Filsafat Berfikir

EPISTEMOLOGI IQRO 4 | Mei 23, 2017

 

 

 

IQRO merupakan serangkaian metode keilmuan dan keimanan. Sehingga dapat mengantarkan pelakunya kepada ketakwaan. Yakni setinggi-tingginya derajat manusia di bumi.

IQRO merupakan serangkaian aktifitas yang pusatnya adalah membaca. Membaca berarti menyerap informasi untuk memperoleh kebenaran. Artinya iqro berintikan kepada penyelidikan, pemikiran dan pengetahuan.

Penyelidikan berarti proses menggali informasi atas suatu obyek apa adanya. Obyeknya adalah wahyu, alam, manusia, diri dan hidup.

Pemikiran berarti proses internalisasi informasi menjadi nilai bagi diri. Internalisasi informasi bisa mengarah kepada akal, hati dan gerak tubuh.

Pengetahuan berarti menjadikan informasi yang telah terinternalisasi tadi menjadi kenyataan diri sehingga menjadi sumber rujukan dalam bersikap terhadap kehidupan.

Saat Irqo telah membuah Pengetahuan maka terjadilah makrifat kepada Allah, ilmu yang rasional, Peradaban, ketaan dan ibadah, ketegasan terhadap kekafiran dan kekuasaan di muka bumi.

Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka saya yakin bahwa kejayaan Islam di masa lalu adalah karena kuatnya aktifitas iqro ini. Dan demikian kunci kejayaan Islam di masa sekarang pun harus kembali kepada Iqro.

Iqro adalah membaca yang didasari oleh keimanan dan untuk keimanan. Nanti keimanan itu menjadi arah dari semua aktifitas kehidupan orang mukmin.

Membaca sebagai aktifitas menyelidiki, memikirkan dan mengetahui

 

Hakikat Membaca

 

Membaca adalah suatu kegiatan atau cara dalam mengupayakan pembinaan daya nalar (Tampubolon, 1987:6). Dengan membaca, seseorang secara tidak langsung sudah mengumpulkan kata demi kata dalam mengaitkan maksud dan arah bacaannya yang pada akhirnya pembaca dapat menyimpulkan suatu hal dengan nalar yang dimilikinya.[1]

Membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.[2]

Makna membaca, dalam arti sempit dan yang tercantum dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis itu. Dalam arti luas, ‘tulisan’ bisa diartikan sebagai sesuatu yang abstrak, sehingga orang akan berkata bahwa dia sedang membaca jalan kehidupan, membaca pikiran, membaca lukisan, membaca cuaca, dan lain sebagainya.[3]

Perintah membaca yang terkandung dalam istilah iqra’ tidak hanya dipahami membaca teks yang tertulis. Akan tetapi, iqra’ mencakup makna membaca alam semesta dan seisinya, termasuk manusia dan lingkungan di sekeliling kita.[4]

 

Iqro dan Meneliti

 

Dr Yasir Qadhi mengembangkan aktifitas “iqro” ini dengan tafakkur, tadabbur, dan meneliti. Meski demikian, beliau menegaskan pentingnya mengetahui kapan, dimana, dan apa saja hal yang boleh dipikirkan dengan akal dan mana yang tidak. Dalam Islam, adakalanya seseorang hanya dituntut untuk dengar dan taat dengan keyakinan penuh. Apabila akal dipaksakan untuk menelaah hal ghaib, maka dipastikan salah bahkan sesat.[5]

Iqro dan Menulis

 

Melazimkan membaca selalu berujung pada hasrat untuk menulis. Sedangkan baca tulis merupakan pondasi sebuah peradaban. Nabi berkata kepada Abdullah bin Amr, “Uktub (tulislah!). Demi jiwaku yang berada di TanganNya, tidaklah keluar dari lisanku ini kecuali kebenaran.”

Menulis pada dasarnya adalah transformasi gagasan. Sehebat apa pun kecerdasan seseorang akan menjadi sia-sia bila ia tidak menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada tulisan yang buruk. Yang ada hanyalah tulisan yang disusun tanpa kaidah bahasa yang baik. Karena itu, kita harus menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam latihan menulis.[6]

Dengan Perintah Allah untuk Iqra serta sunnah Nabi untuk Uktub, sulit terbantahkan  bahwasanya Islam adalah agama para ilmuwan, cendekia, dan mereka yang mencintai ilmu. Islam menyadarkan dunia akan pentingnya tradisi baca tulis.[7]

 

Iqro dan Peradaban

 

Pada hakikatnya, peradaban (civilization) bisa disebut sebagai kebudayaan (culture) modern atau kebudayaan yang sudah lebih berkembang, artinya suatu kelompok manusia yang atau bangsa yang sudah mampu hidup dengan tidak tergantung pada alam (Subadio, 1993). Tingkat perkembangan tersebut juga dinilai dari tingkat pengenalan huruf serta kemampuan membaca dan menulis yang dikuasai. Dengan demikian kemampuan baca-tulis dianggap penting karena kegiatan tersebut menunjukkan bahwa manusia tersebut mampu berfikir secara abstrak.[8]

ISLAM adalah agama ilmu. Ayat perdana yang Diturunkan Allâh adalah perintah untuk berilmu melalui aktifitas membaca. Salah satu rahasia kejayaan peradaban Islam telah Allah paparkan melalui ayat, “Bacalah, dengan Nama Rabb-mu Yang Menciptakan.” [QS. 96: 2][9]

Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.[10]

Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea, dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan membaca. Tak ada waktu tersisa, kecuali untuk membaca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat membaca buku bagi kemajuan sebuah bangsa. Kenyataan tersebut juga membuktikan bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Itulah sebabnya buku sering disebut sebagai jendela peradaban. Karena dari bukulah peradaban sebuah negera menjadi maju, dan dari buku pula sebuah peradaban tak memberi makna apa-apa ketika buku diabaikan begitu saja.[11]

Tradisi berpikir dalam membaca dan menulis adalah sebuah tradisi yang turun-temurun diwariskan oleh sejarah kemanusiaan. Dengan tradisi berpikir dan merenung atau kontemplasi setiap hari dengan membaca buku dan menulis diharapkan terciptanya manusia yang unggul dan utama dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Dalam sejarah kemanusiaan, Islam adalah sebuah agama yang menuntut semua kaum Muslim untuk menimba ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat Islam adalah umat yang sangat berjasa dalam membangun peradaban Islam yaitu peradaban Bani Umayyah di Spanyol Andalusia dan Bani Abbasiyah di Baghdad sehingga Peradaban Eropa Barat sangat berterima kasih dengan mata rantai dalam sejarah kemanusiaan tersebut. Sehingga banyak para sarjana di Eropa Barat belajar ilmu pengetahuan di daerah Andalusia. Ibn Rusyd adalah salah satu nama yang bertanggung jawab atas semua mata rantai bangunan peradaban Eropa Barat hingga sekarang ini.[12]

Tradisi berpikir antara membaca dan menulis telah mencerahkan masyarakat Eropa Barat setelah keruntuhan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Pencerahan atau Aufklarung atau Enlightenment telah mengantarkan Peradaban Eropa Barat sebagai Peradaban manusia yang dijunjung tinggi di seantero dunia hingga saat ini. Banyak lahir para filsuf-filsuf dalam tradisi Berpikir yang melengkapi bangunan Peradaban Eropa Barat. Seperti kita ketahui bersama bahwa Handphone yang kita miliki saat ini adalah juga hasil atau produksi dari bangunan Peradaban Eropa Barat yang diawali oleh pemikiran Ibn Rusyd dengan melahirkan buku Komentator Atas Pemikiran Filsafat Aristoteles.[13]

Membaca adalah bagian penting dari peradaban, menulis tidak bisa dipidahkan dari membaca, sebab orang tidak akan bisa menulis kalau tidak ada bahan bacaan. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan, menulis adalah pilar peradaban.[14]

Karena sesungguhnya budaya membaca ini memiliki persinggungan yang kuat dengan budaya menulis. Dalam peradaban Islam pengembangan budaya baca dan tulis atau budaya literal  mendapat perhatian yang sangat besar.[15]

Tanpa didukung oleh manusia-manusia yang melek literasi, rasanya sangat sulit membangun kembali kejayaan Islam.Tanpa manusia-manusia unggul tidak mungkin lahir peradaban yang kuat, berkualitas, dan menghasilkan karya peradaban yang monumental. Sejarah telah membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah peradaban sangat tergantung dari kualitas manusia pendukung peradaban tersebut. Dan itu adalah sebuah keniscayaan sejarah.[16]

 

Ilmu dan Ibadah

 

Sedangkan ilmu mendahului ucapan dan amal, termasuk amalan agung yakni tauhid. Allah berfirman, “Ilmuilah! Sesungguhnya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” [QS. 47: 19]. Ayat ini mendorong Imam Bukhâri untuk menyusun bab khusus berjudul Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (ilmu sebelum berkata dan beramal).

Iqro dan Ilmu

 

Tidak sembarang membaca. Dalam Islam, membaca adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bacaan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah banyak sekali. Namun apabila diurutkan, maka yang pertama dan utama adalah Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang shahih dan hasan. Setelah itu Sirah Nabi, kemudian pembahasan akidah, kitab-kitab fikih dan tazkiyatun nafs. Membaca adalah salah satu pintu ilmu.[17]

Dengan berpikir manusia dapat menciptakan berbagai pengetahuan dan keilmuan yang tinggi. Dalam agama Islam yang terkandung dalam al-qur’an dan hadits sunnah Nabi Saw disebutkan bahwa Allah SWT akan meninggikan orang yang memiliki tingkat kecerdasan ilmu pengetahuan beberapa derajat. Pun dalam sebuah hadits Nabi Saw disebutkan bahwa seorang Muslim laki-laki dan wanita dituntut memperdalam ilmu pengetahuan dari buaian hingga ajal menanti.[18]

Wahyu yang diturunkan pertama kali kepada rasulullah saw. bukanlah perintah yang berkaitan denga ibadah mahdah seperti shalat, zakat atau puasa. Akan tetapi, justru perintah untuk iqra’, yang secara mendasar bermakna membaca. Tidak hanya bermakna membaca, namun juga menyampaikan. Kata iqra’ mengandung makna yang sangat luas sebagai perintah untuk mencari dan menyampaikan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan sejak dari buaian sampai liang lahat. Dari perintah iqra’ ini, maka umat islam tergerak yang kemudian terlahir lembaga-lembaga pendidikan seperti kuttab, perpustakaan, tradisi kepenulisan, gerakan penerjemahkan karya-karya asing, dan universitas-universitas ternama. Dari wahyu pertama Al-Quran itulah budaya literasi islam lahir dan berkembang. Tak dapat disangsikan lagi, bahwa ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang dapat mengeluarkan manusia dari jurang kegelapan dan kebodohan. Di sinilah pentingnya mencari ilmu pengetahuan yang salah satu caranya yakni dengan membaca. Sebagaimana makna yang terkandung dalam istilah iqra’, seseorang tidak hanya diperintahkan untuk membaca, namun juga menyampaikan. Dengan demikian, membaca merupakan prasyarat utama sebelum seseorang menyampaikan suatu pengetahuan.[19]

[1] http://www.kajianpustaka.com/2014/01/pengertian-dan-hakikat-membaca.html

[2] idem

[3] Laksmi MA, makalah

[4] http://www.wikipendidikan.com/2017/01/budaya-literasi-dan-tradisi-berpikir-kritis.html

[5] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[6] http://darul-ulum.blogspot.co.id/2013/02/membangun-tradisi-membaca-dan-menulis.html

[7] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[8] Laksmi MA, makalah

[9] https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[10] http://m.adicita.com/artikel/263-Membaca-Sebagai-Sumber-Kemajuan-Bangsa

[11] http://m.adicita.com/artikel/263-Membaca-Sebagai-Sumber-Kemajuan-Bangsa

[12] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[13] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[14] https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/06/07/71374/menulis-bagian-dari-pilar-peradaban-islam.html

[15] http://www.haluankepri.com/rubrik/opini/60029-dua-pilar-peradaban.html

[16] http://www.wikipendidikan.com/2016/12/literasi-islam.html

[17]  https://www.islampos.com/membaca-dan-kegemilangan-peradaban-14310/

[18] https://id-id.facebook.com/kpsi.pusat/posts/10150522231642693

[19] http://www.wikipendidikan.com/2017/01/budaya-literasi-dan-tradisi-berpikir-kritis.html

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: