Filsafat Berfikir

EPISTEMOLOGI IQRO (2) | Mei 19, 2017

Epistemologi Iqro adalah Penerapan epistemologi Islam dalam mengkaji suatu Fenomena dalam Kehidupan manusia untuk mengarahkan hati dan akal fikiran manusia kepada ketawduan kepada Allah.

Fenomena ilmu saat ini

Sepanjang beberapa abad terakhir ini Ilmu telah dipisahkan dari agama. Bahkan Umat Islam dari kalangan sarjana yang mempelajari ilmu ternyata awam di bidang agama. Sekularisasi telah terjadi pada ilmu, dianut oleh Barat dan diikuti hampiru seluruh umat manusia. Sehingga menyebabkan ilmu terpisah dari keimanan. Dan menyebabkan manusia tidak peduli dengan ilmu agama, karena ilmu dipandang lebih berguna, dan ilmu agama menjadi tidak sempat dipelajari.

Sebab itu dibutuhkan suatu upaya berupa pemikiran tentang bagaimana menyatukan kembali antara ilmu dengan agama. Sehingga orang-orang yang hendak mempelajari ilmu mereka tidak lupa kepada agama. Sebaliknya orang-orang yang beragama tidak meremehkan orang-orang yang berilmu. Seorang mukmin harus merupakan seorang yang beragama sekaligus orang yang berilmu. Ia tidak memisahkan dalam jiwa dan kajiannya antara ilmu dengan agama.

Pandangan Filsafat Ilmu tentang Ilmu

Filsafat ilmu mengakui bahwa wilayah kajian dan sifat ilmu itu sifatnya terbatas. Masalahnya adalah, manusia telah menjadikan ilmu sebagai satu-satunya fokus kajian dan tumpuan harapan pengembangan peradaban. Sehingga timbul masyarakat yang sekular. Karena mereka bersifat ateis dalam ilmu. Sedangkan agama mereka tidak ikut mewarnai kajian-kajian keilmuan. Filsafat ilmu juga mengakui bahwa ada pengetahuan di luar ilmu yang ikut serta menjadi pondasi peradaban manusia. Salah satunya adalah agama. Hanya Filsafat ilmu, sesuai dengan nama dan batasannya, tidak membahas lebih jauh tentang agama, seni, intuisi dan lain sebagainya. Filsafat ilmu hanya berbicara tentang metode ilmiah, yang tersusun dari rasionalisme, empirisme.

Kita tidak hendak mengubah apa yang telah menjadi pandangan Filsafat ilmu semacam itu. Yang hendak kita ubah adalah tentang keyakinan bahwa ilmu merupakan satu-satunya kebenaran dan metode keilmuan sah. Pandangan ini disandarkan kepada filsafat matrealisme, yang memandang bahwa yang real itu adalah fisik. Filsafat ini tidak mengakui adanya Tuhan, sehingga tidak mengakui adanya wahyu, sehingga otomatis tidak menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu. Bagi mereka, wahyu bisa saja menjadi sumber pengetahuan dan keyakinan yang ikut mewarnai peradaban dunia, tetapi tidak diakui sebagai ilmu. Hal ini tentu memberikan efek keeengganan manusia secara global untuk mempelajari agama.

Pandangan filsafat secara umum, mengakui bahwa ada pengetahuan yang bisa diandalkan untuk memandu kehidupan manusia ke arah yang lebih baik dan membahagikan, seperti diungkapkan di atas. Maka agama sudah semestinya menjadi bagian integral dalam sebuah kerangka keilmuan secara universal. Kalau misal ternyata agama dengan kitab sucinya tidak sesuai dengan temuan ilmu pengetahuan yang diyakini benar dan sah, maka yang problematis sebenarnya kitab itu sendiri. Bukan ilmu pengetahuan. Kitab suci dan alam semesta jika diyakini berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan, maka diantara keduanya tidak mungkin terdapat pertentangan.

Filsafat mampu mengantarkan dan membuktikan bahwa Tuhan itu ada, hanya saja filsafat tidak sampai kepada suatu kesimpulan tentang nama Tuhan dan bagaimana seharusnya manusia bersikap kepada Tuhannya. Sekali lagi, maka suatu informasi yang berasal dari Tuhan itu mutlak dibutuhkan adanya. Dan memang informasi dari Tuhan berupa wahyu dan berwujud kitab suci itu ada. Dengan demikian menurut pemikiran filsafat, akhirnya wahyu itu diperlukan untuk menjadi bagian dari struktu ilmu pengetahuan. Bahkan sudah semestinya bagi orang-orang yang beriman menjadikan wahyu itu sebagai pondasi bagi struktur ilmunya. Ia menggapai ilmu demi menguatkan agama. bukan sebaliknya.

Pandangan Islam tentang Ilmu

Dalam pandangan Islam, istilah ilmu mungkin berbeda dengan definisi yang diberikan oleh filsafat ilmu, namun sebagai pengetahuan, maka ilmu merupakan sarana bagi manusia untuk mengetahui nilai dan cara atas kewajibannya kepada Tuhan dan semesta. Ilmu tidak semata hanya untuk mencapai kesejahteraan lahir dan fisik. Tetapi lebih dari itu, yaitu mengenal Tuhan dan melakukan kewajiban berupa ibadah kepadaNya. Oleh sebab itu maka ilmu tidak hanya sebatas tentang apa yang masuk akal dan dapat diindra, tetapi juga termasuk apa yang masuk ke dalam hati dan mencakup perkara yang real secara hakiki. Namun karena keterbatasan daya manusia untuk mengetahui secara pasti tentang kebenaran apa yang masuk ke dalam hati atau intelek serta tentang yang real secara hakiki, maka ia membutuhka bantuan berupa wahyu.

Islam memberikan jalan bagi akal, hati dan indra manusia untuk meneliti dan menguji akan kebenaran wahyu berupa al-Quran. Maka ketika tiba keyakinan atas kebenaran wahyu berdasarkan penelitian dan pengujian sesuai kapasitas akal dan indra, maka wahyu itu harus diakui sebagai salah satu sumber ilmu dan pengetahuan yang sangat berharga bagi kehidupan dan peradaban manusia. Dalam konteks umat Islam, selaku golongan manusia yang beriman dan meyakini akan kebenaran al-Quran maka merupakan hal yang logis bila mereka menjadikan al-Quran sebagai sumber utama ilmu pengetahuannnya. Sebagai pondasi dan arah pengembangan selanjutnya atas ilmu.

Islam melalui kitab sucinya mengakui bahwa ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang penting dan bisa diandalkan bagi manusia untuk menunjang kebutuhan dan kepentingannya. Dalam persfektif Islam, sebagai agama, semua perihal manusia, entah itu pengetahuan, perasaan, pengalaman dan gerak-geriknya haruslah bertujuan kea rah yang sama, yakni memperkuat semangat ibadah kepada Tuhannya. Sebab dalam pandangan agama, yang sangat berharga dalam kehidupaan manusia itu adalah agamanya, atau tingkat keimananya. Seperti dikatakan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Ketakawaan, kesholehan, dan kemauan beribadah atau taat kepada aturan agama, dipandang sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Maka, ilmu termasuk entitas apa pun yang tidak bisa dipisahkandari kesejatian manusia seperti harta dan jiwa, merupakan entitas yang diakui oleh agama dan sifatnya adalah baik selama dipergunakan untuk kemuliaan agama. Dengan kata lain, agama tidak akan pernah antipasti dengan entitas bernama ilmu.
Pandangan Ilmu tentang Ilmu

Ilmu mengandalkan beberapa perihal terkait dengan sifat dan keadaannya. Pertama bahwa ilmu merupakan suatu perkara yang mesti dipelajari, suatu sistem pendidikan sangat menunjang. Kedua bahwa ilmu membantu umat manusia dalam mencapai dan mewujudkan harapan dan keinginannya. Ketiga, ilmu membutuhkan keberadaan akal, hati dan tangan manusia untuk merengkuhnya. Keempat bahwa ilmu berasal dari Pencipta sebagaimana alam dan manusia berasal dari Pencipta. Kelima, bahwa ilmu merupakan bagian dari kebudayaan manusia yang membentuk pola bermasyarakat dan mengembangkan sejarah kehidupan.

Ilmu dikembangkan dengan berpijak pada dua perkara penting, yaitu data empiris yang berada di lapangan dan teori-teori yang telah ditemukan para ahli. Dikembangkan melalui suatu metode penelitian dan analisa tertentu. Dengan data empiris, teori, penelitian di lapangan dan metode analisa tersebut maka ilmu dapat berkembang terus menerus, memberika perspektif baru bagi manusia dalam upaya menguasai, mengontrol dan memprediksi alam sesuatu kegunaan dan kemanfaatan bagi hidup manusia. Demikian simple atau sederhana pola pengembangan ilmu, sehingga ilmu mudah untuk dikembangkan. Namun dibalik kesederhanaannya seringkali manusia menempatkan ilmu dalam konstelasi kehidupan dengan suatu cara yang salah. Yakni menempatkan ilmu sebagai pemecah semua persoalan hidup, bahkan menjadikan ilmu itu sendiri sebagai nilai yang dituju oleh kehidupan. Ini sangat berbahaya bagi hidup manusia. Sebab ilmu bukanlah tujuan, tetapi ia merupakan alat.

Ilmu pada dasarnya menjelaskan bahwa keberadaannya sebagai suatu fasilitas bagi manusia untuk mencapai tujuan kehidupan yang lebih utama dari ilmu itu sendiri. Ilmu bisa menerangkan bahwa ada sesuatu yang dituju oleh ilmu, tetapi ilmu tidak bisa menjelaskan lebih jauh tentang wujud tujuan itu sendiri karena keterbatasan sarana yang digunakannya yaitu sebatas akal dan indra. Di situlah maka dibutuhkan suatu entitas yang bisa memberikan penjelasan tentang tujuan hidup, tanpa mengabaikan potensi akal manusia untuk memberikan suatu penilaian atasnya. Sepanjang penelitian yang mampu dijangkau oleh akal fikiran maka agama itu merupakan suatu yang masuk akal akan keberadaannya. Adapun mengenai kitab suci mana yang benar-benar suci, maka akal pun diberi kesempatan untuk mengujinya sesuai kapasitas yang dimilikinya. Dalam banyak diskusi para ilmuwan dan sarjana, maka dapatlah dipastikan bahwa al-Quran merupakan kitab yang menjamin akan keaslian dan kesuciannya sebagai wahyu dari Allah. Ini merupakan konsekuensi tabiat dari ilmu.
Sumber Ilmu bagi Manusia

Alam, kehidupan dan kebudayaan tempat kita tinggal merupakan sumber ilmu bagi kita. Pintu masuknya adalah indra, pengolahnya akal, dan penentu pilihan dialah hati. Maka ketika kita memiliki pengetahuan berkat adanya ketiga faktor tersebut, kita pun bisa mengembangkan diri, masyarakat, lingkungan dan mengisi sejarah kehidupan manusia dengan aneka warna dan pernik kehidupan. Di dalam kebudayaan di mana kita lahir, kita mendapatkan warisan budaya, berupa bahasa, agama, adat, keterampilan, norma, ilmu dan sistem kemasyarakatan, seperti status sosial, pendidikan, komunikasi dan lain sebagainya. Semua itu ditinjau dari sisi kajian kita, merupakan potongan-potongan pengetahuan yang membentuk diri kita. Bandingkan keadaan kita di hari ketika usia menjelang 12 tahun, 24, 44 dan seterusnya. Tentuk berbeda jauh dengan keadaan ketika kita lahir.

Saat manusia lahir ke dunia, sifat dan keadaannya, dalam kaitannya dengan pengetahuan, ia tidak mengetahui apa-apa. Seiring waktu, dengan berfungsinya hati, akal dan indra, maka ia mulai mengetahui tentang dunia. Ia menjadi mengetahui dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Ia memperoleh pengetahuan sedikit demi sedikit. Pengembangan ilmu dalam cakupan yang luas dan mendalam, sebagaimana yang kita alami, didapatkan di sekolah, melalui kegiatan inti berupa belajar, dan belajar itu aktifitas intinya adalah berfikir, merasa dan bersikap. Dengan demikian, kita sebagai manusia sadar ataupun tidak sadar telah berada dalam posisi di mana lingkungan kita, kebudayaan kita menjadi sumber ilmu. Termasuk buku bacaan, teman pergaulan, tontonan. Bahkan mimpi, lintasan hati, imaginasi, dan lain sebagainya telah ikut serta menjadi bagian dari pengatahuan kita. Membentuk siapa diri kita.

Dari sekian ragam sumber ilmu yang kita peroleh, maka dapat kita buat kategorisasinya. Sehingga bisa membedakan dan mendudukannya sesuai sifat yang melekat kepadanya. Pengklasifikasikan sumber ilmu itu penting, agar kita bisa memilih mana ilmu dengan kekuatan terpercaya dan mana ilmu yang sifatnya biasa. Kedudukan seseorang di tengah kehidupan masyarakat setempat bahkan dunia, disamping karena ukuran-ukuran politik, ekonomi, alasan keagamaan, kemahiran dan lain sebagainya, maka aspek ilmu yang dimilikinya ikut serta menentukannya. Namun tentunya ada kategorisasi atas ilmu yang menjadi sebab seseorang dimuliakan, terkenal dan mendapatkan tempat di hati manusia. Tentunya bukan sembarang ilmu. Tapi ilmu yang memiliki kategoi tertentu. Empat ilmu yang menonjol, yang dengannya seseorang dikenal dan dihargai dalam kehidupan umumnya manusia, adalah, ilmu agama, filsafat, sains, dan hasil riset serta penelitian yang membuahkan teknologi.
Keberadaan orang-orang Berilmu

Orang berilmu adalah sumber ilmu. Dengan otoritas keilmuannya, kita mendapatkan ilmu darinya. Ilmu yang merupakan hasil dari pemikiran, kajian dan penelitiannya yang mendalam. Untuk beroleh ilmu dari orang yang berilmu ada dua cara yang umum. Pertama menjadi muridnya, kedua membaca karyanya dengan seksama. Itulah sebabnya sekolah merupakan sarana untuk beroleh ilmu langsung dari guru dan membaca untuk beroleh ilmu langsung dari penulisnya. Kegiatan sekolah, belajar dan membaca merupakan suatu kebiasaan atau tradisi yang sangat baik bagi pembinaan diri agar mengusai ilmu tertentu dengan baik. Di dunia Islam, menyandarkan pendapat kepada pendapat atau perkataan seorang ahli ilmu atau guru ialah melalui sanad. Saat ini telah berkembang metode penulisan yang menyertakan catatan kaki. Hakikat dari catatan kaki ialah bahwa ilmu yang kita miliki bersandar kepada ilmu ahllinya. Sebab itu dalam menyandarkan pendapat kita kepada seseorang, mestilah seseorang itu benar-benar seorang ilmuwan atau ulama yang diakui secara kesaksian.
Terkait dengan istilah menjadi murid dari seorang ilmuwan dan membaca karya seorang penulis yang telah dikenal sebagai ilmuwan, maka nyatalah bahwa belajar dan membaca merupakan suatu metode untuk memperoleh ilmu. Pada dasarnya jika ada suatu istilah yang bernama metode ilmu, maka hakikat yang melekat pada metode ilmu, salah satu sisinya adalah membaca dan belajar atau studi, sedangkan sisi lainnya adalah mengadakan penelitian di lapangan dengan obyek yang telah diikat oleh tema dan batasan permasalahan. Dalam proses analisa terhadap obyek yang sedang dikaji, dimana data-datanya telah terhimpun , maka bimbingan guru atau dosen pembimbing adalah kenyataan yang kentara.

Dalam metode ilmiah itu, di sisi teori atau studi pustka, hakikatnya kita sedang mendapatkan ilmu dari ilmuwan melalui karya tulisnya yang sudah dipercaya memiliki suatu kategori yang layak untuk dijadikan sebagai sumber ilmu, bahkan sandaran ilmu yang kita kembangkan selanjutnya. Untuk itu saya memasukkan bahwa ilmuwan merupakan sumber ilmu. Di dalam Islam, salah satu syarat beragama justru terletak di dalam ilmu dari siapa ilmu itu diperoleh. Yang merujuk kepada kedudukan guru sebagai sumber ilmu dan sahnya ilmu. Maka ulama-ulama yang muncul di tengah masyarakat Islam, adalah karena dahulunya mereka menjadi murid dari ulama. Tidak ada ulama yang muncul dari ruang kosong. Ada memang beberapa ulama yang dikenal ilmunya karena melalui proses belajar otodidak, namun jelas hal itu menunjukkan bahwa mereka belajar kepada para ulama melalui kitab yang dikarangnya sedangkan dasar-dasar keilmuwan mereka memang sudah kokoh sejak usia mereka masih dini.
Bahan Dasar Epistemologi Iqro

Ilmu saat ini telah mengalami sekularisasi, yakni pemisahan dari agama. Hal itu sangat berbahaya bagi jiwa, sejarah dan peradaban manusia. Sekularisasi ilmu hanya membentuk jiwa yang kerdil dan kering dari iman, sejarahnya menjadi sejarah penuh darah, dan peradabannya diwarnai kebiaadaaban di mana-mana. Oleh sebab itu maka dalam upaya membendung sekularisasi ilmu itu, dibutuhkan upaya desekularisasi ilmu. Dan tentu saja yang paling penting adalah Islamisasi Ilmu, mengembalikan ilmu ke pangkuan agama, yakni agama Islam.

Jika dikatakan islamisasi Ilmu hanya berlaku untuk orang Islam, maka itu betul. Itu wajar dan memang seharusnya demikian. Karena orang Islam tidak memiliki masalah dengan konsep-konsep yang dikandung di dalam agama ini. Semuanya memiliki kejelasan dan presisi yang tinggi. Artinya ilmu tidak akan pernah berseberangan dengan Islam sebagaimana sumber-sumber Islam berupa al-Quran dan hadits tidak akan pernah berseberangan dengan ilmu.

(Bersambung)

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: