Filsafat Berfikir

SEKULAR

DAFTAR ISI

 

DEFINISI SEKULAR

Menurut  pakar pemikiran Islam Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, yaitu: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan (3) deconsecration of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).[1]

Sementara itu, pemikir Kristen Harvey Cox, dalam buku terkenalnya, The Secular City, menyebutkan definisi sekularisasi adalah: “pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).[2]

Dr. Syamsuddin Arif dalam Presentasinya dalam Seminar Pemikiran menyebutkan, Sekularisme berasal dari bahasa Latin “saeculum” (zaman, masa), atau ‘saecularis’ (mengikuti zaman). Dan kata bendanya “Saeculares” lawan kata “religiosi” (orang-orang beragama). Beliau menyebutkan adaa beberapa Pokok-pokok Akidah secular, yakni

  1. Secularization is good, necessary and inevitable.
  2. Secularity is characteristic of modernity
  3. Being secular = being modern
  4. Modern life = secular life[5]

Artinya, ciri hidup dengan gaya pemikiran sekuler dianggap sebagai ciri hidup modern dan berkemajuan.[3]

Sekularisme adalah paham yang memisahkan politik dari agama, namun dalam perkembangannya sekularisme menjelma menjadi faham ekstrim yang anti agama (khususnya Islam).[4]

Sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi. Menurut pemikiran ini, agama dianggap hanya sebagai urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan duniawi, agama tidak boleh ikut campur. Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakan dari “pencerahan” yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhyul.[5]

Sekularisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme (dianggap) dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.[6]

 

HAKIKAT SEKULAR

Sekularisasi adalah proses pengosongan pemikiran manusia dari nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama. Sekularisme adalah sebuah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama.[7]

SISTEM KEILMUAN SEKULAR

Sistem keilmuan sekular dan ateistik tidak mengakui “wahyu” sebagai sumber ilmu, karena wahyu dianggap sebagai dogma yang tidak ilmiah. Padahal, pada saat yang sama, ilmuwan sekular itu pun menerima berita-berita yang dibawa oleh para anthropolog dan ilmuwan ateis, tanpa proses verifikasi. Mereka menolak berita dari al-Quran, tetapi menerima berita dan dugaan-dugaan dari Charles Darwin dan sejenisnya.[8]

Pendekatan agama dan pendekatan sains (ilmu pengetahuan) dalam upaya memahami realitas alam semesta adalah berbeda. “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu tidak berarti keyakinan keagamaan tidak rasional. Perasaan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu tetap dapat dijelaskan secara rasional. Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.”[9]

Cara pandang terhadap agama dan sains semacam itu jelas-jelas bersifat sekular. Itu jelas keliru. Cara berpikir semacam ini juga merupakan dogma yang diyakini oleh ilmuwan sekular. Itu merupakan kesalahan epistemologis, yang memisahkan panca indera dan akal sebagai sumber ilmu, dengan khabar shadiq (true report) — dalam hal ini wahyu Allah — sebagai sumber ilmu. Padahal, dalam konsep keilmuan Islam, ketiga sumber ilmu itu diakui dan diletakkan pada tempatnya secara harmonis. Dalam Kitab Aqaid Nasafiah – kitab aqidah tertua yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu – dikatakan bahwa sebab manusia meraih ilmu ada tiga, yaitu: panca indera, akal, dan khabar shadiq.[10]

FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI SEKULARISME

Ada tiga faktor yang melatarbelakangi sekularisme dan liberalisme di Barat. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian lama), yang hingga kini masih merupakan misteri, termasuk soal siapa sebenarnya yang menulis. Demikian juga perjanjian baru (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otensitas teks. Dan ketiga, problema teologi Kristen.[11]

SEJARAH AWAL SEKULARISME

Bila kita melacak sejarah bangsa Eropa, sekularisme muncul disebabkan pengongkongan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Pihak gereja Eropah telah menghukum ahli sains seperti Copernicus, Gradano, Galileo dll yang mengutarakan penemuan saintifik yang berlawanan dengan ajaran gereja. Kemunculan paham ini juga disebabkan tindakan pihak gereja yang mengadakan upacara agama yang dianggap berlawanan dengan nilai pemikiran dan moral seperti penjualan surat pengampunan dosa, yaitu seseorang boleh membeli surat pengampunan dengan nilai wang yang tinggi dan mendapat jaminan syurga walaupun berbuat kejahatan di dunia.[12]

Disamping itu, Kemudian muncul revolusi rakyat Eropa yang menentang pihak agama dan gereja yang bermula dengan pimpinan Martin Luther, Roussieu dan Spinoza. Akhirnya tahun 1789M, Perancis menjadi negara pertama yang bangun dengan sistem politik tanpa intervensi agama. Revolusi ini terus berkembang sehingga di negara-negara Eropa, muncul ribuan pemikir dan saintis yang berani mengutarakan teori yang menentang agama dan berunsurkan rasional. Seperti muncul paham Darwinisme, Freudisme, Eksistensialisme, Ateismenya dengan idea Nietche yang menganggap Tuhan telah mati dan manusia bebas dalam mengeksploitasi. Akibatnya, agama dipinggirkan dan menjadi bidang yang sangat kecil, terpisah daripada urusan politik, sosial dan sains. Bagi mereka yang melakukan penolakan terhadap sistem agama telah menyebabkan kemajuan sains dan teknologi yang pesat dengan munculnya zaman Renaissance yaitu pertumbuhan perindustrian dan teknologi pesat di benua Eropa.[13]

SEKULARISASI DI INDONESIA

Sekulersime muncul di tanah Indonesia pertama kali di bawa oleh gubernur jenderal belanda Herman William Daendles pada tahun 1808-1811, yang hadir ke Indonesia untuk mengantikan VOC yang telah bercokol hamper 200 tahun. Kolonialisme belanda yang hadir di Indonesia berikut dengan projek sekularsiasinya memantik hadirnya perlawanan dari masyarakat Indonesia.[14]

Di Indonesia sendiri, sekularisme dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya; mundurnya pengaruh agama, desakralisasi lembaga-lembaga keagamaan, individualistis dalam masyarakat, serta pemindahan kepercayaan/iman dan pola prilaku dari suasana keagamaan ke suasana sekular.[15]

Dalam sidang BPUPKI kita akan menemukan dua aliran kuat yang berdebat sengit dalam sidang itu, golongan nasionalis islam menginginkan agama menjadi dasar Negara dan golongan nasionalis sekuler menginginkan hendaknya Negara netral terhadap agama. Namun uniknya kedua blok ini menyepakati bahwa asas ketuhanan menjadi hal yang sangat fundamental yang harus ada pada Negara Indonesia yang merdeka.[16]

Indonesia bukan sepenuhnya Negara agama tapi juga Indonesia tidak bisa menjadi Negara sekuler yang menihilkan peranan agama dalam Negara, inilah posisi unik Indonesia dalam pertarungan antara islamisme dan sekulerisme.[17]

CONTOH PERBUATAN SEKULAR

Berikut adalah contoh dampak dari sekularisasi.[18]

Tidak Perduli Dengan Urusan Duniawi

Contohnya seperti orang-orang beragama yang tidak mau memberi sedekah untuk pembangunan jalan raya atau rumah sakit (sebagai fasilitas umum) karena dianggap hal itu merupakan urusan negara, bukan urusan agama, sehingga mereka hanya mau bersedekah untuk hal-hal yang berbau agama seperti pembangunan masjid, pembangunan pondok pesantren dan hal-hal yang berbau agama lainnya termasuk ritual keagamaan lainnya.

HAM Sebagai dasar Hukum

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan nyata di tanah air kita ini, terlihat dengan jelas bahwa hukum atau Undang-Undang di Indonesia tidak berdasarkan agama islam lagi, bahkan hampir seluruhnya hukum di Indonesia bersekularisme dan membatasi hukum yang berdasarkan Kitab Suci Alquran. Misalkan saja hukum qishas dalam Islam dianggap sangat kejam, tidak memenuhi nilai-nilai Islam dan penuh dengan pembalasan. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian, maka hukum Islam dianggap salah karena menyalahi hak seorang manusia.

Kondisi Ekonomi

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung dari sekularisme. Prinsip-prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme.

Budaya Sekularisme

Mungkin tidak aneh lagi, bayangan sekulerisme bagaikan sebuah kebutuhan trend anak muda dewasa ini, harus sesuai dengan perkembangan zaman. Kita disajikan dengan gaya hidup ala barat, jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia apalagi mengikuti syariat Islam. Program TV, Media, Internet sebagai wadah untuk mempromosikan pemikiran yang mereka bawa kepada masyarakat Indonesia.

Pendidikan

Manajemen pendidikan kita telah dirasuki oleh pengaruh sekuler, terbukti dengan bahan Filsafat lebih wajib dipelajari dibanding Tauhid. Referensi Keyakinan lebih dikuasai oleh pemikiran para  filsuf dibanding dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kurikulum pendidikan di Indonesia pun sudah sangat jelas memisahkan antara ilmu agama (pendidikan agama) dan ilmu umum (pendidikan sains), banyak tenaga pengajar (guru) ilmu umum yang tidak memperkenankan muritnya mengkait-kaitkan sains dengan ajaran agama, hal tersebut terbukti dari tidak diperbolehkannya menulis suatu artikel ilmiah yang bersumber (berreferensi) dari kitab suci agama.

Media Massa

Siapa saja yang mengamati media massa Indonesia akan dengan mudah menyimpulkan bahwa ia berada dalam genggman sekularisme. Itu ditandai oleh kebebasan yang tanpa batas dalam menyatakan pendapat. Dengan dalih kebebasan berekspresi  atau menyatakan pendapat, semua pemikir-pemikir sesat seperti JIL, kaum sekuler dan lain-lainnya bebas berbicara apa saja. Dan lebih parah lagi, sebagian besar yang disesatkan oleh media massa tersebut adalah umat Islam. Tidak jarang kita dapati di koran-koran nasional kita, tulisan tentang kecaman terhadap penerapan syari’at Islam, dukungan terhadap pornografi dan porno aksi, pengolok-olokan terhadap sebagian hukum Islam dan sebagainya.

Memelintir Ayat-ayat Al-Quran

Banyak ayat Al Quran yang dinilai sempit oleh banyak pemikir liberal. Seperti ayat Al-Quran yang mengatur tentang perkawinan seperti pada QS An-Nisaa : 4 disalah artikan sebagai petunjuk untuk melakukan poligami. Padahal ayat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa islam memuliakan wanita. Bahwa jika seseorang tidak dapat berperilaku adil pada wanita yang akan dinikahinya disarankan untuk hanya menikai satu wanita.

Syaikh Muhammad Syakir Syarif menyebutkan dampak paling buruk bagi muslimin dalam kehidupan dan dunia mereka.:

  1. Menolak hukum yang berlandaskan pada apa yang Allah turunkan, menyingkirkan syariat dari segala ruang sisi kehidupan, mengganti wahyu ilahai dengan undang-undang positif yang mereka adopsi dari orang-orang kafir yang memusuhi Allah dan rasulnya.
  2. Merubah dan memanipulasi sejarah islam dan memberikan gambaran (kesan) terhadap masa-masa keemasan pergerakan pembebasan islamsebagai zaman kebiadaban yang sarat dengan kekacauan dan ambisi-ambisi pribadi.
  3. Merusak sistem pendidikan dan memperalatnya untuk menyebarkan pemikiran sekuler.
  4. Menghilangkan perbedaan antara muslim dan kafir
  5. Mempromosikan budaya serba boleh
  6. Melawan gerakan dakwah islamiyah melalui:
  7. Menangkap aktivis dakwah, memusuhi dan melontarkan tuduhan palsu kepada mereka
  8. Merongrong tokoh muslim yang tidak mau berdamai dengan ideologi sekular, dengan jalan isolasi atau penjara
  9. Menolak kewajiban jihad di jalan Allah
  10. Menyuarakan fanatisme terhadap bangsa dan tanah air

SEKULAR TIDAK AKAN BISA MENYATU DENGAN ISLAM

Sekularisme sebagai ideologi politik pada dasarnya tidak dapat bersenyawa dengan ajaran Islam yang hakiki, yang menganggap kekuasaan politik sebagai sarana  penegakkan agama. Sebagaimana disinyalir oleh Bernard Lewis, sejak zaman Nabi Muhammad saw, umat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus, dengan Rasulullah sebagai kepala Negara. Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw tidak mempolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan agama untuk kepentingan politik.[19]

Dalam perjalanannya, Paham ini terus menular dan mulai memasuki dunia Islam pada awal kurun ke 20. Turki merupakan negara pertama yang mengamalkan paham ini di bawah pimpinan Kamal Artartuk. Seterusnya paham ini menelusuri negara Islam yang lain seperti di Mesir melalui polisi Napoleon, Algeria, Tunisia dan lain-lain yang terikat dengan pemerintahan Perancis. Dan, Indonesia, Malaysia masing-masing dibawa oleh Belanda dan Inggeris. Ini dapat kita lihat dengan munculnya dualisme yaitu agama satu sisi dan yang bersifat keduniaan satu sisi. Seperti pengajian yang berasaskan agama tidak boleh bercampur dengan pengajian yang berasaskan sains dan keduniaan.[20]

Disamping itu, sejarah yang paling kental tentang munculnya sekularisme adalah disebabkan dari bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya.[21]

Akibat karena kita mengikuti pola barat dengan memasukkan pola sekuler dalam tubuhnya, maka kaum muslimin ibaratkan seseorang yang ikut-ikutan meneguk obat padahal ia sesungguhnya tidak sakit sedikit pun. Sehingga keberadaan Islam kian hari semakin rancu, dan semakin diperparah oleh gerakan sekularisasi di negeri-negeri muslim. Padahal hakikatnya Islam sudah sempurna ia tidaklah pantas di samakan dengan kristen, maupun agama lainnya, Islam adalah agama yang tidak perlu di modifikasi dan sebagainya.[22]

[1] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[2] ibid

[3] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[4] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[5] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[6] http://gugahpratala.tumblr.com/post/92437684117/sekularisme-musuh-dalam-kehidupan-umat-islam (DIAKSES  17 JunI 2017)

[7] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKSES  17 JunI 2017)

[8] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[9] IBID

[10] IBID

[11] http://www.goodreads.com/book/show/15767959-mengapa-barat-menjadi-sekuler-liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[12] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/ liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[13] IBID

[14] http://eramadina.com/islam-dan-sekularisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[15] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[16] IBID

[17] IBID

[18] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

Lihat : http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-92302-Esay-Bentukbentuk%20Sekularisme%20di%20Indonesia.html

[19] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKES 17 JUNI 2017)

[20] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKES 17 JUNI 2017)

[21] IBID

[22] IBID

Iklan

Ditulis dalam artikel filsafat

MODERNISASI, SEKULARISASI DAN DESAKRALISASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

 

SEKULARISASI

Sekularisasi muncul dari akar pemikiran Barat sejak renaisans, aufklarung hingga zaman Comte yang intinya rasionalisasi, matrealisme dan mengesampingkan agama bahkan meniadakan agama dari dunia. Sekularisasi adalah pemisahan antara urusan politik dan urusan agama, pemisahan urusan dunia dan akhirat. Sekularisasi adalah pembebasan manusia dari agama dan metafisika atau terlepasnya dunia dari pengertiaan religious yang suci kemudian manusia mengarahhkan perhatianya padadunia sini dan waktu kini. Pada hakiktanya sekularisasi menginginkan adanya pembebasan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan otonom pada dirinya.[1]

MODERNISASI

Akal yang di terapkan dalam masalah manusia merupakan landasan modernsasi. Tiga hal yang menandai modernisasi Barat, berlangsung melalui proses industralisasi, tumbuh suburnya ilmu teknologi, dan melepaskan diri dari kekangan gereja.[2] Proses modernisasi di mulai di Inggris pada abad ke-18 dengan revolusi industry kemudian meluas keseluruh Eropa dan Amerika Utara, yang sekarang di kenalsebagai Negara maju. Implikasi modernisasi adalah komitmen mengikis pola-pola lama dan menyuguhkan pola-polabaru. Pola-pola baru inilah yang dberi status modern. Aspek mencolok  modernisasi adalah beralihnya teknik produksi dari tradis\onal ke teknik modern. Suatu trasnformasi masyarakat tradisional kemasyarakat modern. Implikasi negative dari modernisasi adalah membawa serta nilai sekularaisasi. Maka terjadilah pengikisan nilai agama terhadap pribadi dan masyarakat. Juga meningkatnya angka kejahatan, melemahnya ikatan keluaraga, bertambahnya polusi.[3]

DESAKRALISASI

Sekularisasi berkaitan dengan desakralisasi yaitu berupa pembebasan terlepas atau bebasnya dunia dari pengertian religious. Secara umum desakralisasi berarti penindakeramatan. Dalam arti pembebasan dari pengaruh sakral terhadap segala sesuatu  Desakralisasi diartikan sebagai pembebasan dari nilai-nilai agama maupun segala macam metafisika dalam arti terlepasnya agama

PENDIDIKAN ISLAM

Sejatinya, tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islami (syakhshiyah Islamiyah) setiap Muslim, serta membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dasar pemikiran khas (Ideologi) yang dianut suatu negara. Jika sistem pendidikan ditegakkan berdasarkan ideologi sekularisme-kapitalisme atau sosialisme-komunisme maka sistem pendidikan bertujuan mewujudkan struktur masyarakat sekular-kapitalis atau sosialis-komunis. Maka akan menjadi hal yang wajar jika output pendidikan di era kapitalis ini menghasilkan manusia yang rakus akan materi, bersikap individualis dan hedonis.

Jika sistem pendidikan berbasiskan ideologi Islam maka sistem pendidikan bertujuan untuk membangun struktur masyarakat Islam, dan tentu saja sistem pendidikannya akan berbeda dengan sistem pendidikan dengan sistem ideologi selain Islam. Dengan demikian kurikulum yang digunakan akan berbeda pula sesuai dengan tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan tersebut, tergantung pada ideologi yang dianut.

Kurikulum dalam Islam dibangun berlandaskan akidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun sejalan dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam (pemikiran Islam) dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal).

Kurikulum dalam Islam juga bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam (karakter) dan harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa. Pada tingkat TK-SD materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar yakni aqidah karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan. Barulah setelah mencapai usia baligh, yaitu SMP, SMA, dan PT materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Pendidikan dalam Islam diterapkan dalam rangka mencapai tujuannya, yaitu membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam. Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban – serta akan membuat negara Islam menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan Islam sebagai ideologi yang mendominasi di dunia

Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban. Dengan tujuan pendidikan yang benar, maka ilmu pengetahuan akan mendatangkan keberkahan, seperti berkahnya air hujan yang menyirami tanah yang subur, dimana kemudian manfaatnya terus mengalir menjadi manfaat yang banyak bagi kehidupan bahkan dalam dimensi hidup bermasyarakat

PENGARUH PENDIDIKAN BARAT PADA PENDIDIKAN ISLAM

Penghancuran pusat kekuasaan Islam pada tahun 1258 M oleh Hulagu Khan mengakibatkan hancurnya semua segmen peradaban Islam, termasuk salah satunya pendidikan Islam, sehingga Pendidikan Islam tidak lagi menjadi alternatif bagi pelajar skala Internasional. Kontak langsung umat Islam dengan peradaban Barat modern terjadi saat Napoleon dating ke Mesir abad ke-19.[4]

Hal ini kemudian membangkitkan para pembaharu Islam untuk menyeru umat Islam mengikuti dan mengejar ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat. Di bidang pendidikan, para pembaharu seperti Sultan Mahmud ll, dan lain-lain, mengikuti pola pendidikan yang berkembang di Barat, mengikuti gaya pendidikan Barat dalam berbagai dimensinya. Sifat pendidikan Barat merupakan refleksi dari pemikiran Barat abad ke-18 yang di tandai oleh isolasi terhadap agama dan penyangkalan wahyu, penghapusan nilai etika.[5]

Sifat pendidikan Barat ini mengilhami pendidikan yang di kembangkan di dunia Islam .akibatnya model pendidikan Islam menjadi asing dan hasil dari peniruaan ini tidak membuat umat Islam mengalami kemajuan pada Peradaban Islam. Umat Islam rugi dua kali :mengabaikan petunjuk wahyu dalam pendidikan dan tidak mengalami perkembangan peradaban. Maka perlu disadari bahwa Materi dan metologi Barat telah medeIslamisasi siswa dan membahayakan Islamisasi ilmu pendidikan. Tidak benar bahwa untuk memajukan peradaban bangsa dan umat harus meniru Barat apalagi secara membabi buta. Tidak benar bahwa Barat itu identik dengan modern, sebab modern bisa berasal dari siapa saja asal ada kemauan yang kuat untuk mewujudkannya.[6]

 

SEKULARISASI PENDIDIKAN DI DUNIA ISLAM

Pendidikan adalah metode untuk menjaga akidah. Maka ketika pendidikan dipisahkan dari agama, tamatlah riwayat agama. Tsaqofah Islam yang dihapuskan dari pendidikan, tenggelamlah umat, terhapuslah identitas umat, Hal yang membuat tujuan pendidikan dunia Islam mengalami krisis berawal dari tujuan pendidikan Barat yang memutus hubungan dengan otoritas wahyu, otoritas nash. Seharusnya anak didik mencintai tsaqofah Islam, tetapi tsaqofah Islam dicerabut dari kurikulum pendidikan,

Bila peradaban manusia berjalan tanpa bimbingan  wahyu maka manusia berjalan dalam kegelapan. Masalah pendidikan bukan sekadar kerusakan infrastruktur, kurangnya fasilitas, tapi rusak dari akarnya, Ada tiga tujuan rusak dalam pendidikan saat ini, yaitu tujuan pendidikan asing, kapitalisasi atau komersialisasi dan pendidikan yang fokus pada kesuksesan individual.

Kondisi itu kini juga terjadi di dunia Arab. Sekulerisasi di sana luar biasa. Seperti munculnya perubahan kurikulum melalui konferensi tingkat tinggi lembaga internasional, dihapuskannya kurikulum  konten tauhid. Seperti dihapuskannya kurikulum jihad di Palestina dan negeri Islam lainnya. Gelombang yang menerjang sama di dunia Islam. Inilah fakta sekulerisasi pendidikan yang membahayakan dunia Islam.

Sekularisme pendidikan telah membentuk karakter SDM Muslim cenderung anti-Islam. Ini telah terbukti dan bahkan banyak mereka yang lulusan luar negeri di negara negara barat dan kembali ke Indonesia, anti dengan nilai Islam. Demikian pula kondisi pendidikan di negara-negara Arab saat ini sudah hampir sepenuhnya mengarah ke model sisten sekuler.  yang terjadi di banyak negara Arab kini, kurikulum pendidikan berusaha memisahkan nilai Islam dan budaya Arab dengan materi kurikulum Barat.

Di antaranya upaya pendidikan tahfiz diganti dengan ekstra kulikuler menari, kemudian mencampur murid laki-laki dan perempuan yang selama ini dipisah dalam pendidikan Islam. Semua itu adalah upaya yang dilakukan dari sistem pendidikan yang sekuler yang mulai berkembang di negara-negara Arab saat ini. Yakni memisahkan nilai agama dengan sistem pendidikan dan kurikulum pembelajaran di sekolah

Sekularisme dan kemodernan merupakan dua hal yang tidak boleh terpisah. Demikian asumsi yang hampir dianggap benar oleh masyarakat modern dewasa ini. Sebuah masyarakat disebut modern kalau masyarakat tersebut sekular; menyimpan agama hanya pada kehidupan pribadi dan tidak dibawa-bawa ke ranah sosial. Sebuah Negara juga bisa dikategorikan modern kalau Negara tersebut sekular; tidak mengikatkan diri pada satu agama tertentu dan menyerahkan urusan agama pada masyarakatnya, tidak perlu diatur oleh negara.

Paradigma semacam itu jelas tidak bisa diterima, mengingat: Pertama, fenomena sekularisme tidak hanya terjadi di zaman modern sekarang saja, dari sejak zaman kuno pun fenomena sekularisme telah ada, ditandai dengan orang-orang yang berpendapat bahwa kehidupan ini hanya ada di dunia saja, tidak ada akhirat, dan dengan sendirinya tidak diperlukan aturan-aturan agama. Kedua, di setiap masanya peran agama walau bagaimanapun tidak pernah bisa dihilangkan. Maka dari itu tidak heran jika usaha yang sangat serius dari beberapa penguasa Negara muslim semisal Turki, Mesir, India, termasuk Indonesia untuk melakukan sekularisasi dalam kehidupan masyarakatnya bisa dikatakan tidak berhasil.

Walaupun begitu, bukan berarti bahwa fenomena sekularisme ini bisa diabaikan begitu saja, karena walau bagaimanapun pemahaman ini ada dan terus bertarung dengan pemikiran Islam yang anti-sekularisme. Kuntowijoyo misalnya menyebutkan bahwa sekularisme ini telah benar-benar merasuk ke dalam kehidupan masyarakat, baik yang wujudnya materialism ataupun skeptisisme. Dalam hal ini maka umat Islam harus betul-betul meneguhkan “Paradigma Islam”.

Tugas utama Paradigma Islam ialah melawan sekularisme. Sekularisme mempunyai multiefek, merasuk dalam-dalam ke jiwa peradaban, dan sangat fundamental dalam cara berpikir manusia. Dan, jangan lupa Indonesia adalah bagian dari peradaban modern: tempat hiburan “maksiat”, pornografi, dan penyimpangan seksual adalah sekularisme-materialisme, dan cara berpikir “kekiri-kirian” dan keraguan intelektual terhadap kebenaran al-Quran generasi muda berlatar belakang pendidikan agama adalah sekularisme-skeptisisme.

Barat telah berupaya keras untuk memusnahkan wahyu sebagai otoritas ilmu tertinggi dalam dunia pendidikan. Sekulerisme sebagai akidah peradaban Barat telah melakukan sekulerisasi ilmu pengetahuan dan hal itu diekspor ke negeri-negeri muslim. Akibatnya sekulerisme telah menjelma menjadi musuh dalam selimut umat Islam yang menggerogoti keimanan dan identitas umat.

Sesungguhnya sistem pendidikan tidak akan bisa dibangun tanpa adanya kejelasan pemahaman awal, yaitu apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan dan bagaimana hasil pendidikan ini bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban. Jika hal ini telah terjawab dengan jelas, maka persoalan pendidikan lainnya seperti kebijakan, mata pelajaran, metode pengajaran, dan sebagainya, akan bisa dibentuk kemudian berdasarkan tujuan ini. Inilah yang seharusnya menjadi pendekatan dalam pendidikan. Karena inilah pendekatan yang benar.

Pendidikan seharusnya menjadi metode menjaga ideologi dan tsaqafah (kebudayaan) umat di dalam hati anak-anak Muslim. Tsaqafah lah yang membangun peradaban umat dan menentukan target dan tujuannya, sehingga membuat corak kehidupannya berbeda dari umat lain.

Namun apa daya, saat ini sekulerisasi ilmu dalam sistem pendidikan telah diadopsi oleh negeri-negeri muslim. Sistem pendidikan di negeri-negeri muslim telah terinfeksi nilai-nilai kebebasan dan sekulerisme. Konsekuensinya adalah kaum terpelajar menjadi terpisah dari umat karena sulit memahami persoalan umat karena hilangnya pemikiran politik Islam`

Sekulerisme yang merupakan akidah dari ideologi Kapitalisme telah gagal dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan dijadikan komoditi untuk mencetak sebanyak mungkin professional dan tenaga ahli. Kaum professional diarahkan untuk siap menjadi angkatan kerja dan diberdayakan oleh korporasi global dalam industri mereka.

Sekulerisme telah menjauhkan pendidikan dari agama serta dibisniskan untuk meraih keuntungan. Hal ini telah sangat jelas tidak akan pernah mampu membangun, memajukan dan meningkatkan martabat kehidupan rakyat.

SEKULARISASI PENDIDIKAN INDONESIA

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia berbasis sekulerisasi. Artinya, terjadi pemisahan jalur pendidikan Islam dengan jalur pendidikan umum di bawah dua kementerian yang berbeda; Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional. Sekulerisasi pendidikan di Indonesia secara struktural berlangsung secara intensif di ranah pendidikan formal. Sejak awal, pemerintah memisahkan jalur pendidikan Islam dan jalur pendidikan umum. Pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama, dan pendidikan umum di bawah Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini berlaku untuk semua jenjang dari dasar hingga tinggi.

Pendidikan di Indonesia, baik pendidikan Islam dan pendidikan umum, dihadapkan pada tantangan semakin berkembangnya model-model pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Pendidikan Islam memberlakukan jenjang MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), dan perguruan tinggi (UIN, IAIN, STAIN, PTAI). Sedangkan pendidikan umum memberlakukan jenjang SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan perguruan tinggi (PTN, PTS, Akademi, Sekolah Tinggi).

Selain itu, kurikulum pendidikan yang diberlakukan pun berbeda. Kurikulum pendidikan Islam memfokuskan pada tsaqofah Islam, sedangkan kurikulum pendidikan umum menitikberatkan pendidikan pada disiplin ilmu yang sifatnya umum. Sehingga, tidak lah mengherankan jika output pendidikan hari ini tidak mampu membentuk kepribadian Islam, entah peserta didik itu menimba ilmu di jalur pendidikan Islam atau jalur pendidikan umum.

Selain itu ciri khas dari sistem pendidikan kita adalah merupakan sistem warisan penjajah, bisa dilihat dari ideologinya yang jelas-jelas bernapaskan sekularisme-materialisme. Sekularisme sebagai paham yang tidak menginginkan adanya keselarasan antara ajaran agama dan kehidupan bermasyarakat (berupa pendidikan, ekonomi, dan sosial- kemasyarakatan), menjadi acuan sistem pendidikan kita. Sehingga tidak heran ketika sekularisasi di bidang pendidikan telah mampu menciptakan generasi-generasi yang sering dihujat masyarakat, karena kebiadaban dan kerusakan yang dibaktikan untuk negeri ini.

Sementara itu, sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan pribadi-pribadi mulia dan sekaligus mampu menguasai ilmu, pengetahuan dan teknologi secara bersamaan, sebaliknya hanya mampu menciptakan generasi-generasi yang mau memanfaatkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan, yang selanjutnya digunakan untuk meraup pundi-pundi uang demi kepentingan pribadi.

 

MODERNISASI ATAU PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Modernisasi atau pembaharuan bisa diartikan upaya atau usaha perbaikan keadaan baik dari segi cara, konsep, dan serangkaian metode yang bisa diterapkan dalam rangka mengantarkan keadaan yang lebih baik. Dengan demikian, kalau kita kaitkan dengan pembaharuan pendidikan Islam akan memberi pengertian bagi kita, sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan pendidikan Islam dari yang tradisional (ortodox) kearah yang lebih rasional, dan professional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu.

Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bengsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan, telah timbul mulai abad ke 11 H/ 17 M. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh Eropa, pertama Prancis yang merupakan pusat kemajuan Eropa pada masa itu dan di kirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan Eropa, terutama dibidang militer dan kemajuaan ilmu pengetahuan.

Eksploitasi dan intervensi barat lama kalamaan menyadarkan akan keterbelakangan umat Islam. Mereka sadar kuatnya control barat terhadap mereka terhadap kemajuan modern yang di miliki oleh barat. Inilah yang menyadarkan mereka dari keterbelakangan mereka dan kelemahannya. Sehingga timbul usaha pembaharuan dalam segala aspek kehidupan yang di pelopori oleh penguasa, kaum bangsawan, elit, dan intelegensia.

Pembaharuan pendidikan Islam akan memberi pengertian sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan baik berupa cara, metodologi, situasi dalam pendidikan Islam dari yang tradisional kearah yang lebih baik dan professional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Pembaharuan pendidikan Islam pada esensinya adalah pembaharuan pemikiran dalam perspektif intelektual Muslim yang pastinya berkaitan dengan masalah pendidikan, karena pendidikan merupakan sarana yang terpenting. Bukan saja sebagai wahana “konservasi” dalam arti tempat pemeliharaan, pelestarian, penanaman dan pewarisan nilai-nilai dantradisi suatu masyarakat, tetapi juga sebagai “kreasi” yang dapat menciptakan, mengembangkan dan mentransformasikan masyarakat ke arah budaya baru.

 

Setelah sekian lama dijajah oleh kaum imperialis Barat, umat Islam mulai menyadari keterbelakangan dan ketertinggalan peradabannya. Dan bangkitlah umat muslim yang dipelopori oleh para pemikir dan tokoh umat Islam yang menyorakkan kembali terbukanya pintu ijtihad, perlunya Pan Islamisme, kesadaran beragama dan berbangsa, hingga perlunya filsafat dipelajari. Dan kesadaran ini direalisasikan dalam bentuk praksis dengan dihidupkannya kegiatan intelektual melalui penggalakan kegiatan berpikir di dunia universitas-universitas Islam.

 

Meskipun kehadiran Barat telah memicu timbulnya respon dikalangan terpelajar muslim, kontak dengan Barat bukanlah satu-satunya aktor yang menyebabkan munculnya gerakan pembaruan dalam Islam. Di samping dalam batang tubuh doktrin doktrin Islam pembaharuan (tajdîd) merupakan sesuatu yang intern, kondisi objektif umat Islam sendiri yang secara umum ditandai oleh semakin memudarnya semangat keilmuan, kebekuan (jumûd), dibidang intelektual, dan berkembang pesatnya tradisi yang mendekati syirik, merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor-faktor itu sekaligus juga merupakan tantangan kaum muslim, tidak hanya dalam tataran intelektuasl tetapi juga pada tataran empiris.

Tantangan itu mencul di kalangan kaum muslim hampir secara serentak. Hal ini menyebabkan solusi yang diajukan sangat bervariasi, meski pada umumnya bertujuan sama, yaitu memajukan kembali Islam seperti pada masa keemasan dulu. Walaupun variasi itu tidak selamanya disebabkan oleh kondisi wilayah tempat munculnya gerakan pembaharuan, tetapi lebih-lebih merupakan implikasi dari penafsiran yang berbeda atas teks-teks suci, baik dari al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Dalam rentang yang panjang, bentuk solusi ada yang merupakan penolakan yang membabi buta, dan adapula yang menerima mentah-mentah.

Pergulatan peradaban antara Islam dan Barat sangat berpengaruh pada terjadinya perkembangan pola pikir umat manusia pada berbagai kemajuan  di segala bidang. Walaupun secara ideologis terjadi perperangan, ternyata khazanah keilmuan semakin berkembang pesat, hanya saja terjadi perebutan klaim atas ilmu tesebut. Dan salah satu buktinya adalah selalu munculnya gerakan-gerakan pembaharuan yang ingin mengembalikan superioritasnya masing-masing, tatkala tanda-tanda keterpurukannya mulai tampak

 

Modernisasi adalah proses perombakan cara berfikir dan tata kerja lama yang tidak rasional, dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja baru yang rasional. Kegunaanya ialah untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal. Hal itu dilakukan dengan menggunakan penemuan mutakhir manusia di bidang ilmu pengetahuan.

Sedangkan ilmu pengetahuan tidak lain ialah hasil pemahaman manusia terhadap hukum-hukum obyektif yang menguasai alam, ideal dan material, sehingga alam ini berjalan menurut kepastian tertentu dan harmonis. Modernisasi juga dapat diartikan dalam kerangka-kerangka tingkat industrialisasi, walaupun hal ini sering diikuti oleh suatu pengamatan bahwa, jika inilah conditio sine qua non, ia bukanlah kebenaran yang menyeluruh.

Penting bagi kita untuk memahami betapa lebarnya kesenjangan antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler di Mesir berikut konsekuensi-konsekuensinya yang sangat jauh jangkauannya. Hal ini tidak hanya menempatkan suatu sekolah dalam posisi berlawanan dengan sekolah lainnya dan suatu universitas-universitas lainnya: tetapi juga, lebih dari pada faktor mana pun, mendorong timbulnya perpecahan dikalangan umat muslim, yang terutama tampak di kota-kota besar, yang menempatkan kelompok ortodoks dalam posisi berlawanan dengan kelompok “yang dibaratkan” dalam hampir semua kegiatan sosial maupun intlektual, dalam cara berpakaian, sikap hidup, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat, hiburan, sastra, dan bahkan dalam percakapan mereka.

KASUS MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DI TURKI

Pembaruan pendidikan di Dunia Islam pertama kali dimulai dikerajaan Turki Utsmani. Faktor yang melatar belakangi gerakan pembaharuan pendidikan bermula dari kekalahan-kekalahan kerajaan Utsmani dalam peperangan dengan Eropa. Dan Turki merupakan bekas jantung tempat salah satu kekhalifahan terbesar Islam, yakni Turki Usmani. Oleh karena itu keterikatan  bangsa Turki dengan Islam berlangsung  sangat kuat sebab mereka bangsa terkemuka di dunia Islam selama beratus-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang betapa pentingnya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis setiap orang yang bertempat tingal di Turki, tetapi secara kebudayaan orang Turki adalah hanya orang Islam.

Langkah-langkah pembaharuan yang dilakukan adalah, pertama  pengiriman duta besar ke Eropa untuk mengamati keunggulan barat, kedua mengirim para pelajar ke luar negeri, ketiga mendatangkan guru dari Eropa, mendirikan selokah teknik militer, Pembentukkan badan penerjemah, menulis beberapa buku matematika, geografi, kedokteran, sejarah dan agama, pendirian penerbitan dan percetakan.

Pembaharuan pendidikan islam di Turki sudah dimulai sejak Sultan Mahmud II (1785—M) berkuasa. Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan dikerajaan Utsmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana halnya di Dunia Islam lain dizaman itu, madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan Utsmani. Di Madrasah hanya diajarkan agama. Pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19.

Di masa pemerintahannya orang juga telah kurang giat memasukkan anak-anak mereka ke Madrasah dan mengutamakan mengirim mereka belajar keterampilan secara praktis di perusahaan-perusahaan industri tangan. Kebiasaan ini membuat bertambah meningkatnya jumlah buta huruf dikerajaan Utsmani. Untuk mengatasi problema ini, Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah supaya anak sampai umur dewasa jangan dihalangi masuk Madrasah.

Mengadakan perubahan dalam kurikulum madrasah dengan menambahkan pengetahuan-pengetahuan umum kedalamnya, sebagai halnya di Dunia Islam lain pada waktu itu, memang sulit. Madrasah tradisional tetap berjalan tetapi di sampingnya Sultan mendirikan dua sekolah pengetahuan umum yaitu Mekteb-i Ma’arif (sekolah pengetahuan umum) dan Mekteb-i Ulum-u Edebiye (sekolah sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan Madrasah yang bermutu tinggi.

Di kedua sekolah itu diajarkan bahasa Prancis, ilmu bumi, ilmu ukur, sejarah dan ilmu politik disamping bahasa arab. Sekolah pengetahuan umum mendidik siswa untuk menjadi pegawai-pegawai administrasi, sedang sekolah yang kedua menyediakan penerjemah-penerjemah untuk keperluan pemerintah.

[1] Pardoyo, Sekularisasi dalam Polemik, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1993, hal 20

[2] Ibid, hal 39

[3] Ibid, hal 41

[4] Qomar, Mujamil, Epistemologi Islam, Erlangga, Jakarta, 2005, hal 208

[5] Ibid, hal 209

[6] Ibid, hal 213


Ditulis dalam Uncategorized

ONTOLOGI DALAM ISLAM

Oleh: ADING NASHRULLOH

 

Ilmu bertujuan agar sikap kita semakin baik, bijaksana dan terampil, dengan suatu tujuan yang jelas, bahwa semua itu adalah agar sepanjang hidup kita bermakna ibadah dan layak mendapatkan pertolongan serta hidayah sampai akhir hayat kemudian sikap-sikap ini bisa terwariskan kepada generasi selanjutnya.

 

Secara garis besar ontologi dalam Islam ada tiga, yeitu Allah, Alam dan Hari Pertemuan. Allah, Dialah yang menciptakan alam dan akan mengadakan hari pertemuan tersebut. Alam adalah segenap makhluk yang telah diciptakannya; alam merupakan kalamNya dalan ayat-ayatNya yang tidak tertulis. Sedangkan hari pertemuan merupakan hari di mana manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatan dan amanah yang telah diperbuatnya.

 

Ontologi merupakan pokok-pokok perkara yang ada secara hakiki. Yang merupakan wilayah kajian pengetahuan. Pengetahuan tentang Allah, alam dan hari pertemuan, memang bukan merupakan jaminan bahwa seseorang yang menguasainya secara baik, akan menjadikan dirinya baik dalam beribadah dan berakhlak secara benar di dalam kehidupannya.

 

Akan tetapi pada faktanya secara umum, hanya orang-orang yang berimanlah yang mau mengetahui secara mendalam dan luas akan Allah, hari kiamat dan kehidupan ini. Sehingga sikap mereka semakin baik dan peran mereka semakin berarti. Itulah sebenarnya yang merupakan pokok tujuan dari penulisan kajian-kajian tentang ontologi Islam di dalam kitab dan karangan para ulama. Semakin mendalam pengetahuan kita tentang Allah, hari akhirat dan kehidupan ini, rasa takut kepada Allah akan semkain besar. Pada akhirnya berefek pada tabiat taat dan bersih hati.

 

Ontologi selalu berkaitan dengan epistemologi, akisologi, dan metodologi. Ontologi tentang Allah, Kehidupan dan Hari Pertemuan menuntut seseorang untuk mengambil sumber pengetahuan yang telah ditentukan. Sehingga diperoleh informasi yang benar tentang ketiga perihal ini. Demikian pula pengetahuan tentang hal tersebut menuntut seseroang untuk memilliki nilai diri yang telah ditentukan pula. Yaitu agar ia aktif dalam ibadah dan menjaga akhlak-akhlak dalam kehidupannya.

 

Orang-orang yang beriman sekali pun ia telah beriman sejak lahir, karena dilahirkan di tengah orang tuanya yang mukmin, tetap wajib untuk mendalamontologi Islam. Sebab untuk melahirkan mukmin yang miliitan, tidak bisa tanpa pengetahuan yang benar dan mendalam tentang Allah, kehidupan dan hari pertemuan ini. Dengan demikian, aspek ontologi Islam harus menjadi sentral pembahasan dalam ilmu-ilmu dan pelajaran-pelajaran yang diselenggarakan di tengah masyarakat Islam, baik di tengah keluarga, sekolah dan masyarakat itu sendiri.

 

Allah

 

Siapa Allah ?

 

Allah adalah Rabb. Artinya Dialah yang menciptakan alam semesta. Termasuk di dalamnya manusia. Termasuk alam itu adalah ghaib. Ada malaikat dan jin, serta alam ruh, alam barzakh.

 

Allah itu Esa. Tidak ada sekutu bagiNya. Tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan. Serta tidak ada satu hal pun yang sama denganNya. Allah adalah Rabb manusia. Semua manusia diciptakan oleh Allah. Karena Allah adalah Rabb manusia, maka manusia harus berbakti kepada Rabbnya dengan menjadikan Dia sebagai Ilahnya. Menjadikan Allah sebagai Ilah merupakan tuntutan dari Allah kepada makhlukNya bernama manusia.

 

Allah adalah Ilah. Artinya Dialah yang memegang hak untuk disembah di alam ini. Manusia hanya dibenarkan menyembah hanya kepada Allah semata. Manusia dilarang keras menyembah kepada selain Allah. Menyembah kepada selain Allah merupakan suatu dosa yang sangat besar.

 

Bagaimana cara manusia menyembah kepada Allah, mesti mengikuti cara para Nabi menyembahNya. Sebab, cara menyembah Allah, tidak bisa melalui kreasi akal atau seni manusia. Sedangkan para Nabi itu adalah manusia pilihan Allah yang diutus olehNya kepada manusia untuk menyeru kepada peribadatan kepadaNya.

 

Dari mana kita tahu Allah?

 

Manusia bisa mengenal Allah dengan banyak jalan. Melalui pendidikan, membaca, mendengar, meneliti dan berfikir. Banyak sekali informasi tentang Allah. Dan informasi yang akurat tentang Allah di dapat manusia melalui wahyu. Wahyu itulah yang merupakan sumber informasi tentang Allah sebelum ada di dalam sistem pendidikan, bacaan selain kitan suci, ceramah para mubaligh atau Dai.

 

Untuk mengenal Allah, seseorang mesti mengenall wahyu dan Rasul. Dengan mengenal wahyu dan Rasul, maka banyak hal yang dapat dikenali selanjutnya. Terutama konsep tentang agama, akhirat, rasul, kewajiban dan larangan dalam hidup.

 

Bagaimana nilai kita terhadap Allah?

 

Dalam kaitannya dengan Allah, nilai manusia terdiri atas berbagai golongan. Ada yang mengetahuiNya, ada yang tidak. Ada yang meyakiniNya, ada yang meragukanNya. Manusia yang mengetahui dan meyakiniNya, disebut orang beriman. Yang tidak mengetahuiNya dengan benar, disebut dengan sebutan orang jahiliah. Yang tidak meyakininya disebut dengan kafir. Orang jahiliah itu termasuk salah satu golongan kafir.

 

Manusia bila ingin termasuk orang yang beriman, maka ia harus meninggalkan kekafiran. Ia harus masuk ke dalam agama Islam. Kenapa Islam? Tidak agama yang lain? Sebab Islam merupakan syarat diterimanya ibadah. Hal itu disebabkan karena hanya Islam yang merupakan satu-satunya agama yang direstui di muka bumi oleh Allah. Dan karena Islam datang dari Allah. Allah telah menetapkan Islam sebagai agama yang sah di sisiNya. Agama-agama lain tidak diterima Allah.

 

Penetapan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang sah di sisi Allah, dikemukakan Allah di dalam al-Quran. Al-Quran itu sendiri merupakan firman Allah. Seluruh kandungan di dalam al-Quran adalah wahyu atau kalam atau perkataan Allah. Bukti bahwa al-Quran merupakan wahyu Allah, adalah kemukjizatan yang dimiliki al-Quran itu sendiri. Mukjizat itu membuktikan bahwa al-Quran bukan buatan manusia.

 

Kebenaran Islam berdiri di atas wahyu, akal dan bukti-bukti. Artinya tidak akan ada di dunia ini hal yang bisa membantah kebenaran Islam, tidak akan ada pemikiran yang bisa meruntuhkan argumentasi bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, dan tidak ada satu pun bukti yang bisa mendukung suatu perkataan bahwa Islam adalah agama yang salah. Bukti-bukti menunjukkan akan keagungan dan kebenaran Islam.

 

 

Alam

 

Apa itu alam?

 

Alam adalah makhluk, ayat dan kalam Allah yang tersirat. Makhluk Allah berarti, alam ini ada karena diciptakan Allah. Dan Allah terus menerus memeliharanya. Ayat Allah, maksudnya, bahwa alam ini merupakan bukti akan adaNya Allah, bukti keagungan dan kesempurnaanNya. Allah tidak bisa diindra, tetapi keberadaanNya didapat melalui bukti adanya alam ini. Setiap penelitian dan penjelajahan alam yang teliti dan jujur akan selalu mengantarkan manusia kepada kekaguman kepada Allah.

 

Kalam Allah yang tersirat, bararti, alam ini menggambarkan keluasan dan keluhuran ilmu Allah. Allah merancang alam semesta ini dengan ilmu yang rumit, perhitungan yang sangat akurat, dan keseimbangan yang sangat tinggi. Berarti orang yang mendalami seluk beluk alam ini, pastilah akan diantarkan hati nuraninya kepada suatu rasa kagum kepada Allah.

 

Karena alam ini merupakan makhluk Allah, maka tidak boleh disembah. Alam ini diciptakan Allah adalah untuk kepentingan manusia semata. Ini karena manusia merupakan makhluk utama di alam semesta. Untuk itu manusia harus bersyukur kepada Allah atas nikmat alam ini. Bersyukur atas karunia Allah berupa diwujudkan dirinya dan dibentuk dalam sebaik-baiknya bentuk. Dibekali pula akal fikiran dan hati nurani. Tak cukup itu, manusia dibekali pula Islam. Dibekalinya suatu sistem kehidupan sosial yang berintikan kasih sayang. Intinya alam ini adalah kehidupan bagi manusia.

 

Dari mana kita tahu alam?

 

Bahwa alam semesta ini merupakan ciptaan Allah dapat kita ketahui dari wahyu. Selanjutnya di alam itu sendiri, melalui kekuatan akal fikiran dan indra, adpat disimpulkan bahwa alam ini berawal dari penciptaan. Artinya ada yang menciptakan. Hanya akal fikiran tidak sampai kepada suatu nama tentang apa dan siapa yang telah berbuat menciptakan tersebut.

 

Alam semesta diketahui melalui indra dan akal. Hanya saja pengenalan akal dan indra akan alam semesta tidak menjangkau alam ghaib. Sebab itu sumber pengetahuan manusia untuk memahami akan alam semesta beserta alam ghaib tidak mungkin hanya dengan mengandalkan temuan indra dan akal saja. Manusia perlu dibantu oleh wahyu untuk memberikan suatu pengetahuan dan penjelasan seperlunya tentang alam ghaib dan hakikat alam semesta. Wahyu dari Allah berupa al-Quran memberikan penjelasan tentang alam ini.

 

Salah satu unsur alam adalah manusia. Bagaimana manusia mengenal dirinya dengan benar? Banyak jalan. Dan tentu saja jalan utama untuk mengetahui hakikat manusia adalah dengan wahyu. Wahyu menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan Allah, hidup di dunia yang disediakan Allah, hidup disertai potensi dan tanggung jawab, dan kemudian akan dikembalikan kepadaNya di hari kiamat kelak. Penjelasan ini ada di dalam wahyu. Tanpa wahyu manusia tidak akan mengetahu hakikat ini. Dan jika tidak mengetahui hakikat ini, maka ia akan hidup mengikuti apa saya yang dituju oleh akal, perasaan dan hawa nafsunya. Dengan dasar pengetahun yang diambil dari wahyu, maka pengetahuan tentang manusia yang diperoleh melalui akal dan indra, akan jelas arahnya.

 

Bagaimana nilai kita terhadap alam?

 

Sikap manusia yang seharusnya terhadap adalah mengurusnya dan mensyukurinya. Dua hal ini harus berbarengan ada. Karena sikap ini yang akan menjadikan hidup manusia penuh berkah di bumi. Jika manusia tidak bersyukur, padahal ia terus menerus mengelolanya, maka akibatnya adalah suatu kerusakan parah pada kehidupan manusia. Mungkin sebagian manusia berfikir, tanpa syukur asal pandai mengurusnya, maka hidup manusia akan damai, sejahtera dan nyaman. Itu tidak benar. Yang benar, hidup manusia akan hancur. Sebab itu sikap syukur harus ada ketika kita hidup di alam ini.

 

Alam ini terkait dengan penciptanya yaitu Allah. Dan terkait dengan hari pertemuan manusia dengan Allah saat hari kiamat tiba. Yaitu bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas perbuatannya selama hidup di dunia. Alam semesta ini adalah saksi dan tempat manusia berbuat selama hidupnya.

 

Nilai manusia dalam kaitannya dengan alam ini dibagi dua. Golongan pertama, yaitu yang tertipu dengan dunia atau alam ini. Golongan kedua, yaitu yang mejadikannya sarana untuk menguatkan ibadah kepada Allah. Golongan orang kafir, semuanya termasuk yang tertipu dengan dunia. Dan di kalangan golongan orang beriman, mungkin ada yang tertipu dengan dunia. Ia lupa untuk bersedekah dan lupa sehingga ia menjadikan dunia sebagai mimpi besar dari usia kehidupannya. Ia lalai dari mengingat Allah karena sibuk dengan urusan dunia dan angan-angannya.

 

Diantara kelompok manusia ada yang tidak mempercayai bahwa alam ini diciptakan oleh Allah. Mereka menganggap Allah itu tidak ada. Sehingga mereka menolak wahyu dan agama. Kehidupan hanya dipandang sebatas kehidupan di dunia ini. Setelah itu manusia tidak akan ditanyai tentang apa pun yang pernah diperbuatnya selama hidup di dunia.  Berangkat dari keyakinan ini, kemudian mereka merasa bebas untuk melakukan apa pun yang mereka sukai di sepanjang kehidupan sekalipun yang dilakukannya itu merupakan perkara yang rendah dan hina.

Hari Pertemuan

 

Apa itu hari pertemuan?

 

Dunia ini, atau alam semesta ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Demikian juga manusia. Hanya saja manusia tidak sekedar bahwa ia sedang menuju akhirat, tetapi sedang menuju hari disaat ia akan dimintai pertanggungan jawab atas seluruh amal dan hal yang telah dilakukan dan diperlakukannya. Itulah hari pertemuan besar antara manusia dengan khaliknya yaitu Allah Swt. Hari itu merupakan hari yang pasti, hari yang tidak bisa diragukan akan kedatangannya.

 

Hari tersebut dinamakan dengan hari agama. Karena hanya agama sajalah yang berharga di waktu itu. Manusia ketika meninggal tidak ada yang dibawanya melainkan agamanya ikut serta. Dan dengan agama itulah ia mempertaruhkan takdirnya di akhirat. Agama berarti sikap manusia terhadap Islam dan sikapnya di dalam Islam. Bila ia bersikap iman kepada Islam dan patuh tunduk menjalankan Islam dengan penuh keikhlasan dan pembelaan, itulah yang akan menjadi agamanya, yang akan dibawanya hingga akhirat kelak itu.

 

Hari pertemuan itu melingkup segala ihwal keakhiratan. Tahapan-tahapan yang akan dilalui manusia di hari tersebut, merupakan tahapan yang berat. Termasuk di dalamnya surga dan neraka. Hisab dan timbangan amal manusia perseorangan. Di hari tersebut manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak ada kekerabatan, pertemanan dan perniagaan yang terjadi, sebagai sarana untuk saling tolong menolong. Dan masih banyak hakikat-hakikat lainnya tentang akhirat tersebut.

 

Bagaimana kita tahu akan hari pertemuan?

 

Semua informasi tentang akhirat tidak dapat dicapai dengan pengamatan indra dan akal. Namun akal bisa membenarkan akan keberadaannya, sesuai hukum akal. Hukum akal berpendapat bahwa adanya akhirat atau hari pertemuan dengan Allah merupakan sesuatu yang mungkin. Hanya saja kemudian, informasi yang sampai kepada manusia melalui wahyu, dapatlah sampai akal pada kepastian keyakinan bahwa akhirat itu adalah ada.

 

Bagaimana nilai kita terhadap hari pertemuan

 

Informasi tentang Allah dan akhirat, beserta asal mula alam semesta hanya dapat diperoleh melalui wahyu. Dan pengetahun ini merupakan pondasi bagi menentukan sikap dan kewajiban yang melekat pada manusia sebagai makhluk Allah.

 

Dalam menyikap akhirat atau hari pertemuan, manusia terbagi atas dua golongan besar. Yaitu golongan yang meyakini akan keberadaannya nanti sehingga ia menjadikan semua sikapnya menjadi berorientasi akhirat. Dan golongan yang tidak meyakininya. Biasanya golongan ini sekaligus tidak meyakini Allah dan tidak meyakini wahyu. Mereka menjadikan hidup hanya sebatas bingkai kehidupan dunia dan berorientasi kebendaan semata.

 

Bagaimana Pengaruh Pengetahuan ini?

 

Allah dan hari pertemuan denganNya merupakan hal yang ghaib. Hal yang tidak bisa dicapai dengan indra. Namun keberadaanya dapat diterima oleh akal dan hati manusia. Boleh jadi kebanyakan manusia membenarkan keberadaan Allah dan hari pertemuan denganNya, mereka pun mengetahuinya sesuai informasi yang mereka peroleh dari kitab al-Quran. Dan ini merupakan modal terbaik untuk menjamin bahwa perbuatan manusia akan menjadi baik.

Hanya saja, dalam perkembangannya kemudian, terjadilah kualitas-kualitas yang berbeda-beda pada diri manusia. Namun secara umum, semakin seseorang tinggi keimanan, maka kebutuhannya akan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat semakin besar. Kebutuhannya terhadap pengetahuan agama semakin besar. Atau bisa saja, bahwa kenyataan seseorang dididik dengan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat, maka kemungkinan besar, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik akan keimanannya.

Adapun mengenai hubungan antara seseorang dengan dunia, tatkala ia mengetahui hakikat dunia dan menguasai hukum-hukum dunia, ia akan bersikap zuhud. Zuhud itu hakikatnya adalah menguasai dunia untuk ditundukkan demi kepentingan agama. Rasulullah dan Para Sahabat sebagai teladan dalam beragama, benar-benar menguasai urusan dunia sesuai konteks zamannya, baik teknologi, sosial, negara, ekonomi, diplomasi, militer, kekayaan, kemudian menjadikan semua itu sebagai sarana untuk kepentingan dakwah dan meninggikan kalimat Allah, itula zuhud.

 

Kesimpulan

 

Ontologi dalam Islam secara garis besar terdiri atas tiga ranah besar, yaitu Allah sebagai Rabb, Ilah dan Malik bagi manusia. Kemudian alam semesta sebagai ayat-ayatNya dan karuniaNya. Dan terakhir Hari pertemuan atau hari akhirat. Semua usaha terkait dengan Pengetahuan dan Nilai manusia berorientasi kepada ketiga keberadaan tersebut.


LINK PENTING

SUMBER ILMU MENURUT BARAT DAN ISLAM[1]

APA YANG PARA PEMIKIR BARAT KATAKAN TENTANG AL QURAN?[2]

WAHYU DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT[3]

KONSEP WAHYU DALAM ISLAM[4]

 

 

[1] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2015/08/sumber-ilmu-menurut-barat-dan-islam.html

[2] http://www.hakikatislam.com/pertanyaan-jawaban/kitab/apa-yang-para-pemikir-barat-katakan-tentang-al-quran

[3] http://azhariandi.blogspot.co.id/2015/01/wahyu-dalam-pandangan-sarjana-barat.html

[4] http://tuffah-sangfaqir.blogspot.co.id/2011/05/konsep-wahyu-dalam-islam_18.html


Ditulis dalam Uncategorized

LINK PENTING

SUMBER ILMU MENURUT BARAT DAN ISLAM[1]

Apa yang Para Pemikir Barat Katakan tentang Al Quran?[2]

Wahyu dalam Pandangan Sarjana Barat[3]

Konsep Wahyu Dalam Islam[4]

 

 

[1] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2015/08/sumber-ilmu-menurut-barat-dan-islam.html

[2] http://www.hakikatislam.com/pertanyaan-jawaban/kitab/apa-yang-para-pemikir-barat-katakan-tentang-al-quran

[3] http://azhariandi.blogspot.co.id/2015/01/wahyu-dalam-pandangan-sarjana-barat.html

[4] http://tuffah-sangfaqir.blogspot.co.id/2011/05/konsep-wahyu-dalam-islam_18.html


Ditulis dalam Uncategorized

WAHYU SUMBER ILMU

Wahyu Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

(Perspektif Islam dan Barat)

 

Oleh : Abdul Karim[1]

 

  1. Pendahuluan

 

Pembahasan mengenai sumber-sumber ilmu pengetahuan dirasa penting akhir-akhir ini, karena banyak dari kita belum mengetahui dari mana pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh berasal, melalui cara seperti apa dicapai, dan bagaimana kerangka ilmu pengetahuan itu dibangun, oleh karena itu, epsitemologi [2] islam sangat penting untuk dikaji sebagai sebuah alternatif terhadap sistem epistemologi barat yang begitu mendominasi wacana epistemologi kontemporer.

 

Sebelum membahas wahyu, kita akan berkenalan terlebih dahulu dengan “alat” untuk mencapai sumber-sumber ilmu pengetahuan itu, yaitu : panca indera, akal, hati(intuisi ) dan terakhir Wahyu, yang  menjadi fokus pembahasan kita selanjutnya, dan bagaimana posisinya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

 

Selanjutnya, pembahasan tentang wahyu akan dikupas secara mendalam, dimulai dari makna Wahyu itu sendiri secara bahasa, kemudian makna-makna wahyu yang terdapat di dalam al-Qur’an, hingga makna wahyu secara syar’i (yang diinginkan dari pembahasan ini), yakni : Wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pembawa risalah kenabian terakhir, yang nantinya terpresentasikan menjadi Ilmu-ilmu Agama islam.

 

Segala hal tentang Wahyu dibahas di lebih dalam di bagian ini, mulai dari tata cara turunnya wahyu, yakni terangkum melalui tujuh macam tahapan penurunan. Lalu, bukti-bukti secara akal yang menekankan keniscayaan terjadinya wahyu, juga berfungsi sebagai bantahan bagi para pengingkarnya. Yang mana mereka tidak memercayai adanya wahyu, karena pandangan hidup mereka bersifat materialis-sekularis dan menafikan metafisika[3].

 

Kemudian, kita akan membahas karakteristik wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan menurut pandangan Islam, yang sangat berbeda dengan sumber-sumber pengetahuan lain (yang hanya mengandalkan alat pemerolehannya melalui panca indra dan akal saja), dimulai dari Pemerolehannya dengan kehendak Allah bukan dengan usaha sendiri, Ketidaktundukkan Wahyu akan kehendak rasul dalam penurunannya, Keyakinan mutlak dengan ilmu yang diberikannya, Keterbebasannya dari pengaruh waktu dan tempat, Penafian hulul (bertempatnya) Allah dalam tubuh rasul ketika menerima wahyu dan terakhir bahwa wahyu memiliki sandaran yang jelas dan otoritatif, yakni Allah swt.

 

Selanjutnya, akan dibahas keistimewaan–keistimewaan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, yakni ia memiliki cara khusus dalam cara pemerolehannya yang berbeda dengan sumber ilmu perngetahuan lain, berunsur ketuhanan, ia bersifat tetap dan tidak berubah-rubah, komprehensif, seimbang dan positif dalam ilmu yang diberikannya.

Dan terakhir adalah bagaimana barat memandang wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun sebelumnya, kita ingin membicarakan dahulu siapa sebenarya barat itu?. Dan disini kita hanya akan membahas tiga kelompok yang dianggap cukup mewakilkan perspektif barat terhadap wahyu, yakni : Filosof Yunani, Filosof nasrani dan terakhir Filosof Barat modern.

 

  1. Pengantar tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan

Ilmu dalam epistemologi Islam mempunyai kemiripan dengan istilah “science” dalam epistemologi barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi barat, dibedakan dengan “knowledge”, Dan Ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan “opini”.

 

Sementara sains di barat dipandang sebagai “Sebuah Pengetahuan yang terstruktur atau terorganisir” (any organized knowledge). Dan ilmu di dalam Islam didefinisikan sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala maa huwa ‘alaihi). Dengan demikian ilmu bukan sembarang pengetahuan atau hanya sekedar opini, melainkan ia adalah pengetahuan yang teruji kebenarannya. Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sains, hanya, sementara sains “pada masa selanjutnya” dibatasi pada bidang-bidang fisik atau inderawi saja, dan Ilmu melampauinya pada bidang-bidang nonfisik, seperti metafisika.

 

Menurut kamus Webster new world dictionary, kata “science” berasal dari kata latin scire yang artinya Mengetahui. Secara bahasa, science berarti “Keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan”. Namun kata ini kemudian mengalami “perubahaan pemaknaan” sehingga berarti “Pengetahuan yang sitematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji”. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran makna sains dari pengetahuan biasa, menjadi pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi inderawi. Tren ini kemudian mengarah pada pembatasan lingkup sains pada dunia fisik saja, bukan yang lain.[4]

 

Nah, sekarang marilah kita beralih pada pengertian atau pembahasan tentang ilmu. Ilmu berasal dari kata ‘alima yang artinya mengetahui. Jadi, kata ilmu secara harfiah tidak berbeda dengan katascience yang berasal dari kata scire yang artinya juga mengetahui. Ilmu disini didefinisikan, misalnya oleh ibnu hazm, sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala ma huwa ‘alaihi).

 

Pengertian ilmu sebagai pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa ilmu tidak begitu saja sama dengan pengetahuan biasa, karena pengetahuan biasa saja, tidak sebagaimana adanya, tetapi lebih sebagai pengetahuan umum yang didasari pada opini atau kesan keliru dari indera. Oleh karena itu, pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa pengetahuan tersebut haruslah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan tidak berdasarkan praduga dan asumsi belaka, dengan demikian ilmu memiliki kriteria yang juga dimiliki oleh sains (dalam epistemplogi barat) sebagai pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi.[5]

 

Demikian dapat disimpulkan bahwa pada awalnya ilmu dan sains mempunyai pengertian yang sama, bahkan juga lingkup yang sama, namun kemudian sains membatasi dirinya pada dunia fisik (dengan segala kompleksitasnya), sedangkan ilmu masih tetap meliputi tidak hanya bidang fisik, tetapi juga bidang lain seperti metafisika dan lain sebagainya.

 

Opini, seperti yang telah disinggung adalah pengetahuan umum atau sembarang pengetahuan yang kebenarannya belum teruji melalui penelitian-penelitian secara seksama.[6]

 

Pembatasan lingkup sains (epistemologi barat) pada bidang fisik–empiris membuat pandangan dunianya bersifat sekuler-materialistis. Berbeda dengan sains yang mengandalkan observasi inderawi dan filsafat berdasarkan penalaran rasional atau logis, Agama pada dasarnya bersandar pada Wahyu. Bersandar pada wahyu berarti bersandar pada otoritas, yaitu otoritas dari penerima wahyu (disebut Nabi) sebagai utusan Tuhan yang paling  terpercaya. Tujuan ilmu-ilmu Agama, menurut Ibnu Khaldun, bersifat praktis, yaitu untuk menjamin pelaksanaan kehendak Allah, yang tertuang dalam syariatNya, sedangkan ilmu-ilmu rasional bersifat teoritis karena ingin mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya “ melalui penalaran”.

 

Agama dapat memberi penjelasan yang terperinci tentang pelbagai hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains dan tidak bisa diolah semata-mata oleh akal manusia, misalnya tentang nasib manusia setelah kematian, keadaannya di alam kubur, dan setelah hari kebangkitan, hanya Agama melalui wahyu yang diturunkan kepada para utusan Tuhan, yang dapat menguak dengan jelas dan otoritatif alam-alam gaib tersebut, bukan sains, dan bahkan, bukan pula filsafat.

 

Maka dari itu, Teori ilmu pengetahuan atau epistemologi, tidak dapat menghindarkan pembahasan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan, yakni sebagai tempat bahan-bahannya diperoleh. Sumber-sumber itu menurut epistemologi islam, tak lain adalah panca indera, akal, hati (intuisi) dan Wahyu.[7]

 

  1. Panca Indera.

 

Panca Indera sebagai sumber pengetahuan, sepintas lalu, tampaknya telah mencukupi kebutuhan kita akan pengetahuan, karena melalu panca indera, kita bisa mengenal lima dimensi, dari sebuah benda yang kita amati. Persepsi indera telah cukup memadai untuk menghindari diri dari banyak bahaya yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Namun, pertanyaannya sekarang adalah apakah panca indera saja sudah cukup memasok kebutuhan kita akan ilmu sebagai pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya?. Apakah misalnya penglihatan kita telah mampu memberi kita pengetahuan tentang sebuah benda, katakanlah langit, bulan atau bintang ?. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa langit itu biru, bulan itu pipih seperti piring, atau bintang itu kecil. Namun, Apakah penglihatan kita melaporkan benda-benda itu sendiri sebagaimana adanya, atau hanya semata-mata kesan yang terserap oleh mata kita belaka? Apakah kesan indera kita itu sama dengan kenyataan (sebagaimana adanya) ?. Ternyata, dengan pertanyaan yang sedikit kritis terhadap pengetahuan indera, kita tahu bahwa kesan indera itu tidaklah sesuai dengan keadaan benda itu sebagaimana adanya, bahwa kita menduga langit itu berwarna biru,  padahal langit itu sendiri tidak jelas definisinya.dan bagaimana bentuknya yang sebenarnya.

 

Indera kita mengesankan bahwa langit itu seperti kubah besar yang dapat dilihat dari dalam dengan bintang-bintang dan bulan menempel disana, tentu saja itu tidak sebagaimana adanya karena yang kita sebut langit : adalah ruang angkasa yang tak terukur jauhnya, yang tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan kita. Berdasarkan penglihatan, kita akan menduga bahwa bintang yang berkerlap-kerlip di langit ada disana pada saat kita melihatnya, padahal, menurut penyelidikan ilmiah, bisa saja cahaya bintang yang kita lihat sekarang  telah sirna karena bisa jadi cahaya bintang yang kita lihat sekarang adalah cahaya yang berjarak jauh, yang membutuhkan jutaan tahun untuk merambat sampai ke mata kita, jadi disini menjadi jelas, bahwa kesan yang kita tangkap jauh berbeda dengan keadaan sebenarnya.

Dari contoh diatas kita menjadi sadar betapa indera kita yang sepintas, telah (dirasa) cukup memberi kita pengetahuan (informasi) tentang benda-benda inderawi. Ternyata, kita tidak cukup memadai untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, jika hanya mengandalkan panca indera saja. oleh karena itu, kita membutuhkan bantuan alat atau sumber lain untuk pengetahuan kita, dalam rangka untuk mengetahui tentang sesuatu sebagaimna adanya, yakni akal.[8]

 

  1. Akal

 

Akal bagi Imam Al-Ghazaly lebih patut disebut  sebagai sumber ilmu daripada indera. Misalnya, indera kita dapat melihat bulan separuh saja pada satu saat, mata tidak dapat membuktikan adanya paruh lain dari bulan yang tidak terlihat. Dalam hal ini hanya akal lah yang dapat menyempurnakan bentuk bulan itu sebagaimana adanya, yang berbentuk bola. Demikian juga akal lah dengan memakai ukuran tertentu yang dapat menaksir dan menunjukkan dengan logika atau model matematika, ukuran sebuah planet, bintang dan matahari, atau keliling bumi. Dengan akal juga lah kita dapat menyatakan bahwa pensil dalam gelas yang penuh air itu lurus, sekalipun tampak pada pandangan kita bengkok, karena bias cahaya.

 

Pertanyaan penting sekarang adalah bagaimana sebenarnya akal dapat menyempurnakan pencerapan indera kita dan memperbaiki kekeliruan kesan yang diterimanya?. Manusia dibedakan dari hewan oleh kecakapan mental yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh hewan apapun, yaitu Akal. Akal dapat melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh indera kita, yaitu kemampuan untuk bertanya secara kritis. Melalui kemampuannya untuk menanyakan beberapa hal penting seperti apa, dimana, kapan mengapa, bagaimana, siapa dan lain-lain. Akal telah menjadi sumber informasi yang luar biasa kayanya dengan menjawab semua pertanyaan tersebut, yang semuanya tidak bisa dipasok oleh panca indera.[9]

 

Namun kelebihan yang paling istimewa dari akal terletak pada kemampuannya untuk menangkap  “esensi” dari sesuatu yag diamati atau dipahaminya. Dengan kecakapan ini, akal manusia dapat mengetahui konsep universal dari sebuah objek yang diamatinya lewat indera yang bersifat abstrak dan tidak lagi berhubungan dengan data-data partikular. Ketika kita memahami “esensi” manusia, sebenarnya kita bukan lagi berbicara tentang manusia a arau b melainkan berbicara tentang manusia dalam pengertian yang universal atau tentang sifat dasar kemanusiaan. Dengan kemampuan akal menangkap esensi dari benda-benda yang diamatinya, manusia bisa menyimpan jutaan “makna“ atau pemahaman tentang pelbagai objek ilmu yang bersifat abstrak sehingga tidak memerlukan ruang fisik yang luas di dalam pikiran kita.[10]

 

Namun, bisakah kita hanya dengan mengandalkan dari dua sumber alat pengetahuan itu, yakni indera dan akal untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya?. Ternyata tidak, akal juga memerlukan sumber ilmu pengetahuan lain, karena akal juga mempunyai beberapa kelemahan.  Inilah beberapa kelemahan akal :

 

(1) Jalaluddin rumi berkata “ Akal boleh menguasai seribu cabang ilmu, tetapi tentang hidupnya sendiri, ia tidak tahu apa-apa, akal memang sangat berguna sebagai sumber ilmu, tetapi hanya sebagai kecakapan intelektual atau kecerdasan intelegensi, akal sering dibuat tidak berdaya, terhadap persoalan-persoalan hidup yang lebih dalam, yang menyangkut kehidupan emosional manusia. Ketika dihadapkan pada persoalan cinta, misalnya, akal tidak bisa berkata apa-apa. Pikiran kita akan buntu dan lidah menjadi kelu. Dengan kata lain, akal tidak mengerti banyak tentang pengalaman-pengalaman eksistensial, yaitu pengalaman yang secara langsung kita rasakan, dan bukan seperti yang kita konsepsikan, hanya hati( intuisi) yang mampu melakukannya.

 

(2) Akal dengan kebiasaannya meruang-ruang apa pun yang menjadi objeknya, Sehingga cenderung memahami sesuatu secara general atau homogen, sehingga tidak mampu mengerti keunikan sebuah “momen” atau “ruang” sebagaimana yang dialami secara langsung oleh seseorang. Bahwa setiap saat dari kehidupan kita itu unik, sulit dimengerti oleh akal, karena bagi akal, satu menit di sini akan sama saja dengan satu menit dimana pun. Atau, satu jengkal di sini, akan sama saja dengan satu jengkal di mana pun. Akal tidak akan mengerti mengapa bagi seseorang ada hari yang baik dan hari yang buruk. Demikian juga, akal tidak akan mengerti bagi orang-orang tertentu, ada tempat-tempat yang sakral dan ada yang profan.

 

(3) Akal, seperti yang dikatakan oleh rumi, tidak mampu memahami objek penelitiannya secara langsung karena akal dengan menggunakan kata-kata atau simbol hanya akan berputar-berputar seputar objek tersebut saja, tetapi tidak pernah dapat secara langsung menyentuhnya. Pengenalan akal terhadap objeknya adalah pengenalan yang bersifat simbolis, yakni melalui kata-kata, tetapi kata-kata saja tidak akan pernah memberi pengetahuan yang sejati (sebagaimana adanya) tentang sebuah objek yang dipelajarinya. Oleh karena itu, akal membutuhkan bantuan sumber lain untuk memahami sesuatu sebagaimana adanya, yakni hati (intuisi).[11]

 

  1. Hati (Intuisi)

 

Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan melalui panca indera maupun melalui akal, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Dan intuisi adalah pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu.[12]

 

Imam Al-ghazaly berkata “ketika kita dalam keadaan tidur(mimpi), tampak semua seperti masuk akal, tetapi ketika kita tersadar tampak betapa apa yang ada dalam mimpi, tidak masuk akal karena akal tidak mampu memahaminya”, bahkan Ibnu sina sendiri,  sebagai filosof, yang sangat mengagungkan akal, tetap masih mengakui adanya daya yang lebih kuat daripada akal, yaitu “intuisi suci”, yang pada umumnya dimiliki oleh seorang nabi. Akal memang sangat kompeten untuk memahami apa yang disebut sebagai “pemahaman fenomenal“ tetapi tidak untuk “pengalaman eksistensial”, hanya hati atau intuisi lah yang mampu melakukannya yakni memahami secara penuh pengalaman tersebut.

 

Ketika akal tidak mampu memahami “Wilayah kehidupan emosional manusia” hati kemudian dapat memahaminya, hati (intuisi) yang terlatih akan dapat memahami perasaan seseorang. Ketika akal hanya berkutat, pada tataran kesadaran, hati bisa menerobos ke alam ketidaksadaran atau alam gaib sehingga mampu memahami pengalaman-pengalaman non inderawi termasuk pengalaman mistik atau religius. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan bahasa hati dengan makhluk-makhluk gaib, seperti malaikat, jin bahkan Tuhan sendiri, seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.

 

Hati juga mempunyai kemampuan untuk mengenal objeknya secara lebih akrab dan langsung. Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan eksperiental atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Ia mengerti “manis” bukan dari kata orang ataupun melalui bacaan, melainkan melalui mencicipinya. Ia, misalnya mengerti “cinta” bukan melalui mulut orang atau bacaan dan teori–teori cinta yang sering jauh berbeda dengan yang dialami, melainkan memahaminya dengan betul–betul jatuh cinta. Tidak bisa terbayangkan indahnya “mencintai” bagi akal, tetapi hati sangat memahaminya, sekalipun mungkin ia tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, karena mengungkapkan perasaan cinta mengharuskan kita menggunakan “peraturan” bahasa yang bersifat rasional dan logis.

 

Selain itu, pengetahuan hati juga disebut “presensial” karena objeknya dipandang hadir dalam diri atau jiwa seseorang. Tidak ada lagi jurang yang memisahkan seseorang dari objek yang ditelitinya karena ia telah bersatu dan telah hadir pada dirinya. Dari sinilah kita dapat mengerti mengapa banyak para sufi yang telah merasa bersatu dengan kekasihnya yaitu Tuhan.[13]

 

Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul di benaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bisa juga , intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak pada waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutinya. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya, dan kita merasa yakin bahwa memang itulah jawaban yang kita cari namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai ke sana.[14]

 

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diandalkan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur. Namun, Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.[15]

 

Setelah membicarakan intuisi beserta karakteristik dan keistimewaannya, sekarang kita beralih untuk membahas mengenai wahyu, yang mana akan kita bahas disini lebih dalam serta posisinya sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dalam pandangan islam.

 

  1. Wahyu

 

Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat “transendental[16]”seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan kepada hal-hal gaib. Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, maka wahyu merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.

 

Kepercayaan merupakan titik tolak dalam Agama. Suatu pernyataan harus dipercaya terlebih dahulu untuk dapat diterima. Singkatnya, Agama dimulai dengan rasa percaya. Pengetahuan lain, seperti ilmu biologi, umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya, dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula.[17]

 

  1. Wahyu menurut Islam

 

  1. Definisi wahyu

 

Dikatakan: “wahaytu ilaihi, aw awhaytu”: jika kamu mengatakan kepadanya dengan cara: kamu menyembunyikan perkataan itu dari selainnya, dan wahyu adalah isyarat yang cepat, dan itu terjadi dengan cara perkataan melalui lambang-lambang, atau simbol-simbol, dan kadang-kadang hanya dengan suara saja, atau dengan isyarat dengan sebagian anggota badan.

Wahyu adalah isim mashdar, dan asal kalimatnya menunjukkan dua makna asli, yakni “ketersembunyian dan kecepatan” maka dari itu, dikatakan di dalam maknanya : Pemberitahuan yang tersembunyi secara cepat dan khusus kepada yang ditujukan yang mana tidak diketahui oleh selain dirinya.[18]

Wahyu di dalam al-Qur’an secara bahasa mencakup banyak makna, diantaranya:

 

  1. Ilham yang secara fitrah untuk manusia . seperti wahyu dari Allah kepada ibu nabi musa “ Dan kami ilhamkan kepada ibu musa, susuilah dia” ( Al-qoshos ,ayat 7)
  2. Ilham yang melalui instink untuk hewan, seperti wahyu dari Allah kepada lebah “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah buatlah sarang-sarang di bukit-bukit , di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”( An-Nahl, ayat 68)
  3. Isyarat yang cepat melalui lambang atau simbol, seperti pewahyuannya nabi Zakariyya As yang Allah ceritakan kepadanya “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”(Maryam, ayat 11)
  4. Gangguan setan untuk menyuruh melakukan keburukan ke dalam jiwa manusia, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesunngguhnya kamu tentulah menjadi orang-oeang yang musyrik.” ( al-an’am, ayat 121)
  5. Perintah Allah kepada Malaikat-malaikatnya :”(ingatlah ) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat ‘ sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah (Pendirian) orang-orang yang telah beriman’” ( Al-Anfal, ayat 12)[19]

 

Para ulama sepakat bahwa wahyu Allah kepada nabi-nabinya secara syar’i yakni ; Perkataan Allah yang diturunkan kepada seorang nabi dari nabi-nabinya. Inilah definisi bagi wahyu yang memakai isim mashdar namun bermakna isim maf’ul atau al-muuhaa( yang diwahyukan). Dan wahyu dengan bermakna isim mashdar secara istilah adalah: “Pemberitahuan Allah kepada siapa saja yang dipilihnya dari hamba-hambaNya sesuai  keinginanNya untuk diberi hidayah  dengan cara tersembunyi dan cepat”.[20]

 

Ayat yang menerangkan tentang diturunkannya wahyu yakni: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan ( permulaann) Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara  hak dan bathil”.(Al-Baqarah, ayat 185)[21].

 

  1. Tata cara turunnya wahyu.

 

Allah melukiskan secara ringkas tahapan-tahapan dan dasar-dasar penurunan wahyu dalam surah As-Syuro  ayat 51. “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun mengetahui bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau melalui ‘di balik tabir’ atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinnya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana”.

 

Dari ayat diatas kita dapat memahami tentang tahapan-tahapan penurunan wahyu, yakni jika kita ringkas sebagai berikut:

  1. Allah menyampaikan apa yang diinginkanNya atau disampaikanNya kepada nabi secara langsung dengan cara yang tersembunyi cepat dan tanpa perantara.
  2. Allah menyampaikan wahyu kepada nabi dari balik tabir
  3. Allah mengutus malaikat kepada nabi, kemudian malaikat menyampakaikan kepada nabi apa yang diinginkan Allah kepadanya.[22]

 

Para ulama telah membahas tahapan-tahapan pewahyuan ini dan mencari keterangan keadaan-keadaanya yang terlukiskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah, dan kemudian merangkumnya kepada tujuh tahapan.

 

  1. Tahapan pertama: penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur, seperti yang dikatakan oleh sayyidah ‘aisyah dalam hadis shohih, “ Pertama dimulainya wahyu kepada rasul adalah melalui penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur”

 

  1. Malaikat datang kepada nabi secara sadar dan langsung. Maka malaikat meniupkan ke dalam hati dan pikirannya tanpa mendengar dan melihatnya, seperti yang diriwayatkan oleh syihab dan hakim dari ibnu mas’ud bahwasanya rasulullah saw berkata; “Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat jibril )memberikan ilham ke dalam hatiku dan bahwasanya jiwa tidak akan pernah mati sampai sempurna rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan berbagus-baguslah dalam meminta”

 

  1. Malaikat menjelma menjadi seorang laki-laki maka dia bercakap-cakap dengan rasul dan ia sadar secara langsung: seperti yang tertera di hadis masyhur dari pertanyaan jibril kepada nabi saw tentang islam iman dan ihsan.

 

  1. Malaikat jibril mendatangi nabi, dan nabi melihatnya dengan bentuk malaikat yang sebenarnya dan persis seperti penciptaannya dan nabi mendengarnya langsung, dan ini terjadi dua kali, pertama: ketika wahyu turun pada surah al-muddatsir, dan kedua, di langit pada lailatul mi’raj ketika di sidrotul muntaha atau langit ke tujuh seperti termaktub di surat an-najm ayat 13-17.”Dan sesungguhnya Muhammad telah meihat jibril itu (dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain. (Yaitu) di sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat jibril ) ketika di sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya ( Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak ( pula ) melampauinya”.

 

  1. Malaikat mendatangi nabi Muhammad dengan keadaan malaikat sebenarnya dan ia menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad, lalu nabi Muhammad mendengarnya namun tidak melihatnya, dalam keadaan ini wahyu datang seperti “berderingnya lonceng” dan itu adalah (keadaan turunnya) wahyu yang paling dahsyat yang datang kepadany

Empat macam tahapan pewahyuan ini, setelah tahapan pertama, semuanya adalah gambaran untuk satu tahapan wahyu, al-Qur’an menyebutkan, “Atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinnya apa yang dia kehendaki”

 

  1. Tahapan keenam : Allah menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad melalui “dibalik tabir”, seperti yang terjadi ketika lailatul mi’raj setelah ditetapkannya kewajiban sholat lima waktu, kemudian Allah berfirman “ ahkamtu faridhoty wa khoffaftuu ‘ala ‘ibadiy “ dan seperti yang terjadi kepada nabi Musa “ kallamallahu muusa takliimaa”

 

  1. Tahapan ketujuh : Allah menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad tanpa perantara malaikat dan tanpa melalui dibalik tabir, seperti yang diwahyukan kepada nabi Muhammad ketika lailatul mi’raj dan Nabi berada diatas langit, dari kewajiban sholat, dan tahapan ini masuk dalam firman Allah :

“ an yukallimallahu illa wahyan “.[23]

 

  1. Bukti-bukti ‘aqli terjadinya wahyu

 

Karna wahyu adalah pembahasan pertama dan terbesar untuk Agama Islam dan ia adalah jalan untuk sampai kepada pembahasan akidah, pensyariatan, hukum-hukum Agama dan Akhlaq, maka dari itu banyak sekali  para musuh-musuh Islam berusaha membenarkan pendapat mereka dengan cara menyamarkan antara wahyu dan perkatan nabi dengan cara yang dipercantik dan diperindah untuk mengokohkan pendapat mereka yang salah. Maka perlu di kelompokkan bahwa para pengingkar terhadap wahyu terdiri dari dua kelompok.

 

Kelompok Pertama: Para Ateis, mereka tidak beriman atau tidak meyakini keberadaan Tuhan sama sekali, kecuali, mereka hanya meyakini sesuatu yang besifat materi saja. Mereka bukan hanya mengingkari wahyu , tapi juga mengingkari lebih dari itu, yakni keberadaan Tuhan, maka sebaiknya kita tidak usah berdiskusi dengan mereka dalam masalah wahyu, apalagi berdiskusi dengan mereka dalam perkara Ketuhanan.

 

Kelompok kedua: Mereka beriman dengan keberadaan Allah namun mengingkari wahyu, baik itu mengingkari secara mutlak, karna mengingkari wahyu berarti mengingkari atau bukti secara akal untuk kemungkinan adanya kenabian(nubuwwah), atau mengingkari dengan cara dibungkus rapi yang terlihat mempertanyakan secara ilmiah, yakni mereka adalah para Orientalis.

 

Para orang sesat dari kebenaran diatas, adalah karna mereka telah mengurung diri mereka didalam lingkaran materialisme dan mereka tidak mengimani atau meyakini kecuali hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu-sesuatu yang dapat dirasakan dengan panca indera saja, dan meremehkan perkara-perkara gaib, seperti,ketuhanan, kenabian dan wahyu.

 

Maka wahyu sebenarnya sudah tidak bisa diragukan lagi kepentingannya, karena ia adalah  sebagai asas yang mana  dalil-dalil wahyu berdiri diatasnya, perkara-perkara yang terjadi dan tetap dan bukan hanya sekedar kemungkinan-kemungkinan belaka, karena wahyu dalam esensinya adalah sebuah ‘amaliah yang mempunyai fenomena-fenomenanya  sendiri, dan ia mempunyai hasil-hasilnya, yang tergambarkan didalam al-Qur’an, dan Wahyu mempunyai kedudukan tersendiri, yakni di kehidupan nabi dengan segala kejadian dan keadaannya.[24]

 

Nah, dari sini kita mengetahui kebutuhan atau kepentingan untuk berpegang teguh pada kejadian-kejadian yang tetap yang mana itu termasuk di dalam fenomena wahyu atau yang berkaitan dengannya. Dan ini adalah  beberapa bukti nyata akan keniscayaan terjadinya wahyu.

 

  1. Ilmu modern dan Hipnotis

 

Ilmu Modern

 

Sesungguhnya Ilmu modern bisa membuat atau menemukan kembali keajaiban-keajaiban yang telah kita ketahui, dan kita telah menyaksikan dan memanfaatkannya sendiri,seperti telefon nirkabel, mikrofon dan lain sebagainya. Nah, dari cara itu memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan siapa saja, di daerah atau kawasan-kawasan yang sangat jauh sekalipun, dan memahami, memahamkan atau mendapat petunjuk sesuai yang diinginkannya. Jadi, apakah masuk akal setelah banyak sekali ditemukannnya penemuan-penemuan hebat secara materi tersebut, Allah lemah dan tidak sanggup menyampaikan wahyu kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, melalui atau tanpa perantara malaikat? Padahal Allah lah Empunya dunia ini.[25]

Hipnotis

 

Ini adalah satu dari bukti-bukti ilmiah yang sangat jelas, yamg mana merepresentasikan wahyu dengan sebenarnya dan memperlihatkannya dengan cara eksprimen-eskperimen, namun mereka (para pengingkar wahyu) masih tidak mau mengakuinya hingga sekarang. Dengan cara mempertunjukkan bahwa ada hubungan antara jiwa manusia yang mempunyai kekuatan yang lebih besar darinya dengaan yang lebih lemah darinya, kadang-kadang orang yang memiliki jiwa lebih kuat, bisa membuat kejadian sesuai kehendaknya dan mengukir informasi-informasi di dalam jiwa yang lebih lemah terebut, yang mana belum pernah ada sebelumnya di dalam akalnya. Dan juga belum pernah terbesit sebelumnya. Dan inilah yang diperlihatkan oleh Allah dari bukti yang menakjubkan tadi, di dalam keajaiban hipnotis. Nah, dari sana orang yang menghipnotis bisa saja jika dia mau menghapus pemikirannya atau akidahnya dengan sekali tepukan atau isyarat, bahkan jika dia mau, dia bisa mengganti nama yang dihipnotis tadi dengan nama yang lain. Jika hal seperti ini bisa dilakukan antara manusia dengan manusia bagaimana pendapatmu jika yang melakukannya adalah Pemilik kekuatan sejagat raya?.[26]

 

  1. Postulat-postulat[27] yang menekankan terjadinya wahyu dari Allah

 

  1. Nabi Muhammad Saw telah tumbuh dalam keadaan ummy (tidak bisa membaca dan menulis) dan hidup di tengah-tengah lingkungan yang tidak bisa membaca dan menulis pula, dan nabi tidak mempunyai pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan sama sekali, kecuali pemikiran-pemikiran yang tersebar atau masyhur ketika itu, danbeliau (ketika itu) berada ditengah-tengah budaya asli yang kental dengan animisme, dan tradisi masyarakat badui (arab gurun). Orang arab ketika itu tidak mempunyai pengetahuan tentang kehidupan sosial bangsa-bangsa selainnya, itu terlihat jika kita kembali merujuk pada syair-syair arab masa jahiliyyah yang mana dianggap sebagai rujukan terpercaya tentang pembasahasn ini. Dan kepergian nabi Muhammad ke tempatuzlahnya(penyendiriannya) yakni di gua hira, dan beliau ketika itu masih tidak memiliki bekal ilmu sama sekali, kecuali pemikiran-pemikiran yang tersebar dan berkembang ketika dalam keadaan dan situasi masa itu. Pada umur nabi Muhammad yang ke-empat puluh tahun datanglah wahyu kepadanya, maka berbaliklah keadaan beliau, dari pengetahuan yang buta huruf sama sekali, dan terkelilingi dengan pagar ganda yakni dari kebodohan secara umum dan ketidakbisaan membaca dan menulis secar khusus bagi nabi Muhammad, kepada pengetahuan yang sangat besar. Dan dengan pengetahuan itu menantang manusia dan jin pada zamannya. Maka perpindahan ini, memberikan nabi Muhammad dalil aqly bahwasanya yang terjadi dengan diri nabi Muhammad itu, bukanlah berasal dari keadaannya secara sendiri, tapi ia berasal dari sumber yang Maha tinggi, yakni berasal dari Allah Swt.[28]

 

  1. Sesungguhnya apa yang datang dari al-Qur’an mengenai penjelasan-penjelasan tentang berita-berita umat-umat terdahulu dan ketepatannya dengan apa yang ada di kitab-kitab suci terdahulu benar-benar menunjukkan sesuatu yang pasti, bahwasanya al-Qur’an dari Allah swt, dan jika tidak, tidak akan mungkin nabi mengetahui data-data sejarah, alam dan sosial yang mana belum pernah terlintas sebelumnya di alam pikiran nabi Muhammad, bahkan di pikiran orang-orang yang sezaman dengannya. Dari sini kita mengetahui ketika yahudi menantang rasul untuk mengabarkan mereka tentang kisah nabi yusuf , maka Allah mewahyukan kepadanya dan mengabarkannya tentang itu, nah dari sini terlihat dalil ‘aqly yang tercapai oleh akal kita yang menekankan kepada nabi, bahwasanya wahyu adalah fenomena tersendiri dan bukan berasal dari Nabi Muhammad. Maka untuk itu Allah meyakinan nabi lagi tentang hakikat wahyu yang turun kepadanya, dalam bentuk ayat yakni: “ maka jika kamu (Muhammad ) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu, sesungguhnya telah dating kebenaran kepadamu dari tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang rugi” ( Yunus, ayat 94)[29]
  2. Karakteristik Wahyu dalam Islam

 

  1. Pemerolehannya menurut kehendak Allah, dan bukan dengan usaha sendiri.

 

Wahyu adalah “minhah ilahiyyah” atau pemberian ketuhanan yang mana Allah memilih siapa saja dari hambaNya untuk menjadi objek penyampaiannya. Allah berfirman “ Allah lebih mengetahui di mana Ia menempatkan tugas kerasulan” . (al-An’am, ayat 124).Kenabian(nubuwwah) adalah sebagai hasil dari pemilihan yang khusus dari Allah kepada salah satu makhlukNya untuk disampaikan kepada manusia seluruhnya, seperti yang dikatakan Allah kepada nabi Musa “ Hai Musa sesungguhnya Aku memilih(melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”( al-A’raf,  ayat 144).

 

Dan jika kenabian ini berdiri atas pilihan, secara ketuhanan murni, maka ia akan membatalkan pemikiran sebagian filosof dan sufi bahwanysa kenabian bisa dicapai melaluimawahib basyariyyah muktasabah (Potensi-potensi dasar manusia yang bisa dicapai dan bisa didapatkan dengan jalan berusaha dan bersungguh-sungguh), atau dengan cara melampaui batas dalam beribadah atau dengan  berlepas dari ketertarikan kehidupan materialisme dan menjernih-bersihkan hati, atau dengan cara memperlama bersusah-payah untuk berpikir dalam hal “esensi-esensi” sesuatu yang mana dari situ akan terpancar ilham dengan nyata, dan akan turun bersamaan dengan itu pengetahuan secara langsung.

 

Dan juga membatalkan penganggapan kenabian adalah sebuah bagian dari kecerdasan independen atau sebuah tingkatan dari kecerdasan murni yang memberikan kepada orang yang mempunyainya bisa mempunyai persiapan yang kuat untuk berpindah dari sesuatu yang telah diketahui kepada sesuatu yang belum diketahui dengan kecepatan yang tinggi dan tanpa pengaturan cara-cara untuk mencapainya, dan inilah yang dinamakan “intuisi” sepeti yang dianggap sebagian filosof.

 

Namun yang benar adalah dengan cara memandang secara obyektif kepada keadaan  nabi Muhammad Saw maka akan jelas tergambar kebenarannya, dan kesalahan penganggapan bahwasanya kenabian(nubuwwah) itu bersifat kasbiyyah atau bisa dicapai dengan usaha. Dan ditekankan sekali lagi bahwasanya nabi tidak memperoleh nubuwwah dengan cara usaha kerasnya sendiri, atau bersusah-payah berpikir yang melampaui batas, dan tidak pula hasil dari kecerdasan yang diatas rata-rata. Dan belum ada sesuatu yang menakjubkan sampai ketika umur beliau empat puluh tahun, juga, beliau belum pernah berpikir filosofis untuk memperoleh hakikat sesuatu dari hasil berpikirnya itu. Maka Allah berfirman “ Dan kamu tidak pernah mengharap agar al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang benar dari Tuhanmu”.(al-Qoshos ayat, 86)

Maka pekerjaan membandingkan antara seorang filosof yang memperoleh filsafat secarakasab atau usahanya sendiri. Dan nabi, yang mana dianggap bahwa kekuatan nubuwwahadalah kekuatan dari kekuatan jiwa, lalu menyamakan antara wahyu yang datang kepada nabi, dan filsafat yang mana filosof mendatanginya dan selanjutnya sampai kepadanya, semuanya ini adalah usaha yang mencoba menjauhkan nubuwwah dari hakikatnya, karena ketidaktahuan tentang kenabian dan wahyu.[30]

 

  1. Ketidaktundukkan wahyu kepada keinginan rasul dalam penurunannya.

 

Wahyu terjadi hanya dengan mengikuti kehendak Allah semata, dan tidak tunduk dalam waktu penurunannya atau penentuan tempatnya sesuai keinginan nabi Muhammad saw, dan Nabi Muhammad tidak menunggu atau mengharap kedatangann Wahyu secara cepat atau sesuai kehendaknya, maka dari itu, nabi Muhammad tidak memiliki pilihan dengan wahyu yang turun atau terputus, namun turun sesuai kehendak Allah  semata.

 

Keistimewaan inilah yang membedakan watak wahyu dengan sumber-sumber pengetahuan lain. yang mana sumber-sumber pengetahuan lain dibangun melalui proses kasbiyyah dan tidak akan selesai atau sampai, kecuali melalui persiapan dan pengeluaran tenaga atau usaha sendiri. Dan seperti seseorang yang telah mencapai tingkatan “’Arif” untuk memperoleh pengetahuan seperti yang di usahakan oleh filosof, mulai dari merenung ,ndazhor dan bahts, atau jika ia seorang sufi, maka ia memulainya melaui proses tajrid, istighroq ruuhiyy, dan fana. Atau bisa jadi dengan membebaskan diri dan jiwa dari alam materi untuk menemukan hasilnya, setelah itu, yakni hikmah filosofis atau kasyf suufiy.

 

  1. Keyakinan mutlak dengan ilmu yang datang darinya.

 

Maka wahyu dengan sifatnya sebagai bagian dari ilmu Allah, dengan inilah ia bersifat mutlak dan tidak terbatas, maka ilmu Allah menembus dan melampaui batas-batas waktu dan tempat, tidak ada ranah keilmuan apapun yang mampu melemahkannya, yang mana sangat berbeda jauh dengan ilmu buatan manusia yang terikat dengan batas-batas waktu dan tempat, dan berkembang dari dan melalui kemampuan-kemampuan manusia yang terbatas. Dari sinilah, wahyu mempunyai keistimewaan dengan ilmu yang disuguhkannya, bahwasanya ilmu dari wahyu adalah sebuah keyakinan yang bersifat mutlak. Semuanya sama, apakah ilmu dari wahyu itu mengabarkan apa yang telah terjadi, sedang terjadi ketika turunnya, yang akan terjadi, atau apa yang telah ditetapkan dari informasi-informasi tentang alam gaib atau sunnatullah dan lain sebagainya.

 

Dan para ilmuwan telah mengakui bahwasanya ada dari sumber-sumber pengetahuan  yang sifatnya terbatas, dan ada lapangan-lapangan pengetahuan yang tumpul, atau tidak sampai untuk mencapai kepada tingkat keyakinan tertinggi, maka sesungguhnya yang mereka maksudkan itu adalah sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari manusia, dan mereka tidak mencapainya, biasanya dalam pengkajian mendalam mereka terhadap sumber-sumber itu, maka tersisalah wahyu yang jauh berbeda dari itu semua, bebas dari segala ikatan, dan bersifat mutlak dari ilmu yang disuguhkannya.[31]

 

  1. Keterlepasannya dari pengaruh waktu dan tempat

 

Bahwasanya waktu, tempat dan lingkungan, yang mana wahyu diturunkan ketika itu dan nabi Muhammad Saw hidup di dalamnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh sedikitpun dalam pembentukan pengetahuan yang datang kepada nabi Muhammad. Maka kebiasaan-kebiasaan, budaya-budaya dan keadaan-keadaan, yang mengitari nabi Muhammad Saw atau tempat asalnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap, ilmu-ilmu yang disuguhkannya.

 

Namun, lain halnya bagi para filosof, keadaan para filosof dan para peneliti, dan orang-orang yang tidak bisa berlepas dengan apa yang berkembang di sekelilingnya, dan hal-hal yang telah tertanam di pikiran-pikiran mereka, lalu kemudian menjadi postulat-postulat yang membentuk pemikiran-pemikiran mereka, yang dengan itulah mereka berpikir.

 

Adapun wahyu, maka karena ia adalah ilmu yang bersumber dari Allah, yang Maha menguasai waktu dan tempat dan meliputi keduanya itu, dan apa yang terjadi dalam waktu dan tempat tersebut. Maka wahyu terlepas dari itu semua, dengan hukum penguasaan Allah atas segala sesuatu.

Namun, yang tidak diinginkan adalah bahwasanya wahyu dianggap datang dalam keadaan “mitsaliyy” atau jauh dari kehidupan nyata, wahyu dianggap menutup matanya dari manusia yang ada ketika waktu turunnya. Penganggapan itu jelas tidak benar, karna ilmu yang datang dari wahyu adalah ilmu yang bersifat “praktis”, turun untuk sesuatu kehidupan yang nyata, memberikan pengaruh di dalamnya, dan tidak akan pernah terpengaruh dengan keadaan terebut.[32]

 

  1. Penafian hulul (bertempatnya) Allah dalam proses penyampaian Wahyu.

 

Wahyu adalah suatu hal yang terjadi antara dua entitas, yaitu: sebagai yang menyampaikan yakni Allah atau jibril yang mendapat penyampaian dari Allah, dan entitas yang disampaikan, yakni rasul. Dzat Allah dan dzat jibril, mereka berdua ini berbeda dengan dzatnya rasul. Dan  rasul selalu dalam keadaan berlepas ketika proses penyampaian. Sama, apakah penyampaian dengan atau tanpa suara. Maka wahyu bukanlah bertempatnya dzat Allah di dalam dzat rasul atau bersatunya mereka berdua. Karena, ada aliran yang mengangap bahwa Allah bertempat dalam tubuh seseorang, yang dikatakan oleh isyroqiyyundan ghuluw mutashowwifah, dan yang paling terkenal diantara mereka adalah, hussen ibnu manshur al hallaj, di abad ke tiga hijriah. Bahwasanya hallaj telah menganggap ruh Allah dan ruhnya telah bergabung, bersatu dan bercampur sampai menjadi satu kesatuan.[33]

 

  1. Memiliki sandaran .

 

Karakteristik wahyu jelas berbeda dalam hal sandaran, dengan sumber-sumber pengetahuan selainnya, jika akal menyandarkan dalil-dalilnya kepada hal-hal yang fitrah dalam jiwa manusia, untuk memperteguh bahwa apa yang diberikannya dari pengetahuan adalah suatu yang benar.Dan jika pengetahuan yang melalui panca indera menyandarkan kepada ekperimen-eksperimen, yang mana berpulang kepada akal, dan meneruskan dari akal tersebut kepada pengetahuan yang benar. Maka sandaran wahyu adalah dari ilmu Allah, yang mana ilmu Allah tidak mengharap bantuan dengan perantara apapun untuk sampai kepada hakikat pengetahuan tersebut.

 

Maka bagi yang diberikan pengetahuan dari sumber ini supaya beriman dan meyakini bahwasanya wahyu adalah datang dari Allah dan bersandar dari ilmuNya yang Maha luas, yang nantinya untuk menjumpai pengetahuan-pengetahuan dari wahyu ini, dan bahwa ilmuNya adalah kebenaran yang mutlak, tetapi kedudukan akal manusia sebagai perantara untuk mendapatkan wahyu dan memahaminya, maka akal diberikan oleh Allah kepada manusia dalam rangka untuk memahami wahyu tersebut, yakni dengan berkesesuaian dengan dasar-dasar-fitrahnya, dan yang menurunkannnya adalah yang menciptakan manusia, sampai manusia memperoleh manfaat dari wahyu tersebut. Bahkan wahyu sendiri sudah memberikan bukti terhadap banyak masalah yang diselesaikannya dengan dalil-dalil akal, yang juga menyandarkan kepada akal, kepada yang serupa dengannya dalam memperteguh pengetahuan-pengetahuan yang datang dari wahyu tersebut. Contohnya dalam menjelaskan tentang ketuhanan dan kemungkinan hari kebangkitan dan sebagainya, yang ini jelas berbeda dengan apa yang dipandang oleh para filosof bahwa petunjuk wahyu hanya sekedar berita atau informasi biasa.[34]

 

  1. Keistimewaan-keistimewaan Wahyu sebagai sumber Ilmu Pengetahuan.

 

  1. Memiliki cara khusus

 

Wahyu sebagai sumber Ilmu pengetahuan mempunyai keistimewaan khusus, yakni melalui jalan wahyu, bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum, namun diberikan hanya untuk orang-orang yang terbatas dari manusia, mereka adalah para nabi yang Allah pilih, untuk menyampaikan syariatNya kepada manusia. Kekhususan disini ialah dalam hal wahyu sebagai jalan khusus untuk mencapai pengetahuan dan bukan pembahasan mengenai pengetahuan kenabian itu sendiri, karena objek pengetahuan kenabian adalah menyampaikan kepada manusia secara keseluruhan, tetapi yang menyampaikan kepada manusia adalah para nabi dan rasul. Pengkhususan maknanya, bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum (keseluruhan manusia) seperti panca indera dan akal, dan selanjutnya tidak tunduk kepada kaidah-kaidah atau hukum-hukum panca indera dan akal atau ‘alam syahadah (alam nyata) yang mana berasal dari fitrah manusia dan usahanya.[35]

 

  1. Berunsur ketuhanan.

 

Pengetahuan ini mengkhususkan dirinya, bahwasanya ia berunsur ketuhanan, apa-apa yang dikhususkan dari pengetahuan ini selanjutnya kembali kepada keistemawaan ini dan muncul darinya. Maka ilmu yang datang dari para nabi adalah datang dari Allah dengan segala keistimewaannya dan hal-hal yang membentuknya dan para nabi mendapatkannya secara sempurna tidak dikurangi atau dilebihkan sedikitpun,.dan Allah telah menjamin dengan menjadikan para nabi terpelihara dari kesalahan sampai terlaksananya penyampaian dan sampainya pengetahuan itu kepada manusia, dan ia terbebas dari kesalahan-kesalahan yang  umum dimiliki oleh manusia. seperti yang termaktub dalam al-Qur’an:

”Seandainya ia(nabi Muhammad ) mengada-adakan sebagian perkataan atas(nama) kami, niscaya kami benar-benar pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (kami) dari pemotongan urat itu”.( Al haqqah ayat 43-47)

 

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu( al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya)”( An najm, ayat 1-4)

 

Dan kemudian, maka sesungguhnya unsur ketuhanan adalah yang paling utama dari keistimewaan pengetahuan ini, dan sumber keistimewaan ini, yakni ilmu yang diwahyukan lansung dari Allah swt, dan hanya terbatas dari sumber ini saja dan tidak bersandar kepada selainnya, oleh karena itu wahyu mempunyai kelebihan dari konsep-konsep pengetahuan filosofis atau akal yang mana dibuat melalui proses fikiran manusia. Sama, apakah dari hakikat ketuhanan, alam, kemanusiaan atau segala yang berkaitan yang berdiri diatas pengetahuan kenabian ini. Maka tashowwur falsafy (konsep pengetahuan filosofis) yang mana tumbuh dari pemikiran manusia untuk berusaha menafsirkan segala yang wujud dan pengetahuan pemikiran  manusia, dan ia masih tunduk kepada waktu, tempat dan lingkungan dan pengaruh-pengaruh luar yang mengitarinya. adapun pengetahuan kenabian datang dari Allah melalui jalan nabi yangma’shum yang membawa manusia petunjuk, yang mencakup seluruh urusan kehidupan, kedetilan dalam menafsirkan wujud dan membentuk kehidupan, kemudian Allah menjamin dengan menjaganya dan mengantarkannya kepada manusia, dan kepada siapa yang belum menyaksikannya dengan melalui jalan dalil mutawatir, yang mana ia adalah jalan yang berderjat qhot’i di dalam pandangan ilmu yang benar.[36]

 

  1. Tetap.

 

Pengetahuan melalui jalan wahyu berasal dari Allah swt yang terbebas dari perubahan, hawa nafsu manusia, dan keterpengaruhan dengan hal-hal yang berasal dari luar, yang mana pengetahuan panca indera dan akal kadang-kadang berubah-ubah dan mengikuti keadaan dalam kehidupan. walaupun pengetahuan akal lebih banyak menyerap dari panca indera namun dia juga tunduk kepada keterpengaruhan jiwa dan keadaan kehidupan, namun pengetahuan kenabian tidak akan pernah berubah dan berkembang dan tidak mengalami perubahan secara bentuk maupun keadaan-keadaan yang terjadi dari dasar-dasarnya selamanya, jika terjadi perubahan dan adanya permintaan jawaban atas perubahan pengetahuan kenabian itu, maka itu adalah masih dalam ketetapannya, dan boleh mempersilakan untuk meminta jawaban bagi perubahan keadaan bersamaan dengan hukum dan petunjuk-petunjuknya dan ia masih bersifat tetap, yang mana memberikan pengetahuan kenabian kemampuan untuk membentuk keadaan nyata dan fleksibelitas penerapan ilmu-ilmunya.[37]

 

  1. Komprehensif.

 

Pengetahuan ini memiliki ciri yakni, kekomprehensifannya tentang semua pengetahuan yang tetap dan bergerak dan untuk dua alam yakni ;alam gaib dan alam nyata.

 

“Dan Allah adalah tiada Tuhan kecuali Dia, mengetahui alam goib dan alam nyata “  ( al-haysr ayat 22) dan dia menguasai semua pengetahuan tentang ketuhanan, urusan-urusan penciptaan, ‘alam makhluq, informasi-informasi manusia, keyakinan dan seluruh perbuatan makhluknya. Pengetahuan ini untuk seluruh golongan manusia dan tidak ada pengkhususan untuk satu golongan saja, maka esensi pengetahuan darinya adalah untuk seluruh manusia, dan tidak khusus untuk seorang filosof atau seorang yang buta baca-tulis saja, namun semua manusia mengambil yang pantas untuk diambil, walaupun mereka berbeda dalam pengambilan. Dan ini bukan perbedaan dalam keharusan mengetahui, namun perbedaan dalam memahami dan menambah pemahaman. Dan untuk memperdalam pemahaman dan mempermudahnya, dan selanjutnya maka ia adalah keyakinan untuk seluruh tingkatan manusia, keadaan, waktu dan tempat.  Dan pengetahuan ini meliputi seluruh pengetahuan kemanusiaan dengan apa yang ada di dalamnya dan apa yang dibaliknya, mencakup juga untuk tentang permulaan dan akhiran penciptaannya dan seluruh tafsiran ciptaan Allah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[38]

 

  1. Keseimbangan.

 

Kekomprehensifan pengetahuan ini adalah komprehensif secara seimbang dan dari yang paling nampak dari fenomena-fenomenanya, yakni keseimbangan dalam akidah, yang menggabungkan antara iman dengan alam nyata dan iman dengan alam gaib, keseimbangan yang menggabungkan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara kebebasan kehendak manusia dan ketercakupan pengawasan ketuhanan, dan keseimbangan dalam manhaj berpikir, yang mana mendidik ruh, akal dan jiwa dan seluruh yang membentuk pengetahuann manusia itu sendiri, yang menggabungkan kesendirian-kebersamaan, dan antara pembentukan materi dan ruh. Terakhir yakni keseimbangan hubungan antara hubungan hamba dan Tuhannya.[39]

 

  1. Bersifat positif .

 

Pengetahuan ini bersifat positif yang aktif dalam hubungannya dengan Allah dan dengan alam kehidupan manusia. Bersifat positif juga dari segi manusianya itu sendiri dalam batas-batas ranah manusia dan batas-batas menjadi khalifah di bumi. Sifat positif ini juga, nampak dalam akidah yang mendorong untuk beribadah dengan benar dan terbebas dari hanya hubungan pikiran atau akal saja. Pengetahuan kenabian ini Jauh dari tajsim dan ta’thil , yakni dengan memurnikan Allah dari itu semua  “ Ia tidak menyerupai sesuatupun” ( as-syuro, ayat 11). Dan ia bersifat positif juga dalam setiap ilmu yang Allah turunkan atas nabi, yang mendorong kepada perbuatan baik yang selaras dengan fitrah murni manusia, dan ia bersifat positif juga untuk manusia di alam, dan untuk mukmin dengan akidah ini dalam kehidupan yang nyata yang mana mendorongnya untuk menjadi pengajak kepada Allah saw dan memimpin kepada pergerakan pembebasan secara alami untuk manusia di bumi dari penghambaan kepada selain Allah, dengan segala bentuk peribadatan, dengan maknanya yang komprehensif dari mendapat ilmu-illmu syari’at dariNya dan menyebarluaskan syiar-syiar Agama untukNya saja secara ikhlas.[40]

 

  1. Wahyu menurut Barat

 

  1. Definisi Barat

 

Barat ataupun timur itu sebenarnya bukan letak geografis, sebab Kanada itu di utara, Australia di selatan, tapi digolongkan sebagai Negara barat. Sementara negara turki separohnya terletak  di barat tapi tetap dianggap Timur. Demikian pula Timur. Afrika itu di selatan , tapi dikategorikan Timur. Negara-negara Arab itu tidak di timur tidak di Selatan, maka mereka disebut Timur tengah. Itu semua adalah identifikasi Barat terhadap dunia selain Barat.

 

Barat sebenarnya menceminkan sebuah pandangan hidup atau suatu peradaban dan terkadang ras kulit putih. Jadi, Pandangan Hidup barat merupakan kombinasi peradaban dan pandangan hidup bangsa Yunani, Romawi, tradisi bangsa-bangsa jerman, Inggris, Perancis dan sebagainya.

 

Maka orang barat adalah: orang-orang yang berpandangan hidup barat dan kebetulan peradaban ini didominasi oleh orang berkulit putih, (meskipun kini terdapat pula barat berkulit hitam atau sawo matang). Worldview (pandangan keilmuan) Barat atau cara pandang terhadap alam bagi mereka biasanya bersifat saintifik dan tidak religius sama sekali.[41]

 

Disini saya akan mempersempit pembahasan tentang perspektif barat mengenai wahyu, dengan hanya menyuguhkan tiga pembahasan, yang saya kira, sudah cukup mewakilkan perspektif barat secara keseluruhan.Pertama menurut para filosof Yunani, Kedua para filosof Nasrani/Masehi, dan terakhir para filosof Barat modern.

 

  1. Wahyu menurut filosof Yunani.

 

Dalam sejarahnya belum ada sejarawan yunani yang menulis bahwa Risalah samawiyah diturunkan di negri yunani di zaman kebangkitan filsafat yunani, yang mana dimulai sejak enam abad sebelum kelahiran nabi Isa as, namun yunani ketika itu, disesaki oleh Agama-agama animisme, dan banyaknya pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan, yang mana orang-orang awam dan para filosof waktu itu hidup bersama, kemudian dari sana menghasilkan pengaruh dalam hasil pemikiran filsafat mereka selanjutnya, dan ketika itu mereka belum terlalu memerhatikan tentang asal-usul dan sumber-sumber pengetahuan mereka, apalagi wahyu. Tetapi sebagian mereka sudah ada yang menganggap bahwa Agama (yang bersumber dari wahyu) hanyalah dongeng-dongeng yang dibuat oleh para  filosof, penyair dan dukun-dukun di zaman sebelum mereka, namun Plato ketika itu sudah membagi sumber-sumber Agama kepada tiga bagian.

 

  1. Agama dongeng (mitologi) yang dibuat oleh para penyair dan ahli seni untuk menghibur manusia.
  2. Agama yang dibuat oleh para pemegang kekuasaan untuk menjamin ketaatan rakyatnya kepada mereka, yang bersumber dari rasa takut dalam hati kepada Tuhan.
  3. Dan terakhir Agama bagi para filosof, dan ini (yang dianggap Plato) menggambarkan hakikat kebenaran, seperti yang dibenarkan oleh akal.

 

Inilah interpretasi para filosof untuk Agama yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kenabian, mereka seperti tidak tahu kenabian sama sekali, seperti yang dikatakan oleh ibnu taimiyyah dalam kitabnya an-nuvbuwwat.

 

Kesimpulannya, bahwasanya para filosof Yunani tidak mengetahui sama sekali tentang wahyu, maka dari itu mereka tidak membahas penerimaan dan penolakan terhadapnya, ataupun ranah-ranah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[42]

 

  1. Wahyu bagi para filosof nasrani.

 

Sudah banyak risalah-risalah samawiyah yang mendahului risalah nabi Isa as, kemudian datang dengan risalah-risalah itu para rasul yang mulia, dan al-Qur’an telah menjelaskan ihwal-ihwal para  pengikut rasul tadi, dan yang paling terlihat adalah: penolakan kaum-kaum tersebut terhadap dakwah nabi-nabi mereka, dan pengingkaran untuk menjadi “penghubung” mereka dengan Allah, nah, dari situlah  mereka mempelajari wahyu yang turun kepada para rasul-rasul itu, namun tetap dengan alasan, bahwa tidak ada rasul-rasul yang bisa mengungguli mereka, dengan kelebihan-kelebihan pemikiran dan ruhani yang mana membuat mereka menganggap diri mereka lebih tinggi dari tingkatan manusia lainnya ketika itu, padahal mustahil turun wahyu bagi mereka.

 

“ Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermasuk hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kamu” ( al-mu’minun ayat 24.).

 

“ Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seseorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.( Hud ayat 27.).

 

Nabi Isa datang sebagai rasul, dan Allah menurunkan kepadanya wahyu dan hidayahNya untuk bani Israil, sebagai pembenaran terhadap kitab taurat yang diwahyukan kepada nabi Musa sebelumnya, dan kemudian mengajak kaumnya untuk mengikutinya, namun kemudian  mereka menolak dan berpaling dari nabi Isa as, nabi Isa as datang membawa Injil dan menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan syariatNya dan meyakinkan semua kebenaran yang datang darinya yang belum pernah diselewangkan.

Dan sejarah telah mengukir dengan jelas penolakan bangsa yahudi terhadap dakwah nabi Isa as,  hanya sedikit dari mereka yang mengikutinya, maka banyak dari mereka yang meninggalkan nabi Isa as bahkan memusuhi dan memeranginya, kemudian Allah mengangkatnya ke langit, dan menurunkan bencana bagi mereka, ketika kerajaan romawi menguasai mereka di palestina.

 

Tetapi walaupun begitu, masih ada sebagian manusia yang mengikuti ajaran nabi Isa as dan pengaruhnya telah meluas, sampai memasuki kerajaan Atena dan berinteraksi dengan pemikiran, filsafat dan kehidupan Yunani. Dan orang yang pertama kali memasukkan ajaran nabi isa as ke Eropa adalah Paulus. Setelah ia masuk ke atena, datang sekelompok orang yang dinamakan al-abquriyyin dan al-ruwaqiyyin. Mereka datang ke tempat perkumpulan paulus, kemudian, mereka merendahkan dan meremehkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh paulus, seperti akan dibangkitkan kembali orang-orang yang telah mati, dan lain sebagainya.

 

Agama nasrani telah meluas dan banyak berubah, secara pengikutnya, ketika masuk Eropa dan kitab-kitab sucinya menjadi banyak, yakni injil-inji buatan yang telah bercampur dengan wawasan dan pemikiran yunani, dan telah mampu, setelah masuk ke Eropa  untuk menguasai kehidupan manusia secara luas dengan jangka waktu yang panjang sampai mencapai zaman kebangkitan  Eropa dengan sifatnya, yakni sebagai Agama samawi yang berasaskan wahyu.[43]

 

Maka kita akan membahas masalah wahyu ini bagi para filosof nasrani di abad pertengahan, hanya di dalam sebuah masalah, yakni mengenai : Pandangan para filodof nasrani kepada wahyu dari sudut pandang sumbernya sebagai pengetahuan dan hubungannya dengan sumber-sumber pengetahuan lain.

 

Maka para filosof nasrani zaman pertengahan terbagi menjadi dua golongan.

 

Golongan Pertama : mereka yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua hal yang saling berbeda, dan dengan ini, kita bisa menerima perkara filsafat dengan akal dan Agama dengan Iman untuk mempercayainya.

 

Kebanyakan para filosof nasrani zaman pertengahan menghubungkan antara akal dan naql atas kaidah bahwa wahyu dari Allah dan mustahil terjadi pertentangan antara keduanya dan akal meyakini wahyu sebagai petunjuk bagi kehidupan mereka.

 

Namun mereka berbeda pendapat dalam konsep hubungan antara keduanya, sebagian mereka berpendapat bahwa apa yang datang dari injil dari konsep kewujudan Tuhan berada di atas kemampuan akal. Kemudian mereka menemukan masalah, untuk sampai kepada pemahaman mereka secara independen, dan untuk bisa menyingkapnya sendiri.

 

Ini adalah pandangan filosof nasranai di abad kedua masehi sampai abad ketiga belas , dan pekerjaan mereka di abad-abad ini adalah : membentuk apa yang datang dari injil dari konsep ketuhanan dan akhlak dengan bentuk pengetahuan yang terstruktur.

 

Golongan kedua: Ini pada abad ketiga belas masehi, yang mana mereka telah terpengaruh dengan filsafat aristoteles,  maka dari itu bahwa para filosof nasrani waktu itu membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui wahyu.[44]

 

Para filosof itu diantaranya adalah:

 

  1. Tertulian (165-220 M) salah satu dari pemuka Agama nasrani yang memperdalam studi tentang ketuhanan dan ia berpendapat bahwa wahyu tidak membutuhkan pengetahuan selainnya, kemudian ia membawanya kepada pembahasan filsafat, dan menyatakan permusuhannya kepada Agama, kemudian memberitahukan keterlepasannya dari para pembuat Agama yang mengikuti Aristoteles, dan ia berkata “ Setelah adanya nabi isa dan injil, maka kita tidak membutuhkan lagi kepada sesuatu apapun ”.[45]

 

  1. Diunisius, hidup di akhir-akhir abad kelima kira-kira, dan ia menulis buku tentang sifat-sifat Allah, malaikat dan lain sebagainya, dan menyatakan di dalam bukunya itu, bahwasanya ia mengetahui Allah, dan sesuatu-sesuatu yang gaib dan ia tidak mungkin mencapai kepadanya kecuali melalui jalan: memahami kitab-kitab yang suci. Dan bahwasanya perantara-perantara pengetahuan manusia, tidak mengantarkan kita, kecuali kepada pengetahuan yang masih kurang, tentang alam ruh, dan pengetahuan yang masih kurang mengenai Allah, maka Allah sendiri mempunyai ilmu yang sempurna dengan dzatNya, dan Ia telah mewahyukan kepada kita dari ilmuNya itu apa yang disanggupi oleh kemampuan kita.[46]

 

  1. Betras dimyani (1007-1072M) salah satu pembesar pemikir ketuhanan di zamannya, dia menyampaikan dengan keras bahwasanya adanya campur tangan akal, atau keniscayaan adanya logika dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab suci dan kepercayaan-kepercayaan Agama, dan ia berkata tentang kewajiban tegaknya semua ilmu dan metodologi-metodoogi berpikir dari kitab-kitab ibarat pembantu kepada juragannya. Metodenya dalam berpikir yakni bahwasanya ia menjadikan akal mempunyai tempat dan naql mempunyai tempat, maka akal walapun bisa menyingkap pengetahuan-pengetahuan yang besar, namun ia tidak bisa dengan sendirinya mencapai pengetahuan tentang hakikiat segala sesuatu, dan berlepas dari kesalahan, yang mana wahyu memberikan kita hikmah ilahiyyah yang sempurna mengenai Allah dan jiwa manusia, maka jika manusia ingin mengetahui hikmah yang terpercaya maka ia wajib mengimani wahyu.[47]

 

  1. Wahyu menurut para filosof barat modern.

 

Keadaan telah berubah di Eropa setelah zaman kebangkitan terutama di abad-abad pertengahan, di banyak segi secara praktik dan pemikiran, dan dari perubahan-perubahan tadi, memberikan pengaruh dalam perubahan-perubahan selanjutnya yakni: bahwasanya Agama nasrani telah menguasai kehidupan mereka ketika itu dan khususnya dalam segi pemikiran, yang mana tidak bergerak kecuali dalam ruang lingkupnya saja, dan selanjutnya filsafat secara mayoritas telah berkhidmah kepadanya (Agama nasrani), namun keadaan mulai berbeda setelah penguasaan itu telah menghilang dan menurun, kemudian filsafat menjadi bergerak dalam kebebasannya yang hampir mencapai kepada batas kehancuran dalam menentukan sikap-sikap dan pembuatan teori-teori pemikiran mereka, Maka posisi para filosof Barat Modern bagi Agama dan wahyu secara global adalah;

 

Sebagian mereka memandang bahwa apa yang datang dari Agama adalah wahyu ilahy, dan ia membawa dari sifat ini kebenaran mutlak dan kesempurnaan dari sumber pengetahuan selainnya, dan terbebas dari kesalahan.[48]

 

Dari mereka adalah : Falsity laminy (1854M) yang menyatakan bahwa Allah mewahyukan dengan Agama yang benar, dan tidak akan pernah meninggalkan perkara bagi akal untuk berpikir secara sendirian, dan bahwa geraja adalah pemilik ajaran-ajaran yang mulia dan terbebani oleh Allah untuk menjaga wahyu secara terus menerus, dan ia mengkritik orang-orang yang mengkaji Agama  dengan akal-akal mereka sendiri, dan tidak mempercayainya kecuali jika alasannya berasaskan akal logis mereka,  dan sebagian yang lain mengangap bahwa wahyu sebagai landasan untuk umat dan  sebagai peraturan hidup mereka, sebagaimana wahyu dianggap sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran bersama-sama.

 

Kemudian sebagian yang lain beranggapan, yakni mereka yang hidup pada zaman dimana teori-teori ilmiah berasaskan atas akal, dan eksperimen bersandarkan kepada penyelidikan, penelitian dan pembelajaran sosial tanpa menghiraukan apa yang tertera di dalam kitab-kitab suci mereka, yang mana para filosof ini menjelaskan hubungan antara teori-teori praktis, pemikiran dan keyakinan-keyakinan Agama, dan mereka berusaha mempresentasikan teori-teori ini, yang tidak mungkin dipertemukan antara ia dengan ajaran-ajaran Agama, yakni dengan tujuan meragukan dan mengingkari ajaran-ajaran Agama.

 

Orang yang paling terkenal dengan metode berpikir seperti ini adalah, Rene descartes, yang mana mendirikan “manhajnya” dalam pengetahuan atas intuisi dan istimbath aqly, namun ia mengecualikan pengetahuan-pengetahuan yang datang dari Wahyu, yang mana ia anggap di atas kemampuan akal. Dan Ia menyatakan : ada kaidah yang seyogyanya harus dianggap terjaga dari kesalahan, ia adalah wahyu dan lebih terpercaya dari selainnya. Dan Descartes berujar bahwa sumber dari pengetahuan Agama adalah madad ilahy dan bukan aqlu-basyary.[49]

 

  1. Kesimpulan

 

Wahyu sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan memang tidak bisa dianaktirikan apalagi dinafikan, karna wahyu menduduki peranan  penting dalam membentuk ilmu-ilmu Agama Islam khususnya, ia mempunyai karakteristik yang jauh berbeda dari sumber-sumber ilmu pengetahuan selainnya, yang hanya mengandalkan panca indera , akal atau hanya intuisi  saja.

 

Namun, ia bersumber dari ilmuNya Yang Maha luas dan Maha mengetahui yang terlepas dari segala kesalahan dan perubahan. Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Yang kemudian menjadi petunjuk bagi manusia keseluruhan, khususnya umat islam.

 

Keniscayaan adanya wahyu, adalah sebuah fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi, untuk zaman sekarang. Melalui dalil naqli dari Al-Qur’an dan dalil ‘aqly yakni melalui percobaan-percobaan ilmiah, yang mana para ilmuwan di barat dan di timur mengamininya. Dan semakin menguatkan, bahwa ada sumber ilmu pengetahuan yang sempurna, terlepas dari seluruh kesalahan dan mencapai pada tingkatan kebenaran mutlak dari ilmu yang disuguhkannya.

 

Barat dengan pandangan hidupnya terhadap alam yang hanya mempercayai hal-hal yang bersifatsaintifik saja dan menolak metafisika. Jika diruntut sejarahnya, pada masa awalnya, yakni pada zaman fiolosof yunani kuno, mereka belum mengetahui wahyu sama sekali. Maka dari itu, mereka tidak berpendapat terhadapnya. Namun, pada masa filosof nasrani, mereka terbagi menjadi dua golongan pertama (abad kedua sampai ketiga belas), mereka yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua hal yang saling berbeda, Golongan kedua(abad ketiga bela hingga abad setelahnya) para filosof nasrani waktu itu membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui wahyu.

 

Daftar Pustaka

Al-Kurdy,Hamid, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah bayna al-Qur’an wa-l-falasifah, (Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)

Al-Qothhon, Manna’, Mabahits fi ‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Maktabah wahbah, 2015)

Az-zurqony, ‘Abdul ‘adzhim, Manahilul ‘irfan fi ‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Darus-salam,2015)

Ibnu zaid az-zunaidy, ‘Abdur-rahman, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, ( Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)

Ithr, Nurruddin,  Ulumu-l-Qur’an Al-karim, (Kairo, Darul-Bashoir,2014)

Kertanegara, Mulyadi, Menyibaik Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam,(Bandung,Mizan,2003)

Muhammad Ibrahim,Husein, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, (Kairo,Maktabah al-Iman,2016)

Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan,2013)

Zarkasy, Hamid Fahmi, Misykat, Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam,( Jakarta, INSISTS (Institute For the Study of Islamic Thought and Civilizations ),2012)

 

 

________________________________________

[1] Santri Pengangguran

[2] Epistemologi: cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu pengeahuan

[3] Metafisika: ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal nonfisik atau tidak kelihatan.

[4] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I, 2003, hal 1-2

[5] Ibid. hal 4

[6] Ibid. hal 5

[7] Ibid. hal 6

[8] Ibid. hal 18-19

[9] Ibid. hal 23-25

[10] Ibid. hal 26

[11] Ibid. hal 26-27

[12] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV, 2013, hal 53.

[13] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I, 2003, hal 28-29

[14] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV, 2013, hal 53.

[15] Ibid.hal 53

[16] Transendental:menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, sukar dipahami, gaib, abstrak

[17] Ibid.hal 54

[18]  Manna’ al-Qhotton, Mabahits fi ‘ulumi-l-Qur’an ,Maktabah Wahbah, Kairo, 2015, hal 26

[19] Ibid.hal 26-27

[20] Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 129

[21] Ibid.hal 130

[22]Nurruddin “Ithr,  Ulumu-l-Qur’an Al-karim, Darul-Bashoir, Kairo, 2014, hal 16-17

[23] Ibid.hal 17-19

[24]Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 139

[25]‘Abdul ‘adzhim Az-Zurqony, Manahilul ‘irfan fi ‘ulumi-l-Qur’an, Darus-salam, Kairo,2015, hal 54

[26] Ibid hal 55

[27] Postulat: Asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma

[28] Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 153

[29] Ibid hal 154

[30]‘Abdur-rahman Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 145-149

[31] Ibid.Hal 151-154

[32] Ibid.Hal 156-157

[33] Ibid.Hal 159-161

[34] Ibid.Hal 161-162

[35] ’Abdul Hamid Al-Kurdy, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah bayna al-Qur’an wa-l-falasifah, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 780-781

[36] Ibid. hal 781-783

[37] Ibid. hal 784-785

[38] Ibid. hal 785-786

[39] Ibid.hal 785-786

[40] Ibid hal 786

[41] Hamid Fahmi Zarkasy, Misykat, Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam, INSISTS(Institute For the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta, 2012, hal 86

[42] ‘Abdur-rahman Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 103-107

[43] Ibid.hal 109-110

[44] Ibid hal 111

[45] Ibid hal 112

[46] Ibid hal 112

[47] Ibid hal 113

[48] Ibid hal 124

[49] Ibid hal 126

 

SUMBER : http://abdulkarim1995.blogspot.co.id/2016/10/wahyu-sebagai-sumber-ilmu-pengetahuan.html


FAKTA ISLAM DI AMERIKA SERIKAT

FAKTA ISLAM DI AMERIKA SERIKAT

  1. Islam dan Politik Amerika Serikat

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menolak mengadakan acara menyambut bulan suci Ramadhan yang biasa dilakukan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS. Penolakan ini melanggar tradisi tahunan di Kemenlu AS yang telah berjalan selama hampir 20 tahun.[1]

Lewat kebijakan-kebijakannya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, seolah memberikan kesan anti terhadap Muslim. Hal ini terlihat dalam surat perintah eksekutif yang telah ditandatanganinya, terutama pembatasan masuknya warga negara dari enam negara mayoritas Muslim ke Amerika Serikat.[2]

Satu dari tiga orang Muslim di Amerika Serikat (AS) mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden. Hal itu terungkap dari hasil studi terbaru yang dirilis Institute for Social Policy and Understanding di Washington, AS.[3]

  1. Kekerasan dan diskriminasi terhadap Muslim di Amerika

Pasca tragedi 11 September, masyarakat Muslim di Amerika memang kerap dijadikan sasaran kebencian. Yang terbaru terjadi pada akhir Desember kemarin. Dikutip dari Aljazeera, Rabu (2/2), imigran asal India bernama Sunando Sen didorong ke jalur kereta bawah tanah dan tewas setelah terkena hantaman kereta yang lewat.[4]

Pusat riset di Amerika Serikat menyatakan, mayoritas warga negara ini meyakini bahwa Muslim Amerika mendapat perlakukan diskriminatif. Berdasarkan data terbaru pusat Riset PEW di Amerika Serikat, 82 persen rakyat negara ini mengakui bahwa etnis Muslim Amerika mengalami perlakuan tak adil, prasangka dan aksi diskriminasi.[5]

Presiden AS Barack Obama menyerukan persatuan di Amerika dalam kunjungan pertamanya sebagai kepala negara ke sebuah masjid di Amerika Rabu siang. Ia juga menegaskan kepada warga Muslim bahwa mereka adalah bagian dari keluarga Amerika.[6]

Sejumlah warga Amerika Serikat yang beragama Islam meminta Donald Trump untuk berhenti mendorong kekerasan dengan seruan atau pernyataan kontroversialnya. Terakhir Trump menyerukan penghentian total imigrasi kaum Muslim ke AS. Sementara itu, seorang pemilik toko di New York telah dipukuli dalam sebuah kejahatan yang mungkin berbau rasial.[7]

Ibtihaj Muhammad (31) adalah atlet anggar perempuan Amerika Serikat yang berlaga dalam Olimpiade 2016 dan meraih medali perunggu. Ibtihaj dikenal karena dia merupakan perempuan Muslim Amerika pertama yang mengenakan hijab saat berlaga di Olimpiade.Meski ikut mengharumkan nama Amerika Serikat di kancah internasional, Ibtihaj nampaknya khawatir dengan pemerintahan Donald Trump saat ini.Dia khawatir berbagai kebijakan Donald Trump justru bertentangan dengan idealisme yang dibangun Amerika Serikat.[8]

  1. Jumlah Umat Islam di Amerika

Islam adalah agama terbesar ketiga di Amerika Serikat setelah Kristen dan Yahudi. Studi Pew Research pada 2010 menyebutkan, jumlah Muslim di AS, yakni 0,9 persen dari populasi. Namun, perkiraan baru pada 2016 akan ada 3,3 juta Muslim yang tinggal di Amerika Serikat atau sekitar satu persen dari total penduduk AS.[9]

Mereka memprediksikan sebelum tahun 2040 Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen di AS. Pew Research Center memperkirakan ada sekitar 3,3 juta Muslim dari segala usia yang tinggal di Amerika Serikat pada 2015. Ini berarti bahwa umat Islam terdiri sekitar satu persen dari total penduduk Amerika Serikat (sekitar 322 juta orang pada tahun 2015). Dan angka itu akan berlipat pada tahun 2050.[10]

Pew Research Center juga menyatakan, jumlah muslim di Amerika Serikat mencapai 2,5 juta orang. Bahkan, di antara mereka terdapat banyak warga muslim di sana yang sukses dan namanya dikenal masyarakat dunia.[11]

Di negara super power, Amerika Serikat, agama Islam dipeluk oleh sekitar 2,5 juta orang. Sementara itu, di Kanada jumlah pemeluk Islam mencapai 700 ribu orang. Tak jauh berbeda dengan Argentina. Umat Islam di negara Tango itu mencapai 800 ribu orang, dan merupakan pemeluk Islam terbesar di Amerika Selatan. Sementara itu, di Suriname, pemeluk Islam mencapai 16 persen dari total penduduknya, dan menjadi populasi Muslim terbesar di benua Amerika.[12]

  1. Pesatnya penyebaran Islam di Eropa dan Amerika

Pesatnya penyebaran Islam di Eropa dan Amerika muncul terutama setelah serangan terhadap World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2001 silam. Ketertarikan secara alamiah clan rasa ingin tahu yang mendalam telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam.[13]

Apabila kita lihat lebih seksama lagi, perkembangan Islam di Amerika dan Eropa merupakan yang paling pesat untuk saat ini dibandingkan dengan benua-benua yang lainnya. Lebih dari itu, perkembangan Islam di Eropa saat bahkan telah merasuki elemen-elemen penting dari kehidupan di sana, tak terkecuali di ranah sepak bola. Eropa terkenal dengan olahraga sepak bolanya, banyak pula pemain bola terkenal di tanah Eropa yang memilih untuk bergama Islam.[14]

  1. Kemudahan Menjadi Muslim di Amerika

Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu.[15]

  1. Mesjid terbesar di Amerika Serikat

Penduduk Muslim memang tidak banyak di AS, tapi ini bukan berarti negara adidaya ini tidak memiliki masjid megah. Berkunjunglah ke Islamic Center of America. Inilah masjid paling megah di AS. Mungkin selama ini tidak banyak yang tahu kalau AS memiliki tempat ibadah umat Muslim yang cukup megah. Berada di 19500 Ford Road, Dearborn, Michigan, Islamic Center of America (ICoA) berdiri dengan megah dan gagahnya. Ini adalah masjid sekaligus pusat kegiatan umat Muslim terbesar di AS. Ternyata, Islamic Center of America bukan sekadar tempat untuk belajar agama saja, tetapi juga tempat ibadah yang ramai dikunjungi umat Muslim. Kawasan Islamic Center of America berdiri di atas tanah seluas 21.000 m2. Tak heran kalau ICoA disebut-sebut sebagai masjid paling megah di AS.[16]

Jumlah masjid di Amerika Serikat bertambah sebanyak 74 persen sejak tahun 2000. Pada 2000, tercatat 1.209 masjid di seluruh negeri Paman Sam. Jumlah masjid meningkat menjadi 2.106 masjid pada 2010. Sebanyak 56 persen dari masjid tersebut mengkaji pendekatan harfiah untuk menafsirkan isi Alquran. Data tersebut berdasar surveyiterbaru dari koalisi kelompok sipil Islam, cendekiawan dan kelompok non-Muslim.[17]

Negara bagian yang memiliki jumlah masjid paling banyak adalah New York (257), disusul oleh California (246) dan Texas (166). Sebagian besar masjid berada di perkotaan, 28% berada di pinggir kota pada 2010, naik 16% dari sepuluh tahun lalu.[18]

komunitas muslim Indonesia membeli gereja First Church di Georgia Av, Silver Spring, Maryland  dan mengubahnya  menjadi masjid,  sebenarnya bukan hal baru di Amerika.  Sebelumnya komunitas muslim  negara-negara Afrika  Timur juga melakukan hal yang sama. Mereka membeli sebuah gereja  tua  St. John di negara bagian Minnesota untuk kemudian dirubah menjadi masjid. Gereja itu dijual  dengan alasan yang sama, karena ditelantarkan jemaahnya.[19]

  1. Jamaah Haji asal Amerika Serikat

Para jemaah haji Amerika Serikat berasal dari berbagai negara bagian. Kepergian mereka ke tanah suci dalam satu kelompok terbang dengan Dar El Salam Tours and Travel. Perusahaan biro jasa wisata ini telah berpengalaman selama 25 tahun menangani perjalanan haji dan berkantor di New York, Los Angeles, Houston, serta Toronto.[20]

Sekitar 11 ribu Muslim asal Amerika Serikat menunaikan ibadah haji tahun ini. Muslim keturunan Afrika mendominasi hampir 30 persen dari total populasi Muslim Amerika, 25 persen di antaranya berasal dari Arab, dan sisanya berasal dari Turki dan Eropa.[21]

Pelaksanaan haji di AS pada umumnya dikerjakan oleh agen perjalanan haji dan dilaksanakan atas nama agen tersebut, Imam masjid setempat yang ditunjuk sebagai perwakilan dan bukan atas nama negara sebagaimana jemaah haji asal Indonesia yang dibawahi langsung oleh negara, mulai dari urusan terkecil hingga terbesar yang berkenaan langsung dengan jemaah haji asal AS. Biasanya, calon jemaah haji dapat langsung mengisi formulir pendaftaran, mengetahui harga dan membandingkannya dengan agen perjalanan lainnya di Amerika, mengetahui persyaratan, hingga belajar manasik haji, melalui web masing-masing agen perjalanan.[22]

[1] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/05/27/oql6kz384-rex-tillerson-tolak-acara-sambut-ramadhan-di-kemenlu-as

[2] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/03/25/onc5f5361-pandangan-lipi-soal-hubungan-trump-dan-dunia-muslim

[3] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/03/27/ongs65335-rezim-trump-yang-buat-muslim-as-dihantui-ketakutan

[4] http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/02/mfz7r7-kekerasan-terhadap-muslim-meningkat-di-amerika

[5] http://parstoday.com/id/news/world-i27982-diskriminasi_muslim_amerika_serikat

[6] http://www.voaindonesia.com/a/kunjungi-masjid-obama-kecam-kekerasan-terhadap-muslim-amerika/3176326.html

[7] http://internasional.kompas.com/read/2015/12/08/15313901/Warga.Amerika-Muslim.Minta.Donald.Trump.Stop.Lontarkan.Tuduhan

[8]  http://internasional.kompas.com/read/2017/03/22/08300061/surat.terbuka.atlet.muslim.as.untuk.presiden.donald.trump?page=all

[9] http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/03/15/o431n8313-populasi-muslim-amerika-terus-meningkat

[10] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/01/08/o0n44j361-islam-akan-jadi-agama-terbesar-kedua-di-amerika

[11] http://aceh.tribunnews.com/2017/02/03/islam-di-amerika-serikat

[12] https://americacontinent.wordpress.com/tag/httppustakaaisyah-comperkembangan-islam-di-eropa-dan-amerika/

[13] https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-pesatnya-penyebaran-islam-di-eropa-dan-amerika.html

[14] http://mirajnews.com/2016/04/saat-islam-bersinar-di-amerika-dan-eropa.html/112538

[15] http://dakwahsyariah.blogspot.co.id/2014/03/kehidupan-umat-islam-di-amerika.html

[16] http://www.atjehcyber.net/2012/08/ini-dia-masjid-termegah-di-amerika.html

[17] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/04/m0c030-alhamdulillah-jumlah-masjid-di-amerika-serikat-terus-bertambah

[18] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/292617-survei-jumlah-masjid-di-as-naik-74

[19] http://atjehpost.co/berita2/read/Kisah-Gereja-gereja-Amerika-yang-Berubah-Jadi-Masjid-11024

[20] https://m.tempo.co/read/news/2010/11/25/136294390/jemaah-amerika-serikat-terkesan-dengan-manajemen-haji

[21] http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/16/09/13/odenng313-11-ribu-muslim-amerika-tunaikan-ibadah-haji

[22] http://www.gomuslim.co.id/read/news/2016/06/30/792/mudahnya-pergi-haji-di-amerika.html


Ditulis dalam Uncategorized

HIKMAH PUASA

Hikmah Puasadimensi iman

Apa yang ada di dalam Islam? Hidayah. Wujudnya adalah al-Quran dan Rasulullah. Apa yang ada di dalam kehidupan? Manusia. Wujudnya Jiwa dan harta. Apa titik temu antara Islam dengan Kehidupan? Iman. Wujudnya adalah kepatuhan dan pengorbanan. Kepatuhan artinya apa yang datang dari Rasulullah maka diambil, sehingga kuatlah iman. Pengorbanan artinya apa yang ada di dalam kehidupan diserahkan untuk Islam, sebagai bukti iman. Orang beriman memang dituntut untuk berkorban harta dan jiwa untuk kemuliaan Islam.

Puasa merupakan tuntutan Islam atas orang-orang yang beriman. Shaum menuntut kepatuhan diri. Lalu pengorbanannya apa? Yaitu melakukan amalan-amalan yang dapat menunjang puasa kita selama bulan Romadlan. Misalnya dengan banyak bersedekah dan membaca al-Quran. Semua itu merupakan pengorbanan.

Orang-orang yang shaum merupakan orang-orang yang beriman. Karena beriman itulah maka mereka melaksanakan shaum. Lalu apa manfaat yang dapat mereka raih dengan melakukan shaum?

Pertama, iman mereka akan meningkat. Demikianlah, jika perintah agama ditaati karena keimanan, maka keimanan itu akan bertambah. Kedua, mereka akan sampai kepada kemuliaan di hadapan Allah. Hal ini karena shaum merupakan tangga menuju takwa, sedangkan takwa tiada lain merupakan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Ketiga, mereka akan beroleh kebenaran dalam setiap menghadapi kehidupannya. Sebab, orang yang beriman dan taat kepada Allah maka doa-doanya akan dikabul Allah. Doa itu pada dasarnya adalah permohonan agar diberikan jalan keluar yang tepat atas masalah yang dihadapi.

Ilmu adalah penjelasan tentang suatu hal secara benar dan telah sampai ke dalam jiwa. Maka orang-orang yang melaksanakan shaum, agar shaumnya itu dapat mengantarkan dirinya kepada ketakwaan, hendaklah, paling tidak ia memahami tiga konsep penting. Yaitu iman, shaum dan takwa. Jika ia memilik ilmu yang baik dan luas tentang ketiga konsep ini, maka ia telah memiliki perangkat yang cukup untuk melakukan shaum agar shaumnya benar-benar berkualitas.

Pertama, Iman. Apa itu iman? Iman itu secara konseptual adalah rukun iman atau akidah Islam. Sedangkan secara praktis yang disebut iman itu adalah keyakinan yang ada di dalam hati seorang hamba tanpa mengandung keraguan dan kejahilan terhadap Islam, kemudian menjadi cara dia berucap dan berbuat dalam kehidupannya.

Kenapa Iman harus dipahami? Karena untuk melaksanakan shaum, orang-orang mesti memiliki iman dulu. Kemudian mengukur apakah dirinya termasuk orang yang beriman ataukah tidak. Jika ia memang membenarkan al-Quran dan Rasulullah, maka ia secara otomatis akan melakukan shaum.

Kedua, shaum. Apa itu shaum? Shaum adalah menahan diri dari hal yang membatalkannya. Shaum hanya meninggalkan. Hampir tidak ada yang dilakukan dalam shaum, selain meninggalkan apa-apa yang membuatnya batal, juga mengikuti ketentuannya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa shaum merupakan ibadah yang paling ringan. Namun demikian tidak aka nada yang mau mengerjakannya. Selain mereka yang dikategorikan sebagai orang yang beriman.

Kenapa shaum harus dipahami? Seluk beluk shaum ini banyak sekali, semua ada bahasannya dalam kitab-kitab Fikih Islam. Maksudnya tiada lain, agar umat Islam melaksanakan shaum ini disertai dengan suatu sikap kesungguh-sungguhan dan perhatian.

Ketiga, takwa. Apa itu takwa? Takwa adalah sifat dan keadaan di mana taat, bersih hati dan takut kepada Allah menjadi ciri sejati dari penggambaran kualitas keimanan yang sangat tinggi. Ketakwaan itu adalah keadaan di mana ketataan kepada Allah merupakan prioritas utama dalam kehidupannya. Sehingga ia selalu melaksanakan perintah Allah apa pun perintah itu, dan menjauhi laranganNya. Yang menjadi tujuannya adalah Allah, jalannya adalah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya.

Kenapa takwa mesti dipahami orang yang shaum? Agar ia mengetahui bahwa ketaatan yang lebih sempurna kepada Allah merupakan perkara yang akan dituju oleh shaumnya. Shaum bukan bertujuan agar dunia lebih baik, sekalipun dengan shaum dunia akan lebih baik. Tapi bukan itu tujuannya. Shaum bertujuan agar orang-orang beriman lebih taat, lebih beriman lagi. Dan itu merupakan kebaikan bagi mereka.

Shaum merupakan proses mengolah iman agar berubah menjadi iman yang lebih baik yaitu takwa. Allah sediakan shaum sebagai metode untuk itu. Iman dan takwa, termasuk shaum itu sendiri merupakan perihal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia bahkan tidak memiliki apa pun untuk kebaikan hidupnya jiwa dalam kehidupannya tidak dibarengi iman dan takwa.

Orang-orang yang tidak beriman, pasti tidak akan mau melaksanakan shaum, tidak pula ia memiliki kepentingan dengan takwa yang akan diraihnya. Maka ia pun tidak akan memiliki perhatian terhadap ilmu-ilmu tentang shaum, iman dan takwa. Sumber-sumber ilmu dan tempat-tempat dibahasnya ilmu tentang keimanan, keislaman dan ketakwaan, tidak akan menjadi pusat perhatian dirinya.

Ia akan lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan iman, shaum dan takwa.

Kepada orang-orang yang seperti ini, yaitu orang-orang yang tidak beriman, tidak melaksanakan shaum, tidak pula berupaya menambah ilmu Islam dan tidak peduli dengan ketakwaan yang mesti diraihnya, saya ingin mengatakan bahwa hidup ini terlalu disayangkan kalau hanya untuk sekedar mengejar kesenangan dunia, kesesatan dan laknat. Pergunakanlah akal fikiran dan merenunglah mengapa kita ada di dunia, padahal kita tidak memiliki kuasa apa-apa. Renungkan pula tentang kehidupan di akhirat kelak, punya apa kita kalau tidak memiliki curahan rido dan kasih sayang dari Allah.

Iman adalah bertauhid kepada Allah, mengikuti tuntunan wahyu dan Rasulullah, serta berniat ikhlas dalam melaksanan tuntutan iman. Shaum merupakan amalan sekaligus bukti keimanan. Maka agar shaum yang kita laksanakan itu membawa kepada ketakwaan, maka lakukan shaum itu dengan ikhlas.

Apa itu ikhlas? Ikhlas itu bekerja untuk Allah. Shaum jika dikerjakan atas dasar ilmu, dan dikerjakan dengan ikhlas, maka kemungkinan meraih takwa dengannya lebih besar harapannya.


Ditulis dalam Uncategorized

FILSAFAT HIDUP ISLAM

metode Iqro

 A.     REAL ONTOLOGIS

ALLAH, ALAM, PERTEMUAN

Yang benar-benar ada itu:

Allah, alam semesta atau kehidupan, dan pertemuan dengan Allah.

B.     IDEAL AKSIOLOGIS

IBADAH, PERTOLONGAN, HIDAYAH

Manusia baik, bila ia beribadah, beristi’anah dan beroleh hidayah.

C.     METODE EPISTEMOLOGIS

DIINUL ISLAM, JALAN YANG LURUS, TELADAN, NIKMAT, ILMU DAN IKHLAS

Manusia tahu, bila ia tahu Islam dan Rasulullah. Sehingga ia tahu Allah, ilmu dan Ikhlas.

D.     NOUMENA

JAHIL, LAKNAT, SESAT

Manusia bila tidak tahu Islam dan Rasulullah, maka ia tidak tahu Allah. Tidak tahu Allah berarti ia jahil, laknat dan sesat. Sifat pengikut hawa nafsu, Yahudi dan Nasrani.


Ditulis dalam Uncategorized

SITUASI UMAT ISLAM KONTEMPORER

A.     Sebab Kemunduran Umat Islam

 

Mengapa Umat Islam sedemikian terbelakangnya saat Eropa mengalami kebangkitan?

Jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan As Sunnah

Taklid (ikut-ikutan)

Terjadinya perpecahan di kalangan umat

Adanya pertempuran antara haq dan batil[1]

 

Syekh Amir Syakib Arsalan menulis tentang sebab kemunduran umat Islam:

Ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits

Ummat Islam tidak bersatu, tapi berpecah-belah

Mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati

Hilangnya semangat Jihad

Tidak mandiri di bidang ekonomi

Ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas bersama

Ummat Islam gagal menemukan hal yang bermanfaat

Ummat Islam tidak menguasai media massa[2]

 

Faktor penyebab yang terbesar dan terpenting sebagai faktor kemunduran umat Islam, yaitu:

Kebodohan

Kerusakan Budi Pekerti

Kebejatan Moral dan kerusakan budi pekerti para pemimpinnya.

Sikap penakut dan pengecut[3]

 

B.     Situasi Mundurnya Umat Islam

 

Tidak memiliki Khilafah

Dibantai dan dijajah

Kelemahan di Berbagai Bidang

Mengikuti Tabiat Laknat, Sesat dan Jahil

C.     Kabar Gembira Perkembangan Islam

 

 

Agama paling Pesat Perkembangannya di Dunia, terutama Eropa dan Amerika

 

Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim.[4]

 

Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa. Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291).[5]

Islam menjadi agama yang paling pesat perkembangannya, mulai dari 1,6 miliar di tahun 2010 menjadi 2,76 miliar pemeluknya di tahun 2050. Dengan begitu, pemeluk Islam akan menjadi satu pertiga jumlah populasi dunia.[6]

Dalam 30 tahun terakhir, jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia telah meningkat pesat. Sebuah angka statistik menunjukkan, pada tahun 1973 penduduk Muslim dunia sekitar 500 juta jiwa. Namun, saat ini jumlahnya naik sekitar 300 persen menjadi 1,57 miliar jiwa. Tercatat, satu dari empat penduduk dunia beragama Islam.[7][8]

 

Perdagangan Produk Halal Meningkat

 

Kesadaran penduduk Muslim dunia untuk mengkonsumsi produk halal semakin meningkat. Sehingga mendorong terhadap perdagangan produk halal yang saat ini mencapai hingga 1,3 miliar dolar AS. Diperkirakan perdagangan produk halal akan terus meningkat kedepannya.[9]

Lembaga survei dari Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life memproyeksikan total penduduk muslim dunia meningkat dari 1,6 miliar jiwa pada 2010  menjadi 2,2 miliar pada 2030. Wilayah konsumen utama produk halal berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.[10]

Pasar makanan halal di Prancis ditujukan kepada warga Muslim, yang saat ini mencapai sekitar 5.5 juta. Tentu saja jumlah itu menarik minat pedagang retail dan pengusaha restoran. Pengamat pasar dan keuangan menilai pertumbuhannya sangat pesat. [11]

Jilbab Semakin Mendunia

 

Jilbab kini menjadi tren baru yang marak digemari dalam dunia fesyen barat. Banyak disainer kondang dan industri terbesar di barat mulai melirik tren yang lagi naik daun ini. Mereka merancang berbagai mode kerudung dan kerudung yang bisa menjadi jilbab untuk orang Islam. Rumah mode terkenal D&G dan nama besar lain di industri mode seperti Paul Smith, Vera Wang dan Jean Paul Gaultier, kini memimpin mode baru ini dengan desain-desain mereka.[12]

Dolce and Gabbana, H&M, Pepsi, dan Nike termasuk di antara merek atau perusahaan yang membuat koleksi bagi para Muslimah. Iklan perempuan yang mengenakan kerudung dan jilbab sudah masuk ke ruang-ruang publik. H&M sudah menggunakan model Muslim di berbagai iklan mereka dan sejumlah merek juga telah meluncurkan ‘Koleksi Ramadan’ dengan harapan bisa menarik lebih banyak konsumen Muslim untuk membelanjakan uang mereka selama bulan suci.[13]

Busana hijab yang semakin trendi terus menjadi perbincangan di seluruh dunia. Perkembangan ini juga diiringi dengan meningkatnya jumlah label fashion muslim di dunia. Salah satunya, label busana muslim asal Amerika yang kiprah bisnisnya sudah terkenal mendunia.[14]

 

Aksi Belas Islam 212

 

Aksi doa bersama yang diadakan hari ini, Jumat (2/12) telah menyedot perhatian tak hanya media lokal, namun juga internasional.[15]

Aksi demonstrasi 212 yang bertema ‘Bela Islam Jilid III’ di silang Monumen Nasional, Jakarta, Indonesia, menjadi perhatian para media asing. Situs berita asal Inggris, Dailymail misalnya. Dalam artikel berjudul “Indonesia Blasphemy Protest Swells to Crowd of 200,000”, menuliskan bahwa ratusan ribu orang telah berkumpul di area Monas dan membentuk lautan manusia yang tumpah ruah di jalan-jalan.[16]

Aksi 212 tidak hanya mendapat apresiasi secara nasional, namun juga menjadi perhatian dunia internasional. Bagaimana tidak, aksi yang diikuti jutaan massa itu berjalan tertib, damai bahkan tidak meninggalkan sampah dan tidak pula merusak taman. Di antara media internasional yang meliput secara obyektif Aksi 212 hingga menampilkan tuntutan “tangkap ahok” adalah Aljazeera.[17]

 

Perkembangan Bank Syariah

 

Perkembangan bank syariah di dunia maupun di Indonesia cukup menggembirakan. Baik dari sisi jumlah, maupun dari sisi aset. Kemunculan Islamic Bank ini sering dihubungkan dengan kebangkitan dunia Islam. Ide dasar Islamic Bank bukan hanya terletak pada larangan pengenaan bunga atau riba saja. Islamic Bank menunjukkan bahwa etika dan finance dapat terhubung untuk melayani masyarakat.[18]

Di tengah-tengah krisis keuangan global yang melanda dunia dengan sistem ekonomi kapitalisnya, lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis. Lembaga-lembaga keuangan syariah tetap stabil dan memberikan keuntungan, kenyamanan serta keamanan bagi para pemegang sahamnya, pemegang surat berharga, peminjam dan para penyimpan dana di bank-bank syariah. Bahkan industri keuangan syariah malah mengalami pertumbuhan sebesar 1 triliun dollar.[19]

Potensi pasar yang besar bagi kegiatan perbankan islam, telah membuka cakrawala baru bagi bank-bank yang berasal dari negara-negara nonmuslim untuk membuka islamic devision dibank tersebut. Hal ini dilakukan, misalnya oleh Citibank, Chase Mahattan Bank, ANZ Bank, dan Jardine Fleming. Mengingat bank Islam sekalipun melakukan kegiatan nya berdasarkan syariah atau hukum Islam, tetapi karena boleh pula melayani siapa saja termasuk yang nonmuslim, maka jasa-jasa perbankan Islam telah dirintis oleh bank-bank tersebut diatas sebagai pilihan pembiayaan. Bahkan di Eropa yang notabene sebagian besar masyayrakatnya nonmuslim, bank Islam tumbuh dengan pesat.[20]

Kini, perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menyebar ke banyak negara, bahkan ke negara-negara Barat,  seperti Denmark, Inggris, Australia  yang berlomba-lomba menjadi Pusat keuangan Islam Dunia (Islamic Financial hub) untuk membuka bank Islam dan Islamic window agar dapat memberikan jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.[21]

 

Pengakuan Barat terhadap Kehebatan Islam

 

Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyelidikan telah menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”[22]

Ahli Ekonomi mulai mengakui bahwa Sistem Ekonomi Syariah adalah jawaban untuk mengatasi krisis ekonomi dunia dan ketidakadilan. Beberapa Negara besar seperti Amerika yang selama ini banyak mengeksploitasi Negara-negara miskin justru mulai mengalami kesulitan keuangan, bahkan kota Detroit baru-baru ini dinyatakan bangkrut karena terlilit utang sebesar $ 20 milyar.[23]

Tim Wallace-Murphy menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain, adalah atas jasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta.[24]

Selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi. Cukup beralasan jika kita mengatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri.  Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya Barat bukan apa-apa. Peradaban berhutang besar kepada Islam. [25]

 

Sains Membuktikan Kebenaran Al-Quran

 

Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan.  Kejaibannya, meski Alquran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Alquran yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah.[26]

Dalam perkembangannya hingga pada abad ke-19 dan 20, masih banyak ilmuwan Barat yang masih bersusah payah menolak kebenaran adanya tuhan dan agama; menolak risalah Alquran dan Injil. Para ilmuwan kenamaan dunia itu hanya hidup di atas nama ilmu pengetahuan yang mereka anggap serba ilmiah, dan dihasilkan dari sebuah penelitian massif. Namun, secara tidak sengaja mereka menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi, sesuatu yang kemudian membuka mata hati mereka kepada tuhan, maka munculnya teori Big Bang pada 1929 yang membuka mata rantai antara sains dan ketuhanan.[27] [28] [29]

Sains membuktikan kebenaran al-qur’an melalui air laut selat gibraltar.[30] Ilmu sains membuktikan kebenaran al-quran.[31] Fakta-fakta sains yang klop antara ilmuwan dengan penjelasan alquran.[32] Penemuan sains membuktikan kebenaran al-quran.[33] Sains salah satu cara pembuktian kebenaran al-qur’an melalui penciptaan alam semesta.[34] llmuwan yang dikejutkan kebenaran al-qur’an.[35]

 

Pengakuan Tokoh Dunia terhadap Kehebatan Nabi Muhammad Saw

 

Mahatma Gandhi “Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya.”[36]

Thomas Charlilly, “Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa masih ada saja orang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu”. [37] [38]

Michael Hart, “Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Dia menyiarkan risalah Islam dan kini menjadi agama terbesar di muka bumi ini. Dia adalah pemimpun politik dan panglima tentara yang briian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Kini, setelah tiga belas abad kepergian Muhammad, pengaruhnya tetap eksis dan pengikutnya terus bertambah”.[39]

Dalam bukunya Heroes and Heroworship tersebut, tokoh dunia yang lain Sir George Bernard Shaw juga mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah saw. Ia mengatakan bahwa “Muhammad adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya. Beliau juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.”[40]

 

D.    Semangat Menyongsong Kejayaan Islam

 

Islamisasi Ilmu

 

Gagasan islamisasi, sebagai fenomena modernitas, menarik untuk dicermati dan menjadi great project bagi kalangan masyarakat Muslim. Gagasan ini muncul untuk merespons perkembangan pengetahuan modern yang didominasi peradaban Barat non-Islam. Dominasi peradaban sekuler menjadi faktor dominan dari kemunduran umat Islam. Padahal, dalam sejarah awal perkembangannya, umat Islam mampu membuktikan diri sebagai kampiun pertumbuhan peradaban dan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam terus memudar seiring dengan merosotnya kekuasaan politik Islam. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Barat, secara tidak langsung, berimplikasi positif bagi dunia Islam. Paling tidak, dunia Islam sadar akan terbelakangnya peradaban dan ilmu pengetahuan di kalangan mereka. Sehingga, berangkat dari kesadaran dimaksud, pada awal abad kedua puluh Islam mengalami dinamika baru melalui reorientasi dan transformasi ajarannya.[41]

Selanjutnya, secara umum islamisasi ilmu tersebut dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan Islam yang “terlalu” religius, dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan di antaranya. Kegiatan al-Faruqi dalam masalah islamisasi didorong oleh pendapatnya bahwa ilmu pengetahuan dewasa ini sudah sekuler dan jauh dari kerangka tauhid. Untuk itu dia menyusun kerangka teori, metode dan langkah-langkah praktis menuju islamisasi ilmu pengetahuan. Sejalan dengan itu, dia juga menyerukan adanya perombakan sistem pendidikan islam yang mengarah kepada islamisasi ilmu pengetahuan dan terciptanya paradigma tauhid dalam pengetahuan dan pendidikan.[42]

Islamisasi Ilmu berarti pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekuler, dan dari makna-makna serta ungkapan manusia-manusia sekuler. Dan dalam pandangan al-Attas, setidaknya terdapat dua makna Islamisasi yaitu Islamisasi pikiran dari pengaruh ekternal dan kedua Islamisasi pikiran dari dorongan internal. Yang pertama pembebasan pikiran dari pengaruh magis (magical), mitologis (mythology), animisme (animism), nasional-kultural (national cultural tradition), dan paham sekuler (secularism). Sedangkan yang kedua adalah pembebasan jiwa manusia dari sikap tunduk kepada keperluan jasmaninya yang condong mendzalimi dirinya sendiri, sebab sifat jasmaniahnya lebih condong untuk lalai terhadap fitrahnya sehingga mengganggu keharmonian dan kedamaian dalam dirinya yang pada gilirannya menjadi jahil tentang tujuan asalnya. Jadi Islamisasi bukanlah satu proses evolusi (a process of evolution) tetapi satu proses pengembalian kepada fitrah (original nature).[43]

 

Dakwah Manca negara

 

Nabi Muhammad Saw menyebarkan Islam melalui konsep dakwah. Data Kehebatan dan keistemewaan nabi muhammad dalam memimpin strategi dakwah Islam ke seluruh dunia, dapat dibaca di footnote ini.[44]

Semenjak awal Islam didakwahkan, semangat untuk membumikan Islam tetap terasa. Pada masa Rasulullah saw. penyebaran Islam telah jauh menyeberang wilayah yang beliau kuasai. Sebelum Islam diterima dengan baik oleh warga Mekah, dakwah Islam telah menyeberang sampai ke Habsyah yang saat ini kita kenal sebagai negara Etiopia.[45]

Mengikuti perkembangan dunia dakwah di Indonesia saat ini , ada fenomena menarik yang patut kita cermati, yaitu munculnya berbagai harokah ( gerakan dakwah dunia ) yang bersifat transnasional. Ideologi gerakan mereka tidak lagi bertumpu pada konsep nation-state, melainkan konsep umat. Dalam hal pemikiran di dominasi oleh corak pemikiran skripturalis, fundamentalisme atau radikal. Namun secara parsial mereka mengadaptasi gagasan dan instrumen modern. Harokah tersebut adalah jamaah tablig, Al-Ikhwan Al-Muslimun, Hizb At-Tahrir dan Dakwah Salafi.[46]

Dakwah sunnah di Belanda juga diramaikan dengan berbagai pengajian yang membahas kitab-kitab para ulama ahlus sunnah dalam bidang tauhid, aqidah, fiqih, tafsir, akhlak, bahasa Arab, dan sebagainya.[47]

Perkembangan umat Islam di Jerman terbilang sangat cepat, sehingga dalam sebuah penelitian sekitar 40% penduduk Jerman yang dibawah 18 tahun sudah memeluk agama Islam. Kekuatan Islam di sini sangat kuat karena menyatukan berbagai kelompok yang ada dan bisa menambah percaya diri umat Islam di sini k menyebarkan ajaran Islam lebih luas lagi.[48]

Banyaknya imigran muslim yang merantau dan menetap di Eropa selanjutnya menjadi cikal bakal berkembangnya islam di zaman modern. Tidak hanya itu banyak pelajar muslim yang kemudian pergi dan menetap di Eropa untuk menuntut ilmu. Kemudian berdirilah organisasi islam yang disebut Young Muslim Association in Europa (YMAE). Organisasi tersebut bertanggung jawab untuk mengembangkan dakwah dan upaya mengenalkan islam kepada masyarakat Eropa. Banyaknya masjid dan makanan halal yang tersedia di Eropa adalah salah satu bukti berkembangnya islam di benua ini.[49]

 

 

 

[1] https://saripedia.wordpress.com/2012/05/24/4-faktor-penyebab-kemunduran-ummat-islam/ (25-5-17)

[2]  https://id-id.facebook.com/notes/david-kurniawan/sebab-sebab-saat-ini-islam-mengalami-kemunduran/10151621012943052/

[3] http://hergianiq.blogspot.co.id/2012/11/faktor-penyebab-kemunduran-islam.html

[4] https://dhymas.wordpress.com/satu-bantahan-lagi-terhadap-dongeng/agama/islam-agama-yang-berkembang-paling-pesat-di-eropa/

[5] http://telecenterdaragati.malangkota.go.id/artikel/islam-agama-yang-berkembang-paling-pesat-di-eropa/

[6] http://internasional.kompas.com/read/2015/04/07/02103571

[7] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/07/28/127108-islam-berkembang-begitu-pesatnya-di-eropa-dan-amerika

[8] http://metroislam.com/perkembangan-islam-di-eropa-dan-faktanya/

[9] http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/14/07/10/n8hgzu-kesadaran-masyarakat-dunia-konsumsi-makanan-halal-meningkat

[10] https://m.tempo.co/read/news/2017/04/12/090865431/perdagangan-produk-halal-dunia-diperkirakan-capai-3-7-t-pada-2019

[11] http://m.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2010/04/16/43197/perdagangan-makanan-halal-di-prancis-diprediksi-meningkat.html

[12] https://kaferemaja.wordpress.com/2008/08/02/jilbab-semakin-mendunia-bukti-kebenaran-islam/

[13] http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39804108

[14] https://www.halallifestyle.id/fashion/enam-label-busana-hijab-asal-amerika-yang-mendunia

[15] https://www.merdeka.com/dunia/aksi-doa-bersama-212-di-indonesia-jadi-perhatian-dunia-internasional.html

[16] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/855146-aksi-212-di-monas-tarik-perhatian-media-internasional

[17] http://www.tarbiyah.net/2016/12/aksi-212-jadi-perhatian-dunia-ini.html

[18] http://metrojambi.com/read/2017/04/29/20564/bank-syariah-dan-kebangkitan-dunia-islam

[19] http://www.kompasiana.com/hasbulloh/perbankan-syariah-di-dunia-muslim_54ffc0fd813311046efa6f73

[20] http://bacaanmykuliah.blogspot.co.id/2016/07/sejarah-dan-perkembangan-bank-syariah.html

[21] http://ekonomiislam.id/sejarah-perkembangan-perbankan-syariah-modern/

[22] http://www.reportaseterkini.net/2016/06/mengejutkan-ini-dia-pengakuan-barat.html

[23] https://www.facebook.com/IlmuVora/posts/604657499578839

[24] http://defahrudi.com/index.php/2015/10/24/hutang-barat-terhadap-islam/

[25] http://imuelputra.blogspot.co.id/2016/01/pengakuan-tokoh-barat-terhadap.html

[26] http://mujahidah213.blogspot.co.id/2015/03/fakta-ilmiah-kebenaran-al-quran-dalam.html

[27] http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/05/11/o6z79y361-8-ilmuwan-yang-dikejutkan-oleh-kebenaran-alquran

[28] https://macanpamulang12.wordpress.com/2014/02/17/kebenaran-al-quran-dalam-sains-modern-dan-kontradiksi-kesalahan-injil-dalam-ilmiah-sains-modern/

[29] https://msulhan.wordpress.com/tag/bukti-kebenaran-alquran-lewat-sains/

[30] http://www.ahmaddahlan.net/2016/05/kajian-filsafat-air-laut-Selat-Gibraltar-sains-islam-al-quran.html

[31] http://dinimon.com/ilmu-sains-membuktikan-kebenaran-kitab-alquran.html

[32] https://www.brilio.net/news/fakta-fakta-sains-yang-klop-antara-ilmuwan-dengan-penjelasan-alquran-1504173.html

[33] https://prezi.com/5n46ohvon2uz/penemuan-sains-membuktikan-kebenaran-al-quran/

[34] http://cyberdakwah.com/2013/06/sains-salah-satu-cara-pembuktian-kebenaran-al-quran-melalui-penciptaan-alam-semesta/

[35] http://mabdriez.blogspot.co.id/2016/11/ilmuwan-yang-dikejutkan-kebenaran-al-qur.html

[36] http://www.fimadani.com/muhammad-saw-di-mata-para-tokoh-dunia/

[37] http://www.fimadani.com/muhammad-saw-di-mata-para-tokoh-dunia/

[38] https://catatansomen.blogspot.co.id/2012/07/pengakuan-7-tokoh-dunia-terhadap-nabi.html

[39] http://www.dictio.id/t/mengapa-nabi-muhammad-menempati-peringkat-pertama-diantara-100-orang-berpengaruh-di-dunia/7060

[40] http://aceh.tribunnews.com/2014/01/15/nabi-muhammad-dan-peradaban-dunia

[41] https://sudiryona.wordpress.com/about/islamisasi-ilmu-pengetahuan-islam/

[42] http://zuckyam.blogspot.co.id/2015/12/islamisasi-ilmu-pengetahuan.html

[43] https://ikhwanmr.blogspot.co.id/2016/02/islamisasi-ilmu-pengetahuan.html

[44] http://www.kompasiana.com/azmatkhan/peta-dakwah-nabi-muhammad-para-sahabat-ke-seluruh-dunia_552bfabe6ea8345d088b45a2

[45] http://pendidikan60detik.blogspot.co.id/2015/06/perkembangan-islam-di-dunia.html

[46] https://selembartiketsyurga.wordpress.com/2014/12/14/gerakan-dakwah-terbesar-saat-ini/

[47] https://muslim.or.id/26690-perkembangan-dakwah-sunnah-di-belanda.html

[48] http://www.qolbunhadi.com/sejarah-perkembangan-islam-di-eropa/

[49] http://dalamislam.com/sejarah-islam/perkembangan-islam-di-eropa


Ditulis dalam Uncategorized
Laman Berikutnya »