Filsafat Berfikir

Tesis Kehancuran Negeri | Februari 17, 2016

PENDAHULUAN

Sebab Kehancuran Menurut Sumber Terpercaya

Tesis adalah pernyataan yang mengandung kebenaran yang dapat dipercaya karena didasarkan kepada argument-argumen yang kuat. Agumen-argumen itu sendiri berasal dari sumber yang terpercaya. Sumber terpercaya tersebut adalah pernyataan al-Quran, pernyataan ilmu pengetahuan dan kenyataan yang ada di data empiris. Sekalipun penulis tidak melakukan pengamatan langsung terhadap data-data empiris, namun data-data yang diperoleh berdasarkan kepada sumber-sumber internet yang dapat dipercaya.

Dalam perspektif al-Quran, kehancuran itu berasal dari rusaknya ulama, pemimpin dan rakyat dalam sikapnya kepada Allah Swt dan pada sesamanya. Intinya adalah rusaknya iman. Adapun menurut perspektif teori, kehancuran itu berasal dari perasaan cukup diri dalam mencapai kemajuan zaman, sikap menikmati warisan dari para pendahulu, dan sifat manusia yang berfikir pendek. Intinya adalah rusaknya akal atau rasionalitas. Sedangkan dari perspektif fakta, kehancuran itu adalah akibat dari utang luar negeri, kuatnya dominasi asing dalam ekonomi, dan korupsi yang sangat akut. Intinya adalah rusaknya harta. Sehingga bila kita gabungkan semuanya, sumber kehancuran itu berasal dari berbagai dimensi. Yaitu iman, akal dan harta. Kerusakan ini selanjutnya menjalar kepada kerusakan keturunan dan jiwa. Kita akan melihat bahwa rusaknya lima perkara ini, adalah penyebab hancurnya suatu peradaban, negara, pemerintahan, masyarakat dan rakyat.

Hancurnya suatu peradaban, negara, pemerintahan, masyarakat dan rakyat bahkan satu diri, dijelaskan secara lengkap di dalam al-Quran. Menurut Al-Quran kehancuran kaum-kaum terdahulu adalah akibat dari keingkaran mereka terhadap dakwah para Nabi. Kedatangan para Nabi dimaksudkan untuk menyelamatkan keadaan kaumnya yang sudah rusak. Namun kehancuran belum terjadi. Kehancuran terjadi, ketika ajakan dan dakwah para Nabi tersebut tidak diikuti. Mereka menolak ajakan para Nabi untuk hidup di dalam alur yang benar. Maka ketika ajakan sudah maksimal, dan keengganan mereka sudah memuncak, sehingga tidak bisa lagi diharapkan keimanan mereka, maka Allah hancurkan negeri mereka. Jadi hancurnya suatu peradaban dalam perspektif al-Quran, merupakan suatu akibat dari kerusakan iman penduduk negeri pengusung peradaban tersebut.

Demikian ringkasan dari berbagai ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kehancuran negeri-negeri di masa lampau, yang penduduknya zhalim, ingkar, kufur, dan menentang dakwah para Nabi, sebagaimana dapat kita baca di dalam al-Quran. Seiring dengan kisah dan penjelasan ini, Al-Quran juga memberitahu kita bahwa Allah masih tetap memberlakukan hukum ini atas penduduk mana pun yang bertingkah sama. Allah tetap akan menurunkan azabNya dan siksaNya ke negeri-negeri yang ingkar kepadaNya. Al-Quran hendak mengingatkan, bahwa bumi ini selamanya adalah dalam genggaman Allah Swt. Ini artinya negeri mana pun termasuk negeri kita, bila tidak mau menerima kandungan Islam, yang merupakan kandungan dakwahnya para Nabi, maka kehancuran lambat laun akan terjadi. Kerusakan sudah sangat nyata, akibat dari sikap sebagian penduduk negeri yang tidak jujur dengan keimanannya, lalu kerusakan ini segera berubah menjadi kehancuran negeri, bila saja kerusakan tersebut semakin parah keadaannya, dan tidak ada upaya untuk mempebaikinya. Inilah kerangka berfikir saya tentang kehancuran dengan sumber informasi dari al-Quran.

Sekarang kita lihat apa, bagaimana, dan mengapa kehancuran dalam perspektif teori. Menurut teori yang dibangun para pemikir, berdasarkan fakta-fakta sejarah atau renungan filosofis, disimpulkan bahwa hancur dan binasanya suatu bangsa, peradaban, dan Negara adalah akibat dari rusaknya moral bangsa tersebut, zhalimnya para pemimpin, akibat peperangan dan kekalahan, dan tidak berdayanya bangsa tersebut dari serbuan bangsa lain. Intinya sumber kehancuran negeri adalah kelemahan dalam pertahanan di segala bidang. Dan sumber kelemahan itu ada pada rusaknya akhlak penduduk negeri. Rusaknya akhlak penduduk suatu negeri adalah akibat dari rusaknya rasionalitas dan akal mereka. Inti suatu kerusakan akal, bukan karena faktor ketidaktahuan. Tetapi sikap memilih dusta, setelah mengetahui kebenaran. Hal ini, demikian hakikatnya, karena, manusia punya akal fikiran. Dan di setiap negeri selalu terdapat ahli-ahli fikir, yang pasti memiliki kapasitas untuk meluruskan cara-cara berfikir yang salah. Hanya saja akal fikiran yang rusak yang didasarkan pada dusta itu, dibiarkan berkuasa di dalam menata kehidupan. Rusaknya akal, rasionalitas, dan ilmu, adalah awal hancurnya bangsa. Sebab hal inilah yang menyebabkan lemahnya berbagai pertahanan di segala bidang kehidupan bangsa tersebut.

Menurut Teori Siklus, kehancuran suatu bangsa adalah karena mengikuti hukum siklus; bahwa suatu bangsa pada awalnya membangun kekuatan, lalu menikmati hasil, kemudian serakah, dan akhirnya hancur. Berdasarkan teorinya ‘ashabiyyah, Ibn Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap, yaitu:
1.Tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas Negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya.
2.Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin Negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.
3.Tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun Negara.
4.Tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya.
5.Tahap hidup boros dan berlebihan. Pada tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan.
Lalu berdasarkan fakta-fakta yang telah dikumpulkan dari sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya, Indonesia, negeri tercinta ini, akhir-akhir ini, bahkan di sepanjang sejarahnya, tidak luput dari peristiwa-peristiwa yang menghancurkan dan membinasakan anak bangsa ini. Penjajahan, kekejaman PKI, penyakit, bencana alam, korupsi, pornografi, prostitusi, pergaulan bebas, narkoba, kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya, banyak menguras energi dan kekayaan material. Negara dan bangsa ini telah cukup direpotkan dengan berbagai peristiwa yang menghancurkan generasi. Sebenarnya kerusakan-kerusakan tersebut, berawal dari kesalahan cara berfikir, bersikap dan berilmu kita selama ini. Sebabnya adalah, tingkah laku kita sebagai bangsa, karakter kita di dalam bernegara, titik tolaknya adalah ilmu, fikiran dan sikap dasar kita atas dunia ini. Jika kita menyebut sebab-sebab kerusakan dan kehancuran itu adalah berupa hawa nafsu, gila jabatan, rakus terhadap harta, tidak belajar dari sejarah dan lain sebagainya, tetap saja ujung-ujungnya adalah berawal dari cara kita berilmu, berfikir dan bersikap yang salah.

Demikian apa yang diungkapkan oleh al-Quran, teori dan fakta, yang saya satupadukan dengan analisa semampu saya. Dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan dari ketiga sumber tersebut, otomatis terbentuklah dalam fikiran saya suatu kerangka berfikir untuk memahami gambaran besar dari konsep dan prinsip suatu kerusakan di suatu negeri. Namun sebelum saya sampai kepada kerangka berfikir yang utuh, saya punya pendapat tersendiri di luar apa yang diungkapkan di dalam paragraf di atas. Pendapat saya ini berdasarkan kepada intuisi. Intuisi adalah seni berfikir dan berfilsafat di luar kaidah nalar logika biasa. Manusia memiliki suatu anugrah dari Allah, dengan suatu keadaan di mana hatinya tiba-tiba sampai kepada suatu kesimpulan dan kebenaran. Saat saya menulis karya iqro ini mengalami banyak informasi secara intuitif, bahwa saya harus menulis ini dan begini. Sifatnya acak, ini tidak mengapa, sebab intuisi ini dibantu oleh kaidah berfikir ilmiah.

Secara intuisi, saya berkeyakinan bahwa rusaknya negeri kita ini, sejatinya terletak karena kita tidak pandai bersyukur kepada Allah, terlalu banyak maksiat, tidak amanah, mudah percaya kepada orang asing, tamak terhadap harta, membiarkan hukum dipermainkan, membiarkan preman menguasai banyak segmen Negara, mengabaikan nasihat ulama, pendidikan yang sekuler, mengabaikan pendidikan agama dan pesantren, tidak menjadikan agama sebagai basis tata pelaksanaan kenegaraan dan kajian ilmu, dan masih banyak perilaku yang keliru dalam kehidupan ini. Kemudian tidak luput pula penyebab dari kehancuran itu adalah adanya konspirasi atau rencana jahat negara-negara yang selama ini dikenal jahat dan merusak tatanan negara lain. Sebut saja, salah satu negara tersebut adalah Amerika. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus memusuhi Amerika, tetapi saya harus mengatakan bahwa kita harus waspada dari ancaman Amerika. Karena sudah banyak bukti Amerika itu menghancurkan banyak negeri, sampai saat ini sekali pun.

Upaya yang Dilakukan untuk Mengatasi Kerusakan

Bangsa kita, Indonesia, sebenarnya telah berupaya untuk keluar dan mengatasi berbagai tanda-tanda kehancuran, demikian pula yang diperankan umat Islam atas Negara dan bangsa ini. Bangsa ini telah berupaya untuk senantiasa memperbaiki keimanan, keilmuan, kekayaan, keluarga dan perlindungan atas jiwa manusia. Program pemerintah dalam mengatasi kejahatan, kemaksiatan, pengkhianatan, kelalaian dan konspirasi jahat, terus dilakukan sepanjang perjalanan bernegara. Negara Indonesia tentu senantiasa berkomitmen melalui berbagai program untuk melindungi bangsa ini dari kehancuran. Baik dalam rangka mencegah ataupun menanggulanginya. Negara Indonesia, pemerintah, rakyat dan semua komponen Masyarakat negeri ini yang sadar dan berkarakter jujur, wibawa dan bertanggung jawab, telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi semua sumber kerusakan dan kehancuran itu melalui kaidah-kaidah kenegaraan dan kebangsaan, sosial, agama, budaya, akademis, dan berbagai jalan yang ditempuh oleh praktisi, politisi, pendidik dan ulama baik melalui pemikiran ataupun tindakan kreatif.

Jika kita berfikir dari sisi lain, negeri dan negara kita, bukan hanya sekedar memiliki kemampuan keluar dari berbagai kerusakan yang terjadi, namun juga harusnya negara kita menjadi Negara Super Power. Sebab kita punya kekuatan akidah yang luar biasa, yaitu Islam; kita punya kekayaan yang luar biasa baik daratannya maupun lautannya, kita punya penduduk dengan jumlah yang besar, kita sudah merdeka selama 70 tahun, kita punya sistem pemerintahan yang handal, para ilmuwan dan cendikiawan kita tidak kurang keunggulan dalam ilmu dan berfikirnya.

Kerusakan Masih Terus Berlangsung

Namun kenyataanya kita bukan negara super power. Negara kita rasanya kurang berwibawa dalam pergaulan Internasional akhir-akhir ini. Sementara kerusakan di dalam negeri masih tetap terjadi di segala bidang Kehidupan bangsa. Kerusakan masih terus berlangsung mulai dari Konstitusi, Ekonomi, Pendidikan, Ilmu, Riset, Pembinaan Olahraga, Bisnis, Keuangan, Makanan, Pakaian, Kerja sama Internasional, Pertahanan, Agama, Penegakan Hukum, Pemberantasan Penyakit Masyarakat, Korupsi dan lain sebagainya. Itu artinya semua upaya-upaya yang dilakukan oleh kita selama ini belum sampai kepada upaya maksimal dan fundamental. Kita semua tidak menginginkan kehancuran negara, negeri dan masyarakat. Khawatirnya adalah semua kerusakan itu mengarah kepada kehancuran Indonesia. Sebab itu saya selalu bertanya, gerangan apakah yang membuat Negara dan bangsa ini tidak maksimal dalam berupaya?

Mengapa negara kita tidak maksimal dalam memperhatikan Islam dan kekayaan negeri? Mengapa Kekayaan negeri tidak menjadi sumber kesejahteraan bagi rakyat? Mengapa Islam tidak dijadikan sebagai sumber rujukan negeri ini dalam mengatasi berbagai masalah? Saya mesti mengkaji masalah ini dan mencari tahu apa sumber utama dari kerusakan negeri, bangsa dan Negara kita.

Salah satu faktor penyebab utama dari kerusakan-kerusakan di negeri yang mengarah kepada hancurnya keutuhan bangsa ini adalah karena kekuatan jahat yang dihembuskan dari negeri-negeri kafir. Dari negeri-negeri yang iri dengan bangsa yang mayoritas Umat Islam ini. Disamping itu terdapat pula kelengahan kita sebagai bangsa atas berbagai kekuatan jahat tersebut. Antara hembusan jahat dan kelengahan bangsa ini menjadi semacam tali buhul yang kuat untuk menyihir bangsa ini tetap dalam proses menuju kelemahan dan kebinasaan. Dengan dua sisi kenyataan ini, jika tidak ada tindakan untuk mengantisipasinya, maka Indonesia berada diambang kehancuran. Dua sisi ini dapat kita lihat buktinya pada berbagai kerusakan di bidang moral, hukum, politik, kebijakan, ekonomi, keamanan, budaya, arah pergulatan bernegara, lemahnya pemuda, rendahnya kadar pendidikan, jumlah rakyat miskin, orientasi yang keliru atas ilmu, menguatnya syiah, acara TV dan kejahatan yang melingkup Indonesia.

Sumber Kerusakan dan Kehancuran

Sumber kehancuran yang menimpa bangsa ini, jika diringkas terletak pada empat hal. Pertama, diabaikannya syariat Islam, padahal bangsa ini mayoritas Islam. Kedua, senang melakukan kejahatan, kemaksiatan dan korupsi, padahal perangkat hukum Negara ini lengkap. Ketiga, upaya-upaya tulus yang dilakukan ulama dan pemimpin Islam untuk membantu keutuhan dan kebaikan bangsa dan Negara ini, banyak diabaikan dan putarbalikan ide-idenya, dan terlalu banyak memfitnah mereka. Keempat, persengkokolan jahat untuk menghancurkan Indonesia itu ada, baik dari dalam ataupun dari luar. Dengan kata lain sumber dari kehancuran itu adalah: Kejahatan, Kemaksiatan, Pengkhianatan, Kelalaian, Konspirasi Jahat yang dilakukan oleh penduduk negeri ini serta mereka yang datang ke negeri ini dengan niat jahat. Sumber kehancuran itu adalah juga bisa berasal dari Bencana Alam dan Sosial sebagai suatu teguran dari Allah Swt. Sumber semua kerusakan itu adalah berupa penyakit hati, thoghut, fitnah, wanita, harta, hawa nafsu dan takut mati.

Selanjutnya penulis menemukan intisari pesan dari wahyu, teori dan fakta sebagai berikut:

1. Inti dari kerusakan adalah perbuatan maksiat dan mengabaikan kebenaran.
2. Ada suatu hukum perbuatan, bahwa keburukan selalu membuahkan keburukan.
3. Fakta-fakta yang muncul di permukaan dan terdeteksi informasinya hanya sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya.
4. Kebaikan bukanlah berupa kebebasan berekspresi dan dilingkupi oleh kemudahan duniawi, tetap terletak pada keimanan.

Dengan demikian kehancuran fatal dalam kehidupan manusia, tanpa melihat individu dan bangsa, terletak pada lima hal. Pertama, ketiadaan iman yang sempurna kepada Allah. Kedua, minimnya amal sholeh atau daya juang untuk mengisi keimanan yang telah tiba di hati. Ketiga, sifat menipu atau menjerumuskan diri dan sesama. Keempat, kengganan untuk melakukan kewajiban namun serius dalam hal yang batil, kelima menempuh jalan pintas atau curang dalam mencapai kenikmatan hidup. Semua ini merupakan inti, sumber, pokok dari kehancuran manusia di bumi atas individu, bangsa, masyarakat. Sekalipun dalam tinjauan masa tertentu, suatu bangsa memiliki kejayaan dunia, hakikatnya mereka tidak akan pernah merasakan kehidupan bahagia dan tentram. Usia yang panjang seseorang atau suatu Negara, sama sekali tidak memberi manfaat bagi dirnya di hadapan hati nurani dan fitrahnya sendiri. Demikian pula di hadapan Allah dan hamba-hambaNya yang sholeh.

Jika kita bertanya, apa sebab dari kelima hal tersebut? Dengan mengkaji berbagai referensi Islam, dapat dikemukan di sini jawabannya. Pertama, karena menjadi korban persekongkolan kejahatan. Kedua, mengikuti setiap bisikan hawa nafsu. Ketiga, kebodohan. Keempat, lemah dalam menghadapi orang-orang yang dengki. Kelima, tidak waspada atas dunia dan para penipu. Keenam, kuatnya cengkeraman thoghut. Ketujuh, kekuasaan berada di tangan para penebar fitnah. Kedelapan, mental cinta dunia dan takut mati. Semua ini bila menguasai hati, pikiran, ucapan dan sistem kehidupan manusia, bangsa, Negara, masyarakat, keluarga dan seseorang, akibatnya adalah ketiadaan iman yang sempurna kepada Allah, minimnya amal sholeh atau daya juang untuk mengisi keimanan yang telah tiba di hati, bersifat menipu atau menjerumuskan diri dan sesame, kengganan untuk melakukan kewajiban namun serius dalam hal yang batil dan kegemaran menempuh jalan pintas atau curang dalam mencapai kenikmatan hidup.

Jika masih bertanya pula apa sebab manusia berkeadaan seperti di atas, maka jawaban ringkasnya adalah karena mereka jauh dari Allah dan tidak meminta kepadaNya hidayah. Tidak memperlakukan al-Quran dengan benar. Tidak memperlakukan ajaran agama dengan benar. Padahal sarana untuk ke arah itu sudah tersedia lengkap. Manusia yang demikian itu adalah karena tidak pernah memenuhi janjinya dengan benar kepada Allah. Bila ini terjadi, dan inilah yang memang menimpa sebagian besar umat dan bangsa ini, maka akibatnya adalah tercerabutnya pintu keberkahan, rahmat dan pertolongan dari Allah. Indonesia adalah negeri di bumi Allah. Sehingga maksiat kepadanya, dan memandang tidak penting akan hidayahNya, adalah awal mula semua kekacauan hidup dan perjalanan bangsa dan Negara ini.

Solusi yang Efektif
Dari alur pemikiran ini, solusi untuk semua persoalan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara kita adalah dengan memohon kepada Allah agar kepada kita diberikan kebeningan hati, kelurusan berfikir sehingga dimudahkan untuk dekat al-Quran, dengan ulama, dengan orang-orang sholeh. Kemudian urusan-urusan selainnya kita wujudkan dengan ilmu dan teknologi yang benar. Dengan konsep politik, ekonomi, budaya yang mengakar kepada wahyu dan pemikiran rasional serta mengikuti konteks perkembangan zaman. Sehingga semua program setiap diri dan politik Negara di arahkan untuk menghidupkan iman, meramaikan amal sholeh, menyuburkan sifat berilmu, berhikmah dan arif bijaksana, mengokohkan kebenaran Islam dan nilai-nilainya. Lalu mengekalkan sifat sabar dan istiqomah dalam berbuat kebaikan di atas apa pun yang terjadi di kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ada dua ukuran pokok untuk menilai apakah proses ber-Indonesia ini berjalan di atas kebenaran ataukah menyimpang. Kedua ukuran itu adalah wahyu dan konstitusi. Bila proses ber-Indonesia itu menyimpang dari dua kaidah ini, sudah dipastikan keberadaan Indonesia akan lemah. Bila kita telusuri konstitusi negara ini, Indonesia memuat dasar dan nilai pemikiran Islam. Sehingga boleh dikatakan bahwa dasar falsafah Negara dan konstitusi Indonesia tidak banyak mengandung problem dari kaca mata Islam. Hanya saja, mari kita nilai implementasinya menurut kacamata Islam dan kaca mata kostitusi itu sendiri. Saya melihat bahwa dalam implementasinya, pergulatan ber-Indonesia ini bukan untuk kepentingan Islam. Dan dalam implementasinya, pergulatan ber-Indonesia, banyak hal yang menyimpang dari konstiusi itu sendiri. Hal ini akan dijelaskan bukti-buktinya pada paparan ke depan.

Kita menyadari dan merasakan berdasar bukti-bukti selama puluhan tahun bernegara, Indonesia ini tidak didedikasikan untuk Islam. Islam memang diperhatikan, namun alakadarnya, dan itu pun sepanjang demi kepentingan Negara. Hampir semua format dan garis besar kebijakan Negara, dalam kaitannya dengan Islam, hanya karena kebetulan Islam adalah agama mayoritas dianut penduduk negeri, bukan karena alasan Islam itu dipandang utama dan penting.

Kita juga menyadari bahwa proses bernegara yang telah berjalan selama puluhan tahun, tidak benar-benar bersesuaian dengan konstitusi, piagam pendirian Negara, tujuan Negara, falsafah Negara. Dari implementasi bernegara ini sudah menyimpang pula dari konstitusi dan semangat kemerdekaan yang digelar dan ditegaskan melalui proklamasi. Dua hal inilah yang merupakan alasan bahwa Indonesia akan hancur, bila hal ini dibiarkan terus berlangsung.

Jika kita mencintai negeri ini, bangsa ini, arahkan Negara ini kepada satu komitmen untuk bertauhid. Dan arahkan dalam prakteknya berpihak kepada Islam dan Umat tanpa mengabaikan penduduk dengan keyakinan batilnya, Negara hanya melayani sisi kemanusiaannya saja atas mereka. Dan bila kita benar mencintai dan berbakti kepada Negara, bekerjalah dengan penuh kejujuran, mengikuti aturan, dan jangan menjual Negara ini, jangan menjadikan Negara sebagai alat pemeras keringat rakyat untuk kepentingan penguasa semata dan persekongkolan jahat.

Mengokohkan tauhid dan menegakkan keadilan adalah dua kata kunci bernegara yang menjamin kita semua keluar dari perbagai tanda-tanda kehancuran bangsa dan Negara ini. Yang satu berdimensi ketaatan vertikal, yang satu berdimensi kearifan horizontal.

Kehancuran terjadi akibat dari kezhaliman para pemimpin negeri, tidak bersyukurnya rakyat, dan kesepakatan penduduk suatu negeri untuk tidak taat kepada Allah Swt. Inilah tiga hal yang menurut hati dan pikiran saya yang menjadi sebab hancurnya negeri-negeri. Kalau misal kita menemukan fakta di hari ini, bahwa suatu Negara atau negeri ternyata memiliki tiga ciri tersebut, namun ternyata tidak juga hancur, maka yang benar adalah negeri tersebut telah memiliki cikal bakalnya.

Atau Allah bermaksud membiarkan mereka bergelimang dalam kenikmatan hidup sehingga dosa demi dosa semakin mudah diperbuat untuk selanjutnya diganti dengan suatu bencana dan kehancuran yang mengerikan. Bila saat ini, kita menyaksikan bahwa Amerika dan Eropa tetap Berjaya, kuat dan mendominasi dunia, padahal mereka itu kafir, zhalim dan kufur nikmat, maka sesungguhnya Negara dan negeri mereka amat rapuh, dan mudah untuk hancur, apakah dihancurkan atau pun hancur dengan sendirinya.

Boleh saja, para pemimpin Amerika dan Eropa mengatakan bahwa negeri mereka kuat dan tidak mungkin Negara-Negaranya bubar, namun tidak bisa dibantah bahwa dari kacamata kilasan hati dan nurani, mereka sebenarnya amat sangat hancur dengan segala kerusakan moral dan mentalnya. Diakui bahwa mereka tampil di atas peradaban saat ini sebagai pengendali dan pemegangnya, menguasai puncak-puncak ilmu dan teknologi, tetapi pada gilirannya, semua tidak mengantarkan mereka kecuali suatu kehidupan yang gelap dari cahaya ilahi dan nurani. Mereka hanya kuat secara lahir, sebab hanya itu yang mereka tahu dan peduli, namun terhadap hakikat kehidupan masa depan berupa akhirat, mereka benar-benar tidak memiliki perhatian, karenanya diri mereka tidak bernilai.

Kembali kepada Islam sebagai Solusi

Dari itu, saya punya saran, saran yang sifat umumnya dan mudah dipahami oleh mereka yang paling sederhana sekalipun dalam cara berfikirnya. Solusi itu adalah kembali ke jalan yang benar. Yakni jalan Islam. Islam menyediakan seperangkat cara dalam mengelola Negara dan masyarakat. Islam adalah amanah yang Allah berikan kepada kita, manusia. Solusi atas masalah kehancuran adalah dengan berbuat benar: tauhid dan adil. Dan tidak akan pernah hilang kebodohan dan kelemahan kita, sepanjang bukan Islam yang dijadikan sandaran kekuatan penataan hidup ini.

Sebagai solusi atas masalah tersebut, maka Revolusi Mental, karakter, Iman, dan Ilmu harus segera diwujudkan. Mereka yang bertanggung jawab atas semua ini adalah Para Guru, Pemimpin, Ulama, PNS, Pengusaha, Pemikir, Praktisi Kreatif, Pemuda, Ibu Rumah Tangga, Pejabat, Penegak Hukum dan semua Komponen Bangsa ini.

Kita harus berani berubah dan mengubah kebiasaan yang buruk, mulai dari rasa cinta pada negeri dan bangsa serta Negara, cinta pada nilai kebenaran, cinta pada warisan luhur nenek moyang yang lurus, dan harapan akan kejayaan masa depan bangsa. Juga niat luhur untuk mendapatkan rido dari Allah Swt. Kita harus bangga sebagai bangsa dan bangga dengan Negara. Lalu semua ini berjalan dan dibingkai oleh rasa ketakwaan dalam arti Islam.

Solusi fundamental kita sebagai bangsa adalah kembali kepada janji kita untuk memiliki ketakwaan kepada Allah Swt. Sebagaimana yang sering kita ucapkan selama ini dalam berbagai kesempatan. Namun apabila kita tidak benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah dalam segenap ranah kehidupan bangsa dan Negara, pemimpin dan rakyat, maka itu tanda kita tidak bersyukur kepada Allah, dan yang kita nanti adalah suatu kehancuran yang pasti.

Cianjur, 17 Februari 2016


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: