Filsafat Berfikir

MEMAHAMI MAKNA IQRO | Mei 9, 2017

Makna Iqro

 

Kata iqra’ berasal dari kata qara’a, dalam kamus-kamus, kata ini memiliki arti yang bermacam-macam, diantaranya adalah membaca, menganalisa, mendalami, merenungkan,menyampaikan,meneliti dan lain sebagainya.Dengan demikian perintah iqra’ atau “bacalah” ini tidak mengharuskan adanya suatu tulisan yang bisa dibaca, juga tidak mengharuskan adanya suatu ucapan yang bisa diperdengarkan. Pengertian ini sesuai dengan arti kata qara’a itu sendiri yang pada awalnya memang mempunyai arti “menghimpun. [1]

Al Qur’an sering menggunakan kata qara’a dalam berbagai ayatnya. Terkadang hal itu menyangkut “bacaan” yang bersumber dari Tuhan atau kitab-kitab suci (misalnya :QS 17:45), namun kadang-kadang juga menyangkut “bacaan” yang bersumber dari manusia atau bukan dari Tuhan (misalnya :QS 17:14). Dengan melihat bukti-bukti ini ditambah lagi dengan tidak adanya penjelasan tentang apa saja obyek yang menyertainya, maka bisa dipahami apabila kata iqra’ dianggap memiliki arti yang luas dan bersifat umum.[2]

Dapat ditarik kesimpulan, bahwa iqra’ yang berarti membaca, menganalisa, mendalami, merenungkan,menyampaikan,meneliti dan lain-lain , mencakup obyek apa saja yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Baik itu “membaca” ayat ayat yang bersumber dari Tuhan (kitab suci) juga “membaca” hasil karya manusia seperti buku-buku dan koran. [3]

Menurut Quraish Shihab, kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a (قرأ) yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Apabila kita merangkai huruf atau kata kemudian kita mengucapkan rangkaian kata tersebut, maka kita telah menghimpunnya. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra’, yang diterjemahkan dengan “bacalah”, tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya, kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.

Menurut Yusuf Qardhawi, kata iqra’ secara etimologi berarti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku. Sedangkan secara terminologi, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kaun).

Sedangkan menurut Al-Maraghi sebagaimana yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul “tafsir ayat-ayat pendidikan”, bahwa kata iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 dapat diartikan “jadilah engkau (Muhammad) seorang yang pandai membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya”.

Menurutnya pula, pengulangan kata iqra’ pada QS. ‘Alaq ayat 3 didasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana dalam tradisi. Perintah Tuhan untuk mengulang membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara demikian bacaan tersebut menjadi milik orang membacanya.

Menurut Iskandar AG Soemabrata, dengan kata lain iqra’ juga dapat dipersamakan dengan melihat, sekaligus mengamati dan memperhatikan, serta merekam dalam ingatan objek apa saja yang ada dihadapan kita, sehingga nantinya dapat mengambil manfaat dari apa yang kita perhatikan itu. Karena iqra’ (membaca) sebenarnya tidak terbatas pada ayat-ayat yang tertulis saja (ayat-ayat qauliyah), tetapi juga membaca ayat-ayat yang tidak tertulis yang ada pada alam ini (ayat-ayat kauniyah).[4]

Kata iqra’ mengandung arti yang amat luas, seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa makna iqra’ adalah membaca segala sesuatu yang ada dihadapan kita, baik itu berupa tulisan atau bacaan, ayat-ayat suci al-Qur’an, peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, fenomena alam, maupun dunia seisinya (alam semesta). Dan bahwa membaca tidak cukup jika dilakukan hanya sekali saja, membaca harus dilakukan secara berulang-ulang agar bisa sampai pada tingkat pemahaman yang mendalam serta membekas dalam jiwa.

Ayat-ayat di atas meneragkan bahwa yang dimaksud iqra’ atau membaca adalah membaca lembaran-lembaran suci yaitu al-Qur’an, kecuali pada QS. al-‘Alaq ayat 1 dan 3, karena di dalamnya tidak dijelaskan maupun dispesifikkan  objek bacaan yang dimaksudkan, sehingga dapat dikatakan bahwa kata iqra’ tersebut memilliki objek yang bersifat umum, yaitu tidak hanya membaca bacaan, tulisan atau pun al-Qur’an, tetapi juga membaca yang lainnya, seperti membaca fenomena alam, peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitar, dan sebagainya.

Iqro dalam pengertian luas adalah: pengkajian ilmu pengetahuan secara intensif, dengan membaca dan mendalami ayat-ayat qauliyyah (teks ayat) maupun  ayat-ayat kauniyyah (alam yang tergelar), sehingga menemukan berbagai manfaat bagi hidup dan kehidupan umat manusia, Dengan kajian mendalam sesuai disiplin ilmu maka akan dapat diketahui rahasia perintah dan larangan Allah SWT atas hambanya yang memberi tuntunan syareat untuk keselamatan manusia bukan untuk mempersulit atau menyusahkannya dan terutama semakin menambah keyakinan akan keagungan Allah SWT. [5]

Iqro itu Membaca atas Nama Rabb

 

Kata iqra’ dikaitkan dengan kalimat “bi ismi Rabbika” (dengan nama Tuhanmu). Ini berarti bahwa makna iqra’ bukan hanya sekedar asal membaca, ,tapi sekaligus juga menuntut pelakunya agar pandai-pandai memilih obyek yang dibaca, diteliti, dianalisa dan di renungkan tersebut dapat mengantarkannya kepada “nama Allah” itu. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kita juga diwajibkan memilih obyek dari perintah iqra’ secara tepat serta harus tentang kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat, bukan tentang keburukan.

 

Dasar segala yang akan dibaca itu tidak lain ialah dengan nama Allah juga. Di samping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Di dalam ayat yang mula turun ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian membaca dan menulis.[6]

Semua aktifitas berkaitan dengan aktifitas membaca baik tujuan, bahan dan hasil tidak boleh terpisah dari wilayah Ilahiyah, sebagaimana perkembangan ilptek di Negara-negara Barat, yang telah memisahkan ilmu pengetahuan dengan keyakinan agama, yang dampaknya juga mempengaruhi pada kurikulum pendidikan di negara dan atau masyarakat Islam. Yang pola ini kemudian menjadi faham sekulerisme yaitu polarisasi (memisahkan) urusan dunia dengan agama yang menjadi sumber kerusakan moral manusia. [7]

Dalam QS. Al-‘Alaq, perintah membaca, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “bi ismi Rabbika” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar membaca dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.[8]

Iqro sebagai Sarana Mencapai Ilmu

 

Kaitan ilmu dengan aktifitas membaca.Cukup jelas bahwa membaca adalah sarana mencapai ilmu, yang mana ilmu adalah salah satu sifat dari sifat-sifat kemuliaan Allah SWT yang Maha Suci. Karena itu keselamatan manusia sangat ditentukan oleh kesucian niat dan perilakunya, bila suci niat dan perilakunya maka iptek akan berhasil mencapai tujuan, yaitu mengangkat derajad yang lebih mulia, sebaliknya bila niat dan perilakunya tidak suci maka iptek akan membawa kerusakan bahkan bencana sebagaimana dilakukan kaum terroris maupun kuruptor. [9]

Diantara kemurahan Allah Swt. ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu. Dan ilmu merupakan bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam) dengan malaikat. Ilmu itu adakalanya berada di hati, adakalanya berada di lisan, adakalanya pula berada di dalam tulisan tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di lisan, dan di tulisan. Sedangkan yang di tulisan membuktikan adanya penguasaan pada kedua aspek lainnya.[10]

Karena itu membaca dalam konteks ilmu dan amal meliputi: – membaca dengan lisan – membaca dengan pikiran – membaca dengan hati – membaca dengan perbuatan. Dalam proses pembelajaran, membaca lesan sangat penting pada tahab awal, karena ucapan lesan yang terdengar jelas akan beresonansi di dalam telinga hingga menanamkan konsep dengan kuat.Membaca dengan fikiran (Ra’yun) adalah kegiatan intektual untuk melatih kecerdasan, sikap kritis dan rasional, karena agama yang lurus itu tidak bertentangan dengan prinsip logika ilmiah. Bahkan berlakunya syareat tergantung dari akal pikirannya, karena hukum syareat dicabut bagi orang yang hilang akalnya.Karena itu kedudukan akal dalam Islam adalah untuk: mengenal dan memahami maksud ibadah, mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari peristiwa yang terjadi,menjadi syarat berlakunya syareat/hukum, berfikir kritis dari segala tahayul, taqlid dan bid’ah, untuk menghindari segala madharat dan mencari jalan selamat.Membaca dengan hati artinya mengondisikan hati dengan sifat ihlas dan membersihkan dari sifat sifat tercela seperti takabur, nifaq, hasad dan riya, kemudian mengisinya dengan sifat sifat mulia yang menjadi dasar akhlak yang mulia. Sifat-sifat tercela pada hakekatnya adalah kotoran jitam yang menutup mata-hati dan pendengaran hati, tanpa pembersihan kotoran ini maka hilanglah kemampuan hati untuk membaca hakekat kebenaran ilmu-Nya.Membaca dengan perbuatan adalah mengambil hikmah dari semua perilaku dan amal perbuatan yang dilakukan sesudah mengkaji konsep ilmunya, atau mengambil pelajaran dari pengalaman yang telah dilakukannya yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas iman secara kesluruhan yang disebut sebagai yakin. [11]

Iqro itu Mengantarkan pada Kemuliaan, Kebahagiaan dan Peradaban

Perintah Iqro dirangkaikan dengan “wa Rabbuka al-akram”. Ayat ini antara lain merupakan dorongan untuk meningkatkan minat baca. Dalam Al-Qur’an hanya dua kali ditemukan kata “al-akram”, yaitu pada QS. Al-‘Alaq ayat 3 dan pada QS. Al-Hujarat ayat 13:  “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. Kata “akram” yang berasal dari kata “karama”, biasanya diterjemahkan dengan “Maha Pemurah” atau “Semulia-mulia”. Lafal “wa Rabbuka al-akram”, yang disifati di sini adalah Rabb (Tuhan Pemelihara). Ayat ini adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Qur’an yang menyifati Tuhan dengan kata akram yang tidak dibatasi pengertiannya dalam suatu hal tertentu. Lafal tersebut mengandung pegertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi hamba-Nya yang membaca.[12]

Manusia bertugas sebagai “abd lillah” dan juga sebagai “khalifah fi al-ardh”. Kedua fungsi ini adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang merupakan persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Kekhalifahan menuntut hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan dengan alam serta hubungan dengan Allah. Kekhalifahan juga menuntut kearifan. Karena, agar manusia mampu mencapai tujuan diciptakannya sebagai khalifah, maka dibutuhkan adanya pengenalan terhadap alam raya, yaitu dengan usaha qira’at (membaca, menelaah, mengkaji, meneliti, dan lain-lain).[13]

Iqra’ merupakan isyarat utama dan pertama bagi keberhasilan manusia. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan jika ia menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt. Kepada manusia.[14]

Iqra’ adalah tuntunan yang diberikan Allah swt kepada manusia. Semakin tinggi “pembacaan”, semakin terbuka rahasia-rahasia alam dan semakin berkembang pula ilmu pengetahuan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa iqra’ merupakan syarat utama guna membangun peradaban. Perintah Iqra’ bukan hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, tetapi juga untuk seluruh umat manusia sepanjang masa.[15]

Perintah Iqro merupakan perintah yang paling berharga bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membaca’ adalah syarat utama guna membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, demikian pula sebaliknya.[16]

 

Iqro dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831) . Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an.[17]

 

Iqra’ merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Tidaklah mengherankan jika ia menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.[18]

[1] http://www.kompasiana.com/srwln111981/iqra-bacalah-emangnya-apa-yang-mau-dibaca_55100c00a33311b32dba88ca

[2] http://www.kompasiana.com/srwln111981/iqra-bacalah-emangnya-apa-yang-mau-dibaca_55100c00a33311b32dba88ca

[3] http://www.kompasiana.com/srwln111981/iqra-bacalah-emangnya-apa-yang-mau-dibaca_55100c00a33311b32dba88ca

[4] http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html

[5] http://tafsir.cahcepu.com/alalaq/al-alaq-1-5/

[6] http://tafsir.cahcepu.com/alalaq/al-alaq-1-5/

[7] http://tafsir.cahcepu.com/alalaq/al-alaq-1-5/

[8] http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html

[9] http://tafsir.cahcepu.com/alalaq/al-alaq-1-5/

[10] http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-al-alaq-ayat-1-5.html

[11] https://darowi.wordpress.com/tafsir-iqra%E2%80%99/

[12] http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html

[13] http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html

[14] http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html

[15] http://www.kompasiana.com/srwln111981/iqra-bacalah-emangnya-apa-yang-mau-dibaca_55100c00a33311b32dba88ca

[16] https://www.facebook.com/notes/puasa-sunnah-senin-kamis/falsafah-iqra-memahami-konsep-membaca-dalam-Islam/426726152875/

[17] https://www.facebook.com/notes/puasa-sunnah-senin-kamis/falsafah-iqra-memahami-konsep-membaca-dalam-islam/426726152875/

[18] https://www.facebook.com/notes/puasa-sunnah-senin-kamis/falsafah-iqra-memahami-konsep-membaca-dalam-islam/426726152875/

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: