Filsafat Berfikir

TAKUT KEPADA ALLAH | Mei 7, 2010

TAKUT KEPADA ALLOH
Oleh: Ading Nashrulloh

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya
dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya,
maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan (24:52)

Mengacu kepada definisi takwa yaitu mengadakan perlindungan dari azab Allah, mengindikasikan bahwa takwa itu mengandung arti takut. Selanjutnya definisi takwa adalah menjalankan segala perintah Allah, ini mengindikasikan bahwa takwa itu mengandung arti taat. Definisi takwa berikutnya adalah menjauhi segala larangan Allah, ini mengindikasikan hal lain lagi, yaitu bahwa takwa mengandung arti bersih hati. Sebab hati yang bersih itu pertama kali syaratnya harus jauh dari pelanggaran atas segala larangan Allah.
Dengan demikian inti sari takwa adalah takut kepada Allah, taat kepadaNya dan keadaan bersih hati. Takut kepada Allah artinya takut terhadap azab yang telah menjadi ketetapanNya. Allah bukanlah Zat yang Zhalim terhadap hamba-hambaNya, tetapi hamba itulah yang zhalim terhadap dirinya sendiri sehingga menyebabkan dirinya masuk ke dalam kategori manusia yang dimurkai Allah dan kategori manusia yang menempuh jalan yang sesat. Sedangkan balasan bagi mereka yang dimurkaiNya dan sesat jalannya adalah tiada lain azabNya di dunia dan di akhirat kelak.
Takwa mengandung arti taat, ini merupakan konsekuensi dari perasaan takut kepada Allah. Seseorang jika takut kepada Allah, tentu dia akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari laknat dan kemarahanNya dan caranya adalah dengan mendekat kepadaNya, bukan menjauhiNya. Cara mendekati Allah adalah dengan melaksanakan apa yang diwajibkanNya kepada hamba-hambaNya. Taat kepada Allah bukanlah untuk kepentingan Dia yang Maha Kuasa, tetapi untuk kepentingan hamba itu sendiri. Perintah Allah yang paling besar adalah Tauhid dan Islam. Islam didirikan di atas pondasi yang bernama tauhid. Lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari Islam adalah kafir.
Takwa mengandung arti bersih hati. Bersih hati adalah gambaran seorang yang baru lahir ke dunia. Yang ada pada dirinya adalah fitrah. Hatinya putih bersih tanpa noda. Ketika seorang hamba berbuat zhalim atau dosa, maka terkotorilah hati itu bagai noktah hitam di kaca yang bersih. Dan ketika ia bertaubat dan terus berusaha menjaga diri dari perbuatan dosa, maka hati itu bersih lagi. Takwa adalah menjauhi segala larangan Allah. Jika larangan Allah dilanggar, maka itulah dosa di hati. Takwa adalah bersih hati. Karena takwa adalah usaha untuk terus menerus menjauhi larangan Allah, berusaha menjaga diri agar sampai melanggar larangan Allah.
Orang yang takut kepada Allah, taat kepadaNya dan jauh dari perbuatan dosa yang menghasilkan keadaan hati yang bersih senantiasa, maka mereka adalah hamba-hamba Allah yang dekat denganNya dan memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya.
Sesungguhnya Allah itu dekat bagi hamba-hambaNya yang sholeh.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)
1. PERINTAH TAKUT KEPADA ALLAH

Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar mereka takut kepada-Nya. Karena takut adalah perintah maka takut itu wajib dan memiliki konsekuensi penting. Bagi yang melaksanakan perintah tersebut maka ketakwaannya akan bertambah dan karena itu ia akan memperoleh kemuliaan dan ditujukiNya ke arah kebaikan. Sedangkan bagi yang mengabaikannya, maka dosanya makin bertambah dan bertambah pula kehinaannya dan ia bergelimang dalam lautan dosa dan kemaksiatan.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau Fathul Majid mengatakan: “Takut berkedudukan tinggi dan mulia di dalam agama dan termasuk jenis ibadah yang banyak cakupannya yang wajib hanya diberikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Banyak sekali ayat al-Quran dan Hadits yang menunjukkan tentang wajibnya takut kepada Allah Swt. Berikut adalah di antara ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan wajibnya takut kepada Allah.

“Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175).
“Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).
“Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (Al-Ahzab: 39).
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Baqarah:150).
“Mereka (malaikat) takut kepada Rabb mereka dan melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl: 50)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, … (Qs. al-Anfaal [8]: 2).
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras” (Qs. al-Haj [22]: 1-2).
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Qs. ar-Rahman[55]: 46).

Rasululullah bersabda: “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu. (HR. Al-Baihaqi).
Rasulullah bersabda: “Dua mata yang diharamkan dari api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang menjaga serta mengawasi Islam dan umatnya dari (gangguan) kaum kafir. (HR. Bukhari)
Rasulullah bersabda: “Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran. Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang yang sengsara ialah yang sengsara sejak dalam kandungan ibunya. Tiap perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)
Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah, di antaranya seorang hamba yang “diajak” oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, dan dia mengatakan: ‘Aku takut kepada Allah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.629 dan Muslim no. 1031 dari hadits Abu Hurairah)

Syaddad bin Aus radiallahuanhu berkata: telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Demi kemuliaan dan keagunganku, aku tidak akan menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku. Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu’aim dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 742).
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; Dua orang yang saling mencintai kerena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Orang yang memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya.”

Dari ‘Adiy bin Hatim r.a., ia berkata; Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia melihat ke depan maka ia tidak melihat kecuali Neraka ada di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari Neraka meski dengan sebutir kurma. [Mutafaq ‘alaih].

Jika seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang tidak mengharapkan surga-Nya. Jika orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang putus asa dari rahmat-Nya. [HR. Muslim].

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw, tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman: Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan bemberikannya rasa aman di Hari Kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di Hari Kiamat. [HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya].

Dari Ibnu Abas, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; ketika Allah menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya: Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (Qs. at-Tahrim [66]: 6); Pada suatu hari Rasulullah saw. membacakan ayat ini kepada para sahabat, tiba-tiba ada seorang pemuda yang terjungkal pingsan. Kemudian Nabi Saw meletakkan tangan beliau di atas hatinya, dan ternyata masih berdetak jantungnya. Kemudian Nabi Saw bersabda, “Wahai anak muda ucapkanlah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’”, maka pemuda itu pun mengucapkannya. Kemudian beliau memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, apakah pemuda itu termasuk golongan kita?” Rasulullah bersabda; apakah kalian tidak mendengar firman Allah: Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. [HR. Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi].

Dari Tsauban r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda: Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebarkan. Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggaranya.” [HR. Ibnu Majah. Al-Kinani penulis buku Mishbah Al-Zujajah berkata, Isnad hadits ini shahih, para perawinya terpercaya].

Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi Saw dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata: Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seolah-olah ada di atas gunung. Ia takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudia ia berkata mengenai dosanya, “Seperti inikah?” Abu Syihab berkata dengan tangannya –yang diletakkan– di atas hidungnya. [HR. Bukhari].

Ditanyakan kepada Rasulullah Saw manusia manakah yang paling utama? Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bening hatinya dan jujur lisannya.” Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, Kami sudah mengetahui maksud ‘jujur lisannya’, namun apa yang dimaksud dengan ‘bening hatinya’?” Rasulullah Saw bersabda, “Adalah hati yang takut (kepada Allah) dan bersih. Di dalamnya tidak ada dosa, sifat jahat, kedengkian, dan iri.” [Al-Kinani berkata, “Sanad hadits ini shahih”. Al-Baihaki meriwayatkannya dalam kitab sunannya dari arah tersebut].

Takut merupakan bentuk ibadah hati yang memiliki kedudukan agung dan mulia di dalam agama bahkan mencakup seluruh jenis ibadah. Takut adalah salah satu dari rukun ibadah dan merupakan syarat iman. Rasa takut adalah pilar yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim. Dimana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat.

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49).

Beribadah dengan penuh rasa takut (khauf), artinya ialah takut jikalau ibadah kita tidak sempurna, takut jikalau kita tidak mendapatkan ridha Allah, takut jukalau dosa-dosa kita tidak diampuni. Oleh karena itu orang yang beribadah dengan rasa takut ini, mereka tidak akan terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan yang mengotori hati. Mereka takut hal-hal yang dulu mereka lakukan dalam rangka mengabdi kepada Allah hilang begitu saja karena suatu kemaksiatan sekecil apapun.

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Robb mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka (sesuatu pun). Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berbuat kebaikan, dan merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya.” (Qs. al-Mukmin [23]: 60)

Imam Tirmidziy meriwayatkan, Aisyah berkata,” Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, apakah yang dimaksud disini orang-orang yang meminum arak, berzina dan mencuri?” Rasululloh saw menjawab, “Bukan begitu, wahai putri as-Shiddiq. Tetapi mereka orang-orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Mereka takut jika amalannya tidak diterima. Merekalah yang bersegera dalam kebaikan.” (Hadits shohih riwayat at-Tirmidiy Kitaabut-tafsir IX/19, al-Hakim at-Tafsir II/393 menyatakannya shohih dan disepakati oleh adz-Dzahabiy).

2. PENGERTIAN TAKUT KEPADA ALLAH

Definisi takut kepada Allah

Takut adalah kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah, sedangkan Dia Maha Kuat dan Kuasa atas diri kita, yang menjadi sebab kita tidak berbuat durhaka padaNya, memohon perlindungan dari azabNya dan memohon petunjukNya agar kita berada dalam rahmatNya.

Ada tiga konsep utama yang berkaitan dengan takut kepada Allah. Yaitu Khauf , Khosyah, dan Rohbah. Penjelasannya sebagai berikut ini:

Khouf artinya perasaan takut yang muncul terhadap sesuatu yang mencelakakan, berbahaya atau mengganggu . Sedangkan makna khouf secara istilah adalah rasa takut dengan berbagai macam jenisnya, yaitu: khouf thabi’i, Khouf ibadah, Khouf sir.

Khosyah serupa maknanya dengan khouf walaupun sebenarnya ia memiliki makna yang lebih khusus daripada khouf karena khosyah diiringi oleh ma’rifatullah ta’ala.

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Faathir: 28).

Oleh sebab itu khosyah adalah rasa takut yang diiringi ma’rifatullah. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun aku, demi Allah… sesungguhnya aku adalah orang yang paling khosyah kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya.” (HR. Bukhari Muslim).

Ar Raaghib berkata: Khosyah adalah khouf yang tercampuri dengan pengagungan. Hal itu muncul didasarkan pada pengetahuan terhadap sesuatu yang ditakuti.

Rohbah adalah khouf yang diikuti dengan tindakan meninggalkan sesuatu yang ditakuti, dengan begitu ia adalah khouf yang diiringi amalan.

Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat bagi orang yang masuk surga.
“Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62)
Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan, Takut itu ada tiga macam :

Khouf thabi’I, takut yang bersifat tabiat, yaitu takut kepada hal-hal yang bisa membahayakan jiwa seseorang seperti halnya orang takut hewan buas, takut api, takut tenggelam, maka rasa takut semacam ini tidak membuat orangnya dicel, akan tetapi apabila rasa takut ini, menjadi sebab dia meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan maka hal itu haram.

Takut jenis ini dibolehkan selama tidak melampaui batas. Berfirman menceritakan kisah Nabi Musa alaihisallam: “Dia keluar dari negerinya dalam keadaan takut yang sangat.” (Al-Qashash: 21)

Khouf ibadah, takut yang bernilai ibadah, yaitu takut yang diiringi dengan penghinaan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka takut yang seperti ini tidak boleh ada kecuali ditujukan kepada Allah ta’ala. Adapun menujukannya kepada selain Allah adalah syirik akbar.

Khouf sirr, takut yang bernilai syirik, yaitu memberikan takut ibadah kepada selain Allah. seperti halnya orang takut kepada penghuni kubur atau wali yang berada di kejauhan serta tidak bisa mendatangkan pengaruh baginya akan tetapi dia merasa takut kepadanya maka para ulama pun menyebutnya sebagai bagian dari syirik. (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 57)
Perbuatan ini akan mengekalkan pelakunya di dalam neraka, mengeluarkannya dari Islam, dan menghalalkan darah dan hartanya. “Janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).

Rasa takut ada bermacam-macam sebagaimana dijelaskan di atas, namun takutnya seorang mukmin ialah takut akan pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.

Seorang mukmin itu tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Hal itu dikecualikan takut secara naluri (maka ini tidak terlarang), seperti seseorangyang takut terhadap ular, sebagaimana pernah terjadi pada Kaliimullah (Nabi yangdiajak bicara oleh Allah, yaitu Nabi Musa), Allah berfirman. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. (Thaahaa: 67) Dan seperti takutnya seseorang terhadap serigala yang akan memangsa kambingnya, sebagaimana tersebut di dalam hadits Khabab bin al-Arat dalam Shahih Bukhari.

Kemudian bahwa takut kepada Allah yang sebenarnya dan yang terpuji adalah takut yang menghalangi pemiliknya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mendorongnya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Rasulullah bersabda:

Barangsiapa takut niscaya dia berangkat di waktu akhir malam, dan barangsiapa berangkat di waktu akhir malam niscaya dia mencapai tempat tujuan. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.

Imam Ibnu Abil `Izzi al-Hanaberkata:

“Seorang hamba wajib untuk takut dan berharap (kepada Allah), dan sesungguhnya takut yang terpuji dan yang sebenarnya adalah yang menghalangi pemiliknya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah. Apabila (takut) itu melewati batas, dikhawatirkan dia terjatuh pada sikap putus asa.”

Syeikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin hazhahullah berkata:

“Dan takut kepada Allah ada yang terpuji dan ada yang tidak terpuji. Yang terpuji adalah yang tujuannya / akhirnya akan menghalangimu maksiat terhadap Allah, yang mendorongmu untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan. Sedangkan yang tidak terpuji adalah yang membawa seorang hamba menjadi putus asa dari rahmat Allah, sehingga di saat itu hamba tadi menyesali(dirinya) dan patah semangat; bisa jadi dia terus-menerus menjalankan kemaksiatan karena keputus-asaannya yang kuat.”

Imam Ibnu Abil `Izzi al-Hanajuga berkata:”Dan setiap orang, apabila engkau takut terhadapnya, niscaya engkau lari darinya, kecuali (takut) terhadap Allah Ta’ala, karena sesungguhnyaapabila engkau takut terhadap-Nya, niscaya engkau lari kepada-Nya. Maka seseorang yang takut (kepada Allah) itu, dia lari dari Rabbnya menuju Rabbnya.”

Sehingga takut seorang hamba yang sebenarnya kepada Allah itu tidak sebagaimana takutnya Iblis/setan kepada Allah. Karena setan itu juga takut kepada Allah, tetap takutnya tidak mendorongnya untuk tunduk dan taat kepada-Nya, bahkan dia enggan dan sombong/takabbur untuk taat kepada-Nya.

“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka, dan mengatakan:”Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”.Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat sating lihat-melihat (berhadapan pada perang Badar-pen), setan itu balik ke belakang seraya berkata:”Sesungguhnya saya berlepas diri dari kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kalian tidak dapat melihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah.”Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Al- Anfal: 48)

Demikianlah takut yang sebenarnya kepada Allah, yang mendorong untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, meninggalkan larangan-larangan-Nya dan bersegera menjalankan berbagai kebaikan. Allah memuji kepada orang yang mempunyai rasa takut semacam ini.
“Sesungguhnya orang yang berhati-hati karena takut (terhadap siksa) Rabb mereka. Dan orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan (sesuatupun) dengan Rabb mereka, Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Al-Mukminun: 57-61)

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi dari Aisyah yang berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini. (Dan orang-orang yang memberihan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut)(Al-Mukminun: 60), apakah mereka adalah orang-orang yang berzina, minum khamr dan mencuri?”. Beliau menjawab: “Tidak wahai (Aisyah) anak ash-Shidiiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa,melaksanakan shalat, bershadagah dan mereka khawatir (amalan mereka) tidak diterima.”

Al-Hasan berkata:

“Mereka telah beramal -demi Allah- dengan semua ketaatan-ketaatandan mereka telah bersunggah-sungguh padanya, serta mereka takut (seandainya amalan-amalan mereka) ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan antara berbuat baik dengan takut (tidak diterima amalannya), sedangkan orang munafik menggabungkan antara berbuat buruk dengan (merasa) aman (dari siksa Allah).”

Dan firman-Nya:

“Orang-orang laki-Iaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pulaoleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan(dari) membayarkan zakat. Dan mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hart itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (An-Nur: 37)

Takut Yang Tidak Benar

Khauf sirri (i’tiqadi)

Yaitu seseorang takut kepada selain Allah -baik kepada patung, berhala, orang yang telah mati, mayat yang dikubur, thaghut, makhluk yang tidak ada di hadapannya dari jin ataupun manusia, tempat-tempat/barang-barang yang dikeramatkan, dan lain-lain- akan menimpakan bencana (kesusahan/sesuatu yang tidak disakai) secara sirr (rahasia). Sebagaimana firman Allah yang menghikayatkan perkataan kaum Nabi Huud Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. Huud menjawab:

“Sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipudayamu semnanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Huud: 54-55).

Juga firman-Nya tentang sikap orang-orang kar terhadap Rasulullah Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya? Dan mereka (orang-orang kar) mempertakuti kamu dengan (sesembahan-sesembahan) yang selain Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada seorangpan pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar: 36)

Khauf sirr ini termasuk dosa yang besar, bahkan termasuk syirik akbar (syirik besar) yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Rasa takut seperti ini dewasa ini terjadi di kalangan para penyembah kubur, tempat-tempat/barang- barang keramat dan lainnya. Mereka takut kepadanya dan mereka menakut-nakuti dengannya kepada para ahlu tauhid tatkala para ahlu tauhid itu memperingatkan peribadahan mereka yang batil dan memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja.

Khauf ‘amali.

Yaitu seseorang meninggalkan sesuatu / amalan yang wajib atau melakukan sesuatu / amalan yang haram karena takut kepada manusia. Hal ini termasuk jenis syirik ashghar (syirik kecil) yang meniadakan kesempurnaan tauhid. Dan inilah yang menyebabkan turunnya firman Allah :

“(Yang mendapatkan pahala yang besar yaitu orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan-Sesungguhnya manusia (yaitu orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penalong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (Ali ‘Imran: 173)

Juga Rasulullah bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian menghinakan dirinya, yaitu jika dia melihat satu perkara yang menjadi hak Allah dan menjadi kewajibannya dibicarakan, kemudian dia tidak mengatakannya. Maka Allah akan bertanya( kepadanya pada hari Kiamat): “Apa yang menghalangimu antuk mengatakannya?”, kemudian dia akan menjawab: “Rabbku, aku takut kepada manusia”. Maka Allah barkata: “Hanya Akulah yang paling berhak engkaai takuti”.
Takut secara khayalan.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata: 2HSR. Ahmad III/27,29,77, Ibnu Hibban no:1845 dan Ibnu Majah no: 4008, dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ no: 1814. “Dan jika takut itu adalah takut secara khayalan, seperti takut tanpa sebab mendasar atau takut dengan sebab yang lemah, maka ini adalah takut yang tercela, yang menjadikan pelakunya termasuk orang-orang yang penakut. Rasulullah telah mohon perlindungan kepada Allah dari sifat penakut ini, karena termasuk akhlaq yang buruk. Dengan demikian keimanan yang sempurna, tawakkal dan sifat pemberani akan menolak jenis sifat penakut ini.”

3. TAKUT KEPADA ALLAH DALAM AL-QURAN

a. Al-Quran itu peringatan bagi orang yang takut kepada Allah

Thaahaa Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (20”1-3).
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (36:11)

b. Takutnya orang munafik adalah kalau-kalau Allah berbuat zhalim

Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. (24:50)
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.”(5:52)

c. Takutnya orang kafir kepada Allah hanya terjadi pada saat terjadi pada hari kiamat dan itu menyebabkan mereka ingin dikembalikan ke dunia.

Hati manusia pada waktu itu sangat takut Pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? (79:8-10)
Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. (74:53)
Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. (72:24)

d. Perbuatan dosa secara naluri menimbulkan rasa takut akan akibatnya

Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. (28:33). Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkata- an)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (28:35)

e. Takut kepada Allah berpengaruh pada jiwa sehingga jiwa itu tergerak untuk tidak berbuat zhalim

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (5:28)

f. Orang yang takut kepada Allah akan mendapat keridoan Allah

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (98:8)

g. Takut kepada Allah adalah pintu untuk mendapatkan pelajaran yang banyak

oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (87:9-11)
h. Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti dan itu sumber dari sifat berani melawan orang-orang kafir

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (9:13)

i. Syaithan menyembunyikan rasa takutnya tatkala masih menggoda manusia untuk kafir dan menyatakannya setelah manusia berhasil dijadikannya kafir

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.” (59:16)

j. Beri peringatan bagi yang takut pada Allah agar mereka bertakwa

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. (6:51)
Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (79:45)

k. Takut: berhati-hatilah menyalahi Rasul

Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (24:63)

l. Agar tidak takut kepada selain Allah maka bertawakkallah padaNya, pasti Allah menolong.

ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (3:122-123)
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia[250] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (3:173)
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.(3:175)
“orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (5:3)
m. Hati manusia pembangkang lebih keras dari batu tatapi batu takut kepada Allah

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (2:74)

n. Buah dari takut kepada Allah: ampunan dan pahala

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (67:12)
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga (55:46)

o. Jika Takut pada Allah, Sampaikan apa yang mesti disampaikan

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (5:44)

p. Jika Takut pada Allah, Perbaiki hubungan persaudaraan

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (49:10)

q. Kisah mengajak Firaun agar takut kepada Allah untuk orang yang takut kepada Allah

“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan).” Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (79 :17-26).

r. Takutnya Nabi Musa dalam menghadapi Firaun

Dalam al-Quran beberapa kali disingungg tentang rasa takutnya Nabi Musa ketika hendak menghadapi Firaun. Marilah kita kaji bagian ini, sebab mengandung pesan-pesan yang penting.
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). (20: 67-68)
Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan), (26:14-15).

s. Hal-hal yang tidak boleh ditakuti orang-orang mukmin

1). Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (5:54).

2). Tidak takut akan kemiskinan

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518].” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (6:151)
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (17:31)

3). Tidak takut kepada manusia

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (5:44)

4). Tidak takut pada ancaman orang-orang kafir

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (3:175)

5). Tidak takut menghadapi musuh

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (5:21)

t. Takut kepada Allah menyempurnakan Nikmat serta Hidayah
Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (2:150).
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (5:3)

u. Rasa Takut akan hilang ketika orang mukmin memasuki surga

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (41:30)

Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (34:23)

v. Takut kepada Allah melahirkan sifat taat dan enggan melakukan kedurhakaan kepadaNya

Sementara orang-orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah, tenggelam dalam kemaksiatan dan kesesatan. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang lahir dari rasa takut kepada Allah itu akhirnya akan sampai kepada apa yang telah dijanjikan oleh Allah yaitu surga yang penuh kenikmatan di akhirat kelak. Dan di dunia kenikmatan yang akan diberikan kepada orang-orang yang takut kepada Allah adalah ketentraman batin, keistiqomahan dalam beribadah, hilangnya rasa sedih dan turunnya pertolongan dari sisiNya. Semua itu merupakan pilar-pilar kemuliaan.
“(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (50:33-34)
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (23:57-61)

w. Mendapatkan kemenangan yang besar

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (24:52)
Orang yang takut kepada Allah akan mendapatkan kemenangan yang besar dari sisi Allah Swt. Kemenangan yang besar itu adalah kemenangan di dunia dan kemenangan di akhirat kelak. Di dunia yaitu kemenangan atas orang-orang kafir dan di akhirat kemenangan berupa masuk ke dalam surga.
Kemenangan yang besar akan diberikan kepada mereka yang takut kepada Allah Swt, yang taat kepadaNya dan RasulNya, juga kepada orang-orang yang berjihad di jalanNya “orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20). Juga kepada orang-orang yang berbuat kebajikan, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (22:77). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (78:31)

x. Diperbaiki amalan-amalan dan diampuni dosa-dosanya

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (33:70-71).

4. TAKUT KEPADA ALLAH DALAM AL-HADITS

a. Takut membuat kita berhati-hati dalam beramal

Rasulullah SAW bersabda: Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kamu beramal dengan amalnya ahli surga, sehingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta, namun karena ia telah tercatat sebagai ahli neraka, maka tiba-tiba ia melakukan amalan ahli neraka, sampai ia akhirnya ia masuk neraka. Dan salah seorang di antara kamu sekalian beramal dengan amalnya ahli neraka, sehingga jarak antara dia dengan neraka hanya sehasta, tetapi karena ia telah tercatat sebagai ahli surga, maka tiba-tiba dia mengamalkan amalan ahli surga sampai akhirnya ia masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Seseorang memperoleh Surga atau Neraka adalah akibat dari perbuatannya. Sebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas “namun karena ia telah tercatat sebagai ahli neraka, maka tiba-tiba ia melakukan amalan ahli neraka, sampai ia akhirnya ia masuk neraka”. Tetapi jika kita mengkaji lagi hadits di atas rupanya seseorang masuk ke neraka juga karena sudah ditakdirkan Allah bahwa dia memang telah dicatat, ditetapkan sebagai ahli neraka. Oleh karena itulah, maka kita tidak bisa mengandalkan perbuatan kita semata untuk menghindari siksa neraka dan beroleh surgaNya. Kita pun harus memohon kepada Allah agar kita dicatat menjadi ahli surga.

b. Takutlah kepada siksa neraka dan beratnya hari kiamat

Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat, ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka.” (HR Bukhari dan muslim).

Dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Di antara ahli neraka ada yang disiksa dengan api sebatas pada kedua mata kakinya, sebatas kedua lututnya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang disiksa dengan api sebatas bahunya.” (HR Muslim).
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Di kala manusia berdiri, menunggu panggilan Tuhan semesta alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam dalam keringatnya sampai pada kedua daun telinganya.” (HR Bukhari dan Muslim).

c. Takut kepada Allah akan membuat kita banyak menangis dan sedikit tertawa

Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW pernah berkhutbah, dan saya belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu. Beliau bersabda : “Seandaimya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Kemudian para sahabat Rasulullah SAW menutup wajah mereka sambil menangis terisak-isak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Zarr ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat. Langit itu berkeriat-keriut ; di situ tidak ada tempat untuk bisa menyisipkan empat jari-jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan benyak menangis, dan kamu tidak akan bersuka ria dengan istrimu diperaduan. Bahkan, kalian akan keluar ke tempattempat yang ramai untuk mohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.”

Dari Al-Miqdad ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Pada hari kiamat matahari didekatkan kepada para makhluk, sehingga jaraknya kira-kira hanya satu mil.” Sulaim bin ‘Amir yang meriwayatkan dari Al-miqdad, berkata : “Demi Allah, saya tidak mengerti yang dimaksud oleh Rasulullah dengan mil itu; apakah ukuran jarak pada perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki mata.” Rasulullah SAW bersabda lagi : “Manusia tenggelam dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya.” Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.” (HR Muslim)

d. Takut kepada Allah dorongan untuk membentengi diri dari siksaNya dengan berbuat amalan baik

Dari ‘Adiy bin Halim ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seorang di antara kalian akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal di antara dia dengan tuhannya tidak ada juru bahasa, kemudian ia melihat ke kanan, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, ia melihat ke kiri, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, dan ia melihat ke depan, tiada yang terlihat kecuali api yang tepat di depannya. Maka takutlah kalian terhadap neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

e. Jika Takut kepada Allah maka berhai-hatilah dengan umur, ilmu, harta dan badan kita

Dari Abu Barzah Nadlah bin `Ubaid Al –Aslamy ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak, sebelum ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan. Tentang hartanya, darimana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa ia rusakkan.” (H.R.Tirmidzi)
f. Takutlah kepada Allah, bumi akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan kita

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Membaca ayat “YAUMAIDZIN TUHADDITSU AKHBAARAHAA” (Pada hari itu bumi menceritakan beritanya). Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kalian, apa yang diberitakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab : “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya berita bumi, adalah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, yang mereka perbuat di atasnya. Bumi itu akan berkata : “Ia telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu : “Inilah yang diberitakan oleh bumi” (H.R Tirmidzi)

g. Takut kepada Allah, maka berlindunglah kepadaNya

Dari Abu Sa`id Al-Khudriy ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkannya ke dalam mulut dan ia hanya menunggu ijin, kapan ia diperintah untuk meniup sangkakalanya.” Berita ini terasa berat sekali oleh para sahabat, kemudian beliau bersabda : “Ucapkanlah “HASBUNALLAAHU WANI`MAL WAKIIL” (Allah yang mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin)” (H.R Tirmidzi)

h. Takut kepada Allah berkonsekuensi untuk bersegera berbuat kebaikan

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda : “Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih pagi, dan siapa saja yang berangkat lebih pagi, ia pasti akan lebih cepat sampai pada tempat tujuan.. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu Surga.” (H.R Tirmidzi).
Dari `Aisyah ra, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Manusia akan dikumpulkan nanti pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat.” Saya bertanya : “Wahai Rasulullah, waktu itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling memandang kepada yang lain?” Beliau menjawab : “Wahai `Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.” (H.R Bukhari dan Muslim)

i. Menjadikan Allah sebagai tempat berlindung

Dari Jabir ra., ia berkata : “Saya berperang bersama Nabi SAW menuju ke arah Najd. Tatkala Rasulullah kembali kami pun ikut kembali. Di suatu lembah yang banyak pohon berduri, kami merasa payah dan mengantuk, Rasulullah SAW pun turun dan berpencar untuk berteduh di bawah pohon, kemudian beliau menggantungkan pedangnya, sedangkan kami semua tertidur. Tiba-tiba Rasulullah SAW memanggil kami, sedangkan di dekat beliau ada seorang Badui, kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya.” Lalu orang ini berkata : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Aku menjawab : “Allah” (tiga kali). Kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk. (HR. Bukhari dan Muslim)

j. Kita bersandar sepenuhnya kepada Allah dengan sepenuh harapan kepadaNya

Dari Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Hai fulan apabila kau hendak tidur maka bacalah “ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU WAJHII ILAIKA WAFAWWADTU AMRII ILAIKA WA ALJA’TU DHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA LAA
MALJA’A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA AAMANTU BIKITAABIKAL LADZII ANZALTA WA NABIYYIKAL LADZII ARSALTA.” (Ya Allah, saya menyerahkan diri kepada-Mu. Saya hadapkan wajahku kehadirat-Mu, saya menyerahkan segala urusanku kepada-Mu dan saya menyandarkan punggungku, kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada-Mu. Saya percaya dengan sepenuh hati terhadap Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan terhadap Nabi-Mu yang telah engkau utus.) Dengan membaca doa ini, apabila kalian mati pada malam itu, maka matinya dalam keadaan bersih dari dosa, dan jika kamu masih hidup sampai pagi harinya maka kamu akan memperoleh kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

k. Tidak perlu ada rasa khawatir terhadap ancaman yang datang dari selainNya

Dari Abu Bakar As Shiddiq Abdullah bin Utsman bin Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisy At-Taimiy ra., ia ayah dan ibunya termasuk sahabat Nabi, ia berkata : “Tatkala kami berada di gua Tsur, saya melihat kaki-kaki orang musyrik berada di atas kepala kami, kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah telapak kakinya dia pasti akan melihat kita.” Beliau menjawab : “Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu cemaskan terhadap dua orang sedangkan Allah ketiganya ?” (HR. Bukhari dan Muslim)

l. Takut miskin adalah hal yang wajar dalam batas-batas tertentu, bahkan itu merupakan kesempatan untuk bersedekah

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW bertanya : “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya ?” Beliau menjawab : “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, maka kamu baru berkata :

“Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR.Bukhari dan Muslim)

m. Menghindari kekikiran dan kezhaliman

Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah kalian pada kezaliman karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat, dan takutlah kamu pada kekikiran sebab orang-orang sebelum kalian binasa karena kekikiran, dan hal itulah yang menyebabkan mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan yang haram.” (HR.Muslim)

n. Tidak berbuat aniaya pada orang lain.

“Takutlah kamu terhadap doa orang yang teraniaya karena tidak ada tirai yang menghalangi antara doanya dengan Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

o. Takut kepada Allah Berbuah Mendapatkan naungan di akhirat kelak.

Hurairah ra., dari Nabi SAW beliu bersabda : “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : (1) Pemimpin yang adil. (2) Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. (3) Seorang yang hatinya selalu digantungkan (dipertautkan) dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. (5) Seorang laki-laki ketika dirayu untuk berzina oleh wanita bangsawan yang berwajah cantik rupawan, laliu ia berkata : “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (6) Seseorang yang mengelurkan sedekah, secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikn oleh tangan kanannya. (7) Dan seseorang yang mengingat Allah di tempat sunyi dan kedua matanya bercucuran air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

p. Takut kepada Allah Jalan menuju Kejayaan Islam

“Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala.” (HR. Bukhari)

q. Ancaman yang dilancarkan orang-orang kafir malah menambah keyakinan orang mukmin akan kekuatan Allah Swt

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “HASBUNALLAH WANIKMAL WAKIL, kalimat ini pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. Ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika orang-orang kafir mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada mereka.” Akan tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan “HASBUNALLAAHU WANIKMAL WAKIIL.” (HR. Bukhari)

r. Tidak akan masuk neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).

s. Mendapat naungan dari Allah di Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

t. Dicintai Allah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

u. Lebih disukai

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”

Alloh swt menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu, dan keridhoan bagi hamba yang khauf kepadaNya. Alloh berfirman, “petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Rabb mereka (QS. Al-A’raf : 156).
“Alloh ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla kepadaNya. Demikian itu bagi siapa saja yang takut kepada RabbNya (QS. Al-Bayyinah:8)
Alloh memerintahkan khauf , dan menjadikannya syarat iman. “Dan takutlah kalian kepadaKu, jika kalian benar-benar beriman.! (QS. Ali Imran: 175).
Yahya bin Mu’adz berkata, “Jika seorang mukmin melakukan suatu kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga; takut akan siksa dan harapan akan ampunan.”

v. Teladan Takut kepada Allah

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).

Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.

al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”

Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Abu Bakr as-Shiddieq berkata, “Duhai, seandainya aku adalah sehelai rambut yang tumbuh di tubuh seorang mukmin.” Adalah beliau bila berdiri sholat, tak ubahnya seperti sebatang kayu (tidak bergerak) karena takut kepada Alloh swt.

Umar bin Khatthab pernah membaca surat at-Thuur. Ketika sampai pada ayat:”Sungguh, adzab Rabbmu pasti benar-benar terjadi. (QS Ath-Thuur : 7) Beliau menangis dan semakin menghebat tangis beliau sampai beliau sakit, dan orang-orang pun menjenguk beliau. Adalah pada wajah beliau ada dua gais hitam lantaran banyak menangis. Kepadanya Abdullah bin ‘Abbas pernah berkata, “ Alloh telah meramaikan berbagai kota dan membukakan berbagai negri dengan tanganmu.” Mendengar itu Umar berkata, “Aku ingin kalau bisa meninggalkan dunia ini tanpa pahala dan tanpa dosa.”

Suatu pagi, seusai melaksanakan sholat shubuh, dengan bermuran durja dan membolak-balikkan telapak tangannya, ‘Ali bin Abu Thalib berkata, “Sungguh aku pernah melihat para sahabat Nabi. Pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang nenyerupai mereka. Di pagi hari mereka nampak kusut, pucat dan berdebu. Di antara dua mata mereka seperti ada lutut kambing. Mereka menghabiskan malam dengan bersujud dab berdiri membaca ayat-ayat Alloh swt. Gerakan mereka hanyalah antara kening dan kaki. Bila pagi tiba mereka pun berdzikir kepada alloh swt, bergemuruh seperti pepohonan tertiup angin yang kencang. Mata mereka bercucuran air mata sampai-samaoai pakaian mereka basah karenanya. Demi alloh hari-hari ini sepertinya aku menghabiskan malam bersama kaum ini dalam keadaanlalai.” Lantas beliau berdiri dan sejak itu beliau tidak pernah kelihatan tertawa sampai dibunuh oleh Ibnu Muljam.

Musa bin Mas’ud berkisah, Kla kami bermajlis dengan Sufyan ats-Tsauriy, seakan-akan neraka ada di sekitar kami. Yang demikian itu karena kami melihat beapa takut dan khawatirnya ia. Seseorang menggambarkan keadaan Hasan al-Bashriy, “jika ia datang, seakan-akan ia datang dari menguburkan teman karibnya. Jika ia duduk, seakan-akan ia adalah seorang tawanan yang akan dipenggal lehernya. Jika berbicara tentang neraka, seakan-akan neraka itu hanya diciptakan untuknya.

Zurarah bin Abu Aufa pernah mengimami orang-orang sholat shubuh. Beliau membaca surat al-Muddatstsir. Ketika sampai pada ayat :” apabila sangkakala telah ditiup. Hari itulah hari yang teramat susah. (QS. Al-Muddatstsir : 8-9) Beliau terisak-isak dan lalu meninggal dunia. (lihat al-‘ibar,adz-Dzahabiy I/109).

Abdullah bin Amr bin ‘Ash bertutur, “Menangislah! Jika tidak bisa maka usahakan untuk menangis. Demi Alloh, jika salah seorang di antara kalian benar-benar mengerti, pastilah ia akan berteriak sekeras-kerasnya sampai hilang suaranya, dan akan sholat sampai patah tulang punggungnya.

Dari Ibnu Abas, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; ketika Allah menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya: Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (Qs. at-Tahrim [66]: 6); Pada suatu hari Rasulullah saw. membacakan ayat ini kepada para sahabat, tiba-tiba ada seorang pemuda yang terjungkal pingsan. Kemudian Nabi Saw meletakkan tangan beliau di atas hatinya, dan ternyata masih berdetak jantungnya. Kemudian Nabi Saw bersabda, “Wahai anak muda ucapkanlah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’”, maka pemuda itu pun mengucapkannya. Kemudian beliau memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, apakah pemuda itu termasuk golongan kita?” Rasulullah bersabda; apakah kalian tidak mendengar firman Allah: Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. [HR. Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi].

Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:Jika seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang tidak mengharapkan surga-Nya. Jika orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang putus asa dari rahmat-Nya. [HR. Muslim].

Jika kita perhatikan dari ayat-ayat al-Quran dan Hadits maka dapatlah kita simpulkan bahwa esensi takut kepada Allah ialah dalam kaitannya dengan dahsyatnya azab api neraka yang Allah sediakan bagi manusia yang berbuat zhalim dan aniaya. Diberitakannya keadaan neraka dan siksaan-siksaan yang terdapat di dalamnya adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam hidup ini, tidak bermain-main dan bersenda gurau. Kenyataannya memang kebanyakan manusia itu amat lalai dengan dirinya sendiri dan melupakan akan masa depannya di akhirat kelak, sekalipun mereka telah menyatakan keyakinannya akan adanya negeri akhirat itu.

5. INTISARI TAKUT KEPADA ALLAH

Takut adalah kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah, sedangkan Dia Maha Kuat dan Kuasa atas diri kita, yang menjadi sebab kita tidak berbuat durhaka padaNya, memohon perlindungan dari azabNya dan memohon petunjukNya agar kita berada dalam rahmatNya. Takut adalah kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah, takut akan azabNya, kesadaran bahwa Allah adalah tempat kembali kita, dan senantiasa ingat akan adanya pengawasan dari Allah. Inilah empat konsep yang merupakan intisari takut kepada Allah Swt. Empat konsep ini dikandung dalam definisi di atas.

Pertama, kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah.

Ini merupakan sebab utama dari munculnya rasa takut kepada Allah yang menimbulkan ketundukkan padaNya dan menghinakan diri di hadapanNya. Munculnya kesadaran ini adalah buah dari makrifatullah dan mengenal diri yang diciptakanNya. Realisasi dari ketundukkan kepada Allah adalah beribadah kepadaNya dengan sepenuh kecintaan dan pengagungan dengan mengikuti syariat yang telah ditetapkanNya.

Manusia lemah dihadapan Allah, buktinya ialah ia diciptakan. Manusia betapapun mulia dan tingginya ketika dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya, disebabkan diberinya akal, hidayah dan alam semesta ini, namun di hadapan Rabbnya, sungguh manusia itu hina dan lemah bahkan merugi. Dahulu manusia diciptakan dari tanah, kemudian keturunannya dari air yang hina.

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina” (77:20)

Keberadaan manusia di muka bumi tidak bisa melepaskan nasib akhirnya yaitu akhirat, tidak ada seorang pun manusia yang tidak mendatangi negeri akhirat yang di sana itu mereka dimintai pertanggung jawabannya atas seluruh perbuatannya. Mereka tidak memiliki suatu kekuatan pun untuk menghindar dari pertanyaan yang akan diajukan oleh Allah di sana, tidak seperti di dunia, manusia masih bisa berkelit dari tanggung jawab atas perbuatannya dengan kekuatan politik dan logikanya. Ini merupakan suatu kelemahan terbesar dari manusia. Kehinaan sejati di dunia maupun di akhirat, ada pada orang-orang yang tidak beriman.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (58:20)

Lihatlah pula bagaimana nasib manusia di muka bumi, mereka mula-mula lahir dalam keadaan lemah, telanjang, tidak berilmu, tidak berharta, sebagian bahkan ada yang cacat secara fisik dan mental, kemudian melewati masa muda dengan penuh perjuangan agar memiliki ilmu dan harta serta dihormati sesamanya dan akhirnya tua dengan kepikunan dan penutupnya adalah kematian yang tak seorang pun berdaya untuk menghindar darinya. Tidak ada seorang pun yang berilmu, berharta dan terhormat tanpa suatu usaha dan ikhtiar. Setelah kematian tiba, maka jasad yang semula indah pun menjadi benar-benar busuk dan hancur menjadi tanah.

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (33:16)

Kesenangan dunia itu terasa saat badan sehat, kondisi aman, makanan ada, harta mencukupi, dan hubungan dengan sesama harmonis. Tetapi perhatikanlah nasib manusia di muka bumi ini. Penyakit, pembunuhan, peperangan, ketidakadilan sosial, bencana, kebakaran, gedung runtuh, tanah longsor, banjir, kecelakaan di laut, darat dan udara, perampokan, saling cela dan hina. Semua ini mengakibatkan penderitaan bagi manusia. Bukankah ini merupakan perkara yang melengkapi kelemahan dan ketidakberdayaan manusia terhadap tabiat dirinya sendiri dan alam tempat tinggalnya.

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; (26:183)

Manusia banyak sekali memiliki kelemahan dan kehinaan di hadapan Allah Swt. Hanya saja mereka yang sadar akan kelemahan dirinya dan juga mengenal Tuhannya dengan baik, yang akan memiliki rasa takut kepada Allah. Sebab dengan makrifatullah, manusia akan mengenal Keagungan, Kekuasaan, Kekuatan Allah Swt yang membuatnya tertunduk dan tersungkur menyaksikan KebesaranNya melalui ayat-ayatNya.

Seandainya manusia tidak merasa takut kepada Allah , karena mereka merasa kuat dan perkasa dengan senjata, kecerdasan, tentara, ilmu dan teknologinya, maka bagaimanakah dengan nasib bangsa-bangsa terdahulu yang dihancurkan Allah Swt, bukankah mereka juga kaum yang kuat, namun mereka sama sekali tidak berdaya di hadapan azab Allah Swt. Dan keadaan mereka itu lebih kuat daripada manusia zaman sekarang ini.

“Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya)” (47:8)
Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (35:44)
Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan? (32:26)
Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam, dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (29:38-39)
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (16:22)

Kedua, takut akan azabNya.

Ini merupakan sebab utama kita berlindung kepadaNya dari hal-hal yang menjerumuskan diri kita kepada murkaNya, juga sebab utama kita tidak mendurhakaiNya. Karena setiap kedurhakaan adalah sebab datangnya azab. Munculnya rasa takut kepada azab Allah adalah dari kesadaran atas peringatan dan pengajaran yang Allah berikan melalui ayat-ayatNya, baik berupa al-Quran, alam semesta dan diri kita sendiri. Realisasi dari takut kepada Azab Allah adalah bertaubat dari dosa dan meninggalkan maksiat seraya meneguhkan ketaatan dan ketundukkan kepada Allah.

Orang-orang yang telah mengenal dahsyatnya azab Allah akan bergetarlah hatinya bila disebut nama Allah. Begitu pula apabila disebut dengan dahsyatnya azab Allah baik berupa siksaan yang ditimpakan kepada orang-orang kafir di dunia ataupun azab berupa neraka di akhirat yang diberitakanNya dalam al-Quran. Oleh karena itu salah satu bahan dasar ketakwaan kepada Allah adalah pengetahuan dan keimanan kepada azab Allah yang melahirkan sikap takut kepada Allah dan berhati-hati dari perbuatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam azab-Nya itu.

“sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (17:57)
“(Orang yang bertakwa itu yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (21:49)
“…supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.(5:94)
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (6:15)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (11:103)
“Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya” (35:18)
“…dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan (6:164)

Ketiga, kesadaran bahwa Allah adalah tempat kembali kita.

Ini adalah penumbuh utama takut akan azabNya, karena kesadaran ini berkedudukan sebagai peringatan dan pengajaran paling besar. Bahkan kesadaran ini merupakan inti dari orientasi hidup orang-orang yang beriman dan ahli ibadah. Kesadaran ini juga menumbuhkan cinta dan harap. Sehingga mengiringi ketundukkan kepada Allah dengan semangat untuk mencapai RahmatNya. Kesadaran bahwa Allah adalah tempat kembali merupakan kekuatan untuk melakukan hal-hal yang berat dalam hidup manusia. Sehingga perkara ini menimbulkan sikap sabar dan istiqomah. Sebagai mana dalam firman Allah Swt:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45-46).
Realisasi dari kesadaran ini adalah sikap berupaya untuk terus mencari tambahan hidayah dan iman dan sikap mengikuti setiap petunjuk Allah dan RasulNya.

Seseorang yang pandangan hidupnya telah dibentuk oleh worldview Islam meyakini bahwa suatu saat ia akan bertemu dan kembali kepada Tuhannya. Bahwa setelah kematian tiba, dan padang mahsyar digelar, maka seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di hadapan Allah. Oleh karena itu timbullah rasa khawatir yang mendalam jikalau ia mendapatkan dirinya tidak membawa bekal ke negeri akhirat itu.

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (23:60)
“Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (24:37)
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (76:9)
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (76:7)
“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (24:37

Keempat, Merasakan akan Pengawasan Allah di Setiap Waktu.

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (2:235)
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (33:52).

Ini merupakan kekuatan yang mencegah kita untuk melakukan hal yang dilarangNya setiap datang godaan dan bisian syaithanb. Bila rasa takut kepada Allah telah tumbuh di hati dan kemudian diikuti oleh perasaan diawasiNya, tentu kita tidak akan pernah berani melakukan hal-hal yang telah dilarangNya. Bahkan kita pun tidak akan pernah melakukan kelalaian dalam melaksanakan apa yang telah diwajibkanNya atas diri kita.

Allah adalah Zat yang kita tidak bisa melihatNya. Namun kita yakin Dia Melihat kita. Dia bahkan mengetahui apa yang kita sembunyikan di hati apalagi yang kita lahirkan. Orang yang takut kepada Allah, padahal ia tidak bisa melihatNya memiliki banyak keutamaan, sebagaimana diungkapkan dalam al-Quran.

“Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya.” (35:18)
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (36:11)
“supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya.” (5:94)

Keutamaan yang dimiliki orang-orang yang takut kepada Allah, padahal mereka tidak melihatNya adalah bahwa merekalah yang akan dapat menerima peringatan dari sisi Allah Swt, lewat pengajaran dan peringatan yang disampaikan oleh Rasul.
Seorang mukmin yang merasakan suatu muaqobah atau pengawasan Allah akan mencegah dirinya dari melakukan suatu dosa. Namun bukan berarti ia bisa melepaskan diri dari dosa. Tetapi sekalipun demikian karena ia memiliki rasa takut kepada Allah, saat ia melakukan dosa, ia akan segera bertaubat kepadaNya.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?” (3:135)

Orang tidaklah akan merasakan suatu pengawasan dari Allah, jika ia seorang yang melupakan Allah. Adapun orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang yang senantiasa mengingat Allah, agar dirinya tercegah dari melakukan suatu perbuatan yang dilarangNya sekaligus merasakan suatu pengawasanNya bahwa Dia selalu memberikan bimbingan kepadanya untuk melakukan ketaatan dan menyelesaikan persoalan yang tengah di hadapinya. Oleh Karena itu kunci utama untuk merasakan pengawasan dari sisi Allah adalah dengan cara memperbanyak mengingatiNya dan menyebut namaNya. Menyebut nama Allah dan mengingatiNya jangan hanya ketika kita ditimpa suatu musibah seperti kebanyakan manusia, namun ketika hilang musibah itu, mereka kemudian melupakanNya. Mereka itulah contoh orang-orang yang tidak takut kepada Allah, tetapi takut bila dunianya berkurang.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(7:201)

Orang-orang yang beriman saat merasakan suatu pengawasan dari sisi Allah, maka efeknya banyak sekali, bukan hanya dalam hubungannya dengan rasa takut, tetapi juga dengan ikhlas dan cinta serta harap kepadaNya. Karena itu orang-orang beriman akan senantiasa pula melakukan berbagai kebajikan, karena amalannya tidak akan sia-sia, sebab Allah yang akan membalas kebajikannya itu.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (4:1).

Itulah empat intisari takut kepada Allah Swt yang apabila ada di dada kita, kita akan merasakan suatu kemanfaatan yang besar dalam hidup ini. Takut kepada Allah artinya kita menjadikan Allah sebagai tempat berlindung, takut akan azabNya, senantiasa ingat bahwa Allah adalah tempat kita kembali dan merasakan akan pengawasan Allah di setiap waktu. Keempat hal itu akan menopang dan jadi bukti bahwa kita takut kepada Allah Swt.

6. HAKIKAT PERASAAN TAKUT KEPADA ALLAH

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara,
di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (7:205)

Intisari takwa ada 4 yaitu tahu kita lemah di hadapan Allah, takut akan azabNya, sadar bahwa Allah tempat kembali dan ingat Allah senantiasa mengawasi. Takut yang intisarinya harus menjadi kekayaan rohaniah orang-orang mukmin. Orang mukmin wajib memiliki rasa takut semacam itu, sebab ia adalah pilar keimanan dan pilar ibadah. Dalam setiap bagian atau cabang iman dan setiap bentuk ibadah kepada Allah berupa kewaijban-kewajiban syariat, mesti di dalamnya terkandung rasa takut kepada Allah Swt ketika kita memulai, melaksanakan dan mengakhirinya. Bahkan pada dasarnya rasa takut itu harus senantiasa menyertai setiap langkah dan waktu-waktu kita.

Seperti apakah gambaran karakter perasaan takut kepada Allah yang akan timbul pada diri orang-orang mukmin itu? Mengikuti konsepsi intisari takut kepada Allah, maka akan munculah hakikat-hakikat berikut ini :

Pertama, Menjadikan Allah sebagai tempat berlindung.

“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya. (18:58).

Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang sadar akan besarnya azab Allah, dan juga sadar bahwa Allah pula yang memiliki Rahmat bagi hambaNya. Sehingga tempat berlindung manusia dari azab Allah adalah Allah sendiri, yakni melalui RahmatNya. Oleh karena itu orang-orang mukmin tidak menjadikan apapun dan siapapun untuk dijadikan tempat dia berlindung melainkan Allah. Haklikat perasaan takut kepada Allah adalah sikap berlindung kepada Allah. Ketika orang mukmin menjadikan Allah sebagai tempat berlindung, dan Dia diyakininya sebagai sebaik-baiknya tempat berlindung, maka tidaklah lagi ada dalam dadanya rasa kesedihan dan khawatir yang berlebihan. Hal ini terjadi karena pada saat seseorang menjadikan Allah sebagai tempat berlindung dan meminta pertolongan, ada persyaratan yang harus dipenuhinya, yaitu ibadah. Yakni taat kepadaNya. Setia dalam menjalankan perintah-perintahNya. Ibadah, ketaatan dan kesetiaan kepada Allah akhirnya akan membuahkan ketenangan batin dan hilangnya perasaan sedih dan khawatir yang tidak beralasan. Jadi orang yang takut kepada Allah akan menjadikan Allah sebagai tempat perlindungannya, dan untuk itu harus mengabdi kepadaNya. Dan dari sikapnya itu Allah mendatangkan ketentraman ke dalam hati orang-orang mukmin.

Apa arti menjadikan Allah sebagai pelindung? Pelindung artinya adalah penolong, pemimpin, pembimbing, pengarah, pemberi petunjuk dan kemudahan, penjaga, dan pengawas. Seperti itulah kita harus menjadikan Allah. Menjadikan Allah sebagai pelindung, berarti kita berusaha menjadi hamba yang memenuhi kriteria untuk dilindungiNya, mengikuti apapun yang dititahkanNya, melakukan ibadah kepadaNya dengan tulus ikhlas, berkorban di jalanNya untuk meninggikan kalimatNya, dan berjanji untuk tidak menyimpang dari jalanNya. Itulah beberapa kandungan yang merupakan konsekuensi jika menjadikan Allah sebagai tempat kita berlindung.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (2:257)
Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (10:30)

Kita menjadikan Allah sebagai tempat berlindung, karena kita memang lemah dan hina, sedangkan Allah adalah zat yang Maha Kuasa atas segenap makhlukNya termasuk diri kita. Menyadari akan kelemahan ini dan Kekuasaan Allah, maka kita berlindung kepada Allah, tidak hanya dari azabNya yang dahsyat. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan makhlukNya, kejahatan malam, kejahatan tukang sihir, bisikan syaithan (lihat 23:97-98). Kita berlindung kepada Allah dari sikap sombong manusia yang tidak beriman kepada negeri akhirat (lihat:40:27). Manusia tidak akan menemukan pelindung selain Allah (lihat 18:27). Kita berlindung kepada Allah di akhirat kelak, karena di sana tak ada tempat untuk berlari dan meminta pertolongan. Tidak ada yang dapat menolong manusia jika azab telah datang kepada mereka, bahkan Rasul pun tidak bisa menolong umatnya yang terkena azab itu. Begitu pula seorang hamba tidak ada yang dapat melindunginya saat azabNya, jika ia mendurhakaiNya. Oleh karena itu sebelum datang negeri akhrat yang di mana semua manusia akan dikumpulkan maka jadikanlah Allah sebagai tempat berlindung semenjak di dunia ini. Di akhirat kelak manusia tidak memiliki pelindung dan tidak bisa pula mengingkari dosa-dosa yang pernah dilakukan. “Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).(42:47). “Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. “. (2:67).

JIka kita menjadikan Allah sebagai pelindung, lalu kita memenuhi konsekuensinya dengan mentaati Allah, menggapai RahmatNya, menjauhi dosa dan laranganNya, berhenti dan bertaubat dari maksiat dan kelalaian serta memperbaiki akhlak serta ibadah kita kepadaNya, maka Allah akan menurunkan ketentraman ke dalam jiwa kita, menghilangkan rasa kahwatir dan sedih dalam menghadapi beratnya medan jihad dan dakwah. Kehidupan kaum muslimin di dalam menjalankan dan mendakwahkan Islam, tidak luput dari gangguan dan fitnah orang-orang kafir. Dan juga cobaan yang datang dari Allah sebagai ujian keimanan. Namun akhirnya Allah akan memberikan kepada umat Islam berupa hilangnya rasa sedih, pertolongan dan kemenangan yang besar. Serta menjadikan orang-orang mukmin itu sebagai orang-orang yang mulia di muka bumi atau pun di akhirat kelak. Allah akan menghilangkan rasa sedih pada diri orang-orang yang beriman karena keimanan dan amal sholehnya. “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.” (43:68). “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (16:127).

Kedua, Meninggalkan perkara yang mendatangkan kemurkaanNya.

Inilah hakikat yang muncul dari rasa takut kepada Allah Swt. Orang yang takut kepada Allah belum dikatakan demikian keadaannya sebelum ia bersikap meninggalkan perkara yang mendatangkan kemurkaanNya. Orang yang takut kepada Allah menyadari akan besarnya dan dahsyatnya azab Allah dan mengetahui sebab-sebab manusia ditimpa azabNya itu. Allah Maha Mengetahui siapa saja di antara hamba-hambaNya yang taat dan mengetahui pula siapa yang durhaka padaNya. Orang Mukmin yakin bahwa Allah Maha Mengetahui atas seluruh perbuatan manusia baik yang mukmin ataupun yang kafir. Di sini orang mukmin memilki dua kesadaran sekaligus, yakni kesadaran berupa keyakinan bahwa Allah murka terhadap hambaNya yang durhaka padaNya dan kesadaran berupa keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi perbuatan hamba-hambaNya. Ini merupakan hakikat yang menyatu dengan perasaan takut kepada Allah. Dan buah dari kesadaran ini ialah Ia meninggalkan perkara yang mendatangkan kemurkaanNya walaupun ketika sendirian.

Ketiga, bersegera melakukan perkara apa saja yang mendekatkan dirinya kepada RahmatNya.

Pada bagian pertama telah disebutkan bahwa untuk memperoleh perlindungan dan pertolongan dari sisi Allah, ada persaratan yang harus dipenuhi yakni, mengabdi kepadaNya. Sifat manusia dalam mengabdi kepada Allah terbagi atas tiga kelas. Yakni yang bersegera, yang lalai dan yang mengabaikannya sama sekali. Bagaimana gambaran orang-orang yang memiliki perasaan takut kepada Allah dalam hubungannya dengan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya kepada Tuhannya? Jawabnya jelas, ia akan bersegera untuk menunaikanya, tidak melalaikan apalagi mengabaikannya. Sikap bersegera menunaikan kewajiban kepada Allah merupakan suatu upaya manusiawi untuk menggapai Rahmat Allah. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk beroleh keberkahan hidup, keselamatan, ketenangan dan kebaikan di dunia ini dan juga di akhirat kelak melainkan dengan mencari RahmatNya melalui ketundukan kepada agamaNya dengan ikhlas. Rasa takut kepada Allah adalah kesadaran bahwa tidak ada jalan keselamatan dari azab Allah melainkan Rahmat Allah, dan tidak ada jalan menuju Rahmat Allah melainkan menjalankan agama dengan iklash. Kesadaran itu selanjutnya menjadi cambuk dan tarikan untuk menunaikan apa saja yang diperintahkan Allah dengan segera.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (9:100)

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (98:8)

Keempat, Ia berusaha keras menyediakan penunjang-penunjang.

Baik lahir maupun batin dalam mencapai upaya-upaya di atas. Pada bagian pertama takut kepada Allah menitikberatkan pada persoalan akidah, yakni menjadikan Allah sebagai tempat berlindung. Bagian kedua, menitikberatkan tindakan meninggalkan, yakni meninggalkan perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Sedangkan bagian ketiga menitikberatkan tindakkan melakukan, yakni melakukan hal yang dapat mendatangkan RahmatNya yakni ketaatan. Perjalanan hidup manusia tidak diam di satu titik derajat atau martabat, hal ini berhubungan dengan tabiat dunia serta jiwa manusai itu sendiri. Tabiat yang demikian menyebabkan manusia mengalami naik turun dalam berbagai hal. Keimanan manusia pun demikian. Terkadang naik, di lain waktu turun. Adapun orang-orang yang takut kepada Allah, memiliki karakter yang berusaha mengatasi tabiat ini. Mereka akan senantiasa meningkatkan keimanannya. Ia tidak membiarkan iman itu diam dalam satu derajat yang stagnan, apalagi membiarkannya turun. Tentu tidak demikian sifat orang yang takut kepada Allah. Dia akan senantiasa mengusahakan agar keimanannya menguat. Dan untuk itu ia menyiapkan penunjang-penunjangnya. Apa penunjang dari semua hal yang baru saja kita sebutkan di atas? Sepanjang yang dapat dikemukakan penulis dalam kesempatan kali ini, ada tiga perkara penting: ilmu, iman dan amal. Secara lahir ilmu adalah proses belajar, membaca, menyimak. Sedangkah secara batin ilmu adalah pemahaman. Iman secara lahir adalah ibadah, sedangkan secara batin adalah keyakinan kepada Allah. Amal secara lahir adalah gerak jasad, sedangkan secara batin adalah ikhlas. Hal-hal itulah yang harus kita persiapkan untuk menunjang akidah, perbuatan taat dan perbuatan meninggalkan maksiat itu.

Kelima, ia senantiasa bertaubat atas dosa-dosa dan kemaksiatannya.

Orang yang takut kepada Allah adalah hamba Allah yang senantiasa sadar bahwa dirinya tidaklah mungkin bisa melepaskan diri dari dosa. Dosa akan senantiasa menyertai perjalanan hidupnya, sekalipun diri telah bertekad kuat untuk menghindarinya. Karena itu ia akan senantiasa bertaubat dan beristighfar kepada Allah Swt. Sesungguhnya perbuatan dosa adalah perkara yang biasa dalam pandangan Allah, sebab Dia adalah Zat pemilik pemberi taubat kepada hamba-hambaNya. Perbuatan dosa bagi orang-orang yang beriman dalam suatu perkara hanya boleh terjadi satu kali saja, karena untuk berikutnya ia telah menyadari dan bertaubat atasnya. Ada dua jenis dosa yang dilakukan manusia. Pertama, dosa yang dilatarbelakangi oleh sombong, ini sulit mendapat ampunan Allah Swt, contoh dosa ini adalah dosa yang dilakukan syaithan dan orang-orang kafir. Mereka berbuat dosa karena sombong, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Kedua, dosa yang dilakukan karena dorongan nafsu, ini merupakan dosa yang sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Adam dahulu ketik masih di surga. Dosa ini akan diampuni Allah, ketika manusia bertaubat kepadaNya. Ada satu jenis dosa lagi yang sulit ditaubati oleh pelakunya karena ia merasa melakukan sesuatu yang benar, yaitu para pelaku bid’ah. Salah satu dari ketiga jenis dosa ini, yakni dosa karena nafsu, tidak mungkin dihindari orang-orang mukmin. Sadar akan masalah ini, maka seorang mukmin akan senantiasa memohon ampun kepada Allah dalam sehari-harinya. Nabi Muhammad Saw membaca istighfar dalam sehari lebih dari enam puluh kali.

Keenam, ia berprasangka yang baik bahwa Allah akan memberinya Rahmat dan AmpunanNya.

Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang tetap taat kepada Allah dan meninggalkan perbuatan dosa serta bertaubat kepadaNya, tentu dalam perkara ini ada hal lain yang mengiringinya selain takut (khauf), itulah roja. Orang yang takut kepada Allah adalah juga orang yang memiliki harap atau roja kepada Allah Swt. Ketika seseorang melakukan suatu ketaatan kepada Allah, bukankah ia sadar bahwa ketaatan itu banyak kekurangannya namun ia berprasangka baik bahwa Allah akan menerima amalannya dan memberinya RahmatNya. Dan ketika ia bertaubat atas dosa dan meniggalkan dosa-dosa, bukankah ia berharap Allah akan memberinya ampunan. Seorang hamba, ketika berdoa kepada Allah, tidak hanya meminta agar dijauhkan dari neraka, tetapi juga meminta kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Doa ini berangkat dari prasangka yang baik kepada Allah, bahwa sementara kebanyakan manusia hidup putus asa, diazab dan dimasukkan ke neraka karena ia bermaksiat kepada Allah dan menolak untuk taat padaNya, ia berharap Allah mencurahkan RahmatNya kepadanya dan orang-orang yang beramal sholeh. Dengan adanya harapan kepada Allah dan juga takut serta cinta kepadaNya, seseorang akan terdorong melakukan ketaatan kepadaNya dan menjauhi laranganNya.

7. PENGARUH TAKUT KEPADA ALLAH

Takut hanya akan memiliki arti apabila disertai dengan sifat hati-hati. Begitu pun takut kepada Allah akan memiliki arti apabila disertai sifat berhati-hati dari hal yang dapat mendatangkan murka Allah Swt.

Karena itu takut kepada Allah adalah takut dalam kaitannya dengan azabNya, murkaNya dan NerakaNya. Namun yang paling utama takut kepada Allah adalah takut akan KekuasaanNya. Sehingga takut kepada Allah itu menyangkut pula takut akan hari kiamat, takut akan shu’ul khatimah, takut akan azab kubur, takut akan fitnah. Sekalipun demikian takut kepada Allah pengaruhnya dalam sikap adalah menjauhi murkaNya yang berkonsekuensi mendekati RahmatNya.
Menjauhi murka Allah artinya menjauhi perkara-perkara yang dapat mendatangkan murka dan azab Allah Swt. Berkaitan dengan sikap menjauhi murka Allah, ada tiga hal yang saling berkaitan, yakni pengetahuan, keimanan dan perbuatan. Seorang mukmin hendaknya mengetahui perkara-perkara yang dapat menimbulkan murka Allah, yang dapat menyeret seorang hamba ke nerakaNya dan menjauhkan dari keridhaanNya. Setelah mengetahui hal-hal demikian maka berikutnya adalah menyesuaikan jiwa dan perasaan kita yakni dengan sikap membenarkan pengetahuan tersebut dan mempersiapkan kesungguhan untuk meninggalkan dan membersihkan perkara tersebut. Dan selanjutnya seseorang mesti memiliki sikap yang jelas dalam menghadapi perkara-perkara tersebut baik yang timbul dari dalam dirinya maupun lingkungannya.

a. Menjauhi Perkara yang dapat mendatangkan Murka Allah Swt

Perkara-perkara yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah secara global adalah perbuatan syirik, kafir dan membuat kerusakan di muka bumi.

Adapun secara terinci adalah berikut ini.

Menjual diri dengan kekafiran

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (2:90).
Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. (3:177)
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (2:108).
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (2:16)
Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (2:86)
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (2:175)
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (2:217)
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (9:125)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), (4:150)
Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. (5:64)
akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (4:46)
Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (10:4)
Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (4:170).
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.” (14:28-30)

Membunuh Seorang Mukmin

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (4:93).
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (5:32).
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. (3:21)

Durhaka dan Melampaui batas, membunuh nabi dan mendustakannya

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (3:112)
Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (2:61)
Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (5:78)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. (3:21)
Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu” (83:12-13)

Mendustakan Rasul

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku. (67:18).
Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang- orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku. (34:45)
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (3:137)
Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. (10:74)

Murtad dari Islam

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (16:106)
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (2:217)
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (5:54)

Memperdebatkan Ayat-ayat Allah

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (40:35)
Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (40:58)
Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu. (40:4)
Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (40:34-35)

Menjauhi KeridhaanNya

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (47:28)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (48:29)
Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (3:162)

Tidak Mempergunakan Akal

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (10:100)
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (5:58)
Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah (72:4)

Mengikuti Thaghut

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (5:60)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (4:60)
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (4:76)
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (16:36)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (2:256)
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, (39:17)

Memyembah selain Allah dan Berbuat syirik

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (2:165)
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (12:40)
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (10:18)
Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun. (22:71)

Membantah Allah

Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras. (42:16)
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat, (22:3)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya (22:8)
Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (31:20)
Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku.” Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” (6:80)
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (4:165)
Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api, (40:69-73)

Munafik dan Berprasangka buruk terhadap Allah

“..dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (48:6)
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. (58:14)

Mundur dari Medan Tempur

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (8:16)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (8:15)
Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).” Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (33:15)

Tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir

Kamu melihat kebanyakan dari mereka (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (5:80)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (60:13)

Itulah beberapa hal yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah yang harus kita jauhi.
Bagaimanakah manusia dapat menghindari perkara-perkara yang dimurkai Allah Swt?

Menyadari bahwa pelanggaran terhadap apa yang diharamkan dan dimurkai Allah itu dapat mengakibatkan kecelakaan baik di dunia dan di akhirat. Mengetahui akibat-akibat buruk di dunia dapat kita teliti pada masyarakat manusia pernah hidup pada zaman dahulu ataupun sekarang. Bagaimana akibat ketika mereka tidak mengindahkan perintah-perintah Allah Swt.

Menyadari bahwa tujuan dari diharamkannya perkara-perkara tersebut merupakan wujud penyelamatan Allah bagi manusia. Selalu perbuatan haram itu bila dilakukan manusia menyebabkan manusia mengalami kelainan psikologis, gangguan jiwa dan keruhnya hati dan wajah. Bahkan bisa merusak tatanan masyarakat dan menimbulkan kezhaliman serta kerusakan.

Menyadari bahwa barang, sifat dan perbuatan yang diharamkan Allah tersebut merupakan suatu ujian bagi manusia apakah manusia mau menghindarinya ataukan ia akan terus mengikuti hawa nafsunya. Allah telah menjelaskan jalan menuju surga dan jalan menuju neraka. Manusia tinggal memilihnya. Maka orang yang mengikuti hawa nafsunya dan melanggar aturan Allah berarti telah memilih jalan menuju neraka.

Menghidupkan sistem bermasyarakat yang berbasis amar makruf nahyi munkar. Tidak ada masyarakat yang akan menerapkan sistem ini melainkan masyarakat Islam yang memilih dan berpihak kepada hukum Islam. Di tengah masyarakat Islam, pola pembinaan generasi, keluarga dan komponen kemasyarakatan senantiasa mengacu kepada terbentuknya masyarakat yang taat kepada hukum dan undang-undang Islam.

b. bersegera melakukan kebaikan

Takut hanya akan memiliki arti apabila disertai dengan sifat hati-hati. Begitu pun takut kepada Allah akan memiliki arti apabila disertai sifat berhati-hati dari hal yang dapat mendatangkan murka Allah Swt. Sifat hati-hati merupakan sebuah kesadaran yang amat mendukung sifat takut kepada Allah Swt. Lebih dari itu sifat hati-hati lahir berbarengan dengan sifat wara’, tawadlu dan qona’ah. Wara’ artinya hati-hati secara cerdas sehingga ia tegas dalam menjauhi keharaman, syubhat dan ajakan hawa nafsu; tawadlu artinya tunduk pada kebenaran secara konsisten sehingga ia berpihak dan mencintai orang-orang yang taat kepada Allah Swt; dan qonaah merupakan salah satu sifat syukur atas limpahan rizki, dan sifat sabar atas kekurangan. Dalam hal ini qonaah artinya adalah merasa cukup dengan rizki yang ada, sehingga dengannya ia mampu menunaikan ibadah bahkan tetap berinfak, dan ia bersabar diwaktu kekurangan.

Sehingga takut kepada Allah tidak akan muncul tanpa dibarengi dengan sifat-sifat kebaikan. Takut kepada Allah bukanlah takut yang menghalangi seseorang untuk dekat dengan Allah Swt. Apabila seseorang terhalang dari mendekat pada Allah Swt dan ia merasa takut untuk melakukan keutamaan yang dianjurkan Allah, karena merasa dirinya selama ini kotor dan banyak berbuat dosa, maka seyogyanya perasaan takut semacam itu harus dibuang. Sebab perasaan itu malah membuat ia tidak memiliki takut yang disyariatkan.

Takut kepada Allah itu sebangun dengan sifat taat dan bersih hati, sebab tidak dapat dipungkiri, orang yang banyak dosa dan gemar berbuat maksiat akan terhalang dirinya dari Allah, dan ia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya takut kepada Allah itu timbul dari taat dan taat timbul dari bersih hati. Sedangkan bersih hati timbul dari dijauhinya perbuatan dosa dan keharaman dan diikat hati itu dengan berbagai perbuatan yang baik.

Perbuatan baik menggandeng sifat hati-hati dan takut, sebab itu jika seseorang takut kepada Allah maka takutnya itu akan mendorong timbulnya tawadlu, waro, istiqomah, ikhlash, khusyu’ dan sabar. Takut kepada Allah dalam kaitannya dengan kebaikan ialah takut yang menariknya untuk bersegera melakukan kebaikan. Rasa takut kepada Allah hakikatnya mendorong seseorang berlari ke arah rahmat Allah. Sedangkan rahmat Allah hanya bisa dikejar dengan berbuat amal kebaikan yakni amal sholeh.

Takut kepada Allah adalah takut yang mendorong jiwa senantiasa merasa khawatir akan amalan jika masih banyak kekurangan dan banyak diselimuti dosa. Takut kepada Allah adalah pengikat jiwa dengan kebaikan. Namun tidak berhenti sampai di situ. Takut kepada Allah juga berarti takut kalau kebaikan yang selama ini dilakukannya tidak diterimaNya. Bukan karena buruk sangka padaNya, tetapi karena berfikir bahwa amal kebaikannya selama ini masih banyak kekurangan dan cacatnya. Sehingga takut kepada Allah dalam kaitannya dengan amalan baik yang telah dilakukan adalah menjadi kekuatan untuk senantiasa mengevaluasi kualitas amalan-amalannya.

Takwa dan Takut bahwa mereka akan kembali kepada Allah menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya (23:61)
Takut kepada Allah akan menjadi sebab turunnya Karunia Allah
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. (52:15-16)

Balasan kebaikan adalah kebaikan

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (42:23)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (55:60).
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (13:22)
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (39:10).

Kunci kebaikan adalah mengikuti petunjuk Allah Swt

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (1;107-108)

Inti kebaikan adalah keimanan, ibadah, pengorbanan, kesabaran

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)

Kemampuan untuk berbuat kebaikan adalah karunia yang amat besar

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (35:32)

Kebaikan dapat menyatukan hati manusia

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (41:34)

c. bersegera meninggalkan keburukan

Takut itu pula yang meredam sifat sombong, dengki, marah, dendam, cinta dunia, dan pengecut. Takut kepada Allah dalam kaitannya dengan perbuatan yang buruk ialah takut yang mendorongnya untuk meninggalkan keburukan. Keburukan adalah sesuatu yang dibenci Allah, dimurkai Allah, dilaknat Allah, dilarang Allah, maka tentu saja orang yang takut kepadaNya akan bersegera meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Dan apabila ia terlanjur melakukan perbuatan buruk itu oleh suatu sebab, maka bukan sebab yang dicarinya, tetapi taubat kepadaNya

Takut kepada Allah adalah takut yang mendorong jiwa senantiasa merasa khawatir kalau dosa-dosa tidak diampuniNya. Takut kepada Allah adalah benteng jiwa dari keburukan. Sehingga orang yang takut kepada Allah akan senantiasa menjaga diri dari keburukan. Tetapi tidak berhenti sampai di sana saja. Manusia tidak mungkin lepas dari kesalahan dan dosa. Ini disadari oleh orang-orang yang beriman. Maka sekalipun ia telah berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi dosa, sehingga perbuatan dosanya berkurang, ia bahkan merasa melihat dirinya banyak melakukan dosa-dosa dan merasa khawatir Allah belum mengampuninya, disebabkan belum sempurnanya taubat kepadaNya.

Takut kepada Allah adalah takut yang mendorong jiwa untuk meninggalkan ajakan nafsu dan syahwat. Syaikhul Islam berkata: “Apabila seorang insan tidak merasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya. Terlebih lagi apabila dia sedang menginginkan sesuatu yang gagal diraihnya. Karena nafsunya menuntutnya memperoleh sesuatu yang bisa menyenangkan diri serta menyingkirkan gundah gulana dan kesedihannya. Dan ternyata hawa nafsunya tidak bisa merasa senang dan puas dengan cara berdzikir dan beribadah kepada Allah maka dia pun memilih mencari kesenangan dengan hal-hal yang diharamkan yaitu berbuat keji, meminum khamr dan berkata dusta…”

Takut kepada Allah adalah takut kalau dirinya dimasukkan ke dalam nerakaNya dan dijauhkan dari SurgaNya. Di akhirat kelak tempat tinggal manusia hanya ada dua yakni surga dan neraka. Mereka yang masuk ke dalam surga adalah mereka yang amat beruntung. Dan siapa saja yang dimasukkan ke neraka maka itulah orang yang paling merugi. Karena itu orang yang takut kepada Allah akan sangat takut apabila dirinya digolongkan ke dalam golongan orang-orang dicalonkan masuk ke neraka.

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (21:28)

1). Pada lisannya

Seseorang yang takut kepada Allah mempunyai kekhawatiran atau ketakutan sekiranya lisannya mengucapkan perkataan yang mendatangkan murka Allah. Sehingga dia menjaganya dari perkataan dusta, ghibah (bergosip) dan perkataan yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. Bahkan selalu berusaha agar lisannya senantiasa basah dan sibuk dengan berdzikir kepada Allah, dengan bacaan Al Qur’an, dan mudzakarah ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya:

“Barangsiapa yang dapat menjaga (menjamin) untukku mulut dan kemaluannya, aku akan memberi jaminan kepadanya syurga”.(HR. Al Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu (perkataan) yang tidak berguna”. (HR. At Tirmidzi).

Kemudian dalam riwayat lain disebutkan, artinya:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik, atau (kalau tidak bisa) maka agar ia diam”.(HR. Al Bukhari dan Muslim).

Begitulah, sesungguhnya seseorang itu akan memetik hasil ucapan lisannya, maka hendaklah seorang mukmin itu takut dan benar-benar menjaga lisannya.

2). Pada perutnya

Orang mukmin yang baik tidak akan memasuk kan makanan ke dalam perutnya kecuali dari yang halal, dan memakannya hanya terbatas pada kebutuhannya saja.

Firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian lain diantara kamu dengan jalan yang batil”.(Al Baqarah: 188).

Ibnu Abbas menjelaskan, memakan dengan cara batil ini ada dua jalan yaitu;

Pertama dengan cara zhalim seperti merampas, menipu, mencuri, dll.
Kedua dengan jalan permainan seperti berjudi, taruhan dan lainnya.
Harta yang diperoleh dengan cara haram selamanya tidak akan menjadi baik/suci sekalipun diinfaqkan di jalan Allah.

Sufyan Ats-Tsauri menjelaskan:

“Barangsiapa menginfaq kan harta haram (di jalan Allah) adalah seperti seseorang mencuci pakaiannya dengan air kencing, dan dosa itu tidak bisa dihapus kecuali dengan cara yang baik”.

Bahkan dijelaskan dalam riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, setiap jasad (daging) yang tumbuh dari harta haram maka neraka lebih pantas untuknya.

Jadi, itulah urgensi memperhatikan jalan mencari harta.
Sudahkah kita takut kepada Allah dengan menjaga agar jangan sampai perut kita dimasuki harta yang diharamkan Allah ?

3). Pada tangannya

Orang mukmin yang takut kepada Allah akan menjaga tangannya agar jangan sampai dijulurkan kepada hal-hal yang diharamkan Allah seperti: (sengaja) menyentuh wanita yang bukan muhrim,berbuat zhalim, aniaya. Dan tidak bermain dengan alat-alat permainan syetan seperti alat perjudian.

Orang mukmin selalu menggunakan tangannya untuk melakukan ketaatan, seperti bershadaqah, menolong orang lain (dengan tangannya) karena dia takut di akhirat nanti tangannya akan berbicara di hadapan Allah tentang apa yang pernah dilakukan-nya, sedangkan anggota badannya yang lain menjadi saksi atasnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.(Yasin: 65).

Bahkan salah seorang ulama salaf berkata,”Sekiranya kulit saya ditempeli bara api yang panas,maka itu lebih aku sukai daripada saya harus menyentuh perempuan yang bukan muhrim”.
Itulah gambaran orang mukmin sejati yang takut kepada Allah di dalam menggunakan tangannya.
Maka bagaimanakah dengan kita?

4). Pada penglihatannya

Penglihatan merupakan nikmat Allah Ta’ala yang amat besar, maka musuh Allah yaitu syetan tidak senang kalau nikmat ini digunakan sesuai kehendak-Nya. Orang yang takut kepada Allah selalu menjaga pandangannya dan merasa takut apabila memandang sesuatu yang diharamkan Allah, tidak memandang dunia dengan pandangan yang rakus namun me-mandangnya hanya untuk ibrah (pelajaran) semata.

Pandangan merupakan panah api yang dilepaskan oleh iblis dari busurnya, maka berbahagialah bagi siapa saja yang mampu menahannya.
Allah berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,”Hendaklah mereka menahan pandangan-nya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.(An Nur: 30).

Jika kita teliti banyaknya kemaksiatan dan kemungkaran yang merajalela, seperti; perzinaan dan pemerkosaan, salah satu penyebabnya adalah ketidak mampuan seseorang menahan pandangannya. Sebab, sekali seseorang memandang, lebih dari sepuluh kali hati membayangkan. Maka, sudahkah kita menjadi orang yang takut kepada Allah dengan menahan pandangan kepada sesuatu yang diharamkanNya?

5). Pada pendengarannya

Ini perlu kita renungi bersama, sehingga seorang mukmin akan selalu menjaga pendengarannya untuk tidak mendengarkan sesuatu yang diharamkan Allah, seperti nyanyian yang mengundang birahi beserta irama musiknya, dll.

Firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai tanggung jawabnya”. (Al Israa’: 36).

Dan seorang mukmin akan menggunakan pendengarannya untuk hal-hal yang bermanfaat.

6). Pada kakinya

Seseorang yang takut kepada Allah akan melangkahkan kakinya ke arah ketaatan, seperti mendatangi shalat jama’ah, majlis ta’lim dan majlis dzikir. Dan takut untuk melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat serta menyesal bila terlanjur melakukannya karena ingat bahwa di hari kiamat kelak kaki akan berbicara di hadapan Allah, ke mana saja kaki melangkah, sedang bumi yang dipijaknya akan menjadi saksi.

Firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. (Yaasin: 12).

Asbabun nuzul ayat ini adalah : bahwa seorang dari Bani Salamah yang tinggal di pinggir Madinah (jauh dari masjid) merencanakan untuk pindah ke dekat masjid, maka turunlah ayat ini yang kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa bekas langkah (telapak) menuju masjid dicatat oleh Allah sebagai amal shaleh.

Semua bekas langkah kaki akan dicatat oleh Allah ke mana dilangkahkan, dan tidak ada yang tertinggal karena bumi yang diinjaknya akan mengabarkan kepada Allah tentang apa, kapan, dan di mana seseorang melakukan suatu perbuatan. Jika baik maka baiklah balasannya, tetapi jika buruk maka buruk pula balasannya. Ini semua tidak lepas dari kaki yang dilangkahkan, maka ke manakah kaki kita banyak dilangkahkan ?

7). Pada hatinya

Seorang mukmin akan selalu menjaga hatinya dengan selalu berzikir dan istighfar supaya hatinya tetap bersih, dan menjaganya dari racun-racun hati.

Seorang mukmin akan takut jika dalam hatinya muncul sifat jahat seperti buruk sangka, permusuhan, kebencian, hasad dan lain sebagainya kepada mukmin yang lain. Karena itu semua telah dilarang Allah dan RasulNya dalam rangka menjaga kesucian hati. Hati adalah penentu, apabila ia baik maka akan baik seluruh anggota tubuh, tetapi apabila ia jelek maka akan jeleklah semuanya.

Takut kepada Allah dalam kaitannya dengan perintah dan laranganNya membuat hati bergetar saat melalaikan kewajibannya kepada Tuhannya dan saat ia melanggar laranganNya dilanggar. Hal ini berbeda keadaannya dengan orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Ia merasa aman ketika melanggar laranganNya dan merasa nyaman ketika meninggalkan kewajiban kepadaNya. Hati yang mudah bergetar ini penting artinya dalam hal keimanan, sebab mudah mengingatkan akan sesuatu apabila terjadi kesalahan.

Bergetarnya hati saat dibacakan ayat-ayat Allah adalah tanda dari keimanan. Orang yang takut kepada Allah akan senantiasa bergetar tanda adanya rasa khawatir apabila ia mengingat dosa yang belum bertaubat atasnya sehingga mendorongnya untuk bersegera bertaubat. Ia pun bergetar hatinya ketika mengingat bahwa dahulu ia sering melalaikan kewajiban-kewajibannya sehingga ia mencari jalan untuk menambah kebaikan dan amalan-amalannya di masa sekarang. Dan hati pun bergetar ketika melihat kedahsyatan Kemahakuasaan Allah yang terdapat di alam, baik dalam wujud yang membuat umumnya manusia takjub ataupun dalam wujud yang membuat manusia umumnya menjadi takut dan lemah tak berdaya.

Hati yang selalu bergetar adalah hati yang senantiasa mengingat Allah bahwa Dia Maha Keras Siksa dan AzabNya. Siapapun yang bersikap durhaka, melanggar aturan dan ketetapanNya akan mendapatkan kemurkaan dan sanksi yang amat berat. Di mana manusia tidak memiliki sedikit pun kekuatan untuk menahan beratnya siksa yang datang dari sisi Allah. Takut Kepada Allah menjaga pemiliknya untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Rasa takut harus menghiasi perjuangan kita sebab rasa itulah yang akan membentengi diri kita dari terjatuh ke lubang yang penuh dengan duri dan mengokohkan kita agar tidak terseret hawa nafsu yang dikendarai oleh Iblis dan tentara-tentaranya.

Melihat dosa bagai gunung yang siap menimpa. Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi Saw dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata: Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seolah-olah ada di atas gunung. Ia takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudia ia berkata mengenai dosanya, “Seperti inikah?” Abu Syihab berkata dengan tangannya –yang diletakkan– di atas hidungnya. [HR. Bukhari]

Tidak melanggar larangan Allah sekalipun tidak ada orang yang melihatnya. Dari Tsauban r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda: Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebarkan. Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah Saw bersabda,

“Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggaranya.” [HR. Ibnu Majah. Al-Kinani penulis buku Mishbah Al-Zujajah berkata, Isnad hadits ini shahih, para perawinya terpercaya].

Berhati-hati dalam menghadapi kematian. Orang yang beriman kepada qadar akan Anda jumpai senantiasa takut kepada Allah dan suul khaatimah (akhir kematian yang buruk), sebab dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan tidak juga merasa aman dari makar Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia jelek maka jeleklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.(HR. Riwayat Al Bukhari dan Muslim).

Fudlail bin ‘Iyadl berujar,”Jika kamu ditanya, ‘Apakah kamu takut kepada Alloh?’, maka diamlah, jangan menjawab! Sebab jika kamu jawab ‘ya’, kamu telah berdusta. Sedangkan jika kamu jawab ‘tidak’, maka kamu telah kafir

Khauf akan membakar syahwat yang diharamkan, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai menjadi di benci. Seperti madu, orang yang suka pun menjadi tidak suka jika tahu madu itu mengandung racun. Syahwat terbakar oleh khauf. Anggota badan pun jadi beradab. Dan hati pun diliputi rasa khusyu’ dan tenang, jauh dari kesombongan, iri, dan dengki. Bahkan ia mampu menguasi segala kegundahan dan tahu bahayanya. Maka ia tidak pernah pindah kepada selainNya. Tiada lagi kesibukannya selain usaha mendekatkan diri, muhasabah, mujahadah, dan memperhitungkan setiap desah nafas dan waktunya.

Ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah, dan kalimat yang keluar dari dirinya. Keadaannya seperti dalam cengkeraman binatang buas. Ia tidak tahu apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa melepaskan diri, atau sebaliknya ia justru menerkamnya maka hancurlah ia. Lahir dan batinnya disibukkan oleh sesuatu yang ia takutkan, tidak ada tempat bagi yang lain disana. Beginilah keadaan orang yang diliputi khauf.

Demikianlah bahwa khauf (takut) terhadap siksa Allah di akhirat, di saat berdiri dihadapan mahkamah Rabbul `Alamin dan takut apabila amalan-amalan kebaikannya tidak diterima oleh Allah itu juga harus diiringi dengan raja’ (berharap) terhadap rahmat dan ampunan-Nya serta diterimanya amalan-amalannya di sisi Allah. Sebagaimana banyak sekali nash-nash yang menggabungkan antara khauf dan raja’ didalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

“(Apakah kamu hai orangng masyrik yang lebih beruntung) ataukah orang
yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangdia takut terhadap (siksa) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?(Az-Zumar: 9)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Kami, adalahorang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang merekatidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya(mereka mengerjakan shalat malam -pen), sedang mereka berdoa kepadaRabb mereka dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkansebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. (As-Sajdah: 15- 16)
“Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalahMaha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-A’raf: 167)

Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia amat cepat siksa-Nya terhadap siapa yang bermaksiat kepada-Nya dan menyelisihi syari’at-Nya, dan bahwa Dia sesungguhnya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap siapa yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Maka ayat ini menggabungkan antara rahmat-Nya dan siksaan-Nya dan antara targhib (dorongan/anjuran untuk taat) dan tarhib (menakut-nakuti dari maksiat)supaya manusia tidak berputus asa dan supaya jiwa manusia itu selalu berada diantara khauf dan raja’.

Sedangkan di antara hadits-hadits yang menggabungkan antara keduanya antara lain:

Sabda Rasulullah:

“Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorangpan berharap terhadap surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorangpan berputus asa dari surga-Nya.”
“Apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang-orang laki-laki diatas pundak-pundak mereka, jika dia baik dia berkata: “Segerakanlah aku, segerakanlah aku”, dan jika dia tidak baik dia berkata: “Aduh, kemana mereka akan membawanya (jasadku)?” Segala sesuatu mendengar suaranya kecuali manusia, seandainya manusia mendengarnya niscaya dia pingsan. ( Muslim dari Abu Hurairah)

Sabda beliau SAW :

“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian dari pada tali sandalnya, dan neraka seperti itu juga”. (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud.12Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah: 371, takhrij Syeikh Muammad Nashiruddin al-Albani)
Abu Ali ar-Rudzabari berkata: “Khauf (takut) dan raja’ (berharap) seumpama dua sayap burung, apabila keduanya sempurna, maka sempurnalah burung itu dan sempurnalah terbangnya. Dan apabila satu dari kedua (sayap)nya kurang, maka terjadilah kekurangan padanya. Dan apabila kedua (sayap)nya tiada. jadilah burung itu di ambang kematian.”

Kemudian tidak boleh terlupakan bahwa khauf dan raja’ yang membawa kepada khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (merendahkan/ menghinakan diri) kepada Allah itu harus pula disertai dengan mahabbah kecintaan) kepada-Nya. Karena itu semua adalah sifat-sifat yang harus ada di dalam ibadah dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya yang sangat berharga, yaituAl-‘Ubudiyah:”Dan ad-dien (agama) mengandung makna al-khudhu (ketundukan) dandzull (merendahkan/ menghinakan diri). Al-‘ibadah asal maknanya juga dzull, dikatakan thariiq mu’abbad artinya adalah (jalan) yang menjadi rendah karena telah dipijak oleh telapak kaki. Akan tetapi ibadah yang diperintahkan (oleh Allah) mengandung makna dzull dan makna hubb (mahabbah/kecintaan), sehingga ibadah yang diperintahkan itu mengandung puncak merendahkan diri kepada Allah dengan puncak kecintaan kepada-Nya.

Wajiblah Allah itu menjadi yang paling dicintai pada seorang hamba dari segala sesuatu, dan wajib pula Allah itu menjadi yang paling besar/ agung padanya dari segala sesuatu. Bahkan tidak ada yang berhak mendapatkan mahabbah dan dzull yang sempurna/mutlak kecuali Allah.

Puncak dari rasa takut itu hampir berdekatan dengan putus asa. Seseorang yang takut akan azab Allah, sedang zat untuk berlindung dari azab Allah tidak ada lagi melainkan Allah itu sendiri melalui rahmatNya, maka ketika dia tidak menjadikan Allah sebagai tumpuan harapannya, jadilah orang itu benar-benar berputus asa dan rugi. Ini dialami oleh orang-orang kafir ketika mereka melihat azab Allah itu dengan mata kepalanya sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak. Mereka pantas berkeadaan demikian disebabkan mereka mengabaikan dakwah Allah. Pada mulanya mereka tidak merasa khawatir dan takut akan kerasnya siksa Allah yang menyebabkan mereka berbuat jahat dan zhalim sekehendak hatinya. Namun ketika azab itu telah tampak di hadapan dirinya, maka mereka sangat takut dan sekaligus juga berputus asa, disebabkan tidak ada yang dapat dijadikannya sebagai tempat berlindung. Adapun bagi orang yang beriman dan beramal sholeh mereka takut kepada Allah dan sekaligus menjadikannya sebagai tempat berlindung. Oleh sebab itu, takut kepada Allah harus didampingi oleh kesadaran pendampingnya yaitu CINTA dan HARAP. Sesungguhnya cinta dan harap adalah bagian dari intisari ketakwaan kepada Allah. Seseorang yang takut akan azab Allah, lalu dia menjadikan Allah sebagai tumpuan harapannya, orang itu tidak sampai berputus asa. Allah memiliki azab yang sangat keras namun Allah pulalah tempat manusia berlindung dari azabNya melalui rahmatNya. Inilah rasa takut kepada Allah yang dimiliki orang-orang beriman dan bertakwa. Yakni rasa takut yang dibarengi harap dan cinta kepadaNya.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (7:56)

Biasanya takut itu dalam hubungannya dengan perbuatan dosa. Sedangkan harapan dalam hubungannya dengan perbuatan bajik. Benarkan demikian? Orang yang beriman karena rasa takutnya kepada Allah maka dalam hubungannya dengan dosa ada dua: pertama ia akan berusaha untuk menjauhi dosa-dosa. Kedua, ia akan bertaubat dari dosa-dosa yang dilakukannya. Dalam dua jenis usaha itu sesungguhnya terdapat harapan. Yakni harapan mendapat pahala karena meninggalkan dosa dan harapan mendapat ampunan karena taubat-taubatnya. Jadi ternyata harapan pun memiliki kaitan dengan dosa. Orang yang beriman karena harapnya kepada Allah maka dalam hubungannya dengan perbuatan bajik ada dua pula: pertama ia akan berusaha untuk mengerjakan kebajikan sesegera mungkin. Kedua, ia akan menyesali diri bila tidak sempat melakukan kebaikan-kebaikan di masa lalu. Dalam dua jenis usaha itu sesungguhnya terdapat rasa takut. Yakni takut amlannya tidak mendapat pahala karena banyak kekurangannya dan takut mendapat murkaNya lantaran kelalainnya dalam melakukan kebaikan di masa lalu. Jadi ternyata takut pun memiliki kaitan dengan kebajikan. Pembahasan tentang cinta dan harap ada pada intisari takwa sub taat kepada Allah, insya Allah

“Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (3:147)

Merasa khawatir ibadahnya tidak diterima Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata; Wahai Rasulullah Saw!, Allah pernah berfirman Allah: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (Qs. al-Mukmin [23]: 60); adalah ditujukan kepada orang yang berzina dan minum khamr. Dalam riwayat Ibnu Sabiq dikatakan, “Apakah ditujukan pada orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr, tapi meski begitu dia takut kepada Allah?” Rasulullah Saw bersabda, “Bukan”. Dalam riwayat Waki dikatakan, “Bukan, Wahai Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, tapi ia adalah orang yang menunaikan shaum, shalat, dan sedekah; dan ia merasa khawatir ibadahnya tersebut tidak diterima.” [HR. Al-Baihaki dalam Asy-Sya’by, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, ia menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi].

Takwa terdiri dari takut kepada Allah, mengamalkan Kitabullah (Al-Qur’an), Qana’ah (merasa cukup) dengan sesuatu yang sedikit dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari akhirat. Dan sesungguhnya, takut kepada Allah Azza Wa Jalla adalah pangkal hikmah dan intisari iman . Bagi hamba yang hanya tunduk kepada Allah dan takut kepada-Nya adalah mereka yang mengetahui kebesaran-Nya dan menunaikan hak-hak-Nya

1). Jika anda takut kepada Allah, apakah itu menjadi pendorong untuk melakukan amalan?
2). Jika anda takut kepada Allah, apakah itu menjadi pendorong untuk menjauhi larangan-larangan-Nya?
3). Jika anda takut kepada Allah, apakah itu membuat anda merasa diawasi oleh Allah dan dapat merasakan kehadiran-Nya

Dengan takut pada Allah yang cukup kuat, akan mampu mendorongnya untuk melakukan amalan. Hal inilah yang membuat seseorang dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan dapat merasakan kehadiran-Nya. Bukankah sebaik-baik iman yang dilakukan oleh seorang hamba adalah amalan yang dilakukan berdasarkan ketetapan yang diturunkan Allah Ta’ala yang berpedoman kepada rambu-rambunya, batasan-batasannya, dan jalur-jalur dari Kitabullah Azza Wa Jalla dan Sunnah Nabi-Nya. Inilah hakikat mempersiapkan diri menghadapi hari untuk menempuh perjalanan yang panjang hari kematian, dan berpisah dengan dunia, hari akhirat dan bertemu dengan Allah.

Dan pada hari perhitungan, semua akan terlihat segala amalan dihadapan Allah yang akan diberikan ganjaran bagi seorang hamba untuk masuk kedalam surga atau neraka. Oleh karena itulah, hendaklah seorang hamba mengetahui bagaimana cara bertakwa kepada Allah dan takut terhadap-Nya. Seorang hamba seharusnya dapat pula mengetahui bagaimana cara beribadah kepada-Nya dan berusaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya, serta beramal untuk menghadapi hari akhir.

Kebanyakan manusia pada saat ini, tatkala mendengar nasehat atau peringatan tentang kematian, kubur, akhirat, tidak memperdulikannya apalagi mengambil pelajaran darinya. Bahkan dua kata “surga dan neraka” sudah tidak lagi menarik perhatian. Tentu hal ini terjadi karena telah hilangnya rasa takut kepada Allah.

Para Salafush Sholih Radhiyallahu’anhum, selalu bertakwa kepada Allah, berlaku zuhud, beramal kebajikan dan takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut, sehingga air mata merekapun berlinangan, dan juga telapak kaki mereka pecah-pecah karena lamanya mereka berdiri (untuk melakukan sholat malam).

Merekalah orang yang sebenar-benarnya takut kepada Allah, dan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam segala keadaan, baik ketika bersembunyi maupun tampak, baik ketika malam ataupun siang, dan baik ketika senang maupun berduka. Dan mereka berhasil dengan gemilang. Dunia tidak dapat melenakan mereka, yang dapat memanfaatkan waktu yang sedikit di dunia dengan sebaik-baiknya, lalu mengalihnya pada waktu yang panjang di akhirat.

Manusia dengan tabiat fitrahnya, jika ia merasa takut terhadap makhluk, maka ia akan lari darinya dan takut bertemu dengannya. Dan ia amat berharap tidak bertemu dengannya. Akan tetapi sebaliknya, jika seseorang takut terhadap Sang Pencipta, maka ia akan kembali menaatinya, bersandar pada-Nya, berlindung pada-Nya, dan akan semakin mendekati-Nya. Ketakutan pada Allah ialah takut terhadap neraka, menangis karena kurang memenuhi hak-Nya.

Takut pada Allah adalah takut yang terpuji yang dapat menghantarkan pada tercapainya kesuksesan dan kesempurnaan memenuhi hak Allah. Maka dari itu, hendaknya kita mengetahui bagaimana cara bertakwa kepada Allah dan takut terhadap-Nya seperti kadar takut para Sahabat, Tabi’in, wanita Sholihah kepada Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Amalan hati seperti tawakkal, takut, berharap, dan sejenisnya serta sabar adalah wajib menurut kesepakatan para ulama.”

Takut adalah kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah, sedangkan Dia Maha Kuat dan Kuasa atas diri kita yang menjadi sebab kita tidak berbuat durhaka padaNya, memohon perlindungan dari azabNya dan memohon petunjukNya agar senantiasa berada dalam limpahan rahmatNya.

Sesungguhnya dari definisi takut kepada Allah sebagaimana diungkapkan oleh penulis di atas di dalamnya terdapat dimensi harap, cinta, dan taat kepada Allah. Dan ini berarti bahwa takut kepada Allah mengundang dan diundang oleh harap, cinta, dan taat kepada Allah Swt. Artinya seseorang yang takut kepada Allah sewajarnya juga memiliki jiwa yang penuh harap, cinta, dan taat kepada Allah Swt.

Takut kepada Allah itu merupakan tiang penyangga perilaku kita yang baik. Bukan takut kepada Allah yang tidak memiliki dampak apa-apa pada perbuatan baik kita tersebut sebagaimana yang terdapat pada dada orang-orang kafir dan munafik atau syaithan. Takut kepada Allah itu berdampak pada semakin menguatkan kebaikan diri kita dan berkurangnya kemaksiatan atau kejahatan diri kita. Khouf adalah cambuk Alloh swt untuk menggiring hamba-hambaNya menuju ilmu dan amal agar mereka mendapatkan kedekatan dengan Alloh swt. Khouf inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan. Inilah sasaran dari perintah Allah agar kita takut kepadaNya. Disamping itu dampak dari takut kepada Allah adalah menguatnya keberanian kita untuk membela kebenaran Islam dan hilangnya rasa khawatir atas kezhaliman orang-orang kafir. Akhirnya takut kepada Allah itu akan berdampak pada keyakinan bahwa kemenangan dunia dan akhirat akan berada di tangan kita.

Takut itu menimbulkan rasa khawatir dan kesedihan pada diri seseorang, bila apa yang ditakuti telah ada di hadapan mata dan sedang di arahkan kepadanya. Telah menjadi ketetapan Allah bahwa azab itu diperuntukkan bukan untuk orang-orang yang bertakwa, tetapi bagi mereka yang kafir. Maka rasa khawatir dan kesedihan hanya akan dialami orang-orang kafir saja. Sedangkan orang-orang mukmin yang hak, dirinya tidak seperti itu. Mereka malah merasakan ketenangan batin dan kegembiraan yang luar biasa, padahal mereka adalah orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah. Sedangkan orang-orang kafir yakni yang hatinya dipenuhi rasa khawatir dan kesedihan dalam hidupnya itu justru adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa takut kepadaNya. Inilah ajaibnya rasa takut yang ada pada dada kaum Muslimin. Hal ini disebabkan karena mereka menjadikan Rahmat Allah sebagai benteng dari azabNya. Sedangkan orang kafir tidak memiliki apa-apa untuk membentengi diri dari azabNya.

Kita harus takut kepada Allah dengan cara kita menghindari perbuatan yang dapat membuat Dia murka. Orang yang takut kepada Alloh swt adalah orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang ia khawatirkan hukumannya. Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada Alloh?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan diri (dari berbagai hal) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.” Abul Qasim al-Hakim bertutur, “Siapa yang takut terhadap sesuatu ia akan lari darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Alloh ia justru lari untuk mendekatinya.”

d. menguatkan sifat-sifat mulia pada jiwa

Takut kepada Allah adalah takut yang melahirkan sifat berani, menjaga kesucian diri, dan harapan. Takut adalah takut yang menjaga dari keburukan dan mengikat pada kebaikan, maka pada gilirannya takut kepada Allah akan semakin menguatkan jiwa pada sifat-sifat mulia dan menjauhkannya dari sifat-sifat buruk, hina dan rendah.

Pada dasarnya manusia memiliki sifat-sifat mulia dan mencintainya disamping memiliki pula sifat-sifat buruk dan membencinya. Hal yang menyebabkan manusia mau mengikuti sifat-sifat buruk dan tidak peduli dengan sifat-sifat baik adalah hati yang kotor. Penyebab hati menjadi kotor tidak lain adalah pemikiran dan perbuatan yang menyimpang dari Islam. Penyebab penyimpangan adalah karena faktor dari dalam dan dari luar. Faktor dari dalam ialah mengikuti hawa nafsu. Sedangkan faktor dari luar tiada lain itulah thoghut. Salah satu thoghut adalah kekuatan lingkungan yang menolak Islam sebagai sumber acuan aturan kehidupan. Thoghut yang lainnya adalah musuh-musuh Islam. Sehingga upaya untuk sampai kepada sifat-sifat yang mulia jalan-jalannya sesungguhnya banyak sekali dan terjal.

Manusia bisa memiliki sifat-sifat yang mulia dengan diawali, salah satunya, menanamkan rasa takut kepada Allah. Rasa takut kepada Allah dapat menguatkan sifat-sifat mulia. Bagaimanakah mekanisme rasa takut kepada Allah dapat menguatkan sifat-sifat mulia pada diri manusia?

Orang yang takut kepada Allah Swt berhati-hati dari setiap perkara yang dapat mendatangkan murka Allah Swt. Jika mereka menghindari murka Allah, maka sejalan dengan itu mereka pun mencari keridoanNya. Sebab tidak ada setelah kemurkaan Allah itu melainkan keridoanNya. Kemurkaan Allah adalah bagi mereka yang durhaka padaNya, sedangkan keridoanNya adalah bagi mereka yang taat kepadaNya. Jadi rasa takut kepada Allah itu sejalan dengan upaya taat kepada Allah Swt. Taat kepada Allah mesti lahir dari hati yang bersih. Hati yang bersih adalah hati yang memiliki tiga ciri, yaitu membuang darinya segala sifat yang buruk, mengisinya dengan berbagai sifat yang baik, dan mengaitkan hati kepada Allah Swt. Upaya-upaya untuk meraih ketiga sifat ini tidak lepas dengan tertanamnya sifat-sifat mulia. Seseorang yang takut kepada Allah akan termotivasi untuk mengganti sifat-sifat buruk yang jadi sebab manusia masuk neraka dan menggantinya dengan upaya menanamkan sifat-sifat mulia dalam dirinya. Hati manusia tidak mungkin mengumpulkan dua sifat yang bertolak belakang, di saat hati membenci sifat-sifat buruk, pada saat itu pula ia mencintai sifat-sifat mulia.

Seperti apa sifat-sifat mulia? Sifat-sifat mulia pada diri manusia diturunkan dari sifat-sifat dari apa ia diciptakan, dari siapa yang menciptakannya dan seperti bagaimana lingkungannya membesarkannya. Manusia diciptakan Allah dari tanah melalui proses kelahiran dari kedua orang tuanya, selanjutnya ia tumbuh besar di lingkungan peradabannya. Allah yang menciptakan manusia menurunkan sifat-sifatNya pada diri manusia sesuai dalam kadar kemanusiaan dan kemakhlukan. Manusia diciptakan dari tanah. Tanah memiliki sifat-sifat istimewa yang banyak sekali disamping ada juga tanah yang berkarakter buruk. Diantaranya tanah itu bersifat menghidupkan tumbuhan atas seizin Allah Swt. Manusia senang dengan suatu proses pertumbuhan dan membenci suatu kemandegan. Manusia dibesarkan di tengah peradaban. Setiap peradaban memiliki keistimewaan, disamping tentu keburukannya. Norma, moral, hukum, adat, agama yang ada pada suatu peradaban memiliki pengaruh yang besar pada jiwa manusia yang dengannya dalam diri mereka terbentuk karakter-karakter. Baik yang baik ataupun yang buruk. Dalam hal ini peradaban ikut serta menanamkan siat-sifat yang baik dan mulia pada manusia. Selanjutnya Allah menanamkan pula pada diri manusia berupa potensi akal, hati nurani, dan emosi. Masing-masing dari ketiga hal tersebut memiliki sifat-sifat mulia, disamping juga sifat-siat buruk.

Jika kita membuat daftar tentang sifat-sifat mulia maka jumlahnya akan sangat banyak sekali, bahkan boleh dikatakan jumlahnya sebanyak jumlah manusia. Katakanlah satu jasad dan ruh manusia memililki satu kemuliaan yang tidak dimiliki oleh jasad lainnya. Setiap orang adalah istimewa dan memiliki minimal satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia manapun di muka bumi, sejak dulu hingga sekarang dan masa yang akan datang. Semua manusia dengan segala kemuliaan dan keburukannya adalah sama dalam pandangan Allah Swt, kecuali satu hal saja yang membedakannya, yaitu ketakwaannya. Orang yang bertakwa itulah yang mulia, dan yang tidak bertakwa itulah orang yang hina. Apakah orang-orang yang tidak bertakwa sama sekali tidak memiliki sifat-sifat mulia? Orang-orang yang tidak bertakwa secara totalitas dan garis besarnya tidak memiliki kemuliaan. Namun dalam beberapa hal tentu saja punya. Sebagai contoh, orang-orang musyrik Qiraisy jahiliah, secara garis besar mereka adalah hina disebabkan oleh penolakannya terhadap dakwah Rasulullah SAW. Tetapi mereka tentu saja memilliki beberapa sifat mulia yang tidak akan bertukar dengan sifat-sifat buruk yang juga ada pada mereka.

Sesungguhnya sifat-sifat mulia yang telah sampai pada puncak-puncaknya pada manusia pernah ditampilkan pada diri para Nabi sebelum Nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya dan generasi penerusnya yang setia. Boleh jadi orang-orang kafir memiliki beberapa sifat mulia yang menonjol, namun hendaknya umat Islam harus sadar bahwa segala sifat yang baik dan mulia pernah diberikan contoh dan teladannya oleh Rasulullah SAW dan para Sahabatnya lebih dari pada sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang kafir. Baik tentang keberaniannya, kelembutannya, ketekunan dan kesabarannya, semangat heroiknya, cita-cita kekuasaannya, kemajuan pemikirannya, kemakamurannya, kekuatannya, sopan santunnya, disiplinnya, kedermawanannya, keindahannya, kewibawaannya dan lain sebagainya. Semua itu merupakan pancaran dari ketakwaan yang ada pada dada mereka sebagai buah dari keimanan yang mendalam, keyakinan yang menghujam ke dalam dada, dan didikan dari Allah Swt melalui Dinul Islam.

Rasa takut kepada Allah Swt mematrikan sifat-sifat mulia pada pemikiran dan tingkah laku, dan menjadi pelindung diri dari sifat-sifat buruk dan hina. Bila manusia berusaha untuk takut kepada Allah dengan sungguh-sungguh maka ia akan mengikatkan dirinya dengan sifat-sifat mulia. Sifat-sifat hina itu adalah menunjukkan pada jalan ke neraka, sedangkan orang yang takut kepada Allah adalah orang yang sangat takut kepada azab neraka, maka upaya apapun akan ditempuh dengan sekuat tenaga untuk menghindari sifat-sifat hina itu atau membuangnya dari dada. Sebaliknya sifat-sifat mulia itu menunjukkan jalan ke surga. Maka seseorang yang takut kepada Allah akan memiliki motivasi yang kuat untuk meraih sifat-sifat mulia.

Sifat mulia memiliki kaitan yang erat dengan amal sholeh atau kebaikan. Keduanya saling menguatkan dan melahirkan.

e. menambatkan hati dengan Hidayah

Takut kepada Allah adalah takut yang mendorong jiwa tertambat dengan hidayah dan senantiasa merasa khawatir kalau Allah menjauhkan dirinya dari hidayahNya, RahmatNya dan BerkahNya. Abu Uzair mengatakan orang yang takut kepada Allah akan merasa khawatir apabila ia terlempar jauh dari hidayahNya, sebab tanpa hidayah, maka tidak ada jalan menuju upaya menggapai RahmatNya. Yang ada adalah kegelapan dan kesesatan. Orang yang dijauhkan dari hidayah Allah adalah orang yang sedang diarahkan menuju kemurkaan Allah dan kesesatan. Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran.

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (36:11)

Orang yang dijauhkan dari hidayah Allah adalah orang yang sedang diarahkan menuju kemurkaan Allah dan kesesatan. Hati-hatilah apabila kita jauh dari al-Quran dan as-Sunnah, al-Jamaah. Hati-hati pula apabila kita tidak pernah diuji oleh Allah Swt. Karena apabila kita jauh dari petunjuk dan tidak pernah diuji, pertanda hidup jauh dari kasih sayang Allah Swt dan tipisnya keimanan. Sebaliknya terhadap petunjuk agama, hendaklah kita menambatkan hati kita kepadanya.

Bagimana cara kita menambatkan hati dengan hidayah ? Caranya adalah:

1). Dengan mengobati penyakit hati

Obat hati yang paling mujarab adalah iman. Karena pasangan yang paling cocok untuk manusia bagi hatinya adalah iman. Penyakit yang paling parah adalah kekufuran. Kekufuran hanya akan terobati oleh keimanan. Bagaimana manusia dapat meraih peningkatan keimanan setiap hari, setiap waktu? Caranya adalah dengan melaksanakan shalat, membaca al-Quran dan berdzikir serta menahan setiap ajakan hawa nafsu dan godaan syaithan. Itulah dasar dari obat penyakit hati. Dan pengokohnya adalah melaksanakan shaum sunat, bersilaturahmi dengan para ulama dan orang-orang sholeh, dan melaksanakan shalat tahajud. Dan penguat obat itu adalah memiliki sifat Rabbaniyun. Sifat Rabbaniyun adalah kegemaran untuk belajar dan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Untuk melakukan itu semua seseorang mesti membuat suatu kebiasaan, latihan, pengkondisian dan lingkungan yang menunjang. Orang-orang yang hidup di lingkungan pesantren, mudah untuk melakukan itu semua. Tetapi bagi orang-orang yang hidupnya di perkantoran, pabrik, dan seterusnya harus berjuang keras untuk sampai kepada sifat-sifat tersebut. Apalagi apabila lingkungannya adalah lingkungan jahiliah dan kufur, ia mesti terlebih dahulu meninggalkannya dan mencari lingkungan yang tepat untuknya. Dengan cara mengobati hati, maka hati telah siap dan sedang berada dalam hidayah Allah Swt. Orang yang takut kepada Allah tentu saja rindu kepada hati yang bersih dan terbebas dari berbagai penyakit. Hati yang demikian itulah yang pantas untuk mendapatkan tambahan hidayah dari sisi Allah Swt.

2). Memposisikan diri sebagai hamba yang taat

Sesungguhnya perintah Allah itu berpusat pada Keimanan dan Ibadah. Kedua hal itu meminta syarat seperti ilmu, ikhlas dan kehalalan. Seorang hamba yang taat adalah seorang yang beriman, taat ibadah berdasar ilmu, dilakukan dengan ikhlas dan dengan jasad yang kuat lagi halal.

3). Berjuang keras untuk meningkatkan kualitas ibadah

4). Menghukum diri apabila berbuat lalai

5). Berdoa kepada Allah untuk dijaga atas keimanannya

f. Bertaubat dari Dosa

Orang yang takut kepada Allah memiliki empat ciri utama: yakni sadar bahwa dirinya lemah di hadapan Allah inilah yang melahirkan sifat tawadlu; takut akan azab Allah baik di dunia ataupun di akhirat, inilah yang melahirkan sifat wara’ atau hati-hati; yakin bahwa Allah adalah tempat kembali inilah yang melahirkan sifat qonaah, sabar dan khusyu’; dan sadar akan pengawasan dari Allah dalam setiap waktu, inilalah yang melahirkan sifat muhasabah, muaqobah, muhasabah, dan mengikatkan diri dengan kebaikan. Empat ciri ini memiliki sifat yang sama yaitu mengekang diri dari perbuatan yang dapat mengudang kemurkaannya dan sifat-sifat buruk dan lecutan untuk mengikatkan diri dengan perbuatan baik dan sifat-sifat mulia.

Takut akan azab Allah baik di dunia ataupun di akhirat disamping melahirkan sifat wara’ atau hati-hati juga melahirkan suatu kemauan yang kuat untuk senantiasa bertaubat.

Manusia banyak yang berbuat durhaka kepada Tuhannya yang menyebabkan mereka dimurkai Allah dan dimasukkan ke neraka. Tetapi sesungguhnya sekalipun manusia berbuat dosa dan menzhalimi dirinya sendiri, mereka masih berkesempatan untuk meraih karunia dan rido Allah Swt. Dengan suatu metode yang disebut dengan taubat. Taubat itu sendiri memiliki suatu metode, salah satunya yang amat terkenal adalah taubat itu dilakukan sebelum ajal tiba atau matahari terbit dari barat.

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (4:18)

Muhammad Ash-Shayim (2000, 20) mengatakan:

taubat adalah suatu rahmat Allah yang diberikan kepada hambaNya dan merupakan pintu keselamatan bagi orang-orang yang berbuat maksiat agar terhindar dari kebinasaan. Berapa banyak orang-orang yang berdosa yang telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (taubat nashuha) mengalami hidup tentram dan digantikan kejahatan-kejahatan mereka oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan.

Alloh berfirman

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (25:70)

Tubat itu berarti penyelasan atas apa telah terjadi di masa lampau lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya serta meninggalkan segala bentuk dosa.

Taubat adalah suatu penyesalan. Penyesalan akan bermanfaat apabila dilakukan di dunia ini sebelum ajal datang. Orang-orang yang berbuat dosa yang tidak sempat bertaubat akan bertaubat di akhirat kelak. Namun taubat itu sama sekali tidak bermanfaat. Sebab di akhirat yang ada adalah perhitungan amal dan pembalasan atas amal perbuatan manusia. Hakikat taubat ialah kembali kepada kebenaran dan ketaatan kepada Allah. Di negeri akhirat manusia tidak lagi memiliki beban untuk beribadah atau melakukan ketaatan kepadaNya sebagaimana yang diwajibkanNya selama manusia hidup di dunia.

Obyek taubat kita adalah perbuatan dosa. Dosa adalah konsep yang erat kaitannya dengan perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Swt. Seluruh perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah berbuah dosa apabila dilakukan dan berpahala apabila dijauhi karena rasa ketaatan dan kecintaan kepadaNya. Dosa juga dihubungkan dengan perbuatan yang dicintai Allah Swt. Perbuatan yang dicintai Allah adalah ibadahnya manusia kepadaNya sebagai suatu kewajibannya yang utama. Manusia akan berdosa apabila meninggalkan kewajiban ibadah tersebut dan berpahala apabila melakukaannya dengan sungguh-sungguh, berdasar ilmu dan ikhlas.

Dalam paragraph-paragraf berikut ini akan dituliskan 19 perbuatan yang mengundang rasa penyesalan manusia di akhirat kelak yang saya rangkum dari buku 19 orang yang menyesal pada hari kiamat, karangan Muhammad Ash-Shayim. Ada tiga hal yang seyogyanya kita lakukan berkaitan dengan apa yang akan diterangkan tersebut yaitu: mengetahui dan memahaminya, bertaubat atasnya apabila kita telah terlanjur melakukannya dan berhati-hati godaan syaithan yang bisa menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan tersebut.

1). Kekufuran
2). Mengkhianati janji
3). Menyia-nyiakan shalat
4). Menerima Sogok
5). Berlari dari medan tempur
6). Berbuat kerusakan di muka bumi
7). Tukang sihir
8). Durhaka kepada kedua orang tua
9). Mengurangi timbangan
10). Dendam dan dengki
11). Riya’
12). Menyakiti tetangga
13). Menyekap pembantu dan merendahkan budak
14). Menyakiti manusia
15). Bakhil
16). Suka memfitnah
17). Penjudi
18). Suka Melaknat dan Mengumpat
19). Meratapi Kematian

Itulah perbuatan-perbuatan yang sering dilakukan manusia yang mungkin kita pulalah pelakunya, karena itu kita harus segera bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan tersebut.

8. RASA TAKUT PADA DIRI ORANG-ORANG KAFIR

Alloh Swtr berfirman:

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” (9:64)
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (3:151)
“(Orang munafik itu) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir” (2:19).
“Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. (4:77)
“Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).” (9:56)
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.” (59:16)
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (2:212)

Orang-orang kafir adalah contoh nyata manusia yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Penyebab utama orang-orang kafir tidak memiliki rasa takut kepada Allah adalah karena mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya, karena ditipu oleh kehidupan dunia, karena memperturutkan hawa nafsu dan bisikan syaithan dan mengikuti warisan orang tuanya yang tidak memiliki rasa takut pada Allah. Pengaruh dari ketiadaan rasa takut kepada Allah yang muncul dari sebab-sebab tadi adalah mendustakan Allah, tidak memperhatikan negeri akhirat, memandang rendah iman, keras terhadap orang-orang mukmin, merasa tidak memiliki dosa, memandang indah perbuatan buruk mereka, diliputi perasaan dendam, sombong dan dengki. Akibat dari sifat-sifat diatas adalah tidak mampu melihat peringatan dan pelajaran dari Tuhan mereka, bergelimang dalam kesesatan, memusuhi orang yang seharusnya dijadikan teman (Nabi) dan berteman dengan yang seharusnya dijadikan musuh (syaithan), kehidupan yang sempit, bertambah-tambah dosa, diganjar dengan neraka, menjadi teman syaithan di neraka. Orang kafir tidak menyadari akan kelemahan diri mereka sebagai makhluk. Mereka tidak berfikir kalau penolakan mereka atas dakwah Islam merupakan suatu kerugian yang besar. Mereka melupakan jika perbuatan maksiat mereka akan berujung di neraka kelak. Sementara apapun yang mereka perjuangkan, mereka usahakan dan mereka berkorban atasnya akan sia-sia belaka, tanpa suatu balasan berupa kebaikan dari sisi Allah. Akhirnya mereka tidak memiliki apapun untuk kehidupannya di akhirat melainkan amalan buruk dan neraka yang menantinya. Hendaknya bagi orang-orang mukmin, kenyataan yang melingkupi orang-orang kafir yang penjelasannya telah dimuat dalam al-Quran dan Sunnah RasulNya menjadi bahan pelajaran dan peringatan yang terbaik.

Orang yang kafir, karena tidak memiliki rasa takut kepada Allah, memandang sepele pada dosa dan tidak bertaubat atas perbuatan dosanya. Akibatnya adalah mereka berada dalam keadaan terus menerus berbuat dosa. Mereka bergelimang dalam kesesatan, kemaksiatan yang menyebabkan mereka terhalang dari ketaatan, hidayah dan kenikmatan serta keindahan hidup. Orang-orang kafir merasakan suatu ketakutan kepada Allah hanya ketika azab atau siksa Allah sudah ada di hadapan matanya, namun itu tidak menolongnya, sebab waktu itu tidak ada lagi kesempatan untuk meminta pertolongan kepada Allah Swt. Demikian pula syaithan, syaithan memiliki rasa takut kepada Allah, dia memberitahukannya kepada manusia ketika manusia telah berhasil disesatkannya. Sedangkan pada saat ia menggoda manusia, seakan-akan dia tidak memiliki rasa takut itu. Itulah liciknya iblis. Orang munafik juga memiliki rasa takut kepada Allah, yakni kalau Allah menurunkan wahyu yang menerangkan tentang keadaan hati mereka yang penuh dengan penyakit, dendam dan kekikiran. Di antara ahli kitab, karena tidak memiliki rasa takut kepada Allah, mereka lebih memilih kekayaan dunia dari pada menyampaikan isi taurat dan injil yang benar.

Terkait dosa-dosa mereka banyak hal berkonsekuensi atas orang-orang kafir itu. Pertama, dosa mereka bisa saja dihapus kalau mereka bertaubat, tetapi jika tetap membangkang dan menebarkan fitnah di tengah-tengah umat Islam, tentu mereka akan mengalami azab (lihat 8:38). Kedua, orang-orang kafir dengan segenap perbuatan dosanya akan mendapatkan balasan yang telah pasti, dan kalaupun mereka di dunia diberikan kehidupan yang berkecukupan dan kaya atas harta dan kesenangan, itu justru supaya betambah-tambah dosanya (lihat 3:178). Ketiga, tidak ada ampunan bagi orang kafir yang berbuat kezhaliman dan mereka semakin mudah saja melakukan kezhaliman yang semakin mendekatkan diri mereka ke neraka (lihat 4:168). Keempat, setiap orang telah mendapatkan dakwah Islam, dan orang kafir merupakan golongan manusia yang menolaknya, itu akibat dari nafsu dan kesombongan mereka (lihat 45:32). Maka itulah alasan azab ditimpakan pada mereka. Azab hanya diturunkan kepada kaum yang kepada mereka diturunkan wahyu (lihat 26:208). Orang kafir merasa dan meyakini bahwa dosa itu tidak ada. Karena itu ketika ia mengajak orang untuk durhaka kepada Allah, dengan mengatakan bahwa ia berani menanggung dosa orang yang diajaknya, (lihat 29:12). Ucapan itu tentu saja dusta belaka, sebab hakikatnya ia tidak memiliki kekuatan untuk menahan akibat dari dosa itu, yakni siksa dan azabNya. Akibat dari ucapan itu ialah dosanya bertambah-tambah, yakni dosanya ditambah dosa orang yang diajaknya kedalam kesesatan, (lihat 29:13). Orang-orang kafir pada dasarnya adalah orang-orang yang berdosa kepada Tuhannya, artinya orang-orang yang pasti akan ditimpa azab, siksa, dan laknat dari sisi Allah Swt. “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.” (59:16). Kesimpulannya: akibat tiadanya rasa takut kepada Allah, orang kafir larut dalam dosa dan mereka akan menemui akibat dari perbuatan dosa mereka, yaitu: azabNya baik di dunia maupun di akhirat.

Terkait dengan kesesatan mereka, lahir pula beberapa resultan akibat dari ketiadaaan rasa takut kepada Allah. Pertama, karena tiadanya rasa takut kepada Allah, mereka senang dengan perbuatan fasik, yaitu melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi (lihat 2:27). Kedua, mereka mempergunakan logika untuk membenarkan tindakannya dalam menyalahi aturan Allah sehingga mereka dibantu syaithan untuk melihat kesalahan mereka sebagai sesuatu yang patut, benar dan terpuji (lihat:9:37). Ketiga, mereka tidak melihat bahwa kewajiban yang dibebankan pada manusia dari sisi Allah adalah sesuai dengan kadar kemampuan manusia itu sendiri dan untuk kemuliaan manusia itu sendiri, akibatnya mereka terjebak untuk memilih perbuatan-perbuatan yang justru membuat harkat dan derajat mereka terjatuh ke lembah kehinaan (lihat 23:62-64). Keempat, mereka memandang rendah iman dan memandang tinggi kekafiran (lihat 2:108), itu artinya mereka memandang rendah kebenaran dan surga: mereka tidak menghargai Allah; seraya memandang agung atas kebatilan dan neraka dan mengagungkah nafsu dan syaithan. Maka mereka rela membeli hidayah dengan kesesatan (lihat 2:16). Kesimpulannya: akibat dari tiadanya rasa takut kepada Allah, orang kafir lebih senang dengan kebatilan dan mereka akan terus membelanya dengan berbagai cara termasuk menyerang kebenaran yang datang dari sisi Allah. Jadilah orang-orang kafir itu adalah musuh bagi kaum muslimin yang berada di dalam kebenaran (lihat 4:101).

Orang-orang kafir itu tidak takut kepada Allah seperti yang kita definisikan, tetapi mereka memiliki rasa takut. Perasaan takut muncul pada mereka saat melihat azab dari Allah itu turun, Allah sendiri menancapkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir (lihat 8:12) atas kebesaran Islam (lihat: 5:3) dan kekuatan kaum mukminin (lihat 8:60), dan karena perbuatan zhalim mereka berupa perbuatan syirik (lihat 3:151). Orang-orang kafir memiliki perasaan sangat cinta atas kehidupan dunia, maka mereka takut mati, takut miskin karena itu mereka amat kikir dan pendengki. Mereka senang dengan kebatilan, karena itu mereka takut bila Islam dan umatnya menjadi besar dan kuat. Berbagai upaya mereka lakukan untuk membendung dakwah Islam, mengintimidasi umat Islam dan menebarkan fitnah atas Islam kepada segenap manusia. Itulah sebabnya orang-orang kafir itu adalah musuh Islam dan umatnya.

Oleh karena itu kekafiran harus diperangi. Dan modal keberanian untuk berperang melawan orang kafir adalah rasa takut kepada Allah.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (4:76)
Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. 99:12)
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (9:123).

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (66:9)

9. ALASAN TAKUT KEPADA ALLAH

Takut adalah kesadaran bahwa diri kita lemah di hadapan Allah,
sedangkan Dia Maha Kuat dan Kuasa atas diri kita.
Kita diciptakan, sedangkan Allah adalah Pencipta kita.
Sesungguhnya kesadaran ini cukup
sebagai alasan mengapa kita harus takut kepada Allah.

a. Allah Maha teliti atas setiap perbuatan manusia

Takut kepada Allah adalah takut berkenaan karena Dia Maha teliti atas setiap perbuatan manusia dan senantiasa mengawasi setiap langkah-langkahnya. Tidak ada suatu waktu dan tempat bagi manusia untuk bersembunyi dari pandangan Allah. Allah yang senantiasa memperhatikan seluruh gerak-geriknya adalah Dia yang telah menetapkan azab bagi hamba-hambaNya yang durhaka. Maka pengaruh dari rasa takut itu adalah sikap berhati-hati dalam seluruh waktu dan tempat serta keadaan, jangan sampai dirinya melakukan suatu pelanggaran atau kelalaian.

Allah akan memberikan catatan atas seluruh perbuatan manusia yang akan menjadi saksi nanti di negeri akhirat. Untuk selanjutnya dijadikan timbangan keadilan untuk dibalas dengan surga atau neraka. Orang-orang yang takut kepada Allah akan bersungguh-sungguh menjadikan setiap waktu dan tempatnya untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan berusaha sekeras mungkin untuk menjauhi perkara-perkara yang melanggar laranganNya. Inilah pengaruh dari rasa takut kepada Allah. Orang yang merasa takut kepada Allah tidak mudah tergoda untuk melakukan kemaksiatan dan keharaman karena ia tahu, Allah senantias mengawasi dan mencatat apa saja yang dilakukakannya.

Sehingga ia pun nantinya boleh berharap bahwa Allah akan membalasnya dengan kebaikan dan menolongnya dari setiap kesulitan yang akan dihadapinya di dunia maupun di akhirat. Harapan ini cukup beralasan, sebab orang yang beriman melakukan amalan kebaikan adalah karena mengharap RahmatNya dan meninggalkan keburukan karena mengharap ampunanNya.

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya” (2:235)

b. Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa

Allah Swt adalah Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada satu pun kekuatan di muka bumi atau di langit juga di alam ghaib yang dapat mematahkan kekuatan, kehendak, ketetapan dan hukum Allah Swt. Sekuat apapun kekuatan yang dimiliki ala semesta,manusia, jin, dan malaikat, tak akan cukup untukmenyamai atau mengalahkan kekuatan Allah SWT. Kekuatan yang mereka miliki itu bahkan asalnya dari sisi Allah Swt, sebab Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengendalikannya. Karena itu Allah Swt adalah Zat yang sepantasnya manusia takut hanya kepadaNya,ketimbang kepada makhlukNya.

Apapun yang sedang berlangsung di alam semesta ini, termasuk pada diri manusia berada dalam genggamanNya dan KekuasaanNya. Jika Allah berkehendak diri kita, tanah yang kita injak, atau rumah yang kita bernaung di dalamnya hancur, maka akan hancurlah jadinya. Betapa besar kekuasaan Allah atas dunia dan pada diri manusia maka seyogyanya manusia berserah diri dan pasrah kepadaNya melalui ketundukkan kita kepada agamaNya sepenuh kesadaran diri dan tidak banyak membantah terhadapNya.

Takut kita kepada Allah dibangkitkan bukan dengan cara menjauhiNya sebab tidak ada lagi tempat berlindung dari pengamatanNya. Tetapi seharusnya kita mendekat kepadaNya, memohon perlindunganNya melalui ibadah dan taqorub serta doa dan ikhtiar.

c. Allah telah menetapkan adanya Azab dan Neraka

Allah SWT telah menetapkan pula azab dan neraka untuk manusia dan jin ketika kedua makhluk itu tidak mengindahkan aturan, ketetapanNya yang harus dipenuhi oleh kedua makhluk itu. Allah telah menetapkan azab dunia bagi mereka yang terus menerus bergelimang dalam kesesatan. Ketika seruan iman telah sampai pada mereka dan bagi mereka ada azab neraka pula di akhirat.

Bukti dan dalil tentang adanya azab Allah itu dapat kita baca dalam Al-Quran dan pada negeri-negeri yang diazab Allah. Pada garis besarnya, bangsa, umat, etnis yang dihancurkan itu bukanlah golongan manusia yang bodoh secara teknologi dan sains serta peradaban. Mereka adalah bangsa-bangsa yang berfikir maju, berkarakter modern pada zamannya, dan sadar akan hakikat keberadaan mereka di dunia.bukan bangsa yang terbelakang dalam cara hidup dan berpikirnya.

Tetapi mereka yang cerdas-cerdas itu tidak lagi membuka hatinya dan akal pikiranya utuk memahami dan menerima wahyu dan kedatangan para nabi. Mereka tertutup dengan kesombomgan dan kedzaliman (27:24). Amcaman Allah erupa azab, ketika ditimpakan pada mereka, ternyata secanggih apapun hasil pemikiran dan peradaban mereka tak mampu menahannya.

Oleh karena itu, kita yang hidup di zaman teknologi serba maju sepesat sekarang ini, tak akan dapat melindungi diri dari azabNya. Yang dapat melindungi diri dari azabNya adalah RahmatNya.

d. Allah telah memberikan wahyu, akal dan dunia pada manusia

Allah Swt tidak akan menurukan azabNya kecuali apabila suatu bangsa, umat, diri telah diberi tiga hal: akal, wahyu, dan karunia. Bila Allah hendak mengazab suatu negeri, maka diberilah bangsa itu kemampuan berfikir yang maju sehingga dapat mengelola dunia sehingga makmur, lalu disampaikanlah kepada mereka wahyu agar mereka tunduk dan bersyukur, dan untuk itu mereka telah diberi akal dan waktu untuk memikirkan wahyu tersebut. Namun mereka menolaknya; maka disaat itulah azab turun.

Allah Swt telah memberi kita sehingga dapat berfikir, belajar, mengerti, berteknologi dan mengembangkan sains. Semakin banyak karunia Allah yang dapat kita nikmati di situ pula akal memahami akan kebesaran Allah yang Maha Pencipta. Tetapi mengapa aturanNya tidak kita laksanakan? Padahal aturan Allah itu sendiri untuk kebaikan dan kemudahan hidup manusia sendiri. Di sinilah kita harus berhati-hati dari sikap sombong dan zhalim. Karena keduanya jadi sebab kita menolak dan terhalang dari wahyu.

Wahyu, akal, dan karunia telah sampai kepada kita, jangan sampai akal dan karunia kita rengkuh, sedangkan wahyu, kita campakkan. Sikap seperti ini telah lama berkembang di setiap zaman kehidupan manusia. Dan bangsa kita berada pada urutan yang mengikutinya. Takutlah kepada Allah, ikuti wahyunya.

e. Manusia tidak cukup kuat dengan akal dan buminya

Manusia mestinya merasa takut jika hidupnya di dunia tidak bahagia. Dan di akhirat masuk neraka. Manusia hendaknya mulai menyadari bahwa kecerdasan akal yang melahirkan sains dan teknologi serta pemikiran, juga bumi yang indah lengkap dan sempurna ini, tak cukup sudah untuk mengantarkan kepada kebahagiaan dan kemuliaan sejati. Sedangkan dari wahyu ia terhalang.

Apakah artinya kota yang gemerlap, kesenangan nafsu dan syahwat serta perut dan kendaraan yang terpenuhi, namun hati gersang dan selalu gelisah akibat dari ketiadaan iman dan kehampaan dari bimbingan wahyu.

Bukankah suatu hal yang sia-sia memiliki tapi tak menikmati. Memiliki tetapi selalu dirundung rasa khawatir, takut, gelisah, dan putus asa. Tapi di dalam waktu yang sama juga sombong, merasa kuat dan memandang rendah pada kebenaran wahyu. Padahal manusia tak memiliki kehebatan apa-apa sekalipun atas jasadnya sendiri. Jasadnya kian lama kian tua, lemah dan akhirnya mati.

Keadaan-keadaan semacam ini seyogyanya menyadarkan kita akan kebesaran Allah. Kita tak punya kekuatan apa-apa karena itu mestilah kita takut kepada Allah Swt atas kekuasaanNya, KekuatanNya, JanjiNya, ancamanNya dan sifat-sifatNya yang memaksa yang tak dapat ditahan oleh manusia di mana pun dan siapapun.

f. Azab Batiniah telah turun di sepanjang masa

Allah senantiasa menurunkan rahmat bagi orang-orang yang mengikuti hidayahNya. Dan pula senantiasa menurunkan azab kepada orang-orang yang memilih kesesatan. Manusia itu anehnya menginginkan rahmat tetapi senang menempuh kesesatan. Jadilah mereka ditimpa azab dari sisiNya berupa azab batiniyah. Kesengsaraan jiwa yang terus menerus .

Sesungguhnya wahyu turun untuk menyempurnakan karunia Allah pada manusia setelah manusia diberinya akal dan alam. Ketika manuia merasa cukup hanya dengan akal dan alam untuk menikmati hidupnya di dunia, akibatnya dan kenyataannya , bukanlah kesenangan yang mereka dapat, tapi justru kepayahan kelelahan dan ketidak menentuan hidup. Mengapa? Sebab manusia terkait dengan dua kenyataan yang tak dapat dipuaskan oleh akal dan alam. Dan kenyataan bahwa dia dibentuk untuk beribadah kepada Allah. Dua kenyataan ini hanya dapat terpenuhi kebutuhannya oleh wahyu , yakni oleh Islam .

Manusia lebih patut merasa takut oleh keadaan-keadaan yang membuatnya terperosok dalam kehampaan dan ketidakjelasan arti dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu dalam hidup, manusia harus taat pada wahyu. Jika tidak, maka penyakit-penyakit batiniah akan terus merenggut hidup manusia. Manusia akan senantiasa dikepung oleh berbagai keanehan dan keganjilan.

g. Janji Allah adalah pasti dan tiada perubahan

Alloh swt telah membuat bukti atas ketetapan yang telah dibuatNya dan diberitahukan kepada manusia, bahwa siapa yang merasa cukup dengan akal dan alam semata dengan tujuan untuk menempuh jalan yang sehat , dia menurunkan azabNya. Dan siapa yang tunduk pada-Nya, dia menurunkan Rahmat-Nya. Dan janji Alloh itu pasti.

Alloh tidak akan merubah janji-Nya itu . Alloh tidak akan mengubah ancamanNya, hanya karena seorang yang berdosa seorang raja, kaya, cerdas, rupawan dan banyak amal sosialnya. Allah akan tetap mengazab manusia yang menempuh jalan sesat, sebagaiman Dia telah mencazab Firaun, Qorun, Bangsa ‘Aad, Tsamud dan Madyan. Dan tidak ada tempat bagi manusia untuk mencari aman jika azabNya telah turun.

Ancaman Allah ini berlaku untuk bangsa apa pun, di mana pun dan kapan pun. Janganlah mengira bahwa bangsa Amerika misalnya, yang telah lama menempuh jalan kesesatan dan banyak berbuat zhalim kepada umat Islam, dapat melepaskan diri dari azab Allah, jika mereka tidak mau bertaubat. Begitu pula jangan mengira bangsa kita pun dapat lepas dari azab Allah, hanya karena jumlah umat Islamnya banyak. Lepasnya azab Allah dari suatu kaum bukan karena jumlah tapi karena kualitas keimanannya dan ketaatannya kepada wahyu.

Jika selama ini, kita mengira bahwa azab belum turun mungkin itulah alat untuk menimpakan azabNya yang terberat.

h. Manusia akan memasuki negeri akhirat

Allah adalah raja di hari kiamat, yang akan mengadili seluruh manusia atas segala amal perbuatannya yang telah mereka buat selama di dunia, hendaklah perkara itu menjadi bahan renungan bagi kita supaya kita takut kepada Allah, Al-Hakiim yang Maha Adil.

Manusia bagaiamana pun keadaannya sekarang, mereka yang masih hidup sedang bergerak menuju hari kiamat. Bertambahnya usia berarti dunia semakin menjauhi dan akhirat semakin mendekat. Dan kedatangan hari kiamat itu ialah sebagai tempat di mana amal diperhitungkan dan dibalas dengan seadil-adilnya.

Selama di dunia kita selalu menghendaki agar orang lain yang pernah berbuat zhalim, aniaya, curang, jahat, berdusta, menipu pada diri kita, dia diberi hukuman dengan seadil-adilnya dan seberat-beratnya. Begitu pun pikiran orang lain terhadap diri kita yang pernah kita zhalimi, kita khianati, kita fitnah, dan kita curangi. Dan Allah Sang Khalik yang Maha Adil itu akan menghukum mereka dan juga kita atas segala dosa dan kecurangan.

Takut kepada Allah Sang Raja di Hari Kiamat hendaknya menyelusup ke dalam jiwa kita. Dan implementasinya kita harus mengurangi dendam, permusuhan, kejahatan, dosa, kesalahan, maksiat, fujur dan siat membangkang.

i. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung selain Allah

Kepada siapakah manusia meminta perlindungan jika Allah telah menetapkan siksa baginya? Tidak ada tempat meminta perlindungan dari siksa Allah Swt. Dan itulah sebabnya mengapa kita mesti menggantungkan seluruh urusan hidup kita kepadaNya. Jika tidak maka kita bergantung kepada ketiadaan.

Alasan ini mestinya menjadi kekuatan kesadaran bagi kita untuk tidak mencari tempat berlindung selain Allah Swt. Kita tidak dapat berlindung kepada apapun dari azab Allah, selain kepada Allah sendiri melalui sikap taat kita kepadaNya.

Janganlah kita merasa ragu akan kenyataan bahwa Allah merupakan tempat berlindung. Dan bahwa apapun selain Allah yang hendak kita jadikan sebagai pelindung, sandaran, kedudukannya amat lemah dan tidak memiliki apapun untuk memberikan perlindungan sekalipun banyak manusia bersikap aneh dan tidak wajar, yakni menjadikan selain Allah sebagai perlindungannya, tidaklah patut dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan tersebut.

Azab Allah turun itu karena manusia memilih selain Allah sebagai tandingan dalam keyakinan, pengabdian dan tujuan sehinga mengakibatkan mereka tidak mau menerima kebenaran dari sisi Allah Swt. Dan itu artinya mereka telah memperosokkan diri kepada golongan sesat yang pantas mendapat azabNya.

j. Umat-umat yang kuat dahulu pun hancur binasa

Mengapa kita harus takut kepada Allah Swt? Karena kita ini amatlah lemah untuk mengadakan suatu makar terhadapNya. Apapun yang kita usahakan untuk melawan ketetapan Allah, sama sekali tidak akan mampu mengatasiNya. Berapa banyak umat terdahulu yang tampil menjadi penentang para Nabi untuk menolak wahyu dan menolak mengabdi, akhirnya terkalahkan.

Padahal mereka adalah umat yang amat kuat, berdaya, cerdas fikirannya, dan maju teknologinya tetap saja mereka hancur binasa. Apakah bagi kita yang lemah ini, lebih lemah dari mereka, mestinya kita lebih takut lagi pada Allah Swt.

Umat-umat terdahulu yang kuat-kuat itu hancur bukan karena dizhalimi oleh Allah Swt. Tetapi akibat dari perbuatan mereka. Memang Allah yang membuat ketetapan azab itu. Tetapi manusia boleh memilih. Apakah mau azab atau rahmat. Jadi peluang untuk mendapat rahmat dan terhindar dari azabNya terbuka lebar dan begitu pula jalan-jalannya telah disediakan. Manusia hanya tinggal melaksanakan dengan kemampuan dan kemauan yang ada. Seandainya umat-umat terdahulu itu mau mengikuti dahwah para Nabi dan membelanya dengan segenap kemampuan yang ada tentu mereka pun akan terhindar dari azabNya yang keras.

Kaum muslimin hendaklah menjadi contoh bagi manusia dalam pembelaannya pada kebenaran dan menunjukkan ketinggian ajaran Islam lewat perilaku, pemikiran, dan peradabannya. Bahwa rahmatlah yang turun pada mereka ketika mereka taat kepadaNya.

“Dan apabila Allah menghendaki kebenaran terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada perlindungan bagi mereka selain Dia.” (QS 13:11)
“Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apapun bagi mereka.” (QS 13:14)
“Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (Qs 13:31)
“Mereka mendapatkan siksaan dalam kehidupan dunia, dan azab akhirat pasti lebih keras.” (13:34)

10. MANFAAT TAKUT KEPADA ALLAH

Manfaat takut kepada Allah Swt pada intinya adalah mencegah diri kita dari melakukan perbuatan fujur dan terdorong untuk melakukan ketaatan yang sempurna kepada-Nya

a. Menguatkan akhlak yang mulia

Takut kepada Allah Swt akan menguatkan akhlak yang baik melalui dihindarinya akhlak-akhlak yang buruk dan rendah. Sesungguhnya suatu kesempurnaan terjadi setelah terlebih dahulu dihilangkan darinya kekurangan, keburukan dan cacat. Akhlak yang baik tidak akan sempurna tanpa diawali oleh upaya menghilankan akhlak yang buruk. Kita mengetahui bahwa akhlak yang buruk pada dasarnya adalah akhlak yang tidak dibenarkan oleh wahyu, tidak disukai oleh akal dan tidak disetujui oleh adat. Seseorang tidak akan meninggalkan akhlak yang buruk selama akalnya lemah, imannya tipis, dan pergaulannya buruk. Ketika seseorang telah tertanam di dadanya rasa takut kepada Allah maka itu karena dalam dirinya telah bekerja akal yang cerdas, iman yang kuat, pergaulan yang matang dengan orang-orang sholeh, dan matang pengalamannya dalam memahami liku-liku kehidupan. Di saat itulah ia mulai akhlak-akhlak buruk.

Akhlak yang buruk selama masih bersanding dan bercampur dengan akhlak yangbaik, maka akhlak yang baik itu menjadi samar, terkotori, dan tidak berpengaruh. Dengan upaya yang membersihkan akhlak yang buruk, maka akhlak yang baik akan menguat.
Dengan takut kepada Allah, maka seseorang akan menghindari akhlak yang buruk, sebab ia takut akan akibatnya yang buruk.

b. Menggiatkan amal kebaikan

Sejalan dengan dengan menguatnya akhlak yang baik, rasa takut kepada Allah, akan mendorong seseorang melakukan kebaikan untuk menutupi berbagai kekurangan, kesalahan, dan kelalaian yang telah lalu. Sebab cara tersebut merupakan upaya untuk menghindari azabNya. Azab Allah Swt bisa tidak terjadi pada seseorang yang berbuat dosa, apabila ia bersegera bertaubat dan menggantinya dengan amalan bajik. Dan bagaimana mekanisme seseorang mau bertaubat, ialah dengan menanamkan rasa takut kepadaNya.

Bila seseorang menyadari bahwa azab Allah akan menimpa orang-orang yang dimurkaiNya dan menempuh jalan yang sesat, maka ia akan berusaha beralih dari keadaan sesat dan pantas dimurkai kepada sifat-sifat tunduk dan mengikuti jalan-jalan yang lurus. Ia akan berusaha mengisi hari-harinya dengan melakukan berbagaia kebaikan dan ketakwaan sehingga ia terhindar dari azab yang pedih.

Takut kepada Allah merupakan kekuatan untuk menghentikan perbuatan buruk dan menggantinya denga perbuatan yang baik. Dengan cara itu terdapat harapan dihapusnya dosa akibat perbuatan buruk di masa lalu.

Takut kepada Allah harus ditanamkan sebagai pendekatan agar manusia tunduk kepada aturanNya.

c. Tidak gentar menghadapi serangan musuh

Orang takut kepada Allah, telah menempatkan urusannya secara adil. Memang sepatutnya manusia takut hanya kepada Allah. Adapun selain Allah, tidak patut ditakuti, demikian pula halnya orang-orang mukmin tak perlu merasa takut dan gentar oleh kekuatan yang dimiliki orang-orang kafir. Mereka seharusnya tidak menjadi penakut hanya karena kekuatan orang kafir itu lebih besar dari mereka.

Allah patut manusia takut padaNya. Karena Dialah pemilik kekuatan yang tidak terkalahkan dan telah menetapkan azab bagi yang mendustakanNya. Dialah yang menguasai segenap yang ada di bumi dan di langit. Dia mengendalikan apapun yang ada di negeri mananpun, di tangan siappun. Seyogyanya kaum muslimin memiliki mental berani dalam menegakkan kebenaran, dan menolak propaganda yang diserukan orang-orang kafir dalam kejahatan. Tak sepatutnya orang Islam takut kepada orang kafir.

Memang orang-orang kafir memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkan dan menyerang kaum muslimin di negeri manapun. Tetapi jika hati telah benar-benar merasa takut kepada Allah semata, maka selain Allah tak patut ditakutinya, termasuk betapapun kuatnya kafir. Maka tak layak ditakuti.

Allah lah yang mesti kita takuti atas KemahakuasaanNya, dan dengan rasa takut kepada Allah, membuat kita bersandar padaNya.

d. Mengokohkan ketaatan, cinta, dan harapan pada-Nya

Ketika manusia takut kepada Allah, karena kekuasaan dan ketetapan azabNya, maka pada saat yang sama, ia pun akan mendekat kepadaNya. Sebab bagi manusia dan segenap makhluk, tidak ada tempat untuk berlindung diri dari azabNya selain Allah itu sendiri. Manusia hanya dapat menempuh satu jalan untuk melindungi dirinya dari azab Allah, yaitu dengan meminta perlindungan dariNya. Dan untuk itu ia harus mendekatiNya dengan cara taat, cinta, dan berharap hanya kepadaNya semata.

Semakin besar rasa takut manusia kepada Tuhannya, maka semakin ia mengokohkan ketaatan, kecintaan, dan harapan kepadaNya untuk beroleh perlindungan dariNya dari azabNya dan dari segala hal yang dapat menyeretnya kepada azabNya. Takut kepada Allah Swt menggambarkan makrifat kita atas besarnya dan dahsyatnya siksa Allah atas hambaNya yang durhaka. Maka tidak ada kehendak lagi untuk membangkang padaNya ketika rasa takut telah menyelusup ke dalam jiwa.

Seseorang yang benar-benar takut kepada Allah, hatinya mudah bergetar, air matanya mudah terurai, dia akan segera akan bersujud dan menangis ketika ayat-ayat Allah dibacakan. Dan dia akan senantiasa bersungguh-sungguh menjauhi laranganNya dan menunaikan perintah-perintahNya dengan penuh rasa khusyu’ dan penjagaan. Pada gilirannya takut kepada Allah itu menjaga diri kita dari terperosok pada kelalaian.

e. Senantiasa waspada dari kelalaian dan kesenangan dunia

Lalai terhadap urusan akhirat dan senang dengan urusan duniawi merupakan keadaan terparah dari penyakit jiwa manusia. Orang yang lalai terhadap urusan akhirat akan melupakan tugasnya yang utama saat ini, yakni mengabdi kepada Allah dan menjalankan syariat agama. Dia akan memfokuskan hidupnya hanya untuk dunia semata. Dan ketika ia telah terjebak oleh kesenangan dunia, ia akan menghalang-halangi manusia dari agama. Sebab ia memandang agama adalah penghalang dari kemajuan dan kesenangan dunia.

Ketika di dalam lubuk hati seseorang telah tertanam rasa takut kepada Allah Swt, maka hal itu tidak akan terjadi sifat lalai terhadap akhirat. Tidak akan terjadi sikap cinta pada dunia. Sebab dunia yang indah, bisa berubah menjadi siksa. Dan akhirat yang berat, bisa menjadi berubah menjadi negeri yang lebih baik, seiring dengan rasa takut kepada Allah, ia takut kalau dunia memenjarakannya dan takut jika akhirat menjadi masa suramnya. Untuk itulah maka ia akan senantiasa banyak mengingat dan berorientasi hidup pada akhirat dan tidak menjadikan dunia sebagai tumpuan rasa cinta dan kerinduannya.

Takut kepada Allah itulah yang parallel dengan kewaspadaan terhadap hal-hal yang dapat memalingkan orientasi akhirat. Dan tidak ada yang dapat memalingkan diri kita dari itu kecuali kesenangan terhadap perhiasan dunia, kesenangan syahwat dan nafsu.

f. Takut kehilangan iman dan pahala amalannya

Ketika manusia terpaku oleh perhiasan dunia dan jatuh cinta kepadanya seraya memenuhi panggilan syahwat yang lepas dari bimbingan agama, maka itulah saat-saat iman semakin tipis dan saat-saat pahala dari amal kebaikan menjadi terhapus. Dan itu berarti suatu proses lain menuju datangnya kemurkaan dan siksaan.

Takut kepada Allah Swt akan menjadi benteng agar kita tidak sekali-kali tunduk pada dunia, syahwat dan nafsu. Sebab kita tahu tunduk pada ketiganya bertentangan dengan kesadaran rasa takut kepada Allah Swt. Dunia, syahwat dan nafsu itulah yang harus tunduk kepada hal yang sejalan dengan konsep takut kepada Allah. Ketika itu, dunia, syahwat dan nafsu tidak dihindari tetapi dikendalikan, diawasi, diatur mengikuti pada ketaatan kepada syariat agamanya.

Dengan cara seperti itu maka seseorang tetap berdampingan dengan dunia, syahwat, dan nafsu dalam koridor iman dan tetap dapat memetik pahala dan memilikinya dan mengaturnya.
Azab Allah hanya akan ditimpakan kepada orang yang tidak memiliki iman dan tidak memiliki amal kebaikan. Kekafiran dan kefasikan, merupakan sebab utama turunnya azab Allahg Swt. Kehilangan iman dan pahala amal sholeh sama artinya dengan mengikuti kekafiran dan berbuat kefasikan selama hidup di dunia. Maka hal itu tidak akan terjadi pada orang-orang yang di dadanya terdapat rasa takut kepada Allah.

g. Berani membela kebenaran dan memberantas kebaikan

Takut kepada Allah akan membuat kita tidak takut kepada selain Allah dalam kebenaran. Kita akan memiliki keberanian untuk membela agama dan melawan penghalang agama.
Takut kepada Allah artinya khawatir kalau diri kita mendapat kemurkaan dariNya. Dan agar kita tidak dimurkaiNya, maka harus membela kebenaran yang diturunkanNya dan tidak membiarkan manusia menyalahi kebenaran tersebut. Bagaimana kita akan merasa aman dari siksaNya tanpa sikap berpihak padaNya.

Seseorang yang takut kepada Allah tentu akan senantiasa tampil sebagai seorang dai yang selalu mengajak manusia kepada kebenaran dan melarang mereka berbuat keji. Dia tidak akan berdiam diri melihat Islam dicampakkan dan melihat manusia lalai dari kewajibannya. Sebab ia tahu dua keadaan itu adalah sebab turunnya siksa pada suatu kaum. Ia tidak ingin diri dan kaumnya terkena siksa tersebut.

Kejahatan akan berkurang dan kehidupan agama akan bergairah jika kita banyak yang tampil sebagai penegak dan pembela kebenaran dan pemberantas kezhaliman dan kebatilan. Jika keadaannya terbalik, lebih banyak yang pro kejahatan dan kontra terhadap agama, tentu itu suatu tanda bahwa kita tidak merasa takut terhadap azab Allah.
Takut kepada Allah Swt akan memancarkan suatu tindakan yang mengokohkan ketaatan dan tindakan mengingatkan manusia.

h. Mengambil Hikmah dari banyaknya bencana

Hikmah adalah ilmu yang menunjukkan jalan menuju kehidupan yang dilimpahi keselamatan, rahmat, dan berkah dari sisi Allah Swt. Hikmah merupakan ilmu khusus yang diberikan kepada orang-orang yang beriman melalui penjelasan al-Quran dan Hadits RasulNya juga melalui intuisi dan akal suatu indra yang telah tercelup oleh didikan al-Quran dan Hadits. Jadi hikmah bisa di dapat melalui tafakur atas alam, pengalaman, dan peristiwa kehidupan manusia.

Bencana merupakan salah satu sumber hikmah bagi orang-orang yang beriman. Tidak banyak manusia yang dapat mengambil hikmah dari suatu bencana. Hanya mereka yang telah tertanam di dadanya rasa takutlah yang dapat menyelami makna bencana. Bencana dapat menjadi petunjuk menuju keselamatan, rahmat, dan berkah dari sisi Allah Swt. Sehingga ketika suatu bencana, musibah, sakit menimpa dirinya, maka hal itu semakin menguatkan imannya.

Bencana yang turun ke dunia ini selamanya senantiasa dalam pengawasan, pengaturan dan kekuasaan Allah Swt sebagai suatu hikmah bagi orang-orang yang beriman, sekaligus sebagai hal yang dapat membuat hati orang kafir semakin keras dan membangkang.

Dengan memperhatikan, mentafakuri bencana apapun yang menimpa manusia, bagi orang yang takut kepada Tuhannya, akan dijadikannya sebagai peringatan agar ia tambah dekat denganNya.

i. Senantiasa mengingat dahsyatnya siksa siksa neraka

Sejalan dengan hidup berorientasi akhirat, takut kepada Allah juga mendorong seseorang untuk senantiasa mengingat dahsyatnya siksa api neraka. Mengingat siksa api neraka itu penting dan itu sejalan dengan penjelasan-penjelasan Allah melalui al-Quran tentang kepedihan dan kengerian neraka di akhirat. Mengingat dahysatnya siksa api neraka harulah menjadi awal kita untuk senantiasa bertaubat, beramal sholeh dan tidak mengulangi perbuatan yang buruk. Bagaiamana cara kita banyak mengingat neraka tergantung kepada konsentrasi hidup kita selama ini. Dan ibadah, tafakur, membaca al-Quran akan turut membantu untuk hal demikian itu.

Orang yang melupakan negeri akhirat tentu melupakan pula akan pertemuannya dengan Tuhannya dan lupa akan dahsyatnya siksa neraka. Karena itu ia akan melakuka perbuatan apapun yang dipandangnya baik dan menyangka telah banyak beramal, padahal semua itu sia-sia belaka. Bahkan ia cenderung melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama.

Takut kepada Allah adalah takut pula kepada siksaNya, sehingga kita pun berdoa untuk memohon agar dihidarkan dari siksa neraka. Bahkan mengingat neraka itu ada pada doa ketika kita hendak memulai makan.

j. Senantiasa berlindung dari godaan syetan yang dilaknat

Manusia mengapa ada yang menjerumuskan diri ke dalam kesesatan dan perbuatan yang dimurkaiNya, ialah karena memperturutkan nafsu dan bisikan syaithan. Manakala hidup telah dicanangkan untuk nafsu dan syaithan, maka tidak akan ada yang dapat diperolehnya melainkan azab Allah Swt.
Sekalipun banyak manusia yang menghendaki keselamatan, tetapi anehnya mereka tetap mengikuti nafsu dan syaithan itu. Sehingga akhirnya mereka tertimpa siksaan dunia dan akhirat itu ialah karena begitu kuatnya pengaruh dari nafsu dan syaithan. Sehingga pantaslah Allah menganjurkan manusia untuk berlindung dari syaithan dan berhati-hati dari nafsu.

Manakala rasa takut kepada Allah telah menghujam karena ilmu, iman, dan kesadaran, maka kita akan senantiasa berlindung kepada Allah dan hal yang menyebabkan kita terjerumus pada kesesatan dan perbuatan yang dimurkaiNya. Dan sebab-sebab itu, yakni nafsu dan syaithan, yang senantiasa menyertai kita kemanapun kita melangkah, harus selalu kita waspadai dengan cara meminta perlindungan dari sisi Allah Swt.

Bila kita senantiasa berlindung kepadaNya dari nafsu dan syaithan dan berusaha sungguh-sunggh untuk tidak mengikutinya, maka terjagalah diri dan keluarga kita dari kesesatan, kejahatan, dan kejahiliahan. Betapa saat ini manusia yang banyak yang lalai dalam membentengi diri dari kedua hal tersebut, itu karena mereka lupa akan kedudukan dirinya dan kedudukan Tuhannya.

11. ORANG YANG BERILMU PALING TAKUT KEPADA ALLAH

Ilmu adalah apa-apa yang berasal dari al-Quran dan as-Sunnah. Orang yang berilmu adalah orang yang paling memahami al-Quran dan as-Sunnah. Apa tujuan al-Quran diturunkan? Di antaranya adalah untuk mengingatkan manusia dari azabNya.

“Untuk mengingatkan akan siksa yang sangat pedih pada sisiNya.”(18:2)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (35:28)

Jadi orang yang paling berilmu adalah orang yang paling memahami al-Quran dan mengetahui kebesaran Allah dan paling mengetahui akan keras dan pedihnya siksa dari sisi Allah melalui informasi dari al-Quran sehingga berbarengan dengan iman yang kian mendalam, ia pun semakin besar rasa takutnya pada Allah Swt.

a. Ilmu dan Iman sumber makrifat yang benar

Kita mesti mengetahui terlebih dahulu bahwa takut kepada Allah hanya akan terjadi jika seseorang itu beriman dan berilmu sekaligus. Jika tidak ada salah satunya, maka takut kepada Allah itu menjadi tidak ada. Seseorang yang berilmu karena iman, atau beriman karena ilmu adalah sama saja halnya. Yang utama adalah bahwa iman harus disertai iman dan iman harus disertai ilmu; ilmu dalam wujud memahami atas kandungan al-Quran dan As-Sunnah.

Dengan perpaduan antara ilmu dan iman maka akan sampailah seseorang pada makrifat pada Tuhannya, dirinya dan kehidupannya serta alam semesta ini. Dengan makrifat tersimpul berbagai hikmah, kesadran diri, dan petunjuk untuk berbuat yang bermanfaat bagi kehidupan dirinya. Diantara hikmah yang terbesar yang dapat dicapai oleh orang yang beriman lagi berilmu ialah tentang kenyataan yang tak terpatahkan tentang Kemahakuasaan Allah-azabNya dan nerakaNya serta sifatNya Yang Maha Cermat dan Maha Adil. Inilah makrifatullah yang akan senantiasa menjadi pengingat orang-orang yang berilmu dan beriman akan dahsyatnaya siksa Allah.

Memang orang tak sadar akan ancamannya apa yang sedang yang mengintai dirinya, ia akan tak merasa takut, tetapi ia tetap saja bodoh, karena menempuh suatu jalan yang menjerumuskan dirinya pada ancaman tersebut. Sebaliknya dari itu, orang-orang yang sadar akan dahsyatnya azab Allah akan senantiasa berhati-hati dari hal yang jadi sebab ia ditimpa bencana dan siksa.

b. Ilmu sumber petunjuk dan kesadaran

Ilmu membuat segala sesuatu menjadi berkualitas. Iman, ketaatan, dan loyalitas juga kemajuan peradaban berkembang secara berkualitas berkat adanya ilmu. Ilmu merupakan kekayaan manusia yang akan senantiasa jadi pendongkrak martabat dan derajatnya. Betapa tinggi kedudukan ilmu dan orang yang memiliki ilmu.

Ilmu adalah sumber petunjuk dan kesadaran diri tentang realitas hakiki. Sehingga orang tidak salah melangkah dalam berbuat, berharap dan berucap. Ketika ilmu berfungsi sebagai petunjuk dan kesadaran dikaitkan dengan konsepsi Tuhan, manusia, alam maka akan timbullah berbagai hikmah, baik hikmah yang mengantarakan manusia pada kekeaguman dan kecintaan kepada Tuhan atupun yang mengantarkannya kepada rasa takut dan taat padaNya.

Petunjuk dan kesadaran hakikatnya adalah apa-apa yang dapat mengantarkan kita pada penjagaan diri dan sesuatu yang mencelakakan, azab dan keburukan. Semakin luas pengetahuan tentang petunjuk hidup dan diri oleh kesadaran oleh kesadaran tentang realitas sejati dan segala yang ada tentu akan menjadi sumber utama dan penjagaan diri yang lebih berkualitas dan itu memiliki arti yang besar dalam hubungannya dengan kenyataan dengan azab Allah Swt. Manusia yang hanya fokus menjaga diri dari kemiskinan, kematian dan ketertindasan, belumlah sampai kepada kategori berilmu yang bermanfaat.

c. Ilmu membuat kita pandai berhitung

Barangkali kita sering melupakan dua hal dalam hidup yang seharusnya kita pandai berhitung atas keduanya. Kedua hal itu adalah nikmat dan amal perbuatan kita. Kedua perkara ini harus kita hitung agar yang pertama agar menjadikan kita pandai bersyukur dan yang kedua membuat kita sering bertaubat.

Ilmu membuat seseorang menyadari dua perkara di atas dan ia akan senantiasa khawatir ketika nikmat Allah yang selama ia rasakan tak mampu ia syukuri. Dan amal perbuatan yang selama ini ia lakukan dari perkara yang buruknya tak sempat ia bertaubat atasnya. Orang yang berilmu karennya akan selalu takut kepada Allah melalui perasaan takut jika ia tak termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan bertaubat.

Ilmu adalah jembatan penghubung antara diri kita dengan perilaku yang senantias menghisab amal,menghisab nikmat. Ilmu memberi kesadaran kepada kita tentang arti perbuatan dan makna karunia hidup ini. Seiring dengan bertambahnya pengalaman, usia dan kematangan ruhiyah maka orang-orang yang berilmu senantiasa semakin sering memandang perbuatannya dan nikmat dari sisi Allah.

Dengan demikian pantaslah orang yang berilmu akan semakin takut kepada Allah atas kenyataan bahwa betapa besar karunia yang harus disyukurinya. Dan Betapa banyak kelakuan yang harus ditaubatinya.

d. Ilmu membuktikan kebenaran azab

Azab itu menimpa manusia tatkala mereka tidak mau bersyukur dan melakukan perbuatan keliru terus menerus. Ilmu banyak membuktikan tentang kenyataan ini. Orang yang paling berilmu berarti orang yang paling menyaksikan bukti-bukti tentang azab yang menimpa orang-orang yang tidak bersyukur dan tetap menempuh jalan kesesatan.

Ilmu ibarat cahaya. Cahaya merupakan unsur terpenting untuk melihat. Dan dengan melihat maka citra akan tampak jelas, dan lewat itulah kita mengetahui secara yakin. Demikian pula ilmu, dengan ilmu kita melihat kebenaran dan menjadikan keyakinan semakin mantap, teguh dan menghilangkan keraguan.

Keyakinan orang yang berilmu akan semakin menjadikan dirinya lebih takut kepada Allah. Ketika ia melihat perilaku manusia yang menyimpang dari jalan Allah, maka hatinya tergerak untuk seera mencegah dan memberantasnya, karena rasa khawatirnya yang luar biasa, jika Allah menurunkan azabNya. Orang yang berilmu sangat besar keyakinannya bahwa azab Allah adalah pasti akan menimpa suatu kaum yang terus menerus melakukan pelanggaran terhadap syariat Allah.

Sebab itu orang yang berilmu mudah dan cepat merasa berdosa apabila meninggalkan kewajiban sekalipun tampaknya kewajiban itu kecil dan sepele. Dan juga bersegera bertaubat sekalipun ia tidak melakukan kesalahan kecuali tampak kecil dalam pandangan umum.

e. Ilmu membuat manusia melihat kelemahan diri

Orang yang berilmu adalah orang yang mengetahui tentang betapa lemahnya manusia dalam banyak sisi dan hal. Sementara kenyataan-kenyataan yang tampak banyak yang telah menunjukkan bahwa manusia tidak bisa lari dari siksaan ketika manusia membangkang Tuhannya. Karena itu orang yang berilmu akan senantiasa takut kepada Tuhannya mengingat dirinya yang sering berbuat salah sementara siksa itu pasti adanya.

Siapakah diantara manusia yang terkuat sekalipun yang dapat mencegah, menahan, mengalihkan siksa Tuhannya jika siksa itu sudah tiba? Tentu tidak ada. Tetapi mengapa sekalipun pengajaran, peringatan, bukti, nashihat tentang kerasnya azab dan sebab-sebab yang telah menimpa kaum-kaum terdahulu telah berulangkali disampaikan dan ditunjukkan, manusia tetap saja banyak yang memilih tetap kufur? Inilah kelemahan terbesar manusia, kebodohan terbesar umat manusia.

Kelemahan, kebodohan, kepandiran ini bisa menimpa siapa saja, sekalipun ia termasuk orang-orang yang cerdas, berilmu, dan berkuasa. Inilah sebabnya orang yang berilmu dan beriman takut kepada keadaan yang dapat menjerumuskan pada kemurkaan Allah.
Oleh karenanya, orang yang berilmu akan tidak henti-hentinya meminta perlindungan dari sisi Allah, supaya dirinya dijaga dari godaan syaithan yang terkutuk.

f. Ilmu membuat tanggung jawab jadi berat

Orang yang paling berilmu akan menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab yang besar baik dalam mengabdi, berbakti, ataupun mencegah penyimpangan umat manusia, karena ia berilmu, ia jeli melihat antara yang hak dengan yang batil. Dan ia harus menjadi pembela dari yang hak serta menjadi pemberi peringatan bagi yang batil. Bila ia berusaha ke arah itu, maka ia aman. Jika tidak ia celaka. Sementara banyak manusia sekalipun telah berilmu, mereka tidak menempuh jalan yang tidak konsisten dengan kebenaran, yang menyebabkan dirinya pasti akan menemukan kerugian yang besar.

Azab Allah itu turun kepada umat manusia yang menyimpang jalan hidupnya yang telah diberinya dua perkara penting berupa karunia yang besar dan Rasul yang menyampaikan wahyu. Tetapi sikap mereka terhadap karunia tak mau bersyukur, terhadap Rasul tak mau beriman. Nanti di saat manusia banyak yang memperturutkan penyimpangan dan kesesatan, hendak bagaimanakah tindakah orang-orang yang berilmu? Apakah mereka akan membiarkan saja ataukah tampil untuk memberikan peringatan?

Dalam kenyataannya tidak sedikit orang yang berilmu tetapi enggan menjadi pembela kebenaran, maka orang yang berilmu lagi beriman, sangat besar rasa takutnya jika ia termasuk golongan orang-orang yang menjual ayat-ayat Allah.

g. Ilmu meyakinkan akan janji Allah

Janji Allah ada dua macam sehubungan dengan amal perbuatan manusia. Pertama, Allah akan berjanji akan memberikan pahala kepada yang beriman dan beramal sholeh dan Allah berjanji akan memberi siksa kepada yang kufur atau malas beramal sholeh. Terhadap janji Allah ini orang yang berilmu bersikap harap dan takut. Dalam takutnya ia takut menjadi orang yang terhapus amal kebaikannya dan takut menjadi orang yang tak sempat bertaubat atas dosa-dosanya. Ia yakin betul, bila pahal aamalnya terhapus, atau dosa tidak terhapus ia akan mendapat siksa. Inilah sikap dan keyakinan orang yang berilmu lagi beriman.

Orang yang berilmu dan beriman terhadap siksa api neraka sekalipun mata kepalanya belum melihatnya, berkat ilmu dan makrifatnya, ia sudah merasakan dan membayangkan dahsyatnya neraka tersebut. Sehingga bilamana disebutkan dalam al-Quran tatkala ia membacanya, yang berkaitan dengan neraka, ia jatuh tersungkur dan menangis mengingat dosa-dosa atas kelalaian dan kekuragannya dalam beramal selama ini. Ia termasuk orang yang beramal baik, sebenarnya, tetapi begitulah ia semakin takut bila dirinya dilemparkan ke neraka.

Hal ini berbeda jauh dengan orang yang bodoh atau orang yang kafir terhadap Tuhannya ketika ia melakukan kemungkaran dan kedurhakaan, tidak sedikit pun terbetik rasa takut kepada siksa api neraka.

h. Ilmu melihat maksiat sebagai bencana

Hidup manusia tak dapat dipisahkan dengan amal baik dan amal buruk, sekalipun mereka adalah orang-orang yang beriman. Baik amal itu termasuk amal yang baik ataupun berupa amal yang buruk memiliki manfaat masing-masing jika amal yang baik dijaga dari hal yang merusaknya dan amal yang buruk ditaubati dan diambilnya sebagai pelajaran dan peringatan.

Dalam menyikapi amal yang buruk, orang yang berilmu akan menganggapmya sebagai urusan yang berat dan besar. Ia membanyangkan dosa atas amal yang buruk itu ibarat gunung yang siap menimpa dirinya. Ia melihat bukan pada amal buruknya itu sendiri tetapi melihat kepada siapa ia telah berbuat maksiat, yakni Alloh.

Oleh karena itu sekecil apapun dosa yang telah diperbuat, orang yang berilmu akan cepat-cepat meminta ampunan dari sisi Tuhannya. Ia tidak terlena dengan karena kecilnya atau sedikitnya dosa. Juga tidak pernah membangga-banggakan amal baiknya, sebab amal baiknya tak sebanding dengan karunia Alloh yang dia terima.

Terhadap maksiat baik yang ia lakukan ataupun dilakukan oleh manusia, yang melihatnya sebagai bencana. Maka ia selamanya tidak akan pernah berdiam diri melihat suatu kemaksiatan merajalela di kampungnya.

i. Ulama khawatir ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya

Orang yang berilmu meyakini bahwa ilmu itu sangat besar manfaatnya bagi manusia untuk kebaikan, kemaslahatan, dan keselamatan. Sekalipun demikian, orang yang berilmu justru merasa khawatir jika ilmunya tidak bermanfaat akibat berbagai sifat yang biasa menyertai orang yang berilmu umumnya.

Adakalanya orang yang berilmu, karena ilmunya ia terperangkap pada sifat sombong dan merasa paling sempurna. Lalu menghendaki manusia memuliakan dan menundukkan kepala kepadanya. Ia menjadi orang yang tertipu dan berbalik menjadi pembela kebatilan. Sifat dan keadaan ini menimpa banyak manusia yang berilmu.

Adapun orang yang berilmu secara luas dan benar, ia tetap tawadlu dan merendahkan diri terhadap sesame orang-orang mukmin, sekalipun mereka di bawah dirinya dalam hal keilmuan. Orang yang dewasa dalam ilmunya, tidak pernah sombong dengan ilmunya. Dan ia senantiasa memohon agar ilmunya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya.

Ilmu bisa tidak memiliki manfaat ketika ilmu itu tidak diamalkan. Bahkan ilmu menjadi sesuatu yang amat berbahaya dan mencelakakan ketika berada di tangan orang-orang yang jahat. Ia akan menggunakan ilmu untuk menipu manusia dan memperdaya dirinya.

j. Ulama merasa khawatir jika ia tidak bisa beramal

Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada manusia atas ilmu yang dimiliki. Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki ilmu dan yakin ilmunya itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah apakah ia mempergunakannya sebagai landasan amalannya sendiri ataukah amalannya tidak mengikuti pada ilmunya?

Di kalangan orang-orang yang berilmu, ada sebagian yang menyembunyikan kebenaran, menjualnya untuk kepentingan dunia dan bersikap tidak konsisten terhadap ilmu yang dia miliki. Ia bukan menjadi pembela kehormatan agama dan umat, malah menjadi pencaci maki kebenaran dan hak seraya membela kesesatan dan kebatilan. Kenyataan ini terjadi atas orang-orang yang berilmu. Itulah tabiat orang-orang berilmu yang tidak beramal sesuai ilmunya.

Adapun orang yang berilmu yang lurus dalam berilmunya itu, ia sadar akan suatu pertanggungjawaban yang akan diminta Allah nanti di akhirat.Oleh sebab itu ia merasa khawatir jika dirinya termasuk golongan orang-orang yang berilmu tapi hanya sekedar jadi tontonan manusia. Ia khawatir menjadi sosok yang tidak takut kepada Allah tetapi takut kepada semua makhluknya.

Orang yang berilmu sangat memperhitungkan dirinya agar senantiasa menjadi orang yang pertama-tama mengamalkan ilmunya, yakni sebagai orang yang berserah diri kepada Allah.
Jadilah orang yang berilmu, agar kita menjadi hamba Tuhan yang takut kepadaNya.

12. KUNCI-KUNCI UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH

Tidak setiap orang memiliki rasa takut kepada Allah. Yang memiliki rasa takut kepada Allah hanyalah milik mereka yang taat kepadaNya. Inilah keistimewaan hikmah ini. Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang taat, bukan orang yang banyak dosanya. Mengapa justru orang yang taat pada Allah, yang takut padaNya. Bukannya mereka yang banyak dosanya? Di dunia orang yang taat takut padaNya dan nanti di akhirat orang berdosalah yang takut padaNya. Tapi takut mereka itu tak membawa manfaat, sebab mereka akan disiksa di neraka. Orang-orang yang taat, takut kepada Allah dikarenaka iman, dan ilmu serta perbuatan. Sehingga kunci-kunci untuk merasa takut kepada Allah adalah taat, iman, dan ilmu serta apa-apa yang akan diterangkan pada halaman-halaman berikut ini.

a. Iman

Iman kepada Allah dan hari kiamat merupakan kunci utama takut kepada Allah Swt. Beriman kepada Allah berarti beriman bahwa Dia adalah Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta serta dirinya. Beriman artinya meyakini dan membenarkan, sesuai dengan pengetahuan yang hak. Bila seseorang telah meyakini, membenerkan, tentang Allah maka ia termasuk orang-orang yang beriman. Bagian dari iman pada Allah yang berkaitan dengan rasa takut padaNya, ialah iman kepada sifatNya yang Maha Adil dan ketetapanNya tentang azab yang telah disediakan bagi orang-orang yang ingkar. Orang yang beriman meyakini dan membenarkan bahwa dengan sifat-sifatnya yang Maha Adil itu, Allah nanti di hari akhirat menyediakan dan meminta pertanggungjawaban pada manusia atas segala amal perbuatannya. Iman inilah yang akan memunculkan keyakinan semacam itu. Dan dengan iman semacam itulah munculnya rasa takut kepadaNya.

Adapun orang-orang yang tidak beriman maka ia mengingkari Allah dan hari kiamat. Ia berfikir tidak ada konsep tentang balasan amal dan hari kiamat. Sehingga apapun perbuatan yang dia lahirkan sema sekali tanpa beban rasa takut kepada Allah Swt. Ia merasa aman saja, sekalipun setiap hari pekerjaannya menumpuk-numpuk dosa yang akan mengundang siksa yang amat pedih. Jadi iman itu penting.

b. Ilmu

Ilmu itu menguatkan keyakinan, menguatkan kejelasan tentang segala sesuatu yang hak dan yang batil. Ilmu memberikan kejelasan tentang hakikat-hakikat hari kiamat, neraka dan azab. Maka dengan kejelasan itu menjadi teguhlah sikap yang hendak diambil. Kebanyakan manusia yang tersesat itu ialah karena mereka tidak memiliki ilmu, maka dari itu datanglah Rasul sebagai pemberi penjelasan tentang jalan menuju kebenaran dan hakikat-hakikat yang layak diketahui oleh manusia. Manusia tersesat karena mereka mengikuti hawa nafsunya. Mereka tetap menempuh kesesatan sekalipun telah datang penjelasan, bukti dan dalil yang menjelaskan tentang kebenaran. Maka di saat itu pun Rasul datang kepada mereka sebagai pemberi peringatan.

Jadi ilmu dan iman memang merupakan pokok. Pangkal dari kesadaran diri atas hal yang dilakukan dan dikondisikan. Takut kepada Allah atas azabNya yang keras hisabNya yang teliti hanya akan terjadi setelah ada iman dan ilmu yang menjelaskan perkara itu dari wahyu.

Karena begitu pentingnya ilmu sebagai kunci untuk menanamkan rasa takut kepada Allah SWT, naka seseorang pentinglah memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan pengamalannya tentang tanda-tanda kebesaran dan keadilan Tuhan hendaknya ia meneliti tentang bencana yang selama ini turun. Dan meneliti tentang sikap-sikap sesat yang terjadi dan bagaimana akibatnya.

Khouf kepada Alloh swt bisa lahir dari ma’rifah kepada Alloh swt dan ma’rifah kepada sifat-sifatNya. Khouf bisa juga lahir dari perasan banyaknya dosa yang telah diperbuat oleh seorang hamba. Juga terkadang khouf lahir dari keduanya. As-Sya’biy perbah diseru “Hai alim (orang yang berilmu)!”, beliau berkata, “Sesungguhnya yang alim itu hanyalah yang takut kepada Alloh. Hal itu karena Alloh berfirman,”Hanyasanya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hambaNya adalah para ulama”. (QS : Fathir : 28).

c. Taat

Taat merupakan inti dari takwa, implementasi dari rasa iman dan ilmu. Dalam kaitannya dengan rasa takut pada Allah, taat dapat melahirkan rasa takut pada-Nya, dan rasa takut pada-Nya dapat melahirkan taat pada-Nya. Bagaimana penjelasan bahwa taat dapat melahirkan rasa takut pada-Nya?

Taat artinya melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang. Sebesar besarnya dan seluas luasnya perintah Allah adalah islam kaffah. Dan sebesar besarnya dan seluas luasnya apa yang Allah larang adlah langkah-langkah syetan. Bila seseorang ternyata tidak menjalankan islam secara kaffah dan justru ia mengikuti langkah-langkah syetan, maka ia telah nmengikuti, maka ia telah menjadi bagian dari orang-orang yang kufur dan termasuk temannya syetan.

Ketika seseorang melakukan ketaatan berarti ia harus menyediakn dua kekuatan sekaligus. Kekuatan untuk menjalankan Islam dan kekuatan untuk melawan syaithan. Jika ia gagal mengadakan dua kekuatan itu, maka inilah hal yang dia takuti dan ia yakin akibatnya adalah kemurkaan dari sisi Allah.

Lemahnya iman dan lemahnya ilmu adalah pokok pangkal dari lemahnya ketaatan. Seyogyanya manusia memperkuat iman yang ada dengan ilmu, dengan menambah ilmu. Kemudian diperkuat lagi iman itu dengan ketaatan itu sesuai dengan batas ilmu yang ada. Nanti pada gilirannya iman pun memperkuat ilmu dan ketaatan yang telah ada.

d. Meneliti Perilaku Maksiat dan Kedurhakaan

Jika manusia tidak segera bertaubat dan enggan melakukan ketaatan, ia terus melanggar ketentuan agama dan terus mengikuti setiap bisikan syaithan, maka dipastikan ia mendapatkan kerugian kecelakaan dan laknat. Kita akan menemukan bahwa pada orang-orang yang gemar bermaksiat dan durhaka, kerusakan pada roman wajahnya, tutur katanya, tindakan-tindakanya, makanannya, pola hidupnya, rumah tangganya, masyarakatnya dan cara ia bernegara. Jiwanya sakit, raganya rapuh.

Mula-mula ia kehilangan keberkahan atas apa yang dia miliki dari harta dan jabatannya. Kemudian ia pun kehilangan rahmat Allah atas banyak perkara dalam hidupnya. Dan terakhir ia kehilangan keselamatan hidupnya sendiri di dunia maupun di akhirat. Ini adalah gambaran umum akibat dari maksiat dan kedurhakaan, yang dapat kita teliti sebagiannya pada kenyataan di lapangan dan kita yakini sebagiannya sebagaimana penjelasan dari wahyu.
Kita akan banyak menemukan kebenaran janji Allah, bahwa atas orang-orang yang ahli maksiat dan durhaka, Allah akan menjadikannya berwajah hitam dan ia terhalang dari memahami Al-Quran. Dua hal ini akan menimpa siapa saja bilamana ia menolak untuk taat pada Islam dan gemar mengikuti syaitan. Dengan penelitian ini maka seseorang yang telah taat, berilmu dan beriman akan merasakan pahitnya berbuat dosa dan terhadang dari Al-Quran, ia takut jika ia berbuat dosa.

e. Meneliti bencana Fisik dan Psikis yang menimpa Manusia

Dalam kehidupan sehari-hari ditengah manusia kita dewasa ini akan sering menemukan dua hal yang amat menonjol: perilaku maksiat dan bencana yang menghancurkan. Banyak manusia yang tertipu dalam memandang dua perkara ini. Mereka memandang antara keduanya tidak berkaitan. Maksiat ya maksiat bencana ya bencana padahal sebenarnya setiap bencana timbul akibat maksiat. Dan setiap maksiat pasti mengundang bencana. Bencana tidak datang tanpa adanya maksiat. Dan maksiat tidak mungkin tanpa diikuti bencana. Allah menetapkan perkara ini, sebagaimana ketetapanNya tentang gaya gravitasi, gaya aksi dan reaksi.

Maksiat itu hanya disikapi dengan taubat, bila tak ingin bencana datang. Dan bencana yang telah datang harus disikapi dengan kembali pada kebenaran dan menghentikan kemaksiatan. Sikap ini hanya akan terjadi pada orang-orang yang telah memiliki dasar keimanan, ilmu dan ketaatan. Maksiat dan bencana terbesar pada diri manusia, ialah tatkala mereka tetap terhalang dari taubat dan dari kembali pada kebenaran secara total. Dan inilah bencana fisika dan psikis yang paling nyata.

Begitu banyak manusia semacam itu. Dan dari kita pun tak tertutup kemungkinan masuk kedalam golongannya sewaktu-waktu. Maka dari itu, betapa besar rasa khawatir kita. Dan dari sinilah semestinya kita takut padaNya semata.

f. Makrifat atas Negri Akhirat dan Neraka

Marifat artinya mengetahui secara hak yang disertai sikap membenarkan mmiliki konsekuensinya, dan tida ada keraguan atas kebenarannya. Kebalikan dari marifat adalah dusta. Meyakini sesuatu, menyatakan sesuatu tanpa atas dasar keterangan yang hak. Contoh suatu kedustaan adalah dogmatisme. Dengan makrifat, hidup menjadi logis, rasional, wajar, indah, lurus dan terarah. Dengan dogmatisme maka hidup digiring pada kegilaan. Segala-galanya menjadi brutal dan gila.

Makrifat kepada akhirat dan neraka berarati meyakini adanya neraka dan surga berdasarkan ilmu dan keterangan yang hak, seraya membenarkan, memenuhi konsekuensinya, sehingga hidup pun benar-benar menjadi lurus dan indah.

Makrifat pada akhirat dan neraka akan membawa kesadaran manusia pada rasa takut. Lalu bagaiamana rasa takut berbuat hidup yang lurus dan indah? Ternyata ketika kita benar-benar takut pada kegoncangan hari kiamat dan kedahsyatan neraka, maka rasa takut ini menjadi semacam rem bagi gejolak nafsu, syahwat dan setiap bisikan menuju kemaksiatan.

Orang yang takut karena makriatnya pada akhirat dan neraka, akan selalu menjaga diri dari maksiat. Ia yakin sepenuh hati bahwa neraka itu ada sebagai tempat paling buruk bagi manusia yang dilalaikan oleh dunia.

g. Makrifat atas Negeri yang Dihancurkan

Banyaknya negeri terdahulu yang telah di hancurkan Allah. Mengetahuinya dapat menumbuhkan rasa takut padanya negri-negri yang dihancurkan itu menggambarkan betapa Allah tidak bersendagurau dengan ancamanNya. Atas orang-orang yang selalu ingkar kepadaNya. Hal ini seyogyanya menjadi cerminan bagi kita yang hidup di negeri Indonesia ini. Bila kita ingkar nasibnya akan sama dengan mereka.

Bencana fisik dan psikis itu senantiasa berlangsung sampai hari ini atas orang-orang yang ingkar padaNya.

Dalam pandangan orang-orang yang tidak beriman tampaknya bencana dan kehancuran itu tak memiliki kaitannya dengan Tuhan. Padahal alam ini Tuhanlah penguasanya. Dia menurunkan azabNya kepada orang-orang terdahulu, sebagai suatu pelajaran dan peringatan bagi orang-orang masa kini. Betapa bodohnya manusia yang tidak pandai mengambil pelajaran, perkara yang amat penting dalam hidupnya.

Memang kenyataannya manusia lebih banyak yang memilih melupakan dan pura-pura tidak tahu tentang perkara tersebut. Dan tenggelam dalam hayalan tentang kehidupan yang baik tanpa sautu bimbingan dari sisi Allah. Boleh jadi secara fisik dan materi, dalam beberapa masa mereka tangguh dalam peradaban, budaya, kota dan bangunan tapi sesungguhnya telah hancur, mental dan fikiran mereka akibat lupa peringatan.

h. Makrifat atas Nasib dan Syaithan dan Orang-orang Kafir

Syaithan dan orang-orang kafir tempat tinggalnya kelak adalah neraka. Apakah di dunia mereka mendapat azab atau tidak, di akhirat mereka telah pasti tempat tinggalnya di neraka yang amat mengerikan dan menyakitkan. DI neraka itu, tidak ada hal saat, sifat yang mengenakkan bagi penghuninya. Para penghuninya bahkan tidak ada seorang pun yang betah tinggal di sana. Sebab beratnya siksaan yang tiada terkira. Tapi aneh manusia sedang berlomba menuju barisan yang sedang digiring ke neraka. Ada apa wahai manusia ?

Mengetahui tentang tabiat dan ujung kehidupan syaithan dan orang-orang kafir adalah penting untuk mengokohkan rasa takut kita kepada Allah Swt. Janji Allah dan siksaan yang akan menimpa syaihan dan orang kafir adalah pasti. Maka tak ada alasan bagi kita untuk mengikuti syaithan dan orang kafir jika menghendaki keselamatan di akhirat kelak.

Antara Syaithan dan orang kafir dengan kita adalah sama dalam hal kedudukan sebagai makhluk Allah dan sebagai pengemban amanah untuk beribadah kepadaNya. Hanya saja syaithan dan orang kafir itu telah memilih untuk hidup menentang perintahNya. Jadi siapapun memiliki potensi dan kemungkinan untuk menjadi orang kafir dan syaithan. Untuk menjadi penghuni neraka kelak. Oleh sebab itu maka rasa takut kepada Allah akan semakin besar dengan kesadaran dan makrifat semacam ini.

i. Makrifat atas Jalan Hidup yang Sesat

Syaithan dan orang kafir itu sedang menempuh jalan yang sesat dan senantiasa mengajak manusia dan jin untuk bersama-same menempuh jalan tersebut. Apa jalan yang sesat itu? Jalan yang sesat adalah jalan yang menentang dan keluar dari petunjuk Allah Swt. Tidak ada jalan yang lain bagi manusia selain jalan Allah. Dan jalan Allah itu adalah Islam. Selain Islam adalah bukan jalan Allah karenanya jalan itu sesat. Di jalan itulah syaithan dan orang kafir berada dan bergerak.

Makrifat atas agama-agama dan faham-faham dan filsafat-filsafat dan keyakinan-keyakinan selain Islam akan menyimpulkan bahwa agama yang benar adalah Islam. Dan pengikut selain Islam adalah orang-orang yang sesat dan pasti akan mendapat siksaan dari Allah. Agama-agama selain Islam adalah batil, sesat, menyimpang dan menggiring manusia menjadi pengikut syaithan. Dan jadilah mereka sebagai orang kafir, nanti di akhirat kelak akan memasuki neraka.

Seorang mukmin yakin tentang perkara ini berdasarkan iman dan ilmu yang dia peroleh dari wahyu dan fakta. Dapatkah pengetahuan ini menngembangkan rasa takut kepada Allah? Ya, yakni melalui keyakinan bahwa hidup yang sesat tidaklah akan membawa akibatnya bagi manusia melainkan suatu kecelakaan dan dijerumuskannya ke neraka. Kita membayangkan betapa sangat pedih, hina, dan menyakitkannya siksa itu.

j. Makrifat atas Amal Perbuatan yang Sia-sia

Amal yang baik pasti dibalas oleh kebaikan dari sisi Allah. Tapi syaratnya harus dipenuhi. Syaratnya amal itu dilakukan atas dasar iman kepadaNya. Dan mengikuti petunjuknya. Kalau dua syarat ini tidak dipenuhi, amal yang baik pun akhirnya menjadi sia-sia, sebab tidak mendapat balasan dari sisi Allah. Begitulah nasib orang yang taat beragama tapi agamanya bukan Islam. Ia menyangka telah banyak beramal bajik, tapi tidak ada yang memberinya pahala dan surga. Pahala dan surga hanyalah Allah yang punya, dan bukan untuk mereka yang di luar Islam.

Mengingat akan perkara itu orang yang beriman akan takut kepada Allah, jika dirinya termasuk orang yang mengaku beriman dan banyak melakukan kebajikan tetapi hakikatnya ia termasuk orang yang mendustakan agama dan wahyu. Ini bisa terjadi terutama pada manusia yang mengambil sebagian ayat dan mengingkari ayat yang lainnya.

Kita tentu merasa takut jika amal kita sia-sia karena kesombongan. Merasa bahwa hukum Tuhan tidak diperlukan lagi karena alasan bahwa tingkat pemikiran manusia telah maju, ini merupakan kesombongan. Ayat-ayat al-Quran tentang hukum dicampakkan, hukm-hukum buatan akal dijunjung setinggi langit. Pantaslah kita merasa khawatir dengan keadaan masyarakat yang seperti ini. Banyak manusia yang memilih kezhaliman semacam ini.

13. KEMENANGAN DAN KEMULIAAN BAGI ORANG-ORANG YANG TAKUT KEPADA ALLAH

Orang yang takut kepada Allah, dengan sebenar-benarnya rasa takut, akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi murkaNya. Wujud murka Allah secara global ada tiga yaitu: dijauhkannya dari HIDAYAH, diberikannya KEHIDUPAN YANG SEMPIT DI DUNIA, dan di AKHIRAT MASUK NERAKA. Orang-orang yang takut kepada Allah akan berusaha keras untuk menjauhi perkara-perkara yang dapat mengantarkannya kepada Azab Allah tesebut.

Disebabkan oleh usahanya yang demikian itu maka dipeliharalah dirinya oleh Allah dari Azab api neraka, sebagaimana dalam firmanNya:

Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab).” Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (52:27-29).

Ketika manusia dijauhkan dari api neraka, maka yang demikian itu merupakan kemenangan yang hakiki.

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (39:61)
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (24:52).
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan (78:31).


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: