Filsafat Berfikir

HIDUP KAYA | Juni 19, 2010

HIDUP KAYA
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Kaya tidaknya seseorang sering diukur dari seberapa banyak harta yang ada dalam kekuasaannya. Ketika kita ingin kaya, mengapa yang terpikir adalah bagaimana cara memperbanyak kekayaan dan harta benda di tangan. Padahal hakikat kekayaan itu adalah kaya hati.

Allah menerangkan dalam al-Quran Surat 2 ayat 261, bunyinya adalah:

MATSALULADZIINA YUNFIQUUNA AMWAALAHUM FII SABILILLAH KAMATSALI HABBATIN ANBATAT SAB’A SANAABILA FII KULLI SUNBULATIN MIATU HABBATIN, WALLOHU YUDHOOIFU LIMAN YASYAAA. WALLOHU WASYII’UN HALIIM

Artinya; perumpamaan orang yang menginfakka hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatandakan bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas Maha Mengetahui.

Dalam rangkaian ayat-ayat berikutnya Allah Swt menjelaskan beberapa hakikat tentang infak tersebut:
1. dengan infak maka tidak akan ada rasa sedih dan rasa takut.
2. mencari rido Allah dan memperteguh jiwa.
3. dihapuskan sebagian kesalahan-kesalahannya.
4. sasaran infak adalah orang fakir, yakni terhalang berusaha karena berjihad.
5. barang yang diinfakkan dari sumber dan berupa yang terbaik.

Jika engkau hari ini punya uang seribu rupiah yang engkau dapatkan dengan cara terbaik dan halal, maka ketika engkau berinfak seratus rupiah dengan ikhlas, kepada orang fakir (orang sholeh yang waktunya habis untuk berjihad), maka hakikatnya uangmu adalah sembilan ratus ditambah seratus kali tujuh ratus rupiah, sama dengan tujuhpuluh ribu sembilan ratus. Engkau menjadi lebih kaya dari seseorang yang punya uang limapuluh ribu. Di tanganmu memang uang real hanya sembilan ratus rupiah, tetapi dalam hatimu telah tersimpan uang spiritual sebesar tujuh puluh ribu rupiah. Engkau seorang yang kaya. Manfaat secara psikologis jauh lebih besar lagi yaitu hilangnya rasa sedih dan rasa takut, mendapatkan keridoan Allah dan jiwa semakin teguh. Engkau pun akan lebih dihormati ketimbang orang yang punya lima puluh ribu tetapi ia kikir dalam hidupnya.

Rumus lain untuk hidup kaya: tidak cinta dunia, tidak tamak, tidak kikir, tidak dengki dengan kekayaan orang lain, tidak makan riba. Adapun jika engkau berusaha keras untuk mengejar kekayaan, maka janganlah membuatmu lalai dari berdzikir kepadaNya, lalai menunaikan undang-undangNya dalam perniagaan, jangan pula lalai dalam menunaikan zakat, infak dan shodakohnya.

Leuwilliang, Bogor, 1 Rajab 1431 H.


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: