Filsafat Berfikir

MENGEMBANGKAN KEBIJAKSANAAN | Agustus 17, 2010

Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

PENDAHULUAN

Dunia semakin menjadi gonjang-ganjing. Berbagai ketimpangan, kejahatan, ketidakadilan, masalah yang terus berlarut-larut terus saja terjadi di panggung kehidupan manusia. Tidakkah manusia mampu untuk menciptakan kehidupan yang damai, adil, sejahtera, nyaman, aman, tenang dan bahagia. Bukankah kita, manusia, memiliki akal, ilmu, pengalaman sejarah, kekuasaan, kekuatan, moral, aturan, materi, informasi, tentara, negara, agama, dan lain sebagainya. Semuanya semestinya menjadi kumpulan kekuatan untuk menciptakan kedamaian yang diimpikan, namun yang kita saksikan adalah pertikaian dan peperangan yang tiada pernah mengenal ujungnya. Akibat dari apa semua ini terjadi. Akibat dari kemunduran sikap bijaksana sebagai akibat rendahnya MORAL dan IMTAQ. Itulah jawaban penulis. Marilah kita bahasa secara mendalam tema ini di kesempatan kali ini.

Manusia semestinya berkembang dan mengembangkan semua sisinya. IPTEK, MORAL dan IMTAQ-nya untuk sampai kepada muara kebijaksanaan, kemuliaan dan kebahagiaan. Yang terjadi saat ini manusia cenderung hanya mengembangkan sisi materinya saja yang ditandai oleh perhatian yang serius pada IPTEK. Padahal semestinya semua sisi diperhatikan. Posisi ketiga ranah itu, yakni antara IPTEK, MORAL dan IMTAQ harus berurutan, mana yang harus didahulukan, mana yang sebagai orientasi, mana yang sebagai cara, dan mana yang sebagai alat. Persoalan yang lebih serius adalah persoalan IDEOLOGI dan WORLD VIEW. IDEOLOGI dan WORLD VIEW apa yang harus menjadi panutan dan pegangan untuk merumuskan tatanan IPTEK, MORAL dan IMTAQ agar hidup ini berkembang ke arah yang diimpikan oleh manusia, yakni suatu kehidupan yang damai, sejahtera dan bahagia.

DINAMIKA PERKEMBANGAN

Perkembangan IPTEK, MORAL dan IMTAQ

Manusia memiliki sifat hanif ke arah pengembangan diri. Di sepanjang hidup dan peradabannya manusia senantiasa punya dorongan internal untuk bertambah baik dalam segala urusan dan keadaannya. Sepanjang yang dapat kita telusuri di dalam sejarah perkembangan manusia dari abad ke abad, hal yang paling tampak dari perkembangan itu adalah perkembangan IPTEK dan jumlah populasi manusia. IPTEK semakin baik dan memudahkan hidup manusia. Jumlah populasi manusia pun bertambah. Menyikapi pertambahan populasi, orang-orang lebih disibukkan memikirkan sisi materinya melalui pengembangan IPTEK ketimbang sisi spiritual, emosi dan sosialnya (MORAL DAN IMTAQ).

Sementara perkembangan lainnya di bidang FILSAFAT MORAL dan IMTAQ berjalan secara fluktuatif. Filsafat moral mengatur pola interaksi kemanusiaan secara global, ditandai oleh adanya negara dan undang-undang yang mengatur warga negaranya. Dapat kita perhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu tidak selalu semakin baik, tapi juga tidak selalu semakin buruk. Imtaq mengatur pola interaksi kemanusiaan secara global yang mengkaitkannya dengan realitas transendent, tak sekedar pola interaksi horizontal. Perkembangannya pun relatif stagnan. Bahkan ada kecenderung menurun.

Pada dasarnya kemauan seseorang atau institusi dalam hal pengembangan akan apa yang hendak dikembangkan tergantung kepada visi dan misi atau WORLD VIEW yang jadi pegangannya. Seseorang yang bekerja di subsektor IPTEK, ia akan mengembangkan IPTEK. Seseorang yang bekerja di subsektor FILSAFAT MORAL, ia akan mengembangkan MORAL. Demikian halnya yang bekerja di subsektor IMTAQ akan mengembangkan IMTAQ. Seorang matrealisme sejati akan mengembangkan dunia menurut ukuran-ukuran materi, sedangkan seorang yang beriman, akan mengembangkan dunia sesuai ukuran-ukuran Islam.

Iptek memiliki kecenderungan keduniawian, energi dan materi, Filsafat Moral memiliki kecenderungan keglobalan dan kemanusiaan, sedangkan Imtaq kecenderungan lebih kepada keukhrowian dan Spiritual. Islam pada dasarnya menyajikan jalan dan penjelasan kepada ketiganya, artinya seorang muslim yang memiliki kepribadian ISLAM sepenuhnya memiliki kecintaan dan tanggung jawab kepada IPTEK, MORAL dan IMTAQ. Dunia harus di tangan, Kedamaian harus di jasad, dan Akhirat harus di hati. ISLAM sangat mendukung terhadap perkembangan ketiganya secara seimbang dan beriringan. Yang satu merupakan jalan bagi yang lainnya. Anda tidak bisa beribadah kepada Allah tanpa jasad yang kuat, halal dan bersosialisasi, apalagi tanpa ilmu, iman dan ikhlas.

Suatu perkembangan merupakan suatu tabiat kemanusiaan. Manusia memiliki suatu dinamika aktif dan dituntut untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik di semua lini kehidupannya. Oleh sebab itu seseorang mesti memiliki sifat dan ketertarikan hati untuk senantiasa mengembangkan diri. Satu hal lagi bahwa arah pengembangan diri harus jelas juga yaitu diarahkan sesuai Islam. Artinya mengarahkan IPTEK, MORAL dan IMTAQ ke muara Islam. Seorang diri, keluarga, masyarakat, Negara bahkan dunia Internasional harus memiliki kecintaan untuk mengembangkan ketiga sisi tersebut sebagai suatu pengabdian diri kepada Allah dan sebagai khalifaNya di muka bumi.

KEBIJAKSANAAN SEBAGAI MUARA PERKEMBANGAN

Sikap bijksana memuat sejumlah nilai moral yang fundamental yang akan jadi arah dari IPTEK. Sikap bijksana itu sendiri mendapatkan arahan dari IMTAQ. IMTAQ merupakan naungan KEBIJAKSANAAN dan KEBIJAKSANAAN mengarahkan IPTEK agar memberikan manfaat bagi KEKUASAAN IMTAQ di tengah kehidupan manusia. Nilai moral yang dimuat di dalam sikap bijaksana adalah seluruh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan ditambah nilai-nilai yang hidup di tengah manusia yang tidak bertentangan dengan IMTAQ. Yang fundamental itu adalah Keimanan, Kebenaran, Kebaikan, Keberanian, Kewibawaan, Kedermawanan dan Tanggung Jawab.

Seseorang yang dilahirkan ke dunia tidak ada yang tidak memiliki sikap bijaksana. Semuanya memiliki sikap bijaksana, yang membedakan satu sama lainnya hanyalah level dan penampakkannya. Atau makom dan ahwalnya. Atau Kelas dan Prestasinya. Seorang yang paling bijaksana adalah seseorang yang mau memahami dan peduli terhadap nilai kebijaksanaan yang ada pada diri orang lain. Ia mau belajar memiliki kebijaksanaan yang ada pada diri orang lain, sehingga kelasnya naik ke jenjang yang lebih tinggi, atau paling tidak prestasinya bertambah baik.

Semakin bijaksana seseorang semakin baik daya tampung jiwanya untuk menerima kehadiran sebanyak-banyaknya manusia. Dan itu adalah kata lain untuk term berikut: semakin banyak manusia yang menerima kemanfaatan dari dirinya. Maka benar yang disabdakan Nabi Muhammad Saw: sebaik-baiknya di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia. Di lain kesempatan beliau SAW bersabda : sebaik-baiknya di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya. Di lain tempat lagi: sebaik-baiknya kamu adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkan al-Quran. Tentu saja ketiga penjelasan tersebut hakikatnya adalah sama. Yakni bahwa orang yang paling bijkasana adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia melalui akhlaknya yang terbaik sebagaimana diajarkan oleh al-Quran dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Bukankah makhluk yang paling tinggi akhlaknya adalah Nabi Muhammad Saw, dan akhlak beliau tiada lain adalah Al-Quran. Kualitas kebjaksanaan yang tertinggi pada derajat kemanusiaan adalah kebijaksanaan yang diasuh dibawah cahaya al-Quran.

Bilamana kita mendapati suatu kaum atau seseorang yang tidak mengenal Islam, secara totalitas dan garis besarnya dipastikan kaum itu atau orang itu tidak memiliki kebijaksanaan. Namun, di antara sekian sikap, cara pandang dan kebiasaan yang ada pada mereka, pasti terselip kebijaksanaan yang tidak bertentangan dengan IMTAQ alias sejalan dan dianjurkan. Sebagai contoh saja, kaum jahiliah secara totalitas tidak memiliki kebijaksanaan yang berstandar IMTAQ, tetapi memiliki sekian contoh kebijaksanaan lain seperti menghormati tamu, berani membela kehormatan, melindungi yang lemah, dan semangat enterpreneur. Ini artinya bahwa pada siapapun lihatlah sisi kebijaksanaannya yang masih tersisa pada dirinya dan belajarlah kita di jurusan tersebut sekalipun mereka bukan Muslim. Peradaban Barat secara totalitas adalah peradaban yang bertentangan dengan nilai Tauhid. Sekalipun demikian ada nilai-nilai Islam yang mereka pakai sehingga mereka bisa meraih tahta peradaban dunia. Contonhnya semangat berfikir kritis, semangat membangun manajemen yang baik, disiplin waktu, menghormati jabatan seseorang dan kemauan belajar hingga mencapai puncak-puncak pengetahuan. Semua itu merupakan nilai-nilai kebijaksanaan yang ada pada Islam, yang ternyata dipraktekkan oleh mereka. Semangat achievment, adalah semangat untuk senantiasa meraih cita-cita dan harapan dengan usaha sekuat tenaga, tawwakal, itu adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi masyarakat Barat. Nilai semacam ini harus kita miliki, kita ambil, kita pelajari. Adapun sisi kebiadaban Barat yang tidak terperikan lebih banyak lagi yang ditampilkan peradaban Barat itu, jangan kita ambil. Jangan kita tiru.

Langkah pertama untuk memupuk kebijaksanaan adalah komitmen kepada nilai bijaksana. Setelah itu belajarlah untuk bijakana dengan cara belajar pada orang yang telah mempraktekkannya dan bangkitkan kebijaksanaan diri yang pernah kita tampilkan serendah apapun level dan penampakkannya.

NILAI-NILAI KEBIJAKSANAAN

Metapkan Tujuan Hidup yang Hakiki

Ada tiga pertanyaan tentang diri kita yang berkaitan dengan waktu, yang harus menjadi tempat mengambil kembali inti kesadaran kita. Pertama, kita ada di mana saat sekarang? Kedua, kita berasal dari mana? Dan Ketiga, kita hendak ke mana setelah hidup ini? Jawaban atas ketiga pertanyaan ini memiliki peranan yang amat penting dalam upaya merumuskan tujuan pengembangan IPTEK, MORAL dan IMTAQ kita. Jawaban yang diberikan akan memisahkan antara manusia yang bijaksana dengan orang biadab atau zhalim terhadap dirinya sendiri.

Apa jawaban manusia atas ketiga pertanyaan tersebut? Jawaban orang-orang yang beriman adalah: Pertama, kita saat ini sedang berada di dunia. Kedua, kita berasal dari sisi Allah melalui proses penciptaan. Ketiga, kita akan menuju akhirat. Antara yang pertama sampai terakhir memiliki kaitan tautologis. Karena kita berasal dari sisi Allah melalui proses penciptaan maka di dunia ini sekarang kita memiliki kewajiban kepadaNya yakni beribadah untuk kemudian saat kita dibangkitkan lagi di akhirat kelak kita memiliki bekal berupa amal sholeh. Amal sholeh itu adalah amal ibadah kita kepada Allah Swt.

Oleh karena itu apa tujuan tertinggi hidup di dunia ini? Jawabnya adalah mencapai mardhotillah melalui perjuangan hidup meninggikan kalimatillah. Inilah harga mati hidup orang-orang yang beriman. Apapun jika mendukung bagi proses ibadah, diraihnya; dan jika menghalangi dihancurkannya. Tidak ada kompromi dalam hal yang prinsip ini, yakni ibadah secara tauhid dan mengikuti syariat Islam. Tidak ada tawar menawar bila telah menyangkut soal ideologi Islam. Semua mukmin bersepakat bahwa tujuan hidup yang utama adalah beribadah kepada Allah sampai akhir hayat. Kalimat syahadat merupakan awal mula dan muara terakhir sikap bijaksana. Siapa yang hidup di bawah naungannya dan membelanya sampai akhir hayat, ia bijaksana; dan siapa yang bediri menentangnya, atau mengabaikannya, ia biadab terhadap dirinya di dunia dan hina di akhirat.

Semangat Persatuan dan Kebersamaan untuk menciptakan kedamaian.

Setelah jelas tujuan yang hendak kita capai yaitu meninggikan kalimat Allah maka selanjutnya kita bisa dan boleh bersatu dan hidup bersama dengan siapapun. Kalau kita mengusir orang yang sudah jelas tidak searah tujuan tertingginya, maka bagaimana mungkin kita bisa hidup aman dan berdamping secara damai. Sementara hidayah itu sepenuhnya merupakan hal prerogatif Allah. kita hanya boleh berpisah dan mengusir seseorang atau suatu kelompok manusia setelah terlebih dahulu dibuat perjanjian damai dengannya lalu mereka membuat suatu pelanggaran. Allah pun menurunkan azabNya kepada suatu kaum tidak serta merta begitu saja hanya karena maksiat mereka, melainkan setelah diutus kepada mereka utusanNya yang menjelaskan secara terang akan wahyuNya, lalu tampaklah sikap pembangkang mereka.

Negara adalah perjanjian tertinggi dengan kaum yang tidak seagama. Negara bukan tujuan tertinggi di dalam Islam. Tetapi memang negara diperlukan dan dibutuhkan adanya untuk tiga tujuan penting dan fundamental: pertama untuk melindungi akidah Islam dan kaum Muslimin, kedua untuk hidup berdampingan dengan umat lain yang senegara, ketiga sebagai pijakan untuk bedakwah dan meluaskan kekuasaaan kepada bangsa-bangsa lain yang berbeda negara. Negara memiliki peran yang sangat besar bahkan mendasar bagi perkembangan masyarakat Islam.

Dalam level akidah Islam, negara bersifat melengkapi saja, sebab tanpa negara pun akidah Islam bisa diajarkan kepada manusia. Hal ini sesuai dengan Sunnah Rasul yang mengajarkan akidah Islam di tengah masyarakat Quraisy. Beliau mengajarkan akidah Islam tanpa alat berupa negara. Tetapi setelah akidah Islam tertanam di dada manusia, jadilah mereka muslim, lalu komunitas muslim sebagai manusia tidak berhakkah mereka punya negara yang dibangun di atas dasar filsafat hidupnya? Atas dasar apa Rasulullah beserta para sahabatnya mendirikan negara Medinah? Jawabanya adalah atas dasar kepentingan Umat Islam yang harus dilindungi dan diorganisaisikan. Dan di atas dasar apa Negara Medinah didirikan? Jawabnya di atas dasar filsafat yang mereka pegang yaitu akidah Islam. Umat Islam tidak akan ada tanpa akidah Islam, dan akidah Islam tidak ada di muka bumi tanpa umat Islam. Adanya akidah Islam di muka bumi adalah karena ada yang menampungnya yaitu dada Umat Islam. Untuk melindungi akidah Islam di muka bumi, di suatu negeri, di suatu tanah air, maka harus dilindungi Umat Islamnya. Untuk melindungi Umat Islam dibutuhkan Negara dan lain sebagainya. Maka Negara diperlukan dalam kerangka melindungi Akidah Islam dan Umat Islam. Bahkan apapun harus dipersiapkan untuk urusan melindungi Akidah Islam dan Umat Islam.

Bisakah Umat Islam hidup tanpa Negara? Jawabnya Bisa. Dengan syarat: seluruh umat Islam sholeh, tidak memiliki musuh yang dikomandoi suatu negara, umat non Muslim pun tidak punya negara. Mengapa ada yang mengatakan bahwa Islam tak butuh Negara, sementara Non Muslim punya negara, yang dengan kekuatan yang dihimpun negara itu mereka bisa hidup dengan sejahtera, memiliki kekuatan militer, mengembangkan IPTEK dan FILSAFATnya serta membentengi warga masyarakatnya dari kemasukan akidah dan syariat Islam. Mengapa Umat Islam tidak boleh punya negara Islam sendiri, sementara musuh-musuhnya boleh? Umat Islam bisa hidup tanpa Negara namun tidak bisa tanpa pemimpin. Pemimpin merupakan hal yang mutlak dalam masyarakat Islam. Pemimpin seperti penutup aurat di dalam shalat. Tidak sah shalat kalau tidak menutup aurat.

Umat Islam bisa hidup tanpa negara, tetapi butuh negara untuk banyak tujuan kemaslahatan Umat dan Manusia. Negara-negara kafir telah bersekutu untuk memadamkan cahaya Islam. Maka Umat Islam melawannya tanpa negara dalam keadaan lemah lunglai. Itulah fakta saat sekarang ini. Banyak kerusakan di mana-mana akibat kekuatan jahat yang didengungkan kafirin yang di masa ini dikomandoi oleh negara-negara Barat, yang juga penyebar filsafat Matrealisme. Di tengah kota dan masyarakat Muslim, mereka bebas membuat pertunjukkan maksiat yang mengundang laknatullah dan menutup pintu keberkahanNya. Andaikan umat Islam memiliki Negaranya sendiri, tidak akan demikian mereka berbuat semena-mena di negara Islam.

Semangat membela Kehormatan Diri, Nilai-nilai Prinsip dan Fundamental

Seseorang yang jelas-jelas telah melanggar dasar-dasar kesepakatan yang telah dibuat, maka ia harus diusir dan dikucilkan. Pada dasarnya orang-orang yang tidak beriman dan non-Muslim di dalam hatinya sebagaimana diinformasikan Allah lewat wahyuNya berupa al-Quran memiliki kebencian kepada Umat Islam. Namun tidak serta merta harus dimusuhi dan dikucilkan sepanjang tidak ada bukti faktual yang menyakiti Umat dan mengotori akidah Islam.

Orang yang bertabiat dan memiliki potensi mencela, jika belum jelas terbukti ia mencela, tidak akan dicela secara terbuka. Ia tetap diperlakukan terhormat di tengah kehidupan masyarakat. Tetapi jika ia sudah nyata-nyata membuat konspirasi dan tindakkan yang membahayakan keselamatan akidah dan umat, hukumnya wajib disingkirkan. Kecurigaan hanya boleh muncul ketika sekian fakta sudah muncul, tetapi jika tidak ada fakta, yang harus dimunculkan adalah kewaspadaan. Tidak boleh seorang muslim memprovokasi orang-orang nonMuslim untuk menghina Islam. Seseorang yang menghina Islam karena terprovokasi harus diberi kesempatan untuk meminta maaf dan tidak diperlakukan dengan kasar.

Jika engkau seorang muslim maka aku hormati dan aku anggap sebagai saudara di atas landasan keimanan. Jika engkau bukan muslim maka aku hormati dan aku anggap sebagai saudara di atas landasan kemanusiaan. Kemanusiaan yang aku jadikan landasanku adalah kemanusiaan atas dasar bahwa manusia keturunan Adam dan makhluk Allah Swt. Bukan kemanusiaan yang dibangun di atas dasar Filsafat Matrealisme yang menganggap manusia tidak diciptakan Allah dan tidak akan dimintai pertanggungjawabannya atas seluruh perbuatannya. Jika engkau melanggar perjanjianmu sebagai muslim atau perjanjianmu sebagai manusia, maka itulah batas akhir penghormatanku kepadamu. Aku tidak akan menghormati seseorang yang mengaku Muslim tetapi ia berpihak kepada musuh. Dan aku tidak menghormati seorang nonMuslim yang secara fakta hukum menghina akidah Islam dan Umat Islam. Jika engkau menghina diriku karena perbuatanku yang hina, maka aku muliakan engkau karena telah mengingatkan diriku.

Aku bisa hidup berdampingan dan bersama denganmu selama engkau menghormati prinsip-prinsip yang jadi peganganku, tidak menghina keyakinanku, dan engkau tidak menampakkan perilaku yang jelas-jelas ditentang oleh agamaku di tengah masyarakatku. Jika engkau melanggar satu saja diantara ketiganya, maka demi kehormatan dan kemuliaan agamaku, berpisahlah dirimu dariku. Jika engkau tidak pergi maka aku usir engkau dengan kekuatan yang aku miliki. Dan bila aku lemah kekuasanku, dengarkan, aku tidak suka dengan pelanggaranmu itu.

Seorang yang bijakasana bukan orang yang tidak pernah marah dan tidak besikap tegas atau keras. Bahkan kebijaksanaan dibangun di atas pondasi bernama keberanian, karena itu kebijaksanaan harus mendapat topangan kekuatan dan kekuasaan serta kemuliaan. Orang yang bijaksana ketika ia kuat, maka digunakan kekuatannya itu untuk meredam kesombongan manusia sekaligus membangkitkan semangat orang-orang yang nyaris berputus asa karena sulitnya kehidupan. Seorang yang bijaksana memiliki kasih sayang terhadap orang-orang yang setia kepada janjinya dan keras terhadap orang-orang yang melanggar aturan. Sikap keras itu bukan untuk kepentingan pribadinya tetapi untuk menyelamatkan banyak kepentingan urusan manusia.

Inti Kebijaksanaan

Inti kebijaksanaan sama dengan inti akhlak yang baik yaitu mendatangkan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi manusia seraya mencegah kemadorotan darinya. Orang yang bijaksana senantiasa mendasarkan seluruh tindakannya kepada ilmu dan hikmah hasil dari pengalaman, intuisi, tafakur, belajar serta aktivitas IQRO. Tindakannya didasarkan kepada pertimbangan dan landasan yang rasional, emosional serta spiritual yang matang dan dewasa. Memperhatikan kepentingan masa sekarang dan masa yang akan datang. Sehingga tindakannya tersebut memiliki nilai kebenaran dan kebaikan di sisi Allah dan hamba-hambaNya.

Inti kebijaksanaan sama dengan inti hikmah yaitu bahwa semua yang ada adalah anugrah Allah untuk kebaikan manusia semata. Jadi orang yang bijaksana senantiasa melihat dan menilai segala sesuatu dari sisi positifnya agar menjadi bahan pelajaran yang berharga bagi tindakan berikutnya. Orang yang bijaksana tidak sembarang mencela siapapun dan apapun. Orang yang bijaksana senantiasa melihat segala sesuatu secara adil, mengungkapkannya dengan adil sehingga bernilai jujur dan sekaligus memotivasi manusia untuk mencintai kebaikan dan kebenaran.

Inti kebijaksanaan sama dengan nilai kedermawanan. Orang yang bijaksana pandai dalam memberi secara tepat, tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta untuk memenuhi kebutuhannya, dan ia mengambil haknya sesuai prinsip jual beli. Orang yang bijaksana mau berkorban untuk kebaikan, mau membantu manusia untuk cerdas. Ia belanjakan hartanya, ilmunya, tenaganya, waktunya dan komitmennya untuk urusan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Orang yang bijaksana senang membantu orang lain, agar beban orang lain yang sedang menderita dan kekurangan berkurang.

Inti kebijaksanaan sama dengan nilai keberanian, yaitu mempergunakan kekuatan untuk menghancurkan kekuatan jahat yang datang menyerang dan melindungi diri dan manusia dari kejahatan apa saja yang mengancamnya. Keberanian dan amarah adalah penting untuk menggetarkan hati musuh, yakni orang-orang yang bertabiat zhalim dan membuat kerusakan di tengah kehidupan manusia. Orang yang bijaksana pandai dalam mengkalkulasi kekuatan musuh yang setiap saat datang menyerang. Orang yang bijaksana bukan berarti tidak punya musuh.

Orang-orang yang bijaksana senantiasa mengambil keputusan di atas pertimbangan dan fakta yang tepat untuk memberikan kemenangan dan kesuksesan bagi manusia atau menghindarkan mereka dari bencana berkepanjangan yang meliput manusia. Orang-orang bijaksana tidak hanya pandai dalam memberikan penjelasan, benar dan jujur, tetapi juga cerdas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi umat manusia. Ia tidak tinggal diam menyaksikan kezhaliman dan kebodohan, tidak lemah di hadapan orang-orang zhalim, pantang tergoda oleh rayuan dunia dan para penipu.

Orang-orang yang bijaksana memiliki tiga ciri penting yang tidak pernah lepas dari dirinya, bahkan itu sudah merupakan tabiat dan sifat permanennya, yaitu: menahan amarah, memaafkan dan berbuat kebaikan. Menahan amarah adalah tindakan untuk tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan yang ada untuk melumpuhkan atau menghancurkan seseorang hanya karena uruan pribadi. Ia tidak mempergunakan daya upayanya untuk menghantam seseorang yang menyakiti hatinya. Memaafkan adalah tindakan untuk merelakan kesalahan orang lain pada dirinya sebagai hal yang biasa saja. Kesalahan dan kebodohan seseorang pada dirinya dianggap angin lalu saja, tidak berpengaruh apa-apa bagi dirinya. Adapun berbuat baik, ialah memberikan nilai lebih atau kemanfaatan lebih atau mengurangi nilai negatif yang ada pada seseorang sehingga kemuliaan seseorang itu bertambah maju.

Orang-orang yang bijaksana pantang untuk menjadi seorang pemarah, pendendam atau bakhil dan tamak terhadap dunia. Ia melihat manusia seluruhnya adalah saudara yang harus diselamatkan hidup dan kehidupannya. Jika orang lain itu muslim, maka ia mencintai muslim itu sebagaimana ia mencintai dirinya, dan jika ia nonmuslim, ia pun menghormatinya sebagai sesama manusia yang diciptakan Allah Swt. Jika ia menghadapi orang bodoh, cukup dengan meninggalkannya, tidak membalas kebodohannya dengan kebodohan lagi. Jika ia seorang yang cerdas, maka diajaklah dialog dan bertukar pandangan. Yang cerdas yang pembangkang diajak dialog secara baik-baik, yang bodoh yang pembangkang tidak dilayani dengan cara dialog tapi dengan bahasa perbuatan yang santun dan tepat maksudnya.

Pelaku Kebijaksanaan

Setiap orang bisa memiliki dan sampai kepada derajat bijaksana. Hanya memang derajat tiap-tiap orang yang mencapai derajat bijaksana bertingkat-tingkat. Kita tak usah khawatir berada di tingkat manakah kebijaksanaan yang telah kita miliki. Paling tidak kita memiliki semangat untuk terus meningkatkannya. Suatu waktu kita pun akan tahu kita berada di makom yang ke berapa. Sebagai salah satu tolok ukur tingkat kebijaksanaan kita adalah dengan siapakah kita sering bergaul selama ini? Jika kita membuat garis kontinyu di mulai dari titik minus sekian menuju titik nol lalu ke titik positif, anggaplah yang minus terendah adalah kumpulan orang-orang zhalim seperti Firaun, titik Nol adalah kumpulan bayi yang baru lahir, dan titik positif tertinggi adalah kumpulan para Nabi. Bagi orang-orang yang beriman tentu saja manusia yang memiliki derajat kebijakanaan paling tinggi adalah para Nabi dan yang paling minus alias paling biadab adalah semacam Firaun dan pengikut-pengikut syaithan termasuk syaithan itu sendiri.

Anggaplah pada zaman sekarang yang dekat-dekat ke level Firaun adalah Barack Obama dengan alasan ia pemimpin orang-orang kafir yang terus menerus mendukung Sirael teroris dalam menjajah dan menyakiti orang-orang Palestina. Itulah level kaum yang paling biadab pada zaman sekarang. Obama itu mudah senyum orangnya, Firaun juga barangkali seperti itu pada zaman ia hidup. Siapa yang bergaul erat dengan Obama dan para sekutunya, mendukung program Zionis, entah itu pemimpin politik, organisasi, bisnis, seni, budaya dan lain sebagainya, maka derajat dirinya tak akan jauh-jauh amat dengan kebiadaban. Jangan harap mereka bisa mencapai derajat bijaksana dalam arti yang hakiki. Mereka berakal, ya, karena manusia. Mereka bodoh dan rugi, itulah konsekuensi logis dari sikap berakal tetapi mengabaikan peringatan dan pertemuan dengan Allah nanti. Obama pernah tumbuh dan besar di Indonesia, hebatnya Indonesia: mampu menampung dan mengantarkan calon Firaun.

Bayi-bayi yang baru lahir adalah calon manusia biadab jika diasuh oleh lingkungan Yahudi dan Nasrani serta Majusi. Sementara pintu-pintu hidayah Allah ditutup ke jiwanya karena ia dihalangi dari cahaya Islam. Ketika lahir mereka bersih dan memiliki potensi untuk menjadi tentara Islam yang memiliki loyalitas seratus persen kepada Kalimat Allah, sebab ia berasal dari sisi Allah, di dalam jiwanya telah terpatri FITRAH. Bayi-bayi yang bari lahir di tengah umat Islam pun belum bisa jadi jaminan bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang bijaksana, santun kepada sesama Muslim dan tegas terhadap kekafiran. Sebabnya itu tergantung kepada komitmen orang tua dan lingkungannya untuk mendidik dan mengasuh mereka dengan Islam. Kita membaca fakta berapa banyak keluarga yang tidak memperhatikan jiwa, ruh, mental dan sosial anak-anaknya. Mereka dibiarkan begitu saja diracuni oleh pemikiran-pemikiran thoghut dan nilai-nilai yang terpancar dari FILSAFAT MATREALISME BARAT atau FILSAFAT SPIRITUALISME TIMUR yang penuh dengan khurofat, tahayul dan Bidah. Butuh suatu komitmen yang tegas untuk mendidik bayi-bayi dan anak-anak agar mereka menjadi tentara Islam. Agar mereka menjadi orang-orang yang bijaksana di masa tugas kehidupannya.

Allah adalah Zat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mulia. Dia mengutus para Nabi yang berasal dari kalangan manusia yang terbaik pada zamannya untuk mengemban risalah dakwah. Ada empat sifat wajib pada para Nabi yaitu: Amanah, Shidiq, Tabligh dan Fathonah. Empat sifat ini bukan hanya sekedar sifat wajib, tetapi juga merupakan pilar utama kebijaksanaan dan kemuliaan secara ruhiyah. Pada masanya sekarang, siapakah yang memiliki sifat-sifat tersebut. Kita tahu bahwa para Nabi mewariskan ajaran-ajarannya kepada murid-muridnya yang setia. Seperti demikian pula Nabi Muhammad Saw mewariskan ajaran Islam kepada para Sahabatnya, Sahabat kepada para Tabiin dan para Tabiin kepada Para tabiutabiin. Tak berhenti sampai di sana, ajaran Islam terus diwariskan kepada generasi Islam berikutnya. Kalangan yang menerima ajaran Islam dengan konsep yang mendalam, itulah para Ulama. Tentu saja para ulama pun mewarisi sifat-sifat nabi yakni Amanah, Shidiq, Tabligh dan Fathonah, sesuai dengan derajatnya masing-masing. Maka contoh manusia zaman sekarang yang memiliki derajat kebijaksanaan paling tinggi adalah para Ulama. Namun sulitnya kita menemukan ulama dengan level yang lebih hebat dari seorang presiden, dokter, arsitek dan jendral sekaligus.

Kebijaksanaan diri

Kebijaksanaan diri mencakup sifat dan sikap, keadaan dan perbuatan. Kebijaksanaan berupa sifat maka ia harus berupa akhlak, tafakur, hikmah, keberanian, kedermawanan, shidiq, fathonah, tabligh dan amanah. Ketika kebijaksanaan berupa sikap, maka kebijaksanaan berada dalam kaitan, secara garis besar, dengan IPTEK, IMTAQ, dan FILSAFAT MORAL. Ketika kebijaksanaan berupa keadaan maka ia berwujud keanggunan, kebersihan, kerapihan, kewibawaan, keagungan, kekuasaan dan kekuatan. Dan ketika kebijaksanaan berupa perbuatan maka kebijaksanaan itu ialah berupa mujahadah, muroqobah, muhasabah, muaqobah, taubat, dzikir, doa, ikhtiar. Amar makruf dan Nahyi munkar serta jihad fie sabilillah.

Setiap diri dianugrahi rizki dan karunia. Rizki tidak hanya berupa materi semata, tetapi juga mencakup ilmu, waktu, tenaga, kemauan, kesempatan, semangat, tantangan, organisasi, peradaban dan lain sebagainya. Karunia adalah nilai yang menjadikan rizki menjadi sarana bagi terwujudnya kebaikan di dunia dan akhirat. Agar rizki menjadi karunia, kita butuh adanya hikmah, taufik dan hidayah dari sisi Allah Swt. Singkatnya kita membutuhkan Islam sebagai aturan untuk mengelola rizki kita. Kebijaksanaan sebagaimana dijelaskan di atas tidak akan terwujud dalam diri kita kalau rizki yang ada pada kita tidak menjadi sarana bagi penanaman dan pengaktualisasian Islam. Artinya kebijaksanaan membutuhkan suatu komitmen pengorbanan rizki untuk dijadikan kekuatan bagi terwujudnya Islam sebagai aturan dalam hidup kita.

Setiap diri memiliki suatu orientasi hidup yang bersifat aqidah, ideologis, politis, pragmatis, strategis, teknis, taktis hingga mentalis. Bagaimana wujud dari orientasi hidup orang-orang yang bijakana? Dan bagaimana ia memperlakukannya? Semua kembali kepada WORLD VIEW yang jadi pegangannya. Sesungguhnya aqidah Islam adalah aqidah yang menggariskan tiga dimensi penting yang sangat menentukan corak kehidupan manusia, yang selanjutnya memisahkan antara orang yang memiliki kebijaksanaan dengan orang-orang yang biadab. Tiga dimensi ditinjau dari sudut ontologis, epistemologis dan aksiologis.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa jika manusia berpegang kepada Islam, maka manusia akan menjadikan IMTAQ sebagai Aksiologi, IPTEK sebagai Epistemologi, dan MORAL sebagai Ontologi. Dan muara dari sikap ini adalah sikap bijaksana. Sikap bijaksana akan mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dan mencegah bencana besar yang akan menimpa mereka jika hidup tanpa Islam sebagaimana yang pernah terjadi.

Manusia senantiasa punya dorongan internal, suatu dinamika aktif untuk bertambah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Perkembangan yang paling tampak pada segi IPTEK. Sedangkan FILSAFAT MORAL dan IMTAQ cenderung menurun. Iptek memiliki kecenderungan keduniawian, energi dan materi, Filsafat Moral memiliki kecenderungan keglobalan dan kemanusiaan, sedangkan Imtaq kecenderungan lebih kepada keukhrowian dan Spiritual. Pola pengembangan tergantung kepada visi dan misi atau WORLD VIEW. ISLAM sangat mendukung perkembangan ketiga ranah tersebut. Islam merupakan World view orang-orang yang beriman. Dunia harus di tangan, Kedamaian harus di jasad, dan Akhirat harus di hati. Hati adalah Raja.

Bogor, 20 Juli 2010


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: