Filsafat Berfikir

AKHIRAT | Juli 26, 2011

AKHIRAT
A. AKAL, DUNIA DAN AKHIRAT

Dunia ini adalah alam yang fana dan bohong belaka. Keindahan alam dunia Allah Swt ciptakan adalah agar manusia mengenal kepada Allah Swt. Itulah maksud Allah Swt. menciptakan akal. Adanya langit, matahari, bintang, bulan, lautan, gunung-gunung adalah agar manusia paham siapa yang menciptakannya. Agar akal manusia paham bahwa dibalik semua itu ada yang menciptakan dan yang mengaturnya. Maka nanti ketika kita mati maka akal kita akan ditanya untuk apa digunakan selama hidup di dunia. Tanggung jawab akal kita yang pertama harus kita tunaikan adalah bagaimana akal kita ini mengenal dan memahami Allah Swt.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al Ghaasyiyah 17-20)

Akal adalah karunia yang Allah Swt berikan kepada manusia, yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk Allah Swt yang lain. Ketinggian derajat manusia dibandingkan dengan mahkluk yang lain adalah karena manusia memiliki akal. Namun Allah Swt menghendaki agar akal kita digunakan untuk memikirkan tentang keberadaan dan keEsaan Allah Swt. Jika akal manusia digunakan untuk memikirkan keberadaan dan keEsaan Allah maka manusia akan mengenal Allah Swt. Dan akal manusia akan menjadi bernilai di sisi Allah Swt.. Padahal akal manusia yang Allah ta’ala ciptakan memiliki kapasitas dan kemampuan berpikir yang luar biasa.

Di dalam otak manusia dimana manusia menggunakan akalnya terdiri dari 200 Milyar sel otak, Mampu menampung 100 Milyar bite informasi (bandingkan dengan hardisk komputer kita), Kecepatan berpikir hingga 300 mil/jam, Konfigurasi 100 trilyun hubungan yang mungkin, Kapasitas 4.000 pikiran dalam 24 jam.

Allah Swt telah menciptakan suatu komponen yang tak terbayangkan di dalam tubuh kita yaitu akal. Dengan kemampuan akal manusia tersebut maka manusia sebenarnya mampu untuk menggunakan akalnya untuk menyimpan jutaan informasi tentang keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Akan tetapi saat ini kita sekarang masih menggunakan sebagian kecil akal kita hanya untuk mendalami dan mempelajari tentang keduniawian. Bahkan sebagian orang telah mengotori akal dan pikirannya untuk memikirkan bagaimana bermaksiat kepada Allah Swt.

Kita sering melihat langit, matahari, bintang, gunung-gunung, petir dan ciptaan-ciptaan Allah yang lain, tapi akal kita senantiasa jarang menghubungkan bahwa dibalik itu semua ada sesuatu yang Maha Dahsyat yang menciptakannya. Ketika kita melihat laut tidak terpikir dalam akal kita betapa Allah Swt luar biasa sekali menciptakannya dan mensuplai air yang tak pernah habis sejak jaman dulu kala. Ketika kita melihat indahnya warna bunga-bunga kita hanya sanggup mengaguminya tanpa berpikir betapa indahnya Allah ta’ala menciptakan warna-warna pada bunga. Ketika kita melihat api yang panas kita terlalu sering lupa bahwa yang menciptakan sifat panas pada api adalah Allah Swt. Ketika kita melihat petir maka tidak timbul rasa takut dalam diri kita betapa Allah ta’ala menciptakan petir untuk bertasbih memujiNya. Sekarang ini kebanyakan kita menggunakan akal adalah untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan syahwatnya.

Padahal maksud lain Allah ta’ala menciptakan akal juga adalah untuk manusia berpikir bahwa di dunia ini semuanya serba terbatas. Ada kehidupan dan kematian, ada awal dan akhir. Akan tetapi kebanyakan kita sering melupakan hal tersebut. Kebanyakan kita selalu berangan-angan panjang tentang dunia dan selalu memikirkan kesejahteraan hidup di dunia akan tetapi melupakan akhirat. Manusia terlalu sering sibuk dan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat dunia. Dibalik kehidupan dunia yang fana ini sebenarnya telah menghadang suatu alam ghaib yang bernama kubur dan akhirat. “Semua yang bernyawa pasti mengalami kematian”. Dan jika nanti kita mati maka kita akan terheran-heran melihat keberadaan alam akhirat yang sungguh-sungguh berbeda dengan alam dunia baik dari sisi dimensinya maupun waktunya. Rasulullah saw. adalah manusia satu-satunya yang pernah diperlihatkan tentang alam akhirat. Beliau mengabarkan bahwa batu neraka yang paling kecil adalah sebesar seluruh gunung yang ada di muka bumi ini. Beliau juga mengabarkan bahwa alam akhirat panjang waktunya adalah 1 hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia untuk orang yang beriman dan 50.000 tahun dunia untuk orang yang mengingkarinya. Dan alam akhirat adalah abadi. Tidak ada batasan waktu mengenai alam akhirat. Dikatakan oleh alim ulama bahwa perbandingan besarnya alam dunia dengan alam akhirat ini adalah seperti alam kandungan dengan dunia ini. Jika alam dunia ibarat kandungan seorang wanita maka alam akhirat seperti alam dunia ini. Begitulah perbandingannya. Namun ini mungkin saja hanya sekedar gambaran supaya manusia mudah memahami besaran dan panjangnya waktu alam akhirat. Sesungguhnya alam akhirat tidak pernah terbayangkan besar dan lamanya oleh akal manusia. Maka maksud sebenarnya Allah menciptakan dunia adalah sebagai tempat persinggahan agar manusia banyak-banyak mempersiapkan bekal untuk alam akhirat.

Sayang sekali potensi akal manusia yang begitu luar biasa tidak dipergunakan untuk memikirkan keberadaan alam akhirat. Dunia ini adalah ibarat sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara alam ruh dengan alam akhirat. Alam dunia diapit oleh dua alam yang memiliki dimensi yang besar sekali yaitu alam ruh dan alam akhirat. Alam ruh adalah alam dimana kita pernah tinggal dan berjanji dan mengakui bahwa Allah swt adalah tuhan semesta alam. Ketika kita dihadirkan oleh Allah Swt. ke alam dunia, maka kebanyakan manusia lupa akan janjinya. Dunia adalah tempat persinggahan sementara yang sangat singkat waktunya. Dahulu Rasulullah Saw sering menasehatkan kepada para sahabatnya agar para sahabat senantiasa takut dan menangis akan kedahsyatan alam akhirat. Sehingga ketika Rasulullah menceritakan kedahsyatan alam akhirat para sahabat seperti benar-benar melihat alam akhirat dan kebanyakan mereka berjatuhan pingsan mendengarnya. Para sahabat senantiasa takut akan alam akhirat, sehingga mereka giat dan berlomba-lomba untuk berbuat amal shaleh agar mereka dapat selamat dari azab alam akhirat. Sholat mereka senantiasa membawa rasa takut dan cemas yang luar biasa. Sehingga tak jarang para sahabat dalam sholatnya dijumpai menangis menggigil karena takut akan Allah Swt dan alam akhirat. Sebaliknya kita sholat menangis karena takut akan miskin di dunia.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”. (AL ANFAAL (Rampasan perang) ayat 2)
http://hanafishahdan.blogsome.com/2007/05/24/akal/

Ciri-ciri Khas Alam Akhirat
Seseorang tidak mungkin memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai persoalan-persoalan yang belum ia alami atau belum mengetahuinya secara hudhuri, atau belum ia sentuh dengan indranya. Berangkat dari kenyataan ini, kita tidak dapat meyakini hakikat alam akhirat dan keadaan-keadaannya secara detail dan sempurna, kita juga tidak dapat menyingkap hakikat-hakikatnya. Meski begitu, kita bisa mengetahui sifat-sifat akhirat melalui akal atau wahyu. Lain dari itu, sepatutnya kita menahan diri untuk melampaui dua jalur pengetahuan ini.
Sangat disayangkan bahwa—dari satu sisi—kita melihat sebagian orang berusaha menggambarkan alam akhirat itu layaknya dunia ini, sehingga mereka beranggapan bahwa surga yang tinggi itu ada di dunia ini, dan berada di satu atau bebarapa planet di langit, dan pada suatu hari nanti—sebagai konsekuensi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan yang baru dan canggih—manusia akan pindah ke surga tersebut agar dapat hidup di sana dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Dari sisi lain, kita melihat sebagian orang mengingkari wujud nyata alam akhirat, dan menganggap bahwa surga itu adalah nilai-nilai akhlak yang disandang oleh orang-orang yang baik, bijak dan berbakti kepada bangsa dan masyarakatnya. Mereka berkeyakinan bahwa perbedaan antara dunia dan akhirat adalah perbedaan antara manfaat dan nilai.
Yang perlu ditanyakan kepada kelompok pertama ialah apabila benar surga itu ada di planet lain dan pada suatu saat nanti generasi mendatang akan sampai ke sana, lalu apa artinya seluruh manusia itu dihidupkan kembali pada Hari Kiamat kelak, dimana peristiwa ini didukung oleh Al-Qur’an? Dan, bagaimana pula pemberian pahala dan siksa itu bisa terjadi atas semua perbuatan makhluk di sana?
Juga perlu ditanyakan kepada kelompok kedua, apabila benar surga itu berupa nilai-nilai moral, dan bahwa jahanam itu hanyalah lawan dari pada nilai-nilai tersebut, mengapa Al-Qur’an senantiasa menekankan Ma’ad dan menekankan kebangkitan manusia setelah kematian? Jika benar demikian, apakah tidak lebih baik para nabi itu berterus terang akan kenyataan ini, sehingga mereka tidak dituduh sebagai orang gila dan berbicara bohong?
Tatkala melampaui dua pandangan lemah ini, segera kita akan menjumpai perselisihan antara kaum mutakallim (teolog) dan kaum filosof mengenai satu masalah Ma’ad; apakah kebangkitan jasmani atau ruhani, dan pada masalah-masalah lainnya seperti: apakah alam materi ini akan sirna sama sekali ataukah tidak? Apakah tubuh ukhrawi itu adalah tubuh duniawi itu sendiri ataukah berbeda?
Meskipun upaya-upaya rasional dan filosofis dalam rangka mendekati dan mengungkap hakikat tersebut perlu dihargai, namun upaya-upaya itu mengandung titik-titik kelemahan di samping titik-titik kekuatannya. Tampaknya, kita akan sulit menyingkap hakikat kehidupan akhirat melalui jalan akal dan filsafat.
Sejatinya, sampai saat ini apakah kita betul-betul mengenal hakikat dunia ini secara sempurna? Apakah mungkin para ilmuwan dari berbagai bidang; fisika, kimia, biologi dan lain sebagainya dapat mengetahui hakikat materi, potensi dan macam-macam kekuatan lain di alam? Apakah mereka dapat mengetahui secara penuh dan pasti akan masa depan alam ini? Apakah mereka mengetahui apa yang akan terjadi jika gravitasi bumi ini dicabut dari alam ini atau gerak elektronnya terhenti? Apakah demikian ini akan terjadi atau tidak? Apakah para filosof itu dapat mengatasi seluruh masalah rasional yang berhubungan dengan alam ini secara tuntas?
Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang perlu dijawab seperti: hakikat benda (jism), forma spesis (shurah nau’iyyah), hubungan ruh dan badan, dan lain sebagainya.Bukankah masalah-masalah ini memerlukan penelitian yang mendalam? Lalu, bagaimana mungkin kita yakin—dengan segenap bantuan pengetahuan dan pemikiran kita yang serbabatas—akan dapat menyentuh hakikat alam yang belum kita alami sama sekali?
Jelas bahwa dangkalnya ilmu pengetahuan manusia tidak berarti bahwa tidak sesuatu pun dapat diketahui walau dengan jalan apa pun, atau kita tidak perlu berusaha secara serius untuk mengetahui wujud yang lebih unggul. Tidak syak lagi, betapa banyak hakikat yang dapat kita ketahui dengan mengoptimalkan potensi akal yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita, sebagaimana kita dapat menyingkap rahasia-rahasia alam dengan bantuan indera dan empiris.
Kita harus mengerahkan segenap kekuatan ilmiah dan falsafi dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemikiran kita. Pada saat yang sama, kita juga harus mengenal batasan-batasan akal dan pengetahuan empirik, sehingga kita tidak melampauinya. Hendaknya kita perlu menyadaari kenyataan diri yang terbatas ini:
“Dan kalian tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sekali.” (QS. Al-Isra’: 85)
Teori dan data-data ilmiah, ketundukan yang bijak dan kewaspadaan religius, semua itu menuntut kita agar tidak melontarkan pernyataan-pernyataan pasti (qath’i) ihwal hakikat kiamat dan alam gaib, atau berpegang kepada pelbagai takwil yang tidak berlandaskan dalil kecuali dalam batas dan jangkauan dalil akal dan nash wahyu.
Yang jelas, cukuplah bagi setiap manusia mukmin untuk meyakini kebenaran apa yang diturunkan oleh Allah SWT. meskipun ia tidak dapat mengetahui sifat-sifatnya secara detail dan menjelaskan perinciannya, khususnya mengenai perkara-perkara yang tidak dapat dijangkau oleh akal, indra dan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya kita perlu mengetahui sedapat mungkin sifat-sifat alam akhirat dan ciri-cirinya melalui akal serta perbedaannya dengan dunia.
Beberapa Ciri Khas Alam Akhirat menurut Akal
Beranjak dari dalil-dalil atas pentingnya Ma’ad, kita akan dapat memahami beberapa keistimewaan alam akhirat. Antara lain:
Pertama, dalil pertama memperlihatkan bahwa alam akhirat itu mesti bersifat kekal dan abadi. Karena, dalil tersebut telah menegaskan kemungkinan hidup yang abadi dan kecenderungan fitriyah kepada kehidupan tersebut, dan terwujudnya alam kehidupan abadi itu sesuai dengan Hikmah Ilahiyah.
Kedua, yang dapat dipahami dari kedua dalil itu dan juga telah disinggung di akhir dalil pertama, ialah bahwa alam akhirat merupakan wadah yang pasti untuk terealisasinya kenikmatan dan kasih sayang yang seutuhnya, tanpa ada kesusahan dan kelelahan di dalamnya, sehingga orang-orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan insaninya dapat menikmati kebahagiaan itu. Alam tersebut tidak dicemari oleh maksiat dan penyelewengan apapun. Berbeda dengan dunia yang di dalamnya kebahagiaan yang seutuhnya tidak mungkin terwujud. Yang hanya terwujd di dunia adalah kebahagiaan semu dan bercampur dengan berbagai kesulitan dan kesengsaraan.
Ketiga, alam akhirat setidaknya meliputi dua bagian yang terpisah, yang pertama adalah rahmat, dan yang kedua adalah siksa, sehingga dapat dibedakan orang-orang yang baik dari orang-orang yang jahat, dan masing-masing mendapatkan balasan perbuatannya.Kedua bagian ini biasa dikenal dalam syariat dengan istilah surga dan neraka.
Keempat, dari dalil keadilan dapat dipahami bahwa alam akhirat itu luas sehingga bisa menampung pahala dan siksa bagi seluruh umat manusia atas segala apa yang mereka lakukan, berupa amal baik dan amal buruk. Misalnya, ketika seseorang melakukan pembunuhan atas jutaan manusia yang tidak bersalah, hukuman siksa terhadapnya semestinya bisa terjadi di alam itu. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia, ia dapat menerima pahala setimpal yang terdapat di alam tersebut.
Kelima, keistimewaan yang sangat penting yang dijumpai pada dalil keadilan, sebagaimana tercatat di akhir dalil, ialah bahwa alam akhirat itu merupakan tempat pembalasan, bukan tempat pembebanan tugas dan tanggung jawab.
Penjelasannya: kehidupan di dunia ini adalah tempat hidupnya setiap manusia dengan kecondongan dan keinginan yang saling bertentangan, dan mereka senantiasa berada di persimpangan jalan, sehingga harus memilih salah satu jalan tersebut. Tempat seperti inilah yang dapat memenuhi lahan dan kondisi pembebanan tugas Ilahi, yaitu tanggung jawab yang berlangsung terus sampai nafas terakhir seseorang.
Sementara itu, Hikmah dan Keadilan Ilahi menuntut agar manusia sebagai pelaku tugas dapat memperoleh ganjaran yang setimpal, sebagaimana orang yang menyia-nyiakan tugas akan mendapatkan siksa yang setimpal pula. Kalau kita mengasumsikan terbukanya pembebanan tugas dan peluang memilih jalan di alam akhirat, maka rahmat wujud dan anugerah Allah SWT melazimkan tidak adanya halangan bagi manusia menjalankan berbagai tugas dan memilih jalan di alam tersebut.
Mengingat tidak ada lagi tugas Ilahi dan upaya memilih jalan di alam akhirat, semestinya alam akhirat itu bukanlah alam dunia ini, yang di dalamnya diberikan pahala dan siksa. Pada hakikatnya, alam yang kita asumsikan sebagai alam akhirat mesti dipandang sebagai dunia yang lain. Adapun alam akhirat yang hakiki adalah alam terakhir yang tidak tersisa lagi tugas dan ujian, juga tidak ada lagi peluang pembebanan dan pelaksanaan tugas, yaitu benturan antar-tuntutan dan keinginan.
Dari poin-poin di atas ini tampak jelas beberapa perbedaan penting antara alam dunia dan alam akhirat, yaitu bahwa dunia ini adalah tempat usaha, ujian dan cobaan, sementara alam akhirat adalah tempat pahala dan siksa yang abadi sebagai hasil dan dampak dari perbuatan yang baik ataupun yang buruk yang dilakukan di dunia ini. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersabda, “Sesungguhnya dunia ini adalah tempat beramal tanpa hisab, sedangkan akhirat adalah tempat hisab tanpa amal.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 42).[]

http://www.al-shia.org/html/id/shia/mesbah/48.htm

Rahasia Alam Akhirat
@}%- Do’a Nabi Muhammad :
” Ya Allah, jadikan Al Qur’an musim bunga hati kami, penerang jiwa kami, pelipur lelah kami, penyelamat kami, penuntun kami, menuju surga-Nya.”
@}%- 3 Macam Kedustaan Terhadap Hari Kiamat :
Mendustakan adanya hari kebangkitan (dari alam kubur) dan dihimpunnya manusia ( di padang mahsyar).
Tidak mempercayai hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal).
Tidak menyakini adanya surga dan neraka.
@}%- Mendustakan hari kiamat, tidak hanya dengan lidah, tapi dengan perbuatan. Misal :
– Tidak menyibukkan diri dengan mengumpulkan bekal pulang kepada Allah (menyia-nyiakan waktu dan kesempatan).
– Meminta surga, tapi beramal dengan amalan ahli neraka.
Do’a à tidak hanya sekedar meminta. Esensi / hakikat do’a à ada kesadaran diri kita untuk memperbaiki diri.
@}%- Percakapan Mu’adz bin Jabal dengan Rasulullah SAW :
Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah. ” Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang :
Rasulullah menjawab, “ Wahai Mu’adz, sungguh kau telah bertanya tentang sesuatu yang besar.” “ Akan dikumpulkan 10 kelompok di antara umatku pada hari berbangkit nanti, tapi Allah mengeluarkan mereka dari kaum muslimin, yaitu berdasarkan rupa mereka….”
@}%- 10 Kelompok tersebut adalah :
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam rupa SEEKOR MONYET.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MENGADU DOMBA (NAMIMAH)
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam rupa SEEKOR BABI.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MAKAN DARI USAHA YANG KOTOR (HARAM).
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN TERBALIK.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MAKAN RIBA.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN BUTA DAN BINGUNG.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MENERJANG HUKUM.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN TULI DAN BISU.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MENGAGUMI AMALNYA SENDIRI.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN LIDAH TERJULUR SAMPAI DADA SAMBIL MEMAIN_MAINKAN MUNTAHAN.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang TIDAK SESUAI ANTARA KATA DAN PERBUATAN.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN TERPOTONG TANGAN DAN KAKINYA.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MENYAKITI TETANGGANYA.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN TERSALIB DI CABANG POHON YANG TERBUAT DARI API.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MEMFITNAH SESAMA DI HADAPAN PENGUASA.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN BERBAU BUSUK MELEBIHI BANGKAI.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka MENYENANGKAN NAFSU SYAHWATNYA.
Mereka yang dibangkitkan dari alam kubur dalam KEADAAN DIKENAKAN JILBAB YANG TERBUAT DARI TER YANG PANAS.
– Akan ditimpakan kepada siapa saja yang suka SOMBONG.
@}%- HR. Bukhari :
Intinyaà ” Barang siapa bisa menahan marah, ia akan di keluarkan dari kubur nanti, digiring ke padang Mahsyar dengan kedudukan di atas makhluk – makhluk yang lain à Jadi pemimpin (saat di padang Mahsyar).
@}%- Padang Mahsyar :
Panasnya :
Matahari didekatkan 1,6 km di atas kepala.
Akan ada karunia untuk orang – orang yang dikehendaki Allah (Naungan di padang Mahsyar), yaitu kepada kaum muslimin/ah yang mempunyai mala yang istimewa di hadapan Allah, yaitu salah satunya ada di hadits, 7 golongan tersebut adalah :
1. Pemuda yang senantiasa beribadah.
2. Orang yang menambatkan hatinya di Masjid.
3. Bertemu dan berpisah karena Allah.
4. Pemimpin yang adil.
5. Orang yang takut berbuat maksiat.
6. Orang yang bershodaqah ( tangan kirinya tidak tahu).
7. Orang yang dalam kesendirian selalu mengingat Allah, menangis karena mengingat Allah.
Api Neraka = 70 X api Dunia.
Tidak ada seorangpun yang berani berbicara kecuali para Rasul, dan bicara mereka adalah DO’A.
http://mediasholeha.wordpress.com/pesanan/rahasia-alam-akhirat/

HAL-HAL YANG MENAKUTKAN DI ALAM KUBUR

Apabila kita mengamati nash-nash yang shahîh dari al-Qur‘ân dan Sunnah
serta ditopang oleh pemahaman dan pandangan para Ulama dalam memahami
nash-nash tersebut, maka diketahui bahwa manusia akan melewati empat
alam kehidupan, yaitu: alam rahim, alam dunia, alam barzakh (kubur),
alam akhirat. Semua proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki
kekhususan masing-masing, tidak bisa disamakan antara satu dengan
lainnya. Misalnya alam rahim, mungkin saja bisa diketahui sebagian
proses kehidupan di sana melalui peralatan kedokteran yang canggih,
tapi di balik itu semua, masih banyak keajaiban yang tidak terungkap
dengan jalan bagaimana pun. Semua itu merupakan rahasia yang sengaja
Allah Azza wa Jalla tutup dari ilmu dan pandangan umat manusia. Allah
Azza wa Jalla telah menerangkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja. [al-Isrâ‘/17:85]

Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan
alam akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan
terhadap yang ghaib, melalui teropong nash-nash al-Qur‘ân dan Sunnah.
Beriman dengan hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang
Mukmin dengan seorang kafir, sebagaimana termaktub dalam firman Allah
Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Kitab (al-Qur‘ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”.
[al-Baqarah/2:2-3]

Banyak nash dari al-Qur‘ân dan Sunnah yang mengukuhkan persoalan ini,
yang tidak mungkin diuraikan dalam tulisan yang singkat ini.

KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur.
Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam
dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah k yang artinya,
“Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya
Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekalikali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada
Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan.
[al-Mukminûn/23:100]

Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, “Barzakh adalah
perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah
mati dan hari kebangkitan. [1].

Alam Barzakh dinamakan dengan alam kubur adalah karena keadaan yang
umum terjadi. Karena pada umumnya jika manusia meninggal dunia, dia
dikubur dalam tanah. Namun, bukan berarti orang yang tidak dikubur
terlepas dari peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang
dimakan binatang buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar.
Sebab Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti yang diceritakan
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُر َيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّه صَلى اللَّهِ عَلَيْهِ وَ
سَلَمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَل خَيْرًاقَطُّ فَإِذَا مَاتَ
فَحَرِّقُوْهُ وَاذْرُوْانِصفَهُ فِي البَرِّ وَنِصفَهُ فِي الْبَحْرِ
فَوَ اللَِّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِ بَنَّهُ عَذَابًا
لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ العَالَمِيْنَ فَأَمَرَ اللّهُ الْبَحْرَ
فَجَمَعَ مَافِيْهِ وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيْهِ ثُمَّ قَالَ
لِمَ فَعَلْتَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ فَغَفَرَلَهُِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang tidak pernah beramal baik
sedikit pun berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka
bakarlah dia, lalu tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian
sebarkan saat angin kencang bertiup, sebagian di daratan dan sebagian
lagi di lautan. Lalu ia berkata, ‘Demi Allah, jika Allah mampu untuk
menghidupkannya, tentu Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak
diazab dengannya seorang pun dari penduduk alam. Maka Allah
memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan abunya yang
terdapat didalamnya. Maka tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah
bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal
tersebut? Ia menjawab, “karena takut kepada-Mu dan Engkau lebih
mengetahui (isi hatiku)”. Kemudian Allah mengampuninya. [2]

Dari kisah di atas dapat kita lihat bagaimana seseorang tersebut
berusaha untuk lari dari azab Allah Azza wa Jalla dengan cara yang
menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari azab
Allah Azza wa Jalla. Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan
kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Bila seandainya ada seseorang mau
melakukan tipuan terhadap Allah Azza wa Jalla agar ia terlepas dari
azab kubur, sesungguhnya kekuasaan Allah Azza wa Jalla jauh lebih kuat
daripada tipuannya. Pada hakikatnya yang ditipu adalah dirinya
sendiri.

Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan barzakh sampai terompet
sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil. Di sana, ada yang bersukacita
dan ada pula yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang
menderita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Barâ’ bin ‘Azib
Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila akan menjumpai kehidupan
akhirat dan berpisah dengan kehidupan dunia, para malaikat turun
mendatanginya, wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain
kafan dan minyak harum dari surga. Para malaikat tersebut duduk dengan
jarak sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut mendatanginya dan
duduk dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik keluarlah
menuju ampunan dan keridhaan Allah.” Maka keluarlah ruh itu bagaikan
air yang mengalir dari mulut wadah air minum. Maka malaikat maut
mengambil ruhnya. Bila ruh itu telah diambil, para malaikat (yang
membawa kafan dan minyak harum) tidak membiarkan berada di tangannya
walaupun sekejap mata hingga mengambilnya. Lalu mereka bungkus ruh itu
dengan kafan dan minyak harum tersebut. Maka keluarlah darinya aroma,
bagaikan aroma minyak kasturi yang paling harum di muka bumi. Mereka
membawa ruh itu naik menuju (ke langit). Mereka melewati para malaikat
yang bertanya, “Siapa bau harum yang wangi ini?” Maka mereka
menyebutnya dengan panggilan yang paling baik di dunia. Sampai naik ke
langit, lalu mereka meminta dibukakan pintu langit, maka lalu
dibukalah untuknya. Malaikat penghuni setiap langit mengiringinya
sampai pada langit berikutnya. Dan mereka berakhir pada langit
ketujuh. Allah berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku pada ‘Illiyyin
(tempat yang tinggi) dan kembalikan ia ke bumi, sesungguhnya Aku
menciptakan mereka dari bumi, kemudian di sanalah mereka dikembalikan
dan akan dibangkitkan kelak. Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke
jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat,keduanya menyuruhnya
untuk duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Ia
menjawab, “Rabbku adalah Allah”. ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab,agamaku
Islam’. ‘Siapa orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ia
adalah Rasulullâh. ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah
dan beriman dengannya’. Lalu diserukan dari langit, ‘Sungguh benar
hambaku’. Maka bentangkanlah untuknya tikar dari surga-Ku. Dan bukakan
baginya pintu surga. Maka datanglah kepadanya wangi surga dan
dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang
kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum
mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, “Bergembiralah dengan
semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.” Maka
ia (mayat) pun bertanya, “Siapa anda, wajahmu yang membawa kebaikan?”
Maka ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shaleh”. Ia bertanya lagi,
“Ya Allah, segerakanlah Kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga
dan hartaku.”

Dan bila seorang kafir, ia berpindah dari dunia dan menuju ke alam
akhirat. Dan para malaikat turun dari langit menuju kepadanya dengan
wajah yang hitam. Mereka membawa kain rami yang kasar, mereka duduk
dengan jarak dari mayat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah
malaikat maut duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, “Wahai jiwa yang
kotor, keluarlah menuju kemurkaan Allah.” Selanjutnya, ruhnya pun
menyebar ke seluruh tubuhnya dan malaikat maut mencabut ruhnya dengan
kuat seperti mencaput sisir besi dari ijuk yang basah. Bila ruh itu
telah diambil, para malaikat itu tidak membiarkannya sekejap mata di
tangan malaikat maut, sampai para malaikat meletakkannya pada kain
rami yang kasar tersebut. Kemudian ia mengeluarkan bau yang paling
busuk di muka bumi. Selanjutnya para malaikat membawa naik ruh
tersebut. Tiada malaikat yang mereka lewati kecuali mereka mengatakan,
‘Bau apa yang sangat keji ini?’ ia dipanggil dengan namanya yang
paling jelek waktu di dunia. ketika arwahnya sampai pada langit dunia
dan malaikat meminta pintunya dibuka, akan tetapi tidak diizinkan.
Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman
Allah:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Tidak dibukakan untuk mereka pintu langit, dan mereka tidak akan masuk
surga sampai onta masuk ke dalam lubang jarum”. [al-A‘râf/7:40]

Setelah itu, Allah Azza wa Jalla berkata, “Tulislah catatan amalnya di
Sijjîn pada lapisan bumi yang paling bawah”.Dan ruhnya dilemparkan
jauh-jauh. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca
ayat:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ
فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka seolah-olah ia
telah terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau
diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh [al-Hajj/22:31]

Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datang kepadanya dua
orang malaikat yang menyuruhnya duduk. Kedua malaikat itu bertanya,
‘Siapa Rabbmu? ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Mereka bertanya
lagi, “Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?” Ia menjawab, “Ha ha,
aku tidak tahu.” Maka seseorang menyeru dari langit, “Sungguh ia telah
berdusta.” Bentangkan tikar untuknya dari api neraka dan bukakan salah
satu pinti neraka untuknya. Maka datanglah kepadanya angin panas
neraka. Lalu kuburnya disempitkan sehingga tulang-tulang rusuknya
saling berdempet. Kemudian datang kepadanya seorang yang berwajah
jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu
berkata,“Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang
dijanjikan padamu.” Lalu ia (mayat) bertanya, “Siapa engkau yang
berwajah jelek?” Ia menjawab, “Aku adalah amalanmu yang keji.” Lalu
mayat itu mengatakan, “Rabb ku janganlah engkau datangkan Kiamat.” [3]

Jika seorang Muslim mau merenung sejenak bagaimana keadaan dan kondisi
kehidupannya nanti di alam kubur, niscaya ia akan menjauhi perbuatan
maksiat dan dosa. Bayangkan, bagaimana keadaan kita ketika berada
dalam sebuah lubang yang sempit lagi gelap, serta tidak ada cahaya
sedikit pun. Betapa mencekam suasana gelap itu dan menimbulkan rasa
takut yang dalam, napas terasa sesak, semakin lama semakin sulit untuk
bernapas, rasa haus, lapar, panas, mau berteriak tidak seorang pun
yang mendengar.

Akan tetapi alam kubur jauh berbeda dari semua itu. Tidak hanya
sebatas apa yang tergambar ketika kita berada dalam sebuah lubang
sempit dan gelap. Suasana di sana akan ditentukan oleh amalan kita
sewaktu di dunia. Orang yang beramal shaleh waktu di dunia, ia akan
lulus dalam menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar
dari surga, ditemani oleh orang berbau wangi dan berwajah tampan.
Kemudian senantiasa mencium bau harum hembusan angin surga.

Adapun orang yang ketika hidup di dunia bergelimang dosa dan maksiat,
apalagi melakukan perbuatan syirik. Ia tidak akan bisa menjawab
pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari api neraka, di
temani oleh orang berbau busuk dan berwajah buruk. Kemudian ia
senantiasa mencium bau busuk hembusan panas api neraka. Bahkan setiap
manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya saat di alam kubur pada
waktu pagi dan sore. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ
وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهِلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهلِ الجَنَّةَ
وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْل النَّار يُقَالُ هََِذَا
مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَشَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat
tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga,
maka diperlihatkan tempatnya di surga. Dan jika ia dari penghuni
neraka maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Kemudian dikatakan
kepadanya, “Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari
Kiamat”. [HR Muslim no. 5110, Ahmad no. 5656, Mâlik no. 502]

Di antara hikmah diperlihatkannya tempat seseorang di akherat kelak
ketika berada di alam kubur adalah agar semakin menimbulkan rasa
syukur dalam diri orang yang beramal shaleh. Ini adalah salah satu
bentuk nikmat yang dirasakannya dalam alam kubur. Adapun bagi orang
berbuat dosa, maka itu akan semakin menambah rasa kekecewaan dan
penyesalan dalam dirinya. Ini adalah salah satu bentuk azab yang
dialaminya dalam alam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْ خُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مٌَقْعَدَهُ مِنْ
النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْ دَادَ شُكرْرًا وَلاَ يَدْ خُلُ النَّارَ
أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أحْسَنَ لِيَكُوْن
عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tidak seorang pun masuk ke dalam surga kecuali diperlihatkan kepadanya
tempatnya di neraka,seandainya ia berbuat jelek, agar bertambah rasa
syukurnya. Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam neraka kecuali
diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat
baik, agar semakin bertambah atasnya rasa penyesalannya”. [HR
al-Bukhâri no. 6084 dan Ahmad]

Dalam riwayat lain disebutkan: “Apabila seorang hamba diletakkan di
kuburnya, dan para pelayatnya pergi meninggalkannya, sesungguhnya ia
mendengar derap terompah mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua
orang malaikat dan menyuruhnya duduk. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa
perkataanmu tentang orang ini?’ Adapun orang Mukmin, maka ia akan
menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.
Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh, Allah
telah menukarnya dengan surga, maka ia melihat keduanya. berkata
Qatâdah, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya di luaskan tujuh puluh
hasta, yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau sampai hari mereka
dibangkitkan.” [HR al-Bukhâri no. 1285, Muslim no. 5115, Ahmad no.
11823]

KESIMPULAN:
1. Azab kubur bersifat umum bagi seluruh manusia,tidak khusus bagi
umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
2. Di antara azab atau nikmat kubur ada yang berhubungan dengan ruh
dan jasad secara bersamaan dan ada pula yang khusus berhubungan dengan
ruh saja.
3. Semua ruh orang yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh,
sekalipun ia dimakan binatang buas ataupun dibakar.
4. Seseorang tidak akan masuk surga atau neraka kecuali setelah
terjadinya hari Kiamat dan dibangkitnya seluruh manusia dari kuburnya.

PELAJARAN DI BALIK KEIMANAN KEPADA AZAB KUBUR
1. Menanamkan dalam diri seseorang sikap mawas diri dalam meninggalkan
perintah-perintah agama.
2. Memiliki kemauan yang tinggi dalam melakukan amal shaleh, agar
mendapat keberuntungan di alam kubur.
3. Menimbulkan rasa takut dalam diri seseorang untuk melakukan
maksiat, agar terhindar dari azab kubur.
Wallâhu a‘lam.

http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg31792.html

Malam pertama di alam kubur / barzakh
Bagaimana suasana malam pertama di alam kubur… Bagaimana kedasyatan siksaannya…? Dosa-dosa apakah yang menyebabkan siksaan kubur…? Bagaimana kaedah menjemput kematian terindah…?
“Setiap yang bernyawa pasti merasai mati, Wahai jiwa yang tenang, Pulanglah kehadrat Tuhan mu dengan gembira dan diredhai, masuklah dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuk pula dalam syurga-Ku…”
Pada hari itu ia begitu bahagia, menikmati indahnya alam ciptaan Allah, bersama anak dan keluarga, penuh keceriaan, hidup dalam kesenangan dan kehidupan yang terjamin, tertawa melihat telatah anak-anaknya, demikian pula dia ditertawakan oleh anak-anaknya… lalu tiba-tiba ia didatangi oleh suatu malam, malam disaat dia dijemput oleh kematiannya…
Sakarat….. Sakaratul Maut….
“Dan datangnya sakaratul maut itu benar… Itulah yang kamu selalu lari dari padanya… Ditiuplah sangkakala Hari terlaksananya Ancaman… Setiap jiwa datang dengan malaikat yang jadi saksi… Sungguh kami lalai akan kenyataan ini… Maka kami singkapkan kakitanganmu, pada hari itu hingga penglihatanmu menjadi jelas” (Qaf: 19-22).
Malam itulah malam pertama ia berada dalam alam kubur… sendiri dikecam oleh kesunyian, tanpa anak dan isteri/suami juga sahabat karib… yang ada hanyalah amal… inilah malam pertama anak kita menjadi yatim, dan isteri/suami kita menjadi janda/duda… malam pertama yang menggusur dari tempat tidur yang empuk menuju dinginnya tanah berselimutkan kafan… inilah malam yang mengusir kita dari rumah mewah dan megah.. menempati liang lahad yang gelap dan sempit… kelmarin malam kita masih berpesta, makan dan minum bersama sahabat karib… tiba-tiba kita masuk pada malam pertama dimana kita menjadi santapan cacing tanah dan serangga… pada malam ini kita baru sedar.. Ternyata… HARTA, KELUARGA, PEKERJAAN yang keras kita mencarinya sampai lalai dari mengingati Allah… tidak sedikitpun daripada semua itu menemani dan membela kita…
Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu” (At-Takatsur: 1-3)
Inilah malam episod pertama dari alam akhirat, kuburan boleh menjadi taman syurga, sebaliknya ia boleh menjadi satu lubang dari lubang-lubang neraka… inilah kematian datang dengan tiba-tiba… ia datang tepat pada waktunya… tidak lambat dan tidak cepat… meragut dengan paksa, melenyapkan segala nikmat dunia.. tidak pernah menilai kita tua atau muda, kaya atau miskin, sihat atau sakit… ia datang untuk mengeluarkan manusia dari alam kehidupan yang selama ini kita jalani.. ketahuilah rumah yang kukuh dan megah tidak akan mampu membentengi datangnya sang pencabut nyawa…
Banyaknya wang di bank tidak mampu memberi rasuah kepada Malaikat untuk undurkan waktu kematiannya… inilah realiti kematian… sudah bersiapkah kita menghadapi malam pertamanya… Bukankah Rasulullah Saw ada bersabda “ Orang yang bijak adalah yang sentiasa mengingati mati di antara kamu, dan ada bekalan setelah kematiannya..” Marilah kita siapkan bekalan untuk menjadi penyinar di alam kubur nanti… demi Allah, tiada yang sanggup menerangkannya melainkan dengan iman dan amal yang soleh..
Metode Menjemput Kematian…
“Kematian adalah nasihat terbaik dan guru kehidupan, sedikit sahaja kita lengah dari memikirkan kematian, maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan”
Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya… dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya… sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah berakhirnya kematiannya… kerana sesungguhnya dengan menjalani kehidupan bererti kita sedang menuju kepada kematian kita…
Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang penzina mati di katil hotel diatas perut pasanganya… seorang penagih dadah mati ketika menghisapnya… dan para penjudi mati diatas meja judinya… begitu juga kita pernah mendengar ahli ibadah mati di atas tikar sejadahnya…
Alangkah malangnya, saat ajal tiba kita masih berlumur dosa berbalut nista… inilah malam pertama kita DI ALAM KUBUR… sendiri, di cekam sepi gelap yang tidak pernah terbayang… hilanglah sudah… semua gemerlapnya DUNIA… RUMAH dengan jerih payah bertahun-tahun telah kita bangunkan… ISTERI/SUAMI dan pengabdiannya begitu tulus… ANAK, yang padanya darah daging kita… ORANG TUA yang titisan kasih sayangnya.. mengalir di tubuh kita… dan PEKERJAAN, yang bermati-matian kita habiskan waktu untuknya… KERETA MEWAH yang selalu menjadi kebanggaan… tapi kini hari itu telah pergi… masa pun telah tiada… yang tersisa hanya dosa… yang terus terbayang…
TERINGAT… akan ISTERI/SUAMI yang sentiasa dinafikan hak-haknya… ANAK, yang telah kita kotori tubuhnya dari nafkah yang HARAM… ORANG TUA, yang di sisa hidupnya belum sempat dibahagiakan… SAHABAT KARIB, yang meminta bantuan kita biarkan… dan KAWAN-KAWAN, yang telah banyak kita kecewakan…
Ya ALLAH, masihkah ada hari milik-Mu untukku… agar boleh ku lunaskan segala urusan… lilitan hutang yang belum terbayar… banyaknya AMANAH dan KEPERCAYAAN yang tidak disampaikan… beribu JANJI yang sering diingkari… dan WANG RASUAH, yang telah kita nikmati dan kita bagi… namun kini, PINTU-MU… sudah tertutup rapat… bertaubat sudah terlambat, menyesali diri sudah tidak bererti… dan tinggallah sendiri menanggung beban DOSA dan KESALAHAN yang tidak terMAAFKAN… merasakan PENDERITAAN yang PANJANG yang tiada berakhir… SEKARANG, adakah dalam hati kita MATI itu sebagai PENASIHAT..??? Semoga selagi masih ada waktu…
Fasa-Fasa Alam Kubur
Kesempitan kubur, pertanyaan malaikat, azab atau nikmat kubur, ditempatkannya ruh dan kebangkitan…
Alam kubur adalah alam perantaraan kehidupan dunia dan akhirat yang dimulai setelah kematian dan berakhir selepas kebangkitan… selama masa ini, seorang yang beriman merasa bahagia… sementara orang kafir merasa sengsara… orang yang sudah mati akan dihimpit dalam kubur… siapa pun ia kafir atau muslim akan merasakan himpitan kubur… bezanya penyimpitan yang dirasakan seorang mukmin tidak berlaku selamanya, tidak seperti orang kafir yang akan berterusan himpitan kuburnya sampai hancur tulang-tulangnya…
Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, seandainya ada orang yang selamat darinya, maka selamatlah Sa’ad Bin Mu’adz…” Sa’ad Bin Mu’adz akan mengalami himpitan kubur, padahal ia adalah seorang pemimpin penuh kemuliaan, kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, Kasyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat…
Hadis yang diriwayatkan oleh Nasa’I dari Rasulullah SAW: “Kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, Kesyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat, maka sungguh ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkanya.”
Apabila Sa’ad Bin Mu’adz seorang pemimpin yang besar, hamba Alah yang soleh dan mendapatkan mati Syahid mengalami himpitan kubur… bagaimana dengan kita..? Allahuakhbar… Ya Allah Terimalah taubat-ku… selamatkanlah aku dari azab kubur…
Rasulullah SAW bersabda “Seorang manusia apabila diletakkan dia di dalam kuburnya dan sahabatnya berpaling pulang sedang ia mendengar suara sandal mereka akan datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya dan bertanya… SIAPAKAH TUHAN-MU…?, SIAPAKAH NABI-MU…?, APAKAH AGAMA-MU…?… dia menjawab, ALLAH ADALAH TUHAN-KU… MUHAMMAD ADALAH NABI-KU… ISLAM ADALAH AGAMA-KU…
Terdengarlah seruan dari langit, “Benar.. Hambaku, hamparkan baginya tikar dari syurga, lalu angin dan wangi syurga datang kepadanya kemudian kubur diluaskan seluas mata memandang, seorang yang rupawan datang menemaninya, yang tiada lain itulah amal solehnya.” (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan Baihaqi).
Benarkah kita… boleh menjawabnya…? Dari lisan yang jarang menyebut Asma-Nya… dan ibadah yang sering kita remehkan… Serta sunnah Rasul… yang kita abaikan… pada saat itu… kita hanya mampu menjawab… TIDAK… TIDAK… TIDAAAKKKKK…
Terdengarlah suara penyeru dari langit… Hambaku ini seorang pendusta… Hamparkan padanya tikar dari api neraka, bukakan baginya pintu neraka, panas dan keringnya neraka mendatanginya… Kubur disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya… seorang berwajah buruk berpakaian buruk dan berbau busuk datang kepadanya… Yang tiada lain itulah amal buruknya…
Tragedi… Siksa Kubur
“Aisyah Ra bertanya tentang azab kubur, Rasulullah SAW menjawab: Ya, azab kubur pasti ada.” (HR. Bukhari – Dalam Kitab Al-Janaiz).
“Aisyah Ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW berdoa dalam solatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur…” (HR. Mutafaqun Alaih).
“Ketika orang-orang yang derhaka kepada Allah tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, lalu ia dipukul dengan besi… hingga ia menjerit dengan teriakan yang sangat keras… didengar oleh semua makhluk Allah, kecuali Jin dan Manusia,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Saatnya kita menyaksikan… kejadian nyata tentang siksa kubur yang berlaku di Jazirah Arab… Seorang pemuda yang dikeluarkan dari kuburnya setelah beberapa jam dia dikuburkan… Akibat mengalami azab kubur, pemuda tersebut telah berubah wajah dan jasadnya… Pemuda tersebut merupakan remaja muslim yang meninggal pada usia 18 tahun… seorang pemuda yang rosak akhlak dan agamanya… dan sering melalaikan solat… hampir tiga (3) jam pemuda tersebut dikuburkan, pihak keluarga meminta kubur tersebut digali semula untuk keperluan tertentu…
Dan apa yang terjadi selepas mayat tersebut dikeluarkan… pandangan yang sangat mengaibkan… Rambut yang hitam menjadi putih… Dari mulut dan hidung keluar darah yang masih merah pekat… seperti baru mengalami siksaan kubur yang sangat keras… seperti ada yang memukul dibahagian belakang kepalanya… dengan wajah seperti dilemas dan membeku…
Bagi seorang muslim… ini adalah pengajaran yang sangat-sangat berharga agar segera memperbaiki hidupnya… dengan bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukan…
Sementara itu… sebagai pengajaran dan iktibar untuk kita…
Suara jeritan jutaan manusia di alam bumi yang lain… di sebuah lubang galian yang berada di daerah Siberia… Dr. Azzacove bersama kumpulannya telah melakukan sebuah kajian tentang pergerakan perut bumi di daerah Siberia, Rusia… kemudian mereka memasang alat pembesar suara supersensitive untuk mendengar suara pergerakan perut bumi… sebuah penemuan yang sangat mengejutkan, ketika mesin penggali sampai pada salah satu perut/kulit bumi… dari ruang/alam bumi yang lain, terdengar suara manusia berteriakan sangat keras dalam kesakitan… bahkan suara jeritan itu jumlahnya bukan seorang tetapi ribuan bahkan jutaan orang… sebagai seorang muslim kita tidak akan ragu lagi bahawa suara tersebut adalah suara manusia yang sedang disiksa di ALAM KUBUR…
Sebab-Sebab Siksa Kubur…
Ibnu Qoyyim Rahimahullah, dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan ada beberapa dosa dan maksiat yang dapat menyebabkan kita disiksa di ALAM KUBUR, diantaranya :
1. Melalaikan Solat
2. Membaca al-Quran kemudian melupakannya
3. Tidak bersuci setelah membuang hadas kecil
4. Berkata bohong
5. Tidak membayar zakat
6. Corak kehidupan yang berlebih-lebihan
7. Memakan riba
8. Rasuah
9. Memfitnah sesama saudara muslim
10. Khianat terhadap amanah
11. Enggan menolong sesama muslim
12. Meminum arak
13. Berzina
14. Membunuh
“Wahai anak Adam… Sesungguhnya apa yang kau minta dari-Ku… dan yang kau harapkan dari-Ku… Ampunan-Ku bagimu yang meminta dan tidak bagi yang enggan…”
“Wahai anak Adam… Meskipun dosamu sepenuh petala langit… kemudian engkau meminta ampun pada-Ku… Ampunan-Ku bagimu dan tidak bagi yang enggan…”
“Wahai anak Adam… Seandainya kau datang pada–Ku dengan kesalahan seluas bumi… kemudian engkau datang kepada-Ku… dan tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu pun… Sungguh Aku akan berikan kepadamu ampunan…”
Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku…
Alangkah bahagianya… seandainya maut menjemput kita sedang berurai air mata merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan… rindu akan perjumpaan dengan-Nya…
Alangkah indahnya air mata yang selalu berlinang dari munajat seorang anak soleh kepada Allah… Merindukan kemuliaan dan keselamatan bagi kedua orang tuanya… taburan doanya menjadi cahaya yang menerangi dari gelapnya ALAM KUBUR…
Doa-doanya menghantar kepulangan orang tuanya pada Allah dalam Husnul Khatimah… rintihan dan munajatnya menjadi benteng yang kukuh sebagai penghalang dari azab dan siksa kubur… Doa yang tiada terputus mengalir dari ketulusan dan keheningan hati agar orang tuanya dalam kasih sayang Allah…
http://snowyautumn.wordpress.com/2011/03/28/malam-pertama-di-alam-kubur-barzakh/

TAHAP-TAHAP KEHIDUPAN MANUSIA
Darimana, Kemana, dan Untuk Apa Dilahirkan?

Dimanakah kita sebelum dilahirkan? Apa dan bagaimana kita selama di alam kandungan yang gulita itu? Bagaimanakah proses perjalanan yang melelahkan itu sehingga kita sampai ke dunia ini? Lantas apa tujuan kita hidup di dunia? Apa yang terjadi dengan umur kita yang semakin bertambah dan kian hari usia kita semakin berkurang? Setelah tutup usia, kemanakah kaki kita melangkah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali muncul manakala kita berfikir kembali tentang tujuan hidup kita di alam dunia dan berjuang untuk kebahagiaan di alam akherat.

1. Alam Rahim. Masa perpindahan sejak pertama dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan.
2. Alam Dunia. Masa kehidupan di dunia sejak dilahirkan dan diwafatkan oleh Allah SWT.
3. Alam Kubur, disebut juga dengan alam Barzakh. Ketika manusia meninggal, mereka akan menempati alam ini sampai hari kiamat tiba.
4. Alam Mahsyar. Masa tinggal di padang Mahsyar sejak dibangkitkan hingga diputuskan amalnya oleh Allah SWT.
5. Alam Baka. Masa kehidupan di alam yang kekal dalam kenikmatan syurga atau dalam kepedihan neraka.

Tahap Kehidupan Pertama: Alam Rahim
Masa pertama adalah masa kehidupan manusia sejak dalam tulang sulbi ayah dan rahim ibu sebelum dilahirkan. Ketika Allah SWT menciptakan Adam a.s. Dia menyimpankan zurriyat di tulang punggungnya yaitu kaum “ahli kanan” (ahlulyamin) dan kaum ahli kiri (ahlul-syimal). Allah SWT pernah mengeluarkan semua zurriyat ini dari tulang punggung Adam a.s. pada hari mitsaaq (hari pengambilan janji manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan Allah SWT di Na’man, sebuah lembah yang dekat padang Arafah). Mengenai hal ini Allah swt berfirman dalam surah al-A’raf ayat 172:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (anak-anak Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
Ayat ini membuktikan bahwa manusia telah memiliki wujud. Mereka bisa melihat dan mendengar kendatipun wujud mereka tidak sama dengan wujud kita seperti sekarang ini.
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Tirmidzi dan Abu Hurairah disebutkan bahwa ketika Allah SWT mengeluarkan zurriyat dari Adam a.s. lalu dilihat oleh Adam seorang dari mereka berperawakan sangat gagah. Lalu Adam bertanya siapakah dia? Adam diberitahu bahwa ia adalah Daud a.s, anaknya sendiri. Lalu Adam bertanya: “Berapakah usia Daud yang telah Engkau tetapkan?”. Jawab Allah SWT: “Enam puluh tahun”. Adam kemudian memohon agar Daud dipanjangkan usianya, tapi Allah menjelaskan bahwa itu adalah usia yang sudah Ia tetapkan. “Kalau begitu aku ingin menambahkannya empat puluh tahun dari usiaku”, kata Adam a.s. Sebelum itu Allah SWT telah menetapkan umur Adam seribu tahun.
Meskipun umat nabi Muhammad SAW ditakdirkan relatif lebih pendek usianya daripada umat-umat terdahulu, namun Allah SWT diberikan banyak keistimewaan-keistimewaan dibandingkan umat-umat lainnya. Di dalam Taurat tercatat bahwa ada satu umat yang sifat-sifatnya amat menarik dan berperilaku sangat baik dan mulia. Setelah membaca kitab suci tersebut, nabi Musa bertanya siapakah gerangan mereka, siapa nabi yang diutus kepadanya? Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah SWT agar umat tersebut menjadi umatnya. Maka Allah SWT berfirman: “Mereka adalah umat nabi Muhammad”. Lalu nabi Musa a.s. memohon kepada Allah agar menampakkan umat itu kepadanya. Doa nabi Musa as dikabulkan Allah SWT. Ia yang Maha Kuasa menampakkan umat tersebut kepada nabi Musa a.s.
Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada di dekat gunung Thur (Sina) ketika kami memanggil.[1]
Hal ini merupakan bukti bahwa zurriyat manusia itu sudah wujud sebelum lahir di dunia ini. Demikian pula Rasulullah SAW sudah wujud dengan wujud yang lebih lengkap dan sempurna di dalam tingkatan umur pertama tersebut.
Banyak keistimewaan dan keutamaan-keutamaan umat nabi Muhammad saw disinggung di banyak tempat, baik dalam al-Quran maupun Hadis. Misalnya saja Wahab bin Munabbih (rahimahullah) ia bercerita: Ketika Musa a.s. membaca luh (papan bertulis), di sana ia melihat beberapa sifat kelebihan umat nabi Muhammad SAW. Lagi-lagi nabi Musa bertanya, “wahai Tuhanku, siapakah gerangan umat yang dirahmati seperti yang terdapat dalam luh ini?”. Maka Allah SWT berfirman: “Itulah umat Muhammad. Mereka ridha dengan rezeki sedikit yang aku berikan kepadanya, maka Aku pun ridha dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Aku masukkan mereka ke dalam syurga dengan kesaksian Laa ilaaha illallah!”. Nabi Musa a.s. berkata lagi, “tapi ya Tuhan, aku juga dapati dalam luh ini suatu umat yang akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah-wajah yang bercahaya laksana purnama. Jadikanlah mereka itu umatku, ya Allah!”. Allah SWT berfirman: “Mereka itu adalah umat Muhammad. Aku bangkitkan mereka pada hari kiamat dengan wajah bersinar dan bercahaya disebabkan bekas-bekas wudhu dan sujud mereka.”

Tahap Kehidupan Kedua: Alam Dunia
Proses perpindahan dari Alam Rahim ke Alam Dunia bukanlah hal yang gampang. Selama sembilan bulan di alam rahim itu, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna. Dengan izin Allah SWT kita terlahir ke dunia ini dengan perjuangan ibu yang melahirkan kita antara hidup dan mati. Al-Quran menyebut perjuangan itu dengan istilah “wahnan ‘ala wahnin” (kelemahan di atas kelemahan), saking sakitnya proses melahirkan itu. Hanya karena izin Allah SWT kita bisa selamat terlahir ke dunia hingga hidup seperti sekarang ini.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari (sari) tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”[2]
Demikian juga Rasullullah telah bersabda: Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam kandungan ibu berupa setitis air mani selama empat puluh hari, kemudian menjadi darah yang beku selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya, meniupkan ruh baginya dan memerintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalannya dan kesudahannya, sebagai orang sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli syurga sehingga tidak ada jarak antaranya dan antara syurga melainkan sehasta, kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan lalu iapun mengerjakan dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang kamu mengerjakan dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antaranya dan antara neraka melainkan sehasta, kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan lalu iapun mengerjakan pula dengan amalan ahli syurga, maka masuklah ia ke dalamnya.[3]
Di alam dunia ini kita juga melalui proses pertumbuhan dari tahun ke tahun. Ibnu Jauzi telah membagikan umur manusia pada lima masa:
1. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur lima belas tahun.
2. Masa muda; dari umur limabelas tahun hingga umur tigapuluh lima tahun.
3. Masa dewasa; dari umur tigapuluh lima tahun hingga umur limapuluh tahun.
4. Masa tua; dari umur limapuluh tahun hingga umur tujuh puluh tahun.
5. Masa usia lanjut; dari umur tujuhpuluh tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.
Pada tahap masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT yaitu belum adanya taklif (beban kewajiban) untuk mengerjakan solat dan puasa ataupun ibadah lainnya. Orang-orang yang sudah baligh atau sudah dewasa diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya karena kebaikan dan amal soleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapanya selama kedua orang tuanya memperhatikan pendidikan dan pengasuhannya. Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya. Kedua malaikat pengawas diperintahkan oleh Allah untuk mencatat segala perlakuan baik lahir maupun batinnya. Sebagaimana firman Allah:
Dan sesungguhnya bagi kamu ada beberapa penjaga. Penulis-penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan.[4]
Ketika dua malaikat pencatat membuat catatan, satu duduk di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Tiada yang diucapkan, satu perkataanpun, melainkan ada di dekatnya (malaikat) pengawas yang selalu hadir.[5]
Malaikat ini akan mendampingi dan hadir pada hari kiamat di hadapan pengadilan Allah SWT dan keduanya menjadi saksi baginya. Dan datanglah setiap orang bersama (malaikat) pengiring dan (malaikat) penyaksi.[6]
Pada tahap masa muda terjadi banyak perubahan baik fisik maupun non-fisik. Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya vitalitas. Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal dan serta kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu keduniaan. Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: “Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu.” (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi’ddunia, Ibnul-Mubarrak). “Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang nya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. (HR. Tirmidzi).
Sedangkan apabila seseorang telah mencapai masa dewasa, Allah SWT memberikan karunia hikmah dan kearifan kelihatan padanya berbagai ketaatan dan menujukan hatinya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
Dan setelah menjadi dewasa dan cukup umurnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang melakukan kebajikan.[7]
…sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun, berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kedua ibu-bapakku, dan doronglah aku untuk berbuat amal soleh yang Engkau ridhai…[8]
As-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya’rani dalam kitabnya Al-Bahrul-Maurud menyebutkan: “Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur empat puluh tahun hendaklah bersiap-siap dengan melipat tilam-tilam dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik, sehingga tidak akan lagi rasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi empat puluh tahun, dibanding dengan seratus tahun sebelumnya.”
Imam Syafi’i (rahimahullah), setelah mecapai umur empat puluh tahun, berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata: “Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat.”

Kullu Nafsin Zaa’iqatul Maut…

Setiap yang Bernyawa akan Merasakan Mati
Karena kita sudah pernah hidup masa bayi, masa kanak-kanak, kemudian menjadi remaja dan dewasa. Tibalah saat tua renta, dan.. kematian!
Ya, kita bukan makhluk abadi. Kita suatu saat akan mati, begitu pula tumbuh-tumbuhan dan binatang, serta semua makhluk di muka bumi dan di jagat raya ini. Jadi, tak ada satupun yang abadi di dunia. Semua akan merasakan mati. Kamu juga begitu. Cepat atau lambat, pasti kamu akan merasakan mati juga. Banyak yang berfikir bahwa hanya orang tua saja yang mati, seolah Allah sudah merancang kematian hanya untuk orang-orang tua dan tidak berdaya saja, sementara kita-kita yang masih muda masih jauh dalam perencanaan Allah.
Itu salah besar, sobat. Banyak kok bayi-bayi yang baru dilahirkan, tiba-tiba mati. Begitu juga anak-anak yang masih duduk di sekolah, dengan alasan atau sebab tertentu, mereka meninggalkan alam fana ini. Terlebih lagi orang-orang tua yang sudah uzur usianya, mereka semua akan wafat. Jadi, kematian itu sebetulnya harus dipersiapkan sejak sekarang. Sebab, kalau sudah terlambat, pintu taubat akan tertutup, itu artinya kita tidak bisa lagi berbuat baik, tidak bisa lagi bersedekah, berbakti kepada guru dan orang tua, dan amal-amal kebajikan lain. Mumpung kita masih hidup di alam dunia ini, kita harus banyak melaksanakan amal shalih atau berbuat baik kepada sesama. Rasulullah saw mengajak kita untuk berbuat itu.
“Khairunnas ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum linnaas”
(sebaik-baik manusia ialah orang yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi orang lain).
Nah, pada bab ini kita kita akan mencoba mencari tahu jalan yang akan kamu lalui setelah kita mati. Bukannya nakut-nakutin, ini memang sengaja agar kita waspada sejak dini, supaya di dunia kita bahagia dan di Akherat kita berjaya. Oke?
Semua manusia akan melewati masa-masa, dimana mereka akan berjuang dengan rasa sakit yang tak tertahankan saat ruh dicabut oleh sang malaikatul maut. Setelah itu mereka digiring ke alam kubur, dibangkitkan lagi, digiring lagi ke alam mahsyar, melewati jembatan yang melintasi neraka jahannam, dan setelah itu mereka akan ditentukan pada titik finish: surga atau neraka.
Nah, kira-kira kamu mau ke sorga atau neraka? Tentu semua orang ingin ke surga. Tapi, ya, harus usaha dong coy. Sebab kamu akan sendirian di sana, di alam kubur. Tidak ada ayah yang selalu memberi nafkah dalam segala urusan kamu, tidak ada ibu yang pernah melahirkan dan selalu membimbing kamu, tidak ada kakak dan saudara-sudara yang selalu mendukung rencana dan usaha kamu…
Tidak ada kekasih yang selalu menyejukkan hati dengan kata-kata mesranya….
Tidak ada suami yang pernah memilih kamu menjadi pendamping hidupnya…
Tidak ada anak yang pernah kamu lahirkan…
Tidak ada uang atau harta yang kamu tabung atau kamu tumpuk-tumpuk….
Pokoknya tak ada seorangpun yang menjagamu, padahal saat kamu hidup mereka senantiasa dekat dan membantumu. Di sana kamu hanya membawa perbekalan berupa amal. Ada yang berbekal perbuatan baik ada juga yang berbekal perbuatan buruk yang pernah kamu lakukan selama hidup di dunia. Di setiap sudut kiri, kanan, atas dan bawah kamu hanyalah amal! Ya. Hanya amal.
Karena itu, kamu harus tahu jalan yang akan kamu lalui. Di sana ada langkah-langkah, dan fase-fase pendakian yang sangat melelahkan. Dan pada fase selanjutnya nanti kamu akan diputuskan apakah akan berdiam di sorga atau di neraka. Hendaknya ini kamu ketahui benar-benar. Ya dengan pengetahuan yang pasti (ma’rifah yaqiniyah), bukan hanya dari katanya dan katanya saja (ma’rifat sima’iyah). Sebab, sudah pasti kamu sudah mendengarnya juga, baik dari nenek atau teman-teman atau mungkin dari bayangan-bayangan atau khayalan waktu kamu masih kecil. Bukan itu. Jadi yang dibutuhkan di sini adalah pengetahuan yang didasarkan atas upaya kamu sendiri dengan cara membaca dari Al-Quran dan Hadis, atau dari para ulama. Pengetahuan yang bersumber dari ulama itu penting, agar keyakinan kita tentang adanya kehidupan setelah mati semakin mantap. Jadi yang dituntut sekarang ini, kamu harus tahu semuanya itu dengan landasan usaha membaca, berfikir, sadar dan rasa tanggungjawab untuk mengetahui segalanya dan akibat-akibatnya.
Sebelum kamu menjajaki perjalanan ini, tentu kamu harus meyakinkan diri sendiri bahwa kamu beriman kepada Allah swt, beriman kepada Rasul-Nya, dan beriman kepada Al-Quran dan Hadis. Sebab, langkah-langkah setelah kematian (yang akan kita bicarakan ini) ada di dalam al-Quran, dan sebagian lagi ada di dalam Hadis. OK? Selamat membaca.

http://religiusta.multiply.com/journal/item/104


Ditulis dalam Uncategorized
Tags:

3 Komentar »

  1. Mudah2an semua tulisan ini,sll mmbawa manfaat bagi semuanya amiiin..

    Komentar oleh maryono — Maret 7, 2012 @ 3:19 pm

  2. bila disimaak semuanya sptnya terlalu banyak konsepsi2 yg hrs dipahami dan dijalaninya, bagaimana bila org2 di desa2 dusun2 terpencil yg tdk bisa tulis baca, tapi bersahaja, menjalankan ibadatnya dgn baik adanya, sopan dan santun dgn para tetangganya, menerima hidayah ttg Islam secara turun temurun dari para ortunya, apakah dia diterima disisiNYA ???

    bila kita hrs lbh dahulu tahu persis apa yg kita sembah, mohon pencerahannya, jadi apakah dan bagaimanakah rupa Allah SWT yg paling bisa diterima oleh akal fikiran dan hati manusia atau oleh lahir dan batin manusia itu ???

    TERIMA KASIH …

    Komentar oleh Mohamad Effendy — Maret 27, 2013 @ 12:19 am

    • Manusia harus mengetahui terlebih dahulu siapa Tuhan yang sebenarnya. Untuk memahami konsep Tuhan, dalam Islam cukup sederhana, bisa dipahami oleh anak kecil sekalipun. Yaitu: Dialah Alloh yang Maha Esa.

      Komentar oleh filsafatindonesia1001 — Oktober 26, 2013 @ 12:48 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: