Filsafat Berfikir

IKHTIAR | Juni 19, 2010

IKHTIAR
Oleh : Ading Nashrulloh A.Dz

Bila kita mengamati baik-baik, setiap makhluk telah memiliki bagian rizkinya masing-masing. Bagaimana rizki itu diatur benar-benar sangat ajaib. Semua berada di luar kesanggupan manusia untuk mengaturnya.

Bila kita adalah pemimpin, kita harus tetap menjadi pemimpin yang mampu membuat pemerataan pembangunan dan hasil-hasil kegiatan ekonomi yang dikelola negara. Jangan karena bahwa persoalan rizki sudah diatur oleh Allah swt, lalu engkau tidak mau memberi makan kepada manusia. Jangan berperilaku seperti itu, sebab perilaku itu adalah perbuatan orang-orang yang tidak yakin kepada Allah Swt.

Ikhtiar yang kita lakukan tidaklah cukup untuk mendapatkan nikmat, syukur yang kita perbuat tidaklah cukup untuk mengikat nikmat itu, nikmat itu urusan Allah untuk mengatrunya, adapun wajibnya kita adalah meningkatkan kualitas ikhtiar dan syukur.

Ikhtiar itu hakikatnya adalah daya upaya manusia untuk menggapai suatu tujuan mengikuti suatu pola aturan insani, alami dan agama. Bagaimana tujuan itu dicapai atau tidak, di akhir ikhtiar atau kenyataanya bukanlah urusan manusia yang berikhtiar. Namun tetap manusia dituntut untuk mengadakan evaluasi dan perbaikan di masa-masa berikutnya atas ikhtiarnya itu.

Secara kasat mata, nampak sekali bahwa kekayaan itu berbanding lurus dengan tingkat jabatan dan pekerjaan. Seorang buruh cangkul yang bekerja di kebun orang memiliki penghasilan yang sangat jauh lebih sedikit dengan seorang direktur PLN pusat. Namun hakikatnya rizki seorang buruh dan direktur itu tidak terkait dengan pekerjaannya. Rizki yang masing-masing mereka peroleh semata-mata diatur dan ditentukan Allah tanpa ada kaitannya sama sekali dengan ragam pekerjaan dan besarnya kemampuan mereka. Sebabnya ialah apapun yang mereka kerjakan tidak akan cukup untuk menebus besarnya rizki atau nikmat yang mereka peroleh. Jadi seorang buruh tani yang penghasilannya pas-pasan jangan mengurangi rasa syukurnya kepada Allah. Sebaliknya orang yang kaya karena ia seorang direktur jangan sampai terjatuh kepada sifat sombong dengan berkeyakinan bahwa kekayaan yang ia peroleh semata-mata karena jabatan dan kemampuannya.

Karena itu seorang petani miskin, janganlah mengendurkan semangat kerjanya karena sedikitnya penghasilan. Hidup miskin bukanlah suatu suramnya kehidupan. Boleh jadi kemiskinan merupakan suatu hijab antara dirinya dengan pebuatan maksiat dan dosa, malah merupakan suatu rahmat yang menyadarkan dirinya untuk lebih dekat kepada Allah Swt. Sebaliknya seorang direktur sebuah perusahaan besar, janganlah membuatnya bermalas-malasan karena besarnya gaji yang akan diterimanya selalu lebih dari cukup.

Sesungguhnya nikmat realitas (ada) tak akan pernah bisa diusahakan oleh daya upaya manusia. Adanya makanan dan lidah yang mengecapnya tidak bisa dibuat oleh manusia. Realitas merupakan kenyataan yang sangat mahal harganya. Maka hidup ini indah luar biasa jika kita menyadarinya bahwa semua adalah sangat berharga dan mahal, disebabkan kita tak bisa membuat dan mengadakannya. Jangan pernah kita berputus asa karena miskin, jangan pula sombong karena kaya. Sebab di atas kaya dan miskin, ada suatu keberadaan yang tak bisa diadakan manusia.

Ikhtiar itu hakikatnya adalah daya upaya manusia untuk menggapai suatu tujuan mengikuti suatu pola aturan insani, alami dan agama.

Leuwiliang, Bogor 10 Juni 2010, 27 Jumadil Akhir 1431 H


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: