Filsafat Berfikir

MEMBANGUN PENDIDIKAN DI MASYARAKAT ISLAM | Juni 19, 2010

MEMBANGUN PENDIDIKAN DI MASYARAKAT ISLAM
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz.
Obrolan Silaturahmi dengan Bpk H. Sayuti, Rabu 3 Rajab 1431 H

Bangunan Islam adalah pola pembinaan manusia berkarakter Muslim sejati.
Para ahli fikih telah mengubah istilah Bunyanun Islam menjagi Arkanun Islam. Ada perbedaan konsekuensi secara prinsip antara konsep Bunyanun dengan Arkanun. Bunyanun itu lebih kepada pembinaan. Sedangkan Arkanun lebih kepada persyaratan syahnya sesuatu. Ketika kita menerapkan yang lima sebagai Rukun Islam, maka bila kurang satu saja, seseorang menjadi tidak sah menjadi seorang muslim. Sedangkan apabila konsepnya Bunyanun maka jika seseorang itu mampunya hanya satu hal saja, sedangkan hal lainnya ia tidak mampu ia lakukan, ia tetap sah menjadi seorang muslim. Konsep bunyanun itu intinya adalah proses pembinaan terus menerus diri seseorang sehingga terbentuklah dirinya menjadi sebagaimana yang diharapkan Allah Swt. Seseorang akan menjadi seorang muslim yang baik apabila dirinya terus menerus dibina dengan syahadat, shalat, zakat, shaum dan ibadah haji. Berbicara tentang rukun, kita ambil rukun Jual Beli. Dalam jual beli, rukun yang harus dipenuhi adalah penjual, pembeli, barang dagangan, alat tukarnya dan ijab qobul. Bila salah satu dari kelima perkara itu tidak ada maka tidak sah jual beli tersebut. Rukun nikah ada lima: pengantin pria, pengantin wanita, wali, mahar dan ojab qobul. Semua harus ada seketilka itu pula. Apabila salah satunya tidak ada maka tidak sah pernikahan itu. Jadi konsep rukun itu adalah persyaratan yang harus dipenuhi sekaligus seketika itu dan tidak bersifat proses atau pembinaan. Maka yang tepat adalah sebagaimana diungkapkan dalam hadits bahwa yang lima (syahadat, shalat, zakat, shaum dan haji) adalah bunyanun, bangunan Islam, bukan rukun. Konsep ini amat penting untuk kita perhatikan, karena memiliki konsekuensi yang tak kurang pentingnya terutama ketika dikaitkan dengan pendidikan seumur hidup.

Pengetahuan kita tentang Umat Islam
Persis, Muhammadiyah, NU ataupun Salafusholeh adalah sikap keagamaan orang-orang Islam dalam upaya mereka mengimplementasikan ajaran Islam. Semuanya mengaku sebagai ahlussuhnnah wal jamaah. Artinya semua pada dasarnya memiliki itikad untuk menegakkan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.
Sesungguhnya FPI, Muhammadiyah, bukanlah tipe organisasi umat Islam yang mengabaikan sebagian ajaran Islam, tetapi dalam batas-batas tertentu memang mereka lebih menonjolkan satu sisi dari ajaran Islam. Sedang sisi lainnya berada dalam kadar biasa-biasa saja. Muhammadiyah lebih menonjol dalam masalah kemasyarakatan. NU lebih menonjol dalam masalah wirid dan pewarisan nilai-nilai tradisional. PKS lebih menonjolkan sisi politik dari Islam ini. Yang lainnya menonjolkan sisi ekonomi, kesehatan, pelayanan, pendidikan dan lain sebagainya. Ini akibat dari keterbatasan kemampuan yang ada pada masing-masing golongan. Jadi pada dasarnya semua berada dalam level memperjuangkan Islam, bukan merubuhkan Islam. Adapun misalnya umat Islam belum bersatu, itu memang betul, tetapi bukan akibat dari banyaknya organisasi Islam. Sebab andaikan organasiasi-organisasi itu dihapuskan, Umat Islam belum tentu bersatu dan dapat membangun masyarakatnya sendiri. Artinya umat Islam belum tentu secara otomatis membentuk suatu jamiah raksasa yang menghimpun seluruh umat Islam di Indonesia ini. Kita mestinya bersyukur dengan banyaknya organisasi Islam, masing-masing memiliki peranan dalam membangun dan membina masyarakat Islam, sehingga menjadi kekuatan dalam menjaga akidah Islam dan kekuatan dalam menjaga umat dari gempuran musuh-musuhnya. Kualitas para ulamanya di berbagai organisasi itu, lebih baik dari pada kualitas umat-umatnya yang dibawah. Artinya mereka memiliki kapasitas sebagai pengayom umat ini, yang besar peranannya dalam upaya dakwah dan syiar Islam.

Pengetahuan Kita tentang Islam
Ada sebuah anekdot: ada empat orang yang buta. Ingin tahu tentang gajah. Keempatnya minta tolong kepada seorang yang melihat. Dibawalah keempatnya ke tempat di mana ada gajah. Sesampainya di tempat tersebut, masing-masing orang yang buta itu memegang gajah. Yang satu memegang kakinya, yang satunya telinganya, yang satu pegang ekornya, dan yang satu lagi memegang belalainya. Setelah puas, mereka pun masing-masing menyimpulkan seperti apa gajah itu, sesuai dengan apa yang mereka pegang. Atas anekdot ini, kebanyakan orang yang menceritakannya menilai orang lain adalah seperti orang yang buta itu, sedangkan dirinya adalah orang yang melihat tadi. Itu sebetulnya tidak tepat dan itu licik serta mau menang sendiri. Sesungguhnya perumpamaan orang yang melihat itu adalah Rasululloh dan para sahabatnya. Merekalah yang tahu tentang Islam yang sejati dan kaffah itu, sedangkan kita umatnya adalah yang buta itu. Kita hanya tahu Islam sekepingnya saja. Ibaratnya Islam itu memiliki 10 kategori. Yang tahu seluruh kategori itu adalah Rasulullah dan Sahabatnya sebagai orang-orang yang langsung dididik oleh Beliau Saw. Adapaun kita yang hidup saat ini melihat Islam itu ibaratnya yang satu golongan hanya tahu nomor 1, 3, 5 dan 11. satu golongan lagi tahunya nomor 2, 3, 4, 6, 10. Dan seterusnya begitu. Begitupun dalam pengamalan Islam, mengikuti alur pengetahuannya. Sehingga kita ini harus pandai mengambil apa yang lebih pada orang lain dalam beragama ini. Jika suatu kelompok begitu istimewa dalam hal kegiatan sosial Islamnya, ya kita akui itu dan kita ikuti praktek realnya. Jika kita mengaku sebagai orang yang mengetahui Islam secara keseluruhan dan telah mengamalkan segenap ajarannya, rasa-rasanya itu suatu hal yang dusta. Namun tidak berarti ketika kita mengamalkan Islam baru sebagian dan belum bisa mengamalkan sebagaian ajaran Islam lainnya, amalan kita gugur atau tidak bermakna. Kalau persoalannya belum mampu, dengan tidak menutup-nutupi kemampuan yang ada sebenarnya, itu tidak berkonsekuensi keislaman kita berkurang. Namun sebaliknya apabila kita mengabaikan sebagian Islam lantaran menolaknya atau pura-pura bodoh, atau menutupi kemampuan yang ada, maka persoalannya jadi lain. Ibarat seseorang yang mengakui syahadat tetapi menolak shalat, maka ia dihukumi sebagai orang kafir.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: