Filsafat Berfikir

PERANG ROMAWI DAN ISLAM | Desember 21, 2015

PERANG ROMAWI DAN ISLAM
Sumber : Dari berbagai situs internet dengan sedikit perubahan editorial
Editor : Ading Nashrulloh
A. PERANG MU’TAH PASUKAN MUSLIM MELAWAN PASUKAN ROMAWI
PERTEMPURAN paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000 orang. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mu’tah –sehingga sejarawan menyebutnya perang Mu’tah (sekitar Yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.
1. LATAR BELAKANG PEPERANGAN
Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra (Romawi Timur) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Di tengah perjalanan, utusan itu dicegat dan ditangkap penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, pemimpin dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal.

Dan pada tahun yg sama, 15 orang utusan Rasulullah dibunuh di Dhat al Talh daerah disekitar negeri Syam (Irak). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.

Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat Rasulullah marah.

Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Shahabat, lalu diutuslah pasukan muslimin sebanyak 3000 orang untuk berangkat ke daerah Syam, sebuah pasukan terbesar yang dimiliki kaum muslim setelah perang Ahzab. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sadar melawan penguasa Bushra berarti juga melawan pasukan Romawi yang notabene adalah pasukan terbesar dan adidaya di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan karena bisa saja suatu saat pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari pertempuran Arab – Byzantium.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)

Ini pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tiga panglima sekaligus karena beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi pada waktu itu.

Ketika pasukan ini berangkat Khalid bin al-Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga turut mengantarkan mereka sampai ke Tsaniatul Wada’, diluar kota Madinah dengan memberikan pesan kepada mereka: Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata:

Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.
Komandan pasukan itu semula merencanakan hendak menyergap pasukan Syam secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sebelumnya. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma’an di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.
2. JALANNYA PEPERANGAN
Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan mereka. Dipersiapkanlah pasukan super besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Kaisar Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan itupun bergabung. Berdasarkan informasi, pasukan tersebut dipimpin oleh Theodore, saudara Heraklius.
Mendengar kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di daerah bernama Ma’an wilayah Syam guna merundingkan apa langkah yang akan diambil. Beberapa orang berpendapat,

“Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.”

Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api:

“Demi Allah Subhânahu wata‘âlâ, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah sesuatu yang kalian keluar mencarinya, yaitu syahid (gugur di medan perang). Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah Subhânahu wata‘âlâ telah memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan; menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya pada masa sebelum itu.

Perlu kita ketahui, tentara di medan perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu: pasukan depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara musuh dengan jumlah yang sangat banyak mengharuskan seorang tentara dari sahabat melawan puluhan tentara musuh. Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki kekuatan iman dan semangat jihad untuk meraih kemulian mati syahid tidak merasakannya sebagai beban berat bagi mereka sebab kekuatan mereka satu banding sepuluh –sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,
“Jika ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65)

Tentara Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya, maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ZAID BIN HARITSAH

Sesuai perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di tangannya. 3.000 pasukan Islam melawan 200.000 tentara Romawi jelas tak seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Mu’tah. Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA JA’FAR BIN ABU THALIB

Melihat Zaid jatuh, Ja’far bin Abu Thalib segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya
Ja’far bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Beliau maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya sampai akhirnya, pasukan musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat sambil bersenandung:

Wahai … surga nan nikmat sudah mendekatMinuman segar, tercium harumTetapi engkau Rum … Rum….Menghampiri siksaDi malam gelap gulita, jauh dari keluargaTugasku … menggempurmu ..

Sampai suatu ketika, ada seorang pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Lalu bendera dipegang tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, Ja’far tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan membelah tubuhnya menjadi dua.

Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ABDULLAH BIN RAWAHAH

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, setelah terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga

Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti matiInilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama iniJika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”

(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!”

Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Alloh, maka naiklah ia sebagai syahid.

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya: “Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan benar ia telah terpimpin!” “Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”

KABAR SYAHIDNYA PARA KOMANDAN PERANG MU’TAH SAMPAI KE RASULULLAH

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka… ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia•pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”

Para sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar gembira bagi mereka. Bahwa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan penuh hormat, dijemput para bidadari, dan mendapati janji surga serta ridha Ilahi. Secara khusus kepada Ja’far bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di surga, dan dengan sayap itu ia bisa terbang di surga sekehendaknya.

BERITA SYAHIDNYA JA’FAR DISAMPAIKAN LANGSUNG OLEH RASULULLAH KEPADA KELUARGA JA’FAR

Rasulullah pun pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita,

“Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk.”
Rasulullah memberi salam dan menanyakan anak-anak Ja’far dan menyuruh mereka ke hadapan Rasulullah.

Asma’ kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja’far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.Asma’ bertanya,

“Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?”

Beliau menjawab, “Ya, mereka telah syahid hari ini.”

Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya,

“Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya… Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya.”
Kemudian beliau bersabda,
“Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.”

STRATEGI PERANG KHALID BIN WALID

Tsabit bin Arqam mengambil bendera komando yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para shahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid

Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu mengganti formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.

Selain itu, khalid bin Walid mengulur-ulur waktu peperangan sampai sore hari karena menurut aturan peperangan pada waktu itu, peperangan tidak boleh dilakukan pada malam hari. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yang datang dengan membuat debu-debu berterbangan.

Pasukan musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran.

Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.
3. HASIL PEPERANGAN
Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pertempuran ini berakhir imbang. Hal karena kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam pertempuran ini kemenangan berada di tangan pasukan Muslimin.

Imam Ibnu katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata,

“Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”

Sebenarnya tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa. Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3.000 dengan gagah berani menghadapi dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahwa umat islam menang. Mengingat korban dari pihak muslim hanya 12 orang (al-Bidayah wan Nihayah (4/214)). Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahîhah (hal.468) 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang.

Menurut Imam Ibnu Ishaq – imam dalam ilmu sejarah Islam –, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci, yaitu (1) Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (2) Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, (3) Mas’ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah Al-Adawi, (4) Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh. Sementara dari kalangan kaum Anshar, (5) Abdullah bin Rawahah, (6) Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, (7) Al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, dan (8) Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa Al-mazini.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan Az-Zuhri, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, (9) Abu Kulaib dan (10) Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir putra Sa’d bin Al-Harits bin Abbad bin Sa’d bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Perang ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid Radhiyallâhu ‘anhu telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata:

“Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266)

Ibnu Hajar mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)

4. IBRAH YANG KITA BISA AMBIL DARI PERANG MU’TAH

Kita merasa berat padahal kita tidak pernah berjihad. Kita mengeluh sering pulang malam dan kecapekan karena kita tidak pernah membayangkan mobilitas para sahabat seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang menempuh perjalanan beberapa pekan, lalu berperang beberapa pekan pula. Kita mengeluhkan hari libur yang tersita sehingga jarang berekreasi bersama keluarga karena kita tak pernah menempatkan diri seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang setiap kali berangkat jihad mereka meninggalkan wasiat pada istri dan keluarganya. Kita mengeluh korban tenaga, kehujanan, sampai terkena flu bahkan masuk rumah sakit. Karena kita tak pernah membayangkan jika kita yang menjadi para sahabat. Bukan flu yang menyerang tetapi anak-anak panah yang menancap di badan. Bukan panas dan meriang yang datang tetapi tombak yang menghujam. Bukan batuk karena kelelahan tapi sayatan pedang yang membentuk luka dan menumpahkan darah.

Kita mengeluh dengan pengeluaran sebagian kecil uang kita karena kita tidak membayangkan betapa besarnya biaya jihad para sahabat. Mulai dari membeli unta atau kuda, baju besi sampai senjata. Kita mengeluhkan masyarakat kita yang tidak juga menyambut dakwah sementara Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah bahkan tak pernah mengeluh meskipun berhadapan dengan 100.000 pasukan musuh. Kita merasa berat dan seringkali mengeluh karena kita tak memahami bahwa perjuangan Islam resikonya adalah kematian. Maka yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan tombak yang menghujam tubuh Zaid bin Haritsah. Yang kita keluhkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sabetan pedang yang memutuskan dua tangan Ja’far bin Abu Thalib dan membelah tubuhnya. Yang kita rasa berat tidak seberapa dibandingkan luka-luka di tubuh Ibnu Rawahah yang membawanya pada kesyahidan.

Lalu pantaskah kita berharap Rasulullah menangis karena kematian kita? Pantaskah kita berharap malaikat datang menyambut kita? Atau bidadari menjemput kita? Kemudian pintu surga dibukakan untuk kita?

Ya Allah, jika kami memang belum pantas untuk itu semua, jangan biarkan kami mengeluh di jalan dakwah ini. Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi hidayah pada kami. Amin.

B. KEMENANGAN UMAT ISLAM ATAS IMPERIUM ROMAWI
1. PETA PERLAWANAN UMAT ISLAM
1400 tahun silam, tidak ada yang menyangka kelompok kecil di bawah komando Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib akan menjadi sebuah Negara besar dan ideologinya mendunia. Dan apa yang terjadi di masa-masa selanjutnya sepeninggal beliau, telah beliau kabarkan kepada para sahabatnya. Beliau Shallallah ‘alahi wa sallam bersabda:
“Kaum muslimin akan menang atas bangsa Arab. Kemudian menang atas imperium Persia. Selanjutnya menang atas kekaisaran Romawi. Dan terakhir akan menang atas si buta sebelah, Dajjal.”

Berawal dari beberapa gelintir orang di bawah asuhan Muhammad Shallallah ‘alahi wa sallam di pedalaman Jazirah Arab, Islam menjadi kekuatan adidaya yang ditakuti lawan-lawannya di kemudian hari. Dua kerajaan besar kala itu, Persia dan Romawi, menjadi korban kehebatan pasukan Islam. Beliau Shallallah ‘alahi wa sallam mengabarkan tentang perlawanan umat Islam menghadapi imperium Persia dan kehebatan kekaisaran Romawi dalam sabdanya:
“Bangsa Persia akan melakukan serangan sekali atau dua kali, setelah itu tidak ada lagi bangsa Persia. Sedangkan bangsa Romawi memiliki beberapa era. Setiap kali hancur satu era, akan digantikan era berikutnya. Mereka ahli di daratan (tempat yang berbatu besar dan keras) dan lautan. Mustahil mereka akan menjadi sekutu kalian sampai kapan pun selagi ada kebaikan dalam hidup ini.”

Apa yang beliau Shallallah ‘alahi wa sallam sabdakan terbukti. Sebagian pakar sejarah mencoba menghitung peperangan-peperangan yang terjadi antara kaum muslimin melawan bangsa Romawi. Mereka menemukan angka peperangan yang terjadi sebanyak 3.600 kali selama kurun waktu 1.410 tahun. Itu berarti, setiap tahunnya terjadi pertempuran tiga sampai empat kali, baik skala kecil maupun besar.

Benturan senjata pertama kali antara umat Islam dengan imperium Romawi terjadi pada tahun 8 Hijriyah (629 M) yang disebut Perang Mu’tah. Pada waktu itu, 3.000 pasukan Islam berhasil meladeni 200.000 pasukan Romawi yang bersenjatakan lengkap. Meskipun pasukan Islam tidak bisa dikatakan menang, tapi kenyataannya mereka juga tidak pulang sebagai pihak yang kalah menghadapi pasukan yang jumlahnya 60 kali lipat. Ini merupakan prestasi yang sangat mengagumkan bagi pasukan Islam.

Benturan kedua hampir terjadi setahun kemudian setelah Perang Mu’tah. Mendengar informasi bahwa pasukan Romawi membuat kekacauan di perbatasan wilayah Islam, Rasulullah Shallallah ‘alahi wa sallam memobilisasi kaum muslimin untuk berjihad menghadapi pasukan Romawi. Beliau berangkat ke Tabuk dengan 30.000 pasukan. Namun, kontak senjata urung terjadi, karena Heraklius dan pasukannya memutuskan untuk mundur dan menghindari benturan bersenjata dengan pasukan Islam.

Bagaimana mungkin mereka tidak memilih mundur, setahun yang lalu, pasukannya yang berjumlah 200.000 tidak berkutik menghadapi 3.000 pasukan Islam di Mu’tah. Dan sekarang, yang mereka hadapi jumlahnya sepuluh kali lipat dan dikomandoi langsung oleh pimpinan tertinggi umat Islam, Muhammad Shallallah ‘alahi wa sallam.

Ini adalah kemenangan pertama umat Islam secara mutlak atas pasukan Romawi. Sebuah kemenangan yang diraih tanpa melalui pertempuran. Dan pertempuran-pertempuran antara umat Islam melawan imperium Romawi di masa mendatang selalu dimenangkan oleh kaum muslimin. Bahkan ketika Islam dalam keadaan carut marut karena terjadi perang saudara antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhuma, pasukan Romawi lebih memilih mundur teratur daripada menghadapi kekuatan Islam.
2. Perubahan Strategi Imperium Romawi
Raja Perancis, Louis IX, merenung di dalam penjara Al-Qal’ah. Ia merefleksi kegagalan invasi militer dalam menaklukkan wilayah-wilayah Islam. Ia mengoreksi sebab-sebab kekalahan pasukannya menghadapi pasukan Islam di era Perang Salib I. Di akhir perenungannya, ia menyimpulkan bahwa perang melawan umat Islam harus dimulai dengan melancarkan perang propaganda (ghazwul fikri). Umat Islam tidak bisa dikalahkan dengan senjata. Jika ingin mengalahkan mereka, maka kalahkan dulu pikirannya. Jauhkan umat Islam dari agamanya, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hasil evaluasi terhadap Perang Salib I yang dimenangkan umat Islam memunculkan strategi baru bagi orang-orang Nashrani dalam menghadapi kekuatan Islam. Perang ini disebut Perang Salib Modern, yaitu perang yang tegak di atas program kristenisasi dan westernisasi.

Mereka tidak lagi menggunakan kekuatan senjata, tapi menggunakan kekuatan media. Mereka menyebarkan ajaran Kristen dan budaya Barat ke wilayah-wilayah Islam. Misionaris-misionaris disebar ke segenap penjuru wilayah Islam. Mendoktrin sedemikian rupa pemuda-pemuda Islam. Melobi dan menawarkan banyak kepada penguasa-penguasa wilayah Islam. Hingga akhirnya, lahirlah tokoh-tokoh Islam yang berpikiran ala Barat. Muncul sosok-sosok manusia yang mengaku Islam, tapi mendukung dan melanggengkan program-program Yahudi dan Nashrani. Tidak ketinggalan, penguas-penguasa negeri Islam mulai termakan tawaran-tawaran yang diajukan para pelobi Yahudi dan Nashrani.

Semua usaha yang digalakkan oleh orang-orang Barat tidak lain adalah untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Menjadikan kaum muslimin asing dengan dua sumber ajarannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan puncak dari apa yang mereka usahakan adalah penghapusan Khilafah Utsmaniah Turki pada tahun 1924 secara resmi. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian wilayah-wilayah Islam yang sebelumnya menjadi satu, dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil. Contohnya adalah wilayah Syam yang hari terbagi menjadi 4 negara: Syiria, Yordania, Libanon, dan Palestina.

Kemenangan mereka semakin nyata atas Dunia Islam setelah berhasil menanamkan paham nasionalisme ke seluruh kaum muslimin. Islam yang dulu menyatukan seluruh manusia tanpa melihat bangsa dan suku, kini telah hancur lebur. Kaum muslimin tidak lagi meneriakkan, “Kami umat Muhammad… kami muslim.” Umat Islam tekotak-kotak sesuai batas-batas wilayah yang dibuat oleh orang-orang Barat. Kaum muslimin yang berada di Mesir mengaku, “Kami warga Mesir.” Kaum muslimin yang berada di Palestina mengaku, “Kami warga Palestina.” Dan kaum muslimin yang ada di Indonesia mengaku, “Kami warga Indonesia.”

Mereka lupa bahwa agama mereka satu, Rabb mereka satu, rasul mereka satu, dan kiblat mereka juga satu. Lebih parah lagi, loyalitas tidak lagi berdasarkan agama, tapi berdasarkan bangsa dan Negara. Kata “Islam” tidak lagi dihiraukan, tapi yang mereka hiraukan adalah kami bangsa ini dan kamu bangsa itu, padahal mereka sama-sama memeluk agama Islam.
3. Usaha Perlawanan yang Tak Kunjung Menang
Allah Ta’ala berjanji di dalam Al-Qur’an bahwa Islam tidak akan pernah padam, seberapa pun dahsyatnya gelombang serangan yang dilancarkan orang-orang Nashrani dan Yahudi. Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf: 8)

Benar apa yang Allah Ta’ala firmankan, Islam tidak akan pernah bisa padam. Setelah runtuhnya Turki Utsmani, sekelompok umat Islam yang sadar terus melakukan perlawanan menghadapi penjajahan kolonialisme. Di berbagai wilayah Dunia Islam terpantik api perlawanan. Mulai dari Afghanistan dengan Taliban, Chechnya dengan Mujahidin Kaukasus, Somalia dengan Syabab Al-Mujahidin, kawasan Maghrib (Maroko) dengan AQIM, Yaman dengan AQAP, Mindanao dengan MILF, MNLF, dan BIFF, dan yang paling menggetarkan Amerika cs hari ini adalah kelompok Al-Qaeda yang memiliki jaringan di berbagai wilayah Dunia Islam.

Hanya saja, usaha sekelompok kecil umat Islam ini belum berhasil. Mereka belum cukup kuat menghadapi musuh-musuh Islam yang bersatu padu, sedangkan mereka sendiri hanya sekelompok umat Islam yang sadar, bukan umat Islam secara keseluruhan.
4. Peta Perlawanan Umat Islam dari Masa ke Masa.
Pada masa Rasulullah saw hingga Perang Salib I, umat Islam mendominasi kemenangan atas orang-orang Romawi. Pada fase ini, umat tidak melakukan perlawanan hanya dengan diwakili beberapa kalangan, kelompok-kelompok kecil, atau organisasi-organisasi terbatas, tapi seluruh lapisan umat Islam bersatu padu menghadapi orang-orang Yahudi dan Nashrani. Hasilnya, kemenangan berpihak kepada kaum muslimin.

Berikutnya adalah Perang Salib II (fase kolonialisme lama, 1800-1970). Orang-orang Kristen bersatu dengan bangsa Yahudi melawan umat Islam di bawah payung kekhilafahan Abbasiah. Hasilnya, umat Islam tetap meraih kemenangan meski melawan dua kelompok yang bersatu, Yahudi dan Nasrani.

Berikutnya adalah Perang Salib II (era neo-kolonialisme/fase kemerdekaan). Pada fase ini, orang-orang Barat menggunakan stategi baru dalam menghadapi kekuatan Islam. Mereka tidak lagi menghadapi pasukan Islam secara frontal, tapi mereka melancarkan perang pemikiran sebelum memulai kontak senjata. Mereka menyebarkan misionaris-misionaris ke berbagai negeri Islam untuk menyebarkan ideologi Barat dan merusak akidah kaum muslimin. Mereka juga merekrut generasi-generasi muda Islam, kemudian didoktrin dengan ideologi Barat. Hingga akhirnya, pemuda-pemuda itu lebih loyal terhadap budaya Barat daripada mencintai ajaran Islam.

Walhasil, pada fase ini umat Islam mulai tercerai-berai. Kaum muslimin tidak bersatu untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Barat. Hanya kelompok-kelompok kecil dan organisasi-organisasi terbatas yang melakukan perlawanan. Itu pun selalu dikecam dan diprotes oleh saudara mereka sendiri dari kaum muslimin. Peperangan yang terjadi antara orang-orang Kristen, bangsa Yahudi, dan penguasa-penguasa murtad melawan Harakah Islam. Hasilnya, Harakah Islam kalah dan Umat Islam keluar dari arena pertempuran.

Berikutnya adalah Perang Salib III (fase Amerika). Pada fase ini, orang-orang Barat semakin menggila menunjukkan dominasinya. Mereka gencar melancarkan propagan-propaganda dan perang media untuk menjatuhkan sekelompok kecil umat Islam yang bercita-cita mengembalikan kemuliaan agamanya.

Musuh yang dihadapi sekelompok kecil pejuang Islam semakin bertambah. Kelopok kecil ini dipaksa menghadapi kekuatan gabungan yang terdiri dari bangsa Yahudi (Israel), umat Kristen (Amerika dan Inggris), penguasa-penguasa murtad di dunia Islam, dan orang-orang munafik (dipimpin lembaga-lembaga agama resmi, ulama-ulama pemerintahan, dan tokoh-tokoh pergerakan Islam yang rusak). Hasilnya, kekuatan perlawanan kalah, arus pergerakan jihad dipersempit, gerakan Islam dilumpuhkan dan umat Islam keluar dari arena pertempuran.

Fase yang hari ini sedang berjalan adalah fase jihad modern. Sebagian umat Islam mulai bangkit menyerukan jihad fi sabilillah melawan Amerika dan sekutunya. Muncul gerakan-gerakan jihad di berbagai Negara yang dihuni kaum muslimin, memanjang dari Maroko yang berada di ujung barat dunia hingga Indonesia, Filipina, dan Thailand selatan yang berada di ujung timur dunia.

Gerakan-gerakan jihad yang beraksi di wilayah masing-masing mengalami kemajuan yang sangat signifikan, meski sampai saat ini belum mampu meruntuhkan Tatanan Dunia Baru yang dibangun Amerika dkk. Tapi setidaknya, itu merupakan tahap awal dari kembalinya Islam ke kancah perjuangan untuk meraih kemuliaan. Dan di fase jihad modern ini, musuh gerakan jihad bertambah satu kubu, yakni sekte Syi’ah dengan berbagai variannya. Pusatnya ada di Iran, dan cabangnya tersebar di berbagai Negara di Timur Tengah hingga Indonesia.

Hanya ada satu jawaban kenapa umat Islam meraih kemenangan pada Perang Salib II (fase kolonialisme lama) dan sebelumnya, yaitu bersatu melawan musuh. Pasukan Salib dan sekutunya menjadi PR bersama, bukan hanya sekelompok kecil pejuang. Dan hanya ada satu kata kenapa umat Islam kalah pada fase Perang Salib neo-kolonialisme, yaitu bercerai-berai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak lagi menjadi beban dan PR bersama, tapi hanya milik pejuang Islam yang jumlahnya tidak seberapa, itu pun terus mengalami hujatan dan celaan dari kaum muslimin yang lain. Wallahu Ta’ala a’lam.
C. PERANG YARMUK
1. Pengangatar
Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan.

Pertempuran Yarmuk adalah perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua.

Pertempuran ini terjadi empat tahun setelah Nabi Muhammad meninggal pada 632. Dia dilanjutkan oleh khalifah pertama, Abu Bakar, yang mencoba membawa seluruh bangsa yang bertutur bahasa Arab di bawah kendali Kaum Muslimin. Pada 633 pasukan Muslim menyerang Suriah, dan setelah berbagai penghadangan dan pertempuran kecil berhasil merebut Damaskus pada 635. Kaisar Romawi Timur Heraclius mengatur sebuah pasukan sekitar 40.000 orang setelah mengetahui lepasnya Damaskus dan Emesa. Pergerakan pasukan Romawi Timur yang besar ini, menyebabkan Kaum Muslimin di bawah Khalid ibn Walid meninggalkan kota-kota, dan mundur ke selatan menuju Sungai Yarmuk, sebuah penyumbang Sungai Yordan.

Sebagian pasukan Romawi Timur di bawah Theodore Sacellarius dikalahkan di luar Emesa. Muslim di bawah Khalid ibn Walid bertemu komandan Romawi Timur lainnya, Baänes di lembah Sungai Yarmuk pada akhir Juli. Baänes hanya memiliki infantri untuk melawan kavaleri ringan Arab, karena Theodor telah mengambil kebanyakan kavaleri bersamanya. Setelah sebulan pertempuran kecil-kecilan, tanpa aksi yang menentukan, kedua pasukan akhirnya berkonfrontasi pada 20 Agustus.

Menurut sumber Muslim, datanglah pertolongan Allah SWT. kepada tentara Islam dengan berhembusnya angin selatan yang kuat meniup awan debu ke wajah prajurit Romawi Timur, kejadian ini sama persis seperti yang terjadi pada pasukan persia dalam pertempuran Qadisiyyah. Prajurit menjadi lesu di bawah panas matahari Agustus. Meskipun begitu Khalid terdorong mundur, namun meskipun jumlah pasukannya hanya setengah prajurit Romawi Timur, mereka lebih bersatu dari pada pasukan multinasional Tentara Kekaisaran yang terdiri dari orang Armenia, Slavia, Ghassanid dan juga pasukan Romawi Timur biasa.

Menurut beberapa sumber, Kaum Muslimin berhasil memengaruhi unsur-unsur di pasukan Romawi Timur untuk beralih sisi, tugas ini dipermudah oleh kenyataan bahwa Kristen Arab, Ghassanid, belum dibayar selama beberap bulan dan yang Kristen Monofisitnya ditekan oleh Ortodoks Romawi Timur. Sekitar 12.000 Arab Ghassanid membelot. Kemajuan pasukan Kristen di sisi kanan, menuju kamp berisi wanita Arab dan keluarganya, akhirnya diusir dengan bantuan dari beberapa wanita Arab. Dan memperbaharui serangan-balik. Prajurit Baänes berhasil dipukul mundur hingga ke sebuah jurang terjal. Sebagai hasilnya, seluruh Suriah terbuka bagi Kaum Muslimin. Damaskus direbut kembali oleh Kaum Muslimin dalam waktu sebulan, dan Yerusalem jatuh tidak lama kemudian.

Ketika bencana ini terdengar Heraclius di Antioch, dinyatakan dia mengucapkan selamat tinggal kepada Suriah, berkata, “Selamat tinggal Suriah, provinsiku yang indah. Kau adalah seorang musuh sekarang”; dan meninggalkan Antiokia ke Konstantinopel. Heraclius mulai memusatkan pasukannya untuk mempertahankan Mesir.
Gugurnya Panglima Romawi Gergorius Teodorus Dalam Perang Yarmuk

Pertempuran Yarmuk adalah perang antara pasukan Muslim dibawah komando Panglima Khalid bin Walid melawan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636 M/13 Hijriyah. Terjadi pada masa akhir Khalifah Abu Bakar. Saat pertempuran Yarmuk berlangsung Khalifah Abu Bakar wafat di Madinah dan digantikan Khalifah Umar.

Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke wilayah Syam (Palestina, Suriah) yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan.

Saat itu wilayah yang disebut Syam (Palestina dan Suriah) dibawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Kota Yarmuk saat ini masuk wilayah Suriah (Syria).

Jumlah pasukan Islam yang dikirim Khalifah Abu Bakar sebanyak 40.000 personil yang dipimpin Panglima Tertinggi Khalid bin Walid (yang dijuluki Saifullah/Pedang Allah) dengan dibantu 4 Panglima: Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, Amru bin Ash.

Mendengar kabar pasukan Islam yang hendak masuk ke wilayah Syam, Kaisar Heraklius segera mengumpulkan pasukan Romawi sebanyak 240.000 personil. Sebanyak 80.000 pasukan infantri, 80.000 pasukan penunggang kuda, dan 80.000 pasukan yang diikat dengan rantai besi agar tidak melarikan diri saat berkecamuk perang.

“Demi Tuhan, kita akan sibukkan (khalifah) Abu Bakar sehingga ia tidak akan pernah berpikir lagi untuk mengirim kuda-kudanya ke daerah kita,” ucap Kaisar Heraklius.

“Demi Allah, aku akan sibukkan pasukan Nasrani dengan mengutus Khalid bin Walid,” ujar Khalifah Abu Bakar.

Pasukan Romawi dipimpin Panglima Tertinggi Theodore dengan beberapa panglima yang membantu: Panglima Caicarius Nastus,Panglima Dracus, dan Panglima Gergorius Teodorus.

Pertempuran Yarmuk akhirnya dimenangkan pasukan Islam. Allah SWT mengkaruniakan kemenangan kepada pasukan Khalid bin Walid. Dari pihak Romawi jumlah korban terbunuh total sebanyak 120.000 orang. Sedang gugur sebagai syahid dari pihak kaum muslimin kurang lebih 3.000 Mujahid.

Historians’ History of the World, terbitan Encyclopedia Britannica Co. Ltd, London, volume III (Arabs) halaman 148, menulis tentang kehancuran pasukan Romawi itu dengan segala akibatnya sebagai berikut:

On the second morning they moved forward, ang enganged in all parts with all imaginable vigour. The fight, or rather the slaughter, continued till evening. The Christian army was entirely routed and defeated. The Saracens killed the day fifty thousand men. Those that escape fled, some of them to Caesarea, other to Damascus, and some to Antioch. The Saracens took plunder of inestimable value, and a great banners, and crosses made of gold and silver, precius stones, silver and gold chains, rich clothes, and arms without number; which Khalid said he would not divide until Damascus was taken.

Bermakna:

Mereka (pasukan Islam) itu pada pagi hari kedua bergerak maju, dan seluruh bagiannya terlibat dengan semangat tempur yang dapat dibayangkan. Pertempuran itu, atau lebih tepat disebut dengan penyembelihan besar-besaran itu, berlangsung sampai senja hari. Pasukan Kristen diobrak-abrik seluruhnya dan hancur. Pasukan Islam menewaskan lawannya pada hari itu sejumlah 50.000 orang. Mereka yang sempat meluputkan dirinya segera lari, sebagian menuju Caesarea, yang lain menuju Damaskus, dan sebagian menuju Antiokia.

Pasukan Islam beroleh harta rampasan perang yang tidak ternilai: sekian banyak panji-panji, dan salib-salib yang terbikin dari emas dan perak, dan kalung-kalung rantai yang terbikin dari emas dan perak,dan pakaian-pakaian mewah, dan alat persenjataan tanpa terhitung jumlahnya; dan terhadap sekian harta rampasan perang itu, Panglima Besar Khalid berkata, bahwa belum akan dibagikannya kepada seluruh anggota pasukan sebelum Damaskus direbut dan dikuasai.

Berita kemenangan di Yarmuk itu disampaikan ke Madinah dan disambut oleh Khalifah Umar (yang menggantikan Khalifah Abu Bakar sesudah wafat) beserta penduduk dengan Takbir dan kumandang adzan.

Pasukan Islam berturut-turut kemudian menguasai Damaskus, Levantine, Emessa, Aleppo, Antiokia, Agnadine, dan akhirnya menguasai kota suci Jerussalem, jantung Palestina. Jerussalem akhirnya diserahkan oleh Uskup Agung Sophorius kepada Khalifah Umar yang langsung datang ke Jerussalem.

2. Perang Yarmuk yang Menentukan

Heraclius pernah menerima surat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang dibawa oleh Dihya bin Khalifah al-Kalbi

KALAH terus menerus digempur pasukan muslimin pimpinan Sang Pedang Allah, Khalid ra., Kekaisaran Bizantium mengerahkan pasukan besar-besaran yang menjadi klimaks benturan terbesar antar dua kekuatan pada bulan Agustus 636 M. Sejumlah 200.000 lebih pasukan Romawi dibantu suku Arab Kristen Ghasan, Yunani, Prancis, Armenia, Rusia, Slavic dan lainnya berhadapan dengan hanya 25.000 pasukan muslimin. (Versi lain menyebutkan jumlah kekuatan Muslimin yaitu 40.000 orang)

Heraclius menunjuk Theodorus Trithurius sebagai panglima tertinggi. Sementara Ghasan dipimpin Jabalah bin Aisham Dairjan, Armenia dipimpin rajanya, Mahan, dan Rusia dipimpin Buccinator (Qanateer). Gabungan seluruh pasukan Eropa dipimpin oleh Gregory (Gregorius) dan Dairjan (alWaqidi hal.106).

Para sejarawan menyebut perang Yarmuk yang terjadi di tepi Sungai Yarmuk sebagai salah satu perang menentukan di dunia. Perang ini juga menempatkan Khalid ra. sebagai seorang Panglima perang terbaik dan komandan kavaleri terbaik pada Zaman Pertengahan (Middle Ages).

Heraklius bertekad untuk mengusir kaum muslimin dari daerah jajahannya, namun ia sebenarnya sangsi apakah bisa atau tidak melawan arus Islam yang terus menebarkan pesonanya. Jauh bertahun-tahun sebelumnya, Heraclius pernah menerima surat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang dibawa oleh Dihya bin Khalifah al-Kalbi.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius penguasa Romawi.

Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk. Masuk Islamlah, niscaya kamu selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah memberimu pahala dua kali lipat. Jika kamu berpaling, kamu akan menanggung dosa orang-orang Romawi.

Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama di antara kita, bahwa kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan tidak (pula)sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sembahan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka :

“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Heraklius kemudian mengundang Abu Sofyan dan pedagang Quraisy lainnya yang kebetulan sedang berdagang di Syam untuk mendiskusikan tentang Muhammad. Setelah bertanya-tanya panjang lebar, Heraclius lalu berkomentar tentang Muhammad, “Jika apa yang telah kau katakan adalah benar maka ia akan dapat memiliki tempat kedua kakiku berdiri ini. Aku tahu bahwa ia akan diutus. Aku tidak menyangka ternyata ia dari bangsa kalian. Jika saja aku dapat memastikan bahwa aku akan bertemu dengannya niscaya aku memilih bertemu dengannya. Jika aku ada di sisinya, pasti aku cuci kedua kakinya.”

Persiapan perang sudah dilakukan sejak akhir tahun 635. Pada bulan Mei 636, kekuatan pasukan Bizantium dan sekutu sudah berkonsentrasi di Antiokia dan daerah Syiria Utara. Sementara di pihak muslimin, pasukan dibagi menjadi 4 satuan, satuan Amru bin Ash ra. di Palestina, satuan Syurahbil ra. di Yordania, satuan Yazed ra. di Caesarea (Sekarang Tel Aviv) dan yang terakhir satuan Abu Ubaidah ra. bersama Khalid ra. di Emessa.

Sebuah pertempuran yang menentukan nasib masa depan masing- masing panji. Benturan antara panji tauhid dan panji kebatilan. Panji kekufuran yang diusung Theod orus memiliki sebuah rencana strategi tempur sebagai berikut :

Qanateer akan bergerak sepanjang jalur pantai menuju Beirut, kemudian mendekati Damaskus dari arah Barat dan mencegat pasukan Abu Ubaidah.

Jabalah membawa pasukannya dari Aleppo (Halab), menuju Emessa (Hims) melalui Hama dan menggempur pasukan muslim di daerah Emessa. Pasukan ini yang kemungkinan pertama bertempur.

Dairjan bergerak pada jalur antara pantai dan Aleppo kemudian mendekati Emessa dari arah barat. Berikutnya menyerang pasukan muslimin dari samping saat sedang bertempur dengan Jabalah.

Gregory membantu menyerang ke Emessa dari arah Timur Laut dan menyerang dari sisi kanan bersamaan dengan serangan Dairjan.

Mahan membantu pasukan Jabalah dari arah belakang dan menjadi pasukan cadangan.

Pada pertengahan Juni 636 M, parade tempur Bizantium bergerak dari Antiokia, namun tercium oleh intelijen muslimin yang tersebar di seluruh daratan Suriah. Khalid ra. segera meminta pasukan muslimin untuk mundur dan bergabung sehingga menjadi lebih kuat. Ia menyarankan pada Abu Ubaidah untuk mundur ke selatan meninggalkan daerah teritorinya menuju Jabbiya serta mengembalikkan Jizyah yang diberikan oleh rakyat yang baru dikuasai. Sebuah sikap belas kasih dan pemurah yang jarang dimiliki oleh para penakluk (alBaladuri hal.143).

Saat Jabalah tiba di Emessa, ia tidak menemukan seorang Muslimin di sana. Qanater pun memasuki Damaskus tanpa tersisa seorang pasukan Muslimin. Semua mundur ke selatan. Gerakan Muslimin begitu cepat sehingga tidak terdeteksi oleh musuh.

Pada pertengahan Juli 636 M, situasi mulai kritis, Abu Ubaidah sangat cemas memikirkan kondisi terburuk yang mungkin menimpa Muslimin mengingat begitu besarnya kekuatan yang dihimpun Bizantium. Melalui rapat dewan perang, berbagai pendapat dilontarakan para komandan Muslimin. Ada mengusulkan mundur kembali ke Arabia. Ada yang bersemangat untuk terus berperang dan yakin diberi kemenangan oleh Allah. Abu Ubaidah menoleh kepada Khalid yang diam sedari awal.

“Wahai Abu Sulaiman, apa pendapatmu?”

“Apa yang mereka kemukakan baik, aku punya pandangan berbeda namun tidak bertentangan dengan mereka.”

“Bicaralah, kami akan mengikutimu.”

“Wahai Jendral, ketahuilah, jika engkau tetap disini (Jabiya), engkau akan membantu musuh untuk menghancurkanmu. Di Caesarea tidak jauh dari Jabiya, ada 40.000 pasukan Romawi pimpinan Konstantin, putra Heraklius.

Aku menyarankanmu, untuk bergerak ke pedataran Yarmuk dan menempatkan Azra di belakangmu. Ini akan memudahkan Khalifah untuk mengirim pasukan bantuan, dan di daerah pedataran, memudahkan kita dalam mobilisasi kavaleri.” (Al‐Waqidi hal.109).

Pasukan muslimin bergerak menuju Yarmuk dan terjadi pertempuran kecil antar kavaleri (pasukan berkuda) kedua belah pihak. Khalid menjaga barisan belakang Muslimin yang melakukan mobilisasi ke selatan.

Setelah tiba di Yarmuk, Abu Ubaidah menetapkan garis markas pada bagian timur Yarmuk dan disinilah Abu Ubaidah bergabung dengan pasukan Amru bin Ash, Syurahbil dan Yazid. Beberapa hari berikutnya pasukan Jabalah datang dan membuat markas di sebelah utara Wadi ar-Raqad.

Heraklius memerintahkan Mahan, untuk tidak memulai perang sampai dilakukan negoisasi dan diperoleh kesepakatan damai. Mahan mengutus Gregory untuk bernegoisasi dengan pemimpin muslimin, Abu Ubaidah, namun gagal. Kelak Gregory masuk Islam setelah berdialog dengan Khalid ra. Dalam salah satu episode Perang Yarmuk. Terakhir, Jabalah yang berdarah Arab dikirim, namun tetap gagal.

Mahan kemudian mengirim Jabalah dengan sejumlah pasukan besar untuk menjajal kekuatan Muslimin sekaligus sebagai bentuk gertakkan terhadap Muslimin. Majulah Jabalah dengan kavalerinya mendekati barisan infantri Muslimin yang bersiap-siap bertahan. Tiba-tiba datanglah sang Pedang Allah dengan kavalerinya sehingga terjadi bentrokan yang berlangsung singkat, dimana Jabalah kembali mundur menghadap Mahan dan melaporkan bahwa pertempuran akan berlangsung sengit nantinya.
Malam harinya dijalani Muslimin dengan bertaqarub kepada Allah. Mereka berdoa mengharapkan hidup mulia atau mati syahid
PERSIAPAN Pasukan perang pun tak terhindarkan. Mahan membagi pasukannya dalam 4 satuan regular yang menyebar dari Yarmuk sampai daerah selatan perbukitan Jabiya sepanjang 12 mil (sekitar 20 km, sangat panjang).

Sayap kanan dipimpin oleh Gregory, sayap kiri oleh Qanateer dan pasukan tengah tersusun oleh satuan Dairjan dan pimpinan satuan Mahan sendiri. Pasukan kavaleri dibagi pada semua satuan, dimana pasukan infantri pada barisan depan dan pasukan kavaleri bagian belakang sebagai cadangan. Barisan terdepan terdiri dari pasukan Jabalah dengan kekuatan kuda dan untanya.

Khusus pasukan Gregory, ia menggunakan rantai yang mengikat antar pasukannya untuk meredam serangan kavaleri persis dengan taktik Hurmuz dalam Perang Rantai di Irak Persia sebelumnya. Sejumlah 30.000 pasukan Bizantium dipimpin Gregory dimana rantai-rantainya mengikat tiap 10 orang.

Khalid ra. sang penakluk Iraq, memimpin rapat dewan perang. Ia membagi pasukannya menjadi satuan infantri dan kavaleri. Jumlah kavalerinya hanya seperempat dari seluruh pasukan. Kemudian ia membagi seluruhnya menjadi 36 resimen infantri dan 4 resimen kavaleri serta pasukan khusus dinamis (mobile guard) sebagai cadangan.

Pasukan tengah dipimpin Abu Ubaidah (bagian kiri) dan Syurahbil (bagian .kanan). Sayap kiri dipimpin Yazid dan sayap kanan dipimpin Amru bin Ash, sehingga terbagi menjadi 4 batalion.

Barisan sayap kanan dan kiri membawahi 1 resimen kavaleri yang Dipersiapkan sebagai counter-attack atas tekanan Bizantium. Di belakang barisan tengah disiapkan 1 resimen kavaleri cadangan dan mobile guard di bawah komando Khalid ra. langsung. Jika Khalid ra. sibuk memimpin pertempuran,maka mobile guard dipimpin Dhirar.
Tiap-tiap batalion terdiri dari 9 resimen infantri. Pembagian resimen dibagi berdasarkan kesukuan, sehingga member motivasi khusus bagi tiap-tiap resimen untuk menunjukkan kemampuannya.

Jika barisan Bizantium terdiri dari sekitar 30 baris sepanjang 20 KM, sementara muslimin hanya sekitar 4 baris pasukan memanjang mengimbangi panjangnya pasukan musuh, cukup signifikan perbedaan kekuatan pasukan antar kedua belah pihak.

Selama satu bulan lamanya tidak terjadi pertempuran antara kedua belah pihak selain hanya saling menunggu. Pasukan Muslimin tidak mau gegabah melakukan serangan karena jumlahnya musuh yang terlampau besar.

Sementara pihak Bizantium juga belum memiliki keberanian besar untuk lebih dulu menyerang Muslimin. Masa senggang ini justru membantu kekuatan Abu Ubdaiah dengan datangnya 6.000 pasukan baru yang datang dari Yaman.

Ratusan sahabat Rasul juga tidak mau ketinggalan dalam ajang perang hidup mati yang menentukan nasib Islam ke depan. Terdapat di dalam pasukan baru tersebut seperti Zubair bin Awwam, Abu Sufyan dan istrinya, Hindun.

Akhirnya, pada pekan ketiga Agustus 636 M, Perang Yarmuk mengguncang Timur Tengah, goncangan yang bergetar sampai pedataran Eropa, Afrika, bahkan Asia pada dekade berikutnya. Perang yang direkam oleh seluruh sejarawan dan menjadi salah satu referensi strategi perang bagi Jendral-jendral saat ini.

Menjelang perang bergema, Mahan kembali mengundang muslimin untuk negoisasi, dan Abu Ubaidah mengutus Khalid ra.

“Kami mengetahui, bahwa yang mendorong kalian keluar dari negeri kalian tak lain hanyalah kelaparan dan kesulitan. Jika kalian setuju, saya beri masing-masing kalian 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Di tahun yang akan datang saya kirimkan sebanyak itu pula…!” tawar Mahan.

“Sebenarnya, yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda sebutkan tadi, tetapi kami adalah satu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami tahu benar, bahwa tak ada darah yang lebih manis dan lebih baik dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!” jawab Khalid ra. menteror lawan. (Ibnu Katsir, 7/14)

Selama satu hari penuh kedua belah pihak kembali mengatur posisi dan formasi. Masing-masing pihak berupaya membangun semangat dan doa mengharap kemenangan dari Allah. Para mujahidin memanjatkan impian untuk memperolah mati syahid atau kemuliaan. Sementara pasukan Kristen juga tidak ketinggalan meminta pertolongan pada patung Yesusnya. Mereka jugabersumpah untuk bertempur sampai mati dan tidak lari pertempuran.

Khalid berinisiatif untuk meminta amanah kepada Abu Ubaidah sebagai pimpinan umum Muslimin dalam Perang Yarmuk, “Wahai Jendral, mintalah kepada semua pimpinan resimen untuk mengikuti semua perintahku.”

Dengan senang hati Abu Ubaidah memberinya kesempatan untuk kembali menjadi Pedang Allah yang terhunus kepada orang-orang kafir.

Semua pimpinan Muslimin pun merasa puas dan lega dipimpin Khalid yang sampai saat itu belum pernah terkalahkan di medan perang.

Konsolidasi terus dilakukan sepanjang hari. Setiap detiknya berjalan dengan degup dan kegalauan. Abu Ubaidah dan Khalid terus melakukan kontrol dan menyemangati setiap mujahid yang dilewatinya.

“Genggam tiang tenda ditanganmu dan kumpulkan bebatuan,” ucap Abu Ubaidah kepada para wanita yang bertugas di bagian belakang barisan,”jika kita menang, maka itu sebuah kebaikan. Namun jika kalian melihat ada pasukan yang lari dari medan perang, serang wajahnya dengan tiang tenda dan lemparlah dengan batu. Tahan anaknya dan katakan padanya agar berperanglah demi istrinya, anaknya dan demi Islam!” (Al‐Waqidi, hal.129)

Seorang pasukan muda berseloroh ketika Khalid lewat di depannya, “Betapa besarnya pasukan Romawi dan betapa kecilnya kita.” Khalid berbalik dan menatap mata sang pemuda, “Begitu kecilnya Romawi dan begitu besarnya kita! Kekuatan pasukan perang bukan berdasarkan jumlah pasukan, tapi karena pertolongan Allah. Kita menjadi lemah kalau ditinggalkan Allah!” (At‐Thabari, 2/594).

Mereka lantas saling mengingatkan sebuah firman Allah, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al‐Baqarah : 249).

Malam harinya dijalani Muslimin dengan bertaqarub kepada Allah. Mereka berdoa mengharapkan hidup mulia atau mati syahid. Sebagian besar melakukan pembacaan dan perenungan surat al-Anfal yang banyak berisi tentang jihad, sehingga semakin bergemuruhlah semangat mujahidin dalam berjuang di jalan Allah. Esok harinya, Perang Yarmuk dimulai.
PEPERANGAN Yarmuk terjadi pada tahun 13 H sebelum penaklukan Damaskus. Perang Yarmuk (Battle of Hieromyax) diakui oleh sejarawan Barat sebagai perang yang paling gemilang dalam sejarah.

Hari Pertama

Para mujahidin melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan khusyu. Setelah berdoa, mereka kembali ke barisan dan posisinya masing-masing dengan semangat jihad yang berkobar dan wajah yang sangat mengharapkan pertolongan Allah, Penguasa Langit dan Bumi. Medan arena Yarmuk hening selama lebih satu jam, dimana belum ada pihak yang mengambil inisiatif untuk menyerang duluan. Tiba-tiba keluar seorang komandan Bizantium yang bernama Georgius menuju barisan Muslimin dan minta bertemu dengan Khalid. Ia berdialog dan bersyahadat di hadapan Khalid sebagaimana akan dikisahkan bab berikutnya.

Episode duel menjadi genderang pembuka Perang Yarmuk sebagaimana pertempuran sebelumnya. Beberapa jagoan Bizantium maju menghadapi jawara Muslimin. Beruntung, dengan pertolongan Allah jawara Muslimin berhasil menumbangkan begitu banyak jagoan-jagoan Bizantium.

Abdurrahman bin Abu Bakar menjadi jawara terbaik dengan kehebatannya membunuh lima jago perangnya Bizantium. Mahan mulai khawatir moral pasukannya menurun karena melihat kehebatan dan terampilnya personil Muslimin dalam bertempur. Ia lalu mengumumkan serangan umum saat matahari berada di puncak langit.

Mahan melakukan serangan terbatas sekedar untuk menjajal dan mengetahui kekuatan dan strategi pasukan Muslimin, dan jika memungkinkan, ia akan melakukan tekanan kuat pada bagian terlemah Muslimin. Majulah barisan infantri Bizantium yang berjalan perlahan-lahan menuju barisan Muslimin. Saat mereka berada dalam jarak jangkauan panah, Khalid memerintahkan untuk menghujani mereka dengan panah. Saat jarak kedua pasukan semakin kecil, Muslimin mulai menghunuskan pedangnya.

Bentrokan pun tak terhindarkan. Sayangnya banyak pasukan Bizantium tidak memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan serangan sebagaimana gempuran Muslimin yang berpengalaman dalam kancah jihad sebelumnya.

Ada barisan yang bertempur sangat keras dan ada barisan front yang tidak terlalu intensif bergesekan antar pasukan. Saat matahari terbenam, pertempuran usai dan masing-masing kembali ke perkemahannya. Pasukan Bizantium menderita lebih banyak daripada Muslimin.

Para Muslimah dan mujahidah mulai menjalankan tugasnya untuk mengobati luka-luka Muslimin sambil memberi semangat jihad.

Mereka bersyukur berhasil memukul mundur musuh. Dan seperti malam sebelumnya, mereka kembali menghabiskan waktu malamnya untuk berdzikir dan merenungkan al-Qur’an sebelum tidur. Memasuki waktu tengah malam, beberapa pasukan Bizantium pergi ke medan perang untuk menghambil jasad-jasad pasukannya yang tewas. Malam itu berjalan dengan tenang tanpa pertikaian apapun.

Hari Kedua

Mahan, melalui rapat dewan perang di malam hari, memutuskan untuk menyerang Muslimin di waktu fajar, saat pasukan Muslimin diperkirakan tidak siap tempur. Dalam kegelapan malam, beberapa jam lamanya Mahan mempersiapkan serangan. Taktik yang disusunnya yaitu menghantam pasukan tengah Muslimin dengan pasukan tengah, begitu pula pasukan sayap Muslimin dengan pasukan sayapnya, kemudian menggiring tekanan ke arah tengah.

Untuk mengamati jalannya pertempuran, ia membangun menara besar di belakang sayap kanan pasukan dan dijaga oleh 2.000 bodyguard dari Armenia.

Saat masuk waktu fajar, pasukan Bizantium langsung menyerbu Muslimin yang memang dalam kondisi tidak siap. Namun Khalid ra. Telah menyiapkan pasukan penjaga di garis depan sepanjang malam. Pasukan ini menahan singkat gempuran mendadak dari musuh, namun memberi waktu bagi pasukan utama untuk mempersiapkan diri. Matahari belum lagi memancarkan sinarnya saat benturan dua gunung sudah mengguncang bumi.

Bizantium melancarkan serangan untuk menjepit pasukan tengah, terjadi pertempuran yang seimbang dan tidak terlalu keras di bagian tengah.

Namun di sayap kanan, pasukan Bizantium di bawah komando Pangeran Qanater menghantam keras pasukan infantri sayap kanan Muslimin pimpinan Amru bin Ash sehingga tertekan mundur ke belakang. Amru berhasil memukul balik musuh, namun Qanater segera mengganti pasukannya yang masih segar.

Amru berhasil untuk kedua kalinya memukul lawan. Saat pasukan Qanater maju dengan kekuatan barunya (baris ketiga), pasukan Muslimin sudah letih sehingga tertekan dan mundur perlahan-lahan akibat desakan Bizantium.

Amru meminta bantuan dari 2.000 kavaleri MG (Mobile Guard).

Setelah berhasil menahan sesaat serangan musuh, mereka pun terpukul mundur. Beberapa pasukan infantri Amru lari ke belakang yang sudah begitu dekat dengan markas. Namun tiba-tiba saja mereka dihadang oleh para Muslimah dan mujahidah dengan tiang tenda tajam dan lemparan batu.

“Semoga Allah mengutuk mereka yang lari dari musuh!” teriak seorang Muslimah.

“Engkau bukan suamiku jika engkau tidak bisa menyelamatkan kami dari orang-orang kafir!” teriak yang lain.

Merasa malu mendapat celaan dan takut akan murka Allah, beberapa pasukan yang mundur, kembali maju ke depan. Amru bin Ash kemudian melancarkan counter attack yang kedua dengan infantri dan kavalerinya.

Pada bagian sayap kiri, pertempuran tidak kalah keras, pasukan Gregory bertemu dengan Yazid. Pasukan rantai Gregory bergerak lambat namun solid sehingga menekan pasukan Muslimin. Yazid mengerahkan kavaleri kudanya, namun tidak bisa membalas tekanan Bizantium. Beberapa barisan Muslimin pun mulai koyak sehingga ada yang lari ke belakang.

Tidak sedikit yang lari dari medan pertempuran. Seorang penunggang kuda dari satuan Yazid yang pertama tiba di belakang (markas) adalah Abu Sofyan. Ia disambut pasukan wanita yang dipimpin Hindun (istrinya) dan Khaulah. Mereka juga meneteng tiang tenda dan bebatuan.

“Mau kemana putra Harb? Kembalilah bertempur dan tunjukkan keberanianmu, dengan begitu semoga engkau mendapat ampunan Allah karena memiliki dosa melawan Rasulullah!” sergah Hindun sambil memukulkan tongkatnya ke kepala kuda suaminya, Abu Sofyan.

Pasukan wanita lainnya juga menyindir dan menyemangati kembali pasukan yang mundur sehingga kembali ke depan barisan. Bahkan ada beberapa mujahidah yang maju ke depan dengan kuda dan berhasil membunuh pasukan Bizantium dengan pedangnya.

Rencana Mahan berhasil, pasukan tengah terjepit dan tertekan ke belakang, begitu pula pasukan sayap Muslimin. Namun belum berhasil menceraiberaikan pasukan pimpinan Khalid ra. itu. Di pertengahan hari, Khalid ra. memutuskan menggunakan mobile guard-nya dan kavaleri cadangan untuk membalas tekanan musuh serta untuk menstabilkan situasi.

Khalid ra. bergerak ke sayap kanan bersama mobile guard dan kavaleri cadangan sayap kanan untuk menyerang sisi pasukan Qanater, pada saat yang sama, Amru bin Ash membalas serangan dari barisan depan. Diserbu dari dua arah terus menerus, membuat pasukan yang terdiri dari orang Slavia ini mundur ke tempat awalnya semula. Amru bin Ash kembali mengambil alih panggung sayap kanan dan menata ulang pasukannya untuk ronde berikutnya.

Khalid ra. kemudian bergerak ke arah sayap kiri, bersama Yazid membalas tekanan pasukan Gregory. Khalid ra. juga menggerakkan satu resimen kavaleri pimpinan Dhirar untuk menghantam barisan depan pimpinan Dairjan (bagian kanan dari barisan tengah) sehingga mundur ke belakang.

Khalid ra. lalu menerjang pasukan Gregory dengan mobile guard-nya, menyebabkan barisan Gregory mundur, namun bergerak lambat karena adanya rantai yang mengikat antar pasukannya.

Perang Yarmuk Hari Kedua, counter attack sayap kanan Counter attack sayap kiri. Situasi kritis justru melanda pasukan Bizantium, Dhirar berhasil menghancurkan barisan Dairjan bahkan membunuhnya. Saat matahari terbenam, pertempuran pasukan tengah sudah mereda, dan Bizantium kembali mundur seperti pada posisinya di pagi hari. Bizantium juga kembali mengalami kerugian besar seperti di hari pertama, ditambah moral pasukan yang mulai menurun. Di barisan Muslimin, hanya satuan Amru yang merasakan pertarungan terberat. Secara umum, pasukan Muslimin kembali menunjukkan taring imannya, dimana senjata dan jumlah tidak pernah menjadi prinsip dalam pertempuran jihad.

Para Muslimah pada malam harinya kembali mengobati luka-luka yang diderita para mujahidin. Semangat mereka berkobar karena para mujahidin berhasil memukul mundur pasukan musuh yang lebih besar jumlahnya. Di pihak Bizantium, mereka menderita kerugian besar dimana ribuan pasukannya tewas termasuk salah seorang jendral elite-nya, Dairjan. Mahan lantas menunjuk Qaren sebagai pengganti Dairjan.
Hari Ketiga

Setelah kegagalan rencana tempurnya yang terlalu ambisius serta kematian komandan seniornya, Mahan mencoba taktik yang lebih realistis.

Yakni menghantam daerah antara barisan tengah dan sisi kanan pasukan Muslimin yang nampak lemah berdasarkan pengalaman sebelumnya. Qanater memimpin penyerangan ini. Pertempuran pun dimulai dengan benturan antara Bizantium dengan Amru bin Ash dan Syurahbil.

Medan pertempuran terkeras dialami kembali oleh Amru. Jumlah pasukan musuh yang besar sementara pasukan Muslimin mulai keletihan karena tidak memiliki pasukan cadangan yang cukup untuk mengganti pasukan yang terlukan dan kecapaian. Beberapa front mulai koyak akibat serangan pasukan Qanater. Tak ayal sebagian Muslimin mundur lari ke belakang, dan lagi-lagi mereka berhadapan dengan para mujahidah, sehingga terpaksa mereka kembali lagi ke depan.

“Lebih mudah menghadapi orang-orang romawi daripada wanita kita!” celetuk seorang prajurit Muslimin.

Seorang mujahidah menghampiri Khalid dan menyarankannya untuk segera membantu pasukan Amru. Sang panglima Khalid ra. segeramengirimkan mobile guard-nya memukul sisi kanan pasukan Qanater yang merupakan pasukan tengah bagian kanan Bizantium. Pada saat yang sama Amru juga melancarkan serangan balasan kavalerinya dengan memukul sisi kiri Qanater. Sementara Syurahbil memukul balik dari garis depan.

Benturan keras terjadi antar kedua pihak. Qanater pun kelabakan digerus dari berbagai sisi sehingga ketika masuk waktu sore, ia terpaksa mundur kembali pada posisi awalnya seperti di pagi hari. Pertempuran usai saat matahari terbenam. Ribuan pasukan Bizantium tewas di hari ketiga, sedangkan pasukan Muslimin hanya kehilangan ratusan mujahid. Pada malam harinya, Khalid dan Abu Ubaidah berjalan mengunjungi setiap satuan tempurnya dengan memberi semangat terhadap mereka yang terluka.

Hari Keempat

Lebih 500 Muslimin kehilangan matanya karena terkena mata panah sehingga pertempuran pada hari keempat dikenal juga sebagai Hari Kehilangan Mata

PADA hari keempat intensitas pertempuran meningkat. Mahan merencanakan pertempuran pada hari keempat sebagai pertempuran yang menentukan. Khalid pun berpikir serupa, ia melihat hari itu sebagai titik kritis.

Walaupun pasukan Muslimin keletihan dibanding Bizantium, namun semangat dan moral mereka jauh melebihi pasukan musuh. Pasukan Bizantium mengulang taktik perang seperti hari sebelumnya, menghantam sayap kanan Muslimin. Taktik ini sudah dibaca oleh Khalid sehingga sebelum perang berkecamuk, ia sudah menempatkan pasukan kuat untuk mendukung pertahanan Amru.

Qanater kembali bertemu dengan Amru bin Ash dan Syurahbil. Pasukan Amru bin Ash sempat memukul mundur Qanater namun tidak terlalu berhasil sehingga ia harus menahan keras gebrakan musuh. Sementara Syurahbil kerepotan ditekan Bizantium Armenia yang dibantu pasukan Kristen Arab Jabalah. Akibatnya, pasukan Syurhabil terpukul mundur nyaris mendekati markasnya.

Khalid, seperti biasa, mengerahkan mobile guard-nya untuk merobek tekanan Bizantium pada Syurahbil. Khalid ra. memecah mobile group-nya menjadi dua. Grup 1 dipercayakan kepada Qais bin Khubaira untuk memukul sisi kanan Bizantium, dan grup satunya lagi tetap ia pegang untuk memukul sisi kiri Bizantium yang menekan Syurahbil. Majulah pasukan Muslimin dari sisi kiri Qais, dari tengah Syurahbil, dan Khalid ra. dari kanan. Pasukan Bizantium terpukul mundur dimana pada siang hari mereka kembali pada posisi semula.

Sementara pertempuran terus berlangsung di daerah kanan Muslimin, pada bagian kiri, Yazid dan Abu Ubaidah juga berjuang memukul Bizantium.

Pasukan sayap kiri Muslimin mengalami pertempuran berimbang dengan pasukan Gragory, namun banyak Muslimin yang menjadi korban serangan panah Bizantium sehingga banyak yang buta. Ribuan pemanah Bizantium yang berbaris di belakang infantri, menghujani ribuan panah ke arah Muslim sehingga begitu banyak terluka. Begitu banyaknya panah yang melayang di udara, sampai-sampai cahaya matahari seolah meredup seketika. Lebih 500 Muslimin kehilangan matanya karena terkena mata panah sehingga pertempuran pada hari keempat dikenal juga sebagai Hari Kehilangan Mata.

Pasukan pimpinan Yazid dan Abu Ubaidah mundur untuk mengorganisir pasukan dan menghindari jangkauan panah musuh. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan Mahan untuk menyerang lebih ganas ke arah Muslimin sehingga pertempuran keras terus berkobar. Akibatnya Muslimin terpukul mundur lagi, namun tidak bagi Ikrimah bin Abu Jahal yang berada disisi kiri satuan Abu Ubaidah.

Ikrimah bersama 400 Muslimin bersumpah untuk mati syahid dan maju memburu syahid ke dalam gelombang pasukan Bizantium. Setelah membunuh lebih dari 400 pasukan Bizantium, mereka pun syahid termasuk Ikrimah dan anaknya Amru. Jika ayah Ikrimah, Abu Jahal yang dikenal musuh yang getol meresahkan kaum Muslimin saat di Mekah, maka anaknya, Ikrimah justru menjadi penghuni surga yang diperebutkan bidadari-bidadari menawan hati.

Situasi kritis yang menimpa satuan Abu Ubaidah dan Yazid tidak membuat mereka patah arang dan lari dari medan tempur. Para mujahidah yang berjaga di belakang lantas berinisiatif untuk membantu mujahidin dan saudaranya di front terdepan. Beberapa yang bahkan ikut bertempur di barisan terdepan seperti Khaulah, Ummu Hakim dan lainnya. Mereka bertempur tanpa komando, kesadaran dan azzam mereka untuk berjihad berhasil menumbangkan beberapa orang Bizantium.

Saat senja bertandang, pertempuran pun usai, semua pasukan kembali

baraknya masing-masing. Jumlah pasukan yang mati di kedua belah pihak semakin bertambah dari hari sebelumnya. Pasukan Muslimin yang terluka bahkan jauh lebih banyak dari yang sehat tanpa luka. Khalid ra. pada hari itu merasakan luka yang mendalam atas syahidnya Ikrimah yang merupakan teman kecilnya dulu. Pertempuran hari itu menjadi perang yang paling keras dimana Bizantium hampir mencapai kemenangan, dan Khalid sangat tahu makna dibaliknya, masa kritis telah lewat.

Malam itu berjalan dengan tenang dan damai. Pasukan Muslimin sangat keletihan begitu banyak terluka. Abu Ubaidah, pimpinan tertinggi, biasanya memerintahkan komandannya untuk melakukan pengecekan pada penjaga pos terdepan. Namun pada malam itu ia menyadari semua komandannya keletihan sehingga ia sendiri, dengan menahan rasa letihnya yang amat sangat, pergi melakukan patrol sendiri ke pasukan-pasukan penjaga pos terdepan. Inilahsebuah teladan dari seorang pemimpin yang benar-benar kepercayaan umat.

Hari Kelima

Pada awal hari kelima, kedua pasukan membentuk formasi tempur seperti biasanya. Sebagian besar pasukan Muslimin sulit untuk berdiri tegak, bahkan ada yang sulit berdiri karena luka-luka. Kedua belah pihak membentuk barisan siap perang, namun tidak ada yang maju. Setelah lebih 2 jam berdiri, perang belum juga bergema. Tiba-tiba seseorang muncul dari tengah barisan Bizantium, utusan Mahan datang untuk menawarkan gencatan senjata dalam beberapa hari ke depan guna membicarakan kesepakatan perdamaian. Mahan berharap bisa bernegoisasi kembali dengan pasukan Muslimin.

Abu Ubaidah menerima dan menyetujui utusan itu, namun Khalid ra. menginterupsi dan menolak tawaran Bizantium dengan mengatakan;

“Kita akan menyelesaikan urusan ini segera!”

Hari itu merupakan hari istirahat dari pertempuran yang berlangsung hebat beberapa hari sebelumnya. Khalid ra. mengetahui bahwa Bizantium sudah tidak memiliki semangat bertempur lagi. Jika sebelumnya pasukan Muslimin hanya menggunakan strategi bertahan, maka kali ini Khalid ra. engubahnya menjadi strategi ofensif sebagai serangan balasan. Ia menyiapkan pasukan Muslimin untuk itu. Semua pasukan kavaleri dijadikan satu grup bersama mobile guard untuk melakukan serangan penuh. Semuanya berjumlah 8.000 ksatria tempur berkuda yang akan melakukan tekanan penuh pada hari berikutnya.

Khalid ra. merancang taktik besar. Ia akan mengerahkan kavalerinya untuk menghantam seluruh kavaleri Bizantium dan mengusirnya dari arena pertempuran. Sehingga Bizantium hanya memiliki pasukan infantri tanpa dukungan dan pertolongan kavaleri. Setelah itu ia akan menggerus pasukan infantri Bizantium dari sisi kiri dan belakang hingga tamatlah pasukan Romawi Bizantium.

Pasukan kuda Bizantium yang jumlahnya lebih besar ini akhirnya tercerai berai kemudian lari dari medan pertempuran ke arah utara, termasuk Mahan dan pasukan Jabalah.
Hari keenam

SINAR matahari merekah di ufuk timur saat kedua pasukan telah berhadap-hadapan untuk saling menghancurkan. Bendera tauhid Muslimin berhadapan dengan kibaran bendera kafir Bizantium. Ketika Khalid hampir menggaungkan sinyal penyerangan, tiba-tiba keluar dari pasukan Bizantium seorang komandan pasukan sayap kanannya, Gregorius untuk menantang duel.

Abu Ubaidah berazam untuk menghadapi sendiri sang penantang. Walaupun ia diperingatkan Khalid bahwa Gregorius seorang jagoan perang, Abu Ubaidah sama sekali tidak menyurutkan langkahnya untuk ikut andil dalam berburu syahid. Ia pun maju kemudian mulai saling beradu pedang di atas kuda dengan lawannya. Beberapa menit keduanya saling mengayunkan pedang untuk menebas musuh.

Gregorius mencoba melakukan gerakan tipuan saat mengayunkan pedangnya ke arah Abu Ubaidah, namun ia tidak mengetahui siapa lawannya. Secepat kilat Abu Ubaidah melakukan serangan ke arah leher Gregorius sehingga ia pun terjerembab mati terkapar.

Saat Abu Ubaidah kembali ke barisan Muslimin, Khalid ra. mewujudkan rencananya pada hari penentuan dari Perang Yarmuk dengan memerintahkan serangan umum. Seluruh pasukan Muslimin tumpah ruah menuju barisan Bizantium yang mengambil taktik defensif. Sementara pasukan Muslimin bagian tengah dan sayap kiri menggempur Bizantium seperti biasanya, Khalid keluar bersama kavalerinya dari sayap kanan pimpinan Amru, secepat kilat menghantam sisi kiri Bizantium. Kavaleri Khalid ra.memecah menjadi dua, 1 grup memukul infantri dan 1 grup menyerang kavaleri Bizantium yang berada di belakang infantri Bizantium. Pada saat yang sama Amru bin Ash mengerahkan seluruh kekuatan penuhnya menggempur frontal pasukan kiri Bizantium.

Pasuakan infantri sayap kiri Bizantium di bawah komando Qanateer, terdesak akibat diserang dari dua sisi, infantri Amru bin Ash dari depan dan kavaleri dari sisi kiri. Tanpa batuan kavaleri bizantium yang sibuk dengan serangan kuda Khalid, memaksa infantri Qanateer mundur ke belakang barisan tengah sebelah kiri Bizantium.

Kosongnya sayap kiri Bizantium, memudahkan Amru bin Ash memobilisasi pasukannya menghantam pasukan tengah sebelah kiri Bizantium.

Pasukan yang terdiri dari orang Armenia menjadi tertekan akibat gerusan Amru bin Ash dari sisi kiri, dan Syurahbil dari arah depan. Sementara pasukan kavaleri Bizantium sayap kiri telah lari keluar dari medan pertempuran ke arah utara akibat gempuran Khalid sang Pedang ALlah. Selepas mengusir kavaleri di belakang Qanater, Khalid mengarahkan pasukan berkudanya ke kavaleri Bizantium berikutnya. Mahan segera mengatur seluruh kavalerinya dalam satu grup besar untuk mengusir kavaleri Khalid ra.

Mahan belum selesai mengkonsolidasikan pasukan kavalerinya, Khalid ra. sudah datang menggempur dari arah depan dan sisinya. Pasukan Khalid lalu mengobrak-abrik barisan kavaleri Mahan. Sehingga pasukan kavaleri Mahan mengalami kekacauan barisan dan formasi. Hari masih pagi, pergumulan antar kedua pasukan makin intensif. Kali ini, pasukan Bizantium sangat tertekan akibat serangan gencar Muslimin. Ada satu yang yang kurang pada hari itu, para mujahidin tidak melihat keberadaan Dhirar, sang petarung tanpa tameng dan baju. Hanya Khalid yang mengetahui dimana posisinya.

Pasukan kuda Bizantium yang jumlahnya lebih besar ini akhirnya tercerai berai kemudian lari dari medan pertempuran ke arah utara, termasuk Mahan dan pasukan Jabalah. Maka tinggalah pasukan infantri tanpa bantuan dari pasukan kavaleri. Sebuah kondisi yang sangat gawat mendera pasukan Superpower Bizantium. Saat itu pasukan Armenia yang berada paling kiri, mampu menahan gempuran dua arah dari Syurahbil dan Amru. Ketahanannya teruji kuat.

Saat kaveleri Bizantium meninggalkan medan tempur, Khalid ra. memutar kavalerinya untuk menyerang pasukan inti infantri Bizantium (Armenia Mahan) dari arah belakang. Armenia dikenal sebagai petarung keras, dan sempat merepotkan Muslimin di hari kedua. Gempuran dua arah Muslimin belum mampu menghancurkannya, namun, saat diserang dari tiga sisi, Khalid dari belakang, Amru bin Ash dari kiri dan Syurahbil dari arah depan, serta tanpa bantuan kavaleri, kekuatan Armenia pun akhirnya patah dan melarikan diri juga ke arah Barat Daya.

Arah barat daya merupakan satu-satunya arah yang tidak dijaga oleh Muslimin, sehingga pasukan Armenia bergerak tanpa gangguan dan sama sekali tidak diburu oleh kavaleri Khalid. Mereka sama sekali tidak mengetahui sesuatu yang menanti mereka di bagian barat medan Yarmuk. Mundurnya pasukan Armenia semakin memudahkan pasukan Muslimin untuk menghancurkan formasi pasukan Bizantium yang tersisa. Mau tidak mau, pasukan sayap kanan dan pasukan tengah bagian kanan Bizantium pun ikut mundur ke arah barat.

Posisi matahari belum melewati tengah hari ketika pasukan Bizantium lari dengan rasa panik, sebagian yang lain mundur teratur dengan rapi. Khalid ra. langsung menggerakkan kavaleri ke arah utara untuk mengepung dan mengisolasi pasukan infantri Bizantium yang lari ke arah barat dimana sungai dengan jurang terjal menanti. Mereka menuju Wadi ar-Raqad, satu-satunya daerah yang bisa dilewati walaupun berbentuk jurang.

Pimpinan pelarian pasukan Bizantium berupaya menyeberangi tepi sungai kering yang terjal. Barisan terdepan berhasil melewati sungai dengan susah payah dan sedang berjuang mendaki tepi sungai sebelah barat. Saat mereka hampir mencapai puncak dengan rasa gembira, mereka melihat barisan Muslimin telah menanti di puncak dengan seorang pimpinan tanpa baju, sang jawara Dhirar, berdiri tegak dengan pedang terhunus.

Malam sebelum pertempuran di hari keenam, Khalid diam-diam menggerakkan 500 kavaleri pimpinan Dhirar menuju Wadi ar-Raqad untuk memblokir pasukan Bizantium yang kemungkinan lari ke arah tersebut. Sebuah rencana dan visi yang tajam dari seorang pemimpin. Terbukti, penempatan Dhirar membuahkan hasil, dimana pasukan Bizantium kehilangan jalan satu- satunya untuk melarikan diri.

Pasukan Romawi ditekan pasukan infantri Muslimin dari arah timur, dan kavaleri Khalid ra. dari arah utara, sebagian pasukan Bizantium masuk ke dalam jurang, sebagian bertempur dan menjadi korban. Pada fase terakhir pertempuran menjelang senja, seluruh pasukan Bizantium bertempur hingga titik darah penghabisan. Pertempuran kembali berkecamuk keras tanpa ada manuver apapun selain pertempuran frontal. Ruang gerak Bizantium semakin sempit karena tekanan Muslimin. Akhirnya, satu per satu pasukan Bizantium tumbang meregang nyawa.

Mimpi buruk mulai menghantui pasukan Bizantium, sehingga mereka kembali terdesak menuju jurang. Aroma kematian berikutnya merebak di sekitar jurang dimana pasukan Bizantium satu per satu masuk ke jurang karena desakan pasukan Muslimin. Akhirnya, ratusan ribu pasukan Superpower Bizantium menyerah pada puluhan ribu pasukan Muslimin yang jauh lebih sedikit jumlahnya. Berakhirlah perang terbesar dan terhebat yang dipimpin sang Pedang Allah, Khalid bin Walid.

Pertempuran usai persis yang diperkirakan oleh sang kaisar, Heraklius, “Ia (Muhammad) akan dapat memiliki tempat kedua kakiku berdiri ini.”

Sehari setelah perang Yarmuk, Khalid ra. menggerakkan mobile guard- nya mengejar sisa-sisa pasukan Bizantium. Mereka ditemukan di dekat Damaskus, Khalid pun menyerang pasukan Romawi yang melarikan diri, termasuk Mahan, Raja Armenia, Jendral tertinggi Bizantium, tewas dalam penyergapan Khalid. Sisa pasukannya terus melarikan diri ke arah utara dan pantai Mediterania di barat. Setelah melanjutkan perjanjian dengan Damaskus, Khalid lantas kembali ke Yarmuk.

Suriah jatuh ke tangan Muslimin, Heraklius dengan rasa sedih meninggalkan Antiokia menuju Konstantinopel, sebuah kota besar dunia yang satu milennium berikutnya pun berhasil ditaklukkan Muslimin.
3. Ulasan: Perang Terdahsyat Sepanjang Sejarah
Berbicara soal perang dahsyat, mungkin yang terpikir adalah perang-perang yang terkenal seperti Battle of Thermopylae, antara Leonidas dari Sparta melawan Xerxes penguasa Persia, yang dikemas secara …hiperbolis dalam film 300. Mungkin juga perang saudara antara pasukan Amerika Serikat melawan Konfederasi Amerika alias American Civil War. Atau yang paling terkenal Perang Dunia II.

Wajar kalau perang-perang tersebut lebih dikenal, saking seringnya difilmkan dan diangkat oleh berbagai media. Akan tetapi yang mengabadikan peperangan kaum muslimin jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Bahkan kalau dicari di google dengan keyword “the greatest battle”, atau “top ten war in history”, dll, sedikit sekali yang objektif dengan memasukkan peperangan kaum muslimin dalam daftar mereka. Padahal, banyak diantara peperangan yang dilakukan umat Islam itu dinilai sebagai salah satu pertempuran yang sangat berpengaruh dalam menentukan masa depan dunia.

Salah satu perang yang dianggap sangat menentukan alur sejarah peradaban dunia adalah perang Yarmuk (Battle of Hieromyax). Perang diakui oleh sejarawan Barat sebagai perang yang paling gemilang dalam sejarah. Bayangkan saja, pasukan yang jauh lebih kecil jumlahnya mampu membabat habis pasukan lawan yang jumlahnya jauh lebih besar melalui taktik dan strategi perang yang brilian.

Kemenangan Islam dalam perang Yarmuk juga semakin mengukuhkan prestasi sang Jendral, Khalid bin Walid, sebagai salah satu komandan kavaleri dan panglima perang terbaik sepanjang sejarah. Tak heran jika Erwin Rommel, komandan kavaleri Jerman dalam Perang Dunia II yang terkenal dengan Blitzkrieg (perang kilat) di Eropa, rupanya terinspirasi dari elite mobile guard-nya Khalid bin Walid. Dalam perang Yarmuk pun, pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid memegang kunci kemenangan.

Dalam Perang Yarmuk, Daulah Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab melawan Kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh Heraklius. Perang ini terjadi selama 6 hari penuh, tepatnya pada 15-20 Agustus 636 M, empat tahun setelah Rasulullah SAW mangkat. Medan pertempuran terletak di dataran Yarmuk, sebelah timur laut Galilee, 65 km dari dataran tinggi Golan. Perang ini dianggap sebagai perang yang sangat penting karena menandakan gelombang besar pertama penaklukan dan penyebaran Islam ke wilayah-wilayah di luar Jazirah Arab.

Ahli sejarah kemiliteran abad pertengahan asal Inggris, David Nicolle, dalam buku Yarmuk 636 A.D.: The Muslim Conquest of Syria, menjelaskan bahwa perang Yarmuk adalah turning point (titik balik) sejarah. Seandainya Bizantium yang menang, maka dominasi dan pengaruh peradaban Yunani-Romawi akan terus berlanjut di wilayah Timur Tengah, dan antara kontak bangsa Eropa dengan bangsa Asia Timur –yang dibuka oleh peradaban Islam- akan tertunda.

Seandainya pasukan Muslim kalah di Yarmuk, penaklukan kaum Muslimin ke Mesir dan Palestina akan tertahan, bahkan mungkin tidak akan terjadi untuk jangka waktu yang lama. Kekalahan di perang Yarmuk juga akan mempengaruhi kekuatan kaum Muslimin dalam perang Qadisiyah, yang terjadi tiga bulan setelah perang Yarmuk. Atau malah perang Qadisiyah tidak terjadi sama sekali. Seandainya dalam perang Qadisiyah pasukan Islam dikalahkan juga, maka Islam tidak akan menyebar ke wilayah Mesopotamia dengan mulus. Akibatnya agama Islam akan tertahan di wilayah Arab untuk sementara.

Padahal, setiap penyebaran Islam melalui penaklukan yang dilakukan kaum Muslimin selalu diikuti dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Catatan sejarah menunjukkan setiap daerah yang ditaklukkan Daulah Islam berkembang dengan sangat cepat, bahkan beberapa diantaranya menjadi mercusuar peradaban dunia, seperti Cordova dan Baghdad. Kalo saja penyebaran Islam tertahan di wilayah Arab, bisa-bisa wilayah di luar jazirah Arab masih zamannya Flinstone sampe sekarang. Makanya, jangan parno dulu dengan kata jihad karena sesungguhnya penaklukkan yang dilakukan oleh Khilafah kelak semata-mata untuk kebaikan masyarakat dunia. Catet tu![Ishaak]

Lima Banding Satu

Perang Yarmuk menunjukkan bahwa jumlah pasukan tidak menjamin kemenangan dalam sebuah pertempuran. Jumlah pasukan Islam saat itu sekitar 24.000 – 40.000 orang, sementara pasukan Bizantium berjumlah sekitar 100.000 – 400.000 orang, yang terdiri dari gabungan tentara Bizantium, dan orang-orang Armenia, Slavia, Franks, Georgia, dan Kristen Arab Ghassan. Akan tetapi berkat strategi perang yang brilian, perjuangan yang gigih, serta pertolongan dari Allah SWT, pasukan Islam yang berjumlah jauh lebih sedikit itu mampu memporakporandakan pasukan Bizantium.

Perkiraan modern menyebutkan bahwa pasukan Bizantium yang binasa mencapai 45%, sementara pasukan Islam hanya kehilangan 4000 mujahidin saja. Dengan kemenangan dalam perang ini wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia akhirnya dikuasai oleh Kekhalifahan Islam, yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Panglima Islam dan Romawi Perang Yarmuk

Perang Yarmuk adalah perang yang melibatkan antara pasukan muslim arab melawan tentara Kerajaan Romawi Timur (Byzantine), kerajaan super power kala itu. Perang ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab yaitu pada tahun 636 Masehi. Perang ini termasuk peristiwa penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menyebabkan kembalinya wilayah Damaskus dan takluknya wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia ketangan islam, serta pesatnya perkembangan islam keluar jazirah arab. Dalam perang ini juga

terdapat beberapa peristiwa menarik dan heroik, diantaranya komandan perang tentara romawi yang bernama Jurjah yang pindah islam dan berjihad bersama pasukan islam dan kemenangan pasukan muslim yang berjumlah tak lebih dari 45.000 pasukan menang melawan pasukan romawi yang berjumlah sekitar 240.000 pasukan bersenjata lengkap. Perang ini disebut Perang Yarmuk karena perang ini terjadi di sungai Yarmuk, sebuah sungai penyumbang aliran ke sungai Yordan.

Pasukan Islam dibawah komando Khalid bin Walid tidak gentar sediikitpun untuk menghadapi pasukan Romawi Timur dibawah pimpinan raja Heraklius. Padahal pada saat itu pasukan islam hanya berjumlah tidak lebih dari 45.000 pasukan. Sedangkan pasukan Romawi berjumlah sekitar 240.000 tentara multinasional kekaisaran yang terdiri dari berbagai wilayah, diantara Armenia, Slavia, Kristen Arab Ghassanid dan pasukan romawi timur biasa.

Sebelum berperang, pasukan muslim berkumpul dan Khalid bin Walid ra. Berpidato, “Sesungguhnya ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak sepantasnya ada kesombongan dan kezaliman. Ikhlaskan niat jihad kalian dan tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amal kalian!” Panglima terkuat didunia ini kemudian mengangkat panji-panji islam seraya menyerukan semangat takbir untuk berjihad. Perang yarmuk terjadi dengan sangat sengitnya, walaupun pasukan romawi yang seakan tidak habis-habisnya turun dari gunung untuk menghancurkan pasukan islam, namun pasukan romawi tidak mampu mengalahkan pasukan islam. Perang ini memperlihatkan betapa besarnya semangat perjuangan para pasukan muslimin dengan rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi agama islam. Padahal dalam hitungan-hitungan matematik, pasukan islam yang hanya berjumlah 45.000 pasukan harus mengalahkan pasukan 240.000 pasukan romawi yaitu sama dengan satu orang harus mengalahkan 6 musuh. Namun kelebihan pasukan muslim saat itu adalah lebih bersatu dan kompak dibanding dengan pasukan musuh yang terdiri dari pasukan multinasional.

Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 45.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh. Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab Utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai ketua tentara Romawi telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan. Romawi juga menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Rom dikenal sebagai ‘legions’, yang satu bagiannya terdapat 3000-6000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan dan ‘tentara bergajah’. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi.

Kehebatan Khalid bin Walid dimedan perang dalam mengatur pasukan dan strategi sungguh gemilang dan membuat para komandan romawi tercengang. Salah satunya adalah Jurjah/Gregious Theodore. Jurjah pun mengundang Khalid bin Walid untuk bertemu disaat masa istirahat perang. Saat keduanya bertemu. Komandan pasukan romawi itu pun bertemu bertanya pada Khalid bin Walid.

Jurjah : “Wahai Khalid, jawablah dengan jujur dan jangan berbohong karena seorang yang merdeka tidak akan berbohong dan jangan pula engkau tipu aku karena seorang yang mulia tidak akan menipu orang yang berharap secara baik-baik. Demi Allah, apakah Allah pernah menurunkan sebuah pedang dari langit kepada Nabi-Nya lalu diberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau hunuskan pada suatu kaum engkau pasti bisa mengalahkannya?”.

Khalid : menjawab,”tidak.”
Jurjah : Kalau demikian, kenapa engkau dijuluki pedang Allah?”
Khalid : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya pada kami lalu ia menyeru kami, tapi kami lari dan menjauh darinya. Kemudian sebagian dari kami memercayai dan mengikutinya dan sebagian lagi menjauh dan mendustakannya. Mulanya aku termasuk yang mendustakan, menjauh, bahkan memeranginya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya. Kemudian beliau bersabda, “Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada kaum musyrikin.”

Jurjah : “Engkau telah jujur, Wahai Khalid, beritahukanku, kepada apa kalian mengajak?”
Khalid : “Kepada syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya serta membenarkan segala hal yang dibawanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Jurjah : “Khalid, Ajarkan aku Islam.”

Akhirnya Jurjah/Gregious Theodore seorang komandan Romawi Timur masuk islam. Dia berwudlu lalu melaksanakan sholat dua rakaat kepada Allah dan hanya itu sholat yang dia kerjakan. Peperangan dimulai kembali dan akhirnya berjihad bersama pasukan muslim melawan bekas pasukannya tersebut. Jurjah berperang habis-habisan hanya untuk Allah SWT, dan dia pun meninggal oleh bekas pasukannya sendiri. Dia berhasil mengejar impiannya, yaitu mati secara syahid.

Peristiwa Gergorius Teodorus

Panglima Gergorius Teodorus itu dipanggil di dalam literatur Arab dengan Jirji Tudur/Jarajah. Pada suatu hari iapun keluar dari perkemahan pasukan Romawi dengan peralatan perangnya, turun dari kudanya dan menancapkan panji-panjinya ditengah medan, lalu menyerukan Panglima Besar Khalid supaya keluar untuk menghadapinya.

Panglima Gergorius itu ikut dalam perang Romawi-Persia yang belasan tahun lamanya dan karena senantiasa bergaul dengan lapisan bangsawan sukubesar Ghassani dalam medan-medan pertempuran itu maka lambat laun menguasai bahasa Arab dialek Syam (Palestina/Syiria). Gergorius juga sudah mendengar kabar ‘kesaktian’ Khalid bin Walid yang dijuluki ‘Pedang Tuhan’. Gergorius menantang Khalid karena penasaran apa hebatnya Khalid sehingga kabar tentang sosok Khalid tersiar dimana-mana. Khalid sosok panglima paling ditakuti saat itu karena tersiar kabar tak ada yang bisa mengalahkan Khalid, tak ada pasukan manapun yang tak bisa dikalahkan pasukan Khalid bin Walid. Kabar tersiar bahwa kehebatan Khalid karena dia memilik ‘Pedang’ yang langsung turun dari langit pemberian Allah sehingga dijuluki ‘Pedang Allah’.

Tantangan Panglima Gergorius itu diterima oleh Panglima Khalid dan lalu maju ketengah medan mengendarai kudanya.

Perang tanding itu berlangsung beberapa jurus lamanya. Tombak Panglima Gergorius itu akhirnya patah dua ditabas khanjar Panglima Khalid dan segera diganti dengan pedang berat.

Pada suatu kali, sewaktu pedang bersilang dan kuda bersisi-sisian dan saling tolak menolakkan pedang bagaikan penca-jari diatas meja, maka ahli sejarah sehabis pertempuran Yarmuk yang terkenal itu, mencatat percakapan yang berlangsung diantara keduanya berbunyi sebagai berikut:

“Hai Khalid! Coba katakan dengan benar dan jangan bohongi saya. Seorang merdeka tidak layak berbohong. Dan jangan tipu saya. Seorang mulia tidak layak menipu. Coba katakan: Apakah betul Allah telah turun kepada Nabimu membawa pedang dari Langit dan lalu menyerahkannya kepada Anda sehingga anda beroleh panggilan Pedang Allah. Setiap Anda mencabut pedang itu maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!?”

“Bukan!”

“Lantas kenapa Anda dipanggilkan Pedang Allah.”

Panglima Khalid menatap lawannya itu, dan bagaikan timbul saling pengertian, lantas keduanya menghentikan saling adu tenaga itu dan Panglima Gergorius minta dijawab pertanyaannnya itu.

“Allah Maha Agung dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Bermula kami menantangnya dan memusuhinya. Sebagian diantara kami beriman dan mengikutinya. Aku termasuk pihak yang mendustakannya, memusuhinya dan memeranginya. Akan tetapi Allah kemudian menurunkan hidayah kedalam hatiku dan akupun beriman dan menjadi pengikutnya. Nabi Muhammad lalu berkata kepadaku: Engkau sebuah pedang diantara sekian banyak pedang Allah, terhunus bagi menghadapi kaum Musyrik. Ia mendoakan aku supaya tetap menang. Tersebab itulah aku dipanggilkan Pedang Allah.”

“Saya dapat menerima keterangan Anda itu daripada mendengarkan dongengan tentang diri Anda” ujar Gergorius. Iapun menyusuli lagi dengan sebuah pertanyaan: “Didalam menjalankan tugas anda itu, maka seruan (dakwah) apakah yang Anda ajukan?”

“Mengakui bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah”

“Jika tidak bersedia menerimanya?”

“Membayar Jizyah, mengakui kekuasaan Islam, dan kami berkewajiban menjamin hak-hak miliknya dan nyawanya dan keyakinan yang dianutnya.”

“Jika tetap tidak bersedia menerimanya?”

“Pilihan lainnya adalah perang dan kami siap untuk perang.”

“Bagaimana kedudukan (al-Manzilat) dari seseorang yang masuk ke dalam lingkungan kamu dan menerima pilihan pertama (masuk Islam) itu pada hari ini, apakah sama kedudukannya dengan yang lainnya (yang duluan masuk Islam) dalam segala hal?”

“Ya, benar.”

“Kenapa bisa sama dengan kamu, sedangkan kamu sudah lebih duluan dari padanya?”

“Kami memeluk Islam dan mengikat bai’at terhadap Nabi Muhammad. Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesarannya dan mukjizat-mukjizat bagi pertandaan kebenarannya. Sedangkan yang sekarang masuk Islam, orang itu tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad dan tidak pernah menyaksikan mukjizat dan kebesarannya itu, tetapi ia membenarkannya. Jikalau masuk Islamnya itu jujur dan niatnya jujur maka sebetulnya dia lebih mulia daripada kami.”

“Keterangan Anda bersifat benar, tidak menipu, tidak membujuk. Demi Allah, saya terima ajakan yang pertama itu (masuk Islam)”

Sejarah mencatat bahwa Panglima Gergorius Teodorus itu melemparkan perisainya dan lalu berangkat bersama Khalid ke dalam perkemahan pasukan Islam. Khalid menyediakan satu bejana air lalu menyuruhnya mandi, kemudian shalat bersamanya dua rakaat.

Sejarah mencatat bahwa pada saat pecah Pertempuran Yarmuk yang terkenal itu, Gergorius Teodorus bahu membahu dengan Panglima Khalid dan Syahid dalam pertempuran.
Peristiwa Heroik

Masih banyak peristiwa yang heroik dalam perang ini, diantaranya kisah Asma binti Yazid bin As-Sakan seorang perempuan islam bersama para kaum muslimah yang bertugas dalam memnyuplai logistik, senjata dan medis untuk para pasukan islam yang terluka. Dalam kisahnya dia juga membantu pasukan islam untuk melawan serta membunuh 9 tentara romawi. Dia mengetahui bahwa dia hanya seorang perempuan dan bukan pasukan perang. Sehingga dia tidak memiliki pedang maupun tombak. Akhirnya dia berperang, masuk dalam medan perang hanya dengan menggunakan tongkat tenda. Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar.

Masih ada kisah yang menarik, yaitu Ikrimah bin Abu Jahal, Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya, sampai ada yang mengatakan kepadanya, ”Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu.” Tapi Ikrimah menukas, “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Ikrimah akhirnya gugur sebagai syuhada, dengan luka tidak kurang dari 70 tikaman pedang, tombak dan anak panah setelah berjuang habis-habis membela dan memperjuangkan agama islam.

Perang pun dimenangkan oleh pasukan muslim. Kemenangan yang sangat mengagumkan. Betapa hebatnya pasukan muslim yang hanya seper-enamnya dari pasukan Kristen harus melawan musuh dengan senjata yang lebih hebat. Namun semua ini adalah kekuasaan Allah SWT. Ini adalah bukti yang nyata bahwa sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas bantuan Allah pasukan islam mampu mengalahkan pasukan Kekaisaran Romawi Timur. Perang ini pun membuat kembalinya wilayah Damaskus. Tidak hanya itu, perang ini juga menyebabkan islam berhasil merebut wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia dari genggaman Kekaisaran Romawi Timur.

Ketika bencana ini terdengar Heraklius di Antioch, mengucapkan selamat tinggal kepada Suriah, berkata, “Selamat tinggal Suriah, provinsiku yang indah. Kau adalah seorang musuh sekarang”, dan dia meninggalkan Antiokia ke Konstantinopel. Heraklius mulai memusatkan pasukannya untuk mempertahankan Mesir.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Khalid diberhentikan tugasnya dari medan perang dan diberi tugas untuk menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar agar Khalid tidak terlalu didewakan oleh kaum Muslimin pada masa itu, setelah menjadi pahlawan perang yarmuk. Khalid menyerahkan kembali kepemimpinan kepada Amin al-Ummah, Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Khalid tetap menjadi seorang tentara yang jenius dan legendaris. Keikhlasannya tidak kurang dan semangatnya tak pernah melemah. Ia tak pernah kekurangan ide-ide hebat karena ia adalah pedang Allah dan seorang pejuang Islam sejati.
4. Takluknya Kerajaan Romawi dibawah Pasukan Islam
Dalam perang Yarmuk, pasukan Romawi memiliki tentara yang banyak, pengalaman perang yang mumpuni, peralatan perang yang lengkap, logistik lebih dari cukup, namun dapat dikalahkan oleh pasukan kaum muslimin, dengan izin Allah SWT.

Ini adalah bukti yang nyata bahwa sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen.
Pengangkatan Khalid bin Walid

Khalid_bin_Walid Entah apa yang ada di benak Khalid bin Walid ketika Khalifah Abu Bakar ra. menunjuknya menjadi panglima pasukan sebanyak 46.000 orang tersebut. Hanya Abu Bakar ra. dan Allah saja yang tahu kiranya. Khalid tak hentinya ber-istighfar. Ia sama sekali tidak gentar dengan peperangan yang akan ia hadapi, 240.000 tentara Bizantium. Ia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatan itu.

Kaum muslimin tengah bersiap menyongsong Perang Yarmuk sebagai penegakan izzah Islam berikutnya. Hampir semua tentara muslim gembira dengan penunjukan itu. Selama ini memang Khalid bin Walid adalah seorang pemimpin di lapangan yang tepat. Abu Bakar pun tidak begitu saja menunjuk pejuang yang berjuluk Pedang Allah itu. Sejak kecil, Khalid dikenal sebagai seorang yang keras.

Padahal ia dibesarkan dari sebuah keluarga yang kaya. Sejak usia dini, ia menceburkan dirinya ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Hanya Khalid bin Walid lah seorang yang pernah memporak-porandakan pasukan kaum muslimin, semasa ia masih belum memeluk Islam dalam perang Uhud.

Strategi Perang Kaum Muslimin

ikhwan_4-1Khalid bin Walid sekarang memutar otak. Bingung bukan buatan. Tentara Bizantin Romawi berkali-kali lipat banyaknya dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Ditambah, pasukan Islam yang dipimpinnya tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjatakan lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Dan mereka akan berhadapan di dataran Yarmuk.

Tentara Romawi yan hebat itu berkekuatan lebih dari 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 45.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 rombongan besar untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab Utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai ketua tentara Romawi telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Romawi juga menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Romawi dikenal sebagai ‘legions’, yang satu bagiannya terdapat 3000-6000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan ‘tentara bergajah’. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Jalannya Peperangan

Panglima Romawi, Gregorius Theodore -orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Ia menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ia ganti mengambil pedang besar. Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang serta tentang Islam.”Allah”, jawab Khalid.

Mendengar jawaban Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, lalu bertempur di samping Khalid. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Pada perang Yarmuk, Az-Zubair bertarung dengan pasukan Romawi, namun pada saat tentara muslim bercerai berai, beliau berteriak: “Allahu Akbar” kemudian beliau menerobos ke tengah pasukan musuh sambil mengibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan, anaknya Urwah pernah berkata tentangnya :

“Az-Zubair memiliki tiga kali pukulan dengan pedangnya, saya pernah memasukkan jari saya didalamnya, dua diantaranya saat perang badar, dan satunya lagi saat perang Yarmuk”.

Salah seorang sahabatnya pernah bercerita :

“Saya pernah bersama Az-Zubair bin Al-’Awwam dalam hidupnya dan saya melihat dalam tubuhnya ada sesuatu, saya berkata kepadanya : Demi Allah saya tidak pernah melihat badan seorangpun seperti tubuhmu. dia berkata kepada saya : Demi Allah tidak ada luka dalam tubuh ini kecuali ikut berperang bersama Rasulullah saw dan dijalan Allah.

Dan diceritakan tentangnya : sesungguhnya tidak ada gubernur/pemimpin, penjaga dan keluar sesuatu apapun kecuali dalam mengikuti perang bersama Nabi saw, atau Abu Bakar, Umar atau Utsman.

Hari ke-4, Hari Hilangnya Mata

Peristiwa ini terjadi pada hari keempat perang Yarmuk, dimana dari sumber ini dikabarkan 700 orang dari pasukan Muslim kehilangan matanya karena hujan panah dari tentara Romawi. Dan hari itu merupakan hari peperangan terburuk bagi pasukan Muslimin.

Hari ke-6, Terbunuhnya Gregory, Komandan Pasukan Romawi

Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke empat Agustus tahun 636 M (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar, dan mengetahui niat komandan mereka untuk menyerang dan sesuatu di dalam rencananya, tak sabar untuk segera berperang. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada ’Hari Hilangnya Mata’. Di hadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka.

Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata,

”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!

Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat, dan meang terlihat seperti itu. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid,

”Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”

Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah. Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya.

Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah. Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory.

Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Ia ditebas tepat pada batang lehernya oleh Abu Ubaidah, dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah. Untuk beberapa saat Abu Ubaidah duduk diam di atas kudanya, takjub pada tubuh besar jendral Romawi tersebut. Kemudian demgan meninggalkan perisai dan senjata yang berhiaskan permata orang Romawi itu, yang diabaikannya karena kebiasaannya tidak memandang berharga harta dunia, prajurit yang shalih itu kemudian kembali kepada pasukan Muslimin.

Kepahlawanan Asma binti Yazid bin As-Sakan

Keinginannya untuk terjun ke medan jihad baru terwujud setelah Rasulullah saw wafat, yaitu ketika terjadi perang Yarmuk pada tahun ke-13 Hijriyyah. Dalam perang besar (Yarmuk) itu Asma binti Yazid bersama kaum mukminah lainnya berada di barisan belakang laki-laki. Semuanya berusaha mengerahkan segenap kekuatannya untuk mensuplai persenjataan pasukan laki-laki. Memberi minum kepada mereka, mengurus mereka yang terluka, dan mengobarkan semangat jihad mereka. Ketika peperangan berkecamuk dengan begitu serunya, ia berjuang sekuat tenaganya. Akan tetapi, dia tidak menemukan senjata apapun, selain tiang penyangga tendanya. Dengan bersenjatakan tiang itulah, dia menyusup ke tengah-tengah medan tempur dan menyerang musuh yang ada di kanan dan kirinya, sampai akhirnya dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi.

Dalam bagian lain beliau berkata:

“Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.” Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: “Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa .Tidak akan kalian lihat tawanan. Tidak pula perlindungan. Tidak juga keridhaan”

Beliau juga berkata dalam bagian lain: “Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang”.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar,

”Dia adalah asma binti Yazid bin As-Sakan yang ikut terjun dalam perang Yarmuk. Pada hari itu dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi dengan menggunakan tiang tendanya. Setelah perang Yarmuk ia masih hidup dalam waktu yang cukup lama. Asma keluar dari medan pertempuran dengan luka parah sebagaimana juga banyak dialami pasukan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah berkehendak ia tetap hidup dalam waktu yang cukup lama. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Asma binti Yazidd bin As-Sakan dan memuliakan tempatnya di sisi-Nya atas berbagai Hadits yang diriwayatkannya dan atas segala pengorbanannya.

Akan tetapi manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma` lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah dan mampu berjihad dengan mencurahkan dengan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya dan berbaur dengan barisan kaum muslimin. Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau: “Dialah Asma` binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut.

Asma` keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan kepada umat.

Dia telah berbuat sesuatu agar dijadikannya contoh bagi wanita muslimah lainnya, yaitu kerelaan dan tekadnya yang kuat untuk membela dan mempertahankan agama Allah dan mengangkat panji Islam sampai agama Allah tegak di muka bumi.

Kisah Rela Berkorban untuk Saudara Seiman

Setelah perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin, di medan Yarmuk tergeletak beberapa pejuang Islam, sahabat Rasulullah saw dengan badan penuh luka. Mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahal, disekujur tubuhnya tidak kurang ada 70 luka, Al Harits bin Hisyam (paman Ikrimah) dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amru.

Saat ketiganya sedang letih, lemah, dan kehausan serta dalam keadaan kritis, datanglah seorang yang mau memberikan air kepada salah seorang diantara mereka yang sedang kepayahan.

Ketika air akan diberikan kepada Al Harits dan hendak diminumnya, dia melihat Ikrimah yang sedang kehausan dan sangat membutuhkan, maka dia berkata, “Bawa air ini kepadanya !”.

Air beralih ke Ikrimah putra Abu Jahal, ketika dia hendak meneguknya, dilihatnya Ayyasy menatapnya dengan pandangan ingin minum, maka dia berkata, “Berikan ini kepadanya !”.

Air beralih lagi kepada Ayyasy, belum sempat air diminum, dia sudah keburu syahid. Maka orang yang membawa air bergegas kembali kepada kedua orang yang membutuhkan air minum, akan tetapi ketika ditemui keduanya juga sudah syahid.

Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan:

“Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.”

Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga.

Gugurnya Ikrimah bin Abu Jahal

Ikramah-320x532Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah Subhanahu wa Ta’ala menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.

Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin Al-Walid saudara sepupunya berkata: “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.” Kata ‘Ikrimah: “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

‘Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.

Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk: “Aku dahulu memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.)?” Lalu dia berseru: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?” Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.

Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.

Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.”

Tapi ‘Ikrimah menukas:

“Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.”

Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai ‘Ikrimah.

Setelah Peperangan

Umar bin Khattab kemudian memecat Khalid, dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Besar pengganti. Umar khawatir, umat Islam akan sangat mendewakan Khalid. Hal demikian bertentangan prinsip Islam. Khalid ikhlas menerima keputusan itu. “saya berjihad bukan karena Umar,” katanya. Ia terus membantu Abu Ubaidah di medan tempur. Kota Damaskus berhasil dikuasai. Dengan menggunakan “tangga manusia”, pasukan Khalid berhasil menembus benteng Aleppo. Kaisar Heraklius dengan sedih terpaksa mundur ke Konstantinopel, meninggalkan seluruh wilayah Syria yang telah lima abad dikuasai Romawi.

Penguasa Yerusalem juga menyerah. Namun mereka hanya akan menyerahkan kota itu pada pemimpin tertinggi Islam. Maka Umar pun berangkat ke Yerusalem. Ia menolak dikawal pasukan. Jadilah pemandangan ganjil itu. Pemuka Yerusalem menyambut dengan upacara kebesaran. Pasukan Islam juga tampil mentereng. Setelah menaklukkan Syria, mereka kini hidup makmur.Lalu Umar dengan bajunya yang sangat sederhana datang menunggang unta merah. Ia hanya disertai seorang pembantu. Mereka membawa sendiri kantung makanan serta air.

Kesederhanaan Umar ra. itu mengundang simpati orang-orang non Muslim. Apalagi kaum Gereja Syria dan Gereja Kopti-Mesir memang mengharap kedatangan Islam. Semasa kekuasaan Romawi mereka tertindas, karena yang diakui kerajaan hanya Gereja Yunani. Ketika ditawari bersembahyang di gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan: “Kalau saya berbuat demikian, kaum Muslimin di masa depan akan melanggar perjanjian ini dengan alasan mengikuti contoh saya.” Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen. Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun.

Maka, Islam segera menyebar dengan cepat ke arah Memphis (Kairo), Iskandaria hingga Tripoli, di bawah komando Amr bin Ash dan Zubair, menantu Abu Bakar ra..


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: