Filsafat Berfikir

MODERNISASI, SEKULARISASI DAN DESAKRALISASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM | Juni 15, 2017

 

SEKULARISASI

Sekularisasi muncul dari akar pemikiran Barat sejak renaisans, aufklarung hingga zaman Comte yang intinya rasionalisasi, matrealisme dan mengesampingkan agama bahkan meniadakan agama dari dunia. Sekularisasi adalah pemisahan antara urusan politik dan urusan agama, pemisahan urusan dunia dan akhirat. Sekularisasi adalah pembebasan manusia dari agama dan metafisika atau terlepasnya dunia dari pengertiaan religious yang suci kemudian manusia mengarahhkan perhatianya padadunia sini dan waktu kini. Pada hakiktanya sekularisasi menginginkan adanya pembebasan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan otonom pada dirinya.[1]

MODERNISASI

Akal yang di terapkan dalam masalah manusia merupakan landasan modernsasi. Tiga hal yang menandai modernisasi Barat, berlangsung melalui proses industralisasi, tumbuh suburnya ilmu teknologi, dan melepaskan diri dari kekangan gereja.[2] Proses modernisasi di mulai di Inggris pada abad ke-18 dengan revolusi industry kemudian meluas keseluruh Eropa dan Amerika Utara, yang sekarang di kenalsebagai Negara maju. Implikasi modernisasi adalah komitmen mengikis pola-pola lama dan menyuguhkan pola-polabaru. Pola-pola baru inilah yang dberi status modern. Aspek mencolok  modernisasi adalah beralihnya teknik produksi dari tradis\onal ke teknik modern. Suatu trasnformasi masyarakat tradisional kemasyarakat modern. Implikasi negative dari modernisasi adalah membawa serta nilai sekularaisasi. Maka terjadilah pengikisan nilai agama terhadap pribadi dan masyarakat. Juga meningkatnya angka kejahatan, melemahnya ikatan keluaraga, bertambahnya polusi.[3]

DESAKRALISASI

Sekularisasi berkaitan dengan desakralisasi yaitu berupa pembebasan terlepas atau bebasnya dunia dari pengertian religious. Secara umum desakralisasi berarti penindakeramatan. Dalam arti pembebasan dari pengaruh sakral terhadap segala sesuatu  Desakralisasi diartikan sebagai pembebasan dari nilai-nilai agama maupun segala macam metafisika dalam arti terlepasnya agama

PENDIDIKAN ISLAM

Sejatinya, tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islami (syakhshiyah Islamiyah) setiap Muslim, serta membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dasar pemikiran khas (Ideologi) yang dianut suatu negara. Jika sistem pendidikan ditegakkan berdasarkan ideologi sekularisme-kapitalisme atau sosialisme-komunisme maka sistem pendidikan bertujuan mewujudkan struktur masyarakat sekular-kapitalis atau sosialis-komunis. Maka akan menjadi hal yang wajar jika output pendidikan di era kapitalis ini menghasilkan manusia yang rakus akan materi, bersikap individualis dan hedonis.

Jika sistem pendidikan berbasiskan ideologi Islam maka sistem pendidikan bertujuan untuk membangun struktur masyarakat Islam, dan tentu saja sistem pendidikannya akan berbeda dengan sistem pendidikan dengan sistem ideologi selain Islam. Dengan demikian kurikulum yang digunakan akan berbeda pula sesuai dengan tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan tersebut, tergantung pada ideologi yang dianut.

Kurikulum dalam Islam dibangun berlandaskan akidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun sejalan dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam (pemikiran Islam) dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal).

Kurikulum dalam Islam juga bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam (karakter) dan harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa. Pada tingkat TK-SD materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar yakni aqidah karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan. Barulah setelah mencapai usia baligh, yaitu SMP, SMA, dan PT materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Pendidikan dalam Islam diterapkan dalam rangka mencapai tujuannya, yaitu membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam. Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban – serta akan membuat negara Islam menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan Islam sebagai ideologi yang mendominasi di dunia

Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban. Dengan tujuan pendidikan yang benar, maka ilmu pengetahuan akan mendatangkan keberkahan, seperti berkahnya air hujan yang menyirami tanah yang subur, dimana kemudian manfaatnya terus mengalir menjadi manfaat yang banyak bagi kehidupan bahkan dalam dimensi hidup bermasyarakat

PENGARUH PENDIDIKAN BARAT PADA PENDIDIKAN ISLAM

Penghancuran pusat kekuasaan Islam pada tahun 1258 M oleh Hulagu Khan mengakibatkan hancurnya semua segmen peradaban Islam, termasuk salah satunya pendidikan Islam, sehingga Pendidikan Islam tidak lagi menjadi alternatif bagi pelajar skala Internasional. Kontak langsung umat Islam dengan peradaban Barat modern terjadi saat Napoleon dating ke Mesir abad ke-19.[4]

Hal ini kemudian membangkitkan para pembaharu Islam untuk menyeru umat Islam mengikuti dan mengejar ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat. Di bidang pendidikan, para pembaharu seperti Sultan Mahmud ll, dan lain-lain, mengikuti pola pendidikan yang berkembang di Barat, mengikuti gaya pendidikan Barat dalam berbagai dimensinya. Sifat pendidikan Barat merupakan refleksi dari pemikiran Barat abad ke-18 yang di tandai oleh isolasi terhadap agama dan penyangkalan wahyu, penghapusan nilai etika.[5]

Sifat pendidikan Barat ini mengilhami pendidikan yang di kembangkan di dunia Islam .akibatnya model pendidikan Islam menjadi asing dan hasil dari peniruaan ini tidak membuat umat Islam mengalami kemajuan pada Peradaban Islam. Umat Islam rugi dua kali :mengabaikan petunjuk wahyu dalam pendidikan dan tidak mengalami perkembangan peradaban. Maka perlu disadari bahwa Materi dan metologi Barat telah medeIslamisasi siswa dan membahayakan Islamisasi ilmu pendidikan. Tidak benar bahwa untuk memajukan peradaban bangsa dan umat harus meniru Barat apalagi secara membabi buta. Tidak benar bahwa Barat itu identik dengan modern, sebab modern bisa berasal dari siapa saja asal ada kemauan yang kuat untuk mewujudkannya.[6]

 

SEKULARISASI PENDIDIKAN DI DUNIA ISLAM

Pendidikan adalah metode untuk menjaga akidah. Maka ketika pendidikan dipisahkan dari agama, tamatlah riwayat agama. Tsaqofah Islam yang dihapuskan dari pendidikan, tenggelamlah umat, terhapuslah identitas umat, Hal yang membuat tujuan pendidikan dunia Islam mengalami krisis berawal dari tujuan pendidikan Barat yang memutus hubungan dengan otoritas wahyu, otoritas nash. Seharusnya anak didik mencintai tsaqofah Islam, tetapi tsaqofah Islam dicerabut dari kurikulum pendidikan,

Bila peradaban manusia berjalan tanpa bimbingan  wahyu maka manusia berjalan dalam kegelapan. Masalah pendidikan bukan sekadar kerusakan infrastruktur, kurangnya fasilitas, tapi rusak dari akarnya, Ada tiga tujuan rusak dalam pendidikan saat ini, yaitu tujuan pendidikan asing, kapitalisasi atau komersialisasi dan pendidikan yang fokus pada kesuksesan individual.

Kondisi itu kini juga terjadi di dunia Arab. Sekulerisasi di sana luar biasa. Seperti munculnya perubahan kurikulum melalui konferensi tingkat tinggi lembaga internasional, dihapuskannya kurikulum  konten tauhid. Seperti dihapuskannya kurikulum jihad di Palestina dan negeri Islam lainnya. Gelombang yang menerjang sama di dunia Islam. Inilah fakta sekulerisasi pendidikan yang membahayakan dunia Islam.

Sekularisme pendidikan telah membentuk karakter SDM Muslim cenderung anti-Islam. Ini telah terbukti dan bahkan banyak mereka yang lulusan luar negeri di negara negara barat dan kembali ke Indonesia, anti dengan nilai Islam. Demikian pula kondisi pendidikan di negara-negara Arab saat ini sudah hampir sepenuhnya mengarah ke model sisten sekuler.  yang terjadi di banyak negara Arab kini, kurikulum pendidikan berusaha memisahkan nilai Islam dan budaya Arab dengan materi kurikulum Barat.

Di antaranya upaya pendidikan tahfiz diganti dengan ekstra kulikuler menari, kemudian mencampur murid laki-laki dan perempuan yang selama ini dipisah dalam pendidikan Islam. Semua itu adalah upaya yang dilakukan dari sistem pendidikan yang sekuler yang mulai berkembang di negara-negara Arab saat ini. Yakni memisahkan nilai agama dengan sistem pendidikan dan kurikulum pembelajaran di sekolah

Sekularisme dan kemodernan merupakan dua hal yang tidak boleh terpisah. Demikian asumsi yang hampir dianggap benar oleh masyarakat modern dewasa ini. Sebuah masyarakat disebut modern kalau masyarakat tersebut sekular; menyimpan agama hanya pada kehidupan pribadi dan tidak dibawa-bawa ke ranah sosial. Sebuah Negara juga bisa dikategorikan modern kalau Negara tersebut sekular; tidak mengikatkan diri pada satu agama tertentu dan menyerahkan urusan agama pada masyarakatnya, tidak perlu diatur oleh negara.

Paradigma semacam itu jelas tidak bisa diterima, mengingat: Pertama, fenomena sekularisme tidak hanya terjadi di zaman modern sekarang saja, dari sejak zaman kuno pun fenomena sekularisme telah ada, ditandai dengan orang-orang yang berpendapat bahwa kehidupan ini hanya ada di dunia saja, tidak ada akhirat, dan dengan sendirinya tidak diperlukan aturan-aturan agama. Kedua, di setiap masanya peran agama walau bagaimanapun tidak pernah bisa dihilangkan. Maka dari itu tidak heran jika usaha yang sangat serius dari beberapa penguasa Negara muslim semisal Turki, Mesir, India, termasuk Indonesia untuk melakukan sekularisasi dalam kehidupan masyarakatnya bisa dikatakan tidak berhasil.

Walaupun begitu, bukan berarti bahwa fenomena sekularisme ini bisa diabaikan begitu saja, karena walau bagaimanapun pemahaman ini ada dan terus bertarung dengan pemikiran Islam yang anti-sekularisme. Kuntowijoyo misalnya menyebutkan bahwa sekularisme ini telah benar-benar merasuk ke dalam kehidupan masyarakat, baik yang wujudnya materialism ataupun skeptisisme. Dalam hal ini maka umat Islam harus betul-betul meneguhkan “Paradigma Islam”.

Tugas utama Paradigma Islam ialah melawan sekularisme. Sekularisme mempunyai multiefek, merasuk dalam-dalam ke jiwa peradaban, dan sangat fundamental dalam cara berpikir manusia. Dan, jangan lupa Indonesia adalah bagian dari peradaban modern: tempat hiburan “maksiat”, pornografi, dan penyimpangan seksual adalah sekularisme-materialisme, dan cara berpikir “kekiri-kirian” dan keraguan intelektual terhadap kebenaran al-Quran generasi muda berlatar belakang pendidikan agama adalah sekularisme-skeptisisme.

Barat telah berupaya keras untuk memusnahkan wahyu sebagai otoritas ilmu tertinggi dalam dunia pendidikan. Sekulerisme sebagai akidah peradaban Barat telah melakukan sekulerisasi ilmu pengetahuan dan hal itu diekspor ke negeri-negeri muslim. Akibatnya sekulerisme telah menjelma menjadi musuh dalam selimut umat Islam yang menggerogoti keimanan dan identitas umat.

Sesungguhnya sistem pendidikan tidak akan bisa dibangun tanpa adanya kejelasan pemahaman awal, yaitu apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan dan bagaimana hasil pendidikan ini bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban. Jika hal ini telah terjawab dengan jelas, maka persoalan pendidikan lainnya seperti kebijakan, mata pelajaran, metode pengajaran, dan sebagainya, akan bisa dibentuk kemudian berdasarkan tujuan ini. Inilah yang seharusnya menjadi pendekatan dalam pendidikan. Karena inilah pendekatan yang benar.

Pendidikan seharusnya menjadi metode menjaga ideologi dan tsaqafah (kebudayaan) umat di dalam hati anak-anak Muslim. Tsaqafah lah yang membangun peradaban umat dan menentukan target dan tujuannya, sehingga membuat corak kehidupannya berbeda dari umat lain.

Namun apa daya, saat ini sekulerisasi ilmu dalam sistem pendidikan telah diadopsi oleh negeri-negeri muslim. Sistem pendidikan di negeri-negeri muslim telah terinfeksi nilai-nilai kebebasan dan sekulerisme. Konsekuensinya adalah kaum terpelajar menjadi terpisah dari umat karena sulit memahami persoalan umat karena hilangnya pemikiran politik Islam`

Sekulerisme yang merupakan akidah dari ideologi Kapitalisme telah gagal dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan dijadikan komoditi untuk mencetak sebanyak mungkin professional dan tenaga ahli. Kaum professional diarahkan untuk siap menjadi angkatan kerja dan diberdayakan oleh korporasi global dalam industri mereka.

Sekulerisme telah menjauhkan pendidikan dari agama serta dibisniskan untuk meraih keuntungan. Hal ini telah sangat jelas tidak akan pernah mampu membangun, memajukan dan meningkatkan martabat kehidupan rakyat.

SEKULARISASI PENDIDIKAN INDONESIA

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia berbasis sekulerisasi. Artinya, terjadi pemisahan jalur pendidikan Islam dengan jalur pendidikan umum di bawah dua kementerian yang berbeda; Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional. Sekulerisasi pendidikan di Indonesia secara struktural berlangsung secara intensif di ranah pendidikan formal. Sejak awal, pemerintah memisahkan jalur pendidikan Islam dan jalur pendidikan umum. Pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama, dan pendidikan umum di bawah Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini berlaku untuk semua jenjang dari dasar hingga tinggi.

Pendidikan di Indonesia, baik pendidikan Islam dan pendidikan umum, dihadapkan pada tantangan semakin berkembangnya model-model pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Pendidikan Islam memberlakukan jenjang MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), dan perguruan tinggi (UIN, IAIN, STAIN, PTAI). Sedangkan pendidikan umum memberlakukan jenjang SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan perguruan tinggi (PTN, PTS, Akademi, Sekolah Tinggi).

Selain itu, kurikulum pendidikan yang diberlakukan pun berbeda. Kurikulum pendidikan Islam memfokuskan pada tsaqofah Islam, sedangkan kurikulum pendidikan umum menitikberatkan pendidikan pada disiplin ilmu yang sifatnya umum. Sehingga, tidak lah mengherankan jika output pendidikan hari ini tidak mampu membentuk kepribadian Islam, entah peserta didik itu menimba ilmu di jalur pendidikan Islam atau jalur pendidikan umum.

Selain itu ciri khas dari sistem pendidikan kita adalah merupakan sistem warisan penjajah, bisa dilihat dari ideologinya yang jelas-jelas bernapaskan sekularisme-materialisme. Sekularisme sebagai paham yang tidak menginginkan adanya keselarasan antara ajaran agama dan kehidupan bermasyarakat (berupa pendidikan, ekonomi, dan sosial- kemasyarakatan), menjadi acuan sistem pendidikan kita. Sehingga tidak heran ketika sekularisasi di bidang pendidikan telah mampu menciptakan generasi-generasi yang sering dihujat masyarakat, karena kebiadaban dan kerusakan yang dibaktikan untuk negeri ini.

Sementara itu, sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan pribadi-pribadi mulia dan sekaligus mampu menguasai ilmu, pengetahuan dan teknologi secara bersamaan, sebaliknya hanya mampu menciptakan generasi-generasi yang mau memanfaatkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan, yang selanjutnya digunakan untuk meraup pundi-pundi uang demi kepentingan pribadi.

 

MODERNISASI ATAU PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Modernisasi atau pembaharuan bisa diartikan upaya atau usaha perbaikan keadaan baik dari segi cara, konsep, dan serangkaian metode yang bisa diterapkan dalam rangka mengantarkan keadaan yang lebih baik. Dengan demikian, kalau kita kaitkan dengan pembaharuan pendidikan Islam akan memberi pengertian bagi kita, sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan pendidikan Islam dari yang tradisional (ortodox) kearah yang lebih rasional, dan professional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu.

Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bengsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan, telah timbul mulai abad ke 11 H/ 17 M. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh Eropa, pertama Prancis yang merupakan pusat kemajuan Eropa pada masa itu dan di kirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan Eropa, terutama dibidang militer dan kemajuaan ilmu pengetahuan.

Eksploitasi dan intervensi barat lama kalamaan menyadarkan akan keterbelakangan umat Islam. Mereka sadar kuatnya control barat terhadap mereka terhadap kemajuan modern yang di miliki oleh barat. Inilah yang menyadarkan mereka dari keterbelakangan mereka dan kelemahannya. Sehingga timbul usaha pembaharuan dalam segala aspek kehidupan yang di pelopori oleh penguasa, kaum bangsawan, elit, dan intelegensia.

Pembaharuan pendidikan Islam akan memberi pengertian sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan baik berupa cara, metodologi, situasi dalam pendidikan Islam dari yang tradisional kearah yang lebih baik dan professional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Pembaharuan pendidikan Islam pada esensinya adalah pembaharuan pemikiran dalam perspektif intelektual Muslim yang pastinya berkaitan dengan masalah pendidikan, karena pendidikan merupakan sarana yang terpenting. Bukan saja sebagai wahana “konservasi” dalam arti tempat pemeliharaan, pelestarian, penanaman dan pewarisan nilai-nilai dantradisi suatu masyarakat, tetapi juga sebagai “kreasi” yang dapat menciptakan, mengembangkan dan mentransformasikan masyarakat ke arah budaya baru.

 

Setelah sekian lama dijajah oleh kaum imperialis Barat, umat Islam mulai menyadari keterbelakangan dan ketertinggalan peradabannya. Dan bangkitlah umat muslim yang dipelopori oleh para pemikir dan tokoh umat Islam yang menyorakkan kembali terbukanya pintu ijtihad, perlunya Pan Islamisme, kesadaran beragama dan berbangsa, hingga perlunya filsafat dipelajari. Dan kesadaran ini direalisasikan dalam bentuk praksis dengan dihidupkannya kegiatan intelektual melalui penggalakan kegiatan berpikir di dunia universitas-universitas Islam.

 

Meskipun kehadiran Barat telah memicu timbulnya respon dikalangan terpelajar muslim, kontak dengan Barat bukanlah satu-satunya aktor yang menyebabkan munculnya gerakan pembaruan dalam Islam. Di samping dalam batang tubuh doktrin doktrin Islam pembaharuan (tajdîd) merupakan sesuatu yang intern, kondisi objektif umat Islam sendiri yang secara umum ditandai oleh semakin memudarnya semangat keilmuan, kebekuan (jumûd), dibidang intelektual, dan berkembang pesatnya tradisi yang mendekati syirik, merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor-faktor itu sekaligus juga merupakan tantangan kaum muslim, tidak hanya dalam tataran intelektuasl tetapi juga pada tataran empiris.

Tantangan itu mencul di kalangan kaum muslim hampir secara serentak. Hal ini menyebabkan solusi yang diajukan sangat bervariasi, meski pada umumnya bertujuan sama, yaitu memajukan kembali Islam seperti pada masa keemasan dulu. Walaupun variasi itu tidak selamanya disebabkan oleh kondisi wilayah tempat munculnya gerakan pembaharuan, tetapi lebih-lebih merupakan implikasi dari penafsiran yang berbeda atas teks-teks suci, baik dari al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Dalam rentang yang panjang, bentuk solusi ada yang merupakan penolakan yang membabi buta, dan adapula yang menerima mentah-mentah.

Pergulatan peradaban antara Islam dan Barat sangat berpengaruh pada terjadinya perkembangan pola pikir umat manusia pada berbagai kemajuan  di segala bidang. Walaupun secara ideologis terjadi perperangan, ternyata khazanah keilmuan semakin berkembang pesat, hanya saja terjadi perebutan klaim atas ilmu tesebut. Dan salah satu buktinya adalah selalu munculnya gerakan-gerakan pembaharuan yang ingin mengembalikan superioritasnya masing-masing, tatkala tanda-tanda keterpurukannya mulai tampak

 

Modernisasi adalah proses perombakan cara berfikir dan tata kerja lama yang tidak rasional, dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja baru yang rasional. Kegunaanya ialah untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal. Hal itu dilakukan dengan menggunakan penemuan mutakhir manusia di bidang ilmu pengetahuan.

Sedangkan ilmu pengetahuan tidak lain ialah hasil pemahaman manusia terhadap hukum-hukum obyektif yang menguasai alam, ideal dan material, sehingga alam ini berjalan menurut kepastian tertentu dan harmonis. Modernisasi juga dapat diartikan dalam kerangka-kerangka tingkat industrialisasi, walaupun hal ini sering diikuti oleh suatu pengamatan bahwa, jika inilah conditio sine qua non, ia bukanlah kebenaran yang menyeluruh.

Penting bagi kita untuk memahami betapa lebarnya kesenjangan antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler di Mesir berikut konsekuensi-konsekuensinya yang sangat jauh jangkauannya. Hal ini tidak hanya menempatkan suatu sekolah dalam posisi berlawanan dengan sekolah lainnya dan suatu universitas-universitas lainnya: tetapi juga, lebih dari pada faktor mana pun, mendorong timbulnya perpecahan dikalangan umat muslim, yang terutama tampak di kota-kota besar, yang menempatkan kelompok ortodoks dalam posisi berlawanan dengan kelompok “yang dibaratkan” dalam hampir semua kegiatan sosial maupun intlektual, dalam cara berpakaian, sikap hidup, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat, hiburan, sastra, dan bahkan dalam percakapan mereka.

KASUS MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DI TURKI

Pembaruan pendidikan di Dunia Islam pertama kali dimulai dikerajaan Turki Utsmani. Faktor yang melatar belakangi gerakan pembaharuan pendidikan bermula dari kekalahan-kekalahan kerajaan Utsmani dalam peperangan dengan Eropa. Dan Turki merupakan bekas jantung tempat salah satu kekhalifahan terbesar Islam, yakni Turki Usmani. Oleh karena itu keterikatan  bangsa Turki dengan Islam berlangsung  sangat kuat sebab mereka bangsa terkemuka di dunia Islam selama beratus-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang betapa pentingnya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis setiap orang yang bertempat tingal di Turki, tetapi secara kebudayaan orang Turki adalah hanya orang Islam.

Langkah-langkah pembaharuan yang dilakukan adalah, pertama  pengiriman duta besar ke Eropa untuk mengamati keunggulan barat, kedua mengirim para pelajar ke luar negeri, ketiga mendatangkan guru dari Eropa, mendirikan selokah teknik militer, Pembentukkan badan penerjemah, menulis beberapa buku matematika, geografi, kedokteran, sejarah dan agama, pendirian penerbitan dan percetakan.

Pembaharuan pendidikan islam di Turki sudah dimulai sejak Sultan Mahmud II (1785—M) berkuasa. Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan dikerajaan Utsmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana halnya di Dunia Islam lain dizaman itu, madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang ada di Kerajaan Utsmani. Di Madrasah hanya diajarkan agama. Pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19.

Di masa pemerintahannya orang juga telah kurang giat memasukkan anak-anak mereka ke Madrasah dan mengutamakan mengirim mereka belajar keterampilan secara praktis di perusahaan-perusahaan industri tangan. Kebiasaan ini membuat bertambah meningkatnya jumlah buta huruf dikerajaan Utsmani. Untuk mengatasi problema ini, Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah supaya anak sampai umur dewasa jangan dihalangi masuk Madrasah.

Mengadakan perubahan dalam kurikulum madrasah dengan menambahkan pengetahuan-pengetahuan umum kedalamnya, sebagai halnya di Dunia Islam lain pada waktu itu, memang sulit. Madrasah tradisional tetap berjalan tetapi di sampingnya Sultan mendirikan dua sekolah pengetahuan umum yaitu Mekteb-i Ma’arif (sekolah pengetahuan umum) dan Mekteb-i Ulum-u Edebiye (sekolah sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan Madrasah yang bermutu tinggi.

Di kedua sekolah itu diajarkan bahasa Prancis, ilmu bumi, ilmu ukur, sejarah dan ilmu politik disamping bahasa arab. Sekolah pengetahuan umum mendidik siswa untuk menjadi pegawai-pegawai administrasi, sedang sekolah yang kedua menyediakan penerjemah-penerjemah untuk keperluan pemerintah.

[1] Pardoyo, Sekularisasi dalam Polemik, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1993, hal 20

[2] Ibid, hal 39

[3] Ibid, hal 41

[4] Qomar, Mujamil, Epistemologi Islam, Erlangga, Jakarta, 2005, hal 208

[5] Ibid, hal 209

[6] Ibid, hal 213

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: