Filsafat Berfikir

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN DAN KESUKSESAN | Maret 20, 2010

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN DAN KESUKSESAN
Oleh: Ading Nashrulloh
Manusia diciptakan Allah untuk dua hal yang utama: ibadah dan khalifah. Diciptakan artinya diadakan dari ketiadaan. Keberadaan manusia di muka bumi diperuntukan oleh Allah bagi dua proses berupa ibadah dan khalifah. Ini adalah benar. Dan karena itu kunci kesuksesan dan kebahagiaan terkait erat dengan ibadah dan khalifah ini.
Orang-orang yang telah terkondisikan lewat berbagai upaya dalam ibadah dan khalifah sangat dekat kedudukannya dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Sebaliknya siapapun yang menjauhi dua tugas penting ini, mereka sangat dekat dengan kegagalan dan kekecewaan.
A. Golongan manusia dalam hubungannya dengan tugas Ibadah dan Khalifah

1. Golongan yang mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati
Mereka adalah golongan manusia yang taat beribadah kepada Penciptanya dan mendayagunakan potensi yang ada pada dirinya untuk menjadi khalifah.
Mereka adalah yang membenarkan wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikutinya dengan penuh kerelaan dan keikhlasan.
Mereka adalah yang menjalankan syariat bagi diri dan keluarganya. Bagi setiap segmen kehidupannya. Dan mereka adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Bersih hati, takut kepada AzabNya dan senantiasa memohon ampun kepadaNya.
Balasan mereka adalah kebaikan di dunia dan akhirat.
2. Golongan yang gagal dan kecewa berat

Mereka adalah golongan manusia yang menolak untuk beribadah kepada Penciptanya dan tidak mau mendayagunakan potensi yang ada pada dirinya untuk menjadi khalifah.
Mereka adalah yang mendustakan wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan membantah setiap bukti-bukti kebenaran yang telah begitu jelas.
Mereka adalah yang menjalankan syariat thoghut bagi diri dan keluarganya. Bagi setiap segmen kehidupannya. Dan mereka adalah orang-orang yang bersekutu dengan syaithan dalam membangkang Allah. Hati mereka penuh berisi beragam penyakit dan kedengkian.
Balasan mereka adalah keburukan di dunia dan akhirat.

3. Golongan yang gagal dan kecewa namun merasa sukses dan bahagia

Mereka adalah golongan manusia yang pura-pura taat beribadah kepada Penciptanya dan pura-pura mendayagunakan potensi yang ada pada dirinya untuk menjadi khalifah di saat bersama orang-orang yang beriman.
Mereka adalah yang pura-pura membenarkan wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan pura-pura mengikutinya seperti orang yang rela dan ikhlas. Sebenarnya mereka adalah golongan manusia yang menolak untuk beribadah kepada Penciptanya dan tidak mau mendayagunakan potensi yang ada pada dirinya untuk menjadi khalifah. Sebenarnya mereka adalah yang mendustakan wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan membantah setiap bukti-bukti kebenaran yang telah begitu jelas. Sebenarnya mereka adalah yang menjalankan syariat thoghut bagi diri dan keluarganya. Bagi setiap segmen kehidupannya. Dan mereka adalah orang-orang yang bersekutu dengan syaithan dalam membangkang Allah. Hati mereka penuh berisi beragam penyakit dan kedengkian.
B. Upaya Menuju Kesuksesan dan Kebahagiaan
1. Punya Keyakinan Yang Kuat
Perbuatan kita tergantung ilmu dan fikiran kita. Dalam fikiran terformulasi antara visi dan misi. Visi adalah wujud ideal yang ingin diciptakan di masa depan. Misi adalah keinginan itu sendiri yang mengusung nilai-nilai yang telah tertanam dalam jiwa. Visi dan Misi itu akan terurai menjadi aksi-aksi yang menuntut adanya ilmu dan keterampilan. Kekuatan apa yang mendorong manusia menciptakan visi, misi dan aksi dalam hidupnya? Jawabnya adalah keyakinan yang kuat bahwa dirinya akan seperti apa yang dikehendakinya. Seseorang yang berilmu dan berketerampilan, jika tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa dirinya akan sukes bila menggeluti suatu aksi untuk mencapai suatu visi dan misi, aka ia tidak akan melakukan apapun. Dan akhirnya tidak ada yang dia peroleh.
Seseorang mestilah memiliki keyakinan yang kuat bila ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ingatlah selalu bahwa pada saat ia sedang merencanakan kesuksesan apa yang akan diraihnya, ia sebenarnya telah memiliki kebahagiaan dan kesuksesan. Bukankah kita ada dan diciptakan Allah, kita sebenarnya telah diberikan suatu kesuksesan dan kebahagiaan yaitu hidup itu sendiri. Jika ada manusia yang berfikir bahwa hidup adalah suatu kegagalan dan kekecewaan maka ini merupakan hal yang aneh.
Keyakinan membuat manusia memiliki suatu power yang luar biasa. Manusia tidak sehebat kuda dalam berlari, tidak sehebat burung yang bisa terbang, tidak sekuat ikan ketika berenang. Namun manusia bisa mengalahkan semua itu karena keyakinannya yang kuat. Bahwa mereka bisa lebih hebat dari semua itu. Dan memang kenyataan manusia bisa melakukan apapun yang mereka bayangkan bisa.
Seseorang yang tidak yakin dirinya akan sukses sama dengan orang yang meyakini bahwa dirinya akan gagal. Hasilnya akan sama saja, bahwa dia telah gagal sejak awal.
2. Menyiapkan segala Pendukung-Pendukungnya
Jika hendak melakukan sesuatu maka ada sekurang-kurangnya tiga hal yang harus menyertainya: pertama setelah pekerjaan sebelumnya selesai, kedua tawwakal kepada Allah, ketiga menyiapkan pendukung-pendukungnya. Pendukung pada hakikatnya bukan bagian langsung dari suatu hal, ia ada secara mandiri di luar sistem. Ia adalah lingkungan tempat beradanya sistem tersebut yang ada disengaja dan bersifat kondusif untuk menciptakan sistem yang lancar.
Bila seseorang telah memiliki keyakinan bahwa dirinya akan berubah menjadi apapun yang dikehendakinya, maka setelah adanya keyakinan itu, ia harus mempersiapkan pendukung-pendukungnya. Seseorang mestilah memiliki pendukung-pendukung yang tangguh bila ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Dengan adanya pendukung-pendukung, sarana, metode, alat, pendekatan, pembantu, peyokong, dana, waktu, strategi, yang telah siap sedia, maka setengah kesuksesan dan kebahagiaan telah ada di tangan.
Mempersiapkan pendukung-pendukung untuk suatu urusan apapun membuat manusia memiliki suatu kemudahan sehingga bisa dilaksanakan dalam waktu yang cepat dan efektif. Jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan sejati sesungguhny telah ada yaitu ibadah. Dan sarana-sarananya pun telah ada, disediakan Allah sejak awal kehidupan manusia. Manusia hanya tinggal mau memilih dan memilah cara yang paling mampu ia lakukan.
Seseorang yang mengabaikan persiapan dan perbekalan untuk suatu urusan maka ia sesungguhnya telah mengabaikan jalan menuju kesuksesan dan ia tidak akan sukses, melainkan setelah melewati berbagai kesulitan dan kepayahan.
3. Berkorban dengan segenap apa yang dianugrahkan Allah
Setelah semua persiapan telah disiapkan, pendukung-pendukung telah siap sedia pula, maka langkah selanjutnya adalah mengorbankan semua itu. Pergunakan semua itu sekalipun sampai habis tak tersisa. Mengorbankan artinya mempergunakan fasilitas yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah. Fasilitas yang ada pun hakikatnya adalah pemberian dari sisi Allah Swt.
Seseorang mestilah mau berkorban bila ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ingatlah selalu bahwa pada saat ia sedang berkorban untuk meraih kesuksesan apa yang akan diraihnya, ia sebenarnya telah memiliki sebagian kebahagiaan dan kesuksesan. Seseorang boleh tidak berkorban dalam hidup ini hanya apabila kesuksesan dan kebahagiaan itu sendiri telah diraihnya. Dengan demikian orang-orang yang tidak mau berkorban harta untuk beribadah kepada Allah pada hakikatnya ia telah memandang bahwa memiliki harta itulah baginya yang merupakan suatu kesuksesan dan kebahagiaan. Sesungguhnya tidak dipungkiri memiliki harta dan kekayaan merupakan suatu kesuksesan dan kebahagiaan yang diberikan Allah,yang mengharuskan manusia bersyukur kepadaNya. Namun harus ingat, itu belum selesai, tidak lama dan hanya sementara, dan untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Seseorang yang menghentikan langkah kaki dalam meraih kesuksean dan kebahagiaan hanya sebatas harta saja, maka ia telah tertipu oleh nafsu dan dunia, ia tidak akan memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati dan ia pasti akan menyalahgunakan hartanya untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Seseorang boleh tidak berkorban dalam hidup hanya apabila kesuksesan dan kebahagiaan itu sendiri telah diraihnya. Begitulah orang-orang yang telah masuk surga tak perlu lagi ia berkorban.
Sesungguhnya modal untuk dikorbankan itu sudah disediakan Allah berupa harta, waktu, nyawa, akal, ilmu dan teman seperjuangan. Manusia hanya tinggal mengikuti aturan main dalam berkorban itu demi diraihnya kesuksesan dan kebahagiaan.
4. Mentaati aturan Main yang Berlaku
Suatu peradaban hanya akan lahir dari ketertiban yang diciptakan oleh manusia. Dan ketertiban akan lahir dari peraturan yang ditegakkan. Tanpa aturan dan tanpa ketaatan maka tidak akan tercipta ketertiban. Untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan diperluakan sikap taat pada aturan main yang telah diberlakukan untuk manusia.
Dalam setiap langkah meraih kebahagiaan dan kesuksesan, terdapat aturan main yang membatasinya, terdapat rambu-rambunya. Bila peraturan itu dilanggar maka jangan harap kesuksesan dapat diraih. Kebahagiaan yang dicita-citakan manusia telah dibuat konsepsinya oleh Allah sendiri. Maka ketika manusia mencoba mencari kebahagiaan di luar apa yang telah dikonsepkan oleh Allah Swt itu sama saja dengan tindakan melanggar peraturan yang sebenarnya. Akibatnya ia tidak akan sampai kepada kebahagaiaan dan kesuksesan yang sebenarnya.
Aturan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan itu adalah agama. Dan mutlak agama itu adalah Islam. Bukan yang lainnya. Apapun selain Islam adalah aturan yang tidak akan pernah sampai kepada derajat mampu mengantarkan manusia kepada kebahagiaan sejati. Tidak ada aturan yang akan mengantarkan manusia kepada ibadah yang benar dan surga di akhirat. Selain Islam apapun namanya hanyalah akan membawa manusia kepada kesesatan dan neraka. Itu pasti sesuai janji Pencipta manusia yakni Allah Swt.
Aturan menuju kesuksesan dan kebahagiaan telah tersedia di muka bumi. Aturan itu tak perlu ditambah tak perlu dikurangi pula apapun alasannya. Sekalipun zaman dan tempat berubah. Manusia bahkan tak perlu lagi bersusah payah menciptakan aturan-aturan untuk menata kehidupannya karena sudah dibuatkan oleh Allah sendiri. Manusia hanya tinggal memahami dan melaksanakannya dengan penuh bukti ketaatan yang tulus dan ikhlas.
5. Keikhlasan dan Harapan yang Tiada Batas
Apa arti ikhlas? Ikhlas menurut pandangan umum melakukan perbuatan tanpa mengharapkan balas jasa. Menurut pandangan ahli psikologis hal ini sulit terjadi. Sulit sekali orang melakukan suatu perbuatan tanpa dibarengi keinginan untuk mendapatkan balas jasa. Setiap orang membawa harapan dan keinginan atas perbuatannya agar mendapatkan reward atau balasan. Maka konsep yang benar dari ikhlas adalah niat melakukan perbuatan karena mengharapkan balasan dari Allah semata. Jadi kata kunci dari ikhlas adalah membersihkan niat dari selain Allah. Sedangkan kata kunci yang kedua dari ikhlas adalah harapan bahwa Allah akan membalas amal kebaikannya dengan keridoanNya.
Kesuksesan dan kebahagiaan adalan anugrah dan balasan dari sisi Allah untuk mereka yang memenuhi sekurang-kurangnya dua kriteria. Mereka yang mentaati aturan ibadah dan ikhlas dalam melakukannya. Jika berbuat tanpa aturanNya atau melakukan aturanNya tanpa ikhlas, apalagi tanpa kedua-duanya, maka tidak ada kesuksesan dan kebahagiaan bagi manusia. Untuk ikhlas manusia paling tidak memerlukan pendukung-pendukungnya berupa makrifatulloh, fikih, dan pekerjaan yang halal.

C. Hakikat Kebahagiaan dan Kesuksesan
1. Ilmu yang benar
Ilmu yang benar adalah ilmu yang mengantarkan manusia kepada hidayah dan hikmah. Jika manusia telah memiliki ilmu ini, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
2. Perbuatan yang konsisten dengan kebenaran
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang konsisten dengan kebenaran. Jika manusia telah memiliki perbuatan semacam ini, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
3. Keikhlasan yang sempurna dalam Perbuatan tersebut
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang diawali, disertai dan diakhiri oleh keikhlasan. Jika manusia telah memiliki keikhlasan ini, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
4. Kontinyuitas dalam ketiga hal tersebut di atas
Kontiyuitas dalam ketiga hal yakni dalam ilmu, perbuatan dan ikhlas maksudnya seseorang hendaknya terus menjaga ketiga hal tersebut menjadi bagian dari keberadannya sampai ia meninggal. Jika manusia telah memiliki sifat ini, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
5. Perbaikan dan Peningkatan Kualitas segalanya
Ilmu diperbaiki dengan terus belajar. Perbuatan diperbaiki dengan ilmu dan ikhlas. Ikhlas diperbaiki dengan taubat, ilmu, doa, makrifat dan tawadlu. Jika manusia telah melakukan semua itu, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
6. Evaluasi dan Tawadlu yang jujur
Jangan lupa mengadakan evaluasi untuk dua hal, pertama perbaikan dan kedua peningkatan. Tawadlu artinya tetap mengikuti yang benar dan senantiasa melihat orang yang lebih taat dari dirinya sebagai teladan. Jika manusia telah memiliki sifat ini, maka ia telah memperoleh kebahagiaan.
D. Penghancur Kebahagiaan dan Kesuksesan
1. Minder
Minder adalah kebalikan dari yakin. Orang yang minder cenderung mencap bahwa dirinya tidak mampu untuk melakukan apapun. Ia takut untuk melangkah. Dalam fikiran dan bawah sadarnya telah terbentuk citra bahwa dirinya tidak akan mampu untuk mewujudkan apapun. Ini adalah penyakit yang harus dihilangkan dari jiwa kita. Minder sebenarnya lebih kepada cara berfikir merasa aman dengan apa yang telah ada. Baik itu berhubungan dengan nilai atapun materi. Minder dialami oleh orang yang membebek kepada nilai yang salah Kalau memang cara berifikir kita tidak mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan berkembang, mengapa kita tidak mencoba hal-hal baru tanpa kehilangan arah kehidupan yang benar.
Kesuksesan tidak mungkin bisa dicapai oleh mereka yang berfikir bahwa mereka tidak akan bahagia nanti di akhirat. Mungkin saja orang yang minder merasa bahagia dan merasa telah sukses dengan keadaannya sekarang, sehingga tak perlu lagi mengubah keadaan diri dan lingkungannya.

2. Ceroboh
Ceroboh adalah kebalikan dari bersiap sedia. Jika kita melakukan suatu tindakan atau rencana besar tanpa suatu persiapan maka akibatnya adalah pasti kegagalan. Manusia yang paling ceroboh adalah manusia yang paling disibukkan oleh dunia sehingga ia tidak sempat memperhatikan urusan akhiratnya padahal ia akan tiba di negeri akhirat itu. Kecerobohan membuat manusia menyesal ketika datang kesulitan. Padahal perbekalan yang ada sesungguhnya memang ada, tetapi tidak disertakan dalam perjalanan.
3. Pelit
Pelit adalah kebalikan dari rela berkorban. Pelit itu berhubungan erat dengan rakus, tamak, loba, dan cinta dunia. Orang yang pelit adalah juga orang yang egois. Ia hanya mau memperhatikan dirinya dan merasa tidak rela bila hartanya berkurang untuk kegiatan sosial. Padahal kesuksesan
4. Kriminal /Korupsi
Kriminal adalah kebalikan dari mentaati aturan.
5. Dengki
Dengki adalah kebalikan dari ikhlas dan berharap kepada Allah
6. Bodoh
Bodoh adalah kebalikan dari tiadanya ilmu.
7. Munafik
Munafik artinya berbuat tetapi tidak konsisten dengan aturan lahir batinnya.
8. Riya
Riya adalah kebalikan dari ikhlas.
9. Futur
Futur artinya putus semangat. Bisa dikatakan putus asa.
10. Stagnasi
Stagnasi artinya tidak mengalami perkembangan lagi. Tetapi bukan istiqomah.
11. Sombong
Sombong adalah lawan dari tawadlu. Menolak kebenaran dan mengukur kebaikan dirinya dengan orang yang lebih jahat dari dirinya.

Cisarua, 19 Maret 2010


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: