Filsafat Berfikir

SEJARAH ISLAM | Januari 1, 2016

SEJARAH ISLAM
Sumber: Sejarah Islam.com

PERLUASAN WILAYAH PADA MASA KHULAFAURASYIDDIN DAN DINASTI UMAYYAH

Ekspansi Gelombang Pertama
Sebelum Nabi Muhammad wafat pada tanggal 8 Juni 632 M, seantero Jazirah Arab telah dapat ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam. Usaha ekspansi ke luar jazirah Arab kemudian dimulai oleh khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Shiddiq. Setelah melewati masa-masa sulit di awal pemerintahannya karena harus menumpas pemberontakan kaum murtad dan pembangkang zakat, Abu Bakar kemudian mulai mengirimkan kekuatan militer ke berbagai negeri di luar jazirah Arab. Khalid bin Walid yang dikenal dengan gelar Pedang Allah, dikirim ke Irak sehingga dapat menduduki Al-Hirah pada tahun 12 H yang waktu itu di bawah kekuasaan Imperium Persia. Sedangkan ke Palestina, Abu Bakar mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sementara ke Syam, sang khalifah mengirimkan balatentara di bawah pimpinan tiga orang, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah. Karena mendapat perlawanan sengit pasukan Romawi yang menguasai wilayah itu, pasukan Islam pun kewalahan. Akhirnya untuk menambah kekuatan militer yang dipimpin ketiga jenderal itu, Khalid bin Walid yang telah berhasil menaklukkan Irak diperintahkan Abu Bakar untuk meninggalkan negara itu dan berangkat ke Syam.

Setelah Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Syam, ia kemudian bersama Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah berangkat menuju Palestina untuk membantu Amr bin al-Ash dalam menghadapi pasukan Romawi. Kedua pasukan pun akhirnya terlibat peperangan yang sengit di daerah Ajnadin. Karena itulah, peperangan ini dalam sejarah Islam dikenal dengan nama Perang Ajnadin. Meski kemenangan di pihak Islam, tapi banyak juga pasukan Islam yang gugur. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit, ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, Umar bin Khattab. Pada era Umarlah gelombang ekspansi pertama pun dimulai. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium. Selanjutnya, dengan menggunakan Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur di sana.

Pada tahun 640 M, Babilonia juga dikepung oleh balatentara Islam. Sedangkan pasukan Bizantium yang menduduki Heliopolis mampu dikalahkan sehingga Alexandria dikuasai oleh pasukan Islam pada tahun 641 M. Tak pelak, Mesir pun jatuh ke tangan imperium Islam. Amr bin al-Ash yang menjadi komandan perang Islam lantas menjadikan tempat perkemahannya yang terletak di luar tembok Babilon sebagai ibukota dengan nama Al-Fustat. Di masa gelombang ekspansi pertama ini, Al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat Al-Hirah di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 15 H. Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke Al-Madain (Ctesiphon), ibukota Persia hingga dapat dikuasai. Karena Al-Madain telah jatuh direbut pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah Utara. Selanjutnya pada tahun 20 H, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat diduduki.

Gelombang ekspansi pertama di era Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah imperium yang tidak hanya menguasai jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah, Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena ia wafat terbunuh pada tahun 23 H, Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan penaklukan ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada era Usman bin Affan lah, yaitu pada tahun 23 H, kedua wilayah baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid bin Uqbah.
Ketika Usman bin Affan menghadapi turbulensi politik di dalam negeri hingga akhirnya ia mati terbunuh pada tahun 35 H, Ali bin Abi Thalib pun naik ke tampuk kekuasaan sebagai khalifah keempat. Sayang suhu politik di pusat kekuasaan Islam semakin tinggi sehingga terjadi beberapa pemberontakan seperti yang dipimpin oleh Aisyah dalam Perang Jamal pada tahun 36 H. Tak ayal, Ali bin Thalib mau tak mau harus menumpas pemberontakan tersebut. Pada gilirannya, hal itu menguras kekuatan militer Islam sehingga akhirnya gelombang pertama ekspansi Islam ke luar jazirah Arab pun berhenti.

Ekspansi Gelombang Kedua

Ekspansi gelombang kedua ini dimulai di zaman Dinasti Umayyah setelah era Khulafaur Rasyidin berakhir. Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sebagai pendiri dan khalifah pertama pada dinasti itu, melanjutkan kebijakan ekspansi Islam yang sempat terhenti sejak tahun-tahun akhir kekuasaan Usman bin Affan hingga kekuasaan Ali bin Thalib tumbang.

Mu’awiyah mengutus Uqbah bin Nafi untuk mengadakan ekspansi Islam ke wilayah Afrika Utara hingga berhasil merebut Tunis. Di sanalah pada tahun 50 H, Uqbah mendirikan kota baru bernama Qairawan yang selanjutnya terkenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam. Tidak cukup sampai di situ, Mu’awiyah juga berhasil mengadakan perluasan wilayah Islam dari Khurasan sampai Sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan laut Muawiyah juga dengan gagah berani menyerang Konstantinopel, ibu kota Bizantium.

Masih dalam zaman Dinasti Umayah, pada masa pemerintahan Abdul Malik ekspansi ke wilayah Timur dilanjutkan di bawah pimpinan seorang jenderal terkenal bernama Al-Hajjaj bin Yusuf. Balatentara Islam berhasil menyeberangi Sungai Oxus dan akhirnya dapat menaklukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tidak hanya sampai di situ, balatentara Islam juga berhasil mencapai wilayah India hingga dapat merebut Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan.

Ekspansi Islam kembali dilanjutkan pada era Khalifah Al-Walid. Saat itu sang khalifah mengutus Musa bin Nushair dengan balatentaranya untuk menyerang Aljazair dan Marokko sehingga berhasil membuat wilayah itu bertekut lutut. Musa bin Nusair lantas mengangkat Tariq bin Ziad sebagai wakil untuk memerintah wilayah tersebut.

Sebagai penguasa baru di wilayah tersebut dan juga seorang komandan perang yang piawai, Tariq bin Ziad dengan armadanya berhasil menyeberangi selat yang membentang antara Marokko dan Benua Eropa. Sang komandan bersama pasukan angkatan lautnya lantas mendarat di suatu tempat yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar (Jabal Thariq).

Dalam peperangan tersebut, tentara Kristen Spanyol di bawah pimpinan Raja Roderick pun dapat dikalahkan oleh pasukan Islam yang dipimpin Tariq bin Ziad. Dengan kekalahan itu, pintu untuk memasuki Spanyol menjadi terbuka lebar. Toledo –yang notabene ibukota Spanyol waktu itu—berhasil direbut. Sedangkan kota-kota lain seperti Sevilla, Malaga, Elvira dan Cordova, juga tak luput dari penaklukan tentara Islam.

Selanjutnya, Cordova kemudian menjadi ibukota pemerintahan Islam yang tetap menginduk ke pusat pemerintahan Islam di Kufah. Spanyol yang telah menjadi daerah Islam lantas dikenal dalam bahasa Arab dengan sebutan Al-Andalus.

Pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik, pasukan Islam juga berupaya melakukan ekspansi ke wilayah Perancis. Saat itu, upaya ekspansi terutama dipimpin oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ekspansi tersebut juga dilakukan al-Ghafiqi karena termotivasi oleh kesuksesan penaklukan atas Spanyol oleh Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair.

Bersama balatentaranya, al-Ghafiqi menyerang kota-kota seperti Bordeux dan Poitiers. Dari kota Poiters, al-Ghafiqi berangkat untuk menyerang kota Tours. Tetapi dalam perjalanan itu antara kedua kota itu, ia bisa ditahan oleh Charles Martel. Ekspansi ke Perancis pun gagal. Al-Ghafiqi bersama pasukannya akhirnya mundur kembali ke Spanyol. Meski sempat gagal karena ditahan Charles Martel, pasukan Islam tetap berupaya menyerang beberapa wilayah di Perancis, seperti Avignon dan Lyon pada tahun 743 M.
Pada zaman Dinasti Umayah pula, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsica, Sardinia, Crete, Rhodes, Cypurs dan sebagian Sicilla juga berhasil ditaklukkan oleh imperium Islam. Ekspansi yang dilakukan Dinasti Umayyah inilah yang membuat Islam menjadi imperium besar pada zaman itu. Berbagai bangsa yang melintasi berbagai ras dan suku di berbagai pelosok dunia bernaung dalam satu pemerintahan Islam.
DINASTI ABBASIYAH (KEMAJUAN DAN KEBERHASILANNYA)

KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA

Sebagai sebuah dinasti, kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad, telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa, terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memiliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, serta berbagai bidang lainnya, seperti bidang-bidang sosial dan budaya.

Kemajuan dalam bidang sosial budaya diantaranya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya.

Dalam kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan istana, masjid, bangunan kota dan lain sebagainya. Seni asitektur yang dipakai dalam pembangunan istana dan kota-kota, seperti pada istana Qashrul Dzahabi, dan Qashrul Khuldi, sementara bangunan kota seperti pembangunan kota Baghdad, Samarra dan lain-lainnya.

Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Pada masa inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal, seperti Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti kitab Kalilah wa Dimna dan lain sebagainya. Sementara tokoh terkenal dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, pencipta teori musik Islam, Al farabi dan lain-lainnya.
Selain bidang-bidang tersebut diatas, terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Pada masa-masa awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah, telah banyak diusahakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi.

KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER

Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok antara pemerintahan Dinasti Umayyah dengan Dinasti Abbasiyah, terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. Pemerintahan Dinasti Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaan. Sementara pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah, lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. Meskipun begitu, usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. Untuk itu, pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik, maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut Diwanul Jundi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaitan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pembentukan lembaga ini didasari atas kenyataan politik militer bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, banyak terjadi pemberontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasti Abbasiyah.

KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN

Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Di antaranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab (Mawali), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Mereka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasti ini.
Dengan demikian, banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun, seperti Filsafat, filusuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi (185-260 H/ 801-873 M). Abu Nasr al-faraby, (258-339 H / 870-950 M) dan lain-lain. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah, ilmu bumi, astronomi dan sebagainya. Diantara sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq (152 H / 768 M).

KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM

Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad (750-1258 M), dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini, khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama, tidak lepas dari peran serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat, baik dukungan moral, material dan finansial, kepada para ulama. Perhatian yang serius dari pemerintah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat, sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Diantara ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist, ilmu tafsir, ilmu fiqih dan tasawuf.

Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Abbasiyah merupakan suatu revolusi.

Menurut Crane Brinton dalam Mudzhar (1998:84), ada 4 ciri yang menjadi identitas revolusi yaitu :

1. Bahwa pada masa sebelum revolusi ideologi yang berkuasa mendapat kritik keras dari masyarakat disebabkan kekecewaan penderitaan masyarakat yang di sebabkan ketimpangan-ketimpangan dari ideologi yang berkuasa itu.

2. Mekanisme pemerintahannya tidak efesien karena kelalaiannya menyesuaikan lembaga-lembaga sosial yang ada dengan perkembangan keadaan dan tuntutan zaman.

3. Terjadinya penyebrangan kaum intelektual dari mendukung ideologi yang berkuasa pada wawasan baru yang ditawarkan oleh para kritikus.

4. Revolusi itu pada umumnya bukan hanya di pelopori dan digerakkan oleh orang-orang lemah dan kaum bawahan, melainkan dilakukan oleh para penguasa oleh karena hal-hal tertentu yang merasa tidak puas dengan sistem yang ada.

Sebelum daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.

Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu : 1) fase sangat rahasia; dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran (Hasjmy, 1993:211). Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim keseluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya mendukung Bani Umayyah. Setelah Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabung dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri.

SISTEM PEMERINTAHAN, POLITIK DAN BENTUK NEGARA

Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur “Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya“. Pada zaman Dinasti Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I antara lain:

1. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.

2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.

3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

Selanjutnya periode II, III, IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat, kecuali pengakuan politik saja. Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya, dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya Daulah-Daulah kecil, contoh; Daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah. Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu: pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah. dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang Wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan Wizaraat. Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu: 1) Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah. 2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan. Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja. Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah (Lapidus,1999:180). Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama Diwanul Kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang Raisul Kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan An-Nidhamul Idary Al-Markazy. Selain itu, dalam zaman Daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.

Dalam versi yang lain yang, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi empat periode :
1. Periode pertama (750–847 M)

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para Khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri Dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. Karena itu, pembina sebenarnya dari Daulah Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Mansur (754–775 M). Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, yaitu Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762M. Dengan demikian, pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat wazir sebagai koordinator departemen. Jabatan wazir yang menggabungkan sebagian fungsi perdana menteri dengan menteri dalam negeri itu selama lebih dari 50 tahun berada di tangan keluarga terpandang berasal dari Balkh, Persia (Iran). Wazir yang pertama adalah Khalid bin Barmak, kemudian digantikan oleh anaknya, Yahya bin Khalid. Yang terakhir ini kemudian mengangkat anaknya, Ja’far bin Yahya, menjadi wazir muda. Sedangkan anaknya yang lain, Fadl bin Yahya, menjadi Gubernur Persia Barat dan kemudian Khurasan. Pada masa tersebut persoalan-persoalan administrasi negara lebih banyak ditangani keluarga Persia itu. Masuknya keluaraga non Arab ini ke dalam pemerintahan merupakan unsur pembeda antara Daulah Abbasiyah dan Daulah Umayyah yang berorientasi ke Arab.
Khalifah al-Mansur juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa Dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat, pada masa al-Mansur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku Gubernur setempat kepada Khalifah.

Khalifah al-Mansur juga berusaha menaklukan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintahan pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Pada masa al-Mansur pengertian Khalifah kembali berubah. Konsep khilafah dalam pandangannya – dan berlanjut ke generasi sesudahnya – merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut nabi sebagaimana pada masa al Khulafa’ al-Rasyidin. Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun al Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman Khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi (Yatim, 2003:52-53).

Dengan demikian telah terlihat bahwa pada masa Khalifah Harun al-Rasyid lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah yang memang sudah luas. Orientasi kepada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembanding lainnya antara Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah.

Al-Makmun, pengganti al-Rasyid dikenal sebagai Khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Ia juga mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Al-Muktasim, Khalifah berikutnya (833-842 M) memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Demikian ini di latar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Ma’mun dan sebelumnya. Keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, Dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang Muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer Dinasti Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat.

Dalam periode ini, sebenarnya banyak gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Dinasti Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas dan lain-lain semuanya dapat dipadamkan. Dalam kondisi seperti itu para Khalifah mempunyai prinsip kuat sebagai pusat politik dan agama sekaligus. Apabila tidak, seperti pada periode sesudahnya, stabilitas tidak lagi dapat dikontrol, bahkan para Khalifah sendiri berada dibawah pengaruh kekuasaan yang lain.

2. Periode kedua (847-945 M)

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Kehidupan mewah para Khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Demikian ini menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah al-Mu’tasim untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam Khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar, dan ini merupakan awal dari keruntuhan Dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.
Khalifah Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada masa pemerintahannya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Khalifah al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat Khalifah. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan Khalifah. Sebenarnya ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari dua belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahtanya dengan paksa. Wibawa Khalifah merosot tajam. Setelah tentara Turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan Dinasti-Dinasti kecil. Inilah permulaan masa disintregasi dalam sejarah politik Islam.

Adapun faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut:

1. Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

2. Dengan profesionalisasi tentara, ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi.

3. Kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah Khalifah merosot, Khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

3. Periode ketiga (945 -1055 M)
Pada periode ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Buwaih. Keadaan Khalifah lebih buruk dari sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran Syi’ah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani Buwaih membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara : Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah Al- Ahwaz, Wasit dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahn Islam karena telah pindah ke Syiraz di masa berkuasa Ali bin Buwaih yang memiliki kekuasaan Bani Buwaih. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Maskawaih, dan kelompok studi Ikhwan as-Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan ini juga diikuti dengan pembangunan masjid dan rumah sakit. Pada masa Bani Buwaih berkuasa di Baghdad, telah terjadi beberapa kali kerusuhan aliran antara Ahlussunnah dan Syi’ah, pemberontakan tentara dan sebagainya.

4. Periode keempat (1055-1199 M)

Periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk atas Daulah Abbasiyah. Kehadiran Bani Seljuk ini adalah atas undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaih di Baghdad. Keadaan Khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh orang-orang Syi’ah. Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang pada periode ini.
Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malikhsyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang-cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi dikemudian hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara para cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode ini adalah Al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul al-Din (teologi), Al-Qusyairi dalam bidang tafsir, Al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka tersebut berakhir di Irak di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/ 1199 M.

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid, kemajuan intelektual pada waktu itu setidaknya dipengaruhi oleh dua hal yaitu:

1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Pengaruh Persia pada saat itu sangat penting dibidang pemerintahan. selain itu mereka banyak berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemah-terjemah dalam banyak bidang ilmu, terutama Filsafat.
2. Gerakan Terjemah. Pada masa daulah ini usaha penerjemahan kitab-kitab asing dilakukan dengan giat sekali. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dari gerakan ini muncullah tokoh-tokoh Islam dalam ilmu pengetahuan, antara lain; Bidang filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusydi.
1. Bidang kedokteran: Jabir ibnu Hayan, Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra, Ar-Razi.
2. Bidang Matematika: Umar al-Farukhan, al-Khawarizmi.
3. Bidang astronomi: al-Fazari, al-Battani, Abul watak, al-Farghoni dan sebagainya.

Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama, berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu pengetahuan, antara lain :

I. Ilmu Umum

• Ilmu Filsafat

Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.
Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.
Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)
Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)
Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain.
Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah,Mizanul Amal,Ihya Ulumuddin dan lainlain.
Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah dan lain-lain

• Bidang Kedokteran

Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.

Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai
penterjemah bahasa asing.

Thabib bin Qurra (836-901 M)

Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.

• Bidang Matematika
Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.
Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0).

• Bidang Astronomi

Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :

Al Farazi : pencipta Astro lobe
Al Gattani/Al Betagnius
Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan

Al Farghoni atau Al Fragenius

• Bidang Seni Ukir

Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.

II. Ilmu Naqli

Ilmu Tafsir, Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain.

Ilmu Hadist, Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain.

Ilmu Kalam, Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali.

Ilmu Tasawuf, Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah: Al Qusyairy (wafat 465 H). Karangannya: ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H). Karangannya: Awariful Ma’arif, Imam Ghazali: Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.

Para Imam Fuqaha, Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat Islam. Yang mengembangkan faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Para Imam Syi’ah (Hasjmy, 1995:276-278).
PERKEMBANGAN PERADABAN DI BIDANG FISIK

Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upaya-upaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan -bangunan yang berupa:

Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah. Bangunannya masih kokoh berdiri hingga sekarang.
Majlis Muhadharah, yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.

Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar.
Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah.

Masjid, Biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.

Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik seperti kehidupan ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan berhasil dikembangkan oleh Khalifah Mansyur.

KEHIDUPAN PEREKONOMIAN DAULAH BANI ABBASIYAH

Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan negara penuh dan berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Yang menjadi Khalifah adalah Mansyur. Dia betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam.

Dan keberhasilan kehidupan ekonomi maka berhasil pula dalam :

1. Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani, bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka, dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali.
2. Perindustrian, Khalifah menganjurkan untuk beramai-ramai membangun berbagai industri, sehingga terkenallah beberapa kota dan industri-industrinya.
3. Perdagangan, Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti:
• Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang.
• Membangun armada-armada dagang.
• Membangun armada: untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajaklaut.

Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Akibatnya kafilah-kafilah dagang kaum muslimin melintasi segala negeri dan kapal-kapal dagangnya mengarungi tujuh lautan.

Selain ketiga hal tersebut, juga terdapat peninggalan-peninggalan yang memperlihatkan kemajuan pesat Bani Abbassiyah.

1. Istana Qarruzzabad di Baghdad
2. Istana di kota Samarra
3. Bangunan-bangunan sekolah
4. Kuttab
5. Masjid
6. Majlis Muhadharah
7. Darul Hikmah
8. Masjid Raya Kordova (786 M)
9. Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M)
10. Istana Al Hamra di Kordova

STRATEGI KEBUDAYAAN DAN RASIONALITAS
Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa kebebasan berpikir diakui sepenuhnya sebagai hak asasi setiap manusia oleh Daulah Abbasiyah. Oleh karena itu, pada waktu itu akal dan pikiran benar-benar dibebaskan dari belenggu taqlid, sehingga orang leluasa mengeluarkan pendapat.
Berawal dari itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal melahirkan 4 Imam Madzhab yang ulung, mereka adalah Syafi’i, Hanafi, Hambali, dan Maliki.

Disamping itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal itu juga melahirkan Ilmu Tafsir al-Quran dan pemisahnya dari Ilmu Hadits. Sebelumnya, belum terdapat penafsiran seluruh al-Quran, yang ada hanyalah Tafsir bagi sebagian ayat dari berbagai surah, yang dibuat untuk tujuan tertentu (Syalaby, 1997:187). Dalam negara Islam di masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan. Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Hindi dan Kebudayaan Arab dan berkembangnya ilmu pengetahuan.
1. Kebudayaan Persia, Pesatnya perkembangan kebudayaan Persia di zaman ini karena 2 faktor, yaitu :

• Pembentukan lembaga wizarah
• Pemindahan ibukota

2. Kebudayaan Hindi, Peranan orang India dalam membentuk kebudayaan Islam terjadi dengan dua cara:

• Secara langsung, Kaum muslimin berhubungan langsung dengan orang-orang India seperti lewat perdagangan dan penaklukan.
• Secara tak langsung,penyaluran kebudayaan India ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.

3. Kebudayaan Yunani Sebelum dan sesudah Islam, terkenal lah di Timur beberapa kota yang menjadi pusat kehidupan kebudayaan Yunani. Yang termasyur diantaranya adalah:
• Jundaisabur, Terletak di Khuzistan, dibangun oleh Sabur yang dijadikan tempat pembuangan para tawanan Romawi. Setelah jatuh di bawah kekuasaan Islam. Sekolah-sekolah tinggi kedokteran yang asalnya diajar berbagai ilmu Yunani dan bahasa Persia, diadakan perubahan-perubahan dan pembaharuan.
• Harran, Kota yang dibangun di utara Iraq yang menjadi pusat pertemuan segala macam kebudayaan. Warga kota Harran merupakan pengembangan kebudayaan Yunani terpenting di zaman Islam, terutama dimasa Daulah Abbassiyah.
• Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani. Dalam kota Iskandariyyah ini lahir aliran falsafah terbesar yang dikenal “Filsafat Baru Plato” (Neo Platonisme). Dalam masa Bani Abbassiyah hubungan alam pemikiran Neo Platonisme bertambah erat dengan alam pikiran kaum muslimin.

4. Kebudayaan Arab
Masuknya kebudayaan Arab ke dalam kebudayaan Islam terjadi dengan dua jalan utama, yaitu :

• Jalan Agama, Mengharuskan mempelajari Qur’an, Hadist, Fiqh yang semuanya dalam bahasa Arab.
• Jalan Bahasa,Jazirah Arabia adalah sumber bahasa Arab, bahasa terkaya diantara rumpun bahasa samy dan tempat lahirnya Islam.
CATATAN SIMPUL

Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlangsung dari tahun 750-1258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain :
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab.
2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan Wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya belum ada tentara Khusus yang profesional.

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:

1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya.

Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.

Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.

Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata: “Innama anji Sultan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya).”

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekadar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa’ al-Rasyiduun. Di samping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai “gelar takhta”, seperti al-Manshur, dan belakangan gelar takhta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya.

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Al-Ma’mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Al-Mu’tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Di samping itu, ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah.

1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.

2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.

3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional.

Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:

1. Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.

2. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Di samping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:

1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma’tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i Rahimahullah (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistem madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. Di samping empat pendiri madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah pun ada. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu’tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy’ariyah, aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy’ari sebelumnya adalah pengikut Mu’tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.

Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata aljabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas’udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma’aadzin al-Jawahir.

Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat, yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa’. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Pada masa kekhalifahan ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya.

Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama, namun setelah periode ini berakhir, peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran

Faktor penyebab kemajuan peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah disebabkan oleh dua Faktor, yaitu :

• Faktor Internal umat Islam

1. Pemahaman yang utuh terhadap semangat keilmuan yang diisyaratkan oleh al Qur’an (al Qur’an banyak mengandung sinyal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

2. Para pembesar kerajaan memiliki perhatian yang tinggi terhadap pentingnya Ilmu Pengetahuan bagi kehidupan manusia. Hal tersebut ditunjukkan pada semangat dan pengkajian keilmuan dan penghargaan pemerintah terhadap pakar-pakar keilmuan.

3. Lahirnya berbagai pusat kajian dan analisa keilmuan serta pusat-pusat penterjemahan terhadap buku-buku asing yang dibiayai oleh pemerintah, tanpa melihat bentuk dan perbedaan kajian keilmuan tersebut sehingga umat Islam telah mengalami pendewasaan dan kematangan berfikir

• Faktor Eksternal umat Islam

1. Tradisi keilmuwan telah berkembang lebih dulu di wilayah Persia, sehingga umat Islam tinggal mengembangkan dan menambah keunggulannya.

2. Umat Islam melakukan adaptasi terhadap budaya asing terutama ilmu / Filsafat Yunani, diteruskan dengan proses menterjemahkan buku-buku asing tersebut.

3. Terjadinya gerakan translitasi (penterjemahan) oleh umat Islam pada kebudayaan atau hasil karya lain, terutama buku-buku hasil pemikiran filosof Yunani.

4. Proses penterjemahan tersebut melahirkan kecenderungan baru dalam tradisi berfikir. Kalau pada masa pemerintahan Bani Umaiyah, pola berfikir umat di dominasi oleh pemikiran keagamaan dan dogmatik, maka pada masa pemerintahan Bani Abasiyah berkembang pemikiran rasional analitis.

5. Proses tranformasi keilmuan Islam terhadap keilmuan luar lebih di dorong oleh daya tarik Filsafat, yang menurut umat Islam mempunyai sisi menarik dalam hal :

 Ketelitian yang dimiliki oleh logika Aristoteles dan ilmu matematika yang mengagumkan Islam.

 Bahwa pada saat itu terjadi pertarungan pemikiran antara umat Islam dengan penganut Islam baru yang masih mengikuti faham / filosofi agama sebelumnya, dan mereka menggunakan logika Filsafat, maka untuk menghadapi pertarungan pemikiran dengan diperlukan pemahaman yang baik mengenai logika tersebut.

 Bercampurnya buku-buku keagamaan Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Yunani yang dianggap oleh umat Islam sebagai karya filsafat Yunani.

 Corak pembahasan keagamaan filsafat Yunani dalam hal menerangkan konsep Tuhan Yang Esa dan mencapai kebahagiaan dilakukan dengan pendekatan dan peleburan diri kepada Tuhan dan pembersihan diri (Zuhud), sebagaimana yang dijelaskan dalam filsafat ketuhanan (Theodocia) mereka.

Sistem pemerintahan yang diterapkan bani Abbasiyah masih sama dengan pendahulunya, bani Umayyah dengan sistem kekuasaan absolutisme. Mereka mengangkat dan mengumumkan seorang atau dua orang putra mahkota atau saudaranya sendiri untuk terus mempertahankan kepemerintahan. Kebijakan menerapakan sistem seperti ini tentu saja menimbulkan kecemburuan dan kebencian diantara sesama keluarga. Sebagai contoh, tatkala al-Manshur naik tahta, dia mengumumkan Mahdi sebagai putra mahkota pertama dan menunjuk Isa ibn Musa, kemenakannya sebagai putra mahkota kedua. Saat itu juga al-Manshur mengasingkan Isa sama sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah pertama al-Shaffah.

Seluruh anggota keluarga Abbas dan pemimpin umat Islam mengangkat Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas sebagai khalifah mereka yang pertama walaupun masih ada Abu Ja’far (al-Manshur) yang nantinya akan menjadi khalifah yang kedua. Kekhalifahan bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang dan pada periode pertama (750 – 848 M) tercatat kurang lebih 10 khalifah yang memimpin dengan silsilah keturunan sebagai berikut :

NO NAMA MASA BERKUASA
1. Saffah ibn Muhammad (132 H/750 M)
2. Abu Ja’far al-Manshur ibn Muhammad (136 H/754 M)
3. Mahdi ibn al-Manshur (158 H/775 M)
4. Hadi ibn Mahdi (169 H/785M)
5. Harun al-Rasyid ibn Mahdi (170 H/786M)
6. Amin ibn Harun (193 H/804 M)
7. Ma’mun ibn Harun (198 H/813 M)
8. Mu’tashim ibn Harun (218 H/833 M)
9. Watsiq ibn Mu’tashim (227 H/842 M)
10. Mutawakkil ibn Mu’tashim (232 H/848 M)

Dalam perkembangannya, di bawah khalifah Saffah, ibu kota negara berada di kota Anbar dekat kufah dengan istana yang diberi nama al-Hasyimiyah. Namun demi menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu akhirnya pada tahun 762 M al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke Baghdad dengan istana al-Hasyimiyah II. Dengan demikian, pusat pemerintahan daulah Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.

Diantara langkah-langkah yang diambil al-Manshur dalam menertibkan pemerintahannya antara lain :

1. Mengangkat pejabat di lembaga ekskutif dan yudikatif.
2. Mengangkat wazir (menteri) sebagai koordinator departemen. Dan wazir pertama yang diangkatnya adalah Khalid ibn Barmak berasal dari kota Balkh Persia.
3. Mengangkat sekretaris negara dan kepolisian negara dan membenahi angkatan bersenjata.
4. Memaksimalkan peranan kantor pos. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
5. Berdamai dengan kaisar Constantine V, dan selama gencatan senjata, Bizantium membayar upeti tahunan.

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan oleh Shaffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada beberapa khalifah sesudahnya. Popularitas daulah Abbasiyah mencapai klimaks kesuksesan adalah pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya al-Ma’mun.

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik yang ada, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode dengan karakteristik yang berbeda-beda pula :

1. Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2. Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3. Periode ketiga, (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode keempat, (447 H/1055 M – 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5. Periode kelima, (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.

KEBERHASILAN YANG DICAPAI

Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial

a). Bidang Material :

Pada zaman al-Mahdi, sebenarnya perekonomian sudah mulai menggeliat dengan peningkatan di sektor pertanian, melaluai irigasi dan peningkatan hasil pertambangan. Diantara prestasi-prestasi yang berhasil diraih al-Mahdi antara lain:

1. Dia membangun gedung-gedung sepanjang jalan menuju Makkah.
2. Masjid Agung di Madinah diperbesar tetapi menghapus nama khalifah bani Umayyah, Walid dari dinding masjid itu dan mengganti dengan namanya.
3. Membangun tempat pelayanan pos antara Makkah dan Madinah kemudian Yaman yang berfungsi sebagai tempat pembayaran ongkos perjalanan tiap mil.
4. Membuat benteng di beberapa kota khususnya Rusafa di bagian Baghdad Timur

Popularitas daulah bani Abbasiyah mencapai puncak peradaban dan kemakmurannya di zaman Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak, dimanfaatkan Harun untuk keperluan sosial. Istana-istana besar, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter dan farmasi didirikan. Bahkan menurut sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa sebenarnya Harun ingin menggabungkan laut tengah dengan laut merah. Namun Yahya ibn Khalid (dari keluarga barmak) tidak menyetujui gagsan itu. Pada masa al-Ma’mun menjadi khalifah, ia banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu karya terbesarnya adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang sangat besar.
Baghdad, kota kuno yang didirikan oleh orang-orang Persia, merupakan tempat perdagangan yang kerap kali dikunjungi oleh pedagang dari India dan Cina. Para Insinyur, tukang batu, dan para pekerja tangan didatangkan dari Syiria, Bashra, Kufa untuk membantu didalam memperindah kota. Bahkan di daerah pinggir kota ini sudah terbagi menjadi empat bagian pemukiman yang masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipercaya untuk mendirikan pasar di pemukimannya. Demikianlah di zaman Abbasiyah pertama. Baghdad menjadi kota terpenting di dunia sebagai sentral perdagangan, ilmu pengetahuan dan kesenian. Masjid-masjid dan bangunan-bangunan lain semakin bertambah banyak dan menjadi hal menarik dalam kesenian muslim.

Turki Utsmani (Perkembangan, Kejayaan hingga Kemunduran)
By Sejarah Islam Posted at 7:02 AM Peradaban Islam No comments

Penyerbuan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang telah menghancurkan kota Baghdad di Iraq merupakan akhir dari Daulah Bani Abbasiyah. Kehancuran Baghdad merupakan akhir kekuatan politik Islam yang selama ini telah memegang peranan penting dalam mewujudkan kebudayaan dan peradaban dunia. Bahkan khazanah ilmu pengetahuan pun ikut lenyap dan dihanguskan dan sejak itu pun dunia Islam mengalami kemunduran secara drastis.

Selanjutnya, politik umat Islam mulai mengalami kemajuan kembali setelah berdiri dan berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu:

Utsmani di Turki sebagai benteng kekuatan Islam dalam menghadapi ekspansi Eropa ke Timur, maka dengan itu Turki Utsmani menjadi hal sangat penting dalam kajian Sejarah Islam walaupun dalam buku-buku sejarah tidak mendapat porsi yang banyak sebagaimana Dinasti Umaiyah dan Abbasiyah.

Mughal di India dan dengan kehadiran Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya nyaris tenggelam.

Safawi di Persia sebagai penganut Syi’ah yang dijadikan sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya negara Iran sekarang ini.
Wilayah Turki Utsmani
Dari ketiga dinasti di atas, Dinasti Utsmani adalah yang pertama berdiri sekaligus yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua dinasti lainnya. Perjalanan panjang dan berliku selama 643 tahun kerajaan Turki Utsmani telah menampilkan 39 orang Sultan dengan model kepemimpinan yang berbeda-beda. Tetapi seperti Dinasti lainnya, hukum sejarah juga berlaku, bahwa masa pertumbuhan yang diiringi dengan masa perkembangan dan masa gemilang biasanya berakhir dengan masa kemunduran atau bahkan kehancuran.

Asal-Usul Dinasti Turki Utsmani

Bangsa Turki Utsmani pada awalnya adalah suku nomaden yang selama berabad-abad selalu mencari lahan perburuan baru di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki. Pada awal tahun masehi, ia dinamakan Bizantium di bawah kekuasaan Romawi yang berkuasa di kawasan ini selama lebih dari empat abad . Setelah Barbar merebut dari tangan Romawi ibukota kerajaan dipindahkan ke Konstantinopel (Ankara sekarang).

Awal berdirinya Dinasti Utsmani banyak tertulis dalam legenda dan sejarah sebelum tahun 1300 dengan mengorbankan kekaisaran Bizantium, dan didirikan di atas reruntuhan kerajaan Saljuk. Dinasti ini berasal dari suku Qoyigh Oghus yang menempati daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina kurang lebih 3 abad. Lalu mereka pindah ke Turkistan, Persia dan Iraq. Mereka memeluk Islam pada abad ke-9 atau ke-10 ketika menetap di Asia Tengah.
Ertughrul
Di bawah pimpinan Ertughrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II yang sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah, Bizantium dapat dikalahkan. Kemudian Sultan Alauddin memberi imbalan tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibukota. Ertughrul meninggal dunia tahun 1289. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Utsman.

Nama kerajaan Utsmaniyah itu diambil dari dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Utsman bin Erthoghrul yang diperkirakan lahir tahun 1258. Ketika bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk, yang mengakibatkan meninggalnya Sultan Alaudin. Setelah meninggalnya Sultan Alaudin, Utsman memproklamarkan dirinya sebagai Sultan di wilayah yang didudukinya. Utsman bin Erthoghrul sering disebut Utsman I. Utsman Ibnu Erthoghrul memerintah dari tahun 1290-1326 M Utsman I memilih Bursa sebagai pusat dan ibukota kerajaan yang sebelumnya berpusat di Qurah Hisyar atau Iskisyihar.
Utsman bin Erthoghrul
Untuk memperluas wilayah dan kekuasaan, Utsman mengirim surat kepada raja-raja kecil di Asia Tengah yang belum ditaklukkan bahwa sekarang dia raja yang besar dan memberi penawaran agar raja-raja kecil itu memilih salah satu diantara tiga perkara, yakni; Islam, membayar Jizyah dan diperangi. Setelah menerima surat itu, sebagian ada yang masuk Islam ada juga yang mau membayar Jizyah dan ada juga yang memilih menentang dan bersekutu dengan Bangsa Tartar, akan tetapi Utsman tidak merasa gentar dan takut menghadapinya. Utsman dan anaknya Orkhan memimpin tentaranya dalam menghadapi bangsa Tartar, setelah mereka dapat ditaklukkan banyak dari penduduknya yang memeluk agama Islam.

Utsman mempertahankan kekuasaannya dengan gagah perkasa sehingga kekuasaannya tetap tegak dan kokoh bahkan kemudian dilanjutkan oleh puteranya dan saudara-saudaranya dengan kepemimpinan yang gagah berani dan perkasa dalam meneruskan perjuangan sang ayah dan demi kokohnya kekuasaan nenek moyang yang telah mewariskan darah kepahlawan itu kepada mereka.

Masa Perkembangan Turki Utsmani

Setelah Utsman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al Utsman (raja besar keluarga Utsman), sedikit demi sedikit daerah kerajaan dapat diperluasnya. Ia dan puteranya memimpin penyerangan ke daerah perbatasan Bizantium hingga ke selat Bosporus dan menaklukkan kota Bursa tahun 1317 M. Kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai pusat kerajaan. Perpindahan ini memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan awal politik kesultanan.
Utsman I disukai sebagai pemimpin yang kuat bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki “Semoga dia sebaik Utsman”. Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Utsman, sebuah mitos yang mana Utsman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.
Bayazid
Selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adnanopel yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan yang baru. Merasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani. Sultan Bayazid tidak gentar menghadapi pasukan sekutu di bawah anjuran Paus itu dan bahkan menghancurkan pasukan Salib. Pertempuran itu terjadi pada tahun 1369 M.
Timur Lenk
Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil, seorang raja keturunan bangsa Mongol yang telah memeluk agama Islam yang berpusat di Samarkand. Ia bermaksud menaklukkan negeri-negeri barat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Akhirnya perang yang menentukan terjadi di Ankara. Bayazid bersama anaknya, Musa dan Erthogol dikalahkan oleh Timur Lenk. Bayazid mati dalam tawanan Timur tahun 1402. Kekalahan ini membawa dampak yang sangat buruk bagi Dinasti Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan diri. Tetapi Setelah Muhammad I naik tahta dan memimpin wilayah Utsmani dapat disatukan kembali.
Muhammad Al Fatih
Integrasi ini tampaknya mengejukan dunia Barat karena mereka sama sekali tidak menduga Utsmani akan bangkit secepat itu setelah berantakan akibat serangan Timur Lenk. Usaha beliau dalam meletakkan keamanan dan perbaikan diteruskan oleh puteranya Sultan Murad II (1421-1451). Turki Utsmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah.

Ia lebih terkenal dengan Al-Fatih, sang penakluk atau pembuka, karena pada masanya Konstantinopel sebagai ibukota kekaisaran Bizantium berabad-abad lamanya. dapat ditundukkan hal ini terjadi pada tahun 1453 M. Dan berhasil membunuh Kaisar Byzantium dalam perang itu. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar bagi Utsamaniyah,lalu ia memberikan nama Istanbul (Kota kesejahteraan) dan menjadikannya sebagai ibukota.
Muhammad Al Fatih
Penaklukan Konstantinopel tahun 1453 mengukuhkan status Kesultanan Utsmaniyah sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah sampai ke Eropa dan Afrika Utara; dalam bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang besar dan kuat.
Sultan Salim
Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia. Bahkan mereka dikenal sebagai bangsa yang penuh semangat, memiliki kekuatan yang besar dan menghuni tempat yang strategis. Setelah Bayazid II mengundurkan diri karena lebih cendurung berdamai dengan musuh dan terlalu mementingkan kehidupan tasawuf dan juga tidak disukai oleh masyarakat maka ia pun digantikan oleh putranya Sultan Salim I yang mempunyai kecakapan dalam memerintah dan seorang ahli strategi perang. Lalu Sultan Salim I menggerakkan pasukannya ke Timur sehingga berhasil menaklukkan Persia, Syiria.

Pada tahun 923 H Khalifah Abbasiyah di Kairo menyerahkan khilafah kepadanya, sehingga Sultan Utsmaniyah Salim I menjadi khalifah kaum muslimin sejak saat itu. Pemuka-pemuka Makkah datang ke Kairo dan mengumumkan ketundukan Hijaz kepada Khalifah Utsmaniyah. Walaupun Sultan Salim memerintah hanya sebentar tetapi beliau sangat berjasa membentangkan daerah kekuasaannya hingga mencapai Afrika Utara.

Masa Kejayaan Turki Utsmani

Pada awalnya kerajaan Turki Utsmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, namun dengan adanya dukungan militer, Kerajaan yang besar bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama. Masa pemerintahan Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim puncak perluasan dan kebesarannya. Dia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan Ibukotanya Valachie, menerobos Eropa, hingga sampai Wina ibukota Austria. Dia melakukan pengepungan dua kali, menaklukkan Hungaria, membunuh orang-orang Portugis di pesisir India, dan mengalahkannya pada tahun 934 H. Bahkan beliau menaklukkan menaklukkan Mesir, Afrika Utara hingga ke Al-Jazair, di Asia hingga ke Persia yang meliputi Lautian Hindia, Laut Arab, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam.
Sulaiman al-Qanuni
Pada masa Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim adalah puncak keemasan dan kejayaan kerajaan Turki Utsmani. Ia digelari Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun kembali sistem undang-undang kesultanan Turki Utsmani dan perlaksanaannya secara teratur dan tanpa kompromi menurut keadaan masyarakat Islam Turki Utsmani yang saat itu mempunyai latar belakang dan sosial-budaya yang berbeda. Pergaulan antar bangsa menimbulkan berbagai konflik kecil dan ini bisa mengganggu keselamatan umat Islam walaupun satu agama. Hal ini menyebabkan Sulaiman I menyusun dan mengkaji budaya masyarakat Islam Turki Utsmani yang berasal dari Eropa, Persia, Afrika dan Asia Tengah untuk disesuaikan dengan undang-undang Syariah Islamiyah.

Sulaiman bukan hanya Sultan yang paling terkenal dari kalangan Sultan-Sultan Turki Utsmani, akan tetapi pada awal abad ke 16 ia adalah kepala negara yang paling terkenal di seluruh dunia. Ia seorang Sultan yang shaleh, ia mewajibkan rakyat muslim harus shalat lima kali dan berpuasa di bulan ramadhan, jika ada yang melanggar tidak hanya dikenai denda namun juga sanksi badan. Sulaiman juga berhasil menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, pada saat Eropa terjadi pertentangan antara Katholik kepada Khalifah Sulaiman, mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberikan tempat di Turki Utsmani.
Beliau juga seorang tokoh negarawan Islam yang terulung di zamannya, dikagumi dan disegani kawan dan lawan, belajar ilmu kesusasteraan, sains, sejarah, agama dan taktik ketentaraan di Istana Topkapı, Istanbul. Di Barat, ia dikenal dengan nama Suleiman The Magnificent (Sulaiman yang Agung). Pada setiap kota utama yang ditaklukannya, Sulaiman menghiasinya dengan mesjid, jembatan dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Masa Kemunduran Turki Utsmani
Pada akhir kekuasaan Sulaiman I kerajaan Utsmani berada diantara dua kekuatan yaitu Monarki Austria di Eropa dan Kerajaan Safawi di Asia. Sepeninggal Sulaiman tahun 1566, beberapa daerah kekuasaan kesultanan mulai melepaskan diri termasuk juga kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di Barat dan dengan ditemukannya jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesultanan Utsmaniyah. Melemahnya kerajaan Utsmani pada periode awal sebagaian besar disebabkan oleh persoalan internal atau domestik.

Disamping Efektifitas militer, struktur birokrasi dan sistem pemerintah serta warisan berabad-abad juga menjadi penyebab kelemahan pemerintahan. Di tengah kemundurannya, Turki Utsmani masih sempat melebarkan sayap kekuasaannya. Upaya yang dilakukan semasa pemerintahan Murad III (1574-1595) berhasil membuat daerah Kaukasus dan Azerbaijan direbut. Dengan kedua daerah penaklukan baru ini, Turki Utsmani mencapai luas bentangan geografis yang terbesar sepanjang sejarahnya. Walau bagaimanapun, kemunduran Turki sudah tak bisa dibendung lagi. Keberhasilan merebut Kaukasus dan Azerbaijan hanya berumur pendek. Kedua daerah kekuasaan baru tersebut kembali lepas tahun 1603.
Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa. Setelah perang ini Turki harus rela kehilangan sebagian besar daerah Balkan dan Laut Hitam akibat perang berkepanjangan. Selama abad ke 18 M tanda-tanda kemunduran daulah Utsmaniyah semakin nampak jelas kelihatan, mulai dari politik, masa transisi penaklukan dan perdamaian yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing terutama oleh Austria dan Rusia.

Kelemahan Militer Turki semakin nyata kelihatan ketika terjadi konflik dengan Rusia yang telah dimulai sejak 1768 M. Sistem administrasi Utsmani stagnan selama beberapa periode, yang menyebabkan hilangnya pengaruh otoritas pemerintahan pusat. Pada abad ke 19 M telah muncul banyak gerakan pembaharuan yang kurang lebih merupakan aplikasi tanzimat. Tanzimat berasal dari bahasa Arab yang mengadung arti mengatur, menyusun dan memperbaiki, dan di zaman itu memang banyak diadakan peraturan undang-undang baru. Salah satu pemukanya adalah Mustafa Sami yang menurut pendapatnya kemajuan Eropa dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama.
Sikap otoriter yang dipakai Sultan dan Menteri-menterinya dalam melaksanakan tanzimat mendapat kritik keras. Kehancuran imperium Utsmani merupakan transisi yang lebih kompleks dari masyarakat Islam-imperial abad 18 M menjadi negara-negara nasional modern. Rezim Utsmani menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah Arab, Mesir, dan Afrika Utara. Puncak kemunduran Turki Utsmani terjadi pada 1850-1922. Demikian lemahnya Turki hingga digambarkan sebagai “Orang sakit dari Eropa”.

Turki terlibat Perang Dunia I, untuk bergabung bersama Jerman-sebuah pilihan yang salah dan keliru yang mengakibatkan pada kekalahan dan keterpurukan yang lebih dalam. Di dalam negeri, kekalahan tersebut membangkitkan gerakan nasionalis Turki yang telah muak dengan kemerosotan moral yang dialami oleh pemimpin mereka. Dipelopori oleh Turki muda yang tampil setelah undang-undang Utsmaniyah yang tadinya berlandaskan syuro menjadi model kekuasaan mutlak. Kemudian Musthofa Kamal menggabungkan diri ke dalam organisasi ini dan menuntut kembali pengembalian undang-undang.
Abdul Hamid
Di bawah tekanan organisasi ini Sultan Abdul Hamid mengembalikan Undang-undang ini. Organisasi ini kemudian menduduki ibukota dan mengasingkan Sultan. Namun ketika kekuasaan sudah mereka rebut para pembesar organisasi mulai bersikap diktator sampai akhirnya Mustafa Kamal At-Turk mendirikan Nasionalis Turki dan menggantikan model kekahlifahan dengan Republik Sekuler pada tahun 1923 M.

Sejak kekuasaannya Turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah mendorong ke arah sekuralisme (paham memisahkan agama dari dunia), meminimalisir penggunaan bahasa Arab di Turki bahkan ia mengganti adzan dengan bahasa Turki. Musthofa Kemal terus disibukkan dengan jabatan presidennya hingga dia meninggal pada tahun 1938. Dia tidak meninggalkan bagi Turki selain kemiskinan dan keterasingan.

Kemajuan-Kemajuan yang dicapai pada Turki Utsmani

Rentang sejarah antara tahun 923-1342 H dari sejarah Islam merupakan masa Utsmaniyah. Hal ini karena kekuasaan Utsmaniyah merupakan periode terpanjang dari halaman sejarah Islam. Selama 6 abad pemerintah Utsmaniyah telah memainkan peran yang sangat penting karena sebagai satu-satunya yang menjaga dan melindungi kaum muslimin. Merupakan pusat Khilafah Islamiyah, karena merupakan pemerintah Islam terkuat. Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Utsmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya :

Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan

Untuk pertama kalinya Kerajaan Utsmani mulai mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik dan teratur. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa pembentukan kekuatan militer.

Armada

Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan Utsmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.

Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya

Kebudayaan Turki Utsmani merupakan hasil perpaduan berbagai kebudayaan seperti kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran beretika dan bertata krama dalam istana raja-raja. Organisasi birokrasi dan kemiliteran banyak diserap dari Bizantium. Dan prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil dari bangsa Arab.

Sedangkan di bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Utsmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih fokus pada pengembangan kekuatan militer, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Utsmani. Namun demikian mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah-indah, seperti Masjid Jami’ Sultan Muhammad Fatih, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al-Ansyari, seluruh masjid ini dihiasi dengan kaligrafi yang indah-indah. Salah satu masjid yang indah kaligrafinya adalah mesjid Aya Sopia yang kaligrafinya menutupi gambar-gambar kristiani sebelumnya.

Bidang Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama yang mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Ajaran-ajaran tarekat mengalami perkembangan dan kemajuan di Turki Utsmani.

Pada masa Turki Utsmani ada dua tarekat yang dikenal yaitu: tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh di kalangan tentara. Sedangkan Tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa. Adapun kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti tafsir, hadits, fiqh, ilmu kalam boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Para penguasa lebih cenderung fanatik pada satu madzhab dan menyalahkan madzhab lainnya. Sehingga ijtihad tidak berkembang. Para ulama ketika itu lebih senang menulis buku dalam bentuk syarah dan catatan-catatan pada karya-karya terdahulu.

Bidang Intelektual

Kemajuan bidang Intelektual Turki Utsmani tampaknya tidak lebih menonjol dibandingkan bidang politik dan kemiliteran. Aspek-aspek intelektual yang dicapai adalah:

1. Terdapat dua surat kabar yang muncul pada masa itu yaitu: Berita harian Takvini Veka dan Jurnal Tasviri Efky
2. Pendidikan, terjadi transformasi pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi, fakultas kedokteran, fakultas hokum dan mengirinkan pelajar yang berprestasi ke Prancis.
3. Sejarawan Istana, Arifi karyanya sha-name-I-Al-I Osman, cerita tentang keluarga raja-raja Utsmani Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Utsmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, antara lain:
• Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat. Diliputi semangat perang salib.
• Mereka memiliki kekuatan militer yang besar. Kekuasaan mereka meliputi tiga benua: Eropa, Asia dan Afrika.
• Bangsa Utsmaniyah menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang sangat penting pada peta dunia. ibukota istanbul ditinjau dari keadaan tanahnya sangat strategis. Tidak ada bandingannya. Ia berada pada titik-temua antara asia dan Eropa.
• Semangat Jihad dan ingin mengembangkan Islam.
• Suka Menolong muslim lainnya. Mereka telah mendatangi Eropa Timur untuk meringankan tekanan kaum nasrani terhadap Andalusia. Mereka juga mengusir Portugis di negeri-negeri muslim. Mereka juga menggagalkan usaha Portugis menguasai Tanah Haram. Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan olah para penguasa Turki Utsmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Utsmani.
Sebab-sebab kemunduran Turki Utsmani

Kemunduran Turki Utsmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Utsmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.

Selain faktor di atas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Utsmani mengalami kemunduran dan akhirnya mengalami kehancuran ada dua faktor yaitu Internal dan Eksternal:

Faktor-faktor Internal
• Luasnya Wilayah Kekuasaan Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada daerah kerajaan Utsmani, menyebabkan pemerintahan merasa kewalahan dalam melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Utsmani menjadi semberawut. Penguasa Turki Utsmani lebih mengutamakan ekspansi, dengan mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah diserang dan direbut oleh musuh sehingga sebagian berusaha melepaskan diri.

• Ledakan jumlah penduduk Perubahan mendasar terjadi pada jumlah penduduk kerajaan. Penduduk Turki pada abad keenam belas bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Problem kependudukan waktu itu lebih banyak disebabkan oleh tingkat pertambahan penduduk yang sedemikian tinggi dan ditambah dengan menurunnya angka kematian akibat masa damai dan aman yang diciptakannya kerajaan serta menurunnya frekuensi penaklukan.

• Heterogenitas Penduduk Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil ekspansi dari berbagai kerajaan-kerajaan kecil, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk. Dari banyaknya dan ragam penduduk, maka jelaslah administrasi yang dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tetapi kerajaan Utsmani pasca Sulaiman tidak cakap dalam administrasi pemerintahan di tambah lagi dengan pemimpin-pemimpin yang berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang buruk.

• Kelemahan para Penguasa dan sistem demokrasi Sepeninggalan Sulaiman, terjadilah pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang tidak cakap dalam hal pemerintahan dan tidak paham militer akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah teratasi.

• Budaya Pungli Budaya pungli telah meraja-lela sehingga mengakibatkan dekadensi moral terutama di kalangan para pejabat yang sedang memperebutkan kekuasaan (jabatan).

• Pemberontakan Tentara Jenissari Pemberontakan Jenissari terjadi sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pihak Jenissari tidak lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, keberadaannya didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu yang mengakibatkan adanya ketidak setujuan dan pemberontakan-pemberontakan.

• Merosotnya Ekonomi Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot, disampoing dampak pertumbuhan perdagangan dan ekonomi internasional.

• Rendahnya kualitas keislaman Tidak adanya kesadaran Islam yang benar pada mereka, serta tdk adanya pemahaman bahwa Islam merupakan sistem hidup yang sempurna. Mayoritas mereka hanya mengenal Islam sebatas ibadah.

• Mengabaikan bahasa arab Diabaikannya bahasa arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan al-Hadits yang mulia, di mana keduanya merupakan sumber asasi bagi syariat Islam.

• Gonta-ganti pejabat Gampang mengganti pejabat wilayah, khususnya pada masa akhir kekuasaannya, karena khawatir wilayah itu akan memerdekakan diri. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman pejabat baru terhadap wilayah yang dipimpinnya.

Faktor-faktor Eksternal

• Timbulnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan Turki selama berkuasa, mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut. Kekuasaan Turki atas mereka bermula dari penaklukan dan penyerbuan. Meskipun Turki telah berbuat sebaik mungkin kepada pihak yang dikuasai, mereka beranggapan bahwa Turki melemah, mereka bangkit untuk melepaskan diri dari cengkraman kerajaan tersebut.

• Terjadinya kemajuan teknologi di Barat, khususnya dalam bidang persenjataan. Sementara itu, di Turki terjadi stagnasi ilmu pengetahuan sehingga ketika terjadi kontak senjata antara kekuasaan Turki dengan kekuatan Eropa, Turki selalu menderita kekalahan karena masih menggunakan senjata tradisional sedangkan Eropa telah menggunakan senjata modern.

• Konspirasi Yahudi menjatuhkan Khilafah Menurut Syaikul Islam Musthafa Sabri Mustapa Kamal memiliki hubungan yang kuat dengan kelompok Yahudi, bahkan ia salah seorang dari mereka, sebagaimana dikuatkan oleh ittihadiyah dan Kamaliyah mereka semua mengikuti anggota lembaga upacara ritual freemosanry.
Memahami Pemikiran Radikal dalam Syi’ah, Qarmathiyyah dan Hasyasyin
By Sejarah Islam Posted at 7:07 AM Sejarah Islam No comments
Seiring berjalannya waktu, Islam tumbuh dengan berbagai perkembangan. Setiap hal tidaklah lepas dari suatu konflik yang menyertainya. Lebih runcing lagi, permasalahan itu banyak timbul setelah wafatnya nabi. Diantara masalah tersebut timbul akibat dari suatu permasalahan dalam perebutan siapa yang berhak untuk menggantikan nabi sebagai khalifah umat Islam selanjutnya.

Karena suatu perdebatan tentang siapa yang berhak dan pantas untuk menggantikan Nabi, munculah berbagai firqoh politik umat Islam. Salah satu diantaranya adalah kelompok Syi’ah yang pada makalah ini akan sedikit lebih diuraikan mengenai pemikiran-pemikiran serta gerakannya. Pemikiran Syi’ah tidak hanya terikat pada bidang politik saja melainkan juga menyangkut masalah-masalah yang dalam bidang-bidang dalam perkembangan umat Islam, seperti misalnya hukum Islam.

Masalah kepemimpinan umat, sebagai pengganti Rasulullah adalah masalah yang pertama kali muncul dan menimbulkan pertentangan yang hebat diantara kaum muslim serta menjadikan salah satu cobaan dalam persatuan umat Islam. Berawal dari pergolakan politik Ustman bin Affan yang ditandai dengan pecahnya perang saudara antara khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Siti Aisyah di satu pihak dan antara Ali bin Abi Thalib dilain pihak. Perselisihan ketiga kubu tersebut melahirkan kelompok baru yang yang mengarah pada munculnya golongan-golongan dengan mempercayai suatu doktrin masing-masing yang dianutnya.

SYI’AH

Pengertian dan asal-usul Syi’ah

Dalam arti bahasa, Syiah adalah pengikut, pendukung, partai, atau kelompok. Sedangkan dalam arti terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang-bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturuna Nabi Muhammad SAW. Dalam pandangan Syi’ah bahwasannya segala hal yang berhubungan dengan agama harus didasarkan pada sumber dari ahl al-bait.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya Syi’ah dalam sejarah. Menurut Abu Zahra, Syiah muncul ketika berakhirnya pemerintahan Ustman bin Affan kemudian berkembang hingga pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Menurut Watt, Syiah muncul pada saat setelah terjadinya perang Siffin dimana pihak yang setuju dengan sikap Ali menerima abritase yang ditawarkan Muawiyah kemudian disebut Syi’ah dan pihak yang menolak sikap Ali kemudian disebut Khawarij.

Dalam pandangan kaum Syiah, kelompoknya tersebut muncul karena adanya permasalahan dalam pergantian khilafah Nabi SAW. Mereka menolak dipilihnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar bi Khattab, dan Usman bin Affan karena mereka menganggap bahwa yang berhak menggantikan Nabi hanyalah Ali bin Abi Thalib karena beliau memiliki hubungan keluarga dengan Nabi. Diceritakan dalam peristiwa Ghadir Khumm bahwa ketika dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, nabi memilih Ali sebagai penggantinya dan juga sebagai pelindung (wali) para umat. Tetapi kenyataannya berbeda.

Dalam bukunya, Harun Nasution yang berjudul Ensiklopedi Islam Indonesia dijelaskan bahwa ketika keluarga dan sahabat tengah sibuk mengurus pemakaman nabi, terdapat kelompok lain berkumpul di masjid guna memilih pimpinan kaum muslimin dengan tanpa adanya kesepakatan dari ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat. Dari kejadian itulah timbul suatu ketegangan di sebagian kalangan sebagai akibat penolakan hal tersebut. Mereka tetap bersikukuh bahwa pengganti Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali.

Juga terdapat pendapat lagi mengenai timbulnya kalangan Syi’ah. Para ahli berpegang teguh pada sejarah perpecahan dalam Islam yang dimulai pada waktu yang paling momentum yaitu pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib saat terjadinya perang Shiffin, dimana perang shiffin terjadi antara kubu Muawiyah dan Ali bin Abi thalib yang merebutkan gelar khalifah sebagai pengganti Usman bin Affan.

Pada dasarnya Syi’ah sudah terbentuk dari awal kepemimpinan khalifah Abu Bakar namun pergerakannya tidak secara terang-terangan dan baru timbul secara terbuka saat kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pasca terjadinya perang Siffin.

Didalam tubuh Syi’ah terdapat empat sekte, diantaranya adalah Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.

Syi’ah Asy’ariyah (Syi’ah dua belas/Syi’ah Imamiyah)

Syi’ah Asy’ariyah disebut juga Syiah Imamiyah karena dasar akidah mereka adalah mengenai persoalan imam dimana mereka menganggap bahwa yang berhak menjadi khalifah sebagai pengganti Nabi adalah Ali bin Abi Thalib, disamping karena ia memiliki akhlak yang mulia, dia juga ditunjuk nas dalam pewaris kepemimpinan Nabi.

Adapun penerima wasiat pasca Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husein bin Ali dan berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir Muhammad Al-Mahdi.

Konsepsi imamah Syi’ah Asy’ariyah, bahwa imamah adalah seperti kenabian dimana tugasnya adalah melanjutkan tugas nabi sebagai pemberi petunjuk pada umat manusia tentang hal-hal yang memberi kontribusi dalam kebahagiaan akhirat. Bagi mereka, Tuhan harus berlaku adil dengan manusia. Cara merealisasikan adil itu adalah dengan menetapkan imamah. Pada dasarnya manusia tidak akan pernah luput dari dosa, maka dengan adanya imamah maka manusia akan diadilkan dengan adanya pembimbing yang akan mengantarkan manusia ke arah kebahagiaan akhirat.

Sebagai tindak lanjut dari pemilihan imamah ini, Syi’ah Asy’ariyah mengharapkan seorang imam yang ma’shum atau terjaga dari kesalahan. Maksudnya adalah terpeliharanya dari dosa dan maksiat. Walaupun mampu untuk melaksanakan perbuatan tercela tapi tidak sampai terjerumus serta meninggalkan syariat Allah. Selain itu juga terdapat ajaran yang bernama taqiyah yaitu melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan apa yang diyakininya demi menjaga keselamatan dan kehormatan diri, harta atau nyawanya.

Tentu saja hal ini hanya boleh dilakukan jika dalam keadaan terpaksa dan tidak akan menimbulkan kerusakan maupun fitnah. Dalam faham Syi’ah Asy’ariyah juga terdapat faham mahdiyah yaitu akan datangnya imam al-Mahdi untuk menegakkan keadilan serta menyelamatkan manusia dari kemungkaran.

Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Ismailiyah)

Seperti halnya Syi’ah Asy’ariyah, naman Syi’ah Sab’iyah di artikan dengan banyaknya imam yang dinisbatkan dalam kelompoknya. Terdapat tujuh imam yang telah diakui yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Menurut pendapat mereka, setelah Ja’far Ash-Shadiq (imam yang ke enam) maka imam itu tidak berpindah kepada putranya, Musa al Kazhim (seperti yang dikatakan Syi’ah Asy’ariyah) melainkan berpindah kepada anaknya yang lain yaitu Ismail bin Ja’far. Dari sinilah kelompok ini diberi nama Syi’ah Ismailiyah.

Doktrin imamah dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah bahwa imam adalah seseorang yang menuntun pada pengetahuan (ma’rifah) dan dengan pengetahuan tersebut maka orang muslim akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Manusia tidak akan bisa menjalankan kehidupannya tanpa adanya bimbingan berdasarkan islam. Seseorang yang dapat memberi bimbingan tersebut adalah orang yang telah ditunjuk oleh Allah dan Rosul-Nya. Bahwasannya imam adalah penunjukan melalui wasiat yang berantai. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam dalam pandangan Syiah Sab’iyah (Syi’ah Ismailiyah) adalah:

1. Imam harus keturunan Ali bin Abi Thalib yang merupakan Ahl al-Bait karena menikah dengan Fatimah.
2. Imam harus berdasarkan petunjuk. Mereka menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib mendapat pununjukan dari Nabi sebelum wafat.
3. Keimaman jatuh pada anak tertua. Ayahnya yang pada awalnya menjadi imam terdahulu kemudian menunjuk anaknya tertua sebagai penggantinya.
4. Seorang imam harus terjaga dari salah dan dosa. Bahkan jika seorang imam itu terlanjur berbuat dosa maka perbuatan itu dianggap tidak salah.
5. Imam harus seseorang yang terbaik. Posisinya hampir sama dengan dengan nabi baik sifat dan kekuasaannya. Namun bedanya bahwa nabi menerima wahyu tapi seorang imam tidak.
6. Imam harus memiliki pengetahuan, baik ilmu lahir maupun ilmu bathin.
7. Imam harus memiliki kemampuan untuk menuntun manusia kedalam jalan Tuhan yang lurus. Untuk itulah ia harus memiliki pemahaman tentang Islam secara total.

Syi’ah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena mereka mengakui Zaid Ibn Ali Zainal Abidin sebagai imam kelima. Golongan ini berbeda dengan Syiah lain yang mengakui Muhammad al-Baqir Ibn Ali Zainal Abidin sebagai imam ke lima.

Doktrin imamah Syiah Zaidiyah yaitu bahwasannya kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW telah ditentukan nama dan orangnya oleh nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja. Hal ini berbeda dengan sekte Syiah lain yang percaya bahwa nabi memilih Ali sebagai penggantinya karena memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki orang lain seperti wara, bertakwa, baik dan lain-lain.

Menurut Syi’ah Zaidiyah, imam yang baik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu diantaranya:

1. Merupakan keturunan ahl al-bait baik melalui garis Hasan maupun Husain. Hal ini dapat disimpulkan bahwa mereka menolak adanya sistem pewarisan dan nas kepemimpinan.
2. Seorang imam harus cakap dalam mengangkat senjata agar dapat mempertahankan diri maupun menyerang
3. Kecenderungan intelektualisme yang dibuktikan dengan ide dan karya dalam bidang keagamaan
4. Mereka menolak kemaksuman imam. Dalam kaitan itulah mereka menganggap bahwa seseorang dapat dipilih menjadi imam walaupun bukan yang terbaik.

Ghulat
Sebenarnya kelompok ini tidak diakui oleh kelompok Syi’ah yang lain dan sekaligus dianggap kufur karena memiliki faham yang sangat ekstrem. Untuk itu dapat dikatakan bahwa Syi’ah Ghulat merupakan kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih-lebihan atau ekstrem dimana mereka menganggap bahwa derajat Ali berada derajat ketuhanan, ada pula yang mengangkatnya pada derajat kenabian, bahkan ada yang menganggapnya lebih lebih tinggi dari itu.

Abdullah Ibn Saba’ adalah orang yang pertama kali mengembangkan Syi’ah Ghulat ini. Ketika Ali bin Abi Thalib meninggal karena dibunuh, Abdullah Ibn Saba’ menyatakan bahwa Ali bin Abi thalib tidak wafat melainkan naik keatas langit dan akan kembali untuk mengisi dunia dengan penuh keadilan.

Penyebab lain dari munculnya Syiah ini antara lain karena adanya mitos bahwa terdapat penyelamatan dunia pada masa pra Islam, dan juga karena adanya ajaran Al-Quran yang mengakui bahwa seseorang yang harus diikuti adalah imam. Lambat laun, Syiah Ghulat berkembang di negeri Irak dan memiliki doktrin yang ekstrem seperti diatas.

Konsep imamah kaum Syi’ah Ghulat terdapat empat kategori yang semuanya ternilai ekstrem.
1. Tasubih, yaitu menyerupakan makhluk dengan tuhan atau menyerupakan tuhan dengan makhluk. Mereka menyamakan salah satu imamnya dengan tuhan.
2. Bada’ yang merupakan keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya. Misalnya jika seorang imam menjanjikan kepada pengikutnya akan ada suatu kejadian, lalu terjadi seperti yang diucapkan, maka itu merupakan kebenaran ucapannya, tetapi jika terjadi sebaliknya maka ia mengatakan bahwa Tuhan menghendaki Bada’.
3. Raj’ah dimana mereka mempercayai bahwa imam Al-Mahdi al-Muntadzar akan datang ke bumi.
4. Tanashukh yaitu keluarnya ruh dari jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
5. Hulul yang merupakan paham yang mengajarkan bahwa tuhan berada dalam semua tempat, berbicara dengan semua bahasa dan ada pada setiap individu manusia.
6. Ghayba yang artinya bahwa imam mahdi itu ada tetapi tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
Gerakan Qarmathiyah

Sebelum adanya Ubaidilah Al-Mahdi, semua pengikut Ismailiyah meyakini kemahdian Muhammad bin Ismail. Namun, setelah Ubaidilah Al-Mahdi menyebut dirinya sebagai Imam, dengan sendirinya ia telah menafikan kemahdian Muhammad bin Ismail. Pengangkatannya sebagai Imam ditentang keras oleh Hamdan Qarmath. Ia adalah salah satu penyeru (Da’i) kelompok Ismailiyah pada zaman itu.

Hamdan Qarmath tidak mengakui keimamahan Ubaidilah Al-Mahdi. Ia tetap percaya dengan keimamahan Muhammad bin Ismail sekaligus membentuk kelompok baru yang bernama Qaramathiah. Dari sinilah awal mula terbentuknya sub-aliran Shi’ah Isma’iliyyah yang bernama Qarmathiah.

Di sisi lain para penyeru kelompok Ismailiyah yang berada di Afrika Utara yang setia dengan Ubaidilah Al-Mahdi. Mereka memintanya ke sana untuk kemudian bersama-sama membentuk pemerintahan Fathimiyah. Ubaidilah Al-Mahdi dan pengikutnya menganggap Qaramithah merugikan Ismailiyah.

Kaum Qarmathiyyah melakukan terorisme dan kejahatan-kejahatan yang mengerikan sehingga membangkitkan kemarahan dan ketakutan. Mereka kemudian ditindas dan lama kelamaan hilang dari masyarakat. Namun propagandis-propagandis Isma’iliyyah untuk “keluarga Fathimah” telah memanfaatkan gerakan Qarmathiyyah ini, dan di atas puing-puing kehancurannya membangun dinasti Fathimiyyah di Afrika Utara dan Mesir.

Qaramithah tetap meyakini bahwa Muhammad bin Ismail adalah Imam ketujuh dan yang terakhir. Senantiasa mereka menanti munculnya Imam yang selama ini tersembunyi. Sikap ini membuat Qaramithah juga terkadang disebut Waqifiyah. Hal itu dikarenakan mereka terhenti pada kondisi ini. Terkadang juga mereka disebut Sab’iyah (Tujuh Imam). Ketujuh Imam mereka adalah; Ali selaku Imam dan Nabi, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhamamd dan Muhammad bin Ismail sebagai Mahdi.
Gerakan Hasyasyin

Dalam sejarahnya, Hasyasyin merupakan satu kelompok sempalan dari sekte Syiah Ismailiyyah. Dalam bukunya, Philip K. Hitti tidak menyebutkan kata Assassins, tetapi Hasyasyin. Gerakan ini merupakan gerakan sempalan dari ajaran Ismailiyyah yang berkembang pada dinasti Fathimiyyah, Mesir. Hassan Sabbah (w. 1124) adalah pendirinya dan para anggota Hasyasyin menyebut gerakan mereka sebagai da’wah jadidah (ajaran baru).

Menurut Hitti, Hassan Sabbah mengaku sebagai keturunan raja-raja Himyar di Arab Selatan. Menurutnya motif gerakan ini murni memuaskan ambisi pribadi, dan dari sisi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam. Hassan Sabbah dilahirkan di kota Qumm, salah satu pusat perkampungan Arab di Persia dan benteng orang-orang Syi’ah Itsna Asyariyah. Ayahnya, seorang pengikut Syiah Itsna Asyariyah, datang dari Kufah, Iraq, dan dikatakan sebagai orang asli Yaman.

Ketika dia masih kecil, ayahnya pindah ke Rayy –kota modern di dekat Tehran, di sana Hasan mendapatkan pendidikan agamanya. Rayy merupakan pusat aktivitas para dai semenjak abad IX dan tak lama kemudian Hasan mulai terpengaruh oleh mereka.

Hasyasyin memiliki basis pertahanan di Alamut. Sebuah benteng yang dibangun di atas punggung bukit di puncak sebuah gunung batu yang tinggi pada jantung pegunungan Elburz. Istana tersebut dikatakan telah dibangun oleh salah seorang raja Daylam. Dia memberi nama istana tersebut Aluh Amut yang dalam bahasa orang-orang Daylam berarti ajaran burung Elang.

Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh Hasyasyin dipandang mempunyai peranan penting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Organisasi rahasia mereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuan untuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihan para nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun.

Di bawah mahaguru ada tingkatan guru senior yang masing-masing bertanggung jawab atas setiap daerahnya. Di bawahnya, ada dai-dai biasa, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah para fida’i yang selalu siap sedia melaksanakan setiap perintah sang Mahaguru (syekh, the elder, orang tua).

Para penulis Ismailiyah melihat sekte ini sebagai penjaga misteri yang suci yang hanya bisa dicapai setelah melalui rangkaian panjang persiapan serta proses. Istilah yang umum dipergunakan untuk organisasi sekte ini adalah da’wa (dalam bahasa Persianya Da’vat), yang berarti missi atau ajaran; agen-agennya adalah para dai atau missionaris (secara literal berarti penyeru atau pengajak) yang merupakan suatu jabatan kependetaan melalui pengangkatan.

Dalam laporan-laporan Ismailiyah belakangan mereka dibagi keberbagai macam tingkatan dai, guru, murid (tingkatan rendah atau tinggi), sedangkan di bawah mereka adalah mustajib (secara literal berarti simpatisan atau responden, yang merupakan murid yang paling rendah) tingkatan yang paling tinggi adalah hujjah (dalam bahasa Persianya Hujjat), dai senior.

Ekspansi kekuasaan Islam berlangsung secara cepat (Pada zaman Khulafaurrasyidin, Umayyah, Abbasiyah)
By Sejarah Islam Posted at 10:32 AM Sejarah Islam No comments
Bagaimana dan mengapa terjadi ekspansi kekuasaan Islam secara cepat pada zaman Khulafa’ Rasyidun dan Bani Umayyah ?

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, kemudian Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M yang waktu itu di bawah kekuasaan Imperium Persia. Sedangkan ke Palestina, Abu Bakar mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sementara ke Syam, sang khalifah mengirimkan balatentara di bawah pimpinan tiga orang, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah. Karena mendapat perlawanan sengit pasukan Romawi yang menguasai wilayah itu, pasukan Islam pun kewalahan. Akhirnya untuk menambah kekuatan militer yang dipimpin ketiga jenderal itu, Khalid bin Walid yang telah berhasil menaklukkan Irak diperintahkan Abu Bakar untuk meninggalkan negara itu dan berangkat ke Syam. Setelah Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Syam, ia kemudian bersama Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah berangkat menuju Palestina untuk membantu Amr bin al-Ash dalam menghadapi pasukan Romawi. Kedua pasukan pun akhirnya terlibat peperangan yang sengit di daerah Ajnadin.

Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit, ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, Umar bin Khattab. Pada era Umarlah gelombang ekspansi pertama pun dimulai. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium. Selanjutnya, dengan menggunakan Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur di sana.

Pada tahun 640 M, Babilonia juga dikepung oleh balatentara Islam. Sedangkan pasukan Bizantium yang menduduki Heliopolis mampu dikalahkan sehingga Alexandria dikuasai oleh pasukan Islam pada tahun 641 M. Tak pelak, Mesir pun jatuh ke tangan imperium Islam. Amr bin al-Ash yang menjadi komandan perang Islam lantas menjadikan tempat perkemahannya yang terletak di luar tembok Babilon sebagai ibukota dengan nama Al-Fustat.

Di masa gelombang ekspansi pertama ini, Al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat Al-Hirah di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 15 H. Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke Al-Madain (Ctesiphon), ibukota Persia hingga dapat dikuasai. Karena Al-Madain telah jatuh direbut pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah Utara. Selanjutnya pada tahun 20 H, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat diduduki.

Gelombang ekspansi pertama di era Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah imperium yang tidak hanya menguasai jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah, Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena ia wafat terbunuh pada tahun 23 H, Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan penaklukan ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada era Usman bin Affanlah, yaitu pada tahun 23 H, kedua wilayah baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid bin Uqbah.
Di masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Karena pada masa pemerintahan Ali tidak terjadi ekspansi wilayah disebabkan Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil.

Kemudian ekspansi dilanjutkan pada masa Bani Umayyah. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah.

Faktor-faktor yang menyebabkan ekspansi Islam berjalan secara cepat.

Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, juga agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.

Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang tidak hanya mempunyai sangkut-paut dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan soal hidup manusia sesudah hidup pertama sekarang. Tetapi Islam, sebagaimana kata H.A.R. Gibb, adalah agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat yang berdiri sendiri lagi mempunyai sistem pemerintahan, undang-undang dan lembaga-lembaga sendiri. Dengan kata lain, seperti kata Philip K. Hitti, Islam bisa dilihat dari tiga corak, yaitu corak aslinya sebagai agama; kemudian menjadi suatu negara (state), dan akhirnya sebagai suatu kebudayaan. Islam di Mekkah memang baru mempunyai corak agama, tetapi di Medinah coraknya bertambah dengan corak negara. Dalam corak negara itulah, Islam pun kian lama penyebarannya kian meluas. Sedangkan Islam di Bagdad, corak agama dan negara itu ditambahkan lagi dengan corak kebudayaan dan peradaban.

Dalam dada para sahabat, tertanam keyakinan tebal tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam (dakwah) ke seluruh penjuru dunia. Semangat dakwah tersebut membentuk satu kesatuan yang padu dalam diri umat Islam.

Terdapat keyakinan yang kuat tentang kewajiban menyampaikan ajaran-ajaran Islam sebagai agama baru ke seluruh dunia. Keyakinan itulah yang bersemayam dalam hati para sahabat Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, dan lain-lain. Keyakinan tersebut kemudian diperkuat dengan faktor suku-suku Arab di zaman Jahiliyah yang cenderung pemberani serta gemar berperang antara sesama mereka. Namun karena suku-suku itu telah dipersatukan dalam Islam sehingga mereka tidak lagi berperang satu sama lain, maka mereka pun memilih pihak lain sebagai “musuh” bersama, yaitu orang-orang non-Islam di luar jazirah Arab. Dengan demikian, Islam pun menjadi kekuatan militer baru di dunia yang mampu mengalahkan dua kekuatan dunia waktu itu, yaitu Imperium Romawi (Bizantium) dan Imperium Persia.

Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada waktu itu, mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan.. Kelemahan itu timbul bukan hanya karena peperangan, yang semenjak beberapa abad senantiasa telah terjadi antara keduanya, tetapi juga karena faktor-faktor dalam negeri. Jika di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Bizantium terdapat pertentangan-pertentangan agama; di Persia di samping pertentangan agama terdapat pula persaingan antara anggota-anggota keluarga raja untuk merebut kekuasaan. Hal-hal ini membawa kepada pecahnya keutuhan masyarakat di kedua negara itu.

Kebijakan-kebijakan pihak Kerajaan Bizantium untuk memaksakan aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan beragama. Di samping itu, rakyat juga dibebani dengan pajak yang tinggi guna menutupi anggaran perang Kerajaan Bizantium dengan Kerajaan Per¬sia. Hal-hal ini membuat timbulnya perasaan tidak senang dari rakyat di daerah-daerah yang dikuasai Bizantium terhadap kerajaan ini. Kondisi rakyat demikian menjadi memudahkan Islam untuk diterima sebagai agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.

Adanya permintaan dari wilayah tertentu kepada Imperium Islam saat itu untuk membebaskan mereka dari rezim tiran yang berkuasa di wilayah tersebut. Hal ini misalnya terjadi pada kasus ekspansi Islam di Spanyol. Saat itu penguasa Kristen di sana bertindak lalim kepada rakyatnya sehingga kedatangan pasukan Islam di sana betul-betul diharapkan agar membebaskan mereka dari penindasan sang penguasa. Apalagi ke manapun kekuatan Islam datang, ia mem-proklamirkan ajakan kebebasan manusia dari penyembahan kepada selain Allah, dan memandang seluruh manusia sama serta menghormatinya apapun warna kulit dan rasnya.

Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya untuk masuk Islam.
Bangsa Sami di Syria dan Palestina dan bangsa Hami di Mesir memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa Eropa, Bizantium, yang memerintah mereka.
Mesir, Syria dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu membantu penguasa Islam untuk membiayai ekspansi ke daerah yang lebih jauh.

Bagaimana dan mengapa terjadi kemajuan dan peradaban Islam secara cepat pada zaman Bani Abbasiyah ?

Dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, sedangkan puncak keemasan dari dinasti ini berada pada khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Al-Ma’mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Al-Mu’tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orangq muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

Lembaga-lembaga yang sudah ada pada masa sebelumnya kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Di samping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:
Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma’tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat.

Kedua, tafsir bi al-ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M) yang mengembalikan sistem madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab.

Di samping empat pendiri madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

Teologi rasional Mu’tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy’ariyah, aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy’ari sebelumnya adalah pengikut Mu’tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Pada masa ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya

Kemajuan itu antara lain disebabkan sikap dan kebijaksanaan para penguasanya dalam mengatasi berbagai persoalan, kebijaksanaan itu antara lain ialah:

• Para khalifah tetap keturunan Arab sedangkan para menteri, gubernur, panglima perang, dan pegawai diangkat dari bangsa Persia.
• Kota Baghdad sebagai ibukota, dijadikan kota internasional untuk segala kegiatan seperti ekonomi, politik, social, dan budaya.
• Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah membuka kesempatan pengembangan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
• Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala bidang, seperti ibadah, filsafat, dan ilmu pengetahuan.
• Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan penting dalam memajukan kebudayaan Islam.
• Berkat usaha khalifah yang sungguh-sungguh dalam membangun ekonominya, mereka memiliki pembendaharaan yang cukup berlimpah.
• Dalam pengembangan ilmu pengetahuan para khalifah banyak mendukung perkembangan tersebut sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam berbagai ilmu pengetahuan.

Selain itu, penyebab kemajuan peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah disebabkan oleh dua Faktor, yaitu :
Faktor Internal umat Islam
• Pemahaman yang utuh terhadap semangat keilmuan yang diisyaratkan oleh al Qur’an (al Qur’an banyak mengandung sinyal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
• Para pembesar kerajaan memiliki perhatian yang tinggi terhadap pentingnya Ilmu Pengetahuan bagi kehidupan manusia. Hal tersebut ditunjukkan pada semangat dan pengkajian keilmuan dan penghargaan pemerintah terhadap pakar-pakar keilmuan.
• Para penguasanya banyak memberikan dorongan kepada ilmuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam segala bidang kehidupan.
• Lahirnya berbagai pusat kajian dan analisa keilmuan serta pusat-pusat penterjemahan terhadap buku-buku asing yang dibiayai oleh pemerintah, tanpa melihat bentuk dan perbedaan kajian keilmuan tersebut sehingga umat Islam telah mengalami pendewasaan dan kematangan berfikir

Faktor Eksternal umat Islam
• Tradisi keilmuwan telah berkembang lebih dulu di wilayah Persia, sehingga umat Islam tinggal mengembangkan dan menambah keunggulannya.
• Umat Islam melakukan adaptasi terhadap budaya asing terutama ilmu / Filsafat Yunani, diteruskan dengan proses menterjemahkan buku-buku asing tersebut.
• Terjadinya gerakan translitasi (penterjemahan) oleh umat Islam pada kebudayaan atau hasil karya lain, terutama buku-buku hasil pemikiran filosof Yunani.
• Proses penterjemahan tersebut melahirkan kecenderungan baru dalam tradisi berfikir. Kalau pada masa pemerintahan Bani Umaiyah, pola berfikir umat di dominasi oleh pemikiran keagamaan dan dogmatik, maka pada masa pemerintahan Bani Abasiyah berkembang pemikiran rasional analitis.

Proses tranformasi keilmuan Islam terhadap keilmuan luar lebih di dorong oleh daya tarik Filsafat, yang menurut umat Islam mempunyai sisi menarik dalam hal :
• Ketelitian yang dimiliki oleh logika Aristoteles dan ilmu matematika yang mengagumkan Islam.
• Bahwa pada saat itu terjadi pertarungan pemikiran antara umat Islam dengan penganut Islam baru yang masih mengikuti faham / filosofi agama sebelumnya, dan mereka menggunakan logika Filsafat, maka untuk menghadapi pertarungan pemikiran dengan diperlukan pemahaman yang baik mengenai logika tersebut.
• Bercampurnya buku-buku keagamaan Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Yunani yang dianggap oleh umat Islam sebagai karya filsafat Yunani.
• Corak pembahasan keagamaan filsafat Yunani dalam hal menerangkan konsep Tuhan Yang Esa dan mencapai kebahagiaan dilakukan dengan pendekatan dan peleburan diri kepada Tuhan dan pembersihan diri (Zuhud), sebagaimana yang dijelaskan dalam filsafat ketuhanan (Theodocia) mereka.
• Islam dan Sekularisme
• By Sejarah Islam Posted at 5:16 PM Sejarah Politik Indonesia No comments
• Pandangan Islam Terhadap Sekularisme


• Sekularisme, saat ini di dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing lagi. Dapat dikatakan bahwa sekularisme kini telah menjadi bagian dari tubuhnya, atau bahkan menjadi tubuhnya itu sendiri. Ibarat sebuah virus yang menyerang tubuh manusia, dia sudah menyerang apa saja dari bagian tubuhnya itu. Bahkan yang lebih hebat, virus itu telah menghabisi seluruh tubuh inangnya dan menjelma menjadi wujud sosok baru, bak menjelma menjadi sebuah monster yang besar dan mengerikan, sehingga sudah sulit sekali dikenali wujud aslinya.

• Begitulah kondisi ummat Islam saat ini dengan sekularismenya. Perkembangan sekularisme sudah seperti gurita yang telah menyebar dan membelit kemana-mana. Hampir tidak ada sisi kehidupan ummat ini yang terlepas dari cengkeramannya. Sehingga ummat sudah tidak menyadarinya lagi, atau bahkan mungkin sudah jenak dengan keberadaannya tersebut.

• Akibat panjangnya rantai sekularisme dalam tubuh ummat ini, ummat Islam sudah sangat mengalami kesulitan untuk mendeteksi keberadaannya. Sehingga tidak aneh jika ada banyak dari kalangan ummat Islam yang merasa tersinggung dan marah jika dituduh sebagai sekuler atau menjalankan sekularisme dalam kehidupan pribadi atau dalam bernegara. Mereka akan menolak mentah-mentah tuduhan itu. Mereka merasa jijik dan najis dengan sekularisme itu, dan merekapun akan menolak dengan tegas jika diseru untuk menjalankan sekularisme dalam kehidupannya. Namun kenyataan yang sesungguhnya, mereka sudah berkubang dalam limbah sekularisme itu sendiri. Menyedihkan.

• Hal inilah yang memprihatinkan kita semua. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis ingin membantu mengungkapkan kembali sekularisme dengan segala tubuh, tangan, kaki dan jari-jemarinya yang telah menggurita dan membelit kemana-mana. Berikutnya, penulis akan membahas sekularisme dan segenap rantai panjangnya menurut pandangan Islam.

• Rantai Sekularisme

• Inti dari faham sekularisme menurut An-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari kehidupan (faşlud-din ‘anil-hayah). Menurut Nasiwan (2003), sekularisme di bidang politik ditandai dengan 3 hal, yaitu: (1). Pemisahan pemerintahan dari ideologi keagamaan dan struktur eklesiatik, (2). Ekspansi pemerintah untuk mengambil fungsi pengaturan dalam bidang sosial dan ekonomi, yang semula ditangani oleh struktur keagamaan, (3). Penilaian atas kultur politik ditekankan pada alasan dan tujuan keduniaan yang tidak transenden.


• Tahun yang dianggap sebagai cikal bakal munculnya sekularisme adalah 1648. Pada tahun itu telah tercapai perjanjian Westpha
• lia. Perjanjian itu telah mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katholik dan Protestan di Eropa. Perjanjian tersebut juga telah menetapkan sistem negara merdeka yang didasarkan pada konsep kedaulatan dan menolak ketundukan pada otoritas politik Paus dan Gereja Katholik Roma (Papp, 1988). Inilah awal munculnya sekularisme. Sejak itulah aturan main kehidupan dilepaskan dari gereja yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Asumsinya adalah bahwa negara itu sendirilah yang paling tahu kebutuhan dan kepentingan warganya, sehingga negaralah yang layak membuat aturan untuk kehidupannya. Sementara itu, Tuhan atau agama hanya diakui keberadaannya di gereja-gereja saja.

• Awalnya sekularisme memang hanya berbicara hubungan antara agama dan negara. Namun dalam perkembangannya, semangat sekularisme tumbuh dan berbiak ke segala lini pemikiran kaum intelektual pada saat itu. Sekularisme menjadi bahan bakar sekaligus sumber inspirasi ke segenap kawasan pemikiran. Paling tidak ada tiga kawasan penting yang menjadi sasaran perbiakan sekularisme, sebagaimana yang akan diungkap dalam tulisan ini:

• Pengaruh Sekularisme di Bidang Aqidah

• Semangat sekularisme ternyata telah mendorong munculnya libelarisme dalam berfikir di segala bidang. Kaum intelektual Barat ternyata ingin sepenuhnya membuang segala sesuatu yang berbau doktrin agama (Altwajri,1997). Mereka sepenuhnya ingin mengembalikan segala sesuatunya kepada kekuatan akal manusia. Termasuk melakukan reorientasi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat manusia, hidup dan keberadaan alam semesta ini (persoalan aqidah).

• Altwajri memberi contoh penentangan para pemikir Barat terhadap faham keagamaan yang paling fundamental di bidang aqidah adalah ditandai dengan munculnya berbagai aliran pemikiran seperti: pemikiran Marxisme, Eksistensialisme, Darwinisme, Freudianisme dsb., yang memisahkan diri dari ide-ide metafisik dan spiritual tertentu, termasuk gejala keagamaan. Pandangan pemikiran seperti ini akhirnya membentuk pemahaman baru berkaitan dengan hakikat manusia, alam semesta dan kehidupan ini, yang berbeda secara diametral dengan faham keagamaan yang ada. Mereka mengingkari adanya Pencipta, sekaligus tentu saja mengingkari misi utama Pencipta menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Mereka lebih suka menyusun sendiri, melogikakannya sediri, dengan kaidah-kaidah filsafat yang telah disusun dengan rapi.

• Pengaruh Sekularisme di Bidang Pengaturan Kehidupan


• Pengaruh dari sekularisme tidak hanya berhenti pada aspek yang paling mendasar (aqidah) tersebut, tetapi terus merambah pada aspek pengaturan kehidupan lainnya dalam rangka untuk menyelesaikan segenap persoalan kehidupan yang akan mereka hadapi. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari ikrar mereka untuk membebaskan diri dari Tuhan dan aturan-aturanNya. Sebagai contoh sederhana yang dapat dikemukakan penulis adalah:

• Bidang Pemerintahan

• Dalam bidang pemerintahan, yang dianggap sebagai pelopor pemikiran modern dalam bidang politik adalah Niccola Machiavelli, yang menganggap bahwa nilai-nilai tertinggi adalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia dan dipersempit menjadi nilai kemasyhuran, kemegahan dan kekuasaan belaka. Agama hanya diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu sendiri (Nasiwan, 2003). Disamping itu muncul pula para pemikir demokrasi seperti John Locke, Montesquieu dll. yang mempunyai pandangan bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan konstitusional yang mampu membatasi dan membagi kekuasaan sementara dari mayoritas, yang dapat melindungi kebebasan segenap individu-individu rakyatnya. Pandangan ini kemudian melahirkan tradisi pemikiran politik liberal, yaitu sistem politik yang melindungi kebebasan individu dan kelompok, yang didalamnya terdapat ruang bagi masyarakat sipil dan ruang privat yang independen dan terlepas dari kontrol negara (Widodo, 2004). Konsep demokrasi itu kemudian dirumuskan dengan sangat sederhana dan mudah oleh Presiden AS Abraham Lincoln dalam pidatonya tahun 1863 sebagai: “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” (Roberts & Lovecy, 1984).

• Bidang Ekonomi

• Dalam bidang ekonomi, mucul tokoh besarnya seperti Adam Smith, yang menyusun teori ekonominya berangkat dari pandangannya terhadap hakikat manusia. Smith memandang bahwa manusia memiliki sifat serakah, egoistis dan mementingkan diri sendiri. Smith menganggap bahwa sifat-sifat manusia seperti ini tidak negatif, tetapi justru sangat positif, karena akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Smith berpendapat bahwa sifat egoistis manusia ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. Setiap orang yang menginginkan laba dalam jangka panjang (artinya serakah), tidak akan menaikkan harga di atas tingkat harga pasar (Deliarnov, 1997).

• Bidang Sosiologi

• Dalam bidang sosiologi, muncul pemikir besarnya seperti Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim dsb. Sosiologi ingin berangangkat untuk memahami bagaimana masyarakat bisa berfungsi dan mengapa orang-orang mau menerima kontrol masyarakat. Sosiologi juga harus bisa menjelaskan perubahan sosial, fungsi-fungsi sosial dan tempat individu di dalamnya (Osborne & Loon, 1999). Dari sosiologi inilah diharapkan peran manusia dalam melakukan rekayasa sosial dapat lebih mudah dan leluasa untuk dilakukan, ketimbang harus ‘pasrah’ dengan apa yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai ‘ketentuan-ketentuan’ Tuhan.

• Bidang Pengamalan Agama

• Dalam pengamalan agama-pun ada prinsip sekularisme yang amat terkenal yaitu faham pluralisme agama yang memiliki tiga pilar utama (Audi, 2002), yaitu: prinsip kebebasan, yaitu negara harus memperbolehkan pengamalan agama apapun (dalam batasan-batasan tertentu); prinsip kesetaraan, yaitu negara tidak boleh memberikan pilihan suatu agama tertentu atas pihak lain; prinsip netralitas, yaitu negara harus menghindarkan diri pada suka atau tidak suka pada agama.

• Dari prinsip pluralisme agama inilah muncul pandangan bahwa semua agama harus dipandang sama, memiliki kedudukan yang sama, namun hanya boleh mewujud dalam area yang paling pribagi, yaitu dalam kehidupan privat dari pemeluk-pemeluknya.

• Pengaruh Sekularisme di Bidang Akademik

• Di bidang akademik, kerangka keilmuan yang berkembang di Barat mengacu sepenuhnya pada prinsip-prinsip sekularisme. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari kategorisasi filsafat yang mereka kembangkan yang mencakup tiga pilar utama pembahasan, yaitu (Suriasumantri, 1987): filsafat ilmu, yaitu pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan benar atau salah; filsafat etika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan baik atau buruk; filsafat estetika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan indah atau jelek.

• Jika kita mengacu pada tiga pilar utama yang dicakup dalam pembahasan filsafat tersebut, maka kita dapat memahami bahwa sumber-sumber ilmu pengetahuan hanya didapatkan dari akal manusia, bukan dari agama, karena agama hanya didudukkan sebagai bahan pembahasan dalam lingkup moral dan hanya layak untuk berbicara baik atau buruk (etika), dan bukan pembahasan ilmiah (benar atau salah).

• Dari prinsip dasar inilah ilmu pengetahuan terus berkembang dengan berbagai kaidah metodologi ilmiahnya yang semakin mapan dan tersusun rapi, untuk menghasilkan produk-produk ilmu pengetahuan yang lebih maju. Dengan prinsip ilmiah ini pula, pandangan-pandangan dasar berkaitan dengan aqidah maupun pengaturan kehidupan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas, semakin berkembang, kokoh dan tak terbantahkan karena telah terbungkus dengan kedok ilmiah tersebut.

• Dari seluruh uraian singkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sekularisme telah hadir di dunia ini sebagai sebuah sosok alternatif yang menggantikan sepenuhnya peran Tuhan dan aturan Tuhan di dunia ini. Hampir tidak ada sudut kehidupan yang masih menyisakan peran Tuhan di dalamnya, selain tersungkur di sudut hati yang paling pribadi dari para pemeluk-peluknya yang masih setia mempertahankannya. Entah mampu bertahan sampai berapa lama?

• Umat Islam dan Sekularisme

• Perkembangan sekularisme di Barat ternyata tidak hanya berhenti di tanah kelahirannya saja, tetapi terus berkembang dan disebarluaskan ke seantero dunia, termasuk di dunia Islam. Seiring dengan proses penjajahan yang mereka lakukan ide-ide sekularisme terus ditancapkan dan diajarkan kepada generasi muda Islam. Hasilnya sungguh luar biasa, begitu negeri-negeri Islam mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri, bentuk negara dan pemerintahan yang di bangun ummat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip sekularisme dengan segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model pendidikannya. Boleh dikatakan hampir tidak ada satupun bagian dari penataan negeri ini yang terbebas dari prinsip sekularisme tersebut.

• Bahkan di garda terakhir, yaitu di lembaga pendidikan formal Islam di dunia Islam-pun tidak luput dari serangan sekularisme tersebut. Pada awalnya (di Indonesia tahun 1970-an), pembicaraan mengenai penelitian agama, yaitu menjadikan agama (lebih khusus adalah agama Islam) sebagai obyek penelitian adalah suatu hal yang masih dianggap tabu (Mudzhar, 1998). Namun jika kita menengok perkembangannya, khususnya yang meyangkut metodologi penelitiannya, maka akan kita saksikan bahwa agama Islam benar-benar telah menjadi sasaran obyek studi dan penelitian. Agama telah didudukkan sebagai gejala budaya dan gejala sosial. Penelitian agama akan melihat agama sebagai gejala budaya dan penelitian keagamaan akan melihat agama sebagai gejala sosial (Mudzhar, 1998).

• Jika obyek penelitian agama dan keagamaan hanya memberikan porsi agama sebatas pada aspek budaya dan aspek sosialnya saja, maka perangkat metodologi penelitiannya tidak berbeda dari perangkat metodologi penelitian sosial sebagaimana yang ada dalam episthemologi ilmu sosial dalam sistem pendidikan sekuler. Dengan demikian ilmu yang dihasilkannya-pun tidak jauh berbeda dengan ilmu sosial lainnya, kecuali sebatas obyek penelitiannya saja yang berbeda yaitu: Agama!

• Dengan demikian, semakin lengkaplah peran sekularisme untuk memasukkan peran agama dalam peti matinya. Oleh karena itu tidak perlu heran, jika kita menyaksikan di sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim, peran agama (Islam) sama sekali tidak boleh nampak dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara riil, kecuali hanya sebatas spirit moral bagi pelaku penyelenggara negara, sebagaimana yang diajarkan oleh sekularisme.

• Ummat Islam akhirnya memiliki standar junjungan baru yang lebih dianggap mulia ketimbang standar-standar yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Ummat lebih suka mengukur segala kebaikan dan keburukan berdasarkan pada nilai-nilai demokrasi, HAM, pasar bebas, pluralisme, kebebasan, kesetaraan dll. yang kandungan nilainya banyak bertabrakan dengan Islam.

• Pandangan Islam Terhadap Sekularisme


• Jika sebuah ide telah menjadi sebuah raksasa yang menggurita, maka tentunya akan sangat sulit untuk melepaskan belenggu tersebut darinya. Terlebih lagi ummat Islam sudah sangat suka dan jenak dengan tata kehidupan yang sangat sekularistik tersebut. Dan sebaliknya, mereka justru sangat khawatir dan takut jika penataan negara ini harus diatur dengan syari’at Islam. Mereka khawatir, syari’at Islam adalah pilihan yang tidak tepat untuk kondisi masyarakat nasional dan internasional saat ini, yang sudah semakin maju, modern, majemuk dan pluralis. Mereka khawatir, munculnya syari’at Islam justru akan menimbulkan konflik baru, terjadinya disintegrasi, pelanggaran HAM, dan mengganggu keharmonisan kehidupan antar ummat beragama yang selama ini telah tertata dan terbina dengan baik (menurut mereka).

• Untuk dapat menjawab persoalan ini, marilah kita kembalikan satu-per satu masalah ini pada bagaimana pandangan Al Qur’an terhadap prinsip-prinsip sekularisme di atas, mulai dari yang paling mendasar, kemudian turunan-turunannya. Kita mulai dari firman Allah dalam Q.S. Al Insan: 2-4:
• “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”

• “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya dengan jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada pula yang kafir”

• “Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”

• Ayat-ayat di atas memberitahu dengan jelas kepada manusia, mulai dari siapa sesungguhnya Pencipta manusia, kemudian untuk apa Pencipta menciptakan manusia hidup di dunia ini. Hakikat hidup manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk menerima ujian dari Allah SWT, berupa perintah dan larangan. Allah juga memberi tahu bahwa datangnya petunjuk dari Allah untuk hidup manusia bukanlah pilihan bebas manusia (sebagaimana prinsip HAM), yang boleh diambil, boleh juga tidak. Akan tetapi, merupakan kewajiban asasi manusia (KAM), sebab jika manusia menolaknya (kafir) maka Allah SWT telah menyiapkan siksaan yang sangat berat di akherat kelak untuk kaum kafir tersebut.

• Selanjutnya, bagi mereka yang berpendapat bahwa jalan menuju kepada petunjuk Tuhan itu boleh berbeda dan boleh dari agama mana saja (yang penting tujuan sama), sebagaimana yang diajarkan dalam prinsip pluralisme agama di atas, maka hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firmanNya Q.S. Ali ‘Imran: 19 & 85:

• “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam”

• “Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dan di akhirat kelak dia termasuk orang-orang yang merugi (masuk neraka)”

• Walaupun Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan yang diridhai, namun ada penegasan dari Allah SWT, bahwa tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah: 256:

• “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah”

• Jika Islam harus menjadi satu-satunya agama pilihan, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, sejauh mana manusia harus melaksanakan agama Islam tersebut Allah SWT memberitahu kepada manusia, khususnya yang telah beriman untuk mengambil Islam secara menyeluruh. Firman Allah SWT, dalam Q.S. Al Baqoroh: 208:

• “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnaya setan itu musuh yang nyata bagimu”

• Perintah untuk masuk Islam secara keseluruhan juga bukan merupakan pilihan bebas, sebab ada ancaman dari Allah SWT, jika kita mengambil Al Qur’an secara setengah-setengah. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqoroh: 85:

• “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar kepada sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak akan lengah dari apa yang kamu perbuat”

• Walaupun penjelasan Allah dari ayat-ayat di atas telah gamblang, namun masih ada kalangan ummat Islam yang berpendapat bahwa kewajiban untuk terikat kepada Islam tetap hanya sebatas persoalan individu dan pribadi, bukan persoalan hubungan antar manusia dalam bermasyarakat dan bernegara. Untuk menjawab persoalan itu ada banyak ayat yang telah menjelaskan hal itu, di antaranya Q.S. Al Maidah: 48:

• “Maka hukumkanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka (dengan meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepada engkau”

• Perintah tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan juga berfungsi untuk mengatur dan menyelesaikan perkara yang terjadi di antara manusia. Dan dari ayat ini juga dapat diambil kesimpulan tentang keharusan adanya pihak yang mengatur, yaitu penguasa negara yang bertugas menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu diperkuat dalam Q.S. An Nissa’: 59:

• “Hai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

• Selain itu juga ada pembatasan dari Allah SWT, bahwa yang berhak untuk membuat hukum hanyalah Allah SWT. Manusia sama sekali tidak diberi hak oleh Allah untuk membuat hukum, tidak sebagaimana yang diajarkan dalam prinsip demokrasi. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al An’am: 57:

• “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”

• Oleh karena itu tugas manusia di dunia hanyalah untuk mengamalkan apa-apa yang telah Allah turunkan kepadanya, baik itu menyangkut urusan ibadah, akhlaq, pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dsb. Jika manusia termasuk penguasa enggan untuk menerapkan hukum-hukum Allah, maka ada ancaman yang keras dari Allah SWT, diantaranya, firman Allah dalam Q.S. Al Maidah: 44, 45 dan 47:

• “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (44). … orang yang zalim (45). … orang yang fasik (47)”

• Terhadap mereka yang terlalu khawatir terhadap dengan diterapkannya syari’at Islam, dan menganggap akan membahayakan kehidupan ini, maka cukuplah adanya jaminan dari firman Allah SWT dalam Q.S. Al Anbiya’: 107:

• “Dan tiadalah Kami mengutusmu kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

• Ayat tersebut menerangkan bahwa munculnya rahmat itu karena diutusnya Nabi (yang membawa Islam), bukan yang sebalikya, yaitu setiap yang nampaknya mengandung maslahat itu pasti sesuai dengan Islam. Dengan demikian jika ummat manusia ingin mendapatkan rahmat dari Tuhannya, tidak bisa tidak melainkan hanya dengan menerapkan dan mengamalkan syari’at Islam. Selain itu, ayat tersebut juga menegaskan bahwa rahmat tersebut juga berlaku untuk muslim, non muslim maupun seluruh semesta alam ini.


• Sumber :

• Ahmed O. Altwajri, 1997. Islam, Barat dan Kebebasan Akademis

• Robert Audi, 2002. Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal. Terj: Yusdani & Aden Wijdan

• Deliarnov, 1997, Perkembangan Pemikiran Ekonomi

• M. Atho Mudzhar, 1998, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek

• Nasiwan, 2003. Diskursus antara Islam dan Negara – Suatu Kajian Tentang Islam Politik di Indonesia

• Richard & Borin Van Loon Osborne, 1999. Mengenal Sosiologi – For Beginners. Terj. Siti Kusumawati A.

• S. Daniel Papp, 1988. Contemporary International Relations – Frameworks fo Understanding. Macmillan Publishing Company, New York

• Jujun S. Suriasumantri, 1987. Filsafat Ilmu – Sebuah Pengantar Populer

• Bambang E. C. Widodo, 2004. Demokrasi antara Konsep dan Realita. Makalah Diskusi Publik HTI. 29 Pebruari 2004. Jogjakarta.
Perang Salib
By Sejarah Islam Posted at 5:09 PM Sejarah Islam No comments
Pengertian Perang Salib

Perang Salib

Perang Salib berasal dari Bahasa Arab, yaitu Kharaqah yang berarti suatu gerakan atau barisan, dan Sholibiyah yang berarti kayu palang, tanda silang (dua batang kayu yang bersilang). Jadi Perang Salib adalah suatu gerakan (dalam bentuk barisan) dengan memakai tanda salib untuk menghancurkan umat Islam.
Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam, Perang Salib ialah gerakan kaum Kristen di Eropa yang memerangi umat Islam di Palestina secara berulang-ulang, mulai dari abad XI sampai abad XIII M. Untuk membebaskan Bait al-Maqdis dari kekuasaan Islam dan bermaksud menyebarkan agama dengan mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur. Dikatakan salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur mengenakan tanda salib di dada kanan sebagai bukti kesucian cita-cita mereka.

Terhadap pengertian ini, diperkuat lagi oleh Philip K. Hitti bahwa Perang Salib itu adalah perang keagamaan selama hampir dua abad yang terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 M. (Nabi SAW. wafat) sampai meletusnya Perang Salib, sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki umat Islam seperti Suriah, Asia Kecil (Turki Modern), Spanyol dan Sisilia. Perang tersebut merupakan suatu ekspedisi militer dan terorganisir untuk merebut kembali tempat suci di Palestina.
Dari beberapa pengertian di atas, dapatlah dipahami bahwa Perang Salib adalah perang yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa dengan mengerahkan umatnya secara terorganisir yang bersifat militer, dan menurut mereka, Perang Salib ini merupakan perang suci untuk merebut kembali Bait al-Maqdis di Yerussalem dari tangan umat Islam.
Sebab-sebab terjadinya Perang Salib

Dilihat dari setting perkembangan sejarah, perang salib bisa kita letakkan pada bagian pertengahan dalam sejarah panjang interaksi timur dan barat, fakta geografis tentang perbedaan antara timur dan barat hanya bisa dipertimbangkan sebagai faktor penting terjadinya perang salib jika disandingkan dengan pertentangan agama, suku, bangsa, dan perbedaan bahasa. Kenyataanya, perang salib secara khusus menggambarkan reaksi orang Kristen di eropa terhadap muslim di timur, yang telah menguasai wilayah Kristen sejak tahun 632, tidak hanya di Suriah dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia.

Pasukan Islam

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-hajr, Prancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan perang salib. Kebencian itu bertambah setelah dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di mesir.

Penguasa Saljuk menetapkan beberapa aturan bagi umat kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan mereka. Untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat kristen di Eropa supaya melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan nama perang salib, yang terjadi dalam tiga periode
Periode pertama

Adapun penyebab langsung dari Perang Salib Pertama adalah permohonan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Hal ini dilakukan karena sebelumnya pada tahun 1071, Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arselan di Pertempuran Manzikert, yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia. Dan kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern).

Pasukan Kristen
Pada musim semi tahun 1095 M. 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemon dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan berhasil menguasai Rahasa pada 1098 M. Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldwin sebagai raja.

Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan latin II di timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 juli 1099 M) dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis, tentara salib melanjutkan ekspanasinya. Mereka menguasai kota Akka (1104), Tripoli(1109) dan kota Tyre (1124 M). di Tripoli mereka mendirikan kerajaan latin IV, rajanya adalah Raymond.
Periode Kedua

Imaduddin Zanki, penguasa Moshul, dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun, ia wafat tahun 1146 M. tugasnya dilanjutkan oleh putrnya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.

Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Salahudin Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di mesir tahun 1175 M. Hasil peperangan Salahudin Al-Ayyubi yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian, kerajaan latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun telah berakhir.

Salahudin al Ayyubi
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, dan raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. meskipun mendapat tantangan berat dari Salahudin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Salahudin Al-Ayyubi yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan di ganggu.
Periode Ketiga

Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia malepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin disana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1247 M, dimasa pemerintahan Malikus Shalih, penguasa mesir selanjutnya. Ketika mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan dinasti Ayyubiyah pimpinan perang dipegang oleh Barbars dan Galawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M.
Demikian lah perang salib yang berkobar di timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.
Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah, banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintah pusat Abbasiyah di Baghdad.

Uang dan Kebijakan Moneter pada masa awal Islam
By Sejarah Islam Posted at 5:12 PM Sejarah Islam No comments
Sigifikansi Perdagangan dan Alat Pertukaran

Sebelum islam hadir sebagai sebuah kekuatan politik, kondisi geografis daerah hijaz sangat strategis dan menguntunkan karena menjadi rute perdagangan antara Persia dan roma serta daerah jajahan keduanya. Di samping itu, selama berabad-abad wilayah selatan dan timur jazirah arab juga menjadi rute perdagangan antara roma dan india yang terkenal sebagai rute perdagangan selatan. Hal ini menimbulkan munculnya pedagang-pedagang musiman di sepanjang rute ini. Perdagangan merupakan dasar perekonomian di jazirah arab sebelum islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah alat pembayaran yang dapat dipercaya. Jazirah Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung dibawah kekuaasaan Persia dan Roma atau minimal berada dalam pengaruh keduanya. Mata uang yang dipergunakan Negara-negara tersebut adalah dirham dan dinar. Dengan kian kuatnya politik kedua Negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya diwilayah kekuasaannya. Karena faktor itulah, bangsa Persia dan Romawi menjadi mitra dagang utama orang-orang Arab.

Koin dirham dan dinar mempunyai berat yang tetap dan memiliki kandunga emas yang tetap. Akan tetapi pada masa-masa selanjutnya beratnya berubah, kandungannya juga berbeda dari satu wilayah dengan wilayah yang lain. Secara alamiah transaksi yang berada di daerah kekaisaran Romawi menggunakan dinar sebagai alat tukar, sedangkan di kekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi Persia dan Romawi menyebabkan ini menyebabkan pertukaran uang meningkat. Bahkan pada masa Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang dipergunakan. Dirham memiliki nilai yang tetap. Karena itu, tidak ada masalah dalam perputaran uang. Jika dirham di nilai sebagai satuan, maka dinar adalah perkalian dari dirham.

Selain menggunakan dinar dan dirham, alat pembayaran yang digunakan pada awal epriode Islam adalah kredit. Selain memiliki kelebihan dari dinar dan dirham sebagai alat pembayaran, kredit memiliki keuntungan lainnya. Misalnya untuk melakukan transaksi yang nilainya cukup tinggi tentu diperlukan koin-koin yang banyak untuk membayar, tentu tidak praktis. Metode lainnya yang digunakan dalam melakukan transaksi di Arabia adalah pembelian utang seseorang atau Obligasi.

Penawaran dan Permintaan Uang

Pada bagian ini akan dibicarakan tentang mata uang, dinar dan dirham. Yang merupakan satun moneter Persia dan Romawi. Pada masa Nabi kedua mata uang ini diimpor dari Persia dan Romawi. Karena tidak adanya tarif dan bea masuk, uang diimpor dalam jumlah besar, dimana nilai emas dan perak pada kepingan dinar dan dirham sama dengan nilai nominal uangnya. Karena itu keduanya dapat dibuat perhiasan atau ornamen. Dapat disimpulkan bahwa pada awal periode islam penawaran dan pendapatan uang sangat elastis.

Tinggi rendahnya permintaan uang tergantung pada frekuensi transaksi perdagangan dan jasa. Sementara itu situasi yang kurang kondusif antara kaum muslimin dengan suku Quraisy dan banyaknya peperangn yang dilakukan kaum muslimin menimbulkan pre-cautionary demand (permintaan uang untuk pencegahan) untuk berjaga-jaga terhadap keperluan yang tidak di duga. Akibatnya permintaan terhadap uang pada periode ini umumnya bersifat permintaan transaksi dan pencegahan.

Percepatan Sirkulasi Uang

Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap stabilitas nilai uang adalah pemercepatan peredaran uang. Dapat dipahami bahwa setelah HIjrah, secara bertahap pemercepatan peredaran uang cenderung meningkat. Keberhasikan kaum muslimin pada perang-perangnya menguatkan rasa percaya diri dan optimisme tentang masa depan yang lebih baik bagi kaum muslimin. Setelah perdamaian Hudaibiya, optimisme semakin meningkat. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa peningkatan volume aktifitas ekonomi mempercepat peredaran uang.

Pengaruh Kebijakan Fiskal terhadap Nilai Mata Uang

Perpindahan kaum mulimin dari Makkah ke Mdinah tidak dibekali dengan kekayaan ataupun simpanan dan juga keahlian, ini menciptakan keseimbangan ekonomi yang rendah. Sementara itu peperangan telah banyak menyerap jumlah tenaga kerja yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pekerjaan yang produktif. Oleh karena itu masalah utama yang dihadapi Nabi jika dilihat dari sudut pandang fiskal adalah pengaturan pengeluaran untuk biaya perang yang rata-rata tiap dua bulan sekali, belum lagi penyediaan biaya hidup bagi setiap kaum muslimin turut menambah beban finansial. Dalam satu kesempatan nabi melakukan peminjaman setelah penaklukan Makkah. Kebijakan lain yang diambil nabi adalah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kaum muslimin dalam melakukan aktifitas produktif dan ketenagakerjaan. Serta mendorong kerjasama antara Muhajirin dan Anshar.

Berkat kerjasama ini, volume perdagangan dan aktifitas pertanian Madinah meningkat, yang akhirnya meningkatkan penawaran agregat masyarakat. Peningkatan penawaran agregat membawa perekonomian dan stabilitas nilai uang kepada suatu tingkat keseimbangan yang lebih tinggi.

Mobilisasi dan Utilisasi Tabungan

Salah satu tujuan khusus perekonomian pada awal perkembangan Islam adalah penginvestasian tabungan yang dimiliki masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan dua cara, yaitu : mengembangkan peluang investasi yang syar’I secara legal, dan mencegah kebocoran atau penggunaan tabungan untuk tujuan yang tidak islami. Pada awal keislaman, pemerintah dengan berbagai cara menyediakan fasilitas yang berorientasi investasi untuk masyarakat. Pertama, memberikan berbagai kemudahan bagi produsen untuk berproduksi. Kedua, memberikan keuntungan pajak terutama bagi unit produksi baru. Ketiga, meningkatkan efisiensi produksi sector swasta dan peran serta masyarakat dalam berinvestasi yang dilakukan dengan memperkenalkan teknik produksi dan keahlian baru kepada kaum muslim.

Praktik Bisnis Ilegal

Islam telah membuat kebijakan yang mendorong mengalirnya tabungan kearah investasi sekaligus mencegah terjadi penyimpangan penggunaan tabungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dan sia-sia dengan batasan-batasan yang ada. Beberapa batasan itu antara lain adalah : Kanz (penimbunan uang), Riba, Kali-bi-kali.

Instrumen Kebijakan Moneter

Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian diatas adalah bahwa tidak ada satupun instrumen kebijakan moneter yang digunakan saat ini diberlakukan pada awal periode keislaman. Instrument yang digunakan saat ini untuk mengatur jumlah uang beredar adalah dengan jual beli surat berharga (operasi pasar terbuka). Sudah jelas bahwa pasar terbuka tidak ada dalam sejarah perekonomian pada awal perkembangannya. Metode lain yang digunakan saat ini adalah menaikkan atau menurunkan tngkat bunga bank, praktek ini tidak dilakukan pada masa awal Islam karena termasuk dalam kategori riba.

Peranan Harta Rampasan Perang Pada Awal Pemerintahan Islam

Di kalangan para orientalis, timbul asumsi yang menyatakan bahwa pada masa awal pemerintahan Islam, harta rampasan perang mempunyai peran yang sangat signifikan dalam menopang kehidupan kaum muslimin. Asumsi tersebut lahir dari fakta lemahnya kondisi ekonomi kaum muslimin pada masa-masa awal pendirian Negara Madinah. Kehidupan masyarakat Madinah yang secara ekonomi sangat memprihatinkan, menurut para orientalis, mendorong Nabi melakukan perampasan terhadap kafilah Makkah yang melewati Madinah menuju Syria. Berangkat dari asumsi ini, para orientalis berpendapat bahwa kebutuhan untuk meningkatkan sumber daya ekonomi dan keuangan telah menjadi factor pendorong bagi kaum muslimin untuk menyerang dan merampas kepemilikan orang Yahudi, Kristen, serta berbagai suku bangsa Arab lain yang berada di Utara dan Timur.

Sementara itu di kalangan muslim sendiri terdapat beberapa pendapatpandangan para sejarawan dan cendekiawan muslim ini merupakan hasil perpaduan antara rasa ingin tahu mereka dengan dugaan dan pendapat. Banyak sejarawan muslim yang tidak mengakui kepentingan ekonomi dari ekspedisi-ekspedisi itu.

Berbagai Ekspedisi yang Dilakukan Kaum Muslimin pada Masa Pemerintahan Rsulullah SAW

Ekspedisi tahun pertama yang dilakukan kaum muslimin sebanyak 74 kali, atau lebih dalam riwayat lain. Seluruh ekspedisi tersebut baik ghazwah maupun saraya bukanlah gerakan militer, tetapi hanya misi politik atau perjalanan dakwah. Ekspedisi tahun kedua adalah dimulai dengan peperangan melawan bani Qainuqa. Setelah melalui proses yang panjang orang-orang yahudi Qainuqa menyerah kepada kaum muslimin. Hasil dari peperangan ini terdiri dari persenjataan dan peralatan pertambangan emas, dan ada satu harta rampasan yang paling berharga yaitu sebuah benteng pemukiman bangsa yahudi dan sejumlah besar pasar yang merupakan salah satu pusat perdagangan di kota Madinah.

Ekspedisi tahun ketiga, terdapat tujuh kali ekspedisi yang dilakukan kaum muslimin pada tahun ini. Dari tujuh ekspedisi hanya tiga yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Diantaranya adalah ghazwah Kudur, ini adalah perang pertama yang menghasilkan harta rampasan. Lalu saraya Zaid bin Harits yang dikirim ke Qaradah oleh Nabi untuk menghadang sebuah kafilah Makkah di jalur timur dan berhasil mengambil seluruh barang dagangannya. Namun hasil sebaliknya terjadi ketika perang Uhud, dalam perang ini awalnya kaum muslimin meraih kemenangan namun akhirnya mereka kalah.
Ekspedisi keempat, juga sebanyak tujuh kali ekspedisi, dua diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kelima adalah sebanyak lima kali dimana tiga diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Salah satu diantara perang yang berhasil itu dipimpin langsung oleh Nabi yang menuju mata air Muraisy untuk menyerang bani Musthaliq cabang dari Khuza’ah. Suku ini sedang merencanakan penyerangan ke Madinah yang mungkin di bantu oleh orang-orang Makkah. Setelah peristiwa ini Nabi menikahi Juwairiyah, putri Harits bin Abi Dhirar, kepala suku setempat. Ekspedisi tahun keenam, terdapat tiga ghazwah dan 18 saraya. Namun tidak ada satu ghazwah pun yang mendapatkan hasil materi, dan hanya 7 saraya yang berhasil mendapatkan keuntungan materi.

Ekspedisi ketujuh, dalam ekspedisi ini kaum muslimin melakukan 14 kali ekspedisi yang terdiri dari 6 ghazwahdan 8 saraya. Salah satu ghazawah terjadi bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji pada saat nabi ke Makkah. Sehingga tidak mendapatkan harta rampasan apapun pada saat itu. Namun sebagian besar ekspedisi pada tahun ini menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kedelapan, pada tahun ini hanya enam ekspedisi yang menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kesembilan, berhasil mendapatkan harta rampasan perang baik dalam jumlah kecil maupun besar. Ekspedisi tahun kesepuluh, pada tahun ini hanya terjadi satu kali ekspedisi, yaitu saraya Ali bin Abi Thalib ke Yaman yang berhasil memperoleh harta rampasan berupa hewan ternak, tawanan, baju, dan lain-lain.

Total Perkiraan Harta Rampasan Perang

Berdasarkan data tersebut, setidaknya gambaran tentang jumlah keseluruhan harta rampasan perang yang berhasil diperoleh kaum muslimin dalam kurun waktu 10 tahun masa kepemimpinan Nabi dapat diketahui. Untuk beberapa kasus tertentu, setengah dari kurun waktu perolehan harta rampasan tersebut berhasil memperoleh sejumlah kecil harta rampasan. Hal ini ditunjukkan melalui aktifitas perang selama melawan Yahudi di Madinah dan suku-suku lain di selatan.

Sekarang kita bisa tahu seberapa besar kontribusi harta rampasan perang untuk meningkatkan perekonomian kaum muslimin Madinah. Terdapat asumsi umum, kita telah melihat kenyataan bahwa harta rampasan perang yang besar akan memperkaya kaum muslimin, tetapi disisi lalin fakta-fakta juga menunjukkan agar kita mengecek kebenaran dari perhitungan tersebut. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah satu faktor dan pertimbangan penting yang seharusnya tetap kita tanamkan dalam pemikiran kita ketika menentukan ukuran pembagian harta rampasan perang dalam perekonomian Islam, yaitu bahwa sampai saat ini belum terdapat perhitungan yang cukup memadai dan komprehensif untuk masalah harta rampasan.
Islam Pada Masa Pertengahan
By Sejarah Islam Posted at 1:44 PM Sejarah Islam No comments

Masa pertengahan ditandai dengan kemunduran total imperium di Baghdad. Ibarat orang yang menderita penyakit akut dan tengah menunggu ajalnya. Maka, sudah barang tentu akan mudah ditebak, bila kemudian hari pemerintahan pusat di Baghdad tidak dapat mempertahankan wilayah kekuasaannya. Kondisi seperti ini dimulai dengan adanya pemberontakan-pemberontakan dan lepasnya kontrol kekuasaan secara politik di seluruh wilayah Islam. Otoritas Islam di Spanyol merdeka penuh dengan diproklamirkannya sistem kekhalifahan sendiri oleh ‘Abd al-Rahman al-Dakhil (w 788 M/172 H). Begitu pula yang terjadi pada Daulah Fatimiyah di Mesir. Pemberontakan ini merupakan awal aspirasi pembentukan dinasti-dinasti kecil di Timur dan Barat Baghdad. Dinasti-dinasti kecil disini adalah semula wilayah tingkat satu yang biasa dikepalai oleh wali atau amir (gubernur) atas penunujukan pemerintah pusat. Selanjutnya pusat memberikan jaminan otonomi terhadap wilayahnya. Namun, pada perkembangannya wilayah tersebut sedikit demi sedikit sengaja melepaskan diri dari pemerintaha pusat (disintegration, dismembered) sehingga oleh beberapa sejarawan disebut dengan dinasti-dinsati kecil (petty dynasties atau smaller dynasties).

Dinasti-dinasti kecil yang terdapat di Barat Baghdad antaralain: Dinasti Idris (172-311 H/ 788-932 M), Dinasti Aghlabi (184-296 H/800-909 M), Dinasti Thuluni (254-292 H/ 868-905 M), Dinasti Ikhsidi (323-358 H/ 935-969 M) dan Dinasti Hamdani (296-394 H/ 905-1004 M). Sedangkan yang terdapat di Timur Baghdad antaralain: Dinasti Thahiri (205-259 H/ 821-875 M), Dinasti Saffari (254-290 H/ 867-903 M) dan Dinasti Samani (261-389 H/ 87-999 M). Kemunculan dinasti-dinasti kecil ini membuat kekhalifahan Banni Abbas sebagai simbol kekuatan politik Islam dalam menghadapi persoalan-persoalan disintegrasi yang menjadi salah satu penyebab kemunduran pemerintahan Baghdad.

Pembahasan

Begitu banyak peristiwa dan corak pemerintahan yang terjadi di masa pertengahan ini. Selain kekuasaan Abbasiyah yang sungguh mencolok, juga karena keikutsertaan dinasti-dinasti kecil dalam memeriahkan perjalanan Sejarah Islam di dunia. Pada setiap masa pasti ada fase kejayaan dan juga kemunduran (kemerosotan). Kemunduran yang terjadi pada masa pertengahan ini tidak sekaligus, namun berangsur-angsur dan memakan waktu yang cukup lama. Beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunduran masa pertengahan antaralain:
1. Lahirnya beberapa dinasti kecil di Barat dan Timur kota Baghdad
Dinasti-dinasti yang kecil yang lahir dan melepaskan diri dari Khalifah Abbasiyah diantaranya adalah: Bangsa Persia, Bangsa Turki, Bangsa Kurdi dan Bangsa Arab (termasuk dinasti yang saya tulis dalam pendahuluan diatas)

2. Adanya Perang Salib
Sebagaimana yang telah disebutkan, peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart. Tentara Alp yang hanya berjumlah 15.000 prajurit dapat mengalahkan Romawi yang berjumlah 200.000 orang. Peristiwa kekalahan ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib.

Kebencian itu makin menjadi setelah Dinasti Saljuk dapat merebut baitul maqaddis dari tangan Fatimiyah di Mesir. Penguasa Saljuk menerapkan peraturan (merugikan) bagi umat Kristen yang ingin berziarah kesana. Peraturan ini dirasakan sangat berat dan terlalu mengada-ada. Oleh karena itu, penguasa tertinggi umat Kristen yang saat itu bernama Paus Urbanus II untuk menggelar perang suci. Perang ini dikenal dengan Perang Salib dan dilakukan selama tiga periode. Akibat dari Perang Salib ini, umat Islam menderita banyak sekali. Kerugian ini mengakibatkan melemahnya kekuatan politik Islam.

3. Kemunduran Pemerintahan Bani Abbas
Khalifah Abbasiyah yang telah melemah, semakin menunjukkan kemerosotannya pada akhir-akhir pemerintahannya. Beberapa penyebab terjadinya kemunduran dalam Dinasti Abbasiyah:
1. Persaingan antarbangsa
2. Kemerosotan Ekonomi
3. Konflik Keagamaan ancaman dari Luar negeri

4. Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam di Spanyol
Setelah berakhirnya periode klasik Islam, dan ketika Islam mulai memasuki era kemunduran, Eropa bangkit. Kebangkitan ini bukan hanya terlihat dari bidang politik yang telah mampu mengalahkan beberapa kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya. Kemajuan yang juga tak kalah pesatnya adalah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan-kemajuan ini sebenarnya sama-sekali tidak dapat dipisahkan dari penguasa Islam yang menyebarkan Islam di kawasan Spanyol.

Ibarat “guru” bagi murid-muridnya, Islam dijadikan tempat utama untuk menimba ilmu bagi bangsa Eropa Kristen. Mereka banyak belajar di pergurua-perguruan tinggi yang terdapat di kawasan Islam (Baghdad Timur).

Rintisan agar dapat mencapai kemajuan yang hebat di kawasan Eropa dilakukan dalam tujuh periode. Sungguh bukan hal yang main-main, karena pencapaian kejayaan di Spanyol juga bisa dibilang lama yakni selama tujuh abad. Banyak prestasi yang diperoleh Eropa dengan adanya Islam disana dan membawanya pada kemajuan yang cukup kompleks. Diantara kemajuan yang dicapainya sebagai berikut:
1. Kemajuan intelektual
2. Kemegahan Pembangunan Fisik
3. Faktor-faktor pendukung kemajuan
Dalam setiap kemajuan juga pasti akan disertai dengan kemunduran. Beberapa faktor penyebab kemunduran antaralain:
1. Konflik Islam dengan Kristen
2. Tidak adanya ideologi pemersatu
3. Kesulitan ekonomi
4. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
5. Keterpencilan
5. Penyerahan Bangsa Mongol dan Dinasti Ilkhan
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan hanya mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah tapi juga merupakan awal kemunduran politik dan peradaban Islam disana. Baghdad yang merupakan pusat peradaban Islam dan Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

Hulagu Khan meneruskan tradisi kakeknya Janghis Khan yang membawa kehancuran di dunia Islam. Ia merusak apaun yang ditemuinya dan merobohkan tempat-tempat ibadah. Seluruh peradaban dan kebudayaan Islam hancur berantakan. Setelah Hulagu Khan membumihanguskan kota dan penduduknya, ia kembali ke Azdsebaija. Pada tanggal 12 September 1259 M, Hulagu menuju Syiria. Selanjutnya pada tanggal 20 Januari 1260 M, Hulagu menaklukkan Allepo, disusul kemudian dengan Hamam dan Hamim Syria Utara.

Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjtnya diperintah oleh dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah yang diberikan oleh Hulagu. Dareah yang dikuasai oleh Hulagu adalah Asia Kecil di Barat India, di Timur dan di Tabriz. Hulagu meninggal pada tahun 1265 M dan diganti oleh anaknya yang bernama Abaga yang kemudian masuk Kristen.
6. Serangan-serangan Timur Lenk
Setelah satu abad umat Islam menderita dan berusaha bangkit akibat serangan bangsa Mongol di bawah kuasa Hulagu Khan, serangan yang datang dari keturunan Mongol kembali terjadi. Penyerangan ini berasal dari Dinasti Ilkhan. Penyerang ini telah memeluk Islam, namun sisa kebiadabannya masih sangat terlihat. Serangan ini dipimpin oleh Timur Lenk, yang berarti Timur si Pincang.

Sejak muda keberanian dan keperkasaan Timur Lenk telah terlihat. Saat berusia 12 tahun, ia telah terlibat dalam beberapa peperangan dan menunjukkan kehebatan dan keberaniannya yang mengangkat dan mengharumkan namanya di kalangan bangsanya. Peperangan demi peperangan dia ikuti hingga menginjak masa dewasa, ia sering kali ditunjuk sebagai panglima perang yang tangguh. Pada tahun 1401 M, ia memasuki wilayah Syiria bagian utara dan menghancurkan pemerintahan Allepo.

Sekalipun ia dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan ganas, sebagai seorang Muslim Timur Lenk juga memperhatikan pengembangan Islam. Dalam beberapa literatur dipaparkan bahwa ia adalah serang penganut Syi’ah yang taat dan menyukai Tarekat Naqsyabandiyah. Dalam perjalannya, ia selalu membawa serta ulama-ulama, sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuwan sangat dihormatinya. Belum diketahui waktu yang tepat meninggalnya Timur Lenk, hanya ada data yang mengatakan bahwa kedudukannya diperebutkan dan digantikan oleh anaknya Syah Rukh. Cukup bangus pemerintahan yang dijalankan oleh Syah Rukh, namun ini tidak bertahan lama dan digantikan oleh ‘Abd al-Latif.
7. Berdirinya Dinasti Mamluk di Mesir
Mamluk atau Mameluk (Bahasa Arab: مملوك, mamlūk (tunggal), مماليك, mamālīk (jamak)) adalah tentara budak yang telah memeluk Islam dan berdinas untuk khalifah Islam dan Kesultanan Ayyubi pada abad Pertengahan. Mereka akhirnya menjadi tentara yang paling berkuasa dan juga pernah mendirikan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Pasukan Mamluk pertama dikerahkan pada zaman Abbasiyyah pada abad ke-9. Bani Abbasiyyah merekrut tentara-tentara ini dari kawasan Kaukasus dan Laut Hitam yang pada mulanya bukanlah orang Islam. Dari Laut Hitam direkrut bangsa Turki dan kebanyakan dari suku Kipchak.

Pada tahun 1249 keluarga Ayyubiyah diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan oleh salah satu resimen budak (mamluk)-nya, yang membunuh penguasa Ayyubiyah. Kekuasaan saat itu berada di tangan perempuan bernama Syajar al-Durr janda al-Shalih dari Dinasti Ayyubiyah. Selama delapan tahun dia berkuasa sebelum akhirnya mengangkat nama ‘Izzuddin Aybag sebagai sultan (atabeg al-askar) yang baru sekaligus suaminya. Pada awal-awal pemerintahan Aybag sibuk memberantas legitimasi Ayyubiyah yang berada di Suriah. Sebelum akhirnya ia membunuh istrinya (Syajar) dan kekuasaan seluruhnya berada di tangan Aybag.

Selama berdiri (648 H/1250 M) hingga runtuh (922 H/1517 M) Dinasti Mamluk (Mamalik) memiliki dua periode kekuasaan. Pertama, kekuasaan Mamluk Bahri pada tahun 1250 M hingga 1389 M. Asal nama Bahri didapat karena barak-barak yang digunakan oleh para pasukan berada di Pulau Rawdhah dekat denangan Sungai Nil (Al-Bahr). Kedua, kekuasaan Mamluk Barji pada tahun 1389 M hingga 1517 M. Asal nama Barji didapatkan dari penempatan pasukannya di benteng (Al-Burj).

Kemajuan-kemajuan yang terjadi di dalam Dinasti Mamluk meliputi: Bidang Pemerintahan, Perekonomian, Ilmu Pengetahuan, Pembangunan serta Seni dan Sastra. Awal Kemunduran Dinasti Mamluk dipicu karena tampuk pemerintahan yang dipegang oleh kaum Burji. Kaum Burji mayoritas berasal dari wilayah Siskasius. Kaum ini secara tegas menolak pewarisan kekuasaan. Mereka menganggap bahwa sultan hanyalah primus inter pares dengan kekuatan nyata berada di tangan penguasa militer (oligari militer). Kekuasaan yang telah menjadi tanggung jawab ini tidak sepenuhnya berhasil. Faktor yang melatabelakangi adalah rendahnya tingkat moral yang dimiliki tiap-tiap sultan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya, semangat kerja menurun dan perekonomian tidak stabil.

Pada tahun 1421 terjadi tiga kali pergantian sultan dan kekuasaan Qa’it Bay menjadi kekuasaan yang paling lama. rezim ini terjadi politik tipu daya, pembunuhan, pembantaian dan kejahatan-kejahatan lainnya. selain itu penyebaran penyakit karena musim kemarau yang berkepanjangan merebak di mana-mana. Di lain pihak muncul tantangan baru dari kerajaan Usmani. Kerajaan ini yang mengakhiri eksistensi dari Dinasti Mamluk di Mesir.

Dinasti Mamluk adalah Dinasti yang terbentuk dari kumpulan budak-budak Dinasti Ayyubiyah yang memerdekakan diri. Sistem pemerintahan yang dianut Dinasti ini adalah oligarki militer, bukan sistem monarki seperti dinasti-dinasti terdahulu. Terjadi beberapa pembaharuan yang mengangkat citra Mesir menjadi lebih baik di mata wilayah sekitarnya. Sultan Mamluk yang terkenal unggul adalah al-Malik Zhahir Rukn al-Din Baybar al-Bunduqdari.

Dalam bidang keilmuan yang banyak berkembang adalah ilmu kedokteran dan matematika. Selain itu, dunia pembangunan juga didominasi dengan direnovasinya makam-makam para sultan dan dibangunnya masjid-masjid. kemunduran dinasti Mamluk berawal ketika tampuk pemerintahan dipegang oleh kaum Barji dan berakhir di tangan kerajaan Usmani.

Dengan berakhirnya pemerintahan Mamluk di Mesir berakhir pula masa pertengan dalam Islam. Secara garis besar, memang masa pertengahan ditandai dengan lahirnya dinasti-dinasti kecil dan diakhiri dengan runtuhnya kekuasaan Dinasti Mamluk.

Daftar Pustaka

Asy’ary, Hasyim dkk.. 2004. Pengantar Studi Islam. IAIN Sunan Ampel Press: Surabaya.
Bosworth, C.E.. 1980. Dinasti-Dinasti Islam. Manchester: PT Mizan Khazanah Ilmu.
K. Hitti, Philip. 2006. History of the Arabs. Jakarta: PT Serambi ilmu Semesta.
Nurhakim, Moh. 2004.Sejarah dan Peradaban Islam. UMM Press: Malang.
SJ., Fadil. 2008. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. UIN Malang Press: Malang.
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: