Filsafat Berfikir

FAKTA ISLAM DI AMERIKA SERIKAT

FAKTA ISLAM DI AMERIKA SERIKAT

  1. Islam dan Politik Amerika Serikat

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menolak mengadakan acara menyambut bulan suci Ramadhan yang biasa dilakukan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS. Penolakan ini melanggar tradisi tahunan di Kemenlu AS yang telah berjalan selama hampir 20 tahun.[1]

Lewat kebijakan-kebijakannya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, seolah memberikan kesan anti terhadap Muslim. Hal ini terlihat dalam surat perintah eksekutif yang telah ditandatanganinya, terutama pembatasan masuknya warga negara dari enam negara mayoritas Muslim ke Amerika Serikat.[2]

Satu dari tiga orang Muslim di Amerika Serikat (AS) mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden. Hal itu terungkap dari hasil studi terbaru yang dirilis Institute for Social Policy and Understanding di Washington, AS.[3]

  1. Kekerasan dan diskriminasi terhadap Muslim di Amerika

Pasca tragedi 11 September, masyarakat Muslim di Amerika memang kerap dijadikan sasaran kebencian. Yang terbaru terjadi pada akhir Desember kemarin. Dikutip dari Aljazeera, Rabu (2/2), imigran asal India bernama Sunando Sen didorong ke jalur kereta bawah tanah dan tewas setelah terkena hantaman kereta yang lewat.[4]

Pusat riset di Amerika Serikat menyatakan, mayoritas warga negara ini meyakini bahwa Muslim Amerika mendapat perlakukan diskriminatif. Berdasarkan data terbaru pusat Riset PEW di Amerika Serikat, 82 persen rakyat negara ini mengakui bahwa etnis Muslim Amerika mengalami perlakuan tak adil, prasangka dan aksi diskriminasi.[5]

Presiden AS Barack Obama menyerukan persatuan di Amerika dalam kunjungan pertamanya sebagai kepala negara ke sebuah masjid di Amerika Rabu siang. Ia juga menegaskan kepada warga Muslim bahwa mereka adalah bagian dari keluarga Amerika.[6]

Sejumlah warga Amerika Serikat yang beragama Islam meminta Donald Trump untuk berhenti mendorong kekerasan dengan seruan atau pernyataan kontroversialnya. Terakhir Trump menyerukan penghentian total imigrasi kaum Muslim ke AS. Sementara itu, seorang pemilik toko di New York telah dipukuli dalam sebuah kejahatan yang mungkin berbau rasial.[7]

Ibtihaj Muhammad (31) adalah atlet anggar perempuan Amerika Serikat yang berlaga dalam Olimpiade 2016 dan meraih medali perunggu. Ibtihaj dikenal karena dia merupakan perempuan Muslim Amerika pertama yang mengenakan hijab saat berlaga di Olimpiade.Meski ikut mengharumkan nama Amerika Serikat di kancah internasional, Ibtihaj nampaknya khawatir dengan pemerintahan Donald Trump saat ini.Dia khawatir berbagai kebijakan Donald Trump justru bertentangan dengan idealisme yang dibangun Amerika Serikat.[8]

  1. Jumlah Umat Islam di Amerika

Islam adalah agama terbesar ketiga di Amerika Serikat setelah Kristen dan Yahudi. Studi Pew Research pada 2010 menyebutkan, jumlah Muslim di AS, yakni 0,9 persen dari populasi. Namun, perkiraan baru pada 2016 akan ada 3,3 juta Muslim yang tinggal di Amerika Serikat atau sekitar satu persen dari total penduduk AS.[9]

Mereka memprediksikan sebelum tahun 2040 Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen di AS. Pew Research Center memperkirakan ada sekitar 3,3 juta Muslim dari segala usia yang tinggal di Amerika Serikat pada 2015. Ini berarti bahwa umat Islam terdiri sekitar satu persen dari total penduduk Amerika Serikat (sekitar 322 juta orang pada tahun 2015). Dan angka itu akan berlipat pada tahun 2050.[10]

Pew Research Center juga menyatakan, jumlah muslim di Amerika Serikat mencapai 2,5 juta orang. Bahkan, di antara mereka terdapat banyak warga muslim di sana yang sukses dan namanya dikenal masyarakat dunia.[11]

Di negara super power, Amerika Serikat, agama Islam dipeluk oleh sekitar 2,5 juta orang. Sementara itu, di Kanada jumlah pemeluk Islam mencapai 700 ribu orang. Tak jauh berbeda dengan Argentina. Umat Islam di negara Tango itu mencapai 800 ribu orang, dan merupakan pemeluk Islam terbesar di Amerika Selatan. Sementara itu, di Suriname, pemeluk Islam mencapai 16 persen dari total penduduknya, dan menjadi populasi Muslim terbesar di benua Amerika.[12]

  1. Pesatnya penyebaran Islam di Eropa dan Amerika

Pesatnya penyebaran Islam di Eropa dan Amerika muncul terutama setelah serangan terhadap World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2001 silam. Ketertarikan secara alamiah clan rasa ingin tahu yang mendalam telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam.[13]

Apabila kita lihat lebih seksama lagi, perkembangan Islam di Amerika dan Eropa merupakan yang paling pesat untuk saat ini dibandingkan dengan benua-benua yang lainnya. Lebih dari itu, perkembangan Islam di Eropa saat bahkan telah merasuki elemen-elemen penting dari kehidupan di sana, tak terkecuali di ranah sepak bola. Eropa terkenal dengan olahraga sepak bolanya, banyak pula pemain bola terkenal di tanah Eropa yang memilih untuk bergama Islam.[14]

  1. Kemudahan Menjadi Muslim di Amerika

Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu.[15]

  1. Mesjid terbesar di Amerika Serikat

Penduduk Muslim memang tidak banyak di AS, tapi ini bukan berarti negara adidaya ini tidak memiliki masjid megah. Berkunjunglah ke Islamic Center of America. Inilah masjid paling megah di AS. Mungkin selama ini tidak banyak yang tahu kalau AS memiliki tempat ibadah umat Muslim yang cukup megah. Berada di 19500 Ford Road, Dearborn, Michigan, Islamic Center of America (ICoA) berdiri dengan megah dan gagahnya. Ini adalah masjid sekaligus pusat kegiatan umat Muslim terbesar di AS. Ternyata, Islamic Center of America bukan sekadar tempat untuk belajar agama saja, tetapi juga tempat ibadah yang ramai dikunjungi umat Muslim. Kawasan Islamic Center of America berdiri di atas tanah seluas 21.000 m2. Tak heran kalau ICoA disebut-sebut sebagai masjid paling megah di AS.[16]

Jumlah masjid di Amerika Serikat bertambah sebanyak 74 persen sejak tahun 2000. Pada 2000, tercatat 1.209 masjid di seluruh negeri Paman Sam. Jumlah masjid meningkat menjadi 2.106 masjid pada 2010. Sebanyak 56 persen dari masjid tersebut mengkaji pendekatan harfiah untuk menafsirkan isi Alquran. Data tersebut berdasar surveyiterbaru dari koalisi kelompok sipil Islam, cendekiawan dan kelompok non-Muslim.[17]

Negara bagian yang memiliki jumlah masjid paling banyak adalah New York (257), disusul oleh California (246) dan Texas (166). Sebagian besar masjid berada di perkotaan, 28% berada di pinggir kota pada 2010, naik 16% dari sepuluh tahun lalu.[18]

komunitas muslim Indonesia membeli gereja First Church di Georgia Av, Silver Spring, Maryland  dan mengubahnya  menjadi masjid,  sebenarnya bukan hal baru di Amerika.  Sebelumnya komunitas muslim  negara-negara Afrika  Timur juga melakukan hal yang sama. Mereka membeli sebuah gereja  tua  St. John di negara bagian Minnesota untuk kemudian dirubah menjadi masjid. Gereja itu dijual  dengan alasan yang sama, karena ditelantarkan jemaahnya.[19]

  1. Jamaah Haji asal Amerika Serikat

Para jemaah haji Amerika Serikat berasal dari berbagai negara bagian. Kepergian mereka ke tanah suci dalam satu kelompok terbang dengan Dar El Salam Tours and Travel. Perusahaan biro jasa wisata ini telah berpengalaman selama 25 tahun menangani perjalanan haji dan berkantor di New York, Los Angeles, Houston, serta Toronto.[20]

Sekitar 11 ribu Muslim asal Amerika Serikat menunaikan ibadah haji tahun ini. Muslim keturunan Afrika mendominasi hampir 30 persen dari total populasi Muslim Amerika, 25 persen di antaranya berasal dari Arab, dan sisanya berasal dari Turki dan Eropa.[21]

Pelaksanaan haji di AS pada umumnya dikerjakan oleh agen perjalanan haji dan dilaksanakan atas nama agen tersebut, Imam masjid setempat yang ditunjuk sebagai perwakilan dan bukan atas nama negara sebagaimana jemaah haji asal Indonesia yang dibawahi langsung oleh negara, mulai dari urusan terkecil hingga terbesar yang berkenaan langsung dengan jemaah haji asal AS. Biasanya, calon jemaah haji dapat langsung mengisi formulir pendaftaran, mengetahui harga dan membandingkannya dengan agen perjalanan lainnya di Amerika, mengetahui persyaratan, hingga belajar manasik haji, melalui web masing-masing agen perjalanan.[22]

[1] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/05/27/oql6kz384-rex-tillerson-tolak-acara-sambut-ramadhan-di-kemenlu-as

[2] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/03/25/onc5f5361-pandangan-lipi-soal-hubungan-trump-dan-dunia-muslim

[3] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/03/27/ongs65335-rezim-trump-yang-buat-muslim-as-dihantui-ketakutan

[4] http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/02/mfz7r7-kekerasan-terhadap-muslim-meningkat-di-amerika

[5] http://parstoday.com/id/news/world-i27982-diskriminasi_muslim_amerika_serikat

[6] http://www.voaindonesia.com/a/kunjungi-masjid-obama-kecam-kekerasan-terhadap-muslim-amerika/3176326.html

[7] http://internasional.kompas.com/read/2015/12/08/15313901/Warga.Amerika-Muslim.Minta.Donald.Trump.Stop.Lontarkan.Tuduhan

[8]  http://internasional.kompas.com/read/2017/03/22/08300061/surat.terbuka.atlet.muslim.as.untuk.presiden.donald.trump?page=all

[9] http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/03/15/o431n8313-populasi-muslim-amerika-terus-meningkat

[10] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/01/08/o0n44j361-islam-akan-jadi-agama-terbesar-kedua-di-amerika

[11] http://aceh.tribunnews.com/2017/02/03/islam-di-amerika-serikat

[12] https://americacontinent.wordpress.com/tag/httppustakaaisyah-comperkembangan-islam-di-eropa-dan-amerika/

[13] https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-pesatnya-penyebaran-islam-di-eropa-dan-amerika.html

[14] http://mirajnews.com/2016/04/saat-islam-bersinar-di-amerika-dan-eropa.html/112538

[15] http://dakwahsyariah.blogspot.co.id/2014/03/kehidupan-umat-islam-di-amerika.html

[16] http://www.atjehcyber.net/2012/08/ini-dia-masjid-termegah-di-amerika.html

[17] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/04/m0c030-alhamdulillah-jumlah-masjid-di-amerika-serikat-terus-bertambah

[18] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/292617-survei-jumlah-masjid-di-as-naik-74

[19] http://atjehpost.co/berita2/read/Kisah-Gereja-gereja-Amerika-yang-Berubah-Jadi-Masjid-11024

[20] https://m.tempo.co/read/news/2010/11/25/136294390/jemaah-amerika-serikat-terkesan-dengan-manajemen-haji

[21] http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/16/09/13/odenng313-11-ribu-muslim-amerika-tunaikan-ibadah-haji

[22] http://www.gomuslim.co.id/read/news/2016/06/30/792/mudahnya-pergi-haji-di-amerika.html


Ditulis dalam Uncategorized

HIKMAH PUASA

Hikmah Puasadimensi iman

Apa yang ada di dalam Islam? Hidayah. Wujudnya adalah al-Quran dan Rasulullah. Apa yang ada di dalam kehidupan? Manusia. Wujudnya Jiwa dan harta. Apa titik temu antara Islam dengan Kehidupan? Iman. Wujudnya adalah kepatuhan dan pengorbanan. Kepatuhan artinya apa yang datang dari Rasulullah maka diambil, sehingga kuatlah iman. Pengorbanan artinya apa yang ada di dalam kehidupan diserahkan untuk Islam, sebagai bukti iman. Orang beriman memang dituntut untuk berkorban harta dan jiwa untuk kemuliaan Islam.

Puasa merupakan tuntutan Islam atas orang-orang yang beriman. Shaum menuntut kepatuhan diri. Lalu pengorbanannya apa? Yaitu melakukan amalan-amalan yang dapat menunjang puasa kita selama bulan Romadlan. Misalnya dengan banyak bersedekah dan membaca al-Quran. Semua itu merupakan pengorbanan.

Orang-orang yang shaum merupakan orang-orang yang beriman. Karena beriman itulah maka mereka melaksanakan shaum. Lalu apa manfaat yang dapat mereka raih dengan melakukan shaum?

Pertama, iman mereka akan meningkat. Demikianlah, jika perintah agama ditaati karena keimanan, maka keimanan itu akan bertambah. Kedua, mereka akan sampai kepada kemuliaan di hadapan Allah. Hal ini karena shaum merupakan tangga menuju takwa, sedangkan takwa tiada lain merupakan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Ketiga, mereka akan beroleh kebenaran dalam setiap menghadapi kehidupannya. Sebab, orang yang beriman dan taat kepada Allah maka doa-doanya akan dikabul Allah. Doa itu pada dasarnya adalah permohonan agar diberikan jalan keluar yang tepat atas masalah yang dihadapi.

Ilmu adalah penjelasan tentang suatu hal secara benar dan telah sampai ke dalam jiwa. Maka orang-orang yang melaksanakan shaum, agar shaumnya itu dapat mengantarkan dirinya kepada ketakwaan, hendaklah, paling tidak ia memahami tiga konsep penting. Yaitu iman, shaum dan takwa. Jika ia memilik ilmu yang baik dan luas tentang ketiga konsep ini, maka ia telah memiliki perangkat yang cukup untuk melakukan shaum agar shaumnya benar-benar berkualitas.

Pertama, Iman. Apa itu iman? Iman itu secara konseptual adalah rukun iman atau akidah Islam. Sedangkan secara praktis yang disebut iman itu adalah keyakinan yang ada di dalam hati seorang hamba tanpa mengandung keraguan dan kejahilan terhadap Islam, kemudian menjadi cara dia berucap dan berbuat dalam kehidupannya.

Kenapa Iman harus dipahami? Karena untuk melaksanakan shaum, orang-orang mesti memiliki iman dulu. Kemudian mengukur apakah dirinya termasuk orang yang beriman ataukah tidak. Jika ia memang membenarkan al-Quran dan Rasulullah, maka ia secara otomatis akan melakukan shaum.

Kedua, shaum. Apa itu shaum? Shaum adalah menahan diri dari hal yang membatalkannya. Shaum hanya meninggalkan. Hampir tidak ada yang dilakukan dalam shaum, selain meninggalkan apa-apa yang membuatnya batal, juga mengikuti ketentuannya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa shaum merupakan ibadah yang paling ringan. Namun demikian tidak aka nada yang mau mengerjakannya. Selain mereka yang dikategorikan sebagai orang yang beriman.

Kenapa shaum harus dipahami? Seluk beluk shaum ini banyak sekali, semua ada bahasannya dalam kitab-kitab Fikih Islam. Maksudnya tiada lain, agar umat Islam melaksanakan shaum ini disertai dengan suatu sikap kesungguh-sungguhan dan perhatian.

Ketiga, takwa. Apa itu takwa? Takwa adalah sifat dan keadaan di mana taat, bersih hati dan takut kepada Allah menjadi ciri sejati dari penggambaran kualitas keimanan yang sangat tinggi. Ketakwaan itu adalah keadaan di mana ketataan kepada Allah merupakan prioritas utama dalam kehidupannya. Sehingga ia selalu melaksanakan perintah Allah apa pun perintah itu, dan menjauhi laranganNya. Yang menjadi tujuannya adalah Allah, jalannya adalah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya.

Kenapa takwa mesti dipahami orang yang shaum? Agar ia mengetahui bahwa ketaatan yang lebih sempurna kepada Allah merupakan perkara yang akan dituju oleh shaumnya. Shaum bukan bertujuan agar dunia lebih baik, sekalipun dengan shaum dunia akan lebih baik. Tapi bukan itu tujuannya. Shaum bertujuan agar orang-orang beriman lebih taat, lebih beriman lagi. Dan itu merupakan kebaikan bagi mereka.

Shaum merupakan proses mengolah iman agar berubah menjadi iman yang lebih baik yaitu takwa. Allah sediakan shaum sebagai metode untuk itu. Iman dan takwa, termasuk shaum itu sendiri merupakan perihal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia bahkan tidak memiliki apa pun untuk kebaikan hidupnya jiwa dalam kehidupannya tidak dibarengi iman dan takwa.

Orang-orang yang tidak beriman, pasti tidak akan mau melaksanakan shaum, tidak pula ia memiliki kepentingan dengan takwa yang akan diraihnya. Maka ia pun tidak akan memiliki perhatian terhadap ilmu-ilmu tentang shaum, iman dan takwa. Sumber-sumber ilmu dan tempat-tempat dibahasnya ilmu tentang keimanan, keislaman dan ketakwaan, tidak akan menjadi pusat perhatian dirinya.

Ia akan lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan iman, shaum dan takwa.

Kepada orang-orang yang seperti ini, yaitu orang-orang yang tidak beriman, tidak melaksanakan shaum, tidak pula berupaya menambah ilmu Islam dan tidak peduli dengan ketakwaan yang mesti diraihnya, saya ingin mengatakan bahwa hidup ini terlalu disayangkan kalau hanya untuk sekedar mengejar kesenangan dunia, kesesatan dan laknat. Pergunakanlah akal fikiran dan merenunglah mengapa kita ada di dunia, padahal kita tidak memiliki kuasa apa-apa. Renungkan pula tentang kehidupan di akhirat kelak, punya apa kita kalau tidak memiliki curahan rido dan kasih sayang dari Allah.

Iman adalah bertauhid kepada Allah, mengikuti tuntunan wahyu dan Rasulullah, serta berniat ikhlas dalam melaksanan tuntutan iman. Shaum merupakan amalan sekaligus bukti keimanan. Maka agar shaum yang kita laksanakan itu membawa kepada ketakwaan, maka lakukan shaum itu dengan ikhlas.

Apa itu ikhlas? Ikhlas itu bekerja untuk Allah. Shaum jika dikerjakan atas dasar ilmu, dan dikerjakan dengan ikhlas, maka kemungkinan meraih takwa dengannya lebih besar harapannya.


Ditulis dalam Uncategorized

FILSAFAT HIDUP ISLAM

metode Iqro

 A.     REAL ONTOLOGIS

ALLAH, ALAM, PERTEMUAN

Yang benar-benar ada itu:

Allah, alam semesta atau kehidupan, dan pertemuan dengan Allah.

B.     IDEAL AKSIOLOGIS

IBADAH, PERTOLONGAN, HIDAYAH

Manusia baik, bila ia beribadah, beristi’anah dan beroleh hidayah.

C.     METODE EPISTEMOLOGIS

DIINUL ISLAM, JALAN YANG LURUS, TELADAN, NIKMAT, ILMU DAN IKHLAS

Manusia tahu, bila ia tahu Islam dan Rasulullah. Sehingga ia tahu Allah, ilmu dan Ikhlas.

D.     NOUMENA

JAHIL, LAKNAT, SESAT

Manusia bila tidak tahu Islam dan Rasulullah, maka ia tidak tahu Allah. Tidak tahu Allah berarti ia jahil, laknat dan sesat. Sifat pengikut hawa nafsu, Yahudi dan Nasrani.


Ditulis dalam Uncategorized

SITUASI UMAT ISLAM KONTEMPORER

A.     Sebab Kemunduran Umat Islam

 

Mengapa Umat Islam sedemikian terbelakangnya saat Eropa mengalami kebangkitan?

Jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan As Sunnah

Taklid (ikut-ikutan)

Terjadinya perpecahan di kalangan umat

Adanya pertempuran antara haq dan batil[1]

 

Syekh Amir Syakib Arsalan menulis tentang sebab kemunduran umat Islam:

Ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits

Ummat Islam tidak bersatu, tapi berpecah-belah

Mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati

Hilangnya semangat Jihad

Tidak mandiri di bidang ekonomi

Ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas bersama

Ummat Islam gagal menemukan hal yang bermanfaat

Ummat Islam tidak menguasai media massa[2]

 

Faktor penyebab yang terbesar dan terpenting sebagai faktor kemunduran umat Islam, yaitu:

Kebodohan

Kerusakan Budi Pekerti

Kebejatan Moral dan kerusakan budi pekerti para pemimpinnya.

Sikap penakut dan pengecut[3]

 

B.     Situasi Mundurnya Umat Islam

 

Tidak memiliki Khilafah

Dibantai dan dijajah

Kelemahan di Berbagai Bidang

Mengikuti Tabiat Laknat, Sesat dan Jahil

C.     Kabar Gembira Perkembangan Islam

 

 

Agama paling Pesat Perkembangannya di Dunia, terutama Eropa dan Amerika

 

Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim.[4]

 

Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa. Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291).[5]

Islam menjadi agama yang paling pesat perkembangannya, mulai dari 1,6 miliar di tahun 2010 menjadi 2,76 miliar pemeluknya di tahun 2050. Dengan begitu, pemeluk Islam akan menjadi satu pertiga jumlah populasi dunia.[6]

Dalam 30 tahun terakhir, jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia telah meningkat pesat. Sebuah angka statistik menunjukkan, pada tahun 1973 penduduk Muslim dunia sekitar 500 juta jiwa. Namun, saat ini jumlahnya naik sekitar 300 persen menjadi 1,57 miliar jiwa. Tercatat, satu dari empat penduduk dunia beragama Islam.[7][8]

 

Perdagangan Produk Halal Meningkat

 

Kesadaran penduduk Muslim dunia untuk mengkonsumsi produk halal semakin meningkat. Sehingga mendorong terhadap perdagangan produk halal yang saat ini mencapai hingga 1,3 miliar dolar AS. Diperkirakan perdagangan produk halal akan terus meningkat kedepannya.[9]

Lembaga survei dari Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life memproyeksikan total penduduk muslim dunia meningkat dari 1,6 miliar jiwa pada 2010  menjadi 2,2 miliar pada 2030. Wilayah konsumen utama produk halal berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.[10]

Pasar makanan halal di Prancis ditujukan kepada warga Muslim, yang saat ini mencapai sekitar 5.5 juta. Tentu saja jumlah itu menarik minat pedagang retail dan pengusaha restoran. Pengamat pasar dan keuangan menilai pertumbuhannya sangat pesat. [11]

Jilbab Semakin Mendunia

 

Jilbab kini menjadi tren baru yang marak digemari dalam dunia fesyen barat. Banyak disainer kondang dan industri terbesar di barat mulai melirik tren yang lagi naik daun ini. Mereka merancang berbagai mode kerudung dan kerudung yang bisa menjadi jilbab untuk orang Islam. Rumah mode terkenal D&G dan nama besar lain di industri mode seperti Paul Smith, Vera Wang dan Jean Paul Gaultier, kini memimpin mode baru ini dengan desain-desain mereka.[12]

Dolce and Gabbana, H&M, Pepsi, dan Nike termasuk di antara merek atau perusahaan yang membuat koleksi bagi para Muslimah. Iklan perempuan yang mengenakan kerudung dan jilbab sudah masuk ke ruang-ruang publik. H&M sudah menggunakan model Muslim di berbagai iklan mereka dan sejumlah merek juga telah meluncurkan ‘Koleksi Ramadan’ dengan harapan bisa menarik lebih banyak konsumen Muslim untuk membelanjakan uang mereka selama bulan suci.[13]

Busana hijab yang semakin trendi terus menjadi perbincangan di seluruh dunia. Perkembangan ini juga diiringi dengan meningkatnya jumlah label fashion muslim di dunia. Salah satunya, label busana muslim asal Amerika yang kiprah bisnisnya sudah terkenal mendunia.[14]

 

Aksi Belas Islam 212

 

Aksi doa bersama yang diadakan hari ini, Jumat (2/12) telah menyedot perhatian tak hanya media lokal, namun juga internasional.[15]

Aksi demonstrasi 212 yang bertema ‘Bela Islam Jilid III’ di silang Monumen Nasional, Jakarta, Indonesia, menjadi perhatian para media asing. Situs berita asal Inggris, Dailymail misalnya. Dalam artikel berjudul “Indonesia Blasphemy Protest Swells to Crowd of 200,000”, menuliskan bahwa ratusan ribu orang telah berkumpul di area Monas dan membentuk lautan manusia yang tumpah ruah di jalan-jalan.[16]

Aksi 212 tidak hanya mendapat apresiasi secara nasional, namun juga menjadi perhatian dunia internasional. Bagaimana tidak, aksi yang diikuti jutaan massa itu berjalan tertib, damai bahkan tidak meninggalkan sampah dan tidak pula merusak taman. Di antara media internasional yang meliput secara obyektif Aksi 212 hingga menampilkan tuntutan “tangkap ahok” adalah Aljazeera.[17]

 

Perkembangan Bank Syariah

 

Perkembangan bank syariah di dunia maupun di Indonesia cukup menggembirakan. Baik dari sisi jumlah, maupun dari sisi aset. Kemunculan Islamic Bank ini sering dihubungkan dengan kebangkitan dunia Islam. Ide dasar Islamic Bank bukan hanya terletak pada larangan pengenaan bunga atau riba saja. Islamic Bank menunjukkan bahwa etika dan finance dapat terhubung untuk melayani masyarakat.[18]

Di tengah-tengah krisis keuangan global yang melanda dunia dengan sistem ekonomi kapitalisnya, lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis. Lembaga-lembaga keuangan syariah tetap stabil dan memberikan keuntungan, kenyamanan serta keamanan bagi para pemegang sahamnya, pemegang surat berharga, peminjam dan para penyimpan dana di bank-bank syariah. Bahkan industri keuangan syariah malah mengalami pertumbuhan sebesar 1 triliun dollar.[19]

Potensi pasar yang besar bagi kegiatan perbankan islam, telah membuka cakrawala baru bagi bank-bank yang berasal dari negara-negara nonmuslim untuk membuka islamic devision dibank tersebut. Hal ini dilakukan, misalnya oleh Citibank, Chase Mahattan Bank, ANZ Bank, dan Jardine Fleming. Mengingat bank Islam sekalipun melakukan kegiatan nya berdasarkan syariah atau hukum Islam, tetapi karena boleh pula melayani siapa saja termasuk yang nonmuslim, maka jasa-jasa perbankan Islam telah dirintis oleh bank-bank tersebut diatas sebagai pilihan pembiayaan. Bahkan di Eropa yang notabene sebagian besar masyayrakatnya nonmuslim, bank Islam tumbuh dengan pesat.[20]

Kini, perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menyebar ke banyak negara, bahkan ke negara-negara Barat,  seperti Denmark, Inggris, Australia  yang berlomba-lomba menjadi Pusat keuangan Islam Dunia (Islamic Financial hub) untuk membuka bank Islam dan Islamic window agar dapat memberikan jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.[21]

 

Pengakuan Barat terhadap Kehebatan Islam

 

Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyelidikan telah menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”[22]

Ahli Ekonomi mulai mengakui bahwa Sistem Ekonomi Syariah adalah jawaban untuk mengatasi krisis ekonomi dunia dan ketidakadilan. Beberapa Negara besar seperti Amerika yang selama ini banyak mengeksploitasi Negara-negara miskin justru mulai mengalami kesulitan keuangan, bahkan kota Detroit baru-baru ini dinyatakan bangkrut karena terlilit utang sebesar $ 20 milyar.[23]

Tim Wallace-Murphy menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain, adalah atas jasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta.[24]

Selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi. Cukup beralasan jika kita mengatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri.  Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya Barat bukan apa-apa. Peradaban berhutang besar kepada Islam. [25]

 

Sains Membuktikan Kebenaran Al-Quran

 

Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan.  Kejaibannya, meski Alquran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Alquran yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah.[26]

Dalam perkembangannya hingga pada abad ke-19 dan 20, masih banyak ilmuwan Barat yang masih bersusah payah menolak kebenaran adanya tuhan dan agama; menolak risalah Alquran dan Injil. Para ilmuwan kenamaan dunia itu hanya hidup di atas nama ilmu pengetahuan yang mereka anggap serba ilmiah, dan dihasilkan dari sebuah penelitian massif. Namun, secara tidak sengaja mereka menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi, sesuatu yang kemudian membuka mata hati mereka kepada tuhan, maka munculnya teori Big Bang pada 1929 yang membuka mata rantai antara sains dan ketuhanan.[27] [28] [29]

Sains membuktikan kebenaran al-qur’an melalui air laut selat gibraltar.[30] Ilmu sains membuktikan kebenaran al-quran.[31] Fakta-fakta sains yang klop antara ilmuwan dengan penjelasan alquran.[32] Penemuan sains membuktikan kebenaran al-quran.[33] Sains salah satu cara pembuktian kebenaran al-qur’an melalui penciptaan alam semesta.[34] llmuwan yang dikejutkan kebenaran al-qur’an.[35]

 

Pengakuan Tokoh Dunia terhadap Kehebatan Nabi Muhammad Saw

 

Mahatma Gandhi “Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya.”[36]

Thomas Charlilly, “Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa masih ada saja orang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu”. [37] [38]

Michael Hart, “Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Dia menyiarkan risalah Islam dan kini menjadi agama terbesar di muka bumi ini. Dia adalah pemimpun politik dan panglima tentara yang briian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Kini, setelah tiga belas abad kepergian Muhammad, pengaruhnya tetap eksis dan pengikutnya terus bertambah”.[39]

Dalam bukunya Heroes and Heroworship tersebut, tokoh dunia yang lain Sir George Bernard Shaw juga mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah saw. Ia mengatakan bahwa “Muhammad adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya. Beliau juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.”[40]

 

D.    Semangat Menyongsong Kejayaan Islam

 

Islamisasi Ilmu

 

Gagasan islamisasi, sebagai fenomena modernitas, menarik untuk dicermati dan menjadi great project bagi kalangan masyarakat Muslim. Gagasan ini muncul untuk merespons perkembangan pengetahuan modern yang didominasi peradaban Barat non-Islam. Dominasi peradaban sekuler menjadi faktor dominan dari kemunduran umat Islam. Padahal, dalam sejarah awal perkembangannya, umat Islam mampu membuktikan diri sebagai kampiun pertumbuhan peradaban dan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam terus memudar seiring dengan merosotnya kekuasaan politik Islam. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Barat, secara tidak langsung, berimplikasi positif bagi dunia Islam. Paling tidak, dunia Islam sadar akan terbelakangnya peradaban dan ilmu pengetahuan di kalangan mereka. Sehingga, berangkat dari kesadaran dimaksud, pada awal abad kedua puluh Islam mengalami dinamika baru melalui reorientasi dan transformasi ajarannya.[41]

Selanjutnya, secara umum islamisasi ilmu tersebut dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan Islam yang “terlalu” religius, dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan di antaranya. Kegiatan al-Faruqi dalam masalah islamisasi didorong oleh pendapatnya bahwa ilmu pengetahuan dewasa ini sudah sekuler dan jauh dari kerangka tauhid. Untuk itu dia menyusun kerangka teori, metode dan langkah-langkah praktis menuju islamisasi ilmu pengetahuan. Sejalan dengan itu, dia juga menyerukan adanya perombakan sistem pendidikan islam yang mengarah kepada islamisasi ilmu pengetahuan dan terciptanya paradigma tauhid dalam pengetahuan dan pendidikan.[42]

Islamisasi Ilmu berarti pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekuler, dan dari makna-makna serta ungkapan manusia-manusia sekuler. Dan dalam pandangan al-Attas, setidaknya terdapat dua makna Islamisasi yaitu Islamisasi pikiran dari pengaruh ekternal dan kedua Islamisasi pikiran dari dorongan internal. Yang pertama pembebasan pikiran dari pengaruh magis (magical), mitologis (mythology), animisme (animism), nasional-kultural (national cultural tradition), dan paham sekuler (secularism). Sedangkan yang kedua adalah pembebasan jiwa manusia dari sikap tunduk kepada keperluan jasmaninya yang condong mendzalimi dirinya sendiri, sebab sifat jasmaniahnya lebih condong untuk lalai terhadap fitrahnya sehingga mengganggu keharmonian dan kedamaian dalam dirinya yang pada gilirannya menjadi jahil tentang tujuan asalnya. Jadi Islamisasi bukanlah satu proses evolusi (a process of evolution) tetapi satu proses pengembalian kepada fitrah (original nature).[43]

 

Dakwah Manca negara

 

Nabi Muhammad Saw menyebarkan Islam melalui konsep dakwah. Data Kehebatan dan keistemewaan nabi muhammad dalam memimpin strategi dakwah Islam ke seluruh dunia, dapat dibaca di footnote ini.[44]

Semenjak awal Islam didakwahkan, semangat untuk membumikan Islam tetap terasa. Pada masa Rasulullah saw. penyebaran Islam telah jauh menyeberang wilayah yang beliau kuasai. Sebelum Islam diterima dengan baik oleh warga Mekah, dakwah Islam telah menyeberang sampai ke Habsyah yang saat ini kita kenal sebagai negara Etiopia.[45]

Mengikuti perkembangan dunia dakwah di Indonesia saat ini , ada fenomena menarik yang patut kita cermati, yaitu munculnya berbagai harokah ( gerakan dakwah dunia ) yang bersifat transnasional. Ideologi gerakan mereka tidak lagi bertumpu pada konsep nation-state, melainkan konsep umat. Dalam hal pemikiran di dominasi oleh corak pemikiran skripturalis, fundamentalisme atau radikal. Namun secara parsial mereka mengadaptasi gagasan dan instrumen modern. Harokah tersebut adalah jamaah tablig, Al-Ikhwan Al-Muslimun, Hizb At-Tahrir dan Dakwah Salafi.[46]

Dakwah sunnah di Belanda juga diramaikan dengan berbagai pengajian yang membahas kitab-kitab para ulama ahlus sunnah dalam bidang tauhid, aqidah, fiqih, tafsir, akhlak, bahasa Arab, dan sebagainya.[47]

Perkembangan umat Islam di Jerman terbilang sangat cepat, sehingga dalam sebuah penelitian sekitar 40% penduduk Jerman yang dibawah 18 tahun sudah memeluk agama Islam. Kekuatan Islam di sini sangat kuat karena menyatukan berbagai kelompok yang ada dan bisa menambah percaya diri umat Islam di sini k menyebarkan ajaran Islam lebih luas lagi.[48]

Banyaknya imigran muslim yang merantau dan menetap di Eropa selanjutnya menjadi cikal bakal berkembangnya islam di zaman modern. Tidak hanya itu banyak pelajar muslim yang kemudian pergi dan menetap di Eropa untuk menuntut ilmu. Kemudian berdirilah organisasi islam yang disebut Young Muslim Association in Europa (YMAE). Organisasi tersebut bertanggung jawab untuk mengembangkan dakwah dan upaya mengenalkan islam kepada masyarakat Eropa. Banyaknya masjid dan makanan halal yang tersedia di Eropa adalah salah satu bukti berkembangnya islam di benua ini.[49]

 

 

 

[1] https://saripedia.wordpress.com/2012/05/24/4-faktor-penyebab-kemunduran-ummat-islam/ (25-5-17)

[2]  https://id-id.facebook.com/notes/david-kurniawan/sebab-sebab-saat-ini-islam-mengalami-kemunduran/10151621012943052/

[3] http://hergianiq.blogspot.co.id/2012/11/faktor-penyebab-kemunduran-islam.html

[4] https://dhymas.wordpress.com/satu-bantahan-lagi-terhadap-dongeng/agama/islam-agama-yang-berkembang-paling-pesat-di-eropa/

[5] http://telecenterdaragati.malangkota.go.id/artikel/islam-agama-yang-berkembang-paling-pesat-di-eropa/

[6] http://internasional.kompas.com/read/2015/04/07/02103571

[7] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/07/28/127108-islam-berkembang-begitu-pesatnya-di-eropa-dan-amerika

[8] http://metroislam.com/perkembangan-islam-di-eropa-dan-faktanya/

[9] http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/14/07/10/n8hgzu-kesadaran-masyarakat-dunia-konsumsi-makanan-halal-meningkat

[10] https://m.tempo.co/read/news/2017/04/12/090865431/perdagangan-produk-halal-dunia-diperkirakan-capai-3-7-t-pada-2019

[11] http://m.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2010/04/16/43197/perdagangan-makanan-halal-di-prancis-diprediksi-meningkat.html

[12] https://kaferemaja.wordpress.com/2008/08/02/jilbab-semakin-mendunia-bukti-kebenaran-islam/

[13] http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39804108

[14] https://www.halallifestyle.id/fashion/enam-label-busana-hijab-asal-amerika-yang-mendunia

[15] https://www.merdeka.com/dunia/aksi-doa-bersama-212-di-indonesia-jadi-perhatian-dunia-internasional.html

[16] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/855146-aksi-212-di-monas-tarik-perhatian-media-internasional

[17] http://www.tarbiyah.net/2016/12/aksi-212-jadi-perhatian-dunia-ini.html

[18] http://metrojambi.com/read/2017/04/29/20564/bank-syariah-dan-kebangkitan-dunia-islam

[19] http://www.kompasiana.com/hasbulloh/perbankan-syariah-di-dunia-muslim_54ffc0fd813311046efa6f73

[20] http://bacaanmykuliah.blogspot.co.id/2016/07/sejarah-dan-perkembangan-bank-syariah.html

[21] http://ekonomiislam.id/sejarah-perkembangan-perbankan-syariah-modern/

[22] http://www.reportaseterkini.net/2016/06/mengejutkan-ini-dia-pengakuan-barat.html

[23] https://www.facebook.com/IlmuVora/posts/604657499578839

[24] http://defahrudi.com/index.php/2015/10/24/hutang-barat-terhadap-islam/

[25] http://imuelputra.blogspot.co.id/2016/01/pengakuan-tokoh-barat-terhadap.html

[26] http://mujahidah213.blogspot.co.id/2015/03/fakta-ilmiah-kebenaran-al-quran-dalam.html

[27] http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/05/11/o6z79y361-8-ilmuwan-yang-dikejutkan-oleh-kebenaran-alquran

[28] https://macanpamulang12.wordpress.com/2014/02/17/kebenaran-al-quran-dalam-sains-modern-dan-kontradiksi-kesalahan-injil-dalam-ilmiah-sains-modern/

[29] https://msulhan.wordpress.com/tag/bukti-kebenaran-alquran-lewat-sains/

[30] http://www.ahmaddahlan.net/2016/05/kajian-filsafat-air-laut-Selat-Gibraltar-sains-islam-al-quran.html

[31] http://dinimon.com/ilmu-sains-membuktikan-kebenaran-kitab-alquran.html

[32] https://www.brilio.net/news/fakta-fakta-sains-yang-klop-antara-ilmuwan-dengan-penjelasan-alquran-1504173.html

[33] https://prezi.com/5n46ohvon2uz/penemuan-sains-membuktikan-kebenaran-al-quran/

[34] http://cyberdakwah.com/2013/06/sains-salah-satu-cara-pembuktian-kebenaran-al-quran-melalui-penciptaan-alam-semesta/

[35] http://mabdriez.blogspot.co.id/2016/11/ilmuwan-yang-dikejutkan-kebenaran-al-qur.html

[36] http://www.fimadani.com/muhammad-saw-di-mata-para-tokoh-dunia/

[37] http://www.fimadani.com/muhammad-saw-di-mata-para-tokoh-dunia/

[38] https://catatansomen.blogspot.co.id/2012/07/pengakuan-7-tokoh-dunia-terhadap-nabi.html

[39] http://www.dictio.id/t/mengapa-nabi-muhammad-menempati-peringkat-pertama-diantara-100-orang-berpengaruh-di-dunia/7060

[40] http://aceh.tribunnews.com/2014/01/15/nabi-muhammad-dan-peradaban-dunia

[41] https://sudiryona.wordpress.com/about/islamisasi-ilmu-pengetahuan-islam/

[42] http://zuckyam.blogspot.co.id/2015/12/islamisasi-ilmu-pengetahuan.html

[43] https://ikhwanmr.blogspot.co.id/2016/02/islamisasi-ilmu-pengetahuan.html

[44] http://www.kompasiana.com/azmatkhan/peta-dakwah-nabi-muhammad-para-sahabat-ke-seluruh-dunia_552bfabe6ea8345d088b45a2

[45] http://pendidikan60detik.blogspot.co.id/2015/06/perkembangan-islam-di-dunia.html

[46] https://selembartiketsyurga.wordpress.com/2014/12/14/gerakan-dakwah-terbesar-saat-ini/

[47] https://muslim.or.id/26690-perkembangan-dakwah-sunnah-di-belanda.html

[48] http://www.qolbunhadi.com/sejarah-perkembangan-islam-di-eropa/

[49] http://dalamislam.com/sejarah-islam/perkembangan-islam-di-eropa


Ditulis dalam Uncategorized

IQRO KEHANCURAN NEGERI

Bab I  Fenomena Kehancuran Negeri

 

Kehancuran negeri-negeri atau suatu negeri baik dalam arti wilayah ataupun Negara merupakan suatu fenomena. Banyak kasus Negara menjadi hancur dan hilang dari peta dunia, di sepanjang sejarah Umat Manusia.

 

Kehancuran sebuah negeri tentu mengandung sebab-sebabnya. Sejarah menyajikan kepada kita pengetahuan tentang sebab-sebab tersebut. Sumber-sumber pengetahuan selain sejarah dapat pula kita jadikan sebagai rujukan untuk mengetahui sebab-sebab tersebut.

 

Negera dan negeri mana pun yang saat ini berdiri, tentu tidak akan terlepas dari takdir kehancuran tersebut. Sebab itu kita perlu mengetahui tanda-tandanya. Tanda-tanda tersebut tentu sangat dekat kaitannya dengan sebab-sebab kehancuran. Kita punya kewajiban untuk mencegah Negara kita dari kehancuran.

 

Fokus penelitian buku karya tulis ini adalah tentang tanda-tanda kehancuran sebuah negeri. Lingkup bahasannya adalah sebagai berikut.

Bab 2 Firman, Sains, Sejarah, Praktisi, Hukum, Akal Sehat, Intuisi.

A.      Firman Allah tentang Kehancuran Negeri

1.      Ayat 1

 

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’: 16).

2.      Ayat 2

 

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa”. (QS al-An’am:44).

3.      Ayat 3

 

“Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS al-Anfal:53).

 

B.      Teori Kehancuran Sebuah Negeri

1.      Fakta Sejarah

 

Sejarah menunjukkan kepada kita kebangkitan dan keruntuhan bangsa-bangsa besar.  Kita masih dapat menyaksikan apa yang tersisa dari perjalanan bangsa-bangsa besar masa lalu di museum dan reruntuhan bangunan kuno. Hal itu menunjukan pada kita bahwa negara-negara besar bangkit dan runtuh sepanjang sejarah. Apa yang bisa kita ambil dari dari pelajaran sejarah?  Berapa lama suatu negara bisa bertahan? Bisakah satu negara bertahan hingga seribu tahun?[1]

Pompeii. Sebelum hancur, kota itu adalah salah satu kota plesir bangsa Romawi. Letaknya di Semenanjung Napoli (Naples). Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Pesta seks di pemandian umum menjadi bagian dari gaya hidup. Pemandian umum di Pompeii sudah eksis jauh sebelum pemandian serupa ada di kota Roma. Dari lukisan dinding yang ditemukan di bangunan-bangunan Pompeii terlihat jelas kegilaan penduduknya akan seks.  Laut Mati. Para arkeolog yang bekerja di situs Tall As-Sa`idiyah di sebelah utara Laut Mati mendapati bahwa sekitar Zaman Perunggu (1800-2350 SM) di sana terdapat kehidupan. Saat itu iklim di kawasan tersebut tidak kering seperti sekarang. Antropolog forensik AS, Prof Mike Finnegan meneliti tiga kerangka pria di Numeira selatan Laut Mati dari tahun 2350 SM. Dia menyimpulkan bahwa ketiganya mati karena tertimpa bebatuan akibat gempa besar. Kemungkinan bahwa di daerah tersebut terjadi gempa sedikitnya 6 skala Richter dibenarkan geolog Israel Shmuel Marco, karena banyak terdapat patahan.[2]

Dunia mungkin mengenal Kekaisaran Romawi Barat dan Timur yang menguasai Sebagian eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah hingga Asia. Kekaisaran Romawi Timur mampu bertahan bertahan hingga 1123 tahun (330-1453), atau Kekaisaran Ottoman (Ustmaniyah) yang berkuasa selama 621 tahun (1301- 1922 M). Tapi negara yang paling tua dan masih berdiri adalah San Marino. San Marino didirikan oleh Santo Marinus pada 3 September 301 M, atau negara dengan luas hanya 61 kilometer persegi ini telah berusia 1731 tahun. Kebudayaan China tercatat sudah dimulai sejak 3500 tahun yang lalu. Hanya saja kebudayaan ini terus menerus berubah bentuk dengan barbagai  Kerajaan besar yang datang dan hilang silih berganti hanya bertahan paling lama 200-300 tahun. Secara resmi Cina menganggap 221 SM sebagai waktu berdirinya bentuk negara modern saat Qin Shi Huang memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar Pertama China. Pada abad ketiga, dinasti Han berkembang menghasikan budaya dan tradisi China seperti yang dikenal hingga sekarang. Republik China didirikan pada tahun 1912, dan pada tahun 1949 China berubah menjadi Republik Rakyat China hingga bentuknya seperti sekarang.[3]

2.      Teori-teori

Mengenai Negara dan perkembangannya, menurut ibn Khaldun dapat dibagi menjadi lima tahap. Menurut Ibn Khaldun Negara beralih dalam berbagai perkembangan dan kondisi-kondisi yang silih berganti. Perkembangan dan kondisi Negara umumnya tidak lebih dari lima tahap:

  1. Tahap pendirian Negara. Negara hanya bisa ditegakkan dengan bantuan ‘ashabiyah. Dengan ‘ashabiyah orang akan bersatu dalam mencapai tujuan yang sama, mempertahankan diri dan mengalahkan musuh.
  2. Tahap pemusatan kekuasaan atau disebut dengan tahap tirani. Menurut Ibn Khaldun tahap kedua ini diwarnai oleh adanya kemapanan kekuasaan, sehingga timbul keinginan pemegang kekuasaan untuk memonopoli kekuasaan.
  3. Tahap kekosongan dan kesantaian untuk menikmati buah kekuasaan dengan menumpuk kekayaan, mengabadikan peninggalan serta meraih kemegahan. Menurut Ibn Khaldun tahap ketiga ini merupakan masa dimana Negara sedang dalam puncak perkembangan.
  4. Tahap ketundukan dan kemalasan. Penguasa meniru tradisi-tradisi serta lembaga yang dibangun pendahulunya. Periode ini ditandai dengan kepuasan penguasa terhadap prestasi yang telah dicapai generasi sebelumnya.
  5. Tahap pembubaran dan keruntuhan Negara. Selama tahap ini, penguasa menghambur-hamburkan uang untuk melampiaskan kesenangan diri dan pendukungnya.[4]

Teori menurut AL-Quran. Mutraf dan Mala’. Kata mutraf yang oleh para pakar dipahami sebagai orang yang cenderung berlaku seenaknya dan berfoya-foya disebabkan kemewahan dan kemegahan yang dimiliki. Mereka juga merupakan kelompok yang mudah melupakan nilai-nilai kemasyarakatan, melecehkan ajaran-ajaran agama; bahkan, menindas orang-orang yang lemah. Mereka terbiasa “menikmati” perilaku dosanya tanpa merasa bersalah.  Mala’ adalah kelompok yang dpandang mulia oleh masyarakat. Mereka dipenuhi oleh kebanggaan dan kebesaran. Al-Qur’an menggambarkan mala’ sebagai kelompok yang berada di sekeliling penguasa. Memang tidak semua mala’ itu buruk, namun kecenderungan kelompok mala’ dinyatakan oleh Al-Qur’an sebagai kelompok yang senantiasa “menjilat” sang penguasa.[5]

 

3.      Sebab Kehancuran

 

Ada lima penyebab kehancuran suatu negeri menurut Al-Qur’an karena ada lima golongan yang ingkar dan tidak patuh pada perintah Allah. Pertama, penguasa yang angkuh seperti halnya yang pernah terjadi pada Fir’aun masa Bani Israil dulu. Kedua, Kaum intelektual yang berada di samping penguasa itu harus selalu bersikap kritis dan selalu mengingatkan penguasa untuk berada di jalan yang benar, jangan menjadi penjilat penguasa yang salah jalan agar diberi jabatan. Hal ketiga yang membawa kehancuran adalah ulama yang jahat (su’) dan tidak bersikap tegas dan kritis untuk mengingatkan penguasa yang salah. Keempat, pengusaha atau orang kaya yang kikir dan jahat seperti Qarun karena ingkar kepada perintah Allah. Golongan kelima  yang membawa kehancuran suatu negeri, rakyat yang malas, penakut, dan tidak kreatif.[6]

Penguasa Yang Dzalim; Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam suatu negeri senantiasa ada penguasa-penguasa jahat yg suka membikin makar. Orang Kaya yg Durhaka; Bila orang-orang kaya dalam sebuah negeri mulai mengingkari ayat-ayat Allah maka sesungguhnya negeri itu mulai memasuki usia tua. Orang-orang kayanya hanya membanggakan banyaknya harta yg ditumpuk serta keturunan-keturunannya. Mengusir Orang-Orang Salih; Keberadaan orang-orang shalih di sekitar penguasa atau masyarakat yg jahil dirasakan seperti duri yg manusuk daging tubuhnya. Sehingga penguasa atau masyarakat jahil itu merasa gerah dan marah kemudian berupaya keras mengeluarkan duri itu dari dalam tubuhnya. Masyarakat yg Suka Bermaksiat dan Ingkar Nikmat; Adakalanya membanjirnya berbagai kemudahan dan keni’matan hidup dalam sebuah negeri tidak selalu menjadikan penduduknya bisa bersyukur. Alamnya yg subur laut yg luas dan kaya barang tambang yg melimpah margasatwa yg beraneka ragam; semua itu malah membuat mereka takabur. Mereka eksploitasi habis-habisan segala kekayaan itu hanya utk dipakai berfoya-foya dan berbuat maksiat. Terjadinya Penyimpangan Seksual; Deviasi seksual bisa terjadi bila seseorang menjadi budak dari syhwtnya. Segala cara dipakai utk memenuhi dorongan syhwt nya yg menggebu-gebu. Diantara bentuk-bentuk deviasi seksual adl lesbian homoseks free seks prostitusi dan yg lain-lain. Peristiwa deviasi seksual pernah terjadi pada masa Nabi Luth yaitu berhadapan dgn kaumnya yg mengidap penyakit homoseksual. Hilangnya Amar Maruf Nahi Munkar . Bila tidak ada lagi amar maruf nahi munkar dalam sebuah negeri maka itu adl tanda akan turunnya adzab Allah SWT kepada seluruh penduduknya. Tidak adanya amar maruf nahi munkar bisa dikarenakan banyak sebab. Diantaranya manusia sudah terlanjur senang bergelimang dosa dan menganggap aneh perbuatan yg baik. Sehingga perbuatan maruf menjadi sesuatu yg janggal dalam kehidupan sebaliknya perbuatan yg munkar merupakan tradisi yg digemari.[7]

Umar Radiyallahu anhu menjelasakan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar umat; dimana beliau mengatakan,” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”[8]

Hadits Nabi: Wahai para Muhajirin: ada 5 perkara (sebab kehancuran). Jika kalian ditimpa 5 perkara tersebut dan aku belindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya.

  1. Tidaklah muncul perbuatan keji pada suatu kaum hingga mereka melakukan terang-terangan melainkan akan menyebar di tengah-tengah mereka wabah tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada nenek moyang sebelum mereka.
  2. Tidaklah megurangi takaran dan timbanagnn melainkan akan ditimpakan kepada mereka paceklik, kesempitan (krisis) ekonomi dan kesewenang-wenangan (kezhaliman) para penguasa atas mereka.
  3. Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan hujan atas mereka, seandainya bukan karena hewan ternak, niscaya tidak akan turun hujan atas mereka.
  4. Tidaklah mereka melanggar perjanjian yang ditetapkan Allah dan Rasul-nya melainkan Allah akan menguasakan musuh-musuh dari luar kalangan mereka atas mereka, lalu merampas sebagian yang ada ditangan mereka.
  5. Selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum kepada Kitabullah dan memilih yang terbaik dari yang diturunkan Allah melainkan akan Allah jadikan musibah diantara mereka sendiri. [9]

Korupsi

Korupsi yang telah merajalela tersebut mempunyai dampak yang merugikan dan merusak tatanan  dalam    kehidupan  bermasyarakat  berbangsa  dan  bernegara. Di samping kerugian  material juga terjadi kerugian yang bersifat immaterial,yaitu citra dan martabat bangsa kita di dunia internasional. Predikat kita sebagai negara yang  terkorup di kawasan  Asia  Tenggara     merupakan  citra  yang  sangat  mamalukan. Di samping kerugian   material dan immaterial, korupsi juga membawa dampak pada penciptaan  ekonomi  biaya  tinggi.  Karena  korupsi  menyebabkan  inefisiensi  dan  pemborosan dalam ekonomi.  Uang pelicin, sogok/suap, pungutan dan sejenisnya akan membebani komponen biaya produksi.[10]

 

4.      Upaya Mencegah Kehancuran

 

 

 

5.      Kewajiban Setiap Negeri

C.      Sejarah Kehancuran Negeri-Negeri

1.      Imperium Romawi dan Persia

2.      Imperium Islam

3.      Negara-Negara di Wilayah Nusantara

D.     Pendapat Ilmuwan tentang Kehancuran Negeri-Negeri

1.      Tokoh Islam

2.      Tokoh Barat

3.      Tokoh Indonesia

E.      Undang-undang terkait Ancaman kepada Sebuah Negeri

1.      Jenis Acaman

2.      Upaya Pencegahan

3.      Hukuman

F.       Kehancuran Sebuah negeri menurut akal sehat dan Intuisi Saya

1.      Menyalahi Sunatullah

2.      Menyalahi Diinullah

3.      Terpedaya Dunia

4.      Terpedaya Nafsu

5.      Tingkah Penguasa

G.     Tanda-Tanda Faktual Kehancuran Negeri Indonesia

1.      Kelemahan Ideologi dan Tranfser Nilai

2.      Perusak-perusak Generasi yang tidak teratasi

3.      Salah kaprah Pembangunan

4.      Ketidakberpihakan pada Islam

5.      Permainan Hukum

6.      Ilmu yang Sekular

7.      Pendidikan yang tidak kokoh

8.      Kerusakan dan Perampokan sumber Alam

H.     Kerangka Jiwa tentang Tanda Kehancuran Negeri-negeri

1.      Jangan meninggalkan Iman

2.      Jangan abailkan Ilmu

3.      Jangan abaikan konsistensi dalam mengelola Negara

 

Bab 3 Kerangka Jiwa bagi Iman, Sains, Negara dan Kemanusiaan tentang Tanda-tanda Kehancuran Negeri

A.      Kerangka Berfikir

B.      Kerangka Bernegara

C.      Kerangka Beramal

D.     Kerangka Kemanusiaan

 

Bab 4 Hipotesis, Resolusi dan Program Dakwah.

A.      Hipotesis

B.      Resolusi

C.      Dakwah

D.     Program

 

Bab 5 Resolusi Faktual dan Data Penelitian di Lapangan.

A.      Peran Institusi Keluarga

E.      Peran Instirusi Sosial

F.       Peran Institusi Agama

G.     Peran Institusi Negara

H.     Peran Institusi Pendidikan

I.        Peran Institusi Keilmuan

 

Bab 6 Analisa dan Sintesa bagi sistem Jiwa Manusia

A.      Sumber Kehancuran

B.      Solusi dari Kehancuran

C.      Potensi Kita

D.     Harapan Terbesar

 

Bab 7 Kesimpulan dan Saran

Menjaga Negara Republik Indonesia

 

Permasalahan yang Dihadapi Negara Kesatuan Republik Indonesia

Berbagai macam persoalan yang menjadi ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebagai berikut:[11]

  • Potensi perpecahan. Kemajemukan Indonesia yang merupakan kelebihan Indonesia di mata dunia internasional yang harus dikelola sedemikian rupa agar menjadi kekuatan besar yang mampu menghadapi permasalahan yang datang. Namun, seringkali kemajemukan itu justru menjadi bibit perpecahan diantara warga bangsa. Tak luput hal ini dimanfaatkan pihak luar untuk kepentingan tertentu yang dapat merusak keberlangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Memudarnya fungsi Pancasila sebagai dasar Negara. Setelah reformasi bergulir, tidak ada lagi doktrin ideologi Pancasila yang dilakukan pemerintah seperti saat Orde Baru berkuasa dengan BP7 dan Penataran P4-nya. Akibatnya, generasi sekarang dianggap tidak menjiwai nilai-nilai Pancasila.
  • Penyebab lunturnya Bhinneka Tunggal Ika memicu timbulnya konflik di Indonesia.
  • Akibat negatif globalisasi. Arus globalisasi yang sangat pesat membuat segala hal benar-benar mudah diakses. Tanpa adanya filter tentunya dapat mendatangkan permasalahan bagi Negara Indonesia.
  • Gerakan separatis. Di Indonesia terdapat beberapa gerakan separatis yang dapat merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Ketimpangan sosial ekonomi. Selama ini wilayah timur Indonesia kurang mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah. Hal ini memberi dampak ketimpangan sosial di masyarakat yang bukan tidak mungkin menjadi bibit separatis baru.
  • Pelanggaran HAM. Masalah pelanggaran HAM merupakan masalah yang sering muncul di Indonesia. Berbagai jenis-jenis pelanggaran HAM terjadi di misalnya kerusuhan Mei 1998.
  • Konflik sosial. Konflik sosial sangat rentan terjadi di Indonesia. Hal ini terkait dengan lunturnya Bhinneka Tunggal Ika dan memudarnya fungsi Pancasila sebagai dasar Negara serta memudarnya fungsi toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Dampak akibat konflik sosial yang ditimbulkan tidaklah sedikit seperti kerugian materiil dan jatuhnya korban jiwa. Tak jarang mereka menjadi pengungsi di Negara sendiri yang bukan tidak mungkin menimbulkan bibit-bibit konflik baru.
  • Terjadinya korupsi sebagai penyebab terjadinya tindakan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan baik oleh pejabat pemerintah maupun swasta.
  • Narkoba merajalela di Indonesia. Saat ini Indonesia tengah gencar-gencarnya perang melawan narkoba. Berbagai kasus penyalahgunaan narkoba terjadi hampir di berbagai kalangan dan tempat. Bahkan aparat pemerintah dan aparat hukum yang seyogyanya menjadi suri tauladan bagi rakyat justru terjerat narkoba.
  • Potensi intervensi yang dilakukan pihak asing. Indonesia dengan segala kekayaan yang dimiliki tentu tidak luput dari gangguan yang berasal dari Negara lain. Mungkin bukan berbentuk agresi militer, tetapi intervensi bidang ideologi dan perekonomian.
  • Pelanggaran batas wilayah Negara juga menjadi ancaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelanggaran ini dapat memicu terjadinya konflik dengan Negara lain.

 

[1] http://jakartagreater.com/keruntuhan-dan-kebangkitan-bangsa-bangsa-dunia/

[2] https://www.hidayatullah.com/spesial/ragam/read/2014/11/24/33756/inilah-negeri-negeri-yang-diazab-1.html

[3] http://jakartagreater.com/keruntuhan-dan-kebangkitan-bangsa-bangsa-dunia/

[4] https://www.nyatnyut.com/2017/01/06/teori-ibn-khaldun-tentang-siklus-bangun-dan-jatuhnya-sebuah-negara/

[5] http://sabronkanja.blogspot.co.id/2011/10/teori-kehancuran-bangsa-menurut-al.html

[6] http://aceh.tribunnews.com/2014/10/31/ini-penyebab-hancurnya-suatu-negeri

[7] http://beritaislamimasakini.com/tanda-tanda-dekatnya-kehancuran-suatu-negeri.htm

[8] https://www.eramuslim.com/peradaban/pemikiran-islam/umar-bin-khattab-suatu-negeri-akan-hancur-jika-para-penghianat-menjadi-petinggi-dan-harta-dikuasai-oleh-orang-orang-fasik.htm#.WSZoYbZ8vIU

[9] https://aslibumiayu.net/1301-faktor-faktor-hancurnya-sebuah-negeri.html

[10] http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/08234/bahrin.pdf

[11] http://guruppkn.com/upaya-menjaga-keutuhan-nkri


Ditulis dalam Uncategorized

KARYA TULIS IQRO

Kerangka Karya Tulis Iqro

 

Sebagaimana dijelaskan di dalam Hikmah Iqro atau Epistemologi Iqro dan Metodologi Iqro maka, salah satu metode yang muncul dari keduanya adalah Metode Iqro. Metode Iqro hanyalah salah satu cara berilmu yang diharapkan dapat menguatkan iman kemudian mengambil wujud berupa tulisan. Selanjutnya Metode Iqro saat diterapkan akan menghasilkan Karya Tulis Iqro.

Metode Karya Tulis Iqro diturunkan dari Metode Iqro

Metode Iqro diturunkan dari Metodologi Iqro

Metodologi Iqro diturunkan dari Epistemologi Iqro, Epistemologi Islam dan Hikmah Iqro

 

Berikut adalah Kerangka Karya Tulis Metode Iqro

Pra : Judul/Tema/Batasan

Pendahuluan: Hikmah Iqro

Bab I  Fenomena

Bab 2 Firman, Ilmu, Sains, Sejarah, Praktisi, Hukum, Akal Sehat, Intuisi.

Bab 3 Kerangka Jiwa bagi Iman, Sains, Negara dan Kemanusiaan.

Bab 4 Hipotesis, Resolusi dan Program Dakwah.

Bab 5 Fakta dan Data Penelitian di Lapangan.

Bab 6 Analisa dan Sintesa bagi sistem Jiwa Manusia.

Bab 7 Kesimpulan dan Saran

Penutup: Tujuan yang ingin dicapai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Penerapan

 

Pra : Tanda Kehancuran Sebuah Negeri

Pendahuluan: Hikmah Iqro

Bab I  Fenomena dan Wacana Kehancuran Indonesia

Bab 2 Firman, Sains, Sejarah, Praktisi, Hukum, Akal Sehat, Intuisi.

A.     Firman Allah tentang Kehancuran Negeri

B.     Teori Kehancuran Sebuah Negeri

C.     Sejarah Kehancuran Negeri-Negeri

D.    Pendapat Ilmuwan tentang Kehancuran Negeri-Negeri

E.     Undang-undang terkait Ancaman kepada Sebuah Negeri

F.      Kehancuran Sebuah negeri menurut akal sehat dan Intuisi Saya

G.     Kerangka Jiwa tentang Kehancuran Negeri-negeri

 

Bab 3 Kerangka Jiwa bagi Iman, Sains, Negara dan Kemanusiaan.

A.     Kerangka Berfikir

B.     Kerangka Bernegara

C.     Kerangka Beramal

D.    Kerangka Kemanusiaan

 

Bab 4 Hipotesis, Resolusi dan Program Dakwah.

A.     Hipotesis

B.     Resolusi

C.     Dakwah

D.    Program

 

Bab 5 Resolusi Faktual dan Data Penelitian di Lapangan.

A.     Peran Institusi Keluarga

E.     Peran Instirusi Sosial

F.      Peran Institusi Agama

G.     Peran Institusi Negara

H.    Peran Institusi Pendidikan

I.       Peran Institusi Keilmuan

 

Bab 6 Analisa dan Sintesa bagi sistem Jiwa Manusia

A.     Sumber Kehancuran

B.     Solusi dari Kehancuran

C.     Potensi Kita

D.    Harapan Terbesar

 

Bab 7 Kesimpulan dan Saran

Penutup: Tujuan yang ingin dicapai


Ditulis dalam Uncategorized

KAFIR PANGKAL KERUGIAN

KAFIR PANGKAL KERUGIAN

Karya: Ading Nashrulloh
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia.

Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

(QS. Al-kahfi (18): 103-106)

Tiga Kaidah Utama

Ayat di atas mengandung banyak pesan sebagaimana terkandung dalam kosa kata, konsep dan hukum atau ketetapan Allah.

Tiga kaidah utama yang ingin saya kaji secara mendalam ada tiga saja yaitu:

1. Sia-sia dan ruginya amal usaha orang kafir.
2. Kafir adalah kafir terhadap Alloh.
3. Balasan bagi mereka adalah Neraka Jahanam.

Ketiga hal di atas sifat mutlak, aksiomatis, tak perlu diragukan akan kebenarannya. Hal yang harus dijadikan pegangan dalam memandang orang kafir. Dan memandang diri serta manusia agar berhati-hati dari kekafiran.

Untuk itu penting bagi setiap muslim untuk memiliki pengetahuan yang baik tentang makna kafir. Sehingga menjadi benteng agar kita tidak terperosok ke dalamnya. Juga agar timbul rasa takut bila berbuat seperti perbuatan orang kafir.

Di dalam empat ayat di atas terdapat sejumlah kosa kata pembentuk konsep dan ilmu. Yang semuanya memiliki definisi yang sangat berbeda satu sama lainnya. Hingga darinya terbentuk sejumlah konsep dan membangun ilmu yang penting dan berguna bagi cara kita melihat kehidupan ini, yang berbeda dengan cara selain ini.
Daftar Kosa kata dan Konsep

1. Nabi Muhammad Saw
2. Pemberitahuan
3. Rugi
4. Amal Usaha
5. Sia-sia
6. Dunia
7. Prasangka
8. Kebaikan
9. Kafir
10. Ayat-ayat
11. Rabb
12. Pertemuan
13. Hapus
14. Penilian
15. Hari Qiyamat
16. Balasan
17. Neraka
18. Rasul-rasul
19. Olok-olok

Daftar Konsep dari Tafsir Ibnu Katsir
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab, ia menceritakan, aku pernah bertanya kepada ayahku, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash.
Mengenai firman Allah: qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”) Apakah mereka itu al-Hururiyyah?
la menjawab: “Tidak, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi itu telah mendustakan Muhammad saw.
Sedangkan orang-orang Nasrani, ingkar akan adanya surga dan mereka mengatakan: “Tidak ada makanan dan minuman di dalamnya.”
Al-Hururiyyah adalah orang-orang yang membatalkan janji Allah setelah mereka berjanji kepada-Nya.
Yang jelas, hal itu bersifat umum yang mencakup semua orang yang menyembah Allah Ta’ala dengan jalan yang tidak diridhai, yang mereka mengira bahwa mereka benar dan amal perbuatan mereka diterima, padahal mereka itu salah dan amal perbuatannya tidak diterima.
qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”)
Kemudian Dia menafsirkan mereka seraya berfirman:
alladziina dlalla sa’yuHum fil hayaatid dun-yaa (“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,”) yakni orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang sesat dan tidak berdasarkan syari’at yang ditetapkan, diridhai dan diterima oleh Allah.
Wa Hum yahsabuuna annaHum yuhsinuuna shun’an (“Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”)
Mereka berkeyakinan bahwa mereka telah berbuat sesuatu dan yakin bahwa mereka diterima dan dicintai.
Dan firman-Nya: ulaa-ikal ladziina kafaruu bi aayaati rabbiHim wa liqaa-iHi (“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan [kufur terhadap] perjumpaan dengan-Nya.”)
Maksudnya, mereka mengingkari ayat-ayat dan bukti-bukti kekuasaan Allah di dunia yang telah disampaikan-Nya, juga mendustakan keesaan-Nya, tidak beriman kepada para Rasul-Nya, serta mendustakan alam akhirat.
Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”)
Artinya, Kami tidak akan memberatkan timbangan mereka, karena dalam timbangan mereka tidak terdapat kebaikan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah di mana beliau bersabda:
“Pada hari Kiamat, akan datang seseorang yang (berbadan) besar lagi gemuk, yang ia tidak lebih berat timbangannya di sisi Allah dari beratnya sayap nyamuk.”
Lebih lanjut beliau bersabda:
“Jika kalian berkehendak, bacalah: Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”)
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Firman-Nya: dzaalika jazaa-uHum jaHannamu bimaa kafaruu (“Demikianlah, balasan mereka itu neraka jahannam disebabkan kekafiran mereka.”)
Maksudnya, Kami berikan balasan kepada mereka dengan balasan seperti itu disebabkan oleh kekufuran mereka dan tindakan mereka memperolok-olok ayat-ayat dan para Rasul Allah.
Mereka memperolok para Rasul dan benar-benar mendustakan mereka.

“ Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. “
Maksudnya, mereka mengingkari ayat-ayat dan bukti-bukti kekuasaan Allah di dunia yang telah disampaikan-Nya, juga mendustakan keesaan-Nya, tidak beriman kepada para Rasul-Nya, serta mendustakan alam akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir).
Bagaimana cara Alloh meyakinkan manusia bahwa manusia akan berjumpa denganNya nanti di akhirat?
Jawabannya dalam Al-Quran Surat ar-Ra’d (16) ayat 2
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (ar-Ra’du: 2)

Firman Allah: yufashshilul aayaati la’allakum biliqaa-i rabbikum tuuqinuun (“Menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya], supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan Rabb-mu.”)

Maksudnya, Allah menerangkan ayat-ayat dan tanda-tanda yang menunjukkan, bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Allah akan mengembalikan seluruah makhluk jika menghendaki sebagaimana Dialah yang pertama kali menciptakannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Jadi metode Alloh untuk meyakinkan bahwa manusia akan dikembalikan kepadaNya ialah dengan:
1. Menjelaskan siapa Alloh, yaitu tidak ada ilah selainNya.
2. Menjelaskan tentang kekuasaan dan kebesaranNya di alam semesta.
3. Menjelaskan bahwa Dia memiliki kekuasaan pula untuk menghidupkan manusia setelah matinya.

Jadi semakin kita mengenal dan memperdalam konsep Tauhid, mentafakuri alam semesta ciptaan Alloh ini dan meneguhkan kesadaran akan kekuasaan Allah termasuk kekuasaanNya untuk menghidupkan manusia setelah mati, maka hal itu dapat meyakinkan lebih baik diri sendiri bahwa kita akan bertemu dengan Allah.

Di sini jelas sekali akan pentingnya ilmu tauhid, kegiatan penelitian dan mengingat akan kekuasaan Alloh Swt untuk mempekuat keyakinan kita kepada pertemuan denganNya. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat atas pertemuan dengan Allah tentu banyak sekali manfaatnya bagi pola hidup dan metode berfikir kita selama ini.

Sebaliknya kita akan menemukan banyak fakta yang sangat merugikan hidup manusia, saat mereka tidak meyakini akan pertemuan dengan Alloh. Akan banyak perkara kebaikan dan kewajiban yang mereka abaikan. Dan akan banyak sekali perkara munkar yang mereka kerjakan karena dipandang baik dan benar.

Alloh, tiada Tuhan Selain Dia, Rabb Manusia dan Alam.
Tanda-tanda Kebesaran Allah pada Alam dan Manusia.
Alloh kuasa menghidupkan kembali Manusia di Yaumul Qiyamah.

RUGINYA AMAL USAHA ORANG KAFIR

Orang yang paling rugi adalah orang yang sia-sia amal usahanya sedangkan ia menyangka berbuat baik, dikarenakan mereka kafir kepada Alloh.

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Pada dasarnya manusia berfikir dan berlaku adalah demi kebaikan untuk dirinya.

Manusia memanfaatkan otot tubuhnya sebagai sumber energi, sehingga ia mampu mengangkat dan memindahkan benda-benda. Manusia memanfaatkan kedua tangannya sehingga terampil dalam membuat barang-barang yang dibutuhkannya, sehingga membuatnya senang.

Manusia memanfaatkan bahasa, logika dan penemuannya sehingga terbentuklah peradaban dan kebudayaan, sehingga manusia bangga. Manusia memanfaatkan keberadaan dirinya satu sama lain, sehingga terbentuklah Negara, perusahaan, organisasi, rasa kesetiakwanan, sehingga betahlan mereka hidup di dunia.

Semua yang dilakukannya ini adalah demi menggapai apa yang mereka rumuskan sebagai kebaikan dan keuntungan bagi kehidupannya. Dan mereka terus melakukan hal tersebut sekalipun kemudian adakalanya menimbulkan kerugian bagi sebagian golongan manusia.
Intinya adalah manusia berfikir cenderung untuk mengejar apa saja yang dipandang lebih baik dan mengenakkan hidup. Hal ini wajar adanya. Dari rasa dan kesadaran akan pentingnya memiliki dunia dan perhiasannya tumbuhlah ilmu dan teknologi.

Hanya saja Alloh mengingatkan khusus bagi orang yang beriman, dunia tidak boleh dicintai lebih dari Allah, Rasul dan Jihad. Sebab jika tiga hal di atas diabaikan maka jadinya adalah seperti sifat kaum kafir. Yang cinta dunia dan lupa dengan akhirat.

Sesaat kemudian tumbuhlah kesombongan dan keengganan untuk taat kepada Allah Swt. Akibatnya adalah kerugian.

Dalam kenyataannya hasil olah fikir dan daya juang manusia memberikan manfaat nyata.

Dari masa ke masa kita melihat teknologi semakin maju. Ini adalah buah dari penemuan, penelitian, percobaan dan pengembangan dari masa sebelumnya.

Sebagian dari olah pikir dan perjuangan manusia itu membuahkan kemajuan di berbagai bidang yang kita kenal misalnya bidang energi, transfortasi, komunikasi, politik, keamanan, pertahanan, diplomasi, seni, dan lain sebagainya.

Setiap segmen kehidupan tersebut terdapat sekurang-kurangnya tiga hal terkait. Pendidikan, obyek penelitian dan akademisi dan praktisinya. Setiap segmen tersebut memberikan kontribusi bagi pengembangan dimensi kehidupan yang menjadi focus garapannya.

Sehingga selain kemajuan itu bermanfaat bagi hidup manusia, juga terdapat suatu kecenderungan untuk lebih baik dari zaman ke zaman. Sehingga hidup manusia semakin mudah dan nyaman.

Semangat mengembangkan ilmu dan teknologi semacam ini beserta manfaat yang ditimbulkannya benar-benar merupakan suatu perkara yang baik. Agama, akal, budaya, mendukung sepenuhnya. Tidak ada pengingkaran sedikit pun.

Islam memberikan suatu dorongan yang besar pada umatnya untuk memberikan manfaat bagi manusia sebanyak-banyaknya, tentu dalam konteks yang makruf. Nabi Adam dan seluruh keturunannya sadar atau pun tidak punya potensi dan kecenderungan hanif untuk menjadi pengelola dan penemu ilmu dan teknologi demi hidup yang lebih nyaman.

Dan penyempurna semua kenikmatan itu adalah keimanan kepada Allah, tauhid kepadaNya. Justru iman dan tauhid ini merupakan pondasi dan arah dari semua perjuangan pengembangan ilmu dan teknologi.

Islam datang sebagai yang menyempurnakan nikmat Allah bagi manusia. Sekaligus merupakan alasan dicabutnya nikmat dan digantikannya dengan azab bila manusia tidak Islam. Sebab semua nikmat yang Alloh berikan kepada manusia adalah semata untuk menunjang tugas manusia, yaitu sebagai hambaNya. Dan juga karena Islam itu merupakan cara bersyukur kepada Allah atas nikmatNya.

Tatkala manusia berlomba di sepanjang kehidupannya mengembangkan ilmu, teknologi, pemikiran dan organisasi demi kejayaan negeri dan bangsanya, namun lupa kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah, akibatnya mereka kehilangan arah hidup.

Lalu menjadikan apa saja yang bukan Allah sebagai tujuan dari perjuangan dan pergulatan kehidupannya. Semua hal yang diupayakan menjadi bukan untuk dipersembahkan kepada Allah tetapi kepada sesuatu selain Allah.

Manfaat yang dipetik dari berkembangnya teknologi, akhirnya semakin mencelakakan dan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Sampai seorang pemikir mengatakan, mengapa ilmu yang sangat indah ini mendatangkan kebahagiaan yang sedikit ke kehidupan kita. Jelas sebabnya adalah karena dasar dan arah hidupnya sudah salah.
Sehingga sering terjadi mereka merasa cukup lalu sombong dengan hasil usahanya dan memandang tak lagi dibutuhkan yang namanya agama.

Sejak zaman dulu, sesederhana apa pun ilmu dan teknologi yang mereka miliki, manusia terbagi atas dua bagian besar. Pertama, yang mencukupkan diri dengan duniawi dan di situlah perputaran dirinya mengembangkan ilmu dan teknologi. Kedua, yang tetap menyadari bahwa dunia ini bukan awal dan akhir segala-galanya, ada pencipta dan ada akhirat yang harus disikapi dengan benar, hidup tak hanya berkutat di permasalah duniawi.

Sehingga pengembangan ilmu dan teknologi semata untuk tiga hal utama di tangan mereka yang memiliki iman ini. Pertama demi membebaskan manusia dari kesyirikan. Kedua, untuk mendatangkan kesejahteraan. Ketiga, untuk menegakkan keadilan. Jadi kemajuan ilmu, teknologi, politik, imperium, semuanya demi Ibadah kepada Allah dan terciptanya kedamaian serta kesejahteraan. Bukan kezhaliman, kesyirikan, dan pemiskinan golongan lain.

Manusia-manusia yang mencukupkan diri dengan batasan dunia ini, dan melihat kecukupan yang ada pada dirinya atas semua kemajuan yang dicapainya telah terbukti menyeret mereka kepada kesombongan. Kebanggaan yang berlebihan atas diri mereka. Atas otaknya, indranya, penemuannya, dan memandang apa pun yang berasal dari luar manusia sebagai sesuatu yang tidak masuk standar. Bahkan terhadap wahyu mereka mengingkari, sehingga ingkar pula lah mereka kepada Allah penciptanya.

Kita mengenal sebagian manusia amat sangat percaya dengan kemampuan otaknya. Yang dibantah oleh golongan yang sangat percaya dengan indranya. Lalu timbul lagi golongan yang menyalahkan keduanya yang tidak seimbang ini. Dan menggambungkannya menjadi apa yang kita kenal hari ini sebagai metode ilmiah.

Namun hakikat tersembunyi dari metode ilmiah adalah pengingkaran terhadap wahyu sebagai ilmu. Dan itu artinya wahyu dianggap barang usang, dongeng dari masa lalu. Dan tidak dijadikan sebagai rujukan ilmu, sumber inspirasi dan tempat berkonsultasi ke arah mana ilmu akan dikembangkan.

Moral tidak lagi merujuk kepada nilai-nilai agama; mereka mencupkan diri kepada perasaan dan akal semata. Dipandangnya bahwa etika dan moral itu cukup sumber rujukannya akal dan fakta kehidupan yang sudah biasa ada di keseharian masyaraktnya.

Di luar golongan ahli fikir dan filosof yang mencetuskan gagasan otak, gagasan indra dan penggabungan keduanya sebagai alat ukur dan sumber ilmu, ada lagi golongan yang mendasarkan diri dalam hal penataan kehidupannya pada keyakinan yang sesat. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Di mana kesalahan, kesombongan, kesesatan, kerusakan mereka hakikatnya lebih besar dibanding golongan yang pertama.

Sebab mereka inilah yang telah melahirkan golongan pertama yang saya maksud. Ahli filsafat dan pemikir yang tersesat itu adalah mereka yang beragama yahudi dan nashrani yang meninggalkan agamanya atau tetap dalam agamnya dalam keadaan tersesat dari Islam.

Padahal Islam yang diturunkan Allah dalam seketika selama masa hidup Rasul dan penerusnya disampaikan kepada mereka. Menawarkan suatu pandangan yang lurus tentang kehidupan, dan cara hidup lurus yang menyelamatkan. Mereka menolaknya, mencemooh, mendustakan.

Yahudi menciptakan teori Darwin untuk membenamkan suatu pemikiran bahwa semua manusia berasal dari kera. Itulah semua manusia dalam pandangan Yahudi, dianggap binatang. Ras selain Yahudi adalah hewan. Anehnya ini diterima manusia sejagat, diajarkan di sekolah-sekolah. Sampai Muslim pun akhirnya ragu kalau diri mereka manusia. Ya tentu ada kecualinya. Mereka yang beriman dan berfikiran benar, tidak membenarkan teori ini.

Yahudi dan Nashrani telah mengenal Nabi Muhamad Saw sebelum beliau lahir dari kitab yang ada di tangan mereka sendiri. Namun di sepanjang sejarahnya kedua golongan ini secara umum bukan membenarkan dakwahnya. Itu berarti mereka sebenarnya tidak menjadi umat yang baik kepada Tuhannya.

Akibat dari sikap Yahudi, Nashrani dan Filsuf yang ingkar kepada Alloh ini jelas merugikan diri mereka sendiri. Alloh tidak akan membalasa jasa baik mereka pada kemanusiaan disebabkan ketiadaan iman dan ibadah yang lurus pada mereka.
Di tataran inilah manusia memandang dirinya telah berbuat baik untuk kehidupannya tanpa harus mengkaitkan dengan Alloh dan agama.

Boleh jadi Yahudi dan Nashrani merasa bahwa mereka beragama, namun sebenarnya mereka tidak sedang beragama. Disebabkan mereka tidak benar-benar menegakkan syariat dan aturan yang terdapat di dalam injil dan taurat. Mereka hanya mengikuti apa yang diucapkan Rabi dan Pendeta.

Hakikat dari kenyataan ini adalah mereka sebenarnya tidak butuh agama. Agama yang mereka katakan pada dunia hanya sekedar topeng untuk menutupi keyakinan mereka yang sebenarnya yaitu suatu penistaan pada agama, meracuni agama, mengingkari pesan-pesan agama. Mereka mengambil agama dari apa yang sekiranya bisa memuluskan cita-cita tersembunyi mereka yaitu demi memenuhi ketamakan Yahudi terhadap dunia dan ketololan Nashrani terhadap keyakinan trinitasnya. Adakalanya mereka menghapus dan menambah kandungan Injil dan Taurat. Inilah noumena yang diungkap al-Quran tentang jati diri Yahudi dan Nashrani.

Sebab itu mana mungkin mereka beroleh pahala sekalipun mereka merasa yakin bahwa mereka telah melakukan ibadah, menegakkan agama, dan beramal usaha yang baik di tengah kehidupan. Adalah tak mungkin berbuat baik dalam arti sebenarnya pada sesama manusia, sebab kepada Tuhannya sendiri yang menciptakan mereka, mereka sudah terbukti sangat kurang ajar. Perbuatan baik yang mereka lakukan di tengah kehidupan hanyalah topeng. Toh agama sekalipun dijadikan mereka sebagai topeng.

Kenyataan di permukaan menunjukkan hal berbeda dari apa yang saya ungkapkan di atas. Di sesama mereka diciptakan suatu format untuk saling memberikan penghargaan, saling bantu, saling menguatkan. Kita pasti akan terkagum-kagum dengan hasil pola pikir dan dedikasi mereka tentang peradaban yang mereka wujudkan. Hampir-hampir kita mengatakan mereka hidup di dalam kesempurnaan sistem tanpa cacat.

Kota yang mereka bangun, pabrik, kantor, gadget, software, gerakan sosial, pemikiran, gagasan menyelamatkan bumi dan lain sebagainya adalah perkara-perkara yang memang membutuhkan ketekunan dan kecerdasan luar biasa. Hal yang harus kita sadari, upaya yang mereka lakukan, siapakah yang memberikan pada mereka kehidupan dan alam semesta ini? Apakah diri mereka ada dengan sendirinya, dan bahwa alam semesta ini tidak ada yang mengaturnya? Tidak. Allah menganugrahkan kehidupan ini sebagai ujian. Belum tentu ujung-ujungnya takdir seseorang dengan semua kegemilangannya adalah baik. Karena siapa yang saat mati tanpa iman, di kehidupan akhirat ia rugi tak tanggung-tanggung.

Agama yang Alloh turunkan Islam namanya adalah satu-satunya agama yang benar. Inilah agama, bila manusia mengambilnya sebagai jalan kehidupan, akan mengantarkannya kepada pengabdian yang benar pada Tuhan. Agama selain Islam salah. Jadi orang yang beragama selain Islam sudah salah sejak awal dalam menata kehidupannya. Nanti di akhirat orang-orang kafir ini menyesal, mereka berandai-andai sekiranya dahulu mereka muslim. Ini diungkap di dalam al-Quran surat al-Hijr, di ayat awal-awal. Orang-orang yang beragama di luar Islam, setaat apa pun mereka pada agamanya, sama sekali tidak sedang taat kepada Tuhannya, kepada Rabb yang telah menciptakannya. Sebab Allah, Rabb manusia tidak menciptakan jalan kehidupan dan jalan ibadah selai Islam. Ini adalah kesejatian orang-orang yang menjalankan aturan di luar Islam di mana aturan itu dikenal dengan sebutan agama. Lalu bagaimana pula dengan orang-orang yang tidak beragama sama sekali?

Manusia beragama apa pun selain Islam atau tidak beragama sekali pun adalah sama saja hakikatnya, yaitu bahwa mereka tidak bernilai di dalam pandangan Alloh. Ini merupakan suatu kebenaran, karena diungkap di dalam al-Quran. Bahwa siapa yang mencari agama selain Islam, Alloh tidak akan menerima amal usaha dari mereka.

Sekarang tinggalkan orang-orang yang beragama dengan selain Islam, mari kita bicarakan orang-orang yang tidak ingin kehidupannya, kata-katanya, pemikirannya dikaitkan dengan agama. Mereka kita mengenalnya sebagai matrealisme. Jika kita menyebut istilah matrealisme maka langsung kita menyebut mereka sebagai satu golongan manusia yang menolak keberadaan Tuhan. Padahal hal yang sering kita sebut, keadaannya hampir sama saja. Contohnya adalah empirisme, rasionalisme dan metode ilmiah, itu matrealisme juga. Hendak membuang campur tangan Alloh dari Ilmu dan Kehidupan.

Mereka memandang apa pun yang diungkap di dalam wahyu, jangan dibawa-bawa ke ranah ilmu, sains dan teknologi. Padahal kita mengetahui persoalan ilmu adalah persoalan puncak manusia dilihat dari potensi akal yang dimilikinya setelah agama. Jika ilmu dibikin bukan atas nama agama, maka yang akan terjadi adalah hilangnya semangat spiritual dari ilmu, padahal ilmu asalnya dari Alloh dan untuk membantu manusia menggapai kemuliaannya.

Mereka telah menetapkan sejak dahulu, bahwa akal dan indra adalah dua hal yang final untuk dijadikan sebagai sumber dan ukuran kebenaran serta ilmu. Lalu agama, hanya sekedar berada di posisi sebagai keyakinan semata, di mana akal jangan dilibatkan, atau dengan kata lain agama jangan ikut-ikutan dalam wilayah bekerjanya akal. Ini adalah ungkapan berbeda, tetapi hakikatnya sama.

Ungkapan bahwa akal jangan dilibatkan dalam urusan agama, seakan-akan agama itu sifatnya serba tidak masuk akal. Padahal agama diturunkan untuk makhluk yang berakal, lalu bagaimana manusia yang konon berakal ini bisa menerima sesuatu yang tidak menghargai keberadaan akal. Masalahnya bukan bahwa akal jangan dibawa-bawa dalam beragama, tetapi akal itulah yang harus benar-benar lurus dalam berfikir. Sebab agama yang Allah turunkan itu sejatinya masuk akal. Ungkapan ini sering terlontar dari ucapan para dai yang keliru, seakan-akan agama ketakutan kalau diperiksa akal. Bagaiaman mungkin manusia tentram dengan keyakinannya sementara keyakinan itu tidak diterima akal fikirannya?

Adapun ungkapan bahwa agama jangan dibawa-bawa ke wilayah akal, karena agama itu soal keyakinan,ini juga masalah yang amat serius. Mereka hendak membuang agama dari studi, membuang wahyu dari ikut campur mengurus urusan ilmu dan intelektual. Saat-saat seperti ini, maka ilmu menjadi kering dari nilai keimanan. Ilmu menjadi terlepas dari Allah, seakan-akan manusia semata yang menumbuhkan ilmu, tanpa ada keterlibatan Allah di dalamnya.
Manusia amat terbatas kemampuannya dalam menentukan kriteria kebaikan yang hakiki.

Ketika ukuran kebenaran diserahkan kepada akal dan indra, pengalaman dan budaya yang sudah berjalan, dan katakanlah bahwa itu semua merupakan hal yang benar, tidak ada problem dan dan menjamin terwujudnya suatu kehidupan yang matang, lurus, baik, dan yang seumpama dengannya, tentulah Allah tidak akan menurunkan agamaNya. Allah tidak perlu mengutus para RasulNya untuk menyampaikan agama yang berisi konsep dan penjelasan tentang hakikat-hakikat kehidupan ini.

Kenyataannya Allah mengutus Rasul dan menurunkan wahyu. Allah menjelaskan kembali tentang hakikat-hakikat kehidupan kepada manusia. Tentang diri mereka, tentang hakikat alam semesta, dan tentang keberadaan Allah, serta akan adanya negeri akhirat. Semua ini berarti suatu penjelasan lain bahwa pengetahuan, budaya, pola pikir dan orientasi moral serta hidup manusia memang tidak memiliki daya untuk berjalan lurus di dalam kebenaran kalau hanya sekedar mengandalkan akal. Itulah sebabnya wahtu turun untuk membimbing langkah mereka, agar amal usaha yang selama ini dilakukan mencapai derajat kebenaran.

Harus diakui akal manusia tidak cukup menggapai hakikat semua dimensi keberadaan dan kebenaran. Beberapa hal, akal mampu menggapainya secara tepat dan benar. Namun kebanyakannya tidak bersifat fundamental. Bahkan hal yang fundamental dari kebenaran dan keberadaan, manusia sangat tidak mungkin dapat meraihnya. Di samping itu, fakta kehidupan menunjukkan bahwa manusia cenderung melakukan hal-hal yang salah, keliru, batil di dalam hidupnya. Itulah keadaan ketika manusia tidak hadir di tengah-tengahnya wahyu dan rasul.

Akal memang luar biasa. Akal terhebat dimiliki orang-orang Yahudi. Mereka cerdas. Ini benar berdasarkan al-Quran. Dan benar pula faktanya di lapangan. Namun patut dicamkan, kecerdasan, raihan ilmu pengetahuan, kehebatan dan kepiawaian mereka di bidang diplomasi, ekonomi, politik dan bangunan, tidak serta merta menjadikan akal mereka itu sebagai suatu ukuran dan takaran untuk menimbang kebenaran. Alloh utus kepada mereka sejumlah banyak para Nabi dan Rasul, untuk menjelaskan kebenaran. Jadi sehebat apa pun akal manusia tak patut jadi patokan untuk menentukan kebenaran yang fundamental.

Akal Yahudi yang hebat itu, tidak bisa dijadikan ukuran untuk menimbang nilai kebenaran. Bahkan Allah ungkapkan di dalam al-Quran, akal yang dimiliki Yahudi itu tidak membuat mereka mulia dan mendapatkan suatu rahmat dari Allah, mereka justru mendapatkan kemurkaan dariNya. Akibat dari kesombongan dan kekritiasan yang tidak semestinya. Mata memang bisa melihat, tapi kalau sudah minta ingin melihat Tuhan itu sudah merupakan sikap kurang ajar, puncaknya kurang ajar. Itulah yang dilakukan Yahudi. Kritis tapi tidak beretika.

Alloh meminta manusia untuk berfikir, mempergunakan akalnya, bukan untuk dijadikan sebagai acuan dalam menentukan kebenaran, tetapi dalam sebuah upaya memahami dan menjemput kebenaran yang sudah Allah turunkan berupa wahyu. Mengingat tujuan keberadaan manusia di muka bumi bukan seperti halnya binatang, tumbuhan atau benda-benda. Akal bisa membuat peraturan bagi hidup, namun bukan itu fungsi yang sebenarnya. Bahkan jika akal sudah difungsikan seperti itu dan tidak tunduk kepada wahyu, maka akal menjadi sesuatu yang membahayakan kehidupan.

Tujuan keberadaan manusia di muka bumi setidaknya ada tiga aspek utama. Pertama, adalah untuk memenuhi janji sebelum ia ada. Kedua, adalah untuk berperan nyata dan lurus di dunia. Dan ketiga, untuk mempersiapkan perbekalan bagi hidup di akhirat. Ketiga aspek ini terkumpul dalam satu tindakan, yaitu ibadah kepada Allah. Inilah janji, peran dan bekal sekaligus. Dikatakan janji, karena memang sebelum manusia ada di dunia, di masa sebelumnya manusia berjanji untuk ibadah. Di masa hidup di dunia, Alloh tegaskan bahwa tugas manusia adalah menjadi khalifah. Tidak akan bisa manusia bersikap amanah menjadi khalifah tanpa beribadah. Dan bukti-bukti ibadah pula lah yang akan menjadi bekal kehidupannya untuk di akhirat kelak dengan gemilang dan penuh ridoNya.

Sekarang bayangkan apa jadinya bila agama tidak diturunkan Allah, akal mana yang bisa menjelaskan bahwa Dialah Allah Rabb alam semesta. Akal mana yang bisa merumuskan cara beribadah yang sekiranya mampu mendatangkan rahmat dan rido Allah Swt. Tidak ada. Bahkan tatanan yang dibuat manusia dengan akalnya untuk maksud sebagai cara beribadah kepada Rabb, semuanya bernilai salah. Tidak ada yang benar. Disamping itu, apa yang melalui ibadah itu mereka lakukan, ternyata pula yang diibadahi tidak lebih dari tiga hal saja, yaitu berhala, hawa nafsu dan pemimpin mereka. Semuanya bukan Rabb, bukan Tuhan. Apa pun selain Allah, bukan Tuhan. Jika yang disembah bukan Tuhan, jelas tindakan beribadah atau menyembah itu salah. Dan itulah hasil dari tabiat berfikir di wilayah ibadah. Tidak menghasilkan suatu kebenaran. Malah menghasilkan suatu kesesatan. Andaikan akal mampu membuat cara ibadah yang benar, dan mampu mencapai suatu kebenaran bahwa Tuhan itu adalah Allah, tentulah Allah tak perlu menurunkan wahyu yang menjelaskan siapa Tuhan dan bagaimana cara menyembahNya.

Di saat-saat manusia hanya mengandalkan akal fikirannya dalam menata kehidupan ini, dan melepaskan diri dari kaidah serta tuntunan agama, apa yang kita saksikan? Apakah timbul darinya sebuah tatanan yang adil, menentramkan, dan mampu mengundang rahmat dari Allah? Fakta-fakta menunjukan kepada kita suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Manusia yang kuat tak kuasa menahan rasa amarah dan ajakan hawa nafsunya. Manusia yang lemah tak kuasa lepas dari ketertindasan penguasanya yang zhalim. Bahkan bukan itu saja, ada fakta yang lebih mengejutkan. Yaitu mereka mendapatkan adzab dan kemurkaan dari Allah. Telah terjadi hal ini pada kaum sebelum Nabi Muhammad Saw. Banyak negeri yang dihancurkan akibat dari apa? Akibat dari menjadikan akal dan nafsu sebagai panduan kehidupan. Bukan sekedar merajalelanya kezhaliman, tapi juga turun kepada mereka azab yang menghancurkan.
Sehingga tatkala mereka semakin jauh dari agama, pola hidup mereka semakin menuju kehancuran.

Dibalik turunnya agama dari Allah untuk manusia, dibalik keberadaan manusia di bumi ini, dibalik bumi dan langit yang kita lihat, dan dibalik penglihatan kita pada segala yang nampak, ada hakikat tersembunyi yang harus kita sadari keberadaannya. Di balik agama ada adzab. Artinya jika manusia tidak mengikuti agama yang Allah turunkan adzab siap menyambutnya. Dibalik keberadaan manusia di bumi, ada tugas untuk beribadah. Jika tidak dilakukan, kesesatan yang akan ditemui. Dan dibalik adanya langit dan bumi, ada masa akhir yang akan digantikan oleh negeri akhirat, yang kita semua akan mendatanginya. Dibalik penglihatan kita kepada dunia, ada keimanan yang harus menjadi titik tolak kita bersikap atasnya. Jika iman diabaikan, alamat kesia-siaan hidup akan menghampiri.

Rasul turun, pertama untuk membersihkan jiwa. Perhatikan, ini artinya tanpa Rasul jiwa kita kotor. Lalu Rasul membacakan kepada kita kitab. Ini lah pintu mengenal pengetahuan yang benar. Namun sebelum mengenal kebenaran dan penjelasan segala hakikat yang ada, yang pertama harus ada di dalam diri kita adalah hati yang bersih, pikiran yang jernih, itulah iman dan tauhid. Perhatikan ini pula, jika kita tak paham kandungan kitab, jangna harap dapat ilmu yang lurus, jangan harap mendapat kebenaran. Lalu tugas rasul yang berikutnya adalah mengajarkan hikmah. Hal yang membuat hidup ini indah, mudah dan lumrah. Marilah kita catat bahwa keluhuran akhlak itu hanya bisa dicapai dengan meniru dan mengikuti sifat-sifat yang baik.

Jiwa yang kotor, akal yang diliput kesesatan, etika yang tak sempurna, bukanlah milik karakter manusia yang lurus dalam hidup. Manusia yang benar dalam cara berfikirnya, lurus dalam hidupnya, lembut dalam setiap akhlak dan perilakunya, tentulah sangat membenci jiwa-jiwa yang tidak matang, ucapan yang penuh dusta, dan sikap kasar dan sulit berubah ke arah kebaikan. Tetapi inilah yang telah, sedang dan akan terjadi pada hampir seluruh manusia ketika tidak ada Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Hidup mereka berada dalam samudra kegelapan yang diliput pula oleh kegelapan. Sampai-sampai, saking gelapnya pola pikir manusia yang tak terbimbing wahyu tersebut, menyebabkan kedatangan para Rasul dengan membawa mukjizat sekali pun, tidak mampu melihat cahaya kebenaran. Sehingga mereka meremehkan dan menolak setiap perkataan para Rasul. Inilah bukti dari keadaan manusia saat tiada pada mereka keimanan.

Jadi jangan anggap remeh persoalan ini. Sikap hidup tanpa bimbingan wahyu bukan masalah sepele. Jika seseorang atau bangsa sepakat untuk mengenyahkan wahyu dari kehidupan, lalu bermimpi ingin berjiwa besar, berpirkiran maju, beretika luhur, non sen hasilnya. Mustahil mereka bisa meraihnya. Tundalah dulu bahasan kita atas orang-orang yang memang mengabdikan diri untuk melakukan kejahatan dan keonaran. Marilah kita melihat dan memperhatikan golongan manusia yang masih punya keinginan untuk hidup yang benar dan teratur, dengan berfikir keras dan bekerja mati-matian untuk kebaikan keluarga dan negerinya, secara makruf dan beretika, inilah yang kita sayangkan. Sayang sekali, jika seluruh upaya yang mereka lakukan ini tidak didasari oleh rasa keimanan dan menuju keimanan. Sia-sia semua amal usahanya ini. Keimanan itu intinya adalah membenarkan wahyu. Membenarkan wahyu, maksudnya menjadikannya sebagai panduan penataa kehidupan.

Bersusah payah, manusia menguras akal fikirannya, memanfaatkan alamnya, berkasih sayang di antara sesamanya, namun buat apa semuanya itu kalau akhirnya hanya kesia-siaan yang dipetik. Ini adalah sebuah pesan. Bahwa sehebat apa pun upaya yang dilakukan manusia untuk mencapai kebaikan hidup, pada akhirnya akan menuju kehancuran. Lebih menyedihkan dari itu adalah kecelakaan nanti di akhirat. Ini mungkin kalimat-kalimat yang berulangkali diungkapkan dalam tulisan ini. Jika manusia membuang empat hal dalam kehidupan, itulah akibatnya. Saya ulangi lagi empat hal itu adalah iman, amal sholeh, dakwah dan sabar.

Marilah kita lihat berbagai kerusakan yang terjadi. Ini merupakan suatu kerugian yang besar. Pertama, manusia menjadi semakin jauh dari agama. Kedua, kejahatan semakin bertambah-tambah di semua lapisan masyarakat. Ketiga, kelemahan Negara-negara dalam menyikapi kezhaliman Yahudi. Keempat, keanehan cara berfikir orang Nashrani. Kelima, keengganan umat Islam untuk berhukum kepada al-Quran. Keenam, kecintaan yang luar biasa pada dunia. Ketujuh, kesesatan cara hidup orang yang tidak meyakini Allah. Kedelapan, lemahnya para pemimpin Negara dalam menghadapi konspirasi kejahatan dajal.

Kehancuran apa lagi yang lebih besar yang menimpa umat Islam dan umat manusia pada umumnya, tatkala mereka bengis satu sama lainnya, melupakan Allah atau lalai dalam sholat, tidak serius memikirkan negeri akhirat, merendahkan aturan syariat, berlindung kepada kekuatan senjata, lemah dalam iman, lari dari Islam, berbuat musyrik, enggan mengikuti jejak para Nabi dan orang sholeh, terpedaya oleh Yahudi, mengikuti budaya Nashrani yang lemah pemikirannya, dan ragu terhadap kebenaran al-Quran.

Perhatikanlah yang menimpa umat manusia di mana-mana, kejahatan terjadi tanpa kendali, penyakit terus berdatangan, negeri-negeri rusak, wanita dihinakan, hiburan kosong makna diagungkan, pembunuhan begitu mudah terjadi. Sementara pemuda lemah semangat, pemikir tak punya arah, pemimpin tidak melindungi. Pendidikan tidak lagi berorientasi kepada nilai luhur tapi pada keserakahan, sebagai ilmu ekonomi masa sekarang. Negeri-negeri Islam dan para pemimpinnya bukan yang terdepan dalam memimpin dunia dan peradaban. Tentu semua ini adalah akibat dari dilupakannya Islam.

Manusa sering lemah dalam memandang hakikat dari keadaan zamannya. Andaikata tidak kembali kepada al-Quran dalam memandang dan menilai kehidupan ini, maka jadinya kebiasaan buruk manusia umumnya diikuti begitu saja. Bagaimana jadinya bila yang diikuti itu adalah sistem kehidupan Yahudi dan Nashrani serta Syaithan laknatulloh. Tentu hal ini sangat merugikan umat manusia. Dan pertanggungan jawab apa yang dapat menyelamatkan mereka di hadapan Allah kelak, jika kebenaran tidak lagi jadi pegangan.

Bila keselamatan yang ingin kita raih, maka perlu ketegasan dalam bersikap, keberanian untuk melangkah, suka berkorban untuk beralih kepada suatu cara hidup yang telah digariskan oleh Allah. Kita sudah mendapati banyak sekali orang-orang yang tekun dalam belajar agama, patuh dan taat pada agama, namun apa yang kita lihat ternyata tidak menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat secara signifikan. Bukan berarti apa saja yang mereka lakukan salah. Justru, hal itu adalah pondasi. Hanya saja kekuatan kufur dan keji saat ini jauh lebih besar daya rusaknya pada umat manusia dibanding daya kekuatan yang melawannya dari unsur dan pokok kebaikan.
Di sisi lain kita terdapat pula fakta bahwa manusia tetap beragama, dan melakukan keagaamannya dengan serius.

Ketika kita melihat lembaga pendidikan Islam masih berdiri, ini adalah kabar baik.

Di jajaran lain lebih banyak lembaga pendidikan yang sama sekali tidak berbasis kepada keimanan. Ini parah. Ketika para pelakunya adalah umat Islam.

Orang kafir dan mereka yang mengikuti jejaknya menyangka telah berbuat kebaikan untuk bisa mendatangkan pahala untuk akhiratnya. Namun sejatinya mereka telah jauh dari agama yang Tuhan ridoi. Mereka telah menyimpang dari kelurusan.

Sebab itulah mengapa Alloh berkali-kali menurunkan agamaNya yang diemban para Rasul.Demikian di hari ini upaya untuk mengembalikan manusia kepada Islam harus terus dilakukan.

Walaupun berbagai kendala, tantangan dan konspirasi datang tiada henti-hentinya.

KAFIR TERHADAP ALLOH

Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Setidaknya ada dua sebab manusia kafir kepada Allah, golongan pertama berfikir bahwa agama mereka benar. Dan golongan kedua berfikir bahwa filsafat mereka cukup untuk jadi panduan kehidupan.

Perilaku kafir yang signifikan dikategorikan sebagai sebab sia-sianya amal mereka namun disertai prasangka bahwa mereka telah berbuat baik ada dua kategori. Pertama kafir terhadap ayat Alloh, dalam hal ini mengingkari Al-Quran. Mereka boleh jadi yakin akan adanya hari berbangkit. Kedua mengingkari hari perjumpaan dengan Alloh, pasti mereka ini adalah sekaligus kafir terhadap al-Quran.

Termasuk orang-orang yang selalu bergelimang dalam perbuatan dosa. Sebab apalah arti yakin kepada al-Quran dan hari berjumpa dengan Alloh jika saban waktu hidup selalu berada di jalur kemaksiatan. Tujuan utama keyakinan kepada akhirat adalah berbekal kebaikan. Dan tujuan beriman kepada al-Quran adalah menegakkan kandungannya.

Masih ada cara pandang yang salah di antara orang beriman tentang Tauhid, mereka beriman dan sekaligus suka berbuat maksiat, lalu menyangka bahwa dosa-dosanya mudah begitu saja diampuni Allah. Dan terus bergantian antara berbuat dosa dan taubat. Pagi bertaubat, siang berbuat dosa.

Masih ada cara pandang yang salah di antara orang beriman tentang Hukum, mereka membaca al-Quran tetapi hidup didasarkan kepada sesuatu yang asing dari Islam. Mereka hidup di bawah lindungan hukum-hukum yang sama sekali bukan berasal dan berupa hukum Islam.

Melalui ayat di atas Alloh hendak mengingatkan kita akan pentingnya beriman yang benar terhadap al-Quran, hari kiamat dan Nabi Muhammad Saw. Sehingga kita selalu punya dorongan untuk benar dalam memandang ketiga perkara tersebut dan berhati-hati dari sikap kafir dan memperoloknya.

Setidaknya ada tiga tugas berat yang diemban setiap dai atas persoalan manusia dalam kaitannya dengan al-Quran dan keimanan. Pertama tugas pada Umat Islam sendiri, tugas kepada ahli kitab, dan tugas kepada manusia di luar umat dan ahli kitab.

Sumber kerusakan utama adalah dari pertama, orang-orang munafik, yakni orang yang sangat menguasai Islam dan ia Muslim secara lahir namun dengan ilmunya itu ia membuat penyimpangan dari Islam atas umat manusia. Ia berusaha mengkfirkan Umat Islam. Kedua, dari ahli kitab yang sangat cerdas sehingga dengan ilmu dan kecerdasannya mereka membuat proyek besar untuk menyesatkan manusia dari Tuhannya. Ketiga, dari ahli-ahli kemaksiatan yang ditunjang oleh politik, ekonomi, filsafat, pendidikan, sekolah dan perusahaan.

Mereka yang disebutkan ini, membuat berbagai langkah nyata untuk menjauhkan manusia dari Allah, bahkan dilanjutkan untuk menghujat, menghina, dan membinasakan Islam dan orang-orang yang istiqomah dalam Iman.

Solusi atas semua masalah ini sederhana, yaitu belajar al-Quran dan mengajarkannya. Al-Quran dan keimanan yang kuatlah sebagai solusinya. Al-Quran memiliki kekuatan argument yang tidak akan pernah terbantahkan oleh logika apa pun. Bahkan logika dan fakta yang benar justru mendukug al-Quran. Sedangkan keimanan memiliki kekuatan untuk menjadikan seseorang sebagai pandu bagi al-Quran.

Al-Quran Alloh turunkan adalah atas dasar kasih sayangNya. Sayang sekali banyak manusia tersesat dari Islam. Dan sungguh naif bila kita Muslim, namun tak mengenalnya dengan baik. Kita disibukkan oleh perkara-perkara yang mubah dan sealakadarnya atas hal yang wajib. Besar sekali kerugian kita bila hal ini terus berlanjut.

Di luar pagar Islam, kita bisa tahu bagaimana langkah orang kafir memperkuat barisan mereka agar teguh dalam kekafiran, agar kekafiran lebih indah dan menarik. Juga bagaimana langkah mereka untuk menipu daya orang-orang beriman, bekerja sama dengan sesama kafir lagi, dan menghidupkan ajaran-ajaran Dajjal.
BALASAN BAGI ORANG KAFIR ADALAH NERAKA JAHANAM
Sehebat apa amal usaha orang-orang kafir di bidang mana mereka pilih, seindah dan serapi bagaimana pun juga, mereka tak akan menjumpai apa pun nanti di akhirat kecuali kesia-siaan.

Karena untuk beroleh kebaikan di akhirat dan dijauhkan dari neraka ada empat syarat, yaitu iman, amal sholeh, dakwah dan shabar, sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat al-ashr.

Kita mengenal manusia secara umum, ada yang baik dan ada yang buruk atas sikapnya kepada kemanusiaan, peradaban dan teknologi. Namun sejatinya inti dari kemuliaan bukanlah akhlak. Tapi sesuatu yang menyempurnakannya. Itulah Tauhid. Tanpa Tauhid, akhlak menjadi tidak berguna di hadapan Allah.

Jika hidup tidak berarti di hadapan Allah, Alloh tidak akan menurunkan RahmatNya atas manusia. Jika rahmatNya dicabut maka yang ada adalah azab. Dalam keadaan tiada rahmat Alloh, boleh jadi dari sisi duniawi hidup seseorang atau bangsa semakin makmur. Namun semua itu justru semakin memudahkan mereka memperbanyak dosa dan kemaksiatan serta kerusakan. Sehingga azabNya saat tiba, tidak tanggung-tanggung.

Alloh sudah menegaskan di dalam al-Quran, ujung kehidupan orang kafir itu adalah neraka. Ini sebuah aksioma. Tak akan suatu hal pun yang bisa membantah atau memalingkan kebenaran ini.

Saat Alloh menyatakan hal ini, sebagai suatu janji, hendaklah ini menjadi ukuran kita dalam memandang diri dan kehidupan orang kafir. Bahwa agenda besar orang kafir itu adalah suatu kebencian kepada nilai-nilai akhlak yang sempurna. Mereka memang berakhlak tapi tidak dengan kesempurnaan. Itu artinya hakikat akhlak mereka sangat rusak. Karena dengan keanggunan sikap dan perbuatan mereka di mata manusia justru memperkuat pandangan atas kekafiran sebagai hal yang baik. Padahal buruk.

Tentu saja kita tidak bermaksud mengatakan bahwa akhlak yang baik itu buruk. Yang baik tetap baik di masa yang terbatas. Kecerdasan, kekuatan, ilmu, teknologi, Negara, kekayaan, pertanian, badan sosial, itu semuanya baik. Persoalannya adalah apa yang mendasari semua hal itu dan ke mana arah yang sedang dituju. Bila dasar dan arah itu adalah kemusyrikan, dan kekafiran, serta kemunafikan, tentu semuanya ketika ditotalitaskan menjadi tidak berharga sama sekali.

Sudah seyogyanya Muslim itu hidup dengan pola pikir iman, melihat segala hal dari sudut iman, bukan dari sudut hawa nafsu, akal semata, apalagi yang parah melihat semuanya dengan menanggalkan kaca mata al-Quran. Lalu siapa diri kita ketika tidak melihat dunia dari kaca mata yang keluar dari al-Quran?

Sia-sialah manusia yang beragama di luar Islam, yang hidup di dasarkan pada fisafat kafir, yang menipu diri sendiri dengan perilaku yang penuh maksiat, yang berpihak kepada pola pikir dan kepentingan orang kafir.

Tidak ada keuntungan di dunia dan akhirat dengan menjadi orang kafir. Tidak ada kemuliaan hidup di mana Islam disisihkan. Di mana al-Quran diabaikan. Di mana Nabi Muhammad diabaikan keteladanannya. Di mana keimanan dianggap barang mainan.

Di saat dunia penuh dengan aneka keganjilan seperti ini, justru orang-orang beriman dianggap ganjil. Di saat seperti komitmen kepada keimanan yang lurus menjadi sangat besar maknanya. Karena menjadi orang beriman berarti menjadi orang asing di tengah kehidupan.

Dengan adanya peringatan dari Alloh maukah kita semua kembali kepada keimanan. Memperkuat keyakinan kepada al-Quran, hari kiamat dan meneladani hidup Rasulullah Saw ?

Cianjur, Desember 2015


Ditulis dalam Uncategorized

EPISTEMOLOGI IQRO 4

 

 

 

IQRO merupakan serangkaian metode keilmuan dan keimanan. Sehingga dapat mengantarkan pelakunya kepada ketakwaan. Yakni setinggi-tingginya derajat manusia di bumi.

IQRO merupakan serangkaian aktifitas yang pusatnya adalah membaca. Membaca berarti menyerap informasi untuk memperoleh kebenaran. Artinya iqro berintikan kepada penyelidikan, pemikiran dan pengetahuan.

Penyelidikan berarti proses menggali informasi atas suatu obyek apa adanya. Obyeknya adalah wahyu, alam, manusia, diri dan hidup.

Pemikiran berarti proses internalisasi informasi menjadi nilai bagi diri. Internalisasi informasi bisa mengarah kepada akal, hati dan gerak tubuh.

Pengetahuan berarti menjadikan informasi yang telah terinternalisasi tadi menjadi kenyataan diri sehingga menjadi sumber rujukan dalam bersikap terhadap kehidupan.

Saat Irqo telah membuah Pengetahuan maka terjadilah makrifat kepada Allah, ilmu yang rasional, Peradaban, ketaan dan ibadah, ketegasan terhadap kekafiran dan kekuasaan di muka bumi.

Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka saya yakin bahwa kejayaan Islam di masa lalu adalah karena kuatnya aktifitas iqro ini. Dan demikian kunci kejayaan Islam di masa sekarang pun harus kembali kepada Iqro.

Iqro adalah membaca yang didasari oleh keimanan dan untuk keimanan. Nanti keimanan itu menjadi arah dari semua aktifitas kehidupan orang mukmin.

Membaca sebagai aktifitas menyelidiki, memikirkan dan mengetahui

 

Hakikat Membaca

 

Membaca adalah suatu kegiatan atau cara dalam mengupayakan pembinaan daya nalar (Tampubolon, 1987:6). Dengan membaca, seseorang secara tidak langsung sudah mengumpulkan kata demi kata dalam mengaitkan maksud dan arah bacaannya yang pada akhirnya pembaca dapat menyimpulkan suatu hal dengan nalar yang dimilikinya.[1]

Membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.[2]

Makna membaca, dalam arti sempit dan yang tercantum dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis itu. Dalam arti luas, ‘tulisan’ bisa diartikan sebagai sesuatu yang abstrak, sehingga orang akan berkata bahwa dia sedang membaca jalan kehidupan, membaca pikiran, membaca lukisan, membaca cuaca, dan lain sebagainya.[3]

Perintah membaca yang terkandung dalam istilah iqra’ tidak hanya dipahami membaca teks yang tertulis. Akan tetapi, iqra’ mencakup makna membaca alam semesta dan seisinya, termasuk manusia dan lingkungan di sekeliling kita.[4]

 

Iqro dan Meneliti

 

Dr Yasir Qadhi mengembangkan aktifitas “iqro” ini dengan tafakkur, tadabbur, dan meneliti. Meski demikian, beliau menegaskan pentingnya mengetahui kapan, dimana, dan apa saja hal yang boleh dipikirkan dengan akal dan mana yang tidak. Dalam Islam, adakalanya seseorang hanya dituntut untuk dengar dan taat dengan keyakinan penuh. Apabila akal dipaksakan untuk menelaah hal ghaib, maka dipastikan salah bahkan sesat.[5]

Iqro dan Menulis

 

Melazimkan membaca selalu berujung pada hasrat untuk menulis. Sedangkan baca tulis merupakan pondasi sebuah peradaban. Nabi berkata kepada Abdullah bin Amr, “Uktub (tulislah!). Demi jiwaku yang berada di TanganNya, tidaklah keluar dari lisanku ini kecuali kebenaran.”

Menulis pada dasarnya adalah transformasi gagasan. Sehebat apa pun kecerdasan seseorang akan menjadi sia-sia bila ia tidak menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada tulisan yang buruk. Yang ada hanyalah tulisan yang disusun tanpa kaidah bahasa yang baik. Karena itu, kita harus menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam latihan menulis.[6]

Dengan Perintah Allah untuk Iqra serta sunnah Nabi untuk Uktub, sulit terbantahkan  bahwasanya Islam adalah agama para ilmuwan, cendekia, dan mereka yang mencintai ilmu. Islam menyadarkan dunia akan pentingnya tradisi baca tulis.[7]

 

Iqro dan Peradaban

 

Pada hakikatnya, peradaban (civilization) bisa disebut sebagai kebudayaan (culture) modern atau kebudayaan yang sudah lebih berkembang, artinya suatu kelompok manusia yang atau bangsa yang sudah mampu hidup dengan tidak tergantung pada alam (Subadio, 1993). Tingkat perkembangan tersebut juga dinilai dari tingkat pengenalan huruf serta kemampuan membaca dan menulis yang dikuasai. Dengan demikian kemampuan baca-tulis dianggap penting karena kegiatan tersebut menunjukkan bahwa manusia tersebut mampu berfikir secara abstrak.[8]

ISLAM adalah agama ilmu. Ayat perdana yang Diturunkan Allâh adalah perintah untuk berilmu melalui aktifitas membaca. Salah satu rahasia kejayaan peradaban Islam telah Allah paparkan melalui ayat, “Bacalah, dengan Nama Rabb-mu Yang Menciptakan.” [QS. 96: 2][9]

Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.[10]

Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea, dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan membaca. Tak ada waktu tersisa, kecuali untuk membaca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat membaca buku bagi kemajuan sebuah bangsa. Kenyataan tersebut juga membuktikan bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Itulah sebabnya buku sering disebut sebagai jendela peradaban. Karena dari bukulah peradaban sebuah negera menjadi maju, dan dari buku pula sebuah peradaban tak memberi makna apa-apa ketika buku diabaikan begitu saja.[11]

Tradisi berpikir dalam membaca dan menulis adalah sebuah tradisi yang turun-temurun diwariskan oleh sejarah kemanusiaan. Dengan tradisi berpikir dan merenung atau kontemplasi setiap hari dengan membaca buku dan menulis diharapkan terciptanya manusia yang unggul dan utama dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Dalam sejarah kemanusiaan, Islam adalah sebuah agama yang menuntut semua kaum Muslim untuk menimba ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat Islam adalah umat yang sangat berjasa dalam membangun peradaban Islam yaitu peradaban Bani Umayyah di Spanyol Andalusia dan Bani Abbasiyah di Baghdad sehingga Peradaban Eropa Barat sangat berterima kasih dengan mata rantai dalam sejarah kemanusiaan tersebut. Sehingga banyak para sarjana di Eropa Barat belajar ilmu pengetahuan di daerah Andalusia. Ibn Rusyd adalah salah satu nama yang bertanggung jawab atas semua mata rantai bangunan peradaban Eropa Barat hingga sekarang ini.[12]

Tradisi berpikir antara membaca dan menulis telah mencerahkan masyarakat Eropa Barat setelah keruntuhan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Pencerahan atau Aufklarung atau Enlightenment telah mengantarkan Peradaban Eropa Barat sebagai Peradaban manusia yang dijunjung tinggi di seantero dunia hingga saat ini. Banyak lahir para filsuf-filsuf dalam tradisi Berpikir yang melengkapi bangunan Peradaban Eropa Barat. Seperti kita ketahui bersama bahwa Handphone yang kita miliki saat ini adalah juga hasil atau produksi dari bangunan Peradaban Eropa Barat yang diawali oleh pemikiran Ibn Rusyd dengan melahirkan buku Komentator Atas Pemikiran Filsafat Aristoteles.[13]

Membaca adalah bagian penting dari peradaban, menulis tidak bisa dipidahkan dari membaca, sebab orang tidak akan bisa menulis kalau tidak ada bahan bacaan. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan, menulis adalah pilar peradaban.[14]

Karena sesungguhnya budaya membaca ini memiliki persinggungan yang kuat dengan budaya menulis. Dalam peradaban Islam pengembangan budaya baca dan tulis atau budaya literal  mendapat perhatian yang sangat besar.[15]

Tanpa didukung oleh manusia-manusia yang melek literasi, rasanya sangat sulit membangun kembali kejayaan Islam.Tanpa manusia-manusia unggul tidak mungkin lahir peradaban yang kuat, berkualitas, dan menghasilkan karya peradaban yang monumental. Sejarah telah membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah peradaban sangat tergantung dari kualitas manusia pendukung peradaban tersebut. Dan itu adalah sebuah keniscayaan sejarah.[16]

 

Ilmu dan Ibadah

 

Sedangkan ilmu mendahului ucapan dan amal, termasuk amalan agung yakni tauhid. Allah berfirman, “Ilmuilah! Sesungguhnya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” [QS. 47: 19]. Ayat ini mendorong Imam Bukhâri untuk menyusun bab khusus berjudul Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (ilmu sebelum berkata dan beramal).

Iqro dan Ilmu

 

Tidak sembarang membaca. Dalam Islam, membaca adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bacaan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah banyak sekali. Namun apabila diurutkan, maka yang pertama dan utama adalah Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang shahih dan hasan. Setelah itu Sirah Nabi, kemudian pembahasan akidah, kitab-kitab fikih dan tazkiyatun nafs. Membaca adalah salah satu pintu ilmu.[17]

Dengan berpikir manusia dapat menciptakan berbagai pengetahuan dan keilmuan yang tinggi. Dalam agama Islam yang terkandung dalam al-qur’an dan hadits sunnah Nabi Saw disebutkan bahwa Allah SWT akan meninggikan orang yang memiliki tingkat kecerdasan ilmu pengetahuan beberapa derajat. Pun dalam sebuah hadits Nabi Saw disebutkan bahwa seorang Muslim laki-laki dan wanita dituntut memperdalam ilmu pengetahuan dari buaian hingga ajal menanti.[18]

Wahyu yang diturunkan pertama kali kepada rasulullah saw. bukanlah perintah yang berkaitan denga ibadah mahdah seperti shalat, zakat atau puasa. Akan tetapi, justru perintah untuk iqra’, yang secara mendasar bermakna membaca. Tidak hanya bermakna membaca, namun juga menyampaikan. Kata iqra’ mengandung makna yang sangat luas sebagai perintah untuk mencari dan menyampaikan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan sejak dari buaian sampai liang lahat. Dari perintah iqra’ ini, maka umat islam tergerak yang kemudian terlahir lembaga-lembaga pendidikan seperti kuttab, perpustakaan, tradisi kepenulisan, gerakan penerjemahkan karya-karya asing, dan universitas-universitas ternama. Dari wahyu pertama Al-Quran itulah budaya literasi islam lahir dan berkembang. Tak dapat disangsikan lagi, bahwa ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang dapat mengeluarkan manusia dari jurang kegelapan dan kebodohan. Di sinilah pentingnya mencari ilmu pengetahuan yang salah satu caranya yakni dengan membaca. Sebagaimana makna yang terkandung dalam istilah iqra’, seseorang tidak hanya diperintahkan untuk membaca, namun juga menyampaikan. Dengan demikian, membaca merupakan prasyarat utama sebelum seseorang menyampaikan suatu pengetahuan.[19]

[1] http://www.kajianpustaka.com/2014/01/pengertian-dan-hakikat-membaca.html

[2] idem

[3] Laksmi MA, makalah

[4] http://www.wikipendidikan.com/2017/01/budaya-literasi-dan-tradisi-berpikir-kritis.html

[5] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[6] http://darul-ulum.blogspot.co.id/2013/02/membangun-tradisi-membaca-dan-menulis.html

[7] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[8] Laksmi MA, makalah

[9] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[10] http://m.adicita.com/artikel/263-Membaca-Sebagai-Sumber-Kemajuan-Bangsa

[11] http://m.adicita.com/artikel/263-Membaca-Sebagai-Sumber-Kemajuan-Bangsa

[12] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[13] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[14] https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/06/07/71374/menulis-bagian-dari-pilar-peradaban-islam.html

[15] http://www.haluankepri.com/rubrik/opini/60029-dua-pilar-peradaban.html

[16] http://www.wikipendidikan.com/2016/12/literasi-islam.html

[17]  https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[18] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[19] http://www.wikipendidikan.com/2017/01/budaya-literasi-dan-tradisi-berpikir-kritis.html


Ditulis dalam Uncategorized

EPISTEMOLOGI IQRO (2)

Epistemologi Iqro adalah Penerapan epistemologi Islam dalam mengkaji suatu Fenomena dalam Kehidupan manusia untuk mengarahkan hati dan akal fikiran manusia kepada ketawduan kepada Allah.

Fenomena ilmu saat ini

Sepanjang beberapa abad terakhir ini Ilmu telah dipisahkan dari agama. Bahkan Umat Islam dari kalangan sarjana yang mempelajari ilmu ternyata awam di bidang agama. Sekularisasi telah terjadi pada ilmu, dianut oleh Barat dan diikuti hampiru seluruh umat manusia. Sehingga menyebabkan ilmu terpisah dari keimanan. Dan menyebabkan manusia tidak peduli dengan ilmu agama, karena ilmu dipandang lebih berguna, dan ilmu agama menjadi tidak sempat dipelajari.

Sebab itu dibutuhkan suatu upaya berupa pemikiran tentang bagaimana menyatukan kembali antara ilmu dengan agama. Sehingga orang-orang yang hendak mempelajari ilmu mereka tidak lupa kepada agama. Sebaliknya orang-orang yang beragama tidak meremehkan orang-orang yang berilmu. Seorang mukmin harus merupakan seorang yang beragama sekaligus orang yang berilmu. Ia tidak memisahkan dalam jiwa dan kajiannya antara ilmu dengan agama.

Pandangan Filsafat Ilmu tentang Ilmu

Filsafat ilmu mengakui bahwa wilayah kajian dan sifat ilmu itu sifatnya terbatas. Masalahnya adalah, manusia telah menjadikan ilmu sebagai satu-satunya fokus kajian dan tumpuan harapan pengembangan peradaban. Sehingga timbul masyarakat yang sekular. Karena mereka bersifat ateis dalam ilmu. Sedangkan agama mereka tidak ikut mewarnai kajian-kajian keilmuan. Filsafat ilmu juga mengakui bahwa ada pengetahuan di luar ilmu yang ikut serta menjadi pondasi peradaban manusia. Salah satunya adalah agama. Hanya Filsafat ilmu, sesuai dengan nama dan batasannya, tidak membahas lebih jauh tentang agama, seni, intuisi dan lain sebagainya. Filsafat ilmu hanya berbicara tentang metode ilmiah, yang tersusun dari rasionalisme, empirisme.

Kita tidak hendak mengubah apa yang telah menjadi pandangan Filsafat ilmu semacam itu. Yang hendak kita ubah adalah tentang keyakinan bahwa ilmu merupakan satu-satunya kebenaran dan metode keilmuan sah. Pandangan ini disandarkan kepada filsafat matrealisme, yang memandang bahwa yang real itu adalah fisik. Filsafat ini tidak mengakui adanya Tuhan, sehingga tidak mengakui adanya wahyu, sehingga otomatis tidak menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu. Bagi mereka, wahyu bisa saja menjadi sumber pengetahuan dan keyakinan yang ikut mewarnai peradaban dunia, tetapi tidak diakui sebagai ilmu. Hal ini tentu memberikan efek keeengganan manusia secara global untuk mempelajari agama.

Pandangan filsafat secara umum, mengakui bahwa ada pengetahuan yang bisa diandalkan untuk memandu kehidupan manusia ke arah yang lebih baik dan membahagikan, seperti diungkapkan di atas. Maka agama sudah semestinya menjadi bagian integral dalam sebuah kerangka keilmuan secara universal. Kalau misal ternyata agama dengan kitab sucinya tidak sesuai dengan temuan ilmu pengetahuan yang diyakini benar dan sah, maka yang problematis sebenarnya kitab itu sendiri. Bukan ilmu pengetahuan. Kitab suci dan alam semesta jika diyakini berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan, maka diantara keduanya tidak mungkin terdapat pertentangan.

Filsafat mampu mengantarkan dan membuktikan bahwa Tuhan itu ada, hanya saja filsafat tidak sampai kepada suatu kesimpulan tentang nama Tuhan dan bagaimana seharusnya manusia bersikap kepada Tuhannya. Sekali lagi, maka suatu informasi yang berasal dari Tuhan itu mutlak dibutuhkan adanya. Dan memang informasi dari Tuhan berupa wahyu dan berwujud kitab suci itu ada. Dengan demikian menurut pemikiran filsafat, akhirnya wahyu itu diperlukan untuk menjadi bagian dari struktu ilmu pengetahuan. Bahkan sudah semestinya bagi orang-orang yang beriman menjadikan wahyu itu sebagai pondasi bagi struktur ilmunya. Ia menggapai ilmu demi menguatkan agama. bukan sebaliknya.

Pandangan Islam tentang Ilmu

Dalam pandangan Islam, istilah ilmu mungkin berbeda dengan definisi yang diberikan oleh filsafat ilmu, namun sebagai pengetahuan, maka ilmu merupakan sarana bagi manusia untuk mengetahui nilai dan cara atas kewajibannya kepada Tuhan dan semesta. Ilmu tidak semata hanya untuk mencapai kesejahteraan lahir dan fisik. Tetapi lebih dari itu, yaitu mengenal Tuhan dan melakukan kewajiban berupa ibadah kepadaNya. Oleh sebab itu maka ilmu tidak hanya sebatas tentang apa yang masuk akal dan dapat diindra, tetapi juga termasuk apa yang masuk ke dalam hati dan mencakup perkara yang real secara hakiki. Namun karena keterbatasan daya manusia untuk mengetahui secara pasti tentang kebenaran apa yang masuk ke dalam hati atau intelek serta tentang yang real secara hakiki, maka ia membutuhka bantuan berupa wahyu.

Islam memberikan jalan bagi akal, hati dan indra manusia untuk meneliti dan menguji akan kebenaran wahyu berupa al-Quran. Maka ketika tiba keyakinan atas kebenaran wahyu berdasarkan penelitian dan pengujian sesuai kapasitas akal dan indra, maka wahyu itu harus diakui sebagai salah satu sumber ilmu dan pengetahuan yang sangat berharga bagi kehidupan dan peradaban manusia. Dalam konteks umat Islam, selaku golongan manusia yang beriman dan meyakini akan kebenaran al-Quran maka merupakan hal yang logis bila mereka menjadikan al-Quran sebagai sumber utama ilmu pengetahuannnya. Sebagai pondasi dan arah pengembangan selanjutnya atas ilmu.

Islam melalui kitab sucinya mengakui bahwa ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang penting dan bisa diandalkan bagi manusia untuk menunjang kebutuhan dan kepentingannya. Dalam persfektif Islam, sebagai agama, semua perihal manusia, entah itu pengetahuan, perasaan, pengalaman dan gerak-geriknya haruslah bertujuan kea rah yang sama, yakni memperkuat semangat ibadah kepada Tuhannya. Sebab dalam pandangan agama, yang sangat berharga dalam kehidupaan manusia itu adalah agamanya, atau tingkat keimananya. Seperti dikatakan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Ketakawaan, kesholehan, dan kemauan beribadah atau taat kepada aturan agama, dipandang sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Maka, ilmu termasuk entitas apa pun yang tidak bisa dipisahkandari kesejatian manusia seperti harta dan jiwa, merupakan entitas yang diakui oleh agama dan sifatnya adalah baik selama dipergunakan untuk kemuliaan agama. Dengan kata lain, agama tidak akan pernah antipasti dengan entitas bernama ilmu.
Pandangan Ilmu tentang Ilmu

Ilmu mengandalkan beberapa perihal terkait dengan sifat dan keadaannya. Pertama bahwa ilmu merupakan suatu perkara yang mesti dipelajari, suatu sistem pendidikan sangat menunjang. Kedua bahwa ilmu membantu umat manusia dalam mencapai dan mewujudkan harapan dan keinginannya. Ketiga, ilmu membutuhkan keberadaan akal, hati dan tangan manusia untuk merengkuhnya. Keempat bahwa ilmu berasal dari Pencipta sebagaimana alam dan manusia berasal dari Pencipta. Kelima, bahwa ilmu merupakan bagian dari kebudayaan manusia yang membentuk pola bermasyarakat dan mengembangkan sejarah kehidupan.

Ilmu dikembangkan dengan berpijak pada dua perkara penting, yaitu data empiris yang berada di lapangan dan teori-teori yang telah ditemukan para ahli. Dikembangkan melalui suatu metode penelitian dan analisa tertentu. Dengan data empiris, teori, penelitian di lapangan dan metode analisa tersebut maka ilmu dapat berkembang terus menerus, memberika perspektif baru bagi manusia dalam upaya menguasai, mengontrol dan memprediksi alam sesuatu kegunaan dan kemanfaatan bagi hidup manusia. Demikian simple atau sederhana pola pengembangan ilmu, sehingga ilmu mudah untuk dikembangkan. Namun dibalik kesederhanaannya seringkali manusia menempatkan ilmu dalam konstelasi kehidupan dengan suatu cara yang salah. Yakni menempatkan ilmu sebagai pemecah semua persoalan hidup, bahkan menjadikan ilmu itu sendiri sebagai nilai yang dituju oleh kehidupan. Ini sangat berbahaya bagi hidup manusia. Sebab ilmu bukanlah tujuan, tetapi ia merupakan alat.

Ilmu pada dasarnya menjelaskan bahwa keberadaannya sebagai suatu fasilitas bagi manusia untuk mencapai tujuan kehidupan yang lebih utama dari ilmu itu sendiri. Ilmu bisa menerangkan bahwa ada sesuatu yang dituju oleh ilmu, tetapi ilmu tidak bisa menjelaskan lebih jauh tentang wujud tujuan itu sendiri karena keterbatasan sarana yang digunakannya yaitu sebatas akal dan indra. Di situlah maka dibutuhkan suatu entitas yang bisa memberikan penjelasan tentang tujuan hidup, tanpa mengabaikan potensi akal manusia untuk memberikan suatu penilaian atasnya. Sepanjang penelitian yang mampu dijangkau oleh akal fikiran maka agama itu merupakan suatu yang masuk akal akan keberadaannya. Adapun mengenai kitab suci mana yang benar-benar suci, maka akal pun diberi kesempatan untuk mengujinya sesuai kapasitas yang dimilikinya. Dalam banyak diskusi para ilmuwan dan sarjana, maka dapatlah dipastikan bahwa al-Quran merupakan kitab yang menjamin akan keaslian dan kesuciannya sebagai wahyu dari Allah. Ini merupakan konsekuensi tabiat dari ilmu.
Sumber Ilmu bagi Manusia

Alam, kehidupan dan kebudayaan tempat kita tinggal merupakan sumber ilmu bagi kita. Pintu masuknya adalah indra, pengolahnya akal, dan penentu pilihan dialah hati. Maka ketika kita memiliki pengetahuan berkat adanya ketiga faktor tersebut, kita pun bisa mengembangkan diri, masyarakat, lingkungan dan mengisi sejarah kehidupan manusia dengan aneka warna dan pernik kehidupan. Di dalam kebudayaan di mana kita lahir, kita mendapatkan warisan budaya, berupa bahasa, agama, adat, keterampilan, norma, ilmu dan sistem kemasyarakatan, seperti status sosial, pendidikan, komunikasi dan lain sebagainya. Semua itu ditinjau dari sisi kajian kita, merupakan potongan-potongan pengetahuan yang membentuk diri kita. Bandingkan keadaan kita di hari ketika usia menjelang 12 tahun, 24, 44 dan seterusnya. Tentuk berbeda jauh dengan keadaan ketika kita lahir.

Saat manusia lahir ke dunia, sifat dan keadaannya, dalam kaitannya dengan pengetahuan, ia tidak mengetahui apa-apa. Seiring waktu, dengan berfungsinya hati, akal dan indra, maka ia mulai mengetahui tentang dunia. Ia menjadi mengetahui dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Ia memperoleh pengetahuan sedikit demi sedikit. Pengembangan ilmu dalam cakupan yang luas dan mendalam, sebagaimana yang kita alami, didapatkan di sekolah, melalui kegiatan inti berupa belajar, dan belajar itu aktifitas intinya adalah berfikir, merasa dan bersikap. Dengan demikian, kita sebagai manusia sadar ataupun tidak sadar telah berada dalam posisi di mana lingkungan kita, kebudayaan kita menjadi sumber ilmu. Termasuk buku bacaan, teman pergaulan, tontonan. Bahkan mimpi, lintasan hati, imaginasi, dan lain sebagainya telah ikut serta menjadi bagian dari pengatahuan kita. Membentuk siapa diri kita.

Dari sekian ragam sumber ilmu yang kita peroleh, maka dapat kita buat kategorisasinya. Sehingga bisa membedakan dan mendudukannya sesuai sifat yang melekat kepadanya. Pengklasifikasikan sumber ilmu itu penting, agar kita bisa memilih mana ilmu dengan kekuatan terpercaya dan mana ilmu yang sifatnya biasa. Kedudukan seseorang di tengah kehidupan masyarakat setempat bahkan dunia, disamping karena ukuran-ukuran politik, ekonomi, alasan keagamaan, kemahiran dan lain sebagainya, maka aspek ilmu yang dimilikinya ikut serta menentukannya. Namun tentunya ada kategorisasi atas ilmu yang menjadi sebab seseorang dimuliakan, terkenal dan mendapatkan tempat di hati manusia. Tentunya bukan sembarang ilmu. Tapi ilmu yang memiliki kategoi tertentu. Empat ilmu yang menonjol, yang dengannya seseorang dikenal dan dihargai dalam kehidupan umumnya manusia, adalah, ilmu agama, filsafat, sains, dan hasil riset serta penelitian yang membuahkan teknologi.
Keberadaan orang-orang Berilmu

Orang berilmu adalah sumber ilmu. Dengan otoritas keilmuannya, kita mendapatkan ilmu darinya. Ilmu yang merupakan hasil dari pemikiran, kajian dan penelitiannya yang mendalam. Untuk beroleh ilmu dari orang yang berilmu ada dua cara yang umum. Pertama menjadi muridnya, kedua membaca karyanya dengan seksama. Itulah sebabnya sekolah merupakan sarana untuk beroleh ilmu langsung dari guru dan membaca untuk beroleh ilmu langsung dari penulisnya. Kegiatan sekolah, belajar dan membaca merupakan suatu kebiasaan atau tradisi yang sangat baik bagi pembinaan diri agar mengusai ilmu tertentu dengan baik. Di dunia Islam, menyandarkan pendapat kepada pendapat atau perkataan seorang ahli ilmu atau guru ialah melalui sanad. Saat ini telah berkembang metode penulisan yang menyertakan catatan kaki. Hakikat dari catatan kaki ialah bahwa ilmu yang kita miliki bersandar kepada ilmu ahllinya. Sebab itu dalam menyandarkan pendapat kita kepada seseorang, mestilah seseorang itu benar-benar seorang ilmuwan atau ulama yang diakui secara kesaksian.
Terkait dengan istilah menjadi murid dari seorang ilmuwan dan membaca karya seorang penulis yang telah dikenal sebagai ilmuwan, maka nyatalah bahwa belajar dan membaca merupakan suatu metode untuk memperoleh ilmu. Pada dasarnya jika ada suatu istilah yang bernama metode ilmu, maka hakikat yang melekat pada metode ilmu, salah satu sisinya adalah membaca dan belajar atau studi, sedangkan sisi lainnya adalah mengadakan penelitian di lapangan dengan obyek yang telah diikat oleh tema dan batasan permasalahan. Dalam proses analisa terhadap obyek yang sedang dikaji, dimana data-datanya telah terhimpun , maka bimbingan guru atau dosen pembimbing adalah kenyataan yang kentara.

Dalam metode ilmiah itu, di sisi teori atau studi pustka, hakikatnya kita sedang mendapatkan ilmu dari ilmuwan melalui karya tulisnya yang sudah dipercaya memiliki suatu kategori yang layak untuk dijadikan sebagai sumber ilmu, bahkan sandaran ilmu yang kita kembangkan selanjutnya. Untuk itu saya memasukkan bahwa ilmuwan merupakan sumber ilmu. Di dalam Islam, salah satu syarat beragama justru terletak di dalam ilmu dari siapa ilmu itu diperoleh. Yang merujuk kepada kedudukan guru sebagai sumber ilmu dan sahnya ilmu. Maka ulama-ulama yang muncul di tengah masyarakat Islam, adalah karena dahulunya mereka menjadi murid dari ulama. Tidak ada ulama yang muncul dari ruang kosong. Ada memang beberapa ulama yang dikenal ilmunya karena melalui proses belajar otodidak, namun jelas hal itu menunjukkan bahwa mereka belajar kepada para ulama melalui kitab yang dikarangnya sedangkan dasar-dasar keilmuwan mereka memang sudah kokoh sejak usia mereka masih dini.
Bahan Dasar Epistemologi Iqro

Ilmu saat ini telah mengalami sekularisasi, yakni pemisahan dari agama. Hal itu sangat berbahaya bagi jiwa, sejarah dan peradaban manusia. Sekularisasi ilmu hanya membentuk jiwa yang kerdil dan kering dari iman, sejarahnya menjadi sejarah penuh darah, dan peradabannya diwarnai kebiaadaaban di mana-mana. Oleh sebab itu maka dalam upaya membendung sekularisasi ilmu itu, dibutuhkan upaya desekularisasi ilmu. Dan tentu saja yang paling penting adalah Islamisasi Ilmu, mengembalikan ilmu ke pangkuan agama, yakni agama Islam.

Jika dikatakan islamisasi Ilmu hanya berlaku untuk orang Islam, maka itu betul. Itu wajar dan memang seharusnya demikian. Karena orang Islam tidak memiliki masalah dengan konsep-konsep yang dikandung di dalam agama ini. Semuanya memiliki kejelasan dan presisi yang tinggi. Artinya ilmu tidak akan pernah berseberangan dengan Islam sebagaimana sumber-sumber Islam berupa al-Quran dan hadits tidak akan pernah berseberangan dengan ilmu.

(Bersambung)


Ditulis dalam Uncategorized

HIKMAH IQRO (Bagian 1)

LATAR BELAKANG

Di kalangan orang yang beriman, mutiara paling berharga dalam hidup adalah iman itu sendiri. Harga Iman di atas harga ilmu atau akal, di atas harga nyawa, di atas keturunan, di atas harga harta. Maka entitas yang dapat mengantarkan kepada iman akan ditempatkan pada posisi yang sangat berharga. Ada tiga entitas yang dapat mengantarkan kepada iman, yaitu ilmu, ibadah dan lingkungan dengan ciri dan kategori tertentu.

Ketika seorang yang beriman telah sampai kepada entitas bernama ilmu, ibadah dan lingkungan dengan ciri dan kategori tertentu tadi, tentulah ia telah mendapatkan suatu kehidupan bagi hati, akal dan jasadnya. Ia beroleh karunia yang besar, ia beroleh inti dan mutiara hidup di dunia dalam makna yang sesungguhnya. Itulah tali penguat keimanan, penambah kualitas iman, dan penjaga iman yang sejati.

Boleh jadi entitas ini dinamakan dengan hikmah. Jika penamaan ini disepakati, maka kita bisa memulai.

Ilmu dengan ciri dan kategori tertentu yang dengannya iman menjadi lebih baik, berkualitas sekaligus memperkuat dan memperbaiki ibadah dan lingkungan, maka saya menamakan imu tersebut adalah hikmah. Ilmu ini diturunkan dari penguasaan atas wahyu, dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan, seni, sejarah, intuisi, hasil investigasi atau penelitina di lapangan, pengalaman, fakta-fakta, dan hasil pemikiran yang bersih serta mendalam. Itulah yang saya namakan sebagai hikmah.

Karakteristik dari hikmah adalah bahwa ia merupakan sebuah daya. Daya hati dan akal yang akan mampu menampung hidayah dari Allah Swt. Ia juga merupakan pengarah dan penguat. Yakni pengarah dan penguat ibadah-ibadah. Ia juga merupakan penata dan Pembina. Yakni penata dan Pembina lingkungan agar lebih sesuai dengan syariah. Sebab syariah yang diterapkan di lingkungan merupakan suatu bukti adanya keimanan.

Oleh sebab itu inti sari dari hikmah adalah kesesuaian dengan wahyu, kemampuan menjadi solusi atas kebutuhan hamba untuk beribadah, dan kenyataannya yang bias diandalkan sebagai jalan keluar atas berbagai masalah di lingkungan. Dengan kata lain, hikmah adalah proses, hasil dan tumpuan pemecahan masalah yang terjadi atas diri, tanggung jawab dan keadaan masyarakat atau alam. Untuk itulah mengapa hikmah hadir dalam kehidupan dan dimiliki oleh mereka yang beriman dan bijaksana.

Selanjutnya kita perlu mengetahui dan merumuskan ciri-ciri lebih lanjut yang harus melekat pada hikmah ini, sehingga mampu menjadi entitas dengan daya seperti dijelaskan di atas. Untuk keperluan tersebut saya teringat akan kalimat wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu Iqro bismirobbikaladzii kholak. Saya berpendapat bahwa hikmah itu harus merupakan suatu hasil dan proses iqro. Hikmah harus menjiwai maksud dan tujuan dari diturunkannya wahyu ke dunia.

Apa intisari tujuan dan maksud kata iqro tersebut. Saya menduga, berdasarkan banyak penjelasan dan dalam kaitannya dengan sejarah dakwah Islam selanjutnya, maksud iqro adalah menjadikan entitas iman sebagai landasan hidup, Allah sebagai tujuan hidup dan ibadah sebagai landasan harapan menuju kebahagiaan hidup. Dengan demikian Hikmah iqro adalah sebuah pandangan bijaksana di mana entitas iman, Allah dan ibadah menjadi sentral dari landasan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidup, sehingga dicapailah dua tujuan utama, yaitu hilangnya kebatilan dan tegak kebenaran.

Berdasarkan latar belakang ini, maka saya memandang perlu membuat rumusan yang lebih jernis dan distingtif atas istilah akan istilah hikmah iqro ini. Maka mari ikuti tulisan saya selanjutnya di bawah ini.

PERUMUSAN ISTILAH HIKMAH IQRO

Komitmen Konsep

Hikmah iqro adalah ilmu dalam kepentingan iman. Di dalamnya termuat sistem dan metode memandang dan menempatkan diri, kehidupan dan Penciptanya. Sebab itu komitmen hikmah iqro haru menjadikan Iman sebagai landasan, Allah sebagai tujuan, Ibadah sebagai proses. Karena iman sebagai landasan, maka otomatis wahyu menjadi sandaran pertama dalam memandang kehidupan dan dalam mengkaji fenomena yang terjadi di dalamnya. Semua berangkat dari keyakinan bahwa dibalik kehidupan dan fenomena ini ada Allah Swt yang berkuasa atasnya. Dan kita bermaksud bahwa semuanya adalah untuk mendapatkan kejelasan akan tanda-tanda kebesaran Allah Swt sehingga hasil akhirnya adalah semangat untuk beribadah kepadaNya lebih baik lagi.

Potensi Diri Manusia

Manusia memiliki tiga potensi yaitu hati, akal, dan jasad. Hati merupakan tempat bagi iman, pemutus suatu tindakan dan penyerap makna dari apa yang dialami dan terjadi atas kehidupannya. Hatilah yang menangkap dan menanggung akibat dari segala perkara yang dipikirkan akal dan dilakukan jasad. Hati merupakan penangkap sinyal ilahi dan yang memerintahkan akal serta jasad untuk berbuat taat atau khianat. Akal merupakan alat bagi hati dalam menangkap rumusan-rumusan kehidupan baik yang berasal dari wahyu ataupun dari alam. Sedangkan jasad memiliki potensi untuk mewujudkan kewajiban dan harapan iman dan ilmu yang diperoleh. Hikmah Iqro menampung apa yang kehendaki oleh hati, dipikirkan oleh akal dan diperbuat oleh jasad yang secara sah serta meyakinkan mampu menopang komitmen hikmah iqro ini.

Tiga Wilayah Kajian

Manusia, Semesta dan Allah Swt. Hikmah Iqro sebagai jalan menata jiwa seorang yang beriman akan senantiasa aktif untuk mengkaji sebagai bekal untuk menganalisa dan memberikan solusi atas problem yang dihadapi manusia dalam konteks zaman dan tempat tinggalnya. Maka sasaran kajiannya terdiri atas tiga wilayah yaitu manusia, semesta dan Allah Swt. Mengkaji manusia secara garis besar adalah membahas tentang agamanya, filsafatnya dan politiknya. Agama terkait dengan iman, filsafat terkait dengan fikirannya, dan politik terkait dengan perbuatannya dalam kategori puncak-puncak kenyataannya. Sasaran kajian semesta adalah kajian tentang tabiat statis dan dinamis alam semesta. Tabiat statis adalah hokum-hukum alam, sedangkan dinamis terkait peristiwa-peristiwa yang sulit diprediksi bila mengikuti hokum-hukum alam, contohnya adalah peristiwa bencana. Sedangkan Mengkaji Allah Swt berarti mengkaji wahyu dan cara beribadah kepadaNya. Tiga wilayah ini harus dibahas bersamaan, sekalipun tema dan fokusnya hanya pada salah satunya. Ketika kita fokus membahas semesta, maka kajian tentang Allah dan manusia harus diikut sertakan. Dibahas secara seimbang.

Kewajiban Merealkan Iman

Membenarkan, Melisankan, Mewujudkan Iman. Orang beriman bukan hanya bahwa ia sadar akan kewajibannya untuk beriman, tetapi juga lebih dari itu yakni merealkan iman dalam waktu dan tempat kehidupannya. Hikmah Iqro merupakan pola berjiwa yang meliput hati, fikiran dan tindakan alam poros iman kepada Allah untuk menguatkan ibadah. Maka Hikmah iqro merupakan suatu metode yang diharapkan dapat membantu seorang mukmin untuk merealkan iman berdasarkan ilmu, kefahaman dan kemauan yang kuat. Sehingga kuatlah hatinya membenarkan, tajam lisannya dalam mendakwahkan dan terampil jasadnya dalam mewujudkan pesan-pesan keimanan di tengah kehidupan manusia. Dengan hikmah iqro maka sains dipersatukan kembali dengan iman, politik dipersatukan kembali dengan agama, dan pekerjaan dipersatukan kembali dengan ibadah. Urusan ilmu adalah urusan iman, urusan politik adalah urusan agama, urusan pekerjaan adalah urusan ibadah.

POLA HIKMAH IQRO

Hikmah Iqro surat Al-fatihah

Sajian Realis

Real adalah yang benar-benar nyata dan ada secara hakiki. Setidaknya ada tiga real yang dimuat dalam al-Quran, yaitu Allah, alam dan pertemuan dengan Allah. Alam itu termasuk di dalamnya adalah manusia. Allah, alam dan manusia sering dibahas sebagai suatu kenyataan. Namun jarang dibahas bahwa pertemuan dengan Allah merupakan kenyataan pula. Maka dalam hikmah iqro, pertemuan dengan Allah merupakan salah satu perkara real, suatu kenyataan yang hakiki. Manusia pernah bertemu dengan Allah sebelum kehidupan di dunia dan akan bertemu dengan Allah setelah selesainya kehidupan di dunia. Dalam pandangan orang-orang beriman, perkara ini adalah real. Suatu kenyataan yang sebenar-benarnya ada.

Sajian Idealis

Idealis adalah jalan-jalan menuju realis. Artinya ada jalan untuk mengenal dengan jelas apa alam itu, siapa Allah, kemudian siapa, mengapa dan bagaimana kita ada. Jalan itu adalah ibadah dan meminta pertolongan kepada Allah. Inilah pernyataan paling jelas untuk menjawab siapa kita, mengapa kita dan bagaimana kita. Kita adalah makhluk, maka tentu ada khalik. Dan karenanya ada sejumlah kewajiban manusia yang harus ditunaikan, yakni ibadah. Ada sekian keadaan manusia sehingga ia perlu meminta pertolongan kepadaNya. Inilah jalan mendekati Allah untuk memahaminya dengan benar. Tanpa ibadah dan meminta pertolongan kepadaNya, manusia tidak akan memahami Allah, dirinya dan alam semesta ini. Sekalipun sampai kepadanya informasi tentang semua real ini, namun bila tidak membuatnya beribadah dan meminta tolong kepada Allah, hakikatnya ia tidak tahu apa-apa dan tidak berbuat apa-apa untuk mencapai real.

Sajian Empiris

Empiris adalah fakta dan fenomena yang sedang kita hadapi di dalam kehidupan kita sendiri. Dalam sebuah ranah hikmah, selalu ada dua macam empiris yang menarik perhatian, yaitu yang problematik dan yang menakjubkan. Empiris yang problematik adalah empiris yang tidak memuat idealis. Sedang empiris yang menakjubkan adalah empiris yang sarat dengan idealis. Tidak ada empiris yang netral dari idealis dalam kehidupan manusia. Kemampuan membaca empiris dan menemukan hal yang problematis atau menakjubkan tergantung kepada kedalaman ilmu kita tentang idealis. Suatu empiris tanpa pisau analisa bernama realis dan idealis mungkin tidak akan terdeteksi ada tidak adanya problem di dalamnya.

Sajian Problem

Problem adalah detail empiris atas keadaanya yang tidak memuat idealis. Muara problem itu adalah sifat yang mengundang Kemurkaan Allah dan sifat menetap dalam kesesatan. Yaitu keadaan di mana manusia tidak beribadah kepada Allah, dan tidak pula meminta pertolongan kepadaNya. Mereka beribadah kepada selain Allah dan meminta pertolongan kepada Allah. Mereka melupakan Allah dalam ibadah dan dalam kehidupannya, juga melupakan akan pertemuan dengan Allah di hari akhirat kelak. Empiris semacam ini contoh-contohnya banyak sekali dimuat di dalam al-Quran.

Sajian Resolusi

Problem adalah pemicu munculnya empiris yang problematis. Sedangkan problem itu pada intinya disebabkan oleh ketiadaan idealis dan keyakinan realis pada manusia. Sebab itu solusinya ada dua yaitu merujuk kepada teladan orang-orang beriman di masa lalu, dan berhati-hati dari tipu daya orang yang sesat dan dimurkai Allah yang merupakan akar dari fakta kehidupan yang problematis.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka hikmah iqro itu mewajibkan kita menjadikan keimanan dan ibadah sebagai pisau analisa fenomena, sudut pandang menilai dan menakar fakta kehidupan. Dan jauh sebelum mengadakan penelitian dan tindakan dakwah atau resolusi, kita harus memahami dan memaknai dalam wujud penataan kehidupan kita atas penjelasan realis dan idealis yang dimaksudkan di atas.

Seorang yang memiliki hikmah iqro selalu mengajukan tiga pertanyaan atas fenomena atau fakta kehidupan zamannya. Apakah di zaman dan tempatnya iman menjadi landasan kehidupan? Apakah Allah menjadi tujuan dari setiap pengembangan setiap segmen kehidupan dan peradaban? Apakah dirinya dan masyarakatnya telah menjadikan ibadah sebagai poros dalam setiap aktifitasnya? Ia selalu bertanya untuk merumuskan kerangka jiwa dan mengambil sikap atas keadaan-keadaan yang fana ini.


Ditulis dalam Uncategorized
Laman Berikutnya »