Filsafat Berfikir

RENUNGAN TENTANG SENYUM | Agustus 5, 2009

RENUNGAN TENTANG SENYUM
Oleh : Ading Nashrulloh

Senyum adalah refleksi dari jiwa yang bersih. Jiwa yang bersih lahir dari sikap mengikuti kebenaran yang hakiki dan menjaganya dari kesesatan. Senyum yang lahir dari jiwa seperti ini akan mengongkosi rasa cinta yang bersih nan murni. Saat cinta telah bermekaran, maka tiadalah dendam, tiadalah pelit, tiadalah kesukaran untuk berbuat yang terbaik dan terindah dalam hidup ini. Secara kodrati, siapapun dianugrahi rasa cinta, dan untuk memperindah rasa cinta itu, banyak cara. Nanti kita akan tahu, bahwa cara apapun untuk menumbuhkembangkan cinta, tak akan pernah berseberangan dengan senyum. Senyum yang lahir dari mata air jiwa yang bersih hasil olahan mengikuti kebenaran dan menolak ketidakajegan. Kalau, nanti ada orang menempuh cara untuk mengungkapkan rasa cinta, lewat jalur, poros, metode, cara, jalan yang secara akali, normatif dan agama adalah salah, maka orang itu sebenarnya sedang berbuat dusta. Dia sebenarnya tidak cinta. Senyumnya palsu, jiwanya kotor.

Senyum adalah refleksi dari akal yang sehat. Akal yang sehat lahir dari sikap berfikir terus menerus, bertanya terus menerus, membaca terus menerus dan merefleksikan hasil renungan terus menerus. Orang yang kurang akalnya, memang masih bisa tersenyum. Karena senyum, sebagaimana cinta, secara fundamental adalah kodrati. Ketika yang kodrati itu kita asuh, kita asah, kita kasih ilmunya, latihannya, pemahamannya, maka akan semakin berkualitas. Demikian pula cinta, demikian pula senyum yang kita menej dengan baik, akan semakin bertambah kualitas dan eksistensinya. Berfikir, bertanya, membaca dan berrefleksi adalah metode terbaik untuk memenej akal kita, yang pada gilirannya nanti, kita akan terkejut dibuatnya, bahwa hasil dari akal yang kita menej itu membuahkan senyum yang amat bermakna. Senyum yang lahir dari akal yang tercerahkan, yang terkembang, yang terlebarkan, akan menjadi generator terbesar bagi rasa pengertian, rasa penghormatan, rasa toleransi, rasa penerimaan, juga menjadi benteng kokoh bagi ketegasan, ketegapan, keajegan. Itulah senyum yang penuh makna itu. Maka benarlah filosofi ilmu padi itu, makin berisi makin merunduk. Sejarah senantiasa mencatat dua kategori manusia yang bertolakbelakang keadaannya, dalam hal ketika mereka telah memiliki akal yang cerdas, ketika ilmu telah dikandungnya, yakni kategori orang yang bisa tersenyum dan orang yang tidak bisa tersenyum. Sebenarnya kategori kedua, yakni manusia yang sarat dengan ilmu tetapi sangat sombong, sangat licik, sangat kejam dan sangat sadis, bukan akalnya bermasalah, buka ilmunya yang bermasalah. Yang bermasalah adalah jiwanya. Jiwanya yang tidak bersih.

Senyum adalah refleksi dari kesadaran yang ultimate. Kesadaran mengatasi jiwa dan akal. Kadang jiwa beristirahat, kadang akal beristirahat. Tetapi kesadaran tak pernah istirahat. Kesadaran adalah ego yang terdalam. Orang mungkin pernah pingsan. Saat pingsan, jiwa dan akalnya berhenti disaat itu, tetapi kesadarannya tidak. Kita mengenal prasa sadar-hukum dan yang sejenisnya. Sadar hukum adalah diferesiasi dari kesadaran yang dikaitkan dengan hukum. Boleh jadi adakalanya seseorang lupa akan hukum. Lupa tentang nama sahabat semasa SMA, lupa tanggal lahir anak-anak. Tetapi mengenai diri, semenjak kesadaran dibenamkan Allah ke dalam eksistensi kita, tidak seorang pun yang lupa tentang dirinya sendiri, tentang egonya. Sewaktu-sewaktu orang bisa lupa dengan hukum, tetapi tidak mungkin lupa dengan diri. Hakikat lupa adalah sesuatu hilang, tidak muncul dalam ingatan, dalam fikiran, dalam akal. Ingat akan diri itu berada di luar kapasitas akal, sekalipun ada sebagiannya yang diingat oleh akal, karena akal bisa lupa, sedang ingatan terhadap diri tidak pernah hilang, maka ada institusi di luar akal yang terus menerus mengingat akan ego. Inilah pengertian dari kesadaran. Senyum adalah refleksi kesadaran. Karena itu senyum itu sadar, bagian dari ego yang terdalam. Maka ketika seseorang sudah tidak bisa lagi tersenyum, hakikatnya ia telah mati. Orang yang jiwanya kotor, sekalipun ilmunya memuncak, adalah jenazah, dan sangat membahayakan kehidupan orang-orang yang masih hidup.

Kesadaran kita dibangun sejalan dengan perkembangan kepribadian kita, kecerdasan kita, pengalaman kita, daya tahan dan kesabaran kita. Kesadaran ibarat puncak menara yang dapat meneropong segala realitas kehidupan. Namun tentu saja puncak itu sangat tergantung kepada bangunan berjenjang yang ada dibawahnya. Semakin kokoh jenjang yang menopangnya, semakin kokoh puncaknya. Bangunan berjenjang yang dimaksud adalah kepribadian kita, kecerdasan kita, pengalaman kita, daya tahan dan kesabaran kita.
Kesadaran yang terus menerus tumbuh dan berkembang adalah ketika kepribadian kita, kecerdasan kita, pengalaman kita, daya tahan dan kesabaran kita, kita pupuk, kita didik, kita latih, kita suburkan, dan akhirnya kita bagikan. Jiwa kita dikembangkan lewat ketaatan kepada nilai spiritual; akal dikembangkan lewat belajar, membaca, berfikir; maka kesadaran kita dikembangkan lewat totalitas eksistensi diri kita. Konsekuensinya, adalah segala perkara yang menyangkut kehidupan diri kita dan kehidupan di luar diri kita semuanya, tanpa kecuali ikut serta membangun kesadaran kita. Jangan lupa, dibalik kata membangun, terdapat potensi daya merobohkan. Kita berfikir, menangis, tertawa, tersenyum, merindu, berhitung, memberi, menerima, menghina, dihina, saling pukul, dan sejuta aksi, sejuta sikap, sejuta sifat, semuanya ikut membangun kesadaran kita. Ketika kesadaran kita telah mencapai ultimate, utama, mulia, kudus, suci, maka respon baliknya, adalah aksi, sikap dan sifat yang terpilih, yakni yang terkategori mulia dan kudus. Dan senyum yang lahir dari kesadaran semacam ini adalah senyum yang sangat luar biasa, baik wujudnya ataupun pengaruhnya bagi yang melihatnya.

Sekarang mari kita renungkan, masihkah kita bisa tersenyum saat kita, saudara kita, tetangga kita tertimpa musibah? Utang melilit, penyakit menggerogoti, api membakar, bumi bergetar, manusia menjajah, kelaparan merajalela, kapitalisme mencengkeram negara-negara yang lemah, bumi semakin gundul hutan-hutannya, penduduk miskin terus bertambah, anak-anak muda kita diterkam dan menerkamkan narkoba, sex bebas menjadi trend hidup, dan seterusnya, selanjutnya, berikutnya. Masihkan kita bisa tersenyum sekalipun kita berjiwa bersih, berakal hebat, berkesadaran ultimate?


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

26 Komentar »

  1. senyum adalah berkah…

    Komentar oleh Bernardia Vitri — Agustus 5, 2009 @ 2:51 pm

    • Dan tanda bahwa suatu kehidupan masih berjalan….thanks atas apresiasinya.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 5, 2009 @ 2:55 pm

  2. Tetaplah Tersenyum, Senyuman Selalu Menyejukkan Hati… πŸ™‚
    Renungan Yang Indah….Teman πŸ™‚

    Komentar oleh Yep — Agustus 7, 2009 @ 1:26 am

    • Se7an. Senyum yang memiliki kekuatan untuk Menyejukkan Hati manusia, adalah senyum yang tetap indah, yang lahir dari hati yang sejuk pula. Trims atas apresiasinya. Sapalah siapapun untuk memarketkan dirimu, sebagai pribadi yang mana semesta ini menjadi saksi keberadaanmu.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 7, 2009 @ 6:37 pm

  3. wah, mantab blognya pak… blog sangat serius… hehe… semoga bermanfaat

    salam kenal: http://mishbahulmunir.wordpress.com/

    Komentar oleh Mishbahul Munir — Agustus 7, 2009 @ 3:24 am

    • se7an. Sesuatu yang bermanfaat bisa berupa hal yang mantap dan serius, memang. Bisa berupa blog, memang juga. Dan semua ini adalah untuk semua, sebab berasal dari semua. Moga aku bisa berkunjung ke blogmu juga. Trims atas apresiasinya.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 7, 2009 @ 6:45 pm

  4. Ya, setuju. Apapun yang terjadi baik duka Nestapa atau senang pada hidup kita, senyum memampukan diri untuk tetap selalu mensyukuri rahmat , bahwa Tuhan pasti memiliki rencana yang terindah untuk kita.

    Salam Sejahtera,

    Komentar oleh Pambudi Nugroho — Agustus 7, 2009 @ 6:28 am

    • Wahai pembaca, Tuan Pambudi mengatakan Tuhan pasti memiliki rencana yang terindah untuk kita. Karena itu tersenyumlah senantiasa. Jika saat senang menghampiri, segeralah sapa sebanyak-banyaknya manusia agar ikut merasakan senangmu. Dan saat nestapa datang menyapa, ingatlah kata-kata Tuan Pambudi : Tuhan pasti memiliki rencana yang terindah untukku. Itulah tanda bersyukur, ya Tuan Pambudi. Ok terimakasih Tuan, semoga hari-hari tuan diliputi sahabat-sahabat yang murah senyum…

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 7, 2009 @ 6:50 pm

  5. dengan senyum kita bisa memulai hidup dengan optimisme..fresh.. dan segar…,
    bukankah senyum juga ibadah…??πŸ™‚

    thanks..
    tengok blogku & kasih komen ya bro,πŸ™‚

    Komentar oleh fathin — Agustus 7, 2009 @ 8:17 am

    • Nama putraku Shabir alfathin. Fathin artinya yang cerdas.πŸ™‚ Ok trims atas apresiasinya. Karena Kehidupan masih berjalan…aku akan datang ke blogmu.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 7, 2009 @ 6:52 pm

  6. Terima kasih sudah berkunjung dan mengomentari blog saya, beberapa hari lalu. Kini saya sudah pindah ke “rumah baru”, Mas. Ditunggu kunjungannya, ya. Semoga betah di sana.

    Komentar oleh Blog Ahmad Makki — Agustus 8, 2009 @ 7:04 pm

    • Terima kasih kembali dengan terimakasih yang lebih gede dariku. Yang gedenya untuk undangan ke rumah barumu.
      Sebetah-betahnya aku di rumahmu, tetep aja tamu (hehehe). Aku doakan, Ya Allah semoga rumah Ahmad Makki, semakin hari semakin resik dan Indah, sehingga banyak dikunjungi manusia dari berbagai belahan bumi. Datangkan kepadanya angin bertiup dari mana pun asalnya, jika pondasi rumahnya telah kokoh sekokoh langit dan bumi.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 8, 2009 @ 11:22 pm

  7. Terima kasih atas komentar anda di sociopolitica. Dan di sini di blog anda saya mencoba untuk belajar tersenyum dengan lebih bermakna. Sambil belajar lebih berfilsafat. Terima kasih.

    Komentar oleh sociopolitica — Agustus 9, 2009 @ 2:58 am

    • πŸ™‚ terimakasih dari aku dengan terimakasih yang lebih besar. Tersenyumlah kawan, kepada orang-orang, baik dia orang ramah atau bukan. Sehari Latihan di depan kaca minimal 10 menit tersenyum tiada henti. Teruslah itu lakukan hingga 6 bulan. Maka senyummu bisa seindah senyum pramugari ataupun bidadari, sekalipun kita lelaki. Semoga perkenalan kita mengantarkan pada persahabatan dan kemuliaan.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 9, 2009 @ 8:35 pm

  8. kl senyuum adalah refleksi jiwa yg bersih, tentu tidaklah.

    salam dari medan
    nirwan

    Komentar oleh nirwan — Agustus 9, 2009 @ 8:35 am

    • Senyum bisa saja muncul dari jiwa yang kotor sekalipun,πŸ™‚. Sebagaimana seorang koruptor, maling, ahli maksiat, pengikut Firaun, masih bisa tertawa dan tersenyum begitu indah dan mempesona. Sebagian kata-katamu betulπŸ™‚ dan tetapi tidak seluruhnya benar. Senyum adalah bisa merupakan refleksi jiwa yang bersih, bisa juga bukan. Terimakasih atas pelurusannya, ya. Kamu memang OK.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 9, 2009 @ 8:42 pm

  9. senyum membuat hari menjadi ringan…

    Komentar oleh GeLZa — Agustus 9, 2009 @ 1:08 pm

    • Betul sekaliπŸ™‚

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 9, 2009 @ 8:38 pm

  10. Assalamu’alaikum,

    “…..1kepinghati mampir untuk menebarkan senyum, agar hari ini semakin indah…..”

    Salam Ukhuwah,πŸ™‚

    Komentar oleh 1kepinghati — Agustus 10, 2009 @ 4:23 am

    • sekeping ukhuwah telah engkau tebar, karena itu hari-hari di semesta telah semakin indah.πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 11, 2009 @ 12:11 am

  11. senyum yang keluar dari hati yang bersih adalah ibadah tapi kalo senyum yang keluar dari hati yang kotor adalah senyum sinis…..!!!! Wallohu’alam

    Komentar oleh darussalam04 — Agustus 10, 2009 @ 9:26 am

    • Ada pula senyum yang tidak ada kaitannya dengan apakah hati kita kotor atau tidak. Itulah senyum sebagai potensi manusiawi. Hanya saja memang benar senyum yang sinis keluar dari hati yang kotor.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 11, 2009 @ 12:07 am

  12. senyum lah wahai sodaraku karena senyum dari hati yang bersih dan ikhlas adalah ibadah

    Komentar oleh darussalam04 — Agustus 10, 2009 @ 9:39 am

    • Ibadah adalah kewajiban manusia nan sakral, bernuansa transenden. Ibadah itu memang Memiliki kekuatan yang mengingatkan tentang asal muasal dan akhir diri kita akan menuju.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 11, 2009 @ 12:06 am

  13. senyum adalah kunci bagi alam semesta

    Komentar oleh soulfadj — Agustus 10, 2009 @ 4:19 pm

    • Karena itu alam semesta mengajak kita untuk selalu tersenyum dalam setiap kesempatan.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Agustus 11, 2009 @ 12:04 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: