Filsafat Berfikir

MENCINTAI KEBIJAKSANAAN | Juli 20, 2009

MENCINTAI KEBIJAKSANAAN
Oleh: Ading

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani (philo dan shophia) artinya cinta pada kebijaksanaan. Kenapa kebijaksanaan begitu dicintai? Setiap orang ingin hidup mulia, bahagia dan benar. Ketiga hal ini terkumpul dalam kebijaksanaan, baik sebagai proses atau sebagai hasilnya. Alasan mengapa kita mesti belajar dan mengenal filsaat, agar hari-hari kita senantiasa diisi oleh kebenaran, kebahagiaan dan kemuliaan.

A. Tanda-tanda Orang yang Cinta

Orang yang jatuh cinta itu aneh. Bertemu dengan kekasih menangis, berpisah pun menangis, kata seorang pujangga. Bertemu menangis karena takut berpisah; berpisah menangis karena sangat berharap bertemu. Ya, tanda cinta itu, takut dan harap. Kebijaksanaan merupakan hal yang dicintai oleh para filsuf. Filsuf sejatinya adalah orang yang sangat cinta, harap dan takut kepada Tuhan, sebab Dia merupakan sumber dari kebijaksanaan. Tapi juga bisa menjadi seorang yang sangat benci, sombong dan nekat pada Tuhan yang telah menciptakannya. Bisa terjadi hal ini, dikarenakan tindakan manusia tak semata mengikuti akal fikirannya. Akal itu bekerja dalam suatu pengawasan fitrah atau nafsu. Tipe pertama adalah filsuf yang menggunakan akalnya dibawah kendali fitrah, yang terakhir merekalah yang akalnya dikendalikan nafsu. Tidak ada paksaan seseorang hendak memilih tipe yang mana. Yang benar dengan yang salah sudah dijelaskan kepada manusia, sebagaimana manusia dalam hal menangkapnya, seperti membedakan antara siang dengan malam.

B. Bila Kau Jatuh Cinta

Cinta itu nikmat dan sakit. Seseorang akan merasakan kenikmatan apabila bertemu dengan apa yang dicintainya. Secara otomatis akan merasakan kesakitan ketika berjauhan, oleh suatu sebab, dengan yang dicintainya. Maka orang yang cinta akan senantiasa berusaha untuk berdekatan, bermesraan dengan yang dicintainya. Seseorang akan merasakan kesakitan hanya jika pernah merasakan kenikmatan, dan karenanya segenap daya upaya tiada yang tersisa melainkan untuk dipersembahkan kepada yang dicintainya. Cinta palsu ialah di mulutmu kau katakan cinta, tetapi dalam tingkahlakumu, kau abaikan dia. Seorang pecinta sejati ialah seorang yang setia, rela berkorban, dan itu dilakukannya karena ia berkeyakinan bahwa di suatu masa nanti ia akan menemukan kebahagiaan, kemuliaan dan keteguhan dalam kebenaran. Bila kau jatuh cinta, bahkan jiwamu, kau relakan jadi tebusannya, asal kebenaran tetap di bersama jiwa itu.

C. Sumber Kebijaksanaan

Allah adalah sumber segala kebijaksanaan, kecermatan, kasihsayang, kualitas terbaik, dan peredam segala konflik. Dia adalah Yang Awal, Yang Akhir. Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Dititipkannya sifat-sifat itu ke dalam jiwa manusia dalam kadarnya sebagai makhluk. Dia titiapkan pula pada makhluk yang bernama manusia itu berupa alam dan Al-Quran. Jiwa, alam dan al-Quran itu sumber kebijaksanaan yang dapat kita akses setiap waktu. Bahkan Allah pun dapat kita akses ketika kita shalat dan bermunajat pada-Nya. Kalau kita kita mengakses Allah, sebenarnya Allah tetap mengakses segenap jiwa dan tubuh kita, untuk menjaganya dari kehancuran sampai datang kematian. Allah begitu Bijaksana, sekalipun manusia ada yang berkeyakinan bahwa Dia punya anak, Dia tetap memberikan kepada mereka makan.

D. Cabang Kebijaksanaan

Yang patut dicintai manusia, jika ingin mulia-bahagia-benar, ialah Agama Islam. Islam adalah apa-apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad merupakan sosok manusia yang paling mencintai kebijkasnaan. Beliau adalah manusia yang paling mulia-bahagia-benar. Bangunan filsafat didirikan di atas tiga cabang yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dan Agama Islam telah menetapkan sebaik-baiknya bangunan filsafat. Ontologinya: iman. Iman itulah yang menjelaskan realitas hakiki sehakiki hakikinya. Epistemologinya : Islam. Islam itulah yang merupakan jalan bagi diraihnya pengetahuan yang benar, cara yang benar dengan batas-batas yang benar pula. Aksiologinya: Ihsan. Tujuan segala keberadaan dan ilmu dalam kesadaran insani adalah: Ihsan. Kau beribadah kepada Allah. Dalam ibadah itu anggaplah kau lihat Allah, kalau tidak melihat-Nya, maka Dia tetap melihatmu. Kecintaan pada ketiganya, merupakan jalan untuk sampai pada kedudukan mutaqin, filsuf sejati.

E. Belajar dari Islam tentang Islam.

Realisasi pertama untuk mencintai ialah mengenal. Makin kenal kita pada syetan, makin sayang kita pada diri kita sendiri. Makin kenal kita pada Allah, makin sayang kita pada kebenaran dan kebijaksanaan. Kenal kita pada Islam harus serius. Caranya lewat belajar. Rukun Iman mengaktifkan akal kita untuk cerdas dalam hidup. Cerdas dalam hidup, ialah pertamakali meletakkan dasar pandangan hidup dengan sebaik-baiknya dasar. Rukun Islam mengaktifkan badan kita agar bisa membantu akal dan rasa. Lewat Islam kita jadi punya iman, jiwa, anak, harta dan akal yang suci. Dan lewat Ihsan maka kita jadi wakil Allah di muka bumi, sebab segenap rasa dan kesadaran benar-benar diletakkan di atas dasar :”Atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Semestinya lewat bacaan basmalah saja, kita sudah terangkat jadi manusia yang cinta kebijaksanaan sekaligus mulia, bahagia dan benar.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: