Filsafat Berfikir

Menjadi Bijaksana | Mei 12, 2017

Menjadi Bijaksana

Dalam bahasa saya, makna dari hikmah adalah mengerti dan mampu menerapkan pengertian tersebut. Dalam makna yang luas, hikmah adalah berilmu dan mampu menerapkan ilmu tersebut. Hikmah adalah sinonim dengan kebijaksanaan.

Dalam wikipeda disebutkan bahwa hikmah adalah suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut.

Definisi dasar dari hikmah, wisdom, kebijksanaan, adalah penggunaan suatu penetahuan dengan benar. “wisdom is the right use of knowledge” kata Charles Haddon Spurgeon (1892). Aristoteles mendefiniskan hikmah adalah pemahaman sebab akibat, yaitu mengetahui mengapa suatu hal itu seperti itu, yang lebih dalam dari sekedar mengetahui bahwa suatu hal itu seperti itu.

Menurut al-Quran, hikmah merupakan suatu karunia terbesar yang dapat dinikmati manusia. Dalam surat al-Baqoroh ayat 269, dikatakan bahwa Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan siapa yang diberikan hikmah, maka ia benar-benar diberikan karunia yang banyak. Hanya orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Sampai titik saya menyimpulkan bahwa hikmah atau kebijaksanaan memiliki keterkaitan erat dengan konsep penyusunnya berupa: karunia, akal, pelajaran, pengetahuan, penerapan.

Bagaimana kita memandang hikmah secara benar? Bagaimana kita bisa memperoleh hikmah? Berikut adalah empat tingkatan berfikir. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya kutipkan makna hikmah dari sebuah artikel berbahasa inggris, berikut terjemahan dan resumenya.

Pertama, tingkatan data. Data sederhana dan gambaran-gambaran. Kedua, tingkatan informasi. Informasi adalah data yang kita kumpulkan dan kita padukan secara sistematis. Inilah yang merupakan sumber referensi ketika kita hendak menciptakan hal-hal lainnya.

Ketiga, tingkatan pengetahuan.  Pengetahuan adalah informasi yang kita terapkan dalam sebuah konteks. Sehingga kita memahaminya. Keempat, adalah hikmah, wisdom, merupakan tingkatan terakhir. Saat ini hikmah hampir serupa maknanya dengan pengetahuan. Padahal sebenarnya berbeda.

Hikmah secara sederhana adalah opini. Pengetahuan bukanlah hikmah. Hikmah adalah kemampuan mempergunakan pengetahuan. Untuk lebih jelasnya, kebijaksanaan adalah penerapan pengetahuan dalam konteks hubungan-hubungan sehingga konsisten dengan hukum-hukum universal.

Dengan demikian penyusun hikmah atau kebijaksanaan esensinya adalah pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan memberikan kita cara, sedangkan kesadaran memberikan kita rasa kemauan untukl terjuan menyelesaikan masalah.

Hakikat lain yang menyertai kebijaksanaan adalah akal, pelajaran, dan problem.

Orang yang memiliki kemampuan berfikir sehigga dapat mengakses dan memahami pelajaran sehingga menjadi pengetahuan bagi dirinya kemudian menjadikan pengetahuan tersebut sebagai basis dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya, maka kita menyebutnya sebagai orang yang bijaksana.

Untuk melihat makna bijakana, kita bandingkan dengan kata ahli, pakar dan professional. Ahli adalah orang yang memiliki banyak pengalaman di suatu bidang. Pakar adalah seorang yang memiliki keahlian di beberapa bidang, ia ahli di banyak bidang. Professional adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi atas suatu bidang, ia pakar di bidang tersebut dan ia bijksana dalam hal keahliannya.

Professional adalah sebutan bagi seseorang yang berpengalaman, berpengetahuan dan memiliki kebijaksanaan di beberapa bidang kehidupan.

Dengan memahami konsepsi tentang kebijaksanaan ini maka mudah bagi kita untuk berusaha mewujudkan hikmah dalam diri kita.

Karena hikmah merupakan karunia, dan Allahlah yang memberikan karunia tersebut, maka langkah pertama untuk mencapai hikmah adalah berdoa kepada Allah, dekat denganNya, taat atas peritahNya dan tidak melakukan maksiat kepadaNya. Perintah tertinggi adalah Tauhid, sedangkan larangan terbesar adalah Syirik.

Kemudian karena hikmah itu akar-akarnya adalah pengetahuan, seseorang mesti mau berpeluh dalam upaya memiliki pengetahuan, baik melalui sekolah, membaca, observasi, meneliti, mengkaji. Mengikuti kegiatan keilmuan, mengoleksi buku, berlangganan majalah ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Dan karena untuk mencapai hikmah itu diperlukan upaya menerapkan ilmu menjadi amal, maka dibutuhkan suatu kesadaran atas realitas di dalam kehidupan. Realitas kehidupan menawarkan beragam pengetahuan sekaligus beragam masalah yang harus dituntaskan.

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: