Filsafat Berfikir

KEKAISARAN OTTOMAN | Januari 1, 2016

KEKAISARAN OTTOMAN

SUMBER: cahyosetiadi.wordpress.com

Dan Lainnya

Osmanli Imparatoroglu, demikian orang Turki menyebutnya. Ottoman Empire, demikian dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia artinya adalah Kekaisaran Ottoman. Umat muslim mengenalnya sebagai Kekhalifahan Utsmani.

Empire, Imparatoroglu, atau Kekaisaran adalah sebuah istilah yang menunjukkan kerajaan dengan kekuasaan yang sangat luas. Kita mengenal Kekaisaran Romawi (Roman Empire), Kekaisaran Jerman (Holy Roman Empire), atau Kekaisaran Cina (berbagai dinasti). Osmanli atau Utsmani merupakan kata yang menunjukkan nasab/silsilah dari penguasa kerajaan tersebut, yaitu anak cucu Utsman (Osman dalam bahasa Turki). Penggunaan nasab/silsilah sebagai nama bagi kerajaan memang lazim digunakan pada saat itu, misal Kekhalifahan Abbasiyah (keturunan Abbas R.A) atau Fatimiyah (Keturunan Fatimah.
Ertughrul: Keputusan Yang Penting

Utsmani/Ottoman sesungguhnya adalah sebuah bentuk kerajaan/kesultanan. Sejarahnya hampir sama dengan sejarah awal berdirinya Kerajaan Metaram Islam. Kisah itu dimulai dari Ertughrul, leluhur para sultan Ottoman. Ertughrul adalah termasuk bangsa turki yang bermigrasi dari Asia Tengah ke daerah Anatolia. Di wilayah ini pada saat itu terdapat dua kekuasaan politik yaitu Bani Seljuq dan Byzantium. Ertughrul bersama pasukan dan pengikutnya bergabung dan mengabdi kepada Sultan Bani Seljuq. Ia kemudian diberi daerah Ekisyehir di daerah antara Seljuq dan Byzantium, antara Anatolia dan Nice.
Kisahnya adalah sebagai berikut, saat sedang memimpin kelompoknya melintasi Anatolia, Ertughrul melihat terdapat kepulan asap di kejauhan. Ia mendekati kepulan asap tersebut dan melihat Pasukan Seljuq sedang menghadapi bangsa Mongol. Ertughrul saat itu mengambil keputusan bersejarah untuk ikut campur dalam pertempuran tersebut dan membela Seljuq. Akhirnya Seljuq menang dan ia mendapatkan hadiah sebagaimana yang telah disebutkan. Kita lihat, sebuah keputusan mempengaruhi sejarah manusia

Osman: Leleluhur Para Ottomans

Seperti lazimnya sistem pengisian jabatan di zaman dahulu, yaitu dengan penunjukkan dan setelahnya diwarisi turun temurun, kepemimpinan Ertughrul diwarisi oleh anaknya Osman. Osman bergelar Osman Gazi atau panglima Osman karena pada kenyataannya Osman memang setingkat panglima dalam hirarki di Bani Seljuq. Saat kekuasaan Bani Seljuq melemah, para panglima yang dulunya diberi daerah kekuasaan oleh Sultan Seljuq mendirikan kesultanan sendiri, yang disebut Kesultanan Ghazi. Ini mirip dengan pendirian Kesultanan Pajang dan Metaram saat Kesultanan Demak Bintoro melemah.
Sebenarnya Osman telah diberikan kekuasaan otonom oleh Sultan Seljuq di wilayahnya. Ia diberikan kuda, dan panji, dan drum sebagai lambang kekuasaan. Kutbah Jumat di wilayahnya juga mendoakannya bahkan ia bisa mencetak uang atas namanya. Sehingga saat Seljuq meredup wajar jika kekuasaan Ottoman muncul ke permukaan.

Inilah awal bedirinya kekuasaan Ottoman di wilayah Anatolia. Oleh karena itu yang tercatat sebagai sultan pertama Ottoman adalah Sultan Osman Ghazi. Demikian pula kesultanan tersebut menabalkan namanya berdasar nama Osman, Osmanli/Utsmani.
Sultan Osman Gazi (1299-1324)
Osman adalah seorang yang kuat, sehingga ia digelari Kara (literal: hitam, maksudnya adalah kuat), Kuatnya Osman sangat dikenal, hingga dahulu muncul ungkapan orang tua kepada anaknya, “Semoga Engkau sekuat Osman!”.

Pada Osman, ibukota kekuasaan yang awalnya di daerah Sogut dipindahkan ke Busra dan kekuasaan Ottomanpun terus membesar. Ottoman berhasil menaklukkan Gemlik dan meletakkan dasar yang kuat bagi berlangsungnya sebuah kesultanan Ottoman.

Satu yang sering tidak disebut di buku sejarah, bahwa Osman adalah orang yang cukup religius. Ia selalu mendengarkan nasehat seorang Syaikh, yaitu Syaikh Edebali. Ia sering datang ke rumah beliau dan mendengarkan nasihat beliau atau berkumpul bersama grup darwis (sufi) di rumah beliau.
Suatu hari saat sedang menginap di tempat Edebali, Osman bermimpi, ia melihat bulan turun ke dada Edebal. Cahayanya berkembang hingga ke dada Osman. Dari sana tumbuh pohon yang besar, hijau, dan banyak cabangnya. Bayangan pohon tersebut menutupi seluruh dunia. Esoknya Osman segera menanyakan tafsiran mimpinya kepada Edebali. Lalu Syaikh menyatakan bahwa Alloh telah memberikan kekuasaan kepada Osman dan anak-anaknya. Dunia akan berada di bawah perlindungan anak cucunya. Selain itu, mimpi mengisyarakan Syaikh agar menikahkan putrinya kepada Osman. Ternyata tafsiran Syaikh atas mimpi ini menjadi kenyataan. Keturunan Osman memang memerintah wilayah yang sangat luas, dari Jazirah Arab ke Wina, dari Aljazair ke Iraq. Membentang di tiga benua.

Orhan Sang Penakluk

Setelah Osman wafat, beliau digantikan oleh Orhan. Seperti ayahnya, Orhan bergelar Sultan Orhan Ghazi. Beliau memiliki beberapa isteri dan beberapa di antaranya adalah ningrat Byzantum. Misalnya Teodora, putri dari Kaisar Byzantium John VI Kantakouzenos. Atau isteri keduanya, Holofira, yang merupakan puteri Pengeran Byzantium di Yarhisar. the daughter of the Byzantine Prince of Yarhisar. Legendanya, Holofira ini meninggalkan upacara pernikahannya dengan Pangeran Bilecik dan beralih ke Orahan. Saya membayangkan ini seperti kisah-kisah cinta masa kini. Mungkin Orhan itu orangnya tampan sehingga Holofira kepincut sampai-sampai meninggalkan upacara pernikahannya. Setelah menikah dengan Orhan, Holofira menjadi muslimah dan berganti nama menjadi Nilufer Hatun. Nilufer inilah yang melahirkan Murad, penggati Orhan nantinya.

Awalnya Orhan bermusuhan dengan Kaisar Byzantium, Andronicus III dan berhasil menaklukkan sebagian besar kekuasaan Byzantium di Asia Kecil, seperi Nice dan Izmit. Tapi kemudian beliau menjalin aliansi dengan John VI Kantakouzenos.

Sultan Orhan Ghazi (1324-1361)

Ceritanya, Raja John VI ini awalnya tidak memiliki ambisi menjadi Kaisar, tetapi ia orang yang berpengaruh di kalangan pemerintahan. Ia hanya menjadi kepala pemerintahan administratif sampai calon kaisar yang masih muda naik tahta. Tetapi beberapa kalangan dekat Ratu, ibu dari calon kaisar yang masih kecil, curiga pada motivasi dari John VI, juga sang Rati sendiri. Sehingga saat John VI berkunjung ke Morea, pasukannya di ibu kota dihancurkan dan ia dinyatakan sebagai kriminal. Kaisar yang kecilpun segera dinobatkan.

Hal ini membawa perang sipil karena para pendukung John tidak mau menuruti keputusan sepihak tersebut. John IV mencari bantuan dari negara-negara tetangganya. Ternyata Ottomanlah yang menyanggupi membantunya. Mungkin pernikahan putrinya, Teodora adalah dalam rangka mengukuhkan ikatan aliansi tersebut.

Ternyata Ottoman pertama kali menginjakkan kaki di Eropa dalam rangka membantu sekutunya Kaisar John VI Kantakouzenos ini. Ottoman kemudian mendapatkan daerah di Galipoli. Selain membantu John VI Kantakouzenos memenangkan perang sipil, Ottoman juga membantunya melawan Stephen Uros IV Dusan dari Serbia yang memanfaatkan situasi genting di Byznaitum untuk menduduki wilayah-wilayahnya.

Murad Sang Kaisar (Hudavendigar)

Baru saat sultan ketiga naik tahta, Murad I, beliau mulai mengunakan gelar Hudavendigar atau Kaisat. Saya kira ini menunjukkan keinginan Murad untuk lepas dari baying-bayang Seljuq, seperti kita tahu, gelar Ghazi (panglima) yang diperoleh kakeknya adalah berasal dari pengabdiannya kepada Bani Seljuq.
Selain itu, Murad memang sudah pantas untuk menyematkan gelar itu pada dirinya, saat itu, kekuasaan Ottoman telah berkembang hingga ke seberang benua, yaitu Eropa. Dengan wilayah yang luas tersebut, berarti Kerajaan Ottoman telah menaklukkan berbagai kota, seperti Nice, Edirne, dll. Para raja/pembesar kerajaan tersebutpun telah takluk kepada Ottoman. Sehingga tidak salah Murad menaikkan gelarnya dari Ghazi (panglima) menjadi Hudavendigar (kaisar). Karena pertama menggunakan gelar ini, Murad lebih dikenal sebagai Sultan Murad Hudavendigar Han.

Gelar sultan Ottoman sejak Murad ini menjadi Sultan Han.
Sultan Murad Hudavendigar Han (1360-1389)

Murad memang dikenal sebagai orang yang meletakkan dasar-dasar pemerintahan Ottoman. Beliau memindahkan ibu kota ke Erdine (Adrianopel), membangun diwan/administrasi baru dan membangun Jenissari (tentara baru). Beliau juga membnetuk sistem pemeirintahan provinsi dengan membentuk provinsi Anadolu (Anatolia) dan Rumeli (Eropa). Selain pertama menggunakan gelar Hudavendigar, Murad juga Sultan Ottoman pertama yang menetapkan gelar Sultan bagi para raja Ottoman.
Murad I berhasil memperluas daerah kekuasaan Ottoman ke wilayah Macedonia dan Serbia. Namun beliau wafat saat pasukan penyusup Serbia berhasil menyelinap ke tenda beliau dan membunuhnya.
Beyazid Sang Petir

Hudavendigar digantikan oleh puteranya Beyazid. Beyazid melanjutkan penaklukkan kearah Eropa. Namun penaklukkan tersebut kemudian berhenti karena terjadi serangan dari arah belakang, dari arah Asia. Serangan tersebut dilancarkan oleh Kekuasaan Mongol yang besar dan kuat, Tamerlane. Beyazid secepat kilat berbalik arah dan meluncur dari Eropa ke Anatolia untuk menahan serangan Tamerlane. Namun kemudian beliau ditawan dalam Pertempuran Ankara.

Sultan Yildirim Beyazid Han (1389-1402)

Memang kemudian Tamerlane tidak melanjutkan serangannya sehingga Kesultanan Ottoman tidak runtuh. Namun tertangkapnya Beyazid menimbulkan perebutkan kekuasaan antara anak-anak Beyazid sehingga kekuasaan Ottoman menjadi kacau. Ottomanpun kehilangan beberapa daerah kekuasaannya di Eropa dan Anatolia karena deerah tersebut memanfaatkan keadaan Ottoman yang sedang kacau untuk melepaskan diri (separatis). Masa perpecahan ini disebut masa Interegnum.
Walapun demikian, Beyazid tetap dikenang sebagai sultan yang sigap dan awas. Kecepatan pasukannya bergerak dari Eropa ke Anatolia untuk mengantisipasi serangan Tamerlane menjadikan beliau digelari Yildirim (Sang Kilat). Sehingga beliau bergelar Sultan Yildirim Beyazid Han. Selain itu, awasnya beliau sehingga mampu mengantisipasi serangan dari arah belakang menjadikan beberapa lukisan wajah beliau menggambarkan beliau sedang melirik atau menoleh ke belakang.

Berbagai kisah beredar mengenai keadaan Beyazid dalam tawanan Timur. Ada yang menyatakan ia diperlakukan seperti budak, ada yang menyatakan ia dimasukkan dalam piala untuk dipertontonkan kepada orang lain. Dalam catatan di istanan Timur dikatakan bahwa Timur memperlakukan Beyazid dengan baik dan bahkan menangisi kematiannya. Setahun atau ada yang mengatakan tujuh bulan 12 hari dalam tawanan akhirnya Beyazid wafat.

Lalu bagaimanakah nasib Ottoman selanjutnya? Apakah hancur dalam perpecahan? Ataukah ada anak turun Beyazid yang berhasil mewujudkan cita-cita leluhurnya, Osman? InsyaAlloh akan berlanjut di tulisan berikutnya.

Seperti dalam tulisan sebelumnya, Timur akhirnya berhasil menangkap Sultan Yildirim Beyazid Han. Setelah berhasil mengalahkan Beyazid Sang Petir, Timur mengakui Mehmed Celebi anak Beyazid sebagai penguasa sah Ottoman. Tetapi saudara-saudaranya menolak mengakui kekuasaan Mehmed, maka terjadilah masa perpecahan dalam kekuasaan Ottoman. Anak-anak Beyazid mengkalim wilayah kekuasaannya sendiri. Suleyman Celebi menjadi Sultan Edirne, Isa Celebi di Bursa, dan Mehmed Celebi di Amasya. Mereka berperang satu sama lain untuk memperbutkan tahta Ottoman. Masa ini disebut sebagai masa Interregnum (Fetret Devli).

Mehmed berhasil merebut Bursa dari Isa, kemudian Isa melarikan diri ke Barat Laut Anatolia. Namun kemudian Isa dibunuh oleh Suleyman. Hal ini menjadikan Mehmed sebagai penguasa tunggal di wilayah Anatolia dan Suleyman sebagai penguasa tunggal di Rumelia. Suleyman kemudian melakukan usaha menyerang Mehemed. Mehmed menyadari bahwa ia sendirian tidak akan sanggup menghadapi sang kakak tertua, Suleyman, sendirian. Maka ia menghubungi saudaranya Musa Celebi untuk menjalin aliansi.

Aliansipun berhasil dibentuk. Untuk mencegah serangan Suleyman makin merangsek ke daratang Anatolia, Musa dengan kekuatan kecil menyerang Edirne. Taktik itu berhasil, Suleyman berbalik arah dan kembali ke Edirne. Tetapi ia berhasil dibunuh oleh Musa. Tetapi Musa kemudian mengklaim dirinya sebagai Sultan Edirne. Mehmed yang tidak terima akan hal ini kemudian menyerang Musa dan berhasil mengalahkannya.

Berakhirlah masa Fetret Devli (Interegnum) dan Ottoman kembali dipimpin oleh satu Sultan yaitu Sultan Mehmed Celebi Han.

Mehmed Celebi Sang Pendiri Kedua (2nd Founder)

Setelah berhasil mengkonsolidasikan kekuatan di dalam, Mehmed kemudian kembali merapikan wilayah Ottoman yang berantakan akibat Interegnum. Ia mulai dari wilayah Anadolu (Anatolia). Pada 1414 ia menaklukkan Izmir, Negeri Candar, Cilcia, dan Saruhan. Karaman yang mencoba menyerang Bursa berhasil ditepis. Setelah konsolidasi Anatolia, ia mengarah ke Rumelia (Eropa). Di Eropa Memed berhasil mengembalikan kekuasaan Ottoman dan kemudian menjadikan Wallachia membayar pajak pada Ottoman. Selain itu beliau juga melanjutkan pembangunan angkatan laut Ottoman.

Sultan Mehmed Celebi Han (1402-1421)
Karena prestasinya mengembalikan kekuasaan Ottoman, beliau dikenal sebagai pendiri kedua Ottoman, Second Founder. Gelar kebangsawanannya yang dipakai sejak masa Interegnum juga terus terbawa, sehingga beliau dikenal sebagai Mehmed Celebi, Celebi adalah gelar bangsawan yang berarti “Yang Terhormat.”

Sebagian orang menyebut beliau masih keturunan Maulana Jalaluddin Rumi, seorang Sufi besar. Dalam masanya, beliau juga memperhatikan perkembangan kemasyarakatan. Hal ini berkat pengaruh wazirnya di Amasya dahulu, Sehiri. Beliau membangun berbagai masjid, madrasah, dan bangunan lainnya.
Murad II Pengeran Muda Yang Handal

Saat diangkat sebagai sultan setelah wafatnya sang ayah, Mehmed Celebi, Murad II baru berusai belasan tahun (sekitar 19 tahun). Segera setelah pengangkatannya, Byzantium bermain prahara. Sebelumnya Byzantium telah bersedia menahan Musthafa Celebi Sang Penipu (Düzmece Mustafa). Sebelumnya Musthafa Celebi ini telah mencoba memberontak terhadap Mehmed Celebi tetapi berhasil ditangkis. Musthafa lari ke Byzantium lalu dengan bayaran Mehmed Celebi, Byzantium bersedia memenjarakan Musthafa.

Segera setelah Murad II naik tahta, Byzantium mendeklarasikan Musthafa sebagai pewaris sah Beyazid Yildirim. Tetapi ini bersyarat bahwa Musthafa harus menyerahkan kota-kota penting jika ia naik tahta. Dengan bantuan Byzantium Musthafa berhasil mendarat di Rumelia dan mengalang kekuatan di sana. Banyak pasukan Ottoman yang kemudian mendukungnya. Murad lalu mengrim pasukan di bawah Jenderal Senior, Beyezid Pasha. Tetapi Musthafa Sang Penipu berhasil membunuh Sang Jenderal dan iapun mendeklarasikan diri sebagai Sultan Edirne.

Sultan II Murad Han (1421-1444 dan 1446-1451)

Lalu Musthafa Celebi mencoba menyerang ke wilayah Anatolia. Namun Murad II menunjukkan keahliannya sebagai panglima. Walaupun cukup kalah jumlah tetapi beliau bisa memenangkan pertempuran. Musthafa Sang Penipu pun menghindar ke Galipoli (Ulubat). Tetapi terus dikejar Murad II dengan bantuan pelaut asal Genose, Adorno. Msuthafa berhasil ditangkap dan dihukum mati.
Murad II kemudian mengarahkan serangan ke Byzantium yang telah memplot pemberontakan Düzmece Mustafa tersebut. Murad II membentuk pasukan Azeb dan kemudian melakukan pengepungan terhadap Konstantinopel. Di tengah pengepungan, Murad II mendengar adiknya, Musthafa, yang berusia 13 tahun melakukan pemberontakan dengan dukungan Byzantium dan negara-negara kecil di sekitar Anatolia. Pasukan Musthafa telah mengepung Busra, kota kedua terbesar setelah Edirne.

Murad segera menuju Busra. Musthafa berhasil dikalahkan, ditangkap, dan dihukum. Negara-negara kecil di Anatolia (Aydin, Mentese, Teke dan Germian) juga menerima akibat dari keterlibatan mereka dengan pemberontakan tersebut. Negara-negara tersebut ditaklukkan dan dianeksasi oleh Murad II.
Murad II lalu meneruskan perluasan wilayah di Seribia yang masih dalam keadaan bereperang dengan Ottoman. Salonica, Macedonia, Teselya dan Yanya berhasil dikuasai. Pemberontakan Penguasa Wallachiapun berhasil dipadamkan dan Wallachia dianeksasi. Semakin luasnya pengaruh Ottoman di Eropa menjadikan cemas Byzantium dan raja-raja Eropa lainnya yang kemudian melancarkan Perang Salib terhadap Ottoman. Pasukan Salib dipimpin oleh Pangeran Transylvania.

Sehzade (Pangeran) Mehmed yang diangkat menjadi Sultan menggantikan Murad II yang turun tahta
Dalam pertempuran ini, Ottoman kalah namun Pasukan Salib tidak bisa merangsek lebih jauh karena terkendala alam. Lalu dicapailah kesepakatan gencatan senjata 10 tahun yang dikenal sebagai Kesepakatan Segedin. Setelah itu Murad II turun tahta dan menaikkan putranya berusia 12 tahun Mehmed II sebagai Sultan. Beliau menyepi di Manisa.

Melihat peluang sultan yang masih muda, rival Ottoman, Hungaria bersama Venice dan didukung Paus Eugene IV mempersiapkan Pasukan Salib baru untuk menyerang Ottoman. Melihat keadaan ini Mehmed II meminta ayahnya yang telah pensiun untuk memimpin pasukan menghadapi Pasukan Salib tersebut. Murad II menolak, lalu Mehmed mengirimkan surat yang sangat terkenal yang berbunyi, “Jika Engkau adalah sultan maka sudah sepantasnya Engaku memimpin pasukanmu dalam situasi yang sulit ini, maka majulah ke depan dan pimpin pasukanmu. Tetapi jika sayalah yang Sultan, maka saya mengingatkan Engkau untuk patuh kepada perintah Sultan, dan perintah saya adalah, Pimpinlah pasukan!.” Membaca surat ini Murad II tidak bisa menolak.

Hal ini menandai masa kedua kepemimpinannya, Murad II kembali naik tahta. Tetapi sebagian orang menyatakan bahwa kembalinya Murad II ke tahta karena ada pemberontakan Jenissari. Wallohu a’lam mana yang benar.

Lalu Murad II meluncur ke Edirne. Pasukan Ottoman sekitar 40.000 lalu meluncur ke Varna dan menyerang Pasukan Salib. Pasukan Salib akhirnya bisa dikalahkan dalam Pertempuran Varna ini. Pertempuran ini menandai berkahirnya Perang Salib yang mencegah Ottoman menaklukkan Konstantinopel. Karena berikutnya, saat Konstantinopel sedang dalam Kepungan Mehmed II, tidak ada Pasukan Salib yang datang membantu.

Empat tahun setelah Pertempuran Varna, terjadi kembali pertempuran besar yang disebut Pertempuran Kosovo Kedua. Murad II lagi-lagi berhasil memenangkan pertempuran yang dipicu invasi Hungaria ke wilayah Ottoman di Serbia. Dengan menangnya Ottoman di pertempuran ini, Balkan sepenuhnya dalam pengaruh politik Ottoman.

Sebenarnya Murad II adalah seorang yang tidak suka berperang. Ini terlihat dari keinginannya untuk mundur dari kepemimpinan. Tetapi keadaan memaksanya untuk terus berperang sebagaimana dalam kisah di atas. Selain pencapian militer, dalam bidang sosial, di zaman Murad dibangun ratusan masjid, sekolah, jembatan, dan istana. Salah satu bangunan peninggalan Murad II yangbisa dilihat adalah Bursa Muradiye Complex, yang terdiri dari masjid, makam, madrasah, pemandian, dan taman. Murad II sendiri sebenarnya adalah seorang seniman dengan nama pena Muradi.

Dalam masanya pula dikirim sejumlah uang ke Mekkah untuk perbaikan dan dikirim sejumlah tenaga ahli yang disebut Surre-i Humayun untuk memperbaiki tempat-tempat suci. Dalam masanya pula banyak buku ditulis dan buku asing diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Murad II meninggal di Edirne karena sakit dan beliau dimakamkan di Bursa, di Kompleks Muradiye. Jika Anda berkunjung ke Bursa, Anda bisa menziarahi makam beliau…

Kesultanan Ottoman, Kekhalifahan dari Bangsa Turki berabad-abad

Kesultanan Utsmaniyah (1299–1923), atau dikenal juga dengan sebutan Kekaisaran Turki Ottoman atau Osmanlı İmparatorluğu adalah negara multi-etnis dan multi-religius. Negara ini diteruskan oleh Republik Turki yang diproklamirkan pada 29 Oktober 1923.

Negara ini didirikan oleh Bani Utsman, yang selama lebih dari enam abad kekuasaannya (1299 – 1923) dipimpin oleh 36 orang sultan, sebelum akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara kecil. Kesultanan ini menjadi pusat interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi. Dengan Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya, kesultanan ini dianggap sebagai penerus dari kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang kuat. Kekuatan Kesultanan Usmaniyah terkikis secara perlahan-lahan pada abad ke-19, sampai akhirnya benar-benar runtuh pada abad 20. Setelah Perang Dunia I berakhir, pemerintahan Utsmaniyah yang menerima kekalahan dalam perang tersebut, mengalami kemunduran di bidang ekonomi.

Luas wilayah yang pernah dikuasai Kekaisaran Utsmaniyah/Ottoman
Secara umum pembagian timeline kekaisaran Utsmani dibagi menjadi beberapa masa atau periode yakni

Era kebangkitan, Era perkembangan (perluasan), dan Era menjelang keruntuhan.
Era Kebangkitan (1299-1453)

Pada pertengahan abad ke-13, Kekaisaran Bizantium yang melemah telah kehilangan beberapa kekuasaanya oleh beberapa kabilah. Salah satu kabilah ini berada daerah di Eskişehir, bagian barat Anatolia, yang dipimpin oleh Osman I, anak dari Ertuğrul, yang kemudian mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Menurut cerita tradisi, ketika Ertuğrul bermigrasi ke Asia Minor beserta dengan empat ratus pasukan kuda, beliau berpartisipasi dalam perang antara dua kubu pihak (Kekaisaran Romawi dan Kesultanan Seljuk).

Ertuğrul bersekutu dengan pihak Kesultanan Seljuk yang kalah pada saat itu dan kemudian membalikkan keadaaan memenangkan perang. Atas jasa beliau, Sultan Seljuk menghadiahi sebuah wilayah di Eskişehir. Sepeninggal Ertuğrul pada tahun 1281, Osman I menjadi pemimpin dan tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Osman I kemudian memperluas wilayahnya sampai ke batas wilayah Kekaisaran Bizantium. Ia memindahkan ibukota kesultanan ke Bursa, dan memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan awal politik kesultanan tersebut. Diberi nama dengan nama panggilan “kara” (Bahasa Turki untuk hitam) atas keberaniannya, Osman I disukai sebagai pemimpin yang kuat dan dinamik bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki “Semoga dia sebaik Osman”. Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Osman, sebuah mitos yang mana Osman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

Pada periode ini terlihat terbentuknya pemerintahan formal Utsmaniyah, yang bentuk institusi tersebut tidak berubah selama empat abad. Pemerintahan Utsmaniyah mengembangkan suatu sistem yang dikenal dengan nama Millet (berasal dari Bahasa Arab millah ملة), yang mana kelompok agama dan suku minoritas dapat mengurus masalah mereka sendiri tanpa intervensi dan kontrol yang banyak dari pemerintah pusat.

Setelah Osman I meninggal, kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah kemudian merambah sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Setelah kekalahan di Pertempuran Plocnik, kemenangan kesultanan Utsmaniyah di Perang Kosovo secara efektif mengakhiri kekuasaan Kerajaan Serbia di wilayah tersebut dan memberikan jalan bagi Kesultanan Utsmaniyah menyebarkan kekuasaannya ke Eropa. Kesultanan ini kemudian mengontrol hampir seluruh wilayah kekuasaan Bizantium terdahulu. Wilayah Kekaisaran Bizantium di Yunani luput dari kekuasaan kesultanan berkat serangan Timur Lenk ke Anatolia tahun 1402, menjadikan Sultan Bayezid I sebagai tahanan.

sultan Bayazid I yang diberikan gelar Yildirim atau petir karena taktik militernya yang menyerang seketika dari barat ke timur dan kembali menyerang arah barat lagi dengan cepat seperti petir

Timur lenk, seorang raja dari kerajaan timurid yang kejam. Sering dipanggil Timur si pincang karena kakinya yang terluka setelah perang. Salah satu kekejamannya adalah menyusun piramid dari tumpukan kepala korban prajurit dan sipil dalam peperangannya

sultan bayazid dalam tahanan timurlenk. SultanBayazid akhirnya bunuh diri karena frustasi dan meninggalkan kekaisaran Ottoman dalam perang sipil antara pangeran pangeran Ottoman yang saling berebut kekuasaan.

Sepeninggal Timur Lenk, Mehmed II melakukan perombakan struktur kesultanan dan militer, dan menunjukkan keberhasilannya dengan menaklukkan Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 pada usia 21 tahun. Kota tersebut menjadi ibukota baru Kesultanan Utsmaniyah. Sebelum Mehmed II terbunuh, pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Korsika, Sardinia, dan Sisilia. Namun sepeninggalnya, rencana untuk menaklukkan Italia dibatalkan. Mehmed II menaklukkan kota Konstantinopel yang menjadi ibukota baru kesultanan tahun 1453

Sultan Mehmed II yang diberi julukan Al Fatih (penakluk) karena keberhasilannya menaklukkan konstantinopel seperti yang pernah dikabarkan Nabi Muhammad bahwa kota konstantinopel akan jatuh kepada kekuasaan pasukan muslim dimana pemimpinnya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan.

Era Perkembangan Kerajaan (1453-1683)

Periode ini bisa dibagi menjadi dua masa: Masa perluasan wilayah dan perkembangan ekonomi dan kebudayaan (sampai tahun 1566); dan masa stagnasi militer dan politik Kesultanan Utsmaniyah 1299–1683 :

1. Perluasan wilayah dan puncak kekuasaan

Pertempuran Zonchio pada tahun 1499 adalah perang laut pertama yang menggunakan meriam sebagai senjata di kapal perang, menandakan kebangkitan angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah. Penaklukkan Konstantinopel oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1453 mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur.

Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah, memperluas wilayahnya sampai ke Eropa dan Afrika Utara; di bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang kuat. Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.

pertempuran laut di Zonchio antara Angkatan Laut kesultanan Ottoman melawan Pasukan Venesia
Kesultanan ini memasuki zaman kejayaannya di bawah beberapa sultan. Sultan Selim I (1512-1520) secara dramatis memperluas batas wilayah kesultanan dengan mengalahkan Shah Dinasti Safavid dari Persia, Ismail I, di Perang Chaldiran. Selim I juga memperluas kekuasaan sampai ke Mesir dan menempatkan keberadaan kapal-kapal kesultanan di Laut Merah.

Sultan Selim I yang bergelar Yavuz (perkasa) berkuasa dari tahun 1512 hingga 1520. Meninggal karena sakit namun diduga telah diracun oleh tabibnya sendiri.

Pewaris takhta Selim, Suleiman yang Agung (1520-1566) melanjutkan ekspansi Selim. Setelah menaklukkan Beograd tahun 1521, Suleiman menaklukkan Kerajaan Hongaria dan beberapa wilayah di Eropa Tengah. Ia kemudian melakukan serangan ke Kota Wina tahun 1529, namun gagal menaklukkan kota tersebut setelah musim dingin yang lebih awal memaksa pasukannya untuk mundur. Di sebelah timur, Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Baghdad dari Persia tahun 1535, mendapatkan kontrol wilayah Mesopotamia dan Teluk Persia.

Sultan Sulaiman yang agung. Dijuluki oleh orang eropa sebagai Suleyman the Magnificent. Di Negerinya ia diberi gelar Sulaiman al Qanuni atau pembuat hukum karena upayanya membakukan hukum Islam kedalam suatu Undang-undang.

Lukisan tentang pengepungan pasukan Ottoman di kota wina tahun 1529 dibawah pimpinan langsung sultan Sulaiman. Namun Operasi ini gagal dengan kalahnya pasukan Utsmani menghadapi pasukan koalisi eropa.

Di bawah pemerintahan Selim dan Suleiman, angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekuatan dominan, mengontrol sebagian besar Laut Mediterania. Beberapa kemenangan besar lainnya meliputi penaklukkan Tunis dan Aljazair dari Spanyol; Evakuasi umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah sewaktu inkuisisi Spanyol; dan penaklukkan Nice dari Kekaisaran Suci Romawi tahun 1543. Penaklukkan terakhir terjadi atas nama Prancis sebagai pasukan gabungan dengan Raja Prancis Francis I dan Barbarossa. Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah, bersatu berdasarkan kepentingan bersama atas kekuasaan Habsburg di selatan dan tengah Eropa, menjadi sekutu yang kuat pada masa periode ini. Selain kerjasama militer, kerjasama ekonomi juga terjadi antar Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah. Sultan memberikan Prancis hak untuk melakukan dagang dengan kesultanan tanpa dikenai pajak. Pada saat itu, Kesultanan Utsmaniyah dianggap sebagai bagian dari politik Eropa, dan bersekutu dengan Prancis, Inggris, dan Belanda melawan Habsburg Spanyol, Italia, dan Habsburg Austria.

2. Kebangkitan eropa melawan Utsmani

Sepeninggal Suleiman tahun 1566, beberapa wilayah kekuasaan kesultanan mulai menghilang. Kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di barat beserta dengan penemuan jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesulatanan Utsmaniyah. Efektifitas militer dan struktur birokrasi warisan berabad-abad juga menjadi kelemahan dibawah pemerintahan Sultan yang lemah. Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa.

Kerajaan-kerajaan Eropa berusaha mengatasi kontrol monopoli jalur perdagangan ke Asia oleh Kesultanan Utmaniyah dengan menemukan jalur alternatif. Secara ekonomi, pemasukan Spanyol dari benua baru memberikan pengaruh pada devaluasi mata uang Kesultanan Utsmaniyah dan mengakibatkan inflasi yang tinggi. Hal ini memberikan efek negatif terhadap semua lapisan masyarakat Utsmaniyah. Di Eropa Selatan, sebuah koalisi antar kekuatan dagang Eropa di Semenanjung Italia berusaha untuk mengurangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di Laut Mediterania. Kemenangan koalisi tersebut di Pertempuran Lepanto (sebetulnya Navpaktos,tapi semua orang menjadi salah mengeja menjadi Lepanto) tahun 1571 mengakhiri supremasi kesultanan di Mediterania. Pada akhir abad ke-16, masa keemasan yang ditandai dengan penaklukan dan perluasan wilayah berakhir.

Pertempuran lepanto dimana pasukan angkatan Laut Utsmani mengalami kekalahan dan armada lautnya hancur melawan koalisi negara eropa yang tergabung dalam holy league. Meskipun demikian Wazir agung Ottoman (Mehmet Sokullu Pasha) dengan sesumbar masih dapat mengatakan “You come to see how we bear our misfortune. But I would have you know the difference between your loss and ours. In wresting Cyprus from you, we deprived you of an arm; in defeating our fleet, you have only shaved our beard. An arm when cut off cannot grow again; but a shorn beard will grow all the better for the razor“

Di medan perang, Kesultanan Utsmaniyah secara perlahan-lahan tertinggal dengan teknologi militer orang Eropa dimana inovasi yang sebelumnya menjadikan faktor kekuatan militer kesultanan terhalang oleh konservatisme agama yang mulai berkembang. Perubahan taktik militer di Eropa menjadikan pasukan Sipahi yang dulunya ditakuti menjadi tidak relevan. Disiplin dan kesatuan pasukan menjadi permasalahan disebabkan oleh kebijakan relaksasi rekrutmen dan peningkatan jumlah Yenisaris yang melebihi pasukan militer lainnya. Murad IV (1612-1640), yang menaklukkan Yereva tahun 1635 dan Baghdad tahun 1639 dari kesultanan Safavid, adalah satu-satunya Sultan yang menunjukkan kontrol militer dan politik yang kuat di dalam kesultanan. Murad IV merupakan Sultan terakhir yang memimpin pasukannya maju ke medan perang.

Pengepungan kota wina untuk kedua kalinya oleh Ottoman pada tahun 1683 dibawah pimpinan wazir agung Kara Mustafa namun Ottoman lagi-lagi menghadapi kekalahan melawan pasukan gabungan Polandia Austria dan Jerman selama pengepungan 2 bulan.

Pemberontakan Jelali (1519-1610) dan Pemberontakan Yenisaris (1622) mengakibatkan ketidakpastian hukum dan pemberontakan di Anatolia akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, dan berhasil menggulingkan beberapa pemerintahan. Namun, abad ke-17 bukan hanya masa stagnasi dan kemunduran, tetapi juga merupakan masa kunci di mana kesultanan Utsmaniyah dan strukturnya mulai beradaptasi terhadap tekanan baru dan realitas yang baru, internal maupun eksternal. Kesultanan Wanita (1530-1660) adalah periode di mana pengaruh politik dari Harem Kesultanan sangat besar, di mana ibu dari Sultan yang muda mengambilalih kekuasaan atas nama puteranya. Hürrem Sultan yang mengangkat dirinya sebagai pewaris Nurbanu, dideskripsikan oleh perwakilan Wina Andrea Giritti sebagai wanita yang saleh, berani, dan bijaksana. Masa ini berakhir sampai pada kekuasaan Sultan Kösem dan menantunya Turhan Hatice, yang mana persaingan keduanya berakhir dengan terbunuhnya Kösem tahun 1651. Berakhirnya periode ini digantikan oleh Era Köprülü (1656-1703), yang mana kesultanan pada masa ini pertama kali dikontrol oleh beberapa anggota kuat dari Harem dan kemudian oleh beberapa Perdana Menteri (Grand Vizier).

Keadaan Politik Menjelang Keruntuhan

Politik di sini dibagi jadi dua. Pertama politik dalam negeri, yang maksudnya ialah penerapan hukum Islam di wilayahnya; mengatur mu’amalat, menegakkan hudud dan sanksi hukum, menjaga akhlak, mengurus urusan rakyat sesuai hukum Islam, menjamin pelaksanaan syi’ar dan ibadah. Semua ini dilaksanakan dengan tatacara Islam. Arti kedua adalah politik luar negeri :

1. Politik dalam negeri
Ada 2 faktor yang membuat khilafah Turki Utsmani mundur:

Pertama, buruknya pemahaman Islam dan kedua, salah menerapkan Islam.

Sebetulnya, kedua hal di atas bisa diatasi saat kekholifahan dipegang orang kuat dan keimanannya tinggi, tapi kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Suleiman II-yang dijuluki al-Qonun, karena jasanya mengadopsi UU sebagai sistem khilafah, yang saat itu merupakan khilafah terkuat-malah menyusun UU menurut mazhab tertentu, yakni mazhab Hanafi, dengan kitab Pertemuan Berbagai Lautan-nya yang ditulis Ibrohimul Halabi (1549). Padahal khilafah Islam bukan negara mazhab, jadi semua mazhab Islam memiliki tempat dalam 1 negara dan bukan hanya 1 mazhab. Dengan tak dimanfaatkannya kesempatan emas ini untuk perbaikan, 2 hal tadi tak diperbaiki.

Contoh: dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi khalifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687), Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (1757-1773), dan Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826), sehingga mereka dibubarkan (1785).

Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma’ni. Ini yang membuat politik luar negeri khilafah-dakwah dan jihad-berhenti sejak abad ke-17, sehingga Yennisari membesar, lebih dari pasukan dan peawai pemerintah biasa, sementara pemasukan negara merosot. Ini membuat khilafah terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan penumpuk harta.

Ditambah dengan menurunnya pajak dari Timur Jauh yang melintasi wilayah khilafah, setelah ditemukannya jalur utama yang aman, sehingga bisa langsung ke Eropa. Ini membuat mata uang khilafah tertekan, sementara sumber pendapatan negara seperti tambang, tak bisa menutupi kebutuhan uang yang terus meningkat. Paruh kedua abad ke-16, terjadilah krisis moneter saat emas dan perak diusung ke negeri Laut Putih Tengah dari Dunia Baru lewat kolonial Spanyol. Mata uang khilafah saat itu terpuruk; infasi hebat. Mata uang Baroh diluncurkan khilafah tahun 1620 tetap gagal mengatasi inflasi. Lalu keluarlah mata uang Qisry di abad ke-17. Inilah yang membuat pasukan Utsmaniah di Yaman memberontak pada paruh kedua abad ke-16. Akibat adanya korupsi negara harus menanggung utang 300 juta lira.

3. Politik Luar negeri

Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihad-pemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788). Sultanpun meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca kitab itu tiap hari.

Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).

Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi (abad ke-17, dst). Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTek dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang (1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.
1. Gerakan Missionaris

Di dalam negara, ahlu dzimmah-khususnya orang Kristen-yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khilafah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535), dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini dimanfaatkan misionaris-yang mulai menjalankan gerakan sejak abad ke-16. Malta dipilih sebagai pusat gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773.

Di tengah mundurnya intelektualitas Dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Pusat kajian ini kebanyakan milik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang digunakan Barat untuk mengemban kepemimpinan intelektualnya di Dunia Islam, disertai serangan mereka terhadap pemikiran Islam. Serangan ini sudah lama dipersiapkan orientalis Barat, yang mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad ke-14.

Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di Dunia Islam. Untuk menguasainya – meminjam istilah Imam al-Ghozali – Islam sebagai asas harus hancur, dan khilafah Islam harus runtuh. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang Sakit (sickman). Agar kekuatan khilafah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di Dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz.

2. Gerakan Nasionalisme dan Separatisme

Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah khilafah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, KeduBes Inggris dan Prancis di Istambul dan daerah-daerah basis khilafah-seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah-telah menjadi pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istambul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khilafah.

KeduBes negara Eropapun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul ‘Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum harfiah dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Di Markas Istambul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan universitas lewat propaganda. Mereka ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai dilakukan Rasyid Pasha, MenLu zaman Sultan Abdul Mejid II (1839). Tahun itu juga, Naskah Terhormat(Kholkhonah)-yang dijiplak dari UU di Eropa-diperkenalkan.

Tahun 1855, negara-negara Eropa-khususnya Inggris-memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September 1876). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port-pun enggan melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari’at. Midhat Pashapun dipecat dari kedudukan perdana menteri.

Turki Muda yang berpusat di Salonika-pusat komunitas Yahudi Dunamah-memberontak (1908). Kholifah dipaksanya-yang menjalankan keputusan Konferensi Berlin-mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam khilafah Turki Utsmani (17 November 1908). Bekerja sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir.

Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan khilafah Turki Utsmani secara total. Perang Dunia I (1914) dimanfaatkan Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah kampanye Dardanella yang terkenal itu mulai dilancarkan.

Kekaisaran Utsmani terlibat perang dunia I melawan inggris, perancis dan russia. Meskipun Utsmani telah bersekutu dengan jerman namun tidak dapat memenangkan perang karena militer utsmani saat itu sudah lemah dan adanya pemberontakan arab yang mernyusahkan gerak laju dan konsentrasi tentara Utsmani.

Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha-yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915). Ia-agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika-melakukan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khilafah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dll mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.

Runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniah

Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional – dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya – sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha tetap tak berani membubarkan khilafah.

Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak. Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis ini.

Sultan Mehmed VI dijemput secara paksa dan akhirnya diasingkan ke Cyprus sebagai sultan yang terakhir berkuasa atas kekhalifahan Utsman.

Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Mejid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal Pasha. Malahan, ia menyerang balik dengan taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.

Setelah suasana negara kondusif, Mustafa Kemal Pasha mengadakan sidang Dewan Perwakilan Nasional. Tepat 3 Maret 1924 M, ia memecat kholifah, membubarkan sistem khilafah, dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Hal ini dianggap sebagai titik klimaks revolusi Mustafa Kemal Pasha.

Mustafa Kemal Atatturk sebagai sosok yang kontroversial. Dipihak pengagum sekulerisme, ia amat dipuja-puja sebagai pembebas turki. Namun ia juga dipandang sebagai penghancur kekhalifahan Utsmaniyah

Kehancuran Ottoman di Megiddo (Perang Dunia I)

Ada sebuah episode memilukan dalam cerita besar kekaisaran Utsmani (Ottoman). Berawal dari kegengsian dan keinginan melawan habis inggris dan rusia. Bersamaan dengan hadirnya Jerman sebagai sekutu besar Ottoman akhirnya melibatkan kekaisaran Islam itu untuk terjun dalam perang dunia I atau the great war. Suatu peperangan dahsyat yang dianggap sebagai perang yang mengakhiri segala perang. The great war berlangsung dari tahun 1914 sampai 1918. Mengira mempunyai sekutu yang tangguh akhirnya Ottoman dengan percaya diri masuk dalam lingkaran setan dengan membombardir sebuah pelabuhan milik rusia. Dengan demikian, Ottoman resmi masuk dalam Perang Dunia I.
Namun di penghujung 1918 keadaan mulai berbalik, Jerman mulai dipukul mundur di perancis. Austro-hungaria atau dinasti harpsburg yang juga sekutu Ottoman mulai kalah melawan Rusia. Sedangkan Ottoman sendiri yang berperang di banyak front seperti kaukasus, galipoli, dan mesir perlahan-lahan terdesak. Puncaknya adalah ketika pasukan Ottoman dihancurkan oleh Inggris pada pertempuran Megiddo (israel) dan akhirnya inggris berhasil merebut Yerusalem, suriah, libanon hingga terus sampai ke Istanbul

Benteng kuno megiddo muncul dalam perjanjian baru sebagai armagedon, lokasi pertempuran millennium antara kekuatan yang baik dan jahat. Pertempuran megiddo adalah nama yang diberikan untuk serbuan akhir pasukan sekutu terhadap ottoman di palestina dan suriah. Pasukan sekutu terdiri dari pasukan inggris, india, australia, selandia baru dan tambahan sedikit pasukan perancis dan armenia. Pasukan ini dipimpin jendral sir edmund allenby. Sedangkan pasukan otoman dipimpin oleh jendral otto liman von sanders.

Menipu komando tertinggi ottoman bahwa serangan sekutu akan diluncurkan keseberang sungai yordan, Allenby diam-diam memfokuskan pasukannya ke dataran pasir. Serangannya dimulai dengan serangan infantri yang fokus merobek lubang di garis pertahanan ottoman. Serangan itu memungkinkan sekutu memutuskan rute penting bagi pasokan dan penguatan pasukan ottoman. Dalam waktu 24 jam pasukan sekutu telah maju lebih dari 50 km ke wilayah belakang ottoman.

Serangan utama dimulai pada 19 september pukul 04.30 dengan pemboman artileri selama 15 menit.

Serangan infantri yang dilancarkan kemudian membuat kewalahan para pasukan ottoman yang kalah jumlah di garis depan. Divisi ke 60, yang berada di sebelah kiri, maju 7000 m atau sekitar 4 mil dalam dua setengah jam pertama,melanggar dan melalui kedua garis pertahanan ottoman hingga sampai jembatan di nehl el falik. Hal ini memungkinkan kavaleri untuk maju. Pada hari akhir pertama itu korps xxi telah merebut sebagian besar jalur kereta api yang membujur ke utara kearah tul keram. Tentara ke 8 ottoman berusaha untuk mundur malaui tul keram namun dihentikan oleh serangan kombinasi dari udara.kemajuan yang pesat lagi dialami oleh 5th australian light horse dan divisi ke 50, yang pada akhir hari itu telah maju 17 mil sampai Tul Keram.

Sementara kemajuan kavaleri mencapai semua tujuannya, diakhir hari pertama itu pertempuran kavaleri telah mencapai tepi dataran esdraelon. Pada 20 september pukul 02.30 maju kedalam dan berhasil menduduki lembah el afule dan beisan. Pasukan kavaleri bahkan dapat menangkap liman von sander di kantornya yang terletak di nazareth.

Pada awal pertempuran ini semua komunikasi dengan bagian depan telah rusak seperti sering terjadi pada perang dunia 1. Laporan pergerakan kavaleri inggris yang semakin mendekat dan kekekalahan ottoman sebenarnya sudah diterima oleh liman von sanders. Sementara inggris mencoba untuk menemukan markas besarnya, ia sempat melarikan diri kembali ke tiberias. Namun akhirnya sang jendral tetap tertangkap.

Otto Liman von Sanders yang juga merupakan Adviser militer Ottoman yang didatangkan langsung dari Jerman

Di akhir hari yang kedua, tentara ke 8 turki telah dihancurkan dan tentara ke 7 berada dalam bahaya yang serius. Dengan jaringan kereta api yang diblokir, kesempatan satu-satunya untuk lolos adalah ke timur menuju nablus, di sepanjang jalan yang mengarah ke bewah fara wadi ke lembah yordan. Wilayah ini sebenarnya telah menjadi target korps xx, tetapi serangan mereka yang dimulai tanggal 19 september sore belum berhasil seperti koleganya di sayap kiri. Pada tanggal 20 september korps xx membuat kemajuan sangat sedikit. Kesempatan pada malam menuju tanggal 21 september itu digunakan turki untuk memulai evakuasi menuju Nablus.

Namun evakuasi mereka dihentikan oleh kekuatan udara. Sekutu menangkap pasukan ottoman disebelah timur nablus yang berjuang. Bom segera memblokir jalan, dan pasukan yang selamat segera menyelamatkan diri, tersebar ke bukit-bukit. Namun sebagian besar dapat ditangkap. Pasukan inggris yang maju juga menemukan lebih dari 100 kendaraan (termasuk 90 senjata dan 50 truk) yang ditinggalkan begitu saja di jalan.

Kendaraan transportasi Ottoman yang tidak sempat diselamatkan hancur dibombardir pesawat sekutu
Diakhir pertempuran, inggris berhasil menawan 25.000 orang selama pertempuran megiddo. Kurang dari 10.000 tentara turki dan jerman melarikan diri untuk mundur ke utara. Akibatnya ottoman kehilangan kendali atas damaskus pada 30 oktober 1918.

Tawanan perang! (pasukan ottoman yang tertangkap dalam pertempuran Megiddo)
Ali riza rehabi pasha, seorang jendral arab di pasukan turki ottoman sebenarnya diberi amanah memegang kendali damaskus atas perintah liman von sanders. Tapi ali sebenarnya adalah presiden dari revolusi arab (organisasi pemberontak di turki) cabang suriah. Ali riza telah bergabung dengan Thomas Edward Lawrence (yang dikenal dengan Lawrance of arabia)—mata-mata sekutu—pada tahun 1917.

peta pertempuran megiddo
Turki ottoman pun runtuh dan sekutu merebut kendali. Pada tanggal 1 oktober pasukan pertama revolusi arab memasuki kota, diikuti pasukan allenby pada hari berikutnya. Pada bulan-bulan berikutnya, beirut dikuasai inggris pada tanggal 8 oktober, tripoli pada tanggal 18 oktober dan aleppo pada 25 oktober. Pada tanggal 30 oktober, saat palesina, suriah dan iraq juga berhasi direbut musuh. Ottoman meminta gencatan senjata.

Pasukan kavaleri squadron kedua sekutu pimpinan Mayjen Sir Chauvel saat memasuki kota Damaskus pada 2 Oktober 1918

Megiddo adalah salah satu pertempuran terbaik inggris yang direncanakan dan dilaksanakan dalam pd 1, dan memiliki hasil yang paling dramatis. Akibat pertempuran megiddo mebawa keruntuhan ottoman dengan cepat dan memfasilitasi kemajuan yang pesat pasukan sekutu menuju damaskus.
Allenby banyak mengambil untung dalam perang ini sehingga ia muncul dan terkenal sebagai salah satu jendral yang imajinatif ketika perang.

kemenangan mutlak dari para pasukan yang dipimpin allenby dicapai melalui komando yang ketat, peperangan yang mengejutkan mobilitas tinggi dan penghancuran komunikasi musuh. Hanya dalam beberapa hari allenby telah menghancurkan kekuatan militer ottoman. Dari 19-26 oktober pasukannya telah maju lebih dari 483 km kearah utara dan berhasil menawan 75.000 tahanan, 360 senjata dan semua transportasi dan perlengkapannya. Kota-kota utama mulai dari damaskus, beirut, homs, aleppo semua jatuh ketangan tentara allenby. Sekutu hanya kehilangan kurang dari 5000 orang kerajaan turki ottoman mencapai titik kehancuran. Mereka menyatakan kedamaian sepihak yang kemudian diakhiri di mudros pada 30 oktober 1918. Kemudian dalam perjanjian versailles, tanah turki ottoman dirampas secara besar-besaran. Palestina, suriah, iraq dan mesir dilucuti dari kekuasaan ottoman

Janissary atau Yenicheri : satuan elit militer Kekaisaran Ottoman
Janissaries (from Ottoman Turkish يکيچرى Yeniçeri artinya “prajurit baru”) adalah prajurit yg paling terkenal dan ditakuti di Eropa selama berabad2, dari awal dibentuknya mereka pada awal masa2 Ottoman, bahkan hingga keruntuhannya pada tahun 1826. Imej ttg Janissari pada masa jayanya hampir selalu digambarkan dengan prajurit yg tangguh, disiplin, dan tak kenal kata mundur.

ASAL MUASAL dan LEGENDA

Semua berawal dari sebuah negara kecil (Beyliks) di Sogut yg dipimpin oleh Osman I. Sebagai sebuah negara kecil yg berbatasan lsg dgn Bizantium, Ottoman banyak melakukan peperangan baik besar maupun kecil dgn Bizantium. Berbagai macam prajurit digunakan oleh Ottoman, baik kavaleri maupun infantri.

sultan osman I

Pada awalnya, pasukan Ottoman mirip dgn Beylik lain di Anatolia, pasukan itu antara lain Kavaleri Musellem dan Yaya Infantry, dan tak lupa pula para Ghazi. Pada masa Orhan Ghazi (Orhan Bey)-Putra Osman I- mulai dibentuk pasukan Kapikhalki (Qapikulu/Kapikulu)sebagai pengawal pribadi, yg terdiri dari para full time infantry menggantikan pasukan berkuda yg cenderung setia pada klan tertentu (nantinya Qapikulu ini berubah menjadi kesatuan kavaleri yg mengawal Sultan). Pasukan ini terinspirasi dari pasukan Bizantium yg bernama Murtatoi, yg pada masa itu adalah infantry archer yg efektif.

Sebenarnya, nama Janissari jg muncul sebelum masa Ottoman. Pasukan itu adalah Ianitsarrai/Ginetari/Jenizzeri, kesatuan pasukan light cavalry Bizantium. Entah bagaimana nama ini mirip dengan nama kesatuan elit Ottoman terbaru.
janisary

Sulit untuk membedakan mana sejarah dan legenda pembentukan Janissari. Legenda mengatakan bahwa Janissari dibentuk pada masa Orhan Ghazi. Latar belakang pembentukan ini adalah fakta bahwa pasukan Ottoman dikumpulkan dari berbagai macam klan, yang kesetiaannya dipertanyakan. Di samping itu pada setiap kampanye militer, para pasukan yg berasal dari klan2 ini meminta jatah barang rampasan yg jumlahnya besar. Oleh karena itu, Orhan Ghazi meminta pendapat dari para penasehatnya untuk membuat suatu pasukan baru yg hanya loyal kepada Ottoman. Penasehat tersebut adalah Alaeddin, Ali Pasha, dan Çandarlı Kara Halil Hayreddin Pasha. Alaeddin mengusulkan supaya dibentuk suatu pasukan yg profesional, yang dibayar secara rutin dan siap jika sewaktu2 ada pertempuran, maka dibentuklah Piyade/Yaya Infantry.
Çandarlı Kara Halil Hayreddin Pasha mengusulkan agar pasukan tersebut dibentuk dari orang2 yg telah ditaklukkan, beliau berkata :

“The conquered are the the responsibility of the conqueror, who is the lawful ruler of them, of their lands, of their goods, of their wives, and of their children. We have a right to do, same as what we do with our own; and the treatment which I propose is not only lawful, but benevolent. By enforcing the enrolling them in the ranks of the army, we consult both their temporal and eternal interests, as they will be educated and given a better life conditions.”

Maka Orhan Ghazi menerima usulan tersebut, dan melakukan rekruitmen pasukan dari para tahanan dan anak2 dari orang2 Kristen, yg diambil dari daerah2 yg ditaklukkan Ottoman.

Ali Pasha (yg merupakan pengikut Tarikat Bektashi) mengusulkan agar pasukan ini menggunakan topi khas berwarna putih yg dinamakan Ak Börk untuk membedakan mereka dan asal mereka dgn pasukan lainnya. Pengaruh dari Tarikat Darwis Bektashi ini juga nampak dalam model seragam Janissari. Bektashi menjadi aliran keagamaan resmi dalam ketentaraan Janissari sejak Haji Bektashi Wali memberikan berkat pada kesatuan pertama Janissari.

Akhirnya dibentuklah suatu pasukan baru yg dinamakan Janissari (Yeniçeri).Tidak jelas bagaimana terminologi Janissari (Yenicheri=Pasukan baru) ini muncul. Apakah terpengaruh oleh nama kesatuan dari Bizantium tadi atau memang kebetulan “pasukan baru” dalam bahasa Turki adalah Yeniçeri. Battalion (Orta) pertama Janissari awalnya adalah suplemen bagi Yaya Infantry. Berbeda dgn legenda, beberapa sumber sejarah menyatakan bahwa Putra Orhan Ghazi, yaitu Sultan Murad I yg pertama kali merekrut Janissari.

REKRUITMEN

Sistem perekrutan Janissari pada awalnya memakai Devshirme. Sebagian besar sumber sejarah mengatakan sistem ini secara efektif mulai diterapkan pada masa Sultan Murad I. Tidak jelas asal muasal sistem ini, apakah terpengaruh dari sistem Ghulam yg digunakan oleh Khilafah Abbasiyah sebelumnya atau terpengaruh dari cara yg sama yg digunakan oleh Bizantium. Yg jelas sistem ini muncul pada masa awal terbentuknya Janissari.

Beberapa ahli hukum Ottoman mencoba menjustifikasi bahwa sistem Devshirme ini legal dengan alasan bahwa leluhur anak2 yg direkrut itu adalah orang taklukan dan mereka (org Slav & Albania) baru memeluk agama Kristen setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan keyakinan bahwa dgn merekrut mereka dan konversi mereka menjadi Muslim maka akan menyelamatkan mereka dari neraka. Berbeda dari Inkuisisi Spanyol yg menerapkan ide konversi ini secara brutal sehingga menimbulkan perlawanan dari para Muslim dan Yahudi Andalusia, Devshirme seringkali diikuti oleh keluarga Kristen secara sukarela karena memberikan janji dan harapan akan kehidupan yg lebih baik. Namun sistem ini banyak mendapat banyak pertentangan dari para ulama pada masa itu, karena menganggap bahwa sistem ini merupakan suatu bentuk kesewenang2an dari penguasa dan tidak seharusnya penguasa menganggap para Kafir Dzimmi sebagai properti pribadinya.

Namun, show must go on, sistem ini tetap diterapkan oleh para Sultan Ottoman hingga penghapusannya tahun 1648. Awalnya, Balkan dan daerah minoritas Kristen di Anatolia menjadi daerah yang terkena sistem ini. Balkan menjadi daerah yg paling banyak menyumbangkan anak yg direkrut melalui Devshirme. Secara kasar, dari setiap 40 keluarga diambil 1 pemuda. Awalnya, perekrutan ini diadakan setiap 5 tahun sekali, namun dalam perkembangannya Devshirme dilakukan tiap tahun. Dalam satu tahun bisa didapat 1000-3000 pemuda tiap tahun, hingga pada suatu masa dimana jumlah pemuda yg didapat dari Devshirme tidak mampu lagi mencukupi jumlah pasukan yg ada maka mulai direkrutlah pasukan dari kalangan Muslim sendiri. Yang direkrut dgn Devshirme adalah anak dan pemuda yg berusia 8-20 tahun, yg kebanyakan dari daerah pedesaan miskin dan tidak berpendidikan, jarang yg berasal dari kota atau yg berpendidikan. Keluarga yg hanya memiliki 1 anak lelaki dan keluarga Yahudi bebas dari Devshirme. Keluarga Yunani juga mendapat keringanan dalam Devshirme. Karena dengan adanya Devshirme ini, taraf hidup dan karir menjadi menanjak maka banyak keluarga Kristen dan bahkan Muslim sendiri yg secara sukarela menyerahkan anak mereka, bahkan banyak yg menyuap untuk memasukkan anak2 mereka.

Selanjutnya setelah terpilih, para anak dan pemuda ini dibagi menjadi 2 kelompok, yg pertama disebut sebagai Iç Oĝlan (inner boys) yang kecakapannya di atas rata2, yg berpeluang menduduki jabatan tinggi setelah melalui pendidikan militer. Yang kedua disebut sebagai Acemi Oĝlan (Foreign boys) yg akan menjadi prajurit Janissari biasa. Berbeda pada Acemi Oĝlan yg hanya dididik dgn seni kemiliteran murni dan pelajaran agama, Iç Oĝlan akan mendapatkan pelajaran berupa etiket, tata krama, kesusastraan, militer, agama, seni beladiri, pelajaran bahasa Arab dan Persia, dan musik bagi yg berbakat, dan lain2. Setelah itu mereka akan dididik sesuai spesialisasinya. Tanggung jawab pendidikan Iç Oĝlan dipegang oleh Kapi Agha dan Hoca.

Pendidikan yg ditempuh Acemi Oĝlan sangat berat. Para kadet ini hanya boleh keluar barak jika waktu libur, selebihnya mereka harus hidup di barak. Pendidikan ini akan memakan waktu 6 tahun. Setelah lulus mereka akan ditempatkan di pos sesuai spesialisainya.sistem pendidikan dan karir dalam Devshirme

STRUKTUR KEMILITERAN JANISSARI

Korps atau Ocak Janissari masuk ke dalam struktur Kapikulu Askerleri (Pasukan Sultan). Ocak atau Korps Janissari ini terdiri dari 196 Orta dan secara umum dibagi menjadi beberapa 3 bagian yaitu Cemaat (assembly-110 Orta), Beyliks atau Böluk (division-61/62 Orta), dan Sekban atau Seğmen (Dog Handler-33/34 Orta). Di dalam Cemaat terdapat pasukan elit bernama Solak Ortas. Di dalam Solak Ortas terdapat Műteferrika yg beranggotakan putra vassal atau pejabat tinggi kemiliteran. Masing2 Orta mempunyai ciri khas sendiri2 sesuai dgn asal, tugas, dan atribut masing2.

Berikut ini adalah Lencana pada masing2 Orta dan Orta yg menonjiol dalam Struktur Ocak Janissari :

Selain Ocak Janissari jg terdapat korps lain yg juga masuk dalam organisasi Janissari. Yang pertama adalah Acemi Oĝlan yg juga diikutkan dalam kampanye militer sebagai program magang. Ada juga Cebeci sebagai penanggung jawab logistik tempur, Topçu atau prajurit artileri, Saka (water carrier) yg bertugas membawa perbekalan, Top Arabaci yang bertugas dalam transportasi meriam dan persenjataan, dan Humbaraci (Janissary Grenadier).

Di samping itu terdapat kesatuan Janissari lain yang bertugas secara terpisah, yaitu Bostanci (Gardener) yg bertugas menjaga 70 area di sekitar Istana Kesultanan dan area sekitar Istanbul. Baltaci (Wood Cutter) yg bertugas menjaga area di dalam istana, kesatuan ini dipimpin oleh Kizlar Agha (Chief of Black Eunuch). Haseki Infantry Guard yg bertugas menjaga artileri di dalam benteng Ibukota Kesultanan.
bostanchi

Dari tadi ane menyebutkan soal Orta, sebenarnya apa sih Orta itu? Orta secara kasar dapat diartikan sebagai divisi. Satu Orta terdiri dari 50 (abad 15) – 100 (abad 16) orang yg dipimpin oleh Çorbasi (Soup Man) yg dibantu oleh enam perwira, sejumlah NCO, petugas administratif, dan Imam. Çorbasi juga bertanggung jawab atas Acemi Oĝlan yg magang di Orta tersebut. Di dalam Cemaat terdapat pasukan elit yg bernama Solak Ortas yg dipimpin oleh Solakbasi yg dibantu oleh 2 perwira.

Sultan akan memilih sendiri Yeniçeri Ağasi (Agha Janissari). Agha Janissari ini adalah figur yg mempunyai kekuasaan yg luar biasa, bahkan Wazir Agung pun tidak berhak untuk memberi perintah kepadanya. Agha Janissari hanya menerima perintah langsung dari Sultan. Untuk menentukan semua keputusan di internal korps Janissari, Agha Janissari berkonsultasi dulu dengan Divan (Dewan) yg terdiri Kul Kâhyasi, Sekbanbaşi, 3 CO (Commanding Officer) dari 3 Orta elit yaitu Zağarcibaşi, Samsuncuibaşi, Turnacibaşi, dan juga Başçavuş (Provost-nya Janissari).

Agha Janissari memimpin seluruh 196 Orta, tapi hanya boleh memimpin jika sultan hadir. Tapi jika Sultan tidak hadir, maka Agha Janissari menyerahkan komando kepada siapapun Komandan Tentara yg ditunjuk Sultan.

Di bawah Agha Janissari terdapat staf Jenderal dan perwira tinggi termasuk Sekbanbaşi (komandan Sekban) dan Kul Kâhyasi (Komandan korps Bostanci), yg keduanya bertindak sebagai ajudan Agha Janissari.

Berikut ini beberapa perwira tinggi dan staf lain dalam hierarki Janissari
1. Istanbul Ağasi, yg bertanggung jawab terhadap pendidikan Acemi Oĝlan dan semua unit yg berada di Istanbul.
2. Ocak Imam (Chief Chaplain), bertugas sebagai Imam resmi kesatuan Janissari, berasal dari sekte Bektashi.
3. Solakbaşi, komandan Solak Ortas
4. Beytülmalci, bendahara umum Janissari
5. Muhzir Ağa, semacam humasnya Janissari
6. Kâhya Yeri, wakil Agha Janissari dalam Pertemuan Besar (Great Council) dgn Sultan dan bawahannya
7. Talimhanecibaşi, yg bertanggung jawab terhadap keseluruhan pendidikan dan pelatihan militer
8. Azar Başi, penanggung jawab tahanan dan penjara
9. Yeniçeri Kâtibi, Sekretaris Umum Janissari adalah orang sipil yg direkrut untuk mengurusi birokrasi dalam Janissari
10. Yayabaşi, mantan komandan Yaya infantry, yg bertanggung jawab dalam mengumpulkan gulungan dan surat2.

Berikut ini adalah perwira senior dalam kepelatihan dan rekruitmen :
1. Rumeli Ağasi, yg bertanggung jawab terhadap pelatihan 14 Orta dan Devshirme di Rumelia (Provinsi Ottoman di Eropa)
2. Anadolu Ağasi, yg bertanggung jawab terhadap pelatihan 17 Orta dan Devshirme di Asia
3. Gelibolu Ağasi, yg bertanggung jawab terhadap pelatihan Orta di Gallipoli
4. Kuloğlu Başçavuşu, yg bertanggung jawab terhadap pelatihan militer anak2 Janissari yg dimasukkan dalam Ocak Janissari.

Janissari menganggap Sultan sebagai Bapak yg memberi makan mereka, sehingga kepangkatan dalam satu Orta memakai istilah2 kuliner. Berikut ini adalah hierarki kepangkapatan dalam satu Orta :
1. Çorbaci (Soup Maker), setara Kolonel, yg dibantu oleh :
2. Aşçi Usta (Master Cook)
3. Aşçi (Cook)
4. Baş Karakulluçu (Head Scullion Junior Officer)
5. Çavuş (messenger) = Karakulluçu (Sculiion), yg setara dgn Sersan
6. Bayraktar, sebagai pembawa panji
7. Odabaşi, kepala barak
8. Vekilharç (Quartermaster)
9. Sakabaşi, penanggung jawab distribusi air
10. Imam
11. Nefer atau Yoldaş, atau prajurit Janissari biasa. Yg junior disebut sebagai Eşkinci, yg veteran disebut sebagai Amelimanda, yg sudah pensium disebut sebagai Otutark. Otutark kadang diperlukan dalam peperangan dan diberikan previlege untuk berdagang.

Selain struktur di atas, di setiap kota benteng seperti Baghdad, Erzurum, Jerussalem, Van, Khadin, dll milik Ottoman jg punya struktur sendiri. Setiap Janissari di kota tersebut dipimpin oleh Serhad Ağasi (Frontier Agha). Di provinsi Ottoman di Afrika Utara, Janissari mempunyai struktur tersendiri, dan mempunyai Divan (Dewan) sendiri, yg berdiri otonom dari pemerintahan Istanbul. Lama kelamaan Janissari juga direkrut sendiri oleh para Beylerbey/Sançakbey, contohnya di Damascus ada dua macam Janissari, yg pertama Janissari resmi kesultanan Ottoman dan yg kedua Janissari yg menjadi pasukan pribadi Bey atau Pasha.

ATRIBUT

Atribut Korps Janissari terdiri dari bendera/panji utama/Bayrak Janissari yg disebut sebagai Imam Âzam dan panji masing2 Orta. Imam Âzam berbahan sutra putih dgn diberikan inskripsi yg berarti :
“Kamilah yg memberikan Kemenangan dan Kemenangan yg gemilang.
Allah penolong kami dan Dialah sebaik2 penolong. Oh Muhammad, Engkau telah membawa kabar gembira bagi orang beriman.”

Legenda mengatakan bahwa Orhan Ghazi memberikan panji berwarna dasar merah dengan bulan sabit tunggal di atasnya kepada unit Janissari yg dibentuk, mirip dgn bendera nasional Turki sekarang, 2 bulan sabit yg lain ditambahkan setelah penaklukkan Konstantinopel. Motif lain yg ada adalah matahari, bintang, belati, “Tangan Fatimah”, Dzulfiqar (pedang Ali bin Abu Tholib), Tuĝ, dll.

Simbol lain yg tidak biasa, tapi merefleksikan filosofi Janisari adalah sebuah Kazan, yaitu kuali tembaga besar, yg dianggap harga yg paling berharga masing2 Orta. Sekali sehari, para Janissari makan makanan (Pilav) yg dimasak dgn Kazan. Dgn menutup Kazan ini, menandakan para Janissari sedang melakukan pembangkangan, dan jika berkumpul di sekitarnya menandakan mereka mencari perlindungan. Setiap Orta mempunyai Kazan sendiri2. Kazan ini dibawa dalam parade dan peperangan. Dalam parade, jika Kazan muncul maka semua Janissari wajib untuk bersikap hening. Dalam pertempuran, Kazan berfungsi sebagai semacam rally point jika dalam kesulitan. Jika kehilangan Kazan maka setiap Orta tersebut harus menanggung malu jika berhadapan dengan Orta yg lain.

SERAGAM dan SENJATA

Seragam Janissari berbahan wool, yg dibuat oleh pengrajin Yahudi di Thessaloniki. Topi Börk dan Üsküf merupakan identitas utama Janissari yg mencerminkan pengaruh Darwis Bektashi. Sebuah sendok kayu yg ditempelkan pada topi ini adalah pertanda bahwa Janissari menggunakan simbol2 kuliner. Perwira senior memakai aksesoris tambahan dari bahan bulu rubah, tupai, lynx,dll.

Sepatu Janissari umumnya dari kulit berwarna merah kecuali perwira Senior yg memakai sepatu berwarna kuning. Ikat pinggang jg menentukan status seorang Janissari. Sebagai contoh, dalam Korps Bostanci terdapat 9 tingkatan, dengan urutan dari bawah ke atas sebagai berikut : biru (1st), putih (2nd), kuning (3rd), campuran biru dan putih (4th), kain putih halus (5th), sutra putih (6th), kain hitam halus (7th), hitam pekat (8th & 9th). Pada awalnya, Janissari memakai full armor, tetapi pada abad ke 16 mereka sudah mulai meninggalkan full armor kecuali untuk pasukan yg bertugas dalam pengepungan.
Pada awalnya, Janissari adalah infantry archer yg dilengkapi dengan busur dan crossbow (çanra). Dalam perkembangannya mereka juga memakai banyak senjata seperti pedang, gada, kapak, hingga senjata api. Pedang yg dipakai antara lain Yoldaş, Kiliç (pedang) yg melengkung, scimitar, yatağan (pedang dengan lengkungan ganda), & meş (rapier). Gada yg dipakai antara lain gürz, şeşper, koçbaşi. Janissari juga kadang memakai pole-arm yg disebut sebagai harba dan turpan. Janissari orta tertentu (Baltaci) juga memakai balta (halberd).

senapan musket yang digunakan Janissary

Yataghan

Prajurit Ottoman biasanya menggunakan senjata yg didapat dari rampasan perang dan juga yg diimpor dari Eropa. Pemasok senjata utama bagi Ottoman adalah Inggris dan Belanda yg notabene adalah negara Kristen Protestan. Mereka memasok bubuk mesiu, laras Arquebus, bahan baku pedang, dll. Sebagai balasannya, Ottoman mengekspor laras senapan yg terkenal terbaik pada masanya, selain itu Ottoman juga mengajarkan penggunaan artileri kepada negara Kristen Protestan yg pada waktu itu bermusuhan dgn Negara Eropa yg Katolik.

Ottoman memproduksi sendiri berbagai macam senjata yg dikendalikan oleh Gilda2. Gilda2 tersebut masing2 memproduksi pistol, pedang, scimitar, pistol, musket, dan belati, serta kapak. Sedangkan, artileri diproduksi sendiri oleh Cebehane (arsenal). Mulai abad 17, Ottoman mengadopsi persenjataan dari Barat. Diantaranya adalah karabina (karabin), müsket tüfenkleri (flintlock musket), tabanca (pistol), çift tabancali tüfenk (double barreled pistol), zabtanah (musket), miquelet (snaplock musket).
Pada abad ke-18, mulai dikenalkan bayonet. Tapi hal ini banyak ditentang oleh para Janissari karena menganggap menggunakan bayonet merupakan perbuatan yg tidak terhormat. Dengan menggunakan bayonet maka prajurit akan tampak seperti mesin karena berperang secara kolektif, bukan menonjolkan kekesatriaan permainan pedang.

KAMPANYE MILITER

Janissari sebagai pasukan utama Ottoman turut serta pada hampir semua peperangan yg ada. Mulai dari Asia, Afrika Utara, dan Eropa. Tercatat pertama kali Janissari berperan penting dalam pertempuran adalah pada pertempuran melawan Turki Karaman di Konya (1389), di sini Janissari yg berada di tengah mampu menghalau serangan musuh dengan support dari kavaleri di sayap dan belakang.

Pada pertempuran Kosovo (1389), terdapat 2000-5000 Janissari yg ikut dalam pertempuran. Janissari yg ditempatkan di tengah mampu melakukan serangan balik di bawah pimpinan Bayezid Yildirim setelah sebelumnya dipukul mundur oleh serangan pasukan Serbia. Pada pertempuran ini, Janissari melakukan kegagalan fatal pertama mereka yaitu kegagalan melindungi Sultan Murad I sehingga beliau terbunuh oleh Milos Obilic.

Pada Pertempuran Ankara (1402) melawan Timurlenk, Janissari menempati posisi di perbukitan dan mampu memukul mundur kavaleri Timurid yg terkenal tangguh. Walaupun pada akhirnya Ottoman kalah pada pertempuran ini dan banyak Janissari terbunuh, mereka mampu mengembalikan kejayaan Ottoman 11 tahun kemudian di bawah Mehmed I.

Pada pertempuran Varna (1444), Janissari mampu membunuh salah satu komandan pasukan musuh, WladislaW III-Raja Polandia, dan membalikkan keadaan untuk keuntungan Ottoman.

Keberhasilan terbesar Janissari adalah dalam Pengepungan Konstantinopel (1453). Janissari yg ikut dalam pengepungan ini sebanyak 5000-10000. Janissari terbukti sebagai ahli dalam pengepungan. Ulutbali Hasan (seorang Sipahi) dan 30 orang yg mengikutinya, termasuk beberapa Janissari, mengorbankan diri untuk memasang panji Ottoman di atas tembok Konstantinopel sehingga meningkatkan semangat juang pasukan lainnya.

Penyerbuan Janissary pada Konstantinopel 1453

Janissari jg berperan dalam peperangan Ottoman melawan Moldavia dalam pertempuran Vaslui dan Valea Alba, yg berakhir dgn kemenangan Ottoman. Termasuk dalam peperangan melwan Vlad Draculea dimana Janissari yg dipimpin oleh Radu cel Frumos (Radu Bey) mampu mengalahkan tentara Wallachia dan Vlad harus melarikan diri ke Hungaria.

Pada pertempuran Chaldiran (1514), Janissari terbukti lebih hebat daripada pasukan Qizilbash Persia, dengan keunggulan penggunaan musket, sehingga kemenangan berada di pihak Ottoman. Termasuk dalam pertempuran Ridaniyeh dan Marj Dabiq melawan Mameluk yg berakhir dgn dikuasainya Mesir oleh Ottoman.

Selanjutnya Janissari mengikuti hampir seluruh peperangan yg dilakukan Ottoman termasuk kemenangan Ottoman dalam pertempuran laut Zonchio & Preveza hingga kekalahan di Lepanto, kegagalan pengepungan Vienna hingga 2 kali (1526 & 1683), kegagalan pengepungan Malta, hingga pertempuran yg mereka lakukan melawan Sipahi pd masa pembubaran mereka pada Juni 1826.

PROMOSI, GAJI, & MORAL

Promosi dan transfer dilakukan setiap dua hingga delapan tahun, atau jika ada kebijakan dari Sultan yg baru. Dalam Korps Janissari sangat mengunggulkan senioritas. Kedisiplinan dilaksanakan secara ketat. Murad I membuat 16 aturan untuk Janissari yaitu:
• kepatuhan total pada perwira,
• kesatuan dalam tujuan,
• budaya militer yg ketat,
• tidak diperbolehkan hidup mewah,
• kesalehan ketat di bawah kode Bektashi,
• menerima hanya orang yg terbaik,
• hukuman mati bagi pelanggar hukum berat,
• hukuman hanya dilakukan oleh perwira dalam satu Orta,
• promosi berdasarkan senioritas,
• menjaga diri mereka sendiri,
• tidak boleh menumbuhkan jenggot bagi prajurit biasa,
• tidak boleh menikah hingga pensiun,
• hanya hidup di barak,
• tidak boleh berdagang,
• pelatihan militer full time,
• dan dilarang minum alkohol dan berjudi.

Hukuman atas aturan di atas diberikan bervariasi mulai dari kurungan hingga hukuman mati. Setelah melakukan hukuman, maka seorang janissari wajib mencium tangan perwiranya sebagai tanda kepatuhan. Jika diketahui desersi, hukuman yg dilaksanakan adalah hukuman mati dengan cara dibenamkan ke laut atau danau pada malam hari untuk menghindari rasa malu pada masyarakat.
Janissari menerima gaji setiap 3-4 kali pertahun, jumlah yg mereka terima awalnya sangat kecil namun mereka mendapatkan baju dan kain wool yg berkualitas, mendapatkan pasokan makanan yg lengkap, dan uang yg cukup untuk membeli peralatn militer yg baru. Janissari juga kan mendapatkan bonus gaji dan medali atas keberanian mereka di medan perang. Awalnya, yg dianggarkan untuk Janissari meliputi 10% dari belanja total militer Ottoman, namun pada masa Sultan Mehmed II naik menjadi 15%, dgn adanya kenaikan gaji Janissari.

Janissari tinggal di barak (Oda) mereka masing2. Kesatuan yg paling elit tinggal di sekitar istana Topkapi,Istanbul, yaitu Eski (lama) dan Yeni (baru) Oda. Dalam barak terdapat dapur, kamar, dan gudang senjata. Di setiap Barak ditandai dengan emblem masing2 Orta. Janissari hidup di barak dan menjalani kehidupan mirip rahib, diperbolehkan menikah hanya kalau sudah pensiun.

Selama beberapa abad Janissari menjadi korps infantri yg paling ditakuti di Eropa. Mereka jauh lebih disiplin dari lawan2 mereka dari Eropa. Janissari mempunyai suatu kode kehormatan yg mungkin mirip dgn kode etik knight atau samurai. Mereka menghormati para pemberani dan ada suatu kompetisi dalam pertempuran untuk mendapatkan medali kehormatan. Ada medali yg dinamakan çelenk yg hanya diberikan kepada Janissari yg punya keberanian extra untuk melawan musuh yg lebih superior. Janissari yg gugur di medan pertempuran mendapat gelar Şahid, keluarga yg ditinggalkan akan mendapat uang pensiun, anak laki2nya akan diberi pekerjaan, dan anak perempuannya akan dicarikan suami. Setiap anggota Janissari yg cacat akan menjadi anggota kehormatan Ortanya.

Sepanjang sejarah, Janissari terkenal diantara rakyat miskin terutama karena pola kehidupan mereka yg “membumi” dan kehidupan semi-sosialis mereka. Hal ini benyak terpengaruh dari ajaran Bektashi. Agama menjadi dasar motivasi dan kehormatan Janissari. Setiap perbuatan yg mereka lakukan berdasar atas ajaran Darwis Bektashi. Eksistensi mereka hanyalah untuk melebarkan sayap kekuasaan Islam.
TUGAS LAIN

Ada bagian dari Janissari yg disebut sebagai Mehter (Mehterhane) yg bertugas sebagai marching band, baik di pertempuran maupun parade. Untuk lebih lengkapnya liat trit ane ttg Mehter. Agha Janissari jika sedang tidak berperang bertugas sebagai kepala polisi di Istanbul. Semua Orta yg berada di ibukota menjalani tugas yg sama. Jika sedang ada kampanye militer, tugas ini diserahkan kepada Açemi Oglan. Selain itu, Janissari jg bertugas sebagai pemadam kebakaran di Istanbul.

Mehter, korps musik dari janissary
Anggota tingkat menengah Janissari yg ditempatkan di setiap Sancak (Provinsi) jg berperan sebagai administrator lokal, berperan dalam pembangunan infrastruktur, sebagai pemadam kebakaran dll. Perannya sebagai administrator lokal ini menyebabkan banyak anggota Janissari yg akhirnya ikut dalam birokrasi dan perdagangan, yg lama kelamaan berubah menjadi memonopoli birokrasi dan kegiatan ekonomi di wilyah tersebut.

Orta Janissari yg berada di Afrika Utara, seperti Janissari yg berda di bawah komando Heyreddin Barbarossa, selain berperang, mereka juga melakukan kegiatan perdagangan. Ada pula yg menjalani bisnis bajak laut untuk membajak kapal2 dagang orang2 Eropa.

CERITA TENTANG AKHIR JANISSARI

Janissari menyadari pentingnya mereka bagi Kesultanan sehingga mulai menginginkan kehidupan yg lebih baik. Pada 1449 mereka memberontak untuk pertama kalinya, menuntut upah lebih tinggi dari yang mereka peroleh. Setelah 1451, setiap Sultan baru merasa berkewajiban untuk memberikan kanaikan gaji dan hadiah2 lainnya. Sultan Selim II tentara memberi izin untuk menikah pada 1566, merusak eksklusifitas kesetiaan Janissari kepada Dinasti Ottoman.

Pada awal abad 17, Janissari mempunyai pengaruh yg besar terhadap pemerintah, baik di Ibukota maupun di wilayah lainnya. Mereka akan memberontak jika ada upaya2 untuk memodernisasi struktur tentara. Sluruh kebijakan yg kesultanan didikte oleh Janissari. Jika ada sultan yg tidak sesuai dengan kepentingan mereka akan dikudeta dan digantikan oleh Sultan lain. Mereka memonopoli kepemilikan tanah, birokrasi, & perdagangan. Mereka juga mulai memasukkan anak2 mereka ke dalam struktur Janissari tanpa harus melalui pelatihan militer sehingga mengurangi kekuatan militer utama Ottoman.

Pada 1622, para Janissari adalah ancaman serius bagi stabilitas Kesultanan. Melalui keserakahan mereka dan ketidakdisiplinan, mereka menjadi pasukan yg tidak efektif menghadapi kekuatan Eropa. Pada 1622, sultan remaja, Osman II, setelah kekalahan dalam perang melawan Polandia, menyalahkan Janissari atas kekalahan tersebut. Beliau mulai membatasi peran Janissari dan menolak untuk “tunduk pada budak sendiri”. Sultan Genc Osman mencoba membubarkan korps Janissari. Pada musim semi, rumor berkembang bahwa Sultan mempersiapkan pasukan untuk bergerak melawan mereka, Janissari memberontak dan menjadikan Sultan sebagai tawanan. Sultan Genc Osman akhirnya terbunuh oleh Wazir Agung Davut Pasha dgn cara dipencet testisnya.

Sultan Genc Osman

Anggaran kesultanan untuk membiayai gaji Janissari sedemikian besarnya, walaupun banyak diantara mereka yg bukan prajurit, bahkan Sultan harus membayar gaji Janissari yg sudah wafat. Keefektifitasan mereka sebagai pasukan tempur menurun jauh. Satu2nya yg takut akan kekuatan Janissari hanyalah rakyat Ottoman sendiri. Kisah ini mirip dengan Praetorian Guardnya Romawi. Janissari yg awalnya penjaga Kesultanan akhirnya menjadi pagar makan tanaman, yg awalnya pelindung Kesultanan malah menjadi ancaman terbesar gabi eksistensi Kesultanan. Perbatasan utara Kekaisaran Ottoman perlahan-lahan mulai menyusut ke selatan setelah Pertempuran kedua Wina tahun 1683, salah satunya disebabkan oleh kelemahan Janissari.

Pada tahun 1807, Janissari memberontak dan menggulingkan Sultan Selim III, yg mencoba untuk memodernisasi tentara. Mustafa Bayrakdar (Mustafa Bayraktar, yg ironisnya adalah mantan anggota Janissari), Pasha dr Rustchuk, yg mendukung kebijakan modernisasi Sultan gagal untuk menggagalkan pemberontakan ini karena tidak datang di Istanbul tepat waktu dgn 40.000 pasukannya. Janissari menaikkan Sultan Mustafa IV ke atas tahta. Ketika Mustafa Bayrakdar datang, dy akhirnya menurunkan Mustafa IV dan menggantinya dengan Sultan Mahmud II.

Di bawah Sultan Mahmud II, Mustafa Bayrakdar (Alemdar Mustafa Pasha) mereformasi militer dan membentuk suatu pasukan baru serupa Nizam-i-Cedid, yg dinamakan Sekban-i-Cedid. Lagi2 Janissari mengancam akan melakukan pemberontakan atas usaha modernisasi ini. Sultan Mahmud II yg pada waktu itu belum punya kekuasaan riil akhirnya melakukan kompromi dgn Janissari dan menyerahkan Alemdar Mustafa Pasha. Alemdar Mustafa Pasha akhirnya terbunuh dengan cara meledakkan gudang mesiu beserta 400 Janissari yg mengepungnya.

Keadaan mulai berubah pada tahun 1826. Sultan Mahmud II sudah cukup matang. Beliau mengeluarkan suatu fatwa bahwa akan dibentuk suatu pasukan baru untuk menandingi kekuatan Eropa. Beliau sadar bahwa dgn fatwa ini Janissari akan memberontak. Tapi kali ini Sultan Mahmud II sudah siap. Pasukan kavaleri Sipahi sudah disipakan di Ibukota untuk berjaga2. Ketika Janissari yg tanpa persiapan melakukan pemberontakan dgn menyerang istana, Sipahi yg lebih siap dan membawa perlengkapan tempur yg lengkap mampu memukul mundur Janissari dan memaksa mereka kembali ke barak. Janissari yg terperangkap di dalam barak ditembaki dengan artileri dan mengakhiri riwayat mereka.

Kejadian ini berlangsung hampir bersamaan di seluruh wilayah Kesultanan yg terdapat barak Janissari, sehingga timbul kesan bahwa Sultan sudah menyiapkan ini sejak lama. Para Agha Janissari ditangkap dan dihukum mati di menara yg sekarang terkenal dengan Menara Darah. Janissari yg tersisa akhirnya melarikan diri dan menanggalkan identitas mereka. Kejadian ini dikenal sebagai The Auspicious Incident (Vaka-i Hayriye) terjadi pada Juni 1826, yg mengakhiri riwayat Janissari untuk selama-lamanya.

Antara Warung kopi Aceh dan Ottoman

Warung kopi mudah ditemukan di berbagai tempat di Nanggroe Aceh Darussalam. Berbagai kalangan duduk dan asyik mengobrol berjam-jam di tempat itu. Warung kopi telah menjadi titik untuk bertemu bagi mereka yang suka berbincang, mulai dari soal seni, politik, bisnis, hingga obrolan lainnya. Kehadiran warung kopi di Tanah Rencong itu memiliki sejarah yang panjang.

Di NAD, warung kopi merebak di mana-mana. Semula banyak ditemukan di pantai barat, namun kini di pantai timur mudah pula ditemukan warung kopi. Meski demikian, masih sulit ditelusuri asal-usulnya. Tidak banyak bukti tertulis dan arkeologis yang memberi petunjuk soal kehadiran warung kopi di sana sehingga kita hanya bisa menduga-duga masuknya warung kopi ke provinsi itu.

Kehadiran warung kopi di NAD sangat terkait dengan sejarah perkembangan tempat tersebut. Ketika Kesultanan Aceh berkembang, mereka kerap kali berkomunikasi dengan Kesultanan Ottoman yang sekarang telah menjadi negara Turki.

”Bahkan, saya melihat Aceh sebenarnya menjadi protektorat Ottoman. Kalau Aceh ingin sesuatu, Ottoman selalu membantu. Umumnya bantuan Ottoman berupa alat-alat perang,” kata guru besar IAIN Ar Raniri, Prof M Hasbi Amruddin, yang banyak mengkaji sejarah hubungan Aceh dengan Ottoman. Ia yakin komunikasi itu sangat intensif sehingga banyak hal lain, selain teknik perang dari Turki, yang berpengaruh pada kehidupan warga Kesultanan Aceh.
Budayawan Aceh, LK Ara, menuturkan, dia menemukan beberapa bukti yang cukup kuat mengenai kehadiran Ottoman di Aceh.

Ara menelusuri sejumlah bangunan di beberapa tempat yang mengindikasikan bangunan bergaya Ottoman. Ia bahkan menduga pada masa lalu pelatih-pelatih kemiliteran Ottoman banyak membantu Aceh ketika berperang melawan Portugis.

Kehadiran Ottoman diperkirakan berpengaruh pada gaya hidup warga Aceh. Salah satunya terkait masuknya kopi, gaya hidup minum kopi, dan juga kehadiran warung kopi. Kopi kemungkinan sudah masuk jauh sebelum didatangkan oleh VOC ke Nusantara, seperti yang ada di Minangkabau.
Tempat untuk minum kopi yang paling awal dikenal di Turki dengan nama Kiva Han didirikan pada tahun 1475 di kota Istanbul. Tempat minum ini menjadi salah satu titik dalam sejarah kopi, setelah pada awal abad ke-13 kopi ditemukan dan diperkenalkan mulai dari Etiopia, Yaman, Arab Saudi, hingga Ottoman. Mungkin dari nama Kiva Han itulah kemudian dikenal istilah ”kafe” setelah masuk ke Eropa. Sangat boleh jadi, pada masa yang tidak lama setelah di Ottoman itulah kafe diperkenalkan di Aceh.

kebiasaan minum kopi sudah ada pada masyarakat di kerajaan Ottoman.

”Saya juga sepakat, warung kopi yang di Aceh itu berasal dari Turki. Ketika saya tinggal di Turki, saya sering melihat warung kopi yang berada tidak jauh dari masjid. Seusai shalat mereka mendatangi warung kopi untuk mengobrol, persis seperti di Aceh,” papar Hasbi.

Ara juga mengatakan, di Aceh mudah ditemukan orang-orang yang seusai shalat di masjid mendatangi warung kopi. Mereka duduk berjam-jam sambil mengobrol.

Sejumlah temuan Kompas juga memperlihatkan ada kesamaan antara tempat minum kopi di Turki dan warung kopi di Aceh. Di Aceh masih ditemukan warung kopi dengan meja pendek. Tinggi meja hampir sama dengan dudukan kursi. Sebuah foto warung kopi di Istanbul pada abad ke-19 juga memperlihatkan hal yang sama.

Pembuatan minuman kopi dilakukan dengan cara kopi langsung dimasak dengan air, setelah itu disaring. Ini juga sama dengan penyajian kopi ala Turki.

Ketika warung kopi berkembang di Ottoman, pada saat yang sama sufisme juga berkembang di tempat itu. Kopi diminum oleh kaum sufi sebelum mereka mengadakan ritual. Mereka minum kopi agar kuat menahan kantuk. Pada saat yang sama, paham sufisme juga sangat kuat di Aceh. Beberapa tokoh, seperti Hamzah Fanzuri dan Syamsudin Al Sumatrani, juga merupakan tokoh sufi. Sangat mungkin kebiasaan di Ottoman itu masuk ketika paham sufisme juga masuk ke Aceh.

”Saat saya masih kecil, sekitar tahun 1970-an, saya sering keluar rumah pada malam hari. Saya mendatangi kedai kopi untuk mendengarkan pembacaan hikayat. Mereka mengobrol sambil minum kopi, kemudian mendengarkan pembacaan hikayat,” kata Hasbi, yang menduga ada keterkaitan antara warung kopi dan kebiasaan warga Aceh untuk mendengarkan pembacaan kitab-kitab, yang beberapa di antaranya berisi ajaran-ajaran sufisme.

Pengaruh orang Tionghoa

Pengaruh Ottoman secara umum mudah ditemukan di pantai timur Sumatera. Warung kopi juga banyak ditemukan di wilayah pantai timur Aceh, tapi ditemukan di pantai barat belum lama ini. Setidaknya kita bisa berkesimpulan, di tempat yang pengaruh Ottoman-nya cukup kuat terdapat warung kopi.

Akan tetapi, semua keterkaitan itu masih perlu diuji. Kita masih membutuhkan penelitian yang mendetail soal asal-usul warung kopi di Aceh. Setidaknya kita perlu memerhatikan fakta bahwa tidak sedikit pengaruh kebiasaan orang Tionghoa, yang juga hadir di Aceh sejak beberapa abad lalu, dalam hal kebiasaan minum kopi. Orang Tionghoa juga sudah hadir di tanah Aceh sejak awal Aceh berdiri.

Pengaruh kebiasaan orang Tionghoa dalam hal minum kopi setidaknya tampak dalam makanan yang disediakan di warung kopi. Makanan-makanan kecil itu pasti tidak ditemukan di Ottoman. Pengaruh itu sangat kuat karena orang China yang datang ke Asia Tenggara juga memiliki kebiasaan duduk dan mengobrol berlama-lama di warung. Sangat mungkin orang Tionghoa ikut mengembangkan warung kopi itu.

Kenyataan itu terlihat dari kepemilikan beberapa warung kopi lama yang dikelola orang Tionghoa. Pemilik Warung Kopi Ulee Kareng, H Nawawi, menceritakan, sebelum mendirikan warung kopi, ayahnya bekerja di warung kopi milik seorang warga Tionghoa di Banda Aceh.

Fakta lainnya adalah penggunaan kata ”warung”, yang merupakan kata dalam bahasa Jawa, juga perlu dikaji pengaruh kebiasaan orang Jawa terkait dengan kehadiran warung itu. Meski demikian, sangat mungkin juga ”warung kopi” diambil oleh orang Aceh dari orang Medan yang lebih banyak menamai tempat nongkrong itu sebagai warung kopi dan sering disingkat warkop dibanding menggunakan nama kedai, lapo, kios, dan lain-lain. Orang Medan mengenal kata ”warung” kemungkinan karena kehadiran orang Jawa di pantai timur Sumatera.

Sejarah kecil mengenai warung kopi boleh dibilang adalah sejarah yang tidak penting. Akan tetapi, melalui warung kopi dan sejarah warung kopi itu kita sebenarnya bisa mengintip soal besar, yaitu kebudayaan Indonesia.

(ANDREAS MARYOTO/MAHDI MUHAMMAD)
sumber : kompas

Ternyata begitu dekat hubungan muslim rum (sebutan untuk Ottoman sebagai orang eropa muslim) dengan masyarakat di Aceh.

Menyusuri Hubungan Mesra Kerajaan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani

Panta Rei Ouden Menei. Semuanya mengalir dan berputar. Demikian pula Sriwijaya. Kerajaan besar Budha yang berpusat di selatan Sumatera ini pada akhir abad ke-14 M mulai memasuki masa suram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya mempercepat kematiannya. Satu persatu daerah-daerah kekuasaan Sriwijaya mulai lepas dan menjadi daerah otonom atau bergabung dengan yang lain. Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam lalu mendirikan kerajaan Islam kecil-kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatera bergabung menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.

Di Eropa, akibat Perang Salib yang berlarut dan persinggungannya dengan para pedagang Islam, orang Eropa mulai mencari emas, rempah-rempah, kain, dan segala macam barang ke dunia lain yang selama ini belum pernah dijangkaunya. Kaum Frankish mendengar adanya suatu dunia baru di selatan yang sangat kaya.

Pada 1494 Paus Alexander VI memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol. Mandat ini dikenal sebagai Perjanjian Tordesillas1 yang membagi dua dunia selatan untuk dieksplorasi sekaligus target penyebaran agama Kristen, satu untuk Portugis dan yang lainnya untuk Spanyol.

Menyaksikan Portugis dan Spanyol sukses dalam ekspedisinya, bangsa-bangsa Eropa lainnya tertarik untuk mengekor. Perancis, Inggris, dan Jerman kemudian juga mencoba untuk mengirimkan armadanya masing-masing untuk menemukan dunia baru yang kaya-raya. Misi kerajaan-kerajaan Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Emas yang melambangkan Eropa tengah mencari daerah kaya untuk dijajah, Glory dan Gospel dinisbatkan untuk penyebaran dan kejayaan agama Kristen.

Sejarahwan Belanda J. Wils mencatat jika pendirian pos-pos misionaris awal di Nusantara selalu mengikuti gerak maju armada Portugis-Spanyol, “…pos-pos misi yang pertama-tama di Indonesia secara praktis jatuh bersamaan dengan garis-garis perantauan pencarian rempah-rempah dan ‘barang-barang kolonial’. Dimulai dari Malaka, yang ditaklukkan pada tahun 1511, perjalanan menuju ke Maluku (Ambon, Ternate, Halmahera), dan dari situ selanjutnya ke Timor (1520), Solor dan Flores, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1544, 1563), dan berakhir di paling Timur Pulau Jawa (1584-1599).”2
Kesultanan Aceh Darussalam

Peran Sriwijaya digantikan oleh Kesultanan Aceh Darussalam yang berasal dari penggabungan kerajaan-kerajaan Islam kecil seperti Kerajaan Islam Pereulak, Samudera Pase/Pasai, Benua, Lingga, Samainra, Jaya, dan Darussalam. Ketika Portugis merebut Goa di India, lalu Malaka pun akhirnya jatuh ke tangan Portugis, maka kerajaan-kerajaan Islam yang telah berdiri di pesisir utara Sumatera seperti kerajaan Aceh, Daya, Pidie, Pereulak (Perlak), Pase (Pasai), Teumieng, dan Aru dengan sendirinya merasa terancam armada Salib Portugis.

A. Hasjmi mengutip M. Said (Aceh Sepanjang Abad, hal.92-93) menulis, “Untuk mencapai nafsu jahatnya, dari Malaka yang telah dirampoknya, Portugis mengatur rencana perampokan tahap demi tahap. Langkah yang diambilnya, yaitu mengirim kaki tangan-kaki tangan mereka ke daerah-daerah pesisir utara Sumatera untuk menimbulkan kekacauan dan perpecahan dalam negeri yang akan dirampoknya itu, kalau mungkin menimbulkan perang saudara, seperti
B.
yang terjadi di Pase, sehingga ada pihak-pihak yang meminta bantuan kepada mereka, hal mana menjadi alasan bagi mereka untuk melakukan intervensi.”3

Strategi licik Portugis ini dikemudian hari dicontoh Snouck Hurgronje. Akibatnya, Portugis, menjelang akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16 telah menguasai kerajaan Aru (Pulau Kampai), Pase, Pidie, dan Daya. Di wilayah yang didudukinya, Portugis mendirikan kantor-kantor dagang dengan penjagaan ketat sejumlah pasukan.

Perkembangan yang kurang menguntungkan ini terus dipantau oleh Panglima Perang Kerajaan Islam Aceh, Ali Mughayat Syah. Panglima Perang yang juga putera mahkota Kerajaan Aceh ini yakin jika Portugis pasti akan menyerang kerajaannya. Mughayat Syah memaparkan hal ini kepada Sultan Alaiddin Syamsu Syah yang sudah uzur. Sultan sadar, untuk menghadapi Portugis, maka Kerajaan Aceh harus dipimpin oleh seorang yang muda, cekatan, dan cakap. Akhirnya Sultan Alaiddin Syamsu Syah segera melantik anaknya sebagai penggantinya. Ali Mughayat Syah pun menjadi raja baru dengan gelar Sultan Alaiddin Mughayat Syah. Sultan yang baru ini memandang, untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan pantai utara Sumatera, dari Daya hingga ke Pulau Kampai, seluruh kerajaan-kerajaan Islam yang kecil-kecil itu harus bersatu dalam kerajaan yang besar dan kuat. Maka begitu jadi sultan, Alaiddin Mughayat segera mengumumkan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam yang wilayah kekuasaannya meliputi Aru hingga ke Pancu di pantai utara, dan dari Daya hingga ke Barus di pantai Barat dengan beribukota kerajaan di Banda Aceh Darussalam. Padahal saat itu kerajaan-kerajaan Aru, Daya, Pase, Pidie, dan sebagainya masih diperintah oleh raja-raja lokal. Lewat peperangan yang gigih akhirnya laskar Islam ini berhasil menghalau Portugis bersama para sekutu lokalnya.

Berhasil mengusir Portugis, Sultan menciptakan bendera kerajaan Islam Aceh Darussalam yang dinamakan “Alam Zulfiqar” (Bendera Pedang) berwarna dasar merah darah dengan bulan sabit dan bintang di tengah serta sebilah pedang yang melintang di bawah berwarna putih. Sultan yang hebat ini menemui Sang Khaliq pada 12 Dzulhijah 936 H (Sabtu, 6 Agustus 1530).

Bersatu Dengan Kekhalifahan Turki Utsmani

Diikat kesatuan akidah yang kuat, Aceh Darusalam mengikatkan diri dengan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhalifahan Islam. Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).4

Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 M digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sekitar bulan September 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri. Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan Aceh.5 Walau berangkat dalam jumlah amat besar, yang tiba di Aceh hanya sebagiannya saja, karena di tengah perjalanan, sebagian armada Turki dialihkan ke Yaman guna memadamkan pemberontakan yang berakhir pada 1571 M.6

Di Aceh, kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reis sebagai gubernur (wali) Nanggroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan di wilayah tersebut.7 Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577) berjumlah sekitar 500 orang, namun seluruhnya ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik. Dengan bantuan tentara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka.8

rombongan ekspedisi kapal pasukan turki utsmani menuju aceh

Agar aman dari gangguan perompak, Turki Ustmani juga mengizinkan kapal-kapal Aceh mengibarkan bendera Turki Utsmani di kapalnya. Laksamana Turki untuk wilayah Laut Merah, Selman Reis, dengan cermat terus memantau tiap pergerakan armada perang Portugis di Samudera Hindia. Hasil pantauannya itu dilaporkan Selman ke pusat pemerintahan kekhalifahan di Istanbul, Turki. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Saleh Obazan sebagai berikut:

“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, Insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”

Namun Portugis tetap sombong. Raja Portugis Emanuel I dengan angkuh berkata, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristen, dan merampas kekayaan orang-orang Timur”9.

Futuhat Pedalaman Sumatera

Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Qahhar dilantik pada 1537 M dan bertekad untuk membebaskan pedalaman Sumatera dari kaum kafir. Dengan bantuan pasukan Turki, Arab, Malabar, dan Abesinia, Aceh masuk ke pedalaman Sumatera. Sekitar 160 mujahidin Turki dan 200 Mujahidin Malabar menjadi tulang punggung pasukan. Mendez Pinto, pengamat perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan komandan pasukan seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani dari Kairo. Sejarahwan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, memperkuat Pinto dan menyatakan ini merupakan bentuk nyata ukhuwah Islamiyah antar umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap tentara Salib di wilayah sekitar Aceh.10

Turki Utsmani bahkan diizinkan membangun satu akademi militer, “Askeri Beytul Mukaddes” yang di lidah orang Aceh menjadi “Askar Baitul Makdis” di wilayah Aceh. Akademi pendidikan militer inilah yang kelak dikemudian hari melahirkan banyak pahlawan Aceh yang memiliki keterampilan dan keuletan tempur yang dalam sejarah perjuangan Indonesia dicatat dalam dalam goresan tinta emas.11
pasukan Utsmani

Intelektual Aceh Nurudin Ar-Raniri dalam kitab monumentalnya berjudul Bustanul Salathin meriwayatkan, Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum”. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji.12 Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghalau Portugis. Di perjalanan, Huseyn Effendi sempat dihadang armada Portugis. Setelah berhasil lolos, ia pun sampai di Istanbul yang segera mengirimkan bala-bantuan yang diperlukan, guna mendukung Kesultanan Aceh membangkitkan izzahnya sehingga mampu membebaskan Aru dan Johor pada 1564 M.

Dalam peperangan di laut, armada perang Kesultanan Aceh terdiri dari kapal perang kecil yang mampu bergerak dengan gesit dan juga kapal berukuran besar. Sejarahwan Court menulis, kapal-kapal ini sangat besar, berukuran 500 sampai 2000 ton. Kapal-kapal besar dari Turki yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang ingin merampok wilayah-wilayah Muslim di seluruh Nusantara. Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan maritim yang besar dan sangat ditakuti Portugis di Nusantara karena mendapat bantuan penuh dari armada perang Turki Utsmani dengan segenap peralatan perangnya.13

Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M), di mana Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa kegemilangan, juga pernah mengirimkan satu armada kecil, terdiri dari tiga kapal, menuju Istanbul. Rombongan ini tiba di Istanbul setelah berlayar selama 12,5 tahun lewat Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, dua belas penasehat militer Turki, dan sepucuk surat yang merupakan sikap resmi Kekhalifahan Utsmaniyah yang menegaskan bahwa antara kedua Negara tersebut merupakan satu keluarga dalam Islam. Kedua belas pakar militer itu diterima dengan penuh hormat dan diberi penghargaan sebagai pahlawan Kerajaan Islam Aceh. Mereka tidak saja ahli dalam persenjataan, siasat, dan strategi militer, tetapi juga pandai dalam bidang konstruksi bangunan sehingga mereka bisa membantu Sultan Iskandar Muda dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh dan istana kesultanan.

Kesultanan Aceh mendapat keistimewaan untuk mengibarkan bendera Turki Utsmani pada kapal-kapalnya sebagai tanda hubungan erat keduanya.

Dampak keberhasilan Khilafah Utsmaniyah menghadang armada Salib Portugis di Samudera Hindia tersebut amatlah besar. Di antaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan rute ibadah haji dari Asia Tengg ara ke Mekkah; memelihara kesinambungan pertukaran perniagaan antara India dengan pedagang Eropa di pasar Aleppo, Kairo, dan Istambul; dan juga mengamankan jalur perdagangan laut utama Asia Selatan, dari Afrika dan Jazirah Arab-India-Selat Malaka-Jawa-dan ke Cina.

Kesinambungan jalur-jalur perniagaan antara India dan Nusantara dan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah juga aman dari gangguan14.

Bukan Hanya Aceh

Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Mekkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada juga yang menyebutkan dari penguasa Mekkah).

Jika kita bisa menelusuri lebih dalam literatur klasik dari sumber-sumber Islam, maka janganlah kaget bila kita akan menemukan bahwa banyak sekali kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara ini sesungguhnya merupakan bagian dari kekhalifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah. Jadi bukan sekadar hubungan diplomatik seperti yang ada di zaman sekarang, namun hubungan diplomatik yang lebih didasari oleh kesamaan iman dan ukhuwah Islamiyah. Jika satu negara Islam diserang, maka negara Islam lainnya akan membantu tanpa pamrih, semata-mata karena kecintaan mereka pada saudara seimannya. Bukan tidak mungkin, konsep “Ukhuwah Islamiyah” inilah yang kemudian diadopsi oleh negara-negara Barat-Kristen (Christendom) di abad-20 ini dalam bentuk kerjasama militer (NATO, North Atlantic Treaty Organization), dan bentuk-bentuk

kerjasama lainnya seperti Uni-Eropa, Commonwealth, G-7, dan sebagainya.

Qanun Meukuta alam

Salah satu keunggulan lain dari Kesultanan Aceh Darussalam adalah konstitusi negara yang disebut Qanun Meukuta Alam yang bersumberkan dari Qur’an dan hadits, yang sangat lengkap dan rinci. Kesultanan Brunei Darussalam merupakan salah satu kesultanan yang mengadopsi hukum ini dari Aceh.
Salah satu yang diatur adalah perayaan hari besar agama Islam. Di akhir bulan Sya’ban, misalnya, ketika shalat tarawih akan diadakan untuk pertama kalinya, maka di halaman Masjid Raya Baiturahman, raja memerintahkan agar dipasang meriam 21 kali pada pukul lima lebih sedikit. Tiap 1 Syawal, pukul lima pagi setelah sholat Subuh, juga dipasang meriam 21 kali sebagai tanda Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Haji pun demikian. Setiap hari besar Islam, kerajaan mengadakan acara yang semarak yang sering dikunjungi oleh tamu-tamu agung dari negeri lain.

Kebesaran Aceh diakui dunia internasional. Wilfred Cantwell Smith dalam Islam in Modern History, kelima besar Islam dunia saat itu adalah: Kekhalifahan Turki Utsmaniyah di Asia Kecil yang berpusat di Istanbul, Kerajaan Maroko di Afrika Utara yang berpusat di Rabat, Kerajaan Isfahan di Timur Tengah yang berpusat di Persia, Kerajaan Islam Mughol di anak benua India yang berpusat di Acra, dan yang kelima adalah Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara yang berpusat di Banda Aceh.

(Footnotes)

1. Ahmad Mansyur Suryanegara, Ulama dan Perkembangan Islam di Nusantara, Suara Hidayatullah, Juli, 2001.
2. J. Wils, artikel berjudul “Kegiatan Penyiaran Agama Katolik”, salah satu tulisan dalam buku “Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan”; Obor Indonesia; Jakarta; cet.1; 1987; hal. 356.
3. A. Hasjmi, 59 Tahun Aceh Merdeka Dibawah Pemerintahan Ratu, Bulan Bintang, cet.1, 1977, hal. 13-14.
4. Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca”, hal. 215-216.
5. Metin Innegollu, “The Early Turkish-Indonesian Relation,” dalam Hasan M. Ambary dan Bachtiar Aly (ed.), Aceh dalam Retrospeksi dan Reflkesi Budaya Nusantara, (Jakarta: Informasi Taman Iskandar Muda, tt), hal. 54.
6. Azyumardi Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”, Edisi Revisi, Jkt2004, h. 44
7. Metin Innegollu, ibid, hal. 54
8. Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal. 54.
9. Dr. Yusuf ats-Tsaqafi, Mawqif Uruba min ad-Daulat al-Utsmaniyyah, hal. 37
10. Lukman Thaib, “Aceh Case: Possible Solution to Festering Conflict,” Journal of Muslim Minorrity Affairs, Vol. 20, No. 1, tahun 2000 hal. 106
11. Metin Inegollu, ibid, hal. 53-55.
12. Ibid, hal. 53.
13. Marwati Djuned Puspo dan Nugroho Notosusanto, ibid, hal. 257
14. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Terj.), Pustaka Al Kautsar, tahun 2003, hal. 258-259.

Sumber: Majalah Muslim Digest Edisi 09 / 2010


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: