Filsafat Berfikir

FILSAFAT PERMAINAN | Agustus 3, 2009

FILSAFAT PERMAINAN
Oleh: Ading Nashrulloh

A. Pengantar
Inilah pekerjaan filsuf. Permainan difikirkan secara mendalam. Tokoh filsafat yang memikirkan secara mendalam tentang permainan dan diakui secara internasional hasil pemikiran-pemikirannya, adalah Prof. Johan Huizinga.

B. Berikut adalah pendapatnya tentang ciri-ciri permainan
1. Bermain selalu terjadi secara spontan. Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Permainan termasuk suasana waktu luang. Permainan adalah “bebas”, bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan.
2. Dengan bermain, orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu tidak sungguhan. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Permainan tidak mempunyai “kegunaan”.
3. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri, baik menurut waktu maupun menurut ruang. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri, terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. Keterbatasan menurut waktu tampak, karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu.
4. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah.
5. Setiap permainan mempunyai aturan-aturannya. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Utamanya, karena adanya aturan-aturan itu, permainan cenderung membentuk suatu “masyarakat bermain” yang melampaui waktu permainan saja. Disunting dari: (www.mercubuana.com)

C. Mempermainkan Agama
Dengan landasan teoritis tentang arti permainan, maka mempermainkan agama berarti bermain-main dalam beragama, yang konsekuensinya berarti bermain-main dalam keseluruhan hidup.
Ciri orang yang mempermainkan agama :
1. Menganggap agama bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan.
2. Agama diyakini tidak mempunyai “kegunaan”.
3. Beragama tetapi pada batas-batas tertentu, baik menurut waktu maupun menurut ruang. Keterbatasan itu mengakibatkan agama berdiri sendiri, terlepas dari kegiatan-kegiatan lain.
4. Ibadah dipandang sebagai satu bagian dari hidup.
5. Mereka akan berkumpul bersama kelompok orang-orang yang mempermainkan agama.

D. Siapakah Diri Kita ?
Termasuk orang yang bermain-main dalam beragama ? Ataukah orang yang mengagamakan permainan ? Mudah-mudahan tidak kedua-duanya.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: