Filsafat Berfikir

KAFIR PANGKAL KERUGIAN | Desember 18, 2015

KAFIR PANGKAL KERUGIAN

Karya: Ading Nashrulloh

 
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia.

Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

(QS. Al-kahfi (18): 103-106)

Tiga Kaidah Utama

Ayat di atas mengandung banyak pesan sebagaimana terkandung dalam kosa kata, konsep dan hukum atau ketetapan Allah.

Tiga kaidah utama yang ingin saya kaji secara mendalam ada tiga saja yaitu:

1. Sia-sia dan ruginya amal usaha orang kafir.
2. Kafir adalah kafir terhadap Alloh.
3. Balasan bagi mereka adalah Neraka Jahanam.

Ketiga hal di atas sifat mutlak, aksiomatis, tak perlu diragukan akan kebenarannya. Hal yang harus dijadikan pegangan dalam memandang orang kafir. Dan memandang diri serta manusia agar berhati-hati dari kekafiran.

Untuk itu penting bagi setiap muslim untuk memiliki pengetahuan yang baik tentang makna kafir. Sehingga menjadi benteng agar kita tidak terperosok ke dalamnya. Juga agar timbul rasa takut bila berbuat seperti perbuatan orang kafir.

Di dalam empat ayat di atas terdapat sejumlah kosa kata pembentuk konsep dan ilmu. Yang semuanya memiliki definisi yang sangat berbeda satu sama lainnya. Hingga darinya terbentuk sejumlah konsep dan membangun ilmu yang penting dan berguna bagi cara kita melihat kehidupan ini, yang berbeda dengan cara selain ini.
Daftar Kosa kata dan Konsep

1. Nabi Muhammad Saw
2. Pemberitahuan
3. Rugi
4. Amal Usaha
5. Sia-sia
6. Dunia
7. Prasangka
8. Kebaikan
9. Kafir
10. Ayat-ayat
11. Rabb
12. Pertemuan
13. Hapus
14. Penilian
15. Hari Qiyamat
16. Balasan
17. Neraka
18. Rasul-rasul
19. Olok-olok

Daftar Konsep dari Tafsir Ibnu Katsir
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab, ia menceritakan, aku pernah bertanya kepada ayahku, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash.
Mengenai firman Allah: qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”) Apakah mereka itu al-Hururiyyah?
la menjawab: “Tidak, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi itu telah mendustakan Muhammad saw.
Sedangkan orang-orang Nasrani, ingkar akan adanya surga dan mereka mengatakan: “Tidak ada makanan dan minuman di dalamnya.”
Al-Hururiyyah adalah orang-orang yang membatalkan janji Allah setelah mereka berjanji kepada-Nya.
Yang jelas, hal itu bersifat umum yang mencakup semua orang yang menyembah Allah Ta’ala dengan jalan yang tidak diridhai, yang mereka mengira bahwa mereka benar dan amal perbuatan mereka diterima, padahal mereka itu salah dan amal perbuatannya tidak diterima.
qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”)
Kemudian Dia menafsirkan mereka seraya berfirman:
alladziina dlalla sa’yuHum fil hayaatid dun-yaa (“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,”) yakni orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang sesat dan tidak berdasarkan syari’at yang ditetapkan, diridhai dan diterima oleh Allah.
Wa Hum yahsabuuna annaHum yuhsinuuna shun’an (“Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”)
Mereka berkeyakinan bahwa mereka telah berbuat sesuatu dan yakin bahwa mereka diterima dan dicintai.
Dan firman-Nya: ulaa-ikal ladziina kafaruu bi aayaati rabbiHim wa liqaa-iHi (“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan [kufur terhadap] perjumpaan dengan-Nya.”)
Maksudnya, mereka mengingkari ayat-ayat dan bukti-bukti kekuasaan Allah di dunia yang telah disampaikan-Nya, juga mendustakan keesaan-Nya, tidak beriman kepada para Rasul-Nya, serta mendustakan alam akhirat.
Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”)
Artinya, Kami tidak akan memberatkan timbangan mereka, karena dalam timbangan mereka tidak terdapat kebaikan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah di mana beliau bersabda:
“Pada hari Kiamat, akan datang seseorang yang (berbadan) besar lagi gemuk, yang ia tidak lebih berat timbangannya di sisi Allah dari beratnya sayap nyamuk.”
Lebih lanjut beliau bersabda:
“Jika kalian berkehendak, bacalah: Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”)
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Firman-Nya: dzaalika jazaa-uHum jaHannamu bimaa kafaruu (“Demikianlah, balasan mereka itu neraka jahannam disebabkan kekafiran mereka.”)
Maksudnya, Kami berikan balasan kepada mereka dengan balasan seperti itu disebabkan oleh kekufuran mereka dan tindakan mereka memperolok-olok ayat-ayat dan para Rasul Allah.
Mereka memperolok para Rasul dan benar-benar mendustakan mereka.

“ Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. “
Maksudnya, mereka mengingkari ayat-ayat dan bukti-bukti kekuasaan Allah di dunia yang telah disampaikan-Nya, juga mendustakan keesaan-Nya, tidak beriman kepada para Rasul-Nya, serta mendustakan alam akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir).
Bagaimana cara Alloh meyakinkan manusia bahwa manusia akan berjumpa denganNya nanti di akhirat?
Jawabannya dalam Al-Quran Surat ar-Ra’d (16) ayat 2
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (ar-Ra’du: 2)

Firman Allah: yufashshilul aayaati la’allakum biliqaa-i rabbikum tuuqinuun (“Menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya], supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan Rabb-mu.”)

Maksudnya, Allah menerangkan ayat-ayat dan tanda-tanda yang menunjukkan, bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Allah akan mengembalikan seluruah makhluk jika menghendaki sebagaimana Dialah yang pertama kali menciptakannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Jadi metode Alloh untuk meyakinkan bahwa manusia akan dikembalikan kepadaNya ialah dengan:
1. Menjelaskan siapa Alloh, yaitu tidak ada ilah selainNya.
2. Menjelaskan tentang kekuasaan dan kebesaranNya di alam semesta.
3. Menjelaskan bahwa Dia memiliki kekuasaan pula untuk menghidupkan manusia setelah matinya.

Jadi semakin kita mengenal dan memperdalam konsep Tauhid, mentafakuri alam semesta ciptaan Alloh ini dan meneguhkan kesadaran akan kekuasaan Allah termasuk kekuasaanNya untuk menghidupkan manusia setelah mati, maka hal itu dapat meyakinkan lebih baik diri sendiri bahwa kita akan bertemu dengan Allah.

Di sini jelas sekali akan pentingnya ilmu tauhid, kegiatan penelitian dan mengingat akan kekuasaan Alloh Swt untuk mempekuat keyakinan kita kepada pertemuan denganNya. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat atas pertemuan dengan Allah tentu banyak sekali manfaatnya bagi pola hidup dan metode berfikir kita selama ini.

Sebaliknya kita akan menemukan banyak fakta yang sangat merugikan hidup manusia, saat mereka tidak meyakini akan pertemuan dengan Alloh. Akan banyak perkara kebaikan dan kewajiban yang mereka abaikan. Dan akan banyak sekali perkara munkar yang mereka kerjakan karena dipandang baik dan benar.

Alloh, tiada Tuhan Selain Dia, Rabb Manusia dan Alam.
Tanda-tanda Kebesaran Allah pada Alam dan Manusia.
Alloh kuasa menghidupkan kembali Manusia di Yaumul Qiyamah.

RUGINYA AMAL USAHA ORANG KAFIR

Orang yang paling rugi adalah orang yang sia-sia amal usahanya sedangkan ia menyangka berbuat baik, dikarenakan mereka kafir kepada Alloh.

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Pada dasarnya manusia berfikir dan berlaku adalah demi kebaikan untuk dirinya.

Manusia memanfaatkan otot tubuhnya sebagai sumber energi, sehingga ia mampu mengangkat dan memindahkan benda-benda. Manusia memanfaatkan kedua tangannya sehingga terampil dalam membuat barang-barang yang dibutuhkannya, sehingga membuatnya senang.

Manusia memanfaatkan bahasa, logika dan penemuannya sehingga terbentuklah peradaban dan kebudayaan, sehingga manusia bangga. Manusia memanfaatkan keberadaan dirinya satu sama lain, sehingga terbentuklah Negara, perusahaan, organisasi, rasa kesetiakwanan, sehingga betahlan mereka hidup di dunia.

Semua yang dilakukannya ini adalah demi menggapai apa yang mereka rumuskan sebagai kebaikan dan keuntungan bagi kehidupannya. Dan mereka terus melakukan hal tersebut sekalipun kemudian adakalanya menimbulkan kerugian bagi sebagian golongan manusia.
Intinya adalah manusia berfikir cenderung untuk mengejar apa saja yang dipandang lebih baik dan mengenakkan hidup. Hal ini wajar adanya. Dari rasa dan kesadaran akan pentingnya memiliki dunia dan perhiasannya tumbuhlah ilmu dan teknologi.

Hanya saja Alloh mengingatkan khusus bagi orang yang beriman, dunia tidak boleh dicintai lebih dari Allah, Rasul dan Jihad. Sebab jika tiga hal di atas diabaikan maka jadinya adalah seperti sifat kaum kafir. Yang cinta dunia dan lupa dengan akhirat.

Sesaat kemudian tumbuhlah kesombongan dan keengganan untuk taat kepada Allah Swt. Akibatnya adalah kerugian.

Dalam kenyataannya hasil olah fikir dan daya juang manusia memberikan manfaat nyata.

Dari masa ke masa kita melihat teknologi semakin maju. Ini adalah buah dari penemuan, penelitian, percobaan dan pengembangan dari masa sebelumnya.

Sebagian dari olah pikir dan perjuangan manusia itu membuahkan kemajuan di berbagai bidang yang kita kenal misalnya bidang energi, transfortasi, komunikasi, politik, keamanan, pertahanan, diplomasi, seni, dan lain sebagainya.

Setiap segmen kehidupan tersebut terdapat sekurang-kurangnya tiga hal terkait. Pendidikan, obyek penelitian dan akademisi dan praktisinya. Setiap segmen tersebut memberikan kontribusi bagi pengembangan dimensi kehidupan yang menjadi focus garapannya.

Sehingga selain kemajuan itu bermanfaat bagi hidup manusia, juga terdapat suatu kecenderungan untuk lebih baik dari zaman ke zaman. Sehingga hidup manusia semakin mudah dan nyaman.

Semangat mengembangkan ilmu dan teknologi semacam ini beserta manfaat yang ditimbulkannya benar-benar merupakan suatu perkara yang baik. Agama, akal, budaya, mendukung sepenuhnya. Tidak ada pengingkaran sedikit pun.

Islam memberikan suatu dorongan yang besar pada umatnya untuk memberikan manfaat bagi manusia sebanyak-banyaknya, tentu dalam konteks yang makruf. Nabi Adam dan seluruh keturunannya sadar atau pun tidak punya potensi dan kecenderungan hanif untuk menjadi pengelola dan penemu ilmu dan teknologi demi hidup yang lebih nyaman.

Dan penyempurna semua kenikmatan itu adalah keimanan kepada Allah, tauhid kepadaNya. Justru iman dan tauhid ini merupakan pondasi dan arah dari semua perjuangan pengembangan ilmu dan teknologi.

Islam datang sebagai yang menyempurnakan nikmat Allah bagi manusia. Sekaligus merupakan alasan dicabutnya nikmat dan digantikannya dengan azab bila manusia tidak Islam. Sebab semua nikmat yang Alloh berikan kepada manusia adalah semata untuk menunjang tugas manusia, yaitu sebagai hambaNya. Dan juga karena Islam itu merupakan cara bersyukur kepada Allah atas nikmatNya.

Tatkala manusia berlomba di sepanjang kehidupannya mengembangkan ilmu, teknologi, pemikiran dan organisasi demi kejayaan negeri dan bangsanya, namun lupa kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah, akibatnya mereka kehilangan arah hidup.

Lalu menjadikan apa saja yang bukan Allah sebagai tujuan dari perjuangan dan pergulatan kehidupannya. Semua hal yang diupayakan menjadi bukan untuk dipersembahkan kepada Allah tetapi kepada sesuatu selain Allah.

Manfaat yang dipetik dari berkembangnya teknologi, akhirnya semakin mencelakakan dan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Sampai seorang pemikir mengatakan, mengapa ilmu yang sangat indah ini mendatangkan kebahagiaan yang sedikit ke kehidupan kita. Jelas sebabnya adalah karena dasar dan arah hidupnya sudah salah.
Sehingga sering terjadi mereka merasa cukup lalu sombong dengan hasil usahanya dan memandang tak lagi dibutuhkan yang namanya agama.

Sejak zaman dulu, sesederhana apa pun ilmu dan teknologi yang mereka miliki, manusia terbagi atas dua bagian besar. Pertama, yang mencukupkan diri dengan duniawi dan di situlah perputaran dirinya mengembangkan ilmu dan teknologi. Kedua, yang tetap menyadari bahwa dunia ini bukan awal dan akhir segala-galanya, ada pencipta dan ada akhirat yang harus disikapi dengan benar, hidup tak hanya berkutat di permasalah duniawi.

Sehingga pengembangan ilmu dan teknologi semata untuk tiga hal utama di tangan mereka yang memiliki iman ini. Pertama demi membebaskan manusia dari kesyirikan. Kedua, untuk mendatangkan kesejahteraan. Ketiga, untuk menegakkan keadilan. Jadi kemajuan ilmu, teknologi, politik, imperium, semuanya demi Ibadah kepada Allah dan terciptanya kedamaian serta kesejahteraan. Bukan kezhaliman, kesyirikan, dan pemiskinan golongan lain.

Manusia-manusia yang mencukupkan diri dengan batasan dunia ini, dan melihat kecukupan yang ada pada dirinya atas semua kemajuan yang dicapainya telah terbukti menyeret mereka kepada kesombongan. Kebanggaan yang berlebihan atas diri mereka. Atas otaknya, indranya, penemuannya, dan memandang apa pun yang berasal dari luar manusia sebagai sesuatu yang tidak masuk standar. Bahkan terhadap wahyu mereka mengingkari, sehingga ingkar pula lah mereka kepada Allah penciptanya.

Kita mengenal sebagian manusia amat sangat percaya dengan kemampuan otaknya. Yang dibantah oleh golongan yang sangat percaya dengan indranya. Lalu timbul lagi golongan yang menyalahkan keduanya yang tidak seimbang ini. Dan menggambungkannya menjadi apa yang kita kenal hari ini sebagai metode ilmiah.

Namun hakikat tersembunyi dari metode ilmiah adalah pengingkaran terhadap wahyu sebagai ilmu. Dan itu artinya wahyu dianggap barang usang, dongeng dari masa lalu. Dan tidak dijadikan sebagai rujukan ilmu, sumber inspirasi dan tempat berkonsultasi ke arah mana ilmu akan dikembangkan.

Moral tidak lagi merujuk kepada nilai-nilai agama; mereka mencupkan diri kepada perasaan dan akal semata. Dipandangnya bahwa etika dan moral itu cukup sumber rujukannya akal dan fakta kehidupan yang sudah biasa ada di keseharian masyaraktnya.

Di luar golongan ahli fikir dan filosof yang mencetuskan gagasan otak, gagasan indra dan penggabungan keduanya sebagai alat ukur dan sumber ilmu, ada lagi golongan yang mendasarkan diri dalam hal penataan kehidupannya pada keyakinan yang sesat. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Di mana kesalahan, kesombongan, kesesatan, kerusakan mereka hakikatnya lebih besar dibanding golongan yang pertama.

Sebab mereka inilah yang telah melahirkan golongan pertama yang saya maksud. Ahli filsafat dan pemikir yang tersesat itu adalah mereka yang beragama yahudi dan nashrani yang meninggalkan agamanya atau tetap dalam agamnya dalam keadaan tersesat dari Islam.

Padahal Islam yang diturunkan Allah dalam seketika selama masa hidup Rasul dan penerusnya disampaikan kepada mereka. Menawarkan suatu pandangan yang lurus tentang kehidupan, dan cara hidup lurus yang menyelamatkan. Mereka menolaknya, mencemooh, mendustakan.

Yahudi menciptakan teori Darwin untuk membenamkan suatu pemikiran bahwa semua manusia berasal dari kera. Itulah semua manusia dalam pandangan Yahudi, dianggap binatang. Ras selain Yahudi adalah hewan. Anehnya ini diterima manusia sejagat, diajarkan di sekolah-sekolah. Sampai Muslim pun akhirnya ragu kalau diri mereka manusia. Ya tentu ada kecualinya. Mereka yang beriman dan berfikiran benar, tidak membenarkan teori ini.

Yahudi dan Nashrani telah mengenal Nabi Muhamad Saw sebelum beliau lahir dari kitab yang ada di tangan mereka sendiri. Namun di sepanjang sejarahnya kedua golongan ini secara umum bukan membenarkan dakwahnya. Itu berarti mereka sebenarnya tidak menjadi umat yang baik kepada Tuhannya.

Akibat dari sikap Yahudi, Nashrani dan Filsuf yang ingkar kepada Alloh ini jelas merugikan diri mereka sendiri. Alloh tidak akan membalasa jasa baik mereka pada kemanusiaan disebabkan ketiadaan iman dan ibadah yang lurus pada mereka.
Di tataran inilah manusia memandang dirinya telah berbuat baik untuk kehidupannya tanpa harus mengkaitkan dengan Alloh dan agama.

Boleh jadi Yahudi dan Nashrani merasa bahwa mereka beragama, namun sebenarnya mereka tidak sedang beragama. Disebabkan mereka tidak benar-benar menegakkan syariat dan aturan yang terdapat di dalam injil dan taurat. Mereka hanya mengikuti apa yang diucapkan Rabi dan Pendeta.

Hakikat dari kenyataan ini adalah mereka sebenarnya tidak butuh agama. Agama yang mereka katakan pada dunia hanya sekedar topeng untuk menutupi keyakinan mereka yang sebenarnya yaitu suatu penistaan pada agama, meracuni agama, mengingkari pesan-pesan agama. Mereka mengambil agama dari apa yang sekiranya bisa memuluskan cita-cita tersembunyi mereka yaitu demi memenuhi ketamakan Yahudi terhadap dunia dan ketololan Nashrani terhadap keyakinan trinitasnya. Adakalanya mereka menghapus dan menambah kandungan Injil dan Taurat. Inilah noumena yang diungkap al-Quran tentang jati diri Yahudi dan Nashrani.

Sebab itu mana mungkin mereka beroleh pahala sekalipun mereka merasa yakin bahwa mereka telah melakukan ibadah, menegakkan agama, dan beramal usaha yang baik di tengah kehidupan. Adalah tak mungkin berbuat baik dalam arti sebenarnya pada sesama manusia, sebab kepada Tuhannya sendiri yang menciptakan mereka, mereka sudah terbukti sangat kurang ajar. Perbuatan baik yang mereka lakukan di tengah kehidupan hanyalah topeng. Toh agama sekalipun dijadikan mereka sebagai topeng.

Kenyataan di permukaan menunjukkan hal berbeda dari apa yang saya ungkapkan di atas. Di sesama mereka diciptakan suatu format untuk saling memberikan penghargaan, saling bantu, saling menguatkan. Kita pasti akan terkagum-kagum dengan hasil pola pikir dan dedikasi mereka tentang peradaban yang mereka wujudkan. Hampir-hampir kita mengatakan mereka hidup di dalam kesempurnaan sistem tanpa cacat.

Kota yang mereka bangun, pabrik, kantor, gadget, software, gerakan sosial, pemikiran, gagasan menyelamatkan bumi dan lain sebagainya adalah perkara-perkara yang memang membutuhkan ketekunan dan kecerdasan luar biasa. Hal yang harus kita sadari, upaya yang mereka lakukan, siapakah yang memberikan pada mereka kehidupan dan alam semesta ini? Apakah diri mereka ada dengan sendirinya, dan bahwa alam semesta ini tidak ada yang mengaturnya? Tidak. Allah menganugrahkan kehidupan ini sebagai ujian. Belum tentu ujung-ujungnya takdir seseorang dengan semua kegemilangannya adalah baik. Karena siapa yang saat mati tanpa iman, di kehidupan akhirat ia rugi tak tanggung-tanggung.

Agama yang Alloh turunkan Islam namanya adalah satu-satunya agama yang benar. Inilah agama, bila manusia mengambilnya sebagai jalan kehidupan, akan mengantarkannya kepada pengabdian yang benar pada Tuhan. Agama selain Islam salah. Jadi orang yang beragama selain Islam sudah salah sejak awal dalam menata kehidupannya. Nanti di akhirat orang-orang kafir ini menyesal, mereka berandai-andai sekiranya dahulu mereka muslim. Ini diungkap di dalam al-Quran surat al-Hijr, di ayat awal-awal. Orang-orang yang beragama di luar Islam, setaat apa pun mereka pada agamanya, sama sekali tidak sedang taat kepada Tuhannya, kepada Rabb yang telah menciptakannya. Sebab Allah, Rabb manusia tidak menciptakan jalan kehidupan dan jalan ibadah selai Islam. Ini adalah kesejatian orang-orang yang menjalankan aturan di luar Islam di mana aturan itu dikenal dengan sebutan agama. Lalu bagaimana pula dengan orang-orang yang tidak beragama sama sekali?

Manusia beragama apa pun selain Islam atau tidak beragama sekali pun adalah sama saja hakikatnya, yaitu bahwa mereka tidak bernilai di dalam pandangan Alloh. Ini merupakan suatu kebenaran, karena diungkap di dalam al-Quran. Bahwa siapa yang mencari agama selain Islam, Alloh tidak akan menerima amal usaha dari mereka.

Sekarang tinggalkan orang-orang yang beragama dengan selain Islam, mari kita bicarakan orang-orang yang tidak ingin kehidupannya, kata-katanya, pemikirannya dikaitkan dengan agama. Mereka kita mengenalnya sebagai matrealisme. Jika kita menyebut istilah matrealisme maka langsung kita menyebut mereka sebagai satu golongan manusia yang menolak keberadaan Tuhan. Padahal hal yang sering kita sebut, keadaannya hampir sama saja. Contohnya adalah empirisme, rasionalisme dan metode ilmiah, itu matrealisme juga. Hendak membuang campur tangan Alloh dari Ilmu dan Kehidupan.

Mereka memandang apa pun yang diungkap di dalam wahyu, jangan dibawa-bawa ke ranah ilmu, sains dan teknologi. Padahal kita mengetahui persoalan ilmu adalah persoalan puncak manusia dilihat dari potensi akal yang dimilikinya setelah agama. Jika ilmu dibikin bukan atas nama agama, maka yang akan terjadi adalah hilangnya semangat spiritual dari ilmu, padahal ilmu asalnya dari Alloh dan untuk membantu manusia menggapai kemuliaannya.

Mereka telah menetapkan sejak dahulu, bahwa akal dan indra adalah dua hal yang final untuk dijadikan sebagai sumber dan ukuran kebenaran serta ilmu. Lalu agama, hanya sekedar berada di posisi sebagai keyakinan semata, di mana akal jangan dilibatkan, atau dengan kata lain agama jangan ikut-ikutan dalam wilayah bekerjanya akal. Ini adalah ungkapan berbeda, tetapi hakikatnya sama.

Ungkapan bahwa akal jangan dilibatkan dalam urusan agama, seakan-akan agama itu sifatnya serba tidak masuk akal. Padahal agama diturunkan untuk makhluk yang berakal, lalu bagaimana manusia yang konon berakal ini bisa menerima sesuatu yang tidak menghargai keberadaan akal. Masalahnya bukan bahwa akal jangan dibawa-bawa dalam beragama, tetapi akal itulah yang harus benar-benar lurus dalam berfikir. Sebab agama yang Allah turunkan itu sejatinya masuk akal. Ungkapan ini sering terlontar dari ucapan para dai yang keliru, seakan-akan agama ketakutan kalau diperiksa akal. Bagaiaman mungkin manusia tentram dengan keyakinannya sementara keyakinan itu tidak diterima akal fikirannya?

Adapun ungkapan bahwa agama jangan dibawa-bawa ke wilayah akal, karena agama itu soal keyakinan,ini juga masalah yang amat serius. Mereka hendak membuang agama dari studi, membuang wahyu dari ikut campur mengurus urusan ilmu dan intelektual. Saat-saat seperti ini, maka ilmu menjadi kering dari nilai keimanan. Ilmu menjadi terlepas dari Allah, seakan-akan manusia semata yang menumbuhkan ilmu, tanpa ada keterlibatan Allah di dalamnya.
Manusia amat terbatas kemampuannya dalam menentukan kriteria kebaikan yang hakiki.

Ketika ukuran kebenaran diserahkan kepada akal dan indra, pengalaman dan budaya yang sudah berjalan, dan katakanlah bahwa itu semua merupakan hal yang benar, tidak ada problem dan dan menjamin terwujudnya suatu kehidupan yang matang, lurus, baik, dan yang seumpama dengannya, tentulah Allah tidak akan menurunkan agamaNya. Allah tidak perlu mengutus para RasulNya untuk menyampaikan agama yang berisi konsep dan penjelasan tentang hakikat-hakikat kehidupan ini.

Kenyataannya Allah mengutus Rasul dan menurunkan wahyu. Allah menjelaskan kembali tentang hakikat-hakikat kehidupan kepada manusia. Tentang diri mereka, tentang hakikat alam semesta, dan tentang keberadaan Allah, serta akan adanya negeri akhirat. Semua ini berarti suatu penjelasan lain bahwa pengetahuan, budaya, pola pikir dan orientasi moral serta hidup manusia memang tidak memiliki daya untuk berjalan lurus di dalam kebenaran kalau hanya sekedar mengandalkan akal. Itulah sebabnya wahtu turun untuk membimbing langkah mereka, agar amal usaha yang selama ini dilakukan mencapai derajat kebenaran.

Harus diakui akal manusia tidak cukup menggapai hakikat semua dimensi keberadaan dan kebenaran. Beberapa hal, akal mampu menggapainya secara tepat dan benar. Namun kebanyakannya tidak bersifat fundamental. Bahkan hal yang fundamental dari kebenaran dan keberadaan, manusia sangat tidak mungkin dapat meraihnya. Di samping itu, fakta kehidupan menunjukkan bahwa manusia cenderung melakukan hal-hal yang salah, keliru, batil di dalam hidupnya. Itulah keadaan ketika manusia tidak hadir di tengah-tengahnya wahyu dan rasul.

Akal memang luar biasa. Akal terhebat dimiliki orang-orang Yahudi. Mereka cerdas. Ini benar berdasarkan al-Quran. Dan benar pula faktanya di lapangan. Namun patut dicamkan, kecerdasan, raihan ilmu pengetahuan, kehebatan dan kepiawaian mereka di bidang diplomasi, ekonomi, politik dan bangunan, tidak serta merta menjadikan akal mereka itu sebagai suatu ukuran dan takaran untuk menimbang kebenaran. Alloh utus kepada mereka sejumlah banyak para Nabi dan Rasul, untuk menjelaskan kebenaran. Jadi sehebat apa pun akal manusia tak patut jadi patokan untuk menentukan kebenaran yang fundamental.

Akal Yahudi yang hebat itu, tidak bisa dijadikan ukuran untuk menimbang nilai kebenaran. Bahkan Allah ungkapkan di dalam al-Quran, akal yang dimiliki Yahudi itu tidak membuat mereka mulia dan mendapatkan suatu rahmat dari Allah, mereka justru mendapatkan kemurkaan dariNya. Akibat dari kesombongan dan kekritiasan yang tidak semestinya. Mata memang bisa melihat, tapi kalau sudah minta ingin melihat Tuhan itu sudah merupakan sikap kurang ajar, puncaknya kurang ajar. Itulah yang dilakukan Yahudi. Kritis tapi tidak beretika.

Alloh meminta manusia untuk berfikir, mempergunakan akalnya, bukan untuk dijadikan sebagai acuan dalam menentukan kebenaran, tetapi dalam sebuah upaya memahami dan menjemput kebenaran yang sudah Allah turunkan berupa wahyu. Mengingat tujuan keberadaan manusia di muka bumi bukan seperti halnya binatang, tumbuhan atau benda-benda. Akal bisa membuat peraturan bagi hidup, namun bukan itu fungsi yang sebenarnya. Bahkan jika akal sudah difungsikan seperti itu dan tidak tunduk kepada wahyu, maka akal menjadi sesuatu yang membahayakan kehidupan.

Tujuan keberadaan manusia di muka bumi setidaknya ada tiga aspek utama. Pertama, adalah untuk memenuhi janji sebelum ia ada. Kedua, adalah untuk berperan nyata dan lurus di dunia. Dan ketiga, untuk mempersiapkan perbekalan bagi hidup di akhirat. Ketiga aspek ini terkumpul dalam satu tindakan, yaitu ibadah kepada Allah. Inilah janji, peran dan bekal sekaligus. Dikatakan janji, karena memang sebelum manusia ada di dunia, di masa sebelumnya manusia berjanji untuk ibadah. Di masa hidup di dunia, Alloh tegaskan bahwa tugas manusia adalah menjadi khalifah. Tidak akan bisa manusia bersikap amanah menjadi khalifah tanpa beribadah. Dan bukti-bukti ibadah pula lah yang akan menjadi bekal kehidupannya untuk di akhirat kelak dengan gemilang dan penuh ridoNya.

Sekarang bayangkan apa jadinya bila agama tidak diturunkan Allah, akal mana yang bisa menjelaskan bahwa Dialah Allah Rabb alam semesta. Akal mana yang bisa merumuskan cara beribadah yang sekiranya mampu mendatangkan rahmat dan rido Allah Swt. Tidak ada. Bahkan tatanan yang dibuat manusia dengan akalnya untuk maksud sebagai cara beribadah kepada Rabb, semuanya bernilai salah. Tidak ada yang benar. Disamping itu, apa yang melalui ibadah itu mereka lakukan, ternyata pula yang diibadahi tidak lebih dari tiga hal saja, yaitu berhala, hawa nafsu dan pemimpin mereka. Semuanya bukan Rabb, bukan Tuhan. Apa pun selain Allah, bukan Tuhan. Jika yang disembah bukan Tuhan, jelas tindakan beribadah atau menyembah itu salah. Dan itulah hasil dari tabiat berfikir di wilayah ibadah. Tidak menghasilkan suatu kebenaran. Malah menghasilkan suatu kesesatan. Andaikan akal mampu membuat cara ibadah yang benar, dan mampu mencapai suatu kebenaran bahwa Tuhan itu adalah Allah, tentulah Allah tak perlu menurunkan wahyu yang menjelaskan siapa Tuhan dan bagaimana cara menyembahNya.

Di saat-saat manusia hanya mengandalkan akal fikirannya dalam menata kehidupan ini, dan melepaskan diri dari kaidah serta tuntunan agama, apa yang kita saksikan? Apakah timbul darinya sebuah tatanan yang adil, menentramkan, dan mampu mengundang rahmat dari Allah? Fakta-fakta menunjukan kepada kita suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Manusia yang kuat tak kuasa menahan rasa amarah dan ajakan hawa nafsunya. Manusia yang lemah tak kuasa lepas dari ketertindasan penguasanya yang zhalim. Bahkan bukan itu saja, ada fakta yang lebih mengejutkan. Yaitu mereka mendapatkan adzab dan kemurkaan dari Allah. Telah terjadi hal ini pada kaum sebelum Nabi Muhammad Saw. Banyak negeri yang dihancurkan akibat dari apa? Akibat dari menjadikan akal dan nafsu sebagai panduan kehidupan. Bukan sekedar merajalelanya kezhaliman, tapi juga turun kepada mereka azab yang menghancurkan.
Sehingga tatkala mereka semakin jauh dari agama, pola hidup mereka semakin menuju kehancuran.

Dibalik turunnya agama dari Allah untuk manusia, dibalik keberadaan manusia di bumi ini, dibalik bumi dan langit yang kita lihat, dan dibalik penglihatan kita pada segala yang nampak, ada hakikat tersembunyi yang harus kita sadari keberadaannya. Di balik agama ada adzab. Artinya jika manusia tidak mengikuti agama yang Allah turunkan adzab siap menyambutnya. Dibalik keberadaan manusia di bumi, ada tugas untuk beribadah. Jika tidak dilakukan, kesesatan yang akan ditemui. Dan dibalik adanya langit dan bumi, ada masa akhir yang akan digantikan oleh negeri akhirat, yang kita semua akan mendatanginya. Dibalik penglihatan kita kepada dunia, ada keimanan yang harus menjadi titik tolak kita bersikap atasnya. Jika iman diabaikan, alamat kesia-siaan hidup akan menghampiri.

Rasul turun, pertama untuk membersihkan jiwa. Perhatikan, ini artinya tanpa Rasul jiwa kita kotor. Lalu Rasul membacakan kepada kita kitab. Ini lah pintu mengenal pengetahuan yang benar. Namun sebelum mengenal kebenaran dan penjelasan segala hakikat yang ada, yang pertama harus ada di dalam diri kita adalah hati yang bersih, pikiran yang jernih, itulah iman dan tauhid. Perhatikan ini pula, jika kita tak paham kandungan kitab, jangna harap dapat ilmu yang lurus, jangan harap mendapat kebenaran. Lalu tugas rasul yang berikutnya adalah mengajarkan hikmah. Hal yang membuat hidup ini indah, mudah dan lumrah. Marilah kita catat bahwa keluhuran akhlak itu hanya bisa dicapai dengan meniru dan mengikuti sifat-sifat yang baik.

Jiwa yang kotor, akal yang diliput kesesatan, etika yang tak sempurna, bukanlah milik karakter manusia yang lurus dalam hidup. Manusia yang benar dalam cara berfikirnya, lurus dalam hidupnya, lembut dalam setiap akhlak dan perilakunya, tentulah sangat membenci jiwa-jiwa yang tidak matang, ucapan yang penuh dusta, dan sikap kasar dan sulit berubah ke arah kebaikan. Tetapi inilah yang telah, sedang dan akan terjadi pada hampir seluruh manusia ketika tidak ada Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Hidup mereka berada dalam samudra kegelapan yang diliput pula oleh kegelapan. Sampai-sampai, saking gelapnya pola pikir manusia yang tak terbimbing wahyu tersebut, menyebabkan kedatangan para Rasul dengan membawa mukjizat sekali pun, tidak mampu melihat cahaya kebenaran. Sehingga mereka meremehkan dan menolak setiap perkataan para Rasul. Inilah bukti dari keadaan manusia saat tiada pada mereka keimanan.

Jadi jangan anggap remeh persoalan ini. Sikap hidup tanpa bimbingan wahyu bukan masalah sepele. Jika seseorang atau bangsa sepakat untuk mengenyahkan wahyu dari kehidupan, lalu bermimpi ingin berjiwa besar, berpirkiran maju, beretika luhur, non sen hasilnya. Mustahil mereka bisa meraihnya. Tundalah dulu bahasan kita atas orang-orang yang memang mengabdikan diri untuk melakukan kejahatan dan keonaran. Marilah kita melihat dan memperhatikan golongan manusia yang masih punya keinginan untuk hidup yang benar dan teratur, dengan berfikir keras dan bekerja mati-matian untuk kebaikan keluarga dan negerinya, secara makruf dan beretika, inilah yang kita sayangkan. Sayang sekali, jika seluruh upaya yang mereka lakukan ini tidak didasari oleh rasa keimanan dan menuju keimanan. Sia-sia semua amal usahanya ini. Keimanan itu intinya adalah membenarkan wahyu. Membenarkan wahyu, maksudnya menjadikannya sebagai panduan penataa kehidupan.

Bersusah payah, manusia menguras akal fikirannya, memanfaatkan alamnya, berkasih sayang di antara sesamanya, namun buat apa semuanya itu kalau akhirnya hanya kesia-siaan yang dipetik. Ini adalah sebuah pesan. Bahwa sehebat apa pun upaya yang dilakukan manusia untuk mencapai kebaikan hidup, pada akhirnya akan menuju kehancuran. Lebih menyedihkan dari itu adalah kecelakaan nanti di akhirat. Ini mungkin kalimat-kalimat yang berulangkali diungkapkan dalam tulisan ini. Jika manusia membuang empat hal dalam kehidupan, itulah akibatnya. Saya ulangi lagi empat hal itu adalah iman, amal sholeh, dakwah dan sabar.

Marilah kita lihat berbagai kerusakan yang terjadi. Ini merupakan suatu kerugian yang besar. Pertama, manusia menjadi semakin jauh dari agama. Kedua, kejahatan semakin bertambah-tambah di semua lapisan masyarakat. Ketiga, kelemahan Negara-negara dalam menyikapi kezhaliman Yahudi. Keempat, keanehan cara berfikir orang Nashrani. Kelima, keengganan umat Islam untuk berhukum kepada al-Quran. Keenam, kecintaan yang luar biasa pada dunia. Ketujuh, kesesatan cara hidup orang yang tidak meyakini Allah. Kedelapan, lemahnya para pemimpin Negara dalam menghadapi konspirasi kejahatan dajal.

Kehancuran apa lagi yang lebih besar yang menimpa umat Islam dan umat manusia pada umumnya, tatkala mereka bengis satu sama lainnya, melupakan Allah atau lalai dalam sholat, tidak serius memikirkan negeri akhirat, merendahkan aturan syariat, berlindung kepada kekuatan senjata, lemah dalam iman, lari dari Islam, berbuat musyrik, enggan mengikuti jejak para Nabi dan orang sholeh, terpedaya oleh Yahudi, mengikuti budaya Nashrani yang lemah pemikirannya, dan ragu terhadap kebenaran al-Quran.

Perhatikanlah yang menimpa umat manusia di mana-mana, kejahatan terjadi tanpa kendali, penyakit terus berdatangan, negeri-negeri rusak, wanita dihinakan, hiburan kosong makna diagungkan, pembunuhan begitu mudah terjadi. Sementara pemuda lemah semangat, pemikir tak punya arah, pemimpin tidak melindungi. Pendidikan tidak lagi berorientasi kepada nilai luhur tapi pada keserakahan, sebagai ilmu ekonomi masa sekarang. Negeri-negeri Islam dan para pemimpinnya bukan yang terdepan dalam memimpin dunia dan peradaban. Tentu semua ini adalah akibat dari dilupakannya Islam.

Manusa sering lemah dalam memandang hakikat dari keadaan zamannya. Andaikata tidak kembali kepada al-Quran dalam memandang dan menilai kehidupan ini, maka jadinya kebiasaan buruk manusia umumnya diikuti begitu saja. Bagaimana jadinya bila yang diikuti itu adalah sistem kehidupan Yahudi dan Nashrani serta Syaithan laknatulloh. Tentu hal ini sangat merugikan umat manusia. Dan pertanggungan jawab apa yang dapat menyelamatkan mereka di hadapan Allah kelak, jika kebenaran tidak lagi jadi pegangan.

Bila keselamatan yang ingin kita raih, maka perlu ketegasan dalam bersikap, keberanian untuk melangkah, suka berkorban untuk beralih kepada suatu cara hidup yang telah digariskan oleh Allah. Kita sudah mendapati banyak sekali orang-orang yang tekun dalam belajar agama, patuh dan taat pada agama, namun apa yang kita lihat ternyata tidak menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat secara signifikan. Bukan berarti apa saja yang mereka lakukan salah. Justru, hal itu adalah pondasi. Hanya saja kekuatan kufur dan keji saat ini jauh lebih besar daya rusaknya pada umat manusia dibanding daya kekuatan yang melawannya dari unsur dan pokok kebaikan.
Di sisi lain kita terdapat pula fakta bahwa manusia tetap beragama, dan melakukan keagaamannya dengan serius.

Ketika kita melihat lembaga pendidikan Islam masih berdiri, ini adalah kabar baik.

Di jajaran lain lebih banyak lembaga pendidikan yang sama sekali tidak berbasis kepada keimanan. Ini parah. Ketika para pelakunya adalah umat Islam.

Orang kafir dan mereka yang mengikuti jejaknya menyangka telah berbuat kebaikan untuk bisa mendatangkan pahala untuk akhiratnya. Namun sejatinya mereka telah jauh dari agama yang Tuhan ridoi. Mereka telah menyimpang dari kelurusan.

Sebab itulah mengapa Alloh berkali-kali menurunkan agamaNya yang diemban para Rasul.Demikian di hari ini upaya untuk mengembalikan manusia kepada Islam harus terus dilakukan.

Walaupun berbagai kendala, tantangan dan konspirasi datang tiada henti-hentinya.

KAFIR TERHADAP ALLOH

Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Setidaknya ada dua sebab manusia kafir kepada Allah, golongan pertama berfikir bahwa agama mereka benar. Dan golongan kedua berfikir bahwa filsafat mereka cukup untuk jadi panduan kehidupan.

Perilaku kafir yang signifikan dikategorikan sebagai sebab sia-sianya amal mereka namun disertai prasangka bahwa mereka telah berbuat baik ada dua kategori. Pertama kafir terhadap ayat Alloh, dalam hal ini mengingkari Al-Quran. Mereka boleh jadi yakin akan adanya hari berbangkit. Kedua mengingkari hari perjumpaan dengan Alloh, pasti mereka ini adalah sekaligus kafir terhadap al-Quran.

Termasuk orang-orang yang selalu bergelimang dalam perbuatan dosa. Sebab apalah arti yakin kepada al-Quran dan hari berjumpa dengan Alloh jika saban waktu hidup selalu berada di jalur kemaksiatan. Tujuan utama keyakinan kepada akhirat adalah berbekal kebaikan. Dan tujuan beriman kepada al-Quran adalah menegakkan kandungannya.

Masih ada cara pandang yang salah di antara orang beriman tentang Tauhid, mereka beriman dan sekaligus suka berbuat maksiat, lalu menyangka bahwa dosa-dosanya mudah begitu saja diampuni Allah. Dan terus bergantian antara berbuat dosa dan taubat. Pagi bertaubat, siang berbuat dosa.

Masih ada cara pandang yang salah di antara orang beriman tentang Hukum, mereka membaca al-Quran tetapi hidup didasarkan kepada sesuatu yang asing dari Islam. Mereka hidup di bawah lindungan hukum-hukum yang sama sekali bukan berasal dan berupa hukum Islam.

Melalui ayat di atas Alloh hendak mengingatkan kita akan pentingnya beriman yang benar terhadap al-Quran, hari kiamat dan Nabi Muhammad Saw. Sehingga kita selalu punya dorongan untuk benar dalam memandang ketiga perkara tersebut dan berhati-hati dari sikap kafir dan memperoloknya.

Setidaknya ada tiga tugas berat yang diemban setiap dai atas persoalan manusia dalam kaitannya dengan al-Quran dan keimanan. Pertama tugas pada Umat Islam sendiri, tugas kepada ahli kitab, dan tugas kepada manusia di luar umat dan ahli kitab.

Sumber kerusakan utama adalah dari pertama, orang-orang munafik, yakni orang yang sangat menguasai Islam dan ia Muslim secara lahir namun dengan ilmunya itu ia membuat penyimpangan dari Islam atas umat manusia. Ia berusaha mengkfirkan Umat Islam. Kedua, dari ahli kitab yang sangat cerdas sehingga dengan ilmu dan kecerdasannya mereka membuat proyek besar untuk menyesatkan manusia dari Tuhannya. Ketiga, dari ahli-ahli kemaksiatan yang ditunjang oleh politik, ekonomi, filsafat, pendidikan, sekolah dan perusahaan.

Mereka yang disebutkan ini, membuat berbagai langkah nyata untuk menjauhkan manusia dari Allah, bahkan dilanjutkan untuk menghujat, menghina, dan membinasakan Islam dan orang-orang yang istiqomah dalam Iman.

Solusi atas semua masalah ini sederhana, yaitu belajar al-Quran dan mengajarkannya. Al-Quran dan keimanan yang kuatlah sebagai solusinya. Al-Quran memiliki kekuatan argument yang tidak akan pernah terbantahkan oleh logika apa pun. Bahkan logika dan fakta yang benar justru mendukug al-Quran. Sedangkan keimanan memiliki kekuatan untuk menjadikan seseorang sebagai pandu bagi al-Quran.

Al-Quran Alloh turunkan adalah atas dasar kasih sayangNya. Sayang sekali banyak manusia tersesat dari Islam. Dan sungguh naif bila kita Muslim, namun tak mengenalnya dengan baik. Kita disibukkan oleh perkara-perkara yang mubah dan sealakadarnya atas hal yang wajib. Besar sekali kerugian kita bila hal ini terus berlanjut.

Di luar pagar Islam, kita bisa tahu bagaimana langkah orang kafir memperkuat barisan mereka agar teguh dalam kekafiran, agar kekafiran lebih indah dan menarik. Juga bagaimana langkah mereka untuk menipu daya orang-orang beriman, bekerja sama dengan sesama kafir lagi, dan menghidupkan ajaran-ajaran Dajjal.
BALASAN BAGI ORANG KAFIR ADALAH NERAKA JAHANAM
Sehebat apa amal usaha orang-orang kafir di bidang mana mereka pilih, seindah dan serapi bagaimana pun juga, mereka tak akan menjumpai apa pun nanti di akhirat kecuali kesia-siaan.

Karena untuk beroleh kebaikan di akhirat dan dijauhkan dari neraka ada empat syarat, yaitu iman, amal sholeh, dakwah dan shabar, sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat al-ashr.

Kita mengenal manusia secara umum, ada yang baik dan ada yang buruk atas sikapnya kepada kemanusiaan, peradaban dan teknologi. Namun sejatinya inti dari kemuliaan bukanlah akhlak. Tapi sesuatu yang menyempurnakannya. Itulah Tauhid. Tanpa Tauhid, akhlak menjadi tidak berguna di hadapan Allah.

Jika hidup tidak berarti di hadapan Allah, Alloh tidak akan menurunkan RahmatNya atas manusia. Jika rahmatNya dicabut maka yang ada adalah azab. Dalam keadaan tiada rahmat Alloh, boleh jadi dari sisi duniawi hidup seseorang atau bangsa semakin makmur. Namun semua itu justru semakin memudahkan mereka memperbanyak dosa dan kemaksiatan serta kerusakan. Sehingga azabNya saat tiba, tidak tanggung-tanggung.

Alloh sudah menegaskan di dalam al-Quran, ujung kehidupan orang kafir itu adalah neraka. Ini sebuah aksioma. Tak akan suatu hal pun yang bisa membantah atau memalingkan kebenaran ini.

Saat Alloh menyatakan hal ini, sebagai suatu janji, hendaklah ini menjadi ukuran kita dalam memandang diri dan kehidupan orang kafir. Bahwa agenda besar orang kafir itu adalah suatu kebencian kepada nilai-nilai akhlak yang sempurna. Mereka memang berakhlak tapi tidak dengan kesempurnaan. Itu artinya hakikat akhlak mereka sangat rusak. Karena dengan keanggunan sikap dan perbuatan mereka di mata manusia justru memperkuat pandangan atas kekafiran sebagai hal yang baik. Padahal buruk.

Tentu saja kita tidak bermaksud mengatakan bahwa akhlak yang baik itu buruk. Yang baik tetap baik di masa yang terbatas. Kecerdasan, kekuatan, ilmu, teknologi, Negara, kekayaan, pertanian, badan sosial, itu semuanya baik. Persoalannya adalah apa yang mendasari semua hal itu dan ke mana arah yang sedang dituju. Bila dasar dan arah itu adalah kemusyrikan, dan kekafiran, serta kemunafikan, tentu semuanya ketika ditotalitaskan menjadi tidak berharga sama sekali.

Sudah seyogyanya Muslim itu hidup dengan pola pikir iman, melihat segala hal dari sudut iman, bukan dari sudut hawa nafsu, akal semata, apalagi yang parah melihat semuanya dengan menanggalkan kaca mata al-Quran. Lalu siapa diri kita ketika tidak melihat dunia dari kaca mata yang keluar dari al-Quran?

Sia-sialah manusia yang beragama di luar Islam, yang hidup di dasarkan pada fisafat kafir, yang menipu diri sendiri dengan perilaku yang penuh maksiat, yang berpihak kepada pola pikir dan kepentingan orang kafir.

Tidak ada keuntungan di dunia dan akhirat dengan menjadi orang kafir. Tidak ada kemuliaan hidup di mana Islam disisihkan. Di mana al-Quran diabaikan. Di mana Nabi Muhammad diabaikan keteladanannya. Di mana keimanan dianggap barang mainan.

Di saat dunia penuh dengan aneka keganjilan seperti ini, justru orang-orang beriman dianggap ganjil. Di saat seperti komitmen kepada keimanan yang lurus menjadi sangat besar maknanya. Karena menjadi orang beriman berarti menjadi orang asing di tengah kehidupan.

Dengan adanya peringatan dari Alloh maukah kita semua kembali kepada keimanan. Memperkuat keyakinan kepada al-Quran, hari kiamat dan meneladani hidup Rasulullah Saw ?

Cianjur, Desember 2015


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: