Filsafat Berfikir

Sains Berkata tentang Kehancuran | Januari 15, 2016

B. Ilmu Pengetahuan (Sains)

Kehancuran suatu bangsa, negara atau masyarakat bisa disebabkan oleh banyak hal. Teori yang menjelaskan tentang hal ini telah banyak diungkap oleh para ilmuwan yang disusun ke dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
1. Ilmu Pengetahuan
Pengertian Ilmu Pengetahuan

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
Etimologi
Kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.
Syarat-syarat ilmu
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu[4]. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
Pemodelan, teori, dan hukum
Istilah “model”, “hipotesis”, “teori”, dan “hukum” mengandung arti yang berbeda dalam keilmuan dari pemahaman umum. Para ilmuwan menggunakan istilah model untuk menjelaskan sesuatu, secara khusus yang bisa digunakan untuk membuat dugaan yang bisa diuji dengan melakukan percobaan/eksperimen atau pengamatan.
Suatu hipotesis adalah dugaan-dugaan yang belum didukung atau dibuktikan oleh percobaan, dan hukum fisika atau hukum alam adalah generalisasi ilmiah berdasarkan pengamatan empiris.
Matematika dan metode ilmiah
Matematika sangat penting bagi keilmuan, terutama dalam peran yang dimainkannya dalam mengekspresikan model ilmiah. Mengamati dan mengumpulkan hasil-hasil pengukuran, sebagaimana membuat hipotesis dan dugaan, pasti membutuhkan model dan eksploitasi matematis. Cabang matematika yang sering dipakai dalam keilmuan di antaranya kalkulus dan statistika, meskipun sebenarnya semua cabang matematika memunyai penerapannya, bahkan bidang “murni” seperti teori bilangan dan topologi.
Beberapa orang pemikir memandang matematikawan sebagai ilmuwan, dengan anggapan bahwa pembuktian-pembuktian matematis setara dengan percobaan. Sebagian yang lainnya tidak menganggap matematika sebagai ilmu, sebab tidak memerlukan uji-uji eksperimental pada teori dan hipotesisnya. Namun, dibalik kedua anggapan itu, kenyataan pentingnya matematika sebagai alat yang sangat berguna untuk menggambarkan/menjelaskan alam semesta telah menjadi isu utama bagi filsafat matematika.
Richard Feynman berkata, “Matematika itu tidak nyata, tapi terasa nyata. Di manakah tempatnya berada?”.
Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Menurut Ari Arka Kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam, penjelasannya sebagai berikut.
1. Kewajiban Menuntut Ilmu
Manusia diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya tersebut adalah dengan dengan pemberian akal pikiran dalam penciptaannya. Akal inilah yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Dengan akal itu Allah SWT telah memuliakan manusia, mengangkat derajatnya dengan derajat yang tinggi. Akal adalah alat untuk berpikir, Allah SWT menjadikan akal sebagai sumber tempat bermula dan dasar dari ilmu pengetahuan. Imam Ghazali mengatakan sebagaimana dikutip oleh Wahbah Az-Zuhaili, penyebutan kata yang terkait dengan “al-‘aqlu” dalam Al-Qur’an sedikitnya ada lima puluh kali dan penyebutan ‘Uulin-nuhaa’ sebanyak dua kali.
Allah SWT berfirman dalam S. Al-Jastiyah ayat 3-5:
Artinya: Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam setiap ciptaan Allah terdapat ilmu pengetahuan yang akan menunjukkan tanda-tanda Kebesaran Allah kepada manusia. Untuk menggali dan mendapatkan pengetahuan itu manusia harus menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya. Dalam hal ini wahyu dan akal saling mendukung dan melengkapi untuk mendapatkan tanda-tanda Kekuasaan Allah.
Agama Islam datang dengan memuliakan sekaligus mengaktifkan kerja akal serta menuntutnya kearah pemikiran Islam yang rahmatun lil’alamin. Manusia harus dapat menggunakan kecerdasan yang dimilikinya untuk kesejahteraan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.
Akal sebagai dasar dari ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk dan dapat memberikan argumen tentang kepercayaan dan keberagamaannya. Dengan kemampuan akal untuk berpikir ini manusia mampu menentukan pilihan yang terbaik untuk dirinya dan agamanya.
Islam juga meluaskan cakrawala manusia mengenai potensi intelektual, psikologis dan unsur-unsur penting penghidupan lainnya. Islam mengajarkan manusia untuk menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan akal yang dimilikinya manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan.
Manusia harus terus menimba ilmu karena ilmu terus berkembang mengikuti zaman. Apabila manusia tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, niscaya pandangannya akan sempit yang berakibat lemahnya daya juang menghadapi jalan kehidupan yang cepat ini.
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekananya terhadap Ilmu (sains). Al-Qur’an dan al-Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Allah SWT telah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (al-Mujadalah 11).
Menurut al-Maraghi, tafsir dari ayat ini adalah bahwa Allah meninggikan orang-orang yang mukmin dengan mengikuti perintah-Nya dan perintah Rosul, khususnya orang-orang yang berilmu di antara mereka beberapa derajat yang banyak dalam hal pahala dan tingkat keridlaan. Ayat tersebut menunjukkan betapa Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Ayat tersebut juga memberikan gambaran kepada manusia mengenai kedudukan ilmu pengetahuan, sebagai bekal baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ada sebuah ungkapan terkenal mengenai bagaimana orang harus menuntut Ilmu;“Tuntutlah ilmu sekalipun di negeri Cina”.(HR. Ibnu ‘Adiy dan Al-Baihaqi)
Maksud dari ungkapan tersebut adalah; bahwa ilmu harus dicari dan dikejar walaupun berada di negeri yang sangat jauh sekalipun. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya kegiatan Talab al-‘ilm, hingga harus dilakukan walau dengan perjalanan ke negeri yang sangat jauh sekalipun. Kata “negeri Cina” di atas hanya sebagai perumpamaan negeri yang sangat jauh, karena negeri Cina adalah negeri yang sangat jauh bagi umat Islam yang berada di Timur Tengah pada waktu itu. Jadi seandainya sekarang negeri yang perekembangan ilmu pengetahuannya paling maju, berada di belahan bumi bagian barat maka kesana pula kita harus mengejar ilmu itu.
Rasulullah menegaskan dengan sabda beliau:
“Menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap orang Islam” HR. Ibnu Majjah)
Jelaslah dari sabda Rasul tesebut bahwasanya menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, tanpa membedakan laki-laki ataupun perempuan. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, karena orang beribadah kepada Allah juga harus dengan ilmu.
Islam agama Ilmu
Sementara seorang Dr. Mahadi Gulsyani pernah menyebutkan bahwa, Islam adalah agama ilmu. Karena Islamlah agama yang sangat mengapresiasi dan memposisikan ilmu pada tempat yang mulia. Hal ini dapat kita lihat dalam banyak ayat Al Qur’an yang menyebut kata ilmu sebanyak 180 kali. Belum lagi istilah seperti akal dan berpikir serta lainnya masih banyak berhubungan dengan ilmu pengetahuan.
“…Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” – Q.s Mujadilah :11. Artinya, bagi kita yang beriman kepada Allah tentunya akan lebih baik jika berimannya kita desertai dengan ilmu pengetahuan, dengan ayat ini saja mestinya memotivasi kita untuk menuntut ilmu.
Menuntut ilmu dalam Islam, adalah aktivitas yang mulai dan wajib. Ketika kita ingin memahami aqidah yang murni, ibadah yang benar dan memiliki akhlaq yang mulia tentunya harus memiliki ilmu tentangnya. Bagaimana mungkin kita mengenal Allah tanpa ilmu ? bagaimana mungkin kita bisa beribadah sesuai yang dijalankan rasulullah tanpa ilmu? Bagaimana mungkin akhlaq kita bisa terjaga tanpa bantua ilmu khususnya tentang Islam. “…Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah Ulama”. Artinya, yang benar-benar bisa menjalankan perintah Allah, beragama dengan sebaik-baiknya adalah orang yang alim, memiliki ilmu pengetahuan, intinya ilmu sebagai kunci keberagamaan kita.
Itulah sebabnya, kita sangat sering mendengarkan nasehat bijak “carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Tapi bukan berarti kita harus menuntut segala ilmu, ulama berpendapat yang wajib untuk dipelajari adalah ilmu tentang perbuatan (akhlaq). Dalam hal ini, Islam adalah agama yang mengajarkan tentang akhlaq.
Kemudian ditambahkan oleh Cak Nur, seorang cendekiawan muslim bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan segitiga yang tidak bisa terpisahkan dalam Islam. Hal itu berarti, berimannya kita kepada Allah dan Rasulnya karena berilmu pengetahuan, dan pada akhirnya segalanya akan berbuah amal. Namun perlu kita ketahui bahwa, tidaklah wajib menuntut semua ilmu berdasarkan pembagian ilmu oleh Imam Al Gazaly dalam kitabnya ihya’ umuluddin. Dibagi menjadi dua yaitu, ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah ilmu yang setiap individu wajib mengetahuinya, khususnya ilmu agama. Shalat, puasa dan berzakat itu hanya bisa diamalkan ketika mengetahui caranya. Sehingga wajib bagi kita untuk menuntut ilmu tersebut. Sementara ilmu fardhu kifayah, merupakan cabang ilmu yang dikembangkan manusia untuk kepentingan maslahat keduniawiaan. Misalnya ilmu kedokteran, pertania, keteknikan dan lain-lain. Hukumnya tidak menjadi wajib ketika sudah ditunaikan oleh sebagian orang. Bedanya dengan ilmu fardhu ‘ain harus dipelajari oleh setiap orang.
Klarsfikasi Ilmu menurut ulama Islam

Menurut Dr. Uhar Suharsaputra nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran Islam . AL qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabimenunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini .
Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’liimu AL Muta‘alim (t. t. :4) ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan :
“Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntutsegsls ilmu ,tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu AL hal) sebagaimana diungkapkan ,sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuaytan dan sebagus –bagus amal adalah menjaga perbuatan”.
Kewajiban manusia adalah beribadah kepeda ALLah, maka wajib bagi manusia(Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata cara tersebut ,seprti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji ,mengakibatkan wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut . Demikianlah nampaknya semangat pernyataan Syech Zarnuji ,akan tetapi sangat di sayangkan bahwa beliau tidak menjelaskan tentang ilmu-ilmu selain “Ilmu Hal” tersebut lebih jauh di dalam kitabnya.
Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu 1). Ilmu Fardu a’in, dan 2). Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian Ilmu-ilmu tersebut sebagai berikut :
“Ilmu fardu a’in . Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in “ (1979 : 82)
“Ilmu fardu kifayah. Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi “ (1979 : 84)
Lebih jauh Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu (yang menuntutnya) fardhu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakan urusan dunia.
Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi kelompok ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1. Ilmu yang merupakan suatu yang alami pada manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir.
2. Ilmu yang bersifat tradisional (naqli).
bila kita lihat pengelompokan di atas , barangkali bisa disederhanakan menjadi 1). Ilmu aqliyah , dan 2). Ilmu naqliyah.
Dalam penjelasan selanjutnya Ibnu Khaldun menyatakan :
“Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmmah dan falsafah. Yaituilmu pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya, persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya, sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir. Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara “ (Nurcholis Madjid, 1984 : 310)
dengan demikian bila melihat pengertian ilmu untuk kelompok pertama nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-ajaran syariat dari al qur’an dan sunnah Rasul.
Ulama lain yang membuat klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu : 1). Al manqulat, 2). Al ma’qulat, dan 3). Al maksyufat. Adapun pengertiannya sebagaimana dikutif oleh A Ghafar Khan dalam tulisannya yang berjudul “Sifat, Sumber, Definisi dan Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Syah Waliyullah” (Al Hikmah, No. 11, 1993), adalah sebagai berikut :
1). Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama yang disimpulkan dari atau mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al hadis.
2). Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan penting.
3). Al maksyufat adalah ilmu yang diterima langsung dari sumber Ilahi tanpa keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif
Selain itu, Syah Waliyullah juga membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok yaitu : 1). Ilmu al husuli, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat indrawi, empiris, konseptual, formatif aposteriori dan 2). Ilmu al huduri, yaitu ilmu pengetahuan yang suci dan abstrak yang muncul dari esensi jiwa yang rasional akibat adanya kontak langsung dengan realitas ilahi .
Meskipun demikian dua macam pembagian tersebut tidak bersifat kontradiktif melainkan lebih bersifat melingkupi, sebagaimana dikemukakan A.Ghafar Khan bahwa al manqulat dan al ma’qulat dapat tercakup ke dalam ilmu al husuli.
Sumber Ilmu Pengetahuan Menurut paradigma filsafat barat

Semua orang mengakui memiliki pengetauan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat? Dari situ timbul pertanyan bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan atau darimana sumber pengetahuan kita? Pengetahua yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang menggunakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antaralain:
a. Idealisme
Pertama, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme atau nasionalisme menitik beratkan pada pentingnya peranan ide, kategori atau bentuk-bentuk yang terdapat pada akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Plato ( 427-347 SM), seorang bidan bagi lahirnya janin idealisme ini, menegaskan bahwa hasil pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya yang selalu berubah-ubah (Amin Abdullah;1996). Sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat dipercayai kebenarannya. Karena itu suatu ilmu pengetahuan agar dapat memberikan kebenaran yang kokoh, maka ia mesti bersumber dari hasil pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang seperti ini hanya bisa datang dari suatu alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleh guru Aristoteles itu sebagai “alam ide”, suatu alam dimana manusia sebelum ia lahir telah mendapatkan ide bawaannya (S.E Frost;1966). Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami segala sesuatu sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesuatu. Karena itu, bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam inderawi bukanlah alam yang sesungguhnya.
b. Empirisme
Paham selanjutnya adalah empirisme atau realisme, yang lebih memperhatikan arti penting pengamatan inderawi sebagai sumber sekaligus alat pencapaian pengetahuan (Harold H. Titus dkk.;1984). Aristoteles (384-322 SM) yang boleh dikata sebagai bapak empirisme ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide bawaan yang dibawakan oleh gurunya, Plato. Bagi Aristoteles, hukum-hukum dan pemahaman itu dicapai melalui proses panjang pengalaman empirik manusia. (Amin Abdullah;1996).
Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme (Harun Hadiwiyoto;1995). Artinya keberadaan akal di sini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk memperoleh kebenaran kecuali dengan perantaraan indra, kenyataan tidak dapat dipersepsi (Ali Abdul Adzim;1989). Berawal dari sinilah, John Locke berpendapat bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas putih). Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, kemudian ia memiliki pengetahuan. Di dalam kertas putih inilah kemudian dicatat hasil pengamatan Indrawinya (Louis O. Katsof;1995). Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya didapatkan melalui pengamatan konkret, bukan penalaran rasional yang abstrak, apalagi pengalaman kewahyuan dan institusi yang sulit memperoleh pembenaran factual.
David Hume, salah satu tokoh empirisme mengatakanbahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan (empressions) dan pengertian-pengertian atau ide-ide (ideas). Yang dimaksud kean-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, seperti merasakan tangan terbakar. Yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang samara-samar yang dihasilka dengan merenungkan kembali atau terefleksikan dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.(Amsal Baktiar; 2002)
Berdasarkan teori ini, akal hanya mengelola konsep indrawi, hal itu dilakukannya dengan menyusun konsep tersebut atau membagi-baginya.(Muhammad baqir as-Shadar;1995). Jadi dalam empirisme, sumber utamauntuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indra. Akal tidak berfungsi banyak, kalaupun ada, itu pun sebatas ide yang kabur.
Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan, antara lain:
1. Indra terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil, apakah ia benar-benar keci? Ternyata tidak. Keterbatasan indralah yang menggambarkan seperti itu. Dari sini akan terbentuk pengetahua yang salah.
2. Indra menipu, pada yang sakit malaria gula rasanya pahit, udara akan tersa dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
3. Objek yang menipu, contohnya fammorgana dan ilusi. Jadi obyek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh indra, ia membohongi indra.
4. Berasal dari indra dan objek sekaligus. Dalam hal ini indra mata tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kernau itu juga tidak dapt memperlihatkan badanya secara keseluruhan. Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasan indra manusia.
c. Rasionalisme
Paradigma selanjutnya adalah Rasionalisme, sebuah aliran yang menganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal. Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris. Faham rasionalisme dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Menurut kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya terdapat ide – ide terpendam dan proposisi – proposisi umum yang disebut proposi keniscayaan yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris.
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Menurut aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indra dapt dikoreksi, seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalammemperoleh pengetahuan. Pengalaman indra diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja, etapi sampainya mausia kepada kebenaran adalah semata-mata akal. Laporan indra menurut rasionalisme merupakan bahan yang belu jelas, bahkan ini memungkinkan dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan tersebut sehingga dapatlah terbentuk pengetahua yang benar. Jadi fungsi panca indra hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akalnya menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.
Dalam penyusunan ini akal menggunakan konsep-konsep rasional atau ide-ide universal. Konsep tersebut mempunyai wujud dalam alam nyata dan bersifat universal. Yang dimaksud prinsip-prinsip universal adalah abstraksi dari benda-benda konkret, seperti hukum kuasalitas atau gambaran umum tentang kursi. Sebaliknya bagi empirisme hukum tersebut tidak diakui.(Harun nasution;1995)
Akal, selain bekerja karena ada bahan indra, juga akal dapat menghasilkan pegetahuan yang tidak berdasarkan bahan indrawi sama sekali, jadi akal juga dapat menghasilkan pengetahan tentang objek yang betul-betul abstrak.
Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan, seperti mengenai criteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorag dalah jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah yang utama yang dihadpi kaum rasionalisme adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis inisemuanya bersumber pada penalaran induktif, karena premis-premis ini semuanya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak. Terbebas dari pengalaman maka evalusi yang semacam ini tidak dapat dilakukan.(Jujun S. Suriasumantri;1998).
d. Positivisme
Adanya problem pada empirisme dan rasionalisme yang menghasilkan metode ilmiah melahirkan aliran positivisme oleh August Comte dan Immanuel Kant. August Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.
Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.(Drs. Drs. H. Ahmad Syadali, M.A; 2004 :133). Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen dan eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran, dan lain sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api panas atau metahari panas, kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas, dan tidak panas. kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dengan didukung bukti-bukti empiris yang terukur.
Dalam hal ini Kant juga menekankan pentingnya meneliti lebih lanjut terhadap apa yang telah dihasilkan oleh indera dengan datanya dan dilanjutkan oleh akal denga melakukan penelitian yang lebih mendalam. Ia mencontohkan bagaimana kita dapat menyimpulkan kalau kuman tipus menyebabkan demam tipus tanpa penelitian yang mendalam dan eksperimen. Dari penelitian tersebut seseorang dapat mengambil kesimpulan bahwa ada hubungan sebab akibat antara kuman tipus dan demam tipus.
Pada dasarnya aliran ini (yang diuraikan oleh August Comte dan Immanuel Kant) bukanlah suatu aliran khas yang berdiri sendiri, tetapi ia hanya menyempurnakan emperisme dan rasionalisme yang bekerjasama dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran.
Sumber Ilmu Pengtahuan Menurut Saintis Islam

Alam ini merupakan sumber pengetahuan yang terbuka luas bagi setiap manusia. Alam yang memiliki hukum yang pasti dan konstan akan membentuk pengetahuan manusia. Karena hukum alam itulah manusia secara bertahap dapat mengendalikan alam dan mengadakan pengembangan melalui eksperimen dan riset secara berulang. Berbagai persoalan yang berkaitan dengan struktur, kondisi dan kualitas alam, secara bertahap dapat dikuasai dan diatasi manusia .
Hukum alam dan Al-Qur’an bersumber dari sumber yang sama, yakni Allah SWT. Oleh karena itu, alam mempunyai kaitan erat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara kaitan tersebut, Al-Qur’an memberikan informasi tentang keadaan alam pada masa yang akan datang, yang belum bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memberikan informasi peristiwa masa lampau yang hanya diketahui oleh kalangan yang sangat terbatas. Terkadang Al-Qur’an mempertegas penemuan para ahli dan terkadang memberi isyarat untuk dilakukan penyelidikan secara akurat, Al-Qur-an juga memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan kajian atau pembahasan suatu persoalan dan memerintahkan agar mendiamkannya (tawakuf) serta menyerahkan segala urusanya kepada Allah SWT. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui kajian dan penelitian terhadap alam ini pada akhirnya akan menunjukkan kebesaran akan menunjukkan kebesaran Yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali’Imran ayat 190 dan 191 :
Artinya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ( 190). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia ,Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al-Imran ayat 191)
Di kalangan ilmuan muslim, banyak sekali penemuan ilmuan yang orisinal (sebagai hasil eksperimen, observasi, atau penelitian) yang terus dikembangkan dan menjadi milik dunia ilmu pengetahuan modern, termasuk yang kemudian dikembangkan oleh para ilmuan barat. Para ilmuan muslim, terutama yang muncul pada masa keemasan islam (abad ke 7-13) banyak memberi kontribusi pada perkembangan sains modern, seperti bidang kimia, optika, matematika, kedokteran, fisika, astronomi, geografi, sejarah dan ilmu-ilmu lainnya.
Mhammad Thalhah Hasan mengatakan, bahwa sumber ilmu pengetahuan itu adalah Allah, yang berbeda adalah proses dan cara Allah memberikan dan mengenalkan ilmu-ilmu tersebut kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Ada diantara ilmu-ilmu tersebut diberikan melalui insting, ada diantaranya yang diberikan melalui panca indera, ada lagi yang diperoleh melalui nalar (akal), adalagi yang ditemukan melalui pengalaman dan penelitian empirik, dan ada yang lain didapatkan melalui wahyu seperti yang didapatkan para Nabi/Rasul. Tetapi sumber dari semua ilmu itu adalah Allah, dan dari teologi inilah kemudian muncul istilah “trasendentalisasi ilmu”, yang artinya bahwa semua ilmu itu tidak dapat dilepaskan dari kekuatan dan kekuasaan Tuhan dan keyakinan seperti ini akan mempengaruhi konsep dan system pendidikan islam
Kalaau dibarat ilmu pengetahuan beranjak dari “premis kesangsian”, maka dikalangan agama samawi, termasuk islam, ilmu-ilmu itu bersumber dari “premis keimanan”, suatu keimanan yang memberikan keyakinan, bahwa kebenaran yang absolute itu hanya ada pada wahyu, termasuk kebenaran ijtihadi dalam upaya menafsirkan wahyu tersebut. Al-qur’an dan As-Sunah yang sahih mempunyai tingkat kebenaran absolute, tetapi ilmu-ilmu ijtihadi seperti ilmu kalam atau ilmu fiqih dan lain-lain, tingkat kebenarannya adalah relative. (Muhammada Talhah Hasan, 2006: 39)
Allahlah sumber segala ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu yang dikuasai manusia selama ini sangat terbatas dan sedikit sekali apa bila dibandingkan dengan ilmu Allah. Tuhan telah memberikan ilmu-Nya kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya seperti malaikat, dengan beberapa cara seperti dengan ilham, instink, indra, nalar (reason), pengalaman dan lain sebagainya. Atau dengan istilah lain, melalui penelitian dan survey, juga melalui penelitian laboratories, dan ada juga yang melalui kontemplasi/perenungan yang tajam dan melalui informasi wahyu yang diterima para Rasul Allah. Itu semua merupakan cara-cara yang digunakan oleh Allah untuk memberi ilmu pengetahuan, informasi, kemampuan nalar dan kecakapan kepada manusia, tetapi sumbernya tetaplah Allah.
Prof. DR. Cecep Sumarna mengatakan, bahwa dikalangan filosof dan saintis muslim berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu. Bagi umat islam hal itu termanifestasi dalam bentuk Al-Qr’an dan As-Sunah. Sumber Al-Qur’an ini bukan hanya mendampingi sumber pengetahuan lain, misalnya sumber empiris yang faktual/induktif dan rasional/deduktif. Al-Qur’an bahkan dapat dianggap pemegang otoritas lahirnya ilmu. Dalam perspektif islam, alam menjadi sumber empiris pengaruh modern, adalah wahyu Tuhan juga. Ia adalah symbol terendah dari Tuhan Yang Maha Tinggi dan sekaligus Maha Qudus. (Prof. DR. Cecep Sumarna; 2008:111). Selain empiris dan rasional, sumber ilmu pengetahuan yang lain adalah intuisi dan wahyu. Melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung tidak melalui proses penalaran tertentu, sedangkan wahyu adalah pengetahuan yang didapati melalui “pemberian” Tuhan secara langsung kepada hamba-Nya yang terpilih yang disebut Rasul dan Nabi.
DR. Ahmad tafsir mengatakan, bahwa menurut Al-Qur’an semua pengetahuan datang dari Allah, sebagian diwahyukan kepada orang yang dipilih-Nya, sebagian lain diperoleh manusia dengan menggunakan indra, akal, dan hatinya. Pengetahuan yang diwahyukan mempunyai kebenaran yang absolute, sedangkan pengetahuan yang diperoleh dari indra kebenarannya tidak mutlak. (DR. Ahmad tafsir; 2008: 8)
Bagi orang islam sumber pengetahuan adalah Allah, tidak ada pengetahuan selain yang datang dari Allah. Sumber pertama itu sekarang ini adalah Al-Qur’an atau hadits Rasul. Demikian Al-Ghazali berpendapat, tidak akan bisa sampai pada pengetahuan yang meyakinkan tersebut bila ia bersumber dari hasil pengamatan indrawi (hissiyat) dan pemikiran yang pasti (dzaruriyat). (Al-Ghazali, 1961). Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Al-Ghazali telah menggabungkan paradigma empirisme dan rasionalisme. Tetapi, bentuk pemaduan tersebut tetap dilakukan secara hierarkis, bukan dalam rangka melahirkan sintesa baru diantara keduanya itu. Terhadap hasil pengamatan indrawi, Al-Ghazali akhirnya berkesimpulan bahwa :
“Tentang hal ini aku ragu-ragu, karena hatiku berkata : bagaimana mungkin indra dapat dipercaya, penglihatan mata yang merupakan indera terkuat adakalanya seperti menipu. Engkau misalnya, melihat bayang-bayang seakan diam, padahal setelah lewat sesaat ternyata ia bergerak sedikit demi sedikit, tidak diam saja. Engkau juga melihat bintang tampaknya kecil, padahal bukti-bukti berdasarkan ilmu ukur menunjukkan bahwa bintang lebih besar dari pada bumi. Hal-hal seperti itu disertai dengan contoh-contoh yang lain dari pendapat indera menunjukkan bahwa hukum-hukum inderawi dapat dikembangkan oleh akal dengan bukti-bukti yang tidak dapat disangkal lagi”. (Al-Ghazali,1961).
Dari pernyatan tersebut jelas sekali di mata Al-Ghazali paradigma empirisme yang lebih bertumpu pada hasil penglihatan inderawi, tidak dapat dijadikan sebagai bentuk pengetahuan yang menyakinkan lagi, sebab kebenaran yang ditawarkan bersifat tidak tetap atau berubah-ubah. Kredibilitas akal, karena itu, juga tidak luput dari kuriositas Al-Ghazali terhadap hakikat yang sedang dicari-carinya. Kredibilitas akal diragukan, karena kekhawatirannya, jangan-jangan pengetahuan aqliyah itu tidak ada bedanya dengan seseorang yang sedang bermimpi, seakan-akan ia mengalami sesuatu yang sesungguhnya, tetapi ketika ia siuman nyatalah bahwa pengalamannya tadi bukanlah yang sesungguhnya terjadi.” (Al-Ghazali,1961).

2. Kedudukan Para Ilmuwan

Definisi Ulama /Ilmuwan Secara bahasa, ulama berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun berarti orang yang mengetahui (mufrad/singular) dan ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran. Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah : “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama” (Qs.Fathir 28).
Merujuk dari Nash yang jelas tentang lafadz al Ulama dalam al Quran di atas adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat. Mereka sangat berhati-hati dalam ucapan dan tindakan karena memiliki sifat wara, khowasy dan ’arif.
Kata al Ulama bukan sekedar istilah dan kedudukan sosial buatan manusia. Bukan pula orang yang didudukan di lembaga bentukan pemerintahan dengan subsidi dana. Namun kosa kata al Ulama berasal dari Kalamullah dan memiliki arti dan kedudukan sangat terhormat disisi Rabb. Oleh karena itu, termasuk perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan pahami adalah manzilah (kedudukan) ahlul ilmi yang mulia di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sehingga kita bisa beradab terhadap mereka, menghargai mereka dan menempatkan mereka pada kedudukannya. Itulah tanda barakahnya ilmu dan rasa syukur kita dengan masih banyaknya para ulama di zaman ini.
Teks Hadits Terjemah: “Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu tersebut) berarti dia telah mengambil bagian ilmu yang banyak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi). Hadits di atas Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6298
Dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/434): “Tidaklah mewarisi dari para nabi kecuali para ulama. Maka merekalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi, ilmu, amal dan tugas membimbing umat kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dalam al-Quran Surat AlMujadalah ayat 11 dikemukakan: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” mengilhami kepada kita untuk serius dan konsisten dalam memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Beberapa tokoh penting (ilmuwan) dalam sejarah Islam jelas menjadi bukti janji Allah s.w.t akan terangkatnya derajat mereka baik dihadapan Allah maupun sesama manusia. DR Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al Munir nya memaknai kata ‘darajaat’ (beberapa derajat) dengan beberapa derajar kemuliaan di dunia dan akhirat. Orang ‘alim yang beriman akan memperoleh fahala di akhirat karena ilmunya dan kehormatan serta kemulyaan di sisi manusia yang lain di dunia. Karena itu Allah s.w.t meninggikan derajat orang mu’min diatas selain mu’min dan orang-orang ‘ alim di atas orang-orang tidak berilmu.
Dalam perspektif sosiologis, orang yang mengembangkan ilmu berada dalam puncak piramida kegiatan pendidikan. Banyak orang sekolah/ kuliah tetapi tidak menuntut ilmu. Mereka hanya mencari ijazah, status/gelar. Tidak sedikit pula guru atau dosen yang mengajar tetapi tidak mendidik dan mengembangkan ilmu. Mereka ini berada paling bawah piramida dan tentunya jumlahnya paling banyak. Kelompok kedua adalah mereka yang kuliah untuk emnuntu ilmu tetapi tidak mengembangkan ilmu. Mereka ini ingin memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya atau untuk dirinya sendiri, tidak mengembangkannya untuk kesejahteraan masyarakat. Kelompok ini berada di tengah piramida kegiatan pendidikan.
Sedangkan kelompok yang paling sedikit dan berada di puncak piramida adalah seorang yang kuliah dan secara bersungguh-sungguh mencintai dan mengembangkan ilmu. Salah satunya adalah dosen yang sekaligus juga seorang pendidik dan ilmuwan.
Kedudukan Ilmuwan atau Ulama

1. Orang yang berkedudukan tinggi di sisi Allah.

Hal ini sebagaimana penegasan sekaligus janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ulama’ dalam firmannya yaitu QS. al Mujaddalah Ayat 11, artinya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat ahlul ilmi dan ahlul iman beberapa derajat, sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan kepada mereka (berupa ilmu dan iman).”

2. Orang Yang paling khasyyah/ Taqwa kepada Allah.

Sebagaimana dalam Q.S Fathir: 28 Allah memuji Ulama dengan firmannya yang berbunyi:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah memberikan gambaran akan kedudukan ulama’ sebagai pewarisnya yakni dalam hal khasyyahnya kepada Allah.

3. Orang yang paling peduli terhadap umat.
Firman Allah:

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Dalam Ayat ini sangat jelas kedudukan Ulama, sebagai Orang yang Sangat peduli Pada Umat, Karena Di dunia ini tiada Orang yang sangat getol mengumandangkan ‘Amar Ma’rur dan Nahi Mungkar selain para Ulama’.

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullahu berkata “Para Ulama itu lebih belas kasihan terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada bapak-bapak dan ibu-ibu mereka.” Ditanyakan kepadanya: “Bagaimana demikian?” Dia menjawab: “Bapak-bapak dan ibu-ibu mereka menjaga mereka dari api di dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka dari api di akhirat.

4. Ulama’ adalah rujukan umat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar.

Allah SWT berfirman, artinya: “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. al-Anbiya’: 7)

Ini adalah pelajaran adab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya tentang sikap dan perbuatan mereka yang tidak pantas. Seharusnya, apabila datang kepada mereka berita penting yang terkait dengan kepentingan umat, seperti berita keamanan dan hal-hal yang menggembirakan orang-orang yang beriman, atau berita yang mengkhawatirkan/ menakutkan, yang di dalamnya ada musibah yang menimpa sebagian mereka, hendaknya mereka memperjelas terlebih dahulu akan kebenarannya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Namun hendaknya mereka mengembalikan hal itu kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (semasa beliau masih hidup) dan kepada ulil amri, yaitu orang yang ahli berpendapat, ahli nasihat, yang berakal (para ulama). Mereka adalah orang-orang yang paham terhadap berbagai permasalahan dan memahami sisi-sisi kebaikannya bagi umat, sekaligus mengetahui hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka. Apabila mereka melihat sisi kebaikan, motivasi yang baik bagi orang-orang yang beriman dan menggembirakan mereka bila berita tersebut disebarkan, atau akan menumbuhkan kewaspadaan mereka terhadap musuh-musuhnya, tentu mereka akan menyebarkannya (atau memerintahkan untuk menyebarkan).Apabila mereka melihat (disebarkannya berita tersebut) tidak mengandung kebaikan, atau dampak negatifnya lebih besar, maka mereka tidak akan menyebarkannya.

Selain Kedudukan Ulama sebagaimana penjelasan ayat dan hadis di atas, kedudukan mereka dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus.

Oleh karena itu, ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabbnya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok mapapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq Al-Ulama mengatakan:

Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lambang sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh syaithan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Dan bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.

Dari ucapan Al-Imam Al-Ajurri di atas jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada mereka serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka, Orang yang paling peduli terhadap umat.

Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. al Mujadalah: 11), artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Tanggung Jawab Seorang Ilmuan

a. Tanggung Jawab Seorang Ilmuan Dalam Perspektif Agama Islam

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang ilmuwan muslim mempunyai tanggung jawab, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas ilmu yang dimilikinya. Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang umurnya; dalam hal apa ia menghabiskannya, tentang ilmunya; dalam hal apa ia berbuat, tentang hartanya; dari mana ia mendapatkannya dan dalam hal apa ia membelanjakannya, dan tentang pisiknya; dalam hal apa ia mempergunakannya”. (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata: “Ini hadits hasan shahih”, hadits no. 2417).

Bagaimana cara mempertanggungjawabkan ilmu? DR. Yususf Al-Qaradawi menjelaskan ada tujuh sisi tanggung jawab seorang ilmuwan muslim, yaitu:

1 – مَسْؤُوْلٌ عَنْ صِيَانَتِهِ وَحِفْظِهِ حَتَّى يَبْقَى،
2 – وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ تَعْمِيْقِهِ وَتَحْقِيْقِهِ حَتَّى يَرْقَى،
3 – وَمَسْؤُوْلٌ عَنِ الْعَمَلِ بِهِ حَتَّى يُثْمِرَ،
4 – وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ تَعْلِيْمِهِ لِمَنْ يَطْلُبُهُ حَتَّى يَزْكُوَ،
5 – وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ بَثِّهِ وَنَشْرِهِ حَتَّى يَعُمَّ نَفْعُهُ،
6 – وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ إِعْدَادِ مَنْ يَرِثُهُ وَيَحْمِلُهُ حَتَّى يَدُوْمَ اِتِّصَالُ حَلَقَاتِهِ، وَقَبْلَ ذَلِكَ كُلِّهِ :
7 – مَسْؤُوْلٌ عَنْ إِخْلَاصِهِ فِيْ عِلْمِهِ للهِ حَتَّى يَقْبَلَهُ مِنْهُ.
1. Bertanggung jawab dalam hal memelihara dan menjaga ilmu, agar ilmu tetap ada (tidak hilang),
2. Bertanggung jawab dalam hal memperdalam dan meraih hakekatnya, agar ilmu itu menjadi meningkat,
3. Bertanggung jawab dalam mengamalkannya, agar ilmu itu berbuah,
4. Bertanggung jawab dalam mengajarkannya kepada orang yang mencarinya, agar ilmu itu menjadi bersih (terbayar zakatnya),
5.Bertanggung jawab dalam menyebarluaskan dan mempublikasikannya agar manfaat ilmu itu semakin luas,
6. Bertanggung jawab dalam menyiapkan generasi yang akan mewarisi dan memikulkan agar mata rantai ilmu tidak terputus, lalu, terutama, bahkan pertama sekali
7. Bertanggung jawab dalam mengikhlaskan ilmunya untuk Allah SWT semata, agar ilmu itu diterima oleh Allah SWT.

3. Fungsi Akal Fikiran

Menurut Yan S, Prasetiadi, M.Ag , kata ‘akal’ berasal dari bahasa Arab: al-’aql. Arti kata ‘akal’ sama dengan al-idrâk dan al-fikr. Semuanya mutâradif atau sinonim. Akal adalah khâshiyyât (keistimewaan) yang diberikan Allah swt kepada manusia, yang merupakan khâshiyyât otak manusia. Sebab otak manusia mempunyai keistimewaan untuk mengaitkan realitas yang diindera dengan informasi (asosiasi).
Akal sesungguhnya merupakan kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang suatu. Kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia, seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak, lalu disimpulkan bahwa akal tempatnya ada di kepala. Tentu kesimpulan ini salah.
Setelah ditelaah secara mendalam dapat ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan tadi terbentuk dari empat komponen (realitas terindra, panca indra, otak sehat, dan informasi sebelumnya). Dari keempat komponen inilah kemudian menghasilkan apa yang disebut akal.
Adapun proses kerja komponen tersebut sampai menghasilkan kekuatan yang disebut akal, adalah dengan memindahkan realitas yang telah diindera ke dalam otak melalui alat indera yang ada, dan dengan maklumat (informasi) awal yang ada di dalam otak, realitas tersebut disimpulkan. Pada saat itulah terbentuklah kekuatan untuk menyimpulkan realitas. Inilah esensi akal manusia.
Dengan mengetahui dan memahami hakikat akal atau pikiran, maka manusia mampu berpikir secara produktif dan proporsional. Manusia menjadi tahu mana yang perlu dipikirkan dan mana yang khayalan, sesuatu yang bisa dipikirkan adalah jika memenuhi empat komponen akal (realitas, panca indra, otak sehat dan informasi awal), jika hilang salah satu saja, maka yang terjadi adalah berkhayal.
Dengan ini, dapat dimengerti begitu pentingnya peran akal, sebagai salah satu potensi manusia dalam mengatur dan mengontrol pemenuhan potensi kehidupan (kebutuhan jasmani dan naluri) manusia, agar berjalan dengan baik, sehingga manusia tidak sama dengan binatang. Dengan catatan akalnya selalu dikaitkan dengan kaidah berpikir Islam, sehingga memiliki kepribadian Islam.
Kami telah menjadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai hati (akal), tetapi tidak digunakan untuk berfikir. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih hina lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’râf [7]: 179).
Ayat ini menjelaskan adanya persamaan antara manusia dan jin dengan hewan; ketika manusia dan jin sama-sama diberi akal, pendengaran dan penglihatan, namun tidak digunakan untuk berpikir, mendengar dan melihat realitas, maka mereka sama dengan hewan.
Menurut Wikipedia Akal merupakan suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.
Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama.
Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini.
Akal juga bisa berarti jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, dan ikhtiar. Akal juga mempunyai konotasi negatif sebagai alat untuk melakukan tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan.
Akal fikiran tidak hanya digunakan untuk sekedar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang asal-usul, alam dan masa yang akan datang. Kemampuan berfikir mengantarkan pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini.
Mushlihah Purwo Saputri , menurut Sri Utami (1992 :30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisinya dari hal-hal yang khusus atau atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkai konsep-konsep. Pikiran adalah proses pengolahan stimulus yang berlangsung dalam domain representasi utama. Proses tersebut dapat dikategorikan sebagai proses perhitungan (computational process).
Proses berpikir dilalui dengan tiga langkah yaitu: pembentukan pikiran, pembentukan pendapat, penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan.
Pertama, yaitu pada pembentukan pikiran. Pada pembentukan pikiran inilah manusia menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia.
Kedua, yakni pada pembentukan pendapat. Pada pembentukan pendapat ini seseorang meletakkan hubungan antara dua buah pengertin atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat. Pembentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu pendapat afirmatif atau pendapat positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal, pendapat negatif yaitu pendapat yang tidak menyetujui, dan pendapat modalitas yaitu pendapat yang memungkinkan sesuatu.
Ketiga, pada penarikan kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan ini melahirkan tiga macam kesimpulan, yaitu keputusan induktif, deduktif, dan analogis ( perbandingan).
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.
Fungsi Dan Kedudukan Akal Dan Wahyu
Al-quran juga memberikan tuntunan tentang penggunaan akal dengan mengadakan pembagian tugas dan wilayah kerja pikiran dan qalbu. Daya pikir manusia menjangkau wilayah fisik dari masalah-masalah yang relatif, sedangkan qalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang bersifat metafisik dan mutlak. Oleh karenanya dalam hubungan dengan upaya memahami islam, akal memiliki kedudukan dan fungsi yang lain yaitu sebagai berikut:
1. Akal sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah Rosul, dimana keduanya adalah sumber utama ajaran islam.
2. Akal merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksut-maksut yang tercakup dalam pengertian al-Qur’an dan Sunnah Rosul.
3. Akal juga berfungsi sebagai alat yang dapat menangkap pesan dan nsemangat al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihat.
4. Akal juga berfungsi untuk menjabarkan pesan-pesan al-Quran dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumi seisinya.
Namun demikian, bagaimana pun hasil akhir pencapaian akal tetaplah relatif dan tentatif. Untuk itu, diperlukan adanya koreksi, perubahan dan penyempurnaan teru-menerus.
Adapun wahyu dalam hal ini yang dapat dipahami sebagai wahyu langsunng (al-Qur’an) ataupun wahyu yang tidak langsung (al-Sunnah), kedua-duanya memiliki fungsi dan kedudukan yang sama meski tingkat akurasinya berbeda karena disebabkan oleh proses pembukuan dan pembakuannya. Kalau al-Qur’an langsung ditulis semasa wahyu itu diturunkan dan dibukukan di masa awal islam, hanya beberapa waktu setelah Rosul Allah wafat (masa Khalifah Abu Bakar), sedangkan al-hadis atau al-Sunnah baru dibukukan pada abat kedua hijrah (masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz), oleh karena itu fungsi dan kedudukan wahyu dalam memahami Islam adalah:
Wahyu sebagai dasar dan sumber pokok ajaran Islam. Seluruh pemahaman dan pengamalan ajaran Islam harus dirujukan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pemahaman dan penngamalan ajaran Islam tanpa merujuk pada al-quran dan al-sunnah adalah omong kosong.
Wahyu sebagai landasan etik. Karena wahyu itu akan difungsikan biala akal difungsikan untuk memahami, maka akal sebagai alat untuk memahami islam (wahyu) harus dibimbinng oleh wahyu itu sendiri agar hasil pemahamannya benar dan pengamalannya pun menjadi benar. Akal tidal boleh menyimpang dari prinsip etik yang diajarkan oleh wahyu.
Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti cahaya terhadap indera penglihatan manusia.. Oleh karena itulah, Alloh SWT menurunkan wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat. Di dalam keterbatasannya-lah akal manusia menjadi mulia. Sebaliknya, ketika ia melampaui batasnya dan menolak mengikuti bimbingan wahyu maka ia akan tersesat.
Meletakkan akal dan wahyu secara fungsional akan lebih tepat dibandingkan struktural, karena bagaimanapun juga akal memiliki fungsi sebagai alat untuk memahami wahyu, dan wahyu untuk dapat dijadikan petunjuk dan pedoman kehidupan manusia harus melibatkan akal untuk memahami dan menjabarkan secara praktis. Manusian diciptakan oleh tuhan dengan tujuan ang jelas, yakni sebagai hamba Allah dan khalifah Allah, dan untuk mencapai tujuan tersebut manusia dibekali akal dan wahyu.

4. Pentingnya Teori dan Penelitian dalam Ilmu Pengetahuan

Menurut Staf Master Jurnal secara umum, teori didefinisikan sebagai seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi, digunakan untuk menjelaskan suatu gejala atau fenomena tertentu. Dengan demikian, teori memiliki tiga fungsi dalam penelitian ilmiah, yaitu explanation, prediction, dan control atau pengendalian terhadap suatu gejala.
Dalam konteks ilmiah, suatu teori berfungsi:
1. Memperjelas dan mempertajam ruang lingkup variabel.
2. Memprediksi dan memandu untuk menemukan fakta untuk kemudian dipakai guna mermuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian. Mengapa? Sebab pada dasarnya, hipotesis merupakan pernyataan yang bersifat prediktif, bukan deskriptif.
3. Mengontrol, membahas hasil penelitian, untuk kemudian dipakai dalam memberikan saran.
Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metode dan konteks pengetahuan tersebut. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta.

Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara sementara dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian, penyelidikan eksperimental dan penemuan yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi, didukung oleh data.

Menurut Kerlinger “ A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaning and predicting the phenomena.”

Di dalam definisi ini terkandung tiga konsep penting. Pertama, suatu teori adalah satu set proposisi yang terdiri atas konsep-konsep yang berhubungan. Kedua, teori memperlihatkan hubungan antarvariabel atau antar konsep yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik tentang fenomena. Ketiga, teori haruslah menjelaskan variabelnya dan bagaimana variabel itu berhubungan.

Menurut Hall dan Lindsay “…..a theory is sat of conventions that should contain a cluster of relevant assumption systematically related to each other and a set of empirical definition. (dalam Nana Syaodih S, 2006)

Pendapat yang hampir sama juga di ungkapkan oleh Snow “in its simplest form, a theory is a symbolic instructions designed to bring generalizable fact (or laws)into systematic connection. It consist of : a) a set of units (fact, concept, variables), and b) a system of relationships among the units. (dalam Nana Syaodih S, 2006)

Pengertian teori menurut Marx dan Goodson ialah aturan menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena alamiah dan terdiri atas representasi simbolik dari (1) hubungan-hubungan yang dapat diamati diantara kejadian-kejadian (yang diukur), (2) mekanisme atau struktur yang diduga mendasari hubungan-hubungan demikian, dan (3) hubungan-hubungan yang disimpulkan serta mekanisme dasar yang dimaksudkan untuk data dan yang diamati tanpa adanya manifestasi hubungan empiris apa pun secara langsung.

Ismaun mengemukakan bahwa teori adalah pernyataan yang berisi kesimpulan tentang adanya keteraturan subtantif. Menemukan keteraturan itulah tugas ilmuwan, dan dengan kemampuan kreatif rekayasanya, ilmuwan dapat membangun keteraturan rekayasa. Keteraturan rekayasa ini dapat dibedakan dalam tiga keteraturan, yaitu : (1) keteraturan alam, (2) keteraturan kehidupan sosial manusia dan (3) keteraturan rekayasa teknologi.

Menurut Firdinata , salah satu fungsi penting teori adalah memberikan penjelasan tentang gejala-gejala, baik bersifat alamiah maupun bersifat sosial. Pemenuhan fungsi itu tidak hanya dilakukan dengan mengemukakan, melukiskan gejala-gejala, melainkan disertai dengan keterangan tentang gejala tersebut baik dengan membandingkan, menghubungkan, memilah-milah, atau mengkombinasikannya. Hal ini menegaskan bahwa fungsi teori adalah menjelaskan keterkaitan antara kajian teoritis dengan hal-hal yang sifatnya empiris.

Dalam penjelasan terhadap gejala-gejala, dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti melalui penjelasan logis, penjelasan sebab akibat, penjelasan final (menerangkan sebuah proses berdasarkan tujuan yang ingin dicapai), penjelasan fungsional (cara kerja), penjelasan historis atau genensis (berdasarkan terjadinya), serta melalui penjelasan analog (dengan menganalogkan melalui struktur-struktur yang lebih dikenal). Khusus dalam kaitan dengan penelitian atau pengembangan ilmu, fungsi teori adalah sebagai landasan dalam merumuskan hipotesis.

Teori adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Tetapi hal ini berlaku sebelum muncul teori baru yang dapat menumbangkan teori tersebut. Keyakinan terhadap kebenaran toeri ini menjadikan fungsi toeri adalah menjelaskan kebanaran dalam menerangkan suatu gejala yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, karena didukung oleh fakta-fakta empirik.

Karena itu pula, sekali teori telah dibangun dan diterima oleh kalangan ilmuwan dalam bidangnya, maka teori akan melaksanakan berbagai fungsinya. Fungsi teori dalam hal ini untuk mengantar sesorang kepada kepeduliannya untuk mengamati hubungan-hubungan yang terjadi, membantu dalam mengumpulkan dan menyusun data yang relevan, menjelaskan kebenaran operasional (mengarahkan kepada ramalan-ramalan yang dapat diuji dan diverifikasi), penggunaan istilah-istiah tertentu secara konsisten, dalam membangun metode-metode baru sesuai dengan situasi yang terjadi atau dalam mengevaluasi metode-metode yang telah dibangun sebelumnya, serta dalam membantu menjelaskan perilaku yang terjadi pada individu dan bagaimana cara-cara mengatasinya.

Fungsi Teori
Mengenai fungsi teori, secara rinci Littlejohn menyatakan 9 fungsi dari teori :
1. mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini bererti bahawa dalam mengamati realiti kita tidak boleh melakukan secara berasingan. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat digunakan sebagai rujukan atau dasar bagi kajian seterusnya.

2. memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.

3. menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.

4. pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.

5. membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi seperti perundingan dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, perhubungan awam dan media massa.

6. fungsi heuristik. Ertinya bahawa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Apakah suatu teori yang dibentuk ada potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu teori sangat terbuka untuk diperbaiki.

7. komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus diterbitkan, dibincangkan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka pengubahsuaian dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.

8. fungsi kawalan yang bersifat normatif. Andaian bahawa teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai pihak pengendali atau pengawall tingkah laku kehidupan manusia.

9. generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritik. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

Kedudukan Teori Dalam Penelitian Kuantitatif Dan Merumuskan Hipotesis

Menurut Syamsudin serero tujuan penelitian adalah menemukan teori. Hasil proses penelitian adalah teori. Teori membuat manusia mempunyai ilmu pengetahuan. Mencari teori-teori konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian merupakan langkah kedua setelah masalah penelitian dirumuskan. Setiap penelitian yang kita laksanakan haruslah berlandaskan pada teori yang sesuai dengan topik atau permasalahan yang kita teliti agar penelitian yang kita lakukan mempunyai dasar yang kuat dan tidak sekedar asal-asalan.
Penelitia kuantitatif mejadikan teori sebagai paduan arah penelitian. Dalam teori, peneliti kuatitatif mendalami variabel agar dapat melakukan pengumpulan data sehubungan dengan variabel da menemuka kerangka argumentasi uuk menjelaskan logika hubungan variabel-variabel. Oleh karena itu, dalam penelitian kuantitatif, teori menjadi titik tolak dan sekaligus tujuan.
Setiap penelitian selalu meggunakan teori. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi dan proporsi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematis dengan cara merumuska hubunga antar konsep (Kerlinger, 1973). Teori merupaka himpunan konsep, definisi, dan proporsi yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan yang dikemukakan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena (fakta-fakta) (Cooper & Emory, 1995).
Secara prinsip kedua Pengertian tersebut hampir sama, yakni bahwa teori mengandung tiga hal. (1) teori adalah serangkaian proporsi antar konsep yang saling berhubungan, (2) teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antar konsep, (3) teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya.
Labovitz dan Hagedorn juga menambahkan bahwa teori merupakan anggapan dasar (rationale) yang menentukan bagaimana dan mengapa variabel dan pernyataan-pernyataan relasional tertentu saling terkait. Misalnya, mengapa variabel bebas X (independent variable X) mempengaruhi atau berpengaruh terhadap variabel Y. Teori akan memberikan penjelasan mengenai prediksi tersebut. Dengan demikian, teori digunakan untuk menjelaskan sebuah model atau seperangkat konsep dan proposisi yang sesuai dengan kejadian yang sebenarnya atau sebagai dasar melakukan suatu tindakan yang terkait dengan sebuah peristiwa tertentu.
Merriam mengelompokkan teori kedalam tiga jenis. Pertama, Grounded Theory, menjelaskan kategori besar fenomena dan paling banyak ditemukan di ilmu pengetahuan alam. Kedua, Middle Range Theory, termasuk antara hipotesa pekerjaan kecil kehidupan sehari-hari dan teori besar secara keseluruhan. Ketiga, Substantive Theory, terbatas pada suatu masalah tertentu.
Esensi (inti) definisi teori ialah bahwa teori itu haruslah menjelaskan adanya hubungan antarvariabel yang satu dengan variable yang lain. Hubungan antarvariabel itu harus memperlihatkan sifat ilmiah teori yaitu sifat logis dan bukti empiris.oleh karena itu, suatu teori ilmiah harus menjelaskan hubungan logis antarvariabel dan hubungan logis tersebut harus dapat dibuktikan secara empiris.
Mark membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakann antara lain:
1. Teori yang deduktif, memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu kearah data akan diterangkan.
2. Teori yang induktif, cara menerangkan adalah dari data ke arah teori.
3. Teori yang fungsional, disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis.
Berdasarkan data tersebut di atas secara umum bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem Pengertian ini diperleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak ia bukan suatu teori.
Kedudukan Teori Dalam Penelitian Kuantitatif

Posisi teori dalam penelitian kuantitatif adalah menjadi faktor yang sangat penting dalam proses penelitian itu sendiri, teori digunakan untuk menuntun peneliti menemukan masalah, menemukan hipotesis, menemukan konsep-konsep, menemukan metodologi dan menemukan alat analisis data. Selain itu, teori juga digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.Penelitian kuantitatif meyederhanakan kompleksitas gejala degan mereduksi ke dalam ukuran yang dapat ditangani dan diukur. Ukuran dari gejala yang dapat ditangani dan diukur. Ukuran dari gejala yang ditangani dan diukur itu dikenal sebagai variabel.
Dalam penelitian kuantitatif variable dan hubungannya nampak dari rumusan masalahnya. Variable adalah hal pokok yang dipersoalkan dalam penelitian kuantitatif. Seluruh kegiatan penelitian, termasuk dalam pengembangan teori, akan memusatkan pengkajiannya terhadap variable. Oleh karenanya teori yang dikembangkan dalam penelitian kuantitatif adalah mengenai variable dan hubungannya. Teori aka memandu ke arah pengumpulan data variable dan perumusan dugaan sementara jawaban atas pertanyaan penelitian yang merupakan hubungan variabel.
Dalam penelitian kuantitatif, teori dikembangkan sebagai usaha mencari jawaban pertanyaan penelitian. Usaha pencarian jawaban pertanyaan penelitian dengan mengembangkan teori akan menghasilkan dua hal. Pertama, teori memberikan pemahaman terhadap variabel-variabel yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Pemahaman terhadap variabel-variabel diperluka sebagai panduan untuk mengumpulkan data. Data-data tentang variabel kemudian akan digunakan untuk melakukan pembuktian secara empirik atas kebenaran dari hipotetik teori. Jawaban pertanyaan penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengujian meggunakan data-data empirik akan mengkonfirmasi kebenaran hipoteik teori dengan pembuktian empiris. Kedua, pengembangan teori diperlukan untuk memperoleh panduan dalam pengujian dengan mengajukan hipotesa yang kebenarannya tenatif dan berlaku pada tingkat teoritik. Kebenaran sementara yang diajukan dalam pernyataan hipotesis itu kemudian akan diuji meggunakan data yang dikumpulkan secara empiris. Kebenaran manusia tidak pernah merupakan kebenaran mutlak.
Tiap penemuan akan disusul dengan satu batas ketidaktahuan baru. Bila batas itu diatasi maka ilmuwan akan menemukan ketidaktahun baru yang lebih tinggi. Pencarian kebenaran tidak akan berakhir. Tidak ada masalah yang dapat diselesaikan dengan tuntas. Tindakan yang terbaik adalah mendapatkan kesimpulan sementara didasarkan pada teori (Jasin, 1987). Kedudukan teori sebagai sumber hipotesis dan panduan pengumpul data.
Teori sebagai sumber hipotesis

Dalam penelitian kuantitatif, teori mejadi sumber bagi pengajuan hipotesis. Teori menjadi premis-premis dasar yang menjadi landasan penyusunan kerangka berpikir. Kerangka berpikir menjadi landasan bagi peneliti untuk mengajukan dugaan kebenaran hipoesis. Kebenaran hipotesis masih bersifat dugaan yang masih harus diuji dengan menggunakan data-data empiris. Hipotesis merupakan kebenaran pada tingkat teori yang sementara diterima sambil menunggu dilakukan pegujian data-data yang dikumpulkan. Hipotesis dugaan diajukan berdasarkan argumentasi kebenaran yang dibangun dalam keragka berpikir merupakan kesimpulan kebenaran yang ditarik secara logis dari teori-teori sebagai premis. Dalam hubungan ini maka dapat dikatakan bahwa teori merupakan sumber hipotesis.
Teori sebagai panduan pegumpul data

Teori merupakan paduan dalam pengumpulan data. Pemanduan pengumpulan data dilakukan dengan mengarahkan pada pengembangan instrument alat ukur yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam mengarahkan pengembangan alat ukur, teori membantu memberika definisi mengenai variabel yang hendak dikumpulkan datanya.
Definisi konsep dilakukan dengan memindahkan teori ke dalam bangunan konsep yang digunakan dalam penelitian. Untuk kepentingan pengukuran, definisi konsep diubah mejadi definisi operasional sehingga indikator perilaku yang mecerminkan kepemilikan variabel telah nampak. Kisi-kisi instrument dirancang sesuai dengan definisi operasional. Kisi-kisi instrumen merupakan perencanaan untuk penyusunan butir-butir instrumen alat ukur.
Butir-butir instrumen yang akan menjadi alat ukur pengumpulan data dituliskan berdasarkan kisi-kisi instrumen. Sebelum butir-butir instrument alat ukur digunakan untuk megumpulka data., dilakukan terlebih dahulu uji coba untuk melihat mutunya. Selanjutnya data dikumpulkan dengan cara melakukan pengukuran dengan menggunakan butir-butir instrument alat ukur yang telah dituliskan dan diuji coba.
Misalnya : sebuah penelitian dilakukan untuk melihat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar. Penelitian melibatkan dua variabel yaitu motivasi belajar dan prestasi belajar, sehingga pengukuran pengumpulan data dilakukan atas kedua variabel

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teori mengarahka pengumpulan data dengan cara memberikan definisi yang jelas mengenai variabel yang hendak diukur, baik berupa definisi konseptual maupun operasional.
C. Deskripsi Teori
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Teori yangdigunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang, pendapat penguasa, tetapi teori yang betul-betul telah teruji kebenarannya secara empiris. Jumlah kelompok teori yang perlu dideskripsikan tergantung pada luasnya permasalahan dan pada jumlah variable yang diteliti.
Kalau variable yang diteliti ada enam, maka jumlah teori yang dikemukakan juga ada enam. Deskripsi teori berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabelyang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Pendeskripsian teori akan memberikan gambaran apakah peneliti menguasai teori dan kontek yang diteliti atau tidak. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
1. Tetapkan nama variable yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedi, journal ilmiah, laporan penelitian, Skripsi, Tesis, Disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti.
3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti (untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sample sumber data, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan saran yang diberikan).
4. Cari definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variable yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkandan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber kedalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
Merumuskan Hipotesis

1. Pengertian hipotesis
Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan semnatara dari suatu fakta yang dapat diamati. Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel.
Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis.
Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap dua hal yakni :
a. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
b. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).
Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain :
a. Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
b. Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada ,memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
c. Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.
d. Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan , maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian.
G.E.R brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :
a. Penelitian menghitung banyaknya sesuatu
b. Penelitian tentang perbedaan
c. Penelitian hubungan.
2. Kegunaan hipotesis
Kegunaan hipotesis antara lain:
1) Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2) Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
3) Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
4) Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan

3. Jenis-jenis hipotesis
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain :
1) Hipotesis kerja atau alternatif ,disingkat Ha, hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Rumusan hipotesis kerja
a) Jika… Maka…
b) Ada perbedaan antara… Dan… Dalam…
c) Ada pengaruh… Terhadap…
2) Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.
Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y
Rumusannya:
a) Tidak ada perbedaan antara… Dengan… Dalam…
b) Tidak ada pengaruh… terhadap…
Saran untuk memperoleh hipotesis:
1. Hipotesis induktif
Dalam prosedur induktif, penelitian merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati
2. Hipotesis deduktif
Dalam hipotesis ini, peneliti dapat memulai penyelidikan dengan memilih salah satu teori yang ada dibidang yang menarik minatnya,setelah teori dipilih, ia lalu menarik hipotesis dari teori ini.
4. Menggali dan merumuskan hipotesis
Dalam menggali hipotesis, peneliti harus :[9]
1) Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
2) Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
3) Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuaia dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Good dan scates memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis :
1) Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
2) Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
3) Imajinasi dan angan-angan
4) Materi bacaan dan literatur
5) Pengetahuan kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
6) Data yang tersedia
7) kesamaan.
Sebagai kesimpulan , maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut :
1) Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik
2) Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaraif dan berbentuk pernyataan.
5. Menguji hipotesis
Sesudah hipotesis dirumuskan , hipotesis tersebut kemudian diuji secara empiris dan tes logika. Untuk menguji suatu hipotesis ,peneliti harus :[10]
1) Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
2) Memilih metode-metode penelitian yang mungkin pengamatan , eksperimental, atau prosedur lain yang diperlakukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.
3) Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.
Teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem Pengertian ini diperleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak ia bukan suatu teori.
Kedudukan teori sebagai sumber hipotesis dan panduan pengumpul data. Dalam penelitian kuantitatif, teori mejadi sumber bagi pengajuan hipotesis. Teori menjadi premis-premis dasar yang menjadi landasan penyusunan kerangka berpikir. Kerangka berpikir menjadi landasan bagi peneliti untuk mengajukan dugaan kebenaran hipotesis.
Hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Dalam merumuskan hipotesis, peneliti harus 1) mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.2) mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.3) mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
Manfaat Penelitian

Menurut Chy Ana , penelitian atau yang biasa dikenal dengan sebutan riset atau study merupakan sebuah kegiatan investigasi yang dilakukan secara sistematis dan aktif guna menemukan, menyelidiki, maupun merevisi adanya kebenaran dari suatu fakta.
Secara harfiah, penelitian didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyelidikan terhadap suatu masalah atau fakta yang dilakukan secara tuntas. Atau dengan kata lain, penelitian merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai usaha untuk memecahkan suatu masalah.
Tujuan dari sebuah penelitian adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu kejadian, peristiwa, teori, hukum, dan hal-hal lainnya sehingga dapat membuka peluang untuk lebih menerapkan pengetahuan tersebut.
Tujuan dari sebuah penelitian

Antara lain adalah :
1. Tujuan operasional
Tujuan operasional dari sebuah penelitian adalah untuk dapat mengidentifikasi suatu masalah yang sedang terjadi agar nantinya didapat sebuah jawaban yang tepat dari masalah tersebut.
2. Tujuan fungsional
Suatu penelitian dilakukan untuk mendapatkan hasil yang nantinya dapat dimanfaatkan atau digunakan dalam mengambil keputusan atau kebijakan-kebijakan.
3. Tujuan individual
Suatu penelitian dilakukan untuk menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, penenalan, dan pemahaman dari sebuah informasi atau fakta yang terjadi.
Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah penelitian antara lain adalah :
1. Dapat mengidentifikasi suatu masalah atau fakta secara sistematik
Penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dalam memecahkan suatu masalah baik, bagi para peneliti maupun orang-orang atau instansi yang menerapkan hasil penelitian tersebut.
2. Dapat mengetahui sistem kerja objekt yang diteliti
Manfaat penelitian bagi peneliti yang dilakukan terhadap suatu objek, kita dapat mengetahui dengan jelas bagaimanakah sistem kerja dari object-object yang menjadi sample penelitian. Dengan demikian, akan dapat memudahkan sistem operasional dari object tersebut.
3. Menambah keyakinan dalam pemecahan suatu masalah
Hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan akan sangat membantu dalam menentukkan kebijakan-kebijakan atau keputusan, yang nantinya akan diambil dalam menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi.
4. Meningkatkan hubungan kerjasama antar team
Penelitian yang dilakukan secara berkelompok tentu saja dapat mempererat kerjasama antar sesama anggota dari team tersebut. Setiap anggota memiliki peranan yang saling terkait dengan anggota lainnya, sehingga akan tercipta rasa bahu-membahu dalam menyelesaikan penelitian tersebut.
5. Melatih dalam bertanggung jawab
Hasil dari sebuah penelitian nantinya harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, agar hasil tersebut dapat bermanfaat bagi yang lainnya. Untuk itu para peneliti harus bekerja keras agar hasil dari penelitian mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.
6. Dapat memberikan rekomendasi tentang kebijakan suatu program
Manfaat penelitian bagi masyarakat dapat membantu untuk memberikan rekomendasi bagi suatu kebijakan, program yang dicanangkan oleh sebuah dinas atau instansi maupun kelompok masyarakat. Dimana hal tersebut dapat meningkatkan kinerja dari para pelaksana program.
Mereka akan lebih yakin untuk bekerja karena telah ada bukti-bukti yang menjurus pada program yang sedang dilaksanakan.
7. Menambah wawasan dan pengalaman
Dengan adanya sebuah penelitian, diharapkan mampu menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi para peneliti sendiri maupun bagi yang lainnya.
Karakteristik Penelitian

Ada delapan karakteristik utama dari sebuah penelitian, yaitu :
1. Tujuan
Sebuah penelitian yang dilakukan tentu saja memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk menemukan pemecahan dari suatu permasalahan atau fakta-fakta. Meskipun tidak dapat memberikan jawaban secara lansung dari permasalahan atau fakta yang di investigasi, namun hasil dari sebuah penelitian nantinya harus dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah atau fakta tersebut. Tujuan dari sebuah penelitian harus lebih dari sekedar menunjukkan perbedaan yang ada diantara subject yang menjadi contoh atau sample penelitian.
2. Keseriusan
Penelitian harus dilakukan dengan hati-hati, serius, pasti, dan penuh ketelitian. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya teori dasar serta rancangan penelitian agar faktor keseriusan dalam sebuah penelitian juga dapat dikembangkan. Selain itu, perlu adanya jumlah sample yang cukup, metode yang benar, serta daftar pertanyaan yang tersusun secara sitematis.
3. Dapat diuji
Dengan adanya pengujian dari hasil hipotesis yang dilakukan oleh lembaga yang telah berpengalaman berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka akan dapat ditentukan apakah hasil penelitian tersebut bisa diterima ataukah ditolak.
4. Dapat direplikasikan
Uji hipotesis mencerminkan hasil dari sebuah penelitian. Apabila penelitian dari suatu kejadian telah dilakukan secara berulang-ulang sebelumnya dalam kondisi yang sama, maka uji hipotesis penelitian tersebut juga harus didukung oleh kejadian yang sama. Dengan demikian hasil penelitian tersebut dapat diterima bukan karena alasan kebetulan semata.
5. Presisi dan keyakinan
Presisi dari sebuah penelitian harus dapat menunjukkan kedekatan penemuan dengan realita yang ada, yaitu sesuai dengan sample yang telah diambil. Sedangkan keyakinan harus dapat menunjukkan kemungkinan kebenaran estimasi yang telah dilakukan. Yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian adalah merancang penelitian tersebut sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat mendekati kebenaran dan dapat diyakini.
6. Objectivitas
Kesimpulan yang diambil dari sebuah penelitian harus didasarkan pada fakta-fakta yang berasal dari data aktual yang diambil. Sehingga kesimpulan tersebut dapat dikatana objective, karena tidak hanya berdasarkan pada penilaian atau emosianal semata.
7. Berlaku untuk umum
Pada saat area penerapan dari hasil penelitian semakin luas, hal tersebut dapat menandakan bahwa penelitian yang dilakukan membawa manfaat bagi siapa saja yang menggunakannya. Dengan kata lain semakin banyak hasil penelitian tersebut digunakan, maka akan semakin berguna hasil dari penelitian tersebut.
8. Efisien
Efisiensi sebuah penelitian dapat dicapai apabila kerangka dari penelitian yang telah dibangun mampu memberikan penjelasan dari suatu kejadian meskipun hanya menggunakan sedikit variabel. Dengan kata lain, meskipun penjelasan atas gejala-gejala maupun tindakan pemecahan masalah dilakukan secara sederhana namun hal tersebut akan lebih disukai daripada adanya kerangka penelitian yang lebih kompleks dengan sejumlah variabel yang ternyata sulit untuk dikelola.

5. Teori Kehancuran Suatu Bangsa

Tanda Arah Kehancuran Suatu Bangsa
Dr. Thomas Lickona adalah seorang psikolog dan seorang professor pendidikan di State University of New York at Cortland. Ia merupakan Mantan presiden Asosiasi Pendidikan Moral, anggota Dewan untuk Karakter Kemitraan Pendidikan, dan penulis delapan buku tentang pengembangan karakter, ia berbicara di seluruh dunia pada pengembangan nilai-nilai moral dan pengembangan karakter.
Menurut Dr. Thomas Lickona bahwa ada 10 tanda dari perilaku manusia yang menunjukan Arah Kehancuran Suatu Bangsa, yaitu:
1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2. Ketidak jujuran yang membudaya
3. Semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figure pemimpin.
4. Pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan,
5. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian,
6. Penggunaan bahasa yang memburuk,
7. Penurunan etos kerja,
8. Menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara,
9. Meningginya perilaku merusak diri,
10. Semakin kaburnya pedoman moral.
Apa yang harus dilakukan jika semua hal tersebut ada di Bangsa Kita? Mampukah kita mengembalikan citra Bangsa menjadi bangsa yang maju, penuh damai, nilai ketidak kejujuran tidak membudaya, menjadikan pemimpin orang yang dipercaya dan patut dicontoh, meningkatnya etos kerja yang tidak semata-mata hanya diperbudak oleh uang dan jabatan.
Teori Kehancuran Bangsa Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an banyak menuturkan kisah-kisah umat masa lalu . Di antara mereka ada yang sudah musnah ditelan masa tetapi juga banyak yang masih bisa dilacak peninggalan sejarahnya. Namun begitu, penuturan kisah-kisah tersebut bukan sekedar untuk mengungkap dimensi kesejarahannya; akan tetapi untuk dijadikan ‘ibrah (peringatan atau pelajaran) bagi umat-umat setelahnya.

Paling tidak, ada empat bangsa yang dianggap cukup maju baik secara teknologi maupun kemapanan ekonomi. Misalnya, kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud as.) yang digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai bangsa yang sudah maju yang belum pernah ada sebelumnya. Begitu juga kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh as.), mereka memiliki keahlian untuk memahat gunung-gunung cadas, baik untuk hiasan semacam relief-relief maupun untuk tempat tinggal dengan arsitektur yang cukup mengagumkan untuk ukuran saat itu. Bahkan, mungkin sampai saat ini. Kemudian bangsa Madyan (kaum Nabi Syu’aib as.), mereka hidup di kawasan yang subur dan memiliki dua keahlian yang sangat menonjol, yaitu berdagang dan bercocok tanam, yang memungkinkan mereka bisa maju secara ekonomi. Dan terakhir adalah bangsa Mesir, yang dipimpin oleh seorang Raja, yang dikenal dengan Fir’aun. Fir’aun memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat besar dan kuat. Ia menguasai tanah Mesir dan hajat hidup rakyat Mesir.

Namun, keempat bangsa besar di atas pada akhirnya dihancurkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Al-Qur’an menyebut mereka sebagai bangsa yang kafir, zalim, fasik, dan kizb (mendustakan kebesaran Allah SWT). Sepintas pernyataan Al-Qur’an tersebut mengarah kepada kesalahan teologis. Maksudnya, mereka dihancurkan karena secara teologis, akidah mereka berbeda dengan akidah para Rasul. Namun, menurut Imam al-Razi, seorang mufasir ensiklopedis, bahwa sebab-sebab kehancuran mereka bukan bersifat teologis, tetapi bersifat sosiologis. Misalnya kaum ‘Ad disebabkan oleh keangkuhan intelektual yang sudah membudaya; kaum Tsamud disebabkan oleh budaya hedonistic; bangsa Madyan disebabkan oleh kecurangan dalam berbisnis (kejahtan ekonomi); sedangkan Fir’aun disebabkan oleh arogansi kekuasaan sehingga cenderung bersikap tiranik dan menindas. Atau dengan istilah lain, Allah akan mengabaikan kebenaran akidah jika tidak tercermin didalam realitas sosialnya.

Namun, ada hal penting yang perlu diungkap dibalik kehancuran bangsa itu? Memang benar, bahwa kehacuran bangsa itu disebabkan oleh kezaliman yang sudah membudaya. Namun, hal itu bukan berarti setiap penduduk melakukan kezaliman, tetapi pada mulanya dilakukan oleh sebagian saja. Hanya saja, yang sebagian itu menjadi kelompok dominan di masyarakat. Kelompok inilah yang berpotensi menciptakan budaya-budaya buruk ditengah-tengah masyarakat. Ini bisa dipahami dari firman Allah :

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (mutraf) di negeri itu (supaya mena’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapya perkataan (ketentuan Kami), kemudian KAmi hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isr 17:16).

Ayat di atas bukan sekedar memaparkan hancurnya sebuah bangsa tertantu yang ada pada masa lalu, tetapi ayat ini merupakan bisa dipahami sebagai teori umum tentang kehancuran bangsa. Dalam hal ini, Al-Qur’an secara khusus menyebutkan kata mutraf yang oleh para pakar dipahami sebagai orang yang cenderung berlaku seenaknya dan berfoya-foya disebabkan kemewahan dan kemegahan yang dimiliki. Mereka juga merupakan kelompok yang mudah melupakan nilai-nilai kemasyarakatan, melecehkan ajaran-ajaran agama; bahkan, menindas orang-orang yang lemah. Mereka terbiasa “menikmati” perilaku dosanya tanpa merasa bersalah.

Dari gambaran diatas bisa dipahami bahwa mutraf adalah orang-orang yang memiliki “sesuatu” yang berpotensi melahirkan penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut. Dan, “sesuatu” yang dimaksud adalah harta dan kekuasaan. Sebab, kedua hal inilah yang paling dipercaya memiliki pengaruh kuat bagi kehidupan masyarakat. Jika demikian, maka kata mutraf dapat diidentifikasi sebagai kelompok yang menguasai ekonomi (elit ekonomi) dan pemegang kekuasaan (elit penguasa/politik). Hal ini cukup logis, sebab kedua kelompok tersebut pada kenyataannya paling berpotensi menciptakan budaya-budaya buruk bagi masyarakat, sekaligus berpotensi melakukan ketidakadilan, penindasan, dan penyelewengan.

Hubungan rasional antara kelompok mutraf dan eksistensi bangsa dijelaskan oleh Maheruddin Shiddiqi, sarjana Muslim dari Pakistan : “Ketika masyarakat terbiasa hidup mewah dan dikelilingi dengan kemewahan, mereka akan terbiasa memperoleh kemudahan dan kesenangan, yang selanjutnya cenderung mengendurkan kontrol spiritual dan disiplin sosialnya. Longgarnya kontrol ini akan mengakibatkan mereka mudah melakukan ketidakadilan dan tidak berperikemanusiaan terhadap hak-hak orang-orang lemah dan tidak berdaya”.

Secara ilustratif, dijelaskan oleh Quraish Shihab, “Apabila penguasa suatu negeri hidup berfoya-foya, maka ini akan menjadikan mereka melupakan tugas-tugasnya serta mengabaikan hak-hak orang kebanyakan, membiarkan mereka hidup miskin. Inilah yang mengundang kecemburuan sosial, sehingga merenggangkan hubungan masyarakat dan mengakibatkan timbulnya perselisihan dan pertikaian yang melemahkan sendi-sendi bangunan masyarakat, yang pada gilirannya meruntuhkan sistem yang diterapkan oleh penguasa-penguasa tersebut. Ketika itulah akan runtuh dan hancur masyarakat atau negeri tersebut”.

Atau secara logis, dijelakan oleh Imam al-Razi, “Ketika seseorang mendapat berbagai kenikmatan, melebihi yang lain, maka sudah sewajarnya jika ia lebih dituntut untuk bersyukur kepada Allah. Ketika perilaku mereka justru semakin buruk dari hari ke hari; sementara Allah SWT. masih terus memeberinya nikmat, maka wajar saja jika mereka layak dibinasakan. Namun begitu, bukan berarti Islam melarang manusia untuk menikmati kesenangan-kesenangan yang wajar. Yang ditentang oleh Islam adalah ketika kenikmatan itu menjadikan dirinya tidak mau lagi menjalani reksiko dan berkorban demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia.

Di samping mutraf, sebenarnya masih ada kelompok lain yang bisa diidentifikasikan memiliki peran yang cukup signifikan dalam kehancuran bangsa, yaitu mala’. Di dalam Al-Qur’an, kata mala’ disebutkan sebanya 30 kali. Mala’ adalah kelompok yang dpandang mulia oleh masyarakat. Mereka dipenuhi oleh kebanggaan dan kebesaran. Al-Qur’an menggambarkan mala’ sebagai kelompok yang berada di sekeliling penguasa. Memang tidak semua mala’ itu buruk, namun kecenderungan kelompok mala’ dinyatakan oleh Al-Qur’an sebagai kelompok yang senantiasa “menjilat” sang penguasa. Bahkan, demi memuaskan nafsu serakahnya, mereka tidak segan-segan melakukan cara-cara kotor, provokatif, dan intimidatif. Mereka pun berupaya keras untuk menghalangi tegaknya kebenaran dan keadilan. Dan untuk mewujudkan tujuan tersebut, mereka tidak segan-segan melontarkan tuduhan yang nista dan tidak benar kepada para penegak kebenaran dan keadilan, kalau perlu dengan “menyihir” dan mempengaruhi lewat ide-ide “sesat” yang dibungkus dengan sangat rapi dan indah, juga memecah-belah serta membodohi pihak-pihak lain. (Qs. 7: 60, 66 dan Qs. 11:27).

Melalui mala’ inilah para penguasa mencari dukungan untuk melanggengkan kekuasaannya. Di sisi lain, sang penguasa mencuci otak mala’, dengan menanamkan doktrin bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan masyarakat. Sebagaimana yang tergambar dalam sosok Fir’aun (Qs. 23:38). Bahkan untuk lebih meyakinkan, Fir’aun berkata : “Aku tidak mengemukakan kepada kalian kecuali yang aku pandang baik”. (Qs. Gofir/40:29).

Hubungan ketiga kelompok dominan di atas, elit politik, elit ekonomi, dan mala’ dalam konteks kehancuran bangsa, secara logis dapat dijelaskan demikian :
“Apabila ketiga kelompok tersebut berkolusi serta melakukan konspirasi-konspirasi busuk maka tidak ada satu pun yang mampu menghentikannya, kecuali Allah. Ini artinya bangsa tersebut sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran”. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Al-Qur’an : “maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri tiu sehancur-hancurnya (Qs. 17:16). Bahwa kemudian siapa yang bisa mengukur kalau kezaliman itu sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran sudah mencapai 100% atau belum tentu saja hanya Allah yang mengetahuinya. Namun yang pasti efek dari kehancuran tersebut akan sangat dahsyat dan meluas. Bukan saja menimpa mereka yang berperilaku zalim tetapi merebak ke seluruh sendi kehidupan masyarakat, termasuk menimpa anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah. Inilah sunnatullah (ketetapan Allah) di dunia yang tidak akan mengalami perubahan dan penyimpangan.

Jika KKN pernah menjadi sebab utama bagi terpuruknya negeri ini. Namun, sumber utama KKN ternyata bukan dari rakyat biasa atau orang miskin dan bodoh, tetapi justru mereka-mereka yang memegang kekuasaan, baik politik maupun ekonomi. Bahkan banyak diantaranya berpendidikan tinggi, namun bermental busuk. Sayangya, virus KKN yang telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan di negara ini, ternyata masih belum bisa diselesaikan dengan cukup elegan oleh bangsa ini.

Memang benar. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Namun, perubahan disini bukan dalam tataran pranata-pranata sosial, tetapi perubahan mental dan karakter. Gerakan penanaman sejuta pohon, tentu saja sesuatu yang berguna bagi kelangsungan bangsa ini, namun siapa yang menjamin kalau pohon yang sudah tinggi itu kelak tidak akan digunduli lagi dan ditebang secara ilegal serta penuh keserakahan, jika mentalnya masih mental masa lalu. Oleh karena itu, membangun sebuah bangsa yang habis terpuruk, bukan berarti mengubah “nasib” tetapi “membangun kembali” bangunan yang sudah porak poranda. Dalam hal ini, Al-Qur’an menekankan pada perubahan sikap mental dan karakter yang selanjutnya bisa mempengaruhi perilaku (Qs. 13:11).
Berdasarkan teorinya ‘ashabiyyah, Ibn Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap, yaitu: (Muqaddimah: 175).
1.Tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. 2.Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.
3.Tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara. 4.Tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya. 5.Tahap hidup boros dan berlebihan. Pada tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan.
Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancurannya. Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu: 1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. 2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. 3. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara.
Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun proses ini berlangsung sekitar satu abad. Ibn Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah Peradaban besar dimulai dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras, kemiskinan dan penuh perjuangan.
Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan ‘Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172). Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus.

Penghancur Peradaban

Menurut Admin situs ada lima Hal Penghancur Peradaban, sebuah peradaban besar yang sangat maju dengan istana – istana yang megah, ilmu pengetahuan sangat dihargai, semua orang haus akan ilmu pengetahuan.sebuah peradaban yang sangat tinggi dapat hancur dan musnah,hal ini bukanlah bualan belaka, hancurnya sebuah peradaban pernah di alami eropa dan peradaban islam. mengapa sebuah peradaban yang sangat maju , bahkan dengan teknologi yang sangat tinggi. kehancuran peradaban ternyata sangat manusiawi, yaitu hancurnya moral dan akhlak masyarakatnya.

Dapat kita garis besarkan menjadi 5 hal utama penchancur peradaban yaitu :

1. Kepuasan diri para pemimpin dan ilmuwan. keberhasilan mereka telah membuat mereka menjadi puasa ,sehingga menimbulkan rasa malas,dan perlahan – lahan meninggalkan ilmu pengetahuan
2. Hedonisme, menjadikan materi sebagai tujuan hidup telah membuat manusia malas dan terlalu sibuk dengan kesenangan dunia (wanita, harta, perang, kekuasaan)
3. Hancurnya moral dan akhlak menjadikan manusia,terutama para pemimpin dalam suatu peradaban menjadi tamak,contoh hidup hura – hura para pemimpin pusat menjadi stimulus para pemimpin di daerah untuk hidup hura – hura juga, kemudian menimbulkan korupsi dimana – mana
4. Menjauhkan diri dari sebuah masalah,membuat suatu peradaban menjadi lemah dan dapat dihancurkan oleh faktor luar,bisa dari serbuan bangsa lain atau kerusakan alam
5. Hilangnya kemampuan berperang juga menjadi persoalan hancurnya peradaban maju islam,mereka hancur karena suda tidak memiliki lagi kekuatan untuk mempertahankan diri, hal ini menunjukan suatu negara wajib memiliki ankatan bersenjata.
Dengan mengetahui sebab – sebab hancurnya sebuah peradaban besar membuat kita tahu bagaimana membangun sebuah peradaban,mulai lah dari ilmu dan moral,saya rasa indonesia pun bisa jika da kemauan,sudah saatnya kini matahari terbit dari timur. kita tunggu kebangkita indonesia menjadi sebuah peradaban besar dan terhormat.

Kehancuran Dunia

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Dennis Pamlin dari Global Challenge Foundation dan Stuart Armstrong dari Future of Humanity Institute menyebutkan, terdapat risiko atau bisa dikatakan bahaya yang memicu kehancuran dunia lebih awal, kepunahan manusia yang mengarah pada runtuhnya peradaban yang diakibatkan oleh kecerdasan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Dilansir dari laman Vox, Minggu (22/2/2015), serupedia mencoba merangkum risiko yang dapat menghancurkan dunia, bila tidak dijaga dengan baik.
1. Kecerdasan Buatan

Kemajuan ilmu teknologi memang membantu kehidupan manusia, bahkan kini dapat menciptakan kecerdasan buatan. Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) diciptakan dan dimasukkan ke dalam komputer agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan manusia. Al ini banyak digunakan dalam jaringan syaraf tiruan, robotika, dan games. Namun jika kecerdasan buatan ini disalahgunakan untuk hal yang buruk, maka ini dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

2. Nanotechnology

Sama halnya dengan biologis sintetis, ancaman nano teknologi dapat dirasakan pada masa mendatang. Mengapa demikian, hal ini dapat menciptakan banyak aktor yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan persenjataan yang kuat.

Adapun kekhawatiran lain yang disebabkan oleh nano teknologi ini ialah akan menciptakan skenario gray goo, di mana ia akan tumbuh di luar kendali sehingga berpotensi meruntuhkan peradaban.

3. Biologi Sintentis

Biologi Sintentis ini mungkin tidak berdampak saat ini namun akan berdampak pada masa yang akan datang. Biologi sintesis adalah bidang ilmiah baru yang berfokus pada penciptaan sistem biologis, termasuk kehidupan buatan.

Yang menyebabkan bahaya ialah alat-alat biologis sintetis dapat digunakan untuk merancang supervirus atau superbakteria yang lebih menular. Selain itu, organisme tersebut dapat dibuat sebagai senjata biologis, baik militer atau oknum tertentu.

4. Pemerintahan yang Buruk

Sebagaian besar ancaman yang telah disebutkan membutuhkan koordinasi secara global untuk mengatasinya. Perubahan iklim merupakan contoh yang paling menonjol, namun risiko seperti nano tech dan regulasi kecerdasan buatan perlu di koordinasikan secara internasional.

Bahayanya ialah bahwa struktur pemerintahan sering kali gagal dan kadang-kadang berakhir memburuk masalah yang coba ingin mereka perbaiki. Kegagalan kebijakan dalam menangani risiko tersebut yang akan membawa dampak negatif.

5. Supervolcano

Letusan kecil dari gunung berapi saja dapat mempengaruhi iklim, merusak biosfer, mempengaruhi pasokan makanan, dan menciptakan ketidakstabilan politik, lalu bagaimana jika letus besar itu terjadi, maka akan menyebabkan pendinginan global yang signifikan dan mengganggu produksi pertanian sehingga dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia.

Teori Lenyapnya Negara

Menurut para ahli , negara bukan hanya bisa tumbuh dan berkembang tetapi juga karena keadaan tertentu negara bisa hilang atau lenyap. Beberapa teori tentang lenyapnya negara, yaitu sebagai berikut :
1. Teori organis
Tokoh-tokoh teori organis, diantaranya adalah Herbert Spencer, F. J. Schmitthenner , Gonstantin Frantz, dan Bluntsehi. Para penganut teori ini berpandangan bahwa negara dianggap atau disamakan dengan makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Individu yang merupakan komponen-komponennegara diibaratkan sebagai sel-sel dari makhluk hidup.
Sebagai suatu organisme, negara tidak akan lepas dari kenyataan dan perkembangannya dari mulai berdiri, berkembang, besar, kokoh, dan kuat. Kemudian, melemah sampai akhirnya tidak mampu lagi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai negara. Setelah itu, lenyap dari percaturan dunia. Dengan demikian, teori organis berpandangan bahwa suatu negara pada saat tertentu akan lenyap seperti suatu organisme hidup.
Teori ini berkembang pada abad XIX (19) yang memandang negara sebagai organisme. Teori ini berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan terutama biologi, dengan ditemukannya sistem sel pada binatang dan tumbuhan dan teori evolusi dari Darwin.
Pengant teori ini memperkuat argumentasinya dengan mengambil beberapa contoh, yaitu : Mesir, Babilonia, Persia, Phunisia, Romawi, dan lain-lain yang semuanya menjalani dari Negara kecil, hingga besar dan kuat dan akhirnya menjadi kecil kembali, lemah dan akhirnya lenyap.
Namun tidak pula semua organisme mati karena tua, maka negara pun juga demikian, ada yang hancur karena peperangan walaupun belum tua. Bluntschi memandang negara terjadi tidak langsung karena karya manusia. Negara adalah zat yang hidup yang tumbuh baik di dalam maupun di luar dan berkembang seperti organisme biologis. Negara adalah suatu unit besar yang akan menua dan mati.
2. Teori Anarkis
Menurut teori ini, negara merupakan suatu bentuk susunan tata paksa yang sesuai jika diterapkan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang masih primitif. Teori ini tidak cocok bagi masyarakat modern yang beradab dan bertatakrama. Para penganut teori ini berkeyakinan bahwa pada suatu saat negara pasti akan lenyap dan muncul lah masyarakat yang penuh kebebasan dan kemerdekaan, tanpa paksaan, tanpa pemerintahan, serta tanpa negara. Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan atau dihancurkan. Penganut teori ini antara la\in William Godwin, Joseph Proudhon, Kropotkin, dan Michael Bakounin.
Penganut teori ini dapat di bedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan pertama yang berpandangan bahwa untuk menghapuskan atau melenyapkan “tata paksa” harus dilakukan dengan cara menghancurkan organisasi tersebut bersama perlengkapan dan pendukungnya, maksudnya untuk melenyapkan negara harus dengan jalan terorisme (Joseph Proudhon, Kropotkin, dan Michael Bakounin). Menurut mereka untuk menjamin kebebasan manusia tidak perlu ada negara, karena negara dianggap sebagai “alat pemaksa” yang dapat mengekang kebebasan, karenanya negara dengan pemerintahannya harus dihapuskan.
Adapun golongan kedua berpandangan bahwa masyarakat yang penuh kebebasan tanpa pemerintahan akan dapat diwujudkan melalui evolusi dan pendidikan, tanpa harus melalui kekerasan dan kekejaman. Leo Tolstoy, salah satu seorang penganut golongan kedua, berpendapat bahwa kekerasan dari mana pun datangnya akan mengundang dendam dan pembalasan dengan kekerasan. Kekerasan dapat dihilangkan dengan kasih sayang dan pendidikan.
Terorisme dan kekerasan adalah tindakan berlebihan dan tindakan melampaui batas. Teori ini mencapai puncaknya pada zaman Tsar Alexander II di Rusia.
3. Teori Marxisme
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Penganut teori ini disebut Marxis. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto komunis yang dibuat oelh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Merxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proleter. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis.
Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “ kepentingan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari Marxisme. Para penganutnya adalah orang-orang komunis, dan pelopornya adalah Karl Marx. Menurut Marx ini negara dipandang sebagai “alat pemaksa” dari kelas yang kuat terhadap kelas yang lemah. Lahirnya negara adalah perjuangan kelas. Kelas yang menang artinya kelas yang kuat, membutuhkan susunan tata paksa Negara sebagai alat untuk memaksakan kehendaknya kepada kelas yang kalah (kelas lemah). Karena itu jika dalam pertentangan kelas yang menang akan berusaha melenyapkan kelas yang kalah.
Akan tetapi, suatu saat jika masyarakat yang adil dan makmur sudah terwujud, disana tidak ada lagi perbedaan kelas, karena tidak ada lagi perjuangan kelas, disitulah negara akan lenyap. Penganut teori ini adalah Karl Marx, Reidrich, Engles, dan Lenin.
4. Teori Mati Tuanya Negara
Menurut teori ini, negara sebagai suatu susunan tata paksa tidak perlu dihapus atau diperangi, karena keberadaannya, berdirinya, atau hilangnya negara sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan kata lain, negara akan berdiri atau lenyap menurut syarat-syarat objektifnya sendiri. Jika syarat-syarat untuk berdirinya suatu negara terpenuhi, negara akan tetap berdiri. Sebaliknya, apabila persyaratan tidak terpenuhi dengan sendirinya negara akan lenyap atau hilang.
Prof. Wirjono Prodjodikoro berpendapat, bila negara dianggap berhenti, hancur atau jatuh maka unsut wilayah, dan masyarakat tetap ada, hanya unsur pemerintahannya yang musnah.
Di Indonesia pernah terjadi pada Zaman Sriwijaya, di abad VII pernah jaya namun kemudian tenggelam. Demikian juga dengan kerajaan Majapahit, tapi unsur daerah dan rakyatnya tetap ada yang hilang unsur pemerintahannya saja.
Selain teori-teori tersebut, hilang atau lenyapnya suatu negara dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu sebagai berikut :
a. Faktor Alam
Yang dimaksud dengan hilangnya negara karena faktor alam adalah suatu negara yang sudah ada, tetapi dikarenakan faktor alam negara tersebut menjadi lenyap. Karena disebabkan oleh alam maka wilayah dari negara tadi akan hilang dan hilangnya wilayah tadi berarti, hilanglah negara itu dari dunia kenegaraan. Hilangnya negara karena faktor alam, misalnya dapat disebabkan oleh :
• Gunung meletus
• Pulau yang terendam air laut, atau bencana alam yang lainnya.
Contoh wilayah negara yang lenyap di karenakan faktor alam, misalnya adalah bisa kita ketahui yang mana dulunya pulau Jawa dan Sumatra itu sebenarnya menyatu tapi dikarenakan sebagian wilayah pulau tersebut ditelan oleh air laut yang menurut para ahli hal tersebut dikarenakan meletusnya gunung krakatau pada 416 masehi yang lalu, kemudian membentuk daratan yang disebut sunda besar.
b. Faktor Sosial
Yaitu suatu negara yang sudah ada dan diakui oleh negara lain, tetapi dikarenakan oleh faktor sosial negara itu menjadi hilang dan lenyap. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain :
1) Karena adanya Revolusi (kudeta yang berhasil)
Revolusi berarti suatu pergantian tatanan sosial. revolusi menstranfer kekuasaan dari tangan-tangan kelas yang telah kehabisan tenaganya kepada kelas lain yang berada di atas kekuasaan.
Runtuhnya negara karena revolusi sebabnya banyak dipengaruhi oleh faktor internal sebuah negara dalam menjalankan fungsinya. Menurut Mac Iver, ada dua cara atau sebab lenyapnya negara, yaitu : cara peperangan atau pemberontakan, dikarenakan revolusi (cara secundaire wording), dan cara evolusioner, karena pertentangan intern atau percektokan dinasti (cara premaire wording).
2) Karena adanya Penaklukan
Penaklukkan terjadi jika suatu daerah belum ada yang menguasai kemudian diduduki oleh suatu bangsa.
3) Kerena adanya Persetujuan
4) Karena adanya Penggabungan
Setelah adaanya penggabungan atau pemisahan dan juga penukaran nama, banyak negara yang diantaranya sangat dikenal umum, telah hilang atau lenyap dari peta dunia. Contohnya :
 Jerman Timur dan Jerman Barat, bergabung pada tahun 1989 dan membentuk kesatuan Jerman, sehingga negara Jerman Timur dan Jerman Barat menjadi lenyap.
 Yaman Utara dan Yaman Selatan, Yaman pecah pada tahun 1967 dan membentuk dua negara yaitu Yaman Utara (dikenal sebagai Republik Arab Yaman) dan Yaman Selatan ( dikenal dengan nama Republik Demokratis Rakyat Yaman) sebelum kembali bersatu pada tahun 1990 dan kembali menjadi Yaman, sehingga kedua negara Yaman yang dahulu yaitu yaman Utara dan Yaman Selatan menjadi lenyap.
Contoh negara yang lenyap atau hilang di karenakan faktor sosial, misalnya adalah perang antara Uni Soviet melawan Afghanistan. Uni Soviet memang salah satu negara yang hebat pada zaman dahulu, Uni Soviet menguasai teknologi-teknologi canggih, khususnya dalam mengembangkan senjataperangnya. Sedangkan Afghanistan tidak terlalu maju pengembangan teknologinya, tetapi mereka sangat menguasai alam, menggunakan taktik yang memanfaatkan alam negara mereka.
Jadi saat Uni Soviet menyerang, negara Afghanistan membuat bunker-bunker didalam tanah yang berisi senjata-senjata yang di tempatkan dimana kemungkinan datangnya tentara-tentara Uni Soviet, tentara Uni Soviet tidak pernah mengetahui itu, mereka sangat tidak menguasai alam yang akan ditempatinya, jadi pada saat itu beratus-ratus ribu tentara Uni Soviet mati. Uni Soviet pun akhirnya jadi negara miskin karena kalah perang.
Pada saat itu tanggal 24 agustus 1991, Uni Soviet menghadapi kesulitan ekonomi, di dalam negaranya semakin parah inflasi dan terjadi di mana-mana, selain itu kelompok militer mulai terpecah-pecah dan negara-negara bagian semakin banyak yang menuntut kemerdekaan.
Pada saat itulah seakan-akan timbul kekosongan kepemimpinan, apalagi dengan hal ini kemudian disusul dengan pernyataan pengunduran diri Gorbachev sebagai sejen PKUS dan sekaligus mengeluarkan dekrit pembubaran PKUS pada 24 agustur 1991.
Sehari sesudah peristiwa itu, Boris Yeltin mengambil alih kekuasaan, sayang sekali tindakan Boris Yeltin tidak didukung semua negara bagian Uni Soviet, mereka malahan dengan leluasa dapat melepaskan diri dari Uni Soviet.
Akibatnya, runtuhlah negara adidaya yang telah dibangun dengan susah payah itu, secara resmi, pembubaran Uni Soviet berlangsung pada 8 Desember 1991, kemudian bendera Uni Soviet diturunkan.
Dari uraian diatas mengenai Uni Soviet dan Afghanistan dapat disimpulkan bahwa negara itu timbul dapat disebabkan karena peperanga, dan negara itu lenyap juga dapat dikerenakan peperangan, walaupun tidak semata-mata muncul dan tenggelamnya negara adalah akibat dari peperangan, melainkan juga faktor yang lain, termasuk faktor-faktor lain yang telah diuraikan diatas.
Akibat peperangan negara yang kalah akan hancur dan muncul negara baru, demikian seterusnya, jadi faktor peperangan merupakan yang turut serta menentukan hidup dan matinya suatu negara.
Menurut Widia lenyapnya negara disebabkan oleh:

1. Faktor Alam

contoh : Indonesia
Beberapa daerah istimewa di Indonesia ternyata juga diistimewakan oleh Allah.
– Nanggroe Aceh Darussalam, luluh lantah akibat diterjang tsunami yang dahsyat. mungkin salah satu akibatnya adalah karena tentara GAM yang telah banyak membunuh orang.
– Daerah Istimewa Yogyakarta, tanahnya rata akibat gempa bumi berkekuatan hebat beberapa tahun silam. DIY memang kota pendidikan, tetapi malah sangat banyak orangtua yang takut menyekolahkan anaknya karena sangat banyak sekali terjadi pergaulan bebas terjadi pada anak-anak sekolahnya.

2. Faktor Sosial
contoh : Perang antara Uni Soviet melawan Afghanistan

Uni Soviet memang salah satu negara yang hebat dulu, Uni Soviet menguasai teknologi teknologi canggih, khususnya dalam mengembangkan senjata perangnya. Sedangkan Afghanistan tidak terlalu maju perkembangan teknologinya, tetapi mereka sangat menguasai alam, menggunakan taktik yang memanfaatkan alam negara mereka. Jadi saat Uni Soviet akan menyerang, negara Afghanistan membuat bunker-bunker didalm tanah yang berisi senjata-senjata yang ditempatkan di tempat-tempat kemungkinan datangnya tentara Uni Soviet. Tentara Uni Soviet tidak pernah mengetahui itu, mereka sangat tidak menguasai alam yang akan ditempuhnya. Jadi deh beratus-ratus ribu tentara Uni Soviet mati, tidak kembali dari Afganistan.
Uni Soviet pun menjadi negara miskin karena telah kalah perang.

Teori Lenyapnya Sebuah Negara Yang Diungkapkan Ahli Lain

1. Teori Organisme

yaitu, pada mulanya sebuah negara muncul, tumbuh, berkembang, lalu mencapai tahap take off (lepas landas) maju, menjadi negara superpower, tapi lama kelamaan menurun kembali (mundur), dan lenyaplah negara tersebut.
contoh : Uni Soviet, dulunya adalah negara superpower bersama Amerika, tetapi sekarang telahhancur.
Kalau Indonesia bahkan belum mencapai tahap take off, melainkan “lepas kandas!”
– di negara berkembang seperti di Indonesia, orang tingkat ekonomi rendah (miskin) bergentayangan. sedangkan di negara maju, yang ekonominya sangat berkembang pesat, orang kaya bergentayangan.

2. Teori Anarkis

An = tidak ada
Archeis = pemerintahan
Menurut teori ini, pada mulanya, manusia itu baik, maka dibiarkan berkembang. Kalau ada keterpaksaan di dalam negara, maka negara akan bubar. Jadi teori anarkis adalah negara yang rakyatnya hidup tanpa ada keterpaksaan. Menurut teori ini, kalau ada suatu keterpaksaan maka negara akan lenyap.
– biarlah indah pada waktunya, walau sesat pada akhirnya.
– janganlah kita memaksakan sesuatu, karena hal itu juga akan kembali seperti sebelumnya. Waktulah yang menentukan, seiring berjalannya waktu, semuanya akan berubah.

3. Teori Mati Tuanya sebuah Negara

– Kalau syarat- syaratnya dipenuhi, maka akan menjadi negara yang sesungguhnya dan menjadi eksis.
– Kalau syaratnya tidak dipenuhi, maka lenyaplah negara itu.

Penyebab Runtuhnya Peradaban Besar

Dalam situs diungkap tentang dua contoh peradaban yang hancur, yaitu Peradaban Romawi dan Peradaban Abbasiyah.
Jaman sekarang, yang lagi memimpin dunia dengan peradabannya yang gemilang adalah Amerika. Negri PamanSam ini benar-benar menjadi pusat perhatian dan trend center dunia. Mulai dari cara berpakaian masyarakatnya, makanan, pekerjaan, hingga tatanan sosial, sistem kenegaraan, perpolitikan, ekonomi, dan lain sebagainya benar-benar ditiru oleh sebagaian negara-negara di dunia ini. Mereka merasa kemajuan Amerika patut diteladani dengan meniru berbagai hal yang menurut mereka dapat memajukan peradaban mereka.
Jaman dulu kala juga begitu, peradaban besar menjadi objek teladan bagi negara atau bangsa lain. Sebut saja peradaban besar seperti Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah. Kenapa Ane bilang Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah? Ya…Karena dua kerajaan inilah yang merupakan masa keemasan peradaban Barat dan peradaban Timur, kadang ada juga yang menyebutnya masa kejayaan antara kebudayaan yang mewakili peradaban Kristen dan peradaban Islam. Imperium Romawi adalah kekaisaran yang terkuat dan termaju pada zamannya, banyak daerah yang mereka taklukkan dan dijadikan daerah jajahan. Begitu juga dengan Imperium Abbasyiah, luas kerajaannya meliputi daratan Asia dan Afrika…Sungguh peradaban yang menakjubkan…
Ternyata Dibalik kemegahan Peradaban yang mereka miliki, terdapat berbagai pembusukan yang menggerogoti mereka dari dalam. Pembusukan yang menggerogoti ini berakhir tragis dengan runtuhnya peradaban besar yang selalu mereka bangga-banggakan. Pembusukan ini menyebabkan mereka lemah, rapuh dan akhirnya mereka mudah ditaklukkan dan menjadi makanan kaum barbar. Bagimanakah kisah kebusukan ini?? Berikut Ulasannya….Cekibrot…
Keruntuhan Imperium Romawi
Civis Romanus Sum (artinya: Saya Orang Romawi) adalah kalimat yang dipakai oleh Orang Romawi dan menunjukkan kebanggaan orang-orang Romawi pada imperiumnya di masa puncak kejayaannya. Kegemilangan peradaban Romawi menjadikan Eropa sebagai cahaya dunia masa lampau. Kekaisaran Romawi ini berdiri dari tahun 27 SM hingga 476 M. Kota-kotanya sangat besar dengan istana-istana yang megah dan pilar-pilar raksasa. Ekonominya juga sangat makmur. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan sekolah-sekolah tersedia buat semua orang. Akan tetapi, kehebatan mereka membuat mereka lupa diri. Dengan kekayaan berlimpah yang dimilikinya, para kaisar Roma sibuk bermewah-mewahan dan memuaskan nafsunya sendiri. Di masa-masa yang penuh kemegahan seperti ini, tidak ada yang bakal menyangka Roma akan jatuh…
Orang-orang Romawi dilanda penyakit. Saat para penguasa makan, mejanya dipenuhi makanan-makanan lezat yang berlimpah dan tidak akan habis dimakan dalam dua hari. Mereka makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Semua makanan itu juga tidak dihidangkan sembarangan, tapi harus dihidangkan dalam perlengkapan mewah yang terbuat dari emas dan perak. Sambil makan, mereka para penguasa itu, dihibur oleh pelayan-pelayan cantik dan para penyanyi yang berpakaian setengah telanjang sambil menari-nari dengan mesum. Sungguh menyenangkan memang, tapi masalahnya siapa lagi yang sempat memikirkan kerajaan?
Kerajaan makin tak terurus. Sementara itu, Rakyat yang melihat perangai para penguasa yang demikian, akhirnya menjadikan mereka lemah dan terlena. Pemerintahan diseluruh negeri diisi oleh orang-orang yang bekerja dengan tidak jelas dan korup. Rakyat mengisi waktu luang tidak lagi dengan belajar, berpikir, dan memperbaiki diri, namun sibuk menonton hiburan-hiburan vulgar dan brutal di Collosseum. Di sana terdapat pertarungan antar para jagoan gladiator atau antara gladiator dengan binatang-binatang buas. Mereka sepertinya merasakan kesenangan dan kepuasan waktu melihat darah yang merah berceceran di arena. Sungguh Miris….
Tentara-tentara Roma, Praetorian dan Centurion, yang tadinya perkasa, gagah berani, dan menguasai dunia, lama-lama banyak diisi oleh kaum barbar yang lemah, tidak punya disiplin, dan malah suka menindas rakyatnya sendiri. Kasihan orang-orang Romawi ini. Mereka kelihatannya sudah begitu mabuk dengan kesenangan dunia hingga tidak menyadari hari akhir mereka sudah dekat.
Orang-orang Barbar, yang sudah sejak lama menghuni batas-batas Romawi di utara Eropa, melihat semua ini. Roma sudah lemah dan ini waktu bagi mereka. Akhirnya mereka menyerbu masuk ke jantung kekaisaran. Romawi yang besar akhirnya runtuh. Kaisar Romawi terakhir, Romulus Augustus, diturunkan oleh pemimpin suku Jerman bernama Odoacer pada 476 M. Akhirnya setelah ditaklukkan, segala lambang kejayaan Romawi di Eropa, hancur. Pusat pemerintahan yang indah dengan kolom-kolom yang megah, arena koloseum raksasa yang bisa menampung puluhan ribu penonton, dan perpustakaan-perpustakaan besar yang berisi pengetahuan-pengetahuan hebat sepanjang sejarah, hanya tinggal kenangan. Buku-buku karya filusuf dan pemikir paling jenius pun tidak luput dari pemusnahan-dibakar menjadi abu.
Keruntuhan Imperium Abbasyiah
Kerajaan Abbasyiah berdiri mulai dari tahun 750 M hingga 1258 M. Agama resmi negaranya adalah Islam dan Rajanya bergelar Khalifah. Ibukotanya terletak di Bagdad, Irak pada saat sekarang. Sobat mungkin pernah mendengar kisah 1001 malam, Aladin dengan lampu ajaibnya, atau petualangan Sinbad, cerita ini banyak yang bilang berasal dari imperium ini.
Wilayah kekuasaan Abbasyiah sangatlah luas, rakyatnya berjuta-juta, dan Istananya pun banyak dan indah. Jika berada di dalam Istana, maka akan terasa tenang dan sejuk. Terdapat hiburan musik, tukang cerita, wanita-wanita cantik, makanan enak, minuman segar, karpet-karpet persia yang lembut dan tebal, bantal-bantal besar dan empuk, semuanya sangat enak untuk bersantai sejenak. Kalau menjadi khalifah di imperium ini, sepertinya tinggal dan hidup di Istana memang sangat menyenangkan.
Peradaban Islam dan Bangsa Arab adalah bangsa yang unggul. Para pemimpinnya adalah pemimpin yang unggul. “Paling unggul jika dibandingkan dengan pemimpin bangsa yang lainnya”. Dan keunggulan itu kan harus ditunjukkan kepada dunia. Itu bisa dilakukan dengan membangun istana-istana raksasa yang lebih megah dan lebih indah, bahkan lebih dari istana-istana Romawi. Ini pasti akan membuat para penguasa lain terkagum-kagum dan iri. Lagi pula kekayaan kekhalifahan yang berlimpah-limpah memungkinkan semua itu. Dengan kekayaannya yang hampir tak terbatas, khalifah mampu membangun istana-istana besar. Contohnya khalifah Al-Mutawakkil yang membangun tidak hanya satu atau dua istana besar, tapi belasan istana di Kota Samarra (120 Km Utara kota Bagdad). Al-Mutawakkil juga membangun mesjid terbesar di dunia pada saat itu di kota tersebut.
Dengan kekayaan dan kekuasaan yang besar seperti itu, pasti juga mudah mendapatkan satu hal yang paling diinginkan semua laki-laki, yaitu wanita. Bukan sembarang wanita tentu saja, tetapi wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri, yang menarik hati, cantik rupawan, halus tutur katanya, dan enak diajak berbincang-bincang. Mereka diberi tempat istimewa di istana bernama Harem. Wanita-wanita itu tentu tidak keberatan menjadi simpanan khalifah karena semua kebutuhan mereka terjamin dan terpenuhi di istana. Pada saat itu adalah hal yang biasa bagi khalifah untuk memiliki harem yang berisi puluhan bahkan ratusan wanita. Karena jumlahnya sangat banyak, para wanita tersebut saling berupaya merebut perhatian Sang Khalifah. Walau di sana disediakan pakaian yang indah-indah, banyak dari wanita-wanita cantik ini yang merasa tidak perlu memakai pakaian sama sekai kalau sedang berada di dalam harem.
Kehidupan seksual pun makin lama makin bebas. Bahkan beberapa budak lelaki Turki, ghilman, yang masih muda, berwajah tampan, dan berkulit putih tidak jarang diberi pakaian-pakaian yang indah dan wangi-wangian yang seperti wanita. Mereka dipelihara banyak pejabat yang digunakan untuk hubungan-hubungan cinta yang tidak normal.
Para khalifah dan para penguasa yang sangat kaya raya makin suka hidup berlebih-lebihan. Sering kali mereka berlebihan dalam berbuat baik pada rakyatnya, membagi-bagikan banyak uang pada saat perayaan agama atau ulang tahun Sang Khalifah atau berlebih-lebihan dalam membangun mesjid-mesjid dan istana-istana, seperti yang dilakukan khalifah Al-Mutawakkil.
Akan tetapi yang lebih sering berlebihan adalah dalam cara menikmati hidup. Orang-orang makin suka berpesta pora apalagi pada saat ada tamu kerajaan. Makanan-makanan lezat disajikan dalam jumlah yang tidak habis dimakan dalam waktu 3 hari. Semua orang bisa makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Para Khalifah juga hanya mau makan menggunakan pering, sendok, garpu yang dibuat dari emas dan dihiasi batu-batu intan permata. Sambil makan, mereka dihibur oleh wanita-wanita penari perut dengan busana yang minim dan menerawang. Mereka juga tidak minum air biasa. Mereka minum khamr. Sejenis minuman keras yang terlarang pada masa Nabi Muhammad, tetapi pada saat itu, sudah menjadi hal yang biasa.
Semua kenikmatan dunia ini, benar-benar kenikmatan yang nyaris tidak terbatas. Siapa yang tidak ingin? Akan tetapi, masalah segera timbul. Semakin dahsyat kenikmatannya semakin besar juga keinginan banyak orang untuk terus menikmati dan mempertahankan kenikmatan tersebut, kalau perlu dengan cara yang licik bahkan dengan membunuh. Keinginan yang terus menumpuk dalam jiwa akhirnya berubah menjadi sesuatu yang berbahaya, yaitu nafsu. Kehidupan ekonomi terus berjalan, ilmu pengetahuan terus berkembang, namun urusan yang bikin kepala pusing seperti urusan rakyat, tak lagi terpikirkan oleh para khalifah dan penguasa.
Akhirnya lama kelamaan, baik para pemimpin, para penguasa, hingga rakyat yang telah terbuai dengan kemewahan dan kejayaan tidak lagi memikirkan peperangan. Mereka lebih memilih untuk menikmati hidup dengan tuntunan nafsu mereka sendiri. Akhirnya lama-lama negara ini menjadi korup dan terjadi pembusukan disetiap lini. Tentara pun merasa sudah makmur, tidak memiliki semangat perang, dan ingin bersenang-senang. Hasilnya, pada tahun 1258 M, Khalifah terakhir yang malang, Al-Musta’sim, harus bertekuk lutut terhadap penyerangan Bangsa Mongol. Bangsa Mongol pada saat itu dipimpin oleh Hulagu Khan. Pasukan Hulagu Khan ini berhasil mematahkan setiap pertahanan pasukan Khalifah, di tiap daerah imperium Abbasyiah. Mereka merengsek maju dan akhirnya mengalahkan pasukan terakhir yang menjaga Ibu Kota. Setelah mengalahkan pasukan penjaga ibu kota, Ratusan ribu tentara Mongol ini mulai membanjiri gerbang kota Bagdad. Dengan tubuh yang masih dipenuhi darah segar musuhnya, mereka melihat Bagdad dengan segala kesenangannya, kekayaannya, harta karunnya, emas, permata, dan wanita-wanitanya.
Langit serasa gelap hari itu. Bagdad seperti memasuki sebuah mimpi buruk yang paling gelap dan mengerikan. Laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil diseret kejalan dan dibantai satu demi satu dengan pedang. Mayat-mayat memenuhi seluruh jalanan sampai sudut-sudut kota Bagdad. Darah dari tubuh-tubuh yang tersayat mengalir ke jalan-jalan kota seperti aliran air waktu hujan. Lebih dari satu juta orang dibantai hanya dalam waktu beberapa hari. Perpustakaan dan sekolah-sekolah semuanya juga tidak luput untuk dihancurkan. Jutaan buku ilmu pengetahuan terbaik di dunia yang susah payah dikumpulkan selama beratus tahun berdirinya Imperium Abbasyiah, dibakar atau paling tidak dihanyutkan kesungai Tigris. Akhirnya peradaban besar pun hilang tinggal kenangan.
Itulah sekelumit mengenai keruntuhan peradaban besar di jaman dulu. Peradaban ini lah yang dapat dikatakan mewakili peradaban Barat dan peradaban Timur di masa jayanya. Di sini terlihat kalau hancurnya mereka karena diri mereka sendiri. Logikanya mereka tidak akan hancur kalau kuat dari dalam dan tidak membusuk di berbagai lini. Bagaimana pun serangan dari bangsa lain, peradaban kuat tidak akan gampang untuk ditaklukkan. Sejarah ini pasti akan terus berputar seperti Roda Setan, terus akan terjadi dan berulang.
Pada jaman sekarang dinegara-negara yang mengaku diri mereka hebat, maju, dan berkuasa, ada kecendrungan bahwa mereka sudah memiliki ciri-ciri seperti peradaban besar jaman dulu, membusuk di berbagai bidang dan menunggu kehancuran. Bahkan yang parahnya, negara belum maju pun alias berkembang, juga ikut-ikutan menyontoh negara maju dan mengikuti arah pembusukan ini. Nafsu terus dijejali tanpa ada batasan, orang-orang lebih memilih untuk terus berkuasa, memupuk kekayaan dan menikmati kenikmatan duniawi. Anak-anak dan pemuda lebih senang menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting dari pada belajar, berpikir, dan mengoreksi diri. Para penguasa ingin tetap berkuasa dan menikmati hidup dengan berpesta pora dan main wanita. Hubungan sesama jenis dilegalkan dan dibilang sebagai bentuk dukungan terhadap HAM.
Beberpa Perkara yang Menghancurkan Peradaban
Perang
Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (biasa disingkat menjadi PDII atau PD2), adalah sebuah perang global yang berlangsung mulai tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di dunia —termasuk semua kekuatan besar—yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas dalam sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai pasukan militer. Dalam keadaan “perang total”, negara-negara besar memaksimalkan seluruh kemampuan ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang, sehingga menghapus perbedaan antara sumber daya sipil dan militer. Ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil, termasuk Holocaust dan pemakaian senjata nuklir dalam peperangan, perang ini memakan korban jiwa sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa. Jumlah kematian ini menjadikan Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.
Penjajahan
Kolonialisme merupakan suatu bentuk penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain yang biasanya bersifat mengeksploitasi kekayaan alam dari bangsa yang dijajah baik itu berupa pengeksploitasian sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Sementara imperialisme merupakan suatu bentuk yang lebih ’’manusiawi’’ karena didalamnya terdapat beberapa hal yang apabila dilihat memiliki nilai yang positif. Tidak seperti kolonialisme yang lebih bersifat ’’kejam’’. Pada hakikatnya kolonialisme dan imperialisme memiliki makna yang agak mirip, tetapi tetap memiliki perbedaan terutama dalam hal prakteknya.
Hal tersebut pula yang pernah menimpa bangsa Indonesia. Terdapat beberapa negara yang pernah ’’menjajah” Indonesia, seperti misalnya Inggris, Portugis, Spanyol, Jepang dan Belanda. Hal tersebut sudah pasti menyisakan banyak hal bagi bangsa Indonesia, baik itu yang bersifat negatif maupun positif. Berikut saya akan membahas sedikit megenai dampak positif dan negatif yang diakibatkan oleh adanya proses kolonialisme dan imperialisme di Indonesia.
Dampak Negatif
1. Mengakibatkan penderitaan psikis dan kesengsaraan fisik
2. Adanya pengambilan hak penduduk di Indonesia secara paksa
3. Hilangnya harta benda dan jiwa akibat adanya paksaan untuk bekerja dan menyerahkan harta penduduk pada saat itu
4. Peramapasan kekayaan sumber daya alam terutama sumber daya alam yang berupa rempah-rempah
5. Munculnya kemerosotan dalam bidang sosial ekonomi, politik dan lain-lain
Genosida
Menurut Haryo Prasodjo Genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap suatu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan bangsa atau kelompok tersebut. Kata genoside pertama kali digunakan oleh Raphael Lemkhin, seorang pengacaara Polandia yang mengajukan proposal mengenai genosida pada konferensi International Unification of Criminal Law yang ke lima pada tahun 1933. Dalam konferensi yang berlangsung di Madrid, spanyol tersebut, Lemkhin mengajukan agar tindakan penghancuran ras, agama, etnis dikatakan sebagai bentuk tindakan kejahatan internasional. Namun, usaha Lemkhin tersebut tidak berhasil. Sebelas tahun kemudian, Lemkhin memperkenalkan kata genosida dalam sebuah buku yang diterbitkannya.

Terdapat banyak kasus yang menjelaskan mengenai tanda-tanda terjadinya genosida. Namun peristiwa-peristiwa tersebut tidak dikatakan sebagai genosida yang harus dicegah dan diatasi. Invasi Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein ke Kuwait juga menelan banyak korban jiwa pada masa perang teluk. Invasi Amerika ke Irak serta isolasi yang dilakukan Amerika dan PBB terhadap Irak telah mengakibatkan kematian kurang lebih 1000 penduduk sipil setiap harinya akibat kekurangan gizi dan obat-obatan dan 500 rakyat yang mengungsi mencari perlindungan ke negara lain karena ketakutan akan timbulnya perang. Namun peristiwa-peristiwa tersebut tidak dikatakan sebagai tindakatan genosida. Dalam konvensi genosida, tindakan yang dikatakan sebagai genosida memiliki pengertian yang luas.

Contoh genosida

Adalah genosida yang dilakukan oleh anglo-saxon inggris di britania raya dan irlandia sejak abad ke-7 kepada bangsa celtic.
Genosida Bangsa Indian.

Bangsa indian merupakan bangsa yang menjadi penghuni paling utama di amerikasebelum ditemukkannya amerika oleh columbus. Ketika orang-orang eropa masuk tahun 1492maka mulailah terjadi genosida secara besar-besaran untuk meberangus bangsa india.
Genosida Bangsa Aborijin

Suku aborigin sudah mulai mendiami daerah australia semenjak sekian lama. Ketikabritania raya menginvasi australia dan ditemukannya australia oleh penjelajah james cook.Maka dimulailah pembantaian terhadap orang aborigin tahun 1788.Pada tahun 1770, James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambilalih daerahtersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya.Kolonisasi Inggris di Australia, yang dimulai pada tahun 1788, menjadi bencana besar bagipenduduk aborigin Australia. Wabah penyakit dari eropa, seperti cacar, campak dan influenzamenyebar di daerah pendudukan. Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australiasebagai nomad yang dapat diusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian.

Hal ini berakibat fatal, yaitu terputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengan kondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi inimengakibatkan populasi bangsa aborigin berkurang hingga 90% pada periode antara 1788 ±1900. Seluruh komunitas aborigin yang berada pada daerah yang cukup subur di bagianselatan bahkan punah tanpa jejak.

Penyakit
Contohnya adalah Wabah Tifus Atau Rickettsia 430 SM? Sampai Sekarang
Tifus dalam jangka waktu 4 tahun, Korban 3 juta orang antara 1918 dan 1922 saja, dan sebagian besar tentara Napoleon di Rusia
Tifus adalah salah satu dari beberapa penyakit serupa yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh kutu. Namanya berasal dari bahasa Yunani typhos, yang berarti berasap atau malas, menggambarkan keadaan pikiran mereka yang terkena dampak dari tifus. Rickettsia adalah endemik di host binatang pengerat, termasuk tikus, dan menyebar ke manusia melalui tungau, kutu dan caplak. Vektor Arthropoda tumbuh subur dalam kondisi kebersihan yang buruk, seperti yang ditemukan di penjara atau kamp-kamp pengungsi, di antara para tunawisma, atau sampai pertengahan abad ke-20, pada tentara di lapangan.
Gambaran pertama tifus itu mungkin ditemukan pada tahun 1083 di sebuah biara dekat Salerno, Italia. Sebelum vaksin dikembangkan dalam Perang Dunia II, tifus merupakan penyakit yang berbahaya bagi manusia dan telah bertanggung jawab untuk sejumlah epidemi sepanjang sejarah. Selama tahun kedua Perang Peloponnesia (430 SM), negara-kota Athena di Yunani kuno dilanda epidemi dahsyat, yang dikenal sebagai Wabah Athena, yang menewaskan antara lain, Pericles dan dua putra sulungnya. Sahabat anehdidunia.com wabah kembali lagi, pada tahun 429 SM dan pada musim dingin tahun 427/6 SM.
Epidemi terjadi di seluruh Eropa dari abad 16 hingga ke abad 19, dan terjadi selama Perang Saudara Inggris, Perang Tiga Puluh Tahun dan Perang Napoleon. Ketika Napoleon mundur dari Moskow pada tahun 1812, lebih banyak tentara Perancis meninggal karena tifus daripada dibunuh oleh tentara Rusia. Sebuah epidemi besar terjadi di Irlandia antara 1816-1819, dan pada akhir 1830-an. Epidemi tifus besar lain juga terjadi selama Bencana Kelaparan Besar Irlandia antara tahun 1846 dan 1849.
Di Amerika, sebuah epidemi tifus membunuh putra Franklin Pierce di Concord, New Hampshire pada 1843 dan juga menyerang Philadelphia pada tahun 1837. Beberapa epidemi terjadi di Baltimore, Memphis dan Washington DC antara 1865 dan 1873. Selama Perang Dunia I tifus menyebabkan tiga juta kematian di Rusia bahkan lebih banyak lagi di Polandia dan Rumania. Kematian umumnya antara 10 sampai 40 persen dari orang yang terinfeksi, dan penyakit tifus merupakan penyebab utama kematian bagi mereka yang merawat si sakit. Setelah perkembangan vaksin selama Perang Dunia II, epidemi hanya terjadi di Eropa Timur, Timur Tengah dan sebagian Afrika.

6. Teori Kejahatan Manusia

Teori Kejahatan (Kriminalitas)

Menurut Trisna Nurdiaman , kompleksitas permasalahan masyarakat kota sebagai akibat dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan globalisasi memicu terjadinya berbagai tindakan sosial yang tidak selaras dengan aturan hukum dan norma sosial yang berlaku. Ketidak mampuan seorang individu untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial masyarakat perkotaan yang hiperkompleks menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan berbagai konflik baik secara eksternal maupun internal. Maka terjadilah tindakan-tindakan sosial yang menyalahi aturan dan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat atau sering disebut dengan kriminalitas.
Kriminalitas merupakan suatu bentuk tindakan sosial yang tidak sesuai dengan dengan aturan hukum dan norma sosial yang berlaku, sehingga mengakibatkan adanya ketidak selarasan dalam kehidupan sosial. Kriminalitas sendiri merupakan suatu permasalahan yang komplek dan saling terkait dengan permasalahan sosial yang lain.
Berbagai jenis teori muncul sebagai analisis terhadap perilaku kejahatan, namun dari banyaknya teori kejahatan tersebut, ada empat teori yang dirasa lebih berkaitan dengan sudut pandang sosiologi, yaitu:
1. Teori mazhab sosial
Teori ini menyatakan bahwa faktor penyebab munculnya kejahatan adalah faktor eksternal yaitu lingkungan sosial dan kekuatan-kekuatan sosial. Dalam suatu lingkungan sosial akan selalu ada faktor sosial yang menjadi kecendrungan untuk melakukan kejahatan. Gabriel Tarde dan Emile Durkheim menyatakan bahwa kejahatan itu insiden alamiah, Merupakan gejala sosial yang tidak bisa dihindari dalam revolusi sosial, dimana secara mutlak terdapat satu minimum kebebasan individual untuk berkembang.
Aristoteles (384-322 SM) dan Thomas aquino (1226-1274M) menyatakan bahwa faktor yang menimbulkan kejahatan adalah kemiskinan. Kemiskinan dan kemelaratan diyakini sebagai sumber timbulnya kejahatan. Kemiskinan kronis mengakibatkan orang berputus asa, sehingga satu-satunya jalan untuk terbebas dari belenggu kesengsaraan adalah melakukan kejahatan.
Pendapat lainnya mengatakan bahwa kejahatan diakibatkan oleh lingkungan sosial yang buruk. Lingkungan sosial merupakan sebuah tempat dimana individu belajar dan beradaptasi. Lingkungan sosial yang buruk memberikan pengaruh-pengaruh eksternal yang mengarah pada kejahatan dan kemudian akan ditiru oleh individu yang bersangkutan. Baik-buruknya suatu lingkungan sosial, memberikan efek terhadap individu yang berada di lingkungan tersebut.
Seperti halnya yang terjadi pada lingkungan sosial terkecil, yaitu keluarga. Keluarga merupakan agen sosialisasi primer yang memberikan fondasi primer mengenai nilai-nilai dan norma-norma sosial. Seorang anak biasanya akan meniru tindakan-tidakan yang dilakuan oleh orang tuanya. Tingkah laku kriminal orang tua bisa saja menular pada anaknya. Sehingga menurut teori ini kejahatan diturunkan bukan melalui gen, melainkan karena adanya proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai.
2. Teori mazhab bio-sosiologis
Teori ini merupakan kombinasi antara faktor internal dan faktor eksternal, yaitu dimana suatu faktor kejahatan tidak hanya muncul dari individu itu sendiri, melainkan juga karena pengaruh lingkungan sosial terhadap individu tersebut. Ferri menyatakan bahwa kejahatan itu tidak hanya disebabkan oleh konstitusi biologis yang ada pada diri individu saja, akan tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh eksternal. Menurutnya kejahatan disebabkan oleh kombinasi dari kondisi individu dan kondisi sosial. Namun, faktor individulah yang paling dominan dalam penentuan pola-pola kriminal.
3. Teori mazhab spiritualis dengan teori non-religius
Menurut teori ini, agama dan keyakinan merupakan sesuatu yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku manusia. Sehingga orang yang memiliki agama dan keyakinan yang kuat akan mampu untuk mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak selaras dengan nilai dan norma agama. Selain itu juga karena agama merupakan salah satu lembaga sosial yang peran sebagai sistem pengendalian sosial (social control).
Orang yang tidak beragama dan tidak mempercayai nilai-nilai keagamaan umumnya sangat egoistis, sangat sombong dan mempunyai harga diri yang berlebihan. Menganggap bahwa dunia seperti miliknya sendiri dan dapat dimanipulasi dengan semaunya. Egoisme yang ekstrem menimbulkan agresivitas, juga sifat-sifat yang keras yang berakibat pada tindakan asosial atau kejahatan.
Menurut V. Von Gebsattel, semua penderita neurosa itu adalah orang-orang yang kehilangan rasa amannya, serta kehilangan eksistensi kepribadian dan kehidupannya. Maka banyak orang neurotis ini yang suka menggunakan mekanisme pemecahan masalah yang tidak rasional, sehinggal tingkah lakunya jadi immoril. Ketidakpercayaan terhadapa tuhan menimbulkan ketakuatan, kecemasan dan kebingungan yang berakibat pada agresivitas dan tindakan asosial.
4. Teori Susunan Ketatanegaraan
Negara sebagai asosiasi dan sistem pengendalian sosial dipandang ikut mempengaruhi terjadinya suatu kejahatan. Beberapa filsuf dan negarawan seperti Plato, Aristoteles dan Thomas More memandang bahwa struktur ketatanegaraan dan falsafah negara menentukan ada atau tidaknya suatu kejahatan. Jika susunan negara baik dan pemerintahannya bersih, serta mampu melaksasnakan tugas memerintah rakyat dengan adil, maka kejahatan tidak akan berkembang. Sebaliknya jika pemerintahan korup dan tidak adil, maka banyak orang memenuhi kebutuhannya yang inkonvensional dan kriminal.
Apabila kesejahteraan bisa dirasakan oleh seluruh warga negara, maka tingkat kejahatan dalam suatu negara akan berkurang. Kemiskinan dan kelaparan disebabkan oleh sistem eksploratif dari pemerintahannya menimbulkan ketidakpuasan dan banyak kejahatan. Selain itu sistem pemerintahan yang longgar memungkinkan aparatur pemerintahannya untuk berbuat korup.
Dari uraian di atas dapat kita ringkas bahwa kehancuran suatu masyarakat, bangsa dan negara bisa timbul dari berbagai banyak sebab. Bila menilik kepada teori yang diungkapkan hasil penelitian dan olah akal manusia, penyebab kehancuran itu adalah perbuatan manusia dan sifat dari alam tempat tinggal manusia.
Kejahatan Korupsi

Menurut Chandra , korupsi bukan lagi sebuah kejahatan yang biasa, dalam perkembangannya korupsi telah terjadi secara sistematis dan meluas. Menimbulkan efek kerugian negara dan dapat menyengsarakan rakyat. Karena itulah korupsi kini dianggap sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).
Kejahatan korupsi telah disejajarkan dengan tindakan terorisme. Sebuah kejahatan luar biasa yang menuntut penanganan dan pencegahan yang luar biasa. Karenanya sebagai sebuh kejahatan yang dikategorikan luar biasa, maka seluruh lapisan masyarakat harus dibekali pengetahuan tentang bahaya laten korupsi dan pencegahannya.
Korupsi juga dapat memberikan dampak negatif terhadap demokrasi, bidang ekonomi, dan kesejahteraan umum negara.
Dampak negatif terhadap demokrasi korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.
Dampak negatif terhadap bidang ekonomi, korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi karena ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor private, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan.
Dampak negatif terhadap kesejahteraan umum, Korupsi politis ada di banyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas.
Menurut Herman , Indonesia sudah berada di ambang kehancuran akibat tindakan korupsi yang semakin merajalela. Korupsi terus menggerogoti para elite politik bahkan merambah ke ranah hukum. Jika masalah ini dibiarkan, maka negara ini akan menemukan kehancuran kerena perbuatan yang dinamakan korupsi. Kita semua tahu beberapa kasus yang hingga kini belum terungkap dengan jelas, seperti kasus BLBI 47,5 triliun, kasus Bank Century, mafia pajak, mafia hukum, kasus Sesmenpora yang melibatkan bendahara umum partai berkuasa dan terakhir kita dikagetkan dengan masalah kursi haram DPR yang juga melibatkan politisi Partai Demokrat, Andi Nurpati. Betapa kompleknya masalah korupsi di negeri ini yang membuat wajah negeri ini semakin suram dan semakin diambang kehancuran.
Penegak hukum juga tidak luput dari masalah korupsi. Penangkapan hakim Syarifuddin oleh Komisi Pemberantasa Korus (KPK) adalah sebuah bukti nyata bahwa hukum kita bisa dibeli oleh siapa saja yang memimiliki uang. Penangkapan itu semakin menambah buruknya penegakan hukum di negeri ini. Bagaimana bisa bangsa ini keluar dari ancaman korupsi apabila sapu yang mereka miliki juga kotor. Para penegak hukum yang seharusnya menjadi panglima dalam pemberantasa korupsi malah ikut terjebak dalam kasus korupsi. Hal ini menurut saya adalah bukti kegagalan dan ketidakseriusan pemimpin dalam memimpin bangsa. Bahaya korupsi yang telah mengakar harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah untuk menyelematkan bangsa ini. Ketegasan hukum dan keadilan adalah syarat mutlak yang mesti dimiliki negara terutama penegak hukum.
Korupsi Yang Membudaya
Jika kita cermati, masalah korupsi sebenarnya sudah menjadi budaya di negeri ini, mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Malah di era demokrasi saat ini tindakan korupsi sudah menjadi hal yang biasa dipraktekkan oleh para pemimpin bangsa. Dan lucunya lagi para penegak hukum juga terlibat dalam praktek suap-menyuap. Di samping itu, pemerintah terkesan lamban, tebang pilih dan tidak tegas dalam memberantas korupsi yang merupakan salah satu penyebab kenapa tindakan korupsi terus merajalela. Kita lihat saja kasus yang menyeret salah satu kader Partai Demokrat, Mohammad Nazaruddin, yang terus mangkir dan kabur ke Singapur akibat ketidaktegasan pemerintah dalam menangani kasus yang menimpanya. Tidak ada tindakan serius dari pemerintah untuk menangkap para koruptor. Pemerintah seakan tidak memiliki keberanian ketika berhadapan dengan para koruptor kelas kakap.
Tertangkapnya hakim Syarifuddin, menambah potret buram penegakan hukum di Indonesia. Hakim Syarifuddin diduga telah membebaskan 39 terdakwa korupsi dan terakhir dia juga membebaskan gubernur Bengkulu, Agusrin Najamudin. Membudayanya korupsi di negeri ini karena lemahnya penegakan hukum dan miskinnya keteladanan dari para pemimpin bangsa. Ancaman korupsi harus mendapatkan perhatian yang serius dari semua kalangan khususnya pemerintah agar bangsa ini tidak mengalami kehancuran akibat ketidakadilan dalam penegakan hukum. Jika budaya korupsi ini tidak cepat diberantas, penulis khawatir bangsa ini akan mengalami kemunduran dalam segala aspek keghidupan.
Kita masih ingat dengan negeri Saba’ yang hancur akibat korupsi yang merajalela. Korupsi di negeri ini sudah lama membudaya, sejak era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi tindakan korupsi semakin subur. Di era reformasi ini penyakit korupsi tidak hanya menimpa elit pemerintahan saja, akan tetapi hampir semua elit pemerintahan sudah terjangkit penyakit korupsi. Penegakan hukum seakan tumpul jika berhadapan dengan koruptor kelas kakap, seperti pejabat pemerintah. Ketegasan penegakan hukum juga menjadi penyebab tindakan korupsi semakin tumbuh subur di republik ini. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun hancur akibat ulah sebagian pemimpin yang sudah menjadikan korupsi sebagai tradisi.
Untuk mengantisipasi kehancuran bangsa akibat bahaya korupsi, menurut saya harus ada ketegasan dalam penegakan hukum dan keteladanan dari para pemimpin. Keteladanan merupakan keniscayaan yang mesti diberikan para pemimpin supaya tidak terancam perilaku KKN serta menindak dengan tegas bagi siapa saja yang tersangkut masalah korupsi. Keadaan ini membuat masyarakat menjadi frustasi dan menambah image negatif terhadap keberadaan negeri sampai hilang kepercayaan akan apa yang telah dilakukan pemerintah dalam pengembangan negara ini di samping lagi penanganan kasus korupsi yang tidak pernah tuntas.
Menurut Direktur Pukat FH UGM, Zainal Arifin Mochtar, menyebutkan tindak korupsi yang terjadi pada 2010 lalu masih memperlihatkan pola kecenderungan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga untuk tahun 2011 juga akan menunjukkan kecenderungan yang masih serupa. Namun demikian, pada tahun ini akan menjadi sangat mengkhawatirkan. Walaupun sama bahayanya dengan tahun 2010, tetapi pada 2011 kondisinya bisa lebih mengkhawatirkan seperti fenomena gunung es. Di tahun 2011, akan banyak timbunan kasus baru yang merupakan akumulasi dari tahun-tahun sebelumnya yang belum sempat terselesaikan.
Kehancuran bangsa akibat tindakan korupsi tergantung keseriusan pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Jika tidak ada kometmen, ketegasan, dan keteladan dari para pemimpin bangsa maka tindakan korupsi tidak akan pernah selesai dan mungkin tambah parah. Penegak hukum juga harus tegas dan menjadi panglima agar kehancuran bangsa tidak benar-benar terjadi.
Kejahatan Terorisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia , Teror atau Terorismeselalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah.
Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuzaatau mafia Cosa Nostrayang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan.
Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya. Namun, belakangan, kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam kegiatan globalnya, sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya, agar dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya. Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu, sampai saat ini belum ada keseragaman.
Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif. Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi.
Disepakati oleh kebanyakan ahli bahwa tindakan yang tergolong kedalam tindakan Terorisme adalah tindakan-tindakan yang memiliki elemen:
kekerasan
tujuan politik
teror/intended audience.
Definisi akademis tentang Terorisme tidak dapat diselaraskan menjadi definisi yuridis. Bahkan Amerika Serikat yang memiliki banyak act yang menyebut kata terrorism atau terrorist didalamnya, sampai saat ini pun masih belum dapat memberikan standar definisi tentang Terorisme, baik secara akademis maupun yuridis.
Kaitan antara kata dengan kejahatan

Adakah Kaitan Antara Kata dan Perbuatan? Dalam situs tentang kejahatan Holocaust berikut pembahasahannya.
Tantangan utama yang dihadapi penuntut dalam kasus melawan Streicher dan Fritzsche adalah membuktikan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara aktivitas penyebar propaganda Nazi dan pelaksanaan kebijakan agresi atau pembantaian massal. Sekali lagi, benarkah ada kaitan langsung antara kata dan perbuatan? Dalam dua kasus ini, kasus Streicher terbukti lebih kuat: Der Stürmer yang terbit selama dua puluh dua tahun memberi cukup bukti tentang kebencian Streicher yang fanatik terhadap Yahudi dan dorongan untuk melakukan tindakan terhadap mereka.
Pengadilan memutuskan Streicher bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dengan menyimpulkan bahwa dua puluh tiga artikel yang diterbitkan dalam Der Stürmer antara tahun 1938 dan 1941 menyerukan pemusnahan etnis Yahudi. Bukti utama yang digunakan untuk membangun wawasan Streicher tentang “Solusi Pamungkas” adalah bahwa dia berlangganan koran Yahudi Swiss, Israelitische Wochenblat (Israelite Weekly), yang menerbitkan laporan pembantaian yang dilakukan Nazi.
Pengadilan memutuskan bahwa “Hasutan Streicher untuk pembantaian dan pembinasaan saat kaum Yahudi di Timur dibantai dalam kondisi paling mengerikan jelas merupakan penindasan atas dasar politik dan ras yang berkaitan dengan Kejahatan Perang, seperti dijelaskan dalam Piagam, dan merupakan Kejahatan terhadap Kemanusiaan.”
Pengadilan memvonis Streicher dengan hukuman mati di tiang gantungan. Pada tanggal 16 Oktober 1946 pukul 2:12 pagi, dia digiring ke tiang gantungan. Persidangan pasca perang menegaskan peran penting propaganda dalam mempertahankan dukungan publik terhadap rezim Nazi dan dalam membenarkan penindasan terhadap kaum Yahudi dan korban lainnya selama era Holocaust. Penuntutan terhadap penyebar propaganda atas “kejahatan terhadap kemanusiaan” menjadi preseden penting yang diajukan oleh badan-badan dan pengadilan internasional hingga saat ini.
Kejahatan dan Kemaksiatan

Menurut Cahyadi Takariawan Kejahatan dan kemaksiatan, menurut Dr. Ahmad Farid, merupakan faktor yang menyebabkan hati teracuni, sakit dan rusak. Bahaya kejahatan dan kemaksiatan terhadap hati sama seperti bahaya racun terhadap badan. Orang-orang beriman tidak pantas terjebak ke dalam kemaksiatan, karena akan mematikan potensi hatinya. Jika kemaksiatan telah menjadi kesenangan dan rutinitas keseharian, maka bertumpuklah investasi keburukan yang akan mencelakakan kehidupan.
Perhatikan pertanyaan seorang ulama, Ibnul Qayyim, berikut:
“Apa yang menyebabkan Adam dan Hawa diusir dari surga, suatu tempat yang penuh kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan ke perkampungan yang penuh kesakitan, kesedihan dan bencana?”
“Apa yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari kerajaan langit, diusir, dikutuk, sehingga bentuknya menjadi jelek dan menjijikkan; bahkan batinnya lebih buruk dari bentuk fisiknya ? Yang tadinya ia dekat dari kerajaan langit, kini menjadi jauh. Semula memperoleh rahmat, kini mendapat laknat. Semula di surga, sekarang ia di neraka yang apinya menyala-nyala. Akhirnya menjadi makhluk yang benar-benar hina-dina.”
“Apa gerangan yang menyebabkan seluruh penduduk bumi hanyut tenggelam akibat air naik setinggi puncak bukit, di masa Nabi Nuh? Apa yang menyebabkan kehancuran berbagai generasi setelah Nabi Nuh?”
“Apa yang menyebabkan badai gurun menguasai kaum Hud sehingga mereka menemui ajal di permukaan bumi bagaikan batang pohon kurma yang rapuh?”
“Apa yang menyebabkan Allah mengirim suara petir yang keras kepada kaum Tsamud sehingga hati dan perut mereka terpotong-potong dan akhirnya mereka pun binasa?”
“Apa yang menyebabkan Allah membalik negeri kaum NabiLuth dan menghancurkan semua yang durhaka? Dan apa pula yang menyebabkan mereka kemudian dihujani batu kerikil dari Sijjil? Semua ini adalah himpunan siksaan yang belum pernah diturunkan Allah kepada umat lainnya”.
“Apa yang menyebabkan Allah mengirim awan penaung yang berisi hujan api yang menyala?”
“Apa yang menyebabkan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta balatentaranya di Laut Merah? Apa yang menyebabkan Allah menenggelamkan Qarun beserta gudang-gudang harta benda dan keluarganya ke dalam bumi?”
“Apa yang menyebabkan Allah menurunkan berbagai macam siksa dan hukuman kepada Bani Israel berupa peristiwa pembunuhan, penawanan dan penghancuran negeri, atau berupa raja yang zhalim, atau mereka dijelmakan seperti bentuk kera dan babi? Apa yang menyebabkan Allah mengutus kepada Bani Israel, kaum yang memiliki kekuatan yang besar, kemudian merajalela dan membunuh para laki-laki, dan menawan anak-anak dan wanita?”
Semua itu tidak lain karena perbuatan jahat dan maksiat mereka. Bertumpuknya kemaksiatan, kejahatan, kedurhakaan, kemungkaran, tanpa berusaha untuk bertaubat dan keluar dari kegelapan dosa tersebut. Semua kemaksiatan telah menjadi penyebab kehancuran generasi umat terdahulu. Kejahatan selalu menghancurkan nilai kemanusiaan.
Semakin banyak maksiat, semakin hilang sensitivitas hati dan perasaan. Manusia menganggap biasa saja perbuatan jahat, karena banyaknya orang yang melakukan. Manusia menganggap wajar saja perbuatan dosa, karena banyaknya orang yang mengerjakannya.
Ibnu Mas’ud berkata, ”Sesungguhnya orang–orang beriman itu dalam melihat dosa, seperti tengah berada di bagian bawah bukit. Ia khawatir bukit itu longsor dan menimpanya. Dan sesungguhnya orang yang berdosa itu melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya”.
Bilal bin Sa’ad berkata, ”Janganlah kamu memperhatikan kecilnya dosa atau kemaksiatan, tetapi perhatikanlah agungnya Dzat yang kamu bermaksiat kepadaNya.”
Sudah saatnya kita bertaubat dari maksiat, dan selalu berusaha mengindarinya.

Penegakan Hukum atas Kejahatan

Ahmad Sukina menulis sebuah artikel tentang tanda kehancuran bangsa dalam kaitannya dengan sikap terhadap kejahatan.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa ketika Usamah bin Zaid melakukan mediasi kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan hukuman bagi seorang wanita bangsawan bani Makhzum yang ketahuan mencuri, Rasulullah SAW tidak berkenan.
Beliau kemudian berpidato yang intinya menyatakan bahwa umat dahulu telah mengalami kerusakan, karena bila yang tertangkap mencuri adalah bangsawan, maka hukum tidak ditegakkan, tetapi bila yang tertangkap mencuri adalah rakyat jelata, maka hukum ditegakkan.
Beliau menegaskan, “Walloohi, apabila Fathimah putriku mencuri, maka akan aku potong tangannya”. Tidak tegaknya keadilan menjadi penyebab kehancuran suatu bangsa. Hukum tidak ditegakkan tetapi hanya dipermainkan, tajam ke bawah tumpul ke atas.
Bila kalangan rakyat jelata yang melanggar hukum para penegak hukum yang tidak bermoral itu segera menjatuhkan hukuman. Nenek Artija, 70 tahun dari Jember saat ini masih berurusan dengan pengadilan karena dituduh mencuri empat batang kayu bayur.
Begitu juga masih lekat dalam ingatan kita nenek Minah, 55 tahun dari Banyumas diseret ke meja hijau karena dituduh mencuri 3 biji kakao. Sementara seorang mantan petugas pajak yang statusnya sebagai narapidana, bisa melancong ke Bali dan ke luar negeri padahal seharusnya meringkuk di penjara.
Untuk menciptakan kehidupan yang aman, nyaman, damai dan bermartabat tatanan kehidupan sosial harus dibangun di atas prinsip keadilan. Hukum harus bebas dari status sosial.
Kalau tidak bebas maka mereka yang berstatus sosial tinggi akan terlepas dari jeratan hukum Hukum harus bebas dari pengaruh kekuasaan, karena kalau tidak bebas dari pengeruh kekuasaan, maka para pejabat tidak akan tersentuh hukum. Hukum harus bebas dari transaksi jual beli.
Karena bila tidak bebas dari transaksi jual beli, mereka yang berharta akan membeli hukum. Sayang penegakan hukum yang seperti itu sekarang sulit dijumpai. Mereka yang berperkara dan para penegak hukum saling berkolusi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Dalam kisah di atas meskipun wanita pencuri itu dari kalangan bangsawan, karena terbukti mencuri maka tetap dipotong juga tangannya. Ibarat sebuah pedang, hukum memang tidak boleh pandang bulu, harus tajam ke atas maupun ke bawah. Bahkan Rasulullah SAW memberikan penegasan bila Fathimah putri kesayangan beliau mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya.
Kita tidak ingin bangsa ini mengalami kehancuran seperti yang dialami oleh bangsa-bangsa yang terdahulu. Untuk itu hukum harus ditegakkan. Apapun hukum yang berlaku di negeri ini asal hukum itu ditegakkan dengan adil, maka penegakan keadilan itu akan memberikan efek jera kepada para pelanggar hukum.
Mereka akan berfikir ulang untuk melanggar hukum lagi, karena upaya yang telah mereka lakukan untuk berkolusi, berkompromi, menyuap, dan membeli pasal-pasal telah gagal. Disamping itu penegakan hukum yang adil akan menimbulkan rasa takut bagi orang-orang yang berkeinginan untuk melanggar hukum.
Bagi umat Islam sangat mendorong untuk ditegakkan keadilan, karena berlaku adil merupakan satu langkah menuju taqwa. Allah berfirman di dalam Surat Al-Maaidah ayat 8, “…I’diluu huwa aqrabu littaqwaa…” (Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa). Bahkan dalam ayat tersebut Allah menyeru untuk berlaku adil meskipun kepada orang yang kita benci.


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: