Filsafat Berfikir

HIKMAH IQRO (Bagian 1) | Mei 18, 2017

LATAR BELAKANG

Di kalangan orang yang beriman, mutiara paling berharga dalam hidup adalah iman itu sendiri. Harga Iman di atas harga ilmu atau akal, di atas harga nyawa, di atas keturunan, di atas harga harta. Maka entitas yang dapat mengantarkan kepada iman akan ditempatkan pada posisi yang sangat berharga. Ada tiga entitas yang dapat mengantarkan kepada iman, yaitu ilmu, ibadah dan lingkungan dengan ciri dan kategori tertentu.

Ketika seorang yang beriman telah sampai kepada entitas bernama ilmu, ibadah dan lingkungan dengan ciri dan kategori tertentu tadi, tentulah ia telah mendapatkan suatu kehidupan bagi hati, akal dan jasadnya. Ia beroleh karunia yang besar, ia beroleh inti dan mutiara hidup di dunia dalam makna yang sesungguhnya. Itulah tali penguat keimanan, penambah kualitas iman, dan penjaga iman yang sejati.

Boleh jadi entitas ini dinamakan dengan hikmah. Jika penamaan ini disepakati, maka kita bisa memulai.

Ilmu dengan ciri dan kategori tertentu yang dengannya iman menjadi lebih baik, berkualitas sekaligus memperkuat dan memperbaiki ibadah dan lingkungan, maka saya menamakan imu tersebut adalah hikmah. Ilmu ini diturunkan dari penguasaan atas wahyu, dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan, seni, sejarah, intuisi, hasil investigasi atau penelitina di lapangan, pengalaman, fakta-fakta, dan hasil pemikiran yang bersih serta mendalam. Itulah yang saya namakan sebagai hikmah.

Karakteristik dari hikmah adalah bahwa ia merupakan sebuah daya. Daya hati dan akal yang akan mampu menampung hidayah dari Allah Swt. Ia juga merupakan pengarah dan penguat. Yakni pengarah dan penguat ibadah-ibadah. Ia juga merupakan penata dan Pembina. Yakni penata dan Pembina lingkungan agar lebih sesuai dengan syariah. Sebab syariah yang diterapkan di lingkungan merupakan suatu bukti adanya keimanan.

Oleh sebab itu inti sari dari hikmah adalah kesesuaian dengan wahyu, kemampuan menjadi solusi atas kebutuhan hamba untuk beribadah, dan kenyataannya yang bias diandalkan sebagai jalan keluar atas berbagai masalah di lingkungan. Dengan kata lain, hikmah adalah proses, hasil dan tumpuan pemecahan masalah yang terjadi atas diri, tanggung jawab dan keadaan masyarakat atau alam. Untuk itulah mengapa hikmah hadir dalam kehidupan dan dimiliki oleh mereka yang beriman dan bijaksana.

Selanjutnya kita perlu mengetahui dan merumuskan ciri-ciri lebih lanjut yang harus melekat pada hikmah ini, sehingga mampu menjadi entitas dengan daya seperti dijelaskan di atas. Untuk keperluan tersebut saya teringat akan kalimat wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu Iqro bismirobbikaladzii kholak. Saya berpendapat bahwa hikmah itu harus merupakan suatu hasil dan proses iqro. Hikmah harus menjiwai maksud dan tujuan dari diturunkannya wahyu ke dunia.

Apa intisari tujuan dan maksud kata iqro tersebut. Saya menduga, berdasarkan banyak penjelasan dan dalam kaitannya dengan sejarah dakwah Islam selanjutnya, maksud iqro adalah menjadikan entitas iman sebagai landasan hidup, Allah sebagai tujuan hidup dan ibadah sebagai landasan harapan menuju kebahagiaan hidup. Dengan demikian Hikmah iqro adalah sebuah pandangan bijaksana di mana entitas iman, Allah dan ibadah menjadi sentral dari landasan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidup, sehingga dicapailah dua tujuan utama, yaitu hilangnya kebatilan dan tegak kebenaran.

Berdasarkan latar belakang ini, maka saya memandang perlu membuat rumusan yang lebih jernis dan distingtif atas istilah akan istilah hikmah iqro ini. Maka mari ikuti tulisan saya selanjutnya di bawah ini.

PERUMUSAN ISTILAH HIKMAH IQRO

Komitmen Konsep

Hikmah iqro adalah ilmu dalam kepentingan iman. Di dalamnya termuat sistem dan metode memandang dan menempatkan diri, kehidupan dan Penciptanya. Sebab itu komitmen hikmah iqro haru menjadikan Iman sebagai landasan, Allah sebagai tujuan, Ibadah sebagai proses. Karena iman sebagai landasan, maka otomatis wahyu menjadi sandaran pertama dalam memandang kehidupan dan dalam mengkaji fenomena yang terjadi di dalamnya. Semua berangkat dari keyakinan bahwa dibalik kehidupan dan fenomena ini ada Allah Swt yang berkuasa atasnya. Dan kita bermaksud bahwa semuanya adalah untuk mendapatkan kejelasan akan tanda-tanda kebesaran Allah Swt sehingga hasil akhirnya adalah semangat untuk beribadah kepadaNya lebih baik lagi.

Potensi Diri Manusia

Manusia memiliki tiga potensi yaitu hati, akal, dan jasad. Hati merupakan tempat bagi iman, pemutus suatu tindakan dan penyerap makna dari apa yang dialami dan terjadi atas kehidupannya. Hatilah yang menangkap dan menanggung akibat dari segala perkara yang dipikirkan akal dan dilakukan jasad. Hati merupakan penangkap sinyal ilahi dan yang memerintahkan akal serta jasad untuk berbuat taat atau khianat. Akal merupakan alat bagi hati dalam menangkap rumusan-rumusan kehidupan baik yang berasal dari wahyu ataupun dari alam. Sedangkan jasad memiliki potensi untuk mewujudkan kewajiban dan harapan iman dan ilmu yang diperoleh. Hikmah Iqro menampung apa yang kehendaki oleh hati, dipikirkan oleh akal dan diperbuat oleh jasad yang secara sah serta meyakinkan mampu menopang komitmen hikmah iqro ini.

Tiga Wilayah Kajian

Manusia, Semesta dan Allah Swt. Hikmah Iqro sebagai jalan menata jiwa seorang yang beriman akan senantiasa aktif untuk mengkaji sebagai bekal untuk menganalisa dan memberikan solusi atas problem yang dihadapi manusia dalam konteks zaman dan tempat tinggalnya. Maka sasaran kajiannya terdiri atas tiga wilayah yaitu manusia, semesta dan Allah Swt. Mengkaji manusia secara garis besar adalah membahas tentang agamanya, filsafatnya dan politiknya. Agama terkait dengan iman, filsafat terkait dengan fikirannya, dan politik terkait dengan perbuatannya dalam kategori puncak-puncak kenyataannya. Sasaran kajian semesta adalah kajian tentang tabiat statis dan dinamis alam semesta. Tabiat statis adalah hokum-hukum alam, sedangkan dinamis terkait peristiwa-peristiwa yang sulit diprediksi bila mengikuti hokum-hukum alam, contohnya adalah peristiwa bencana. Sedangkan Mengkaji Allah Swt berarti mengkaji wahyu dan cara beribadah kepadaNya. Tiga wilayah ini harus dibahas bersamaan, sekalipun tema dan fokusnya hanya pada salah satunya. Ketika kita fokus membahas semesta, maka kajian tentang Allah dan manusia harus diikut sertakan. Dibahas secara seimbang.

Kewajiban Merealkan Iman

Membenarkan, Melisankan, Mewujudkan Iman. Orang beriman bukan hanya bahwa ia sadar akan kewajibannya untuk beriman, tetapi juga lebih dari itu yakni merealkan iman dalam waktu dan tempat kehidupannya. Hikmah Iqro merupakan pola berjiwa yang meliput hati, fikiran dan tindakan alam poros iman kepada Allah untuk menguatkan ibadah. Maka Hikmah iqro merupakan suatu metode yang diharapkan dapat membantu seorang mukmin untuk merealkan iman berdasarkan ilmu, kefahaman dan kemauan yang kuat. Sehingga kuatlah hatinya membenarkan, tajam lisannya dalam mendakwahkan dan terampil jasadnya dalam mewujudkan pesan-pesan keimanan di tengah kehidupan manusia. Dengan hikmah iqro maka sains dipersatukan kembali dengan iman, politik dipersatukan kembali dengan agama, dan pekerjaan dipersatukan kembali dengan ibadah. Urusan ilmu adalah urusan iman, urusan politik adalah urusan agama, urusan pekerjaan adalah urusan ibadah.

POLA HIKMAH IQRO

Hikmah Iqro surat Al-fatihah

Sajian Realis

Real adalah yang benar-benar nyata dan ada secara hakiki. Setidaknya ada tiga real yang dimuat dalam al-Quran, yaitu Allah, alam dan pertemuan dengan Allah. Alam itu termasuk di dalamnya adalah manusia. Allah, alam dan manusia sering dibahas sebagai suatu kenyataan. Namun jarang dibahas bahwa pertemuan dengan Allah merupakan kenyataan pula. Maka dalam hikmah iqro, pertemuan dengan Allah merupakan salah satu perkara real, suatu kenyataan yang hakiki. Manusia pernah bertemu dengan Allah sebelum kehidupan di dunia dan akan bertemu dengan Allah setelah selesainya kehidupan di dunia. Dalam pandangan orang-orang beriman, perkara ini adalah real. Suatu kenyataan yang sebenar-benarnya ada.

Sajian Idealis

Idealis adalah jalan-jalan menuju realis. Artinya ada jalan untuk mengenal dengan jelas apa alam itu, siapa Allah, kemudian siapa, mengapa dan bagaimana kita ada. Jalan itu adalah ibadah dan meminta pertolongan kepada Allah. Inilah pernyataan paling jelas untuk menjawab siapa kita, mengapa kita dan bagaimana kita. Kita adalah makhluk, maka tentu ada khalik. Dan karenanya ada sejumlah kewajiban manusia yang harus ditunaikan, yakni ibadah. Ada sekian keadaan manusia sehingga ia perlu meminta pertolongan kepadaNya. Inilah jalan mendekati Allah untuk memahaminya dengan benar. Tanpa ibadah dan meminta pertolongan kepadaNya, manusia tidak akan memahami Allah, dirinya dan alam semesta ini. Sekalipun sampai kepadanya informasi tentang semua real ini, namun bila tidak membuatnya beribadah dan meminta tolong kepada Allah, hakikatnya ia tidak tahu apa-apa dan tidak berbuat apa-apa untuk mencapai real.

Sajian Empiris

Empiris adalah fakta dan fenomena yang sedang kita hadapi di dalam kehidupan kita sendiri. Dalam sebuah ranah hikmah, selalu ada dua macam empiris yang menarik perhatian, yaitu yang problematik dan yang menakjubkan. Empiris yang problematik adalah empiris yang tidak memuat idealis. Sedang empiris yang menakjubkan adalah empiris yang sarat dengan idealis. Tidak ada empiris yang netral dari idealis dalam kehidupan manusia. Kemampuan membaca empiris dan menemukan hal yang problematis atau menakjubkan tergantung kepada kedalaman ilmu kita tentang idealis. Suatu empiris tanpa pisau analisa bernama realis dan idealis mungkin tidak akan terdeteksi ada tidak adanya problem di dalamnya.

Sajian Problem

Problem adalah detail empiris atas keadaanya yang tidak memuat idealis. Muara problem itu adalah sifat yang mengundang Kemurkaan Allah dan sifat menetap dalam kesesatan. Yaitu keadaan di mana manusia tidak beribadah kepada Allah, dan tidak pula meminta pertolongan kepadaNya. Mereka beribadah kepada selain Allah dan meminta pertolongan kepada Allah. Mereka melupakan Allah dalam ibadah dan dalam kehidupannya, juga melupakan akan pertemuan dengan Allah di hari akhirat kelak. Empiris semacam ini contoh-contohnya banyak sekali dimuat di dalam al-Quran.

Sajian Resolusi

Problem adalah pemicu munculnya empiris yang problematis. Sedangkan problem itu pada intinya disebabkan oleh ketiadaan idealis dan keyakinan realis pada manusia. Sebab itu solusinya ada dua yaitu merujuk kepada teladan orang-orang beriman di masa lalu, dan berhati-hati dari tipu daya orang yang sesat dan dimurkai Allah yang merupakan akar dari fakta kehidupan yang problematis.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka hikmah iqro itu mewajibkan kita menjadikan keimanan dan ibadah sebagai pisau analisa fenomena, sudut pandang menilai dan menakar fakta kehidupan. Dan jauh sebelum mengadakan penelitian dan tindakan dakwah atau resolusi, kita harus memahami dan memaknai dalam wujud penataan kehidupan kita atas penjelasan realis dan idealis yang dimaksudkan di atas.

Seorang yang memiliki hikmah iqro selalu mengajukan tiga pertanyaan atas fenomena atau fakta kehidupan zamannya. Apakah di zaman dan tempatnya iman menjadi landasan kehidupan? Apakah Allah menjadi tujuan dari setiap pengembangan setiap segmen kehidupan dan peradaban? Apakah dirinya dan masyarakatnya telah menjadikan ibadah sebagai poros dalam setiap aktifitasnya? Ia selalu bertanya untuk merumuskan kerangka jiwa dan mengambil sikap atas keadaan-keadaan yang fana ini.

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: