Filsafat Berfikir

| Mei 13, 2017

Pandangan tentang Masyarakat Menurut Sosiolog

  1. Teori Tiga Tahap Perkembangan Masyarakat

Comte percaya bahwa pendekatan ilmiah untuk memahami masyarakat akan membawa pada kemajuan kehidupan sosial yang lebih baik. Ini didasari pada gagasannya tentang Teori Tiga Tahap Perkembangan Masyarakat, yaitu bahwa masyarakat berkembang secara evolusioner dari tahap teologis (percaya terhadap kekuatan dewa), melalui tahap metafisik (percaya pada kekuatan abstrak), hingga tahap positivistik (percaya terhadap ilmu sains). Pandangan evolusioner ini mengasumsikan bahwa masyarakat, seperti halnya organisme, berkembang dari sederhana menjadi rumit. Dengan demikian, melalui sosiologi diharapkan mampu mempercepat positivisme yang membawa ketertiban pada kehidupan sosial.[1]

Saya sendiri tidak percaya dengan teori tiga tahap perkembangan masyarakat ini. Apalagi sampai pada kesimpulan bahwa positivisme akan membawa ketertiban sosial dengan menafikan peran teologis. Dalam pandangan saya, agama (teologis) dan ilmu pengetahuan (posititivisme) sama-sama memiliki peranan penting dalam membina masyarakat yang lebih baik. Peran teologis lebih nyata dalam hal mengarahkan totalitas tujuan-tujuan kehidupan, karena sumber kebenarannya dan dimensinya berasal dari Allah Swt. Sedangkah ilmu pengetahuan berperan dalam membantu mencapai apa yang menjadi tujuan kehidupan manusia sesuai tujuan agama. Namun demikian dari teori tiga tahap Comte ini saya mengambil dua konsep yang penting darinya, yaitu agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua hal penting yang membantu masyarakat hidup dalam keadaan damai dan harmonis serta berkembang.

  1. Teori Kesadaran Kolektif dan Fakta Sosial

Untuk menjelaskan tentang masyarakat, Durkheim (1859-1917) berbicara mengenai kesadaran kolektif sebagai kekuatan moral yang mengikat individu pada suatu masyarakat. Melalui karyanya The Division of Labor in Society (1893). Durkheim mengambil pendekatan kolektivis (solidaritas) terhadap pemahaman yang membuat masyarakat bisa dikatakan primitif atau modern. Solidaritas itu berbentuk nilai-nilai, adat-istiadat, dan kepercayaan yang dianut bersama dalam ikatan kolektif. Masyarakat primitif/sederhana dipersatukan oleh ikatan moral yang kuat, memiliki hubungan yang jalin-menjalin sehingga dikatakan memiliki Solidaritas Mekanik. Sedangkan pada masyarakat yang kompleks/modern, kekuatan kesadaran kolektif itu telah menurun karena terikat oleh pembagian kerja yang ruwet dan saling menggantung atau disebut memiliki Solidaritas Organik.[2]

Selanjutnya dalam karyanya yang lain The Role of Sociological Method (1895), Durkheim membuktikan cara kerja yang disebut Fakta Sosial, yaitu fakta-fakta dari luar individu yang mengontrol individu untuk berpikir dan bertindak dan memiliki daya paksa. Ini berarti struktur-struktur tertentu dalam masyarakat sangatlah kuat, sehingga dapat mengontrol tindakan individu dan dapat dipelajari secara objektif, seperti halnya ilmu alam. Fakta sosial terbagi menjadi dua bagian, material (birokrasi dan hukum) dan nonmaterial (kultur dan lembaga sosial).[3]

Dalam bertindak, individu dan masyarakat terikat kepada suatu nilai. Nilai itu berupa kesadaran kolektif dan fakta sosial, demikian kata Durheim. Kesadaran sosial meupakan kekuatan moral yang mengikat individu pada suatu masyarakat. Sedangkan kekuatan moral yang mengikat individu pada suatu masyarakat. Wujud tindakan dan karya individu dalam konteks masyarakat menggambarkan kesadaran sosial dan fakta sosial yang terdapat di tengah masyarakat. Saya sependapat bahwa kesadaran sosial dan fakta sosial berupa Islam dengan karya-karya yang terdapat di suatu masyarakat berupa tindakan, budaya, gaya hidup dan lain sebagainya memiliki hubungan yang erat.

  1. Filsafat Uang

Filsafat Uang merupakan karya yang terkenal dari Simmel. Simmel sebagai sosiolog cenderung bersikap menentang terhadap modernisasi dan sering disebut bervisi pesimistik. Pandangannya sering disebut Pesimisme Budaya. Menurut Simmel, modernisasi telah menciptakan manusia tanpa kualitas karena manusia terjebak dalam rasionalitasnya sendiri. Sebagai contoh, begitu teknologi industri sudah mulai canggih, maka keterampilan dan kemampuan tenaga kerja secara individual makin kurang penting. Bisa jadi semakin modern teknologi, maka kemampuan tenaga individu makin merosot bahkan cenderung malas.[4]

Di sisi lain, gejala monetisasi di berbagai faktor kehidupan telah membelenggu masyarakat terutama dalam hal pembekuan kreativitas orang, bahkan mampu mengubah kesadaran. Mengapa? Uang secara ideal memang alat pembayaraan, tetapi karena kekuatannya, uang menjadi sarana pembebasan manusia atas manusia. Artinya uang sudah tidak dipahami sebagai fungsi alat, tetapi sebagai tujuan. Kekuatan kuantitatifnya telah mampu mengukur berbagai jarak sosial yang membentang antar individu, seperti cinta, tanggung jawab, dan bahkan mampu membebaskan atas kewajiban dan hukuman sosial. Barang siapa memiliki uang dialah yang memiliki kekuatan.[5]

Apa yang terjadi di tengah masyarakat, salah satunya ditentukan oleh kesadaran bahwa mereka membutuhkan uang, karena secara pragmatis uang memberikan kemudahan, sehingga sebagian besar pikiran masyarakat didominasi oleh urusan uang; bagaimana cara memperolehnya dengan mudah, terus menerus dan dalam jumlah yang besar atau mencukupi. Dalam kaitannya dengan agama, bagaimana wujud perputaran keuangan di dalam masyarakat disamping ditentukan oleh sifat manusia itu sendiri yang inheran terhadap uang, juga ditentukan oleh nilai kehidupan yang menjadi sandaran dalam memandang dunia ini secara total, dalam hal ini nilai kehidupan itu adalah Islam.

4.Pembangunan Sosial

Pembangunan sosila merupakan konsep Prof Dr Paulus Wirutomo. Pembangunan sosial yang benar itu lebih dari sekadar pembangunan sector fisik. Dalam pembangunan sosial, harus termuat peningkatan interaksi dan hubungan sosial dalam masyarakat. Tanpa terjadi kualitas hubungan sosial dari langkah pembangunan sosial yang diambil, sulit mengatakan adanya pembangunan sosial.

Menurutnya, bukan hanya pemerintah, tetapi sebagian besar kita masih memahami pembangunan sosial itu sekadar charity yang tidak menghasilkan uang. Mengikuti logika pembangunan sosial sebagai sektor, maka pembangunan sosial ini membutuhkan masukan berupa penyediaan anggaran, perlu pembiayaan. Dan mengikuti pemahaman pembangunan sosial sebagai charity, maka pembangunan sosial itu dianggap sebagai sebuah langkah yang tidak menghasilkan apa pun. Atau paling tidak output-nya dinyatakan tidak menghasilkan uang.

Pendidikan, sama halnya dengan kesehatan dan agama yang juga dianggap pembangunan sosial, terkadang dianggap sebagai anggaran yang habis terpakai tanpa menghasilkan uang. Padahal pembangunan pendidikan itu akan menghasilkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang meningkat inilah yang nantinya diharapkan akan menjadi pendorong terjadinya peningkatan kualitas hubungan sosial.

5. Syarat Peradaban

Menurut Ibnu Kholdun masyarakat dicirikan oleh sifat tolong menolong dan solidaritas sehingga terciptalah sistem sosial dan munculah darinya peradaban dan masyrakat madani yang harmonis, toleran, inklusif, sejahtera. Manusia dipandang memiliki kemampuan berfikir praksis, sehingga timbul sikap untuk saling menjaga dan lebih beradab. Sehingga dalam sifat yang demikian manusia akan mampu menghilangkan sifat buasnya, menjalankan amanat dari Tuhannya dan memimpin untuk mengelola bumi serta menumbuhkan kesejahteraan berasama.

[1] https://retnoug13blog.wordpress.com/2014/03/22/46/

[2] idem

[3] idem

[4] idem

[5] Idem

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: