Filsafat Berfikir

Kolonialisme dan Imperialisme | Desember 21, 2015

Kolonialisme dan Imperialisme
Disusun oleh : Ading Nashrulloh
Sumber : Karya Para Penulis di Internet

A. Awal Mula Munculnya Imperialisme dan Kolonialisme oleh Bangsa Barat

Imperialisme

Istilah imperialisme diperkenalkan di Perancis pada tahun 1830-an, imperium Napoleon Bonaparte. Pada tahun 1830-an, istilah ini diperkenalkan oleh penulis Inggris untuk menerangkan dasar-dasar perluasan kekuasaan yang dilakukan oleh Kerajaan Inggris. Orang Inggris menganggap merekalah yang paling berkuasa (Greater Britain) karena mereka telah banyak menguasai dan menjajah di wilayah Asia dan Afrika. Mereka menganggap bahwa penjajahan bertujuan untuk membangun masyarakat yang dijajah yang dinilai masih terbelakang dan untuk kebaikan dunia. Imperialisme merujuk pada sistem pemerintahan serta hubungan ekonomi dan politik negara-negara kaya dan berkuasa, mengawal dan menguasai negara-negara lain yang dianggap terbelakang dan miskin dengan tujuan mengeksploitasi sumber-sumber yang ada di negara tersebut untuk menambah kekayaan dan kekuasaan negara penjajahnya.

Imperialisme menonjolkan sifat-sifat keunggulan (hegemoni) oleh satu bangsa atas bangsa lain. Tujuan utama imperialisme adalah menambah hasil ekonomi. Negara-negara imperialis ingin memperoleh keuntungan dari negeri yang mereka kuasai karena sumber ekonomi negara mereka tidak mencukupi. Selain faktor ekonomi, terdapat satu kepercayaan bahwa sebuah bangsa lebih mulia atau lebih baik dari bangsa lain yang dikenal sebagai ethnosentrism, contoh bangsa Jerman (Arya) dan Italia. Faktor lain yang menyumbang pada dasar imperialisme adalah adanya perasaan ingin mencapai taraf sebagai bangsa yang besar dan memerintah dunia, misalnya dasar imperialisme Jepang.

Dasar imperialisme awalnya bertujuan untuk menyebarkan ide-ide dan kebudadayaan Barat ke seluruh dunia. Oleh karena itulah, imperialisme bukan hanya dilihat sebagai penindasan terhadap tanah jajahan tetapi sebaliknya dapat menjadi faktor pendorong pembaharuan-pembaharuan yang dapat menyumbang kearah pembinaan sebuah bangsa seperti pendidikan, kesehatan, perundang-undangan dan sistem pemerintahan.

Sarjana Barat membagi imperialisme dalam dua kategori yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern. Imperialisme kuno adalah negara-negara yang berhasil menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau yang mempunyai suatu imperium seperti imperium Romawi, Turki Usmani, dan Ciina, termasuk Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis yang memperoleh jajahan di Asia, Amerika dan Afrika sebelum 1870, tujuan imperialisme kuno adalah selain faktor ekonomi (gold) juga termasuk didalamnya tercakup faktor agama (God) dan kajayaan (glory). Sedangkan Imperialisme modern bermula setelah Revolusi Industri di Inggris tahun 1870-an.

Hal yang menjadi faktor pendorongnya adalah adanya kelebihan modal dan Barang di negara-negara Barat. Selepas tahun 1870-an , negaranegara Eropa berlomba-lomba mencari daerah jajahan di wilayah Asia, Amerika dan Afrika. Mereka mencari wilayah jajahan sebagai wilayah penyuplai bahan baku dan juga sebagai daerah pemasaran hasil industri mereka. Dasar Imperialisme ini dilaksanakan demi agama, mereka menganggap bahwa menjadi tugas suci agama untuk menyelamatkan manusia dari segala macam penindasan dan ketidakadilan terutama di negara-negara yang dianggap terbelakang seperti para misionaris Kristen yang menganggap misi penyelamat ini sebagai The White Man Burden Diantara faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya imperialisme adalah faktor dan ekonomi

Kolonialisme

Koloni merupakan negeri, tanah jajahan yang dikuasai oleh sebuah kekuasaan asing. Koloni adalah satu kawasan diluar wilayah negara asal atau induk. Tujuan utama kolonialisme adalah kepentingan ekonomi.Kebanyakan koloni yang yang dijajah adalah wilayah yang kaya akan bahan mentah, keperluan untuk mendapatkan bahan mentah adalah dampak dari terjadinya Revolusi Industri di Inggris.

Istilah kolonialisme bermaksud memaksakan satu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk mendapatkan sebuah wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai. Usaha untuk mendapatkan wilayah biasanya melalui penaklukan. Penaklukan atas sebuah wilayah bisa dilakukan secara damai atau paksaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada mulanya mereka membeli barang dagangan dari penguasa lokal, untuk memastikan pasokan barang dapat berjalan lancar mereka kemudian mulai campur tangan dalam urusan pemerintahan penguasa setempat dan biasanya mereka akan berusaha menjadikan wilayah tersebut sebagai tanah jajahan mereka. Negara yang menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi aspek kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.

Sejarah perkembangan kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari Portugis berlayar ke india pada tahun 1498. Di awali dengan pencarian jalan ke Timur untuk mencari sumber rempah-rempah perlombaan mencari tanah jajahan dimulai. Kuasa Barat Portugis dan Spanyol kemudian diikuti Inggris dan Belanda berlomba-lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah dan berusaha mengusainya. Penguasaan wilayah yang awalnya untuk kepentingan ekonomi akhirnya beralih menjadi penguasaan atau penjajahan politik yaitu campur tangan untuk menyelesaikan pertikaian, perang saudara, dan sebagainya. Ini karena kuasa kolonial tersebut ingin menjaga kepentingan perdagangan mereka daripada pergolakan politik lokal yang bisa mengganggu kelancaran perdagangan mereka.

Kolonialisme berkembang pesat setelah perang dunia I. Sejarah kolonialisme Eropa dibagi dalam tiga peringkat. Pertama dari abad 15 hingga Revolusi industri (1763) yang memperlihatkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan Portugis. Kedua, setelah Revolusi Industri hingga tahun 1870-an. Ketiga, dari tahun 1870-an hingga tahun 1914 ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak pertikaian kuasa-kuasa imperialis

Awal Kolonialisme Bangsa Barat bermula dari jatuhnya Byzantium ke tangan Turki Usmani telah menyebabkan komoditi dari Asia Timur dan Asia Tenggara di Eropa langka dan kalaupun ada harganya sangat mahal. Namun di pihak lain peristiwa itu berdampak positif karena telah mendorong meningkatnya ilmu pengetahuan di dunia Barat. Hal ini karena banyak ahli budaya-teknologi dari Byzantium yang lari ke Barat berhasil menularkan pengetahuannya di sana. Di Portugal misalnya, pengetahuan geografis dan astronominya meningkat semakin baik, sehingga orangorang Portugis berhasil menjadi mualim-mualim kapal yang mahir dan tangguh.

Kepandaian ini kemudian dipadukan dengan berkembangnya teknologi perkapalannya mulai dari penemuan sistem layar segitiga dengan temali-temali persegi, serta kontruksi kapal yang semakin baik sehingga kapal-kapal mereka lebih mudah digerakkan dan lebih layak dipakai untuk pelayaran samudra. Demikian pula teknologi persenjataan mereka berkembang sehingga mampu menciptakan meriammeriam yang dapat ditempatkan di atas kapal-kapal mereka.

Kapal-kapal perangnya lebih menyerupai panggung meriam di lautan daripada istana terapung bagi para pemanah atau geladak balista (alat pelontar) seperti pada kapal-kapal Romawi pada masa Julius Caesar dan Oktavianus Agustus. Penemuan-penemuan teknologi itulah yang kemudian mendorong mereka untuk mencari jalur baru ke India (dalam mitos masyarakat Eropa waktu itu, rempah-rempah berasal dari India, sehingga mereka berlayar ke timur termasuk ke benua Amerika, adalah untuk mencari India).

Namun perlu dikemukakan di sini, bahwa Portugis berlayar ke timur bukan semata-mata untuk mencari rempah-rempah, tetapi juga untuk mencari emas dan sekutu untuk melawan Turki dalam arti melanjutkan “perang salib”. Pencarian emas dan perak kemudian menjadi penting karena kedua logam mulia itu dijadikan semacam indikator kesuksesan satu negara, seperti dikemukakan oleh Antonio Serra bahwa kekayaan itu tiada lain adalah emas dan perak.

Politik ekonomi ini dikenal di Eropa sebagai ekonomi Merkantilis. Paham ini mulai berkembang sekitar tahun 1500-an dan semakin berkembang setelah terbit tulisan-tulisan dari para pendukung paham ini, seperti Jean Colbert dari Perancis dan Thomas Mun dari Inggris. Atas dorongan Pangeran Henry ‘Si Mualim’, Portugis memulai usaha pencarian emas dan jalan untuk mengepung lawan yang beragama Islam dengan menelusuri pantai barat Afrika. Mereka berusaha mencari jalan menuju Asia (India) guna memotong jalur pelayaran pedagang Islam, sekaligus untuk memonopoli perdagangan komoditi tersebut.

Pada tahun 1478, Bartolomeu Diaz sampai ke Tanjung Harapan di ujung selatan Benua Afrika. Kemudian pada tahun 1497 armada pimpinan Vasco da Gama sampai ke India. Pengalaman di India ini telah menyadarkan orang-orang Portugis bahwa barang-barang perdagangan mereka tidak dapat bersaing di pasaran India yang canggih dengan hasil-hasil yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia. Oleh karena itulah semboyan “God –Gold – Glory” bagi mereka menjadi relevan, karena tidak ada cara lain untuk menguasai perdagangan Asia selain melalui peperangan dan menjadikan daerah-daerah penghasil komoditi itu sebagai koloni.

Sebab-sebab Kolonialisme dan Imperialisme

Mula-mula yang mempelopori adannya kolonialisme dan imperialisme adalah bangsa barat dimana pada saat itu kekuatan Eropa dipandang sebagai kekuatan yang paling kuat dan berpengaruh bagi dunia. Pendorong terjadinya kolonialisme yang khususnya diperankan oleh bangsa Eropa diantaranya adalah:

Desakan ekonomi dari negara yang melakukan koloni berupa tidak dapat memenuhi kehidupannya.
Keinginan untuk mengetahui daerah baru.
Mencari daerah pasar.
Mencari daerah sumber daya alam diluar daerahnya.

Keinginan menjadi jaya atau menjadi paling kuasa.
Hasrat untuk menyebarkan idiologi dan agama.
Perasaan bangsanya unggul dari bangsa lain sehingga ingin memimpin negara-negara lainnya.
Keadaan Umat Islam pada awal Terjadinya Imperialisme

Umat Islam mengalami puncak kejayaan kedua pada masa tiga kerajaan Besar berkuasa, yakni kerajaan Usmani, Safawi dan Mughal.

Namun, seperti pada masa kekuasaan Islam terdahulu, lambat laun kekuatan Islam menurun. Bersamaan dengan kemunduran tiga kerajaan tersebut, bangsa Barat mulai menunjukkan usaha kebangkitannya. Periode tiga kerajaan tersebut (1503-1789) bahkan disebutkan sebagai periode-periode kejayaan peradaban Islam, setelah sebelumnya mengalami kemunduran pasca jatuhnya dinasti Abbasiyah.

Namun, kemajuan pada masa itu lebih kepada aspek material, dan lemah pada bidang pemikiran, sains, seni dan filsafat. Hal ini dapat dilihat dari perekonomian, kekuatan militer dan wilayah teritorial negara yang kuat pada masa itu, namun kemajuan tersebut tidak mendorong terjadinya kemajuan pada bidang pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya menyebabkan ketidak mampunya menandingi kekuatan Eropa modern yang didukung oleh sains dan teknologi.

Kebangkitan bangsa Barat bermuara pada semangat keilmuan yang begitu tinggi, yang telah membawa bangsa Barat menuju penemuan-penemuan baru dan penjelajahan samudra, serta revolusi industri hingga berujung pada imperialisme terhadap wilayah-wilayah Islam pada khususnya.

Dengan organisasi dan persenjataan modern, pasukan perang Eropa mampu melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan Islam. Kekuatan-kekuatan Eropa menjajah satu demi satu negara Islam. Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris sembilan tahun kemudian. Tunisia ditaklukkan pada tahun 1881, Mesir pada tahun 1882, Sudan pada 1889. Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat. Umat Islam di Asia Tengah menjadi sasaran pendudukan Uni Soviet.

Kemunduran Tiga Kerajaan Besar Islam (1700-1800 M)

Awal kemunduran dunia Islam terjadi saat jatuhnya kota Baghdad (pusat kebudayaan, peradaban, dan ilmu pengetahuan) pada tahun 1258M oleh Bangsa Mongol, yang mengakhiri kekhalifahan Bani Abbasiyah. Wilayah kekuasaan Abbasiyah terpecah menjadi Negara-negara kecil yang independent. Akibatnya kekuatan umat Islam mengalami kemerosotan.

Setelah tuntuhnya Bani Abbasiyah, wilayah Islam terbagi menjadi tiga kerajaan besar, yaitu: pertama, Kerajaan Turki Usmani (Afrika Utara, Jazirah Ara, Asia Barat, dan Eropa Timur); kedua, Kerajaan Safawi (Persia); dan ketiga, Kerajaan Mughal (India).

Namun ketika tiga kerajaan besar Islam sedang mengalami kemunduran di abad ke-18M, Eropa Barat mengalami kemajuan pesat. Kerajaan Safawi hancur di abad ke-18M, Kerajaan Mughal hancur pada awal paro kedua abad ke-19M di tangan Inggris yang kemudian mengambil alih kekuasaan di ank benua India.

Kemunduran kerajaan Usmani juga pada masa selanjutnya, di periode modern menyebabkan kekuatan-keuatn Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. (Badri Yatim, 2004: 174)

Faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi, diantaranya ialah: a) Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani; b) Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi; c) Pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi, dikarenakan pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani; serta d) Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. (Badri Yatim, 2004: 158)

Faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughal, diantaranya ialah: a) Terjadi stagnasi dalam pembinaan militer sehingga opersai militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime Mughal, begitu juga kekuatan pasukan darat; b) Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara;

c) Pendekatan Auranzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya; serta d) Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan. (Badri Yatim, 2004: 163)

Faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Usmani, diantaranya ialah: a) Wilayah kekuasaan yang sangat luas; b) Heterogenitas Penduduk; c) Kelemahan para penguasa; d) Budaya pungli; e) Pemberontakan tentara Jenissari; f) Merosotnya ekonomi; serta g) Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi. (Badri Yatim, 2004: 167)

Mengenai penyebab kemunduran dunia Islam diantaranya dikarenakan dua faktor, yaitu:

a) Faktor eksternal, yakni: pertama, terjadinya Perang Salib. Kedua, adanya serangan dari bangsa Mongol telah mengahancurkan beberapa negara Islam. Dan ketiga, terjadinya bencana alam dan berjangkitnya wabah penyakit sehingga menyebabkan perekonomian tidak stabil.

b) Faktor internal, yakni: pertama, perpecahan dan tidak adanya kesatuan politik. Kedua, rasa puas diri dan kejumudan berpikir. Dan ketiga, membudayanya pola hidup mewah dan berfoya-foya di kalangan penguasa. (Ajid Thohir, 2004: 153)
B. Renaissance Di Eropa (Barat)

Kemajuan Eropa (Barat) memang bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan metode berpikir Islam yang rasional. Di anatar saluran masuknya peradaban Islam ke Eropa itu adalah Perang Salib, Sicilia, dan yang terpenting adalah Spanyol Islam. Ketika Islam mengalami kejayaan di Spanyol, banyak orang Eropa yang datang belajar ke sana, kemudian menerjemahkan karya-karya umat Islam. Hal ini dimulai sejak abd ke-12M. Dalam perkembangan selanjutnya, keadaan ini melahirkan renaissance, reformasi dan rasionalisme di Eropa. (Badri Yatim, 2004: 169)

Renaissance merupakan gerakan pemikiran dan kebangkitan kembali kebudayaan klasik di Eropa melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan diterjemahkan kembali ke bahasa Latin; dan dari terjemahan-terjemahan inilah orang-orang Eropa menegtahui kebudayaan Yunani. (Fatah Syukur, 2009: 161)

Gerakan-gerakan renaissance melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah dunia. Abad ke-16 dan 17M merupakan abad yang paling penting bagi Eropa, sementara pada akhir abad ke-17 itu pula dunia Islam mulai mengalami kemunduran. Dengan lahirnya renaissance, Eropa bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan mereka pada masa kebodohan dan kegelapan.

Banyak penemuan-penemuan dalam segala lapangan ilmu pengetahuan dan kehidupan yang mereka peroleh. Christoper Columbus menemukan Benua Amerika (1492M), Vasco da Gama menemukan jalan ke Timur melalui Tanjung Harapan (1498M). Dengan temuan ini, Eropa memperoleh kemajuan dalam dunai perdagangan, karena tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam.

Melalui jalur laut Eropa mengembangkan dan meluaskan pengaruhnya di dunia. Eropa menginginkan kekuasaan terhadap daerah yang disinggahinya dalam rangka mendapatkan devisa bagi negara mereka yang saat itu membutuhkan banyak dana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka mulai saat itu pula mereka melakukan ekspansi dan berusaha menjajah daerah lain, terutama daerah/ negara muslim.

Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Kemajuan Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. (Badri Yatim, 2004: 175)

Dengan organisasi dan persenjataan modern pasukan peang Eropa mampu melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti kerajaan Usmani dan Mughal. Daerah-daerah kekuasaan Islam lainnya juga mulai berjatuhan ke tangan Eropa; seperti Asia Tenggara dan di Anak Benua India, bahkan Mesir oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis pada tahun 1798M. Sementara, negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani, baru diduduki Eropa pada masa berikutnya.
Penjajahan dunia Barat terhadap dunia Islam di Anak Benua India dan Asia Tenggara

India, pada masa kemajuan kerajaan Mughal adalah negeri yang kaya dengan hasil pertanian. Hal ini mengundang Eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang ke sana. Di awal abad ke-17 M, Inggris dan Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611M, Inggris mendapat izin menanamkan modal; dan pada tahun 1617M Belanda mendapat izin yang sama. Kongsi dagang Inggris, British East India Company (BEIC), mulai berusaha menguasai wilayah India bagian timur, ketika merasa cukup kuat. Penguasa setempat mencoba mempertahankan kekuasaan dan berperang melawan Inggris. Namun, mereka tidak berhasil mengalahkan kekuatan Inggris. Pada tahun 1803 M, Delhi, ibukota kerajaan Mughal jatuh ke tangan Inggris dan berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Inggris. Pada tahun 1842M, Keamiran Muslim Sind di India dikuasai. Tahun 1857M, kerajaan Mughal dikuasai secara penuh, dan raja yang terakhir dipaksa meninggalkan istana. Sejak itu India berada di bawah kekuasaan Inggris yang menegakkan pemerintahannya di sana. Pada tahun 1879M, Inggris berusaha menguasai Afghanistan dan pada tahun 1899M, Kesultanan Muslim Baluchistan dimasukkan ke bawah kekuasaan India-Inggris.

Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah penghasil rempah-rempah terkenal pada masa itu, menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Hal itu mungkin karena, dibandingkan dengan Mughal, kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan. Kerajaan Islam Malaka yang berdiri pada awal abad ke-15 M di Semenanjung Malaya yang strategis merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara setelah Samudera Pasai, ditaklukkan Portugis pada tahun 1511M. Sejak itu peperangan-peperangan antara Portugis melawan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seringkali berkobar. Pedagang-pedagang Portugis berupaya menguasai Maluku yang sangat kaya akan rempah-rempah.

Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang. Spanyol berhasil menguasai Filipina, termasuk di dalamnya beberapa kerajaan Islam, seperti Kesultanan Maguindanao, Buayan dan Kesultanan Sulu. Akhir abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark dan Perancis, datang ke Asia Tenggara. Namun, Perancis dan Denmark tidak berhasil menguasai negeri di Asia Tenggara dan hanya datang untuk berdagang. Belanda dating tahun 1592 M dan dengan segera dapat memonopoli perdaganagn di kepulauan Nusantara. Sedangkan kekuasaan Inggris tertancap di Semenajung Malaya, termasuk Singapura sekarang, dan Kalimantan Barat, termasuk Brunai. Inggris bahkan sempat menguasai seluruh Indonesia untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama di awal abad ke-19 M. Sebagaimana di India, di Asia Tenggara politik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20 M.

Ekspansi Barat ke Timur Tengah

Ketika Perang Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Usmani semakin ambruk. Peperangan-peperangan melawan Barat di Eropa Timur terus berkecamuk, memakan dan menguras tenaga, yang berakhir dengan kekalahan di pihak Turki. Di pihak lain, satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki Usmani, melepaskan diri dari Konstantinopel. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani itu, yang tak kalah pentingnya ialah timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaannya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. Bangsa Kurdi di pegunungan dan Arab di padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Turki Usmani.

Demikianlah, keadaan dunia Islam pada abad ke19 M, sementara Eropa sudah jauh meninggalkannya. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu jatuh ke tangan Barat. Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam. Inggris merebut India dan Mesir. Rusia menyeberangi Kaukasus dan menguasai Asia Tengah. Perancis menaklukkan Afrika Utara, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya mendapat bagiannya dari warisan itu. Penetrasi Barat terhadap dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Perancis, yang memang sudah bersaing. Inggris terlebih dahulu menanamkan pengaruhnya di India. Perancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh Karena itu pintu gerbang ke India, yaitu Mesir harus berada di bawah kekuasaannya. Mesir dapat ditaklukkan Perancis tahun 1987M. Alasan lain Perancis menaklukkan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya. Mesir, di samping mudah dicapai dari Perancis juga dapat menjadi sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syiria hingga ke timur jauh.

Persaingan antara Inggris dan Perancis di Timur Tengah memang sudah lama dan terus berlangsung. Persaingan ini terlihat dari penaklukkan wilayah Islam di Timur Tengah dan Afrika, yakni:

1820M : Oman dan Qatar, oleh Inggris
1830-1857M : Aljazair, oleh Perancis
1839M : Aden, oleh Inggris
1881-1883M : Tunisia, oleh Perancis
1882M : Mesir, oleh Inggris
1898M : Sudan, oleh Inggris
1900M : Chad, oleh Perancis

Pada abad ke-20M, Italia dan Spanyol ikut bersama Inggris dan Perancis memperebutkan wilayah-wilayah di Afrika, yaitu:

1906M : Kesultanan Muslim Nigeria Utara, oleh Inggris
1912-1913M : Kesultanan Tripoli dan Cyrenaica, oleh Italia
1912M : Maroko, oleh Perancis dan Spanyol
1912-1915M : Maroko, oleh Spanyol
1914M : Kuwait, oleh Inggris
1919-1921M : Sisilia, oleh Perancis
1920M : Irak, oleh Inggris
1920M : Syiria dan Libanon, oleh Perancis
1926-1927M : Somalia, oleh Italia

Sedangkan negeri-negeri muslim yang jatuh ke tangan Rusia, diantaranya:

1834-1859M : Kaukasus, oleh Rusia
1853-1865M : Khoakand dan jatuhnya Tashkent, oleh Rusia
1866-1872M : Daerah sekitar Samarkand dan Bukhara, oleh Rusia
1873-1887M : Uzbekistan, oleh Rusia
1941-1946M : Pendudukan Anglo-Rusia di Iran

Dari sisi ekonomi, kedatangan bangsa Barat bertujuan untuk berdagang, menjual produk yang mereka hasilkan, selain mencari bahan-bahn mentah yang sebagin besar terdapat di negara-negara Islam di Timur. Tapi lama-kelamaan, tujuan mereka berubah, yang merambah pada masalah politik. Perubahan orientasi ini disebabkan adanya persaingan di anatar bangsa-bangsa Barat itu sendiri yang ingin memonopoli sistem perdagangan. Selain itu terdapat pula motif lain yakni Spanyol dan Portugis dalam menyebarkan agama Kristen. Portugis membawa tiga misi, yaitu: Gold (mencari kekayaan), Glory (mencari kejayaan), dan Gospel (menyebarkan agama Kristen).

Faktor utama yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke negara-negara muslim adalah ekonomi dan politik. Kemajuan Eropa dalam bidang industri menyebabkannya membutuhkan bahan-bahan baku, di samping rempah-rempah. Mereka juga membutuhkan negeri-negeri tempat memasarkan hasil industri mereka. Untuk menunjang perekonomian tersebut, kekuatan politik diperlukan sekali. Akan tetapi persoalan agama seringkali terlibat dalam proses politik penjajahan barat atas negeri-negeri muslim. Trauma Perang Salib masih membekas pada sebagian orang barat, terutama Portugis dan Spanyol, karena kedua negara ini dalam jangka waktu lama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Islam.

Menurut Fatah Syukur motif utama Eropa menjelajah dan menjajah wilayah Islam, yaitu:

Menyebarkan Kristen dan sekaligus untuk menghambat serta menaklukkan Islam sebagai kekuatan yang dapat mengancam Eropa

Membuka lahan baru untuk memasarkan komoditi mereka dengan cara memonopoli perdagangan

Mengambil aset negara jajahan, untuk memberikan devisa kepada Eropa

Mengeksploitasi rakyat negara jajahan untuk kepentingan mereka[5]

Usaha Umat Islam Bangkit dari Keterpurukan

Berada di bawah penetrasi dan kolonialisasi Barat ternyata tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif kepada umat Islam. Ada pelajaran berharga yang didapatkan oleh umat Islam dari persinggungannya dengan peradaban Barat yang sedemikian maju, dari sinilah gerakan-gerakan yang berusaha untuk mewujudkan sintesa antara Islam dengan peradaban modern dengan meninjau kembali ajaran-ajaran Islam dan menafsirkannya dengan interpretasi baru. Selain itu, semangat umat Islam untuk mengobarkan kebudayaan Islam yang pernah jaya mulai bangkit kembali, dengan mencoba merubah paradigma berfikir.

Dengan demikian yang dimaksud dengan kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai dengan prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan sebutan gerakan pembaharuan. Upaya pembaharuan pun mulai bermunculan. Ada beberapa pola dalam pembaharuan yang dilakukan oleh umat Islam.

Ada kelompok yang lebih dikenal sebagai kelompok modernis, karena mereka berusaha untuk meniru pola dan sistem pendidikan modern ala Barat dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya pola ini berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kemajuan Barat disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adapun beberapa tokoh pelopor gerakan pembaharuan model ini adalah Sultan Mahmud II dari Turki Usmani. Ia mendirikan sekolah-sekolah model Barat dan mengirim siswa-siswa ke Eropa untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern langsung dari sumbernya.

Sir Sayyid Ahmad Khan dari India,ia mencoba mendirikan pendidikan berdasarkan model Barat untuk memperbaiki posisi kaum muslimin di bawah kekuasaan Inggris. Dia merupakan seorang modernis dalam interpretasinya terhadap al-Qur’an dan ajaran wahyu Islam. Muhammad Ali Pasya di Mesir, ia menciptakan gagasan dualism system pendidikan yang kemudian menjadi acuan kebanyakan lembaga pendidikan Islam. Dualisme yang dimaksud adalah dengan penggabungan antara sekolah-sekolah model barat yang terintegrasi dengan madrasah bercorak tradisional.

Ada pula kelompok penggagas pembaharuan yang meyakini bahwa penyebab kemunduran umat Islam adalah karena mereka meninggalkan ajaran Islam yang merupakan sumber kemajuan dan kekuatan budaya, dan sebaliknya, umat Islam lebih memilih untuk mengikuti ajaran-ajaran yang telah bercampur dengan ideologi non-Islam. Selain itu, ditinggalkannya pola pikir rasional dan ditutupnya pintu ijtihad juga diyakini sebagai penyebab kemunduran Islam.

Oleh karena itu, kelompok pembaharuan tipe ini mengajak umat Muslim untuk kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, dengan tidak mengabaikan ijtihad. Ijtihad senantiasa diperlukan sebagai upaya penyesuaian ajaran Islam dengan perkembangan zaman yang tentunya penuh dengan berbagai problematika.Adapun beberapa tokoh yang mempelopori pembaharuan pola ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Abduh.

Gerakan Nasionalisme

Di sisi lain, muncul gagasan pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme ini berdasar pada kenyataan bahwa umat Islam itu terdiri dari berbagai bangsa, yang hidup dalam daerah dan lingkungan budaya yang berbeda-beda, sehingga memerlukan usaha pengembangan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing. Meskipun pada dasarnya ide nasionalisme berasal dari dunia Barat, namun hal tersebut dianggap tidak bertentangan dengan Islam.

Akhirnya gerakan nasionalisme muncul di berbagai wilayah seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, dan kesemuanya tidaklah sama. Negara-negara tersebut dihadapkan dengan permasalahan spesifik tentang kekuasaan Eropa, dan peduli terhadap permasalahan dalam negeri mereka masing-masing, dan berupaya bebas dari kolonialisme bangsa Eropa.

Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan model utama umat Islam untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Adapun negara mayoritas muslim yang pertama kali memerdekakan diri adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun 1946, Syiria, Jordania, dan Libanon telah mengumumkan kemerdekaannya. Selanjutnya adalah Pakistan, pada tanggal 15 Agustus 1947. Pada tahun 1951, Libya memerdekakan diri.

Adapun Mesir baru menganggap dirinya benar-benar merdeka pada tanggal 23 Juli 1952 (setelah Raja Faruk digulingkan), meskipun sebenarnya Mesir telah bebas dari Inggris sejak tahun 1922. Sudan dan Maroko merdeka pada tahun 1956, Malaysia (termasuk Singapura) merdeka dari Inggris pada tahun 1957, Irak baru merasakan atmosfer kemerdekaan pada tahun 1958, sedangkan Aljazair pada tahun 1962, dan Brunei Darussalam baru merdeka pada tahun 1984.

Selain itu, negara-negara Islam yang dulunya bersatu dengan Uni Soviet seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan,dan Azerbeijan, baru mendapat kemerdekaan pada tahun 1992, demikian halnya dengan Bosnia yang juga baru mendapatkan kemerdekaan dari Yugoslavia pada tahun yang sama.

Dampak Penjajahan Bangsa Barat atas Dunia Islam

Bahaya Bidang Politik:
• Penjajahan itu menyebabkan kehancuran politik bangsa yang dijajahnya.
• Politi kapitalisme membuat bangsa yang dijajah mempunyai watak ingin mengeruk keuntungan tanpa menghiraukan penderitaan orang lain, rakyat kecil jadi tertindas.
• Paham komunisme yang menumbuhkan sikap yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hingga merusak persatuan bangsa Indonesia, serta umat Islam.

Bahaya Bidang Ekonomi:
• Dengan berkembangnya sistem kapitalisme, kemiskinan akan terus bertambah. Kesengsaraan Umat Islam akan makin parah.
• Sistem kapitalisme ini akan menimbulkan eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia secara besar-besaran.

Bidang Sosial Pendidikan:
• Penjajah senantiasa membuat jurang pemisah antara kaum bangsawan dengan rakyat kecil, sehingga diantara mereka tidak ada persatuan.
• Kaum agamis tidak diperbolehkan berpolitik. Penjajah khawatir jika ada orang-orang Islam menggerakkan organisasi untuk kemajuan umatnya. Rakyat kecil tidak diberi hak untuk sekolah, yang boleh sekolah hanya anak-anak pejabat saja.

Bahaya Bidang Budaya:
• Budaya yang disebarkan penjajah dapat merusak agama yang dimiliki bangsa yang dijajahnya; seperti minum arak, berjudi, pergaulan bebas dan budaya negatif lainnya yang disebarkan.
• Pelajar jauh dari agama, mereka dijauhkan dari agama.
• Di Indonesia, adanya PKI atas pengaruh paham komunisme.

Fakta Sejarah yang Dapat Diambil sebagai Ibrah

Ibrah yang dapat diambil dari peristiwa imperialisme dunia Barat ke dunia Islam, diantaranya:
• Kita harus dapat menata perekonomian bangsa dengan kuat. Kondisi perekonomian yang rapuh akan menimbulkan penderitaan bagi rakyatnya dan imperialisme akan dengan mudah menjajah bangsa kita.
• Kita harus membendung segala bentuk imperialisme dan mempertahankan tanah air kita.
• Kita harus menjaga dan melestarikan kebudayaan Islam.

Pelajaran

Keadaan dunia Islam pada abad ke19 M tertinggal jauh dibandingkan Eropa. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu jatuh ke tangan Barat.

Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam. Inggris merebut India dan Mesir. Rusia menyeberangi Kaukasus dan menguasai Asia Tengah. Perancis menaklukkan Afrika Utara, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya mendapat bagiannya dari warisan itu.

Upaya pembaharuan pun mulai bermunculan. Ada beberapa pola dalam pembaharuan yang dilakukan oleh umat Islam. Ada kelompok yang lebih dikenal sebagai kelompok modernis seperti, Sultan Mahmud II dari Turki Usmani, Sir Sayyid Ahmad Khan dari India, Muhammad Ali Pasya dari Mesir.

Ada pula kelompok pembaharuan yang mengajak umat Muslim untuk kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, dengan tidak mengabaikan ijtihad, seperti Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Abduh.
C. Vasco da Gama

Sejarah perkembangan kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari Portugis berlayar ke india pada tahun 1498.

Awal Mula Pelayaran

Ketika pusat perdagangan Eropa di masa konstantinopel dikuasai oleh kerajaan Turki Ustmani yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang Eropa yang kesulitan untuk mendapatkan barang dagangan berupa hasil bumi dan rempah-rempah, hal ini tidak menggentarkan semangat bangsa Eropa untuk mencari hasil bumi dan rempah-rempah di belahan bumi yang lain. Sebut saja Portugis, negara tersebut saat itu menjadi salah satu negara terdepan dalam misi penjelajahan samudera untuk mencari pusat-pusat rempah-rempah di benua Asia.

Untuk menjalankan misinya tersebut, Raja Portugal saat itu, yaitu Manuel I, menugaskan Vasco da Gama untuk melanjutkan misi ekspedisi yang sebelumnya telah di rintis Bartolomeus Dias yaitu mencari jalan bagi Portugis ke pusat barang dagangan di Benua Timur. Perlu diketahui bahwa Vasco da Gama adalah seorang penjelajah berkebangsaan Portugis yang menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke Malabar, India dengan melakukan penjelajahan laut mengelilingi Afrika.

Latar Belakang Penugasan Vasco da Gama

Setelah Bartolomeus Dias berhasil mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika pada tahun 1488 dan mencapai puncaknya dengan penjelajahan laut Portugis yang didukung oleh sekolah pelayaran dari Henrique sang navigator, maka Vasco da Gama pun ditugaskan oleh Raja Manuel I untuk mencari negara-negara Kristen di benua timur (India) dan untuk mendapatkan akses Portugis ke pasar komersial di benua Timur dengan maksud untuk memperluas penjelajahan laut dari pendahulunya sebelumnya. Selain itu, Raja Manuel I juga mengira bahwa India adalah Kerajaan Kristen dari Prester John.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak awal abad ke-15, sekolah pelayaran Henrique sang Navigator telah memperluas pengetahuan Portugal tentang garis pantai Afrika.Sejak tahun 1460-an, sekolah pelayaran ini berfokus pada tujuan untuk mengeliling ujung selatan benua itu untuk mendapatkan akses yang lebih mudah pada kekayaan India, terutama lada hitam dan bumbu-bumbu lainnya melalui rute laut yang dapat diandalkan.

Berbekal dari pengalaman pendahulunya yaitu Bartolomeus Dias serta tugas yang diberikan oleh Raja Manuel I padanya, Vasco da Gama pun melakukan pelayaran dan akhirnya berhasil membangun rute lautan dari Eropa ke India yang memungkinkan perdagangan dengan Timur jauh tanpa menggunakan rute kafilah Jalur Sutera yang mahal dan tidak aman, antara Timur Tengah dan Asia Tengah.

Namun, pelayaran ini juga terhambat oleh kegagalannya untuk membawa barang-barang yang menarik bagi bangsa-bangsa di Asia kecil dan India. Rute pelayaran yang dilakukannya ini penuh bahaya dengan bermodalkan hanya 54 dari 170 kelasi, dan 2 dari 4 kapal, yang akhirnya kembali ke Portugis dengan selamat pada tahun 1499. Walaupun demikian, pelayaran pertama Vasco da Gama telah menghasilkan era dominasi Eropa selama ratusan tahun melalui kekuatan laut dan perdagangan, serta kolonialisme Portugis selama 450 tahun di India yang menghasilkan kekayaan dan kekuasaan bagi takhta Portugis.

Perjalanan Pelayaran Vasco da Gama

Vasco da Gama dilahirkan tahun 1460 dan wafat tahun 1524 dikenal sebagai penjelajah Portugis yang menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke India dengan berlayar mengelilingi Afrika. Orang-orang Portugis sudah lama mencari jalur ini sejak saat Pangeran Henry Sang Navigator (1394-1460). Tahun 1488 sebuah ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Bartolomeus Dias telah sampai dan mengitari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika dan kembali ke Portugis. Dengan keberhasilan ini, Raja Portugis mahfum bahwa usaha lama mencari jarak terpendek ke India kini hampir mendekati kenyataan. Tetapi, ada pelbagai penundaan, dan baru tahun 1497 sebuah ekspedisi ke India benar-benar dilaksanakan. Untuk memimpin ekspedisi itu raja menunjuk Vasco da Gama, seorang bangsawan dari kelas rendahan yang lahir sekitar tahun 1460 di kota Sines, Portugis.

Da Gama bongkar sauh tanggal 8 Juli 1497, terdiri empat kapal di bawah komandonya dengan jumlah kelasi seluruhnya 170 orang termasuk penterjemah bahasa Arab. Pertama ekspedisi berlayar menuju kepulauan Tanjung Verde. Lalu, daripada dia telusuri pantai Afrika seperti dilakukan oleh Dias, da Gama berlayar menuju selatan, jauh di luar Samudera Atlantik. Dia berlayar terus jauh ke selatan, dan kemudian membelok ke timur mencapai Tanjung Harapan. Ini merupakan pilihan yang jitu, lebih cepat ketimbang menyusuri pantai ke selatan, biarpun perbuatan ini memerlukan keberanian lebih banyak dan kelihaian navigasi. Akibat rute yang dipilihnya, kapal-kapal Gama tidak kelihatan dari daratan selama tidak kurang dari sembilan puluh tiga hari –lebih lama dua setengah kali dari yang dialami kapal Colombus!

Da Gama mengitari Tanjung Harapan pada tanggal 22 Nopember, kemudian berlayar ke utara menyelusuri pantai timur Afrika. Dalam pelayaran ke utara itu dia membuang sauh di pelbagai kota yang dikuasai orang Muslim, termasuk Mambasa dan Malindi yang kini bernama Kenya. Di Malindi dia ambil seorang penunjuk jalan bangsa India yang menuntunnya selama 23 hari melintasi Laut Arab menuju India. Tanggal 20 Mei 1498, sekitar 10 bulan sesudah keberangkatannya dari Portugis da Gama sampai di Calicut, kota pusat perdagangan paling penting di India bagian selatan.

Penguasa Hindu di Calicut, Zamorin, mulanya menyambut baik kedatangan da Gama. Tetapi, kemudian Zamorin merasa kecewa karena hadiah upeti yang dipersembahkan da Gama kelewat murah harganya. Berkaitan dengan kekejaman pedagang-pedagang Muslim yang menguasai rute jalan perdagangan di Samudera Hindia, ini menjadi halangan buat da Gama meneruskan transaksi dagang dengan Zamorin. Kendati begitu, ketika da Gama meninggalkan Calicut bulan Agustus, da Gama diberi muatan rupa-rupa rempah-rempah agar disampaikan kepada pemerintahnya di Portugis, begitu juga sejumlah orang India.

Perjalanan pulang rupanya lebih sulit ketimbang pergi. Makan jangka waktu sekitar 3 bulan melintasi Laut Arab dan banyak awak kapal yang mati karena penyakit darah akibat kebanyakan makan daging tetapi kekurangan buah dan tumbuhan. Akhirnya cuma dua kapal selamat sampai di rumah: kapal pertama berlabuh di Portugis tanggal 10 Juli 1499 dan kapal da Gama sendiri baru sampai 2 bulan kemudian. Hanya 55 anak buahnya dapat bertahan hidup, berarti kurang dari sepertiga tatkala berangkat memulai pengembaraan. Tetapi, ketika da Gama kembali ke Lisabon tanggal 9 September 1499, baik dia maupun Raja memahami betul bahwa perjalanan dua tahun itu merupakan suatu sukses besar.

Enam bulan kemudian, Raja Portugis kirim lagi ekspedisi lanjutan di bawah pimpinan Pedro Alvares Cabral. Cabral tiba pada saat yang tepat di India, menemukan rute perjalanan ke Brazil (kendati para historikus percaya bahwa sudah ada orang Portugis lain yang menemukannya lebih dulu), dan kembali ke Portugis membawa tumpukan rempah-rempah. Tetapi, beberapa anak buah Cabral terbunuh di Calicut sehingga tahun 1502 da Gama dikirim kembali ke sana untuk melakukan hukuman pembalasan, membawa armada yang terdiri dari 20 kapal.

Tingkah laku da Gama dalam ekspedisi ini betul-betul ganas. Di luar perairan pantai India dia merampas sebuah kapal Arab yang sedang lewat dan sesudah memindahkan muatannya tetapi tidak penumpangnya, dia bakar kapal itu di tengah laut. Kesemua penumpang yang ada di atas kapal, termasuk wanita dan anak-anak, musnah. Ketika dia sampai di Calicut da Gama dengan congkak minta agar Zamorin mengahalau semua Muslim dari pelabuhan. Ketika Zamorin bimbang, da Gama menangkapnya dan membunuhnya, dan menyisihkan 37 pelaut-pelaut India lantas dibomnya pelabuhan itu. Murka tetapi tak berdaya orang-orang Zamorin mengabulkan permintaan da Gama. Dalam perjalanan pulang da Gama mendirikan beberapa koloni Portugis di Afrika Timur.

Untuk hasil karya ini dia peroleh hadiah besar dari Raja Portugis, diberi gelar kebangsawanan, diberi perkebunan, diberi jaminan pensiun dan rupa-rupa hadiah uang. Da Gama tidak kembali ke India hingga tahun 1524 ketika Raja baru Portugis mengangkatnya jadi Raja muda India. Beberapa bulan sesudah tiba di India dia jatuh sakit dan meninggal di sana bulan Desember 1524. Dia akhirnya dimakamkan kembali di Lisabon. Da Gama beristri dan punya tujuh anak. Arti penting utama perjalanan Vasco da Gama adalah karena dia membuka jalur laut langsung antara Eropa dan India serta Timur Jauh, yang faedahnya bisa turut dikecap oleh banyak negara.

Dalam jangka pendek, faedah terbesar karuan saja jatuh pada Portugis. Melalui jalur perdagangan baru ke Timur, negeri yang tadinya melarat ini di pinggiran Eropa yang berbudaya mendadak sontak jadi negeri terkaya di Eropa. Portugis dengan cepat mendirikan koloni-koloni jajahan di seputar Samudera Indonesia. Mereka punya benteng-benteng dan pos-pos serdadu di India, Indonesia, Madagaskar, di pantai timur Afrika dan di banyak tempat lagi. Ini sudah barang tentu merupakan tambahan belaka dari daerah yang mereka sudah kuasai seperti Brasil dan daerah-daerah jajahan lainnya di belahan barat Afrika yang sudah mereka bangun bahkan sebelum perjalanan Vasco Da Gama. Orang-orang Portugis berhasil mempertahankan daerah-daerah jajahan ini hingga pertengahan abad ke-20.

Pembukaan jalur perdagangan baru ke India oleh Vasco da Gama membawa akibat kemunduran luar biasa buat pedagang-pedagang Muslim yang tadinya menguasai jalur perdagangan di Samudera Indonesia. Pedagang-pedagang Muslim ini segera sepenuhnya dikalahkan dan tempatnya digantikan oleh Portugis. Lebih jauh dari itu, jalur perdagangan lewat darat antara India ke Eropa menjadi tidak berguna karena jalur laut lewat Afrika yang dirintis oleh Portugis jauh lebih murah. Ini merupakan pukulan pahit baik buat orang-orang Turki Ottoman maupun kota-kota perdagangan Itali (seperti Venesia) yang tadinya menguasai perdagangan ke Timur. Tetapi, bagi Eropa lainnya ini berarti barang-barang dari Timur Jauh berharga lebih murah daripada semula.

Akhirnya, pengaruh terbesar dari perjalanan Vasco da Gama tidaklah terhadap Eropa atau Timur Tengah, tetapi lebih banyak terhadap India dan Asia Tenggara. Sebelum tahun 1498 India terpencil dari Eropa. Memang, sepanjang sejarah India merupakan satu negeri berdiri sendiri, kecuali ada pengaruh luar yang datang dari arah barat laut. Perjalanan Vasco da Gama mendobrak keterasingan ini dan menyuguhkan hubungan langsung dengan kebudayaan Eropa lewat jalur laut. Pengaruh serta kekuatan Eropa tumbuh lebih mantap dan lebih kuat di India, hingga pada pertengahan abad ke-19 seluruh anak benua itu jatuh ke bawah kekuasaan mahkota kerajaan Inggris. (Perlu dicatat, inilah satu-satunya saat dalam sejarah bahwa India dipersatukan di bawah satu penguasa). Sedangkan untuk Indonesia, mulanya sekedar peroleh pengaruh Eropa, kemudian seluruhnya jatuh di bawah kekuasaan Eropa. Hanya sesudah pertengahan abad ke-20 daerah-daerah ini memperoleh otonominya.

Tokoh yang jelas bisa disejajarkan dengan Vasco da Gama adalah Christopher Colombus. Dalam beberapa hal, perbandingan ini memberi kelebihan kepada Vasco da Gama. Perjalanannya, misalnya, jauh lebih membawa hasil yang mengesankan. Dan jauh lebih lama dari perjalanan Colombus baik diukur dari jarak maupun lamanya. Lebih dari tiga kali lipat! Dan memerlukan kelihaian navigasi lebih banyak. (Colombus, tak peduli berapa dia kehilangan arah, paling-paling dia tidak menemukan Dunia Baru, sedangkan Vasco da Gama akan kehilangan Tanjung Harapan dan lenyap entah ke mana di Samudera Indonesia). Lebih jauh dari itu, tidak seperti Colombus, Vasco da Gama berhasil sampai ke tujuan yang direncanakannya.

Tentu bisa diperdebatkan, Vasco da Gama tidak menemukan Dunia Baru, tetapi sekedar membuat hubungan antara orang-orang Eropa dengan negeri-negeri yang memang sudah berpenduduk. Jika demikian halnya, apa bedanya dengan Colombus.

Perjalanan Colombus akhimya punya pengaruh yang luar biasa terhadap kebudayaan yang belum berkembang di Dunia Baru; perjalanan da Gama akhirnya menghasilkan perubahan budaya India dan Indonesia. Dalam hal menilai arti penting antara Colombus dan Vasco da Gama, satu hal perlu diingat, kendati Amerika Selatan dan Amerika Utara jauh lebih besar ketimbang India, tetapi India punya penduduk lebih banyak dari semua penduduk Dunia Baru digabung jadi satu!

Namun bagaimanapun juga, jelas Colombus lebih berpengaruh luas ketimbang Vasco da Gama. Pertama, pelayaran mengelilingi Afrika menuju India bukanlah berasal dari keinginan Vasco da Gama sendiri. Raja Portugislah yang memutuskan mengirim ekspedisi itu jauh sebelum dia memilih Vasco da Gama untuk memimpinnya. Sedangkan ekspedisi Colombus muncul dari dorongan Colombus sendiri, dan berkat pendekatan dan cara merebut hatilah sehingga Ratu Isabella bersedia menunjangnya dengan keuangan. Kalau saja tidak karena Colombus, Dunia Baru (walaupun cepat atau lambat akan ditemukan orang juga) baru akan diinjak orang entah berapa tahun kemudian, dan mungkin oleh warga Eropa lain.

Selain itu, andaikata Vasco da Gama tidak diberanakkan oleh bundanya ke dunia ini, raja Portugis tinggal pilih orang lain memimpin ekspedisi itu. Bahkan andaikata Vasco da Gama tidak becus dan gagal, orang Portugis tidak akan menyetop niatnya cari jalur langsung ke India jika tampak olehnya kemungkinan itu tidak jauh. Dan, kalau saja Portugis tidak mendirikan pangkalan-pangkalan di sepanjang pantai barat Afrika, sedikit sekali kemungkinan bangsa-bangsa Eropa lain mampu menjejakkan kakinya pertama kali di India.

Kedua, pengaruh Eropa atas India dan Timur Jauh tidaklah sebanding dengan pengaruh Eropa atas Dunia Baru. Kebudayaan India cepat berubah sesudah ada kontak dengan Barat. Tetapi, dalam tempo beberapa dekade sesudah pelayaran Colombus, kebudayaan Dunia Baru malahan boleh dibilang hancur luluh. Juga tak ada persamaan antara India dengan berdirinya Amerika Serikat di Dunia Baru itu.

Seperti halnya orang tidak bisa memberi pujian (atau kutukan) kepada Christopher Colombus atas semua peristiwa yang terjadi di Dunia Baru, begitu pula orang tidak bisa menghargai Vasco da Gama dengan semua hasil-hasil dari adanya kontak antara Eropa dan Timur.

Vasco da Gama hanyalah membuat salah satu mata rantai saja karena banyak lagi orang yang dapat dicatat sebagai perintis: Henry Sang Navigator, sejumlah pelaut Portugis yang menjelajahi pantai barat Afrika; Bartolomeus Dias; Vasco da Gama sendiri; para pengganti sesudahnya (seperti Fransisco de Almeida dan Alfonso d’Albuquerque); dan masih banyak lagi. Saya pikir, Vasco da Gama hanyalah merupakan mata rantai terpenting belaka. Tetapi, dia bukanlah orang yang begitu punya peranan penting seperti dilakukan Christopher Colombus dalam hal Eropanisasi Dunia Baru. Atas dasar prinsip penting itulah Vasco da Gama dicantumkan dalam daftar buku ini jauh di bawah Colombus.
Pelayaran Pertama

Rombongannya tiba di India pada 20 Mei 1498 dimana terjadi perundingan yang sengit dengan penguasa setempat (Zamorin) yang menghasilkan Wyatt Enourato, dalam perlawanan dari para pedagang Arab. Akhirnya da Gama berhasil memperoleh sebuah surat ambigu yang berisi konsesi untuk hak-hak perdagangan, namun ia harus berangkat tanpa peringatan setelah Zamorin memaksa agar da Gama meninggalkan semua barangnya sebagai kolateral. Da Gama mempertahankan barang-barangnya, tetapi meninggalkan beberapa orang Portugis dengan perintah memulai sebuah pos perdagangan.

Pelayaran Kedua

Pada 12 Februari 1502, da Gama kembali berlayar dengan sebuah armada yang melibatkan 20 kapal perang untuk memaksakan kepentingan Portugis. Pada suatu saat, da Gama menantikan sebuah kapal yang kembali dari Mekah dan menyita semua barang dagangannya. Mereka kemudian mengeram ke-380 penumpangnya dan kemudian membakar kapal itu. 4 hari kemudian, kapal itu tenggelam dan menewaskan semua penumpangnya. Ketika da Gama kembali ke Calicut pada 30 Oktober, 1502, pihak Zamorin bersedia menandatangani suatu perjanjian.

Da Gama memainkan peranan sebagai pemilik kapal yang diberi izin untuk menyerang kapal-kapal dagang Arab. Akhirnya ia menghancurkan sebuah armada Calicut yang terdiri atas 29 kapal, dan pada dasarnya menaklukkan kota pelabuhan tersebut. Sebagai ganjaran untuk keamanan, ia memperoleh konsesi-konsesi dagang yang sangat berharga dan sejumlah besar barang sitaan, yang membuatnya sangat disukai oleh Kerajaan Portugis.

Pelayaran Ketiga

Setelah mendapatkan reputasi sebagai “penyelesai” segala masalah yang muncul di India, ia diutus ke anak benua itu sekali lagi pada 1524. Rencananya adalah ia menggantikan Eduardo de Menezes sebagai raja muda (wakil) dari wilayah kekuasaan Portugis, tetapi ia menderita malaria tak lama setelah tiba di Goa, India dan meninggal di kota Cochin di tahun yang sama.

D. Dunia Islam Pada Masa Kolonialisme Barat, Pertumbuhan Gerakan Islam Dan Nasionalisme

Perang Salib adalah peperangan yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa barat ke tanah Timur, sejak dari abad kesebelas sampai abad ke tiga belas masehi. Untuk melepaskan Palestina dari tangan daulah Islam dan mendirikan daulah Kristen Latin di tanah Timur. Dinamakan Perang Salib karena umat Kristen yang turut dalam peperangan itu memakai tanda salib sebagai simbul.

Perang Salib I dimenangkan oleh orang Kristen, karena pada waktu itu kaum muslimin tidak dalam keadaan bersatu, perpecahan terjadi di seluruh wilayah, juga karena para pemimpin Islam saling bermusuhan, dalam kondisi yang tidak seimbang inilah kaum muslimin mengalami kekalahan. Perang Salib menjadi awal mula penjajahan Barat terhadap dunia Islam.

Sejak itu lahirlah imperialisme dengan bentuk penindasan, penghisapan, perbudakan yang merupakan lembaran hitam umat manusia yang hina, keji dan jahat. Bangsa Barat mempunyai semboyan yang terkenal dengan M3 (Mercenary, Missionary, Military), yaitu keuntungan, penyiaran agama dan perluasan daerah militer.

Perang Salib membawa keuntungan bagi negara-negara Barat, hal itu dapat dilihat saat Paus membagi dunia menjadi 2 bagian pada tahun 1493, yang satu dihadiahkan untuk Spanyol dan yang lain untuk Portugis. Daerah Demarkasi inilah yang memberikan daerah mulai dari Brazil ke timur, termasuk Indonesia menjadi milik Portugis.

Selain itu juga diberikan istimewa kepada Portugis dan Spanyol terhadap laut, pulau dan benua yang telah ditemukan untuk tetap menjadi milik mereka dan anak cucunya. Paus Alexander VI juga menunjuk ditemukannya emas, rempah-rempah dan banyak barang berharga yang berjenis-jenis dan bermutu (inter caetero diciae) Selain itu penetris Perancis telah berkembang dengan cepat pedagang-pedagang Perancis mempergunakan kesempatan untuk melaksanakan keinginannya mendirikan pos-pos perdagangan dan misi-misi perwakilan di Syria dan Mesir.

Kapitulasi-kapitulasi lain yang mengikutinya kemudian diberikan kepada Inggris dan Belanda serta negara-negara barat lainnya. Pada abad ke delapan belas perdagangan Eropa tumbuh dengan cepatnya dan sejumlah koloni dagang sendiri di kota-kota pelabuhan di Syria dan Mesir.

Tujuan Misionaris Kristen penjajahan Barat terhadap dunia Islam jelas sekali terlihat dengan ucapan Livingstone, bahwa tujuan dan akhir dari penaklukan geografis adalah permulaan usaha missi Kristen (the end of the geographical feet is the beginning of the missionary entreprise).

Raymundus Lullus, seorang pastor, yaitu seorang pendeta Kristen yang sangat membenci Islam, selalu bersemboyan dimanapun berada, bahwa Islam is false and must die (Islam adalah palsu dan harus mati). Oleh karena itu dimana Islam haruslah direbut melalui dominasi politik dan dipertahankan untuk kemudian diserbu missi, memisahkan kaum muslimin dari agamanya dan kemudian diganti dengan Kristen.

Antara gereja dengan imperialisme terdapat manfaat dan saling terpisahkan, keduanya saling memperoleh manfaat dan saling membantu. Malah pada abad ke 19 dan permulaan abad ke 20 rencana salib modern ini dilakukan dengan teliti melalui kerjasama yang erat antara keduanya.

Tujuan penjajahan barat terhadap dunia Islam selanjutnya adalah military atau perluasan daerah militer. Penetrasi barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa yang terkenal yaitu Inggris dan Perancis.

Inggris terlebih dahulu menanamkan pengaruhnya di India, sedangkan Mesir dapat ditaklukkan Prancis tahun 1789 M. Semua negara Kristen bersatu tekad hendak menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam. Semangat sabilisme memang tetap tersimpan dalam dada kaum Nasrani bagaikan api dalam sekam dan semangat fanatisme tidak pernah lepas, ia tetap hidup dan bergejolak di dalam hati hingga sekarang.

Agama Nasrani selamanya melihat Islam dengan kacamata permusuhan, kedengkian dan fanatisme keagamaan yang penuh kebencian. Apalagi ketika kemudian terjadi Perang Dunia I (1915) Turki Usmani berada dipihak yang kalah. Sampai akhirnya tahun 1919 M, Turki diserbu tentara sekutu.

Sejak itu kebesaran Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian kekhalifahan dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas, baik Asia maupun Afrika diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang.

Kemunduran Negara -Negara Islam Eropa di awal kebangkitannya menghadapi banyak sekali tantangan, terutama dari negara – negara islam, terutama kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. kemudian setelah beberapa tahun negara-negara Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang di kuasai Islam.

Bidang perekonomian bangsa-bangsa Eropa semakin maju dengan dibukanya daerah – daerah baru. Mulailah kemudian kemajuan negara-negara Eropa melampaui kemajuan negara – Negara Islam yang sejak lama menagalami kemunduran. Dan kemajuan yang diperoleh oleh negara-negara Eropa tersebut dipercepat dengan penemuan – penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Satu demi satu negara – negara Islampun jatuh dibawah kekuasaan negara – negara Eropa.

Terutama negeri – negeri yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan Usmani, tetapi meskipun kerajaan Usmani telah banyak kehilangan wilayahnya, negara-negara Eropa masih segan dan dipandang cukup kuat dalam bidang militernya. Namun kekalahan besar kerajaan Usmani tahun 1683, membuka mata bahwa kerajaan Usmani telah mundur jauh sekali.

Sejak itulah kerajaan Usmani banyak mendapat serangan dari negara – negara Eropa. Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajauan setelah penghalang pembaharuan, yaitu Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807 – 1839 M) pada tahun 1826. Dan struktur kekuasaan kerajaan dirubah, banyak lembaga pendidikan modern didirikan, buku – buku barat banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, dan pengiriman siswa berbakat ke Eropa, serta pendirian sekolah militer.

Perubahan tersebut tidak hanya dilakukan di dalam kerajaan Usmani saja tetapi juga di berbagai negara yang telah di kuasai oleh negara – negara Eropa. Misalnya saja di negara Mesir, di Kairo yang merupakan ibukota negara Mesir sepeninggalan tentara Perancis, kekuasaan diambil alih oleh Muhammad Ali (1805 – 1848) seorang yang berkebangsaan Turki dari Macedonia yang dikirim oleh kerajaan Usmani untuk melawan perancis.

Dia sendiri mengumpulkan kekuatan penduduk kota, menghancurkan rivalnya, dan memploklamirkan dirinya menjadi gubernur di wilayah tersebut. Dalam melakukan usahanya untuk pembaharuan dia telah melakukan pelatihan perwira, dokter dan pejabat di sekolah – sekolah baru dan dikirimkan ke Eropa.

Dalam negeri dia banyak melakukan kontrol usaha terhadap seluruh hasil pertanian, pemungutan pajak, dan harta wakaf. Dia juga melakukan monopoli dalam bidang perdagangan. Sedangkan di Tunisia perubahan terjadi di bawah rezim Ahmed Bey (1837 – 1855), yang memiliki kekuasaan sejak abad ke-18.

Pemimpinnya merupakan kelompok Turki dan Mamluk yang dilatih dengan sistem yang lebih modern. Hasil dari gerakan pembaharuan tersebut banyak mendatangkan kemajuan, tetapi tidak bisa menghentikan gerak maju negara-negara Eropa ke dunia Islam pada abad ke-19. Dan selama negara-negara Eropa menyerang pada abad ke-18 ujung garis medan pertempuran Islam di Eropa bagian timur wilaah kerajaan Usmani, yang pada akhirnya ditandatanganinya Perjanjian San Sefano (Maret, 1878 M) dan Perjanjian Berlin (Juli – Juni, 1878 M) antara kerajaan Usmani dan Rusia. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Turki di Eropa.

Turki Usmani yang bergabung dengan Jerman pada Perang Dunia I mengalami kekalahan, yang menyebabkan Turki Usmani semakin mundur serta banyak negara – negara yang dibawah kekuasaan Turki Usmani ingin melepaskan diri dari Turki Usmani. Sebagai contoh adalah pada tahun 1808 Serbia melawan pemerintahan lokal kerajaan Usmani, dengan pertolongan negara-negara Eropa akhirnya negara Serbia berdiri tahun 1830. Sejak itu pulalah kebesaran kerajan Turki Usmani runtuh, bahkan kekhalifahannya dihapuskan tidak lama kemudian(1924 M).

Tidak hanya di kerajaan Usmani saja tetapi penetrasi negara-negara Eropa juga ke pusat dunia Islam di Timur Tengah yang dilakukan oleh Inggris dan Prancis. Di Jazirah Arab, pelabuhan Aden di duduki oleh Inggris dan India tahun 1839, dan menjadi pelabuhan untuk rute ke India. Tahun 1830 Perancis mendarat di pantai Aljazair dan menjajahnya. Namun negara Persia dan Afganistan menjadi perebutan antara Inggris dan Rusia tidak ada satupun negara-negara Eropa tersebut yang berhasil menjajah.

Salah satu faktor yang mempengaruhi negara- negara Eropa yang datang ke negara – negara Islam adalah didorong permasalahan ekonomi dan politik serta persaingan atau kompetisi politik dan ekonomi negara – negara Eropa. Dimana kemajuan yang diperoleh negara-negara Eropa dalam bidang industri menyebabkan permasalahan bahan baku.

Disamping itu juga mereka membutuhkan negara yang bisa dijadikan sebagai tempat memasarkan hasil industri. Dan untuk mempermudah permasalahan ekonomi yang dihadapi tesebut negara-negara Eropa menggunakan kekuatan politik.

Dari uraian diatas, telah jelas bahwa negara – negara Islam pada abad ke-19 dan ke-20 hampir seluruhnya berada di bawah koloni negara – negara Eropa, kecuali Hijaz, Persia, dan Afganistan. Sedangkan negara – negara di wilayah timur khususnya Afrika bagian Timur dan Asia oleh negara-negara Eropa dijadikan sebagai lahan untuk diambil bahan bakunya untuk industri.

Tetapi tidak nampaknya negara Spanyol dan Portugal dalam ekspansinya di wilayah negara – negara Islam mungkin dikarenakan kedua negara ini masih mengingat peristiwa yang telah terjadi, yakni Perang Salib.

Bentuk-Bentuk Penjajahan Barat Terhadap Dunia Islam Termasuk Di Indonesia
Negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Rusia dan lain-lain memang mempunyai teknologi militer dan industri perang yang lebih canggih dibandingkan dengan negara Islam, sehingga mereka tidak segan-segan untuk menyerang dan mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Islam.

Dari awal penjajahan Barat yaitu perang salib umat Islam telah kehilangan berbagai daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan orang Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib ini telah terjadi penaklukan dan penyerangan yang dilakukan oleh negara Barat untuk merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam.

Tidak terhingga kerugian yang diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa, bahkan Richand yang digelari berhati surga menyembelih 27.000 orang tawanan Islam. Suatu perbuatan sangat hina, keji dan jahat.

Pendudukan Anglo Rusia di Iran.

Selain berupa penaklukan dan penyerangan negara-negara Barat juga banyak melakukan penindasan, penghisapan dan perbudakan, yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Penindasan dilakukan kepada wilayah-wilayah yang telah dikuasainya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.

Penghisapan terutama pada hasil bumi dan kekayaan alam negara yang dijajahnya serta perbudakan banyak dialami oleh orang-orang Islam yang wilayahnya telah jatuh ke tangan negara-negara Barat. Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, justru menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal memancapkan kekuasaannya karena kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga mudah dapat ditaklukkan.

Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang, yang kemudian disusul oleh Belanda, Inggris, Demark dan Perancis. Belanda datang tahun 1595 M dan dengan segera memonopoli perdagangan di Indonesia. Tentu kehadirannya ditantang oleh penduduk setempat.

Oleh karena itu seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, walaupun akhirnya peperangan dimenangkan oleh Belanda, yang terbesar diantaranya adalah perang Aceh, perang Paderi di Minangkabau dan perang Diponegoro di Jawa.

Penjajahan Barat di Indonesia banyak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor ekonomi, karena Indonesia adalah negara yang kaya akan hasil bumi berupa rempah-rempah yang mempunyai nilai jual tinggi di pasaran Eropa. Selain itu juga dilatarbelakangi oleh faktor misionaris, atau penyebaran agama, hal ini dapat dilihat sampai sekarang daerah-daerah tempat pertama kali negara-negara Barat datang ke Indonesia berpenduduk mayoritas Kristen.

Implikasi Penjajahan Barat Terhadap Perkembangan Peradaban Islam

Serbuan kaum salib ke negeri-negeri Islam tidak hanya menggunakan pedang, besi dan api, tetapi juga melalui peradaban mereka yang dicekokkan ke semua negeri yang dapat dikuasainya. Bukan hanya peradaban material yang menyerbu negara-negara Islam, bahkan mental dan nilai-nilai moralpun tidak ketinggalan, seperti sistem pendidikan dan pengajaran, dan pemikiran-pemikiran orang Eropa mengenai ilmu jiwa, ilmu sosial, modal dan lain-lain.

Perang Salib menghasilkan puing-puing kehancuran bagi kaum muslimin akibat kemauan penjajah yang dikendalikan oleh keserakahan untuk menguasai dan memperkuat wilayahnya mereka memikul salib di pundak mereka, tetapi setan berada di hati mereka. Dahulu kaum muslimin menghayati peradaban ditambah dengan peradaban Persia, Turki dan lain-lain disamping pemikiran filsafat yang diserap dari Yunani dan Romawi.

Dengan datangnya peradaban Barat, maka peradaban lama yang telah mereka hayati selama berabad-abad mengalami keguncangan hebat dalam pikiran mereka. Inti peradaban Barat bercorak Nasrani, karena itu orang-orang Qibth di Mesir lebih mudah meniru dan menyerapnya. Namun mereka lebih banyak menyerap segi material daripada segi moralnya, sehingga setiap rumah dari keluarga kaum muslimin telah menggunakan penerangan listrik, menggunakan sajadah buatan Eropa, mendengarkan siara radio Eropa dan lain sebagainya.

Pada saat barat mendominasi dunia di bidang politik dan peradaban, persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu mereka berusaha bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya Turki Usmani, karena kerajaan ini yang pertama dan utama menghadapi kekuatan Eropa.

Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banyak belajar dari Eropa. Penjajahan Barat juga memicu gerakan pembaharuan dalam Islam, yang didorong oleh 2 faktor yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat, sedangkan yang kedua, tercermin dari pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam.

Pelajar-pelajar muslim asal India juga banyak menuntut ilmu ke Inggris. Pengaruh Barat terutama terlihat pada lapisan atas dan menengah, terutama pada intelegensia orang yang memperoleh pendidikan Barat, yang dijumpai pada tiap negeri Timur. Dalam reaksinya terhadap pengaruh Barat mereka mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Pandangan pertama berpegang pada sendi-sendi filsafat hidup nenek moyangnya, berusaha melakukan asimilasi dengan ide-ide Barat dan memikirkan sintesa yang lebih tinggi dari semangat Barat. Kedua, memutuskan hubungan dengan warisan lama, menerjunkan dirinya dalam pembaratan. Yang ketiga bersembunyi di belakang kekecewaan dan kengerian Barat.

Memang benar bahwa peradaban Barat memainkan peranan besar dalam memajukan dunia Islam. Tanpa peradaban Barat dunia Islam tentu masih seperti keadaan semula, tetapi itu tidak berarti bahwa peradaban Barat tidak mengandung cacat dan kekurangan. Peradaban Barat telah menjauhkan dunia Islam dari peradaban Islam yang lama. Akhirnya peradaban Islam bukan lagi suatu produk dari kaum muslimin mandiri sebagaimana peradaban Barat adalah produk dari orang-orang Barat sendiri.

Kebangkitan Negara – Negara Islam Periode Modern

Ekspansi yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka sangat tertinggal jauh dari negara-negara Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Negara-negara Eropa bisa menjajah karena keberhasilan mereka menerapkan sratetegi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mereka miliki.

Pada satu sisi kekuatan militer dan politik negara – negara Islam menurun, perekonomian yang merosot yang merupakan akibat dari monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi mereka kendalikan. Di sisi lain negara-negara Eropa pada waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang membebaskan diri mereka dari ikatan – ikatan gereja.

Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika. Usaha yang dilakukan negara – negara Islam melalui gerakan pembaharuan, didorong oleh beberapa faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran – ajaran Islam dari unsur – unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan belajar gagasan – gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari negara – negara Eropa.

Salah seorang tokoh pemikir gerakan kemerdekaan yang bernama Sayyed Jamaluddin Al Afghani yang berasal dari Afganistan, ia memperkenalkan hasil pemikirannya itu yang bernama Pan-Islamisme,yang sebelumnya didengungkan oleh gerakan Wahhabiah dan Sanisiyah, artinya solidaritas antara seluruh muslim di dunia internasional.

Ajaran inilah kemudian banyak digunakan oleh para pemikir pembaharuan di dunia Islam Tetapi gagasan Pan-Islamisme lama kelamaan meredup setelah terjadinya Perang Dunia I, yang mana pada waktu itu Turki bersekutu dengan Jerman dan mengalami kekalahan. Maka setelah itu muncullah gagasan baru yang bernama gagasan nasionalisme.

Gagasan ini pada permulaannya banyak mendapat tentangan dari berbagai pihak dari pemuka – pemuka islam karena tidak sejalan dengan semangat ukhuwah islamiyah, tetapi setelah itu berkembanglah gagasan nasionalisme itu. Diberbagai negara mislanya, gagasan nasionalisme di Mesir telah tumbuh sejak masa Al Tahtawi (1801 – 1873) dan Jamaluddin Al Afghani.

Tetapi tokoh yang terkenal dalam pergerakan memperjuangklan gagasan ini di Mesir ialah Ahmad Urabi Pasha. Sedangkan di Arab sendiri gagasan nasionalisme Arab segera menyebar dan disambut hangat sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Di India Pan-Islamisme juga tumbuh melalui pelopornya Sed Amir Ali (1848-1928).

Namun gagasan ini segera tergantikan oleh gagasan nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme juga segera pudar, ini dikarenakan kaum muslimin yang minoritas tertekan oleh kelompok Hindu yang mayoritas. Maka umat islam di negara India tidak menganut nasionalisme, melainkan islamisme, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komunalisme.

Indonesia

Dan di Indonesia partai politik besar yang menentang penjajahan di Indonesia adalah Sarekat Islam didirikan tahun 1912 oleh HOS Tjokroamionoto. Sarekat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhuditahun 1911. Tidak lama kemudian partai – partai politik lainnyapun mulai bermunculan, seperti PNI, PNI Baru, Permi.

Munculnya gagasan – gagasan untuk pembaharuan Islam yang kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa partai politik merupakan modal pertama yang dimiliki oleh umat Islam untuk mewujudkan negara yang bebas dari pengaruh negara – negara Eropa. Perjuangan nyata partai politik tersebut mereka wujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun bersenjata, dan pendidikan dan propaganda untuk mempersiapkan masyarakat menyambut dan mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Dan pada pertengahan abad ke-20 terjadi Perang Dunia ke-2, yan melibatkan negara kolonialis. Hampir semua daratan di Eropa dilanda peperangan. Konsekuensinya adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di setiap negara. Akibatnya negara-negara Eropa menarik pasukannya yang berada di daerah jajahan mereka masing – masing.

Dalam kondisi seperti ini negara – negra Islam yang tidak terlibat memanfaatkannya untuk memperoleh kemerdekaan negerinya masing – masing Dan negara mayoritas berpenduduk muslim pertama kali memproklamasikan kemerdekaan adalah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia merdeka dari pendudukan Jepang, setelah Jepang ditaklukkan oleh Tentara Sekutu dengan ditandai dibomnya kota Hiroshima dan Nagasakai. Namun setelah itu masyarakat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari Belanda dan Tentara Sekutu yang berhasil menguasai Indonesia

Pakistan

Negara Islam kedua yang merdeka dari penjajahan bangsa Barat adalah Pakistan, tanggal 15 Agustus 1947.

Yaitu ketika negara Inggris menerahkan kedaulatannya di India dan Pakistan kepada dua Dewan Konstitusi. Yang pada waktu itu presiden pertamanya adalah Ali Jinnah. Di bagian Timur Tengah, negara Mesir yang telah memperoleh kemerdekaan tahun 1922 dari negara Inggris, tetapi dalam sistem pemerintahan Raja Faruk, masih besar pengaruh Inggris. Barulah pada tanggal 23 Juli 1952 masa pemerintahan Jamal Abd al Nasser merobohkan sistem pemerintahan Raja Faruk Di negara lain Irak yang hampir sama keadaannya dengan negara Mesir yaitu memperoleh kemerdekaan tahun 1932, tetapi rakyat Iraq baru meraskan kemerdekaan yang sesungguhnya pada tahun 1958.

Sebelum negara Iraq, negara lain yang mengumandangkan kemerdekaan adalah Syria, Jordania, dan Libanon pada tahun 1946. Di Afrika, negara – negara banyak yang telah membebaskan diri dari penjajahan bangsa barat yaitu Perancis. Diantaranya Lybia tahun 1951, Sudan dan Maroko tahun 1956, Aljazair tahun 1962. Dan hampir bersamaan negara Yaman Utara, Yaman Selatan, Emirat Aab memperoleh kemerdekaan. Di Asia Tenggara, negara – negara mayoritas Islam juga mendapat kemerdekaan mereka. Malaysia yang pada waktu itu Singapura juga masih masuk mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957, disusul Brunei Darussalam tahun 1984.

Satu per satu negara – negara Islam memperoleh kemerdekaan dari penjajahan negara – negara Eropa. Bahkan ada negara yang minoritas penduduk Islam ingin memperoleh otonomi sendiri dengan kata lain iningi mendirikan negara yang merdeka. Seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan, dan Azerbaijan yang belum lama ini memperoleh kemerdekaan mereka. Tetapi negara seperti India, yang minoritas penduduknya di Khasmir dan Filipina yang berada di Moro belum memperoleh kemerdekaan. Meskipun hidup mereka terasa tertekan karena status minoritas yang sering menyulitkan mereka dalam memperoleh kesejahteraan hidup.
KESIMPULAN

Perang Salib merupakan awal penetrasi Barat terhadap dunia Islam yang selanjutnya membawa kaum muslimin berada dalam jajahan negara-negara Barat. Karena mulai dari Perang Salib I inilah kaum muslimin banyak mengalami kerugian, baik kerugian yang bersifat material seperti banyaknya wilayah Islam yang direbut Barat, diduduki dan dikuasai, juga kerugian non material yang berupa mulai hilangnya peradaban Islam dan mulai masuknya peradaban-peradaban Barat.Penjajahan Barat terhadap dunia Islam yang diawali dengan Perang Salib berlatar belakang hal-hal berikut :
§ Mercenary yaitu untuk mencari keuntungan negara Barat di negara-negara Islam.
§ Missionary yaitu untuk menyebarkan agama Kristen pada negara-negara jajahannya.
§ Military yaitu perluasan daerah militer.

Selain hal diatas yang melatar belakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan politik. Bentuk-bentuk penjajahan barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, penaklukan, sehingga banyak wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat. Juga berupa penindasan, penghisapan dan perbudakan. Penjajahan Barat ternyata membawa implikasi yang sangat luas terhadap perkembangan peradaban Islam baik peradaban material yang berupa tehnologi baru, maupun peradaban mental. Penjajahan Barat juga memicu gerakan pembaharuan dalam Islam, yang mana bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan Barat.

Negara-negara Eropa pada abad ke-19 dan ke-20 mendominasi negara – negara di dunia, khususnya negara – negara Islam. Faktor yang mempengaruhi negara-negara Eropa mendominasi dunia adalah kemajuan yang mereka peroleh dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekologi serta sistem perekonomian yang baru yaitu dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika.

Oleh karena itu negara-negara Eropa yang minim bahan baku mencari negara yang dapat dijadikan jajahan untuk kemudian diekspansi dalam bidang perdagangan.Negara – negara Islam yang dijajah berfikir untuk melepaskan diri dari jajahan negara – negara Eropa. Muncullah para tokoh pemikir dengan gagasannya masing masing, yaitu berupa gagasan Pan-Islamisme oleh al Afghani, dan gagasan Nasionalisme yang berasal dari negara Barat yang dibawa oleh para pelajar yang bersekolah di negara – negara Eropa.

Tetapi ada juga yang membuat sebuah agasan tersendiri yaitu di India dengan gagasan mereka Islamisme. Hasil dari pembaharuan melalui gagasan itu juga terasa, namun tidak sepenuhnya. Pada akhirnya terjadilah Perang Dunia II, yang melibatkan banyak negara – negara Eropa. Situasi seperti inilah yang dimanfaatkan negara – negara Islam untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Dan setelah Indonesia yang merupakan negara pertama memproklamasikan kemerdekaan, negara – negara Islam lainnya juga memproklamasikan kemerdekaan negara mereka masing – masing.

E. Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Barat Terhadap Bangsa-bangsa di Kawasan Asia Selatan

Kolonialisme Inggris di India

Kedatangan bangsa Inggris ke India awalnya bukanlah untuk menguasai pemerintahan atau wilayah India. Awal mula aktivitas Inggris di India adalah dalam bidang perdagangan yag dilakukan oleh badan niaga EIC (English East India Company) sejak dibentuk pada 1600 oleh para pedagang London (Suwarno, 2012: 106). Awalnya EIC hanya melakukan transaksi dalam perdagangan dan tidak memiliki otoritas dalam politik maupun pemerintahan.

Salah satu kebijakan EIC dalam perdagangan yang diberikan oleh pemerintah Kerajaan Inggris ialah hak monopoli perdagangan dengan bangsa-bangsa di Timur. Namun karena perannya yang sangat besar di India, EIC tidak lagi berurusan dalam perdagangan atau ekonomi saja, EIC mulai memegang peran penting dalam politik. Hal ini terjadi setelah tiga wilayah yakni Madras, Bombay, dan Calcuuta berhasil dikuasai.

EIC dibawah kepemimpinan Robert Clive semakin memegang peran penting di India. EIC berusaha memperoleh kekuasaan dari Kesultanan Mughal yang bersekutu dengan Prancis karena Kesultanan Mughal membatasi hak-hak EIC. Akibatnya, tentara EIC berperang melawan Kekaisaran Mughal dan Prancis. Prancis dikalahkan dalam perang Carnatic yang berlangsung antara tahun 1746-1752 dan 1756-1763. Selain perang tersebut, terjadi juga perang Plassey dan perang Buxor.

Kemenangan diperoleh Inggris dalam kedua pertempuran tersebut. Dibawah kepemimpinan Robert Clive, Inggris menghancur pasukan Nawab Sirajuddaula dalam perang Plassey (Juni 1757) dan dalam perang Buxor (Oktober 1964) mengalahkan aliansi Nawab Mir Qasim dengan Sultan Shah Alam dari Mughal (Suwarno, 2012: 107). Kemenangan-kemenangan tersebut memberikan keuntungan yang besar terhadap Inggris.

Dimana EIC mendapatkan suatu hak istimewa yakni hak diwani, hak yang memperbolehkan EIC mengumpulkan penghasilan atas tiga wilayah yaitu Benggala, Bihar, dan Orissa. Selama dekade berikutnya, Inggris secara bertahap sukses memperluas wilayah teritori yang berada di bawah kekuasaannya di India, baik dengan menguasainya secara langsung ataupun melalui penguasa lokal yang berada di bawah ancaman kekuatan tentara Inggris di India.

Peta politik India mengalami perubahan yang besar ketika Lord Wellesley (1798-1805) menjadi Gubernur Jenderal EIC di India (Suwarno, 2012: 107). Dibawah kepemimpinannya EIC berkembang menjadi kekuatan politik terbesar di India.

Pada tahun 1857, terjadi pemberontakan di India terhadap Inggris. Pemberontakan tersebut dimulai sebagai pemberontakan tentara sepoy (tentara pribumi) yang direkrut EIC. Pemberontakan bermula di Kota Meerut pada 10 Mei 1857, tetapi segera meluas menjadi pemberontakan penduduk di dataran Gangga hulu dan India Tengah. Pemberontakan ini sangat mengancam kekuatan EIC di India. Adapun pemberontakan ini dilatar belakangi oleh beberapa hal sebagai berikut:

Adanya rumor penggunaan lemak sapi dan babi dalam latihan tentara sepoy yang dianggap menodai agama Hindu maupun Islam. Sapi dalam agama Hindu merupakan hewan yang disucikan, sedangkan babi merupakan binatang haram dalam agama Islam. Akibatnya menimbulkan kericuhan antara para sepoy dengan para perwira mereka yang orang Eropa dan beragama Kristen.

Mulai timbul kebencian penduduk pribumi atas perlakuan dan kontrol yang diterapkan Inggris, seperti pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial tertentu. Misalnya divisi Bengal didominasi oleh kasta tinggi, seperti Rajput sementara divisi Bombay dan Madras didominasi oleh kasta rendah.

Raja-raja wilayah mulai merasa tidak puas atas dominasi EIC.

Selain itu, di dalam tubuh EIC sendiri terjadi permasalahan seperti korupsi.

Tentara sepoy yang menolak untuk menggunakan peluru berpelumas tersebut kemudian dipenjarakan. Sehari setelah penahanan, pemberontakan langsung pecah. Setelah memberontak, tentara sepoy mendapat dukungan dari raja-raja wilayah di India yang sebelumnya terampas kekuasaannya oleh EIC. Kemudian secara bersama-sama mengangkat Maharaja Mughal sebagai lambang perlawanan. Tetapi perlawanan ini mengalami kegagalan. Tentara EIC berhasil memadamkan pemberontakan setelah mendatangkan pasukan dari Eropa dan koloninya yang lain terutama Burma dan tentara sepoy (kaum Sikh) yang masih setia kepada EIC.

Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, EIC dibubarkan pada tahun 1858. Selanjutnya, kekuasaan di India dijalankan secara langsung oleh mahkota Britania. Hal ini membawa India memasuki periode menjadi Negara Kepangeranan (Princely States) Inggris atau yang dikenal sebagai Kemaharajaan Britania (British Raj) dengan seorang gubernur jenderal ditunjuk oleh Pemerintah Inggris untuk membawahi India dan Ratu Victoria dinobatkan sebagai Maharani India.

Kolonialisme dan Imperialisme bangsa Barat terhadap bangsa-bangsa lain di kawasan Asia Selatan selain India tidak terlalu banyak mendapat perhatian layaknya India. Di Sri Lanka, Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke sana adalah bangsa Portugis, yang datang pada tahun 1505, mereka berhasil menancapkan pengaruhnya di wilayah ini.

Sekalipun mereka tidak pernah menaklukkan seluruh kawasan, kekuasannya berlangsung sampai tahun 1658, setelah Belanda berhasil menaklukkannya dalam berbagai pertempuran. Kekuasaan Belanda atas wilayah ini berlangsung dari tahun 1658 sampai tahun 1796 ketika Inggris mulai berkuasa dan mengambil alih kekuasaan Belanda. Di Maladewa, bangsa Portugis juga merupakan bangsa Barat pertama yang menguasai daerah tersebut.

Sedangkan Bhutan awalnya dikuasai oleh EIC. Negara-negara asia selatan tersebut merupakan negara bekas jajahan bangsa Barat. Salah satu negara asia selatan yang pernah di jajah dan di jadikan negara persemakmuran adalah beberapa negara asia selatan yang kebanyakan merupakan bekas jajahan inggris , mulai dari India sendiri yang baru mendapatkan kemerdekaan pada tahun 15 Agustus 1947, sedangkan sri lanka 4 Februari 1948 , Bangladesh 18 April 1972, dan Maladewa 9 Juli 1982. Dapat di simpulkan bahwa pengaruh kolonialisme di asia selatan sangat besar dan hampir menguasai seluruh Asia Selatan.

Dampak-dampak yang ditimbulkan dari Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Barat terhadap bangsa-bangsa di Kawasan Asia Selatan

Ketika bangsa Inggris melakukan kolonisme dan imperialisme di India. Wilayah itu mengalami perubahan besar baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya. Dampak penjajahan inggris di india dapat dipilah menjadi dua, yaitu dampak negatif dan positif.

Dalam bidang politik terjadi perubahan pada sistem pemerintahan model kolonial. Masyarakat india tidak memiliki kemerdekaan dan martabat.

Dalam bidang pendidikan, banyak warga India yang disekolahkan di Eropa. Dan setelah lulus. mereka dikembalikan lagi ke negara asalnya. Dengan harapan mereka akan mempunyai pola pemikiran model Eropa dan akan berpengaruh kepada lingkungan masyarakatnya. Juga institusi pendidikan barat telah diberlakukan inggris mulai dari tingkat dasar hingga universitas. Universitas pertama yang didirikan yaitu universitas calcutta pada 1857 lalu 30 tahun kemudian muncul universitas di Bombay, Madras, Lahore dan Allahabad. (Majumdar, 1956:819-821)

Dalam bidang ekonomi, jelas bahwa dimana India mempunyai sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat besar. Sehingga menguntungkan bagi bangsa Inggris. Banyak sekali prabrik-pabrik industri milik Inggris mengolah bahan-bahan mentah yang berasal dari wilayah jajahan (India) untuk dibuat sebuah produk. Dari hasil produk tersebut dijual lagi kepada daerah jajahan/koloni.

India dijadikan sebagai tempat produksi dan sekaligus tempat pemasaran hasil-hasil produksi. Keuntungan dari industri tersebut pastinya sangat besar. Tetapi anehnya penduduk pribumi hanya memperoleh sedikit dari keuntungan tersebut. Karena Inggris tidak melibatkan orang-orang pribumi dalam industrinya. Selanjutnya industri rakyat india hancur dan bidang pertanianya rusak, sehingga sering timbul wabah kelaparan yang mengakibatkan rakyat india banyak yang tewas (Mulia, 1959:124)

Dalam bidang sosial budaya terjadi perubahan pandangan hidup atau pola pikir masyarakat India dalam menghadapi sesuatu. Misalnya ketika seorang sedang terkena penyakit, mereka selalu berobat kepada dukun, paranormal, dan lain sebagainya. Pastinya mereka mempunyai cara penyobatan secara irrasional.

Tetapi setelah adanya teknologi dari asing (Inggris) mereka mulai beralih berobat kepada para dokter. Jadi disini mulai terlihat perubahan dalam menghadapi suatu hal yang terjadi pada individu maupun suatu komunitas masyarakat dalam hal mengatasi suatu penyakit. perubahan yang lain terjadi pada strata sosial, dimana pada masa sebelumnya struktur sosial yang paling tinggi adalah kaum brahmana, ketika adanya kolonisasi Inggris. Strata tersebut berubah. Strata yang paling tinggi adalah orang-orang Eropa, baru brahmana.

Adapun dampak yang secara umum juga dirasakan oleh bangsa-bangsa lain selain India di kawasan Asia Selatan tentu mengalami penderitaan. Kekayaan dan sumber daya yang ada pada negara-negara tersebut akan digaruk oleh bangsa Barat untuk keperluan bangsa mereka sendiri. Selain itu rakyat juga akan menderita akibat kekurangan gizi akibat perlakuan bangsa Barat yang tidak memperhatikan kesehatan dan keselamatan dari para penduduk pribumi bahkan terkadang warga pribumi didorong bekerja secara paksa dan sukarela tanpa ada balas jasa yang diberikan oleh bangsa Barat.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: