Filsafat Berfikir

Ilmu Tauhid Filsafati | Desember 14, 2015

Ilmu Tauhid Filsafati

dari
https://ilmutauhid.wordpress.com

PENDAHULUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Quran, surat Ar-Rum ayat 30-32 Allah SWT berfirman :
Artinya:”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”, (QS. Ar-Rum 30).

Artinya: “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”, (QS. Ar-Rum 31).

Artinya: “yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum).

Agama berjalan menyempunakan fitrah manusia dalam mencapai kemajuan dengan cara evolusi, sehingga hal ini telah menjadi sunnah (ketentuan) Allah SWT dalam kehidupan manusia.

Allah SWT menyempurnakan agama Islam dengan perantaraan Nabi Muhammad SAW. Sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir untuk membawa umat manusia kepada keselamatan. Kitab suci Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia untuk menuju keselamatan di dunia dan akhirat.

Al-Quran menjelaskan aqidah yang benar dan yang salah, apabila aqidah seseorang benar maka selamatlah perjalanan hidupnya, dan apabila aqidahnya salah maka ia akan menjadi kafir.

Demikian sekelumit pendahuluan dalam rangka pemaparan selanjutnya dalam masalah ILMU TAUHID ini.

PENGERTIAN ILMU TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ilmu Tauhid secara umum diartikan dengan ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan aqidah agama dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil naqli, dalil aqli maupun dalil perasaan (wujdan).

Sarjana barat menterjemahkan Ilmu Tauhid ke bahasa mereka dengan “Theologi Islam”. Secara etimologi “Theologi” itu terdiri dari dua kata yaitu “theos” berarti “Tuhan” dan “Legos” berarti ilmu.

Dengan demikian dapat diartikan sebagai ILMU KETUHANAN. Sedangkan secara terminologi (istilah), theologi itu diartikan :

1. “The discipline which concert God or Devene Reality and Gods Relation to the world”, maksudnya suatu pemikiran manusia secara sistematis yang berhubungan alam semesta.
2. “Sciense of religion, dealing therefore with God and Man in his relation to God”, maksudnya pengetahuan tantang agama yang karenanya membicarakan tentang Tuhan dan Manusia serta manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.
3. “The sciense which treats of the facts and fenomena of religion and the relationship between God and Man”, maksudnya ilmu yang membahas fakta-fakta dan gejala agama dan hubungannya antara Tuhan dan Manusia.
Dari beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa theologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran agama (wahyu) ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni.

Inilah sebabnya theologi itu bukan hanya berupa uraian bersifat pikiran tentang agama semata (the intelectual expression of religion) tetapi dapat juga bercorak agama (reaviled theologi) or (filosophical theologi). Untuk itu siapa saja bisa menyelidiki sesuatu agama dengan semangat penyelidikan bebas tanpa harus dari orang-orang yang beragama tersebut atau mempunya hubungan dengan agama yang ditelitinya.

Ilmu Tauhid ini juga sering dinamakan dengan Ilmu Kalam, Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Aqaid. Disebut Ilmu Tauhid karena tujuan pokok ilmu ini adalah meng-ESA-kan Tuhan (Allah) baik zat, sifat maupun af’alnya (perbuatanNya).
Disebut Ilmu Kalam karena :
1. Pembicaraan pokok yang dipersoalkan pada permulaan Islam adalah firman (kalam) Allah yaitu Al-Quran, apakah ia makhluk diciptakan (non azali) atau tidak diciptakan (azali).
2. Dasar pembicaraan Ilmu Kalam adalah dalil-dalil akal pikiran sehingga kelihatan mereka ahli bicara. Dalil naqli baru digunakan sesudah ditetapkan kebenaran persoalan dari segi akal pikiran.
3. Pembuktian kepercayaan agama sangat mirip dengan falsafah logika, maka untuk membedakannya disebut dengan Ilmu Kalam.
Disebut Ilmu Ushuluddin (ilmu aqaid) karena pokok pembicaraannya adalah dasar-dasar kepercayaan agama yang menjadi pondasi agama Islam.

Ilmu Kalam menjadi ilmu yang berdiri sendiri, mulai masa pemerintahan Daulah Abbasyiah (Khalifah Al-Makmun) ketika Mazhab Mu’tazilah menjadi Mazhab negara. Mazhab ini telah mempelajari filsafat dan memadukan metodanya dengan metoda Ilmu Kalam. Sebelumnya ilmu yang membicarakan kepercayaan masih disebut dengan “al-fiqhu fi ad-din”, sebagai imbangan ilmu fiqh yang dinamakan dengan “al-fiqhu al-ilmi”. Imam Hanafi sendiri menamakan bukunya tentang kepercayaan itu dengan “al-fiqhu al-akbar”.

Pemakaian theologi Islam untuk Ilmu Kalam masih dapat dibenarkan karena pengertiannya tidak berbeda, sebab Ilmu Kalam membicarakan Wujud Tuhan, Sifat-Sifat Wajib, Sifat Jaiz (boleh) dan Sifat Mustahil pada Tuhan. Membicarakan Wujud Rasul, dengan Sifat-Sifatnya baik Wajib, Jaiz dan Mustahil pada mereka.

Juga dibicarakan tujuan ke-utus-an mereka, pertanggungan jawab manusia di akhirat, balasan dan siksaan, semua itu bisa dicapai dengan dalil pikiran yang yakin dan intuitif. Di samping itu juga Ilmu Kalam memberi alasan akan kebenaran kepercayaan tersebut serta membantah orang yang mengingkarinya dan yang menyeleweng daripadanya.

Jadi pengertian Theologi Islam dan Ilmu Kalam memiliki kesesuaian makna. Adanya kepercayaan kepada Tuhan dan segala sesuatu yang bertalian dengannya, hubungan Tuhan dengan alam semesta dan manusia, disamping kepercayaan kepada soal-soal gaib lainnya yang kadang-kadang akal manusia itu tidak mampu lagi menjangkaunya.
TUJUAN ILMU TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ilmu Tauhid bertujuan untuk memantapkan keyakinan seseorang kepada Allah swt. dengan menggunakan dalil naqli (Al-Quran dan Hadits) dan aqli (rasio).

Ilmu Tauhid berusaha menghilangkan keragu-raguan terhadap Tuhan yang melekat pada hati seseorang dengan godaan setan baik dari golongan jin maupun manusia. Ia bersedia membela dan mempertahankan kepercayaan kita kepada Tuhan.

Dan juga Ilmu Tauhid meluruskan aqidah-aqidah yang menyeleweng dan keliru yang terjadi akibat kekacauan politik pada masa khulafaurrasyidun yang terakhir. Adanya kesalahfahaman dan pemalsuan hadits-hadits pada masa itu menyebabkan timbulnya Ilmu Tauhid sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri, Dengan demikian kemurnian pemahaman terhadap Allah swt kembali sesuai dengan Al-Quran dan Hadits.

Aqidah merupakan makanan jiwa bagi kehidupan ruh, sebagaimana badan membutuhkan makanan. Oleh karena manusia tidak dapat meninggalkan sesuatu aqidah untuk menganut aqidah yang lain. Ia merupakan pengendali pikiran dan perbuatan manusia, baik aqidah itu yang benar maupun aqidah yang salah. Semua usaha dan daya dapat mencerminkan aqidahnya.

Orang yang mempunyai aqidah berusaha supaya orang lain menganut aqidahnya, terkadang membiarkan dirinya menghadapi kebinasaan. Maka dengan Ilmu Tauhid aqidah atau keimanan seseorang diharapkan akan bertambah, karena iman itu bisa bertambah atau berkurang, seperti firman Allah swt pada surat Al-Anfal ayat, yang terjemahnya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”.
HUBUNGAN ILMU TAUHID DENGAN FILSAFAT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Antara Ilmu Tauhid dan Filsafat terdapat hubungan erat. Sebab Ilmu Tauhid bercorak filsafat baik dari segi pikiran maupun metoda. Sehingga para ahli lebih condong mengatakan Ilmu Tauhid (theology Islam) termasuk aliran Filsafat.

Malahan Ibnu Khaldum mengatakan : “Ilmu Tauhid telah bercampur dengan persoalan filsafat sehingga sukar dibedakan keduanya”. Sarjana barat berbeda pendapat tentang pertalian kedua ilmu ini.

Tenneman dan Ritter menggolongkan Ilmu Tauhid dalam Filsafat Islam tetapi Renan menganggap hanyamencerminkan Filsafat Islam, sehingga walaupun ia mengajek Filsafat Islam sebagai kutipan tandus Filsafat Yunani, mengatakan bahwa kegiatan filsafat dalam Islam harus dicari melalui aliran Ilmu Tauhid karena mengandung keaslian dan kreasi kaum muslimin.

Demikian pula Goldziher mendukung usaha Ilmu Tauhid, karena ilmu ini alat mempertahankan agama dengan tradisi pikiran, memadukan dalil agama dengan dalil akal (filsafat). Sebab pengenalan Islam terhadap filsafat Yunani merupakan bahaya besar karena tidak mungkin dijembatani antara keduanya.

Pembahasan Ilmu Tauhid dan Filsafat terdapat perbedaan. Ilmu Tauhid mendasari pembahasannya pada pengakuan dasar keimanan sebagaimana yang disebutkan Al-Quran. Kemudian dibuktikan kebenarannya dengan akal dan menghilangkan keragu-raguan dengan argument logika.

Sedangkan Filsafat mempelajari sesuatu persoalan dengan obyektif, mulai dengan keragu-raguan terhadap persoalan tersebut, kemudian dipelajarinya dan mengambil suatu kesimpulan yang dipercayainya dan dibuktikan kebenarannya.
Dalam mengemukakan pendapat tidak prejudes (pra sangka) terhadap sesuatu pikiran sebelumnya. Oleh karena itu sering dikatakan sikap filsafat itu seperti seorang hakim yang adil, tidak punya pendapat tertentu terhadap perkara yang dihadapinya sebelum ia mempelajari, tanpa memihak, kemudian mengambil kesimpulan dan keputusan. Sedangkan Ilmu Tauhid lebih merupakan pembela setia yang sangat yakin akan perkara yang dibelanya.

Dalam Encyclopedia of Religion, fasal theology, disebutkan bahwa theology itu berbeda dengan Ilmu Filsafat seperti wahyu dengan renungan pikiran. Sebab theologi berpijak pada wahyu sedang filsafat pada akal. Theologi bertolak dari wahyu dan mengakui Tuhan itu ada, sedangkan filsafat bertolak dari akal dan kesadaran adanya wujud diri sendiri. Theologi bersikap sebagai orang yang sudah mencapai kebenaran. Inilah perbedaan dari sisi metoda.

Perbedaan dari segi isi juga sangat kentara, penyelidikan filsafat terfokus pada wujud mutlak dan yang bertalian dengannya tanpa mencari yang lain (the science of being is being), sedang Theologi Islam menyelidiki wujud alam semesta sebagai alat untuk membuktikan adanya zat yang emnjadikannya. Jadi dibicarakan masalah aqidah dari agama yang dianggap benar kemudian dibuktikan dengan akal pikiran.
Perbedaan-perbedaan tersebut di atas tidaklah menyebabkan Ilmu Tauhid terpisah dengan Filsafat Islam.

Malah saling mempengaruhi dan sering menggunakan istilah yang dipakai oleh pihak lain. Malahan Filsafat islam menerima dalil agama karena akal tidak mampu lagi berbicara, misalnya soal akhirat, kenabian dan lain-lain. Sebab lapangan pikiran punya batasnya, bila dilampaui akal pikiran akan sesat. Disinilah kebutuhan wahyu dirasakan penting sebagai pelengkap akal. Walaupun demikian komplik kedua ilmu ini selalu ada khususnya dengan Filsafat Islam. Masing-masing menganggap dirinya lebih benar.

Pembicaraan Ilmu Tauhid dalam pandangan Filsafat Islam sebagai suatu kemerosotan inteligensia, suatu dogmatis sombong. Sedangkan pembicaraan filsafat dalam pandangan Ilmu Tauhid adalah seperti anak kecil yang ermain-main dengan barang-barang suci. Abu Sulaimah al-Tauhidy mengatakan, metode Ilmu Tauhid adalah membantah tantangan orang sejengkal dengan sejengkal berdasarkan Ilmu Jadal (debat).

Kebanyakannya tidak terlepas dari kesimpang siuran, membungkan alas an lawan dengan apasaja yang bisa dipakai tanpa alas an pikiran yang teliti. Para ahli Ilmu Tauhid seperti Ibnu Taimiyah sangat anti kepada Filsafat karena dianggapnya sebagai ilmu yang tidak berguna. Namanya juga sebagai ilmu tetapi hakikatnya tidak ada. Ilmu yang asli adalah apa yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Theolog-theolog Islam bangkit serentak menyerang filsafat seperti Nukhbaty dengan bukunya “Arraddu ‘ala ahli al_mantiqi”, Ibnu Hazmin dengan bukunya “al-Burhan” dan “al-Irsyad”. Serangannya cukup pedas terhadap filsafat. Lain halnya dengan al-Ghazali, walaupun serangannya hebat, karena bahan yang dimilikinya cukup banyak, namun ia cukup moderat. Tidak semua yang dibicarakan filsafat itu salah, sebagiannya bisa diamalkan, karena tidak menyangkut agama.

Filsafat itu terbagi kepada matematika, logika, fisika, ketuhanan, politik, dan etika. Hanya bidang ketuhanan saja yang banyak tidak dapat dipakai dalam Islam, karena dari 20 bagian bahasan filsafat, 17 masalah diantaranya, para filsof harus dicap sebagai ahli bid’ah dan tiga masalah sisa dicap sebagai kafir, karena keingkaran mereka terhadap adanya kebangkitan jasmaniah di hari akhirat, mereka membatasi Ilmu Tuhan pada hal-hal yang besar saja dan ala mini bersifat qadim dan azali.

Yang paling ektrim diantara mereka adalah Ibnu Shahah. Ketika ia menjawab pertanyaan bagaimana hukumnya belajar buku-buku Ibnu Sina, sebagian mengatakan siapa yang berbuat demikian berarti telah mengkhianati agamanya, sebab Ibnu Sina bukan Ulama melainkan setan berwujud manusia.

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sepanjang sejarah agama-agama wahyu, Ilmu Tauhid yang digunakan untuk menetapkan dan menerangkan segala apa yang diwahyukan Allah kepada RasulNya tumbuh bersama tumbuhnya agama ini.

Para tokoh agama berusaha memelihara dan meneguhkan agama dengan berbagai macam cara dan dalil yang mampu mereka ketengahkan. Ada yang kuat, ada yang sempit, ada yang luas, sesuai dengan masa dan tempat serta hal-hal yang mempengaruhi perkembangan agama.

Perkembangan Ilmu Tauhid mengalami beberapa tahapan sesuai dengan sesuai dengan perkembangan Islam, yang dimulai pada masa Rasulullah SAW, masa Khullafaurrasyidun, masa Daulah Umayyah, masa Daulah Abbasyiah dan masa sesudah kemunduran Daulah Abbasyiah.

1 Perkembangan Ilmu Tauhid di masa Rasulullah saw.

Masa Rasulullah saw merupakan periode pembinaan aqidah dan peraturan-peraturan dengan prinsip kesatuan umatdan kedaulatan Islam. Segala masalah yang kabur dikembalikan langsung kepada Rasulullah saw sehingga beliau berhasil menghilangkan perpecahan antara ummatnya. Masing-masing pihak tentu mempertahankan kebenaran pendapatnya dengan dalil-dalil, sebagaimana telah terjadi dlam agama-agama sebelum Islam.

Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk mentaati Allah swt dan RasulNya serta menghindari dari perpecahan yang menyebabkan timbulnya kelemahan dalam segala bidang sehingga menimbulkan kekacauan.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran surat al-Anfal ayat 46, yang artinya:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Dan surat Al-Maidah ayat 15, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)”.

Pengalaman pahit orang Kristen menjadi bukti karena perpecahan membuat mereka hancur. Mereka melupakan perjanjian Allah swt akan beriman teguh, sehingga Allah menumbuhkan rasa permusuhan dalam dada mereka yang mengakibatkan timbulnya golongan yang saling bertengkar dan bercerai berai seperti golongan Nasturiyah, Ya’kubiyah dan Mulkaniah.

Perbedaan pendapat memang dibolehkan tetapi jangan sampai pada pertengkaran, terutama dalam maslah aqidah ini. Demikian pula dalam menghadapi agama lain, kaum muslimin harus bersikap tidak membenarkan apa yang mereka sampaikan dan tidak pula mendustainya.

Yang harus dikata kaum muslimin adalah telah beriman kepada Allah dan wahyuNya, yang telah diturunkan kepada kaum muslimin juga kepada mereka. Tuhan Islam dan Tuhan mereka adalah satu (Esa).

Bila terjadi perdebatan haruslah dihadapi dengan nasihat dan peringatan. Berdebat dengan cara baik dan dapat menghasilkan tujuan dari perdebatan, sehingga terhindar dari pertengkaran.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125, yang artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Dengan demikian Tauhid di zaman Rasulullah saw tidak sampai kepada perdebatan dan polemik yang berkepanjangan, karena Rasul sendiri menjadi penengahnya.

2. Perkembangan Ilmu Tauhid pada masa Khullafaurrasyidun.
Masa permulaan khalifah Islam khususnya khalifah pertama dan kedua, Ilmu Tauhid masih tetap seperti masa Rasulullah saw. Hal ini disebabkan kaum muslimin tidak sempat membahas dasar-dasar aqidah dimaksud. Waktu semuanya tersita untuk menghadapi musuh, mempererat persatuan dan kesatuan umat.
Kaum muslimin tidak mempersoalkan bidang aqidah, mereka membaca dan memahami al-Quran tanpa takwil, mengimani dan mengamalkannya menurut apa adanya. Menghadapi ayat-ayat mutasyabihat segera mereka imani dan menyerahkan pentakwilannya kepada Allah swt sendiri.
Masa kha;ifah ke tiga, Usman bin Affan, mulai timbul kekacauan yang berbau politik dan fitnah, sehingga Usman sendiri terbunuh. Usman Islam pecah berpuak-puak dengan pandangan sendiri. Untuk mendukung pandangan mereka tanpa segan mereka menakwilkan ayat-ayat suci dan Hadits Rasulullah saw. Malahan ada diantara mereka menciptakan hadits-hadits palsu.
3. Perkembangan Ilmu Tauhid di masa Daulah Umayyah.
Dalam masa ini kedaulatan Islam bertambah kuat sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi berusaha untuk mempertahankan Islam seperti masa seebelumnya. Kesempatan ini digunakan kaum muslimin untuk mengembangkan pengetahuan dan pengertian tentang ajaran Islam.
Lebih lagi dengan berduyun-duyun pemeluk agama lain memeluk Islam, yang jiwanya belum bisa sepenuhnya meninggalkan unsur agamanya, telah menyusupkan beberapa ajarannya. Masa inilah mulai timbul keinginan bebas berfikir dan berbicara yang selama ini didiamkan oleh golongan Salaf.
Muncullah sekelompok umat Islam membicarakan masalah Qadar (Qadariyah) yang menetapkan bahwa manusia itu bebas berbuat, tidak ditentukan Tuhan. Sekelompok lain berpendapat sebaliknya, manusia ditentukan Tuhan, tidak bebas berbuat (Jabariyah). Kelompok Qadariyah ini tidak berkembang dan melebur dalam Mazhab mu’tazilah yang menganggap bahwa manusia itu bebas berbuat (sehingga mereka menamakan dirinya dengan “ahlu al-adli”), dan meniadakan semua sifat pada Tuhan karena zat Tuhan tidak tersusun dari zat dan sifat, Ia Esa (inilah mereka juga menamakan dirinya dengan “ahlu at-Tauhid”).
Penghujung abad pertama Hijriah muncul pula kaum Khawarij yang mengkafirkan orang muslim yang mengerjakan dosa besar, walaupun pada mulanya mereka adalah pengikut Ali bin Abi Thalib, akhirnya memisahkan diri karena alasan politik. Sedangkan kelompok yang tetap memihak kepada Ali membentuk golongan Syi’ah.
4. Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Daulah Abbasyiah.
Masa ini merupakan zaman keemasan dan kecemerlangan Islam, ketika terjadi hubungan pergaulan dengan suku-suku di luar arab yang mempercepat berkembangnya ilmu pengetahuan. Usaha terkenal masa tersebut adalah penterjemahan besar-besaran segala buku Filsafat.
Para khalifah menggunakan keahlian orang Yahudi, Persia dan Kristen sebagai juru terjemah, walaupun masih ada diantara mereka kesempatan ini digunakan untuk mengembangkan pikiran mereka sendiri yang diwarnai baju Islam tetapi dengan maksud buruk. Inilah yang melatarbelakangi timbulnya aliran-aliran yang tidak dikehendaki Islam.
Dalam masa ini muncul polimik-polimik menyerang paham yang dianggap bertentangan. Misalnya dilakukan oleh ‘Amar bin Ubaid al-Mu’tazili dengan bukunya “Ar-Raddu ‘ala al-Qadariyah” untuk menolak paham Qadariyah. Hisyam bin al-Hakam As-Syafi’i dengan bukunya “al-Imamah, al-Qadar, al-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah” untuk menolak paham Mu’tazilah. Abu Hanifah dengan bukunya “al-Amin wa al-Muta’allim” dan “Fiqhu al-Akbar” untuk mempertahankan aqidah Ahlussunnah.
Dengan mendasari diri pada paham pendiri Mu’tazilah Washil bin Atha’, golongan Mu’tazilah mengembangkan pemahamannya dengan kecerdasan berpikir dan memberi argumen. Sehingga pada masa khalifah al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Wasiq, paham mereka menjadi mazhab negara, setelah bertahun-tahun tertindas di bawah Daulah Umayyah. Semua golongan yang tidak menerima Mu’tazilah ditindas, sehingga masyarakat bersifat apatis kepada mereka. Saat itulah muncul Abu Hasan al-‘Asy’ary, salah seorang murid tokoh Mu’tazilah al-Jubba’i menentang pendapat gurunya dan membela aliran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dia berpandangan “jalan tengah” antara pendapat Salaf dan penentangnya. Abu Hasan menggunakan dalil naqli dan aqli dalam menentang Mu’tazilah. Usaha ini mendapat dukungan dari Abu al-Mansur al-Maturidy, al-Baqillani, Isfaraini, Imam haramain al-Juaini, Imam al-Ghazali dan Ar-Razi yang datang sesudahnya.
Usaha para mutakallimin khususnya al-Asy’ary dikritik oleh Ibnu Rusydi melalui bukunya “Fushush al-Maqal fii ma baina al-Hikmah wa asy-syarizati min al-Ittishal” dan “al-Kasyfu an Manahiji al-Adillah”. Beliau mengatakan bahwa para mutakallimin mengambil dalil dan muqaddimah palsu yang diambil dari Mu’tazilah berdasarkan filsafat, tidak mampu diserap oleh akal orang awam. Sudah barang tentu tidak mencapai sasaran dan jauh bergeser dari garis al-Quran. Yang benar adalah mempertemukan antara syariat dan filsafat.
Dalam mengambil dalil terhadap aqidah Islam jangan terlalu menggunakan filsafat karena jalan yang diterangkan oleh al-Quran sudah cukup jelas dan sangat sesuai dengan fitrah manusia. Disnilah letaknya agama Islam itu memperlihatkan kemudahan. Dengan dimasukkan filsafat malah tambah sukar dan membingungkan.
5. Perkembangan Ilmu Tauhid sesudah Daulah Abbasyiah.
Sesudah kemunduran Daulah Abbasyiah, golongan asy’ariyah yang sudah terlalu jauh menggunakan filsafat dalam alirannya tidak banyak mendapat tantangan lagi. Hanya sedikit mendapat reaksi dari golongan Hambaliyah yang tetap berpegang pada pandangan golongan Salaf, beriman dengan apa yang sudah disebutkan al-Quran dan Hadits Rasulullah saw tanpa memerlukan takwil. Pada abad ke delapan Hijriah muncullah Ibnu Taimiyah menentang aliran Asy’ariyah, karena terlalu berlebihan menggunakan filsafat dalam pembahasan Ilmu Tauhid. Timbullah pro dan kontra, ada yang membenarkan Ibnu Taimiyah dan ada yang menganggapnya sesat. Usaha Ibnu Taimiyah ini dilanjutkan oleh muridnya Ibnu Qaiyim al-Jauziyah. Sesudah itu pembahasan Ilmu Tauhid terhenti.
Hilang gairah kaum muslimin untuk mempelajari dan mengembangkannya, kecuali hanya membaca kitab-kitab yang sudah ada saja. Kefakuman ini cukup lama, barulah berakhir dengan munculnya Sayid jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Sayid Rasyid Ridha di Mesir. Inilah gerakan ini disebut gerakan Salafiyah.
AQIDAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang dimaksud dengan aqidah ialah pendapat, pikiran dan anutan yang mempengaruhi jiwa manusia, menjadi bagian dari manusia sendiri., sehingga dibela, dipertahankan dan diyakini bahwa hal tersebut benar dan perlu dikembangkan. Dalam diri manusia terdapat aqidah dengan jumlah banyak atau sedikit, tergantung pada banyak tidaknya ilmu dan pengalaman.

Aqidah itu ada yang berbentuk diniyah (agama) baik dalam bentuk hukum maupun pikiran dan pandangan. Adapula berbentuk aqidah (adabiyah) yaitu suatu anggapan bahwa hasil pikiran suatu bangsa sesuai dengan taraf kemanjuan dan kecerdasannya.

Adapula aqidah Ijtimayyah (masyarakat) yang beranggapan bahwa masyarakat memiliki hak perseorangan harus dipenuhi, tolong-menolong sesamanya merupakan kewajiban. Dan ada pula aqidah Khuluqiyah (akhlak) yang beranggapan bahwa keberanian, kesabaran dan kebenaran paling utama karena menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Demikian pula aqidah Ilmiyah yang beranggapan bahwa segala sesuatu itu ada sebabnya.

Aqidah itu lebih merupakan keimanan yang tumbuh dari sumber yang tidak dapat dirasakan dan memaksa manusia mempercayainya tanpa memerlukan dalil-dalil. Dalam hal ini akal tidak punya peran apa pun. Ia hanya berfungsi sebagai penguat sesudah aqidah ini terwujud.

Inilah sebabnya kadang-kadang aqidah itu sesuai dengan kenyataan dan adakalanya tidak. Aqidah itu berbentuk ilham yang tumbuh tanpa kemauan atau renungan mendalam.

Dalam menganut sesuatu aqidah para ulama berbeda pendapat tentang caranya :
1. Dalam menganut sesuatu aqidah wajib bertaqlid saja, tidak boleh menggunakan penyelidikan akal karena ditakuti akan menjadi kesimpangsiuran, kesamaran dan kesesatan. Pandangan ini banyak kelemahannya karena dalam a-Quran sendiri Allah swt melarang manusia bertaqlid. Manusia harus mengadakan penyelidikan dengan melihat kepada kejadian alam semesta, termasuk masalah aqidah ini. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 170 yang artinya:” . Dan dalam Surat Yunus ayat 101 yang artinya: “ .

2. Dalam menganut sesuatu aqidah, taqlid (ikut saja) dan nadhar (mengadakan penyelidikan) diperbolehkan. Karena dalam nasalah aqidah ada yang mengharuskan taqlid karena akal tidak mampu mencernanya. Ada pula yang memerlukan dalil dimana akal mampu menjelaskannya. Allah swt berfirman dalam al-Quran Surat Al-Hujarat ayat 15, yang artinya: “ .
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima keimanan orang Arab Badawi hanya dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat dengan penuh keyakinan tanpa menyuruh mereka beristitdlal. Sehingga Imam Al-Ghazali mengatakan, “iman” itu merupakan suatu nur Ilahi yang dilimpahkan ke dalam hati manusia sebagai anugerah dan hidayahNya.

Kadang-kadang ia datang alam bentuk kesadaran batin, dalam bentuk mimpi, menyaksikan orang lain beragama dan taat beribadah. Aqidah itu datang tanpa memerlukan pembuktian dengan dalil akal. Oleh karena itu setiap orang yang meng’iqtikadkan apa yang datang dari Rasul yang dilengkapi dengan al-Quran, dengan iqtikad yang kokoh, ia menjadi mukmin, walaupun tidak mengetahui dalil-dalil akal.

Segolonga Ulama memandang, tugas penyelidikan dibebankan atas orang yang sanggup untuk itu, karena penyelidikan dimaksud merupakan jalan kesempurnaan memperoleh ilmu. Tanpa penyelidikan berarti meninggalkan kewajiban dan berdosa.

Pandangan ini banyak kelemahannya karena Allah swt telah menampakkan dalil-dalilnya ang dapat diketahui oleh semua orang yang mau memperhatikannya. (Al-Quran Surat Nuh ayat 10-15 dan Surat Yunus ayat 101). Sebab jiwa manusia dalam menerima aqidah dapat memahami dalil-dalil yang umum. Itulah sebabnya Rasulullah saw tidak menyuruh oang Badui untuk berdalil dalam beriman.
Kalaupun ditanya kepada mereka “dengan apa engkau mengenal Tuhan engkau?”, mereka sanggup menjawab “adanya kotoran unta menunjukkan adanya unta” dan “ bekas tapak kaki menunjukkan kepada adanya seorang yang berjalan”.

Segolongan ulama mengatakan bahwa aqidah dengan taqlid tidak sah, batal. Setiap orang haruslah menggunakan akal untuk membuktikannya. Pandangan seperti ini banyak dikemukakan oleh tokoh Mu’tazilah seperti Abu Hasyim, Ar-Razi atau ‘amidi. Mereka beralasan bahwa Allah swt memerintahkan untuk mengenalnya. (Al-Quran Surat Muhammad ayat 19).

Jalan untuk mengetahuiNya haruslah dengan pikiran akal (nadhar). Demikian pula Allah swt melarang manusia mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya karena kelak akan diminta pertanggungjawaban yang didengar dan dilihatnya, (Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 36). Oleh karena itu dalam aqidah diperlukan dalil yang meyakinkan sehingga menimbulkan ketenangan di dalam hati.

Dalil untuk menetapkan adanya Allah swt dapat dijangkau oleh semua orang. Inilah sebabnya Islam melarang pemaksaan untuk memeluknya.(Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 265). Menurut Sa’aduddin At-Tafzani, mengenal Allah cukup dengan dalil yang umum saja sehingga seseorang terhindar dari taqlid dan hukumnya fardhu ain.

Sedangkan mengenal Allah dengan dalil tafsili (terperinci) hanya merupakan fardhu kifayah, yang harus ada dalam masyarakat sebagai prefentive terhadap hal-hal yang dimasukkan dari luar Islam. Ibnu Hazm, tidak membenarkan taqlid kecuali bertaqlid kepada Rasulullah saw. Karena bertaqlid kepada Rasululullah saw berdasarkan petunjuk Allah swt. (al-Quran Surat al-A’raf ayat 3).

Sebab pengertian taqlid adalah meyakini sesuatu aqidah karena orang lain, sehingga bila orang lain itu meninggalkannya, ia akan meninggalkannya pula. Oleh sebab itu orang yang tidak dapat menerima sesuatu kepercayaan tanpa dalil, wajib mencarinya sehingga ia meninggal dunia tidak seperti orang kafir.

Sedangkan orang yang sudah kuat menerima apa yang berasal dari Rasul saw tidak diperlukan tindakan seperti ini. Menurut Ibnu Hazm, sesuatu yang datang dari Rasul itu menjadi pondasi dari aqidah atau ada dalil yang benar dapat membuktikan kebenaran aqidah itu. Inilah sebabnya ketika suku-suku kafir menolak ajakan Rasul saw beliau meminta dalil yang menguatkan apa yang mereka iqtiqadkan selama ini. (Al-Quran Surat An-Naml ayat 64).
MAKRIFATULLAH (Mengenal Allah)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Rukun iman pertama dalam Islam adalah percaya kepada adanya Allah swt, malahan agama-agama lainnya yang dianut oleh manusia juga mengakui adanya Allah swt, tetapi disebut dengan nama yang berlainan. Dalam agama Hindu disebut Sang Hyang Widhi, dalam agama Budha dikenal dengan Sang Hyang Adi Budha, dalam agama Yahudi dikenal dengan Yahweh, dan lain-lain.
Sesuai dengan hal ini seorang ulama tauhid mengatakan: “Kewajiban manusia pertama sekali mengenal Allah swt dengan keyakinan yang teguh. Menurut pandangan Syech Thahir bin Saleh al-Jazairi dalam bukunya “Al-Jawahiru al-Kalamiyah mengatakan “bahwa iman kepada Allah swt dapat dibagi kepada dua yaitu iman dalam bentuk ijmali (global) dan dalam bentuk tafsili (terperinci).
Secara global dimaksudkan seseorang beriktiqad bahwa Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Sedang secara terperinci dimaksudkan seseorang beriktiqad bahwa sesungguhnya Allah itu bersifat dengan sifat wajib yang jumlahnya 20 sifat. Sementara itu ada pula yang mengatakan bahwa iman kepada Allah mencakup tiga hal yaitu meyakini adanya Allah, meyakini ke-Esa-an Allah dalam wujud, meyakini Allah bersifat dengan kesempurnaan dan tidak menyeruoai alam baru ini.
Iman kepada Allah dalam pengertian pertama rumusannya kurang sempurna karena antara iman ijmali dan iman tafsili tidak ada keserasian. Dalam rumusan tafsili belum dapat perincian sifat-sifat kekurangan yang diyakini tidak ada pada Allah. Demikian pula sifat ayng wajib ada hanya 20 sifat. Pada hal sifat kesempurnaan Allah berjumlah 99 sifat yang disebut dalam Al-Quran dengan Asma-Ul-Husna.
Allah berfirman dalam surat Al-Hasyar ayat 22-24, yang artinya: “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
dan surat Al-Akraf ayat 180, yang artinya: “Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
Demikian pula dalam hadits Rasulullah saw yang bersal dari Abu Hurairah ra yang terjemahnya: “Rasulullah saw bersabda: Allah mempunya sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang menghafalnya masuk syurga. Allah itu ganjil (tunggal dan menyukai yang ganjil). HR Bukhari dan Muslim.
Yang dimaksud dengan ganjil disini adalah Allah itu tunggal, tidak ada tandinganNya, sedangkan pengertian Allah menyukai yang ganjil adalah Allah menyukai manusia yang menyukai ke-Esa-anNya dalam segala hal.
Sehubungan dengan pengertian iman di atas, rumusan terakhir merupakan gabungan iman secara ijmali dan tafsili dengan penekanan iman kepada dua sifat Allah yaitu “Wujud dan Esa” serta bersifat dengan sifat kesempurnaan. Rumusan ini juga kurang begitu sempurna karena belum memenuhi pengertian menurut syara’ yaitu mengucap dengan lisan, membenarkan dengan hati dan beramal dengan anggota.
Dari dua pengertian di atas dapatlah dibuat suatu pengertian yang lebih lengkap yaitu iman kepada Allah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan yakin dalam hati dan mengamalkan dengan anggota badan, bahwa Allah ada, esa dan bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan.
Jadi jelaslah bahwa iman kepada Allah itu lebih merupakan pengakuan mulut dan pembenaran hati (secara teoritis) dan dimanivestasikan dalam kehidupan sehari-hari (secara praktis).
Semua yang tersebut di atas adalah merupakan jalan ma’rifah kepada Allah di samping ma’rifah kepada Allah melalui sifat-sifatNya, perbuatanNya dan Asma-AsmaNya.
KEZALIMAN MANUSIA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah swt berfirman di dalam al-quran yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung; maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”. (Al-Ahzab : 72).

Daria ayat tersebut di atas jelas bahwa kepada kits umat manusia telah dipikulkan satu amanat untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, antara lain berupa :

Khianat atas Agama. Agama yang datangnya dari Allah swt yang telah diamanatkan kepada utusan Muhammad saw. Nabi Muhammad telah wafat dan amanatnya diamanatkan lagi kepada kita sebagai umat pelanjut risalah. Adalah khianat apabila kita tidak menjaga dan melanjutkan amanat ini, tidak berusaha memahami dan mengamalkan agama di dalam hidup dan kehidupan.

Khianat atas Alam semesta dengan segala isinya.

Diri/jasmani adalah amanat dari Allah swt karena itu jangan diberi makanan yang haram dan batil. Jangan diberi makanan/ minuman yang merusak akal fikiran serta saraf kita sehingga di dalam memutuskan muwajjannah akliyah/pertimbangan pikiran menjadi goyah, sehingga sukar membedakan mana yang hak dan mana yang bathil serta sulit membedakan mana yang bermanfaat dan mafsadat.

Apabila kita diberi juga makanan yang batal dan haram, maka kita telah berbuat khianat terhadap amanat Allah SWT yang diberikan kepada kita dalam bentuk akal dan saraf.

Khianat atas Ruh juga amanat dari Allah swt.

Tetapi berapa banyak manusia yang telah berbuat khianat akan amanat tersebut sehingga ruh yang tadinya bersih dan bening menjadi buram karena tingkah dan ulah manusia, yang membawa akibat apa yang seharusnya tampak menjadi tidak tampak, tidak mempunyai daya tanggap, tidak mempunyai daya refleksi, tidak obyektif lagi karena ruhnya telah dikotori oleh berbagai daki kemaksiatan.

Khianat Suami/Isteri dan anak-anak adalah amanat dari Allah swt.

Tetapi berapa banyak manusia yang mengkhianati isterinya dan isterinya. Isteri dan anaknya diberi makanan dan pakaian secukupnya, tetapi tidak pernah dikenalkan ruhnya kepada Allah swt.

Banyak amanat dan kenikmatan yang diberikan kepada manusia tetapi sayang kata Allah swt sendiri, bahwa manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Innahu kaana dhaluman jahula. Allah swt mensinyalir bahwa manusia itu zalim terhadap amanatNya.

Zalim dalam arti tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Akibat ia bergeser dari amanat dan masuk ke wilayah yang bertentangan yaitu khianat. Allah swt berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Al-Anfal :27).

Khianat kepada Allah swt dan Rasul adalah bahwa tatkala ruh ditiupkan kedalam jasad yang masih di rahim ibu, Allah swt menawarkan kepada manusia apakah sanggup dan rela hdup didunia, dan jiwa menjawab sanggup dan rela. Ditanya pula apakah kamu sanggup dan rela pada saat nyawamu akan dicabut dari jasadmu?

Maka jawabannya sanggup dan rela. Dan juga ditanyai apakah sanggup dan rela untuk taat/takwa kepada-Ku? Dijawab ruh bahwa aku sanggup dan rela ya allah. Ketika manusia telah lahir ke dunia dan melihat keindahannya, janji yang pernah diucapkan dahulu dilupakan dan membuat kontrak baru dengan kehidupan yang baru.

Khianat kepada Rasul ialah kita mendekati/melakukan apa yang dilarang Rasul. Contoh dan suri teladan Rasul tidak diikuti tetapi tradisi dan kebiasaan jahiliyah diagung-agungkan. Kita tidak berpedoman kepada sunnahnya tetapi kita menciptakan sekehendak hati atas kehidupan ini.

Khianat atas diri sendiri dimana manusia diberikan nikmat dan kesempurnaan ciptaan tetapi tidak digunakan kepada jalan kebaikan dan manfaat, tidak memanfaatkan akal yang baik, jika diberi ilmu sering menukarkan dengan yang batil, sering membenarkan yang salah, sehingga Allah swt menyatakan bahwa sesungguhnya manusia mengetahui, wa antum ta’lamun.

Adapun orang yang bersikap jahil terhadap amanah, bersikap bodoh terhadap amanah, tidak berusaha untuk mengetahui bahwa hidup ini adalah amanah, bahkan apabila sudah tahu kemudian ia tidak mau tahu dengan amanah itu. Akibat dari sikap ini ia lalai dan tidak sadar dalam bertindak serta meruak amanah.

Seseorang dapat dilatakan telah melaksanakan amanah tandanya ialah dilaksanakannya keadilan, baik kepada dirinya maupun kepada orang lain sesuai dengan firman Allah swt yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa” ayat 58). Wallahu’alam.

HUBUNGAN ILMU TAUHID DENGAN ILMU FIQH DAN TASAWUF
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu Fiqh sangat erat dan saling menunjang tetapi ada juga perbedaannya yaitu pada sasaran pembahasannya. Ilmu Tauhid mengarahkan sasarannya kepada soal-soal kepercayaan (aqidah) sedangkan Fiqh sasarannya adalah hukum-hukum perbuatan lahiriyah mukallaf (ahkam al-amaliah).
Inilah sebabnya filsuf al-Araby mengatakan Ilmu Tauhid itu dapat menguatkan aqidah dan syari’ah yang dijelaskan oleh Allah SWT dan RasulNya. Sedangkan Ilmu Fiqh berusaha mengambil hukum sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Allah SWT dan RasulNya baik aqidah mapun syari’ah. Sasaran Ilmu Tauhid hanya menyangkut soal-soal furu’ yang berhubungan dengan perbuatan.
Seorang ahli Fiqh akan mengambil hukum-hukum ibadat dari dasar Tauhid, ke-Esa-an Allah SWT tanpa mempersoalkan masalah keTuhanan dan yang berhubungan dengannya. Karena bagian ini tergolong ke ahli Tauhid.
Perbedaan kedua ilmu ini terletak pada methode dan obyeknya. Ilmu Tauhid mewarnai aqidah agama, dengan akal pikiran dan mengkontruksikannya atas dasar akal pikiran. Karena ilmu ini memang mengharuskan untuk memahami obyeknya dengan akal (konprehensif) sehingga ilmu tentang Tuhan baru akan diperoleh dengan jalan penyelidikan akal, tanpa meninggalkan nash-nash agama.
Lain halnya dengan Ilmu Tasawuf, ia merasakan aqidah itu dengan hati nurani, tanpa memerlukan akal pikiran dan alasan logika tentang kebenarannya. Manusia cukup saja merasainya dengan hati karena cahaya yang datang itu berasal dari yang terletak di luar akal.
Ilmu yang pasti benar (yakin) datangnya dari terkaan batin (supposisi-hadas) atau perasaan (taste-intuisi-zauq-wijdan) atau menyaksikan langsung dengan mata hati (wahyu-revelation-discovery-kayf). Semua hasil ini sangat aneh dan berlainan dengan argumentasi-akal. Oleh karenanya tasawuf mengambil ilmu pengetahuan bukan dengan berguru dan bukan dengan membaca kitab, tetapi memperolehnya melalui pengalaman dan penyelidikan hati.
HUBUNGAN ILMU TAUHID DENGAN Al-QURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Quran mengajak manusia memecahkan sesuatu problema dengan cara yang pasti berdasarkan dalil-dalil pikiran dan intuisional yang masuk akal dan diterima jiwa. Pikiran yang disebut Al-Quran adalah pikiran manusia asli, sehat dan fitri, belum dikacaukan oleh pendapat yang bersimpang siur, tidak benar, akibat olah logika dan filsafat sebagai mainan otak. Pikiran asli ini dapat memikirkan alam semesta ini dengan baik dan pasti dimiliki oleh setiap manusia.

Hampir setiap ajarannya Al-Quran mendakwahkan hal-hal yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah manusia mengakui adanya Tuhan pencipta alam, walaupun dalam sebutan yang berlainan. Manusia butuh sekali kepadaNya dan kepada agama. Oleh karena itu nubuwwah setiap Rasul bukanlah untuk menciptakan perasaan dan fitrah beragama, karena memang sudah dipunyai masing-masing manusia, tetapi memberi tuntunan dan meluruskan fitrah tersebut pada jalan yang sebenarnya sehingga terhindar dari kesyirikan.

Fitrah beragama ini dipupuk oleh Al-Quran dengan anjuran melihat alam sekeliling manusia sehingga imannya bertambah. Bagaimana benda-benda alam diciptakan Tuhan (QS. ‘Abasa : 22 – 28), Bagimana kejadian manusia (QS. At-thariq : 7), bagaimana Unta dijadikan, langit ditinggikan dan bumi dihamparkan (QS. Al-Ghasyiah : 20). Bagaimana bulan dan bintang bersinar di malam hari (QS’ Al-Furqan : 61), bagaimana kejadian di langit dan bumi, bumi diciptakan Tuhan tidak sia-sia (QS. Ali Imran : 191). KeEsaan Tuhan (QS. Al-Anbia : 22 dan Al-Mukminun : 19).

Ilmu Tauhid mengajak manusia membicarakan masalah aqidah dengan akal rasional. Dalam memberi argumentasi selalu digunakan logika khususnya qiyas (sillogisme-analogi) dengan premis minor (mukaddimah sugha-pendahuluan kecil) dan premis mayor (maukaddimah kubra-pendahuluan besar) dan konklusi (natijah-kesimpulan). Dengan demikian usaha ilmu Tauhid ini telah mengalihkan aqidah dari fitrah manusia, intuisi dan ajakan memperhatikan kebesaran dan kehebatan Tuhan di alam raya ini kepada pikiran dan penyelidikan akal. Sehingga pembahasannya hanya berlaku untuk orang-orang pandai saja. Sedangkan cara dan sistim fitrah yang dikembangkan Al-Quran dapat diterima oleh orang bodoh, orang pandai bahkan ahli filsafat.

Hal ini disebabkan oleh pembahasan Ilmu Tauhid yang sudah kemasukan filsafat, dalam langkah dan pembahasannya sering menimbulkan persoalan dan diskusi yang menimbulkan persoalan lain. Mengakibatkan pembahasan lanjutan, malah berakhir dengan dalil-dalil yang lemah, subyektif, yang tidak dapat diterima.

Ulama Ilmu Tauhid dalam menghadapi ayat-ayat Al-Quran yang secara lahiriyah bertentangan dengan ayat-ayat lainnya, seperti ayat tentang jabar (perbuatan manusia ditentukan Tuhan) dan tentang ikhtiar (manusia bebas berbuat), Tuhan punya tangan, mata dan hal-hal yang muthasyabihat lainnya, mereka menggunakan takwil sehingga dapat dipahami.

Tindakan mereka ini didorong oleh factor perkembangan zaman. Mereka hidup ditengah-tengah umat yang berlainan agama dan sudah menerima filsafat. Orang luar Islam tidak puas mendengar bukti-bukti kebenaran Islam hanya berdasarkan Kitab Suci dan Hadits belaka yang hanya mungkin dipahami oleh orang-orang Islam sendiri. Mereka menginginkan agar dapat dipahami bersama, haruslah didasarkan akal pikiran.

Di samping itu lumrah terjadi setiap angkatan lama sering mengikat diri dengan nash asli dan diam saja bila sudah diluar kemampuannya. Sedangkan angkatan baru tidak puas dengan sikap demikian, mereka lebih suka menggunakan akal pikiran, walaupun harus dengan penakwilan, sehingga sasarannya tercapai.
LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENJADI TAQWA
Menjadi seorang muslim belum mendapat jaminan dari Allah, yang akan Allah bela. Menjadi orang Islam semata-mata belum ada jaminan dari Allah akan diampunkan dosanya. Menjadi orang Islam saja belum ada jaminan dari Allah bahwa amal ibadahnya akan diterima. Menjadi orang Islam saja belum ada jaminan bahwa Allah akan memberi bantuan dariNya. Karena menjadi seorang muslim atau seorang Islam itu mudah.
Apabila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka tidak boleh dianggap dia itu seorang kafir. Lebih-lebih lagi seseorang itu sudah shalat, berpuasa, naik haji, kita tidak boleh menuduh orang itu kafir. Dia termasuk dalam golongan Islam tetapi belum tentu ia seorang bertaqwa.
Setelah menjadi orang bertaqwa baru ada jaminan dan pembelaan dari Allah di dunia dan di Akhirat. Bila jadi orang bertaqwa barulah dosa diampunkan, barulah amal ibadah ini diterima, barulah mendapat pimpinan dari Allah. Secara langsung Allah menjadi pemimpinnya.
Bila menjadi orang bertaqwa pintu rezeki akan terbuka, tidak tahu dari mana datang dan sumbernya. Bila menjadi orang yang bertaqwa, Allah mudahkan kerja-kerjanya. Bila kerja sedikit, hasilnya banyak. Kalau kerja banyak, lebih banyaklah yang akan diperoleh. Hal inilah yang dijelaskan oleh Allah melalui firmanNya : “Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah beri jalan keluar dari kesusahan dan akan beri rezeki dari arah yang tidak terduga-duga” (QS At Talaq 2 – 3)
“Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan permudah segala urusannya”
[Q.S. At-Talaq : 4]
“Allah menjadi pemimpin (pembela) orang yang bertaqwa”
[Q.S. Al Jasiah : 19]
Dalam ayat yang lain :
“Sesungguhnya amal ibadah yang diterima dari orang yang bertaqwa” [Al Maidah 27]
“Dan jika ada penduduk sebuah kampung itu beriman dan bertaqwa, maka akan Allah bukakan berkat dari pintu langit dan bumi”
[Q.S. Al-A’raf : 96]
Allah akan buka pintu berkat dari langit dan bumi, maka sudah tentu kehidupan orang bertaqwa akan aman damai, berkasih sayang, mesra, selamat sejahtera, tidak ada gangguan, penuh harmoni dan indah, di dunia sudah dapat Syurga dan pastilah di Akhirat akan dapat Syurga yang kekal abadi.
Banyak lagi ayat-ayat yang memberitahu bahwa setelah seseorang atau satu bangsa itu menjadi orang yang bertaqwa, barulah dapat pembelaan dari Allah. Kalau hanya sekedar Islam tidak ada jaminan dan pembelaan dari Allah di dunia maupun di Akhirat. Inilah yang terjadi kepada seluruh umat Islam di dunia hari ini. Rata-rata umat Islam sebagai seorang muslim tetapi tidak menjadi orang yang bertaqwa. Sebab itu tidak ada pembelaan dari Allah. Bila tidak ada pembelaan dari Allah, coba kita lihat apa yang terjadi. Hidup tidak bersatu padu, musuh menekan, menghina, menderita, menjadi hamba orang, susah dan tersingkir di mana-mana. Jumlah banyak tapi tidak berguna. Ramai tapi tidak berguna laksana buih di lautan.
Jadi sekesar menjadi seorang Islam saja jangan berbangga sebab masih belum ada jaminan dan pembelaan dari Allah. Oleh karena itu kita mesti menjadi orang bertaqwa barulah jaminan dan pembelaan akan diperoleh baik di dunia maupun di Akhirat. Oleh itu kita mesti berusaha bersungguh-sungguh dalam hidup ini untuk memiliki sifat taqwa. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang bercita-cita membangunkan Islam, perlu berusaha menjadikan diri mereka orang yang bertaqwa.
Orang Islam yang mempunyai cita-cita perjuangan bukan saja ingin memperbaiki dirinya tetapi juga ingin membaiki masyarakat. Untuk itu, dia mesti faham bagaimana memperbaiki dirinya sendiri dan bagaimana untuk memperbaiki masyarakat.
Untuk memperbaiki diri agar menjadi orang yang soleh atau orang yang bertaqwa, 8 syarat perlu ditempuh :
1. Dapat Petunjuk dari Allah
Di sinilah modal utama ke arah taqwa, yaitu Allah beri hidayah dengan cara mengetuk pintu hatinya. Dia senang dengan Islam, sayang dengan Islam, suka dengan Islam, dan terbuka hatinya untuk Islam. Sebut saja Islam terasa indah dan senang. Rasa terhibur walaupun dia tidak tahu apa itu Islam. Firman Allah :
“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi-Nya petunjuk, maka dilapangkan hatinya untuk menerima Islam” [Q.S. Al An’am : 125]
Jadi kalau seseornag itu Allah buka pintu hatinya hingga dia sayang, suka, minat, terhibur dan senang dengan Islam, maka itulah anak kunci yang pertama untuk dia bertindak memperbaiki diri. Tetapi kalau hati sudah tertutup, hidayah sudah tidak dapat, rasa senang hati dengan Islam sudah tidak ada, walau pakar Islam, hafiz Al Qur’an, hafiz ribuan hadits namun tidak akan dapat memperbaiki diri. Kenapa ? Dorongan tidak ada. Rasa minat, cinta dan suka pada Islam, itulah dorongannya. Ibarat orang yang cinta dengan isteri, apa saja kehendak isterinya akan dituruti dan dia akan berkorban habis-habisan, hatta nyawa sekalipun.
2. Faham Tentang Islam
Faham tentang Islam. Bukan diberitahu tenatng Islam. Bukan diajar tentang Islam. Inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah SAW :
“Barang siapa yang Allah hendak jadikan dia orang baik, maka dia akan diberi faham tentang Islam”
Kalau begitu sekiranya sekedar diajar atau diberitahu, tidak ada jaminan seseorang itu menjadi baik. Tetapi kalau diberi “faham” itulah tanda seseorang itu akan membuat perubahan. Sebab bila dikatakan “diberi faham”, akan jatuh ke hati. Tetapi kalau hanya “diberitahu” hanya diakal saja. Akhirnya jadi mental exercise. Pintar mengatakan tentang Islam, hanya berputar di akal tidak di hati. Bila hanya bertapak di akal, ceramahnya hebat, dapat menulis dsb. Tetapi kalau tidak bertapak di hati, bukan menjadi keyakinan hidupnya. Artinya tidak menghayati ilmunya. Kalau begitu ilmu yang ada di otaknya tidak mendorong untuk memperbaiki diri. Tidak mendorong untuk memperjuangkannya. Ilmu itu tidak mendorong untuk menuntun hidupnya. Tetapi kalau sampai di hati barulah akan berkesan pada dirinya.
Sebab itulah orang alim banyak tetapi orang “fakih” sedikit. Yang diajar dan diberitahu ilmu Islam itu banyak tetapi yang menjiwai tentang Islam itu tidak banyak. Seseorang yang sekedar diberitahu dan diajar tentang Islam, belum tentu akan terdorong untuk memperbaiki diri. Akalnya terisi dengan ilmu Islam, tapi kalau ilmu itu tidak berasas dalam hati, dorongan untuk memperbaiki diri tidak ada. Sedangkan kalau ilmu disertai kefahaman, maknanya seseorang itu tahu dari hati atau jiwa, bukan sekedar dengan akal, dan ini akan mendorongnya memperbaiki diri.
Namun perlu diingat, kalau hati terbuka untuk menerima Islam, tetapi ilmunya tidak ada, maka seseorang itu tidak akan dapat berbuat. Beramal tanpa ilmu, tertolak. Ada ilmu tetapi tidak diamalkan, laksana pohon tidak berbuah.
Jadi kefahaman tentang Islam ini perlu ada. Memahami Islam secara syumul, secara lengkap, bukannya secara sebagian-sebagian. Memahami Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Memahami Islam sebagai cara hidup, atau dengan kata-kata lain, memahami Islam sebagai agama akidah, ajaran ibadah, dakwah, ukhuwah, jihad, jamaah, amrun bil ma’ruf wanahyu a’nil mungkar, tarbiah, pendidikan, ekonomi, daulah Islamiah, antara bangsa dan hinggalah ke alam sejagat.
Untuk mendapatkan kefahaman, mesti ada jalan, ada usaha dan ada caranya. Tidak dapat faham begitu saja. Mesti melahirkan sebab, seperti dengan belajar, membaca, menelaah, muzakarah, bertanya dan sebagainya. Jadi lapang dada menerima Islam saja tidak cukup. Mesti disertai kefahaman, kemudian berbuat dan bertindak berdasarkan kefahaman itu.
Kalau sesuatu amalan itu dibuat atas dasar tahu tanpa disertai kefahaman, jadilah amalan itu sekedar betul lahirnya tapi batinnya rosak. Misalnya, dia tahu tentang shalat dan akan melakukan shalat tapi ruh shalat tidak ada. Bila roh shalat tidak ada, hakikatnya dia belum mengerjakan shalat. Begitu juga orang yang sekedar tahu ilmu berjuang dan dapat berjuang; lahirnya saja bagus, tapi hatinya sudah rusak. Roh berjuang tidak ada. Sedangkan kalau diberi ilmu puasa saja dan memang kemampuan pun ada, maka ia akan berpuasa, tapi yang berpuasa hanyalah tangannya, mulutnya, matanya dan perutnya, sedangkan rohnya, hatinya dan nafsunya tidak berpuasa.
Sebab “mengetahui” itu hanya terhadap benda-benda lahir yang dapat dinilai oleh mata kepala. Tetapi “faham” itu lebih mendalam yaitu hati dan rohani sama-sama merasa, bukan akal semata-mata.
Begitu juga, tidak cukup membangunkan Islam dengan cara semangat-semangat, slogan-slogan, pekik sana sini, demonstrasi sana sini, kutuk orang ini itu. Itu bukan faham namanya. Jangankan faham, kadang-kadang ilmu pun belum ada. Ini lebih rusak lagi. Beraninya seperti lembu. Lembu, kalau berani, tembok pun ditanduknya. Itu bodoh namanya. Beranikah itu namanya ? Laksana air bah, kalau tidak ada saluran yang betul, habislah dihanyutkannya pohon kelapa orang, kebun orang, rumah orang dan sebagainya. Tapi kalau ada saluran yang betul, air bah itu dapat dialirkan ke sungai. Ada parit, dapat tangkap ikan, dapat main sampan. Minimal kalau berani atas dasar ilmu tapi yang yang paling baik atas dasar faham. Kalau tidak faham, mesti tanya, belajar, muzakarah, berbincang, banyak menelaah dan lain-lain.
3. Yakin
Apa saja ilmu yang kita ketahui dan fahami perlu kita yakini terutamanya dalam soal-soal aqidah; keyakinan kepada Allah, kepada Rasul, kepada malaikat dan sebagainya. Keyakinan itu mesti kental, jangan dicelahi oleh syak, waham atau zan. Jangan jadikan ilmu Islam itu seperti ilmu-ilmu sekuler yang lain. Umpamanya sewaktu kita belajar ilmu ideologi, ilmu ekonomi, ilmu politik dan ilmu alam. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya “Iya kah ? Betulkah ?” sudah belajar teori ekonomi, tapi hati kecil pula berkata “Eh, kalau aku buat ini, boleh dapat untungkah ?”
Ada rasa was-was. Ilmu luar Islam boleh begitu. Kalau kita belajar ideologi, belajar teori politik, teori ekonomi dan sebagainya sehingga pandai dan pakar serta boleh mensyarahkannya, tetapi ada rasa ragu, ada syak, waham, zdan atau ada rasa tanda tanya, itu tidak salah. Tetapi ilmu Islam tidak boleh begitu. Terutamanya yang ada hubungan dengan akidah. Sebab itu kita mesti amalkan atas dasar keyakinan.
4. Melaksanakan
Setelah kita mengetahui, faham dan yakin dengan ilmu-ilmu Islam, kita mesti bertindak dan mengamalkannya. Perintah fardhu dan sunnat mesti dilaksanakan; perintah ahram dan makruh mesti ditinggalkan. Perintah buat itu baik yang fardhu ain, maupun yang fardhu kifayah. Manakala yang sunat kita laksanakan sejauh yang termampu. Kalau boleh, yang harus pun dijadikan ibadah dengan menempuh lima syarat.
Buah ilmu itulah amalnya. Jadi sekiranya ilmu itu tidak diamalkan, jadilah ilmu yang tidak berbuah. Pepatah Arab ada berkata :”Ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon tidak berbuah”.
Orang yang tidak menanam pohon durian tidak dapat makan buah durian. Orang yang memiliki pohon durian, tapi ketika musim durian tidak berbuah, maka senasib dia dengan orang yang tidak memiliki pohon durian. Orang yang tidak memiliki pohon durian, tidak makan buah durian itu sudah sewajarnya. Tapi orang yang memiliki pohon durian tapi tidak makan buah durian karena pohon duriannya tidak berbuah, ini lebih malang nasibnya.
Begitulah kita senang saja beramal tapi malas hendak menuntut ilmu, maka banyaklah kesalahan yang dibuat. Amalannya tidak disuluh dengan ilmu, maka akan tertolak amalannya itu. Bila ada ilmu tidak diamalkan maka ibarat pohon tidak berbuah. Bahkan dalam Matan Zubat dikatakan :
“Orang yang berilmu tapi tidak beramal akan masuk ke Neraka 500 tahun lebih dahulu dari penyembah berhala”
Oleh itu jangan jadikan ilmu Islam sebagai “mental exercise” atau riadhah aqidah saja. Kalau kita belajar ilmu ekonomi misalnya, tidak berniaga pun tidak mengapa. Kita belajar ilmu politik, tidak berpolitik pun tidak apa. Tetapi ilmu Islam mesti dilaksanakan. Jadikanlah ilmu yang ada pada kita itu, yang telah kita fahami menjadi panduan hidup dalam semua hal. Dalam menegakkan akhlak, masyarakat, perjuangan, membangun jemaah, berumah tangga, dalam ekonomi, pendidikan, mencari rezeki dan sebagainya. Hingga benar-benar menjadi panduan hidup, agar semua tindak tanduk kita jadi ibadah dan diterima oleh Allah sebagai pahala.
5. Bermujahadah
Walaupun hati sudah terbuka, rindu dan suka dengan Islam, sudah faham Islam dan yakin dengan yang difahami itu, tapi bila hendak bertindak, masya-Allah, rupanya bukan musuh lahir, seperti Yahudi dan Nasrani yang menghalang, tapi musuh dalam diri kita, yaitu nafsu. Nafsu itulah yang lebih jahat dari syaitan. Syaitan tidak dapat mempengaruhi sesorang kalau tidak meniti di atas nafsu. Dengan kata-kata yang lain, nafsu adalah highway untuk syaitan. Kalau nafsu dibiarkan, akan membesar, maka semakin luaslah highway syaitan. Kalaulah nafsu dapat diperangi, maka tertutuplah jalan syaitan dan tidak dapat mempengaruhi jiwa kita. Sedangkan nafsu ini sebagaimana yang digambarkan oleh Allah sangat jahat.

“Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat membawa pada kejahatan” [Q.S. Yusuf : 53]
Dan ini dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah SAW :
“Musuh yang paling memusuhi kamu adalah nafsu yang ada di antara dua lambungmu”.
Nafsu itulah yang menjadi penghalang pertama dan utama, kemudian barulah syaitan dan golongan-golongan yang lain. Memerangi hawa nafsu lebih hebat daripada memerangi Yahudi dan Nasrani atau orang kafir. Sebab berperang dengan orang kafir cuma sekali-sekali.
Nafsulah penghalang yang paling jahat. Kenapa ? Kalaulah musuh dalam selimut, itu mudah dan dapat kita hadapi. Tetapi nafsu adalah bagian dari badan kita. Tidak sempurna diri kita jikalau tidak ada nafsu. Ini yang disebut musuh dalam diri. Sebagian diri kita, memusuhi kita. Ia adalah jizmullatif, tubuh yang halus yang tidak dapat dilihat dengam mata kepala, hanya dapat dirasa oleh mata otak atau mata hati. Oleh karena itu tidak dapat kita buang. Sekiranya dibuang kita pasti mati.
Nafsu adalah penghalang yang besar. Kalau hendak shalat bukan mudah untuk mujahadah. Akhirnya terlambat shalat subuh. Siapa yang membisikkan kepada kita ? Itulah nafsu. Tidak mudah hendak berjuang dan berkorban. Tidak mudah hendak sabar apabila berhadapan dengan ujian. Tidak mudah sebab nafsu tidak mau. Begitu juga hendak memberi maaf orang yang berbuat salah kepada kita ? Kita rasa terhina hendak memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Lebih-lebih lagi kita yang bersalah, hendak minta maaf lebih sukar lagi. Terasa tergugat ego kita. Lebih-lebih lagi apabila ada jabatan dan pengaruh. Tidak mudah untuk ikut syariat, jika nafsu mengatakan jangan. Sebab itu barang siapa yang berjaya melawan hawa nafsu dia dianggap pahlawan. Dianggap orang berani dan luar biasa. Sebab itu ada hadits yang mengatakan :
“Tidak dianggap seseorang itu berani bila ia dapat mengalahkan musuhnya, tetapi dianggap berani, jika seseorang itu dapat melawan hawa nafsunya.”
Bukannya seperti yang terjadi hari ini, gelar “Tokoh” atau “pahlawan” yang dikaruniakan kepada seseorang, bila kita tinjauh kehidupan mereka, kebanyakan mereka yang sudah dikalahkan oleh hawa nafsu. Itulah pahlawan yang palsu. Pahlawan yang sebenarnya ialah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya. Inilah yang dikatakan pejuang yang hakiki. Selagi hawa nafsu tidak dapat diperangi, selama itu seseorang itu tidak akan tertuju kepada Allah. Tidak akan dapat benar-benar berbakti kepada Allah. Tidak akan jatuh cinta kepada Allah. Tidak akan dapat memberi ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah. Kalau nafsu tidak diperangi, tidak akan dapat hidup dalam kebenaran. Hidup dalam pimpinan Allah. Firman Allah :

“Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan Kami, sesungguhnya Kami akan tunjuki jalan Kami. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang buat baik.” [Al Ankabut 69]
Ini jaminan dari Allah. Siapa yang melawan hawa nafsu, Allah akan tunjukkan satu jalan hingga diberi kemenangan, diberi bantuan dan tertuju ke jalan yang sebenarnya. Inilah rahasia untuk mendapatkan pembelaan dari Allah.
Artinya mereka mendapatkan pembelaan dari Allah sejak di dunia. Jadi sesiapa yang sanggup melawan hawa nafsu, dia adalah rijalullah (orang Allah, keluarga Allah, kepunyaan Allah, tentara Allah), siapa yang menjadi kepunyaan Allah atau tentara Allah, dia akan dibantu oleh Allah. Tetapi selagi belum menjadi tentara Allah, sebaliknya menjadi tentara manusia atau tentara syaitan Allah akan biarkan. Kalau diberi kemenangan atas dasar kuat, bukan atas dasar bantuan. Manakala yang lemah akan diberi kekalahan.
Jadi seseorang itu mesti sanggup melawan hawa nafsu. Kalau tidak banyak ajaran Islam yang terabai, banyak perintah Allah dilalaikan. Bila tidak dapat melawan hawa nafsu, banyak larangan Allah yang akan dibuat. Jadi hanya dengan melakukan mujahadatunnafsi, barulah ajaran Islam itu dapat kita amalkan sungguh-sungguh dan barulah maksiat lahir dan batin dapat kita tinggalkan, karena nafsu yang sangat menghalang itu sudah tidak ada lagi. Nafsu itu sudah kita didik, sudah kita kalahkan, dan sudah menjadi tawanan kita.
6. Istiqamah Beramal
Beramal jangan bermusim, jangan ada turun naiknya. Kalau sudah beribadah, mesti terus beribadah. Kalau sudah berukhuwah, terus berukhuwah. Kalau tinggalkan maksiat, terus tinggalkan. Jangan sekali buat sekali tinggalkan. Begitu juga kalau berjuang, berdakwah dan sebagainya, hendaklah berjuang dan berdakwah terus. Jangan kadang-kadang beribadah, kadang-kadang tidak; kadang-kadang berdakwah, kadang-kadang tidak. Jadi mesti mengamalkan baik perintah suruh dibuat secara istiqamah maupun perintah larangan itu ditinggalkan secara istiqomah juga. Dengan kata lain, beramal hendaklah secara tetap, secara rajin dan terus menerus. Ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW :
“Sebaik-baik amalan itu, yang dibuat secara istiqamah sekalipun sedikit”.
Apa yang dimaksudkan sedikit ? Sekiranya tidak diuraikan, nanti ada mereka yang ambil kesempatan dengan berkata: “yang penting istiqamah, tetap Allah terima walaupun sedikit. Kalau begitu saya akan shalat saja sampai mati. Puasa, naik haji, berkorban dan sebagainya tak perlu dibuat”. Sebenarnya sedikit yang dimaksudkan oleh Rasulullah ialah amalan-amalan yang fardhu sudah ditunaikan. Yang fardhu ain selesai, kemudian ditambah pula dengan amalan yang sunat. Istiqamah amalan yang sunat, amalan wajib memang tidak dapat ditinggalkan.
Amalan yang istiqamah akan membuat kesan pada roh atau hati seseorang. Laksana titisan air, walaupun kecil dan lembut tapi jika ia meniti sepanjang masa, lama-kelamaan batu akan lekuk. Sebaliknya, air banjir yang datang setahun sekali atau dua tiga tahun sekali, walaupun besar tetapi tidak dapat melekukkan batu. Tegasnya, amalan sunat yang istiqamah sangat memberi kesan pada hati. Kesannya dapat dilihat pada gerak-gerik, membuahkan akhlak yang mulia. Sebaliknya amalan sunat yang dibuat walaupun banyak tetapi tidak secara istiqamah, tidak memberi bekas pada jiwa.
7. Ada Pemimpin yang Memimpin
Dapat memimpin baik di bidang ilmu, akal atau hati. Baik yang lahir maupun yang batin dan dalam semua hal hingga hidup kita ini dapat tertuju kepada Allah.
Dalam Islam, pemimpin yang dapat memimpin hidup kita itulah yang dikatakan mursyid. Asalnya dari perkataan ‘mursyidun’ maknanya orang yang memimpin. Setiap orang wajib ada pemimpin yang memimpin dirinya, baik dia ulama atau tidak, hafiz atau tidak, pakar Islam atau tidak, mualim atau tidak.
Orang yang memimpin (mursyidun) tidak sama dengan mua’llim. Juga tidak sama dengan ustaz dan guru. Sebab mu’alim itu hanya memberi ilmu. Mereka hanya memandang luar. Tetapi mursyid yang dapat memimpin. Allah memberi padanya ilmu-ilmu yang luar biasa. Ada ilmu lahir dan batin. Bukan saja dia dapat memimpin akal, tetapi juga hati (roh) juga dipimpinnya. Walaupun mursyid itu seorang yang tidak hafal quran dan hadis. Sebab itu sebagaimana hebat alim seseorang itu, dia mesti punya pemimpin.
Memang guru, pemimpin itu susah dicari. Apalagi di jaman sekarang yang sudah jauh dari Rasulullah. Orang yang jadi mursyid hanya dalam hitungan jari saja. Sebab itu mursyid kurang popular dan jarang disebut dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ghazali r.h. berkata:
“Untuk mencari seorang mursyid, laksana mencari belerang merah”
Begitulah susahnya untuk mencari mursyid. Sebab itu pimpinan sudah tidak wujud lagi di kalangan umat Islam hari ini. Maka berjuangpun hanya main-main akal, beribadah sesuka hati, bertindak sembrono, tidak diukur secara ilmu lagi. Jadi perlu ada guru yang mursyid, yang dapat memimpin ilmu dan amalan kita, yang memimpin lahir dan batin kita. Guru mursyid ini menjadi tempat kita merujuk walau dalam hal keci sekalipun.
Tetapi di sinilah banyak yang tidak faham termasuk alim ulama. Sebagiannya berkata “kalaulah kita sudah berguru ke satu tempat, jangan lagi berguru di tempat lain”. Ini satu fahaman yang salah. Sebenarnya guru mursyid yang tidak banyak; seorang saja. Tapi kalau guru sumber ilmu, lebih banyak lebih baik karena lebih banyak saluran untuk dapat ilmu. Imam Ghazali r.h. ada 1000 orang gurunya.
Guru pimpinan, tempat rujuk dalam semua hal hanya seorang saja. Dalam hal apapun mesti dirujuk kepadanya termasuk dalam hal yang mubah. Walaupun mubah, tetapi untuk dapat berkat mesti bertanya kepadanya. Lebih-lebih lagi kalau sudah menjadi arahannya wajib ditaati. Setiap arahannya sudah menjadi wajib arahdi, sebab mentaati pemimpin adalah wajib. Di sinilah kebanyakan kesalahan pejuang sekarang. Mereka sudah memiliki jemaah, tetapi bila ada masalah dalam jemaah dia rujuk pada ‘ulama luar jemaah’ atau dukun.
Jadi setiap orang yang ingin membaiki dirinya mesti ada mursyid yang akan memimpinnya, sekalipun dia ulama, alim, hafaz Al Quran dan pakar hadis. Kenapa ? Dalam ajaran Islam ini, ada ilmu yang datang dari akal, dan ada yang dari hati; ada lahir ada batin; ada yang tersurat dan ada yang tersirat. Kalau seseorang itu diberi ilmu yang tersurat, belum tentu dia akan diberi ilmu yang tersirat. Bukan semua muhaddisin akan diberi ilmu-ilmu hati. Oleh itu, walau ulama pakar sekalipun, mesti ada guru yang memimpinnya. Di sinilah banyak orang salah faham, terutama para ulama. Hati mereka berkata, “Saya sudah jadi ulama, alim, sudah mengajar profesor, sudah menjadi dosen, mengapa perlu pimpinan ? Saya boleh pimpin diri saya sendiri. Buat apa bersandar kepada orang lain ?” Sebab mereka merasa mereka banyak ilmu dan dapat pimpin diri sendiri. Lebih-lebih lagi mereka tidak mau dipimpin oleh guru yang mursyid.
Orang yang boleh memimpin ataupun mursyid, hanyalah orang yang pintu hatinya terbuka, yaitu yang mempunyai basyirah. Bukan sekedar akal saja terbuka. Banyak orang yang akalnya terbuka, hingga dapat menangkap ilmu, tapi orang yang hatinya terbuka tidak banyak. Mursyid itu ialah orang yang hatinya terbuka luas dan dapat memimpin orang lain. Dia tidak semestinya lebih alim daripada orang yang dipimpinnya. Imam Hambali umpamanya, dia tidak disebut ahli tasawuf sebab dia tidak mengarang kitab tasawuf, sebaliknya hanya mengarang kitab ilmu-ilmu lahir. Tetapi yang sebenarnya dia juga alim ilmu batin (karena semua Imam mahzab itu adalah mursyid dan pakar tasawuf). Dia tahu dan mengamalkannya. Menurut riwayat, Imam Hambali selalu merujuk kepada ulama-ulama, menziarahi bisyru al khafi, sering menziarahi ahli-ahli sufi di ujung negeri Baghdad.
Jadi setiap orang mesti mencari seorang guru mursyid untuk memimpin dirinya walaupun dia alim. Lahir dan batinnya perlu diserahkan kepada guru mursyid.
8. Berdoa Kepada Allah
Usaha kita tidak memberi bekas walaupun usaha itu diperintahkan oleh Allah. Kita sudah belajar, tetapi ilmu itu sebenarnya tidak memberi bekas. Kita bermujahadah, tetapi usaha kita membaiki diri itu tidak memberi bekas. Mursyid kita tidak memberi bekas walaupun kita disuruh mencari mursyid. Yang memberi bekas hanyalah Allah. Allah-lah yang menghitamputihkan nasib kita. Begitulah keyakinan kita. Sebab itu kita mesti selalu panjatkan doa kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada kita.
Dapat hidayah itu lebih mudah. Contohnya dibuka pintu hatinya untuk menerima dan suka kepada Islam. Tetapi belum tentu dapat taufiq. Taufiq ialah amalannya selaras dengan ilmu atau dengan apa yang dia mau. Praktikal dengan teorinya sama. Ilmiah dengan amaliahnya sama.
Oleh karena yang muatsir hanyalah Allah, jadi tujuh hal yang diperkatakan diatas tidak muatsir, walaupun diperintah. Dia tidak memberi bekas. Sebab itulah mesti bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah. Bila Allah beri hidayah dan taufiq semua masalah selesai. Tidak ada masalah yang sulit. Yang besar jadi kecil, yang kecil lebih lagilah jadi terlalu kecil.
Ilmu Islam seperti juga sebagaimana ilmu dunia juga. Tidak mesti kita belajar ilmu dan apabila diamalkan itu tepat sebagaimana belajar. Kebanyakannya tidak tepat walaupun sudah ada nasnya. Tepat yang lahir, batin pula yang tidak kena. Contohnya kita belajar ilmu shalat. Dari segi rukuk, sujud, tepat sebagaimana dalam kitabnya. Tapi yang batin, hati tidak sujud, hati pula yang tidak rukuk. Inilah yang dikatakan taufiq tidak ada sebaliknya hanya dapat hidayah saja.
Contoh yang lain, seorang yang belajar ilmu ekonomi yang selalu memikirkan soal untung dan rugi. Tetapi bila praktikal tidak selalu begitu. Sebab itu mandor lebih pakar dari enginer. Enginer tahu menyebut dari segi istilah saja sesuatu ‘barang’. Tetapi seorang mandor istilahnya tidak tahu menyebutnya tapi dialah yang pakar mengoperasikannya. Jadi teori dengan amal tidak selaras walaupun dari segi ilmunya sudah nampak tepat. Tetapi bila buat tidak tepat. Itulah yang menunjukkan selain Allah tidak memberi bekas. Oleh itu mesti selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniakan hidayah dan taufiq. Bila Allah berikan hidayah dan taufiq, semua apa yang dibuatnya akan tepat.Begitulah teori ilmiahnya, 8 syarat yang ditempuh oleh seseorang itu agar ia menjadi orang soleh atau menjadi orang yang bertaqwa. Bila kita menjadi orang yang bertaqwa barulah kita akan dapat ganjaran dari Allah dunia dan Akhirat. Jadi sebelum kita menjadi orang yang bertaqwa selagi itulah Allah tidak akan bantu dan bela kita serta tiada jaminan daripada Allah SWT.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: