Filsafat Berfikir

SEKULAR | Juni 16, 2017

DAFTAR ISI

 

DEFINISI SEKULAR

Menurut  pakar pemikiran Islam Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, yaitu: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan (3) deconsecration of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).[1]

Sementara itu, pemikir Kristen Harvey Cox, dalam buku terkenalnya, The Secular City, menyebutkan definisi sekularisasi adalah: “pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).[2]

Dr. Syamsuddin Arif dalam Presentasinya dalam Seminar Pemikiran menyebutkan, Sekularisme berasal dari bahasa Latin “saeculum” (zaman, masa), atau ‘saecularis’ (mengikuti zaman). Dan kata bendanya “Saeculares” lawan kata “religiosi” (orang-orang beragama). Beliau menyebutkan adaa beberapa Pokok-pokok Akidah secular, yakni

  1. Secularization is good, necessary and inevitable.
  2. Secularity is characteristic of modernity
  3. Being secular = being modern
  4. Modern life = secular life[5]

Artinya, ciri hidup dengan gaya pemikiran sekuler dianggap sebagai ciri hidup modern dan berkemajuan.[3]

Sekularisme adalah paham yang memisahkan politik dari agama, namun dalam perkembangannya sekularisme menjelma menjadi faham ekstrim yang anti agama (khususnya Islam).[4]

Sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi. Menurut pemikiran ini, agama dianggap hanya sebagai urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan duniawi, agama tidak boleh ikut campur. Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakan dari “pencerahan” yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhyul.[5]

Sekularisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme (dianggap) dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.[6]

 

HAKIKAT SEKULAR

Sekularisasi adalah proses pengosongan pemikiran manusia dari nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama. Sekularisme adalah sebuah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama.[7]

SISTEM KEILMUAN SEKULAR

Sistem keilmuan sekular dan ateistik tidak mengakui “wahyu” sebagai sumber ilmu, karena wahyu dianggap sebagai dogma yang tidak ilmiah. Padahal, pada saat yang sama, ilmuwan sekular itu pun menerima berita-berita yang dibawa oleh para anthropolog dan ilmuwan ateis, tanpa proses verifikasi. Mereka menolak berita dari al-Quran, tetapi menerima berita dan dugaan-dugaan dari Charles Darwin dan sejenisnya.[8]

Pendekatan agama dan pendekatan sains (ilmu pengetahuan) dalam upaya memahami realitas alam semesta adalah berbeda. “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu tidak berarti keyakinan keagamaan tidak rasional. Perasaan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu tetap dapat dijelaskan secara rasional. Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.”[9]

Cara pandang terhadap agama dan sains semacam itu jelas-jelas bersifat sekular. Itu jelas keliru. Cara berpikir semacam ini juga merupakan dogma yang diyakini oleh ilmuwan sekular. Itu merupakan kesalahan epistemologis, yang memisahkan panca indera dan akal sebagai sumber ilmu, dengan khabar shadiq (true report) — dalam hal ini wahyu Allah — sebagai sumber ilmu. Padahal, dalam konsep keilmuan Islam, ketiga sumber ilmu itu diakui dan diletakkan pada tempatnya secara harmonis. Dalam Kitab Aqaid Nasafiah – kitab aqidah tertua yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu – dikatakan bahwa sebab manusia meraih ilmu ada tiga, yaitu: panca indera, akal, dan khabar shadiq.[10]

FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI SEKULARISME

Ada tiga faktor yang melatarbelakangi sekularisme dan liberalisme di Barat. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian lama), yang hingga kini masih merupakan misteri, termasuk soal siapa sebenarnya yang menulis. Demikian juga perjanjian baru (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otensitas teks. Dan ketiga, problema teologi Kristen.[11]

SEJARAH AWAL SEKULARISME

Bila kita melacak sejarah bangsa Eropa, sekularisme muncul disebabkan pengongkongan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Pihak gereja Eropah telah menghukum ahli sains seperti Copernicus, Gradano, Galileo dll yang mengutarakan penemuan saintifik yang berlawanan dengan ajaran gereja. Kemunculan paham ini juga disebabkan tindakan pihak gereja yang mengadakan upacara agama yang dianggap berlawanan dengan nilai pemikiran dan moral seperti penjualan surat pengampunan dosa, yaitu seseorang boleh membeli surat pengampunan dengan nilai wang yang tinggi dan mendapat jaminan syurga walaupun berbuat kejahatan di dunia.[12]

Disamping itu, Kemudian muncul revolusi rakyat Eropa yang menentang pihak agama dan gereja yang bermula dengan pimpinan Martin Luther, Roussieu dan Spinoza. Akhirnya tahun 1789M, Perancis menjadi negara pertama yang bangun dengan sistem politik tanpa intervensi agama. Revolusi ini terus berkembang sehingga di negara-negara Eropa, muncul ribuan pemikir dan saintis yang berani mengutarakan teori yang menentang agama dan berunsurkan rasional. Seperti muncul paham Darwinisme, Freudisme, Eksistensialisme, Ateismenya dengan idea Nietche yang menganggap Tuhan telah mati dan manusia bebas dalam mengeksploitasi. Akibatnya, agama dipinggirkan dan menjadi bidang yang sangat kecil, terpisah daripada urusan politik, sosial dan sains. Bagi mereka yang melakukan penolakan terhadap sistem agama telah menyebabkan kemajuan sains dan teknologi yang pesat dengan munculnya zaman Renaissance yaitu pertumbuhan perindustrian dan teknologi pesat di benua Eropa.[13]

SEKULARISASI DI INDONESIA

Sekulersime muncul di tanah Indonesia pertama kali di bawa oleh gubernur jenderal belanda Herman William Daendles pada tahun 1808-1811, yang hadir ke Indonesia untuk mengantikan VOC yang telah bercokol hamper 200 tahun. Kolonialisme belanda yang hadir di Indonesia berikut dengan projek sekularsiasinya memantik hadirnya perlawanan dari masyarakat Indonesia.[14]

Di Indonesia sendiri, sekularisme dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya; mundurnya pengaruh agama, desakralisasi lembaga-lembaga keagamaan, individualistis dalam masyarakat, serta pemindahan kepercayaan/iman dan pola prilaku dari suasana keagamaan ke suasana sekular.[15]

Dalam sidang BPUPKI kita akan menemukan dua aliran kuat yang berdebat sengit dalam sidang itu, golongan nasionalis islam menginginkan agama menjadi dasar Negara dan golongan nasionalis sekuler menginginkan hendaknya Negara netral terhadap agama. Namun uniknya kedua blok ini menyepakati bahwa asas ketuhanan menjadi hal yang sangat fundamental yang harus ada pada Negara Indonesia yang merdeka.[16]

Indonesia bukan sepenuhnya Negara agama tapi juga Indonesia tidak bisa menjadi Negara sekuler yang menihilkan peranan agama dalam Negara, inilah posisi unik Indonesia dalam pertarungan antara islamisme dan sekulerisme.[17]

CONTOH PERBUATAN SEKULAR

Berikut adalah contoh dampak dari sekularisasi.[18]

Tidak Perduli Dengan Urusan Duniawi

Contohnya seperti orang-orang beragama yang tidak mau memberi sedekah untuk pembangunan jalan raya atau rumah sakit (sebagai fasilitas umum) karena dianggap hal itu merupakan urusan negara, bukan urusan agama, sehingga mereka hanya mau bersedekah untuk hal-hal yang berbau agama seperti pembangunan masjid, pembangunan pondok pesantren dan hal-hal yang berbau agama lainnya termasuk ritual keagamaan lainnya.

HAM Sebagai dasar Hukum

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan nyata di tanah air kita ini, terlihat dengan jelas bahwa hukum atau Undang-Undang di Indonesia tidak berdasarkan agama islam lagi, bahkan hampir seluruhnya hukum di Indonesia bersekularisme dan membatasi hukum yang berdasarkan Kitab Suci Alquran. Misalkan saja hukum qishas dalam Islam dianggap sangat kejam, tidak memenuhi nilai-nilai Islam dan penuh dengan pembalasan. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian, maka hukum Islam dianggap salah karena menyalahi hak seorang manusia.

Kondisi Ekonomi

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung dari sekularisme. Prinsip-prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme.

Budaya Sekularisme

Mungkin tidak aneh lagi, bayangan sekulerisme bagaikan sebuah kebutuhan trend anak muda dewasa ini, harus sesuai dengan perkembangan zaman. Kita disajikan dengan gaya hidup ala barat, jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia apalagi mengikuti syariat Islam. Program TV, Media, Internet sebagai wadah untuk mempromosikan pemikiran yang mereka bawa kepada masyarakat Indonesia.

Pendidikan

Manajemen pendidikan kita telah dirasuki oleh pengaruh sekuler, terbukti dengan bahan Filsafat lebih wajib dipelajari dibanding Tauhid. Referensi Keyakinan lebih dikuasai oleh pemikiran para  filsuf dibanding dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kurikulum pendidikan di Indonesia pun sudah sangat jelas memisahkan antara ilmu agama (pendidikan agama) dan ilmu umum (pendidikan sains), banyak tenaga pengajar (guru) ilmu umum yang tidak memperkenankan muritnya mengkait-kaitkan sains dengan ajaran agama, hal tersebut terbukti dari tidak diperbolehkannya menulis suatu artikel ilmiah yang bersumber (berreferensi) dari kitab suci agama.

Media Massa

Siapa saja yang mengamati media massa Indonesia akan dengan mudah menyimpulkan bahwa ia berada dalam genggman sekularisme. Itu ditandai oleh kebebasan yang tanpa batas dalam menyatakan pendapat. Dengan dalih kebebasan berekspresi  atau menyatakan pendapat, semua pemikir-pemikir sesat seperti JIL, kaum sekuler dan lain-lainnya bebas berbicara apa saja. Dan lebih parah lagi, sebagian besar yang disesatkan oleh media massa tersebut adalah umat Islam. Tidak jarang kita dapati di koran-koran nasional kita, tulisan tentang kecaman terhadap penerapan syari’at Islam, dukungan terhadap pornografi dan porno aksi, pengolok-olokan terhadap sebagian hukum Islam dan sebagainya.

Memelintir Ayat-ayat Al-Quran

Banyak ayat Al Quran yang dinilai sempit oleh banyak pemikir liberal. Seperti ayat Al-Quran yang mengatur tentang perkawinan seperti pada QS An-Nisaa : 4 disalah artikan sebagai petunjuk untuk melakukan poligami. Padahal ayat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa islam memuliakan wanita. Bahwa jika seseorang tidak dapat berperilaku adil pada wanita yang akan dinikahinya disarankan untuk hanya menikai satu wanita.

Syaikh Muhammad Syakir Syarif menyebutkan dampak paling buruk bagi muslimin dalam kehidupan dan dunia mereka.:

  1. Menolak hukum yang berlandaskan pada apa yang Allah turunkan, menyingkirkan syariat dari segala ruang sisi kehidupan, mengganti wahyu ilahai dengan undang-undang positif yang mereka adopsi dari orang-orang kafir yang memusuhi Allah dan rasulnya.
  2. Merubah dan memanipulasi sejarah islam dan memberikan gambaran (kesan) terhadap masa-masa keemasan pergerakan pembebasan islamsebagai zaman kebiadaban yang sarat dengan kekacauan dan ambisi-ambisi pribadi.
  3. Merusak sistem pendidikan dan memperalatnya untuk menyebarkan pemikiran sekuler.
  4. Menghilangkan perbedaan antara muslim dan kafir
  5. Mempromosikan budaya serba boleh
  6. Melawan gerakan dakwah islamiyah melalui:
  7. Menangkap aktivis dakwah, memusuhi dan melontarkan tuduhan palsu kepada mereka
  8. Merongrong tokoh muslim yang tidak mau berdamai dengan ideologi sekular, dengan jalan isolasi atau penjara
  9. Menolak kewajiban jihad di jalan Allah
  10. Menyuarakan fanatisme terhadap bangsa dan tanah air

SEKULAR TIDAK AKAN BISA MENYATU DENGAN ISLAM

Sekularisme sebagai ideologi politik pada dasarnya tidak dapat bersenyawa dengan ajaran Islam yang hakiki, yang menganggap kekuasaan politik sebagai sarana  penegakkan agama. Sebagaimana disinyalir oleh Bernard Lewis, sejak zaman Nabi Muhammad saw, umat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus, dengan Rasulullah sebagai kepala Negara. Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw tidak mempolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan agama untuk kepentingan politik.[19]

Dalam perjalanannya, Paham ini terus menular dan mulai memasuki dunia Islam pada awal kurun ke 20. Turki merupakan negara pertama yang mengamalkan paham ini di bawah pimpinan Kamal Artartuk. Seterusnya paham ini menelusuri negara Islam yang lain seperti di Mesir melalui polisi Napoleon, Algeria, Tunisia dan lain-lain yang terikat dengan pemerintahan Perancis. Dan, Indonesia, Malaysia masing-masing dibawa oleh Belanda dan Inggeris. Ini dapat kita lihat dengan munculnya dualisme yaitu agama satu sisi dan yang bersifat keduniaan satu sisi. Seperti pengajian yang berasaskan agama tidak boleh bercampur dengan pengajian yang berasaskan sains dan keduniaan.[20]

Disamping itu, sejarah yang paling kental tentang munculnya sekularisme adalah disebabkan dari bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya.[21]

Akibat karena kita mengikuti pola barat dengan memasukkan pola sekuler dalam tubuhnya, maka kaum muslimin ibaratkan seseorang yang ikut-ikutan meneguk obat padahal ia sesungguhnya tidak sakit sedikit pun. Sehingga keberadaan Islam kian hari semakin rancu, dan semakin diperparah oleh gerakan sekularisasi di negeri-negeri muslim. Padahal hakikatnya Islam sudah sempurna ia tidaklah pantas di samakan dengan kristen, maupun agama lainnya, Islam adalah agama yang tidak perlu di modifikasi dan sebagainya.[22]

[1] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[2] ibid

[3] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[4] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[5] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[6] http://gugahpratala.tumblr.com/post/92437684117/sekularisme-musuh-dalam-kehidupan-umat-islam (DIAKSES  17 JunI 2017)

[7] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKSES  17 JunI 2017)

[8] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[9] IBID

[10] IBID

[11] http://www.goodreads.com/book/show/15767959-mengapa-barat-menjadi-sekuler-liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[12] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/ liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[13] IBID

[14] http://eramadina.com/islam-dan-sekularisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[15] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[16] IBID

[17] IBID

[18] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

Lihat : http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-92302-Esay-Bentukbentuk%20Sekularisme%20di%20Indonesia.html

[19] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKES 17 JUNI 2017)

[20] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKES 17 JUNI 2017)

[21] IBID

[22] IBID

Iklan

Ditulis dalam artikel filsafat

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: