Filsafat Berfikir

Filsafat Sumber Kebijaksanaan | Mei 11, 2017

Filsafat adalah sumber kebijaksanaan

Dikatakan bahwa salah satu fungsi filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Ahli Filsafat Kristen bernama Thomas Aquinas mengatakan bahwa kebijaksanaan ada tiga tingkatan, yaitu insight yang tumbuh dari filsafat; kebijaksanaan yang tumbuh dari iman, lebih tinggi dari yang pertama; dan ketiga adalah kebijaksaan yang merupakan karunia dari Allah yang membuatnya mencintai Allah.[1]

Bijaksana artinya pandai mempergunakan akal pemikiran serta dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, arif, selalu dengan nalar. Dengan demikian kata Habibi, Ph.D, begitu erat hubungan antara sikap bijaksana dengan berfikir. Kebijaksanaan dapat diperoleh dengan cara berfikir secara mendalam terhadap segala sesuatu sehingga keputusan yang kita ambil tepat guna, tepat waktu, dan tepat sasaran.[2]

Keimanan kepada Kitab suci merupakan pokok dan pondasi berfikir yang jernih, jujur, bersih, benar dan tanpa ada keraguan di seputar ilmu-ilmu yang keluar darinya. Namun demikian, kitab suci sendiri menyuruh, menyarankan, mengarahkan, memotivasi manusia yang memikirkan, mengetahui, mengeksplorasi sesuatu yang berada di luar kitab suci. Al-Quran menganjurkan agar umatnya berilmu tentang agama[3],  dan menganjurkan pula untuk mengadakan aktifitas berfikir dan meneliti akan diri dan alam semesta.[4]

Ada dua perkara utama di luar al-Quran yang menjadi arah perhatian pemikiran dan perenungan, yaitu alam semesta dan diri manusia. Kemudian dalam diri manusia dengan segenap realitas yang menyertainya, kita menemukan bahwa manusia merupakan entitas yang berfikir dan mengkomunikasikan pemikirannya. Seperti diungkapkan oleh Dr. Uhar Saputra, manusia bisa bermasyarakat, berbudaya dan merasa malu, karena pada intinya karena manusia itu berfikir.[5]

Salah satu hasil pemikiran manusia adalah filsafat.

Filsafat merupakan pemikiran manusia dan renungan manusia dengan akal, hasil pemikiran yang bebas dari berbagai prasangka sosial.[6] Munculnya Filsafat adalah karena rasa kagum dan herannya manusia kepada fakta yang didapatinya di alam semesta dan dirinya sendiri.[7]

Ciri berfikir filsafat adalah radikal, universal, konseptual, koheren dan sistematis. Filsafat membawa kita berfikir secara mendalam, untuk mencari kebenaran subtansial, mempertimbangkan semua aspek dan menunutun kita kepada pehamaman yang lengkap. [8]

Filsafat merupakan salah satu ilmu yang istimewa sehingga filsuf dan filsafatnya sering menjadi rujukan atau sumber telaah di perguruan tinggi. Filsafat diperlakukan demikian  karena filsafat memberikan bekal dan kemampuan untuk memperhatikan pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain secara kritis. Filsafat memberikan cara-cara berfikir yang baru dan yang lebih kreatif dalam menghadapi masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan cara lain.[9]

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ilmu berupa filsafat dapat mengantarkan manusia kepada sifat kritis, teliti, menyeluruh, mendasar, sistematis. Tentu saja dengan corak berfikir yang demikian, akan membawa sikap yang hati-hati, penuh pertimbangan, sehingga bisa tegak keadilan dan lancar urusan kehidupan.

Watimena mengatakan, filsafat adalah aktifitas untuk berfikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia dan menjawabnya secara rasional, kritis dan sistematis. Namun fokus filsafat bukan pada jawaban yang diberikan, tetapi pada cara berfikirnya.[10]

Agama telah memberikan semua jawaban atas pertanyaan besar dalam kehidupan manusia, berupa asal usul kehidupan, kewajiban dalam hidup dan arah yang sedang dituju dalam hidup. Filsafat tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Apalagi jawaban yang dijamin benar dan pasti. Karena peran filsafat bukan di situ.

Peran filsafat adalah mengkondisikan agar kita memiliki akal fikiran yang bersifat kritis, teliti; cinta pada kebenaran, dan tidak menutup hati dari gagasan-gagasan baru. Sikap terbuka atas gagasan baru tidak berarti menerima gagasan tersebut, karena semuanya nanti akan kembali apakah gagasan tersebut dapat diterima iman, akal dan bernilai mashlahat atau tidak. Inilah sumber sikap bijaksana.

Filsafat adalah kebijaksanaan. Agar langkah mudah ke arah bijaksana, maka bersikaplah kritis terhadap kepercayaan atau norma, memadukan sains dan pengalaman, mempelajari jalan filsuf sebagai pisau analisa, menelusuri butir hikmah dalam agama, rangkuman, hikmah, berfikir sampai ke akar-akarnya.[11]

Dari uraian di atas saya menyimpulkan bahwa filsafat dapat membantu manusia bersikap bijaksana. Karena filsafat mengajarkan kepada kita untuk berfikir secara mendalam, menyeluruh, sistematis, koheren. Sehingga kita selalu kritis, teliti atas sesuatu hal sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara rasional saat kita menerima atau menolak suatu gagasan.

[1] Arti-definis-pengertian-info

[2] Punggawaphylosofis.wordpress.com

[3] Al-Quran surat at-Taubah ayat 122.

[4] Al-Quran surat al-Mulk ayat 3-4

[5] Uharspautra.wordpress.com

[6] Yogapermanawiajaya.wordpress.com

[7] Tartocute.blogspot.com

[8] Cahayamentari24.blogspot.co.id

[9] Filsafatwindy.blogspot.co.id

[10] Rumahfilsafat.com

[11] Ngook7.blogspot.co.id

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: