Filsafat Berfikir

EPISTEMOLOGI IQRO | Februari 20, 2016

 

 

Pengantar

 

“Kehancuran Negeri-negeri”; 1. Apa yang diungkap sumber ilmu tentang kehancuran negeri-negeri? 2. Bagaimana keadaan negeri kita saat ini dari perspektif kehancuran negeri-negeri? 3. Apa solusi yang ditawarkan penulis dalam menyikap tanda-tanda kehancuran Negeri Indonesia?

 

Informasi yang diperoleh dari sumber pengetahuan yang sah adalah landasan pemikiran yang membentuk kerangka berfikir. Kerangka berfikir berguna untuk membuat model paradigma. Model paradigma berguna dalam memandang suatu masalah kehidupan dan mencarikan jawaban atas masalah tersebut.

 

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual[1].

 

Pesan-pesan universal bersumber dari al-Quran beserta Hadits, Teori beserta pendapat para ahli, fakta-fakta atau fenomena dan intuisi penulis sendiri. Tingkat kebenarannya ada yang mutlak dan ada yang relatif. Yang mutlak itu adalah al-Quran dan Hadits, sedang yang lainnya bersifat relatif.

 

Dalam pandangan Islam, ayat-ayat Allah itu ada dua macam, yaitu Qouliyah dan Kauniyah. Ayat-ayat kauniyah yakni ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah Swt seputar alam semesta dan semua yang ada didalamnya seperti angin dan hujan, tentang bumi, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya yang meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil  ataupun yang besar. Ayat-ayat qauniyah merupakan kandungan ilmiah dari ayat-ayat qauliyah dalam Al Quran.[2]

 

Kehancuran merupakan fenomena di tengah kehidupan manusia dan disinggung di dalam al-Quran, dibahas oleh para ahli, terdapat di dalam kehidupan yang kita alami, dan secara intuitif kita mengatakan bahwa kehancuran itu terkait erat dengan perilaku kita di dunia. Kita akan mengatakan bahwa bila seseorang yang tidak cakap mengurus suatu urusan, maka akibatnya adalah kekacauan. Kalimat ini dibenarkan oleh intuisi kita, akal dan bahkan Hadits[3].

 

IQRO dalam buku ini adalah istilah khusus yang saya ciptakan sendiri. Yang mungkin berbeda dengan arti yang umum ditemukan. IQRO dimaksudkan sebagai suatu alternatif dari karya tulis semacam makalah, skripsi, dan tesis. Hanya saja ketika kita berbicara karya tulis berupa makalah, skripsi, tesis dan disertasi, tendensinya adalah suatu karya ilmiah yang bersandarkan pada metode ilmiah Barat, yang hanya bersandarkan pada rasional dan empiri. Maka IQRO ini berbeda dengan karya ilmiah tersebut. Karena dalam IQRO, wahyu dilibatkan. Namun juga berbeda dengan buku agama, yang tendensinya wahyu saja.

 

Dengan demikian IQRO adalah sejenis pengetahuan yang menggabungkan sumber ilmunya dari wahyu, pengetahuan rasional, bukti empiris, dan intuisi dengan metode tertentu. Metode IQRO dapat dilihat dari susunan penulisannya. Susunan IQRO yang sebenarnya terdiri atas 8 bab, yaitu: 1.Landasan iqro, 2.Pendahuluan tafakur, 3. Pesan-pesan universal , 4. Realtesis, 5.Hasil tafakur dan iqro, 6. Pembahasan, 7. Kritik dan argumentasi dan  8. Pesan, refleksi dan doa. Namun ketika hasilnya disajikan dalam bentuk buku popular, seperti yang ada di tangan pembaca saat ini, susunannya berubah. Perubahan itu tidak secara substantif, tetapi secara kemasan saja. Yang dimaksud dengan metode tertentu adalah metode irfani.

 

IQRO ini berjudul “KEHANCURAN NEGERI-NEGERI”; dengan judul ini, terlintas tiga pertanyaan penting. 1. Apa yang diungkap sumber ilmu tentang kehancuran negeri-negeri? 2. Bagaimana keadaan negeri kita saat ini dari perspektif kehancuran negeri-negeri? 3. Apa solusi yang ditawarkan penulis dalam menyikap tanda-tanda kehancuran Negeri Indonesia? Penjelasan dan jawaban atas tiga pertanyaan tersebut tersirat dalam susunan IQRO yang kemasaannya telah diubah menjadi buku popular ini. Disamping menjawab tiga pertanyaan tersebut, IQRO ini pun menjawab pertanyaan mengapa tema ini dibahas, dan untuk apa?

 

Menjawab pertanyaan “ apa yang diungkap sumber ilmu tentang kehancuran negeri-negeri?” Terlebih dahulu harus dikemukakan, apa sumber ilmu yang dapat dipercaya? Sumber ilmu yang dapat dipercaya itu adalah wahyu, rasio, indra, dan intuisi. Penjelasan tentang sumber ilmu, cara mencapa ilmu, validitas ilmu dan batas-batas ilmu dibahas di dalam filsafat, terutama di dalam  epistemologi.

 

Epistemologi berbicara setidaknya tentang empat hal, yaitu sumber ilmu, metode ilmu, validitas ilmu dan batas ilmu manusia. Epistemologi Iqro mengambil sumber ilmunya dari empat cabang, sebagaimana diungkapkan di atas, yaitu wahyu, pengetahuan rasional, bukti empiris, dan intuisi penulis sendiri. Dalam menyusun IQRO tentang “KEHANCURAN NEGERI” ini, saya merujuk kepada keempat sumber pengetahuan tersebut. Dan penjelasannya lengkapnya adalah berikut ini.

 

Epistemologi

 

Metode Menyusun Ilmu

 

Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Mengetahui dalam arti yang paling penuh serta paling tegas, yaitu mengetahui dengan kepastian dan dapat menyatakan mengapa barang sesuatu itu seperti keadaannya dan tidak dapat lain daripada itu, artinya mengetahui berdasarkan sebab-sebabnya.[4]

 

Cara kita menyusun pengetahuan banyak sekali ragamnya. Al-Quran, Filsafat, Teori dan Pengalaman memberikan pembahasan cara menyusun ilmu yang beragam. Keragaman ini bersifat saling melengkapi. Pembahasan tentang metode meraih ilmu dibahas di dalam epistemologi.

 

Menurut Filsafat, metode kita menyusun ilmu atau pengetahuan yang benar, harus memahami kaidah epistemologi. Epistemologi adalah bahasan filsafat di bidang pengetahuan manusia, mengenai sumber, metode, validitas dan batas pengetahuan.

 

Menurut al-Quran, metode untuk mendapatkan pengetahuan ialah dengan memfungsikan indra, akal dan hati. Kemudian melakukan aktifitas berupa iqro dan tafakur atas ayat-ayatNya, baik itu al-Quran, alam semesta, diri ataupun bekas-bekas peninggalan masa lalu.

 

Menurut Ilmu Pengetahuan atau Teori, cara menyusun ilmu itu adalah dengan menggunakan teori dan data empiris, sehingga memerlukan keberfungsian akal fikiran dan indra, penelaahan pustaka ilmu, dan penelitian di lapangan, dengan mengikuti suatu alur yang disebut dengan metode ilmiah.

 

Menurut Pengalaman, pengetahuan dapat diperoleh dengan mengalami, mengamati apa yang terjadi, baik langsung ataupun tidak langsung. Yang termasuk tidak langsung adalah berupa sejarah, yakni pengalaman manusia pada masa lampau.

 

Menurut Intuisi, cara menyusun ilmu itu adalah dengan secara tiba-tiba, tanpa metode. Dengan intuisi, manusia yang memperoleh pengetahuan yang tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tanpa melalui proses berpikir berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai disitu.[5]

 

Epistemologi, disebut juga dengan filsafat ilmu, merupakan cabang filsafat yang mempelajari dan menentukan ruang lingkup pengetahuan. Epistemologi berusaha membahas bagaimana ilmu didapatkan.[6]

 

Epistemologi merupakan cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana manusia memperolehnya. Dalam dunia sains atau cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya, posisi epistemologi sangat fundamental. Sebab, teori-teori pengetahuan dibangun asasnya di atas empistemologi. Sehingga, problematika ilmu pengetahuan dapat ditelusuri dari epistemologinya.[7]

 

Jujun Suriasumantri mengatakan, setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri spesifik atau metode ilmiah mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan saling memiliki keterkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu dan epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.[8]

 

Menurut Dwi Citra Nurhariyanti, Epistemologi merupakan salah satu diantara tiga hal besar yang menentukan pandangan hidup seseorang. Pandangan disini berkaitan erat dengan kebenaran, baik itu sifat dasar, sumber maupun keabsahan kebenaran tersebut. Konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya.[9]

 

Salah satu cabang dari Epistemologi berkaitan dengan sumber pengetahuan. Apa saja sumber pengetahuan yang dapat diperoleh manusia? Beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:

  1. Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos= pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.
  2. Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan GottriedLeibniz (1646 –1716).
  3. Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
  4. Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rosul). Melalui wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau ataupun tidak terjangkau oleh manusia.

 

Dalam tradisi Barat, yang saat ini memengaruhi tradisi penyusunan ilmu pengetahuan di seluruh dunia, ilmuwan hanya mengakui dua sumber ilmu, yaitu empirisme dan rasionalisme dengan ciri yang mudah dikenali yaitu skeptisisme, sekulerisme, dan penentangan terhadap wahyu. Wahyu tidak dilibatkan dalam pembentukan ilmu pengetahuan.

 

Epistemologi berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. Ontologi dari suatu filsafat yang berbeda menentukan epistemologi yang berbeda dengan aliran filsafat yang lain.

 

Misalnya ontologi dalam Filsafat Islam, berbeda dengan ontologi filsafat Barat, Filsafat China, dan Filsafat Pancasila. Dalam ontologi Islam, yang disebut realitas itu adalah Allah, alam semesta, manusia dan hari kiamat. Semua penjelasan menurut sumber-sumber Islam tentang realitas tersebut masuk akal dan dapat diterima dengan baik oleh hati. Memang tidak semua manusia menerima realitas ini, untuk itulah di dalam Islam, ada istilah mukmin dan kafir. Mukmin itu adalah orang yang meyakini ontologi Islam dan menjadikannya sebagai dasar pandangan hidupnya. Sedangkan kafir maksudnya ialah orang yang mengingkari dan menolak Islam.

 

Karena faktor ontologi ini, maka lahirlah epistemologi Islam, yang berbeda jauh dengan epistemologi Barat, China, Pancasila dan lain-lain. Berbeda itu bisa berarti bertentangan, namun tidak bertentangan secara keseluruhan. Dalam Epistemologi Islam, wahyu diterima sebagai sumber ilmu, bahkan merupakan sumber utama ilmu, obyek pertama dalam berilmu, serta parameter dalam mengukur validitas kebenaran ilmu yang lainnya.

 

Epistemologi terkait pula dengan Aksiologi. Aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu. Berbicara mengenai nilai itu sendiri dapat kita jumpai dalam kehidupan seperti kata-kata adil dan tidak adil, jujur dan curang. Hal itu semua mengandung penilaian karena manusia yang dengan perbuatannya berhasrat mencapai atau merealisasikan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.[10]

 

Jadi menurut Filsafat, cara kita menyusun ilmu ialah berangkat dari ontologinya, lalu diolah melalui epistemologi. Selanjutnya ilmu yang telah diperoleh diarahkan kepada aksiologi dalam Filsafat tersebut.

 

Epistemologi Islam

 

Dalam hal apa pun saya tidak bisa melepaskan diri sebagai muslim. Karena itu dalam kajian ilmu pun saya wajib menyandarkan diri kepada Islam.

 

Kholili Hasib menjelaskan prinsip epistemologi Islam, saya menyajikannya dengan meringkasnya sebagai berikut.

 

Dalam Islam, epistemologi diasaskan oleh pandangan alam Islam. Yakni dengan menempatkan konsep Tuhan dan wahyu sebagai saluran epistemologi yang paling tinggi yang sifatnya mutlak.  Karena itu, cara paling mendasar dari proyek Islamisasi Ilmu adalah mengislamkan epistemologi. Yakni, bagaimana memperoleh ilmu dari sarana-sarana yang berdasarkan pandangan alam Islam. Sarana-sarana yang membatasi pada aspek empirik dan rasio belaka dalam memperoleh ilmu tidak sesauai dengan pandangan alam Islam. [11]

 

Westernisasi ilmu yang bersumber kepada akal dan panca-indera belaka telah melahirkan berbagai macam faham pemikiran seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnostisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Westernisasi ilmu bukan saja telah menceraikan hubungan antara alam dan Tuhan, namun juga telah melenyapkan Wahyu sebagai sebagai sumber ilmu. Demikian kata Syed Naquib Alatas.

 

Perbedaan yang mendasar inilah yang menjadikan problem epistemologis. Pada dasarnya, poin utama perbedaan metodologi Islam dan Filsafat sains sekular adalah cara mendapatkan kebenaran pengetahuan. Filsafat ilmu sekuler menggunakan metode rasionalis-empiris, menolak wahyu dan otoritas tetap, serta menjadikan skeptisisme (keraguan) sebagai metode epistemologi.

 

Secara garis besarnya, epistemologi Barat barcabang menjadi postivisme, rasionalisme, dan sopisme.

 

Paham positivisme dimotori oleh Auguste Comte yang kemudian dikembangkan oleh John Stuart Mill dan Emile Durkheim. Menurut aliran ini, keilmiahan ilmu diukur dengan dua hal, yaitu adanya Pertama, data positif (realis), Kedua telah dibuktikan melalui eksperimen, observasi dan komparasi.

 

Semuanya berdasarkan realisme dan sumber-sumber empirik. Sedangkan agama dianggap tidak ilmiah sebab, agama tidak dapat diukur dengan angka-angka, dan ajaran agama tidak dapat diuji secara empiris. Keilmiahan yang minus agama ini lah yang menjadi kekurangan filsafat ilmu Barat.

 

Aliran Rasionalisme dikaitkan dengan filsuf Prancis Rene Descartes, Spinoza dan lain-lain. Paham ini beranggapan bahwa ada prinsip-prinsip dasar yang diakui benar oleh rasio manusia. Descartes menyebut prinsip dasar itu dengan innate ideas (ide bawaan) yang sudah ada dalam jiwa manusia sebagai kebenaran yang terang. Kebenaran yang menurut Descartes tidak bisa diragukan keberadaannya.

 

Positivisme dan rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu Barat. Namun, ada hal yang bisa bertemu antara dua aliran ini dengan epistemologi Islam. Islam meyakini sumber realis dan akal sebagai salah satu sarana memperoleh ilmu pengetahuan. Namun yang berbeda adalah, Islam tidak meyakini bahwa keduanya menjadi satu-satunya sumber ilmu. Barat menerima postivisme dan rasionalisme, tapi mereka menolak wahyu.

 

Demikian penjelasan dari Kholili Hasib. Dengan dasar pemikirannya ini, saya mengambil kesimpulan bahwa, ilmu pengetahuan yang dikembangkan Barat itu, tidak serta merta seluruhnya berlawanan dengan Epistemologi Islam. Hanya saja, kita menentang, jika sumber ilmu hanya sebatas dari sumber rasional dan empiris saja. Untuk itulah, wahyu tetap dibawa, dalam karya IQRO ini sebagai sumber ilmu, bahkan merupakan sumber ilmu yang utama.

 

Epistemologi Islam itu bertujuan untuk memberikan ruang gerak bagi umat muslim pada khususnya, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemologi Barat. Dikalangan pemikir muslim menawarkan “segala sesuatu” berdasarkan epistemologi Islam. Di dalam Islam epistemologi berkaitan erat dengan metafisika dasar Islam yang terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadist, akal, dan intuisi. [12]

 

Salah satu ciri utama ilmu pengetahuan Islam adalah wahyu Tuhan ditempatkan di atas rasio. Wahyu memperoleh kedudukan yang paling tinggi dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan Islam, sehingga wahyu dijadikan sebagai sumbet kebenaran mutlak suatu kebenaran. Jadi rusaknya keberagamaan umat Islam lebih karena rusaknya pemikiran dan hancurnya peradaban Islam karena hancurnya bangunan ilmu pengetahuan. [13]

 

Ilmu dalam Islam mengantarkan seseorang untuk mengenal Allah Swt. Untuk mengenal-Nya manusia memerlukan sarana-sarana yang menuju kepada pengenalan dzat-Nya yang Maha Abadi. Salah satunya adalah beriman kepada Rasulullah Saw sebagai Nabi dan Utusan-Nya. Karena tanpanya manusia tidak mampu meraih pengetahuan akan Allah. Meskipun manusia dilengkapi dengan potensi akal, namun dalam hal mengenal Tuhan ia membutuhkan petunjuk, sebab akal tidak dapat menjangkau hal yang metafisik. Maka, Allah melalui lisan Rasul-Nya memberikan petunjuk seperangkat tatacara untuk sampai kepada-Nya. Jadi ilmu dalam Islam senantiasa berdimensi Iman dan Ihsan. Ilmu dalam Islam berpijak kepada wahyu Allah Swt sebagai sumber ilmu yang absolut. [14]

 

Sumber Ilmu dalam Islam

 

Sumber utama Ilmu dalam Islam adalah al-Quran dan Al-Hadits. Namun sumber ilmu dalam pandangan Islam, bukan hanya al-Quran, Hadits, tapi juga akal fikiran, dan indra, tetapi juga melingkup bashiroh atau pandangan mata batin yang timbul dari pengalaman iman dan ibadah yang dilakukan orang-orang sholeh. Islam mengakui bahwa intuisi merupakan sumber ilmu juga. Epistemologi Islam itu bersifat irfani. Artinya didasarkan pada pengalaman iman dan ibadah.

 

Metode irfani adalah model metodologi yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung atas realitas spritual keagamaan. Sasaran bidik irfani adalah bagian esoterik (batin) teks, karena itu rasio berperan sebagai alat untuk menjelaskan berbagai pengalaman spritual tersebut.[15]

 

Menurut Kaniawati sumber-sumber ilmu pengetahuan itu secara garis besar ada tiga, yaitu alam semesta (alam fisik), Alam akal (nalar) dan Hati (intuisi dan ilham).[16]

 

Demikian pula menurut Dr. Syamsuddin Arif, sumber-sumber ilmu dan bagaimana meraihnya ada tiga, yaitu persepsi indra (idrak al-hawass), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq).[17]

 

“Persepsi indrawi meliputi lima (pendengar, pelihat, perasa, pencium, penyentuh), plus indra keenam yang disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis yang menyertakan daya ingatan atau memori (dhakirah), daya penggambaran (khayal) atau imajinasi dan daya estimasi (wahm). [18]

 

Proses akal mencakup nalar (nazar) dan alur pikir (fikr) dengan nalar dan alur pikir ini kita bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat keputusan dan menarik kesimpulan. Selanjutnya, dengan intuisi qalbu seseorang dapat menangkap pesan-pesan gaib, isyarat-isyarat ilahi, menerima ilham, fath, kasyf, dan sebagainya. [19]

 

Sumber lain yang tak kalah pentingnya adalah khabar sadiq yang berasal dari dan bersandar pada otoritas. Sebuah khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai akhir zaman. [20]

 

Selanjutnya mengenai indra sebagai sumber ilmu, Islam mengakui indera ini memberikan sumber informasi dan juga sumber ilmu. Dan dalam sains disebut empirical sources. Sebagai salah satu sumber empiris yang memang diakui Islam sebagai sarana manusia menerima ilmu. [21]

 

Mengenai akal sebagai sumber ilmu dijelaskan bahwa fungsi akal ini adalah dapat menutupi kelemahan panca indera. Akal menafsirkan fakta-fakta dari pengalaman inderawi untuk menghasilkan hukum, kesimpulan yang dapat dipahami. [22]

 

Namun begitu, akal memiliki keterbatasan. Akal harus selaras dengan bimbingan wahyu. Kedudukan akal dalam khazanah Islam adalah untuk memastikan, mengokohkan dan mengabsahkan suatu keyakinan. Ini tidak berarti bahwa sumber kebenaran wahyu adalah akal, atau akal dapat dijadikan satu- satunya patokan untuk menilai salah atau benarnya wahyu. [23]

 

Mengenai khabar shodiq, Imam Nasafi menjelaskan bahwa yang termasuk khabar shadiq ada dua.

 

Pertama, khabar mutawatir, yaitu informasi yang tidak diragukan lagi karena berasal dari banyak sumber yang tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta, disampaikan dari satu generasi ke generasi lain dan oleh karena itu merupakan sumber ilmu yang pasti. Kedua, informasi yang dibawa dan disampaikan oleh para Rasul yang diperkuat dengan mu’jizat. Informasi melalui jalur ini bersifat istidlali, yakni bisa diterima dan diyakini kebenarannya jika telah diteliti dan dibuktikan terlebih dahulu statusnya. [24]

 

Informasi mutawatir yang terbentuk oleh kesepakatan bersama, yang termasuk di dalamnya sarjana, ilmuan, dan orang yang berilmu pada umumnya, dapat dipersoalkan oleh nalar dan pengalaman. Tetapi otoritas jenis kedua, yaitu pesan yang dibawa oleh Nabi dan Rasul, yang juga dikukuhkan oleh kesepakatan umum, sifatnya mutlak. Sehingga tingkat otoritas tertinggi dalam Islam adalah al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Kedua otoritas ini dibangun di atas tingkat-tingkat kognisi intelektual dan ruhaniah yang lebih tinggi, dan di atas pengalaman transsendental yang tidak dapat disempitkan hanya pada tingkat akal dan pengalaman biasa. [25]

 

Saya simpulkan bahwa sumber ilmu dalam Islam itu terdiri atas indra, akal, dan wahyu dengan sifatnya yang irfani. Artinya bahwa dalam menyikapi sumber ilmu tersebut, seorang muslim berada dalam keimanan kepadanya. Iman tidak hanya sekedar percaya dan membenarkan, tetapi bertindak mengamalkannya. Sehingga indra dan akal yang dijadikan sumber ilmu di dalam Islam, adalah indra dan akal yang taat kepada Allah Swt.

 

Islam menganjurkan bahkan mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim dan muslimat. Dalam hadisnya yang lain Nabi Muhammad mengatakan bahwa menuntut ilmu itu dari ayunan sampai liang kubur. Jadi dapat dipahami bahwa menuntut ilmu sangat penting bagi manusia. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang yakin dan berilmu,” Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS,Al-Maidah:11).

 

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa menuntut ilmu penting bagi manusia, karena dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah Swt dan di sisi manusia.

 

Dalam hadis yang lain Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa kalau manusia ingin bahagia di dunia maka harus dengan ilmu, kemudian siapa yang ingin bahagia di akherat harus dengan ilmu, selanjutnya kalau manusia ingin bahagia dunia dan akherat maka dengan ilmu. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa ilmu akan mendukung manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Kebahagiaan hakiki akibat ilmu ditentukan bvenar tidaknya manusia dalam mencari kebenaran.

 

Hakikat Epistemologi Islam

 

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, prinsip ontologi dalam Islam dapat disebut juga sebagai visi metafisis tentang wujud dan realitas tertinggi yang diambil dari wahyu. Wujud Tuhan sebagai realitas tertinggi dalam Islam adalah sentral. Dalam Islam realitas alam fisik yang tampak (sensible world) dipandang sebagai realitas relatif yang berhubungan dan bergantung pada realitas metafisis absolut. Karena susunan dan sistem kebendaan pada alam ciptaan adalah analog dengan susunan dan sistem kata dalam wahyu, maka benda-benda pada dunia empiris harus diperlakukan sebagai kata-kata, sebagai ayat dan simbol yang terdapat dalam jaringan konsep-konsep yang seluruhnya menggambarkan suatu kesatuan organis yang merelekflesikan al Qur’an itu sendiri.[26]

 

Menurut Yayat Hidayat, dalam konsep filsafat Islam, obyek kajian ilmu itu adalah ayat-ayat Tuhan sendiri, yaitu ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan terkandung dalam ciptaan-Nya yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri. Kajian terhadap kitab suci dan kembali melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta, dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti, termasuk di dalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitannya dengan dimensi fisiknya, akan tetapi kajiannya pada dimensi non fisiknya, yaitu perilaku, watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan ilmu Humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat-ayat Tuhan itu yang dilakukan pada tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya, melahirkan ilmu filsafat. [27]

 

Kesimpulan, al-Quran sebagai wahyu dari Allah Swt, merupakan sumber ilmu. Dengan demikian, al-Quran sudah seharusnya menjadi rujukan dalam melihat realitas dan membangun kehidupan ini. Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, para ulama pertama-tama menjadikan al-Quran sebagai sumber ilmunya.

 

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang sumber ilmu, validitas ilmu, cara mendapatkan ilmu, dan batas akhir pengenalan manusia. Epistemologi Islam menghendaki dua hal yang fundamental yaitu mengenai sumbernya dan metodenya. Sumbernya adalah wahyu, akal, indra, dan intuisi, sedangkan metodenya adalah irfani. Titik tolak terbentuknya epistemologi Islam ini adalah dari Ontologi Islam yang meyakini akan adanya Alloh, Nabi, Wahyu, dan Hari Kiamat. Sedangkan hal yang dituju dari epistemologi Islam adalah aksiologi konsep seroang Muslim berupa keinginan untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa. Jadi tujuan kita berilmu adalah demi mencapai derajat takwa kepada Allah Swt.

 

Atas dasar penjelasan tentang Epistemologi Islam, berikut ini dirumuskan Epistemologi IQRO.

Epistemologi IQRO

 

Sumber pengetahuan IQRO tentang Kehancuran Negeri-Negeri yang saya tulis ini, yaitu al-Quran, Teori Ilmu Pengetahuan, Fakta, Studi Pustaka, Artikel dan Intuisi saya sendiri.

 

Al-Quran

 

Argumentasi al-Quran dijadikan sumber Ilmu

 

Mengapa al-Quran dijadikan sumber pengetahuan dalam IQRO tentang “Kehancuran Negeri-Negeri”?

 

Pertama secara teleologis, karena al-Quran merupakan pedoman bagi muslim dalam memandang realitas dan menata kehidupan. Seorang muslim wajib menjadikan al-Quran sebagai sumber ilmunya yang utama. Sehingga tanpa sudut pandang filosofis sekali pun, sudah amat jelas alasan mengapa al-Quran dijadikan sumber ilmu. Karena saya muslim, maka al-Quran adalah sumber utama ilmu saya.

 

Kedua secara epistemologis, karena al-Quran merupakan salah satu sumber ilmu, disamping akal dan indra. Bahasan tentang ini sudah dikemukakan di atas. Kita sudah membahas mengapa al-Quran harus dijadikan sumber pengetahuan.

 

Ketiga secara metodis, karena al-Quran menghargai akal, indra dan hati manusia sebagai alat untuk menangkap ilmu. Lebih dari itu, al-Quran juga memberikan bimbingan terhadap ketiganya agar ilmu yang dicapai meraih nilai kebenran dan validitas ilmu setinggi-tingginya.

 

Keempat secara teologis normatif, karena al-Quran itu adalah wahyu dari Allah. Oleh karena itu al-Quran menjelaskan segala sesuatunya dengan kebenaran yang mutlak, tidak mengandung keraguan.

 

Kelima secara pragmatis, karena al-Quran merupakan petunjuk hidup untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Petunjuk-petunjuk yang diberikan al-Quran mengenai konsep dan prinsip, seluruhnya merupakan rahmat bagi kehidupan manusia.

 

Keenam secara praktis, karena al-Quran berbicara tentang tema kehancuran negeri-negeri. Al-Quran menyediakan informasi tentang sebab, hakikat dan solusi kehancuran negeri-negeri. Jadi kita akan memperoleh ilmu tersendiri tentang dimensi kehancuran negeri-negeri menurut perspektif al-Quran.

 

Pandangan Umum terhadap al-Quran

 

Al-Quran adalah Wahyu

 

Al-quran adalah wahyu, kalamulloh, Allah yang berbicara di dalamnya. Sehingga semua perkataan di dalam al-quran adalah benar dan mengandung hikmah yang sangat banyak. Al-Quran merupakan sumber kebenaran dan informasi yang akurat.

 

Al-Quran Pembeda Iman dan Kafir

 

Menurut Abdurrahman al-Jibrin, terdapat perbedaan antara prilaku orang yang keadaannya memiliki iman dengan prilaku orang yang tidak beriman kepada Allah, hari Akhir dan apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksaan. “Maka orang yang membenarkan adanya hari Akhir akan beramal dengan melihat timbangan langit bukan dengan timbangan bumi, dan dengan perhitungan akhirat bukan dengan perhitungan dunia.” Dia memiliki prilaku yang istimewa di dalam kehidupannya, kita bisa menyaksikan keistiqamahan di dalam dirinya, luasnya pandangan, kuatnya keimanan, keteguhan di dalam segala cobaan, kesabaran di dalam setiap musibah, dengan mengharap pahala dan ganjaran, serta yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. [28]

 

Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir serta apa yang ada di dalamnya, baik perhitungan maupun pembalasan, maka dia akan selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan segala keinginannya dalam kehidupan dunia, terengah-engah di belakang perhiasannya, rakus dalam mengumpulkannya, dan sangat pelit jika orang lain ingin mendapatkan kebaikan melaluinya. Dia telah menjadikan dunia sebagai tujuannya yang paling besar, dan puncak dari ilmunya (pengetahuannya).[29]

Al-Quran adalah pondasi Ilmu

 

Saya menjadikan al-Quran sebagai rujukan utama dalam ilmu dan pemikiran, alasannya adalah karena saya beriman kepadanya. Dan ber iman atas al-quran ini merupakan hal yang paling rasional dan manusiawi. Demikian hal ini dilakukan oleh semua orang yang beriman dan tunduk dengan rela kepada Allah Swt.

Menurut Kazuhana, Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad. Al-Qur’an juga satu-satunya mukjizat yang bertahan hingga sekarang. Selain sebagai sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat, al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak pernah mati. Jika dicermati, kebanyakan ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang, sejatinya telah Allah tuliskan dalam al-Qur’an. [30]

 

Ayat al-Qur’an yang pertama kali turun menunjukkan dasar ilmu pengetahuan adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5,

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. al-‘Alaq: 1-5)

 

Dalam ayat ini, kita dianjurkan untuk belajar melalui baca-tulis, mengkaji ilmu yang ada dalam al-Qur’an, meneliti lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang sudah Allah ajarkan dalam al-Qur’an.

 

Al-Quran mengandung kebenaran mutlak

 

Karena al-Quran itu adalah wahyu dari Allah, sedangkan Allah mustahil berdusta, maka semua kandungan al-Quran adalah benar, jujur, apa adanya, tidak mengandung keraguan, sekaligus merupakan petunjuk bagi orang yang beriman kepadanya.

 

Menurut Muhammad Yusuf, Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw, sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari Allah SWT. [31]

 

Al-Quran Menambah Dimensi Baru atas Pengetahuan Manusia

 

Menurut Ahmad Multazam, Al-Qur’an telah menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. Al-Qur’an menunjukkan bahwa materi bukankah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, karena padanya terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia kepada Allah serta kegaiban dan keagungan-Nya. [32]

 

Alam semesta yang amat luas adalah ciptaan Allah, dan Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban dan kegaibannya, serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya. Jadi Al-Qur’an membawa manusia kepada Allah melalui ciptaan-Nya dan realitas konkret yang terdapat di bumi dan di langit. [33]

Al-Quran jaminan kebenaran pembicaraan

 

Orang yang menjadikan al-Quran sebagai pondasi ilmu, hati dan lisannya, akan terjamin dari kesalahan. Mungkin ia salah dalam beberapa hal, tapi tidak pokok. Maka siapa pun yang menjadikan al-Quran sebagai pegangan utamanya dalam berilmu dan menjalani hidup, akan benar dan selamat.

 

Al-Quran Penata Kehidupan

 

Al-Quran merupakan pedoman bagi muslim dalam memandang realitas dan menata kehidupan. Seorang muslim wajib menjadikan al-Quran sebagai sumber ilmunya yang utama. Sehingga tanpa sudut pandang filosofis sekali pun, sudah amat jelas alasan mengapa al-Quran dijadikan sumber ilmu, yaitu karena seorang muslim pasti akan merujuk kepadanya dalam memandang dan bersikap kepada dunia, dirinya dan segala realitas yang ada di hadapannya.

 

Menurut Arif Budiman, Sang Pencipta, tidak meninggalkan kita dalam kegelapan untuk mengetahui garis kebenaran dengan mencoba dan bersalah sendiri. Ketika manusia berada dalam masa kegelapan, Pencipta kita mengutus Rasul-Nya yang terakhir, Nabi Muhammad SAW untuk menyelamatkan manusia dengan wahyu yang terakhir sebagai sumber petunjuk terakhir dan permanen untuk seluruh dunia. [34]

 

Selanjutnya menurut Ardne, sempurnanya kemanusiaan manusia di muka bumi ini adalah ketika ada petunjuk yang membimbingnya ke jalan yang benar, karena tanpa petunjuk, manusia menjadi lebih sesat dari binatang. Al-Quran adalah petunjuk yang memberitahukan ke mana seharusnya “langkah manusia” diarahkan.[35]

 

Al-Qur’an memuat begitu banyak aspek kehidupan manusia. Tak ada rujukan yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan Al-Qur’an yang hikmahnya meliputi seluruh alam dan isinya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, tak akan pernah habis untuk digali dan dipelajari. Ketentuan-ketentuan hukum yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist berlaku secara universal untuk semua waktu, tempat dan tak bisa berubah, karena memang tak ada yang mampu merubahnya[36].

 

Al-Qur’an sebagai ajaran suci umat Islam, di dalamnya berisi petunjuk menuju ke arah kehidupan yang lebih baik, tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya. Menanggalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya berarti menanti datangnya masa kehancuran. Sebaliknya kembali kepada Al-Qur’an berarti mendambakan ketenangan lahir dan bathin, karena ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an berisi kedamaian.[37]

 

 

Al-Quran Jalan Menuju Kejayaan Umat Manusia

 

Menurut Abdullah Taslim Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kemudian. Karena di antara perkara yang bisa membatalkan keIslaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut.[38]

 

Banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala menegaskan bahwa ketinggian, kemuliaan dan kejayaan serta pertolongan dari-Nya hanyalah peruntukkan-Nya bagi agama-Nya yang benar dan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini.

 

Islam pernah menjadi sebuah kejayaan dan kebesaran peradaban umat, yakni dinasti Abbasyiah yang membawa Islam sebagai sebuah agama dan peradaban yang sangat terkenal dan masyur dimasanya. Harun Al Rasyid, beliau adalah khalifah dinasti Abbasiyah, berkuasa pada tahun 786. Beliau mampu membawa kejayaan Islam terutama dalam bidang ilmu dan teknologi. Masa itu lahirlah para ilmuan besar seperti ibnu sina (Avicenna). Pada masa dinasti Utsmaniah (abad 14), wilayah kekuasaan Islam juga sangat luas hingga wilayah eropa, yaitu Spanyol dan Prancis.[39]

 

Kejayaan tersebut saat ini menjadi sebuah kenangan dan cerita sejarah yang membanggakan ditengah kondisi umat Islam khususnya di Indonesia yang “terpuruk”dan umumnya di seluruh dunia. Hal ini bukan tanpa sebab, secara umum khotib melihat ada dua penyebab “terpuruk”nya umat Islam di negeri ini. Pertama kelemahan internal, umat sudah jauh dari Al-Quran dan Hadits sehingga cinta dunia dan takut kematian, maksudnya umat Islam terkena penyakit wahn. Kedua adalah peng-kondisian yang sengaja terus diupayakan oleh orang-orang dan kelompok serta Negara-Negara yang sangat membenci Islam. [40]

 

Perjuangan kebangkitan Islam harus disertai perbuatan berlandaskan iman dan taqwa. Prinsip, jargon dan semboyan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” adalah hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap umat Islam yang yaqin, serta merupakan keharusan bagi setiap orang yang mengaku beragama Tauhid, betapa indahnya Islam bila berhiaskan Iman, betapa indahnya Iman bila berhiaskan Taqwa, dan betapa indahnya kehidupan ini bila hari demi hari kita lalui dengan suka dan ceria. Adalah kitab Al Quran Dan Sunnah Rosulullah yang Suci, Disucikan dan Mensucikan yang seharusnya dijadikan rujukan setiap Muslim dalam mengetahui , menata dan menjalankan berbagai hal dalam kehidupan.[41]

 

Al-Quran Menjelaskan Tujuan Ilmu yang Sebenarnya

 

Kita mengetahui, bahwa tujuan kita berilmu, berpengetahuan, menjadi insan yang cendikia, adalah demi mewujudkan suatu kehidupan yang maju di segala bidang. Demi mencapai suatu peradaban yang gemilang. Kita semua berharap dapat terhindar dari kegetiran, penderitaan, dan kehancuran. Cita-cita kita adalah menjadi manusia yang memiliki peran nyata di muka bumi, bersama menuju kehidupan yang damai. Salah satu kunci menuju sukses yang sejati adalah menjadikan al-Quran sebagai sumber ilmu yang utama, sehingga ilmu tersebut menjadi titik tolak amalan kia, cita-cita kita, ideologi, politik dan terutama cara pandang kita terhadap totalitas kehidupan ini.

 

Setiap muslim wajib berperan dalam mencegah kehancuran umat manusia dan menggiring mereka ke arah kedamaian dan keselamatan. Setiap muslim merindukan kejayaan Islam, dan gerah dengan dominasi kekafiran di dunia. Sebab itu umat Islam harus menjadikan al-Quran bukan hanya penata ibadah dan etika sehari-hari-hari, tetapi dalam menata ilmu dan cara pandang hidup kita. Kembali kepada al-Quran dan al-Hadits untuk menjadikannya sebagai dasar penataan kehidupan. Kunci untuk mengembalikan keadaan umat agar selamat dan berjaya dalam arti sesungguhnya, semua harus kembali kepada keimanan, kembali menjadikan al-Quran, Islam, keimanan sebagai pondasi utama dan arah yang dituju dalam perjuangan hidup ini.

 

Menurut al-Quran, kunci untuk mendapatkan pengetahuan ialah dengan memfungsikan indra, akal dan hati. Kemudian melakukan aktifitas berupa iqro dan tafakur atas ayat-ayatNya, baik itu al-Quran, alam semesta, diri ataupun bekas-bekas peninggalan masa lalu. Selanjutnya menjadikan apa yang diperoleh sebagai pengetahuan itu sebagai dasar dan pendorong bagi pemiliknya untuk mengarahkan diri bertakwa kepada Allah Swt. Jadi menurut al-Quran, ilmu itu terkait dengan sumbernya, caranya dan tujuannya. Tujuan ilmu adalah mengamalkannya agar seorang diri bisa lebih dekat kepada Alloh sehingga beroleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

 

Teori Ilmu Pengetahuan

 

Pengertian

 

Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/ logis, empiris, umum, dan akumulatif.[42]

 

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[43]

 

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi. [44]

 

Untuk membuktikan isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak adanya hubungan dalil, dimana pengetahuan dianggap benar apabila dalai (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (proposisi) yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan, bahwa pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri yang mempunyai pengetahuan itu.[45]

Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Paradigma Filsafat Barat

 

Menurut Jujun S. Suryasumantri pada dasarnya ada dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalais mengembangkan apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.Pendapat ini sejalan dengan epistemologi dalam pemikiran Barat bermuara dari dua pangkal padangannya, yaitu rasionalisme dan empirisme yang merupakan pilar utama metode keilmuan (scientific method), dan pada gilirannya kajian epstemologis tersebut dapat membuka perspektif baru dalam ilmu pengetahuan yang multi-dimensional.[46]

 

  1. Idealisme

 

Pertama, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme atau nasionalisme menitik beratkan pada pentingnya peranan ide, kategori atau bentuk-bentuk yang terdapat pada akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami segala sesuatu sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesuatu. Karena itu, bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam inderawi bukanlah alam yang sesungguhnya.[47]

 

  1. Empirisme

 

Paham selanjutnya adalah empirisme atau realisme, yang lebih memperhatikan arti penting pengamatan inderawi sebagai sumber sekaligus alat pencapaian pengetahuan. Aristoteles (384-322 SM) yang boleh dikata sebagai bapak empirisme ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide bawaan yang dibawakan oleh gurunya, Plato. Bagi Aristoteles, hukum-hukum dan pemahaman itu dicapai melalui proses panjang pengalaman empirik manusia. Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting.[48]

 

  1. Rasionalisme

 

Paradigma selanjutnya adalah Rasionalisme, sebuah aliran yang menganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal. Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris. Faham rasionalisme dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Menurut kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya terdapat ide-ide terpendam dan proposisi – proposisi umum yang disebut proposi keniscayaan yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris. Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. [49]

 

  1. Positivisme

 

Adanya problem pada empirisme dan rasionalisme yang menghasilkan metode ilmiah melahirkan aliran positivisme oleh August Comte dan Immanuel Kant. August Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen dan eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran, dan lain sebagainya.

 

Teori

 

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metode dan konteks pengetahuan tersebut. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta. [50] 

 

Secara umum, teori didefinisikan sebagai seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi, digunakan untuk menjelaskan suatu gejala atau fenomena tertentu. Dengan demikian, teori memiliki tiga fungsi dalam penelitian ilmiah, yaitu explanation, prediction, dan control atau pengendalian terhadap suatu gejala. [51]

 

Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara sementara dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian, penyelidikan eksperimental dan penemuan yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi, didukung oleh data.

 

Menurut Kerlinger “ A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaning and predicting the phenomena.”

 

Di dalam definisi ini terkandung tiga konsep penting. Pertama, suatu teori adalah satu set proposisi yang terdiri atas konsep-konsep yang berhubungan. Kedua, teori memperlihatkan hubungan antarvariabel atau antar konsep yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik tentang fenomena. Ketiga, teori haruslah menjelaskan variabelnya dan bagaimana variabel itu berhubungan.

 

Dalam konteks ilmiah, suatu teori berfungsi:

 

Memperjelas dan mempertajam ruang lingkup variabel.

Memprediksi dan memandu untuk menemukan fakta untuk kemudian dipakai guna merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian. Mengapa? Sebab pada dasarnya, hipotesis merupakan pernyataan yang bersifat prediktif, bukan deskriptif.

Mengontrol, membahas hasil penelitian, untuk kemudian dipakai dalam memberikan saran.

 

Menurut Firdinata salah satu fungsi penting teori adalah memberikan penjelasan tentang gejala-gejala, baik bersifat alamiah maupun bersifat sosial. Pemenuhan fungsi itu tidak hanya dilakukan dengan mengemukakan, melukiskan gejala-gejala, melainkan disertai dengan keterangan tentang gejala tersebut baik dengan membandingkan, menghubungkan, memilah-milah, atau mengkombinasikannya. Hal ini menegaskan bahwa fungsi teori adalah menjelaskan keterkaitan antara kajian teoritis dengan hal-hal yang sifatnya empiris. [52]

 

Dalam penjelasan terhadap gejala-gejala, dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti melalui penjelasan logis, penjelasan sebab akibat, penjelasan final (menerangkan sebuah proses berdasarkan tujuan yang ingin dicapai), penjelasan fungsional (cara kerja), penjelasan historis atau genensis (berdasarkan terjadinya), serta melalui penjelasan analog (dengan menganalogkan melalui struktur-struktur yang lebih dikenal). Khusus dalam kaitan dengan penelitian atau pengembangan ilmu, fungsi teori adalah sebagai landasan dalam merumuskan hipotesis.

 

Teori adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Tetapi hal ini berlaku sebelum muncul teori baru yang dapat menumbangkan teori tersebut. Keyakinan terhadap kebenaran toeri ini menjadikan fungsi toeri adalah menjelaskan kebanaran dalam menerangkan suatu gejala yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, karena didukung oleh fakta-fakta empirik.

 

Mengenai fungsi teori, secara rinci Littlejohn menyatakan 9 fungsi dari teori[53]:

 

  1. mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini bererti bahawa dalam mengamati realiti kita tidak boleh melakukan secara berasingan. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat digunakan sebagai rujukan atau dasar bagi kajian seterusnya.
  2. memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.
  3. menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya.Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.
  4. pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
  5. membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi seperti perundingan dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, perhubungan awam dan media massa.
  6. fungsi heuristik. Artinya bahawa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Apakah suatu teori yang dibentuk ada potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu teori sangat terbuka untuk diperbaiki.
  7. komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus diterbitkan, dibincangkan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka pengubahsuaian dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.
  8. fungsi kawalan yang bersifat normatif. Andaian bahawa teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai pihak pengendali atau pengawall tingkah laku kehidupan manusia.
  9. generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritik. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

Menurut Syamsudin tujuan penelitian adalah menemukan teori. Hasil proses penelitian adalah teori. Teori membuat manusia mempunyai ilmu pengetahuan.  Mencari teori-teori konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian merupakan langkah kedua setelah masalah penelitian dirumuskan. Setiap penelitian yang kita laksanakan haruslah berlandaskan pada teori yang sesuai dengan topik atau permasalahan yang kita teliti agar penelitian yang kita lakukan mempunyai dasar yang kuat dan tidak sekedar asal-asalan. [54]

 

Setiap penelitian selalu meggunakan teori. Secara prinsip kedua Pengertian tersebut hampir sama, yakni bahwa teori mengandung tiga hal. (1) teori adalah serangkaian proporsi antar konsep yang saling berhubungan, (2) teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antar konsep, (3) teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya.

 

Esensi (inti) definisi teori ialah bahwa teori itu haruslah menjelaskan adanya hubungan antarvariabel yang satu dengan variable yang lain. Hubungan antarvariabel itu harus memperlihatkan sifat ilmiah teori yaitu sifat logis dan bukti empiris.oleh karena itu, suatu teori ilmiah harus menjelaskan hubungan logis antarvariabel dan hubungan logis tersebut harus dapat dibuktikan secara empiris.

Dalam penelitian, teori mejadi sumber bagi pengajuan hipotesis. Teori menjadi premis-premis dasar yang menjadi landasan penyusunan kerangka berpikir. Kerangka berpikir menjadi landasan bagi peneliti untuk mengajukan dugaan kebenaran hipotesis. Kebenaran hipotesis masih bersifat dugaan yang masih harus diuji dengan menggunakan data-data empiris. Hipotesis merupakan kebenaran pada tingkat teori yang sementara diterima sambil menunggu dilakukan pegujian data-data yang dikumpulkan. Hipotesis dugaan  diajukan berdasarkan argumentasi kebenaran yang dibangun dalam keragka berpikir merupakan kesimpulan kebenaran yang ditarik secara logis dari teori-teori sebagai premis. Dalam hubungan ini maka dapat dikatakan bahwa teori merupakan sumber hipotesis.

 

Teori merupakan panduan dalam pengumpulan data. Pemanduan pengumpulan data dilakukan dengan mengarahkan pada pengembangan instrument alat ukur yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam mengarahkan pengembangan alat ukur, teori membantu memberikan definisi mengenai variabel yang hendak dikumpulkan datanya.

 

Definisi konsep dilakukan dengan memindahkan teori ke dalam bangunan konsep yang digunakan dalam penelitian. Untuk kepentingan pengukuran, definisi konsep diubah mejadi definisi operasional sehingga indikator perilaku yang mecerminkan kepemilikan variabel telah nampak. Kisi-kisi instrument dirancang sesuai dengan definisi operasional. Kisi-kisi instrumen merupakan perencanaan untuk penyusunan butir-butir instrumen alat ukur.

 

Penelitian

 

Menurut Chy Ana penelitian atau yang biasa dikenal dengan sebutan riset atau study merupakan sebuah kegiatan investigasi yang dilakukan secara sistematis dan aktif guna menemukan, menyelidiki, maupun merevisi adanya kebenaran dari suatu fakta. Secara harfiah, penelitian didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyelidikan terhadap suatu masalah atau fakta yang dilakukan secara tuntas. Atau dengan kata lain, penelitian merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai usaha untuk memecahkan suatu masalah.[55]

 

Tujuan dari sebuah penelitian adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu kejadian, peristiwa, teori, hukum, dan hal-hal lainnya sehingga dapat membuka peluang untuk lebih menerapkan pengetahuan tersebut.

Tujuan Penelitian antara lain adalah :

  1. Tujuan operasional

Tujuan operasional dari sebuah penelitian adalah untuk dapat mengidentifikasi suatu masalah yang sedang terjadi agar nantinya didapat sebuah jawaban yang tepat dari masalah tersebut.

  1. Tujuan fungsional

Suatu penelitian dilakukan untuk mendapatkan hasil yang nantinya dapat dimanfaatkan atau digunakan dalam mengambil keputusan atau kebijakan-kebijakan.

  1. Tujuan individual

Suatu penelitian dilakukan untuk menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, penenalan, dan pemahaman dari sebuah informasi atau fakta yang terjadi.

 

Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah penelitian antara lain adalah :

  1. Dapat mengidentifikasi suatu masalah atau fakta secara sistematik

Penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dalam memecahkan suatu masalah baik, bagi para peneliti maupun orang-orang atau instansi yang menerapkan hasil penelitian tersebut.

  1. Dapat mengetahui sistem kerja objekt yang diteliti

Manfaat penelitian bagi peneliti yang dilakukan terhadap suatu objek, kita dapat mengetahui dengan jelas bagaimanakah sistem kerja dari object-object yang menjadi sample penelitian. Dengan demikian, akan dapat memudahkan sistem operasional dari object tersebut.

  1. Menambah keyakinan dalam pemecahan suatu masalah

Hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan akan sangat membantu dalam menentukkan kebijakan-kebijakan atau keputusan, yang nantinya akan diambil dalam menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi.

  1. Meningkatkan hubungan kerjasama antar team

Penelitian yang dilakukan secara berkelompok tentu saja dapat mempererat kerjasama antar sesama anggota dari team tersebut. Setiap anggota memiliki peranan yang saling terkait dengan anggota lainnya, sehingga akan tercipta rasa bahu-membahu dalam menyelesaikan penelitian tersebut.

  1. Melatih dalam bertanggung jawab

Hasil dari sebuah penelitian nantinya harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, agar hasil tersebut dapat bermanfaat bagi yang lainnya. Untuk itu para peneliti harus bekerja keras agar hasil dari penelitian mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.

  1. Dapat memberikan rekomendasi tentang kebijakan suatu program

Manfaat penelitian bagi masyarakat dapat membantu untuk memberikan rekomendasi bagi suatu kebijakan, program yang dicanangkan oleh sebuah dinas atau instansi maupun kelompok masyarakat. Dimana hal tersebut dapat meningkatkan kinerja dari para pelaksana program.

Mereka akan lebih yakin untuk bekerja karena telah ada bukti-bukti yang menjurus pada program yang sedang dilaksanakan.

  1. Menambah wawasan dan pengalaman

Dengan adanya sebuah penelitian, diharapkan mampu menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi para peneliti sendiri maupun bagi yang lainnya.

 

Selanjutnya ada delapan karakteristik utama dari sebuah penelitian, yaitu :

 

  1. Tujuan

Sebuah penelitian yang dilakukan tentu saja memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk menemukan pemecahan dari suatu permasalahan atau fakta-fakta. Meskipun tidak dapat memberikan jawaban secara lansung dari permasalahan atau fakta yang di investigasi, namun hasil dari sebuah penelitian nantinya harus dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah atau fakta tersebut. Tujuan dari sebuah penelitian harus lebih dari sekedar menunjukkan perbedaan yang ada diantara subject yang menjadi contoh atau sample penelitian.

  1. Keseriusan

Penelitian harus dilakukan dengan hati-hati, serius, pasti, dan penuh ketelitian. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya teori dasar serta rancangan penelitian agar faktor keseriusan dalam sebuah penelitian juga dapat dikembangkan. Selain itu, perlu adanya jumlah sample yang cukup, metode yang benar, serta daftar pertanyaan yang tersusun secara sitematis.

  1. Dapat diuji

Dengan adanya pengujian dari hasil hipotesis  yang dilakukan oleh lembaga yang telah berpengalaman berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka akan dapat ditentukan apakah hasil penelitian tersebut bisa diterima ataukah ditolak.

  1. Dapat direplikasikan

Uji hipotesis mencerminkan hasil dari sebuah penelitian. Apabila penelitian dari suatu kejadian telah dilakukan secara berulang-ulang sebelumnya dalam kondisi yang sama, maka uji hipotesis penelitian tersebut juga harus didukung oleh kejadian yang sama. Dengan demikian hasil penelitian tersebut dapat diterima bukan karena alasan kebetulan semata.

  1. Presisi dan keyakinan

Presisi dari sebuah penelitian harus dapat menunjukkan kedekatan penemuan dengan realita yang ada, yaitu sesuai dengan sample yang telah diambil. Sedangkan keyakinan harus dapat menunjukkan kemungkinan kebenaran estimasi yang telah dilakukan. Yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian adalah merancang penelitian tersebut sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat mendekati kebenaran dan dapat diyakini.

  1. Objectivitas

Kesimpulan yang diambil dari sebuah penelitian harus didasarkan pada fakta-fakta yang berasal dari data aktual yang diambil. Sehingga kesimpulan tersebut dapat dikatana objective, karena tidak hanya berdasarkan pada penilaian atau emosianal semata.

  1. Berlaku untuk umum

Pada saat area penerapan dari hasil penelitian semakin luas, hal tersebut dapat menandakan bahwa penelitian yang dilakukan membawa manfaat bagi siapa saja yang menggunakannya. Dengan kata lain semakin banyak hasil penelitian tersebut digunakan, maka akan semakin berguna hasil dari penelitian tersebut.

  1. Efisien

Efisiensi sebuah penelitian dapat dicapai apabila kerangka dari penelitian yang telah dibangun mampu memberikan penjelasan dari suatu kejadian meskipun hanya menggunakan sedikit variabel. Dengan kata lain, meskipun penjelasan atas gejala-gejala maupun tindakan pemecahan masalah dilakukan secara sederhana namun hal tersebut akan lebih disukai daripada adanya kerangka penelitian yang lebih kompleks dengan sejumlah variabel yang ternyata sulit untuk dikelola.

 

Hipotesis

 

Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.

 

Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati. Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel.

Teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem Pengertian ini diperoleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak ia bukan suatu teori.

 

Kedudukan teori sebagai sumber hipotesis dan panduan pengumpul data. Dalam penelitian, teori mejadi sumber bagi pengajuan hipotesis. Teori menjadi premis-premis dasar yang menjadi landasan penyusunan kerangka berpikir. Kerangka berpikir menjadi landasan bagi peneliti untuk mengajukan dugaan kebenaran hipotesis.

 

Hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.

 

Dalam merumuskan hipotesis, peneliti harus 1) mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.2) mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.3) mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

 

Akal

 

Menurut  Yan S, Prasetiadi, M.Ag, kata ‘akal’ berasal dari bahasa Arab: al-’aql. Arti kata ‘akal’ sama dengan al-idrâk dan al-fikr. Semuanya mutâradif atau sinonim. Akal adalah khâshiyyât (keistimewaan) yang diberikan Allah swt kepada manusia, yang merupakan khâshiyyât otak manusia. Sebab otak manusia mempunyai keistimewaan untuk mengaitkan realitas yang diindera dengan informasi (asosiasi).[56]

 

Akal sesungguhnya merupakan kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang suatu. Kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia, seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak, lalu disimpulkan bahwa akal tempatnya ada di kepala. Tentu kesimpulan ini salah.

 

Setelah ditelaah secara mendalam dapat ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan tadi terbentuk dari empat komponen (realitas terindra, panca indra, otak sehat, dan informasi sebelumnya). Dari keempat komponen inilah  kemudian menghasilkan apa yang disebut akal.

 

Adapun proses kerja komponen tersebut sampai menghasilkan kekuatan yang disebut akal, adalah dengan memindahkan realitas yang telah diindera ke dalam otak melalui alat indera yang ada, dan dengan maklumat (informasi) awal yang ada di dalam otak, realitas tersebut disimpulkan. Pada saat itulah terbentuklah kekuatan untuk menyimpulkan realitas. Inilah esensi akal manusia.

 

Dengan mengetahui dan memahami hakikat akal atau pikiran, maka manusia mampu berpikir secara produktif dan proporsional. Manusia menjadi tahu mana yang perlu dipikirkan dan mana yang khayalan, sesuatu yang bisa dipikirkan adalah jika memenuhi empat komponen akal (realitas, panca indra, otak sehat dan informasi awal), jika hilang salah satu saja, maka yang terjadi adalah berkhayal.

 

Kami telah menjadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai hati (akal), tetapi tidak digunakan untuk berfikir. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih hina lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’râf [7]: 179).

 

Menurut Wikipedia[57] Akal merupakan suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.

 

Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama.

Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini.

 

Mushlihah Purwo Saputri[58], menurut Sri Utami (1992 :30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisinya dari hal-hal yang khusus atau atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkai konsep-konsep. Pikiran adalah proses pengolahan stimulus yang berlangsung dalam domain representasi utama. Proses tersebut dapat dikategorikan sebagai proses perhitungan (computational process).

 

Proses berpikir dilalui dengan tiga langkah yaitu: pembentukan pikiran, pembentukan pendapat,  penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan.

 

Pertama, yaitu pada pembentukan pikiran. Pada pembentukan pikiran inilah manusia menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia.

 

Kedua, yakni pada pembentukan pendapat. Pada pembentukan pendapat ini seseorang meletakkan hubungan antara dua buah pengertin atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat. Pembentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu pendapat afirmatif atau pendapat positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal, pendapat negatif yaitu pendapat yang tidak menyetujui, dan pendapat modalitas yaitu pendapat yang memungkinkan sesuatu.

 

Ketiga, pada penarikan kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan ini melahirkan tiga macam kesimpulan, yaitu keputusan induktif, deduktif, dan analogis ( perbandingan).

Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.

 

Akal Dan Wahyu

 

Al-quran juga memberikan tuntunan tentang penggunaan akal dengan mengadakan pembagian tugas dan wilayah kerja pikiran dan qalbu. Daya pikir manusia menjangkau wilayah fisik dari masalah-masalah yang relatif, sedangkan qalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang bersifat metafisik dan mutlak. Oleh karenanya dalam hubungan dengan upaya memahami Islam, akal memiliki kedudukan dan fungsi yang lain yaitu sebagai berikut[59]:

 

Akal sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah Rosul, dimana keduanya adalah sumber utama ajaran Islam.

 

Akal merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksut-maksut yang tercakup dalam pengertian al-Qur’an dan Sunnah Rosul.

 

Akal juga berfungsi sebagai alat yang dapat menangkap pesan dan nsemangat al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihat.

 

Akal juga berfungsi untuk menjabarkan pesan-pesan al-Quran dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumi seisinya.

 

Selanjutnya, Wendi Zarman menjelaskan dalam disertasinya, bahwa metode saintifik berbeda dengan metode ilmiah. Kata ilmiah dan saintifik maknanya berbeda. Kata ilmiah berasal dari akar kata yang sama dengan ilmu yang memiliki makna tersendiri dalam Islam. Berbeda dengan metode saintifik yang kebenarannya hanya bersandar pada rasio dan pengamatan, namun menolak wahyu, sebaliknya metode ilmiah bersandar pada wahyu. Bahkan wahyu menjadi sumber tertinggi sebagai sumber keilmuan Islam. Sebab di dalam Alquran dan Hadits tidak hanya menjadi dasar atau pedoman bagi masalah keagamaan tapi juga keilmuwan lainnya seperti IPA, bahasa dan seni, olahraga, ilmu sosial, pendidikan, ekonomi, teknik, budaya dan lain-lain. [60]

 

Ibrahim Amini mengatakan bahwa orang-orang yang berakal pada satu sisi meyakini akal sebagai penyingkap kenyataan dan di sisi lain mereka tidak meyakini bahwa akal terjaga dari kesalahan dan kekeliruan. Terkadang mereka menganggap bahwa akal mungkin saja salah. Oleh karenanya, dalam menyusun silogisme atau melakukan pembuktian mereka benar-benar mewasiatkan untuk menjaga secara sempurna hukum-hukum logika. Mereka tidak mengatakan bahwa seluruh kesimpulan logika seratus persen benar dan harus diterima tanpa perlu dipertanyakan kembali. [61]

 

Andi Ryansyah menjelaskan bahwa ditemukan persoalan yang lebih serius tentang metode saintifik. Persoalannya ada pada metode saintifik yang definisinya adalah  A method of procedure that has characterized natural science since the 17th century, consisting in systematic observation, measurement, and experiment, and the formulation, testing, and modification of hypotheses. Definisi ini tidak menyertakan wahyu sebagai bagian dari metode saintifik. Persoalan  metode saintifik terdapat pada penolakan wahyu.[62]

 

Hukum alam dan Al-Qur’an bersumber dari sumber yang sama, yakni Allah SWT. Oleh karena itu, alam mempunyai kaitan erat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara kaitan tersebut, Al-Qur’an memberikan informasi tentang keadaan alam pada masa yang akan datang, yang belum bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memberikan informasi peristiwa masa lampau yang hanya diketahui oleh kalangan yang sangat terbatas.

 

Terkadang Al-Qur’an mempertegas penemuan para ahli dan terkadang memberi isyarat untuk dilakukan penyelidikan secara akurat, Al-Qur-an juga memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan kajian atau pembahasan suatu persoalan dan memerintahkan agar mendiamkannya (tawakuf) serta menyerahkan segala urusanya kepada Allah SWT. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui kajian dan penelitian terhadap alam ini pada akhirnya akan menunjukkan kebesaran akan menunjukkan kebesaran Yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT.

Menurut Ari Arka dalam artikelnya tentang kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam, penjelasannya berikut. [63]

 

Menuntut Ilmu

 

Manusia diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya tersebut adalah dengan dengan pemberian akal pikiran dalam penciptaannya. Akal inilah yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan akal itu Allah SWT telah memuliakan manusia, mengangkat derajatnya dengan derajat yang tinggi. Akal adalah alat untuk berpikir, Allah SWT menjadikan akal sebagai sumber tempat bermula dan dasar dari ilmu pengetahuan.[64]

 

Allah SWT berfirman dalam S. Al-Jastiyah ayat 3-5:

 

Artinya: Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

 

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam setiap ciptaan Allah terdapat ilmu pengetahuan yang akan menunjukkan tanda-tanda Kebesaran Allah kepada manusia. Untuk menggali dan mendapatkan pengetahuan itu manusia harus menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya. Dalam hal ini wahyu dan akal saling mendukung dan melengkapi untuk mendapatkan tanda-tanda Kekuasaan Allah.

 

Agama Islam datang dengan memuliakan sekaligus mengaktifkan kerja akal serta menuntutnya kearah pemikiran Islam yang rahmatun lil’alamin. Manusia harus dapat menggunakan kecerdasan yang dimilikinya untuk kesejahteraan hidupnya baik di dunia maupun  di akhirat.[65]

 

Sementara Dr. Mahadi Gulsyani pernah menyebutkan bahwa, Islam adalah agama ilmu. Karena Islamlah agama yang sangat mengapresiasi dan memposisikan ilmu pada tempat yang mulia. Hal ini dapat kita lihat dalam banyak ayat Al Qur’an yang menyebut kata ilmu sebanyak 180 kali. Belum lagi istilah seperti akal dan berpikir serta lainnya masih banyak berhubungan dengan ilmu pengetahuan.[66]

 

“…Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”-Q.s Mujadilah :11. Artinya, bagi kita yang beriman kepada Allah tentunya akan lebih baik jika berimannya kita desertai dengan ilmu pengetahuan, dengan ayat ini saja mestinya memotivasi kita untuk menuntut ilmu.

 

Menuntut ilmu dalam Islam, adalah aktivitas yang mulai dan wajib. Ketika kita ingin memahami aqidah yang murni, ibadah yang benar dan memiliki akhlaq yang mulia tentunya harus memiliki ilmu tentangnya.

 

Bagaimana mungkin kita mengenal Allah tanpa ilmu ? bagaimana mungkin kita bisa beribadah sesuai yang dijalankan rasulullah tanpa ilmu? Bagaimana mungkin akhlaq kita bisa terjaga tanpa bantua ilmu khususnya tentang Islam.

 

Ilmu pengetahuan dalam sejarah tradisi Islam tidaklah berkembang pada arah yang tak terkendali, melainkan pada arah maknawi dan umat berkuasa untuk mengendalikannya.Kekuasaan manusia atas ilmu pengetahuan harus mendapat tempat yang utuh. Eksistensi ilmu pengetahuan bukan saja untuk mendesak pengetahuan, melainkan kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada Yang Maha Pencipta. Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteknya, dan agama yang menjadi konteksnya itu. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam dan memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak mengarahkan ilmu pengetahuan hanya pada praksisnya atau kemudahan-kemudahan pada material duniawi. Solusi yang diberikan Al Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang terikan dengan nilai adalah dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi berkah dan rahmat bagi manusia dan alam, bukan sebaliknya membawa mudharat atau penderitaan. [67]

Prinsip-prinsip semua ilmu dipandang oleh kaum muslimin berada dalam Al Qur’an, dan Al Qur’an dan hadits menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan keutamaan menuntut ilmu, dan pencarian ilmu apapun pada akhirnya bermuara pada penegasan tauhid. Dalam perjalanan ilmu dalam dunia Islam, para ilmuwan Muslim berangkat dari membaca Al Qur’an dalam proses penemuannya, misalnya Abu Musa al Jabir ibn Hayyan (721-815), Muhammad ibn Musa al Khawarizmi (780-850), Tsabit ibn Qurrah (9100), Ibn Sina (926), Al Farabi (950), Ibn Batutah (1304-1377), Ibn Khaldun (1332-1406), dan masih banyak tokoh lainnya (Achmadi, 2005:12). [68]

Islam memandang ilmu bukan terbatas pada eksperimental, tetapi lebih dari itu ilmu dalam pandangan Islam mengacu kepada aspek sebagai berikut pertama, metafisika yang dibawa oleh wahyu yang mengungkap realitas yang Agung, menjawab pertanyaan abadi, yaitu dari mana, kemana dan bagimana. Dengan menjawab pertanyaan tersebut manusia akan mengetahui landasan berpijak dan memahami akan Tuhannya. Kedua, aspek humaniora dan studi studi yang berkaitannya yang meliputi pembahasan mengenai kehidupan manusia, hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, ekonomi dan lain sebagainya. Ketiga aspek material, yang termasuk dalam aspek ini adalah alam raya, ilmu yang dibangun berdasarkan observasi, eksperimen, seperti dengan uji coba di laboratorium.[69]

 

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya menggunakan rasionalitas, empirisme saja dalam menemukan kebenaran, tetapi Islam menghargai dan menggunakan wahyu dan intuisi, ilham dalam mencari kebenaran.

 

Data Empiris

 

Fakta empiris merupakan hal yang paling dekat dengan hidup kita di sini dan sekarang ini, yang berarti menuntut suatu sikap dan tindakan untuk mencegah, mengatasi, menanggulanginya. Cara-cara bagaimana kita bertindak, tentu dengan didasarkan kepada tiga hal, yaitu arah, metode dan pokok soal. Arah kita adalah kembali kepada Allah, metode kita adalah rasionalitas dan pokok soal kita adalah kehidupan yang diambang kehancuran itu sendiri.

 

Data-data di lapangan merupakan aspek yang penting dari cara kita memahami dan menemukan bukti kongkrit al-Quran dan teori ilmu pengetahuan.  Di dalam data empiris, kita akan menemukan banyak sekali kenyataan yang bersesuaian dengan apa yang dikatakan al-Quran dan teori ilmu pengetahuan. Data empiris memberikan gambaran kongkrit dari apa yang diungkapkan al-Quran dan teori Ilmu pengetahuan tentang hakikat-hakikat kehidupan ini.

 

Pengertian Data Empiris

 

Bukti empiris (juga data empiris, indra pengalaman, pengetahuan empiris, atau a posteriori) adalah suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari observasi atau percobaan. Bukti empiris adalah informasi yang membenarkan suatu kepercayaan dalam kebenaran atau kebohongan suatu klaim empiris.

 

Dalam pandangan empirisis, seseorang hanya dapat mengklaim memiliki pengetahuan saat seseorang memiliki sebuah kepercayaan yang benar berdasarkan bukti empiris. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan rasionalism yang mana akal atau refleksi saja yang dianggap sebagai bukti bagi kebenaran atau kebohongan dari beberapa proposisi. Indra adalah sumber utama dari bukti empiris. Walaupun sumber lain dari bukti, seperti ingatan, dan kesaksian dari yang lain pasti ditelusuri kembali lagi ke beberapa pengalaman indrawi, semuanya dianggap sebagai tambahan, atau tidak langsung. [70]

 

Dalam arti lain, bukti empiris sama artinya dengan hasil dari suatu percobaan. Dalam arti ini, hasil empiris adalah suatu konfirmasi gabungan. Dalam konteks ini, istilah semi-empiris digunakan untuk mengkualifikasi metode-metode teoritis yang digunakan sebagai bagian dari dasar aksioma atau hukum postulasi ilmiah dan hasil percobaan. Metode-metode tersebut berlawanan dengan metode teoritis ab initio yang secara murni deduktif dan berdasarkan prinsip pertama.

 

Dalam sains, bukti empiris dibutuhkan bagi sebuah hipotesis untuk dapat diterima dalam komunitas ilmiah. Secara normalnya, validasi tersebut dicapai dengan metode ilmiah dari komitmen hipotesis, perancangan eksperimen, penelaahan sejawat, penelaahan lawan, produksi ulang hasil, presentasi konferensi dan publikasi jurnal. Hal ini membutuhkan komunikasi hipotesis yang teliti (biasanya diekspresikan dalam matematika), kontrol dan batasan percobaan (diekspresikan dengan peralatan eksperimen yang standar), dan sebuah pemahaman bersama dari pengukuran.

 

Pernyataan-pernyataan dan argumen yang bergantung pada bukti empiris sering kali disebut sebagai a posteriori (“dari yang setelahnya”) yang dibedakan dari a priori (“dari yang sebelumnya”). (Lihat A priori dan a posteriori). Pengetahuan atau pembenaran A priori tidak bergantung pada pengalaman (sebagai contoh “Semua bujangan belum menikah”); sementara pengetahuan atau pembenaran a posteriori bergantung pada pengalaman atau bukti empiris (sebagai contohnya “Beberapa bujangan sangat bahagia”).

 

Pandangan standar positivis tentang informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman, dan percobaan berguna sebagai pemisah netral antara teori-teori yang saling berkompetisi. Namun, sejak tahun 1960an, kritik tegas yang sering dihubungkan dengan Thomas Kuhn,  telah berargumen bahwa metode tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan dan pengalaman sebelumnya. Akibatnya tidak bisa diharapkan bahwa dua ilmuwan saat mengobservasi, mengalami, atau mencoba pada kejadian yang sama akan membuat observasi teori-netral yang sama. Peran observasi sebagai pemisah teori-netral mungkin tidak akan bisa. Teori yang bergantung observasi berarti bahwa, bahkan bila ada metode kesimpulan dan interpretasi yang disetujui, ilmuwan bisa saja tidak bersetuju mengenai sifat dari data empiris.

 

Menurut Farid Aulia Tanjung Hipotesis yang bersifat ilmiah merupakan langkah awal dalam metode ilmiah. Cara ini sering dianggap sebagai “tebakan terdidik”, karena disampaikan berdasarkan wawasan dan pengamatan, yang sering ditujukan untuk menjawab penyebab fenomena tertentu. Hipotesis sering digunakan untuk menjelaskan fenomena yang tidak dapat dijelaskan menggunakan teori ilmiah yang saat ini telah diterima. Hipotesis merupakan semacam firasat ide sebelum berkembang menjadi teori, yang merupakan langkah berikutnya dalam metode ilmiah. [71] 

 

Fungsi penting pada metode ilmiah menurunkan model prediksi dari hipotesis terhadap hasil eksperimen. Hipotesis merupakan gagasan yang mendasari berlangsungnya eksperimen dan hasil dari eksperimen menjadi acuan terhadap penyusunan model prediksi.

 

Ide awal dari hipotesis tidak harus berasal dari sumber tertentu. Terlepas darimana sumbernya, hipotesis akan semakin kuat atau malah ditolak setelah melalui eksperimen atau observasi yang dirancang secara teliti untuk membuktikan kebenarannya.

 

Sifat utama dari hipotesis adalah sebuah gagasan yang dapat diuji dan pengujian tersebut dapat diulang. Jadi, gagasan yang tidak dapat diuji kembali belum bisa disebut hipotesis. Hipotesis seringkali berbentuk pernyataan jika-maka dan sering melalui eksperimen oleh berbagai ilmuwan untuk memastikan bobot dan kebenarannya. Proses ini dapat berlangsung bertahun-tahun, dan terdapat banyak kasus dimana hipotesis tidak menjadi teori karena kesulitan mendapatkan bukti yang cukup untuk mendukung kebenarannya.

 

Kebanyakan hipotesis ilmiah terdiri dari berbagai konsep yang dapat terhubung dan hubungan tersebut dapat diuji. Oleh karena itu, sebuah hipotesis sebaiknya mendukung teori ilmiah sebelumnya yang telah melalui pengujian. Akan lebih baik lagi jika hipotesis tersebut didukung dengan hukum ilmiah. Kumpulan hipotesis yang bergabung bersama-sama akan menjadi kerangka konseptual (conceptual framework). Seiring dengan data dan bukti yang cukup untuk mendukung hipotesis tersebut, suatu saat hipotesis ini akan berkembang dan diterima sebagai teori.

 

Melalui analisis dari hasil pengujian, sebuah hipotesis dapat ditolak atau dimodifikasi, namun tidak akan pernah bisa dibuktikan 100 persen benar sepanjang waktu. Pada beberapa teori, misalnya teori evolusi, terdapat banyak bentuk pengujian yang bisa dilakukan untuk membuktikan kebenarannya. Namun terdapat juga beberapa pengujian, yang tidak dapat dihindari, yang membuat hipotesis terbukti tidak benar.

 

Peran Bukti Empiris dalam Pembuktian Hipotesis

 

Pengujian dari hipotesis, entah dalam eksperimen atau observasi, akan menghasilkan informasi yang dikenal juga sebagai bukti empiris. Data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh para ilmuwan merupakan proses utama dari metode ilmiah yang akan menjadi bukti empiris dari pengujian.

 

Metode ilmiah dimulai dengan ilmuwan yang memberi pertanyaan dan kemudian mengumpulkan berbagai hukum, teori, atau gagasan, entah untuk mendukung atau membantah teori tertentu. Disanalah peran penting dari pengumpulan bukti empiris. Beberapa hipotesis terkadang justru muncul setelah melihat sekumpulan bukti empiris, sementara ada juga yang mencoba mengumpulkan bukti empiris untuk memperkuat bobot dan kebenaran dari hipotesis yang diajukan.

 

Metode ilmiah seringkali melibatkan eksperimen yang harus terus menerus diulang, dan eksperimen tersebut akan menghasilkan data kuantitatif berbentuk angka atau statistik. Akan tetapi, data kuantitatif bukanlah satu-satunya informasi yang dibutuhkan untuk mendukung atau membantah suatu teori. Riset kualitatif terkadang perlu dilakukan, terutama pada bidang ilmu sosial, yang bertujuan memeriksa alasan dibalik perilaku objek yang tidak dapat diukur.

 

Data kuantitatif dan hasil riset kualitatif ini menjadi satu beberapa bukti empiris yang mesti dikumpulkan sebelum melakukan riset. Rencana metode riset mesti dirancang dengan teliti untuk memastikan akurasi, kualitas, dan bobot dari data yang diperoleh. Jika terdapat cacat pada cara pengumpulan bukti empiris, riset tersebut akan dianggap tidak valid.

 

Tujuan dari sains adalah membuat seluruh data empiris yang telah dikumpulkan lewat observasi, pengalaman, dan eksperimen diperoleh tanpa menimbulkan bias. Tingkat kepercayaan dari berbagai riset ilmiah bergantung pada kemampuannya mengumpulkan dan menganalisis bukti empiris melalui cara yang tidak bias dan dapat dikendalikan seakurat mungkin. Akan tetapi, pada 1960-an sejarawan sains dan filsuf Thomas Kuhn menyampaikan pemikiran bahwa para ilmuwan sebenarnya bisa saja terpengaruh oleh keyakinan dan pengalaman yang mereka alami.

 

Pemikiran ini dilandasi kondisi dimana para ilmuwan juga manusia dan rentan terhadap error. Bukti empiris yang kini juga mesti diperoleh lewat berbagai eksperimen yang dapat direplikasi untuk dilakukan oleh ilmuwan lainnya. Cara ini juga dapat menghadapi para ilmuwan yang secara tidak sengaja melenceng dari parameter riset yang dijelaskan yang dapat menyalahi hasil yang harusnya diperoleh.

 

Pengumpulan bukti empiris kini menjadi semakin penting bagi metode ilmiah, apalagi sains dapat semakin cepat berkembang dengan data yang dapat diakses dan dianalisis secara bersama seiring perkembangan teknologi informasi. Peer review, atau review bersama, dari bukti empiris kini menjadi bagian penting dalam upaya melawan kesalahan atau kecurangan pada riset ilmiah.

 

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. [72]

 

Pengetahuan diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi, untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objak, cara, dan kegunaaanya. Dalam Bahasa Inggris, jenis pengetahuan ini disebut Knowledge.

 

Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang membicarakan tantang ini anatarlain: empirisme, rasionalisme, idealisme, positivisme, intuisi, wahyu, dan lain-lain.

Intuisi

 

Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku.[73] Di dalam Islam, Intuisi diakui sebagai salah satu sumber dari cara berilmu.

 

Hal ini diakui pula oleh ahli filsuf Barat. Misalnya oleh filsuf Prancis, Henri Bergon. Bergson membedakan pengetahuan atas pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif. Pengetahuan diskursif bersifat analitis, dan diperoleh melalui perantara simbol. Pengetahuan seperti ini dinyatakan dalam simbol, yakni bahasa. Jadi ini merupakan pengetahuan tidak langsung. Sebaliknya pengetahuan intuitif bersifat langsung, sebab tidak dikomunikasikan melalui media simbol. Pengetahuan ini diperoleh lewat intuisi, pengalaman langsung orang yang bersangkutan. Jelas, pengetahuan seperti ini lebih lengkap. Ia menghadirkan pengalaman dan pengetahuan yang lengkap bagi orang yang mengalaminya.[74]

Jadi Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawabannya atas permasalahan tersebut, tanpa melalui proses berliku-liku (tiba-tiba menemukan jawaban atas permasalahan tersebut). Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.[75]

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuisi dapat dipergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Kegiatan intuisi dan analisis bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran. [76]

Salah satu tokoh filsuf memberikan uraian mendalam tentang intuisi, beliau adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas.

 

Intuisi bagi al-Attas adalah pemerolehan ilmu di peringkat yang tinggi, yaitu di peringkat istimewa yang hanya dialami oleh orang-orang tertentu (khawas atau khawas al-khawas), di mana sampainya ilmu merupakan proses yang cepat dan langsung tanpa batas-batas sujek-objek, partikular-partikular, dan keberagaman pada aspek eksternal manusia. Inilah intuisi yang merupakan kondisi ihsan bagi kalangan Sufi.[77]

 

Melalui informasi dari wahyu, al-Attas menyatakan, intuisi ini sangat mungkin terjadi kepada manusia. Ini bisa dilihat dari tiga konsep yang berkaitan erat dengan pembahasan intuisi ini, yakni tentang kosmologi (cosmology); tentang eksistensi manusia (human existence); dan tentang adanya peran dominan di luar akal diri manusia (beyond human mind). Dari sisi kosmologi, manusia dan makluk yang lain adalah entitas terendah dari tingkatan-tingkatan kewujudan dalam kosmos Allah. Oleh karena itu, apabila menyadari tentang hal ini, maka ada kemungkinan besar, berdasarkan sudut pandang eksistensi diri manusia yang boleh melintasi pengalaman fisik, maka kemungkinan sampainya manusia kepada makna-makna intuitif itu sangat besar. Belum lagi, ketika dominasi peranan di luar diri manusia memang tidak boleh dibantah lagi, apakah itu yang disebut Ruh al-Quds, ’Alam al-Mithal dan al-Mala’ al-A’la, apabila manusia betul-betul menyadari ini dan mencoba melaksnakan peraturan agama dengan baik, menghindari diri dari larangan Allah, maka ilmu intuitif itu akan semakin nyata baginya. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengalaman intuitif ini, perlu persiapan, latihan, dan pendisiplinan diri seseorang.[78]

 

Bahkan para nabi, para wali dan orang-orang saleh juga perlu melalui latihan-latihan untuk menerima dan menafsirkan ilmu intuitif ini. Latihan dan pendisiplinan ini tidak sekedar luaran diri manusianya, tapi aspek dalamannya, di mana aspek dalaman ini inti kepada dirinya, dan itulah yang mempunyai kapasitas mengenal hakekat kebenaran. [79]

 

Dari sisi ini, nampaknya pendisiplinan jiwa ini mempengaruhi konsep pendidikannya yang disebut dengan adab. Sebab, konsep pendidikan al-Attas adalah pendisiplinan pikiran dan jiwa. Orang yang pikiran dan jiwanya sudah terlatih dan disiplin, maka sudah memasuki kategori orang saleh (good man) yang siap menerima ilmu intuitif. Orang yang paling sempurna jiwanya adalah nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, beliaulah profil manusia sempurna (insan kamil) yang mempunyai kapasitas sempurna menerima semua level ilmu, termasuk ilmu intuitif. [80]

 

Intuisi dalam pemikiran al-Attas boleh dibagi kepada dua: level biasa dan level di atas biasa. Level biasa adalah yang dialami oleh manusia pada umumnya, yaitu pemerolehan ilmu yang datang secara tiba-tiba, secara inspiratif, melalui perenungan dan pencarian bukti-bukti rasional yang kemudian melahirkan inspirasi tertentu. Ini yang disebut hads. Level ini adalah merujuk kepada bagian pertama dari definisi ilmu al-Attas, yakni “sampainya jiwa kepada makna”. Dengan kata lain, inspirasi intuitif itu adalah upaya sendiri orang tersebut. [81]

 

Berbeda dengan level biasa adalah level di atasnya, yaitu level widjan. Level ini merujuk kepada bagian kedua dari definisi ilmunya, iaitu ”sampainya makna kepada jiwa”. Dengan kata lain, ilmu itu memang dicurahkan kepadanya, bukan dicari olehnya. Dari kedua level ini, instrumen yang digunakan untuk memeroleh ilmu ini berbeda. Level yang pertama menggunakan panca indera dan penalaran pada umumnya. Sedangkan level yang kedua menggunakan instrumen spiritual, yaitu kasyf dan dhauq, hudur, shuhud, dan ahwal. Ini bukan berarti akal dan panca indera tidak digunakan pada level ini, tapi sudah mengalami konvertasi dari yang biasa kepada yang luar biasa, yaitu rasional dikonvert kepada intelektual dan empirical kepada pengalaman spiritual yang otentik (outhentic spiritual experience). Jadi instrumen di tingkat biasa masih valid dan sah digunapakai.[82]

 

Sementara itu, berbicara jenis ilmu yang diperoleh intuisi ini, sepertinya apa yang boleh dipahami dari konsepsi yang al-Attas uraikan adalah boleh dikatakan ilmu-ilmu itu mempunyai peringkat-peringkat, paling tidaknya boleh dibagi kepada tiga: pertama, laisa bi ilm; kedua, shibhu ilm; dan ketiga, ilm. Ini seperti yang pernah dijelaskan oleh Dr Syamsuddin Arif, salah satu murid al-Attas, dalam satu kajian rutin Insists Malaysia beberapa waktu silam. [83]

 

Pertama, ketidaktahuan terhadap sesuatu disebut suatu kebodohan (jahl). Ini suatu keadaan nihil dari pengetahuan. Tidak ada pengetahuan yang diperoleh oleh seseorang. Oleh karena itu, makna tidak ada pada jiwa seseorang. Kekosongan dari ilmu boleh jadi karena disengaja atau tidak disengaja. Dikatakan disengaja karena manusia ada yang ingkar terhadap pemerolehan ilmu, merasa ilmu mustahil bagi manusia. Ini yang dialamai oleh orang-orang sofis yang mengatakan ilmu itu tidak mungkin. Karena keegoisan mereka dan keingkaran mereka dengan ilmu, maka hati mereka tertutup dari mendapatkan ilmu. Tidak hanya itu, orang yang dengan sengaja menutup diri dari informasi kebenaran, utamanya yang datang dari wahyu, mereka selalu dalam kejahilan, seperti orang-orang kafir yang senantiasa tidak mau menerima risalah para nabi, bahkan menentangnya. Sedangkan mereka yang secara tidak sengaja menjadi tidak tahu adalah seperti orang-orang yang akalnya tidak sempurna sehingga ia tidak termasuk kalangan mukallaf. Orang seperti ini disebut juga tidak tahu, atau jahil. [84]

 

Kedua, adalah seakan-akan pengetahuan tapi sebenarnya bukan pengetahuan, atau hanya menyerupai saja. Ini terdiri dari tiga macam pengetahuan; (a) wahmiyyat. Yaitu pemahaman tentang sesuatu dengan dugaan atau sangkaan (prejudice). Pengetahuan ini adalah pengetahuan  yang lebih banyak kemungkinan salahnya. Biasanya pengetahuan seperti ini dialami oleh orang yang hatinya tidak stabil dan cenderung ke jiwa hayawaniyyah-nya, sehingga kebanyakan cara pandangnya menggunakan barometer hewani. Biasanya orang seperti ini subyektif, karena ia banyak menduganya; (b) syakkiyyat. Yaitu pengetahuan seseorang yang kemungkinan salah dan benarnya sama-sama besar potensinya; dan (c) zhanniyyat. Yaitu pengetahuan yang kemungkinan besarnya benar dan ada peluang untuk salah. Kualitas pengetahuannya yang berkutat pada zhanniyyat ini kevalidannya tidaklah seratus peratus, sebab setiap waktu boleh berubah, mengikut objek yang diamati boleh berubah setiap waktu, dan perubahan ini mengikuti konsep dasar dari materi itu yang selalu mengalami penciptaan dengan materinya yang baru. [85]

 

Jadi, makna yang diperolehi dalam tingkatan ini pun terbatas kepada kemateriannya. Oleh karena itu, pengetahuan di tingkatan ini bukanlah ilmu sejati, sebab walaupun ia memberi pengetahuan kepada manusia, namun manusia tidak mencapai keyakinan sepenuhnya yang diakibatkan perubahan-perubahan yang akan terjadi pada setiap saat. Selain itu, alam materi ini sebenarnya aksidental dari realitas sebenarnya yang bukan lagi fisik. Dengan demikian, pengertian di tingkatan ini adalah bergantung kepada realitas essensinya, yaitu Realitas yang sebenarnya (The Ultimate Reality) dalam pemikiran al-Attas. [86]

 

Ketiga, adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang betul-betul meyakinkan atas kebenaran makna yang telah sampai kepada jiwa seseorang. Tidak ada zhan, syakk, apalagi wahm. Apabila sudah memperoleh makna yang demikian, maka orang seperti ini disebut dengan arif, atau yang mengetahui dengan pengetahuan yang mendalam dan keyakinan yang betul-betul kuat dalam jiwa. Keyakinan pada ilmu ini mengalami tiga gradasi, dilihat dari sudut pandang tasawwuf; ilm al-yaqin, ’ain al-yaqin dan haqq al-yaqin. Peringkat ketiga ini hanya dialami oleh orang-orang khawas dan khawas al-khawas, seperti yang disebut di atas. Yakni mereka yang betul-betul telah sampai kepada makna dan menerima makna itu dengan seluruh keyakinannya. Semua makna itu seakan tiada batas lagi, semua terbuka kepadanya. Semua hakekat di dunia empiris tersingkap kepadanya. Oleh karena itu tidak ada lagi partikular-partikular yang menyesatkan baginya; tidak ada lagi dikotomi-dikotomi kepadanya; yang ada keuniversalan yang tunggal dan makna-makna yang teratur dalam satu sistem yang rapi. Sampai di sini boleh kita pahami bahwa ilmu intuisi menurut al-Attas adalah yang peringkat ketiga di atas, yakni yang sudah boleh dikategorikan ilmu, bukan syibh ilm, apalagi jahl. [87]

 

Dengan demikian, setelah makna-makna sudah sampai kepada jiwa secara intuitif dengan pengertian wijdan, maka semua jenis ilmu ter-cover di sini. Tidak ada lagi perpisahan antara dirinya dengan objek ilmu. Apabila sudah sampai di level tinggi ini, ilmu yang didapati otomatis merangkumi tidak saja di level tinggi itu sendiri tapi juga di level biasa. [88]

 

Dalam konteks tasawwuf, tasawwuf bagi al-Attas adalah ”pelaksanaan syariat di peringkat ihsan”. Artinya, ketika seseorang sampai pada level intuisi, semua level ilmu yang ada di peringkat bawahnya tidak terabaikan, baik di level panca indera atau rasio semua masih berlaku dan valid, seperti dijelaskan sebelumnya. Ini untuk menolak kalangan yang mengaku sufi yang kerap kali mengatakan telah mendapatkan inspirasi ilahi walaupun perbuatannya banyak melanggar syariat. Maka bagi al-Attas mereka bukan Sufi sejati, tapi psedo-Sufi, yakni orang yang mengaku-ngaku sufi, padahal sebenarnya bukan. Sebab, tidak mungkin orang yang betul-betul dekat kepada Allah itu melanggar syariat-Nya. [89]

 

Pandangan Umum tentang Kehancuran Negeri-Negeri

 

Kehancuran Menurut Al-Quran

 

Menurut Al-Quran kehancuran terjadi akibat ulah tangan manusia. Ulah tangan manusia maksudnya adalah maksiat. Maksiat itu berupa perbuatan jahat dan melanggar. Kemaksiatan terbesar manusia adalah berbuat syirik. Saat manusia meninggalkan keimanan, akidah yang benar, Islam, ibadah maka mereka akan selalu berada dalam kekacauan dan kehancuran. Manusia bila banyak melanggar aturan hidup, apalagi jika ia mengingkari aturan itu sendiri, maka akibatnya pasti sebuah kehancuran hidup yang amat besar.

 

Kehancuran Menurut Ilmu Pengetahuan

 

Teori tentang kehancuran yang menimpa umat manusia, menurut ilmu pengetahuan, diakibatkan oleh perbuatan manusia dan peristiwa alam. Ilmu pengetahuan memberikan suatu penjelasan yang rasional bahwa kehancuran yang menimpa umat manusia adalah akibat dari kejahatan, kebodohan, kelalaian, dan peristiwa alamiah. Contoh kejahatan adalah kolonialisme; contoh kelalaian adalah kecelakaan lalu lintas, contoh kebodohan: narkoba dan rokok. Sedangkan contoh dari peristiwa alamiah adalah gunung meletus dan tsunami. Contoh kelalaian dan hawa nafsu adalah pornografi dan pelacuran. Semua ini mengakibatkan terjadinya kehancuran pada umat manusia.

 

Kehancuran Menurut Data Empiris

 

Data-data di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan di tengah masyarakat itu nyata adanya. Umumnya data yang terhimpun adalah data dalam kaitannya dengan kejahatan, kelalaian, kebodohan, pelanggaran, permusuhan. Dapat kita temukan dari data kehancuran manusia akibat rokok, narkoba, prostiusi, pornografi, korupsi, HIV/AIDS, curanmor, pembunuhan, perang, pembantaian.

 

Semua data empiris ini menujukkan apa yang ada menurut ruang dan waktu tertentu. Inilah kenyataan yang dapat kita tangkap dengan indra kita. Kenyataan-kenyataan ini merupakan sesuatu yang benar-benar ada. Dalam tafakur saya tentang kehancuran, data empiris memberikan gambaran nyata dari kehidupan yang paling dekat dengan diri saya di sini dan saat ini. Bahwa kehancuran itu ternyata benar merupakan akibat dari tangan manusia sendiri, juga akibat dari kebodohan manusia ketika manusia mengambil jalan yang bertentangan dengan wahyu dan akalnya sendiri. Artinya andaikata manusia mentaati wahyu dan akalnya, maka mereka tidak akan mengalami hal yang menghancurkan tersebut.

 

Menjawab Pertanyaan IQRO

 

Mengingatkan kembali tentang tiga pertanyaan terkait judul IQRO ini yaitu “ Kehancuran Negeri-negeri”; 1. Apa yang diungkap sumber ilmu tentang kehancuran negeri-negeri? 2. Bagaimana keadaan negeri kita saat ini dari perspektif kehancuran negeri-negeri? 3. Apa solusi yang ditawarkan penulis dalam menyikap tanda-tanda kehancuran Negeri Indonesia?

 

Untuk menjawab pertanyaan pertama, maka dalam tulisan selanjutnya akan dipaparkan jawabannya, mulai dari jawaban yang diberikan al-Quran, kemudian Ilmu Pengetahuan, Lalu Fakta Sejarah, kemudian paparan dari penulis sendiri dengan mengikuti paradigma yang telah disusun sebelumnya berdasarkan paparan sumber ilmu tersebut.

 

Untuk menjawab pertanyaan nomor dua, saya mengumpulkan data-data di lapangan, mengelompokkanya dan kemudian menganalisanya dari perspektif paradigma dan penjelasannya yang telah disediakan pada bagian jawaban pertanyaan pertama.

 

Dan jawaban atas pertanyaan ketiga, saya akan menjawabnya sendiri dengan tetap mendasarkan kepada dasar-dasar dan sumber pengetahuan yang telah ditetapkan yaitu al-Quran, Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman bangsa-bangsa yang berhasil mempertahankan negaranya dari kehancuran, sekali pun diakui pada ujungnya negara tersebut hancur juga, seiring banyaknya faktor yang menjadi sebabnya yang sedemikian kompleks.

 

Tulisan saya ini adalah dedikasi untuk negeri ini, agar selamat penduduknya yang beriman, agar mereka yang berbuat baik mendapat balasan kebaikan, dan agar kita semua senantiasa waspada dari berbagai upaya yang hendak mengaburkan tujuan hidup kita di dunia yang sebenarnya.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma

[2] https://yantigobel.wordpress.com/tag/ayat-qauliyah/

[3] http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/jika-bukan-ahlinya-yang-mengurus-tunggulah-kehancuran.htm

[4] https://peradaban14islam.wordpress.com/2011/04/08/epistemologi-cara-mendapatkan-pengetahuan-yang-benar/

[5] http://meiisya.blogspot.co.id/2012/04/makalah-ilmu-pengetahuan.html

[6] http://adnanjamaljusticeforall.blogspot.co.id/2011/10/ilmu-sebagai-metode-mendapatkan.html

[7] http://www.scribd.com/doc/43326775/Ontologi-Epistemologi-Dan-Aksiologi-Ilmu#scribd

[8] Jujun Surisumantri, Filsafat Ilmu, hal.105

[9] https://dwicitranurhariyanti.wordpress.com/filsafat-ilmu/epistemologi-pengetahuan-metode-ilmiah-struktur-pengetahuan-ilmu/

[10] https://abdwahidhoriz.wordpress.com/2012/05/02/aksiologi-dalam-perspektif-islam-dan-umum-2/

[11]Kholili Hasib, http://inpasonline.com/new/prinsip-epistemologi-sebagai-asas-islamisasi-ilmu-pengetahuan/

[12]http://avry-assyifa.blogspot.co.id/2012/06/epistemologi-islam-dan-barat.html

[13]http://afiavif.blogspot.co.id/

[14]http://tonybestthinker.blogspot.co.id/2014/03/kajian-historis-antara-tradisi-ilmu.html

[15] https://harunalrasyidleutuan.wordpress.com/2010/01/26/epistemologi-al-irfani-2/

[16] https://sulthonkalimosodho.wordpress.com/2011/11/03/sumber-sumber-ilmu-pengetahuan/

[17] Dr.Adian Husaini, et.al, Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam,[Jakarta: Gema Insani,2013], hal.115

[18] Ibid

[19] Ibid

[20] Ibid

[21] http://tonybestthinker.blogspot.co.id/2014/03/epistemologi-islam-barat.html

[22]Ibid

[23]Ibid

[24]http://tonybestthinker.blogspot.co.id/2014/03/epistemologi-islam-barat.html

[25]Ibid

[26] https://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/pandangan-hidup-islam-sebagai-asas-epistemologi/

[27] http://belajarislam.com/2012/08/epistemologi-islam-bag-1/

[28] http://abdurrahman-al.blogspot.co.id/2012/03/pentingnya-iman-kepada-hari-akhir-dan.html

[29] http://almanhaj.or.id/content/3172/slash/0/pentingnya-iman-kepada-hari-akhir-dan-pengaruhnya-terhadap-prilaku-manusia/

[30] http://bersamadakwah.net/al-quran-sebagai-sumber-ilmu-pengetahuan/

[31] http://manfaatputih.blogspot.co.id/2013/08/kebenaran-al-quran-sebagai-wahyu-allah.html

[32] http://multazam-einstein.blogspot.co.id/2013/06/al-quran-sebagai-sumber-ilmu-pengetahuan.html

[33] ibid

[34] https://mediacerebri.wordpress.com/2010/04/19/bukti-ilmiah-kebenaran-al-qur%E2%80%99an-cahaya-kebenaran/

[35] http://www.dakwatuna.com/2011/12/28/17726/petunjuk-kehidupan-manusia/#axzz3wyp4ash3

[36] http://keluargaumarfauzi.blogspot.co.id/2015/05/nilai-nilai-al-quran.html

[37] https://fakagamauisu.wordpress.com/admistrasi

[38] https://muslim.or.id/3534-mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html

[39] http://www.ansharusyariah.com/read/sariyah-dakwah/454/khutbah-jumat-edisi007-penyebab-kehinaan-umat-islam/

[40] Ibid

[41] http://islamadiena.blogspot.co.id/2011/11/mari-kembali-kepada-al-quran-dan-as.html

[42] http://adnanjamaljusticeforall.blogspot.co.id/2011/10/ilmu-sebagai-metode-mendapatkan.html

[43] https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu

[44] Ibid

[45] http://adnanjamaljusticeforall.blogspot.co.id/2011/10/ilmu-sebagai-metode-mendapatkan.html

[46] https://peradaban14islam.wordpress.com/2011/04/08/epistemologi-cara-mendapatkan-pengetahuan-yang-benar/

[47] http://tentangpuasa-kontemplasi.blogspot.co.id/2009/11/sumber-ilmu-pengetahuan.html

[48] Ibid

[49] Ibid

[50] https://firdinata.wordpress.com/2011/09/24/definisi-teori/

[51] http://www.masterjurnal.com/fungsi-teori-dalam-penelitian-ilmiah/

[52] https://firdinata.wordpress.com/2011/09/25/fungsi-teori/

[53] https://sheysan.wordpress.com/2010/10/30/fungsi-teori/

[54] http://shirotuna.blogspot.co.id/2014/10/kedudukan-teori-dalam-penelitian.html

[55] http://manfaat.co.id/manfaat-penelitian

[56] https://studipemikiranislam.wordpress.com/2013/10/11/memahami-akal-dan-pikiran/comment-page-1/

[57] https://id.wikipedia.org/wiki/Akal

[58] http://mushlihahsaputri.blogspot.co.id/2014/07/akal-pikiran-dan-ilmu-pengetahuan.html

[59] http://globallavebookx.blogspot.co.id/2013/10/fungsi-dan-kedudukan-akal-dan-wahyu.html

[60] https://www.islampos.com/wahyu-sebagai-sumber-utama-ilmu-101858/

[61] http://www.ibrahimamini.com/en/node/2109

[62] https://www.islampos.com/wahyu-sebagai-sumber-utama-ilmu-101858/

[63] http://laliumah.blogspot.co.id/2013/02/kedudukan-ilmu-pengetahuan-dalam-islam.html

[64] http://fapet.ub.ac.id/wp-content/uploads/2015/09/Modul-7-PKBR.pdf

[65] http://www.academia.edu/15525512/TUGAS_AGAMA

[66] https://mrdhan.wordpress.com/2014/05/28/kedudukan-ilmu-dalam-islam/

[67] Ibid

[68] Ibid

[69] http://filsafatilmupgmi.blogspot.co.id/2009/05/ilmu-dalam-prespektif-islam-dan-barat.html

[70] https://id.wikipedia.org/wiki/Bukti_empiris

[71] http://www.bglconline.com/2014/05/memahami-hipotesis-bukti-empiris/

[72] http://tentangpuasa-kontemplasi.blogspot.co.id/2009/11/sumber-ilmu-pengetahuan.html

[73] https://www.google.com/search?q=intuisi+adalah&ie=utf-8&oe=utf-8

[74] Ibid

[75] http://arifwiyat-pascasarjana.blogspot.co.id/2013/09/perbedaan-filsafat-pengetahuan-dan-ilmu.html

[76] http://aprita14.blogspot.co.id/2013/05/makalah-filsafat-ilmu.html

[77] https://fajrulislam.wordpress.com/2010/12/10/konsep-intuisi-menurut-al-attas/

[78] Ibid

[79] Ibid

[80] Ibid

[81] Ibid

[82] Ibid

[83] Ibid

[84] Ibid

[85] Ibid

[86] Ibid

[87] Ibid

[88] Ibid

[89] Ibid


Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: