Filsafat Berfikir

Perang Qoddisiyah | Desember 21, 2015

the-battle-of-qadisiyyah-the-fall-of-the-mighty-persian-empire

Disusun oleh: Ading Nashrulloh

Sumber : Berbagai karya dari Internet

 

 

  1. Sepenggal Peristiwa dari Perang Khandaq

“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan.
Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumahrumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “
Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”
2. Surat kepada Raja Khosrau II @ Chosroes – Parsi (Persia)

Rasulullah SAW juga mengirim surat kepada Raja Khosrau II, Abrawaiz dari kerajaan Persia. Ia mengutus sahabatnya Abdullah bin Hudzaifah As-Sahmi yang isinya menyerunya kepada Islam. Namun setelah membaca surat tersebut, sang raja melah mereobek surat dan Rasulullah SAW dan berkata ”Hamba rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku.”

Kabar disobeknya surat tersebut sampai kepada Rasulullah. Beliau pun ”Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.”. Allah SWT pun mengabulkan doa tersebut. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian dia pun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih.

Dia dibunuh dan dirampas kekuasaannya. Seterusnya kerajaan itu kian terobek-robek dan hancur sampai akhirnya ditakluki oleh pasukan Islam pada zaman Khalifah Umar bin Al-Khaththab r.a hingga tidak dapat lagi berdiri.

Isi surat

“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Kisra penguasa rakyat Persia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Aku bersaksi behawa tiada Tuhan kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku mengajak dengan seruan Allah.

Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya dan supaya ketetapan azab kepada orang-orang kafir itu pasti. Masuklah Anda ke dalam Islam, niscaya akan selamat. Jika kamu menolak, sesungguhnya kamu memikul dosa kaum Majusi.”

Dibunuhnya Kisra oleh Anaknya

Selanjutnya, dengan geram kemudian ia menulis surat kepada gubernur Yaman agar segera menangkap Rasulullah. Maka berangkatlah dua utusan ke Madinah. Rasulullah sendiri yang menyambut utusan gubernur Yaman tersebut. Dengan tersenyum Rasulullah bersabda : “ Kembalilah dulu hari ini. Besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan”.

Keesokan harinya,kedua utusan tersebut menghadap kembali. “ Sampaikan kepada gubernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini, tepatnya enam jam yang lalu”, sambut Rasulullah tenang.

Ibnu Sa’ad berkata, “ Yaitu pada malam selasa, 10 Jumadil ‘Ula tahun kesembilan. Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya”. Akhirnya, kedua orang itu kembali menemui Badzan, sang gubernur, guna menyampaikan berita ini. Selanjutnya Badzan bersama anak buahnyapun masuk Islam.
3. Pertempuran Al-Qadisiyyah

Pertempuran Al-Qadisiyyah adalah pertempuran yang menentukan antara pasukan muslim dengan pasukan Persia pada saat periode pertama ekspansi muslim yang berakhir dengan penaklukan Islam atas seluruh Persia dan berhasil mengubah keyakinan mereka menjadi Islam sampai dengan saat ini. Pertempuran ini terjadi kurang lebih pada tahun 636 M.

Surat Umar

Khalifah Umar ibn Khattab ra. telah menuliskan satu perintah kepada panglima perangnya Sa’ad bin Abi Waqqash pada saat hendak membuka negeri Persia yang isinya:

“Amma ba’d. Maka aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang besertamu untuk selalu takwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena, sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh dan paling hebatnya strategi dalam pertempuran.

Aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu agar kalian menjadi orang yang lebih kuat dalam memelihara diri dari berbuat kemaksiatan dari musuh-musuh kalian. Karena, sesungguhnya dosa pasukan lebih ditakutkan atas mereka daripada musuh-musuh mereka dan sesungguhnya kaum muslimin meraih kemenangan tidak lain adalah karena kedurhakaan musuh-musuh mereka terhadap Allah.

Kalaulah bukan karena kedurhakaan musuh-musuh itu, tidaklah kaum Muslimin memiliki kekuatan karena jumlah kita tidaklah seperti jumlah mereka (jumlah mereka lebih besar) dan kekuatan pasukan kita tidaklah seperti kekuatan pasukan mereka.

Karenanya, jika kita seimbang dengan musuh dalam kedurhakaan dan maksiat kepada Allah, maka mereka memiliki kelebihan di atas kita dalam kekuatannya, dan bila kita tidak menang menghadapi mereka dengan “keutamaan” kita, maka tidak mungkin kita akan mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Ketahuilah bahwa kalian memiliki pengawas-pengawas (para malaikat) dari Allah. Mereka mengetahui setiap gerak-gerik kalian karenanya malulah kalian terhadap mereka.

Janganlah kalian mengatakan, “Sesungguhnya musuh kita lebih buruk dari kita sehingga tidak mungkin mereka menang atas kita meskipun kita berbuat keburukan.” Karena, berapa banyak kaum-kaum yang dikalahkan oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka.

Sebagaimana orang-orang kafir Majusi telah mengalahkan Bani Israil setelah mereka melakukan perbuatan maksiat. Mintalah pertolongan kepada Allah bagi diri kalian sebagaimana kalian meminta kemenangan dari musuh-musuh kalian. Dan aku pun meminta hal itu kepada Allah bagi kami dan bagi kalian.

Jalannya pertempuran

Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan pasukan muslim dalam jumlah besar ke Iraq (pada saat itu masih bagian dari Persia) di bawah pimpinan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash.
Mendengar pergerakan pasukan Islam ini , Kaisar Persia yang terakhir dan masih muda, Yazdgird III (632 M. – 651 M.) memerintahkan kepada panglima perangnya Rustam Farrokhzad untuk menghadangnya. Akhirnya kedua pasukan ini bertemu di sebelah barat sungai Eufrat di desa yang bernama Al-Qadisiyyah (barat daya Hillah dan Kufah).

Pasukan muslim mengirim delegasi ke kamp pasukan Persia dengan mengajak mereka memeluk Islam atau tetap dalam keyakinan mereka tetapi dengan membayar pajak atau jizyah. Setelah tidak dicapai kesepakatan di atas, pecahlah pertempuran. Sa’ad sendiri tidak bisa memimpin langsung pasukannya dikarenakan sakit bisul yang parah. Tetapi dia tetap memonitor jalannya pertempuran bersama deputinya Khalid bin Urtufah.

Hari pertama pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak Persia dan hampir saja pasukan muslim akan menemui kekalahan dengan tidak imbangnya jumlah pasukannya dengan pasukan Persia yang lebih besar. Pasukan Persia menggunakan gajah untuk memporak-porandakan barisan muslim dan ini sempat membuat kacau kavaleri muslim dan kebingungan di antara mereka bagaimana cara untuk mengalahkan gajah-gajah tersebut. Keadaan seperti ini berlangsung sampai dengan berakhirnya hari kedua pertempuran.

Memasuki hari ketiga, datanglah bala bantuan muslim dari Syria (setelah memenangkan pertempuran Yarmuk). Mereka menggunakan taktik yang cerdik untuk menakut-nakuti gajah Persia yaitu dengan memberi kostum pada kuda-kuda perang. Taktik ini menuai sukses sehingga gajah-gajah Persia ketakutan, akhirnya mereka bisa membunuh pemimpin pasukan gajah ini dan sisanya melarikan diri kebelakang menabrak dan membunuh pasukan mereka sendiri. Pasukan muslim terus menyerang sampai dengan malam hari.

Pada saat fajar hari keempat, datanglah pertolongan Allah SWT. dengan terjadinya badai pasir yang mengarah dan menerpa pasukan Persia sehingga dengan cepat membuat lemah barisan mereka. Kesempatan emas ini dengan segera dimanfaatkan pihak muslim, menggempur bagian tengah barisan Persia dengan menghujamkan ratusan anak panah. Setelah jebolnya barisan tengah pasukan Persia, panglima perang mereka Rustam terlihat melarikan diri dengan menceburkan diri dan berenang menyeberangi sungai, tetapi hal ini diketahui oleh pasukan muslim yang dengan segera menawan dan memenggal kepalanya.

Pasukan muslim yang berhasil memenggal kepalanya adalah Hilal bin Ullafah. Setelah itu dia berteriak kepada pasukan Persia dengan mengangkat kepala Rustam : “Demi penjaga Ka’bah! Aku Hilal bin Ullafah telah membunuh Rustam!”.

Melihat kepala panglima perangnya ditangan pasukan muslim, pasukan Persia menjadi hancur semangatnya dan kalang kabut melarikan diri dari pertempuran. Sebagian besar pasukan Persia ini berhasil dibunuh dan hanya sebagian kecil saja yang mau memeluk agama Islam. Dari Pertempuran ini, pasukan muslim memperoleh ghanimah atau rampasan perang yang sangat banyak, termasuk perhiasan kekaisaran persia.

Setelah pertempuran ini, pasukan muslim terus mendesak masuk dengan cepat sampai dengan ibukota Persia, Ctesiphon atau Mada’in. setelah itu mereka melanjutkan ke arah timur dan mematahkan dua kali serangan balasan dari pasukan Persia yang pada akhirnya berhasil menghancurkan kekaisaran Persia dan menjadikannya daerah muslim sampai dengan saat ini.

4. Kemenangan Islam di Perang Qadisiyyah

Merupakan satu kepastian bahwa kehidupan yang baik membutuhkan perjuangan. Harapan menumbuhkan semangat dan kekuatan, sementara angan-angan hanyalah melalaikan dan menyulut kemalasan.

Allah telah memilih para ksatria yang berjibaku dalam jihad fi sabilillah. Sekumpulan manusia yang mendambakan syahid di jalan-Nya. Mereka meninggalkan kelezatan dan kemegahan dunia, bergegas menuju gelanggang pertempuran. Tak lain, berjuang demi tegaknya Islam di muka bumi. Upaya menapaki bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan aksi brutal mengatasnamakan agama.

Mereka tak menghiraukan jauhnya diri dari keluarga, sabetan pedang, luka yang menganga, maupun gugurnya teman seperjuangan. Sedari dulu, perjuangan membutuhkan pengorbanan. Teguh di saat menghadapi beratnya perjuangan, sabar di kala musibah mendera. Mereka benar-benar yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah lebih baik dan kekal.

Sekilas Tentang Perang Qadisiyyah

Qadisiyyah merupakan sebuah daerah di sebelah timur sungai Eufrat. Memiliki banyak kebun kurma dan aliran irigasi. Pintu gerbang kerajaan Persia Majusi (penyembah api) pada masa lampau. Adapun saat ini, Qadisiyyah terletak di barat daya Hillah dan Kufah, bagian tengah negara Irak.

Perang ini merupakan pertempuran terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya di Irak. Sejumlah kisah keberanian dan pengorbanan yang mendebarkan hati menghiasi insiden bersenjata ini. Peristiwa monumental tersebut berlangsung pada tahun 14 H, pada masa khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Latar Belakang Peperangan

Setelah gugurnya panglima Abu ‘Ubaid pada pertempuran di jembatan sungai Eufrat, ditambah dengan pengkhianatan kaum kafir Irak pada masa itu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertekad memimpin ekspansi militer menuju Irak. Di tengah perjalanan, digelar majelis musyawarah militer. Para sahabat senior menyetujui kepemimpinan ‘Umar, kecuali ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berujar: “Aku khawatir apabila engkau kalah, maka kaum muslimin di seluruh penjuru bumi akan melemah. Aku mengusulkan agar engkau menunjuk seorang panglima, sementara engkau kembali ke Madinah.”

Kemudian ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Menurut pendapatmu, siapa orang yang tepat sebagai panglima perang di Irak?”, ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Aku telah menemukannya.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya: “Siapa dia?”, “Singa yang menerkam dengan kukunya, Sa’ad bin Malik Az-Zuhri!”, tegas ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar pun membenarkan hal itu, lalu segera mengutus Sa’ad beserta bala tentaranya menuju Irak yang termasuk teritorial imperium Persia. Sa’ad bin Malik sendiri lebih dikenal dengan nama Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

Strategi Pasukan Islam

Dengan sigap, Sa’ad mengerahkan tentaranya, untuk bergabung dengan pasukan Al-Mutsanna bin Haritsah di sana. Namun, sebelum kedua pasukan bertemu telah terdengar berita meninggalnya Al-Mutsanna. Lengkaplah jumlah pasukan Islam menjadi 30.000 prajurit. Di dalamnya terdapat 70 veteran perang Badar 300 sahabat nabi yang mengikuti Fathu Mekkah, dan 700 putra sahabat nabi.

Garda depan dipimpin oleh Zahrah bin ‘Abdullah, sayap kanan di bawah komando Jarir bin ‘Abdullah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dan sayap kiri diatur oleh Qais bin Maksyuh radhiyallahu ‘anhu. Bertindak sebagai panglima tertinggi seluruh pasukan Islam adalah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar mengomentari: “Demi Allah, aku akan mempertemukan para raja non Arab dengan raja-raja Arab.”

Strategi Pasukan Kafir Persia

Sampailah pasukan Islam di Qadisiyyah dan menetap selama satu bulan. Maka rakyat Persia segera melaporkan tindakan kaum muslimin tersebut kepada Yazdigird, raja Persia kala itu. Kemudian, Yazdigird mengirim parade militer berskala besar ke Qadisiyyah. Bataliyon gabungan artileri-kavaleri ini di bawah komando panglima senior yang bernama Rustum.

Mereka berangkat membawa 12.000 personil. Garda depan dipimpin Jalinius, pertahanan belakang diatur oleh Al-Bairuzan, sayap kanan dipimpin Hurmuzan, adapun sayap kiri dipegang oleh Mihran. Persia semakin congkak tatkala diperkuat oleh 33 gajah. Setiap gajah menarik gerbong yang membawa 20 serdadu beserta peti persenjataan. Musuh menempatkan 18 gajah pada lini tengah pasukan, di antaranya seekor gajah putih milik raja yang paling besar di garis terdepan. Adapun 15 gajah lainnya pada posisi sayap kanan dan kiri pasukan. Sebuah taktik tempur yang membahayakan.

Satuan Intai Dan Tempur

Satuan intelijen dikirim guna menjalankan misi spionase atas musuh. Di antara mereka adalah Thulaihah Al-Asadi. Beliau memacu kudanya menempuh perjalanan sejauh enam mil menyusup ke dalam barisan musuh, dan mendapatkan data akurat. Thulaihah berhasil menewaskan dua komandan senior Persia, yang mana kekuatan masing-masingnya setara dengan 1.000 serdadu. Beliau juga menawan seorang komandan senior lainnya untuk dihadapkan kepada Sa’ad. Tawanan tersebut justru menceritakan sepak terjang Thulaihah yang menakjubkan, lalu menginformasikan bahwa musuh berkekuatan 120.000 personil dan di belakangnya terdapat jumlah pasukan yang sama. Setelah itu tawanan tersebut masuk Islam dan Sa’ad memberinya nama Muslim.

Perundingan Sebelum Meletusnya Pertempuran

Di saat kedua kubu saling berhadapan, Sa’ad mengutus Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Beliau segera datang dan langsung duduk di sisi Rustum. Hal ini membuat para pembesar Persia berang, namun dengan tenang beliau menjawab: “Sesungguhnya duduk di singgasana ini tidaklah meninggikan kedudukanku, dan tidak pula mengurangi kedudukan panglima kalian.”

Setelah itu Rib’i bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu diutus menemui Rustum. Bersamaan dengan itu, musuh telah menghiasi tenda dengan berbagai perhiasan yang menyilaukan mata. Mereka meletakkan sejumlah bantal berajut benang emas serta permadani yang terbuat dari sutera. Rustum sendiri memakai mahkota tengah duduk di atas singgasana yang terbuat dari emas.

Di sisi lain, Rib’i bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu datang menaiki seekor kuda pendek. Beliau masuk tenda dengan tetap mengenakan baju besi dan senjatanya. Namun, kedua perundingan ini berakhir tanpa membawa hasil.

Berkobarnya Api Pertempuran

Menjelang pecahnya pertempuran, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu tertimpa penyakit bisul di sekujur tubuhnya. Keadaan ini menghalangi beliau untuk memacu kudanya.

Pintu benteng sendiri tidak ditutup menunjukkan keberanian Sa’ad. Dari atas benteng, beliau mengatur pasukan dalam keadaan bersandar di atas dadanya yang terletak di atas bantal. Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menghadirkan para pemuka kaum, jagoan perang, dan penyair sebagai upaya mengobarkan ruh jihad tentara Islam.

Beliau radhiyallahu ‘anhu juga memerintahkan agar dibacakan ayat-ayat jihad dari surat Al-Anfal. Hal ini membawa ketenangan bagi pejuang Islam. Mereka mengetahui kemenangan bukan dinilai dari kekuatan pasukan. Kemenangan adalah karunia dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di sisi lain, Persia mempersiapkan 30.000 tentara khusus yang diikat dengan rantai besi agar tidak melarikan diri. Rustum sendiri mengenakan dua lapis baju besi. Rustum sempat mengalami mimpi buruk tentang kekalahan pasukannya. Dia adalah seorang dukun yang mengetahui ilmu perbintangan. Dia pun bersedih, namun ia menyembunyikan hal itu.

Seusai shalat zhuhur, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu mengumandangkan takbir pertama, seluruh prajurit bertakbir dan menyiapkan diri. Takbir kedua, mereka kembali bertakbir dan bersiap dengan senjatanya. Takbir ketiga dikumandangkan, merekapun serempak bertakbir sembari bersiap memacu kuda-kuda.

Dan setelah pekikan takbir keempat, seluruh prajurit menggempur barikade Persia hingga malam tiba, ibarat singa-singa garang yang memburu mangsanya. Bahkan singa saja tidak segarang mereka. Di hari itu, banyak korban berjatuhan dari pihak Islam. Gajah-gajah Persia membuat takut kuda-kuda Arab hingga lari darinya.

Pertempuran berkobar pada pagi hari kedua hingga larut malam. Al-Qa’qa’ bin ‘Amr memerintahkan agar memberikan kostum menyeramkan pada sejumlah unta Arab. Hal ini membuat kuda Persia ketakutan.

Sementara itu, bantuan pasukan Islam datang dari Syam sebanyak 6.000 personil. Tentara Islam benar-benar bertempur dengan gagah berani hingga larut malam. Di saat pergantian hari, kaum muslimin mengubur jenazah pejuang dan memindahkan prajurit yang terluka parah. Adapun mayat-mayat serdadu Persia dibiarkan bergelimpangan.

Pada pagi hari ketiga, mereka kembali berperang hingga sore hari. Tak terdengar pada hari itu melainkan suara pedang-pedang yang beradu. Sampailah pertempuran pada hari keempat. Milisi militan Islam berhasil melukai dan membunuh sejumlah gajah pasukan Persia.

Akhir Dari Pertempuran

Permukaan bumi Qadisiyyah bersimbah darah. Api perang terus berkobar. Para pejuang Islam terus maju menggempur barikade musuh. Matahari tergelincir siang itu, tiba-tiba berhembus angin kencang memporak-porandakan tenda-tenda Persia, termasuk tenda milik Rustum. Suasana menjadi samar tak jelas dipenuhi debu. Rustum hendak melarikan diri namun tewas terbunuh. Nasib serupa juga menimpa Jalinius.

Akhirnya, pasukan penyembah api itu mengalami kekalahan telak dan lari tercerai-berai. Para pejuang Islam dengan leluasa membunuh dan mengejar ke mana pun mereka menuju, baik ke arah sungai, gunung maupun lembah. Jumlah pasukan Persia yang terbunuh pada perang ini sebanyak 40.000 tentara. Adapun jumlah pasukan Islam yang gugur sebanyak 2.500 tentara.

Itulah para mujahidin sejati yang berupaya menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sibuk memperbaiki anak panah dan meruncingkan ujung tombak. Barisan ksatria yang selalu bergemuruh membaca Al-Qur’an ketika malam tiba. Adapun di siang hari, mereka adalah para penunggang kuda yang tangguh tak terkalahkan.

Berjuang sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ikhlas mengharap ridho Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala turunkan pertolongan untuk mereka dan memberi mereka kemenangan. Walhamdulillah..

5. Air Mata Saad Bin Abi Waqqash dalam Perang Qadisiyyah

PENOLAKAN Kaisar Parsi untuk menerima Islam membuat air mata Saad bin Abi Waqqash bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan bukan Muslim. Kepahlawanan Saad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Parsi di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Bersama 3000 pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah.

Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan. Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah berhampiran Hira.

Pasukan musuh yang datang untuk menentang pasukan tentera Muslimin, mereka semua berjumlah 120,000 ribu orang dibawah panglima perang kebanggaan mereka, Rustum. Sebelum memulai peperangan, Umar bin Khattab yang menjadi khalifah saat itu, mengarahkan Saad menulis surat kepada Kaisar Parsi, Yazdagird dan Rustum. Isi surat itu mengajak mereka masuk Islam.

Delegasi Muslim yang pertama berangkat menemui Yazdagird adalah Nu’man bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan Yazdagird. Untuk mengirim surat kepada Rustum, Saad mengirim delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir.
Laporkan iklan?

Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi kepada Rubiy bin Aamir sebagai pembalasan dan penghinaan. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahawa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik iaitu syurga.

Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Saad bercucuran kerana ia terpaksa harus berperang yang bererti mengorbankan nyawa orang Muslim dan bukan muslim.

Setelah itu, untuk beberapa hari dia terbaring sakit kerana tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Saad tahu bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.

Ketika tengah berpikir, Saad akhirnya mendapati bahawa dia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Saad segera bangkit dan menghadapi pasukannya.

Di depan pasukan Muslim, Saad membaca QS Al-Anbiya: 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang soleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur. Setelah itu, Saad menukar pakaian kemudian menunaikan Shalat Zhuhur bersama pasukannya. Setelah itu dengan membaca takbir, Saad bersama pasukan Muslim memulai peperangan.

Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Farsi. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu.
Saad bin Abi Waqqash: Pahlawan Qadisiyah yang Ahli Panah

KALA cahaya nubuwat mulai memancar di Makkah, Saad adalah seorang pemuda yang gagah, lembut hati, dan sangat berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibunya. Di usianya yang masih belia, Saad memiliki jalan pikiran laiknya orang dewasa.

Dia tak suka bermain-main seperti pemuda sebayanya. Kegemarannya adalah pada peralatan perang, seperti bermain panah atau membetulkan busur dan menggunakan perisai, seakan-akan sedang bersiap-siap menghadapi perang besar.

Dia juga benci menghadapi kebobrokan dan rusaknya kepercayaan yang melanda kaumnya. Dia menunggu datangnya sepasang tangan kokoh yang mampu membenahi umat yang hidup dalam kegelapan itu. Dengan kehendak Allah yang senantiasa menghargai kemanusiaan, sepasang tangan yang penuh kasih sayang terulur.

Tangan itu adalah tangan Muhammad bin Abdillah. Di dalam genggamannya, tercakup karunia Allah yang tak pernah rusak, yaitu Kitabullah. Saad cepat sekali menyambut panggilan hidayah dan kebenaran itu. Bahkan beliau merupakan orang ketiga yang memeluk Islam.

Beliau berkata, “Pada hari aku masuk Islam, tidak ada orang lain yang menyertaiku. Aku menanti seminggu lamanya, dan sesungguhnya aku ini sepertiga Islam (artinya, orang ketiga yang masuk Islam).” Kerabat Rasulullah Rasulullah sangat gembira dengan keislaman Saad bin Abi Waqqash.

Sebab, dalam diri pemuda ini terdapat kecerdasan dan tanda-tanda kepahlawanan, seakan memberi pertanda bahwa bulan sabit akan segera menjadi bulat sempurna dalam waktu dekat. Selain itu, Saad juga masih terhitung keluarga Rasulullah.

Saad berasal dari kabilah Zuhrah, sama dengan ibu Rasulullah. Beliau adalah anak dari paman Aminah (ibunda Rasulullah). Jadi, secara silsilah, Saad adalah paman Rasulullah, karena beliau adalah sepupu ibu Rasulullah. Rasulullah sendiri sering membanggakan pamannya yang belia ini. Suatu kali, beliau tengah duduk di tengah kerumunan para sahabat.

Melihat Saad datang, beliau berkata, “Ini pamanku. Setiap orang boleh menunjukkan pamannya masing-masing, bukan?” Tidak berlebihan kiranya jika Rasulullah membanggakan Saad. Beliau adalah orang yang berbudi luhur, akhlaknya mulia, lagi teguh imannya. Terbukti, beliau menyertai suka-duka perjuangan Rasulullah sepanjang masa awal dakwah Islam.

Beliau turut merasakan masa-masa sulit pemboikotan terhadap kaum muslimin di Syi’b Makkah. Beliau katakan, ”Ketika kaum muslimin diboikot dan dikucilkan di Syi’b Makkah, hampir tiga tahun lamanya yang kami makan bersama Rasulullah adalah daun-daunan.

Sehingga, kotoran kami menyerupai kotoran domba.” Beliau juga ikut serta dalam perang Badar. Perang di mana beliau harus kehilangan adiknya tercinta, Umair bin Abi Waqqash. Ujian juga datang dari keluarga beliau. Ketika mengetahui putranya memeluk Islam, ibu Saad marah besar dan mengancam akan mogok makan jika beliau tidak mau kembali kepada agama Quraisy.

Namun, hingga ancaman itu dibuktikan selama beberapa hari oleh ibunya, Saad tetap teguh dalam Islam. Sampai-sampai, ibunya pingsan dan dikhawatirkan meninggal pun, Saad tetap tak merubah sikap. Dengan tegas beliau nyatakan, “Wahai ibu. Demi Allah, jika ibu memiliki seratus nyawa sekalipun, dan nyawa itu hilang satu demi satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku karena ibu.”

Sikap tegas yang diperlihatkan Saad atas agama yang diyakininya ini mampu meluluhkan hati ibunya hingga mau makan kembali. Tentang peristiwa ini, Allah menurunkan ayat, “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua ibu-bapaknya, dna jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan

Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Al-Ankabut: 8) Ahli Panah Pada perang Uhud, ketika pasukan Islam berhasil diporak-porandakan musuh, Saad termasuk sepuluh orang yang tersisa dan tetap bertahan melindungi Rasulullah.

Dengan busur dan panahnya, beliau menghalau musuh yang berusahan menyerang Rasulullah. Di saat-saat genting seperti itu, Rasulullah berseru menyemangati Saad “Bidiklah, Saad! Bidik! Demi ayah bundaku sebagai tebusanmu.” Saad menjadikan kata-kata Rasulullah ini sebagai kebanggaan seumur hidup.

Sebab, Rasulullah sampai menyebut kedua orang tuanya sebagai pengorbanan. Di kalangan para sahabat, Saad dikenal sebagai orang yang jago memanah. Bidikannya jarang meleset. Ini berkat doa Rasulullah untuk beliau. Saad menuturkan, bahwa Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah bidikan anak panahnya jitu dan kabulkan doanya.”

Kemudian, Allah mengabulkan doa Rasulullah tersebut. Setiap kali Saad melepas panahnya, pasti tepat mengenai sasaran. Dan juga, setiap kali Saad memanjatkan doa kepada Allah, doanya pasti dikabulkan. Dalam setiap peperangan, beliau mampu mengalahkan lawan.
Saat Perang Qoddisiyah

Dalam tarikh Islam, tercatat bahwa muslim pertama yang membidikkan anak panah dalam peperangan adalah Saad bin Abi Waqqash. Dan sekaligus, beliau pulalah orang pertama yang terkena panah lawan. Perang Qadisiyah ‘Debut’ terbesar Saad dalam karir militernya ialah kesuksesannya membawa pasukan Islam memenangi pertempuran melawan tentara Persia dalam perang Qadisiyah, di masa kekhilafahan Umar bin Khathab.

Perang tersebut menandai runtuhnya kedaulatan Persia sebagai super power dunia kala itu. Segala simbol paganisme habis diberantas sampai ke akar-akarnya. Untuk menghadapi Persia, Khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada para stafnya di seluruh negeri Islam agar mengirimkan bantuan moral maupun spiritual untuk memperkuat pasukan.

Siapa saja yang memiliki senjata, kuda, unta, atau pemikiran, syair-syair, kemampuan pidato, dan lain-lain boleh membantu. Semua aspek disinergikan demi menghadapi kekuatan Persia. Sejak pengumuman dibuat oleh khalifah, berbagai bantuan pun mulai mengalir ke Madinah. Setelah segala persiapan diniali cukup, khalifah bermusyawarah dengan beberapa sahabat pilihan, untuk menentukan panglima yang akan memimpin pasukan.

Semua anggota musyawarah sepakat untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Saad bin Abi Waqqash. Ketika itu, Saad memimpin segelaran pasukan besar yang berjumlah lebih dari 30.000 personel. Komposisi pasukan itu adalah orang-orang pilihan. Sebab, lawan mereka kali ini pun bukan sembarangan.

Di antara jumlah pasukan itu, 99 orang merupakan ahlu (peserta perang) Badar, 318 orang yang pernah hadir dalam prosesi baiat Ridhwan, 300 orang veteran Fathu Makkah dan 700 orang putra-putra sahabat. Untuk misi besar ini, Saad memilih Qadisiyah sebagai pangkalan militernya. Menjelang perang dimulai, sang panglima jatuh sakit.

Kian hari kian bertambah parah dan belum menampakkan tanda-tanda kesembuhan dalam waktu dekat. Keadaan ini tidak memungkinkan beliau menunggang kuda dan memimpin pasukan secara langsung. Akhirnya, beliau mendaulat Khalid bin Arfathah sebagai pengganti beliau di lapangan. Kepada para komandan lapangan, Saad berkirim surat.

Bunyinya, “Aku telah mengangkat Khalid bin Arfathah sebagai penggantiku. Aku berhalangan karena sakit di kakiku dan timbulnya bisul-bisul. Tetapi aku tetap mengarahkan wajah dan diriku untuk mengikuti jalannya pertempuran. Dengarkan dan taati kepemimpinannya, dia yang memerintah tetapi mengerjakan perintahku.”

Perang Qadisiyah berlangsung beberapa hari lamanya. Ketika kedua pasukan berhadapan dan siap saling menyerang, Saad memerintahkan agar pasukan tetap berada di tempat sampai shalat zhuhur usai ditunaikan. Seusai shalat, Saad meneriakkan takbir dengan diikuti oleh suara gemuruh pasukan yang bersiap siaga.

Takbir kedua beliau diikuti oleh pasukan yang segera mengenakan perlengkapan perang. Takbir yang ketiga diikuti pula dan disambut pasukan berkuda yang bersiap diri. Dan barulah pada kode takbir yang keempat, pasukan bergerak ke depan (advance) dan membenamkan diri ke barisan musuh dengan pedang dan tombak di tangan diiringi ucapan, “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

Dengan kepiawaian Saad dalam memimpin pasukan, taktik dan strateginya yang matang, serta berkat taufik Allah, akhirnya tentara Islam meraih kemenangan besar di Qadisiyah. Saad mengirim seluruh laporan peperangan termasuk nama-nama prajurit yang syahid kepada khalifah Umar di Madinah.

Setelah mengambil jeda dua bulan, pasukan Saad melaju ke negeri Persia dan berhasil menguasai ibu kotanya yang terletak di sebelah timur sungai Dajlah, pada bulan Jumadil Awal tahun 15 H. Istana raja Persia mereka masuki dan tempat pemujaan api dalam ruangan istana (yang menjadi pusat pemujaan kaum Majusi) dipadamkan apinya dan diganti dengan dibangunnya sebuah masjid.

Wafatnya Pahlawan Qadisiyah Saad bin Abi Waqqash hidup hingga usia lanjut. Beliau merupakan sahabat dari kalangan Muhajirin yang meninggal terakhir kali (maksudnya; dari kaum laki-lakinya). Ketika menjelang wafat, beliau mempersiapkan peti simpanannya. Peti itu berisi jubah tua yang dikenakannya dalam perang Badar dahulu.

Beliau meminta seseorang mengambilkan peti itu dan berpesan, “Bila aku mati, kafanilah aku dengan jubah wol ini. Dulu aku memakainya saat melawan kaum musyrikin pada perang Badar. Dan aku sengaja menyimpannya karena aku ingin menghadap Allah dengan mengenakannya.”

6. Rib’i bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu – Kisah Pertemuan dengan Raja Persia

Sebelum terjadi peperangan Qadisiyah antara tentara Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Persia pimpinan Rustam, Sa’ad terlebih dulu mengirim utusan kepada Rustam beberapa kali . Di antara utusan tersebut adalah Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu.

Ketika dua pasukan saling berhadapan, maka Rustam mengirim seorang pasukannya kepada Sa’ad dan meminta mengirim padanya seorang yang piawai untuk diajak berdialog. Maka Sa’ad segera mengutus Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Namun mereka menolak tawarannya. Maka diutuslah Rib’i bin’Amir. Setelah Rib’i, mereka kembali meminta satu utusan kaum muslimin untuk datang. Maka Sa’ad mengutus Huzaifah bin Mihshan.

Maka Rib’i pun segera masuk menemui Rustam sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustam memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbut dari emas.

Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Beliau masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian beliau turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu beliau langsung masuk dengan senjata, baju besi, dan penutup kepalanya.

Mereka berkata,”Letakkan senjatamu!” Beliau menjawab,”Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”

Rustam berkata,”Biarkan dia masuk.”

Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.

Mereka bertanya,”Apa yang membuat kalian datang ke sini?”

Beliau menjawab -perhatikan baik-baik jawaban ini-

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

Mereka bertanya,”Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”

Beliau menjawab,”Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.

Rustam pun berkata,” Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”

Beliau menjawab,”Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”

Rustam menjawab,”Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”

Maka beliau pun menjawab,”Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”

Rustam bertanya,”Apakah kamu pemimpin mereka?”

Beliau menjawab,”Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”

Maka (akhirnya) Rustam mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar dari perkataan lelaki ini?”

Mereka menjawab,”Kami minta perlindungan Allah dari (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”

Rustam menjawab,”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

Islam membebaskan manusia dari penindasan manusia lainnya

Salahsatu dari hakikat agama Allah yang dibawa oleh para Rasul, bahwa agama itu membebaskan manusia dari penindasan yang dilakukan oleh sesama manusia lainnya. Serta mengalihkan ketundukkan manusia terhadap kekuasaan manusia, menjadi ketundukkan mereka kepada kekuasaan Allah swt.

Oleh karena itu, setelah Islam datang, reaksi pertama yang terjadi adalah pembangkangan yang dilakukan oleh para penguasa, pembesar, orang-orang kuat dan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Dan di sisi lain, sambutan yang luar biasa hangat datang dari manusia yang lemah dan dihinakan.

Untuk memahami yang disampaikan di atas. Mari kita simak hakikat makna di dalam percakapan saat Perang Qadisiyyah antara Rustum, Panglima Pasukan Perang Persia dengan Rabi’ Ibn Amir, seorang serdadu biasa yang menjadi anak buah dari Sa’d Ibn Abi Waqqash.

Rustum : “Apa yang membuat kalian begitu terdorong untuk memerangi kami dan tertarik dengan daerah yang kami diami ?”.

Rabi’ : “Kami datang untuk membebaskan siapa pun dari penghambaan terhadap hamba menjadi penghambaan hanya kepada Allah swt.”.
Sambil Rabi’ melihat ke arah barisan orang yang sedang ruku’ kepada Rustum, di sebelah kanan dan kiri Panglima Perang Persia itu, Rabi’ berkata lagi :

“Kami telah meraih apa yang kami inginkan dari kalian. Tetapi ternyata aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih bodoh dari kalian. Sungguh kami, kaum muslimin tidak pernah memperbudak satu sama lain. Sebelumnya kami mengira bahwa kalian hidup senang sebagaimana yang kalian rasakan. Hal itu tentu lebih baik daripada apa yang kalian katakan padaku bahwa sebagian dari kalian menjadi budak dari sebagian yang lain”.

Dan saat itu, orang-orang lemah yang menyaksikan percakapan itu, saling berbisik satu sama lain :

“Demi Tuhan, sungguh benar orang Arab ini”.

Sementara itu, para panglima dan pemimpin Persia, mendengar ucapan Rabi’ itu seperti mendengar halilintar yang menyambar tepat di telinga mereka, lalu mereka berkata satu sama lain :

“Kalimat yang diucapkan orang ini, akan membuat budak-budak kita lari kepadanya”.

Di awal Islam, banyak kalangan pembesar menolak beriman disebabkan takut kehilangan kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki. Di lain pihak, kalangan fakir miskin tidak ada halangan untuk menyambut seruan Rasulullah saw. Apalagi dengan memeluk Islam, mereka merasa dihargai sebagai manusia.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk tunduk pada suatu kekuasaan dan kekuatu, kecuali hanya kepada Allah swt. Perasaan yang merupakan buah dari iman kepada Allah swt itu semakin menguat, membalurkan kebahagiaan yang mendalam bagi siapa pun yang merasaannya.

“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman : “Tahukah kalian bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kalian percayai itu.”

7. Al -Khansa ra : Merelakan Kematian Empat Putranya dalam Perang Qadisiyyah
Sebuah kisah shahabiyah yang merupakan seorang wanita agung yang ditempa Islam dengan sangat luar biasa dan tentunya dengan iman. Karena imanlah yang merubah kegelapan menjadi cahaya terang benderang.

Oleh sebab itu, masyarakat yang tanpa iman adalah masyarakat yang menderita walaupun dengan bergelimang kesenangan dan kesejahteraan. Tapi dengan iman maka akan dilahirkan tokoh-tokoh terkemuka. Dimana beliau berhasil mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati.

Dialah al-Khansa’, wanita Arab pertama yang jago bersyair. Yang memiliki nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Dia seorang wanita yang cerdas dan bijaksana.

Al-Khansa’ baru bisa membuat dua tau tiga bait puisi ketika saudara kandungnya, Mu’awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh. Lalu ketika saudara kandungnya dari pihak ayah, Shakr mati karena terbunuh, saat itulah Al-Khansa melantunkan puisi-puisi dukanya yang terkenal dan berkualitas. Karena Al-Khansa’ amat mencintai saudaranya yang satu ini, ia amat penyabar, dermawan, dan penuh perhatian terhadap keluarga.

Keislaman al-Khansa’ dan Kaumnya

Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya —Bani Sulaim— menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, “Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa’!” sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.

Wasiat al-Khansa’ Bagi Keempat Anaknya

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah. Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. Kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal (paman dari jalur ibu /saudara lelaki ibu) kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs. Ali Imran: 200)

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.

Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”

Kepahlawanan Keempat Anaknya

Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.

Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,

Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
tatkala ia menasehatimu di waktu malam..
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
“Majulah dengan geram dan wajah muram!”

Yang kalian hadapi nanti hanyalah
anjing-anjing Sasan2 yang mengaum geram..

Mereka telah yakin akan kehancurannya,
maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
atau kematian yang penuh keberuntungan
Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.

Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,

bunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana

Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,
sebagai nasihat yang tulus bagi puteranya

Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
dan raihlah kemenangan yang nyata

Atau kematian yang sungguh mulia
di jannatul Firdaus yang kekal selamanya
Kemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.

Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,

Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang

Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
maka majulah dengan gagah ke medan perang..

hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu,
bagaimana cara berjuang

Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
raihlah kemenangan meski maut menghadang
Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya.

Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,

Aku tidak pantas menjadi anak Al-Khansa’ dan Akram
Aku tidak pantas menjadi orang terhormat yang membanggakan

Jika tidak berda di garis depan pasukan melawan pasukan ‘Ajam
Menyerbu tanpa rasa gentar danmelibas setiap rintangan
Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur. Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.

Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa’, ia hanya tabah sembari mengatakan,

“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.”

Sahabatku.tahukah kita apa yang merubah kepribadian Al-Khansa hingga ia begitu sabar dengan kematian mereka. Jawabnya adalah iman. Rasulullah telah menanamkan iman di hati orang-orang mukmin sehingga mengajarkan mereka dari alam jahiliyah menuju alam dengan nilai-nilai luhur, akhlak mulia dan kerinduan kepada keridhaan Allah swt.

Semoga dari kisah dari salah satu shahabiyah Rasulullah ini menambah semangat bagi kita para wanita, para ibu yang akan melahirkan generasi cerdas, bertakwa, generasi rabbani, generasi qur’ani, ya mereka semua adalah tokokh-tokoh besar yang akan menyemarakkan dunia dengan kebijaksanaan dan keadilan.

Wanita merupakan senjata yang akan menjadikan sebuah fondasi yang kuat untuk membangun sebuah masyarakat islami yang kokoh, berakhlak mulia dan memiliki pilar yang kuat sehingga menyebarkan keharuman dna meraih kebahagiaan. Kemulian Islam terbangun karena peran-peran kaum ibu.

Jika kita selama ini lupa dan lalai menghormati ibu yang merupakan kewajiban yang harus kita lakukan sepanjang hari, maka dihari ini, mari kita sama-sama mengingat kewajiban itu dengan mengucapkan dan memberi penghormatan kepada ibu kita. Mudah-mudahan akan menjadi amal yang terus berlanjut dihari berikutnya sepanjang hidup kita.

8. Al-Mutsana bin Harits Asy-Syaibani (Tak Terpuruk Karena Kekalahan)

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Islam terus melakukan perluasan ke beberapa wilayah. Di antaranya adalah Persia, suatu wilayah dengan peradaban yang tinggi yang sempat membuat kaum Muslimin gentar untuk menghadapinya. Namun, di tengah-tengah ketakutan kaum Muslimin melawan Persia, ada seorang yang amat berpengaruh dalam membakar semangat jihad. Dialah Al-Mutsana bin Haritsah.

Al-Mutsana bin Haritsah dikenal sebagai Syaihul Harb, atau ahli strategi perang di masyarakatnya. Ia berasal dari suku Syaiban, sebuah suku yang berada di Iraq, wilayah yang berbatasan langsung dengan Persia dan Arab. Suku ini sempat didatangi oleh Rasulullah untuk dijadikan sebagai pusat kota umat Islam saat Mekkah tidak lagi kondusif.

Meski masyarakatnya mau menerima Islam, namun mereka belum siap menerima Rasulullah dan umat Muslim di wilayahnya, karena keterikatan mereka dengan penguasa Persia yang kejam. Ketika itu Al-Mutsana bin Haritsah diminta untuk menyampaikan kalimat-Nya, maka ia mengatakan, “Kami ini adalah masyarakat yang tinggal di antara dua wilayah. Wilayah sungai-sungai yang dikuasai Persia, dan mata-mata air yang dikuasai oleh masyarakat Arab. Kalau sungai-sungai ini adalah sungai-sungai yang siapa pun berbuat kesalahan di sini termasuk kami, itu tidak akan bisa dimaafkan. Tetapi kemudian jika kesalahan itu terjadi di mata air Arab, maka mereka masih memiliki toleransi. Kami siap untuk membela engkau tetapi di wilayah Arab, bukan di wilayah Persia.”

Bagaimanakah proses keislaman Al-Mutsana? Keislamannya itu terjadi pada tahun 9 H, setahun setelah peristiwa penaklukkan kota Mekkah. Secara terbuka Al-Mutsana bersama masyarakat Bani Syaiban menyatakan keislaman mereka. Namun peran Al-Mutsana dalam membela Islam baru tercatat di awal kekhalifahan Abu Bakar. Saat Abu Bakar baru saja memimpin, gerakan-gerakan murtad dan munculnya nabi palsu tumbuh menjamur di wilayah Arab. Maka sang khalifah segera membentuk pasukan untuk diutus ke daerah-daerah yang mengalami pembelokkan akidah. Peran Al-Mutsana tercatat di dalam jihad melawan murtadin di wilayah Bahrain.

Menjelang akhir masa kekhalifahan Abu Bakar, Al-Mutsana menemui sang khalifah untuk meminta izin agar menjadi pemimpin di kaumnya dalam upaya memerangi Persia. Dia pun berkata kepada khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Persia adalah negeri yang sangat kaya raya, namun kaumnya berbuat kerusakan dan zalim. Menurutku, ini adalah waktu yang tepat untuk mengirim pasukan Muslimin ke wilayah Iraq dan menyebarkan dakwah di sana. Wahai Khalifah Rasulullah, izinkan aku menjadi pemimpin bagi kaumku. Aku akan memerangi orang-orang Persia, maka itu akan cukup bagiku.”

Khalifah Abu Bakar pun menjawab, “Aku izinkan kamu, wahai Al-Mutsana.” Setelah mendapat izin dari sang khalifah, maka ia menjadi orang pertama yang menyemangati masyarakatnya agar berani melawan Persia.

Dua tahun masa kekhalifahan Abu Bakar, Al-Mutsana di bawah komando Khalid bin Al-Walid berhasil mengalahkan Persia di beberapa peperangan. Di masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab, khalifah Umar membentuk dua pasukan yang bertugas menaklukkan Romawi di Syam dan Persia. Banyak umat Muslim yang enggan berangkat mengingat reputasi kekuatan musuh pada saat itu yang menakutkan.

Sebaliknya, Al-Mutsana justru kembali membakar semangat kaumnya untuk melawan penjajahan Persia di wilayahnya. Kemudian dia juga melakukan sebuah langkah yang sangat menarik dan itu pelajaran mahal untuk kita semua, di mana Al-Mutsana merupakan pemimpin panglima yang dikenal sangat dekat dengan seluruh prajuritnya. Hari ini kita sering menyebutnya sebagai satu sosok yang sangat sederhana, sosok yang begitu merakyat. Ini bukan hanya sebuah kalimat basa-basi, tetapi ini adalah sikap yang dicontoh oleh Al-Mutsana bin Haritsah kepada kita. Sampai masyarakatnya mengatakan, “Untuk anda, anda telah membuktikan tak hanya kalimat tapi juga dalam perbuatan.”

Al-Mutsana biasa duduk bersama prajuritnya, berbincang, berdialog, menghibur siapa pun, walaupun dirinya sedang senang maupun sedang susah tetap ia datangi. Inilah salah satu kunci besar ketika di perang berikutnya di tahun yang sama, tahun 13 H, saat itu tepat bulan Ramadhan, yang dikenal dengan perang Huaib.

Sementara di Madinah, Khalifah Umar yang melihat ketakutan umatnya tak henti-hentinya memberikan motivasi agar berani berjihad melawan Persia. Seruan jihad Umar disambut oleh Abu Ubaid bin Mas’ud yang kemudian ditunjuk menjadi panglima perang. Penunjukkan Abu Ubaid sekaligus menggantikan posisi Al-Mutsana sebagai panglima perang.

Maka berangkatlah pasukan Muslim di bawah komando Abu Ubaid menuju pertempuran Jisr di Iraq. Namun di peperangan yang terjadi di tahun ke 13 ini, pasukan Muslim gagal menaklukkan Persia. Dikenal Jisr yang berarti jembatan karena perang ini terjadi di dekat jembatan di atas sungai Efrat.

Di saat itu, Al-Mutsana mengambil alih posisi Abu Ubaid setelah Abu Ubaid, sang panglima dan dengan 7 panglima selanjutnya menjadi korban semua dalam perang itu. Al-Mutsana kemudian melakukan banyak hal. Ada beberapa hal yang menarik dan ini menunjukkan dia seorang pemimpin yang sangat luar biasa. Yang dia lakukan yang pertama adalah disaat dia memancing pasukan Pesia untuk mengejar mereka. Hingga ketika sampai di suatu wilayah yang cukup jauh dari camp Persia, maka di saat itulah Al-Mutsana melakukan serangan sangat mendadak sehingga mengejutkan pasukan Persia. Hingga Al-Mutsana berhasil menangkap dua panglima Persia lalu membunuhnya. Dan inilah kemudian yang mengangkat semangat Muslimin bahwa ternyata kaum Muslimin masih bisa menaklukkan Persia.

Bulan Ramadhan tahun 13 H, kaum Muslimun kembali melanjutkan peperangan melawan Persia di perang Huaib. Di peperangan ini, Al-Mutsana kembali terjun langsung menjadi panglima perang pasukan. Di medan Huaib ini, Al-Mutsana mendapatkan bantuan pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid. Namun, ketika Khalid tiba, justru komando tertinggi diserahkan kepada sang pemilik pedang Allah yang terhunus ini, Khalid bin Al-Walid. Meski tak lagi memegang komando pasukan, Al-Mutsana tetap sepenuh hati memperjuangkan agama Allah.

Di tengah peperangan, khalifah Umar memanggil Khalid untuk bertugas di wilayah Syam untuk menundukkan Romawi. Hingga pucuk kepemimpinan pasukan kemballi diserahkan kepada Al-Mutsana. Untuk melengkapi kekosongan yang ditinggalkan Khalid, Amirul Mukminin Umar mengirimkan bantuan pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash. Di saaat itu pula, kondisi Al-Mutsana semakin melemah karena luka yang ia dapat di Perang Jisr.

Mengetahui ajalnya semakin mendekat, Al-Mutsana segera meninggalkan pesan strategi perang untuk panglima penggantinya. Namun takdir berkata lain. Al-Mutsana menghembuskan nafas terakhirnya sebelum pasukan Sa’ad bin Abu Waqqash tiba di Huaib.

Al-Mutsana adalah orang yang sangat senior, karena dia tahu persis keadaan Persia karena memang ia tinggal di wilayah yang dikuasai oleh Persia. Tetapi ini semua tidak membuat ia orang yang mudah tersinggung ketika keahliannya itu harus tergeser oleh orang lain yang bahkan baru sekali datang ke negeri Persia. Kelapangan hati yang luar biasa, seorang Al-Mutsana ini tidak pernah menunjukkan dirinya dengan mengatakan, “Aku adalah penduduk asli di sini, aku lebih tahu wiilayah ini.” Inilah bentuk kematangan jiwanya dalam berjamaah dengan Muslimin lain. Ia menerima keputusan Khalifah, pemimpin yang bisa dipercaya itu.

Dan muncullah pelajaran dari sini, bahwa kita ini berjuang di jalan Allah di mana pun kita berada, di mana pun posisi kita. Hari ini mungkin kita panglimanya, tetapi suatu saat nanti kita mungkin akan menjadi bawahannya. Namun, jika hendak berjuang di jalan Allah tidak mengenal posisi kita, karena berjuang di jalan Allah ini yang dicatat adalah kita berjuang di jalan Allah dan memang hanya untuk Allah, bukan karena posisi.

Meski tak sempat menyelesaikan tugasnya di Perang Huaib, strategi perang yang dirancang oleh Al-Mutsana berhasil membuahkan kemenangan. Atas keberaniannya, ketakutan kaum Muslimin pada kekejaman Persia berhasil dipatahkan dan dipadamkan oleh perjuangan Al-Mutsana. Hingga akhirnya kejayaan Persia dimiliki oleh umat Muslim atas pertolongan dari Allah sang pencipta semesta alam.

Walaupun dirinya tidak menikmati kemenangan ini, dirinya sudah memperoleh kenikmatan yang luar biasa, yaitu surga. Semoga Allah meridhaimu, wahai Al-Mutsana bin Harits

9. Salma binti Khasafah; Sumbangsih Tersembunyi dalam Perang Qadisiyah

Telah tercatat nama Salma binti Khasafah yang mengikuti rangkaian pertempuran ekspansi Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Salma mengikuti suaminya, Mutsana bin Haritsah, memimpin perang di Qadisiyah (wilayah Irak) untuk menaklukkan Persia.

Dalam sebuah pertempuran, Mutsana terluka yang semakin parah hingga ia pun syahid. Sebelum wafat, Mutsana mengamanahi saudara laki-lakinya untuk menyampaikan pesan pada Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang membawa ribuan pasukan ke Qadisiyah. Pesannya berisi petunjuk tentang medan perang dan pesan untuk menjaga Salma.

Sa’ad yang masih berada di daerah Syaraf, dekat Qadisiyah, terharu menerima pesan itu. Menjalankan amanah, Sa’ad menikahi Salma seusai masa iddahnya untuk menjaga kehormatan dan keselamatan Salma di tengah suasana perang.

Menjelang Perang Qadisiyah berkecamuk, penyakit Sa’ad kambuh. Meski tak memimpin perang secara langsung, dari tempat tinggi Sa’ad mengawasi jalannya perang dan memberi komando. Salma mendampinginya.

Tak jauh dari situ, seorang prajurit tangguh, Abu Mihjan, dibelenggu untuk menjalani hukumannya karena kegemarannya pada khamar. Mengetahui perang tengah berlangsung, membuatnya pilu. Jauh-jauh ia datang ke Qadisiyah untuk berjuang, tapi malah tersandung kasus.

Ia kemudian melihat Salma dan memohon kepadanya untuk membebaskan dirinya. Ia ingin ikut berperang. Tentu saja Salma menolak.

Betapa sedih Abu Mihjan hingga ia mengucapkan bait-bait kalimat yang menyayat hati tentang nasibnya. Salma merasakan kesungguhan Abu Mihjan. Akhirnya ia membebaskan lelaki itu dengan perjanjian bila selamat, Abu Mihjan harus kembali ke tahanannya. Salma juga meminjamkannya sebilah pedang Sa’ad dan kuda Sa’ad.

Abu Mihjan melesat pergi ke kancah perang dengan penutup wajah agar tak dikenali. Di sana ia mengamuk dan mengobrak-abrik pertahanan pasukan Persia. Inilah titik kekalahan Persia di Qadisiyah. Semua orang, termasuk Sa’ad, mengagumi kepiawaian prajurit itu. Sa’ad seperti mengenalinya, juga pedang dan kudanya. Namun, Sa’ad tak yakin benar.

Selepas mematahkan lawan, Abu Mihjan bergegas kembali ke tahanannya memenuhi janjinya pada Salma. Mengembalikan pedang dan kuda Sa’ad, lalu membelenggu dirinya kembali.

Salma menceritakan kepada suaminya apa yang telah dilakukannya terhadap Abu Mihjan. Sa’ad lantas membebaskan Abu Mihjan karena jasanya untuk kemenangan kaum Muslimin. Dia pun bersumpah tak akan minum khamar lagi.

Adalah Salma perantara semua kebaikan itu. Keputusannya yang tepat membawa kemenangan kaum Muslimin. Untuk seterusnya ia mendampingi Sa’ad dan melahirkan anak-anaknya. Salma wafat pada 60 H, lima tahun setelah kematian suaminya.

10. Manipulasi Sejarah Pembantaian Muslim Terhadap Non-Muslim
Dua hari lalu saya terima email yang menyatakan seperti ini :

Buku Anda The Khilafa menyatakan Islam tidak pernah ditegakkan dengan pedang. Apakah Anda tidak mendalami sejarah? Anda ini paling pintar membual. Coba lihat di bawah ini dan tolong data-data ini juga dimasukkan dalam buku Anda supaya seimbang. Jangan terlalu ngawur membela ideologi Anda. Terima kasih.

Bagaimana Islam disebarluaskan (perang) jauh jauh sebelum perang salib, muslim merompak daerah di luar mekah dan madinah,

Tahun 635, Tentara Islam mengepung dan menaklukkan Damaskus, salah satu kota besar di Syria, dari bangsa pribumi Asyrian. Puluhan ribu bangsa Asyrian tewas.

Tahun 637, Tentara Arab Islam menaklukkan bangsa pribumi Chaldean dan Phoenician Kristen di Irak pada Perang al-Qadisiyyah. Ratusan ribu nyawa bangsa Chaldean melayang, Chaldean kehilangan identitas, menjadi bagian dari propinsi Arab.

Tahun 638, Tentara Arab Islam menaklukkan dan mencaplok Yerusalem, mengambil alih dari bangsa Israel dan Kerajaan Bizantium. Korban jiwa rakyat Yahudi mencapai puluhan jutaan orang, sebagian kecil melarikan diri ke Eropa.

Tahun, 638-650 Tentara Islam menaklukkan Kerajaan Zoroaster Persia (Iran) dan menjadikannya negara Islam, kecuali di sepanjang Laut Kaspia. Jutaan jiwa tewas. Pembakaran Perpustakaan Besar Ilmu Pengetahuan Persia. Kemunduran peradaban di negeri Persia.

641 Tentara Arab Islam menaklukkan bangsa pribumi Asyria Kristen di Suriah dan Lebanon. Jutaan bangsa Asyrian tewas. Bangsa Asyrian kehilangan identitas sebagai bangsa Asyrian. Bahasa Arab menggantikan bahasa resmi Asyrian yaitu bahasa Aram. Sebagian bangsa Asyrian yang selamat membuat perjanjian damai dengan Muslim Arab, mereka secara rutin membayar jiyzah (upeti) kepada Muslim Arab. Sampai sekarang Kristen Koptik Asyrian yang ramah masih tetap ada di Suriah. Tingkat ekonomi mereka di era modern ini jauh lebih baik dari counterpart mereka yang beragama Muslim.

643-707 Tentara Arab Islam menaklukkan Kristen Afrika Utara dan Yordania. Sama seperti Kristen di Suriah, pada era modern ini, ekonomi dan tingkat pendidikan bangsa Yordania yang tetap memeluk Kristen jauh lebih baik dari saudaranya kaum Muslim.

710-713 Tentara Islam menaklukkan Lembah rendah Indus “Hindu Kush” dari bangsa Hindi. Jutaan jiwa bangsa Hindi yang memeluk Hindu tewas. Sebagian di Islam kan, daerah yang menganut Islam, sekarang namanya Pakistan.

Dan masih banyak lagi kisah pembantaian umat Islam terhadap non-islam lainnya.Terima kasih atas tanggapannya bang Zay.

=========================================================================

Sebenarnya saya ingin kroscek data-data ini di om gugel tapi kalau ada yang seperti ini saya mahfum belaka bahwa sepertinya ini hasil risetnya universitas JIL, FFI dan teman-teman seperjuangannya. Saya agak khawatir informasi spt ini seringkali beredar luas di internet dan mereka yang doyan kopas dengan bangganya memperlihatkan seolah-olah mereka profesor sejarah yang paling tahu soal sejarah Islam.

Namun yang lebih menyedihkan lagi bila yang membaca kopasan tersebut tidak melakukan apa-apa. Karena itu dengan kemampuan abal-abal saya dalam sejarah Islam, saya mencoba setidaknya menjelaskan apa yang saya pelajari dan saya pahami tentang penaklukan-penaklukan Islam di zaman Khulafaur Rasyidin.

Mengenai pernyataan di buku saya, The Khilafa bahwa umat Islam tidak pernah melakukan penaklukan dengan pedang juga dipahami sepotong-sepotong. Untuk diketahui bahwa perang di mana pun dan dalam kondisi apa pun strateginya selalu sama, infiltrasi militer. Penaklukan tanpa pedang yang saya maksud adalah tidak pernah ada paksaan dalam Islam kepada pemeluk agama lain untuk memeluk agama tersebut.

Coba lihat sejarah, di negeri di mana Islam berkuasa umat non muslim diperlakukan secara adil, dilindungi dan diberi pilihan untuk memilih Islam atau membayar jizyah. Nah, sekarang coba bandingkan dengan reconquista Spanyol ketika umat Islam diusir dari sana dan dipaksa memeluk agama Kristen. Tidak ada pilihan utk membayar upeti atau pajak, melainkan pindah ke agama Kristen atau mati.

Berikut beberapa jawaban dari kopasan2 tersebut,

Tahun 635

Tentara Islam mengepung dan menaklukkan Damaskus, salah satu kota besar di Syria, dari bangsa pribumi Asyrian. Puluhan ribu bangsa Asyrian tewas dibantai muslim.

Penaklukan Damaskus itu merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah kekuasaan Khulafaur Rasyidin, dan menjadi tahap penting dalam beberapa perang menaklukkan Syria dan Persia. Mari kita cermati pesan Khalifah Abubakar terhadap pasukannya sebelum penaklukan Damaskus,

“…jangan membunuh perempuan atau anak-anak atau lanjut usia dan jangan menyembelih binatang kecuali untuk makan. Dan janganlah kamu melanggar pakta yang kalian buat. Kalian akan bertemu orang-orang yang hidup seperti pertapa di biara-biara, jangan membunuh mereka dan menghancurkan biara-biara mereka. Dan kalian akan bertemu orang lain penyembah Setan dan penyembah Salib, yang mencukur kepala mereka sehingga Anda dapat melihat kulit kepala mereka. Seranglah mereka dengan pedang kalian sampai mereka tunduk pada Islam atau membayar Jizyah. Saya Percaya Allah akan menjaga kalian. “

Bila terjadi pembunuhan maka itu adalah resiko perang, tetapi yang perlu kita pahami bahwa dalam setiap penaklukan yang dilakukan umat Islam, khususnya di bawah kalifah Abubakar dan Umar, pasukan muslim sangat menjaga orang2 yang lemah, orang sakit dan tertindas, orang lanjut usia, perempuan dan anak-anak. Mereka yang diperangi adalah mereka yang memang bersenjata dan memerangi Islam. Jadi bila binatang saja tidak boleh disembelih kecuali untuk makan maka cerita pasukan Islam membantai itu dari mana?

Tahun 637

Tentara Arab Islam menaklukkan bangsa pribumi Chaldean dan Phoenician Kristen di Irak pada Perang al-Qadisiyyah. Ratusan ribu nyawa bangsa Chaldean melayang, Chaldean kehilangan identitas, menjadi bagian dari propinsi Arab.

Perang al-Qadisiyyah sepemahaman saya adalah perang antara umat Islam melawan kerajaan Sassanid Persia di wilayah Qadisiyyah (dulu di sekitar Mesopotamia atau di Irak sekarang) yang dimenangkan pihak muslim yang dipimpin Saad bin Waqqas. Pasukan Islam pada perang ini berjumlah sekitar 30,000 orang sementara pasukan Persia yang bersekutu dengan Roma di bawah Heraclius berjumlah sekitar 200,000 orang. Bisa dibayangkan apakah yang 30,000 orang disebut membantai jika berhadapan dengan pasukan yang tujuh kali lebih besar jumlah pengikutnya?

Tiga bulan kemudian terjadilah Perang Yarmuk yang membumihanguskan seluruh pasukan Roma. Jadi Perang Qadisiyyah bukan perang Arab Islam melawan Kristen Chaldean namun melawan Sassanid Persia yang didukung Roma. Materi perangnya sudah salah meskipun Islam memang juga menaklukkan Chaldean, namun Chaldean tidak kehilangan identitas. Orang-orang Kristen Chaldean mengalami pembantaian yang sangat buruk di jaman pemerintahan Zoroastrian Sphur II yang memimpin kerajaan Sassanid Persia. Jadi bukan di saat Islam masuk ke sana.

Tahun 638

Tentara Arab Islam menaklukkan dan mencaplok Yerusalem, mengambil alih dari bangsa Israel dan Kerajaan Bizantium. Korban jiwa rakyat Yahudi mencapai puluhan jutaan orang, sebagian kecil melarikan diri ke Eropa.

Catatan sejarah ini dari mana? Kata ‘mencaplok’ itu dari mana? Situs umat Islam berada di sana. Kalau bangsa Spanyol dan Inggris datang menyerang tanah indian dan menjadikannya negara Amerika bagi orang2 barat, itu namanya ‘mencaplok’ karena di sana ada kaum Indian yang tinggal dan mendiami tanah itu sebelumnya. Jika sebuah negara menyerang negara lain dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal yang tidak pernah terbukti, itu namanya juga ‘mencaplok’.

Korban jiwa rakyat yahudi puluhan juta itu datanya dari mana? Ketika Abu Ubaidiyah dan pasukannya menaklukkan Yerussalem, pimpinan Kristen Sophronius menyerah secara damai, dan sejarah merekam peristiwa itu sebagai penaklukan tanpa darah. Lalu mereka katakan puluhan juta yahudi jadi korban.

Apakah mereka tahu setelah Islam menaklukkan Yerussalem, Kalifah Umar membuat perjanjian dengan penguasa Kristen untuk mengembalikan hak hidup (tempat tinggal) kepada kaum Yahudi di tanah Yerussalem? Sejarah dunia mencatat justru Islam membebaskan orang2 Yahudi dari intimidasi penguasa Kristen (Roma) selama 500 tahun di tanah itu.

Tahun, 638-650

Tentara Islam menaklukkan Kerajaan Zoroaster Persia (Iran) dan menjadikannya negara Islam, kecuali di sepanjang Laut Kaspia. Jutaan jiwa tewas. Pembakaran Perpustakaan Besar Ilmu Pengetahuan Persia. Kemunduran peradaban di negri Persia.

Islam di Persia berkembang pesat justru karena agama lain dilindungi di sana. Mereka tidak dibunuh atau diperkosa atau digusur tempat tinggalnya dan hanya diwajibkan membayar jizyah (pajak). Pada masa itu justru kebudayaan Persia berkembang termasuk seni dan syair2 Arab yang kemudian diadaptasi oleh penyair2 Persia.

Jadi bgm mungkin terjadi kemunduran peradaban? Hal ini juga dijelaskan oleh Bernard Lewis, sejarawan Amerika-Inggris yang meneliti penaklukan2 umat Islam di era Khulafaur Rasyidin. Kalau saya mengambil data dari orang Islam mungkin nanti akan disebut subyektif, jadi saya kutip referensi sejarawan Kristen saja.

Nah yang lucu justru pernyataan ini :

Sampai sekarang Kristen Koptik Asyrian yang ramah masih tetap ada di Suriah. Tingkat ekonomi mereka di era modern ini jauh lebih baik dari counterpart mereka yang beragama Muslim.

dan yang ini :

Sama seperti Kristen di Suriah, pada era modern ini, ekonomi dan tingkat pendidikan bangsa Yordania yang tetap memeluk Kristen jauh lebih baik dari saudaranya kaum Muslim.

Nah… justru pernyataan itu sendiri sudah jadi jawaban bagi mereka. Bila ras minoritas di sebuah negara hidup dalam kondisi ekonomi, politik dan tingkat kesejahteraan yang tinggi di bawah penguasaan para pemimpin Islam berarti Itulah Sebaik-Baik Sistem yang melindungi, memperlakukan mereka secara adil dan membesarkan mereka. Islam tidak mengadopsi rasisme, tidak memaksakan kehendak dan tidak menyakiti mereka yang lemah.

Tahun 710-713

Tentara Islam menaklukkan Lembah rendah Indus “Hindu Kush” dari bangsa Hindi. Jutaan jiwa bangsa Hindi yang memeluk Hindu tewas. Sebagian di Islam kan, daerah yang menganut Islam, sekarang namanya Pakistan.

Hindu Kush yang berarti ‘Pembantaian Hindu’ sebenarnya bukan pembantaian. Jutaan jiwa itu datanya terlalu dibesar-besarkan. Cerita Hindu Kush ini berasal dari kematian ribuan orang Hindu yang dijadikan budak oleh pasukan Islam yang menyeberang dari perbatasan Gandhaar dan Vaadic Pradesh kemudian di tengah jalan mati karena tidak mampu melawan kerasnya alam.

Jadi orang-orang Hindu ini meninggal disebabkan oleh cuaca dingin, angin kencang serta kurangnya suplai makanan. Kira-kira sama dengan kejatuhan Hitler ketika tentaranya kalah di Rusia karena tidak mengantisipasi cuaca dingin di sana. Jadi penggunaan kata ‘Pembantaian’ lagi-lagi salah alamat meskipun referensi British Encyclopedia mengatakan kata Hindu Kush pertama kali disebarkan oleh Ibn
Battutah pada 1333 AD.

Kalau pun Islam diyakini membantai umat Hindu lalu mengapa peristiwa Hindu Kush tidak lagi diajarkan oleh pemerintah India dalam sejarah bangsa India? Pemerintah dan para sejarawan sepakat bahwa cerita Hindu Kush versi Inggris cenderung dilebih-lebihkan seolah-olah pasukan Islam melakukan pembantaian besar-besaraan di sana.

Pada tahun 1982, National Council of Educational Research and Training di India mengeluarkan pernyataan agar pemerintah India mengoreksi dan menulis ulang sejarah yang berkenaan dengan peristiwa Hindu Kush. Mereka juga mengeluarkan statemen sbb: “Characterization of the medieval period as a time of conflict between Hindus and Moslems is forbidden”

Otak abal-abal saya berpikir sederhana, bila sejarah ditulis ulang, berarti penulis sebelumnya yang mengeluarkan cerita tentang Hindu Kush telah menyebarkan kebohongan sejarah. Siapa para penulis cerita itu? Mereka yang menjajah India, para zionis Inggris.

Jadi kesimpulan pernyataan saya bahwa Islam memang melakukan penaklukan dan terlibat dalam peperangan, akan tetapi dalam setiap penaklukan pasukan Islam hanya memerangi dan membunuh musuh yang bersenjata dan yang memerangi Islam. Pemimpin Islam, para amir dan sahabat yang kemudian memimpin wilayah-wilayah kekuasaan Islam telah terbukti melindungi orang-orang non-muslim yang hidup di daerahnya dengan damai dan mengembalikan hak-hak hidup mereka, termasuk melindungi kaum Yahudi yang notabene terus menerus memerangi umat Islam.

Inilah jawaban saya terhadap pengirim email gelap itu, semoga menyenangkan hatinya. Informasi ini juga semoga berguna bagi teman-teman manakala para tukang kopas gentayangan menebar teror manipulasi sejarah tentang pembantaian umat Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.

Kita tidak perlu bicara tentang sejarah hitam di Afrika, pembantaian di Sudan, Rwanda, Ethiopia, perang sipil di Somalia, pengeroyokan Irak pada dua Perang Teluk, pembantaian di Afganistan, dan pembunuhan sipil di Palestina, Checnya, Kashmir, Moro serta Aljazair. Sebagai generasi yang hidup saat ini, kita tidak memerlukan catatan sejarah karena kita telah melihat semua bukti pembantaian terhadap umat Islam itu dilakukan karena ketakutan barat terhadap munculnya kekuatan baru yang akan mengambil kendali pemerintahan dunia.

11. Kekaisaran Sassania (226–651)

Sejajar dengan Romawi

Kekaisaran Persia Sassania disebut juga Kekaisaran Sassania, Kekaisaran Sasania, atau Kekaisaran Sassaniyah ‎adalah kekaisaran bangsa Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia ‎yang kedua. Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir dan dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M. ‎Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat,Selatan, dan Tengah, bersama denganKekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.‎

Persia memiliki pengaruh yang cukup besar pada kebudayaan Romawi selama masa Sassania. dan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang pada alamatnya bertuliskan kata “kepada saudaraku”.

Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, ‎Afrika,‎Cina, dan India. ‎serta berperan penting dalam pembentukan seni-seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.‎

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania.

Sejarah Iran seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-Qādisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzād, seorang jenderal Persia, dikritik kerana keputusannya untuk berperang dengan orang Arab di bumi Arab sendiri. Kekalahan Sassania di Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan, dan akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh, dan kebudayaan Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia.

Sepenggal Kisah Di Dalam Perang Qadisiyah

Ketika peperangan di Qadisiyah, peperangan besar Kaum Muslimin di bawah pimpinan Panglima Besar Sa’ad bin Abi Waqash, salah seorang dari sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, berhadapan dengan Kerajaan Persia di bawah pimpinan Panglima Rustum. Sebelum berperang terlebih dulu Panglima Rustum meminta untuk berunding. Sa’ad bin Abi Waqash mengangkat Mughirah bin Syu’bah jadi Kepala Delegasi memenuhi anjuran berunding itu. Sebelum Utusan Muslimin datang, Rustum menyuruh disediakan jemputan dan sambutan untuk Utusan Islam itu dengan meriah sekali. Tenda-tenda berlapis sutera, hamparan permaidani beraneka warna, senjata lengkap, pedang-pedang yang bersarungkan emas dan perak, bertahtakan ratna mutu manikam. Wazir (mentri) dan orang-orang besar dan Panglima-Panglima Perang memakai mahkota-mahkota bertatahkan intan berlian, Rustum sendiri bersemayam di atas sebuah singgasana keemasan berturang-turang dengan mutiara dan merjan.

Semuanya siap menunggu perutusan Islam. Timbulnya penyambutan seperti itu adalah karena salah sangka. Mereka menyangka bahwa orang-orang Arab itu jika telah melihat harta benda kekayaan yang begini besarnya, menyilaukan mata, akan kendor hatinya untuk melanjutkan perang. Lalu suruh saja mereka pulang saja ke negerinya dengan membawa “oleh-oleh”.Melihat kekayaan itu, pasti orang-orang Arab itu akan mundur dan semangatnya patah. Begitulah yang dipikir oleh Rustum.

Tetapi setelah melihat penyambutan yang seperti itu, dari jauh Ketua Utusan telah mahfum apa yang dimaksud musuh dengan penyambutan begitu. Lalu dia berbisik kepada anggota-anggota perutusan,”Kalian lakukan apa yang nanti aku lakukan!”

Ketua Delegasi langsung masuk ke dalam ruang penyambutan yang beralaskan permaidani tebal dan berturangkan sutera itu tanpa turun dari kudanya. Setelah sampai di tengah ruangan, baru ia turun dari kudanya dan anggota-anggota delegasipun serentak turun, sehingga hamparan-hamparan mahal itu diinjak-injak oleh kuda. Kemudian mereka memautkan kuda-kuda tunggangan mereka pada tonggak-tonggak tenda yang dipasang, sehingga berbisik-bisiklah para pengawal bahwa Utusan-utusan Arab ini tidak tahu sopan santun dan etiket pergaulan raja-raja.

Setelah berhadapan dengan Utusan Kaum Muslimin tersebut, dengan sombong dan angkuhnya, Rustum menegur, seakan-akan kata memerintah :

“Apa yang menarik hati kalian keluar dari negeri kalian lalu menyerang ke dalam negeri kami yang kaya raya ini? Apakah karena kalian kurang makan? Jika demikian, pulanglah kembali. Akan kami perlengkapkan persediaan makanana buat kalian.

Apakah karena kalian bertelanjang, tidak berkain dan berbaju? Jika demikian, pulanglah! Akan kami sediakan kain baju sampai memuaskan kalian.

Apakah karena kalian melarat miskin? Jika demikian, pulanglah, kami akan memberi anugerah emas perak buat kalian, supaya kalian mengecap kekayaan pula”.

Mughirah bin Syu’bah (salah seorang sahabat yang langsung mendapat didikan juga dari Nabi SAW, yang nyaris menempeleng utusan Quraisy, pada perundingan di Hudaibiyah di tahun keenam Hijriyah, karena ketika bercakap, utusan Quraisy itu mengangkat-angkat tangannya dihadapan Nabi SAW, sehingga nyaris tersinggung jenggot Nabi SAW). Mughirah lalu menjawab pertanyaan Rustum :

“Engkau salah sangka! Bukan untuk apa yang engkau sangka itu kami datang menyerbu ke negeri ini dan siap berjuang berkuah darah bersabung nyawa. Bukan karena lapar, bukan karena bertelanjang kurang kain, kurang baju, bukan karena kekurangan perhiasan dan kekayaan dan kemegahan. Sudah engkau lihat sendiri, sepeserpun tidak ada harganya bagi kami permaidani-permaidani tebal ini, emas perak yang engkau hidangkan ini, mahlota-mahkota yang berhiaskan ratna mutu manikam yang memberatkan kepala kalian ini, bantal-bantal penyenang duduk berhiaskan mutiara dan merjan. Omong kosong semua. Bahkan kami datang kepada kamu kemari karena kami mempunyai tugas yang diterima langsung dari Allah, untuk menyampaikan Kalaimatul Haq, Kata-Kata Kebenaran kepada kalian. Kalian hidupdalm jalan fikiran yang gelap selama ini! Kami datang hendak membimbing kalian kepada tempat yang terang. Kalian selama ini hanya budak-budak dari benda-benda itu.Kalau kalian mau menerima ajakan dan anjuran kami, negeri ini tetap di tangan kalian dan kami akan pergi ke tempat lain pula menyerukan seruan ini, dan sejak kini kita hidup bersama dalam satu keyakinan dan Iman, tidak ada kelebihan kami dari kalian dan tidak ada kekurangan kalian dari kami”.

Tetapi Rustum mendengarkan jawaban itu dengan sombong dan angkuhnya, sehingga perundingan gagal, dan peperangan hebat Qadisiyah yang terkenal itupun terjadi. Kedaulatan Persia yang megah, Kerajaan Bani Sasan yang telah berusia beratus tahun sebelum itupun jadi runtuh. Maka tidaklah menolong kuda, kendaraan berpelana berterawang emas, pedang jinawi bersalut emas, mahkota bertatah ratna mutu manikam. Tidaklah ada faedahnya sama sekali, berhadapan dengan suatu tentara yang baru bangkit, penih keimanan, tidak takut mati, yang pedangnya memutuskan leher musuh bukan karena sarungnya emas, tetapi karena tangan yang mengayunkannya kuat dan mata pedangnya tajam.

Sumber: https://falatehanfatahillah.wordpress.com/2010/07/07/kisah-di-dalam-perang-qadisiyah/

 


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: