Filsafat Berfikir

MIRING | Juni 19, 2010

MIRING
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Sukakah kamu bila aku panggil engkau orang yang berfikiran miring? Maukah engkau aku bangunkan rumah dengan tiang-tiang yang miring? Sukakah kamu bila aku tawarkan barang dengan harga miring? Bidang miring banyak manfaatnya, ia ada diciptakan Allah untuk memudahkan hidup manusia. Bagian bumi ini, ada yang datar, ada yang curam, ada yang miring, semua ada guna dan manfaatnya, agar hidupmu bahagia dan engkau mau bersyukur kepadaNya.

Adakah fikiran miring itu ada guna dan manfaatnya? Mengapa ada istilah fikiran miring? Konsep yang serupa dengan fikiran miring adalah fikiran gila, majnun, crazy, edan. Zaman edan adalah zaman di mana manusia memilih cara hidup miring, namun mereka sendiri merasa dan berfikiran bahwa jalan hidupnya lurus dan penuh dengan kebajikan, keuntungan dan kelimpahan harta. Sementara ketika pandangan mereka diarahkan kepada jalan hidup yang lurus, mereka malah mengatakan jalan itu bengkok dan sesat.

Secara umum, fikiran miring itu artinya fikiran yang dianggap memiliki kecenderungan mengarah kepada jalan yang sesat dan menjauh dari kebenaran yang selama ini dipegang oleh umumnya manusia di sekitarnaya. Dahulu saya pernah mendengar penuturan dari seorang pengusaha MLM. Ketika ia memulai usaha itu, orang-orang di sekitarnya mengatakan bahwa ia seorang yang berfikiran miring. Sampai akhirnya, ketika ia sukses di MLM itu, orang-orang pun berhenti mengatakan ia berfikiran miring. Ia dikatakan demikian sebab ia melakukan perkara yang waktu itu masyarakat tidak memiliki pemahaman tentang MLM.

Kepada kita yang muslim sering diceritakan kisah para Nabi yang mengalami ejekan dan hinaan dari kaumnya. Salah satunya adalah Nabi Muhammad Saw. Di awal dakwahnya, kaumnya mengatakan beliau SAW adalah almajnun, ahli sihir, pendusta, dan orang yang patut ditertawakan. Perjalanan sejarah akhirnya menunjukkan, mareka yang mentertawakan itu mengakui akan kehebatan dan kebenaran Nabi Muhammad Saw. Nabi-nabi yang lain pun mengalami hal yang sama. Bukan hanya ejekan dan hinaan, malah siksaan dan pengusiran. Itulah sebabnya Rasululloh sempat menangis ketika sahabatnya diminta membacakan ayat tentang betapa ruginya manusia yang menolak dakwahnya yang akan menyelamatkan hidupnya di dunia dan akhirat.

Bila engkau melakukan perbuatan buruk, sedangkan dirimu suka mengajak kepada orang lain berbuat baik, engkau pun akan dikatakan orang yang berfikiran miring. Jangan heran bila engkau dikatakan kurang akal dan penipu. Seharusnya bilamana engkau ingin mengajak manusia berbuat kebajikan, maka terlebih dahulu engkau pun melakukan perbuatan bajik juga, tanpa harus menunggu ada orang yang menyertaimu atau tidak. Ibaratnya jadilah santri seorang diri sebelum engkau menjadi kiyai bagi santri-santri yang akan datang kepadamu. Jadilah engkau sebagai pembelajar yang aktif, sebelum engkau menjadi seorang pengajar. Tetaplah belajar dan berbuat kebajikan selama-lamanya sampai tutup usia.

Agar dirimu tidak berfikiran miring dalam arti yang hakiki menurut ukuran keimanan dan keislaman, pertama-tama janganlah kamu berfikiran bahwa kamu sudah berbuat kebaikan. Tetapi katakanlah mudah-mudahan apa yang aku lakukan adalah kebaikan yang diridoi Allah Swt mengingat apa yang aku lakukan mengikuti petunjukNya. Apa yang engkau lakukan bisa jadi belum berupa kebaikan, tetapi hanya baru sebatas mendekati.

Menjadi sosok yang baik dan benar dalam arti yang sebenarnya bukan perkara mudah. Seringkali manusia, yakni kita ini, merasa dan yakin bahwa kita sudah berada di jalan yang benar. Dalam kenyataannya belum tentu seperti yang kita harapkan. Terkadang kita hanya merasa benar saja dan menyandarkan diri kepada argumen-argumen yang dianggap benar oleh kita sendiri. Untuk menjadi benar, semestinya kita pun tahu yang salah. Kita harus memiliki kemauan mempelajari berbagai corak cara pandang manusia terhadap kehidupan. Setiap orang akan ditanya oleh Tuhan di akhirat kelak mengapa ia mengikuti suatu jalan kehidupan.

Bagi orang-orang muslim, jalan kehidupan dan cara pandang kehidupan adalah sudah jelas, yakni Islam. Bagaimana konsep Islam tentang kehidupan, realitas hakiki dan apa yang seharusnya dilakukan manusia telah dijelaskan dengan seterang-terangnya dalam ajarannya. Sebaik-baiknya sikap orang-orang yang beriman adalah berperilaku postif atas ajaran Islam ini. Artinya ia harus membenarkan dan mengamalkannya tanpa reserve. Ketika kita menempatkan diri sebagai orang yang membenarkan dan menjalankan Islam sebagai jalan kehidupan, maka kita akan melihat jalan pikiran selain Islam adalah sesat. Dan siapa yang menyimpang sedikit saja dari ajaran Islam, kita pun harus secara konsisten mengatakan bahwa pemikirannya adalah miring.

Sebaliknya jangan heran bila engkau dikatakan berfikiran miring pula oleh orang-orang yang tidak menjadikan Islam sebagai landasan cara berfikirnya, ini sudah merupakan tabiat dan sunah kehidupan di muka bumi. Selain Islam adalah sesat, dan selamanya yang sesat tidak akan pernah bisa seiring sejalan dengan yang benar. Jika engkau dibenci dan dikatakan berpikiran miring, hanya karena engkau memuja Allah dan mengikuti syariatNya, itu adalah hal biasa. Kau harus membiasakan diri diejek dan dihina oleh mereka yang tidak berilmu dan enggan mengabdi kepadaNya.

Leuwiliang, Bogor, 30 Rabiul Akhir 1431 H


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: