Filsafat Berfikir

MENIKMATI PENGHORMATAN MANUSIA | Agustus 17, 2010

Oleh: Ading Nashrulloh Adz.

Latar Belakang
Dalam hidupnya manusia memerlukan interaksi yang disebut interaksi sosial. Dalam interkasi sosial itu, setiap orang memerlukan penghargaan dan pengakuan dari sesamanya. Tidak ada orang yang memilih cara hidup untuk dikucilkan dan dibenci manusia. Sekalipun dalam kenyataannya kemudian ada manusia yang dikucilkan dan direndahkan di mata hukum dan moral, disebabkan oleh perbuatan buruknya yang terbongkar. Kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa penghormatan manusia kepada kita amatlah mahal, sehingga perlu dipertahankan dengan kesungguhan hati dan dedikasi yang kuat. Memang kadar hakiki dan perbuatan baik dan buruk kita, Allah lah yang secara tepat Maha Tahu tentang kualitas dan nilai diri kita, namun secara habluminannas pun kita harus mencoba mendekati kualitas kepribadian dan sikap yang terbaik.

Pokok Persoalan
Mengapa manusia menghormati kita? Bagaimanakah sikap kita berikutnya jika kita telah memperoleh penghormatan dari manusia? Langkah-langkah apa saja yang harus kita perbuat agar martabat kita tidak luntur di mata mereka?

Timbulnya penghormatan.

Pertama-tama seseorang dihormati adalah karena ia manusia. Selanjutnya ia dihormati karena hartanya atau status sosialnya, kemudian karena akalnya dan berikutnya karena akhlaknya.

Manusia dihormati karena ia manusia. Manusia akan senantiasa dihormati akan hak-haknya selagi ia masih hidup hingga ia dikuburkan, sekalipun ia miskin, berakhlak buruk, bodoh, tidak beragama dan berstatus rendah di tengah masyarakatnya. Tetapi penghormatan itu diberikan karena kesadaran manusia yang tahu akan kewajibannya terhadap sesamanya. Secara umum manusia dihormati oleh sesamanya karena ia manusia. Seseorang dihormati karena ia manusia, jika tidak diikuti oleh kualitas-kualitas yang berikutnya berupa harta, ilmu, keturunan dan agama, tentu pernghormatan itu tidak setinggi penghormatan manusia yang diberikan kepada orang yang berilmu dan beragama.

Manusia dihormati karena hartanya. Tentang bagaimana dan mengapa manusia yang berharta dihormati lebih daripada orang-orang yang miskin dapat kita pahami secara faktual. Manusia bukan hanya membutuhkan harta tetapi juga bahkan mencintainya dan selalu menginginkannya. Andaikan manusia diberikan kepadanya satu lembah emas, maka ia akan mencari satu lembah lagi sebagai tambahan. Pada gilirannya manusia ada yang berhasil meraih kekayaan yang banyak berupa harta itu. Dengan hartanya ia bisa menikmati kehidupan dan memberikan kenikmatan pada sebagian orang-orang. Sehingga wajar orang yang berharta lebih dihormati daripada yang miskin. Namun penghormatan manusia dikarenakan kekayaan sifatnya tidak lama, hanya selama harta itu ada bersamanya. Sementara manusia tidak berkuasa sama sekali akan hartanya di masa depan, apakah masih juga kaya ataukan kemudian jatuh miskin.

Manusia dihormati karena ilmunya. Banyak sekali jabatan, kedudukan, dan fungsi yang dapat diperoleh seseorang karena ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Seseorang karena ilmunya diberikan suatu jabatan, dan karena jabatan itu kemudian ia memperoleh penghormatan dari manusia. Kita bisa membandingkan bagaimana sikap manusia terhadap seorang Professor Doktor dibanding terhadap seorang sarjana, tentu saja doktor itu yang mendapatkan penghargaan lebih. Bahkan dengan orang-orang kaya pun, orang-orang yang berilmu lebih dihormati keberadaannya. Sebabnya orang-orang yang berilmu itu berfungsi menjaga, sedangkan orang-orang berharta berfungsi yang dijaga.

Manusia dihormati karena akhlaknya. Selanjutnya kita juga mengamati bahwa orang-orang yang berakhlak mulia lebih dihormati manusia ketimbang orang yang tidak berakhlak. Lebih dari itu di masyarakat kita menyaksikan bahwa orang-orang yang berakhlak dan memberikan manfaat yang banyak bagi manusia lebih dihormati manusia dari orang-orang yang sekedar berilmu saja. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berakhlak mulia dalam setiap bagian kehidupannya memiliki peranan dalam menjaga kedamaian dan pebaikan di tengah kehidupan secara umum. Sehingga sosok orang-orang yang berakhlak menjadi tumpuan harapan akan kebaikan dan perbaikan.

Manusia dihormati karena agamanya. Akhlak yang baik menjadi barometer kemuliaan tertinggi masyarakat manusia, tetapi itu tidak menjadikan manusia benar-benar mulia secara lahir batin. Sebab sekedar akhlak saja tanpa mengenal keberadaan manusia yang hakiki di muka bumi, manusia akan kehilangan arah dari segenap eksistensinya termasuk akhlaknya itu. Orang yang berakhlak jelas akan dihormati di mata manusia, namun secara spiritual ia belum tentu mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt. Oleh sebab itu kemuliaan yang tertinggi adalah kemuliaan karena ketakwaan. Ketakwaan lahir dari pengetahuan dan sikap yang benar terhadap agama yakni Islam. Sehingga orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Manusia dihormati karena kematiannya ia tetap dalam kemuliaan akhlak dan agamanya. Setakwa-takwanya manusia, jika kematian belum sampai kepadanya, masih ada peluang bahwa dirinya bisa saja terseret ke lembah kesesatan. Sehingga pada akhirnya orang yang sampai kepada kemuliaan sempurna sehingga ia patut untuk dimuliakan oleh Allah ataupun makhlukNya adalah orang-orang yang yang wafat dalam keadaan sebagai seorang muslim: yakni orang-orang yang meninggal dalam keadaan tetap menjalankan ketakwaan.

Sesungguhnya agama adalah faktor yang menyempurnakan akhlak manusia. Dan kematian adalah faktor yang menyempurnakan agama seseorang. Akhirnya dapatlah kita pahami bahwa penghormatan manusia yang paling langgeng dan abadi sampai setelah kematian telah menjemputnya sekali pun yang diberikan kepada seseorang adalah karena faktor akhlaknya. Sehingga wajar untuk sampai pada kualitas akhlak yang terbaik perlu ditunjang oleh akal yang berilmu, jasad yang berharta dan berstatus sosial tinggi. Bahkan lebih dari itu, untuk mencapai suatu tingkat akhlak yang terbaik Allah menurunkan Islam dan mengutus para NabiNya.

Oleh sebab itu kunci untuk mencapai penghormatan manusia, kita perlu meningkatkan akhlak kita dalam dimensi seluas-luasnya. Ada tiga dimensi orientasi akhlak manusia. Orientasi itu adalah harta, akal dan spiritual. Bila orientasi akhlak kita karena harta maka sesungguhnya itu akan menimbulkan kemunafikkan dan kerusakan di tengah kehidupan manusia. Bila kita menjadikan akal sebagai orientasi akhlak, maka yang timbul adalah kesombongan dan kesesatan keyakinan dan ideologi. Bila orientasi akhlak kita adalah spiritual berupa aqidah Islam, maka yang akan timbul adalah keselamatan, rahmat dan keberkahan. Untuk mencapai tingkat akhlak yang terbaik dengan akibatnya yang terbaik pula, kita perlu menjadikan aqidah Islam sebagai orientasi utama dan pokok dalam berakhlak. Dimensi akhlak yang harus kita kembangkan adalah akhlak yang berbasis Tauhid. Ketakwaan adalah akhlak yang berbasis tauhid.

Perlunya akhlak yang baik

Manusia menghormati kita karena akhlak kita lebih baik dari rata-rata akhlak mereka. Jika umumnya orang-orang memberikan uang Rp 1000 setiap kali ia keluar dari WC umum, cobalah kita usahakan sekali-kali memberikan RP 100.000 dengan niat sedekah. Pasti kita akan lebih dihargai, minimal oleh mereka yang kita beri. Akhlak yang baik perlu ditunjang oleh ilmu, harta, agama dan niat untuk melangsungkannya hingga datang kematian.

Akhlak yang baik secara umum artinya adalah sikap dan perlakuan yang baik diri kita kepada segala sesuatu sesuai dengan konteksnya. Baik dan buruknya sikap dan perlakuan kita diukur menurut standar yang empat yaitu: moralitas, adat istiadat, agama dan hukum. Segala sesuatu maksudnya adalah Tuhan, manusia dan alam semesta. Sedangkan sesuai konteknya adalah sesuai dengan situasi diri kita yang sering berubah-rubah dalam hal waktu, tempat dan situasinya. Manusia secara umum tidak boleh dibunuh, tetapi dalam konteks tertentu tidak membunuhnya malah menjadi biang kerusakan yang luas. Berlaku lemah lembut adalah akhlak yang baik, tetapi sikap tegas dan marah pun bisa termasuk akhlak yang baik pula. Marah pun bernilai akhlak yang baik di dalam konteks yang tepat.

Sikap dan perlakuan yang baik diri kita kepada segala sesuatu mencerminkan bahwa akhlak merupakan nilai atau harga jati diri seseorang di tengah kehidupannya. Seseorang dihargai boleh jadi karena jabatan dan pangkatnya, pekerjaan dan kekayaannya, peran dan status sosialnya. Tetapi penghargaan yang sesungguhnya lebih diberikan karena alasan moral atau akhlak. Tidak sedikit orang yang tinggi jabatannya, banyak kekayaannya dan memiliki peran yang luar biasa tetapi kemudian orang memandangnya rendah, dikarenakan ia tidak memiliki akhlak yang baik. Boleh jadi ia banyak pengikut dan kawan, tetapi juga ternyata sama-sama berakhlak rendah. Begitu tingginya penghargaan karena alasan akhlak, disebabkan akhlak itulah sebenarnya yang merupakan jati diri seseorang. Memperhatikan akhlak berarti memperhatikan jati diri kita yang paling dalam.

Jati diri kita memiliki sisi yang baiknya juga memiliki sisi yang buruknya: tentang akhlak yang buruk bisa diubah dengan adanya pembinaan. Akhlak adalah suatu praktek, suatu kenyataan real di dalam kenyataan hidup kita. Berbicara konteks praktek maka berkaitan dengan kebiasaan dan pembinaan. Kebiasaan adalah perkara yang kita ulangi terus menerus di waktu-waktu yang sudah lewat dan memiliki kecenderungan untuk terus melakukannya. Seringkali kita tidak sempat memikirkan mengapa kita memiliki kecenderungan tersebut. Kebiasaan timbul karena faktor lingkungan dan faktor kenyamanan batin kita sendiri. Akhlak lahir dari suatu kebiasaan. Bila kita sadar bahwa kebiasaan itu kurang baik untuk melahirkan akhlak yang baik, maka seyogyanya kita mengubah kebiasaan itu. Bagaimana cara mengubah kebiasaan? Caranya adalah dengan pembinaan. Pembinaan berkaitan erat dengan ilmu, pendidikan dan pelatihan. Hal ini terkait erat pula dengan dasar pandangan hidup. Sebab kita tidak akan sembarang mengikuti pembinaan yang tidak sejalan dengan dasar pandangan hidup kita.

Kita hanya akan mengikuti pembinaan akhlak yang sesuai dengan akidah dan ideologi yang kita miliki sebab akhlak adalah implementasi real dari ilmu dan cara pandang hidup di tengah pergaulan. Selalu akhlak yang baik itu timbul dari ilmu dan cara pandang yang baik dan benar. Ilmu dan cara pandang kehidupan yang salah, sesat dan dusta selalu menimbulkan kerusakan di muka bumi, menimbulkan kekacauan dan penderitaan. Banyak sekali akhlak yang buruk timbul dari dianutnya ilmu dan cara pandang yang keliru. Contohnya adalah filsafat matrealisme. Ini adalah ilmu dan cara pandang kehidupan yang penuh kedustaan. Setiap bagian dari ilmu itu disusun penuh dengan kedustaan. Dan setiap kedustaan apapapun adalah jalan menuju kejahatan. Kejahatan bekerjasama dengan berbagai beranekaragam keburukan lainnya dan memanfaatkan apapun untuk mendukung kebejatan dan kekacauan yang luas di muka bumi ini. Sebaliknya Akidah Islam adalah merupakan satu-satunya ilmu dan cara pandang kehidupan yang benar, inilah yang merupakan mata air bersih yang melahirkan akhlak-akhlak yang mulia. Konsekuensi logis dari kenyataan ini ialah sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar dan mengajarkan al-Quran, sebab al-Quran merupakan mutiara akhlak Rasulullah sedangkan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Konsekuensi ini dapat kita terima karena akidah Islam dirumuskan berdasarkan kandungan al-Quran.

Akidah Islam mengarahkan akhlak kaum muslimin dan memang akhlak ini adalah sasaran diturunkannya Islam, maka seyogyanya orang yang beragama, akhlaknya pun lebih utama. Al-Quran mengajarkan kepada kita syahadat, shalat, zakat, shaum, haji, iman, hijrah, jihad, kurban, dan lain sebagainya. Belajarlah dari syahadat untuk menjadi seseorang yang berakhlak baik. Belajarlah dari shalat untuk seseorang yang kaya dengan akhlak yang baik. Belajarlah dari zakat untuk menjadi seseorang yang mulia secara akhlak. Belajarlah dari shaum untuk bertambah baik akhlak kita. Belajarlah dari haji untuk sampai pada kemuliaan sejati atas akhlak kita. Belajarlah dari Islam tentang segala sesuatu yang diajarkannya, maka akhlak kita akan sampai kepada puncak-puncak kemuliaan. Bagiamana praktek akhlak mulia sampai hal sedetil-detilnya, belajarlah dari perjalanan Rasulullah, para sahabat dan para ulamanya. Umat Islam memiliki khazanah yang kaya tentang praktek akhlak yang baik dan mulia sehingga umat Islam mendapatkan penghormatan bukan hanya dari manusia sebatas, tetapi juga dari malaikat dan pencipta mereka yaitu Allah Swt.

Bagaimana Umat Islam sampai kepada akhlak yang terbaik? Akhlak yang baik memiliki tingkatan-tingkatan dalam hal kualitas dan keluasannya. Takwa adalah sejenis akhlak yang baik dan menempati posisi teratas dari akhlak. Jika seseorang ingin sampai kepada kualitas akhlak yang terbaik maka ia harus berusaha menjadi orang yang bertakwa. Dan jika seseorang ingin sampai kepada ketakwaan yang sempurna maka ia harus memperbanyak rasa bersyukur kepada Allah. Jika seseorang ingin banyak bersyukur kepada Allah maka ia harus sering memperbincangkan kenikmatan yang diberikan Allah kepadaNya. Jika seseorang ingin banyak berbicara tentang kenikmatan dari sisi Allah, maka ia harus banyak mentafakuri tiga perkara: diri, alam dan al-Quran. Semakin banyak kita melakukan aktifitas IQRO terhadap diri, alam dan al-Quran maka insya Allah kita akan sampai kepada setinggi-tingginya ilmu, rasa syukur, takwa dan akhlak yang baik. Umat Islam sampai pada ketinggian akhlaknya karena aktivitas IQRO mereka. Jangan heran bahwa hakikat orang yang bodoh itu adalah orang yang melupakan dirinya sendiri.

Akhlak yang baik menimbulkan kebaikan, kedamaian dan hilangnya berbagai keburukan.
Setiap urusan bila diiringi oleh akhlak yang baik akan menambah keuntungan dan rasa suka manusia untuk mendatanginya. Kehidupan yang damai dan tentram dibangun di atas akhlak yang baik dan sangat sulit membangun kehidupan semacam itu bila manusia menyusun kehidupannya di atas akhlak yang buruk. Karena begitu pentingnya akhlak maka setiap orang mestinya memiliki program hidup untuk terus memperbaiki keadaan akhlaknya sebagaimana ia memiliki program untuk bertambah kaya dan berilmu. Untuk berakhlak dibutuhkan ilmu dan penguasaan terhadap kenyataan modernitas. Akhlak yang baik akan tertanam dengan baik melalui pembiasaan, peniruan, pendidikan, pelatihan, dan kesadaran spiritual yang matang. Setiap bagian perintah agama memberikan kontribusi bagi terwujudnya akhlak yang baik pada umatnya. Keluarga, masyarakat dan negara seyogyanya menjadikan akhlak sebagai standar utama dalam menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai terlebih lagi di bidang pendidikan. Penghormatan yang diperoleh dari manusia sehubungan dengan apapun yang kita lakukan termasuk karena faktor akhlak mestilah menjadi pemicu untuk meningkatkan akhlak lebih baik lagi. penghormatan manusia atas akhlak yang baik adalah penghormatan yang sejati, karena tidak ada lelucon atas nilai moral.

Jangan melanjutkan keburukan sekalipun manusia tidak ada yang tahu.
Adalah mustahil manusia terlepas dari kesalahan dan kekhilfan baik yang disengaja ataupun tidak. Pada dasarnya perbuatan buruk adalah perkara yang membuat diri kita malu untuk melakukannya jika ada orang lain yang melihatnya. Begitu pun rasa malu akan mendera kita ketika perbuatan itu akhirnya diketahui orang, padahal kita sudah lama melakukannya dan hampir-hampir lupa dengan kejadiannya. Oleh karena itu perbuatan buruk yang pernah kita lakukan jangan pernah kita ulangi kembali. Sebisanya carilah cara untuk menggantikannya dengan sesuatu yang baik, halal dan benar.

Setiap orang pasti pernah melakukan suatu kebodohan dan kesalahan. Namun kita melihat selalu orang itu ada yang tetap dihormati oleh orang lain. Apakah orang yang selama ini dihormati oleh manusia tidak memiliki kesalahan? Jawabnya orang itu pasti memiliki kesalahan, tetapi kita tidak tahu wujudnya seperti apa. Dan kesalahannya itu malah menjadi moment terbaik bagi dirinya untuk terus memperbaiki diri. Artinya ia telah bertaubat dari kesalahan itu kemudian ia berusaha menggantikannya dengan perbuatan yang lebih baik dan mulia. Oleh sebab itu kesalahan yang pernah kita perbuat tetap bermanfaat. Kalau kita berhasil mengubahnya. Menjadikannya sebagai kesempatan untuk meninggalkannya sehingga tidak terulang lagi.

Sebagian kesalahan kita terkadang akhirnya manusia tahu, maka menurunlah penilaian manusia terhadap diri kita. Sebenarnya ketika manusia tahu akan kesalahan kita, langkah terbaik adalah segera mengakuinya dan tidak usah menutup-nutupinya lagi, tidak berguna. Setelah langkah itu kita tempuh, barulah kita bisa memperbaiki diri. Yang paling utama dari suatu kesalahan adalah sikap mengakui dan kemauan untuk memperbaikinya. Memperbaikinya artinya menggantinya dengan perbuatan yang baik. Selalu ada kesempatan untuk berubah menjadi baik selama jantung masih berdenyut dan kesadaran masih ada. Namun juga jangan melambat-lambatkan taubat atau perbaikan diri, sebab hal itu sama artinya membiarkan diri kita tenggelam dalam kesalahan demi kesalahan.

Jangan menunggu orang tahu tentang kesalahan yang selama ini kita lakukan terus menerus. Sebab dampaknya akan sangat memojokkan dan merugikan jika suatu saat manusia menjadi tahu. Lebih dari itu, orang-orang yang beriman, ia tahu dan yakin bahwa sekali pun manusia tidak mengetahui tentang keburukan dirinya, Allah senantiasa mengawasi dan mencatat segala perilakunya untuk kemudian dibalas oleh adzabNya. Andaikan manusia tidak akan pernah tahu tentang kesalahan kita, Allah tahu, hati nurani kita akan senantiasa menghukum diri kita. Sebab itu hentikan segera tingkah laku apa pun jika itu keliru, salah dan melanggar aturan agama, moral, hukum dan adat istiadat, sekalipun manusia tidak akan berhasil membongkarnya. Jika Allah menghendaki aib kita dibukakanNya, tentu tidak ada kekuatan yang mampu menutupinya.

Penghormatan manusia adalah penting nilainya dalam hidup ini, sekalipun bukan tujuan hidup itu sendiri. Oleh sebab itu, jangan pernah melakukan perkara yang dapat mengundang cibiran dan cacian mereka. Jangan pernah kita melakukan pelanggaran terhadap agama, moral, hukum dan adat istiadat yang berlaku. Dan hendaknya kita menjadikan agama sebagai patokan pertama untuk menakar nilai-nilai yang ada dalam moral, hukum dan adat itu, agar diri kita memiliki nilai di hadapan Allah Swt.

Butuh upaya meningkatkan martabat diri melalui peranan.

Manusia dalam pandangan Allah dinilai dari kualitas hati dan ketakwaannya. Bukan sama sekali dinilai dari kualitas harta, ilmu, status sosial, keturunan, jabatan dan gelarnya. Hati dan takwa itulah yang merupakan pondasi penilaian atas yang lainnya. Artinya jika seseorang berhati ikhlas dan berkepribadian takwa, maka harta, ilmu, status sosial, keturunan, jabatan dan gelarnya memiliki nilai lebih. Jadi sebenarnya hal-hal tersebut penting juga. Harta, ilmu, jabatan, gelar itu penting, karena merupakan kendaraan untuk mengimplementasikan nilai-nilai keikhlasan dan ketakwaan.

Manusia akan menghargai dan menghormati orang-orang yang berjasa bagi umat manusia ketimbang orang-orang yang tidak berjasa atau orang-orang yang malah membuat kerusakan di muka bumi.

Memperluas pergaulan untuk meraih hikmah dan kebijaksanaan.

Berdasarkan penjelasan panjang lebar di atas maka sekarang kita harus sampai kepada kaidah penting bahwa penghormatan yang diberikan kepada kita adalah karena dua hal. Pertama kita mampu menunjukkan komitmen untuk berakhlak baik. Dan kedua kejelekan-kejelakan yang kita lakukan selama ini ternyata ditutupi dari mata manusia. Andaikan manusia tahu akan semua keburukan-keburukan kita, tentu mereka tidak akan sudi menghormti kita. Namun ini bukan suatu alasan bagi kita untuk terus melakukan keburukan, hanya karena Allah masih menutupinya.

Jadi kesimpulannya penghormatan dari manusia itu merupakan suatu karunia dari sisi Allah, melengkapi karunia yang lainnya. Kita butuh adanya pengakuan dari orang lain atas eksistensi diri kita di tengah mereka. Kita akan berusaha menempatkan diri sesuai kadar peran yang sanggup kita mainkan. Jangan menganggap bahwa penghormatan dari manusia itu tidak penting, sebab ternyata kita melihat keterkaitannya dengan akhlak. Tidak semata-mata orang menghormati kita melainkan karena kita masih memiliki akhlak, dan cabang dari akhlak itu adalan peranan kita yang memberikan manfaat bagi mereka.

Sesuai kesimpulan di atas maka kita sekarang mengerti dan faham bahwa penghormatan manusia itu ternyata memberikan kenikmatan batin. Juga memberikan rasa konsep diri yang jelas akan status dan martabat kita. Boleh jadi ini relatif, tapi tetap penting dan dibutuhkan. Kita pun menikmatinya, sebagaimana bila kita tidak dihormati, serasa ada yang kurang dalam diri kita.

Untuk menikmati penghormatan manusia, rumusnya ada tiga: Pertama, jangan mengecewakan mereka. Kedua, berikan manfaat bagi mereka. Ketiga, diamlah dalam urusan mereka yang kita tidak tahu ilmunya.

Bogor, 15 Agustus 2010


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: