Filsafat Berfikir

ONTOLOGI DALAM ISLAM | Juni 9, 2017

Oleh: ADING NASHRULLOH

 

Ilmu bertujuan agar sikap kita semakin baik, bijaksana dan terampil, dengan suatu tujuan yang jelas, bahwa semua itu adalah agar sepanjang hidup kita bermakna ibadah dan layak mendapatkan pertolongan serta hidayah sampai akhir hayat kemudian sikap-sikap ini bisa terwariskan kepada generasi selanjutnya.

 

Secara garis besar ontologi dalam Islam ada tiga, yeitu Allah, Alam dan Hari Pertemuan. Allah, Dialah yang menciptakan alam dan akan mengadakan hari pertemuan tersebut. Alam adalah segenap makhluk yang telah diciptakannya; alam merupakan kalamNya dalan ayat-ayatNya yang tidak tertulis. Sedangkan hari pertemuan merupakan hari di mana manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatan dan amanah yang telah diperbuatnya.

 

Ontologi merupakan pokok-pokok perkara yang ada secara hakiki. Yang merupakan wilayah kajian pengetahuan. Pengetahuan tentang Allah, alam dan hari pertemuan, memang bukan merupakan jaminan bahwa seseorang yang menguasainya secara baik, akan menjadikan dirinya baik dalam beribadah dan berakhlak secara benar di dalam kehidupannya.

 

Akan tetapi pada faktanya secara umum, hanya orang-orang yang berimanlah yang mau mengetahui secara mendalam dan luas akan Allah, hari kiamat dan kehidupan ini. Sehingga sikap mereka semakin baik dan peran mereka semakin berarti. Itulah sebenarnya yang merupakan pokok tujuan dari penulisan kajian-kajian tentang ontologi Islam di dalam kitab dan karangan para ulama. Semakin mendalam pengetahuan kita tentang Allah, hari akhirat dan kehidupan ini, rasa takut kepada Allah akan semkain besar. Pada akhirnya berefek pada tabiat taat dan bersih hati.

 

Ontologi selalu berkaitan dengan epistemologi, akisologi, dan metodologi. Ontologi tentang Allah, Kehidupan dan Hari Pertemuan menuntut seseorang untuk mengambil sumber pengetahuan yang telah ditentukan. Sehingga diperoleh informasi yang benar tentang ketiga perihal ini. Demikian pula pengetahuan tentang hal tersebut menuntut seseroang untuk memilliki nilai diri yang telah ditentukan pula. Yaitu agar ia aktif dalam ibadah dan menjaga akhlak-akhlak dalam kehidupannya.

 

Orang-orang yang beriman sekali pun ia telah beriman sejak lahir, karena dilahirkan di tengah orang tuanya yang mukmin, tetap wajib untuk mendalamontologi Islam. Sebab untuk melahirkan mukmin yang miliitan, tidak bisa tanpa pengetahuan yang benar dan mendalam tentang Allah, kehidupan dan hari pertemuan ini. Dengan demikian, aspek ontologi Islam harus menjadi sentral pembahasan dalam ilmu-ilmu dan pelajaran-pelajaran yang diselenggarakan di tengah masyarakat Islam, baik di tengah keluarga, sekolah dan masyarakat itu sendiri.

 

Allah

 

Siapa Allah ?

 

Allah adalah Rabb. Artinya Dialah yang menciptakan alam semesta. Termasuk di dalamnya manusia. Termasuk alam itu adalah ghaib. Ada malaikat dan jin, serta alam ruh, alam barzakh.

 

Allah itu Esa. Tidak ada sekutu bagiNya. Tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan. Serta tidak ada satu hal pun yang sama denganNya. Allah adalah Rabb manusia. Semua manusia diciptakan oleh Allah. Karena Allah adalah Rabb manusia, maka manusia harus berbakti kepada Rabbnya dengan menjadikan Dia sebagai Ilahnya. Menjadikan Allah sebagai Ilah merupakan tuntutan dari Allah kepada makhlukNya bernama manusia.

 

Allah adalah Ilah. Artinya Dialah yang memegang hak untuk disembah di alam ini. Manusia hanya dibenarkan menyembah hanya kepada Allah semata. Manusia dilarang keras menyembah kepada selain Allah. Menyembah kepada selain Allah merupakan suatu dosa yang sangat besar.

 

Bagaimana cara manusia menyembah kepada Allah, mesti mengikuti cara para Nabi menyembahNya. Sebab, cara menyembah Allah, tidak bisa melalui kreasi akal atau seni manusia. Sedangkan para Nabi itu adalah manusia pilihan Allah yang diutus olehNya kepada manusia untuk menyeru kepada peribadatan kepadaNya.

 

Dari mana kita tahu Allah?

 

Manusia bisa mengenal Allah dengan banyak jalan. Melalui pendidikan, membaca, mendengar, meneliti dan berfikir. Banyak sekali informasi tentang Allah. Dan informasi yang akurat tentang Allah di dapat manusia melalui wahyu. Wahyu itulah yang merupakan sumber informasi tentang Allah sebelum ada di dalam sistem pendidikan, bacaan selain kitan suci, ceramah para mubaligh atau Dai.

 

Untuk mengenal Allah, seseorang mesti mengenall wahyu dan Rasul. Dengan mengenal wahyu dan Rasul, maka banyak hal yang dapat dikenali selanjutnya. Terutama konsep tentang agama, akhirat, rasul, kewajiban dan larangan dalam hidup.

 

Bagaimana nilai kita terhadap Allah?

 

Dalam kaitannya dengan Allah, nilai manusia terdiri atas berbagai golongan. Ada yang mengetahuiNya, ada yang tidak. Ada yang meyakiniNya, ada yang meragukanNya. Manusia yang mengetahui dan meyakiniNya, disebut orang beriman. Yang tidak mengetahuiNya dengan benar, disebut dengan sebutan orang jahiliah. Yang tidak meyakininya disebut dengan kafir. Orang jahiliah itu termasuk salah satu golongan kafir.

 

Manusia bila ingin termasuk orang yang beriman, maka ia harus meninggalkan kekafiran. Ia harus masuk ke dalam agama Islam. Kenapa Islam? Tidak agama yang lain? Sebab Islam merupakan syarat diterimanya ibadah. Hal itu disebabkan karena hanya Islam yang merupakan satu-satunya agama yang direstui di muka bumi oleh Allah. Dan karena Islam datang dari Allah. Allah telah menetapkan Islam sebagai agama yang sah di sisiNya. Agama-agama lain tidak diterima Allah.

 

Penetapan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang sah di sisi Allah, dikemukakan Allah di dalam al-Quran. Al-Quran itu sendiri merupakan firman Allah. Seluruh kandungan di dalam al-Quran adalah wahyu atau kalam atau perkataan Allah. Bukti bahwa al-Quran merupakan wahyu Allah, adalah kemukjizatan yang dimiliki al-Quran itu sendiri. Mukjizat itu membuktikan bahwa al-Quran bukan buatan manusia.

 

Kebenaran Islam berdiri di atas wahyu, akal dan bukti-bukti. Artinya tidak akan ada di dunia ini hal yang bisa membantah kebenaran Islam, tidak akan ada pemikiran yang bisa meruntuhkan argumentasi bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, dan tidak ada satu pun bukti yang bisa mendukung suatu perkataan bahwa Islam adalah agama yang salah. Bukti-bukti menunjukkan akan keagungan dan kebenaran Islam.

 

 

Alam

 

Apa itu alam?

 

Alam adalah makhluk, ayat dan kalam Allah yang tersirat. Makhluk Allah berarti, alam ini ada karena diciptakan Allah. Dan Allah terus menerus memeliharanya. Ayat Allah, maksudnya, bahwa alam ini merupakan bukti akan adaNya Allah, bukti keagungan dan kesempurnaanNya. Allah tidak bisa diindra, tetapi keberadaanNya didapat melalui bukti adanya alam ini. Setiap penelitian dan penjelajahan alam yang teliti dan jujur akan selalu mengantarkan manusia kepada kekaguman kepada Allah.

 

Kalam Allah yang tersirat, bararti, alam ini menggambarkan keluasan dan keluhuran ilmu Allah. Allah merancang alam semesta ini dengan ilmu yang rumit, perhitungan yang sangat akurat, dan keseimbangan yang sangat tinggi. Berarti orang yang mendalami seluk beluk alam ini, pastilah akan diantarkan hati nuraninya kepada suatu rasa kagum kepada Allah.

 

Karena alam ini merupakan makhluk Allah, maka tidak boleh disembah. Alam ini diciptakan Allah adalah untuk kepentingan manusia semata. Ini karena manusia merupakan makhluk utama di alam semesta. Untuk itu manusia harus bersyukur kepada Allah atas nikmat alam ini. Bersyukur atas karunia Allah berupa diwujudkan dirinya dan dibentuk dalam sebaik-baiknya bentuk. Dibekali pula akal fikiran dan hati nurani. Tak cukup itu, manusia dibekali pula Islam. Dibekalinya suatu sistem kehidupan sosial yang berintikan kasih sayang. Intinya alam ini adalah kehidupan bagi manusia.

 

Dari mana kita tahu alam?

 

Bahwa alam semesta ini merupakan ciptaan Allah dapat kita ketahui dari wahyu. Selanjutnya di alam itu sendiri, melalui kekuatan akal fikiran dan indra, adpat disimpulkan bahwa alam ini berawal dari penciptaan. Artinya ada yang menciptakan. Hanya akal fikiran tidak sampai kepada suatu nama tentang apa dan siapa yang telah berbuat menciptakan tersebut.

 

Alam semesta diketahui melalui indra dan akal. Hanya saja pengenalan akal dan indra akan alam semesta tidak menjangkau alam ghaib. Sebab itu sumber pengetahuan manusia untuk memahami akan alam semesta beserta alam ghaib tidak mungkin hanya dengan mengandalkan temuan indra dan akal saja. Manusia perlu dibantu oleh wahyu untuk memberikan suatu pengetahuan dan penjelasan seperlunya tentang alam ghaib dan hakikat alam semesta. Wahyu dari Allah berupa al-Quran memberikan penjelasan tentang alam ini.

 

Salah satu unsur alam adalah manusia. Bagaimana manusia mengenal dirinya dengan benar? Banyak jalan. Dan tentu saja jalan utama untuk mengetahui hakikat manusia adalah dengan wahyu. Wahyu menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan Allah, hidup di dunia yang disediakan Allah, hidup disertai potensi dan tanggung jawab, dan kemudian akan dikembalikan kepadaNya di hari kiamat kelak. Penjelasan ini ada di dalam wahyu. Tanpa wahyu manusia tidak akan mengetahu hakikat ini. Dan jika tidak mengetahui hakikat ini, maka ia akan hidup mengikuti apa saya yang dituju oleh akal, perasaan dan hawa nafsunya. Dengan dasar pengetahun yang diambil dari wahyu, maka pengetahuan tentang manusia yang diperoleh melalui akal dan indra, akan jelas arahnya.

 

Bagaimana nilai kita terhadap alam?

 

Sikap manusia yang seharusnya terhadap adalah mengurusnya dan mensyukurinya. Dua hal ini harus berbarengan ada. Karena sikap ini yang akan menjadikan hidup manusia penuh berkah di bumi. Jika manusia tidak bersyukur, padahal ia terus menerus mengelolanya, maka akibatnya adalah suatu kerusakan parah pada kehidupan manusia. Mungkin sebagian manusia berfikir, tanpa syukur asal pandai mengurusnya, maka hidup manusia akan damai, sejahtera dan nyaman. Itu tidak benar. Yang benar, hidup manusia akan hancur. Sebab itu sikap syukur harus ada ketika kita hidup di alam ini.

 

Alam ini terkait dengan penciptanya yaitu Allah. Dan terkait dengan hari pertemuan manusia dengan Allah saat hari kiamat tiba. Yaitu bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas perbuatannya selama hidup di dunia. Alam semesta ini adalah saksi dan tempat manusia berbuat selama hidupnya.

 

Nilai manusia dalam kaitannya dengan alam ini dibagi dua. Golongan pertama, yaitu yang tertipu dengan dunia atau alam ini. Golongan kedua, yaitu yang mejadikannya sarana untuk menguatkan ibadah kepada Allah. Golongan orang kafir, semuanya termasuk yang tertipu dengan dunia. Dan di kalangan golongan orang beriman, mungkin ada yang tertipu dengan dunia. Ia lupa untuk bersedekah dan lupa sehingga ia menjadikan dunia sebagai mimpi besar dari usia kehidupannya. Ia lalai dari mengingat Allah karena sibuk dengan urusan dunia dan angan-angannya.

 

Diantara kelompok manusia ada yang tidak mempercayai bahwa alam ini diciptakan oleh Allah. Mereka menganggap Allah itu tidak ada. Sehingga mereka menolak wahyu dan agama. Kehidupan hanya dipandang sebatas kehidupan di dunia ini. Setelah itu manusia tidak akan ditanyai tentang apa pun yang pernah diperbuatnya selama hidup di dunia.  Berangkat dari keyakinan ini, kemudian mereka merasa bebas untuk melakukan apa pun yang mereka sukai di sepanjang kehidupan sekalipun yang dilakukannya itu merupakan perkara yang rendah dan hina.

Hari Pertemuan

 

Apa itu hari pertemuan?

 

Dunia ini, atau alam semesta ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Demikian juga manusia. Hanya saja manusia tidak sekedar bahwa ia sedang menuju akhirat, tetapi sedang menuju hari disaat ia akan dimintai pertanggungan jawab atas seluruh amal dan hal yang telah dilakukan dan diperlakukannya. Itulah hari pertemuan besar antara manusia dengan khaliknya yaitu Allah Swt. Hari itu merupakan hari yang pasti, hari yang tidak bisa diragukan akan kedatangannya.

 

Hari tersebut dinamakan dengan hari agama. Karena hanya agama sajalah yang berharga di waktu itu. Manusia ketika meninggal tidak ada yang dibawanya melainkan agamanya ikut serta. Dan dengan agama itulah ia mempertaruhkan takdirnya di akhirat. Agama berarti sikap manusia terhadap Islam dan sikapnya di dalam Islam. Bila ia bersikap iman kepada Islam dan patuh tunduk menjalankan Islam dengan penuh keikhlasan dan pembelaan, itulah yang akan menjadi agamanya, yang akan dibawanya hingga akhirat kelak itu.

 

Hari pertemuan itu melingkup segala ihwal keakhiratan. Tahapan-tahapan yang akan dilalui manusia di hari tersebut, merupakan tahapan yang berat. Termasuk di dalamnya surga dan neraka. Hisab dan timbangan amal manusia perseorangan. Di hari tersebut manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak ada kekerabatan, pertemanan dan perniagaan yang terjadi, sebagai sarana untuk saling tolong menolong. Dan masih banyak hakikat-hakikat lainnya tentang akhirat tersebut.

 

Bagaimana kita tahu akan hari pertemuan?

 

Semua informasi tentang akhirat tidak dapat dicapai dengan pengamatan indra dan akal. Namun akal bisa membenarkan akan keberadaannya, sesuai hukum akal. Hukum akal berpendapat bahwa adanya akhirat atau hari pertemuan dengan Allah merupakan sesuatu yang mungkin. Hanya saja kemudian, informasi yang sampai kepada manusia melalui wahyu, dapatlah sampai akal pada kepastian keyakinan bahwa akhirat itu adalah ada.

 

Bagaimana nilai kita terhadap hari pertemuan

 

Informasi tentang Allah dan akhirat, beserta asal mula alam semesta hanya dapat diperoleh melalui wahyu. Dan pengetahun ini merupakan pondasi bagi menentukan sikap dan kewajiban yang melekat pada manusia sebagai makhluk Allah.

 

Dalam menyikap akhirat atau hari pertemuan, manusia terbagi atas dua golongan besar. Yaitu golongan yang meyakini akan keberadaannya nanti sehingga ia menjadikan semua sikapnya menjadi berorientasi akhirat. Dan golongan yang tidak meyakininya. Biasanya golongan ini sekaligus tidak meyakini Allah dan tidak meyakini wahyu. Mereka menjadikan hidup hanya sebatas bingkai kehidupan dunia dan berorientasi kebendaan semata.

 

Bagaimana Pengaruh Pengetahuan ini?

 

Allah dan hari pertemuan denganNya merupakan hal yang ghaib. Hal yang tidak bisa dicapai dengan indra. Namun keberadaanya dapat diterima oleh akal dan hati manusia. Boleh jadi kebanyakan manusia membenarkan keberadaan Allah dan hari pertemuan denganNya, mereka pun mengetahuinya sesuai informasi yang mereka peroleh dari kitab al-Quran. Dan ini merupakan modal terbaik untuk menjamin bahwa perbuatan manusia akan menjadi baik.

Hanya saja, dalam perkembangannya kemudian, terjadilah kualitas-kualitas yang berbeda-beda pada diri manusia. Namun secara umum, semakin seseorang tinggi keimanan, maka kebutuhannya akan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat semakin besar. Kebutuhannya terhadap pengetahuan agama semakin besar. Atau bisa saja, bahwa kenyataan seseorang dididik dengan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat, maka kemungkinan besar, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik akan keimanannya.

Adapun mengenai hubungan antara seseorang dengan dunia, tatkala ia mengetahui hakikat dunia dan menguasai hukum-hukum dunia, ia akan bersikap zuhud. Zuhud itu hakikatnya adalah menguasai dunia untuk ditundukkan demi kepentingan agama. Rasulullah dan Para Sahabat sebagai teladan dalam beragama, benar-benar menguasai urusan dunia sesuai konteks zamannya, baik teknologi, sosial, negara, ekonomi, diplomasi, militer, kekayaan, kemudian menjadikan semua itu sebagai sarana untuk kepentingan dakwah dan meninggikan kalimat Allah, itula zuhud.

 

Kesimpulan

 

Ontologi dalam Islam secara garis besar terdiri atas tiga ranah besar, yaitu Allah sebagai Rabb, Ilah dan Malik bagi manusia. Kemudian alam semesta sebagai ayat-ayatNya dan karuniaNya. Dan terakhir Hari pertemuan atau hari akhirat. Semua usaha terkait dengan Pengetahuan dan Nilai manusia berorientasi kepada ketiga keberadaan tersebut.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: