Filsafat Berfikir

KONTAK AWAL UMAT ISLAM DENGAN PUSAT INTELEKTUAL PRA-ISLAM | Desember 20, 2015

KONTAK AWAL UMAT ISLAM DENGAN PUSAT INTELEKTUAL PRA-ISLAM

Karya : Sri Mulyani Nasution

Sumber : https://srimulyaninasution.wordpress.com/islamic-education/kontak-awal-umat-islam-dengan-pusat-intelektual-pra-islam/
Diakses : 20-12-15

I. Pendahuluan

Keunggulan dan dominansi umat Muslim pada satu abad pertama Islam – melalui prestasi yang telah dicapai— memang menakjubkan, termasuk bagi musuh-musuh Islam terdahulu. Prestasi ini berhasil dicapai berkat ideologi Islam dan mukjizat al-Qur’an serta Sunnah Rasulullah, Saw. Hampir 40 generasi sejak Nabi Muhammad, kaum Muslim dikuasai konflik politik. Dengan Berkat dan Rahmat Allah, mereka mampu menyingkirkan rintangan dan memenangkan pertempuran, bahkan menaklukkan hati para musuh-musuhnya. Inilah gambaran bangsa Muslim di balik berbagai kesulitan dan konflik internal –yang terjadi dari waktu ke waktu— sebagai situasi yang tak dapat dihindarkan dan saat ini hampir secara keseluruhan telah mampu dikendalikan.
Gambar1: Wilayah Arab pada masa kejatuhan Dinasti Umayyah pada 750 M.

Secara umum, peradaban Barat modern diklaim berasal dari peradaban Barat yang lebih tua (biasanya diasosiasikan dengan Yunani dan Romawi). Namun demikian, mengingat jarak yang demikian jauh antara kedua fase ini, maka klaim tersebut perlu dicermati kembali secara serius. Realitasnya, pada waktu peradaban Barat sedang mengalami kemunduran, saat itu justru merupakan abad-abad perkembangan dan kejayaan peradaban Islam. Bagaimana kita dapat mengungkap realitas yang sebenarnya tentu dibutuhkan penelusuran kembali terhadap situasi pada masa itu.

Menelusuri sejarah peradaban Islam sama artinya dengan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang menggambarkan perjalanan umat Islam untuk memperoleh kemajuan sebagai hasil usaha keras dari generasi terdahulu. Sejarah mencatat bahwa Islam pernah mengalami zaman keemasan yang dikenal dengan sebutan ‘The Golden Age‘, dimana saat itu kaum Muslim berhasil mencapai puncak kejayaan di bidang sains dan ilmu pengetahuan yang memberikan kemaslahatan yang amat besar bagi peradaban dunia. Pada masa itulah berbagai cabang sains dan teknologi lahir. Sains dan teknologi yang telah diletakkan dasar-dasarnya oleh peradaban-peradaban sebelum Islam mampu digali, dijaga, dikembangkan, dan dijabarkan, secara sederhana oleh kaum Muslim. Sains dan teknologi tersebut kemudian diwariskan kepada generasi dan peradaban modern serta turut memberikan andil yang amat besar bagi proses kebangkitan kembali (renaissance) bangsa-bangsa Eropa.

Menurut Amroeni Drajat, secara historis, transformasi peradaban Yunani ke dunia Islam pada garis besarnya melalui dua jalur. Pertama jalur perluasan wilayah; dan kedua, jalur alih bahasa atau terjemahan. Peradaban Yunani dan Hellenistik sebelum Islam tersebar secara merata di sekitar kawasan yang pada masa sekarang merupakan wilayah Islam. Sejumlah hasil pikiran para tokoh Yunani banyak dipelajari dan diadopsi oleh para pemikir Islam dengan sentuhan kreativitas intelektual yang tinggi. Banyak ide-ide yang disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga muncul peradaban yang bercorak Islam. Kondisi seperti itu mengisyaratkan tingginya tingkat apresiasi dari umat Islam dan penguasanya. Ajaran Islam yang menganjurkan sikap rasional, kritis dan terbuka sangat menunjang perkembangan dialog peradaban. Ketika Islam muncul, pemikiran rasional Aristoteles dan pemikiran mistis Plato serta Plotinus banyak diadopsi oleh para intelektual Muslim. Hal ini membuktikan bahwa Islam dan para pemeluknya tidak antipati terhadap peradaban yang ada di luarnya. Dalam hal ini, Islam mampu membuktikan sikap terbuka sehingga proses asimilasi kebudayaan berjalan dengan baik.

Disamping sikap Islam terhadap alam dan sains, dunia juga harus mengakui karakter bahasa Arab sebagai sarana pembawa wahyu dan sebagian besar sains Islam. Bahasa ini tak diragukan lagi menjadi lingua franca dunia Islam sekaligus sebagai bahasa suci. Tidak hanya karena memiliki ketepatan yang membuatnya menjadi alat yang unggul bagi wacana ilmiah, tetapi juga menjadi dimensi inti yang membuatnya mampu menjadi sarana sempurna untuk mengekspresikan sebagian besar bentuk isoteris pengetahuan. Fleksibilitas ini memudahkan para penerjemah awal dalam menerjemahkan teks bahasa Yunani, Suria, Sanskerta, dan Pahlavi ke dalam bahasa Arab, untuk membentuk kata-kata baru dengan relarif mudah, serta untuk memperluas arti dari terma yang telah lebih dulu ada dan memasukkannya ke dalam konsep baru.

II. Pembahasan

Sejak zaman Dinasti Umayyah, dunia ilmiah Muslim sebenarnya telah mulai menapak ke arah pengembangan berbagai disiplin ilmu. Perkembangan ini terus berlanjut pada masa dinasti Abbasyiah yang pada akhirnya mengalami kemunduran yang antara lain disebabkan serangan Mongol yang memporak-porandakan wilayah Arab dan peradabannya. Mongol menghancurkan institusi yang yang sebelumnya memang telah lama mati suri. Namun demikian, kejayaan dinasti Umayyah dan Abbasiyah era awal tidak akan pernah hapus dari kesadaran umat Muslim. Di masa ini, pasukan Mongol yang dikenal sebagai bangsa bar-bar dan tidak mengenal peradaban melakukan pembakaran, termasuk terhadap dokumen-dokumen ilmiah yang selayaknya dilindungi untuk kepentingan perkembangan peradaban dunia.

Gambar 2: Penaklukan Mongol. Memperlihatkan serangan utama Mongol.

Sebuah peradaban merupakan hasil kejeniusan sebuah bangsa atau budaya. Sebagaimana peradaban Yunani merupakan hasil dari para jenius bangsa Yunani, peradaban Cina sebagai hasil dari para jenius bangsa Cina, dan peradaban Barat yang saat ini sedang jaya-jayanya merupakan hasil dari para jenius bangsa-bangsa Barat; maka peradaban Islam merupakan hasil dari para jenius Islam.[8] Bagaimana Islam mampu mencapai zaman keemasan dalam peradabannya tentulah tidak terlepas dari kejeniusan serta usaha gigih masyarakat Arab-Islam periode awal. Kemajuan yang dicapai berkaitan erat dengan terjadinya perkembangan peradaban sejalan dengan terjadinya perluasan wilayah. Perluasan wilayah Arab yang membentang dari Spanyol sampai India ini berhasil dicapai hanya dalam kurun waktu kurang dari satu abad, sehingga digambarkan oleh J.J. Saunders[9] sebagai satu di antara hal luar biasa dan mencengangkan dalam sejarah. Lebih daripada itu, pengalihan pengetahuan ilmiah dan filsafat Yunani ke dunia Islam serta penyerapan dan pengintegrasian pengetahuan itu ke dalam batang tubuh khazanah intelektual Islam adalah suatu prestasi budaya yang mengagumkan.

Para filosof Islam sendiri pada dasarnya tidak memiliki akses langsung dengan pusat intelektual pra-islam (dalam hal ini para pemikir Yunani). Bagaimana kontak awal mereka dengan para pemikir Yunani sebagai awal saling keterkaitan kedua peradaban tersebut merupakan topik yang menarik untuk dibahas. Dalam bab pendahuluan, telah disinggung bagaimana terjadinya transformasi peradaban Yunani ke dunia Islam menurut Amroeni Drajat. Pendapat lain yang juga perlu disimak adalah pendapat dari Oliver Leaman. Menurut Oleiver Leaman,[11] para filosof Islam kala itu tidak mempelajari karya para pemikir Yunani dalam bahasa asli mereka atau bahkan –dalam banyak kasus– tidak melalui terjemahan yang akurat. Mereka juga tidak sepenuhnya tepat dalam menafsirkan isi tulisan. Semua ini terjadi karena interpretasi mereka terhadap filsafat Yunani sangat dipengaruhi oleh tradisi Hellenistik dan Neoplatonik sehingga gagal dalam merepresentasikan secara jelas mengenai inti perdebatan. Namun demikian, apa yang dikemukakan Leaman tersebut sebaiknya tidak diinterpretasikan secara negatif, pernyataan tersebut justru menunjukkan kejeniusan ilmuan Muslim dalam mereinterpretasi dan membangun kembali konsep-konsep keilmuan yang berasal dari pemikir Yunani menjadi suatu konsep ilmu yang bernilai tinggi dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman –dalam hal ini, didasarkan pada nilai-nilai Qur’ani.

Penerjemahan karya intelektual Yunani sudah dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam atau penaklukan Asia Barat Daya oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Pekerjaan besar tersebut telah dirintis oleh para pengikut Kristen Monophysit dan Nestorian, untuk kemudian dilanjutkan oleh kaum Muslim.[12] Upaya penerjemahan ini pada dasarnya bukan merupakan sumber ketertarikan atas sains yang berkembang pada masa itu, namun merupakan suatu konsekuensi dari ketertarikan ini. Transfer massif ilmu pengetahuan ilmiah ke dalam bahasa Arab merupakan suatu fenomena kompleks yang tidak dapat direduksi sebagai suatu proses penerjemahan mekanis. Kita tidak dapat mengatakan bahwa gerakan penerjemahan merupakan sebab utama kemunculan sains bahasa Arab. Munculnya sains ini merupakan hasil-usaha sungguh-sungguh dan tekun yang dilakukan oleh para ahli yang merespon tuntutan masyarakatnya. Merupakan usaha yang didukung oleh berbagai segmen masyarakat dan distimulasi oleh kebutuhan internal dan riset ilmiah. Sebagaimana semua fenomena sosial yang muncul, kebangkitan sains dalam masyarakat Islam secara historis memiliki ketergantungan, mendapatkan agensi aktif sebanyak determinan eksternalnya. Dalam hal ini, tak dapat dipungkiri bahwa tubuh pengetahuan ilmiah yang paling berpengaruh adalah Yunani.[13]

Kebesaran para ilmuan Arab tersebut diakui oleh Leaman yang mengklaim bahwa para filosof Muslim merupakan sosok-sosok yang kreatif. Mereka tidak begitu saja mengadopsi konsep para filosof Yunani, tetapi mampu mengembangkan konsep-konsep tersebut seluas mungkin dan membangun konsep baru sehingga memiliki makna sebagaimana mereka memandangnya. Kita juga dapat melihat bagaimana mereka mampu menangani suatu isu dengan cara yang baru. Para filosof Muslim secara umum juga memodifikasi teori Aristotelian sehingga sejalan dengan al-Qur’an.[14]

Secara umum Nakosteen menyimpulkan bahwa transmisi ilmu-ilmu Yunani, Hellenik dan Hellenistik ke dunia Islam disebabkan oleh beberapa faktor historis yang biasa. Di antara faktor-faktor terpenting adalah sebagai berikut:

Terjadinya penganiayaan dan pengusiran oleh kelompok Kristen ortodoks terhadap kelompok Kristen lain yang memiliki perbedaan doktrin, terutama kaum Nestorian dan Monophysit. Kaum Nestorian berpindah ke kerajaan Persia, sedangkan kaum Monophysit ke Persia dan Semenanjung Arabia. Mereka membawa serta warisan ilmiah Yunani dan Hellenistik.
Penaklukan Alexander Agung beserta para penerusnya yang menyebarkan ilmu pengetahuan Yunani sampai ke Persia dan India. Ilmu pengetahuan dan filsafat ini kemudian diperkaya dengan ide-ide lokal.
Yang paling signifikan adalah keberadaan Akademi Jundi Shapur milik kerajaan Persia yang mengembangkan model kurikulum Universitas Alexandria dengan cara memadukannya dengan budaya India, Yunani, Syria, Helenisme, Yahudi dan Persia sendiri. Di akademi ini penerjemahan ke dalam bahasa Pahlavi dan bahasa Syiria berlangsung secara intensif. Pada era Islam awal, tradisi klasik tersebut ditransfer ke dunia Islam dan Barat, sampai tugas ini diambil alih oleh Baghdad di wilayah Islam bagian Timur; Sisilia dan Kordoba di wilayah Islam bagian Barat.
Kegiatan ilmiah bangsa Yahudi juga merupakan faktor penting lainnya. Para penerjemah Yahudi merupakan instrumen yang paling berperan dalam transmisi ini karena kemampuan bahasa mereka, terutama dalam penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Ibrani dan Arab pada masa sebelum dan awal Islam.[15]

A. Athena Klasik : The School of Hellas

Sejarah panjang peradaban Yunani mengantarkannya ke puncak peradaban manusia di seluruh dunia. Kemajuan di berbagai bidang dengan mudah terlihat sebagai simbolisasi dari kuatnya peradaban ini. Tidak ada pembicaraan tentang ilmu pengetahuan modern yang bisa mengelak dari merujuk akarnya ke Yunani.[16]

1. Isi Peradaban

Sebagai sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur, Athena mengalami kemakmuran dan kemajuan budaya serta menjadi salah satu pusat kegiatan intelektual kerajaan Romawi. Sejumlah pusat pendidikan berdiri di kota ini. Filsafat dan ilmu-ilmu lainnya berkembang dengan baik.[17]

Peradaban ini melahirkan sederet nama-nama besar di berbagai bidang pengetahuan semisal Thales, Anaximenes, Anaximender, Protogoras, Socrates, Aristoteles, Plato, Plotinus dan Phytagoras. Di Athena, Plato yang wafat tahun 347 SM mendirikan Akademi Filsafat yang belakangan dikenal sebagai museum Athena. Merupakan sebuah lembaga besar dan terbuka, tempat para ilmuan dari berbagai latar belakang bangsa dan agama bersama-sama mengembangkan pengetahuan.[18]

2. Modus Interaksi

Kemunduran Yunani mencapai puncaknya ketika Kaisar Justinian I berkuasa, karena Kaisar ini memiliki pandangan keagamaan yang sempit dan tidak terlalu menghargai ilmu pengetahuan. Pada tahun 529 M, dia memutuskan untuk menutup Museum Athena maupun sekolah-sekolah lain yang ada di kota tersebut.[19]

Keadaan ini menyebabkan banyak ilmuan yang meninggalkan Athena dan umumnya pindah ke daerah-daerah di pantai timur Laut Tengah yang sekarang masuk wilayah Palestina, Lybia, Syria, Mesir, Libanon, Irak dan Persia. Proses ini berperan besar bagi perkembangan pemikiran Hellenisme yang memadukan tradisi intelektual Yunani dan tradisi intelektual Timur.[20]

3. Cultural Attitude

Pandangan keagamaan Justian I yang demikian fanatik dan tidak bisa mentolerir keberadaan penganut sekte atau agama lain menjadi latar belakang penutupan museum Athena. Disamping itu, penutupan museum ini juga berkaitan dengan sikap Justinian I yang tidak terlalu antusias terhadap dunia ilmu pengetahuan dan filsafat, di samping-alasan-alasan ekonomi.[21]

B. Alexandria Hellenistik

Alexandria (al-Iskandaryah) dibangun sekitar abad ke-3 SM, terletak di pantai laut Tengah dan termasuk wilayah Mesir. Kota ini berada di bawah kekuasaan Romawi Timur hingga datangnya Islam.[22] Pada abad ke-1 M, Alexandria telah menjadi pusat ilmiah dan fillsafat Yunani bersamaan dengan pertemuan Hellenisme dengan pengaruh Oriental dan Mesir Kuno.[23] Walaupun Athena memberikan jalan bagi Alexandria sebagai pusat intelektual bagi lingkungan Yunani, namun demikian tradisinya tetap meneruskan tradisi Hellas dengan menciptakan dua sistem filsafat baru yang akan menempatkan mereka berdampingan dengan Plato, Aristoteles dalam pengeruhnya bagi pemikiran Barat.[24]

1. Cultural Attitude

Sebagai pusat ilmiah, kota Alexandria mendapat dukungan yang baik dari para Kaisar di Konstantinopel, paling tidak hingga abad ke-4 M. Keterbukaan dan kebebasan ilmiah yang dulunya berhasil memajukan Athena kembali diterapkan di Aleksandria. Para ilmuan dari berbagai latar belakang budaya dan agama dengan bebas berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan ilmiah di kota ini.[25]

Sama halnya dengan periode Athena, fanatisme agama tampaknya berperan besar dalam proses kemunduran kegiatan intelektual di Alexandria. Sejak awal abad ke-5 M., kegiatan intelektual di kota ini terus mengalami kemunduran.[26]

2. Modus Interaksi

Interaksi ilmiah antara Athena dengan Alexandria sudah dimulai sejak sebelum kota ini berdiri. Tahun 345 SM Aristoteles berangkat dari Athena ke ibukota Macedonia memenuhi panggilan Raja Philip II untuk menjadi guru pribadi bagi putra Raja sekaligus penerusnya, Alexander Agung. Aristoteles kembali ke Athena pada 335 SM setelah satu tahun Alexander agung menggantikan tahta Macedonia.[27] Alexandria sendiri baru dibangun oleh Alexander Agung pada tahun 331 SM di tepi percabangan sungai Nil.[28]

Transmisi pengetahuan dari Athena menuju Roma salah satunya terjadi melalui Alexandria. Pesatnya pertukaran budaya terjadi setelah tahun 155 SM, ketika kedutaan Athena tiba di Roma untuk menyampaikan suatu keputusan yang tidak disukai yang telah diambil oleh penengah Yunani dalam percekcokan dengan ibu kota negara bagian Oropus. Seruan tersebut tidak berhasil dan sang duta besar kembali ke Athena, tanpa menghasilkan apa-apa kecuali stimulasi ceramah filsafat di Roma.[29] Transmisi ini dibawa pula oleh ilmuan yang pindah dari Alexandria ke Athena sehingga membawa kembali sains ke tempat asalnya. Ada keyakinan bahwa Plotinus (205 M.- 270 M.) –filosof Yunani— dilahirkan di Mesir; ia belajar di Alexandria sebelum pindah ke Roma di usia 40 tahun.[30]

3. Isi Peradaban

Kota ini sangat besar peranannya karena sejak abad pertama Masehi telah menjadi pusat pengembangan filsafat dan ilmu yang berasal dari tradisi Timur (India dan Cina) maupun tradisi Ilmiah Mesir yang sudah sangat tua. Mengalami kemajuan sejak abad pertama hingga abad ke 15 M. Sejumlah besar ilmuan meniti karirnya di kota ini Di antara yang paling terkenal adalah Euclid dan Ptolemy. Di sini sempat dibangun berbagai lembaga pendidikan; yang paling terkenal adalah museum Alexandria, yang dilengkapi ruang-ruang belajar, perpustakaan besar dan observatorium raksasa.[31]

C. Romawi Timur

Ketika kerajaan Yunani mengalami kemunduran dan kemudian kaisar Augustus mendirikan kerajaan Romawi Pada tahun 27 SM. Saat itu, Athena tetap berfungsi sebagai pusat pengembangan intelektual.[32] Sayangnya, filsafat dan sains tidak pernah tumbuh subur di Roma seperti hal nya di Athena dan Alexandria. Namun demikian, para filosof dan ilmuan pada masa Romawi mencakup orang-orang yang sangat berpengaruh dalam perkembangan intelektual Eropa masa pertengahan.[33]

1. Isi Peradaban

Produktivitas ilmiah benar-benar mengalami kemunduran di bawah kekuasaan Romawi ini. Chester G. Starr[34] menyebut abad kedua kekuasaan Romawi ini sebagai abad mandul – dalam arti tidak memproduksi karya ilmiah yang monumental. Adapun penyebab kemandulan ini adalah :

Absolutisme sistem imperial yang diterapkan benar-benar bertentangan dengan kebebasan sebagai syarat perkembangan ilmiah.
Peralihan besar-besaran dalam struktur kelas sosial dimana kelas atas yang sebelumnya merupakan penyangga peradaban Yunani mengalami kehancuran.
Bangkitnya individualisme menggerogoti sistem kemasyarakatan sehingga tidak memberi kemungkinan berkembangnya peradaban yang tinggi.

Di antara karya yang sempat ada pada masa ini adalah karya Plotinus yang mencakup keseluruhan filsafat termasuk Kosmologi dan Fisika. Karya-karya ini merupakan sintesis dari pemikiran Platonik, Phytagorean, Aristotelian, dan Stoic, yang kemudian dikenal dengan nama Neoplatonisme. Merupakan filsafat yng dominan dalam dunia pemikiran Yunani-Roman; sisa-sisa purbakala sampai pada era pertengahan.[35]

2. Modus Interaksi

Pesatnya pertukaran budaya terjadi setelah tahun 155 SM, ketika kedutaan Athena tiba di Roma untuk menyampaikan suatu keputusan yang tidak disukai yang telah diambil oleh penengah Yunani dalam percekcokan dengan ibu kota negara bagian Oropus. Seruan tersebut tidak berhasil dan sang duta besar kembali ke Athena, tanpa menghasilkan apa-apa kecuali stimulasi ceramah filsafat di Roma.[36]

Transmisi pengetahuan dari Athena menuju Roma salah satunya terjadi melalui Alexandria. Ada keyakinan bahwa Plotinus (205 M.- 270 M.) –filosof Yunani— dilahirkan di Mesir; ia belajar di Alexandria sebelum pindah ke Roma di usia 40 tahun.[37]

3. Cultural Attitude

Kerajaan baru ini memiliki karakter yang berbeda dengan pendahulunya. Sifat ilmiah dan kontemplatif dari peradaban Yunani sebelumnya telah digantikan oleh sebuah peradaban yang cenderung agak praktikal.[38]

D. Konstantinopel

Pada tahun 330 M., pusat kekaisaran Roman dipindahkan ke Timur., ketika Konstantin Agung memindahkan ibukotanya dari Itali ke kota milik Yunani, Byzantium di Bosphorus. “Roma Baru” itu kemudian dinamakan Konstantinopel.[39]

1. Isi Peradaban

Sumbangan Konstantinopel terhadap perkembangan pengetahuan salah satunya adalah dengan didirikannya Universitas oleh Konstantin di Konstantinopel. Institusi ini diakui oleh Theodosius II pada tahun 425. merupakan universitas baru yang menjadi pusat belajar terpenting di kerajaan tersebut.[40] Disamping itu, perlu pula dicatat beberapa peninggalan seperti karya-karya Proclus yang mencakup komentar terhadap buku I dari Euclid yang berjudul ‘Element‘ yang berisikan sejarah geometri Yunani yang sangat kaya serta sebuah risalah yang berjudul ‘Outline of Astronomical Hypothesis’, yang merupakan ringkasan dari teori Hipparchus dan Ptolemy.[41]

2. Modus Interaksi

Di antara ilmuan yang ikut berperan dalam transmisi pengetahuan Yunani ke masa renaisan adalah Proclus. Proclus (410 M – 480 M.) merupakan, filosof Neoplatonis terbesar yang terakhir lahir di Konstantinopel tetapi pindah ke Athena pada masa remajanya untuk belajar di Akademi. Ia menetap di Athena pada sisa hidupnya kecuali pada masa pengasingan yang terpaksa ia jalani karena faham paganisme. Dia memimpin Akademi pada masa akhir hidupnya. Ia merupakan ahli sintesa filsafat Yunani terbesar terakhir yang sangat ekstrim mempengaruhi pemikiran abad pertengahan dan masa renaisan.[42]

3. Cultural Attitude

Kwartal ketiga abad kelima merupakan periode kacau dalam sejarah bagian barat kerajaan. Kerajaan dipimpin secara berturut-turut oleh sepuluh penguasa. Terakhir adalah Romulus Agustus.yang digulingkan pada tahun 476 M. pada masa itu, sebagian besar Eropa Barat telah hilang karena menjadi bagian dari kerajaan tersebut dan sejak itu kaisar di Konstantinopel menjadi penguasa tunggal dari yang tersisa.[43]

E. Jundi Shapur

Pusat intelektual lain yang juga penting adalah Jundi Shapur, sebuah kota tua di bagian Tenggara lembah Mesopotamia dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia Sasaniyah. Kegiatan ilmiah di kota ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke enam, namun kota ini masih relatif vital sampai sekitar abad ke 4/10 M, setelah berada di bawah kekuasaan Muslim.[44]

1. Isi Peradaban

Jundi Shapur menjadi pusat intelektual terbaik di zamannya, khususnya di bidang kedokteran, matematika dan musik.[45] Nama Jundi Shapur menjadi terkenal selama periode Islam. Jundi Shapur secara cepat menjadi pusat ilmu pengetahuan yang utama, khususnya bagi Pengobatan Hipokratik, yang kemudian diperkuat lagi setelah tahun 489 M., ketika aliran Edessa ditutup atas perintah penguasa Byzantine.[46]

2. Modus Interaksi

Pada abad ke-5 M, tanda kemunduran kegiatan ilmiah mulai kelihatan menerpa Alexandria. Agaknya fanatisme agama yang berlebihan telah menyebabkan kebebasan intelektual mulai terganggu. Keadaan ini membuat sejumlah ilmuan tidak betah lagi di kota ini dan mencari tempat yang lebih menjanjikan kebebasan dan fasilitas yang lebih baik. Sebagian besar memilih untuk masuk ke daerah-daerah yang dikuasai kerajaan Persia Sasaniyah, sebab di bawah Sasaniyah kebebasan relatif lebih terjamin. Kemunduran Alexandria ini berlanjut terus, sehingga pada saat tentara Islam menaklukkannya pada tahun 643 M, yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari lembaga-lembaga ilmiah yang dulunya sangat megah.[47]

Bersamaan dengan berkembangnya kegiatan ilmiah di kawasan Sasaniyah Kerajaan Romawi Timur tampaknya lebih banyak dikuasai oleh Kaisar-kaisar yang tidak mendukung kegiatan ilmiah yang mengakibatkan ditutupnya sejumlah akademi di beberapa kota. Hal ini secara langsung menguntungkan kota Persia, Jundi Shapur; banyak ilmuan yang kemudian meninggalkan Athena, Alexandria dan kota-kota Romawi lainnya lalu memilih untuk menetap di Jundi Shapur.[48]

3. Cultural Attitude

Raja Shapur II (310 M – 379M) memperluas kota ini dan membangun sebuah akademi ilmiah dengan dukungan fasilitas dan finansial yang baik. Akademi ini kemudian melanjutkan usaha bangsa Persia yang sejak awal telah berupaya mengembangkan pengetahuan yang mereka warisi dari peradaban Babilonia dan India.[49]

F. Edessa, Harran dan Nisibis: Jalan menuju Baghdad

Di antara kota tujuan para ilmuan yang meninggalkan Athena dan Alexandria adalah Edessa dan Harran, dua kota Mesopotamia Utara dimana Kebudayaan Syria Kuno sudah berkembang sejak awal. Meskipun pada umumnya penduduk daerah ini adalah penganut Kristen Nestoris, tetapi sebagai sebuah kota ilmiah, para ilmuan pagan pun mendapat tempat terhormat di sini. Bahkan kegiatan kota Harran cenderung lebih didominasi oleh para ilmuan pagan, sedangkan Edessa menjadi pusat kegiatan intelektual yang didominasi oleh para ilmuan Kristen (Nestoris).[50]

1. Isi Peradaban

Karya-karya yang diterjemahkan saat ini mencakup bidang-bidang matematika, astronomi, kedokteran dan filsafat. Pada paruh pertama abad ke-6 M kota Nisibis memiliki sebuah akademi pendidikan yang mungkin bisa disebut terbaik di dunia kala itu. Di sini berlangsung kegiatan penerjemahan karya-karya penting Yunani dan Sanskerta ke dalam bahasa Persia lama (Pahlavi) dan bahasa Syria, oleh para ilmuan Syria, Yahudi, Persia dan lain-lain.[51] Karya-karya yang diterjemahkan antara lain bidang-bidang matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat.[52]

2. Modus Interaksi

Kemunduran Alexandria yang menyebabkan terjadinya eksodus ilmuan berperan besar dalam penyebaran sains ke daerah-daerah ini. Setelah dimusuhi di belahan Barat, kelompok ini melarikan diri ke wilayah Syria dan mendirikan sekolah di Edessa. Ketika pada tahun 489 M, kaisar Romawi Timur memerintahkan agar akademi ilmiah Edessa ditutup, para ilmuan kembali harus pindah, kali ini ke Nisibis, masih di Mesopotamia Utara.[53]

3. Cultural Attitude

Masa penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan di wilayah ini dimulai dari dukungan penuh hingga permusuhan sengit.[54]

G. Baghdad

Era Islam mulai pada 622 M. saat Muhammad Saw. hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat dipimpin oleh Khalifah I, Tentara Arab menaklukkan Syria pada 637 M., Mesir pada 639 M., Peersia pada 640 M., Tripolitania pada 647 M., Afrika Barat Laut pada 670 M. Arab kemudian menyerang Konstantinopel pada 674 M. Berakhirnya dinasti Umayyah pada 661 M digantikan oleh dinasti Abbasyah. Di masa pemerintahan Abu Ja’far al-Mansur dari dinasti Abbasyah, Baghdad dibangun sebagai ibu kota yang baru. Merupakan awal dari periode yang penuh warna dalam sejarah Islam.[55]

Baghdad muncul sebagai pusat budaya yang besar. Pada masa ini telah dilakukan penterjemahan pertama buku asing ke dalam bahasa Arab, termasuk buku Aristoteles tentang logika dan subjek lainnya; juga buku-buku klasik lain dari Yunani, Yunani-Bizantin, Pahlavi, Neo Persian dan Syria. Program penerjemahan berlanjut pada masa al-Mahdi yang merupakan anak dari al-Mansur. Institusi intelektual yang paling penting di Baghdad pada masa Abbasiyah adalah ‘Bayt al-Hikma’ atau ‘House of Wisdom’, yang pada dasarnya adalah perpustakaan. Di masa ini bermunculan ilmuan-ilmuan Muslim terkenal seperti al-Khawarizmi, al-Kindi, dan lainnya.[56]

Program penerjemahan terus berlanjut sampai pertengahan abad ke-11, baik di Timur maupun Muslim Spanyol. Pada saat itu, sebagian besar karya ilmiah dan filsafat penting dari Yunani bisa ditemukan dalam terjemahan Arab, bersamaan dengan komentar terhadap karya-karya tersebut; di samping risalah-risalah asli dari ilmuan Islam yang telah diproduksi secara intern. Dengan demikian, melalui kontak mereka dengan lingkungan budaya dan tulisan ilmiah berbahasa Arab, maka mereka mampu berperan penting di bidang sains dan filsafat; dengan menyerap apa yang telah mereka pelajari dari Yunani dan memberikan penambahan untuk memulai masa kebangkitan Islam, yang hasilnya disampaikan ke Eropa Barat. Para sarjana Islam memulai pencerahan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid.[57]

H. Masa Kebangkitan Islam

Masa Kebangkitan Islam mulai sebelum gerakan penerjemahan berakhir, menyebar ke Timur ke Asia Tengah dan ke Barat ke Afrika Utara dan Spanyol, membuka jalan bagi kebangkitan karya-karya semua cabang ilmu yang berasal dari Yunani Kuno.[58]

Gambar 3: Wilayah Islam tahun 800 H.[59]

Dinasti Abbasiyah berakhir pada 1258 ketika Baghdad di serang Bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan. Hulagu membunuh khalifah Abbasiyah bersama-sama dengan rakyat Baghdad. Seperempat kota dirampas dan dihancurkan, termasuk mesjid besar, dan menurut laporan sejarah tumpukan manuskrip terkubur, termasuk yang berasal dari ‘Bayt al-Hikma‘ di Baghdad. Bersamaan dengan itu, berakhirlah masa keemasan Islam.[60]

III. Penutup

Kontak awal Islam dengan peradaban klasik terjadi karena proses perluasan wilayah. Dalam kurang dari satu abad, umat Islam telah berhasil memperluas kekuasaannya melampaui batas tradisional semenanjung Arabia, sehingga dengan sendirinya mereka berhadapan dengan daerah-daerah kekuasaan Romawi Timur dan Persia. Kedua Kerajaan ini telah pernah memiliki peradaban yang jauh lebih maju, sebab mereka merupakan pewaris peradaban Yunani kuno, meskipun pada umumnya adalah dalam bentuk yang berciri Hellenistik.

Bangsa Muslim mampu melakukan perluasan wilayah yang kecepatannya sulit dicari tandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, terbukti dalam kurang lebih satu abad mereka telah mampu menguasai sebagian besar wilayah yang semula dikuasai Romawi Timur dan Sasaniyah yang memang sedang dalam proses keruntuhannya, terutama akibat peperangan yang berkepanjangan.[61] Dengan demikian, Islam telah berhasil menstimulasi lahirnya satu peradaban anggun.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara peradaban Barat dan peradaban Islam, dimana perkembangan peradaban Islam mengambil manfaat dari peradaban Barat dan pada masa sesudahnya peradaban Barat mengambil manfaat pula dari jaman keemasan peradaban Islam. Seperti yang dikatakan Ahmad Dallal, Sains Arab melakukan lebih dari sekedar memelihara keabsahan sains Yunani dan menyampaikannya kepada ahli waris Eropanya, sebab tradisi ilmiah Arab berhasil memberikan nilai tambah bagi warisan Yunani tersebut sehingga akhir dari transformasi ini adalah munculnya satu sains baru yang disampaikan oleh ilmuan Arab.[62]


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: