Filsafat Berfikir

TUHAN KAMI ALLAH DAN KAMI BERTEGUH HATI | Juni 19, 2010

TUHAN KAMI ALLAH DAN KAMI BERTEGUH HATI
Oleh Ading Nashrulloh A.Dz

Bila kita bertanya, keinginan siapakah kita hidup di dunia? Jawaban orang-orang yang beriman adalah keinginan dan kehendak Tuhan. Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati kita. Maka sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang sadar akan jati dirinya dan memenuhi konsekuensi kesadaran tersebut. Manusia yang sadar dan patuh pada konsekuensi kesadaran adalah manusia yang paling beruntung. Ia sadar bahwa dirinya diciptakan Allah, maka Allah adalah Dzat yang berhak di sembahnya, dan ia pun melakukan penyembahan tersebut dengan mengikuti agamaNya. Ia mengikuti agama itu dengan melaksanakan setiap perintah agama dengan keikhlasan. Inilah golongan manusia yang beruntung di kehidupannya nanti.

Di antara manusia ada yang sadar bahwa dirinya di ciptakan dari ketiadaan menjadi ada, sadar bahwa keberadaannya di muka bumi memiliki tugas sebagai hamba Tuhan. Namun ia enggan untuk memenuhi konsekuensi kesadaran itu. Ia tidak mau beribadah kepadaNya. Itulah manusia yang rugi. Sering manusia semacam ini memiliki prasangka yang baik kepada Tuhan, namun sesungguhnya ia tertipu dengan prasangkanya itu. Seharusnya prasangka yang baik harus disertai dengan rasa takut kepadaNya yang mendorong ia taat kepadaNya. Orang yang rugi adalah orang yang menyangka ia telah berbuat baik dalam kehidupannya dan berharap Tuhan akan memberikan balasan pahala, namun akhirnya ia malah mendapat siksa dariNya. Ini akibat dari perbuatan yang tidak memenuhi konsekuensi kesadaran bahwa dirinya diciptakan.

Dan ada lagi golongan manusia yang termasuk golongan yang celaka. Siapa mereka? Mereka adalah manusia yang memiliki keyakinan bahwa keberadaannya di muka bumi ini ada dengan sendirinya. Bahwa Tuhan itu tiada. Maka tak perlu beragama atau menyembah Tuhan. Mereka adalah golongan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran tentang jati diri mereka yang sebenarnya, bahwa mereka adalah makhluk. Maka bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk kehidupannya di akhirat kelak? Jangankan mempersiapkan, percaya dan ingat pun mereka sama sekali tidak. Mereka adalah adalah golongan manusia yang tertutup mata hatinya. Setiap seruan kepada keimanan mereka menolak secara terang-terangan.

Tabiat manusia yang merugi dan celaka tersebut dalam kaitannya dengan usaha-usaha mereka dilihat dari urusan dunia dan agama, dapat kita perhatikan sebagai berikut:
1. mereka sangat cinta dunia, mengukur segala-galanya dari sudut duniawi.
2. menghalangi manusia dari Islam
3. meyakinkan bahwa manhaj mereka benar sedangkan Islam buruk.
Ketiga ciri tersebut diungkapkan dalam al-Quran surat Ibrohim ayat 3.

Bagaimana halnya orang-orang yang beruntung akan tabiatnya? Pada intinya mereka menyatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka berpegang teguh pada pendiriannya tersebut. Tidak mudah untuk menyatakan sikap ini dan tidak mudah pula untuk tetap pada sikap ini. Banyak contoh manusia yang gagal dalam mempertahankan
prinsipnya yang demikian itu. Mudah memang diucapkan, namun sulit untuk dijadikan sikap hidup dan dasar nilai kehidupan. Ketika kita mejadikan ucapan ini sebagai sikap dan prinsip, maka berarti ini menyangkut urusan hari dan corak kehidupan yang akan kita bangun dengan segala bagian dan fase-fasenya.

Dalam hidup kita dituntut untuk menentukan sikap. Sikap adalah pilihan hidup dan memiliki konsekuensi yang mengikutinya.

Leuwiliang Bogor 3 Rajab 1431 H


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: