Filsafat Berfikir

JANGAN PERNAH MENANGIS KARENA NESTAPA | Juni 19, 2010

JANGAN PERNAH MENANGIS KARENA NESTAPA
Tetapi menangislah karena dosa

Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Jangan pernah engkau menangis karena nestapa yang menimpamu, tetapi menangislah karena mengingat dosa yang engkau perbuat selama ini. Nestapa yang menimpamu hakikatnya bisa ujian, peringatan atau siksaan. Penyebabnya bisa beraneka ragam, bisa karena kebodohanmu atau dosamu, bisa juga karena fitnah yang menimpamu. Dosa itu menimbulkan nestapa lahir batin, dunia dan akhirat. Bilamana engkau mengalami hidup yang nestapa di dunia, masih bisa engkau perbaiki takdirmu itu dan engkau perbaiki perbuatan buruk yang selama ini engkau perbuat. Namun apa jadinya bila nestapa yang engkau alami adalah nestapa di akhirat kelak. Tak akan ada yang bisa kita mintai pertolongannya di waktu itu, melainkan dari Allah semata.

Aduhai jiwa-jiwa yang sedang dirundung malang karena engkau difitnah atau diuji, ingatlah Allah yang menciptakanmu memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Engkau boleh putus asa dari manusia, karena manusia hakikatnya lemah dan tidak bisa diandalkan kekuatan lahir dan batinnya. Namun jangan sekali-kali engkau berputus asa dari rahmat Allah. Jangan pernah engkau meninggalkanNya. Untuk itu senestapa apapun nasibmu di dunia, jangan pernah engkau abaikan perintahNya. Tunaikan selalu apa yang Dia perintahkan kepadamu selaku hambaNya, karena hal itu merupakan jalan untuk meraih rahmat dan kasih sayangNya.

Saat nestapa sedang menimpamu, mungkin keadaannya engkau dirundung kelaparan dan kemiskinan, pandangan yang menghina dirimu, pengusiran dari orang-orang atau cibiran dari teman-temanmu yang kini meninggalkanmu. Engaku tak punya lagi pegangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan hidupmu. Sungguh suatu ujian dan penderitaan yang sangat hebat menimpamu. Tetapi ingatlah selama engkau masih di dunia, dan ajal belum datang kepadamu, engkau masih punya suatu harapan akan rahmat dari Tuhan pencipta dirimu. Dia Maha Memperhatikan hamba-hambaNya. Berdoalah kepadaNya senantiasa, dan mintalah kepadaNya keselamatan hidup di dunia dan akhirat, meski di dunia ini hidupmu malang dan menderita.

Aduhai jiwa-jiwa yang ditakdirkan hidup dalam kepapaan, kemiskinan, kekurangan akan ilmu, harta dan nama baik. Engkau berjalan di muka bumi tanpa suatu penghormatan dari manusia sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki harta dan jabatan atau ilmu. Ikhlaskan dirimu, sabarkan hatimu, tabahkan jiwamu, kuatkan tekadmu dan pengharapanmu kepada Tuhanmu. Apapun masih bisa engkau lakukan, engkau kerjakan, sekalipun dengan pekerjaan itu tidak akan mampu menutupi kemiskinan dan kekuranganmu. Yang penting apa saja yang engkau lakukan itu adalah halal di mata Allah Swt dan engkau rido dalam menjalankannya.

Dalam setiap langkah dan pandangan mata yang engkau arahkan ke mana pun engkau berjalan, dimana-mana engkau melihat dunia ini penuh dengan pernik kenikmatan dan kemegahan. Saat engkau tak bisa menjamah dan menikmatinya. Engkau lihat manusia menikmati makan di restoran, naik kendaraan, dipuja manusia dan elu-elukan. Sementara dirimu seorang dicampakkan dan tak pernah dipandang oleh mereka. Itulah kehidupan bangsa kita yang miskin dan tak memiliki apa-apa melainkan umur yang terus berkurang. Aduhai nasib dan takdir kehidupan, jika memang itu adalah kenyataan yang sedang kita alami, maka ridokan jiwa dan hati kita dengan keadaan itu. Seraya kita pun mencari takdir yang lebih baik, dengan semangat berusaha dan belajar kembali. Seperti bayi yang baru dilahirkan.

Sesungguhnya yang harus engkau anggap sebagai nestapa bukanlah berupa hidup yang miskin dan tak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. Sesungguhnya kenestapaan kita hidup di dunia sebagai makhluk Allah adalah berupa terjebaknya kita dalam lingkaran perbuatan dan kebiasaan buruk di mata Allah dan hamba-hambaNya yang sholeh. Alangkah nestapanya hidup manusia yang jauh dari Allah, jauh dari pergaulan dengan orang-orang sholeh, dan tak pernah mau kembali kepada jalan yang benar. Menangislah wahai diri yang menganiaya dirinya sendiri, mengapa engkau masih saja suka menyia-nyiakan umurmu, hartamu, jabatanmu, dan tak pernah engkau tunaikan apa yang menjadi kewajibanmu sebagai hambaNya dan saudara bagi saudaramu.

Hidup miskin yang sejati bukanlah dimana engkau tidak memiliki harta atau uang. Melainkan yang dimaksud hidup miskin adalah engkau memiliki hati yang sempit dan fikiran yang picik. Hati yang sempit mengantarkan jiwamu seolah dunia sedang menghukummu dan berlaku tidak adil kepadamu. Padahal dunia ini luas, bisa engkau rambah semuanya, sehingga engkau bisa sampai menemukan kehidupanmu yang lebih baik. Tentu harus pula dengan penuh perhitungan. Sedangkan fikiran yang picik, bukan karena kurang ilmu, melainkan engkau selalu berprasangka buruk kepada setiap orang.

Ketika harta tak punya, namun jika hati lapang dan engkau selalu berbaik sangka pada Allah kemudian kepada manusia, yang membuatmu selalu bertawadlu di hadapan Allah dan berakhlak mulia di depan manusia, maka sesungguhnya engkau seorang yang patut dimuliakan. Kemuliaan adalah kebalikan dari nestapa. Engkau masih bisa hidup dalam kemuliaan, dan kuncinya adalah bersabar di waktu miskin, bersabar di waktu kaya, bersabar di setiap waktu. Inti kesabaran adalah prasangka yang baik kepada Allah bahwa Dia sedang menyediakan kehidupan yang baik bagimu di dunia dan akhirat kelak. Sehingga sabar itu ibarat bahan bakar bagi perbuatan-perbutan yang baik.

Bila engkau ingin menangis, menangislah karena mengingat dosa yang pernah engkau lakukan sejak engkau akil baligh. Menyempatkan diri mentafakuri dosa-dosa adalah penting, agar engkau bisa menilai dirimu, yang nestapa dalam arti yang sebenarnya. Jangan melihat miskin harta sebagai kehidupan yang nestapa, tapi lihatlah ketika diri kita penuh dengan dosa, itulah diri yang penuh dengan nestapa.

Leuwiliang, Bogor, 30 Jumadil akhir 1431 H.


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

2 Komentar »

  1. izin kopi paste,,, pengen bagikan………….

    Komentar oleh meisya — November 15, 2011 @ 5:40 pm

  2. Sami kang Izin copy paste. Mkalah.x jempol abz…;-)

    Komentar oleh Satrio Wibowo — Desember 19, 2011 @ 3:50 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: