Filsafat Berfikir

SEKULAR

DAFTAR ISI

 

DEFINISI SEKULAR

Menurut  pakar pemikiran Islam Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, yaitu: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan (3) deconsecration of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).[1]

Sementara itu, pemikir Kristen Harvey Cox, dalam buku terkenalnya, The Secular City, menyebutkan definisi sekularisasi adalah: “pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).[2]

Dr. Syamsuddin Arif dalam Presentasinya dalam Seminar Pemikiran menyebutkan, Sekularisme berasal dari bahasa Latin “saeculum” (zaman, masa), atau ‘saecularis’ (mengikuti zaman). Dan kata bendanya “Saeculares” lawan kata “religiosi” (orang-orang beragama). Beliau menyebutkan adaa beberapa Pokok-pokok Akidah secular, yakni

  1. Secularization is good, necessary and inevitable.
  2. Secularity is characteristic of modernity
  3. Being secular = being modern
  4. Modern life = secular life[5]

Artinya, ciri hidup dengan gaya pemikiran sekuler dianggap sebagai ciri hidup modern dan berkemajuan.[3]

Sekularisme adalah paham yang memisahkan politik dari agama, namun dalam perkembangannya sekularisme menjelma menjadi faham ekstrim yang anti agama (khususnya Islam).[4]

Sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi. Menurut pemikiran ini, agama dianggap hanya sebagai urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan duniawi, agama tidak boleh ikut campur. Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakan dari “pencerahan” yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhyul.[5]

Sekularisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme (dianggap) dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.[6]

 

HAKIKAT SEKULAR

Sekularisasi adalah proses pengosongan pemikiran manusia dari nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama. Sekularisme adalah sebuah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama.[7]

SISTEM KEILMUAN SEKULAR

Sistem keilmuan sekular dan ateistik tidak mengakui “wahyu” sebagai sumber ilmu, karena wahyu dianggap sebagai dogma yang tidak ilmiah. Padahal, pada saat yang sama, ilmuwan sekular itu pun menerima berita-berita yang dibawa oleh para anthropolog dan ilmuwan ateis, tanpa proses verifikasi. Mereka menolak berita dari al-Quran, tetapi menerima berita dan dugaan-dugaan dari Charles Darwin dan sejenisnya.[8]

Pendekatan agama dan pendekatan sains (ilmu pengetahuan) dalam upaya memahami realitas alam semesta adalah berbeda. “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu tidak berarti keyakinan keagamaan tidak rasional. Perasaan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu tetap dapat dijelaskan secara rasional. Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.”[9]

Cara pandang terhadap agama dan sains semacam itu jelas-jelas bersifat sekular. Itu jelas keliru. Cara berpikir semacam ini juga merupakan dogma yang diyakini oleh ilmuwan sekular. Itu merupakan kesalahan epistemologis, yang memisahkan panca indera dan akal sebagai sumber ilmu, dengan khabar shadiq (true report) — dalam hal ini wahyu Allah — sebagai sumber ilmu. Padahal, dalam konsep keilmuan Islam, ketiga sumber ilmu itu diakui dan diletakkan pada tempatnya secara harmonis. Dalam Kitab Aqaid Nasafiah – kitab aqidah tertua yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu – dikatakan bahwa sebab manusia meraih ilmu ada tiga, yaitu: panca indera, akal, dan khabar shadiq.[10]

FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI SEKULARISME

Ada tiga faktor yang melatarbelakangi sekularisme dan liberalisme di Barat. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian lama), yang hingga kini masih merupakan misteri, termasuk soal siapa sebenarnya yang menulis. Demikian juga perjanjian baru (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otensitas teks. Dan ketiga, problema teologi Kristen.[11]

SEJARAH AWAL SEKULARISME

Bila kita melacak sejarah bangsa Eropa, sekularisme muncul disebabkan pengongkongan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Pihak gereja Eropah telah menghukum ahli sains seperti Copernicus, Gradano, Galileo dll yang mengutarakan penemuan saintifik yang berlawanan dengan ajaran gereja. Kemunculan paham ini juga disebabkan tindakan pihak gereja yang mengadakan upacara agama yang dianggap berlawanan dengan nilai pemikiran dan moral seperti penjualan surat pengampunan dosa, yaitu seseorang boleh membeli surat pengampunan dengan nilai wang yang tinggi dan mendapat jaminan syurga walaupun berbuat kejahatan di dunia.[12]

Disamping itu, Kemudian muncul revolusi rakyat Eropa yang menentang pihak agama dan gereja yang bermula dengan pimpinan Martin Luther, Roussieu dan Spinoza. Akhirnya tahun 1789M, Perancis menjadi negara pertama yang bangun dengan sistem politik tanpa intervensi agama. Revolusi ini terus berkembang sehingga di negara-negara Eropa, muncul ribuan pemikir dan saintis yang berani mengutarakan teori yang menentang agama dan berunsurkan rasional. Seperti muncul paham Darwinisme, Freudisme, Eksistensialisme, Ateismenya dengan idea Nietche yang menganggap Tuhan telah mati dan manusia bebas dalam mengeksploitasi. Akibatnya, agama dipinggirkan dan menjadi bidang yang sangat kecil, terpisah daripada urusan politik, sosial dan sains. Bagi mereka yang melakukan penolakan terhadap sistem agama telah menyebabkan kemajuan sains dan teknologi yang pesat dengan munculnya zaman Renaissance yaitu pertumbuhan perindustrian dan teknologi pesat di benua Eropa.[13]

SEKULARISASI DI INDONESIA

Sekulersime muncul di tanah Indonesia pertama kali di bawa oleh gubernur jenderal belanda Herman William Daendles pada tahun 1808-1811, yang hadir ke Indonesia untuk mengantikan VOC yang telah bercokol hamper 200 tahun. Kolonialisme belanda yang hadir di Indonesia berikut dengan projek sekularsiasinya memantik hadirnya perlawanan dari masyarakat Indonesia.[14]

Di Indonesia sendiri, sekularisme dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya; mundurnya pengaruh agama, desakralisasi lembaga-lembaga keagamaan, individualistis dalam masyarakat, serta pemindahan kepercayaan/iman dan pola prilaku dari suasana keagamaan ke suasana sekular.[15]

Dalam sidang BPUPKI kita akan menemukan dua aliran kuat yang berdebat sengit dalam sidang itu, golongan nasionalis islam menginginkan agama menjadi dasar Negara dan golongan nasionalis sekuler menginginkan hendaknya Negara netral terhadap agama. Namun uniknya kedua blok ini menyepakati bahwa asas ketuhanan menjadi hal yang sangat fundamental yang harus ada pada Negara Indonesia yang merdeka.[16]

Indonesia bukan sepenuhnya Negara agama tapi juga Indonesia tidak bisa menjadi Negara sekuler yang menihilkan peranan agama dalam Negara, inilah posisi unik Indonesia dalam pertarungan antara islamisme dan sekulerisme.[17]

CONTOH PERBUATAN SEKULAR

Berikut adalah contoh dampak dari sekularisasi.[18]

Tidak Perduli Dengan Urusan Duniawi

Contohnya seperti orang-orang beragama yang tidak mau memberi sedekah untuk pembangunan jalan raya atau rumah sakit (sebagai fasilitas umum) karena dianggap hal itu merupakan urusan negara, bukan urusan agama, sehingga mereka hanya mau bersedekah untuk hal-hal yang berbau agama seperti pembangunan masjid, pembangunan pondok pesantren dan hal-hal yang berbau agama lainnya termasuk ritual keagamaan lainnya.

HAM Sebagai dasar Hukum

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan nyata di tanah air kita ini, terlihat dengan jelas bahwa hukum atau Undang-Undang di Indonesia tidak berdasarkan agama islam lagi, bahkan hampir seluruhnya hukum di Indonesia bersekularisme dan membatasi hukum yang berdasarkan Kitab Suci Alquran. Misalkan saja hukum qishas dalam Islam dianggap sangat kejam, tidak memenuhi nilai-nilai Islam dan penuh dengan pembalasan. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian, maka hukum Islam dianggap salah karena menyalahi hak seorang manusia.

Kondisi Ekonomi

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung dari sekularisme. Prinsip-prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme.

Budaya Sekularisme

Mungkin tidak aneh lagi, bayangan sekulerisme bagaikan sebuah kebutuhan trend anak muda dewasa ini, harus sesuai dengan perkembangan zaman. Kita disajikan dengan gaya hidup ala barat, jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia apalagi mengikuti syariat Islam. Program TV, Media, Internet sebagai wadah untuk mempromosikan pemikiran yang mereka bawa kepada masyarakat Indonesia.

Pendidikan

Manajemen pendidikan kita telah dirasuki oleh pengaruh sekuler, terbukti dengan bahan Filsafat lebih wajib dipelajari dibanding Tauhid. Referensi Keyakinan lebih dikuasai oleh pemikiran para  filsuf dibanding dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kurikulum pendidikan di Indonesia pun sudah sangat jelas memisahkan antara ilmu agama (pendidikan agama) dan ilmu umum (pendidikan sains), banyak tenaga pengajar (guru) ilmu umum yang tidak memperkenankan muritnya mengkait-kaitkan sains dengan ajaran agama, hal tersebut terbukti dari tidak diperbolehkannya menulis suatu artikel ilmiah yang bersumber (berreferensi) dari kitab suci agama.

Media Massa

Siapa saja yang mengamati media massa Indonesia akan dengan mudah menyimpulkan bahwa ia berada dalam genggman sekularisme. Itu ditandai oleh kebebasan yang tanpa batas dalam menyatakan pendapat. Dengan dalih kebebasan berekspresi  atau menyatakan pendapat, semua pemikir-pemikir sesat seperti JIL, kaum sekuler dan lain-lainnya bebas berbicara apa saja. Dan lebih parah lagi, sebagian besar yang disesatkan oleh media massa tersebut adalah umat Islam. Tidak jarang kita dapati di koran-koran nasional kita, tulisan tentang kecaman terhadap penerapan syari’at Islam, dukungan terhadap pornografi dan porno aksi, pengolok-olokan terhadap sebagian hukum Islam dan sebagainya.

Memelintir Ayat-ayat Al-Quran

Banyak ayat Al Quran yang dinilai sempit oleh banyak pemikir liberal. Seperti ayat Al-Quran yang mengatur tentang perkawinan seperti pada QS An-Nisaa : 4 disalah artikan sebagai petunjuk untuk melakukan poligami. Padahal ayat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa islam memuliakan wanita. Bahwa jika seseorang tidak dapat berperilaku adil pada wanita yang akan dinikahinya disarankan untuk hanya menikai satu wanita.

Syaikh Muhammad Syakir Syarif menyebutkan dampak paling buruk bagi muslimin dalam kehidupan dan dunia mereka.:

  1. Menolak hukum yang berlandaskan pada apa yang Allah turunkan, menyingkirkan syariat dari segala ruang sisi kehidupan, mengganti wahyu ilahai dengan undang-undang positif yang mereka adopsi dari orang-orang kafir yang memusuhi Allah dan rasulnya.
  2. Merubah dan memanipulasi sejarah islam dan memberikan gambaran (kesan) terhadap masa-masa keemasan pergerakan pembebasan islamsebagai zaman kebiadaban yang sarat dengan kekacauan dan ambisi-ambisi pribadi.
  3. Merusak sistem pendidikan dan memperalatnya untuk menyebarkan pemikiran sekuler.
  4. Menghilangkan perbedaan antara muslim dan kafir
  5. Mempromosikan budaya serba boleh
  6. Melawan gerakan dakwah islamiyah melalui:
  7. Menangkap aktivis dakwah, memusuhi dan melontarkan tuduhan palsu kepada mereka
  8. Merongrong tokoh muslim yang tidak mau berdamai dengan ideologi sekular, dengan jalan isolasi atau penjara
  9. Menolak kewajiban jihad di jalan Allah
  10. Menyuarakan fanatisme terhadap bangsa dan tanah air

SEKULAR TIDAK AKAN BISA MENYATU DENGAN ISLAM

Sekularisme sebagai ideologi politik pada dasarnya tidak dapat bersenyawa dengan ajaran Islam yang hakiki, yang menganggap kekuasaan politik sebagai sarana  penegakkan agama. Sebagaimana disinyalir oleh Bernard Lewis, sejak zaman Nabi Muhammad saw, umat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus, dengan Rasulullah sebagai kepala Negara. Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw tidak mempolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan agama untuk kepentingan politik.[19]

Dalam perjalanannya, Paham ini terus menular dan mulai memasuki dunia Islam pada awal kurun ke 20. Turki merupakan negara pertama yang mengamalkan paham ini di bawah pimpinan Kamal Artartuk. Seterusnya paham ini menelusuri negara Islam yang lain seperti di Mesir melalui polisi Napoleon, Algeria, Tunisia dan lain-lain yang terikat dengan pemerintahan Perancis. Dan, Indonesia, Malaysia masing-masing dibawa oleh Belanda dan Inggeris. Ini dapat kita lihat dengan munculnya dualisme yaitu agama satu sisi dan yang bersifat keduniaan satu sisi. Seperti pengajian yang berasaskan agama tidak boleh bercampur dengan pengajian yang berasaskan sains dan keduniaan.[20]

Disamping itu, sejarah yang paling kental tentang munculnya sekularisme adalah disebabkan dari bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya.[21]

Akibat karena kita mengikuti pola barat dengan memasukkan pola sekuler dalam tubuhnya, maka kaum muslimin ibaratkan seseorang yang ikut-ikutan meneguk obat padahal ia sesungguhnya tidak sakit sedikit pun. Sehingga keberadaan Islam kian hari semakin rancu, dan semakin diperparah oleh gerakan sekularisasi di negeri-negeri muslim. Padahal hakikatnya Islam sudah sempurna ia tidaklah pantas di samakan dengan kristen, maupun agama lainnya, Islam adalah agama yang tidak perlu di modifikasi dan sebagainya.[22]

[1] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[2] ibid

[3] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[4] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[5] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[6] http://gugahpratala.tumblr.com/post/92437684117/sekularisme-musuh-dalam-kehidupan-umat-islam (DIAKSES  17 JunI 2017)

[7] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKSES  17 JunI 2017)

[8] https://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/06/09/22971/infiltrasi-sekularisme-dalam-kurikulum-2013.html  (DIAKSES 16 JUNI 2017)

[9] IBID

[10] IBID

[11] http://www.goodreads.com/book/show/15767959-mengapa-barat-menjadi-sekuler-liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[12] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/ liberal (DIAKSES 17 JUNI 2017)

[13] IBID

[14] http://eramadina.com/islam-dan-sekularisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[15] http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/30/indonesia-antara-islam-dan-sekuler/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

[16] IBID

[17] IBID

[18] https://cokrowolopanguripan.wordpress.com/2015/02/15/bentuk-bentuk-sekulerisme-di-indonesia/(DIAKSES 17 JUNI 2017)

Lihat : http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-92302-Esay-Bentukbentuk%20Sekularisme%20di%20Indonesia.html

[19] http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2014/08/sekularisme-dan-pengaruhnya_24.html (DIAKES 17 JUNI 2017)

[20] https://senyumparainsan.wordpress.com/2015/02/02/dampak-sekularisme-terhadap-islam/(DIAKES 17 JUNI 2017)

[21] IBID

[22] IBID

Iklan

Ditulis dalam artikel filsafat

ONTOLOGI DALAM ISLAM

Oleh: ADING NASHRULLOH

 

Ilmu bertujuan agar sikap kita semakin baik, bijaksana dan terampil, dengan suatu tujuan yang jelas, bahwa semua itu adalah agar sepanjang hidup kita bermakna ibadah dan layak mendapatkan pertolongan serta hidayah sampai akhir hayat kemudian sikap-sikap ini bisa terwariskan kepada generasi selanjutnya.

 

Secara garis besar ontologi dalam Islam ada tiga, yeitu Allah, Alam dan Hari Pertemuan. Allah, Dialah yang menciptakan alam dan akan mengadakan hari pertemuan tersebut. Alam adalah segenap makhluk yang telah diciptakannya; alam merupakan kalamNya dalan ayat-ayatNya yang tidak tertulis. Sedangkan hari pertemuan merupakan hari di mana manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatan dan amanah yang telah diperbuatnya.

 

Ontologi merupakan pokok-pokok perkara yang ada secara hakiki. Yang merupakan wilayah kajian pengetahuan. Pengetahuan tentang Allah, alam dan hari pertemuan, memang bukan merupakan jaminan bahwa seseorang yang menguasainya secara baik, akan menjadikan dirinya baik dalam beribadah dan berakhlak secara benar di dalam kehidupannya.

 

Akan tetapi pada faktanya secara umum, hanya orang-orang yang berimanlah yang mau mengetahui secara mendalam dan luas akan Allah, hari kiamat dan kehidupan ini. Sehingga sikap mereka semakin baik dan peran mereka semakin berarti. Itulah sebenarnya yang merupakan pokok tujuan dari penulisan kajian-kajian tentang ontologi Islam di dalam kitab dan karangan para ulama. Semakin mendalam pengetahuan kita tentang Allah, hari akhirat dan kehidupan ini, rasa takut kepada Allah akan semkain besar. Pada akhirnya berefek pada tabiat taat dan bersih hati.

 

Ontologi selalu berkaitan dengan epistemologi, akisologi, dan metodologi. Ontologi tentang Allah, Kehidupan dan Hari Pertemuan menuntut seseorang untuk mengambil sumber pengetahuan yang telah ditentukan. Sehingga diperoleh informasi yang benar tentang ketiga perihal ini. Demikian pula pengetahuan tentang hal tersebut menuntut seseroang untuk memilliki nilai diri yang telah ditentukan pula. Yaitu agar ia aktif dalam ibadah dan menjaga akhlak-akhlak dalam kehidupannya.

 

Orang-orang yang beriman sekali pun ia telah beriman sejak lahir, karena dilahirkan di tengah orang tuanya yang mukmin, tetap wajib untuk mendalamontologi Islam. Sebab untuk melahirkan mukmin yang miliitan, tidak bisa tanpa pengetahuan yang benar dan mendalam tentang Allah, kehidupan dan hari pertemuan ini. Dengan demikian, aspek ontologi Islam harus menjadi sentral pembahasan dalam ilmu-ilmu dan pelajaran-pelajaran yang diselenggarakan di tengah masyarakat Islam, baik di tengah keluarga, sekolah dan masyarakat itu sendiri.

 

Allah

 

Siapa Allah ?

 

Allah adalah Rabb. Artinya Dialah yang menciptakan alam semesta. Termasuk di dalamnya manusia. Termasuk alam itu adalah ghaib. Ada malaikat dan jin, serta alam ruh, alam barzakh.

 

Allah itu Esa. Tidak ada sekutu bagiNya. Tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan. Serta tidak ada satu hal pun yang sama denganNya. Allah adalah Rabb manusia. Semua manusia diciptakan oleh Allah. Karena Allah adalah Rabb manusia, maka manusia harus berbakti kepada Rabbnya dengan menjadikan Dia sebagai Ilahnya. Menjadikan Allah sebagai Ilah merupakan tuntutan dari Allah kepada makhlukNya bernama manusia.

 

Allah adalah Ilah. Artinya Dialah yang memegang hak untuk disembah di alam ini. Manusia hanya dibenarkan menyembah hanya kepada Allah semata. Manusia dilarang keras menyembah kepada selain Allah. Menyembah kepada selain Allah merupakan suatu dosa yang sangat besar.

 

Bagaimana cara manusia menyembah kepada Allah, mesti mengikuti cara para Nabi menyembahNya. Sebab, cara menyembah Allah, tidak bisa melalui kreasi akal atau seni manusia. Sedangkan para Nabi itu adalah manusia pilihan Allah yang diutus olehNya kepada manusia untuk menyeru kepada peribadatan kepadaNya.

 

Dari mana kita tahu Allah?

 

Manusia bisa mengenal Allah dengan banyak jalan. Melalui pendidikan, membaca, mendengar, meneliti dan berfikir. Banyak sekali informasi tentang Allah. Dan informasi yang akurat tentang Allah di dapat manusia melalui wahyu. Wahyu itulah yang merupakan sumber informasi tentang Allah sebelum ada di dalam sistem pendidikan, bacaan selain kitan suci, ceramah para mubaligh atau Dai.

 

Untuk mengenal Allah, seseorang mesti mengenall wahyu dan Rasul. Dengan mengenal wahyu dan Rasul, maka banyak hal yang dapat dikenali selanjutnya. Terutama konsep tentang agama, akhirat, rasul, kewajiban dan larangan dalam hidup.

 

Bagaimana nilai kita terhadap Allah?

 

Dalam kaitannya dengan Allah, nilai manusia terdiri atas berbagai golongan. Ada yang mengetahuiNya, ada yang tidak. Ada yang meyakiniNya, ada yang meragukanNya. Manusia yang mengetahui dan meyakiniNya, disebut orang beriman. Yang tidak mengetahuiNya dengan benar, disebut dengan sebutan orang jahiliah. Yang tidak meyakininya disebut dengan kafir. Orang jahiliah itu termasuk salah satu golongan kafir.

 

Manusia bila ingin termasuk orang yang beriman, maka ia harus meninggalkan kekafiran. Ia harus masuk ke dalam agama Islam. Kenapa Islam? Tidak agama yang lain? Sebab Islam merupakan syarat diterimanya ibadah. Hal itu disebabkan karena hanya Islam yang merupakan satu-satunya agama yang direstui di muka bumi oleh Allah. Dan karena Islam datang dari Allah. Allah telah menetapkan Islam sebagai agama yang sah di sisiNya. Agama-agama lain tidak diterima Allah.

 

Penetapan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang sah di sisi Allah, dikemukakan Allah di dalam al-Quran. Al-Quran itu sendiri merupakan firman Allah. Seluruh kandungan di dalam al-Quran adalah wahyu atau kalam atau perkataan Allah. Bukti bahwa al-Quran merupakan wahyu Allah, adalah kemukjizatan yang dimiliki al-Quran itu sendiri. Mukjizat itu membuktikan bahwa al-Quran bukan buatan manusia.

 

Kebenaran Islam berdiri di atas wahyu, akal dan bukti-bukti. Artinya tidak akan ada di dunia ini hal yang bisa membantah kebenaran Islam, tidak akan ada pemikiran yang bisa meruntuhkan argumentasi bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, dan tidak ada satu pun bukti yang bisa mendukung suatu perkataan bahwa Islam adalah agama yang salah. Bukti-bukti menunjukkan akan keagungan dan kebenaran Islam.

 

 

Alam

 

Apa itu alam?

 

Alam adalah makhluk, ayat dan kalam Allah yang tersirat. Makhluk Allah berarti, alam ini ada karena diciptakan Allah. Dan Allah terus menerus memeliharanya. Ayat Allah, maksudnya, bahwa alam ini merupakan bukti akan adaNya Allah, bukti keagungan dan kesempurnaanNya. Allah tidak bisa diindra, tetapi keberadaanNya didapat melalui bukti adanya alam ini. Setiap penelitian dan penjelajahan alam yang teliti dan jujur akan selalu mengantarkan manusia kepada kekaguman kepada Allah.

 

Kalam Allah yang tersirat, bararti, alam ini menggambarkan keluasan dan keluhuran ilmu Allah. Allah merancang alam semesta ini dengan ilmu yang rumit, perhitungan yang sangat akurat, dan keseimbangan yang sangat tinggi. Berarti orang yang mendalami seluk beluk alam ini, pastilah akan diantarkan hati nuraninya kepada suatu rasa kagum kepada Allah.

 

Karena alam ini merupakan makhluk Allah, maka tidak boleh disembah. Alam ini diciptakan Allah adalah untuk kepentingan manusia semata. Ini karena manusia merupakan makhluk utama di alam semesta. Untuk itu manusia harus bersyukur kepada Allah atas nikmat alam ini. Bersyukur atas karunia Allah berupa diwujudkan dirinya dan dibentuk dalam sebaik-baiknya bentuk. Dibekali pula akal fikiran dan hati nurani. Tak cukup itu, manusia dibekali pula Islam. Dibekalinya suatu sistem kehidupan sosial yang berintikan kasih sayang. Intinya alam ini adalah kehidupan bagi manusia.

 

Dari mana kita tahu alam?

 

Bahwa alam semesta ini merupakan ciptaan Allah dapat kita ketahui dari wahyu. Selanjutnya di alam itu sendiri, melalui kekuatan akal fikiran dan indra, adpat disimpulkan bahwa alam ini berawal dari penciptaan. Artinya ada yang menciptakan. Hanya akal fikiran tidak sampai kepada suatu nama tentang apa dan siapa yang telah berbuat menciptakan tersebut.

 

Alam semesta diketahui melalui indra dan akal. Hanya saja pengenalan akal dan indra akan alam semesta tidak menjangkau alam ghaib. Sebab itu sumber pengetahuan manusia untuk memahami akan alam semesta beserta alam ghaib tidak mungkin hanya dengan mengandalkan temuan indra dan akal saja. Manusia perlu dibantu oleh wahyu untuk memberikan suatu pengetahuan dan penjelasan seperlunya tentang alam ghaib dan hakikat alam semesta. Wahyu dari Allah berupa al-Quran memberikan penjelasan tentang alam ini.

 

Salah satu unsur alam adalah manusia. Bagaimana manusia mengenal dirinya dengan benar? Banyak jalan. Dan tentu saja jalan utama untuk mengetahui hakikat manusia adalah dengan wahyu. Wahyu menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan Allah, hidup di dunia yang disediakan Allah, hidup disertai potensi dan tanggung jawab, dan kemudian akan dikembalikan kepadaNya di hari kiamat kelak. Penjelasan ini ada di dalam wahyu. Tanpa wahyu manusia tidak akan mengetahu hakikat ini. Dan jika tidak mengetahui hakikat ini, maka ia akan hidup mengikuti apa saya yang dituju oleh akal, perasaan dan hawa nafsunya. Dengan dasar pengetahun yang diambil dari wahyu, maka pengetahuan tentang manusia yang diperoleh melalui akal dan indra, akan jelas arahnya.

 

Bagaimana nilai kita terhadap alam?

 

Sikap manusia yang seharusnya terhadap adalah mengurusnya dan mensyukurinya. Dua hal ini harus berbarengan ada. Karena sikap ini yang akan menjadikan hidup manusia penuh berkah di bumi. Jika manusia tidak bersyukur, padahal ia terus menerus mengelolanya, maka akibatnya adalah suatu kerusakan parah pada kehidupan manusia. Mungkin sebagian manusia berfikir, tanpa syukur asal pandai mengurusnya, maka hidup manusia akan damai, sejahtera dan nyaman. Itu tidak benar. Yang benar, hidup manusia akan hancur. Sebab itu sikap syukur harus ada ketika kita hidup di alam ini.

 

Alam ini terkait dengan penciptanya yaitu Allah. Dan terkait dengan hari pertemuan manusia dengan Allah saat hari kiamat tiba. Yaitu bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas perbuatannya selama hidup di dunia. Alam semesta ini adalah saksi dan tempat manusia berbuat selama hidupnya.

 

Nilai manusia dalam kaitannya dengan alam ini dibagi dua. Golongan pertama, yaitu yang tertipu dengan dunia atau alam ini. Golongan kedua, yaitu yang mejadikannya sarana untuk menguatkan ibadah kepada Allah. Golongan orang kafir, semuanya termasuk yang tertipu dengan dunia. Dan di kalangan golongan orang beriman, mungkin ada yang tertipu dengan dunia. Ia lupa untuk bersedekah dan lupa sehingga ia menjadikan dunia sebagai mimpi besar dari usia kehidupannya. Ia lalai dari mengingat Allah karena sibuk dengan urusan dunia dan angan-angannya.

 

Diantara kelompok manusia ada yang tidak mempercayai bahwa alam ini diciptakan oleh Allah. Mereka menganggap Allah itu tidak ada. Sehingga mereka menolak wahyu dan agama. Kehidupan hanya dipandang sebatas kehidupan di dunia ini. Setelah itu manusia tidak akan ditanyai tentang apa pun yang pernah diperbuatnya selama hidup di dunia.  Berangkat dari keyakinan ini, kemudian mereka merasa bebas untuk melakukan apa pun yang mereka sukai di sepanjang kehidupan sekalipun yang dilakukannya itu merupakan perkara yang rendah dan hina.

Hari Pertemuan

 

Apa itu hari pertemuan?

 

Dunia ini, atau alam semesta ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Demikian juga manusia. Hanya saja manusia tidak sekedar bahwa ia sedang menuju akhirat, tetapi sedang menuju hari disaat ia akan dimintai pertanggungan jawab atas seluruh amal dan hal yang telah dilakukan dan diperlakukannya. Itulah hari pertemuan besar antara manusia dengan khaliknya yaitu Allah Swt. Hari itu merupakan hari yang pasti, hari yang tidak bisa diragukan akan kedatangannya.

 

Hari tersebut dinamakan dengan hari agama. Karena hanya agama sajalah yang berharga di waktu itu. Manusia ketika meninggal tidak ada yang dibawanya melainkan agamanya ikut serta. Dan dengan agama itulah ia mempertaruhkan takdirnya di akhirat. Agama berarti sikap manusia terhadap Islam dan sikapnya di dalam Islam. Bila ia bersikap iman kepada Islam dan patuh tunduk menjalankan Islam dengan penuh keikhlasan dan pembelaan, itulah yang akan menjadi agamanya, yang akan dibawanya hingga akhirat kelak itu.

 

Hari pertemuan itu melingkup segala ihwal keakhiratan. Tahapan-tahapan yang akan dilalui manusia di hari tersebut, merupakan tahapan yang berat. Termasuk di dalamnya surga dan neraka. Hisab dan timbangan amal manusia perseorangan. Di hari tersebut manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak ada kekerabatan, pertemanan dan perniagaan yang terjadi, sebagai sarana untuk saling tolong menolong. Dan masih banyak hakikat-hakikat lainnya tentang akhirat tersebut.

 

Bagaimana kita tahu akan hari pertemuan?

 

Semua informasi tentang akhirat tidak dapat dicapai dengan pengamatan indra dan akal. Namun akal bisa membenarkan akan keberadaannya, sesuai hukum akal. Hukum akal berpendapat bahwa adanya akhirat atau hari pertemuan dengan Allah merupakan sesuatu yang mungkin. Hanya saja kemudian, informasi yang sampai kepada manusia melalui wahyu, dapatlah sampai akal pada kepastian keyakinan bahwa akhirat itu adalah ada.

 

Bagaimana nilai kita terhadap hari pertemuan

 

Informasi tentang Allah dan akhirat, beserta asal mula alam semesta hanya dapat diperoleh melalui wahyu. Dan pengetahun ini merupakan pondasi bagi menentukan sikap dan kewajiban yang melekat pada manusia sebagai makhluk Allah.

 

Dalam menyikap akhirat atau hari pertemuan, manusia terbagi atas dua golongan besar. Yaitu golongan yang meyakini akan keberadaannya nanti sehingga ia menjadikan semua sikapnya menjadi berorientasi akhirat. Dan golongan yang tidak meyakininya. Biasanya golongan ini sekaligus tidak meyakini Allah dan tidak meyakini wahyu. Mereka menjadikan hidup hanya sebatas bingkai kehidupan dunia dan berorientasi kebendaan semata.

 

Bagaimana Pengaruh Pengetahuan ini?

 

Allah dan hari pertemuan denganNya merupakan hal yang ghaib. Hal yang tidak bisa dicapai dengan indra. Namun keberadaanya dapat diterima oleh akal dan hati manusia. Boleh jadi kebanyakan manusia membenarkan keberadaan Allah dan hari pertemuan denganNya, mereka pun mengetahuinya sesuai informasi yang mereka peroleh dari kitab al-Quran. Dan ini merupakan modal terbaik untuk menjamin bahwa perbuatan manusia akan menjadi baik.

Hanya saja, dalam perkembangannya kemudian, terjadilah kualitas-kualitas yang berbeda-beda pada diri manusia. Namun secara umum, semakin seseorang tinggi keimanan, maka kebutuhannya akan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat semakin besar. Kebutuhannya terhadap pengetahuan agama semakin besar. Atau bisa saja, bahwa kenyataan seseorang dididik dengan pengetahuan yang mendalam tentang Allah dan hari akhirat, maka kemungkinan besar, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik akan keimanannya.

Adapun mengenai hubungan antara seseorang dengan dunia, tatkala ia mengetahui hakikat dunia dan menguasai hukum-hukum dunia, ia akan bersikap zuhud. Zuhud itu hakikatnya adalah menguasai dunia untuk ditundukkan demi kepentingan agama. Rasulullah dan Para Sahabat sebagai teladan dalam beragama, benar-benar menguasai urusan dunia sesuai konteks zamannya, baik teknologi, sosial, negara, ekonomi, diplomasi, militer, kekayaan, kemudian menjadikan semua itu sebagai sarana untuk kepentingan dakwah dan meninggikan kalimat Allah, itula zuhud.

 

Kesimpulan

 

Ontologi dalam Islam secara garis besar terdiri atas tiga ranah besar, yaitu Allah sebagai Rabb, Ilah dan Malik bagi manusia. Kemudian alam semesta sebagai ayat-ayatNya dan karuniaNya. Dan terakhir Hari pertemuan atau hari akhirat. Semua usaha terkait dengan Pengetahuan dan Nilai manusia berorientasi kepada ketiga keberadaan tersebut.


WAHYU SUMBER ILMU

Wahyu Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

(Perspektif Islam dan Barat)

 

Oleh : Abdul Karim[1]

 

  1. Pendahuluan

 

Pembahasan mengenai sumber-sumber ilmu pengetahuan dirasa penting akhir-akhir ini, karena banyak dari kita belum mengetahui dari mana pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh berasal, melalui cara seperti apa dicapai, dan bagaimana kerangka ilmu pengetahuan itu dibangun, oleh karena itu, epsitemologi [2] islam sangat penting untuk dikaji sebagai sebuah alternatif terhadap sistem epistemologi barat yang begitu mendominasi wacana epistemologi kontemporer.

 

Sebelum membahas wahyu, kita akan berkenalan terlebih dahulu dengan “alat” untuk mencapai sumber-sumber ilmu pengetahuan itu, yaitu : panca indera, akal, hati(intuisi ) dan terakhir Wahyu, yang  menjadi fokus pembahasan kita selanjutnya, dan bagaimana posisinya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

 

Selanjutnya, pembahasan tentang wahyu akan dikupas secara mendalam, dimulai dari makna Wahyu itu sendiri secara bahasa, kemudian makna-makna wahyu yang terdapat di dalam al-Qur’an, hingga makna wahyu secara syar’i (yang diinginkan dari pembahasan ini), yakni : Wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pembawa risalah kenabian terakhir, yang nantinya terpresentasikan menjadi Ilmu-ilmu Agama islam.

 

Segala hal tentang Wahyu dibahas di lebih dalam di bagian ini, mulai dari tata cara turunnya wahyu, yakni terangkum melalui tujuh macam tahapan penurunan. Lalu, bukti-bukti secara akal yang menekankan keniscayaan terjadinya wahyu, juga berfungsi sebagai bantahan bagi para pengingkarnya. Yang mana mereka tidak memercayai adanya wahyu, karena pandangan hidup mereka bersifat materialis-sekularis dan menafikan metafisika[3].

 

Kemudian, kita akan membahas karakteristik wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan menurut pandangan Islam, yang sangat berbeda dengan sumber-sumber pengetahuan lain (yang hanya mengandalkan alat pemerolehannya melalui panca indra dan akal saja), dimulai dari Pemerolehannya dengan kehendak Allah bukan dengan usaha sendiri, Ketidaktundukkan Wahyu akan kehendak rasul dalam penurunannya, Keyakinan mutlak dengan ilmu yang diberikannya, Keterbebasannya dari pengaruh waktu dan tempat, Penafian hulul (bertempatnya) Allah dalam tubuh rasul ketika menerima wahyu dan terakhir bahwa wahyu memiliki sandaran yang jelas dan otoritatif, yakni Allah swt.

 

Selanjutnya, akan dibahas keistimewaan–keistimewaan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, yakni ia memiliki cara khusus dalam cara pemerolehannya yang berbeda dengan sumber ilmu perngetahuan lain, berunsur ketuhanan, ia bersifat tetap dan tidak berubah-rubah, komprehensif, seimbang dan positif dalam ilmu yang diberikannya.

Dan terakhir adalah bagaimana barat memandang wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun sebelumnya, kita ingin membicarakan dahulu siapa sebenarya barat itu?. Dan disini kita hanya akan membahas tiga kelompok yang dianggap cukup mewakilkan perspektif barat terhadap wahyu, yakni : Filosof Yunani, Filosof nasrani dan terakhir Filosof Barat modern.

 

  1. Pengantar tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan

Ilmu dalam epistemologi Islam mempunyai kemiripan dengan istilah “science” dalam epistemologi barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi barat, dibedakan dengan “knowledge”, Dan Ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan “opini”.

 

Sementara sains di barat dipandang sebagai “Sebuah Pengetahuan yang terstruktur atau terorganisir” (any organized knowledge). Dan ilmu di dalam Islam didefinisikan sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala maa huwa ‘alaihi). Dengan demikian ilmu bukan sembarang pengetahuan atau hanya sekedar opini, melainkan ia adalah pengetahuan yang teruji kebenarannya. Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sains, hanya, sementara sains “pada masa selanjutnya” dibatasi pada bidang-bidang fisik atau inderawi saja, dan Ilmu melampauinya pada bidang-bidang nonfisik, seperti metafisika.

 

Menurut kamus Webster new world dictionary, kata “science” berasal dari kata latin scire yang artinya Mengetahui. Secara bahasa, science berarti “Keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan”. Namun kata ini kemudian mengalami “perubahaan pemaknaan” sehingga berarti “Pengetahuan yang sitematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji”. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran makna sains dari pengetahuan biasa, menjadi pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi inderawi. Tren ini kemudian mengarah pada pembatasan lingkup sains pada dunia fisik saja, bukan yang lain.[4]

 

Nah, sekarang marilah kita beralih pada pengertian atau pembahasan tentang ilmu. Ilmu berasal dari kata ‘alima yang artinya mengetahui. Jadi, kata ilmu secara harfiah tidak berbeda dengan katascience yang berasal dari kata scire yang artinya juga mengetahui. Ilmu disini didefinisikan, misalnya oleh ibnu hazm, sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala ma huwa ‘alaihi).

 

Pengertian ilmu sebagai pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa ilmu tidak begitu saja sama dengan pengetahuan biasa, karena pengetahuan biasa saja, tidak sebagaimana adanya, tetapi lebih sebagai pengetahuan umum yang didasari pada opini atau kesan keliru dari indera. Oleh karena itu, pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa pengetahuan tersebut haruslah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan tidak berdasarkan praduga dan asumsi belaka, dengan demikian ilmu memiliki kriteria yang juga dimiliki oleh sains (dalam epistemplogi barat) sebagai pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi.[5]

 

Demikian dapat disimpulkan bahwa pada awalnya ilmu dan sains mempunyai pengertian yang sama, bahkan juga lingkup yang sama, namun kemudian sains membatasi dirinya pada dunia fisik (dengan segala kompleksitasnya), sedangkan ilmu masih tetap meliputi tidak hanya bidang fisik, tetapi juga bidang lain seperti metafisika dan lain sebagainya.

 

Opini, seperti yang telah disinggung adalah pengetahuan umum atau sembarang pengetahuan yang kebenarannya belum teruji melalui penelitian-penelitian secara seksama.[6]

 

Pembatasan lingkup sains (epistemologi barat) pada bidang fisik–empiris membuat pandangan dunianya bersifat sekuler-materialistis. Berbeda dengan sains yang mengandalkan observasi inderawi dan filsafat berdasarkan penalaran rasional atau logis, Agama pada dasarnya bersandar pada Wahyu. Bersandar pada wahyu berarti bersandar pada otoritas, yaitu otoritas dari penerima wahyu (disebut Nabi) sebagai utusan Tuhan yang paling  terpercaya. Tujuan ilmu-ilmu Agama, menurut Ibnu Khaldun, bersifat praktis, yaitu untuk menjamin pelaksanaan kehendak Allah, yang tertuang dalam syariatNya, sedangkan ilmu-ilmu rasional bersifat teoritis karena ingin mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya “ melalui penalaran”.

 

Agama dapat memberi penjelasan yang terperinci tentang pelbagai hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains dan tidak bisa diolah semata-mata oleh akal manusia, misalnya tentang nasib manusia setelah kematian, keadaannya di alam kubur, dan setelah hari kebangkitan, hanya Agama melalui wahyu yang diturunkan kepada para utusan Tuhan, yang dapat menguak dengan jelas dan otoritatif alam-alam gaib tersebut, bukan sains, dan bahkan, bukan pula filsafat.

 

Maka dari itu, Teori ilmu pengetahuan atau epistemologi, tidak dapat menghindarkan pembahasan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan, yakni sebagai tempat bahan-bahannya diperoleh. Sumber-sumber itu menurut epistemologi islam, tak lain adalah panca indera, akal, hati (intuisi) dan Wahyu.[7]

 

  1. Panca Indera.

 

Panca Indera sebagai sumber pengetahuan, sepintas lalu, tampaknya telah mencukupi kebutuhan kita akan pengetahuan, karena melalu panca indera, kita bisa mengenal lima dimensi, dari sebuah benda yang kita amati. Persepsi indera telah cukup memadai untuk menghindari diri dari banyak bahaya yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Namun, pertanyaannya sekarang adalah apakah panca indera saja sudah cukup memasok kebutuhan kita akan ilmu sebagai pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya?. Apakah misalnya penglihatan kita telah mampu memberi kita pengetahuan tentang sebuah benda, katakanlah langit, bulan atau bintang ?. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa langit itu biru, bulan itu pipih seperti piring, atau bintang itu kecil. Namun, Apakah penglihatan kita melaporkan benda-benda itu sendiri sebagaimana adanya, atau hanya semata-mata kesan yang terserap oleh mata kita belaka? Apakah kesan indera kita itu sama dengan kenyataan (sebagaimana adanya) ?. Ternyata, dengan pertanyaan yang sedikit kritis terhadap pengetahuan indera, kita tahu bahwa kesan indera itu tidaklah sesuai dengan keadaan benda itu sebagaimana adanya, bahwa kita menduga langit itu berwarna biru,  padahal langit itu sendiri tidak jelas definisinya.dan bagaimana bentuknya yang sebenarnya.

 

Indera kita mengesankan bahwa langit itu seperti kubah besar yang dapat dilihat dari dalam dengan bintang-bintang dan bulan menempel disana, tentu saja itu tidak sebagaimana adanya karena yang kita sebut langit : adalah ruang angkasa yang tak terukur jauhnya, yang tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan kita. Berdasarkan penglihatan, kita akan menduga bahwa bintang yang berkerlap-kerlip di langit ada disana pada saat kita melihatnya, padahal, menurut penyelidikan ilmiah, bisa saja cahaya bintang yang kita lihat sekarang  telah sirna karena bisa jadi cahaya bintang yang kita lihat sekarang adalah cahaya yang berjarak jauh, yang membutuhkan jutaan tahun untuk merambat sampai ke mata kita, jadi disini menjadi jelas, bahwa kesan yang kita tangkap jauh berbeda dengan keadaan sebenarnya.

Dari contoh diatas kita menjadi sadar betapa indera kita yang sepintas, telah (dirasa) cukup memberi kita pengetahuan (informasi) tentang benda-benda inderawi. Ternyata, kita tidak cukup memadai untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, jika hanya mengandalkan panca indera saja. oleh karena itu, kita membutuhkan bantuan alat atau sumber lain untuk pengetahuan kita, dalam rangka untuk mengetahui tentang sesuatu sebagaimna adanya, yakni akal.[8]

 

  1. Akal

 

Akal bagi Imam Al-Ghazaly lebih patut disebut  sebagai sumber ilmu daripada indera. Misalnya, indera kita dapat melihat bulan separuh saja pada satu saat, mata tidak dapat membuktikan adanya paruh lain dari bulan yang tidak terlihat. Dalam hal ini hanya akal lah yang dapat menyempurnakan bentuk bulan itu sebagaimana adanya, yang berbentuk bola. Demikian juga akal lah dengan memakai ukuran tertentu yang dapat menaksir dan menunjukkan dengan logika atau model matematika, ukuran sebuah planet, bintang dan matahari, atau keliling bumi. Dengan akal juga lah kita dapat menyatakan bahwa pensil dalam gelas yang penuh air itu lurus, sekalipun tampak pada pandangan kita bengkok, karena bias cahaya.

 

Pertanyaan penting sekarang adalah bagaimana sebenarnya akal dapat menyempurnakan pencerapan indera kita dan memperbaiki kekeliruan kesan yang diterimanya?. Manusia dibedakan dari hewan oleh kecakapan mental yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh hewan apapun, yaitu Akal. Akal dapat melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh indera kita, yaitu kemampuan untuk bertanya secara kritis. Melalui kemampuannya untuk menanyakan beberapa hal penting seperti apa, dimana, kapan mengapa, bagaimana, siapa dan lain-lain. Akal telah menjadi sumber informasi yang luar biasa kayanya dengan menjawab semua pertanyaan tersebut, yang semuanya tidak bisa dipasok oleh panca indera.[9]

 

Namun kelebihan yang paling istimewa dari akal terletak pada kemampuannya untuk menangkap  “esensi” dari sesuatu yag diamati atau dipahaminya. Dengan kecakapan ini, akal manusia dapat mengetahui konsep universal dari sebuah objek yang diamatinya lewat indera yang bersifat abstrak dan tidak lagi berhubungan dengan data-data partikular. Ketika kita memahami “esensi” manusia, sebenarnya kita bukan lagi berbicara tentang manusia a arau b melainkan berbicara tentang manusia dalam pengertian yang universal atau tentang sifat dasar kemanusiaan. Dengan kemampuan akal menangkap esensi dari benda-benda yang diamatinya, manusia bisa menyimpan jutaan “makna“ atau pemahaman tentang pelbagai objek ilmu yang bersifat abstrak sehingga tidak memerlukan ruang fisik yang luas di dalam pikiran kita.[10]

 

Namun, bisakah kita hanya dengan mengandalkan dari dua sumber alat pengetahuan itu, yakni indera dan akal untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya?. Ternyata tidak, akal juga memerlukan sumber ilmu pengetahuan lain, karena akal juga mempunyai beberapa kelemahan.  Inilah beberapa kelemahan akal :

 

(1) Jalaluddin rumi berkata “ Akal boleh menguasai seribu cabang ilmu, tetapi tentang hidupnya sendiri, ia tidak tahu apa-apa, akal memang sangat berguna sebagai sumber ilmu, tetapi hanya sebagai kecakapan intelektual atau kecerdasan intelegensi, akal sering dibuat tidak berdaya, terhadap persoalan-persoalan hidup yang lebih dalam, yang menyangkut kehidupan emosional manusia. Ketika dihadapkan pada persoalan cinta, misalnya, akal tidak bisa berkata apa-apa. Pikiran kita akan buntu dan lidah menjadi kelu. Dengan kata lain, akal tidak mengerti banyak tentang pengalaman-pengalaman eksistensial, yaitu pengalaman yang secara langsung kita rasakan, dan bukan seperti yang kita konsepsikan, hanya hati( intuisi) yang mampu melakukannya.

 

(2) Akal dengan kebiasaannya meruang-ruang apa pun yang menjadi objeknya, Sehingga cenderung memahami sesuatu secara general atau homogen, sehingga tidak mampu mengerti keunikan sebuah “momen” atau “ruang” sebagaimana yang dialami secara langsung oleh seseorang. Bahwa setiap saat dari kehidupan kita itu unik, sulit dimengerti oleh akal, karena bagi akal, satu menit di sini akan sama saja dengan satu menit dimana pun. Atau, satu jengkal di sini, akan sama saja dengan satu jengkal di mana pun. Akal tidak akan mengerti mengapa bagi seseorang ada hari yang baik dan hari yang buruk. Demikian juga, akal tidak akan mengerti bagi orang-orang tertentu, ada tempat-tempat yang sakral dan ada yang profan.

 

(3) Akal, seperti yang dikatakan oleh rumi, tidak mampu memahami objek penelitiannya secara langsung karena akal dengan menggunakan kata-kata atau simbol hanya akan berputar-berputar seputar objek tersebut saja, tetapi tidak pernah dapat secara langsung menyentuhnya. Pengenalan akal terhadap objeknya adalah pengenalan yang bersifat simbolis, yakni melalui kata-kata, tetapi kata-kata saja tidak akan pernah memberi pengetahuan yang sejati (sebagaimana adanya) tentang sebuah objek yang dipelajarinya. Oleh karena itu, akal membutuhkan bantuan sumber lain untuk memahami sesuatu sebagaimana adanya, yakni hati (intuisi).[11]

 

  1. Hati (Intuisi)

 

Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan melalui panca indera maupun melalui akal, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Dan intuisi adalah pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu.[12]

 

Imam Al-ghazaly berkata “ketika kita dalam keadaan tidur(mimpi), tampak semua seperti masuk akal, tetapi ketika kita tersadar tampak betapa apa yang ada dalam mimpi, tidak masuk akal karena akal tidak mampu memahaminya”, bahkan Ibnu sina sendiri,  sebagai filosof, yang sangat mengagungkan akal, tetap masih mengakui adanya daya yang lebih kuat daripada akal, yaitu “intuisi suci”, yang pada umumnya dimiliki oleh seorang nabi. Akal memang sangat kompeten untuk memahami apa yang disebut sebagai “pemahaman fenomenal“ tetapi tidak untuk “pengalaman eksistensial”, hanya hati atau intuisi lah yang mampu melakukannya yakni memahami secara penuh pengalaman tersebut.

 

Ketika akal tidak mampu memahami “Wilayah kehidupan emosional manusia” hati kemudian dapat memahaminya, hati (intuisi) yang terlatih akan dapat memahami perasaan seseorang. Ketika akal hanya berkutat, pada tataran kesadaran, hati bisa menerobos ke alam ketidaksadaran atau alam gaib sehingga mampu memahami pengalaman-pengalaman non inderawi termasuk pengalaman mistik atau religius. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan bahasa hati dengan makhluk-makhluk gaib, seperti malaikat, jin bahkan Tuhan sendiri, seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.

 

Hati juga mempunyai kemampuan untuk mengenal objeknya secara lebih akrab dan langsung. Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan eksperiental atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Ia mengerti “manis” bukan dari kata orang ataupun melalui bacaan, melainkan melalui mencicipinya. Ia, misalnya mengerti “cinta” bukan melalui mulut orang atau bacaan dan teori–teori cinta yang sering jauh berbeda dengan yang dialami, melainkan memahaminya dengan betul–betul jatuh cinta. Tidak bisa terbayangkan indahnya “mencintai” bagi akal, tetapi hati sangat memahaminya, sekalipun mungkin ia tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, karena mengungkapkan perasaan cinta mengharuskan kita menggunakan “peraturan” bahasa yang bersifat rasional dan logis.

 

Selain itu, pengetahuan hati juga disebut “presensial” karena objeknya dipandang hadir dalam diri atau jiwa seseorang. Tidak ada lagi jurang yang memisahkan seseorang dari objek yang ditelitinya karena ia telah bersatu dan telah hadir pada dirinya. Dari sinilah kita dapat mengerti mengapa banyak para sufi yang telah merasa bersatu dengan kekasihnya yaitu Tuhan.[13]

 

Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul di benaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bisa juga , intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak pada waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutinya. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya, dan kita merasa yakin bahwa memang itulah jawaban yang kita cari namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai ke sana.[14]

 

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diandalkan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur. Namun, Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.[15]

 

Setelah membicarakan intuisi beserta karakteristik dan keistimewaannya, sekarang kita beralih untuk membahas mengenai wahyu, yang mana akan kita bahas disini lebih dalam serta posisinya sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dalam pandangan islam.

 

  1. Wahyu

 

Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat “transendental[16]”seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan kepada hal-hal gaib. Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, maka wahyu merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.

 

Kepercayaan merupakan titik tolak dalam Agama. Suatu pernyataan harus dipercaya terlebih dahulu untuk dapat diterima. Singkatnya, Agama dimulai dengan rasa percaya. Pengetahuan lain, seperti ilmu biologi, umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya, dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula.[17]

 

  1. Wahyu menurut Islam

 

  1. Definisi wahyu

 

Dikatakan: “wahaytu ilaihi, aw awhaytu”: jika kamu mengatakan kepadanya dengan cara: kamu menyembunyikan perkataan itu dari selainnya, dan wahyu adalah isyarat yang cepat, dan itu terjadi dengan cara perkataan melalui lambang-lambang, atau simbol-simbol, dan kadang-kadang hanya dengan suara saja, atau dengan isyarat dengan sebagian anggota badan.

Wahyu adalah isim mashdar, dan asal kalimatnya menunjukkan dua makna asli, yakni “ketersembunyian dan kecepatan” maka dari itu, dikatakan di dalam maknanya : Pemberitahuan yang tersembunyi secara cepat dan khusus kepada yang ditujukan yang mana tidak diketahui oleh selain dirinya.[18]

Wahyu di dalam al-Qur’an secara bahasa mencakup banyak makna, diantaranya:

 

  1. Ilham yang secara fitrah untuk manusia . seperti wahyu dari Allah kepada ibu nabi musa “ Dan kami ilhamkan kepada ibu musa, susuilah dia” ( Al-qoshos ,ayat 7)
  2. Ilham yang melalui instink untuk hewan, seperti wahyu dari Allah kepada lebah “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah buatlah sarang-sarang di bukit-bukit , di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”( An-Nahl, ayat 68)
  3. Isyarat yang cepat melalui lambang atau simbol, seperti pewahyuannya nabi Zakariyya As yang Allah ceritakan kepadanya “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”(Maryam, ayat 11)
  4. Gangguan setan untuk menyuruh melakukan keburukan ke dalam jiwa manusia, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesunngguhnya kamu tentulah menjadi orang-oeang yang musyrik.” ( al-an’am, ayat 121)
  5. Perintah Allah kepada Malaikat-malaikatnya :”(ingatlah ) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat ‘ sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah (Pendirian) orang-orang yang telah beriman’” ( Al-Anfal, ayat 12)[19]

 

Para ulama sepakat bahwa wahyu Allah kepada nabi-nabinya secara syar’i yakni ; Perkataan Allah yang diturunkan kepada seorang nabi dari nabi-nabinya. Inilah definisi bagi wahyu yang memakai isim mashdar namun bermakna isim maf’ul atau al-muuhaa( yang diwahyukan). Dan wahyu dengan bermakna isim mashdar secara istilah adalah: “Pemberitahuan Allah kepada siapa saja yang dipilihnya dari hamba-hambaNya sesuai  keinginanNya untuk diberi hidayah  dengan cara tersembunyi dan cepat”.[20]

 

Ayat yang menerangkan tentang diturunkannya wahyu yakni: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan ( permulaann) Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara  hak dan bathil”.(Al-Baqarah, ayat 185)[21].

 

  1. Tata cara turunnya wahyu.

 

Allah melukiskan secara ringkas tahapan-tahapan dan dasar-dasar penurunan wahyu dalam surah As-Syuro  ayat 51. “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun mengetahui bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau melalui ‘di balik tabir’ atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinnya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana”.

 

Dari ayat diatas kita dapat memahami tentang tahapan-tahapan penurunan wahyu, yakni jika kita ringkas sebagai berikut:

  1. Allah menyampaikan apa yang diinginkanNya atau disampaikanNya kepada nabi secara langsung dengan cara yang tersembunyi cepat dan tanpa perantara.
  2. Allah menyampaikan wahyu kepada nabi dari balik tabir
  3. Allah mengutus malaikat kepada nabi, kemudian malaikat menyampakaikan kepada nabi apa yang diinginkan Allah kepadanya.[22]

 

Para ulama telah membahas tahapan-tahapan pewahyuan ini dan mencari keterangan keadaan-keadaanya yang terlukiskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah, dan kemudian merangkumnya kepada tujuh tahapan.

 

  1. Tahapan pertama: penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur, seperti yang dikatakan oleh sayyidah ‘aisyah dalam hadis shohih, “ Pertama dimulainya wahyu kepada rasul adalah melalui penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur”

 

  1. Malaikat datang kepada nabi secara sadar dan langsung. Maka malaikat meniupkan ke dalam hati dan pikirannya tanpa mendengar dan melihatnya, seperti yang diriwayatkan oleh syihab dan hakim dari ibnu mas’ud bahwasanya rasulullah saw berkata; “Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat jibril )memberikan ilham ke dalam hatiku dan bahwasanya jiwa tidak akan pernah mati sampai sempurna rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan berbagus-baguslah dalam meminta”

 

  1. Malaikat menjelma menjadi seorang laki-laki maka dia bercakap-cakap dengan rasul dan ia sadar secara langsung: seperti yang tertera di hadis masyhur dari pertanyaan jibril kepada nabi saw tentang islam iman dan ihsan.

 

  1. Malaikat jibril mendatangi nabi, dan nabi melihatnya dengan bentuk malaikat yang sebenarnya dan persis seperti penciptaannya dan nabi mendengarnya langsung, dan ini terjadi dua kali, pertama: ketika wahyu turun pada surah al-muddatsir, dan kedua, di langit pada lailatul mi’raj ketika di sidrotul muntaha atau langit ke tujuh seperti termaktub di surat an-najm ayat 13-17.”Dan sesungguhnya Muhammad telah meihat jibril itu (dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain. (Yaitu) di sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat jibril ) ketika di sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya ( Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak ( pula ) melampauinya”.

 

  1. Malaikat mendatangi nabi Muhammad dengan keadaan malaikat sebenarnya dan ia menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad, lalu nabi Muhammad mendengarnya namun tidak melihatnya, dalam keadaan ini wahyu datang seperti “berderingnya lonceng” dan itu adalah (keadaan turunnya) wahyu yang paling dahsyat yang datang kepadany

Empat macam tahapan pewahyuan ini, setelah tahapan pertama, semuanya adalah gambaran untuk satu tahapan wahyu, al-Qur’an menyebutkan, “Atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinnya apa yang dia kehendaki”

 

  1. Tahapan keenam : Allah menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad melalui “dibalik tabir”, seperti yang terjadi ketika lailatul mi’raj setelah ditetapkannya kewajiban sholat lima waktu, kemudian Allah berfirman “ ahkamtu faridhoty wa khoffaftuu ‘ala ‘ibadiy “ dan seperti yang terjadi kepada nabi Musa “ kallamallahu muusa takliimaa”

 

  1. Tahapan ketujuh : Allah menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad tanpa perantara malaikat dan tanpa melalui dibalik tabir, seperti yang diwahyukan kepada nabi Muhammad ketika lailatul mi’raj dan Nabi berada diatas langit, dari kewajiban sholat, dan tahapan ini masuk dalam firman Allah :

“ an yukallimallahu illa wahyan “.[23]

 

  1. Bukti-bukti ‘aqli terjadinya wahyu

 

Karna wahyu adalah pembahasan pertama dan terbesar untuk Agama Islam dan ia adalah jalan untuk sampai kepada pembahasan akidah, pensyariatan, hukum-hukum Agama dan Akhlaq, maka dari itu banyak sekali  para musuh-musuh Islam berusaha membenarkan pendapat mereka dengan cara menyamarkan antara wahyu dan perkatan nabi dengan cara yang dipercantik dan diperindah untuk mengokohkan pendapat mereka yang salah. Maka perlu di kelompokkan bahwa para pengingkar terhadap wahyu terdiri dari dua kelompok.

 

Kelompok Pertama: Para Ateis, mereka tidak beriman atau tidak meyakini keberadaan Tuhan sama sekali, kecuali, mereka hanya meyakini sesuatu yang besifat materi saja. Mereka bukan hanya mengingkari wahyu , tapi juga mengingkari lebih dari itu, yakni keberadaan Tuhan, maka sebaiknya kita tidak usah berdiskusi dengan mereka dalam masalah wahyu, apalagi berdiskusi dengan mereka dalam perkara Ketuhanan.

 

Kelompok kedua: Mereka beriman dengan keberadaan Allah namun mengingkari wahyu, baik itu mengingkari secara mutlak, karna mengingkari wahyu berarti mengingkari atau bukti secara akal untuk kemungkinan adanya kenabian(nubuwwah), atau mengingkari dengan cara dibungkus rapi yang terlihat mempertanyakan secara ilmiah, yakni mereka adalah para Orientalis.

 

Para orang sesat dari kebenaran diatas, adalah karna mereka telah mengurung diri mereka didalam lingkaran materialisme dan mereka tidak mengimani atau meyakini kecuali hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu-sesuatu yang dapat dirasakan dengan panca indera saja, dan meremehkan perkara-perkara gaib, seperti,ketuhanan, kenabian dan wahyu.

 

Maka wahyu sebenarnya sudah tidak bisa diragukan lagi kepentingannya, karena ia adalah  sebagai asas yang mana  dalil-dalil wahyu berdiri diatasnya, perkara-perkara yang terjadi dan tetap dan bukan hanya sekedar kemungkinan-kemungkinan belaka, karena wahyu dalam esensinya adalah sebuah ‘amaliah yang mempunyai fenomena-fenomenanya  sendiri, dan ia mempunyai hasil-hasilnya, yang tergambarkan didalam al-Qur’an, dan Wahyu mempunyai kedudukan tersendiri, yakni di kehidupan nabi dengan segala kejadian dan keadaannya.[24]

 

Nah, dari sini kita mengetahui kebutuhan atau kepentingan untuk berpegang teguh pada kejadian-kejadian yang tetap yang mana itu termasuk di dalam fenomena wahyu atau yang berkaitan dengannya. Dan ini adalah  beberapa bukti nyata akan keniscayaan terjadinya wahyu.

 

  1. Ilmu modern dan Hipnotis

 

Ilmu Modern

 

Sesungguhnya Ilmu modern bisa membuat atau menemukan kembali keajaiban-keajaiban yang telah kita ketahui, dan kita telah menyaksikan dan memanfaatkannya sendiri,seperti telefon nirkabel, mikrofon dan lain sebagainya. Nah, dari cara itu memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan siapa saja, di daerah atau kawasan-kawasan yang sangat jauh sekalipun, dan memahami, memahamkan atau mendapat petunjuk sesuai yang diinginkannya. Jadi, apakah masuk akal setelah banyak sekali ditemukannnya penemuan-penemuan hebat secara materi tersebut, Allah lemah dan tidak sanggup menyampaikan wahyu kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, melalui atau tanpa perantara malaikat? Padahal Allah lah Empunya dunia ini.[25]

Hipnotis

 

Ini adalah satu dari bukti-bukti ilmiah yang sangat jelas, yamg mana merepresentasikan wahyu dengan sebenarnya dan memperlihatkannya dengan cara eksprimen-eskperimen, namun mereka (para pengingkar wahyu) masih tidak mau mengakuinya hingga sekarang. Dengan cara mempertunjukkan bahwa ada hubungan antara jiwa manusia yang mempunyai kekuatan yang lebih besar darinya dengaan yang lebih lemah darinya, kadang-kadang orang yang memiliki jiwa lebih kuat, bisa membuat kejadian sesuai kehendaknya dan mengukir informasi-informasi di dalam jiwa yang lebih lemah terebut, yang mana belum pernah ada sebelumnya di dalam akalnya. Dan juga belum pernah terbesit sebelumnya. Dan inilah yang diperlihatkan oleh Allah dari bukti yang menakjubkan tadi, di dalam keajaiban hipnotis. Nah, dari sana orang yang menghipnotis bisa saja jika dia mau menghapus pemikirannya atau akidahnya dengan sekali tepukan atau isyarat, bahkan jika dia mau, dia bisa mengganti nama yang dihipnotis tadi dengan nama yang lain. Jika hal seperti ini bisa dilakukan antara manusia dengan manusia bagaimana pendapatmu jika yang melakukannya adalah Pemilik kekuatan sejagat raya?.[26]

 

  1. Postulat-postulat[27] yang menekankan terjadinya wahyu dari Allah

 

  1. Nabi Muhammad Saw telah tumbuh dalam keadaan ummy (tidak bisa membaca dan menulis) dan hidup di tengah-tengah lingkungan yang tidak bisa membaca dan menulis pula, dan nabi tidak mempunyai pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan sama sekali, kecuali pemikiran-pemikiran yang tersebar atau masyhur ketika itu, danbeliau (ketika itu) berada ditengah-tengah budaya asli yang kental dengan animisme, dan tradisi masyarakat badui (arab gurun). Orang arab ketika itu tidak mempunyai pengetahuan tentang kehidupan sosial bangsa-bangsa selainnya, itu terlihat jika kita kembali merujuk pada syair-syair arab masa jahiliyyah yang mana dianggap sebagai rujukan terpercaya tentang pembasahasn ini. Dan kepergian nabi Muhammad ke tempatuzlahnya(penyendiriannya) yakni di gua hira, dan beliau ketika itu masih tidak memiliki bekal ilmu sama sekali, kecuali pemikiran-pemikiran yang tersebar dan berkembang ketika dalam keadaan dan situasi masa itu. Pada umur nabi Muhammad yang ke-empat puluh tahun datanglah wahyu kepadanya, maka berbaliklah keadaan beliau, dari pengetahuan yang buta huruf sama sekali, dan terkelilingi dengan pagar ganda yakni dari kebodohan secara umum dan ketidakbisaan membaca dan menulis secar khusus bagi nabi Muhammad, kepada pengetahuan yang sangat besar. Dan dengan pengetahuan itu menantang manusia dan jin pada zamannya. Maka perpindahan ini, memberikan nabi Muhammad dalil aqly bahwasanya yang terjadi dengan diri nabi Muhammad itu, bukanlah berasal dari keadaannya secara sendiri, tapi ia berasal dari sumber yang Maha tinggi, yakni berasal dari Allah Swt.[28]

 

  1. Sesungguhnya apa yang datang dari al-Qur’an mengenai penjelasan-penjelasan tentang berita-berita umat-umat terdahulu dan ketepatannya dengan apa yang ada di kitab-kitab suci terdahulu benar-benar menunjukkan sesuatu yang pasti, bahwasanya al-Qur’an dari Allah swt, dan jika tidak, tidak akan mungkin nabi mengetahui data-data sejarah, alam dan sosial yang mana belum pernah terlintas sebelumnya di alam pikiran nabi Muhammad, bahkan di pikiran orang-orang yang sezaman dengannya. Dari sini kita mengetahui ketika yahudi menantang rasul untuk mengabarkan mereka tentang kisah nabi yusuf , maka Allah mewahyukan kepadanya dan mengabarkannya tentang itu, nah dari sini terlihat dalil ‘aqly yang tercapai oleh akal kita yang menekankan kepada nabi, bahwasanya wahyu adalah fenomena tersendiri dan bukan berasal dari Nabi Muhammad. Maka untuk itu Allah meyakinan nabi lagi tentang hakikat wahyu yang turun kepadanya, dalam bentuk ayat yakni: “ maka jika kamu (Muhammad ) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu, sesungguhnya telah dating kebenaran kepadamu dari tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang rugi” ( Yunus, ayat 94)[29]
  2. Karakteristik Wahyu dalam Islam

 

  1. Pemerolehannya menurut kehendak Allah, dan bukan dengan usaha sendiri.

 

Wahyu adalah “minhah ilahiyyah” atau pemberian ketuhanan yang mana Allah memilih siapa saja dari hambaNya untuk menjadi objek penyampaiannya. Allah berfirman “ Allah lebih mengetahui di mana Ia menempatkan tugas kerasulan” . (al-An’am, ayat 124).Kenabian(nubuwwah) adalah sebagai hasil dari pemilihan yang khusus dari Allah kepada salah satu makhlukNya untuk disampaikan kepada manusia seluruhnya, seperti yang dikatakan Allah kepada nabi Musa “ Hai Musa sesungguhnya Aku memilih(melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”( al-A’raf,  ayat 144).

 

Dan jika kenabian ini berdiri atas pilihan, secara ketuhanan murni, maka ia akan membatalkan pemikiran sebagian filosof dan sufi bahwanysa kenabian bisa dicapai melaluimawahib basyariyyah muktasabah (Potensi-potensi dasar manusia yang bisa dicapai dan bisa didapatkan dengan jalan berusaha dan bersungguh-sungguh), atau dengan cara melampaui batas dalam beribadah atau dengan  berlepas dari ketertarikan kehidupan materialisme dan menjernih-bersihkan hati, atau dengan cara memperlama bersusah-payah untuk berpikir dalam hal “esensi-esensi” sesuatu yang mana dari situ akan terpancar ilham dengan nyata, dan akan turun bersamaan dengan itu pengetahuan secara langsung.

 

Dan juga membatalkan penganggapan kenabian adalah sebuah bagian dari kecerdasan independen atau sebuah tingkatan dari kecerdasan murni yang memberikan kepada orang yang mempunyainya bisa mempunyai persiapan yang kuat untuk berpindah dari sesuatu yang telah diketahui kepada sesuatu yang belum diketahui dengan kecepatan yang tinggi dan tanpa pengaturan cara-cara untuk mencapainya, dan inilah yang dinamakan “intuisi” sepeti yang dianggap sebagian filosof.

 

Namun yang benar adalah dengan cara memandang secara obyektif kepada keadaan  nabi Muhammad Saw maka akan jelas tergambar kebenarannya, dan kesalahan penganggapan bahwasanya kenabian(nubuwwah) itu bersifat kasbiyyah atau bisa dicapai dengan usaha. Dan ditekankan sekali lagi bahwasanya nabi tidak memperoleh nubuwwah dengan cara usaha kerasnya sendiri, atau bersusah-payah berpikir yang melampaui batas, dan tidak pula hasil dari kecerdasan yang diatas rata-rata. Dan belum ada sesuatu yang menakjubkan sampai ketika umur beliau empat puluh tahun, juga, beliau belum pernah berpikir filosofis untuk memperoleh hakikat sesuatu dari hasil berpikirnya itu. Maka Allah berfirman “ Dan kamu tidak pernah mengharap agar al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang benar dari Tuhanmu”.(al-Qoshos ayat, 86)

Maka pekerjaan membandingkan antara seorang filosof yang memperoleh filsafat secarakasab atau usahanya sendiri. Dan nabi, yang mana dianggap bahwa kekuatan nubuwwahadalah kekuatan dari kekuatan jiwa, lalu menyamakan antara wahyu yang datang kepada nabi, dan filsafat yang mana filosof mendatanginya dan selanjutnya sampai kepadanya, semuanya ini adalah usaha yang mencoba menjauhkan nubuwwah dari hakikatnya, karena ketidaktahuan tentang kenabian dan wahyu.[30]

 

  1. Ketidaktundukkan wahyu kepada keinginan rasul dalam penurunannya.

 

Wahyu terjadi hanya dengan mengikuti kehendak Allah semata, dan tidak tunduk dalam waktu penurunannya atau penentuan tempatnya sesuai keinginan nabi Muhammad saw, dan Nabi Muhammad tidak menunggu atau mengharap kedatangann Wahyu secara cepat atau sesuai kehendaknya, maka dari itu, nabi Muhammad tidak memiliki pilihan dengan wahyu yang turun atau terputus, namun turun sesuai kehendak Allah  semata.

 

Keistimewaan inilah yang membedakan watak wahyu dengan sumber-sumber pengetahuan lain. yang mana sumber-sumber pengetahuan lain dibangun melalui proses kasbiyyah dan tidak akan selesai atau sampai, kecuali melalui persiapan dan pengeluaran tenaga atau usaha sendiri. Dan seperti seseorang yang telah mencapai tingkatan “’Arif” untuk memperoleh pengetahuan seperti yang di usahakan oleh filosof, mulai dari merenung ,ndazhor dan bahts, atau jika ia seorang sufi, maka ia memulainya melaui proses tajrid, istighroq ruuhiyy, dan fana. Atau bisa jadi dengan membebaskan diri dan jiwa dari alam materi untuk menemukan hasilnya, setelah itu, yakni hikmah filosofis atau kasyf suufiy.

 

  1. Keyakinan mutlak dengan ilmu yang datang darinya.

 

Maka wahyu dengan sifatnya sebagai bagian dari ilmu Allah, dengan inilah ia bersifat mutlak dan tidak terbatas, maka ilmu Allah menembus dan melampaui batas-batas waktu dan tempat, tidak ada ranah keilmuan apapun yang mampu melemahkannya, yang mana sangat berbeda jauh dengan ilmu buatan manusia yang terikat dengan batas-batas waktu dan tempat, dan berkembang dari dan melalui kemampuan-kemampuan manusia yang terbatas. Dari sinilah, wahyu mempunyai keistimewaan dengan ilmu yang disuguhkannya, bahwasanya ilmu dari wahyu adalah sebuah keyakinan yang bersifat mutlak. Semuanya sama, apakah ilmu dari wahyu itu mengabarkan apa yang telah terjadi, sedang terjadi ketika turunnya, yang akan terjadi, atau apa yang telah ditetapkan dari informasi-informasi tentang alam gaib atau sunnatullah dan lain sebagainya.

 

Dan para ilmuwan telah mengakui bahwasanya ada dari sumber-sumber pengetahuan  yang sifatnya terbatas, dan ada lapangan-lapangan pengetahuan yang tumpul, atau tidak sampai untuk mencapai kepada tingkat keyakinan tertinggi, maka sesungguhnya yang mereka maksudkan itu adalah sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari manusia, dan mereka tidak mencapainya, biasanya dalam pengkajian mendalam mereka terhadap sumber-sumber itu, maka tersisalah wahyu yang jauh berbeda dari itu semua, bebas dari segala ikatan, dan bersifat mutlak dari ilmu yang disuguhkannya.[31]

 

  1. Keterlepasannya dari pengaruh waktu dan tempat

 

Bahwasanya waktu, tempat dan lingkungan, yang mana wahyu diturunkan ketika itu dan nabi Muhammad Saw hidup di dalamnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh sedikitpun dalam pembentukan pengetahuan yang datang kepada nabi Muhammad. Maka kebiasaan-kebiasaan, budaya-budaya dan keadaan-keadaan, yang mengitari nabi Muhammad Saw atau tempat asalnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap, ilmu-ilmu yang disuguhkannya.

 

Namun, lain halnya bagi para filosof, keadaan para filosof dan para peneliti, dan orang-orang yang tidak bisa berlepas dengan apa yang berkembang di sekelilingnya, dan hal-hal yang telah tertanam di pikiran-pikiran mereka, lalu kemudian menjadi postulat-postulat yang membentuk pemikiran-pemikiran mereka, yang dengan itulah mereka berpikir.

 

Adapun wahyu, maka karena ia adalah ilmu yang bersumber dari Allah, yang Maha menguasai waktu dan tempat dan meliputi keduanya itu, dan apa yang terjadi dalam waktu dan tempat tersebut. Maka wahyu terlepas dari itu semua, dengan hukum penguasaan Allah atas segala sesuatu.

Namun, yang tidak diinginkan adalah bahwasanya wahyu dianggap datang dalam keadaan “mitsaliyy” atau jauh dari kehidupan nyata, wahyu dianggap menutup matanya dari manusia yang ada ketika waktu turunnya. Penganggapan itu jelas tidak benar, karna ilmu yang datang dari wahyu adalah ilmu yang bersifat “praktis”, turun untuk sesuatu kehidupan yang nyata, memberikan pengaruh di dalamnya, dan tidak akan pernah terpengaruh dengan keadaan terebut.[32]

 

  1. Penafian hulul (bertempatnya) Allah dalam proses penyampaian Wahyu.

 

Wahyu adalah suatu hal yang terjadi antara dua entitas, yaitu: sebagai yang menyampaikan yakni Allah atau jibril yang mendapat penyampaian dari Allah, dan entitas yang disampaikan, yakni rasul. Dzat Allah dan dzat jibril, mereka berdua ini berbeda dengan dzatnya rasul. Dan  rasul selalu dalam keadaan berlepas ketika proses penyampaian. Sama, apakah penyampaian dengan atau tanpa suara. Maka wahyu bukanlah bertempatnya dzat Allah di dalam dzat rasul atau bersatunya mereka berdua. Karena, ada aliran yang mengangap bahwa Allah bertempat dalam tubuh seseorang, yang dikatakan oleh isyroqiyyundan ghuluw mutashowwifah, dan yang paling terkenal diantara mereka adalah, hussen ibnu manshur al hallaj, di abad ke tiga hijriah. Bahwasanya hallaj telah menganggap ruh Allah dan ruhnya telah bergabung, bersatu dan bercampur sampai menjadi satu kesatuan.[33]

 

  1. Memiliki sandaran .

 

Karakteristik wahyu jelas berbeda dalam hal sandaran, dengan sumber-sumber pengetahuan selainnya, jika akal menyandarkan dalil-dalilnya kepada hal-hal yang fitrah dalam jiwa manusia, untuk memperteguh bahwa apa yang diberikannya dari pengetahuan adalah suatu yang benar.Dan jika pengetahuan yang melalui panca indera menyandarkan kepada ekperimen-eksperimen, yang mana berpulang kepada akal, dan meneruskan dari akal tersebut kepada pengetahuan yang benar. Maka sandaran wahyu adalah dari ilmu Allah, yang mana ilmu Allah tidak mengharap bantuan dengan perantara apapun untuk sampai kepada hakikat pengetahuan tersebut.

 

Maka bagi yang diberikan pengetahuan dari sumber ini supaya beriman dan meyakini bahwasanya wahyu adalah datang dari Allah dan bersandar dari ilmuNya yang Maha luas, yang nantinya untuk menjumpai pengetahuan-pengetahuan dari wahyu ini, dan bahwa ilmuNya adalah kebenaran yang mutlak, tetapi kedudukan akal manusia sebagai perantara untuk mendapatkan wahyu dan memahaminya, maka akal diberikan oleh Allah kepada manusia dalam rangka untuk memahami wahyu tersebut, yakni dengan berkesesuaian dengan dasar-dasar-fitrahnya, dan yang menurunkannnya adalah yang menciptakan manusia, sampai manusia memperoleh manfaat dari wahyu tersebut. Bahkan wahyu sendiri sudah memberikan bukti terhadap banyak masalah yang diselesaikannya dengan dalil-dalil akal, yang juga menyandarkan kepada akal, kepada yang serupa dengannya dalam memperteguh pengetahuan-pengetahuan yang datang dari wahyu tersebut. Contohnya dalam menjelaskan tentang ketuhanan dan kemungkinan hari kebangkitan dan sebagainya, yang ini jelas berbeda dengan apa yang dipandang oleh para filosof bahwa petunjuk wahyu hanya sekedar berita atau informasi biasa.[34]

 

  1. Keistimewaan-keistimewaan Wahyu sebagai sumber Ilmu Pengetahuan.

 

  1. Memiliki cara khusus

 

Wahyu sebagai sumber Ilmu pengetahuan mempunyai keistimewaan khusus, yakni melalui jalan wahyu, bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum, namun diberikan hanya untuk orang-orang yang terbatas dari manusia, mereka adalah para nabi yang Allah pilih, untuk menyampaikan syariatNya kepada manusia. Kekhususan disini ialah dalam hal wahyu sebagai jalan khusus untuk mencapai pengetahuan dan bukan pembahasan mengenai pengetahuan kenabian itu sendiri, karena objek pengetahuan kenabian adalah menyampaikan kepada manusia secara keseluruhan, tetapi yang menyampaikan kepada manusia adalah para nabi dan rasul. Pengkhususan maknanya, bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum (keseluruhan manusia) seperti panca indera dan akal, dan selanjutnya tidak tunduk kepada kaidah-kaidah atau hukum-hukum panca indera dan akal atau ‘alam syahadah (alam nyata) yang mana berasal dari fitrah manusia dan usahanya.[35]

 

  1. Berunsur ketuhanan.

 

Pengetahuan ini mengkhususkan dirinya, bahwasanya ia berunsur ketuhanan, apa-apa yang dikhususkan dari pengetahuan ini selanjutnya kembali kepada keistemawaan ini dan muncul darinya. Maka ilmu yang datang dari para nabi adalah datang dari Allah dengan segala keistimewaannya dan hal-hal yang membentuknya dan para nabi mendapatkannya secara sempurna tidak dikurangi atau dilebihkan sedikitpun,.dan Allah telah menjamin dengan menjadikan para nabi terpelihara dari kesalahan sampai terlaksananya penyampaian dan sampainya pengetahuan itu kepada manusia, dan ia terbebas dari kesalahan-kesalahan yang  umum dimiliki oleh manusia. seperti yang termaktub dalam al-Qur’an:

”Seandainya ia(nabi Muhammad ) mengada-adakan sebagian perkataan atas(nama) kami, niscaya kami benar-benar pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (kami) dari pemotongan urat itu”.( Al haqqah ayat 43-47)

 

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu( al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya)”( An najm, ayat 1-4)

 

Dan kemudian, maka sesungguhnya unsur ketuhanan adalah yang paling utama dari keistimewaan pengetahuan ini, dan sumber keistimewaan ini, yakni ilmu yang diwahyukan lansung dari Allah swt, dan hanya terbatas dari sumber ini saja dan tidak bersandar kepada selainnya, oleh karena itu wahyu mempunyai kelebihan dari konsep-konsep pengetahuan filosofis atau akal yang mana dibuat melalui proses fikiran manusia. Sama, apakah dari hakikat ketuhanan, alam, kemanusiaan atau segala yang berkaitan yang berdiri diatas pengetahuan kenabian ini. Maka tashowwur falsafy (konsep pengetahuan filosofis) yang mana tumbuh dari pemikiran manusia untuk berusaha menafsirkan segala yang wujud dan pengetahuan pemikiran  manusia, dan ia masih tunduk kepada waktu, tempat dan lingkungan dan pengaruh-pengaruh luar yang mengitarinya. adapun pengetahuan kenabian datang dari Allah melalui jalan nabi yangma’shum yang membawa manusia petunjuk, yang mencakup seluruh urusan kehidupan, kedetilan dalam menafsirkan wujud dan membentuk kehidupan, kemudian Allah menjamin dengan menjaganya dan mengantarkannya kepada manusia, dan kepada siapa yang belum menyaksikannya dengan melalui jalan dalil mutawatir, yang mana ia adalah jalan yang berderjat qhot’i di dalam pandangan ilmu yang benar.[36]

 

  1. Tetap.

 

Pengetahuan melalui jalan wahyu berasal dari Allah swt yang terbebas dari perubahan, hawa nafsu manusia, dan keterpengaruhan dengan hal-hal yang berasal dari luar, yang mana pengetahuan panca indera dan akal kadang-kadang berubah-ubah dan mengikuti keadaan dalam kehidupan. walaupun pengetahuan akal lebih banyak menyerap dari panca indera namun dia juga tunduk kepada keterpengaruhan jiwa dan keadaan kehidupan, namun pengetahuan kenabian tidak akan pernah berubah dan berkembang dan tidak mengalami perubahan secara bentuk maupun keadaan-keadaan yang terjadi dari dasar-dasarnya selamanya, jika terjadi perubahan dan adanya permintaan jawaban atas perubahan pengetahuan kenabian itu, maka itu adalah masih dalam ketetapannya, dan boleh mempersilakan untuk meminta jawaban bagi perubahan keadaan bersamaan dengan hukum dan petunjuk-petunjuknya dan ia masih bersifat tetap, yang mana memberikan pengetahuan kenabian kemampuan untuk membentuk keadaan nyata dan fleksibelitas penerapan ilmu-ilmunya.[37]

 

  1. Komprehensif.

 

Pengetahuan ini memiliki ciri yakni, kekomprehensifannya tentang semua pengetahuan yang tetap dan bergerak dan untuk dua alam yakni ;alam gaib dan alam nyata.

 

“Dan Allah adalah tiada Tuhan kecuali Dia, mengetahui alam goib dan alam nyata “  ( al-haysr ayat 22) dan dia menguasai semua pengetahuan tentang ketuhanan, urusan-urusan penciptaan, ‘alam makhluq, informasi-informasi manusia, keyakinan dan seluruh perbuatan makhluknya. Pengetahuan ini untuk seluruh golongan manusia dan tidak ada pengkhususan untuk satu golongan saja, maka esensi pengetahuan darinya adalah untuk seluruh manusia, dan tidak khusus untuk seorang filosof atau seorang yang buta baca-tulis saja, namun semua manusia mengambil yang pantas untuk diambil, walaupun mereka berbeda dalam pengambilan. Dan ini bukan perbedaan dalam keharusan mengetahui, namun perbedaan dalam memahami dan menambah pemahaman. Dan untuk memperdalam pemahaman dan mempermudahnya, dan selanjutnya maka ia adalah keyakinan untuk seluruh tingkatan manusia, keadaan, waktu dan tempat.  Dan pengetahuan ini meliputi seluruh pengetahuan kemanusiaan dengan apa yang ada di dalamnya dan apa yang dibaliknya, mencakup juga untuk tentang permulaan dan akhiran penciptaannya dan seluruh tafsiran ciptaan Allah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[38]

 

  1. Keseimbangan.

 

Kekomprehensifan pengetahuan ini adalah komprehensif secara seimbang dan dari yang paling nampak dari fenomena-fenomenanya, yakni keseimbangan dalam akidah, yang menggabungkan antara iman dengan alam nyata dan iman dengan alam gaib, keseimbangan yang menggabungkan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara kebebasan kehendak manusia dan ketercakupan pengawasan ketuhanan, dan keseimbangan dalam manhaj berpikir, yang mana mendidik ruh, akal dan jiwa dan seluruh yang membentuk pengetahuann manusia itu sendiri, yang menggabungkan kesendirian-kebersamaan, dan antara pembentukan materi dan ruh. Terakhir yakni keseimbangan hubungan antara hubungan hamba dan Tuhannya.[39]

 

  1. Bersifat positif .

 

Pengetahuan ini bersifat positif yang aktif dalam hubungannya dengan Allah dan dengan alam kehidupan manusia. Bersifat positif juga dari segi manusianya itu sendiri dalam batas-batas ranah manusia dan batas-batas menjadi khalifah di bumi. Sifat positif ini juga, nampak dalam akidah yang mendorong untuk beribadah dengan benar dan terbebas dari hanya hubungan pikiran atau akal saja. Pengetahuan kenabian ini Jauh dari tajsim dan ta’thil , yakni dengan memurnikan Allah dari itu semua  “ Ia tidak menyerupai sesuatupun” ( as-syuro, ayat 11). Dan ia bersifat positif juga dalam setiap ilmu yang Allah turunkan atas nabi, yang mendorong kepada perbuatan baik yang selaras dengan fitrah murni manusia, dan ia bersifat positif juga untuk manusia di alam, dan untuk mukmin dengan akidah ini dalam kehidupan yang nyata yang mana mendorongnya untuk menjadi pengajak kepada Allah saw dan memimpin kepada pergerakan pembebasan secara alami untuk manusia di bumi dari penghambaan kepada selain Allah, dengan segala bentuk peribadatan, dengan maknanya yang komprehensif dari mendapat ilmu-illmu syari’at dariNya dan menyebarluaskan syiar-syiar Agama untukNya saja secara ikhlas.[40]

 

  1. Wahyu menurut Barat

 

  1. Definisi Barat

 

Barat ataupun timur itu sebenarnya bukan letak geografis, sebab Kanada itu di utara, Australia di selatan, tapi digolongkan sebagai Negara barat. Sementara negara turki separohnya terletak  di barat tapi tetap dianggap Timur. Demikian pula Timur. Afrika itu di selatan , tapi dikategorikan Timur. Negara-negara Arab itu tidak di timur tidak di Selatan, maka mereka disebut Timur tengah. Itu semua adalah identifikasi Barat terhadap dunia selain Barat.

 

Barat sebenarnya menceminkan sebuah pandangan hidup atau suatu peradaban dan terkadang ras kulit putih. Jadi, Pandangan Hidup barat merupakan kombinasi peradaban dan pandangan hidup bangsa Yunani, Romawi, tradisi bangsa-bangsa jerman, Inggris, Perancis dan sebagainya.

 

Maka orang barat adalah: orang-orang yang berpandangan hidup barat dan kebetulan peradaban ini didominasi oleh orang berkulit putih, (meskipun kini terdapat pula barat berkulit hitam atau sawo matang). Worldview (pandangan keilmuan) Barat atau cara pandang terhadap alam bagi mereka biasanya bersifat saintifik dan tidak religius sama sekali.[41]

 

Disini saya akan mempersempit pembahasan tentang perspektif barat mengenai wahyu, dengan hanya menyuguhkan tiga pembahasan, yang saya kira, sudah cukup mewakilkan perspektif barat secara keseluruhan.Pertama menurut para filosof Yunani, Kedua para filosof Nasrani/Masehi, dan terakhir para filosof Barat modern.

 

  1. Wahyu menurut filosof Yunani.

 

Dalam sejarahnya belum ada sejarawan yunani yang menulis bahwa Risalah samawiyah diturunkan di negri yunani di zaman kebangkitan filsafat yunani, yang mana dimulai sejak enam abad sebelum kelahiran nabi Isa as, namun yunani ketika itu, disesaki oleh Agama-agama animisme, dan banyaknya pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan, yang mana orang-orang awam dan para filosof waktu itu hidup bersama, kemudian dari sana menghasilkan pengaruh dalam hasil pemikiran filsafat mereka selanjutnya, dan ketika itu mereka belum terlalu memerhatikan tentang asal-usul dan sumber-sumber pengetahuan mereka, apalagi wahyu. Tetapi sebagian mereka sudah ada yang menganggap bahwa Agama (yang bersumber dari wahyu) hanyalah dongeng-dongeng yang dibuat oleh para  filosof, penyair dan dukun-dukun di zaman sebelum mereka, namun Plato ketika itu sudah membagi sumber-sumber Agama kepada tiga bagian.

 

  1. Agama dongeng (mitologi) yang dibuat oleh para penyair dan ahli seni untuk menghibur manusia.
  2. Agama yang dibuat oleh para pemegang kekuasaan untuk menjamin ketaatan rakyatnya kepada mereka, yang bersumber dari rasa takut dalam hati kepada Tuhan.
  3. Dan terakhir Agama bagi para filosof, dan ini (yang dianggap Plato) menggambarkan hakikat kebenaran, seperti yang dibenarkan oleh akal.

 

Inilah interpretasi para filosof untuk Agama yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kenabian, mereka seperti tidak tahu kenabian sama sekali, seperti yang dikatakan oleh ibnu taimiyyah dalam kitabnya an-nuvbuwwat.

 

Kesimpulannya, bahwasanya para filosof Yunani tidak mengetahui sama sekali tentang wahyu, maka dari itu mereka tidak membahas penerimaan dan penolakan terhadapnya, ataupun ranah-ranah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[42]

 

  1. Wahyu bagi para filosof nasrani.

 

Sudah banyak risalah-risalah samawiyah yang mendahului risalah nabi Isa as, kemudian datang dengan risalah-risalah itu para rasul yang mulia, dan al-Qur’an telah menjelaskan ihwal-ihwal para  pengikut rasul tadi, dan yang paling terlihat adalah: penolakan kaum-kaum tersebut terhadap dakwah nabi-nabi mereka, dan pengingkaran untuk menjadi “penghubung” mereka dengan Allah, nah, dari situlah  mereka mempelajari wahyu yang turun kepada para rasul-rasul itu, namun tetap dengan alasan, bahwa tidak ada rasul-rasul yang bisa mengungguli mereka, dengan kelebihan-kelebihan pemikiran dan ruhani yang mana membuat mereka menganggap diri mereka lebih tinggi dari tingkatan manusia lainnya ketika itu, padahal mustahil turun wahyu bagi mereka.

 

“ Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermasuk hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kamu” ( al-mu’minun ayat 24.).

 

“ Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seseorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.( Hud ayat 27.).

 

Nabi Isa datang sebagai rasul, dan Allah menurunkan kepadanya wahyu dan hidayahNya untuk bani Israil, sebagai pembenaran terhadap kitab taurat yang diwahyukan kepada nabi Musa sebelumnya, dan kemudian mengajak kaumnya untuk mengikutinya, namun kemudian  mereka menolak dan berpaling dari nabi Isa as, nabi Isa as datang membawa Injil dan menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan syariatNya dan meyakinkan semua kebenaran yang datang darinya yang belum pernah diselewangkan.

Dan sejarah telah mengukir dengan jelas penolakan bangsa yahudi terhadap dakwah nabi Isa as,  hanya sedikit dari mereka yang mengikutinya, maka banyak dari mereka yang meninggalkan nabi Isa as bahkan memusuhi dan memeranginya, kemudian Allah mengangkatnya ke langit, dan menurunkan bencana bagi mereka, ketika kerajaan romawi menguasai mereka di palestina.

 

Tetapi walaupun begitu, masih ada sebagian manusia yang mengikuti ajaran nabi Isa as dan pengaruhnya telah meluas, sampai memasuki kerajaan Atena dan berinteraksi dengan pemikiran, filsafat dan kehidupan Yunani. Dan orang yang pertama kali memasukkan ajaran nabi isa as ke Eropa adalah Paulus. Setelah ia masuk ke atena, datang sekelompok orang yang dinamakan al-abquriyyin dan al-ruwaqiyyin. Mereka datang ke tempat perkumpulan paulus, kemudian, mereka merendahkan dan meremehkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh paulus, seperti akan dibangkitkan kembali orang-orang yang telah mati, dan lain sebagainya.

 

Agama nasrani telah meluas dan banyak berubah, secara pengikutnya, ketika masuk Eropa dan kitab-kitab sucinya menjadi banyak, yakni injil-inji buatan yang telah bercampur dengan wawasan dan pemikiran yunani, dan telah mampu, setelah masuk ke Eropa  untuk menguasai kehidupan manusia secara luas dengan jangka waktu yang panjang sampai mencapai zaman kebangkitan  Eropa dengan sifatnya, yakni sebagai Agama samawi yang berasaskan wahyu.[43]

 

Maka kita akan membahas masalah wahyu ini bagi para filosof nasrani di abad pertengahan, hanya di dalam sebuah masalah, yakni mengenai : Pandangan para filodof nasrani kepada wahyu dari sudut pandang sumbernya sebagai pengetahuan dan hubungannya dengan sumber-sumber pengetahuan lain.

 

Maka para filosof nasrani zaman pertengahan terbagi menjadi dua golongan.

 

Golongan Pertama : mereka yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua hal yang saling berbeda, dan dengan ini, kita bisa menerima perkara filsafat dengan akal dan Agama dengan Iman untuk mempercayainya.

 

Kebanyakan para filosof nasrani zaman pertengahan menghubungkan antara akal dan naql atas kaidah bahwa wahyu dari Allah dan mustahil terjadi pertentangan antara keduanya dan akal meyakini wahyu sebagai petunjuk bagi kehidupan mereka.

 

Namun mereka berbeda pendapat dalam konsep hubungan antara keduanya, sebagian mereka berpendapat bahwa apa yang datang dari injil dari konsep kewujudan Tuhan berada di atas kemampuan akal. Kemudian mereka menemukan masalah, untuk sampai kepada pemahaman mereka secara independen, dan untuk bisa menyingkapnya sendiri.

 

Ini adalah pandangan filosof nasranai di abad kedua masehi sampai abad ketiga belas , dan pekerjaan mereka di abad-abad ini adalah : membentuk apa yang datang dari injil dari konsep ketuhanan dan akhlak dengan bentuk pengetahuan yang terstruktur.

 

Golongan kedua: Ini pada abad ketiga belas masehi, yang mana mereka telah terpengaruh dengan filsafat aristoteles,  maka dari itu bahwa para filosof nasrani waktu itu membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui wahyu.[44]

 

Para filosof itu diantaranya adalah:

 

  1. Tertulian (165-220 M) salah satu dari pemuka Agama nasrani yang memperdalam studi tentang ketuhanan dan ia berpendapat bahwa wahyu tidak membutuhkan pengetahuan selainnya, kemudian ia membawanya kepada pembahasan filsafat, dan menyatakan permusuhannya kepada Agama, kemudian memberitahukan keterlepasannya dari para pembuat Agama yang mengikuti Aristoteles, dan ia berkata “ Setelah adanya nabi isa dan injil, maka kita tidak membutuhkan lagi kepada sesuatu apapun ”.[45]

 

  1. Diunisius, hidup di akhir-akhir abad kelima kira-kira, dan ia menulis buku tentang sifat-sifat Allah, malaikat dan lain sebagainya, dan menyatakan di dalam bukunya itu, bahwasanya ia mengetahui Allah, dan sesuatu-sesuatu yang gaib dan ia tidak mungkin mencapai kepadanya kecuali melalui jalan: memahami kitab-kitab yang suci. Dan bahwasanya perantara-perantara pengetahuan manusia, tidak mengantarkan kita, kecuali kepada pengetahuan yang masih kurang, tentang alam ruh, dan pengetahuan yang masih kurang mengenai Allah, maka Allah sendiri mempunyai ilmu yang sempurna dengan dzatNya, dan Ia telah mewahyukan kepada kita dari ilmuNya itu apa yang disanggupi oleh kemampuan kita.[46]

 

  1. Betras dimyani (1007-1072M) salah satu pembesar pemikir ketuhanan di zamannya, dia menyampaikan dengan keras bahwasanya adanya campur tangan akal, atau keniscayaan adanya logika dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab suci dan kepercayaan-kepercayaan Agama, dan ia berkata tentang kewajiban tegaknya semua ilmu dan metodologi-metodoogi berpikir dari kitab-kitab ibarat pembantu kepada juragannya. Metodenya dalam berpikir yakni bahwasanya ia menjadikan akal mempunyai tempat dan naql mempunyai tempat, maka akal walapun bisa menyingkap pengetahuan-pengetahuan yang besar, namun ia tidak bisa dengan sendirinya mencapai pengetahuan tentang hakikiat segala sesuatu, dan berlepas dari kesalahan, yang mana wahyu memberikan kita hikmah ilahiyyah yang sempurna mengenai Allah dan jiwa manusia, maka jika manusia ingin mengetahui hikmah yang terpercaya maka ia wajib mengimani wahyu.[47]

 

  1. Wahyu menurut para filosof barat modern.

 

Keadaan telah berubah di Eropa setelah zaman kebangkitan terutama di abad-abad pertengahan, di banyak segi secara praktik dan pemikiran, dan dari perubahan-perubahan tadi, memberikan pengaruh dalam perubahan-perubahan selanjutnya yakni: bahwasanya Agama nasrani telah menguasai kehidupan mereka ketika itu dan khususnya dalam segi pemikiran, yang mana tidak bergerak kecuali dalam ruang lingkupnya saja, dan selanjutnya filsafat secara mayoritas telah berkhidmah kepadanya (Agama nasrani), namun keadaan mulai berbeda setelah penguasaan itu telah menghilang dan menurun, kemudian filsafat menjadi bergerak dalam kebebasannya yang hampir mencapai kepada batas kehancuran dalam menentukan sikap-sikap dan pembuatan teori-teori pemikiran mereka, Maka posisi para filosof Barat Modern bagi Agama dan wahyu secara global adalah;

 

Sebagian mereka memandang bahwa apa yang datang dari Agama adalah wahyu ilahy, dan ia membawa dari sifat ini kebenaran mutlak dan kesempurnaan dari sumber pengetahuan selainnya, dan terbebas dari kesalahan.[48]

 

Dari mereka adalah : Falsity laminy (1854M) yang menyatakan bahwa Allah mewahyukan dengan Agama yang benar, dan tidak akan pernah meninggalkan perkara bagi akal untuk berpikir secara sendirian, dan bahwa geraja adalah pemilik ajaran-ajaran yang mulia dan terbebani oleh Allah untuk menjaga wahyu secara terus menerus, dan ia mengkritik orang-orang yang mengkaji Agama  dengan akal-akal mereka sendiri, dan tidak mempercayainya kecuali jika alasannya berasaskan akal logis mereka,  dan sebagian yang lain mengangap bahwa wahyu sebagai landasan untuk umat dan  sebagai peraturan hidup mereka, sebagaimana wahyu dianggap sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran bersama-sama.

 

Kemudian sebagian yang lain beranggapan, yakni mereka yang hidup pada zaman dimana teori-teori ilmiah berasaskan atas akal, dan eksperimen bersandarkan kepada penyelidikan, penelitian dan pembelajaran sosial tanpa menghiraukan apa yang tertera di dalam kitab-kitab suci mereka, yang mana para filosof ini menjelaskan hubungan antara teori-teori praktis, pemikiran dan keyakinan-keyakinan Agama, dan mereka berusaha mempresentasikan teori-teori ini, yang tidak mungkin dipertemukan antara ia dengan ajaran-ajaran Agama, yakni dengan tujuan meragukan dan mengingkari ajaran-ajaran Agama.

 

Orang yang paling terkenal dengan metode berpikir seperti ini adalah, Rene descartes, yang mana mendirikan “manhajnya” dalam pengetahuan atas intuisi dan istimbath aqly, namun ia mengecualikan pengetahuan-pengetahuan yang datang dari Wahyu, yang mana ia anggap di atas kemampuan akal. Dan Ia menyatakan : ada kaidah yang seyogyanya harus dianggap terjaga dari kesalahan, ia adalah wahyu dan lebih terpercaya dari selainnya. Dan Descartes berujar bahwa sumber dari pengetahuan Agama adalah madad ilahy dan bukan aqlu-basyary.[49]

 

  1. Kesimpulan

 

Wahyu sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan memang tidak bisa dianaktirikan apalagi dinafikan, karna wahyu menduduki peranan  penting dalam membentuk ilmu-ilmu Agama Islam khususnya, ia mempunyai karakteristik yang jauh berbeda dari sumber-sumber ilmu pengetahuan selainnya, yang hanya mengandalkan panca indera , akal atau hanya intuisi  saja.

 

Namun, ia bersumber dari ilmuNya Yang Maha luas dan Maha mengetahui yang terlepas dari segala kesalahan dan perubahan. Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Yang kemudian menjadi petunjuk bagi manusia keseluruhan, khususnya umat islam.

 

Keniscayaan adanya wahyu, adalah sebuah fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi, untuk zaman sekarang. Melalui dalil naqli dari Al-Qur’an dan dalil ‘aqly yakni melalui percobaan-percobaan ilmiah, yang mana para ilmuwan di barat dan di timur mengamininya. Dan semakin menguatkan, bahwa ada sumber ilmu pengetahuan yang sempurna, terlepas dari seluruh kesalahan dan mencapai pada tingkatan kebenaran mutlak dari ilmu yang disuguhkannya.

 

Barat dengan pandangan hidupnya terhadap alam yang hanya mempercayai hal-hal yang bersifatsaintifik saja dan menolak metafisika. Jika diruntut sejarahnya, pada masa awalnya, yakni pada zaman fiolosof yunani kuno, mereka belum mengetahui wahyu sama sekali. Maka dari itu, mereka tidak berpendapat terhadapnya. Namun, pada masa filosof nasrani, mereka terbagi menjadi dua golongan pertama (abad kedua sampai ketiga belas), mereka yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua hal yang saling berbeda, Golongan kedua(abad ketiga bela hingga abad setelahnya) para filosof nasrani waktu itu membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui wahyu.

 

Daftar Pustaka

Al-Kurdy,Hamid, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah bayna al-Qur’an wa-l-falasifah, (Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)

Al-Qothhon, Manna’, Mabahits fi ‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Maktabah wahbah, 2015)

Az-zurqony, ‘Abdul ‘adzhim, Manahilul ‘irfan fi ‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Darus-salam,2015)

Ibnu zaid az-zunaidy, ‘Abdur-rahman, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, ( Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)

Ithr, Nurruddin,  Ulumu-l-Qur’an Al-karim, (Kairo, Darul-Bashoir,2014)

Kertanegara, Mulyadi, Menyibaik Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam,(Bandung,Mizan,2003)

Muhammad Ibrahim,Husein, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, (Kairo,Maktabah al-Iman,2016)

Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan,2013)

Zarkasy, Hamid Fahmi, Misykat, Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam,( Jakarta, INSISTS (Institute For the Study of Islamic Thought and Civilizations ),2012)

 

 

________________________________________

[1] Santri Pengangguran

[2] Epistemologi: cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu pengeahuan

[3] Metafisika: ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal nonfisik atau tidak kelihatan.

[4] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I, 2003, hal 1-2

[5] Ibid. hal 4

[6] Ibid. hal 5

[7] Ibid. hal 6

[8] Ibid. hal 18-19

[9] Ibid. hal 23-25

[10] Ibid. hal 26

[11] Ibid. hal 26-27

[12] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV, 2013, hal 53.

[13] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I, 2003, hal 28-29

[14] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV, 2013, hal 53.

[15] Ibid.hal 53

[16] Transendental:menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, sukar dipahami, gaib, abstrak

[17] Ibid.hal 54

[18]  Manna’ al-Qhotton, Mabahits fi ‘ulumi-l-Qur’an ,Maktabah Wahbah, Kairo, 2015, hal 26

[19] Ibid.hal 26-27

[20] Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 129

[21] Ibid.hal 130

[22]Nurruddin “Ithr,  Ulumu-l-Qur’an Al-karim, Darul-Bashoir, Kairo, 2014, hal 16-17

[23] Ibid.hal 17-19

[24]Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 139

[25]‘Abdul ‘adzhim Az-Zurqony, Manahilul ‘irfan fi ‘ulumi-l-Qur’an, Darus-salam, Kairo,2015, hal 54

[26] Ibid hal 55

[27] Postulat: Asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma

[28] Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 153

[29] Ibid hal 154

[30]‘Abdur-rahman Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 145-149

[31] Ibid.Hal 151-154

[32] Ibid.Hal 156-157

[33] Ibid.Hal 159-161

[34] Ibid.Hal 161-162

[35] ’Abdul Hamid Al-Kurdy, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah bayna al-Qur’an wa-l-falasifah, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 780-781

[36] Ibid. hal 781-783

[37] Ibid. hal 784-785

[38] Ibid. hal 785-786

[39] Ibid.hal 785-786

[40] Ibid hal 786

[41] Hamid Fahmi Zarkasy, Misykat, Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam, INSISTS(Institute For the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta, 2012, hal 86

[42] ‘Abdur-rahman Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 103-107

[43] Ibid.hal 109-110

[44] Ibid hal 111

[45] Ibid hal 112

[46] Ibid hal 112

[47] Ibid hal 113

[48] Ibid hal 124

[49] Ibid hal 126

 

SUMBER : http://abdulkarim1995.blogspot.co.id/2016/10/wahyu-sebagai-sumber-ilmu-pengetahuan.html


FILSAFAT PENELITIAN

Agustus 4, 2009
3 Komentar

FILSAFAT PENELITIAN
Oleh: Ading Nashrulloh

A. Pengantar
Manusia adalah makhluk yang bertanya. Manusia makhluk berpikir (homo sapiens); Berpikir –membuahkan pengetahuan. . Dengan demikian “Aku berpikir , maka aku bertanya” . Berpikir dibangun lewat rangsangan bertanya dan menggugat . Manusia selalu bertanya, karena didorong oleh rasa ingin tahu .Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti .

B. Teori-teori Penelitian
1. Arti Penelitian
Penelitan berasal dari kata teliti yang artinya mempelajari sesuatu secara teliti dan mendalam. Kegiatan ”meneliti” dan mencoba dengan kemungkinan gagal (trial and error). Dalam bahasa Inggris penelitian dikenal dengan istilah research. Definisi Research adalah : systematic investigation to establish facts atau a search for knowledge . Jadi titik tekan suatu penelitian adalah menemukan secara sistematis fakta-fakta untuk menyusun pengetahuan. Fakta artinya “a concept whose truth can be proved”, suatu konsep yang membuktikan suatu kebenaran. Sedangkan pengetahuan artinya “the psychological result of perception and learning and reasoning”, buah dari persepsi, belajar dan pertimbangan yang sehat secara akal budi. Kesimpulannya penelitian adalah proses mencari bukti-bukti kebenaran lewat persepsi, belajar dan berfikir sehingga tertanamlah dalam jiwa kita suatu keyakinan yang kuat.
2. Penelitian Ilmiah
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses pemecahan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis, logis, dan empiris sehingga akan ditemukan suatu kebenaran. Hasil penelitian ilmiah adalah kebenaran atau pengetahuan ilmiah, Penelitian ilmiah yang selanjutnya disebut penelitian atau riset (research) memiliki ciri sistematis, logis, dan empiris. Sistematis artinya memiliki metode yang bersistem yakni memiliki tata cara dan tata urutan serta bentuk kegiatan yang jelas dan runtut. Logis artinya menggunakan perinsip yang dapat diterima akal. Empiris artinya berdasarkan realitas atau kenyataan. Jadi penelitian adalah proses yang sistematis, logis, dan empiris untuk mencari kebenaran ilmiah atau pengetahuan ilmiah.
3. Masalah Budaya Penelitian
Menumbuhkembangkan budaya meneliti secara ilmiah sebenarnya dapat dilakukan mulai tingkat SLTA, yaitu melalui wadah Kelompok Ilmiah Remaja. “Milikilah budaya meneliti sekalipun anda bukan seorang peneliti”, begitulah kata seorang Profesor. Bukan perkara mudah untuk menumbuhkan budaya meneliti. Perlu konsentrasi, biaya dan waktu yang tidak sedikit. Rektor Universitas Udayana menyatakan bahwa untuk meningkatkan gairah atau mengembangkan budaya meneliti, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengubah mind-set. budaya meneliti harus didukung oleh atmosfer akademik. Budaya meneliti belum tumbuh karena terkendala pendanaan pendidikan di Indonesia.

4. Ciri-ciri Penelitian Ilmiah
Secara ringkas Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah sistematis, logis dan empiris. Dan lengkapnya Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
a. Purposiveness : fokus tujuan yang jelas;
b. Rigor : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
c. Testibility : prosedur pengujian hipotesis jelas
d. Replicability : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
e. Objectivity : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
f. Generalizability : Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
g. Precision : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
h. Parsimony : Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.

5. Kaidah Epistemologis.
Epistemologi adalah teori metafisis tentang pengetahuan. Epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Dalam kerangka epistemology, penelitian ilmiah berkedudukan di dalam metode ilmiah. Metedo ilmiah merupakan salah satu cabang bahasan epistemology.

Mari kita lihat struktur metode ilmiah atau langkah-langkah kegiatan berpikir ilmiah:
1) penemuan atau penentuan masalah secara sadar
2) perumusan kerangka permasalahan
3) menyususn kerangka penjelasan
4) pengajuan hipotesis
5) pengujian hipotesis
6) deduksi dari hipotesis
7) pembuktian dari hipotesis
8) penerimaan hipotesis menjadi teori ilmiah
Diantara kedelapan kategori di atas manakah yang termasuk penelitian ? Jawabannya, secara substansial, semuanya. Semuanya termasuk suatu penelitian. Adapun penelitian sebagaiamana yang didefinisikan pada penjelasan tentang ciri-ciri penelitan, maka terdapat pada point (5) dan (6) pengujian dan pembuktian hipotesis. Jadi meneliti itu sebenarnya menguji hipotesis. Hipotesis diturunkan, diperoleh, diunduh, disusun, dibangun, di atas khazanah teori-teori ilmiah. Kalau demikian seseorang perlu membaca banyak, sebelum meneliti.

C. Penelitian dan Keyakinan
Semangat meneliti adalah semangat untuk memperkokoh keyakinan. Seorang matrealis mengadakan penelitian untuk memperkokoh keyakinan matrealisnya. Tentu saja bagi seorang matrealis, matrealisme adalah pokok dan pangkal kebenaran baginya. Diantara pokok dan pangkal itu disusunlah pengetahuan apapun untuk membela matrealisme. Dihantamnya pengetahuan apapun yang tidak sejalan dengan matrealisme. Mereka menghantam agama, dan Islam.
Bagi yang berakidah Islam, tentu, akidah Islam merupakan pokok dan pangkal kebenaran baginya. Diantara pokok dan pangkal itu disusunlah pengetahuan apapun untuk membela akidah Islam. Dihantamnya pengetahuan apapun yang tidak sejalan dengan akidah Islam. Mereka termasuk saya akan berusaha menghantam pengetahuan apapun yang berseberangan dengan Akidah Islam. Sains itu tidak netral dari nilai, tetapi penuh dengan nilai.
Karena itu sebelum membangun semangat meneliti, bangunlah dahulu semangat memperkokoh keyakinan.


PERBEDAAN ANTARA ILMU DAN PENGETAHUAN

Juli 22, 2009
65 Komentar

PERBEDAAN ANTARA ILMU DAN PENGETAHUAN
Oleh: Ading Nashrulloh
Kesadaran manusia secara garis besar terbagi atas tiga dimensi yang amat penting. Pengalaman, perasaan dan pengetahuan. Ketiga dimensi itu berbeda secara substantif tetapi sangat saling berkaitan.

Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Dalam perkembangannya pengetahuan manusia berdiferensiasi menjadi empat cabang utama, filsasat, ilmu, pengetahuan dan wawasan. Untuk melihat perbedaan antara empat cabang itu, saya berikan contohnya: Ilmu kalam (filsafat), Fiqih (ilmu), Sejarah Islam (pengetahuan), praktek Islam di Indonesia (wawasan). Bahasa, matematika, logika dan statistika merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, tetapi keempatnya bukanlah ilmu. Keempatnya adalah alat ilmu.

Setiap ilmu (sains) adalah pengetahuan (knowledge), tetapi tidak setiap pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah semacam pengetahuan yang telah disusun secara sistematis. Bagaimana cara menyusun kumpulan pengetahuan agar menjadi ilmu? Jawabnya pengetahuan itu harus dikandung dulu oleh filsafat , lalu dilahirkan, dibesarkan dan diasuh oleh matematika, logika, bahasa, statistika dan metode ilmiah. Maka seseorang yang ingin berilmu perlu memiliki pengetahuan yang banyak dan memiliki pengetahuan tentang logika, matematika, statistika dan bahasa. Kemudian pengetahuan yang banyak itu diolah oleh suatu metode tertentu. Metode itu ialah metode ilmiah. Pengetahuan tentang metode ilmiah diperlukan juga untuk menyusun pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk menjadi ilmu dan menarik pengetahuan lain yang dibutuhkan untuk melengkapinya.

Untuk bepengetahuan seseorang cukup buka mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan, sampaikan. Adapun untuk berilmu, maka metodenya menjadi lebih serius. Tidak sekedar buka mata, buka telinga, pahami realitas, hafalkan, sampaikan, secara serampangan. Seseorang yang ingin berilmu, pertama kali ia harus membaca langkah terakhir manusia berilmu, menangkap masalah, membuat hipotesis berdasarkan pembacaan langkah terakhir manusia berilmu, kemudian mengadakan penelitian lapangan, membuat pembahasan secara kritis dan akhirnya barulah ia mencapai suatu ilmu. Ilmu yang ditemukannya sendiri.

Apa maksud “membaca langkah terakhir manusia berilmu” ? Postulat ilmu mengatakan bahwa ilmu itu tersusun tidak hanya secara sistematis, tetapi juga terakumulasi disepanjang sejarah manusia. Tidak ada manusia, bangsa apapun yang secara tiba-tiba meloncat mengembangkan suatu ilmu tanpa suatu dasar pengetahuan sebelumnya. Katakanlah bahwa sebelum abad renaisansi di Eropa, bangsa Eropa berada dalam kegelapan yang terpekat. Karena larut dalam filsafat skolastik yang mengekang ilmu dan peran gereja. Para ilmuwan dan para filsafat abda itu tentu memiliki guru-guru yang melakukan pembacaan terhadap mereka tentang sampai batas terakhir manusia berilmu di zaman itu. Ilmu kimia abad modern sekarang adalah berpijak pada ilmu kimia, katakanlah abad 10 masehi yang berada di tangan orang-orang Islam. Dan ilmu kimia di abad 10 masehi itu tentu bepijak pula pada ilmu kimia abad 3500 tahun sebelum masehi, katakanlah itu misalanya dari negri dan zaman firaun.

Jadi seseorang yang ingin berilmu manajemen, misalnya, maka ia harus mengumpulkan dulu pengetahuan-pengetahuan mnajemen yang telah disusun sampai hari kemarin oleh para ahli ilmu tersebut dan merentang terus kebelakang sampai zaman yang dapat dicapai oleh pengetahuan sejarah.

Cara praktis, cepat, kompatibel, kredibel, aksesibel, dan lain-lain bel positif lainnya, untuk berilmu ialah dengan sekolah formal, dari SD hingga S3. Beruntunglah kawan-kawan yang bisa meraih gelar sarjana. Gelar magister dan seterusnya. Memang sekalipun gelar sudah s3 tapi koq masih terasa haus juga terhadap ilmu. Itu karena ilmu yang ada pada dirinya sebenarnya barus sedikit dari khazanah ilmu yang pernah disusun manusia, sedang disusun, dan apalagi jika dibanding dengan ilmu di masa depan sampai haru kiamat nanti.


Ditulis dalam artikel filsafat