Filsafat Berfikir

PERADABAN ISLAM | Januari 1, 2016

SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID

 

 

 

INI PENYEBAB KEHANCURAN TIGA IMPERIUM ISLAM RAKSASA

 

Red: Heri Ruslan

Kerajaan Turki Usmani

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

 

Selama tiga abad — 1500 hingga 1800 M – peradaban Islam masih memiliki tiga kekuatan yang tersebar di Turki, Persia, dan India. Di Istanbul, Turki berdiri sebuah kerajaan besar yang juga sempat menjadi adikuasa selama lebih dari 600 tahun bernama Turki Usmani atau Ottoman.

 

Turki Usmani disegani dan memiliki pengaruh yang begitu hebat setelah menaklukan Bizantium pada 1453 M. Sebagai adikuasa, Kesultanan Turki Usmani mampu menguasai sebagian benua Asia, Eropa, dan Afrika. Puncak keemasannya dicapai pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566 M).

 

Di Persia, berdiri sebuah kerjaaan Islam yang besar yakni Safawi. Kerajaan ini dididirikan oleh Syah Isma’il pada 1501 M di Tabriz, Iran. Ia memproklamirkan Syiah Isna Asyariyah sebaga agama negara.

 

Di India, berdiri kerjaan Islam bernama Mogul yang berkuasa dari abad ke-16 hingga 19 M. Kesultanan itu didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur — keturunan Timur Lenk, penguasa Islam asal Mongol. Pada era keemasannya, Kerajaan Mogul berperan besar dalam mengembangkan agama Islam, ilmu pengetahuan, sastra, hingga arsitektur.

 

Jatuhnya tiga raksasa

 

  • Kerajaan Safawi

 

Kerajaan Safawi mulai mengalami kemuduran sejak Abas I turun tahta. Enam raja penggantinya tak mampu mendongkrak kemajuan, malah menunjukkan pelemahan dan kemunduran. Pada era kekuasaan Safi Mirza, Kerajaan safawi mulai menukik. Safi Mirza yang juga cucu Abbas I, dikenal sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Berbagai kota dan wilayah yang dikuasai Safawi mulai terlepas.

 

Setelah itu, Safawi dipimpin Sulaiman seorang raja pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar kerajaan. ‘’Akibatnya, rakyat masa bodoh terhadap pemerintahan,’’ papar Prof Badri Yatim. Selain itu, Safawi pun harus berhadapan dengan pemberontakan yang dilakukan bangsa Afghan.

 

Terlebih lagi, Kerjaan Safawi kerap berkonfrontasi dengan Kerajaan Turki Usmani. ‘’Dekadensi moral yang melanda sebaian pemimpin Safawi turut mempercepat kehancuran kerajaan,’’ ungkap Prof Badri Yatim. Sultan Sulaeman adalah seorang pecandu berat narkotika dan senang kehidupan malam.

 

  • Kerajaan Mugal

 

Setelah satu setengah abad mencapai masa keemasan, Kerajaan Mugal di India akhirnya meredup dan hingga akhirnya hancur. Kerjaaan itu hancur pada 1858 M. Faktornya penyebabnya, menurut Prof Badri yatim, antara lain:

  1. Stagnasi pembinaan kekuatan militer. Akibatnya operasi militer Inggris tak terpantau. Kekuatan militer di laut dan darat Kerajaan Mugal menurun.
  2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik dan menyebabkan pemborosan keuangan negara.
  3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau ‘’kasar’’ dalam melaksanakan ide-ide puritan, sehingga konflik agama sangat sukar diatasi.
  4. pewaris tahta kerajaan pada paruh akhir adalah figur-figur yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

 

  • Kerajaan Usmani

 

Menurut Prof Badri Yatim, adikuasa dunia, Kerajaan Turki Usmani juga mengalami kehancuran karena berbagai faktor:

  1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas. Sehingga administrasi pemerintahan menjadi rumit dan tak beres. Di sisi lain, para penguasanya memiliki ambisi yang besar untuk memperluas wilayah kekuasaan.
  2. Heterogenitas penduduk. Akibat menguasai wilayah yang luas, Turki Usmani mengendalikan berbagai etnis pendduk. Heteroginitas itu memicu banyaknya pemberontakan.
  3. Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Turki Usmani dipimpin sultan-sultan yang lemah, baik keperibadian, maupun kepemimpinan. Akibatnya pemerintahan menjadi kacau.
  4. Budaya pungli. Perbuatan pungli melemahkan kekuatan kerajaan. Setiap orang yang menginginkan jabatan harus menyuap atau membayar uang pelicin.
  5. Merosotnya ekonomi. Peperangan yang terus dilakukan membuat perekonomian merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja untung perang terus menguras anggaran negara.
  6. Stagnasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tak dikembangkan para penguasa terakhir. Akibatnya, Turki Usmani kalah canggih dari segi persenjataan dibandingkan negara-negara Barat.

 

INILAH FAKTOR PENYEBAB AMBRUKNYA KEKHALIFAHAN DI ANDALUSIA

 

Red: Heri Ruslan

zonetourismworld.com

Alhambra Spanyol

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

 

Spanyol dikuasai peradaban Islam pada era kekuasaan Kekhalifahan Umayyah. Ketika itu, Bani Umayyah yang berbasis di Damaskus, Suriah dipimpin Khalifah Al-Walid (705-715 M). Awalnya, kekuasaan Islam di Andalusia berada di bawah kendali Dinasti Umayyah. Setelah digulingkan Dinasti Abbasiyah, kendali berada di Baghdad.

 

Sejak 912 M, di era kepemimpinan Amir Abdurrahman III, kekuasaan Islam di Andalusia memerdekakan diri Abbasiyah. Sejak itu, berdirilah Kekhalifahan Umayyah di Spanyol. Penguasanya mulai menggunakan gelar khalifah. Peradaban Islam di Spanyol sempat mencapai masa keemasannya dalam berbagai bidang.

 

Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mulai meredup ketika Hisyam naik tahta pada usia 11 tahun. Akibatnya, kekuasaan dikendalikan para pejabat. Memasuki era 1013-1086 M, Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja glongan, yang berpusat di satu kota, seperti Toledo, Sevilla, Cordoba, dan lain sebagainya.

 

Menurut sejarawan Islam, Prof Badri Yatim, Kekhalifahan Umayyah di Andalusia hancur karena berbagai faktor. Pertama, konflik Islam dengan Kristen. ‘’Para penguasa Muslim tak melakukan Islamisasi secara sempurna,’’ tutur Prof Badri. Penguasa Muslim hanya puas dengan menagih upeti kepada kerajaan-kerajaan Kristen.

 

Padahal, kehadiran Arab islam di Spanyol telah memperkuat kebangsaan orang-orang Kristen. Pertentangan pun tak terelakan. Pada abad ke-11 M umat Kristen mengalami kemajuan yang pesat. ‘’Sedangkan, umat Islam mengalami kemunduran,’’ ujar Prof Badri. Umat Islam pun terusir dari Spanyol pada 1492 M.

 

Kedua, tak adanya ideologi pemersatu. Salah satu kelemahan Umayyah Spanyol adalah tak menempatkan para mualaf tak diperlakukan sejajar dengan orang-orang Arab. Menurut Prof Badri Yatim, sebagaimana politik Dinasti Umayyah di damskus, orang-orang Arab tak pernah menerima orang-orang pribumi. Akibat merasa direndahkan, kelompok etnis non-Arab akhirnya menggerogoti kekuasaan.

 

Ketiga, kesulitan ekonomi. Pada paruh kedua islam di Spanyol, para penguasa lalai memperkuat sector ekonomi. Mereka, menurut Prof Badri Yatim, lebih serius membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Akibatnya, keuangan negara menjadi lemah dan berimbas pada kekuatan politik dan militer.

 

Keempat, tak jelasnya sistem peralihan kekuasaan. Akibatnya, terjadi perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Inilah yang membuat Bani Umayyah di Spanyol runtuh dan berubah dikuasai oleh-oleh raja-raja dari berbagai glongan atau Muluk al-Thawaif.

 

Kelima, menurut Prof Badri Yatim, peradaban Islam di Spayol sulit untuk meminta bantuan dari kekuatan Islam di tempat lain, kecuali Afrika Utara. Sehingga, basis kekuasaan Islam di Spanyol habis setelah diusir Kerajaan Kristen.

Ambruknya ‘Sang Adidaya’ Dinasti Abbasiyah

Red: Heri Ruslan

dipity.com

AMBRUKNYA DINASTI ABBASIYAH

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nidia Zuraya

 

Setelah tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah, kemudian muncullah Dinasti Abbasiyah sebagai penguasa dunia Islam. Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam terlama, yakni menguasai dunia selama lebih dari lima abad (750-1258 M). pada era kekuasaan Abbasiyah peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya.

 

Dinasti Abbasiyah mulai melemah setelah banyaknya mazhab yang menentang pemerintahan. Selain itu, berbagai pemberontakan dan gerakan yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan pusat bermunculan di berbagai wilayah. Tak cuma itu. Munculnya perdebatan intelektual yang dalam berbagai hal yang menjurus kepada konflik juga membuat adidaya dunia di era kekhalifahan itu meredup.

 

Para raja kecil

 

Tumbuhnya negeri-negeri yang berhaluan Syiah dan Khawarij di wilayah pinggiran, serta sejumlah gubernur yang diangkat oleh Abbasiyah menjadi begitu kuat dan berpengaruh membuat mereka membangun dinasti sendiri di daerahnya dan mewariskan kedudukannya kepada keturunannya.

 

Salah satu contohnya adalah Dinasti Aglabid di Afrika Utara. Dinasti ini didirikan oleh seorang gubernur Abbasiyah yang dikirim oleh Khalifah Harun ar-Rasyid ke Tunis pada tahun 800 M.

 

Keutuhan wilayah Abbasiyah juga terancam dengan hadirnya armada angkatan laut Bizantium (Romawi Timur), yang mendarat di delta Sungai Nil. Ahmad bin Tulun yang dikirim oleh Abbasiyah pada tahun 868 M untuk mengamankan Mesir, justru memproklamirkan kemerdekaan dari Abbasiyah, dengan mendirikan Dinasti Tulun.

 

Elite militer dan pedagang

 

Disintegrasi Abbasiyah menjadi sejumlah dinasti propinsi yang independen menunjukkan adanya perubahan yang mendasar dalam struktur pemerintahan dan masyarakat. Munculnya elite miiter bekas budak dan sistem pengaturan konsesi lahan semakin memperjelas bahwa bukan saja penguasa Abbasiyah yang semakin lemah, akan tetapi memang terjadi pergeseran kekuasaan dari elite lama ke elite baru.

 

Transformasi sistem sosial dan politik itu telah dimulai pada abad ke-9 M. Pemerintahan Abbasiyah awal didirikan atas koalisi pejabat pemerintahan pusat dengan keluarga pengusaha dan tuan tanah di daerah. Setelah beberapa abad, para pejabat pemerintahan pusat cenderung semakin didominasi oleh keturunan birokrat istana dan meminggirkan mereka yang berasal dari keluarga penguasa daerah.

 

Ketika generasi birokrat semakin berkuasa, Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah kehilangan kontak dengan daerah taklukannya, hingga akhirnya birokrasi menjadi organisasi yang berbasis di ibukota dan jarang terkait dengan propinsi. Pejabat dan para stafnya tidak lagi mewakili kepentingan berbagai ragam penduduk.

 

Kebijakan sentralisasi fiskal yang diterapkan pemerintahan Abbasiyah, mendorong kalangan elite pedagang untuk menggeser para penguasa tradisional dan tuan tanah di daerah. Bahkan keberadaan para elite pedagang ini juga menandingi korps birokrat dan perwira militer.

 

 

Persoalan ekonomi

 

Kebangkrutan ekonomi pada akhirnya memporak-porandakan kekuasaan Abbasiyah. Permasalahan besar yang dihadapi dinasti ini pada masa akhir kekuasaannya adalah menurunnya sumber pendapatan penguasa.

 

Perang saudara yang tiada henti dan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Qaramitah membuat daerah-daerah kantong pertanian menjadi terbengkalai. Kondisi ini tidak saja memperlemah kedudukan Abbasiyah, tetapi sekaligus justru makin memperkuat posisi lawannya.

 

Pada tahun 326 H/937 M, Muhammad bin Ra’iq, panglima militer kota Wasit yang terletak di tepi Sungai Tigris, menghancurkan Bendungan Nahrawan dan merusak saluran irigasi. Hal ini dilakukan dengan harapan bisa menenggelamkan tentara lawannya dan memutuskan sumber logistik mereka. Ternyata, hal ini justru merusak sumber bahan makanan pihaknya sendiri dan seluruh warga kota Baghdad.

 

Pecahnya Bendungan Nahrawan adalah peristiwa paling dramatis yang menandai hancurnya perekonomian dan melemahnya kekuasaan Abbasiyah. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Muhammad bin Ra’iq untuk mendesak Khalifah ar-Radi menyerahkan pemerintahan sipil dan militer kepadanya.

 

INILAH PENYEBAB AMBRUKNYA DINASTI UMAYYAH

 

 

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Heri Ruslan

ucalgary.ca

Dinasti Umayyah

 

REPUBLIKA.CO.ID, Runtuhnya Dinasti Umayyah bukanlah semata-mata disebabkan oleh serangan Bani Abbas. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah, menyebutkan, terdapat sejumlah faktor yang sangat kompleks yang menyebabkan tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah. Berikut penyebabnya:

 

* Pengangakatan lebih dari satu putra mahkota

 

Sebagian besar khalifah Bani Umayyah mengangkat lebih dari seorang putra mahkota. Biasanya putra tertua diwasiatkan terlebih dahulu untuk menduduki takhta. Setelah itu, wasiat dilanjutkan kepada putra kedua dan ketiga atau salah seorang kerabat khalifah, seperti paman atau saudaranya. Putra mahkota yang lebih dahulu menduduki takhta cenderung mengangkat putranya sendiri. Hal itu menimbulkan perselisihan.

 

* Timbulnya fanatisme kesukuan

 

Sejak pertama kali diturunkan ajaran Islam berhasil melenyapkan fanatisme kesukuan antara bangsa Arab Selatan dan Arab Utara, yang telah ada sebelum Islam. Namun, pada masa Bani Umayyah, fanatisme ini muncul kembali terutama setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Yazid I).

 

Bangsa Arab Selatan yang pada masa itu diwakili kabilah Qalb adalah pendukung utama Muawiyah dan putranya, Yaid I. Ibu Yazid I, yang bernama Ma’sum, berasal dari kabilah Qalb. Pengganti Yazid I, Muawiyah II, ditolak oleh bangsa Arab Utara yang diwakili oleh kabilah Qais dan mengakui kekhalifahan Abdullah bin Zubair (Ibnu Zubair). Ketika terjadi bentrokan antara kedua belah pihak, kabilah Qalb dapat mengalahkan kabilah Qais yang mengantarkan Marwan I ke kursi kekhalifahan.

 

* Kehidupan khalifah yang melampaui batas

 

Beberapa khalifah Umayyah yang pernah berkuasa diketahui hidup mewah dan berlebih-lebihan. Hal ini menimbulkan rasa antipati rakyat kepada mereka. Kehidupan dalam istana Bizantium agaknya mempengaruhi gaya hidup mereka. Yazid bin Muawiyah (Yazid I), misalnya, dikabarkan suka berhura-hura dengan memukul gendang dan bernyanyi bersama para budak wanita sambil minum minuman keras. Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) juga tidak lebih baik dari Yazid I. Ia suka berfoya-foya dengan budak wanita. Putranya, al-Walid II, ternyata tidak berbeda dengan ayahnya.

 

* Fanatisme kearaban Bani Umayyah

 

Kekhalifahan Bani Umayyah memiliki watak kearaban yang kuat. Sebagian besar khalifahnya sangat fanatik terhadap kearaban dan bahasa Arab yang mereka gunakan. Mereka memandang rendah kalangan mawali (orang non-Arab). Orang Arab merasa diri mereka sebagai bangsa terbaik dan bahasa Arab sebagai bahasa tertinggi.

 

Fanatisme ini menimbulkan kebencian penduduk non-Muslim kepada Bani Umayyah. Oleh karena itu, mereka ikut ambil bagian setiap kali timbul pemberontakan untuk menumbangkan Dinasti Umayyah. Keberhasilan Bani Abbas dalam menumbangkan Bani Umayyah disebabkan antara lain oleh dukungan dan bantuan mawali, khususnya Persia yang merasa terhina oleh perlakuan pejabat Bani Umayyah.

 

* Kebencian golongan Syiah

 

Bani Umayyah dibenci oleh golongan Syiah karena dipandang telah merampas kekhalifahan dari tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Menurut golongan Syiah, khilafah (kepemimpinan atau kekuasaan politik) atau yang mereka sebut imamah adalah hak Ali dan keturunannya, karena diwasiatkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

KHALIFAH AL-MUSTANSIR JAGA PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

 

Red: Agung Sasongko

 

Halaman dalam al-Mustansiriyah

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejak abad ke-10 M, kekuasaan Abbasiyah perlahan tapi pasti mulai memudar. Menurut Badri Yatim dalam buku berjudul, Sejarah Peradaban Islam, kekuasaan Abbasiyah pada tahun 1000-1250 dalam bidang politik mulai menurun. Saat itu, terjadi masa disintegrasi di kekhalifahan yang sempat menjadi adidaya dunia itu.

 

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya dinasti yang memerdekakan diri dari pusat kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Mengutip pernyataan W Montgomery Watt, Badri Yatim menjelaskan bahwa keruntuhan kekuasaan Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. “Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di provinsi-provinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen.”

 

Selain itu, fenomena perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan juga telah membuat kekuasaan Abbasiyah kian mengendur. Sisa-sisa kejayaan Abbasiyah memang masih terasa hingga abad ke-13 M. Di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah ke-37, Al-Mustansir Billah, dinasti ini masih sanggup mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal itu dibuktikan dengan dibangunnya Universitas al-Mustansiriyah oleh Sang Khalifah.

 

Al-Mustansir (1192-1242) adalah khalifah Abbasiyah yang berkuasa selama 16 tahun, yakni dari tahun 1226 hingga 1242 M. Ia adalah putra azh-Zhahir bi Amrillah (Khalifah Abbasiyah ke-36) dan cucu dari an-Nashir (Khalifah Abbasiyah ke-35). Al-Mustansir digambarkan sebagai sosok khalifah yang hangat dan saleh. Seperti ayahandanya, ia menjadi khalifah dengan sedikit pengaruh politik.

 

Ia tetap mengembangkan ilmu pengetahuan di dunia Islam meski masa kejayaan Abbasiyah terus meredup. Tak cuma secara politik dan militer, dinasti ini juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh, antara lain, dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.

 

Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri serta tidak lagi membayar pajak.

 

Kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Dinasti ini benar-benar ambruk ketika bangsa Mongol menghancurkan Baghdad pada 1258 M.

Al-Mustansiriyah, Universitas Warisan Abbasiyah

Red: Agung Sasongko

Youtube

Al-Mustansiriyah

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nama universitas tertua yang berdiri di Kota Baghdad, Irak, ini memang tak sepopuler al-Azhar di Kairo, Mesir, atau al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Namun, Universitas al-Mustansiriyah yang didirikan pada 5 Mei 1234 M oleh Khalifah al-Mustansir Billah (1226-1242), penguasa ke-37 Abbasiyah, ini turut memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban Islam.

 

Al-Mustansiriyah tercatat sempat berjaya pada abad ke-13 M. Perguruan tinggi inilah di awal kelahirannya secara concern mengajarkan Ilmu Alquran, seni berpidato, serta matematika. Universitas ini pun mencatatkan dirinya sebagai perguruan tinggi perintis di Baghdad yang mampu menyatukan pengajaran berbagai bidang ilmu dalam satu tempat.

 

Pada awalnya, madrasah-madrasah di Metropolis Intelektual Islam, begitu Baghdad kerap dijuluk, mengajarkan ilmu tertentu secara khusus. Namun, Khalifah al-Mustansir Billah menyatukan empat studi penting pada masa itu ke dalam satu perguruan tinggi. Keempat bidang studi itu, antara lain; ilmu Alquran, biografi Nabi Muhammad (Sirah Nabawiyah), ilmu kedokteran, serta matematika.

 

Universitas yang dibangun pada 1227 dan diresmikan pada 1234 itu diyakini sebagai salah satu universitas tertua dalam sejarah. Pamor universitas ini mampu membetot perhatian para pelajar dari seluruh dunia untuk menimba ilmu di Kota Baghdad. Para pelajar berbondong-bondong datang ke Mustansiriyah untuk mempelajari beragam ilmu unggulan yang ditawarkan di sana.

 

Al-Mustansiriyah pun menjadi perguruan tinggi yang mengajarkan dan menyatukan empat mazhab fikih Suni yakni, Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi. Setiap mazhab menempati pojok madrasah, istilah perguruan tinggi di era kekhalifahan. Inilah salah satu kelebihan dari Universitas al-Mustansiriyah.

 

Guna menunjang aktivitas perkuliahan, Khalifah al-Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa besarnya. Penjelajah Muslim terkemuka kelahiran Tangier, Maroko, bernama Ibnu Batutta dalam catatan perjalanannya berjudul Ar-Rihla, mengungkapkan betapa besarnya perpustakaan kampus Universitas al-Mustansiriyah.

 

Menurut Ibnu Batutta, perpustakaan ini mendapatkan sumbangan buku-buku langka yang diangkut oleh 150 unta. Dari kekhalifahan saja, pada abad ke-13 M perpustakaan ini mendapatkan sumbangan 80 ribu buku. Perpustakaan ini terbilang unik karena di dalamnya terdapat rumah sakit.

 

KILAU BAGHDAD DI ERA ABBASIYAH (1)

 

Rep: Ali Ridho/ Red: Chairul Akhmad

Blogspot.com

Reruntuhan kota kuno Babylonia dengan latar belakang salah satu istana mantan Presiden Iraq Saddam Husein di Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah Kota Baghdad memang mengagumkan. Kota ini dihuni oleh umat manusia sejak 4000 SM.

 

Dahulu, kota tersebut menjadi bagian dari Babylonia kuno. Dan, sejak tahun 600 hingga 500 SM, secara bergantian dikuasai oleh Persia, Yunani, dan Romawi. Kata “baghdad” itu sendiri berarti “taman keadilan”. Konon, ada taman tempat istirahat Kisra Anusyirwan. Kini, taman itu sudah lenyap, tapi namanya masih abadi.

 

Pentingnya Kota Baghdad menarik perhatian khalifah kedua, Umar bin Khatthab RA. Maka, diutuslah seorang sahabat bernama Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menaklukkan kota itu.

 

Singkat cerita, penduduk setempat menerima agama Islam dengan sangat baik hingga agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dipeluk oleh mayoritas masyarakat Baghdad.

 

Dinasti Abbasiyah-lah yang kemudian membangun Kota Baghdad menjadi salah satu kota metropolitan di era keemasan Islam. Pembangunannya diprakarsai oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-755 M), yang memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Damaskus ke Baghdad. Khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah itu, pada 762 M, menyulap kota kecil Baghdad menjadi sebuah kota baru yang megah.

 

Pemilihan Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah didasarkan pada berbagai pertimbangan, seperti politik, keamanan, sosial, serta geografis. Damaskus, Kufah, dan Basrah yang lebih dulu berkembang tak dijadikan pilihan lantaran di kota-kota itu masih banyak berkeliaran lawan politik Dinasti Abbasiyah, yakni Dinasti Umayyah yang baru dikalahkan.

 

Sebelum membangun Kota Baghdad, Al-Mansur mengutus banyak ahli untuk tinggal beberapa lama di kota itu. Mereka diperintahkan untuk meneliti keadaan tanah, cuaca, dan kondisi geografisnya. Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa Baghdad yang terletak di tepian Sungai Tigris sangat strategis dijadikan pusat pemerintahan Islam.

 

Tidak menunggu waktu lama, sang khalifah pun membangun Kota Baghdad. Ia mengerahkan sekitar 100 ribu orang yang terdiri atas arsitek, tukang kayu, tukang batu, pemahat, pelukis, dan lain-lain. Mereka berasal dari berbagai kota, seperti Suriah, Mosul, Basra, Kufah, dan Iran. Dalam Ensiklopedia Islam, disebutkan bahwa dana yang dihabiskan dalam pembangunan itu mencapai 4.883.000 dirham.

 

Dengan dana sekian besar, jadilah sebuah kota baru dengan arsitektur yang indah. Bentuknya bundar sehingga dijuluki Kota Bundar. Dua lapis tembok besar setinggi 90 kaki mengelilingi kota itu. Lapisan bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atasnya 20 hasta. Dibangun pula parit yang dalam, yang berfungsi untuk saluran air dan benteng pertahanan.

Kilau Baghdad di Era Abbasiyah (2)

Rep: Ali Ridho/ Red: Chairul Akhmad

Blogspot.com

Gedung Bayt Hikmah modern di Baghdad. Gedung bersejarah ini mengalami kerusakan parah selama invasi AS dkk ke Irak pada 2003.

REPUBLIKA.CO.ID, Tepat di tengah Kota Baghdad didirikan istana khalifah yang bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas). Nama ini melambangkan keagungan dan kemegahan. Dibangun pula masjid raya bernama Masjid Jami’ Al-Mansur. Dan, tak ketinggalan dibangun perumahan penduduk, pasar, dan kantor-kantor pemerintahan.

 

Al-Mansur juga membangun istana di seberang Sungai Tigris. Kemegahan dan keindahan istana itu seolah menggambarkan istana surgawi yang disebutkan di dalam Alquran. Satu istana lagi dibangun di sebelah utara kota, yang dinamakan Ar-Rusafah.

 

Khalifah-khalifah setelah Al-Mansur membangun Kota Baghdad dengan mendirikan sarana-sarana ibadah, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Sehingga, pada tahun 800 M, Kota Baghdad telah menjelma menjadi kota besar yang menjadi pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik. Penduduknya kala itu berjumlah lebih dari satu juta jiwa.

 

Periode keemasan

Puncak kejayaan Baghdad dicapai pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M). Keduanya punya perhatian besar pada pendidikan dan ilmu pengetahuan.

 

Khalifah Harun ar-Rasyid mendirikan lembaga penerjemahan buku bernama Bayt Al-Hikmah (Rumah Kearifan). Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mun menjadi lembaga pendidikan tinggi, perpustakaan, dan pusat penelitian. Ratusan ribu buku dari Yunani, India, Persia, Byzantium, dan Syria berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

 

Tak heran jika Philip K Hitti dalam Capital Cities of Arab Islam menyebut Baghdad sebagai kota intelektual. Karena, di sana lahir banyak intelektual Muslim agung yang mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti bidang kedokteran, kimia, fisika, biologi, matematika, astronomi, astrologi, farmakologi, gaografi, filsafat, historiografi, sastra, seni, tafsir, hadis, fikih, teologi, bahasa, dan tasawuf.

 

Kemajuan Baghdad di bidang ilmu pengetahuan tersebut berpengaruh besar pada kota-kota Islam lainnya, seperti Kairo, Basrah, Kufah, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan Khurasan (kini Iran). Para pelajar dari kota-kota itu berdatangan ke Baghdad untuk menuntut ilmu.

 

Namun, sebesar apa pun peradaban dibangun oleh suatu bangsa, akhirnya akan jatuh juga. Itulah hukum alam. Demikian pula dengan Baghdad. Kejayaan kota itu berakhir ketika dihancurkan oleh bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan dari Asia Tengah. Itu terjadi pada tahun 1258 M.

 

Seluruh kekayaan kota, mulai dari bangunan istana, lembaga pendidikan, rumah sakit, masjid, rumah penduduk, hingga buku-buku di perpustakaan dihancurkan. Berselang seabad kemudian, Baghdad kembali diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk (1336-1405 M). Sejak saat itu, kota ini secara bergantian dikuasai oleh Persia, Turki, dan Inggris.

 

Khurasan, Tanah Matahari Terbit (1)

 

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

hamzajennings.com

REPUBLIKA.CO.ID, Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “(Pasukan yang membawa) bendera hitam akan muncul dari Khurasan. Tak ada kekuatan yang mampu menahan laju mereka dan mereka akhirnya akan mencapai Yerusalem, di tempat itulah mereka akan mengibarkan benderanya.” (HR. Tirmidzi).

 

Khurasan merupakan wilayah yang terbilang amat penting dalam sejarah peradaban Islam. Jauh sebelum pasukan tentara Islam menguasai wilayah itu, Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya telah menyebut-nyebut nama Khurasan. Letak geografis Khurasan sangat strategis dan banyak diincar para penguasa dari zaman ke zaman.

 

Pada awalnya,Khurasan Raya merupakan wilayah sangat luas membentang meliputi Kota Nishapur dan Tus (Iran); Herat, Balkh, Kabul dan Ghazni (Afghanistan); Merv dan Sanjan (Turkmenistan), Samarkand dan Bukhara (Uzbekistan); Khujand dan Panjakent (Tajikistan); Balochistan (Pakistan, Afghanistan, Iran).

 

Kini, nama Khurasan tetap abadi menjadi sebuah nama provinsi di sebelah Timur Republik Islam Iran. Luas provinsi itu mencapai 314 ribu kilometer persegi. Khurasan Iran berbatasan dengan Republik Turkmenistan di sebelah Utara dan di sebelah Timur dengan Afghanistan. Dalam bahasa Persia, Khurasan berarti ‘Tanah Matahari Terbit.’

 

Jejak peradaban manusia di Khurasan telah dimulai sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi (SM). Sejarah mencatat, sebelum Aleksander Agung pada 330SM menguasai wilayah itu, Khurasan berada dalam kekuasaan Imperium Achaemenid Persia. Semenjak itu, Khurasan menjelma menjadi primadona yang diperebutkan para penguasa.

 

Pada abad ke-1 M, wilayah timur Khurasan Raya ditaklukkan Dinasti Khusan. Dinasti itu menyebarkan agama dan kebudayaan Budha. Tak heran, bila kemudian di kawasan Afghanistan banyak berdiri kuil. Jika wilayah timur dikuasai Dinasti Khusan, wilayah barat berada dalam genggaman Dinasti Sasanid yang menganut ajaran zoroaster yang menyembah api.

 

Khurasan memasuki babak baru ketika pasukan tentara Islam berhasil menaklukkan wilayah itu. Islam mulai menancapkan benderanya di Khurasan pada era Kekhalifahan Umar bin Khathab. Di bawah pimpinan komandan perang, Ahnaf bin Qais, pasukan tentara Islam mampu menerobos wilayah itu melalui Isfahan.

 

Dari Isfahan, pasukan Islam bergerak melalui dua rute yakni Rayy dan Nishapur. Untuk menguasai wilayah Khurasan, pasukan umat Islam disambut dengan perlawanan yang amat sengit dari Kaisar Persia bernama Yazdjurd. Satu demi satu tempat di Khurasan berhasil dikuasai pasukan tentara Islam. Kaisar Yazdjurd yang terdesak dari wilayah Khurasan akhirnya melarikan diri ke Oxus.

 

Setelah Khurasan berhasil dikuasai, Umar memerintahkan umat Muslim untuk melakukan konsolidasi di wilayah itu. Khalifah tak mengizinkan pasukan tentara Muslim untuk menyeberang ke Oxus. Umar lebih menyarankan tentara Islam melakukan ekspansi ke Transoxiana.

 

Sepeninggal Umar, pemberontakan terjadi di Khurasan. Wilayah itu menyatakan melepaskan diri dari otoritas Muslim. Kaisar Yazdjurd menjadikan Merv sebagai pusat kekuasaan. Namun, sebelum Yadzjurd berhadapan lagi dengan pasukan tentara Muslim yang akan merebut kembali Khurasan, dia dibunuh oleh pendukungnya yang tak loyal.

 

Khurasan, Tanah Matahari Terbit (2)

 

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

http://activistchat.com

 

REPUBLIKA.CO.ID, Khalifah Utsman bin Affan yang menggantikan Umar tak bisa menerima pemberontakan yang terjadi di Khurasan. Khalifah ketiga itu lalu memerintahkan Abdullah bin Amir, Gubernur Jenderal Basrah, untuk kembali merebut Khurasan. Dengan jumlah pasukan yang besar, umat Islam mampu merebut kembali Khurasan.

 

Ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Khurasan merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Islam yang berpusat di Damaskus. Penduduk dan pemuka Khurasan turut serta membantu Dinasti Abbasiyah untuk menggulingkan Umayyah. Salah satu pemimpin Khurasan yang turut mendukung gerakan anti-Umayyah itu adalah Abu Muslim Khorasani antara tahun 747 M hingga 750 M.

 

Setelah Dinasti Abbasiyah berkuasa, Abu Muslim justru ditangkap dan dihukum oleh Khalifah Al-Mansur. Sejak itu, gerakan kemerdekaan untuk lepas dari kekuasaan Arab mulai menggema di Khurasan. Pemimpin gerakan kemerdekaan Khurasan dari Dinasti Abbasiyah itu adalah Tahir Phosanji pada tahun 821 M.

 

Ketika kekuatan Abbasiyah mulai melemah, lalu berdirilah dinasti-dinasti kecil yang menguasai Khurasan. Dinasti yang pertama muncul di Khurasan adalah Dinasti Saffariyah (861 M-1003 M). Setelah itu, Khurasan silih berganti jatuh dari satu dinasti ke dinasti Iran yang lainnya. Setelah kekuasaan Saffariyah melemah, Khurasan berada dalam genggaman Dinasti Iran lainnya, yakni Samanid.

 

Setelah itu, Khurasan menjadi wilayah kekuasaan orang Turki di bawah Dinasti Ghaznavids pada akhir abad ke-10 M. Seabad kemudian, Khurasan menjadi wilayah kerajaan Seljuk. Pada abad ke-13 M, bangsa Mongol melakukan invasi dengan menghancurkan bangunan serta membunuhi penduduk di wilayah Khurasan.

 

Pada abad ke-14 M hingga 15 M, Khurasan menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Timurid yang didirikan Timur Lenk. Khurasan berkembang amat pesat pada saat dikuasai Dinasti Ghaznavids, Ghazni dan Timurid. Pada periode itu Khurasan menggeliat menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, jika pada masa itu lahir dan muncul ilmuwan, sarjana serta penyair Persia terkemuka.

 

Sederet literatur Persia bernilai tinggi ditulis pada era itu. Nishapur, Herat, Ghazni dan Merv kota-kota penting di Khurasan menjadi pusat berkembangnya kebudayaan. Memasuki abad ke-16 M hingga 18, Khurasan berada dalam kekuasaan Dinasti Moghul. Di setiap periode, Khurasan selalu menjadi tempat yang penting.

 

Bangunan-bangunan bersejarah yang kini masih berdiri kokoh di Khurasan menjadi saksi kejayaan Khurasan di era kekhalifahan. Selain itu, naskah-naskah penting lainnya yang masih tersimpan dengan baik membuktikan bahwa Khurasan merupakan tempat yang penting bagi pengembangan ajaran Islam.

 

Baru-baru ini, Khurasan juga menjadi perbincangan. Kabarnya, dari daerah itulah Dajjal akan muncul. Bahkan, kabarnya Dajjal sudah muncul di Khurasan. Benarkah? Wallahua’lam.

Khurasan, Tanah Matahari Terbit (3)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

irantours.net

Makam Imam Syiah, Imam Reza, yang banyak dikunjungi peziarah, terletak di Kota Mashad, Ibukota Khurasan.

 

Para Penguasa Timurid di Khurasan

 

Babur Ibnu Baysunkur (1449 M-1457 M)

Babur Ibnu Baysunkur atau yang lebih dikenal sebagai Abu’l-Qasim Babur merupakan penguasa pertama Dinasti Timurid di Khurasan. Dia memerintah selama delapan tahun. Babur merupakan cucu dari Syahrukh Mirza penguasa ketiga Dinasti Timurid di Samarkand.

 

Ia menguasai khurasan setelah wilayah itu sempat mengalami kekosongan kekuasaan. Dua daerah pertama yang didudukinya di wilayah Khurasan Raya adalah Mashad dan Herat pada 1449 M. Babur merupakan salah satu dari tiga penguasa paling penting di Dinasti Timurid setelah Ulugh Beg dan Sultan Muhammad.

 

Shah Mahmud (1446 M-1460 M)

Mahmud adalah putera Babur. Ia menggantikan posisi sang ayah sebagai penguasa Khurasan pada 1457 M. Mahmud merupakan cicit dari Timur Lenk, pendiri Dinasti Timurid. Uniknya, Mahmud menduduki tahta dalam usia 11 tahun. Beberapa pekan setelah naik tahta, Mahmud diusir sepupunya, Ibrahim dari Herat. Dia tak bisa bertahan lama memimpin di Khurasan.

 

Abu Said bin Muhammad (1424 M-1469 M)

Sama seperti halnya Mahmud, Abu Sa’id juga merupakan cicit Timur Lenk. Dia masih kemenakan Ulughbeg. Sebagai keturunan Timur ‘Sang Penakluk Dunia’, Abu Said juga memiliki semangat yang tinggi untuk menguasai wilayah seluas-luasnya. Di awal kekuasaannya, dia memperkuat barisan tentara untuk mengambil alih Samarkand dan Bukhara, namun gagal.

 

Abu Said lalu memperkuat basisnya di Yasi dan akhirnya mampu menguasai Turkistan pada 1450. Setahun kemudian, pasukan Abu Said berhasil menguasai Samarkand setelah mendapat bantuan dari Uzbek Turk di bawah pimpinan Abu’l-Khayr Shaybani Khan.

 

Yadigar Muhammad (1469 M-1470 M)

Cucu Syahrukh ini menguasai wilayah Khurasan pada 1469 hingga 1470. Dia mengendalikan kekuasaan Dinasti Timurid dari Herat.

 

Husein Bayqara

Cicit pendiri Dinasti Timurid, Timur Lenk itu menguasai Khurasan selama 37 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Khurasan mengalami perkembangan dan kemajuan yang terbilang amat berarti.

 

Badi’ Az-Zaman

Dia adalah penguasa terakhir Dinasti Timurid di Khurasan. Badi’ adalah anak dari penguasa Timurid sebelumnya, yakni Husein Bayqara. Sebelum berkuasa, dia sempat bentrok dengan sang ayah. Di masa kepemimpinannya, Dinasti Timurid dilanda konflik. Hingga akhirnya dia meninggal pada tahun 1517. Setelah itu, kekuasaan Timurid di Khurasan pun mulai lenyap.

Khurasan, Tanah Matahari Terbit (4-habis)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

farsinet.com

Masjid Goharshad di Khurasan.

Saksi Sejarah Kejayaan Khurasan

 

Sebagai salah satu wilayah terpenting dalam sejarah peradaban Islam, Khurasan begitu kaya akan peninggalan bersejarah yang amat berharga.

 

Warisan sejarah yang menjadi saksi pasang-surut Islam di setiap periode dinasti yang menguasai wilayah itu hadir dalam berbagai bentuk, baik itu bangunan keagamaan, tempat-tempat yang dikeramatkan serta beragam naskah.

 

Pemerintah Iran telah menetapkan tak kurang dari 1.179 tempat dan bangunan di Provinsi Khurasan sebagai cagar budaya yang dilindungi. Tempat yang paling bersejarah di Khurasan itu antara lain; tempat suci Imam Reza, Masjid Goharshad, serta kuburan-kuburan tokoh-tokoh Islam yang wafat di Tanah Matahari Terbit itu.

 

Di provinsi itu, tepatnya di Neyshabour, terdapat makam tiga tokoh besar yakni Fariduddin Attar, Umar Khayyam, serta Kamal-ol-molk. Tempat yang paling banyak dikunjungi di wilayah itu adalah Masjid Goharshad serta kompleks Imam Reza yang berada di jantung, Mashad. Di pusat Mashad juga terdapat makam Nadir Shah Afshar.

 

Bukti sejarah penting lainnya yang terdapat di Khurasan adalah menara Akhangan yang berlokasi di utara Tus. Masih di kota Tus, juga terdapat kubah Haruniyah. Di tempat itu juga terdapat makam Imam Mohammad Ghazali. Bangunan bersejarah lainnya di Tus adalah bendeng (citadel) Tus.

 

Selain itu sejumlah naskah penting di era kekhalifahan yang masih tersimpan juga menjadi bukti betapa pentingnya Khurasan. Di antara naskah yang penting itu adalah puisi-puisi karya penyair terkemuka, seperti Jalaluddin Rumi. Naskah penting lainnya yang berasal dari Khurasan adalah Kitab Mizan Al-Hikmah, karya Al-Khazini.

Samarkand, Permata dari Timur (1)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

en.wikipedia.org

Alun-Alun Registan di Samarkand.

REPUBLIKA.CO.ID, Naskah Arab kuno menjulukinya ‘Permata dari Timur’. Orang-orang Eropa menyebutnya ‘Tanah Para Saintis’.

 

Kota nan megah dan indah itu sama tuanya dengan Romawi, Athena, dan Babilonia. Tanah legenda yang tahun ini berusia 2.758 tahun itu bernama Samarkand—kota terbesar kedua di Uzbekistan.

 

Keindahan Samarkand yang begitu populer sempat membuat Kaisar Aleksander Agung terpikat. Tatkala menginjakkan kakinya untuk pertama kali di tanah Samarkand, Aleksander pun berseru, “Aku telah lama mendengar keindahan kota ini, namun tak pernah mengira kota ini ternyata benar-benar cantik dan megah.”

 

Selain tersohor dengan keindahannya, Samarkand pun dikenal sebagai kota yang strategis. Kota legenda itu berada di tengah ‘Bayangan Asia’ yang menghubungkan Jalur Sutera antara Cina dan Barat.

 

Di era kejayaan Islam, Samarkand menjadi pusat studi para ilmuwan. Itulah mengapa, orang-orang Eropa mendaulatnya sebagai ‘Tanah Para Saintis’. Samarkand merupakan salah satu kota tertua di dunia. Awalnya, kota itu bernama Maracanda.

 

Pada 329 SM, kota itu ditaklukkan Aleksander Agung. Dua abad kemudian, Samarkand menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Himyar (115 SM – 33 M). Saat itu, kota itu menjadi tempat bertemunya tiga kebudayaan yakni Barat, Cina, dan Arab. Pada abad ke-6 M, Samarkand jauh ke dalam kekuasaan Kerajaan Turki.

 

Samarkand memasuki babak baru ketika Islam menaklukkan wilayah itu pada abad ke-8 M. Dinasti Umayyah yang saat itu dipimpin Khalifah Abdul Malik (685 M – 705 M) menugaskan Qutaibah bin Muslim sebagai gubernur di wilayah Khurasan. Ketika itu, Samarkand dipimpin Tarkhum yang telah melepaskan diri dari kekuasaan dinasti Cina.

 

Qutaibah dan Tarkhum pun menjalin kesepakatan damai. Namun, pengganti Tarkhum memaksa pasukan Muslim pimpinan Qutaibah untuk menaklukkannya. Pemerintahan Umayyah pun lalu menempatkan pasukannya di wilayah itu. Perlahan namun pasti ajaran Islam mulai diterima penduduk Samarkand.

 

Bahkan wilayah itu bersama dengan Bukhara sempat menjadi pusat Islamisasi penting di Asia Tengah. Setelah Dinasti Umayyah digulingkan Abbasiyah, pasukan Islam dan Cina terlibat pertempuran yang dikenal sebagai Perang Talas pada 751 M. Umat Islam pada masa keemasan itu mulai mentransfer ilmu dan cara pembuatan kertas dari dua tahanan perang asal Cina.

 

Tak salah, bila Samarkand dijuluki sebagai kota tonggak revolusi budaya dunia. Sebab, di kota itulah pertama kali industri kertas pertama muncul. Industri kertas pun akhirnya menyebar ke seluruh dunia Islam hingga Eropa.

 

Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah memberikan jabatan gubernur kepada putra-putra Asad bin Saman untuk memerintah Transoksania dari Samarkand. Keluarga Saman pada 875 M memproklamirkan berdirinya Dinasti Samanid dan menguasai Samarkand.

Samarkand, Permata dari Timur (2)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

en.wikipedia.org

 

Alun-Alun Registan di Samarkand.

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah itu, Samarkand pun secara bergantian dikuasai dinasti-dinasti Islam. Pada 999 M, kota itu di bawah kekuasaan Dinasti Qarakhanid.

 

Setelah itu, Samarkand dikuasai Dinasti Seljuk (1073 M), Dinasti Qarakhitai (1141 M) dan Dinasti Khawarizmian (1210 M). Saat dikuasai dinasti-dinasti itu, Samarkand belum mencapai masa kejayaannya.

 

Pada abad ke-10 M, populasi penduduk di kota itu lebih dari setengah juta jiwa. Samarkand mencapai masa keemasannya di era Islam, ketika Dinasti Timurid (1370 M – 1506 M) berkuasa.

 

Dinasti itu menundukkan Samarkand dari tangan Shah Sultan Muhammad—penguasa Dinasti Khawarizmia. Di bawah kepemimpinan Timur Lenk, dua penjelajah terkemuka Marco Polo dan Ibnu Batutta sudah melihat geliat kemajuan yang dicapai Samarkand.

 

“Samarkand merupakan salah satu kota terbesar dan paling cantik dan indah di dunia,” ungkap Ibnu Batutah berdecak kagum.

Saat Timur Lenk berkuasa, Samarkand menjelma menjadi kota yang berkembang pesat. Hampir separuh dari aktivitas perdagangan di Asia berputar di kota Samarkand. Pada masa itu, di pasar Samarkand sudah biasa ditemukan beragam produk seperti kulit, linen, rempah-rempah, sutera, batu mulia, melon, apel, dan beragam barang lainnya.

 

Di era itu, Samarkand sudah memiliki monumen-monumen arsitektur yang megah. Kota itu pun sudah memiliki banyak seniman dan sarjana. Pengganti Timur Lenk, Syahrukh memindahkan ibukota Timurid dari Samarkand ke Heart. Meski begitu, hingga masa pemerintahan Ulugh Beg, masyarakat Samarkand hidup dalam kemakmuran. Pada masa kekuasaan Ulugh Beg, Samarkand menjadi pusat studi ilmu pengetahuan. Dia adalah raja yang gandrung dengan ilmu, khususnya astronomi.

 

Salah satu bukti sejarah yang menunjukkan Samarkand menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah didirikannya Observatorium Ulugh Beg. Selain itu, di kota itu juga banyak berdiri madrasah atau perguruan tinggi. Selama satu abad Dinasti Timurid berkuasa, Samarkand mencapai puncak kejayaannya. Sekitar tahun 1500 M, kekuasaan Dinasti Timurid mulai rapuh. Kota itu ahirnya jatuh ke tangan bangsa Uzbek di bawah pimpinan Ozbeg Khan Shaibani.

 

Setelah itu, Samarkand berada di bawah Keemiran Bukhara. Pada 1868 M, Samarkand ditaklukan Rusia dan menjadi bagian dari Uni Soviet hingga 1991. Sejak Uni Soviet pecah, Samarkand pun menjadi bagian dari negara Uzbekistan. Secara geografis, Samarkand merupakan salah satu kota tua dan utama di wilayah Transoksania, yakni daerah antara Sungai Amudarya (Oxus) dan Syrdarya di Asia Tengah. Kini Samarkand menjadi salah satu provinsi di Uzbekistan. Kota itu berada di ketinggian 702 meter. Pada 2005 populasi penduduknya mencapai 412 ribu jiwa.

Samarkand, Permata dari Timur (3)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

en.wikipedia.org

 

Alun-Alun Registan di Samarkand.

Penguasa Dinasti Timurid di Samarkand

 

Timur Lenk (1370 M – 1405 M)

Pendiri Dinasti Timurid ini terlahir di kota Kish, sebelah selatan Samarkand, Provinsi Transoksania pada 1336. Dia adalah anak gubernur di wilayah yang terletak di antara Sungai Amudarya dan Sungai Sydarya di Asia Tengah.

 

Timur masih merupakan keturunan Jengiz Khan. Masa kecilnya dihabiskan dengan menggembala kambing. Ia dijuluki Lenk (Leme) yang berarti ‘pincang’ pada nama belakangnya.

 

Sejatinya, dia memang pincang, karena salah satu kakinya cacat akibat terluka saat mencuri kambing, waktu masih kecil. Ia pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang berbakat dan menguasai bidang militer.

 

Pada 10 April 1370, Timur memproklamirkan diri sebagai pemimpin dan penguasa tunggal atas daerah kekuasaan Dinasti Chaghatayi. Dia pun membentuk Dinasti Timurid yang berpusat di Samarkand. Timur dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar dalam penyebaran ajaran Islam. Itulah mengapa dia didukung para ulama.

 

Sultan Khalil (1405 M – 1409 M)

Khalil merupakan pengganti Timur Lenk. Dia adalah anak Miran Shah sekaligus cucunya Timur. Saat Timur berkuasa, Khalil ikut bersama Timur menundukkan wilayah hingga ke India. Pada 1402 M, Timur memberinya daerah kekuasaan di Ferghana. Setelah Timur tutup usia, Khalil pun didaulat untuk meneruskan kekuasaan Timurid. Selama berkuasa, dia mampu memperluas kekuasaan Timurid.

 

Syahrukh Mirza (1409 M – 1447 M)

Dia adalah anak bungsu Timur Lenk. Sejatinya, dialah putera mahkota yang menggantikan tahta sang ayah. Namun, menjelang kematiannya, Timur membagi wilayah Dinasti Timurid kepada anak-anaknya. Akibatnya terjadi ketidak-jelasan dan Dinasti Timurid nyaris pecah. Syahrukhlah yang kemudian menyelamatkan Timurid dari tubir kehancuran.

 

Syahrukh mulai mengendalikan kekuasaannya pada 1409 M. Di bawah kepemimpinannya, Samarkand tumbuh menjadi wilayah berkembang pesat. Kerajaannya mampu mengendalikan rute perdagangan utama antara Timur dan Barat termasuk di antaranya Jalur Sutera. Masyarakat Samarkand pun hidup dalam kecukupan. Dia memindahkan ibukota Timurid dari Samarkand ke Herat.

 

Ulugh Beg (1447 M – 1449 M)

Nama lengkapnya Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393 M – 1449 M). Dia adalah penguasa Samarkand yang menaruh perhatian terhadap astronomi. Ketertarikannya dalam astronomi bemula ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka, Nasiruddin At-Tusi. Ketika dia berkuasa, astronomi berkembang begitu pesat. Dia membangun Observatorium Ulugh Beg pada 1420 M.

 

Abdul Latif (1449 M – 1450 M)

Abdul Latif adalah putera Ulugh Beg. Ia melakukan pemberontakan yang akhirnya membuat sang ayah terbunuh. Selepas terbunuhnya Ulugh Beg, Abdul Latif pun menduduki tampuk kekuasaan. Namun, dia hanya berkuasa selama enam bulan, karena mati terbunuh.

 

Abdullah Mirza (1450 M – 1451 M)

Dia adalah cucu Syahrukh. Abdullah Mirza menggantikan posisi Abdul Latif. Ia pun hanya memimpin Dinasti Timurid sekitar satu tahun. Tahtanya direbut Abu Said.

 

Abu Said (1451 M – 1469 M)

Abu Said sebenarnya bukanlah keturunan Timurid. Ia tumbuh langsung di bawah asuhan Ulugh Beg. Dia pun menguasai ilmu pengetahuan dan militer. Pengaruhnya begitu kuat di militer. Di bawah kepemimpinannya pemerintahan Timurid relatif stabil. Masyarakat Samarkand juga kembali mencapai kemakmuran.

 

Ahmad (1469 M – 1494 M)

Sepeninggal Abu Saud, wilayah kekuasaan Timurid dibagi dua, yakni Samarkand dan Khurasan. Ahmad, putera Abu Said memerintah Samarkand. Di bahwa kepemimpinannya, Samarkand terbilang damai. Dia banyak mendirikan bangunan yang indah. Ulama dan seniman dari berbagai penjuru berdatangan ke pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan itu.

 

Mahmud bin Abu Said (1449 M – 1450 M)

Inilah akhir kekuasaan Dinasti Timurid di Samarkand. Kota itu akhirnya jatuh ke tangan bangsa Uzbek.

Samarkand, Permata dari Timur (4-habis)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

en.wikipedia.org

 

Alun-Alun Registan di Samarkand.

Saksi Sejarah Kejayaan Samarkand

Organisasi Kebudayaan dan Pendidikan PBB (UNESCO) telah menetapkan Samarkand sebagai kota tua yang masuk dalam daftar warisan dunia.

 

Kota itu dianggap sebagai persimpangan kebudayaan. “Ketika kita berbicara Samarkand, kita membayangkan sebuah kota cantik dan besar yang memikat setiap jiwa. Begitu Anda melihat kota ini sekali, maka akan bermimpi untuk melihatnya lagi,” ujar Presiden Uzbekistan, Islam Karimov.

 

Kini, Samarkand menjadi salah satu kota tujuan wisata. Pesona bangunan-bangunan tua yang bertengger megah di kota itu mampu memikat para pelancong untuk datang dan kembali lagi, ke salah satu kota penting dalam sejarah Islam di Asia Tengah itu.

 

Sejumlah bangunan tua hingga kini masih kokoh berdiri menjadi saksi kejayaan Islam di masa lalu.

 

Samarkand memiliki sederet monumen bersejarah. Kubah Pirus Samarkand merupakan simbol arsitektur Samarkand yang paling luar biasa. Tempat penting lainnya di kota tua yang paling banyak menarik perhatian adalah Registan Square—sebuah pusat kota tradisional.

 

Di tempat itu terdapat tiga bangunan yang menjadi peninggalan Ulugh Beg yakni, Madrasah Ulugh Beg, Sherdor, dan Tilla Qari. Madrasah itu adalah perguruan tinggi zaman dulu.

 

Tempat bersejarah lainnya adalah Mausoleum of Tamerlane. Inilah yang membuat Samarkand disanjung lewat puisi dan dirindui para pelancong.

Siprus, Tempat Wafatnya Wanita Salehah (1)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

picture4u.net

Salah satu sudut Pulau Siprus.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang Muslimah bernama Ummu Harram binti Milhan. Ia adalah seorang sahabat perempuan yang dikenal pemberani. Ia bercita-cita gugur syahid di jalan Allah SWT. Impian Muslimah pemberani itu pun akhirnya terkabul.

 

Tanpa mengenal rasa takut, Ummu Haram berkali-kali turun ke medan perang menegakkan panji-panji agama Allah SWT. Terakhir kali, sang mujahidah berjuang dalam sebuah ekspedisi penaklukkan Siprus atau dikenal dengan Perang Qubrus (Siprus) pada 27 H.

 

“Pada saat menyebrangi laut, perahu mereka oleng dan Ummu Haram terlempar ke laut sampai meninggal,” tulis Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadits an-Nabawi. Menurut dia, makam Ummu Haram terdapat di Siprus dan dikenal dengan nama Makam Wanita Saleh.

 

Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dalam kitab Nisaa’ Haular Rasuul menuturkan, Ummu Haram adalah saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik. Ummu Haram termasuk salah seorang Muslimah yang mulia. “Ia masuk Islam, berbaiat kepada Nabi SAW setelah ikut hijrah,” ungkap Al-Istanbuli dan Asy-Syalabi.

 

Ia juga tercatat sebagai periwayat hadits dan Anas bin Malik meriwayatkan hadits darinya. Selain itu, ada pula sahabat lainnya yang meriwayatkan hadits dari Ummu Haram. Rasulullah SAW menghormati sosok Ummu Haram. Beliau sempat mengunjungi dan beristirahat sejenak di rumahnya. Ia dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah SAW, baik dari jalur susuan maupun nasab.

 

Ummu Haram bercita-cita untuk dapat menyertai peperangan bersama para mujahidin menyeberangi laut untuk berdakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah SWT. Akhirnya, Sang Khalik pun mengabulkan mewujudkan cita-citanya.

 

Dalam hadits riwayat Ibu Majah, Anas RA menuturkan, adalah Rasulullah SAW apabila pergi ke Quba, beliau mampir ke rumah Ummu Haram. Pada suatu hari Rasululllah SAW mampir ke rumah Ummu Haram dan menjamunya. Lalu Rasulullah menyandarkan kepalanya dan tertidur. Tidak beberapa lama kemudian beliau bangun lalu tertawa.

 

Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuat Anda tertawa, ya Rasulullah?”

 

Beliau bersabda, “Telah diperlihatkan dalam tidurku ada sekelompok manusia dari umatku, mereka berperang di jalan Allah dan berlayar di lautan dan keadaan mereka sebagaimana raja-raja yang penuh kegembiraan (karena lengkapnya persenjataan dan perbekalan mereka).”

 

Ummu Haram lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka.”

 

Rasulullah SAW kemudian mendoakan Ummu Haram. Dan beliau kembali menyandarkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau terbangun dan tertawa.

 

Ummu Haram bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa yang membuat Anda tertawa?”

 

Rasulullah bersabda, “Diperlihatkan kepadaku sekelompok manusia dari umatku tengah berjuang di jalan Allah laksana raja yang penuh kegembiraan.”

 

Ummu Haram kembali berkata, “Wahai Rasululllah, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka.”

 

Rasululllah bersabda, “Engkau termasuk golongan para pemula.”

 

Anas bin Malik berkata, “Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Setelah dinikahi oleh sahabat agung yang bernama Ubadah bin Shamit, Ummu Haram lalu berjihad. Ia bersama suaminya meraih syahid dalam perang Qubrus (Siprus).”

Siprus, Tempat Wafatnya Wanita Salehah (2-habis)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

REPUBLIKA.CO.ID, Berbeda dengan Dr Syauqi yang menyebutkan Ummu Haram syahid karena terlempar dari perahu yang oleng, Al-Istanbuli mengungkapkan, kematian wanita salehah itu terjadi ketika Ummu Haram telah melewati laut, ia naik seekor hewan, kemudian hewan tersebut melemparkannya hingga wafat.

 

Menurut Al-Istanbuli, Perang Qubrus terjadi di era kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Saat itu, pasukan tentara Muslim di bawah komandan perang Mu`awiyah bin Abi Sufyan menaklukkan Siprus pada tahun 27 Hijriyah.

 

Menurut Dr Syauqi, Siprus berarti tembaga kualitas terbaik. Kini, wilayah itu telah menjadi Republik Siprus, sebuah negara pulau di Laut Tengah bagian timur, ±113 km di sebelah selatan Turki dan 120 km di sebelah barat Suriah.

 

Pasukan tentara Islam merebut Siprus dari kekuasaan Kekaisaran Romawi. Tepatnya, satu dekade sejak penaklukan Mesir, umat Islam berhadapan dengan Kekaisaran Romawi. Dalam persaingan itu, umat Islam berhasil menguasai Laut Tengah bagian timur, yakni Siprus sekitar tahun 30 H (649 M), dan Rhodes pada tahun 52 H (672 M).

 

Pada saat itu, Kekaisaran Romawi memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya. Maka, umat Muslim berpikir bagaimana cara melawan angkatan laut yang tak terkalahkan itu. Sejak saat itulah dibentuk armada angkatan laut Muslim.

 

Inilah pasukan tentara Muslim yang pernah diungkapkan dan diprediksi Rasulullah SAW lewat haditsnya. “Telah diperlihatkan dalam tidurku ada sekelompok manusia dari umatku, mereka berperang di jalan Allah dan berlayar di lautan dan keadaan mereka sebagaimana raja-raja yang penuh kegembiraan (karena lengkapnya persenjataan dan perbekalan mereka),” sabda Rasulullah SAW.

 

Dengan persenjataan termodern di zamannya, tentara kaum Muslimin berhasil mengalahkan Romawi dan merebut wilayah Siprus. Selain itu, prediksi Rasulullah SAW yang menyebutkan Ummu Haram akan menjadi bagian dari pasukan itu juga terbukti. Bahkan, di sanalah wanita salehah itu menjemput impiannya sebagai seorang mujahidah dan gugur di jalan Allah SWT.

 

Siprus merupakan salah satu kota tertua dalam peradaban manusia. Kehidupan tertua di wilayah itu diperkirakan sudah ada pada 10.000 SM. Situs aktivitas peradaban manusia paling tua di negara itu bernama Aetokremnos yang terletak di pantai selatan.

 

Sedangkan perkampungan komunitas manusia tertua di Siprus diperkirakan berasal dari 8.200 SM. Para arkeolog juga menemukan sumur air tertua sedunia di sebelah barat Siprus yang berasal dari tahun 9.000-10.500 SM. Secara bergantian, Siprus juga dikuasai oleh peradaban-peradaban besar di dunia, seperti Yunani, Assyria, Romawi, Islam, dan pernah juga dijajah oleh Barat. Hingga kini, mayoritas penduduk Siprus Utara beragama Islam.

Al-Madain, Metropolitan Kuno di Tepi Sungai Tigris (1)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

art.co.uk

Salah satu reruntuhan bangunan kuno di Al-Madain yang disebut Taq-i-Kisra.

REPUBLIKA.CO.ID, Suatu hari, Hudzaifah Ibnul Yaman ditugaskan di Al-Madain. Dalam sebuah kesempatan, ia meminta minum. Dihqaan datang dengan membawa air dalam gelas yang terbuat dari perak. Hudzaifah melempar Dihqaan dengan gelas perak tersebut.

 

“Sesungguhnya, aku melemparnya karena ia sudah pernah aku larang (menggunakan gelas perak), namun masih saja melakukannya,” ujar Hudzaifah.

 

Ia lalu berkata, “Sesungguhnya, Rasulullah SAW bersabda, ‘Emas, perak, sutra, dan sutra dibaaj untuk mereka orang kafir di dunia dan untuk kalian nanti di akhirat.”

 

Dalam kisah yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim itu tercantum nama Al-Madain.

 

Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith an-Nabawi, Al-Madain adalah nama sebuah kota yang dibangun Raja Anu Syirwan bin Qabadz. “Dia adalah raja Persia yang bijaksana, pandai, cerdas, dan berbaik budi,” ujar Dr Syauqi.

 

Menurut dia, Raja Anu Syirwan beserta raja-raja Sasan tinggal di kota itu hingga ditaklukkan pasukan tentara Islam pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab pada tahun 16 H.

 

Pada tahun itu, tentara Muslim di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash menaklukkan Al-Ahwaz dan Al-Madain di Perang Jawala. Dalam pertempuran itu, Kaisar Persia kalah dan melarikan diri di Perang Yazidiger. Lalu di manakah kota Al-Madain itu berada?

 

“Al-Madain terletak di tepi Sungai Tigris sebelah timur, sekitar 30 kilometer dari Baghdad,” ungkap Dr Syauqi.

 

Sejatinya, Al-Madain adalah sebuah kota metropolitan kuno yang dibentuk oleh Dinasti Sasan. Al-Madain berarti ‘kota-kota’. Menurut Wikipedia, Al-Madain merupakan salah satu kota di Babilonia yang didirikan oleh seorang Rabbi Yahudi yang dikenal dengan nama Rava.

 

Dalam bahasa Persia, Al-Madain dikenal dengan sebutan Tespon atau Tesiphon. Kota ini pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Parthian Arsacids dan Sasan Persia. Al-Madain merupakan kota besar di Mesopotamia kuno.

 

Reruntuhan kota ini dapat dilihat di bagian timur Sungai Tigris, berseberangan dengan Kota Hellenistik, Seleucia. Kota ini berjarak sekitar 30 km di sebelah selatan Baghdad, Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, Al-Madain sangat menonjol selama Kekaisaran Parthian pada abad ke-1 Sebelum Masehi (SM). Kota tersebut sempat menjadi pusat pemerintahan.

 

Al-Madain menjadi sangat penting karena kota itu menjadi pusat sasaran militer bagi pemimpin Kekaisaran Romawi pada perang timur mereka.

 

Sejarah mencatat, kota tersebut sempat lima kali direbut Roma, tiga kali di antaranya pada abad ke-2 M.

 

Kaisar Trajan menguasai Ctesiphon pada 116, namun penerusnya, Hadrian, memutuskan untuk mengembalikan Ctesiphon tahun berikutnya sebagai bagian dari penyelesaian damai.

 

Jenderal Romawi, Avidius Cassius, merebut kota ini pada 164 M, selama Perang Parthia, namun ditinggalkan ketika perang berakhir. Pada 197 M, Kaisar Septimius Severus menguasai Al-Madain dan membawa ribuan penduduk yang kemudian dijual sebagai budak.

 

Pada akhir abad ke-3 M, setelah Parthia digantikan oleh Sassanis, kota ini kembali menjadi sumber konflik dengan Roma. Pada 283 M, Kaisar Galerius dikalahkan di luar kota tersebut. Setahun kemudian, ia kembali lagi dan meraih kemenangan pada pengepungan kelima.

 

Al-Madain pun dikuasai oleh bangsa Romawi pada 299. Ia mengembalikan kota tersebut kepada Raja Persia Narses dan menukarnya dengan Armenia serta Mesopotamia Barat.

 

Al-Madain di era Islam

Al-Madain jatuh ke tangan tentara Muslim selama penaklukan Islam atas Persia pada 637 di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash. Masyarakat yang ada di wilayah itu tak dirugikan dengan datangnya pasukan tentara Islam. Sayangnya, istana dan arsip mereka dibakar.

 

Kota itu mulai kehilangan pamor ketika wilayah itu tak lagi menjadi pusat politik dan ekonomi. Terlebih di era Abbasiyah muncul metropolitan baru bernama Baghdad pada abad ke-8. Al-Madain pun berubah menjadi kota hantu karena ditinggalkan penduduknya. Penduduknya ramai-ramai bermigrasi.

Al-Madain, Metropolitan Kuno di Tepi Sungai Tigris (3-habis)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

heritage-key.com

Salah satu reruntuhan bangunan kuno di Al-Madain yang disebut Taq-i Kisra.

Taq-i Kisra

Di bekas Kota Al-Madain hingga kini masih berdiri sebuah monumen peninggalan Dinasti Sassan bernama Taq-i Kisra.

 

Monumen itu berdiri di atas reruntuhan kota kuno Al-Madain. Kini, monumen ini terletak di Salman Pak, Irak. Taq-i Kisra juga disebut dengan nama Iwan-e Kisra atau Iwan Khosrau.

 

Konstruksi monumen ini dibangun pada pemerintahan Khosrau I setelah pertempuaran melawan Bizantium pada 540 M. Lorong yang melengkung dan membuka pada bagian depan berdiri setinggi 37 m dan lebar 26 m. Lorong ini memiliki panjang 50 m dan menjadikan monumen ini sebagai kubah terbesar yang pernah dibuat.

 

Lengkungan di pintu masuk merupakan bagian dari kompleks istana kekaisaran. Ruang tahta kemungkinan berada di bawah atau belakang lengkungan berdiri lebih dari 30 m, lebar 24 m, serta panjang 48 m. Bagian atas lengkungan memiliki ketebalan satu meter, sementara dinding di bagian dasar memiliki ketebalan sekitar tujuh meter. Bangunan ini merupakan yang terbesar yang pernah dibangun di Persia.

 

Lengkungan gerbang depan tersebut dibuat terbalik tanpa memiliki pusat. Beberapa teknik digunakan untuk membangun lengkungan ini. Batu bata diletakkan sekitar 18 derajat dari vertikal yang memungkinkan mereka didukung oleh dinding belakang selama konstruksi. Semen yang cepat mengering digunakan sebagai plester, memungkinkan batu bata dapat menopang batu bata yang berikutnya.

 

Hingga kini, Taq-i Kisra masih tetap berdiri tegap di bekas kota tua itu selama tujuh abad. Pada tahun 637 M, monumen itu dikuasai oleh bangsa Arab. Kaum Muslim menggunakan bangunan itu sebagai masjid untuk beberapa lama hingga daerah tersebut akhirnya ditinggalkan.

 

Pada 1888 M, banjir telah menghancurkan sepertiga bangunan bersejarah itu. Monumen tersebut akhirnya dibangun kembali oleh pemerintahan Saddam Hussein pada 1980-an. Rezim Saddam membangun sayap utara yang runtuh.

Namun, pembangunan kembali monumen tersebut terpaksa harus dihentikan karena Irak terlibat dalam Perang Teluk pada 1991. Pemerintah Irak bekerja sama dengan Universitas Chicago dalam ‘Proyek Diyala’ untuk mengembalikan situs tersebut.

Bashrah, Jejak Islam di Kota Kanal (3-habis)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

skyscrapercity.com

Patung serdadu Iraq di sepanjang garis pantai Syatt Al-Arab, Bashrah.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada saat itu pula, Bashrah menjadi kota industri yang sangat kuat. Sejak dahulu kala, kota tersebut sangat terkenal dengan saluran atau kanal airnya.

 

Menurut Ibnu Hawqal, pada abad ke-10 M, jumlah kanal yang ada di kota itu mencapai 100 ribu. Sebanyak 20 ribu di antaranya bisa dilalui kapal. Nahr Ma’kil merupakan saluran utama yang menghubungkan Bashrah ke Baghdad.

 

Kanal utama itu dibangun pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab. Adalah Ma’kil bin Yasar, seorang sahabat Rasulullah SAW yang memimpin pembangunan kanal itu.

 

Selain itu, kanal utama lainnya di kota itu adalah Kanal Ubullah, yang menghubungkan Bashrah ke arah tenggara. Itulah mengapa Bashrah kerap dijuluki Venesia Timur Tengah. Venesia adalah salah satu provinsi di Italia yang memiliki ribuan kanal.

 

Sayangnya, era keemasan Bashrah sebagai kota intelektual dan perdagangan tak bertahan lama. Memasuki akhir abad ke-10 M, perlahan namun pasti kejayaan Bashrah yang sempat menjadi obor peradaban itu mulai padam.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan masa kejayaan Bashrah meredup. Pertama, Kota Bashrah yang tengah mengalami kemajuan yang pesat mulai rusak parah setelah pada 953 M diserang olah Karmathian—sebuah sekte—selama 17 hari.

 

Meski begitu, setelah serangan itu Bashrah bisa kembali pulih. Hal itu dibuktikan oleh kesaksian seorang penjelajah Muslim bernama Nasir Khursaw. Menurut Nasir, pada 1052 M, Bashrah merupakan kota yang padat. Dia melihat dinding kota yang dihancurkan Karmathian sudah diperbaiki. Meski begitu, tak sepenuhnya kerusakan akibat serangan itu bisa diperbaiki.

 

Kedua, padamnya kejayaan Kota Bashrah juga terjadi akibat gempuran dan serangan membabi buta tentara Mongol. Pada gelombang penyerangan tentara Mongol yang pertama antara 1219 M hingga 1222 M, Bashrah masih bisa selamat.

 

Namun, dalam serangan kedua, kota itu tak luput dari gempuran tentara Mongol. Bashrah pun dihancurkan oleh serangan gabungan yang dilakukan tentara Perang Salib dan Mongol.

 

Untuk menghancurkan metropolis intelektual dan perdagangan utama Islam, para pemimpin Nasrani telah mengirimkan utusan khusus kepada Mongol. Mereka berkomplot untuk melakukan serangan gabungan terhadap kota-kota Islam. Bashrah pun luluh-lantak ketika Baghdad pada 1258 M dihancurkan pasukan Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Penjelajah Muslim Ibnu Batutah, pada medio abad ke-14, masih menyaksikan puing-puing kehancuran Bashrah.

REPUBLIKA.CO.ID, Di antara sederet sarjana dan ilmuwan Muslim yang terlahir dari Kota Bashrah itu, antara lain Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i (739 M-831 M), seorang ahli zoologi yang sangat terkenal; Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan bin Duraid, geogafer dan genealog kondang; Al-Jahiz (776 M-868 M), sastrawan Islam klasik yang kesohor; serta Ibnu Al-Haitham (965 M-1039 M), seorang fisikawan fenomenal.

 

Selain itu, di pusat intelektual itu juga hidup ahli tata bahasa Arab terkemuka seperti Sibawaih dan Al-Khalil bin Ahmad. Beberapa ahli sejarah terkemuka pun ternyata terlahir di kota itu, seperti Abu Amr bin Al-Ala, Abu Ubaida, Al-Asmai, serta Abu Hasan Al-Madani. Selain memiliki sastrawan kondang seperti Al-Hijaz, dari Bashrah juga lahir beberapa sastrawan seperti Ibnu Al-Mukaffa dan Sahl bin Harun.

 

Kota yang dikenal sebagai penghasil kurma berkualitas tinggi itu didirikan oleh umat Islam pada 636 M, era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab. Pada tahun itu, pasukan tentara Islam yang mulai melakukan ekspansi di bawah komando Utba bin Ghazwan berhasil menaklukkan wilayah itu dari kekuasaan Kerajaan Sasanid. Di daerah yang awalnya bernama Vahestabad Ardasir itu, pasukan Islam berkemah.

 

Umat Islam lalu menjadikan daerah itu sebagai basis pertahanan saat melawan Imperium Sasanid. Sejak itu, wilayah itu pun diberi nama Bashrah (bahasa Arab) yang berarti ‘mengawasi’ atau ‘memantau’. Dari wilayah itulah, pasukan tentara Islam memantau pergerakan militer Sasanid. Versi lain menyebutkan, kata ‘Bashrah’ berasal dari bahasa Persia Bas-rah atau Bassorah. Kata al-Bashrah biasa pula berarti ‘batu kerikil hitam’.

 

Secara resmi pada 639 M, Khalifah Umar menjadikan Bashrah sebagai ibukota provinsi dengan wilayah kekuasaan meliputi lima daerah. Abu Musa Al-Asy’ari ditunjuk sebagai gubernur pertama Bashrah. Setelah itu, dari masa ke masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah mengangkat gubernur untuk Bashrah.

 

Dari tahun ke tahun, Bashrah tumbuh sebagai sebuah kota. Pada 771 M, Ziad bin Abi Sufyan mulai mengembangkan Bashrah menjadi kota yang besar. Kota itu pun dengan cepat berkembang menjadi sebuah metropolis dunia yang terkemuka pada abad ke-8 M. Pada abad itulah, Bashrah mencapai puncak kejayaannya. Jumlah penduduknya pun mencapai 200 ribu hingga 600 ribu jiwa.

 

Selain menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan, Bashrah juga telah berkembang menjadi salah satu metropolis besar dan pusat perdagangan yang kesohor. Salah satu sumber mata pencaharian rakyat Bashrah adalah pertanian. Kota yang memiliki tujuh pelabuhan besar itu menjadi tempat persinggahan pada saudagar. Yang menarik bagi para saudagar dari berbagai belahan dunia, yakni Pelabuhan Bashrah bisa disinggahi kapal-kapal besar.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada saat itu pula, Bashrah menjadi kota industri yang sangat kuat. Sejak dahulu kala, kota tersebut sangat terkenal dengan saluran atau kanal airnya.

 

Menurut Ibnu Hawqal, pada abad ke-10 M, jumlah kanal yang ada di kota itu mencapai 100 ribu. Sebanyak 20 ribu di antaranya bisa dilalui kapal. Nahr Ma’kil merupakan saluran utama yang menghubungkan Bashrah ke Baghdad.

 

Kanal utama itu dibangun pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab. Adalah Ma’kil bin Yasar, seorang sahabat Rasulullah SAW yang memimpin pembangunan kanal itu.

 

Selain itu, kanal utama lainnya di kota itu adalah Kanal Ubullah, yang menghubungkan Bashrah ke arah tenggara. Itulah mengapa Bashrah kerap dijuluki Venesia Timur Tengah. Venesia adalah salah satu provinsi di Italia yang memiliki ribuan kanal.

 

Sayangnya, era keemasan Bashrah sebagai kota intelektual dan perdagangan tak bertahan lama. Memasuki akhir abad ke-10 M, perlahan namun pasti kejayaan Bashrah yang sempat menjadi obor peradaban itu mulai padam.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan masa kejayaan Bashrah meredup. Pertama, Kota Bashrah yang tengah mengalami kemajuan yang pesat mulai rusak parah setelah pada 953 M diserang olah Karmathian—sebuah sekte—selama 17 hari.

 

Meski begitu, setelah serangan itu Bashrah bisa kembali pulih. Hal itu dibuktikan oleh kesaksian seorang penjelajah Muslim bernama Nasir Khursaw. Menurut Nasir, pada 1052 M, Bashrah merupakan kota yang padat. Dia melihat dinding kota yang dihancurkan Karmathian sudah diperbaiki. Meski begitu, tak sepenuhnya kerusakan akibat serangan itu bisa diperbaiki.

 

Kedua, padamnya kejayaan Kota Bashrah juga terjadi akibat gempuran dan serangan membabi buta tentara Mongol. Pada gelombang penyerangan tentara Mongol yang pertama antara 1219 M hingga 1222 M, Bashrah masih bisa selamat.

 

Namun, dalam serangan kedua, kota itu tak luput dari gempuran tentara Mongol. Bashrah pun dihancurkan oleh serangan gabungan yang dilakukan tentara Perang Salib dan Mongol.

 

Untuk menghancurkan metropolis intelektual dan perdagangan utama Islam, para pemimpin Nasrani telah mengirimkan utusan khusus kepada Mongol. Mereka berkomplot untuk melakukan serangan gabungan terhadap kota-kota Islam. Bashrah pun luluh-lantak ketika Baghdad pada 1258 M dihancurkan pasukan Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Penjelajah Muslim Ibnu Batutah, pada medio abad ke-14, masih menyaksikan puing-puing kehancuran Bashrah.

Amman, Kota Para Pengungsi (1)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

jordan.magnificenttravel.com

Reruntuhan kuil Hercules di Amman, Yordania.

REPUBLIKA.CO.ID, Dari Abdurrahman bin Miswar, dia berkata, “Kami berdiam di Amman selama dua bulan bersama Sa’ad bin Malik. Dia meng-qashar shalat, sementara kami shalat itmam (tidak mengqashar). Ketika kami (para tabi’in) menanyakan hal itu, beliau menjawab, “Kami lebih mengetahui.” (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan).

 

Dalam hadits di atas tercantum kata ‘Amman’. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadits An-Nabawi, Amman adalah kota di ujung Syam. “Dulu merupakan pusat kota negeri Al-Balqa,” ujarnya. Di antara kota-kota yang ada di wilayah itu adalah Adzdarbah, Jarba, dan Elat—semuanya berada di Syam.

Kini, Amman merupakan ibukota dan kota terbesar Yordania dan merupakan kota politik, budaya, dan pusat komersial serta kota tertua yang masih dihuni oleh peradaban manusia. Populasi wilayah terbesar Amman dihuni lebih dari 2,8 juta penduduk pada 2010.

 

Sepanjang sejarahnya, Amman telah dihuni oleh beragam jenis masyarakat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat pertama yang menghuni kota itu berasal dari masa Neolitikum, yaitu sekitar 1005 SM. Para arkelog menemukan jejak kehidupan masa Neolitikum di Ain Ghazal yang terletak di sebelah timur Amman.

 

Menurut para arkelog, masyarakat tertua di wilayah itu tidak hanya hidup menetap, tetapi juga telah menghasilkan karya seni. Fakta itu menunjukkan betapa peradaban yang menetap di wilayah Amman tua itu telah mengalami perkembangan yang baik pada masa itu.

Pada abad ke-13 SM, Kota Amman dijuluki Rabbath Ammon oleh bangsa Ammon. Setelah itu, daerah tersebut dikuasai oleh bangsa Assyria dan diikuti oleh bangsa Persia. Setelah itu ditaklukkan lagi oleh bangsa Makedonia. Pemimpin Macedonia di Mesir, Ptolemy II Philadelphus, mengubah nama kota ini menjadi Philadelphia.

 

Kota ini menjadi bagian dari Kerajaan Nabatea hingga 106 M, ketika Philadelphia berada di bawah kekuasaan Romawi dan bergabung dengan Decapolis. Pada 321 M, Kristen menjadi agama kerajaan tersebut dan Philadelphia menjadi kursi keuskupan selama awal era Bizantium. Philadelphia kembali berganti nama menjadi Amman pada periode Ghassanian dan berkembang di bawah kekhalifahan Bani Ummayyah di Damaskus dan Abbasiyyah di Baghdad.

 

Beberapa kali gempa bumi dan bencana alam menghancurkan Amman dan menjadikan kota tersebut sebuah desa kecil dan reruntuhan batu hingga pendudukan Circassian pada 1887.

 

Kota tersebut berubah ketika Sultan Ottoman memutuskan untuk membangun jalur kereta Hijaz yang terhubung ke Damaskus dan Madinah. Ia memfasilitasi baik ritual haji dan perdagangan tetap yang menjadikan Amman sebagai stasiun utama pada peta komersial.

Amman, Kota Para Pengungsi (2)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

world66.com

Salah satu reruntuhan amphitheatre Romawi di Amman, Yordania.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada 1921 M, Abdullah I memilih Amman sebagai wilayah pemerintahan untuk kota yang baru dibangunnya, Kekaisaran Transjordan.

 

Kemudian kota ini menjadi ibukota untuk Kerajaan Hashemite Yordania. Karena di sana tidak terdapat gedung-gedung mewah, ia mulai membangun stasiun dengan kantor di dalam gerbong kereta. Amman menjadi kota kecil hingga 1949.

 

Pada 1963, populasi bertambah karena masuknya pengungsi Palestina. Amman mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak 2010 di bawah pimpinan dua raja Hashemit, Hussein dari Yordania dan Abdullah II.

 

Pada 1970, Amman menjadi lokasi tempat bentrokan besar antara Organisasi Pembebas Palestina (PLO) dan pasukan Yordania. Segala sesuatu yang berada di sekeliling istana mengalami kerusakan berat. Populasi penduduk mengalami perkembangan yang luar biasa akibat tibanya pengungsi dari berbagai macam negara. Gelombang pertama pengungsa Palestina tiba pada 1948.

 

Gelombang kedua muncul setelah Perang Enam Hari pada 1967 dan gelombang ketiga pengungsi Palestina, Yordania, dan Asia Tenggara yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tiba di Amman dari Kuwait, setelah Perang Teluk pada 1991. Gelombang pertama bangsa Irak datang ke Amman setelah Perang Teluk berakhir dengan gelombang kedua muncul pada 2003 setelah invasi Irak.

 

Selama 10 tahun, jumlah bangunan di seluruh kota bertambah secara dramatis dan distrik-distrik baru dibangun, terutama di Amman bagian barat. Hal ini menyebabkan warga kesulitan air bersih.

 

Pada November 2005, sebuah ledakan mengguncang tiga hotel di Amman, menyebabkan 60 orang tewas dan melukai 915 lainnya. Alqaidah mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut meskipun kenyataannya kota kelahiran pemimpin Alqaidah yang terbunuh, Abu Musab Al-Zargawi, adalah Kota Zarga yang terletak di 30 km dari Amman.

 

Amman merupakan pusat komunikasi, transportasi, pariwisata medis, pendidikan, dan investasi. Pada Perang Irak 2003, seluruh transaksi bisnis dengan Irak dilakukan dengan beberapa cara. Bandara Amman, Bandara Internasional Ratu Alia, merupakan pusat maskapai utama Yordania. Amman juga menjadi pintu masuk turis ke negara tersebut karena hampir seluruh turis yang datang ke Yordania masuk melalui Amman.

Amman, Kota Para Pengungsi (3-habis)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

Blogspot.com

Sudut kota Amman di waktu malam.

REPUBLIKA.CO.ID, Kota Amman mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang. Hal tersebut dapat dilihat dari sektor konstruksi, real estat, perbankan, finansial, dan bisnis.

 

Banyak gedung pencakar langit tengah dalam proses konstruksi setelah pencabutan larangan pembangunan gedung lebih dari empat lantai.

 

Kota Amman dihiasi gedung-gedung modern serta bangunan bersejarah. Amman Timur merupakan bagian bersejarah di mana keluarga tunggal tinggal di sisi bukit dan toko-toko kecil serta pasar di wadi atau lembah mendominasi tata letak timur Amman.

 

Beberapa kota industri sedang dikembangkan di dekat Kota Amman, yang terpenting adalah Mushatta. Amman Barat populasinya lebih renggang dan lebih indah. Bagian ini menjadi pusat ekonomi di Amman.

 

Sebagian hotel bintang lima dan empat berdiri di bagian ini. Distrik terpenting di Amman Barat adalah Shmeisani dan Abdali. Distrik Abdoun menjadi pusat ekonomi Amman. Dan Jabal Amman merupakan salah satu distrik bersejarah.

 

Amman memiliki populasi ekspatriat yang luar biasa besar. Betapa tidak, begitu banyak imigran yang datang ke negera itu untuk mencari suaka politik. Orang Irak, Palestina, Lebanon, dan Armenia merupakan di antara banyak populasi ekspatriat yang saat ini berada di Amman. Pekerja tamu kebanyakan berasal dari Mesir, Suriah, dan Asia Tenggara. Banyak orang Barat yang berada di Amman sebagai organisasi internasional dengan misi diplomatik yang memiliki kantor regional di Amman.

 

Amman dikenal sebagai salah satu kota paling liberal di Timur Tengah dan Eurasia. Ia juga dikenal sebagai kota yang paling kebarat-baratan di wilayah tersebut, seperti Kairo dan Damaskus. Kebebasan beragama merupakan tradisi panjang di Yordania. Yordania tidak memiliki hukum yang memaksa para perempuan dan laki-laki untuk berpakaian tertentu. Namun, Islam dan Kristen adalah agama yang paling banyak ditemukan di sana.

 

Sejak 2000, mal-mal besar berdiri di Amman, termasuk Mall Mekah, Mall Abadoun, Mall Al-Baraka, City Mall, Mall Istikal, dan masih banyak lagi. Dua di antaranya yang tengah dibangun adalah Taj Mall dan Abdali Mall. Kota Amman dikenal dengan sejumlah taman air mancur yang dilengkapi permainan bagi anak-anak.

Beirut, Kota Peradaban Finiqiyah (1)

Rep: c02/ Red: Chairul Akhmad

http://www.enfoque10.com

Salah satu sudut Kota Beirut.

REPUBLIKA.CO.ID, Beirut. Inilah salah satu kota terkemuka dalam sejarah peradaban manusia. Nama kota yang terletak di tepian Laut Tengah itu tercantum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

 

Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadits An-Nabawi, Beirut terletak di bekas reruntuhan peradaban Finiqiyah. Finiqiyah atau Phunicia atau Punisia adalah sebuah peradaban yang menjalankan praktik penyaliban.

 

Menurut Bible Encyclopedia, peradaban itu berasal dari kabilah (kaum) ‘Ad, kaum terkuat ras Semit, penghuni asli Arabia yang menguasai padang pasir luas Arabia Tenggara dari pantai teluk Parsi sampai perbatasan Irak.

 

Alquran menyebut daerah yang dikuasai kaum ‘Ad dengan nama Al-Ahqaf (bukit-bukit pasir). Nama daerah itu juga dijadikan nama surat ke-46, yakni Al-Ahqaf. Allah SWT berfiman, “Dan ingatlah Hud saudara kaum ‘Ad, yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya tentang bukit-bukit pasir…” (QS Al-Ahqaf: 21).

 

Kaum ‘Ad sangat besar kepala. Mereka merasa menjadi kaum yang superior sehingga berani menantang Nabi Hud AS. Kaum ‘Ad berkata, “Siapakah yang lebih unggul dari kami dalam kekuatan?” Maka, mereka dihancurkan Allah dengan angin kencang dan dingin selama tujuh malam delapan hari secara terus-menerus. Hingga akhirnya mereka musnah.

 

Azab yang dijatuhkan kepada Kaum ‘Ad itu terekam dalam surat Al-Haqqah ayat 6 dan 7. Allah SWT berfirman, “Sedangkan Kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat Kaum ‘Ad waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”

 

Sebelum azab itu diturunkan, Nabi Hud AS beserta semua pengikutnya yang beriman hijrah ke Hijaz (Arab Saudi). Sejarah mengenal umat Nabi Hud AS itu sebagai bangsa Finiqiy, atau Al-‘Ibriyyah Al-Qadimah.

 

Kata Ibriyyah berasal dari ‘ain-ba-ra, ‘Abara artinya “menyeberang”. Orang Mesir Kuno menamakan bangsa Ibriyah itu dengan nama Khabiru. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan di Babilonia, di Kan’an, mendirikan Kerajaan Maritin, seperti Carthago, menguasai Laut tengah, kemudian ke Mesir mendirikan Dinasti Hyksos setelah menundukkan Dinasti Fir’aun.

 

Kini, Beirut menjadi ibukota dan kota terbesar Republik Lebanon. Kota itu terletak di semenanjung barat Laut Mediterania, sekitar 94 km di utara dari perbatasan Lebanon-Israel. Beirut diapit oleh gunung-gunung di Lebanon khususnya dua bukit, yaitu Al-Ashrafieh dan Al-Musaytibah.

REPUBLIKA.CO.ID, Daerah pemerintahan Beirut adalah seluas 18 km persegi dan wilayah metropolitannya seluas 67 km persegi. Kota ini didiami oleh 1,2 juta jiwa dan menjadi 2,1 juta jiwa bila termasuk daerah metropolitannya.

 

Sebelum perang saudara Lebanon pecah, kota ini mendapat julukan “Paris di Dunia Timur” karena suasana kosmopolitannya.

 

Beirut memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejarah tersebut dimulai sekitar 5.000 tahun yang lalu. Menurut Encyclopedia Britannica, kota kuno Beirut berasal dari nama Kanaan ‘Bee’rot’ yang berarti sumur.

 

Sumur ini merujuk pada air bawah tanah yang digunakan penduduk lokal untuk kebutuhan sehari-hari. Referensi sejarah pertama mengenai Beirut ada pada abad ke-14 SM yang terdapat di prasasti dengan tulisan rune dari ‘Surat-surat Amarna’. Ammunira dari Biruta (Beirut) mengirim tiga surat kepada Fir’aun Mesir.

 

Bangsa yang pertama kali bermukim di Lebanon adalah bangsa Semit Kanaan, atau dalam bahasa Yunani Phoenician karena hidup di lepas pantai. Bangsa Phoenician terkenal dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan mereka. Pusat kekuasaan bangsa Kanaan ini berada di Byblos (sekitar 30 km di utara Beirut). Di Sidon (25 km di selatan Beirut), mereka mendirikan benteng kuat di pantai.

 

Pada 332 SM, bangsa Romawi menaklukkan Phoenicia dan memerintah Lebanon sebagai bagian dari Provinsi Suriah. Selama di bawah kekuasaan Romawi, berkembang bahasa Armanic yang dominan sehingga menggeser bahasa Phoenicia dan menandai adanya integrasi budaya di kawasan tersebut.

 

Pada masa Kekaisaran Romawi inilah, agama Kristen mulai berkembang di Lebanon. Pada 140 SM, kota tersebut dihancurkan oleh Diodotus Tryphon dalam pertarungannya dengan Antiochus VII dalam perebutan takhta monarki Seleuka, kemudian kota tersebut dibangun kembali dan diberi nama Laodicea di Kanaan.

 

Meskipun Kota Beirut telah disebutkan pada catatan sejarah Mesir, kota itu baru dikenal secara luas setelah diberi status koloni Romawi, Colonia Julia Augusta Felix Berytus pada tahun 14 SM. Sekitar tahun ketiga hingga keenam Masehi, Beirut terkenal dengan sekolah hukumnya. Dua orang Hakim Roma yang terkenal, Papinian dan Ulpian, berasal dari bangsa Kanaan dan belajar hukum di bawah kekaisaran Severan.

 

Kota itu dihancurkan oleh gempa bumi dan gelombang pasang pada tahun 551 M. Sekitar 30 ribu tewas di Berytus dan sepanjang Pantai Fenisia. Total korban yang tewas adalah sekitar 250 ribu orang. Bahkan, ketika umat Muslim menguasai kota itu pada tahun 635 M, Beirut masih berupa reruntuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Beirut jatuh ke tangan Muslim di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Pada masa tersebut, Lebanon menunjukkan perkembangannya sebagai masyarakat modern.

 

Pada era ini, bahasa Arab menjadi bahasa resmi Lebanon dan negara ini menjadi bagian dari peradaban Islam yang gemilang.

 

Hal ini berlangsung hingga tahun 1099 ketika penganut Kristen di Eropa (crusader) menaklukkan Lebanon dan negara di sekitar kawasan tersebut. Selain memperluas ajaran Kristen, mereka juga membendung proses arabisasi dan islamisasi dalam pemerintahan Islam.

 

Para crusader (Tentara Perang Salib) berusaha menancapkan pengaruh Kristen dengan menghidupkan budaya Barat di tengah kehidupan Islam di Beirut. Namun pada 1187 M, Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir berhasil mengusir pasukan Tentara Salib dan menguasai Lebanon serta Suriah hingga 1500 M.

 

Beirut dan Suriah jatuh ke tangan pemerintahan Turki Utsmani atau Ottoman pada 1516 M, tak lama setelah Portugis mengelilingi Benua Afrika (1598) untuk mengalihkan perdagangan rempah-rempah Timur jauh dari Suriah dan Mesir. Pada abad ke-17 M, kota tersebut menjadi eksportir sutra Lebanon ke Eropa. Secara teknis, Beirut menjadi bagian dari Provinsi Ottoman, Damaskus, dan kemudian Sidon (1660).

 

Revolusi Industri dan pendudukan Mesir atas Suriah pada 1832 menggairahkan kembali peran penting kota tersebut dalam perdagangan yang sempat meredup selama pemerintahan Ottoman.

 

Pada abad itu pula terjadi perang saudara antara Maan dan Shihab dari golongan Druze dan Maronit pada tahun 1841, 1845, dan 1860. Pengungsi Manorit Kristen melarikan diri ke Beirut dari perang saudara di pegunungan Suriah, sementara para misionaris Protestan dari Amerika, Inggris, dan Jerman menambah jumlah penduduk kota itu.

 

Pada akhir Perang Dunia I yang menandai jatuhnya Dinasti Ottoman, kota ini jatuh ke tangan Prancis. Keputusan ini diambil berdasarkan Konferensi San Remo di Italia tahun 1920. Selama memerintah Lebanon, Prancis berniat baik terhadap negara tersebut dan menyerahkan kepemimpinan negara kepada masyarakat.

 

Hal ini menyebabkan masyarakat Lebanon menerima sebagai mandataris Prancis. Bahkan, mereka meminta berpisah dari Suriah sehingga bisa berdiri sendiri. Tapi, kebebasan penuh baru diperoleh Lebanon pada 1946 walaupun secara resmi negara tersebut merdeka pada 22 November 1943.

REPUBLIKA.CO.ID, Beirut terkenal dengan negara dengan beragam agama di antara seluruh negara di Timur Tengah. Mayoritas penduduk menganut Islam dan Kristen.

 

Ada sembilan komunitas agama utama di Beirut, yaitu Maronit Katolik, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani, Armenia Apostolik, Katolik Armenia, Protestan, Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan Druze.

 

Hingga pertengahan abad ke-20 M, Beirut juga menjadi rumah bagi komunitas Yahudi di lingkungan Wadi Abu Jamil. Sebelum perang sipil terjadi, lingkungan Beirut cukup heterogen. Namun, akibat perang banyak dari mereka memisahkan diri dan membentuk kelompok.

 

Beirut bagian Timur lebih banyak diisi oleh masyarakat Kristiani dengan sedikit Muslim Sunni, sementara itu bagian barat Beirut ditempati mayoritas Muslim Sunni dengan sedikit masyarakat Kristen dan Druze, sedangkan Beirut bagian utara terus berupaya menambah penduduk beragama Protestan sejak abad ke-19 M.

 

Perang Saudara di Lebanon

Perang Saudara Lebanon dimulai dari 1975 hingga 1990 M. Diperkirakan sekitar 150 ribu hingga 230 ribu warga sipil tewas akibat peperangan tersebut. Sekitar satu juta jiwa lain—seperempat populasi negara tersebut—terluka dan 350 ribu penduduk mengungsi. Tidak diketahui secara jelas faktor pemicu peperangan itu.

 

Keterlibatan Suriah, Israel, Amerika Serikat, dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) telah memperburuk konflik tersebut. Pertempuran sempat terhenti pada 1976 karena ada mediasi dari Liga Arab dan intervensi Suriah. Pertempuran ini terpusat di Lebanon Selatan.

 

Perang ini dimulai pada akhir masa pemerintahan Dinasti Ottoman di Lebanon. Perang Dingin memberi dampak yang cukup kuat terhadap Lebanon dan menyebabkan krisis politik pada 1958. Tahun 1975, kehadiran kekuatan bersenjata asing dalam bentuk gerilyawan PLO memiliki efek di Lebanon.

 

Mereka menjalankan hak veto pada politik Lebanon. Pembentukan negara Israel dan perpindahan 100 ribu pengungsi Palestina ke Lebanon (sekitar 10 persen total populasi) mengubah demografi Lebanon dan memberikan dasar bagi keterlibatan jangka panjang Lebanon dalam konflik regional.

 

Setelah pertempuran sempat terhenti pada 1976 karena mediasi Liga Arab dan intervensi Suriah, pertikaian Palestina-Lebanon berlanjut di Lebanon selatan yang telah diduduki PLO sejak 1969. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan Kairo yang juga ditandatangani Pemerintah Lebanon.

Tiberia, Danau dan Kota Tiga Agama (1)

Rep: C02/ Red: Chairul Akhmad

holyland-pilgrimage.org

Danau dan Kota Tiberias.

REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Allah SWT mengeluarkan Yakjuj dan Makjuj, mereka turun dengan cepat dari bukit-bukit yang tinggi. Setelah itu gerombolan atau barisan pertama dari mereka melewati Danau Thabariyah dan meminum habis semua air dalam danau tersebut. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

 

Dalam hadits tentang tanda-tanda menjelang datangnya hari kiamat atau akhir zaman di atas tercantum kata ‘Danau Thabariyah’. Danau itu juga dikenal dengan nama Tiberia.

 

Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadits an-Nabawi mengatakan, dalam bahasa Arab, kata Thabar berarti melompat atau bersembunyi. “Tiberia merupakan nama danau dan kota di utara Palestina,” ujar Dr Syauqi Abu Khalil.

 

Tepatnya, terletak di dekat Dataran Tinggi Golan di sebelah utara Palestina, di Lembah Celah Besar Yordan yang memisahkan Afrika dan patahan Arab. Saat ini, wilayah tersebut termasuk daerah kekuasaan Israel.

 

Danau ini mempunyai panjang sekitar 25,5 kilometer dan lebar 12 kilometer. Dengan luas total 166 meter persegi, danau ini menjadi danau air tawar terluas di Israel. Danau ini juga menjadi danau kedua terdalam setelah Laut Mati, yaitu dengan kedalaman 43 meter. Di dasar danau terdapat mata air yang ikut mengisi danau, meskipun sumber utamanya berasal dari Sungai Yordan yang mengalir dari utara ke selatan.

 

Sungai Tiberia mempunyai banyak nama, salah satunya Danau Galilee atau Danau Kinneret. Di sekitar lokasi danau merupakan tempat yang rentan akan gempa bumi dan-pada zaman dahulu-aktivitas gunung api. Hal ini terbukti dari banyaknya batu basalt dan batuan beku lainnya yang menentukan kondisi geografis di daerah Galilee.

 

Di bagian barat laut danau ini terdapat sebuah kota yang bernama sama dengan danau tersebut. Menurut sejarah, Kota Tiberia dibangun sejak 20 Masehi dan dinamakan Tiberia untuk menghormati Kaisar Tiberius yang berasal dari Romawi. Kota yang terletak di sepanjang Pantai Kinneret ini dibangun oleh Herodes Antipas, anak Herodes Agung. Kota ini merupakan satu dari empat kota yang dianggap suci oleh orang-orang Yahudi.

 

Kota Tiberia ini terletak di atas ketinggian 200 meter dari permukaan laut. Iklim di wilayah itu merupakan perbatasan antara musim panas Mediterania dan musim semi. Curah hujannya setiap tahun kita-kira 400 mm. Pada musim panas, suhu tertinggi mencapai 37 derajat celcius. Suhu minimumnya sekitar 21 derajat. Pada musim dingin, suhu di kota tersebut mulai dari 18 hingga 8 derajat. Kota Tiberia terletak di dekat sumber air panas dan mineral alam.

 

Geografer Arab, Al-Muqaddasi, menggambarkan Tiberia sebagai ibu kota Provinsi Yordania dan kota di Lembah Kanaan. “Kotanya sempit, panas ketika musim panas, dan sangat tidak sehat. Di sana terdapat delapan sumber mata air panas dan tidak memerlukan bahan bakar, dan kolam dengan air mendidih tak terhitung banyaknya,” ujarnya.

 

Menurut Al-Muqqadasi, ketika dikuasai peradaban Islam, di kota itu terdapat masjid yang luas dan indah yang berdiri di pusat perdagangan. Lantainya dari kerikil dan batu yang disusun rapat. Di zaman kekuasaan Islam, kata dia, orang-orang yang menderita kudis atau borok dapat datang ke Tiberia dan berendam di air panas selama tiga hari. “Setelah itu, lakukanlah pada musim semi ketika airnya dingin. Maka, mereka menjadi sembuh.”

REPUBLIKA.CO.ID, Pada 1220, ahli geografi dari Suriah, Yakut, menulis Tiberia sebagai kota yang kecil, panjang, dan sempit. Ia juga menggambarkan tentang mata air panas dan asin. Kota itu merupakan bekas kuburan kuno. Hal ini dianggap najis oleh bangsa Yahudi sehingga mereka tidak mau tinggal di sana.

 

Antipas memaksa sebagian dari orang Yahudi yang berada di Galilee untuk tinggal di kota tersebut. Namun selama beberapa tahun berikutnya, orang-orang Yahudi ini dijauhi.

 

Kota ini diatur oleh 600 dewan kota dan 10 komite hingga 44 Masehi, ketika prokurator Roma menguasai kota setelah kematian Raja Agripa I. Pada 61 Masehi, Agripa II merebut kota tersebut dan menjadikannya bagian dari daerah kekuasaannya. Namun, perang yang berlangsung antara Yahudi dan Romawi membuat kota ini menjadi salah satu pusat orang-orang Yahudi.

 

Selama Perang Salib yang pertama, kota ini diduduki oleh kaum Frank segera setelah penaklukan Yerusalem. Lalu, diberikan kepada Tancred yang menjadikan Tiberia sebagai pusat kota dari Kerajaan Galilee. Daerah itu sering disebut sebagai Kerajaan Tiberia.

 

Sebuah hadits yang disampaikan Ibnu Asakir dari Damaskus mengatakan bahwa nama Tiberia merupakan salah satu dari ’empat kota neraka’. Hal ini menunjukkan fakta bahwa pada saat itu kota ini memiliki populasi non-Muslim yang sangat banyak.

 

Pada awal abad ke-20, komunitas Yahudi di daerah tersebut mencapai 50 keluarga. Dan pada saat yang sama, sebuah manuskrip Torah ditemukan di sana. Pada 1265, pasukan tentara Salib diusir dari kota tersebut oleh Dinasti Mamluk. Dinasti Islam itu menguasai Tiberia hingga akhirnya ditaklukkan oleh Kekhalifahan Turki Usmani.

 

Di bawah pemerintahan Sultan Selim I, wilayah kekuasaan Turki Usmani membentang hingga pantai selatan Mediterania. Banyak sekali orang Yahudi yang melarikan diri karena takut akan kekuatan Ottoman. Pada 1558, seorang Portugis, Dona Gracia, mengumpulkan pajak dari Tiberia dan desa-desa di sekitarnya atas nama Sulaiman Yang Agung.

 

Dia berusaha untuk membuat kota tersebut menjadi tempat perlindungan yang aman bagi Yahudi dan dapat membuat otonomi Yahudi di sana. Pada 1561, keponakannya, Josef Nasi, menjadi raja di Tiberia dan mendorong Yahudi untuk tinggal di sana.

 

Berdasarkan kondisi geografisnya, Tiberia sangat rentan terguncang gempa. Sejarah mencatat, gempa pernah terjadi di Tiberia sebanyak 16 kali, yaitu pada 30, 33, 115, 306, 363, 419, 447, 631, 1033, 1182, 1202, 1546, 1759, 1837, 1927 dan 1943 M. sebanyak 600 orang termasuk 500 Yahudi meninggal pada gempa di Tiberia pada 1837. Namun, kota tersebut kembali diperbaiki, dan pada 1842 terdapat setidaknya empat ribu penduduk yang terdiri dari Yahudi, Turki, dan orang Kristen.

 

Pada 1863, tercatat penduduk yang beragama Islam dan Kristen hanyalah sepertiga dari total penduduk yang berjumlah sekitar 3.600 orang. Pada 1902, terdapat 4.500 penduduk Yahudi dan 1.600 Muslim dari total 6.500 penduduk. Sisanya beragama Kristen.

 

Sebuah teater Romawi yang berumur 2.000 tahun ditemukan di bawah tanah di dekat Gunung Bernike di Bukit Tiberia. Terdapat lebih dari 7.000 ribu penduduk di dalamnya. Penggalian di dekat pantai menemukan koin dengan gambar Yesus di satu sisi dan tulisan Yunani di sisi lain.

Aleppo, Kota Kebudayaan Islam (1)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad

tripadvisor.com

Salah satu benteng tua di Aleppo.

REPUBLIKA.CO.ID, Aleppo adalah sebuah kota yang terletak di sebelah utara. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadits An-Nabawi, kota yang sempat menjadi basis Jun Qinnasrin (tentara Qinnasrin) itu pernah menjadi salah satu kota paling penting dalam sejarah Islam.

 

Jun Qinnasrin merupakan satu dari empat sub-provinsi yang sempat dikuasai Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah sesaat setelah pasukan tentara Muslim menguasai wilayah itu pada abad ke-7 M. Allepo pun pernah menjadi ibu kota pemerintahan Islam di wilayah Suriah setelah Kota Qinnasrin mulai kehilangan pamor.

“Dari Allepo ke Qinnasrin berjarak sekitar 15 mil. Di sana terdapat Benteng Mani’ah,” ujar Dr Syauqi. Sejak 15 abad lalu, Kota Aleppo telah menjelma menjadi kota terkemuka dalam bidang ekonomi, sejarah, artistik, dan kebudayaan Islam.

 

Pada 2006, Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO)—organisasi kebudayaan Organisasi Konferensi Islam (OKI)—mendaulat Aleppo sebagai ibu kota kebudayaan Islam. Aleppo dinilai mampu mewakili tipe kota Islam yang ideal dalam konteks toleransi hubungan beragama.

 

Secara arsitektur, Aleppo juga mampu merepresentasikan sebuah kota Islam. Betapa tidak, bangunan berarsitektur Islam sejak abad ke-7 M itu masih kokoh berdiri. Tak cuma itu, warisan arsitektur dari beragam dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Hamdaniyah, Seljuk, Zankiyah, Ayubiyah, Mamluk, hingga Usmani masih menghias Kota Aleppo.

 

Warisan arsitektur itu berupa istana, pintu, pasar, rumah peristirahatan, masjid, rumah sakit, pemandian umum, dan rumah-rumah bersejarah. Selain itu, Aleppo pun telah melahirkan sejumlah tokoh penting dalam khazanah keilmuwan dan peradaban Islam. Allepo pun telah menjadi semacam museum hidup bagi beragam peradaban.

 

Aleppo merupakan salah satu kota tertua dalam sejarah manusia. Kota itu sudah didiami manusia sejak abad ke-11 SM. Fakta sejarah itu terkuak dengan ditemukannya pemukiman di Bukit Al-Qaramel. Kota ini pun telah dikuasai oleh beragam bangsa dan peradaban sejak abad ke-4 SM, seperti Sumeria, Akadian, Amorites, Babylonia, Hithies, Mitanian, Assyria, Arametes, Chaldeans, Yunani, Romawi, dan Bizantium.

 

Itulah mengapa Kota Aleppo begitu banyak disebut-sebut dalam catatan sejarah dan lembaran kuno. Kali pertama, nama Aleppo disebut dalam lembaran kuno dari abad ke-3 SM. Jejak Aleppo juga terkuak selama masa kekuasaan Raja Akadian, anak Sargon (2530 SM – 2515 SM). Aleppo kuno sempat mencapai masa kejayaannya pada masa kekuasaan Raja Hammurabi, Babilonia. Ketika dikuasai Romawi pada abad ke-5 M, agama Kristen pun menyebar di bumi Aleppo.

REPUBLIKA.CO.ID, Peradaban kota tua itu memasuki babak baru ketika Islam menancapkan benderanya pada 637 M. Di bawah komando Khalid bin Walid, pasukan tentara Islam berhasil memasuki Kota Aleppo melalui gerbang Antakya.

 

Tak sulit dan tak butuh waktu lama bagi umat Islam untuk menyebarkan bahasa Arab di Aleppo. Pasalnya, penduduk di kota itu berbahasa Assyria yang tak jauh beda dengan bahasa Arab. Semenjak jatuh ke pelukan umat Islam, Aleppo pun melalui dan mengalami masa pasang surut.

 

Era Kekhalifahan

Selama berada dalam kekuasaan kekhalifahan, Aleppo belum mampu mencapai masa kejayaan. Tak juga dalam era Umayyah dan Abbasiyah. Sejarah mencatat, di akhir masa kekuasaan Abbasiyah, Kota Aleppo mengalami masa kemakmuran.

 

Kala itu, kebudayaan, intelektual, dan peradaban berkembang begitu pesat di semua bidang. Salah satu bukti tumbuh pesatnya peradaban di bumi Aleppo ditandai dengan kemampuan orang-orang Aleppo untuk membuat pakaian yang amat bagus, serta berdirinya istana dan sejumlah masjid terkemuka di kota itu.

 

Pasca Khalifah

Aleppo mencapai kemasyhuran dalam sejarah bangsa Arab ketika Sayf ad-Dawla al-Hamadani menguasai kota itu. Aleppo pun kembali mencapai kemakmuran dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, dan sastra. Pada masa itu, Aleppo pun menjadi ibu kota pemerintahan.

 

Berkembang pesatnya peradaban turut melahirkan sejumlah penulis, sastrawan, dan ilmuwan terkemuka seperti Abu Firas Al-Hamadani dan Abu Tayyib Al-Mutanabbi. Kota Aleppo pun bertambah luas meliputi Kelikiya, Malatya, Diarbekir, Antioch, Tarsus, Mardin, dan Roum Qal’a.

 

Pada 353 H, Aleppo diserang imperium Romawi. Penduduk dibunuhi dan dijadikan budak, serta bangunan-bangunan dihancurkan. Saif Ad-Daulah melihat kota yang dibangunnya telah hancur. Ia lalu membangun kembali jembatan, bangunan, dan tembok yang telah porak-poranda. Dia mengundang orang-orang dari Qisrin untuk tinggal di kota itu. Setelah Saif Ad-Daulag tutup usia, selama dua abad Aleppo terperosok dalam kubangan anarki dan kekacauan.

 

Setelah itu, Aleppo dikuasai Dinasti Fatimiyah, Mirdassid, Turki, dan kemudian jatuh ke pangkuan Seljuk. Setelah itu, Aleppo kembali diambil alih Romawi, dan pada 1108 M diserbu pasukan Perang Salib (Crusader).

 

Kota yang diliputi anarki itu kembali pulih ketika Imaduddin Zengi menjadi Pangeran Aleppo. Semenjak dikuasai Pangeran Imaduddin dan anaknya Nuruddin Mahmud, Aleppo berada di bawah kekuasaan negara Nurid (523-579 H/1128 M-1260 M). Kondisi Aleppo pun mulai pulih.

 

Sayangnya pada 1170 M, Kota Aleppo hancur diguncang gempa bumi. Nuruddin kembali membangun kota yang telah hancur. Setelah Nuruddin wafat, Aleppo dikuasai oleh anaknya. Tampuk kekuasaan lalu beralih ke Salahuddin Al-Ayyubi, dan kemudian berpindah ke tangan Raja Al-Zahir Ghazi, seorang raja yang hebat dan reformis.

 

Aleppo kembali mencapai kejayaannya pada era Dinasti Ayyubiyah (579-659 H/1183 M-1260 M). Salah satu raja yang tersohor waktu itu bernama Ghazi ibnu Salah Ad-Din. Dia melindungi Aleppo dan kembali membuat nama Aleppo harum dan disegani. Era keemasan itu berakhir pada 1260 M, ketika bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menghancurkan Aleppo.

 

Pada 1400 M, Mongol terusir dari Aleppo setelah ditaklukkan Dinasti Mamluk. Raja Ashraf Saifuddin Qalawun kembali membangun Kota Allepo. Setahun kemudian, Aleppo lagi-lagi diserang Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk. Mamluk kembali menguasai Aleppo dan memulihkan lagi kota segala peradaban itu.

 

Di era kekuasaan Sultan Qaitibay, di Aleppo dibangun Masjid Firdaus dan Khan Saboun. Kekuasaan Mamluk berakhir pada 922 H /1516 M. Setelah itu, Aleppo dikuasai kerajaan Usmani Turki (922-1337 H/- 1516-1918 M). Kota itu juga sempat diduduki tentara Prancis hingga 1946. Sejak itu, Aleppo menjadi salah satu provinsi di Suriah.

 

Ilmuwan Klaim Temukan Makam Sultan Suleiman

 

Red: Dwi Murdaningsih

Daily Mail

Sultan Suleiman

 

REPUBLIKA.CO.ID,HUNGARIA SELATAN — Ilmuwan menemukan tempat yang diguga makam Suleiman Yang Agung, salah satu penguasa Kekaisaran Ottoman atau Utsmaniyah. Mereka lantas menggali tempat tersebut. Penggalian ini dilakukan di Hungaria Selatan.

 

Dari buktu-bukti yang ada, ilmuwan percaya bahwa bangunan yang digali ini kemungkinan besar merupakan makam Suleiman. Namun, untuk memastikan 100 persen, maka penelitian lebih lanjut dan penggalian bangunan lain sekitarnya perlu dilakukan.

 

Sultan Ottoman itu meninggal dunia pada usia 71 tahun di tendanya pada 1566 saat operasi militer melawan Kekaisaran Austro-Hungaria. Tubuhnya yang dibalsam sekarang ditempatkan di Masjid Sulaimaniyah di sana. Ketika dia meninggal, jantung dan tubuhnya dimakamkan di lokasi yang terpisah.

 

Sekarang, arkeolog percaya mereka telah menemukan makam yang berisi jantung dan organ penguasa Ottoman tersebut. “Kami memiliki data yang mengarah pada titik yang sama,” kata Norbet Pap, kepala departemen Political Geography, Regional and Developement Studies di University of Pech di Hungaria, seperti diberitakan Daily Mail.

 

Arkeolog percaya makam yang baru saja ditemukan ini adalah lokasi tepat dari tenda Suleiman berdiri saat meninggal tahun 1566. Penaklukkan Suleiman diikuti perluasan wilayah yang dilakukan terus menerus hingga puncak kekaisaran Ottoman pada 1481-1683.

 

Suleiman Yang Agung sering dianggap sebagai salah satu penguasa terbesar dalam sejarah. Dia naik tahta tahun 1520 pada usia 26 tahun dan dengan cepat memulai serangkaian operasi militer, memperluas kekuasaan Ottoman dari barat Aljir sampai timur Baghdad.

 

Selain memiliki kecakapan militer, Suleiman menyederhanakan kode hukum Ottoman dan mendanai pembangunan beberapa dari arsitektur paling indah di Istanbul. Kehidupan pribadinya juga penuh drama. Intrik di haremnya baru-baru ini digambarkan dalam opera sabun populer Turki, s.

 

Dia meninggal dunia di tenda kekaisaran di luar kastil Szigetvar di Hungaria selatan sebelum pasukannya dikalahkan pasukan Hungaria. Penasihatnya ingin menghindari kekosongan kekuasaan sebelum anaknya, Selim II, bisa mengambil takhta.

 

“Jadi tubuhnya dibawa kembali ke Istanbul setelah kematiannya dan disimpan secara rahasia hingga 40 hari lebih,” kata Günhan Börekçi, seorang sejarawan di İstanbul SEHIR University, yang tidak terlibat dalam penggalian saat ini.

 

Untuk menjaga sandiwara itu, penasihatnya menciptakan tipu muslihat, memalsukan tulisan tangannya dalam dokumen resmi. Mereka bahkan mendandani pelayan menggunakan pakaiannya, kemudian memalsukan kematian pelayan lain sehingga mereka bisa membawa tubuh Sultan dari kamp di peti mati sang pelayan, kata Börekçi.

 

 


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: