuhi para penganggur, melainkan sebuah organisasi yang sengaja bersandar pada landasan pemikiran.</p>
<p>Satanisme dan Materialisme</p>
<p>Pada dasarnya aliran Satanisme dibagi menjadi dua macam, yaitu Teistik dan Atheistik. AliranTeistik atau biasa disebut juga Satanisme Tradisional adalah suatu bentuk kepercayaan yang menganggap bahwa Setan sebagai Dewa.</p>
<p>Sedangkan aliran Atheistik adalah suatu aliran kepercayaan yang tidak menganggap adanya Tuhan ataupun Dewa untuk disembah, melainkan mereka menggunakan &#8220;Setan&#8221; sebagai simbol pada diri manusia, sebagai simbol keduniawian dan keserakahan atau dengan kata lain mereka dapat dikatakan menyembah diri mereka sendiri.</p>
<p>Salah satu Aliran Satanisme Atheistik yang terkenal adalah Gereja Setan (the Church of Satan) yang didirikan oleh Anton Szandor LaVey (Anton LaVey), karena namanya aliran ini disebut dengan aliran LaVeyan.</p>
<p>Suatu ciri kaum Satanis masa kini adalah mereka semua atheis (tidak mengakui Tuhan). Mereka juga sekaligus kaum materialis, artinya mereka hanya percaya kepada keberadaan benda belaka.</p>
<p>Mereka mengingkari adanya Tuhan dan semua makhluk gaib. Oleh karena itu, kaum Satanis tidak percaya kepada setan sebagai makhluk yang nyata.</p>
<p>Meskipun disebut sebagai penyembah setan, mereka tidak mengakui adanya setan. Bagi kaum Satanis, setan hanyalah lambang yang menyatakan permusuhan mereka terhadap agama dan kekerasan hati mereka.</p>
<p>Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengantar Setanisme” yang diterbitkan Gereja Setan, dinyatakan bahwa para Satanis sebenarnya adalah Atheis.</p>
<p>Satanisme adalah sebuah agama yang tak mengenal Tuhan dan menganut paham tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat tindakan kita.</p>
<p>Kaum Satanis tidak percaya adanya Allah, malaikat, surga atau neraka, iblis, setan, ruh jahat, ruh baik, peri, atau makhluk gaib yang jahat. Satanisme bersifat Atheis, Otodeis: kami menyembah diri kami sendiri. Satanisme adalah materialis, Satanisme adalah lawan agama. (Vexen Crabtree, “A Description of Satanisme”)</p>
<p>Singkatnya, ini adalah hasil filsafat kebendaan dan tak mengenal Tuhan yang telah tersebar sejak abad ke-19. Seperti filsafat ini, Satanisme menyandarkan diri pada teori yang dianggap ilmiah: Teori Evolusi Darwin.<br />
Musik dan Film Satanisme.</p>
<p>Satanisme muncul dalam banyak hal, salah satunya adalah film dan musik. Banyak film yang menceritakan dengan terbuka idiom satanisme serta kisah kuasa gelap (dark forces).</p>
<p>Film populer seperti : Friday The 13th, The Crow, Devils Advocate, Interview With The Vampire, bahkan serial &#8216;The X-Files&#8217; mengandung alur cerita dimana setan, satanisme atau black magic menjadi bagian penting dari film.</p>
<p>Konon tahun 1968, Anton Szandor La Vey pernah menjadi penasehat teknis sekaligus pemeran film Rosemarys Baby, film Omen 1976 disebut telah memopulerkan satanisme.</p>
<p>Dalam musik ada banyak sekali contoh musik yang berisi satanisme, contoh :</p>
<p>1. Lagu dari Ozzy Osbourne &#8220;Anggur baik tapi Wiski lebih cepat, bunuh dirilah satu-satunya jalan keluar&#8221;</p>
<p>2. Lagu dari David Bowie (majalah Rolling Stone) mengatakan Rock akan selalu menjadi musik setan.</p>
<p>3. Lagu dari Stairway to Heaven jika di putar terbalik akan memunculkan syair pemujaan setan.</p>
<p>4. Lagu dari Metallica dalam The Prince melantunkan Bida dari bawah, Aku ingin menjual jiwaku. Setan ambil jiwaku.</p>
<p>5. Pink Floyd menulis lagu Lucifer Sam dengan lirik : Lucifer Sam selalu duduk di sisimu..selalu dekat denganmu.</p>
<p>6. Tahun 1992, Red Hot Chilli Peppers saat penerimaan anugreah MTV Awards berucap. Pertama-tama kami ingin berterima kasih pada Setan.</p>
<p>7. Marilyn Manson, salah satu umat GS pada majalah Spin edisi Agustus 1996. Saya berharap dikenang sebagai sosok yang mengakhiri sejarah Kekristenan, Manson tak ragu merobek Injil dan meneriakkan penghinaan terhadap Yesus Kristus.</p>
<p>Berikut 10 band penganut satanisme yang populer</p>
<p>Di antara banyak band-band metal Saat ini, terdapat beberapa band-band yang merupakan band-band sesat yang memuja setan.</p>
<p>Band-band tersebut menjual jiwanya untuk para setan demi keinginanya agar memperoleh ketenaran. Band yang beraliran Black Metal merupakan aliran metal yang paling banyak memiliki Band Metal-Satanis.</p>
<p>1. Acheron</p>
<p>Band yang berdiri pada tahun 1998, dan dibentuk oleh Pendeta Vincent Crowley di Tampa, Florida. Yang kemudian bergabung dengan Peter H. Gilmore, Magister Gereja Setan.</p>
<p>Dan untuk pertama kalinya, band ini merilis album yang berjudul &#8220;Messe Noir&#8221; pada tahun 1988. Album ini dibuat khusus sebagai edisi terbatas (7-inci) yang juga merupakan rekor dimensi sebuah album yang belum pernah ada sebelumnya.</p>
<p>Untuk membuat album ini benar-benar kental terhadap aliran satanis, Acheron membuat album ini dicopy hanya untuk 666 eksemplar.</p>
<p>Kemudian pada tahun 1991, band ini membuat tercengang dunia dengan menerbitkan album kedua mereka yang berjudul Rites of the Black Mass (1991).</p>
<p>Pada album tersebut, setiap lagu-lagunya mengandung ayat-ayat yang ada pada injil hitam (Satanic Bible) serta digunakan intro bergaya Gothik dan gitar solo yang membuat lagu-lagu tersebut terkesan dari dunia &#8220;Kegelapan&#8221;. Lagu-lagu mereka pun didasarkan atas filsafat &#8220;Satanis&#8221;.</p>
<p>Album :<br />
Messe Noir (1988), Rites of the Black Mass (1991), Alla Xul (1992), Satanic Victory (1992), Lex Talionis (1992), Anti-God, Anti-Christ (1996), Those Who Have Risen (1997), Necromanteion Communion (1998), Compendium Diablerie : The Demo Days (2001).</p>
<p>2. Angelcorpse</p>
<p>Merupakan band yang dibentuk pada tahun 1995 oleh Pete Helmkamp dan mantan band yang dikenal sebagai Orde dari Chaos.</p>
<p>Angelcorpse berasal dari Kansas City, tapi mereka pindah ke Tampa Florida (yang merupakan daerah penganut Satanisme) di Amerika. Musik mereka bertemakan Anti-Kristus dan peperangan.</p>
<p>Pada tahun 1995 dan 2007 Band ini melakukan tur ke Eropa untuk mendukukng band-band beraliran satanisme yang ada.</p>
<p>Hal lain yang berkaitan dengan band ini adalah Pete Helmkamp, personil band, menulis buku yang berjudul &#8216;The Conqueror Manifesto.&#8217;</p>
<p>Menurutnya, hal-hal yang memandang bahwa &#8220;In the spirit of Crowley&#8217;s&#8221; dan pandangan tentang &#8220;Antichrist&#8221; adalah merupakan kebenaran. Dalam bukunya tersebut Pete menuliskan upaya manusia agar bisa naik ke Quest terhadap Plateau dari Invincibility dan mencapai Godhood (Homodeus).</p>
<p>Album :<br />
Goats to Azazael Demo (1995), Hammer of Gods (1996), Nuclear Hell (1997), Wolflust Single (1997), Exterminate (1998), Winds of Desecration (1999), The Inexorable (1999), Iron, Blood and Blasphemy (2000), Death Dragons of the Apocalypse (2002), Of Lucifer and Lightning (2007).</p>
<p>3. Cradle Of Filth</p>
<p>Band yang berasal dari Inggris dibentuk pada tahun 1992, dengan penyanyi utama Dani Filth. Merupakan Band yang sangat erat kaitanya dengan Sihir, Mitologi, dan hal-hal yang berbau Kotoran.</p>
<p>Selain menyanyikan alunan musik Black Metal, aliran ini juga memainkan aliran Dark Metal dan Death Metal, Vampyric Metal, Satan Metal dan Symphonic Black Metal.</p>
<p>Aliran ini telah banyak berubah sejak awal mula dibentuk. Pada awalnya nuansa Death Metal begitu kelihatan, namun seiring dengan waktu berubah menjadi Black, dan yang terakhir Bernuansa Ghotic yang sangat terlihat pada lagu &#8221; Nymphetamine&#8221;.</p>
<p>Prestasi besar yang pernah diraih oleh band ini adalah merupakan band yang paling terkenal di Inggris setelah Iron Maiden.</p>
<p>Album :<br />
The Principle of Evil Made Flesh (1994), Dusk&#8230; and Her Embrace (1996), Cruelty and the Beast (1998), Midian (2000), Damnation and a Day (2003), Nymphetamine (2004), Thornography (2006), Godspeed on the Devil&#8217;s Thunder (2008).</p>
<p>4. Dimmu Borgir</p>
<p>Band Black Metal yang berasal dari Oslo, Norwegia, dibentuk pada tahun 1993. Dibentuk oleh Shagrath, Silenoz, dan Tjodalv.</p>
<p>Band ini pertama kali menerbitkan album &#8216;Inn i evighetens mørke&#8217; pada tahun 1994. Yang kemudian merampungkan seluruh Track pada album For All Tid (1994).</p>
<p>Band ini diketahui sering memainkan aliran Symphonic Black Metal, Black Metal, Ritual Black Metal, dan Deathy Metal.</p>
<p>Tema-tema yang dibahas dalam lirik lagu-lagunya hampir sama dengan Cradle Of Filth, yaitu tentang pemujaan kepada Setan, Ritual, dan Peperangan.</p>
<p>Album :<br />
For all tid (1994), Stormblåst (1996), Enthrone Darkness Triumphant (1997), Spiritual Black Dimensions (1999), Puritanical Euphoric Misanthropia (2001), Death Cult Armageddon (2003), Stormblåst MMV (2005) In Sorte Diaboli (2007).</p>
<p>5. Arch Goat</p>
<p>Band kelima merupakan band Black-Death Metal, yaitu Arch Goat yang dibentuk di Finlandia. Album Pertama mereka diluncurkan pada tahun 1992 yang berjudul &#8220;Jesus Spawn&#8221;.</p>
<p>Sebuah album yang di dalamnya penuh dengan hujatan-hujatan kepada Tuhan. Style dan gaya Band ini mirip dengan Angelcorpse, yaitu anti Kristus serta banyak memainkan Filosophy Satanis. Band ini juga terkadang memainkan musik Ritual.</p>
<p>Album :<br />
Jesus Spawn (1992), Angelcunt (Tales of Desecration) (1993), Angelslaying Black Fucking Metal (2004), Live Black Mass (2005), Whore of Bethlehem (2006).</p>
<p>6. Blasphemy</p>
<p>Band Satanis keenam, adalah band Black Metal yang berasal dari Kanada, dibentuk di daerah Burnaby tahun 1984 bernama Blasphemy.</p>
<p>Debut mereka yang pertama dalah &#8220;Blood upon the Altar&#8221; pada tahun 1989, merupakan album yang berisi Hujatan-hujatan kepada Tuhan.</p>
<p>Band ini juga pernah melakukan tur ke Jerman &#8220;Fuck Christ&#8221;. Dalam syair-syairnya, Band ini banyak menggunakan tema-tema yang berhubungan dengan paganisme, mitologis dan lirik-lirik Anti-Kristus.</p>
<p>Album :<br />
Fallen Angel of Doom (1990), Gods of War (1993), Live Ritual &#8211; Friday the 13th (2002).</p>
<p>7. Behemoth</p>
<p>Band Black Metal yang berasal dari Polandia pada tahun 1991. Band ini memainkan musik dengan tema-tema Satanis, dan Ritual, dan pemujaan kepada Berhala.</p>
<p>Band ini juga memainkan aliran musik Death Metal, ada juga yang menyebutnya sebagai Black Metal, Avantgrade Metal, Pagan Metal.</p>
<p>Namun aliran yang sebenarnya dari band ini masih diragukan, karena band ini lebih suka tidak dilabelkan dalam genre apapun.</p>
<p>Album :<br />
And the Forests Dream Eternally (EP) (1995), Sventevith (Storming Near the Baltic) (1995),Grom (1996), Bewitching the Pomerania (EP) (1997), Pandemonic Incantations (1998), Satanica (1999), Thelema.6 (2000), Antichristian Phenomenon (EP) (2001), Zos Kia Cultus (Here and Beyond) (2002), Conjuration (EP) (2003), Demigod (2004), Slaves Shall Serve (EP) (2005), The Apostasy (2007), Ezkaton (EP) (2008), Evangelion (2009).</p>
<p>8. Arch Enemy</p>
<p>Band Melodic Death Metal yang berasal dari Swedia. Band ini bernama Arch Enemy. Band ini merilis album pertamanya pada tahun 1996 berjudul &#8220;Black Earth&#8221;.</p>
<p>Style band ini sangat mengagumkan, setiap track pada albumnya penuh dengan Melodi Gitar yang digabung dengan suara vokalis cewe (Angela Gossow) ini membuatnya begitu berkesan.</p>
<p>Hal-hal yang dibahas dalam lagu-lagunya adalah hal-hal mengenai Kiamat, dan Anti-Kristus. Selain itu, pesonil band ini berasal dari para mantan Pemain band metal sebelumnya, seperti band Carcass, dan Yohanes Liva.</p>
<p>Album :<br />
Black Earth (1996), Stigmata (1998), Burning Bridges (1999), Wages of Sin (2001), Anthems of Rebellion (2003), Doomsday Machine (2005), Rise of the Tyrant (2007).</p>
<p>9. Beherit</p>
<p>Band ini dibentuk di Finlandia pada tahun 1989. Band ini sendiri memiliki arti &#8220;setan&#8221; dalam bahasa Syria. Musik mereka bertemakan kebiadapan, Anti-Kristus, Neraka, dan penghujatan.</p>
<p>Band ini terkenal karena gaya ambient yang dimainkan personilnya, band ini juga memainkan aliran Deathcore dan Black Metal.</p>
<p>Album :<br />
The Oath of Black Blood (1991), Drawing Down the Moon (1993), Dawn of Satan&#8217;s Millennium (1991), Werewolf, Semen and Blood (1998), Messe Des Morts (1994), Beast of Beherit &#8211; Complete Worxxx (1999).</p>
<p>http://www.apakabardunia.com/2011/07/sejarah-perkembangan-setanisme-pemuja.html</p>
<p>KONSEP SYAITHAN DALAM AL-QURAN<br />
“Sombong adalah dosa favoritku”, demikian kata Iblis yang menjelma menjadi manusia bernama Milton yang diperankan oleh Alpacino dalam film Devil’s advocate yang disiarkan oleh Trans7 beberapa malam lalu. “<br />
Mr. Arman setahu saya film tersebut ditayangkan di Antv, Keanu Reeves (pengacara) yang terlahir dari seorang Kristen dapat dengan mudah tergoda oleh Satan/Setan yang tidak lain adalah Milton, bapaknya sendiri. Pertanyaan saya adalah simple saja (kepada para member), menurut anda konsep Setan dan Iblis itu seperti apa? Apakah Setan dan Iblis itu dapat mencobai secara direct kepada manusia?<br />
Ya, mas Aris.<br />
Maafkan saya jika terlupa distasiun televisi mana saya menonton film tersebut, sebab beberapa malam terakhir ini saya kebetulan sedang sering menyaksikan Trans7 makanya seingat saya kemaren disana. Jadi ANTV ya …<br />
Oke, kita coba bahas tentang setan ya …<br />
Setan atau Syaithan (شَيْطَانٌ) dalam bahasa Arab diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata (شَاطَ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan atau setan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Bagi sebagian kalangan, apabila mendengar kata Setan, maka seketika pikirannya biasanya akan langsung membayangkan sesosok makhluk yang seram, hitam, bertanduk dikepalanya, kedua matanya merah, gigi tajam tak ubahnya drakula, dan memiliki ekor dengan ujungnya seperti anak panah. </p>
<p>Akan tetapi apakah memang demikian keadaan setan sebenarnya ?</p>
<p>Jika kita membuka lembaran-lembaran kitab suci dan juga hadis-hadis yang meriwayatkan perihal setan itu sendiri, ternyata kita TIDAK akan menemukan penggambaran sosok setan seperti yang kita bayangkan itu. Tidak ada keterangan apapun dari Allah didalam al-Qur’an maupun juga dari Rasul didalam Hadisnya mengenai perwujudan asli dari makhluk yang bernama setan ini.<br />
Satu hal lain yang sangat lumrah terjadi dimasyarakat, bila kita menyebut setan maka biasanya kitapun akan sering mengindentikkannya dengan Iblis, yaitu suatu makhluk yang diceritakan oleh al-Qu’ran sebagai pembangkang perintah Tuhan saat disuruh bersujud kepada manusia yang oleh Tuhan berfungsi sebagai Khalifah dibumi (Lihat Qs. 2 al-Baqarah : 34, Qs. 7 al-A’raaf : 11, Qs. 15 al-Hijr : 31, Qs. 17 al-Israa’ : 61, Qs. 18 al-Kahfi : 50, Qs. 20 Thaaha : 116 dan Qs. 38 Shaad : 74).<br />
Menurut Encyclopedia Britannica, kata setan sebenarnya berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “musuh” dan biasanya ditujukan kepada jenis Jin yang ingkar dan melakukan bisikan jahat terhadap manusia sebagai tindakan godaan dan kesuksesan mereka adalah bergantung dari kecerdikannya.</p>
<p>Pernyataan tersebut tidak bertentangan dengan pernyataan al-Qur’an maupun hadis Nabi berikut :<br />
Kami jadikan para Nabi itu musuh-musuh setan, yaitu dari jenis manusia dan Jin – Qs. 6 al-an’am : 112</p>
<p>Sungguh, aku melihat setan-setan Jin dan manusia lari dari Umar<br />
- Hadis Riwayat Tirmidzi</p>
<p>Dari ayat dan hadis tersebut, digambarkan oleh al-Qur’an bahwa setan itu terbagi atas dua jenis, yaitu setan dalam wujud manusia dan setan dalam wujud Jin. Dan dari sini juga ada indikasi bahwa yang namanya setan itu tidak selamanya identik dengan Iblis.<br />
Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)<br />
Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).<br />
Sementara Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.<br />
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”<br />
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)<br />
Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ<br />
“Anjing hitam adalah setan.”<br />
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)<br />
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.<br />
(Teks yang miring diatas dikutip dari :</p>
<p>http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=349)</p>
<p>Jadi sekali lagi : Iblis tidak selamanya = Setan<br />
Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, adalah dia dari golongan jin<br />
- Qs. 18 al-Kahfi : 50<br />
Jadi, Iblis itu sendiri dinyatakan Allah berasal dari golongan Jin, tidak ada Iblis dari golongan manusia, sehingga mengidentikkan antara Iblis dan Setan tidaklah selamanya benar.</p>
<p>Lalu, setan dari jenis manusia itu apa dan bagaimana ?<br />
Sabda Nabi :<br />
Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu langit, dikunci pintu neraka dan setan dibelenggu<br />
Hadis Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah<br />
Pernyataan Nabi bahwa pintu langit dibuka pada bulan Ramadhan tentunya dimaksudkan sebagai terbukanya pintu rahmat dan pintu ampunan Allah bagi para hamba-Nya yang berpuasa, sementara terkuncinya pintu neraka adalah tertutupnya pintu azab Allah selagi kita menggunakan kesempatan dibulan suci itu untuk melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya : bertaubat) serta memperbanyak amal ibadah.<br />
Dan pernyataan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan juga tidak mungkin kita artikan secara kontekstual yang sebenarnya, sebab memang pada kenyataannya dibulan Ramadhan masih banyak kejahatan merajalela, penyembahan berhala, minum-minuman keras, main perempuan dan aneka tindak kriminal lainnya.<br />
Jadi, yang dimaksud oleh Nabi itu tidak lain adalah pada bulan Ramadhan itu sewajarnya hawa nafsu kejahatan (fujuroha) yang senantiasa ada pada diri manusia itu lebih terkekang karena simanusianya seharusnya sibuk melakukan pendekatan diri kepada Tuhan (taqwaha), banyak melakukan dzikir serta menahan makan dan minum yang merupakan sumber dari timbulnya nafsu negatif.<br />
Kesimpulan ini sesuai juga dengan sabda Nabi yang lain :<br />
Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia melalui tempat jalannya darah Maka persempitlah tempat jalannya dengan lapar (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)<br />
Tidaklah mungkin pada tubuh kita ini ada setan (dalam pengertian makhluk Jin) yang berdiam, sebab jika itu benar maka kita semua ini bisa dikatakan kesurupan setiap hari, karena itulah maka yang disebut sebagai setan itu adalah dorongan negatif yang selalu berusaha mendominasi semua perbuatan dan pikiran kita setiap waktu (seiring dengan perjalanan darah).<br />
Bukankah Nabi juga pernah bersabda tatkala beliau kembali dari medan perang :<br />
Kita baru saja kembali dari peperangan kecil menuju keperang yang besar Yaitu perang melawan hawa nafsu<br />
- Hadis Riwayat al-Khatib dari Jabir<br />
Pada Hadis yang sudah kita kutip sebelumnya Nabi menyatakan bahwa lapar (berpuasa) merupakan salah satu cara mengekang diri dari tindakan negatif yang justru merugikan diri kita sendiri.<br />
Sabda Nabi yang lain :<br />
Jika kalian mendengar suara keledai maka belindunglah kepada Allah dari setan. Karena sesungguhnya dia melihat setan – Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim<br />
Sekali lagi, jika memang didalam diri manusia ini ada setan dalam pengertian makhluk halus, maka apakah setiap keledai melihat manusia juga pasti akan bersuara (melenguh) sebab pada saat yang sama seharusnya dia juga melihat setan didalam diri manusia ?Sementara jika kita mengartikan setan sebagai energi negatif atau dorongan nafsu untuk berbuat kejahatan (menentang jalan Tuhan) maka hal ini sesuai dengan pernyataan al-Qur’an :<br />
Lalu ALLAH mengilhamkan kepada jiwa (Nafs) itu (nilai-nilai) fasiq dan (nilai-nilai) taqwa – Qs. 91 asy-syams : 8<br />
Bersesuaian pula dengan teori yang ada pada ilmu Psiko-linguistik yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan didunia bukan dengan piring kosong (teori Tabula rasa), manusia dilahirkan dengan dibekali faculties of the mind atau ada juga yang mengistilahkannya sebagai innate properties (Soenjono Dardjowidjojo, Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 2003).<br />
Semuanya berpulang kepada kita, mana yang akan kita ikuti, apakah semangat berbuat kebaikan ataukah semangat untuk berlaku jahat ?<br />
Ketahuilah, bahwa didalam jasad ada gumpalan, bila gumpalan itu baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasad ketahuilah bahwa itulah hati – Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim<br />
Semakin kita condong pada perbuatan negatif (hawa nafsu), maka Iblis yang sejak awal mengumumkan permusuhannya dengan manusia, akan mengerahkan semua bala tentaranya dari kalangan Jin yang juga memiliki sifat jahat untuk menambah semangat kita berbuat hal yang batil dengan jalan membisik-bisikkan rayuan fatamorgana didalam hati.<br />
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka – Qs. 3 an-nisa’ : 120<br />
… Kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang berbisik kedalam dada manusia dari Jin dan manusia – Qs.114 an-nas : 4 – 6<br />
Kita semua sudah mengetahui bahwa antara ALLAH dan Iblis telah terjadi satu perjanjian dimana Iblis diberi kebebasan oleh Tuhan untuk mengadakan cobaan serta ujian atas keimanan manusia terhadap-Nya.<br />
Dan ajaklah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, kerahkanlah kepada mereka pasukanmu yang berkendaraan dan pasukanmu yang berjalan kaki lalu bersekutulah bersama mereka dalam urusan harta dan anak-anak dan berilah mereka janji<br />
- Qs. 17 al-Isra : 64<br />
Disamping itu, mungkin kita juga perlu melakukan kajian secara komprehensif terhadap beberapa hadis Nabi yang menghubungkan penyakit dengan setan dan menghubungkan pula antara suatu perbuatan dengan setan misalnya :<br />
Hendaklah seseorang diantara kamu makan, minum dan mengambil dengan tangan kanannya karena setan itu makan, minum dan memberi dengan tangan kirinya – Hadis Riwayat Ibnu Majah<br />
Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah diletakkan tangannya dimulutnya dan tidak memanjangkan suaranya, karena sungguh setan mentertawakannya – Hadis Riwayat Ibnu Majah<br />
Tutuplah bejana, tutuplah tempat-tempat air, tutuplah pintu dan padamkanlah lampu Sebab setan tidak singgah ditempat air yang tertutup, tidak membuka pintu tertutup Serta tidak membuka bejana yang tertutup – Hadis Riwayat Bukhari<br />
Janganlah kalian kencing dilobang – Hadis Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad<br />
Jangan kalian melepas ternak-ternak kalian dan anak-anak kalian saat matahari terbenam hingga kegelapan malam, sebab sungguh, setan bergentayangan saat matahari terbenam hingga hilang gelapnya malam – Hadis Riwayat Muslim<br />
Beberapa hadis diatas meskipun teksnya dihubungkan dengan setan, namun bisa kita tinjau dari sisi tata krama, medis maupun keselamatan.<br />
Orang yang makan, minum atau melakukan aktivitas dengan tangan kirinya berkesan orang yang tidak sopan dan jorok, sebab secara umum, tangan kiri kita gunakan untuk –maaf- mencebok sisa kotoran dipantat. Lalu secara psikologis, apakah kita mau makan makanan yang bersih dan sehat dengan tangan yang biasa memegang kotoran ?<br />
Lalu bayangkan kita menguap lebar-lebar sambil bersuara “hhaaaahhh…” ditengah orang banyak atau didekat orang yang anda sayangi ataupun malah didalam suatu rapat, apa kesan orang-orang tersebut kepada kita ? Selain itu jika saat kita menguap lebar itupun akan memungkinkan virus-virus tertentu yang ada diudara masuk melalui mulut.<br />
Perintah Nabi untuk menutup tempat-tempat air yang terbuka, mematikan lampu dan menutup pintu tidak lain agar makanan dan minuman kita bersih dari penyakit yang berbahaya seperti jentik nyamuk demam berdarah atau jilatan binatang sejenis kucing, tikus dan sebagainya.<br />
Mematikan lampu sebelum tidur adalah langkah efisiensi atau penghematan sekaligus mencegah terjadinya arus pendek yang bisa mengakibatkan kebakaran apalagi pada masa lalu orang menggunakan lampu teplok dan lilin untuk penerangan sehingga tidak menutup kemunginan lampu teplok itu jatuh kelantai dan mengenai kain sehingga terjadi kebakaran.<br />
Dan larangan kencing dilobang menurut saya agar tidak timbul penyakit maupun aroma tak sedap dari lobang bekas kencing, ini tentu saja pengecualian bagi lobang WC yang bisa disiram sehingga tidak menimbulkan bau dan penyakit sebagaimana pernah diungkapkan oleh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manarnya bahwa makhluk-makhluk hidup yang halus yang dikenal orang sekarang dengan perantaraan mikroskop dan diberi nama mikroba ada kemungkinan juga termasuk jenis Jin jahat (setan) yang menjadi penyebab dari berbagai macam penyakit (Syaikh Muhammad al-Ghazali, Studi Kritis atas Hadis Nabi Saw : Antara pemahaman tekstual dan kontekstual dengan pengantar : Dr. M. Quraish Shihab, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1993, hal. 125).<br />
Menutup pintu tidak lain agar rumah kita tidak dimasuki setan manusia berupa maling, rampok atau sejenisnya yang dapat merugikan kita sendiri. Sementara larangan Nabi agar tidak melepaskan ternak dan anak-anak diwaktu matahari tenggelam hingga pagi hari tidak lain untuk menghindarkan kita dari ulah penculik anak dan maling binatang.<br />
Kesimpulan akhir adalah setan itu merupakan segala sesuatu yang bersifat jahat yang bisa menjerumuskan seseorang dalam suatu bahaya, baik bahaya didunia maupun bahaya diakhirat. Setan bisa berupa hawa nafsu negatif yang merangsang seseorang untuk berlaku jahat dan menyimpang dari kebenaran. Setan juga bisa menimbulkan penyakit tertentu dan setan juga bisa berwujud Jin yang jahat.<br />
Jadi, jika ada manusia yang selalu melakukan kejahatan, kebiadaban atau kenistaan maka dia adalah setan berwujud manusia, demikian pula bila ada Jin yang berlaku sama seperti itu maka dia adalah setan berwujud Jin.<br />
Sebagai tambahan penutup, dalam al-Qur’an Allah tidak pernah menyinggung asal penciptaan setan, namun Allah telah menyinggung asal penciptaan Jin dan Manusia didalam banyak ayatnya, sementara asal penciptaan Malaikat disinggung oleh Nabi dalam sebuah Hadisnya :<br />
Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat ALLAH, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. – Qs. 7 al-a’raf : 201<br />
Jika setan mengganggumu, maka mohonlah perlindungan kepada ALLAH, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui – Qs. 41 fushilat : 36</p>
<p>http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/03/06/konsep-setaniblis-dalam-al-quran/</p>
<p>10 Pintu Setan dalam Menyesatkan Manusia<br />
Januari 15, 2009 pukul 10:00 am | Ditulis dalam Qolbu | 11 Komentar<br />
Kaitkata: menyesatkan, pintu, Qolbu, sesat, setan<br />
Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST<br />
 Saudaraku, ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada pintu-pintunya. Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini.<br />
Pintu pertama:<br />
Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.<br />
Pintu kedua:<br />
Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه<br />
“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)<br />
Pintu ketiga:<br />
Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.<br />
Pintu keempat:<br />
Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:<br />
فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ<br />
“Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)<br />
Pintu kelima:<br />
Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.<br />
Pinta keenam:<br />
Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ<br />
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)<br />
Pintu ketujuh:<br />
Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.<br />
Pintu kedelapan:<br />
Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.<br />
Pintu kesembilan:<br />
Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.<br />
Pintu kesepuluh:<br />
Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.<br />
Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.<br />
Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy<br />
Pangukan, Sleman, 18 Muharram 1430 H<br />
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya<br />
Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
<p>http://rumaysho.wordpress.com/2009/01/15/10-pintu-setan-dalam-menyesatkan-manusia/</p>
<p>Saya harap perlu ada mengartikan setan, Iblis dan jin. Setan<br />
sebenarnya dari nafsu jelek dari manusia maupun Jin.<br />
Iblis adalah nama jin yang dulunya di Surga yang pernah tidak<br />
menyukai Adam&amp; Hawa. Iblis adalah sebutan nama jin seperti nama orang.<br />
Sedangkan Jin adalah bangsa jin yang dari keturunan Iblis seperti<br />
bangsa manusia yang dari keturunan Adam&amp;Hawa.</p>
<p>  Yang dapat berlindung padaNya Tuhan yang maha alam semesta adalah<br />
Allah SWT, perbanyaklah amal, sholat, Ibadah, berzikir dan doa doa<br />
pada satu Tuhan yang maha alam semesta. Bukan pada Nabi Isa dan Nabi<br />
Muhammad, karena mereka nabi yang tidak bisa menolong selama mereka<br />
tidak ada kelebihan. Hanyalah Allah yang maha pemberi dan maha<br />
penyayang.</p>
<p>  Keberadaan jin dan manusia hanya sebagai peringatan dan ujian hidup<br />
kita dalam pengertian artinya keimanan dan kedisiplinan demi amal di<br />
Surga. Sesungguhnya Allah telah memberi neraka untuk membangun<br />
kesadaran kita semua untuk lebih mengutamakan tujuan hidup dan<br />
kebaikan di dunia ini. </p>
<p> Sudah ada peringatanNya adanya nafsu setan yang kebanyakan di tempat<br />
tempat kemaksiatan adalah klub minuman keras, pelacuran, perjudian,<br />
perkelahian, wanita cantik berpakaian hampir vulgar sebagai<br />
pemancing, dan banyak lagi. Bentuk apa saja yang dapat mengajak umat<br />
umat lebih menjauhiNya.</p>
<p>   Mengapa? kalau Adam&amp;Hawa diturunkan ke bumi sebab adanya<br />
rencanaNya? karena Bumi ini memerlukan pembenahan hidup dan<br />
kemakmuran lagipula Hawa dapat berhamil bayi untuk keturunan di Bumi.<br />
Karena semasa adanya Adam&amp;HAwa, Allah telah menyatakan bumi akan ada<br />
pembunuhan/perusakan dan sebagainya. Ini memberi artinya akan ada<br />
keturunan manusia dari Adam&amp;Hawa.</p>
<p>  Dulunya Iblis sangat setia padaNya dalam waktu yang sangat lama<br />
bersama malaikat malaikat sebelum tercipta Adam&amp;Hawa. Jin Iblis<br />
memiliki kepimpinan di atas para malaikat. Sehingga terjadi<br />
kecemburuan dalam jiwa Iblis melihat bentuk Adam&amp;Hawa maupun<br />
kesayanganNya pula.  Iblis kehilangan kekekalan karena Iblis tidak<br />
memperhatikan kebersamaan dan tidak memperlihatkan kebaikan pada<br />
Adam&amp;Hawa.</p>
<p>IDA: Apakah Genderuwo, kuntilanak, drakula, wewegombel juga disebut<br />
setan?  Jika kita memahami kata setan sebagai lambang kejahatan, maka<br />
bisa jadi yang seperti itu juga ya setan-setan.</p>
<p>  Itulah hanya dongengan/kacau di TV, AjaranNya Al quran telah lama<br />
melarang kita melihat mahkluk mahkluk Ghoib. Inilah tugas umat umat<br />
TV yang kafir/non Islam dalam menyelenggarakan misteri hantu, telah<br />
dapat merusak citra Islam dan membangun hal hal yang tidak<br />
bermanfaat. Seharusnya dilakukan adalah TV menyelenggarakan semangat<br />
kekeluargaan, bersolusi, kesadaran dan keimanan. Jadi mengapa tidak<br />
mereka memandang perkembangan pemikiran kaum muda dalam kebutuhan<br />
informasi dan tujuan hidup. Sesungguhnya menyelenggarakan misteri<br />
hantu itu tidak ada di dalam kehidupan umat manusia. </p>
<p>  Sangat mustahil dalam berkeinginan melihat mahkluk mahkluk halus<br />
karena dalam tergolong mabuk miras mapun dukun terlarang. Selama ini<br />
kalau mahkluk mahkluk ghoib dalam dunia maya adalah sedang menjalani<br />
process ke Akhirat, hukumanNya atas bunuh diri dan terdakwa yang<br />
terhukum atas besarnya dosa. Mengapa dukun/agama berhala tidak waras<br />
meminta kekuatan pada roh roh untuk mengabulkan keinginan tertentu<br />
padahal Hanyalah Allah Tuhan yang maha alam semesta yang memiliki<br />
kemampuan memberi segala galanya untuk kebutuhan dunia. Sebenarnya<br />
bila dukun memohon pada roh, kekuatan dapat didapat dari roh melalui<br />
JIN SETAN!! Demi membangun kesesatan dan pembangkangan terhadapNya<br />
biar akan menjadi kerugian besar di Akhirat sesuatu saatnya untuk<br />
bersama kumpulan setan di neraka yang sangat panas.</p>
<p>  Saya bisa memaklumi banyak umat lebih mengistimewakan<br />
orang/pahlawan daripada Tuhan karena sejarah yang mengharukan dan<br />
berjasa. Padahalnya sejarah apa yang perlu menjadi penting bagi<br />
peradaban dunia ini dan artinya kecintaan padaNya Tuhan yang alam<br />
semesta. </p>
<p>  Tetapi sesungguhnya seorang misalnya nabi Isa telah masuk ke surga<br />
dan tidak ada dibunuh. Karena Allah Tuhan telah menukarkan roh Nabi<br />
Isa pada Yakuza di badan Nabi Isa. Sesungguhnya Nabi Isa mampu<br />
melawan dengan bantuan Allah SWT tetapi tidak dilakukan karena<br />
kedatangan utusan kepercayaanNya yang paling terakhir adalah Nabi<br />
Muhammad. Dan kitab suci nabi Isa sudah tidak bisa tertolong atas<br />
kemurnian. Nabi Muhammad lebih memilih memperjuangkan jalanNya dalam<br />
melakukan penyebaran ajaranNya sampai perlawanan daripada hidup penuh<br />
kekurangan atas semangat kebenaran seperti akhir riwayat hidup Nabi<br />
Isa dahulu.</p>
<p>http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Re-Definisi-Setan-menurut-Quraish-shihab</p>
<p>Syaitan Musuh Nyata<br />
Share<br />
&gt;&gt; Senin, 07 Juni 2010<br />
Bismillahirrahmanirrahiim</p>
<p>إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ<br />
&#8220;Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala&#8221;<br />
Qs. Al-Faathir : 6</p>
<p>Syaitan bisa berasal dari golongan jin dan manusia. Tujuan besar syaitan adalah meKAFIRkan manusia.</p>
<p>Baik pendengaran, penglihatan, dan hati kita, secara fitrah (fungsi suci yang ditakdirkan Allah) adalah untuk mendengar, melihat, serta menyukai kebaikan (ketaatan pada Allah). Karenanya jagalah kefitrahan pendengaran, penglihatan, serta hati kita dengan selalu istiqomah di jalan Allah. Bagaimana caranya? Yakni dengan banyak-banyak mengingat Allah, memohon ampunan dan Rahmat-Nya agar pendengaran, penglihatan, dan hati kita senantiasa dijaga dari hal-hal yang akan mengotorinya. Sebenarnya, bila kita mau jujur akan apa yang dirasakan, ketika mata, telinga dan hati kita tidak difungsikan sebagimana fitrahnya, ada ketidakbahagiaan/ketidaknyamanan yang hadir, menyelimuti hari kita. Dan pada saat yang sama, ketika hati kita lemah, syaitan akan dengan mudah menipu daya kita, lalu terjeratlah ke dalam golongannya. Na&#8217;udzubillah.</p>
<p>&#8220;ya Allah sehatkanlah badanku, ya Allah sehatkanlah pendengaranku, yaAllah sehatkan penglihatanku.&#8221;<br />
(doa ini ada terdapat dalam al-matsurat)</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً </p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: &#8220;Sujudlah kamu kepada Adam!&#8221;, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.&#8221;<br />
Qs. AL-Kahfi : 50</p>
<p>Strategi syaiton dalam menipu daya manusia, diantaranya adalah:<br />
1. menimbulkan was-was<br />
2. membuat lupa<br />
3. memanjangkan angan-angan<br />
4. memandang indah kebathilan<br />
5. mengadu domba<br />
6. mengajaknya berbuat keji</p>
<p>Secara garis besar, hal yang dilakukan setan dalam menjalankan tugasnya, dapat dibedakan menjadi dua, yakni PENYESATAN dan PENAKUTAN. Dan secara tidak sadar, kita telah menanamkan rasa takut kepada selain Allah pada anak-anak kita sejak dini. Tentang sesuatu yang tidak patut kita takutkan selain Allah. loh, kok kita mesti takut pada Allah?</p>
<p>Allah adalah satu &#8211; satunya dzat yang pemberi janji dan harapan yang benar. Maha Suci Allah dengan segala sifat-Nya. Karena keyakinan akan janji dan Harapan dari Allah, membuat kita tergerak untuk patuh dan taat menjalankan segala perintah dan larangan dari Nya. Bayangkan bila seseorang merasa diri hebat dan sedikit pun tidak takut pada Allah. Apa yang akan membuat diri dia merasa perlu untuk sujud pada Allah, menunaikan shalat, membayar zakat, menutup aurat, menjaga pandangan, dan sebagainya? Penting bagi kita untuk memiliki rasa Takut dan Harapan hanya pada Allah saja!</p>
<p>Perbuatan kita yang bagaimana sih yang ternyata tanpa disadari mendidik anak kita menjadi takut pada hal yang tidak semestinya? Pernah kita dengar, bisa jadi sering atau bisa jadi juga kitalah pelakunya, menakut &#8211; takuti anak kecil agar secara instan mereka mendengar perintah kita. &#8220;hayooo ada setan loh disana.&#8221; atau &#8220;hayooo ada hantu loh disana, dek&#8221;. Padahal, Takut dan Harapan hanya pada Allah</p>
<p>http://berandadumai.blogspot.com/2010/06/syaitan-musuh-nyata.html</p>
<p>KITAB SYAITAN YAHUDI &#8211; TALMUD<br />
Bahaya Zionisme<br />
Zionisme adalah akidah dan metode kerja Yahudi yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama secara ringkas. Akidah ini secara rinci dapat Anda temukan dalam Talmud: ajaran yang paling rasis juga diskriminatif; sebuah kitab paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi.<br />
Louis Daste di dalam bukunya ‘Yahudi dan Organisasi Rahasia’ mengatakan; Dalam setiap perubahan pemikiran besar terdapat pengaruh Yahudi baik yang nampak ataupun rahasia. Sepanjang sejarah dunia, Yahudi memasukkan ribuan racun berbahaya.<br />
Al-Quran sering menggunakan sebutan Ahlul Kitab untuk kaum Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul Kitab juga termasuk orang-orang Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah sebutan untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di antara beberapa surat dalam Al-Quran yang banyak menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kaum Yahudi adalah QS. Al Baqarah, Ali ‘Imran, Al Maidah, At-Taubah.<br />
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS.Al Ma&#8217;idah: 82)<br />
Dalam buku “An Interview of Illan Pappe, ” Baudoin Loos menyebutkan seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”. Pappe adalah salah satu Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya.”[1]<br />
Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.<br />
Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies.[2]<br />
Ary Serabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”<br />
Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina. Mereka menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:<br />
“Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…ha”<br />
Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.<br />
&#8216;Protocols of Learned Elders of Zion&#8217; (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah rencana praktis atau kertas kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud. Jika Talmud merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protol Yahudi ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana strategis modern dan kontemporer.[3]<br />
Metoda kerja yang dipakai oleh ‘Protokol’ untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai teori yang ambur-adul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh ‘Protokol’. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam ‘Protokol’ yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program tersebut.[4]<br />
Talmud Berbahaya<br />
Agama Yahudi sebenarnya bersumberkan dua pokok:<br />
1. Kitab Taurat.<br />
Kitab yang kita akui dan mengandung wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa. Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat (Taurat ada dua Versi : Taurat Asli dan Taurat Versi Perjanjian Lama yang sekarang). Mereka ini disebut golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban kedzaliman para pendeta Yahudi orthodoks.<br />
2. Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד)<br />
Jauh sebelum pena-pena para intelektual dan sejarawan dunia menggores; sebelum para intelektual kawakan dunia melakukan analisa dan penelitian, Al Qur&#8217;an dan Sunnah telah memaparkan bukti-bukti yang menjelaskan bahwa para rabbi Yahudi telah mengubah dan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Bahkan, mereka telah membuat sebuah kitab sendiri yang sangat jauh dari akal sehat sebagai tandingan bagi kitab Taurat. Itulah kitab Talmud, sebuah &#8220;buku hitam&#8221; Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan.[5]<br />
Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi. “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat. [6]<br />
Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa a.s. sendiri mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal), termasuk mereka yang mengajarkannya (para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru. Para pendeta Farisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (guru agama), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’, mengutip pernyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud, kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisI merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat.”[7]<br />
Terhadap tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” dari para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ adalah kitab yang paling otoritatif.[8]<br />
Dalam Al-Quran, surat At-Taubah, ayat 30. Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Uzair itu putera Allah&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata: &#8220;Al Masih itu putera Allah.&#8221; Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?<br />
Dari ayat ini nampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah SWT tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, (QS 112:3).<br />
Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa ‘Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi ‘Uzair adalah orang yang telah mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab At Taurat yang sudah hilang sebelum masa Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang berasal dari ‘Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu ‘Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan ‘uzair sebagai anak Allah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang akidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.<br />
Kitab Talmud dan Tindak Tanduk Zionis<br />
Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Taurat. Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi, prinsip, serta arahan bagi perumusan kebijakan negara dan pemerintah Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itu pula sebabnya mengapa Israel disebut sebagai Negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik.<br />
Namun Talmud merupakan manifesto yang paling berbahaya kepada perikemanusiaan. Ia lebih berbahaya daripada buku Mein Kampf, karya Hitler. Ia menggariskan penghancuran total semua agama dan peradaban yang ada di dunia, demi terciptanya sebuah masyarakat zionis internasional.<br />
Seorang ilmuwan terkenal dalam bidang kebudayaan Ibrani dan kajian tentang Talmud, Joseph Barcley, menyatakan, &#8220;&#8230;. Sebagian teks yang ada dalam Talmud adalah ekstrim, sebagiannya lagi menjijikkan, dan sebagiannya lagi berisi kekufuran&#8230;.&#8221; Karenanya, banyak penguasa negara (Raja dan Kaisar) dan penguasa agama (Paus) di Eropa mengharamkan beredarnya kitab ini.<br />
Sebagian dari yang terkandung di dalam kitab Talmud; Israel bertanya kepada Tuhan, &#8220;mengapa Engkau ciptakan makhluk selain bangsa pilihanMu?&#8221; Tuhan menjawab, &#8220;Supaya kamu menaiki belakang mereka, menghisap darah mereka, membakar mereka yang baik, mencemari yang suci dan menghancurkan segala yan dibangunkan.&#8221;<br />
Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang didasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperikan terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia, khususnya di tanah Palestina sampai dengan saat ini. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud menetapkan bahwa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”, artinya sama dengan binatang, derajat mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Nabi Adam a.s. Marilah kita periksa beberapa ajaran Talmud.<br />
Beberapa kutipan yang diangkat dari Kitab Tamud dalam uraian berikut ini merupakan dokumen aseli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan dapat memberikan pencerahan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi, tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks maupun Hasidiyah di seluruh dunia:<br />
Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud<br />
Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.<br />
Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota, dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”.<br />
Menganiaya seorang Yahudi Hukumannya ialah Mati<br />
Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.<br />
Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi<br />
Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.<br />
Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi<br />
Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi, maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.<br />
Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi<br />
Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b).<br />
Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi<br />
Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati. Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.<br />
Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada BaniIsrael”.<br />
Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi<br />
Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.<br />
Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia<br />
Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.<br />
Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.<br />
Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.<br />
Ajaran Gila di dalam Talmud<br />
Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang jamban, dicampur dengan madu, lalu dimakan”.<br />
Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara yang suci telah ditentukan”.<br />
Yebamoth 63a, “’… Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.<br />
Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengawini anak-perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.<br />
Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.<br />
Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak perempuan, tidak ada dosanya”.<br />
Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi”.<br />
Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorang pun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.<br />
Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan masuk neraka”.<br />
Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.<br />
Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari jamban, maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan menempuh perjalanan sejauh setengah mil, karena iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama waktu itu; kalau ia melakukannya juga (bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.<br />
Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan ambil kotoran seekor anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas”.<br />
Pesahim 111a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma, berdiri di antara dua orang laki-laki. Karena musibah khusus akan datang jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan”.<br />
Menahoth 43b – 44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, karena Engkau tidak menjadikan aku seorang kafir, seorang perempuan, atau seorang budak-belian’ “.<br />
Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi<br />
Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b ada dikisahkan tentang dibantainya empat juta orang Yahudi oleh orang Romawi di kota Bethar. Gittin 58a mengklaim bahwa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus ke dalam satu gulungan dan dibakar hidup-hidup oleh orang Romawi. (Demografi tentang zaman kuno menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa penjajahan oleh Romawi tidak sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4 juta pun tidak ada).<br />
Pengakuan Talmud<br />
Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, karena pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah dinajisi).<br />
Rabbi itu menjawab, tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (‘kosher’) bagi orang Yahudi, karena mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci anggur itu dicuri, adalah orangorang Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).<br />
Genosida Dihalalkan oleh Talmud<br />
1.	Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Sehubungan dengan hal ini orang-orang Israeli sekarang ini setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah mefatwakan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi.[9]<br />
2.	Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, yaitu seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya menyatakan, “Orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.[10]<br />
3.	Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah telah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”.[11]<br />
4.	Rabbi Yitzak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”.[12]<br />
5.	Rabbi Jaacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.[13]<br />
Doktrin Talmud : Orang Non-Yahudi Bukanlah Manusia<br />
Talmud secara spesifik menetapkan orang non-Yahudi termasuk golongan binatang (bukan-manusia) dan secara khusus menyatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di dalam Kitab Talmud, antara lain sebagai berikut:<br />
Kerithuth (6b p. 78) it says:<br />
&#8220;The teaching of the Rabbis is: He who pours oil over a Goi, and over dead bodies is freed from punishment. This is true for an animal because it is not a man. (The same holds for the dead body of any man). But how can it be said that by pouring oil over a Goi one is freed from punishment, since a Goi is also a man? But this is not true, for it is written: Ye are my flock, the flock of my pasture are men (Ezechiel, XXXIV, 31). You are thus called men, but the Goim are not called men.&#8221;[14]<br />
Kerihoth 6b, “Menggunakan minyak untuk mengurapi. Rabbi kita mengajarkan, ‘Barangsiapa menyiramkan minyak pengurapan kepada ternak atau perahu, ia tidak melakukan dosa; bila ia menyiramkannyakepada ‘goyyim’, atau orang mati, dia tidak melakukan dosa. Hukum yang berhubungan dengan ternak dan perahu adalah benar, karena telah tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh disiramkan (Exodus 30 : 32); karena ternak dan perahu bukan manusia (Adam)’“ “Juga dalam hubungan dengan yang meninggal (sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia menjadi bangkai dan bukan manusia lagi (Adam). Tetapi mengapa terhadap ‘goyyim’ juga dikecualikan, apakah mereka tidak termasuk kategori manusia (Adam)? Tidak, karena telah tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku, domba-domba di padang gembalaan-Ku adalah manusia (Adam)’ (Ezekiel 34 : 31): Engkau disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai manusia (Adam)’ “[15]<br />
Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi membahas hukum Talmud yang melarang memberikan minyak suci bagi manusia. Dalam pembahasan itu para rabbi menjelaskan bukanlah suatu dosa untuk memberikan minyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-Yahudi, seperti muslim, Kristen, dan sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak termasuk golongan manusia (harfiahnya: bukan keturunan Adam).<br />
Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai menerangkan (61a) bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ‘ruku’ terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalian adalah manusia (Adam)”, (Ezekiel 34 : 31); “kalian disebut manusia (Adam); tetapi kaum kafir itu tidak disebut manusia keturunan Adam.”<br />
Hukum Talmud menerangkan bahwa seorang Yahudi yang menyentuh bangkai orang Yahudi atau kuburan Yahudi menyebabkan ia ternajisi. Tetapi hukum Talmud sebaliknya mengajarkan, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim, ia malah tetap suci, karena orang goyyim tidak termasuk golongan manusia keturunan Adam.<br />
Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah) berkata kepadanya: ‘Apakah engkau bukan pendeta: mengapa engkau berdiri di atas kuburan? Ia menjawab: ‘Apakah guru belum mempelajari hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai berkata: ‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai gembalaan-Ku, gembalaan di padang rumput-Ku adalah manusia keturunan Adam, dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.<br />
Mengingat pembuktian berdasarkan nash Taurat (Ezekiel 34: 31) disebut sampai berulang-kali pada ketiga ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan hanya orang Yahudi saja yang termasuk golongan manusia. Para ‘hachom’ Talmud sangat menekankan kekonyolan ajaran mereka tentang kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya adalah rasis dan ideolog antikaum non-Yahudi, yang dalam kebuntuan nalarnya telah mendistorsikan ayat-ayat Taurat dalam rangka membenarkan kesesatan mereka.<br />
Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi memberikan hukuman cambuk kepada seseorang yang telah bersetubuh dengan seorang perempuan Mesir. Orang yang dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada seorang Yahudi yang memberikan hukuman cambuk tanpa izin dari pemerintah’. Seorang petugas diperintahkan untuk memanggilnya (Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia telah menyetubuhi keledai betina’ “.<br />
“Petugas itu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mempunyai saksisaksi?’ Ia (Shila) menjawab: ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi) Elijah turun dari langit dalam bentuk manusia dan memberikan bukti<br />
Petugas itu berkata lagi kepadanya: ‘Kalau demikian halnya seharusnya orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah diasingkan dari negeri kami, kami tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman mati; lakukanlah terhadapnya sesuai kehendak kalian’“<br />
“Ketika mereka masih mempertimbangkan perkara itu Shila pun berteriak: ‘Kepada-Mulah ya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa’(I Kisah-kisah 29 : 11).<br />
‘Apa kehendakmu?’ tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab: ‘Apa yang kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha Pengasih yang telah menciptakan segala sesuatunya dari tanah serupa dengan Yang di Sorga, dan telah memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian mencintai keadilan’ “.<br />
“Petugas itu berkata kepadanya (Shila): ‘Apakah engkau sedemikian membantu kepada kehormatan pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi hakim.’ Tatkala petugas (orang ‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang yang ada disana berkata kepadanya (Shila): ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum pendusta?’. Ia (Shila) menjawab: ‘Bukankah mereka (‘goyyim’) disebut keledai? Karena telah tertulis: Daging mereka adalah daging keledai’ (Ezekiel 23 : 30).<br />
Ia (Shila) memperhatikan orang-orang itu akan memberi-tahukan petugas-petugas itu bahwa ia (Shila) telah menyebut mereka sebagai keledai. Maka ia (Shila) berkata: ‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangkitlah segera dan bunuh dia lebih dahulu.’<br />
Begitulah tongkat yang diberikan kepadanya itu dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya. Kemudian ia berkata: ‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi melalui ayat ini, maka aku melaksanakannya’ “.<br />
Bagian ini terpaksa diutarakan agak panjang, tetapi agaknya terpaksa dikutip seluruhnya untuk memperlihatkan bagaimana kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke bumi untuk menipu mahkamah kaum goyyim, disini Talmud mengajarkan, bahwa kaum ‘goyyim’ pada dasarnya adalah binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama sekali tidaklah dapat disebut telah berdusta atau telah membuat dosa. Ceritera itu menjelaskan, bahwa sekiranya seseorang (termasuk orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang kaum ‘goyyim’ sama dengan keledai, maka orang Yahudi itu akan menerima hukuan mati, karena dengan mengungkapkan hal itu ia akan membuat kaum ‘goyyim’murka dan akan menindas agama Yahudi. Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel ini merupakan “nash bukti” sangat penting, karena ayat itu menyatakan bahwa kaum ‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab Ezekiel pada Kitab Perjanjian Lama telah diubah dengan hanya mengatakan bahwa “orang Mesir memiliki kemaluan yang besar” (sindiran &#8211; sama dengan keledai). Hal ini tidak membuktikan atau menegaskan secara eksplisit bahwa orang Mesir yang dirujuk oleh Taurat sama dengan binatang. Dalam hal ini Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel 23 : 30 yang memperlihatkan watak rasis orang Yahudi ditemukan dalam Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash asli Sanhedrin 37a hanya mengkaitkannya dengan persetujuan Tuhan untuk penyelamatan kaum Yahudi saja.[16]<br />
Filsuf Moses Maimonides Membenarkan Pembantaian<br />
Seorang begawan yang sangat dihormati, Moses Maimonides, mengajarkan tanpa tedeng aling-aling, bahwa kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh yang memberikan fatwa seperti itu memiliki kedudukan tertinggi dalam hierarchie agama Yahudi. Moses Maimonides dipandang sebagai penyusun hukum dan filosuf terbesar sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali dengan penuh rasa hormat disebut dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami Musa anak Maimun”.[17]<br />
Inilah yang diajarkan oleh Maimonides tentang boleh-tidaknya menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan orang Yahudi sekali pun yang berani menolak “inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.<br />
“Sesungguhnya bila kita melihat seorang kafir (‘goyyim’) sedang terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau kita melihat nyawanya sedang terancam, kita tidak boleh menyelamatkannya.”[18]<br />
Naskah dalam bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981 tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sama seperti itu.<br />
Dengan peringatan dari Maimonides itu, telah diwajibkan bagi kaum Yahudi untuk tidak boleh menyelamatkan nyawa atau memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya menyatakan sikap kaum Yahudi yang sebenarnya yang dibebankan oleh Talmud terhadap kaum non-Yahudi.[19]<br />
“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk menghabisi para pengkhianat kaum Yahudi, para ‘minnim’, dan ‘apikorsim’, dan membuat mereka jatuh ke dalam lobang kehancuran, karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi, dan menipu manusia untuk menjauh dari Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan para muridnya, dan Tzadok, Baithos, dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.<br />
Komentar penerbit Yahudi itu memuat pernyataan Maimonides bahwa Nabi Isa a.s. adalah contoh seorang ‘min’ (“pengkhianat” – majemuknya ‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang menolak kebenaran Talmud dan mereka yang hanya mengakui hukum tertulis, yakni Taurat. Menurut buku ‘Maimonides’ Principles’ pada halaman 5, Maimonides memerlukan waktu dua-belas tahun untuk menyimpulkan hukum dan keputusan dari Talmud, dan mensistematisasikan kesimpulannya itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at Taurat’.<br />
Maimonides mengajarkan pada bagian lain dari ‘Mishnah Torah’, bahwasanya kaum ‘goyyim’ bukanlah golongan manusia: “Hanyalah manusia (kaum Yahudi), dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan … Bangkai dari seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan najis bila bersentuhan dengan bayang-bayang seorang Yahudi … seorang ‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau membayangi … ‘goyyim’ itu tidak menyebabkan najis … mayat seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau menjatuhkan bayangannya kepada mayat, ia dianggap tidak pernah menyentuh mayat tersebut.”[20]<br />
Film ‘Schindlers List’ &#8211; Contoh Kebohongan Kaum Yahudi<br />
Teks Talmud (khususnya Talmud Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak mewajibkan orang Yahudi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-shas) merujuk beberapa nash dari Talmud yang seolah-olah memuat frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan seseorang, hal itu sama dengan membunuh seluruh isi dunia; dan barangsiapa memelihara kehidupan seseorang ,,, hal itu seperti ia telah memelihara seluruh isi dunia”.<br />
(Bandingkan dengan al-Qur’an 5 : 32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”)<br />
Namun surat-kabar Hesronot Ha-shas mengakui ayat-ayat di atas tadi bukan kata-kata yang otentik dari Talmud yang aseli. Dengan kata lain, ayat yang bernada universal tersebut bukanlah nash otentik dari Talmud. Jadi, sekedar sebagai contoh, “versi universal” ini yang oleh Steven Spielberg dituangkan ke dalam filmnya ‘The Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari Talmud pada judul maupun iklan filmnya) adalah penipuan dan merupakan propaganda, yang dimaksudkan untuk memberikan olesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab yang penuh berisi semangat rasisme dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada ayat yang sama, “Barangsiapa memelihara bahkan satu nyawa orang Israeli, maka ia seperti memelihara seluruh isi dunia”. Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang aseli hanya membicarakan perihal menyelamatkan nyawa orang-orang Yahudi.<br />
Tipuan Orang Yahudi<br />
Sanggahan para rabbi orthodoks bahwa tidak ada bukti dokumentasi otentik tentang rasisme dan semangat kebencian di dalam Talmud adalah bohong besar, karena di dalam Baba Kamma 113a, menyatakan bahwa, “Orang Yahudi boleh berbohong untuk menipu kaum ‘goyyim’. The Simon Wiesenthal Center, sebuah pusat propagandaruhubiyah Yahudi yang didukung oleh dana multi-jutaan dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena rabbi ini menentang ajaran dehumanisasi oleh Talmud terhadap orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-benar busuk”, kata Landes. Buktinya ? “Periksa pernyataan-pernyataan di dalamnya”.<br />
Berdusta untuk menipu orang ‘goyyim’ telah lama menjadi panutan di dalam agama Yahudi. Ambil contoh sehubungan dengan debat pada abad ke-13 di Paris antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang beralih memeluk agama Katolik &#8211; yang oleh Hyam Maccoby diakui “mempunyai pengetahuan yang luas tentang Talmud”12 – saat berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel. Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman hukuman, atau dicederai. Namun ia tanpa malu tetap saja berdusta sepanjang debat tersebut. Sebagai contoh, ketika ditanya oleh Donin apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud, Yehiel menyanggahnya. Donin, seorang ahli dalam bahasa Ibrani paham benar jawaban itu dusta belaka. Hyam Maccoby, seorang komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad ke-20, membela kebohongan Rabbi Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah Yehiel benar-benar percaya yang Jesus tidak disebut-sebut di dalam Talmud, atau, bisa juga ia mengajukan pertanyaan ini sebagai suatu tipuan yang cerdik, untuk menciptakan keadaan mendesak Yehiel … tentu saja Rabbi Yehiel dapat dimaafkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya dipercayainya, dalam rangka mencegah proses tiranik yang menghadapkan budaya dari suatu agama tertentu terhadap agama yang lain”.[21]<br />
Beginilah cara orang Yahudi menyanggah sampai dengan hari ini tentang adanya nash Talmud yang mengandung ayat-ayat yang penuh dengan kebencian. Sebuah kata tentang “kebohongan Yahudi” diplesetkan dan disulap menjadi “dapat dimaafkan”, sementara setiap penyelidikan terhadap kitab-kitab suci Yahudi oleh peneliti non-Yahudi dipandang sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan al-Qur’an tidak pernah dianggap sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non-Yahudi yang dianggap tiranik, sedangkan cara mempertahankan diri bagi orang Yahudi adalah berdusta.<br />
Betapapun banyaknya sanggahan dan kebohongan yang keluar dari ‘The Anti-Defamation League’ (ADL – ‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan dari the Wiesenthal Center, dalam buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir Talmud “paling terkemuka” di mata orang Yahudi sendiri, seperti Moses Maimonides.<br />
Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx, direktur pendidikan teknologi terapan pada ‘Shalom Hartman Institute’ di Jerusalem, telah menulis semacam pengakuan yang menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam telah membuat dua jenis kumpulan kitab-kitab: kitab Talmud yang otentik sebagai bahan pelajaran bagi para pemuda mereka di sekolah-sekolah (‘kollel’) Talmud, dan sebuah lagi versi kitab Talmud yang telah “disensor dan diamendemen” yang ditujukan bagi konsumsi para ‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-apa. Rabbi Marx menjelaskan bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi umum, tertulis misalnya, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, ia telah melanggar hukum”. Tetapi Rabbi Marx menyatakan, nash yang aseli berbunyi, “Barangsiapa membunuh seorang Israeli”.[22]<br />
Laporan Heshronot Ha-sash menjadi sangat berharga bagi kita, karena buku ini menyusun suatu daftar panjang ayat-ayat Talmud yang diubah atau dihilangkan, dan daftar ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini, yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah yang otentik. Popper menjelaskan: “Tidak selalu yang disensor itu ayat-ayat yang panjang, tetapi acapkali satu kata pun dihapus. … Acapkali dalam hal seperti itu digunakan dalam rangka penghapusan dan penggantian”.[23]<br />
Sebagai contoh penterjamah versi Talmud dalam bahasa Inggris terbitan Soncino menterjemahkan kata Ibrani ‘goyyim’ dengan sejumlah kata ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah berhala”, dan sebagainya. Tetapi sebenarnya kata-ganti ini merujuk kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua yang non-Yahudi). Pada catatan-kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah orang Cuthea (Samaritan) disini adalah untuk menggantikan kata-aseli ‘goyyim’ … “<br />
Hal itu merupakan praktek disinformasi yang lazim dipakai oleh kaum Farisi untuk menyangkal adanya ayat-ayat yang rasialistik di dalam Talmud yang telah diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa ayat-ayat itu adalah “karangan dari orang-orang yang anti-Semit”.[24] , antara lain The Babylonian Talmud online Talmud versi Soncino[25] yang dengan editor Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London.<br />
Bandingkan penjelasan Seder ZERAIM (זרעים), MOED (מועד), NASCHIM (נשים ), NEZIKIN (נזיקין), KODASCHIM (קדשים), TOHOROTH (טהרות) oleh Rev. I. B. Pranaitis (Roman Catholic Priest) dalam buku The Talmud Unmasked, The Secret Rabbinical Teachings Concering Christians [26]<br />
Pada tahun 1994, Lady Jane Birdwood (80th menerbitkan sebuah pamflet berjudul ‘The Longest Hatred’(‘Kebencian yang Paling Lama’), berisi seluruh pernyataan kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen), namun ia ditangkap dan diadili di depan pengadilan pidana di London, hanya karena sepanjang peradilan yang dituduhkan terhadapnya sebagai suatu kejahatan (yang tidak mendapatkan perhatian dari media massa, seorang rabbi diundang sebagai saksi ahli). Rabbi itu menyanggah sepenuhnya bahwa kitab Talmud berisi ayat-ayat yang mengundang kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi tersebut, wanita itu dijatuhi hukuman “tiga bulan kurungan penjara dan denda $1,000.-”.<br />
Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish Religion’, pada bab tentang Jesus di dalam Talmud, menegaskan adanya ayat-ayat yang menganjurkan kebencian dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini adalah pembohong besar.[27]<br />
Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’ terhadap Talmud<br />
Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan di era modern ini yang menyerang atau mengecam ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah mendaging terhadap Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim, dan lain-lain) yang diajarkannya. Sebaliknya pada pimpinan gereja Kristen, baik Katholik maupun Protestan, malah dewasa ini menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati, bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain, para pemimpin gereja Katholik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus (Nabi Isa a.s.) di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23: 13 –15; I Thessalonika 2: 14-16; Titus 1: 14; Lukas 3: 8-9; dan Kitab Wahyu 3: 9).<br />
Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’<br />
Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama apa pun menurut Talmud adalah ‘super-sampah’, begitu menurut pendiri Habad Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman. Analisanya ditemukan di dalam majalah Yahudi ‘The New Republic’, yang dalam analisisnya menyatakan bahwa, “ … ada ironi besar dalam pandangan universalisme messianik yang baru pada gerakan Habad khususnya pandangannya tentang kaum ‘goyyim’, yakni pernyataan Habad yang tanpa tedeng aling-aling berisi penghinaan bernada rasial terhadap kaum ‘goyyim’. … berdasarkan pendapat para theolog Yahudi pada abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah Ha-Levi pada abad keduabelas di Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi Judah Loewe pada abad keenambelas di Praha – mereka mencari ketetapan mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada keunggulan kerohanian … menurut pandangan mereka, secara mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh Shneur Zalman dari Lyadi. Pendiri Lubavitcher.<br />
Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’ “, Zalman selanjutnya menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin diselamatkan dengan cara apa pun.”<br />
Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’ menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya penyakit dalam jiwa mereka. Dzat darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat penuh dengan “sampah” rohani. Itulah sebabnya mengapa jumlah mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih banyak daripada berasnya. Semua kaum Yahudi secara hakiki baik, dan semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki jahat.<br />
“Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang dinyatakan secara hakiki jahat, dan dari segi kerohanian maupun biologis lebih inferior daripada kaum Yahudi, belum pernah diralat dalam ajaran Habad masa kini”.[28]<br />
Syari’at Yahudi Menuntut bahwa Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati<br />
Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari Kemudian.”<br />
Takhayul Kaum Yahudi<br />
Bukanlah mengada-ada bila edisi Talmud Babilonia dipandang sebagai kitab suci Yahudi yang paling otoritatif. Karena orang Kristen terperdaya oleh para pengkhotbah Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada rabbi Yahudi sebagai “nara-sumber yang shahih” untuk mendapatkan keterangan bila berkaitan dengan kitab Perjanjian Lama, yang tanpa mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal).<br />
Yudaisme adalah agama kaum Farisi dan para pendeta Babilonia, yang menjadi sumber ajaran Talmud dan Qabala, yang di kemudian hari membentuk agama Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti ‘Kabbalah’, isinya penuh dengan ajaran tentang astrologi, ramal meramal, gematria, nekromansi (sihir), dan demonologi (ilmu hitam).<br />
Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat seekor ayam, membaca mantera untuk keperluan itu, dan mengibas-kibaskannya di atas kepalanya untuk memindahkan dosa-dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai hal ini tidak lain adalah takhayul dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya lambang Israel yang mereka sebut sebagai “bintang Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud a.s. Bintang itu adalah hexagram (bersudut enam) supra-natural, yang melambangkan yantra dari androgen (kelenjar yang memberikan karakteristik pada kaum laki-laki), yang dihubungkan dengan para KhazarBohemia pada abad ke-14.<br />
Penyesatan publik dengan penggunaan nama “negara Israel” yang didirikan pada tahun 1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum Bolshevik Yahudi dengan kaum Zionis yang atheis; nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kelanjutan kerajaan Nabi Daud, tetapi dikukuhkan melalui pengakuan pertama di PBB yang diberikan oleh diktator komunis Uni Sovyet Joseph Stalin.<br />
Kaum Kristen akan lebih terbuka matanya bila berkunjung ke komunitas Yahudi Hasidik menonton acara ‘Purim’, dimana sebuah patung serupa Halloween meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara ‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab Esther yang disebutkan sebagai nash dasarnya, dalam prakteknya upacara ‘Purim’ tidak lain adalah sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.[29]<br />
Para rabbi orthodoks menggunakan kutukan, mantra, imej, dan sebagainya, yang mereka anggap lebih besar kuasanya dari kuasa Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaum Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat menyaksikan ulangan perilaku paganisme Babilonia kuno setiap kali mereka mengamati ritual para rabbi agama Yudaisme.[30]<br />
Dengan mengetahui ajaran Talmud yang menjadi dasar konstitusi, prinsip, dan arah kebijakan negara dan pemerintah Israel, mudah dipahami mengapa negara Israel sangat arogan dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman.<br />
Doktrin Perang Israel Dalam Talmud<br />
Dalam bukunya yang menggetarkan “From Beirut to Jerusalem” (Kualalumpur, 2002), Dokter warga Londonkelahiran Malaysia Ang Swee Chai menulis:<br />
“Lebanon dan Beirut adalah nama-nama asing bagiku. Sedangkan Israel sebaliknya. Gereja telah mengajarkanku bahwa anak-cucu bangsa Israel adalah anak-anak pilihan Tuhan. Teman-temanku sesama Kristiani mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam pengabaran-pengabaran di Kitab Injil. ”<br />
“Aku berpihak pada Israel untuk alasan lain, ” lanjutnya, “Di London, aku menghabiskan waktu berjam-jam menonton acara teve yang menyiarkan penderitaan luar biasa orang-orang Yahudi di tangan Nazi. …Penciptaan Negara Israel, yang memberi semua orang Yahudi sebuah rumah yang membuat mereka terbebas dari penganiayaan dan siksaan, menurutku adalah suatu tindak keadilan—bahkan suatu keadilan dari Tuhan. ”<br />
Namun pandangan dokter Ang berbalik seratus delapanpuluh derajat ketika lewat layar kaca dirinya menyaksikan kebrutalan yang dilakukan tentara Israel terhadap para pengungsi Palestina di Lebanon.<br />
“Ini benar-benar membuatku marah. Aku tidak bisa memahami mengapa Israel melakukan hal demikian. … Dalam Kitab Perjanjian Lama, raksasa Goliath adalah termasuk orang Filistin penakluk yang meneror lawan-lawannya. Kisah David dan Goliath menjadi salah satu kisah kesukaanku. Pada anak-anak kecil aku suka sekali bercerita bagaimana si kecil David bisa mengalahkan si raksasa Goliath,” tulis Dokter Ang yang sosok tubuhnya sendiri sangat mungil, tingginya hanya 150 sentimeter.<br />
“Meski demikian, dari ulasan teve yang selalu kulihat, tampaknya Israel telah berubah menjadi Goliath; seorang raksasa yang angkuh yang membawa kehancuran, teror, dan kematian kepada saudaranya, Lebanon. …Mengebom orang-orang sipil, dan banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, adalah cara pengecut dalam perang. Apakah Tuhan telah berpaling dari Lebanon?”<br />
Dokter Ang kemudian menulis betapa sedih dirinya menyaksikan kebiadaban yang dipertontonkan ‘bangsa terpilih’ tersebut. “Pertama karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang Kristen, dan ketiga aku adalah dokter. Aku sama sekali tak habis pikir betapa Israel tega menjatuhkan bom-bom fosfor ke tengah penduduk sipil di dalam kota yang sangat padat tersebut. ”<br />
Tidak Sekadar Membunuh<br />
Penderitaan bangsa Palestina dan Lebanon membuat Dokter Ang berangkat ke Beirut sebagai dokter sukarelawan. Di hari-hari pertama di Lebanon, Dokter Ang telah menjumpai banyak fakta bahwa di wilayah iniIsrael telah melakukan semacam uji coba berbagai macam bom-bom terbaru buatan mereka.<br />
Beberapa bom mutakhir Israel tersebut antara lain: Implosion bomb atau vacuum bomb yang dijatuhkan dari udara dan ketika meledak mampu menghisap satu blok bangunan sepuluh lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik, membuatnya menjadi tumpukan beton dan mengubur seluruh penghuninya hidup-hidup.<br />
Selain itu ada lagi fragmentation bomb atau cluster bomb, yang juga dijatuhkan dari pesawat tempur. Beberapa puluh meter di atas udara, cluster bomb yang awalnya terlihat hanya satu akan memecah diri menjadi ratusan bola-bola besi kecil seukuran bola tenis dan menyebar dalam radius ratusan meter persegi. Bom-bom kecil ini tidak segera meledak dan tergeletak di dalam tanah. Jika seorang anak kecil mengutak-atiknya karena dikiranya sebuah mainan, maka bom ini akan meledak dan membunuh atau merusak bagian tubuh di anak tersebut. Bom ini biasanya sengaja dijatuhkan di lokasi padat penduduk.<br />
Lalu ada fosfor bomb yang bersifat membakar. “Zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir, ” ujar Doker Ang.<br />
Dalam bukunya, dokter yang bersuamikan seorang warga Inggris ini mengatakan bahwa Israel jelas tidak ingin sekadar membunuh musuh-musuhnya namun juga ingin membuat musuh-musuhnya menderita berkepanjangan sebelum menemui ajal.<br />
Pembantaian Sabra-Shatila<br />
Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan sebagainya.<br />
Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak.<br />
Beberapa pekan bertugas di Beirut, untuk menghentikan serangan membabi-buta yang dilakukan Israel, para pejuang Palestina akhirnya dievakuasi keluar dari Beirut diangkut dengan kapal-kapal laut di bawah kawalan Perancis dan Italia. PBB Mengirim sejumlah pasukan penjaga perdamaian. Sebab itu, Israel kemudian menghentikan serangannya, setidaknya untuk sementara waktu. Ini terjadi beberapa saat mendekati September 1982.<br />
Di Beirut, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan membersihkan semua puing-puing dan jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata-mata mereka. Bukan itu saja, sesuai permintaan PBB, para ibu-ibu Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang tadinya disimpan di dalam rumah sebagai alat penjagaan diri kepada lembaga internasional.<br />
“Harapan akan perdamaian terlihat di mata mereka. Para ibu-ibu Palestina menyerahkan semua senjata yang mereka miliki. Mereka mulai membersihkan jalan dan puing-puing rumahnya. Anak-anak kecil mulai bisa berlarian, bermain di jalan-jalan yang masih terlihat kotor oleh puing-puing yang disingkirkan ke pinggirnya. Mereka sangat yakin bahwa kehidupan akan pulih seperti sedia kala, ” ujar Dokter Ang.<br />
Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Setelah jalan-jalan bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton-beton dan batu-batu yang tadinya sengaja dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, maka suatu malam, 14 September 1982, sebuah ledakan besar terdengar di seantero Lebanon. Calon Presiden Lebanon dari kalangan Kristen, Bashir Gemayel terbunuh.<br />
Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi gelegar raungan pesawat-pesawat tempur Israel. Burung-burung besi itu secara royal menjatuhkan bom-bom yang kembali melantakkan Beirut.<br />
Bumi tempat Dokter Ang Swee Chai berpijak dirasakan bergetar oleh deru ratusan tank Merkava milik Israelyang berkonvoi masuk Beirut dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank ini diikuti oleh tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, Milisi Phalangis, yang terdiri dari orang-orang Kristen Lebanon bersenjata yang memang dekat dengan kaum Yahudi.<br />
Kamp-kamp pengungsian yang waktu itu hanya dihuni oleh kaum wanita, jompo, dan anak-anak kecil serta bayi, karena para pejuang Palestina yang terdiri dari laki-laki muda telah pergi, kembali senyap. Mereka kembali masuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah hancur dan mengunci diri di dalamnya. Kepungan yang dilakukan tank-tank dan tentara Israel sangat rapat sehingga seekor kucing pun tak akan bisa meloloskan diri.<br />
Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.<br />
“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang.<br />
Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien. Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.<br />
Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter.<br />
Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah berhenti.<br />
“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di kamp.<br />
Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp Sabra-Shatila.<br />
Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Paraperempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama kalinya, aku menangis di sini. ”<br />
Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3.297 orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi.[31]<br />
Dan Pembantaian di Gaza, Terjadilah&#8230;.<br />
Kesadisan zionisme, akhirnya terjadi lagi dan mungkin entah berapa kali lagi akan terjadi. Lebih dari 1.500 nyawa tak berdosa melayang menjadi syuhada dan menjadi penghuni Syurga Firdaus. Inilah bukti bahwa mereka menganggap bahwa Ghoyyim bukan manusia, yang dengan seenaknya dibantai seperti hewan. Dimanapun berada, kita harus waspada.<br />
________________________________________<br />
[1] Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999. http://www.counterpunch.org/barat06062008.html dan http://www.josephcooper.eu/videos/21-an-in&#8230;lan-pappe-.html<br />
[2] http://www.eramuslim.com<br />
[3] Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi, Talmud, Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan, Penerbit: Sahara. Penulis adalah Dosen Filsafat Islam &amp; Perbandingan Agama, Fakultas Darul &#8216;Ulum, Universitas Cairo, Mesir. Penulisan buku ini tidak hanya melibatkan para penulis Muslim seperti: Samuel ibn Yahya al-Maghribi, Ibnu Hazm al-Andalusi, dan para penulis kontemporer lainnya. Tapi justru lebih dominan merujuk pada buku intelektual non-Muslim dan para mantan rabbi Yahudi berupa terjemahan teks Talmud sendiri dari bahasa Ibrani, seperti: Dr. August Rohling, Pendeta I.B. Branaites, Naphithius (mantan Rabbi), Yusuf Abul &#8216;Afiyah (mantan Rabbi), dan banyak tokoh lainnya.<br />
[4] Henry Ford, Sr., ‘The International Jew: The World’s Foremost Problem’, Christian Nationalist Crusade, Los Angeles, h. 21-23. dalam Z.A. Maulani, Zionisme: Talmud: Kitab Suci Kaum Qabalis, dalam buku Yahudi Gerakan Menaklukkan Dunia, Cetakan Kedua, 2002 Penerbit Daseta.<br />
[5] Resensi Buku, Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi, &#8220;Talmud Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan&#8221;, Penerbit: Sahara. (Penulis adalah Dosen Filsafat Islam &amp; Perbandingan Agama, Fakultas Darul &#8216;Ulum, Universitas Cairo, Mesir)<br />
[6] Talmud, Kitab Erubin : 2b – edisi Soncino<br />
[7] Z.A. Maulani, Zionisme: Talmud: Kitab Suci Kaum Qabalis, dalam buku Yahudi Gerakan Menaklukkan Dunia, Cetakan Kedua, 2002 Penerbit Daseta, (Edisi Laris, Kompas, 8 Juli 2002)<br />
[8] R.C. Musaph-Andriesse, ‘From Torah to Kabbalah: A Basic Introduction to the Writings of Judaism’, h.40, dalam Z.A. Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia Cetakan Kedua, 2002 Penerbit Daseta.<br />
[9] Jewish Press, 9 Juni 1989, h.56B.<br />
[10] Program CBS 60 Menit “Kahane”.<br />
[11] The New York Daily News, 26 Februari 1994, h.5.<br />
[12] The New York Times, 6 Juni 1989, h.5.<br />
[13] The New York Daily News, 28 Februari 1994, h.6.<br />
[14] http://www.talmudunmasked.com/chapter8.htm<br />
[15] Z.A. Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia Cetakan Kedua, 2002 Penerbit Daseta<br />
[16] ‘The Heshronot Ha-shas’, Cracow, 1894.<br />
[17] Aryeh Kaplan, ed., ‘Maimonides’ Priciples’, Union of Orthodox Jewish Congregation of America, h.3.<br />
[18] ’Maimonides, Mishnah Torah’, Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter 10, English version, h.184.<br />
[19] Ibid., Chapter 10, h.184.<br />
[20] Herbert Danby, translator, ‘The Code of Maimonides’, vol.10, Yale University Press, New Haven, 1954, h. 8-9.<br />
[21] ‘‘Judaism on Trial’, h.28.<br />
[22] Tikkun, ‘A Bimonthly Jewish Critique, edisi May-June, 1994.<br />
[23] William Popper, The Censorship of Hebrew Book’, h.59.<br />
[24] Heshronot Ha-shas, Sinai Publishing House, Tel Aviv, 1989.<br />
[25] http://www.comeandhear.com/talmud/index.html<br />
[26] http://www.talmudunmasked.com/chapter2.htm , New Editions of the Talmud &#8211; Ohr Yisroel With the permission of Machon Ohr Yisroel (Monsey, NY). Dan R. Adam Mintz, &#8220;Words, Meaning and Spirit: The Talmud in Translation,&#8221; Torah u-Madda Journal 5 (1994): 115-155, hosted at YUTorah.org, includes responses from a subsequent issue of the Torah u-Madda Journal.<br />
[27] Israel Shahak, ‘Jewish History and Jewish Religion’, h.57, dan h.105-106.<br />
[28] ‘The New Republic’, Edisi 4 May 1992; juga Roman A.Foxbrunner, ‘Habad: The Hasidism of Shneur Zalman of Lyadi’, Jason Aronson, Inc., Northvale, New Jersey, 1993, h. 108-109.<br />
[29] “Kepercayaan takhayul perayaan itu diwarisi dari nenek-moyang orang Yahudi”, Canadian Jewish News, edisi November 16, 1989, h. 58<br />
[30] Israeli Mechon-Mamre Website, August 7, 1999; Hayyim Vital St., Jerusalem, (Mechon-Mamre adalah kelompok kecil sarjana Taurat di Israel cf. Indra Adil dan Bambang E.Budhiyono, eds., ‘Skenario Besar Penghancuran Bangsa-bangsa’, Mimeograf,barani.net , Jakarta, Desember 2000).<br />
[31] Ang Swee Chai, From Beirut to Jerusalem, Kualalumpur, 2002. dipubllikasikan dalam artikel di www.eramuslim.com </p>
<p>Referensi:<br />
1. Ayat-ayat Hitam TALMUD, Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi Penerbit: SAHARA<br />
2. &#8220;TALMUD, Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan&#8221;, Prof Dr. Muhammad asy-Syarqawi, Penerbit: SAHARA.<br />
Deskripsi:<br />
Ilmuwan terkenal dalam bidang kebudayaan Ibrani dan kajian tentang Talmud, Joseph Barcley, menyatakan, &#8221;&#8230;. Sebagian teks yang ada dalam Talmud adalah ekstrim, sebagiannya lagi menjijikkan, dan sebagiannya lagi berisi kekufuran &#8230;.&#8221; Karenanya, banyak penguasa negara (Raja dan Kaisar) dan penguasa agama (Paus) di Eropa mengharamkan beredarnya kitab ini. Jauh sebelum pena-pena para intelektual dan sejarawan dunia menggores sebelum para intelektual kawakan dunia melakukan analisa dan penelitian, Al-Quran dan Sunnah telah memaparkan bukti-bukti yang menjelaskan bahwa para rabbi Yahudi telah mengubah dan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Bahkan, mereka telah membuat sebuah kitab suci sendiri yang sangat jauh dari akal sehat sebagai tandingan bagi kitab Taurat. Itulah kitab Talmud, ayat-ayat hitam kaum yahudi yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan. Buku ini secara gamblang membahas teks-teks Talmud dan membandingkannya dengan ajaran Kitab Perjanjian Lama (Taurat) serta Al-Qur&#8217;an. Buku ini akan membuktikan betapa kaum Yahudi memusuhi Kristen, khususnya, dan bangsa non-Yahudi (Goim), umumnya. Talmud bukan hanya ancaman bagi semua bangsa dan agama Goim, tapi sekaligus juga ancaman bagi kemanusiaan. Talmud meletakkan derajat Goim sama dan bahkan lebih rendah dari binatang. Penulisan buku ini tidak hanya melibatkan para penulis Muslim seperti: Samuel ibn Yahya al-Maghribi, Ibnu Hazm al-Andalusi, dan para penulis kontemporer lainnya, bahkan ia lebih dominan merujuk pada buku intelektual non-Muslim dan para mantan rabbi Yahudi berupa terjemahan teks Talmud sendiri dari bahasa Ibrani, seperti: DR. August Rohling, Pendeta LB. Branaites, Naphithius (Mantan Rabbi), Yusuf Abul Afiyah (Mantan Rabbi), dan masih banyak lainnya.<br />
3. Z.A. Maulani. Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, Cetakan Kedua, 2002 Penerbit Daseta, (Edisi Laris, Kompas, 8 Juli 2002)<br />
4. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1359274<br />
5. http://media.isnet.org/antar/Tharick/Talmud.html<br />
6. http://herdoniwahyono.blogspot.com/2009/01/kontroversi-dalam-kitab-talmud-yahudi.html<br />
7. www.swaramuslim.com<br />
8. http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-hitam-talmud.htm<br />
9. http://cetak.bangkapos.com/opini/read/327.html</p>
<p>http://jehadibnutalha.blogspot.com/2010/07/kitab-syaitan-yahudi-talmud.html</p>
<p>Hubungan Mesra antara Iblis dan Yahudi<br />
Pada posting sebelumnya, saya pernah menulis tentang Curriculum Vitae Iblis. Kali ini, saya akan menulis tentang ‘hubungan mesra’ antara Iblis dan Yahudi.<br />
Dalam al-Quran, orang-orang Yahudi memiliki kesamaan sifat dengan Iblis. Perhatikan, kisah Bani Israil selalu saja disebutkan setelah kisah Iblis dengan Adam. Dosa-dosa yang dilakukan Bani Israil adalah juga dosa-dosa yang dilakukan Iblis sejak mereka hadir di dunia ini.<br />
Mari, kita lihat kesamaan Iblis dan Yahudi.<br />
Sifat pertama, dengki. Iblis dikenal sebagai makhluk yang dengki. Dan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang paling dengki.<br />
Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (Yusuf: 9)<br />
Sifat kedua, sombong dan rasialis. Setelah Allah menciptakan Adam, Allah meminta malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam, namun Iblis menolaknya.<br />
Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah’ (al-A’raf: 12)<br />
Orang-orang Yahudi juga meneriakkan rasialisme dan menganggap diri mereka sebagai Sya’bullah al-Mukhtar (bangsa Allah yang terpilih).<br />
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’ (al-Maidah: 18)<br />
Sifat ketiga, Iblis dan Yahudi kerjanya merusak. Tentang Iblis, Allah berfirman,<br />
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar (an-Nur: 21)<br />
Tentang Yahudi, Allah berfirman,<br />
(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu mengikat, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi (al-Baqarah: 27)<br />
Sifat keempat, Allah menyebut Iblis sebagai musuh bagi manusia dan memerintahkan manusia untuk menjadikannya sebagai musuh abadi.<br />
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu). (Fathir: 6)<br />
Dan Allah menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai orang yang paling memusuhi umat Islam. Allah berfirman,<br />
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (al-Maidah: 82)<br />
Sifat kelima, Allah telah memperingatkan umat Islam agar jangan terpengaruh dan menjadi pengikut Iblis. Allah berfirman,<br />
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan…( an-Nur: 21)<br />
Tentang Yahudi, Allah juga melarang umat Islam untuk menjadi teman dan pengikut mereka.<br />
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Ma’idah: 51)<br />
Sifat keenam, Iblis dan Yahudi berhasrat untuk mengkafirkan umat Islam dengan segala cara.<br />
Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (al-A’raf: 16)<br />
Tentang hasrat Yahudi untuk mengkafirkan umat Islam, Allah berfirman,<br />
Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (al-Baqarah: 109)<br />
Sifat ketujuh, Yahudi lebih kasar dan tidak sopan perkataannya kepada Allah dibanding Iblis. Ketika bersumpah untuk menyesatkan manusia, Iblis masih bersumpah dengan Kekuasaan Allah.<br />
Iblis berkata, ‘Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya’ (Shad: 82)<br />
SedangkanYahudi sama sekali tidak mengenal kemuliaan Allah. Mereka tidak pernah berharap Kemuliaan Allah. Mereka malah berkata,<br />
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya’ (Ali Imran: 181)<br />
Mereka juga berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu’ (al-Maidah: 64)</p>
<p>http://bangaziem.wordpress.com/2011/01/28/hubungan-mesra-antara-iblis-dan-yahudi/</p>
<p>Menghadapi Tantangan Syaitan, Diri dan Nafsu<br />
Posted by Khairul Rashidi on Thursday, March 18, 2010<br />
Dalam pasal ini ada beberapa faktor paling signifikan yang membuat manusia tersesat, di antaranya:<br />
1. Bujuk rayu syaitan.<br />
2. Insiparasi yang datang dari nafsu ammaarah.<br />
3. Godaan hawa nafsu.<br />
Ketiga hal tersebut merupakan sumber kejahatan dan fitnah serta sumber kesesatan dan kerusakan pada masa-masa kritis.<br />
1. Bujuk rayu syaitan<br />
Allah SWT berfirman (artinya), Iblis berkata: &#8220;Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan&#8221;. Allah berfirman: &#8220;Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.&#8221; Iblis menjawab: &#8220;Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),&#8221; (Al-A&#8217;raaf: 14-17).<br />
Berkata Iblis: &#8220;Ya Tuhanku!, (kalau begitu) Maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.&#8221; Allah berfirman: &#8220;(Kalau begitu) Maka Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari waktu yang Telah ditentukan.&#8221; Iblis berkata: &#8220;Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma&#8217;siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka,&#8221; (Al-Hijr: 36-40).<br />
Lepaskan diri dari godaan dan penyesatan syaitan<br />
1. Menjadikan syaitan sebagai musuh. Sebagaimana dalam firman Allah:<br />
&#8220;Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian, Maka jadikanlah ia musuh (kalian), karena sesungguhnya syaian-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,&#8221; (Fathir: 6).<br />
2. Mengikuti rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah dan berjalan di atas jalan yang lurus. Firman Allah SWT:<br />
&#8220;Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu&#8221;, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus,&#8221; (Yaasiin: 60-61).<br />
&#8220;Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa,&#8221; (Al-An&#8217;am: 153).<br />
3. Berusaha menjadi seorang mukmin yang bertawakkal dan memohon perlindungan kepada Allah. Firman Allah SWT, &#8220;Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai wali-wali mereka dan atas orang-orang yang mempersekutukanhya dengan Allah,&#8221; (An-Nahl: 98-100).<br />
4. Senantiasa bersungguh-sungguh menjadi orang yang mengingat Allah, melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Firman Allah awt:<br />
&#8220;Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah yang Maha Pemurah (Al-Quran), maka akan Kami datangkan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syetan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syetan-syetan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk,&#8221; (Az-Zukhruf: 36-37).<br />
5. Senantiasa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah dan muraqobah kepada-Nya. Firman Allah swt: &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya,&#8221; (Al-A&#8217;raf: 201).<br />
Selalu mengingat, dan sadar setelah dilupakan oleh syetan, menjauhkan diri dari orang-orang yang sesat supaya keimanannya kembali dan selalu berada bersama orang-orang yang bertakwa dan beriman. Firman Allah swt:<br />
&#8220;Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu),&#8221; (Al-An&#8217;aam: 68).<br />
2. Insipirasi Yang datang dari Nafsu Ammarah<br />
Ketika Allah menciptakan jiwa manusia, Ia telah mengiringkan padanya dua kecenderungan, kecenderungan terhadap hal-hal yang baik dan kecenderungan kepada hal-hal yang buruk.<br />
Jika manusia menghiasi dengan akhlak-akhlak terpuji, memuliakan dengan amal shaleh, dan memperbaikinya dengan ilmu dan pengajaran maka jiwa tersebut akan tumbuh di atas pondasi kecenderungan untuk mengikuti petunjuk dan kebaikan<br />
.<br />
Adapun jika manusia mengabaikan jiwanya dan meninggalkannya tanpa perhatian sama sekali, sehingga karat jahliyiyah akan menggerogotinya, penyakit kawan-kawan jahat menutupinya, dan lingkungan yang rusak, maka sesungguhnya jiwanya akan tumbuh di atas kecenderungan kuatu untuk berbuat jahat, membuat kerusakan dan melenceng dari jalan yang benar.</p>
<p>Kecenderungan-kecenderungan ini, yang baik ataupun yang buruk pada jiwa manusia, telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.<br />
Allah swt berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 7-10).<br />
Rasulullah saw. bersabda (artinya), “Setiap bayi yang dilahirkan itu menurut fitrahnya, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari).</p>
<p>Imam Al-Ghazali rhm dalam kitabnya Ihya &#8216;Ulumiddin menegaskan makna hadits di atas, yakni perihal kecenderungan dan kesiapan jiwa manusia untuk mengikuti kebaikan atau keburukan dan kesiapannya untuk istiqamah atau melenceng, beliau mengatakan, &#8220;Anak itu adalah amanah yang ada di pundak kedua orang tua, hatinya bersih sebersih batu permata mulia, dan jika ia dibinasakan berbuat jahat dan tak dipedulikan layaknya binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Adapun cara menjaganya adalah dengan mendidiknya, mengajarinya dan menuntunnya dengan akhlak-akhlak yang terpuji.&#8221;</p>
<p>Jiwa manusia itu menurut pandangan Al-Qur&#8217;an ada tiga macam:<br />
1. Nafsul amarah bis suu&#8217;, yaitu jiwa yang selalu memerintahkan kepada hal-hal yang buruk.<br />
2. Nafsul Lawwamah, yaitu yang selalu menyesali diri sendiri.<br />
3. Nafsul Muthma&#8217;innah, yaitu yang penuh dengan ketenangan.<br />
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:<br />
4. Nafsul Ammaarah bis Suu&#8217; Allah SWT berfirman, &#8220;Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang,&#8221;(Yusuf: 53).<br />
5. Nafsul Lawwamah Allah SWT berfirman, &#8220;Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri),&#8221;(Al-Qiyamah: 1-2).<br />
Mujahid menafsirkan ayat di atas, &#8220;Ia adalah jiwa yang menyesali dirinya sendiri atas kejahatan atas kejahatan mengapa ia lakukan dan menyesali kebaikan, mengapa ia tidak banyak mengerjakannya. Dan ia senantiasa menyesali meski telah bersungguh-sungguh dalam melakukan keta&#8217;atan.&#8221;</p>
<p>Al-Farra&#8217; berkata, &#8220;Tiada jiwa yang baik ataupun yang fajir itu melainkan ia menyesali dirinya, jika ia mengerjakan kebaikan, ia mengatakan, &#8216;Mengapa engkau tidak menambahnya lebih banyak?&#8217; Dan jika ia melakukan perbuatan buruk, ia mengatakan, &#8216;Duhai kiranya aku tidak mengerjakannya!&#8217; Jadi bisa dikata bahwa ia merupakan sanjungan bagi jiwa.&#8221;</p>
<p>6. Nafsul Muthma&#8217;innah<br />
Allah SWT berfirman, &#8220;Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku,&#8221; (Al-Fajr: 27-30).<br />
Nafsul mutma&#8217;innah adalah jiwa yang teguh dan mantap dalam keimanan, taqwa, dan Islam. Ia merupakan jiwa yang paling atas kedudukan dan tingkatannya, paling tinggi kemuliaan serta kesuciannya dibandingkan dengan dua jiwa sebelumnya. Ia memiliki berbagai keistimewaan: teguh keimanannya, mantap keyakinannya, senantiasa dalam ketaatan, dan istiqamah dalam menempuh jalan Islam.<br />
Adapun sikap dan solusi bagi orang yang diuji bagi orang yang diuji dengan jiwa yang senantiasa mengajak berbuat buruk adalah hendaknya ia mengetahui bahwa ketika Allah meletakkan pada jiwa manusia dan kecenderungan tersebut. Allah menjadikan pula di dalamnya: kebebasan untuk memilih, kekuatan iradah, akal budi, dan fitrah yang bersih. Dengannya memungkinkan bagi jiwa tersebut untuk memenangkan kecenderungan yang baik atas kecenderungan yang buruk, mendorongnya untuk melangkah di atas jalan yang lurus dan menjauhkan dari jalan maksiat dan kefasikan.</p>
<p>Selain itu, Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk dan terpuruk dalam hawa nafsu, akan tetapi Allah menjelaskan padanya jalan dan menerangkan cara untuk menempuh kehidupan di atas petujuk, akal sehat, dan jalan yang lurus.</p>
<p>Mengenai kebebasan memilih, Allah telah terangkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kafir,” (Al-Insaan: 3).<br />
Adapun mengenai kekutan irodah (kemauan), Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Jannahlah tempat tinggalnya,” (An-Naazi’aat: 40-41).<br />
Sementara mengenai akal, Allah berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sundau gurau belaka. Dan sungguh kampung akherat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kalian tidak memikirkannya?” (Al-An’aam: 32).<br />
Sedangkan mengenai fitrah Allah yang diberikan pada jiwa, Allah berfirman, “…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah…,” (Ar-Ruum: 30)<br />
Adapun mengenai jalan yang telah Allah jelaskan, Allah berfirman, “Dan telah kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (An-Nahl: 89).<br />
Selain itu, Allah akan memudahkan bagi manusia untuk menjalankan syari’at. Allah berfirman, “…Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian…,” (Al-Baqarah: 185).<br />
Dengan solusi-solusi dan sikap-sikap tersebut, jiwa manusia menjadi sempurna. Sehingga ia cepat berpindah dari nafsul lawwamah menjadi nafsul muthma’innah.</p>
<p>Demikianlah jiwa manusia kembali kepada kemuliaannya jika ia mau membersihkan fitrah, mengokohkan iman, mengikuti manhaj (rabbani), berpegang teguh pada batas-batas syari’at Allah, berjihad fisabilillah dan meninggikan kalimat-Nya.</p>
<p>3. Godaan Hawa Nafsu<br />
Yang dimaksud dengan al-hawa al-mutabba’ (hawa nafsu yang diikuti) adalah yang tercela, baik menurut pandangan syar’i maupun akal.<br />
Apabila diperhatikan dengan seksama ayat-ayat Allah yang jelas, hadits-hadits Nabi saw. dan perkataan kaum salaf, niscaya kita dapati bahwa ketiga-tiganya sangat mencela hawa nafsu.<br />
Di antara ayat-ayat Allah yang mencela hawa nafsu adalah firman Allah SWT, “Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya tersesat)? Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jaatsyiah: 23).<br />
“Andaikan kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya,” (Al-Mukminuun: 71).</p>
<p>Dan ayat-ayat lain yang senada cukup banyak jumlahnya.<br />
Adapun dalam hadits, Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim telah meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, “Orang yang terhormat itu adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, dan orang yang fajir itu adalah seseorang yang dirinya memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-berangan memperoleh balasan yang baik dari Allah.”<br />
Dari Abu Umamah berkata, “Aku pernah mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Tiada sesuatu di bawah langit ini yang dipertuhankan oleh manusia yang paling dibenci oleh Allah selain daripada hawa nafsu.”<br />
Adapun di antara ucapan para salaf, sebagaimana yang diucapkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Tiadalah Allah menyebut kata hawa nafsu di dalam Al-Qur’an melainkan pasti mencelanya.”<br />
Sahal at-Tsauri berkata, “Hawa nafsumu adalah penyakitmu, jika engkau melawannya, maka ia jadi obatmu.”</p>
<p>Al-Isybaily az-Zahid berkata, “Lawanlah hawa nafsumu dan tentanglah, karena sesungguhnya orang yang mematuhi hawa nafsunya, maka ia akan dilepaskan oleh hawa nafsunya sejahat-jahat pelepasan. Barang siapa yang mematuhi jiwa yang keras kepala maka ia akan melemparkannya ke jurang kebinasaan.”<br />
Dan perkataan para salaf yang senada masih cukup banyak dan tak mungkin disebutkan satu persatu.<br />
Solusi dan Langkah Yang Harus Diambil Untuk Membebaskan Diri Dari Hawa Nafsu</p>
<p>1. Memperdalam iman.<br />
Yaitu dengan menyakini dari dalam kalbu dan perasaannya bahwa Allah senantiasa menyertainya, mendengarnya, melihatnya, mengetahui apa yang ia nampakkan dan apa yang ia sembunyikan. Allah berfirman, “…tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada,” (Al-Mujaadilah: 7)<br />
.<br />
2. Mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.<br />
Nabi saw. bersabda, “…tamaklah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah…” (HR Muslim).</p>
<p>3. Bergaul dengang orang-orang shaleh.<br />
Nabi saw. bersabda, “Seorang itu mengikuti agama teman karibnya, maka hendaklah seseorang di antara kailan melihat kepada siapa dia berteman karib,” (HR Tirmidzi).<br />
Demikianlah kiat melepaskan diri dari godaan syetan yang menyesatkan dan memohonlah pertolongan kepada Allah untuk melakukannya.</p>
<p> Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih &#8216;Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al &#8216;Alaq, 2003), hlm. 19-38.</p>
<p>Sumber: Pusat Kajian Islam, Indonesia &#8211; </p>
<p>http://alislamu.com</p>
<p>http://khairulrashidi.blogspot.com/2010/03/menghadapi-tantangan-syaitan-diri-dan.html</p>
<p>HAKIKAT GODAAN JIN &amp; SETAN<br />
General category<br />
Jin adl makhluk Allah yg mempunyai kemampuan mengubah diri dgn berbagai bentuk. Mereka makan minum kawin dan beranak-pinak. Membisikkan dan menggoda manusia. Dapat melihat manusia tidak sebaliknya. “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yg kamu tidak bisa melihat mereka“. . Di antara mereka ada yg beriman juga ada yg kafir . Golongan yg kafir adl setan. Mereka takut pada manusia. Mereka makhluk lemah. Suka mencari rahasia langit tetapi mereka diusir dgn panah api .<br />
Apakah Jin itu ? Jin menurut bahasa berarti sesuatu yg tersembunyi dan halus. Sedangkan setan ialah tiap yg durhaka dari golongan jin manusia atau hewan. Dia dinamakan jin disebabkan tersembunyi-nya dari mata . Jin diciptakan dari api yg sangat panas .<br />
Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Setan menampakkan dirinya ketika aku shalat atas pertolongan Allah aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku jika tidak disebabkan doa saudaraku Nabi Sulaiman pasti kubunuh dia“.<br />
Berubah Bentuk Setan pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama; ketika suku Quraisy berkonspirasi utk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Kedua; pada perang Badr lihat Surat Al Anfal 48. Jin beranak pinak dan berkembang biak .<br />
Tempat-tempat Jin Jin mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia. Tinggal di rumah bersama manusia tidur di ranjang yg tidak ditiduri. Tempat yg paling disenangi adl WC. Sebab WC tempat manusia membuka aurat.<br />
“Hai anak Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya utk memperlihatkan kepada keduanya auratnya” .<br />
Ketika kita masuk ke dalam WC agar aurat kita terhalang dari pandangan jin hendaknya kita membaca doa berikut setan laki-laki dan setan perempuan}. . Setan suka berdiam di kubur dan tempat sampah. Oleh krn itu kuburan menjadi tempat meditasi bagi tukang sihir. Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya dan telanjang. Tidur telanjang menarik setan utk mempermainkan aurat manusia dan menyebabkan penyakit.<br />
Qarin Setiap manusia disertai setan yg selalu menggodanya. Allah berfirman artinya “Yang menyertai dia berkata “Ya Tuhan kami aku tidak menyesatkannya tapi dialah yg beradadalam kesesatan yg jauh“. .<br />
Manusia dan qarin-nya akan bersama di hari hisab. Aisyah bercerita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah di malam hari aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku lalu ia berkata “Apakah kamu telah didatangi setanmu?” “Apakah setan bersamaku?” “Ya bahkan tiap manusia” “Termasuk engkau juga?” “Betul tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya”.<br />
Setan makan bersama manusia yg tak berdoa ketika mau makan. Setan makan dgn tangan kiri sendirian dan dgn jarinya. Rasulullah ` melarang makan dgn tangan kiri. Beliau menyuruh kita makan bersama-sama mencuci tangan dan mulut sebelum dan sesudah makan. “Setan adl pencari rahasia dan suka menjilati sisa makanan maka jauhilah. Siapa yg tidur sedang di tangannya masih tersisa bau makanan lalu tertimpa penyakit maka jangan ada yg disalahkan kecuali dirinya sendiri“.<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita mematikan lampu menutup pintu jendela tempat-tempat penyimpanan air dan makanan dgn rapat sebelum tidur. Jika manusia tidur dan membaca doa sebelumnya setan menjauhinya. Allah menjaga orang yg sebelum tidur membaca doa. Jika manusia tidur tanpa berdoa setan mengikat kepalanya dgn tiga ikatan jika ia bangun dan mengingat Allah terlepaslah satu ikatan jika ia berwudhu terlepas lagi satu ikatan lainnya dan jika ia shalat terlepaslah ikatan yg terakhir.<br />
Allah akan menghisab bangsa jin pada hari kiamat. Jin yg baik masuk Surga. Allah berfirman artinya “ yg tidak pernah disentuh oleh manusia dan tidak pula oleh jin“. . Golongan jin menikahi bidadari-bidadari dari bangsa jin. Golongan jin yg ahli maksiat masuk Neraka. Allah berfirman artinya “Dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yg terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia“. .<br />
Tidak Mengikuti Jejak Setan Al Qur’an menceritakan kisah Adam bersama iblis. “Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat “Sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adl dari golongan jin maka ia mendurhakai perintah Tuhannya“. . Semenjak itu setan bersumpah akan menyesatkan Adam dan keturunannya. “Hai sekalian manusia makanlah yg halal lagi baik dari apa yg terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan“. .<br />
“Barangsiapa yg mengikuti langkah-langkah syetan maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yg keji dan mungkar“. . “Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbul-kan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat“. .<br />
Mohon Perlindungan Allah menyuruh kita agar banyak minta perlindungan dari godaan setan. Dan katakanlah “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan setan. Dan aku berlindung kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku“. .<br />
Setan berangsur-angsur menarik kebinasaan Allah berfirman “Barangsiapa yg berpaling dari pengajaran Ar Rahman Kami adakan baginya setan maka setan itulah yg menjadi teman yg selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yg benar sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk“. .<br />
Atas dasar ini diadakan diskusi-diskusi mu’tamar-mu’tamar dan konferensi-konferensi keburukan. Tak ada kemanfaatan dari pelaksanaan dan hasil-hasilnya. Setan membisikkan bahwa syariat Islam tidak cocok di jaman ini keras dan melanggar HAM.<br />
Siapa yg cenderung kepada mereka menjadi musyrik. Jaman dahulu setan mencuri pendengaran berita-berita dari langit yg disampaikan para malaikat langit kepada para malaikat bumi. Setelah Nabi Muhammad SAW diutus Allah menerangkan keadaan syetan “Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu utk mendengar-dengarkan . Tetapi sekarang barangsiapa mencoba mendengar-dengar tentu akan menjumpai panah api yg mengintai “. dan .<br />
Sihir Sihir termasuk pekerjaan setan yg utama. Praktek-praktek sihir berkembang di masyarakat yg lemah iman atau tidak beragama sama sekali. Betapa banyak orang datang ke dukun/paranormal utk minta banyak rizki berobat dari penyakit ingin cepat dapat jodoh lulus dalam ujian rujuknya wanita yg telah dicerai atau sebaliknya dan selainnya yg hal-hal tersebut merupakan kekuasaan Allah sedang kita hanya diperintah utk berdoa dan berusaha. Para dukun/paranormal mempunyai mata-mata yg menyebar di masyarakat utk mencari tahu rahasia-rahasia mereka lalu mereka menceritakan itu pada tuannya. Dan ketika seseorang mendatanginya dgn mudahnya dia menceritakan keadaan orang tersebut lalu ia heran dan tertipu. Seakan-akan si dukun tahu hal-hal ghaib.<br />
Oleh Al-Islam &#8211; Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia<br />
sumber file al_islam.chm</p>
<p>http://blog.re.or.id/hakikat-godaan-jin-setan.htm</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=165&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/sesatnya-pemuja-syaitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/259a08adcc487361d0dc80fe6adc56af?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsafatindonesia1001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERANG SALIB</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/perang-salib/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/perang-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 15:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Sebab-sebab Terjadinya Perang Salib Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap.kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M. dikenal sebagai perang salib. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan, selain itu mereka menggunakan simbol salib. Namun jika dicermati lebih mehdalam akan terlihat adanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=158&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebab-sebab Terjadinya Perang Salib</p>
<p>Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap.kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M. dikenal sebagai perang salib. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan, selain itu mereka menggunakan simbol salib. Namun jika dicermati lebih mehdalam akan terlihat adanya beberapa kepentingan individu yang turut mewarnai perang salib ini. Berikut ini adalah beberapa penyebab yang turut melatarbelakangi terjadinya perang salib.</p>
<p>Gambar diambil dari: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/31/Map_of_First_Crusade_-_Roads_of_main_armies-fi.png</p>
<p>Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.</p>
<p>Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis. padahal yang terjadi adalah bahwa pihak Kristen bebas saja melaksanakan haji secara berbondong-bondong. pihak Kristen menyebarkan desas-desus perlakuan kejam Turki Saljuk terhadap jemaah haji Kristen. Desas-desus ini membakar amarah umat Kristen-Eropa.</p>
<p>Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”</p>
<p>Keernpat, propaganda Alexius Comnenus kepada )aus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.</p>
<p>Tujuan utama Paus saat itu adalah memperluas pengaruhnya sehingga gereja-gereja Romawi akan bernaung di bawah otoritasnya. Dalam propagandanya, sang Paus Urbanus ll menjanjikan ampunan atas segala dosa bagi mereka yang bersedia bergabung dalam peperangan ini. Maka isu persatuan umat Kristen segera bergema menyatukan negeri-negeri Kristen memenuhi seruan sang Paus ini. Dalam waktu yang singkat sekitar 150.000 pasukan Kristen berbondong-bondong memenuhi seruangsang Paus, mereka berkumpul di Konstantinopel. Sebagian besar pasukan ini adalah bangsa Perancis dan bangsa Normandia.</p>
<p>Jalannya Peperangan</p>
<p>Perang salib yang berlangsung dalam kurun waktu hampir dua abad, yakni antara tahun 1095 – 1291 M., terjadi dalam serangkaian peperangan.</p>
<p>Diambil dari: http://www.hist.umn.edu/courses/hist3613/calendar/1stCrusade/images/First%20Crusade%20Map.jpg</p>
<p>Perang Salib 1</p>
<p>Pada tahun 490 H/1096 M. sebuah pasukan salib yang dipimpin oleh komandan Walter dapat ditundukkan oleh kekuatan Kristen Bulgaria. Kemudian Peter yang mengkomandoi kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hungaria dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiap kekuatan yang menghalanginya. Seorang sultan negeri Nice berhasil menghadapinya bahkan sebagian pimpinan salib berkenan memeluk lslam dan sebagian pasukan mereka terbunuh dalam peperangan ini.</p>
<p>Setahun kemudian yakni pada tahun 491 H/1097 M. pasukan Kristen di bawah komandan Coldfrey bergerak dari Konstantinopel menyeberangi selat Bosporus dan berhasil menaklukkan Antioch (Antakia) setelah mengepungnya selama 9 bulan. Pada pengepungan ini pasukan salib melakukan pembantaian secara kejam tanpa prikemanusiaan.</p>
<p>Setelah berhasil menundukkan Antioch, pasukan salib bergerak ke Ma’arrat al-Nu’ man, sebuah kota termegah di Syria. Di kota ini pasukan Salib juga melakukan pembantaian ribuan orang. Pasukan salib selanjutnya menuju ke Yerusalem dan dapat menaklukkannya dengan mudah. Ribuan jiwa muslirn menjadi kurban pembantaian dalam penaklukan kota Yerusalern ini. “Tumpukan kepala, tangan dan kaki terdapat disegala penjuru jalan dan sudur kota”. Sejarah telah menyaksikan sebuah tragedi manusia yang memilukan. Goldfrey selanjutnya menjabat sebagai penguasa atas negeri Yerusalem. Ia adalah penguasa yang cakap, dan komandan yang bersemangat dan agresif.</p>
<p>Pada tahun 503 H/1109 M., pasukan salib menaklukkan Tripoli. Mereka selain membantai masyarakat Tripoli juga membakar perpustakaan, perguruan dan sarana industri hingga menjadi abu.</p>
<p>Selama terjadi penyerangan di atas, kesultanan Saljuk sedang dalam kemunduran. Perselisihan antara sultan-sultan Saljuk memudahkan pasukan salib merebut wilayah-wilayah kekuasaan islam. Dalam kondisi seperti ini muncullah seorang sultan Damaskus yang bernama Muhammad yang berusaha mengabaikan konflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan Saljuk untuk mengusir pasukan salib. Baldwin, penguasa Yerusalem pengganti Goldfrey, dapat dikalahkan oleh pasukan Saljuk ketika ia sedang menyerang kota Damaskus. Baldwin segera dapat merebut kembali wilayah-wilayah yang lepas setelah datang bantuan pasukan dari Eropa.</p>
<p>Sepeninggal Sultan Mahmud, tampillah seorang perwira muslirn yang cakap dan gagah pemberani. Ia adalah Imaduddin Zangki, seorang anak dari pejabattinggi Sultan Malik Syah. Atas kecakapannya, ia menerima kepercayaan berkuasa atas kota Wasit dari Sultan Mahmud. Belakangan penguasa Mosul dan Mesopotamia juga berlindung kepadanya. la menerima gelar Attabek dari khalifah di Bagdad. Ia telah mencurahkan kemampuannya dalam upaya mengembalikan kekuatan pemerintahan Saljuk dan menyusun kekuatan militer, sebelum ia mengabdikan diri di kancah peperangan salib.</p>
<p>Masyarakat Aleppo dan Hammah yang menderita di bawah kekuasaan pasukan salib berhasil diselamatkan oleh Imaduddin Zangki setelah berhasil mengalahkan pasukan salib. Tahun berikutnya ia juga berhasil mengusir pasukan salib dari al- Asyarib. Satu-persatu Zangki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Edessa pada tahun 539 H/1144 M. Dalam pada itu, bangsa Romawi menjalin kekuatan gabungan dengan pasukan Perancis menyerang Buzza. Mereka menangkap dan membunuh perernpuan dan anak-anak yang tidak berdosa. Dari sini mereka melancarkan serangan ke Caesarea. Penguasa negeri ini yakni Abu Asakir nneminta bantuan pasukan Imaduddin Zangki. Zangki segera mengerahkan pasukannya dan ia berhasil mengusir kekuatan Perancis dan Romawi secara memalukan. Wilayah perbatasan di Akra berhasil digrebek hingga menyerah, demikian pula kota Balbek segera ditaklukkan, untuk selanjutnya pendudukan kota Balbek ini dipercayakan kepada komandan Najamuddin, ayah Salahuddin.</p>
<p>Penaklukan Edesa merupakan keberhasilan Zangki yang terhebat. Oleh umat Kristen Edessa merupakan kota yang termulya, karenanya kota ini dijadikan sebagai pusat kepuasan. Dalam penaklukan Edessa, Zangki tidak berlaku kejam terhadap penduduk sebagaimana tindakan pasukan salib. Tidak seorang pun merasakan tajamnya mata pedang Zangki, kecuali pasukan salib yang sedang bertempur yang sebagian besar adalah pasukan Perancis.</p>
<p>Dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir, Zangki terbunuh oleh tentaranya sendiri. Selama ini Zangki adalah seorang patriot sejati yang telah berjuang demi membela tanah airnya. Baginya, “pelana kuda lebih nyaman dan lebih dicintainya dari pada kasur sutra, dan juga suara hiruk-pikuk di medan peperangan terdengar lebih merdu dan lebih dicintainya daripada alunan musik”.</p>
<p>Kepemimpinan Imaduddin Zangki digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin Mahmud. Ia bukan hanya seorang prajurit yang cakap, sekaligus juga ahli hukum, dan juga seorang ilmuan. Pada saat itu umat Kristen Edessa dengan bantuan pasukan Perancis herhasil mengalah pasukan muslim yang bertugas di kota ini dan sekal i gus membanta i nya. N uruddi n segera mengerahkan pasukannya ke Edessa dan berhasil merebutnya kembali Sejumlah pasukan Edessa dan para pengkhianat dihukum dengan mata pedang, sedangkan bangsa Armenia yang bersekutu dengan pasukan salib diusir ke luar negeri Edesa.</p>
<p>Perang Salib 2</p>
<p>Dengan jatuhnya kembali kota Edesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St Bernard segera menyerukan kembali perang salib melawan kekuatan muslim. Seruan tersebut membuka gerakan perang salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa menanggapi poiitif seruan perang suci ini. Kaisar jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar perancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya keAsia. Namun kedua paiukan ini iapat dihancurkan ketika sedang dalam perjalanan menuju Syiria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sisi mereka menuju ke Damaskus.</p>
<p>Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin tiba di kota ini. Karena terdesak oleh pasukan Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa. Dengan demikian beiakhirlah babak ke dua perang salib.</p>
<p>Nuruddin segera rnulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil rnenduduki benteng Xareirna, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/1149 M., dan kota Joscelin. Pendek kata, kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. la segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan koia damaskus membuat sang khalifah di Bagdad brerkenan rnemberinya gelar kehormatan “al-Malik al- ’Adil”.</p>
<p>Ketika itu Mesir sedang dilanda perselisihan intern dinasti Fatimiyah. Shawar, seorang perdana menteri Fatimiyah., dilepaskan dari jabatannya oleh gerakan rahasia. Nuruddin mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan komandan Syirkuh. Namun ternyata Shawar justru memerangi Syirkuh berkat bantuan pasukan perancis hingga berhasil rnenduduki Mesir.</p>
<p>Pada tahun 563 H/1167 M. Syirkuh berusaha datang kembali ke Mesir. Shawar pun segera rneminta bantuan raja Yerusalem yang bernama Amauri. Gabungan pasukan Shawar dan Amauri ditaklukkan secara mutlak oleh pasukan Syirkuh dalam peperangan di Balbain. Antara mereka terjadi perundingan yang melahirkan beberapa kesepakatan: bahwa Syirkuh bersedia kembali ke Damaskus dengan imbalan 50.000 keping emas, Amauri harus menarik pasukannya dari Mesir. Namun Amauri tidak bersedia meninggalkan Kairo, sehingga perjanjian tersebut batal secara otomatis. Bahkan mereka menindas rakyat.</p>
<p>Atas permintaan khalifah Mesir Syirkuh diperintahkan oleh Nuruddin agar segera menuju ke Mesir. Masyarakat Mesir dan sang khalifah menyambut hangat kedatangan Syirkuh dan pasukannya, dan akhirnya Syirkuh ditunjuk sebagai perdana menteri. Dua bulan sesudah penundukan ini, Syirkuh meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh kemenakannya yang bernama Salahuddin. Ketika kondisi politik dinasti Fatimiyah semakin melemah, Salahuddin al-Ayyubi segera memulihkan otoritas Khalifah Abbasiyah di Mesir, dan setelah dinasti Fatimiyah hancur Salahuddin menjadi penguasa Mesir (570-590 H/1174-1193 M).</p>
<p>Salahuddin, putra Najamuddin Ayyub, lahir di Takrit pada tahun 432 H/1137 M. Ayahnya adalah pejabat kepercayaan pada masa lmaduddin Zangki dan masa Nuruddin. Salahuddin adalah seorang letnan pada masa Nuruddin, dan telah berhasil mengkonsolidasikan masyarakat Mesir, Nubia, Hijaz dan Yaman.</p>
<p>Sultan Malik Syah yang menggantikan Nuruddin adalah raja yang masih berusia belia, sehingga amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis poiitik internal. Kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan salib untuk menyerang Damaskus dan menundukkannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan salib.</p>
<p>Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin. Kekuatan Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh pasukan Salahuddin. Merasa.tidak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah rneminta bantuan pasukan salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan salib di Aleppo ini, terbukalah jalan lernpang bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di masa-masa mendatang hingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 575H/1182M, kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai sultan atas seluruh wilayah Asia Barat.</p>
<p>Sementara itu Baldwin III menggantikan kedudukan ayahnya, Amaury. Baldwin III mengkhianati perjanjian genjatan senjata antara kekuatan muslim dengan pasukan Salib-Kristen. Bahkan pada tahun 582H/11 86 M. Penguasa wilayah Kara yang bernama Reginald mengadakan penyerbuan terhadap kabilah muslim yang sedang melintasi benteng pertahanannya. Salahuddin segera mengerahkan pasukannya di bawah pimpinan Ali untuk mengepung Kara dan selanjutnya menuju Galilee untuk menghadapi pasukan Perancis. Pada tanggal 3 Juli 1187 M. kedua pasukan bertempur di daerah Hittin, di mana pihak pasukan Kristen mengalami kekalahan. Ribuan pasukan mereka terbunuh, sedang tokoh-tokoh militer mereka ditawan. Sultan Salahuddin selanjutnya merebut benteng pertahanan Tiberia. Kota Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Caesarea, Asrul Jaffra, Beyrut, dan sejumlah kota-kota lainnya satu persatu jatuh dalanr kekuasaan Sultan Salahuddin.</p>
<p>Selanjutnya Salahudin memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem, di mana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen. Setelah mendekati kota ini, Salahuddin segera menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib-Kristen Yerusalem menyerah. Perintah tersebut sama sekali tidak dihiraukan, sehingga Salahuddin bersumpah untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim. Setelah beberapa larna terjadi pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon kemurahan hati sang sultan. Jiwa sang sultan terlalu lembut dan penyayang untuk melaksanakan sumpah dan dendamnya, sehingga ia pun memaafkan mereka. Bangsa Romawi dan warga Syria-Kristen diberi hidup dan diizinkan tinggal di Yerusalem dengan hak-hak warga negara secara penuh. Bangsa Perancis dan bangsa-bangsa Latin diberi hak meninggalkan Palestina dengan membayar uang tebusan 10 dinar setiap orang dewasa, dan 1 dinar untuk setiap anak-anak. Jika tidak bersedia mereka dijadikan sebagai budak. Namun peraturan seperti ini tidak diterapkan oleh sang sultan secara kaku. Salahuddin berkenan melepaskan ribuan tawanan tanpa tebusan sepeser pun, bahkan ia mengeluarkan hartanya sendiri untuk menrbantu menebus sejumlah tawanan. Salahuddin juga membagi-bagikan sedekah kepada ribuan masyarakat Kristen yang miskin dan lemah sebagai bekal perjalanan mereka pulang. Ia menyadari betapa pasukan Salib-Kristen telah membantai ribuan rnasyarakat muslim yang tidak berdosa, namun suara hatinya yang lembut tidak tega untuk melampiaskan dendam terhadap pasukan Kristen.</p>
<p>Pada sisi lainnya Salahuddin juga membina ikatan persaudaraan antara warga Kristen dengan warga muslim, dengan memberikan hak-hak warga Kristen sama persis dengan hak-hak warga muslim di Yerusalem. Sikap Salahuddin demikian ini membuat umat Kristen di negeri-negeri lain ingin sekali tinggal di wilayah kekuasaan sang sultan ini. “sejumlah warga Kristen yang meninggalkan Yerusalem menuju Antioch ditolak dan bahkan dicaci maki oleh raja Bahemond. Mereka lalu menuju ke negeri Arab di mana kedatangan mereka disambut dengan baik”, kata Mill. Perlakuan baik pasukan muslim terhadap umat Kristen ini sungguh tidak ada bandingannya sepanjang sejarah dunia. Padahal sebelumnya, pasukan Salib-Kristen telah berbuat kejam, menyiksa dan menyakiti warga muslim.</p>
<p>Perang Salib 3</p>
<p>Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Salahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan prestis kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, maka kaisar Jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar Perancis yang bernama Richard, beberapa pembesar kristen rnembentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan lar.rtnya. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.</p>
<p>Salahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan salib. Ia menetapkan strategi bertahan di dalam negeri dengan mengabaikan saran para Amir untuk melakukan pertahanan di luar wilayah Acre. ”Demikianlah Salahuddin mengambil sikap yang kurang tepat dengan memutuskan pandangannya sendiri’” ungkap salah seorang ahli sejarah. Jadi Salahuddin mestilah berperang untuk menyelamatkan wilayahnya setelah pasukan Perancis tiba di Acre.</p>
<p>Pada tanggal 14 September 1189 M. Salahuddin terdesak oleh pasukan salib, namun kemenakannya yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Dalam hal ini Ibn al-Athir menyatakan, “pasukan muslim mesti melanjutkan peperangan hingga malam hari sehingga mereka berhasil mencapai sasaran penyerangan. Namun setelah mendesak separuh kekuatan Perancis, pasukan muslim kembali dilemahkan pada hari berikutnya.</p>
<p>Kota Acre kembali terkepung selama hampir dua tahun. Sekalipun pasukan rnuslim menghadapi situasi yang serba sulit selama pengepungan ini, namun mereka tidak patah semangat. Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak membawa hasil, bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha besar. Sultan Salahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Masytub, seorang komandan Salauhuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang pernah diberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikit pun tidak memberi belas kasih terhadap ummat muslim. la membantai pasukan muslirn secara kejam.</p>
<p>Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba d i fucalon I e6l h awil. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerirna tawaran damai tersebut. ”Antar pihak Muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak rnenyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa, gangguan apa pun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang salib ke tiga.</p>
<p>Setelah keberangkatan Jenderal Richard, Salahuddin masih tetap tinggal di Yerusalem dalam beberapa lama. Ia kemudian kembali ke Damaskus untuk menghabiskan sisa hidupnya. Perjalanan panjang yang meletihkan ini mengganggu kesehatan sultan dan akhirnya ia meninggal enam bulan setelah tercapai perdamaian, yakni pada tahun 1193 M. Seorang penulis berkata, “Hari kematian Salahuddin merupakan musibah bagi islam dan ummat lslam, sungguh tidak ada duka yang melanda mereka setelah kematian empat khalifah pertarna yang melebihi duka atas kematian Sultan Salahuddin”.</p>
<p>Salahuddin bukan hanya seorang Prajurit, ia juga seorang yang mahir dalam bidang pendidikan dan pengetahuan. Berbagai penulis berkarya di istananya” Penulis yang ternama di antara mereka adalah Imaduddin, sedang hakim yang termasyhur adalah al-Hakkari. Sultan Salahuddin mendirikan berbagai lembaga pendidikan seperti madrasah, perguruan, dan juga mendirikan sejumiah rumah sakit di wilayah kekuasaannya.</p>
<p>Perang Salib 4</p>
<p>Dua tahun setelah kematian Salahuddin berkobar perang salib keempat atas inisiatif Paus Celestine III. Namun sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usianya perang salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak dikenal. Pada tahun 1195 M. pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi dua kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan kristen ini mendarat di pantai Phoenecia dan menduduki Beirut. Anak Salahuddin yang bernama al-Adil segera rnenghalau pasukan salib. la selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan ke Tibinim, lantaran semakin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai. Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.</p>
<p>Perang Salib 5</p>
<p>Belum genap mencapai tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya perang salib ke lima setelah berhasil rnenyusun kekuatan miliier. Jenderal Richard di lnggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas penguasa Eropa lainnya menyarnbut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syria tiba-tiba mereka membelokkan geiakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba di kota ini, mereka membantai ribuan bangsa romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. pembantai ini berlangsung dalam beberapa hari. Jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa ini.</p>
<p>Perang Salib 6</p>
<p>Pada tahun 613 H/1216M, Innocent III mengobarkan propaganda perang salib ke enam. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3.000 pasukan yang tahan dari serangkaian wabah penyakit. Bersamaan dengin ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari perancis yang bergerak menuju Kairo. Narnun akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka men jadi terdesak dan terpaksa rnenempuh jalan damai. Antara keduanya tercapai kesepakatan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.</p>
<p>Perang Salib 7</p>
<p>Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerja sarna dengan seorang jenderal Jerman yang bernarna Frederick. Frederick bersedia membantunya rnenghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di yerusalem. Yerusalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M., setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik al-shalih Najamuddi al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil meiarikan diri dari kekuasaan Jenghis Khan.</p>
<p>Perang Salib 8</p>
<p>Dengan direbutnya kota Yerusalern oleh Malik al- Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah lslam. Kali ini Louis IX, kaisar perancis, yang memimpin pasukan salib kedelapan. Mereka mendarat di Dirnyat dengan mudah tanpa perlawanan yang beranti. Karena pada saat itu Sultan Malikal-shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit, sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah, putra Ayyub.</p>
<p>Setelah berakhir perang salib ke delapan ini, pasukan Salib-Kristen berkali-kali berusaha mernbalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.</p>
<p>Akibat Perang Salib</p>
<p>Perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa beberapa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Perang salib ini menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali dunia lslam secara lebih dekau yang berarti kontak hubungan antara barat dan timur semakin dekat. Kontak hubungan barat-timur ini mengawali terjadinya pertukaran ide antara kedua wilayah tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat timur yang”maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa barat, yakni Eropa. Hal ini sangat-besar andil dan peranannya dalam meahirkan era renaissance di Eropa.</p>
<p>Pasukan salib merupakan penyebar hasrat bangsa Eropa dalam bidang perdagangan dan perniagaan terhadap bangsa-bangsa timur. Selama ini bangsa barat tidak mengenal kemajuan pemikiran bangsa timur. Maka perang salib ini juga membawa akibat timbulnya kegiatan penyelidikan bangsa Eropa mengenai berbagai seni dan pengetahuan penting dan berbagai penemuan yang teiah dikenali ditimur. Misalnya, kompas kelautan, kincir angin, dan lain-lain, Mereka juga menyelidiki sistem pertanian, dan yang lebih penting adalah mereka rnengenali sistem industri timur yang telah maju. Ketika kembali ke negerinya, Eropa, mereka lantas mendirikan sistem pemasaran barang-barang produk timur. Masyarakat barat semakin menyadari betapa pentingnya produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan sernakin pesatnya pertumbuhan kegiatan perdagangan antara timur dan barat. Kegiatan perdagangan ini semakin berkembang pesat seiring dengan kemajuan pelayaran di laut tengah. Namun, pihak muslim yang semula menguasai jalur pelayaran di laut tengah kehilangan supremasinya ketika bangsa-bangsa Eropa menempuh rute pelayaran laut tengah secara bebas.</p>
<p>Runtuhnya  DINASTI ABBASIYAH</p>
<p>Ketika itu, selama periode perang salib, panglima dan pasukan muslim telah menunjukkan sikap mereka yang sangat menawan dan bijaksana. Mereka penuh kesabaran dalam berjuang dan gigih dalam pertahanan, pemaaf dan ksatria.</p>
<p>Sementara itu bersamaan dengan periode ini, kekhilafahan Abbasiyah di Bagdad tengah dilanda konflik politik internal. Bahkan ketika kekuasaannya terancam oleh serangan pasukan salib, mereka sama sekali tidak mengambil sikap peduli. Mereka tenang saja di istana Bagdad bermalas-malasan dan boros. Pola kehidupan sang khalifah yang demikian ini berlangsung terus-menerus sampai Bagdad ditundukkan oleh Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan. Hulagu dengan sangat mudah menghancurkan kota Bagdad dan membunuh Khalifah Abbasiyah yang terakhir, yakni al-Musta’sim. peristiwa ini terjadi pada tahun 1258 M. yang menandai akhir masa kekuasaan dinasti Abbasiyah.</p>
<p>Sumber: Prof. K Ali, A study of Islamic History, versi terjemahan “Sejarah Islam (Tarikh Pramodern)”, PT RajaGrafindo Persada, 1996, Jakarta.</p>
<p>http://orgawam.wordpress.com/2010/02/02/sejarah-perang-salib/#comment-5485</p>
<p>Perang Salib itu sejarahnya cukup panjang luas dan rumit. However, karena topik ini tampaknya tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indo ataupun Kristen (dan muslim) pada umumnya. Aku akan terjemahkan artikel dari James Akin tentang Perang Salib yang bisa ditemukan disini</p>
<p>Seperti yang telah diketahui, Perang Salib terderi dari 8 ekspedisi ke Timur yang terjadi selama dua abad, dari 1095 sampai 1270. Sejak itu, istilah &#8220;crusade,&#8221; yang arti sebenarnya adalah Perang Salib, di pakai untuk berbagai macam situasi seperti perang-perang lain (terutama yang berkaitan dengan agama) ataupun hal hal lain yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama.. Disini kita akan memfokuskan diri atas 8 Perang Salib dalam tradisi.</p>
<p>Latar Belakang<br />
Untuk mengerti Perang Salib kita perlu menilai peristiwa yang menyebabkannya. Sejak legalisasi Kristianitas di awal tahun 300, Kristen Eropa mulai melakukan ziarah ke Palestina untuk mengunjungi situs kudus yang berhubungan dengan hidup Tuhan kita. Ziarah ini adalah bentuk kesalehan yang besar karena pada jaman tersebut perjalanan ke Tanah Suci adalah sulit, memakan waktu lama, mahal dan berbahaya. Beberapa ziarah membutuhkan bertahun-tahun untuk selesai.</p>
<p>Jemaat Kristen juga pergi ke Syria, Palestina dan Mesir untuk hidup seperti pertapa. Ini adalah jaman dimana kehidupan membiara berbuah banyak, dan banyak jemaat Kristen yang ingin pergi ke Tanah Kudus untuk hidup sebagai pertapa. Mereka juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam perjalanan mereka. Bagi para peziarah dan mereka yang ingin menjadi pertapa ada satu faktior yang membikin mudah perjalanan: Jalan menuju Palestina membentang melalui wilayah Kristen.</p>
<p>Pada tahun 612, Mohammad orang Arab, anak dari Abdallah, dilaporkan menerima panggilan kenabian dari Allah melalui malaikat Gabriel. Pada awalnya dia mendapatkan beberapa pengikut. Namun, setelah diusir dari tempat kelahirannya, yaitu Mekah, dia berlindung di Kota Medina dimana saat itu pengikutnya bertambah. Mengibarkan kampanye militer, Mohammad menaklukkan beberapa suku kafir, Yahudi dan Kristen dan dia juga berhasil mengambil alih tempat kelahirannya, Mekkah, dan juga Arabia. Dia meninggal pada tahun 632.</p>
<p>Seiring dengan matinya Muhammad, penerus Muhammad, para kalifah, meneruskan kampanye ekspansi yang agresif. Kurang dari satu abad mereka telah mengambil alih, antara lain, Siria, Palestina dan Afrika Utara. Meskipun sekarang kita menganggap daerah tersebut adalah daerah Muslim, pada waktu itu daerah daerah tersebut adalah Kristen. Dikatakan bahwa kerajaan Muslim yang berekspansi telah mencaplok setengah dari peradaban Kristen. Bahkan Eropa sendiri terancam. Muslem mengambil alih Spanyol Selatan, meng-invasi Prancis dan bahkan mengancam untuk meng-invasi Roma. Namun ekspansi mereka ditaklukkan oleh Charles Mantel pada pertempuran Poiters di 732.</p>
<p>Saat itu adalah masa-masa sulit</p>
<p>Setelah ekspansi Muslim di Eropa Barat telah tertahan untuk beberapa saat, perhatian mereka teralih ke tempat lain, dan dalam dua abad selanjutnya mereka menaklukkan Persia (Iran), Afghanistan, Pakistan dan sebagian India. Mereka lalu maju melawan negara Kristen dan menaklukkan Kekaisaran Byzantine pada 1453 dan berekspansi sampai Vienna, Austria pada 1683.</p>
<p>Perang Salib terjadi di pertengahan peperangan ini. Persiapan secepatnya dilakukan pada abad 11 dengan meningkatnya ketegangan antara Kristen dan Muslim di Tanah Kudus.</p>
<p>Palestina telah berada dalam kendali Muslim selama beberapa waktu, meskipun itu didapat dengan persetujuan (walaupun enggan) oleh pihak Kristen yang hidup di Palestina. Namun, pada 1009, Kalifah Fatimite dari Mesir memerintahkan penghancuran Kuburan Kristus di Yerusalem, yang merupakan tujuan utama peziarah Kristen. Kubur ini kemudian dibangun kembali.</p>
<p>Meningkatnya bahaya bagi jemaat Kristen dalam melakukan ziarah ke Tanah Kudus hanya menambah antusiasme untuk melakukan perjalanan tersebut, karena sekarang ziarah menjadi tindakan kesalehan yang lebih besar. Selama abad ke 11, ribuan jemaat Kristen mengarungi dengan berani, sering dikawal oleh pengawal-pengawal Kristen yang kadang kadang mengawal dua belas ribu peziarah dalam waktu yang sama.</p>
<p>Bangsa Turki Seljug yang telah menganut Islam pada abad ke 10, mulai menaklukkan bagian-bagian dunia Muslim&gt; Dan ini membuat ziarah semakin berbahaya, kalaupun tidak mungkin. Kaum Seljug mengambil alih Yerusalem pada 1070 dan mulai mengancam Kekaisaran Byzantine. Kaisar Byzantine, Romanus IV Diogenes ditangkap oleh kaum Seljuq pada perang Manzikert di 1071. Penerusnya, Michael VII Ducas, meminta bantuan Paus Gregory VII, yang juga berpikiran untuk memimpin ekspedisi militer untuk memukul balik bangsa Turki tersebut. memperbaiki Kuburan Kristus, dan mengembalikan keutuhan Kristen setelah perpecahan de facto Kristen Timur pada 1054. Namun &#8220;Konflik Pengangkatan&#8221; (ini ceritanya panjang dan akan diceritakan lain kali) menambah beban untuk pelaksanaan rencana ini.</p>
<p>Kaum Seljug terus berekspansi, pada 1084 menaklukkan kota Antioka dan pada 1092 kota Nicea, dimana dua konsili ekumenis diadakan berabad-abad sebelumnya. Pada 1090, Tahta Gembala metropolitan historis di Asia sudah berada di tangan Muslim, yang pada saat itu sudah sangat dekat dengan ibukota Byzantine di Konstantinopel. Sang Kaisar, Alexius I Comnenus, meminta Paus Urban II bantuan.</p>
<p>Perang Salib pertama (1095-1101)</p>
<p>Tidak seperti Gregory VII, Paus Urban II berada dalam posisi untuk menjawab permintaan Timur. Pada November 1095, dia memanggil Konsili Clermont di Prancis Selatan dimana dia meminta dengan sangat pada hadirin -yang terdiri dari bukan hanya Uskup dan Kepala Biara, tapi juga kaum bangsawan, ksatria dan rakyat sipil- untuk memberikan bantuan kepada Kekristenan Timur.</p>
<p>Telah terjadi banyak peperangan antar sesama Bangsa Eropa dan pada pertemuan yang diadakan di tempat terbuka tersebut, Paus mendorong mereka untuk berdamai satu sama lain dan memusatkan kekuatan militer mereka untuk tujuan yang konstruktif -membela Kekristenan dari aggresi Muslim, membantu Kristen Timur, dan mengambil alih kembali Kubur Kristus. Dia juga menekankan perlunya pertobatan dan motif spiritual dalam melakukan kampanye ini, menawarkan indulgensi total bagi mereka yang berkaul untuk melakukan tugas ini. Jawaban dari para hadirin sangat antusias, para hadirin berteriak &#8220;Deus Vult!&#8221; (Tuhan menghendakinya!)</p>
<p>Dalam Kosnili Clermont juga ditetapkan bahwa mereka yang pergi untuk melaksanakan tugas akan memakai Salib Merah (Latin:Crux). yang kemudian membuat kampanye ini disebut Perang Salib.</p>
<p>Persiapan dimulai di seluruh Eropa. Kebanyakan tidak terorganisasi ataupun tidak mempunyai semangat seperti yang didengungkan Paus. Beberapa prajurit begitu kurang persiapan sehingga mereka menjarah untuk memenuhi kebutuhan. Beberapa orang German membantai orang Yahudi. Beberapa tidak pernah sampai di Konstantinopel. Beberapa anggota dari &#8220;People&#8217;s crusade&#8221; yang tidak terorganisasi dan begitu tidak disiplin dan dikirim oleh Kaisar pada Agustus 1096 menuju ke Bosphorus, lebih dulu dari pasukan utama Perang Salib, mereka dibantai oleh tentara Turki.</p>
<p>Prajurit Salib utama terdiri dari empat pasukan yang berasal dari Perancis, German dan Normandia, dibawah pimpinan Godfrey dari Boullion, Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), Raymond dari Saint-Giles, dan Robert dari Flanders. Namun, Kaisar Byzantin Alexius tidak ingin tentara yang begitu banyak berada di Konstantinopel dan kemudian dikirimnya mereka ke Asia Minor sesuai dengan urutan kedatangan mereka. Sang Kaisar juga mensyaratkan agar kepala Pasukan bersumpah bahwa mereka akan mengembalikan tanah yang mereka rebut dari pihak Muslim yang dulunya adalah daerah Byzantine.</p>
<p>Pada Juni 1097, Nicea diambil alih oleh Byzantine dan para Prajurit Salib. Bulan berikutnya Prajurit Salib dan Byzantine mendapatkan kemenangan besar melawan Turki ketika mereka diserang di Dorylaeum. Kemajuan lebih lanjut cukup sulit dan nampaknya beberapa orang menjadi putus semangat. Salah satunya adalah Alexius, yang berjanji untuk membantu kota Antioka yang terkepung. Ketika sang Kaisar berhenti untuk berusaha, para Prajurit Salib merasa bahwa kewajiban untuk menyerahkan Dorylaeum kembali ke Kaisar, telah hilang karena sang Kaisar sendiri tidak mampu mempertahankannya (Alexus telah hilang semangat). Karena itu, saat Dorylaeum diambil alih pada Juni 1099, kota tersebut jatuh ke tangan orang Normandia.</p>
<p>Bulan berikutnya Fatimid Muslim dari Mesir mengambil alih kembali Yerusalem dari kaum Seljug Turky, jadi para Prajurit Salib melakukan serangan bukan kepada bangsa Turky. Ini terjadi pada 1099. Selama sebulan para Prajurit Salib, yang telah berkurang separuh dari kekuatan awal, mendirikan kemah disekeliling Yerusalem sementara Gubernur Fatimid menunggu bantuan tentara dari Mesir. Disisi lain Prajurit Salib mendapatkan persediaan makanan dan kebutuhan dari pelabuhan Jaffa dan memulai gerkan mereka.</p>
<p>Pada 8 Juli Prajurit Salib berpuasa dan berjalan dengan telanjang kaki mengelilingi kota menuju ke Gunung Zaitun (tempat Yesus mengalami Sakral Maut), dan pada tanggal 13, mereka mengepung tembok kota. Pada tanggal 15, beberapa prajurit berhasil melewati tembok dan membuka salah satu gerbang kota yang membuat pasukan utama mampu menyerbu kedalam. Di Menara Daud, Gubernur Fatimid menyerah dan diantar keluar dari kota. Dari dalam Mesjid Al-Agsa dekat Bukit Kuil (Temple Mount), Tacred, salah satu pimpinan Prajurit Salib, menjanjikan perlindungan bagi warga Muslim dan Yahudi di kota tersebut. Sayangnya, meskipun ada upaya tersebut, pembantaian tetap terjadi.</p>
<p>Bulan selanjutnya Prajurit Salib mengejutkan dan memukul balik pasukan bantuan dari Mesir yang dinanti-nanti Gubernur Fatimid. Prajurit Salib mengkokohkan kendali warga Kristen di Yerusalem, meskipun banyak kota pelabuhan masih berada dalam kendali Muslim. Kebanyakan Prajurit Salib kemudian pergi kembali ke rumah setelah merasa bahwa tujuan dan kaul mereka telah tercapai.</p>
<p>Sebagai hasil dari Perang Salib pertama, telah terbentuk empat negara bagian Kristen dari wilayah yang telah direbut Prajurit Salib: Kerajaan Jerusalem terdahulu, Principality Antioka (Prinsipality = daerah yang dikuasai pangeran/prince), Countship Edessa (Countship = daerah dalam kekuasaan Count. Count = semacam bangsawan) dan Countship Tripoli. Negara-negara bagian ini, yang menggunakan sistem feodal dalam konteks yang terlepas dari permusuhan lokal seperti yang terjadi di Eropa, telah disebut-sebut sebagai model administrasi Medieval. Namun, hubungan antara negara bagian, kekaisaran Byzantine dan daerah Muslim disekitarnya sering rumit.</p>
<p>Untuk mempertahankan negara-negara bagian baru ini, sebuah pasukan baru terbentuk –ordo-ordo Ksatria, seperti Hospitaleer oleh St John dari Yerusalem dan Templars. Ini adalah kelompok ksatria yang berkaul religius dan melakukan aturan-aturan religious.</p>
<p>Untuk suatu saat negara-negara bagian akibat Perang Salib berkembang. Seiring dengan waktu, negara-negara bagian tersebut membesar meliputi kota-kota pelabuhan yang ditinggal dan tidak diakui oleh siapapun sebagai daerah kekuasaan. Meskipun begitu, negara-negara bagian tersebut masih lemah. Pada 1144 negara bagian utara Edessa ditawan oleh Pasukan Muslim.</p>
<p>Untuk suatu saat negara-negara bagian akibat Perang Salib berkembang. Seiring dengan waktu, negara-negara bagian tersebut membesar meliputi kota-kota pelabuhan yang ditinggal dan tidak diakui oleh siapapun sebagai daerah kekuasaan. Meskipun begitu, negara-negara bagian tersebut masih lemah. Pada 1144 negara bagian utara Edessa ditawan oleh Pasukan Muslim.</p>
<p>Perang Salib Kedua (1146-1148)<br />
Sebagai respon, Paus Eugenus III memanggil Perang Salib baru, yang diserukan di Prancis dan Jerman oleh St. Bernard dari Clairvux. Raja Perancis, Louis VIII, dan istrinya, Eleanor dari Aquitaine, segera merespon, meskipun Kaisar Jerman, Conrad III, harus dibujuk. Kaisar Byzantine saat itu, Manuel Comnenus, juga mendukung Perang Salib, meskipun dia tidak menyumbangkan pasukannya.</p>
<p>Meskipun pada suatu waktu Perang Salib ini melibatkan pasukan terbesar, Perang Salib kedua ini tidak diikuti oleh antusiasme seperti antusiasme pada Perang Salib yang pertama, karena pada saat itu Yerusalem masih dikuasai Kristen. Jalannya kampanye kedua ini juga dipenuhi kepentengan-kepentingan dari pihak yang terlibat, yang kesemuanya menghambat kemajuan. Kesulitan perjalananjuga semakin menambah kesulitan. Ketika tidak mampu untuk sampai ke Edessa, para Prajurit Salib berkonsentrasi untuk mengambil alih Damaskus. Tapi konlik intern membuat mereka mengundurkan diri.</p>
<p>Kegagalan dari Perang Salib kedua begitu mematahkan semangat, dan banyak di Eropa merasa bahwa Kekaisaran Byzantine merupakan halangan dalam mencapai kesuksesan. Kegagalan ini juga merupakan tiupan moral yang kuat bagi Pasukan Muslim yang telah berhasil secara sebagian mengurangi kekalahan mereka di Perang Salib pertama</p>
<p>Posisi dari negara bagian para Prajurit Salib saat itu lemah, dan di tahun tahun selanjutnya mereka dikelilingi oleh kekuatan Muslim yang telah berkonsolidasi yang diikuti oleh hancurnya Kalifah Fatimid di Mesir.</p>
<p>Meskipun saat itu ada gencatan senjata dengan Komandan Muslim, Saladin, gencatan tersebut pecah pada 1887. Pada saat krisis suksesi di kerajaan Yerusalem, sebuah karavan Muslim diserang, dan Saladin me-respon dengan menyatakan Jihad.</p>
<p>Pasukan Latin mengalami kekalahan yang memalukan pada Tanduk Hattin (Sebuah formasi geologis yang menyerupai dua tanduk di perbukitan), dan Saladin kemudian meneruskan dan mengambil alih Tiberias dan kota pelabuhan Acre sebelum menyerang Yerusalem, yang jatuh pada 2 Oktober. Pada 1189, hanya ada beberapa negara bagian yang masih dikuasai kaum Kristen.</p>
<p>Perang Salib Ketiga (1188-92)<br />
Seiring dengan jatuhnya Yerusalem, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib ketiga. Sayang waktunya bersamaan dengan matinya raja-raja yang pertama kali menjawab panggilan.</p>
<p>Raja pertama yang menjawab seruan tersebut adalah William II dari Sisilia. Dia mengirimkan armada ke Timur tapi kemudian mati pada 1189. Henry II dari Inggris setuju untuk berpartisipasi, tapi juga mati di tahun yang sama. Kaisar Jerman, Frederick Barbarossa, yang telah ber-rekonsiliasi dengan Gereja (setelah sebelumnya sempat di ekskomunikasi), berpartisipasi dengan memimpin tentara yang besar yang mengalahkan Pasukan Seljug pada 1190. Tapi bulan berikutnya, Kaisar yang sudah lanjut ini mati tenggelam saat dia berusaha berenang untuk mengintai.</p>
<p>Dua raja yang akhirnya memimpin Perang Salib ini adalah Richard I (&#8220;Si Hati Singa, Lion-Hearted) yang gagah tapi falmboyan, keturunan Henry II dan penerusnya. Dan RajaPhilip II Agustus dari Prancis.</p>
<p>Dalam perjalanan ke Tanah Kudus, Richard I berhenti di Cyprus dan saat itu dia diserang oleh Pangeran Byzantine Isaac Comnenus. Ricahrd I kemudian mengalahkan sang Pangeran dan mengambil alih pulau tersebut sebelum berlayar ke kota pelabuhan Acre yang diserang oleh Prajurit Salib.</p>
<p>Denagn datangnya bala bantuan, kota pelabuhan Acre akhirnya bisa direbut dan pasukan Muslim akhirnya menyerah. Philip II kemudian merasa kaul Perang Salibnya terpenuhi dan kembali ke Prancis</p>
<p>Saladin kemudian setuju untuk menukarkan tawanan dengan relikui dari Salib yang asli. Persetujuan ini kemudian pecah ketika Richard memasalahkan pemilihan tawanan yang akan dikembalikan dan kemudian memerintahkan untuk menghukum mati tawanan Muslim dan keluarganya.</p>
<p>Richard berkehendak untuk menekan ke Yerusalem dan berhasil mendapatkan beberapa kota, termasuk Jaffa, tapi pada akhirnya tidak mampu mencapai Kota Suci. Hubungannya dengan Saladin akrab. Keduanya sepertinya saling menghormati. Pada akhir 1192 keduanya menandatangani perjanjian damai 5 tahun yang mengijinkan Umat Kristen memiliki akses ke temapt kudus. Daerah kekuasaan Kristen di Tanah Kudus saat itu telah berkurang menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri dari kota pelabuhan besar.</p>
<p>Perang Salib Keempat(1204)<br />
Perang Salib keempat adalah bencana yang tidak terhindarkan. Perang Salib keempat adalah episode yang hanya menyebabkan kerusakan internal dalam Kekristenan.</p>
<p>Pada 1198 Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat. Seperti biasa, Prancis menjawab seruan tersebut. Target baru saat itu adalah Mesir, wilayah yang dulunya Kristen namun sekarang menjadi kekuatan Muslim.</p>
<p>Prajurit Salib berpaling ke bangsa Venetia untuk transportasi, tapi ketika dana yang dikumpulkan tidak cukup, warga Venetian menyarankan agar mereka menyerang dan menangkap Zara, kota Hungaria yang Kristen. Banyak yang menolak dengan keras, termasuk Paus. Tapi perintah Paus diabaikan dan Prajurit Salib mengambil alih Zara atas permintaan warga Venetia.</p>
<p>Masalah berubah dari buruk menjadi lebih buruk ketika Alexius, anak dari bekas Kaisar Byzantin Isaac Angelus, meminta bantuan Prajurit Salib untuk mengembalikan tahta ayahnya. Dengan menjanjikan hadiah, Alexius meyakinkan para Prajurit Salib untuk mencoba melakukannya. Surat Paus yang melarang ekspedisi tersebut datang lambat dan Prajurit Salib telah mengambil Konstantinopel, mengembalikan tahta Isaac sebakai Kaisar dan menyatakan anaknya sebagai Kaisar-bersama (Co-emperor)</p>
<p>Paus Innocent III memperingatkan dengan keras para pemimpin dan memerintahkan mereka untuk terus menuju Tanah Kudus, tapi hanya beberapa yang melakukannya. Kebanyakan menunggu hadiah yang dijanjikan Alexius.</p>
<p>Pihak byzantin yang kurang suka terhadap janji Alexius trhadap Prajurit Salib kemudian membunuh Alexius yang kemudian diikuti oleh pengambil alihan Byzantin dan kekaisarannya oleh Prajurit Salib dan pihak Venetia, Konstantinopel kemudian jatuh ke tangan mereka pada 13 April 1204 yang membuat dimulainya penjarahan dan pembunuhan. Kemudian Kaisar Latin untuk Konstantinopel diangkat oleh sebuah konsili yang terdiri dari Prajurit Salib dan warga Venetia. Pemerintahan Byzantin kemudian di re-lokasikan ke Nicaea dan memerintah hanya sebagain dari daerah sebelumnya sampai 1261 saat Konstantinopel di taklukkan oleh Michael VIII Paleologous.</p>
<p>Perang Salib ini adalah perjalanan bodoh. Tidak hanya tidak sempat untuk berhadapan dengan pasukan Muslim yang menguasai Tanah Kudus, peristiwa ini lebih memisahkan Kekristenan Barat dan Timur disamping merusak secara permanen Kekaisaran Byzantine yang berfungsi sebagai pembatas antara agresi Muslim dengan jantung daerah Kristen.</p>
<p>Di tahun-tahun setelah Perang Salib Keempat, ada beberapa Perang Salib kecil (perang dimana pesertanya bersumpah) dengan penganut bidat (ajaran sesat) dan lainnya. salah satu yang menjadi fokus adalah &#8220;Prajurit Salib anak-anak&#8221; (1212) dimana ribuan anak diberangkatkan untuk menaklukkan Muslim dengan cinta dan bukan dengan senjata. Seorang anak dari Prancis yang punya visi ini memimpin satu bagian gerakan, sementara satu anak dari Jerman memimpin yang lain. Kebanyakan anak sampai ke Italy. Namun gerakan ini tidak pernah sampai ke Tanah Kudus dan kebanyakan anak mati lapar atau atau mati ellah atau dijual orang jahat dari Italy sebagai budak Muslim. Meskipun begitu gerekan ini menimbulkan simpati yang mengarah ke Perang Salib Kelima.</p>
<p>Perang Salib Kelima (1217-1221)<br />
Ini adalah Perang Salib terakhir dimana Gereja berperan Perang salib ini diserukan oleh Paus yang menyerukan Perang Salib sebelumnya, Innocent III, dan juga oleh Konsili Ekumenis ke 12, Lateran !V. Dan sepeerti upaya sebelumnya, target dari perang Salib ini bukanlah Palestina tapi Mesir, basis dari kekuatan Muslim, yang diharapkan oleh para Prajurit Salib untuk dijadikan bahan tawaran untuk pembebasan Yerusalem.</p>
<p>bersambung&#8230;</p>
<p>Valkyrie<br />
    Lupa Diri<br />
    Lupa Diri</p>
<p>    Posts: 1106<br />
    Joined: Thu Sep 28, 2006 9:59 am</p>
<p>Top</p>
<p>Postby Valkyrie » Wed Oct 04, 2006 9:03 am<br />
Tidak seperti Perang Salib sebelumnya (Keempat) yang menjadi tidak terkendali ditangan awam, upaya kali ini diletakkan dalam otoritas wakil kepausan, Cardinal Pelagius. Dia mempunyai pengetahuan militer dan secara rutin berperan dalam keputusan militer.</p>
<p>Usaha kali ini mengalami kesuksesan awal, dan Pasukan Muslim yang terkejut menawarkan syarat damai yang sangat menguntungkan, termasuk pengembalian Yerusalem. Tapi, Prajurit Salib, dianjurkan oleh Kardinal Pelagius, menolak ini. Sebuah blunder militer mengakibatkan Prajurit Salib kehilangan Damietta yang mereka dapat di awal kampanya ini. Pada 1221, Pasukan Kristen menerima perjanjian gencatan senjata dengan syarat yang jauh kurang menguntungkan dari yang pertama. Banyak yang menyalahkan Pelagius, beberapa menyalahkan Paus. Banyak juga yang menyalalahkan Kaisar German Frederick II yang tidak tampil di Perang Salib kali ini tapi yang akan tampil utama di Perang Salib berikutnya.</p>
<p>Perang Salib Keenam (1228-29)<br />
Innocent III telah mengijinkan Frederick II untuk menunda partisipasinya di Perang Salib supaya dia bisa mengatasi masalah di Jerman. Penerus Innocent III, Gregory IX, kesal terhadap penundaan terus menerus Frederick memperingatkan Frederick untuk memenuhi kaulnya. Saat sang Kaisar menunda lagi dengan alasan sakit Paus langsung meng-ekskomunikasi dia. Saat Frederick akhirnya berangkat, dia berperang dalam kondisi ter-ekskomunikasi.</p>
<p>Situasi aneh ini mengawali suatu Perang Salib yang aneh. Sebagain karena ekskomunikasi dari Frederick sedikit orang yang mendukung dia sehingga dia tidak mampu menggalang kekuatan militer yang besar. KArena itu dia memakai diplomasi dan mengambil kesempatan atas terjadinya perpecahan didalam Muslim. Dia melakukan perjanjian dengan Sultan Al-Kamil dari Mesir pada 1229. Menurut perjanjian tersebut Yerusalem (Kecuali Kubah Batu dan Mesjid Al-Aqsa), Betlehem, Nazareth dan beberapa daerah tambahan, akan dikembalikan ke Kerajaan Yerusalem</p>
<p>Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi, kemudian dimahkotai sebagai Raja Yerusalem di Gereja Kuburan Kristus dalam suatu upacara non-religius (Karena Yerusalem dilarang oleh Gereja untuk melakuakn upacara religious akibat status Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi). Tahun selanjutnya Frederick II diterima kembali ke Gereja. Namun dia tidak mampu memerintah dengan sukses Kerajaan Yerusalem dari jauh karena baron lokal menolak untuk bekerja sama dengan wakil dia.</p>
<p>Tahun 1239 dan 1241 ada dua Perang Salib kecil yang dilakukan oleh Thibaud IV dari Champagne dan Roger dari Cornwall. Dua upaya si Syria dan melawan Ascalon tidak sukses.</p>
<p>Perang Salib Ketujuh (1249-52)<br />
Inisiatif untuk Perang Salib ini diambil oleh Raja Louis IX dari Prancis. sekali lagi, strateginya adalah untuk menyerang Mesir dan dijadikan tawaran untuk Palestina. Prajurit Salib dengan cepat mampu mengambil alih Damietta tapi harus membayar mahal ketika mengambil alih Kairo. Serangan balasan Muslim berhasil menangkap Louis IX. Dia kemudian dibebaskan setelah setuju untuk mengembalikan Damietta dan membayar uang tebusan. Setelah itu Louis IX tetap di Timur beberapa tahun untuk bernegosiasi mengenai pelepasan tawanan dan mengkokohkan kekristenan di wilayah tersebut</p>
<p>Perang Salib Kedelapan (1270)<br />
Perang Salib terakhir juag dipimpin oleh Louis IX. Di tahun-tahun kemudian, perubahan di dunia Muslim mengakibatkan munculnya sejumlah serangan baru ke wilayah Kristen di Tanah Kudus. Warga lokal meminta bantuan militer pada Barat, tapi cuma sedikit bangsa Eropa yang tertarik untuk melakukan kampanye besar. Satu orang yang sekali lagi mau memanggul beban adalah Louis IX. Namun kampanye yang dia lakukan kali ini mencapai kurang dari apa yang dicapai sebelumnya bagi Kerajaan Yerusalem.</p>
<p>Tidak diketahui mengapa, tapi Tunisia di Afrika Utara dijadikan saran awal. Setelah disana, wabah mengambil nyawa banyak orang, termasuk Louis yang saleh. Saudaranya, Charles Anjou, tiba dengan kapal-kapal Sisilia dan berhasil mengungsikan sisa tentara.</p>
<p>Meskipun ini adalah Perang Salib terakhir, ini bukanlah ekspidisi militer terakhir yang bisa disebut sebagai Perang Salib. Kampanya terus diserukan atas berbagai sasaran (bukan hanya Muslim) oleh Prajurit Salib-orang yang berkaul untuk melakukan perang.</p>
<p>Umat Kristen di Palestina ditinggalkan tanpa bantuan lebih lanjut. Meskipun mengalami kekalahan terus menerus, Kerajaan Yerusalem tetap bertahan sampai 1291, ketika akhirnya musnah. Umat Kristen masih tetap hidup di daerah tersebut bahkan setelah kejatuhan Kerajaan Yerusalem.</p>
<p>Penilaian<br />
Banyak sekarang di dunia barat memandang Perang Salib adalah agressi yang tidak bisa dibenarkan terhadap pendudk damai di Timur dan Tanah Kudus. Namun, bahkan dengan sedikit pengetahuan atas abad yang lalu membuat pemikiran tersebut tidak bisa diyakini.</p>
<p>Ini bisa dilihat jelas, sebagai contoh, dengan memutar balik peran dari kekuatan yang bertikai. Jika Perang terjadi di tengah-tengah masa dimana Kristen mengambil alih SEPARUH dari wilayah yang secara historis merupakan milik Muslim. Maka orang tidak akan menyalahkan Muslim yang berusaha untuk mengambil kembali daerahnya yang diambil Kristen yang didaerah tersebut terdapat banyak saudara seiman. (Note: tentu saja yang terjadi adalah sebaliknya. Islamlah yang melakukan kampanye besar-besaran dan mencaplok daerah yang awalnya Kristen).</p>
<p>Sedikit yang akan berpikir bahwa Muslim seharusnya tetap diam ketika Kristen mengambil kontrol dan menghalangi akses Muslim di Kabah Mekah dan Kubah Batu dan Mesjid Al-Agsa di Yerusalem. Kita akan meng-ekspektasikan kalau Muslim akan menyerang balik dan mengambil kendali tempat Kudus mereka. (Note: sekali lagi ini adalah pembalikan/transposisi. Yang terjadi adalah Muslim menguasai situs Kudus Kristen dan menghalangi peziarah Kristen ke tempat Kudus yang sudah sejak dulu milik mereka).</p>
<p>Akal sehat mengajarkan pelajaran yang didapat dari Perang Salib, &#8220;Jangan menaklukkan setengah dari peradaban kelompok lain tanpa berpikir untuk menerima balasannya&#8221; dan &#8220;Jangan menyentuh situs kudus orang lain tanpa berpikir akan pembalasan&#8221;</p>
<p>Dan bukannya merasa malu terhadapa apa yang dilakukan Prajurit Salib. Umat Kristen kontemporer seharusnya BANGGA bahwa -terlepas dari pertikaian dari dalam mereka sendiri pada saat itu- umat Kristen jaman dulu akan melakukan apa yang dilakukan umat Muslim sendiri kalo mereka diposisikan (ditranspose) dalam posisi umat Kristen (Note: Maksudnya, baik Muslim maupun Kristen, kalo separuh peradabannya dijajah dan situs kudusnya dikuasai dan ditutup akses umum, maka mereka akan melawan. dan inilah yang terjapi kepada Kaum Kristen yang separo peradabannya dicaplok dan akses mereka ke tempat kudus dihalangi).</p>
<p>Kristensaat ini tentu saja harus mengutuk tindakan jahat yang dilakukan selama Perang Salib, seperti pembantaian warga Muslim dan Yahudi tak bersalah yang terjadi secara periodik, dan juga episode Perang Salib keempat yang menyedihkan. Meskipun begitu Perang Salib sendiri mempunyai dua tujuan pokok sebagai intinya: Pembelaan terhadap peradaban Kristen atas agresi dari luar (sehingga Perang Salib secara keseluruhan adalah perang bela diri) dan menjaga akses ke situs kudus tempat terjadinya peristiwa penting dalam sejarah Kekristenan (Kubur Kristus etc).</p>
<p>Juga akan sulit untuk menilai Perang Salib tanpa berpikir tentangnya dalam terang kejadian saat ini. Khususnya, orang akan berpikir apakah generasi Muslim masa depan akan melihat masa ini dan berpikir apakah tindakan kampanye terorisme Islam adalah seperti apa adanya? Apakah suatu serangan terhadap mereka yang tidak bersalah, warga sipil bisa dibenarkan? Apkah warga Muslim masa depan akan menganggap Jihad milenium baru sebagai &#8220;Perang Salib&#8221; yang tidak dibenarkan? dan apakah dunia Muslim akan melakukan introspeksi dan menganggap Perang Salib sebagai respon yang bisa terprediksi atas agresi Muslim jaman dulu?</p>
<p>tamat</p>
<p>Ini adalah Perang Salib yang pertama dan banyak yang lain. Silahkan baca versi bahasa Inggris yang lengkap untuk mengetahui cerita lebih lanjut. Kalau ada waktu (dan harap-harap ada yang membantu) akan diteruskan penerjemahan artikel tersebut</p>
<p>http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sejarah-perang-salib-terjemahan-yang-tidak-diketahui-islam-t5960/</p>
<p>Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib</p>
<p> (Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)</p>
<p>Membongkar Sebuah Kebohongan</p>
<p>Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.</p>
<p>Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?</p>
<p>Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.</p>
<p>Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:</p>
<p>“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”</p>
<p>Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:</p>
<p>“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”</p>
<p>Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.</p>
<p>Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.</p>
<p>Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.</p>
<p>Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.</p>
<p>Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.</p>
<p>Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.</p>
<p>Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)</p>
<p>http://agungsulistyo.wordpress.com/2008/03/01/dracula-pembantai-umat-islam-dalam-perang-salib/</p>
<p>Menelusuri Sejarah Perang Salib<br />
27 09 2007<br />
Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Simak akhlaq Salahuddin al-Ayyubi<br />
“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”</p>
<p>Sepak Terjang Tentara Salib<br />
Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.<br />
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.<br />
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim-yang menguasai Palestina saat itu-menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.<br />
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.<br />
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan-terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil-untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)<br />
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.<br />
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).<br />
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098.<br />
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.<br />
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi<br />
Pada tahun 1145-1147 pecah Perang Salib II. Namun perang besar-besaran terjadi pada Perang Salib III. Di pihak Kristen dipimpin Phillip Augustus dari Prancis dan Richard “Si Hati Singa” dari Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi.<br />
Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.<br />
Pria keturunan Seljuk ini kebetulan mempunyai paman yang menjadi petinggi Dinasti Fathimiyyah. Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai.<br />
Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.<br />
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.<br />
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.<br />
Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel). Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187).<br />
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.<br />
Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.<br />
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”<br />
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)<br />
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.<br />
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).<br />
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib-tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.<br />
Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”.<br />
Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.<br />
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.<br />
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.<br />
***<br />
Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).<br />
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.<br />
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.<br />
Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya.<br />
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.<br />
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.*<br />
Sumber: Majalah Hidayatullah edisi Desember 2004</p>
<p>http://wahyoe.wordpress.com/2007/09/27/menelusuri-sejarah-perang-salib/</p>
<p>Sejarah Perang Salib: Benci tapi Rindu<br />
Abdul Hadi W. M.<br />
PERANG SALIBCATATAN RETROSPEKSI<br />
Perang besar bernuansa keagamaan yang pernah terjadi dalam sejarah ialah Perang Salib. Sebutan tersebut merupakan terjemahan dari perkataan Crusade, penamaan yang diberikan orang Barat sendiri karena tujuan peperangan ini ialah merebut kota suci Yerusalem tempat Salib Suci disimpan. Perang ini terjadi bukan satu dua kali, tetapi secara beruntun dalam enam gelombang. Rentang masa peperangan pun sangat lama, hampir dua abad, antara tahun 1096 hingga 1270 M. Perang-perang kecil sering terjadi menyelingi jeda enam perang besar yang terjadi secara bergelombang itu.<br />
Dampak Persang Salib luar biasa, baik bagi bangsa Eropa maupun terhadap kaum Muslimin. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi dan politik ketika perang berkecamuk, perang ini selama berabad-abad sangat mempengaruhi corak hubungan Dunia Barat dan Dunia Islam, yang dianggap merupakan “dunia yang selebihnya’ atau “yang lain” dilihat dari sudut pandang Barat. Penyair Jabra Ibrahim Jabra menggambarkan hubungan Barat dan Islam sebagai hubungan “cinta bercampur benci” yang tumpang tindih dan silang menyilang dari waktu ke waktu.<br />
Dampak lain yang terus mempengaruhi pandangan Barat terhadap Islam ialah seperti dikemukakan G. H. Jansen dalam bukunya Militant Islam (1979): “Sungguh menjemukan dan menyakitkan apabila kita harus mengulangi setiap argumen licik para penulis polemis Kristen dan Barat, yang sama sekali tidak kristiani, terhadap Islam terutama terhadap pribadi Nabi Muhammad. Menurut mereka pada hakikatnya Muhammad adalah seorang pelbegu (penyembah berhala) yang rendah, namun dengan pandainya memperoleh kekuasaan, menjaganya dengan cara berpura-pura menerima wahyu da menyebarkan agamanya dengan kekerasan dan mengizinkan pengikutnya melakukan praktik-praktik cabul seperti dilakukannya sendiri.” (h. 60).<br />
Perang Salib I terjadi antara tahun 1096-1099 dengan kekalahan di pihak tentara Muslim, yang terutama diwakili oleh pasukan Bani Saljug, dinasti Turk yang baru saja menguasai Persia dan Asia Barat. Kekalahan tersebut menyebabkan tentara Salib dapat menduduki Yerusalem. Orang-orang Islam dan Yahudi yang menjadi penduduk Palestina kala itu digiring ke tempat penyembelihan dan yang selamat melarikan diri serta berpencaran ke banyak negeri di sekitarnya. Pasukan Salib ketika itu didukung oleh 300.000 tentara reguler yang direkrut dari seluruh Eropa.<br />
Perang Salib II terjadi antara 1147-1149, dan Perang Salib III antara 1189-1192. Perang Salib II tidak begitu seru karena kurang didukung oleh negara-negara lain di Eropa kecuali Perancis. Ketika Perang Salib III meletus, Damaskus (Syria sekarang) berada di bawah pemerintahan Bani Mamalik, sebuah dinasti Turk lain yang menyingkirkan Bani Saljug. Bukan mudah bagi pasukan Mamalik menghadapi pasukan Salib yang jumlahnya besar, sebab dia harus menyingkirkan lebih dulu pasukan Bani Fatimiyah yang juga ingin merebut Yerusalem dan berkeinginan menjadi pusat penyebaran ajaran Ismailiyah. Tetapi di bawah pimpingan Salahuddin al-Ayubi, dokter dan panglima perang keturunan suku Kurdi, tentara Fatimiyah dapat dihancurkan. Baru dia dapat menghadapi pasukan Salib.<br />
Perang Salib IV terjadi antara 1195-1198. Perang Salib V antara 1201-1204. Perang Salib VI antara 1217-1228. Namun secara resmi perang ini dihentikan pada tahun 1270 dengan gencatan senjata menyeluruh dan perjanjian damai. Perang Salib VI berkobar di wilayah Syria dan Libanon. Pada waktu yang sama, negeri Islam lain di sebelah timur, yaitu wilayah Iraq, Iran, Azerbaijan. Turkmenistan dan Uzbeskitan sekarang (dulu dua yang terakhir ini disebut Khwarizmi dan Transoxiana) diharu-biru oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan anak cucunya seperti Ogotai, Hulagu Khan, dan lain sebagainya. Tak mengherankan betapa beratnya perjuangan kaum Muslimin ketika itu. Dalam kenyataan kemudian terjalin konspirasi antara penguasa Mongol dan pasukan Salib untuk secara sistematis menghancurkan agama Islam.<br />
Mengenai Perang Salib I, William K. Langer mengatakan bahwa salah satu sebab timbulnya Perang Salib I ialah: “Permintaan kaisar Byzantium untuk membalas kekalahannya dari tentara Saljug dalam Perang Manzikert pada tahun 1071 di Armenia, yang menyebabkan ditaklukkannya sebagian wilayah Anatolia/Asia Kecil oleh pasukan Muslimin. Permintaan itu ditujukan kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, sebanyak 300.000 tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer itu menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam, yang dianggapnya kafir (Encyclopaedia of World History 1956:255).<br />
Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahan dalam Perang Manzikert itu ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen ke Yerusalem setelah mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka menyebarkan berita bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa oleh pasukan Daulah Saljug. Ini menimbulkan kemarahan kaisar Byzantium di Konstantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pada masa itu pula terjadi pergolakan internal dalam tubuh gereja Kristen/Katholik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing dalam merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius (1075-1085) di Roma berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen.<br />
Sementara itu tentara Salib sedang digodog, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Paus Victor II segera diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II naik tahta, muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Perancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100 M). Kaisar Alexius dari Byzantium sementara meminta bantuan kepada Paus di Roma, juga menghimbau kepada seluruh pemeluk agama Kristen di Eropa. Di antara imbauannya itu berbunyi sbb. Bahwa barang siapa yang berani bergabung dengan tentara Salib, sebagai balas jasanya kelak akan dilimpahi kekayaan dan memperoleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita.<br />
Imbauan itu disampaikan melalaui tahta suci Paus di Roma dan melalui gereja-gereja di seluruh Eropa. Namun semangat tentara Salib berkobar-kobar terutama disebabkan khotbah keliling seorang rahib, Peter the Hermit. Seraya menyampaikan pesan dari Paus Urbanus II, bahwa mereka yang bersedia menuju medan perang, akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya dia seorang penyamun dan penjahat.<br />
Penetapan keberangkatan tentara Salib I diputuskan pada tanggal 15 Agustus 1095. Segera pada permulaan tahun 1096 terjadi pertempuran besar-besaran di Anatolia dan Armenia. Mula-mula pertempuran dahsyat meletus di Nicae, sebuah kota di Selat Bosporus, kemudian merembet ke Dorylinea, Edessa dan Antiokia (dalam wilayah Armenia. Dari serbuan dilanjutkan ke Yerusalem, setelah pasukan Islam berhasil diluluhlantakkan.<br />
Namun sebelum tentara Salib mencapai Yerusalem, terdengar kabar bahwa pasukan Daulah Fathimiyah dari Mesir menyerbu Yerusalem dan berhasil merebutnya dari tangan pasukan Saljug. Ini membuat ciut pasukan Salib. Sampai musim semi dan musim panas tahun 1098 tidak ada gerakan dari pasukan Salib. Gerakan menyerbu Yerusalem baru diputuskan pada bulan Mei 1099 atas kebijaksanaan Count Raymond. Dengan kekuatan 1500 pasukan berkuda dan 10. 000 pasukan jalan kaki, mereka menyerbu Yerusalem. Melalui pertempuran yang sengit pada akhirnya Yerusalem dapat direbut dari pasukan Fathimiyah, yaitu pada bulan Juli 1099. Selama 40 hari kota itu dikepung pasukan Salib. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.<br />
Dalam buku Historian’s History (h. 352) misalnya ditulis: “Korban yang berlumuran darah dipersembahkan seakan binatang korban kepada Tuhan; perlawanan kecil sekalipun dari orang Islam, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, menimbulkan kemarahan mereka yang luar biasa berang; tiga hari lamanya mereka hanyut dalam pembunuhan massal; dan tubuh-tubuh mayat yang terkapar itu menimbulkan penyakit menular. Setelah tujuh puluh ribu orang Islam ditebas dengan pedang, dan orang-orang Yahudi yang malang dibakar dalam rumah-rumah ibadahnya, maka masih ada lagi kumpulan tawanan yang besar jumlahnya, yang karena kepentingan tertentu maupun karena kelelahan, pada akhirnya dibiarkan saja. Dari sekian banyak pahlawan Perang Salib yang ganas itu, hanya tinggal Tancred saja yang masih memperlihatkan sedikit rasa kasihan.”<br />
Setelah peristiwa itu status Yerusalem lantas dirubah menjadi kerajaan otonom yang diperintah oleh raja Baldwin I (1100-1118) dan dia digantikan oleh Baldwin II (1118-1131). Selama pemerintahan kedua raja ini terjadi beberapa peperangan susulan dalam skala terbatas antara tentara Salib dan tentara Islam. Khususnya di wilayah-wilayah berdekatan dengan Yerusalem seperti Syria, Libanon, Armenia, Anatolia dan Georgia.<br />
Di antara perang susulan ini terjadi pada tahun 1112 M, bertepatan dengan kesibukan pasukan Islam menghadapi pertempuran melawan suku-suku Kirgh yang ingin menaklukkan Armenia dan Kaukasus. Pasukan Salib menganggap bahwa pada saat itu sangat tepat untuk menundukkan pasukan Islam yang telah kembali menguasai Armenia. Tetapi perkiraan Raja Baldwin II keliru. Di bawah pimpinan Amir Toghrukhin (1103-1128) pasukan Islam menggagalkan serangan pasukan Salib yang memasuki Antiokia. Malahan raja Baldwin II berhasil ditawan dan hanya dapat dibebaskan dengan uang tebusan dalam jumlah besar. Setelah peristiwa itu terjadi beberapa peperangan lain di wilayah Syria dan Anatolia antara pasukan Islam melawan pasukan Byzantium. Pada waktu itu pasukan Islam diserang lagi oleh pasukan Salib yang dipimpin raja Baldwin II. Serangan ditujukan ke Aleppo dan Damaskus, namun sekali lagi pasukan Salib dikalahkan.<br />
Perang Salib II berlangsung antara tahun 1147-1149 M. Berbeda dengan Perang Salib I yang timbul secara spontan dan mendapat dukungan rakyat banyak, Perang Salib II hanya didukung oleh raja-raja dan pangeran-pangeran. Kebanyakan pasukan yang dikirim berasal dari tentara kerajan Perancis di bawah pimpinan Raja Louis VII (1137-1180) dan tentara kerajaan Jerman di bawah pimpinan Raja Conrad III (1138-1152 M). Rencana perang itu sendiri datang dari Paus Eugenius II (1145-1153 M).<br />
Pasukan Perancis dan Jerman mengalami kekalahan telak di tangan pasukan Amir Mas`ud I. Sebagian pasukan Conrad III memang telah mencapai Damaskus, tetapi gagal menembus pertahanan tentara Muslim. Conrad III sendiri jatuh sakit dan akhirnya dipulangkan ke Jerman setelah dirawat di Konstantinopel. Sedangkan Pasukan Louis VII dipukul mundur oleh pasukan Nuruddin Zanki di Antiokia. Sebagian pasukannya turut berperang di Damaskus, tetapi mengalami kekalahan dan pada akhirnya Raja Louis VII dan tentaranya kembali ke Perancis melalui jalan laut.<br />
Perang Salib III (1189-1192) timbul disebabkan didudukinya kembali Yerusalem oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Sultan Salahuddin al-Ayubi , jenderal keturunan suku Kurdi yang legendaris. Uskup Agung William di Tyre, Paus Clement III (1187-1191) menyerukan raja-raja Eropa dan orang Kristen merebut kembali Yerusalem. Dalam perang kali ini tentara Salib tidak berhasil merekrut tentara dalam jumlah besar dan mengalami kekalahan besar. Genjatan senjata diumumkan pada tahun 1192 dan raja Richard I yang memimpin pasukan Inggeris mengusulkan agar Amir Turan Syah, saudara Salahuddin al-Ayubi, menikahi saudarinya Putri Joanna.<br />
Perang Salib IV (1195-1198) terjadi setelah wafatnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193 dalam usia 80 tahun. Pergantian pimpinan pemerintahan di Syria, Palestina dan Mesir lebih jauh menghidupkan harapan Paus Calestine II (1191-1198) untuk merebut kembali Yerusalem. Dia memerintahkan Ordo St John mengorganisasikan angkatan Perang Salib IV. Dalam perang ini kekalahan telak kembali menimpa pasukan Salib.<br />
Perang Salib V (1201-1204) timbul atas rencana Paus Innocent III (1198-1216) untuk menyatukan Gereja Yunani Ortodoks ke dalam Gereja Romawi. Karena keuangan tidak cukup, Paus tidak dapat mengirim tentara dalam jumlah besar. Bahkan sebelum bertempur melawan pasukan Islam, pasukan Salib yang dipimpin oleh raja Venezia harus berperang melawan pasukan Hongaria dan juga dengan pasukan Kristen Byzantium di Konstantinopel. Perang Salib V memang tidak dimaksudkan untuk merebut Yerusalem, tetapi membasmi raja-raja Kristen yang dianggap menyebarkan bid’ah di kalangan penganut Nasrani.<br />
Perang Salib VI terjadi antara tahun 1217 dan 1221 M. Sasaran utamanya ialah untuk menaklukkan Mesir. Mengapa? Sebab jika Mesir dapat ditaklukkan maka penaklukan Yerusalem akan menjadi lebih mudah. Namun sekali lagi tentara Salib gagal menghancurkan pasukan Islam. Pada tahun 1211 M kedua pihak yang berperang menandatangani perjanjian damai yang dikenal dengan nama Treaty of 1221 AD. Tetapi sayang perjanjian ini dilanggar tidak lama kemudian, sehingga beberapa peperangan skala kecil meletus secara berkala sampai akhirnya padam pada tahun 1270 M. Ketika itu seluruh wilayah kekhalifatan Abbasiyah, yang meliputi Iran, Iraq, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan sekitarnya telah dikuasai oleh penguasa Mongol keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan. Terhentinya Perang Salib itu dimanfaatkan oleh penguasa Kristen untuk membangun konspirasi dengan penguasa Mongol dalam rangka menghancurkan dunia Islam. Mereka menginginkan penguasa Mongol memeluk agama Kristen. Upaya ini pada mulanya berhasil, tetapi menjelang akhir abad ke-13 M penguasa dan bangsa Mongol memeluk agama Islam dan berbalik menjadi pelindung kebudayaan Islam.<br />
Di lain hal kendati pasukan Salib mengalami kekalahan, mereka berhasil membawa pulang banyak khazanah Islam yang sangat berharga ke Eropa. Di antara khazanah itu ialah naskah dan buku-buku ilmu pengetahuan, filsafat, kesusastraan, dan kitab-kitab agama. Kitab-kitab itu dikaji dengan cermat dan yang dianggap penting diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Kegiatan tersebut dua abad kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai Renaissance. Di lain hal justru pasca Perang Salib dan penaklukan bangsa Mongol itulah agama Islam kian tersebar menjangkau wilayah-wilayah yang jauh lebih luas yang pernah dicapai sebelumnya. Misalnya ke Afrika Barat dan pedalaman benua itu, serta India, kepulauan Nusantara dan Cina Selatan yaitu Yunan di Timur.</p>
<p>http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/009/18.html</p>
<p>Tahukah Kau?<br />
1. Pembentukan Tentara Salib bukanlah tindakan Agresi tanpa sebab yang dilakukan oleh penguasa Eropa melawan dunia Islam, tapi ini adalah penundaan selama berabad-abad atas Agresi Muslim yang semakin ganas, jauh lebih dari sebelumnya di Abad ke 11.<br />
2. Perang Salib adalah perang untuk merampas kembali tanah Kristen dan juga untuk membela masyarakat Kristen, dan bukannya untuk mendirikan imperialisme Kristen.<br />
3. Tentara Salib tidak dipanggil untuk memaksa Muslim atau non-Kristen masuk Kristen.</p>
<p>Pandangan Politically Correct (Myth PC): Perang Salib adalah Serangan Tanpa Alasan Bangsa Eropa terhadap Dunia Islam<br />
(Adadeh: Politically Correct atau disingkat jadi PC adalah pendapat yang salah yang sengaja diucapkan agar tidak menimbulkan keresahan umum atau golongan masyarakat)</p>
<p>Salah. Penaklukan Yerusalem di tahun 638 adalah reaksi dari penyerangan yang dilakukan tentara2 Islam selama berabad-abad terhadap non-Muslim, terutama Kristen. Alasan lain adalah masyarakat Kristen di Tanah Suci mengalami penindasan yang semakin berat. Beberapa contohnya: Di Awal Abad ke 8, enampuluh peziarah Kristen dari Amorium disalib; sekitar waktu yang sama, gubernur Muslim Caesarea menangkap peziarah Kristen dari Ikonium dan membunuh mereka semua dengan tuduhan mata2 &#8211; tapi yang mau memeluk Islam dibebaskan; dan Muslim menuntut uang dari para peziarah, mengancam menghancurkan gereja jika umat Kristen tidak mau bayar. Kemudian di Akhir Abad ke 8, seorang ketua Muslim melarang tanda salib di seluruh Yerusalem. Dia juga meningkatkan uang Jizya bagi masyarakat Kristen dan melarang masyarakat Kristen menyampaikan pesan agama Kristen kepada siapapun, bahkan Anak mereka sendiri. [5]<br />
[5] Dikutip dari buku Bat Y�eor, The Decline of Eastern Christianity Under Islam (Madison, NJ: Fairleigh Dickinson University Press, 1996), hal. 44.</p>
<p>Muhammad vs. Yesus<br />
�Diberkatilah mereka yang berhati kudus, karena mereka akan melihat Tuhan. Diberkatilah mereka yang membuat perdamaian, karena merekalah yang akan disebut sebagai anak2 Allah. Diberkatilah mereka yang disesah karena tujuan2 mulia karena merekalah yang mewarisi kerajaan surga.�<br />
Yesus (Matius 5:8-10)</p>
<p>Allah menugaskan Muslim untuk melakukan perang Suci di jalan Allah dan tiada Alasan lain untuk melakukannya selain percaya pada Allah dan RasulNya, bahwa dia akan diberi imbalan oleh Allah dengan anugrah atau Barang jarahan (jika dia hidup) atau masuk surga (jika dia mati)<br />
Hadis Sahih Bukhari, vol. 1, buku 2, no. 36</p>
<p>Muslim memperlakukan masyarakat Kristen secara brutal dan penuh kekerasan di Tanah Suci. Di tahun 772, Kalifah al-Mansur memerintahkan semua tangan2 orang Kristen dan Yahudi diberi cap dengan simbol tertentu. Muslim yang berani ganti agama ke Kristen diperlakukan dengan kejam. Di tahun 789, pemerintah Muslim memancung seorang paderi yang meninggalkan Islam dan masuk Kristen. Tentara Muslim juga menghancurkan monastri Saint Theodosius di Bethlehem dan membunuhi banyak paderi. Monastri2 Kristen di daerah sekitar juga bernasib sama. Di Awal Abad ke 9, penindasan semakin sengit sehingga banyak masyarakat Kristen yang meninggalkan Yerusalem dan mengungsi ke Konstatinopel dan kota2 Kristen lainnya. Di tahun 923, gereja2 dihancurkan, dan di tahun 937, Muslim mengacaukan perayaan Paskah di Yerusalem, merampok dan menghancurkan Gereja Kavalri dan Gereja Kebangkitan Kembali (Resurrection). [7]<br />
[7] Moshe Gil, A History of Palestine 634-1099 (Cambridge: Cambridge University Press, 1992), 473-76. Kalifah al-Muqtadir tidak setuju dengan penindasan tahun 923 dan memerintahkan gereja dibangun kembali.</p>
<p>Atas penindasan terhadap masyarakat Kristen, kerajaan Bizantium mengganti politik negara yang awalnya bersikap bertahan melawan Muslim dan jadi menyerang untuk merebut kembali tanah2 Kristen yang dirampas Muslim. Di tahun 960-an, Jendral Nicephorus Phocas (yang nantinya akan jadi Kaisar Bizantium berikut) berhasil menang perang melawan tentara Muslim dan merebut kembali Kreta, Sisilia, dan Siprus, dan bahkan sebagian dari Siria. Di tahun 969, dia merampas kembali kota kuno Kristen bernama Antiokhia. Di tahun 970-an, kerajaan Bizantium memperluas penyerangan sampai masuk ke Siria. [8]<br />
[8] Steven Runciman, A History of the Crusaders, Volume I (Cambridge: Cambridge University Press, 1951), 30-32</p>
<p>Dalam theologi Islam, jika suatu daerah tadinya telah dirampas oleh Kekuasaan Islam, maka daerah itu selamanya milik Islam &#8211; dan Muslim harus berperang untuk merebut kembali tanah itu. Di tahun 974, karena terus-menerus kalah melawan Bizantium, Kalifah Abbasid (Sunni) di Baghdad menyerukan perang Jihad. Kampanye Jihad melawan Bizantium terus dilakukan setiap tahun oleh Saif al-Dawla yang adalah penguasa Dinasti Hamdanid Shia di Aleppo dari tahun 944-967. Saif al-Dawla meminta masyarakat Muslim untuk berperang melawan Bizantium dengan Alasan mereka merampasi tanah milik Islam. Kampanye ini demikian sukses sehingga tentara2 Muslim berdatangan bahkan dari daerah jaudi di Asia Tengah untuk bergabung melakukan Jihad. [9]<br />
[9] Carole Hillenbrand, The Crusaders: Islamic Perspective (Oxford: Routledge, 2000), hal 101.</p>
<p>Akan tetapi, permusuhan antar Shia dan Sunni menggagalkan usaha Jihad itu, dan di tahun 1001 Kaisar Bizantium Basil II membuat perjanjian damai 10 tahun dengan Kalifah Shia Fatimid. [10]<br />
[10] Runciman, hal. 33.</p>
<p>Tak lama kemudian, Basil melihat bahwa perjanjian damai itu tak ada gunanya. Di tahun 1004, Kalifah Fatimid ke-6 yakni Abu �Ali al-Mansur al-Hakim (985-1021) menyerang ganas kepercayaan ibu dan pamannya yang Kristen, dan memerintahkan perampasan Harta benda dan pembakaran gereja2. Dia pun melakukan hal yang sama terhadap masyarakat Yahudi. Sepanjang 10 tahun berikutnya, 30.000 gereja dihancurkan dan banyak orang2 Kristen yang masuk Islam agar nyawa mereka selamat. Di tahun 1009, al-Hakim mengeluarkan perintah anti-Kristen yang paling terkenal: dia memerintahkan Gereja Makam Suci (Holy Sepulcher) di Yerusalem dihancurkan, juga gereja2 lain (termasuk Gereja Resurrection). Gereja Makam Suci didirikan oleh orang2 Bizantium di Abad ke 7 setelah Persia membakar gereja sebelumnya, dan gereja ini dipercayai sebagai kubur Yesus; juga dipakai sebagai model bagi mesjid Al-Aqsa. Al-Hakim memerintahkan kuburan dihancurkan semua sampai pada altar. Dia memerintahkan semua masyarakat Kristen memakai salib berat di leher mereka (dan bagi orang Yahudi adalah Balok kayu berat di pundak berbentuk Anak sapi). Dia terus menambah Aturan yang semakin menindas agar para Yahudi dan Kristen itu akhirnya masuk Islam. [11]<br />
[11] Gil, hal. 376.</p>
<p>Kalifah kejam ini akhirnya meringankan hukum2 penindasan atas non-Muslim dan bahkan mengembalikan harta rampasan dari Gereja. [12] Sebagian Alasan perubahan sikap al-Hakim mungkin karena dia semakin mempelajari Islam orthodoks. Di tahun 1021, dia menghilang secara misterius; beberapa pengikutnya menganggap dia orang suci dan mereka membentuk kelompok agama berkenaan dengan misteri ini dan juga karena Ajaran imam bernama Muhammad ibn Isma�il al-Darazi (dari nama inilah Islam Druze dibentuk). [13] Karena perubahan hukum Kalifah al-Hakim dan kematiannya, orang2 Bizantium diijinkan kembali membangun Gereja Makam Suci di tahun 1027. [14]<br />
[12] Runciman, 35-36; Hillenbrand, 16-17; Jonathan Riley-Smith, The Crusaders: A Short History (New Haven, CT: Yale University Press, 1987), hal. 44.<br />
[13] Bernard Lewis, The Assassins (New York: Basic Books, 2002), hal. 33.<br />
[14] Runciman, hal. 36.</p>
<p>Meskipun begitu, nasib umat Kristen dalam keadaan riskan dan peziarah Kristen tetap saja ditindas. Di tahun 1056, penguasa Muslim mengusir 300 orang Kristen dari Yerusalem dan melarang peziarah Kristen Eropa memasuki Gereja Makam Suci. [15] Ketika penguasa Turki Seljuk berkuasa di Asia Tengah, mereka menerapkan hukum Islam secara lebih ketat dan ini membuat keadaan masyarakat dan peziarah Kristen jadi sulit (dilarang berziarah). Setelah tentara Muslim mengalahkan Bizantium di Manzikert tahun 1071 dan menawan Kaisar Bizantium bernama Romanus IV, semua daerah Asia Kecil ditaklukan Muslim. Di tahun 1076, Muslim Turki Seljuk mengalahkan Siria; di tahun 1077, Yerusalem. Emir Seljuk bernama Atsiz bin Uwaq berjanji tidak akan melukai penduduk Yerusalem, tapi begitu sudah masuk kota, tentara Muslim membunuh 3.000 orang. [16] Pemerintah Seljuk mendirikan kesultanan Rum di Nisea yang terletak dengan Konstantinopel. Dari sinilah mereka terus-menerus menyerang Bizantium dan menindas masyarakat Kristen di seluruh daerah kekuasaan mereka.<br />
[15] Ibid, hal. 49.<br />
[16] Gil, hal. 412.</p>
<p>Kekaisaran Kristen Bizantium yang sebelum kalah perang lawan Islam berkuasa dari bagian selatan Italia, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Arabia, sekarang kekuasaannya hanya lebih besar sedikit dibandingkan Yunani. Tampaknya memang kejatuhannya dari Turki Seljuk hanya tunggu waktu lagi. Gereja Konstantinopel tidak mengakui kekuasaan Paus dan bermusuhan selama berabad-abad, tapi Kaisar Bizantium yang baru yakni Alexius I Comnenus (1081-1118) merendahkan diri dan meminta pertolongan. Inilah Awal terjadinya Perang Salib pertama: Kaisar Bizantium minta tolong.</p>
<p>Pandangan PC: Tentara Salib adalah Contoh Awal Imperialisme Ganas Barat<br />
Imperialis ganas? Salah. Paus Urban II mengumumkan Perang Salib Pertama di Konsul Clermont tahun 1095 sebagai usaha bela diri &#8211; dan ini telah lama sekali tertunda. Dia meminta dibentuknya tentara Salib karena tanpa bela diri, maka �kepercayaan akan Tuhan akan lebih diserang � oleh Turki dan kekuatan Islam lainnya. Setelah menasehatkan pengikutnya untuk berdamai satu sama lain, dia mengalihkan perhatian mereka ke masalah Timur:<br />
Bagi saudara kalian yang hidup di daerah Timur yang sangat butuh pertolonganmu, dan kalian harus segera memberi pertolongan kepada mereka seperti yang telah dijanjikan. Karena, seperti yang telah didengar sebagian besar dari kalian, tentara2 Turki dan Arab telah menyerang mereka dan menaklukkan daerah Romania sejauh pantai Barat Mediterania dan Hellespont, yang disebut sebagai Lengan Saint George. Mereka merampas lebih banyak lagi tanah2 Kristen, dan telah mengalahkan tentara Kristen di tujuh perang terakhir. Mereka telah membunuh dan menawan banyak orang, telah menghancurkan gereja2 dan kekaisaran2. Jika kau mengijinkan mereka terus melakukan hal itu, agama Tuhan akan lebih banyak diserang lagi oleh mereka. Karena inilah, aku atau tepatnya Tuhan, memerintahkan kalian sebagai pejuang2 Kristus untuk mengumumkan hal ini di mana2 dan mengajak semua orang berbagai golongan, tentara jalan kaki atau berkuda, kaya atau miskin, untuk membantu masyarakat Kristen dan mengenyahkan Bangsa jahat itu dari tanah rekan2 kita� Lebih dari itu, Kristus memerintahkannya. [17]<br />
[17] Paus Urban II, �Speech at Council of Clermont, 1095, according to Fulcher of Charters,� dikutip oleh Bongars, Gesta Dei per Francos, 1, 382 ff., diterjemahkan oleh Oliver J. Thatcher dan Edgar Holmes McNeal, editor, A Source Book for Medieval History (New York: Scribners, 1905), hal. 513-17. Dicetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/sourc&#8230;2-fulcher.html</p>
<p>Perhatikan bahwa Paus tidak mengatakan apa2 tentang paksaan masuk Kristen atau menaklukkan tanah Islam. Panggilan untuk �mengenyahkan Bangsa jahat itu dari tanah rekan2 kita� memang terdengar seram untuk telinga orang modern; akan tetapi, ini bukan perintah pembunuhan massal, tapi perintah menyingkirkan kekuasaan Islam dari tanah yang dulu dimiliki masyarakat Kristen. Intisari lain dari khotbah Paus di Clermont menyatakan Paus Urban berkata tentang �ancaman nyata bagi dirimu dan semua agamamu.�<br />
Dari kota Yerusalem dan Konstantinopel telah terdengar berita sedih terus-menerus yang sampai ke telinga kami; contohnya, Bangsa dari kerajaan Persia, Bangsa yang terkutuk, Bangsa yang jauh dari Tuhan, �bangsa yang berhati jahat dan tidak mengenal Tuhan,� secara bengis menyerang tanah2 Kristen dan mengusir mereka dengan melakukan penjarahan dan pembakaran tempat tinggal. Mereka membawa sebagian tawanan ke negara mereka dan sebagian dibunuh dengan siksaan kejam. Mereka telah menghancurkan gereja2 Tuhan atau apapun yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Mereka menghancurkan altar2, setelah mengotorinya � Kerajaan Romawi sekarang tercerai-berai karena mereka dan sebagian besar kekuasaan yang bisa dilampaui dalam perjalanan dua bulan lenyap sudah� Kota Bangsawan (Konstantinopel) ini yang terletak di pusat dunia, sekarang disandera oleh musuh2 Kristus dan ditindas oleh mereka yang tidak mengenal Tuhan, penyembah berhala. Mereka mencari Bantuan karena ingin merdeka dan memohon padamu untuk membantu mereka. Kepada dirimulah mereka khusus memohon Bantuan karena, seperti yang telah kita katakan sebelumnya, Tuhan telah menganugerahkan padamu kemampuan militer yang unggul di atas segala Bangsa lainnya. [26]James Harvey Robinson, editor, Readings in European History: Vol. I (Boston, MA: Ginn and Co., 1904), 312-16. Cetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/urban2a.html</p>
<p>Perkataan Paus tentang perbuatan Muslim menghancurkan Gereja Makam Suci:<br />
�Biarlah makam suci Tuhan dan Juru Selamat kita yang saat ini dikuasai negara2 kotor, terutama membangkitkan semangat juangmu, dan tempat2 suci yang saat ini dipermalukan dan dinodai oleh sampah Bangsa yang kotor.� [27]<br />
[27]Ibid.</p>
<p>Tentara Salib maju ke tanah Palestina dengan tujuan sama seperti para peziarah Kristen. Mereka bertekad membela diri jika jalan mereka dihalangi dan diserang. Banyak yang melalukan sumpah agama. Pada awalnya, banyak tentara Salib yang dibunuhi tentara Turki di Asia Kecil Barat di bulan Agustus 1096.</p>
<p>Sama Seperti Sekarang: Islam Membela Diri?<br />
Dalam Sharia Islam, Jihad wajib hukumnya jika daerah Muslim diserang: �Jika non-Muslim menyerang negara Muslim atau dekat negara Muslim, � Jihad adalah kewajiban pribadi bagi masyarakat negara itu, yang harus mengenyahkan non-Muslim dengan segala cara.� [18]<br />
[18] �Umdat al-Salik, o9.1.</p>
<p>Panggilan Jihad telah berkumandang di sepanjang sejarah Islam. Ketika ketua Hamdanid Seyf al-Dawla mengumumkan Jihad terhadap Bizantium di pertengahan Abad ke 10, para Muslim pun datang dari berbagai penjuru untuk berpartisipasi. Mereka datang karena menganggap Bizantium menyerang tanah2 Islam. Sewaktu Perang Salib I terjadi, Muslim menulis puisi sebagai berikut: �Apakah bukan kewajibanmu pada Tuhan dan Islam untuk membela masyarakat tua dan muda? Lakukan perintah Tuhan! Wahai kalian semua! Lakukan!� [19] Imam Muslim yang paling disukai Jihadis jaman modern yakni Ibn Taymiyya (Taqi al-Din Ahmad Ibn Taymiyya, 1263-1328) menganggap Jihad adalah perintah mutlak: �Jika musuh menyerang Muslim, maka menyingkirkan musuh merupakan kewajiban agama dan Muslim lainnya harus membantu.� [20]<br />
[19] Dikutip dari Hillenbrand, hal. 71.<br />
[20] Ibn Taymiyya, �The Religious and Moral Doctrine of Jihad,� di buku Rudolph Peters, Jihad in Classical dan Modern Islam: A Reader[i] (Princeton, NJ: Markus Wiener Publishers, 1996), hal. 53. </p>
<p>Contoh lain panggilan Jihad di ratusan tahun terakhir dapat dilihat di tahun 1914 ketika Kalifah Ottoman Sultan Mehmet V mengeluarkan fatwa berhubungan dengan pecahnya Perang Dunia I; di tahun 2003, kelompok Jihadis Chechnya mengumumkan: �Ketika musuh masuk daerah, kota atau desa tempat Muslim tinggal, maka semua Muslim wajib berperang;� [21] di tahun 2003, Pusat Riset Islam di Universitas Al-Azhar di Kairo mengumumkan: �Sesuai dengan Akal sehat dan hukum Islam bahwa jika musuh menyerang tanah Muslim, maka Jihad jadi kewajiban pribadi, berlaku bagi setiap Muslim dan Muslimah, karena negara Muslim kita sekarang diserang tentara Salib baru yang bertujuan mengambil tempat tinggal, kehormatan, kepercayaan, dan tanah air;� [22] dan Sheikh Omar Bakri Muhammad, imam Jihadis London yang penuh kebencian, berkata di Akhir tahun 2002, �ketika musuh masuk tanah Islam seperti Palestina, Chechnya, Kosovo atau Kashmir,� �semua Muslim yang tinggal tak jauh dari daerah itu harus berperang dan semua Muslim di dunia harus membantunya dengan segala cara.� [23]<br />
[21] Shariah Council of State Defense Council �Majlis al-Shura� dari Republik Chechen di Ichkeria, �Jihad and Its Solution Today,� [i] Jihad Today, no. 7. Dicetak ulang http:wwkavkazcenter.com/eng/content/2003/11/26/2028.shtml, November 26, 2003<br />
[22] Middle East Media Research Institute (MEMRI), �Jihad Against the US: Al-Azhar�s Conflicting Fatwas,� MEMRI Special Dispatch No. 480, March 16, 2003. www.memri.org<br />
[23] Middle East Media Research Institute (MEMRI), �Islamist Leader in London: No Universal Jihad As Long As There Is No Caliphate,� MEMRI Special Dispatch No. 435, October 30, 2002. www.memri.org</p>
<p>Sama Seperti Sekarang: Jihadis di Segala Tempat<br />
Seperti yang telah terjadi di sepanjang sejarah, tentara Muslim melakukan perjalanan jauh untuk ikut perang2 Jihad. Di tahun 1990-an, daerah Balkan jadi tempat favorit Jihadis Afghanistan dan Chechnya. Komandan Jihadis Bosnia bernama Abu Abdel Aziz menjelaskan bahwa dia pergi ke Balkan setelah bertemu dengan beberapa petinggi negara Saudi Arabia. Mereka semua �mendukungku�, katanya, �paham agama adalah �perang di Bosnia adalah perang bagi kepentingan Allah dan untuk melindungi Muslim.� Hal ini karena Allah berkata (dalam Al-Qur�an 8:72)<br />
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan Harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan yang lain.</p>
<p>Sebelum, selama dan setelah perang Irak tahun 2003, para Jihadis dari seluruh penjur dunia datang membanjiri negara itu &#8211; termasuk tempat2 yang tidak diduga sebelumnya; polisi Jerman mencatat bahwa di Akhir tahun 2003 �sejak Akhir perang, terdapat banyak orang datang dari Jerman dan bagian Eropa lainnya yang tertarik oleh gerakan ekstrimis Islam di Irak.� [25]<br />
[25] Stephen Graham, � Muslim Militants From Europe Drawn to Iraq,� Associated Press, November 3, 2003.</p>
<p>Pandangan PC: Perang Salib dilakukan Pihak Barat yang Haus Harta<br />
Tentu saja tidak semua tentara Salib bertujuan murni. Terjadi lebih dari sekali kejadian di mana tentara Salib tidak bersikap sebagai peziarah teladan Kristen. Tapi pendapat bahwa tentara Salib melakukan penjajahan tanpa Alasan melawan masyarakat Muslim yang damai dan rukun dengan masyarakat non-Muslim tidak benar berdasarkan fakta sejarah. Pendapat ini hanya menunjukan kebencian terhadap budaya Barat dan bukannya hasil dari penelaahan sejarah yang murni.</p>
<p>Paus Urban tidak berencana melakukan Perang Salib untuk menimbun harta. Dia bertekad untuk mengembalikan tanah2 milik Kaisar Alexius Comnesus dan Kekaisaran Bizantium yang dirampas Muslim. Paus memandang perang Salib sebagai pengorbanan dan bukannya untuk memperkaya diri sendiri. [28]<br />
[28] James Harvey Robinson, editor, Readings in European History: Vol. I (Boston, MA: Ginn and Co., 1904), 312-16. Cetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/urban2a.html</p>
<p>Pengiriman tentara Salib ternyata mahal biayanya. Para tentara Salib menjual kekayaannya untuk mengumpulkan uang bagi perjalanan jauh mereka ke Tanah Suci, dan mereka tahu ada kemungkinan besar mereka mati dan tidak akan kembali.</p>
<p>Contoh yang jelas bisa dilihat pada Godfrey dari Bouillon, yang adalah Duke dari Lower Lorraine. Dia adalah salah satu Bangsawan Eropa terkemuka yang �memanggul salib� (begitulah istilah yang dipakai bagi mereka yang berpartisipasi dalam Perang Salib). Dia menjual banyak rumahnya untuk membiayai perjalannya, tapi jelas dia berencana pulang dan tidak mau tinggal di Timur Tengah karena dia tidak mau menyerahkan gelar kebangsawanannya dan seluruh harta miliknya. [29]<br />
[29] Thomas Madden, The New Concise History of the Crusaders (Lanham, MD: Rowman &amp; Littlefield, 2005), 19-20.</p>
<p>Penyelidikan sejarah Akhir menunjukkan bahwa sebagian besar tentara Salib bukanlah anak2 keturunan tentara Salib Eropa yang mencari untung dan tanah jajahan di Timur Tengah. Kebanyakan tentara Salib adalah seperti Godfrey yang adalah Bangsawan pemilik tanah sendiri, rakyat sendiri, dan banyak harta. [30] Memang beberapa tentara Salib jadi makmur setelah keberhasilan Perang Salib I dan ini ditulis oleh Fulcher dari Chartres sebagai berikut: �Mereka yang dulu miskin, Tuhan membuat mereka kaya. Mereka yang dulu hanya memiliki beberapa keping, sekarang punya banyak harta; dan mereka yang dulu tidak punya villa, sekarang, karena anugrah Tuhan, punya sebuah kota.� [31] Tapi mereka yang masih hidup dan dapat kembali ke Eropa tidak membawa harta apapun dari perang tersebut.<br />
[30] Ibid., hal. 12<br />
[31] Dikutip dari buku August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eyewitnesses and Participants, (Princeton, NJ: 1921), 280-81. Dicetak ulang di Medieval Sourcebook, http://www.fordham.edu/halsall/source/fulcher-cde.html</p>
<p>Pandangan PC: Tentara Salib Berperang untuk Memaksa Muslim Memeluk Kristen<br />
Pendapat PC menyatakan bahwa tentara Salib menyerbu Timur Tengah dengan pedang di tangan dan membunuhi semua non-Kristen yang mereka temui, kecuali non-Kristen yang lalu memeluk Kristen. Pendapat ini hanyalah khayalan tanpa bukti saja. Yang tidak disebut dalam setiap penelaahan sejarah PC adalah tujuan Perang Salib yang ditekankan Paus Urban di Konsul Claremount dan dia sama sekali tidak menyebut tentang pemaksaan agama Kristen kepada Muslim. Tujuan Paus hanyalah untuk membela peziarah Kristen dan merebut kembali tanah Kristen. Baru setelah seratus tahun setelah terjadinya Perang Salib I di Abad ke 13, mulailah ada usaha tentara Kristen Eropa untuk mengKristenkan Muslim yang hidup di tanah yang dikuasai tentara Salib. Usaha ini sebagian besar tidak berhasil.</p>
<p>Ketika tentara Salib menang perang dan mendirikan kerajaan2 di Timur Tengah, mereka pada umumnya membiarkan para Muslim hidup damai, boleh bebas beribadah, boleh membangun mesjid2 dan sekolah2, dan boleh tetap jadi Muslim. Beberapa penulis sejarah membandingkan para Muslim di tanah Kristen ini seperti para dhimmi di tanah Islam karena para Muslim ini pun harus bayar pajak. Tampaknya penguasa Salib menerapkan Sistem pajak pada masyarakat Muslim tapi mereka tidak meminta Muslim untuk memakai Baju tertentu seperti yang dilakukan penguasa Muslim terhadap masyarakat Kristen dan Yahudi yang hidup di daerah mereka. Karenanya Muslim dan Yahudi yang hidup di tanah Kristen tidak mengalami diskriminasi dan penindasan setiap hari. [32] Ini tidak terjadi pada perlakukan penguasa Muslim pada non-Muslim. Kunci perbedaan adalah pungutan pajak dhimma tidak pernah merupakan bagian dari doktrin Ajaran Kristen tapi Jizya merupakan bagian dari Islam.<br />
[32] Jonathan Riley-Smith, The Oxford Illustrated History of the Crusaders (Oxford: Oxford University Press, 1995), hal. 116</p>
<p>Selain itu, penguasa Muslim Spanyol bernama Ibn Jubayr (1145-1217) yang datang ke Mediterania dalam perjalanannya ke Mekah Awal tahun 1180-an menyatakan Muslim yang tinggal di tanah yang dikuasai tentara Salib lebih baik nasibnya daripada Muslim yang tinggal di daerah Islam. Ini karena penguasa Kristen mengolah tanah lebih teratur dan lebih baik daripada penguasa Muslim. Inilah sebabnya mengapa Muslim lebih memilih tinggal di Bawah pemerintahan Kristen:<br />
Ketika meninggalkan Tibnin (dekat Tyre), kami melalui lahan2 pertanian yang berkesinambungan dan desa2 yang semuanya sangat terawat dengan baik. Semua penduduknya adalah Muslim, tapi mereka hidup makmur di Bawah kekuasaan Franj (Franks (Perancis) atau Penguasa Salib) &#8211; semoga Allah menjaga mereka dari cobaan! Rumah2 mereka adalah milik mereka sendiri dan semua harta kekayaan tidak ada yang dirampas. Semua daerah yang dikuasai Franj di Siria diperlakukan sama: semua tanah, desa, dan pertanian tetap dimiliki Muslim. Maka itu, keraguan muncul di benak mereka ketika membandingkan hidup mereka dengan hidup para saudara mereka di tanah Muslim. Memang, masyarakat Muslim yang tinggal di tanah diperlakukan tidak adil oleh pemimpinnya, sedangkan Muslim yang tinggal di Bawah kekuasaan Franj diperlakukan adil. [33]<br />
[33] Dikutip dari buku Maalouf, The Crusaders Through Arab Eyes, hal. 263.</p>
<p>Jadi tidak benar bahwa semua tentara Salib melakukan perang barbar terhadap kebudayaan yang dikira lebih unggul dan beradab.</p>
<p>Buku yang Tidak Boleh Dibaca:<br />
�The New Concise History of the Crusaders� (Sejarah Singkat Tentara Salib) oleh Thomas F. Madden; Lanham, MD: Rowman &amp; Littlefield, 2005 adalah buku yang menarik yang membantah berbagai pendapat PC tentang mengapa tentara Salib berperang, siapa yang mereka lawan, dan apa yang terjadi pada setiap Perang Salib.</p>
<p>Dari buku: POLITICALLY INCORRECT GUIDE OF ISLAM</p>
<p>http://www.indonesiaindonesia.com/f/19480-perang-salib-crusades-salah/</p>
<p>Perang Salib </p>
<p>(Kontak Islam dan Barat Dalam Peradaban Abad Pertengahan)<br />
Oleh : Munir S.Ag</p>
<p>I. Pendahuluan</p>
<p>Perang Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 sampai meletusnya Perang Salib sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Disebut Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam (Dewan Redaksi, 1997:240)</p>
<p>.</p>
<p>Untuk lebih terfokus dalam penyajian tema ini, maka penulis akan membahas pada pokok permasalahan dibawah ini, yaitu :</p>
<p>1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya Perang salib ? 2. Bagaimana Perang Salib dimulai ?</p>
<p>3. Bagaimana dampak Perang Salib terhadap peradaban Islam ?</p>
<p>4. Bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah ?</p>
<p>Untuk membahas rumusan permasalahan tersebut, penulis mencoba menggunakan metode historis analisis dengan bersumber dari berbagai literatur yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.</p>
<p>II. Faktor Penyebab Terjadinya Perang Salib</p>
<p>Adapun yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Salib adalah faktor agama, politik, dan sosial ekonomi (Dewan Redaksi, 1997:240). Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas dari faktor-faktor tersebut, penulis berusaha menjelaskan satu persatu dari setiap faktor itu.</p>
<p>1. Faktor Agama</p>
<p>Sejak Dinasti Seljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1070 M bertepatan pada tahun 471 H, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi memunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya (Dewan Redaksi, 1997:240).</p>
<p>Perlu diketahui, bahwa Dinasti Seljuk ialah dinasti yang pernah memerintah Kekhilafahan Abbasiyah setelah Dinasti Buwaih pada tahun 1055 M-1194 M (Yatim, 2003:50). Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxiana dan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu, dan dipersatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq, karenanya mereka disebut orang-orang Seljuk (Yatim, 2003:73)</p>
<p>Termasuk juga faktor agama yaitu, adanya perasaan keagamaan yang kuat dikalangan umat Kristen. Mereka meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walaupun dosa itu setinggi langit (Al-Wakil,1998:165.</p>
<p>2. Faktor Politik</p>
<p>Kekalahan Bizantium -sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)- di Manzikart (Malazkird atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 M dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk, telah mendorong Kaisar Alexius I Commenus (Kaisar Konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II (1035-1099; menjadi Paus dari 1088 sampai 1099) dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk. Paus Urbanus II bersedia membantu Bizantium karena janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani dan Roma (Dewan Redaksi, 1997:240). Oleh karena itu Paus Urbanus II berpidato kepada seluruh umat Kristen Eropa di Clermont pada tahun 1095 M untuk melakukan perang suci. Dia juga mengetahui berbagai kesuksesan Kristen di Spanyol, yang mencapai puncaknya dengan direbutnya Toledo, dan penaklukan di Sisilia (Watt, 1990:255).</p>
<p>Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti dinasti-dinasti kecil di Edessa (ar-Ruha&#8217;) dan Baitul Maqdis (Dewan Redaksi, 1997:240).</p>
<p>3. Faktor Sosial Ekonomi</p>
<p>Pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada dikota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambungt dengan rute-rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut</p>
<p>Di samping itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serat kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas di dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina, mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-semena dan mereka dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Oleh karena itu, ketika mareka dimobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik bila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan berduyun-duyun melibatkan diri dalam perang tersebut.</p>
<p>III. Bagaimana Perang Salib Dimulai ?</p>
<p>Paus Urbanus II bersemangat terhadap gagasan memerangi kaum Muslimin, apalagi kondisinya katika itu sangat tepat bagi Sri Paus untuk memompa semangat dan menuruti bisikan hatinya yang penuh dengan kedengkian dan kebencian itu. Kondisi ketika itu teringkas dalam poin-poin berikut:</p>
<p>1. Kelemahan Dinasti Seljuk pasca wafatnya Malik Syah, akibatnya negara Seljuk terpecah-pecah.</p>
<p>2. Tidak adanya pemimpin yang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam dan membentuk pasukan yang tangguh guna mengusir setiap lawan yang bermaksud jahat kepadanya.</p>
<p>3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen, ini berarti membuka jalan antara Eropa dan negara-negara Timur</p>
<p>4. Penaklukan Qarsinah di laut tengah dan berdirinya republik-republik kuat dan kaya raya di Italia seperti Januh dan Bunduqiyah. Republik-republik tersebut memiliki angkatan laut yang kuat untuk melindungi keselamatan bisnisnya.</p>
<p>5. Kemenangan Sri Paus dalam mengendalikan para raja dan para gubernur di Eropa.</p>
<p>Karena kondisi-kondisi di atas, Sri Paus berani mengumumkan terang-terangan permusuhannya dan kebenciannya kepada kaum Muslimin. Ia menyerukan diselenggarakannya kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh sekte agama Kristen di Eropa Barat. Seruan Sri Paus disambut sebagian besar umat Kristiani yang dihadiri 225 uskup gereja-gereja Eropa. Sri Paus berpidato di hadapan mereka dan membakar sentimentil para hadirin. Ia jelaskan kondisi terakhir Baitul Maqdis dan mengusulkan pembebasannya dari tangan kaum Muslimin. Para peserta kongres menjawab dengan bodohnya: &#8220;Itulah sebenarnya yang dikehendaki Allah!&#8221;. Sri Paus puas dengan jawaban para peserta kongres kemudian ia pasang salib di atas lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah suci (Al-Wakil, 1998:171).</p>
<p>Maka mulai saat itulah genderang perang ditabuh, dan perjalanan perang ini memakan waktu yang cukup lama dengan tiga periodesasi.</p>
<p>A. Periode Pertama atau Periode penaklukan (1096-1144)</p>
<p>Jalinan kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont pada tanggal 26 November 1095 M. Pidatonya ini bergema ke seluruh penjuru Eropa yang mengakibatkan seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat. Gerakan ini dipimpin oleh Pierre I&#8217;Ermite, Sepanjang jalan menuju Kontanstantinopel, mereka membuat keonaran, melakukan perampokan, dan bahkan terjadi bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium, akhirnya dengan mudah pasukan Salib dapat dikalahkan oleh pasukan Dinasti Seljuk (Dewan Redaksi, 1997:241)</p>
<p>Pasukan Salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond. Gerakan kali ini merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi dan rapi, dan mereka memperoleh kemenangan yang besar dengan menaklukan Nicea pada tanggal 18 Juni 1097 M, dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur dengan Bohemond sebagai raja. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya, Godfrey. Selanjutnya mereka berturut-turut menguasai kota Akka pada tahun 1104 M, Tripoli tahun 1109 M dengan mendirikan kerajaan Latin IV dan rajanya Raymond, kemudian kota Tyre pada tahun 1124 M(Yatim, 2003:77) .</p>
<p>B. Periode Kedua atau Periode Reaksi Umat Islam (1144-1192) </p>
<p>  Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum salib membangkitkan Dibwah kepemimpinannya, ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk membebaskan negara-negara Islam di Timur dari cengkeraman kaum salib. Termasuk kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zanki, penguasa Moshul dan Irak, berhasil menaklukan kembali Aleppo, Haminah, dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M, dan digantikan oleh putranya Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 1147, Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali (Yatim, 2003:78). juga ia berhasil membebaskan Mesir pada tahun 1169 M (Dewan Redaksi, 1997:242).<br />
   Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus, dan Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Pada tahun 1 174 M Nuruddib wafat, dan pimpinan perang dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Akhirnya Shalah al-Din dapat merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian kerajaan Latin di Yerusalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir(Yatim,2003:78).</p>
<p>    Jatuhnya Yerusalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis, yang bergerak pada tahun 1189 M.</p>
<p>       Ekspedisi militer salib kali ini dibagi dalam beberapa divisi. Sebagian menempuh jalan darat dan yang lainnya menempuh jalur laut. Frederick yang memimpin divisi darat tewas tenggelam dalam penyeberangannya di sungai Armenia, dekat kota ar-Ruha&#8217;. Sebagian tentaranya kembali, kecuali beberapa orang yang terus melanjutkan perjalannya di bawah pimpinan putra Frederick. Adapun kedua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sicilia. Karena terjadi kesalahpahaman, akhirnya mereka meninggalkan Sicilia secara terpisah, Richard menuju Cyprus dan mendudukinya dan selanjutnya menuju Syam (Suriah). Adapun Philip langsung menuju Acre (Akka) dan berhasil merebutnya yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka tidak berhasil memasuki Palestina.</p>
<p>       Pada tanggal 2 Nofember 1192 M, dibuat perjanjian damai atau gencatan senjata antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shulh al-Ramlah (Yatim,2003:78). Inti perjanjian damai tersebut adalah : daerah pedalaman akan menjadi milik umat Islam, dan umat Kristen yang akan ziarah ke Baitul Maqdis akan terjamin keamanannya, sedangkan daerah pesisir utara, Acre dan Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara salib (Dewan Redaksi,1997:242).</p>
<p>C. Periode Ketiga atau Periode Kehancuran Pasukan Salib (1193-1291 M)</p>
<p>     Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum Palestina, dengan harapan dapat bantuan orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick, yang isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, dengan syarat Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria.</p>
<p>      Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun1247 M, di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai dinasti Mamalik -yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah- pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qolawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1291 M(Yatim,2003:79).</p>
<p>  Dalam buku Ensiklopedi Islam dinyatakan bahwa Perang Salib ketiga ini dikenal sebagai periode kehancuran pasukan Salib, hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemangati ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan material, bukan motivasi karena agama. Tujuan utama mereka untuk membebaskan Baitul Maqdis mereka lupakan. Hal ini dapat dilihat katika pasukan Salib yang semula dipersiapkan menyerang Mesir ternyata membelokkan haluan menuju Konstantinopel. Kota ini dapat direbut dan dikuasai dengan Baldwin sebagai rajanya. Dia adalah raja Roma-Latin pertama yang berkuasa di Konstantinopel (Dewan Redaksi,1997:242).</p>
<p>IV. Dampak Perang Salib Terhadap Peradaban Islam</p>
<p>Akibat adanya perang Salib ini, walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan ini terjadi di wilayah Islam. Di antaranya adalah kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad (Yatim,2003:79).<br />
      Meskipun pihak Kristen Eropa menderita kekalahan dalam Perang Salib, namun mereka telah mendapatkan hikmah yang tidak ternilai harganya karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah sedemikian majunya. Bahkan kebudayaan dan peradaban yang mereka peroleh dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di Barat. Kebudayaan yang mereka bawa ke Barat terutama dalam bidang militer, seni, perindustian, perdagangan, pertanian, astronomi, kesehatan, dan kepribadian.</p>
<p>    Dalam bidang militer, dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang yang belum pernah mereka temui sebelumnya di negerinya, seperti penggunaan bahan-bahan peledak untuk melontarkan peluru, pertarungan senjata dengan menunggang kuda, teknik melatih burung merpati untuk kepentingan informasi militer, dan penggunaan alat-alat rebana dan gendang untuk memberi semangat kepada pasukan militer di medan perang.</p>
<p>    Dalam bidang perindustrian, mereka menemukan kain tenun dan peralatannya di dunia Islam, kemudian mereka bawa ke negerinya, seperti kain muslin, satin, dan damas. Mereka juga menemukan berbagai jenis parfum, kemenyan, dan getah Arab yang dapat mengharumkan ruangan.</p>
<p>Sistem pertanian yang sama sekali baru di dunia Barat mereka temukan di Timur-Islam, seperti model irigasi yang praktis dan jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka macam, termasuk penemuan gula.</p>
<p>   Hubungan perniagaan dengan Timur-Islam menyebabkan mereka menggunakan mata uang sebagai alat tukar barang, yang sebelumnya mereka menggunakan sistem barter. Ilmu astronomi berkembang pada abad ke-9 di dunia Islam telah pula mempengaruhi lahirnya berbagai observatorium di dunia Barat. Selain itu juga mereka meniru rumah sakit dan tempat pemandian. Yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa sikap dan kepribadian umat Islam di Timur pada waktu itu telah memberikan pengaruh positif terhadap nilai-nilai kemanusiaan di Eropa yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.</p>
<p>V. Pengaruh Perang Salib Terhadap Kekhilafahan Bani Abbasiyah</p>
<p>    Perang salib yang berlangsung selama tiga abad itu ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah. Di samping faktor-faktor internal, Perang Salib menjadi faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Kekuatan politik umat Islam saat itu menjadi lemah, sehingga banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad (Yatim,2003:79).<br />
      Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut andil berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib ini juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam (Yatim,2003:85).</p>
<p>     Pengaruh Perang Salib juga terlihat dalam penyerangan tentara Mongol. Hulagu Khan panglima tentara Mongol sangat membenci Islam karena dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Tentara Mongol setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, mereka ikut memperbaiki Yerusalem (Yatim,2003:85).</p>
<p> V. Kesimpulan</p>
<p>      Dari berbagai uraian dan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu :</p>
<p>     Perang Salib adalah perang antara umat Islam dan umat Kristen dengan disebabkan beberapa faktor seperti, faktor agama, politik dan sosial ekonomi.</p>
<p>Perang Salib berlangsung sejak tahun 1096 sampai tahun 1291 M dengan tiga periode, periode pertama adalah periode penaklukan (1096-1144 M), periode kedua adalah periode reaksi umat Islam (1144-1192 M), dan periode ketiga adalah periode kehancuran pasukan Salib (1193-1291 M).</p>
<p>      Perang Salib ini berdampak negatif kepada peradaban Islam, dengan kata lain menguntungkan pihak Kristen. Di antaranya, kekuatan politik umat Islam menjadi lemah, sementara pihak Kristen dengan adanya Perang Salib itu dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang saat itu sudah maju. Seperti, bidang militer, perindustrian, pertanian, perdagangan atau perniagaan, dan termasuk juga dalam ilmu astronomi dan kesehatan.</p>
<p>     Perang Salib termasuk faktor eksternal kelemahan dan kehancuran kekhilafahan Bani Abbasiyah. Karena terjadinya Perang Salib yang berlangsung selama tiga abad itu menyebabkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah.</p>
<p> VI. Daftar Pustaka</p>
<p>       Al-Wakil, Muhammad Sayyid (1998).Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern. Jakarta:Pustaka Al Kautsar.</p>
<p>       Armstrong, Karen (2002). Islam Sejarah Singkat. Yogyakarta:Penerbit Jendela.</p>
<p>       Lapidus, Ira.M.(1999).Sejarah Sosial Umat Islam.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.</p>
<p>       Redaksi, Dewan (1997).Ensikplopedi Islam. Jakarta:PT Ichtiar Baru Van Hoeve.</p>
<p>      Sodiqin, Ali dkk (2003).Sejarah Peradaban Islam.Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga.</p>
<p>       Watt, W.Montgomery (1990).Kejayaan Islam Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis. Yogyakarta:PT Tiara Wacana.</p>
<p>       Yatim, Badri (2003).Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.</p>
<p>Perang Salib dan Pengaruhnya pada Hubungan Islam-Kristen di Indonesia<br />
Filed under: Wacana — noviz @ 1:34 pm<br />
Ditulis oleh Efron Dwi Poyo<br />
Wacana Pembuka<br />
Orang Kristen di Indonesia, pada umumnya, memandang orang Islam dengan tafsiran<br />
sempit tentang Ismael dalam Kej 16:12. Di sini orang Islam diperikan sebagai<br />
orang yang lakunya seperti keledai liar dan tangannya melawan setiap orang.<br />
Perusakan dan pembakaran gedung-gedung gereja semakin memperkuat pandangan ini<br />
terhadap orang Islam bahwa ayat tersebut adalah kutukan dan bukan janji berkat<br />
[1].<br />
Tony Lane, seorang lektor dalam bidang Ajaran Kristen pada London Bible<br />
College, pernah menyatakan bahwa orang yang tidak menguasai sejarah adalah<br />
bagaikan orang yang lupa ingatan. Pernyataannya mengandung kebenaran. Seperti<br />
yang disebutkan di atas bahwa banyak orang Kristen menuduh bahwa sebab-musabab<br />
ketidakharmonisan umat beragama (Kristen dan Islam) adalah pihak Islam. Mereka<br />
lupa bahwa orang Kristen pernah melakukan perbuatan keji, biadab, sekaligus<br />
memalukan dalam peristiwa yang disebut Perang Salib pada abad pertengahan.<br />
Ada banyak sumber informasi untuk memahami seluk-beluk Perang Salib. Adalah<br />
mustahil untuk menampungnya secara rinci ke dalam makalah yang dibatasi jumlah<br />
halamannya. Namun demikian ada beberapa hal yang dapat diungkapkan dalam<br />
peristiwa Perang Salib tersebut agar orang Kristen dapat berefleksi diri demi<br />
kesaksian yang baik bagi kehidupan mereka di Indonesia. Setidaknya orang<br />
Kristen tidak berat sebelah dalam melakukan pelayanan.<br />
Latar Belakang dan Faktor-faktor Penyebab Perang Salib<br />
Sebagian besar pengaruh kebudayaan Islam atas Eropa terjadi akibat pendudukan<br />
kaum Muslim di Spanyol dan Sisilia. Berasal dari sekelompok tentara pengintai<br />
Islam menyeberang dari Afrika Utara ke ujung paling selatan Spanyol pada Juli<br />
710. Laporan kegiatan mata-mata ini menimbulkan minat baru untuk menyerang [2].<br />
Pada tahun 711 pasukan penyerang yang berjumlah 700 orang [3] yang dipimpin<br />
oleh Tariq dari Bani Umayyah menyerbu Spanyol berhasil mengalahkan Roderick,<br />
raja Visigoth. Setelah menambah sekitar 500 orang lagi tentara Arab berhasil<br />
menaklukkan hampir seluruh semenanjung Iberia [4].<br />
Pada tahun 750 kekaisaran Islam di bawah kendali Bani Umayyah jatuh di tangan<br />
Bani Abbasiyah. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Oleh<br />
karena berpusat di timur, maka mereka kesukaran mengendalikan provinsi di<br />
sebelah barat. Seorang pangeran muda dari Bani Umayyah berhasil melarikan diri<br />
dari Maroko ke Spanyol. Di sana ia bergabung dengan salah satu faksi yang<br />
tengah bentrok, dan atas kepemimpinannya mereka menggapai kemenangan. Pada<br />
tahun 756 ia bergelar Khalifah Abd al-Rahman I dengan pusat pemerintahan di<br />
Cordoba.<br />
Spanyol Islam dianggap mencapai puncak kekuasaan dan kemakmurannya pada masa<br />
kekhalifahan Abd al-Rahman III (912 – 961) [5]. Keberadaan negara atau wilayah<br />
tidak lepas dari gerakan-gerakan politik di dalamnya. Gerakan politik pertama<br />
muncul pada akhir pemerintahan Ustman bin Affar yang ditandai dengan kemunculan<br />
Abdullah bin Saba [6]. Gerakan politik ini selalu melekat pada pemerintahan<br />
Islam di sepanjang sejarah, termasuk di Spanyol Islam. Intrik-intrik ini<br />
membuat Spanyol Islam mengalami pasang surut.<br />
Dunia Kristen Latin juga merasakan pengaruh Islam melalui Sisilia. Serangan<br />
pertama ke Sisilia terjadi pada tahun 652 di kota Sisacusa. Akan tetapi<br />
pendudukan orang-orang Arab di Sisilia tidak berlangsung lama. Kebangkitan<br />
kembali Kerajaan Byzantium mengakibatkan berakhirnya semua pendudukan atas<br />
wilayah-wilayah penting [7].<br />
Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran<br />
Byzantium dan Siria. Mereka juga menguasai Yerusalem pada tahun 1070. Dengan<br />
demikian daerah yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orang Islam<br />
militan. Orang-orang Kristen yang dahulu dapat berziarah ke Yerusalem secara<br />
bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada abad 11 orang-orang yang<br />
hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan perlindungan<br />
militer.<br />
Setelah pengaruh Romawi lenyap dari Eropa Barat pada abad 5 wilayah ini ditimpa<br />
kekacauan. Suku-suku German yang merebut daerah yang dahulu dikuasai Romawi<br />
mempunyai kebudayaan yang jauh lebih rendah ketimbang kebudayaan Romawi dan<br />
Arab. Kehidupan gereja pun terpengaruh. Mulailah senjata masuk gereja.<br />
Misi pekabaran Injil dihubungkan dengan ekspedisi militer. Memasuki abad 11<br />
gereja mulai melibatkan para bangsawan yang gemar berperang untuk menyerang<br />
musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini adalah orang Islam dan para bidat. Dengan<br />
demikian gereja mengatur peperangan dan menjamin kedamaian, ketenteraman, serta<br />
keadilan. Politik ini disebut gerakan damai Allah. Para bangsawan diberi etos<br />
khusus agar memakai keahliannya demi iman dan gereja. Mereka menjadi tentara<br />
Kristen atau ksatria Kristen [8]. Paus mengobarkan semangat mereka dan memberi<br />
jaminan pengampunan dosa. Paus berambisi untuk menggabungkan gereja timur ke<br />
dalam kekuasaannya dan mengusir orang Islam dari Baitul Maqdis [9]. Menurut van<br />
den End &amp; de Jonge (2001) semangat iman, semangat berperang, dan semangat<br />
politik bersatupadu sehingga sukar menentukan sisi mana yang paling menonjol.<br />
Pada tahun 1050 dikenallah gerakan perang suci, yang juga disebut Perang Salib.<br />
Disebut Perang Salib karena para ksatria menggunakan lambang salib dari kain<br />
merah pada bahu dan dada sebagai tanda.<br />
Perang-perang Salib<br />
Perang Salib I<br />
Berawal di Sisilia pada tahun 1050 ketika orang-orang Islam diusir. Hal yang<br />
sama terjadi juga di Spanyol. Pada tahun 1063 para tentara Salib Perancis dan<br />
Spanyol sepakat untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Islam. Paus<br />
merestui mereka. Pada tahun 1085 raja-raja Kristen di Spanyol Utara merebut<br />
Spanyol dari tangan orang Islam .<br />
Dalam pada itu Byzantium yang terjepit oleh Turki meminta bantuan kepada Gereja<br />
Barat. Hal ini dimanfaatkan oleh Paus nuntuk memperluas pengaruhnya di Timur.<br />
Pada tahun 1094 Paus Urbanus II mengimbau orang Kristen barat untuk menolong<br />
Byzantium. Melalui Sungai Rhein dan Donau para tentara Salib dari Jerman menuju<br />
Konstantinopel sambil membunuhi dan menyiksa orang-orang Yahudi.<br />
Kaisar Byzantium akhirnya terpaksa tunduk kepada Paus dan Gereja Barat. Padahal<br />
pandangan Gereja Timur terhadap perang ini berbeda dengan Gereja Barat. Bagi<br />
mereka ini bukanlah perang suci.<br />
Di Asia Kecil tentara Salib beberapa kali mengalahkan orang-orang Turki,<br />
sehingga Kaisar Alexios sempat merebut kembali sebagian daerah yang hilang<br />
setelah tahun 1071. Lalu pada tahun 1097 tentara Salib berhasil menguasai<br />
Antiokhia dengan perjuangan berbulan-bulan dan menelan korban sangat banyak.<br />
Tentara Salib meneruskan perjalanan ke Yerusalem dan tiba di sana pada Juni<br />
1099. Orang-orang Kristen yang merupakan mayoritas diusir dari Yerusalem.<br />
Mereka mengepung kota. Yerusalem berhasil direbut oleh tentara Salib. Orang<br />
Yahudi dan Islam dibunuhi.<br />
Para pemimpin tentara Salib mendirikan Kerajaan Yerusalem (1099 – 1187) yang<br />
juga meliputi Antiokhia, Edesssa, dan Tripoli. Secara pemerintahan daerah ini<br />
di bawah Konstantinopel, namun gerejanya di bawah Paus di Roma [10].<br />
Keberhasilan tentara Salib bukanlah karena keunggulan strategi militer.<br />
Keberhasilan mereka banyak ditentukan oleh kelemahan orang-orang Saljuk (Turki)<br />
akibat meninggalnya Malik Syah. Orang-orang Turki terpecah belah. Ciri khas<br />
tentara Salib ialah merusak apa saja yang ditemuinya dan membakarnya [11].<br />
Perang Salib II (1147 – 1149)<br />
Malik Syah digantikan oleh Imaduddin Zanki. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan<br />
Saljuk. Namun tak lama kemudian ia meninggal. Ia digantikan oleh anaknya,<br />
Nuruddin Zanki. Ia berhasil menumpas pemberontakan orang-orang Armenia.<br />
Kemenangan ini membuat orang-orang Eropa Barat bangkit lagi hasratnya untuk<br />
kembali ke dunia Timur [12].<br />
Seorang rahib termasyur pada zaman itu, Bernard dari Clairvux, menghasut dan<br />
mengobarkan semangat Perang Salib kepada orang-orang Eropa Barat. Yang memimpin<br />
tentara Salib adalah raja Perancis, Louis VII dan kaisar Jerman, Konrad III. Di<br />
sini jelas sekali faktor dan motif politik semakin menonjol [13]. Namun usaha<br />
mereka gagal untuk menguasai Damaskus dan Askalon, karena dipatahkan oleh<br />
pasukan Nuruddin Zanki [14].<br />
Perang Salib III (1189 – 1192)<br />
Perang ini berawal dari kekalahan tentara Salib di Palestina dekat Tiberias<br />
(1187) dan penaklukan Yerusalem oleh Sultan Saladin dari Mesir. Tentara Salib<br />
dipimpin oleh kaisar Jerman, Friedrich III, Barbarossa, bersama dengan raja<br />
Inggris, Richard, dan raja Perancis, Philippe II. Raja Richard berhasil merebut<br />
kota Akko dan ia juga mengikat perjanjian dengan Sultan Saladin. Isi<br />
perjanjiannya ialah orang-orang Kristen diperbolehkan tinggal di daerah pesisir<br />
antara Tyrus dan Jaffa, serta para peziarah diperbolehkan mengunjungi Yerusalem<br />
secara bebas [15].<br />
Perang Salib IV (1202 – 1204)<br />
Paus Innocentius III (1198 – 1216) ingin menguasai Mesir dan mengirim tentara<br />
Eropa Barat untuk menyerang Mesir. Ekspedisi ini dibiayai oleh pemerintah<br />
Venesia. Pasukan ini ternyata tidak pernah tiba di Palestina. Kekuatannya<br />
dipergunakan untuk menghancurkan pesaing perdagangan Venesia, yaitu<br />
Konstantinopel. Tentara Salib akhirnya menduduki dan menjarah kota<br />
Konstantinopel, lalu dijadikan kekaisaran yang takluk pada Gereja Roma [16].<br />
Perang Salib V (1218 – 1221)<br />
Perang Salib ini cukup singkat. Sebelumnya Paus Innocentinus III mendorong<br />
usaha serangan militer ke Mesir. Paus penggantinya, Honorius III, meneruskan<br />
usaha ini.<br />
Tentara Salib berhasil menguasai kota Damietta di pantai Mesir (1219). Akan<br />
tetapi pada tahun 1221 kota terpaksa terlepas lagi. Pada masa inilah Fransiskus<br />
dari Asisi memulai usahanya untuk mengabarkan Injil kepada sultan Mesir,<br />
Al-Kamil [17].<br />
Perang Salib VI (1248 – 1254)<br />
Pada tahun 1244 Yerusalem diduduki kembali oleh tentara Islam. Raja Louis IX<br />
melakukan Perang Salib dan menyerang Mesir. Pada tahun 1249 kota Damietta<br />
diserbu, namun Louis IX gagal, dan bahkan menjadi tawanan perang. Ia berhasil<br />
dilepaskan setelah ditebus dengan banyak uang. Ia pulang ke Perancis pada tahun<br />
1254 [18].</p>
<p>Perang Salib VII (1270)<br />
Antara tahun 1250 dan 1254 Raja Louis IX tinggal di Tanah Suci untuk membangun<br />
ulang kubu dan kekuasaan lewat usaha diplomasi, karena merasa gagal lewat<br />
perang. Berkat status dan wewenangnya ia berhasil menjadi penguasa di Kerajaan<br />
Yerusalem [19]. Sebelumnya ia sempat merebut kota Damietta di Mesir pada tahun<br />
1249 (Perang Salib VI). Namun ketika menuju Kairo pasukannya dipukul mundur dan<br />
terserang penyakit pes. Ia sempat ditawan dan dibebaskan sebulan kemudian. Pada<br />
tahun 1270 Louis IX kembali memimpin penyerangan ke Tunisia. Namun ia meninggal<br />
karena terserang penyakit pes [20].<br />
Sultan Baybars merupakan orang pertama di antara para sultan yang berhasil<br />
menghancurkan kekuatan tentara Salib. Ia adalah keturunan Mameluk dari Mesir.<br />
Pada tahun 1262 ia membangkitkan massa Saladin untuk kembali ke Asia Barat.<br />
Sebuah kota dan benteng yang dikuasai oleh tentara Salib direbutnya kembali,<br />
sehingga pada tahun 1286 kota Jaffa dapat juga ditaklukkan. Penyerangan<br />
berikutnya diteruskan ke Utara untuk merebut Antiokhia. Pada tahun 1289 Tripoli<br />
di Lebanon direbutnya juga. Pada tahun 1291 Akko, sebuah kota terpenting<br />
kekuatan tentara Salib, dapat ditaklukkannya. Sejak saat itu masa tentara Salib<br />
habis di seluruh benua Timur [21].<br />
Akibat Perang Salib pada Gereja dan Islam di Eropa dan Timur Tengah<br />
Nyatalah bahwa tentara Salib tidak membawa damai, tetapi pedang; pedang itu<br />
adalah untuk memotong-motong dunia Kristen. Ketidaksetujuan doktrinal yang<br />
telah berlangsung lama dipaksakan kepada Gereja Timur oleh kebencian nasional<br />
yang mendalam [22]. Perang Salib memang tidak memberikan maslahat apapun bagi<br />
orang-orang Kristen di Timur Tengah. Di mata tentara Salib orang-orang Yakobit,<br />
Koptik, Melkit, dan Nestorian merupakan orang-orang yang menyimpang dari ajaran<br />
yang benar [23].<br />
Setiap terjadi Perang Salib orang-orang Kristen asli Timur Tengah didera<br />
penderitaan. Terjadi pembunuhan besar-besaran, baik atas orang-orang Islam<br />
maupun orang-orang Kristen asli, seperti yang terjadi di Antiokhia (1098 &amp;<br />
1268), Yerusalem (1099 &amp; 1244), Caesarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146),<br />
Tripoli (1289), Akha (1291), dan Aleksandria (1365). Setelah pengusiran<br />
orang-orang Kristen Barat, orang-orang Kristen asli di Mesir, Siria, dan<br />
Armenia terkena getahnya. Orang-orang Kristen tidak lagi dipercaya oleh<br />
penguasa-penguasa Islam. Sikap toleran terhadap orang-orang Kristen juga<br />
meluntur dan jurang antara kaum Kristen dan Islam diperdalam. Perang Salib<br />
mempercepat kemunduran Gereja Timur [24].<br />
Bagi dunia Islam Perang Salib berakibat memantapkan penguasaannya terhadap<br />
wilayah-wilayah yang telah didudukinya dan mengusir tentara Salib. Namun<br />
demikian dapat dikatakan mudarat yang didapatkan justru lebih banyak, karena<br />
bagi kaum Islam wilayah-wilayah tersebut memang sudah lama mereka kuasai. Tidak<br />
ada yang baru dalam hal ini. Tidak ada hal yang baik pada tentara Salib yang<br />
dapat dipetik oleh orang Islam. Moral mereka bejat. Mereka memeras kawan dan<br />
lawan serta menyembelih keduanya tanpa ampun. Menurut Gustav Lebon yang dikutip<br />
oleh Al-Wakil fakta tersebut tidak dapat dipungkiri oleh siapapun dari bangsa<br />
Eropa. Hal ini masuk di akal karena pada umumnya tentara Salib berasal dari<br />
pengangguran, penjahat, dan rakyat jelata. Tidak ada yang dapat diharapkan dari<br />
tentara Salib selain pembunuhan manusia tak berdosa, perampokan, dan<br />
pelanggaran kehormatan [25].<br />
Citra orang Kristen Barat berbeda sekali dengan citra orang Kristen Timur di<br />
mata orang Islam. Orang Kristen Timur dihormati sebagai orang-orang<br />
berkebudayaan tinggi, sedang orang-orang Kristen Barat dianggap biadab.<br />
Ironisnya penyerangan tentara Salib dilakukan dalam nama Kristus, Raja Damai.<br />
Sejak zaman itu agama Kristen dihubungkan dengan kekerasan. Sejak zaman itu<br />
juga kata salib bagi orang yang berbahasa Arab menimbulkan emosi peperangan.<br />
Kesan yang ditimbulkan orang-orang Kristen pada zaman itu tidak pernah<br />
dilupakan. Bagi orang Kristen tahun 1100 – 1300 merupakan masa yang sudah<br />
lewat. Akan tetapi bagi orang Islam, yang mempunyai pandangan tentang sejarah<br />
menurut Timur [26], zaman itu bukanlah zaman yang telah lewat, namun masa yang<br />
mengerikan yang selalu dapat muncul kembali [27].<br />
Pertikaian antara Gereja Barat dan Timur menciptakan rumpang (gap) antara<br />
keduanya. Sikap Paus dan tentara Salib terhadap Gereja Timur sangat menyakiti<br />
perasaan. Perasaan ini diperkuat ketika tentara Salib menduduki Konstantinopel<br />
pada Perang Salib IV. Peristiwa itu juga mempercepat kemunduran kekaisaran<br />
Byzantium dan mengakibatkan penaklukan kota ini oleh tentara Otoman pada tahun<br />
1453 [28]. Tentara Islam menguasai Konstantinopel justru karena mendapat<br />
maslahat dari kebijakan Gereja Barat terhadap Gereja Timur [29].<br />
Dalam pada itu bagi Eropa Barat dan gerejanya secara politik-militer Perang<br />
Salib tidak bermaslahat sama sekali. Tidak ada satu daerah pun yang pernah<br />
dikuasai dapat dipertahankan. Dengan demikian tujuan Perang Salib untuk merebut<br />
Tanah Suci dari orang-orang Islam gagal dicapai.<br />
Namun demikian raja-raja dan penduduk kota-kota di Eropa Barat memetik maslahat<br />
dari Perang Salib. Kedudukan raja makin kuat dan tidak sekadar bangsawan.<br />
Penduduk kota merasa lebih bebas, karena para bangsawan sibuk berperang<br />
sehingga tidak sempat menjalankan pemerintahan kota. Hubungan dagang dengan<br />
dunia timur menjadi lebih intensif.<br />
Pada bidang kebudayaan Perang Salib berarti perjumpaan antara dunia yang biadab<br />
dan dunia yang berkebudayaan tinggi. Orang-orang Islam tidak belajar suatu<br />
apapun dari tentara buas. Sebaliknya yang diterima oleh Barat makin banyak.<br />
Orang Barat memperoleh ilmu filsafat dari orang-orang Arab, yang sebenarnya<br />
dipengaruhi oleh filsafat Yunani.<br />
Bagi gereja sendiri Perang Salib membawa perkembangan baru dengan terbentuknya<br />
ordo-ordo baru rohani. Ordo pertama yang lahir ialah ordo-ordo ksatria rohani<br />
yang didirikan di Tanah Suci untuk melayani orang-orang yang menderita luka<br />
atau penyakit dan untuk melindungi orang-orang yang berziarah. Ordo-ordo ini<br />
menggabungkan cita-cita militer dengan cita-cita rohani. Sebagai akibatnya<br />
kekerasan masuk dalam gereja. Senjata diterima sebagai alat untuk<br />
mempropagandakan iman dan memberantas orang-orang yang mempunyai ajaran yang<br />
berbeda dengan ukuran ajaran Gereja Roma. Dalam pada itu semangat iman juga<br />
tumbuh pada orang-orang yang tidak terlibat dalam Perang Salib. Masyarakat<br />
Eropa Barat banyak mendapat-kan cerita ajaib dari orang yang pulang dari ziarah<br />
ke Tanah Suci.<br />
Selain semangat melawan orang-orang Islam dengan pedang semangat untuk melawan<br />
mereka dengan firman mulai muncul juga. Orang mulai mempelajari bahasa Arab dan<br />
ajaran Islam untuk melawan Islam dengan jitu. Di sini terletak akar-akar<br />
pekabaran Injil dengan cara baru, yang dilakukan oleh Ordo Dominikan, Ordo<br />
Fransiskan, kemudian juga Serikat Jesuit dengan mendirikan biara di daerah<br />
pedesaan.<br />
Sejajar dengan perkembangan ini orang-orang Kristen mulai tertarik pada Yesus<br />
sebagai manusia, seperti misalnya mistik Bernard dari Clairvux dan Fransiskus<br />
dari Assisi. Mistik diarahkan kepada Kristus yang hina dan menderita. Namun<br />
demikian ada juga orang yang mulai menisbikan iman Kristen. Mereka ternyata<br />
mengetahui adanya agama lain dengan kebudayaan tinggi. Penganutnya tidak hanya<br />
sanggup berperang dengan baik, tetapi juga menghormati orang lain. Beberapa<br />
kali mereka melepaskan raja atau bangsawan yang tertangkap. Menurut kebiasaan<br />
waktu itu seorang tawanan harus membayar sejumlah uang tebusan. Akan tetapi<br />
selama dalam masa tawanan mereka diperlakukan dengan baik dan dengan segala<br />
hormat [30].<br />
Pengaruh Islam pada ilmu dan teknologi terhadap bangsa Eropa sangat murad<br />
(significant). Dari teknologi pelayaran, pertanian, sampai pada matematika,<br />
astronomi, kedokteran, logika, dan metafisika [31]. Akibat pengaruh itu<br />
orang-orang Eropa terdorong untuk mencari jalan lain ke Timur Jauh, daerah<br />
penghasil rempah-rempah dan kain sutra. Hal ini mereka lakukan supaya tidak<br />
bergantung lagi pada dunia Islam.<br />
Pengaruh Perang Salib pada Hubungan Kristen-Islam di Indonesia<br />
Ketika agama Kristen masuk ke Nusantara pada abad 16 sudah banyak penduduk yang<br />
memeluk agama Islam. Islam sendiri datang pada abad 9 – 10 melalui para<br />
pedagang Muslim India, Arab, dan Persia. F. L. Cooley, yang pada tahun memimpin<br />
penelitian hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, mengatakan sejak awal<br />
kedatangannya kedua agama itu sudah diwarnai oleh suasana kurang baik. Sebelum<br />
masuk ke Nusantara kedua agama itu telah terlibat persaingan, konfrontasi, dan<br />
konflik di Asia Barat, Afrika Utara, dan Eropa Barat. Pengalaman konflik dan<br />
persaingan antara masyarakat kedua agama tersebut memerikan (describe) sikap<br />
dan perasaan negatif satu sama lain, sehingga hal itu terbawa juga ketika kedua<br />
agama itu masuk ke Nusantara [32].<br />
Sebenarnya sikap pemerintah Hindia-Belanda terhadap agama Kristen bermuka dua.<br />
Pada satu pihak pemerintah seringkali mempersulit atau melarang pekabaran<br />
Injil, sedang pada pihak lain, terutama sesudah tahun 1900, pekabaran Injil<br />
disokongnya. [33] Oleh karena eratnya hubungan antara pemerintah kolonial dan<br />
kegiatan penginjilan, maka pelaksanaan misi mendapat banyak kendala di kalangan<br />
umat Islam. Kristen dipandang sebagai agama penjajah Barat yang menindas. Citra<br />
orang Barat dalam Perang Salib masih menghantui umat Islam, yang memang<br />
diwartakan demikian oleh penyebar agama Islam.<br />
Setelah berakhirnya pemerintahan kolonial ketegangan hubungan umat Islam dan<br />
Kristen mencuat lagi. Ini terjadi pada saat pembahasan UUD 1945 dan pada sidang<br />
Konstituante hasil Pemilu 1955. Pada tahun 1971 pemeluk agama Kristen melejit<br />
menjadi 7,4%, jika dibandingkan tahun 1931 yang hanya 2,8%. Hal ini terjadi<br />
karena pemerintah orde baru mewajibkan penduduk untuk memeluk salah satu agama<br />
yang diakui negara. Banyak orang bekas anggota PKI yang memilih Kristen<br />
ketimbang Islam. Sebagian kalangan menduga jumlah itu mencapai dua juta orang.<br />
Peristiwa ini mengundang kecurigaan tokoh Islam dengan menuduh pemerintah orde<br />
baru memberikan keleluasaan bagi penyebaran agama Kristen. Kalangan Islam juga<br />
sangat berkeberatan dengan cara-cara misionaris menyebarkan agama Kristen yang<br />
dianggap mengintervensi keimanan umat Islam. Cara mereka ialah mendatangi dari<br />
rumah ke rumah dan membangun banyak gereja di kawasan Muslim. Bahkan ada yang<br />
mendatangi H.M. Rasjidi, menteri agama waktu itu. [34]<br />
Pekabar Injil yang bertugas di Indonesia tidak saja dari Indonesia sendiri,<br />
namun juga dari Eropa dan Amerika Serikat. Pekabar Injil asing datang ke<br />
Indonesia dalam jumlah besar pada awal pemerintahan orde baru, ketika<br />
pemerintah menganjurkan para simpatisan PKI memilih agama yang sah dan diakui.<br />
Bagian terbesar memang memilih Kristen.<br />
Bantuan dari luar negeri bukan saja dalam bentuk tenaga, tetapi juga dalam<br />
bentuk dana yang besar. Banyak dari mereka berasal dari kalangan Injili dan<br />
fundamentalis. Mereka sangat agresif dalam melakukan penginjilan, yang bahkan<br />
tidak empan papan. Dengan bantuan dana yang besar itu mereka membangun banyak<br />
gereja di tempat-tempat strategis. Selain itu mereka melakukan kegiatan sosial<br />
kepada masyarakat miskin, yang tujuan utamanya agar orang miskin tersebut<br />
berpindah agama. Suasana ini diperparah lagi dengan banyaknya warga keturunan<br />
Tionghoa yang masuk Kristen aliran Injili dan fundamentalisme. Di sinilah<br />
konflik keagamaan bercampur dengan konflik etnis. Konflik keagamaan timbul<br />
akibat kegiatan misi yang dilakukan secara agresif tanpa mempertimbangkan<br />
perasaan umat Islam. Tidaklah heran jika terjadi konflik antar umat beragama,<br />
maka dampaknya terjadi juga perusakan toko-toko milik keturunan Tionghoa.<br />
Semangat tentara Salib yang berperang demi agama masih banyak mewarnai para<br />
pekabar Injil. Bagi mereka kebenaran mutlak hanya ditemukan dalam agama<br />
Kristen, sedang agama lainnya sesat. Pada suatu acara Pengajian Injil (Bible<br />
Study) yang diselenggarakan oleh Institute for Syriac Christian Study (ISCS)<br />
pada tanggal 7 Desember 2001 di Jakarta penulis sempat berdebat dengan peserta<br />
dari kalangan fundamentalis. Salah satu pokok yang diperdebatkan bahwa Allah<br />
orang Kristen berbeda dengan Allah orang Islam. Menurutnya Allah orang Kristen<br />
adalah YHWH. Penulis hanya menjawab, pertama, bahwa jika Allah orang Kristen<br />
dan orang Islam berbeda, maka orang itu suka tidak suka menganut politheis,<br />
karena ada dua Allah di sana. Kedua, Yesus Kristus dan para rasul sendiri tidak<br />
mempertahankan nama YHWH dalam pengajarannya. Menurut penulis orang seperti itu<br />
tidak sedikit jumlahnya di Indonesia. Jika gerakan mereka tidak dibendung, maka<br />
akan menjadi batu sandungan bagi kerukunan umat beragama di Indonesia, dan<br />
tentu saja mereka malah akan menghambat penyampaian Kabar Baik.<br />
Perenungan<br />
Walaupun Indonesia sudah merdeka lebih daripada setengah abad, ternyata<br />
kerukunan umat Kristen dan Islam masih merupakan cita-cita. Memang di sana-sini<br />
sudah dilakukan upaya pembenahan, namun belum menyentuh lapisan terbawah dan<br />
yang pasti masih belum dapat menghilangkan trauma Perang Salib.<br />
Beberapa tahun terakhir ini gencar dilakukan dialog antara umat Kristen dan<br />
Islam. Hasilnya cukup menggembirakan, karena pelaku dialog sudah dapat memahami<br />
iman yang berbeda. Kendati demikian dialog ini sangat terbatas di lingkungan<br />
intelektual (teolog).<br />
Pembenahan diri untuk meningkatkan kerukunan umat Kristen dan Islam memang<br />
seyogyanya dilakukan oleh kedua belah pihak. Akan tetapi umat Kristen tidak<br />
patut menuntut terlalu banyak umat Islam, karena sudah sepatutnya umat Kristen<br />
/ gereja menggagas pembenahan dirinya sendiri. Salah satu yang perlu dibenahi<br />
adalah paradigma pelayanan.<br />
Istilah pelayanan atau melayani paling banyak digunakan gereja di samping<br />
istilah mengasihi. Orang pada umumnya mengartikan pelayanan adalah pelayanan<br />
kepada Tuhan, yang kemudian berkonotasi ibadah, kebaktian, dan doa. Dengan kata<br />
lain pelayanan bersifat kerohanian. Namun demikian pelayanan juga bukan melulu<br />
ke arah horisontal yang meliputi etika. Melayani yang benar adalah melayani<br />
seperti Yesus melayani.<br />
Banyak sekali contoh di dalam Alkitab tentang pelayanan Yesus. Yang disoroti<br />
dalam tulisan ini ialah pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10. Perikop tersebut<br />
seringkali tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang<br />
terdapat dalam Mat 14:13-21, Markus 6:30-44, Luk 9:10-17, dan Yoh 6:1-13.<br />
Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop<br />
tersebut di atas. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis.<br />
Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di<br />
Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Markus 8:1-10) terjadi di<br />
luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang<br />
Yunani perantauan.<br />
Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000<br />
orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap<br />
saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena<br />
orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru.<br />
Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan<br />
sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkanNya. Jelas sekali di sini Yesus<br />
melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi<br />
pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang<br />
(ay. 9).<br />
Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja bercermin pada ini. Melayani<br />
melewati batas golongan sendiri mestilah tanpa strategi untuk menjadikan mereka<br />
anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup (comprehensive). Pelayanan<br />
serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama. Jika tidak, itu<br />
bukanlah alkitabiah; suatu istilah yang justru acapkali ditekankan di kalangan<br />
gereja tertentu.<br />
Orang-orang Kristen masih berpikiran bahwa pewartaan Kabar Baik berarti<br />
meluaskan atau menambah anggota jemaat. Memang itu ada benarnya. Namun bukan<br />
itu hakikatnya. Gairah untuk menambah anggota jemaat menyebabkan orang Kristen<br />
banyak melakukan berbagai usaha untuk menarik perhatian masyarakat. Usaha ini<br />
bukanlah pengungkapan kasih, karena bagaimanapun juga ada pamrihnya, karena<br />
agar orang lain tertarik menjadi Kristen. Tidaklah heran jika pihak Islam<br />
menuduh itu kristenisasi dengan iming-iming.<br />
Kita dapat saja melayani secara nyata dengan melakukan berbagai kebajikan dalam<br />
rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, tanpa perlu mengorbankan prinsip<br />
kesaksian Kristen. Umat Islam merupakan kelompok terbesar di Indonesia.<br />
Peningkatan taraf hidup dan pengentasan kemiskinan tentunya dapat dilaksanakan<br />
jika kelompok terbesar itu ikut terlibat. Jika orang Kristen memang benar-benar<br />
melayani tanpa pamrih dalam rangka hal itu, lalu memang terjadi peningkatan<br />
taraf hidup masyarakat lokal, tentunya dengan kehendak sendiri mereka akan<br />
bertanya-tanya mengapa orang Kristen melayani mereka tanpa pamrih. Dengan<br />
demikian kita sudah memberi tempat bagi Roh Kudus untuk bekerja.<br />
Kita mesti membuat agama (Kristen) lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat,<br />
yang tidak hanya terampil ngeyel dan ngotot mengenai doktrin, yang saking<br />
militannya tanpa sadar menempatkan doktrin itu di atas Alkitab, bahkan Allah.<br />
Kita mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih<br />
manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama<br />
bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra (aspect) ritual dan<br />
kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata<br />
untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan,<br />
keadilan, demokrasi, dan lain sebagainya.</p>
<p>http://noviz.wordpress.com/2006/11/01/perang-salib-dan-pengaruhnya-pada-hubungan-islam-kristen-di-indonesia/</p>
<p>PERANG SALIB DAN DAMPAK YANG DITIMBULKANNYA<br />
Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.<br />
PENDAHULUAN<br />
Perang Salib adalah merupakan satu sejarah yang tidak dapat dilupakan oleh agama-agama Samawi yang pernah hidup dan berkembang di dunia ini, sebab perang ini berjalan dalam waktu yang cukup lama, memakan korban yang cukup banyak, menghabiskan dana yang tidak terhitungkan, mendatangkan kerugian yang tak dapat dinilai dengan uang dan bahkan mengakibatkan dampak yang negatif dan destruktif bagi hubungan ummat beragama, namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya Perang Salib telah membawa perubahan peradaban yang signifikan khususnya bagi peradaban Barat yang nota bene beragama Kristen.<br />
Namun demikian perang salib ini adalah merupakan peristiwa bersejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja dan bahkan perang salib ini adalah merupakan salah satu bentuk rangkaian interaksi sosial ummat manusia di abad pertengahan dalam rangka membangun peradaban modern. Charles H. Haskin menyatakan bahwa, Zaman pertengahan adalah merupakan sejarah yang penting dan kompleks. Dalam kurun waktu seribu tahun, saling berinteraksilah berbagai suku, institusi dan kebudayaan. Semuanya itu merupakan suatu proses perkembangan sejarah yang menjadi basis dari peradaban modern.<br />
Perang Salib adalah merupakan sebuah peristiwa sejarah yang dialami ummat manusia dan bahkan tidak dapat dilupakan oleh siapapun yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan ummat manusia. Para ahli menyebutkan bahwa ada tiga teori tentang sejarah, yaitu :<br />
1. Teori Siklus. Teori ini menyebutkan bahwa perkembangan sejarah berjalan secara melingkar yang berjalan antara zaman keemasan dan kehancuran. Dengan demikian teori ini menganggap bahwa pengulangan masa lalu pada masa kini atau masa depan adalah merupakan sesuatu yang lumrah.<br />
2. Teori Linier. Teori ini menganggap bahwa pengulangan sejarah tidak pernah terjadi. Proseses sejarah berjalan lurus mengikuti babak baru yang tidak pernah dikenal pada masa lalu.<br />
3. Teori Gabungan. Teori ini menggabungkan kedua teori tersebut di atas, yaitu menyatakan bahwa pengulangan sejarah akan terulang, namun bukan dalam bentuk yang sama.<br />
Berdasarkan teori ketiga tersebut di atas, terdapat beberapa unsur-unsur utama yang melekat pada setiap babakan sejarah, yaitu sebab, proses dan dampak yang ditimbulannya. Oleh karena itulah maka tulisan ini akan menggambarkan Perang Salib sebagai sebuah proses interaksi yang meliputi sebab-sebab, mekanisme dan dampak yang ditimbulkannya.<br />
SEBAB TERJADINYA<br />
Ada satu kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, bahwa setiap berdirinya sebuah kerajaan Islam dimana sajapun tempatnya, maka pastilah orang-orang Kristen ataupun penganut agama yang lainnya diberikan keleluasaan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Bukan hanya itu para ummat beragama yang non Islam tersebut diberikan juga peluang untuk memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dimana-mana kerajaan Islam berdiri, atau ummat Islamnya mayoritas dalam suatu negeri, maka ummat beragama lainnya memiliki kebebasan yang sangat luas untuk menjalankan ajaran agamanya dan bahkan memegang tampuk pemerintahan.<br />
Berbeda halnya dengan kerajaan-kerajaan lainnya ataupun mayoritas penduduknya beragama Kristen ataupun non Islam, maka ummat Islam hampir tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar, apalagi untuk memegang tampuk pemerintahan. Yang terakhir ini menjadi sesuatu yang mustahil untuk diberikan. Hampir pada semua negara yang penduduknya mayoritas ummat Kristen, maka ummat Islamnya akan menjadi masyarakat yang terpinggirkan, kalau bukan disebut sebagai masyarakat kelas dua. Hal ini sebagaimana terlihat dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti di Philifina dan lain sebagainya.<br />
Kebebasan yang diberikan oleh ummat Islam terhadap orang Kristen ini sering dimanfaatkan oleh ummat Kristen untuk melakukan tindakan sebaliknya. Hal inilah yang terjadi ketika Jerusalem dan Syria di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah dari Mesir. Penguasa Mesir mendorong perniagaan dan perdagangan Kristen. Akan tetapi sebagaimana disebutkan oleh Ajid Thohir dalam bukunya, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Segala keistimewaan dan toleransi yang diberikan ummat Islam tersebut tidak menentramkan hati orang Kristen yang menganggap bahwa kehadiran orang Islam di Yerusalem sebagai suatu hal yang tidak disukai. Dan hal inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab utama terjadinya perang salib.<br />
Amir K. Ali dalam bukunya, Study of Islamic History, sebagaimana dikutif oleh Ajid Thohir menyebutkan bahwa yang menjadi penyebab-penyebab terjadinya perang salib itu adalah sebagai berikut :<br />
1. Perang salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen, untuk saling menguasai. Pemunculan Islam yang cepat menimbulkan suatu goncangan bagi seluruh Eropa Kristen sehingga pada abad XI pasukan orang Kristen Barat diarahkan untuk melawan Islam.<br />
2. Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem semakin bergairah pada abad XI dibanding dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Jerusalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, tidak jarang para Jamaah Kristen mendapat perlakuan yang tidak baik dan dirampok. Informasi mengenai perlakuan demikian cenderung berkembang dan secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi keras orang Kristen di seluruh dunia. W. gomery Watt menyatakan penyebab perang Salib ini didorong oleh praktek ziarah keagamaan. Khususnya ke tanah suci, yaitu Jerusalem.<br />
3. Pada masa itu, Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan Pangeran terlibat perang satu sama lain. Sehubungan dengan itu, orang Kristen dengan dukungan Paus berusaha memanfaatkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.<br />
Namun demikian Dr. Badri Yatim, MA. menyebutkan bahwa terjadinya Perang Salib adalah disebabkan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan yang dikenal dengan peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Perancis dan Armenia.<br />
Peristiwa besar ini menurutnya menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap ummat Islam. Yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian ini bertambah setelah Dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah yang berkedudukan di Mesir. Menurutnya penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi ummat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan bagi mereka. Oleh karena itu maka untuk memudahkan dan memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada ummat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.<br />
Sementara itu Dr. Yusuf Qordhowi menyatakan bahwa Perang Salib adalah perang yang dilakukan oleh orang Eropa dengan dorongan para Paus dan pemuka agama Eropa seperti Petrus Nesk. Mereka datang memerangi Timur Islam dengan beberapa alasan. Luarnya agama tetapi dalamnya adalah penjajahan. Oleh karena itulah maka para sejarawan muslim menyebut peperangan tersebut dengan nama â��Perang Bangsa Eropaâ��. Sebagai isyarat bahwa peperangan tersebut adalah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa untuk memerangi negeri-negeri Islam, serta merampas dan menguasainya.<br />
Namun demikian bangsa Eropa menyebut peperangan tersebut dengan nama Perang Salib, karena mereka menggunakan salib dalam peperangan tersebut sebagai tanda. Mereka mengklaim bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyelamatkan â��Kuburan Al-Masihâ�� dari tangan ummat Islam. Padahal kuburan, gereja-gereja, dan hal-hal lainnya yang dianggap suci oleh ummat Nasrani dijaga dan dipelihara dengan baik oleh kaum muslimin. Tempat-tempat tersebut tidak pernah diganggu, sebab orang yang melakukan hal tersebut berhak mendapatkan hukuman dari khalifah dan mendapat cercaan orang banyak. Islam memandang bahwa menjaga tempat-tempat suci Al-Masih dan ummat Nasrani adalah termasuk dalam perjanjian dengan Ahli Dzimmah. Memenuhi perjanjian tersebut adalah termasuk kewajiban yang harus dilakukan oleh ummat Islam, baik pemimpin maupun rakyatnya.<br />
PRIODISASI PERANG SALIB<br />
Perang Salib yang terjadi dengan latar belakang sebagaimana tersebut di atas berlangsung dalam beberapa priode. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menetapkan priodisasi dari Perang Salib ini. Dr. Yusuf Qardhowi menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung sembilan priode atau sembilan kali. Berbeda dengan ini, Dr. Badri Yatim, MA. menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode. Pendapat Badri Yatim ini senada dengan Philip K. Hitti yang menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode, yaitu pertama, masa penaklukan yang berjalan sampai dengan tahun 1144 M. Masa kedua, masa timbulnya reaksi Islam terhadap penaklukan itu, ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan dan berakhir pada 1291 M. Sedangkan Ajid Thohir dengan mengutip pendapat Amir K. Ali, berpendapat bahwa Perang Salib itu berlangsung selama delapan priode. Sebagai berikut :<br />
1. Perang Salib I<br />
Pada musim semi tahun 1095 M., 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bahemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan Kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai rajanya. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Baitul Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka pada tahun 1104 M, Tripoli pada tahun 1109 M dan kota Tyre pada tahun 1124 M. Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV dengan rajanya adalah Raymond. Dari pihak Islam, Imanuddin Zangi (1123-1146 M) memainkan peran penting dalam sejarah Perang Salib. Zangi berhasil membebaskan Aleppo dan Hammah dari tangan tentara Salib. Penaklukan terbesar dari Zangi adalah merebut Edessa (salah satu kota keuskupan yang paling mulia) bagi orang Kristen.<br />
2. Perang Salib II<br />
Jatuhnya Edessa menimbulkan berbagai ketegangan di seluruh Eropa. Hal ini menyebabkan munculnya Perang Salib II (1147-1149 M) di bawah pimpinan Raja Jerman, Conrad III dan Raja Perancis, Louis VII. Namun kekuatan gabungan militer ini tidak membuahkan hasil. Bahkan akhirnya, Sultan Salahuddin mampu menguasai kembali Damaskus, Jerusalem dan Acre (Pos utama tentara Kristen).<br />
3. Perang Salib III<br />
Kegagalan di atas membangkitkan protes orang Kristen. Selanjutnya, Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard I dari Inggris menyusun kembali tentara gabungan untuk menyerang Jerusalem. Setelah berperang selama tiga tahun (1189-1192 M), akhirnya tentara Kristen mengajukan perdamaian. Dasar perjanjian tersebut antara lain bahwa daerah pesisir akan menjadi milik orang-orang latin, daerah pedalaman menjadi milik orang-orang muslim, dan bahwa rakyat dari kedua belah pihak boleh saling memasuki wilayah tanpa diganggu.<br />
4. Perang Salib IV<br />
Dua tahun setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi wafat, Perang Salib keempat dibuka kembali atas anjuran Paus Colestine III. Pada tahun 1195 M, tentara Salib merebut Sycilia dan Beirut. Akan tetapi Aadil (Anak Shalahuddin) berhasil mengalahkan tentara Salib. Selanjutnya diadakan gencatan senjata selama tiga tahun.<br />
5. Perang Salib V<br />
Perang Salib lima (1201 M) terjadi di bawah pimpinan Innocent III. Pada perang Salib lima ini tentara Salib berhasil menguasai Konstantinopel.<br />
6. Perang Salib VI<br />
Perang Salib enam berlangsung pada tahun 1216 M, pasukan Salib terdesak oleh tentara Islam. Akhirnya terjadi perjanjian perdamaian di antara kedua belah pihak.<br />
7. Perang Salib VII<br />
Perang Salib tujuh dimulai pada tahun 1238 M, pasukan Kristen di bawah pimpinan Gregory IX berusaha merebut kembali Jerusalem, akan tetapi digagalkan oleh Abu Nasar Daud.<br />
8. Perang Salib VIII<br />
Perang Salib delapan terjadi pada tahun 1244 M di bawah pimpinan Louis IX dari Perancis. Pada perang inipun Louis mengalami kegagalan.<br />
Adapun tokoh-tokoh ataupun Panglima Perang Islam dalam Perang Salib yang berlangsung sebagaimana tersebut di atas secara ringkas dapat digambarkan adalah Imaduddin Az-Zanki dari Turki yang memulai jihad melawan pasukan Salib, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nuruddin Muhammad yang bergelar â��Asy-Syahidâ��, dan setelah itu dilanjutkan oleh muridnya Shalahuddin Yusuf bin Ayub atau yang lebih terkenal dengan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang di dunia Barat dikenal dengan Sultan Saladin. Di tangan Salahuddin inilah puncak kemenangan ummat Islam melawan tentara Salib, termasuk membebaskan Palestina setelah sembilan puluh tahun di bawah kerajaan tentara Salib. Selain itu di Mesirpun, peperangan melawan bangsa Eropa terus berlanjut, yang terkenal adalah peperangan Al-Manshuroh yang menyebabkan ditawannya Raja Perancis, Louis IX. Para panglima perang Mamalik di Mesir dan Syam terus menerus selalu berhasil menghalau pasukan Salib, hingga akhirnya mereka semua bisa diusir dan tidak tersisa sedikitpun di negeri Islam.<br />
Penjelasan tersebut di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya pasukan Salib hampir tidak pernah berhasil menguasai dunia Islam kecuali hanya sementara. Hal itupun sebagaimana diungkapkan oleh W. Montgomery Watt, tingkat keberhasilan yang diraih itu adalah lebih disebabkan oleh perpecahan di kalangan kaum muslimin sendiri. Perpecahan itu terjadi di seluruh wilayah, karena para pemmpin mereka saling baku hantam satu sama lain.<br />
DAMPAK PERANG SALIB<br />
Apabila diperhatikan dampak daripada Perang Salib itu adalah lebih banyak menguntungkan dunia Barat apalagi dibandingkan dengan dunia Timur khususnya ummat Islam. Ummat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo. Secara umum bagi ummat Islam sebagaimana disebutkan oleh Yusuf Qardhowi, Perang Salib adalah merupakan fitnah bagi ummat Islam. Sedangkan bagi orang Kristen yang dalam hal ini dunia Barat, bisa disebut sebuah â��rahmatâ�� sebab dengan Perang Salib ini telah membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan dunia Barat pada umumnya. Dan bahkan Perang Salib ini mengantarkan renaissance di Perancis.<br />
Perang Salib telah menimbulkan dampak-dampak penting dalam sejarah perkembangan dunia karena telah membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam yang telah lebih dahulu maju dan berperadaban, sementara Eropa / Barat berada dalam abad kegelapan. Melalui inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin. Kemajuan orang Tumur yang progresif dan maju pada saat itu menjadi daya dorong yang besar bagi pertumbuhan intelektual Eropa / Barat. Hal itu memerankan bagian yang penting bagi timbulnya renaissance di Eropa.<br />
Dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya Perang Salib itu bagi dunia Barat dapat dilihat dalam kenyataan berikut ini :<br />
1. Secara kultural, pasukan Perang Salib di Timur menjumpai beberapa aspek yang menarik dari kehidupan Islam. Ketika pasukan tersebut kembali ke tempat asal mereka, mereka berusaha untuk menirunya. Sejumlah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Latin dikerjakan di wilayah-wilayah di mana Perang Salib berlangsung.<br />
2. Gagasan Perang Salib memberi kontribusi kepada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika oleh Colombus dan ditemukannya rute perjalanan laut ke India dengan mengelilingi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope). Akibatnya orang Barat menyadari bahwa selain adanya negara-negara Islam dan Barat, ada juga negara-negara lain yang bukan negara Islam dan bukan negara Barat.<br />
Adapun dampak positif lainnya bagi dunia barat dengan adanya Perang Salib adalah menambah keuntungan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Prang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasaikan beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam pada masa sebelumnya. Hal ini lebih banyak terutama berkaitan dengan masalah-masalah seni, industri, perdagangan dan pertanian.<br />
Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.<br />
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.<br />
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sesungguhnya dunia Barat berhutang budi pada ummat Islam, hanya saja utang budi ini tidak pernah diakui oleh dunia Barat secara terbuka kepada ummat Islam. Sikap ini berbeda dengan sikap ummat Islam yang secara terbuka dari dulu mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dipinjam dari India, kimia dipinjam dari Cina, dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.<br />
Ketidak mauan mengakui utang ini pada ummat Islam menurut Max Dimont, sebagaimana disebutkan oleh Nur Cholis Madjid, orang Barat menderita narcisime, artinya mereka mengagumi diri sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi. Padahal sesungguhnya dalam kajian yang lebih objektif dan luas, utang orang Barat kepada Islam luas biasa besarnya.<br />
KESIMPULAN<br />
1. Perang Salib adalah perang yang diprakarsai dan dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Islam yang berlangsung sebanyak delapan priode yang dimulai sejak tahun 1095 sampai dengan 1244 M.<br />
2. Perang Salib terjadi dilatar belakangi oleh berbagai faktor, antara lain adalah disebabkan adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen; Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem yang semakin bergairah dan terkadang mendapat rintangan dari penduduk lokal; dan mengalihkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.<br />
3. Perang Salib telah mendorong orang Eropa / Barat untuk melakukan renaissance di Eropa, untuk selanjutnya membangun dunia Eropa / Barat sesuai dengan apa yang mereka lihat dan pelajari di dunia Islam. Eropa / Barat banyak berutang budi pada dunia Islam dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan.<br />
P E N U T U P<br />
Demikianlah makalah ini kami sampaikan sebagai pengantar awal bagi kita untuk berdiskusi lebih lanjut, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dalam rangka mengantarkan kita untuk mengetahui lebih jauh dan secara mendalam tentang Perang Salib yang terkenal itu.***</p>
<p>http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&#038;id=439</p>
<p>I. Periode pertama<br />
Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemand, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M mengusai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di timur. Bohemand dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 Juli 1099 M). dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M), dan kota Tyre (1124 M). di Tropoli mereka mendirikan kerajaan latin IV, rajanya adalah Raymmond.</p>
<p>II. Periode kedua<br />
Imaduddin Zanki, penguasa Moshul, dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 M. namun, ia wafat tahun 1146 M. tugasnya dilanjutkan oleh puteranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Anthiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.<br />
Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Prancis Lois VII dan raja Jerman Conrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Conrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1174 M. pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah Al-Din Al-Ayyubi yang beerhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. hasil peperangan Shalah Al-Din yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.<br />
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah alDin, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shul al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebut bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.</p>
<p>III. Periode ketiga<br />
Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristenn Qitbhi. Pada tahun 1219 M, mereka beerhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari Dinasti Ayyubiah waktu itu, Al Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Frederick, isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al malik Al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin di sana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 m, di masa pemerintahan Al-Malik Al-Shalih, penguasa mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiah, pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M.<br />
Demikianlah, perang salib yang berkobar di timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.</p>
<p>Walupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak Dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.</p>
<p>http://edigunawan-perangsalib.blogspot.com/</p>
<p>&#8220;Salahudin Al Ayubi&#8221; Jenderal Muslim Pada Perang Salib </p>
<p>Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai &#8220;Saladin&#8221; di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.</p>
<p>Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : &#8221; Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki &#8220;. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.</p>
<p>Sejarah Hidup Salahudin<br />
Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat &#8220;Saladin Sang Raja Mesir&#8221; (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.</p>
<p>Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin). Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama. Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.</p>
<p>Terlibat dalam Perang Salib<br />
Dalam dua kesempatan, tahun 1171 dan 1173, Saladin diinvasi Kerajaan Kristen Jerusalem. Nur ad Din saat ini berniat membalas serangan. Namun Saladin berpendapat bahwa mereka harus kuat terlebih dulu. Sepeninggal Nur ad Din, Saladin menjadi penguasa Damaskus. Ia menikahi janda Nur ad Din dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul yang dulu selalu gagal ditaklukkan Nuraddin. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Saat menaklukkan Aleppo, 22 Mei 1176, nyawanya nyaris melayang karena usaha pembunuhan. Ia melakukan konsolidasi di Suriah sambil sebisa mungkin menjaga agar jangan sampai tumpah perang dengan pasukan salib sebesar apapun provokasi dari pasukan salib. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Puncaknya adalah saat penyerangan terhadap rombongan karavan jamaah haji tahun 1185. Saladin meradang.</p>
<p>Juli 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Berbagai medan pertempuran dilaluinya, dengan satu pesan yang sama kepada pasukannya; minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak. Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Inggris mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah &#8216;Saladin Tithe&#8217; (Zakat melawan Saladin). Dalam satu pertempuran, ia berhadap-hadapan dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf tahun 1191. Di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan King Richard I saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain. Bahkan saat tahu pimpinan pasukan musuhnya itu sakit, Saladin menawarkan bantuan seorang dokter terbaik yang dimiliki Damaskus. Begitu juga saat tahu Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya. Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.</p>
<p>Tak lama setelah kepergian Richard, Saladin wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Saat kotak penyimpanan harta Saladin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya: ia selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah. Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah: ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.</p>
<p>Sultan Saladin<br />
1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Ayub.<br />
1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nureddin.<br />
1164: Mulai menunjukkan pekiawaiannya dalam bidang strategi militer dan dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.<br />
1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Ia menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi puas kekuatan Dinasti Ayyub.<br />
1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nureddin yang ingin sesegera menggempur pasukan Kristen, ia cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.<br />
1174: Nureddin meninggal. Saladin menyususn kekuatan.<br />
1175: The Syrian Assassin leader Rashideddin&#8217; s men made two attempts on the life of Saladin, the leader of the Ayyubids. The second time, the Assassin came so close that wounds were infliceted upon Saladin.<br />
1176: Saladin besieges the fortress of Masyaf, the stronghold of Rashideddin. After some weeks, Saladin suddenly withdraws, and leaves the Assassins in peace for the rest of his life. It is believed that he was exposed to a threat of having his entire family murdered.<br />
1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.<br />
1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.<br />
1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.<br />
1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin. (Lihat Film Versi Hollywood : Kingdom of Heaven)<br />
1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.<br />
4 Maret 1193: Meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit. </p>
<p>Salahudin lahir disebuah kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahudin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik didalam kastil. Di Mosul , keluarga Najm bertemu dan membantu Zangi, seorang penguasa arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.</p>
<p>Zangi berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zangi bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zangi bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahudin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santu serta penuh belas kasih. Zangi meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahudin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai. Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahudin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.</p>
<p>Salahudin yang masih muda dan dinggap &#8220;hijau&#8221; ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahudin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Salahudin dalam memimpin mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahudin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya banyak disambut dan dielu-elukan. Salahudin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Salahudin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.</p>
<p>Salahudin dan Perang Salib</p>
<p>Saat Salahudin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahudin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusignan.</p>
<p>Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah muslim dari Damaskus. Penyerangan ini dipimpin oleh Reginald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahudin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan benteng-benteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahudin terjadi di Perang Hattin.</p>
<p>Perang Hattin terjadi di bulan Juli yang kering. Pasukan muslim dengan jumlah 25000 orang mengepung tentara salib didaerah Hattin yang menyerupai tanduk. Pasukan muslim terdiri atas 12000 orang pasukan berkuda (kavaleri) sisanya adalah pasukan jalan kaki (infanteri). Kavaleri pasukan muslim menunggangi kuda yaman yang gesit dengan pakaian dari katun ringan (kazaghand) untuk meminimalisir panas terik di padang pasir. Mereka terorganisir dengan baik, berkomunikasi dengan bahasa arab. Pasukan dibagi menjadi beberapa skuadron kecil dengan menggunakan taktik hit and run.</p>
<p>Pasukan salib terdiri atas tiga bagian. Bagian depan pasukan adalah pasukan Hospitaler, bagian tengah adalah batalyon kerajaan yang dipimpin Guy de Lusignan yang juga membawa Salib besar sebagai lambang kerajaan. Bagian belakang adalah pasukan ordo Knight Templar yang dipimpin Balian dari Ibelin. Bahasa yang mereka gunakan bercampur antara bahasa Inggris, Perancis dan beberapa bahasa eropa lainnya. Seperti umumnya tentara Eropa mereka menggunakan baju zirah dari besi yang berat, yang sebetulnya tidak cocok digunakan di perang padang pasir.</p>
<p>Salahudin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya pasukan muslimin membakar rumput kering disekeliling pasukan Salib yang sudah sangat kepanasan dan kehausan. Besok paginya Salahudin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavalerinya untuk membabat habis kuda tunggangan musuh. Tanpa kuda dan payah kepanasan, pasukan salib menjadi jauh berkurang kekuatannya. Saat peperangan berlangsung dengan kondisi suhu yang panas hampir semua pasukan salib tewas. Raja Yerussalem Guy de Lusignan berhasil ditawan sedangkan Reginald de Chattilon yang pernah membantai khalifah kaum muslimin langsung dipancung. Kepada Raja Guy, Salahudin memperlakukan dengan baik dan dibebaskan dengan tebusan beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Menuju Yerussalem</p>
<p>Dari Hattin, Salahudin bergerak menuju kota-kota Acre, Beirut dan Sidon untuk dibebaskan. Selanjutnya Salahudin bergerak menuju Yerussalem. Dalam pembebasan kota-kota ataupun benteng Salahudin selalu mengutamakan jalur diplomasi dan penyerahan daripada langsung melakukan penyerbuan militer. Pasukan Salahudin mengepung Kota Yerussalem , pasukan salib di Yerussalem dipimpin oleh Balian dari Obelin. Empat hari kemudian Salahudin menerima penawaran menyerah dari Balian. Yerussalem diserahkan ketangan kaum muslimin. Salahuddin menjamin kebebasan dan keamanan kaum Kristen dan Yahudi. Fragmen ini di abadikan dalam film &#8220;Kingdom Of Heaven&#8221; besutan sutradara Ridley Scott. Tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah atau bertepatan dengan Isra Mi&#8217;raj Rasulullah SAW, Salahudin memasuki kota Yerussalem</p>
<p>Di Yerussalem, Salahudin kembali menampilkan kebijakan dan sikap yang adil sebagai pemimpin yang shalih. Mesjid Al-Aqsa dan Mesjid Umar bin Khattab dibersihkan tetapi untuk Gereja Makam Suci tetap dibuka serta umat Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah didalamnya. Salahudin berkata :&#8221; Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain&#8221;. Sangat kontras dengan yang dilakukan para pasukan Salib di awal penaklukan kota Yerussalem (awal perang salib), sejarah mencatat kota Yerussalem digenangi darah dan mayat dari penduduk muslimin yang dibantai. Sikap Salahudin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan adalah contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam.</p>
<p>Salahudin Al-Ayubi tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di mesjid kecil bernama Al-Khanagah di Dolorossa. Ruangan yang dimilikinya luasnya hanya bisa menampung kurang dari 6 orang.Walaupun sebagai raja besar dan pemenang perang, Salahudin sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan serta korupsi.</p>
<p>Salahudin berhasil mempertahankan Yerussalem dari serangan musuh besarnya Richard The Lion Heart, Raja Inggris. Richard menyerang dan mengepung Yerussalem Desember 1191 dan Juli 1192. Namun penyerangan-penyerangannya dapat digagalkan oleh Salahudin. Kepada musuhnya pun Salahudin berlaku penuh murah hati. Saat Richard sakit dan terluka, Salahudin menghentikan pertempuran serta mengirimkan hadiah serta tim pengobatan kepada Richard. Richard pun kembali ke Inggris tanpa berhasil mengalahkan Salahudin.</p>
<p>Sepanjang sejarah Yerussalem sebagai kota suci bagi tiga agama, sejak ditaklukan Salahudin, Yerussalem belum pernah jatuh ketangan pihak lain. Baru setelah Perang Dunia I, Yerussalem jatuh ketangan Inggris yang kemudian diserahkan ke tangan Israel.</p>
<p>Semasa hidupnya Salahudin lebih banyak tinggal di barak militer bersama para prajuritnya dibandingkan hidup dalam lingkungan istana. Salahudin wafat 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazah sempat terkaget-kaget karena ternyata Salahudin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki selembar kain kafan yang selalu di bawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang Suriah waktu itu).</p>
<p>Sampai sekarang Salahudin Al-Ayubi tetap dikenang sebagai pahlawan besar yang penuh sikap murah hati.</p>
<p>http://kabar-aneh.blogspot.com/2011/07/salahudin-al-ayubi-jenderal-muslim-pada.html</p>
<p>FAKTA UNIK DI SEKITAR PERANG SALIB</p>
<p>1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan konyolnya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.<br />
2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai &#8221; The Absent King<br />
3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : &#8220;Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi &#8220;</p>
<p>4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.</p>
<p>5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran</p>
<p>6. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, &#8220;Aku tidak ingin orang ini mengacaukan &#8220;permainan&#8221; kecil kita&#8221;. Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.</p>
<p>7. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya</p>
<p>8. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?</p>
<p>9. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.</p>
<p>10. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu</p>
<p>11. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.</p>
<p>12. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).</p>
<p>13. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir</p>
<p>14. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya &#8216;berbahaya&#8217;.</p>
<p>15. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.</p>
<p>16. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack</p>
<p>17. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.</p>
<p>18. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.</p>
<p>19. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus</p>
<p>20. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 &#8211; 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full &#8211; time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.</p>
<p>21. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.</p>
<p>22. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin</p>
<p>23. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko</p>
<p>24. Kalau selama ini kita mendengar bahwa Saladin itu komandan yg santun, maka salah satu panglima mamluk yaitu Baybar adalah komandan yang garang. Tidak kalah garangnya dalam soal bunuh-membunuh seperti crusaders. Kalau crusaders dibawah pimpinan Richard pernah menghukum mati seluruh tawanan muslim di Aacre, pasukan Baybar juga membunuh semua orang kristen di Acre, termasuk pendeta dan perempuan. bahkan dia berkirim surat ke komandan crusaders untuk menceritakan detil pembantaian di dalam suratnya. Baybar bahkan sampai membuat lingkungan acre jadi gurun agar di masa depan sulit untuk jadi pangkalan crusaders lagi.</p>
<p>25. Saat pengepungan kota Acre, Baybars menggunakan siege weaponnya selain sebagai senjata penghancur berat jarak jauh, juga sebagai senjata psikologi dan biologi. Senjata katapel-nya tidak hanya melontarkan batu ke arah kota, tapi juga mayat pasukan musuh, tawanan anak-anak yang masih hidup serta bangkai binatang spt kuda, unta dll. Di abad pertengahan hal itu kerap disebut sbg &#8216;humor pasukan artileri&#8217;. Namun Baybars melakukannya lebih intensif dan mengerikan.</p>
<p>26. Akibat dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Maka.Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.</p>
<p>http://dunia-konyol.blogspot.com/2011/07/fakta-fakta-unik-dibalik-perang-salib.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsafatindonesia1001.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=158&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/30/perang-salib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/259a08adcc487361d0dc80fe6adc56af?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsafatindonesia1001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>perang pemikiran</title>
		<link>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/29/perang-pemikiran/</link>
		<comments>http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/07/29/perang-pemikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 10:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsafatindonesia1001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Istilah perang pemikiran (ghazwul fikri) di berbagai media termasuk media online mencuat deras. Dengan menggunakan dalih kebebasan mengemukakan pendapat mereka mencoba mematahkan dan menerobos sendi-sendi Islam yang mana bila ajaran Islam tak dipahami betul oleh umat Islam akan menjadi mudah terbawa arus pola pikir mereka hingga membenarkan anggapan mereka. Dalam al quran, geliat kaum seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsafatindonesia1001.wordpress.com&amp;blog=8586319&amp;post=160&amp;subd=filsafatindonesia1001&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah perang pemikiran (ghazwul fikri) di berbagai media termasuk media online mencuat deras. Dengan menggunakan dalih kebebasan mengemukakan pendapat mereka mencoba mematahkan dan menerobos sendi-sendi Islam yang mana bila ajaran Islam tak dipahami betul oleh umat Islam akan menjadi mudah terbawa arus pola pikir mereka hingga membenarkan anggapan mereka. Dalam al quran, geliat kaum seperti ini telah dijelaskan sebagaimana potongan ayat : “….Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (Al Baqarah [2] : 217). Empat belas abad yang lalu, di saat Islam mencapai puncaknya, Rasulullah SAW telah memprediksikan tentang nasib ummat Islam di masa yang akan datang, sebagai tanda nubuwwah beliau. Nasib ummat Islam pada masa itu digambarkan oleh Rasulullah seperti seonggok makanan yang diperebutkan oleh sekelompok manusia yang lapar lagi rakus. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits: “Beberapa kelompok manusia akan memperebutkan kalian seperti halnya orang-orang rakus yang memperebutkan hidangan.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, ya Rasulullah?”. Jawab Rasul : “Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian waktu itu seperti buih lautan. Dan sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn”. Kemudian sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan penyakit wahn itu ya Rasulullah?”. Jawab beliau : “Cinta dunia dan takut mati”. Kita bisa membayangkan bagaimana nasib seonggok makanan yang menjadi sasaran perebutan dari orang-orang kelaparan yang rakus. Tentu saja dalam sekejap mata makanan yang tadinya begitu menarik menjadi hancur berantakan tak berbekas, lumat ditelan para pemangsanya. Demikian pula dengan kondisi ummat Islam saat ini. Ummat Islam menjadi bahan perebutan dari sekian banyak kepentingan yang apabila kita kaji lebih jauh ternyata tujuan akhirnya adalah sama, kehancuran ummat Islam ! Banyak pihak yang memusuhi kaum muslimin. Allah memberikan informasi kepada kita siapa saja musuh-musuh kaum muslimin. Ada beberapa kelompok besar manusia yang dalam perjalanan sejarah selalu mengibarkan bendera permusuhan dan perang terhadap kaum muslimin. Adapun kelompok-kelompok tersebut adalah: 1. Orang-Orang Yahudi dan Nashrani “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela terhadap kalian, sehingga kalian mengikuti jejak mereka…” (Al Baqarah [2] :120). 2. Orang-orang Musyrik “Sesungguhnya telah kalian dapati orang-orang yang paling besar permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik….” (Al Maidah [5] :82). 3. Orang-orang Munafik “Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa kamu benar-benar Rasulullah’. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya’, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta” (Al Munafiqun [63] : 1). “Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang yang ma’ruf dan menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasik” (At Taubah [9]: 67). Meskipun mereka (musuh-musuh Islam) itu nampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya di dalam memerangi kaum muslimin mereka bersatu padu melakukan konspirasi (persekongkolan) yang berskala Internasional. Mereka berusaha tanpa mengenal lelah dan berputus asa. “Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu….” (Al Baqarah [2] : 217). Ada dua jenis peperangan yang selalu mereka lancarkan terhadap ummat Islam, yaitu perang secara fisik (militer) dan perang secara non fisik (pemikiran), yang lebih dikenal dengan istilah ghazwul fikri. Metode Jitu Ketika cahaya Islam mulai menyebar luas meliputi wilayah Persi, Syiria, Palestina, Mesir dan menyeberang daratan Eropa sampai Spanyol, maka kaum Salibis, Yahudi dan orang-orang Paganis segera membendung laju kebenaran Islam. Mereka khawatir kalau cahaya Islam akan menerangi seluruh belahan dunia. Maka kemudian digelarlah peperangan yang panjang yang kita kenal dengan nama perang Salib. Selama perang salib yang berlangsung delapan periode itu, tak sekalipun ummat Islam dapat dikalahkan. Mereka berpikir keras bagaimana cara mengalahkan ummat Islam. Setelah melalui pemikiran yang panjang akhirnya mereka mengambil kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Gladstone, salah seorang perdana menteri Inggris, “Selama Al Qur’an ini ada di tangan ummat Islam, tidak mungkin Eropa akan menguasai dunia Timur”. Mereka selanjutnya menyusun langkah-langkah untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Dengan metode yang sistematis mereka memulai melancarkan serangan pemikiran yang berujud program-program yang dikemas dengan menarik. Sehingga tanpa disadari, ummat Islam sudah mengikuti mereka bahkan menjadi pendukung program-program yang mereka adakan. Di samping tipu daya yang berbentuk perang pemikiran, perusakan akhlaq, sekulerisasi sistem pendidikan serta penjajahan di negeri-negeri kaum muslimin yang telah dikuasai, mereka juga mengeruk seluruh kekayaan kaum muslimin. Hal itu berhasil mereka lakukan setelah melalui perjalanan panjang. Baca selengkapnya. Dibandingkan dengan perang fisik atau militer, maka perang pemikiran atau ghazwul fikri ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain: 1. Dana yang dibutuhkan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk perang fisik. 2. Sasaran tidak terbatas. 3. Serangannnya dapat mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. 4. Tidak ada korban dari pihak penyerang. 5. Sasaran yang diserang tidak merasakan bahwa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang. 6. Dampak yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang. 7. Efektif dan efisien. Sasaran Perang Pemikiran Yang menjadi sasaran perang pemikiran adalah pola pikir dan akhlaq. Apabila seseorang sering menerima pola pikir sekuler, maka iapun akan berpikir ala sekuler. Bila sesorang sering dicekoki paham komunis , materialis, fasis, marksis, liberalis, kapitalis atau yang lainnya, maka merekapun akan berpikir dari sudut pandang paham tersebut. Sementara itu dalam hal akhlak, boleh jadi pada awalnya seseorang menolak terhadap suatu tata cara kehidupan tertentu, namun karena tiap kali ia selalu mengkonsumsi tata cara tersebut, maka lama kelamaan akan timbul perubahan dalam dirinya. Yang semula menolak, akan berubah menjadi menerima. Dari yang sekedar menerima itu akan berubah menjadi suka. Selanjutnya akan timbul dalan dirinya tata sikap yang sama persis dengan mereka. Bahkan pada akhirnya ia akan menjadi pendukung setia tata hidup jahiliyah tersebut. Seperti contohnya adanya pergaulan bebas antara wanita dan pria yang bukan muhrim, seperti kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah bahaya perang pemikiran. Ia akan menyeret seseorang ke dalam jurang kesesatan dan kekafiran tanpa terasa. Ibaratnya seutas rambut yang dicelupkan ke dalam adonan roti, kemudian ditarik dari adonan tersebut. Tak akan ada sedikitpun adonan roti yang menempel pada rambut. Rambut itu keluar dari adonan dengan halus sekali tanpa terasa. Demikianlah, seseorang hanya tahu bahwa ternyata dirinya sudah berada dalam kesesatan, tanpa terasa! Ada beberapa jenis perang pemikiran, di antaranya : 1. Perusakan Akhlaq Dengan berbagai media musuh-musuh Islam melancarkan program-program yang bertujuan merusak akhlaq generasi muslim. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang tua renta sekalipun. Di antara bentuk perusakan itu adalah lewat majalah-majalah, televisi, serta musik. Dalam media-media tersebut selalu saja disuguhkan penampilan tokoh-tokoh terkenal yang pola hidupnya jelas-jelas jauh dari nilai-nilai Islam. Mulai dari cara berpakaian, gaya hidup dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan. Dengan cara itu, mereka telah berhasil membuat idola-idola baru yang gaya hidupnya jauh dari adab Islam. Hasilnya betul-betul luar biasa, banyak generasi muda kita yang tergiur dan mengidolakan mereka. Na’udzubillahi min dzalik! 2. Perusakan Pola Pikir Dengan memanfaatkan media-media tersebut di atas, mereka juga sengaja menyajikan berita yang tidak jelas kebenarannya, terutama yang berkenaan dengan kaum muslimin. Seringkali mereka memojokkan posisi kaum muslim tanpa alasan yang jelas. Mereka selalu memakai kata-kata; teroris, fundamentalis untuk mengatakan para pejuang kaum muslimin yang gigih mempertahankan kemerdekaan negeri mereka dari penguasaan penjajah yang zhalim dan melampui batas. Sementara itu di sisi lain mereka mendiamkan setiap aksi para perusak, penindas, serta penjajah yang sejalan dengan mereka; seperti Israel, Atheis Rusia, Fundamentalis Hindu India, Serbia, serta yang lain-lainnya. Apa-apa yang sampai kepada kaum muslimin di negeri-negeri lain adalah sesuatu yang benar-benar jauh dari realitas. Bahkan, sengaja diputarbalikkan dari kenyataan yang sesungguhnya. 3. Sekulerisasi Pendidikan Hampir di seluruh negeri muslim telah berdiri model pendidikan sekolah yang lepas dari nilai-nilai keagamaan. Mereka sengaja memisahkan antara agama dengan ilmu pengetahuan di sekolah. Sehingga muncullah generasi-generasi terdidik yang jauh dari agamanya. Sekolah macam inilah yang mereka dirikan di bumi Islam pada masa penjajahan (imperialisme), untuk menghancurkan Islam dari dalam tubuhnya sendiri. 4. Pemurtadan Ini adalah program yang paling jelas kita saksikan. Secara terang-terangan orang-orang non muslim menawarkan “bantuan” ekonomi; mulai dari bahan makanan, rumah, jabatan, sekolah, dan lain-lainnya untuk menggoyahkan iman orang-orang Islam. Bermain Tipu Muslihat Pastor Takly berkata: “Kita harus mendorong pembangunan sekolah-sekolah ala Barat yang sekuler. Karena ternyata banyak orang Islam yang goyah aqidahnya dengan Islam dan Al Qur’an setelah mempelajari buku-buku pelajaran Barat dan belajar bahasa asing”. Samuel Zwemer dalam konferensi Al Quds untuk para pastor pada tahun 1935 mengatakan: “Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang- orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah- belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian”. Jadi, Berhati-hatilah! Begitu banyak perang pemikiran yang ada seharusnya tak membuat kita lengah. Banyak-banyaklah kita menambah wawasan dan keilmuan tentang Islam (baca selengkapnya) karena mereka sendiri juga menyerang dari segi ilmu Islam dengan pengertian mereka sendiri. Jangan pedulikan anggapan dan pemikiran fiktif mereka. Pemikiran mereka sebenarnya adalah pemikiran yang lemah dan tak berarti apa-apa jika landasan iman dan pengetahuan kita tentang Islam telah kuat. Karena sesungguhnya akal manusia selamanya tak akan mungkin mampu mengalahkan wahyu yang datang dari Tuhan semesta alam, yakni Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Wallahu a&#8217;lam bish showab.*** http://firmanazka.blogspot.com/2010/11/waspada-perang-pemikiran-ghazwul-fikri.html Banyak orang Islam yang mengambil teori2 orang non Islam untuk mengatasi stres, padahal Islam sudah memberikan solusi TERBAIK untuk menghindari dan ‘mengatasi’ (me-manage) stres. Ditengarai, kurangnya pemahaman ttg Islam, yg mengakibatkan mereka mengambil cara non Islam untuk mengatasi masalah yg mereka hadapi. Ada yg mendefinisikan GF = sebuah gerakan yg dilakukan oleh kaum kuffar (orang kafir, orang di luar Islam) sebagai upaya untuk menyerang Islam dengan menghancurkan pikiran umat. Tindakan-tindakan yg dilakukan berupa: &#8211; Tasywih = memalsukan ajaran Islam &#8211; Tadhlil = menyesatkan umat Islam &#8211; Tasykik = menebarkan keraguan terhadap ajaran Islam Ketiga tindakan ini dilakukan tidak lain untuk memadamkan cahaya agama Islam. Beberapa tindakan nyata yg telah mereka lakukan dan propagandakan: &#8211; Tidak mau menerapkan syariat (hukum) Islam, dg berbagai alasan. Semestinya mereka membaca dulu apa itu syariat Islam. &#8211; Al Qur’an = kitab porno &#8211; Jilbab = budaya Arab Jika kita perhatikan, kemunduran umat Islam terjadi karena faktor-faktor berikut: &#8211; Pertentangan politik. Gontok2an sesama pemimpin Islam mengakibatkan politik diambil alih/dikuasai oleh non Islam. Ujung2nya, umat Islam menderita (lagi). &#8211; Pertentangan mazhab akibat fanatisme (berlebihan), kebodohan (pengikut) dan hawa nafsu (pemimpin2nya). &#8211; Pengaruh agama2 terdahulu. Sebagai contoh, umat Islam di Indonesia begitu kental ‘warnanya’ (dalam cara beribadah) akibat pengaruh Hindu. &#8211; Serangan asing (non muslim), berupa gerakan militer dan perlawanan pemikiran. GF dilakukan oleh orang2 kafir dengan tujuan: &#8211; menghambat kemajuan umat Islam. Umat Islam cukup jadi pengekor barat…jangan sampai jadi pemimpin (dunia). &#8211; menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah. &#8211; mengeluarkan umat Islam dari ajaran Islam (yg telah dipelajarinya). &#8211; (upaya terakhir adalah) membuat murtad kaum Islam (umat Islam keluar dari agama Islam). Fenomena terbaru GF adalah: 1. Pemalsuan Islam, dilakukan dg cara: &#8211; memalsukan Al Qur’an. Artikel lain ada di sini. &#8211; memalsukan As Sunnah (termasuk di dalamnya hadits2) &#8211; memalsukan pribadi Rasululloh SAW (termasuk dg menghina, melecehkan, membuat gambar kartun/karikatur Rasululloh SAW) &#8211; memalsukan sejarah Islam (dg mengabaikan ilmuwan2 Islam atau mengaburkan fakta2) &#8211; memalsukan sistem kehidupan Islam (tidak mementingkan syariat Islam) 2. Pembaratan Islam (mengajak kaum Muslim bergaya hidup seperti orang barat) &#8211; penetapan dan perubahan kurikulum pendidikan &#8211; penyebaran kehidupan sosial ala barat Sendi-sendi yang menjadi akar GF: &#8211; Zionisme &#8211; Kristenisasi &#8211; Kolonialisme (bekerjasama dg zionisme, kristenisasi, orientalisme) GF menggunakan beberapa sarana berikut sebagai upaya untuk menyebarluaskan paham mereka: &#8211; Pendidikan &#8211; Sosial &#8211; Media cetak dan elektronik &#8211; Pusat kebudayaan &#8211; (masih banyak lagi sarana2 lain) GF juga menggunakan: &#8211; Demokrasi &#8211; Komunisme + sosialisme &#8211; Nasionalisme &#8211; Kesetaraan gender sebagai tameng dan isu untuk menjatuhkan ajaran Islam. Bagaimana cara menangkal GF? Banyak cara untuk menangkal dan ‘memukul balik’ GF ini, diantaranya: 1. Mencari alternatif pendidikan, pemikiran, ekonomi, dst, yg sesuai dg ajaran Islam 2. Memberi pengetahuan ttg GF, sehingga umat Islam tidak terkecoh 3. Para penulis Muslim perlu melakukan counter (serangan balik) terhadap tulisan2 yg menyerang Islam. Salah satu penulis yg cukup getol melakukan counter adalah Adian Husaini, beberapa artikelnya pernah aku muat di sini. 4. Mengingatkan lembaga pendidikan + lembaga dakwah Islam agar mewaspadai terhadap pemikiran yg sesat 5. (bagi yg merasa ilmunya tidak cukup memadai) Menjauhi pengaruh GF. Bagi yg ilmunya dirasa mumpuni, justru HARUS banyak mengenal GF, agar bisa melakukan counter (lihat poin 3). Umat Islam sendiri hendaknya: 1. Hanya mengerjakan yg bermanfaat (dunia-akhirat) 2. Mencoba kembali kepada ALLOH SWT (apabila tertimpa musibah, dst) 3. Jangan minder. Yakinlah bahwa kita setara dg orang2 barat…tapi tentunya tidak sekedar ucapan belaka 4. Jika ada musibah, jangan cari kambing hitam…tapi hendaklah berserah pada ALLOH SWT. Pandang optimis ke masa depan, jangan terpaku ke masa lalu. http://tausyiah275.blogsome.com/2006/06/30/ghazwul-fikri-perang-pemikiran/ Perang Pemikiran Istilah “ghazwul fikri” sangat populer di kalangan kelompok pergerakan Islam. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti “perang pemikiran.” Tak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya. Karya-karya Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Said Hawwa, dan para ideolog Ikhwanul Muslimin kerap menggunakan istilah ini dengan semangat “perang salib.” Para pengguna istilah ini meyakini bahwa pemikiran-pemikiran yang datang dari Barat cenderung bersifat menyerang dan memberikan dampak buruk bagi kaum Muslim. Pemikiran-pemikiran itu dapat meracuni dan menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam. “Karenanya,” tulis Muhammad Qutb, “perang pemikiran lebih berbahaya daripada perang fisik.” Mereka juga meyakini adanya “teori pengaruh.” Yakni bila orang-orang Islam banyak membaca karya-karya orang Barat dan kaum orientalis, maka ia telah terpengaruh dan terperangkap dalam jaring Zionisme dan Salibis. Saya kira, “ghazwul fikri,” “teori pengaruh,” atau apapun namanya, haruslah dipandang dengan kritis. Karena setiap pemikiran, apapun dan dari manapun sumbernya, adalah sebuah bentuk “peperangan” dan pasti punya pengaruh terhadap seseorang yang menggelutinya. Tidak ada dalam sejarah, kaum Muslim yang mengkaji dan menggeluti pemikiran Barat, menjadi perusak di muka bumi ini. Malah sebaliknya, mereka menjadi para pembaru yang namanya tercatat harum dalam sejarah pemikiran Islam modern. Sebutlah Rif’at Tahtawi, Muhammad Abduh, Al-Kawakibi, Taha Hussein, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr, Hassan Hanafi, dan Nurcholish Madjid. Mereka semua dianggap para pembaru yang punya kontribusi besar bagi pemikiran Islam. Tapi sebaliknya, bagi orang-orang yang membaca karya-karya para pendukung “ghazwul fikri” dan teori pengaruh, telah jelas-jelas pernah melakukan perusakan dan kekerasan di muka bumi ini. Contohnya saja Usamah bin Laden dan ke-19 teroris yang meledakkan gedung WTC pada 9 September 2001. Orang-orang ini akrab dengan buku-buku Sayyid Qutb. Dalam sebuah wawancaranya jauh sebelum peristiwa 9/11, Usamah mengakui bahwa Fi Dhilal al-Qur’an karya Sayyid Qutb adalah buku yang paling berpengaruh dalam dirinya. Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim sekarang adalah melawan pemikiran-pemikiran simplistis dan bodoh, yang kerap mengajak umat Islam terus-menerus mencurigai, membenci, dan mencaci “musuh” mereka, padahal musuh sesungguhnya adalah diri mereka sendiri. Sudah saatnya kaum Muslim berpikir positif, terbuka, kritis, dan berani mengambil posisinya sendiri tanpa dikuasai oleh pemikiran-pemikiran otoriter yang mengatasnamakan agama. Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim adalah melawan pemikiran-pemikiran rasis, tak toleran, dan selalu membenci kelompok lain. Sebagian pemikiran-pemikiran itu adalah warisan dari masa silam, dan sebagian lainnya adalah ciptaan mereka sendiri karena mengidap sizofrenia anti-Barat dan orientalisme. http://www.assyaukanie.com/articles/perang-pemikiran Ghazwul Fikri Senin, 02 Agustus 04 Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan &#8220;Perang Pemikiran&#8221;. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai. Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, &#8220;Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, &#8220;Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur&#8217;an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur&#8217;an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” Dalam konteks ini, al-Qur&#8217;an mengatakan, artinya, &#8220;Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka.&#8221; (QS.Faathir : 6). Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An&#8217;aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da&#8217;wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam &#8216;tangan&#8217; mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional. Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup. Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. &#8216;Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada. Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam. Al-Qur&#8217;an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda&#8217;wahi ratu negeri Saba&#8217; melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da&#8217;wah sederhana antara Nabi Sulaiman &#8216;alaihis salam dengan ratu Saba&#8217; ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda&#8217;wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini. Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da&#8217;i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu&#8217;min serta melecehkan al-Qur&#8217;an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na&#8217;udzu billaah min dzaalik! Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau &#8216;aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana. Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara. Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya &#8216;tokoh&#8217; Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na&#8217;udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda&#8217;wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin (M.Hanafi Maksum) http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&amp;id=290 TAHAP-TAHAP AL GHAZWUL FIKRI Tidak dapat diterima dengan mudah jika ada orang mengatakan keujudan imprialis dan pengaruh barat di dunia Islam sebagai kebetulan. Keujudan ini telah didorong oleh sebab-sebab tertentu. Ia bermula dari keujudan ketenteraan, keujudan ala Istishraq ( bercambahnya usaha mengasaskan bahagian kajian ketimuran ) , lantas keujudan missionary. Kemudian berulang semula keujudan tentera di negara Islam ( dengan penaklukkan dan usaha-usaha menghancurkan sistem khilafah Islamiah yang berpusat di Turkey ). Kemudian penaburan faham yang memisah agama dari negara ( secularisme ). Selepas itu disebar luaskan pula faham kebangsaan. Diikuti dengan usaha terakhir melebur musnahkan sistem Khilafah Islamiah. Penjajah tidak cukup dengan usaha yang demikian sahaja, tetapi malah ditinggalkan pula golongan-golongan penjajah dari kaym peribumi itu sendiri yang dimandatkan untuk memainkan peranan merubah seluruh tatacara hidup, nilai akhlak dan sistem pemerintahan serta sosial umat kearah yang diredhai oleh tuan-tuan mereka; kaum penjajah. Peringkat atau priode ini, atau apa yang dinamakan orang sebagai Al Ghazwul terbahagi kepada tiga. 1. Peringkat sebelum kejatuhan Khilafah Islamiah. 2. Peringkat pengganyangan sistem khilafah. 3. peringkat setelah Runtuhnya Negara Khilafah. i. Peringkat sebelum kejatuhan Khilafah Islamiah i. Perang Salib Ada pihak yang mengatakan bahwa motif asas beerlakunya perang salib ialah kerana hasrat mencari sumber kekayaan ekonomi. Tetapi dari penelitian sejarah ternyata andaian itu meleset. Yang mendorong orang-orang kristian melancarkan perang salib adalah perasaan fanatik terhadap agama mereka dan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap Islam dan pengikutnya. Mengikut Lorthop Stodard orang yang mula-mula menyeru supaya dilancarkan perang salib ialah Pope Salvester V tahun 1002 M, Tetapi saruannya tidak mendapat sahutan. Selepas itu ialah Pope Grigorious tahun 1075 M. Dalam buku sejarah Pope oleh Ferdenand Haifward menerangkan bagaimana golongan Pope Dan pendeta kristian ini berusaha mengapi-apikan raja-raja Eropah agar melancarkan perang suci ( menurut mereka ) terhadap orang Islam . Akhirnya pada tahun 1097 bermulalah peperangan salib. Satu demi satu serangan dilancarkan. Tiap serangan menghadapi serangan balas yang sengit dan seru dari pejuang-pejuang Islam. Kalah menang silih berganti dibeberapa kawasan. Tapi kekalahan Luis Raja Perancis yang memimpin arus serangan salib yang ke lapan di Manshurah, Mesir membawa banyak perubahan dalam taktik menyarang negara-negara Islam. Luis telah menebus dirinya dari tawanan dengan bayaran yang cukup mahal. Sekembalinya dari tawanan beliau berkesimpulan bahawa amat sukar sekali untuk menang dalam pertarungan menghadapi Islam dan umatnya secara fizikal. Roh jihad yang dipancarkan oleh ajaran Al-Quran begitu hebat melahirkan keberanian, kecekalan dan kepahlawanan yang sukar ditandingi. Akidah Islam yang menjadi base yang pejal terhadap tentera islam itu amat bahaya. Sebab itu mesti dicari jalan lain. Jalan yang menghancurkan base itu. Jalan itu ialah dengan Al ghazwul Fikri. ii. Peringkat Istishraq Orang-orang Eropah haruslah mengkaji segenap aspek tamadun Islam; aspek akidah dan syariahnya. Kemudian pengetahuan itu digunakan sebaik-baiknya menghancurkan umat Islam itu sendiri dengan memadamkan roh jihad dan cinta syahid. Berikutan dengan itu lahirlah penulis-penulis dari Barat yang menghuraikan analisa-analisa mengelirikan tentang Islam dengan lebel ilmiah. Quran buatan Muhammad. Sahabat-sahabatnya yang mudah tertipu telah menerimanya sebagi wahyu Tuhan. Baik Quran atau Qias telah dianggap sama sahaja statusnya dan dicampur baurkan atas dasar ianya ciotaan insan. Ajakan supaya mengamalkan tasawur Islam dalam bentuk dan cara yang tidak sihat dilaungkan untuk dapat memalingkan umat dari jihad dalam seluruh menifestasinya. Kajian-kajian ketimuran ( Istishraq ) bermula di Sepanyol dalam kurun ke lapan hijrah. Alfons, raja Qishtale meminta jasa baik Maichial Scot untuk memikul tanggungjawab ini. Michail Scot pun mengumpulkan beberapa orang pendita Nasrani untuk menterjemahkan beberapa kitab bahasa Arab ke bahasa Perancis. Kian lama usaha ini semakin luas skopnya sehingga diterjemahkan kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Bahkan dalam zaman mula dicipta mesin cetak ada diperuntukkan mesin cetak Arab untuk mencetak buku-buku Arab yang menjadi teks book di pusat-pusat Pengajian Tinggi Eropah. Golongan-golongan musuh Islam telah berjaya sedikit sebanyak mengelirukan akidah Islam, melumpuhkan semangat jihad dengan memisahkan secara negetif antara akidah dan perlaksanaan syariah, antara kerohanian Islam dan kebatinan jahiliah. Mereka bekerja keras untuk menggambarkan bahawa Islam itu suatu agama yang fokusnya sama seperti kristian iaitu untuk ibadah dalam erti sempit. Akhirnya tersebar luaslah faham memisahkan agama daru negara atau pemerintahan secularisme. Bagi mereka Islam yang tulen dan lengkap menjadikan umatnya mempunyai &#8216;sosial political power&#8217; dan menghalang kerja-kerja penjajah . Sebab itu Islam harus ditetas atau digelapkan sebahagiannya seberapa dapat. Tulisan para orientalis di zaman itu dan mungkin juga sekarang bukan hanya untuk menyerang orang-orang islam tetapi juga untuk menjadi benteng tahanan agar orang barat itu sendiri tidak dapat melihat Islam sebagaimana hakikatnya. Sebab gambaran baik yang dibawa oleh sebahagian tentera salib yang kembali dari medan perang tenteng Islam dan umatnya telah menarik beberapa kalangan memeluk Islam. Pada awal kurun ke tiga belas hijrah kajian ketimuran cuba membayangkan sikap objektifnya dan mendakwa bahawa kajian-kajianya bersandarkan Scientific Mathod dan demi ilmu semata-mata. Dikota-kota Eropah mula dibuka department bahasa-bahasa Timur, Arab, Parsi, Turkey, Urdu, Melayu dan seteruanya. Tujuan utamanya ialah untuk melahirkan pakar-pakar hal ehwal keislaman untuk membantu penjajah memainkan peranannya memaju dan memakmurkan negara-negara itu dengan dengan menghisap kekeyaannya. Kemudian anak-anak jajahan berduyun-duyun datang mempelajari ilmu-ilmu yang diajar oleh pakar-pakar mereka lalu meninggalkan kesan pemikiran yang buruk. Dari pusat-pusat kajian ketimuran ini orientalis barat dapat masuk menyelinap ke pusat-pusat pengajian tinggi Islam yang penting. Kajian ketimuran juga bertujuan menyokong serta membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. Di samping memisahkan umat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Ini akan menimbulkan rasa menyerah kalah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat. Banyak dari golongan yang terpelajar dan setengah terpelajar dari anak peribumi yang telah menjadi mangsa Ghazwul Fikri ini. Kalau di Mesir boleh kita sebutkan seperti Taha Husin, Kasim Amin pelopor women, lib, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan seterusnya. Golongan-golongan ini telah menelan mentah-mentah method orientalis dan meniru segenap perasaan dan laku guru mereka. Sikap mereka ketara benar bertentangan dengan Islam dan adab Islamiah. Penentangan pena dengan fikiran mereka terhadap golongan cendiakawan seagama dan sebangsa lebih ganas dan panas dari orientalis itu sendiri. Ringkasnya orientalis telah memainkan peranan dan menghasilkan kesan berikut:- 1. Hampir setiap isu besar yang mengelirukan dan boleh memalingkan umat dari ajaran Islam yang lurus pasti di belakangnya ada bercokol orang-orang tersebut. Golongan orientalis itu kadangkala melemparkan isu tertentu lalu disambut oleh anak didik mereka dan penulis-penulis yang yang telah diibaratkan fikiran dan menjadi pengikut setia mereka. Seruan mempopularkan penggunaan bahasa Arab pasaran umpamanya telah ditaja oleh Willmor dan disambut oleh Selamah Musa dan Ahmad Luthfi Sayyid. Seruan kedaerahan atau kebangsaan sempit yang ditaja oleh Cromer disambut oleh Thaha Husin dan sebagainya. 2. Melentur teks-teks authentic mengikut kemahuan fikiran yang dipimpin oleh nafsu mereka. Mereka sewenang-wenangnya menolak atau menerima teks-teks yang mereka senangi. kadangkala mereka menyalah ertikan dan menyelewengkan teks-teks nukilan itu sendiri. 3. Sumber rujukan, mereka olah dan ambil ikut suka. Untuk mencari kepastian tentang sejarah Hadis Nabi mereka rujuk kepada buku rujukan kesusasteraan. Untuk mencari tentang kepastian dalam soal tarikh fiqh mereka merujuk kitab sejarah. Mereka menerima bulat tulisan Addumairi dalam kitabnya &#8220;Al Hayawan&#8221; dan menolak riwayat Imam Malik dalam kitabnya &#8220;Al muwaththa&#8221;. 4. Beberapa kekaburan mereka jalin dan kaitkan sehingga seolah suatu gambaran lenkap tentang sesuatu yang dianggap benar seperti yang dibuat oleh seorang orientalis German, apabila ia mencetak kitab &#8220;Ariddah&#8221; secara demikian. Kemudian ia mendakwa bahawa buku itu adalah karya Al Hafiz Ibnu Hajar. 5. Para orientalis menunjul-nunjulkan dalam tulisan mereka tentang kebaikan, kejujuran golongan . Sedangkan golongan itu bukan sahaja tidak dapat membuktikan dakwaan itu semasa mereka memegang kuasa pada kurun ke empat hijrah bahkan sudah jelas dan ketara tembeleng mereka menjadi alat golongan anti Islam, alat Yahudi, bersama-sama dengan yahudi tersebut menghancurkan negara Islam. 6. Mereka berusaha menghidupkan semula pusaka kebatinan majusi dan hindu untuk mencemarkan kemurnian agama Islam. Ini jelas dapat dikesan bila kita melihat usaha mereka yang gigih mentahqiq Makhthuthat lama tentang aliran-aliran itu yang mengandungi unsur ilhad, ibahiah, wehdatu wujud,hulul dan kitab-kitab syair yang liar. 7. Kesan yang paling bahaya ditinggalkan oleh mereka ialah kecenderongan menganggap karangan dan kajian orientalis itu sebagai bahan rujukan asa dalam bidang sejarah, bahasa, sirah, fiqh, akidah dan sebagainya. Mereka telah menghasilkan karya-karya rujukan yang mengandungi pengeliruan dan pengkaburan seperti&#8221;Dasiratul Ma&#8217;aruf Al Islamiah , Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu&#8217;ah&#8217;Arabiah Al &#8216;Muyassarah. Sebab itu pengkaji muslim yang menggunakan sumber-sumber ini haruslah teliti dan hati-hati. Di samping orientalis yang berniat buruk ada juga orientalis yang agak objektif yang memberikan penghargaan yang tinggi kepada Islam dan ajarannya, seperti Thomas Carlil, Tolostoy dan lain-lain. iii. Utusan Mubaligh Atau Missionary Kristian Gerakan missionary kristian di samping menjalankan pendekatan secara peribadi juga mengambil langkah berikut:- 1. Membuka institut dan sekolah-sekolah Convent di seluruh negara Islam termasuk negara Khilafah Islamiah sendiri. Sekolah-sekolah tersebut mengasuh anak dan jenerasi baru umat Islam mengikut secara tersendiri. Jika ia gagal memesongkan akidah anak itu maka cukuplah ia telah dapat menanamkan benih prasangka dan ragu terhadap beberapa aspek agama mereka. 2. Biasiswa yang diperuntukan untuk anak-anak jajahan melanjutkan pelajaran mereka di barat telah digunakan juga untuk membentuk perwatakan anak-anak itu sebagaimana yang mereka kehendaki. Contoh yang cukup terang ialah seperti yang telah terjadi kepada Ra&#8217;faah Thahthawi dan banyak lagi yang lain-lain. 3. Usaha-usaha kebajikan yang disadurkan dengan pengaruh dan dakwah kristian seperi hospital, pertolongan cemas dan lain-lain. 4. Ceramah-ceramah agama, buku-buku, majalah, akhbar dan siaran berkala juga menjadi salah satu cara mengembangkan faham dan sudut pandangan kristian. 5. Beberapa siri konggeris ketua-ketua pengembang agama kristian telah diadakan juga. Tidak banyak yang diketahui tentang resolusi konggeris-konggeris kristian itu. Sedikit sekali butir-butir yang sampai ke pengetahuan kita. Tapi dalam satu pertemuan yang diadakan di dalam rumah salah seorang pemimpin Mesir Ahmad &#8216;Urabi konggeris telah membincangkan:- 1. cara-cara mengkristiankan orang-orang Islam. 2. Menimbulkan kemusykilan luasnya peluang belajar untuk semua orang ( di Mesir ) Azhar mempunyai harta wakaf yang banyak. Ini membolehkan pengajian bebas dari yuran atau apa bayaran. Untuk menghadapi gejala ini sekreteriat konggeris telah mengesyorkan agar didirikan satu institut agama kristian untuk mengkristian anak-anak kaum muslimin tempatan. Pendita Zuwaimee menyarankan perlunya kristian dikembangkan oleh anak bangsa itu sendiri atau dari kalangan mereka kerana pohon itu patutlah ditetas oleh salah satu dari rumpunnya juga. Pada akhirnya para peserta konggeris optimis akan mendapat kejayaan kerana tanda-tanda menunjukkan bahawa orang-orang Islam telah begitu kagum dan terpesona menghirup ilmi-ilmu barat tanpa reservation. Mereka semakin cenderong melepas bebaskan wanita-wanita mereka untuk bersosial. Dalam konggeris yang diadakan di Lucknow India tahun 1329 H/1911 M, antara lain ketetapannya ialah sebagai berikut :- &#8220;Perlu dan mendesak sekali diwujudkan sekolah yang khusus untuk tujuan missionary di Mesir&#8221;. &#8220;Perlunya golongan wanita disertakan dalam usaha mengkristiankan wanita-wanita Islam dan anak-anak mereka&#8221;. Usaha-usaha mereka kini tidak lagi terpusat kepada mengajak orang-orang Islam memeluk agama kristian tetapi malah cuba mencacatkan Islam dan mengurangkan nilainya di mata ramai. iv. Usaha-usaha Merobohkan Negara Khilafah Gerakan missionary telah berjaya sedikit sebanyak menimbulkan kerosakan jiwa dan kekeliruan fikiran. Tetapi itupun belum cukup. Harus ditokok dengan pukulan ketenteraan dan politik. Dua negara besar ketika itu berbakat untuk membolot daerah-daerah di bawah kekuasaan kerajaan khilafah Islamiah Turkey. Di pertengahan kurun ke sembilan belas ( 1875 M ) bersamaan tahun 1274 Hijrah Inggeris berjaya menjajah India maka kekuasaan berpindah daripada milik syarikat India Timur kepada kerajaan Inggeris. Dengan nemikian tamatlah riwayat salah satu kerajaan terbesar Islam yang lahir di awal kurun ke enam belas. Iaitu kerajaan Moghol atau Taimuriah. Dalam tahun yang sama tentera Perancis merempuh masuk ke Sahara Barat Utara Afrika menawan Al Jeria pada tahun 1630 M/1246 H. Berikutan dengan itu Inggeris berjaya menduduki Mesir, iaitu pada tahun 1882/1300. Syria dan Lebanon dapat dikuasai oleh Perancis selepas Perang Dunia Pertama tahun 1920/1338. Di samping armada-armada bersenjata dibawa bersama sebuah kapal yang sarat berisi pelacur. Apabila kapten kapal tersebut ditanya, beliau menjawab dengan licik; Armada-armada bersenjata itu mungkin akan hilang kesannya. Adapun armada jenis ini maka kesannya tidak akan hilang sama sekali. ii.Peringkat Pengganyangan Sistem Khilafah Peringkat ini di dahului dengan didirikan negara Yahudi di Palestin. Tetapi sebelum itu umat Islam harus dibius dengan faham Secularisme. Fahaman yang memisahkan agama dari urusan dan pentadbiran negara. Membenamkan ayat-ayat yang jelas memerintahkan kaum muslimin supaya memerintah dengan sistem perundangan Islam, sistem politik Islam, sistem ekonomi Islam dan seterusnya. Posted by Yudhi http://yudhim.blogspot.com/2008/01/tahap-tahap-al-ghazwul-fikri.html Ghazwul Fikri di Pelupuk Mata Dec 11, &#8217;07 12:15 AM untuk semuanya assalaamu’alaikum wr. wb. Kuman di seberang lautan jelas kelihatan. Ghazwul fikri di pelupuk mata, kelihatan nggak ya? Sungguh sangat memalukan jika sekarang ini ada Muslim yang menganggap dirinya tidak sedang dikepung oleh kekuatan-kekuatan yang hendak melumatkan Islam di seluruh muka bumi ini. Yang hendak dimusnahkan bukan populasi manusianya, melainkan aqidah-nya. Tanda-tandanya sudah terlalu jelas kelihatan. Di Poso, umat Islam dibantai habis. Ada yang diikat, kemudian disiksa sampai mati. Ada juga yang ‘lebih beruntung’ sehingga langsung dibunuh setelah ditangkap. Setelah serangkaian tragedi yang demikian menyedihkan itu, kini pemerintah malah asyik mengobrak-abrik pesantren-pesantren yang diduga sebagai ‘sarang ekstremis’. Hal yang sama juga pernah terjadi di Maluku dengan modus operandi kurang lebih sama. Dibantai, dibiarkan, dibekuk dan dilucuti ketika melakukan perlawanan, setelah itu diberi cap ekstremis. Mungkin banyak yang lupa bahwa “ekstremis” adalah sebutan yang diberikan pemerintah kolonial Belanda dahulu kala kepada para pejuang kemerdekaan dan pembela kebenaran di negeri ini. Barat habis-habisan mengucurkan dana untuk membiayai mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ingin belajar Islam kepada dosen-dosen Yahudi dan Nasrani. Jangan heran, karena beginilah kenyataannya. Semua orang akan tertawa melihat lulusan SMA berbaris mendaftarkan diri untuk belajar kedokteran kepada masinis kereta, tapi entah mengapa program studi Islam yang dikelola oleh umat Non-Muslim tidak dianggap menggelikan. Hasilnya cukup mengagumkan. Nurcholis Madjid berangkat ke Chicago dengan gelar ‘Natsir Muda’, dan pulang dengan ideologi sekuler murni, bahkan banyak pula yang menganggapnya telah murtad mutlak, sehingga ia dianggap lebih pantas mendapatkan gelar ‘mendiang’ daripada ‘almarhum’. Kucuran dana dari negeri-negeri Barat untuk ikut campur dalam urusan umat Islam memang seolah tak ada habis-habisnya. Ulil Abshar Abdalla tak malu-malu mengakui bahwa JIL menerima dana begitu banyak setiap tahunnya dari The Asia Foundation dan donatur-donatur lainnya. Dengan dana yang kuat, mereka mampu mencengkeram beberapa siaran radio untuk menyebarkan propagandanya, mencetak majalah Syir’ah, bahkan hegemoninya nampak jelas terlihat pada MetroTV yang akhir-akhir ini lebih rajin menyuarakan ‘voice of America’ daripada suara bangsanya sendiri. Jauh dari hari raya umat Kristiani, disiarkanlah film-film para Nabi dengan konsep yang sangat rancu. Entah dalam rangka apa, tiba-tiba film tentang Abraham dan Noah disiarkan di televisi. Tidak ada penjelasan yang memadai untuk menerangkan kepada masyarakat awam bahwa kedua film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Nuh as. dalam ajaran Islam. Kebetulan? Kelihatannya tidak. Muncullah aliran sesat, dan untuk segala hal yang sesat, kaum liberalis pasang badan untuk membelanya. Mereka buat opini seolah-olah MUI telah memprovokasi warga untuk main hakim sendiri, seolah-olah ulama di negeri ini jumud semuanya, dan seolah-olah aliran-aliran sesat itu tidak berdosa sama sekali. Disembunyikanlah fakta-fakta mengerikan dari publik. Tidak ada diantara mereka yang membahas betapa kejinya cara aliran-aliran sesat itu mengumpulkan dana, yaitu dengan merampok dari siapa pun yang dianggapnya kafir. Masyarakat diarahkan untuk lupa bahwa aliran-aliran sesat itulah yang telah duluan menuduh orang lain sebagai kafir, bukan sebaliknya. Orang-orang yang mengikuti ulama pasti menjadi anak-anak yang baik, sedangkan para pengikut aliran sesat dijamin durhaka. Ini adalah rumus yang pasti dan terbukti secara empiris, namun tak pernah dibahas oleh orang-orang liberalis, termasuk dalam dialog-dialog yang disiarkan di televisi. Ketidakjujuran adalah prosedur standar bagi mereka. Charles Kurzman mencatut nama Mohammad Natsir dan Yusuf al-Qaradhawi, Cak Nur mencatut nama Ibnu Taimiyah, Jalaluddin Rahmat mencatut nama Rasyid Ridha, Ulil Abshar Abdalla mencatut nama Al-Ghazali dan beberapa ulama lainnya, dan seterusnya. Operasi spionase pun mereka lakukan dengan cukup rapi. Abdul Munir Mulkhan dan Dawam Rahardjo dulu rajin sekali bicara dengan mencatut nama Muhammadiyah, sebagaimana Masdar F. Mas’udi dan Ulil pun sering menggunakan nama NU. Pada jamannya Syafii Maarif, berdirilah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang kentara benar kedekatannya dengan JIL, namun alhamdulillaah ujung-ujungnya tidak diakui oleh Muhammadiyah sendiri. Tempo hari, diadakan acara tahunan konferensi studi Islam di Riau. Lucunya, pembicara utamanya nyaris tak ada yang Muslim. Yang ada malah Nasr Hamid Abu Zayd, yang telah divonis murtad oleh lebih dari dua ribu ulama di Mesir. Orang yang satu ini bisa dianggap ‘nabi’ di kalangan liberalis, bahkan lebih. Orang-orang liberalis telah terbiasa mengkritisi (bahkan mencurigai) Rasulullah saw., namun tak pernah terdengar kabar yang menyebutkan bahwa mereka mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd. Tokoh ‘ajaib’ yang satu ini adalah penyebar hermeneutika di kalangan umat Islam, anti-syariat Islam, anti Imam Syafii, dan konon pernah mengecap ‘masa-masa indah’ dengan kaum homoseksual di AS (hal ini diucapkannya sendiri dalam buku memoarnya, namun tak pernah ada penjelasan mengenai ‘masa-masa indah’ tersebut). Dengan kuasa Allah, para ulama cepat bertindak. Kedatangan Nasr Hamid Abu Zayd segera dilaporkan ke kepolisian, dan masalah hermeneutika serta berbagai pelecehan yang telah dilakukan Abu Zayd terhadap ajaran Islam diperesentasikan. Alhamdulillaah, kepolisian yang mayoritas Muslim pun tergerak hatinya dan akhirnya melarang kehadiran sang penghina Al-Qur’an ke konferensi tersebut. Abu Zayd pun beralih ke Malang. Di Malang, para ulama pun bertindak sigap. Berita disebar, dan masyarakat merespon balik. Lagi-lagi Abu Zayd ditolak. Maka ia pun mencari tempat yang paling aman bagi para pembenci syariat, yaitu The Wahid Institute. Dengan berlindung di balik Gus Dur, ia pun bebas berbicara begini-begitu. Langkah-langkahnya ini – termasuk pelariannya ke The Wahid Institute – sudah dapat diprediksi sejak lama. Belum lama ini, salah satu organisasi kaum liberalis yang diberi nama LibForAll (dari namanya Anda bisa langsung menebak misinya) mengadakan acara kunjungan ke pemerintahan Zionis. Mereka beramah tamah dengan sangat mesranya dengan Shimon Peres dan para pembantai lainnya. Seperti biasanya, mereka catut nama Muhammadiyah dan NU. Syafiq Mughni mereka sebut-sebut sebagai cendekiawan Muslim dari Muhammadiyah, sedangkan Abdul A’la disebut-sebut sebagai wakil dari NU. Selain bermesra-mesraan dengan Shimon Peres dan para penjahat perang lainnya, mereka pun berpartisipasi dalam perayaan Hanukkah (salah satu perayaan umat Yahudi) dan ikut menari-nari bersama mereka. Mereka ini hendak meneruskan para pendahulu mereka yang tahun 1994 dahulu telah lebih dulu mampir untuk bermesraan dengan para pembesar Zionis. Para pendahulu mereka itu cukup dikenal kedekatannya dengan pola pikir Zionis, yaitu Gus Dur, Habib Chirzin, dan Djohan Effendi. Din Syamsuddin selaku Ketua PP Muhammadiyah kemudian menyangkal keberangkatan Syafiq Mughni sebagai wakil Muhammadiyah, dan PBNU pun menyangkal status Abdul A’la sebagai wakil NU. Kedua ormas besar itu nampaknya juga cukup terguncang dengan kemesraan yang dipertontonkan oleh kader-kadernya dengan pihak Zionis. Sekarang, di milis-milis dan via SMS juga tersebar berita akan adanya acara kristenisasi masal di sejumlah stasiun televisi swasta pada tanggal 15 Desember 2007. Masihkah ada alasan untuk mengatakan bahwa ghazwul fikri itu jauh di seberang lautan? Tentang Ghazwul Fikri secara umum : • Gus Dur Ajak Bela Holocaust • Orientalis, Penasehat Penjajahan di Negara Muslim • Faham Liberal Masih &#8220;Bercokol&#8221; di NU • Matikan TV Pada Sabtu, 15 Desember 2007 Sore ! • &#8220;Al-Qur&#8217;an Edisi Kritis&#8221; • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Pertama) • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Kedua) • Mengikis Gulma Liberalisme dari Tradisi Islam (Bagian Ketiga) Tentang Aliran Sesat : • Mengimani Nabi Palsu • Membedah Anatomi Aliran Sesat • &#8220;Al-Qiyadah Islamiyah dan Kaum Liberal&#8221; • Fatwa MUI dan Pandangan Fuqaha Tentang Nabi Palsu • Fatwa MUI untuk Luruskan Penyimpangan • &#8220;Penyesatan&#8221; Fatwa Sesat • Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel • Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel [2] • Yang Sembrono dari Ulil Abshar Tentang Nasr Hamid Abu Zayd : • Al-Qur&#8217;an Dihujat • Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd, Pengusung Tafsir Hermeneutika • &#8220;Abu Zayd Ditolak Umat Islam Riau&#8221; • MUI Riau Tolak Kehadiran Nasr Abu Zayd • MUI Jatim : Sudah Benar Abu Zayd Ditolak ! • Nasr Hamid Batal Hadir di Malang • Martin Bruinessen : Di MUI Masuk juga Kelompok Keras • KH Kholil Ridwan &#8220;Nasr Hamid Masuk dalam Jaringan ‘Anti Islam’ Internasional&#8221; • &#8220;Abu Zayd pun Gagal ke Malang&#8221; • Liberalisasi Studi Islam dan Agenda Barat Tentang LibForAll dan Shimon Peres : • Mereka Membawa Aspirasi Zionis • Cendekiawan Muslim Indonesia Menari dengan Zionis Israel • Sekjen KISPA: Usut Mereka yang Dukung Zionis Mengatasnamakan Indonesia • NU dan Muhammadiyah Tolak Klaim Sepihak Anggota LibForAll yang ke Israel • Lima Anggota LibForAll Indonesia Temui Shimon Peres di Yerusalem wassalaamu’alaikum wr. wb. http://akmal.multiply.com/journal/item/637/Ghazwul_Fikri_di_Pelupuk_Mata perang pemikiran Konspirasi Kristen dengan Yahudi Menghancurkan Islam Berkali-kali mereka bersekongkol, hingga kini. Makin canggih dan licik. oleh Cholis Akbar* &#8220;Mengapa Islam kerap menghadapi banyak cobaan dan serangan dari musuh yang tiada henti-hentinya? Tapi mengapa pula Islam selalu terjaga dari segala cobaan dibanding agama lain yang banyak berakhir dengan menyedihkan?&#8221; Mungkin jawaban kita bisa beragam. Ulama besar Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, menyimpulkan dua hal penting; Pertama, Islam memiliki kekuatan yang dinamis dan serasi dengan situasi zaman sehingga mampu memberikan alternatif terhadap segala persoalan. Kedua, karena Allah swt telah menjamin dan akan menjaga Islam dengan cara melahirkan kader dakwah yang tangguh. Karenanya, seberat apapun serangan yang ditujukan kepada Islam, ummat ini tidak akan pernah mengalami kekosongan mujadid (pejuang agama). Benar, sejak kehadirannya 1400 tahun lalu, agama ini telah mengalami serangkaian cobaan berat. Sejak awal, Islam selalu menghadapi serangan-serangan dari segala penjuru di mana agama lain tidak pernah menghadapinya. Menurut istilah Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, andaikata bukan Islam, belum tentu agama lain sanggup menghadapinya. Serangan dengan bentuk kekerasan fisik, kudeta, revolusi, sampai dengan bentuk upaya pencampuran ideologi oleh para konspirator untuk merusak Islam telah banyak dicobakan. Bahkan terus berlangsung hingga hari ini. Tahun 1917, dengan sangat tidak elegan kaum milisi Kristen bersekongkol dengan negara Barat dan Eropa mengeroyok Islam secara beramai-ramai untuk merebut kota Baitul Maqdis. Persekongkolan itu merupakan usaha yang kesekian kali, setelah selama kurang lebih 90 tahun selalu dipatahkan tentara Islam. Tidaklah heran, saat Baitul Maqdis jatuh atas konspirasi jahat, dengan bangganya Jenderal Gouron, seorang pemimpin panglima pasukan Perancis berteriak sambil menginjak-injak pusara pahlawan Islam dalam perang Salib, Salahuddin Al-Ayyubi. &#8220;Kami telah kembali, wahai Saladin&#8221;, ucapnya. &#8220;Dan sejak saat ini, Perang Salib (crusade) sudah selesai,&#8221; tambah Lord Allenby, komandan gabungan milisi pasukan sekutu Inggris, Perancis, Italia, Rumania dan Amerika. Itulah kekalahan Islam di Yerusalem atas konspirasi jahat kaum Kristen, bangsa Barat dan Eropa. Semenjak itu, Palestina dan Baitul Maqdis selalu menjadi obyek keserakahan sebagian negara Barat, Eropa dan Yahudi. Pernyataan Lord Allenby yang banyak menjadi headline koran-koran Inggris ketika itu memang telah menandai berakhirnya istilah Perang Salib (crusade). Tapi dalam kenyataannya, semangat Perang Salib terus menandai Kristen, bangsa Barat dan Eropa untuk melakukan penjajahan atas negeri-negeri lain di dunia ketiga. Utamanya negeri-negeri yang jelas mayoritas penduduknya Muslim. Seperti yang telah banyak ditorehkan dalam tinta sejarah, bagaimana missi Kristen masuk ke Nusantara pada abad 15-16 bersamaan dengan misi penjajah Eropa (Portugis) ke dunia Timur. Dengan jelas, missi penjajah itu selain melakukan ekspansi wilayah juga mengembangkan agama Kristen. Semboyannya yang terkenal yaitu &#8220;Tiga-G&#8221;: gold, glory, gospel (emas, kejayaan, missi Kristen). Sejarawan Dr Aqib Suminto dalam bukunya, &#8220;Politik Islam Hindia Belanda&#8221; menulis bahwa agama Kristen mulai diperkenalkan oleh para pelaut Portugis yang datang ke dunia Timur pada abad ke-16, sambil membawa semangat Perang Timur. Ekpansi itu dimulai oleh perserikatan dagang Belanda yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mencari rempah-rempah. Sambil berdagang, VOC tidak melupakan misi penyebaran agama Kristen dalam setiap ekspedisinya. Setelah berhasil mengatasi Katolik, pemerintah Belanda memusatkan perhatian menghadapi kelompok pribumi yang beragama Islam. Sebab, menurut Aqib Suminto, bagi Belanda penghalang utama kekuasaan kolonialnya adalah agama Islam dan pemeluknya. &#8220;Pidato tahunan raja bulan September 1901 —yang menggambarkan jiwa Kristen— menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggungjawab moral kepada rakyat Hindia Belanda, yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen,&#8221; tulis Aqib. Adalah ucapan yang menarik dari D&#8217;albuquerqe saat menduduki Malaka, &#8220;Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (sebutan untuk orang Muslim) dari negara ini dan memadamkan api sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini&#8221;. Ucapan ini mirip dengan pidato petinggi militer Spanyol, Figueroa di depan pasukannya saat menjajah wilayah Muslim Mindanao, &#8220;Kita berdiri di atas tanah bangsa Spanyol yang baru. Menaklukkan hutan yang gelap ini dan menguasai tanah kafir-Muslim adalah misi kita. Mereka menyerah sebagai budak dan murtad atau jatuh di bawah pedang bangsa Spanyol. Majulah untuk misi kita demi Raja dan Negara.&#8221; Missi Kristen, meski tidak menjadi prioritas utama —seperti halnya masa lalu— sering berjalan seiring dengan semangat penjajahan (kolonialisme). Gereja, Barat, dan bangsa Eropa tahu betul, hanya dengan mengganti agama Islam dengan agama lain, missi penjajahan bisa terlaksana di negeri-negeri Islam. Sebab Islam tak ubahnya sebuah keyakinan yang hanya melahirkan orang-orang kuat dengan kepatuhan agama. Tidaklah berlebihan bila mantan Perdana Menteri Inggris, yang sangat berkuasa di tahun 1882, Gladstone. Sambil membawa kopian al-Qur&#8217;an, penganut gereja Anglikan ini bicara di depan ratusan anggota Parlemen Inggris kala itu. &#8220;Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur&#8217;an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur&#8217;an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka,&#8221; ucapnya. Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya, termasuk terhadap Mesir. Menuju Perang Peradaban Interaksinya selama berabad-abad dengan peradaban Islam, penjajah tahu betul betapa Islam adalah agama yang memiliki peradaban modern. Ideologinya tidak hanya mampu mengungguli kekuatan militer Barat, namun juga mengungguli peradaban dan intelektualitas mereka sekaligus. Karena itu, ancaman peradaban Islam seperti ucapan jujur Prof Dr Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) adalah suatu yang rasional. Atas pengalaman berharga itu, penjajah kemudian mengganti strateginya. Strategi baru pasca Perang Salib itu adalah melalui jalan perang peradaban dan pemikiran (ghazwul fikri). Penjajahan berwajah baru ini tak kalah liciknya dengan penjajah konvensional. Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, dalam bukunya Asalibu Ghazwil Fikri lil `alamil Islami (Metode-metode Perang Pemikiran Terhadap Islam) mengatakan, salah satu tahapan penjajah pemikiran tersebut diantaranya adalah membangun pusat kajian-kaijan Ke-Islaman di Barat (Orientalisme). Lalu, menyebarkan missi Kristen dengan mengirim misionaris untuk menyingkirkan khilafah Islam di negeri-negeri muslim. Menurutnya, Kajian Ketimuran (orientalisme) itu bertujuan mendukung dan membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. &#8220;Kajian-kajian seperti itu secara disengaja untuk memisahkan ummat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Dan menimbulkan rasa menyerah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat.&#8221; Repotnya, kajian seperti itu telah melahirkan banyak tokoh dan bahkan dikagumi oleh pakar-pakar di dunia Islam sendiri. Di Mesir diantaranya muncul Taha Husin, Kasim Amin (pelopor women liberalism, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan banyak lagi. Ini sama persis dengan Indonesia. Secara sengaja, mereka melakukan pengkajian dan penerbitan buku-buku yang berbahaya bagi ajaran Islam. Beberapa karya kaum oreintalis yang dianggapnya mengandungi banyak kekeliruan dan mengaburkan ajaran Islam adalah Dasiratul Ma&#8217;aruf Al Islamiah, Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu&#8217;ah `Arabiah Al `Muyassarah. Cara-cara yang dipakai oleh gereja dalam menyebarkan missi, dikutip Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, termasuk diantaranya adalah membuka sekolah teologi dan biarawati. Gereja juga secara sengaja mengirim beasiswa kepada anak-anak jajahan yang jelas beragama Islam untuk melanjutkan pelajaran mereka di Barat. Dengan begitu anak-anak itu bakal berpola pikir Kristen dan mendukung missi. Kepala Jabatan Akidah Dan Filsafat, Kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, Prof. Taha Abd al-Salam Khudhair dan Prof. Dr. Hasan Muharram al-Sayyid al-Huwaini, pernah menelusuri kelicikan penjajahan ideologis kaum Kristen dan Barat itu. Menurutnya, mereka biasa mengirim pelajar Islam ke negara-negara bukan Islam untuk belajar. Kelak setelah lulus, kebanyakan mahasiswa ini tumbuh menjadi orang jahil pada agamanya. &#8220;Mereka membangga-banggakan budaya Barat dan menghilangkan ajaran agama,&#8221; begitu kutipnya. Dr. Abdurrahman Mas&#8217;ud mengatakan, kajian keislaman di Barat (orientalisme) adalah hasil persekongkolan gereja dengan penjajah. &#8220;Kajian Islam di Barat pada mulanya sarat dengan kepentingan missionaris dan kolonialisme, sekaligus sebagai ajang pencarian &#8220;kelemahan&#8221; Timur dan Islam serta pengukuhan hegemoni Barat atas dunia Timur dan Islam,&#8221; terang dosen pascasarjana IAIN Wali Songo itu dalam tulisannya di sebuah koran harian. Ungkapan senada datang dari Edward Said. Dalam bukunya Orientalism ia mengatakan, kajian orientalisme adalah gerakan kolonial dan missionar yang dibungkus keilmuan. Dengan demikian tidaklah terlalu penting kontrol militer untuk menjajah. Sebab, dengan devide et empera, kekuatan terjajah akan lemah dan saling bermusuhan sendiri. Tidaklah mengherankan, bila saat menghancurkan Aceh, penjajah Belanda mengirimkan seorang bernama Snouck Hourgronje. Snoucklah peletak dasar strategi menghancurkan Islam oleh Belanda. Snouck secara sengaja belajar Islam bahkan sampai mengaku masuk Islam. Ia belajar ke Makkah Al-Mukarramah selama enam tahun dengan memakai nama samaran Abdul Ghaffar. Walau sikap kepura-puraan Snouck akhirnya terbongkar, tapi pola penjajahan dengan cara ghazwul fikri seperti itu terus berkembang hingga kini. Madzhab Selebritis Wajah baru penjajahan juga berbentuk budaya. Misalnya, penyebaran film-film, iklan, majalah, video klip, internet termasuk gaya hidup (life style). Jangan heran bila musik-musik Barat seperti; ska, rock, underground, metal, R&amp;B secara pelan-pelan menggeser musik-musik Islam. Melalui budaya, Amerika memaksakan kehendak. Kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam. Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup Barat dan Hollywood menjadi peradaban baru. Dengan dalih globalisasi, seolah-olah apa yang kita tonton, dan yang kita makan dan apa yang kita pakai atau dikenal dengan semboyan 3 F (food, fashion, and fun), haruslah memakai standar Barat dan Hollywood. Dalam bukunya Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan, apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi). MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R &amp; B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa termasuk dalam TV kita. Hampir semua media yang membanjir dewasa ini mengeksploitasi derajat rendah kaum hawa. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibading rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas. Terhadap mereka yang menerima gaya hidup Barat, mereka memberi julukan Islam yang moderat, akomodatif, modernis, toleran, dan demokrat. Yang menolaknya disebut Islam radikal, fundamentalis atau Islam literal. Akibatnya begitu dahsyat. Dekadensi moral melanda generasi muda. Seks bebas, dan narkoba sudah menjadi sesuatu yang biasa di mata para remaja. Entah bagaimana nasib ummat ini ke depan bila tunas-tunas mudanya terus seperti itu.• http://abiridha.multiply.com/journal/item/4 Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) Februari 22, 2010 — Eza reza Ghazwul Fikri secara bahasa berarti perang pemikiran, secara lebih khusus bisa diartikan sebagai serbuan pemikiran, sebab ghazwul fikri lebih merupakan serangan sepihak. Dengan ghazwul fikri seorang muslim tidak perlu keluar dari agamanya, tapi mengikuti pandangan dan prinsip hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pada akhirnya tujuan akhir ghazwul fikri adalah melenyapkan Islam sampai ke akar-akarnya. Demikian yang disampaikan oleh KH. Cholil Ridwan dalam seminar “Menyiapkan Mental Menghadapi Ghazwul Fikri” di SMA Pesantren Unggul Al-Bayan. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2009, pukul 10.00 – 12.00 WIB ini difasilitasi oleh OSIS SMA PU Al-Bayan dengan tujuan untuk membekali generasi muda dari serbuan pemikiran yang demikian gencar dilakukan oleh musuh-musuh Islam. KH. Cholil Ridwan merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin. Beliau memegang beberapa jabatan strategis yang berkaitan dengan kepentingan umat, diantaranya sebagai Ketua MUI Pusat, Ketua Dewan Dakwah Pusat, dan Wakil Ketua BKSPPI (Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia). Nama beliau sering muncul di media massa sebagai penentang pemikiran-pemikiran dan aliran-aliran yang menyimpang, seperti Ahmadiyah, JIL, Lia Eden, dll. Menurut beliau, peperangan antara kebenaran dan kebatilan merupakan peperangan yang purba, sudah berlangsung ketika jumlah manusia masih sedikit, yaitu ketika terjadi konflik antara Qobil dan Habil. Perang ini terus berlangsung sampai sekarang. Ghazwul fikri hadir untuk mengaburkan nilai-nilai kebenaran, baik dengan menebarkan keragu-raguan maupun dengan menebarkan kesesatan. Metode ini bisa hadir dalam berbagai bentuk, diantaranya dalam bentuk invasi budaya, seperti dansa-dansi antara laki-laki dan perempuan, penggantian papan nama berbahasa arab dengan bahasa inggris pada pesantren-pesantren dan penggantian kalender hijriyah dengan kalender masehi oleh penjajah Belanda. Yang tak kalah dahsyatnya adalah penyebaran paham sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme yang disebarkan oleh kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal. Beberapa langkah yang sudah ditempuh dalam ghazwul fikri ini diantaranya: 1. Menyebut seorang muslim yang menjalankan agamanya (muslim kaffah) dengan sebutan fundamentalis. Fundamentalis identik dengan anarkis. Anarkis identik dengan teroris, sehingga pada akhirnya seorang muslim kaffah sama dengan teroris. 2. Mushaf Utsmani bukanlah Al-Qur’an yang otentik, tapi hasil rekayasa khalifah Utsman bin Affan untuk mendukung kepentingan politiknya. 3. Hukum Islam adalah produk budaya arab dan tidak sesuai diterapkan dalam konsteks masyarakat hari ini. Seperti misalnya hukum tentang jilbab yang lebih merupakan budaya arab. 4. Menghalalkan nikah beda agama. Dalam menangkal ghazwul fikri ini KH Cholil Ridwan menyarankan kepada generasi muda untuk berdoa dengan khusyu kepada Allah agar selalu ditunjukkan oleh-Nya kepada jalan yang lurus. Selain itu perlu juga untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang menyimpang beserta tokoh-tokoh yang mendukung dan menyebarkannya. http://ezazx.wordpress.com/2010/02/22/ghazwul-fikri-perang-pemikiran/ A. Pengertian Ghazwul Fikri (GF)  Secara Bahasa Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata yaitu Ghazwah dan Fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan Fikr berarti pemikiran. Jadi, menurut bahasa Ghazwul Fikri adalah serangan atau serbuan didalam qital (perang) atau Ghazwul Fikri secara bahasa diartikan sebagai invansi pemikiran.  Secara Istilah Secara istilah, Ghazwul Fikri adalah penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal – hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal – hal yang tidak islami. B. Makna Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Invansi / serangan pemikiran atau dalam bahasa arab dinamakan ghazwul fikri dan dalam bahasa inggris disebut dengan brain washing, thought control, menticide adalah istilah yang menunjukkan kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur oleh musuh – musuh islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin. Hal ini mereka lakukan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk menjajah / mengeksploitasi sumber daya milik kaum muslimin. C. Kelebihan – Kelebihan Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Invansi pemikiran atau ghazwul fikri (GF) dilakukan oleh para musuh islam dengan pertimbangan – pertimbangan bahwa dibandingkan dengan melakukan peperangan militer atau fisik, maka ghazwul fikri (GF) memiliki kelebihan – kelebihan sebagai berikut : Aspek Perang Fisik Ghazwul Fikri Biaya Sangat mahal Murah dan dikembalikan Jangkauan Terbatas di front Sampai ke rumah &#8211; rumah Obyek Obyek merasakan Sama sekali tidak merasa Dampak Mengadakan perlawanan Menjadikan idola Persenjataan Senjata berat Slogan, teori, iklan D. Sejarah Ghazwul Fikri (GF) Sejarah Ghazwul Fikri (GF) sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah iblis laknatullah ketika berkata kepada Adam as., “ Sesungguhnya Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi. “ (Q.S.Al – A’Raaf:20) Dalam perkataannya ini iblis tidak menyatakan bahwa Allah tidak melarang kalian…karena itu akan bertentangan dengan informasi yang telah diterima oleh Adam as., tetapi iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah SWT. Sesuai dengan keinginannya, yaitu dengan menambahkan alas an pelarangan Allah yang dibuat sendiri. Iblis tahu bahwa Adam as tidak punya pengetahuan tentang sebab tersebut. Demikianlah para murid – murid iblis dimasa kini selalu berusaha melakukan ghazwul fikri dengan menyimpangkan fakta dan informasi yang ada sesuai dengan maksud jahatnya. Setan melakukannya dengan cara yang sangat halus dan licin. Akibatnya, hanya orang – orang yang dirahmati Allah SWT yang mampu mengetahuinya. E. Bidang – Bidang Yang di serang 1. Pendidikan Pendidikan adalah aspek penting yang menentukan maju atau mundurnya suatu bangsa. Oleh sebab itu, bidang pendidikan merupakan target utama dari ghazwul fikri (GF). Ghazwul fikri (GF) yang dilakukan dibidang pendidikan, diantaranya dengan membuat sedikitnya porsi pendidikan agama di sekolah – sekolah umum (hanya 2 jam sepekan). Hal ini berdampak fatal pada fondasi agama yang dimiliki oleh para siswa. Dengan lemahnya basis agama mereka, maka terjadilah tawuran, seks bebas pelajar yang meningkatkan AIDS, penyalahgunaan narkoba, vandalism, dan sebagaimananya. Ini adalah dampak jangka pendek. Sedangkan dampak jangka panjangnya lebih berbahaya, yaitu rendahnya kualitas pemahaman agama para calon pemimpin bangsa dimasa depan. Ghazwul fikri (GF) lainnya dibidang ini adalah pada teknis belajarnya yang campur baur antara pria dan wanita yang jelas tidak sesuai dan banyak menimbulkan pelanggaran terhadap syariat. 2. Sejarah Sejarah yang diajarkan perlu ditinjau ulang dan disesuaikan dengan semangat islam. Materi tentang sejarah dunia dan ilmu pengetahuan telah ghazwul fikri (GF) habis – habisan sehingga hamper tidak ditemui sama sekali pemaparan tentang sejarah para ilmuan islam dan sumbangannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah yang dibahas hanyalah ilmuan kafir yang pada akhirnya membuat generasi muda menjadi silau dengan tokoh – tokoh kafir dan minder terhadap sejarahnya sendiri. Ketika berbicara tentang sejarah islam, di benak mereka hanyalah terbayang sejarah peperangan dengan pedang dan darah sebagaimana yang selalu digambarkan dalam kaca mata barat. Hal ini lebih diperparah dengan sejarah nasional dan penamaan perguruan tinggi, gedung – gedung, perlambangan, penghargaan dan pusat ilmu lainnya dengan bahasa Hindu Sanksekerta, sehinga semakin hilanglah mutiara kegemilangan islam dihati para generasi muda. 3. Ekonomi Ghazwul fikri (GF) yang terjadi dibidang ekonomi adalah konsekuensi dari motto ekonomi yaitu, mencari keuntungan sebesar – besarnya dengan pengorbanan sekecil – kecilnya. Ketika motto ini ditelan habis – habisan tanpa dilakukan filterisasi, maka tidak lagi memperhatikan halal atau haram, yang penting adalah bagaimana supaya untung sebesar – besarnya. Hal lain yang perlu dicermati dalam system ekonomi kapitalisme, yaitu monopoli, riba dan pemihakan elit kepada para konglomerat. Mengenai monopoli sudah tidak perlu dibahas lagi, cukup jika dikatakan bahwa Amerika Serikat sendiri telah diberlakukan UU anti – trust (bagaimana di Indonesia?). Tentang riba dan haramnya bunga bank rasanya bukan pada tempatnya jika dibahas disini, cukup dikatakan bahwa munculnya dan berkembangnya bank tanpa bunga (bagi hasil), fatwa MUI, fatwa Universita Al Azhar Mesir, kesepakatan para ulama islam dunia membuktikan bahaya bunga bank dan haramnya dalam islam. Tentang keberpihakan kepada para konglomerat, semoga dengan perkembangan era reformasi saat ini dapat diperbaiki. 4. Ilmu Alam dan Sosial Pada bidang ilmu – ilmu alam, ghazwul fikrii terbesar yang dilakukan adlah dengan dilakukannya sekularisasi antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Bahaya lainnya adalah penisbatan teori – teori ilmu pengetahuan kepada para ilmuan tanpa mengembalikannya kepada sang pemberi dan pemilik ilmu, sehingga mengakibatkan kekaguman dan pujian hanya berhenti pada diri para ilmuwan dan tidak bermuara kepada Allah SWT. Hal lain adalah berkembangnya berbagai teori – teori sesaat yang sebenarnya belum diterima secara ilmiah, tetapi disebarkan secara besar – besaran oleh kelompok – kelompok tertentu untuk menimbulkan keraguan pada agama. Misalnya, teori tentang asal usul makhluk hidup (the origins of species) dari Darwin (yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari penemuan Herbert Spencer) yang sebenarnya masih ada the missing link yang belum dapat menghubungkan antara manusia dank era, tapi sudah “ diindoktrinasikan “ kemana – mana. Atau, teori Libido seksualnya Freud, yang menyatakan bahwa jika manusia tidak dibebaskan sebebas – bebasnya keinginan seksualnya akan mengakibatkan terjadinya gangguan kejiwaan. Teori ini sudah dibantah secara ilmiah dan pencetusnya sendiri (Freud) yang terus menggembar – gemborkan kebebasan seksual, ternyata mati karena menderita penyakit kejiwaan (psikopath). 5. Bahasa Ghazwul fikri (GF) dibidang bahasa adalah dengantidak diajarkannya bahasa Al – Qur’an di sekolah – sekolah karena menganggapnya tidak perlu. Hal yang nampaknya remeh ini sebenarnya sanagt besar akibatnya dan menjadi bencana bagi kaum muslimin Indonesia secara umum. Dengan tidak memahami Al – Qur’an, mayoritas kaum muslimin menjadi tidak mengerti apa kandungan Al – Qur’an, seperti firman Allah dalam surah Al Baqarah:78 artinya “ Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al – Kitab (taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga – duga “. Akibatnya, Al – Qur’an menjadi sekedar bacaan tanpa arti (Al – Qur’an hanya dinikmati iramanya seperti layaknya lagu – lagu dan nyayian belaka, yang akhirnya ditinggalkan seperti yang disebutkan dalam surah Al Furqaan:30 yang artinya “ Berkata Rasul : Ya tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al – Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan “ dan surah Al Furqaan:31 yang artinya “ Dan seperti itulah, setelah kami adakan bagi tiap – tiap nabi, musuh dari orang – orang yang berdosa dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. “) Dampak lain dari kebodohan terhadap bahasa Al – Qur’an adalah terputusnya hubungan kaum muslimin dengan perbendaharaan ilmu – ilmu keislaman yang telah disusun dan dibukukan selama hamper 1000 tahun oleh para pakar dan ilmuwan islam terdahulu yang jumlahnya mencapai jutaan judul buku, mencakup bidang – bidang akidah, tafsir, hadist, fiqih, sirah, tarikh, ulumul qur’an, tazkiyyah dan sebagainya. 6. Hukum Ghazwul fikri (GF) pada aspek hukum adalah penggunaan acuan hukum warisan kolonial yang masih dipertahankan sebagai hukum yang berlaku, reduksi, dan penghapusan hukum Allah SWT dan Rasul – Nya. Rasa takut dan alergi terhadap segala yang berbau syariat islam merupakan keberhasilan ghazwul fikri (GF) dibidang ini. Penggambaran potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi penzina selalu ditonjolkan saat pembicaraan – pembicaraan tentang kemungkinan adopsi terhadap beberapa hukum islam. Mereka melupakan bahwa hukum islam berpihak (melindungi) korban kejahatan, sehingga hukuman keras dijatuhkan kepada pelaku kejahatan agar perbuatannya tidak terulang dan orang lain takut untuk berbuat yang sama. Sebaliknya, hukum barat berpihak (melindungi) pelaku kejahatan, sehingga dengan hukuman tersebut memungkinkannya untuk mengulang lagi kejahatannya karena ringannya hukuman tersebut. Laporan menunjukkan bahwa tingkat perkosaan yang terjadi di Kanada selama sehari sama dengan kejahatan yang sama di Kuwait selama 12 tahun, bahkan pooling yang dilakukan di masyarakat Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari 3 masyarakat Amerika Serikat menyetujui dijatuhkannya hukuman mati untuk pemerkosa. 7. Pengiriman pelajar dan mahasiswa ke Luar Negeri Ghazwul fikri (GF) dibidang ini terjadi dalam dua aspek, yaitu : Brain drain dan Brain Washing. Brain drain adalah pelarian para intelektual dari negara – negara islam ke negara – negara maju karena insentif yang lebih besar dan fasilitas hidup yang lebih mewah bagi para pekerja disana. Hal ini menyebabkan lambatnya pembangunan di negara – negara islam dan semakin cepatnya kemajuan di negara – negara barat. Data penelitian tahun 1996 menyebutkan bahwa perbandingan SDM bergelar doctor (S3) di Indonesia baru 60 per sejuta penduduk, di Amerika Serikat dan Eropa antara 2500 – 3000 orang per sejuta, dan di Israel mencapai 16.000 per sejuta penduduk. Sementara brain washing (cuci otak) dialami oleh para intelektual yang sebagian besar berangkat ke negara – negara barat tanpa dibekali dengan dasar – dasar keislaman yang cukup. Akibatnya, mereka pulang dengan membawa pola piker dan perilaku yang bertentangan dengan nilai – nilai islam. Bahkan secara sadar atau tidak, mereka ikut andil dalam membantu melanggengkan kepentingan barat dinegara mereka. 8. Media massa Berbicara mengenai ghazwul fikri (GF) yang terjadi dalam media massa, maka dapat dipilah pada aspek – aspek sebagai berikut : • Aspek kehadirannya Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari – hari dalam keluarga muslim, missal TV. Dulu selepas maghrib, anak – anak biasanya mengaji dan belajar agama. Sekarang, selepas maghrib anak – anak menonton acara – acara TV yang kebanyakan merusak dan tidak bermanfaat. Sementara bagi para remaja dan orang tua dibandingkan dating ke pengajian dan majlis – majlis taklim, mereka lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi srana dakwah yang luar biasa (sesuai dengan teori komunikasi yang menyatkan bahwa media audio – visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian baik pada tingkat individu maupun masyarakat) asal dikemas dan dirancang sesuai dengan nilai – nilai islam. • Aspek isinya Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa yang merupakan produk ghazwul fikri (GF) diantaranya adalah mengenai penokohan – penokohan atau orang – orang yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama, ilmuwan, dan orang – orang yang dapat mendorong membangun bangsa agar mencapai kemajuan IMTAK dan IPTEK sebagaimana yang digembar – gemborkan. Tetapi sebaliknya, justru tokoh yang terus menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur – hamburkan uang (tabdzir), jauh dari memiliki IPTEK apalagi nilai – nilai agama. Hal ini jelas besar dampaknya pada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup, cita – citanya dan tentunya pada kualitas bangsa dan Negara. Rpoduk lain dari ghazwul fikri (GF) yang menonjol dalam media TV, misalnya porsi film – film islami yang dapat dikatakan tidak ada. Film yang diputar 90% adalah film bergaya barat, sisanya adalah film nasional (yang juga bergaya barat), film – film mandarin, dan film – film india. F. Sasaran dilakukannya Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF)) Sasaran dari ghazwul fikri (GF) adalah sebagai berikut : 1. Agar kaum muslimin menjadi condong sedikit terhadap gaya, perilaku dan pola pikir barat, seperti dalam Q.S. Al Israa:73 yang artinya “ Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. “ Q.S. Al Israa:74 yang artinya “ Dan kalau kami tidak memperkuatkan (hati)mu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka.” Q.S. Al Israa:75 yang artinya “ Kalau terjadi demikian, benar – benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat – lipat ganda didunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.” Dan Q.S.Al Israa:76 yang artinya “ Dan sesungguhnya benar – benar mereka hamper membuatmu gelisah di negeri (mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal sebentar saja.” 2. Setelah kaum muslimin condong sedikit, tahapan selanjutnya adalah agar kaum muslimin mengikuti sebagian dari gaya, perilaku dan pola pikir mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S.Ad Dukhan:25 yang artinya “ Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan.” Dan Q.S.Ad Dukhan:26 yang artinya “ Dan kebun – kebun serta tempat – tempat yang indah – indah.” 3. Pada tahap ini diharapkan kaum muslimin beriman pada sebagiannya ayat – ayat Al – Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW, tetapi kafir terhadap sebagian yang lainnya. Sebagaimana dalam Q.S.Al Baqarah:85 yang artinya “ Kemudian kamu (bani israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan dari pada kamu dari kampong halaman. Kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan tetapi jika mereka dating kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka. Padahal mengusir itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman pada sebagian Al Kitab(taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” 4. Pada tahap akhir, mereka menginginkan agar generasi kaum muslimin mengikuti syahwat dan meninggalkan shalat. Sebagaimana dalam Q.S.Maryam:59 yang artinya “ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia – nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan.” G. Tujuan Ghazwul Fikri (GF) 1. Menghambat kemajuan umat islam agar tetap menjadi pengekor barat. Berbagai macam pendapat nyeleneh yang ditebarkan para orientalis lewat media cetak dan elektronik berhasil menyita perhatian umat islam dan mengetuk sebagian besar potensinya,baik untuk melakukan kajian, bantahan dan pelurusan. 2. Menjauhkan umat islam dari Al – Qur’an dan As Sunnah serta ajaran – ajarannya. Dengan keraguan – raguan dan penyesatan terhadap umat islam, ghazwul fikri (GF) menyeret orang – orang awam ke jurang yang memisahkan mereka dari keislaman – Nya. Bahkan ada sebagian yang keluar dari islam dan berpindah ke agama lain. 3. Memurtadkan umat islam. Inilah yang digambarkan Al – Qur’an dalam Surah Al Baqarah:217 yang artinya “ Mereka tidak henti – hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah sia – sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” H. Dampak Positif dan Negatif Gahzwul Fikri (GF)  Dampak Positif dari Ghazwul Fikri (GF) Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempermudah memberikan pekerjaan pada manusia yang ada di Negara ini.  Dampak Negatif dari Ghazwul Fikri (GF) &#8211; Perusakan akhlak umat islam terutama yang masih berusia muda. &#8211; Berusaha menggiring umat islam kepada kekafiran, khususnya umat islam yang tipis pemahaman keislamannya. &#8211; Menjauhkan umat islam dari agamanya dan mendekatkannya pada kekafiran. http://dianerzteinstein.blogspot.com/ Ghazwul Fikri Pengertiannya: Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai. Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, “Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, “Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” Dalam konteks ini, al-Qur’an mengatakan, artinya, “Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka.” (QS. Faathir : 6). Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An’aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da’wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam ‘tangan’ mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional. Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup. Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada. Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam. Al-Qur’an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda’wahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da’wah sederhana antara Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda’wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini. Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da’i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu’min serta melecehkan al-Qur’an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na’udzu billaah min dzaalik! Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau ‘aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana. Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara. Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na’udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda’wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin Sasarannya adalah: a. Menggiring orang yang tipis pemahaman Islamnya hingga menuju kepada ke Kafiran. b. Agar umat Islam mengikuti agama kafir. c. Memadamkan cahaya Allah. Metode yang digunakannya: 1. Membatasi penyebaran agama Islam: a. Tasykik (Pendangkalan) atau keragu-raguan. b. Tasywih (Pencemaran atau Pelecehan). c. Tadhil (Penyesalan). d. Taghrib (Pembaratan atau Westernisasi). 2. Menyerang Islam dari dalam: a. Penyebaran paham sekularisme. b. Penyebaran paham nasionalisme. c. Pengrusakan akhlak umat Islam. d. Penyusupan paham-paham sekte animisme dan dinamisme. e. Pemutarbalikan pemahaman Islam yang lurus. Sarananya: a. Media massa (cetak dan elektronik). Hasil dari Ghazwul Fikri : 1. Umat Islam menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. 2. Minder dan rendah diri. 3. Jadi ikut-ikutan. 4. Berpecah-belah. http://hanyakomar.wordpress.com/2009/08/18/ghazwul-fikri/ Ghazwul Fikri (Invasi Pemikiran) “Kita sebelum ini adalah serendah-rendah kaum, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita menuntut kehormatan dengan selainnya, Allah pasti kembali merendahkan kita…” (Umar bin Khattab al-Faruq) Semenjak dihentikannya perang fisik berupa invasi militer di seluruh dunia, kolonialisme baru menggunakan berbagai saluran selain fisik, seperti ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), budaya (tsaqafah) dan terutama adalah pemikiran (fikrah). Seluruhnya menjadi sarana invasi bagi Barat—sebagai simbol kolonial dan imperialis—ke dunia Islam. Sejalan dengan itu, usaha Barat untuk melakukan invasi pemikiran—sebagai sarana fundamental konstruksi budaya masyarakat—ke dalam dunia Islam tidak akan pernah berhenti. Untuk itu, kita harus mengenal tahapan dan strategi mereka dalam melakukan Ghazwul Fikri ini. Pengertian Ghazwul Fikri Secara bahasa, ghazwah adalah serangan, serbuan atau invasi. Fikri berarti pemikiran atau pemahaman. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang). Qital Ghazwah Saling mengetahui siapa lawannya Sepihak, yang lain tidak menyadari kalau sedang diserang. Banyak korban jiwa Relatif tidak ada Membutuhkan dana yang besar Relatif membutuhkan dana sedikit Hasilnya belum tentu ada. Hasilnya nyata terlihat dan berhasil Efeknya terbatas. Efeknya dalam dan luas Secara istilah, Ghazwul Fikri berarti penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tidak islami. Sasaran Ghazwul Fikri Setidaknya ada tiga sasaran dalam Ghazwul Fikri ini, 1. Menjauhkan umat Islam dari agama (dien)nya. “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu berbuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu, tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (al-Isra’[17]: 73). “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (al-Maidah [5]: 49) 2. Berusaha memasukkan yang sudah kosong Islamnya ke dalam agama kafir. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)” (al-Baqarah [2]: 217. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah [2]: 120). 3. Memadamkan cahaya Allah. “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang kafir benci” (al-Shaff [61]: Metode Ghazwul Fikri 1. Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas. Paling tidak menggunakan tiga tahapan: a. Tasykik, yaitu proses pendangkalan atau membuat ragu-ragu dari kaum muslimin terhadap agamanya. b. Tasywih, yaitu pencemaran dan pelecehan. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk. c. Tadhlil (penyesatan), yaitu upaya orang kafir menyesatkan umat mulai dari cara halus sampai cara yang kasar. d. Taghrib (pembaratan/westernisasi), yaitu gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin agar mau menerima seluruh pemikiran dan perilaku Barat. 2. Menyerang Islam dari dalam, setidaknya tiga metode yang ditempuh: a. Penyebaran faham sekulerisme, yaitu usaha memisahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. b. Penyebaran faham nasionalisme sempit, yang akan membunuh ukhuwah islamiyah yang merupakan azas kekuatan umat Islam. c. Pengrusakan akhlaq para generasi muda Islam. Hasil Ghazwul Fikri Secara kasat mata, sebagaimana disinyalir oleh Allah dalam al-Quran, ghazwul fikri akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi umat Islam, diantaranya adalah: 1. Umat Islam menyimpang dari al-Quran dan Sunnah. “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.” (al-Furqon [25]: 30). 2. Minder dan rendah diri. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 139). 3. Ikut-ikutan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’ [17]: 36). 4. Terpecah belah. “…yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (al-Ruum [30]: 32) http://zakigerilyawan.wordpress.com/2009/11/22/ghazwul-fikri-invasi-pemikiran/ 31 May Praktek-praktek Ghazwul Fikri admin | Artikel Islam Sebetulnya praktek-praktek ghazwul fikri jelas ada di depan mata kaum muslimin setiap hari dan hampir di seluruh aspek kehidupan, praktek-praktek tersebut sudah mereka lakukan. Pola-pola yang mereka gunakan sangat beragam dan semuanya dilakukan secara halus dan cantik. Sasaran mereka juga menyeluruh dari anak-anak sampai orang dewasa, dari kalangan awam sampai dengan kalangan intelektual. tujuan mereka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak lagi untuk memurtadkan ummat Islam secara status, tetapi bagaimana menjadikan karakter, pola pikir, dan sikap memusuhi Islam itu sendiri. Cara ini lebih srategis akrena korban-korban tersebut secara tidak langsung tidak akan dianggap sebagai musuh Islam. inilah yang disebut pembusukan dari dalam dan sebetulnya hal ini lebih berbahaya. Di bidang pendidikan, praktek-praktek ghazwul fikri sudah sangat meluas. Bisa dijumpai saat ini di sekolah-sekolah milik mereka sangat menjamur. Dengan kelebihan dana yang mereka miliki, mereka mampu menciptakan sekolah-sekolah yang secara akademis unggul. Mereka bisa membayar guru-guru yang berkualitas, membeli sistem kurikulum yang baik, serta menyediakan lingkungan dan fasilitas yang sangat mendukung. Dalam kenyataannya, kondisi ini mampu menggiring para orang tua muslim yang kurang kuat keimanannya untuk merelakan anak-anaknya bersekolah di sana. Di dalam interaksi belajar, banyak sekali hal-hal yang secara jelas-jelas melanggar aqidah dan syariat Islam, misalnya yang pertama, kewajiban berdo&#8217;a dengan cara mereka. Yang lebih mengerikan lagi adalah fakta adanya usaha-usaha memutarbalikkan ajaran Islam. Seorang dosen pernah ngobrol dengan saya dan mengatakan bahwa Muhammad itu melarang memakan babi karena sebetulnya ia sangat gemar makan babi. Informasi seperti itu ternyata ia dapatkan sewaktu di bangku sekolah yang kebetulan milik yayasan kristen. Informasi-informasi slaha seperti itu senagaja mereka sampaikan untuk mengacaukan pemahaman ummat Islam. Yang kedua adalah program pertukaran pelajar. Beberapa tujuannya adalah meluaskan wawasan dan saling mengenal budaya lain. Tujuan tersebut seolah-olah tidak salah, tapi bukan berarti mereka punya maksud lain. Yang mereka sebut budaya itu sangat luas dan dengan kelihaiannya, mereka mampu mengemas sesuatu yang jelas tidak baik dalam bungkus budaya. Target mereka adalah kalaupelajar-pelajar tersebut tidak meniru secara fisik, paling tidak pola pikir mereka sudah berubah untuk mentolelir, menerima, mensahkan hal-hal yang jelas-jelas salah. Yang berikutnya adalah program pengiriman mahasiswa berprestasi ke luar negeri. Keberadaan mahasiswa muslim di luar negeri merupakan kesempatan besar bagi mereka untuk lebih menggarap. Jauh dari kondisi yang Islami, interaksi yang terbatas membuat mereka berusaha sedemikian hingga untuk memfasilitasi mereka. Disinilah peluang mereka. Ada kasus di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung yang sangat luar biasa. Seorang mahasiswa yang pada mulanya adalah muslim yang taat, tiba-tiba meninggalkan agamanya. Setelah ditelusuri, ternyata berawal dari kemampuan membaca Al Qur&#8217;an yang minim yang akhirnya menyebabkan kegagalan ujian mata kuliah agama Islam. Mahasiswa tersebut merasa sangat tertekan dan berat sampai akhirnya dia tahu bahwa ujian agama kristen sangatlah mudah. Berangkat dari keinginan untuk segera lulus, akhirnya ia nekat memutuskan ikut ujian agama kristen (pura-pura pindah agama). Tanpa disadari, setelah itu ternyata ia semakin tertarik sampai akhirnya memutuskan untuk murtad. Jadi, sampai ke masalah kurikulum mereka sangat jeli untuk menangkap peluang-peluang. Untuk mata kuliah/pelajaran tertentu, mereka memberikan kemudahan yang sangat luar biasa. Kasus lain, di sebuah universitas Khatolik Bandung, seorang calon mahasiswi mengungkapkan bahwa karena statusnya muslimah maka ia harus menggunakan kerudung, dan jika menolak maka ia harus rela mengikuti ritual-ritual keagamaan. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG SOSIAL Dalam bidang sosial, pola-pola yang mereka gunakan juga tidak kalah hebat. Hampir seluruh LSM yang mereka pegang bisa dikatakan profesional dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka dengan cepat dapat menangkap problematika-problematika nyata yang ada di masyarakat kita dan selanjutnya segera memberikan solusi yang dibutuhkan. Cara mereka memang cepat menarik simpati orang banyak yang akan dibantu. Banyak sekali kasus-kasus nyata seperti itu. Suatu contoh, pernah suatu saat kami datang di sebuah kelurahan di kota Bandung untuk memberikan santunan/beasiswa. Ternyata mereka sudah lebih dulu memberikan bantuan kepada penduduk setempat. Ini berarti gerak mereka tidak hanya cepat tetapi juga terus menerus. Berbeda dengan kita yang selama ini masih dengan sistem hit and run. Maksudnya, kebanyakan kita datang sekali dua kali kemudian langsung memberikan ceramah dan setelah itu ditinggalkan. Pada tahun 1985-an, beberapa da&#8217;i kita datang ke pedalaman Kalimantan kepada suku-suku Dayak. Ternyata di sana sudah terbentuk sistem perkampungan yang sangat rapi. Yang tak kalah menariknya lagi, di sana ada seorang dokter dan seorang pastur yang menangani khusus masalah kesehatan dan spiritual mereka. Sekali lagi mereka jauh lebih cepat. Banyak sekali kasus serupa yang sebenarnya di sana terdapat muatan ghazwul fikri-nya. Ada sebuah kasus lagi yang menimbulkan fenomena yang sangat menarik. Beberapa waktu yang lalu, kami mendapatkan informasi praktek sejenis di sebuah perkampungan di pinggiran kota Jakarta. Segera saja kami dengan beberapa lembaga Islam melakukan survey ke tempat itu. Kampung tersebut ternyata memang sebuah kampung kumuh yang penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai pemulung. Akan tetapi pola hidup mereka cenderung konsumtif. Akhirnya, dengan kesepakatan beberapa lembaga, kami memutuskan untuk melakukan aksi sosial dan tabligh akbar di sana untuk memulai serangkaian rencana yang lainnya. Ternyata aksi tersebut tidak mendapatkan respon yang baik dari masyarakat sekitar. Sungguh berbeda dengan yang biasanya. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, beberapa di antara mereka kemudian berkomentar sederhana : “Ngapain capek=capek hanya sekadar untuk mendapat beras beberapa kilo gram? Tanpa keluar dari rumah saja, kami sudah mendapatkan yang kami butuhkan.” Jadi nampaklah pola gerak mereka menimbulkan dampak yang luar biasa, yaitu melemahkan etos kerja orang yang mereka bantu. Dan ini tidak dapat dipungkiri menjadi peluarng tersendiri untuk menggarap mereka. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG BUDAYA Suatu sore, tidak sengaja saya melihat sebuah acara debat mahasiswa di sebuah stasiun TV. Temanya mengenai pornografi dan kekerasan terhadap perempuan. Awalnya yang mereka sampaikan normatif-normatif saja, bahwa pada intinya mereka menolak. Tetapi saat timbul pertanyaan apakah ada hubungannya antara gaya busana (terutama perempuan) dengan kekerasan, mulai timbul pro dan kontra. Yang menarik saat itu, sangat ironis ternyata peserta yang perempuanlah yang menolak. Menurutnya, tidak ada hubungan antara gaya busana dengan munculnya kekerasan. Gaya busana adalah hak azasi dan merupakan sebuah budaya. Dia mengambil contoh kasus Bali. Tidak menjadi masalah dalam artian tidak akan diganggu, perempuan-perempuan di sana berjalan-jalan dengan busana yang sangat minim. Dia meyakinkan lagi bahwa hal ini terjadi karena menurut masyarakat di sana keadaan seperti ini sudah biasa. Itulah budaya. Paginya, sebuah artikel di sebuah harian terkenal mengupas tema yang sama. Kali ini nara sumbernya seorang laki-laki. Kesimpulannya tidak jauh beda dengan mahasiswa perempuan di atas, bahkan lebih mengagetkan. Dia menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan adalah karena ia adalah perempuan dan tidak ada hubungannya dengan gaya busana yang dikenakan sang perempuan. Benarkah faktanya demikian? Jelas kesimpulan tadi sangat menyesatkan. Sama saja dengan menyatakan bahwa perempuan hanya ditempatkan kepada konteks eksistensi biologid, tak lebih dari itu. Apa artinya semua ini? Itulah ghazwul fikri. Dalam bidang budaya, praktek-praktek ini tumbuh dengan subur. Obyeknya tak hanya perempuan, tetapi kalau dicermati sepertinya perempuan lebih rentan terhadap interfensi budaya. Kita lihat saja mode baju, sepatu, atau rambut. Sangat cepat dan mudah booming, kenapa demikian? Karena budaya memang sangat erat dengan nilai seni dan keindahan. Yang menjadi masalah adalah jika nilai seni dan keindahan yang diangkat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah letak jebakan itu. Bagi orang yang memang tak punya prinsip, langsung dikonsumsi. Praktek-praktek tersebut selalu dibungkus dengan kemasan yang menarik. Media adalah penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran ini. Segala produk budaya jahil ditayangkan di sana secara bebas. Contoh yang jelas misalnya film Baverly Hills. Ada yang pernah menyampaikan kepada saya dalam sebuah diskusi, di sebuah episode film tersbut diceritakan seorang gadis yang sangat masih gadis, belum pernah berkencan (zina). Sangat mengerikan, pesan sesat yang mereka sampaikan betul-betul terkemas dengan rapi. Buktinya film tersebut sangat disenangi oleh anak muda. Bagaimana dengan budaya kita (budaya timur)? Alhamdulillah memang kebayakan budaya kita masih mengindahkan nilai-nilai moral. Tapi juga bukan berarti semuanya aman dan terbebas dari usaha ghazwul fikri. Contoh sederhananya mungkin baju adat atau baju pengantin daerah-daerah tertentu termasuk tata riasnya yang menurut Islam jelas bertentangan. Tetapi oleh sebagian kalangan tertentu produk tersebut dikatakan sebagai budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Jika masyarakat tidak peka, yang terjadi adalah sekadar mengekor dengan dalih karena budaya sendiri. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG TEKNOLOGI DAN INFORMASI Disebutkan sebelumnya, bahwa media informasi merupakan penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran. Salah satu metode perang pemikiran yang dilakukan adalah dengan cara pengkaburan istilah. Pengkaburan istilah ini dinilai sangat efektif sehingga akan berakhir dengan anggapan yang benar ketika sebuah istilah diungkapkan secara terus menerus. Sebagai contoh misalnya, istilah pasukan Taliban akan memiliki makna yang positif dan perjuangannya akan mendapatkan dukungan yang besar dan kuat dari umat Islam jika istilah tersebut diungkapkan dengan Mujahidin Taliban. Tapi sebaliknya, umat Islam tidak akan simpatik bahkan akan cenderung memusuhi umat Islam yang lainnya jika istilah tersebut diungkapkan dengan Talibanisme atau rezim Taliban. Dan yang terjadi saat ini adalah, media mulai mengistilahkan Mujahidin Taliban dengan Talibanisme. Bahkan beberapa media di Indonesia ada yang menyebutkan rezim Taliban. Mengapa ini terjadi? Kejadian tersebut di atas sesungguhnya dikarenakan penguasaan musuh-musuh Islam akan teknologi informasi dan jaringannya. Ada sebuah kasus yang menarik. Beberapa saat setelah gedung WTC hancur, CNN yang mempunyai jaringan hampir di seluruh dunia dan memiliki kemampuan teknologi canggih dengan kecepatan akses yang tinggi, langsung mengekspos gambar masyarakat Arab yang bersorak sorai baik di televisi maupun di internet. Mereka hendak mengarahkan opini publik bahwa masyarakat Muslim ternyata sangat gembira atas peristiwa tersebut. Maksud dari semua itu tidak lain karena mereka ingin memperlihatkan bahwa kaum Muslimin adalah terorisnya. Selanjutnya apa yang akan terjadi? Bisa saja umat Islam tidak lagi memberikan dukungan terhadap perjuangan Umat Islam dan Islam, bahkan yang lebih buruk lagi mereka malah memusuhi Islam. Inilah yang mereka inginkan dari umat Islam. Walaupun akhirnya maksud jahat mereka terbongkar dengan terbuktinya bahwa gambar yang ditayangkan tersebut, sebenarnya rekaman kejadian yang sudah terjadi jauh sebelum peristiwa hancurnya gedung WTC. CNN sangat malu hingga sempat minta maaf atas penayangannya itu. Ada kasus yang lebih menari berkenaan dengan kasus hancurnya gedung WTC. Tidak lama setelah hancurnya gedung pencakar langit tersebut, media mereka langsung mengekspos tersangka pelaku. Pertama kali yang mereka curigai adalah seorang laki-laki keturunan Arab. Lagi-lagi mereka ingin mengarahkan bahwa pelakunya adalah Muslim. Tapi usaha mereka ternyata gagal, karena akhirnya terbukti bahwa tersangka yang mereka maksud telah meninggal dunia sebelum hancurnya gedung itu. Sebaliknya ada fakta-fakta aktual yang mereka ketahui namun kemudian mereka tutup-tutupi. Misalnya fakta tentang cuti massalnya sejumlah 4000 karyawan berkebangsaan Yahudi yang bekerja di gedung nomor empat tertinggi di dunia itu, ketika gedung tersebut hancur. Fakta ini sama sekali tidak mereka angkat, karena mereka takut rencana jahat mereka terbongkar. Penghilangan fakta ini menyebabkan banyak sekali umat Islam yang tidak tahu fakta aktual yang sesungguhnya terjadi tersebut. Jadi kalau umat Islam tidak jeli dan tidak berusaha mencari informasi pembanding, maka yang terjadi adalah seperti yang mereka harapkan, status Muslim namun berperilaku memusuhi umat Islam dan Islam. Di sepanjang sejarah, media mereka memang terbukti tidak pernah obyektif dalam menginformasikan apapun. Dan hal itu mereka lakukan secara sengaja. Banyak lagi hal yang telah mereka lakukan untuk meragukan umat Islam terhadap umat Islam yang lain dan Islam. Hasilnya adalah, banyak sekali kesalahan yang kemudian dilakukan oleh umat Islam kepada umat Islam yang lain dan Islam sendiri. Hal ini dapat dilihat dari umat Islam dalam mensikapi hal-hal yang sidah jelas kedudukannya. Kasus Palestina misalnya, ternyata masih banyak umat Islam yang menganggap bangsa Palestina sebagai agresor, atau usaha rakyat Bosnia dan Cechnya yang dicap sebagai usaha separatis. Dan masih banyak lagi sesungguhnya kasus yang serupa. Semua ini tidak lain adalah hasilk ghazwul fikri yang mereka mainkan. PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG EKONOMI Masih segar dalam ingatan kita pada tahun 1997, awal dari yang disebut orang sebagai krisis ekonomi. Peristiwa tersebut sangat mungkin tidak pernah terbayang oleh kebanyakan masyarakat. Suatu saat saya pernah mendengar pertanyaan seorang anak yang masih duduk di bangku SMP, bukankah bangsa Indonesia merupakan negara yang berkembang, kok tiba-tiba dikatakan krisis ekonomi? Pertanyaan seperti ini bisa jadi tidak hanya timbul dari seorang bocah SMP, orang-orang tua kita, teman-teman kita mungkin juga sangat bingung. Sejak saat itu biasa kita lihat atau kita dengar barang-barang kebutuhan pokok tiba-tiba menghilang dari pasar. Memburu beras, gula, susu, minyak, menjadi pekerjaan baru bagi ibu-ibu. Semua orang menjadi panik. Sampai saat ini ekonomi bangsa ini semakin terpuruk. Perrgantian tim penyelamat ekonomi yang dibentuk oleh pemerintahan selalu bubar dan berujung dengan sebuah kebingungan dan keputusasaan. Tidak heran, jika akhirnya negara kita saat ini dikatakan sebagai bangsa yang miskin. Tetapi itulah fakta, meski sangat tragis. Di sebuah negara yang sangat berlimpah dengan kekayaan alam, ternyata sebagian besar penduduknya harus hidup dalam kemiskinan. Saya masih ingat ketika belajar Geografi ketika SD dan SMP. Di mana-mana bumi Indonesia penuh dengan kekayaan alam. Ada minyak bumi, timah, tembaga, emas, dan hutan yang berlimpah. Kemanakah semua kekayaan tadi?. Suatu saat saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Kalimantan di perusahaan UNOCAL. Di sana saya melihat lima anjungan besar. Jangan ditanya berapa uang yang dapat dihasilkan dari sana, yang pasti sangat besar. Apakah masyarakat di sana hidup berkecukupan? Tidak juga, karena kekayaan alam yang luar biasa besar itu belum bisa dinikmati oleh mereka. Kita lihat di daerah lain, Irian Jaya dengan tembaganya, Aceh dengan gas Arun, atau Buton dengan timahnya. Nasib masyarakat di sana tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Apa yang terjadi? Sebetulnya, itu merupakan salah satu dampak dari praktek Ghazwul Fikri yang mereka lakukan. Hampir tiga abad bangsa kita dijajah, tidak hanya harta benda kita yang dirampas, yang lebih menyakitkan adalah bangsa ini sengaja dirusak, diracuni mental dan psikologisnya. Bagaimana mereka secara sengaja selalu menekankan kepada bangsa kita saat itu, bahwa kelas bangsa kita adalah nomor tiga yang tidak mempunyai harga di mata mereka. Dan usaha mereka bukannya tidak berhasil. Sampai sekarang ini kita masih bisa merasakan dan melihat karakter bangsa kita yang selalu merasa rendah diri terhadap bangsa lain, selalu ingin mengekor kepada bangsa lain atau merasa gagap dan kagum terhadap setiap kemajuan yang mereka ciptakan. Bagaimana orang tua kita lebih mengabdikan kepada mereka hanya karena lebih bangga jika anak-anaknya menjadi pegawai walaupun harus berpenghasilan sangat kecil. Sampai sekarang hal-hal tersebut masih melekat di sebagian masyarakat kita. Coba kita tanyakan kepada anak-anak kita tentang cita-cita mereka. Kebanyakan dari mereka akan mengatakan ingin menjadi dokter, hakim, politisi, atau profesi yang lain. Akan sangat jarang kita mendengar mereka ingin menjadi pedagang atau pengusaha yang sukses. Tidak salah, bahkan cita-cita tersebut sangat mulia. Tapi masalahnya, bangsa ini menjadi kehilangan jiwa-jiwa, karakter-karakter yang seharusnya menggerakkan roda ekonomi yang riil. Inilah yang terjadi sekarang. Pembangunan ekonomi yang disebut-sebut mengalami perkembangan yang cepat ternyata hanya kamuflase. Di dalamnya sangat kropos karena memang perekonomian yang dijalankan bukanlah sektor riil yang diharapkan mampu memberi topangan yang sangat kuat. Karakter bangsa kita yang sedemikian sangat rentan terseret kepada permainan ekonomi yang mereka (Amerika/Yahudi) segaja ciptakan guna keuntungan mereka sendiri. Kita tahu sekali siapa Rasulullah. Beliau adalah figur pengusaha yang sukses. Begitu juga dengan para sahabat. Ada Abdurrahman bin auf yang tidak takut sama sekali karena harus memulai usahanya dari nol demi mengikuti hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Ada juga Utsman bin Affan yang lebih memilih menghibahkan perniagaannya kepada masyarakat banyak yang saat itu sangat membutuhkan dibanding mendapatkan keuntungan besar yang ditawarkan pedagang-pedagang lainnya, sehingga krisis yang saat itu hampir terjadi dapat diselesaikan dengan sangat indah.. Karakter-karakter kuat itulah yang akhirnya mampu bertahan saat menghadapi pemboikotan ekonomi oleh musyrikin saat itu. Mereka memilih hidup menderita sementara dibanding mendapatkan tawaran yang sepertinya menguntungkan tetapi sesungguhnya membawa bencana besar yang tiada berujung.*** Link lain : Ghazwul Fikri (Perang Peradaban) http://www.tawakal.or.id/2003/05/praktek-praktek-ghazwul-fikri/ Ghazwul Fikri Lebih Dahsyat dari Bom Rabu, 12 Agustus 2009 13:29 Ibarat musim, hujan lebat selalu dimulai dengan gerimis terlebih dulu. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam tak pernah kendor. Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh. Cara ini dipandang lebih efektif dan murah. Líhatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton. Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam. Buku ini menyerang Islam politik. Buku tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute. Buku itu merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation. Yang menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli. Buku berjudul lengkap Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional. PKS membantah dan mengatakan, para penulis buku itu merupakan antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush. Dalam kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah. &#8220;Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush. Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya. Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme,&#8221; ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah. Menurut Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. &#8220;Padahal kan framework dunia sudah berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu. Saat ini dunia sudah mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush sebagai penjahat perang,&#8221; katanya. Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang. Menurut Ismail Yusanto, Jurubicara HTI, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. “Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini,” tegas Ismail Yusanto. Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam. Setelah pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta, Jumat (17/7), berhasil diungkap Kepolisian. Kontroversi teror bom masih mengganggu benak umat muslim Indonesia. Kedekatan pelaku dengan Noordin M Top dan Jamaah Islamiyah (JI) seolah-olah kembali menggiring opini publik jika Islam di Indonesia identik dengan kekerasan meski tanpa bukti dan fakta yang nyata. Sehingga menyebabkan antipati publik terhadap Islam. Padahal, selama ini Islam selalu hidup damai, terbuka dan toleran. Yang menarik adalah kesimpulan AM Hendropriyono. Mantan Kepala BIN ini mengatakan bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. Statemen AM Hendropriyono mengundang protes keras dari kalangan tertentu. “Terorisme ada di Indonesia karena suasana kondusif untuk benih-benih terorisme. Selama anasir-anasir tsb tidak dibersihkan dari bumi nusantara maka terorisme tidak akan hilang,” katanya pada Sabili yang mewawancarai Hendropriyono di Yogyakarta. Siapakah Wahabi? Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syekh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah, di antaranya terdapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin &#8216;Irfan. Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, sebagai ajaran akidah tauhid, apa yang disampaikan Muhammad bin Abdul Wahab menyebar ke seluruh dunia Islam melalui jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Menguatnya persatuan akidah ini ternyata membawa dampak lain pada kekuatan kolonial yang saat itu berkuasa di dunia Islam. Akhirnya, Inggris ajaran akidah tauhid ini sebagai bentuk baru persatuan dunia Islam yang akan melahirkan ancaman pada kolonial. Berikutnya, kekuatan kolonial membentuk kelompok Murtaziqah (orang-orang bayaran) untuk mencemarkan nama baik dakwah. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid, para penyeru tauhid, dengan kata Wahabi. Pasca 9/11, sebuah buku diterbitkan oleh di AS dengan judul Wahabi Islam, ditulis seorang orientalis yang merupakan mahasiswa S3 John Esposito. Penulisnya mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti Wahabisme ketika saat mengambil kuliah Islamologi dan membaca tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, namun tidak menemukan elemen-elemen yang menganjurkan kekerasan. Dalam salah satu babnya, ia mengatakan bahwa pengidentikan Wahabi dengan kekerasan dimulai oleh Inggris di India tahun 1800-an saat terjadi revolusi Muslim. Sejarah menyatakan tidak ada kaitan antara gerakan tersebut dan Wahabisme. Wahabi sendiri sebenarnya suatu yang kontroversial. Orang awam cenderung mengaitkan Wahabi dengan Islam yang “bertentangan” dengan arus besar (mainstream). Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah. Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama). “Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya. Terminologi Wahabi yang sering dilontarkan seringkali menambah kisruh suasana. Ulama-ulama Saudi yang selalu dicap Wahabi oleh sebagian orang, dalam sejarahnya selalu mengecam dan mengritik al-Qaidah, bahkan sebelum pemboman Tanzania. Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme. Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi. Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram. Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram. Mereka tidak suka mencaci maki pemerintah. Kritikan akan dilakukan secara tertutup (kalau bisa empat mata) dengan penguasa. Ulama mengharamkan melakukan pemberontakan (bughat) selama penguasa masih Muslim. Suasana semakin kisruh ketika Ikhwanul Muslimin (IM) juga disatukan dalam barisan. IM didirikan untuk untuk mengembalikan kekhalifahan setelah runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki lepas Perang Dunia I. Ikhwanul Muslimin sendiri tidak terlepas dari proses radikalisasi. Ada beberapa faktor. Salah satu faktor bersifat internal, karena ada beberapa elemen yang memang memilih jalur keras. Di IM, pemikiran radikal ini diwakili oleh misalnya Sayyid Quthb. Faktor eksternal, suatu faktor yang lebih dominan, adalah reaksi politik dari pemerintah yang cenderung menutup akses politik lawan mereka, termasuk IM. Faktor ini sebenarnya lebih mendorong radikalisasi. Kasus populer adalah Aljazair. Kekerasan muncul saat hasil pemilu tahun 1990an yang dimenangkan secara mutlak oleh partai Islam (FIS) dibatalkan oleh pemerintah berkuasa dan didukung oleh Barat, dan partai tersebut dinyatakan ilegal. Demikian juga di Iran saat Shah Iran. Faktor penting yang tak bisa dikesampingkan adalah, Afghanistan. Negara ini ketika berperang dengan Komunis Soviet dijadikan sebagai laboratorium jihad oleh berbagai elemen Islam. Apalagi Amerika berada di pihak yang membantu mujahidin. Namun setelah kemenangan itu diraih, mujahidin banyak yang secara psikologis masih merasa berada di medan jihad. Suasana tempur tak bisa hilang begitu saja. Apalagi negara Barat berbalik menganggap Islam sebagai ancaman. Provokasi dan kezaliman muncul di negeri-negeri Islam. Maka radikalisme itu seolah mendapatkan tempat dan pupuk yang maksimal. Dan setelah itu, target dialihkan pada umat Islam yang dinyatakan radikal. Padahal, sejarah menceritakan pada dunia bahwa radikalisme nampaknya selalu dipelihara, demi kepentingan kolonial yang selalu berganti pemainnya. Jadi lontaran statemen Wahabi memang lebih dahsyat dari bom itu sendiri. (Eman Mulyatman) http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/ghazwul-fikri-lebih-dahsyat-dari-bom</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsafatindonesia1001.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg
