Filsafat Berfikir

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA TERHADAP TUHANNYA | November 8, 2009

DASAR PANDANGAN ORANG YANG BERTAKWA TERHADAP TUHANNYA

Oleh: Ading Nashrulloh
Orang yang beriman memiliki suatu pandangan yang pasti tentang hakikat keberadaan. Pandangan yang ada pada orang-orang yang bertakwa sepenuhnya didasarkan pada keimanan. Inti pandangan dunia orang-orang bertakwa ialah bahwa alam semesta dan manusia seluruhnya adalah diciptakan Allah. Allah itu adalah Tuhan yang berhak disembah oleh seluruh manusia. Inilah inti dari pandangan umat Islam tentang Tuhan dan segenap yang ada di hadapan matanya.
1. Pandangan terhadap Tuhan
Dalam pandangan orang-orang yang bertakwa, konsep Tuhan dengan Ibadah tidak dapat dipisahkan. Karena itu mengenal Tuhan mesti dibarengi dengan mengenal konsep ibadah kepada-Nya.
Cara Mengenal Tuhan
1.1. Membaca Al-Quran
1.2. Mendalami Asmaul-Husna
1.3. Mentafakuri Alam Semesta
1.4. Meningkatkan ibadah
1.5. Memperhatikan kejadian manusia
1.6. Mempelajari Keindahan Islam
1.7. Mempelajari Peradaban Manusia
1.8. Mentafakuri Pengalaman Diri
1.9. Membangkitkan intuisi.

Tuhan dan Ibadah
1.10. Antara Tuhan dan Ibadah kepada-Nya
Jika suatu kaum mengenal konsep Tuhan, maka kaum itu memiliki suatu sistem peribadatan. Dan sebaliknya apabila ada sekelompok orang melakukan serangkaian pola ibadah, pastilah mereka menuhankan sesuatu. Disimpulkan demikian karena antara Tuhan dengan ibadah tidak dapat dipisahkan.
Dalam suatu kondisi tertentu boleh jadi manusia mengenal Tuhan dan mengakui keberadaannya, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya. Atau ada yang melakukan ibadah, tanpa mengenal atau memiliki pengetahuan yang benar tentang-Nya.
Contoh umat yang mengenal Tuhan, tetapi tidak melakukan ibadah kepada-Nya adalah Yahudi. Sedangkan Umat yang sering melakukan ibadah tetapi tidak mengenal-Nya dalah Nasrani. Ada lagi umat yang tidak mengenal ibadah dan tidak pula mengenal pada-Nya , itulah orang-orang kafir di luar golongan Yahudi dan Nasrani.
1.11. Hak Tuhan atas Manusia
Hak Tuhan atas manusia adalah ibadah. Dalam ibadah itu tercakup empat perkara yaitu syukur, mengabdi, taat dan meniru sifat-Nya. Bersyukur pada-Nya karena Allah adalah Rabb. Mengabdi pada-Nya karena Dia adalah Ilah. Taat pada-Nya karena Dia adalah Malik (Raja). Dan Meniru sifat-Nya karena Dia pemilik Asmaul-Husna.
1.12. Manusia dan Tuhan dihubungkan dengan Ibadah
Jika manusia ingin merajut hubungan dengan Tuhan, maka ia harus melakukan suatu aktivitas yang disebut ibadah. Ibadah merupakan sarana bagi manusia untuk dekat dan berhubungan dengan Tuhan. Siapa yang meninggalkan ibadah berarti terputus hubungannya dengan Tuhan. Akibatnya ia akan menemukan suatu kehidupan yang sempit di dunia ataupun di akhirat.
1.13. Ibadah kepada-Nya
Pertanyaan sekarang ialah bagaimanakah praktek ibadah-ibadah itu sendiri? Bagaimanakah seharusnya manusia menunaikan ibadah kepada Tuhan? Jawabnya adalah dengan mengikuti suatu aturan yang diturunkan Tuhan sendiri. Dan aturan itu adalah Agama. Allah telah menurunkan Islam sebagai aturan untuk mengatur mekanisme syukur, mengabdi, taat dan meneladani sifat-sifat-Nya. Terkait dengan mekanisme ini, maka keberadaan wahyu dan Rasul tidak mungkin diabaikan.
1.14. Ibadah kepada Tuhan tugas sejati manusia.
Tuhan Menciptakan, menghidupkan, menumbuhkembangkan manusia adalah dengan tujuan agar manusia itu beribadah kepada-Nya. Hidup manusia, lahir dan batinnya, dirancang Alloh sesuai dengan Islam, sebagai cara beribadah, agar manusia itu sadar secara hakiki bahwa ia dirancang untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhan yang telah menjadikan dirinya. Tatkala manusia memutuskan untuk tidak menyembah Allah, tidak tunduk kepada Islam, ia hakikatnya sedang merusak, menentang, menghancurkan, diri dan kehidupannya. Alloh dan Islam tidak akan rusak hanya karena manusia enggan tunduk. Manusia butuh Islam, karena dengannya hidup menjadi lengkap dan sempurna.
1.15. Pentingnya Memahami Agama
Dua perkara yang amat penting dalam hidup manusia: 1. Mengenal kewajiban yang utama, 2. Mengenal Tuhan yang wajib diibadahi. Kedua perkara ini hanya dapat diperoleh informasinya, jawabannya, penyelesaiannya dari agama. Karena itulah kita harus paham agama.
Memahami agama adalah dalam kerangka kita memperbaiki, memperteguh dan memperkokoh ma’rifat kita kepada Tuhan sekaligus memperkaya lapangan amal yang berbaris dan berbingkai ibadah. Selain kita perdalam pemahaman kita atas agama, maka hidup kita sebagai manusia akan semakin penuh makna.
1.16. Kemuliaan dan Kebahagiaan Manusia tergantung Ibadah.
Manusia apabila mendedikasikan seluruh eksistensi dirinya untuk beribadah kepada-Nya, maka kemuliaan dan kebahagiaan akan diraihnya. Setiap orang pasti ingin kehidupan yang mulia, bukan hina; dan bahagia, bukan susah. Mustahil ada manusia bercita-cita ingin hidup hina dan susah. Maka dari itu seyogyanya manusia sadar bahwa jalan menuju kemuliaan dan kebahagiaan itu tidak lain adalah mengabdi kepada Tuhan, bukan mengabdi kepada manusia atau harta kekayaan.
1.17. Penyimpangan dalam Mengenal Tuhan
Sesungguhnya konsep atas Tuhan telah jelas, tetapi ada saja manusia yang menyimpang dalam mengenal Tuhannya yang hak. Di antara manusia ada yang keliru dalam memandang Tuhan. Sebagiannya ada yang meyakini Tuhan itu adalah bulan atau matahari, api, gunung dan lain sebagainya. Penyimpangan semacam ini menyebabkan mansia keliru pula melakukan suatu peribadatan. Salah satu umat yang diberi kitab, namun kemudian mereka menyimpang dalam mengenal dan mengkonsepsikan Tuhan adalah kaum Nasrani. Menurut mereka Tuhan itu ada tiga, ini merupakan suatu penyimpangan yang besar.
1.18. Penyimpangan dalam Beribadah
Konsep Ibadah pun sesungguhnya sudah jelas. Ibadah adalah keimanan dan ketundukan kepada Tuhan. Ibadah bisa rusak oleh dua hal. Pertama, tiadanya keimanan dan ketundukan. Kedua, yang dituju bukan Tuhan. Tetapi dalam kehidupan manusia, kita menjumpai suatu kerusakan tersebut. Salah satu umat manusia yang menerima Kitab tetapi melakukan penyimpangan dalam beribadah disamping Umat Nasrani adalah umat Yahudi. Mereka melakukan peribadatan yang tidak merujuk kepada kitab itu. Penyimpangan ini telah terjadi semenjak di tengah mereka terdapat para Nabi yang diutus untuk meluruskan mereka.
1.19. Kedatangan Islam sebagai Jalan Ibadah yang benar
Umat Yahudi dan Nasrani adalah dua umat yang menerima kitab. Kedua kitab itu adalah kitab Injil dan kita Taurat yang dialamatkan kepada Bani Israel. Kedua kitab itu telah mengalami perubahan kandungannya. Dan kedua umat itu telah menyimpang akan konsepsinya tentang Tuhan dan ibadah. Sehingga seluruh keyakinan dan keberadaan mereka telah menyimpang dari ibadah kepada Alloh. Sebab itulah maka Islam turun untuk meluruskan konsep Tuhan dan Ibadah yang benar.
Alloh, Tuhan yang Berhak Disembah
1.20. Alloh, Tuhan yang Hak
Ada dua syarat yang harus dipenuhi sesuatu, jika sesuatu itu ingin dikatakan sebagai Tuhan yang sebenarnya. Pertama, ia tidak membutuhkan apapun atau siapapun. Kedua, ia dibutuhkan oleh segala yang ada. Hanya Alloh-lah yang memiliki dua syarat ini. Sebab itu Dialah Tuhan yang berhak disembah oleh manusia.
Alloh adalah satu-satunya Rabb manusia dan alam semesta.
Alloh adalah Pencipta, Pengatur, Penjaga, Pemelihara, dan Pembentuk manusia dan alam semesta. Itulah sebabnya Allah dikenal sebagai Rabb. Dia adalah Pencipta manusia dan Pembentuk bumi dan langit. Berkaitan dengan Allah sebagai Pencipta, maka kewajiban manusia yang paling mendasar kepada-Nya adalah berterimakasih, atau bersyukur kepada-Nya. Bagaimana cara bersyukur itu? Jawabnya adalah dengan melakukan ibadah kepada-Nya.
Allah sebagai Rabb manusia, telah memberikan nikmat yang sangat banyak pada manusia. Diantara nikmat yang dianugrahkan pada manusia tiga diantaranya adalah nikmat kehidupan, nikmat akal, dan nikmat hidayah. Termasuk nikmat kehidupan adalah alam semesta. Termasuk nikmat akal adalah kebebasan dan ilmu. Sedangkan yang termasuk nikmat hidayah adalah nikmat iman dan ibadah.
Alloh adalah satu-satunya Ilah yang hak bagi Manusia.
Manusia memiliki suatu kecenderungan untuk mengabdikan diri dan meminta pertolongan untuk kemudahan hidupnya. Mengabdi dan meminta adalah suatu dimensi kehidupan manusiawi. Memberikan suatu kesetiaan dan meminta imbalan yang dibutuhkan merupakan suatu kenyataan yang menyatu dengan jati diri manusia. Gabungan antara dua kenyataan ini apabila dialamatkan kepada Tuhan, maka ia adalah ibadah.
Ibadah adalah suatu perbuatan yang amat istimewa dan amat menentukan derajat manusia. Apabila ia dilakukan maka ia akan memposisikan manusia pada level atau martabat yang tinggi. Tetapi apabila ditinggalkan maka manusia diposisikan pada level terendah. Inilah keistimewaan perbuatan yang bernama ibadah.
Sehingga jika manusia ingin mulia, mau tidak mau syaratnya ia harus melakukan ibadah, yakni menyerahkan pengabdian dan permohonan kepada Tuhan. Dan jika manusia tidak demikian, maka ia merupakan manusia yang sombong dan mudah sekali berputus asa, ini merupakan level manusia paling rendah.
Ibadah merupakan ikatan atas pengabdian dan permohonan manusia pada penciptanya. Maka seyogyanya ibadah hanya dilakukan manusia kepada Rabbnya semata, bukan kepada selain Rabbnya. Bagaimana mungkin dibenarkan manusia melakukan ibadah kepada yang bukan Rabbnya?
Allah adalah Rabb manusia. Maka Dialah yang patut dijadikan Ilah bagi manusia, yaitu sesuatu yang disembah manusia. Allah adalah satu-satunya Ilah yang berhak disembah oleh manusia. Manusia yang melakukan ibadah kepada selain Allah maka, ibadahnya tertolak.
Alloh adalah satu-satunya Malik
Rabb adalah tempat kita menyanjungkan segala pujian. Ilah adalah tempat kita memberikan segala pengabdian dan permohonan. Maka Malik adalah tempat kita meminta nashihat dan petunjuk hidup agar hidup tidak sesat dan tidak dimurkai-Nya. Alloh dikenal karena ia adalah pencipta. Alloh dikenal karena ia nama yang selalu disebut tatakala manusia mengabdi dan memohon perlindungaan-Nya. Allah dikenal karena Dialah yang menurukan Islam sebagai nasihat dan petunjuk hidup bagi manusia. Allah yang demikian itu tiada duanya. Dialah yang Esa itu.
Alloh pemilik Asmaul-Husna
Manusia memiliki kecenderungan untuk menerima dan memberi. Salah satu peranan yang paling mulia dalam hal memberi, adalah memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan wujud pemberian yang paling utama adalah akhlak. Jadi akhlak hakikatnya adalah pemberian terbaik manusia kepada sesamanya. Bagaimana manusia sampai pada akhlak yang terbaik? Maka jawabnya adalah ia harus melewati tahapan-tahapan pengakuan terhadap Allah sebagai Rabb yang mengantarkannya pada sikap syukur. Lalu tahapan pengakuan bahwa Allah adalah Ilah, sehingga ia benar-benar jadi ahli ibadah dan senantiasa bertaqorub pada-Nya. Tahapan berikutnya adalah pengakuan bahwa Allah adalah pembuat undang-undang hingga ia mengikuti dan taat pada undang-undang-Nya. Baru setelah tahapan semua ini dilakukannya, ia bisa berbuat akhlak yang baik pada sesama manusia. Dalam rangkaian akhlak itu pun, manusia masih bisa tetap menghubungkannya dengan Tuhan, yakni lewat meniru asmaul-husna-Nya, yaitu nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang baik bagi-Nya.
Rangkaian syukur, mengabdi, taat dan meneladani sifat-sifat-Nya adalah ibadah.
1.21. Tiada Ilah selain Alloh
Dalam urusan beribadah, pengabdian dan meminta pertolongan manusia hendaklah hanya menunjukannya kepada Alloh semata. Tidak boleh manusia beribadah kepada selain-Nya. Bahkan manusia dalam hal bersyukur dan taat kepada selain-Nya. Adapun misalnya kita berterimakasih kepda orang tua dan taat kepada Rasul atau pemimpin itu adalah dalam kerangka kita bersyukur dan taat kepada Alloh. Alloh adalah Ilah yang wajib atas manusia untuk menyembah-Nya. Tiada Ilah selain Allah yang memiliki hak semacam ini. Sehingga siapapun yang melakukan penyembahan kepada selain Allah, ibadahnya itu tidak akan memiliki balasan pahala.
1.22 Alloh adalah Pembuat Undang-Undang untuk Manusia
Alloh yang menciptkan dan berhak disembah, tentu berhak pula membuat undang-undang untuk manusia agar manusia itu selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Islam merupakan suatu wujud undang-undang yang Allah turunkan dan Alloh wajibkan atas manusia untuk menegakkannya. Ketika manusia hendak beribadah kepada Tuhaannya pada saat yang sama ia mesti mentaati dan menegakkan undang-undang-Nya.
1.23. Allah, Tuhan yang Maha Esa
Alloh adalah Rabb, Ilah, Malik dan pemilik Asmaul-Husna, Dia Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya dalam segala hal. Semua yang ada bergantung pada-Nya. Manusia adalah salah satu dari sekian banyak makhluk-Nya bergantung pula pada-Nya. Atas manusia dibebankan kewajiban beribadah kepada-Nya dengan tidak membuat suatu sekutu dalam ibadahnya itu.
1.24. Selain Allah adalah Makhluk
Apapun selain Alloh adalah makhluk yang tidak patut disembah. Jika ada suatu umat yang menyembah selain Alloh, maka umat itu sedang menempuh suatu jalan yang sesat.
1.25. Islam merupakan bentuk ibadah yang benar
Konsep Ibadah merupakan hal yang tak terpisahkan dari konsep Tuhan. Dalam praktek kehidupan manusia, seseorang dikatakan memiliki keyakinan kepada Tuhan, jika dia melakukan ibadah kepada-Nya. Ibadah-ibadah yang dilakukan manusia banyak sekali ragamnya. Namun bentuk ibadah yang diakui oleh Allah hanyalah Islam. Sebabnya Islam adalah agama yang diturunkan dari sisi-Nya.
Dasar atau pondasi dari Islam adalah tauhid, yakni konsep bahwa Tuhan itu adalah Esa, tidak memiliki sekutu bagi-Nya. Di atas pondasi itulah ibadah-ibadah kepada-Nya didirikan.
1.26. Tidak ada agama yang Hak di sisi Alloh selain Islam
Alloh tidak menurunkan agama lain selain Islam kepada umat manusia. Hanya Islam yang merupakan jalan lurus dalam mengenal dan mengabdi kepada-Nya. Agama-agama lain selain Islam, tetap diberi nama sebagai agama. Agama-agama itu adalah agama yang tertolak dan tidak diterima amalan para penganutnya. Umat Islam sebagai pengikut Islam, dilarang secara tegas mengikuti agama selain Islam atau menyembah apa yang disembah oleh umat selain Islam.
1.27. Selain Islam bukan peribadatan yang lurus
Alloh hanya menurunkan Islam sebagai jalan yang lurus bagi manusia untuk menata hidup dan ibadah-ibadahnya. Kenyataan dalam hidup manusia, agama bukan cuma Islam. Terdapat berbagai agama. Agama-agama apapun namanya selain Islam, bukanlah merupakan suatu cara ibadah yang dibenarkan oleh Allah. Dan apa saja yang disembah oleh mereka yang beragama selain Islam, bukanlah Tuhan yang hak, melainkan suatu makhluk yang disebut-sebut sebagai tuhan oleh mereka.
1.28. Islam adalah peribadatan yang wajib diikuti manusia
Islam membawa suatu sistem syariat yang lengkap dan diakui oleh Alloh SWT, sebagai jalan yang lurus, yang wajib ditempuh oleh segenap manusia. Disertakannya dalam Islam itu kitab al-Quran dan teladan dari Nabi Muhammad SAW. Tetapi yang dapat mengikutinya terbatas, yaitu orang-orang yang telah beroleh hidayah dari sisi Alloh berupa Iman.

1.29. Aturan Islam dibawakan oleh Rasul
Jika seseorang hendak beribadah kepada Alloh, maka ia harus mengikuti Rasul. Dan tidaklah yang diajarkan oleh Rasul itu, melainkan agama, yakni Islam. Ibadah dalam pandangan Islam adalah apa-apa yang diperintahkan Alloh dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Selain itu bukanlah ibadah. Mengikuti Rasul itu merupakaan suatu jalan yang wajib ditempuh untuk sampai pada ibadah yang benar.
1.30. Pondasi Agama Islam
Pondasi ajaran Islam ada dua yang tersimpul dalam kalimat syahadat: Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Kalimat pertama adalah kalimat tauhid, yang juga merupakan pondasi dari aqidah atau konsep keimanan dalam Islam. Sedangkan kalimat kedua merupakan kalimat nabawiyah, yaitu pengakuan bahwa ajaran Islam dalam prakteknya hanya mengikuti petunjuk dan teladan Nabi Muhammad. Ini merupakan pondasi dari syariat. Seluruh ajaran Islam bertumpu pada dua pondasi ini. Maka siapa yang ingin benar dalam ibadahnya kepada Tuhan, harus menajamkan pemahaman dan amalan atas dua dasar ini.
1.31. Apakah Allah disembah oleh para pengikut selain agama Islam?
Allah hanya menurunkan Islam sebagai suatu cara untuk menyembah Allah. Agama selain Islam menyembah apa-apa yang umat Islam tidak boleh menyembahnya. Ini di jelaskan dalam surat Al-kafirun. Jadi pengikut agama selain Islam tidak menyembah Allah, Tuhan yang di sembah umat Islam. Jika demikian, maka orang-orang non muslim itu hanya menyembah mahluk saja atau hawa nafsunya saja.
1.32. Jaminan Lurusnya Islam sebagai Agama yang haq
Untuk memahami agama Islam secara lengkap dan menyeluruh, manusia hendaknya merujuk kepada sumber hukumnya. Sumber hukum Islam adalah Al-quran. Maka Al-quran dan juga Hadits, tempat untuk mengetahui hakikat Islam. Untuk memahami kandungan Al-quran dan Hadits diperlukan suatu metode yang di sebut dengan tafsir. Ilmu tafsir itu adanya di tangan para ulama. Ulama itu adalah orang-orang Islam yang yang terpercaya dalam pemahamannya terhadap kandungan Al-Quran dan Hadits. Al-Quran, Hadits dan para ulama itulah jaminan lurusnya Islam sejauh yang dapat ditelusuri oleh akal manusia. Kebenaran al-Quran dan Hadits dapat ditelusuri dalam atas-batas kemampuan akal manusia. Namun demikian sikap penerimaan seseorang kepada Islam tergantung kepada keimanannya.
1.33. Beribadah itu berpedoman kepada al-Quran dan Hadits serta bimbingan para Ulama.
Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan yang diwariskan para Nabi tiada lain adalah agama. Maka umat mengetahui agama itu dari para ulamanya. Karena itu janganlah kita meremehkan peranan dan jasa para ulama terhadap Islam dan umatnya, sekalipun mereka hakikatnya adalah manusia biasa yang tidak memiliki otoritas apapun atas ajaran agama. Ulama diamanahi tugas untuk terus menerus mempelajari dan mengajarkan agama, sehingga agama dan umat ini terpelihara dari fitnah dan kepunahan. Bagaimananpun umat Islam memerlukan suatu penjelasan, pengarahan, motivasi, pendampingan dan kebersamaan dalam melaksanakan agama. Jika menjalankan agama tanpa bimbingan para ulama, tanpa petunjuk dari al-Quran dan Hadits, maka kesesatan yang akan mereka temui.
Manusia yang Paling Mulia
1.34. Kemuliaan, Hal Yang Paling dicari Manusia
Manusia selalu mencari kebenaran, ketentraman, kenikmatan, kedamaian dan kemuliaan. Semua hal ini merupakan keadaan-keadaan yang mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan. Pada masing-masing ada keindahan, kesenangan yang amat disukai oleh manusia. Bagaimanakah manusia dapat meraih apa yang selalu dicarinya itu dan siapakah yang dapat benar-benar meraihnya? Tentu saja orang dapat meraihnya adalah nanti merupakan orang-orang yang mulia, besar, makmur dan damai.
1.35. Jalan menuju kemuliaan
Ada dua jalan menuju kemuliaan, pertama: mengetahui jalannya yang benar secara benar. Kedua, mengikuti jalan-jalan itu dengan benar. Sesungguhnya jalan yang benar ialah Islam dan untuk mengetahui Islam yang sebenarnya ialah dengan merujuk pada sumber hukumnya, yaitu al-Quran Sunnah dan para ulama. Manusia tidak akan pernah menemukan kemuliaan sekecil apapun tanpa iman. Sekalipun harta, kekuasaan, perempuan berada di tangannya. Dan mengikuti Islam dengan benar caranya iklas dan sabar. Orang yang berada di jalan benar ia bersikap benar. Sia-sia amalan ibadah jika tidak di sertai sabar dan ikhlas.
1.36. Manusia yang Paling Taat
Boleh jadi dimata manusia, orang yang memegang kekuasaan harta dan keindahan, martabatnya tinggi dan terhormat. Namun hendaklah kita belajar dari sejarah tentang raja-raja dan pemimpin dunia atau negara-negara besar zaman dahulu yang akhirnya dihancurkan, dihinakan dan dimusnahkan. Padahal mereka amat kuat, kaya, cerdas dan tampan dikelilingi gadis-gadis cantik. Kemuliaan dan ketinggian derajat sesungguhnya milik mereka yang tidak tunduk pada nafsu dan dunia. Mereka adalah orang-orang yang tunduk kepada undang-undang Alloh. Dan itulah manusia yang mulia sesungguhnya. Mereka yang taat boleh jadi pada saat yang bersamaan adalah juga kaya, cerdas, kuasa dan tampan.
1.37. Mendedikasikan Diri untuk Kemuliaan Islam
Konsep memberi dan menerima merupakan konsep yang bernilai amat penting dalam hidup manusia. Orang-orng yang taat menerpakan konsep ini secara tepat terhadap Islam. Mula-mula ia menerima banyak hal dari Islam sehingga tertatalah fikiran, hati, jiwa, badan, keluarga, masyarakat dan negaranya. Sehinga dengan penataan Islam, seluruh denyut kehidupan menjadi luas, tentram, makmur, damai, dan mulia. Nanti pada gilirannya ia sadar akan memberikan suatu pengorbanan bagi Islam. Ia akan berkorban harta, tenaga, fikiran keluarga bahkan nyawanya untuk Islam. Karena ia telah berjanji untuk menyerahkan hidupnya, matinya dan baktinya untuk Alloh. Pengorbanan itu hakikatnya adalah didasarkan atas rasa cinta pada Islam, rasa ikhlas dan sabar. Serta untuk suatu kebaikan yang lebih besar yakni demi meraih keridoan Allah dan surga-Nya kelak di akhirat.
1.38. Mulia sampai ajal Datang
Hidup mulia adalah dambaan setiap orang yang beriman. Namun janganlah keliru kalau mencari kemuliaan itu adalah tidak hanya sekedar sementara waktu. Mencari kemuliaan dan hidup dalam tangga-tangga kemuliaan harus terus berlanjut tiada henti sampai Allah mencabut nyawa kita. Karena itu selama nafas masih ada, jangan dulu bergembira hati, sebab syetan masih menggoda. Ini artinya kita harus selalu waspada selamanya.
1.39. Pentingnya Mati dalam keadaan sebagai Muslim
Bila seseorang tetap istiqomah menjalankan agama hingga kematiannya tiba, maka ia merupakan orang yang beruntung. Allah pun mengharap dan memerintahkan umat-Nya untuk tidak meninggal kecuali dalam keadaan sebagai muslim, yakni yang sedang menjalankan Islam, yang sedang menegakkan tauhid. Maka siapapun yang meyakini akan pertemuan dengan Allah, harus merancang jalan kehidupannya. Karena jalan kehidupan yang sedang ditempuh adalah juga jalan kematian. Betapa pentingnya kematian dalam keadaan sebagai seorang muslim, kita mesti menjadi muslim di sepanjang waktu yang sedang dijalani.
1.40. Alloh Pemilik Kemuliaan Tentukan Kriterianya.
Menjadi muslim adalah jalan menuju kemuliaan. Allah adalah sumber kemuliaan. Maka Dia berhak menentukan kriteria apa saja yang harus dipenuhi manusia, jika manusia menghendaki kemuliaan itu. Kriteria global yang dibebankan atas manusia yang ingin meraih kemuliaan adalah kemauannya untuk ibadah. Ibadahlah syarat dan ketentuan yang dapat diusahakan dengan segenap ikhtiar. Maka penuhilah apa yang Alloh serukan pada kita, jika benar-benar ingin meraih kemuliaan.
1.41. Kemuliaan Dunia Akhirat
Manusia harus mengejar kemuliaan lewat ibadah, bukan dengan selainnya. Kemuliaan yang dikejar lewat ibadah akan berdampak positif tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Ibadah itu orientasi utamanya adalah akhirat, namun dalam Islam, ibadah yang dilaksanakan membawa kebaikan semenjak di dunia ini.

Karakter Orang yang Mengenal Tuhan
1.42. Pengetahuan sebagai Dasar Perbuatan
Perbuatan seseorang amat tergantung pada pengetahuan dan pengalamannya. Memang banyak faktor yang membentuk suatu perbuatan. Namun rupanya pengetahuanlah yang besar peranannya. Ketika manusia telah mengenal Tuhan dengan mendalam, benar dan sebaik-baiknya, maka akan tampak pengaruhnya pada amal perbuatan, sikap dan cara berbicaranya. Mengenal Tuhan dengan baik adalah lewat agama. Dan bersikap yang baik kepada Tuhan adalah dengan Iman. Mengenal Tuhan lewat agama itu adalah melalui tadabur terhadap al-Quran dan melakukan ibadah-ibadah.
1.43. Karakter Dasar: takut, taat, bersih hati dan cinta
Orang yang mengenal Alloh bahwa Dia adalah Rabb, maka akan tumbuh rasa takut dan cinta; bahwa Dia adalah Ilah, maka akan tumbuh rasa Tawadlu dan bersih hati; bahwa Dia adalah Malik akan tumbuh rasa taat, dan bahwa Dia adalah pemilik asmaul husna maka akan tumbuh rasa cinta. Timbulnya rasa cinta karena disadari Dialah yang memberi segala nikmat dan fasilitas hidup. Bersih hati ialah bersih dari sifat-sifat syirik, riya, hasud, maksiat dan cinta dunia. Taat ialah taat pada undang-undang-Nya. Takut kepada-Nya karena Dia Maha Cermat dalam meneliti seluruh amal perbuatan manusia dan Dia Maha Adil serta Amat keras Azab-Nya. Dari masing-masing sifat ini akhirnya akan membentuk sifat-sifat dan perbuatan-pebuatan yang baik pada manusia.
1.44. Taubat, Harap, Rido, Tawwakal
Betapapun tekad untuk taat, cinta, takut dan bersih hati dicanangkan dan diusahakan dengan tekad yang kuat setinggi langit, sifat manusia sejatinya tetap saja sewaktu-waktu bisa terjatuh pada suatu hal yang menyebabkan dirinya berdosa. Perbedaan antara orang yang mengenal Tuhan dengan yang tidak adalah pada sifat-sifat Taubat, Harap, Rido, Tawwakal. Orang yang mengenal Tuhan ketika ia terjatuh pada perbuatan dosa ia akan segera bertaubat, penuh harap atas rahmat-Nya, rido atas takdir-Nya dan bertawwakal pada-Nya dalam setiap upayanya.

1.45. Tanda Manusia yang Lalai pada Tuhannya
Manusia yang lupa, lalai, mengabaikan Tuhannya akan ditandai oleh sifat putus asa dan sombong. Ia putus asa tatkala lemah dan sombong tatkala kuat. Ia juga cepat berkeluhkesah dan mencari-cari kesalahan orang lain atas bencana yang menimpa dirinya. Hal ini disebabkan karena ia jauh dari ibadah dan tuntunan agama. Sebab itu untuk menghindari sifat-sifat buruk itu dan untuk meraih sifat-sifat mulia, seseorang harus serius mendekati Tuhannya dengan memperbaiki ibadah-ibadahnya dan memperdalam agamanya.
1.46. Sifat-sifat Turunan di bidang Sosial
Syukur akan menurunkan sifat pandai berterimakasih. Sifat cinta menurunkan sifat kasih sayang. Sifat takut menurunkan sifat hati-hati dan berani. Sifat bersih hati menurunkan sifat tulus dan rela dalam menolong serta dalam menyikapi ketidakadilan sesamanya. Semua sifat-sifat ini amat diperlukan dalam kehidupan sosial. Sifat-sifat ini hanya ada pada orang-orang yang dekat dengan Tuhan, ahli ibadah dan memahami agama dengan baik dan mendalam
1.47. Virtualisme mudah diciptakan orang yang Beragama.
Kemuliaan, kedamaian, kemakmuran, dan ketenangan mudah diciptakan oleh orang-orang yang beragama. Orang yang mengenal Tuhan dengan baik dan aktif serta serius dalam melaksanakan ibadah akan mudah baginya mencapai virtualisme semacam itu pada semua segmen dan level kehidupan. Semua ini disebabkan oleh adanya sifat-sifat baik yang menyatu dengan diri orang-orang yang taat dan juga oleh adanya sistem agama yang sempurna dalam menata sifat dan kinerja manusia. Timbulnya kekacauan dalam kehidupan manusia hakikatnya disebabkan oleh ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap tujuan penciptaan dirinya. Sesungguhnya agama itulah jalan yang paling sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.
1.48. Ketika Manusia Lari dari Tuhannya
Banyak sekali pelajaran yang terdapat dalam sejarah dan peristiwa kontemporer. Bahwa orang yang tetap dekat dengan agama seraya terus mengabdi kepada-Nya, dapat meraih kunci-kunci kemuliaan dan ketentraman. Sebaliknya orang-orang yang menjauh dari Tuhannya, dan mengabaikan kewajibannya untuk ibadah, selalu ditimpa musibah dan kepedihan di akhir hidupnya. Begitulah pelajaran dan peristiwa, tinggal pelajaran dan peristiwa yang banyak manusia memandangnya dengan sebelah mata. Kita perlu tetap menegaskan bahwa ketika manusia meninggalkan Tuhan, mengabaikan agama, melalaikan ibadah dan sibuk dengan urusan dunia; mereka tidak akan meraih kebahagiaan dan ketentraman dalam hidupnya, kecuali sedikit saja. Mereka akan dijauhkan dari kemuliaan dan kemakmuran.
1.49. Membangun Citra Diri sebagai Orang Sholeh.
Bila mata kita diarahkan kepada fakta sosial global saat sekarang, maka akan tampak dimana-mana banyak manusia yang telah meninggalkan Tuhan dan ibadah karena sibuk dan ditipu dengan urusan dunia. Tampil dengan citra diri sebagai orang sholeh merupakan sesuatu yang asing, aneh dan ganjil. OLeh karena itu upaya menjadi orang sholeh merupakan suatu hal yang berat, memerlukan suatu tekad dan perjuangan yang tidak ringan. Tetapi inilah yang harus kita lakukan. Caranya tiada lain dengan suatu metode terbiyah dan jamaah.
1.50. Menambah Pengetahuan tentang Tuhan dan Ibadah
Pengetahuan kita tentang Tuhan dan ibadah mesti terus ditambah dari waktu ke waktu. Sumber pengetahuan kita tentang Tuhan ada pada Kitab Al-Quran. Dan sumber pengetahuan kita tentang ibadah ada pada kitab-kitab Hadits. Upaya memperdalam pengetahuan atas kedua kitab itu merupakan titian untuk membangun citra diri sebagai orang sholeh dan untuk memperbaiki kualitas pengabdian kita kepada Allah. Pada saatnya nanti, semua akan bermuara pada dicapainya kebahagiaan lahir dan batin. Tentramnya kehidupan, kemakmuran dan kemuliaan. Alloh telah berjanji akan membahagiakan orang yang berilmu dengan diangkatnya mereka beberapa derajat.

Pengaruh Ibadah bagi Kehidupan manusia di Muka Bumi
1.51. Ibadah adalah satu paket dengan kehidupan
Ibarat badan dengan jiwanya, maka kehidupan menjadi ada. badan tanpa jiwa, atau jiwa tanpa badan adalah kematian bagi manusia.sesungguhnya kehidupan manusia dengan kewajibanya untuk ibadah kepada Tuhan adalah satu paket yang utuh. manusia jelas pada umumnya lebih memperhatikan segi hidupnya ketimbang ibadahnya. Tetapi ini tidak berlaku bagi orang yang beriman. ia lebih memperhatikan ibadah sebab ibadah itulah jiwa bagi kehidupannya.
1.52. Kehidupan manusia tanpa ibadah
Setiap peradaban manusia rupanya menyadari akan pentingnya ibadah. Selalu ditemukan dalam setiap peradaban manusia, hal yang berupa ibadah, agama, atau keyakinan kepadanya adanya Tuhan. Kesimpulan yang dapat diambil. Kehidupan manusia tanpa ibadah tidak akan banyak menghasilkan peradaban, atau karya nyata. Ini merupakan suatu potensi yang mendukung bagi upaya mengembalikan manusia kepada agamanya yang sebenarnya yaitu Islam. Tatkala dakwah islam telah sampai pada mereka tetapi dalam non islamnya, maka mereka pantas mendapat kehampaan hidup dan siksa.
1.53. Masalah hidup yang semakin rumit
Ada dua hal yang perlu kita renugkan tentang fenomena ibadah dan hidup manusia dari waktu ke waktu semakin maju dari sisi teknologi hasil ilmu dan sains, di samping juga semakin kompleks permasalahan yang datang kepadanya.Sementara agama atau ibadah hanya tetap berkedudukan sebagai pemberi solusi dan inspirasi bagi hasil teknologi dan teratasinya masalah-masalah yang rumit itu. Artinya bahwa manusia memerlukan 2 hal: 1.agama yang kompitibel dengan perkembagan zaman. 2.Keseriusan mereka untuk menerapkan agama.

Cisarua, 8 November 2009


Ditulis dalam Uncategorized

1 Komentar »

  1. ‘Adagium’ bahwa agama harus kompatibel dengan perkembangan zaman, perlu digarisbawahi. Selama ini, terutama di lingkungan agama kita, Islam (dan demikian pula sebenarnya dengan sejumlah umat agama lain), begitu banyak bagian dari umat tak mampu membawa diri dan atau tak berhasil dibimbing oleh para pemimpin umatnya, agar mampu mengikuti dan kompatibel dengan perkembangan zaman. Bahkan, merupakan fenomena betapa begitu banyak tokoh yang menganggap dirinya pemuka, justru menggiring umat ke pemikiran masa lampau sehingga menimbulkan ekses berupa fanatisme buta, anti kemajuan dan sebagainya yang membuat umat tetap tertinggal dalam ‘kubangan lumpur’ masa lampau.

    Komentar oleh sociopolitica — Desember 4, 2009 @ 12:36 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: